IMPLIKASIHERMENEUTIKAAL-QUR - Jurnal Syariati

advertisement
IMPLIKASIHERMENEUTIKAAL-QUR`ANFAZLURRAHMAN
DAN HASAN HANAFI TERHADAP PENETAPAN HUKUM ISLAM
Oleh : Robiah Adawiyah
Dosen Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir FSH UNSIQ
Email :[email protected]
ABSTRAK
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai model pemahaman atau
hermeneutika Al-Qur`an menurut Fazlurrahman dan Hasan Hanafi serta
relevansinya dengan penetapan hukum Islam. Hermeneutika Al-Qur`an dalam
penetapan hukum Islam mempunyai posisi yang penting, sebab menjadi dasar
pijakan yang pertama dan utama, sehingga dalam menetapkan sebuah hukum
Islam tidak secara sporadis. Hal itu, yang ingin ditampilkan dari sosok
Fazlurrahman dan Hasan Hanafi. Fazlurrahman, adalah salah satu dari sekian
pemikir muslim yang sadar akan keadaan tersebut. Dengan pendekatan
hermeneutika kritis dan dialektis ia berusaha membangkitkan kembali kejayaan
Islam yang pernah diraih. Dengan double movement sebagai metode penafsiran
Al-Qur`an, serta berdampak pada eksistensi Hukum Islam, yakni terjadinya
rasionalisasi Hukum Islam. Sedangkan Hasan Hanafi menyarankan agar
menerapkan hermeneutika pembebasan terhadap Al-Qur`an. Wacana turâṡ wa
tajdîd dijadikan sebagai dasar hermeneutika Al-Qur`an, sehingga berdampak pada
penentuan formalisasi maqâṣid asy-syarî’ah yang sesuai dengan kondisi sosial,
budaya dan realitas saat ini.
Keyword : Hermeneutika Al-Qur`an, Fazlurrahman, Hasan Hanafi, Hukum Islam
Al-Quran memerintahkan manusia
A. Pendahuluan
Dinamika pemikiran Islam dapat
untuk mempelajari dan memahaminya,
dilihat dari segala realitas yang dihadapi
melalui
masyarakatnya. Problem yang dihadapi
tersurat maupun tersirat. Interpretasi dan
adalah menyangkut hubungan wacana
kesadaran manusia untuk merealisasikan
tradisi
pemahamannya
(turâṡ) dan modernitas
(al-
pentunjuk-petunjuknya
akan
teks
yang
dalam
hadâṡah) (Hanafi, 1987 : 11). Di satu
kehidupan konkrit yang menyebabkan
sisi, pemikiran Islam tidak bisa lepas
sebuah kitab suci menjadi agung dan
dari serbuan modernitas, baik dalam
bermakna, sebagai petunjuk sekaligus
bentuk material maupun pemikiran, di
pedoman hidup yang tertuang dalam
sisi lain, dalam menghadapi modernitas
bentuk ajaran akidah, akhlak, hukum,
tersebut masih berpegang pada tradisi
falsafah, siyasah dan ibadah (Yusuf,
masa lalunya. Isu yang berkembang
1992 : 50). Oleh karena itu, ayat Al-
adalah
Qur`an tidaklah memadai bila seseorang
bagaimana
menyikapi
modernitas.
problem
dunia
tradisi
Islam
dan
hanya
mampu
membaca
dan
melantunkan dengan baik, tetapi lebih
Vol. II No. 01, Mei 2016
pada
kemampuan
mengungkap
isi
prinsip-prinsip
dan
baru, melainkan sudah terjadi pada
mengetahui
beberapa abad sebelumnya ketika al-
dikandungnya.
Ghazali berusaha memasukkan elemen-
memahami
serta
yang
upaya
elemen logika Yunani ke dalam uṣûl al-
bisa
fiqh. Munculnya hermeneutika dalam
diaplikasikan dalam kehidupan telah
wacana keagamaan (Islam) menjadi
melahirkan
fenomena khas dalam pengembangan
Sebagai
memahami
bentuk
realisasi
makna
teks
banyak
agar
pendekatan
dan
metodologi, seperti tahlîli, mauḍû`î,
hukum
muqâran,
sesuai
Fazlurrahman dan Hasan Hanafi sangat
dengan perkembangan metodologi serta
jelas menunjukkan apresiasi terhadap
pendekatan kontemporer, salah satu
hermeneutika
diantaranya adalah hermeneutika yang
sebagai perangkat metodologis.
dan
berkembang
Islam
kontemporer.
dan
menjadikannya
telah mengilhami para sarjana muslim
Berangkat dari hal di atas, maka
kontemporer untuk membuka wacana
perlu untuk mempertanyakan beberapa
baru, seperti Arkoun, Hasan Hanafi,
poin yang akan menjadi kajian penelitian
Fazlurrahman, Farid Esack dan Nasr
penulis, pertama, bagaimana konsepsi
Hamid Abu Zayd, dalam melakukan
model
interpretasi.
Fazlurrahman
Munculnya wacana dialog turâṡ wa
tajdîd (hadâṡah), adalah bukti adanya
keprihatinan
di
kalangan
sebagian
intelektual muslim akan problem umat
Islam dan menghadapi perubahan akibat
modernitas.
Keprihatinan
tersebut
diungkapkan dalam upaya adaptasi dan
persilangan intelektual, yaitu antara tradisi
keilmuan Islam dan tradisi keilmuan Barat.
Hukum Islam pun tidak kebal dari
perubahan tersebut. Beberapa upaya
dilakukan oleh para akademisi untuk
mensintesiskan hukum Islam dengan
perangkat keilmuan modern, khususnya
hermeneutika.
Usaha
tersebut
hermeneutika
dan
Al-Qur`an
Hasan
Hanafi?
Kedua, bagaimana relevansinya dengan
penerapannya di dalam hukum Islam?
B. Metode Penelitian
Penelitian
ini
adalah
penelitian
kepustakaan (Library research), yaitu
teknik penelitian yang mengumpulkan
data dan informasi dengan bantuan
berbagai macam materi yang terdapat
dalam
kepustakaan.
dilaksanakan
literatur
atau
dengan
Penelitian
menggunakan
kepustakaan
untuk
mendapatkan data dalam menyusun
teori-teori sebagai landasan ilmiah
dengan mengkaji dan menelaah pokokpokok permasalahan dari literatur yang
sebenarnya bukan benar-benar fenomena
18
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
Vol. II No. 01, Mei 2016
mendukung, baik berupa buku, catatan,
maupun laporan hasil penelitian dari
penelitian terdahulu.
Karena penelitian ini tergolong
C. Hasil Temuan dan Pembahasan
1. Model Hermeneutika Al-Qur`an
Fazlurrahman
Rentang sejarah Islam membuktikan
bersifat
bahwa dinamika pemikiran di dalam
kualitatif, maka data yang digunakan
Islam terjadi melalui dua arah yaitu,
dalam
kecenderungan mensakralkan teks serta
penelitian
pustaka
penelitian
yang
diperoleh
dari
dokumen-dokumen yang telah ada.
tradisi,
dan
kecenderungan
Dokumentasi adalah mencari data
mendekontruksi
mengenai hal-hal atau variabel yang
(Hidayat, 1996 : 33).Kecenderungan
berupa catatan, transkrip, buku, surat
yang pertama berefek pada munculnya
kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
pembekuan, kejumudan, dan purifikasi
leger, agenda dan sebagainya.
ajaran
pensakralan
Islam.
Oleh
untuk
tersebut
karena
itu,
penelitian
pensakralan teks dan tradisi tersebut
terkumpul, maka langkah selanjutnya
menyebabkan meredupnya cahaya dan
penulis menentukan metode analisis.
dinamika wacana Islam, yang pada
Metode analisis yang digunakan ialah
akhirnya
Content Analysis, yakni investigasi
terjadi intervensi ideologis dari penguasa
tekstual
ilmiah
yang memihak secara ekstrem pada
terhadap isi peran suatu komunikasi,
suatu paham tertentu. Kondisi semacam
khususnya isi peran komunikasi yang
ini yang diamati oleh Rahman di
terungkap dalam media cetak atau
Pakistan,
bukuk.
paradigma baru pemikiran Barat yang
Setelah
data-data
melalui
analisis
Pendekatan yang digunakan oleh
mengkritik
semakin
di
mengeras
samping
secara
ketika
datangnya
habis-habisan
penulis adalah filosofis-hermeneutik.
terhadap seluruh sendi ajaran Islam
Pendekatan tersebut digunakan dalam
(Ozdenir, 1993 : 22). Realitas tersebut
rangka
membuat
mendeskripsikan
dan
Fazlurrahman
untuk
menganalisis interpretasi pengarang
memposisikan diri pada kecenderungan
terhadap
yang kedua. Ia memulai dan mencoba
teks-teks
yang
dibahas
dalam tema hermeneutika Al-Qur`an.
mengkritik
Khusus
tantangan modernitas tanpa larut pada
penggunaan
hermeneutis,
melakukan
pendekatan
deskripsi
pemikiran
tradisi
Barat.
dan
Namun
merespons
demikian,
terhadap pemikiran dilakukan proses
Rahman tetap merujuk pada tradisi tanpa
hermeneutika reproduksi.
harus menjadi Tradisionalis. Bahkan
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
19
Vol. II No. 01, Mei 2016
Rahman memandang bahwa tanpa tradisi
yang
umat
(pemikiran
Islam
tidak
akan
memahami
tidak
berakar
klasik)
dalam
atau
sejarah
luput
dari
sumber dari segala sumber hukum
kemampuan menelusuri benang merah
(Rahman, 1979 : 45).
kesinambungannya dengan masa lalu
Secara ilmiah, berangkat dari tesis
Rahman
tersebut,
paling
tidak
ia
adalah tidak otentik. Karenanya, akan
tidak
mampu
mengembangakan
mengkritisi tiga komunitas, pertama,
dinamika internalnya serta tidak sanggup
kalangan Tradisionalis yang berupaya
bertahan,
menghidupkan
warisan
energi apresiasinya dan dengan begitu
kembali
yang
akhirnya
kehilangan
kehidupan
keagamaannya,
kedua,
terancam lekas padam (Madjid, 1993 :
kalangan
Fundamentalis,
yang
24). Di samping itu mengabaikan sejarah
menampilkan Islam terikat secara literal
masa lalu tidak saja mengisyaratkan
pada akar spiritualnya dan antagonis
akan penafian eksistentsi sejarah itu
dengan Barat, dan ketiga, kalangan
sendiri,
Modernis yang menyuguhkan sebuah
pengingkaran diajukannya penanganan
Islam
serius tentang eksistensi diri dan sistem
bersandar
pada
akar
tetapi
spiritualitasnya, namun juga tampak
keyakinan
kebarat-baratan (Amal, 1993 : 65).
sejarah masa kini.
juga
sendiri
mengakibatkan
dalam
kerangka
dapat
Rahman juga mengkritisi pemikiran
menggabungkan kelompok yang pertama
kaum fundamental yang menampilkan
tanpa
Islam terikat secara literal pada akar
Rahman
berharap
menjadi
komunitas
Tradisionalis
dengan
yang ketiga tanpa larut
spiritualnya.
Dengan
metode
yang
menjadi kebarat-baratan. Gabungan dari
dikembangkannya, ia melihat bahwa
dua kelompok di atas dikenal dengan
kaum Fundamentalis gagal membedakan
Neo-Modernisme.
antara doktrin dengan tradisi Islami yang
Neo-Modernisme
yang ditawarkan Rahman bertitik tolak
murni
pada ide pembaharuan pemikiran dan
diterimanya sebagai otoritas masa lampau
mencoba membongkar doktrin-doktrin
yang tertutup dan tak bsa dipertanyakan.
Islam (Barton, 1999 : 446), dengan
Oleh karenanya, menurut Rahman harus
bersikap kritis terhadap Barat, juga
dibedakan antara yang Islami, Normatif
warisan-warisan kesejarahannya sendiri
dan historis.
secara
Rahman
obyektif.
Oleh
menganggap
karena
bahwa
Bahkan
tradisi
itu,
Seluruh pandangan Rahman terhadap
suatu
dinamika kehidupan pemikiran Islam
bentuk pengembangan pemikiran Islam
20
historis.
pada
akhirnya
bermuara
pada
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
Vol. II No. 01, Mei 2016
penyingkapan
kandungan
Pikiran-pikiran
Rahman
didasarkan
pada
Al-Qur`an.
yang
Al-Qur`an
selalu
tersebut
1993 : 158). Ia menekankan pentingnya
mamahami kondisi aktual masyarakat
Arab
ketika
Al-Qur`an
merupakan respons yang kritis terhadap
terutama
pandangan-pandangan kaum Ortodoks
pernyataan legal dan kondisi sosio-
yang bergulir di Pakistan. Satu pikiran
ekonomiknya.
Rahman
historis
Pakistan
yang
membuat
selama
heboh
setahun
di
adalah
dalam
diturunkan,
ini,
rangka
menafsirkan
Aplikasi
pendekatan
terformulasi
ke
dalam
pembedaan antara tujuan atau ideal moral
pikirannya yang menyatakan bahwa Al-
Al-Qur`an
Qur`an secara keseluruhan adalah kalam
spesifiknya. Ideal moral Al-Qur`an yang
Allah, dan dalam pengertian biasa, juga
dituju
seluruhnya
diaplikasikan ketimbang ketentuan legal
merupakan
perkataan
oleh
dengan
ketentuan
Al-Qur`an
spesifiknya
implikasinya, Rahman menolak doktrin
Keberhasilan dari proses pembedaan ini,
tradisional
yang
pada akhirnya, mewujud pada penciptaan
mekanis dan eksternal. Ia tidak setuju
pandangan dunia Al-Qur`an yang terbuka,
dengan pandangan Ortodoksi Islam yang
terpadu, dan universal.
menggambarkan
pewahyuan
proses
pewahyuan
Untuk
itu,
1979
pantas
Muhammad (Iqbal, 1981 : 20). Sebagai
tentang
(Rahman,
lebih
legal
Rahman
:
231).
mencoba
kepada Nabi melalui telinga dan bersifat
memformulasikan metodologi tafsir (Al-
eksternal (Amal, 1994 : 165-166).
Qur`an), yang secara sistematis tersusun
Di samping kontribusi pemikiran
yang fenomenal tersebut, Rahman melihat
sebagai berikut (Amal, 1993 : 24) :
a. Menemukan makna teks Al-Qur`an
bahwa kaum muslimin (khususnya kaum
dengan
Ortodoks), belum pernah membicarakan
historis secara serius dan jujur. Secara
secara adil masalah-masalah mendasar
sosio-historis,
mengenai metode dan cara penafsiran Al-
dipelajari
Qur`an. Terdapat kesalahan umum dalam
kronologisnya.
memahami pokok-pokok keterpaduan Al-
pemeriksaan terhadap bagian-bagian
Qur`an dan kesalahan ini berpasangan
wahyu yang paling awal. Kajian ini
dengan ketegaran praktis untuk berpegang
akan memberikan suatu persepsi yang
pada ayat-ayat Al-Qur`an secara terpisah-
cukup akurat tentang gerakan dasar
pisah. Menurutnya, untuk memahami
dari
pesan konprehensif Al-Qur`an, konteks
dibedakan dari ketetapan-ketetapan
kesejarahannya mesti diperhatikan (Amal,
dan pranatapranata yang dibangun
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
menggunakan
gerakan
pendekatan
Al-Qur`an
dalam
tatanan
Diawali
Islam,
harus
dengan
sebagaimana
21
Vol. II No. 01, Mei 2016
belakangan. Dengan begitu, seorang
menggunakan dua gerakan yang dikenal
penafsir telah mengikuti bentangan
dengan Double Movement-nya (gerakan
karier dan perjuangan Muhammad.
ganda). Gerakan yang pertama, dimulai
Oleh karena itu, metode ini tidak
dengan
hanya
spesifik dalam Al-Qur`an, kemudian
menyelamatkan
kita
dari
menafsirkan
yang
ekstravagansa dan artificial penafsiran
menggali
kalangan modernis, tetapi juga dapat
prinsip-prinsip umum, nilai-nilai dan
menunjukkan secara jelas makna
tujuan jangka panjangnya. Gerakan yang
keseluruhan dari pesan Al-Qur`an.
kedua,
b. Membedakan antara ketetapan legal
dan
ayat-ayat
mensistematikakan
memformulasikan
merealisasikan
pandangan
prinsip)
Al-Qur`an.
pandangan spesifik di masa sekarang
mengharapkan
hukum-hukum yang akan dibentuk
dapat mengabdi kepadanya, tidak pada
legal spesifiknya. Rahman menyadari
tersebut
(prinsip-
spesifik Al-Qur`an dengan ideal moral
Rahman
umum
dan
ke
dalam
(Rahman, 1984 : 5-7).
2. Model Hermeneutika Al-Qur`an
Hasan Hanafi
pada
Hasan Hanafi menganggap bahwa
subyektifitas, tetapi menurutnya ini
pendekatan hermeneutika tidak hanya
dapat direduksi seminimum mungkin
memperbincangkan
dengan menggunakan Al-Qur`an itu
penafsiran
sebagaimana
sendiri. Satu hal yang terlalu sering
metodis,
dan
diabaikan oleh kalangan non-muslim
penafsiran dalam hermeneutika filosofis,
maupun kalangan muslim sendiri,
akan tetapi juga memperbincangkan
bahwa
dimensi sejarah teks dan kepentingan
bahwa
hal
ini
dihadapkan
Al-Qur`an
biasanya
dalam
tentang
teknis
hermenutika
hakikat
kehidupan.
peristiwa
memberikan alasan bagi pernyataan
praktis
Karena
legal spesifiknya.
menurut Hanafi, prasyarat pemahaman
c. Memahami sasaran (tujuan) atau ideal
yang baik terhadap suatu teks kitab suci
moral Al-Qur`an dengan tetap memberi
adalah terlebih dahulu membuktikan
perhatian sepenuhnya terhadap latar
keasliannya
sosiologisnya, yakni lingkungan di saat
Setelah
Al-Qur`an diturunkan.
barulah hermeneutika dalam pengertian
melalui
memperoleh
kritik
sejarah.
keaslian
teks
Secara aplikatif, proses penafsiran
ilmu pemahaman baru dapat dimulai.
yang ditawarkan oleh Rahman dalam
Menurutnya, pada titik ini hermeneutika
rumusan definitive metodologi tafsirnya
berfungsi sebagai ilmu yang berkenaan
tersebut
dengan bahasa dan keadaan-keadaan
22
diaplikasikan
dengan
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
Vol. II No. 01, Mei 2016
sejarah yang melahirkan teks. Setelah
1994 : 4). Oleh Karena keaslian teks suci
mengetahui makna yang tepat dari
hanya bisa dijamin oleh kritik historis,
sebuah teks, segera diikuti dengan proses
maka kritik historis harus didasarkan
menyadari teks ini dalam kehidupan
aturan
manusia. Sebab pada dasarnya tujuan
bebas dari intervensi teologis, filosofis,
akhir sebuah teks wahyu adalah bagi
mistis,
transformasi
(Hanafi, 1992 : 78). Jika sebuah teks
kehidupan
manusia itu
objektivitasnya
atau
memenuhi
sendiri (Hanafi, 1994 : 1-2).
bahkan
sendiri
yang
fenomenologis
persyaratan
sebagaimana
mengharapkan
diatas, ia dinilai sebagai teks asli dan
hermeneutika Al-Qur`an dapat bersifat
sempurna. Dengan kaca mata ini, Hanafi
teoritik sekaligus praktis. Penafsiran
menilai bahwa hanya al-Qur`an yang
praktis berfungsi sebagai analisis filologi
bisa diyakini sebagai teks asli dan
murni terhadap, teks yang tidak akan
sempurna, karena tidak ada teks suci lain
memperbincangkan
yang ditulis secara in verbatim dan utuh
Hasan
Hanafi
masalah-masalah
prinsipil dalam penafsiran. Sementara
dalam
itu
hermeneutika
seperti Al-Qur`an.
Kedua,
filosofis,
kritik
eidetis.
Setelah
yang
melalui kritik sejarah seorang penafsir
digunakan untuk menunjukkan masalah
dapat melakukan proses interpretasi atau
yang terfokus pada problem pembacaan,
secara
yang
kedalam
menyebutnya dengan kritik eidetis, demi
perbincangannya sendiri. Jika penafsiran
menentukan keaslian kitab suci. Hasan
praktis
Hanafi belum menjelaskan pengertian
menurutnya
sebuah
menyerap
bersifat
istilah
teks
ekstrovert,
maka
teknis,
kecuali
Hanafi
hermeneutika filososfis bersifat introvert
eidetis
(Hanafi, 1994 : 3). Adapun penjelasan
dengan proses interpretasi (Hanafi, 1994 :
dari tiga fase analisis diatas, sebagai
17).
berikut;
kritik eidetis sebagai proses pemahaman
Pertama, kritik historis. Fungsi
ini,
Hasan
mengaitkannya
Disini penulis menerjemahkan
terhadap teks. Hasan Hanafi menjelaskan
hermeneutika
bahwa fungsi kesadaran eidetis adalah
adalah untuk memastikan keaslian teks
memahami dan menginterpretasi teks
yang disampaikan Nabi dalam sejarah.
setelah validitasnya dikukuhkan oleh
Artinya, perhatian hermeneutik terletak
kesadaran historis. Kesadaran eidetik
pada dimensi horizontal wahyu yang
juga merupakan bagian terpenting dalam
sifanya historis, dan bukan pada dimensi
ilmu
vertikalnya
mediasinya
kritik
historis
dalam
yang
metafisis
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
(Hanafi,
ushul
fiqh
proses
karena
melalui
pengambilan
23
Vol. II No. 01, Mei 2016
ketentuan-ketentuan hukum dari dasar-
gerak
dasarnya agar menjadi lebih sempurna
sementara yurisprudensi menginginkan
dan komprehensif (Saenong, 2002 : 117).
transformasi
Ketiga, kritik praksis. Bagi Hasan
dari
manusia
Tuhan
kepada
Tuhan,
kembali
menuju
kehidupan manusia (Hanafi, 1982 : 102).
merupakan
Sebagai langkah praktis dari ketiga
penyempurnaan kalam Tuhan di dunia
metode di atas, dan juga sebagai implikasi
mengingat tidak ada kebenaran teoritis
dari ciri khas tafsirnya yang praksis,
dari sebuah dogma atau kepercayaan yang
Hassan
datang
langkah-langkah
Hanafi
kritik
begitu
praktis
saja;
dogma
lebih
merupakan suatu gagasan atau motivasi
Hanafi
telah
merumuskan
interpretasi
sebagai
berikut (Baedowi, 2009 : 43) :
yang ditujukan untuk praktis.Hal ini
1) Komitmen politik sosial. Mufassir
menurutnya, karena wahyu Al-Qur`an
memiliki keprihatinan dan kepedulian atas
sebagai dasar dogma merupakan motivasi
kondisi kontemporernya karena baginya,
bagi
mufassir adalah revolusioner, reformis,
tindakan
di
samping
obek
pengetahuan (Hanafi, 1998 : 17). Sebuah
dogma, kata Hasan Hanafi hanya dapat
dan aktor sosial.
2)
Mencari
sesuatu.
Mufassir
“keberpihakan”
berupa
diakui eksistensinya jika didasari sifat
memiliki
keduniaannya sebagai sebuah sistem ideal,
kesadaran untuk mencari solusi atas
namun dapat terealisasi dalam tindakan
berbagai persoalan yang dihadapi. Di
manusia. Karena satu-satunya sumber
sinilah, Hanafi melihat asbâb an-nuzûl
legitimasi dogma adalah pembuktiannya
lebih pada realitas sosial masyarakat saat
yang bersifat praktis. Menurutnya realisasi
Al-Qur`an diturunkan.
wahyu dalam sejarah melalui perbuatan
3) Sinopsis ayat-ayat yang terkait pada
manusia sama dengan realisasi perbuatan
satu tema. Semua ayat yang terkait pada
ilahiyyah
tema tertentu dikumpulkan secara seksama,
dan
dengan
sendirinya,
merupakan realisasi kekuasaan (khilafah)
dibaca,
Tuhan di atas bumi. Prinsip yang sama
orientasi umum ayat menjadi nyata. Ia
menjadi dasar penciptaan dan penerapan
menegaskan
hukum-hukum Tuhan (al-ahkâm asy-
berangkat dari ayat sebagaimana tafsir
syar’iyyah) di dunia. Itulah sebabnya
tahlîlî, tapi dari kosa kata Al-Qur`an.
mengapa yurisprudensi (‘ilm uṣûl fiqh)
4)
dipahami
berkali-kali
bahwa
penafsiran
Klasifikasi
hingga
tidak
bentuk-bentuk
dianggap ‘ilmu at-tanzîl’, yang dibedakan
linguistik, meliputi kata kerja dan kata
dari ‘ilm at-ta`wîl’ dalam tradisi sufisme.
benda, kata kerja waktu, kata sifat
Sebab yang terakhir ini menginginkan
kepemilikan, dan lain-lain.
24
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
Vol. II No. 01, Mei 2016
5) Membangun struktur makna yang
paling tidak, konsep-konsep Rahman
tepat sesuai dengan sasaran yang dituju
mempunyai implikasi sebagai berikut:
yang berangkat dari makna menuju objek.
a. Rasionalisasi Hukum Islam (Fiqh)
Keduanya adalah satu kesatuan. Makna
Berkaitan
adalah objek yang subjektif, sedang objek
Rahman
adalah subjek yang objektif.
rasionalisasi
6) Analisis situasi faktual. Setelah
dengan
di
pemikiran
atas,
maka
upaya
hukum
Islam
dapat
dilakukan yaitu dengan mengkaji ulang
membangun tema sebagai struktur yang
tradisi
ideal, penafsir beralih pada realitas faktual
tertutup)
seperti kemiskinan, HAM, penindasan,
kembali asal-usul keseluruhan tradisi
dan lain-lain.
Islam dan menemukan tujuan dan
7)
dengan
dideduksikan
riil.
(yang
dengan
mandul
cara
dan
merombak
yang
ideal
sasaran substansial yang terdapat dalam
Struktur
ideal
teks hukum spesifik. Oleh karena itu,
Membandingkan
yang
Islam
dengan
menggunakan
yang
perlu
ditegaskan
adalah
analisis isi terhadap teks dengan situasi
pembedaan
faktual
dengan
syari‘ah yang bersifat ideal moral
menggunakan statistik dan ilmu-ilmu
dengan hukum Islam (Fiqh) yang
sosial. Di sini, penafsir berada di antara
bersifat legal formal (Azhar, 1996 : 43).
yang
diinduksikan
teks dan realitas.
yang mendasar antara
8) Deskripsi model-model aksi. Sekali
b. Dinamisasi Konsep dan Aplikasi
Ijtihad-Ijma‘
ditemukan kesenjangan antara dunia ideal
Aktifitas Ijtihad-Ijma‘ merupakan
dengan riil, maka aksi sosial menjadi
warisan kaum muslimin awal. Aktifitas
langkah berikutnya. Transformasi dari teks
ini mempunyai hubungan yang organik
ke tindakan,
dengan
teori
ke
praktik,
dan
Nabi.
Hubungan
organik ini tampak dalam praksisnya
pemahaman ke perubahan.
3. Implikasi dalam
Hukum Islam
Sunnah
Penerapan
Karena Al-Qur`an dan as-Sunnah
bahwa kaum muslim awal merupakan
hasil aktifitas ijtihad personal, melalui
instrument qiyas, terhadap sunnah yang
merupakan sumber utama hukum Islam,
hidup.
maka konsepkonsep Rahman seperti yang
mengalami
dielaborasikan sebelumnya mempunyai
meluas secara berkelanjutan. Oleh
implikasi yang jauh dalam persoalan
karena itu, Ijma‘ tidaklah statis, tetapi
hukum
Islam, dan bahkan terhadap
berkembang secara kreatif dan dinamis
metodologinya. Dalam analisa penulis,
serta berorientasi ke masa depan,
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
Ijma‘
ini,
proses
selanjutnya,
yang
semakin
25
Vol. II No. 01, Mei 2016
demikian pula Ijtihad (Rahman, 1965 :
kekinian, memiliki konsekuensi logis
171-172).
pada diaplikasikannya dua gerakan
c. Aplikasi Metode Qiyas Secara Luas
pemikiran yuristik. Yakni, pertama,
Proses menemukan prinsip-prinsip
dari yang khusus kepada yang umum,
umum dari teks-teks legal spesifik Al-
dan kedua, dari yang umum kepada
Qur`an, yang dikonsepsikan Rahman,
yang khusus (Amal, 1993 : 49).
dapat dilakukan dengan metode qiyas.
Adapun
implikasi
dari
model
Dalam metode tersebut, ide pokoknya,
pemahaman (hermeneutika) Al-Qur`an
yaitu bahwa yang mendasari setiap
Hasan
Hanafi
aturan legal spesifik Al-Qur`an dan as-
hukum
Islam
Sunnah adalah suatu prinsip umum.
metodologis yang digunakan oleh Hanafi
Aturan hukum spesifik tersebut disebut
adalah merevitalisasi turâṡ klasik dan
al-hukm, sedangkan prinsip umumnya
merekonstruksinya supaya bisa berdialog
disebut ‘illat al-ḣukm yaitu alasan di
dengan, dan bermanfaat untuk kondisi
balik hukum (Ratio Legis). Oleh karena
kontemporer. Ini merupakan jawaban
itu, ketika suatu kasus muncul, yang
atas mauqifuna min at-turâṡ al-qadîm
tidak tercakup oleh Al-Qur`an dan
(sikap
as-Sunnah,
yang
Rekonstruksi, menurut Hanafi, adalah
dipertimbangkan dipilih dari teks kitab
pembangunan kembali warisan-warisan
suci dan prinsip umumnya disarikan
Islam berdasarkan semangat modernitas
dari hukum yang tersurat tersebut,
dan kebutuhan Muslim kontemporer
dengan cara melacak ‘illat hukum dan
(Hanafi,
menatanya secara sistematis sehingga
terutama di dalam tataran filsafat Hukum
qiyas
Islam yang terformulasi dalai konsepsi
maka
berisi
kasus
totalitas
dari
ajaran
d. Berkembangnya
Dua
Pemikiran Yuristik
pensarian
Gerakan
penerapan
berangkat
atas
1991
mengenai
Al-Qur`an.
Produk
kita
terhadap
:
dari
khazanah
42).
basis
klasik).
Implikasinya
maqâṣid
asy-syarî’ah,
diantaranya sebagai berikut;
a. Dalam menafsirkan kembali konsep
aturan
legal
maqâṣid
asy-syarî’ah
sebagai
spesifik Al-Qur`an dan as-Sunnah
khazanah
Islam
Hanafi
yang menghasilkan prinsip umum
menggunakan reformasi di bidang
Al-Qur`an
bahasa
(ideal
moral)
dan
untuk
klasik,
mengekspresikan
pembedaannya dengan yang murni
kembali makna dasar maqâṣid asy-
hukum,
syarî’ah
kemudian,
dijadikan
dengan
menggunakan
instrumen untuk menjawab problem
26
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
Vol. II No. 01, Mei 2016
sedang
al-’irdl), yakni menjaga harga diri
perspektif
umat dan negara baik dari penjajahan
modernitas. Sebagai contoh, al-mâl
maupun tekanan pihak luar. Kelima,
(dalam frase hifẓ al-mâl) secara
menjaga harta (hifẓ al-mâl), yakni
liberal dimaknai oleh Hanafi sebagai
melindungi sumber daya alam negara
aset dan harta milik masyarakat dan
dan
negara, di samping juga aset pribadi
demi kepentingan rakyat (Hanafi,
dan golongan. Dalam hal ini, al-mâl
2002 : 99).
bahasa-bahasa
yang
berkembang
dalam
tidak saja dikebiri dengan hanya pada
justifikasi
bagi
terjaminnya
aset
pribadi atau golongan semata. Inilah
yang dimaksud oleh Hanafi bahwa
tujuan
syari’at
harus
disatukan
dengan agenda ummat (aḣdaf alummah) (Hanafi, 2002 : 98-102).
atau yang juga dikenal sebagai aḍḍaruriyât al-khamsah, yang menjadi
tumpuan bagi pelaksanaan agenda
tersebut
berikut:
adalah
Pertama,
sebagai
memelihara
kehidupan (hifẓ an-nafs), yang berarti
menjaga
kelestarian
umat
dari
ancaman yang datang baik dari dalam
ataupun luar negeri. Kedua, menjaga
akal
(hifẓ
al-’aql),
menggalakkan
pendidikan,
berarti
rasioanalitas,
dan
memerangi
kebodohan. Ketiga, menjaga agama
(hifẓ
ad-din),
berarti
memberi
kebebasan beragama kepada pemeluk
agama
untuk
melaksanan
meyakini
ajaran
memanfaatkannya
D. Simpulan
Rahman
memformulasikan
metodologi tafsir Al-Qur`an dengan
model gerakan ganda (double movement)
sebagai bentuk aplikasinya. Satu hal
yang sangat ditekankan Rahman adalah
keniscayaan melacak sejarah masa lalu
b. Secara lengkap maqâṣid asy-syarî’ah,
ummat
kemudian
dan
agamanya.
(pendekatan historis) dan menangkap
sosio-moral masyarakat. Pendekatan ini
ditujukan dalam rangka mengetahui
secara otentik substansi ajaran Islam dan
berimplikasi
pada
penalaran
kritis-
dialektis terhadap penerapan hukum
Islam.
Gagasan
rekonstruksi
berada
Hanafi
maqâṣid
dalam
tentang
asy-syarî’ah
lingkup
besar
pemikirannya tentang kiri Islam (alyusar
al-Islami),
dalam
dimensi
mauqifunâ min at-turâṡ al-qadîm (sikap
kita atas khazanah klasik). Tujuan besar
pemikiran
ini
adalah
untuk
membangunkan kesadaran kaum Muslim
atas posisinya yang tertindas dengan cara
merekonstruksi
seluruh
bangunan
Keempat, menjaga kehormatan (hifẓ
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
27
Vol. II No. 01, Mei 2016
pemikiran
Islam
secara menyeluruh
kekuatan pembebasan.
sehingga Islam dapat berfungsi sebagai
***
DAFTAR PUSTAKA
Amal, Taufik Adnan. 1993. Islam dan
Tantangan Modernitas. Bandung:
Mizan.
______, 1992. Muqaddimah fi 'Ilmi a;Istighrab Maufiquna Min Turâṡ alGharibi. Kairo: Dar al-Fannani.
______, 1994. Metode dan Alternatif
Neomodernisme
Islam
Fazlurrahman. Bandung: Mizan.
______, 1998. Humum al-Fikr wa alWathan. Kairo: Dar Quba.
Azhar, Muhammad. 1996. Fiqh
Kontemporer dalam Pandangan
Neomodernisme Islam. Yogyakarta:
Lesiska dan Pustaka Pelajar.
______, 1982. Dirasat Islamiyah.
Kairo: Maktabah Anjilo.
______, 1991. Min al-Aqidah ila alTsawrah. Kairo: Maktabah Matbuli.
Barton, Greg. 1999. Islam Liberal di
Indonesia. Jakarta: Paramadina,
IKAPI, Pustaka Pelajar.
______,“Maqashid al-Syari'at wa Ahdaf
al-Ummat; Qira`at fi al-Muwafaqat li
al-Syathibi”. Jurnal al-Muslim alMu'ashir. Vol. 103.
Baedowi, Ahmad, "Tafsir Tematik
Menurut Hasan Hanafi", dalam M.
Alfatih Suryadilaga. 2009. Jurnal
Studi Ilmu-ilmu Al-Qur`an dan
Hadis. vol. 10. No. 1. Januari.
Hidayat, Komaruddin, "Arkoun dan
Tradisi Hermeneutika" dalam Johan
Hendrik Meuleman. 1996. Tradisi,
Kemodernan, dan Motamodernisme.
Yogyakarta: LKIS.
Fazlurrahman. 1979. Islam. Chicago:
The University of Chicago Press.
Iqbal, Sir Muhammad. 1981. The
Reconstruction of Religious Thought
in Islam. New Delhi: Kitab Bhavan.
______, 1984. Islamic Modernity:
Transformation of an Intellectual
Tradition. Chicago: The University
of Chicago Press.
______, 1965. Islamic Methodology in
History. Karachi: Central of Islamic
Research.
Hanafi,
Hasan.
1987.
AlTurâṡwaTajdîd, Mauqifuna min alTurâṡ al-Qadim. Kairo : AlMaktabah al-Anjilu al-Misriyah.
______, 1994. Dialog Agama dan
Revolusi. terj. Tim Penerjemah
Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka
Firdaus.
28
Madjid, Nurcholis, "Fazlurrahman dan
Rekonstruksi
Etika
Al-Qur`an.
Jurnal Islamika. 1993. No. 2.
Oktober-Desember.
Ozdenir, Ibrahim, "Tradisi Islam dalam
Pandangan Fazlurrahman", dalam
Jurnal Islamika. 1993. No. 2.
Oktober-Desember.
Saenong, Ilham B. 2002. Hermeneutika
Pembebasan: Metodologi Tafsir
Alquran Menurut Hasan Hanafi.
Jakarta: Teraju.
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an
Download