Tigor Einstein.FSH - Institutional Repository UIN Syarif

advertisement
PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DALAM RANGKA
PELAKSANAAN KEDAULATAN RAKYAT DI INDONESIA
(Analisis Yuridis Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Presiden
dan Wakil Presiden)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi
Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (SH)
Oleh :
TIGOR EINSTEIN
NIM:109048000031
KONSENTERASI HUKUM KELEMBAGAAN NEGARA
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
J A K A R T A
1435 H/2014 M
i
ii
iii
ABSTRAK
Tigor Einstein. NIM 109048000031. PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL
PRESIDEN DALAM RANGKA PELAKSANAAN KEDAULATAN RAKYAT DI
INDONESIA (Analisis Yuridis Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden). Program Studi Ilmu Hukum, Konsentrasi
Hukum Kelembagaan Negara, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1434 H / 2013 M. x + 73 halaman + halaman
lampiran.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden di Indonesia yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun
2008, serta untuk mengetahui apakah UU Nomor 42 Tahun 2008 telah sesuai dengan
UUD 1945. Pada penelitian ini penulis memilih objek penelitian yaitu UndangUndang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif dengan menggunakan
sistem studi pustaka, serta menggunakan bahan-bahan lainnya seperti makalah,
jurnal, dan sumber dari internet.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mekanisme pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden secara Langsung yang diatur didalam UU Nomor 42 Tahun 2008
masih bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945, karena dalam Pembukaan UUD
1945 dalam hal pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilakukan dengan
Permusyawaratan-Perwakilan. Serta untuk masalah Calon Presiden dan Wakil
Presiden harus dari Partai Politik jika dikaitkan dengan pasal 27 ayat (1) dan pasal
28D ayat (3) UUD 1945, karena calon presiden dan wakil Presiden hanya dari parpol,
merupakan bentuk ketidakadilan bagi masyarakat tidak berpartai. Oleh karena itu
karena penulis merasa ada ketidaksesuaian antara Pembukaan UUD 1945 dan Batang
Tubuh UUD 1945, maka sebaiknya MPR bersidang untuk menetapkan UUD yang
sesuai dengan sifat, watak, dan cita-cita Bangsa Indonesia. Setelah itu Presiden
bersama DPR membentuk kembali Undang-Undang dan Peraturan dibawahnya
berdasarkan UUD yang sesuai dengan sifat, watak, dan cita-cita Bangsa Indonesia
Kata kunci: Kedaulatan Rakyat, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden,
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008.
Pembimbing
: JM. Muslimin, MA. Ph.D
Daftar Pustaka
: Tahun 1956 s.d. Tahun 2012
iv
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Allahmdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan limpahan rahmat dan nikmatnya, sehingga pada akhirnya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul “PEMILIHAN PRESIDEN DAN
WAKIL PRESIDEN DALAM RANGKA PELAKSANAAN KEDAULATAN
RAKYAT DI INDONESIA (Analisis Yuridis Undang-Undang Nomor 42 Tahun
2008 Tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden)” ini merupakan salah satu
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam proses penulisan ini, penulis banyak sekali mendapat bimbingan,
bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, oleh sebab itu pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. K.H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM. Selaku
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Djawahir Hejazziey, SH, MA dan Drs. Abu Tamrin, SH,
M.Hum. Selaku Kepala dan Sekretaris Prodi Ilmu Hukum yang sudah
memberikan luang waktu, saran dan masukan terhadap kelancaran proses
penyusunan skripsi ini.
v
3. Bapak JM. Muslimin, MA. Ph.D. selaku dosen Pembimbing yang
dengan sabar telah memberikan arahan dan masukan serta bimbingan
terhadap proses penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Dedy Nursamsi, SH. M. Hum dan Bapak Ismail Hasani, SH. MH
yang telah bersedia untuk menguji skripsi ini dan memberikan masukan
untuk menyempurnakan skripsi ini.
5. Kedua orang tuaku ayahanda Thomas Sinaga dan Ibunda Nuri
Rochmawati yang ku sayangi dan ku hormati, terimakasih tak terhinga
atas kasih sayang, do’a, bimbingan, nasehat, materi serta segala yang
telah diberikan untuk ananda.
6. Seluruh sahabat-sahabat prodi Ilmu Hukum yang baik hati, khususnya
prodi Ilmu Hukum angkatan 2009 terimakasih yang tak terhingga yang
sudah membantu dan memotivasi penulis.
7. Seluruh kawan-kawan yang tak dapat satu persatu disebutkan namanya,
yang telah banyak memberi masukan, dorongan, dan bantuan sampai
selesainya skripsi ini.
8. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu.
Semoga Allah SWT memberikan berkah dan karunia-Nya serta
membalas kebaikan mereka (Amien).
vi
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi
penyempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat
bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
Jakarta, 9 Januari 2014
Penulis,
Tigor Einstein
vii
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI .......................................................................ii
LEMBAR PERNYATAAN .......................................................................................iii
ABSTRAK...................................................................................................................iv
KATA PENGANTAR ..................................................................................................v
DAFTAR ISI……………………………………………………………………….....viii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................................x
BAB I
PENDAHULUAN..........................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah......................................................................1
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah.....................................................7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian............................................................8
D. Metode Penelitian................................................................................9
E. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu................................................13
F. Sistematika Penelitian........................................................................14
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KEDAULATAN RAKYAT, PARTAI
POLITIK, DAN PEMILIHAN UMUM.....................................................15
A. Kedaulatan Rakyat.............................................................................15
B. Partai Politik......................................................................................26
viii
C. Pemilihan Umum...............................................................................36
BAB III
PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2008.....................................44
A. Persyaratan Calon Presiden dan Wakil Presiden...............................44
B. Mekanisme Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang diatur
dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008................................48
BAB IV
ANALISIS UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG
PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TERHADAP
PRINSIP KEDAULATAN RAKYAT YANG TERMAKTUB DI
DALAM UNDANG-UNDANG DASAR 1945…………...........................55
A. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara Langsung Melalui
Pemilu………………………………………………………............55
B. Calon Presiden dan Wakil Presiden dan Wakil Presiden Independen
dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.................................66
BAB V
PENUTUP....................................................................................................70
A. Kesimpulan........................................................................................70
B. Saran..................................................................................................71
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................73
ix
DAFTAR LAMPIRAN
1. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 26/PUU-VII/2009
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring berayunnya bandul sejarah, sejak proklamasi kemerdekaan
Negara Republik Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945
hingga sekarang, bangsa Indonesia ternyata telah mengenal lima konstitusi,
yaitu: Konstitusi Pertama, adalah Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia yang ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945. Konstitusi Kedua, adalah Konstitusi
(Sementara) Repubik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS) tahun 1949, buah
dari Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tanggal 27 Desember 1949.
Konstitusi Ketiga, adalah Undang-undang Dasar Sementara (UUDS) tahun
1950 yang ditetapkan tanggal 15 Agustus 1950, dengan Undang-undang
nomor 7 tahun 1950. Konstitusi Keempat, sama dengan konstitusi pertama
yang berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dengan nuansa spirit Piagam
Djakarta. Konstitusi Kelima, Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang telah diubah empat kali, tahun 1999 sampai
2002.1
Kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintahan yang dianggap
sangat otoriter mendorong terjadinya reformasi disegala bidang, termasuk
perubahan UUD 1945. Perubahan Undang-undang Dasar Negara Republik
1
Taufiqurrohman Syahuri,Tafsir Konstitusi Berbagai Aspek Hukum(Jakarta: Kencana,
2011), h. v-vi.
1
2
Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) memberikan landasan yang
kuat bagi bangsa untuk mengatur dan mengarahkan penyelenggaraan negara,
terbentuknya good governance, serta mendukung penegakan demokrasi dan
hak-hak asasi manusia sesuai harapan rakyat dan semangat reformasi.2
Perubahan UUD 1945 pun telah membawa dampak yang besar terhadap
perubahan sistem hukum dan perundang-undangan yang berhubungan erat
dengan masalah kenegaraan.3
UUD 1945 saat ini telah mengalami perubahan secara mendasar.
Dikatakan mendasar bukan saja karena adanya penambahan secara signifikan
dalam jumlah ketentuannya (bab, pasal, ayat) maupun diadopsinya lembagalembaga negara baru melainkan memang ada hal fundamental yang berubah
sehingga membawa dampak sistemik.4Perubahan itu telah melahirkan
konstitusi yang baru meskipun tetap dinamakan sebagai UUD NRI Tahun
1945. Pokok-pokok pikiran yang terkandung didalam rumusan pasal-pasal
UUD NRI tahun 1945 benar-benar berbeda dari pokok pikiran yang
terkandung dalam naskah asli UUD NRI Tahun 1945 yang pertama kali
disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.5
2
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia (Jakarta: Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat
Republik Indonesia, 2012), h. xvii.
3
Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-Undangan (1): Jenis, Fungsi ,
Materi Muatan (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 1-2.
4
I Dewa Gede Palguna, Pengaduan Konstitusional (Constitutional Complaint):
Upaya Hukum Terhadap Pelanggaran Hak-Hak Konstitusional (Jakarta: Sinar Grafika,
2013), h. 492-493.
3
Perubahan UUD NRI Tahun 1945 berdampak pada perubahan
kedudukan, tugas, dan wewenang MPR. Kedudukan MPR tidak lagi sebagai
lembaga yang memegang dan melaksanakan sepenuhnya kedaulatan rakyat,
karena kedaulatan rakyat pasca perubahan konstitusi dilaksanakan menurut
UUD NRI Tahun 1945. Kedudukan MPR, seperti halnya lembaga-lembaga
negara lain, tergantung pada wewenang, tugas, dan fungsi yang diberikan
oleh UUD NRI Tahun 1945. Perubahan kedudukan MPR tersebut juga
berimplikasi pada hilangnya wewenang MPR untuk membentuk Ketetapan
MPR yang bersifat megatur keluar, seperti Garis-Garis Besar Haluan
Negara.6Tugas Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk memilih Presiden dan
Wakil Presiden-pun hilang.
Sejak tumbangnya Orde Baru pada 1998, Indonesia telah menempuh
jalan demokrasi.7 Pengertian dan pelaksanaan demokrasi bagi rakyat
Indonesia tidak merupakan soal baru.8 Di dalam UUD NRI Tahun 1945
Amandemen tidak menjelaskan satupun didalam klausul-klausulnya tentang
Lembaga Negara yang menjalankan kedaulatan rakyat tersebut, sehingga
pelaksanaan kedaulatan rakyat itu dijalankan dengan pemilu yang dilakukan
oleh rakyat secara langsung tanpa perlu dilembagakan. Indonesia sejak
digulirkannya reformasi kembali menggunakan demokrasi (pemilu) secara
5
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, h. xix.
6
Ibid., h. xix-xx.
7
AE Priyono, dkk, Menjadikan Demokrasi Bermakna: Masalah dan Pilihan di
Indonesia (Jakarta: Demos, 2007), h. 43.
8
Soepardo, dkk, Manusia Dan Masyarakat Baru Indonesia: Civics (Jakarta:
Departemen P. P. Dan K., 1960), h. 81.
4
langsung dalam mengangkat orang-orang yang akan menjabat didalam
lembaga-lembaga Negara yang ada di Negara Republik Indonesia, termasuk
Presiden dan Wakil Presiden.
Bagi sejumlah Negara yang menerapkan atau mengklaim diri sebagai
Negara demokrasi, pemilu memang dianggap sebagai lambing sekaligus
tolok ukur utama dan pertama demokrasi.9 Partai politik mempunyai posisi
(status) dan peranan (role) yang sangat penting dalam setiap demokrasi.Partai
memainkan peran penghubung yang sangat strategis antara proses-proses
pemerintahan dengan warga Negara. Bahkan banyak yang berpendapat
bahwa partai politiklah yang sebetulnya menentukan demokrasi.10
Demokrasi digamabarkan oleh Aristoteles
ialah “… landasan
demokratis adalah kebebasan; yang menurut pendapat orang pada umumnya,
hanya dapat dinikmati dalam Negara semacam itu, hal ini diakui sebagai
tujuan utama setiap demokrasi. Salah satu prinsip kebebasan ialah setiap
orang secara bergantian wajib memerintah dan diperintah, dan memang
keadilan demokratis merupakan penerapan persamaan jumlah bukan
proporsi, dari situ disimpulkan bahwa mayoritas harus memiliki kekuasaan
tertinggi, dan apa pun yang disetujui oleh mayoritas harus menjadi tujuan dan
adil. Setiap warga Negara, dikatakan, harus mempunyai persamaan, dan oleh
karenanya dalam sebuah demokrasi, kaum miskin mempunyai kekuasaan
lebih banyak daripada kaum kaya, karena jumlah mereka lebih besar, dan
9
Titik Triwulan Tutik, Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Amandemen
UUD 1945 (Jakarta: Kencana, 2010), h. 329.
10
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara (Jakarta: Rajawali Pers,
2009), h. 401.
5
kehendak mayoritaslah yang paling tinggi. Oleh karena itu hal ini merupakan
salah satu sifat kebebasan yang dianut oleh kaum democrat sebagai perinsip
Negara mereka.”11
Untuk memahami pelaksanaan kedaulatan rakyat di Indonesia ini, baik
sebelum UUD 1945 di amandemen maupun sesudah UUD 1945
diamandemen, ada baiknya perkataan Prof. Soepomo yang juga menjadi
penjelasan didalam UUD 1945 menjadi acuan, yaitu, “Memang untuk
menyelidiki hokum dasar (droit constitutionnel) satu Negara, tidak cukup
hanya
menyelidiki
pasal-pasal
Undang-Undang
Dasarnya
(loi
constitutionelle) saja, akan tetapi harus menyelidiki juga bagaimana
prakteknya dan bagaimana suasana kebatinannya (geistlichen Hintergrund)
dari Undang-Undang Dasar itu.”
Indonesia mengalami banyak perubahan kedaulatan dan pelaksanaan
kedaulatan tersebut beriringan dengan konstitusi yang berlaku. Bahkan
fenomena yang sekarang terjadi ialah kedaulatan rakyat yang diatur dalam
UUD 1945 Amandemen, makin lama kedaulatan rakyat tersebut malah
cenderung bergeser atau berubah menjadi kedaulatan parpol.
Perkembangan menunjukan, dalam industri politik harga demokrasi
ternyata sangat mahal. Butuh modal banyak kalau ingin investasi dalam pasar
demokrasi.12 Pada pemilu tahun 2004, beberapa partai politik mengeluarkan
dana cukup besar untuk belanja iklan. Berdasarkan pemantauan Transparancy
11
Diane Ravitch dan Abigail Thernstrom, Demokrasi: Klasik dan Modern (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 13.
12
Ruslan Ismail Mage, Industri Politik: Strategi Investasi Politik Dalam Pasar
Demokrasi, (Jakarta: RMBOOKS, 2009), h. xii.
6
International (TI), Indonesia selama pekan pertama kampanye di 15 persen
daerah pemilihan, tercatat PDIP mengeluarkan dana kampanye terbanyak
sebesar Rp. 3,6 miliar. Nilai ini masih ditambah dengan dengan biaya iklan di
televisi yang biaya penayangannya saja hingga minggu kedua kampanye
mencapai Rp. 7 miliar. Dibelakangnya menyusul PAN dengan Rp. 1,9 miliar,
PPP Rp. 1,8 miliar, PKB Rp. 1,4 miliar, PKS Rp. 1,3 miliar, Golkar Rp. 867
Juta, serta PBB Rp. 284 juta.13Selain itu, dari beberapa liputan media
menjelaskan, untuk menjadi caleg di kabupaten/ kota, harus menyiapkan dana
75 sampai 100 juta, untuk caleg tingkat satu di Provinsi 150 sampai 300 juta,
untuk caleg DPR RI 500 juta sampai 1 miliar. Lebih mengejutkan lagi, untuk
pilkada menurut hitungan Asro Kamal Rokan harus mengeluarkan 30 miliar
untuk satu pasangan, untuk gubernur pasti lebih besar lagi. Jika rata-rata
setiap calon bupati dan walikota mengeluarkan sekitar 30 miliar, maka uang
tidak produktif yang beredar didalam 483 pilkada seluruh indonesia sekitar
14,4 triliun. Sedang untuk 33 provinsi jika rata-rata 75 miliar lebih, maka
uang tidak produktif bertebar sekitar 2,4 triliun rupiah.14 Maka tak heranlah,
jika setiap calon yang berhasil menduduki jabatan yang diincarnya berusaha
untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya dan mencari modal
kembali untuk persiapan pemilu periode berikutnya lewat jalan korupsi.
Selain itu, para elit yang terlibat masalah korupsi uang negara dan uang
rakyat – sudah jelas-jelas dengan bukti nyata – berhasil lolos melarikan diri
malahan menduduki jabatan penting. Bahkan, sibuk menyiapkan diri untuk
13
14
Ibid., h. 116.
Ibid., h. 168.
7
berlaga dalam komedi capres mendatang untuk menyelamatkan diri sendiri.15
Oleh karena masalah itulah, penulis menulis skripsi ini dengan judul yaitu:
“PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DALAM RANGKA
PELAKSANAAN KEDAULATAN RAKYAT DI INDONESIA (Analisis
Yuridis Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Presiden
Dan Wakil Presiden).
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis tidak membahas persoalan
seluruh pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang pernah dilaksanakan di
Indonesia, penulis hanya memfokuskan penelitian pada pelaksanaan
kedaulatan rakyat di Indonesia dalam hal memilih Presiden dan Wakil
Presiden pada era reformasi yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 42
Tahun 2008.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah yang akan dihasilkan
ialah:
a) Bagaimana mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di
Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun
2008?
15
Adhie M. Massardi, dkk, Pilpres Abal-Abal Republik Amburadul (Jakarta:
Republika Penerbit, 2011), h. xiii.
8
b) Apakah pemilihan presiden yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor 42 tahun 2008 telah sesuai dengan prinsip Kedaulatan Rakyat
yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945?
C. Tujuan dan manfaat penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini ialah:
a) Untuk mengetahui mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden di Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 42
Tahun 2008.
b) Untuk mengetahui keselarasan pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden yang diatur oleh Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008
dengan prinsip Kedalatan Rakyat yang termaktub di dalam UndangUndang Dasar 1945.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain:
a. Manfaat akademis
Secara
memberikan
akademis,
sumbangan
penelitian
bagi
ini
diharapkan
perkembangan
ilmu
dapat
hokum
khususnya ilmu hukum kelembagaan Negara.
b.
Manfaat praktis
Penelitian
ini
diharapkan
memberikan
sumbangan
pemasukan bagi pejabat-pejabat di lembaga-lembaga Negara dalam
9
menetapkan hukum untuk membangun kehidupan berbangsa dan
bernegara.
c.
Manfaat untuk masyarakat
Penelitian ini pun diharapkan dapat memberi pemahaman
kepada masyarakat luas akan kedaulatan yang berada ditangannya,
dan memberikan kesadaran kepada rakyat agar kedaulatan tersebut
tidak hilang begitu saja dan dapat dipergunakan dengan sebaikbaiknya, terutama dalam memilih Presiden dan Wakil Presiden.
D. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan ialah jenis penelitian normatif.
Penelitian hukum normatif adalah jenis penelitian yang lazim dilakukan
dalam kegiatan pengembangan Ilmu Hukum yang di Barat biasa juga disebut
dogmatika Hukum.16 Penelitian hukum normatif mencakup penelitian
terhadap asas-asas hukum, penelitian terhadap sistematika hukum, penelitian
terhadap sinkronisasi hukum, penelitian sejarah hukum, dan penelitian
perbandingan hukum.17
16
Sulistiyowati Irianto dan Shidarta, ed., Metode Penelitian Hukum: Konstelasi dan
Refleksi (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009), h. 142.
17
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press, 1983), h. 51
10
2. Teknik Pendekatan
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan pendekatan
perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual
approach dan pendekatan sejarah (history approach).18
Pendekatan undang-undang dilakukan dengan menelaah peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan.
Dalam hal ini peraturan perundang-undangan yang akan digunakan adalah
UUD 1945, UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden, serta Peraturan perundang-undangan lain yang menunjang
penelitian skripsi ini.
Pendekatan konseptual diambil dari pandangan-pandangan dan doktrindoktrin yang berkembang dalam penelitian ini. Secara konseptual,kedaulatan
rakyat dan mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil Presiden sudah tertuang
dalam UU Nomor 42 Tahun 2008, namun untuk melengkapi, maka perlu
diadakan penelitian lebih lanjut terhadap pandangan-pandangan dari berbagai
pihak serta konsep yang terdapat didalam peraturan perundang-undangan
yang pernah digunakan atau yang masih berlaku sampai saat ini berkaitan
dengan kedaulatan rakyat dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
Selnjutnya ialah pendekatan sejarah sebagai pelengkap untuk
mengetahui latar belakang yang mempengaruhi berubahnya pelaksanaan
kedaulatan rakyat dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
3. Jenis Data Dan Bahan Hukum
18
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Jakarta: Kencana, 2005), h. 93.
11
Data yang dipergunakan dalam penelitian skripsi ini adalah data
sekunder. Data sekunder dalam penelitian hukum adalah data yang diperoleh
dari hasil penelaahan kepustakaan atau penelaahan terhadap berbagai literatur
atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian
yang sering disebut bahan hukum.19
Adapun data sekunder atau bahan hukum yang digunakan penulis
adalah:
a. Bahan hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan,
yurisprudensi
atau
keputusan
pengadilan
dan
perjanjian
internasional (traktat).20 Bahan hukum primer yang digunakan
penulis dalam penelitian ini antara lain seperti UUD 1945 (sebelum
amandemen), UUD NRI 1945 amandemen, Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 2008, ketetapan MPRS Nomor XI/MPRS/1966
tentang pemilu, Putusan MK Nomor 98/PUU-VII/2009, Putusan
MK Nomor 99/PUU-VII/2009, Putusan MK Nomor 102/PUUVII/2009.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang dapat
memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yang dapat
berupa rancangan perundang-undangan, hasil penelitian, buku,
19
Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum
Normatif Dan Empiris (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 156.
20
Ibid., h. 157.
12
buku teks, jurnal ilmiah, surat kabar (koran), pamflet, leaflet,
brosur, dan berita internet.21
c. Bahan non hukum, ini dapat berupa semua literatur yang berasal
dari non hukum, sepanjang berkaitan atau mempunyai relevansi
dengan topik penelitian.22
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum normatif dilakukan
dengan studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan hukum
primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tersier dan/atau bahan
non hukum. Penelusuran bahan bahan hukum tersebut dilakukan dengan
membaca, melihat, mendengarkan, maupun dilakukan penelusuran dengan
melalui media internet.23
5. Teknik Pengolahan Data
Setelah data dan bahan hukum dikumpulkan tahap selanjutnya adalah
adalah melakukan pengolahan data, yaitu mengelola data sedemikian rupa
sehingga data dan bahan hukum tersebut tersusun secara runtut, sistematis,
sehingga akan memudahkan penulis melakukan analisis.24
Dalam penelitian hukum normatif, pengolahan bahan berwujud
kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum
21
Ibid., h. 157-158.
22
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, h. 143.
23
Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum, h.
160.
24
Ibid., h. 180.
13
tertulis. Dalam hal ini pengolahan bahan dilakukan dengan cara, melakukan
seleksi data sekunder atau bahan hukum, kemudian melakukan klasifikasi
menurut penggolongan bahan hukum dan menyusun data hasil penelitian
tersebut secara sistematis.25
6. Teknik Penulisan
Teknik penulisan ini mengacu kepada buku pedoman penulisan skripsi
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun2012.
E. Review Kajian Terdahulu
Banyak
ahli-ahli
yang
membahas
tentang
kedaulatan
rakyat,
diantaranya ialah Sri Edi Swasno (Pembangunan BerwawasanSejarah:
Kedaulatan Rakyat, Demokrasi Ekonomi, Dan Demokrasi Politik) dan Bagar
Manan (Kedaulatan Rakyat, Hak Asasi Manusia, Dan Negara Hukum).
Selain itu banyak pula sarjana-sarjana yang menulis skripsi tentang
kedaulatan rakyat ini, seperti Herni Lestari, Kedaulatan Rakyat Dalam
Perspektif Politik Islam Dan Politik Indonesia (UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2004) dan Nurul Ghazy, Pengaruh Globalisasi Terhadap Kedaulatan
Negara Indonesia (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2009).
Namun penulis menganggap bahwa skripsi ini unik daripada yang lain,
karena selain membahas tentang teori-teori tentang demokrasi, pemilu, dan
partai politik, serta konsep kedaulatan rakyat dalam perspektif Islam. Selain
25
Ibid., h. 181.
14
itu juga skripsi ini berusaha untuk menggali konsep dan pelaksanaan
kedaulatan rakyat bangsa Indonesia berdasarkan sejarah. Oleh karena itu
skripsi ini diharapkan dapat melengkapi pustaka-pustaka ilmu hukum
Kelembagaan Negara.
F. Sistematika Penelitian:
Bab I:
berisi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian,
review kajian terdahulu, dan sistematika penelitian.
Bab II:
berisi pengertian kedaulatan rakyat, pengertian partai
politik, dan pengertian pemilu.
Bab III:
menguraikan syarat-syarat untuk menjadi Presiden dan
Wakil Presiden serta mekanisme pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun
2008
Bab IV:
menguraikan putusan MK terhadap pengujian UndangUndang Nomor 42 Tahun 2008, dan analisa UndangUndang Nomor 42 Tahun 2008 terhadap prinsip kedaulatan
rakyat yang terdapat dalam UUD 1945.
Bab V
bab ini merupakan bab terakhirdari penulisan skripsi ini,
untuk itu penulis menarik beberapa kesimpulan dari hasil
penelitian serta memberikan saran dan kritik yang dianggap
perlu pada permasalahan yang diteliti.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KEDAULATAN RAKYAT, PARTAI
POLITIK, DAN PEMILIHAN UMUM
A. Kedaulatan Rakyat
1. Sejarah Kedaulatan Rakyat (Demokrasi)
Dalam perkembangannya, teori kedalatan memiliki beberapa macam
antara lain Kedaulatan Tuhan, Kedaulatan Raja, Kedaulatan Negara,
kedaulatan Hukum, dan Kedaulatan Rakyat. Di abad 21 ini, Kedaulatan
Rakyat yang hampir dipakai oleh seluruh negara-negara di dunia, atau yang
lebih dikenal dengan istilah demokrasi.
Pada permulaan pertumbuhannya, demokrasi telah mencakup beberapa
asas dan nilai yang diwariskan kepadanya dari masa yang lampau, yaitu
gagasan mengenai demokrasi dari kebudayaan Yunani Kuno dan gagasan
mengenai kebebasan beragama yang dihasilkan oleh aliran reformasi serta
perang agama yang menyusulnya. Sistem demokrasi yang terdapat di negara
kota (citystate) Yunani Kuno abad ke-6 sampai abad ke-3 sebelum masehi
merupakan demokrasi langsung, yaitu suatu bentuk pemerintahan di mana
hak untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung
oleh seluruh warga negara yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas. 26
Gagasan demokrasi Yunani boleh dikatakan hilang dari muka dunia
barat waktu bangsa Romawi berkuasa, yang dikatakan oleh suku bangsa
26
Ni’matul Huda, Ilmu Negara (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 197.
15
16
Eropa Barat dan benua Eropa memasuki Abad Pertengahan dari tahun 6001400. Masyarakat Abad Pertengahan dicirikan oleh struktur sosial yang
feodal, yang kehidupan sosial serta spiritualnya dikuasai oleh Paus dan
pejabat-pejabat agama lainnya, yang kehidupan politiknya ditandai oleh
perebutan kekuasaan antara para bangsawan satu sama lain. Dilihat dari sudut
perkembangan, demokrasi Abad Pertengahan menghasilkan suatu dokumen
yang penting, yaitu Magna Charta 1215.
Sebelum abad pertengahan berakhir, di Eropa Barat , pada permulaan
abad ke-16, muncul negara-negara nasional (national state) dalam bentuk
yang modern, menyebabkan Eropa Barat mengalami beberapa perubahan
sosial dan kultural dalam rangka mempersiapkan jalan untuk memasuki
zaman
yang
lebih
modern
dengan
keyakinan
bahwa
akal
dapat
memerdekakan diri dari pembatasan-pembatasannya. Dua kejadian ini ialah
Renaissnce (1350-1650) yang terutama berpengaruh di Eropa Selatan, seperti
Italia, dan Reformasi (1500-1650) yang mendapat banyak pengikutnya di
Eropa Utara, seperti Jerman, Swiss, dan sebagainya.
Renaissance adalah aliran yang menghidupkan kembali minat kepada
kesuastraan dan kebudayaan Yunani Kuno yang selama Abad Pertengahan
telah disisihkan. Aliran ini membelokkan perhatian yang tadinya semata-mata
diarahkan kepada tulisan-tulisan keagamaan kearah soal-soal keduniawian
dan mengakibatkan timbulnya pandangan-pandang baru. Reformasi serta
perang-perang agama yang menyusul, menyebabkan manusia berhasil
melepaskan diri dari penguasaan kereja, baik di bidang spiritual dalam bentuk
17
dogma maupun di bidang sosial dan politik. Hasil dari pergumulan ini ialah
timbulnya gagasan mengenai perlunya ada kebebasan beragama serta ada
garis pemisah yang tegas antara soal-soal agama dan soal-soal keduniawian,
khususnya dibidang pemerintahan. Ini dinamakan pemisahan antara gereja
dan negara.
Kedua aliran pikiran tersebut, mempersiapkan orang Eropa Barat pada
masa 1650-1800 menyelami masa Aufklarung (Abad Pemikiran) beserta
Rasionalisme, suatu aliran pikiran yang ingin memerdekakan pemikiran
manusia dari batas-batas yang ditentukan oleh gereja dan mendasarkan
pemikiran atas akal (ratio) semata-mata.27 Kebebasan berpikir membuka jalan
untuk meluasakan gagasan ini dibidang politik. Timbullah gagasan bahwa
manusia mempunyai hak-hak politik yang tidak boleh diselewengkan oleh
raja dan mengakibatkan dilontarkannya kecaman-kecaman terhadap raja,
yang menurut pola yang sudah lazim pada masa itu mempunyai kekuasaan
tak terbatas.
Monarki-monarki absolut ini telah muncul dalam masa 1500-1700,
sesudah berakhirnya Abad Pertengahan. Raja-raja absolut menganggap
dirinya berhak atas tahtanya berdasarkan konsep “Hak Suci Raja” (Divine
Right of Kings). Kecaman-kecaman yang dilontarkan terhadap gagasan
absolutisme mendapat dukungan kuat dari golongan menengah (middle class)
yang mulai berpengaruh berkat majunya kedudukan ekonomi serta mutu
pendidikannya.
27
238-241.
Ni’matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h.
18
Pendobrakan terhadap kedudukan raja-raja absolut ini didasarkan atas
suatu teori rasionalistis yang umumnya dikenal sebagai social contract
(kontrak sosial). Salah satu dari gagasan kontrak sosial ialah bahwa dunia
dikuasai oleh hukum yang timbul dari alam yang mengandung prinsip-prinsip
keadilan yang universil. Kontrak sosial beranggapan bahwa raja diberi
kekuasaan oleh rakyat untuk menyelenggarakan penertiban dan menciptakan
suasana dimana rakyat dapat menikmati hak-hak alamnya dengan aman.
Sebagai akibat dari pergolakan tersebut, pada akhir abad ke 19 gagasan
mengenai demokrasi mendapat wujud yang konkrit sebagai program dan
sistem politik. Demokrasi pada tahap ini semata-mata bersifat politis dan
mendasarkan dirinya atas azas-azas kemerdekaan individu, kesamaan hak
(equal rights) serta hak pilih untuk semua warga negara (universal suffrage)28
Sejak awal abad ke-20, gelombang aspirasi kearah kebebasan dan
kemerdekaan umat manusia dari penindasan dan penjajahan meningkat tajam
dan terbuka dengan menggunakan “pisau” demokrasi dan HAM sebagai
instrument perjuangan yang efektif dan membebaskan.29
2.
Pengertian Kedaulatan Rakyat
Kedaulatan adalah sebuah istilah hukum yang sangat dalam dan jauh
arti maknanya, walaupun mempunyai perbatasan yang tegas bagi para ahli
28
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2005), h. 55-56.
29
Jimly Asshiddiqie, Menuju Negara Hukum Yang Demokratis (Jakarta: Sekretariat
Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2008), h. 533.
19
hokum internasional.30 Sifat khusus pada suatu negara yang membedakannya
dengan semua unit perkumpulan lainnya adalah negara memiliki kekuasaan
untuk membuat dan melaksanakan undang-undang dengan segala cara
maupun paksaan yang diperlukan. Kekuasaan seperti ini disebut kedaulatan.31
Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi untuk menentukan hukum dalam
negara. Sifat-sifat kedaulatan itu tunggal, asli, dan tidak terbagi. 32Jadi kalau
suatu undang-undang atau tindakan menimbulkan percekcokan dalam suatu
negara, maka kekuasaan tertinggi itulah yang akan menjatuhkan putusan
terakhir. Itulah yang terkuasa, yang berdaulat.33
Secara internal, istilah ini bermakna supermasi seseorang atau
sekumpulan orang didalam negara atas individu-individu atau perkumpulan
individu dalam wilayah yuridiksinya. Secara eksternal, berarti independensi
mutlak satu negara sebagai suatu keseluruhan dalam hubungannya dengan
negara-negara lainnya. Secara etimologi, kata kedaulatan berarti superiritas
belaka, tetapi ketika diterapkan pada negara, kata tersebut berarti superioritas
dalam arti khusus.34
Menurut
Locke:
“Negara
diciptakan
karena
suatu
perjanjian
kemasyarakatan antara rakyat. Tujuannya ialah melindungi hak milik, hidup,
30
Muhammad Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945 Jilid Ketiga (Jakarta: Siguntang,
1960), h. 893.
31
C. F. Strong, Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Kajian Tentang Sejarah Dan
Bentuk-Bentuk Konstitusi Dunia (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2008), h. 8.
32
Abu Daud Busroh, Ilmu Negara (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 69.
33
Tan Malaka, Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi Politik (Jakarta: Marjin
Kiri, 1987), h. 12.
34
C. F. Strong, Konstitusi-Konstitusi Politik Modern, h. 9.
20
dan kebebasan, baik terhadap bahaya-bahaya dari dalam maupun bahayabahaya dari luar. Orang memberikan hak-hak alamiah kepada masyarakat,
tetapi tidak semuanya.”35 Teori kedaulatan rakyat ini antara lain juga diikuti
oleh Immanuel Kant, yaitu yang mengatakan bahwa tujuan Negara itu adalah
untuk menegakan hukum dan menjamin kebebasan daripada para warga
negaranya.36
Kedaulatan rakyat dapat diartikan dua macam:
a. Kedaulatan rakyat dalam arti: rakyatlah yang diangap menjadi
sumber atau asal segala kekuasaan dalam negara. Segala hokum
dan peraturan yang diciptakan oleh rakyat harus ditaati lebih
dari hokum atau peraturan manapun juga, lebih dari hukum yang
diperintahkan oleh Tuhan sekalipun. Dalam hal ini berlakulah
semboyan: “suara rakyat suara Tuhan”.
b. Kedaulatan rakyat dalam arti: rakyat merupakan tempat
kekuasaan yang tertinggi, kekuasaan mana sebenarnya karunia
Tuhan. Karena souvereiniteit menurut paham ini karunia Tuhan,
maka kebenaran hokum rakyat wajib diukur (diselaraskan)
dengan kehendak Tuhan.37
3. Konsep Demokrasi
Ada bermacam-macam istilah demokrasi. Semua konsep ini memakai
itilah demokrasi, yang menurut asal kata berarti “rakyat berkuasa” atau
35
Ni’matul Huda, Ilmu Negara, h. 189.
36
Soehino, Ilmu Negara (Yogyakarta: Liberty, 2005), h. 161.
37
Notohamidjojo, Teras Tatanegara (Solo: Sadu Budi, 1956), h. 5
21
“goverment or rule by the people”. (Kata Yunani demos berarti rakyat,
kratos/kratein berarti kekuasaan/ berkuasa).38
Tokoh yang menjadi bapak dari ajaran ini adalah J. J. Rousseau.
Menurut teori ini, rakyatlah yang berdaulat dan mewakilkan atau
menyerahkan kekuasaannya kepada negara. Kemudian negara memecah
menjadi beberapa kekuasaan yang diberikan kepada pemerintah ataupun
lembaga perwakilan. Apabila pemerintah tidak melaksanakan tugasnya sesuai
dengan kehendak rakyat, maka rakyat akan bertindak untuk mengganti
pemerintah itu. Kedaulatan rakyat ini, didasarkan pada kehendak umum yang
disebut dengan volonte generale oleh Rousseau.39
Kemauan bersama (volonte generale) ini, sebagai suatu kualitas.
Kemauan bersama senantiasa bertujuan kebaikan dan kepentingan bersama, ia
senantiasa benar dan adil. Ia akan mengalahkan kepentingan diri, yang
menurut pendapat Rousseau memang tidak akan muncul apabila manusia itu
dibiarkan berpikir sendiri tanpa dipengaruhi oleh bisikan dan hasutan dari
luar. Kemauan bersama, katanya, tidak sama dengan kemauan semua sekutu
(volonte des tous), ini termasuk dalam lingkungan kuantitas, yakni berupa
jumlah dari kemauan-kemauan yang ada. Kemauan bersama, adalah
pemegang kedaulatan yang tidak terbatas, tidak dapat diserahkan dan tidak
dapat pula dibagi-bagi. Kedaulatan terletak pada pihak yang memerlukan
kemauan bersama, jadi rakyat keseluruhan. Kemauan bersama juga
38
39
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, h. 50.
Jazim Hamidi, dkk, Teori Hukum Tata Negara: A Turning Point Of The State
(Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2012), h. 5.
22
merupakan sumber hukum yang senantiasa harus didasarkan pada
“bersamanya” bukan diuntukkan bagi seseorang atau segolongan.40
Oleh karena negara untuk kepentingan bersama, maka menurut
Montesquieu kekuasaan negara haruslah dipisah-pisahkan.41
Salah satu konsep demokrasi yang kita kenal ialah demokrasi
konstitusional. Demokrasi Konstitusional sendiri memiliki ciri tersendiri,
yaitu terbatasnya kekuasaan pemerintah serta tidak dibenarkannya tindakan
sewenang-wenang pemerintah kepada masyarakat. Kedua hal itu termaktub
secara gambling dalam konstitusi, yang menjadi acuan bagi pemerintah. Ciri
tersebut memiliki nafas yang sama dengan pernyataan Lord Acton, “power
tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely” (manusia yang
memiliki kekuasaan cenderung akan menyalah-gunakannya, dan apabila
manusia memiliki kekuasaan yang absolute atau tidak terbatas, tentunya akan
disalah gunakan). Pemisahan dan/atau pembagian kekuasaan, sehingga
kekuasaan tidak terpusat hanya pada satu lembaga atau individu, dalam
prakteknya di Indonesia dapat dilihat melalui tiga lembaga Negara utama
yang berperan dalam menjalankan roda pemerintahan, yaitu eksekutif
(presiden), legislatif (DPR) serta yudikatif (MA).
Sama halnya dengan sang induk, demokrasi konstitusional juga
berkembang merespon pada tuntutan zamannya. Setelah pada abad 19
menitik
beratkan
pada
penegakan
hokum
serta
HAM,
dalam
40
Firdaus Syam, Pemikiran Politik Barat: Sejarah, Ideologi, Dan Pengaruhnya
Terhadap Dunia Ke-3 (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 155.
41
C. S. T. Kansil dan Christine S. T. Kansil, Ilmu Negara (Jakarta: Sinar Grafika,
2007), h. 160.
23
perkembangannya dewasa ini, terdapat syarat-syarat bagi penyelenggaraan
demokrasi konstitusional, yaitu:
a.
Perlindungan konstitusionil, yang mencakup perlindungan terhadap
hak-hak individu serta prosedur untuk memperoleh perlindung
tersebut.
b.
Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak.
c.
Pemilihan umum yang bebas.
d.
Kebebasan untuk menyatakan pendapat.
e.
Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi.
f.
Pendidikan kewarganegaraan (civic education).42
Ciri khas demokrasi konstitusionil adalah :
a.
Gagasan bahwa pemerintah yang demokratis adalah pemerintah
yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak
sewenang-wenang terhadap negaranya.
b.
Pembatasan tercantum dalam konstitusi.
c.
Disebut “constitutional government“
Konsep demokrasi konstitusional memiliki tiga aspek utama, yaitu
penataan lembaga negara, proses legislasi, dan judicial review.
Aspek pertama, penataan lembaga negara merupakan hal penting
karena lembaga negara ini yang menjalankan kekuasaan negara. Prinsip
pembagian kekuasaan (division of powers) yang semula diagungkan diganti
42
B. Harimurti, “Sistem Pemerintahan Indonesia-Demokrasi Konstitusional”, artikel
diakses pada 10 Januari 2014 dari http://www.koranpagi.com/sistem-pemerintahanindonesia/
24
pemisahan kekuasaan (separation of powers) dengan prinsip checks and
balances. Perubahan signifikan dengan meninggalkan doktrin supremasi
parlemen menjadi supremasi konstitusi.Pemisahan kekuasaan dimaksudkan
agar tidak terjadi penumpukan kekuasaan yang berpeluang disalahgunakan.
Prinsip checks and balances ditandai fungsi legislasi di tangan Dewan
Perwakilan Rakyat (dan Dewan Perwakilan Daerah), tetapi presiden masih
memiliki hak mengajukan rancangan undang-undang, membahas, dan
memberikan persetujuan. Kekuasaan legislasi juga dikontrol dan diimbangi
Mahkamah Konstitusi dalam menguji konstitusionalitas undang-undang
(judicial review). Begitu pula kekuasaan eksekutif dikontrol dengan fungsi
pengawasan DPR dan DPD.
Prinsip ini melengkapi doktrin pemisahan kekuasaan dengan kelemahan
tidak mungkin kekuasaan mutlak diisi orang-orang dan fungsi yang murni
berbeda dan terpisah.Tetapi, pemisahan kekuasaan ini bukan tanpa masalah.
Janedjri menyatakan, bisa muncul ketegangan yang mengganggu fungsi
masing-masing lembaga negara karena beda tafsir atas kekuasaan masingmasing dan personifikasi lembaga dengan pribadi pejabat. Hubungan tidak
sehat manakala melibatkan hubungan emosional.
Aspek kedua, yaitu pembuatan hukum melalui proses legislasi.
Pembentukan hukum harus dilakukan melalui mekanisme demokratis dan
cerminan ideal dan kebutuhan masyarakat. Hak-hak konstitusional, termasuk
hak-hak masyarakat hukum adat, tidak boleh dilanggar norma yang
hierarkinya lebih rendah karena konstitusi akan turun derajat tertingginya.
25
Selain itu, Janedjri juga mengulas secara mendalam prasyarat demokratisasi
pembentukan undang-undang agar terpenuhi yaitu dengan ada keterbukaan,
forum publik, dan partisipasi dari masyarakat.
Aspek ketiga yaitu judicial review. Mekanisme ini penegasan prinsip
checks and balances, memperkuat negara demokrasi konstitusional, dan
mengawal konstitusi sebagai supreme law dan menjaga konstitusi agar
hidup.43
Carol C. Gould mengklasifikasikan demokrasi dalam tiga model, yaitu
(1) model individualisme liberal, (2) model pluralis, dan (3) model sosialisme
holistik. Teori model demokrasi model individualisme liberal menjeaskan
demokrasi sebagai pelindung orang dari kesewenang-wenangan kekuasaan
pemerintah, dan mendudukan pemerintah sebagai pelindung kebebasan
seluruh rakyat dari ancaman dan gangguan. Model demokrasi ini
menginginkan kesamaan universal bagi seluruh rakyat dan kesamaan hak bagi
seluruh rakyat itu dalam proses politik. Pandangan ini ditandai oleh one man
one vote.
Teori model pluralis merupakan kebalikan dari individualisme abstrak
yang menekankan kepentingan pribadi individu-individu yang saling lepas.
Dalam hal ini pluralisme memusatkan perhatian pada kepentingan kelompok
sebagai agregasi dari kepentingan individual, dan pemunculannya akan
mengakibatkan konflik dalam proses politik. Sehingga demokrasi politik
43
Flory Kresinda Sonnie, “Konsep Demokrasi dan Demokrasi Konstitusional
Indonesia”,
artikel
diakses
pada
10
Januari
2014
dari
http://konsepdemokrasi.blogspot.com/2012/03/konsep-demokrasi.html
26
ditafsirkan sebagai sistem pemerintahan yang menengahi konflik (kompetisi)
itu untuk memperoleh keseimbangan sosial. Menurut teori ini demokrasi
politik memaksimumkan terwakilinya individu-individu yang kepentingannya
mungkin tidak akan diwakili secara memadai oleh kekuasaan kelompok
tempat ia bergabung. Teori ini juga menyatakan bahwa pluralisme
melindungi kebebasan memilih para individu dengan menyediakan alternatifalternatif politik yang mampu mewakili pluralitas kelompok kepentingan
(interest group) ataupun partai. Struktur politik yang diciptakannya adalah
menutup kemungkinan hegemoni dari suatu kelompok atau partai tunggal.
Model pandangan ketiga, sosialisme holistik, merupakan salah satu
pendekatan yang menekankan demokrasi ekonomi dan muncul untuk
menanggapi ditolaknya kenyataan hubungan sosial dan ekonomi yang
dilontarkan oleh individualisme liberal.44
B. Partai Politik
1.
Sejarah Partai Politik
Partai politik pertama lahir dinegara-negara Eropa Barat. Dengan
meluasnya
gagasan
bahwa
rakyat
merupakan
faktor
yang
perlu
diperhitungkan serta diikut sertakan dalam proses politik, maka partai politik
telah lahir secara spontan dan berkembang menjadi penghubung antara rakyat
disatu pihak dan pemerintah di pihak lain. Partai politik umumnya dianggap
sebagai manifestasi dari suatu sistem politik yang sudah modern atau yang
44
Hendra Nurtjahjo, Filsafat Demokrasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 60-62.
27
sedang dalam proses memodernisasikan diri. Maka dari itu, dewasa ini di
negara-negara baru pun partai sudah menjadi lembaga politik yang biasa
dijumpai.45
Di negara-negara yang menganut paham paham demokrasi, gagasan
mengenai partisipasi rakyat mempunyai dasar ideologis bahwa rakyat berhak
turut menentukan siapa-siapa yang akan menjadi pemimpin yang nantinya
menentukan kebijaksanaan umum (public policy). Di negara-negara totaliter
gagasan mengenai partisipasi rakyat didasari pandangan elit politiknya bahwa
rakyat perlu dibimbing dan dibina untuk mencapai stabilitas yang langgeng.
Untuk mencapai tujuan itu, partai politik merupakan alat yang baik.46
Pada permulaan perkembangannya di negara-negara Barat seperti,
Inggris, Perancis, kegiatan politik pada mulanya dipusatkan pada kelompokkelompok politik dalam parlemen. Kegiatan-ini mula-mula bersifat elitis dan
aristokratis, mempertahankan kepentingan kaum bangsawan terhadap
tuntutan raja. Dengan meluasnya hak pilih, kegiatan politik juga berkembang
di luar parlemen dengan dengan terbentuknya panitia-pantia pemilihan yang
mengatur pengumpulan suara para pendukungnya menjelang masa pemilihan
umum. Oleh karena di rasa perlu memperoleh dukungan dari berbagai
golongan masyarakat, kelompok politik dalam parlemen lambat laun berusaha
memperkembangkan organisasi massa, dan dengan demikian terjalinlah suatu
hubungan tetap antara kelompok-kelompok politik dalam parlemen dengan
panitia pemilihan yang memiliki paham dan kepentingan yang sama, dan
45
46
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia (Yogyakarta: Graha ilmu, 2007), h. 101.
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, h. 159-160.
28
lahirlah partai politik. Partai politik semacam ini menekankan kemenangan
dalam pemilihan umum dan dalam masa antara kedua pemilihan umum
biasanya kurang aktif. Ia bersifat partai lindungan (patronage party) yang
biasanya tidak memiliki disiplin partai yang ketat. 47
Dalam perkembangan selanjutnya di Eropa Barat, timbul pula partai
yang lahir di luar parlemen. Partai-partai ini bersandar pada suatu pandangan
hidup atau ideologi tertentu seperti Sosialisme, Kristen Demokrat, dan
sebagainya. Dalam partai semacam ini disiplin partai lebih kuat, sedangkan
pimpinan lebih terpusat.48
Dinegara-negara jajahan partai-partai politik sering didirikan dalam
rangka pergerakan nasional di luar DPR kolonial. Malahan partai-partai
kadang-kadang menolak untuk duduk dalam badan legislatif, seperti yang
terjadi di India dan Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan dicapai dan dengan
meluasnya proses urbanisasi, komunikasi massa, serta pendidikan umum,
maka bertambah kuatlah kecenderungan untuk berpartisipasi dalam proses
politik melalui partai.49
2.
Definisi Partai Politik
Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu
kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi,
nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini adalah memperoleh
47
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia, h. 101-102.
48
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, h. 160.
49
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia, h. 102.
29
kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik melalui cara yang
konstitusional untuk melaksanakan kebijaksanaan yang mereka miliki.50
Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik,
definisi partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk
oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan
kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan
politik anggota, masyarakat, bangsa, dan negara, serta memelihara keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dibawah ini disampaikan beberapa definisi mengenai partai politik:
a) Carl J. Friedrich: Partai politik adalah sekelompok manusia
yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau
mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi
pimpinan
partainya
dan
berdasarkan
penguasaan
ini
memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang
bersifat idiil maupun materil.
b) R. H. Soltau: Partai politik adalah sekelompok warga negara
yang sedikit banyak terorganisir, yang bertindak sebagai suatu
kesatuan politik dan yang dengan memanfaatkan kekuasaannya
untuk memilih, bertujuan untuk menguasai pemerintahan dan
melaksanakan kebijaksanaan umum mereka
50
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, h. 160-161.
30
c) Sigmund Neumann: Partai Politik adalah dari aktivis-aktivia
politik yang berusaha untuk menguasai pemerintah serta
merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu
golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai
pandangan yang berbeda.
3.
Tujuan Partai Politik
Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik,
tujuan partai politik dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum partai politik adalah:
a) Mewujudkan cita-cita nasional bangsa indonesia sebagaimana
dimaksud dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
b) Menjaga dan memeihara keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
c) Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan pancasila
dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan.
d) Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tujuan khusus partai Politik adalah:
a) Meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam
rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan.
b) Memperjuangkan cita-cita partai politik dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dan.
31
c) Membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
4.
Fungsi Partai Politik
Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik,
partai politik memiliki fungsi antara lain:
a) Pendidikan bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi
warga indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
b) Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan
bangsa indonesia untuk kesejahteraan masyarakat.
c) Penyerap,
penghimpun,
dan
penyalur
aspirasi
politik
masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan
negara.
d) Partisipasi politik warga negara indonesia, dan.
e) Rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik
melalui
mekanisme
demokrasi
dengan
memperhatikan
kesetaraan dan keadilan gender.
Menurut A. Rahman H. I., fungsi partai politik adalah meliputi:
a) Sosialisasi politik
b) Partisipasi politik
c) Komunikasi politik
d) Artikulasi kepentingan
e) Agregasi kepentingan
32
f) Pembuatan kebijaksanaan51
Sedangkan menurut Miriam Budiardjo, partai politik di dalam negara
demokratis menyelenggarakan beberapa fungsi, antara lain:
a) Partai sebagai sarana komunikasi politik.
Partai politik menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi
masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga
kesimpangsiuran pendapat dalam masyarakat berkurang.
b) Partai sebagai sarana sosialisasi politik.
Adalah fungsi sebagai proses melalui mana seseorang
memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik yang
umumnya berlaku dalam masyarakat dimana dia berada.
Disamping itu sosialisasi politik juga mencakup proses melalui
mana masyarakat menyampaikan norma-norma dan nilai-nilai
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
c) Partai politik sebagai sarana recruitment politik.
Partai politik juga berfungsi untuk mencari dan mengajak orang
yang berbakatuntuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai
anggota partai.
d) Partai politik sebagai sarana pengatur konflik.
Dalam suasana demokrasi, persaingan dan perbedaan pendapat
dalam masyarakat adalah wajar. Jika sampai terjadi konflik,
partai politik berusaha untuk mengatasinya.
51
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia, h. 103-104.
33
5.
Klasifikasi Partai
Klasifikasi partai dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bila dilihat
dari segi komposisi dan fungsi keanggotaannya, secara umum dapat dibagi
dalam dua jenis, yaitu:
a) Partai Massa.
Partai massa mengutamakan kekuatan berdasarkan keunggulan
jumlah anggota, oleh karena itu ia biasanya terdiri dari
pendukung-pendukung dari berbagai aliran politik dalam
masyarakat yang sepakat untuk bernaung dibawahnya dalam
memperjuangkan suatu program yang biasanya luas dan kabur.
b) Partai kader
Partai kader mementingkan ketaatan organisasi dan disiplin
kerja dari anggota-anggotanya. Pimpinan partai biasanya
menjaga kemurnian doktrin politik yang dianut dengan jalan
mengadakan saringan terhadp calon anggotanya dan memecat
anggota yang menyeleweng dari garis partai yang ditetapkan.52
Klasifikasi lainnya menurut sifat dan orientasi, partai politik dapat
dibagi dalam dua jenis:
a) Partai Lindungan (Patronage Party).
Partai lindungan umumnya memiliki organisasi nasional yang
kendor (sekalipun organisasi ditingkat lokal cukup ketat),
disiplin yang lemah dan biasanya tidak terlalu mementingkan
52
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, h. 166.
34
pemungutan iuran secara teratur. Maksud utamanya ialah
memenangkan pemilihan umum untuk anggota-anggota yang
dicalonkannya, karena itu hanya giat menjelang masa-masa
pemilihan umum.
b) Partai Ideologi.
Partai
ideologi
Komunisme,
pandangan
atau
partai
azas
Kristen-Demokrat)
hidup
yang
(Sosialisme,
biasanya
digariskan
dalam
Fasisme,
mempunyai
kebijaksanaan
pimpinan dan berpedoman pada disiplin partai yang kuat dan
mengikat.
Terhadap
calon
anggota
diadakan
saringan,
sedangkan untuk menjadi anggota pimpinan disyaratkan lulus
melalui beberapa tahap percobaan. Untuk memperkuat ikatan
bathin dan kemurnian ideologi, maka dipungut iuran secara
teratur dan disebarkan organ-organ partai yang memuat ajaranajaran serta keputusan-keputusan yang telah dicapai oleh
pimpinan.53
Klasifikasi partai politik menurut jumlah sistem partai yang ada dalam
suatu negara. Klasifikasi ini antara lain:
a) Sistem Partai Tunggal.
Sistem satu partai atau sistem partai tunggal tidaklah layak
disebut sebagai “sistem” karena ia bukanlah kumpulan atau
unsur yang saling berhubungan karena tidak ada yang bersaing
53
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia, h. 105.
35
dalam sistem kepartaian tersebut. Bentuk partai tunggal identik
dengan
sistem
politik
totaliter
dan/atau
sistem
politik
komunisme.
b) Sistem Partai Hegemonik.
Agak berbeda dengan bentuk kepartaian tunggal, sistem partai
hegemonik hegemonik memberi ruang bagi partai-partai lain
untuk turut terlibat dalam konstelasi pemilihan umum dalam
sebuah sistem kepartaian. Namun tidak ubahnya dengan bentuk
partai tunggal, sistem partai hegemonik ternyata hanya
menyediakan ruang pengakuan bagi partai besar dukungan
pemerintah. Artinya, partai-partai politik lain yang terlibat
dalam sistem kepartaian hanya dijadikan legitimasi formal
pemerintah dalam rangka kebutuhan politik internasional rezim
yang berkuasa agar disebut sebagai pemerintahan yang
demokratis.
c) Sistem Dua Partai.
Sistem kepartaian ini menyediakan ruang bagi dua partai untuk
bersaing
guna
mendapatkan
dan/atau
mempertahankan
otoritasnya dalam suatu sistem politik. Dalam sistem ini
terbangun secara pasti antara partai berkuasa dengan partai
oposisi. Partai politik yang memenangkan suara terbanyak
dalam pemilihan umum secara otomatis menjadi partai berkuasa
selama waktu yang ditetapkan oleh konstitusi. Sedangkan partai
36
yang kalah menjadi partai oposisi yang memberikan antitesisi
atau counterpart pada setiap kebijakan dan/atau keputusan
politik yang dihasilkan oleh pemerintah.
d) Sistem Multi Partai.
Sistem multi partai adalah sistem kepartaian yang terdiri atas
dua atau lebih partai politik yang dominan. Sistem multi partai
merupakan produk dari struktur masyarakat yang pluralis,
heterogen, serta majemuk.54
C. Pemilihan Umum
1. Definisi Pemilihan Umum
Menurut Dr. Indria Samego, pemilihan umum disebut juga dengan
“Political Market”. Artinya bahwa pemilihan umum adalah pasar politik
tempat individu/ masyarakat berinteraksi untuk melakukan kontrak sosial
(perjanjian masyarakat) antara peserta pemilihan umum (partai politik)
dengan pemilih (rakyat) yang memiliki hak pilih setelah terlebih dahulu
melakukan serangkaian aktifitas politik yang meliputi kampanye, propaganda,
iklan politik melalui media massa cetak, audio, maupun audio visual, serta
media lainnya seperti spanduk, pamflet, selebaran bahkan komunikasi antar
pribadi yang berbentuk face to face (tatap muka) atau lobby yang berisi
penyampaian pesan mengenai program, platform, azas, ideologi serta janjijanji politik lainnya guna meyakinkan pemilih sehingga pada pencoblosan
54
Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik: Sebuah Bahasan Memahami Ilmu Politik,
(Yogyakarta: Graha ilmu, 2007), h. 114-118.
37
dapat menentukan pilihannya terhadap salah satu partai politik yang menjadi
peserta pemilihan umum untuk mewakilinya dalam badan legislatif maupun
eksekutif.55
Di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008, pemilihan umum
adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Tujuan Pemilihan Umum
Menurut Prof. Jimly Asshiddiqie, tujuan penyelenggaraan pemilihan
umum itu ada empat, yaitu:
a) Untuk memungkinkan terjadinya peralihan kepemimpinan
pemerintahan secara tertib dan damai.
b) Untuk memungkinkan terjadinya pergantian pejabat yang akan
mewakili kepentingan rakyat di lembaga perwakilan.
c) Untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat, dan.
d) Untuk melaksanakan prinsip hak-hak asasi warga negara.56
3. Azas Pemilihan Umum
Azas Pemilu yang ditetapkan di dalam Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD dan
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden
dan Wakil Presiden, yaitu:
55
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia, h. 147.
56
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 424.
38
a) Langsung
Artinya rakyat pemilih mempunyai hak untuk secara langsung
memberikan suaranya sesuai dengan kehendak hati nuraninya
tanpa perantara.
b) Umum
Artinya semua warga negara yang telah berusia 17 tahun atau
telah menikah berhak untuk memilih dan telah berusia 21 tahun
berhak dipilih dengan tanpa ada diskriminasi.
c) Bebas
Artinya rakyat pemilih berhak memilih menurut hati nuraninya
tanpa adanya pengaruh, tekanan, atau paksaan dari siapapun
atau dengan apapun.
d) Rahasia
Artinya rakyat pemilih dijamin oleh peraturan tidak akan
diketahui oleh pihak siapapun dan dengan jalan apapun siapa
yang dipilihnya.
e) Jujur
Semua pihak yang terlibat dalam pemilu harus bersikap jujur
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f) Adil
Setiap pemilihan dan parpol peserta pemilu mendapat perlakuan
yang sama serta bebas dari kecurangan pihak manapun.
39
4. Sistem Pemilihan Umum
Sistem pemilu berbeda satu sama lain, tergantung darimana hal itu
dilihat. Dari sudut kepentingan rakyat, apakah rakyat dipandang sebagai
individu
yang bebas untuk menentukan
pilihannya, dan sekaligus
mencalonkan dirinya sebagai calon wakil rakyat, atau apakah rakyat hanya
dipandang sebagai anggota kelompok yang sama sekali tidak berhak
menentukan siapa yang akan menjadi wakilnya dilembaga perwakilan rakyat,
atau juga tidak berhak untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.
Berdasarkan hal tersebut, sistem pemilu dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu antara sistem pemilihan mekanis dan sistem pemilihan organis.
Sistem pemilihan mekanis mencerminkan pandangan yang bersifat mekanis
yang melihat rakyat sebagai massa individu-individu yang sama. Baik aliran
liberalisme, sosialisme, dan komunisme sama-sama mendasarkan diri pada
pandangan mekanis.
Sementara itu dalam sistem pemilihan yang bersifat organis, pandangan
organis menempatkan rakyat sebagai sejumlah individu yang hidup bersama
dalam berbagai macam persekutuan hidup berdasarkan genealogis (rumah
tangga, keluarga), fungsi tertentu (ekonomi, industri), lapisan-lapisan sosial
(buruh, tani, cendikiawan), lembaga-lembaga sosial (universitas). Kelompokkelompok dalam masyarakat dilihat sebagai suatu organisme seperti
komunitas atau persekutuan-persekutuan hidup. Dengan pandangan demikian,
persekutuan-persekutuan hidup itulah yang diutamakan sebagai penyandang
dan pengendali hak pilih. Dengan perkataan lain, persekutuan-persekutuan
40
itulah yang mempunyai hak pilih untuk mengutus wakil-wakilnya kepada
badan perwakilan masyarakat.57
Sistem yang lebih umum, yaitu sistem pemilihan mekanis, sistem ini
biasa dilaksanakan dengan dua cara, yaitu:
a) Single-Member Constituency (satu daerah pemilihan memilih
satu wakil, biasanya disebut Sistem Distrik).
b) Multi-Member Constituency (satu daerah pemilihan memilih
beberapa wakil, biasanya dinamakan Sistem Perwakilan
Berimbang).58
Sistem yang pertama, sistem distrik. Dinamakan demikian karena
wilayah negara dibagi dalam distrik-distrik pemilihan atau dapil yang
jumlahnya sama dengan jumlah anggota lembaga perwakilan yang diperlukan
dipilih,59
dan hanya mempunyai satu wakil dalam lembaga perwakilan.
Calon yang dalam satu distrik
memperoleh suara terbanyak menang,
sedangkan suara-suara yang ditujukan kepada calon-calon lain dalam distrik
itu dianggap hilang dan tidak diperhitungkan lagi.60
Sementara itu, pada sistem yang kedua, yaitu sistem perwakilan
berimbang atau perwakilan proporsionil, persentase kursi di lembaga
perwakilan rakyat dibagikan kepada tiap-tiap partai politik, sesuai dengan
persentase jumlah suara yang diperoleh tiap-tiap partai politik. Umpamanya,
57
Ibid., h. 421-422.
58
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia, h. 151.
59
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 424.
60
A. Rahman H. I., Sistem Politik Indonesia, h. 151.
41
jumlah pemilih yang sah pada suatu pemilu tercatat ada 1.000.000 orang.
Jumlah kursi di lembaga perwakilan yang ditentukan 100 kursi, berarti untuk
satu orang wakil rakyat dibutuhkan jumlah suara 10.000. Pembagian kursi di
Badan Perwakilan Rakyat tersebut tergantung kepada berapa jumlah suara
yang didapat setiap partai politik yang ikut pemilihan umum.61
5. Kedaulatan Rakyat dan Pemilihan Presiden di Indonesia
Indonesia pernah mengalami beberapa metoda dalam hal pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden. Jika dilihat dari metoda yang digunakan,
pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dibagi menjadi 2 (dua), yaitu
pemilihan langsung dan pemilihan tak langsung.
Menurut teori, pengisian jabatan Presiden dapat dibedakan menjadi dua
cara utama, yaitu:
a) Pemilihan langsung (popular vote). Rakyat secara langsung
memilih calon-calon Presiden yang diajukan atau memajukan
diri dalam pemilihan.
b) Pemilihan tidak langsung (indirect popular vote). Pemilihan
tidak langsung dapat dibedakan antara:

Presiden dipilih oleh badan perwakilan rakyat seperti
Parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat.

Presiden dipilih oleh badan atau lembaga pemilih (electoral
college) yang sengaja “dibentuk” melalui pemilihan langsung
oleh rakyat untuk setiap kali pemilihan Presiden.
61
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 425.
42

Presiden dipilih oleh badan perwakilan rakyat pusat bersamasama dengan badan perwakilan rakyat negara bagian.

Presiden dipilih oleh badan perwakilan rakyat pusat dan oleh
anggota-anggota yang khusus dipilih badan perwakilan
rakyat negara bagian.62
I.
Pemilihan Presiden Langsung
Setelah Amandemen UUD 1945 selesai dilaksanakan maka tuntutan
akan pemilihan umum Presiden secara langsung dapat terrealisir. Ini
disebabkan karena Undang –Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 menyatakan bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat dan
dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Salah satu wujud dari
kedaulatan rakyat adalah penyelenggaraan Pemilihan Umum untuk memilih
Presiden dan Wakil Presiden yang dilaksanakan secara demokratis dan
beradab melalui partisipasi rakyat seluas-luasnya berdasarkan asas langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Pasal 6A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 menyatakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu
pasangan secara langsung oleh rakyat. Pasangan Calon Presiden dan Wakil
Presiden diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta
pemilihan umum sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum.63
62
Jimly Asshiddiqie, dkk, Gagasan Amandemen UUD 1945 dan Pemilihan Presiden
Secara Langsung (Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan MKRI, 2006), h. 36-37.
63
Aris Sutanto, “Pemilihan Presiden Secara Langsung”, artikel diakses pada 22
November 2013 dari http://arissutanto.blogspot.com/2009/03/pemilihan-presiden-secaralangsung_29.html
43
II.
Pemilihan Presiden Tidak Langsung
Pemilihan Presiden secara Tidak Langsung pernah dilakukan di
Indonesia sebelum Amandemen UUD 1945 dilakukan, khususnya terjadi
pada masa Orde Baru. Pada Masa Orde Baru Pemilihan Presiden
dilaksanakan oleh MPR sebagai pemegang kedaulatan rakyat sesuai dengan
Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 sebelum amandemen. Namun Proses Pemilu
secara tidak langsung terjadi karena, MPR yang berisikan DPR dan Utusan
dari daerah-daerah serta utusan dari golongan-golongan, DPR dipilih melalui
pemilihan umum secara langsung oleh rakyat. Namun sayangnya pada masa
kepemimpinan Presiden Soeharto, sebagian besar anggota MPR ditunjuk dan
diberhentikan oleh presiden, sehingga memungkinkan Soeharto menjabat
presiden berulang kali.
BAB III
PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN MENURUT
UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2008
A. Persyaratan Calon Presiden Dan Wakil Presiden
Dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008, persyaratan
untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden antara lain:
1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2) Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah
menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri.
3) Tidak pernah mengkhianati negara, serta tidak pernah
melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana berat
lainnya.
4) Mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas
dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
5) Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
6) Telah melaporkan kekayaannya kepada instansi yang berwenang
memeriksa laporan kekayaan penyelenggara negara.
7) Tidak sedang memilik tanggungan utang secara perseorangan
dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya
yang merugikan keuangan negara.
8) Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan .
44
45
9) Tidak pernah melakukan perbuatan tercela
10) Terdaftar sebagai pemilih.
11) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah
melaksanakan kewajiban membayar pajak selama 5 (lima) tahun
terakhir yang dibuktikan dengan Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi.
12) Belum pernah menjabat sebagai Presiden atau Wakil Presiden
selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama.
13) Setia kepada pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita
Proklamasi 17 Agustus 1945.
14) Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena
melakukan tindak pidana karena melakukan tindak pidana yang
diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
15) Berusia sekurang-kurangnya 35 (tiga puluh lima) tahun.
16) Berpendidikan paling rendah tamat Sekolah Menengah Atas
(SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain
yang sederajat.
17) Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis
Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang
yang terlibat langsung dalam G30S/PKI.
46
18) Memiliki
visi
misi
dan
program
dalam
melaksanakan
pemerintahan negara Republik Indonesia.
Lalu menurut Pasal 8 UU Nomor 42 Tahun 2008, calon Presiden dan
Wakil Presiden diusulkan dalam 1 (satu) pasangan oleh Partai Politik atau
Gabungan Partai Politik. Jika calon presiden atau Wakil Presiden itu adalah
pejabat negara, maka menurut pasal 6 ayat (1) UU Nomor 42 Tahun 2008,
bahwa Pejabat Negara yang dicalonkan oleh Partai Politik atau Gabungan
Partai Politik sebagai calon Presiden atau calon Wakil Presiden harus
mengundurkan diri dari jabatannya.
Kemudian bakal pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut
mendaftarkan diri dengan melengkapi persyaratan, antara lain:
1) Kartu tanda penduduk dan akta kelahiran Warga Negara
Indonesia.
2) Surat keterangan catatan kepolisian dari Markas Besar
Kepolisian Negara Republik Indonesia.
3) Surat keterangan kesehatan dari rumah sakit pemerintah yang
ditunjuk oleh KPU.
4) Surat tanda terima atau bukti penyampaian laporan harta
kekayaan pribadi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK).
5) Surat keterangan tidak sedang dalam keadaan pailit dan/atau
tidak memiliki tanggungan utang yang dikeluarkan oleh
pengadilan negeri.
47
6) Fotokopi NPWP dan tanda bukti pengiriman atau penerimaan
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak
Orang Pribadi selama 5 (lima) tahun terakhir.
7) Daftar riwayat hidup, profil singkat, dan rekam jejak setiap
bakal calon.
8) Surat pernyataan belum pernah menjabat sebagai Presiden dan
Wakil Presiden selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan
yang sama.
9) Surat pernyataan setia kepada Pancasila sebagai dasar negara,
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagaimana yang
dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
10) Surat keterangan dari pengadilan negeri yang menyatakan
bahwa setiap bakal calon tidak pernah dijatuhi pidana penjara
berdasarkan putusan pengadilam yang telah mempunyai
ketetapan hukum tetap karena telah melakukan tindak pidana
yang diancam dengan pidan penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
11) Bukti kelulusan berupa fotokopi ijazah, STTB, syahadah,
sertifikat, atau surat keterangan lain yang di legalisasi oleh
satuan pendidikan atau program pendidikan menengah.
12) Surat keterangan tidak terlibat organisasi terlarang dan
G30S/PKI dari kepolisian.
48
13) Surat pernyataan bermaterai cukup tentang kesediaan yang
bersangkutan diusulkan sebagai bakal calon Presiden dan bakal
calon Wakil Presiden secara berpasangan.
B. Mekanisme Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden Yang Diatur Dalam
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008
Tatacara atau prosedur pemilihan Presiden dan Wakil Presiden menurut
Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen IV, yaitu:64
1) Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara
langsung oleh rakyat (pasal 6A ayat 1), setelah amandemen III.
2) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh
partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan
umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum (pasal 6A ayat 2),
setelah amandemen III.
3) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan
suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam
pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara di
setiap propinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah
propinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil
Presiden (pasal 6A ayat 3), setelah amandemen III.
4) Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil
Presiden terpilih, dua pasangan calon yang memperoleh suara
64
Irzu Muhammad, “Mekanisme Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden”, artikel
diakses pada 4 oktober 2013 dari http://id.shvoong.com/social-sciences/politicalsciences/2242883-mekanisme-pemilihan -presiden-dan wakil/#ixzz2gkhrQcEB.
49
terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih
oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh
suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil
Presiden.(pasal 6A ayat 4), setelah mandemen IV.
5) Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
lebih lanjut diatur dalam Undang-undang (pasal 6A ayat 5),
setelah amandemen III.
6) Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima
tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang
sama, hanyauntuk satu kali masa jabatan (pasal 7), setelah
amandemen I.
7) Sebelum memangku jabatannya, Presiden dan Wakil Presiden
bersumpah menurut agama, atau berjanji dengan sungguhsungguh dihadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau
Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut.
8) Jika Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan
Rakyat tidak dapat mengadakan sidang, Presiden dan Wakil
Presiden bersumpah menurut agama, atau berjanji dengan
dengan
sungguh-sungguh
dihadapan
pimpinan
Majelis
Permusyawaratan Rakyat dengan disaksikan oleh Pimpinan
Mahkamah Agung. (pasal 9 ayat 2), setelah amandemen I.
Sedangkan mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang
lebih rinci diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008, antara lain:
50
1) Pendaftaran bakal pasangan calon.
Pendaftaran bakal pasangan calon didaftarkan oleh partai politik
atau gabungan partai politik. (pasal 13 ayat 1)
2) Verifikasi bakal pasangan calon.
KPU melakukan verifikasi terhadap kelengkapan dan kebenaran
dokumen persyaratan administratif bakal pasangan calon paling
lama 4 (empat) hari sejak diterimanya surat pencalonan (pasal
16 ayat 1). KPU memberitahukan secara tertulis hasil verifikasi
terhadap kelengkapan dan kebenaran dokumen persyaratan
administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang
bergabung dan pasangan calon pada har kelima sejak
diterimanya surat pencalonan. (pasal 16 ayat 2). Dalam hal
persyaratan administratif bakal pasangan calon sebagaimana
dimaksud didalam pasal 14 dan pasal 15 belum lengkap, KPU
memberikan kesempatan kepada pimpinan partai politik atau
para pimpinan partai politik yang bergabung dan/atau bakal
pasangan calon untuk memperbaiki dan/atau melengkapi dalam
waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak diterimanya surat
pemberitahuan hasil verifikasi dari KPU sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (2) (pasal 17 ayat 1). Dalam hal bakal
pasangan calon yang diusulkan tidak memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 dan pasal 15, KPU
51
meminta kepada Partai Politik dan/atau gabungan partai politik
yang bersangkutan untuk menguslkan bakal pasangan calon
yang baru sebagai pengganti (pasal 18 ayat 1).
3) Penetapan dan pengumuman pasangan calon.
KPU menetapkan dalam sidang pleno KPU tertutup dan
mengumumkan
nama-nama
pasangan
calon
yang
telah
memenuhi syarat sebagai peserta pemilu Presiden dan Wakil
Presiden, 1 (satu) hari setelah selesai verifikasi (pasal 21 ayat 1).
Penetapan nomor urut pasangan calon sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan secara undi dalam sidang pleno KPU
terbuka dan dihadiri seluruh pasangan calon, 1 (satu) hari
setelah penetapan dan pengumuman sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) (pasal 21 ayat 2). KPU mengumumkan secara luas
nama-nama dan nomor urut pasangan calon setelah sideng pleno
KPU sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (pasal 21 ayat 3).
4) Kampanye.
Kampanye dilakukan dengan prinsip jujur, terbuka, dialogis
serta bertanggung jawab dan merupakan bagian dari pendidikan
politik masyarakat (pasal 33).
5) Debat pasangan calon.
Debat paasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan oleh KPU dan disiarkan langsung secara
nasionalal oleh media elektronik (pasal 39 ayat 2).
52
6) Pemungutan suara.
Pemungutan suara pemilu Presiden dan Wakil Presiden
dilaksanakan paling lama 3 (tiga) bulan setelah pengumuman
hasil pemilihan umum anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan
DPRD Kabupaten/Kota (pasal 112).
7) Perhitungan suara.
Perhitungan suara di TPS/TPSLN dilaksanakan setelah waktu
pemungutan suara berakhir (pasal 132 ayat 1). Perhitungan suara
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan dan
selesai di TPS/TPSLN yang bersangkutan pada hari/tanggal
pemungutan suara (pasal 132 ayat 2).
8) Penetapan hasil pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
KPU menetapkan hasil rekapitulasi perhitungan suara dan
mengumumkan hasil pemilu Presiden dan Wakil Presiden dalam
sidang Pleno terbuka dihadiri oleh pasangan calon dan Bawaslu
(pasal 158 ayat 1). Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak hari
pemungutan suara (pasal 158 ayat 2).
9) Penetapan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih.
Pasangan
calon
terpilih
adalah
pasangan
calon
yang
memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari
jumlah suara dalam pemilu Presiden dan Wakil Presiden dengan
sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara di setiap provinsi yang
53
tersebar di lebih dari ½ (setengah) jumlah provinsi di Indonesia
(pasal 159 ayat 1). Dalam hal tidak ada pasangan calon terpilih
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), 2 (dua) pasangan calon
yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dipilih
kembali oleh rakyat secara langsung dalam pemilu Presiden dan
Wakil Presiden (pasal 159 ayat 2). Dalam hal perolehan suara
terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh 2 (dua)
pasangan calon, kedua pasangan calon tersebut dipilih kembali
oleh rakyat secara langsung dalam pemilu Presiden dan Wakil
Presiden (pasal 159 ayat 3). Dalam hal perolehan suara
terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh 3 (tiga)
pasangan calon atau lebih, penentuan peringkat pertama dan
kedua dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan
suara yang lebih luas secara berjenjang (pasal 159 ayat 4).
Dalam hal perolehan suara terbanyak kedua dengan jumlah yang
sama di peroleh oleh lebih dari satu pasangan calon,
penentuannya
dilakukan
berdasarkan
persebaran
wilayah
perolehan suara yang lebih luas secara berjenjang (pasal 159
ayat 5).
10) Pelantikan
Pasangan calon terpilih dilantik menjadi Presiden dan Wakil
Presiden oleh MPR (pasal161 ayat 1). Dalam hal calon Wakil
Presiden terpilih berhalangan tetap sebelum pelantikan, calon
54
Presiden terpilih dilantik menjadi Presiden (pasal 161 ayat 2).
Dalam hal calon Presiden terpilih berhalangan tetap sebelum
pelantikan,calon Wakil Presiden yang terpilih dilantik menjadi
Presiden (pasal 161 ayat 3).
BAB IV
ANALISIS UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG
PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TERHADAP PRINSIP
KEDAULATAN RAKYAT YANG TERMAKTUB DI DALAM UNDANGUNDANG DASAR 1945
A. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Secara Langsung Melalui
Pemilu.
Jika Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 dikaitkan dengan pasal 6A
ayat (1) UUD 1945, yang menentukan bahwa jabatan Presiden dan Wakil
Presiden merupakan satu kesatuan paket pasangan yang dipilih langsung oleh
rakyat65, maka Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 itu tidak bertentangan
dengan klausul UUD tersebut.
Namun jika kita mengarah kepada pembukaan UUD 1945, maka akan
ditemukan kejanggalan terhadap pemilihan presiden secara langsung ini.
Dalam mukadimah alina IV dapat dibaca kalimat: suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada (sila
yang lima).66 Dimana salah satu sila-nya berbunyi: “Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”
Untuk mengetahui pertentangan yang ada diantara Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 2008 terhadap pembukaan UUD 1945 serta makna dari
65
Jimly Asshiddiqie, Komentar Atas Undang-Undang dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 27
66
Muhammad Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945 Jilid Kedua (Jakarta: Siguntang,
1960), h. 83.
55
56
pembukaan UUD itu, maka pandangan para penyusun UUD 1945 dan para
pejuang kemerdekaan dapat dikatakan relevan dan dapat dipakai untuk
menyelidiki makna dari kedaulatan rakyat yang termaktub di dalam
pembukaan UUD 1945 tersebut karena pembukaan UUD 1945 belum
tersentuh perubahan sama sekali.
Sejarah kedaulatan di tanah Indonesia tidaklah sama dengan sejarah
kedaulatan ditanah Barat.67Para penyusun UUD 1945 membuat sistem
pemerintahan sendiri.Beliau-beliau mendapat ilham dari Inggris yang
mempunyai lembaga tertinggi, yang “supreme” tempat kedaulatan rakyat
(locus of souverignty) berada.68
Perbedaan Kedaulatan Rakyat Indonesia dengan Kedaulatan Rakyat
yang lahir di Eropa Barat berdasarkan sejarah yang berbeda ditegaskan oleh
Moh. Hatta sebagai berikut:
“Dalam memperluas itu kita sampai kita kepada teori Kedaulatan
Rakyat!
Ini
bukan
satu
barang
import,
satu
tiruan
dari
volkssouvereiniteit, yang berkembang di Eropa Barat, yang berdasar
Individualisme.69”
67
Ibid., h. 88.
68
RM. A. B. Kusuma, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945: Memuat Salinan
Otentik Badan Oentoek Menyelidiki Oesaha-Oesaha Persiapan Kemerdekaan (Jakarta:
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009), h.38
69
Yayasan Hatta. Daulat Ra’jat: Buku 1 Tahun 1931-1932 (Jakarta: Yayasan Hatta,
2002), h. 98.
57
Pendapat yang serupapun, perbedaan yang terdapat didalam kedaulatan
rakyat Indonesia dan Kedaulatan Rakyat negara lain dinyatakan oleh Bung
Karno bahwa:
“Cara pemerintahan ini sekarang menjadi cita-cita semua partaipartai nasionalis di Indonesia. Tetapi dalam mencita-citakan paham dan
cara pemerintahan demokrasi itu kaum Marhaen toch harus berhati-hati.
Artinya jangan meniru saja “demokrasi-demokrasi” yang kini
dipraktekkan di dunia luaran.70”
Perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan sejarah itu, menyebabkan
perbedaan sifat, watak dan cita-cita yang sangat mempengaruhi prinsip
Kedaulatan Rakyat yang ada di Indonesia, seperti yang dinyatakan oleh Moh,
Hatta:
“Apalagi bagi kaum tani yang turun temurun hidup di
desanya.Cita-cita Kedaulatan Rakyat mudah sekali masuk kedalam otak
mereka, karena merupai pergaulan hidup yang asli, yang dapat
diketahui mereka daripada cerita dari mulut ke mulut. Pergaulan
Collectivisme, suatu kelanjutan yang mestinya dari pada Kedaulatan
Rakyat, masih tinggal jadi darah daging kaum tani, yang belum
dipengaruhioleh semangat Geldwirtschat.71”
70
Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi Jilid Pertama (Jakarta: Panitya Penerbit
Dibawah Bendera Revolusi, 1965), h. 171
71
Yayasan Hatta. Daulat Ra’jat: Buku 2 Tahun 1933-1934 (Jakarta: Yayasan Hatta,
2002), h. 89.
58
Sedangkan Kedaulatan rakyat yang ada di Eropa Barat itu sangat besifat
Individualisme, ini semua disebabkan oleh karena seperti yang di terangkan
oleh Tan Malaka:
“Kalau kita pikir lagi, bahwa anggota-anggota Dewan itu asalnya
dari golongan yang tinggi yang tiada campur dengan orang banyak,
tiada merasa susahnya si Kromo (orang kecil), tiadalah kita sia-sia
mengatakan yang anggota Dewan bukan wakil rakyat dan tiadalah kita
heran, kalau keperluan mereka itu berlawanan dengan keperluan
rakyat.72”
Selain itu perbedaan yang mendasar antara Kedaulatan Rakyat
Indonesia dengan Kedaulatan Rakyat di negara lain, adalah sebagai berikut,
seperti yang dinyatakan oleh Sukarno:
Demokrasi kita bukanlah demokrasi adu suara dalam pemungutan,
bukan tempat untuk mencari popularitas dikalangan masyarakat, bukan
alat untuk memperkuda rakyat untuk kepentingan seseorang atau
sesuatu partai. Demokrasi mengajak kita semua dan member
kesempatan kepada kita semua untuk bermusyawarah atas dasar terang
gamblang yaitu bagaimana melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat,
bagaimana
memperbaiki
nasib
penghidupan
rakyat
sehari-hari,
bagaimana memberikan Harapan dan nanti Kenyataan kepada rakyat
tentang nasib bahagia di kemudian hari.73
72
73
Tan Malaka.Parlemen atau Soviet? (Jakarta: Yayasan Massa, 1987), h. 12
Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi Jilid Kedua (Jakarta: Panitya Penerbit
Dibawah Bendera Revolusi, 1965), h. 464
59
Oleh karena hasrat adu suara untuk merebut kekuasan dan mencari
popularitas itulah itulah, sehingga Kedaulatan Rakyat bergeser menjadi
Kedaulatan Partai.Partai dijadikan tujuan dan Negara menjadi alatnya.74
Sebagai
falsafah
bangsa,
Pancasila
adalah
merupakan
sikap
keberpihakan Bangsa Indonesia di dalam membangun kehidupan berbangsa
dan bernegara dengan mendekatkan kebenaran relatif terhadap kebenaran
absolutnya. Kebenaran relatif ini adalah suatu kebenaran yang berasal dari
proses ikhtiar atas pekerjaan yang dikerjakan. Sedangkan, kebenaran absolut
adalah kebenaran yang telah ditetapkan dan berasal dari Allah SWT.75
Moral Pancasila, dalam arti kata yang mengharuskan kita untuk dalam
tingkah laku kita sehari-hari, baik sebagai pemegang kekuasaan yang
dikuasakan oleh Rakyat dan Negara kita, maupun sebagai rakyat biasa selalu
bersedia mempertanggung jawabkan tingkah laku dan sikap tindakan kita
kepada Tuhan Yang Maha Esa; selalu menempuh cara-cara perikemanusiaan
dan mengutamakan jalan musyawarah dan mufakat dengan Rakyat kita; dan
selalu memusatkan usaha ikhtiar dan daya upaya kita kepada terlaksananya
kebahagiaan dan keadilan dibidang rohani dan jasmani, untuk kebesaran dan
kejayaan Jiwa Bangsa Indonesia.76
74
Mohammad Hatta. Demokrasi Kita (Jakarta: Pustaka Antara, 1966), h. 15.
Agus Kodri, “Pancasila Sebagai Dasar Indonesia Merdeka”, artikel diakses pada 4
oktober 2013 dari http://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2008/03/12/pancasila-sebagaidasar-indonesia-merdeka/
75
76
Roeslan Abdulgani. Penjelasan Manipol dan Usdek (Jakarta: Departemen
Penerangan Republik Indonesia, 1960), h. 55.
60
Musyawarah
dan
demokrasi
adalah
merupakan
dua
metoda
penyelesaian masalah kehidupan dunia yang berbeda.Musyawarah dapat
diartikan sebagai suatu forum tukar menukar pikiran, gagasan ataupun ide,
termasuk saran-saran yang diajukan dalam memecahkan sesuatu masalah
sebelum tiba pada suatu pengambilan keputusan.77Musyawarah menghasilkan
suatu keputusan yang disebut mufakat. Sedangkan, demokrasi menghasilkan
suatu keputusan yang disebut penetapan pihak yang memenangkan pemilihan
yang dilaksanakan.
Mufakat sebagai hasil keputusan musyawarah merupakan hasil dari
suatu proses pengajuan dasar-dasar pemikiran pemecahan masalah yang
disepakati dan ditetapkan secara bersama di dalam suatu Lembaga/Majelis
terhadap suatu persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sementara,
proses demokrasi selalu menetapkan pihak pemenang melalui penghitungan
suara sebagai dasar keputusan yang diselenggarakan oleh suatu organisasi
kepanitiaan yang melaksanakan pemilihan.
Oleh karena itu, proses musyawarah adalah lebih cenderung pada
penggunaan hak bicara bukan hak suara. Sehingga, musyawarah akan lebih
mengandalkan kepada kemampuan keilmuan seseorang atas persoalan yang
akan dipecahkan, dan prosesnya akan mencerdaskan hadirin yang hadir
terlibat.78Dalam menetapkan dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah
77
Syaiful Bakhri, Ilmu Negara: Dalam Konteks Negara Hukum Modern (Yogyakarta:
Total Media, 2010), h. 85.
78
Agus Kodri, “Dengan Musyawarah Bukan Dengan Demokrasi membangun
Kehidupan Bangsa Dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, artikel diakses pada 4
oktober 2013 dari http://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2008/01/31/17/
61
yang dihadapi itu, kita bermusyawarah, mengikutsertakan semua pihak yang
berkepentingan, akan tetapi sekali keputusan bersama diambil berdasarkan
hasil musyawarah, maka tidak seorangpun, tidak satu golonganpun boleh
ingkar terhadap putusan tadi.79
Adapun proses demokrasi adalah lebih cenderung menggunakan hak
suara daripada hak bicara. Sehingga, proses ini akan lebih ditentukan oleh
kekuatan ikatan primordial seseorang terhadap seseorang baik secara individu
maupun secara kelompok atau organisasi. Sehingga, transfer ilmu
pengetahuan sebagai suatu proses pencerdasan bangsa akan sangat lemah
terjadi.80
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa proses musyawarah akan
membentuk seseorang lebih menjadi pemimpin, sedangkan proses demokrasi
lebih cenderung membentuk seseorang menjadi penguasa. Hal ini dapat
dijelaskan dari pemahaman bahwa hanya seseorang yang memahami sejarah
dan masa depan kehidupan Bangsa dan Negara Republk Indonesia yang
layak ditetapkan untuk menduduki suatu jabatan tertentu. Ini hasil dari proses
musyawarah. Tetapi, proses demokrasi lebih memaksakan seseorang
menduduki suatu jabatan tertentu tanpa melihat kemampuan atau kapasitas
keilmuan orang yang dicalonkan tersebut.81
79
Krissantono, Ed. Pandangan Presiden Soeharto Tentang Pancasila (Jakarta: CSIS,
1976), h. 61
80
81
Agus Kodri, “Dengan Musyawarah Bukan Dengan Demokrasi”.
Ibid.
62
Menurut
Muhammad
Yamin,
adat
tiga
hal
didalam
dasar
permusyawaratan itu meberi kemajuan pada ummat yang hidup dalam negara
dilindungi oleh kebesaran Ketuhanan:
1) Karena
dengan
dasar
musyawarat
itu
manusia
memperhalus perjuangannya dan bekerja diatas jalan
Ketuhanan
dengan
membuka
pikiran
dalam
permusyawaratan sesama manusia.
2) Oleh permusyawaratan, maka negara tidaklah dipikul
oleh seorang manusia atau pikiran yang berputar dalam
otak sebuah kepala, melainkan dipangku oleh segala
golongan, sehingga negara tidak berpusing disekeliling
seorang insan, melainkan sama-sama membentuk negara
sebagai
suatu
mengerjakan
batang
kewajiban
tubuh,
atas
yang
satu-satu
permufakatan
cel
yang
menimbulkan perlainan atau perbedaan kerja, tetapi untuk
kesempurnaan seluruh badan.
3) Permusyawaratan
mengecilkan
atau
menghilangkan
kekhilafan pendirian atau kelakuan orang seorang,
permusyawaratan membawa negara kepada tindakan yang
betul segala kesesatan.82
82
Muhammad Yamin,Naskah Persiapan UUD 1945 Jilid Pertama (Jakarta: Siguntang,
1971), h. 85.
63
Dalam
Al-Quran
beberapa
ayat
yang
menggariskan
prinsip
musyawarah. Salah satunya terdapat dalam surat Asy-Syura/42:38: “adapun
urusan kemasyarakatan diputuskan dengan musyawarah antara mereka”.
Ayat ini menggambarkan bahwa dalam setiap persoalan yang menyangkut
masyarakat atau kepentingan umum Nabi selalu mengambil keputusan
setelah melakukan musyawarah dengan dengan para sahabatnya.83 Prinsip
musyawarah-pun diterangkan pula di surat lain, yaitu seperti surat Ali Imran
ayat 159, sebagai berikut:
                
             
     
 
Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah
lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu
ma'afkanlah
mereka,
mohonkanlah
ampun
bagi
mereka,
dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah.
83
Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum: Suatu Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya
Diihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara Madinah dan Masa
Kini (Jakarta: Kencana, 2007), h. 111.
64
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.
Dalam ajaran Al-Quran, dilihat dari hasil dan daya ikat keputusannya,
“musyawarah” ada dua macam; Pertama musyawarah yang hasilnya bersifat
mengikat (mulzimah) atas para pihak yang terlibat, baik langsung dalam
proses musyawarah sebagai peserta, maupun secara tidak langsung melalui
perwakilannya. Musyawarah katagori ini, sebagaimana dimaksudkan dalam
Al-Quran surat Asy-Syura ayat 38 di atas, adalah musyawarah untuk
mengambil keputusan bersama diantara pihak yang memiliki kedudukan
sosial yang sama atau setara. Kedua, musyawarah yang dimaksudkan untuk
mencari masukan/konsultasi dan/atau sosialisasi suatu kebijakan dari
seseorang pemimpin dengan staf atau anak buahnya.84
Berdasarkan perjalanan sejarah bangsa, Bangsa Indonesia terlahir pada
tanggal 28 Oktober 1928 melalui Sumpah Pemuda di dalam Kongres Pemuda
II, yang telah dilaksanakan oleh pemuda-pemuda (yong-yong) yang berasal
dari pulau dan kepulauan yang ada di wilayah Indonesia. Kelahiran Bangsa
Indonesia adalah merupakan suatu bentuk perjuangan kebangsaan yang
dilaksanakan oleh Orang-orang Bangsa Indonesia Asli untuk mengangkat
harkat dan martabat hidup kaum pribumi yang merupakan kelompok
masyarakat kelas terbawah.Kelompok kelas masyarakat di atasnya terdiri dari
kaum ningrat pribumi dan para pedagang dari Asia Timur, seperti Cina,
84
Masdar Farid Mas’udi, Syarah Konstitusi UUD 1945 dalam Prespektif Islam
(Jakarta: Pustaka Alvabet, 2011), h. 58-59.
65
India, dan Arab.Adapun kelompok masyarakat kelas teratas adalah bangsa
Belanda dan orang-orang bangsa Eropa lainnya.85
Setelah Bangsa Indonesia terlahir, perjuangan kebangsaan berikutnya
adalah merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia.Perjuangan ini dilakukan
oleh Orang-orang Bangsa Indonesia Asli dan dibantu oleh bangsa-bangsa
asing yang tinggal dan hidup di wilayah Indonesia. Sehingga, setelah
kemerdekaan Bangsa Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus
1945, atau setelah hampir 17 tahun sejak Bangsa Indonesia terlahir, Negara
Republik Indonesia kemudian dibentuk, yaitu tepatnya pada tanggal 18
Agustus 1945.86
Proses Musyawarah-Mufakat telah melahirkan Bangsa Indonesia dan
tercapainya kemerdekaan Bangsa Indonesia serta telah membentuk
NKRI.Oleh
karena
itu,
Musyawarah-Mufakat
merupakan
Jatidiri
Bangsa.Sehingga,proses Musyawarah-Mufakat harus menjadi metoda yang
selalu digunakan di dalam menetapkan kebijakan Bangsa Indonesia dan
NKRI.87
85
Agus Kodri, “Hilangnya Pancasila Penyebab Hilangnya Bangsa Indonesia dan
Hancurnya
NKRI”,
artikel
diakses
pada
4
oktober
2013
darihttp://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2009/09/28/hilangnya-pancasila-penyebabhilangnya-bangsa-indonesia-dan-hancurnya-nkri/
86
Ibid.
87
Agus Kodri, “Tumbuhnya Demokrasi Makna Surutnya Kehidupan Bangsa
Indonesia dan Terancamnya kesinambungan NKRI”, artikel diakses pada 4 oktober 2013 dari
http://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2008/03/04/tumbuhnya-demokrasi-makna-surutnyakehidupan-bangsa-indonesia-dan-terancamnya-kesinambungan-nkri/
66
B. Calon Presiden dan Wakil Presiden Independen Dalam Pemilihan
Presiden danWakil Presiden.
Serta pasal 6A ayat (2) yang menentukan bahwa pasangan calon
Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan
partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan
umum, maka dapat dikatakan bahwa Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008
tidak bertentang dengan pasal 6A ayat (1) dan (2) tersebut.
Namun jika dikaitkan dengan pasal 27 ayat (1), terlihat pertentangan
antara Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 dengan pasal 27 ayat (1) dan
pembukaan UUD 1945 itu. Didalam pasal 27 ayat (1) dinyatakan bahwa
segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap warga negara
berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Oleh karena
itu pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang hanya dapat
diikuti oleh partai politik atau orang-orang yang diusung oleh partai politik
atau gabungan partai politik merupakan bentuk suatu ketidakadilan.
Dalam konstitusi itu telah ditetapkan bahwa di dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia ini yang berdulat adalah rakyat. Jadi rakyatlah yang
berdaulat, bukan negara, yang berdaulat itu bukan konstitusi karena konstitusi
67
itu dibentuk oleh rakyat yang berdaulat itu. yang berdaulat juga bukan partai,
tetapi yang berdaulat adalah rakyat.88
Dari sini, muncullah pendapat perlu dibolehkannya calon Presiden dan
Wakil Presiden Independen untuk maju mencalonkan diri, karena publik
cukup merindukan tampilnya kandidat presiden yang berasal dari luar partai
politik.89
Namun harapan akan adanya calon Presiden dan Wakil Presiden
Independen tidak dibolehkan oleh konstitusi. Sebagian pihak telah
mengajukan judicial review kepada Mahkamah Konstitusi untuk menguji
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 ini untuk membolehkan calon
Presiden dan Wakil Presiden dapat memajukan diri, namun Mahkamah tetap
tidak menerima dan menolak permohonan selebihnya. Salah satunya ialah
Putusan Nomor 26/PUU-VII/2009, dimana Mahkamah berpendapat, bahwa
pembatasan dalam pasal 8, pasal 9 dan pasal 13 ayat (2) UU 42/2008 tidaklah
bertentangan dengan UUD 1945 dan bukanlah merupakan pengaturan yang
diskriminatif.
Majelis menilai ketentuan pasal ini sudah jelas baik secara tekstual
maupun dengan penafsiran melalui original intent atau kehendak awal.
Berdasarkan original intent, UUD 1945 hanya mengenal adanya pasangan
88
M, Dimyati Hartono, Memahami Makna Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
dari Sudut Historis, Filosofis, Ideologis, dan Konsepsi Nasional (Jakarta: Gramata
Publishing, 2010), h. 73.
89
Zaenal Arifin, “Pemilihan Presiden Langsung Substansi dan Problematikanya”,
artikel
diakses
pada
4
oktober
2013
dari
http://www.oocities.org/infopmkri/pilih_presidenlangsung.html
68
calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik atau
gabungan partai politik peserta pemilihan umum, ujar Hakim Konstitusi
Arsyad Sanusi.
Putusan yang dibuat oleh delapan hakim konstitusi ini tidak bulat. Tiga
Hakim Konstitusi Abdul Mukthie Fadjar, Maruarar Siahaan, dan Akil
Mochtar menyatakan pendapat berbeda atau dissenting opinion.
Maruarar menilai bila Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 dianggap sebagai
hak konstitusional parpol, maka hak itu merupakan derivasi dari hak-hak
dasar warga negara untuk turut serta dalam pemerintahan. Ia menjelaskan
seharusnya Majelis melihat juga hak-hak konstitusional lain yang diatur
dalam UUD 1945. Di antaranya adalah hak-hak yang dijamin oleh Pasal 28,
Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (3) dan Pasal 28I ayat (3).
Tafsir Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 yang mengesampingkan pasal-pasal
UUD yang disebut di atas, pasti menggambarkan kerancuan berpikir yang
tidak logis dalam paham konstitusionalisme dalam kehidupan bernegara, jelas
Maruarar.
Sedangkan Hakim Konstitusi Akil Mochtar mengkritik pendapat
koleganya yang hanya menafsirkan secara tekstual Pasal 6A ayat (2). Ia
berpendapat untuk menjaga spirit dan moralitas konstitusi, seharusnya
konstitusi juga harus dibaca dalam konteks kekinian.
Meski ketiga hakim konstitusi mengaku setuju dengan capres
independen, namun mereka mengakui capres independen belum bisa
69
diterapkan pada Pemilu 2009. Barangkali pada Pemilu 2014 atau Pemilu
2019 baru dapat diwujudkan, ujar Mukthie.
Karenanya, Mukthie menilai seharusnya putusan ini berbunyi
conditionally constitutional atau konstitusional bersyarat. Artinya, pasalpasal yang dimohonkan tetap dinyatakan konstitusional sepanjang memberi
ruang bagi calon perseorangan.90
90
Hukum Online.com, “Pemilihan Presiden Langsung Substansi
Problematikanya”,
artikel
diakses
pada
22
November
2013
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol21216/mk-tolak-permohonan-capresindependen
dan
dari
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa:
1. Mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang
termaktub didalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 telah
sesuai dengan batang tubuh Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia 1945 yang berlaku saat ini, khususnya Pasal
6A ayat (2),Pasal 6A ayat (3),Pasal 6A ayat (4),Pasal 6A ayat (5).
Karena pembentukan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008
merupakan mandat daripada klausul-klausul batang tubuh
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 tersebut.
2. Namun terdapat ketidak sesuaian antara Undang-Undang Nomor
42 Tahun 2008 terhadap prinsip kedaulatan rakyat serta
pelaksanaan kedaulatan rakyat tersebut dalam rangka pemilihan
Presiden dan Wakil Presidan yang terdapat di dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945. Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 menyatakan bahwa pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam
rangka pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan
dengan permusyawaratan-perwakilan. Sedangkan di dalam Batang
Tubuh
Undang-Undang
Dasar
1945,
dinyatakan
bahwa
pelaksanakan kedaulatan rakyat dilaksanakan menurut UUD. Dan
70
71
pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilakukan dengan cara
pemilihan umum secara langsung, dengan calon yang diusung
oleh partai politik atau gabungan partai politik.
B.
Saran
Dari hasil penelitian ini, peneliti ingin memberikan saran dan masukan terhadap
proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dalam rangka pelaksanaan kedaulatan
rakyat agar lebih baik kedepannya nanti. Antara lain:
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat mengkaji kembali UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang berlaku saat
ini, apakah di dalamnya terdapat pertentangan atau tidak,
khususnya tentang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
terhadap prinsip Kedaulatan Rakyat. Jika terdapat pertentangan,
Majelis
Permusyawaratan
Rakyat
segera
mengubah
dan
menetapkan Undang-Undang Dasar sesuai dengan sifat, watak,
serta cita-cita Bangsa Indonesia.
2. Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat hendaknya menetapkan
peraturan dan perundang-undang tentang pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden dalam rangka pelaksanaan kedaulatan rakyat yang
sesuai dengan Undang-Undang Dasar yang telah kaji ulang,
dirubah, dan ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat
sebagaimana diatas.
72
3. Pusat-pusat pengkajian melakukan kajian yang lebih dalam lagi
terhadap pemilihan Presiden dan Wakil Presiden sesuai dengan
Prinsip Kedaulatan Rakyat yang terdapat di dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945.
DAFTAR PUSTAKA
A. Kitab Suci Al Quran
B. Buku-Buku
Abdulgani, Roeslan. Penjelasan Manipol dan Usdek. Jakarta: Departemen
Penerangan Republik Indonesia, 1960.
Agustino, Leo. Perihal Ilmu Politik: Sebuah Bahasan Memahami Ilmu Politik.
Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.
Asshiddiqie, Jimly, dkk. Gagasan Amandemen UUD 1945 dan Pemilihan Presiden
secara Langsung. Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan MKRI, 2006.
----------. Komentar Atas Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
----------. Menuju Negara Hukum Yang Demokratis. Jakarta: Sekertaris Jenderal dan
Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi,2008.
----------. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Azhary, Muhammad Tahir. Negara Hukum: Suatu Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya
Diihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara
Madinah dan Masa Kini. Jakarta: Kencana, 2007
Bakhri, Syaiful. Ilmu Negara: Dalam Konteks Negara Hukum Modern. Yogyakarta:
Total Media, 2010.
Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2005.
Busroh, Abu Daud, Ilmu Negara. Jakarta: Bumi Aksara, 2010.
Dewata, Mukti Fajar Nur dan Achmad, Yulianto. Dualisme Penelitian Hukum
Normatif Dan Empiris. Jakarta: Pustaka Pelajar. 2010.
Hamidi, Jazim, dkk. Teori Hukum Tata Negara: A Turning Point Of State. Jakarta:
Penerbit Salemba Humanika, 2012
73
74
Hartono, M. Dimyati. Memahami Makna Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945:
Dari Sudut Historis, Filosofis, Ideologis, Dan Konsepsi Nasional. Jakarta:
Gramata Publishing, 2010.
Hatta, Mohammad. Demokrasi Kita. Jakarta: Pustaka Antara, 1966.
Huda, Ni’matul. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Huda, Ni’matul. Ilmu Negara. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Irianto, Sulistyowati dan Shidarta, Ed. Metode Penelitian Hukum: Konstelasi Dan
Refleksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009.
Kansil, C. S. T. dan Kansil, Christine. S. T. Ilmu Negara. Jakarta: Sinar Grafika,
2007.
Krissantono, Ed. Pandangan Presiden Soeharto Tentang Pancasila. Jakarta: CSIS,
1976.
Kusuma, RM. A. B. Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945: Memuat Salinan Otentik
Badan Oentoek Menyelidiki Oesaha-Oesaha Persiapan Kemerdekaan.
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009.
Mage, Ruslan Ismail. Industri Politik: Strategi Investasi Politik dalam Pasar
Demokrasi. Jakarta: RMBOOKS, 2009.
Majelis Permusyawaratan Rakyat. Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Jakarta: Sekretariat Jenderal
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, 2012.
Malaka, Tan. Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi Politik. Jakarta: Marjin
Kiri, 1987.
----------. Parlemenatau Soviet?. Jakarta: Yayasan Massa, 1987.
Manan, Bagir, Ed. Kedaulatan Rakyat, Hak Asasi Manusia, Dan Negara Hukum.
Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996.
Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana, 2005.
Massardi, Adhie M., dkk.Pilpres Abal-Abal Republik Amburadul. Jakarta: Republika
Penerbit, 2011.
75
Mas’udi, Masdar Farid. Syarah Konstitusi UUD 1945 dalam Prespektif Islam.
Jakarta: Pustaka Alvabet, 2011.
Notohamidjojo. Teras Tatanegara. Solo: Sadu Budi, 1956.
Nurtjahjo, Hendra. Filsafat Demokrasi. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Palguna, I Dewa Gede.Pengaduan Konstitusional (Constitutional Complaint): Upaya
Hukum Terhadap Pelanggaran Hak-Hak Konstitusional. Jakarta: Sinar
Grafika, 2013.
Priyono, AE, dkk. Menjadikan Demokrasi Bermakna: Masalah dan Pilihan di
Indonesia. Jakarta: Demos, 2007.
Rahman H. I., Abdul. Sistem Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.
Ravitch, Diane dan Thernstrom, Abigail. Demokrasi: Klasik Dan Modern.
Penerjemah Hermoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Soehino. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty, 2005.
Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press, 1983
Soepardo, dkk. Manusia Dan Masyarakat Baru Indonesia: Civics. Jakarta:
Departemen P. P. Dan K., 1960.
Soeprapto, Maria Farida Indrati. Ilmu Perundang-Undangan (1): Jenis, Fungsi,
Materi Muatan. Jakarta: Kanisius, 2007
Strong, C. F. Konstitusi-Konstitusi politik Modern: Kajian Tentang Sejarah Dan
Bentuk-Bentuk Konstitusi Dunia. Penerjemah SPA Teamwork. Bandung:
Penerbit Nusa Media, 2008.
Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi Jilid Pertama. Jakarta: Panitya Penerbit
Dibawah Bendera Revolusi, 1964.
----------. Dibawah Bendera Revolusi Jilid Kedua. Jakarta: Panitya Penerbit Dibawah
Bendera Revolusi, 1965.
Syam, Firdaus. Pemikiran Politik Barat: Sejarah, Ideologi, Dan Pengaruhnya
Terhadap Dunia Ke-3. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
76
Syhuri, Taufiqurrohman. Tafsir Konstitusi Berbagai Aspek Hukum. Jakarta: Kencana,
2011.
Triwayuningsih. Pemilihan Presiden Langsung: Dalam Kerangka Negara Demokrasi
Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001.
Tutik, Titik Triwulan. Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Amandemen
UUD 1945. Jakarta: Kencana, 2010.
Yamin, Muhammad. Naskah Persiapan UUD 1945 Jilid Pertama. Jakarta:
Siguntang, 1971.
----------. Naskah Persiapan UUD 1945 Jilid Kedua. Jakarta: Siguntang, 1960.
----------. Naskah Persiapan UUD 1945 Jilid Ketiga. Jakarta: Siguntang, 1960.
Yayasan Hatta. Daulat Ra’jat: Buku 1 Tahun 1931-1932. Jakarta: Yayasan Hatta,
2002.
----------. Daulat Ra’jat:Buku 2 Tahun 1933-1934. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002.
C. Peraturan Dan Perundang-Undangan
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 98/PUU-VII/2009
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 99/PUU-VII/2009
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 102/PUU-VII/2009
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Amandemen.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah.
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden.
77
D. Sumber Internet
Arifin, Zaenal. “Pemilihan Presiden Langsung Substansi dan Problematikanya”,
artikel
diakses
pada
4
oktober
2013
dari
http://www.oocities.org/infopmkri/pilih_presidenlangsung.html
B. Harimurti, “Sistem Pemerintahan Indonesia-Demokrasi Konstitusional”, artikel
diakses pada 10 Januari 2014 dari http://www.koranpagi.com/sistempemerintahan-indonesia/
Hukum Online.com. “Pemilihan Presiden Langsung Substansi dan Problematikanya”,
artikel
diakses
pada
22
November
2013
dari
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol21216/mk-tolak-permohonancapres-independen
Kodri, Agus. “Dengan Musyawarah Bukan Dengan Demokrasi membangun
Kehidupan Bangsa Dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, artikel diakses
pada
4
oktober
2013
dari
http://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2008/01/31/17/
Kodri, Agus. “Hilangnya Pancasila Penyebab Hilangnya Bangsa Indonesia dan
Hancurnya
NKRI”,
artikel
diakses
pada
4
oktober
2013
darihttp://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2009/09/28/hilangnya-pancasilapenyebab-hilangnya-bangsa-indonesia-dan-hancurnya-nkri/
Kodri, Agus. “Pancasila Sebagai Dasar Indonesia Merdeka”, artikel diakses pada 4
oktober
2013
dari
http://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2008/03/12/pancasila-sebagai-dasarindonesia-merdeka/
Kodri, Agus. “Tumbuhnya Demokrasi
Makna Surutnya Kehidupan Bangsa
Indonesia dan Terancamnya kesinambungan NKRI”, artikel diakses pada 4
oktober
2013
dari
http://pejuangtanpaakhir.wordpress.com/2008/03/04/tumbuhnya-demokrasimakna-surutnya-kehidupan-bangsa-indonesia-dan-terancamnyakesinambungan-nkri/
Muhammad, Irzu. “Mekanisme Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden”, artikel
diakses pada 4 oktober 2013 dari http://id.shvoong.com/socialsciences/political-sciences/2242883-mekanisme-pemilihan
-presiden-dan
wakil/#ixzz2gkhrQcEB.
78
Sonnie, Flory Kresinda, “Konsep Demokrasi dan Demokrasi Konstitusional
Indonesia”,
artikel
diakses
pada
10
Januari
2014
dari
http://konsepdemokrasi.blogspot.com/2012/03/konsep-demokrasi.html
Sutanto, Aris. “Pemilihan Presiden Secara Langsung”, artikel diakses pada 22
November 2013 dari http://arissutanto.blogspot.com/2009/03/pemilihanpresiden-secara-langsung_29.html
PUTUSAN
Nomor 26/PUU-VII/2009
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
[1.1]
Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada
tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Permohonan
Pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:
[1.2]
SRI SUDARJO, SPd, S.H.,
Jabatan Presiden Dewan Nasional
Lembaga Komite Pemerintahan Rakyat Independen Ibu Kota Negara Jalan
Percetakan Negara Nomor 91 A Cempaka Putih Jakarta Pusat, Jalan Jati Raya
Nomor 8 Jakarta Selatan, dan Jalan Angsoka I Nomor 2 Kelurahan Mataram Barat,
Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat, berdasarkan Akta Notaris Nomor 34,
Edi Hermasyah, S.H., Tahun 2008;
Selanjutnya disebut sebagai -------------------------------------------------------- Pemohon;
[1.3]
Membaca permohonan dari Pemohon;
Mendengar keterangan dari Pemohon;
Memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon;
2. DUDUK PERKARA
[2.1]
Menimbang bahwa Pemohon mengajukan permohonan dengan surat
permohonan bertanggal 24 Maret 2009 yang diterima dan terdaftar di
Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah)
pada tanggal 13 April 2008 dengan registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009, yang telah
diperbaiki dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 29 April 2009
yang menguraikan hal-hal sebagai berikut:
2
1. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
Pasal 24C ayat (1) Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945) juncto Pasal 10 UndangUndang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut
UU 24/2003) yang menyatakan, ”Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada
tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk:
a. menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. memutuskan sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. memutuskan pembubaran partai politik; dan
d. memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan umum”.
2. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON
1. Pasal 51 ayat (1) UU 24/2003 memberikan kepada antara lain perseorangan
warga negara Indonesia, kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih
hidup kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang Badan
Hukum Publik mengajukan permohonan judicial review karena dan/atau
kewenangan konstitusinya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yaitu:
a. perorangan warga negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sapanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dalam undang-undang;
c. badan hukum publik atau privat; atau
d. lembaga negara,
2. Bahwa Penjelasan Pasal 51 ayat (1) UU 24/2003 mengatakan,
”Yang
dimaksud dengan hak konstitusional adalah hak-hak yang diatur dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Bahwa Pemohon sebagai warga negara Republik Indonesia yang dirugikan hak
dan/atau wewenang konstitusionalnya dengan disahkannya Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
(selanjutnya disebut UU 42/2008). Karena dengan disahkannya UU 42/2008
Pemohon
dirugikan
hak-hak
dan/atau
wewenang
konstitusionalnya
sehubungan dengan Pemohon mencalonkan diri sebagai Presiden Republik
Indonesia dari jalur independen. Di samping itu Pemohon yang juga perumus,
3
penggagas, dan konseptor judisial review Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah yang diubah menjadi Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008. Menjadikan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
5/PUU-V/2007 sebagai yurisprudensi agar Mahkamah Konstitusi mengabulkan
permohonan Pemohon sebagai upaya penghargaan kepada Pemohon. Selain
itu juga sebagai terciptanya hubungan korelasi yang positif antara calon
Bupati/Walikota, dan calon Gubernur Independen yang telah dikabulkan oleh
Mahkamah Konstitusi dalam sidang terbuka tanggal 23 Juli 2007;
4. Bahwa sebagai yurisprudensi antara Pasal 8 juncto Pasal 9 dan Pasal 10 ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3) UU 42/2008 dan Pasal 59 (1) huruf b UU Nomor 12
Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah dan keduanya bersumber pada
dasar hukum yang sama yaitu Pasal 28D ayat (3) UUD 1945. Hubungan antara
pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Pemda dan yang terdapat dalam
Undang-Undang Pilpres tersebut tidaklah dapat diposisikan sebagai hubungan
antara hukum yang khusus disatu pihak, yaitu Pasal 59 ayat (1) huruf b UU
Pemda dan hukum yang umum dipihak lain yaitu Pasal 8 juncto Pasal 9 dan
Pasal 10 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU Pilpres. Karena ketentuan Pasal 59
(1) huruf b Undang-Undang Pemda bukan keistimewaan yang dimiliki oleh
Pemerintah Daerah. Oleh karena tidak dalam posisi hubungan antara hukum
yang khusus dengan hukum yang umum, adanya Pasal 59 (1) huruf b UndangUndang Pemda harus dimaknai sebagai penafsiran baru oleh pembentuk
undang-undang terhadap ketentuan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945. Apabila
kedua ketentuan tersebut berlaku bersama-sama tetapi untuk kekuasaan
pemerintahan yang berbeda, maka akan menimbulkan akibat adanya dualisme
dalam melaksanakan ketentuan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945. Dualisme
tersebut dapat mengakibatkan ketiadaan kedudukan yang sama antara Kepala
Daerah dan Kepala Negara di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang artinya Kepala Negara memiliki hak konstitusional yang lebih sedikit
karena tidak dapat mencalonkan diri sebagai Presiden dan Wakil Presiden
secara independen oleh karena tidak terdapatnya perlakukan yang sama dalam
hukum sebagaimana yang dijamin oleh Pasal 28D ayat (3) UUD 1945;
5. Bahwa Pemohon harus mendapatkan persamaan hak warga negara dalam
pemerintahan sebagaimana yang dijamin oleh Pasal 28D ayat (3) UUD 1945,
dapat dilakukan meski dengan menghapuskan Undang-Undang Pilpres, karena
4
sejatinya independen tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan bukan pula
merupakan suatu tindakan dalam keadaan darurat, untuk itu UU Pilpres harus
menyesuaikan perkembangan baru yang telah dilakukan oleh pembentuk
undang-undang itu sendiri yaitu dengan memberi hak kepada calon
independen untuk dapat mencalonkan diri sebagai kepala daerah dan wakil
kepala daerah;
6. Bahwa menurut UU 42/2008 dinyatakan dalam konsideran Menimbang huruf b
bahwa Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden diselenggarakan secara
demokratis dan beradab melalui partisipasi rakyat seluas-luasnya berdasarkan
asas Iangsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil untuk memilih Presiden
dan Wakil Presiden, sehingga disiratkan mekanisme independen agar dibuka
untuk terpenuhinya penyelenggaraan yang demokratis melalui partisipasi
rakyat yang seluas-luasnya;
7. Bahwa demokrasi sejatinya identik dengan salah satu aspirasi yang melibatkan
seluruh rakyat dalam setiap keputusan seperti yang diamanatkan oleh
demokrasi dan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya demokrasi adalah
paham kerakyatan yang tanpa diskriminasi atau intervensi yang bermuatan
kekuasaan jabatan maupun golongan. Demokrasi tidak boleh hanya sekedar
menjadi simbol yang hanya mengeksploitasi kepentingan rakyat dengan
memobilisasi rakyat kepada kepentingan sesaat;
8. Bahwa dengan munculnya independen di Pilkada yang mendapat kemenangan
mutlak
sebagai
Gubernur/Wakil
Gubernur,
Bupati/Wakil
Bupati,
dan
Walikota/Wakil Walikota telah membuktikan rakyat sangat membutuhkan
independen dan tidak percaya lagi dengan partai politik (perusahaan) yang
syarat dengan transaksi politik jual-beli. Di samping itu Pemohon secara legal
opinion menjabat sebagai Presiden Komite Pemerintah Rakyat Independen
sesuai Akte Notaris Nomor 34 Eddy Hermansyah, SH Tahun 2008, yang
hakikatnya adalah partai politik peserta Pemilu Presiden;
III. ALASAN PERMOHONAN
Permohonan pengujian (judicial review) Undang-Undang Nomor 42
Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, yaitu:
•
Pasal 1 angka (2): ”Partai adalah Partai Politik yang telah ditetapkan sebagai
peserta pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat”;
5
•
Pasal 8: “Calon Presiden dan calon Wakil Presiden diusulkan dalam 1 (satu)
pasangan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik”;
•
Pasal 9: “Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai
Politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling
sedikit 20% (dua puluh persen) dan jumlah kursi DPR atau memperoleh 25%
(dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR,
sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden;
•
Pasal 10 ayat (1): ”Penentuan calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden
dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan mekanisme internal
Partai Politik bersangkutan”;
•
Pasal 10 ayat (2): ”Partai Politik dapat melakukan kesepakatan dengan partai
politik lain untuk melakukan penggabungan dalam mengusulkan Pasangan
Calon”;
•
Pasal 10 ayat (3): ”Partai Politik atau Gabungan Partai Politik sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) hanya dapat mencalonkan 1 (satu) Pasangan Calon
sesuai dengan mekanisme internal Partai Politik dan/atau musyawarah
Gabungan Partai Politik yang dilakukan secara demokratis dan terbuka”;
•
Pasal 10 ayat (4): ”Calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden yang telah
diusulkan dalam satu pasangan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh dicalonkan lagi oleh Partai
Politik atau Gabungan Partai Politik lainnya”;
•
Pasal 14 ayat (2): “Masa pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13,
paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak penetapan secara nasional hasil
Pemilu anggota DPR”;
Bertentangan dengan UUD 1945:
Pasal 6A ayat (2): “Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden
diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum
sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Partai yang dimaksud oleh Pasal 6A ayat
(2) UUD1945 dalam arti bahasa berarti kelompok, kumpulan orang (Party/partie,
kb. 3 kelompok, kumpulan orang Kamus Indonesia Inggris An English-Indonesia
Dictionary Oleh JOHN M. ECHOLS DAN HASSAN SHADILY Penerbit, PT.
Gramedia Jakarta), sedangkan Politik dalam arti bahasa berarti bijaksana
(Politik/kebijaksana kamus Indonesia Inggris An English-Indonesia Dictionary Oleh
JOHN M. ECHOLS DAN HASSAN SHADILY Penerbit PT. Gramedia Jakarta). Jadi
6
apabila digabungkan Partai Politik, dalam arti tersirat dan dalam arti bahasa berarti
kelompok kumpulan orang yang berpandangan, berpikir, berkata, bersikap,
bertindak, serta berbuat dengan bijaksana berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
dan tidak dapat diartikan sebagai kumpulan hewan, pepohonan, gambar-gambar
dilangit yang tidak mempunyai pandangan yang diatur berdasarkan kebijaksanaan
konstitusi yang penuh kemunafikan layaknya berdagang sapi. (Politic) serta
konstitusi Pancasila dan UUD 1945 tidak bisa ditafsirkan di luar makna yang
tersirat berdasarkan falsafah dan pribadi yang mendasar rakyat Indonesia;
Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 merupakan pokok pokiran, landasan roh
yang tidak bisa berdiri sendiri dan merupakan satu kesatuan yang utuh dengan
pasal dan ayat lainnya UUD 1945 serta tidak terlahir berdasarkan semangat privat
layaknya poorporated (perusahaan) swasta/nasional maupun asing jadi Partai
Politik dan Gabungan Partai Politik berdasarkan Pasal 6A ayat (2) merupakan
sarana partisipasi politik rakyat yang terlahir dan rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat sehingga mempunyai hubungan korelasi positif yang tidak saling
bertentangan, atau mengikat dan utuh dengan:
Pasal 1 ayat (2): ”Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan
menurut Undang-Undang Dasar, Pasal 1 ayat (3): “Negara Indonesia adalah
negara hukum”/Pasal 6A ayat (1): ”Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu
pasangan secara langsung oleh rakyat”/Pasal 27 ayat (1): Segala warga negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”/Pasal 28C
ayat (2): ”Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan
haknya
secara
kolektif
untuk
membangun
masyarakat,
bangsa,
dan
negaranya”/Pasal 28D ayat (1): ”Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan,
perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di
hadapan hukum”/Pasal 28D ayat (3): ”Setiap warga negara berhak memperoleh
kesempatan yang sama dalam pemerintahan;/Pasal 28E ayat (3): ”Setiap orang
berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat;/Pasal
28H ayat (2): ”Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus
untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan”/Pasal 28I ayat (2): ”Setiap orang berhak bebas dan
perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan
perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskrimitatif itu”, Pasal 28I ayat (4):
7
”Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah
tanggung jawab negara, terutama pemerintah; Pasal 28I ayat (5): ”Untuk
menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara
hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur,
dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”/Pasal 28J ayat (1): ”Setiap
orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”;
Pokok-pokok pikiran Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia, dengan berdasar atas persatuan dengan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Artinya Negara
mengatasi segala paham golongan, mengatasi segala paham perseorangan demi
persatuan yang meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnya. Hal tersebut
merupakan suatu dasar Negara yang tidak boleh dilupakan. Negara hendak
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Negara yang berkedaulatan
rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan. Oleh
karena itu sistem Negara yang terbentuk dalam Undang-Undang Dasar dan
berdasarkan atas kedaulatan rakyat bukan kedaulatan partai politik. Dan uraian
mengenai landasan/dasar serta alasan-alasan permohonan judicial review tersebut
di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Ketentuan muatan pasal UU 42/2008 Pasal 1 ayat (2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal
10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) bertentangan dengan asas legalitas,
bertentangan dengan prinsip penyelenggaraan Pemilihan Umum Presiden dan
Wakil Presiden sebagai sarana partisipasi yang diamanatkan Pancasila dan
UUD 1945 berdasarkan Pasal 1 ayat (2) kedaulatan berada ditangan rakyat
dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar 1945;
2. Pertentangan antara UU 42/2008 Pasal 1 ayat (2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10
ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2), dengan UUD
1945 Pasal 1 ayat (2), Pasal 6A ayat (1), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28C ayat (2),
Pasal 28D ayat (1), Pasal 28D ayat (3), Pasal 28E ayat (3), Pasal 28H ayat (2),
Pasal 28I ayat (2), ayat (4), ayat (5), Pasal 28J ayat (1), karena telah berakibat
merugikan hak konstitusional Pemohon selaku orang yang dirampas hak
kewarganegaraan yang hendak mencalonkan diri sebagai Presiden Republik
Indonesia melalui jalur independen yang dijamin oleh Pancasila dan UUD 1945
serta mengamanatkan bahwa kedaulatan ditangan rakyat;
8
3. Bahwa ketentuan materi muatan pasal UU 42/2008 Pasal 1 ayat (2), Pasal 8,
Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan Pasal 14 ayat (2)
mempunyai penafsiran ganda dalam penerapan hukum, tidak memberikan
kepastian hukum, sehingga jelas bertentangan dengan maksud dan ketentuan
Pasal 1 ayat (3) Negara Indonesia adalah negara hukum;
4. Berdasarkan uraian dan kesimpulan di atas, maka Pasal 1 ayat (2), Pasal 8,
Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan Pasal 14 ayat (2)
secara arti tekstual dan arti kontekstual ketentuan dengan Pasal 6A ayat (2),
Pasal 1 ayat (2), ayat (3), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat
(1), ayat (3), Pasal 28E ayat (3), Pasal 28H ayat (2), Pasal 28I ayat (2), ayat
(2), ayat (4), ayat (5), dan Pasal 28J ayat (1) UUD 1945 serta terbukti
mengakibatkan kerugian konstitusional yang disebut di atas;
Oleh karena itu Pemohon meminta kepada Ketua/Majelis Hakim Mahkamah
Konstitusi kiranya berkenan memeriksa dan memutuskan permohonan pengajuan
ini (judicial review) dengan menyatakan muatan pasal, ayat UU 42/2008 Pasal 1
ayat (2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan Pasal
14 ayat (2) a quo bertentangan dengan UUD 1945 dan dengan demikian
dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat;
IV. POKOK PERKARA
1. Bahwa UU 42/2008 Pasal 1 ayat (2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1),
ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan Pasal 14 ayat (2) bertentangan dengan UUD
1945 dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
UU 42/2008
UUD 1945
• Pasal 1 ayat (2):
Partai Politik adalah partai politik yang
telah ditetapkan sebagai peserta
pemilihan umum anggota Dewan
Perwakilan Rakyat.
• Pasal 6A ayat (2):
Pasangan calon Presiden dan Wakil
Presiden diusulkan oleh partai
politik atau gabungan partai politik
peserta pemilihan umum sebelum
pelaksanaan pemilihan umum.
• Pasal 14 ayat (2):
Masa
pendaftaran
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13, paling
lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak
penetapan secara nasional hasil
Pemilu anggota DPR.
a. Partai yang dimaksud oleh Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 dalam arti bahasa
berarti “Kelompok, kumpulan orang” (Party/partie/, kb. 3 kelompok, kumpulan
orang Kamus Indonesia Inggris An English Indonesia Dictionery Oleh JOHN M.
9
ECHOLS DAN HASSAN SHALILY Penerbit PT Gramedia Jakarta), sedangkan
politik dalam arti bahasa bertarti Bijaksana(Politik/kebijaksana kamus Indonesia
Ingris An English Indonesia Dictionery Oleh JOHN M. ECHOLS DAN HASSAN
SHALILY Penerbit, PT Gramedia Jakarta). Jadi apabila digabungkan Partai
Politik, dalam arti tersirat dan dalam arti bahasa berarti kelompok kumpulan
orang yang berpandangan, berpikir, berkata, bersikap, bertindak, serta berbuat
dengan bijaksana berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan
sumber dan segala sumber hukum.
“Dan dapat pula diartikan bahwa partai politik bukanlah kumpulan hewan,
pepohonan, gambar-gambar di langit yang tidak mempunyai pandangan yang
diatur berdasarkan kebijaksanaan konstitusi yang penuh kemunafikan layaknya
berdagang sapi “(Politik);
Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 merupakan pokok pikiran, landasan roh yang tidak
bisa berdiri sendiri dan merupakan satu kesatuan yang utuh dengan pasal dan
ayat lainnya UUD 1945 serta tidak terlahir berdasarkan semangat privat
layaknya Coorporated (perusahaan) swasta/nasional maupun asing, jadi Partai
politik dan Gabungan Partai Politik berdasarkan Pasal 6A ayat (2) merupakan
sarana partisipasi politik rakyat yang terlahir dan rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat sehingga mempunyai hubungan korelasi positif yang tidak saling
bertentangan, atau mengikat utuh antara pasal dan ayat lainnya dalam UUD
1945.
b. Saat dan waktu diusulkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden dalam
Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008 paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak
penetapan secara nasional hasil Pemilu anggota DPR. Hal ini sangat jelas
bertentangan dengan yang diamanatkan oleh Pasal 6A ayat (2) UUD 1945,
sebagaimana saat dan waktu pendaftaran calon Presiden dan Wakil Presiden
adalah sebelum pelaksanaan pemilihan umum (sebelum pemilihan umum
legislatif).
UU 42/2008
UUD 1945
c. Pasal 9 ayat (2):
Pasangan calon diusulkan oleh partai
politik atau gabungan partai politik
peserta pemilu yang memenuhi
persyaratan perolehan kursi paling
sedikit 20 % (dua puluh persen) dari
jumlah kursi DPR atau memperoleh
25 % (dua puluh lima persen) dari
suara sah nasional dalam Pemilu
anggota DPR, sebelum pelaksanaan
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
• Pasal 1 ayat (2):
Kedaulatan berada di tangan rakyat
dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar.
• Pasal 6A ayat (1):
Presiden dan Wakil Presiden dipilih
dalam satu pasangan secara
langsung oleh rakyat.
c. Bahwa Pasal 9 UU 42/2008 mengenai persyaratan pengusulan calon Presiden
dan Wakil Presiden, menggambarkan dan menonjolkan sistem pemerintahan
parlementarian yang diisaratkan dengan hasil pemilu DPR. Hal ini jelas
bertentangan dengan sistem presidensil yang diamanatkan dalam Pasal 1 ayat
(2) dan Pasal 6A ayat (1) UUD 1945. Dalam sistem presidensil di Republik
Indonesia, Kepala Negara mempunyai kedaulatan yang dijamin berdasarkan
legitimasi rakyat. Karena presiden dipilih langsung oleh rakyat bukan dipilih
melalui lembaga perantara (DPR) dan tidak dibatasi oleh institusi
parlementarian yang berdasarkan kebutuhan Partai peserta pemilu melalui
fraksi-fraksi DPR;
10
d. Hasil pemilu yang menghasilkan DPR sejatinya tidak memiliki korelasi secara
yuridis, dengan pengusulan calon Presiden dan Wakil Presiden, atau dengan
kata lain hasil pemilu tidak dapat dijadikan alat legitimasi untuk pengusulan
Presiden dan Wakil Presiden. Pengusulan calon Presiden dan Wakil Presiden
haruslah mengacu pada sistem presidensil yang meletakkan hak konstitusional
pemegang kedaulatan sebagai pengusul calon Presiden dan Wakil Presiden
yang telah dijamin dalam Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 6A ayat (1) UUD 1945;
e. Pasal 9 UU 42/2008 telah melenceng dari sistem ketatanegaraan yang bersifat
presidensil, sehingga membuat pemaknaan ambivalen atau dualisme, karena
mengalami makna ganda sehingga diartikan rancu dan bertentangan dengan
UUD 1945;
Seharusnya UU 42/2008 Pasal 9 ayat (2) menyatakan Pasangan calon
diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang
memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen)
dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dan
suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan
pemilihan presiden atau pasangan calon diusulkan oleh Komite Pemerintahan
Rakyat Independent/Calon Independent yang memenuhi persyaratan melalui
pilihan dan dukungan rakyat berdasarkan amanat Pancasila dan UUD 1945.
UU 42/2008
UUD 1945
• Pasal 8:
Calon Presiden dan calon Wakil
Calon Presiden diusulkan dalam 1
(satu) pasangan oleh partai politik
atau gabungan partai politik.
• Pasal 27 ayat (1):
Segala warga negara bersamaan
kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya.
• Pasal 10 ayat (1):
Penentuan calon Presiden dan/atau
Presiden dilakukan secara demokratis
dan
terbuka
sesuai
dengan
mekanisme internal partai politik
bersangkutan.
• Pasal 28C ayat (2):
Setiap
orang
berhak
untuk
memajukan
dirinya
dalam
memperjuangkan haknya secara
kolektif
untuk
membangun
masyarakat,
bangsa,
dan
negaranya.
• Pasal 10 ayat (2):
Partai Politik dapat melakukan
kesepakatan dengan Partai Politik
lain untuk melakukan penggabungan
dalam mengusulkan Pasangan Calon.
• Pasal 28D ayat (1):
Setiap
orang
berhak
atas
pengakuan, jaminan, perlindungan,
dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama di
hadapan hukum.
• Pasal 10 ayat (3)
Partai Politik atau Gabungan Partai
Politik sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) hanya dapat mencalonkan 1
(satu) Pasangan Calon sesuai
dengan mekanisme internal Partai
Politik
dan/atau
musyawarah
Gabungan
Partai
Politik
yang
dilakukan secara demokratis dan
terbuka.
• Pasal 28D ayat (3):
Setiap
warga negara berhak
memperoleh
kesempatan
yang
sama dalam pemerintahan.
• Pasal 28E ayat (3):
Setiap
orang
berhak
atas
kebebasan berserikat, berkumpuI,
dan mengeluarkan pendapat.
11
• Pasal 10 ayat (4)
Calon Presiden dan/atau calon Wakil
Presiden yang telah diusulkan dalam
satu pasangan oleh Partai Politik atau
Gabungan Partai Politik sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) tidak boleh
dicalonkan lagi oleh Partai Politik atau
Gabungan Partai Politik lainnya.
• Pasal 28H ayat (2):
Setiap orang berhak mendapat
kemudahan dan perlakuan khusus
untuk memperoleh kesempatan dan
manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan.
• Pasal 28I ayat (2):
Setiap orang berhak bebas dan
perlakuan yang bersifat diskriminatif
atas dasar apa pun dan berhak
mendapatkan
perlindungan
terhadap perlakuan yang bersifat
diskrimitatif
• Pasal 28I ayat (4):
Perlindungan,
pemajuan,
penegakan, dan pemenuhan hak
asasi manusia adalah tanggung
jawab
negara,
terutama
pemerintah.)
• Pasal 28I ayat (5):
Untuk menegakkan dan melindungi
hak asasi manusia sesuai dengan
prinsip
negara
hukum
yang
demokratis, maka pelaksanaan hak
asasi manusia dijamin, diatur, dan
dituangkan
dalam
peraturan
perundang-undangan.
• Pasal 28J ayat (1):
Setiap orang wajib menghormati
hak asasi manusia orang lain dalam
tertib kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
Demokrasi sejatinya identik dengan salah satu aspirasi yang melibatkan seluruh
rakyat dalam setiap keputusan seperti yang diamanatkan oleh demokrasi
partisipatoris dan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya demokrasi adalah
paham kerakyatan yang tanpa diskriminasi atau intervensi yang bermuatan
kekuasaan jabatan maupun golongan. Demokrasi tidak boleh hanya sekedar
menjadi simbol yang hanya mengeksploitasi kepentingan rakyat dengan
memobilisasi rakyat kepada kepentingan sesaat.
Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) UU 42/2008 sama sekali tidak
memiliki semangat demokrasi partisipatoris seperti yang disyaratkan oleh Pasal
27 ayat (1), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), ayat (3), Pasal 28E ayat (3),
Pasal 28I ayat (2), Pasal 28I ayat (4), Pasal 28I ayat (5), Pasal 28J ayat (1) UUD
1945;
Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) UU 42/2008 hanya menjelaskan
tentang hak pencalonan Presiden dan Wakil Presiden oleh Parpol secara kaku
dan paku Belanda/tidak fleksibel dengan memandang partai politik melalui tafsir
yang menyesatkan dan tidak memiliki kepastian hukum, yang akan berdampak
deligitimasi rakyat yang mengarah pada perpecahan, sebagai konsekuensi logis
dan pertentangannya dengan UUD 1945 yang kita yakini sebagai sumber dari
segala sumber hukum.
•
Berdasarkan UU 42/2008 Pasal 8 berbunyi, ”Bahwa calon presiden dan calon
12
wakil/presiden diusulkan dalam 1(satu) pasangan oleh partai politik atau
gabungan partai politik atau calon presiden dan calon wakil presiden,
diusulkan dalam 1(satu) pasangan oleh Komite Pemerintahan Rakyat
independent atau gabungan calon independent”;
•
Pasal 10 ayat (1) berbunyi, ”Penentuan calon presiden dan/atau calon wakil
presiden dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan
mekanisme internal partai politik bersangkutan atau penentuan calon
presiden dan/atau calon wakil presiden dilakukan secara demokratis dan
terbuka sesuai dengan mekanisme internal Komite Pemerintahan Rakyat
Independen atau calon Independen bersangkutan”;
•
Pasal 10 ayat (2) berbunyi, ”Partai politik dapat melakukan kesepakatan
dengan partai politik lain untuk melakukan penggabungan dalam
mengusulkan pasangan calon, atau komite pemerintahan rakyat independent
dapat melakukan kesepakatan dengan calon independent lain untuk
melakukan penggabungan dalam melakukan pengusulan pasangan calon
preseiden”
•
Pasal 10 ayat (3) berbunyi, ”Partai politik atau gabungan partai politik
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat mencalonkan 1 (satu)
pasangan calon sesuai dengan mekanisme internal partai politik dan/atau
musyawarah gabungan partai politik yang dilakukan secara demokratis dan
terbuka atau komite pemerintahan partai independent atau gabungan calon
independent sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (dua) hanya dapat
mencalonkan 1 (satu) pasangan calon sesuai dengan mekanisme internal
calon independent dan/atau musyawarah gabungan calon independent yang
dilakukan secara demokratis dan terbuka”;
•
Pasal 10 ayat (4) berbunyi, “Calon presiden dan/atau calon wakil presiden
yang telah diusulkan dalam satu pasangan oleh partai politik atau gabungan
partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh dicalonkan lagi
oleh partai politik atau gabungan partai politik lainnya atau calon presiden
dan/atau calon wakil presiden yang diusulkan dalam satu (1) pasangan oleh
komite pemerintahan rakyat independent atau gabungan calon independent
sebagaimana dimaksud pada ayat 3 tidak boleh dicalonkan lagi oleh komite
pemerintahan rakyat independent atau gabungan calon independent lainnya;
2. Bahwa UU 42/2008 Pasal 1 ayat (2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1),
ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan Pasal 14 ayat (2) berdasarkan fakta yuridis
tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sehingga tidak dapat
menjawab asas kepastian hukum sedangkan pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden harus mempunyai asas kepastian hukum yang tidak boleh
bertentangan dengan asas legalitas dan/atau asas kepastian hukum yang
dianut
dalam
sistem
hukum
nasional
(hukum
positif
tentang
penyelenggaraan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, karena
pasal, materi, atau/dan muatan ayat hanya mengakomodir partai politik
dalam kata-kata kaku dan paku Belanda namun tidak menjelaskan tentang
keikutsertaan calon independen sebagai Calon Presiden dan Wakil
Presiden maka dari itu UU 42/2008 Pasal 1 ayat (2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal
13
10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2). Sangat
tidak mengikat dan penjelasannya tidak tersirat sesuai dengan ketentuan
alamiah rakyat akan kepastian hukum yang dijamin secara konstitusi oleh
UUD 1945 sebagai dasar hukum yang bersumber dan segala sumber
hukum;
3. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechstaat) tidak berdasarkan
kekuasaan belaka (machstaat) sesuai dengan amanat UUD 1945, Pasal (1)
ayat (3) berbunyi, “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Berdasarkan
alasan-alasan dan pertimbangan tersebut pasal UU 42/2008, Pasal 1 ayat
(2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), Pasal 10 ayat (2), Pasal 10 ayat (3),
Pasal 10 ayat (4) harus mendapat tambahan dengan menyertakan Calon
Presiden dan Wakil Presiden Independen agar tidak bertentangan dengan
amanat Pancasila dan UUD 1945;
4. Bahwa materi muatan pasal UU 42/2008, Pasal 1 ayat (2), Pasal 8, Pasal 9,
Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) hanya menjelaskan
tentang hak pencalonan Presiden dan Wakil Presiden oleh Parpol secara
kaku dan paku Belanda tidak fleksibel dengan tidak menyertakan Calon
Independen akan menimbulkan penafsiran ganda dan ketidakpastian
hukum serta dapat menimbulkan golongan putih dan perpecahan, bahkan
dengan tidak menyertakan Calon Presiden dan Wakil Presiden dari
Independen jelas-jelas bertentangan dan berhianat kepada UUD 1945
Pasal 1 ayat (2) menyatakan, “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan
dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar 1945”;
V. PETITUM
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas dengan ini Pemohon meminta
kepada Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi kiranya berkenan memeriksa
dan memutus permohonan pengujian ini (judicial review) dengan menyatakan:
1. Menerima dan mengabulkan permohonan seluruhnya;
2. Menyatakan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Pasal 1 ayat (2), Pasal 8,
Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat
(2) bertentangan dengan UUD 1945;
3. Menyatakan Undang-Undang Nomor 42 Tahun Pasal 1 ayat (2), Pasal 8, Pasal
9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2)
tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat;
14
Atau, apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon
putusan seadil-adilnya.
[2.2]
Menimbang
bahwa
untuk
menguatkan
dalil-dalilnya,
Pemohon
mengajukan bukti surat atau tulisan yang diberi tanda P-1 sampai dengan P-9,
sebagai berikut:
1. Bukti P-1
:
Fotokopi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Bukti P-2
:
Fotokopi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi;
3. Bukti P-3
:
Fotokopi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden;
4. Bukti P-4
:
Fotokopi Buku Revolusi Konstitusi Demokrasi Independen
menuju Indonesia Baru;
5. Bukti P-5
:
Fotokopi Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Nomor 5/PUU-V/2007 mengenai Pengujian Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daetah terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
6. Bukti P-6
:
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah;
7. Bukti P-7
:
Fotokopi Akta Pendirian Lembaga Komite Pemerintahan Rakyat
Independen tanggal 30 Desember 2008;
8. Bukti P-8
:
Fotokopi kutipan kamus Inggris – Indonesia, John M. Echols
dan Hasan Shadily;
9. Bukti P-9
:
Fotokopi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
[2.4]
Menimbang bahwa Pemohon pada persidangan tanggal 7 Mei 2009
telah memberikan keterangan yang
pada pokoknya mempertegas kembali
kedudukan hukumnya sebagai Presiden Dewan Nasional Komite Pemerintahan
Rakyat Independen. Menurut Pemohon melihat independen tidak dalam bentuk
privat, melainkan independen merupakan sikap politik;
15
Menimbang bahwa untuk mempersingkat uraian dalam putusan ini,
[2.5]
maka segala sesuatu yang tertera dalam berita acara persidangan telah termuat
dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari putusan ini;
3. PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan a quo adalah untuk
[3.1]
menguji Pasal 1 angka 2, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3),
dan ayat (4) serta Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008
tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (selanjutnya disebut UU
42/2008) terhadap Pasal 1 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), Pasal 6A ayat (1) dan
ayat (2), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), dan ayat (3),
Pasal 28E ayat (3), Pasal 28H ayat (2), Pasal 28I ayat (2), ayat (4) dan ayat (5)
serta Pasal 28J ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (selanjutnya disebut UUD 1945);
Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok permohonan, terlebih
[3.2]
dahulu Mahkamah akan mempertimbangkan mengenai:
a. Kewenangan Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) untuk
memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;
b. Kedudukan hukum (legal standing) pemohon untuk mengajukan permohonan
a quo;
Kewenangan Mahkamah
[3.3]
Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD
1945 junctis Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Tahun 2003 Nomor 98,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316, selanjutnya disebut
UU MK) dan Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004
tentang Kekuasaan Kehakiman, Mahkamah berwenang mengadili pada tingkat
pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji UndangUndang terhadap UUD 1945.
[3.4]
Menimbang bahwa permohonan Pemohon adalah untuk menguji
konstitusionalitas norma Pasal 1 angka 2, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat
16
(2), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008 terhadap UUD 1945
yang menjadi salah satu kewenangan Mahkamah, sehingga oleh karenanya
Mahkamah berwenang memeriksa, mengadili dan memutus permohonan a quo;
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon
[3.5]
Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK beserta
Penjelasannya, yang dapat mengajukan permohonan pengujian Undang-Undang
terhadap UUD 1945 adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan
konstitusionalnya yang diberikan oleh UUD 1945 dirugikan oleh berlakunya suatu
Undang-Undang, yaitu:
a. perorangan warga negara Indonesia (termasuk kelompok orang yang
mempunyai kepentingan sama);
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang diatur dalam undang-undang;
c. badan hukum publik atau privat; atau
d. lembaga negara;
Dengan demikian, Pemohon dalam pengujian Undang-Undang terhadap UUD
1945 harus menjelaskan dan membuktikan terlebih dahulu:
a. kedudukannya sebagai pemohon sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU
MK;
b. ada tidaknya kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional yang diberikan
oleh UUD 1945 yang diakibatkan oleh berlakunya Undang-Undang yang
dimohonkan pengujian;
[3.6]
Menimbang pula bahwa Mahkamah sejak Putusan Nomor 006/PUU-
III/2005 bertanggal 31 Mei 2005, Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 bertanggal 20
September 2007, dan Putusan-Putusan selanjutnya berpendirian bahwa kerugian
hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1)
UU MK harus memenuhi lima syarat, yaitu:
a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh
UUD 1945;
b. hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh Pemohon dianggap
dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;
17
c. kerugian konstitusional tersebut harus bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau
setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan
akan terjadi;
d. adanya hubungan sebab-akibat (causal verband) antara kerugian dimaksud
dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka
kerugian konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi;
[3.7]
dirinya
Menimbang bahwa Pemohon dalam permohonannya mengkualifikasikan
sebagai
warga
negara
Republik
Indonesia
yang
dirugikan
hak
konstitusionalnya oleh berlakunya Pasal 1 angka 2, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10
ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008.
Menurut Pemohon berlakunya pasal a quo telah menyebabkan Pemohon terbatasi
hak konstitusionalnya untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Republik
Indonesia melalui jalur independen. Namun demikian pada persidangan tanggal
7 Mei 2009 Pemohon telah merevisi kedudukan hukumnya tidak lagi sebagai
warga negara Indonesia, melainkan sebagai Presiden Lembaga Dewan Nasional
Komite Pemerintahan Rakyat Independen berdasarkan Akta Notaris Herman Eddy,
S.H., tanggal 30 Desember 2008 Nomor 34. Pemohon melihat independen tidak
dalam bentuk privat, tetapi melihat independen sebagai sikap politik wadah
kolegial (sic);
[3.8]
Menimbang
bahwa
Pasal
5
Akta
Pendirian
Lembaga
Komite
Pemerintahan Rakyat Independen Nomor 34 pada huruf d dan huruf e pada
pokoknya menyatakan bahwa Maksud dan Tujuan Lembaga ini adalah untuk
memperjuangkan hak politik rakyat yang berkeadilan menuju masyarakat adil dan
makmur, dan membangun “independensi politikal rakyat” dan “politikal rakyat
independen”. Lembaga Komite Pemerintahan Rakyat Independen yang dibentuk
dengan akta Notaris tersebut dimaksudkan untuk memperoleh status sebagai satu
badan hukum perdata. Akan tetapi dari alat-alat bukti yang diajukan, tidak ternyata
bahwa badan hukum tersebut telah memperoleh pengesahan Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia, sehingga oleh karenanya menurut Mahkamah, Pemohon
belum dapat
dikualifikasikan
sebagai
badan
hukum,
akan
tetapi
dapat
dikualifikasikan sebagai perorangan atau kelompok orang yang mempunyai
kepentingan yang sama;
18
[3.9]
Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan
mempunyai kepentingan
untuk memperjuangkan hak politik rakyat, dan dengan demikian, sebagai
perorangan, memiliki hak konstitusional berdasarkan UUD 1945 untuk tidak
diperlakukan diskriminatif, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk turut
serta dalam pemerintahan, termasuk hak untuk memilih dan dipilih. Namun, untuk
menentukan adanya kedudukan hukum (legal standing) Pemohon, masih harus
dibuktikan
apakah pasal yang dimohonkan pengujian ada kaitannya dengan
kerugian hak konstitusional Pemohon, yang sifatnya spesifik, baik yang aktual
maupun potensial, serta apakah kerugian atas hak konstitusional Pemohon
berkaitan langsung dengan diberlakukannya undang-undang yang dimohonkan
untuk diuji;
[3.10]
Menimbang
bahwa
Pemohon
dalam
permohonan
a
quo
telah
mengajukan permohonan pengujian Pasal 1 angka 2, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10
ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008, yang
masing-masing berbunyi :
•
Pasal 1 ayat (2): ”Partai adalah Partai Politik yang telah ditetapkan sebagai
peserta pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat”;
•
Pasal 8: “Calon Presiden dan calon Wakil Presiden diusulkan dalam 1 (satu)
pasangan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik”;
•
Pasal 9: “Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai
Politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling
sedikit 20% (dua puluh persen) dan jumlah kursi DPR atau memperoleh 25%
(dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR,
sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden”;
•
Pasal 10:
Ayat (1): ”Penentuan calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden dilakukan
secara demokratis dan terbuka sesuai dengan mekanisme internal
Partai Politik bersangkutan”;
Ayat (2): ”Partai Politik dapat melakukan kesepakatan dengan partai politik lain
untuk melakukan penggabungan dalam mengusulkan Pasangan
Calon”;
Ayat (3): ”Partai Politik atau Gabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) hanya dapat mencalonkan 1 (satu) Pasangan Calon
19
sesuai
dengan
mekanisme
internal
Partai
Politik
dan/atau
musyawarah Gabungan Partai Politik yang dilakukan secara
demokratis dan terbuka”;
Ayat (4): ”Calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden yang telah diusulkan
dalam satu pasangan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh dicalonkan lagi
oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik lainnya”;
•
Pasal 14 ayat (2): “Masa pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13,
paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak penetapan secara nasional hasil
Pemilu anggota DPR”;
[3.11]
Menimbang bahwa pasal-pasal yang dimohonkan pengujian oleh
Pemohon pada dasarnya merupakan pasal-pasal yang mengatur mengenai
mekanisme pengusulan calon Presiden dan calon Wakil Presiden, terutama yang
hanya memungkinkan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan
oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi syarat mencapai
perolehan
20% kursi di DPR atau memperoleh 25 % dari suara sah secara
nasional dalam Pemilu anggota DPR, sehingga pasal-pasal a quo tidak
memungkinkan
adanya
calon
independen
menerapkan 5 (lima) syarat kerugian
atau
perseorangan.
Dengan
hak konstitusional yang ditentukan oleh
Mahkamah, maka secara prima facie menurut Mahkamah terdapat kerugian hak
konstitusional Pemohon dan ada hubungan sebab akibat (causal verband) antara
kerugian hak konstitusional Pemohon dengan berlakunya Undang-Undang yang
dimohonkan pengujian; oleh karenanya Pemohon memenuhi syarat kedudukan
hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan pengujian a quo;
[3.11.1] Menimbang bahwa karena Mahkamah berwenang untuk memeriksa,
mengadili dan memutus permohonan a quo dan Pemohon memiliki kedudukan
hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo, Mahkamah lebih
lanjut akan memeriksa pokok permohonan.
Pokok Permohonan.
[3.12]
Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan sebagai berikut:
20
•
Pasal 1 angka 2, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan
ayat (4) UU 42/2008 bertentangan dengan asas legalitas, dan prinsip
penyelenggaraan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden sebagai
sarana partisipasi yang diamanatkan Pancasila, serta bertentangan dengan
Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa Kedaulatan berada di
tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar;
•
Pasal 1 angka 2, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan
ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008 yang dimohonkan pengujian,
bertentangan dengan Pasal 1 ayat (2), Pasal 6A ayat (1), Pasal 27 ayat (1),
Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28D ayat (3), Pasal 28E ayat (3),
Pasal 28H ayat (2), Pasal 28I ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan Pasal 28J ayat (1)
UUD 1945, karena pasal a quo telah merugikan hak konstitusional Pemohon
selaku orang yang dirampas hak kewarganegaraan yang hendak mencalonkan
diri sebagai Presiden Republik Indonesia melalui jalur independen yang dijamin
oleh Pancasila dan UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa kedaulatan di
tangan rakyat;
•
Bahwa Pasal 1 angka 2, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3),
dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008 mempunyai penafsiran ganda,
tidak memberikan kepastian hukum, sehingga bertentangan dengan maksud
dan ketentuan Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan Negara Indonesia adalah
negara hukum;
•
Bahwa Pasal 1 angka 2, dan Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008 bertentangan
dengan Pasal 6A ayat (2) UUD 1945, karena pengusulan Presiden dan Wakil
Presiden menurut Pasal 6A ayat (2) diusulkan oleh partai politik atau gabungan
partai politik sebelum pelaksanaan pemilihan umum (sebelum pemilihan umum
legislatif) [sic]. Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 merupakan landasan roh yang
tidak dapat berdiri sendiri dan merupakan satu kesatuan yang utuh dengan
pasal dan ayat dalam UUD 1945. Oleh karena itu Partai Politik dan Gabungan
Partai Politik sebagaimana diatur dalam Pasal 6A ayat (2) UUD 1945
merupakan sarana partisipasi politik rakyat yang terlahir dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat sehingga mempunyai hubungan korelasi positif yang
tidak saling bertentangan, atau mengikat utuh antara pasal dan ayat lainnya
dalam UUD 1945;
21
•
Bahwa Pasal 9 UU 42/2008 telah menonjolkan sistem pemerintahan
parlementarian,
sehingga
bertentangan
dengan
sistem
presidensil
sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 6A ayat (1)
UUD 1945. Hasil pemilu tidak dapat dijadikan alat legitimasi untuk pengusulan
Presiden dan Wakil Presiden. Pengusulan calon Presiden dan Wakil Presiden
haruslah mengacu pada sistem presidensil yang meletakkan hak konstitusional
pemegang kedaulatan sebagai pengusul calon Presiden dan Wakil Presiden
yang telah dijamin dalam Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 6A ayat (1) UUD 1945;
•
Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) UU 42/2008 tidak memiliki
semangat demokrasi partisipatoris sebagaimana yang disyaratkan oleh
Pasal 27 ayat (1), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), ayat (3), Pasal 28E
ayat (3), Pasal 28I ayat (2), ayat (4), dan ayat (5), serta Pasal 28J ayat (1)
UUD 1945;
[3.13]
Menimbang
bahwa
selain
itu
Pemohon
mendalilkan
Komite
Pemerintahan Rakyat Independen pada hakikatnya partai politik peserta pemilu
Presiden, oleh karena itu Pasal 8, Pasal 9 ayat (2), Pasal 10 ayat (1), ayat (2),
ayat (3) dan ayat (4) UU 42/2008 harus dilakukan revisi yang pada pokoknya
menyatakan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden sebelum diusulkan oleh
Partai Politik dan Gabungan Partai Politik harus terlebih dahulu diusulkan oleh
Komite Pemerintahan Rakyat Independen atau gabungan calon independen. Bunyi
selengkapnya revisi Pasal 8, Pasal 9 ayat (2), Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3)
dan ayat (4) UU 42/2008 yang dimohonkan oleh Pemohon adalah sebagai berikut:
•
Pasal 8: Bahwa calon Presiden dan calon Wakil Presiden diusulkan dalam
1(satu) pasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik atau calon
Presiden dan calon Wakil Presiden, diusulkan dalam 1(satu) pasangan oleh
Komite Pemerintahan Rakyat Independent atau gabungan calon independent”;
•
Pasal 9 ayat (2): Pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan
partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling
sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25%
(dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR,
sebelum pelaksanaan pemilihan presiden atau pasangan calon diusulkan oleh
Komite Pemerintahan Rakyat Independent/Calon Independent yang memenuhi
22
persyaratan melalui pilihan dan dukungan rakyat berdasarkan amanat
Pancasila dan UUD 1945;
•
Pasal 10 ayat (1): ”Penentuan calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden
dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan mekanisme internal
partai politik bersangkutan atau penentuan calon Presiden dan/atau calon
Wakil Presiden dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan
mekanisme internal Komite Pemerintahan Rakyat Independen atau calon
Independen bersangkutan”;
•
Pasal 10 ayat (2): ”Partai politik dapat melakukan kesepakatan dengan partai
politik lain untuk melakukan penggabungan dalam mengusulkan pasangan
calon, atau Komite Pemerintahan Rakyat Independen dapat melakukan
kesepakatan dengan calon independent lain untuk melakukan penggabungan
dalam melakukan pengusulan pasangan calon Presiden”
•
Pasal 10 ayat (3): ”Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) hanya dapat mencalonkan 1 (satu) pasangan calon
sesuai dengan mekanisme internal partai politik dan/atau musyawarah
gabungan partai politik yang dilakukan secara demokratis dan terbuka atau
Komite Pemerintahan Partai Independent atau gabungan calon independent
sebagaimana dimaksud pada ayat 2 hanya dapat mencalonkan 1 (satu)
pasangan calon sesuai dengan mekanisme internal calon independent dan/
atau musyawarah gabungan calon independent yang dilakukan secara
demokratis dan terbuka”;
•
Pasal 10 ayat (4): “Calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden yang telah
diusulkan dalam satu pasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh dicalonkan lagi oleh partai
politik atau gabungan partai politik lainnya atau calon presiden dan/atau calon
wakil presiden yang diusulkan dalam 1 (satu) pasangan oleh Komite
Pemerintahan
Rakyat
Independen
atau
gabungan
calon
independent
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh dicalonkan lagi oleh Komite
Pemerintahan Rakyat Independent atau gabungan calon independent lainnya;
[3.14]
Menimbang bahwa pasal-pasal dalam UU 42 Tahun 2008
yang
dimohonkan pengujiannya oleh Pemohon adalah menyangkut pasal-pasal yang
telah diuji dan diputus oleh Mahkamah dalam putusan-putusan sebelumnya, yaitu:
23
a. Putusan Nomor 054/PUU-II/2004 dan Nomor 057/PUU-II/2004 masing-masing
bertanggal 6 Oktober 2004, yang dalam pertimbangan hukumnya telah
mengemukakan bahwa untuk menjadi Presiden atau Wakil Presiden adalah
hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi sesuai dengan ketentuan
Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945 sepanjang memenuhi
persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 dan Pasal 6A Undang-Undang
Dasar 1945. Sedangkan dalam melaksanakan hak termaksud Pasal 6A ayat (2)
UUD 1945 menentukan tatacaranya, yaitu harus diajukan oleh partai politik
atau
gabungan
partai
politik.
Diberikannya
hak
konstitusional
untuk
mengusulkan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden kepada partai
politik oleh UUD 1945 bukanlah berarti hilangnya hak konstitusional warga
Negara, in casu para Pemohon, untuk menjadi Calon Presiden atau Calon
Wakil Presiden “karena hal itu dijamin oleh UUD 1945”, sebagaimana
ditegaskan oleh Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945 apabila
warga negara yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan
oleh Pasal 6 dan dilakukan menurut tata cara sebagaimana dimaksud oleh
Pasal 6A ayat (2) UUD 1945, persyaratan mana merupakan prosedur atau
mekanisme yang mengikat terhadap setiap orang yang berkeinginan menjadi
Calon Presiden Republik Indonesia;
b. Putusan
Nomor
56/PUU-VI/2008
tanggal
17
Februari
2008.
Dalam
pertimbangan hukumnya, Mahkamah telah menyatakan hal-hal berikut:
1. Ketentuan umum yang dimaksud dalam suatu peraturan perundangundangan dimaksudkan agar batas pengertian atau definisi, singkatan atau
akronim yang berfungsi menjelaskan makna suatu kata atau istilah memang
harus
dirumuskan
sehingga
tidak
menimbulkan
pengertian
ganda.
Permohonan yang mempersoalkan batasan pengertian, singkatan atau halhal lain yang bersifat umum yang dijadikan dasar/pijakan bagi pasal-pasal
berikutnya dalam undang-undang a quo, sangat tidak beralasan dan tidak
tepat;
2. Kehendak awal (original intent) pembuat UUD 1945 tentang Pasal 6A ayat
(2) UUD 1945 sudah jelas bahwa “Pasangan Calon Presiden dan Wakil
Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta
pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum”. Berdasarkan
original intent tersebut, UUD 1945 hanya mengenal adanya Pasangan
24
Calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik
peserta pemilihan umum, sehingga secara umum UU 42 Tahun 2008 hanya
merupakan pelaksanaan ketentuan Pasal 6A ayat (5) UUD 1945, yang
menyatakan “Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan
Wakil
Presiden lebih lanjut diatur dalam undang-undang”;
3. Dengan demikian, pengaturan tentang partai politik atau gabungan partai
politik peserta pemilihan umum yang berhak mengusulkan Pasangan Calon
Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 8
dan Pasal 13 ayat (1) UU 42/2008, merupakan pelaksanaan ketentuan
Pasal 6A ayat (2) UUD 1945, yang menetapkan, “Pasangan calon Presiden
dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai poltik
peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum”. Dengan
perkataan lain, konstruksi yang dibangun dalam konstitusi, bahwa
pengusulan Pasangan Calon oleh partai politik atau gabungan partai politik
mencerminkan bahwa sistem politik yang dibangun mengacu pada sistem
komunal/kolegial,
bukan
berlandaskan
pada
sistem
individual
(perseorangan);
4. Dalil yang menyatakan bahwa Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1) dan
ayat (3) serta Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 merupakan bentuk perwujudan
dari kedaulatan rakyat yang dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (2) UUD 1945
adalah benar. Akan tetapi pelaksanaan dari Pasal 1 ayat (2) UUD 1945
tersebut tidaklah melanggar hak seseorang “untuk memilih dan dipilih”,
karena dalam pelaksanaan Pemilu setiap orang mempunyai hak dan
dijamin untuk melaksanakan kedaulatannya untuk memilih Presiden dan
Wakil Presiden; namun demikian untuk dipilih menjadi Presiden dan Wakil
Presiden terdapat syarat-syarat yang dimuat dalam Pasal 6A ayat (2) UUD
1945, yang kemudian diatur lebih lanjut dalam UU 42/2008 a quo. Dengan
demikian pembatasan dalam Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 13 ayat (2)
UU 42/2008 tidaklah bertentangan dengan Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 dan
bukanlah merupakan pengaturan yang diskriminatif. Apalagi jika dilihat
ketentuan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menjelaskan bahwa kedaulatan
rakyat itu harus dilaksanakan menurut UUD 1945;
c. Putusan Nomor 51-52-59/PUU/2008 bertanggal 18 Februari 2009, Mahkamah
telah mempertimbangkan hal berikut ini:
25
1. bahwa terhadap dalil Pemohon yang menyatakan Pasal 9 UU 42/2008
berpotensi menyebabkan tidak terselenggaranya Pemilu yang demokratis,
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, Mahkamah berpendapat
tidak ada korelasi logis antara syarat dukungan 20 % (dua puluh perseratus)
kursi DPR atau 25 % (dua puluh lima perseratus) suara sah secara nasional
yang harus diperoleh partai untuk mengusulkan Pasangan Calon Presiden
dan Wakil Presiden dengan Pemilihan Umum yang demokratis, langsung,
umum, bebas, rahasia jujur dan adil, karena justru pencapaian partai atas
syarat tersebut diperoleh melalui proses demokrasi yang diserahkan pada
rakyat
pemilih yang berdaulat. Hal demikian juga untuk membuktikan
apakah partai yang mengusulkan calon Presiden dan Wakil Presiden
mendapat dukungan luas dari rakyat pemilih;
2. Lagi pula, syarat dukungan partai politik atau gabungan partai politik yang
memperoleh 20% (dua puluh perseratus) kursi di DPR atau 25 % (dua puluh
lima perseratus) suara sah nasional sebelum pemilihan umum Presiden,
menurut Mahkamah, merupakan dukungan awal; sedangkan dukungan
yang sesungguhnya akan ditentukan oleh hasil Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden, terhadap calon Presiden dan Wakil Presiden yang kelak akan
menjadi Pemerintah sejak pencalonannya telah didukung oleh rakyat
melalui partai politik yang telah memperoleh dukungan tertentu melalui
Pemilu;
3. Bahwa Mahkamah dalam fungsinya sebagai pengawal konstitusi tidak
mungkin untuk membatalkan undang-undang atau sebagian isinya, jikalau
norma tersebut merupakan delegasi kewenangan terbuka yang dapat
ditentukan sebagai legal policy oleh pembentuk undang-undang. Meskipun
seandainya isi suatu undang-undang dinilai buruk, maka Mahkamah tidak
dapat membatalkannya, sebab yang dinilai buruk tidak selalu berarti
inkonstitusional, kecuali kalau produk legal policy tersebut jelas-jelas
melanggar moralitas, rasionalitas dan ketidakadilan yang intolerable.
Sepanjang pilihan kebijakan tidak merupakan hal yang melampaui
kewenangan pembentuk undang-undang, tidak merupakan hal yang
melampaui kewenangan pembentuk undang-undang, tidak merupakan
penyalahgunaan kewenangan, serta tidak nyata-nyata bertentangan dengan
26
UUD 1945, maka pilihan kebijakan demikian tidak dapat dibatalkan oleh
Mahkamah;
[3.15]
Menimbang bahwa terhadap Pasal 8 dan Pasal 9 UU 42/2008 a quo,
yang dimohonkan pengujiannya oleh Pemohon, dengan alasan-alasan yang tidak
berbeda dengan alasan dan dasar konstitusionalitas yang diajukan dalam
6 (enam) perkara secara keseluruhan yang telah diperiksa dan diputus oleh
Mahkamah sebelumnya, maka Mahkamah tidak dapat lagi menguji pasal-pasal
tersebut.
[3.16]
Menimbang bahwa
berdasarkan Pasal 60 UU MK dan
Peraturan
Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005, maka terhadap materi muatan ayat,
pasal, dan/atau bagian dalam undang-undang yang telah diuji oleh Mahkamah,
tidak dapat dimohonkan pengujian kembali, kecuali jika diajukan dengan alasanalasan konstitusionalitas yang berbeda. Mahkamah berpendapat bahwa alasan
yang diajukan oleh Pemohon dalam pengujian materi muatan ayat, pasal dan/atau
bagian undang-undang yang diuji, terutama pengujian terhadap Pasal 1 ayat (2),
Pasal 6A ayat (1), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1),
Pasal 28D ayat (3), Pasal 28E ayat (3), Pasal 28H ayat (2), Pasal 28I ayat (2),
ayat (4), ayat (5) dan Pasal 28J ayat (1) UUD 1945 yang dijadikan sebagai dasar
pengujian tidak berbeda, sehingga oleh karenanya Mahkamah harus menyatakan
permohonan Pemohon tidak dapat diterima;
[3.17]
Menimbang bahwa khusus terhadap Pasal 1 angka 2 dan Pasal 10
ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008,
Mahkamah berpendapat sebagai berikut:
1. Pasal 1 angka 2 UU 42/2008, merupakan bagian dari ketentuan umum yang
menguraikan pengertian atau definisi operasional, yang dimaksudkan agar
batas pengertian atau definisi, singkatan atau akronim yang berfungsi
menjelaskan makna suatu kata atau istilah yang harus dirumuskan sehingga
tidak menimbulkan pengertian ganda. Permohonan yang mempersoalkan
batasan pengertian, singkatan atau hal-hal lain yang bersifat umum, yang
dijadikan dasar bagi pasal-pasal berikutnya dalam Undang-Undang a quo,
sangat tidak beralasan.
27
2. Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) UU 42/2008 yang juga
dimohonkan diuji mengatur tentang mekanisme internal Partai Politik dalam
pemilihan dan pengusulan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden
dalam Pemilihan Umum, sama sekali tidak memiliki masalah konstitusionalitas
yang harus dipersoalkan dan alasan yang diajukan sepanjang mengenai
pengujian Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) UU 42/2008
tersebut tidak berdasar hukum;
3. Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008 yang hanya menentukan tenggang waktu untuk
pendaftaran Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, merupakan pilihan
pembentuk undang-undang yang menjadi kewenangannya sehingga materinya
tidak dapat dimintakan pengujian. Berdasarkan ketiga alasan tersebut maka
permohonan Pemohon sepanjang mengenai Pasal 1 angka 2, Pasal 10
ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008
harus dinyatakan ditolak.
[3.18]
Menimbang bahwa alasan-alasan permohonan tentang usul perubahan
pasal-pasal sebagaimana tertera dalam paragraf [3.13] menurut Mahkamah tidak
rasional sehingga tidak berdasar hukum untuk dipertimbangkan.
4. KONKLUSI
Berdasarkan pertimbangan hukum dan fakta di atas, Mahkamah
berkesimpulan:
[4.1]
Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili dan memutus
permohonan a quo;
[4.2]
Pemohon sebagai kelompok perorangan yang mempunyai kepentingan
yang sama memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan
permohonan a quo, sedangkan sebagai Komite Pemerintahan Rakyat Independen
Ibukota Negara tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing);
[4.3]
Materi muatan Pasal 8 dan Pasal 9 UU 42/2008 yang dimohon untuk
diuji telah pernah diputus oleh Mahkamah dalam perkara sebelumnya.
28
Pengujian terhadap Pasal 1 ayat (2), Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat
[4.4]
(3) dan ayat (4), serta Pasal 14 ayat (2) UU 42/2008 tidak beralasan dan tidak
berdasar hukum.
5. Amar Putusan
Dengan mengingat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 serta Pasal 56 ayat (5) dan Pasal 60 Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4316).
Mengadili,
Menyatakan Permohonan Pemohon terhadap Pasal 8 dan Pasal 9
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 176,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4924) tidak dapat
diterima.
Menolak Permohonan Pemohon selebihnya.
Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh
sembilan Hakim Konstitusi pada hari Kamis tanggal sepuluh bulan September
tahun dua ribu sembilan dan diucapkan dalam persidangan terbuka untuk umum
pada hari Senin tanggal empat belas bulan September tahun dua ribu sembilan,
oleh kami sembilan Hakim Konstitusi, yaitu Moh. Mahfud MD, selaku Ketua
merangkap Anggota, Abdul Mukthie Fadjar, Maruarar Siahaan, Achmad Sodiki,
Harjono, M. Arsyad Sanusi, M. Akil Mochtar, Muhammad Alim, dan Maria Farida
Indrati, masing-masing sebagai Anggota dengan dibantu oleh Sunardi sebagai
Panitera Pengganti, dihadiri oleh Pemohon, Pemerintah atau yang mewakili, dan
Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakil.
KETUA
ttd
Moh. Mahfud MD
29
ANGGOTA-ANGGOTA,
ttd.
ttd.
Abdul Mukthie Fadjar
Maruarar Siahaan
ttd.
ttd.
Achmad Sodiki
Harjono
ttd.
ttd.
M. Arsyad Sanusi
M. Akil Mochtar
ttd.
ttd.
Muhammad Alim
Maria Farida Indrati
PANITERA PENGGANTI,
Ttd
Sunardi
Download