EFEKTIVITAS PENGGUNAAN WARNA UNTUK MENGUASAI

advertisement
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN WARNA UNTUK MENGUASAI ARTIKEL KATA
BENDA BAHASA JERMAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Jerman
Oleh:
NITA LISTYANI
NIM 1006196
DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JERMAN
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014
Efektivitas Penggunaan Warna untuk Menguasai Artikel Kata
Benda Bahasa Jerman.
Nita Listyani, Drs. Amir, M.Pd., Dra. Hafdarani, M.Pd.
Departemen Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan
Indonesia.
ABSTRAK
Pembelajar tingkat pemula terkadang mengalami kesulitan untuk menguasai Artikel kata benda
bahasa Jerman. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan metode pembelajaran yang
sesuai dengan tujuan pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan
adalah penggunaan warna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Penguasaan
Artikel kata benda bahasa Jerman kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum penggunaan
warna, (2) penguasaan Artikel kata benda bahasa Jerman sesudah penggunaan warna, dan (3)
efektivitas penggunaan warna dalam meningkatkan penguasaan Artikel kata benda bahasa
Jerman. Dalam penelitian ini digunakan metode eksperimen semu dengan Nonequivalent
Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 11 SMA Pasundan 1
Bandung tahun pelajaran 2014/ 2015, sedangkan sampelnya adalah siswa kelas 11 MIA 1
sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas 11 MIA 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen utama
penelitian ini adalah tes dan instrumen pelengkapnya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Uji signifikansi dengan menggunakan uji-t independen digunakan untuk mengetahui perbedaan
nilai rata-rata pretest dan posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil analisis data
ini adalah sebagai berikut: (1) kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kemampuan yang
hampir sama dalam penguasaan Artikel kata benda bahasa Jerman sebelum penggunaan warna,
(2) kelas eksperimen memiliki kemampuan penguasaan Artikel yang lebih baik daripada kelas
kontrol setelah penggunaan warna, dan (3) setelah uji-t independen terhadap data hasil tes akhir
kedua kelas diperoleh t hitung > t tabel (8,014 > 2,0167) dengan taraf signifikansi (α) 0,05. Ini berarti
bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi: terdapat perbedaan yang signifikan antara penguasaan
Artikel kata benda bahasa Jerman siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah penggunaan
warna terbukti. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan warna efektif dalam
meningkatkan penguasaan Artikel kata benda bahasa Jerman siswa. Oleh karena itu, disarankan
kepada guru agar menggunakan warna jika guru membahas Artikel nomina dalam pelajaran
bahasa Jerman.
Kata kunci: penggunaan warna, Artikel kata benda bahasa Jerman,
Die Effektivität der Anwendung der Farben zur Beherrschung der Artikel
von deutschen Nomen.
Nita Listyani, Drs. Amir, M.Pd., Dra. Hafdarani, M.Pd.
Deutschabteilung der Fakultät für Sprachen und Kunst der Indonesischen Pädagogischen
Universität.
ABSTRAKT
Anfänger haben im Deutschunterricht manchmal Schwierigkeiten, die Artikel von deutschen
Nomen zu beherrschen. Um dieses Problem zu lösen, wird eine Lernmethode, die den Lernzielen
passt, gebraucht. Die Anwendung der Farben ist eine der Lernmethoden, die man dazu einsetzen
kann. Die Ziele der Untersuchung sind, um folgendes herauszufinden: (1) die Beherrschung der
Artikel von deutchen Nomen der Experimentsklasse und der Kontrollklasse vor der Anwendung
der Farben, (2) die Beherrschung der Artikel von deutchen Nomen nach der Anwendung der
Farben, und (3) die Effektivität der Anwendung der Farben zum Erhöhen der Beherrschung der
Artikel von deutschen Nomen. In dieser Untersuchung wurde die Quasi-Experimentsmethode mit
dem Nonequivalent Control Group Design verwendet. Die Population der Untersuchung waren
alle Schüler der 11. Klasse an der SMA Pasundan 1 Bandung vom Jahrgang 2014/ 2015, und die
Probanden waren die Schüler der 11. MIA 1 als die Experimentsklasse und 11. MIA 2 als die
Kontrollklasse. Der Test war das Hauptinstrument dieser Untersuchung und die Lehrskizze gilt
als zusätliches Instrument. Der t-independent-Test wurde benutzt, um den Unterschied der
durchschnittlichen Note vom Vortest und der durchschnittlichen Note vom Nachtest zwischen der
Eksperimentsklasse und der Kontrollklasse herauszufinden. Die Ergebnisse der Datenanalyse
sind folgendes: (1) die Experimentsklasse und die Kontrollklasse haben vor der Anwendung der
Farben fast gleiche Leistung bei der Beherrschung der Artikel von deutchen Nomen, (2) die
Experimentsklasse hat nach der Anwendung der Farben bessere Leistung bei der Beherrschung
der Artikel von deutchen Nomen als die Kontrollklasse, und (3) nach dem t-independent-Test der
Nachtest-Ergebnisse von den beiden Klassen wurde herausgefunden, dass t test > t tabelle (8,014 >
2,0167) mit dem (α) 0.05-signifikanten Wert ist. Das heiβt, dass die Hypothese dieser
Untersuchung, die lautet: ”es gibt signifikante Unterschiede zwischen der Experimentsklasse
und der Kontrollklasse nach der Anwendung der Farben”, bestätigt ist. Aus den Ergebnissen
lässt sich zusammenfassen, dass die Anwendung der Farben effektif ist, um die Beherrschung der
Artikel von deutchen Nomen der Schüler zu erhöhen. Deshalb würde die Verfasserin
vorschlagen, dass Lehrende Farben verwenden, wenn sie im Deutschunterricht Artikel von
Deutschen Nomen behandeln.
Schlüsselwort: die Anwendung, Farben, Artikel von deutsche Nomen,
PENDAHULUAN
Dewasa ini menguasai bahasa asing
merupakan tuntutan zaman. Penguasaan
bahasa asing merupakan nilai lebih yang
menunjang seseorang memiliki performa
setingkat lebih baik dari orang yang tidak
menguasai bahasa asing terutama apabila
yang bersangkutan melamar pekerjaan.
Bahasa Jerman memiliki beberapa
keunikan, di antaranya penggunaan kasus
dalam kalimat dan setiap kata benda
memiliki kata sandang tertentu yang disebut
der Artikel. Der Artikel bisa tunggal
(singular) dan bisa jamak (plural). Keunikan
kata benda tersebut terkadang menjadi
kendala bagi pembelajar bahasa Jerman
termasuk penulis untuk menguasai Artikel
kata benda dengan baik, yang merupakan
salah satu faktor pembentukan kalimat.
Dalam mempelajari Artikel tentunya
ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh
pengajar agar pembelajaran efektif. Salah
satunya
adalah
penerapan
metode
pembelajaran yang tepat.
Metode pembelajaran dibutuhkan
untuk membantu siswa agar tidak kesulitan
mempelajari materi yang diberikan oleh
guru. Siswa akan terlihat antusias dalam
belajar jika metode pembelajaran pada
pemberian materi menarik. Hal ini bisa
sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Metode pembelajaran berdasarkan
pemberian informasi dikenal secara umum
yaitu; Metode Ceramah, Metode Tanya
Jawab dan Metode Demonstrasi.
Warna merupakan salah satu elemen
penting dalam pengembangan suatu
pembelajaran. Dalam pembelajaran biasanya
warna diaplikasikan ke dalam bentuk
metode pengajaran yang dilakukan oleh
pengajar dengan cara memberi warna pada
setiap pengelompokan data di papan tulis
dengan tujuan agar siswa dapat dengan
mudah
belajar
serta
mengingat
pengelompokan
tersebut.
Sehubungan
dengan hal tersebut Purnama dalam situsnya
http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/07/e
lemen-warna-dalam-pengembanganmultimedia-pembelajaran-378723.html
bergagasan bahwa penggunaan warna yang
sesuai
dalam
pembelajaran
dapat
membangkitkan
motivasi,
perasaan,
perhatian dan kesediaan siswa dalam belajar.
Berangkat dari gagasan tersebut, metode
penggunaan warna pada tulisan dirasa tepat
bagi penulis untuk menggunakannya sebagai
metode pembelajaran kata benda berikut
Artikel-nya.
Berdasarkan
pemikiran
diatas,
penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang pengaruh penggunaan warna
terhadap penguasaan Artikel kata benda
bahasa Jerman, dan menyusunnya dalam
bentuk skripsi dengan judul “Efektivitas
Penggunaan Warna untuk Menguasai
Artikel Kata Benda Bahasa Jerman”.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Artikel
Salah satu keunikan yang dimiliki
bahasa Jerman adalah penggunaan kata
sandang (Artikel) yang selalu mengikuti
nomina. Bahasa Indonesia juga memiliki
kata sandang yaitu “si” dan “sang”, tetapi
kedua kata sandang tersebut tidak produktif
digunakan dalam bahasa sehari- hari karena
ditemukan hanya pada teks- teks sastra.
Penggunaan Artikel banyak ditemukan pada
rumpun bahasa Germanik seperti bahasa
Inggris dan bahasa Jerman. Dalam bahasa
Inggris terdapat kata sandang “a/an” dan
“the” yang mengikuti nomina, sedangkan
dalam bahasa Jerman terdapat tiga kata
sandang, yaitu ,,der’’, ,,die” dan ,,das”.
Perbedaan ketiga jenis kata sandang ini
dapat dilihat dari genusnya, seperti yang
diungkapkan oleh Balcik dan Röhe (2006:
62) tentang pengertian Artikel:
Die Artikel heißen der, die, das
und ein, eine. Sie geben Genus
(das grammatische Geschlecht)
der Nomen an. Indem wir
einem Nomen enen Artikel
voranstellen, wird deutlich, ob
das Nomen maskulin, feminin
oder neutral ist.
Dari penjelasan Balcik dan Röhe, dapat
diketahui bahwa Artikel terdiri dari der, die,
das dan ein serta eine. Artikel- Artikel
tersebut berfungsi untuk menentukan genus
pada setiap nomina. Dengan cara
meletakkan Artikel di depan nomina, maka
akan menjadi jelas apakah nomina itu
maskulin, feminin atau netral.
Jenis- jenis Artikel
a. Bestimmter Artikel
Helbig dan Buscha (2000:167)
mengungkapkan tentang bestimmter
Artikel, yaitu:
Der
bestimmte
Artikel
signalisiert vor allem die
Identifizierung
(=die
Eindeutigmachung)
von
Objekten
der
auβersprachlichen
Realität.
Diese Identifizierung ist auf
verschiedenem Weg möglich:
Die Objekte der Realität
werden
eindeutig
durch
Individualizierung, durch den
Situationkontext, durch den
sprachlichen Kontext oder
durch Generalisierung.
Dari kutipan di atas dikatakan
bahwa bestimmter Artikel terutama
menunjukkan pengidentifikasian
(kejelasan)
dari
objek-objek
realitas di luar kebahasaan.
Identifikasi tersebut bisa dilakukan
dengan bermacam- macam cara:
objek- objek realitas tersebut akan
menjadi
jelas
melalui
individualisasi, melalui konteks
situasional,
melalui
konteks
kebahasaan
generalisasi.
atau
melalui
b. Unbestimmter Artikel
Unbestimmter Artikel merupakan
Artikel yang digunakan pada nomina
yang belum diketahui atau belum
dibicarakan sebelumnya (belum jelas)
dan hanya muncul untuk benda tunggal.
Perubahan pada unbestimmter Artikel ini
yaitu der menjadi ein, die menjadi eine
dan das menjadi ein. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Balcik dan Röhe
(2006: 64): ,,Die unbestimmten Artikel
heißen ein, eine, ein. Sie kommen nur im
Singular vor, denn sie bedeuten als
Menge mit den Nomen dekniliert, zu
denen sie gehören”. Pengertian kutipan
di atas yaitu: unbestimmter Artikel terdiri
dari ein, eine, ein. Unbestimmter Artikel
ini hanya digunakan pada nomina
tunggal, karena merupakan penafsiran
jumlah yang dimiliki oleh nomina.
Perubahan Artikel pada unbestimmter
Artikel ini ada dua, yaitu ein dan eine.
Ein
merupakan
perubahan
dari
bestimmterartikel ‘der’ dan ‘das’,
sedangkan eine merupakan perubahan
dari bestimmterartikel ‘die’.
c. Nullartikel
Nullartikel merupakan jenis ketiga
dari Artikel, yang digunakan dalam
beragam cara, sebagaimana yang
dijelaskan oleh Helbig dan Buscha
(2001: 338):
Der Nullartikel wird in
vielfältiger Weise verwendet.
Teils dient er als Ersatzform
für den unbestimmten oder
bestimmten Artikel, teils ist er
durch semantische Gruppen
von Substantiven, teils durch
bestimmte
syntaktische
Konstruktionen
bedingt.
Auβerdem
steht
er
bei
Eigennamen
(vor
allem
Personennamen
und
geographischen Namen).
Kutipan di atas dapat diartikan
sebagai
berikut:
Nullartikel
digunakan dalam beragam cara.
Sebagian
digunakan sebagai
substitusi
(pengganti)
untuk
bestimmter
Artikel
atau
unbestimmter Artikel, sebagian
digunakan
melalui
kelompok
semantik dari nomina, sebagian
digunakan dengan cara tertentu
sebagai susunan sintaksis. Selain
itu Nullartikel digunakan untuk
nama (terutama nama orang dan
nama letak suatu tempat).
Warna
1. Pengertian Warna
Warna merupakan salah satu elemen
penting dalam kehidupan. Tanpa adanya
warna, benda- benda di muka bumi ini terasa
hampa, tidak cerah dan monoton. Menurut
Nugroho (2008: 1) ‘Ilmu tentang warna
disebut chromatics. Teori warna sudah
dikembangkan oleh Alberti (1435) dan
diikuti oleh Leonardo da Vinci (1490). Teori
warna mulai mendapat perhatian serius
setelah dikembangkan oleh Sir Isac Newton
(1704). Pada awalnya teori warna
dikembangkan dengan warna dasar merah,
kuning dan biru (Red, Yellow, Blue atau
RYB). Pencampuran warna dari warna dasar
tersebut banyak dipakai oleh para pelukis,
percetakan dan lain-lain’.
Dalam pembelajaran warna pula
menjadi hal utama untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa. Purnama dalam
situsnya
http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/07/e
lemen-warna-dalam-pengembanganmultimedia-pembelajaran-378723.html
mengungkapkan:
“Warna adalah elemen penting
dalam
pengembangan
multimedia
pembelajaran.
Pemilihan
warna
dalam
pengembangan
multimedia
pembelajaran merupakan hal
penting yang turut menentukan
kelayakan sebuah program
paket multimedia. Penggunaan
warna yang sesuai dalam
multimedia pembelajaran dapat
membangkitkan
motivasi,
perasaan,
perhatian,
dan
kesediaan
siswa
dalam
belajar”.
Pengertian warna ini senada dengan yang
dikemukakan oleh Pujiriyato (2005: 44):
“Warna itu memiliki kekuatankekuatan
di
dalamnya.
Pemilihan warna yang baik
dalam
mendesain
produk
pembelajaran
dapat
turut
membangkitkan
dan
menstimuli pikiran, perasaan,
perhatian dan kemauan siswa.
Oleh karena itu tidak setiap
warna bisa dipilih begitu saja
tanpa
mempertimbangkan
audien (siswa)”.
Dari pengertian warna yang telah
dikemukakan oleh Purnama dan
Pujiriyanto dapat diketahui bahwa
penggunaan warna yang sesuai dalam
pembelajaran dapat membangkitkan
motivasi, perasaan, perhatian dan
kesediaan/ kemauan siswa dalam
belajar.
2.
Quantum Learning
Quantum
learning
merupakan
konsep membiasakan atau memposisikan
diri belajar nyaman dan menyenangkan.
Dengan kata lain, kita harus tahu bagaimana
‘belajar untuk belajar’. Salah satu caranya
yaitu pada pembelajaran visual, seorang
pelajar disajikan data dengan warna yang
menarik sehingga pelajar dapat dengan
mudah memahami dan menguasai suatu
materi.
Pembelajaran dan proses kongnitif
sebagaimana dikemukakan oleh Ormrod
(2009: 274) bahwa “pembelajar jarang
menyimpan informasi persis seperti yang
mereka terima, alih-alih mereka melakukan
pengkodean dengan memodifikasi informasi
suatu cara (input visual)”. Pendapat tersebut
menyiratkan bahwa pengkodean dalam
proses belajar untuk menangkap suatu
informasi sangat berpengaruh, terlebih pada
pembelajaran visual. Warna bisa dipakai
kedalam pengkodean tersebut.
3.
Pengelompokan Warna
Ahli grafis Jerman (1790) (dalam
Pujiriyanto: 44) menyederhanakan temuan
Newton menjadi 3 (tiga) warna, yaitu warna
primer, warna sekunder, dan warna tersier,
dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Warna pokok (primer), adalah warna yang
menjadi pedoman setiap orang untuk
menggunakannya, yaitu warna merah,
kuning dan biru.
b. Warna sekunder, merupakan percampuran
antara warna primer:
1) Merah + biru = ungu/violet
2) Merah + kuning = oranye/jingga
3) Kuning + biru = hijau
c. Warna tersier, merupakan percampuran
antara warna sekunder dengan primer:
1) Merah + ungu = merah ungu
2) Ungu + biru = ungu biru
3) Biru + hijau = hijau biru
4) Hijau + kuning = kuning hijau
5) Kuning + oranye = oranye kuning
4.
Kekuatan Warna
Disebutkan sebelumnya pada
subbab ,,Pengertian Warna’’ yang
dikemukakan oleh Pujiriyanto bahwa
warna mempunyai arti kekuatan dalam
setiap
perbedaannya,
atau
bisa
dikatakan setiap warna memiliki
gambaran tentag karakter warna itu
sendiri, hal ini juga telah dipaparkan
oleh Harini (2013: 293) dalam artikel
jurnalnya yang meneliti warna hijau dan
biru untuk mengurangi kecemasan, dari
hasil penelitiannya dia menyimpulkan
bahwa: “warna hijau memiliki efek
menenangkan, menyegarkan sistem
syaraf, dan menyeimbangkan tubuh.
Warna biru juga memiliki efek
menenangkan dan membuat rileks serta
memberikan kedamaian pada individu”.
Secara lebih jelas Anna
(2008:2) mejelaskan dalam artikel
jurnalnya ‘Psikologi Arti Warna’,
sebagai berikut:
a. Biru
Arti: kesetiaan, ketenangan, sensitif dan
bisa diandalkan. "Biru memiliki arti
stabil karena itu adalah warna langit,"
kata Eisman. Meski langit kelabu dan
akan hujan, kita tahu di atas awan-awan
itu warna langit tetaplah biru.
b. Keabu-abuan
Arti: Serius, bisa diandalkan dan stabil.
Warna abu-abu adalah warna alam. Di
luar sana warna abu-abu merupakan
warna yang permanen, misalnya batu
atau karang.
c. Merah muda
Arti: Cinta, kasih sayang, kelembutan,
feminin. Warna yang disukai banyak
wanita ini menyiratkan sesuatu yang
lembut dan menenangkan, tapi kurang
bersemangat dan membuat energi
melemah.
d. Merah
Arti: Kuat, berani, percaya diri, gairah.
Merah adalah warna yang punya banyak
arti,
mulai
dari
cinta
yang
menggairahkan
hingga
kekerasan
perang.
Warna
ini
tak
cuma
memengaruhi psikologi tapi juga fisik.
e.
f.
Penelitian menunjukkan menatap warna
merah bisa meningkatkan detak jantung
dan membuat kita bernapas lebih cepat.
Kuning
Arti: Muda, gembira, imajinasi. Warna
kuning akan meningkatkan konsentrasi,
itu sebabnya warna ini dipakai untuk
kertas legal atau post it. Kuning juga
merupakan warna persahabatan. Jadi
Anda sudah bisa menebak jika si dia
memberi mawar kuning saat Valentine.
Hitam
Arti: Elegan, kuat, sophisticated. Hitam
punya reputasi buruk. Warna ini dipakai
oleh para penjahat di komik atau film.
Hitam juga melambangkan duka dan
murung. Tapi, hitam juga punya sisi
lain, misalnya saja untuk menyatakan
sesuatu yang abadi, klasik, dan secara
universal dianggap sebagai warna yang
melangsingkan.
Hijau
Arti: Kesejukan, keberuntungan, dan
kesehatan. Hijau melambangkan alam,
kehidupan, dan simbol fertilitas. Para
pengantin di abad 15 menggunakan
gaun pengantin berwarna hijau.
Ungu
Orange
Coklat
Abu-abu
Putih
Hitam
Spiritual, misteri, keagungan, perubahan
arogan.
Energi, kesinambungan, kehangatan.
Bumi, dapat dipercaya, nyaman, bertahan.
Intelek, futuristik, modis, kesenduan, merusak
Kemurnian/suci, bersih, kecermatan, innoce
steril, kematian.
Kekuatan, seksualitas, kemewahan, kem
ketakutan, ketidakbahagiaan, keanggunan.
Dari pendapat Harini, Anna dan
Holzschlag di atas dapat disimpulkan bahwa
setiap warna mengandung arti kekuatan
tertentu
dalam
karakternya
serta
menimbulkan respon yang berbeda ketika
audiens melihatnya. Pemilihan warna yang
sesuai akan menjadikan produk- produk
pembelajaran lebih komunikatif dan estetis.
Penulis hanya menggunakan 3 warna
dalam penelitian ini. Biru, merah dan hijau.
g.
Biru digunakan untuk Artikel der, merah
untuk Artikel die dan hijau untuk Artikel
das. Dari pendapat gabungan para ahli
sebelumnya biru memiliki arti sebagai efek
damai, kesetiaan dan bisa diandalkan; merah
memiliki arti gairah, kehangatan dan cinta;
dan hijau memiliki arti sebagai efek
Selain itu Molly E. Holzschlag
keseimbangan. Arti masing- masing warna
(dalam Purnama, 2011) membuat daftar
tersebut menurut pendapat penulis adalah
mengenai kemampuan masing- masing
sebagai perwakilan dari karakter setiap
warna ketika memberikan respon secara
Artikel. Biru mewakili jiwa
maskulin,
psikologis kepada audiennya, sebagai
merah
mewakili
jiwa
feminin
dan
hijau
berikut:
mewakili jiwa netral. Pada teori kekuatan
warna yang telah dipaparkan sebelumnya,
Warna
Respon psikologis yang ditimbulkanwarna merah muda adalah warna yang
dengan jelas sangat mewakili jiwa feminin
Kekuatan, bertenaga, kehangatan, nafsu, cinta, agresifitas,
Merah
dengan arti cinta, kasih sayang, kelembutan
bahaya.
dan feminin. Namun penulis tidak
Kepercayaan, konservatif, keamanan,menggunakan
teknologi, kebersihan,
warna ini sebagai perwakilan
Biru
perintah.
dari Artikel die, karena jika penulis
warna merah muda di papan
Alami, kesehatan, pandangan yangmenggunakan
enak, kecemburuan,
Hijau
tulis pada setiap perlakuan maka tulisan
pembaharuan.
yang dilihat siswa dikelas kurang jelas. Oleh
Optimis, harapan, filosofis, ketidakjujuran/kecurangan,
Kuning
karena itu penulis mempertimbangkan untuk
pengecut, pengkhianatan.
mengganti warna merah muda menjadi
warna merah.
Pengertian Metode
Secara harfiah kata ,,metode’’
merupakan turunan dari kata Yunani Latin
yaitu Methodos/ Methodus yang berarti cara
atau jalan yang menentukan ke arah tertentu.
Hal ini dikemukakan oleh Neuner dan
Hunfeld (1993:14), “Methode/ Methodik ist
aus dem griechisch-lateinischen Wort
‘Methodos/ Methodus’ abgeleitet und
bedeutet etwa “Zugang/ Weg, der zu einem
bestimmten Ziel führt”.
Sehubungan dengan ini Rösler
(2012: 66) dalam bukunya Deutsch als
Fremdsprache
(Eine
Einführung)
mengatakan hal yang serupa “Methode ist
der Weg, der eingeschlagen werden muss,
um ein bestimmtes Lernziel zu erreichen”.
Metode merupakan sebuah cara/ jalan yang
harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
Dari pendapat Neuner dan Hunfeld
serta Rösler dapat disimpulkan arti harfiah
dari kata metode adalah sebuah jalan yang
harus ditempuh utuk mencapai tujuan
tertentu.
METODE
Penelitian
ini
merupakan
penelitian
kuantitatif yang menggunakan eksperimen
semu dengan satu kelas perlakuan dan satu
kelas kontrol. Dalam penelitian ini
diterapkan penggunaan warna dalam
pembelajaran Artikel kata benda bahasa
Jerman. Untuk mengetahui penguasaan
Artikel kata benda bahasa Jerman siswa
sebelum perlakuan, pembelajar diminta
untuk mengerjakan soal tes awal. Setelah itu
dilakukan perlakuan sebanyak tiga kali.
Sebagai langkah akhir, siswa diminta
mengerjakan soal tes akhir untuk
mengetahui penguasaan Artikel kata benda
bahasa Jerman mereka setelah perlakuan.
Setelah diperoleh data hasil tes awal dan tes
akhir, data dibandingkan dan dianalisis
secara statistik. Variabel bebas penelitian ini
adalah penggunaan warna dan variabel
terikatnya adalah penguasaan Artikel kata
benda bahasa Jerman. Desain dalam
penelitian ini adalah Nonequivalent Control
Group Design yaitu desain penelitian yang
menggunakan kelas eksperimen (dikenai
perlakuan) dan kelas kontrol. Penelitian ini
dilaksanakan di SMA Pasundan 1 Bandung
pada semester ganjil tahun ajaran
2014/2015. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas XI SMA
Pasundan 1 Bandung. Sampel dalam
penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA 1
sebanyak 21 siswa sebagai kelas eksperimen
dan siswa kelas XI MIA 2 sebanyak 24
siswa sebagai kelas kontrol.
HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa
penggunaan warna memiliki pengaruh besar
terhadap penguasaan Artikel kata benda
bahasa Jerman karena metode ini
menjadikan siswa lebih tertarik mempelajari
dan mengingat Artikel kata benda bahasa
Jerman.
Pemilihan kelas sebagai kelas
eksperimen dan kelas kontrol untuk
penelitian ditentukan oleh guru pamong
(guru asli pengajar bahasa jerman di
sekolah). Terlebih dahulu peneliti meminta
tolong kepada guru pamong untuk
dipilihkan dua kelas yang memiliki
kemampuan bahasa jerman yang sama.
Setelah dua kelas didapat, selebihnya
peneliti mengikuti saran guru tersebut dan
menjalankan
penelitian
sebagaimana
mestinya. Namun pada kenyataannya nilai
rata- rata yang diperoleh kelas eksperimen
pada saat pretest yaitu sebesar 58,95 dan
kelas kontrol sebesar 48,79, dapat
disimpulkan bahwa kedua kelas memiliki
penguasaan Artikel kata benda bahasa
Jerman yang hampir sama tetapi tidak dalam
satu kategori nilai menurut Arikunto
(2009:245). Kelas eksperimen termasuk
kedalam kategori cukup dengan rentang
nilai (56- 65), sedangkan kelas kontrol
termasuk kedalam kategori kurang dengan
rentang nilai (40- 55). Setelah diterapkan
penggunaan warna untuk menguasai Artikel
kata benda bahasa Jerman pada kelas
eksperimen, nilai rata-rata yang diperoleh
siswa kelas eksperimen meningkat menjadi
75,95, sedangkan kelas kontrol yang tidak
diberikan perlakuan memiliki nilai rata-rata
yang tidak jauh berbeda dari hasil rata-rata
pretest bahkan mengalami sedikit penurunan
yaitu 48,70. Perbedaan penguasaan Artikel
kata benda bahasa Jerman juga terlihat dari
hasil uji-t independen yang menunjukkan
bahwa nilai t hitung > t tabel (8,014 > 2,0167).
Hal ini berarti terdapat perbedaan yang
signifikan antara penguasaan Artikel kata
benda bahasa Jerman siswa kelas
eksperimen dan kelas kontrol setelah
menerima perlakuan dengan penggunaan
warna. Penggunaan warna disini merupakan
pengkodean
input
visual
dalam
memodifikasi informasi yang didapat siswa
sebagaimana yang dikemukakan oleh
Ormrod (2009: 274). Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa siswa kelas
eksperimen lebih baik daripada siswa kelas
kontrol dalam menguasai Artikel kata benda
bahasa Jerman.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat
disimpulkan bahwa penggunaan warna
merupakan salah satu pembelajaran yang
dapat digunakan dalam pembelajaran
Artikel, karena pada praktiknya penggunaan
warna merupakan salah satu metode
pembelajaran demonstrasi yang membuat
siswa tertarik mempelajari Artikel, sehingga
siswa bersemnagat serta tidak cepat bosan
untuk mempelajari proses pembelajaran.
Kelemahan penelitian
Pada
penelitian
ini
terdapat
kelemahan
penelitian
yaitu
adanya
penurunan nilai rata- rata dari pretest ke
posttest kelas kontrol. RPP yang digunakan
oleh kelas eksperimen dan kelas kontrol
sudah sama, tapi dalam pelaksanaannya
berbeda. Guru yang mengajar kelas
eksperimen merupakan peneliti sendiri
sedangkan guru yang mengajar kelas kontrol
merupakan guru dari sekolah. Kelas
eksperimen
mengalami
perlakuan
penggunaan warna sedangkan kelas kontrol
tidak
menggunakan
warna
pada
pembelajaran Artikel. Di kelas kontrol
diduga pembahasan pelajaran tidak terfokus
pada Artikel nomina saja, dan ada faktor dari
siswa yang kurang memperhatikan pelajaran
dan
kurang
berkonsentrasi
karena
pembelajaran di kelas kontrol beberapa kali
terpotong oleh kegiatan sekolah seperti rapat
guru dan kegiatan peringatan ulang tahun
sekolah.
SIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan
pembahasan hasil penelitian penggunaan
warna untuk menguasai Artikel kata benda
bahasa Jerman, diperoleh simpulan berikut:
1. Pada tes awal (pretest), siswa kelas
eksperimen memperoleh nilai tertinggi
sebesar 77 (dalam skala 1-100) dan nilai
terendah sebesar 37 dengan rata-rata
58,95, sedangkan siswa kelas kontrol
memperoleh nilai tertinggi sebesar 73,
dan nilai terendah 33 dengan rata-rata
48.79. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan
bahwa
siswa
kelas
eksperimen memiliki penguasaan Artikel
kata benda bahasa Jerman hampir sama
dengan siswa kelas kontrol dengan
kategori cukup dan kurang.
2. Pada tes akhir (posttest), siswa kelas
eksperimen memperoleh nilai tertinggi
sebesar 97 (dalam skala 1-100) dan nilai
terendah sebesar 63 dengan rata-rata
75,95, sedangkan siswa kelas kontrol
memperoleh nilai tertinggi sebesar 63,
dan nilai terendah 30 dengan rata-rata
48,70. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan
bahwa
siswa
kelas
eksperimen memiliki penguasaan Artikel
kata benda bahasa Jerman yang lebih
baik daripada siswa kelas kontrol.
3. Berdasarkan selisih nilai rata-rata
posttest kelas eksperimen dan kelas
kontrol diperoleh nilai uji-t independen
sebesar 8,014. Hasil perhitungan
menunjukkan bahwa t hitung > t tabel (8,014
> 2,0167). Hal ini berarti bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara
penguasaan Artikel kata benda bahasa
Jerman siswa kelas eksperimen setelah
perlakuan dan siswa kelas kontrol.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa penggunaan warna efektif untuk
diterapkan dalam pembelajaran Artikel
kata benda bahasa Jerman.
SARAN
Untuk meningkatkan kemampuan
siswa dalam penguasaan Artikel kata benda
bahasa Jerman, diperlukan suatu metode
yang tepat. Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
dapat disampaikan beberapa saran, yakni
sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penghitungan uji-t
diketahui bahwa penggunaan warna
dapat meningkatkan penguasaan Artikel
kata benda bahasa Jerman. Oleh karena
itu, metode ini dapat dijadikan sebagai
salah satu alternatif bagi guru untuk
mengajarkan Artikel kata benda bahasa
Jerman.
2. Berdasarkan kendala yang ditemukan di
lapangan, sebaiknya guru menerapkan
metode pembelajaran yang bervariasi
dan menarik bagi siswa, agar siswa tidak
mengalami kesulitan dan memiliki rasa
bosan dalam mempelajari Artikel kata
benda bahasa Jerman.
3. Peneliti lain yang akan meneliti bidang
yang sama, selain dapat menerapkan
penggunaan warna dalam mempelajari
Artikel kata benda bahasa Jerman, juga
dapat menggunakan warna untuk
penguasaan bahan pelajaran lain seperti
penguasaan kosakata bahasa Jerman.
Download