bab iv penilaian dalam mata pelajaran sejarah indonesia

advertisement
PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN MATA PELAJARAN
SEJARAH INDONESIA DALAM KURIKULUM 2013
SEKOLAH MENENGAH ATAS/SEKOLAH MENENGAH
KEJURUAN/MADRASAH ALIYAH/MADRASAH ALIYAH
KEJURUAN (SMA/SMK/MA/MAK)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
JAKARTA, 2016
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………….
I.
2
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………………………..
3
B. Tujuan ………………………………………………………………………..
4
C. Ruang Lingkup ……………………………………………………………..
4
D. Sasaran ………………………………………………………………………. 4
II. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA
A. Pengertian ……………………………………………………………………
5
B. Rasional ………………………………………………………………………
5
C. Tujuan ………………………………………………………………………..
7
D. Ruang Lingkup ……………………………………………………………..
7
III. DESAIN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SEJARAH
INDONESIA
A. Pendekatan Pembelajaran dalam Mata Pelajaran Sejarah
Indonesia …………………………………………………………………….
9
B. Strategi dan Metode Pembelajaran …………………………………….
11
C. Membuat Rancangan Pembelajaran …………………………………..
13
D. Model-Model Pembelajaran Mata Pelajaran Sejarah Indonesia
15
IV. PENILAIAN
Bentuk dan Teknik Penilaian ……………………………………………….
22
1. Penilaian Sikap ……………………………………………………………..
22
2. Penilaian Pengetahuan ……………………………………………………
27
3. Penilaian Keterampilan …………………………………………………... 31
V. MEDIA DAN SUMBER BELAJAR …………………………………………... 33
VI. GURU MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA DALAM
PEMBELAJARAN ABAD KE-21 ……………………………………………..
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
36
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan sebagaimana dijelaskan dalam UU no. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Inilah rumusan tujuan pendidikan yang utuh dan ideal.
Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan tersebut maka diperlukan
guru yang profesional. Terkait dengan profesionalisme guru maka
diperlukan buku Pembelajaran dan Penilaian Mata Pelajaran Sejarah
Indonesia. Buku ini dikembangkan atas dasar Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar
Proses, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 59
Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah
Atas/Madrasah Aliyah, dan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan nomor 103 Tahun 2013 tentang Pembelajaran, Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 53 Tahun 2015 tentang
Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan.
Secara implementatif, terselenggaranya Kurikulum 2013 mutlak
memerlukan keterlibatan berbagai komponen. Salah satu komponen
yang sangat penting adalah guru. Bahkan guru dikatakan sebagai ujung
tombak dan garda terdepan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan
nasional. Guru adalah subjek yang pertama kali bersentuhan langsung
dengan peserta didik dalam proses pendidikan melalui berbagai aktivitas
pembelajaran di kelas. Guru sejarah Indonesia harus memiliki
kemampuan dalam mengelola pembelajaran dimulai dari merencanakan
pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta
menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran (Pasal 20 UU Guru dan
Dosen). Dalam pembelajaran, guru Sejarah Indonesia dituntut
menumbuhkembangkan minat peserta didik dalam belajar Sejarah dan
memberi keyakinan kepada peserta didik tentang pentingnya Sejarah
sebagai instrumen pendidikan karakter bangsa.
Buku Pembelajaran dan Penilaian tersebut dikembangkan mengacu
pada perubahan kurikulum dari Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013,
dimana mata pelajaran Sejarah Indonesia mengalami beberapa inovasi.
Inovasi yang dimaksud meliputi struktur mata pelajaran Sejarah yang
terbagi menjadi dua bagian yaitu mata pelajaran Sejarah Indonesia yang
wajib diikuti oleh peserta didik di SMA/MA dan SMK/MAK serta mata
pelajaran Sejarah yang masuk dalam program peminatan atau menjadi
pilihan pada lintas minat di SMA/MA. Pendidikan Sejarah Indonesia
dirancang untuk membekali peserta didik dengan keterampilan dan cara
berpikir Sejarah, pengembangan nilai-nilai kebangsaan, pengembangan
inspirasi, dan mengaitkan peristiwa nasional dengan peristiwa daerah
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
3
dan dunia dalam satu rangkaian Sejarah Indonesia. Inovasi ini akan
membawa pendidikan Sejarah Indonesia menjadi wahana pendidikan
yang ampuh dalam membangun manusia Indonesia dalam menghadapi
tantangan global, dan mampu menjadi warga dunia yang tetap
berkepribadian Indonesia.
Aspek-aspek inovasi itu dielaborasi dalam bentuk buku pembelajaran
dan penilaian mata pelajaran Sejarah Indonesia bagi guru. Keberhasilan
implementasi Kurikulum 2013 sangat ditentukan oleh kemampuan guru
dalam melaksanakan inovasi-inovasi tersebut di kelas. Buku ini juga
memberikan petunjuk teknis dalam mengembangkan penilaian hasil
belajar, pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan
memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar yang sesuai untuk
mata pelajaran Sejarah Indonesia yang ada di masyarakat sekitar dan
yang juga bersifat penerapan teknologi informasi.
B.Tujuan
Buku ini sebagai petunjuk bagi pengawas, kepala sekolah, guru mata
pelajaran Sejarah Indonesia, dan pemangku kepentingan lain untuk
memahami proses pembelajaran Sejarah Indonesia.
1. Tujuan umum
Secara umum tujuan buku ini bertujuan memberikan petunjuk teknis
bagi guru mata pelajaran Sejarah Indonesia agar memiliki wawasan
dan kemampuan untuk merancang, melaksanakan pembelajaran, dan
melakukan penilaian otentik dalam pembelajaran sejarah Indonesia,
sehingga tujuan pembelajaran sejarah Indonesia dapat tercapai.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus buku ini antara lain guru:
a. Memahami karakteristik mata pelajaran Sejarah Indonesia,
termasuk menguasai ide dan konsep inovatif pendidikan Sejarah
Indonesia, materi ajar, proses pembelajaran, dan penilaian hasil
belajar.
b. Memahami jiwa Kurikulum 2013 dan alur pengembangan KI dan
KD.
c. Memahami prinsip-prinsip pembelajaran Sejarah Indonesia
berdasarkan pendekatan ilmiah (scientific approach).
d. Memahami dan menerapkan strategi dan berbagai model
pembelajaran serta menentukan model yang tepat sesuai dengan
topik pembelajaran.
e. Memahami dan menerapkan berbagai jenis media dan sumber
belajar serta menentukan media dan sumber belajar yang tepat
sesuai dengan topik dan lingkungan.
f. Memahami dan menerapkan penilaian otentik serta menentukan
teknik dan instrumen penilaian yang tepat sesuai dengan
karakteristik mata pelajaran Sejarah Indonesia.
g. Memahami peran guru mata pelajaran Sejarah Indonesia dalam
pembelajaran abad ke-21.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup buku Pembelajaran dan Penilaian mata pelajaran Sejarah
Indonesia meliputi; pendahuluan, karakteristik mata pelajaran Sejarah
Indonesia, desain pembelajaran mata pelajaran Sejarah Indonesia,
penilaian mata pelajaran Sejarah Indonesia, media dan sumber belajar
mata pelajaran Sejarah Indonesia, serta peran guru mata pelajaran
Sejarah Indonesia dalam pembelajaran abad ke-21.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
4
D. Sasaran
Pengguna buku Pembelajaran dan Penilaian ini adalah Dinas Pendidikan,
Pengawas, Kepala Sekolah, Guru Sejarah Indonesia, Orang Tua, dan
pemangku kepentingan lainnya.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
5
BAB II
KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA
A. Pengertian
1. Sejarah adalah aktivitas kehidupan manusia pada masa lampau
dalam konsep ruang dan waktu.
2. Ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari masa lampau manusia
dalam berinteraksi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; yang
bermakna bagi masa kini dan bermanfaat untuk merancang
kehidupan di masa depan/datang.
3. Pendidikan Sejarah merupakan suatu proses internalisasi nilai-nilai,
pengetahuan dan keterampilan kesejarahan yang dirancang dan
disusun sedemikian rupa untuk kepentingan tujuan pendidikan.
4. Mata pelajaran Sejarah Indonesia pada jenjang pendidikan SMA/MA
dan SMK/MAK mengkaji berbagai peristiwa sejarah bangsa Indonesia
pada masa lampau dan pengaruhnya terhadap kehidupan bangsa
pada masa kini serta merancang kehidupan bangsa di masa depan.
5. Peristiwa daerah adalah suatu peristiwa lokal yang terjadi di wilayah
sekitar peserta didik (desa, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi)
yang terkait atau tidak terkait dengan peristiwa Nasional dan dikaji
dengan menggunakan cara berpikir diakronik dan sinkronik.
6. Sejarah Nasional adalah berbagai peristiwa yang terjadi di wilayah
Indonesia yang dianggap oleh pemerintah sebagai bagian dari
perjalanan sejarah bangsa dan berkontribusi terhadap perjuangan
bangsa Indonesia serta memiliki makna dan pengaruh terhadap
masyarakat secara nasional.
7. Keterampilan Berpikir Sejarah adalah kemampuan peserta didik
menggunakan berpikir kronologis/diakronik, sinkronik, konsep
sejarah seperti perubahan (change), keberlanjutan (continuity), hukum
sebab-akibat dalam mempelajari peristiwa sejarah.
B. Rasional
Mata pelajaran Sejarah Indonesia merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dengan pendidikan sejarah. Mata pelajaran
Sejarah
Indonesia merupakan mata pelajaran wajib di jenjang pendidikan
menengah (SMA/MA dan SMK/MAK). Sejarah memiliki makna dan posisi
yang strategis, mengingat kehidupan manusia pada masa kini
merupakan kelanjutan dari kehidupan masa lampau yang kearifannya
dapat dijadikan pijakan bagi kehidupan masa depan.
Sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas
manusia dalam konteks waktu dan ruang. Waktu dapat menunjukkan
suatu perkembangan, sedangkan ruang dapat menunjukkan suatu
tempat atau wilayah. Dalam konteks Sejarah Indonesia, keruangan yang
dimaksud adalah wilayah Indonesia.Sedangkan waktu adalah periodesasi
Sejarah Indonesia yang bersifat kronologis. Kurun waktu yang ada dalam
Sejarah Indonesia akan menunjukkan berbagai peristiwa dan dalam
setiap peristiwa-peristiwa tersebut akan muncul tokoh-tokoh yang
berperan. Tokoh-tokoh ini lah yang kemudian dapat menjadi pahlawan.
Pahlawan ialah sosok yang mampu melampaui dirinya sendiri, dimana
dalam dirinya terkandung nilai-nilai kebaikan yang bersifat pribadi
maupun sosial. Mempelajari perjuangan para pahlawan dalam sejarah
memiliki nilai-nilai edukatif yang dapat dijadikan teladan atau contoh
dalam pembentukan kepribadian peserta didik.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
6
Sejarah Indonesia memberikan dasar pengetahuan kepada peserta didik
dalam memahami kehidupan masa lampau bangsa, yang berpengaruh
pada kehidupan bangsa masa kini dan akan berpengaruh dalam
membangun kehidupan bangsa di masa yang akan datang. Peristiwa
tentang kehidupan manusia di masa lampau dapat dijadikan guru
kehidupan: Historia Magistra Vitae, yang mengandung nilai seperti
kejujuran, inisiatif, kepemimpinan, kebangsaan, toleransi, dan kearifan
yang dapat dijadikan teladan dan contoh bagi kehidupan masa kini.
Sejarah Indonesia meliputi berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di
Indonesia, ditujukan untuk membangun memori kolektif sebagai bangsa
agar mengenal jati diri dan menjadikannya sebagai landasan dalam
membangun persatuan dan kesatuan maupun untuk berkontribusi
membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa yang akan datang.
Sejarah Indonesia dikembangkan atas dasar :
a. Semua wilayah/daerah memiliki kontribusi terhadap perjalanan
Sejarah Indonesia mulai dari periode asal-usul adanya kehidupan
manusia di Indonesia hingga sekarang;
b. Pemahaman tentang masa lampau sebagai sumber inspirasi, motivasi,
dan kekuatan untuk membangun semangat kebangsaan dan
persatuan;
c. Setiap periode Sejarah Indonesia memiliki peristiwa dan tokoh di
tingkat nasional dan daerah serta keduanya memiliki kedudukan yang
sama penting dalam perjalanan Sejarah Indonesia;
d. Tugas dan tanggung jawab untuk memperkenalkan peristiwa sejarah
yang penting dan terjadi di seluruh wilayah NKRI serta seluruh periode
sejarah kepada generasi muda bangsa.
C. Tujuan
Mata pelajaran Sejarah Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut :
1. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari
bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air,
melahirkan empati dan perilaku toleran yang dapat diimplementasikan
dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat dan bangsa.
2. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap diri sendiri,
masyarakat, dan proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui
sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa
yang akan datang.
3. Mengembangkan perilaku yang didasarkan pada nilai dan moral yang
mencerminkan karakter diri, masyarakat, dan bangsa.
4. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya konsep
waktu dan tempat/ruang dalam rangka memahami perubahan dan
keberlanjutan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di
Indonesia.
5. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap
peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di
masa lampau.
6. Mengembangkan kemampuan berpikir historis (historical thinking) yang
menjadi dasar untuk kemampuan berpikir logis, kreatif, inspiratif, dan
inovatif.
7. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan
berbagai sumber seperti buku teks, buku referensi, dokumen,
narasumber, atau pun artefak serta memberi kesempatan yang luas
untuk menghasilkan “her or his own histories”
8. Menanamkan sikap berorientasi kepada masa kini dan masa depan.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
7
D. Ruang Lingkup
Mata pelajaran Sejarah Indonesia membahas materi yang meliputi zaman
:
1. Praaksara;
2. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha;
3. Kerajaan-kerajaan Islam;
4. Penjajahan bangsa Eropa;
5. Pergerakan Nasional;
6. Proklamasi dan Perjuangan mempertahankan kemerdekaan;
7. Demokrasi Liberal;
8. Demokrasi Terpimpin;
9. Orde Baru; dan
10. Reformasi.
Kompetensi yang
Indonesia, yaitu;
Kelas
X






XII
di
dalam
pembelajaran
Sejarah
Kompetensi

XI
dikembangkan

Menganalisis peristiwa sejarah
Mengaitkan antara satu peristiwa sejarah dengan peristiwa
sejarah lainnya.
Menganalisis makna/nilai suatu peristiwa sejarah yang
ada dalam kehidupan masa kini dan bagi dirinya
Menganalisis untuk menentukan pokok pikiran (konsep
atau teori) pada suatu cerita sejarah dalam kehidupan
bangsa masa kini.
Menganalisis fakta dan hubungan sebab akibat suatu
peristiwa sejarah menurut kriteria internal (berdasarkan
pemahaman peserta didik).
Mengevaluasi makna/nilai suatu peristiwa sejarah yang
ada dalam kehidupan masa kini dan bagi dirinya
Mengevaluasi fakta dan hubungan sebab akibat suatu
peristiwa sejarah menurut kriteria eksternal (berdasarkan
pendapat yang sudah teruji dan berlaku secara umum).
Mencipta atau merekonstruksi dalam bentuk tulisan
tentang peristiwa sejarah dan maknanya bagi kehidupan
dirinya, masyarakat, dan bangsa.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
8
BAB III
DESAIN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA
A. Pendekatan Pembelajaran dalam Mata Pelajaran Sejarah Indonesia
Pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah Indonesia menggunakan
pendekatan pembelajaran berbasis peserta didik aktif (active learning).
Pendekatan pembelajaran ini lebih memungkinkan memberikan kesempatan
bagi peserta didik untuk melakukan pembelajaran agar lebih bermakna jika
peserta didik mengalami sendiri setiap proses pembelajaran melalui aktivitas
yang aktif. Pengetahuan yang didapatkan peserta didik tidak hanya berasal dari
informasi guru, namun juga berasal dari usaha eksplorasi (menggali) informasi
peserta didik sendiri melalui aktivitas pembelajaran yang dilakukan. Misalnya
peserta didik diminta untuk melakukan wawancara kepada tokoh atau pelaku
sejarah untuk menyusun kisah sejarah.
Pembelajaran Sejarah Indonesia ini terkait dengan pengembangan nilai-nilai
kebangsaan dan nasionalisme, oleh karena itu pendekatan pembelajaran
berbasis nilai penting juga untuk dikembangkan. Nilai-nilai kesejarahan atau
nilai kebangsaan dapat dihayati dan diamalkan oleh peserta didik pada
kehidupan sehari-hari.
Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan,dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, serta perkembangan fisik dan
psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian
proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian
kompetensi lulusan.
Dalam melakukan pembelajaran, guru perlu memerhatikan prinsip-prinsip
pembelajaran.sebagai berikut: (1) dari pesertadidik diberi tahu menuju peserta
didik mencari tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dan dari tidak mau
menjadi mau, (2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi
belajar berbasis aneka sumber belajar; (3) dari pendekatan tekstual menuju
pendekatan proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; (4) dari
pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; (5)
dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; (6) dari pembelajaran
yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang
kebenarannya multi dimensi; (7) dari pembelajaran verbalisme menuju
keterampilan aplikatif; (8) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan
fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); (9) pembelajaran yang
mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai
pembelajar sepanjang hayat; (10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai
dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan
(ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik
dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); (11) pembelajaran yang
berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; (12) pembelajaran yang
menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta
didik, dan di mana saja adalah kelas; (13) pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
(14) pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta
didik.
Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific) dipilih sebagai pendekatan dalam
pembelajaran dalam kurikulum 2013. Peserta didik secara aktif membangun
pengetahuannya sendiri melalui aktivitas ilmiah seperti mengamati, menanya,
mengumpulkan
informasi,
menalar/mengasosiasi/merekonstruksi
cerita
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
9
sejarah, dan mengomunikasikan. Masing-masing aktivitas tersebut dijabarkan
di bawah ini.
Langkah
Pembelajaran
Mengamati
(observing)
Menanya
(questioning)
Deskripsi
Kegiatan
Bentuk Hasil
Belajar
mengamati dengan
indra (membaca,
mendengar,
menyimak,
melihat,
menonton, dan
sebagainya)
dengan atau tanpa
alat
perhatian pada
waktu
mengamati suatu
objek/membaca
suatu
tulisan/mendeng
ar suatu
penjelasan,
catatan yang
dibuat tentang
yang diamati,
kesabaran,
waktu (on task)
yang digunakan
untuk
mengamati
jenis, kualitas,
dan jumlah
pertanyaan yang
diajukan peserta
didik (pertanyaan
faktual,
konseptual,
prosedural, dan
hipotetik)
membuat dan
mengajukan
pertanyaan, tanya
jawab, berdiskusi
tentang informasi
yang belum
dipahami,
informasi
tambahan yang
ingin diketahui,
atau sebagai
klarifikasi.
Mengumpulkan mengeksplorasi,
informasi/mencobmencoba,
a (experimenting) berdiskusi,
mendemonstrasik
an, meniru
bentuk/gerak,
melakukan
eksperimen,
membaca sumber
lain selain buku
teks,
mengumpulkan
data dari nara
sumber melalui
angket,
wawancara, dan
memodifikasi/
menambahi/meng
embangkan
Menalar/
mengolah
Mengasosiasi
informasi yang
(associating)
sudah
dikumpulkan,
Contoh dalam
pembelajaran
Sejarah
Indonesia
Mengamati
bentuk bangunan
candi Borobudur
Membuat dan
mengajukan
pertanyaan
berkenaan dengan
relief candi,
bentuk candi
(yang dilakukan
siswa)
jumlah dan
kualitas sumber
yang
dikaji/digunakan
, kelengkapan
informasi,
validitas
informasi yang
dikumpulkan,
dan
instrumen/alat
yang digunakan
untuk
mengumpulkan
data.
Mengumpulkan
dan membaca
literatur tentang
candi Borobudur
mengembangkan
interpretasi,
argumentasi dan
kesimpulan
Dari hasil
informasi tentang
candi Borobudur,
diketahui; relief
candi Borobudur
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
10
menganalisis data
dalam bentuk
membuat kategori,
mengasosiasi atau
menghubungkan
fenomena/informa
si yang terkait
dalam rangka
menemukan
suatu pola, dan
menyimpulkan.
Mengomunikasikanmenyajikan
(communicating)
laporan dalam
bentuk bagan,
diagram, atau
grafik; menyusun
laporan tertulis;
dan menyajikan
laporan meliputi
proses, hasil, dan
kesimpulan secara
lisan
mengenai
keterkaitan
informasi dari
dua
fakta/konsep,
interpretasi
argumentasi dan
kesimpulan
mengenai
keterkaitan lebih
dari dua
fakta/konsep/teo
ri, menyintesis
dan argumentasi
serta kesimpulan
keterkaitan
antarberbagai
jenis
fakta/konsep/teo
ri/ pendapat;
mengembangkan
interpretasi,
struktur baru,
argumentasi, dan
kesimpulan yang
menunjukkan
hubungan
fakta/konsep/teo
ri dari dua
sumber atau
lebih yang tidak
bertentangan;
mengembangkan
interpretasi,
struktur baru,
argumentasi dan
kesimpulan dari
konsep/teori/pe
nda-pat yang
berbeda dari
berbagai jenis
sumber.
menyajikan hasil
kajian (dari
mengamati
sampai menalar)
dalam bentuk
tulisan, grafis,
media elektronik,
multi media dan
lain-lain
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
tentang
perdagangan,
kisah sang
Buddha...
Menyusun
laporan hasil
kajian tentang
candi Borobudur
11
B. Strategi dan Metode Pembelajaran
Implementasi pendekatan saintifik seperti yang diharapkan dalam
Kurikulum 2013 memerlukan strategi yang berbeda dengan kurikulum
sebelumnya. Dalam hal ini diperlukan pendayagunaan sumberdaya yang
dimiliki sekolah secara efektif agar guru dan peserta didik dapat
melaksanakan kegiatan pembelajaran secara efektif. Beberapa strategi
yang dapat ditempuh untuk mencapai hal tersebut adalah:
1. Sumberdaya guru
a. Guru merancang kegiatan pembelajaran secara rinci pada awal
semester agar memiliki gambaran utuh aktivitas pembelajaran dan
jadwal pelaksanaannya.
b. Guru mata pelajaran Sejarah Indonesia merancang skenario
pembelajaran, sumberdaya yang diperlukan, lokasi kegiatan, untuk
setiap pertemuan.
c. Dalam proses perancangan kegiatan pembelajarannya, guru mata
pelajaran Sejarah Indonesia menjalin komunikasi atau koordinasi
dengan guru mata pelajaran lainnya untuk merancang aktivitas
yang akan dilaksanakan bersama, termasuk tema, lokasi, jadwal
serta sumberdaya yang diperlukan.
d. Guru menyiapkan sumber belajar, media pembelajaran yang
bervariasi
(multimedia),
data
dan
informasi
pendukung
pembelajaran, misalnya peta letak obyek tertentu, gambar-gambar
tokoh, film sejarah.
e. Guru melakukan review terhadap keterlaksanaan kegiatan
pembelajaran dilihat dari waktu, lokasi, sumberdaya, ketersediaan
data dan informasi, serta kesediaan lembaga mitra jika akan
melakukan kunjungan.
f. Guru membangun jejaring dengan lembaga lain dalam kaitannya
dengan kegiatan pembelajaran, misalnya lembaga pemerintah dan
swasta, obyek-obyek sejarah.
2. Sumberdaya Peserta Didik
a. Peserta didik dibiasakan berfikir kritis melalui proses pengamatan
terhadap obyek atau peristiwa yang terjadi di lingkungan
sekitarnya maupun di lingkungan yang lebih luas.
b. Peserta didik dibiasakan mengajukan sejumlah pertanyaan dan
pendapat dari apa yang diamatinya.
c. Peserta didik dibiasakan menelusuri data dan infomasi untuk
mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukannya.
d. Peserta didik dibiasakan mengolah data dan informasi yang
diperolehnya.
e. Peserta didik dibiasakan mencoba atau melakukan percobaan
untuk
menjawab
atau
membuktikan
pertanyaan
yang
diajukannya.
f. Peserta didik dibiasakan menganalisis data dan infomasi yang
diperolehnya.
g. Peserta didik dibiasakan untuk membuat kesimpulan atau
generalisasi dari hasil analisisnya.
h. Peserta didik dibiasakan berkolaborasi dalam kegiatan
pembelajaran dengan sesama temannya.
i. Peserta didik dibiasakan untuk berinteraksi dengan lembagalembaga yang ada di masyarakat sebagai sumber data dan
informasi.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
12
3. Kelas
a. Kelas dirancang agar memenuhi tuntutan kegiatan pembelajaran
yang bervariasi, termasuk susunan tempat duduk peserta didik
dan suasana yang kondusif misalnya ada gambar-gambar obyek
sejarah, maket dan seterusnya.
b. Kelas dilengkapi dengan sarana pendukung pembelajaran,
misalnya perangkat multimedia.
c. Kelas dilengkapi dengan berbagai sumber pembelajaran, terutama
akses terhadap buku dan internet.
4. Sekolah
a. Sekolah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana untuk
mendukung kegiatan pembelajaran yang bervariasi, baik di dalam
kelas maupun di luar kelas, terutama perpustakaan.
b. Sekolah melakukan pengaturan atau alokasi sumberdaya dan
jadwal untuk semua mata pelajaran agar tercipta sinergitas antar
mata pelajaran.
c. Sekolah menata lingkungan sekitar atau halaman sekolahnya
untuk mendukung kegiatan pembelajaran di luar kelas.
d. Sekolah membuat sejumlah kebijakan yang mendukung
terlaksananya pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan
kurikulum 2013.
e. Sekolah menjalin kemitraan dengan masyarakat dan lembaga
lainnya untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran, baik
kemitraan dalam bentuk pemanfaatan sarana dan prasarana
lembaga mitra maupun sumberdaya manusia sebagai sumber
belajar.
f. Sekolah
melakukan
monitoring
dan
evaluasi
tentang
keterlaksanaan kurikulum.
5. Lingkungan Masyarakat Sekitar
a. Lingkungan masyarakat sekitar dapat dijadikan lokasi kegiatan
pembelajaran.
b. Lingkungan masyarakat sekitar dapat dijadikan sumber
pembelajaran.
c. Lingkungan masyarakat sekitar dapat diberdayakan untuk
memberikan kontribusi dan dukungan terhadap kegiatan di
sekolah. Ini lebih cocok untuk mengembangkan budaya sekolah,
diperluas dengan kerjasama dengan guru mata pelajaran lain.
C. Membuat Rancangan Pembelajaran
Salah satu tugas guru sebelum melakukan pembelajaran adalah
membuat rancangan pembelajaran. Rancangan pembelajaran ini penting
karena menjadi patokan atau rambu-rambu bagi seorang guru ketika
melakukan pembelajaran, sehingga pembelajaran berjalan lebih terarah.
Rancangan pembelajaran tersebut disebut Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP). RPP memiliki 3 bagian yang masing-masing adalah
kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.
1. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan ini, yang dilakukan guru adalah:
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
13
a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti
proses pembelajaran;
b. memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai
manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari,
dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan
internasional;
c. mengajukan
pertanyaan-pertanyaan
yang
mengaitkan
pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
d. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang
akan dicapai; dan
e. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan
sesuai silabus.
2. Kegiatan Inti
Kegiatan
inti
menggunakan
model
pembelajaran,
metode
pembelajaran, media
pembelajaran, dan sumber belajar yang
disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.
Dalam proses pembelajaran ini ditekankan pada pendekatan
pembelajaran
saintifik
yang
mengembangkan
kompetensi
mengamati,
menanya,
mengumpulkan
informasi,
menalar
/mengasosiasi/ merekonstruksi, dan mengomunikasikan. Sementara
model yang dikembangkan misalnya pembelajaran berbasis masalah,
pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran discovery.
Pemilihan pendekatan dan model pembelajaran ini harus juga
disesuaikan dengan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang
pendidikan.
a. Sikap
Sesuai dengan karakteristik sikap, maka salah satu alternatif yang
dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan,
menghargai, menghayati hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas
pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang
mendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas tersebut.
b. Pengetahuan
Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas menerima pengetahuan dan
menyimpannya dalam memori untuk diingat. Pengetahuan yang
diingat tersebut dipanggil kembali untuk menjawab pertanyaan
yang bersifat mengingat. Selanjutnya pengetahuan (fakta, konsep,
prosedur) diolah sehingga mencapai tingkat memahami,
dilanjutkan dengan menerapkan terutama konsep dan prosedur,
menganalisis suatu sumber untuk menentukan bagian-bagian dari
informasi juga keterkaitan antarbagian serta menemukan pikiran
pokok dari informasi yang dikaji, mengevaluasi kekuatan dan
kelemahan atau keunggulan informasi yang dikaji, hingga
mencipta suatu pengetahuan baru atau karya lainnya (benda,
diagram dan sebagainya) yang disajikan dalam makalah atau
media lainnya. Karakteristik aktivititas belajar dalam domain
pengetahuan ini memiliki perbedaan dan kesamaan dengan
aktivitas belajar dalam domain keterampilan. Untuk memperkuat
pendekatan pembelajaran saintifik
sangat disarankan untuk
menerapkan
belajar
berbasis
penyingkapan/penelitian
(discovery/inquiry learning). Untuk mendorong peserta didik
menghasilkan karya kreatif dan kontekstual, baik individual
maupun kelompok, disarankan menggunakan pendekatan
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
14
pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan
masalah (project based learning).
c. Keterampilan
Keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi, mengasosiasi, menyaji, dan mencipta.
Seluruh isi materi (topik dan subtopik) mata pelajaran yang
diturunkan dari keterampilan harus mendorong peserta didik
untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. Untuk
mewujudkan keterampilan tersebut perlumelakukan pembelajaran
yang menerapkan modus belajar berbasis penyingkapan/
penelitian (discovery/inquirylearning) dan pembelajaran yang
menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based
learning). Keterampilan yang perlu dikembangkan dalam mata
pelajaran Sejarah Indonesia adalah keterampilan berfikir sejarah
dan menggunakan berbagai konsep sejarah.
3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru bersama peserta didik baik secara
individual
maupun
kelompok
melakukan
refleksi
untuk
mengevaluasi:
a. seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang
diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat
langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang
telah berlangsung;
b. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
c. melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas,
baik tugas individual maupun kelompok; dan
d. menginformasikan
rencana
kegiatan
pembelajaran
untuk
pertemuan berikutnya.
D. Model Pembelajaran Mata Pelajaran Sejarah Indonesia
Banyak model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran
Sejarah Indonesia. Sesuai dengan karateristik Kurikulum 2013, minimal
ada tiga model yang penting untuk dikembangkan dalam pembelajaran
Sejarah Indonesia yaitu model pembelajaran berbasis masalah,
pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran menemukan (discovery).
1. Model-Model Pembelajaran
1.1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning)
ini sangat mendukung implementasi Kurikulum 2013, terutama
yang terkait dengan tahapan proses pembelajaran. Melalui
kegiatan pembelajaran berbasis masalah ini peserta didik akan
mendapat pengetahuan penting yang membuat mereka mahir
dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri
serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses
pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik
untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang
nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
a. Pengertian
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model
pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual
sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam
kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah,
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
15
peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah
dunia nyata (real world). Pembelajaran berbasis masalah
merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang
peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja
secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan
dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk
mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu.. Masalah
diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik
mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan
masalah yang harus dipecahkan.
b. Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis
masalah
Tujuan dan hasil pengembangan model pembelajaran
berbasis masalah antara lain:
1) Mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan
memecahkan masalah
2) Menerapkan pemodelan dalam rangka menjembatani gap
antara
pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas
mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah.
3) Mengembangkan
pembelajaran
mandiri/Belajar
pengarahan sendiri (self directed learning). Mengingat
pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta
didik, maka peserta didik harus dapat menentukan
sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi
harus diperoleh dengan bimbingan guru.
c. Langkah-langkah Operasional
Secara sederhana John Dewey merumuskan enam langkah
dalam pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:
Merumuskan masalah:
1) guru membimbing peserta didik untuk mengidentifikasi
dan merumuskan masalah yang akan dikaji/dipecahkan.
2) Menganalisis masalah: mendeskripsikan secara kritis
masalah itu dari berbagai sudut pandang.
3) Merumuskan
hipotesis:
merumuskan
berbagai
kemungkinan pemecahan masalah.
4) Mengumpulkan data: mencari dan mengumpulkan
berbagai sumber dan informasi untuk memecahkan
masalah.
5) Pengujian hipotesis, dan
6) Merumuskan rekomendasi.
1.2. Model Pembelajaran Berbasis Proyek
a. Pengertian
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
adalah
model
pembelajaran
yang
menggunakan
proyek/kegiatan
sebagai
wahana.
Peserta
didik
melakukan eksplorasi, penilaian tentang sumber sejarah,
melakukan interpretasi, sintesis, dan informasi untuk
menghasilkan
berbagai
bentuk
hasil
belajar.
Pembelajaran
Berbasis
Proyek
adalahkegiatan
pembelajaran dimana peserta didik memilih suatu
peristiwa sejarah untuk dijadikan proyek studinya selama
1 bulan, atau beberapa bulan. Dalam pembelajaran ini
peserta didik melakukan kegiatan investigasi, membuat
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
16
keputusan dan memberikan kesempatan peserta didik
untuk
bekerja
mandiri
dan
mengembangkan
kreativitasnya. Dalam pembelajaran ini peserta didik
melakukan
investigasi,
membuat keputusan dan
memberikan kesempatan peserta didik untuk bekerja
mandiri dan mengembangkan kreativitasnya.
b. Karakteristik
Pembelajaran Berbasis Proyek memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk memilih peristiwa sejarah
yang
tercantum
dalam
satu
semester
dan
mengerjakannya sebagai tugas proyek untuk semester
tersebut.
Melalui
pembelajaran
berbasis
proyek
diharapkan peserta didik akan menghasilkan her/his own
history.
c. Langkah-Langkah Operasional
Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek meliputi:
1) Peserta didik menentukan/memilih peristiwa sejarah
yang akan dikaji.
2) Mengkaji bahan/informasi awal yang dimiliki/tersedia.
3) Penentuan pertanyaan mendasar
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial,
yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan
peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.
Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia
nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi
mendalam. Pendidik berusaha agar topik yang diangkat
relevan untuk para peserta didik.
4) Mendesain perencanaan proyek
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara
pendidik dan peserta didik. Dengan demikian peserta
didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek
tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main,
pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam
menjawab
pertanyaan
esensial,
dengan
cara
mengintegrasikan berbagai subyek, dan mengetahui
alat serta bahan yang dapat diakses untuk membantu
penyelesaian proyek.
5) Menyusun Jadwal
Pendidik dan peserta didik secara kolaboratif
menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan
proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1)
membuat rentang waktu untuk menyelesaikan proyek,
(2) membuat tenggat waktu penyelesaian proyek, (3)
membawa peserta didik agar merencanakan cara yang
baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka
membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek,
dan (5) meminta peserta didik untuk membuat
penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
6) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek
Pendidik bertanggungjawab untuk melakukan monitor
terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan
proyek.
Monitoring
dilakukan
dengan
cara
memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan
kata lain pendidik berperan menjadi mentor bagi
aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
17
monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam
keseluruhan aktivitas yang penting.
7) Menguji Hasil
Penilaian dilakukan untuk membantu pendidik dalam
mengukur ketercapaian standar, berperan dalam
mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik,
memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman
yang sudah dicapai peserta didik, membantu pendidik
dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
8) Mengevaluasi Pengalaman
Pada akhir proses pembelajaran, pendidik, dan peserta
didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil
proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi
dilakukan baik secara individu maupun kelompok.
Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama
menyelesaikan proyek. Pendidik dan peserta didik
mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki
kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada
akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry)
untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada
tahap pertama pembelajaran.
Peran pendidik dan peserta didik dalam pelaksanaan
Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.
1.3. Model Pembelajaran Menemukan (Discovery Learning Model)
a. Pengertian
Model Discovery Learning adalah teori belajar yang
didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi apabila
peserta didik tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk
finalnya,
tetapi
diharapkan
mengorganisasi
sendiri.
Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery Learning
can be defined as the learning that takes place when the
student is not presented with subject matter in the final form,
but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam
Emetembun, 1986:103). Dasar ide pembelajaran ini ialah
pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus
berperan aktif dalam belajar di kelas.
Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai
prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem
Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah
ini. Pada pembelajaran
discovery
menekankan pada
ditemukannya konsep atau prinsip atau generalisasi tetapi
konsep, prinsip, atau generalisasi itu sudah diketahui atau
direkayasa oleh guru, sementara kalau inkuiri masalahnya
bukan hasil rekayasa, sehingga peserta didik harus
mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk
mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui
proses penelitian.
b. Langkah-langkah Operasional
Langkah-langkah pembelajaran model discoverylearning,
meliputi:
a. Stimulasi/Pemberian Rangsangan(stimulation)
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
18
Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan
pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru
dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan
pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar
lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan
masalah. Tema-tema yang problematik dan kontroversi
cocok dengan model pembelajaran discovery, karena peserta
didik dilatih untuk menemukan jawaban di tengah-tengah
problem dan kontroversial. Misalnya pertanyaan tentang
teori-teori manakah yang paling tepat tentang masuknya
pengaruh Hindu Buddha ke Indonesia? Benarkah agama
dan kebudayaan Hindu-Buddha dibawa oleh kaum
pedagang?
b. Pernyataan/ Identifikasi Masalah(problem statement)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah
guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengidentifikasi tentang berbagai teori tentang masuknya
pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesiasebanyak mungkin
masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian
memilih teori mana yang paling tepat di antara berbagai
teori tersebut, dapat dirumuskan dalam bentuk hipotesis
(jawaban sementara atas pertanyaan masalah)
c. Pengumpulan Data(data collection)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi
kesempatan
kepada
para
peserta
didik
untuk
mengumpulkan sumber sejarah dan informasi sebanyakbanyaknya yang relevan untuk membuktikan teori mana
yang paling tepat dengan berbagai argumentasinya untuk
membuktikan hipotesis yang sudah dirumuskan. Pada
tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar tidaknya hipotesis
Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk
mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan,
membaca literatur, mengamati obyek, wawancara dengan
nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar
secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan
dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian
secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan
masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Kegiatan
yang dapat dilakuakn misalnya studi pustaka, observasi,
wawancara. Selanjutnya peserta didik juga dilatih untuk
melakukan kritik sumber atau menyeleksi data/informasi
yang diperoleh, dipilih yang relevan dengan pemecahan
masalah.
d. Pengolahan Data(data processing)
Pengolahan
data
merupakan
kegiatan
mengolah
data/informasi yang telah dikaji atau mengolah sumber
sejarah yang telah dilakukan kritik sumber sampai dengan
menafsirkan.
e. Pembuktian (verification)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara
cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis
yang ditetapkan. Verification menurut Bruner, bertujuan
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
19
agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif
jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau
pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam
kehidupannya.
f. Menarik Kesimpulan/Generalisasi (generalization)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses
menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah
yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsipprinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik
kesimpulan peserta didik harus memerhatikan proses
generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan
pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang
luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta
pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari
pengalaman-pengalaman itu.
2. Pemilihan Model Pembelajaran
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Model pembelajaran meliputi di dalamnya ada
pendekatan, strategi atau metode pembelajaran dari yang sederhana
sampai metode yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan
kemampuan seorang guru dalam memilih model pembelajaran yang
tepat bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model
pembelajaran guru harus memerhatikan keadaan atau kondisi
peserta didik, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada
agar penggunaan model pembelajaran dapat diterapkan secara efektif
dan efisien menunjang keberhasilan belajar peserta didik. Seperti
telah
diuraikan
sebelumnya
bahwa
Kurikulum
2013
memperkenalkan pendekatan saintifik dengan menggunakan modelmodel pembelajaran yang relevan. Pemilihan model pembelajaran
didasarkan atas analisis terhadap tuntutan Kompetensi Dasar,
kegiatan pembelajaran dan penilaian yang sudah dirumuskan pada
silabus. Berikut ini disajikan contoh pemilihan model pembelajaran
yang dapat diterapkan berdasarkan hasil analisis tuntutan
Kompetensi Dasar, kegiatan pembelajaran dan penilaian:
Kompetensi Dasar
Penilaian
Analisis Materi
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
Model
Pembelajaran
20
3.1 Memahami
dan menerapkan
konsepberpikir
kronologis
(diakronik),
sinkronik,ruang
dan waktu dalam
sejarah.
Membuat laporan
dalam bentuk
tulisan tentang
cara berfikir
kronologis,
sinkronik, ruang
dan waktu
dalam sejarah.
Cara Berfikir
Kronologis dan
Sinkronik dalam
mempelajari
Sejarah
3.2 Memahami
corak kehidupan
masyarakatpada
zaman praaksara.
Membuat laporan 
dalam bentuk
tulisan mengenai
kehidupan zaman
praaksara di
Indonesia.
Model
Pembelajaran
Berbasis
Penemuan
(discovery)
 Cara berfikir
kronologis
dalam
mempelajari
sejarah
 Cara berfikir
sinkronik
dalam
mempelajari
sejarah
 Konsep ruang
dan waktu
Indonesia
Zaman
Praaksara:
awal
kehidupan
manusia
Indonesia
Model
Pembelajaran
Berbasis
Problem
 Awal
kehidupan
masyarakat
Indonesia
 Asal-usul
nenek moyang
bangsa
Indonesia
 Kebudayaan
zaman
praaksara
3.3 Menganalisis
asal-usul nenek
moyang bangsa
Indonesia (Proto,
Deutero Melayu
dan Melanesoid).
3.4 Menganalisis
berdasarkan
tipologi hasil
budaya Praaksara
Indonesia
termasuk yang
berada di
lingkungan
terdekat.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
21
3.5 Menganalisis
berbagai teori
tentangproses
masuk dan
berkembangny
a agama dan
kebudayaan
HinduBuddha
diIndonesia.
3.6 Menganalisis
karakteristik
kehidupanma
syarakat,
pemerintahan,
dankebudayaa
n pada masa
kerajaankerajaanHind
u-Buddha di
Indonesiaserta
menunjukkan
contoh buktibuktiyang
masih berlaku
pada
kehidupanma
syarakat
Indonesia
masa kini.
3.7 Menganalisis
berbagai teori
tentangproses
masuk
dan
berkembangny
aagama
dan
kebudayaan
Islam
diIndonesia.
Indonesia Zaman
Hindu-Buddha:
Silang Budaya
Lokal dan Global
Tahap Awal
 Teori -teori
masuk dan
berkembangny
a HinduBuddha
 Kerajaankerajaan
Hindu-Buddha
di Indonesia
 Bukti-bukti
Kehidupan dan
hasil-hasil
kebudayaan
pengaruh
Hindu-Buddha
yang masih
ada pada saat
ini
Membuat laporan
dalam bentuk
tulisan mengenai
perkembangan
kerajaankerajaan Islam
dan hasil-hasil
kebudayaannya
di Indonesia
Indonesia
Zaman HinduBuddha: Silang
Budaya Lokal
dan Global
Tahap Awal
Model
Pembelajaran
Berbasis Proyek
 Teori -teori
masuk dan
berkembangny
a HinduBuddha
 Kerajaankerajaan
HinduBuddha di
Indonesia
 Bukti-bukti
Kehidupan
dan hasilhasil
kebudayaan
pengaruh
HinduBuddha yang
masih ada
pada saat ini
Perkembangan
KerajaanKerajaan Islam
di Indonesia
Model
Pembelajaran
Berbasis Proyek
 Teori-teori
masuk dan
berkembangny
a Islam
 Kerajaankerajaan Islam
di Indonesia
 Bukti-bukti
Kehidupan
dan hasil-hasil
budaya
pengaruh
Islam yang
masih ada
pada saat ini
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
22
3.8 Menganalisis
karakteristik
kehidupanmasyar
akat,
pemerintahan
dankebudayaan
pada masa
kerajaankerajaanIslam di
Indonesia
danmenunjukan
contoh buktibukti yangmasih
berlaku pada
kehidupanmasyar
akat Indonesia
masa kini.
BAB IV
PENILAIAN DALAM MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA
A. Bentuk dan Teknik Penilaian Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan
Penilaian mata pelajaran Sejarah Indonesia seperti halnya pada mata
pelajaran lain pada Kurikulum 2013 meliputi penilaian sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
1. Penilaian Sikap
Penilaian sikap berbentuk kebiasaan yang didasarkan pada nilai yang
dimiliki peserta didik. Kebiasaan tersebut terlihat dalam perilaku
peserta didik. Bentuk perilaku dinyatakan dalam ucapan, cara
berpikir, cara bersikap, dan bertindak. Nilai-nilai tersebut berkembang
pada diri peserta didik dalam suatu proses internalisasi. Proses
internalisasi dimulai dari pengetahuan tentang nilai kemudian
dilanjutkan dalam proses penentuan apakah nilai tersebut dianggap
baik untuk dirinya atau tidak. Jika dianggap tidak baik bagi dirinya
maka nilai tersebut akan ditolak tetapi jika dianggap baik maka terjadi
proses internalisasi nilai. Penilaian afektif meliputi:
Aspek
Penilaian
Pengetahuan
tentang Nilai,
Sikap, Perilaku
Sikap
Perilaku
Indikator Teramati
Ungkapan tertulis, ucapan lisan
tentang pengertian mengenai
nilai, sikap, dan perilaku
Ungkapan tertulis, ucapan lisan,
mimik, tindakan
Kata yang diucapkan, cara kerja,
cara berpikir, tindakan
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
Instrumen
Tes, Tugas
Tes Sikap Likert,
Semantik
Diferensial,
Observasi, Tugas
Observasi, Tugas
23
Teknik dan instrumen yang dapat digunakan untuk menilai
kompetensi pada aspek sikap, yaitu:
a. Observasi
Merupakan
teknik
penilaian
yang
dilakukan
secara
berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format
observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.Hal
ini dilakukan saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran. Agar
penilaian sikap melalui observasi dapat terarah dan obyektif maka
diperlukan panduan. Panduan observasi adalah alat/instrumen
yang dikembangkan untuk merekam berbagai perilaku seperti
ucapan, mimik, tindakan yang dilakukan peserta didik baik pada
waktu ketika proses belajar-mengajar di kelas, kegiatan di sekolah,
atau pun kegiatan lain yang dilaksanakan berdasarkan program
belajar suatu mata pelajaran Observasi dilakukan terintegrasi
dengan proses pembelajaran.Ketika masuk kelas sebelum membuka
pelajaran, sambil memberi salam guru mengamati seluruh kelas.
Pengamatan
itu
dilangsungkan
sepanjang
proses
pembelajaran.Pengamatan
yang
dilakukan
bersifat
alami
sebagaimana yang sudah biasa dilakukan guru dan tidak langsung
memfokuskan pada setiap anak peserta didik satu persatu.
Observasi adalah bagian yang terintegrasi selama proses
pembelajaran berlangsung, tidak seperti observasi dalam penelitian
yang memperhatikan setiap peserta didik secara khusus dalam
ukuran waktu tertentu.
Panduan observasi digunakan untuk merekam hasil belajar berupa
sikap dan perilaku yang bersifat deskriptif atau terbuka, tidak
preskriptif atau tertutup sebagaimana dalam penilaian hasil belajar
pengetahuan. Observasi yang dimaksudkan di sini berbeda dari
catatan anekdot (anecdotal record). Catatan anekdot tidak terencana
dan merekam suatu peristiwa hanya apabila peristiwa itu muncul.
Observasi untuk penilaian sikap dilakukan secara terencana setiap
hari dan merekam peristiwa/perilaku muncul atau tidak muncul.
Suatu peristiwa/kejadian yang tidak muncul atau tidak dilakukan
peserta didik tetap dihitung sebagai suatu kejadian tetapi
perekamannya seperti catatan anekdot yaitu hanya pada perilaku
peserta didik yang dianggap istimewa dalam arti positif maupun
negatif.
Instrumen panduan observasi membantu guru untuk merekam
perilaku yang ditunjukkan peserta didik dalam bentuk rekaman
yang dapat dipelajari walaupun perilaku itu sudah berlalu. Dengan
demikian, guru memiliki waktu yang cukup untuk mengkaji hasil
rekaman observasi dan mengulang kajian tersebut setiap saat
diperlukan. Dengan cara demikian maka pemaknaan terhadap
perilaku tersebut menjadi lebih baik.
Contoh: Format Observasi
Tanggal: ..............................................................................
Hari
: ..............................................................................
Nama Peserta
Perilaku Yang Ditampilkan
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
24
Didik
Ahmad *)
Dewi Antasari
Hamid
Wijayanto
Catatan: berisikan situasi atau kondisi khusus (bukan yang terjadi
sehari-hari) ketika suatu perilaku muncul.
*) Nama peserta didik dapat diisi ketika pada hari/tanggal observasi,
peserta didik yang bersangkutan menunjukkan perilaku teramati.
b. Penilaian Diri
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik
untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam
konteks pencapaian
kompetensi. Instrumen yang digunakan
berupa lembar penilaian diri.
Penilaian ini dilakukan oleh peserta didik, guru menyediakan format
seperti contoh berikut ini;
Nama
Kelas
Semester
Waktu penilaian
:
:
:
:
Petunjuk
:
1. Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda (√) pada
kolom yang sesuai dengan keadaan dirimu yang sebenarnya.
2. Serahkan kembali format yang sudah kamu isi kepada
bapak/ibu guru
No
Pernyataan
1
Saya berusaha belajar dengan sungguhsungguh
2
Saya mengikuti pembelajaran dengan
penuh perhatian
3
Saya mengerjakan tugas yang diberikan guru
tepat waktu
4
Saya mengajukan pertanyaan jika ada yang
tidak dipahami
5
Saya berperan aktif dalam kelompok
6
Saya menyerahkan tugas tepat waktu
7
Saya selalu membuat catatan hal-hal yang
saya lakukan
8
Saya merasa menguasai dan dapat mengikuti
Anggappenting
9
kegiatanpembelajarandenganbaik
Saya
menghormati dan menghargai orang tua
10
Saya menghormati dan menghargai teman
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
Ya
Tidak
25
No
11
Pernyataan
Ya
Tidak
Saya menghormati dan menghargai guru
Keterangan:
1. Penilaian persepsi diri peserta didik untuk mencocokkan persepsi
diri peserta didik dengan kenyataan yang ada.
2. Hasil penilaian persepsi diri peserta didik digunakan sebagai
dasar guru untuk melakukan bimbingan dan motivasi lebih
lanjut.
3. Penilaian diri untuk SD/MI dilaksanakan pada kelas tinggi (4, 5,
dan 6), dan untuk SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK dapat
dilaksanakan mulai kelas awal.
Penilaian diri dilakukan di awal dan diakhir semester pertama,
diakhir semester 3-6. Hasil penilaian diri di semester pertama
dijadikan informasi dasar untuk dibandingkan pada semester
berikutnya dalam suatu profil sikap peserta didik. Teknik penilaian
dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait
dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik. Instrumen yang
digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik. Sebagaimana
halnya Penilaian Diri, Penilaian Sejawat dilakukan di awal dan akhir
semester pertama dan akhir setiap semester berikutnya. Hasilnya
merupakan profil yang menggambarkan sikap sosial seorang peserta
didik. Hasil Penilaian Sejawat dapat dikembangkan menjadi
sosiogram
yang
menggambarkan
komunikasi
yang
terjadi
antarpeserta didik.
Teknik penilaian ini dilakukan dengan cara meminta peserta didik
untuk menilai sikap temannya. Instrumen yang digunakan berupa
lembar penilaian antar peserta didik yang dirancang oleh guru seperti
contoh berikut ini.
c. Penilaian Antarteman
Nama teman yang dinilai
Nama penilai
Kelas
Semester
Waktu penilaian
:
:
:
:
:
Petunjuk :
1. Amati perilaku temanmu selama mengikuti kegiatan pelajaran.
2. Isilah kolom yang tersedia dengan tanda cek (√) jika temanmu
menunjukkan perilaku yang sesuai dengan pernyataan untuk
indikator yang kamu amati atau tanda strip (-) jika temanmu tidak
menunjukkan perilaku tersebut.
3. Serahkan hasil pengamatan kepada bapak/ibu pendidik.
No
Pernyataan
1
Berusaha belajar dengan sungguh-sungguh
2
Mengikuti pembelajaran dengan penuh
perhatian
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
ya
tidak
26
No
3
4
Pernyataan
ya
tidak
Mengerjakan tugas yang diberikan guru
tepat waktu
Mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak
dipahami
5
Berperan aktif dalam kelompok
6
Menyerahkan tugas tepat waktu
7
Selalu membuat catatan hal-hal yang
dianggap baik
8
Menguasai dan dapat mengikuti kegiatan
Penting
Pembelajaran dengan baik
9
Menghormati dan menghargai teman
10
Menghormati dan menghargai guru
Keterangan:
1. Penilaian antarteman digunakan untuk mencocokkan persepsi
diri peserta didik dengan persepsi temannya serta kenyataan yang
ada.
2. Hasil penilaian antarteman digunakan sebagai dasar guru untuk
melakukan bimbingan dan motivasi lebih lanjut.
3. Penilaian diri untuk tingkat SMA/MA/SMK/MAK dapat
dilaksanakan mulai kelas awal.
d. Jurnal/Catatan Guru
Merupakan catatan pendidik di dalam dan diluar kelas yang berisi
informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta
didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.Jurnal bisa
dikatakan sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil
observasi.
Contoh : Format penilaian jurnal
JURNAL
Nama
: ………………………………..
Kelas
: ……………………………….
Hari, tanggal
Kejadian
Keterangan
2. Penilaian Pengetahuan
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
27
Pengetahuan adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan mengingat,
refleksi, deduksi, dan induksi (penelitian). Pengetahuan diperlukan
untuk
mengembangkan
kemampuan
kognitif,
keterampilan
psikomotorik, dan internalisasi nilai serta kebiasaan dalam ranah
afektif. Pengetahuan yang dihasilkan kemampuan kognitif dapat
berupa pengetahuan hafalan dan dapat pula berupa pengetahuan
yang digunakan (working knowledge). Pengetahuan berupa hafalan
hanya memerlukan kemampuan kognitif pada tingkat mengingat(recall
= remember). Pengetahuan yang dapat digunakan memerlukan
pengetahuan kognitif pada tingkat memahami (understand) dan
tingkat-tingkat di atasnya. Pengetahuan berupa hafalan adalah
pengetahuan yang disimpan dalam ingatan peserta didik tanpa ada
perubahan dari aslinya, dan hanya dapat menjawab pertanyaan
berupa hafalan pula.
Pengetahuan yang digunakan (working knowledge) juga untuk
mengembangkan kemampuan kognitif pada tingkat memahami (dulu
disebut pemahaman), mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi
(menilai), dan menghasilkan suatu yang baru (create) akan dimiliki
peserta didik melalui pengembangan kemampuan berpikir dan
kemampuan
belajar.
Pengetahuan
yang
digunakan
untuk
mengembangkan keterampilan psikomotorik dan kemampuan afektif.
Pengetahuan terdiri atas:
Kategori
Pengetahuan
Bentuk
Faktual
Pengetahuan tentang nama orang, nama benda, angka
tahun, istilah, nama kejadian atau peristiwa sejarah
Konseptual
Pegetahuan tentang cara berpikir, keterampilan sejarah,
kategori, klasifikasi, keterkaitan antara satu kategori
dengan lainnya, hukum kausalita, definisi, teori
Prosedur
Pengetahuan tentang proses melakukan penelitian
sejarah, penulisan sejarah, memelihara peninggalan
sejarah, melakukan penilaian cerita Sejarah
Metakognitif
Pengetahuan tentang bagaimana mencari pengetahuan,
mengelola pengetahuan, dan memanfaatkan pengetahuan
faktual, konseptual, dan prosedural dalam sejarah
Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan
karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan adalah tes
tertulis, tes lisan, dan penugasan. Namun tidak menutup kemungkinan
digunakan teknik lain yang sesuai, misalnya portofolio dan observasi.
a. Tes Tertulis
Tes tertulis digunakan untuk mengukur pengetahuan yang diperoleh
dalam pembelajaran Sejarah Indonesia. Berdasarkan jenisnya tes
tertulis dapat dilakukan dengan tes yang soal dan jawabannya
tertulis berupa pilihan ganda, isian, benar-salah, menjodohkan, dan
uraian, sedangkan berdasarkan waktu pelaksanaannya tes dilakukan
dalam situasi yang disediakan khusus, misalnya: ulangan harian,
ulangan tengah semester, ulangan akhir semester ataupun ulangan
kenaikan kelas. Tes dapat juga dilakukan melekat dalam proses
pembelajaran, misalnya dalam bentuk kuis, untuk mengetahui
seberapa jauh peserta didik dapat menguasai atau menyerap materi
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
28
pelajaran. Pengembangan instrumen tes tertulis mengikutilangkahlangkah sebagai berikut.
(1) Menetapkan tujuan tes, yaitu untuk seleksi, penempatan,
diagnostik, formatif, atau sumatif.
(2) Menyusun kisi-kisi, yaitu spesifikasi yang digunakan sebagai
acuan menulis soal. Kisi-kisi memuat rambu-rambu tentang
kriteria soal yang akan ditulis, meliputi KD yang akan diukur,
materi, indikator soal, bentuk soal, dan nomor soal. Dengan
adanya kisi-kisi, penulisan soal lebih terarahsesuai dengan tujuan
tes dan proporsi soal per KD atau materi yang hendak diukur lebih
tepat.
(3) Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan soal.
(4) Menyusun pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang
digunakan. Pada soal pilihan ganda, isian, menjodohkan, dan
jawaban singkat disediakan kunci jawaban karena jawaban dapat
diskor dengan objektif. Sedangkan untuk soal uraian disediakan
pedoman penskoran yang berisi alternatif jawaban dan rubrik
denganrentang skor.
(5) Melakukan analisis kualitatif (telaah soal) sebelum soal diujikan.
Contoh Kisi-Kisi
Nama Satuan Pendidikan
Kelas/Semester
Tahun Pelajaran
Mata Pelajaran
No
1.
2.
Kompetensi
Dasar
:
:
:
:
SMA ……….
X/Semester I
2015/2016
Sejarah Indonesia
Materi
Indikator Soal
No.
Soal
Bentuk
Soal
3.5 Menganalisis
berbagai teori
tentang
proses
masuknya
agama dan
kebudayaan
Hindu dan
Buddha ke
Indonesia.
Teori-teori
masuknya
agama dan
kebudayaa
n Hindu
dan
Buddha
Peserta didik
dapat
menyimpulkan
teori masuknya
agama dan
kebudayaan
Hindu-Buddha di
Indonesia
1
PG
3.6 Menganalisis
karakteristik
kehidupan
masyarakat,
pemerintaha
n, dan
kebudayaan
pada masa
kerajaan-
Kerajaankerajaan
Hindu dan
Buddha
Isian
B-S
2,3
Peserta didik
dapar
menyebutkan
salah satu teori
tentang masuknya
agama dan
kebudayaan
Hindu-Budha di
Indonesia
Bukti-bukti
kehidupan
pengaruh
Peserta didik
dapat
mengidentifikasi
nama raja-raja
kerajaan masa
Hindu-Buddha
Peserta didik
dapat
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
4
Menjodo
hkan
Mengura
ikan
5
29
kerajaan
HinduBuddha di
Indonesia
serta
menunjukka
n contoh
bukti-bukti
yang masih
berlaku pada
kehidupan
masyarakat
Indonesia
masa kini.
4.5 Mengolah
informasi
tentang
proses
masuknya
agama dan
kebudayaan
Hindu dan
Buddha ke
Indonesia
serta
pengaruhnya
pada
kehidupan
masyarakat
Indonesia
masa kini
serta
mengemukak
annya dalam
bentuk
tulisan.
Hindu dan
Buddha
yang masih
ada sampai
masa kini
menjelaskan
proses akulturasi
budaya HinduBuddha dengan
kebudayaan asli
Indonesia.
Peserta didik
dapat
menyebutkan
Bukti-bukti
pengaruh masa
Hindu-Buddha
yang masih ada
sampai sekarang
Peserta didik
dapat membuat
laporan tertulis
dalam bentuk
makalah
sederhana tentang
proses masuknya
agama dan
kebudayaan
Hindu-Buddha ke
Indonesia
6
7
Penugas
an
Setelah menyusun kisi–kisi, selanjutnya dilakukan mengembangkan
butir soal dengan memerhatikan kaidah penulisan butir soal meliputi
substansi/materi, konstruksi, dan bahasa.
Tes tertulis dapat dibuat dalam bentuk Pilihan Ganda, Uraian, dan
Hubungan Sebab Akibat yang mendorong siswa untuk melakukan
analisis (bukan hapalan).
Contoh Pilihan ganda :
Dampak positif bagi masyarakat dari penjajahan Belanda terutama
masa Tanam Paksa dan Usaha Swasta, adalah …
a. semakin banyaknya jenis tanam dalam kegiatan pertanian
b. dikembangkannya sarana prasarana transportasi
c. dikembangkannya program pendidikan bagi kaum bumi putera
d. dikembangkannya struktur pemerintahan yang lebih modern
e. dikenalkannya ekonomi uang
Contoh Tes Uraian :
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
30
Belanda termasuk bangsa yang terlambat datang ke Indonesia dibanding
dengan Spanyol, Portugis, dan Inggris. Mengapa demikian. Kemudian
jelaskan dan tunjukkan dengan bukti terjadinya perebutan hegemoni
bangsa-bangsa Eropa di Indonesia?
b. Observasi terhadap Diskusi, Tanya Jawab, dan Percakapan
Penilaian terhadap pengetahuan peserta didik dapat dilakukan melalui
observasi terhadap diskusi, tanya jawab, dan percakapan. Teknik ini
adalah cerminan dari penilaian otentik.
Contoh : Format observasi diskusi, dan tanya jawab
Pernyataan
Nama
Peserta
Didik
Pengungkapan
gagasan
orisinal
Ya
Tidak
Kebenaran
konsep
Ketepatan
penggunaan
istilah
……………
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Amin
Budi
Cecep
……..
c. Penugasan
Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk
mengukur dan/atau meningkatkan pengetahuan. Penugasan yang
digunakan untuk mengukur pengetahuan (assessment of learning)
dapat dilakukan setelah proses pembelajaran sedangkan penugasan
yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan (assessment for
learning) diberikan sebelum dan/atau selama proses pembelajaran.
Penugasan dapat berupa pekerjaan rumah dan/atau proyek yang
dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan
karakteristik tugas. Penugasan lebih ditekankan pada pemecahan
masalah dan tugas produktif lainnya.
Contoh : Penugasan
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Tahun Pelajaran
: Sejarah Indonesia
: X /2
: 2015/2016
Kompetensi Dasar:
4.5 Mengolah informasi tentang proses masuknya agama dan
kebudayaan Hindu dan Buddha ke Indonesia serta pengaruhnya
pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini serta
mengemukakannya dalam bentuk tulisan.
Indikator:
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
31
1. Peserta didik dapat membuat laporan tertulis dalam bentuk
makalah sederhana tentang proses masuknya agama dan
kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia.
.
Rincian tugas:
1. Buatlah
laporan tertulis dalam bentuk makalah sederhana
tentang proses masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha
ke Indonesia.
2. Laporan diketik, menggunakan kertas A4, huruf Times New
Roman 12, spasi 1,5
3. Tugas Individu
4. Waktu pengerjaan 3 minggu
5. Aspek yang dinilai : (1) cakupan materi, (2) keakuratan materi,
(3) Relevansi,(4) kelengkapan, dan (5) Kebahasaan
d. Tes Lisan
Tes lisan berupa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru secara
lisan (oral) sehingga peserta didik merespon pertanyaan tersebut
secara lisan juga, sehingga menimbulkan keberanian.
Jawaban dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf yang
diucapkan.
Contoh : Soal tes lisan
Sebutkan Bukti-bukti pengaruh masa Hindu-Buddha yang masih
ada sampai sekarang ?
Jawaban.
Bangunan seperti Candi, patung dll.
Kitab-kitab seperti : kitab Sutasoma, Negarakertagama dll
3. Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan adalah penilaian untuk mengukur pencapaian
kompetensi peserta didik terhadap kompetensi dasar pada KI-4.
Penilaian keterampilan menuntut siswa mendemonstrasikan suatu
kompetensi tertentu.Penilaian inidimaksudkan untuk mengetahui
apakah pengetahuan yang sudah dikuasai siswa dapat digunakan
untuk mengenal dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan
sesungguhnya (real life).Ketuntasan belajar untuk keterampilan dibuat
dalam bentuk angka pada skala 0 – 100. Ketuntasan belajar
untukketerampilan ditentukan oleh satuan pendidikan, namun secara
bertahap satuan pendidikan harus meningkatkan kriteria ketuntasan
belajar dengan mempertimbangkan potensi dan karakteristik masingmasing satuan pendidikan sebagai bentuk peningkatan kualitas hasil
belajar.
Penilaian keterampilan dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia dapat
dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian unjuk
kerja/kinerja/praktek, proyek, produk, dan portofolio. Teknik
penilaian lain dapat digunakan sesuai dengan karakteristik KD dari
KI-4 yang akan diukur. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek
atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.
a. Unjuk kerja/kinerja/praktik
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
32
Penilaian kinerja dapat berbentuk penilaian berupa melakukan
suatu aktivitas keterampilan gerak (skill test). Melalui penilaian
kinerja peserta didik diminta mendemonstrasikan kinerjanya dalam
aktivitas jasmani atau melaksanakan berbagai macam keterampilan
gerak sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar mata
pelajaran Sejarah Indonesia.
Penilaian kinerja dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia dapat
berupa penilaian terhadap kemampuan peserta didik dalam
menerapkan keterampilan membuat peta, melakukan wawancara,
melakukan penelitian sederhana tentang suatu peristiwa sejarah.
b. Proyek
Proyek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi
kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis
maupun lisan dalam waktu tertentu.Penilaian proyek merupakan
kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan
dalam periode atau waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu
investigasi
sejak
dari
perencanaan,
pengumpulan,
pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek
dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan
mengaplikasikan, penyelidikan dan menginformasikan peserta didik
pada mata pelajaran dan indikator/topik tertentu secara jelas.
Pada penilaian proyek, setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu
dipertimbangkan: (a) kemampuan pengelolaan: kemampuan peserta
didik dalam memilih indikator/topik, mencari informasi dan
mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan, (b)
relevansi:kesesuaian dengan mata pelajaran dan indikator/topik,
dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan
keterampilan dalam pembelajaran, dan (c) keaslian: proyek yang
dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan
mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan
dukungan terhadap proyek peserta didik.
c. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara
menilai peserta didik yang dilakukan secara berkelanjutan dan
didasarkan atas kumpulan informasi perkembangan kemampuan
peserta didik dalam satu periode tertentu.Jenis-jenis portofolio
dapat berupa:
1) Portofolio personal jika dipegang dan dikelola oleh peserta didik.
Biasanya berguna untuk menuliskan aktivitas fisik yang
disenangi, harapan, refleksi diri, serta berbagi gagasan dari
pengalaman yang diperoleh, sepanjang periode pembelajaran.
2) Portofolio terekam dan tersimpan (record-keeping portofolios),
portofolio ini dapat diisi dan disimpan oleh peserta didik, namun
sebagian dari informasi yang direkam juga disimpan oleh guru.
3) Portofolio
tematik
(thematic
portofolios),
portofolio
ini
menggambarkan kegiatan pembelajaran pada satu pokok
bahasan (tema) yang berdurasi antara dua hingga enam minggu..
4) Portofolio terintegrasi (integrated portofolios), portofolio ini dapat
digunakan untuk menggambarkan “potret” siswa secara
keseluruhan, dan berbagai subyek pembelajaran.
5) Portofolio selebrasi (celebration portofolios) untuk mencatat
prestasi yang diperoleh peserta didik dalam bidang akademik
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
33
maupun non akademik. Misalnya menjadi pemenang lomba karya
ilmiah/lomba seni/lomba olahraga.
6) Portofolio tahun jamak (multiyears potofolios), yaitu portofolio
yang digunakan dengan jangka beberapa tahun dan digunakan
oleh peserta didik dari satu tingkatan kelas ke kelas yang lebih
tinggi.
BAB V
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
A. Media
Media adalah sarana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran
sejarah, yaitu berupa media cetak, elektronik, serta media lain. Beberapa
contoh media yang sering digunakan sebagai pembelajaran sejarah yaitu
antara lain adalah pictorial, website, film dokumenter, puisi dan lagu-lagu
perjuangan, wisata sejarah, tradisi lisan termasuk folklore, seni
pertunjukan; seperti ludruk, wayang orang, ketoprak dll. Pemilihan media
yang tepat dapat dilakukan untuk memperkenalkan peserta didik pada
sumber belajar yang ada dilingkungan sekitarnya.
Media sebagai pembelajaran sejarah tidak hanya terfokus pada buku teks
saja, akan tetapi lebih ditujukan pada cara-cara untuk kemudahan
pembelajaran sejarah itu sendiri. Dalam penggunaan media juga perlu
dipertimbangan ketersediaan sumber belajar yang terdapat di lingkungan
sekitar peserta didik.
Media yang digunakan sebagai pembelajaran sejarah dapat disesuaikan
dengan kemudahan akses dan penyampaiannya dalam proses belajar
sejarah. Semakin mudah diakses semakin memudahkan peserta didik
untuk dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pemilihan media
pembelajaran
didasarkan
pada
materi
pembelajaran,
kegiatan
pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
34
B. Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan
untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar mencakup rujukan yang
digunakan, dapat berupa buku teks, alat dan bahan, naskah-naskah
tradisional, arsip dan dokumen-dokumen resmi, koran dan majalah
sezaman, nara sumber yang dapat memberikan penjelasan tentang suatu
kejadian atau peristiwa sejarah, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan
budaya.
Buku teks yang digunakan sebagai sumber belajar harus memenuhi
kaidah-kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam
menentukan sumber belajar mata pelajaran sejarah Indonesia tidak hanya
terfokus dari materi buku teks saja, tetapi dapat pula bersumber dari
sumber lainnya. Sumber-sumber itu dapat berupa peninggalanpeninggalan sejarah seperti situs-situs sejarah berupa bangunan,
monumen, museum, tempat-tempat pengasingan pejuang, dan sebagainya
yang ada di sekitar tempat tinggal atau dekat sekolah. Film-film
dokumenter, arsip dan dokumen-dokumen resmi, menghadirkan
narasumber baik itu pelaku sejarah atau saksi sejarah, majalah dan
koran sezaman. Penentuan sumber belajar didasarkan pada Kompetensi
Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD), materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
C. Memilih Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam
silabus yang dikembangkan. Sumber belajar dituliskan secara lebih
operasional, dan dapat langsung dinyatakan sebagai bahan ajar yang
digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku
referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.
Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut,
pengarang, dan halaman yang diacu. Jika menggunakan bahan ajar
berbasis ICT, maka harus ditulis nama file, folder penyimpanan, dan
bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan
sebagai acuan pembelajaran.
Dalam mata pelajaran Sejarah Indoenesia, penggunaan buku teks sebagai
sumber belajar bukanlah satu-satunya, namun dapat pula menggunakan
sumber lain, seperti museum, situs sejarah, bahkan mewawancarai
narasumber, yaitu orang yang menjadi saksi sejarah atau bisa juga pelaku
sejarah bila masih hidup. Selain itu dapat pula digunakan peta, foto-foto
tokoh atau peristiwa sejarah dan gambar-gambar tokoh sejarah yang
dideskripsikan.
D. Pengembangan Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan
guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi
pembelajaran. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan
untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis
maupun bahan tidak tertulis. Bentuk bahan ajar meliputi :
• Bahan cetak seperti: hand out, buku, modul, lembar kerja peserta didik,
brosur, leaflet, wallchart,
• Audio Visual seperti: video/film,VCD/DVD
• Audio seperti: radio, kaset, CD audio, PH
• Visual: foto, gambar, model/maket.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
35
• Multi Media: CD interaktif, computer Based, Internet
Dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia banyak bentuk bahan ajar yang
dapat dikembangkan oleh guru. Hal terpenting dari bahan ajar yang
digunakan adalah membawa peserta didik untuk mau belajar sejarah dan
memberikan kemudahan bagi guru dalam menyampaikan materi dan
tujuan dari pembelajaran. Dalam materi sejarah guru mengembangkan
berbagai keterampilan dalam sejarah dari suatu tema materi. Beberapa
keterampilan yang dapat dikembangkan misalnya berfikir kronologis,
berfikir kritis, mampu menginterpretasi fakta, dan memecahkan masalah.
Untuk mencapai keterampilan tersebut guru dapat mengembangkan
lembaran kerja peserta didik. Dalam lembaran kerja tersebut misalnya
mengambil tema tentang Pergerakan Nasional di Indonesia. Guru
memberikan uraian tentang Pergerakan Nasional secara sistematisdengan
bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik. Setelah ada uraian
kemudian guru mengembangkan tugas-tugas yang menuntun peserta
didik untuk mengembangkan keterampilan yang diharapkan.
BAB VI
GURU MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA DALAM
PEMBELAJARAN ABAD KE-21
Pembelajaran abad ke-21 merupakan pembelajaran yang mempersiapkan
generasi ketika kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
berkembang begitu cepat dan berpengaruh terhadap proses belajar
mengajar. Dalam pembelajaran, peserta didik dituntut menguasai dan
mampu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai
kecakapan berfikir dan belajar.
Kurikulum yang dikembangkan saat ini menuntut sekolah untuk mengubah
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered
learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta
didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa
depan yaitu peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar.
Kecakapan-kecakapan
tersebut
diantaranya
adalah
kecakapan
menyelesaikan masalah (problem solving), berpikir kritis, berkolaborasi, dan
berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik apabila
pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi
kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis,
bekerja sama, berkomunikasi, dan berkolaborasi dalam menyelesaikan
masalah dalam setiap rencana pembelajaran.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
36
Karakter pembelajaran abad ke-21 sering disebut sebagai 4C adalah sebagai
berikut.
1. Komunikasi (Communication)
Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola,
dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi
secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan
menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu
pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika
menyelesaikan masalah yang diberikan oleh pendidik.
2. Kerjasama (Collaboration)
Pada karakter ini, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam
kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai
peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain;
menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda.
Peserta didik juga menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibilitas
secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat;
menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri
sendiri dan orang lain.
3. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking and Problem
Solving)
Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran
yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit;
memahami interkoneksi antara sistem. Peserta didik juga menggunakan
kemampuan
yang
dimilikinya
untuk
berusaha
menyelesaikan
permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga
memiliki kemampuan untuk menyusun, mengungkapkan, menganalisis,
dan menyelesaikan masalah.
4. Daya cipta dan Inovasi (Creativity and Innovation)
Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk
mengembangkan, melaksanakan, menyampaikan gagasan-gagasan baru
kepada orang lain, bersikap terbuka, responsif terhadap perspektif baru
dan berbeda.
5. Kontekstualisasi pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah Indonesia
yaitu suatu cara yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejarah
yang dikaitkan dengan masa kini dan bersifat kontekstual. Ada beberapa
cara dalam melakukan kontekstualisasi mata pelajaran Sejarah Indonesia
yaitu; (1) pemanfaatan lingkungan dan fenomena sebagai sumber belajar;
(2) pemanfaatan teknologi informasi; dan (3) pemanfaatan buku teks dan
LKS.
Sementara itu, menurut peraturan perundangan, guru harus mempunyai 4
(empat) kompetensi, yakni (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi
akademik, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi kepribadian. Disamping
empat kompetensi tersebut, dalam membantu peserta didik beradaptasi
terhadap perubahan sosial dan teknologi di abad ke-21 ini tenaga pendidik
juga harus mempunyai kecakapan utama yang yang meliputi:
1. Akuntabilitas dan Kemampuan Beradaptasi
Sebagai seseorang yang dapat ditiru, apapun yang dikerjakan dan
diucapkan harus dapat dipercaya oleh orang lain. Dalam menjalankan
tanggung jawab pribadi mempunyai fleksibilitas secara pribadi, pada
tempat kerja, maupun dalam hubungan dengan masyarakat sekitarnya.
Disamping itu, guru harus mampu menetapkan dalam mencapai standar
dan tujuan yang tinggi baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang
lain, dan yang tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu
memaklumi kerancuan yang dilakukan oleh anak didiknya.
2. Kecakapan Berkomunikasi
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
37
Kecakapan yang kedua ini sangat penting bagi guru. Betapapun pintarnya
seorang guru jika tidak mempunyai kecakapan ini maka tidak akan
mampu mentransfer ilmu kepada peserta didiknya. Kecakapan ini
meliputi: memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang
efektif dalam berbagai bentuk dan isi baik secara lisan, tulisan, maupun
menggunakan multimedia.
3. Kreativitas dan Keingintahuan Intelektual
Selama ini pembelajaran yang dilakukan guru berlangsung monoton.
Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kreatifitas dan
keingintahuan intelektual guru. Mereka mengajar hanya bermodalkan
teori keguruan yang diperolehnya sekian puluh tahun yang lalu.
Kecakapan kreatifitas dan keingintahuan intelektual tersebut mencakup:
mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan
baru kepada orang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap
perspektif baru dan berbeda.
4. Berpikir Kritis dan Berpikir dalam Sistem
Kecakapan berpikir kritis merupakan proses berpikir dan bertindak
berdasarkan fakta yang telah ada, apapun yang akan dilakukan dimulai
dari identifikasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul
dari suatu perbuatan tersebut, berusaha untuk memberikan penalaran
yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit
serta selalu memahami dan menjalin interkoneksi antara sistem.
5. Kecakapan Melek Informasi dan Media
Agar proses pembelajaran yang dilakukan guru di kelas menarik dan
menantang, maka di era globalisasi dan tanpa batas seperti sekarang ini
guru harus mampu menganalisis, mengakses, mengelola, mengintegrasi,
mengevaluasi, dan menciptakan informasi dalam berbagai bentuk dan
media.
6. Kecakapan Hubungan Antarpribadi dan Kerjasama
Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru
juga dituntut harus mampu menunjukkan kerjasama berkelompok dan
kepemimpinan, mampu beradaptasi dalam berbagai peran dan
tanggungjawab, mampu bekerja secara produktif dengan yang lain,
mampu menempatkan empati pada tempatnya, serta mampu
menghormati perspektif yang berbeda dariorang lain.
7. Identifikasi Masalah, Penjabaran, dan Solusi
Dalam menghadapi masalah sekecil apapun guru tidak boleh ceroboh
dalam menanggapinya. Oleh sebab itu guru dituntut untuk mempunyai
kemampuan dalam menyusun, mengungkapkan, menganalisis, dan
menyelesaikan masalah dengan baik.
8. Pengarahan Pribadi
Sebagai guru tentu setiap harinya menghadapi peserta didik yang
perilakunya bermacam-macam. Oleh karena itu guru dituntut memiliki
kemampuan dalam memonitor pemahaman diri dan mempelajari
kebutuhan yang diperlukan dalam pembelajaran, menemukan sumbersumber belajar yang tepat, serta mentransfer pembelajaran dari satu
bidang ke bidang lainnya.
9. Tanggung Jawab Sosial
Orang tua/masyarakat menyekolahkan anaknya di suatu sekolah
mempunyai harapan agar anaknya berubah, baik dari segi perilaku
maupun kecakapan kompetensinya. Oleh sebab itu sebagai seorang yang
dituntut mempunyai kompetensi sosial, maka tanggung jawab dalam
bertindak guru harus mengutamakan kepentingan masyarakat yang lebih
besar, menunjukkan perilaku etis secara pribadi, pada tempat kerja, dan
hubungan antarmasyarakat.
Pedoman Mata Pelajaran Sejarah Indonesia SMA-MA (4-6 Feb 2016)
38
Download