DIPLOMASI MASA KINI

advertisement
1
PROSES REFORMASI DIPLOMASI DUNIA
Pendahuluan
Kegiatan diplomasi di dunia sudah berlangsung sejak lama sekali dan kedudukan
diplomat di mata masyarakat dinilai sebagai profesi yang cukup terhormat.
Dalam
melaksanakan tugasnya, diplomat memiliki kemampuan sebagai professional yang sudah
terlatih
keahliannya. Lingkup tugas, peran dan arah kegiatan diplomasi di dunia
mengalami suatu proses reformasi searah dengan perkembangan politik dunia.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, lingkup kegiatan diplomasi berkisar pada
persaingan ideologi antara kubu blok Barat dengan blok Timur. Persaingan antara kedua
kubu selama berlangsungnya Perang Dingin, bukan lagi hanya melalui kegiatan politik
untuk membangun opini masyarakat internasional melalui sarana diplomasi dan media
internasional atau dengan meningkatkan kemampuan militer masing-masing kubu, tetapi
juga melalui peningkatan persaingan dalam hubungan ekonomi dan perdagangan luar
negeri. Walaupun persaingan ideologi masih tetap mendominasi percaturan politik dunia,
tetapi suasana hubungan internasional selama berlangsungnya Perang Dingin ternyata
membuka kesempatan terjadinya dialog antarnegara, yang secara tidak langsung ikut
membatasi tingkat konflik bersenjata menjadi hanya berskala regional.
Kondisi dan suasana ketika berlangsung Perang Dingin memberi kesempatan kepada
negara industri maju lebih berkonsentrasi mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sehingga persaingan untuk “mendominasi” dunia juga dilakukan melalui
persaingan kemajuan pengembangan teknologi yang mencakup hampir semua bidang
kehidupan manusia, termasuk perangkat persenjataan militer.
Di akhir abad ke XX setelah berakhirnya Perang Dingin tahun 1989, nuansa
hubungan politik antarnegara mengarah pada kepentingan hubungan antarmanusia dan
semakin besarnya perhatian terhadap hak dasar perorangan (individu) serta kepedulian
2
terhadap pelestarian lingkungan alam. Perkembangan ini tidak mempengaruhi tingkat
kemampuan dan
kekuasaan
politik dan ekonomi dunia.
beberapa negara besar yang sudah memiliki pengaruh
Salah satu perkembangan politik global yang
sangat
mempengaruhi hubungan antarbangsa adalah kenyataan AS menjadi satu-satunya negara
adikuasa dunia, sebagai akibat logis dari “runtuhnya” tembok Berlin pada tahun 1989,
yang juga menandakan berakhirnya kekuatan Uni Soviet sebagai adikuasa dunia.
Menjelang abad ke XXI, dunia diplomasi mengalami perkembangan dan reformasi
yang sangat cepat hampir bersamaan waktunya dengan kecepatan kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology - ICT), yang
antara lain membawa pengaruh terjadinya interaksi hubungan antarkawasan yang
semakin intensif menuju era globalisasi. Akibat terjadinya globalisasi dunia adalah lebih
“mendekatkan” jarak geografis dan “memperpendek” waktu berlangsungnya hubungan
komunikasi antarnegara.
Meluasnya penggunaan pelayanan ilmu pengetahuan komputer, membawa pengaruh
terjadinya saling keterkaitan dan saling memerlukan antara negara-negara di seluruh
dunia, yang merupakan ciri utama globalisasi. Penduduk dunia dari berbagai bangsa
merasa lebih dekat satu dengan yang lain untuk saling berhubungan, seakan mereka
merupakan bagian dari “warganegara dunia”. Kemajuan ICT semakin mempercepat
penyebaran berita serta meningkatnya peran media internasional yang memberi dimensi
baru bagi pelaksanaan tugas diplomasi.
Kecepatan penyebaran berita media menjadikan diplomat professional
selalu
waspada dan siap menghadapi pengaruh globalisasi, terutama apabila mempunyai
kepentingan langsung dengan negaranya. Kesiapan dan kemampuan para diplomat dalam
menjalankan tugasnya, secara tidak langsung dipengaruhi oleh sistem pendidikan dan
pelatihan para diplomat yang mendidik dan melatih mereka memiliki kepekaan
menghadapi berbagai kecenderungan baru yang setiap saat muncul di dunia. Suatu
kenyataan bahwa kecepatan penyebaran berita oleh media internasional dapat memberi
keuntungan atau mengandung manfaat politis bagi kepentingan suatu negara, tetapi
3
sebaliknya dapat menyebabkan negara lain merasa dipojokkan atau dirugikan oleh
pemberitaan media tersebut karena justru tidak menguntungkan posisi politiknya. Hampir
semua negara di dunia pernah mengalami hal seperti itu. Kepekaan, kepiawaian dan
kecepatan
diplomat menghadapi masalah seperti itu ikut menentukan keberhasilan
diplomasi suatu negara.
Kekuasaan politik suatu negara ternyata secara sengaja dapat “menggunakan”
pemberitaan media internasional untuk kepentingan politiknya. Banyak contoh yang
menunjukkan bahwa negara adikuasa AS memiliki kemampuan menggerakkan atau
memobilisasi media internasional untuk mempengaruhi opini dunia demi kepentingan
politik globalnya. Pemberitaan melalui TV yang disiarkan ke seluruh pelosok dunia
dalam waktu sekejap sudah mampu mempengaruhi opini publik internasional. Diplomasi
AS bahkan berhasil “memaksa” PBB membentuk pasukan sekutu untuk melakukan
invasi ke Irak. Para diplomat harus menghadapi kenyataan dimanfaatkannya media
elektronika dan media cetak untuk kepentingan politik negara-negara besar tertentu,
sehingga dituntut dalam waktu yang cepat harus mampu menganalisa dan menyimpulkan
setiap pemberitaan yang berkaitan dengan situasi dan kondisi politik dunia. Tidak jarang
pula bahwa diplomat secara tiba-tiba harus menghadapi analisa atau pemberitaan melalui
media asing (internasional) mengenai negaranya, yang tentunya sebagai diplomat dia
harus dapat bereaksi cepat menghadapi pertanyaan media atau politisi setempat.
Perkembangan ini juga berarti bahwa kecepatan komunikasi yang terjadi antara
kementerian atau departemen luar negeri di pusat ibukota dengan perwakilan diplomatik
di luar negeri atau sebaliknya, menjadi faktor yang sangat penting menghadapi setiap
pemberitaan atau perkembangan yang berkaitan dengan kepentingan politik negara.
Negara Barat menilai bahwa kondisi dunia menjadi lebih aman dibandingkan ketika
sebelum “runtuhnya” Uni Soviet. Ternyata dunia harus menghadapi munculnya berbagai
isu internasional baru seperti : terorisme, kejahatan internasional, narkotika, sikap
ekstrim penganut agama, masalah lingkungan hidup, global warming dll.nya. Isu baru
tersebut secara cepat pula menjadi isu politik global yang menjadi keprihatinan hampir
seluruh dunia, karena kecepatan pengaruhnya sulit untuk dibendung dan juga sulit
4
diperkirakan sejauhmana arah perkembangannya maupun batas lingkup kegiatannya. Isu
tersebut semakin berkembang dan meluas, yang penanganannya bukan hanya melibatkan
para diplomat professional saja. Kegiatan dan pelaksanaan diplomasi untuk menghadapi
isu tersebut dilakukan pula oleh unsur pemerintah yang lain (bukan dari unsur
departemen/kementerian luar negeri)
maupun unsur non-pemerintah yang memiliki
kemampuan dan pengetahuan tehnis mengenai masalah tersebut, termasuk pengusaha
swasta, NGO, kaum intelektual, lingkungan universitas dan media. Diplomasi yang
dijalankan dan dikembangkan oleh unsur non-pemerintah biasa disebut sebagai “second
track diplomacy”. Dari segi pelaksanaannya, disertakannya lingkungan yang lebih luas
dalam menentukan kebijakan atau strategi diplomasi tersebut merupakan ciri “total
diplomacy” yang banyak dipraktikkan pada masa kini. Total diplomacy bertujuan
memperjuangkan kepentingan nasional, sehingga kerjasama, konsultasi dan koordinasi
antara unsur pemerintah dan non-pemerintah menjadi sangat strategis yang diarahkan
agar perjuangan mencapai kepentingan nasional berlangsung efektif untuk kepentingan
rakyat.
Pelaksanaan diplomasi tidak dapat dipisahkan dari wewenang, fungsi dan tugas
kementerian atau departemen luar negeri, yang strukur organisasi dan jenis tugasnya
harus secara terus-menerus disesuaikan dengan kecenderungan dan perkembangan
diplomasi dunia, perkembangan aktual dalam hubungan internasional, serta kecepatan
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kebijakan politik luar negeri menjadi
tanggung-jawab pemerintah melalui Menteri Luar Negeri, yang pelaksanaannya harus
dilandasi oleh falsafah konsitusi negara serta sejalan dengan aspirasi umum masyarakat.
Dalam menjalankan kebijakan politik luar negeri dan hubungan antar bangsa, negara
biasanya berprinsp “tidak ada musuh dan kawan yang permanen, tetapi setiap kebijakan
harus tetap berpedoman dan berdasarkan pada kepentingan nasional”. Setiap negara
memiliki sasaran dan tujuan kepentingan nasionalnya dan diplomasi merupakan salah
satu sarana mencapai tujuan nasional berdasarkan strategi yang disepakati secara
nasional pula sebagai manifestasi kepentingan seluruh bangsa.
5
Reformasi dalam dunia diplomasi dewasa ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan
diplomasi itu sendiri harus menghadapi dua kenyataan yang saling bertolak-belakang,
yaitu
para diplomat
harus berfungsi mewakili kepentingan negara, tetapi yang
berkembang sekarang bahwa peran negara dalam hubungan internasional menjadi
semakin berkurang dan tidak selalu ikut menentukan.
Proses globalisasi dunia
mengindikasikan semakin terbatasnya fungsi yang dimiliki negara.
Fungsi negara
menjadi semakin berkurang dan kegiatan “first track diplomacy” harus disesuaikan
dengan proses liberalisasi dan semakin berkurangnya peran pemerintah.
Bangsa Indonesia tidak dapat menghindar dari pengaruh kecepatan arus globalisasi
yang sedang melanda seluruh dunia. Kepentingan politik globalisasi tersebut pada
dasarnya didukung dan dikembangkan oleh negara maju, khususnya AS. Bagi bangsa
Indonesia, globalisasi memuat berbagai peluang dan juga ancaman terhadap kepentingan
nasional RI, dan globalisasi mempunyai pengaruh tidak kecil bagi survival bangsa
Indonesia untuk dapat mempertahankan keutuhan NKRI, khususnya menghadapi
diplomasi bangsa lain yang tidak kondusif dengan kepentingan nasional Indonesia.
6
1. GLOBALISASI
Berbagai isu global mengenai masalah lingkungan hidup seperti : kerusakan
hutan, hak asasi manusia, global warming, terorisme internasional, demokratisasi,
konflik etnis, hutang negara, kesehatan masyarakat, bantuan asing dan lain-lainnya lebih
banyak yang dilontarkan oleh negara-negara maju yang tidak jarang mendapat reaksi
keras
dari
negara
sedang
berkembang
karena
dianggap
berdampak
kurang
menguntungkan bagi kehidupan sosial-politik negara sedang berkembang tertentu yang
memiliki tingkat kehidupan penduduknya yang masih belum sepenuhnya berkembang.
Negara berkembang merasa mendapat tekanan ketika harus menghadapi berbagai isu
politik global yang dinilai sering memojokkan bahkan mengganggu program
pembangunan ekonomi mereka. Kekayaan alam dan sumber hayati yang dimilikinya
sangat diperlukan oleh negara industri maju, dan negara industri maju menuntut agar
sumber hayati dunia harus dipelihara, dilestarikan, dijaga dan dilindungi kondisi
lingkungan alamnya. Dengan kemampuan teknologi tinggi, negara maju lebih banyak
menikmati kekayaan alam dan hasil sumber hayati yang dimiliki negara sedang
berkembang, yang kemampuan teknologinya masih sangat terbatas. Dalam hal isu global
yang berhubungan dengan hak individu manusia, ukuran umum yang sering dipakai oleh
negara maju adalah tuntutan berdasarkan prinsip demokrasi liberal dengan tingkat kondisi
ekonomi sesuai dengan yang telah mereka miliki, sementara kondisi umum penduduk di
negara sedang berkembang masih banyak yang jauh tertinggal.
Kalau dibuat suatu perbandingan antara kemanfaatan yang dinikmati negara maju
dengan kompensasi bantuan yang diterima oleh negara sedang berkembang, ternyata
perbandingan tersebut banyak yang berat sebelah. Bantuan tehnik, soft loan maupun
hibah yang diterima negara sedang berkembang dinilai masih jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan nilai tambah yang dinikmati negara maju yang berasal dari sumber
hayati yang mereka peroleh dari kawasan negara sedang berkembang. Apalagi dengan
apa yang disebut “transfer of technology” dari negara maju. Banyak negara sedang
berkembang menganggap konsep tersebut berlaku hanya di atas kertas saja tanpa ada
7
realisasi yang memuaskan. Teknologi ternyata harus diciptakan sendiri atau direbut, dan
bukan didapat dengan cara menunggu belas kasihan atau hadiah dari bangsa lain.
Isu global sering berkembang menjadi isu politik yang dipaksakan dengan
melakukan tekanan politik antara lain melalui jalur diplomasi. Perbedaan penafsiran
politik mengenai berbagai isu global semakin terlihat dalam hubungan interaksi
antarnegara. Salah satu prinsip dasar dalam hubungan internasional bahwa negara yang
memiliki kemampuan politik, ekonomi dan militer cenderung melakukan penekanan
politik melalui sarana diplomasi terhadap negara yang dianggap lebih lemah. Terjadinya
perbedaan sikap politik atau konflik kepentingan mengenai isu global, seringkali
menjadikan posisi politik negara berkembang terdesak atau adakalanya dipaksa
menerima pilihan politik yang kurang menguntungkan negara berkembang.
Berakhirnya Perang Dunia II menyebabkan Jepang dan Eropa, kecuali Inggris,
mengalami kehancuran total yang mengakibatkan pada saat itu mereka hampir tidak
memiliki kemampuan apapun untuk ikut menentukan kehidupan politik dunia.
Perkembangan politik yang signifikan setelah Perang Dunia II adalah terbentuknya
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menerapkan sistem diplomasi multilateral untuk
menanggulangi masalah yang dihadapi bangsa-bangsa di dunia. Perkembangan lainnya
adalah terbentuknya berbagai kerjasama regional di Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika
dan Afrika. Membaiknya keadaan ekonomi dunia terutama setelah Amerika Serikat
meluncurkan soft power diplomacy melalui “Marshall Plan” untuk membantu ekonomi
dunia yang porak-poranda akibat Perang Dunia II. Dalam waktu yang hampir bersamaan,
Eropa secara bertahap mulai kehilangan wilayah jajahannya di Asia dan Afrika, ada yang
melalui proses dekolonisasi damai tetapi ada juga yang melalui paksaan revolusi.
Selesainya Perang Dunia II telah memunculkan dua kekuatan adikuasa yaitu
Amerika Setrikat dan Uni Soviet yang kemudian melanjutkan persaingan ideologinya
dalam suasana yang disebut Perang Dingin. Sebagai reaksi pertentangan dan persaingan
dua kekuatan ideologi dunia yang mewakili kubu demokrasi liberal dan komunisme,
muncul kekuatan ketiga yang membentuk Gerakan Non Blok (GNB).
Keberadaan
8
kekuatan ketiga yang pada umumnya beranggotakan negara sedang berkembang, justru
dijadikan ajang perebutan pengaruh tarik-menarik antara dua kekuatan blok dunia,
sehingga memperlemah posisi dan fungsi GNB yang tadinya diharapkan sebagai
kekuatan penengah terhadap dua kekuatan dunia yang saling bersaing tersebut. Dalam
suasana Perang Dingin, persaingan antara kubu komunis dengan kubu demokrasi liberal
seringkali mengakibatkan terjadinya konflik regional dan konflik etnis di berbagai
kawasan dunia.
Perang Dingin di benua Asia dianggap berakhir sejak Presiden Nixon dari AS
melancarkan “Nixon Doctrine” tahun 1969 yang tujuan utamanya adalah mengurangi
keterlibatan langsung kekuatan militer AS di Asia, yang kemudian dilanjutkan dengan
kunjungan Presiden Nixon ke RRC tahun 1972, yang didahului dengan “ping-pong
diplomacy” oleh RRC. Inisiatif AS di Asia menghadapi RRC dan Vietnam merupakan
upaya diplomasi menyelamatkan muka AS. Gerakan politik dan diplomasi AS di Asia
antara lain berakibat keanggotaan Taiwan dicabut di PBB digantikan RRC yang otomatis
juga menjadi anggota tetap Dewan Keamanan-PBB. Sedangkan perang Vietnam dapat
diakhiri melalui Perjanjian Paris antara AS dan Republik Demokrasi Vietnam tahun
1973, yang dapat dinilai sebagai kekalahan politik dan diplomasi AS di Asia.
Perang Dingin di Eropa dapat dianggap berakhir setelah runtuhnya tembok Berlin
tahun 1989, yang dilanjutkan dengan proses perkembangan politik. Diplomasi dunia
mengalami tahapan pembaharuan dengan kondisi sosial-politik yang sangat berbeda.
Dominasi kekuatan politik dan militer AS disertai kecanggihan teknologi mesin
perangnya serta kemampuan dan kesiap-siagaannya mengerahkan kekuatan militernya ke
seluruh pelosok dunia dalam waktu cepat, menjadikan AS sebagai kekuatan dunia dan
merupakan satu-satunya negara adikuasa yang sulit ditandingi. Setelah tahun 1989,
hubungan dan interaksi antarnegara semakin intensif akibat cepatnya kemajuan dan
kecanggihan teknologi komunikasi. Akibatnya, terjadi jalinan hubungan informasi yang
sangat cepat di hampir seluruh negara di dunia yang menghasilkan globalisasi ekonomi
dan globalisasi teknologi komunikasi, yang ternyata lebih memberi manfaat kepada
9
negara industri maju karena teknologi informasi lebih banyak dikuasai oleh negara maju.
Mereka memiliki
kemampuan menggalang dan menguasai opini dunia untuk
kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri.
Menjelang berakhirnya abad ke-XX, reformasi hubungan antarbangsa antara lain
ditandai dengan semakin berperannya organisasi internasional yang mengatur kerjasama
antarnegara untuk menangani masalah politik, ekonomi, keuangan, perdagangan, budaya,
sosial dan lain-lain, yang kesemuanya menjurus pada keinginan membentuk tatanan
dunia baru yang bersifat global. AS secara sefihak menggunakan kekuatan dan
kekuasaannya baik melalui “hard power” ataupun “soft power” yang memanfaatkan
penguasaan sistem informasi dan kemampuan teknologi komunikasi. Kedaulatan Irak
tidak lagi dihormati karena negara tersebut dianggap melanggar prinsip yang
dikembangkan AS untuk menciptakan dunia yang berasaskan kebebasan individu
berdasarkan demokrasi liberal. AS dan sekutunya merasa berhak menyerang Irak (hard
power) yang dituduh mendukung terorisme internasional. Isu global yang muncul saat ini
adalah untuk memperkuat dan menghormati hak individu yang harus dilindungi oleh
kewenangan negara dan pemerintah. Isu global itu sendiri ternyata dianggap banyak
yang kurang memberi manfaat bagi negara sedang berkembang, karena penerapan hak
individu cenderung lebih banyak disesuaikan dengan falsafah kehidupan demokrasiliberal bangsa Barat.
Proses pembaharuan dan perubahan dunia di alam globalisasi akan tetap
berlangsung dan tantangan yang harus dihadapi yaitu masih adanya kesenjangan antara
kepentingan negara maju di satu fihak dan kepentingan negara sedang berkembang di
fihak yang lain, terutama karena posisi ekonomi negara sedang berkembang yang berada
jauh di bawah kemampuan negara maju. Faktor ini membawa akibat sering terjadinya
tekanan dan paksaan politik dan diplomasi yang menonjolkan kekuatan, kekuasaan
bahkan juga melalui show of force kemampuan militer. Sebaliknya konsentrasi negara
sedang berkembang yang hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi, semakin
menambah jumlah utang luar negeri mereka dalam bentuk kredit yang harus dibayar
kembali bersama bunganya.
Keadaan ini menyebabkan negara maju semakin kaya,
10
sedangkan kemajuan ekonomi sebagian besar negara berkembang pada umumnya masih
marginal. Persoalan ekonomi lain yang dihadapi dunia antara lain juga akibat terjadinya
ketidak-seimbangan antara jumlah manusia dengan luas tanah permukiman dan semakin
menipisnya sumber hayati dunia untuk memberi kehidupan kepada manusia. Manusia
bukan lagi memanfaatkan alam, tetapi sudah mengarah untuk merusak kondisi alam.
Kemajuan
teknologi
yang
tadinya
dimaksudkan
untuk
meningkatkan
produktivitas ternyata membawa akibat rusaknya kondisi lingkungan hidup karena
pencemaran air dan udara maupun keracunan lain akibat digunakannya bahan kimiawi
pada industri, sehingga mengurangi populasi banyak jenis hewan dan merusak sistem
ekologi. Pertumbuhan ekonomi, teknologi dan kemajuan industri mempunyai kaitan yang
sangat erat dengan pelestarian alam. Masalahnya, bahwa sumber hayati alam yang
diperlukan kaum industrialis dan kapitalis banyak yang terdapat di kawasan negara
sedang berkembang. Statistik menunjukkan bahwa negara industri Barat di Eropa dan
AS, justru yang paling banyak menyerap sumber hayati bumi yang persediaannya
semakin menipis. Dunia memerlukan pengaturan yang jelas, tegas, adil dan jujur agar
terjadi keseimbangan pemanfaatan sumber hayati alam antara negara maju dan negara
sedang berkembang, agar tidak terjadi kesenjangan kemakmuran yang semakin melebar.
11
2.
REVOLUSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) terhadap praktik
diplomasi ditanggapi secara bervariasi oleh negara-negara di dunia. Ada yang
menanggapinya dengan agak lambat dan ada yang mengantisipasi dengan cepat terhadap
setiap kecenderungan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi di masa
mendatang. Beberapa negara ada yang masih tetap mengandalkan bentuk diplomasi lama
(kuno) yang lebih melihat pada sosok diplomat sebagai satu-satunya sumber informasi
menghadapi perkembangan politik internasional. Duta Besar masih dianggap sebagai
“mata dan telinga” utama untuk menentukan kebijakan politik luar negeri. Kurang
cepatnya pemerintah negara mengantisipasi pesatnya kemajuan teknologi informasi dan
teknologi komunikasi, karena ada yang masih tetap ingin mempertahankan posisi
diplomat sebagai faktor penentu dan sebagai sumber informasi yang dihandalkan,
khususnya negara-negara yang kemajuan teknologinya masih
terbatas. Akibatnya,
semakin terjadi kesenjangan antara negara maju dengan negara sedang berkembang
dalam menggunakan atau memanfaatkan ICT, yang berarti sangat mempengaruhi pula
kecepatan suatu negara mengantisipasi perkembangan internasional yang akan terjadi.
Suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari bahwa kemajuan teknologi ternyata lebih
mampu dimanfaatkan oleh negara industri maju dalam menjalankan diplomasinya.
Cepatnya proses perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang
dikembangkan oleh negara maju menghasilkan “revolusi informasi” dan “revolusi
komunikasi”, yang secara langsung ikut mempengaruhi berbagai dinamika dalam
kehidupan masyarakat, termasuk pengaruh langsung terhadap praktik diplomasi. Para
diplomat harus cepat menyesuaikan kinerja dan sistem kerjanya dengan perkembangan
baru tersebut, antara lain karena semakin meluasnya jaringan kerja setelah ditemukannya
electric typing, pelayanan photography, facsimile, PC dan mobile phones ditambah lagi
dengan jaringan E-mail, komputer dan penggunaan satellite untuk tele-conference yang
semakin mempercepat proses komunikasi antar benua. Dunia mengalami perubahan yang
sangat cepat yang berimplikasi pula pada praktik diplomasi.
12
Pengiriman informasi melalui sistem komunikasi mempunyai kaitan langsung dengan
para pengguna informasi. Berlangsungnya revolusi informasi dan komunikasi yang
begitu cepat, menuntut tersedianya sumber daya manusia yang secara cepat pula mampu
menguasai dan menyesuaikan diri dengan teknologi baru, baik melalui cara rekrutmen
atau pelatihan khusus. Diplomat adalah pengguna informasi dan sekaligus sebagai
sumber informasi. Profesi diplomat memang sangat memerlukan informasi yang tepat
dan akurat melalui komunikasi yang cepat. Sebagai konsekwensinya, diperlukan suatu
komitmen di semua lembaga pemerintah di pusat ibukota maupun di perwakilan
diplomatik di luar negeri, agar arus informasi timbal-balik dapat benar-benar efektif dan
bermanfaat bagi kepentingan diplomasi negara.
Pelaksanaan dan penggunaan ICT terbaru juga memerlukan suatu pengaturan baru
dalam organisasi di pusat maupun di perwakilan diplomatik di luar negeri, karena sarana
kecepatan arus informasi akan ikut mempengaruhi susunan dan struktur hirarki di jajaran
organisasi. Melalui ICT berarti akan lebih mempersingkat proses instruksi tugas kepada
para diplomat karena memungkinkan pimpinan organisasi dapat memberi pengarahan
langsung kepada para pelaksana diplomasi melalui sarana E-mail ataupun internet, yang
konsekwensinya terpaksa harus mengurangi sebagian dari struktur organisasi dan
merampingkan hirarki organisasi, mengingat sejumlah manusia dan kotak organisasi
yang sudah tidak diperlukan lagi.
Berlangsungnya komunikasi yang semakin cepat dengan menggunakan ICT, dapat
merupakan faktor positif yang memberi keuntungan, tetapi juga mengandung risiko.
Keuntungan bagi kepentingan diplomasi bahwa informasi dapat diperoleh dengan sangat
cepat, tetapi mengandung konsekwensi bahwa pemberi informasi harus diberi jawaban
yang cepat pula, yang berarti harus bekerja lebih cepat untuk menyusun substasi
jawabannya. Kecepatan penyaluran informasi memang merupakan faktor sangat penting
dalam menjalankan tugas diplomasi. Risiko lain adalah faktor security, karena dengan
menggunakan E-mail, internet dan sistem komputer yang centralized ternyata dapat lebih
mudah disadap oleh pihak ketiga, sehingga kurang terjamin keamanannya maupun
kerahasiaannya.
13
Tahun 1995, “The Diplomatic Academy of London” dan “The London Diplomatic
Association” pernah menyelenggarakan simposium yang antara lain mengantisipasi
diplomasi setelah tahun 2000 (“Diplomacy Beyond 2000”). Simposium tersebut antara
lain menggambarkan dan mempertanyakan peran para diplomat selanjutnya sehubungan
dengan terjadinya “revolusi infomasi dan revolusi komunikasi”. Beberapa pertanyaan
yang muncul di simposium sehubungan dengan keterkaitan antara revolusi ICT dengan
praktik diplomasi antara lain adalah :
1. Apa sebenarnya peran ICT dalam proses pengambilan keputusan ?
Tentunya tidak mungkin terjadi bahwa di masa mendatang suatu keputusan untuk
menetapkan kebijakan politik harus menggantungkan diri pada komputer.
Teknologi informasi hanya berkemampuan mentransformasi berita atau informasi,
artinya hanya mampu mempercepat pertukaran dan pengiriman informasi dari dan
ke berbagai sumber informasi maupun pengguna informasi. Keputusan untuk
menetapkan suatu kebijakan politik hanya dapat dilakukan oleh kecerdasan dan
keterampilan manusia atau para diplomat yang menanganinya. Kemampuan
manusia untuk dapat mengantisipasi perkembangan dunia yang akan datang, tetap
merupakan faktor
penting untuk menentukan kebijakan politik negara, yang
berarti peran exchange of information dan kecepatan serta akurasi informasi
menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan. ICT hanya merupakan
penyempurnaan prasarana dalam menjalankan atau melaksanakan diplomasi.
Unsur yang paling penting dalam diplomasi adalah tetap faktor kecerdasan dan
kepiawaian manusia sebagai pelaksana dan kecepatan informasi yang didukung
oleh sistem komunikasi yang tepat.
2. Apa sebenarnya peran diplomat, apakah hanya untuk menyalurkan informasi dari
tingkat pucuk pimpinan ke bawah (from top to bottom), ataukah hanya antara sesama
perwakilan diplomatik di luar negeri ?
14
Apabila sudah ditetapkan menggunakan ICT sebagai sarana dalam menyalurkan
informasi, konsekwensinya harus ada arahan yang jelas (directives) dan komitmen
dari pucuk pimpinan melaksanakan pelatihan intensif bagi semua pejabat foreign
service di dalam maupun di luar negeri agar benar-benar menguasai manajemen
informasi. Risikonya bahwa harus terjadi perubahan mendasar dalam hirarki
organisasi sebagai akibat terhapusnya berbagai struktur yang sudah tidak
diperlukan lagi. Akibat langsung digunakannya ICT justru untuk mempersingkat
dan mempercepat prosedur pengambilan keputusan dan penyelesaian tugas dalam
organisasi, yang akan memiliki konsekwensi merampingkan struktur organisasi di
pusat ibukota maupun di perwakilan diplomatik di luar negeri. Setidaknya harus
ditentukan pendefinisian baru mengenai tugas, fungsi dan lingkup pekerjaan para
diplomat dalam organisasi;
3. Dengan ICT, jalur komunikasi melalui komputer sebenarnya dimungkinkan dapat
dilakukan di mana saja, di kantor ataupun di rumah bahk Pertanyaannya sekarang
adalah bagaimana pengamanannya, karena masalah security merupakan penghalang
utama digunakannya jaringan dan sistem komunikasi.
Persoalannya adalah sejauhmana kemampuan setiap penentu kebijakan untuk
dapat mengidentifikasi risiko security dalam menggunakan ICT. Sampai sekarang
belum pernah ada konvensi atau kesepakatan untuk mengamankan informasi,
karena negara berteknologi maju justru dengan diam-diam dan tertutup serta
secara
terus-menerus
berusaha
mengembangkan
teknologi
baru
untuk
mendapatkan atau menyadap informasi dari dan tentang negara yang berpotensi
menjadi saingan atau musuhnya.
Suatu realita bahwa digunakannya ICT dalam mendukung kegiatan diplomasi telah
meringankan bahkan mempermudah peran para diplomat dalam menjalankan tugasnya.
ICT juga membantu untuk
kepada para diplomat..
lebih mengefektifkan tanggung-jawab yang dibebankan
Ditemukannya internet dan video conference misalnya,
15
merupakan penemuan baru yang sangat mempercepat proses penyebaran informasi
sebagai bagian dari kegiatan diplomasi.
Peristiwa penting yang terjadi di suatu negara akan cepat tersebar pemberitaannya ke
seluruh dunia.
Media internasional segera menyebarkan berita tersebut ke seluruh
pelosok dunia yang diselingi dengan berbagai penjelasan atau analisis yang dilandasi oleh
informasi yang dikumpulkan oleh media tersebut atau dilatar-belakangi oleh sikap atau
pandangan politik media bersangkutan. Para diplomat dari berbagai negara akan segera
melaporkannya ke ibukotanya masing-masing mengenai peristiwa yang sama. Laporan
yang dibuat oleh para diplomat tentunya tidak hanya mengutip saja dari pemberitaan
media, tetapi harus berdasarkan informasi yang ditambah dengan analisa dan kesimpulan
obyektif. Kecepatan mendapatkan latar belakang informasi, baik yang berasal dari
kalangan pejabat pemerintah atau politisi setempat maupun dari pihak media, sangat
ditentukan oleh kedekatan hubungan para diplomat dengan sumber informasi yang dinilai
penting dan memiliki kredibilitas. Jaringan hubungan berdasar kedekatan pribadi dengan
berbagai kalangan sangat membantu kecepatan para diplomat mendapatkan akses ke
sumber informasi, yang akan menjamin keakuratan laporan yang disampaikan ke
pemerintah pusatnya.
Keakuratan dan kecepatan menyampaikan laporan ke ibukota
masing-masing akan membantu pemerintahnya merumuskan keputusan atau kebijakan
politik yang tepat dan cepat. Namun apa yang sering terjadi bahwa para diplomat
menyampaikan laporan ke pemerintahnya justru bersumber dari pemberitaan media.
Fungsi para diplomat di luar negeri juga mengalami perubahan akibat revolusi ICT.
Laporan politik ke ibukotanya tetap merupakan tugas sangat penting selain laporan
ekonomi dan promosi perdagangan. Perubahan yang cukup drastis sejak beberapa
dasawarsa terakhir bahwa tugas perwakilan diplomatik tidak hanya mengutamakan
hubungan bilateral, tetapi juga hubungan multilateral. Perubahan ini harus diikuti dengan
mempersiapkan para diplomat melalui
pendidikan dan pelatihan khusus menguasai
tehnik operasi diplomasi multilateral maupun berbagai masalah multilateral yang bersifat
global.
16
3. PERAN MEDIA
Pada masa-masa lalu terutama sebelum pecahnya Perang Dunia II, masyarakat dunia
memiliki anggapan bahwa “diplomats are a close shop” (istilah yang digunakan oleh
koresponden CBS, Marvin Kalb), yang mengartikan bahwa profesi sebagai diplomat
bersifat sangat tertutup, karena mereka bekerja hanya untuk kepentingan dan dimengerti
oleh lingkungannya sendiri dengan alasan menjaga security negara. Peran para diplomat
di jaman sekarang sudah jauh berbeda. Tuntutan masyarakat menghendaki agar diplomat
bersikap lebih transparan dengan melaksanakan komunikasi publik agar masyarakat
memahami apa yang menjadi tugas diplomat dalam menjalankan diplomasi, terutama
karena semakin cepatnya arus informasi akibat terjadinya revolusi komunikasi.
Revolusi teknologi komunikasi bukan hanya berpengaruh terhadap pentingnya
kecepatan arus informasi yang dilakukan oleh media yang harus secepatnya menyebarkan
setiap informasi kepada publik di dalam maupun di luar negeri, tetapi juga oleh para
diplomat yang harus segera menyampaikan laporan kepada pusat di ibukota. Dilihat dari
segi kepentingan kecepatan, memang terdapat perbedaan antara peran diplomat di satu
sisi dengan tugas media di sisi yang lain. Diplomat dalam melaksanakan peran dan
tugasnya dilandasi oleh kepentingan nasional dan misi pemerintah negaranya, sementara
antara media terjadi saling beradu cepat mengumpulkan dan menyalurkan informasi
untuk kepentingan publik, yang dilatar-belakangi oleh motivasi persaingan antara mereka
sendiri.
Siapa dan apa yang disebut kepentingan pubik, dalam hal ini mewakili semua unsur
yang ada di dalam masyarakat yang mempunyai kepentingan dengan pemberitaan media,
mulai dari mereka yang mempunyai kepentingan dengan masalah politik, ekonomi,
sosial, militer, pendidikan dan lain-lainnya sampai dengan mereka yang hanya
memerlukan informasi tanpa memiliki ikatan dengan kepentingan apapun atau siapapun,
karena sekadar hanya ingin tahu apa yang telah terjadi.
17
Sejak di jaman Yunani kuno antara praktik diplomasi dengan evolusi sistem politik
sudah saling mempengaruhi satu dengan yang lain, dan sejak abad ke-XIX nilai-nilai
demokrasi mulai ikut memberi warna dalam praktik diplomasi. Di abad ke-XIX juga
muncul teori-teori diplomasi yang banyak dipengaruhi oleh bentuk pemikiran baru yang
dilandasi oleh perkembangan politik di saat itu, yang antara lain sebagai akibat adanya
faktor yang berkembang dalam hubungan antarnegara, seperti : keinginan membentuk
komunitas antar negara, semakin tingginya pengakuan terhadap pentingnya opini publik,
dan semakin cepatnya sistem komunikasi antar negara. Faktor-faktor tersebut masih tetap
berlaku sampai sekarang.
Diplomasi yang sudah berlangsung ratusan tahun
selalu
dilaksanakan secara tertutup dan eksklusif, tetapi sejak berakhirnya Perang Dunia II arah
diplomasi secara tetap bergerak menuju ke arah sifat yang lebih terbuka bagi kepentingan
publik. Bahkan komunikasi publik secara pasti sudah memasuki arena tugas diplomasi
yang berarti pelaksanaan tugas diplomat tidak lagi selalu eksklusif dan tertutup. Bahkan
hasil pelaksanaan tugas para diplomat maupun menteri luar negeri harus dipertanggungjawabkan kepada parlemen.
Perubahan apapun yang terjadi dalam pelaksanaan tugas diplomat, inti pokok tugas
diplomasi
sebenarnya masih tetap sama yaitu merupakan “seni untuk membujuk,
mempengauhi dan meyakinkan fihak lain”, baik secara private maupun public. Dalam
keadaan sekarang, seorang diplomat tidak cukup hanya menggunakan keahliannya untuk
melakukan diplomasi melalui jalur private saja. Diplomasi akan menjadi lebih efektif
apabila diplomat dalam melaksanakan tugas pokoknya, selain melakukan: reporting,
analyzing dan negotiating juga mempunyai keahlian melakukan public communications.
Diplomat harus menyadari bahwa pelaksanaan tugas diplomasi harus diikuti dengan
kemampuan untuk menyalurkan informasi dan pesan politik melalui media agar dapat
difahami dan dimengerti dengan baik oleh masyarakat umum. Diperlukan suatu
pengertian dan pengetahuan khusus mengenai peran media agar dicapai komunikasi yang
efektif.
Akibat kemajuan dan kecepatan komunikasi menyebabkan ada yang berpendapat
bahwa peran seorang duta besar sekarang dinilai menjadi kurang penting lagi dalam
18
hubungan internasional.
Para kepala negara atau kepala pemerintahan mempunyai
jadwal tetap untuk saling bertemu atau dapat melakukan komunikasi langsung melalui
telepon, fax atau internet antarmereka sendiri untuk bertukar pendapat. Menghadapi
perkembangan saat ini, salah satu upaya para diplomat adalah melaksanakan komunikasi
publik antara lain dengan membina hubungan dekat atau memiliki komunikasi dengan
pihak pejabat teras atau politisi yang berada di sekitar kepala negara atau kepala
pemerintahan guna memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kebijakan politik
pemerintah setempat. Dalam hubungan ini dapat berlangsung persaingan ataupun
kerjasama antara diplomat dengan pihak media dalam melaksanakan komunikasi publik
tersebut.
Di negara akreditasi, diplomat dan media seringkali menghadapi sumber informasi
yang sama dan harus menggunakan kecepatan untuk mendapatkan informasi mengenai
suatu peristiwa penting. Kecepatan masing-masing memperoleh informasi sangat
ditentukan oleh kedekatan hubungan mereka dengan sumber informasi. Diplomat dan
koresponden asing berlomba mendapatkan informasi untuk dilaporkan ke pemerintah
pusatnya, sedangkan bagi koresponden media dikomunikasikan ke kantor pusatnya. Latar
belakang dan analisa politik dari peristiwa yang dilaporkan oleh para diplomat dinilai
lebih berbobot tinggi apabila laporan tersebut mengandung analisa yang lebih tajam dan
akurat apabila dibandingkan dengan laporan jurnalistik yang secara cepat tersebar luas ke
seluruh dunia, terlebih apabila peristiwa yang terjadi itu mempunyai kaitan dengan
hubungan bilateral.
Artinya, komunikasi publik yang dilakukan oleh para diplomat
bukanlah hanya semata-mata memperoleh atau mengumpulkan informasi saja, tetapi
harus disertai kemampuan membuat analisa politik yang canggih, mendalam dan tajam
berdasarkan naluri politik dan kemampuan analisis seorang diplomat yang sudah terlatih
baik. Kemampuan analisis tersebut harus pula didukung oleh kecanggihan diplomat
mendapatkan informasi melalui komunikasi publik dari sumber informasi, baik dari fihak
yang mendukung maupun dari kalangan yang menentang (oposisi) mengenai suatu
perkembangan politik atau kebijakan penting lainnya.
19
Diplomat yang juga seorang birokrat ditugaskan di dalam maupun di luar negeri.
Sebagai unsur birokrasi di dalam negeri, seorang diplomat menjadi berperan sebagai
sumber informasi yang harus menghadapi media dari dalam maupun luar negeri.
Anggota media memerlukan informasi yang cepat dan akurat untuk disebarkan kepada
masyarakat luas, sehingga apapun yang disampaikan kepada pihak media pada umumnya
merupakan informasi obyektif sebagai konsumsi masyarakat. Biasanya departemen luar
negeri atau kementerian luar negeri suatu negara menerapkan kebijakan “satu pintu”
untuk melayani media agar tercipta prinsip satu suara, yang biasanya dilakukan oleh juru
bicara departemen. Sebagai bagian dari alat pemerintah, setiap lembaga pemerintah
memiliki bahan substansi yang sedikitnya memiliki empat macam kategori, yaitu :
- bahan substansi yang bukan untuk konsumsi pemberitaan,
- yang belum matang menjadi konsumsi pemberitaan,
- yang sudah matang sebagai bahan pemberitaan, dan
- yang secara sengaja disebar-luaskan untuk kepentingan politik tertentu.
Adakalanya penyebar-luasan suatu berita justru untuk memancing reaksi dari negara
lain. Suatu pemberitaan untuk konsumsi masyarakat harus memiliki tujuan yang jelas dan
sebagai bagian dari kebijakan politik pemerintah yang bersifat terbuka. Untuk keperluan
dan kepentingan politik, informasi yang diberikan dapat bersifat tertutup, yang biasanya
diberikan kepada kalangan tertentu saja. Walaupun dalam beberapa hal terjadi pertemuan
kepentingan yang berbeda antara diplomat dengan unsur media, tetapi sebagai bagian dari
tugas diplomasi tidak dapat dihindari bahwa diplomat dan media merupakan partner
penting yang dapat saling mengisi dan saling membantu.
Liberalisasi politik menuntut keterbukaan dalam setiap kebijakan pemerintah, yang
tidak jarang ikut membatasi bahkan mempersulit lingkup tugas diplomat. Diplomat
sering menghadapi dilemma dengan adanya liberalisasi informasi mengingat tidak semua
informasi yang dapat dianggap sudah cukup matang untuk dijadikan informasi publik.
Kecenderungan perkembangan ini mengandung kepekaan, karena di satu fihak adanya
tuntutan masyarakat agar negara tidak memiliki kerahasiaan kepada public (harus bersifat
20
transparan), sementara di fihak lain masih diperlukan sifat tertutup karena menyangkut
kerahasiaan negara karena dianggap tidak harus atau belum perlu diketahui publik. Suatu
kecenderungan umum yang berlaku di alam globalisasi adalah tuntutan untuk
mengutamakan sifat liberalisme dalam kehidupan politik negara, yang secara otomatis
akan mempersempit gerak kewenangan diplomasi menjaga kerahasiaan negara.
Dalam keadaan sekarang, dunia sudah dipenuhi dan dikelilingi oleh budaya
elektronika. Sudah merupakan kenyataan sehari-hari bahwa pemberitaan media,
khususnya berita di TV, yang dengan cepat mengulas mengenai kebijakan politik dalam
negeri maupun permasalahan dalam hubungan internasional, untuk memenuhi keinginan
konsumen memperoleh informasi secara cepat. Diplomat harus menyadari bahwa di
dunia sedang berlangsung “demokrasi media” dan juga “diplomasi media”. Seorang
diplomat harus memiliki kemampuan agar tidak terjebak oleh diplomasi media yang
memang disengaja untuk mendapatkan informasi penting. Dengan semakin cepatnya
sistem komunikasi, pemberitaan di media secara tidak langsung dapat ikut berperan
mempercepat penyelasaian atau penanganan persoalan dalam hubungan internasional.
Sebaliknya, demokrasi media dan diplomasi media dapat berakibat memperburuk situasi.
Kecepatan suatu pemberitaan oleh media mengenai adanya permasalahan hubungan
bilateral antara dua negara, ikut mempercepat reaksi atau penjelasan dari negara yang
bersangkutan atau sebaliknya justru dapat memperkeruh suasana, sebagai akibat ulasan
atau komentar subyektif media yang ternyata dibuat tergesa sehingga kurang akurat.
Sebagai bagian dari public communications, dapat diselenggarakan suatu pertemuan
berkala dengan media di dalam negeri untuk menyampaikan “background information”,
untuk menumbuhkan saling pengertian antara diplomat dengan media mengenai latar
belakang suatu kejadian politik tertentu. Adakalanya ada persoalan diplomatik yang
sudah “tercium” oleh media, tetapi persoalan tersebut masih belum saatnya untuk
dijadikan konsumsi publik, karena mungkin menyangkut kepentingan hubungan bilateral
atau mempengaruhi keberhasilan sasaran kepentingan nasional. Timbul kemudian istilah
“off the record”, yang artinya informasi yang disampaikan tidak untuk dijadikan bahan
berita. Penyampaian background information “off the record”, biasanya disampaikan
21
kepada chief editors media di dalam negeri mengenai peristiwa nasional yang masih
mengandung sifat kerahasiaan atau yang samasekali tidak perlu untuk diberitakan.
Beberapa tokoh wartawan ada yang beranggapan bahwa penyampaian informasi “off the
record” tidak akan efektif karena tidak mengandung sanksi, dan informasi yang diterima
itu sudah dapat dipastikan di kemudian hari akan dijadikan bahan masukan dalam
mengulas suatu peritiwa politik, sehingga dapat dipastikan bahwa informasi itu suatu saat
akan menjadi “on the record”. Komitmen yang berlangsung antara media dan birokrat
hanya akan berlangsung untuk jangka pendek saja.
22
4. DIPLOMASI TOTAL
Di alam globalisasi terdapat banyak non-professional diplomat yang merasa
mempunyai kepentingan sebagai pemerhati atau mau ikut berperan dalam kegiatan aktif
diplomasi.
Kalau
para
diplomat
professional
dalam
melaksanakan
tugasnya
menggunakan sarana mesin diplomatik yang merupakan networking baku yang sudah
terbentuk untuk menghubungkan pusat pemerintahan dengan perwakilan diplomatik di
luar negeri dalam rangka menjalankan misi diplomatik, sementara aktor dari unsur nonpemerintah membentuk sendiri networkingnya yang dikesankan memiliki independensi.
Keterbatasan gerak para diplomat professional dalam melaksanakan tugasnya yang harus
mengikuti tata-cara dan protokol diplomatik, dinilai oleh kelompok lain sebagai lamban
dan kurang efektif.
Banyaknya aktor non-pemerintah yang ikut dalam pelaksanaan diplomasi yang
bertujuan mencapai sasaran kepentingan nasional, pelaksanaannya
menjadi kurang
terarah dan kurang efektif karena berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang jelas.
Dengan semakin meluas dan semaraknya peran “swasta” (non-pemerintah) tersebut
dalam hubungan internasional khususnya di negara-negara maju, memunculkan persepsi
di kalangan negara sedang berkembang untuk mengimbanginya dengan mengetengahkan
juga aktor baru dalam kehidupan diplomastik. Faktor kurangnya pengalaman dan dana di
beberapa negara sedang berkembang, menyebabkan kegiatan para aktor baru tersebut
mudah dipengaruhi atau ditentukan arah gerakannya oleh unsur asing (termasuk NGO)
yang sering memiliki latar belakang dan motivasi politik, bahkan ada yang menjadi
bagian dari kegiatan intelijen.
Kegiatan diplomasi merupakan pelaksanaan dari kebijakan politik luar negeri yang
memperjuangkan kepentingan nasional suatu negara yang berhubungan dengan
kepentingan negara atau negara-negara lain di dunia. Dari sudut pelaksanaan tugas
diplomasi, kemampuan antisipasi menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan
gangguan di satu sisi, dan upaya memperjuangkan diplomasi yang berdasarkan
kepentingan nasional di sisi yang lain, disebut sebagai diplomasi total. Diplomasi total
23
mempunyai maksud ganda, yaitu pertama : untuk menggalang kekuatan nasional
menghadapi unsur asing di dalam maupun di luar negeri, dan kedua : bahwa pelaksanaan
diplomasi merupakan bagian dari aspirasi masyarakat yang tercermin sebagai bagian dari
kepentingan nasional.. Diplomasi total didukung oleh sistem yang mampu menggerakkan
seluruh kekuatan nasional untuk bekerjasama, berkonsultasi dan berkoordinasi
melaksanakan kegiatan diplomasi yang memperjuangkan kepentingan nasional, baik
melalui apa yang disebut first track diplomacy yang dilaksanakan oleh unsur resmi
pemerintah, maupun second track diplomacy yang dijalankan oleh unsur-unsur nonpemerintah. Dalam rangka mencapai sasaran kepentingan nasional suatu negara, sudah
sewajarnya kalau dalam melaksanakan diplomasi total perlu tercipta suatu koordinasi
nasional dalam rangka mencapai satu sasaran yang sama.
Koordinasi antara
pelaksanaan first track dan second track diplomacy tersebut pada umumnya dilakukan
oleh departemen/kementrian luar negeri sebagai unsur pemerintah yang mempunyai
tanggung-jawab resmi menjalankan politik luar negeri dan melaksanakan diplomasi.
Kegiatan koordinasi yang mencakup seluruh kekuatan nasional yang terdiri dari unsur
pemerintah dan non-pemerintah, menjadi sangat strategis bagi perjuangan suatu negara
untuk mencapai sasaran kepentingan nasional demi terciptanya kemakmuran dan
kejayaan rakyat dan bangsanya, karena didukung oleh kekuatan positif seluruh
masyarakat..
Masyarakat atau rakyat merupakan unsur kekuatan nasional yang memberi motivasi
pemerintah melaksanakan kebijakan politik luar negeri, sebaliknya motivasi masyarakat
tersebut harus didasarkan pada pengertian masyarakat mengenai arah dan tujuan politik
luar negeri itu sendiri yang secara politis disalurkan melalui parlemen. Merupakan tugas
penting bagi departemen/kementrian luar negeri untuk melakukan kegiatan public
relations secara terus-menerus kepada masyarakat agar lebih memahami arah dan tujuan
politik negeri negara. Merupakan suatu prasyarat mutlak bahwa semua pejabat publik,
baik yang berada di lingkungan eksekutif, legislatif maupun yudikatif, memiliki satu
tanggung-jawab mutlak untuk menyimpan kerahasiaan negara demi kepentingan
nasional dan bukan digunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau
golongan.
24
Ciri diplomasi di abad millennium lebih banyak membahas masalah yang bersifat
global melalui jalur kerjasama multilateral dan menunjukkan semakin berkurangnya
peran pemerintah negara.
Dari segi pelakunya, diplomasi total semakin banyak
mengetengahkan aktor politik (baik yang berasal dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah) yang merasa berhak ikut menangani kegiatan diplomasi, baik yang
disalurkan melalui jalur bilateral maupun multilateral. Hal yang cukup menonjol dalam
kegiatan diplomasi di abad millennium adalah semakin diabaikannya kedaulatan negara
termasuk kedaulatan atas wilayah negara, karena negara besar khususnya negara
adikuasa, tidak lagi mau menghormati batas wilayah negara sepanjang hal tersebut
mempunyai hubungan dengan kepentingan keamanan mereka.
Mereka menganggap
memiliki kewenangan menjaga dan mengamankan nilai-nilai tatanan dunia baru yang
justru mereka sendiri menentukan kwalifikasinya.
Semakin meningkatnya hubungan antarbangsa di alam globalisasi dengan
kedudukan AS sebagai satu-satunya negara adikuasa dunia yang terus-menerus ingin
memperkuat dan mempertahankan dominasinya, kehidupan diplomasi juga disibukkan
dengan semakin banyaknya kegiatan yang bersifat tertutup yang dikenal dengan kegiatan
intelijen. Di satu fihak AS dan sekutunya berusaha menggunakan atau memperluas
pengaruhnya dalam rangka mendukung strategi globalnya agar tatanan dunia selalu
berada di bawah pengaruhnya, sementara di fihak lain berlangsung kegiatan counterintelijen dari negara lain sebagai faktor pengimbang bahkan menghalangi upaya dan
kegiatan intelijen AS dan sekutunya. Kegiatan intelijen sebenarnya sudah berlangsung
sangat lama seiring dengan lamanya umur diplomasi, bahkan banyak yang mengatakan
bahwa kegiatan diplomatik adalah bagian dari kegiatan inteijen yang bersifat resmi.
Semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini menyebabkan negara
maju saling berusaha mendapatkan peluang dan kesempatan menguasai semua informasi
yang mereka perlukan dari negara-negara yang dijadikan sasaran mereka. Dari segi
kepentingan negara yang aktif melaksanakan apa yang disebut sebagai diplomasi total,
faktor kegiatan intelijen dan kontra-intelijen merupakan bagian dari diplomasi itu sendiri,
karena antara kegiatan diplomasi dengan kegiatan intelijen memang dapat saling mengisi
25
Bahkan adakalanya berlangsung penyusupan (tertutup) secara sengaja kegiatan intelijen
ke dalam kegiatan diplomatik karena faktor hak imunitas sebagai diplomat. Tidak jarang
pula bahwa kegiatan intelijen menggunakan diplomat sebagai sumber informasi atau
dijadikan agen informasi, tetapi
sebaliknya mereka dari unsur intelijen dalam
menjalankan tugasnya difungsikan sebagai diplomat.. Banyak negara yang menggunakan
departemen/kementrian luar negeri sebagai wadah yang mengkoordinasi kegiatan
diplomatik tertututup (intelijen) yang dilakukan di lingkungan perwakilan diplomatik,
karena tugas diplomasi dan intelijen memiliki garis batas yang sangat tipis.
Di era globalisasi terjadi perubahan atau pergeseran sifat isu global. Perubahan
tersebut pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan isu politik global yang sesuai
dengan kecenderungan baru dunia yang lebih memberi perhatian pada hak-hak individu
manusia sebagai penduduk dunia. Kalaupun di era globalisasi masih terjadi konflik atau
kekerasan bersenjata, hal tersebut bukan lagi sebagai akibat pertentangan ideologi, tetapi
lebih merupakan akibat dari perbedaan persepsi dan penilaian yang berhubungan dengan
hak dasar manusia. Kekerasan yang terjadi di Afghanistan dan serangan AS terhadap Irak
misalnya, merupakan akibat tuduhan yang ditujukan ke kedua negara tersebut yang
dinilai mendukung dan terlibat dalam terorisme internasional yang dianggap
membahayakan kehidupan dan kebebasan umat manusia. Walaupun AS sebagai adikuasa
mempunyai agenda atau motivasinya sendiri mengapa menguasai kedua wilayah tersebut.
Di paragraph sebelumnya sudah disinggung mengenai semakin banyaknya unsur
non-pemerintah yang berminat atau merasa perlu untuk melakukan kegiatannya dengan
memasuki atau mempengaruhi wilayah tugas dan kegiatan diplomasi. Landasan pokok
pelaksanaan diplomasi adalah memperjuangkan kepentingan nasional secara utuh untuk
kepentingan bangsa dan negara. Seperti sudah disinggung bahwa kegiatan diplomasi
juga mengandung unsur intelijen berbentuk diplomasi tertutup, karena dalam hubungan
diplomasi antarnegara terjadi pertemuan kepentingan negara (kepentingan nasional) yang
memiliki persepsi politik yang berbeda bahkan juga ada yang berseberangan. Hal ini
merupakan kenyataan dalam kehidupan bernegara bahkan juga antara negara yang
tergabung dalam kerjasama regional ataupun antara negara yang di permukaan dinilai
26
sebagai negara sahabat, mengingat setiap negara harus memperjuangkan kepentingan
nasionalnya masing-masing. Kemampuan untuk mengantisipasi hubungan bilateral dan
pengaruh hubungan tersebut bagi kepentingan nasional masing-masing, merupakan juga
tugas pokok setiap negara dalam melaksanakan hubungan internasional. Kelangsungan
hidup suatu negara memiliki kemampuan untuk survive, apabila setiap pemerintahan
negara mempunyai kesadaran tinggi dalam menjaga, memelihara dan memperjuangkan
kepentingan nasionalnya serta mampu mengantisipasi kemungkinan bahaya
yang
mengancam dari dalam maupun luar negeri yang dapat diprediksi akan mengganggu
kepentingan nasionalnya. Dalam hal ini sistem pengamanan (security) suatu negara
menjadi sangat penting, baik yang mengandung kepentingan militer, ekonomi maupun
politik. Berlangsungnya keseimbangan antara kemampuan militer, ekonomi dan politik
suatu negara akan menjamin keberhasilannya mencapai sasaran dan tujuan kepentingan
nasional negara tersebut.
Departemen/kementrian luar negeri berfungsi menjalankan politik luar negeri
berdasarkan konstitusi dan sesuai kebijakan politik pemerintah, selain juga untuk
melaksanakan diplomasi melalui kerjasama, konsultasi dan koordinasi secara teratur
dengan berbagai lembaga pemerintah (eksekutif, legislatif dan yudikatif) dengan
memperhatikan aspirasi yang disuarakan oleh mayoritas rakyat melalui parlemen, untuk
kemudian menetapkan kebijakan luar negeri dalam rangka mendukung dan menjalankan
politik luar negeri menghadapi perkembangan politik dunia melalui first track diplomacy,
baik dalam masalah bilateral maupun multilateral.
Semakin berkurangnya peran
pemerintah negara dalam menangani berbagai isu politik dunia, maka diperlukan
kerjasama dengan unsur di luar pemerintah untuk memperjuangkan tuntutan kepentingan
nasional. Masalah pelestarian hutan alam, hak asasi manusia, lingkungan hidup dll.nya
sudah merupakan isu politik global yang lebih banyak ditangani oleh pihak swasta yang
independen. Sebagai contoh, adanya illegal logging, penambangan liar dan penebangan
liar di hutan lindung berakibat pada kerusakan lingkungan hidup yang sangat
dikhawatirkan oleh berbagai kelompok di kalangan swasta karena sudah mengganggu
kelestarian bumi dan kelanjutan kehidupan di alam semesta. Kerusakan alam sangat
merugikan penghasilan negara, sehingga diperlukan kerjasama dan koordinasi antara
27
swasta dan diplomat professional untuk menanggulangi masalah global ini melalui
second track diplomacy. Second track diplomacy juga dapat digunakan oleh pemerintah
untuk meminta dukungan pihak swasta melakukan kegiatan lobby menghadapi
diberlakukannya politik dumping oleh negara lain. Sebaliknya apabila muncul
permasalahain perdagangan yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pihak swasta,
maka kerjasama atau kesepakatan antarpemerintah
perdagangan tersebut melalui first track diplomacy.
dapat menyelesaikan
hambatan
28
5. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DIPLOMAT
Keberhasilan seorang diplomat dalam menjalankan profesinya, selain ditentukan
oleh kepiawaian perorangan juga ditentukan oleh keberhasilan sistem pendidikan dan
pelatihan diplomat yang dimiliki suatu negara. Keberhasilan diplomasi negara sangat
ditentukan oleh kemampuan para diplomatnya dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya
berdasarkan kepentingan nasional, yang tentunya juga tidak dapat dilepaskan dari hasil
sistem pendidikan dan pelatihan para diplomat. Perlu dibedakan antara pengertian
pendidikan dan pelatihan, karena kegiatannya merupakan satu kesatuan yang saling
mendukung tetapi mempunyai sasaran yang berbeda.
Pendidikan diplomat dimaksudkan agar setiap diplomat mengenal dan mengerti
tentang tata-cara keprotokolan diplomatik, sopan santun, surat-menyurat, perilaku dan
berbagai kebiasaan dalam kehidupan diplomatik, selain juga mendidik untuk menguasai
berbagai tugas rutin seorang diplomat dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan
kepangkatan dan tingkat jabatannya. Kurang dikuasainya sopan-santun, aturan protokol
dan kebiasaan surat-menyurat yang berlaku dalam dunia diplomatik dapat mengakibatkan
kesalah-fahaman yang berakibat fatal dalam hubungan antanegara. Pendidikan juga untuk
menyalurkan bahan-bahan keilmuan mengenai aturan baku yang berlaku untuk
mendukung pelaksanaan diplomasi, selain untuk mendidik setiap insan diplomat
menguasai perkembangan terakhir dari ilmu politik dan ekonomi bahkan perkembangan
strategi dan peralatan militer, pengertian tentang tata-cara dan lingkup tugas kerjasama
bilateral maupun multilateral, hubungan internasional, ilmu tata negara, hukum
internasional, hukum administrasi negara dan lain-lainnya.
Pelatihan merupakan sistem dan metoda untuk mengasah dalam rangka
mempertajam naluri dan penginderaan serta kecakapan seorang diplomat dalam menilai
dan mengantisipasi suatu perkembangan politik, militer, ekonomi, perdagangan, dan
keuangan yang terjadi dalam hubungan antarbangsa dan untuk melatih mempertajam
kepekaan dan kepiawaian seorang diplomat dalam melaksanakan tugasnya. Seorang
diplomat harus terlatih untuk mampu melakukan antisipasi kejadian dan perkembangan
29
dunia yang akan terjadi di hari mendatang berdasarkan berbagai kecenderungan yang
terjadi, baik dari sudut kepentingan ekonomi, politik, teknologi, sosial, budaya,
pendidikan dan militer. Pelatihan juga bertujuan untuk menjadikan seorang diplomat
selalu memilki “sense of management”, “sense of leadership”, “sense of commitment”
dan “sense of urgency”, yang tentunya disesuaikan dengan jenjang kepangkatan
diplomatik dan jabatan kedinasannya. Melalui metoda pelatihan berjenjang, sejak dini
sudah dapat dipantau secara terus-menerus kemampuan dan kecanggihan setiap diplomat
dalam
melaksanakan
departemen/kementrian
tugasnya,
yang
akan
mempermudah
kedinasan
di
menentukan penugasan seseorang di dalam maupun di luar
negeri, sesuai dengan performance yang bersangkutan. Sistem pemantauan (monitoring)
perorangan harus secara terus-menerus dilakukan mengikuti jalan karir setiap diplomat
dalam menjalankan tugasnya, agar tercapai hasil kerja yang efisien dan efektif, yang
tentunya bertujuan memberi dukungan penuh terhadap pelaksanaan kebijakan politik luar
negeri dan diplomasi negara. Dengan perkataan lain, harus berlangsung hubungan kerja
yang serasi dan terus-menerus antara sistem pendidikan/pelatihan dengan sistem
administrasi kepegawaian.
Kematangan dan keberhasilan sorang diplomat professional tidak mungkin
diperoleh hanya dalam waktu yang singkat, karena itu sistem penentuan tingkat senioritas
seorang diplomat professional bukan semata-mata ditentukan dari lamanya pengalaman
atau tugas yang bersangkutan saja, tetapi juga memperhitungkan kepiawaian yang
bersangkutan dalam menangkap, menganalisan dan menyimpulkan berbagai peristiwa
politik penting. Selain melalui sistem pendidikan dan pelatihan, kepiawaian seorang
diplomat juga sangat ditentukan oleh kemauan dan kerja keras yang bersangkutan
mengikuti secara terus menerus setiap perkembangan politik dunia dari berbagai sarana
publik yang ada, yang berasal dari ulasan media maupun lembaga studi atau pendidikan
tinggi serta diskusi terbuka antara sesama diplomat di wilayah akreditasi.
Faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan diplomat dalam menjalankan tugas
dan fungsinya di perwakilan diplomatik adalah naluri leadership, kemampuan
management, keterbukaan untuk bekerjasama melalui konsultasi dan koordinasi. Tugas
30
sebagai diplomat mengandung perpaduan antara naluri individualisme dengan semangat
komunalisme atau antara kemampuan pribadi seseorang yang sangat berkaitan dengan
kemampuan untuk bekerjasama dengan sesama diplomat di lingkungan kerja sebagai
sesama birokrat. atau sebagai bagian dari birokrasi negara. Dalam melakukan komunikasi
publik, keberhasilan seorang diplomat akan sangat ditentukan dari kemampuan
pribadinya untuk melaksanakan “seni untuk membujuk, mempengaruhi dan meyakinkan”
dan keberhasilannya harus didukung oleh kerjasama sebagai satu team dalam kerangka
yang lebih luas yaitu melaksanakan tugas negara bersama diplomat senegaranya..
Kemajuan teknologi informasi, teknologi komunikasi dan teknologi militer (mesin
perang) akan terus berkembang dan akan melalui suatu proses kemajuan yang sangat
cepat, yang sudah dapat dipastikan akan ikut menentukan arah perkembangan dunia.
Negara yang mengabaikan kecenderungan pertumbuhan dan arah terjadinya revolusi
teknologi informasi, komunikasi dan khususnya mesin perang, akan menjadi negara yang
sangat tertinggal dan terbelakang, bahkan hanya akan dijadikan permainan politik
negara atau bangsa lain yang lebih maju. Setiap proses praktik diplomasi harus
didukung oleh kemampuan mengumpulkan data dan informasi yang menggunakan
kemajuan teknologi baru. Sistem pelatihan para diplomat harus mengikuti, mengerti dan
menguasai kecenderungan kemajuan teknologi tersebut dalam kurikulumnya. Pengertian
tehnis tentang perkembangan kemajuan teknologi yang akan terjadi merupakan sarana
mendapatkan informasi secara cepat dan akurat.
31
6.
KESIMPULAN
Indonesia di antara proses reformasi diplomasi dunia dan politik luar negeri bebas
dan aktif
Teori umum mengatakan bahwa keberhasilan atau kegagalan negara dalam
melaksanakan pembangunan sangat ditentukan oleh tingkat pertumbuhan ekonominya.
Apabila memperhatikan tingkat kemajuan kehidupan dan kwalitas hidup rakyat di
berbagai negara dewasa ini, menunjukkan bahwa sudah cukup banyak negara yang
mencapai kemajuan substansial, tetapi masih ada yang pertumbuhannya masih lambat,
bahkan banyak pula yang mengalami kegagalan dan menjadi bertambah miskin
dibandingkan keadaan sebelumnya..
Untuk mengukur apakah suatu negara sudah dapat dinilai berhasil atau gagal
mencapai kemakmuran bagi rakyatnya, harus dengan cara mengikuti dan menelusuri
secara cermat keseluruhan proses pertumbuhan negara tersebut paling sedikit selama satu
generasi. Kemajuan pertumbuhan ekonomi negara tidak hanya dapat dilihat dari
kemampuannya meningkatkan standar kehidupan rakyatnya saja, tetapi juga catatan
akurat sejauhmana negara tersebut berhasil memiliki akses ke seluruh dunia disertai
kemampuannya mempengaruhi opini masyarakat internasional. Sebagai jaminan untuk
menentukan ketahanan suatu negara menghadapi krisis, perlu pula diketahui kemampuan
daya saing negara tersebut menghadapi negara-negara lain, disertai pula catatan tentang
naik-turun kemampuan industri manufakturnya paling sedikit selama tigapuluh tahun
terakhir. Efisiensi pelayanan untuk sektor industri sangat berhubungan dengan sistem
pelayanan umum di sektor banking, kesehatan, pendidikan, transport publik, hotel dan
lain-lain, juga merupakan ukuran penting menentukan apakah suatu negara memiliki
daya saing atau tidak, dan sejauhmana daya saingnya itu mampu dipertahankan sampai
generasi berikutnya. Faktor lain yang paling penting adalah juga kemampuan negara
menggerakkan
efisiensi seluruh kekuatan masyarakatnya agar memiliki disiplin dan
32
patuh terhadap ketentuan hukum yang berlaku, serta saling menghargai hak individu
anggota masyarakat.
Timbul
kemudian
pertanyaan,
apakah
Indonesia
yang
sudah
berhasil
memerdekakan diri dari penjajahan sejak tahun 1945 sudah dapat dianggap memiliki
pertumbuhan ekonomi yang benar-benar bermanfaat bagi kemakmuran bangsanya, dan
apakah sudah memiliki ketahanan daya saing menghadapi negara lain di dunia ?
Patokan umum mengindikasikan bahwa negara dapat disebut sebagai negara normal
dan mandiri apabila terjadi keseimbangan atau perbandingan lurus antara kemajuan
ekonomi dengan kemampuan kekuatan militer untuk melindungi kepentingan politik dan
ekonomi negara tersebut.
Dalam mengikuti proses perkembangan politik yang terjadi di dunia dan ketika
melaksanakan diplomasinya, Indonesia masih sering harus menghadapi kondisi dan
situasi dunia yang tidak selalu kondusif dengan kepentingan nasionalnya. Di akhir abad
XX, sistem penjajahan secara prinsip
antarbangsa,
sudah tidak dapat diterima dalam hubungan
walaupun pada kenyataannya ciri-ciri neo-kolonialisme masih saja
berlangsung melalui bentuk pemaksaan, penindasan dan penekanan oleh negara yang
lebih kuat terhadap yang lemah, baik di bidang politik, ekonomi, militer maupun melalui
kegiatan diplomasi. Indonesia sebagai negara yang pernah mengalami penjajahan, masih
harus berhadapan dengan usaha bekas negara kolonial yang masih terus berjuang
memperoleh justifikasi terhadap apa yang pernah mereka lakukan di Nusantara sepanjang
abad XV sampai abad XIX. Mereka mencoba terus mempengaruhi opini publik dunia
memperoleh kebenaran terhadap perbuatannya selama menjajah Nusantara.
Hambatan dan gangguan yang dihadapi Indonesia sampai sekarang juga tidak dapat
dilepaskan dari kebijakan politik dan diplomasi negara besar yang sering menunjukkan
sikap politik yang ingin mendominasi, baik yang dilakukannya secara terbuka maupun
dengan cara tertutup. Sejak AS menjadi satu-satunya negara adikuasa, Indonesia harus
menghadapi strategi global AS membentuk tatanan dunia yang berdasarkan demokrasi-
33
liberal.
Dalam melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif, diplomasi
Indonesia tidak jarang harus pula berhadapan dengan kondisi politik yang tidak searah
dengan kebijakan luar negeri Indonesia di tingkat global maupun regional.
Tantangan lain yang harus dihadapi Indonesia adalah berlangsungnya ketidakseimbangan arus informasi dunia. Dunia lebih banyak dipenuhi oleh arus informasi yang
justru berasal dari negara maju daripada dari negara sedang berkembang. Faktor yang
menentukan adalah karena negara maju lebih menguasai teknologi komunikasi dan
informasi, sehingga opini publik dunia lebih cepat dan lebih banyak dipengaruhi oleh
sikap pandang politik negara maju. Akibatnya, negara sedang berkembang seringkali
berada dalam posisi yang defensive dan menjadi “korban” informasi yang dikembangkan
oleh negara maju yang mampu menguasai opini dunia.
Diplomat Indonesia sering
menghadapi “tekanan” opini media Barat yang justru mempersulit bahkan memojokkan
posisi Indonesia dalam menjalankan kebijakan politik luar negeri yang bebas dan aktif..
Di abad millennium, AS dan sekutunya melaksanakan kebijakan politik yang secara
terang-terangan tidak lagi menghormati beberapa ketentuan yang tercantum dalam
“Vienna Convention on Diplomatic Relations” dan tidak lagi menghormati prinsip
kedaulatan negara yang pernah dijunjung tinggi oleh semua negara di dunia. Satu-satunya
dasar hubungan internasional yang diterapkan AS adalah kepentingan strategi globalnya
membentuk tatanan dunia baru dan melindungi wilayah negaranya dari ancaman apapun.
AS bahkan menggunakan legitimasi PBB untuk mendukung kepentingan politiknya
akibat dari kondisi dunia yang sudah tidak ada lagi keseimbangan kekuatan menghadapi
dominasi militer dan teknologi perang AS.
Indonesia sangat berkepentingan dengan stabilitas politik dan keamanan di kawasan
Asia Tenggara dan Asia Timur, mengingat kepentingan pembangunan nasional
Indonesia, khususnya di bidang ekonomi yang sangat ditentukan oleh tingkat hubungan
bilateral Indonesia dengan negara-negara tetangganya dan negara-negara di Asia Timur,
khususnya Jepang, China dan Korea Selatan. Hubungan antarnegara inti di Asia Timur
juga menjadi perhatian Indonesia mengingat hubungan segitiga Jepang-China-Korea
34
Selatan seringkali mengalami pasang-surut.
Indonesia ikut berkepentingan dengan
perkembangan perairan di Selat Malaka dan Laut China Selatan karena mengandung
kepekaan politik yang dapat mengganggu stabilitas keamanan regional.
Ditempatkannya pasukan AS di kawasan Asia Timur menunjukkan bahwa kawasan
tersebut mempunyai nilai strategis tinggi bagi AS dan mengandung kerawanan terhadap
kemungkinan konflik regional yang dapat berkembang menjadi konflik antarregional.
Indonesia merasa perlu untuk mengikuti dari dekat perkembangan hubungan regional di
Asia Tenggara dan Asia Timur, khususnya perkembangan di China yang dapat dikatakan
belum sepenuhnya bersifat transparan. Di Asia Tenggara, negara-negara pantai Selat
Malaka masih harus berhadapan dengan negara besar dan negara pengguna Selat Malaka
yang cenderung menginginkan
internasionalisasi Selat tersebut, terutama untuk
kepentingan strategi global Barat. Persoalan yang harus dihadapi Indonesia adalah
adanya sikap politik sesama negara anggota ASEAN justru ada yang bersikap
mendukung kepentingan negara Barat. Ketidak-seimbangan kekuatan militer dan kondisi
pertumbuhan ekonomi negara di Asia Tenggara hanya akan mengakibatkan ketidakstabilan
kawasan serta semakin
memperlemah posisi tawar Indonesia menghadapi
pergulatan strategik di lingkungan “lingkaran konsentrik pertama” Indonesia.
Indonesia juga menghadapi kecenderungan yang muncul di permulaan abad XX,
ketika hubungan antarbangsa mulai memperhatikan hubungan manusia dengan alam
sekitarnya.
Permasalahan pokok bahwa pada umumnya sumber hayati dunia lebih
banyak yang dimiliki negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, sementara negara
maju yang menguasai teknologi canggih yang justru memperoleh manfaat paling banyak
dengan menyerap sumber hayati tersebut. Sementara itu persediaan sumber hayati dunia
sudah semakin menipis. Untuk dapat meneruskan memanfaatkan sumber hayati alam
bagi kepentingan survivalnya, negara maju melakukan tekanan politik kepada negara
sedang berkembang agar lebih memperhatikan pelestarian tersedianya sumber hayati
tersebut, sebaliknya negara berkembang menuduh negara maju melakukan cara-cara neokolonialisme sebagai “kolonialisme hijau” yang tujuan utamanya adalah menekan terus
negara berkembang.
35
Kemajuan teknologi yang diharapkan dapat lebih meningkatkan produktivitas
ekonomi dunia, ternyata membawa akibat memperparah kerusakan lingkungan hidup dan
menambah pencemaran udara dan air, serta semakin habisnya sumber hayati alam.
Kesenjangan teknologi antara negara maju dan negara sedang berkembang ikut
memperlebar jarak kesenjangan kemakmuran bangsa-bangsa di dunia. Indonesia sebagai
negara sedang membangun harus menghadapi isu lingkungan hidup yang sudah menjadi
isu politik global oleh negara maju. Permasalahannya bahwa belum adanya kesatuan
sikap menghadapi tekanan politik dan ekonomi oleh negara maju. Apa yang disebut
sebagai bantuan negara maju kepada negara berkembang merupakan bentuk “tekanan
psikologis” membungkam dan menjadikan negara berkembang selalu bergantung dari
bantuan negara maju, yang berarti bantuan tersebut dijadikan alat pengikat sekaligus
sebagai alat menekan terhadap penerima bantuan agar selalu mengikuti atau mendukung
kepentingan negara pemberi bantuan.
Kebesaran dan keunggulan AS sebagai negara adikuasa mulai terusik oleh
kemajuan ekonomi Eropa, Jepang, China, Korea Selatan dan Taiwan.
Satu-satunya
kebijakan politik yang dilakukan AS adalah untuk tetap mempertahankan dominasi
teknologi dan alat perang AS, selain untuk mempertahankan penguasaan manajemen
sumber enerji dunia. Faktor hubungan AS dengan negara di Timur Tengah menjadi
sangat krusial bagi survival AS sebagai satu-satunya adikuasa dunia. Kebijakan politik
dan diplomasi AS di Timur Tengah merupakan politik menguasai ladang minyak, dan AS
terus berusaha untuk tetap ungggul dalam pengembangan teknologi informasi dan
komunikasi, bersamaan dengan dominasi teknologi peralatan militer dan politik.
Negara-negara industri maju (khususnya Barat) menggunakan teknologi militer dan
ICT serta isu globalisasi untuk
menentukan tatanan dunia baru dengan tujuan
menjadikan kondisi dunia yang disesuaikan dengan tujuan politik global mereka. Dalam
hubungan ini, bangsa Indonesia harus menyadari agar dapat secepatnya bangkit untuk
mengantisipasi akibat pengaruh globalisasi tersebut.
36
Banyak negara di Asia (China, Korea Selatan, India), termasuk negara-negara
tetangga Indonesia (Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam), tampak lebih cepat
mempersiapkan diri menghadapi pengaruh globalisasi. Kalau Indonesia tidak cepat dan
tepat bertindak menghadapi pengaruh globalisasi, maka Indonesia hanya akan dijadikan
pasar bagi produk dari negara yang memiliki kemampuan teknologi dan ekonomi yang
lebih maju dari Indonesia. Kekosongan kesempatan kerja akibat lemahnya kwalitas SDM
di Indonesia dapat dipastikan akan diisi oleh SDM asing yang lebih siap atau mampu
memasuki pasar tenaga kerja di Indonesia, sebagai akibat dari kesepakatan mengenai
liberalisasi tenaga professional.
Di Asia Tenggara, kemampuan ekonomi, teknologi dan militer Indonesia masih
berada di bawah kemampuan negara tetangganya terdekat. Sebagai negara besar dilihat
dari luas wilayah, jumlah penduduk dan hasil alam yang dimiliki, ternyata pertumbuhan
ekonomi Indonesia belum seimbang dengan pertumbuhan negara se-kawasan. Tanpa
adanya keseimbangan kekuatan tersebut, bangsa Indonesia akan menjadi penghuni dunia
yang hanya dijadikan permainan politik dan “jajahan” ekonomi bangsa-bangsa lain,
termasuk oleh negara-negara tetangga Indonesia yang pertumbuhannya lebih maju.
Kondisi wilayah kepulauan yang tersebar begitu luas dengan hasil alam yang kaya, kalau
semuanya itu tidak terjaga dengan baik hanya akan dijadikan permainan spekulasi atau
dimanfaatkan oleh pemilik modal asing, termasuk yang berasal dari negara tetangga
Indonesia sendiri.
Bangsa Indonesia sudah harus membulatkan kesadaran politik untuk membangun
strategi agar mampu menentukan langkah menghadapi hari depan yang penuh tantangan
akibat globalisasi. Melalui cara-cara yang terhormat, bersatu, berwibawa, berdisiplin,
mandiri, terkoordinir dan lebih percaya diri, Indonesia harus secepatnya membangun
SDM yang berkwalitas, mengembangkan teknologi canggih, memiliki sistem pendidikan
nasional, menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan membangun kekuatan militer yang
memiliki kemampuan menjaga, melindungi dan mempertahankan keutuhan wilayah
dengan keragaman modal alam yang dimilikinya, untuk menghadapi semua ancaman dan
gangguan dari dalam maupun luar negeri, sebagai prasyarat mutlak membangun suatu
37
negara modern.-
Sebuah
negara
pembangunannya
dianggap
akan
sangat
berhasil
atau
ditentukan
mengalami
dari
kegagalan
pertumbuhan
dalam
ekonominya.
Memperhatikan kemajuan tingkat kehidupan dan kwalitas hidup rakyat di berbagai
negara, menunjukkan bahwa cukup banyak yang sudah mengalami kemajuan
38
substansial, ada yang perkembangannya agak lambat tetapi banyak pula yang
mengalami kegagalan bahkan bertambah miskin.
Negara dapat dianggap berhasil mencapai kemakmuran atau mengalami
kegagalan dalam pertumbuhan ekonominya, haruslah ditinjau dari berlangsungnya
proses pertumbuhan negara tersebut paling sedikit selama satu generasi. Kemajuan
pertumbuhan ekonomi negara tidak hanya dilihat dari kemampuannya meningkatkan
standar kehidupan rakyatnya saja, tetapi juga sejauhmana negara tersebut berhasil
meningkatkan kekuasaannya (power) dapat mempengaruhi opini dunia. Kemampuan
daya dan posisi saing negara tersebut terhadap negara-negara lain disertai naik-turun
kemampuan industri manufakturnya selama tigapuluh tahun terakhir, merupakan
ukuran jaminan yang ikut menentukan ketahanan negara tersebut menghadapi krisis.
Efisiensi pelayanan untuk sektor industri yang berhubungan dengan sistem banking,
pelayanan kesehatan, pendidikan, hotel dan lain-lain, juga merupakan ukuran penting
apakah suatu negara memiliki daya saing atau tidak, dan sejauhmana daya saingnya
itu mampu dipertahankan sampai generasi berikutnya.
Ukuran terpenting dari
kesemuanya adalah kemampuan negara tersebut mengembangkan efisiensi seluruh
anggota masyarakatnya, terlepas dari perbedaan cara pendekatan masing-masing
negara terhadap organisasi di lingkungan masyarakatnya.
39
Diplomasi dan Kerjasama Pembangunan Antar Bangsa
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, secara umum keadaan dunia dipengaruhi oleh
kehancuran phisik banyak negara di Eropa dan Asia yang dilanda perang. Dari sisi yang
lain, selesainya perang dilanjutkan dengan banyaknya bangsa-bangsa di Asia yang pernah
dijajah menyatakan kemerdekaan dan melepaskan diri dari penjajahan Barat. Akibatnya,
dunia menjadi terbagi antara negara maju (Barat) dan negara sedang berkembang.
Timbul kemudian keinginan di kalangan negara maju (Barat) tertentu untuk membantu
pembangunan negara sedang berkembang melalui bentuk kerjasama pembangunan
internasional. Istilah yang umum dipakai bahwa negara maju disebut sebagai “the North”
atau negara Utara, sedangkan negara sedang berkembang disebut “the South” atau negara
Selatan.
Dari sudut pandangan kepentingan negara Barat tertentu, bantuan yang diberikan
kepada negara-negara sedang berkembang yang semula merupakan wilayah jajahan,
harus dilihat dari kepentingan bekas negara penjajah tersebut untuk tetap memiliki akses
politik maupun ekonomi di negara bekas jajahannya. Apapun alasan yang diberikan oleh
negara yang pernah menjajah, yang menganggap bahwa aliran bantuan dari Utara ke
Selatan tersebut dilandasi oleh tujuan moral menciptakan keadilan sosial di dunia untuk
menghapuskan kemiskinan, ternyata aliran bantuan tersebut kurang effektif karena
mengandung nilai-nilai lain yang bersifat politis. Setelah berakhirnya Perang Dunia II,
pernah dibentuk suatu institusi internasional untuk memperbaiki kondisi ekonomi dunia
yang disebut Bretton Woods Institution dan Marshall Plan yang khusus untuk membantu
negara yang pernah menderita akibat Perang Dunia II. Kedua institusi tersebut
merupakan dasar dan landasan utama kerjasama Utara-Selatan.
Setelah kerjasama pembangunan tersebut berlangsung cukup lama, muncul kemudian
persoalan tentang efektivitas dari bantuan negara Utara kepada negara Selatan tersebut.
40
Proses Sejarah Diplomasi
Diplomasi dan Politik Luar Negeri
Diplomasi di Abad XXI
Download