FORMULASI DAN EVALUASI PERMEN JELLY EKSTRAK MENIRAN

advertisement
FORMULASI DAN EVALUASI PERMEN JELLY EKSTRAK
MENIRAN (Phyllantus niruri L) MENGGUNAKAN
BASIS KARAGENAN
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Ahli Farmasi Pada
Program Studi D III Farmasi
Oleh :
NONI TRISNA SUKENDAR
NIM. 13DF277037
PROGRAM STUDI D III FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
CIAMIS
2016
Formulasi dan Evaluasi Permen Jelly Ekstrak Meniran
(Phyllantus niruri L) Menggunakan Basis Karagenan1
Noni Trisna Sukendar2 Nia Kurniasih, M.Sc.,Apt3 Nurhidayati Harun, S.Farm.,Apt4
INTISARI
Herba meniran (Phyllantus niruri L) merupakan tanaman obat yang
berkhasiat sebagai imunomodulator. Maka dibuat sediaan permen jelly
menggunakan ekstrak meniran (Phyllantus niruri L) agar memiliki bentuk
sediaan yang praktis dan menarik. Untuk mendapatkan formula permen
jelly dengan ekstrak meniran (Phyllantus niruri L) menggunakan basis
karagenan yang tepat, penelitian dilakukan menggunakan analisis secara
deskriptif kuantitatif dengan 3 Perlakuan dan 3 ulangan dengan
konsentrasi basis karagenan yang berbeda. Evaluasi sediaan permen jelly
yang dilakukan meliputi uji kadar air untuk mengetahui kandungan air
yang tersimpan dalam permen jelly tersebut, uji pH dilakukan untuk
mengukur derajat keasaman, dan uji organoleptik untuk mengetahui
secara sensoris permen jelly tersebut layak dikonsumsi ataupun tidak.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sediaan permen jelly ekstrak
meniran (Phyllantus niruri L) umumnya memenuhi standar berdasarkan
SNI- 3547.2-2008. Namun jika dibandingkan antara perlakuan formulasi
dengan kontrol positif, perlakuan formulasi 3 dengan konsentrasi
karagenan 9% hampir mendekati kontrol positif.
Kata Kunci
: Formulasi, meniran, karagenan, permen jelly
Keterangan
: 1. Judul, 2. Nama mahasiswa, 3. Nama Pembimbing I, 4. Nama Pembimbing II
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia kaya dengan tanaman berkhasiat obat. Masyarakat
Indonesia sudah biasa mengonsumsinya secara turun-temurun. Tak
heran bila banyak ramuan jamu dipakai sebagai pengobatan atau
pencegah penyakit tertentu hingga sekarang. Cara pembuatannya
masih sangat sederhana yaitu dengan cara direbus atau diseduh
dengan air panas dan penggunaannya didasarkan pada pengalaman
turun temurun.
Phyllanthus niruri L merupakan salah satu tumbuhan yang
sebenarnya tumbuh liar dan mudah ditemui di pekarangan rumah,
kebun, atau hutan. Meniran tumbuh subur di tempat lembab dan
berbatu, seperti di tepi sungai, pantai, semak, lahan bekas sawah,
ladang, tanah terlantar diantara rumput atau selokan. Tumbuhan ini
merupakan salah satu dari 700 jenis genus Phyllanthus yang banyak
tumbuh di Asia seperti Indonesia, China, Filipina, dan India.
Tumbuhan ini berasal dari Asia tropis yang tersebar di seluruh daratan
Asia termasuk Indonesia. Kini tumbuhan ini tersebar ke benua Afrika,
Amerika dan Australia. Meniran tumbuh di daerah dataran rendah
hingga dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 m di atas permukaan
laut. Beberapa jenis tumbuhan ini sudah digunakan sejak 2.000 tahun
lalu untuk pengobatan tradisional Ayurveda di India.
Hasil
penelitian,
dikatakan
Tanaman
meniran
banyak
digunakan untuk hepatitis, infeksi saluran kencing, serta untuk
merangsang keluarnya air seni (diureticum), untuk penyembuhan
diare, infeksi saluran pencernaan dan penyakit yang disebabkan
karena gangguan fungsi hati.Buahnya berasa pahit, digunakan untuk
luka dan scabies. Akar segar digunakan untuk pengobatan hepatitis.
1
2
Daun digunakan untuk penambahan nafsu makan dan antipiretik
(Sudarsono, 1998).
Hasil penelitian yang populer mengenai herba meniran ini
menyatakan bahwa herba meniran (Phillantus niruri L) ini memiliki
kandungan felantin yang berkhasiat sebagai hepatoprotektor dan
imunostimulan. Hepatoprotektor merupakan nama lain dari pelindung
hati. Herba ini memiliki kandungan untuk melindungi hati dan
memperbaiki sel-sel dalam jaringan hati. Sedangkan imunostimulan
adalah penstimulan atau perangsang sistem imun tubuh untuk bekerja
secara maksimal. Herbal ini sangat cocok digunakan pada anak-anak
untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan suplemen tambahan bagi
orang yang sakit atau baru sembuh dari sakit untuk mempercepat
pemulihan kesehatannya (Maat, 1996).
Tanaman obat umumnya dibuat menjadi produk olahan seperti
jamu gendong, jamu instan, kapsul, tablet, sirup, ataupun suspensi.
Namun, tanaman berkhasiat obat
tidak selalu dikonsumsi dalam
bentuk segar, jamu tradisional dan sediaan obat yang biasa dikenal
oleh masyarakat. Tetapi bisa juga diolah menjadi bentuk olahan
pangan
yang
menarik.
Pengolahan
ini
bertujuan
untuk
memperpanjang masa simpan, juga untuk meningkatkan daya tarik
terhadap pengkonsumsian herbal.
Dikarenakan sasarannya adalah anak-anak, maka herba
meniran ini diolah menjadi sediaan permen jeli dengan bentuk, rasa,
warna yang menarik, praktis dan mudah dikonsumsi. Permen jeli
merupakan permen yang dibuat dari air atau sari buah dan bahan
pembentuk gel, yang berpenampilan jernih, transparan, serta
mempunyai tekstur dengan kekenyalan tertentu.
Umumnya permen jeli dibuat dengan basis gelatin. Gelatin
adalah suatu produk yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen
yang berasal dari kulit, jaringan ikat dan tulang hewan. Gelatin dapat
3
berfungsi sebagai pembentuk gel, pemantap emulsi, pengental,
penjernih, pengikat air, pelapis dan pengemulsi.
Tetapi masyarakat Indonesia masih ragu dengan bahan baku
gelatin yang issue nya terbuat dari kulit babi. Meskipun pada
kenyataannya digunakan gelatin yang terbuat dari sapi.
Firman Allah SWT dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 173.
‫ٌيا َم َم ا ُك ِإ َّنا ِإ ِإااِإ َم ٌ ِإْيي َّن ِإاۖ ا َم َم ِإ ا اْي ُك يَّن ا َم ٌ َمْييا َم ٍغاا َم َمَلا‬
‫ِإ َّن َم ا َم يَّن َم ا َم َم ْيٌ ُك ُكا ْيا َم ْيٌ َم َم ا َم ا َّنل َم ا َم اَم ْي َم ا ْيا ِإ ْي ِإ ِإ‬
‫اي ِإٌ ٌرا‬
‫َم لٍغا َم َم ا ِإ ْي َم ا َم َم ْيٌ ِإ اۚ ا ِإ َّن ا َّن َما َم ُك يٌر َم‬
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama)
selain
Allah.
Tetapi
barangsiapa
dalam
keadaan
terpaksa
(memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 173)
Serta hadits Nabi SAW untuk menjauhi syubhat
‫اياِإ َمًا ُكا َم ْي ُكه َم ا َمق َم ا َمس ِإ عْي ُك‬
ً‫ا َم ْي ا َم ِإ‬:‫ص َّنىا ُكا َم َم ْيٌ ِإا َم َمس َّن َم ا َمٌقُك ْي ُكا‬
‫اي ُكس ْي َم ا ِإا َم‬
‫ت َم‬
‫َم ْي لِإا ِإا ا ُّ عْي َم ِإ ا ْي ِإ ا َمشِإ ٌ ٍغْيي َم‬
‫ِإ َّن ا ْيا َم َم َم ا َم ٌِّ ٌر ا َم ِإ َّن ا ْيا َم َمي َم ا َم ٌِّ ٌر ا َم َم ْيٌ َم ُكه َم ا ُك ُك ْي يٌرا ُك ْيش َم ِإ َمه ٌر‬
‫ا َم َم ِإ ا َّن َمقىا ا ُّش ُك َمه تِإا‬،‫س‬
‫تاَلَما َمٌعْي َم ُك ُكه َّن ا َم ِإ ْيٌيٌرا ِإ َم ا ا َّن ِإ‬
‫ا َم ايَّن ِإ ًا َمٌيْي َمىا َم ْي َم ا ْيا ِإ َم ىا ُكٌ ْي شِإ كُكا‬، ‫ا َم َم ْي ا َم َمق َمعا ِإًا ا ُّش ُك َمه تِإا َم َمق َمعا ِإًا ْيا َم َمي ِإ‬،‫َم َمق ْيلا سْي َم َمْيي َمااِإ ِإل ْيٌ ِإ ِإا َم ِإ يْي اِإ ِإ‬
‫ص َم َم ْيا‬
‫ت‬
‫ا َمَلَما َم ِإ َّن ااِإ ُك ِّا َم ِإكٍغ ا ِإ ًمىا َمَلَما َم ِإ َّن ا ِإ َم ىا ِإا َم َم ِإي ُك ُكا َمَلَما َم ِإ َّن ا ِإًا ْيا َم َمسلِإا ُكاْي َم ًم ا ِإ َم ا َم‬،‫َم ْي ا َمٌيْي َم َمعا ِإ ْيٌ ِإ‬
‫ص َم َمحا ْيا َم َمس ُكلا ُك ُّ ُكا َم ِإ َم ا َم َمسل ْي‬
‫ِإًا ْيا َمق ْيبا‬
‫َمتا َم َمس َملا ْيا َم َمس ُكلا ُك ُّ ُكا َمَلَما َم َم‬
‫َم‬
{ ‫ييا س‬
‫} ي ها ا‬
Artinya : “Dari Abu ABdillah Nu‟man bin Basyir r.a,”Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda, „Sesungguhnya yang halal itu jelas dan
yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara
yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak.
Maka, barang siapa yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah
menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang
terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam
perkara
yang
diharamkan.
Sebagaimana
penggembala
yang
menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang
4
dilarang
untuk
memasukinya,
maka
lambat
laun
dia
akan
memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan
larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa
dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah
seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh.
Ketahuilah bahwa dia adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan ayat diatas, sebagai pengganti gelatin dapat
digunakan karagenan sebagai basis pada pembuatan permen jeli.
Karagenan berasal dari rumput laut yang memiliki fungsi sebagai
geling agent yang merupakan komponen pembentuk jeli.
Dengan metode pembuatan yang sama dan bahan tambahan
yang sama untuk membuat permen jeli, perbedaannya selain basis
permen jeli diganti oleh karagenan, juga ditambah ekstrak meniran.
Hal ini untuk menghasilkan kudapan yang berkhasiat, serta
meningkatkan minat anak dalam pengkonsumsian suplemen yang
berbahan dasar dari tumbuhan.
Oleh sebab itu, perlu dibuat formulasi permen jeli dari ekstrak
meniran dengan menggunakan basis karagenan, serta mengevaluasi
sediaan permen jeli tersebut sesuai standar baku pembuatan permen.
B. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi untuk membuat formulasi sediaan
permen jelly ekstrak meniran (Phillantus niruri L) dan evauasi permen
jelly meliputi uji organoleptik, uji kadar air, uji kadar abu, dan uji pH.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana formulasi permen jelly ekstrak meniran (Phyllanthus
niruri L) menggunakan basis karagenan?
2. Bagaimana evaluasi permen jeli ekstrak meniran (Phyllanthus
niruri L) menggunakan basis karagenan?
3. Pada formulasi dengan konsentrasi karagenan berapakah yang
memenuhi standar?
5
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui cara formulasi permen jelly ekstrak meniran
(Phyllanthus niruri L) menggunakan basis karagenan.
2. Untuk
mengetahui
evaluasi
permen
jeli
ekstrak
meniran
(Phyllanthus niruri L) menggunakan basis karagenan.
3. Untuk mengetahui berapakah konsentrasi basis karagenan yang
memenuhi standar berdasarkan hasil evaluasi.
E. Manfaat Penelitian.
1. Manfaat untuk praktikan
Sebagai rangkaian kegiatan yang dapat memicu motivasi diri
dalam pengembangan pengetahuan mengenai ilmu farmakognosi,
farmasetika, dan teknologi farmasi untuk pengaplikasian di
masyarakat.
2. Manfaat untuk STIKes Muhammadiyah Ciamis
Sebagai salah satu sumbangsih ilmu dalam pengembangan
pengetahuan terutama dibidang farmasi dengan harapan bisa
dikembangkan atau dilanjutkan lagi oleh peneliti selanjutnya.
3. Manfaat untuk Dunia Kefarmasian
Sebagai salah satu upaya dalam memodifikasi sediaan dari
tanaman obat berkhasiat menggunakan teknologi farmasi dengan
jenis sediaan yang disesuaikan dengan sasaran dan cara
pengkonsumsiannya.
F. Keaslian Penelitiaan
Ada
beberapa
penelitian
sebelumnya
persamaan dan perbedaan, diantaranya :
dengan
beberapa
6
Tabel I.1
Peneliti terdahulu yang mirip dengan penelitian yang akan dilakukan
Judul
Pengaruh pemberian
ekstrak Phyllanthus
Niruri L terhadap
fungsi fagositosis
makrofag pada mencit
BALB/C yang
diinfeksi Salmonella
Typhimurium
Nama
Tempat
Galuh A.
Universitas
Diponegoro
Semarang
Tahun Persamaan Perbedaan
2008
Tanaman
meniran
Pengaruh
meniran
terhadap
fungsi
fagositosis
makrofag
2006
Formulasi
sediaan
permen jeli
Penggunaan
tanaman
Universitas
2012
Jambi
Kampus
Pinang Masak
Formulasi
sediaan
permen jeli
Penggunaan
tanaman
Karakteristik Fisika
Hastiatin
Institut
Kimia Permen Jelly dari Indah Yani Pertanian
Rumput Laut
Bogor
(Eucheuma spinosum
dan eucheuma cottonii)
Pengaruh penambahan
gelatin terhadap
pembuatan permen
Jelly dari bunga rosella
(Hibiscus sabdariffa
Linn)
Silvi Leila
Rahmi, Fitry
Tafzi, dan
Selvia
Anggraini
Pembuatan Permen
Jelly Dari Buah Nanas
(Ananas comosus L.)
Subgrade (kajian
konsentrasi kara-genan
dan gelatin)
Susinggih
Universitas
Wijana, Arie Brawijaya
Febrianto,
Theresia
DyanTiara
Septivirta
-
Karakteristik fisik kimia
dan organo leptik
Permen jelly dari sari
buah srikaya pada
variasi konsentrasi
agar-agar
Hasriyanti
Hasyim,
Abdul
Rahim,
Rostiati
Universitas
Tadulako,
Palu
2015 Formulasi
sediaan
permen jeli
Mutu Permen Jelli
Buah Naga Merah
(Hylocereus
polyrhizus) Dengan
Penambahan
Karagenan Dan Gum
Arab
Jumri,
Yusmari,
Netti
Herawati
Universitas
Riau
2015 Formulasi
Penggunaan
sediaan
tanaman
permen jeli
dengan
penambahan
karagenan
Formulasi
Penggunaan
permen jeli tanaman
dengan basis
karagenan
Penggunaan
tanaman
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.)
Gambar 2.1 Meniran
Sumber : www.meniran.com
a. Sistematika Tumbuhan Meniran
Herba meniran (Phyllanthus niruri L.) memiliki sistematika
sebagai berikut:
Divisi
: Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Euphorbiales
Famili
: Euphorbiaceae
Genus
: Phyllanthus
Spesies
: Phyllanthus niruri Linn
(Backer & van Den Brink, 1965)
b. Morfologi
Meniran merupakan terna, semusim, tumbuh tegak, tinggi
30-50 cm, bercabang–cabang. Batang berwarna hijau pucat.
Daun tunggal, letak berseling. Helaian daun bundar memanjang,
ujung tumpul, pangkal membulat, permukaan bawah berbintik
7
8
kelenjar, tepi rata, panjang sekitar 1,5 cm, lebar sekitar 7 mm,
berwarna hijau. Dalam satu tanaman ada bunga betina dan
bunga jantan. Bunga jantan keluar di bawah ketiak daun,
sedangkan bunga betina keluar di atas ketiak daun. Buahnya
kotak, bulat pipih, licin, bergaris tengah 2-2,5 mm. Bijinya kecil,
keras,
berbentuk
ginjal,
berwarna
coklat
(Hutapea
dan
Syamsyuhidayat, 1991).
c.
Daerah Distribusi dan Habitat
Herba meniran tumbuh liar di tempat yang lembab dan
berbatu, seperti di sepanjang saluran air, semak-semak, dan
tanah diantara rerumputan. Meniran juga bisa ditemukan di
daerah dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dari
permukaan laut. Tumbuhan ini tumbuh liar di tempat terbuka
pada tanah gembur, berpasir di ladang, tepi sungai dan di pantai,
bahkan tumbuh liar di sekitar pekarangan rumah. Tanaman ini
menyebar luas hampir ke setiap daerah tropis ataupun subtropis
seperti India, Cina, Malaysia, Filipina, dan Australia (Dalimarta,
2000).
d. Kandungan Kimia
Herba meniran banyak mengandung beberapa zat kimia
yaitu:
flavonoid
seperti
kuersetin,
kuersitrin,
isokuersitrin,
astragalin, rutin, serta kaempferol-4-ramnopiranosid, eridiktol-7ramnopiranosid, nirurin, nirurisid, filantin, hipofilantin, triterpen,
dan alkaloid sekurinin (ASEAN, 2004); Lignan; Tanin; Alkaloid;
Saponin (Bagalkotkar et al., 2006).
e. Khasiat Tanaman
Meniran adalah salah satu tumbuhan obat Indonesia yang
telah lama digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan
berbagai penyakit seperti diuretik, ekspektoran dan pelancar
haid. Selain itu herba meniran juga digunakan untuk pengobatan
sembab (bengkak), infeksi dan batu saluran kencing, kencing
9
nanah,
menambah
nafsu
makan,
diare,
radang
usus,
konjungtivitas, hepatitis, sakit kuning, rabun senja, sariawan,
digigit anjing gila, rabun senja, dan rematik gout (Hutapea dan
Syamsuhidayat, 1991).
Herba meniran telah terbukti mempunyai berbagai efek
farmakologis, antara lain sebagai hepatoprotektif (Munjrekar et
al., 2008), antidiabetes (Nwanjo, 2007) dan antioksidan (Ahmeda
et al. 2005).
Berdasarkan penelitan Maat (1996) menunjukkan bahwa
meniran mempunyai efek terhadap respon imun nonspesifik
maupun spesifik. Efeknya terhadap respon imun nonspesifik
yaitu meningkatkan fagositosis dan kemotaksis makrofag,
kemotaksis neutrofil, sitotoksisitas sel NK dan aktivitas hemolisis
komplemen,
sedangkan
terhadap
respon
imun
spesifik,
pemberian ekstrak meniran meningkatkan proliferasi sel limfosit
T, meningkatkan sekresi TNF-α dan IL-4 serta menurunkan
aktivitas sekresi IL-2 dan IL-10. Uji klinis terhadap manusia juga
telah dilakukan dan menunjukkan bahwa ekstrak meniran
meningkatkan kadar IFNγ, kadar CD4 dan rasio CD4/CD8.
2. Pembuatan Simplisia
Pembuatan Simplisia
a) Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda
antara lain tergantung pada :
1) Bagian tanaman yang digunakan.
2) Umur tanaman yang digunakan.
3) Waktu panen.
4) Lingkungan tempat tumbuh.
Waktu
panen
sangat
erat
hubungannya
dengan
pembentukan senyawa aktif di dalam bagian tanaman yang akan
dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman
10
tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang
terbesar.
b) Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran
atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya
pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahanbahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar
yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah
mengandung bermacam-macam mikroba dalam jurnlah yang
tinggi, oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang
terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal.
c) Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan
pengotoran lainnya yang melekat pada bahan simplisia.
Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata
air, air sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung
zat yang mudah larut di dalam air, pencucian agar dilakukan
dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Menurut Frazier (1978), pencucian sayur-sayuran satu kali
dapat menghilangkan 25% dari jumlah mikroba awal, jika
dilakukan pencucian sebanyak tiga kali, jumlah mikroba yang
tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba awal. Pencucian tidak
dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air
pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah
mikroba. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis
dan jumlah rnikroba awal simplisia.
Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor,
maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat
bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan
tersebut dapat menipercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang
umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Proteus,
11
Micrococcus,
Bacillus,
Streptococcus,
Enterobacter
dan
Escherishia. Pada simplisia akar, batang atau buah dapat pula
dilakukan pengupasan kulit luarnya untuk mengurangi jumlah
mikroba awal karena sebagian besar jumlah mikroba biasanya
terdapat pada permukaan bahan simplisia. Bahan yang telah
dikupas tersebut mungkin tidak memerlukan pencucian jika cara
pengupasannya dilakukan dengan tepat dan bersih.
d) Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses
perajangan.
Perajangan
mempermudah
proses
bahan
simplisia
pengeringan,
dilakukan
untuk
pengepakan
dan
penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung
dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari.
Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin
perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan
dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat
penguapan air, sehingga mempercepat waktu pengeringan.
Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga dapat menyebabkan
berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah
menguap
seperti
minyak
atsiri.
Sehingga
mempengaruhi
komposisi bau dan rasa yang diinginkan. Selama perajangan
seharusnya jumlah mikroba tidak bertambah. Penjemuran
sebelum perajangan diperlukan untuk mengurangi pewarnaan
akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Pengeringan
dilakukan dengan sinar matahari selama satu hari.
e) Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia
yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu
yang
lebih
lama.
Dengan
mengurangi
kadar
air
dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu
12
atau perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia
pada kadar tertentu dapat merupakan media pertumbuhan
kapang dan jasad reniklainnya. Enzim tertentu dalam sel, masih
dapat bekerja, menguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel
mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung
kadar air tertentu. Pengeringan simplisia dilakukan dengan
menggunakan sinar matahari atau menggunakan suatu alat
pengering. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses
pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembaban udara,
aliran udara, waktu pengeringan dan luas permukaan bahan.
Cara pengeringan yang salah dapat mengakibatkan terjadinya
“Face hardening”, yakni bagian luar bahan sudah kering
sedangkan bagian dalamnya masih basah. Hal ini dapat
disebabkan oleh irisan bahan simplisia yang terlalu tebal, suhu
pengeringan yang terlalu tinggi, atau oleh suatu keadaan lain
yang menyebabkan penguapan air permukaan bahan jauh lebih
cepat daripada difusi air dari dalam ke permukaan tersebut,
sehingga permukaan bahan menjadi keras dan menghambat
pengeringan selanjutnya. Ini dapat mengakibatkan kerusakan
atau kebusukan di bagian dalarn bahan yang dikeringkan.
Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan
cara pengeringannya. Bahan simplisia dapat dikeringkan pada
suhu 30o sampai 90°C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak
melebihi 60°C. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif
yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus dikeringkan
pada suhu serendah mungkin, misalnya 30o sampai 45o C, atau
dengan cara pengeringan vakum yaitu dengan mengurangi
tekanan udara di dalam ruang atau lemari pengeringan,
sehingga
tekanan
kira-kira
5
mmHg.
Kelembaban
juga
tergantung pada bahan simplisia,cara pengeringan, dan tahap
tahap selama pengeringan. Kelembaban akan menurun selama
13
berlangsungnya proses pengeringan. Berbagai cara pengeringan
telah dikenal dan digunakan orang. Pada dasarnya dikenal dua
cara pengeringan yaitu pengeringan secara alamiah dan buatan.
1) Pengeringan Alamiah.
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian
tanaman
yang dikeringkan, dapat dilakukan dua cara
pengeringan :
(a) Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan
untuk mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras
seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya, dan
rnengandung senyawa aktif yang relatif stabil. Dengan
cara ini kecepatan pengeringan sangat tergantung kepada
keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan di
daerah yang udaranya panas atau kelembabannya
rendah, serta tidak turun hujan. Hujan atau cuaca yang
mendung dapat memperpanjang waktu pengeringan
sehingga
memberi
kesempatan
pada
kapang
atau
mikroba lainnya untuk tumbuh sebelum simplisia tersebut
kering.
(b) Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan
sinar matahari langsung. Cara ini terutama digunakan
untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti
bunga, daun, dan sebagainya dan mengandung senyawa
aktif mudah menguap.
2) Pengeringan Buatan
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan
dengan
sinar
matahari
dapat
diatasi
jika
melakukan
pengeringan buatan, yaitu dengan menggunakan suatu alat
atau mesin pengering yang suhu kelembaban, tekanan dan
aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan buatan
adalah sebagai berikut: “udara dipanaskan oleh suatu sumber
14
panas seperti lampu, kompor, mesin disel atau listrik, udara
panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari
yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah
disebarkan di atas rak-rak pengering”. Dengan prinsip ini
dapat diciptakan suatu alat pengering yang sederhana, praktis
dan murah dengan hasil yang cukup baik.
Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh
simplisia dengan mutu yang lebih baik karena pengeringan
akan lebih merata dan waktu pengeringan akan lebih cepat,
tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca.
f) Sortasi Kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap
akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan
benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak
diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masill ada dan
tertinggal pada sirnplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum
sirnplisia dibungkus untuk kernudian disimpan. Seperti halnya
pada sortasi awal, sortasi disini dapat dilakukan dengan atau
secara mekanik. Pada simplisia bentuk rimpang sering jurnlah
akar yang melekat pada rimpang terlampau besar dan harus
dibuang. Demikian pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan
benda-benda tanah lain yang tertinggal harus dibuang sebelum
simplisia dibungkus.
3. Proses Ekstraksi
Proses ekstraksi bertujuan untuk memperoleh ekstrak zat aktif
dari bahan dasar. Bahan yang akan diekstrak haruslah dalam
keadaan kering karena keberadaan air dalam jaringan bahan bisa
melindungi komponen penting dalam bahan dari masuknya penyari
untuk mengikat senyawa organik dalam bahan (Harbourne, 1987),
kadar air pada bahan juga dapat menurunkan efisiensi proses
15
ekstraksi karena titik didihnya yang lebih tinggi dibandingkan pelarut
organik memperlama proses pemekatan (Yudiastuti et al., 2007).
Beberapa macam metode Ekstraksi :
a. Maserasi
Proses ekstraksi yang digunakan dengan metode maserasi
merupakan teknik perendaman dengan pelarut tertentu untuk
bahan yang tidak tahan panas. Mekanisme pelarutan zat aktif
dengan menembusnya penyari melalui dinding sel tanaman dan
masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif sehingga
zat aktif akan larut. Selama proses maserasi, rendaman disimpan
di tempat yang jauh dari sinar cahaya langsung untuk mencegah
perubahan warna dan reaksi yang tidak diinginkan (Voight 1994;
Indraswari, 2008).
Maserasi merupakan proses penyarian yang sederhana yaitu
dengan cara merendam sampel dalam pelarut yang sesuai
selama 3×5 hari. Prinsip maserasi, Pelarut akan menembus ke
dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, sehingga akan larut
karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dengan yang di luar sel, maka senyawa kimia yang
terpekat didesak ke luar. Peristiwa tersebut berulang sehingga
terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di
dalam sel.
b. Sokletasi
Sokletasi
adalah
metode
penyarian
secara
berulang-ulang
senyawa bahan alam dengan menggunakan alat soklet. Sokletasi
merupakan
teknik
penyarian
dengan
pelarut
organik
menggunakan alat soklet. Pada cara ini pelarut dan sampel
ditempatkan secara terpisah. Prinsipnya adalah penyarian yang
dilakukan berulang-ulang sehingga penyarian lebih sempurna dan
pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyarian telah selesai
maka pelarutnya dapat diuapkan kembali dan sisanya berupa
16
ekstrak yang mengandung komponen kimia tertentu. Penyarian
dihentikan bila pelarut yang turun melewati pipa kapiler tidak
berwarna dan dapat diperiksa dengan pereaksi yang cocok.
c. Perkolasi
Merupakan teknik penyarian dengan pelarut organik yang sesuai
secara lambat menggunakan alat perkolator. Prinsip Perkolator :
Merendam sampel dengan derajat kehalusan tertentu, selama 3
jam dalam bejana tertutup. Tuang dg cairan penyari secukupnya
hingga cairan penyari menetes (bahan harus terendam cairan
penyari). Tutup perkolator selama 24 jam. Biarkan cairan menetes
selam 1 ml/menit, tambahkan berulang-ulang cairan penyari
secukupnya hingga diperoleh 100 bagian perkolat. Pada cara ini
pelarut dialirkan melewati sampel sehingga penyarian lebih
sempurna. Tapi metoda ini membutuhkan pelarut yang relatif
banyak.
d. Digestasi
Digestasi adalah proses penyarian yang sama seperti maserasi
dengan menggunakan pemanasan pada suhu 30-40oC. Metoda ini
digunakan untuk simplisia yang tersari baik pada suhu biasa.
e. Infusa
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia
nabati dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit, kecuali
dinyatakan lain, dilakukan dengan cara sebagai berikut : simplisia
dengan derajat kehalusan tertentu dimasukkan kedalam panci dan
ditambahkan air secukupnya, panaskan diatas penangas air
selama 15 menit, dihitung mulai suhu 90 oC sambil sesekali
diaduk, serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air
panas secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume
infus yang dikehendaki.
17
f. Dekokta
Proses penyarian dengan metoda ini hampir sama dengan infus,
perbedaanya terletak pada lamanya waktu pemanasan yang
digunakan. Dekokta membutuhkan waktu pemanasan yang lebih
lama dibanding metoda infus, yaitu 30 menit dihitung setelah suhu
mencapai 90oC. Metoda ini jarang digunakan karena proses
penyarian kurang sempurna dan tidak dapat digunakan untuk
mengekstraksi senyawa yang termolabil.
g. Fraksinasi
Fraksinasi merupakan teknik pemisahan atau pengelompokan
kandungan kimia ekstrak berdasarkan kepolaran. Pada proses
fraksinasi digunakan dua pelarut yang tidak bercampur dan
memiliki tingkat kepolaran yang berbeda. Tujuan fraksinasi adalah
memisahkan senyawa-senyawa kimia yang ada di dalam ekstrak
berdasarkan
tingkat
kepolarannya.
Senyawa-senyawa
yang
bersifat non polar akan tertarik oleh pelarut non polar seperti
heksan & pertolium eter. Senyawa yg semipolar seperti golongan
terpenoid dan alkaloid akan tertarik oleh pelarut semi polar seperti
etil asetat & DCM. Senyawa-senyawa yang bersifat polar seperti
golongan flavonoid dan glikosida akan tertarik oleh pelarut polar
seperti butanol dan etanol.
4. Permen Jeli
Gambar 2.2 Permen jelly
Sumber : http://febbynaura.blogspot.co.id/
18
Definisi permen secara umum adalah produk yang dibuat
dengan mendidihkan campuran bahan bersama pewarna dan
pemberi rasa sampai tercapai kadar air kurang lebih 30% (Buckle et
al., 1987). Permen merupakan produk pangan yang banyak
digemari. Permen adalah sejenis gula-gula (confectionary) yang
dibuat dengan mencairkan gula di dalam air. Perbedaan tingkat
pemanasan menentukan jenis permen yang dihasilkan. Suhu yang
panas menghasilkan permen keras, suhu menengah menghasilkan
permen lunak, dan suhu dingin menghasilkan permen kenyal.
Permen dinikmati karena rasa manisnya (Anonim 2006).
Salah satu jenis permen yang banyak beredar saat ini adalah
Permen jelly. Permen jelly termasuk permen lunak yang memiliki
tekstur kenyal (elastis). Permen jelly merupakan permen yang dibuat
dari air atau
sari buah dan bahan pembentuk gel, yang
berpenampilan jernih trasnsparan serta mempunyai tekstur dengan
kekenyalan tertentu. Metode pembuatan meliputi pencampuran gula
yang dimasak dengan bahan yang diperlukan dan penambahan
bahan pembentuk gel seperti gelatin sehingga menghasilkan cita
rasa dan aroma yang menarik.
Permen jelly memerlukan bahan pelapis berupa campuran
tepung tapioka dan tepung gula. Guna bahan pelapis ini adalah
untuk membuat permen tidak melekat satu sama lain dan juga
menambah rasa sehingga bertambah manis. Umumnya permen dari
gelatin dilapisi dengan tepung pati kering untuk membentuk lapisan
luar yang tahan lama dan, menghasilkan bentuk gel yang baik.
Perbandingan komposisi bahan pelapis permen jelly terbaik adalah
tepung tapioka : tepung gula (1 : 1).
5. Bahan Pembentuk Permen Jelly
a. Basis pembentuk jelly / Geling agent
1) Gelatin dapat berfungsi sebagai pembentuk gel, pemantap
emulsi, pengental, penjernih, pengikat air dan pengemulsi.
19
Menurut Glicksman (1982), gelatin tidak larut dalam air dingin
tetapi jika terjadi kontak dengan air dingin akan mengembang
membentuk
gelembung-gelembung
yang
besar.
Jika
dipanaskan pada suhu sekitar 71 °C, gelatin akan larut karena
pecahnya agregat molekul dan membentuk dispersi koloid
makromolekuler. Jika gelatin dipanaskan dalam larutan gula
maka suhu yang diperlukan adalah diatas 82 °C.
2) Karagenan merupakan salah satu gelling agent yang dapat
digunakan pada pembuatan permen jelly. Karagenan dipakai
secara luas dalam industri makanan sebagai bahan pengental,
pengemulsi, dan penstabil. Karagenan bersifat hidrokoloid
yang terdiri dari dua senyawa utama, senyawa pertama
bersifat mampu membentuk gel dan senyawa kedua mampu
membuat cairan menjadi kental. (Tranggono dkk., 1991).
3) Pektin adalah suatu komponen serat yang terdapat pada
lapisan lamella tengah dan dinding sel primer (Sirotek, 2004
dalam Daryono, 2012). Pektin merupakan pangan fungsional
bernilai tinggi yang berguna secara luas dalam pembentukan
gel dan bahan penstabil pada sari buah, bahan pembuatan jeli,
jam dan marmalade (Williams et al., 2006 dalam Daryono,
2012).
b. Sirup Glukosa
Sirup glukosa yang mempunyai nama lain dectrose adalah salah
satu produk bahan pemanis makanan dan minuman yang
berbentuk cairan, tidak berbau dan tidak berwarna tetapi memiliki
rasa manis yang tinggi. Sirup glukosa atau sering juga disebut
gula cair dibuat melalui proses hidrolisis pati. Perbedaannya
dengan gula pasir yaitu, gula pasir (sukrosa) merupakan gula
disakarida, sedangkan sirup glukosa adalah monosakarida, terdiri
atas satu monomer yaitu glukosa. Sirup glukosa dapat dibuat
dengan cara hidrolisis asam atau dengan cara enzimatis. Dari
20
kedua cara tersebut, pembuatan sirup glukosa secara enzimatis
dapat
dikembangkan
di
pedesaan
karena
tidak
banyak menggunakan bahan kimia sehingga aman dan tidak
mencemarilingkungan. Bahan lain yang diperlukan adalah enzim
amilase (anonim,2006).
c. Sukrosa
Penambahan sukrosa dalam pembuatan produk makanan
berfungsi untuk memberikan rasa manis, dan dapat pula sebagai
pengawet,
yaitu
dalam
konsentrasi
tinggi
menghambat
pertumbuhan mikroorganisme dengan cara menurunkan aktivitas
air dari bahan pangan. Sukrosa merupakan disakarida yang
banyak terdapat di pasaran. Sukrosa banyak terdapat pada tebu,
bit, siwalan dan kopyor. Kelarutan sukrosa dalam air sangat tinggi
dan jika dipanaskan kelarutannya makin bertambah tinggi. Jika
dipanaskan sukrosa akan membentuk cairan jernih yang segera
akan berubah warna menjadi coklat membentuk karamel.
d. Asam Sitrat
Asam sitrat berfungsi sebagai pemberi rasa asam dan
mencegah kristalisasi gula. Selain itu asam sitrat juga berfungsi
sebagai katalisator hidrolisa sukrosa ke bentuk gula invert selama
penyimpanan serta sebagai penjernih gel yang dihasilkan.
Keberhasilan pembuatan jelly tergantung dari derajat keasaman
untuk mendapatkan pH yang diperlukan. Nilai pH dapat diturunkan
dengan penambahan sejumlah kecil asam sitrat. Penambahan
asam sitrat dalam permen jelly beragam tergantung dari bahan
baku pembentuk gel yang digunakan. Banyaknya asam sitrat yang
ditambahkan dalam permen jelly berkisar 0.2 – 0.3 persen.
e. Pewarna
Untuk menambahkan warna pada permen jelly, supaya
permen jelly yang dibuat memiliki sifat visual yang menarik.
21
f. Aroma dan perasa
Untuk menambahkan cita rasa pada permen jelly dan
meningkatkan daya tarik serta ciri khas dari permen jelly.
6. Pengujian Permen Jelly
a. Uji kadar air (basis basah) (Sudarmadji dkk, 1997)
Pertama-tama, cawan bersih kosong dikeringkan dalam oven
bersuhu kurang lebih 1050C selama satu jam. Kemudian
didinginkan dalam desikator selama kurang lebih 15 menit dan
ditimbang beratnya. Permen jelly ditimbang sebanyak 2 g
dengan menggunakan wadah cawan petri yang telah diketahui
beratnya dan dioven pada suhu 100-1050C selama 3 jam.
Selanjutnya didinginkan dalam desikator , lalu bahan tersebut
ditimbang. Permen jelly kemudian dipanaskan kembali dalam
oven selama 30 menit, kemudian didinginkan dalam desikator
lalu ditimbang. Perlakuan diulang hingga diperoleh berat
konstan.
b. Uji pH
Uji evaluasi pH bertujuan mengetahui keamanan sediaan
permen. Derajat keasaman pH permen jelly sebaiknya di
sesuaikan dengan Standar Pangan Nasional. Pengujian pH
dilakukan ketika permen jelly masih dalam bentuk larutan.
Dengan cara mencelupkan pH meter ke dalam larutan tersebut.
c. Uji Organoleptik (Rampengan dkk, 1985)
Penilaian organoleptik dilakukan terhadap warna, rasa, aroma,
tekstur dan kekenyalan pada permen jelly ekstrak meniran
(Phyllantus niruri L). Pengujian meliputi homogenitas warna,
kecerahan warna, aroma yang sesuai dengan essens, rasa
yang dominan, tekstur permen jelly, serta kekenyalan permen
jelly, dengan hasil berupa skala nominal.
22
7. Syarat Mutu Permen Jelly
Tabel 2.1 Syarat Mutu Permen Jelly
No
Kriteria Uji
1
a.
b.
c.
d.
2
3
Keadaan
Bau
Rasa
Warna
Tekstur
Kadar air
pH*
Satuan
Persyaratan
% fraksi massa
-
Normal
Normal
Merata
Lembut – kenyal
Maks. 20,0
5,5 – 7
- Menurut SNI- 3547.2-2008
- * diambil dari hasil penelitian Udin (2013)
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Berikut
ini
dikemukakan
penelitian
yang
relevan
dengan
membahas permasalahan yang sesuai dengan penelitian ini, yaitu :
“Pengaruh pemberian ekstrak Phyllanthus niruri L terhadap fungsi
fagositosis makrofag pada mencit BALB/C yang diinfeksi Salmonella
Typhimurium” oleh Galuh A yang memaparkan bahwa dosis meniran
yang digunakan yaitu sehari 3 kali 50 mg untuk dewasa. Serta sehari 3
kali 25 mg untuk anak-anak.
Hasil penelitian yang lainnya adalah “Pembuatan permen jelly dari
buah nanas (Ananas comosus L.) subgrade (kajian konsentrasi
karagenan dan gelatin)” oleh Susinggih Wijana, Arie Febrianto dan
Theresia DyanTiara Septivirta yang memaparkan mengenai formulasi
permen jelly serta penambahan beberapa konsentrasi karagenan
terhadap formula yang menghasilkan permen jelly dengan kualitas
sesuai standar.
23
C. Kerangka Berpikir
Ekstrak etanol
meniran (Phyllantus niruri L)
Formulasi Permen Jelly ekstrak meniran
(Phyllantus niruri L) menggunakan basis
karagenan dengan beberapa konsentrasi
Uji evaluasi permen jelly meliputi :
Uji kadar air, uji pH, dan uji
organoleptik
Hasil sesuai
standar
Hasil tidak
sesuai standar
Gambar. 2.1 Bagan Kerangka Berfikir
D. Hipotesis
Permen jeli ekstrak meniran (Phyllantus niruri L) dengan menggunakan
basis karagenan akan menghasilkan permen jelly yang memenuhi
standar kualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Atmaka, W., Nurhartadi,E., Karim,M. (2013) Pengaruh Penggunaan
Campuran Karaginan dan Konjak terhadap Karakteristik Permen
Jelly
Temulawak
(Curcuma
xanthorrhiza
Roxb.).
Jurnal
Teknosains pangan Vol.2 No 2. Universitas Sebelas Maret
[internet] ISSN : 2302-0733.
www.ilmupangan.fp.uns.ac.id [diakses : 15 Januari 2016]
Depkes RI. (2008). Farmakope Herbal Indonesia Edisi I. [internet].
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/handle/123456789/3656
[diakses : 30 Januari 2016]
Hariana, A. (2013). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta : Penebar
Swadaya
Hasyim, H., Rahim, A., Rostiati. (2015). Karakteristik Fisik Kimia dan
Organoleptik Permen Jelly dari Sari Buah Srikaya pada Variasi
Konsentrasi agar-agar. Universitas Tadukalo. [internet]. e-j.
Agrotekbis 3(4) : 463-474.
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php [diakses: 30 Januari 2016]
Jumri., Yusmarini., Herawati, N. (2015). Mutu Permen Jelly buah Naga
Merah (Hylocereus polyrhizus) dengan Penambahan Karagenan
dan Gom Arab. Universitas Riau. [internet]. Jom Faperta 2 (1)
Februari.
http://jom.unri.ac.id/index.php/jomfaperta/article/download/5261/51
40 [diakses : 23 Januari 2016]
Koswara, S. (2009). Teknologi Pembuatan Permen. [internet]. Ebook
pangan.com.
http://tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/teknologipembuatan-pangan [diakses : 08 Desember 2015]
Rahmi,S., Tafzi, F., Anggraini, S. (2012). Pengaruh Penambahan Gelatin
terhadap Pembuatan Permen Jelly dari Bunga Rosella (Hibuscus
sabdariffa Linn). Jurnal penelitian Universitas Jambi : Seri Sains.
[internet].
http://online-journal.unja.ac.id/index.php/sains/article/view/520
[diakses 08 Desember 2015]
Wijana, S., Mulyadi, A., Tiara, T. (2014). Pembuatan Permen Jelly dari
Buah Nanas (Ananas comosus L) Subgrade (Kajian Konsentrasi
Karagenan dan Gelatin). Universitas Brawijaya. [internet].
http://skripsitipftp.staff.ub.ac.id/files/2014/10/theresia-dyanseptivirta-pdf [diakses : 30 Januari 2016]
Yani, H. (2006). Karakteristik Fisika Kimia Permen Jelly dari Rumput Laut
Eucheuma spinosum dan Eucheuma cottoni. Jurnal Penelitian
Institut Pertanian Bogor. [internet]
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/49122 [diakses : 15
Februari 2016]
Download