asuhan kebidanan pada ny ”a” masa hamil, bersalin

advertisement
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY ”A” MASA HAMIL, BERSALIN,
NIFAS, NEONATUS DAN KELUARGA BERENCANA DI UPT
PUSKESMAS PURI KABUPATEN MOJOKERTO
ADELLA IMINDA
NIM.1311010001
Subject : Ibu hamil, Sisa Plasenta, Bendungan ASI, Ikterus
DESCRIPTION
Perkembangan Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012
menyatakan, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas)
sebesar 359/100.000 kelahiran hidup. Pemerintah masih belum optimal merancang program
penurunan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Balita dalam 5 tahun terakhir.
Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dari masa
kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana.
Asuhan Kebidanan secara berkesinambungan di lakukan di Desa Sumolawang Kecamatan
Puri Kabupaten Mojokerto. Asuhan kebidanan dilakukan pada Ny.A pada tanggal 8 februari –
29 april 2016 di BPS Hj. Siti Isniwati Desa Kintelan Kecamatan Puri. Asuhan Kebidanan
diselesaikan menggunakan SOAP yaitu melakukan pengkajian, menentukan diagnosa,
menyusun rencana asuhan dan mengevaluasi.
Hasil Pengkajian pada kehamilan menunjukkan bahwa tidak ada masalah. Asuhan
persalinan berlangsung fisiologis dan ditemukan penyulit yaitu sisa plasenta. Hasil
pemeriksaan pada masa nifas ditemukan penyulit yaitu bendungan ASI. Pada kunjungan bayi
hasil pemeriksaan mengalami ikterus tetapi masih tergolong ikterus fisiologi. Pada kunjungan
keluarga berencana ibu menggunakan KB pil.
Dari kunjungan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana,
terdapat masalah pada persalinan yaitu sisa plasenta sehingga di lakukan eksplorasi untuk
mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. Upaya peningkatan Asuhan Kebidanan secara
komprehensif dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas petugas dan pemenuhan fasilitas
pada pelayanan kesehatan.
ABSTRACT
Development of the maternal mortality rate in Indonesia is still high when compared with
the previous year. Indonesian demographic and health survey in 2012 declared maternal
mortality rate (associated with pregnancy parturition and postpartum) of 359/100.000 live
births. The government is still not optimal in designing programs to reducing maternal
mortality, infant and toddlers mortality, last 5 years. The purpose of this study was to provide
a comprehensive midwifery care from pregnancy, parturition, postpartum, neonatal and
family planning.
Continously midwifery care was conducted in the Sumolawang, Puri Mojokerto. Midwifery
care was done on Mis.A on 8 february – 29 april 2016 in BPS Hj. Siti Isniwat Kintelan Puri .
Midwifery care completed using SOAP, namely the assessment, diagnose, planing and
evaluation care.
Assessment results in pregnancy indicate that there was no problem. Intranatal care took
place physiologically and found a little problem that was retained placenta. The results of
examination on post partum found a little problem namely breast engorgement. The neonatal
found examination results the baby had jaundice but still included in physiological jaundice.
The family planning visits mother was using oral contraception.
From the antenatal, intranatal, postpartum, neonatal and family planning, visit there was a
problem in the parturition that was retained placenta so that it was done plasenta exploration
to prevent further bleeding. The effort to upgrade midwifery care in comprehensive way can
be done by enhancement of health workers and fulfillment of health service facilities.
Keyword : pregnant mother, retained placenta, exclusive breasfeding and, jaundice
Contributor
: 1. Dian Irawati, M. Kes
2. Agustin Dwi Syalfina, M. Kes
Date
: 20 Juli 2016
Type Material : Laporan Penelitian
Identifiter
:Right
: Open Document
Summary
:
LATAR BELAKANG
Kematian Maternal adalah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari
sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan
tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan. Angka Kematian Maternal ialah
jumlah kematian maternal diperhitungkan terhadap 1.000 atau 10.000 kelahiran hidup, kini di
beberapa negara malah terhadap 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian Perinatal yang
terdiri atas jumlah anak yang tidak menunjukkan tanda-tanda hidup waktu dilahirkan,
ditambah dengan jumlah anak yang meninggal dalam minggu pertama dalam kehidupannya,
untuk 1.000 kelahiran. (Sarwono, 2008).
Kematian ibu juga masih banyak diakibatkan oleh faktor resiko tidak langsung berupa
keterlambatan (tiga terlambat), yaitu terlambat mengambil keputusan dan mengenali tanda
bahaya, terlambat dirujuk, dan terlambat mendapat penanganan medis (Wijaya, 2009). Hal ini
dikarenakan fenomena di masyarakat ditemukan bahwa 65% ibu hamil memiliki kondisi
empat terlalu yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak (Kemenkes,
2011). Salah satu hal terkait terlalu mudah berkaitan erat dengan kondisi masyarakat yang
masih melangsungkan pernikahan di usia dini. (Indriyani, dkk., 2014)
Penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting
untuk dilakukan. Hal tersebut disebabkan Angka kematian Ibu dan Anak merupakan dua
indikator yang peka terhadap kualitas fasilitas pelayanan kesehatan. Survei Demografi dan
Keshatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menyatakan, Angka kematian ibu (yang berkaitan
dengan kehamilan, persalinan dan nifas) sebesar 359/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan
Angka Kematian neonatal sebanyak 19/1.000 kelahiran hidup. Angka ini masih tergolong
tinggi apabila dibandingkan dengan negara tetangga. (Kemenkes RI, 2013).
Di Jawa Timur sendiri, Angka Kematian Ibu pada tahun 2012 mencapai 97,43/100.000
kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi di tahun 2012 mencapai 28,31/1.000
kelahiran hidup. (Dinkes Jatim, 2012). Kabupaten Mojokerto memiliki Angka Kematian Ibu
sebanyak 116,89/100.000 kelahiran hidup, sedangkan Kota Mojokerto memiliki Angka
Kematian Ibu sebanyak 54,70/100.000 kelahiran hidup. (Dinkes Jatim, 2012). Kabupaten
Mojokerto juga menyumbang Angka Kematian Bayi sebanyak 25,54/1.000 kelahiran hidup.
Kota Mojokerto sendiri menyumbang Angka Kematian Bayi sebanyak 21,88/1.000 kelahiran
hidup. (Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, 2012).
Cakupan KN1 di Provinsi Jawa Timur mencapai 97,49%, KN Lengkap mencapai 89,08%,
sedangkan cakupan K1 mencapai 95,07% cakupan K4 sendiri mencapai 87,36%, KF
mencapai 42,9% (Kemenkes RI, 2012). Cakupan KN1 di kabupaten Mojokerto sendiri
mencapai 92,77%, kota Mojokerto mencapai 85,87%, sedangkan KN Lengkap kabupaten
Mojokerto mencapai 91,09%, kota Mojokerto mencapai 81,45%. Cakupan K1 pada kabupaten
Mojokerto mencapai 89,23%, sedangkan kota Mojokerto mencapapi 83,01%. (Dinkes Jatim,
2012)
Kematian ibu di Indonesia di dominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu
perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), dan infeksi. Komplikasi ini dapat
mengancam jiwa, namun komplikasi ini dapat dicegah dan ditangani bila : ibu segera mencari
pertolongan ke tenaga kesehatan, tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang
sesuai, antara lain penangan yang sesuai (antara lain penggunaan partograf untuk memantau
perkembangan persalinan, dan pelaksanaan manajemen aktif kala III untuk mencegah
perdarahan pasca-salin), tenaga kesehatan melakukan identifikasi dini komplikasi, apabila
komplikasi terjadi (tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan
tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan), proses rujukan efektif, pelayanan di
RS yang cepat dan tepat guna. (Kemenkes RI, 2013).
Upaya yang telah dilaksanakan oleh kementrian kesehatan dalam rangka penurunan AKI
dan AKN adalah melalui penanganan obstetri dan neonatal emergensi/komplikasi di tingkat
pelayanan dasar dengan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di
puskesmas yang didukung dengan keberadaan Rumah Sakit dengan Pelayanan Obstetri
Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dalam satu collaborative improvement PONEDPONEK. Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi (PONED-PONEK) merupakan upaya
terakhir pencegahan kematian ibu hamil dan bayi baru lahir perlu di dukung dengan upaya
penurunan AKI dan AKB lainnya. Dimulai dari pelayanan kesehatan remaja / kesehatan
reproduksi remaja (KR/KRR), pelayanan ANC pada masa kehamilan, pertolongan persalinan
dan Keluarga Berencana oleh tenaga kesehatan kompeten dan terlatih. (Pedoman Puskesmas
Poned, 2013).
Peran bidan dan strategi dalam menurunkan AKI dan AKB, melalui pemberian pelayanan
kebidanan, baik secara mandiri, kolaborasi, maupun rujukan. Peran bidan dalam sistem
pelayanan kesehatan meliputi: meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat,
meningkatkan penerimaan terhadap program keluarga berencana, memberi pendidikan dan
bermitra dengan dukun, serta meningkatkan rujukan. (Yulifah, dkk., 2013)
METODE PENELITIAN
Asuhan kebidanan ditujukan kepada ibu dengan memperhatikan continuity of care mulai
hamil, bersalin, nifas, neonatus dan KB. Metode penelitian yang digunakan yaitu manajemen
kebidanan dengan menggunakan dokumentasi SOAP. Subjek studi kasus adalah Ny.A
G2P1OOO1 Usia 27 tahun di BPM Hj. Siti Isniwati.
HASIL PENELITIAN
Pada kasus Ny. A G2 P1 A0telah melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin di BPS
desa Kintelan, pada pemeriksaan kehamilan pada tanggal 28 Februari 2016 usia kehamilan
ibu 39 minggu, dari pengkajian data subjektif ibu mengeluh perutnya sudah mulai terasa
kenceng-kenceng. sejalan dengan semakin dekatnya proses melahirkan, kontraksi baraxton
hicks non-progesif yang di alami selama selama kehamilan berubah dan menjadi bentuk
progesif persalinan (Fraser dkk, 2009). Kontraksi terjadi karenamenyiapkan mulut lahir
untuk membesar dan meningkatkan aliran darah di dalam plasenta (Walyani dkk, 2015).
Tanda-tanda dimulainya persalinan antara lain terjadinya his, pengeluaran ledir dengan
darah, pengeluaran cairan dan hasil-hasil yang didapatkan pada pemeriksaan dalam
(Sondakh, 2013). Pada Nya A kenceng- kenceng pada umur 39 minggu merupakan hal
yang fisiologis karena sebagai tanda mendekati persalinan karena kenceng-kenceng yang
dirasakan masih belum teratur jaraknya dan belum adekuat.
Ibu melakukan kunjungan kehamilan selama trimester I sebanyak 2 kali, pada trimester
II sebanyak 3 kali dan pada trimester III sebanyak 4 kali.Kunjungan kehamilan minimal
dilakukan 4 kali kunjungan selama kehamilan yaitu pada trimester I sebanyak I kali pada
minggu ke 14, trimester II sebanyak 1 kali pada minggu ke 28 dan pada trimester III
sebanyak 2 kali kunjungan pada minggu 28-36 minggu. (Saifudin, 2002). Kunjungan
kehamilan yang dilakukan Ny A sudah teratur karena kunjungan dilakukan sudah sesuai
dengan standar yang ditentukan yaitu kunjungan pada triwulan kehamilan.Kunjungan
kehamilan juga bermanfaat untuk mengetahui tanda bahaya pada ibu dan janin, mengetahui
perkembangan janin dan memastikan keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik.
Pengkajian data obyektif hasil pemeriksaan fisik pada ibu tidak ada masalah keadaan ibu
dan janin baik. Tekanan darah ibu dalam batas normal 110/80 mmHg, suhu 36,8 0C, nadi 86
x/mnt dan DJJ 138 x/mnt. Pada pemeriksaan tidak ada penyulit, keadaan ibu baik dan tidak
ada oedem pada ekstermitas bawah. Tekanan darah pada ibu hamil tidak boleh mencapai
140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolic. Perubahan 30 mmHg sistolik dan 15 mmHg
diastolic di atas tensi sebelum hamil, menandakan toxaemia gravidarum (keracunan
kehamilan) (Hani dkk, 2010). Denyut Jantung Janin normalnya 120-160 x/menit.Apabila
kurang dari 120 x/menit disebut brakikardi, sedangkan lebih dari 160 x/menit disebut
tathicardi.Waspadai adanya gawat janin (Kusmiyati dkk, 2008).Berdasarkan tekanan darah
Ny A tidak ditemukan indikasi pre eklamsi karena tekanan darah Ny A 110/80 mmHg dan
tidak ditemukan tanda trias preeklamis lainnya sperti kaki bengkak dan protein urine +. DJJ
dari janin Ny A juga dalam batas normal yaitu 138 x/menit. Sehingga tidak menunjukka
tanda fetal distress pada janin Ny A yang harus dilakukan tindakan terminasi pada
kehamilannnya
Asuhan yang di berikan pada ibu antara lain tentang kesiapan ibu menjelang persalinan,
nutrisi ibu hamil, tehnik relaksasi , posisi yang nyaman untuk istirahat, senam hamil.
Rencana persalinan meliputi membuat rencana persalinan, pengambilan keputusan jika
terjadi kegawatdaruratan, transportasi jika terjadi kegawat daruratan, menabung dan
peralatan yang diperlukan untuk persalinan (Romauli, 2011) Nutrisi ibu hamil yang
diperlukan untuk ibu hamil mengandung kalori 2500/hari, protein 85 gram/hari bisa
diperoleh dari kacang-kacangan, kalsium 1,5 kg/hari, zat besi 30 mg/hari, asam folat 400
mikro gram/hari yang bisa di dapatkan dari susu (Asrinah dkk, 2010).
Posisi tidur yang dianjurkan pada ibu hamil adalah miring kiri, kaki lurus, kaki kanan
sedikit menekuk dan diganjal dengan bantal, dan untuk mengurangi rasa nyeri pada perut,
ganjal dengan bantal pada perut bagian bawah sebelah kiri (Sulistyawati, 2009). Senam
hamil bermanfaat untuk memperbaiki sirkulasi darah, mengurangi pembengkakan,
mengurangi kram pada kaki dan menguatkan otot perut.
Ny A telah menyiapkan proses persalinan seperti dia ingin melahirkan di bidan namun
oleh bidan di motifasi untuk melahirkan di puskesmas. Ny A juga sudah menyiapkan
keperluan untuk melahirkan seperti pakaian dan perlengkapan bayi. Pada saat hamil Ny A
sering mengkonsumsi buah, susu dan ice cream. Pola makan Ny A setiap harinya meliputi
nasi, lauk dan sayur. Kebutuhan nutrisi Ny A sudah terpenuhi karena sayur banyak
mengandung kalsium, susu mengandung asam folat, kacang-kacangan mengandung
protein. Jika tidur Ny A biasanya miring kiri hal ini sama dengan pendapat Sulistyawati,
2009 bahwa posisi tidur ibu hamil sebaiknya miring kiri karena dapat mengurangi rasa
nyeri.
Proses persalinan Ny A berjalan normal dan baik. Lama kala I yang dihitung dari mulai
ibu merasakan mules sejak datang ke puskesmas sampai pembukaan lengkap berlangsung
± 6 jam 10 menit. Pembukaan 2 ke 5 berlangsung selama ± 4 jam dan pada pembukaan 5
ke 10 berlangsung selama ± 4 jam. Fase laten pada nulipara berlangsung 6-8 jam pada
multipara 3-5 jam, pada fase aktif nulipara berlangsung 2-4 jam pada multipara 4-6 jam
(Reeder, el., 2003). Ny A G2 P1 A0 pembukaan sesuai dengan teori yaitu pembukaan 2 ke
5 yang berlangsung selama ± 4 jam dan pada pembukaan sesuai dengan teori 5 ke 10
berlangsung selama ± 4 jam.
Pasien di infus pada jam 14.00 wib dan di beri oksitosin 1 ampul dari 12 tpm/mnt - 20
tpm/menit tiap 15 menitnya. Hal ini dikarenakan pembukaan 2 ke 5 cm berlangsung selama
± 4 jam.
Asuhan yang di berikan kepada ibu meliputi : Nutrisi selama persalinan yaitu makanan
rendah lemak misalnya roti, sereal, buah, teh dan susu. Cairan tidak di batasi, meskipun ibu
cenderung mengurangi minum selama kemajuan persalinan (Fraser dkk, 2003). Pada saat
kala I Ny A mengkonsumsi roti, teh dan makan nasi ± 4-5 sendok hal ini sudah sama
dengan pernyataan Fraser, el., 2003 yaitu makan rendah lemak misalnya roti, sereal, buah,
teh dan susu. Mengosongkan kandung kemih 2 jam sekali atau bila kandung kemih terasa
penuh. Kandung kemih yang penuh bisa mengakibatkan rasa tidak nyaman, memperlambat
turunnya bagian terendah janin dan mengganggu penatalaksanaan distosia bahu. BAB saat
fase aktif harus dipastikan apakah yang dirasakan ibu bukan disebabkan oleh tekanan
rectum (Walyani dkk, 2015). Ny A juga mengosongkan kandung kemih setiap ingin
kencing. Mengosongkan kandung kemih dapat mempercepat penurunan kepala.
Pada kala II berlangsung selama ± 10 menit.Selaput ketuban belum pecah dan dilakukan
amniotomi. Bila selaput ketuban belum pecah dan pebukaan sudah lengkap, maka lakukan
amniotomi (Sondakh, 2013).. Lamanya kala dua pada persalinan spontan tanpa komplikasi
adalah sekitar 40 menit pada primi-gravida dan 15 menit pada multipara.(Walyani, dkk.,
2015) Lama kala II Ny A berlangsung normal yaitu ± 10 menit hal ini dikarenakan Ny A
kooperatif dalam menghadapi persalinan dan teknik meneran yang benar. Selaput ketuban
dilakukan pemecahan karena pembukaan sudah lengkap untuk mempecepat proses
persalinan dan pemecahan dilakukan ketika tidak ada his supaya tidak terjadi emboli air
ketuban.
Pada kala III berlangsung secara normal dengan manajemen aktif kala III plasenta lahir
normal danberlangsung selama ± 10 menit. Jumlah perdarahan ± 300 cc, TFU setinggi
pusat, kontraksi uterus keras dan terdapat robekan pada jalan lahir. Biasanya plasenta lepas
dalam 6-15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan fundus uteri
(Walyani dkk, 2015). Uterus yang normal harus keras ketika disentuh. Jika segmen atas
uterus keras tetapi perdarahan menetap, maka pengkajian segmen bawah penting untuk
dilakukan. Uterus yang lunak, hipotonik, dan longgar menunjukkan uterus tidak
berkontraksi dengan baik (Sondakh, 2013). Lama kala III Ny A berlangsung normal yaitu ±
10 menit. Plasenta lahir lengkap yang mempercepat kala III dan untuk mencegah
perdarahan lebih lanjut dan anemia pada ibu.
Pada kala IV melakukan penjahitan pada perineum, mengevaluasi jumlah perdarahan
dengan hasil ± 350 cc, lalu di lakukan eksplorasi plasenta dan menyuntikkan metergin 1
ampul pada 1/3 di bagian spina iliaka anterior superior. Sisa plasenta bisa diduga bila kala
uri berlangsung tidak lancar, atau setelah melakukan plasenta manual atau enemukan
adanya kontiledon yang tidak lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta dan dan
masih ada perdarahan dari ostium uteri eksternum pada saat kontraksi rahim sudah baik
dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu harus dilakukan eksplorasi kedalam rahim
dengan cara manual dan pemberian uterotonika (Sarwono, 2009). Hal ini sudah sama
dengan teori bahwa jika ada selaput plasenta tertinggal maka harus dilakukan eksplorasi
plasenta agar tidak terjadi perdarahan lebih lanjut dan anemia yang disebabkan perdarahan
tidak segera di atasi.
Pada 6 jam post partum, dari pengkajian data subyektif ibu mengatakan lelah, nyeri dan
panas saat berkemih. Gangguan rasa nyeri pada masa nifas banyak dialami eskipun pada
persalinan normal tanpa komplikasi (Nugroho, 2013). Hal tersebut menimbulkan tidak
nyaman pada ibu, sehingga ibu dapat mengatasi gangguan ini dan memberi kenyamanan
pada ibu sendiri. Nyeri dan panas saat berkemih pada Ny A terjadi karena adanya luka
yang belum kering pada daerah genetalia.
Dari pengkajian data obyektif keadaan umum ibu baik, kontraksi uterus keras, TFU 2
jari di bawah pusat, pengeluaran lochea lancar dan tidak berbau. ASI lancar dan tidak ada
bendungan. Tinggi fundus uteri pada saat uri lahir yaitu 2 jari di bawah pusat (Nani dkk,
2014). ASI merupakan makanan terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu pada anak
yang baru dilahirkannya dan komposisinya berubah sesuai dengan kebutuhan bayi setiap
saat (Sarwono, 2009). Ny A memberikan ASI eksklusif pada bayi baru lahir bisa
menstimulasi kontraksi uterus dan menurunkan resiko perdarahan pasca persalinan.
Pada hari ke 6, dari pengkajiandata obyektif keadaan ibu dan bayi baik, lochea rubra.
Ibu sedikit mengalami masalah yaitu payudaranya terasa sakit, sedikit demam dan masih
keluar darah. Lochea ruba terjadi pada hari pada hari pertama sampai hari ketiga masa
postpartum. Warnanya merah becampur darah (Nani, 2014). Lochea rubra tidak sesuai
dengan pendapat Nanny dkk, 2014 pada hari ke 6-9 pospartum seharusnya sudah lochea
serosa dan warnanya biasanya kekuningan atau kecoklatan. Bendungan ASI pada Ny A
disebabkan karena produksi ASI yang banyak tidak dimbangi oleh pengeluaran ASI yang
diberikan kepada bayi sehingga dilakukan penanganan dengan memerah ASI Ny A.
Pada minggu ke 2, keadaan ibu dan bayi baik. Ibu merasa sedikit pusing dan masih
mengeluarkan coklat kekuningan. Pengeluaran Lochea sanguinolenta. Ibu tidak mengalami
masalah dalam proses eliminasi (BAB dan BAK). Lochea sanginolenta muncul pada hari
ke 3–5 hari postpartum. Warna merah kuning berisi darah dan lendir karena pengaruh
plasma darah (Nany dkk, 2014). Lochea sanguinolenta tidak sesuai dengan pendapat
Nanny dkk, 2014 pada hari lebih dari 10 pospartum seharusnya sudah lochea alba dan
warnanya biasanyalebih pucat, putih kekuningan, serta lebih banyak mengandung leukosit,
selaput lender serviks, dan serabut jaringan yang mati. Hal ini bisa dikarenakan ibu yang
tarak makan dan kurang istirahat.
Bayi Ny A lahir dalam keadaan sehat dengan jenis kelamin laki-laki, berat 3600 kg,
panjang 50 cm. Bayi lahir jam 16.30 WIB, bayi menangis keras, bergerak aktif dan kulit
kemerahan. Pada kunjungan 6 jam pas bayi Ny A tidak di berikan Vit K dan tetes salf
mata. Vit K penting untuk mempertahankan mekanisme pembekuan darah yang normal.
Peberiannya bisa secara parental 0,5 – 1 mg i.m dengan dodid satu kali segera setelah lahir
(sebelum 24 jam) (Padila, 2014). Tetes zalf mata pada bayi baru lahir secara rutin diberikan
tetes mata nitrat perak 1% atau eritromycin tetes mata untuk mencegah oflamia pada bayi
(Padila, 2014). Hal ini tidak sesuai teori karena zalf mata penting untuk bayi sebagai
pencegahan olfamia. Vit K juga bermanfaat untuk mempertahankan pembekuan darah. Vit
K dan zalf mata tidak di berikan karena keterbatasan di puskesmas.
Pada kunjungan ke dua, Bayi sedikit mengalami masalah yaitu ikterus. Ikterus fisiologis
tidak berbahaya dan bisa terjadi pada hari ke tiga atau ke empat setelah kelahiran dan
terjadi pada bayi berusia 7 – 10 hari (Suherni, 2009). Pada bayi Ny A tampak kuning di
bagian wajah, ikterus muncul pada hari ke 4 sehingga tibul ikterus fisiologis. Asuhan yang
di berikan pada bayi Ny A yaitu memberikan ASI sesering mungkin sesuai keinginan bayi
atau kebutuhan bayi dan tetap membedong bayinya agar menjaga tubuh bayi tetap hangat
dan mencegah hipotermi pada bayi. Memotivasi ibu agar bayinya di jemur pada pagi hari
karena sinar matahari pagi memiliki spectrum sinar biru yang bermanfaat mengurangi
kadar bilirubin dalam darah.
Pada kunjungan ke tiga dan kunjungan ke empat bayi dalam keadaan baik dan tidak ada
masalah. Bayi hanya minum ASI dan berat badan bayi pada kunjungan ke empat
bertambah menjadi 6 kg. Pada bayi sehan kenaikan berat badan normal pada triwulan I
sekitar 700-1000 gram/bulan, triwulan II sekitar 500-600 gram/bulan, triwulan III sekitar
350-450 gra/bulan dan pada triwulan IV sekitar 250-350 gram/bulan (Susilaningrum,
2013). Bisa di simpulkan bahwa bayi Ny A mendapatkan ASI cukup, bayi juga dalam
keadaan normal dan sehat. Kenaikan berat badan pada bayi Ny A tidak sesuai dengan teori
seharusnya pada triwulan I 1000 gram/bulan tetapi pada bayi Ny A kenaikan berat badan
lebih dari 1000 gram yaitu 3400 gram pada triwulan pertama.
Proses keluarga berencana (KB) pada Ny A berlangsung dengan lancar. Ny A datang ke
bidan desa kintelan ingin KB pil dikarenakan Ny A memberikan ASI eksklusif pada
bayinya. Pada pemeriksaan fisik ibu dalam keadaan normal dan tidak ada masalah. Pil
progestin merupakan kontrasepsi ini cocok untuk perempuan menyusui yang ingin
memakai pil KB. Keuntungan kontrasepsi pil progestin meliputi tidak mengganggu
hubungan seksual, tidak mempengaruhi ASI, kesuburan cepat kembali, nyaman dan mudah
digunakan. Kontrasepsi pil progestin cocok untuk perempuan yang menyusui dan tidak
menurunkan produksi ASI (Affandi dkk, 2011). Hal ini sudah sesuai dengan pendapat
Affandi dkk yang menyatakan tidak ada gangguan untuk ibu menyusui dan kesuburan
cepat kembali. Selain itu juga ibu dapat menunda kehamilan selanjutnya.
SIMPULAN
Asuhan Kebidanan pada Ny A dilakukan secara Continuity Of Care pada kehamilan,
persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB. Pada kunjungan kehamilan di lakukan 1 kali pada
usia kehamilan 39 minggu. Pada kunjungan persalinan di lakukan 1 kali pada saat ibu bersalin
di puskesmas. Pada kunjungan nifas dan bayi dilakukan 4 kali yaitu pada 6 jam post partum, 6
hari post partum, 2 inggu post partum dan 40 hari post partum. Kunjungan KB dilakukan 1
kali pada saat 40 hari.
1. Kehamilan
Kunjungan kehailan pada Ny A G2 P1 A0 yang di lakukan 1 kali pada usia 39 minggu
dapat di simpulkan bahwa keadaan umum ibu dan bayi baik. Tidak ada tanda dan bahaya
pada ibu.
2. Persalinan
Kunjungan Persalinan pada Ny A G2 P1 A0 yang di lakukan 1 kali pada saat bersalin
tanggal 29 februari 2016 persalinan di lakukan secara normal, keadaan ibu dan bayi baik.
Pada kala I berlangsung selama ± 6 jam 10 menit, pada kala II selama ± 10 menit, pada
kala III berlangsung selama ± 10 menit.
3. Nifas
Pada kunjungan nifas Ny A P2 0002 dilakukan 4 kali yakni pada kunjungan I keadaan ibu
baik dan ibu hanya sedikit mengalami masalah yaitu lelah, nyeri dan panas saat berkemih.
Pada kunjungan ke II ibu juga dalam keadaan baik dan mengalami sedikit masalah yaitu
bendungan ASI. Pada kunjungan ke III dan ke IV keadaan ibu baik dan tidak mengalami
masalah.
4. Bayi Baru Lahir
Pada kunjungan bayi baru lahir fisiologis juga berlangsung 4 kali dan dalam kunjungan
1 – 4. Bayi berjenis kelamin Laki-laki BB : 3600 gra dan PB : 50 cm. Pada kunjungan 2
bayi mengalami masalah yaitu ikterus. Kondisi bayi baik dan bayi hanya minum ASI saja.
5. KB
Pada kunjungan KB Ny A usia 27 tahun dengan kseptor KB pil berlangsung 1 kali.
Keadaan ibu baik dan ibu menggunakan KB pil progestin.
REKOMENDASI
1. Bagi Institusi Pendidikan Kesehatan
Bagi institusi diharapkan adanya suatu sarana klinik yang lebih mendukumg kegiatan
Asuhan kebidanan secara Komprehensif. Sehingga asuhan kebidanan komprehensif dapat
dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasien.
2. Bagi Puskesmas Puri
Lebih meningkatkan kualitas pelayanan dengan cara meningkatkan pengetahuan,
penagganan, peralatan, obat-obatan dan fasilitas pada asuhan kebidanan secara
komprehensif mulai kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Lebih menyempurnakan penelitian ini dengan melakukan asuhan kebidanan secara
berkesinambungan sesuai dengan protap dengan menggunakan menejemen SOAP.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, Biran. 2011. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2011.
Asrinah, et al. 2010. Asuhan kebidanan masa kehamilan. Yogyakarta : Graha ilmu, 2010.
Fraser, Diane M. and Cooper, Margaret A. 2003. Buku Ajar Bidan. Jakarta : Penerbit
Kedokteran EGC, 2003.
Hani, Ummi, Marjati, Jiarti Kusbandiyah and Yulifah, Rita. 2010. Asuhan Kebidanan Pada
Kehamilan Fisiologis. Jakarta : Salemba Medika, 2010.
Indriyani, Diyan and Asmuji. 2014. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta : ARRUZZZ MEDIA, 2014.
Kusmiyati, Yuni, Wahyuningsih, Puji Puji and Sujiyati. 2008. Perawatan Ibu Hamil.
Yogyakarta : Fitramaya, 2008.
Nanny, Vivian and Sunarsih, Tri. 2014. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba
Medika, 2014.
Nugroho, Taufan, et al. 2014. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas (Askeb 3). Yogyakarta :
Nuha Medika, 2014.
Padila. 2014. keperawatan Maternitas. yogyakarta : Nuha Medika, 2014.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2010.
Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Sitohang, Vensya, et al. 2014. Jakarta : Kementrian
Kesehatan Indonesia, 2014.
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2012. Timur, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa.
2013. Surabaya : s.n., 2013.
Reeder, Sharon J., Martin, Leonide L. and Griffin, Deborah Koniak. 2011. Keperawatan
Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi, dan Keluarga. Jakarta : Buku Kedokteran, 2011.
Vol.2.
Romauli, S. (2011). Buku Ajar Asuhan Kebidanan 1: Konsep Dasar Asuhan Kehamilan.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Saifuddin, Abdul Bari, [ed.]. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2010.
Sondakh, Jenny J.S. 2013. Asuhan Kebidanan dan Bayi Baru Lahir. Malang : Erlangga, 2013.
Suherni, Widyasih, Hesty and Rahmawati, Anita. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta :
Fitramaya, 2009.
Sulistyawati, Ari and Nugraheny, Esti. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta :
Salemba Medika, 2010.
Walyani, Elisabeth Siwi and Purwoastuti, Th. Endang. 2015. Asuhan Kebidanan Persalinan
dan Bayi Baru Lahir. Yokyakarta : Pustaka Baru, 2015.
ALAMAT CORRESPONDENSI
Email : [email protected]
No. Hp : 082230401475
Alamat : Dsn. Bangkok RT.01 RW.10 Ds. Karangrejo Kec. Gempol Kab. Pasuruan
Download