BAB IV

advertisement
176
E. Cerebralpalsy
1. Pengertian
Menurut arti katanya cerebralpalsy berasal dari perkataan cerebral dan palsy.
Cerebral yang berarti otak dan palsy yang berarti kekakuan. Jadi menurut asal katanya
cerebralpalsy berarti kekakuan yang disebabkan karena sebab-sebab yang terjadi di
dalam otak (Soeharso, 1977, Yulianto, 2006, Tri Budi Santosa, 2006). Cerebralpalsy
merupakan keadaan yang komplek, tidak hanya terjadi gangguan gerak, tetapi juga
menjadi gangguan pada pendengaran, penglihatan serta kecerdasan dan bicara. Oleh
karena itu anak dengan kondisi cerebralpalsy dianggap sebagai kelainan yang
kompleks.
Penggunaan istilah cerebralpalsy sebenarnya sudah tidak sesuai lagi untuk
menjelaskan berbagai keadaan yang dialami oleh penyandangnya, baik dari sebabsebab kelainannya maupun gejala-gejala yang ditimbulkannya. Dari penyebabnya,
kenyataan ia mengalami kerusakan tidak hanya terletak di otak besar, tetapi juga di
otak kecil (bukan hanya di cerebrum, tetapi juga di cerebellum) seperti yang terdapat
pada anak jenis ataksia, demikian juga gejala yang ditimbulkannya, tidak hanya dalam
bentuk kekakuan-kekakuan organ gerak saja, melainkan juga dapat dalam bentuk
kelumpuhan atau kelayuhan.
Dari sisi istilah, yang dimaksud cerebralpalsy adalah mereka yang mengalami
kelainan fungsi dan bentuk anggota gerak tubuh yang disebabkan oleh kerusakan
otak. Tidak semua bagian di otak mengalami kerusakan, tetapi hanya bagian otak yang
mengontrol gerakan. Kerusakannya bersifat menetap dan tidak dapat diperbaiki.
Penyandang cacat jenis cerebralpalsy termasuk kelompok kelainan yang tidak ganas
(nonprogressive) akibat malfungsi pusat motor dan saluran-saluran otak yang ditandai
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
177
oleh adanya gangguan distribusi postural tonus, baik yang berupa tonus kurang (di
bawah normal), tonus berlebihan (di atas normal) dan tonus postural mengalami
fluktuasi. Akibat ketidaknormalan tonus postural tersebut, penderitanya akan
mengalami gangguan gerak sehingga aktivitas terbatas serta timbul kecacatan
sekunder yang pada akhirnya akan menghambat tumbuh kembang anak secara
keseluruhan (Yulianto, 2006).
Cerebralpalsy (CP) dikenal sejak tahun 1957 oleh Dr. Wintrop Phelp. Ia
mengatakan bahwa CP merupakan suatu kelainan pada gerak tubuh yang ada
hubungannya dengan kerusakan otak yang menetap. Akibatnya otak tidak dapat
berkembang, tetapi bukan suatu penyakit yang progresif. Dari segi patologis kelainan
terjadi tergantung dari berat ringanyya gangguan atau kerusakan yang tejadi pada
otak. Kelainan tesebut sangat komplek, dapat setempat atau menyeluruh, tergantung
tempat mana yang terkena. Umumnya mengenai daerah korteks motorik, traktus
piramidalis, ganglia basalis, batang otak dan cerebelum (McKinslay, 1983, dalam
Thoha Muslim, 1996).
2. Etiologi Cerebralpalsy
Cerebralpalsy sebenarnya bukanlah suatu perkara baru di bidang kedokteran,
khususnya bidang rehabilitasi. Dalam pengelolaannya diperlukan kelompok ahli yang
multidisipliner yang bekerja sebagai sebuah tim terdiri dari dokter, para medis,
orthopaedagoog, psikoloog, dan lain-lain. Di banyak negara cerebralpalsy adalah
penyebab cacat fisik yang paling sering. Di negara-negara berkembang cerebralpalsy
menjadi penyebab cacat fisik kedua setelah polio. Kira-kira satu dari 300 bayi
dilahirkan dengan atau terkena cerebralpalsy (David Werner, 2002).
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
178
Faktor penyebab terjadinya cerebralpalsy dapat dijelaskan sebagai berikut:
a). Faktor yang terjadi semasa dalam kandungan, antara lain:
(1) faktor makanan (nutrisi)
(2) faktor bahan kimiawi dan fisik
(3) faktor penyakit infeksi
(4) faktor lingkungan kehamilan
b). Faktor yang terjadi selama proses persalinan
c). Faktor yang terjadi pada proses tumbuh kembang.
Untuk menambah sedikit pemahaman tentang sebab terjadinya cerebralpalsy,
maka diuraikan secara singkat masing-masing faktor penyebab tersebut sbb:
a. Faktor yang terjadi selama dalam kandungan
Banyak faktor penyebab yang dapat terjadi ketika janin masih berada di
dalam kandungan ibu, di antaranya:
1) Keadaan makanan yang dikonsumsi ibu.
Keadaan makanan yang dikonsumsi ini akan mempengaruhi status gizi,
pembentukan, pertumbuhan dan perkembangan fungsi organ si janin.
Kekurangan bahan makanan sejak tejadinya konsepsi sampai pada kehamilan
usia tua, dapat berpengaruh terhadap janin yang dikandungnya.
Komposisi makanan yang dikonsumsi ibu, seharusnya memenuhi semua kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ibu yang sedang hamil. Di samping itu juga
harus terhindar dari kemungkinan terkontaminasinya bahan makanan dari
racun dan bahan kimia yang tidak mendukung pertumbuhan janin. Besar
kecilnya pengaruh nutrisi terhadap perkembangan janin juga tergantung pada
periode terjadinya. Misalnya kalau kekurangan nutrisi pada trimester pertama
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
179
(padahal
masa-masa
kehamilan
trimester
pertama
merupakan
masa
pembentukan otak janin), maka hal ini dapat mengakibatkan pembentukan
otak si janin kurang baik, sehingga setelah lahir yang bersangkutan dapat
mengalami gangguan fungsi sistem persyarafan pusat. Akibatnya yang
bersangkutan dapat mengalami gangguan fungsi gerak, gangguan penglihatan,
pendengaran, dsb.
2). Pengaruh faktor bahan kimia dan fisika.
Sebagaimana diketahui bahwa air raksa dapat menyebabkan gangguan
kecerdasan pada bayi yang baru dilahirkan oleh ibu yang memakan makanan
yang tercemar oleh air raksa (methyl mercury) dalam kadar yang banyak.
Kejadian di Jepang tahun 1950 di mana ikan yang dimakan penduduk
terkontaminasi oleh air raksa yang berasal dari limbah pabrik, menunjukkan
bahwa 6% bayi baru lahir menderita kerusakan otak yang serius. Obat
talidomide yang diminum oleh ibu yang sedang hamil akan mengakibatkan
gangguan bentuk anggota gerak tubuh dan telinga. Selain obat juga pengaruh
radiasi dalam dosis yang besar dapat menyebabkan kerusakan otak dan
ganguan kecerdasan (Thoha Muslim, 1996). Pengaruh tambahan pada ibu
hamil yang perokok juga salah satu faktor lain yang dapat mengganggu
perkembangan otak janin selama dalam kehamilan ibu (Moersintowarti, 1993).
3). Pengaruh penyakit infeksi.
Beberapa macam penyakit infeksi yang terjadi pada saat kehamilan
diantaranya infeksi virus, terutama cytomega virus. Infeksi pada ibu hamil
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
180
dapat membawa dampak terinveksinya janin, terutama pada kehamilan bulanbulan pertama. Resiko infeksi janin pada ibu yang terinfeksi kurang lebih 30%
- 50%, tetapi hanya 0.2 - 2.5% saja yang berakibat kerusakan jaringan yang
dapat diketahui. Kira-kira 90% bayi baru lahir yang terkena infeksi secara
klinis normal. Baru beberapa bulan kemudian dapat dijumpai gangguan
pendengaran dan gangguan persyarafan ringan, tetapi penurunan kecerdasan
tidak kelihatan secara jelas. Pada bayi baru lahir yang secara klinis jelas
kelainannya antara lain dijumpai gangguan persyarafan yang jelas dan
gangguan kecerdasan biasanya bersama-sama dengan mikrosepali atau gejala
cerberal palsy. Selain virus cytomegali, juga infeksi rubella dan varicella
(Mustarsid, 1993, Thoha Muslim, 1996).
Bakteri pada ibu yang mengandung (misalnya siphilis), dapat
mengakibatkan kerusakan otak, yaitu bakteri histeria monocytogenes, janin
dapat mati dan pada bayi yang lahir hidup dapat menyebabkan kerusakan otak
yang cukup berat.
Parasit, terutama taxoplasma gondii adalah salah satu protozoa yang
menyebabkan penyakit toksoplasmosis. Protozoa ini dapat menyebar melalui
daging yang tidak masak, terutama daging kambing dan babi yang dikonsumsi
ibu hamil. Parasit ini dapat menembus plasenta yang menyebabkan infeksi
janin. Gambaran klinis yang telah diketahui ternyata bervariasi. Kelainan otak
yang ditimbulkan dapat berupa encephalitis, hidrocephalus, microcephalus,
gangguan kecerdasan ringan dan berat.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
181
4). Pengaruh gangguan lingkungan kehamilan.
Pengaruh gangguan lingkungan kehamilan terhadap terjadinya
cerebralpalsy, misalnya kejadian-kejadian berikut:
a) adanya radiasi yang lebih dari batas normal
b) adanya pembebanan fisik ibu karena pengobatan tertentu,seperti pemberian
hipnotika jangka panjang.
c) adanya penyakit penyerta pada ibu yang tidak memperoleh pengobatan
secara memadai, misalnya keracunan karbon monooksida yang menahun
dan penyakit infeksi lain yang mengakibatkan terganggunya janin dalam
kandungan ibu.
b. Faktor yang terjadi selama proses persalinan
Yang dimaksud masa persalinan adalah masa di mana bayi dilahirkan.
Masa ini dapat berlangsung lama dapat pula sebentar. Pada masa ini akan terjadi
resiko yang berakibat kerusakan persyarafan di otak pada bayi.
Adapun sebab-sebab yang dapat terjadi pada masa ini antara lain
(Mustarsid, 1993, Thoha Muslim, 1996):
1) Kelahiran dengan bantuan tang. Dengan bantuan alat ini dapat menimbulkan
kerusakan pada otak, terutama apabila tang yang digunakan menjepit otak
bagian tertentu, sehingga pada pekembangan selanjutnya anak yang
bersangkutan dapat menjadi cerebralpalsy.
2) Kekurangan oksigen. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena asfiksia atau
keadaan di mana anak tidak dapat bernafas secara spontan segera setelah
dilahirkan. Ini dapat disebabkan karena leher anak terbelit atau karena adanya
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
182
lendir di jalan pernafasan. Akibatnya pernafasan tidak bekerja dengan baik,
pertumbuhan dan pemenuhan zat asam terganggu, sehingga menimbulkan otak
kekurangan oksigen atau asfiksia dan jaringan otak dapat mati (ecepalopati
hipoksik-iskemik). Hipoksemia yaitu keadaan di mana terjadi penurunan
pengiriman oksigen darah. Hipoksemia ini akan menganggu fungsi jantung
sehingga fungís jantung menurun dan sirkulasi darah ke otak akan berkurang
serta dapat menimbulkan iskemik otak (matinya jaringan otak).
3) Anak lahir sebelum waktunya. Yang dimaksudkan adalah bayi lahir hidup
sebelum 37 minggu kehamilan. Umumnya bayi prematur akan mengalami
kesulitan pertumbuhan dan perkembangan, dan mudah terserang penyakit
(rentan). Berat badan lahir rendah (BBLR) hampir sama dengan bayi lahir
prematur, dimana daya tahannya tidak kuat sehingga mudah terserang
penyakit.
4) Hiperbilirubinemia. Yaitu kelebihan bilirubin dalam darah sehingga bayi
kelihatan kuning atau dikenal dengan iktirus. Bilirubin ini dapat merupakan
racun (toksin) dan harus dikeluarkan oleh tubuh. Kadar bilirubin yang
berlebihan dalam darah dapat menimbulkan gangguan perkembangan otak.
c. Faktor-faktor yang terjadi selama proses tumbuh kembang.
Banyak faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya cerebralpalsy pada
masa pasca kelahiran, antara lain adalah:
1) Penyakit infeksi yang menyerang otak, yaitu encepalitis atau peradangan yang
menyerang selaput otak (meningitis). Kedua penyakit ini dapat pula
mengakibatkan kerusakan otak.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
183
2) Penyakit-penyakit lain yang menyerang bayi atau anak yang dapat
mengakibatkan kerusakan otak.
3) Kecelakaan yang dapat secara langsung merusak otak bayi, misalnya jatuh atau
terkena pukulan pada kepala bayi atau kepala kejatuhan benda keras akibat
gempa bumi. Keadaan ini dapat menimbulkan gangguan pada otak.
Dengan demikian banyak sekali kemungkinan yang dapat mengakibatkan
kelainan cerebralpalsy.
3. Patogenesa cerebralpalsy
Cerebralpalsy merupakan salah satu jenis kecacatan fisik yang disebabkan
karena ada kerusakan di otak. Baik yang terjadi selama janin masih dalam kandungan,
semasa dilahirkan dan atau setelah anak dilahirkan. Kerusakan tidak mengenai seluruh
otak. Hanya bagian-bagian saja yang rusak, terutama bagian otak yang mengontrol
gerakan.
Sebagaimana diketahui bahwa semua sistem tubuh dan aktivitas seseorang
dikendalikan oleh otak. Otak dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu (1) cortex cerebri,
(2) ganglia basalis, (3) thalamus, (4) hypothalamus, (5) mesencephalon, (6) batang
otak dan (7) cerebrellum atau otak kecil (Chusid, 1990, dalam Yulianto, 2006). Tidak
semua bagian otak anak cerebralpalsy mengalami kerusakan, umumnya hanya di
cortex cerebri. Cortex cerebri dibagi menjadi 4 lobus, yaitu (1) lobus frontalis di
bagian depan, terdapat berbagai area, seperti area 4 - pengendali motorik utama, area 6
bagian sirkuit traktus ekstrapiramidal – pengendali pola gerak, area 8 – pengendali
pergerakan bola mata dan perubahan pupil, dan area-area lainnya. (2) Lobus
parientalis yang merupakan bagian tengah otak, terdapat beberapa area, salah satunya
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
184
area 5 dan 7 – daerah asosiasi sensorik, (3) Lobus temporalis, terdapat banyak area,
diantaranya area 41 dan 42 sebagai pengendali auditori primer dan sekunder. (4)
Lobus occipitalis yang merupakan bagian belakang dari otak, terdapat beberapa area,
seperti area 17 sebagai pengendali visual, area 18 dan 19 untuk pengendali asosiasi
visual (Yulianto, 2006).
Impuls motorik dari cortex cerebri menuju otot skeletal disalurkan melalui
neuron. Neuron-neuron tersebut berada di gyrus presentalis yang disebut korteks
motorik dan berhubungan dengan gerak/kontraksi otot tertentu. Begitu terjadi
kerusakan pada bagian-bagian otak maka tidak akan pulih kembali. Kerusakan di otak
menyebabkan terjadinya gangguan-gangguan dan perubahan-perubahan yang bersifat
menetap, baik pada struktur anatomis, biokimia ataupun karakteristik fungsional otak.
Pengaruh jangka panjangnya dari terjadinya kerusakan di otak dapat dalam
bentuk adanya gangguan perkembangan motorik, gangguan kemampuan mental,
gangguan kemampuan bicara, gangguan fungsi sensoris, dll. Termasuk gangguan yang
muncul pada gejala-gejala cerebralpalsy.
4. Klasifikasi dan Gejala Cerebralpalsy
Gejala Cerebralpalsy berbeda-beda setiap anak. Kelainan cerebralpalsy dapat
diklasifikasi atas dasar kelainan fisiknya menjadi penyandang spastik (spasticity),
athetosis, rigid, ataxia dan tremor (Hallahan, 1988, Thoha Muslim, 1996, David
Werner, 2002). Bobath (1976, dalam Yulianto, 2006) mengklasifikasi cerebralpalsy
berdasarkan kualitas tonus otot meliputi: spastik, spastik athetoid, tonic spasm
athetoid, choreo athetoid, athetoid murni, ataxia, flaccid dan hyperkinetic.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
185
a. Spastik
Anak yang spastik mengalami kekakuan otot atau ketegangan otot. Ini
menyebabkan sebagian tubuhnya menjadi kaku. Gerakan-gerakan lambat dan
canggung. Kekakuan semakin bertambah bila anak marah atau cemas atau ketika
tubuhnya berada pada posisi tertentu. Pola kekakuan sangat berbeda-beda pada
masing-masing anak.
Secara umum karakteristik CP jenis spastik adalah:
1) kontraksi otot di luar kehendak ketika anggota gerak direntangkan secara tiba-tiba,
2) sulit melakukan gerakan,
3) anggota tubuh bawah dapat berbentuk gunting karena kontraksi otot, dan
4) fleksi (gerakan membuka) pada lengan dan jari-jari
Gejala lain dari anak CP jenis spastik antara lain:
1)
kepala terputar ke satu sisi.
2)
bahu dan kepala menekan ke belakang
3)
kepalan menggenggam ibu jari
4)
lutut rapat dan tungkai kaku
5)
lengan mungkin kaku dan lurus menyilang
6)
ketika berusaha mendirikan anak, tungkainya kaku atau menyilang seperti
gunting
7)
saat belajar berjalan posisi anak kaku, canggung dengan lutut tertarik rapat dan
tertekuk.
b. Athetoid
Athetosis merupakan salah satu jenis CP dengan ciri menonjol gerakan-
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
186
gerakannya tidak terkontrol. Gerakan yang tidak terkontrol itu dapat pada kaki,
lengan, tangan atau otot-otot wajah anak yang lambat, bergeliat-geliut atau tiba-tiba
dan cepat. Lengan dan tungkai mungkin terlihat bergerak tanpa sebab. Bila ia sengaja
bergerak bagian-bagian tubuh tertentu bergerak terlalu cepat dan terlalu jauh.
Keseimbangannya jelek dan sering terjatuh.
Cerebralpalsy jenis athetoid ini sebenarnya tidak terdapat kekejangan atau
kekakuan, otot-otot dapat digerakan dengan mudah, akan tetapi gerakan-gerakan
tersebut tidak dapat dicegah oleh anak, karena setiap saat dapat muncul. Misalnya
anak akan memegang sesuatu barang, ia akan mengalami kesulitan karena tangan dan
jari-jarinya selalu begerak sendiri.
Pergerakan-pergerakanya yang bersifat otomatis dan tidak dapat dicegah
tersebut pada umumnya akan bekurang jika anak berada dalam keadaan tenang dan
sedang tidur. Dengan demikian penyandang athetoid memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1) Gerakan anggota tubu tidak menentu dan di luar kehendak,
2) Gerak di luar kehendak lebih nyata karena stress atau ketegangan emosional,
3) Adanya gerakan yang tiba-tiba, dan
4) Bila berjalan terhuyung-huyung.
Jumlah anak jenis athetoid ini relatif sedikit kelainannya mungkin pada daerah
ganglia basal dan traktus piramidalis.
c. Jenis ataxia
Cerebralpalsy jenis ataxia ditandai dengan adanya gerakan-gerakan tidak
terkoordinasi dan kehilangan keseimbangan. Jadi keseimbangannya buruk, ia
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
187
mengalami kesulitan untuk mulai duduk dan berdiri. Anak ini kalau jalan kadangkadang jatuh atau seperti orang mabuk, sempoyongan, dan terhuyung-huyung.
Salah perhitungan sering dialami oleh anak
cerebal palsy, misalnya jika
mengambil barang kadang-kadang tangannya terlalu jauh sehingga melewati barang
yang diambil. Dengan demikian anak cerebal palsy jenis ini akan selalu mengalami
kesulitan dalam menentukan ukuran sehingga salah menduga jarak sesuatu.
Dengan demikian gejala-gejala umum anak CP jenis ataxia antara lain:
1)
adanya gangguan keseimbangan dan orientasi ruang,
2)
apabila berjalan mereka terhuyung-huyung, dan
3)
gerakannya tidak terkoordinasi.
Kelainanya, kemungkinan terjadi di otak kecil.
d. Jenis rigid
Anak cerebralpalsy jenis rigid ditandai dengan adanya otot yang sangat kaku,
demikian juga gerakannya. Otot tegang di seluruh tubuh, cenderung menyerupai robot
waktu berjalan, tertahan-tahan dan kaku. Otot-otot yang kaku ini seolah-olah bukan
merupakan daging, tetapi sebagai benda yang kaku, kalau diumpamakan seperti mesin
yang tidak ada gemuknya, kalau digerakannya selalu ada remnya, sehingga gerakanya
tidak lemah, tidak dapat halus, dan tidak dapat bergerak cepat. Kelainannya
kemungkinan terdapat di beberapa tempat di otak /menyebar.
e. Jenis tremor
Anak cerebralpalsy jenis tremor ditandai dengan adanya gerakan-gerakan
kecil tanpa disadari, dengan irama tetap, lebih mirip dengan getaran. Getaran ini sukar
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
188
dikendalikan oleh anak, sehingga menimbulkan kesulitan dalam melakukan kegiatan.
Hal ini disebabkan karena kontraksi otot-otot yang terus menerus secara bergantian.
Getaran-getaran bisa juga terdapat pada mata, sehingga penglihatan anak
terganggu. Selain itu getaran dapat mengenai mulut (stutteing), dahi, kepala, jari
tangan. Kelainannya kemungkinan pada ganglia basal.
f. Jenis campuran ( mixed type )
Yang dimaksudkan anak cerebralpalsy ini adalah anak yang memiliki beberapa
jenis kelainan misalnya jenis spastik dengan jenis athetoid, jenis athetoid dengan
temor dan sebagainya.
Klasifikasi anak cerebralpalsy menurut jumlah anggota badan yang mengalami
kelainan atau berdasarkan luas jaringan
otak yang mengalami kerusakan, dapat
dibedakan menjadi:
a) Monoplegia
b) Diplegia
c) Tripelgia
d) Tetraplegia atau quadiplegia
Klasifikasi cerebralpalsy menurut derajat kemampuan fungsional dibedakan
menjadi 3, yaitu:
a). Golongan ringan
Cerebralpalsy yang termasuk ringan pada umunya dapat hidup bersama anakanak sehat lainnya, kelainan yang dialaminya tidak mengganggu dalam kegiatansehari-hari, maupun mengikuti pendidikan. Bantuan yang dibutuhkan hanya sedikit
sekali bahkan kadang tidak perlu bantuan khusus.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
189
2) Golongan sedang
Cerebral palsy yang termasuk sedang sudah kelihatan adanya kemampuan
fisik yang tebatas. Anak memerlukan bantuan dan pendidikan khusus agar dapat
mengurus dirinya sendiri, dapat begerak atau bebicara. Mungkin anak ini memerlukan
alat bantu khusus seperti alat penguat kaki (brace), untuk memperbaiki pola
gerakannya .
Dengan bantuan khusus diharapkan anak dapat mengurus diri-sendiri, dapat
berjalan, atau dapat bebicara sehingga dapat hidup dan menyesuaikan di tengahtengah masyarakat.
3) Golongan berat
Cerebal palsy yang termasuk berat sudah menunjukan kelainan sedemikian
rupa, sama sekali sulit melakukan kegiatan dan tidak mungkin dapat hidup tanpa
bantuan orang lain. Bantuan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit
hasilnya. Pada umumnya anak-anak golongan ini akan tetap memerlukan perawatan
walaupun bantuan khusus sudah diberikan. Oleh kaena itu sebaiknya anak-anak ini di
tampung dalam rumah perawatan khusus ( nursing home ).
Untuk menentukan apakah seorang anak cerebralpalsy masuk golongan ingan,
sedang, atau berat sungguh tidak mudah. Pemeriksaan yang cermat diperlukan dari
bebagai keahlian .
Kelainan yang tejadi tergantung dari berat ringannya kerusakan yang terjadi
dalam otak. Kelainan tersebut sangat komplek, dapat setempat atau menyeluruh
tegantung dari tempat yang terkena misalnya mengenai daerah korteks motorik,
traktus piramidalis, ganglia basalis, batang otak, atau cerebellum .
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
190
Gejala yang ditimbulkan sangat tergantung dari daerah-daerah di otak tersebut
sebagai pusat-pusat yang berhubungan dengan pengaturan gerak tubuh. Gambaran
klinis anak cerebal palsy tegantung dari bagian dan luas jaringan otak yang mengalami
kerusakan. Gejalanya adalah sebagai berikut:
1) Kelumpuhan, yang dapat berbentuk ringan atau berat, berbentuk hemiplegia,
quadriplegia, diplegia, monoplegia, triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat
spastik, fleksid ataupun campuran.
2) Gerakan involunter, yang dapat berbentuk atetoid, choreo atetoid, tremor dengan
tonus yang bersifat spastis, fleksid, rigid atau campuran.
3) Ataxia, yaitu gangguan koordinasi yang ditimbulkan oleh karena kerusakan
cerebellum.
Anak
biasanya
memperlihatkan
tonus
yang menurun, dan
menunjukkan perkembangan gerakan motorik yang terlambat. Mulai berjalan
asangat lambat dan semua pergerakan serta tanggung.
4) Kejang-kejang yang dapat besifat umum atau lokal
5) Gangguan perkembangan mental. Biasanya pada anak cerebralpalsy yang disertai
terbelakang mental disebabkan oleh anoksia cerebri yang cukup lama, sehingga
timbul atropi cerebri yang menyeluruh. Kira-kira separuh dari anak-anak
cerebralpalsy termasuk retardasi mental.
6) Gangguan komunikasi, artinya anak mungkin tidak memberi respons atau reaksi
seperti anak lain. Ini sebagian mungkin karena kelunglaian, kekakuan atau tidak
adanya gerakan atau kekauan alat-alat bicara.
7) Mungkin juga ditemukan gangguan penglihatan, misalnya hemi anopsia
(gangguan lantang pandang), strabismus atau kelainan refleksi bola mata,
gangguan pendengaran, gangguan bicara, gangguan sensibilitas (rasa).
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
191
8) Serangan epilepsi, kejang sering terjadi pada anak-anak CP
9) Adanya perilaku gelisah
10) Adanya refleks-refleks yang abnormal.
5. Kelainan fungsi akibat cerebralpalsy
Kelainan fungsi dapat terjadi akibat cerebralpalsy sangat tergantung dari jenis
cerebralpalsy dan berat ringannya kelainan. Namun secara umum kelainan yang
timbul sangat kompleks. Tidak saja masalah fungsi yang berhubungan dengan
kemampuan fisik, akan tetapi juga metal psikologis.
Keadaan ini berbeda dengan yang dialami oleh anak poliomyelitis dan
muskular distropi. Kelainan pada cerebralpalsy cenderung lebih berat.
a) Kelainan fungsi mobilisasi
Kelainan fungsi mobilisasi dapat diakibatkan oleh adanya kelumpuhan anggota
geak tubuh, baik anggota gerak atas maupun anggota gerak bawah. Kelumpuhan
anggota gerak bawah mengakibatkan kemampuan anak untuk berguling,
merangkak, duduk dan berjalan mengalami hambatan. Sementara kelumpuhan
anggota gerak atas mengakibatkan kemampuan untuk meraih, menggenggam dan
kemampuan lain yang berhubungan dengan fungsi tangan mengalami hambatan.
b) Kelainan fungsi komunikasi
Kelainan fungsi komunikasi dapat timbul karena adanya kelumpuhan pada otototot mulut dan kelainan pada aalat-alat bicara. Kelainan tersebut mengakibatkan
kemampuan anak untuk berkomunikasi secara lesan mengalami hambatan.
c) Kelainan fungsi mental
Kelainan fungsi mental dapat terjadi terutama pada anak cerebralpalsy dengan
potensi mental normal. Oleh karena ada hambatan fisik yang berhubungan dengan
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
192
fungsi gerak dan perlakuan yang keliru, mengakibatkan anak yang sebenarnya
cerdas akan tampak tidak dapat menampilkan kemampuan secara maksimal.
Tugas-tugas yang diberikan kepada anak tidak dapat diselesaikan dengan benar,
sehingga menimbulkan anggapan bahwa anak tidak mampu. Keadaan tersebut
menghambat peningkatkan potensi anak secara utuh. Fungsi mental anak terganggu
akibatnya anak dianggap sebagai anak terbelakang mental.
Ketiga bentuk kelainan fungsi tadi dapat berpengaruh pada kemampuankemampuan lainnya, terutama kemampuan
yang berhubungan dengan kegiatan
merawat diri. Selain itu pengaruh lainnya terhadap pendidikan dan penyesuaian diri
anak dalam kehidupan sehari-hari.
Ada penderita cerebralpalsy yang menderita komplikasi. Komplikasi ortopedis
pada anak cerebralpalsy terjadi karena kelumpuhan yang mengakibatkan tidak
seimbangnya otot-otot sinergis dari atagonis yang berlangsung dalam waktu lama
tanpa usaha menanganinya. Adapun komplikasi yang mungkin terjadi dapat berupa:
(1) Kontraktur, yaitu sendi tidak dapat digerakkan atau diteguk karena jaringan ikat
saluran sendi menjadi padat atau hilang sifat kekenyalannya dan otot memendek.
(2) Skoliosis, yaitu tulang belakang melengkung ke samping disebabkan karena
adanya kelumpuhan hemiplegia.
(3) Dekubitus, yaitu adanya suatu luka yang menjadi borok akibat penekanan yang
terus menerus karena harus berbaring secara terus menerus di tempat tidur.
Komplikasi dekubitus ini sering terjadi pada anak CP yang mengalami
kelumpuhan menyeluruh, sehingga ia harus selalu berbaring di tempat tidur.
(4) Deformitas (perubahan bentuk). Akibat yang ini dapat timbul jika sebelumnya
terjadi kontraktus. Dengan adanya kontraktur maka struktur tubuh akan
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
193
mengalami perubahan bentuk. Hal ini akan mengakibatkan anak CP semakin
mengalami kesulitan dalam bergerak.
(5) Gangguan mental. Anak CP tidak semua tergangu kecerdasannya, mereka ada
yang memiliki kadar kecerdasan pada taraf rata-rata, bahkan ada yang berada di
atas rata-rata. Komplikasi mental dapat terjadi apabila yang bersangkutan
diperlakukan secara tidak wajar. Akibat perlakukan yang tidak wajar, anak tidak
dapat mengembangkan kemampuan secara optimal. Sehingga anak CP ini yang
sebenarnya pandai dapat mengalami gangguan mental
6. Cara Pencegahan dan Penanganan Cerebralpalsy
Pencegahan CP memang sangat penting, karena apabila sudah terlanjur terjadi
sangat sulit dan bahkan tidak dapat diperbaiki kembali. Berikut ini merupakan
program pencegahan yang direkomendasikan oleh David Werner (2002) dalam
bukunya “Anak-anak desa yang menyandang cacat”, dalam hal mencegah CP sebagai
berikut:
a. Memberikan nutrisi yang baik ibu baik sebelum maupun selama kehamilan, dapat
mengurangi kemungkinan persalinan prematur dan cerebralpalsy
b. Bagi para gadis dianjurkan untuk tidak hamil sampai benar-benar dewasa (umur
16 atau 17 tahun).
c. Usahakan menghindari berada di dekat orang-orang yang sakit campak Jerman
selama hamil. Atau dapatkan imunisasi campak jerman sebelum hamil.
d. Pergilah untuk check-up/memeriksakan kesehatan selama kehamilan secara teratur
(perawatan prenatal). Apabila ada tanda-tanda persalinan mungkin sulit, usahakan
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
194
agar bidan yang terampil atau dokter yang menangani persalinan. Dan jika
mungkin persalinannya di rumah sakit.
e. Selama mengalami rasa sakit sebelum melahirkan, jangan biarkan bidan mencoba
mempercepat
persalinan
dengan
mendorong
peranakan
kuat-kuat
atau
menggunakan injeksi atau hormon (oxytocin, pituitrin, dsb) sebelum anak lahir.
f. Ketahuilah dengan baik dan pastikan orang yang menolong persalinan anda dapat
melakukan tindakan hati-hati dan langkah-langkah darurat persalinan.
g. Berilah ASI (ASI membantu mencegah dan melawan infeksi), dan pastikan bahwa
bayi mendapat cukup makanan.
h. Vaksinasikan bayi, terutama terhadap campak.
i. Bila bayi deman biarkan dia terbuka sama sekali, jangan membungkus bayi dalam
pakaian atau selimut, karena dapat memperparah demam dan dapat menyebabkan
serangan atau kerusakan otak tetap.
j. Kenalilah tanda-tanda meningitis dan dapatkan perawatan dengan segera.
Apabila anak terlanjur terkena CP, maka sedapat mungkin kita memberikan
layanan sesuai dengan kebutuhan individual anak. Kebutuhan layanan anak CP pada
dasarnya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang berkaitan dengan mobilisasi,
ADL, komunikasi, sosial psikologis, dan pendidikan. Meskipun hasil layanan tidak
mampu mengembangkan kemampuan normalnya paling tidak diharapkan mampu
mengeliminasi hambatan-hambatan yang ada pada masing-masing anak CP. Macam
kebutuhan anak CP umumnya adalah:
1) Kebutuhan pengembangan kemampuan mobilisasi. Pengembangan kemampuan
mobilisasi CP secara umum diarahkan untuk mengembangan kemampuan
koordinasi gerak dan melatih gerak fungsional. Keduanya dicapai melalui
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
195
fisioterapi oleh ahlinya dibantu oleh orangtua dan/atau guru sesuai dengan
kemampuan. Misalnya anak CP athetoid membutuhkan latihan koordinasi, CP
ataxia
membutuhkan
peningkatan
stabilisasi,
CP
fleksid
membutuhkan
peningkatan tonus otot, dan lain-lain.
Gambar 24. Latihan Kontrol Badan Untuk Meningkatkan Kemampuan Mobilisasi
2) Kebutuhan pengembangan kemampuan ADL. Kemampuan ADL dikembangkan
oleh ahli okupasi terapi dibantu orangtua dan/atau guru khusus sesuai kemampuan.
Aktivitas latihan diarahkan untuk menguatkanotot, mencegah kontraktur dan
deformitas sendi, mengembangkan koordinasi sensomotorik serta melatih gerakangerakan fungsional dalam ADL, baik dengan atau tanpa alat bantu.
3) Pengembangan kemampuan komunikasi. Pengembangan kemampuan komunikasi
dilakukan oleh ahli terapi bicara, bekerjasama dengan ahli lain yang relevan sesuai
kebutuhan.
4) Kebutuhan bimbingan sosial psikologis oleh psikolog, bekerjasama dengan
pekerja sosial, guru dan orangtua.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
196
5) Kebutuhan pendidikan, baik di sekolah biasa ataupun di sekolah khusus, sesuai
dengan berat ringannya hambatan masing-masing anak untuk mengikuti program
pendidikan.
Untuk memenuhi kebutuhan individual CP maka terlebih dahulu harus
dilakukan asesmen terhadap anak CP. Dari hasil asesmen disusunlah program
penanganan anak sesuai kebutuhan masing-masing anak. Diantara bentuk penanganan
anak CP adalah:
1). Membantu anak untuk mendapatkan posisi tubuh yang lebih baik.
Hal ini dilakukan karena akibat dari otot-otot anak yang abnormal sering posisi
tubuhnya pada posisi yang salah. Kondisi ini bila dibiarkan dapat menjadi cacat
salah bentuk. Posisi-posisi tubuh yang perlu dikontrol dan dibetulkan dintaranya:
(a) kepala lurus, tidak miring
(b) tubuh tegak, tidak tertekuk, bengkok atau terpuntir.
(c) menahan berat tubuh sama/seimbang kanan dengan kiri, dll.
Posisi tubuh anak CP yang membutuhkan koreksi bermacam-macam misalnya
pada posisi berguling, memutar tubuh, posisi duduk, poisisi berdiri, cara
menggunakan tangan, menggunakan kaki, dsb.
2). Membantu anak melakukan aktivitas-aktivitas untuk mencegah kontraktur.
Membantu
mencegah
kontraktur
diantaranya
dengan
melakukan
latihan
peregangan otot di sekitar sendi dan pengaturan posisi tubuh yang baik, baik
dengan ataupun tanpa alat bantu (gips, splint).
3). Membantu anak mengendurkan otot-otot spastik.
Caranya meletakkan anak pada posisi santai dan menyenangkan disertai
melakukan latihan gerakan korektif atas posisi tubuh yang abnormal.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
197
4). Mengembangkan kecakapan-kecakapan tertentu seperti kecakapan bantu diri,
komunikasi, mobilisasi, sosialisasi dan kemandirian.
5). Memberikan layanan pendidikan khusus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
masing-masing anak.
F. Infeksi Mata
Mata merupakan salah satu indera yang penting. Mata dapat mengalami
infeksi. Mulai infeksi yang ringan yang dapat sembuh sendiri sampai pada infeksi
yang berat yang memerlukan pengobatan khusus atau bahkan dapat menyebabkan
kelainan menetap. Mengingat pentingnya indera mata, maka pemahaman terhadap
macam-macam infeksi mata menjadi penting pula. Agar dengan pemahaman yang
benar dapat melakukan pencegahan dan apabila terjadi infeksi dapat mengambil
tindakan cerdas, sehingga terhindar dari dampak buruk infeksi mata.
Infeksi mata berarti masuknya kuman ke dalam organ mata dan berkembang
biar sehingga menimbulkan penyakit. Penyebab infeksi mata dapat bermacam-macam,
seperti bakteri, jamur atau virus.
Beberapa macam infeksi mata yang sering terjadi dan dapat memperburuk
fungsi penglihatan adalah:
1. Timbil (hordeolum)
Timbil merupakan akibat infeksi kuman pada kelenjar lemak/kelenjar keringat
yang terdapat pada kelopak mata. Infeksi ini ditandai oleh adanya rasa gatal pada
daerah yang sakit dan pada infeksi yang hebat akanterasa sangat sakit. Tahap
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
198
berikutnya akan terbentuk nanah pada tempat infeksi tsb dan akhirnya pecah dan
nanahnya keluar.
Ada jenis timbil yang lain yaitu kalazion, yaitu penyakit akibat pembuntuan
saluran keluar dari kelenjar pada kelopak mata. Dengan adanya pembuntuan ini, hasil
dari kelenjar tidak dapat keluar dan ditumpuk dalam kelenjar. Akibatnya ada benjolan
pada kelopak mata yang makin lama makin membesar.
Tindakan pencegahan yang dianjurkan adalah menjaga kebersihan mata, tidak
menggosok mata meskipun gatal, karena hal ini dapat mempermudah infeksi.
2. Infeksi selaput lendir mata (Konjungtivitis)
Infeksi selaput lendir mata ditandai oleh adanya rasa “ngeres”, “ngganjel”
seperti ada pasir di dalam mata, mata merah dan adanya getah mata. Sering disertai
pembekakan kelopak mata. Penyakit ini sebenarnya tidak mengganggu fungsi mata.
Akan tetapi harus hati-hati apabila (a) terdapat getah mata yang sangat banyak mirip
nanah, atau (b) getah mata yang bercampur darah, atau (c) adanya selaput putih pada
selaput lendir mata di kelopak mata. Karena dikhawatirkan terkena infeksi kuman
berbahaya, yaitu kuman gonore ataupun kuman difteri.
a. Konjungtivitis gonore
Infeksi pada konjungtiva dengan getah mata yang berupa nanah, biasanya
mengenai kedua mata. Apabila tidak segera mendapat pengobatan dapat merusak
jaringan kornea. Kerusakan jaringan kornea inilah yang dapat mengganggu
penglihatan mulai dari yang ringan sampai yang berat berupa kebutaan.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
199
Pengobatan infeksi pada konjungtiva yang terlambat apabila sembuh dapat
meninggalkan beas-bekas (jaringan parut) pada kornea. Apalagi bila mengalami
komplikasi (penyulit), infeksi masuk ke dalam menjadi bola mata berisi nanah
(endophthalmitis). Apabila sembuh bola mata menjadi mengecil (“pece”) penglihatan
menjadi buta total.
Penularan penyakit ini melalui jalan lahir (pada ibu-ibu yang menderita
penyakit gonoraika). Dapat pula melalui handuk atau bahan lain yang mengandung
kuman yang berasal dari alat kelamin dan kemudian digunakan untuk mata.
Gejala dini berupa kelopak mata bengkak kemerahan. Bila dibuka tampak
getah mata yang berupa nanah. Penanggulangan yang diperlukan adalah pemeriksaan
dan pengobatan oleh dokter.
b. Konjungtivitis difteri
Kuman difteri biasanya menyerang selaput lendir pada tenggorokan, tetapi
dapat pula menyerang selaput lendir mata. Tanda- tanda yang tampak apabila kelopak
mata dibalik akan tampak selaput berwarna putih pada selaput lendir mata bagian
kelopak mata. Kalau selaput putih ini diambil/lepaskan akan timbul pendarahan.
Apabila ditemukan gejala semacam ini perlu segera diperiksakan dokter,
karena apabila terlambat dapat menimbulkan komplikasi pada organ tubuh yang lain
(jantung).
c. Trakoma
Trakoma merupakan penyakit infeksi yang kronis (menahun) pada selaput
lendir mata dan komplikasinya dapat menimbulkan kebutaan. Penyakit ini disebabkan
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
200
oleh kuman trakoma yang bersifat menular.
Gejala-gejala trakoma diantaranya rasa gatal, mata merah disertai getah mata.
Pada kornea dapat terjadi radang yang disertai pembentukan pembuluh darah baru.
Tahap berikutnya terjadi pemecahan folikel yang menyebabkan terjadinya jaringan
parut. Jaringan parut ini dapat menarik pinggir kelopak matayang akan selalu
menggeser pada kornea sehingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan kornea.
Kerusakan kornea menyebabkan kornea menjadi keruh sehingga mengganggu
penglihatan. Hal lain yang dapat terjadi adalah timbulnya infeksi pada kornea,
sehingga terjadi tukak kornea. Apabila dibiarkan tukak kornea akan bertambah dalam
yang akhirnya akan terjadi lubang pada kornea sehingga isi bola mata akan keluar dan
penderitanya menjadi buta.
Pencegahan yang utama melalui menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan.
Sementara penderitanya perlu segera memperoleh perawatan dokter.
G. Spina Bifida
Spina bifida adalah bentuk kecacatan kongenital di mana terjadi mal-formation
atau pembentukan yang tidak sempurna dari spinal vertebra (tulang belakang),
sehingga bentuk spinal cord (sumsum tulang belakang) di dalamnya juga tidak
sempurna.
Hal
ini
disebabkan
oleh
perkembangan
janin
yang
tidak
sempurna/abnormal. Sebab spina bifida sampai sekarang tidak dapat diketahui.
Insidensi dari kelainan ini adalah 1 dari 1000 kelahiran hidup (Hallahan, 1988).
Ada tiga jenis spina bifida, sebagai berikut:
1. Spina Bifida Occulta
Spina bifida jenis ini kelainnnya hanya sedikit dan ringan di mana pada kulit
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
201
belakang terdapat kerutam kulit dan tumbuh rambut di daerah pinggang (lumbal)
atau leher bagian belakang. Walaupun tidak tampak ada kerusakan spinal cord
tetapi gangguan neurologis pada tungkai sering terganggu terutama pada masa
pertumbuhan. Sumsum tulang belakang tidak keluar dari tulang. Kulit di atas
tempat kelainan dapat normal ataupun terdapat tanda. Umumnya mereka jarang
membutuhkan perawatan khusus.
2. Spina Bifida Meningocele
Spina Bifida jenis ini terdapat suatu kantung atau tonjolan pada tubuh anak bagian
belakang, tertutup kulit, berisi cairan sumsum (spina fluid) tanpa jaringan saraf.
Kelumpuhan tidak umum dijumpai. Biasanya dengan pembedahan tonjolan
tersebut dapat dihilangkan kelainannya.
Gambar 25. Contoh Bentuk Kelainan Spina Bifida
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
202
3. Spina Bifida Myelomeningocele
Jenis spina bifida ini termasuk yang paling parah. Terdapat penonjolan cairan
spinal maupun sebagian dari spinal cord sendiri, sehingga fungsi dari syaraf mulai
dari regio tersebut menjadi terganggu baik motorismaupun sensorisnya. Kasus ini
dapat terjadi di mana saja tetapi paling sering di thoaracolumbal (pinggang).
Tindakan operasi selalu dilakukan untuk menutup/merekonstruksi tulang vertebra
yang terbuka, namun tidak dapat memperbaiki struktur syaraf yang sudah rusak
atau tidak berfungsi secara normal.
Pada umumnya kasus ini akan menimbulkan ganggung sebagai berikut (Maskun
Pudjianto, 2006):
a. Kelayunan motoris (flaccid paralysis) dan hilangnya fungsi sensoris.
b. Tidak dapat merasakan saat berak dan kencing
c. 80% timbul hidrocepalus
d. Kesulitan belajar (terkait hidrocepalus)
e. Beberapa mengalami gangguan inteligensia, persepsi visual dan gangguan
fungsi tangan.
f. Kadang ada gangguang kongenital lain seperti gangguan clubfoot atau
kelainan musculoskeletal yang lain.
David Werner (2002) mendeskripsi beberapa masalah yang terjadi bersama
spina bifida sebagai berikut:
a. Resiko tinggi terinfeksi dan anak meninggal karena meningitis.
b. Kepala besar atau hidrosefalus. Cairan yang terbentuk di dalam kepala tidak dapat
mengalir secara normal ke sumsum tulang belakang, sehingga mengumpul dan
menekan otak.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
203
c. Kerusakan otak karena tertekan cairan, dengan rusaknya otak maka ada resiko
kemungkinan terjadinya buta, retardasi mental, mengalami serangan (epilepsi)
atau terkena cerebralpalsy.
d. Lemah otot dan hilangnya perasaan. Tungkai atau kaki mungkin lumpuh dan mati
rasa atau sedikit saja daya rasanya.
e. Salah satu atau kedua panggul mungkin meleset.
f. Kaki mungkin berputar ke bawah dan ke dalam, ke atas atau ke samping.
g. Mungkin terjadi kekejangan (spastisitas otot) di tungkai dan kaki.
h. Kontrol buang air besar dan kecil kurang/tidak baik.
Anak dengan kondisi spina bifida masa depannya sangat tergantung pada
seberapa serius kecacatannya, kecepatan dan ketepatan perawatan serta penanganan
secara umum dan tidak ketinggal juga faktor dukungan keluarga. Semakin tinggi di
punggung letak kelainan itu atau semakin parah sumsum tulang belakang yang
terkena, maka semakin parah kelumpuhan dan masalah-masalah lainnya.
Perawatan kelainan terutama apabila terdapat kantong syaraf di tulang
belakang ketika bayi baru lahir, mungkin hidupnya akan lebih baik apabila bayi yang
bersangkutan dioperasi setelah beberapa minggu kelahiran. Jika tidak dapat dioperasi,
perlu diberikan perlindungan kantong sarafnya sehingga penutupnya yang tipis tidak
pecah atau terluka, karena bila terjadi dapat menyebabkan meningitis. Bagi anak-anak
spina bifida yang mengalami penurunan kemampuan kontrol buang air besar
(pengendalian usus besar) dan kecil (pengendalian kandung kemih) dapat diberikan
kantong/tempat khusus atau dibantu menangani kandung kemih/usus besarnya
sehingga mereka relatif lebih kering, bersih dan sehat. Oleh karena itu sangat penting
anggota keluarga dan petugas rehabilitasi memabntu anak melatih program kandung
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
204
kemih dan usus besar yang baik.
Tindakan penanganan kelainan yang diperlukan di antaranya (Maskun
Pudjianto, 2006) berupa:
a. Penguluran otot yang kontraktur (pemendekan)
b. Penguatan otot bagi yang lemah
c. Mobilisasi sendi pada keterbatasan gerak sendi atau untuk pencehanan
d. Aktivitas ADL dan adaptasi lingkungan aktivitas, baik dengan alat bantu jalan
ataupun tidak.
e. Pemberian splint/bidai atau brace untuk alat penyanggan tungkai agar mampu
berjalan.
f. Aktivitas rekreasi.
H. Radang Selaput Lendir
Radang selaput lendir atau congek merupakan penyakit telinga atau infeksi
telinga tengah yang dapat mengganggu fungsi pendengaran. Congek merupakan
proses infeksi di rongga telinga bagian tengah yang berlangsung menahun. Hal ini
dapat terjadi karena kuman dari rongga hidung dan tenggorokan yang masuk ke dalam
lubang telinga bagian tengah.
Keadaan semacam ini sering terjadi terutama setelah anak-anak terserang
radang rongga hidung atau radang amandel yang umumnya dengan gejala batuk,
demam, pilek. Kuman-kuman ini masuk ke dalam rongga telinga bagian tengah
melalui saluran eustachius. Pada anak-anak saluran ini ukurannya lebih pendek dan
posisinya lebih mendatar. Akibatnya bila anak mengalami infeksi di daerah hidung
dan tenggorokan akan lebih mudah menjalar ke rongga telinga tengah. Akibatnya
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
205
terjadi radang pada selaput lendir bagian tengah, membengkak dan mengeluarkan
cairan berupa nanah. Cairan dapat menumpuk di dalam rongga telinga tengah dan
dapat memecahkan gendang telinga, sehingga cairan mengalir keluar telinga.
Penyakit ini sekilas hanya merupakan penyakit telinga biasa.Namun apabila
tidak diobati bisa menyebabkan komplikasi yang sangat merugikan. Dampak yang
dapat ditimbulkan oleh penyakit ini antara lain:
1. Ketulian.
Cairan dalam rongga tengah dapat menghambat getaran suara. Ini akibat kelebihan
cairan menekan gendang telinga. Akibatnya telinga bagian tengah tinggal 1/8 atau
¼ bagian saja. Infeksi telinga tengah juga dapat menyebabkan kerusakan atau
gendang telinga berlubang. Pada keadaan tertentu bahkan dapat merusak tulangtulang pendengaran yang letaknya di rongga telinga tengah. Hal ini akan
menghambat jalannya suara untuk mencapai rumah siput dengan akibat ketulian
jenis tuli hantar.
Selain itu infeksi telinga tengah terutama yang menahun dapat mengakibatkan tuli
syaraf karena adanya kerusakan pendengaran yang terletak di dalam rumah siput.
Hal ini akibat menjalarnya bakteri dari telinga bagian tengah ke rumah siput.
Selain itu dapat juga sebagai akibat pengikisan tulang yang membatasi rongga
telinga tengah dan dalam oleh kolsteatoma (jaringan akibat congek menahun).
Gangguan yang lain adalah telinga berdering (titinus). Gangguan ini akibat
kerusakan pada gendang telinga, timbunan cairan di dalam rongga telinga tengah
atau karena kerusakan syaraf telinga.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
206
2. Infeksi tulang mastoid
Rongga telinga tengah berhubungan langsung dengan rongga mastoid yang
menonjol di belakang telinga. Akibatnya bila terjadi infeksi rongga telinga tengah,
infeksi ini dapat menyebar ke rongga dan tulang mastoid. Gejala yang ditimbulkan
antara lain kulit di belakang telinga berwarna merah, nyeri, bengkak dan bila
pecah dapat mengeluarkan nanah. Bekas keluarnya nanah tersebut sering tidak
menutup kembali, sehingga meninggalkan bekas berupa celah yang sering
mengeluarkan nanah.
3. Wajah mencong
Infeksi telinga tengah juga dapat merusak syaraf dengan akibat wajah/muka
menjadi mencong ke salah satu sisi. Ini akibat terganggunya syaraf yangmengatur
otot-otot wajah atau mimik yang letaknya di dalam rongga telinga tengah.
4. Pusing (vertigo)
Penyebaran infeksi telinga tengah ke telinga dalam selain dapat merusak syaraf
pendengaran juga dapat merusak syaraf keseimbangan yang mengakibatkan
pusing. Hal ini karena letak syaraf yang mengatur alat keseimbangan tubuh berada
di dalam telinga, berdekatan dengan syaraf pendengaran.
5. Infeksi selaput otak (meningitis) dan otak (encepalitis)
Infeksi telinga tengah dapat menjalar ke alat di sekelilingnya, antara lain
selaput otak (meningitis), dengan gejala panas tinggi, dan kejang-kejang yang
dapat membahayakan jiwa apabila tidak mendapatkan pengobatan segera.
Ada beberapa perlakuan salah yang sering dilakukan orangtua pada anaknya
yang menderita congek. Akibatnya bukannya congek menjadi sembuhmelainkan
mqalah menjadi kronis. Tindakan orangtua yang salah itu antara lain:
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
207
a. Menyumbat telinga. Tindakan ini dilakukan dengan menyumbat lubang telinga
dengan kapas atau benda lain. Tindakan ini berbahaya karena akan mengakibatkan
tertimbunnya cairan di dalam rongga telinga tengah dan justru mendesak ke arah
dalam. Akibatnya kondisi gangguan akan semakin parah.
b. Sembarangan memasukkan obat. Perilaku ini akan mengganggu aliran cairan dan
juga dapat mengakibatkan kerusakan syaraf telinga.
c. Berenang atau menyelam. Dalam keadaan gendang telinga tidak utuh lagi, maka
air kolam yang tidak dijamin kebersiahnnya dapat mengakibatkan infeksi telinga
berulangkembali.
Cara mengeringkan telinga yang berair karena congek antara lain:
a. Gulung kapasyang sudah dipipihkan.
b. Masukkan ujung kapas berbentuk kerucut ke dalam air masak atau cairan H2O2
3% lain peras sampai tak menetes.
c. Masukkan ujung kapas yang sudah diperas tersebut ke liang telinga yang berair
selama beberapa detik.
d. Buang kapas yang sudah kotor, dan masukkan kapas yang baru.
e. Lakukan berulang-ulang sampai tidak ada cairan.
f. Bersihak dengan cara ini sehari 3 kali sampai telinga kering.
I. Disfungsi Minimal Otak
Disfungsi minimal otak merupakan gangguan fungsi pada bagian otak tertentu.
Otak manusia terbagi dalam berbagai bagian yang masing-masing mempunyai fungsi
khusus. Meskipun ada spesialisasi fungsi, bagian-bagian otak bekerja secara terpadu.
Apabila terjadi suatu kelainan atau hambatan sewaktu berlangsungnya perkembangan
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
208
bagian otak tertentu, maka akan timbul gangguan atau disfungsi yang berkaitan
dengan fungsi bagian otak yang bersangkutan. Hal ini pula
yang terjadi pada kasus DMO berwujud dalam berbagai gejala.
Gejala-gejala DMO sering tidak nyata (minimal), sehingga tidak mudah
dideteksi. Dari sekian banyak gejala DMO pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam
gejala (a) tidak terampil (clumsiness), (b) kesulitan belajar khusus, berupa kesulitan
bahasa (disfasia), menulis (disgrafia), membaca (disleksia), berhitung (diskalkulia),
(c) gejala hiperaktivitas dan (d) gejala-gejala neurologis samar (minor), seperti
kesulitan dalam pemusatan perhatian (Lazuardi, dalam Haris Mudjiman, Munawir
Yusuf, 1990).
Gejala-gejala ini umumnya menimbulkan masalah kesulitan belajar pada anak,
makin banyak gejala yang terdapat dalam diri seseorang anak, makin berat
keadaannya. Anak kerap dicap anak bodoh dan hal ini dapat mempengaruhi
pembentukan citra diri. Apabila hal ini tidak segera ditangani, akan problem
tingkahlaku, yang tidak hanya menghambat pengembangan pribaditetapi juga
mengganggu lingkungan.
Kesulitan belajar karena DMO sama sekali bukan disebabkan oleh faktor
potensi inteligensi yang rendah, bahkan tak jarang kasus ini menimpa anak yang
inteligensinya tinggi.
Penyimpangan fungsi otak dapat disebabkan oleh faktor genetik, kelainan
perkembangan otak pada masa pranatal, proses kelahiran serta adanya penyakit atau
cedera yang terjadi pada tahun-tahun kritis perkembangan sistem syaraf pusat. Gejala
DMO pada masa bayi diataranya adanya gejala terus menerus menangis, susah tidur,
bergerak berlebihan dalam tidurnya atau mudah kaget oleh suara-suara yang tidak
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
209
terlalu keras. Pada anak usia di atas 2 tahun, gejala DMO dapat berupa keterlambatan
bicara dan minimnya kemampuan berbahasa. Gejala lain dapat berupa gangguan
keseimbangan dan koordinasi, misalnya anak sering jatuh, kurang terampil membuka
dan memasang kancing baju atau tali sepatu, kurang terampil melempar dan
menangkap bola atau tidak dapat berjalan pada titian. Gejala hiperaktivitas juga dapat
sebagai tanda DMO, misalnya anak tidak dapat diam barang sejenak di manapun ia
berada, mudah sekali teralihkan perhatiannya, tidak mampu memusatkan perhatian
atau berkonsentrasi pada satu tugas tertentu. Pada masa sekolah, gejala DMO di
samping gejala-gejala yang sudah disebutkan juga berupa kesulitan belajar yang
sifatnya spesifik, salah satunya disleksia.
Dari uraian di atas, maka gejala DMO secara umum dapat dideskripsikan
sebagai berikut:
1. Tidak dapat memusatkan perhatian, misalnya:
(a) Sering tidak dapat menyelesaikan tugas
(b) Sering tampak seperti tidak mendengarkan
(c) Mudah beralih perhatian
(d) Sulit berkonsentrasi atau memusatkan perhatian pada tugas-tugas di sekolah
dan tugas-tugas lainnya
(e) Sulit untuk dapat bertahan pada satu aktivitas permainan
2. Impulsif, sseperti:
(a) sering bertindak sebelum berfikir
(b) Beralih secara berlebihan dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya
(c) Sulit mengatur pekerjaan
(d) Memerlukan banyak pengawasan
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
210
(e) Dalam kelas sering melakukan interupsi, misalnya mengacungkan jari untuk
hal-hal yang tidak perlu
(f) Sulit menunggu giliran dalam permainan
3. Hiperaktif, seperti perilaku berikut:
(a) Berlari-lari atau memanjat secara berlebihan
(b) Sulit duduk diam, tidak dapat tenang
(c) Bergerak berlebihan dalam tidurnya
(d) Selalu bergerak terus seperti didorong oleh kekuatan mesin
4. Memperlihatkan perilaku anti sosial, yang umumnya dijumpai pada anak yang
lebih tua, seperti tidak mampu mengembangkan pergaulan yang menyenangkan di
antara kelompok sebaya, di rumah atau di sekolah sering ditolak, sehingga ia
menjadi agresif dan berontak terhadap lingkungan.
5. Kesulitan belajar, yang disebabkan oleh gangguan neurologik, adanya aktivitas
berlebihan sehingga mempengaruhi kemampuannya berkonsentrasi dan menerima
informasi dariluar, termasuk dalam belajar.
6. Gejala emosional lain, seperti depresi dan citra diri yang buruk.
Penanganan penderita DMO harus dilakukan dengan pendekatan yang
sistimatis dan terpadu antar berbagai disiplin ilmu. Demikian juga harus bekerjasama
dengan orangtua.
J. Hidrosefalus
Hidrosefalustermasuk penyakit yang sering menimpa bayi dan balita. Ciri
khusus yang sangat mudah dikenali adalah adanya kepala yang besar terutama di
bagian depan, membengkak melebihi ukuran normal.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
211
Penyebab
hidrosefalus
ada
gangguan
pada
cairan
serebraospinal
(cerebrospinal fluid-CFS) yang bersirkulasi di dalm otak. Dalam otak CFS
bersirkulasi dalam bagian-bagian otak, selaput pembungkus otak, serta pada kanal
tulang belakang. Kemudian CFS ini diserap ke dalam sistem sirkulasi tubuh oleh
bagian subarachnoid yang ada di atas otak. Namun karena suatu sebab, sirkulasi
ataupenyerapan itu terganggu atau tersumbat. Sehingga CFS yang terbentuk
berlebihan dan terakumulasi di dalam otak. Akibatnya cairan ini menekan otak,
tempurung kepala, dan merusak jaringan otak.
Hidrosefalus juga dapat disebabkan oleh gangguan saat dalam kandungan atau
setelah bayi lahir. Hidrosefalus pada janin disebabkan oleh infeksi TORCH
(Toksoplasma, Rubella, Sitomegalovirus, Herpesvirus) pada ibu hamil. Sedangkan
setelah lahir bisa karena cacat bawaan yang menyumbat aliran CFS, infeksi meningitis
atau encephalitis atau cedera persalinan. Sindrom tertentu, faktor genetik, ibu hamil
kurang gizi diduga berperan, namun belum dapat dipastikan (Nelson, 1988).
Hidrosefalus juga disebabkan karena tumor sistem syaraf pusat, atau trauma
saat proses kelahiran. Misal akibat pecahnya pembuluh darah di bagian subarachnoid.
Di samping itu kelainan di mana kolom tulang belakang di kepala tak menutup
sempurna, diduga kuat juga bisa menyebabkan hidrosefalus.
Gejala-gejala hidrosefalus bervariasi tergantung penyebabnya, usia saat
gangguan ini timbul, serta besarnya kerusakan jaringan otak. Pada bayi akumulasi
CFS pada otak menyebabkan umbun-umbun tegang, menonjol dan kepala membesar.
Pembesaran ini terjadi karena tulang-tulang tengkorak bayi belum sepenuhnya
merapat (umumnya baru merapat sempurna saat anak berusia 5 tahun). Gejala lain
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
212
dahi melebar, kulit kepala menipis. Pembuluh darah di kulit kepala serta celah antar
sambungan tulang tengkorak juga makin melebar.
Gejala lainnya berupa cracked pot sign, yakni bunyi seperti pot yang retak saat
kepala diketuk jari. Bola mata kedorong ke bawah, sehingga bintik hitam mata (iris)
tampak seperti matahari mau terbenam. Mata bisa juling, pergerakannya juga tidak
teratur. Bila terjadi kerusakan syaraf penderitanya bisa mengalami gangguan kesaran,
gangguan motorik, kejang, muntah, nyeri kepala, kadang gangguan organ vital tubuh.
Karena CFS yang diproduksi terus meningkat dan tak ada penyerapan sama
sekali, tekanan pada otakpun terus meningkat dan menipiskan jaringan otak.
Akibatnya kemampuan berfikir, inteligensi dan perkembangan motorik anak
terhambat. Apabila CFS terus menekan batang otak dan menekan pusat pernafasan,
penderitanya dapat meninggal.
Dari uraian di atas secara singkat dapat dideskripsikan gejala hidrosefalus
sseagai berikut:
1. Gejala awal pada bayi:
a. Pembesaran kepala
b. Menonjolnya umbun-umbun dengan/tanpa pembesarankepala
c. Melebarnya sutura (celah antar sambungan tulang tengkorak)
2. Gejala-gejala yang berlanjut:
a. Rewel
b. Kontrol emosi jelek
c. Kram otot
3. gejala-gejala yang sudah parah:
a. Penurunan fungsi mental
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
213
b. Perkembangan dan pertumbuhan terlambat
c. Gerak kurang, lambat, terbatas
d. Susah makan
e. Lunglai, ngantuk berlebihan
f. Ngompol tak terkontrol
g. Tangis keras, melengking, namun singkat
4. Gejala pada balita/ anak yang lebih besar:
a. Sakit kepala
b. Muntah
c. Perubahan penglihatan
d. Mata juling
e. Gerakan mata tak terkontrol
f. Hilangnya koordinasi gerakan
g. Pola berjalan tidak normal
h. Gangguan mental, bingung, linglung.
Banyaknya macam dampak hidrosefalus terhadap kejadian kelainan/kecacatan,
maka pemeriksaan kepala dan pengobatan hidrosefalus sangat penting. Tujuan
pemeriksaan lingkar kepala untuk mendeteksi dini keumungkinan terjadi hidrosefalus.
Sedang tujuan pengobatan adalah untuk mencegah atau meminimalisir pengumpulan
CFS agar tidak terjadi kerusakan jaringan otak yang lebih parah. Yang penting adalah
pencegahan, dengan pemeriksaan lingkar kepala saat periksa ke dokter, tidak hanya
mengukur berat dan tinggi badan saja. Karena pencegahan lebih mudah dan murah.
Menurut para ahli, bagi penderita hidrosefalus yang dapat ditangani secara dini, dan
dapat bertahan hidup selama 1 tahun, maka 80% mereka nantinya dapat hidup normal.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
214
Hidrosefgalus yang bukan karena infeksi maka peluangnya hidup lebih besar.
Sementara hidrosefalus yang karena tumor, maka peluang sembuhnya tidak pasti.
K. Morbili/Campak
Istilah morbili di Indonesia banyak sekali ragamnya seperti di Jawa dengan
istilah gabagen, tampeule di Sunda, Edeh (Lombok), campak, rubela dan sebagainya.
Morbili atau campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat sebabkan oleh
sebuah virus campak. Penularan melalui udara ataupun kontak langsung dengan
penderita. Insiden tertinggi adalah usia 2 dan 14 tahun. Masa inkubasi 8-14 hari
Gejala-gejala morbili/campak adalah demam, batuk, pilek dan bercak-bercak
merah pada permukaan kulit 3-5 hari setelah anak demam. Bercak mula-mula timbul
di pipi awah telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota tubuh
lainnya.
Komplikasi morbili/campak adalah radang paru-paru, infeksi pada telinga,
radang pada saraf, radang pada sendi dan radang pada otak yang dapat menyebabkan
kerusakan otak permanen.
Sebaiknya penyakit morbili harus mendapatkan perhatian yang tuntas, dari
semua warga masyarakat, sebab:
1. Morbili merupakan contoh yang terbaik dari pengaruh timbal balik infeksi dan
keadaan gizi. Artinya gizi baik dapat mencegah morbili, demikian pula sebaliknya
2. Morbili merupakan penyakit yang paling berbahaya yang menyerang anak-anak,
yang biasanya terdapat di negara sedang berkembang. Penyakit ini dapat
menyebabkan kecacatan permanen dan kematian.
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
215
3. Banyak anggapan sementara penduduk maupun ahli medis bahwa morbili
hanyalah merupakan penyakit infeksi biasa.
4. Vaksinasi morbili merupakan tindakan yang paling menguntungkan dan paling
ringan untuk meningkatkan kesehatan anak-anak terutama agar terhindar dari
serangan morbili.
Biasanya pada kasus morbili ada dua hal yang merugikan anak yaitu anak yang
menderita morbili berat akan mengalami malnutrisi dan sekaligus infeksi. Pada anakanak yang kurang gizi berat, morbili yang diderita biasanya akan lebih berat. Pada
anak malnutrisi, kematian akibat penyakit morbili ini mungkin 400 kali lipat lebih
besar dari pada anak-anak yang cukup gizi. Di antara penyakit infeksi, morbili
mempunyai pengaruh terbesar terhadap keadaan gizi anak. Ini berdasarkan kenyataan
data anak-anak setelah mengalami penyakit ini mengalami penurunan berat badan
yang drastis, begitu pula Protein Kalori Malnutrisi (PCM).
Umumnya negara-negara dengan penduduk padat mengalami epidemi morbili
tiap tahun dengan frekwensi tertinggi setiap dua tahun sekali, dan anak-anak yang
tidak mendapatkan vaksinasi hanya beberapa saja yang dapat terhindar dari penyakit
ini. Di negara yang penduduknya jarang atau sedikit jumlah penduduknya, pertemuan
antar penduduk serta komunikasi verbal ataupun non verbal sangat kurang, maka
epidemi penyakit ini jarang terjadi, hanya setiap 7 atau bahkan 12 tahun sekali.
Umur saat sakit (age incidence) pada penderita morbili di negara-negara
sedang berkembang berbeda dengan di negara-negara maju seperti di Eropa.
Berdasarkan penyelidikan, selama 4-5 bulan kehidupan pertama, anak-anak bebas dari
penyakit ini karena mendapat antibodi yang berasal dari sang ibu. Tetapi setelah 5
bulan kemungkinan besar anak dapat terserang penyakit morbili. Bardasarkan
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
216
penelitian serologis yang diadakan di Rumah Sakit Universitas Gajah Mada
Yogyakarta tahun 1977 menunjukkan bahwa anak-anak telah mengalami morbili saat
mereka mencapai umur 5 tahun (75%) dari semua kasus. Dan angka tersebut
meningkat 100% setelah anak berusia 12 tahun.
Cara pencegahan yang murah adalah dengan menjaga kesehatan dengan
makanan yang sehat, berolahraga yang teratur dan istirahan yang cukup. Sedang
pencegahan yang paling efektif adalah dengan imunisasi campak. Pemberian
imunisasi akan menimbulkan kekebalan aktif untuk melindungi terhadap penyakit
campak, diberikan umur 9 bulan atau lebih. Diberikan sebanyak 2 kali pada usia balita
dan sekali pada usia sekolah dasar kelas 1.
L. Tuberculosa (TBC)
Tubercolusa merupakan penyakit infeksi berat yang paling sering diketemukan
di Indonesia. Penyakit ini
disebabkan oleh basil mycobacterium tuberculosis.
Penularan terjadi melalui droplet dari saluran nafas pasien dengan tuberculosa paru
aktif. Infeksi tranplasenta terjadi dengan masa inkubasi 2-10 minggu.
Tuberculosa yang kini diketemukan di negara-negara sedang berkembang
sangat berbeda dengan Tuberculosa di negara industri, karena akibat adanya
perbedaan gizi, faktor genetis, umur saat terjadinya infeksi yang pertama kali, adanya
infeksi-infeksi tambahan pada anak-anak, serta perbedaan dalam jumlah baksil yang
menyerang.
Pada anak-anak balita di negara sedang berkembang frekwensi droplet
(percikan air dari batuk/bersin) pada bayi dan anak kecil sangat tinggi. Ini terjadi
karena anak-anak lebih sering digendong-gendong oleh orang tuanya, dan juga
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
217
kebanyakan hidup dalam keluarga yang besar. Sampai akhir abad ke-19, mortalitas
karena TBC di Eropa masih tetap tinggi, sama dengan yang kini terlihat di negaranegara sedang berkembang. Sementara itu, data tentang reaksi terhadap tes tuberculin
baru didapat sesudah tahun 1920. Sensitalitas terhadap tuberculin disebabkan oleh
faktor-faktor antibodi, tetapi merupakan proses yang bersifat selular, sehingga
dipengaruhi oleh keadaan gizi individu.
Penyebaran lesi dipercepat bila gizi anak jelek. Telah banyak dibuktikan
bahwa tuberculosa jauh lebih berat pada anak-anak yang kurang gizi. Pada suatu
penyelidikan telah ditunjukkan bahwa insiden komplikasi-komplikasi TBC yang berat
maupun yang progresif, ternyata menurun dengan adanya perbaikan gizi.
Pada umumnya apabila bayi usia muda mengalami infeksi maka akan terjadi
suatu keadaan under nutrisi selama 2-3 minggu berikutnya. Keadaan gizi yang jelek
akan mempermudah penyebaran baksil TBC dalam tubuh, sehingga terjadi jatuh sakit.
Penyakit TBC yang dapat menimbulkan kecacatan adalah jenis tuberculosa
tulang belakang. Gejala – gejala yang umum sebagai berikut:
1. Sedikit demi sedikit mulai terbentuk benjolan di tulang punggung. Ini karena
bagian depan satu vertebra atau lebih rusak dan melesak.
2. Anak sulit membungkuk ke depan untuk memungut benda-benda.
3. Mungkin terbentuk abses (membesar) penuh dengan nanah di dekat benjolan
tulang belakang. Mungkin abses pecah di bagian tubuh lebih bawah dan
mengeluarkan nanah.
4. Tanda-tanda kemungkinan terjadinya cedera sumsum tulang belakang diantaranya:
rasa sakit, mati rasa, lemah atau kaki dan tungkai lumpuh, hilangnya kontrol atas
kandung kemih dan usus besar (David Werner, 2002).
Abdul Salim, Pediatri dalam Pendidikan Luar Biasa, 2006
Download