ANALISIS EFISIENSI DESALINASI UNIT 1 B PT. PEMBANGKIT

advertisement
ANALISIS EFISIENSI DESALINASI UNIT 1 B
PT. PEMBANGKIT JAWA BALI UP. MUARA KARANG
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sains (S.Si)
Oleh
PUTRI WAHYUNI INDRIATY
106097003258
PROGRAM STUDI FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
ANALISIS EFISIENSI DESALINASI UNIT 1 B
PT. PEMBANGKIT JAWA BALI UP. MUARA KARANG
Skripsi
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains
Oleh:
PUTRI WAHYUNI INDRIATY
106097003258
PROGRAM STUDI FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
i
ANALISIS EFISIENSI DESALINASI UNIT 1 B
PT. PEMBANGKIT JAWA BALI UP. MUARA KARANG
Skripsi
diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sains
dari Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
oleh
Putri Wahyuni Indriaty
NIM 106097003258
Menyetujui
Dosen Pembimbing I
Dosen Pembimbing II
Arif Tjahjono, S.T, MSi
Rachmatsyah, S. Kom, MT
NIP. 1975110720070 11015
NIP.7092136 K3
Mengetahui
Ketua Program Studi Fisika
Drs. Sutrisno, M.Si
NIP. 19590202 198203 1005
ii
PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi
berjudul
“ANALISIS EFISIENSI DESALINASI UNIT 1 B PT.
PEMBANGKIT JAWA BALI UP. MUARA KARANG” yang ditulis oleh Putri
Wahyuni Indriaty dengan NIM 106097003258 telah diuji dan dinyatakan lulus
dalam sidang Munaqosyah
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Rabu tanggal 5 Januari 2011. Skripsi
ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
Strata Satu (S1) Program Studi Fisika.
Jakarta, 5 Januari 2011
Menyetujui
Dosen Pembimbing I
Dosen Pembimbing II
Arif Tjahjono, S.T, Msi
NIP: 1975110720070 11015
Rachmatsyah, S. Kom, MT
NIP: 7092136 K3
Penguji I
Penguji II
Drs. Sutrisno, M. Si
Ambran Hartono, M. Si
NIP: 19590202 198203 1005
NIP: 19710408200212 1002
Mengetahui,
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
Ketua Program Studi Fisika
Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M. Sis
Drs. Sutrisno, M. Si
NIP: 19680117 200112 1001
NIP: 19590202 198203 1005
iii
LEMBAR PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR HASIL
KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI
ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA
MANAPUN.
Jakarta, 10 Januari 2011
Putri Wahyuni Indriaty
106097003258
iv
ABSTRAK
Hingga saat ini Indonesia masih mengalami krisis energi. Salah satu usaha
yang telah dilakukan Pemerintah adalah dengan membangun berbagai fasilitas
pembangkit listrik yang baru dan mengoptimalkan pembangkit yang ada. Adapun di
dalam siklus PLTU membutuhkan air demineralisasi diperoleh dari air tawar, maka
peran desalination plant sangat dibutuhkan untuk menyediakan air tawar. Peran
desalination plant tersebut yang menjadi latar belakang dari tugas akhir yang berjudul
Analisis Efisiensi Desalinasi Unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP. Muara Karang.
Analisis Efisiensi Desalinasi Unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP. Muara
Karang ini dilakukan dengan mengamati proses evaporasi dan kondensasi yang
berada di desalinasi tersebut. Adapun peralatan utama yang terkait dalam proses
desalinasi tersebut adalah Evaporator, Main Ejector, Vent Ejector, Ejector Condenser,
Centrifugal Pumps, Scale Inhibitor, dan Anti Foam. Prinsip kerja analisis efisiensi
desalinasi ini adalah perhitungan berdasarkan biaya operasi desalinasi tersebut.
Setelah melakukan pengamatan, maka didapatkan hasil yang berupa biaya air
produk. Dimana biaya air produk tersebut diperoleh dari hasil produksi operasi
desalinasi dari seluruh kemampuan total. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Analisis
Efisiensi Desalinasi ini sudah mendapatkan hasil yang dibutuhkan.
KATA KUNCI : Desalination Plant, Main Ejector, Vent Ejector
v
ABSTRACT
Until now, Indonesia is still experiencing an energy crisis. One of the efforts
that have been made by the Government is to build new power generation facilities
and optimize the existing plant. As in the cycle od demineralization plant needs water
is obtained from fresh water, then the role of the desalination plant is needed to
provide fresh water. The role of desalination plant, which became the backdrop of
final project titled Desalination Plant Efficiency Analysis Unit 1 B PT. Pembangkit
Jawa Bali UP. Muara Karang.
Desalination plant Efficiency Analysis Unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP.
Muara Karang is done by observing the process of evaporation and condensation in
desalination plant. The major equipment involved in process of desalination plant is
the Evaporation, the Main Ejector, Vent Ejector, Ejector Condenser, Centrifugal
Pumps, Scale Inhibitor, and Anti – Foam. The working principle desalination plant
efficiency analysis is the calculation based on the operating costs of desalination plant.
After making observations, then the results obtained in the form of cost of
product water. Where the cost of the product water obtained from the production
operation of the entire ability total desalination. It can be concluded that the
Desalination Plant Efficiency Analysis has been to get the needed results.
KEYWORDS: Desalination Plant, Main Ejector, Vent Ejector
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahhirohmannirrohim,
Puji syukur alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
berkat rahmat dan hidayah-Nya telah memberikan kekuatan lahir dan batin
sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dan menyusun laporan ini
dengan tepat waktu.
Tugas akhir ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi salah satu
persyaratan untuk menyelesaikan program pendidikan Sarjana Strata (S-1) di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan
Teknologi. Dengan judul “Analisis Efisiensi Desalinasi Unit 1 B PT.
Pembangkit Jawa Bali UP. Muara Karang”.
Kesempurnaan adalah milik-Nya semata, penulis menyadari bahwa Tugas
Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kekurangannya. Oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis
harapkan, sehingga dalam penulisan selanjutnya dapat lebih baik.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini tidak terlepas
dari keterlibatan dan bantuan dari banyak pihak. Untuk itu penulis mengucapkan
rasa terima kasih dan penghargaan sebesar – besarnya kepada yang terhormat :
1. Papa, Mama, Mba Ajeng, Mbah dan Soni tercinta yang telah memberikan
perhatian, semangat, motivasi, saran serta doa yang tiada kunjung henti
kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
vii
2. Mas Wingga yang tersayang, yang telah memberikan kesempatan kuliah
dan dukungan kepada penulis di Jurusan Fisika UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Bapak Drs. Sutrisno, M. Si, selaku Ketua Prodi Fisika UIN Syarif
Hidayatullah, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
melaksanakan Tugas Akhir.
4. Bapak Arif Tjahjono, M.Si, selaku Pembimbing Tugas Akhir yang telah
banyak membantu, membimbing dengan sabar, dan memberikan masukan
motivasi, kritik serta saran kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas
Akhir.
5. Bapak Rachmatsyah, S. Kom, MT, selaku Pembimbing lapangan serta
Pembimbing Tugas Akhir yang dalam kesibukannya masih sempat
meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan dengan sabar
dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
6. Harun Pardiyansyah yang telah banyak membantu, memberikan semangat,
motivasi, saran serta doa yang tiada kunjung henti kepada penulis dalam
menyelesaikan Tugas Akhir ini.
7. Seluruh teman-teman Angkatan tahun 2006 khususnya Prodi Fisika yang
tidak akan pernah dilupakan : Ikrimah, Hashilah, Karima, Suhandono,
Agus, Bachtiar, Dani Adjie, Cindika, Iiz, Iif, Dewi, Irwansyah, Rinan,
Ana, Absori, Adzkia, Agung, Rusman, Devi, dan Ida yang selalu
memberikan semangat, perhatian serta doa kepada penulis untuk
menyelesaikan Tugas Akhir ini.
viii
8. Seluruh dosen dan staff Prodi Fisika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
9. Uwa Dewi, Uwa Alfa, Teh Mira, dan Mita yang telah membantu dan
memberikan perhatian, semangat, dan doa dalam menyelesaikan Tugas
Akhir.
10. Om Okas, Tante Lia, Jericho, dan Anggi yang selalu membantu dan
memberikan motivasi, semangat serta doa kepada penulis dalam
menyelesaikan Tugas Akhir ini.
11. Seluruh operator desalinasi unit 1 B PT. PJB UP Muara Karang Jakarta,
khususnya Mas Luluk, Mas Hadi dan Mas Oky yang telah banyak
membantu dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
12. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu
penulis dalam pelaksanaan dan penyusunan Tugas Akhir.
Semoga kepada semua pihak yang telah membantu penulis mendapat balasan
yang setimpal dari Allah SWT.
Tiada harapan dari penulis, semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak pada umumnya dan penulis khususnya.
Ciputat, 3 Januari 2010
Penulis
Putri Wahyuni Indriaty
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................... ii
LEMBAR PERNYATAAN ..................................................................... iv
ABSTRAK ............................................................................................... v
ABSTRACK ............................................................................................. vi
KATA PENGANTAR .............................................................................. vii
DAFTAR ISI ............................................................................................ x
DAFTAR GAMBAR................................................................................ xiii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xiv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Permasalahan Penelitian ....................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 3
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................... 3
1.5 Batasan Masalah .................................................................................. 4
1.6 Sistematika Penulisan .......................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Desalination Plant ................................................................................ 6
2.1.1 Multi Effect Distilasi (MED) ................................................. 9
x
2.1.2 Multi Stage Flash (MSF) ....................................................... 14
2.1.3 Reverse Osmosis ................................................................... 18
2.2 Termodinamika di Lingkungan Sistem Desalinasi ................................ 24
2.3 Asas Black ........................................................................................... 24
2.4 Hukum Kalor ....................................................................................... 25
2.4.1 Hukum Kalor Jenis ................................................................ 26
2.4.2 Kapasitas Kalor ..................................................................... 26
2.4.3 Kalor Uap .............................................................................. 27
2.5 Perpindahan Panas .............................................................................. 28
2.5.1 Perpindahan Panas Konduksi ................................................. 28
2.5.2 Perpindahan Panas Konveksi ................................................ 29
2.5.3 Perpindahan Panas Radiasi .................................................... 31
2.6 Proses Penguapan (Evaporation) ......................................................... 32
2.7 Proses Pengembunan (Condensation) .................................................. 33
2.8 Sistem Destilasi ................................................................................... 34
2.9 Siklus Carnot ...................................................................................... 36
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Waktu Dan Tempat Penelitian .............................................................. 40
3.2 Tahapan Penelitian ............................................................................... 40
3.3 Data – data Penelitian .......................................................................... 43
3.3.1 Evaporasi............................................................................. 44
3.3.2 Main Ejector ........................................................................ 44
xi
3.3.3 Vent Ejector ........................................................................ 44
3.3.4 Ejector Condenser ............................................................... 44
3.3.5 Centrifugal Pumps ............................................................... 44
3.3.6 Scale Inhibitor ..................................................................... 45
3.3.7 Anti Foam ........................................................................... 45
3.4 Deskripsi Proses Desalination Plant .................................................... 46
3.4.1 Prinsip Operasi Desalination Plant ......................................... 47
3.4.2 Operasi saat Turndown Desalination Plant ............................. 50
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Analisis Biaya Produk.......................................................................... 51
4.2 Proses Evaporasi Multi Effect Distillation
With Thermal Vapor Compression (MED – TVC) ............................... 57
4.3 Analisis Product Multi Effect Distillation with
Thermal Vapor Compression (MED – TVC) ....................................... 60
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 63
5.2 Saran.................................................................................................... 63
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 64
LAMPIRAN ............................................................................................. 66
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Skema Desalinasi................................................................. 7
Gambar 2.2 Multi Effect Distillasi (MED) .............................................. 13
Gambar 2.3 Multi Stage Flash (MSF)...................................................... 17
Gambar 2.4
Reverse Osmosis (RO) ......................................................... 22
Gambar 2.5
Reverse Osmosis Membrane Coil ........................................ 23
Gambar 2.6
Batasan Sistem .................................................................... 36
Gambar 2.7
Diagram Siklus Carnot P - V................................................ 37
Gambar 2.8
Diagram Siklus Carnot P - h ................................................ 39
Gambar 3.1
Diagram Flow Chart Penelitian ............................................ 42
Gambar 3.2
Flow Diagram 4 Effect Reheat Seawater .............................. 47
Gambar 4.1
Steam Table ......................................................................... 55
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Manual Book .......................................................................... 66
Lampiran 2 Foto Penelitian ........................................................................ 97
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
Di Indonesia kebutuhan energi listrik meningkat setiap tahunnya, hal ini
seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi dan perkembangan yang ada. Namun
tingginya kebutuhan energi listrik tersebut belum mampu dipenuhi mengingat
keterbatasan daya listrik yang ada, walaupun Pemerintah melalui PT. PLN
(persero) tetap berusaha secara maksimal untuk memenuhi tingginya kebutuhan
energi listrik tersebut.
Hingga saat ini Indonesia masih mengalami krisis energi. Hal ini ditandai
dengan pemadaman secara bergilir yang masih terus terjadi. Masalah krisis listrik
merupakan masalah yang sangat serius, sehingga harus segera dicarikan solusinya.
Salah satu usaha yang telah dilakukan Pemerintah adalah dengan membangun
berbagai fasilitas pembangkit listrik yang baru dan mengoptimalkan pembangkit
yang telah ada. Untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional saat ini diperlukan
pasokan listrik sekitar 3.000 MW pertahun, hal ini sangat memerlukan investasi
dan dana yang tidak sedikit.
Guna menunjang kinerja Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam
menyediakan energi listrik maka PLN membentuk dua anak perusahaan dibidang
pembangkit listrik yaitu Indonesia Power dan PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB).
PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB) membentuk enam anak perusahaan dibidang
pembangkit yaitu Unit Pembangkit (UP) Gresik, UP Muara Tawar, UP Paiton, UP
Cirata, UP Brantas, dan UP Muara Karang.
1
PT. Pembangkit Jawa Bali yang ada di Muara Karang memiliki dua unit
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terdiri dari unit IV dan unit V. Dan dua
unit Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) yaitu blok 1 terdiri dari 3
PLTG dan 1 PLTU, blok 2 terdiri dari 2 PLTG dan 3 PLTU. Dalam penelitian ini
hanya difokuskan di PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB) Muara Karang khususnya
Desalinasi pada unit 1 B.
Desalinasi unit 1 B terdapat pada Pembangkit Listrik
Tenaga Gas Uap (PLTGU) yang terdapat di blok 2. Pada PLTU memiliki
peralatan utama dan peralatan tambahan. Peralatan utama meliputi bolier, turbin,
generator, trafo, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk peralatan penunjang/
tambahan berupa desalinasi, demineralisasi, dan lain – lain.
Di dalam siklus PLTU membutuhkan air demineralisasi, hal ini dilakukan
agar alat – alat pada siklus PLTU tidak terjadi korosi (berkarat). Sebelum
memperoleh air demineralisasi terlebih dahulu yang dibutuhkan adalah air tawar.
Dikarenakan sulitnya mendapatkan air tawar dan untuk menyediakan air tawar
dalam jumlah besar, maka di dalam unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap peran
desalinasi sangat diperlukan untuk menyediakan air tawar sebagai bahan baku
produksi listrik.
Desalinasi atau Desal adalah Plant yang digunakan untuk mengolah air
laut untuk dijadikan air tawar / air baku produksi. Air tawar tersebut diperoleh
dengan cara evaporasi. Untuk memperoleh air tawar yang maksimal, maka
diperlukan sistem kontrol yang terkondisikan agar proses evaporasi berlangsung
sempurna. Adapun parameter kesempurnaan dari proses desalinasi tersebut dapat
diamati dengan menganalisis efisiensi desalinasi unit 1 B. Peningkatan efisiensi
2
dan kesempurnaan evaporasi dalam desalinasi secara tidak langsung dapat
meningkatkan jumlah air baku yang dibutuhkan PLTU. Oleh karena itu, sangat
penting untuk dilakukan penelitian tentang menganalisis efisiensi desalinasi unit 1
B PT. Pembangkit Jawa Bali UP. Muara Karang, sehingga evaporasi dan
kondensasi dapat terus terjadi sempurna dan air tawar yang dihasilkan akan
maksimal.
1.2 Permasalahan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka
dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas, yaitu bagaimana efisiensi
sistem desalinasi pada unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP Muara Karang.
Apakah air baku yang dihasilkan oleh desalinasi lebih murah daripada air yang di
beli dari Perusahaan Air Minum (PAM).
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efisiensi desalinasi unit 1 B
PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB) UP. Muara Karang Jakarta.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan menganalisis efisiensi desalinasi unit 1 B PT. Pembangkit Jawa
Bali UP Muara Karang.
Diharapkan dapat mengetahui efisiensi dari hasil
produksi desalinasi atau membeli dari Perusahaan Air Minum (PAM).
3
1.5 Batasan Masalah
Untuk lebih memfokuskan penelitian yang akan dilakukan, maka
penelitian ini hanya dibatasi mengenai :
1.
Plant yang dijadikan objek studi adalah desalinasi unit 1 B PT. Pembangkit
Jawa Bali UP Muara Karang Jakarta.
2.
Rasio yang dikontrol adalah menganalisa efisiensi desalinasi unit 1 B PT.
Pembangkit Jawa Bali UP. Muara Karang.
3.
Asumsi tekanan, suhu dan harga adalah konstan.
4.
Biaya Investasi dan Biaya Pemeliharaan diabaikan.
5.
Perhitungan efisiensi berdasarkan biaya operasi desalinasi.
1.6 Sistematika Penulisan
Pada penulisan laporan Tugas Akhir ini, dapat dibuat urutan bab serta isinya
secara garis besar. Diuraikan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi tentang pendahuluan dengan substansi : latar belakang,
permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, batasan masalah, dan sistematika
penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Teori dasar berisi landasan - landasan teori dengan substansi : pengertian
desalinasi, jenis – jenis desalinasi, proses evaporasi, dan proses kondensasi.
4
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan secara keseluruhan sistem kerja metode penelitian
dengan substansi pengolahan data.
BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang permasalahan dan pembahasan dengan substansi hasil
pengolahan data.
BAB V PENUTUP
Penutup berisi kesimpulan yang diperoleh dari penguji sistem dan pengambilan
data selama penelitian berlangsung, selain itu juga penutup memuat saran untuk
mengembang lebih lanjut dari penelitian ini menjadi lebih baik.
5
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Desalination Plant
Desalination Plant atau desalinasi merupakan sebuah instrumen yang
berfungsi untuk menghasilkan air tawar yang berasal dari air laut melalui proses
evaporasi dan kondensasi. Desalination Plant terdiri atas dua bagian utama yaitu
flashing stage dan brine heater. Flashing stage merupakan sebuah chamber
tempat terjadinya proses evaporasi dan kondensasi. Proses evaporasi dan
kondensasi ini sangat bergantung pada temperatur air laut yang berasal dari brine
heater (top brine temperature). Untuk mendapatkan kualitas air yang diinginkan
maka top brine temperature perlu untuk dijaga agar tetap stabil. Di dalam unit
pembangkit peran Desal sangat diperlukan karena menyediakan air sebagai bahan
baku produksi listrik.
6
Gambar 2.1 Skema Desalinasi
Desalinasi pada unit 1 B di PLTU PT. PJB Muara karang menggunakan
jenis desalinasi Multi Effect Distillation with Thermal Vapor Compression (MED TVC). Multi Effect Distillation with Thermal Vapor Compression (MED – TVC)
memiliki beberapa peralatan utama, yaitu :
 Evaporator
Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid (cairan)
dengan penambahan panas. Panas dapat disuplai dengan berbagai cara,
diantaranya secara alami dan penambahan steam. Evaporasi didasarkan pada
proses pendidihan secara intensif, yaitu pemberian panas ke dalam cairan,
pembentukan gelembung – gelembung akibat uap, pemindahan uap dari cairan,
7
dan mengkondensasikan uapnya.
 Main Ejector
Pemvakuman yang terjadi pada saat vakum mencapai – 0,89 BarG di effect,
bertujuan memvakum semua effect untuk mempercepat proses terjadinya air
tawar.
 Vent Ejector
Setelah proses filling, kemudian yang terbuka pertama kali dalam pembukaan
vakum adalah vent ejector. Pemvakuman yang terjadi di heater akan terbuka pada
saat mencapai – 0,58 BarG.
 Ejector Condenser
Pemvakuman di condenser yang berada di effect ke empat akan membuka
pada saat mencapai – 0,55 BarG, agar memaksimalkan air laut yang terkondensasi
menjadi air tawar di effect ke empat.
8
 Centrifugal Pumps
Suatu pompa rotodynamic yang menggunakan berputar impeller untuk
meningkatkan dan laju alir tekanan dari suatu fluida. Pompa sentrifugal adalah
jenis yang paling umum digunakan pompa untuk memindahkan cairan melalui
sistem perpipaan.
 Scale Inhibitor / Anti Scaling
Suatu larutan kimia yang akan diinjeksikan ke air laut agar tidak terjadi
korosi (kerak).
 Anti Foam
Suatu bahan kimia yang akan diinjeksikan ke air laut agar menghilangkan
busa – busa yang terdapat di dalam kandungan air laut.
2.1.1 Multi Effect Distilasi (MED)
Multi Effect Distilasi (MED) adalah penyulingan proses yang sering
digunakan untuk air laut desalinasi. Ini terdiri dari beberapa tahapan atau ”effect”.
Dalam setiap tahap air umpan (feed water) dipanaskan oleh uap di tabung.
9
Sebagian air menguap, dan uap ini mengalir ke dalam tabung tahap berikutnya,
pemanasan dan penguapan air lebih banyak. Setiap tahap dasarnya menggunakan
kembali energi dari tahap sebelumnya. Tabung dapat tenggelam dalam air umpan
(feed water) disemprotkan di atas bank tabung horizontal, dan kemudian menetes
dari tabung ke tabung sampai dikumpulkan di bawah panggung (stage).
Multi Effect Distilasi dapat dilihat sebagai urutan ruang tertutup
dipisahkan oleh dinding tabung, dengan sumber panas di satu ujung dan heat sink
di ujung yang lain. Setiap ruang terdiri dari dua subspaces berkomunikasi, bagian
luar tabung n stage dan bagian dalam tabung dalam tahap n + 1. Setiap ruang
memiliki suhu yang lebih rendah dan tekanan daripada ruang sebelumnya., dan
dinding tabung memiliki suhu penengah antara suhu dari cairan disetiap sisi.
Tekanan dalam ruang tidak dapat berada dalam ekuilibrium dengan temperatur
dinding kedua subspaces. Ini memiliki tekanan menengah. Kemudian tekanan
terlalu rendah atau suhu terlalu tinggi dalam subspace pertama., dan air menguap.
Dalam subspace kedua, tekanan yang terlalu tinggi atau suhu terlalu rendah, dan
uap kondenser. Hal ini membawa energi penguapan dari subspace pertama lebih
hangat ke dingin subspace kedua. Pada subspace kedua energi mengalir dengan
konduksi melalui dinding tabung ke ruang dingin berikutnya.
10
Makin tipis logam dalam tabung dan lapisan tipis cairan di kedua sisi
dinding tabung, lebih efisien adalah transportasi energi dari ruang ke ruang.
Memperkenalkan tahap lebih antara sumber panas dan tenggelam mengurangi
perbedaan suhu antara ruang dan sangat mengurangi transportasi permukaan
panas per unit tabung. Energi yang diberikan digunakan kembali untuk
menguapkan air lebih banyak, tetapi proses tersebut membutuhkan waktu lebih
lama. Jumlah air suling per tahap berbanding lurus dengan jumlah transportasi
energi. Jika transportasi diperlambat, dapat meningkatkan luas permukaan per
tahap, yaitu jumlah dan panjang tabung, dengan mengorbankan biaya instalasi
meningkat.
Air
garam
dikumpulkan
dibagian
bawah
setiap
tahap
bisa
disemprotkan pada tabung di tahap berikutnya, karena air ini memiliki suhu yang
sesuai dan tekanan didekat atau sedikit diatas suhu operasi dan tekanan pada tahap
berikutnya. Beberapa air ini akan menguap menjadi uap seperti yang dilepaskan
ke tahap berikutnya pada tekanan rendah daripada tahap asalnya.
Tahapan pertama dan terakhir perlu eksternal pemanasan dan
pendinginan masing – masing. Jumlah panas yang dikeluarkan dari tahap terakhir
harus hampir sama dengan jumlah panas yang disuplai ke tahap pertama. Untuk
11
desalinasi air laut, bahkan tahap pertama dan paling hangat biasanya dioperasikan
pada suhu dibawah 70 oC, untuk menghindari pembentukan skala.
Tahapan tekanan terendah diperlukan luas permukaan yang relatif lebih
untuk mencapai transportasi energi yang sama di dinding tabung. Biaya
pemasangan luas permukaan ini membatasi kegunaan menggunakan tekanan yang
sangat rendah dan suhu pada tahap selanjutnya. Gas terlarut dalam air umpan
(feed water) dapat berkontribusi untuk mengurangi perbedaan tekanan jika
diizinkan untuk terakumulasi dalam tahap.
Ekstenal air umpan (feed water) harus diberikan untuk tahap pertama.
Tabung dari tahap pertama dipanaskan menggunakan sumber eksternal dari uap
atau sumber lain meskipun panas.
Kondensat (air tawar) dari semua tabung dari semua tahap harus
dipompa keluar dari tekanan masing – masing tahap terhadap tekanan ambien. Air
garam dikumpulkan dibagian bawah tahap terakhir harus dipompa keluar karena
memiliki tekanan jauh lebih rendah dari tekanan ambien (ambient presure).
12
Gambar 2.2 Multi Effect Distillasi
Berikut ini skema dari MED desalinasi efek ganda. Tahap pertama adalah
dibagian atas. Daerah pink adalah uap, daerah biru ringan adalah air umpan (feed
water) cair. Pirus kuat adalah kondensat. Hal ini tidak menunjukkan bagaimana
air umpan (feed water) masuk tahap – tahap lain daripada yang pertama.
F – Air umpan masuk (feed water in)
S – Pemanasan uap masuk (heating steam in)
C – Pemanasan uap keluar (heating steam out)
W – Air kondensat keluar (fresh water condensat out)
R – Keluar air garam (brine out)
13
O – Pendingin masuk (coolant in)
P – Pendingin keluar (coolant out)
VC - Pendingin terakhir stage (VC is the last-stage cooler)
2.1.2 Multi Stage Flash (MSF)
Multi Stage Flash (MSF) memiliki serangkaian ruang yang disebut tahap
(stage), masing – masing berisi penukar panas dan kondensat kolektor. Urutan ini
memiliki akhir dingin dan panas, sementara akhir tahap – tahap peralihan
memiliki suhu menengah. Tahapan memiliki tekanan sesuai dengan titik didih air
pada suhu panggung (stage). Setelah berakhirnya panas ada wadah yang disebut
air garam pemanas.
Ketika plant yang beroperasi di tunak (in steady state), air umpan (feed
water) pada suhu dingin arus masuk, atau dipompa melalui penukar panas pada
stage dan warm up. Ketika mencapai pemanas air garam sudah memiliki hampir
suhu maksimum. Dalam pemanas, sejumlah panas tambahan ditambahkan.
Setelah pemanas, air mengalir melalui katup kembali ke tahap yang pernah
menurunkan tekanan dan temperatur. Seperti mengalir kembali melalui tahap air
sekarang disebut air garam, untuk membedakannya dari air inlet. Dalam setiap
tahap, seperti air garam masuk, temperatur diatas titik didih pada tekanan dari
14
stage, dan sebagian kecil dari air asin mendidih air untuk uap sehingga
mengurangi suhu sampai kesetimbangan tercapai. Uap panas yang dihasilkan
adalah sedikit daripada air umpan (feed water) dalam penukar panas. Uap dingin
dan kondenser terhadap tabung penukar panas, sehingga pemanasan air (feed
water) seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Penguapan total disemua tahapan sampai dengan approx. 12% air mengalir
melalui sistem, tergantung pada kisaran temperatur yang digunakan. Dangan
meningkatnya suhu ada kesulitan tumbuh pembentukan skala dan korosi 120oC
tampaknya maksimal, meskipun skala menghindari mungkin memerlukan suhu
dibawah 70 oC.
Air umpan (feed water) membawa menghilangkan panas laten dari uap
terkondensasi, menjaga suhu rendah stage. Tekanan dalam ruang tetap konstan
sebagai jumlah yang sama dari uap terbentuk. Ketika air garam hangat baru
memasuki stage dan uap akan dihapus karena mengembun pada tabung penukar
panas. Kesetimbangan ini stabil, karena jika pada beberapa bentuk uap titik lebih
meningkatkan tekanan dan yang mengurangi penguapan dan kondensasi
meningkat.
15
Pada tahap final air garam dan kondensat mempunyai suhu dekat suhu
masuk. Kemudian air garam dan kondensat yang dipompa keluar dari tekanan
rendah di stage untuk tekanan ambien (ambient pressure). Air garam dan
kondensat masih membawa sejumlah kecil panas yang hilang dari sistem ketika
mereka dibuang. Panas yang ditambahkan dalam pemanas membuat terjadinya
kerugian ini.
Panas ditambahkan dalam pemanas air garam biasanya datang dalam
bentuk uap panas dari proses industri co terletak dengan desalinasi. Uap
diperbolehkan untuk menyingkat terhadap tabung yang membawa air garam
(mirip dengan stage).
Energi yang membuat penguapan memungkinkan semua hadir dalam air
garam saat meninggalkan pemanas. Alasan untuk membiarkan penguapan terjadi
dalam beberapa tahapan bukan satu tahap pada tekanan dan suhu terendah, adalah
bahwa dalam satu stage, feed water hanya akan hangat untuk suhu penengah
antara suhu masuk dan pemanas. Sementara banyak uap tidak akan mengembun
dan stage tidak akan mempertahankan tekanan dan suhu terendah. Karena air
garam dingin memasuki proses counter flows dengan air limbah garam (air
16
suling). Relatif energi panas sedikit dikeluarkan. Sebagian besar panas yang
diambil oleh air garam dingin yang mengalir ke pemanas dan energi didaur ulang.
Selain itu,
Penyulingan
MSF, khususnya yang besar, seringkali
dipasangkan dengan Pembangkit Listrik di cogeneration konfigurasi. Limbah
panas dari pembangkit listrik digunakan untuk memanaskan air laut, memberikan
pendinginan untuk pembangkit listrik pada saat yang sama. Hal ini mengurangi
energi yang dibutuhkan oleh satu setengah sampai dua pertiga, yang secara drastis
mengubah ekonomi MSF. Reverse osmosis, penyulingan yang merupakan pesaing
utama MSF, membutuhkan pretreatment lebih dari air laut dan pemeliharaan yang
lebih, serta energi dalam bentuk kerja (listrik, tenaga mesin) sebagai lawan – kelas
limbah panas rendah lebih murah.
Gambar 2.3 Multi Stage Flash Desalinasi
17
Skema dari Multi Stage Flash Desalinator :
A – Uap Masuk (Steam in)
B – Air Laut Masuk (Seawater in)
C – Air Keluar (Portable water out)
D – Limbah Keluar (Waste out)
E – Uap Keluar (Steam out)
F – Pertukaran Panas (Heat exchange)
G – Koleksi Kondensasi (Condensation collection)
H – Brine heater
2.1.3 Reverse Osmosis
Reverse Osmosis ( Osmosis Terbalik ) adalah sebuah istilah teknologi
yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah filtrasi metode yang menghilangkan
banyak jenis besar molekul dan ion dari solusi dengan memberi tekanan solusi
ketika di salah satu sisi selektif membrane. Hasilnya adalah bahwa zat terlarut
dipertahankan pada sisi bertekanan membrane dan murni pelarut diperbolehkan
untuk lolos ke sisi lain. Untuk menjadi "selektif," membran ini tidak harus
memungkinkan molekul besar atau ion melalui pori-pori (lubang), tetapi harus
18
memungkinkan komponen yang lebih kecil dari solusi (seperti pelarut) untuk lulus
bebas.
Reverse osmosis yang paling umum dikenal untuk penggunaannya di
minum pemurnian air dari air laut , mengeluarkan garam dan zat lain dari molekul
air. Ini adalah kebalikan dan normal proses osmosis, dimana secara alamiah
bergerak pelarut dari daerah konsentrasi terlarut rendah, melalui membrane ke
area konsentrasi zat terlarut tinggi. Pergerakan pelarut murni untuk menyamakan
konsentrasi solute pada setiap sisi membrane yang menghasilkan tekanan dan ini
adalah “tekanan osmotik”. Menerapkan tekanan eksternal untuk membalik aliran
alami dari pelarut murni disebut reverse osmosis.
Proses ini mirip dengan filtrasi membrane. Namun, ada perbedaan utama
antara reverse osmosis dan filtrasi. Mekanisme penghapusan dominan dalam
filtrasi membrane adalah berusaha, atau pengecualian ukuran. Sehingga proses
yang secara teoritis dapat mencapai pengecualian sempurna partikel terlepas dari
parameter operasional seperti tekanan umpan (influent pressure) dan konsentrasi.
Reverse osmosis, bagaimanapun melibatkan suatu mekanisme difusi sehingga
efisiensi pemisah tergantung pada konsentrasi zat terlarut, tekanan dan kadar air
fluks (water flux rate).
19
Secara formal, reverse osmosis adalah proses memaksa pelarut dari daerah
konsentrasi zat terlarut tinggi melalui membrane semipermeabel ke daerah
konsentrasi terlarut rendah dengan menerapkan tekanan yang melebihi tekanan
osmotik.
Membrane yang digunakan untuk reverse osmosis memliki lapisan
penghalang padat dalam matriks polimer mana yang paling terjadi pemisahan.
Dalam kebanyakan kasus, membran ini dirancang untuk memungkin air hanya
untuk lulus melalui lapisan padat, sementara mencegah bagian zat terlarut (seperti
ion garam). Proses ini mensyaratkan suatu tekanan tinggi diberikan pada sisi
membrane konsentrasi tinggi, biasanya 2 – 17 bar (30 – 250 psi) untuk air tawar
dan payau air tawar, dan 40 – 70 bar (600 – 1000 psi) untuk air laut, yang
memiliki sekitar 24 bar (350 psi) tekanan osmotik alam yang harus diatasi. Proses
ini dikenal untuk digunakan dalam desalinasi (menghilangkan garam dari air laut
untuk mendapatkan air tawar). Tetapi sejak awal 1970-an itu juga telah digunakan
untuk memurnikan air segar untuk kesehatan, industri dan domestik aplikasi
medis.
Osmosis bergerak menggambarkan bagaimana pelarut antara dua larutan
yang dipisahkan oleh sebuah membrane semipermeabel untuk mengurangi
20
perbedaan konsetrasi diantara solusi. Ketika dua solusi dengan konsentrasi yang
berbeda dari zat terlarut dicampur, jumlah zat terlarut dalam dua solusi akan sama
– sama disalurkan dalam jumlah pelarut dari dua solusi. Daripada pencampuran
dua solusi bersama – sama, mereka dapat dimasukkan ke dalam dua kompartemen
dimana mereka terpisah satu sama lain dengan sebuah membrane semipermeabel.
Membrane semipermeabel tidak memungkinkan zat terlarut untuk berpindah dari
satu kompartemen ke yang lain, namun memungkinkan pelarut untuk bergerak.
Karena kesetimbangan tidak bisa dicapai oleh pergerakan zat terlarut dari
kompartemen dengan konsentrasi zat terlarut tinggi untuk yang satu dengan
konsentrasi zat terlarut rendah, itu bukan dicapai oleh pergerakan pelarut dari
daerah konsentrasi zat terlarut rendah ke daerah – daerah konsentrasi zat terlarut
tinggi. Ketika pelarut bergerak jauh dari daerah konsentrasi rendah, hal ini
menyebabkan daerah – daerah untuk menjadi lebih terkonsentrasi. Disisi lain,
ketika pelarut bergerak ke daerah – daerah konsentrasi tinggi, konsentrasi zat
terlarut akan berkurang. Proses ini disebut osmosis. Kecenderungan untuk pelarut
dapat mengalir melalui membrane dapat dinyatakan sebagai “tekanan osmotik”,
karena analog mengalir disebabkan oleh perbedaan tekanan. Osmosis adalah
contoh dari difusi.
21
Dalam reverse osmosis, dalam sebuah set up yang sama seperti yang di
osmosis, tekanan diterapkan ke dalam ruangan dengan konsentrasi tinggi. Dalam
hal ini, ada dua gaya yang mempengaruhi gerakan air : tekanan disebabkan oleh
perbedaan konsentrasi zat terlarut antara dua kompartemen (tekanan osmotik) dan
tekanan eksternal diterapkan.
Gambar 2.4 Reverse Osmosis
Berikut ini skema sistem reverse osmosis desalinasi yang menggunakan penukar
tekanan :
1. Masukan air laut (sea water inflow)
2. Aliran air segar (fresh water flow) 40%
22
3. Arus konsentrat (concentrate flow) 60%
4. Air laut mengalir (sea water flow) 60%
5. Konsentrat (drain)
A. Tekanan pompa aliran tinggi (high pressure pump flow) 40%
B. Pompa sirkulasi (circulation pump)
C. Osmosis unit dengan membran (osmosis unit with membrane)
D. Penukar tekanan (Pressure exchanger)
Gambar 2.5 Reverse osmosis membrane coil
23
2.2 Termodinamika di Lingkungan Sistem Desalinasi
Termodinamika adalah ilmu yang membahas hubungan (pertukaran)
antara panas dengan kerja. Dalam termodinamika banyak membahas tentang
sistem dan lingkungan. Kumpulan benda-benda yang sedang ditinjau disebut
sistem, sedangkan semua yang berada di sekeliling (di luar) sistem disebut
lingkungan.
2.3 Asas Black
Asas Black terjadi apabila ada dua benda yang suhunya berbeda
kemudian disatukan atau dicampur berada dalam sistem yang tertutup, maka
energi akan berpindah seluruhnya dari benda yang memiliki suhu tinggi menuju
benda yang bersuhu rendah. Maka ketika mencapai suhu yang sama, energi yang
diterima oleh benda yang memiliki suhu yang lebih rendah sama dengan energi
yang dilepaskan oleh benda yang memiliki suhu yang lebih tinggi. Karena energi
yang berpindah akibat adanya perbedaan suhu sama dengan kalor, maka bisa
dikatakan bahwa dalam sistem tertutup, kalor yang dilepaskan sama dengan kalor
yang diterima. Sebaliknya apabila benda yang disatukan atau bercampur tidak
24
berada dalam sistem tertutup, maka tidak semua energi dari benda bersuhu tinggi
berpindah menuju benda yang bersuhu rendah.
Secara matematis dapat dirumuskan :
Qlepas
=
(M1 x C1) (T1-Ta) =
Qterima
(M2 x C2) (Ta-T2)
Keterangan :
M1
= Massa benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih tinggi.
C1
= Kalor jenis benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih tinggi.
Ta
= Temperatur benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih tinggi.
T1
= Temperatur akhir pencampuran kedua benda.
M2
= Massa benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih rendah.
C2
= Kalor jenis benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih rendah.
T2
= Temperatur benda yang mempunyai tingkat temperatur lebih rendah.
2.4 Hukum Kalor
Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang
menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor berbeda
dengan suhu, karena suhu adalah ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor
merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun
25
dilepaskan oleh suatu benda.
2.4.1 Hukum Kalor Jenis
Kalor jenis adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan
temperatur dari 1 gr massa bahan sebesar 1 oC.
Q = m x c x Δt
Q = m x c x (t2 – t1)
Dengan ketentuan :

Q = Kalor yang diterima suatu zat (Joule, Kilojoule, Kalori, Kilokalori)

M = Massa zat (Gram, Kilogram)

C = Kalor jenis (Joule/kilogramoc, Kalori/gramoc)

Δt = Perubahan suhu (oc)
2.4.2 Kapasitas Kalor
Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh benda
untuk menaikkan suhunya 1 oc.
Q = H x Δt
26
H=
m x c x ∆t
∆t
H=mxc
Dengan syarat :
 Q = Kalor yang diterima suatu zat (Joule, Kilojoule, Kalori, Kilokalori)
 M = Massa zat (Gram, Kilogram)
 C = Kalor jenis (Joule/kilogramoc, Kalori/gramoc)
 Δt = Perubahan suhu (oc)
 H = kapasitas kalor (Joule/oc)
2.4.3 Kalor Uap
Kalor uap adalah proses penguapan yang terjasi karena perubahan wujud
dari bentuk cait menjadi gas. Untuk mengubah wujud suatu zat tentunya juga
memerlukan kalor yang berbeda – beda antara zat yang satu dengan yang lainnya
tergantung pada jenis zat tersebut. Untuk menguapkan 1 kg zat cair menjadi uap
atau gas pada titik didihnya disebut dengan kalor uap (U). Dari perngertian diatas
dapat dirumuskan sebagai berikut :
Q=mxU
Dengan ketentuan :
 Q = Kalor yang diterima suatu zat (Joule, Kilojoule, Kalori, Kilokalori)
27
 M = Massa zat (Gram, Kilogram)
 U = Kalor uap zat (Joule/kilogram, Kilojoule/kilogram, Joule/gram)
2.5 Perpindahan panas
Perpindahan panas atau heat transfer adalah ilmu yang mempelajari
perpindahan energi sebagai akibat dari adanya perbedaan temperatur diantara dua
medium misalnya: sesama medium padat atau medium padat dengan fluida.
Energi yang berpindah tersebut dinamakan kalor atau panas (heat). Panas akan
berpindah dari medium yang bertemperatur lebih tinggi ke medium dengan
temperatur yang lebih rendah. Perpindahan ini berlangsung terus sampai terjadi
kesetimbangan temperatur diantara kedua medium tersebut atau tidak terjadi
perbedaan temperatur diantara kedua medium.
Perpindahan panas dapat terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu
perpindahan panas secara konduksi, konveksi, dan radiasi.
2.5.1 Perpindahan Panas Konduksi
Proses perpindahan panas secara konduksi adalah suatu proses
perpindahan energi panas dimana energi panas tersebut mengalir dari daerah yang
bersuhu lebih tinggi ke daerah yang bersuhu lebih rendah dalam suatu medium
padat atau fluida yang diam.
28
q = −k A
Dimana :
dT
dx
q k = laju perpindahan panas konduksi (Watt)
k = konduktivitas termal bahan (W/m. K)
2
A = luas penampang tegak lurus terhadap arah aliran panas (m )
dT
= gradien suhu (perubahan temperatur terhadap arah x) (K/m).
dx
Tanda negatif (-) diselipkan dalam hukum Fourier yang menyatakan
bahwa panas berpindah dari media bertemperatur tinggi ke media yang
bertemperatur lebih rendah.
2.5.2 Perpindahan Panas Konveksi
Perpindahan panas konveksi adalah perpindahan panas yang terjadi dari
permukaan media padat atau fluida yang diam menuju fluida yang mengalir
(begerak) atau sebaliknya, dimana diantara keduanya terdapat perbedaan
temperatur.
Besarnya konveksi tergantung pada :
a. Luas permukaan benda yang bersinggungan dengan fluida (A).
b. Perbedaan suhu antara permukaan benda dengan fluida (T).
c. koefisien konveksi (h), yang tergantung pada :
# Viscositas fluida
29
# Kecepatan fluida
# Perbedaan temperatur antara permukaan dan fluida
# Kapasitas panas fluida
# Rapat massa fluida
# Bentuk permukaan kontak
Persamaan perpindahan panas konveksi dikenal sebagai hukum
Newton untuk pendinginan (Newton’s Law of Cooling) yang dirumuskan
sebagai berikut:
JikaTs>T∞:
qKonv
= h. A (Ts – T∞)
Dimana: q Konv = Laju perpindahan panas konveksi (Watt)
2
h = Koefisien perpindahan panas konveksi (W/m .K)
2
A = Luas permukaan perpindahan panas (m )
Ts = Temperatur permukaan (K)
T∞= Temperatur fluida (K)
30
2.5.3 Perpindahan Panas Radiasi
Proses perpindahan panas secara radiasi (pancaran) adalah suatu
proses perpindahan energi panas yang terjadi dari benda yang bertemperatur
tinggi menuju benda dengan temperatur yang lebih rendah tanpa melalui
suatu medium perantara, misalkan benda-benda tersebut terpisah dalam
ruang atau bahkan bila terdapat suatu ruang hampa udara diantaranya.
Untuk dapat melakukan penghitungan laju perpindahan energi panas
secara radiasi dipergunakan persamaan laju perpindahan panas radiasi
sebagai berikut :
q
ε·σ·A·
Dimana : q rad = laju perpindahan panas secara radiasi (Watt)
ε = emisivitas permukaan benda
-8
2
4
σ = konstanta Stefan-Boltzmann (5,67 . 10 W/m . K )
2
A = luas bidang permukaan perpindahan panas radiasi (m )
Ts = temperatur permukaan benda (K)
Tsur = temperatur surrounding (K)
31
2.6 Proses Penguapan (Evaporation)
Secara umum penguapan berarti berubahnya fase zat dari zat cair menjadi
uap. Penguapan juga berarti perpindahan massa zat cair ke atas dengan adanya
gradien temperatur antara permukaan zat cair dengan udara diatasnya. Hal ini
merupakan peristiwa konveksi alami. Konveksi alami terjadi akibat adanya efek
gaya apung yang bekerja pada fluida. Efek gaya apung merupakan mekanisme
yang terjadi karena adanya gradient massa jenis. Massa jenis akan menurun jika
temperatur fluida meningkat, begitu juga sebaliknya temperatur meningkat maka
masssa jenis fluida akan menurun. Fluida yang ringan (memiliki massa jenis yang
rendah) akan menempati posisi yang lebih diatas. Sehingga jika terus menerus
diberi panas maka tempera
tur fluida akan terus meningkat dan massa jenisnya akan terus menurun dan
terjadilah penguapan.
q
∙
∆
Dimana:
qevap = Laju energi pada saat penguapan
mv = Massa yang berubah menjadi uap (kg)
hfg = Kalor laten penguapan (J/kg)
Δt = Selang waktu (s)
32
2.7 Proses Pengembunan (Condensation)
Peristiwa pengembunan terjadi seperti pada penguapan yaitu berubahnya
fase suatu zat, hanya dalam hal ini perubahan itu terjadi dari fase uap menjadi fase
cair, kebalikan dari peristiwa penguapan. Perpindahan kalor pengembuan
dipengaruhi oleh besarnya laju konsentrasi massa uap air yang berubah menjadi
air (massa yang terkondensasi). Pengembunan juga terjadi akibat dari uap jenuh
yang bersentuhan dengan permukaan yang dingin (suhu permukaan suatu plat
lebih rendah dari suhu jenuh uap) akan terjadi kondensasi pada permukaan plat,
hal ini berarti uap jenuh tersebut melepaskan kalor latennya, dan karena pengaruh
gravitasi kondensat akan mengalir kebawah.
Berikut ini adalah persamaan umum untuk menentukan laju energi pada saat
pengembunan :
Dimana:
qc = Laju energi pada saat pengembunan
mc = Massa yang terkondensasi (kg)
hfg = Kalor laten peembunan (J/kg)
Δt = Selang waktu (s)
33
Harga sifat-sifat air seperti kalor laten penguapan dan kalor laten
pengembunan, dicari pada temperatur film (Tf). Rumus temperatur film untuk
proses pengembunan adalah sebagai berikut:
2.8 Sistem Destilasi
Destilasi adalah suatu cara pemisahan larutan dengan menggunakan panas
sebagai pemisah. Jikalarutan yang terdiri daru dua buah komponenen yang cukup
mudah menguap, maka fase uap yang terbentuk akan mengandung komponen
yang lebih menguap dalam jumlah yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan
fase cair. Adapun faktor
- faktor yang mempengaruhi destilasi adalah sebagai
berikut :
a. Laju detilasi
Laju destilasi merupakan massa yang dihasilkan dari proses
destilasi per satuan waktu. Massa yang dihasilkan dari proses ini adalah
massa dari air yang terkondensasi.
.
Dimana : m = Laju Destilasi (kg / s)
mc = Massa air yang terkondensasi (kg)
Δt = Selang Waktu (s)
34
b. Efisiensi produk
Efisiensi produk adalah rasio antara massa produk yang dihasilkan
/ digunakan dengan masa produk yang diberikan ke sistem.
%
Dimana :
ηp
= Efisiensi produk (%)
m = Massa air kondensat (kg)
min = Massa air yang masuk ke sistem (kg)
c. Efisiensi Sistem Destilasi
Efisiensi alat destilasi air merupakan perbandingan dari energi
berguna dengan energi panas yang diberikan oleh briket ke sistem selama
proses pembakaran (qin). Energi berguna merupakan energi panas yang
digunakan dalam proses penguapan (q evap) dan energi panas yang
digunakan saat pengembunan (q c). Sehingga dalam perhitungan efisiensi
alat destilasi air akan terdapat dua efisiensi yaitu efisiensi untuk sistem air
(ηair) dan efisiensi untuk sistem uap (ηuap). Berikut ini merupakan gambar
batasan sistem untuk alat destilasi air.
35
Gambar 2.6 Batasan sistem
Dimana : ηtot = Efisiensi alat destilasi air
qc = Laju energi kondensasi (W )
qin = Laju energi masuk (W)
2.9 Siklus Carnot
Mesin carnot merupakan mesin kalor yang dapat mengubah energi (kalor)
menjadi bentuk lainnya (usaha mekanik). Disamping mesin carnot, terdapat pula
mesin – mesin lain yang digolongkan dalam mesin kalor seperti mesin uap, mesin
36
diesel dan bensin, mesin jet dan reaktor atom. Pada prinsipnya cara kerja mesin
kalor ada tiga proses penting yaitu :
1.
Proses penyerapan kalor dari sumber panas yang sering disebut sebagai
reservoir (tandon) panas.
2.
Usaha yang dikeluarkan oleh mesin.
3.
Proses pembuangan kalor pada temoat yang bersuhu rendah, tempat ini sering
disebut reservoir (tandon) dingin.
Mesin carnot bekerja berdasarkan suatu siklus yang disebut siklus carnot.
Siklus ini terjadi pada sebuah silinder berisi gas yang dinding – dindingnya
terisolasi secara thermal (panas tidak dapt menembus dinding silinder). Bahan
atau zat yang dilibatkan dalam mesin kalor berdasarkan siklus carnot adalah suatu
gas ideal. Proses termodinamika yang terlibat dalam siklus carnot terdiri dari dua
proses isothermal dan dua proses adiabatik. Proses ini dapat dilihat pada grafik.
Gambar 2.7 Diagram Siklus Carnot P – V
37
 Proses Isothermal (AB)
Pada proses ini, gas dikontakkan dengan reservoir panas bersuhu T1 melalui dasar
silinder. Kemudian beban sedikit demi sedikit dikurangi sehingga piston
(penghisap) terangkat dan gas akan memuai (berekspansi) secara isothermal pada
suhu T1. Selama proses ini gas menyerap kalor sejumlah Q1 dan melakukan usaha
(WAB) dengan menaikkan piston keatas.
 Proses Adiabatik (BC)
Pada proses ini, dasar silinder yang semula dikontakkan pada reservoir panas,
sekarang diberi dinding yang terisolasi terhadap lingkunagan. Sedikit demi sedikit
beban dikurangi dan membiarkan gas memuai (mengembang = berekspansi)
secara adiabatik. Selama proses ini suhu gas turun T1 dan gas melakukan usaha
sebanyak WBC yang ditunjukkan dengan naiknya piston.
 Proses Isothermal (CD)
Pada proses ini, gas dikontakkan dengan reservoir dingin bersuhu T2 melalui dasar
silinder. Kemudian beban ditambahkan seikit demi sedikit sehingga piston turun
dan membiarkan gas termampatkan (terkompres) secara isothermal pada suhu T2.
Selama proses ini gas akan membuang kalor sebanyak Q2 dan menerima usaha
(berarti usaha negatif) dari luar sebesar WCD
38
 Proses Adiabatik (DA)
Pada proses ini, dasar silinder kembali di isolasikan terhadap lingkungan. Sedikit
demi sedikit, beban ditambahkan dan biarkan gas termampatkan secara adiabatic.
Selama proses ini suhu gas naik dari T2 menjadi T1 dan gas menerima usaha dari
luar sebanyak W DA yang ditunjukkan dengan turunnya piston.
Gambar 2.8 Diagram Siklus Carnot P – h
39
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT. Pembangkit Jawa Bali Desalinasi Unit
1 B Muara Karang, Jakarta Utara. Adapun tempat penelitian dilaksanakan di
Ruang Control Room Desalinasi Unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP Muara
Karang dan untuk pengolahan data dilaksanakan di Laboratorium Terpadu
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sedangkan waktu penelitian
dilakukan selama 2 bulan. Penelitian dimulai dari tanggal 2 Oktober sampai
dengan tanggal 20 Desember 2010.
3.4 Tahapan Penelitian
Adapun langkah – langkah dalam penelitian berawal dari studi literature
yang meliputi pembelajaran proses Desalinasi unit 1 B yang ada pada PT.
Pembangkit Jawa Bali UP Muara Karang serta survey lapangan untuk proses
melakukan pengamatan serta pengambilan data. Kemudian tahap selanjutnya
mengetahui komponen – komponen utama, cara kerjanya serta fungsinya yang
terdapat di desalinasi. Setelah diperoleh hasil dari pengamatan tersebut kemudian
40
dilakukanlah analisis efisiensi desalinasi unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP.
Muara Karang Jakarta. Setelah diperoleh hasil dari analisis efisiensi desalinasi,
maka ditarik suatu kesimpulan. Dalam melakukan suatu penelitian, diperlukan
sebuah pembuatan flow chart sebagai awal dari penelitian. Dengan flow chart
mempermudah pemahaman bagaimana cara kerja dari suatu penelitian. Pada
diagram di bawah ini memperlihatkan flow chart proses penelitian.
41
Studi Literature
Studi Lapangan
Peralatan Utama
Desalination Plant
Proses
Evaporasi
Proses
Kondensasi
Analisa Hasil Efisiensi
Desalination Plant
Pembahasan
kesimpulan
Gambar 3.1 Diagram Flow Chart Penelitian
42
3.3 Data – data penelitian
Secara umum tahap menganalisa yang akan dilakukan pertama – tama
adalah dengan studi literature yang meliputi pembelajaran desalinasi unit 1 B PT.
Pembangkit Jawa Bali (PJB) Muara Karang. Kemudian dilakukanlah suatu
pengamatan dan pengambilan data yang mengharuskan untuk terjun ke lapangan.
Data tersebut berupa daily repot (laporan harian), observasi, serta wawancara
kepada operator desalinasi tersebut. Observasi yang dilakukan adalah dengan
mengamati cara kerja serta fungsi dari peralatan utama yang terdapat di desalinasi
tersebut. Setelah mengetahui cara kerja serta fungsi dari masing – masing
peralatan utama tersebut, maka dapat dilihat seberapa besar peran dari peralatan
utama untuk desalinasi.
Untuk mengetahui efisiensi dari desalinasi, tidak hanya dilihat dari
peralatan utama saja, tetapi dari proses berlangsungnya desalinasi itu. Proses
desalinasi yang berlangsung terdiri dari proses evaporasi dan proses kondensasi.
Kedua proses tersebut dapat mempengaruhi proses desalinasi. Setelah mengamati
kedua proses tersebut, selanjutnya yang dilakukan adalah dengan mengetahui
berapa banyak produk yang dihasilkan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
efisiensi dari desalinasi tersebut
43
Adapun fungsi – fungsi dari peralatan utama desalinasi sebagai berikut :
3.3.1 Evaporasi
Evaporasi berfungsi untuk melakukan proses penguapan dengan menurunkan titik
didih air pada kondisi vakum.
3.3.2 Main Ejector
Main ejector berfungsi untuk menjaga kestabilan vakum pada saat desalinasi
beroperasi berada di effect ke empat.
3.3.3 Vent Ejector
Vent ejector berfungsi untuk melakukan pengvakuman sebelum desalinasi
beroperasi atau sebelum start.
3.3.4 Ejector Condenser
Ejector condenser berfungsi untuk melakukan pengvakuman bersama – sama vent
ejector sebelum desalinasi beroperasi.
3.3.5 Centrifugal Pumps
Centrifugal pumps yang menjadi peralatan utama desalination plant terdiri dari
tiga macam, yaitu :
44
a.
Brine Blowdown Pump
Berfungsi untuk memompa air laut yang tidak dapat terkondensasikan kemudian
akan dibuang ke laut lepas.
b. Product Water Pump
Berfungsi untuk memompa air produk ke make up water tank.
c.
Desalination Seawater Feed Pump
Berfungsi untuk meangambil air laut untuk di proses ke dalam desalination plant.
3.3.6
Scale Inhibitor unit / Anti Scaling
Berfungsi untuk mencegah terbentuknya pembentukan kerak pada permukaan
pipa evaporator di dalam effect.
3.3.7
Anti Foam unit
Berfungsi untuk menghilangkan busa atau memperkecil busa yang terdapat di air
laut.
45
3.4 Deskripsi Proses Desalination Plant
Desalinasi tipe reheat seawater terdiri dari multi-effect evaporator,
condenser, main ejector, vent ejector, desalination seawater feed pump, brine
blowdown pump, product pump, dan scale inhibitor/ anti foam injection system.
Main ejector merupakan ejektor sederhana, di mana uap LP dialirkan ke
dalam jet nozzle. Campuran steam/vapor dikirimkan oleh ejector pada tekanan
menengah (intermediate pressure), vapor tekanan rendah terkompresi secara
efektif dengan demikian temperaturnya pun akan naik. Proses tersebut disebut
proses Thermal Vapor Compression.
Kombinasi multi-effect dan proses kompresi-uap (thermal compression
process) dibuat untuk mendapatkan efisiensi desalinasi yang tinggi dengan efek
samping yang seminimal mungkin. Sistem 4-Effect dan main ejector tunggal
dapat diilustrasikan pada gambar di bawah ini.
46
Gambar 3.2 Flow Diagram 4 Effect Reheat Seawater Desalination Plant
3.4.1 Prinsip Operasi Desalination Plant
Pada multi-effect evaporator, air laut dispraikan dari atas tube bundle
setiap effect-nya dan turun sehingga membentuk lapisan tipis (thin film) diluar
pipa sepanjang susunan pipa-pipa HE (Heat Exchanger Tube). Untuk flow steam
(aliran uap) diperoleh dari auxiliary boiler atau HRSG. Kemudian uap mengalir di
dalam pipa di mana uap tersebut akan mengalami kondensasi menjadi air distilat.
Seiring dengan terkondensasinya uap di dalam pipa (tube), uap tersebut akan
memanaskan lapisan tipis air laut dan menyebabkan lapisan tersebut akan
menguap, sehingga dapat menjadi suplai uap baru yang akan masuk ke dalam
effect selanjutnya. Setiap effect yang berada pada multi effect evaporator bekerja
pada temperatur yang lebih rendah dari effect sebelumnya. Proses kondensasi/
47
penguapan terjadi karena proses tersebut berulang dari effect yang terpanas ke
effect terdingin.
Ketika dua proses digabungkan di dalam Reheat Desalination Plant,
main ejector membawa vapor di dalam effect terakhir, menekannya sehingga
temperaturnya naik dan memasukkannya ke dalam effect pertama. Banyaknya
effect dipilih bergantung pada kapasitas dan efisiensi termalnya.
Pada sistem ini, heat input diperoleh dari proses yang terjadi melalui uap
yang disuplai ke dalam nozzlenya main ejector, dan kebanyakan heat input akan
dibuang melalui air pendingin, kemudian akan dikembalikan ke laut. Pada plant
4-effect ini, hanya vapor dari effect terakhir saja yang akan dikompres ulang dan
sisanya mengalir ke heat rejection condenser.
Aliran distillate dan brine mengalir secara alamiah dari effect satu ke
effect yang lainnya tanpa perlu dipompa. Kemudian panas sensibel (sensible
heat)-nya dikembalikan ke dalam proses melalui pencampuran langsung dengan
cairan panas (hot liquid) yang masuk ke dalam effect berikutnya. Akhirnya,
distillate dan brine akan ditarik dari evaporator/ R2 condenser dengan pompa.
Sedangkan vent ejector akan membuat vacuum up, mempertahankannya, dan
membuang non-condensable gas air laut dari ruangan effect ke lingkungan.
48
Dengan membatasi temperatur maksimum brine pada nilai rendahnya,
maka pembentukan kerak pada pipa Heat Exchanger secara efektif dapat terjaga.
Sedangkan proses pembentukan thin-film boiling, juga berkontribusi pada
fenomena operasi scale-free. Sebagai pencegahan terakhir, suplai air laut
di-dosing dengan sejumlah larutan kimia “scale-inhibitor”.
Kelebihan dari Reheat Desalination Plant adalah apabila terjadi
kebocoran pipa atau sebagian pipa, tidak akan menyebabkan pencemaran air
distilat. Apabila terjadi kebocoran pipa atau sebagian pipa, maka akan terlindungi
oleh air distilat secara otomatis sehingga mengalir seperti lapisan film di
permukaan dalam pipa dikarenakan adanya gradien tekanan dari dalam sampai
keluar pipa. Tidak ada perubahan loss output atau performance kecuali lubang
semakin membesar atau terjadinya kerusakan yang cukup serius pada pipa.
Air laut di-dosing dengan larutan scale inhibitor berfungsi untuk menjaga
terbentuknya kerak pada permukaan evaporator tube (yang berada di dalam
effect). Kemudian larutan kimia disiapkan di dalam tangki larutan yang akan
berfungsi sebagai pengaduk (mixer) dan akan diinjeksikan ke dalam air laut
melalui pompa injeksi.
49
Sebagai tambahan, sodium bi-sulfite diinjeksikan juga ke dalam air laut
sebagai proses de-chlorination. Ketika air laut bergaram tinggi diumpankan ke
dalam evaporator, maka akan terbentuk gas bromide yang akan menyebabkan
beberapa masalah. Salah satunya adalah masalah korosi pada cooper alloy dan
stainless steel.
Masalah lain yang timbul adalah penurunan kualitas air distilat
(conductivity tinggi dan rendah PH).
3.4.2 Operasi saat “Turndown” Desalination Plant
Operasi turndown dilakukan dengan cara yang sangat sederhana yaitu
mengurangi tekanan uap motif (motive steam pressure) ke ejektor utama (main
ejector). Dari tekanan 6 bara pada beban 100 % menjadi 3.1 bar pada beban 50 %.
Parameter operasi lainnya seperti laju aliran feed water, chemical dosing rate,
level brine, level distilat, dan sebagainya, sehingga dipertahankan sama seperti
pada beban 100 %.
50
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diberikan penjabaran mengenai hasil serta analisis dari
Efisiensi Desalinasi Unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP Muara Karang.
Adapun data – data yang digunakan dalam Analisis Efisiensi Desalinasi Unit 1 B
ini diperoleh dari data record harian periode bulan Desember 2010 yang ada di
desalinasi unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP Muara Karang. Data record
harian tersebut diambil bulan Desember 2010, dikarenakan desalinasi unit 1 B
baru saja beroperasi bulan November 2010. Tetapi bulan November belum ada
data record hariannya.
4.1 Analisis Biaya Produk
Ada beberapa poin yang dibutuhkan untuk menganalisis Efisiensi
Desalinasi Unit 1 B PT. Pembangkit Jawa Bali UP Muara Karang. Pertama – tama
yang perlu diketahui adalah yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya. Kemudian
untuk melakukan proses Desalinasi tersebut, diperlukan beberapa poin yang
dibutuhkan, yaitu dengan mengetahui laju dari flow steam (aliran uap) dan
pemakaian listrik.
51
Flow steam dari auxiliary boiler tersebut membutuhkan air demineralisasi
dan bahan bakar. Air demineralisasi biasanya sudah tersedia di make up water
tank yang sebelumnya di suplay oleh desalinasi Multi Stage Flash One Through
(MSF – OT) desalination plant pada PLTU unit 4 dan 5. Air demineralisasi sangat
berperan penting dalam siklus PLTU. Dikarenakan di dalam larutan air
demineralisasi tidak terdapat kandungan – kandungan yang dapat menyebabkan
terjadinya korosif pada perangkat – perangkat utama PLTU. Air demineralisasi
dapat dikatakan seperti itu karena mempunyai alasan tertentu. Alasan tersebut
adalah apabila sebuah air mencapai conductivity yang sudah ditetapkan.
Conductivity yang baik adalah dibawah angka 1 (satu). Apabila conductivity
mencapai batasan yang sudah ditetapkan yaitu kurang dari angka 1 (satu) µS
maka air demineralisasi dapat digunakan.
Selain mempergunakan air demineralisasi untuk membangkitkan steam
sebagai supply steam desalination plant digunakan juga bahan bakar. Dalam hal
ini bahan bakar yang dipergunakan adalah High Speed Diesel (HSD).
Steam yang dipakai dalam auxiliary boiler (dibutuhkan saat desalination
plant start) membutuhkan pemakaian listrik. Pemakaian listrik tersebut diambil
dari pemakaian sendiri, disebabkan pemakaian listrik relatif sangat kecil.
Pemakaian listrik pada auxiliary boiler diperkirakan mencapai beban maksimal 12
Ampere. Arus listrik tersebut dipergunakan untuk menjalankan Feed Water Pump
dan Forced Draft Fan. Forced Draft Fan berfungsi untuk mensuplai kebutuhan
udara bakar guna proses pembakaran bahan bakar dan mendorong flue gas keluar
52
dari ruang bakar (burner). Jadi Forced Draft Fan merupakan suatu alat untuk
mensuplai kebutuhan udara dari suatu proses pembakaran dalam ruang boiler.
Tidak hanya steam yang dibutuhkan untuk start desalinasi tetapi
pemakaian listrik juga berperan penting dalam hal ini. Untuk pemakaian listrik,
desalinasi
mempunyai
trafo
tersendiri.
Kemudian
trafo
tersebut
tidak
dipergunakan untuk 1 (satu) desalinasi saja. Tetapi dipergunakan untuk 2 (dua)
desalinasi yaitu desalinasi unit 1 A dan unit 1 B. Kedua desalinasi ini merupakan
tipe reheat seawater atau jenis Multi Effect Distillation with Thermal Vapor
Compression (MED – TVC). Kemudian yang akan dibahas adalah desalinasi unit
1 B saja. Pada desalinasi unit 1 B, rasio pada kuat arus mencapai 25 A. Sedangkan
untuk tegangan listriknya mencapai 396 V, maka daya yang dipergunakan adalah
13,2 KW.
Biasanya desalinasi unit 1 B beroperasi hanya untuk mengisi air sebanyak
1 m di make up water tank , tetapi pada waktu tertentu dapat beroperasi lebih lama
dari biasanya. Hal tersebut disebabkan karena pengoperasiannya sesuai kebutuhan
yang dibutuhkan. Untuk pengisisan 1 (satu) m pada make up water tank
membutuhkan 60 ton air. Sehingga untuk membutuhkan 60 ton air dapat
dilakukan sebanyak 3 jam atau kapasitas produksinya 20 t/h (dalam kemampuan
pengoperasian 70%).
Setelah diperoleh rasio dari aliran uap (flow steam) dan pemakaian listrik,
maka dapat dihitung jumlah input yang digunakan sebagai berikut :
53
Pemakaian listrik :
Energi listrik desalination plant
Energi listrik dari auxiliary boiler
Energi total
=
daya
x
waktu
=
P
x
t
=
13,2 KW x 1 jam
=
13,2 KWh
= kuat arus
x tegangan listrik
=
12 A
x
=
4560 Watt
=
4,56 KW x 1 jam
=
4,56 KWh
380 V
= 13,2 KWh + 4,56 Kwh
= 17,76 KWh
Biaya listrik
= energi listrik x tarif per KWh
= 17,76 KWh
x
Rp 1.100,-
= Rp 19.536 / h
Ket : tarif daya listrik yang dipakai adalah tarif untuk keperluan bisnis dengan
batas daya 6.600 VA s/d 200 KVA yang sudah ditetapkan pada tanggal 30
Juni 2010 oleh Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
54
Steam :
Flow steam
=2t/h
= 2000 kg / h
Tekanan (P)
= 8,5 bar
= 124,95 psia
Temperature (T) = 270 deg C
= 518 oF
Gambar 4.1 Steam Table
55
Dari parameter – parameter di atas dengan menggunakan steam table online
maka diperoleh entalpi steam adalah 1286,1 BTU / lb.
Entalpi
=
1286,1 BTU / lb
Energi
=
Entalpi
x
flow steam
=
1286,1 BTU / lb
x
2000 kg / h
=
2858 BTU / kg
x
2000 kg / h
=
5.716.000 BTU / h
Setelah memperoleh energi steam, maka dapat diperoleh biaya steam dengan
mendekatkan energi steam dengan biaya bahan bakar.
Biaya steam
=
5.716.000 BTU / h :
130.500 BTU / gallon
=
43,8 gallon / h
x
3,7 lt
=
162,06 lt / h
x
Rp 4.500
=
Rp 729.270
Biaya Listrik = Energi Listrik
x
Tarif per KWh
= 1,4 KWh x Rp 1.100
= Rp 1.540 / h
Ket : 1 US Gallon
Harga solar
= 3,7 lt
= Rp 4.500,56
Petro – diesel
= 130.500 BTU / gallon
Hasil dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah energi
yang dipakai untuk melakukan operasi desalination plant selama 1 (satu) jam
adalah sebagai berikut :
Jumlah Input = Biaya Pemakaian Listrik +
= Rp 19.536
Biaya Steam
+ Rp 729.270
= Rp 748.806 per 20 ton
=
Rp 37.440,3 / ton
4.2 Proses Evaporasi Multi – Effect Distillation with Thermal Vapor
Compression (MED – TVC)
Setelah melakukan pengamatan dan pengambilan data, maka langkah
selanjutnya adalah mengindentifikasi proses evaporasi yang berada di proses
desalination plant Multi – Effect Distillation with Thermal Vapor Compression
(MED – TVC). Adapun proses desalination plant Multi – Effect Distillation with
Thermal Vapor Compression (MED – TVC) akan dijelaskan seperti dibawah ini :
Air laut rata – rata sebanyak 179 t/h (68 % load) akan dipompa ke dalam
desalination plant MED – TVC yang akan dilakukan oleh desalination seawater
feed pump yang berada di daerah water intake. Sebagian air laut digunakan untuk
proses desalination plant dan sebagian lagi akan di buang ke laut kembali.
57
Desalination plant ini memiliki kapasitas mencapai 480 ton/hari. MED – TVC
merupakan jenis reheat, yang mengkombinasikan prinsip multi-effect, pipa
horizontal, spray film evaporation, dan thermal vapor compression (oleh steam jet
ejector).
Kemudian air laut mengalir di dalam pipa heat rejection condenser (R1
dan R2) yang bertindak sebagai pendingin, yang akan mengambil panas dari
evaporator. Setelah meninggalkan heat rejection condenser, kemudian air laut
dicabang dan diumpankan ke dalam effect, di mana air laut tersebut akan
dispraikan pada permukaan luar pipa evaporator dan sisanya dibuang ke laut.
Uap pemanas yang melewati main ejector, akan bertindak sebagai
kompresor. Kemudian akan diumpankan ke dalam effect pertama, lalu diambil
panas latennya dan akan dikondensasikan. Sebagai hasilnya, sebagian air laut
akan teruapkan di sana. Sisa dari air laut disebut sebagai brine, yang akan jatuh di
lantai effect pertama dan mengalir ke dalam effect berikutnya dengan melewati
pipa loop seal.
Vapor yang dihasilkan pada effect pertama akan diambil oleh effect kedua
agar tekanan dan temperatur dijaga sedikit lebih rendah dari effect pertama.
Adapun temperatur yang harus dijaga tiap – tiap effect adalah sebagai berikut :
pada effect pertama temperatur yang dijaga berkisar 63oC, pada effect kedua
adalah 59oC, kemudian pada effect ketiga adalah 54oC, sedangkan pada effect
keempat berkisar 51oC. temperatur – temperatur tersebut dipertahankan agar
didalam effect tetap tejadi proses evaporasi dengan sistem vakum. Kemudian
kondensasi vapor pada pipa evaporator akan menguapkan air laut yang berada di
58
luar pipa. Kondensat vapor merupakan bagian dari air produk (air distilat).
Selanjutnya steam yang terkondensasikan di effect pertama dan vapor yang
terkondensasikan di effect lain-nya akan terambil oleh effect berikutnya. Dengan
kata lain, proses evaporasi dan proses kondensasi terjadi berulang dari effect ke
effect.
Sebagian vapor yang dihasilkan dari effect ke-4 akan terambil R1
condenser dan terkondensasikan di sisi luar pipa. Kemudian memberikan panas
latennya ke air laut yang mengalir di dalam pipa, dan akan terkumpul pada bagian
bawah condenser bersama dengan vapor yang datang dari effect lainnya.
Akhirnya, air distilat akan terhisap oleh product water pump. Vapor yang tersisa
akan terhisap oleh main ejector, kemudian akan terkompresi dan tercampur
dengan motive steam (uap suplai ejektor). Campuran steam dan vapor akan
mengalir menuju ke effect pertama, kemudian terkondensasi dan mentransfer
panasnya sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Setelah proses evaporasi di setiap effect, air laut yang tersisa atau brine
yang terkumpul di dalam R2 condenser akan teruapkan dengan cepat dan sebagian
akan dihisap oleh pompa brineblowdown. Vacuum evaporator pertama kali dibuat,
oleh vent ejector dua tingkat. Kemudian vacuum tersebut dijaga agar temperatur
yang sudah ditetapkan tetap terkontrol. Vacuum tersebut juga memiliki fungsi
yang lain, yaitu apabila ada kemungkinan kebocoran udara dan gas-gas yang tidak
dapat terkondensasi (non-condensable gas) maka akan dibuangnya secara kontinu.
Air laut di-dosing dengan scale inhibitor dan anti foam. Scale inhibitor
berfungsi untuk mencegah terbentuknya pembentukan kerak pada permukaan pipa
59
evaporator di dalam effect. Dikarenakan apabila terbentuknya kerak, maka heat
transfernya akan tidak efisien dan akan memperlambat jalannya air serta proses
evaporasi. Sedangkan anti foam berfungsi untuk menghilangkan busa – busa serta
bakteri – bakteri yang berada pada air laut.
Larutan scale inhibitor (anti scaling) dan larutan anti foam yang telah
disiapkan di dalam tanki larutan. Kemudian larutan – larutan tersebut akan
diinjeksikan ke dalam air laut, yang akan digerakkan oleh agitator (pengaduk)
dengan dua pompa berkapasitas 100%.
4.3 Analisis Product Multi Effect Distillation with Thermal Vapor
Compression
Pada sesi ini, akan dijelaskan jumlah produk yang dihasilkan oleh Multi
Effect Distillation with Thermal Vapor Compression (MED – TVC). Data yang
digunakan adalah data harian (daily report). Data harian (daily report) dapat
dilihat pada lampiran. Tetapi tidak semua data harian digunakan karena MED –
TVC ini hanya dipergunakan selama kurang lebih 3 jam per hari untuk mencapai
air produk sesuai dengan kebutuhan yang sudah dijelaskan di atas. Desalination
plant sangat dibutuhkan untuk menjalankan Unit Pembangkit yang berada di PT.
Pembangkit Jawa Bali (PJB) UP Muara Karang Jakarta. Selain faktor kekurangan
supply air bersih dan kendala ketersediaan air demin dalam jumlah besar.
Produksi air bersih dari proses desalination plant bisa bersaing dengan
ketersediaan dalam jumlah besar.
60
Walaupun air desalination plant lebih mahal dalam ongkos produksinya
dibandingkan dengan air bersih industri dengan tarif yang mencapai Rp 15.000
per meter kubik. Tetapi dari segi keandalan agar unit pembangkit selalu siap
beroperasi, hal itu tidaklah sebanding. Sedangkan nilai produksi air bersih dengan
teknologi desalination plant yang dikembangkan saat ini, mampu menekan harga
hingga Rp 9.000 per meter kubik. Setelah diperoleh rasio dari air produksi, maka
dapat dihitung jumlah output yang digunakan sebagai berikut :
Setelah memperoleh nilai air produk, maka dapat dihitung efisiensi produk
yang terdapat di desalination plant. Adapun perhitungan yang akan dilakukan
sebagai berikut :
Efisiensi Produksi desalination plant unit 1 B :
ŋp
x 100 %
=
=
,
,
/
x 100 %
= 10,64 %
Ket
: efisiensi produk mencapai 10,64 % pada kemampuan desalination plant
mencapai 68,75 % yang tertera pada daily repot (dapat dilihat di lampiran).
Dalam hal ini, desalination plant masih baik untuk digunakan karena
kemampuan desalination plant tersebut dapat dipergunakan dengan kemampuan
mencapai 100% operasi.
61
Walaupun secara daily report rata – rata hanya mencapai 68 % operasi
dengan rata – rata produk mencapai 19,09375 t, maka dapat diperkirakan
desalination plant dengan kemampuan mencapai 100% operasi sebagai berikut :
100
x 19,09375
68
= 28,1 t
Dengan kemampuan 100 % operasi maka diperoleh 28,1 t. hal ini lebih besar dari
spesifikasi yang tertulis.
Jumlah Pemakaian Air Demin Unit 4 dan 5 pada bulan Desember 2010.
Tanggal
1/12/2010
2/12/2010
3/12/2010
4/12/2010
5/12/2010
6/12/2010
7/12/2010
8/12/2010
9/12/2010
10/12/2010
11/12/2010
12/12/2010
13/12/2010
14/12/2010
15/12/2010
16/12/2010
17/12/2010
18/12/2010
19/12/2010
Jumlah
Total
Pemakaian Air Demin
liter / hari
163000
164000
183000
155000
174000
185000
168000
174000
184000
176000
170000
164000
191000
218000
220000
203000
217000
227000
181000
3517000
185105.2632
62
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.
Biaya air produk desalination plant lebih mahal daripada air bersih kelas industri.Tetapi
tetap dijalankan agar unit PLTU tetap berjalan agar listrik dapat tetap terjaga dari krisis.
2.
Pemakaian air demin setiap bulan diperkirakan mencapai ± 3.517.000 dm3 / hari
dengan rata – rata mencapai ±185.000 dm3 / hari.
3.
Efisiensi produk mencapai 10,64 % pada rata – rata, operasi desalination plant mencapai
68,75 % dari kemampuan total.
4.
Hasil produk diperkirakan mencapai 28,1 t saat beropeasi dengan 100 % kemampuan
desalination plant, dimana hal ini lebih besar dari spesifikasi yang tertulis.
5.2 Saran
1.
Perawatan dan pemeliharaan untuk desalination plant agar dilakukan secara intensif.
2.
Dalam penelitian selanjutnya agar dapat mempertimbangkan biaya investasi dan biaya
pemeliharaan.
3.
Sebelum menentukan desalination plant yang akan dipakai, sebaiknya melakukan suatu
penelitian agar dapat memperkecil biaya air produk desalination plant tersebut.
63
DAFTAR PUSTAKA
1. “Pengertian Evaporasi”, regicati, http://www.smartmath-regicati.blogspot.com
download : 23 /12 /2010, pukul : 15.08 WIB
2.
“Proses Produksi Listrik”, methadhee,
http://www.prosesproduksilistrik-methadhee.blogspot.com,
download : 22 /12/ 2010, pukul : 22.05 WIB
3.
“Pengertian Centrifugal Pump”, http://www.en.wikipedia.org,
download : 23 /12/ 2010, pukul : 21.59 WIB
4.
“Siklus Carnot”, http://www.scribd.com/siklus-carnot,
download : 23 /12/ 2010, pukul : 03.48 WIB
5.
“Tarif Dasar Listrik”, PLN, http://www.plnjaya.co.id,
download : 19/ 12/ 2010, pukul : 23.10 WIB
6.
“Pengertian Distillasi”, Wawan – Junaidi,
http://www.wawan-junaidi.blogspot.com/2009/07/pengertian-distillasi.html,
download : 23/ 12/ 2010, pukul : 17.23 WIB
7.
“Penguapan”, http://www.id.wikipedia.org/wiki/penguapan,
download : 22 /12/ 2010, pukul : 21.00 WIB
64
8.
“Kalor”, http://www.faculty.petra.ac.id, download : 23 /12 /2010,
pukul : 14.20 WIB
9.
“Steam Table”, http://www.brothersoft.com, download : 29 /12/ 2010,
pukul : 17.30 WIB
10. “Tabel Tenperatur Uap Air SI”, http://www.scribd.com,
download : 28/ 12/ 2010, pukul : 20.05 WIB
11. “Massa Jenis dan Berat Jenis”, http://www.gurumuda.com,
download : 26 /12/2010, pukul : 22.37 WIB
12. “Joule”, http://www.id.wikipedia.org, download : 26 /12/ 2010, pukul : 21.32
13. “Memanfaatkan Air Laut”, http://www.bungakurnia.com/2010/10,
download : 27 /12/ 2010, pukul : 23.10 WIB
14. Sudirman. Fisika Untuk SMK Dan Mak Kelas X, Erlangga : Jakarta, 2009.
15. William, dkk. Termodinamika Teknik. Edisi kedua. Erlangga : Jakarta, 1983.
16. Djojodiharjo Harijono. Termodinamika Teknik : Aplikasi dan Termodinamika
Statistik. Gramedia : Jakarta : 1987.
17. Warhamna. Pengenalan, Pengoperasian, dan Troubleshooting.
PT. PJB : Manual Book Desalination Plant. Jakarta : 2010.
18. Wylen Van. Thermodynamics. Wiley Toppan : Singapura. 1959
65
LAMPIRAN
Lampiran 1
Manual Book
Kata kunci
Istilah-istilah atau kata-kata khusus yang digunakan dalam mendefinisikan
desalination unit
Anti-scale :
Larutan kimia yang di-dosing ke dalam ke
air
laut
untuk
meminimalkan
efek
pembentukan kerak pada permukaan pipa
evaporator.
“Anti-scalant”
merupakan
larutan kimia yang umum dipakai untuk
tujuan tersebut.
Blowdown :
Buangan brine. Brine akan meninggalkan
unit setelah sebagaian teruapkan
Brine :
Semua bagian unit yang dilalui air laut
Demister :
Peralatan untuk mecegah butiran brine yang
terbawa
oleh
uap
hasil
evaporasi.
Umumnya terbuat dari anyaman kawat
(knitted wire mesh) dari material tahan
66
korosi.
Distillate :
Uap motif (motive steam) yang melewati
main ejector, uap yang dibangkitkan di
dalam effect, dan kondensasi uap pada R2
condenser, serta tertampung di dalam R2
condenser.
Kondensat
tersebut
disebut
sebagai distillate.
Effect :
Bagian dari evaporator yang terdiri dari :
ruang uap (vapor chamber), heat transfer
tube,
ruangan
brine
(brine
chamber),
demister, dll.
Evaporator :
Gabungan dari semua effect , R1 dan R2
condenser.
Feed Seawater :
Air laut yang diumpakan ke dalam effect.
Heat Rejection Section :
“Heat Rejection Section” adalah bagian dari
evaporator di mana uap air temperature
rendah terkondensasi oleh air laut dan
panasnya terambil air laut. Panas yang
terambil air laut, secara teori sama dengan
panas uap yang ke main ejector ditambah
losses pada evaporator.
67
“Heat Rejection Section” dibagi menjadi dua
bagian, R1 condenser dan R2 condenser.
Performance Ratio :
Ratio antara berat distilat dengan berat
jumlah uap yang dipakai. Kata ini sering
disebut sebagai “Gain Output Ratio (GOR)”
atau “Economy”.
Scale :
Garam atau deposit yang menempel pada
tube.
Scale mempengaruhi perpindahan
panas pada effect.
Shell side :
Ruangan atau konstruksi di luar dari heat
transfer tube-nya effect, heat rejection.
Thermo-compressor :
Steam jet ejector menyedot vapor dari effect
terakhir dan dikeluarkan ke dalam effect
pertama bersama-sama steam.
Tube side :
Kebalikan dari shell side
Vapor :
Uap yang dihasilkan dari brine di dalam
effect. Umumnya, kata “vapor” mengacu
pada uap yang dihasilkan di evaporator.
Sebaliknya, kata “steam” digunakan uap
yang disuplai dari sumber lain.
68
Spesifikasi Umum Peralatan Utama
Evaporator
00GD01AC001 A/B
Shell plate
: 316 L stainless steel (SUS316L)
Inner partition plate
: 316 L stainless steel (SUS 316L)
Effect vapour chamber
: 304 stainless steel (SUS304)
Spray tray
: 316 L stainless steel (SUS 316L)
Effect tube
: Titanium (TTH340W)
Effect tube sheet
: 316 L stainless steel (SUS316L)
Effect tube support
: 316 L stainless steel (SUS316L)
Condenser tube
: Titanium (TTH340W)
Condenser tube sheet
: 317 L stainless steel (SUS317L)
Condenser tube support
: 304 stainless steel (SUS304)
69
Main Ejector
00GDG01BN001 A/B
No. of installed
: 1 / unit
Tipe
: Steam jet
Material
Nozzle
: 304 stainless steel (SUS304)
Vapor chamber
: 304 stainless steel (SUS304)
Diffuser
: 304 stainless steel (SUS304)
Vent Ejectors
1 st Vent Ejector
00GDG01BN002 A/B
2 nd Vent Ejector
00GDG01BN002 A/B
No. of installed
: 1 / unit
Tipe
: Steam jet
Material
Nozzle
: 304 stainless steel (SUS304)
Vapor chamber
: 304 stainless steel (SUS304)
Diffuser
: 304 stainless steel (SUS304)
70
Ejector Condenser
00GDG01AC002 A/B
No. of installed
: 1 set / unit
Tipe
: Shell & tube
Material
Shell plate
:316L/904L stainless steel(SUS316L/904L)
Tube sheet
:317L/904L stainless steel(SUS317L/904L)
Tube
: Titanium (TTH340W)
Centrifugal Pumps
a)
Brine Blowdown Pump
No. of installed
Tipe
00GDG01AP001 A/B
: 1 / unit
: Horizontal Centrifugal
Design capacity
: 70 m3 / h
Total head
: 22 m
Fluid temperature
: 40.5 oC
Fluid density
: 1028 kg / m3
Speed
: 1460 min-1
Coupling
: Flexibel
Shaft seal
: Gland packing
71
Motor rated power
: 11 kw
Material
b)
Casing
: 316 Stainless steel (SCS16)
Impeller
: 316 Stainless steel (SCS16)
Shaft
: 316 Stainless steel (SUS316L)
Shaft sleeve
: 316 Stainless steel (SUS316L)
Product Water Pump
No. of installed
Tipe
00GDG01AP002 A/B
: 1 / unit
: Horizontal Centrifugal
Design capacity
: 30 m3 / h
Total head
: 40 m
Fluid temperature
: 40.5 oC
Fluid density
: 991 kg / m3
Speed
: 2920 min-1
Coupling
: Flexibel
Shaft seal
: Gland packing
Motor rated power
: 7.5 kw
72
Material
c)
Casing
: 316 Stainless steel (SCS16)
Impeller
: 316 Stainless steel (SCS16)
Shaft
: 316 Stainless steel (SUS316L)
Shaft sleeve
: 316 Stainless steel (SUS316L)
Desalination Seawater Feed Pump
No. of installed
Tipe
00GDG01AP002 A/B
: 1 / unit
: Vertical Centrifugal
Design capacity
: 315 m3 / h
Total head
: 37 m
Fluid temperature
: 35 oC
Fluid density
: 1024 kg / m3
Speed
: 1470 min-1
Coupling
: Flexibel
Shaft seal
: Gland packing
Motor rated power
: 55 kw
73
Material
Casing
: 316 Stainless steel (SCS16)
Impeller
: 316 Stainless steel (SCS16)
Shaft
: 316 Stainless steel (SUS316L)
Shaft sleeve
: 316 Stainless steel (SUS316L)
Scale Inhibitor Unit
a)
Scale Inhibitor Pump
00GDG01AP003 A/B
00GDG01AP004 A/B
No. of installed
: 2 sets / unit
Tipe
: Diaphragm
Design capacity
: 0.0195 L / min
Motor rated output
: 0.2 kw
Material
Pump head
: 316 stainless steel (SUS316)
Valve
: Hastelloy C – 276
Valve seat
: 316 stainless steel (SUS316)
Diaphragm
: PTFE
74
b)
Sodium Bi – sulfite Tank
No. of installed
Tipe
: 1 / unit
: Rectangular
Capacity
Nominal
: 500 L
Shell
: 304 stainless steel (SUS304)
Top cover
: 304 stainless steel (SUS304)
Material
c)
Sodium Bi – sulfite Tank Agitator
No. of installed
Tipe
: 1 / unit
: Single stage propeller
Rotation : 315 min-1
Motor rated output
: 0.4 kW
Material
propeller
: 304 stainless steel (SUS304)
Shaft
: 304 stainless steel (SUS304)
75
Operasi Unit
Kondisi Start Up
Ada tiga macam sistem operasinya, yaitu : FULL AUTO, SEMIAUTO, dan
MANUAL.

Mode Operasi FULL AUTO
Unit dapat di-start dan di-shutdown dengan satu klik operasi berdasarkan
perintah yang telah diprogramkan sampai proses selesai. Ketika Operasi FULL
AUTO, semua motor dan control valve yang beroperasi harus dalam posisi
AUTO.

Mode Operasi SEMIAUTO
Selama operasi FULL AUTO, beberapa pompa dan katup memungkinkan
untuk diposisikan secara MANUAL yang terisolasi dari program perintah operasi.
Pada kasus ini, operator dapat memilih posisi manual dengan sendirinya.

Mode Operasi MANUAL
Semua pompa dan control valve diposisikan ke MANUAL. Kemudian unit
dapat di-start dan di-shutdown secara manual, maka setiap peralatan disesuaikan
dengan perintah operator. Sistem konfigurasinya dapat dilihat pada gambar
berikut.
76
Diagram Sistem Konfigurasi
NORMAL OPERATION
Normal Operation ini berisi petunjuk pengoperasian desalination plant. Tidak
mencakup setiap kontinjensi yang mungkin terjadi dalam proses desalinasi.
Sehingga operator harus familiar terhadap posisi peralatan, instrumentasi,
peralatan control, dan sebagainya serta akses terhadapnya.
77
Operator harus selalu peduli setiap perubahan parameter operasi, seperti :
temperatur, tekanan, flow, dan levelnya. Berbagai alarm akan muncul apabila
terjadi kondisi yang tidak terkontrol.
Ketika perubahan set poin atau manual adjustment dilakukan, koreksi
sederhana dalam setiap perubahan kecil adjustment naik/turun dapat terjadi, butuh
waktu antara adjustment ke kondisi baru untuk mencapai kondisi stabil.
Data operasional parameter penting dapat dicatat untuk pengecekan apabila
terjadi
perbedaan
terhadap
data
operasi
normal.
Diperlukan
petunjuk
troubleshooting untuk melacak perbedaan tersebut.
Persiapan Start-Up
Peralatan dan Piping
a) Periksa ada tidaknya sambungan yang kendor, peralatan rusak, control, alat
ukur (gauge), fitting, dan piping. Sambungan yang rusak atau kendor
mengakitbatkan hasil vacuum yang kurang dan penurunan produksi.
78
b) Periksa saringan (strainer) berikut dan bersihkan bila diperlukan
Seawater strainer
00GDG01AT001 A/B
Y-type strainer for steam line
00GDG01AT106 A/B
Y-type strainer for scale inhibitor/ 00GDG01AT101 A/B
sodium bi-sulfite pump suction
00GDG01AT102 A/B
00GDG01AT103 A/B
00GDG01AT104 A/B
Pelumasan
Periksa semua level oli pelumas dari semua pompa, atau peralatan lainnya
yang memerlukan pelumasan
Motor Control Center (MCC)
a) Periksa semua MCCB dan MCB menyala.
b) Periksa lampu indikasi setiap fasa menyala.
Local Control Panel
a) Pastikan power untuk lampu menyala.
b) Pastikan semua MCB, circuit protector menyala.
c) Pastikan emergency button, kuncinya dalam keadaan release.
79
d) Pilih “SYSTEM OVERVIEW” pada “MAIN MENU”
Persiapan larutan scale inhibitor
a) Scale Inhibitor (per unit)
Tabel Scale Inhibitor
No.
1
2
3
4
5
6
7
Description
Name
Specific Gravity
Netchemical Injection Rate (kg / day)
Solution Concentration (%)
Diluted Chemical Injection Rate
Working Capacity of Tank
Pump Stroke (Dial Graduation)
BWA Water Additive
Belgard E V
1.14 - 1.19
8.1
30
28.6
Approx. 12 day
1
b) Persiapan larutan
Tabel Persiapan Larutan
No.
1
2
3
4
5
6
Volume Larutan (liter)
70
140
210
280
350
420
Level Air (mm)
100
200
300
400
500
600
Catatan : SG larutan approks. 1,02
Prosedur pembuatan :
1.Tentukan level air yang harus diisi
2.Isikan tangki dengan air sampai level setengah dari yang akan dibuat
3.Isikan larutan “anti-scalant”
80
Belgard EV (kg)
21
43
64
86
107
129
4.Start agitator tangki dengan cara menekan tombol di LPC
5.Isikan kembali sampai level yang diinginkan
Persiapan larutan Anti Foam
a) Anti Foam (per unit)
Tabel Anti Foam
No.
1
2
3
4
5
6
7
Description
Name
Specific Gravity
Netchemical Injection Rate (kg/day)
Solution Concentration (%)
Diluted Chemical Injection Rate
Working capacity of Tank
Pump Stroke (Dial Graduation)
Sodium Bi - sulfite
1.48
6.9
25
33.3
Approx. 10 day
1
b) Persiapan Larutan
Tabel Persiapan Larutan
No.
1
2
3
4
5
6
Volume Larutan
(liter)
70
140
210
280
350
420
Level Air
(mm)
100
200
300
400
500
600
Catatan : SG larutan approks. 1,02
81
Sodium Bi - sulfite
(kg)
18
36
54
71
89
107
Prosedur pembuatan :
1.
Tentukan level air yang harus diisi
2.
sikan tangki dengan air sampai level setengah dari yang akan dibuat
3.
Isikan larutan Sodium Bi-sulfite
4.
Start agitator tangki dengan cara menekan tombol di LPC
5.
Isikan kembali sampai level yang diinginkan
Prosedur start
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa sistem
operasi desalination plant berdasarkan sequence yang telah diprogramkan pada
PLC-nya. Tidak ada perlakuan khusus selama beroperasinya desalination tersebut.
Secara garis berar, alur prosedur start desalination dapat dilihat sebagai berikut :
82
Diagram Blok Start Normal
83
84
85
86
Diagram Blok Normal Shut-down
87
88
Emergency Shutdown
Adapun kemungkinan yang dapat mengakibatkan emergency shutdown,
mungkin dapat terjadi pada kondisi berikut :
1.
Kegagalan karena desalination seawater feed pump
2.
Kegagalan karena suplai uap (steam) ejector
3.
Kegagalan karena brine blowdown pump
4.
Kegagalan karena product water pump
5.
Kegagalan karena scale inhibitor/ Sodium bi-sulfite pump
6.
Kegagalan karena power Supply
7.
Kegagalan karena udara kontrol
Pada prinsipnya, operator dapat menghentikan suplai uap ke main ejector
pada kasus emergency ini untuk menghindari pembentukan kerak yang tidak
diinginkan akibat overheating pipa effect dikarenakan kekurangan feed seawater.
Perlu dilakukan tindakan shutdown sesuai dengan “Normal Shutdown
Procedure”.
89
Troubleshooting
Petunjuk troubleshooting untuk desalination unit dijabarkan berikut. Petunjuk
troubleshooting setiap peralatan dipaparkan sesuai dengan instruksi dari pabrikan
dapat dilihat sebagai berikut :
90

Evaporator, Main Ejector, dan Vent Ejector
Pengaruh
Kemungkinan Penyebab
Kontaminasi Distilat
a. Level terlalu tinggi pada Brine
(Dump Valve membuka)
Level terlalu tinggi pada Brine- Periksa lantai evaporator dan clogging
pada pipa loop seal
Periksa kenormalan aliran feed seawater ke effect dan adjust bila perlu
b. Vacuum rendah
Lihat "Vacuum rendah"
c. Conductivity meter malfungsi
Periksa conductivity air distilat di laboratorium
Output Rendah
a. Tekanan uap (steam) rendah
Periksa katup manual uap (AA002) buka penuh atau tidak
b.Temperatur R1 & R2 Condenser rendah
Periksa kenormalan laju aliran air laut ke rejection condenser (R1&R2) dan
adjust bila perlu
c. Laju aliran air laut ke effect rendah
Periksa kenormalan laju aliran air laut dan adjust bila perlu
d. Vacuum rendah
Lihat "Vacuum rendah"
e. Air distilat murni kebuang (dump)
Periksa conductivity meter-nya
Periksa level control valve (AA105/AA106)
f. Pembentukan kerak di tube
Periksa scale inhibitor system
Vacuum Rendah
a. Tekanan uap ejektor rendah
Periksa tekanan uap ejektor
Periksa apakah steam isolation valve buka penuh
Periksa operasinya drain trap dan bersihkan strainer -nya
b. Vent ejector nozzle atau diffuser tersumbat
Buka ejector dan bersihkan di dalamnya
Periksa keausan ejector nozzle
c. Kebocoran pada effect
Periksa kekencangan semua sambungan dari/ke effect
Periksa semua bagian seal, seperti gasketnya manhole
Periksa apakah check valve -nya 1st effect vapor box normal
d. Lakukan pressure test untuk mengetahui kebocoran
91

Brine Blowdown Pump dan Product Water Pump
Pengaruh
Kemungkinan Penyebab
Air tidak terpompa
a. Putaran motor terlalu rendah
(Kapasitas terlalu Rendah)
Periksa tegangan power supply dan performance motor
b. Udara masuk ke pipa suction
Periksa sambungan yang kendor
c. Udara lewat seal (perapat) poros
Periksa aliran mechanical seal pompa
d. Impeller tersumbat atau rusak
Lakukan inspeksi atau overhaul
Motor Overload
a. Kecepatan putaran terlalu tinggi
Periksa frekuensi power supply
b. Impeller rusak
Lakukan inspeksi atau overhaul
c. Kontak antara bagian bergerak dengan tidak bergerak
Lakukan inspeksi atau overhaul
Vibrasi tidak normal
dan berisik
a. Salah Alignment
Periksa apakah alignment masih dalam toleransi
b. Pondasi Rusak
Periksa pondasi dan baut pengikat
c. Kerusakan Bearing
Ganti dengan yang baru
d. Poros bengkok
Lakukan inspeksi atau overhaul
e. Kontak antara bagian bergerak dengan tidak bergerak
Lakukan inspeksi atau overhaul
92

Scale Inhibitor Pump dan Sodium Bi – sulfite Pump
Pengaruh
Injeksi kurang
Kemungkinan Penyebab
a. Keausan ball check dan valve seat
Ganti dengan yang baru
b. Macet (clogging) pada ball valve dan seat
Periksa dan bersihkan
c. Macet pada pipa suction atau strainer
Periksa dan bersihkan
d. Bocor dari gland packing
Lakukan inspeksi atau overhaul
Ganti dengan yang baru atau lakukan pengencangan
Vibrasi tidak normal
dan berisik
a. Overload/ tekanan discharge terlalu tinggi
Periksa pipa dan katup yang macet (clogging)
b. Bearing atau gear aus dan kendor
Kencangkan atau ganti bagian tertentu
c. Kekurangan pelumasan
Periksa level minyak dan isi kembali minyaknya
93

Motor Listrik
Pengaruh
Tidak berputar
Kemungkinan Penyebab
Periksa koneksi kabel pada terminal box
Periksa apakah tegangan terlalu rendah atau tinggi
Lakukan inspeksi dan overhaul
Akselerasi lambat
Periksa apakah starter motor bekerja dengan baik
Periksa koneksi kabel pada terminal box
Periksa apakah tegangan terlalu rendah atau tinggi
Vibrasi tidak normal
Lakukan inspeksi dan ganti baru jika terjadi kerusakan atau aus
dan berisik
Periksa aligntment kopling antar mesin
Kenaikan temperature bearing
terlalu tinggi
Periksa apakah grease mengisi dengan baik
Periksa apakah bearing aus atau rusak, ganti dengan yang baru
Periksa dan adjust alignment kopling
Kenaikan temperature stator
Periksa apakah pompa overload atau tidak
winding dan frame terlalu tinggi
Periksa apakah tegangan terlalu rendah atau tinggi
Periksa kesetimbangan fasa tegangan
Bersihkan frame agar cukup pendinginan
Fluktuasi arus listrik
Periksa sumber tegangan
94
Tabel Set Point
No
TAG No.
1 00GDG01DQ001 A/B-H01
2
00GDG01DF001 A/B-H01
Q'TI
SERVICE
2
Product Water Conductivity
2
Seawater supply flow
RANGE
SET POINT
SET AT
0 ~ 100 S/cm
20 S/cm
PLC
0 ~ 400 T/H
00GDG01DF001 A/B-H02
3
4
00GDG01DF002 A/B-H01
2
1st effect feed flow
0 ~ 25 T/H
7
Low Low ALARM
PLC
Low Low ALARM
17 T/H
Low ALARM
2nd effect feed flow
0 ~ 25 T/H
00GDG01DF004 A/B-H01
00GDG01DF005 A/B-H01
PLC
15 T/H
2
3rd effect feed flow
0 ~ 25 T/H
17 T/H
Low Low ALARM
PLC
15 T/H
2
4th effect feed flow
0 ~ 25 T/H
17 T/H
Trip
Trip
Trip
Low ALARM
Low Low ALARM
PLC
Dump
Low ALARM
15 T/H
2
KET
Low ALARM
00GDG01DF003 A/B-H01
Trip
Low ALARM
00GDG01DF005 A/B-H02
15 T/H
Low Low ALARM
Trip
00GDG01DL001A/B-H01
90 % (450 mm)
High High ALARM
Trip
00GDG01DL001A/B-H02
2
Brine Level
00GDG01DL001A/B-H03
0 - 100%
(0 ~ 500mm)
80 % (400 mm)
PLC
High ALARM
10 % (50 mm)
Low ALARM
00GDG01DL001A/B-H04
5 % (25 mm)
Low Low ALARM
00GDG01DL002A/B-H01
80 % (400 mm)
8 00GDG01DL002A/B-H02
2
Product water level
00GDG01DL002A/B-H03
9 00GDG01DP001A/B-H01
10
17 T/H
High ALARM
00GDG01DF002 A/B-H02
00GDG01DF004 A/B-H02
6
PLC
100 T/H
00GDG01DF003 A/B-H02
5
170 T/H
SET FOR
00GDG01DP002A/B-H01
0 - 100%
10 % (50 mm)
(0 ~ 500 mm)
5 % (25 mm)
0.6 barG
2
Seawater strainer Diff. Press.
0 ~ 1 barG
2
R2 condenser pressure
-1 ~ 1 barG
00GDG01DP002A/B-H02
00GDG01DT002A/B-H01
-0.8 barG
High ALARM
PLC
Low ALARM
Low Low ALARM
PLC
PLC
-0.85 barG
75 degC
Trip
Trip
High ALARM
High High ALARM
Trip
High ALARM
High High ALARM
Trip
2
1st effect steam temperature
0 ~ 100 degC
70 degC
High ALARM
12 00GDG01DP051A/B-H01
2
Instrument air pressure
0 ~ 10 barG
4.5 barG
Press. Switch Low ALARM
13 00GDG01DP510A/B-H01
2
Steam Supply pressure
0 ~ 15 barG
3 barG
Press. Switch Low ALARM
14 00GDG01DL051A/B-H01
2
Scale inhibitor tank level
-
*300 mm
Level Switch Low ALARM
Agitator Stop
15 00GDG01DL052A/B-H01
2
Sodium Bi-sulfite tank level
-
*300 mm
Level Switch Low ALARM
Agitator Stop
16 00GDG01DF001A/B-H03
2
Seawater supply flow
0 ~ 400 T/H
170 T/H
2
Brine level
11
00GDG01DT002A/B-H02
00GDG01DL001A/B-H05
17 00GDG01DL001A/B-H06
0 - 100%
30 % (150 mm)
( 0 ~ 500 mm)
15 % (75 mm)
0 - 100%
30 % (150 mm)
( 0 ~ 500 mm)
00GDG01DL002A/B-H04
00GDG01DP002A/B-H03
PLC
50 % (250 mm)
2
Product water level
00GDG01DL002A/B-H06
19
PLC
50 % (250 mm)
00GDG01DL001A/B-H07
18 00GDG01DL002A/B-H05
PLC
2
R2 condenser pressure
-1 ~ 1 barG
00GDG01DP002A/B-H04
Auto Start
Effect feed flow control start
Auto Start
Pump start
Auto Start
Initial drain start
Auto Stop
Pump stop
Auto Start
Pump start
Auto Start
Initial drain start
15 % (75 mm)
Auto Stop
Pump stop
-0.67 barG
Auto Start
1st vent ejector start
Auto Start
Main Ejector
-0.9 barG
95
Trip
PLC
PLC
96
LAMPIRAN
Lampiran 2
97
Foto Penelitian
Desalination Plant Unit 1 B Tampak Depan
Desalination Plant Unit 1 B Tampak Belakang
98
Ejector Condenser
Kondenser
99
Download