10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. TINJAUAN TEORI MEDIS A

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.
TINJAUAN TEORI MEDIS
A. Tinjauan teori Kehamilan
1. Definisi
Kehamilan adalah urutan kejadian yang secara normal terdiri atas
pembuahan, implantasi, pertumbuhan embrio, pertumbuhan janin dan
berakhir pada kehamilan bayi. (Yongki,dkk.2012.h;3)
Lamanya kehamilan adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7
hari). atau 36-40 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir
(HPHT).Pada Kehamilan akan terjadi konsepsi antara sel telur
dengan sperma. Pelepasan sel telur (ovum) hanya terjadi satu kalii
setiap bulan, sekitar hari ke 14 pada Siklus menstruasi normal 28 hari
disebut dengan masa ovulasi. Siklus menstruasi bervariasi pada
setiap wanita.
2. Peristiwa terjadinya kehamilan di antaranya yaitu: (Manuaba,2010
h,75)
a. Ovulasi
Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh
system hormonal yang kompleks.
b. Fertilisasi atau konsepsi
Pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum
dibuahi oleh sperma yang akan membentuk zigot.
10
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
11
c. Proses nidasi atau implantasi
Setelah pertemuan antara ovum dan sperma, terbentuk zigot
yang dalam beberapa jam telah mampu membelah dirinya
menjadi dua dan seterusnya.
3. Perubahan Anatomi dan adaptasi fisiologis pada kehamilan
a. Uterus
Tumbuh
Membesar
primer,
maupun
sekunder
akibat
pertumbuhan isi konsepsi intrauterine. Estrogen menyebabkan
hiperplasi jaringan, progesterone berperan elastisitas / kelenturan
uterus.Taksiran pembesaran uterus pada perabaan tinggi fundus
yaitu.
1) Tidak hamil / normal
:
sebesar telur ayam.
2) Kehamilan 8 minggu
:
telur bebek
3) Kehamilan 12 minggu
:
telur angsa
4) Kehamilan 16 minggu
:
pertengahan simfisis-pusat
5) Kehamilan 20 minggu
:
pinggir bawah pusat
6) Kehamilan 24 minggu
:
pinggir atas pusat
7) Kehamilan 28 minggu
:
sepertiga pusat-xyphoid
8) Kehamilan 32 minggu
:
pertengahan pusat-xyphoid
9) 36 – 42 minggu
xyphoid.
:
3
sampai
1
jari
bawah
(Sukarni.2013;h.66)
b. Serviks uteri
Mengalami hipervaskularisasi akibat stimulasi estrogen dan
perlunakan akibat progesterone yang disebut tanda goodel atau
hegar.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
12
c. Vagina dan Vulva
Terjadi hipervaskularisai akibat pengaruh estrogen dan
progesterone, warnanya menjadi warna merah kebiruan disebut
tanda chadwick.(Kusmiyati 2010; hal.55)
d. Ovarium
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh plasenta,
terutam fungsi produksi pprogesteron dan estrogen. Selama
kehamilan ovarium tenang. Tidak terjadi pembentukan dan
pematangan folikel baru, tidak terjadi ovulasi. Tidak terjadi siklus
hormonal menstruasi.
e. Payudara
Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplapsia system duktus
dan jaringan interstisial payudara. Hormone laktogenik plasenta
(diantaranya somatommotropin) yang menyebabkan hipertrofi dan
pertambahan sel –sel asinus payudara, serta meningkatkan
produksi zat –zat kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel –sel
lemak, kolostrum. Mamae membesar dan tegang, terjadii
hiperpigmentasi
kulit
serta
hipertrofi
kelenjar
montgomery,
terutama daerah areola dan papilla akibat pengaruh melanofor.
Puting susu membesar dan menonjol. (Hanum,2011.hal;90).
f.
Dinding Perut (abdominal )
Pembesaran
Rahim
menimbulkan
peregangan
dan
menyebabkan robeknya serabut elastis dibawah kulit rahim
sehingga timbul strie gravidarum. Kulit perut pada linea alba
bertambah pigmentasinya dan disebut linea nigra. (Hanum,
2011.hal; 90).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
13
g. Traktus Urinarius
Pada akhir kehamilan kepala janin mulai turun ke pintu atas
panggul keluhan sering kencing akan timbul kembali karena
kandung kemih akan mulai tertekan kembali. Selain itu juga
terjadii hemodilusi menyebabkan metabolisme air menjadi lancar.
Pelvis ginjal dan ureter lebih berdilatasi daripada pelvis kiri karena
diakibatkan pergeseran uterus lebih berat ke kanan akibat
terdapat kolon rektosigmoid disebelah kiri. (Kusmiyati, 2010; h.68)
h. Sistem Respirasi
Pada kehamilan 32 minggu terjadi desakan diafgrama karena
dorongan uterus yang membesar, sebagai kompensasi terjadinya
desakan rahim dan kebutuhan oksigen meningkat sehingga ibu
hamil bernafas lebih dalam. (Manuaba, 2010; h.93).
i.
Sirkulasi Darah
Volume darah semakin meningkat dan jumlah serum darah lebih
besar dari dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadii
pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia
kehmilan 32 minggu. Volume darah
bertambah sebesar 25
sampai 30% sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%, curah
jantung akan bertambah sekitar 30%. Sel darah merah makin
meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan
janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang
dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi
yang disertai anemia fisiologis. (Manuaba, 2010; h.93)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
14
j.
Kenaikan berat badan
Pada ibu hamil kenaikan berat badan sekitar 6,5 kg sampai 15 kg
selama kehamilan. (Manuaba, 2010 h.117)
Rekomendasi penambahan berat badan selama kehamilan
berdasarkan indeks massa tubuh.
Kategori
IMT
Rekomendasi
Rendah
≤ 19.8
12,5 – 18
Normal
19.8 – 26
11.5- 16
Tinggi
26-29
7- 16
Obesitas
≥ 29
≥7
Tabel 2.1 Dikutip dari cuningham
Perubahan adaptasi psikologi pada ibu hamil terbagi menjadi 3
trimester yaitu :
a. Trimester I
Trimester pertama pada usia kehamilan 0 – 12 minggu,
trimester
ini
sering
dikatakan
sebagai
masa
penentuan.
Penentuan untuk membuktikan bahwa wanita dalam keadaan
hamil. Dampak terjadinya peningkatan hormone estrogen dan
progesterone pada ibu hamil akan mempengaruhi perubahan fisik
sehingga banyak ibu hamil merasakan kekecewaan, penolakan,
kecemasan dan kesedihan. Pada trimester ini ibu
akan selalu
mencari tanda- tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya
memang hamil. Gairah seks pada trimester ini kebanyakan para
wanita mengalami peningkatan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
15
b. Trimester II
Trimester kedua pada usia kehamilan 13 – 28 minggu,
trimester ini disebut sebagai periode pancaran kesehatan, saat ibu
merasa sehat, ini disebabkan umunya pada wanita merasa lebih
baik dan terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan. Ibu sudah
menerima kehamilannya dan mulai dapat menggunakan energy
dan pikirannya secar lebiih konstruktif, gerakan janin mulai ibu
rasakan. Ketika gerakan janin semakin jelas teras, yang terlihat
dengan gerakan adanya gerakan dan denyut jantung janin
kecemasan orangtua yaitu kemungkinan cacat pada janinnya.
c. Trimester III
Trimester ketiga pada usia kehamilan 29- 42 minggu, trimester
ini disebut periode penantian, periode ini wanita menantii
kehadiran bayi sebagai bagian dari dirinya. Menjadi tidak sabar
untuk segera melihat bayinya. Pada trimester ini waktu untuk
mempersiapkan kelahiran dan kedudukan menjadi orangtua.
ketakutan dan kekhawatiran terhadap hidupnya dan bayinya.
proses berduka seperti kehilangan perhatian dan hak istimewa
yang dimiliki selama kehamilannya.
4. Diagnosis kehamilan
Lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm adalah
sekitar 280 - 300 hari dengan perhitungan sebagai berikut:
a. Usia kehamilan sampai 28 minggu dengan berat janin 1000 gram
nila berakhir disebut dengan keguguran.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
16
b. Usia kehamilan 29 minggu sampai 36 minggu bila terjadi
persalinan disebut prematuritas
c. Usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu disebut aterm
d. Usia kehamilan lebih dari 42 minggu disebut kehamilan lewat
waktu atau post term (serotinus).
5. Tanda dan gejala kehamilan
a. Amenorea
(terlambat
datang
bulan)
konsepsi
menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel
dan
nidasi
de graff da
ovulasi. Dengan mengetahui hari pertama haid terakhir dengan
perhitungan rumus neagle, dapat ditentukan perkiraan persalinan.
b. Mual dan Muntah (emesis). Pengaruh estrogen dan progeteron
menyebabkan pengeluaran asam lambung yang berlebihan. Mual
muntah terutam pada pagi hari disebut morning sickness. Dalam
batas yang fisiologis, keadaan ini dapat diatasi. Akibat mual dan
muntah, nafsu makan berkurang.
c. Ngidam, wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu,
keinginan yang demikian disebut ngidam.
d. Payudara tegang yang dipengaruhi oleh hormone estrogen dan
progesteron dan somatomamotrofin menimbulkan deposi lemak,
air dan garam pada payudara membesar dan tegang. Ujung saraf
tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama.
e. Sering buang air kecil, desakan rahim ke depan menyebabkan
kantung kemih cepat terasa penuh dan sering buang air kecil.
Pada trimester kedua, gejala ini sudah menghilang.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
17
f.
Konstipasi
atau
obstipasi,
pengaruh
progesterone
dapat
menghambat peristaltik usus, menyebabkan kesulitan untuk
buang air besar.
g. Pigmentasi kulit, keluarnya melanophore stimulating hormone
hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit di sekitar pipi
(kloasma gravidarum), pada dinding perut (striae nigra, linea alba
makin hitam)
h. Varises atau penampakan pembuluh darah vena,
karena
pengaruh dari estrogen dan progesterone terjadi penampakan
pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang mempunyai
bakat. Penampakan pembuluh darah itu terjadi disekitar genetalia
eksterna, kaki dan betis, dan payudara. Penampakan pembuluh
darah ini dapat menghilang setelah persalinan.
6. Tanda Tidak Pasti Kehamilan
Tanda tidak pasti kehamilan dapat ditentukan oleh:
a. Rahim membesar, sesuai dengan tuanya kehamilan.
b. Pada pemeriksaan dalam dijumpai tanda hegar, tanda chedwik
dan tanda piskacek, kontraksi Braxton hicks dan teraba
ballotemen.
c. Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif, namun sebagian ada
positif palsu.
7. Tanda Pasti Kehamilan
Tanda pasti kehamilan dapat ditentukan melalui:
a. Gerakan denyut janin dalam Rahim
b. Terlihat / teraba gerakan janin dan teraba bagian – bagian janin.
c. Denyut jantung janin, di dengar dengan stetoskop linex, Doppler,
dilihat dengan ultrasonografi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
18
8. Pemeriksaan Pada Kehamilan
Pemeriksaan fisik umum yang meliputi :
a. Pemeriksan fisik umum yang meliputi :
Kesan umum komposmentis atau tampak sakit. Pemeriksaan
tekanan darah nadi, pernapasan dan suhu, berat badan.
1) Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk menetapkan dan
memastikan bahwa pertumbuhan janin konsisten dengan usia
hamil
selama
perjalanaan
kehamilan.
Pemeriksaan
ini
mungkin bisa menimbulkan kekhawatiran pada ibu hamil dan
komunikasi yang sensitive selama prosedur penting dilakukan.
Metode pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi, palpasi dan
auskultasi.
(a) Inspeksi
Ukuran uterus dikaji dengan memperkirakan melalui
observasi. Namun, kandung kemih yang penuh, kolom
distensi atau obesitas dapat memberikan kesan yang keliru
tentang ukuran janin. Bentuk uterus lebih panjang daripada
lebarnya jika posisi janinnya lungotudinal. Mengobservasi
gerkan janin dan perubahan kulit abdomen dengan
terdapat tanda garis pada kehamilan.
(b) Palpasi
Palpasi menggunakan kedua tangan untuk menyentuh
bagian tubuh untuk membuat suatu pengukuran sensitive
tanda khusus fisik. Pada kehamilan pemeriksaan palpasi
dengan cara maneuver leopold yaitu terdiri dari leopold 14.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
19
Leopold I Menentukan tinggi fundus uteri, bagian janin
dalam fundus dan konsistensi fundus. atau
menentukan letak kepala atau bokong dengan
satu tangan fundus dan tangan lain diatas
simfisis.
Leopold II Menetukan batas damping kanan kiri dari rahim.
Serta menentukan letak punggung janin pada
letak lintang, tentukan letak janin.
Leopold III Menentukan bagian terbawah janin apakah
bagian terbawah janin sudah masuk atau masih
dapat digoyangkan.
Leopold IV Menenetukan bagian terendah apakah kepala
atau bokong dan sudah seberapa jauh janin
sudah
masuk
pintu
atas
panggul.
(Manuaba,2010.h;116)
(c) Perkusi
Merupakan
tehnik
pemeriksaan
fisik
dengan
melibatkan pengetukan tubuh dengan ujung-ujung yang
berguna
untuk
konsistensi
mengevaluasi
organ-
organ
ukuran,
tubuh
batasan,
yang
dan
bertujuan
menemukan adanya cairan di dalam rongga tubuh.
(d) Auskultasi
Auskultasi merupakan tehnik pemeriksaan fisik dengan
mendengarkan
suara
atau
bunyi
yang
dihasilkan.
Mendengarkan denyut jantung janin adalah bagian dari
proses dengan menggunakan dopler atau linex. Dengan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
20
batas normal denyut jantung janin 120–160 x/menit.
(Prawirohardjo, 2010 hal 33).
b. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan Darah
(a) Hb
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama
kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester III. Dengan
pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami
anemia. (Manuaba, 2010; h.239).
(b) Golongan darah
Untuk mengetahui golongan darah ibu. (Asrinah,dkk.2010
135)
2) Pemeriksaan Urine
Untuk mengetahui kandungan protein atau glukosa di
dalamnya (Varney, 2006; h.531). Pada pemeriksaan urin
menggunakan reagen dipstick jika ditemukan hasil positif
maka itu menandakan terjadi pre eklmapsi sedangkan
pemeriksaan glukosa di lakukan untuk mendiagnosa adanya
diabetes pada kehamilan.(Walsh et al, 2007; h.133).
9. Ketidaknyamanan
umum
dalam
kehamilan
pada
trimester
III
(Walsh.2007;h.139)
a. Nyeri Punggung
b. Pingsan /berkunang-kunang
c. Keletihan
d. Kesemutan jari
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
21
e. Nyeri lipat paha/nyeri abdomen bawah
f. Rasa panas pada ulu hati
g. Konstipasi
h. Sakit kepala
i. Bengkak (oedem)
j. Rabas Vaginal
k. Varises
10. Identifikasi tanda- tanda bahaya Pada Kehamilan
(Kusmiyati et
al.2009 hal;154)
a. Tanda – tanda bahaya kehamilan muda
1) Perdarahan pervaginam masa hamil muda
Perdarahan pervaginam pada hamil muda dapat disebabkan
oleh abortus,kehamilan ektopik.
2) Hipertensi Gravidarum
Hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, yang sudah
ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu, atau
hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca salin.
(Hipertensi kronik, Superimposed pre eklamsi).
3) Nyeri Perut Pada Kehamilan Muda
Nyeri perut pada kehamilan 22 minggu atau kurang. Hal ini
mungkin gejala utama pada kehamilan ektopik atau abortus.
b. Tanda- tanda bahaya kehamilan Lanjut
1) Perdarahan pervaginam
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
22
Perdarahan antepartum/ perdarahan pada kehamilan lanjut
adalah perdarahan pada trimester terakhir dalam kehamilan
sampai bayi dilahirkan.
Plasenta previa
Solutio plasenta
Gangguan pembekuan darah
2) Sakit Kepala yang Berat
Wanita hamil mengeluh nyeri kepala yang hebat, sakit kepala
yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat.
3) Penglihatan Kabur.
Wanita hamil mengeluh penglihatan yang kabur, karena
pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu dapat berubah
dalam kehamilan.
4) Bengkak di Wajah dan Jari–jari Tangan
Bengkak bisa menunjukan adanya masalah serius jika muncul
pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat.
5) Keluar Cairan Pervaginam
6) Gerakan janin tidak terasa
Ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah kehamilan
trimester III.
7) Nyeri Abdomen yang Hebat
Ibu mengeluh nyeri perut pada kehamilan trimester III. Nyeri
abdomen yang menunjukan masalah yang mengancam
keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak
hilang setelah beristirahat.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
23
11. Standar Minimal kunjungan kehamilan
Untuk menerima manfaat yang maksimum dari kunjungan- kunjungan
antenatal, maka sebaiknya ibu memperoleh sedikitnya 4 kali
kunjungan selama kehamilan. yaitu : (umi.et al.2010;h.12)
a) 1 kali pada trimester I, sebelum minggu ke-14
b) 1 kali pada trimester II, sebelum minggu ke-28
c) 2 kali pada trimester III, antara minggu ke 28- 36
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
24
B. Tinjauan Teori Persalinan
1. Definisi
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul
dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh bayi.
(Varney,et al.2007).
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran
janin yang terjadi pada kehamilan cukup buan (37-42 mingggu), lahir
spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam
18
jam,
tanpa
komplikasi,
baik
pada
ibu
maupun
janin
(Manuaba,2010; h.100)
Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih
dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya
pencegahan komplikasi terutama perdarahan persalinan, hipotermia,
asfiksia bayi baru lahir. (JNPK- KR 2008).
a. Tujuan
Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat
kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai
upaya yang terintergrasi dan lengkap serta intervensi minimal
sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga
pada tingkat yang optimal. (JNPK- KR 2008. hal; 3)
b. Lima aspek dasar atau lima benang merah dalam asuhan
persalinan normal.
1) Membuat Keputusan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
25
Proses pemecahan masalah yang akan digunakan untuk
merencanakan asuhan bagi ibu dan bayi baru lahir
2) Asuhan sayang ibu dan sayang bayi
Prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan
sang ibu. Mengikut sertakan suami dan keluarga selama
proses persalinan dan kelahiran. Dengan mengutamakan hakhak klien.
3) Pencegahan Infeksi
Asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir dan penolong
persalinan dan tenaga kesehatan lainnya dengan jalan
menghindari transmisi penyakit.
4) Pencatatan (Dokumentasi)
Mencatat asuhan yang telah diberikan kepada ibu maupun
bayi.
5) Rujukan
Melakukan rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke
fasilitas yang lebih lengkap.
2. Macam – macam persalinan
a. Persalinan spontan
Bila persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri, melalui
jalan lahir ibu tersebut.
b. Persalinan buatan
Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar seperti ekstrasi
vakum, forceps, bahkan dilakukan operasi sectsio caesaria.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
26
c. Persalinan anjuran
Persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru
berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian Pitocin atau
prostaglandin.
3. Sebab - sebab mulainya persalinan
a. Penurunan kadar progesterone
Progesterone menimbulkan relaksasi otot – otot rahim sebaliknya
estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan
terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen
di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone
menurun sehingga timbul kontraksi.
b. Teori Oxytocin
Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah. Oleh karena itu
timbul kontraksi dari otot – otot rahim.
c. Keregangan otot – otot
Seperti halnya dengan kandung kemih dan lambung bila
dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul
kontraksi untuk mengeluarkan isinya. Demikian pula dengan
rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot –
otot rahim makin rentan dan otot rahim mempunyai kemampuan
untuk meregang dalam batasan tertentu. Apabila batas tersebut
telah terlewati, maka akan terjadi kontraksi, sehingga persalinan
dapat dimulai.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
27
d. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua konsentrasinya
meningkat sejak usia kehamilan 15 minggu, prostaglandin
dianggap sebagai pemicu terjadinya persalinan, pemberian
prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim.
4. Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan
a. Powers (tenaga)
Merupakan kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang teridiri
dari his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power
merupakan tenaga primer atau kekuatan utama yang dihasilkan
oleh adanya kontraksi dan retraksi otot – otot rahim.
b. Passages
Merupakan jalan lahir yang terbagi atas :
Bagian tulang yang keras : tulang – tulang panggul
Bagian tulang yang lunak : otot – otot, jaringan – jaringan dan
ligament – ligament.
c. Passenger
Merupakan factor janin, yang meliputi sikap janin, letak janin,
presentasi janin, bagian terbawah janin dan posisi janin.
1) Sikap (habitus)
Menunjukan hubungan bagian – bagian janin dengan sumbu
janin, biasanya terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya
dalam sikap fleksi dimana kepala, tulang punggung, dan kaki
dalam keadaan fleksi, lengan bersilang di dada.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
28
2) (situs)
Adalah bagaimana sumbu janin berada terhadap sumbu ibu
misalnya letak lintang dimana sumbu janin tegak lurus pada
sumbu ibu. Letak membujur dimana sumbu janin sejajar
dengan sumbu ibu, ini bisa letak kepala atau letak sungsang.
3) Presentasi
Dipakai untuk menentukan bagian janin yang ada dibagian
bawah rahim
yang dijumpai pada palpasi atau pada
pemeriksaan dalam. Contoh : presentasi kepala,presentasi
bokong, presentasi bahu.
Bagian terbawah janin
Sama dengan presentasi hanya lebih diperjelas istilahnya
Posisi janin
Untuk menetapkan arah bagian terbawah janin apakah
sebelah kanan atau sebelah kiri, depan belakang terhadap
sumbu ibu (maternal-pelvis). Contoh pada letak belakang
kepala ubun – ubun kecil (uuk) kiri depan, uuk kanan
belakang.
5. Tanda dan Gejala Persalinan (Ida Bagus Manuaba.2010;h.169)
1) Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak
kontraksi yang semakin pendek.
2) Perubahan serviks
Perubahan
servik
terjadi
akibat
peningkatan
intensitas
kontraksi Braxton hicks. Serviks menjadi matang selama periode
yang berbeda – beda sebelum persalinan. Sehingga dengan
kematangan serviks menandakan bahwa suatu proses persalinan
akan dimulai. (Varney.et al.2007;h.673)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
29
3) Pengeluaran lendir dan darah
Dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis servikalis
keluar disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang sedikit ini
disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian segmen
bawah rahim hingga beberapa capillar darah terputus.
4) Premature rupture of membrane
Adalah keluarnya cairan banyak dengan secara tiba – tiba dari
jalan lahir. Hal ini terjadi akibat ketuban pecah atau selaput janin
robek. Ketuban biasanya pecah pada akhir kala satu persalinan.
Apabila terjadi sebelum inpartu kondisi tersebut disebut ketuban
pecah dini. Hal ini dialami sekitar 12% wanita hamil. Kurang lebih
80% wanita yang mendekati usia kehamilan cukup bulan dan
mengalami KPD mulai mengalami persalinan spontan dalam
waktu 24 jam.(Varney.et al.2007;h.673)
6. Tahap – tahap persalinan
a) Kala I persalinan
Kala I persalinan adalah permulaan kontraksi persalinan sejati,
yang ditandai oleh perubahan serviks dan diakhiri dengan
pembukaan lengkap (10 cm).(Varney.2007;h.672).
Kala
I
untuk
primigravida
lamanya
berlangsung
12
jam
sedangkan untuk multigravida sekitar 8 jam.
Berdasarkan kemajuan pembukaan maka kala I terbagi menjadi :
Fase laten
Yaitu fase pembukaan yang sangat lambat yaitu dari 0 cm sampai
3 cm yang membutuhkan waktu ± 8jam.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
30
Fase aktif
Yaitu fase pembukaan yang lebih cepat yang terbagi menjadi:
Fase accelerasi (fase percepatan), dari pembukaan 3 cm menjadi
4 cm yang dicapai dalam waktu 2 jam.
Fase dilatasi maksimal, dari pembukaan 4 cm sampai 9 cm yang
dicapai dalam waktu 2 jam.
Fase deselerasi (kurangnya kecepatan), dari pembukaan 9 cm
sampai 10 cm selama 2 jam. (JNPK-KR 2008)
Asuhan sayang ibu dalam persalinan kala I diantaranya :
(1) Pengurangan rasa sakit
(2) Dukungan emosional
(3) Mengatur posisi
(4) Pemberian cairan dan nutrisi
(5) Kamar mandi
(6) Pencegahan infeksi
(7) Persiapan persalinan
(Sondakh.2013;h.117-121)
b) Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai keluarnya janin.
Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada
multi.( Menurut JNPK-KR (2008; h. 77)
Asuhan pada persalinan kala II
(2) Pemantauan ibu
(3) Kemajuan Persalinan
(4) Pemantauan janin
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
31
(5) Asuhan Dukungan
(Sondakh.2013;h.133)
c) Kala III
Dimulai segera setelah janin lahir, dan berakhir dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban janin. berlangsung tidak lebih dari 30
menit. Kala tiga persalinan disebut juga sebagai stadium pemisahan
dan ekspulsi plasenta. (Prawirohardjo 2009,h;297)
Kebutuhan ibu pada persalinan kala III
(1) Memberikan kesempatan kepada ibu untuk segera memeluk
bayinya dan menyusuinya.
(2) Memberitahu setiap tindakan yang akan dilakukan.
(3) Pencegahan infeksi pada kala III
(4) Memantau keadaan ibu (tanda vital, kontraksi, perdarahan)
(5) Melakukan kolaborasi/rujukan bila terjadi kegawatdaruratan.
(6) Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
(7) Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III.
(Sondakh.2013;h.141)
d) Kala IV
Kala IV melakukan observasi pada 2 jam pertama postpartum karena
perdarahan postpartum sering terjadi 1 – 2 jam pertama. Observasi
yang dilakukan meliputi tingkat kesadaran dan keadaan umum ibu,
pemeriksaan tanda – tanda vital, dimulai dari tekanan darah, nadi,
pernafasan, kontraksi uterus, jumlah urin dan jumlah darah yang
keluar. (JNPK- KR 2008)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
32
7. Mekanisme Persalinan Normal (ari,et al. 2010.h; 111)
Mekanisme persalinan normal adalah pergerakan kepala janin
dalam rongga dasar panggul untuk menyesuaikan diri dengan luas
panggul sehingga kepala dapat lahir secara spontan, diameter
terbesar kepala janin berusaha menyesuaikan dengan diameter
terbesar dalam ukuran panggul.
Ada tiga ukuran diameter kepala janin yang digunaka sebagai
patokan dalam mekanisme persalinan normal :
a) Jarak biparietal
Merupakan diameter kepala melintang terbesar dari kepala
janin,dipakai di dalam definisi penguncian(engagement)
b) Jarak suboksipito bregmatika
Jarak antara batas leher dan oksiput ke anterior fontanel, ini
adalah diameter yang bersangkutan dengan presentasi kepala.
c) Jarak oksipitomental
Merupakan diameter terbesar dari kepala janin, ini adalah
diameter yang bersangkutan dengan hal presentasi
Mekanisme persalinan terbagi menjadi beberapa tahap gerakan
kepala janin di dasar panggul yang di ikuti dengan lahirnya seluruh
anggota badan bayi.
(1) Penurunan kepala
Terjadi selama proses persalinan karena adanya daya dorong
dari kontraksi uterus yang efektif posisi, serta kekuatan
meneran dari pasien. Saat kepala melewati pintu atas panggul
dapat juga dalam keadaan dimana sutura sagitalis lebih dekat
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
33
ke promotorium yang dinamakan asinklitismus. Sedangkan
sutura sagitalis melintang dijalan lahir, tulang parietal kanan
dan kiri sama tinggi dinamakan sinklitismus.
(2) Fleksi
Dalam proses masuknya kepala janin ke dalam panggul, fleksi
menjadi hal yang sangat penting karena dengan fleksi
diameter kepala janin terkecil dapat bergerak melalui panggul
dan terus menuju dasar panggul. Pada saat kepala bertemu
dengan dasar panggul , tahananya akan meningkatkan fleksi
menjadi bertambah besar yang sangat diperlukan agar sampai
di dasar panggul kepala janin sudah dalam fleksi maksimal.
(3) Putaran paksi dalam
Putar paksi dalam yaitu pemutaran kepala janin secara
perlahan menggerakan oksiput dari posisi asalnya ke anterior
menuju simfisis pubis, atau ke posterior menuju lubang
sacrum.
Putar paksi dalam tidak terjadi sendiri, tetapi selalu bersamaan
dengan majunya kepala dan tidak terjadi sebelum kepala
sampai bidang hodge III, terkadang baru setelah kepala
sampai dasar panggul.
(4) Ekstensi
Setelah kepala janin sampai pada dasar panggul, terjadi
ekstensi atau defleksi maksimal.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
34
(5) Putar paksi luar
Putaran ini terjadi secara bersamaan dengan putaran internal
dari bahu serta untuk menghilangkan torsi pada leher yang
terjadi karena putaran paksi dalam. Kepala memutar kembali
searah punggung janin.
(6) Ekspulsi
Setelah putar paksi luar bahu depan sampai bawah simpisis
dan menjadi hipomoklion untuk melahirkan bahu belakang.
Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh
tubuh janin lahir searah dengan jalan lahir atau mengikuti
poros carus.
8. Penatalaksanaan Persalinan
a. 58 Langkah Asuhan Persalinan Normal (Sondakh.2013.hal;197)
KALA II
1) Mengamati tanda dan gejala persalinan kala II
Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rectum
dan anus
Perineum menonjol
Vulva-vagina dan sfingter ani membuka
2) Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial
siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan
menempatkan tabung suntik sekali pakai.
3) Mengenakan celemek.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
35
4) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku,
mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang
mengalir dan keringkan dengan handuk.
5) Memakai
satu
sarung
tangan
DTT
untuk
melakukan
pemeriksaan dalam.
6) Menghisap oksitosin 10 unit dalam tabung suntik dengan
menggunakan sarung tangan DTT.
7) Melakukan vulvua hygiene
8) Melakukan pemeriksaan dalam, untk memastkan bahwa
pembukaan serviks sudah lengkap. Bila selaput ketuban
masih utuh dan pembukkan sudah lengkap maka lakukan
amniotomi.
9) Mendekontaminasi sarung tangan denga cara merendam
pada larutan klorin 0.5 %.
10) Memeriksa DJJ setelah kontraksi/saat uterus relaksasi, untuk
memastikan frekuensi DJJ dalam batas normal(120-160
x/menit).
11) Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan
keadaan janin baik. Membantu ibu untuk mengambil posisi
yang nyaman.
12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran. (ketika ada his, bantu ibu dalam posisi setengah
duduk dan memastikan ibu merasa nyaman).
13) Memimpin ibu untuk melakukan dorongan yang kuat untuk
meneran:
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
36
Membimbing ibu untuk dapat meneran secara benar dan
efektif ketika ada kontraksi.
Mendukung dan memberi semangat atas usaha
ibu untuk
meneran dan memperbaiki apabila cara meneran ibu tidak
sesuai.
Membantu ibu mengmbil posisi yang nyaman sesuai dengan
pilihan dan kemauan ibu.
Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi dan berikan
asupan makan dan cairan peroral.
Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.
14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6
cm,
letakan
handuk
bersih
diatas
perut
ibu
untuk
mengeringkan bayi.
15) Meletakan 1/3 kain dibawah bokong ibu.
16) Membuka partus set
17) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm,
lindungi perineum dengan sarung tangan yang dilapisis kain
tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan
tekanan lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,
membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu
untuk meneran perlahan-lahan atau kepala bernapas cepat
saat kepala lahir.
19) Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan
kain atau kasa yang bersih.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
37
20) Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang
sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera
proses kelahiran bayi.
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan longgar,lepaskan lewat
bagian atas kepala bayi.
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di
dua tempat dan memotongnya.
21) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
22) Setelah kepala melakukan putar paksi luar, tempatkan kedua
tangan di masing – masing sisi muka bayi (secara biparietal).
Menganjurkan
ibu
untuk
meneran
saat
ada
kontraksi
berikutnya. Dengan lembut menarik curam kebawah untuk
melahirkan bahu depan. Kemudian menarik curam ke atas
untuk melahirkan bahu belakang.
23) Setelah kedua bahu lahir, geser tangan atas ke arah
perineum, ibu untuk menyangga kepala, lengan, dan siku
sebelah bawah. gunakan tangan atas untuk menulusuri dan
memegang lengan dan siku sebelah atas. Membiarkan bahu
dan lengan belakang lahir ke tangan tersebut.
24) Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusuri tangan yang ada di
atas dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya
saat punggung kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi
dengan hati – hati membantu kelahiran kaki.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
38
25) Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian
meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi
sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu
pendek, ibu meletakkan bayi di tempat yang memungkinkan).
Bila bayi mengalami asfiksia, lakukan resusitasi.
26) Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk
dan biarkan kontak kulit ibu – bayi. Lakukan penyuntikan
oksitosin.
27) Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi
dalam uterus. (janin tunggal)
28) Beritahu ibu bahwa akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik.
29) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir. Suntikkan oksitosin
10 unit IM di 1/3 paha atas kanan bagian luar.
30) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira – kira 3 cm dari
pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem
ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem
pertama (kea rah ibu).
31) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari
gunting dan memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.
32) Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah, letakkan
bayi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi menempel di
dada/perut ibu, usahakan kepala bayi berada diantara kedua
payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari putting susu.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
39
33) Menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan
kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat
terbuka. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, ambil
tindakan yang sesuai.
KALA III
34) Pindahkan klem pada tali pusat hingga jarak 5-10 cm dari
vulva.
35) Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu,
tepat di atas tulang pubis, melakukan palpasi kontraksi uterus
dan menstabilkan uterus. Tangan lain memegang tali pusat
beserta klemnya.
36) Menunggu uterus berkontraksi dan melakukan penegangan
tali pusat ke arah bawah sambil tangan kiri melakukan
dorsokranial. Apabila plasenta tidak lahir setelah 30 -40 detik,
hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga ada
kontraksi berikutnya. (Melakukan rangasangan putting susu
jika uterus tidak berkontraksi).
37) Lakukan peneganagn dan dorongan dorso kranial hingga
plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil menarik tali pusat
ke arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti
kurva jalan lahir.Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan
klem hingga jarak sekitar 5-10 cm daari vulva dan lahirkan
plasenta.
38) Jika plasenta terlihat introitus vagina melanjutkan kelahiran
plasenta dengan menggunakan kedua tangan. Memegang
plasenta dengan kedua tangan dan memutar plasenta hingga
selaput ketuban terpilin.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
40
39) Segera plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan
masase uterus dengan meletakan tangan di fundus dan
melakukan masase dengan gerakan melingkar hingga uterus
berkontraksi menjadi keras.
40) Memastikan plasenta dan selaput ketuban lengkap dan utuh.
Dengan memeriksa dibagian keduanya baik itu kearah ibu dan
ke janin.
41) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan
segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
KALA IV
42) Menilai ulang uterus dan memastikan berkontraksi dengan
baik.
43) Biarkan bayi teteap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu
minimal 1 jam.
Sebagian bayi akan berhasil melakukan IMD dalam waktu 3060 menit.
44) Setelah satu jam lakukan pemeriksaan antropometri dan
pemberian tetes mata, vitamin K1
45) Setelah satu jam pemberian K1 berikan suntikan imunisasi
hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46) Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
per vaginam:
2 – 3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.
Setiap 15 pada 1 jam pertama pascapersalinan.
Setiap 20 -30 menit pada jam kedua pascapersalinan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
41
Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan
tindakan penanganan atonia uteri.
Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan
penjahitan dengan anastesi local dan menggunakan teknik
yang sesuai.
47) Mengajarakan pada ibu / keluarga bagaimana melakukan
masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus.
48) Mengevaluasi kehilangan darah.
49) Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih
setiap 15 menit selama 1 jam, pertama pascapersalinan dan
setiap 30 menit selama jam kedua pascapersalinan.
Memeriksa temperature tubuh setiap satu jam sekali selama
dua jam pertama pascapersalinan.
Melakukan tindakan yang sesuai apabila menemukan hal yang
tidak normal.
50) Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernapas
dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,537,5ºC)
51) Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas
peralatan setelah dekontaminasi.
52) Membuang bahan – bahan yang terkontaminasi ke dalam
tempat sampah yang sesuai.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
42
53) Membersihkan
ibu
dengan
menggunakan
air
DTT
membersihkan cairan ketuban, lendir, dan darah. Membantu
ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
54) Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan
ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu makanan
dan minuman sesuai keinginan ibu.
55) Mendekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin
dan membilas dengan air bersih.
56) Melepaskan dan merendam sarung tangan dalam larutan
klorin 0,5%, balikkan bagian dalam keluar.
57) Mencuci tangan dengan sabun dengan air mengalir.
58) Melengkapi patograf halaman depan dan belakang, periksa
tanda vital dan asuhan kala IV.
b. Inisasi Menyusui Dini
Inisiasi menyususi dini atau permulaan menyusui dini adalah bayi
mulai menyusui sendiri segera setelah lahir. Kontak antara kulit
bayi
dan kulit ibunya dibairkan setidaknya selama satu jam segera
setelah bayi lahir, kemudian bayi akan mencari payudara ibu
dengan
sendirinya. (Sondakh.2013.hal; 171).
c. Patograf
Patograf adalah alat bantu yang digunakan selama persalinan.
dengan tujuan untuk. Mencatat hasil observasi dan kemajuan
persalinan dan mendeteksi apakah persalinan berjalan secara
normal.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
43
1) Penggunaan Patograf
Menurut WHO (2000) Patograf agar lebih mudah dipahami dan
mudah digunakan yaitu fase laten dihilangkan, dan pencatatan
pada patograf dimulai dari fase aktif ketika pembukaan serviks 4
cm. (Sarwono, 2010.hal;316)
2) Semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sampai dengan
kelahiran bayi.
3) Semua tempat pelayanan persalinan( rumah, puskesmas, klinik
bidan swasta, rumah sakit).
4) Semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu
selama persalinan.
5) Patograf digunakan pada pengawasan persalinan dengan janin
letak kepala. (Sarwono. 2010. Hal; 316)
9. Identifikasi tanda-tanda bahaya persalinan
a) Luka Jalan Lahir
Definisi
Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap
dan kontraksi Rahim baik. Perlukaan jalan lahir terdiri dari :
Robekan perineum
Penyebab :
(1) Kepala janin terlalu cepat lahir
(2) Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya.
(3) Jaringan parut perineum
(4) Distosia bahu
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
44
Robekan serviks
(1) Partus Presipitatus
(2) Trauma karena pemakaian alat – alat operasi.
(3) Pembukaan lengkap
(4) partus lama
Ruptur Uteri
b) Infeksi
Definisi
Infeksi adalah infeksi yang terjadi dalam persalinan infeksi dapat
juga terjadi sebelum persalinan berupa korioamnionitis.
penyebab
Faktor predisposisi : distosia,ketuban pecah dini, servsitis,
vaginitis.
Diagnosis
(1) Demam lebih dari 38ºC tanpa ada sumber infeksi
(2) Takikardia ibu atau janin.
(3) Nyeri pada uterus
(4) Cairan amnion yang berbau.
(5) Sepsis
(6) Pemeriksaan cairan amnion
Penatalaksanaan
Antiobiotik diberikan sesuai penyebab. ampisilin 4 x 500mg.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
45
c) Partus Lama
(1) Fase laten lebih dari 8 jam
(2) Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih bayi belum
lahir
(3) Dilatasi serviks dikanan garis waspada pada persalinan fase
aktif.
(4) Kala dua lama
(5) Inersia uteri
d) Malpresentasi dan malposisi
e) Retensio Plasenta
C. Tinjauan Teori Bayi Baru Lahir Normal
1. Definisi
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia
kehamilan 37 – 42 minggu dengan berat badan antara 2500-4000
gram. (Jenny,2013; hal 150)
Bayi lahir normal adalah bayi yang lahir cukup bulan, 38-42
minggu dengan berat bdan sekitar
2500-300 gram dan panjang
badan 50 – 55 cm. (Sarwono, 2009)
Bayi baru lahir dikatakan normal jika termasuk dalam kriteria
sebagai berikut:
a) Berat Badan lahir bayi antara 2500- 400 gram.
b) Panjang badan bayi 48- 50 cm.
c) Lingkar dada bayi 32-34 cm.
d) Lingkar kepala bayi 33-35 cm.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
46
e) Bunyi jantung dalam menit pertama ± 180 kali/menit, kemudian
turun sampai 140-120 kali/menit pada saat bayi berumur 30 menit.
f)
Pernapasan cepat pada menit-menit pertama kira- kira 80
kali/menit disertai pernapasan cuping hidung, retraksi suprasternal
dan interkosal, serta rintihan hanya berlangsung 10-15menit.
g) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentuk dan dilapisi verniks kaseosa.
h) Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala tumbuh baik.
i)
Kuku sedikit panjang dan lemas.
j)
Genetalia : testis sudah turun (pada bayi laki-laki)dan labia
mayora telah menutupi labia minora (pada bayi perempuan)
k) Refleks isap, menelan, dan moro telah terbentuk.
l)
Eliminasi, urin dan mekonium normalnya keluar pada 24 jam
pertama. mekonium memiliki karakteristik hitam kehijauan dan
lengket.
2. Adaptasi Fisiologis BBL terhadap Kehidupan di Luar Uterus
Konsep mengenai adaptasi bayi baru lahir yaitu:
a) Memulai segera pernafasan dan perubahan dalam pola sirkulasi.
b) Dalam 24 jam setelah persalinan , system ginjal, gastrointestinal,
hematologi, metabolic, dan system neurologis bayi baru lahir
harus
berfungsi
secara
memadai
untuk
mempertahankan
kehidupan ekstrauteri.
3. Periode Transisi terbagi menjadi 3 tahap yaitu:
a. Periode reaktif yang segera dimulai setelah kelahiran bayi dan
berlangsung sekitar 30 menit. pada saat tersebut, jantung bayi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
47
baru lahir berdenyut cepat dan denyut tali pusat terlihat warna bayi
baru lahir memperlihatkan sianosis sementara atau akrosianosis.
Pernafasan cepat. Mata bayi baru lahir terbuka dan bayi
memperlihatkan prilaku terjaga.
Bayi sering kali mengeluarkan
feses segera setelah lahir dan bising usus.(Varney,2007; h.892)
b. Periode Tidur
Tahap kedua transisi berlangsung dari sekitar 30 menit setelah
kelahira bayi sampai 2 jam. Frekuensi bayi baru lahir menurun
selama periode ini hingga kurang dari 140 kali per menit,
frekuensi pernafasan bayi menjadi lebih lambat dan tenang, bayi
berada dalam tahap tidur nyenyak, bising usus ada, tetapi
berkurang. Tidur nyenyak pertama memungkinkan bayi baru lahir
pulih
dari
tuntuan
kelhairan
dan
transisi
ke
kehidupan
ekstrauteri.(Varney, 2007; h. 893)
c. Periode Reaktivitas Kedua
Selama reaktivitas kedua, dari usia sekitar 2 sampai 6 jam,
frekuensi jantung bayi labil dan perubahan warna terjadi dengan
cepat, yang berkaitan dengan stimulus lingkungan. frekuensi
pernafasan harus tetap di bawah 60 kali per menit. Pemberian
makan segera sangat penting untuk mencegah hipoglikemi.
(Varney, 2007;h. 893)
4. Perubahan termogulasi dan metabolic
a. Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat karena
lingkungan
eksternal lebih dingin daripada lingkungan pada
uterus.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
48
b. Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit
yang besar dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi
mudah menghantarkan panas pada lingkungan.
c. Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin
terjadi melalui konveksi, konduksi, radiasi dan evaporasi.
d. Trauma dingin (hipotermi) pada bayi baru lahir dalam hubungan
dengan asidosis metabolic dapat bersifat mematikan, bahkan
pada bayi cukup bulan yang sehat.
5. Adaptasi Neurologis
Sistem neurologis bayi secara anatomi atau fisiologis belum
berkembang sempurna. Refleks bayi baru lahir merupakan indikator
penting perkembangan normal.
Refleks
Rooting dan
menghisap
Menelan (Sucking)
Moro
Tonik leher
Grasping
Tanda Babinski
Respons Normal
Bayi baru lahir menolehkan kepala
ke arah stimulus, membuka mulut,
dan mulai meghisap bila sudut
mulut bayi disentuh dengan jari
atau putting.
Bayi
baru
lahir
menelan
berkoordinasi dengan menghisap
bila cairan ditaruh dibelakang lidah.
Bila melakukan abduksi dan fleksi
seluruh ekstermitas dan dapat
mulai menangis bila mendapat
gerakan mendadak atau suara
keras
Ekstermitas pada sisi di mana saat
kepala ditolehkan akan ekstensi.
Jari bayi akan menggenggam jika
diletakkan benda ditelapak tangan.
Jari-jari
kaki
bayi
akan
hipereksitensi dan terpisah seperti
kipas dari dorsofleksi.
Tabel 2.2 sumber sondakh 2013;h.154-155
Respons Abnormal
Respons yang lemah tidak
ada respons terjadi pada
prematuritas
Muntah,
batuk
ataureguritasi cairan dapat
terjadi
kemungkinan
berhubugan
dengan
sianosis sekunder karena
prematuritas.
Respons asimetris terlihat
pada cedera saraf perifer
(pleksus brakialis)
Respons persisten setelah
bulan
keempat
dapat
menandakan
cedera
neurologis.
Respons
menetap tampak pada
cedera SSP dan gangguan
neurologis.
Respons ini berkurang
pada
prematuritas.
Asimetris
terjadi
pada
kerusakan saraf perifer
Tidak ada respons yang
terjadi pada deficit SSP.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
49
D. Konsep Dasar Masa Nifas
1. Definisi
Masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta
dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas atau puerperium dimulai sejka 2 jam
setelah lahirnya plasenta sampai 6 minggu (42 hari) setelah itu.
(Sarwono,2010; hal 357).
Puerpurium adalah masa setelah melahirkan bayi. Puerpurium
adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alatalat kandungan kembali seperti pra hamil.(varney, dkk.2007)
2. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
a) Uterus
Pada uterus terjadi proses involusi. Proses involusi adalah
proses kembalinya uterus ke dalam keadaan sebelum hamil
setelah melahirkan. Involusi uterus meliputi reorganisasi dan
pengeluaran desidua/endometrium dan pelepasan perlekatan
plasenta yang ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta
perubahan pada lokasi uterus juga ditandai dengan warna dan
jumlah lokia. Banyaknya lokia dan kecepatan involusi dapat
dipengaruhi dengan menyusui akan mempercepat proses involusi.
Regenerasi
endometrium
lengkap
pada
tempat
perlekatan
plasenta memakan waktu hampir enam minggu. Pertumbuhan
endometrium pada pembuluh darah mengalami pembekuan pada
tempat perlekatan plasenta sehingga menjadi rapuh dan meluruh
yang dikeluarkan dalam bentuk lokia. Uterus, segera setelah
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
50
pelahran bayi, plasenta dan selaput janin, beratnya sekitar 1000
gram. Berat uterus menurun sekitar 500 gram pada akhir minggu
pertama pascapartum dan kembali pada berat yang biasanya
pada saat tidak hamil, yaitu 70 gram pada minggu pascapartum.
(Varney, 2007; h.959)
Involusi
Bayi Lahir
Uri Lahir
Satu minggu
Dua minggu
Tinggi fundus uteri
Setinggi Pusat
2 jari bawah pusat
Pertengahan pusat-simfisis
Tak teraba di atas simfisis
Enam minggu
Bertambah kecil
Delapan minggu
Sebesar normal
Keadaan Serviks
Lembek
Beberapa hari setelah
postpartum
dapat
dilalui 2 jari
Akhir minggu pertama
dapat di masuki satu
jari
Tabel 2.3 Sumber: Buku ajar nifas Vivian.2011;h.57
b) Perubahan Pada Serviks
Serviks segera setelah persalinan sangat lunak, kendur dan
terkulai. Bentuk serviks pada beberapa jam masih terbuka
sehingga mudah dimasukkan dua hingga tiga jari. Serviks kembali
seperti bentuk semula pada hari pertama dan kelunakan menjadi
berkurang. Serviks dapat dimasukkan dua jari sekitar seminggu,
kemudian hanya dapat masuk satu jari itu pun agak sulit dan
berhenti pada os internal. Pada minggu keempat pasca partum os
eksternal mulai kembali pada bentuk seperti tidak hamil. (Varney,
2007; h.960).
c) Lokia
Lokia
adalah
ekskresi cairan
rahim
selama
masa
nifas.
pengeluaran lokia dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
51
(1) Lokia rubra/merah
Lokia ini keluar pada hari pertama sampai hari ketiga masa
post partum, berwarna merah mengandung darah dan
desidua.
(2) Lokia sanguinolenta
Lokia ini keluar pada hari ketiga sampai hari kelima masa
postpartum, berwarna merah kekuningan mengandung
darah dan lendir karena pengaruh dari plasma darah.
(3) Lokia serosa
Lokia ini keluar hari kelima sampai kesembilan postpartum,
berwarna
kekuningan
atau
kecoklatan.
mengandung
sedikit darah dan serum,leukosit dan eritrosit.
(4) Lokia alba
Lokia ini keluar lebih dari hari kesepuluh postpartum,
berwarna lebih pucat, putih kekuningan mengandung
leukosit dan sel desidua.
d) Perubahan Vagina dan Perineum
Kadar estrogen yang menurun berperan dalam penipisan
mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang teregang akan
kembali secara bertahap, rugae akan kembali pada minggu ke
empat walau tidak akan menonjol pada wanita nulipara.
e) Perubahan Tanda-tanda Vital
(1) Suhu Badan
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik
(37,5º- 38 º) akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
52
cairan, kelelahan. Apabila normal, suhu badan menjadi
normal. pada hari ke-3 suhu badan naik kembali karena ada
pembentukan ASI dan payudara menjadi bengkak, berwarna
merah karena banyaknya ASI. (Vivian, 2010; h.60)
(2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-90 x/menit. setelah
melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat. (Vivian,
2010; h.60).Menurut varney (2007; h.961) denyut nadi yang
meningkat selama persalinan akhir, akan kembali normal
setelah beberapa jam pertama pascapartum.
(3)
Tekanan Darah
Biasanya tidak berubah, tekanan darah akan menurun setelah
melahirkan karena ada perdarahan.
Tekanan darah tinggi
pada
terjadinya
postpartum
menandakan
preklamsi
postpartum. (Vivian, 2010; h.60)
(4)
Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan
suhu dan denyut nadi bila suhu tidak normal, pernapasan juga
akan mengikuti.(Vivian,2011; h.60)
3. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Dalam masa nifas ada 4 kali kunjungan yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan.yaitu sebagai berikut:
1) 6-8 jam setelah persalinan
(a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
53
(b) Mendeteksi dan merawat penyebab lalin perdarahan, rujuk
bila perdarahan berlanjut.
(c) Memberikan konseling pada ibu atau pada keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri.
(d) Pemeberian ASI awal.
(e) Melakukan hubungan sehat antara ibu dan bayi
(f) Menjaga agar bayi tetap sehat dengan mencegah hipotermi.
2) 6 hari setelah Persalinan
(a) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus
berkontraksi, fundus di bawah umbilicus, tidak ada
perdarahan
abnormal, tidak ada bau.
(b) Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi dan
perdarahan
abnormal.
(c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan
istirahat.
(d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak adanya
tanda –tanda penyulit.
(e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada
bayi
dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan
merawat
bayi sehari –hari.
3) 2 minggu setelah Persalinan
Memastikan rahim sudah kembali normal dengan mengukur
dan
meraba bagian rahim.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
54
4) 6 minggu setelah persalinan
(a) Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang
dialami
ibu maupun bayi.
(b) Memberikan konseling KB secara dini.
4. Adaptasi Psikologis Ibu Dalam Masa Nifas
Fase – Fase dalam masa nifas pasca persalinan
a) Fase taking in
Fase
taking
in
yaitu
periode
ketergangtungan
yang
berlangsung
pada hari pertama sampai hari kedua pasca
persalinan.
perhatian
ibu
Pengalaman selama proses
terfokus
pada
persalinan
dirinya
berulang
sendiri.
kali
diceritakannya. Hal ini membuat ibu cenderung pasif terhadap
lingkungnya. Kehadiran suami dan keluarga sangat diperlukan
ada pada fase ini. Petugas
kesehatan
dapat
menganjurkan
kepada suami dan keluarga untuk memberikan dukungan moril
dan menyediakan waktu untuk
disampaikan oleh ibu agar dia
mendengarkan
semua
yang
dapat melewati fase ini dengan
baik.
b)
Fase taking hold
fase taking hold adalah fase yang berlangsung antara 3 – 10
hari
setelah melahirkan . Pada fase ini, ibu merasa khawatir
akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam
merawat bayi. Ibu memiliki perasaann yang sangat sensitive
sehingga mudah tersinggung dan gampang marah sehingga
kita
perlu berhati- hati dalam berkomunikasi. Pada masa ini ibu
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
55
memerlukan
kesempatan
dukungan
karena
saat
ini
merupakan
yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan
dalam merawat
diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri.
c) Fase letting go
fase letting go
akan
merupakan fase menerima tanggung jawab
peran barunya yang berlangsung
melahirkan. Ibu
10 hari pasca
sudah dapat menyesuaikan diri merawat diri
dan bayinya. Serta
kepercayaan
Pendidikan kesehatan
dirinya
sudah
meningkat.
yang kita berikan pada fase sebelumnya
akan sangat berguna bagi ibu lebih mandiri dalam memenuhi
kebutuhan diri dan
bayinya. (Dewi dkk.2011. hal; 65-66)
PostPartum Blues
Postpartum blues adalah suatu syndrome gangguan efek ringan
pada minggu pertama setelah persalinan dengan ditandai gejalagejala berikut ini:
(1) Reaksi depresi/ sedih
(2) Sering menangis
(3) Mudah tersinggung
(4) Cemas
(5) Labilitas perasaan
(6) Cenderung menyalahkan diri sendiri
(7) Kelelahan
(8) Mudah sedih
(9) Cepat marah
(10) Pelupa
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
56
Puncak dari postpartum blues ini 3 – 5 hari setelah melahirkan
dan berlangsung dari beberapa hari sampai 2 minggu.
(Dewi.dkk.2011.hal; 67) .
5. Identifikasi tanda-tanda bahaya Pada Masa Nifas
Menurut (Saefeudin.et al 2009; h.260)
1) Infeksi nifas
Infeksi yaitu terjadinya peradangan yang disebabkan oleh
mikroorganisme yaitu streptococcus, basil coli, dan stafilococus.
2) Bendungan payudara
Peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka
mempersiapkan untuk laktasi. Payudara keras dan membesar,
biasanya terjadi pada hari ke 3-5 pasca persalinan.
3) Mastitis
Mastitis adalah infeksi payudara, dengan gejala payudara tegang,
bengkak,
dan
kemerahan,
biasanya
terjadi
pada
satu
payudara.Terjadi antara 3-4 minggu pasca persalinan.
4) Abses Payudara
Infeksi pada payudara dengan gejala payudara tegang,padat dan
kemerahan terjadi pembengkakan dengan fluktuasi, mengalir
nanah.
5) Hematoma
Hematoma adalah pembengakakan jaringan yang berisi darah.
Bahaya hematoma adalah kehilangan sejumlah darah karena
hemoragi, anemia, dan infeksi. hematoma terjadi karena rupture
pembuluh darah spontan atau akibat trauma
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
57
6) Tromboflebitis
Perluasan atau invasi mikroorganisme pathogen yang mengikuti
aliran darah di sepanjang vena dan cabang-cabanganya. Dengan
gejala nyeri tungkai, hangat terlokalisasi, nyeri tekan, bengkak.
7) Perdarahan
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml pasca persalinan
penyebab dari komplikasi ini adalah atonia uteri dan sisa plasenta
(80%). laserasi jalan lahir (20%), gangguan faal pembekuan darah
pasca solution plasenta.
8) Metritis (Endometritis)
Infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu
penyebab terbesar kematian bayi. Dengan gejala perdarahan
pervaginam, syok, demam, nyeri perut bagian bawah,lokia purulen
dan berbau, subinvolusi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
58
E. Kontrasepsi
1. Definisi
Kontrasepsi
adalah
menghindari/
mencegah
terjadinya
kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang
dengan sel spermisid. (Nahyu,2013,hal;366). Tujuan dari kontrasepsi
adalah menghindari / mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
bertemunya antara sel sperma dan sel telur yang sudah matang.
Kontrasepsi yang sesuai untuk ibu masa nifas, antara lain Metode
Amenorhea Laktasi (MAL), pil progestin (mini pil), suntik progestin,
kontrasepsi implant, dan alat kontrasepsi dalam rahim.
2. Metode Kontrasepsi Sederhana Tanpa Alat
a. Metode Amenorhea Laktasi (MAL)
Metode
Amenorhea
Laktasi
adalah
kontrasepsi
yang
mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif,
yang artinya hanya diberikan ASI saja tanpa pemberian makanan
tambahan atau minuman apapun.
3. Metode Kontrasepsi Hormonal
a. Mekanisme Kerja Kontrasepsi Hormonal
1) Mekanisme Kerja Estrogen
(a) Menekan ovulasi
(b) Mencegah Implantasi
(c) Mempercepat transport gamet/ ovum
(d) Luteolisys
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
59
2) Mekanisme Kerja Progesteron
(a) Menghambat Ovulasi
(b) Menghambat Implantasi
(c) Memperlambat Transport gamet/ ovum
(d) Mengentalkan lendir serviks
(e) Luteolysis
3) Kontrasepsi Pil Hormonal
(a) Pil kombinasi
Terdapat kombinasi antara estrogen dan progesterone.
(b) Progesteron Pil ini hanya mengandung progesterone dan
digunakan untuk ibu menyusui atau ibu postpartum.
(c) After mornig pil, pil ini digunakan segera setelah hubungan
seksual.
b. Suntik Hormonal
Suntik hormonal merupakan metode suntik KB dimana
peminatnya paling tinggi (Manuaba,2010.hal; 601). Tingginya
minat tersebut dikarenakan aman, sederhana, efektif, tidak
menimbulkan gangguan dan dapat dipakai pada pasca persalinan.
Jenis suntik hormonal
1) Suntik Kombinasi mengandung medroxylprogesteron acetat
dan estrogen.
2) Suntikan Progestin Metode ini sangat efektif dan aman, dapat
di gunakan oleh semua Perempuan dalam usia reproduksi,
kembalinya kesuburan lebih lambat (rata – rata 4 bulan), dan
cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
60
c. Kontrasepsi Implant
Salah satu jenis alat kontrasepsi yang berupa susuk yang
terbuat dari jenis karet silastik yang berisi hormone, dipasang
dilengan atas.
Efektifitas selama 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk
jadena,
Indoplant dan implanon. Kontrasepsi ini dipakai oleh
semua
perempuan dalam usia reproduksi kesuburan segera
kembali
setelah pencabutan.
1) Cara Kerja
(a) Menghambat ovulasi
(b) Perubahan lendri serviks menjadi lebih kental dan sedikit
(c) Menghambat Perkembangan siklis dari endometrium
2) Keuntungan dari kontrasepsi ini adalah sebagai berikut:
(a) Daya guna tinggi, perlindungan jangka panjang (5 tahun)
(b) Pengembalian
tingkat
kesuburan
cepat
setelah
pencabutan.
(c) Tidak mengganggu kegiatan senggama.
(d) Tidak mengganggu produksi ASI sehingga aman diapakai
pada saat laktasi.
(e) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
(f) Perdarahan terjadi lebih ringan,tidak menaikan darah.
(g) Cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat
yang mengandung estrogen
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
61
3) Keterbatasan yang dimiliki kontrasepsi ini sebagai berikut:
(a) Lebih mahal
(b) Menimbulkan gangguan menstruasi yaitu tidak terdapat
menstruasi.
(c) Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendak
sendiri
4) Indikasi
(a) Wanita – wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk
jangka waktu yang lama tetapi tidak bersedia menjalani
kontap.
(b) Wanita yang tidak boleh menggunakan Pil KB yang
mengandung estrogen.
5) Kontraindikasi
(a) Hamil atau diduga hamil
(b) Penyakit hati
(c) Kanker payudara
(d) Kelainan jiwa
(e) Penyakit jantung, hipertensi
(f) Penyakit tromboemboli
(g) Riwayat Kehamilan Ektopik
(d) Timbul keluhan – keluhan seperti : nyeri kepala, nyeri
dada, perasaan mual pening/ pusing.
(e) Membutuhkan tindakan pembedahan minor.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
62
6) Efek Samping
(c) Amenorhea
(d) Spotting
(e) Pertambahan atau kehilangan berat badan
(f) Ekspulsi
(g) Infeksi pada daerah insersi
2) Waktu Pemasangan
(a) Sewaktu Haid berlangsung
(b) Setiap saat asal diyakini klien tidak hamil
(c) Bila menyusui : 6 minggu- 6 bulan pasca persalinan
(d) saat ganti cara dari metode yang lain
(e) pasca abortus
3) Pra Pemasangan
(a) Melakukan konseling dan KIE kepada calon akseptor KB
implant sehingga klien sudah betul-betul mengerti dan
menerimanya.Berikan
inform
consent
sebagai
tanda
persetujuan.
(b) Persiapan alat-alat yang diperlukan;
Sabun antiseptic
Kasa steril
betadine
Kain steril
lidokain spuitt
Trokart
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
63
sepasang sarung tangan steril
kapsul norplant 2 batang
scalpel yang tajam.
(c) Teknik Pemasangan
(1) Tenaga kesehatan mencuci tangan dengan sabun
(2) Menyuruh pasien untuk mencuci lengan kiri bagian
atas dengan sabun antiseptic.
(3) Pasien dibaringkan terlentang di tempat tidur dengan
lengan kiri diletakkan pada meja kecil disamping
tempat tidur pasien.
(4) Gunakan hand scoon steril.
(5) Lengan kiri pasien yang akan di pasang diolesi dengan
antiseptic.
(6) Daerah tempat pemasangan norplant ditutup kain steril
yang berlubang.
(7) Dilakukan injeksi obat anastesi kira-kira 6- 10 cm di
atas lipatan siku.
(8) Setelah itu buat insisi kurang sepanjang 0.5 cm dengan
scapel yang tajam.
(9) Trokart dimasukkan melalui lubang insisi sehingga
sampai pada jaringan bawah kulit.
(10) Dorong kapsul dengan plunger sampai kapsul
terletak dibawah kulit.
(11) Demikian dilakukan berturut – turut dengan kapsul
kedua.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
64
(12) Setelah semua kapsul berada di bawah kulit, trokart
ditarik perlahan- lahan.
(13) Kontrol luka apakah ada perdarahan atau tidak.
(14) Dekatkan luka dan beri plester kemudian dibalut
dengan perban untuk mencegah perdarahan.
(15) Nasihat agar luka jangan basah, selama 3 hari dan
datang kembali jika terjadi keluhan- keluhan yang
mengganggu.
4. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) merupakan benda asing
yang dimasukan dalam rahim yang sangat efektif, reversible dan
berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia
reproduktif.
5. Kontrasepsi MOW dan MOP
a. Kontrasepsi MOP
Suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang sangat
aman, sederhana dan sangat efektif memakan operasi yang
singkat. (Handayani.2010;h.167)
b. Kontrasepsi MOW
Kontrasepsi Mantap pada Wanita adalah setiap tindakan
pada kedua saluran telur yang mengakibatkan orang atau
pasangan yang bersangkutan tidak akan mendapatkan keturunan
lagi. (Handayani.2010;h.182)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
65
F. METODE SOAPIE
Metode SOAP terdiri dari S adalah Subjektif, O adalah data
Objektif, A adalah Analyisis/Assesment dan P adalah planning.
Merupakan catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis dan singkat.
Prinsip
dari
metode
SOAP
ini
merupakan
proses
pemikiran
penatalaksanaan manajemen kebidanan. (Muslihatun.dkk.2009.)
1) S (Data Subjektif)
Data
subjektif
kebidanan menurut
merupakan
pendokumentasian
manajemen
Helen Varney langkah pertama (pengkajian
data), terutama data yang diperoleh
melalui anamnesis. Data
subjektif ini berhubungan dengan masalah dari sudut pandang pasien.
Ekspresi yang dikhawatirkan dan keluhan klien. Sehingga akan
menguatkan diagnosis yang akan disusun.
2) O (Data Objektif)
Data Objektif (O) merupakan pendokumentasian manajemen
kebidanan menurut Helen varney pertama(pengkajian data), terutama
data yang diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dari
pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium/ pemeriksaan
daignostik lain. Data ini memberikan bukti gejala klinis pasien dan
fakta yang berhubungan dengan diagnosis.
3) A (Assesment)
A (Analysis/ Assessment), merupakan pendokumentasian hasil
analisis
dan
interpretasi
dari
data
subjektif
dan
objektif.
Pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen varney
langkah kedua, ketiga dan ke empat sehingga mencakup hal- hal
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
66
berikut; diagnose masalah kebidanan, diagnosis/ masalah potensial
serta perlunya mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera untuk
antisipasi diagnosis/ masalah potensial dan kebutuhan tindakan
segera harus diidentifikasi menurut kewenangan bidan yang meliputi:
tindakan mandiri, tindakan kolaborasi, dan tindakan merujuk.
4) P(Planning)
Planning / perencanaan adalah membuat rencana asuhan saat itu
juga dan yang akan datang. rencana asuhan yang disusun
bedasarkan hasil analisis dan interpertasi data, Yang bertujuan untuk
mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan
mempertahankan
pendokumentasian
kesejahteraannya.
manajemen
P
dalam
kebidanan
SOAP
menurut
meliputi
kebidanan
menurut Helen varney langkah kelima, keenam dan ketujuh.
Pelaksanaan asuhan sesuai rencana yang telah disusun sesuai
dengan keadaan dan dalam rangka mengatasi masalah pasien.
Pelaksanaan tindakan harus disetujui oleh pasien, kecuali bila
tindakan tidak dilaksanakan akan membahayakan keselamatan
pasien. Dalam planning
mencantumkan evaluasi, yaitu menilai
efektivitas asuhan/ hasil pelaksanaan tindakan. Evaluasi berisi
analisis hasil yang telah dicapai. Proses evaluasi menjadi dasar untuk
mengembangkan tindakan alternative sehingga tercapai tujuan yang
diharapkan.
5) I (Implementasi)
Bidan bekerja dengan dokter dan pasien untuk melaksanakan
rencana asuhan yang menyeluruh dan kolaboratif.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
67
6) E (Evaluasi)
Mengevaluasi tindakan asuhan secara menyeluruh sesuai dengan
yang dibutuhkan pasien. Apabila tindakan yang telah dilakukan dianggap
tidak efektif, maka dilakukan penyesuaian rencana asuhan selanjunya.
Teori Asuhan Kebidanan
1. Pengkajian
SUBJEKTIF
a. Biodata
1) Nama
Identitas dimulai dengan nama pasien, yang harus lengkap:
nama depan, nama tengah (bila ada),nama keluarga dan
nama panggilan akrab.(Matondang,2009; h.4)
2) Umur
Penting
dikaji
karena
salah
satu
hal
yang
dapat
mempengaruhi kondisi ibu. Usia ibu kurang dari 19 tahun dan
usia ibu lebih dari 35 tahun termasuk resiko tinggi dalam
kehamilan (Manuaba, 2010; h.243)
3) Pekerjaan
Perlu dikaji karena ibu yang bekerja cenderung lelah fisik atau
stress, sehingga berpotensi mengalami persalinan preterm.
(Cuningham GF,et al 2006 h.771).
4) Alamat
Perlu dikaji untuk mengetahui tentang keadaan dan kondisi
tempat tinggalnya.(Varney, 2006; h.11)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
68
b. Alasan Datang
Perlu dikaji untuk mengetahui alasan datang ke petugas
kesehatan. (Davey,2005 h.5)
c. Keluhan Utama
Perlu dikaji merupakan dasar utama untuk memulai evaluasi
masalah pasien. (Wlliams, 2005 h.23)
d. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Data yang perlu dikaji adalah penyakit yang pernah di derita
baik itu pada masa kanak-kanak dan masa dewasa, penyakit
Spesifik seperti diabetes mellitus, penyakit jantung dan
penyakit menular HIV/AIDS, tuberkolosis yang dapat berakibat
terjadinya resiko tinggi pada kehamilan. (Varney,et al 2006
h.32)
2) Riwayat Kesehatan sekarang
Data yang perlu dikaji ibu mempunyai penyakit
3) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kesehatan anggota keluarga yang mempunyai
hubungan darah. Yaitu penyakit sistemik yang terdiri dari
penyakit
jantung,
diabetes
mellitus,
hipertensi.
Karena
penyakit- penyakit tersebut merupakan terjadinya resiko tinggi
pada kehamilan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
69
e. Riwayat Obstetri
1) Riwayat Haid
Perlu dikaji untuk mengetahui tentang usia saat menarche,
frekuensi, lamanya, sifat darah yang keluar, dismenorhe,
HPHT dan HPL (Varney, 2006; h.33) Umur kehamilan dapat
diketahui berdasarkan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)
dan HPL digunakan untuk mengetahui perkiraan persalinan
(Varney, 2006; h.790)
2) Riwayat Kehamilan,persalinan, nifas yang lalu
Perlu dikaji untuk mengetahui keadaan kesehatan ibu selama
hamil, ada atau tidaknya penyakit, upaya mengatasi penyakit
tersebut. Pada persalinan penyulit dalam persalinan, cara
melahirkan, siapa yang menolong
dalam persalinan. Dan
penyulit-penyulit dalam nifas. (Matondang,2009; h.13)
3) Riwayat Kehamilan sekarang
Perlu
dikaji
untuk
mendeteksi
komplikasi,
beberapa
ketidaknyamanan dan keluhan yang dialami pasien. (Varney,
2006 h.525)
f.
Riwayat Perkawinan
Perlu dikaji karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan
berkaitan dengan psikologinya yang perlu dikaji dimulai berapa
kali nikah, syah atau tidak. (Anggraini, Y.2010; h 136)
g. Riwayat KB
Perlu dikaji karena kontrasepsi hormonal dapat mempengaruhi
penetapan tanggal perkiraan kelahiran EDD (Estimated date of
delivery). (Wheleer, 2010; h.37)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
70
h. Pola Kebutuhan Sehari- hari
1) Nutrisi
Untuk mengetahui pola makan dan minum selama
hamil dan makanan apa saja yang dikonsumsi. pada dasarnya
dianjurkan makan empat sehat lima sempurna. Nilai gizi dapat
ditentukan dengan bertambahnya berat badan 6,5 sampai 15
kg selam hamil. karena bertambahnya berat badan terlalu
besar dan kurang akan berakibat terjadinya penyulit pada
kehamilan.(Manuaba, 2010; h 117)
2) Eliminasi
Untuk mengetahui kebiasaan buang air kecil maupun
buang air besar, Pada ibu hamil TM I dan TM III akan terjadi
sering kencing (Nekturia) karena semakin membesarnya
uterus sehingga menekan kandung kemih. (Varney,2006
h.538)
3) Istirahat
Perlu dikaji jadwal tidur dan istirahat, Karena istirahat
dan tidur teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan
rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan
janin. (Manuaba, 2010; h.122)
4) Pola Aktifitas
Perlu dikaji, Karena semakin tua kehamilan aktifitas
bekerja harus makin dikurangi dan bekerjalah sesuai dengan
kemampuan. (Manuaba,2010; h.117).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
71
Olahraga saat hamil dianjurkan adalah jalan-jalan waktu pagi
hari
untuk
ketenangan
dan
mendapatkan
udara
segar.
(Manuaba 2010; h.120)
5) Personal Hygiene
Perlu Dikaji untuk menegtahui apakah ibu menjaga
Personal hygiene atau tidak, sehingga dapat mempengaruhi
kesehatan ibu. (Varney 2006; h.646)
Perlu pengawasan gigi saat hamil, karena sering terjadi
karies
gigi
yang
berkaitan
dengan
emesis-hiperemesis
gravidarum, hipersalivasi dapat menimbulkan timbunan kalsium
di sekitar gigi. (Manuaba 2010; h.122)
6) Hubungan seksual
Perlu dikaji, Hamil bukan halangan untuk melakukan
hubungan
seksual.Hubungan
seksual
disarankan
untuk
dihentikan apabila ada indikasi. (Manuaba 2010; h.120).
OBJEKTIF
a. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan umum
Keadaan umum pasien dapat diketahui dengan cara kesan
keadaan sakit,posisi pasien, kesadaran dan kesan status gizi.
(Matondang, 2009; h.22)
2) Tingkat Kesadaran
Menilai kesdaran ibu yaitu dengan melihat
Composmentis
:
Sadar penuh
Apatis
:
Acuh tak acuh
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
72
Salmnolen
: Selalu ingin tidur, mengantuk
tetapi dapat mengikuti perintah
sederhana ketika dirangsang.
Delirium
: Kesadaran menurun serta kacau
motoric, berontak, teriak.
Sopor
: Sangat sulit untuk
dibangunkan,
tidak konsisten.
Semikomatosa
: Reaksi terhadap nyeri saja, tidak
mengikuti perintah atau tidak
berbicara koheren.
Koma
: Kesadaran hilang dan tidak
berespon pada setiap stimulus.
(Matondang 2009; h.33)
3) Tanda-tanda Vital
a) Tekanan Darah
Tekanan Darah pada ibu hamil akan menurun selama 24
minggu pertama kehamilan akibat terjadi penurunan dalam
perifer vaskuler resistence yang di sebabkan oleh
peregangan otot halus oleh progesterone. Tekanan sistolik
akan turun sekitar 5-10 mmHg dan diastolic pada 10-15
mmHg. (Kusmiyati et al, 2009; h 60). Ketika memasuki
masa persalinan tekanan darah akan meningkat karena
kontraksi uterus. Peningkatan tekanan sistolik dan diastolic
dalam batas normal dapat mengindikasikan ansietas atau
nyeri. (Varney, et al, 2007; h 693). Pada kehamilan normal
tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. (Prawirohardjo,
2009 h.94).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
73
b) Nadi
Jumlah denyut nadi yang normal adalah 90x/menit. bila
jumlah denyut nadi lebih dari 90 terdapat adanya kelainan.
(Matondang, 2009; h.205).
c) Suhu
Dalam keadaan normal suhu aksila adalah antara 36ºC
sampai 37º C. (Matondang,2009; h.174).
d) Respirasi
Frekuensi pernafasan orang dewasa adalah 16-30x/menit.
jika terjadi kesulitan bernafas serta ibu kelelahan maka
kemungkinan terdapat kelainan. (Matondang,2009;h.30)
4) Berat Badan
Untuk mengetahui penambahan berat badan ibu. pada wanita
hamil normalnya 6,5 kg sampai 15 kg (Manuaba,2010; h.117)
5) Tinggi Badan
Untuk Mengetahui tinggi badan pasien normal atau tidak,
normalnya lebih dri 145 cm. Apabila ibu mempunyai tinggi
badan kurang dari 145 cm dapat dicurigai ibu memiliki
panggul sempit. (Manuaba,2008; h.30)
6) LILA
Ukuran normalnya adalah 23,5 cm atau lebih,
perlu
ditanyakan untuk mengetahui status gizi ibu. Apabila ibu
mempunyai LILA kurang dari 23,5 cm maka dapat dicurigai
bahwa ibu mengalami kekurangan energy kronik. (Matondang
2009; h.33)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
74
7) Status Present
Bentuk kepala:
Untuk mengetahui bentuk kepala ibu
mesochepal
Muka
:
Pada ibu hamil biasanya akan muncul
cloasma gravidarum. (Sarwono 2008; h
179)
Mata
:
Untuk mengetahui keadaan sclera normal
atau tidak dan keadaan mata normal.
Hidung
:
Untuk mengetahui keadaan dan bentuk
hidung.
Mulut
:
Melihat keadaan bibir, gigi dan gusi, lidah.
selama hamil sering terjadi karies berkaitan
dengan emesis-hipergravidarum,
hipersalivasi dapat menimbulkan timbunan
kalsium disekitar gigi.(Manuaba 2010;h.122)
Telinga
:
Untuk mengetahui keadaan telinga luar,
saluran telinga, gendang telinga, dan
pendengaran, pada ibu hamil TM III
Leher
:
Untuk mengetahui adan pembesaran
kelenjar thyroid atau tidak,
Payudara :
Pada kehamilan payudara akan membesar
dan tegang dan tampak lebih kehitaman,
areola hiperpigmentasi,glandula montgomeri
tampak lebih jelas,putting susu menonjol.
(Kusmiyati et al, 2009; h.57)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
75
Abdomen :
Untuk mengetahui ada strie gravidarum dan
linea nigra. Melihat bentuk membesarnya
uterus apakah sesuai dengan usia
kehamilan. Serta menentukan TFU pada ibu
ibu hamil TM III.( Kusmiyati et al, 2009;h.67)
Genetalia
:
Melihat
bentuk,
luka,
varises,
warna,
pembengkakan,
pengeluaran
cairan
(warna,konsistensi, jumlah).
Pada kehamilan TM III keadaan genetalia
normal. (Kusmiyati et al, 2009; h.57)
Ekstermitas
:
Atas
:
Untuk melihat adanya oedem
pada jari.
Bawah : Untuk melihat adanya oedem
pada pergelangan kaki, refleks
tendon
dalam
(kedutan lutut),
kuadrisep
Varises dan
tanda homans jika ada indikasi.
(Varney, 2006; h.530)
b. Status Obstetri
Proses
observasi
untuk
mengetahui
bagian
tubuh
untuk
mendeteksi karakteristik normal atau tanda fisik yang signifikan
dan palpasi untuk menyentuh bagian tubuh untuk membuat suatu
pengukuran.(Mutaqin, 2011, h;12-14).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
76
Observasi atau palpasi untuk merasakan gerakan janin, mengukur
TFU dan menentukan letak, presentasi, posisi. (Varney, 2006;
h.527)
1) TFU
TFU memberi manfaat untuk mengukur tinggi janin dan
memberikan informasi tentang pertumbuhan progesif janin dan
untuk mendeteksi masalah yang terkait dengan tinggi fundus
(Varney, 2006;h.527). Memperkirakan usia kehamilan dengan
menggunakan Mc.Donald. (Manuaba,2008; h.163)
2) Palpasi
Leopold I : Untuk menentukan tinggi fundus uteri,
bagian
janin dalam fundus, letak kepala atau bokong
dengan satu tangan difundus dan tangan lain di
atas simfisis.
Leopold II : Untuk menentukan bagian apa yang berada di
samping, punggung teraba rata seperti papan,
ektermitas teraba kecil-kecil.
Leopold III : Untuk Menentukan bagian terbawah janin
apakah sudah masuk atau masih bisa digoyang.
Leopold IV: Untuk mementukan bagian terbawah janin dan
berapa jauh janin sudah masuk pintu atas
panggul.(Manuaba, 2010; h.116-117)
3) Auskultasi
Untuk mendengarkan denyut jantung janin, normalnya 120
sampai 160 detak permenit Prawirohardjo,2009; h.95)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
77
4) Taksiran Berat Janin
Janin aterm saat usia kehamilan 38 minggu sampai 42
mingggu dan memiliki berat janin normal sekitar 2500 sampai
3000 gram. (Manuaba,2010; h.100). Jika berat janin kurang
dari 2500 termasuk berat badan lahir rendah/premature
(Varney, 2006; h.523)
5) Umur Kehamilan
Untuk menentukan usia kehamilan dapat dilakukan dengan
menghitung hari pertama haid terakhir dengan rumus naegle,
menghitung dengan TFU, menghitung gerakan janin pertama
kali
dirasakan,
mendengarkan
denyut
jantung
janin,
memperhitungkan masuknya kepala ke pintu atas panggul dan
mempergunakan USG.(Manuaba, 2010; h.128).
6) Pemeriksaan Dalam
(a) Vagina, untuk Mengetahui keadaan vagina apakah ada
kelainan atau luka parut. Luka parut lama divagina
memberikan indikasi luka/episiotomy sebelumnya, Hal ini
merupakan informasi penting untuk menentukan tindakan
pada saat kelahiran bayi.(JNPK-KR).
(b) Pembukaan dan penipisan untuk mengetahui pembukaan
serviks. Pembukaan dan penipisan serviks dipengaruhi
oleh kontraksi uterus. Proses penipisan terjadi karena
serabut otot yang mengililingi osteum interna yang
memanjang karena ditarik ke dalam segmen bawah rahim
sehingga menyebabkan plak lendir yang terdorong keluar.
Pembukaan osteium serviks eksternal akibat kontraksi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
78
sebagai pendorong utama. Berdasarkan kurve fridmen
diperhitungkan primigravida pembukaan terjadi setiap 1
cm/jam dan multigravida 2cm/jam. (Varney, 2006; h.676680).
(c) Kulit ketuban untuk mengetahui kulit ketuban utuh atau
sudah pecah. jika selaput ketuban belum pecah sebelum
pembukaan lengkap, jangan lakukan tindakan amniotomi
sebelum waktunya dapat meningkatkan resiko infeksi
terhadap ibu dan bayi serta gawat janin. (JNPK-KR.2008;
h.44)
(d) Bagian terendah, untuk mengetahui bagian terendah janin,
pada persalinan normal adalah kepala. (JNPK-KR.2008;
h.44)
(e) POD, jika bagian terbawah adalah kepala, pastikan
penunjuknya (ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar) dan
celah (sutura) sagitalis untuk menilai derajat penyusupan
atau tumpang tindih
tulang kepala dan apakah ukuran
kepala janin sesuai dengan jalan lahir. (JNPK-KR.2008;
h.44)
(f)
Penurunan, nilai penurunan bagian terbawah janin dan
tentukan apakah bagian tersebut sudah masuk rongga
panggul. (JNPK-KR.2008; h.44)
(g) Bagian menumbung untuk mengetahui adakah bagian
yang menumbung. Tali pusat menumbung jka tali pusat
teraba atau terlihat saat pemeriksaan dalam. (JNPKKR.2008; h.93).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
79
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Darah Hb
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama
kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester III. Dengan
pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami
anemia. Hasil pemeriksaan darah dengan Hb sahli dapat
digolongkan sebagai berikut:
Hasil Pemeriksaan
Hb Sahli
Hb 11 gr %
tidak anemia
9- 10 gr %
anemia ringan
7- 8 gr %
anemia sedang
<7 gr %
anemia berat
Tabel 2.4 Manuaba, 2010; h.239
2) Pemeriksaan Urine
Untuk mengetahui kandungan protein atau glukosa di
dalamnya (Varney, 2006; h.531). Pada pemeriksaan urin
menggunakan reagen dipstick jika ditemukan hasil positif
maka itu menandakan terjadi preeklmapsi sedangkan
pemeriksaan glukosa di lakukan untuk mendiagnosa
adanya
diabetes pada kehamilan.(Walsh et al, 2007; h.133)
3) Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan USG merupakan suatu metode diagnostic
dengan
menggunakan
gelombang
ultrasonic
untuk
mempelajari fungsi dan morfologi suatu organ. Pada
kehamilan TM I digunakan untuk
penentuan adanya
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
80
kehamilan intrauterine, penentuan adanya denyut jantung
janin, penentuan usia kehamilan, kehamilan kembar,
terduga
kehamilan mola. Pemeriksaan USG pada TM II dan
TM III yaitu
untuk
Penentuan
usia
kehamilan,evaluasi
pertumbuhan janin dan kesejahteraan janin, terduga kelainan
volume
cairan amnion, ketuban pecah dini atua persalinan
preterm, terduga solusio plasenta atau plasenta previa.
Pemeriksaan USG diagnostic cara scanning bersifat aman
dan
noninvasive. sejauh ini tidak ada kontraindikasi untuk
pemeriksaan USG dalam kehamilan. (Prawirohardjo, 2009;
h.252)
ASSESMENT
a.
Diagnosa
Diagnosa kebidanan dari data dasar hasil analisis dan interpretasi
dari data subjektif dan objektif yang akan diproses menjadi
masalah atau diagnosis. (Varney 2006; h.27)
NY_G_P_A umur_tahun, hamil_minggu janin tunggal hidup
intrauterine letak memanjang dalam kehamilan cukup bulan.
b. Diagnosa Potensial
Untuk mengetahui komplikasi yang dapat di alami seorang wanita
hamil TM II yaitu terjdai persalinan preterm, kehamilan ganda,
perdarahan pervaginam, perdarahan solutio plasenta, kehamilan
dengan ketuban pecah dini, kehamilan dengan preklampsieklampsi. (Manuaba, 2009; h 93-108)
c. Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera Atau Kolaborasi
dan Konsultasi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
81
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan dokter sesuai
dengan kondisi klien. (Varney, 2006; h.27)
PLANNING
Menurut Varney (2006; h.531) pengembangan rencana asuhan yang
komprehensif pada ibu hamil mencakup komponen berikut:
1) Penentuan kebutuhan untuk melakukan tes laboratorium atau tes
penunjang lain untuk menyingkirkan, atau membedakan antara
berbagai komplikasi yang mungkin timbul.
2) Penentuan kebutuhan untuk melakukan konsultasi dengan dokter.
3) Menentukan tindakan intruksional untuk memenuhi kebutuhan
pembelajaran.
4) Penentuan kebutuhan untuk mengatasi ketidaknyamanan atau
upaya terapi lain.
5) Penentuan kebutuhan pengobatan.
6) Penentuan untuk melakukan konseling
7) Penentuan tindakan intruksional untuk memenuhi kebutuhan
pembelajaran.
8) Penjadwalan kunjungan ulang berikutnya.
IMPLEMENTASI
Menurut Varney (2006,; h.513) Langkah-langkah penatalaksanaan
bergantung pada data dasar yang di peroleh dan assesment. Pada
proses penatalaksanaan mencakup hal-hal berikut :
1) Menentukan normal tidaknya kondisi kehamilan dari data yang
diperoleh.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
82
2) Membedakan antara ketidaknyamanan yang umum dialami
pada saat hamil dan komplikasi yang mungkin terjadi.
3) Mengidentifikasi tanda dan gejala penyimpangan yang
mungkin dari kondisi normal atau komplikasi.
EVALUASI
Evaluasi merupakan proses tahap akhir dari rangkaian proses
asuhan kebidanan Menurut Varney. Pada langkah ini untuk
memeriksa apakah rencana asuhan yang dilakukan benar-benar
mencapai tujuan. Yaitu memenuhi kebutuhan ibu, seperti yang
diidentifikasi pada diagnosis . (Varney, 2006; h.27).
II. LANDASAN HUKUM
Landasan hukum yang dipakai seorang bidan dalam melakukan asuhan
kebidanan bersalin dengan ketuban pecah dini. adalah:
1. PERMENKES RI No. 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin dan
Penyelenggaraan praktik bidan
a. pasal 10 ayat 2 yang berbunyi pelayanan kebidanan ibu, meliputi:
1)
Pelayanan konseling pada masa pra hamil.
2)
Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
3)
Pelayanan persalinan normal
4)
pelayanan ibu nifas normal
5)
Pelayanan ibu menyusui
6)
Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
83
b. Pada ayat (3) yaitu bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) berwenang untuk :
1) Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan, persalinan dan
nifas;
2) Episiotomy
3) Penjahitan luka episiotomy dan luka jalan lahir sampai tingkat II
4) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan.
5) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil.
6) Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
7) Fasilitas/bimbingan inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu
eksklusif.
8) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan
postpartum
9) Penyuluhan dan konseling
10) Bimbingan kelompok pada ibu hamil
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Eneng Tantri Sukmawati, Kebidanan DIII UMP, 2014
Download