KEARAij UNDANG-UNDANG PERSEROAN YANG BARU, SUATU

advertisement
385
KEARAij UNDANG-UNDANG PERSEROAN YANG BARU,
SUATU SUMBANGAN PEMIKIRAN *)
- - - - Oleh: Jusuf Anwar, & Felix Oenioeng Soebagjo, _ _ __
Pendahuluan
Atau dengan kata lain perencanaan
. pertumbuhan ekonomi harus jadi satu
Beberapa tahun belakanganini nampaket dengan program pemerataan hapale semakin banyak ahli-ahli pembasil-hasil pembangunan tersebut. Tujuan
ngunan dipelbagai negara menyadari
mana dapat diciptakan atau dihiduptentang ketidak serasian yang terjadi
kan antara lain melalui suatu sistim kedalam pembangunan terutama dinegalembagaan yang dapat berdwifungsi
ra-negara · berkembang. Menurut mebaik sebagai sarana untuk meningkatreka, strategi pembangunan yang bakan laju pertumbuhan sekaligus seba·
nyak dianut oleh negara tersebut, yang
gai pemerataan pembangunan dan habertumpu hanya kepada usaha-usaha
sil-hasilnya.
meningkatkan laju pertumbuhan eko-.
Sejalan dengan pemikiran tersebut,
nomi serta Gross National Income Permenurut hemat kami kiranya sudahlah
capita (GNP) yang tinggi, ternyata titepat penggarisan strategi pembangundak memecahkan masalah pembangunan yang diterapkan di Indonesia yang
an itu sendiri. Pengalaman menunjukbertumpu pada Trilogi pembangunan
kan bahwa laju pertumbuhan ekonomi
yaitu mengusahakan adanya keseimyang · tinggi tidak dengan sendirinya
bangan yang dinamis antara pertummenghapus atau mengurangi kemiskinbuhan ekonomi yang tinggi dengan
an dan·p
. Disamping itu
p em erataan hasil-hasil pem bangunan
strategi pembangunan tersebut yang
didalam stabilitas nasional yang manpada umumnya juga didasarkan at as
tap, menuju masyarakat adil makmur
asumsi bahwa pembagian dapat dip iberdasar Pancasila dan Undang-undang
sahkan dari pertumbuhan dan dilaku- Dasar 1945 ("UUD 1945 "). Hanya
kan kemudian, justru sering menimpelIllasalahan lebih lanjut dalam rangbulk an kesulitan. Meningkatnya GNP ka pelaksanaan Trilogi Pembangunan
dalam bentuk rumah dan mobil me- tersebut adalah bagaimana caranya mewah misalnya, sulit dirubah menjadi num buhkan dan menciptakan suatu
rumah murah dan kendaraan umum
sistim kelem bagaan yang dapat berdwiuntuk rakyat banyak.
fungsi. Disamping sarana-sarana KopeStrategi pembangunan yang cocok
rasi dan Badan Us aha Milik Negara
bagi negara berkem bang adalah dengan
("BUMN"), maka lembaga usaha Permengatasi kemiskinan karena usaha ini
seroan Terbatas ("PT") 1) kiranya dasekaligus akan meningkatkan GNP.
1)
*) Laporan Team Pengkajian Hukum Ekonomi Pembangunan, Badan Pembinaan
Hukum Nasional, Departemen Kehakiman Republik Indonesia (1982/1983).
Pengaturan lembaga usaha PT ini terdapat pada pasal-pasal 36-56 Kitab
Undang-undang
Hukum
Dagang
("KUHD") dengan beberapa perubahan dan pembaharuan.
•
,
386
Hukum dan Pembal1gunan
pat digunakan sebagai sarana akseleraperubahan/penambahan. Khususnya,
ketentuan-ketentuan yang mengatur
tor pemerataan pembangunan dan haPT, p'erubaharijpenambahan mana tersil-hasilnya. Melalui PT. dapat diharapjadi atas ketentuan pasal 54-nya, yang
kan partisipasi umum dan dengan dememungkinkan )elaksanaan satu samikian pemerataan kemakmuran keham satu suara. 3
pada orang banyak akan lebih mudah
direalisir. 1. a)
Dengan demikian tak dapatlah disangDalam kerangka usaha m encapai tu- kal bahwa pengaturan PT yang hanya
juan terse but itulah, kami mencoba
tenlluat dalam 21 pasal dalam KUHD
m~mberikan
sumbangan pemikiran . sudah tidak sesuai lagi dengan suasana
tentang bagaimanakah sebaiknya dan
perkembangan perekonomian dan strakearah manakah seharusnya pengatur- tegi pembangunan perekonomian dan
an PT di Indonesia dilakukan, sekali- strategi pembangunan di masa mendagus mengundang tanggapan dari para
tang. 4)
ahli, guna mendapatkan masukan ter- Sebagai contoh kongkrit misalnya
hadap
Rancangan Undang-undang orang bisa mengatakan bahwa pasal47
("RUU") tentang PT yang sangat diKUHD merupakan huruf mati. Namun .
dambakan kehadirannya itu . 2)
bagaimanapun juga ada kemungkinan
bahwa anggota Direksi suatu PT akan
Sekitar Perigaturan tentang PT. dituntut untuk bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian-kerugian
KUHD telah mengalami beberapa
yang mungkin diderita PT, atas kelalai1.a) Ada pendapat memang yang mengaan melaksanakan ketentuan pasal 47
takan, dan harus pula diterima kebe·
KUHD. Masalah lain "likwidasi", hal
narannya, bahwa mengkaitkan suatu
yang kurang mendapat perhatian
'7embaga" yang merupakan dasar
KUHD, terutama sejak masuknya molandasan dan "sarana" mobilisasi modal asing, menjadi hangat dibicarakan
dal adalah kurang tepat. Secara kongkrit, bagaimana kita akan mengkaitorang. KURD tidak menjelaskan pula
kan PT yang merupakan alat didalam
bagaimana kaitan antara likwidasi dan
alam ''kapitalisme ", dengan pemerakepailitan.
taan secara berencana yang merupaSecara garis besar, dapatlah kita sebutkan hasil pemikiran alam . ' 'sosialisme". .
kan . bahwa ketentuan-ketentuan PT
yang ada sekarang ini memuat ·peng2).
Dalam usaha mengadakan pembaharuan di bidang Hukum Perseroan daaturan-pengaturan yang diantaranya
pat disebutkan usaha-usaha beberapa
adalah (i) bahwa PT harus didirikan
panitia (i) Panitia yang dibentuk
oleh
paling
sedikit
2
orang
pendiri
5),
Lembaga Pembinaan Hukum Nasio (in harus didirikan dengan akta otennal - LPHN (1961 dan 1971) diketuai ofeh Prof. R. So ekardono;' (ii)
tik 6) , (iii) bahwa PT baru ada setelah
Panitia yang dibentuk Menteri Kehaakta pendiriannya mendapat pengesah•
kiman (1965), (iii) Panitia Intern Departemen Kehakiman (1969), (iv)Panitia Penyempurnaan Rancangan Un - ·
dang-undang tentang Pe f..sekutuan
dan Perseroan Dagang (1971), (v)Panitia yang dibentuk Departemen
(1975). Untuk lebih lengkap, lihat
Hajati Suroredjo. Masalah Pembaharuan Hukum Perseroan 2, 3, Kertas
kerja pada Simposium Pembaharuan
Hukum Dagang Nasional (BPHN,
1980).
3).
Undang-undang No.4 tahun 19 71,
Lembaran Negara (L.N.) ]1' 0.20 tahun
1971.
4) .
Lihat T. Mulya Lubis, PMA dan UU
PMA: Harapan dan Kenyataan, (XI)
4 Hukum dan Pembangunan 335
343 (1981).
5).
Pasal16 jo. pasal1 KUHD
6).
Pasal38 KUHD
387
Undang-undang Perseroan
an dari Menteri Kehakiman 7), (iv)
bahwa atas akta pendirian yang telah
mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman itu wajib didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat
dan diumumkan dalam Berita Negara 8), (v) bahwa anggaran dasar PT harus mencantumkan jangka waktu tertentu 9), (vi) bahwa modal perseraan
harus terbagi atas saham-saham 10),
(vii) bahwa perseraan baru mulai dapat
betialan setelah paling sedikit 10% dari
modal yang ditempatkan telah disetorkan dalam rekening perseroan 11), dan
(viii) bahwa PT harus diurus oleh pengurus_ 12)
Beberapa hal yang perlu rnendapat perhatian dalarn usaha Pernbaharuan Hukurn tentang Perseroan Terbatas.
Dalam usaha membatasi masalah
Pembaharuan Hukum Perseroan terbatas 13) beberapa masalah pokok yang
dapat kita sorati antara lain, (i) Halhal umum, (ii) Pendirian PT dan Anggaran Dasar, (iii) Modal dan Saham ,
(iv) kewenanganPT, (v) Kepengurusan
dan Kepengawasan PT, (vi) Hak dan
Kewajiban Pemegang Saham, (vii) Per7).
Pasal36 KUHD
8 ).
Pasa/ 38 KUHD
9).
Pasal 46 KUHD
10).
Pasal 40 KUHD
11).
Pasal 51 KUHD
12).
Pasa/44 KUHD
13).
Dipilihnya bentuk PT sebagai hal
yang didahu/ukan da/am usaha mengadakan peninjauan kembali secara
menyeluruh atas ketentuan-ketentuan KUHD, kiranya tidaklah menyimpang dari maksud, tujuan dan
kebijaksanaan yang digariskan dalam
PELlTA II. Lihat Bab 27, HUKUM
IV, Langkah-langkah dan Sasaran-.susaran, yang pada sub 1 bab "Perencanaan Hukum dan Perundang-undangan" an tara lain menyebutkan perature
ubahan atas Strukturjorganisasi PT,
(ix) Masalah Hukum yang berlaku. (x)
Masalah Ketentuan Peralihan_ 14)
1_ Hal-hal Umum
Dalam melaksanakan usaha pembaharuan, kita perlu memperhatikan
beberapa hal, antara lain:
a _ Pembaharuan Hukum Perseroan
tadi hendaknya dilaksanakan
agar bentuk badan us aha tadi dapat "berdwifungsi", baik sebagai
sarana untuk pertumbuhan ekQnomi, dan sekaligus juga sebagai
sarana pemerataan_ 14a)
Dengan perkataan lain, pembaharuan
tidak saja ditujukan agar bentuk usaha
PT tidak saja (diharapkan) mampu
mendukung pembangunan (ekonomi)
saja, akan tetapi juga mampu memelihara azas pemerataan ke adilan.
Untuk itu beberapa hal dapat dipertimbangkan:
Pembentukan
Undang-undang"'"
(i)
baru harus bertitik tolak pada
kebutuhan sosial, ekonomi dan
moneter yang nyata adajakan
timbul, 15) Karena itu pembentukan undang-undang baru hen•
an-peraturan Hukum dan peraturan
perundang-undang yang diperlukan
bagi pembangunan ekonomi itu meli-.
puti juga bentuk-bentuk perusahaan,
patent, merek, hak cipta, registrasi
dagang dan tera.
14).
Bandingkan Hajati Suroredjo,
OP-CIT,
9.
14a). Ada kritik memang terhadap tujuan
ini PT, sebagai alat/sarana untuk
mengkomulasikan modal dan menggunakannya sebagai faktor produksi,
hendaknya dicegah agar jangan terlalu banyak dibebani dengan belll/acam~acam tujuan idiil. Dikhawatirkan dengan terlalu banyaknya tujuan
idiil yang dibebankan kepada PT, PT
malah menjadi tanpa tujuan.
15). Pembahasan yang menarik mengenai
hal ini, lihat misalnya Nono Anwar
Makarim, Mengada-ada ten tang Perseroan Terbatas (PSHE, 1977).
September 1983
i
Hukum dan Pembangunan
388·
badan usaha, untuk memperoleh
dana dari masyarakat, pembaharuan tadi' hendaknya dilakukan
agar ketentuan-ketentuan PT dapat lebih sesuai dan selaras,
mengikuti peraturan-peraturan
pasar modal yang kompleks dan
1
sophisticated. 8)
daknya menggunakan hasil-hasil
penelitian ekonomi dan sosiologis mengenai keadaan yang berlaku sekarang ini sebagai titik
tolak dan memusatkan perhatiannya kepada masalah-masalah
yang akan timbul di waktu yang
akan datang, serta mencoba
menemukan bagaimana kita dapat mengatasi atau mengurangi
akibat masalah-masalah yang
akan datang itu. Dalam hal
ini metode perbandingan hukum
dan perbandingan sejarah hukum
akan banyak memudahkan tugas
membentuk undang-undang.
(li)
Pembentukan
Undang-undang
baru harus dilandasi pada kenyataan bahwa sistem ekonomi. Indonesia, mengarah kepada suatu
sistem ekonomi terbuka 16), dan
sistem ekonomi internasional
ataupun peristiwa-peristiwa ekonomi yang teIjadi dilain-lain
negara akan baik secara langsung
maupun tidak langsung, mempunyai pengaruh kepada perekonomian riasional Indonesia.
Dengan demikian dalam melaksanakan pembaharuan, kit a perlu
memperhatikan peraturan perundang-undangan di negara-negara lain, baik yang terpengaruh
common law maupun system
.continental, khususnya negaranegara ASEAN. 17)
(iii)
Dalam kaitannya dengan Pasar
Modal, yang dapat dipergunakan
sebagai salah satu media bagi
16).
"
Dengan dikeluarkanrlya
UU No. 1/
1967 ten tang Penanaman Modal
Asing, pengusaha asing mulai menge·
lir masuk ke Indonesia.
17).
Salah satu usaha di bidang ini, an tara
lain telah diponsori oleh ASEAN
LAW ASSOCIATION ("ALA") dalam seminar yang diadakan barubaru ini.
•
b. Perlunya diadakan pembedaan antara PT terbuka dan PT
tertutup. 19) Berbagai negara
mempunyai pendapat yang
berlainan tentang manfaat
dan perlunya diadakan pembedaan antara kedua bentuk
usaha itu.
Ukuran-ukuran yang dipergunakan sebagai
dasar
pembe,
daannya beraneka ragam. Bagi mereka yang mengadakan
perbedaan, jelas akan membawa konsekwensi lebih jauh
akan adanya kewajiban dan
keuntungan dari masing-masingjenis PT itu, 20)
c. Juga perlu dipertanyakan apakah perlu diadakan pembeda18).
Peraturan-peraturan yang dimaksud
an tara lain akan menyangkut jenis
saham, hak dan kewajiban pemegang
saham, peralihan atas saham, ketentuan mengenai saham blanko, minimum keterbukaan.
19).
Ada yang membedakan atas "open
Corporations" dan "close Corporations" lihat William Rutter, Gilbert
Law - Summaries Corporation (10
th Ed., 1978); di Nederland, dibedakan atas "Naamlooze vennootschap
(NV)" dan "Besloten vennootschap
(BV), lihat, Sanders, Dutch Company
Law 2 - 3 (1977).
20).
Di Nederland misalnya, BV dibebaskan dari kewajiban mengumumkan
laporan tahunan mereka, sedangkan
NV wajib. Di lain pihak bila BV
hanya dapat mengeluarkan jenis saham atas nama, NV dapat mengeluarkan jenis saham atas nama, NV
dapat mengeluarkan jenis saham atas
nama, dan saham blanko, Ibid, 2,
1968-169.
g i
389
Undang-undang Perseroan
an antara
besar dan
kin dapat
buka dan
bentuk perseroan
kecil, yang mungmencakup PT terPT tertutup_ 21)
d. Perlunya diadakan penjelasan
tentang kaitan dan perbedaan
antata bentuk PT dengan
benfuk-bentuk usaha lain, seperti perserikatan perdata, Fa,
CV, MAl, Bagaimana bentuk
pengaturan terhadap kemungkinan adanya pengalihan dan
bentuk-bentuk
lain
itu
ke
•
dalam bentuk PT.
e. Kemungkinan difikirkannya
bentuk holding company dan
masalah mery:er. Kedua hal
terse but sudah saatnya mendapatkan pengaturan khusus.
f. Masalah status PT.
Saat ini dianut paham bahwa dalam rangka UU No. 1
tahun 1967, status PMA diterapkan kepada setiap usaha,
berapapun besar/kecilnya saham fihak asing tersebut dipunyai. Dengan hanya 1%
saham asing status tetap PT.
PMA di lain fihak banyak
kemudahan yang dapat di
perqleh dalam suatu PT. Nasional, misalnYl!- m asalah distribusi produk akhir.
2. Pendirian dan Anggaran Dasar PT.
Bahwa suatu PT harus didirikan dengan akta notaris, kiranya
semua pihak dapat menerima. Bahwa anggaran dasar PT memerlukan pengesahan 22) dari Menteri
21)_
22).
Ibid, 185-207
Dalam draft Rancangan Undangundang Perseroan yang baru, kiranya istilah pengesahan ini akan diganti dengan pemberian "pemyataan tidak berkeberatan ". Bedanya
'adalah bahwa derigan pemyataal1 tidak berkeberatan, maka pertanggungan jawab mengenai isi akta di-
Kehakiman, pada dasarnya tidak
menjadi peullasalahan pokok_
Yang masih sering diperdebatkan
adalah kapankah PT mulai dapat
berusaha dan kapankah PT memperoleh status badan hukum ?
Mengenai yang pertama: Apakah
sejak saat dibuatnya anggaran dasar
PT di hadapan seorang notaris,
apakah sejak anggaran dasar di
maksud memperoleh pengesahan
Menteri Kehakim an , yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri dan sebagainya_
Menurut kami yang penting dan
hams diperhatikan di sini adalah
prinsip pengetahuan oleh pihak ketiga. Oleh karenanya, maka sistem
yang menganut pendapat bahwa PT
akan memperoleh status sebagai
badan hukum sejak saat di umumkannya anggaran dasar PT dalam
Berita Negara, lebih dapat dibenarkan_
Di samping itu, perlu juga ditinjau kembaU ketentuan yang mengatakan bahwa oleh karena PT
pada dasarnva ' tunduk pada ketentuan-ketentuan umum dari hukum peIjanjian, 23) maka untuk
mendirikan PT diperlukan 2 orang
pendiri. Bagaimana seandainya di
dalam peIjalanan
kehidupan PT
,
ternyata kemudian saham-saham
berada pada tangan satu orang
pemegang saham ? Apakah ketentuan-ketentuan perjanjian masih
berlaku. Apakah tidak sebaiknya
kalau kita katakan bahwa pendirian PT itu menyangkut multipartite legal act_ 24)
,
Modal dan Saham
Pengaturan ten tang modal dan saham dalam Undang-undang yang
serahkan kepada Notaris yang mem•
buatnya, Suroredjo, opeit, 10.
.23).
Lihat pasal15 jo pasall KUHD.
24).
Lihat Sanders, loc-cit.
September 1983
390
Hukum dan Pembangunan
barn, hendaknya lebih maju dari
sistem pengaturan yang berlaku sekarang. Kemungkinan suatu PT
mengeluarkan 1 atau lebih jenis
saham 25) menjadi landasan utarna.
Dalam kaitannya dengan jenis saham blanko, perlu ditegaskan apaluarkan saham blanko ini hanya diberlkan kepada jenis PT tertentu
saja ? 26)
Tak dapat di kesampingkan adalah
masalah kemungkinan pembelian
saham-saham oleh PT sendiri. 27)
Apakah hal itu diinginkan, adakah
pembatasan minimal atau maksimal
yang akan diberlkan .
Kewenangan PT
.
.
Dengan kewenangan PT, yang dimaksud adalah kewenangan PT sebagai badan .hukum melakukan
tindakan-tindakan dalam mencapai
tujuanjusaha PT. Kewenangan ini
dapat mencakup hal-hal yang secara
tegas dinyatakan ("express powers")
dan hal-hal yang secara tegas dinyatakan 28) Dalam kenyataannya,
25).
26).
27).
28).
Saham-saham itu sendiri mungkin
dapat dibedakan atas (i) saham biasa
dan saham preferen/prioritas, (ii)
saham atas nama dan saham blanko,
(iii) saham A dan saham B .
Boleh tidaknya di keluarkan saham
atas nama atau saham blanko hendaknya tidak dilandasi pertimbangan
"politis" tetapi pertimbangan ''ekonomis".
Sebagai perbandingan, peraturan perundang-undangan di beberapa negara
lain dengan tegas menyebutkan kewenangan PT untuk membeli sahamnya sendiri. Lihat misalnya, Sec. 207
dari the California Corporate Code;
Sec. 202 New York Business Corpo·
ration Law; Sec. 98 (2) of Dutch
Civil
Code, Sandevs, op-cit, 16
.
Bandingkan, Harry G. Henn, Law
of Corporation 202-204 (2 nd Ed.,
1970).
kewenangan yang secara tegas dinyatakan, pada dasarnya telllluat di
dalam anggaran dasar suatu PT. 29)
Untuk masa yang akan datang,
apakah tidak sebaiknya di dalam
Undang-undang Perseroan yang baru diadakan pengaturan tentang
kewenangan pokok suatu PT. Hal
mana tentu saja tidak berarti bahwa para pendiri menjadi tidak berhak untuk mengatur hal-hal khusus yang dianggap perlu di dalam
ketentuan-ketentuan anggaran dasar
PT. Selanjutnya juga perlu diberikan pengaturan tentang akibat dari
tindakan PT yang melampaui atau
bertentangan dengan apa yang
menjadi kewenangan mereka. Mengenai implied powers dapat kita
serahkan kepada dunia praktek untuk menentukan ruang lingkup dan
kriteria-kriterianya,
sesuai
dan
mengikuti perkembangan dunia usaha. 30)
•
Pengurusan dan Pengawasan PT
Adanya 2 lembaga terpisah di dalam PT yang masing-masing mem punyai tugas (i) melakukan pengurusan ("Direksi"), dan (ii) melakukan pengawasan terhadap pekerj aan pengurusan yang dilakukan
Direktur("Dewan Komisaris"), kiranya dapat diterapkan dalam peraturan perundang-undangan yang
baru nanti.
Hal mana tentu saja tidak diartikan bahwa setiap PT harus mem•
29).
30).
Kewenangan-kewenangan dari satu
PT mungkin sa;a berbeda dengan PT
yang lain. Hal ini tergantung pada
tujuan dan bidang usaha PT, serta
perumusan di dalam anggaran dasar
PT itu sendiri.
"Implied powers" akan mencakup
tindakan-tindakan · yang dianggap perlu untuk mencapai tujuan-tujuan PT,
dan tidak bertentangan atau melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku. Bandingkan Rutter, op-cit, 481 .
391
Undang-undang Perseroan
punyai Direksi dan Dewan Komisaris_ PT boleh menentukan sendiri
apakah ia akan, di samping adanya
Direksi, mengangkat Dewan Komisaris. Hanya dalam hal-hal tertentu
atau untuk tujuan tertentu saja,
adanya Dewan Komisaris menj adi
kewajiban misalnya untuk suatu PT
Terbuka.
Beberapa masalah yang sering muncuI di dalam kaitannya dengan adanya Direksi dan Dewan Komisaris
antara lain adalah:
(i)
Apakah anggauta Direksi dapat sekaligus merangkap menjadi anggauta Dewan Komisaris ?
(ii)
Apakah anggauta Direksi harus dipilih dari mereka yang
menjadi pemegang saham PT?
(iii)
Apakah anggauta Direksi dapat mewakili kepentingan pemegang saham, misalnya dalam hal pemungutan suara.
Adalah hal yang kurang dapat
diterima secara logis mengapa
Direksi tidak dapat
mewakili kepentingan pemegang saham 31), terlebih-Iebih
bila ia, di samping dalam
kedudukannya sebagai anggauta Direksi, adalah pemegang saham PT. Perkembangan di negara-negara lain menunjukkan bahwa pendapat
yang mengatakan bahwa anggauta Direksi tidak dapat mewakili kepentingan pemegang
saham PT. kurang tepat untuk dipertahankan lebih lama. 32)
31).
32).
Dalam praktek, anggaran dasar PT
selalu memuat ketentuan yang melarang anggauta Direksi bertindak untuk dan atas ,nama dan oleh karenanya mewakili kepentingan pemegang
saham. Bila toh terjadi tindakan itu
akan dianggap tidak saha.
Lihat, Sanders, op-cit, 51
(iv)
Bagaimanakah dan sampai di
manakah batas kewenangan
dan tanggung jawab Direksi 33) dalam melakukan pengurusan PT?
Dalam kaitannya dengan masalah
tanggung jawab, hams dibedakan
dan ditegaskan tanggung jawab sebelum dan sesudah PT memperoleh status badan hukum. 34)
Hal ini penting untuk menghindari
adanya perbedaan interprestasi terhadap bunyi ketentuan yang kurang
jelas.
6. Hak dan Kewajiban Pemegang
Saham
Dengan melihat bahwa saham~a­
ham PT . dapat terdiri atas berbagai jenis saham 35), maka hak dan
kewajiban para pemegang sahampun dapat berbeda-beda, tergantung
fiepada jenis saham yang mereka
miliki.
Secara ulnum dapat disebutkan
bahwa hak-hak pemegang saham
itu akan berkaitan dengan antara
lain:
(i)
(ii)
Hak untuk menerima keuntungan;
Hak .untuk menentukan pengurus PT dan memintakan
33).
Kewenangan Direksi dapat diaturjditegaskan dalam anggaran dasar PT
masing-masing. Sedangkan mengenai
tanggung jawab Direksi, harus dibedakan atas tanggung jawab ke luar
(kepada pihak ketiga) dan tanggung
jawab ke dalam (kepada para pemegang saham).
34).
Bandingkan ketentuan pasal 39 KUHD
35).
Hak-hak yang di dapat oleh pemegang saham preferenjprioritas, tentu
lain dari hak yang diperoleh oleh
pemegang saham biasa. Di lain pihak
kewajiban menyetor bagian dari saham yang dikenakan, berbeda antara
PT dengan saham 'atas nama dan PT
dengan saham blanko.
September 1983
$
3
21 S
12 1 2
51
2
2
S
$1225.
.
22' 2
$ ¥
52
2
3 . 522
22
;:
392
$ 2
,,;
22
)
;
2
$
Hukum dan Pembangunan
(iii)
(iv)
(v)
(vi)
pertanggungan jawab dan mereka;
Hak untuk mengeluarkan suara',
Hak untuk mengetahui jalannya perusahaan;
Hak untuk memeriksa pembukuanPT;
Hak-hak yang berhubungan
dengan likwidasi PT.
Sehubungan dengan hal tersebut,
dalam Undang-undang Perseroan
yang baru nanti hendaknya jangan
dilupakan adanya ketentuan yang
memberikan perlindungan kepada
pemegang saham minorita~. 36)
7. Pengalihan Saham
•
Kapan pengalihan saham (saham)
itu teIjadi dan sah, akan berbeda
bila sarna (saham) itu merupakan
saham atas nama dan bila saham
(saham) itu merupakan saham blanko.
Dalam hal saham blanko, pengalihan saham teIjadi dengan diresahkannya saham blanko itu kepada
pemilik yang baru, disertai maksud untuk memindahkan haknya
atas saham terse but kepada si
penerima. Dengan demikian siapa
saja yang menjadi pemegang saham
blanko, kecuali dapat dibuktikan
sebaliknya, maka ia dianggap sebagai pemilik yang sah at as saham
itu. Di lain pihak, untuk pengalihan saham at as nama diperlukan adanya dokumen yang dapat
•
36).
2;
Dalam praktek selcarang seringkali
terjadi bahwa oleh karena "quorum"
untuk mengadakan R(Jpat Umum Pe·
megang Saham (''RUPS'') sebagaima·
na diminta oleh anggaran dasar PT
tidak dapat terpenuhi maka peme·
gang saham minoritas, yang bersang·
kutan tidak akan pernah berhasil
untuk meminta diselenggarakannya
RUPS guna membahas masalah-masalah tertentu.
mem buktikan bahwa pengalihan
saham itu · telah benar-benar teIjadi 37), yaitu dengan dilakukannya
pendaftaran adanya keragu-raguan
pendapat, ketentuan-ketentuan pokok yang menyangkut sahnya pengalihan saham dapat dimaksukkan
ke dalam Undang-undang yang
baru nanti. 38)
8 _ Perubahan atas Organisasi PT
Perubahan di sini akan mencakup
peru bahan atas susunan/organisasi
perusahaan dan juga perubahan dari
peIjanjian dasar para pemegang saham, untuk sahnya perubahan mana diperlukan tindakan dari para
pemegang saham. 39)
Perubahan itu akan meliputi antara
lain (i) Penjualan atas semua atau
sebagian besar kekayaan (assets)
PT, (ii) Merger dan konsolidasi,
(iii) Memperbesar atau memperkecil
modal PT, (iv) Perubahan atas ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam anggaran dasar PT, (v) likwidasi. 40)
Ketentuan-ketentuan
mengenai
merger dirasakan sangat perlu dewasa ini. Banyak PT-PT ingin melakukan merger, namun masalahnya
sering terbentur kepada tiadanya
peraturan perundang-undangan yang
mendasarinya. 41) Merger itu sendi37).
Syarat-syarat, prosedur dan kemungkinan adanya pembatasan-pembatasan tertentu dalam melakukan pengaturan saham dapat diatur dalam
anggaran dasar PT.
38).
Bandingkan, Sanders, op-cit, 37-38.
39).
Bandingkan, Norman Latin, The Law
of Corporations 570 Ond. Ed., 1971)
I bid.
Praktek yang terjadi sekarang, bila
ada perusahaan-perusahaan ingin me·
lakukan merger, mereka akan meng•
gunakan ketentuan-ketentuan "merger" yang sebenarnya khusus di peruntukkan untuk bank-bank, sebagai
pedoman, dengan pengawasan dari
birokrasi-birokrasi yang bersangkutan.
40).
41).
393
Un dang-un dang Perseroan
n-
harus dibedakan dari takeovers, walu kedua-duanya sarnasarna merupakan penggabungan atas
beberapa perusahaan. Merger dianggap teIjadi bila terdapat dua atau
lebih yang kedudukannyajkeadaannya kurang lebih sarna .kuatjbesar
bergabung menjadi satu.
Take-Overs dianggap teIjadi bila
ada perusahaan keeil diam bil oleh
alih perusahaan yang relatif jauh
lebih kuatjbesar.
Pada take-overs, perusahaan-perusahaan yang melakukan penggabungan tadi masih adajhidup. Perusahaan tadi akan tidak ada lagi bila
terhadapnya telah dilakukan likwidasi, yang menurut pengarnatan se42
orang ahli hal itu jarang teIjadi. )
9. Masalah Hukum yang berlaku
Masalah status personal bagi badan
hukum PT akan menjadi relevant
bila dikaitkan dengan perusahaanperusahaan trans-nasional (Trans
National Corporation-TNC) khususnya bila kemudian muneul TNC
dari Indonesia, juga dengan diharapkannya kehadiran hukum perseroan yang berlaku bagi negaranegara ASEAN. Dalarn hal ini,
apakah kit a akan mengikuti pendapat hukum dari negara di mana
PT itu didirikan, atau hukum dari
negara di mana PT itu melakukan
kegiatan utamanya, ataukah kombinasi antara kedua prinsip itu ?
10. Ket entuan Peralihan
Oleh karen a pembaharuan Hukum
Perseroan hanyalah merupakan bagian dari rene ana pembaharuan
Hukum Nasional, maka selarna
pembaharuan Hukum Nasional tadi
belum dapat dilaksanakan seeara
menyeluruh, kita masih membutuh42).
Pembahasan mengenai hal ini, lihat
antara lain Sanders, op-cit, 239-265.
kan adanya ketentuan-ketentuan
peralihan.
Ini terutarna untuk menarnpung
ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang ada,
dan terhadapnya hukum dilakukan
pembaharuan, dapat diterapkan dengan praktek kegiatan PT, dikemudian hari.
Penutup
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa problem yang dihadapi PT, terutama karena tiadanya ketentuan perundang-undangan yang memadai. Hal
ini disebabkan oleh KUHD yang sudah
lanjut, dan kurang tertarnpungnya pemecahan masalah-masalah baru oleh
yurisprudensi yang ada.
•
Ditambah lagi dengan muneulnya ekonom-ekonom didikan Amerika, yang
melemparkan konsep-konsep yang berasal dari dunia hukum Anglo-Amerika 43), arah perkembangan hukum
persoan kita juga terpengaruh oleh
perkembangan itu.
Untuk mengatasi, ada 2 eara:
1. Piece meal, yaitu dengan cara memberikan pemecahan atas suatu masalah yang timbul, dan memberikan
pemecahan atas masalah lain yang
kemudian muncul, sedikit demi sedikit. Contoh-<:ontoh; one share
one vote, going public, "penerbitan
o bligasi".
2 . . Secara overall, tuntas. Untuk bidang perseroan, usaha-usaha ke arah
ini sudah dilakukan sejak I970-an,
ternyata masih mengalarnikesulitan.
Sesuatu itu akan selalu susah kalau
yang ingin kita capai itu harus memenuhi berbagai tujuan, harus sempurna
dan harus tuntas. Mengapa? Karena
43).
K onsep-konsep 'going pu blic ", trust,
underwritting agreement merupakan
contoh-contoh pengaruh dari konsep
hukum "Anglo-America" tadi.
.
September 1983
394
Hukum dan Pembangunan
sesuatu yang dibebani terlalu banyak
tujuan, akhirnya tidak mencapai satu
tujuanpun; karena sesuatu yang diharapkan sempurna harus dilaksanakan
oleh masyarakat yang belum sempurna, dan karena sesuatu yang dinamis
tidak bisa dituntaskan.
Cara piece meal itu bisa dimantapkan,
bila (Bapepam misaInya) tidak dibiarkan bertepuk sebelah tangan. Apabila
eksekuti! nekad ambil langkah biasanya legislati! dan yudikatif akan
menyertai di belakangnya.
Seharusnya, paling tidak yudikatif
harus lebih berinisiatif menampung
masaIah-masaIah praktek yang timbul
•
di perbagai bidang.
Namun demikian, bila dunia hukum
Indonesia kurang sependapat dengan
cara piece meal dan ingin serba tuntas,
sempurna, dan menyelurnh, maka supaya ada kejelasan arah hendaknya diperhatikan 2 pedoman, yaitu (i)
konsep-konsep hukum yang kita sudah
kenaI, dan (ii) praktek. Hukum Perseroan yang barn hendaknya juga mengarah ke sana. Diusahakan pula adanya
interaksi yang seimbang antara hukum
dan perkembangan ekonomi.
Demikianlah makalah singkat ini
guna memperoleh pengembangan lebih
lanjut.
TURUT BERDUKA eITA
Seluruh staf majalah Hukum dan Pembangunan menyatakan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya ayahanda
Bpk. Mardjono Reksodiputro, S.H. MA. (anggota Dewan Redaksi Hukum dan Pembangunan) :
Bpk. Mr. SOEMITRO REKSODIPUTRO
•
Semoga arwah alm~rhum diterima di sisi Allah, Swt. dan kepada
keluarganya yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan iman. Amin.
Download