pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan oleh

advertisement
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN
OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN
TAMAN HUTAN RAYA K.G.P.A.A. MANGKUNAGORO I
(Studi Kasus di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo, Desa Berjo,
Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar)
RIZKA NOVIA SETYANING RAHAYU
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN
OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA
K.G.P.A.A. MANGKUNAGORO I
(Studi Kasus di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo, Desa Berjo,
Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar)
RIZKA NOVIA SETYANING RAHAYU
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
RINGKASAN
RIZKA NOVIA SETYANING RAHAYU. Pemanfaatan Keanekaragaman
Tumbuhan Oleh Masyarakat Sekitar Taman Hutan Raya KGPAA
Mangkunagoro I (Studi Kasus di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo, Desa
Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar). Dibimbing oleh
AGUS HIKMAT dan ERVIZAL AM ZUHUD.
Masyarakat sekitar kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I melakukan
interaksi dengan kawasan melalui kegiatan pemanfaatan sumberdaya, terutama
tumbuhan. Oleh karena itu, diperlukan informasi mengenai pemanfaatan tumbuhan
oleh masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pemanfaatan
keanekaragaman tumbuhan oleh masyarakat sekitar TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I, mengidentifikasi bentuk interaksi masyarakat terhadap TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I, mengidentifikasi kearifan lokal masyarakat yang
berhubungan dengan konservasi tumbuhan di kawasan TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I.
Penelitian dilaksanakan di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo, Desa Berjo,
Ngargoyoso, Karanganyar. Jenis data yang diambil meliputi spesies tumbuhan yang
dimanfaatkan oleh masyarakat dan bentuk pemanfaatannya serta bentuk kearifan lokal
masyarakat yang berhubungan dengan konservasi. Metode yang digunakan adalah
dengan wawancara dan eksplorasi. Wawancara dilakukan dengan sensus yang
mewakili setiap kepala keluarga. Kemudian dilakukan eksplorasi terhadap spesies
tumbuhan yang dimanfaatkan.
Hasil dari penelitian ini teridentifikasi jumlah spesies yang dimanfaatkan
masyarakat sebanyak 140 spesies dari 57 famili. Famili yang paling banyak
dimanfaatkan adalah Fabaceae. Tumbuhan paling banyak dimanfaatkan adalah sebagai
tumbuhan pangan yang tediri dari 78 spesies. Interaksi masyarakat yang masih terjalin
dengan kawasan TAHURA hanya terbatas pada pengambil rumput dan kayu bakar.
Kearifan lokal yang masih ada dalam masyarakat antara lain sistem araman, mencari
kayu bakar, dan pemanfaatan lahan sekitar rumah (pekarangan) sedangkan yang sudah
mulai ditinggalkan adalah sistem berkebun organik.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa kearifan lokal masyarakat
dalam pemanfaatan tumbuhan dan interaksi masyarakat terhadap kawasan TAHURA
sudah mulai menurun. Mempertahankan kearifan lokal masyarakat sebagai salah satu
upaya konservasi yang dapat mendukung kelestarian spesies tumbuhan yang berguna
bagi masyarakat.
Kata kunci: Pemanfaatan tumbuhan, kearifan lokal, TAHURA KGPAA Mangkunagoro
I, Sukuh.
SUMMARY
RIZKA NOVIA SETYANING RAHAYU. The Utilization of Plant Diversity
by Community around KGPAA Mangkunagoro I Grand Forest Park (Case
Studies in Sukuh and Gondangrejo Hamlet, Berjo Village, Ngargoyoso,
Karanganyar). Under supervision of AGUS HIKMAT and ERVIZAL AM
ZUHUD.
Community around KGPAA Mangkunagoro I Grand Forest Park
(TAHURA KGPAA Mangkunagoro I) interact with the protected area by utilizing
resources, especially plants. Therefore, information about plants utilization by
community is required. This research aims to identify the utilization of plant
diversity by community around TAHURA KGPAA Mangkunagoro I, community
interaction in TAHURA KGPAA Mangkunagoro I, local wisdom of the
community related to plants conservation in TAHURA KGPAA Mangkunagoro I.
The research was conducted in Sukuh and Gondangrejo Hamlet, Berjo
Village, Ngargoyoso, Karanganyar. The various data was collected, including
plant species and how it is utilized by the community, and also the form of society
local wisdom related to conservation. The methods used in the research consist of
interviewing and doing exploration. The interviews were conducted with a
representative census of each family head. Thus, the exploration deal with plant
species utilized by the community has been done as well.
The result of this research identified that the numbers of species utilized by
the society are as much as 140 species from 57 families. The most family used by
the society is Poaceae. Plants which most widely used as food plants consisting of
78 species. Community interaction in TAHURA KGPAA Mangkunagoro I is still
limited in gathering grass and firewood. Local wisdom found still exist in the
community for instance applying, they are araman system, gathering firewood,
and using land around the house (yard). Whereas, the abandoned one is the system
of organic gardening.
The conclusion of this research showed that the community local wisdom
in utilizing plants and community interaction in TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I has been decreasing as well. Sustaining the society local wisdom
is as an effort to support sustainable conservation of plant species that are useful
for community.
Keywords: Plant utilization, local wisdom, TAHURA KGPAA Mangkunagoro I,
Sukuh.
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pemanfaatan
Keanekaragaman Tumbuhan Oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Taman Hutan
Raya KGPAA Mangkunagoro I (Studi Kasus di Dukuh Sukuh dan Dukuh
Gondangrejo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar)
adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing
dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau
lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor,
September 2012
Rizka Novia Setyaning Rahayu
E34080016
Judul Skripsi
: Pemanfaatan
Keanekaragaman
Tumbuhan
oleh
Masyarakat di Sekitar Kawasan Taman Hutan Raya
KGPAA Mangkunagoro I (Studi kasus Dukuh Sukuh dan
Dukuh Gondangrejo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso,
Kabupaten Karanganyar)
Nama
: Rizka Novia Setyaning Rahayu
NIM
: E34080016
Menyetujui,
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc
Prof. Dr. Ir. Ervizal AM Zuhud, MS
NIP. 196209181989031002
NIP. 19590618198503003
Mengetahui,
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata,
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS
NIP. 195809151984031003
Tanggal Lulus :
KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala
curahan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil
diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan
Juli-Agustus 2011 ini adalah pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat, dengan
judul Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan oleh Masyarakat di Sekitar
Kawasan Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunagoro I (Studi kasus Dukuh
Sukuh dan Dukuh Gondangrejo, Desa Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat,
M.Sc.F dan Bapak Prof. Dr. Ir. Ervizal AM Zuhud, MS selaku pembimbing.
Selain itu, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Pengelola TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I dan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar yang
telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Hasil penelitian ini
akan penulis dedikasikan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I khususnya di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo,
Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor,
September 2012
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sukoharjo pada tanggal 16 November
1990 sebagai anak kedua dari dua bersaudara pasangan Purn.
Serma Sahlin dan Sih Setyo Lestariati, S.Pd (almh). Jenjang
pendidikan formal yang ditempuh penulis, yaitu SDN 03
Buran (2002), SMPN 1 Karanganyar (2005) dan pada tahun
2008 penulis lulus dari SMA Negeri Karangpandan. Pada
tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan di Institut
Pertanian Bogor dan memilih jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata Fakultas Kehutanan melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut
Pertanian Bogor (USMI).
Selama menuntut ilmu di IPB, penulis juga mengikuti sejumlah organisasi
kemahasiswaan yakni sebagai anggota Kelompok Pemerhati Flora (KPF) dan
Kelompok Pemerhati Herpetofauna (KPH) Himpunan Mahasiswa Konservasi
(HIMAKOVA), anggota Pengembangan Sumberdaya Mahasiswa (PSDM) Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan tahun 2009-2010, pengurus
Paguyuban Mahasiswa Solo dan Sekitarnya (AYUMAS).
Pada tahun 2010 penulis mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan
(PPEH) jalur Kamojang-Sancang Barat. Pada tahun 2011 penulis melaksanakan
Praktik Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat. Penulis
juga sudah melaksanakan Praktik Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman
Nasional Kayan Mentarang-Kalimantan Timur dan bekerjasama dengan GIZ
dalam kegiatan survey kondisi sosial ekonomi masyarakat zona penyangga
TNKM (Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau,
Kalimantan Timur).
Skripsi yang bejudul “Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan oleh
Masyarakat di Sekitar Kawasan Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunagoro I
(Studi kasus Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo, Desa Berjo, Kecamatan
Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar)” diselesaikan oleh penulis selama 1 tahun
dibimbing oleh Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F dan Prof. Dr. Ir. Ervizal AM Zuhud,
MS. UCAPAN TERIMA KASIH
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas
curahan rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya
ilmiah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F dan Bapak Prof. Dr. Ir. Ervizal AM
Zuhud, MS selaku pembimbing skripsi, atas kesediaan membimbing,
memberikan ilmu dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Soegiarto selaku Kepala TAHURA KGPAA Mangkunagoro I dan
segenap staff TAHURA yang telah membantu dalam penelitian ini.
3. Ibu Eva Rachmawati, S.Hut, M.Si selaku moderator dalam seminar hasil
skripsi, Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M. Sc selaku ketua ujian komprehensif
serta Ir. Ahmad Hajib, MS selaku dosen penguji dalam ujian komprehensif
atas semua masukannya.
4. Seluruh Dosen, Staf dan Pegawai Fakultas Kehutanan, khususnya Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yang telah mengajar,
mendidikku, dan membantuku selama berkuliah di IPB.
5. Septiani Dian Arimukti teman seperjuangan terutama pada saat penelitian.
6. Bapak Suparno yang telah mendampingi dalam pengambilan data dilapangan
beserta seluruh masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo yang telah
bersedia berbagi informasi.
7. Persembahan khusus untuk Ayahku Purn. Serma Sahlin dan ibuku Sih Setyo
Lestariati, S.Pd (almh)
yang selalu menjadi penyamangat dalam setiap
langkahku, dan kakakku mas Ibnu Mas’ud Setiawan yang selalu
mendukungku.
8. Keluarga besarku atas motivasi dan doa yang selalu menyertaiku.
9. Ibu Sih Setyo Hari Sukarelawati (almh) yang telah menjadi ibu kedua bagiku,
terima kasih telah menjagaku dan merawatku selama ini dan mbak Ayu Sari
yang telah menyemangatiku selama ini.
10. Keluarga besar Supriyanto (alm), bulik Dedeh, Mas Ajis, Mas Huda dan dek
Icha yang telah menjadi keluarga kedua selama di Bogor.
11. Rizki, Ichal, Wiwik, Rista, Iin, Mu’alim, Agus, Rachma, Junisa, Wahyu,
Andi, Pandu, Dian, mbak Zulfa, mas Andi, mas Alvian dan semuruh Keluarga
besar Ayumas-Solo yang selama ini menjadi saudara seperjuangan selama
berada di perantauan (Bogor) atas semangat, doa serta persaudaraan yang
selalu mengalir.
12. Sahabat-sahabatku Rizki Magistra, Hari Kuncoro, Hendrik, Ogie, Indra, Adit,
Ari Ndoli, Diwanata, Dian, Sulis, Aisyah, Marina Putri, Budi, Dwi Harjono
atas semangat yang selalu diberikan.
13. Dora, Kiki, Illah, Nezi, Tira, mbak Fitri, Mbak Nur yang telah memberikan
kehangatan dalam sebuah persaudaraan yang terjalin selama di asrama TPB
hingga saat ini.
14. Dina Oktavia, Siti Munawaroh, Davi, Erlinda, Vera, Nurika, Tantri, Eko,
Kuspri, Rama, Rei, Ina, Ayu W, Yasri, Fitri, Ajeng, Ririn, Ana, Laela, Rifki,
Nararya, Ardhianto, Teko, dan seluruh keluarga besar Edelweiss 45 (SIAL)
yang telah memberikan warna dalam perjalanan hidupku.
15. Rekan-rekan lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu per satu, terima kasih
atas dukungan dan doanya.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................
i
DAFTAR ISI .................................................................................................
v
DAFTAR TABEL ........................................................................................
viii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................
xi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................
1
1.2 Tujuan...........................................................................................
2
1.3 Manfaat.........................................................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Interaksi Masyarakat denganTumbuhan ......................................
3
2.2 Pemanfaatan Tumbuhan ...............................................................
4
2.2.1 Tumbuhan obat.................................................................
5
2.2.2 Tumbuhan pangan ............................................................
6
2.2.3 Tumbuhan penghasil warna .............................................
6
2.2.4 Tumbuhan penghasil pestisida nabati ..............................
7
2.2.5 Tumbuhan hias .................................................................
8
2.2.6 Tumbuhan penghasil pakan ternak...................................
8
2.2.7 Tumbuhan keperluan ritual adat dan keagamaan .............
8
2.2.8 Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan ...........
9
2.2.9 Tumbuhan penghasil kayu bakar .....................................
9
2.2.10 Tumbuhan penghasil bahan bangunan .............................
10
2.3 Taman Hutan Raya (TAHURA) ..................................................
10
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian........................................................
12
3.2 Alat dan Objek Penelitian ............................................................
12
3.2.1 Alat ....................................................................................
12
3.2.2 Objek penelitian .................................................................
13
3.3 Jenis Data dan Metode Pengambilan Data ...................................
13
vi
3.4 Teknik Pengambilan Data ............................................................
13
3.4.1 Penentuan responden ........................................................
13
3.4.2 Wawancara dan pengamatan langsung ............................
14
3.4.3 Pembuatan herbarium.......................................................
14
3.5 Metode Analisis Data ...................................................................
15
3.5.1 Tipologi masyarakat .........................................................
15
3.5.2 Klasifikasi penggunaan ....................................................
16
3.5.3 Persen famili.....................................................................
16
3.5.4 Persen habitus...................................................................
16
3.5.5 Persen bagian yang digunakan .........................................
17
3.5.6 Persen tipe habitat ............................................................
17
3.5.7 Persen budidaya ...............................................................
17
3.5.8 Analisis hubungan masyarakat dengan Tahura KGPAA
Mangkunagoro I ..............................................................
18
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas .............................................................................
19
4.2 Sejarah Kawasan ..........................................................................
19
4.3 Kondisi Fisik Kawasan.................................................................
20
4.4 Kondisi Biologi Kawasan.............................................................
21
4.5 Kondisi Sosial Budaya Masyarat .................................................
21
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Masyarakat .............................................................
23
5.1.1 Kondisi masyarakat ..........................................................
23
5.1.2 Pola hidup masyarakat .....................................................
26
5.1.3 Interaksi masyarakat dengan Tahura ................................
27
5.2 Pemanfaatan Tumbuhan ...............................................................
28
5.2.1 Tumbuhan pangan ............................................................
34
5.2.2 Tumbuhan obat.................................................................
38
5.2.3 Tumbuhan tumbuhan penghasil pakan ternak..................
45
5.2.4 Tumbuhan hias .................................................................
46
5.2.5 Tumbuhan untuk keperluan ritual adat dan keagamaan ...
47
5.2.6 Tumbuhanpenghasiltali, anyaman, dankerajinan .............
48
vii
5.2.7 Tumbuhan penghasil kayu bakar .....................................
50
5.2.8 Tumbuhan penghasil bahan bangunan .............................
51
5.2.9 Tumbuhan penghasil warna .............................................
51
5.2.10 Tumbuhan penghasil pestisida nabati ..............................
52
5.3 Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat .............................................
54
5.3.1 Sistem Araman .................................................................
54
5.3.2 Sistem pengambilan kayu bakar.......................................
56
5.3.3 Pola pekarangan ...............................................................
57
5.3.4 Sistem berkebun ...............................................................
61
5.4 Pengembangan Kampung Konservasi POGA ..............................
62
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan...................................................................................
68
6.2 Saran .............................................................................................
69
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................
70
LAMPIRAN ..................................................................................................
73
viii
DAFTAR TABEL
No
Halaman
1.
Tahap kegiatan dan metode pengumpulan data ......................................
13
2.
Klasifikasi tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat............................
16
3.
Perbandingan hasil etnobotani di beberapa kawasan konservasi ............
31
4.
Data total pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat sekitar TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I .......................................................................
32
5.
Daftar spesies yang dibudidayakan di pekarangan .................................
59
6.
Pengembangan Kampung Konservasi POGA.........................................
65
ix
DAFTAR GAMBAR
No
Halaman
1.
Denah lokasi penelitian ...........................................................................
12
2.
Klasifikasi rmasyarakat berdasarkan kelas umur ....................................
24
3.
Klasifikasi masyarakat berdasarkan jenis kelamin .................................
24
4.
Klasifikasi masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan .........................
25
5.
Karakteristik masyarakat berdasar pada pekerjaan .................................
26
6.
Klasifikasi responden berdasar kelas umur .............................................
29
7.
Klasifikasi responden berdasarkan jenis kelamin ...................................
29
8.
Pemanfaatan tumbuhan berdasarkan kelompok penggunaan .................
31
9.
Keanekaragaman tumbuhan dari 10 famili dengan spesies terbanyak ...
32
10. Persen habitus tumbuhan yang dimanfaatkan .........................................
33
11. Persen habitat ..........................................................................................
34
12. Persen budidaya ......................................................................................
34
13. Lima famili yang banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan pangan .......
35
14. Bagiantumbuhan yang banyak dimanfaatkan untuk pangan...................
36
15. Tumbuhan kol .........................................................................................
36
16. Suasana perdagangan sayuran di pasar lokal ..........................................
38
17. Keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat
39
18. Bagian yang digunakan untuk tumbuhan obat ........................................
40
19. Jenis penyakit yang paling banyak disembuhkan. ..................................
41
20. Spesies tumbuhan obat a) Janggelan, b) Labu .......................................
42
21. a) Kondisi pohon kina yang sudah dikuliti, b) Kingkong .......................
44
22. Spesies tumbuhan yang diperjual-belikan sebagai tumbuhan obat .........
45
23. Rumput pakan ternak ..............................................................................
45
24. Anthurium jemani....................................................................................
46
25. Budidaya tanaman hias ...........................................................................
47
26. Awar-awar ...............................................................................................
47
27. Anyaman a) Mendong(bahan anyaman), b) Tikar dari mendong ..........
48
28. Kerajinan a) Bambu (bahan kerajinan), b) Keranjang dari bambu .........
49
29. Hasil kerajinan dari pohon pinus ............................................................
49
x
30. a) Buah pinus, b) Kayu yang digunakan untuk kayu bakar ....................
50
31. Kayu sebagai bahan bangunan ................................................................
51
32. Alur pembuatan araman – penyimpanan rumput ....................................
56
33. Pemanfaatan kayu bakar oleh masyarakat ..............................................
57
34. Sketsa pemanfaatan lahan oleh masyarakat ............................................
58
35. Bentuk pemanfaatan lahan sebagai pekarangan......................................
58
36. Pemanfaatan pekarangan oleh masyarakat .............................................
59
37. Persentase pemanfaatan tumbuhan yang ada di pekarangan ..................
60
38. a) Bibit cabai, b) Benih sawi ..................................................................
62
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No
Halaman
1.
Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat .....................................
74
2.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat ..........................
79
3.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan pangan .....................
83
4.
Tumbuhan yang dimanfaatkan untuk bahan kerajinan, anyaman dan tali
85
5.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai kayu bakar ................................
85
6.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pewarna ....................................
85
7.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak .............................
86
8.
Tumbuhan yang dimanfaatkan untuk kebutuhan ritual keagamaan........
86
9.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias .............................
86
10. Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pestisida nabati .........................
87
11. Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan ........................
87
12. Tumbuhan yang dibudidayakan di pekarangan ......................................
88
13. Sketsa pemanfaatan lahan oleh masyarakat ............................................
89
14. Kondisi pekarangan.................................................................................
92
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kelangsungan hidup manusia antara lain dipengaruhi oleh ketersediaan
sumberdaya alam hayati. Kebutuhan dasar manusia adalah pangan, sandang,
papan, dan kesehatan. Dalam pemenuhan kebutuhannya manusia menggunakan
keanekaragaman sumberdaya, baik lokal maupun dari luar. Sumberdaya lokal
adalah sumberdaya yang tersedia di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Hal
ini sangat mempengaruhi kemandirian masyarakat di suatu lokasi.
Contoh nyata bahwa lingkungan mempengaruhi kemandirian suatu
masyarakat adalah pada kehidupan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan
hutan. Hal tersebut dikarenakan hutan banyak menyediakan sumber kehidupan
bagi manusia. Namun kelestarian sumberdaya hayati suatu lokasi dapat terjaga
jika masyarakat merasakan manfaat kawasan tersebut secara langsung, sehingga
masyarakat akan ikut serta dalam upaya pelestarian kawasan tersebut.
Bentuk pemanfaatan tersebut dapat dilihat pada kehidupan masyarakat di
Indonesia yang masih mempertahankan kearifan lokalnya serta masih bergantung
pada hutan di kawasan mereka. Sehingga perlu adanya upaya konservasi yang
dilakukan oleh masyarakat tersebut. Konservasi adalah pemanfaatan yang optimal
secara berkelanjutan dengan syarat berkeadilan, beradab dan berdaulat (Zuhud
2011).
Salah satu masyarakat yang kehidupannya memiliki hubungan dengan
lingkungan adalah masyarakat yang hidup di sekitar kawasan Taman Hutan Raya
(TAHURA) KGPAA Mangkunagoro I, Ngargoyoso, Jawa Tengah. Bentuk
interaksi masyarakat dengan TAHURA antara lain berupa pemanfaatan tumbuhan
yang sudah terjalin kuat sebelum penetapan kawasan tersebut menjadi TAHURA.
Selain dari hutan, sumberdaya lokal yang digunakan masyarakat untuk memenuhi
kebutuhannya juga bearasal dari lingkungannya sebagai contoh dari pekarangan
maupun ladang milik mereka.
Oleh karena itu diperlukan kajian mengenai pemanfaatan tumbuhan oleh
masyarakat di sekitar TAHURA yang selanjutnya dapat digunakan sebagai
2
masukkan kegiatan pengelolaan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I sehingga
mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kemandirian dalam
pemanfaatan tumbuhan secara bijaksana. Kesejahteraan masyarakat tersebut
diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap kelestarian kawasan
TAHURA. Oleh karena itu, kajian mengenai pemanfaatan tumbuhan oleh
masyarakat di kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I perlu dilakukan.
1.2
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Mengidentifikasi bentuk interaksi masyarakat terhadap TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I
2.
Mengidentifikasi pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan oleh masyarakat
sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I
3.
Mengidentifikasi kearifan lokal masyarakat yang berhubungan dengan
konservasi tumbuhan di kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I.
1.3 Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan
dalam penyusunan kebijakan pengembangan dan pengelolaan kawasan TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I dan mengembangkan konservasi tumbuhan pada
masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo, Desa Berjo sehingga
membentuk kemandirian pada masyarakat.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Interaksi Masyarakat dengan Tumbuhan
Interaksi adalah suatu bentuk hubungan timbal balik. Bentuk interaksi dapat
berupa interaksi positif maupun negatif. Pemanfaatan sumberdaya hutan oleh
masyarakat merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan untuk
menjamin kelestarian diperlukan upaya untuk pengelolaan, sehingga akan muncul
interaksi antara masyarakat dengan hutan (Ardhita et al. 2012). Bentuk interaksi
masyarakat dengan lingkungan dapat pula dalam skala yanag lebih kecil misalnya
dalam pemanfaatan tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Bentuk interaksi
masyarakat dan tumbuhan dapat di kaji dan diperdalam dengan dasar etnobotani.
Jika dilihat dari asal katanya etnobotani berasal dari bahasa Yunani,ethos
yang berarti bangsa dan botany yang berarti tumbuhan, sehingga etnobotani dapat
diartikan sebagai disiplin ilmu yang mempelajari hubungan langsung antara
manusia dengan tumbuhan dalam pemanfaatan secara tradisional. Sedangkan
menurut Walujo dan Rifai (1992) etnobotani adalah ilmu yang mendalami
hubungan budaya suatu masyarakat dengan komunitas alam hayati disekitarnya
(khususnya tumbuhan).
Etnobotani merupakan ilmu yang kompleks karena tidak hanya melibatkan
satu disiplin ilmu saja. Banyak disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk menunjang
pelaksanaan dan pendekatan etnobotani, misalnya taksonomi, ekologi, kehutanan,
sejarah, antropologi dan ilmu lainnya (Riswan & Soekarman 1992).
Pengertian
mengenai
etnobotani
semakin
berkembang
seiring
perkembangan jaman. Menurut Martin (1998), etnobotani adalah segala bentuk
pengetahuan (mengenai tumbuhan) yang menggambarkan hubungan antara
masyarakat lokal (etnis) dengan sumberdaya alam.
Akhir-akhir ini etnobotani mulai banyak digali oleh para ahli. Hal ini
banyak dilakukan karena mulai punahnya beberapa spesies tumbuhan berguna
yang belum sempat diteliti. Dengan menggunakan etnobotani diharapkan dapat
menggali potensi tumbuhan berguna dan pola pemanfaatannya. Dengan
diketahuinya pola pemanfaatan tradisonal terhadap tumbuhan oleh masyarakat
4
diharapkan dapat mengimbangi perkembangan teknologi yang pesat (Riswan &
Soekarman 1992).
Bentuk pemanfaatan tumbuhan (etnobotani) di setiap daerah di Indonesia
sangat beragam. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan, potensi tumbuhan dan
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Misalnya, pada masyarakat
Bali bentuk pemanfaatan etnobotani lebih berhubungan dengan acara ritual dan
keagamaan. Menurt Purwita (1990), tumbuhan yang digunakan dalam upacara
ngaben tertera dalam pustaka lontar ajaran agama Hindu seperti Empulutuk,
Ngaben, Basundari, Purwayatmatatwa. Tumbuhan tersebut merupakan simbol,
sesaji, hidangan dan bekal selama jiwa manusia kembali keasal-usulnya. Hampir
semua bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan, dapat berupa umbi, batang, daun,
bunga, buah, biji dan bagian lainnya. Sebagian besar tumbuhan yang digunakan
dalam upacara ngaben adalah tumbuhan yang menghasilkan minyak atsiri yang
dapat menghasilkan tumbuhan aromatik, misalnya cendana (Santalum album),
kenanga (Cananga odorata) dan beberapa jenis lainnya.
Pemanfaatan tumbuhan dalam bentuk lain adalah pemanfaatan tumbuhan
pada pada tradisi “nyekar” di daerah Yogyakarta. Tumbuhan yang dimanfaatkan
dalam tradisi nyekar adalah jenis-jenis tumbuhan yang memiliki bau wangi.
Misalnya mawar, kenanga, kantil, melati dan telasih. Jenis-jenis tumbuhan
tersebut biasanya memiliki manfaat yang beragam, tidak hanya untuk satu
pemanfaatan (Anggana 2011).
Beragamnya bentuk pemanfaatan tumbuhan dari berbagai daerah dapat
dijadikan kekayaan kebudayaan Indonesia. Selain perbedaan dalam pola
pemanfaatan tumbuhan, juga memungkinkan masyarakat dapat memanfaatkan
tumbuhan yang sama dalam manfaat yang berbeda maupun tumbuhan berbeda
dengan manfaat yang sama.
2.2
Pemanfaatan Tumbuhan
Sebagian masyarakat Indonesia tinggal disekitar hutan untuk dapat
memanfaatkan hutan sebagai sarana memenuhi kebutuhan hidup. Banyak jenis
tumbuhan liar yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia baik untuk
bahan pangan, bangunan, obat-obatan maupun manfaat lain. Tetapi menurut
5
Soekarman dan Riswan (1992) baru sekitar 3-4% tumbuhan bermanfaat yang ada
di Indonesia sudah dibudidayakan, selain itu masih diambil dari alam khususnya
hutan. Masyarakat sekitar kawasan hutan juga hanya memenfaatkan sekitar 17%
spesies yang ada di hutan.
Tumbuhan dapat dimanfaatkan dalam banyak hal, menurut Siswoyo et al.
(2004), klasifikasi kelompok kegunaan tumbuhan di masyarakat meliputi
tumbuhan obat, tumbuhan aromatik, tumbuhan pangan, tumbuhan penghasil
warna, tumbuhan penghasil pestisida nabati, tumbuhan hias, tumbuhan penghasil
pakan ternak, tumbuhan untuk keperluan ritual dan keagamaan, tumbuhan
penghasil tali, anyaman, kerajinan, tumbuhan penghasil kayu bakar, tumbuhan
penghasil minuman, dan tumbuhan penghasil bahan bangunan. Selain beragam
pemanfaatnnya setiap tumbuhan juga memiliki bagian-bagian yang berbeda dalam
pemanfaatannya. Misalnya saja bagian yang dimanfaatkan adalah buah, daun,
umbi, akar, kulit, bunga, biji, getah, batang, dsb.
2.2.1 Tumbuhan obat
Bagi masyarakat Indonesia yang khususnya bertempat tinggal di daerah
pedesaan
di
sekitar
hutan,
pemanfaatan
tumbuhan
untuk
kepentingan
kesehatannya merupakan salah satu bentuk kearifan yang sudah turun-menurun
sehingga bukan merupakan sesuatu yang baru. Namun dewasa ini masyarakat
yang tinggal di kota juga mulai kembali menggunakan tumbuhan sebagai
tumbuhan obat.
Tumbuhan obat tersebut dikelompokan kedalam tiga kelompok (Zuhud et al
1994) yaitu :
1. Tumbuhan obat tradisional: spesies tumbuhan yang diketahui atau
dipercaya memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan obat
tradisional.
2. Tumbuhan obat moderen: spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah
dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat
dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
3. Tumbuhan obat potensial: spesies tumbuhan yang diduga mengandung
atau memiliki khasiat obat tetapi belum dapat dibuktikan secara medis.
6
2.2.2 Tumbuhan pangan
Indonesia memiliki kekayaan tumbuhan pangan yang tersebar luas, namun
ada pula beberapa jenis tumbuhan yang menjadi khas suatu daerah, karena
keberadaannya jarang dijumpai di daerah lain. Hal ini dikarenakan perbedaan
iklim dan kondisi alam di beberapa daerah di Indonesia. Perbedeaan spesies
tumbuhan pangan yang ada di setiap daerah juga menjadikan beragamnya pola
makan dan masakan khas setiap daerah. Selain digunakan sebagai tumbuhan
penghasil pangan, biasanya tumbuhan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk
penggunaan lain. Riswan dan Soekarman (1992) menyebutkan bahwa tumbuhan
penghasil pangan dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Komoditas utama: padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi
jalar dan ubi kayu.
2. Komoditas potensial: sorgum, gude, kacang tunggak, wijen, talas, ubi
kelapa dan sagu.
3. Komoditas introduksi: terigu, jewawut, kara, ganyong.
Dewasa ini mulai banyak dikembangkan tumbuhan penghasil pangan
dengan kandungan karbohidrat tinggi sehingga dapat menggantikan beras sebagai
bahan makanan pokok utama. Karena keragaman potensi tumbuhan penghasil
pangan di Indonesia juga dapat menambah kekayaan budaya Indonesia. Contoh
tumbuhan yang mulai dikembangkan sebagai tumbuhan penghasil pangan adalah
sukun
(Artocarpus
artilis).
Kandungan
karbohidrat
pada
sukun
dapat
dimanfaatkan sebagai tumbuhan penghasil pangan selain beras.
2.2.3
Tumbuhan penghasil warna
Tumbuhan penghasil warna atau tumbuhan pewarna adalah tumbuhan
yang dapat memberikan pengaruh warna terhadap benda baik berupa pewarna
makanan, minuman, atau benda lainnya baik yang sudah diolah maupun belum
diolah. Pewarna yang berasal dari tumbuhan dapat pula disebut sebagai pewarna
nabati.
Sebagian besar pewarna dapat dihasilkan dari tumbuhan. Misalnya warna
dasar yaitu kuning, merah, biru, hitam dan cokelat maupun warna hijau yang
diperoleh dari perpaduan warna biru dan kuning. Contoh dari pewarna nabati
adalah daun suji (Pleomele angustifolia), daun salam (Syzygium polyantum), Bixa
7
orellana, Gordonia excela. Masyarakat pada umumnya membuat warna hijau
alami secara tradisional dengan menggunakan daun suji (Pleomele angustifolia)
atau daun pandan (Pandanus tectorius) (Rostiana et al. 1992). Lebih lanjut Heyne
(1987) mengemukakan bahwa masyarakat Indonesia telah banyak menggunakan
tumbuhan sebagai bahan pewarna nabati dan sudah lama pula mereka mengenal
bahan pewarna alami dari tumbuhan untuk makanan. Misalnya saja warna hijau
dari daun suji (Pleomele angustifolia), warna merah pada agar-agar menggunakan
daun Iresine herbstii, rimpang kunyit (Curcuma domestica) untuk pewarna
kuning, dan kulit kayu soga (Peltophorum pterocarpum) sebagai bahan pewarna
cokelat pada batik.
2.2.4 Tumbuhan penghasil pestisida nabati
Menurut Kardinan (1999) pestisida adalah suatu zat yang bersifat racun,
menghambat pertumbuhan/perkembangan, tingkah laku, perkembanganbiakan,
kesehatan, mempengaruhi hormon, penghambat makan, membuat mandul, sebagai
pemikat, penolak dan aktivitas lainnya yang mempengaruhi OPT (Organisme
Perusak Tanaman). Pestisida nabati secra umum dapat diartikan sebagai suatu
pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan.
Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuab dan pengetahuan
yang terbatas, oleh karena itu pestisida nabati akan mudah terurai di alam
sehingga tidak akan mencemari lingkungan. Selanjutnya menurut Kardinan (1999)
pestisida nabati bersifat “pukul dan lari” yaitu apabila digunakan akan membunuh
hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh maka residunya akan cepat
menghilang di alam. Penggunaan pestisida nabati nabati diharapkan dapat
mengurangi intensitas penggunaan pestisida sintetis yang beresiko tinggi terhadap
kerusakan lingkungan.
Menurut Rachmat dan Wahyono (2007) efektivitas pengaruh pestisida
nabati tergantung dari bahan yang dipakai, karena satu jenis tumbuhan yang sama
dapat memiliki resistensi yang berbeda terhadap pestisida nabati, hal ini
dikarenakan perbedaan sifat bioaktif atau sifat racunnya yang tergantung dari
kondisi tumbuh, umur tanaman dan jenis dari tanaman tersebut.
Secara sederhana pembuatan pestisida nabati dilakukan melalui beberapa
proses penanganan bahan tumbuhan secara baik agar bahan tersebut tidak
8
kehilangan aktivitas hayatinya. Kehilangan aktivitas hayati dapat terjadi pada
tahap pengkoleksian, penyimpanan dan persiapan bahan atau material tumbuhan
(Rachmat & Wahyono 2007).
Menurut Rachmat dan Wahyono (2007) beberapa jenis yang dapat
digunakan untuk bahan pestisida nabati antara lain pacar cina (Aglaia adorata),
bengkuang (Pachyrrhyzus erosus), selasih (Ocimum basilicum), mimba
(Azadirachta indica), cengkeh (Syzygium aromaticum) dan beberapa jenis lainnya.
2.2.5 Tumbuhan hias
Tumbuhan hias adalah tumbuhan yang memiliki nilai estetika. Keindahan
visual dan tekstur tanaman dapat mempengaruhi keindahan tanaman (Hasim
2009). Berdasarkan pada daya tariknya tumbuhan hias dapat dibagi menjadi
tumbuhan hias daun dan bunga. Selain itu warna dari tanaman dapat memiliki
makna masing-masing. Misalnya saja warna gelap memberikan kesan teduh
sedangkan warna cerah memberikan kesan riang dan ceria. Komposisi warna yang
senada memberikan kesan ketenangan, sedangkan susunan warna kontras
memberikan kesan ceria (Hasim 2009).
Dalam kehidupan sehari-hari perbanyakan ataupun budidaya tanaman hias
dapat dilakukan di dalam maupun diluar rumah. Di beberapa daerah tumbuhan
hias dapat menjadi komoditas utama penghasilan masyarakatnya.
2.2.6 Tumbuhan penghasil pakan ternak
Tumbuhan hijau merupakan pakan utama bagi satwa herbivora. Sebagian
besar tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pakan satwa adalah jenis tumbuhan
bawah dan perdu. Jenis tumbuhan bawah atau semak yang banyak digunakan
sebagai pakan antara lain jenis rumput gajah dan alang-alang (Ardiansyah 2008).
Jenis – jenis tersebut biasanya dapat tumbuh secara alami dengan mudah.
2.2.7 Tumbuhan keperluan ritual adat dan keagamaan
Kartiwa
dan
Martowikidro
(1992)
menyebutkan
bahwa
diantara
pengetahuan tentang tumbuhan yang dimiliki oleh masyarakat, ada yang bersifat
spiritual, magis, dan ritual. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya spesies tumbuhan
yang digunakan dalam upacara adat. Perbedaan jenis spesies yang digunakan oleh
9
masyarakat dalam keperluan adat disebabkan oleh perbedaan pengetahuan
masing-masing masyarakat di berbagai etnis di Indonesia.
Asnawi (1992), upacara adat adalah upacara yang dilakukan secara turuntemurun, yang tidak diketahui siapa yang melaksanakan pertama kalinya.
Meskipun bentuknya bermacam-macam tetap berkaitan dengan kepercayaan dan
religi. Menurut Kartiwa dan Martowikidro (1992) di masyarakat ada kepercayaan
bahwa tumbuhan yang dianggap mengandung khasiat magis dapat pula mengobati
penyakit yang disebabkan gangguan magis pula. Hal ini menyebabkan tumbuhan
atau bagian tumbuhan yang dianggap dapat mengusir roh jahat menduduki
peringkat penting dalam ritual.
Tata cara adat yang masih ada di daerah pedesaan khususnya di daerah Jawa
antara lain ruwahan, muludan, nyadran, suran, grebeg sukuh, bakdan, selikuran
dan peringatan pada orang meninggal. Upacara tradisional daur hidup yang masih
dilaksanakan adalah tingkepan, brokohan, supitan atau tetesan, temanten,
kematian dan upacara lainnya hanya terdapat di masyarakat sporadik saja
(Purnomo 1992).
2.2.8 Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan
Tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan kerajinan merupakan tumbuhan
yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan tali, anyaman dan kerajinan.
Indonesia memiliki banyak potensi tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan
kerajinan yang dijadikan sebagai bahan dasar dalam pembuatan barang-barang
yang dapat menjadi komoditas ekspor Indonesia. Menurut Anggana (2011) jenis
tumbuhan yang banyak digunakan sebagai bahan kerajinan adalah tumbuhan yang
menghasilkan serat dengan kualitas yang baik.
2.2.9 Tumbuhan penghasil kayu bakar
Spesies tumbuhan yang baik digunakan untuk kayu bakar adalah spesies
yang mudah dimakan api (mudah terbakar), mudah kering, dan mudah diperoleh
(Uluk et al. 2001). Kayu bakar yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
hutan biasanya adalah “rencek” yang berasal dari potongan kayu, ranting yang
jatuh ke permukaan tanah (Anggana 2011).
10
2.2.10 Tumbuhan penghasil bahan bangunan
Tumbuhan penghasil bahan bangunan oleh masyarakat tradisional biasanya
digunakan untuk membangun rumah sebagai sarana berkumpul bahkan sebagai
sarana beribadah. Menurut Uluk et al. (2001) menyebutkan bahwa kayu yang
digunakan sebagai bahan bangunan dipilih berdasar pada segi kekuatan, tahan
lama, serat halus dan sebagainya. Spesies yang umum digunakan sebagai bahan
bangunan adalah jati (Tectona grandis), sengon (Paraseriantes falcataria), ulin
(Eusideroxylon zwageri) dan beberapa spesies lainnya.
2.3
Taman Hutan Raya (TAHURA)
Menurut Undang – undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1990 tentang
Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan ekosistemnya, Taman Hutan Raya
(TAHURA) adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan
atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang
dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
Kriteria penunjukan suatu kawasan TAHURA berdasar pada PP No 68
Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam adalah
sebagai berikut:
1. Memiliki ciri khas baik asli maupun buatan baik pada kawasan yang
ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang ekosistemnya sudah berubah;
2. Memiliki keindahan alam dan atau gejala alam;
3. Mempunyai luas yang cukup yang memungkinkan untuk pembangunan koleksi
tumbuhan dan atau satwa baik jenis asli dan atau bukan asli.
Keputusan
Menteri
Kehutanan
No.107/Kpts-II/2003
Tentang
Penyelenggaraan Tugas dan Pembantuan Pengelolaan Taman Hutan Raya Oleh
Gubernur atau Bupati/Walikota menyebutkan bahwa tugas pembantuan
pengelolaan TAHURA diberikan kepada:
1. Gubernur sepanjang wilayah Taman Hutan Raya yang bersangkutan berada
pada lintas Kabupaten/Kota;
2. Bupati sepanjang wilayah Taman Hutan Raya yang bersangkutan berada di
wilayah Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
11
Tugas pembantuan yang dimaksud adalah:
1. Tugas pembantuan pengelolaan Taman Hutan Raya meliputi: pembangunan,
pemeliharaan, pemanfaatan dan pengembangan Taman Hutan Raya.
2. Tugas pembantuan pengelolaan Taman Hutan Raya sebagaimana dimaksud
yang berkaitan dengan teknis, dikoordinasikan dengan Kepala Balai
Konservasi Sumberdaya Alam setempat.
TAHURA setidaknya memuat tujuan pengelolaan dan garis kegiatan yang
menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Upaya
pengawetan kawasa TAHURA dilaksanakan dalam bentuk perlindungan dan
pengamanan, inventarisasi potensi kawasan serta penelitian dan pengembangan
menunjang pengelolaan.
12
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2011 di
TAHURA KGPAA Mangkunagoro I, Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo
Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Denah lokasi
penelitian dapat dilihat pada gambar 1.
: Lokasi penelitian
Gambar 1 Denah lokasi penelitian.
3.2
Alat dan Objek Penelitian
3.2.1
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Pengambilan data: alat tulis, tape recorder, kamera, kuisioner
b. Pembuatan herbarium: alkohol 70%, kantong plastik bening, koran
bekas,
kertas
karton,
c. Identifikasi tumbuhan :
kertas
label,
pensil,
gunting,
benang.
13
- Buku identifikasi tumbuhan
3.2.2
Objek penelitian
Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah: spesies tumbuhan
yang digunakan oleh masyarakat, lingkungan disekitar masyarakat,
kawasan hutan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I.
3.3
Jenis Data dan Metode Pengambilan Data
Jenis data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini dapat
dilihat di Tabel 1.
Tabel 1 Tahap kegiatan dan metode pengumpulan data
Tahapan
kegiatan
Kajian
pendahuluan
Aspek kajian
(data)
Kondisi umum lokasi,
kondisi sosial budaya
masyarakat
2
Penentuan
tipologi
masyarakat
3
No
Sumber data
Metode
Kelurahan Desa Berjo, LIPI,
Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Kabupaten
Karanganyar, Pemda
Kabupaten Karanganyar
Studi literatur
Karakteristik
masyarakat yang
berinteraksi dengan
TAHURA
Kelurahan Desa Berjo,
masyarakat Desa Berjo
Survei lapang
dan studi
literature
Kajian
kondisi
kesehatan
masyarakat
Kondisi kesehatan
masyarakat dan pola
hidup masyarakat
Kelurahan Desa Berjo,
masyarakat Desa Berjo
Survei lapang
dan studi
literatur
4
Kajian
etnobotani
Spesies tumbuhan dan
jenis
pemanfaatannya,kearif
an tradisional
masyarakat,
Snowball, masyarakat
sekitar kawasan TAHURA,
lingkungan sekitar
masyarakat, pengelola
TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I
Survei lapang,
wawancara,
pengambilan
dokumentasi,
pengambilan
contoh
tumbuhan
5
Pengolahan
dan analisis
data
Pengolahan
data,analisis data
Data kajian lapangan dan
sejumlah literatur
Analisis
diskriptif
(kualitatif).
1.
3.4
Teknik pengambilan data
3.4.1 Penentuan responden
Menurut Singarimbun dan Effendi (1989) pelitian survei adalah penelitian
yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai
14
alat pengumpulan data yang pokok. Meneliti sebagian dari populasi, diharapkan
bahwa hasil yang diperoleh akan dapat menggambarkan sifat populasi yang
bersangkutan. Pemilihan responden dalam penelitian ini menggunakan teknik
sensus berdasarkan pada kepala keluarga, yaitu dengan menentukan responden
yang mewakili seluruh kepala keluarga dalam Dukuh Sukuh dan Dukuh
Gondangrejo, Desa Berjo, Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Walaupun
dengan menggunakan sensus penentuan responden awal juga berdasrkan pada
tokoh kunci dalam kampung tersebut. Pertimbangan dasar yang digunakan dasar
dalam penentuan responden pertama dalam penelitian ini adalah orang yang
dituakan di dukuh tersebut dan dianggap mengetahui mengenai kawasan
TAHURA dan pemanfaatan tumbuhan, responden awal yang dijadikan kunci
adalah tukang pijit bayi. Responden pertama akan digali pengetahuan mengenai
pemanfaatan tumbuhan di desa tersebut, kemudian untuk menentukan responden
kedua berdasarkan rekomendasi dari responden pertama, untuk menentukan
responden ketiga dan seterusnya menggunakan cara yang sama. Jumlah responden
yang diwawancarai adalah sebanyak 34 responden yang mewakili masing-masing
KK.
3.4.2 Wawancara dan pengamatan langsung
Wawancara yang dilakukan menggunakan teknik wawancara semi
terstruktur, yaitu menggunakan cara pengisian kuisioner dengan pendalaman
pertanyaan sesuai dengan kebutuhan data terhadap sejumlah responden.
Data dari setiap spesies tumbuhan yang dimanfaatkan adalah nama lokal,
kegunaan, habitus, bagian yang digunakan, serta cara menggunakannya. Selain
dari wawancara, juga dilakukan pengamatan langsung untuk mengetahui kearifan
lokal masyarakat sekitar kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I dalam
upaya konservasi tumbuhan serta jenis pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat.
Pengambilan data juga dilakukan melalui survey pasar tradisional di daerah
setempat (pasar Kemuning dan pasar Karangpandan).
3.4.3 Pembuatan herbarium
Herbarium adalah bentuk kumpulan spesimen yang telah diawetkan. Tujuan
dari pembuatan herbarium adalah untuk memudahkan proses identifikasi spesies
15
tumbuhan yang belum teridentifikasi di lapangan. Herbarium biasanya berupa
awetan dari bagian tumbuhan misalnya daun, bunga, ranting, kuncup, buah, dan
lain sebagainya. Pembuatan herbarium dilakukan dengan cara herbarium basah.
Menurut Anggana (2011) tahapan pembuatan herbarium adalah:
1. Mengambil contoh herbarium yang terdiri dari ranting lengkap dengan
daunnya, jika ada bunga dan buahnya juga sebaiknya diambil.
2. Pengambilan contoh herbarium bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan
wawancara dengan masyarakat.
3. Contoh herbarium diberi dipotong dengan menggunakan gunting sepanjang 40
cm.
4. Kemudian contoh herbarium dimasukkan ke dalam kertas koran dengan
memberikan etiket yang berukuran 3 cm x 5 cm. etiket berisi keterangan
tentang nomor spesies, nama lokal, lokasi pengumpulan dan nama kolektor.
5. Selanjutnya beberapa herbarium disusun diatas sasak yang terbuat dari bamboo
dan disemprot alcohol 70%.
6. Selanjutnya herbarium dioven dengan suhu 50-70oC selama 48 jam.
7. Herbarium kering lengkap dengan keterangan yang diperlukan diidentifikasi
untuk mendaatkan nama ilmiah.
3.5
Metode Analisis Data
3.5.1 Tipologi masyarakat
Hasil survei lapang yang didukung dengan data-data dari Pengelola
TAHURA KGPAA Mangkunagoro I dan Kelurahan Desa Berjo, khususnya
Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo masyarakat yang ada di Dukuh Sukuh dan
Dukuh Gondangrejo tersebut dikelompokan menjadi beberapa tipologi masyarakat
yang didasarkan pada tingkat interaksinya dengan pemanfaatan tumbuhan yang
ada di kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I. Tipologi masyarakat
tersebut antara lain adalah pencari rumput, petugas TAHURA, pencari kulit kina,
dll.
16
3.5.2 Klasifikasi penggunaan
Hasil
dari
wawancara
dengan
sejumlah
responden
dikelompokan
berdasarkan kegunaannya. Kalasifikasi dari penggunanaan tumbuhan dapat dilihat
di Tabel 2.
Tabel 2 Klasifikasi tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat
No
Kegunaan
1
Tumbuhan obat
2
Tumbuhan pangan
3
Tumbuhan penghasil pestisida nabati
4
Tumbuhan hias
5
Tumbuhan penghasil pakan ternak
6
Tumbuhan untuk keperluan ritual adat dan keagamaan
7
Tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan kerajinan
8
Tumbuhan penghasil kayu bakar
9
Tumbuhan penghasil bahan bangunan.
Sumber : Siswoyo et al (2004) dan disesuaikan dengan kondisi lapangan
3.5.3 Persen famili
Persen famili adalah presentase dari famili tumbuhan yang dimanfaatkan
masyarakat. Persen famili ini digunakan untuk mengetahui tingkat kebutuhan
masyarakat terhadap tumbuhan tertentu untuk menjaga kelestariannya.
Persen famili tersebut dapat diperoleh dari :
persen famili tertentu
∑ spesies dari famili tertentu
∑ total spesies
100%
3.5.4 Persen habitus
Presentase habitus merupakan telaah tentang besarnya suatu habitus yang
digunakan tehadap seluruh habitus yang ada. Habitus tersebut meliputi pohon,
semak, perdu, liana dan herba. Adapun rumus yan digunakan adalah :
persen habitus tertentu
∑ Spesies dengan habitus tertentu
∑ total spesies
100%
Herba adalah tumbuhan berbatang lunak dengan percabangan rendah atau
menempel pada tanah. Semak adalah tumbuhan berbatang kecil sedikit mengayu
dengan percabangan rendah pola hidupnya seperti rumput. Liana adalah tumbuhan
berbatang besar ataupun tidak, hidupnya memerlukan sandaran. Perdu adalah
17
tanaman berbatang lebih besar dan lebih keras daripada herba, percabangannya
juga lebih tinggi daripada semak. Pohon adalah sebutan untuk tanaman yang
berbatang besar dan berkayu (Hasim 2009).
3.5.5 Persen bagian yang digunakan
Perhitungan persen bagian yang digunakan untuk mengetahui presentase
setiap bagian tumbuhan yang digunakan masyarakat dalam pemanfaatan
tumbuhan. Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi daun, akar, buah, bunga,
batang, kulit kayu, rimpang dan umbi. Perhitungan dilakukan secara umum
terhadap semua spesies tumbuhan yang diperoleh dari wawancara, kemudian di
analisis berdasarkan pada kelompok penggunaannya. Persen bagian yang
digunakan diperoleh melalui perhitungan berikut ini :
persen bagian yang digunakan
∑ bagian tertentu yang digunakan
X 100%
∑ seluruh bagian yang digunakan
3.5.6 Persen tipe habitat
Perhitungan persen tipe habitat digunakan untuk mengetahui presentase
setiap tipe habitat tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Beberapa tipe
habitat yang ada di sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I adalah kebun,
pekarangan dan hutan. Perhitungan dilakukan secara umum terhadap semua
spesies tumbuhan yang diperoleh dari wawancara,
kemudian di analisis
berdasarkan lokasi dimana tumbuhan tersebut diperoleh. Persen tipologi habitat
diperoleh melalui perhitungan dengan rumus berikut ini :
persen tipe habitat
∑ spesies yang ditemukan di habitat tertentu
X 100%
∑ seluruh spesies dari seluruhtipe habitat
3.5.7 Persen budidaya
Perhitungan persen budidaya digunakan untuk mengetahui seberapa besar
presentase tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berasal dari hasil
budidaya dan berasal dari tumbuhan liar. Perhitungan ini berlaku untuk semua
spesies yang ditemukan dari hasil wawancara. Persen budidaya diperoleh melalui
perhitungan dengan rumus berikut ini :
persen budidaya
∑ spesies yang diperoleh dari hasil budidaya
X 100%
∑ seluruh spesies yang diperoleh
18
3.5.8 Analisis hubungan
Mangkunagoro I
masyarakat
dengan
TAHURA
KGPAA
Data mengenai keterkaitan masyarakat sekitar dengan kawasan TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I dibutuhkan untuk mengetahui interaksi antara
keduanya, sehingga dapat diketahui pula manfaat dari TAHURA untuk
masyarakat serta bagaimana pengaruh antara TAHURA dengan masyarakat
maupun masyarakat dengan TAHURA. Jika TAHURA tersebut bernilai positif
bagi masyarakat dapat digunakan pula sebagai acuan bagi pengelola bagaiman
kebijakan yang tepat dalam pengelolaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat tersebut dengan tetap menjaga ekosistem hutan TAHURA. Selain itu
juga dapat melihat nilai konservasi yang dilakukan masyarakat dalam
pemanfaatan sumberdaya di TAHURA tersebut. Sehingga kesinambungan antara
pemanfaatan dan pelestarian dapat dikemas dalam satu bentuk upaya konservasi
(pemanfaatan berkelanjutan).
19
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas
Kawasan hutan Sukuh Ngargoyoso ditetapkan sebagai Kawasan Taman
Hutan Raya Ngargoyoso yang sekarang dikenal dengan nama TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.
849 / Kpts-II / 1999 pada tanggal 11 Oktober 1999 (Balai Konservasi Sumberdaya
Alam Provinsi Jawa Tengah 2010). Luas kawasan TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I ± 231,3 ha. Kawasan ini terletak di Resort Pemangkuan Hutan
Lawu Utara, Kesatuan Pemangkuan Hutan Surakarta, Kabupaten Karanganyar,
Propinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Berjo dan Desa Girimulyo, Kecamatan
Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Batas Desa Berjo adalah:
4.2
¾ Sebelah timur
: Gunung Lawu
¾ Sebelah utara
: Desa Girimulyo
¾ Sebelah barat
: Desa Puntukrejo dan Kecamatan Karangpandan
¾ Sebelah selatan
: Kecamatan Tawangmangu
Sejarah Kawasan
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor:
849/Kpts-II/1999 tanggal 11-10-1999 kawasan Hutan Lindung seluas 231,3 yang
terletak di RPH Tambak, BKPH Lawu utara, KPH Surakata. Secara wilayah
administrasi berada di Desa Brejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar ditetapkan menjadi TAHURA KGPAA Mangkunagoro I. TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I berada di kaki Gunung Lawu dengan ketinggian ±
1.200 m dpl dan memiliki keanekaragaman flora dan fauna baik yang dilindungi
Undang-undang maupun tidak dilindungi Undang-undang.
TAHURA KGPAA Mangkunagoro I dikelola langsung oleh Dinas
Kehutanan Provinsi Jawa Tengah dengan nama BPTP (Balai Penelitian
Tumbuhan dan Pengelolaan) TAHURA KGPAA Mangkunagoro I. Tujuan
pengelolaan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I adalah :
20
a.
Terjaminnya kelestarian kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I.
b.
Terbinanya koleksi tumbuhan dan satwa serta potensi kawasan TAHURA
c.
Optimalnya manfaat TAHURA KGPAA Mangkunagoro I untuk wisata alam,
penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan penunjan budidaya, budaya bagi
kesejahteraan masyarakat
d.
Terbentuknya taman propinsi yang menjadi kebanggan Provinsi Jawa Tengah
Dalam pemanfaatannya, Taman Hutan Raya Ngargoyoso dibagi menjadi
tiga, yaitu :
a.
Hutan Lindung
Sebagai kawasan konservasi alam flora dan fauna yang ada di dalamnya
dengan berbagai ekosoitem yang ada.
b.
Hutan Alam
Dengan pemanfaatan langsung Sumber Daya Alama yang ada didalamnya
dengan tidak merusak tatanan hutan yang sudah ada.
c.
Sebagai penyangga kehidupan masyarakat di sekitar kawasan TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I.
Prinsip pengelolaan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I antara lain :
a.
Pendayagunaan potensi TAHURA KGPAA Mangkunagoro I untuk kegiatan
koleksi tumbuhan dan satwa, wisata alam, penelitian, ilmu pengtahuan,
pendidikan dan penyediaan plasma nutfah untuk budidaya diupayakan tidak
mengurangi luas dan tidak mengubah fungsi kawasan TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I.
b.
Sebagai
taman
kebanggaan
Provinsi
Jawa
Tengah,
maka
dalam
pengembangan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I mengutamakan koleksi
jenis tumbuhan dan satwa dari Provinsi Jawa Tengah.
4.3
Kondisi Fisik Kawasan
TAHURA KGPAA Mangkunagoro I terletak di lereng gunung Lawu.
Kondisi fisik kawan ini antara lain :
a. Jenis tanah: kompleks andosol cokelat dan andosol cokelat keabuan
b. Curah hujan: 3500 – 4000 mm/th
21
c. Kondisi hidrologi: didominasi oleh sungai permanen
d. Jumlah penduduk: jarang ( 484 – 1216 jiwa / km2 )
e. Kemiringan lahan: didominasi dengan kelerengan lebih dari 40%.
4.4
Kondisi Biologi Kawasan
Kondisi biologi kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I dapat dilihat
dari keanekaragaman satwa dan tumbuhan yang ada di dalam kawasan. Tumbuhan
yang terdapat di dalam kawasan antara lain: pinus (Pinus sp), puspa (Schima sp),
akasia (Accacia ducuren), pampung (Unanthe javanica dc), kina (Cinchona sp),
pasang (Quercus spp), kayu Uni, palem (Palmae sp), kopi hutan (Coffea sp), dan
kaliandra (Calliandra sp).
Sedangkan satwa yang terdapat di dalam kawasan antara lain elang ular bido
(Spilornis cheela), elang jambul hitam (Ictinaetus malayensis), elang belalang
(Microhierax fringgilarius), cengekan, ayam hutan hijau (Gallus varius), punai
manten (Treron griseicauda), tekukur (Streptopilia chinensis), wiwik lurik
(Cacamantis sonneratii), walet sapi (Collacalia escrienta), kapinis jarum kecil
(Rhaphidura leucopygialis), tepekong jambul (Hemiprocae longipennis), dan
satwa lainnya.
4.5
Kondisi Sosial Budaya Masyarakat
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I adalah masyarakat lokal yang sering disebut dengan istilah “
uwong kejawen “. Mata pencaharian sebagaian masyarakat adalah peternak dan
petani. Komoditas utama yang dihasilkan masyarakat adalah sayuran hasil
perkebunan dan tanaman hias yang dijual hingga keluar kota Solo.
Jika dilihat dari jumlah penduduk yang mencapai 5874 jiwa, terdiri dari laki
– laki yaitu 2956 jiwa dan perempuan 2918 jiwa. Desa Berjo terdiri dari 1355
Kepala Keluarga. Tingkat pendidikan masyarakat Desa Berjo adalah setara
Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun saat ini sudah mulai banyak warga
yang mengenal Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan perguruan tinggi. Jumlah
perantau dan pendatang relatif kecil, sehingga masih disebut sebagai masyarakat
lokal.
22
Beberapa upacara ritual yang dilaksanakan di Desa Berjo antara lain adalah
ritual “grebeg Sukuh”, ritual ini dilaksanakan di kawasan Candi Sukuh. Kedua
ritual “sedekah bumi”, ritual ini dilaksanakan pada musim panen sebagai ucapan
terima kasih atas hasil panen. Selain itu upacara adat yang dilakukan secara
insidental antara lain ruwatan, supitan, pitonan dan banyak jenis lain.
23
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Masyarakat
5.1.1 Kondisi Masyarakat
Masyarakat
sekitar
Taman
Hutan
Raya
(TAHURA)
KGPAA
Mangkunagoro I yang bertempat tinggal di Dukuh Sukuh dan Dukuh
Gondangrejo, Desa Berjo masih tergolong masyarakat asli namun kehidupannya
sudah modern. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya bangunan rumah permanen
yang terbuat dari semen, pasir, batu bata meskipun masih banyak ornamen kayu.
Masyarakat juga sudah mengenal makanan cepat saji seperti sosis, nugget dan lain
sebagainya. Masyarakat dalam pengobatannya juga sudah mulai menggunakan
jasa bidan maupun dokter yang ada di sekitar mereka.
Meskipun demikian masyarakat di Dukuh Sukuh tergolong kelompok
masyarakat yang kecil. Berdasarkan pada data kependudukan tahun 2010, Dukuh
Sukuh hanya terdiri dari 10 kepala keluarga dengan 46 orang penduduk,
sedangkan Dukuh Gondangrejo terdiri dari 24 kepala keluarga dengan 117 orang
penduduk. Berdasarkan pada data tersebut jika dilihat berdasarkan kelas umur
masyarakat dapat dikelompokan kedalam sebelas kelompok (Gambar 2).
Masyarakat yang paling banyak adalah usia 21-30 tahun. Sedangkan usia paling
tua mencapai 110 tahun dan terdapat lima orang masyarakat yang usianya lebih
dari 80 tahun.
Seluruh masyarakat yang tinggal di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo
100% beragama Islam. Meskipun semua penduduknya Islam namun tradisi yang
berdasar pada kepercayaan juga masih dilakukan oleh masyarakat, misalnya
member sesaji di makam leluhur, peringatan kematian, dll.
Sumber informasi sebagian besar masyarakat adalah dari televisi dan radio,
namun sebagian ada yang menggunakan surat kabar dan internet. Dengan
demikian modernisasi sudah banyak masuk ke lingkungan masyarakat Dukuh
Sukuh dan Dukuh Gondangrejo. Menurut masyarakat pengaruh teknologi yang
mulai banyak mempengaruhi pola kehidupan masyarakiat adalah mulai
banyaknya makanan instan yang beredar di masyarakat, selain itu juga mulai
24
banyaknya obat kimia yang mulai masuk dan mulai menggeser obat-obatan
organik. Hal tersebut mulai mempengaruhi pola kehidupan masyarakat dan
berdampak pada lunturnya kearifan lokal masyarakat setempat.
38
40
35
28
Jumlah
30
23
25
22
20
13
15
10
12
7
5
2
5
2
1
0
Kelas umur
Gambar 2 Klasifikasi rmasyarakat berdasarkan kelas umur.
Masyarakat sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I lebih banyak
perempuan daripada laki-laki (Gambar 3), begitupula untuk masyarakat yang
masih tinggal di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo adalah perempuan. Hal
ini dikarenakan mulai banyaknya laki-laki yang merantau keluar daerah untuk
bekerja.
perempuan
52%
laki-laki
48%
Gambar 3 Klasifikasi masyarakat berdasarkan jenis kelamin.
Berdasarkan tingkat pendidikan (Gambar 4) rata-rata dari responden adalah
lulusan Sekolah Dasar (SD). Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat lebih
dikarenakan sulitnya akses untuk menuju sekolah (SMP dan SMA), selain itu
kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan juga menjadi alasan
rendahnya tingkat pendidikan. Masyarakat lebih mengutamakan bekerja
25
(berladang) daripada bersekolah, karena menurut mereka dengan bekerja mereka
bisa mendapatkan uang, sedangkan sekolah jika tidak sampai perguruan tinggi
juga akan menjadi buruh saja. Kondisi ini juga diterapkan kepada anak-anak
mereka, sehingga belum banyak anggota keluarga yang mengenyam pendidikan
hingga tamat SMA. Sutarno selaku ketua RT setempat menyatakan “rendahnya
tingkat pendidikan di daerahnya karena factor biaya yang tidak dapat dipenuhi
oleh masyarakat dan mereka berpendapat bahwa usi sekolah adalah usia produktif
untuk bekerja”.
SMP
19%
SMA
5%
SD
76%
Gambar 4 Klasifikasi masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan.
Masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo mayoritas adalah petani,
53% masyarakat bermata pencaharian utama sebagai petani (Gambar 5).
Meskipun ada beberapa yang bekerja di luar bidang pertanian namun masyarakat
masih menerapkan pertanian misalnya dalam memanfaatkan pekarangan.
Kehidupan bertani adalah pola hidup masyarakat sejak dulu. Meskipun lahan yang
mereka miliki tidak luas atau bahkan tidak memiliki sawah dan ladang namun
masyarakat memanfaatkan lahan sisa di sekitar mereka untuk bercocok tanam.
Hasil dari pertanian tersebut selain untuk dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya juga dimanfaatkan sebagai komoditas pertanian yang
dijual ke pasar lokal hingga keluar daerah, karena daerah ini menjadi salah satu
produsen sayuran. Selain sebagai produsen kebutuhan sayuran di pasar lokal
(Pasar Kemuning), daerah ini juga dapat menjual produk sayurannya hinga ke
daerah Pacitan, Jawa Timur.
26
penjaga
purbakala
1%
swasta
36%
petani
53%
pelajar
10%
Gambar 5 Karakteristik masyarakat berdasar pada pekerjaan.
5.1.2 Pola kehidupan masyarakat
Kehidupan masyarakat sekitar TAHURA dapat dikategorikan pada pola
kehidupan yang teratur. Pagi setelah Sholat Subuh sekitar pukul 05.00-07.00 WIB
mereka sudah berangkat ke hutan untuk mencari rumput sebagai pakan ternak
(biasanya dua sampai tiga kali balik ke tempat araman). Setelah itu mereka
melanjutkan aktifitasnya untuk berladang sambil mencari kayu bakar. kegiatan itu
biasanya dilakukan hingga pukul 14.00 kemudian mereka istirahat sejenak dan
setelah sholat ashar mereka kembali ke hutan atau ke kebun untuk melanjutkan
pekerjaannya hingga menjelang magrib. Setelah itu masyarakat sholat magrib
berjama’ah di masjid yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Setelah magrib
mereka menunggu waktu isya sambil bersosialisasi dengan warga lainnya. Setelah
isya biasanya mereka kembali kerumah dan beristirahat mengumpulkan tenaga
untuk aktifitas esok hari.
Masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo adalah masyarakat yang
ramah. Hal ini ditunjukan dengan sikap mereka yang menyambut baik wisatawan
yang datang setiap harinya. Wisatawan yang datang lebih dominan wisatawan
asing, meskipun mereka terkendala bahasa namun mereka berusaha untuk
memberi sambutan sebaik mungkin.
Keramahan lain yang mereka tunjukan
adalah sapaan hangat mereka terhadap orang-orang baru yang belum mereka
kenal. Tenggang rasa antar mereka juga sangat kuat, tenggang rasa itu lebih
ditunjukan ketika ada salah satu warga yang punya hajatan mereka akan
bergotong royong untuk membantunya, pada kondisi “kesripahan” ada yang
meninggal juga akan sangat tampak kondisi tenggang rasa dan gotong royong
27
mereka. Hal lain yang dapat dilihat adalah ketika ada salah satu yang membangun
rumah maka mereka akan “sambatan” membantu tanpa dibayar.
Masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo juga memiliki pola
kehidupan sehari-hari yang teratur. Masyarakat memiliki pola makan yang teratur,
menurut mereka makan teratur akan membuat mereka terhindar dari masalah
pencernakan. Masyarakat rata-rata makan tiga kali dalam sehari, namun
masyarakat tidak selalu makan nasi. Mereka sering menggantikan nasi dengan
beberapa jenis makanan pengganti seperti singkong, garut, ubi, sukun dan
beberapa jenis lainnya. Selain itu dalam makan masyarakat selalu menggunakan
sayuran, meskipun tidak banyak jenis sayuran yang mereka konsumsi karena
biasanya mereka hanya mengambil dari pekarangan mereka. Meskipun sederhana
masyarakat berusaha untuk memenuhi pola makan yang sehat. Sumber protein
masyarakat berasal dari ikan asin, tempe, tahu dan beberapa jenis makanan
lainnya. Sedangkan sumber vitamin biasanya diperoleh dari buah-buahan. Dengan
pola makan yang sehat masyarakat mengharapkan mereka dapat terhindar dari
penyakit.
Masyarakat juga menerapkan hidup sehat dengan mengkonsumsi obat
herbal. Misalnya dengan mengkonsumsi jahe untuk menghangatkan tubuh
mengingat suhu di daerah ini rendah. Masyarakat juga membuat minuman sendiri,
misalnya untuk teh atau kopi mereka lebih sering membuatnya sendiri secara
manual, bukan mengkonsumsi minuman instan. Namun beberapa pola kehidupan
masyarakat sudah mulai ditinggalkan.
5.1.3
Interaksi mayarakat
Mangkunagro I
dengan
kawasan
TAHURA
KGPAA
Masyarakat sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I masih memenuhi
sebagian kebutuhan hidupnya dari hutan di dalam kawasan TAHURA. Dengan
demikian maka terbentuklah interaksi antara masyarakat dengan kawasan
TAHURA. Namun, saat ini bentuk interaksi tersebut sudah banyak yang
ditinggalkan. Dahulu hampir semua kebutuhan hidup masyarakat dipenuhi dari
dalam kawasan. Misalnya untuk bahan bangunan masyarakat mengambil
tumbuhan dari dalam hutan untuk kayu bakar, bahan bangunan, tanaman hias,
28
pakan ternak dan lain sebagainya mereka masih memanfaatkan sumberdaya yang
ada di dalam hutan.
Sumberdaya yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah tumbuhan.
Misalnya dahulu masyarakat mengambil kayu untuk bahan bangunan dari hutan,
selain bahan bangunan juga ada bahan untuk kerajinan dan beberapa manfaat
lainnya. Namun sekarang bentuk interaksi itu sudah mulai hilang. Masyarakat
mulai mengurangi interaksi mereka terhadap kawasan bukan semata-mata karena
perubahan status kawasan dari milik Perhutani hingga menjadi kawasan
konservasi berupa TAHURA. Kekhawatiran masyarakat terhadap dampak yang
akan timbul seperti bencana alam adalah alasan utama masyarakat mulai
mengurangi interaksi dengan hutan dan mulai mengadakan upaya budidaya.
Masyarakat masih sangat tergantung pada kawasan hutan untuk memenuhi
kebutuhan air, sehingga masyarakat akan menjaga sumber air tersebut untuk
menjamin kebutuhan mereka.
Masyarakat tidak benar-benar melepaskan kebutuhannya dari hutan, mereka
masih melakukan interaksi dengan hutan untuk beberapa kebutuhan. Pemanfaatan
plasma nutfah dari dalam hutan juga merupakan bentuk interaksi. Misalnya
masyarakat banyak membudidayakan spesies penting dari hutan untuk memenuhi
kebutuhannya. Contoh budidaya tersebut antara lain sudah banyaknya spesies
penting seperti garut, ganyong dan gadung yang mulai dikembangkan sebagai
tumbuhan pangan. Banyaknya budidaya watel dan suren sebagai bahan kayu
bangunan. Bentuk interaksi yang masih ada hingga saat ini adalah dalam mencari
kayu bakar dan membudidayakan pakan ternak. Selain untuk kebutuhan kayu
bakar dan pakan ternak masyarakat berusaha untuk membudidayakan spesies yang
mereka manfaatkan. Budidaya yang dilakukan oleh masyarakat merupakan salah
satu bentuk upaya konservasi.
5.2 Pemanfaatan Tumbuhan
Pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat sekitar TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I diperoleh dari hasil wawancara pada 34 responden yang
mewakili setiap keluarga. Klasifikasi responden berdasarkan kelar umur dapat
dilihat pada gambar 6. Responden paling banyak adalah kelas umur 41-55 tahun,
29
hal ini dikarenakan masyarakat pada kelas umur tersebut masih banyak
mengetahui pemanfaatan tumbuhan dan masih mudah untuk berkomunikasi.
Responden yang usianya lebih dari 55 tahun lebih banyak mengetahui
mengenai pemanfaatan tumbuhan obat. Hal ini dikarenakan masyarakat tersebut
mengetahui langsung pemanfaatannya dan masih menerapkan pemanfaatan
Jumlah responden
tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
20
15
10
5
0
15
3
8
< 25
25-40
8
41-55
>55
Umur
Gambar 6 Klasifikasi responden berdasar kelas umur.
Responden dalam wawancara mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagian
besar adalah laki-laki yaitu sebanyak 53% (Gambar 7). Hal ini dikarenakan lakilaki lebih banyak mengetahui pemanfaatan tumbuhan terutama yang digunakan
sebagai bahan bangunan, pakan ternak dan kayu bakar. Meskipun demikian ada
pula responden perempuan.
Perempuan
47%
Laki‐
laki
53%
Gambar 7 Klasifikasi responden berdasarkan jenis kelamin.
Masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo masih tergantung
terhadap tumbuhan yang terdapat di sekitar tempat tinggal mereka, baik dari hutan
di sekitar mereka (kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I), di ladang milik
mereka bahkan di pekarangan yang berada disekeliling rumah mereka. Tumbuhan
yang diambil langsung dari hutan biasanya adalah untuk pakan ternak, kerajinan
dan kayu bakar. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya masyarakat
memanfaatkan tumbuhan yang ada di ladang maupun pekarangan milik pribadi.
30
Tumbuhan yang berasal dari ladang maupun pekarangan sebagian besar
dimanfaatkan untuk obat dan pangan. Sedangkan untuk bahan bangunan
terkadang mereka memperolehnya dari hutan atau sengaja menanamnya di ladang
milik mereka. Namun sekarang untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan
masyarakat lebih memilih untuk membeli dan enggan untuk mengambilnya di
hutan. Selain karena masyarakat mulai menyadari dengan status kawasan,
masyarakat juga enggan mengambil kayu di hutan karena mereka khawatir akan
dampak yang ditimbulkan (bencana alam).
Meskipun hutan yang ada di sekitar masyarakat adalah kawasan TAHURA
namun pemanfaatan untuk masyarakat masih tinggi, hal ini dikarenakan pada
awalnya kawasan tersebut adalah milik Perhutani yang dikelola bersama
masyarakat. Pada saat kawasan masih dikelola oleh Perhutani, masyarakat diberi
hak untuk memanfaatkan lahan di bawah tegakan pinus untuk membudidayakan
pakan ternak, hingga pada akhirnya dibuat kesepakatan antara masyarakat dan
Perhutani bahwa masyarakat boleh memanfaatkan lahan seluas lahan yang mereka
bersihkan dan mereka tanami rumput. Pemanfaatan tersebut masih berlangsung
hingga saat ini. Lahan untuk menanam rumput tersebut disebut dengan “araman”.
Masyarakat
sekitar
TAHURA
KGPAA
Mangkunagoro
I
selain
memanfaatkan tumbuhan dari hutan secara langsung juga memanfaatkan plasma
nutfah yang berasal dari dalam kawasan TAHURA. Hal ini dapat dilihat dari
spesies yang dibudidayakan oleh masyarakan pada awalnya adalah spesies liar
yang
ada
dihutan.
Karena
kebutuhan
masyarakat
maka
masyarakat
membudidayakan spesies-spesies yang banyak dimanfaatkan. Pembudidayaan
spesies liar dari hutan tersebut bertujuan agar masyarakat dapat tetap
memanfaatkan spesies tersebut tanpa khawatir akan kelangkaan. Selain itu dengan
budidaya tersebut masyarakat lebih mudah dalam mengambil spesies tumbuhan
yang dimanfaatkan, karena sudah ada di sekitar mereka.
Jumlah spesies tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
TAHURA KGPAA Mangkunagoro I tergolong rendah. Tumbuhan yang
dimanfaatkan terdiri dari 140 spesies dari 57 famili. Pemanfaatan paling banyak
adalah untuk bahan pangan diikuti tumbuhan obat (Gambar 8). Karena
31
pemanfaatan paling banyak adalah pada bahan pangan sehingga masyarakat lebih
tergantung dari tumbuhan hasil budidaya.
Spesies tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah sebagai bahan
pangan, hal ini dikarenakan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia.
Menurut masyarakat sulitnya akses dan mahalnya harga bahan pangan di pasaran
membuat masyarakat harus mengupayakan untuk dapat memenuhi kebutuhan
pangan dari lingkungan mereka, yaitu dengan memanfaatkan sumberdaya yang
ada di sekitar mereka. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat adalah dengan
membudidayakan spesies yang dapat digunakan sebagai bahan pangan. Sehingga
Pemanfaatan tumbuhan
kebutuahan akan pangan akan tetap dapat dipenuhi.
Pangan
Obat
Kayu bakar
Tanaman hias
Bahan bangunan
Ritual keagamaan
Pakan ternak
Bahan kerajinan
Petisida nabati
Bahan pewarna
78
64
16
14
10
8
8
7
5
2
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
Jumlah spesies
Gambar 8 Pemanfaatan tumbuhan berdasarkan kelompok penggunaan.
Jika dibandingkan dengan penelitian etnobotani di sekitar kawasan
konservasi lain maka dapat dilihat tidak terlalu banyak perbedaan jenis
pemanfaatan (Tabel 3). Pada penelitian ini pemanfaatan tumbuhan untuk bahan
minuman tidak dikelompokan secara khusus karena termasuk dalam bahan
pangan.
Tabel 3 Perbandingan hasil etnobotani di beberapa kawasan konservasi
Lokasi
1
64
2
78
Kelompok pemanfaatan tumbuhan *
3
4
5 6
7
8
9 10
2 10
8
4
0
8
14
7
11
16
Sumber
TAHURA KGPAA
Penelitiaan ini
Mangkunagoro I
(2012)
CA Gunung Simpang
74 62 4 14 12 5 12 19 35 14
9
Handayani (2010)
TN Gunung Merapi
47 40 2 13
7
4
7
20 11
6
11 Anggana (2011)
TN Bromo Tengger
30 31 0
3
4
0
0
3
15
0
3
Novitasari (2011)
Semeru
TN Gunung Ciremai
37 15 5 22
8
5
9
4
29
7
6
Arizona (2011)
*) Keterangan :1)obat, 2)pangan, 3) pewarna, 4)bahan bangunan, 5)pakan ternak, 6) pestisida nabati,
7) aromatik, 8) ritual/adat, 9) hias, 10) bahan kerajinan, tali dan anyaman, 11) kayu bakar.
32
Hasil wawancara yang dilakukan dengan masyarakat sekitar TAHURA
diperoleh 140 spesies dari 57 famili. Tumbuhan yang dimanfaatkan untuk
berbagai jenis pemanfaatan (Lampiran 1). Famili dengan jumlah spesies yang
Famili
terbanyak dimanfaatkan adalah Fabaceae sebanyak 13 spesies.
Fabaceae
Poaceae
Zingiberaceae
Solanaceae
Myrtaceae
Moraceae
Euphorbiaceae
Rubiaceae
Rosaceae
Lauraceae
13
12
8
8
6
5
5
4
4
4
0
2
4
6
8
10
12
14
Jumlah spesies
Gambar 9 Keanekaragaman tumbuhan dari 10 famili dengan spesies terbanyak.
Tabel 4 Data total pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat sekitar TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I
Bentuk
Pemanfaatan
tumbuhan
Pangan
Obat
Kayu Bakar
∑
Spesies
∑
Famili
79
63
16
34
33
14
Tanaman Hias
Bahan Bangunan
Ritual
Keagamaan
14
10
10
12
9
7
Pakan Ternak
Pestisida Nabati
8
4
4
4
Bahan Pewarna
2
2
Sumber
Famili dominan
Fabaceae
Zingiberaceae
Meliaceae,
Myrtaceae
Araceae, Fabaceae
Fabaceae
Lauraceae,
Magnoliaceae,
Poaceae
Poaceae
Euphorbiaceae,
Meliaceae,
Myrtaceae,
Solanaceae
Vebernaceae,
Zingiberaceae
Hutan
Ladang
Pekarangan
4
10
13
50
25
1
24
28
2
3
10
4
3
0
4
8
0
2
7
1
1
3
0
0
0
1
1
Famili yang banyak dimanfaatkan adalah Fabaceae. Fabaceae atau yang
biasa dikenal dengan polong-polongan termasuk dalam lima kelompok famili
terbesar. Fabaceae mudah tumbuh bahkan di tanah yang kurang subur sekalipun.
33
Spesies dari famili ini biasanya digunakan untuk menyuburkan tanah karena
kemampuannya dalam mengikat nitrogen dan menggemburkan tanah. Selain itu
pemanfaatan Fabaceae seperti kacang kedelai (Glycine max), kacang merah
(Vigna umbellate), kacang hijau (Vigna Radiata) dan beberapa spesies lain
dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan meskipun bukan
sebagai pangan pokok. Spesies dari Fabaceae juga banyak dibudidayakan oleh
masyarakat untuk tanaman sela antar tanaman pokok maupun untuk tanaman
Jumlah
perantara dimusim sayur sehingga kesuburan tanah tersebut dapat terjaga.
60
50
40
30
20
10
0
57
38
19
herba
1
1
2
lumut
palem
bambu
11
11
liana
semak
perdu
pohon
Habitus
Gambar 10 Habitus tumbuhan yang dimanfaatkan.
Dari 140 spesies tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat terdiri dari
8 habitus. Habitus tersebut terdiri dari pohon, semak, perdu, herba, liana, lumut,
palem dan bambu. Dalam pemanfaatnnya spesies yang digunakan sebagian besar
habitus herba sebesar 41% (57spesies) dan yang paling sedikit adalah palem dan
lumut masing-masing 1% (1 spesies) (Gambar 10). Herba adalah spesies dengan
batang lunak dan tidak akan menjadi kayu.
Sebagian besar tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat berasal dari
ladang (40%). Hanya 28% tumbuhan yang dimanfaatkan yang berasal dari hutan
(Gambar 11). Tumbuhan yang berasal dari hutan sebagian besar adalah yang
dimanfaatkan untuk kayu bakar dan pakan ternak. Sedikitnya tumbuhan yang
diambil dari hutan berkaitan dengan status hutan yang sebagai kawasan
konservasi. Namun selain itu sedikitnya pemanfaatan tumbuhan dari dalam hutan
secara langsung adalah sudah banyaknya spesies yang dibudidayakan oleh
masyarakat seperti garut dan spesies lainnya. Sehingga selain pemanfaatan secara
langsung bentuk pemanfaatan keanekaragaman spesies tumbuhan sebagai sumber
plasma nutfah juga sebagai bentuk pemanfaatan spesies tumbuhan.
34
hutan
28%
pekarangan
32%
ladang
40%
Gambar 11 Persen habitat.
Masyarakat sudah menerapkan sistem budidaya terhadap tumbuhan yang
sering dimanfaatkan. Budidaya merupakan salah satu bentuk konservasi terhadap
spesies tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Tumbuhan yang banyak
dibudidaya antara lain tumbuhan obat, pangan dan pakan ternak. Sebagian besar
tumbuhan yang dimanfaatkan berasal dari hasil budidaya (78%) (Gambar 12).
Budidaya tumbuhan yang dimanfaatkan dilakukan di pekarangan sekitar tempat
tinggal, ladang bahkan di hutan dalam kawasan TAHURA. Tumbuhan yang
dibudidayakan di hutan adalah tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pakan
ternak, karena masyarakat membudidayakan di tempat araman mereka.
hutan
22%
budidaya
78%
Gambar 12 Persen budidaya.
5.2.1 Tumbuhan pangan
Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pangan
mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia. Tumbuhan pangan biasanya
mengandung karbohidrat, protein, lemak dan zat-zat penting yang dibutuhkan oleh
manusia. Tumbuhan pangan dapat berupa tumbuhan untuk pangan, bahan
minuman hingga tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bumbu. Bagian tumbuhan
yang dimanfaatkan sebagai pangan antara lain umbi, buah, daun dan kayu.
Menurut Anggana (2011) kebutuhan akan bahan pangan merupakan
kebutuhan dasar yang tidak dapat tergantikan. Seperti halnya masyarakat sekitar
pegunungan yang menggantungkan hidupnya dari lahan pertanian dan
tumpangsari, seperti buah, sayur dan umbi-umbian. Dengan iklim yang
35
mendukung banyak sayuran yang dibudidayakan oleh masyarakat, selain untuk
memenuhi kebutuhan juga digunakan untuk komoditas perdagangan.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan pada masyarakat
sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I terdiri dari 78 spesies dari 34 famili
(Lampiran 4). Famili yang banyak dimanfaatkan adalah Fabaceae terdiri dari 9
spesies (Gambar 13). Spesies yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai
bahan pangan dari famili Fabaceae adalah jenis kacang-kacangan seperti kapri,
kacang hijau, kacang panjang, kacang tanah dan beberapa spesies lain. Menurut
masyarakat spesies yang mereka manfaatkan dari famili Fabaceae juga
dimanfaatkan sebagai penyubur tanah, spesies tersebut dapat menggemburkan
tanah. Sehingga spesies tersebut sering ditanam oleh masyarakat sebagai tanaman
Jumlah Spesies
perantara musim tanaman.
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
9
7
5
4
4
Famili
Gambar 13 Lima famili yang banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan pangan.
Bagian tumbuhan yang banyak digunakan adalah buah (Gambar 14). Buah
banyak dimanfaatkan karena mudah dimanfaatkan dalam jumlah banyak (satu
tanaman dapat menghasilkan lebih dari satu buah). Tanaman buah juga mudah
dibudidayakan di lahan milik masyarakat. Baik di pekarangan maupun ladang.
Buah sebagai bagian yang dimanfaatkan juga dapat menjaga kelestarian
spesies tumbuhan tersebut. Karena dengan pemanfaatan buah maka tidak harus
mematikan spesies tumbuhan tersebut, lain halnya dengan pemanfaatan akar
karena dengan pemanfaatan akar maka tumbuhan tersebut sudah tidak dapat
melanjutkan hidupnya.
36
45
41
40
Jumlah spesies
35
30
25
20
14
15
11
10
5
4
1
1
1
1
air
batang
herba
kulit
kayu
6
0
bunga rimpang umbi
daun
buah
Bagian yang digunakan
Gambar 14 Bagian tumbuhan yang banyak dimanfaatkan untuk pangan.
Gambar 15 Tumbuhan kol.
Spesies tumbuhan pangan yang berpotensi untuk dikembangkan antara
lain ganyong, garut, gadung dan sukun karena spesies tersebut banyak
dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan pengganti nasi. Pada awalnya
masyarakat memperoleh spesies-spesies tersebut dari hutan sekitar tempat tinggal
mereka namun sekarang sudah banyak dibudidayakan di kebun dan di
pekarangan. Menurut masyarakat alasan mereka melakukan budidaya tersebut
adalah untuk memudahkan mereka dalam pemanfaatan spesies tersebut dan tidak
harus mengambil dari hutan sehingga hutan akan tetap lestari.
Spesies yang banyak dibudidayakan antara lain garut, gadung, ubi rambat,
sukun, singkong. Spesies yang sudah menjadi komoditas utama dalam
perdagangan di pasar adalah ubi rambat yang dikenal oleh masyarakat sebagai telo
37
wungu. Namun selain itu sukun dan singkong juga sudah mulai banyak
dibudidayakan oleh masyarakat. Sedangkan untuk spesies yang baru mulai
dibudidayakan namun belum terlalu banyak dikenal di masyarakat di pasar adalah
garut.
Garut belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, karena terbatasnya
sumberdaya dan belum banyaknya masyarakat yang mengetahui manfaat dari
spesies tersebut. Menurut Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan garut selain
berfungsi sebagai bahan pangan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan obatobatan (mendinginkan perut, disentri, eksim, memperbanyak ASI, penyembuh
borok dan mengobati sengatan lebah) dan bahan baku industri (bahan kosmetik,
lem dan minuman beralkohol)
Selain spesies yang dikembangkan sebagai tumbuhan pangan pengganti
nasi, tumbuhan pangan yang banyak dibudidayakan adalah tumbuhan yang
menjadi komoditas perdagangan dari daerah ini. Spesies yang menjadi komoditas
perdagangan antara lain jenis sayuran (wortel, kol, kapri, daun bawang, cabai,
kentang, dan beberpa spesies lainnya), buah-buaham (jeruk, alpukat, nangka,
pisang, dan beberapa spesies lainnya), ubi jalar, singkong dan beberapa spesies
rempah-rempah.
Darwanto (2010) menyatakan bahwa kondisi saat ini menunjukan
ketersediaan bahan pangan semakin tergantung pada impor sehingga menurunkan
motivasi petani untuk meningkatkan produksi bahan pangan karena harga produk
yang rendah. Namun kenyataan yang ada pada masyarakat justru berbeda, dengan
banyaknya bahan pangan impor masyarakat justru kesulitan untuk memenuhi
kebutuhannya. Dengan demikian dibutuhkan adanya produsen lokal untuk bahan
pangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi masyarakat
Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo sebagai produsen bahan pangan terutama
sayuran
akan
dapat
membantu
masyarakat
sekitar
dalam
memenuhi
kebutuhannya. Masyarakat menjual produk hasil pertaniannya untuk masyarakat
lokal.
Penjualan hasil pertanian tersebut selain di pasar lokal (Pasar Kemuning)
juga dapat mencapai Pasar di daerah Pacitan, Jawa Timur. Alur penjualannya
adalah adanya tengkulak yang datang ke petani dan membeli hasil pertanian
38
masyarakat, kemudian tengkulak tersebut menjualnya ke pedagang di pasar.
Dengan alur yang seperti itu masyarakat mengalami kerugian, karena biasanya
tengkulak membeli dengan harga yang rendah dari petani, namun dapat
menjualnya ke pedagang dengan harga yang tinggi. Tetapi masyarakat tidak dapat
menjual hasil pertanian mereka secara langsung tanpa melalui tengkulak. Hal ini
dikarenakan masyarakat tidak memiliki akses langsung kepedagang yang ada di
pasar. Sehingga masyarakat sangat mengharapkan adanya upaya dari Pemerintah
Daerah setempat untuk dapat mengatur pola perdagangan sayuran di daerah
tersebut terutama dalam pengendalian harga sayuran. Misalnya dengan membuat
sentra agroindustri sebagai tempat masyarakat menjual hasil peertaniannya
dibawah pengawasan pemerintah daerah setempat.
Gambar 16 Suasana perdagangan sayuran di pasar lokal.
5.2.2 Tumbuhan obat
Tumbuhan obat adalah segala spesies tumbuhan yang memiliki khasiat
untuk mengobati penyakit. Tumbuhan obat juga diartikan segala jenis tanaman
yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan
maupun pencegahan penyakit. Pengertian khasiat obat adalah mengandung zat
yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau jika tidak mengandung zat
39
tertentu mengandung efek dari berbagai zat yang berfungsi mengobati. Tumbuhan
yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk obat sebanyak 63 spesies dari
35 famili (Lampiran 3).
Spesies yang banyak digunakan sebagai tumbuhan obat paling banyak dari
famili Zingiberaceae (Gambar 16). Famili ini banyak digunakan sebagai
tumbuhan obat karena selain berkhasiat sebagai tumbuhan obat, spesies tumbuhan
dari famili ini juga banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan pangan (biasanya
sebagai bumbu). Spesies dari famili Zingiberaceae relatif mudah untuk tumbuh
dan tidah membutuhkan perawatan khusus, sehingga banyak di budidayakan oleh
masyarakat, selain itu spesies dari famili Zingiberaceae juga sebagai komoditas
yang diperdagangkan. Spesies dari famili ini lebih banyak dibudidayakan di
Famili
pekarangan rumah warga.
Zingiberaceae
Solanaceae
Myrtaceae
Poaceae
Lauraceae
Lamiaceae
Cucurbitaceae
Asteraceae
Apiaceae
Rubiaceae
7
4
4
3
3
3
3
3
3
2
0
2
4
6
8
Jumlah spesies
Gambar 17 Keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan
obat.
Setiap tumbuhan memiliki khasiat yang berbeda-beda. Namun beberapa
jenis dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang sama atau beberapa
penyakit yang berbeda dapat di obati dengan jenis yang sama. Selain beda
khasiatnya, cara menggunakan dan bagian yang digunakan juga dapat berbeda.
Hal ini dikarenakan setiap bagian tumbuhan memiliki kandungan yang berbeda.
Bagian tumbuhan yang umum digunakan untuk obat antara lain daun, akar,
batang, kulit kayu, bahkan semua bagian tumbuhan.
40
Hasil wawancara menunjukan bahwa bagian yang paling banyak digunakan
untuk tumbuhan obat adalah daun (Gambar 17). Dengan dimanfaatkannya daun
maka tidak akan memberikan pengaruh yang tinggi terhadap kelangsungan hidup
tumbuhan tersebut. Menurut Fakhrozi (2009) daun memiliki regenerasi yang
tinggi untuk kembali bertunas dan tidak memberi pengaruh yang besar terhadap
pertumbuhan suatu tanaman meskipun daun merupakan tempat fotosintesis.
Dengan pemanfaatan pada daun maka tidak perlu mematikan spesies tersebut,
sehingga tidak akan terlalu banyak berpengaruh pada kelangsungan hidup
individu yang dimanfaatkan. Meskipun demikian pemanfaatannya juga harus
diperhatikan, karena pemanfaatan yang berlebih juga akan mengganggu proses
kehidupan individu tersebut.
28
30
Jumlah spesies
25
21
20
15
10
5
1
1
1
2
2
4
5
7
0
Bagian yang digunakan
Gambar 18 Bagian yang digunakan untuk tumbuhan obat.
Damayanti (2003) mengategorikan spesies tumbuhan obat penting menjadi
tiga yaitu (1) spesies yag paling banyak diketahui oleh masyarakat, (2) spesies
yang paling banyak untuk mengobati satu jenis penyakit, dan (3) jenis yang paling
bermanfaat untuk pengobatan. Jika dilihat pada kondisi masyarakat Dukuh Sukuh
dan Dukuh Gondangrejo berdasarkan pada keterangan responden tidak banyak
jenis penyakit yang sering diderita oleh masyarakat. Jenis penyakit yang sering
diderita adalah penyakit ringan yang mudah untuk disembuhkan. Penyakit yang
paling sering diderita adalah tekanan darah tinggi, masuk angin, diare, demam,
pegal-linu dan beberapa jenis lainnya. Sehingga spesies tumbuhan yang paling
banyak dimanfaatkan adalah spesies tumbuhan yang dapat digunakan untuk
41
menyembuhkan penyakit yang mereka derita atau hanya sekedar pengetahuan
mengenai spesies tumbuhan yang dapat digunakan (Lampiran 3).
Jenis penyakit yang dapat digolongkan penyakit yang berat yang didertia
masyrakat adalah diabetes. Namun dari hasil wawancara ternyata ada satu warga
masyarakat yang meninggal akibat kanker payudara. Penyakit kanker itu
merupakan satu-satunya kejadian dalam masyarakat tersebut yang sampai
menyebabkan kematian. Karena menurut masyarakat rata-rata warga yang
Jenis penyakit
meninggal diakibatkan oleh faktor usia, bukan dari faktor penyakit.
menurunkan tekanan darah ringgi
diabetes
pegal-linu
melancarkan pencernakan
melancarkan asi
masuk angin
diare
demam
campuran obat
sariawan
8
4
3
3
3
3
3
3
3
2
0
5
10
Jumlah spesies
Gambar 19 Jenis penyakit yang paling banyak disembuhkan.
Spesies tumbuhan obat penting berdasar pada kondisi masyarakat adalah
spesies yang banyak dimanfaatkan untuk mengobati tekanan darah tinggi.
Masyarakat banyak memanfaatkan tumbuhan obat untuk menurunkan tekanan
darah tinggi, misalnya spesies seperti alpukat, labu siam, belimbing, mengkudu,
salam dan mentimun untuk mengobati tekanan darah tinggi.
Kristianti (2012) menyatakan bahwa tekanan darah tinggi atau hipertensi
adalah kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis.
Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh gaya hidup, stress, alkohol atau
kelebihan konsumsi garam dalam makanan. Mentimun (Cucumis sativus) salah
satu spesies yang digunakan sebagai obat hipertensi karena dalam biji buahnya
mengandung zat asetilkolin, karotin dan minyak lemak. Labu (Sechium edule)
yang biasa mereka sebut dengan jipan juga sering dimanfaatkan untuk mengobati
tekanan darah tinggi.
42
Masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari paling banyak memanfaatkan
labu siam atau yang lebih mereka kenal dengan jipan untuk mengobati tekanan
darah tinggi. Labu yang diambil adalah yang berwarna hijau tua, kemudian kupas
kulitnya, cuci dengan air matang kemudian diparut dan diperas. Air hasil perasan
tersebut dapat langsung diminum. Biasanya untuk mengobati tekanan darah tinggi
masyarakat mengkonsumsi dua kali dalam sehari, yaitu pada pagi dan malam hari.
Namun jika kondisi sudah mulai membaik atau gejala yang mereka rasakan untuk
darah tinggi sudah berkurang, masyarakat juga akan mengurangi dosis yang
mereka minum.
a
b
b
Gambar 20 Spesies tumbuhan obat a) Janggelan, b) Labu.
Pada saat ini pemanfaatan tumbuhan untuk obat sudah mulai menurun. Hal
ini dikarenakan semakin terbatasnya sumberdaya yang dapat dimanfaatkan dan
mulai adanya perkembangan jaman. Responden juga mengakui bahwa saat ini
mereka lebih banyak menggunakan obat kimia daripada obat herbal. Hal ini
dikarenakan penggunaan obat kimia lebih praktis daripada penggunaan obat
herbal. Selain itu takaran dan dosisnya pun lebih jelas.
Hasil wawancara dengan responden sebenarnya responden masih memiliki
pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan obat, namun beberapa spesies
yang dulu digunakan oleh masyarakat sudah sulit untuk ditemukan di hutan
misalnya akar parem yang dulu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati
keseleo, memar, retak dan pegal-linu. Namun jenis tersebut sekarang sudah tidak
dapat ditemukan lagi. Menurut keterangan masyarakat spesies tersebut dulunya
hanya terdapat di hutan kawasan TAHURA, spesies tersebut sulit untuk
dibudidayakan oleh masyarakat.
Sebenarnya responden lebih percaya dengan obat dari tumbuhan karena
sudah turun-temurun, karena beberapa alasan masyarakat lebih cenderung
43
menggunakan obat kimia. Alasan utama masyarakat sudah mulai berkurang dalam
pemanfaatan tumbuhan sebagai obat selain sulitnya memperoleh spesies yang
akan digunakan, proses yang perlu dilakukan sebelum dapat menggunakan
tumbuhan sebagai obat yang menurut mereka kurang praktis juga menjadi alasan.
Harapan masyarakat adalah adanya obat herbal yang praktis dan siap konsumsi.
Masyarakat juga mengharapkan adanya klinik pengobatan herbal seperti yang ada
di daerah Tawangmangu. Klinik obat herbal yang mereka harapkan adalah klinik
yang ada di bawah Dinas Kesehatan, bukan klinik herbal milik swasta.
Selain itu dapat diupayakan pula TOGA (Tanaman Obat Keluarga),
mengingat masih banyaknya lahan yang dapat digunakan di sekitar tempat tinggal
yaitu pekarangan yang cukup luas dapat dikembangkan TOGA. Namun untuk
mewujudkan hal tersebut harus dilakukan sosialisasi terhadap masyarakat
mengenai pentingnya menyediakan tumbuhan obat di sekitar tempat tinggal
mereka.
Menurut Ikhsan (2010) ternyata, banyak tumbuhan obat yang dapat ditanam
di tanah sempit dan tidak perlu perawatan yang njlimet, bahkan banyak yang tidak
perlu dirawat (dibiarkan saja tumbuh alami). Untuk menanam tanaman obat di
lingkungan rumah hanya memerlukan sedikit pengetahuan mengenai tumbuhan
obat dan keterampilan untuk menanam. Untuk mewujudkan TOGA atau apotik
hidup di pekarangan tidak membutuhkan modal yang besar dan tidak menyita
banyak waktu, karena spesies tumbuhan tersebut dapat ditanam satu persatu sesuai
dengan kebutuhan dan tidak perlu menanam semua spesies tumbuhan tetapi cukup
menanam spesies yang akan dibutuhkan oleh keluarga saja.
Menurut Septiatin (2009) bahan baku untuk obat tradisional terdiri dari
tumbuhan rempah-rempah, tanaman hias dan tumbuhan liar. Spesies tumbuhan
rempah-rempah akrab oleh ibu-ibu rumah tangga karena selain bermanfaat untuk
bumbu masakan sebagian besar memiliki khasiat untuk obat, misalnya jahe,
kunyit, kencur, temulawak dan lain sebagainya.
Manfaat lain yang diharapkan dengan adanya TOGA yang dikembangkan
oleh masyarakat adalah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sebagai
pemasok bahan baku utama untuk jamu, mengingat Kabupaten Karanganyar
memiliki pabrik jamu yang cukup besar dan banyak usaha kecil pembuatan jamu
44
gendong. Selain itu diharapkan dapat sebagai daerah percontohan dalam
pengambangan kemandirian masyarakat terhadap kesehatan masyarakat itu
sendiri.
Tumbuhan obat yang terdapat di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo
banyak yang diminati oleh produsen jamu. Spesies yang diminati anta lain adalah
kina (Cinchona pubescens) dan beberapa spesies tumbuhan yang dapat digunakan
sebagai campuran obat seperti kingkong (Eupatorium triplinerve). Pemanfaatan
kulit pohon kina yang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku obat malaria masih
diambil dari hutan di kawasan TAHURA. Belum ada masyarakat yang
membudidayakan spesies tersebut di pekarangan maupun kebun. Menurut
pengelola TAHURA aktifitas masyarakat yang mengambil kulit kina di dalam
kawasan tersebut sebenarnya mengancam keestarian spesies-spesies kina tersebut,
namun disisi lain masyarakat ikut serta dalam pengawasan terhadap kelestarian
spesies yang ada di dalam kawasan tersebut. Selain kina, kingkong juga banyak
dimanfaatkan untuk campuran jamu karena kingkong dapat digunakan untuk
mengurangi rasa pahit dari bahan baku utama pembuatan jamu.
a
b
Gambar 21 a) Kondisi pohon kina yang sudah dikuliti, b) Kingkong.
Spesies tumbuhan obat yang banyak diperjual-belikan oleh masyarakat dan
sudah banyak dibudidayakan adalah spesies dari famili Zingiberceae. Spesies
tersebut antara lain lengkuas, jahe, kunyit, temu kunci, temulawak, temu ireng dan
beberapa spesies lainnya. Untuk spesies dari Zingiberaceae langsung dijual ke
pasar lokal yang ada di daerah tersebut, hal ini berbeda dengan spesies kina dan
kingkong yang langsung dijual pada tengkulak yang kemudian dijual ke pabrik
maupun produsen jamu.
45
Gambar 22 Spesies tumbuhan yang diperjual-belikan sebagai tumbuhan obat.
5.2.3 Tumbuhan penghasil pakan ternak
Selain bertani masyarakat juga banyak yang mengembangkan ternak.
Namun ternak yang dikembangkan bukan untuk diperjual-belikan namun untuk
memenuhi kebutuhan sendiri. Hampir seluruh masyarakat memiliki
hewan
ternak, sehingga kebutuhan akan pakan ternak juga menjadi kebutuhan penting
masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo. Kebutuhan pakan tersebut
dipenuhi dengan rumput yang mereka tanam di tempat araman di hutan dalam
kawasan TAHURA.
Ada 8 spesies dari 4 famili tumbuhan yang banyak ditanam oleh masyarakat
di tempat araman (lahan di dalam hutan kawasan TAHURA yang digunakan
untuk budidaya pakan ternak) mereka. Antara lain rumput A (Panicum sp.),
rumput B (Strobilanthes sp), rumput C (Oplismenus compositus), rumput D
(Isachne sp.), tumbuhan bawah H (Rubia cordifolia), kalanjana (Pennisetum
purpureum) dan singkong (Manihot Utilissima). Selain jenis tumbuhan yang
mereka tanam di tempat araman, masyarakat juga memanfaatkan daun-daun dari
sayuran yang tidak dimanfaatkan oleh manusia. Misalnya daun labu siam, daun
jagung, daun ubi dan jenis-jenis daun lainnya.
Gambar 23 Rumput pakan ternak.
46
5.2.4 Tumbuhan hias
Tumbuhan hias adalah tumbuhan yang memiliki nilai estetika. Selain itu
tumbuhan tersebut dapat berupa tumbuhan yang ada di sekitar masyarakat yang
dapat memberikan hiburan atau rasa senang bagi setiap orang yang menikmatinya.
Jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan hias adalah hasil budidaya.
Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan hias terdiri dari 14
spesies dari 12 famili. Tumbuhan yang paling banyak ditemui di rumah
masyarakat adalah jemani (Anthurium jemani), lidah buaya (Aloe vera), hokeri
(Anthurium hokeri) dan lidah mertua ( Sansevieria trifasciata).
Gambar 24 Anthurium jemani.
Menurut sejarahnya sekitar tahun 2007 anturium terutama spesies jemani
adalah tumbuhan yang banyak dibudidayakan masyarakat karena pada saat itu
jemani memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Sehingga banyak masyarakat yang
membudidayakan jemani untuk sumber pendapatan. Namun pada saat ini harga
jemani sudah sangat rendah sehingga masyarakat lebih memilih untuk
memanfaatkan tumbuhan tersebut sebagai tumbuhan hias. Hilangnya harga
anturium tersebut bermula dari kejadian bencana alam berupa tanah longsor yang
terjadi di Tawangmangu. Menurut keterangan masyarakat kejadian tersebut
diakibatkan karena hutan yang ada disekitar lokasi bencana tersebut sudah mulai
rusak dengan aktivitas manusia yang memanfaatkan pakis secara besar-besaran
dari dalam hutan.
Menurut
hasil
wawancara
hingga
sekarang
masyarakat
masih
membudidayakan beberapa spesies tumbuhan tersebut (Gambar 25) dan berharap
suatu saat akan memiliki nilai jual kembali. Namun selain dari spesies anturium
47
masyarakat juga banyak membudidayakan spesies tanaman hias yang mereka jual
di daerah wisata sekitar mereka hingga ke Tawangmangu.
:tempat budidaya tanaman hias
Gambar 25 Budidaya tanaman hias.
5.2.5 Tumbuhan untuk keperluan ritual adat dan keagamaan
Hasil wawancara yang dilakukan pada masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh
Gondangrejo hanya mendapatkan 8 spesies yang sering dimanfaatkan untuk
kebutuhan ritual dan keagamaan. Tumbuhan tersebut biasanya dimanfaatkan
untuk pelengkap sesajen atau untuk bunga sekaran (di tabur di makam dan tempat
keramat). Spesies tumbuhan tersebut antara lain bunga yang sering disebut dengan
bunga setaman yang terdiri dari bunga kantil (Michelia alba), mawar (Rosa sp.)
dan melati (Jasminum sambac). Selain itu juga sering dimanfaatkan kemenyan
(Styrax officinalis) sebagai pelengkap untuk sesajen atau nyekar.
Selain untuk kebutuhan nyekar dan sesajen masyarakat juga percaya jika di
rumah mereka di tanam bambu kuning (Bambusa vulgaris) maka mereka akan
terlindungi dari makhluk halus. Spesies tumbuhan lain yang juga sering
dimanfaatkan untuk ritual dan keagamaan adalah beras ketan (Oryza Sativa
glotinosa) dan awar-awar (Ficus septica).
Gambar 26 Awar-awar.
48
5.2.6 Tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan kerajinan
Beberapa masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo sering
membuat kerajinan untuk dimanfaatkan sendiri bahkan untuk dijual.
Bentuk
kerajinan yang dibuat oleh beberapa masyarakat adalah anyaman tikar dari bahan
mendong (Fimbristylis globulods). Dahulu masyarakat banyak membuat tikar
untuk dijual, namun karena keterbatasan bahan baku untuk membuat tikar tersebut
saat ini masyarakat sudah tidak dapat membuat tikar dari mendong.
Sulitnya memperoleh bahan baku untuk membuat kerajinan memang
menjadi alasan utama, namun kurangnya promosi dan sulitnya pemasaran juga
menjadi faktor mulai hilangnya kearifan masyarakat dalam membuat tikar dari
mendong. Bagi masyarakat jika ada alur pemasaran yang jelas sebenarnya masih
banyak usaha yang bisa diupayakan untuk memperoleh bahan baku tersebut. Tikar
dari mendong sekarang sudah tidak banyak diminati lagi, karena banyaknya tikar
dari bahan lain yang lebih banyak diminati di pasaran. Harapan masyarakat adalah
dapat mengembangkan usaha dalam membuat tikar seiring dengan pengembangan
kawasan TAHURA sebagai lokasi wisata. Masyarakat berharap beberapa
kerajinan dari masyarakat dapat digunakan sebagai sarana dalam objek wisata
tersebut.
a
b
Gambar 27 Anyaman a) Mendong (bahan anyaman), b) Tikar dari mendong.
Spesies
bambu
khususnya
bambu
petung
(Dendrocalamus
asper)
dimanfaatkan masyarakat untuk membuat kerajinan berupa keranjang, tumbu,
kukusan dan gedhek (dinding rumah dari anyaman bambu). Tidak semua spesies
bambu dapat digunakan untuk membuat anyaman. Bambu yang digunakan
biasanya siperoleh dengan membeli dari pedagang dari Karangpandan. Namun
49
selain itu di hutan kawasan TAHURA juga masih ada bambu yang digunakan
untuk kerajinan.
a
b
Gambar 28 Kerajinan a) Bambu (bahan kerajinan), b) Keranjang dari bambu.
Kayu keras juga dapat digunakan untuk bahan kerajinan, misalnya akar atau
batangnya. Di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo ada beberapa masyarakat
yang memanfaatkan akar dan batang pohon sebagai meja atau kursi yang unik.
Namun hasil tersebut jarang diperjual balikan. Jenis pohon yang sering digunakan
adalah pinus (Pinus merkusii).
Gambar 29 Hasil kerajinan dari pohon pinus.
Beberapa spesies tumbuhan juga dimanfaatkan untuk tali, misalnya rilarat
(Rubus chrysophyllus) dan banyon (Tetrastigma papilosum). Namun spesies
tumbuhan tersebut hanya terbatas untuk tali yang dimanfaatkan masyarakat untuk
mengikat kayu bakar yang mereka ambil di dalam hutan atau untuk mengikat
rumput.
Masyarakat sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I kurang banyak
mengetahui kegunaan tumbuhan sebagai bahan penghasil tali, anyaman dan
kerajinan karena menurut mereka tali yang banyak dijual dengan bahan plastik
lebih kuat dan praktis. Menurut Anggana (2011) kurangnya pengetahuan
masyarakat dalam pemanfataan tumbuhan sebagai penghasil tali, anyaman dan
kerajinan dikarenakan proses regenerasi dari generasi tua ke generasi muda tidak
50
berjalan dengan baik sehingga pada saa ini hanya beberapa orang saja yang masih
menggunakan tumbuhan sebagai bahan tali, anyaman dan kerajinan.
5.2.7 Tumbuhan penghasil kayu bakar
Masyarakat Dukuh Sukuh masih banyak yang menggunakan kayu bakar
sebagai bahan bakar. Meskipun subsidi kompor gas sudah masuk di tempat ini
namun masyarakat masih banyak yang memanfaatkan kayu bakar. Oleh sebab itu
kayu bakar mejadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat. Kayu bakar
sebagian besar diperoleh dari hutan. Kayu bakar yang mereka ambil dari hutan
biasanya hanya berupa rencek (ranting pohon yang sudah jatuh ke tanah) (Gambar
30). Selain itu hika ada pohon yang tumbang terkadang masyarakat juga
mengambilnya untuk kayu bakar. Keterbatasan masyarakat dalam mengambil
kayu bakar dipengaruhi oleh status kawasan yang menjadi TAHURA.
Spesies yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat terdiri dari 16 spesies
dari 14 famili. Contoh spesies yang digunakan oleh masyarakat sebagai kayu
bakar antara lain codo (Elaeagnus loureirii), cuwut (Cyrtandra sp.), lempeni
(Ficus ribes), suren (Toona sureni), riralat (Rubus chrysophyllus) dan beberapa
spesies lainnya (Lampiran 5). Famili yang banyak dimanfaatkan untuk kayu bakar
adalah Myrtaceae. Selain dari spesies yang diperoleh dari hutan beberapa spesies
juga berasal dari hasil budidaya di ladang maupun pekarangan masyarakat. Kayu
bakar yang diambil oleh masyarakat selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pribadi juga dijual keluar desa misalnya dijual ke daerah Karangpandan dan
sekitarnya.
a
b
Gambar 30 a)buah pinus, b) kayu yang digunakan untuk kayu bakar.
51
5.2.8
Tumbuhan penghasil bahan bangunan
Bentuk rumah masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo sudah
berupa bangunan permanen dari tembok bahkan beton. Meskipun demikian
masyarakat juga masih memanfaatkan kayu sebagai bahan bangunan (Gambar
31). Kayu-kayu tersebut digunakan untuk membuat reng (rangka), tiang maupun
hanya sekedar kusen pintu dan jendela. Hasil wawancara menunjukan ada 10
spesies yang sering digunakan masyarakat sebagai bahan bangunan. Misalnya jati
(Tectona grandis), pinus (Pinus merkusii), suren (Toona sureni) dan beberapa
jenis lainnya (Lampiran 11).
Masyarakat menyatakan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan kondisi
mereka dahulu. Dahulu masyarakat memanfaatkan kayu dari dalam hutan untuk
memenuhi kebutuhan akan bahan bangunan. Namun saat ini masyakarakat sudah
menggunakan kayu dari hasil budidaya mereka atau dari membeli. Karena
menurut mereka jika mereka masih tergantung pada hutan maka akan berdampak
pada lingkungan mereka, misalnya pada ketersediaan air dan bencana alam.
Spesies yang banyak dibudidayakan pleh masyarakat adalah pinus, jati, suren dan
kayu dari pohon-pohon buah.
Gambar 31 Kayu sebagai bahan bangunan.
5.2.9
Tumbuhan penghasil warna
Tumbuhan juga dapat dimanfatkan sebagai penghasil warna. Dari hasil
wawancara yang diperoleh hanya diperoleh 2 spesies tumbuhan dari 2 famili yang
berbeda. Tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna adalah jati (Tectona
grandis) dan kunyit (Curuma domestica).
Bagian pohon jati yang dimanfaatkan sebagai pewarna adalah daun. Daun
jati dapat menghasilkan warna merah kecoklatan, daun jati biasanya digunakan
52
dalam pewarna pada sayur atau masakan. Menurut Heyne (1987) kulit akar dan
daun-daun muda pada pohon jati dapat digunakan untuk mewarnai bahan
anyaman.
Sedangkan kunyit yang digunakan adalah bagian rimpang. Rimpang kunyit
menghasilkan warna kuning. Kunyit juga hanya digunakan sebagai pewarna
makanan. Selain digunakan sebagai bahan pewarna pada makanan menurut Heyne
(1987) rimpang kunyit juga dapat digunakan sebagai bahan pewarna pada
anyaman, terkadang juga digunakan untuk bahan-bahan tenunan.
5.2.10 Tumbuhan penghasil pestisida nabati
Pada masyarakat yang mayoritas sebagai petani biasanya sangat mengenal
pestisida. Pestisida juga dapat berasal dari tumbuhan yang biasanya disebut
dengan pestisida nabati. Menurut masyarakat jenis tumbuhan yang dapat
digunakan sebagai pestisida nabati antara lain daun mimba (Azadirachta indica),
jarak (Ricinus communis), cengkeh (Syzygium aromaticum), dan tembakau
(Nicotina tabacum). Meskipun masyarakat mengetahui jenis tanaman yang
digunakan sebagai pestisida nabati, masyarakat tidak dapat menjelaskan bagian
yang digunakan, jenis hama yang menjadi sasaran dan proses pembuatannya. Hal
ini dikarenakan pada saat ini masyarakat sudah bergeser dalam penggunaan
pestisida dari pestisida nabati ke kimiawi. Menurut masyarakat alasan utama
mereka menggunakan pestisida kimiawi adalah arena sulitnya ditemukan
tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Sehingga atas dasar
kepraktisan mereka lebih memilih menggunakan pestisida kimiawi.
Menurut Rachmat dan Wahyono (2007) dari pohon mimba (Azadirachta
indica) yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati adalah bagian biji
dan daun. Biji mimba mengandung 25 senyawa limonoid dan daunnya
mengandung 57 senyawa limonoid dengan zat bioaktif utama azadiractin
(C35H44O16). Zat bioaktif ini bekerja sebagai zat penlak, pencegah nafsu makan,
penghambat tumbuh, larvasida, bakterisida (untuk mencegah aflatoksin), mitisida
(obat kudisa), virisida (mengendalikan virus mosaic pada tembakau), rodentisida,
ovisida, spermatisida, fungisida, nematisida dan moluskisida. Bahan aktif ini
dapat ditemukan diseluruh bagian tumbuhan mumba, namun demikian kandungan
bahan aktif paling tinggi pada biji. Keunggulan dari azadiractin adalah
53
fitotiksisitasnya kecil bahkan tidak ada pada dosis efektif, tidak toksik untuk
manusia dan vertebrata lainnya dan daya kerja utama adalah menghambat nafsu
makan pada serangga hama.
Cengkeh (Syzygium aromaticum), bagian yang dapat digunakan sebagai
bahan pestisida nabati adalah daun dan biji (bunnga) yang mengandung minyak
atsiri metal eugenol (Rachmat & Wahyono 2007). Pada tembakau (Nicotina
tabacum) bagian yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati adalah
daun dan batang. Namun bagian yang umum digunakan adalah daunnya.
Tembakau mengandung bahan aktif alkaloid seperti anabarine, anatobine,
myosinine, nicotinoid, nicotelline, nicotine, nicotyrine, norotine dan piperidine.
Kandungan nicotine paling tinggi terdapat pada rsnting dan tulang daun (Rachmad
& Wahyono 2007).
Semua bagian tumbuhan jarak (Ricinus communis) beracun untuk
nematode, cendawan dan serangga karena kandungan bioaktif ricin sebesar 8090% dan sisanya adalah minyak castor. Ekstrak daun jarak 50-100 gr dalam 1 liter
air ditambah sabun cair diendapkan 1 malam, kemudian diperas dan disaring lalu
disiramkan pada tanaman dapat mengendalikan cendawan, nematode, hama yang
ada di dalam tanah (Rachmat & Wahyono 2007).
Spesies yang dulunya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan
pestisida nabati berasal dari hutan disekitar tempat tinggal masyarakat tersebut.
Hingga saat ini tidak banyak ditemukan spesies tersebut di lingkungan sekitar
tempat tinggal masyarakat sebagai bentuk budidaya. Karena masyarakat sudah
tidak banyak memanfaatkannya sehingga masyarakat merasa kurang perlu
membudidayakannya. Biasanya masyarakat akan membudidayakan spesies yang
dpaat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.
Alasan utama masyarakat tidak memanfaatkan pestisida nabati adalah
karena lebih praktis menggunakan obat kimia. Sehingga perlu adanya sentuhan
ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat mengemas pengetahuan masyarakat
mengenai spesies yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dalam bentuk
produk yang siap digunakan namun tetap dengan konsep alami (hanya sedikit
menggunakan unsure kimia). Menurut Wisjnuprapto (2010) ketersediaan
teknologi pendukung kualitas sumberdaya manusia setempat perlu diperhatikan
54
dalam menentukan teknologi yang akan diaplikasikan guna menjamin
keberlangsungan
pembangunan
tersebut.
Dengan
demikian
diharapkan
pengetahuan masyarakat tersebut akan tetap hidup dan masyarakat dapat tetap
menggunakan pestisida nabati dengan cara yang lebih praktis.
5.3 Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat
5.3.1 Sistem araman
Araman adalah sistem pembagian areal ladang rumput. Luas areal ladang
rumput yang di kelola setiap keluarga berbeda-beda. Sistem pembagian lahan
araman ini dilakukan ketika hutan yang kini menjadi TAHURA KGPAA
Mangkunagoro I ini masih berstatus sebagia hutan milik Perhutani. TAHURA
KGPAA Mangkunagoro I ditetapkan pada tahun 1999, sebelum ditetapkan
sebagai TAHURA kawassan hutan tersebut berstatus sebagai hutan yang dikelola
Perhutani. Selama hutan tersebut dikelola oleh Perhutani masyarakat memiliki hak
untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada di dalam hutan. Masyarakat
memanfaatkan hutan tersebut untuk mengambil kayu bakar, mengambil kulit kina,
dan yang utama adalah mengambil rumput (dengan sistem araman). Araman yang
diterapkan antara masyarakat dan Perhutani memiliki kesepakatan luas yang boleh
dikelola oleh masyarakat.
Pembagian areal tersebut berdasarkan pada kemauan masyarakat yang
ditunjukan dengan seberapa luas keluarga tersebut mampu membersihkan areal
hutan yang dipenuhi dengan semak belukar. Semakin giat mereka bekerja maka
areal yang mampu mereka bersihkan juga semakin luas. Luas tersebut adalah luas
areal yang mereka miliki untuk menanam rumput yang akan digunakan untuk
memberi pakan pada satwa. Dalam membersihkan lahan tersebut masyarakat
dilarang merusak pohon yang ada dalam hutan dan hanya boleh membersihkan
semak yang ada di bawahnya.
Dalam pengelolaan lahan “araman” tersebut masyarakat akan membatasi
setiap area yang mereka miliki dan tidak akan terjadi perebutan area untuk
araman. Masyarakat memiliki kepercayaan bahwa apa yang mereka peroleh saat
ini adalah hasil dari apa yang mereka lakukan di masa lalu. Jadi mereka akan tetap
menerima ketika mereka hanya memiliki area yang lebih sempit dari pada yang
55
lain, dan jika tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak maka mereka
akan membeli rumput pada orang lain.
Pengelolaan areal araman yang dilakukan oleh masyarakat Dukuh Sukuh
dan Dukuh Gondangrejo adalah dengan membersihkan areal yang akan ditanami
dengan membakarnya agar merangsang pertumbuhan rumput yang ada. Namun
sistem bakar yang diterapkan adalah dengan terlebih dahulu membuat sekat bakar,
sehingga tidak akan mengakibatkan kebakaran lahan yang merusak hutan. Setelah
dibakar dan di bersihkan maka area tersebut ditanami dengan bibit rumput sesuai
yang mereka kehendaki. Jenis rumput yang mereka tanam biasanya berdasarkan
pada jenis ternak yang mereka miliki sehingga menyesuaikan palatabilitas (tingkat
kesukaan satwa pada jenis pakan tertentu).
Masyarakat membutuhkan tumbuhan untuk pakan ternak setiap hari dalam
kondisi segar. Sehingga masyarakat yang memiliki ternak pasti akan mengambil
pakan ternak setiap hari ke hutan (area araman mereka masing-masing). Untuk
memenuhi pakan ternak tersebut masyarakat biasanya membagi areal araman
mereka menjadi beberapa bagian. Setiap bagian memiliki masa tanam yang
berbeda, sehingga jika hari pertama mengambil di satu bagian areal maka areal
tersebut akan siap ditanami kembali. Untuk keesokan harinya akan mengambil
pakan dari bagian areal araman yang lain. Pembagian areal tersebut dapat hanya
berupa larikan maupun berupa areal yang terpisah.
Alur pembuatan araman diawali dengan pembersihan areal yang rumputnya
sudah dipanen di hari sebelumnya, setelah areal dibersihkan dibuatlah sekat bakar
di sekeliling areal tersebut, seringkali masyarakat membakar areal tersebut untuk
memicu tumbuhnya tunas baru. Setelah itu maka areal tersebut ditanami dengan
bibit rumput sesuai dengan yang dibutuhkan. Sambil menunggu tumbuhnya
rumput yang baru di tanam biasanya masyarakat memanen rumput di areal lain.
Setelah rumput dirasa bisa dipanen maka rumput tersebut dipanen dan diambil
sesuai dengan kebutuhan. Rumput diambil dan ditumpuk di suatu lokasi setelah
jumlah rumput yang dipanen dirasa cukup maka rumput-rumput tersebut dipikul
menuju rumah. Ketika tiba dirumah sebagian rumput langsung diberikan pada
hewan peliharaan dan sebagian lagi disimpan untuk jatah pakan selanjutnya (di
hari yang sama) (Gambar 32).
56
Petak araman
Lahan yang sudah dibersihkan
Rumput mulai tumbuh
Lahan yang ditanami rumput
Proses penanaman rumput
Rumput yang sudah dipanen
Rumput siap dikonsumsi ternak
Proses pengangkutan rumput
Gambar 32 Alur pembuatan araman – penyimpanan rumput.
5.4.2 Sistem pengambilan kayu bakar
Hutan memiliki peran penting bagi masyarakat sekitarnya, tak terkecuali
dengan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I Ngargoyoso ini. Manfaat yang
paling banyak dirasakan oleh masyarakat adalah untuk memenuhi kebutuhan akan
kayu bakar yang digunakan sebagai bahan bakar. Kayu yang di ambil oleh
masyarakat hanya berupa ranting atau dahan pohon yang sudah jatuh ke tanah.
Masyarakat tidak akan mengambil dahan atau ranting yang masih ada di batang
57
pohon yang masih hidup atau dengan sengaja mengambil bagian kayu pada pohon
yang masih hidup. Masyarakat hanya akan mengumpulkan bagian kayu yang
sudah ada di tanah baik karena patah, terkena angin ataupun sebab lain tetapi
bukan sebab yang disengaja oleh manusia. Bagian kayu yang di manfaatkan untuk
kayu bakar biasanya disebut dengan “rencek”.
Kayu bakar yang diperoleh
kemudian di simpan di samping rumah mereka, hal ini bertujuan agar kayu bakar
tersebut kering dan dapat digunakan untuk bahan bakar (Gambar 33). Alasan
utama masyarakat mengambil rencek adalah mereka tidak menginginkan rusaknya
hutan, karena menurut mereka rusaknya hutan yang ada di sekitar mereka dan
sekaligus di lereng Gunung Lawu akan mengancam kehidupan mereka (bencana).
Gambar 33 Pemanfaatan kayu bakar oleh masyarakat.
5.4.3 Pola pekarangan
Menurut Wijoyo (2012) penanaman sayuran di pekarangan akan
menciptakan tanaman sayur yang multifungsi. Di satu sisi tampilannya akan
cukup memberikan nilai estetis dan ketika dipanen akan dapat dimanfaatkan
sebagai bahan pangan pribadi (keluarga) bahkan dapat sebagai komoditas untuk
dijual.
Sebagian besar masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo
memanfaatkan lahannya untuk rumah, kandang ternak dan sisa lahannya
dimanfaatkan
untuk
ditanami
berbagai
spesies
tumbuhan
bermanfaat.
Perbandingan luas lahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat berbeda-beda sesuai
dengan kepemilikan lahannya (Gambar 34), ada masyarakat yang memanfaatkan
lahannya sebagian besar untuk ditanami sayuran, tanaman keras, tumbuhan
58
berguna lainnya atau bahkan ada masayarat yang memanfaatkan semua lahannya
untuk rumah.
Gambar 34 Sketsa pemanfaatan lahan oleh masyarakat.
Gambar 35 Bentuk pemanfaatan lahan sebagai pekarangan.
Masyarakat sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I sebagian besar
adalah petani. Selain mereka menggarap sawah atau kebun mereka juga
memanfaatkan sisa lahan yang ada si sekitar rumah mereka sebagai lahan yang
menguntungkan. Hampir di setiap rumah memiliki pekarangan, baik di depan,
belakang, samping, maupun sekeliling rumah mereka. Pekarangan tersebut
biasanya ditanami dengan tumbuhan buah, sayur, obat, hias bahkan pohon yang
dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Biasanya mereka menanam jenis
tanaman yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Jenis tanaman yang paling banyak ditanam di pekarangan adalah sayur, buah dan
obat (Gambar 36). Misalnya wortel, kol, labu, lombok, tomat dan jenis-jenis yang
digunakan untuk konsumsi pribadi.
59
Gambar 36 Pemanfaatan pekarangan oleh masyarakat.
Tabel 5 Daftar spesies yang dibudidayakan di pekarangan
Nama Lokal
Andong
bayem abang
bayem duri
Bayem
Bakung
adas pulowaras
Gaganan
Hokeri
Jemani
Asparagus
Kadaka
daun dewa
Benahong
selada air
Jipan
Pare
lidah mertua
Akasia
Buncis
Janggelan
Garut
Parijoto
Butrowali
Salam
Melati
Blimbing
blimbing wuluh
Suruh
Mawar
Tomat
Anggur
Jahe
Kapulaga
Kunci
Kunir
kunir putih
Temulawak
kencur
temu ireng
Nama Ilmiah
Cordyline fruticosa
Celosia argentina
Amaranthus spinosus
Amaranthus tricolor
Crinum asiaticum
Foenilum vulgare
Centella asiatica
Anthurium hokeri
Anthurium jemani
Asparague officinalis
Aspelium nidus
Gynura procumbens
Anredera cordifolia
Nasturtium sp.
Sechium edule
Momordica charantia
Sansevieria trifasciata
Acacia mangium
Phaseolus vulgaris
Mesona palustris
Maranta arundinaceae
Medinella speciosa
Tinospora crispa
Syzygium polyanthum
Jasminum sambac
Averhoa carambola
Averrhoa blimbi
Piper betle
Rosa sp.
Solanum lycopersicum
Vitis vinifera
Zingiber officinale
Amomum cardamomun
Castrochilus panduratum
Curcuma domestica
Kaemferia rotunda
Curcuma xanthorrhiza
Kaemferia galanga
Curcuma aeruginosa
Famili
Agavaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Amaryllidaceae
Apiaceae
Apiaceae
Araceae
Araceae
Asparagaceae
Aspleniaceae
Asteraceae
Basellaceae
Brassicaceae
Cucurbitaceae
Cucurbitaceae
Dracaenaceae
Fabaceae
Fabaceae
Lamiaceae
Marantaceae
Melastomataceae
Menispermaceae
Myrtaceae
Oleaceae
Oxalidaceae
Oxalidaceae
Piperaceae
Rosaceae
Solanaceae
Vitaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Manfaat
hias
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan
pangan
obat,pangan
obat
hias
hias
pangan
hias
obat
obat
pangan
obat,pangan
obat,pangan
hias
hias
pangan
obat,pangan
obat,pangan
obat
obat
obat,pangan
hias,ritual
obat,pangan
pangan
obat
hias,ritual
obat,pangan
pangan
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan,pewarna
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan
60
Sebagian besar masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi
kebutuhan pangan dan obat, yaitu sebanyak 46% (Gambar 37). Pemanfaatan
tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk mewujudkan kemandirian
masyarakat dalam memenugi kebutuhan pangan, meskipun bukan bahan pangan
pokok (beras). Namun perlu diadakan pembinaan terhadap masyarakat mengenai
pemanfaatan pekarangan yang efektif, sehingga kemandirian masyarakat tersebut
dapat benar-benar terwujud dan masyarakat tidak perlu banyak menggantungkan
hidupnya dengan pemenuhan kebutuhan dari luar, khususnya pemenuhan
kebutuhan pangan dan obat.
5%
15%
obat,pangan
46%
15%
obat,pangan,pewarna
pangan
hias
hias,ritual
16%
obat
3%
Gambar 37 Persentase pemanfaatan tumbuhan yang ada di pekarangan.
Pemanfaatan pekarangan ini akan lebih efektif jika dikelola untuk POGA
(Pangan dan Obat Keluarga) sehingga akan mewujudkan kemandirian dari setiap
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pengembangan POGA
diharapkan masyarakat akan lebih mudah dalam pemenuhan kebutuhan pangan
dan obat dengan semua sumberdaya yang mereka miliki di sekitar lingkungannya.
Dalam upaya pewujudan POGA membutuhkan pembinaan terhadap masyarakat
agar mereka memahami tujuan utama POGA dan manfaat yang akan mereka
peroleh dengan pemanfaatan pekarangan yang mereka miliki. Hal ini ditujukan
sebagai upaya pembentukan masyarakat yang mandiri terhadap pemenuhan
kebutuhan pangan dan obat, meskipun tidak semua kebutuhan tersebut dapat
terpenuhi namun diharapkan dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan
61
masyarakat. Sehingga dengan kemandirian tersebut dapat membentuk masyarakat
yang kuat dan tidak akan menggantungkan kebutuhannya dengan alat pemenuh
kebutuhan dari luar seperti makanan instan dari bahan kimia. Dengan demikian
akan dapat menjamin kesehatan masyarakat.
Sistem budidaya yang diterapkan oleh masyarakat tersebut adalah sebagai
salah satu upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat. Menurut masyarakat
mereka memanfaatkan lahan pekarangan disekitar rumah mereka selain utnuk
memenuhi kebutuhan keluarganya juga untuk menyuburkan tanah sekitar mereka,
karena jika tanah tersebut tidak dimanfaatkan lama-kelamaan akan tandus. Selain
utnuk menjaga kesuburan tanah, budidaya di pekarangan juga dapat menjaga
kelestarian hutan lingkungan mereka karena mereka tidak perlu lagi mengambil
sumberdaya dari hutan dan hutan akan tetap lestari tapi kebutuhan mereka juga
dapat terpenuhi.
5.4.4 Sistem berkebun
Sumber penghasilan utama dari sebagian besar masyarakat adalah sebagai
petani sayur. Sayur yang dihasilkan selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
juga untuk dijual. Sayur-sayur tersebut dijual di pasar lokal (Pasar Kemuning),
pasar Karangpandan hingga ke daerah Pacitan Jawa Timur. Komoditas utama
adalah wortel, kol, jipan, kacang kedelai hingga ubi jalar.
Dalam berkebun masyarakat menggunakan bibit unggul dari hasil panen
mereka sendiri, sehingga tidak membutuhkan biaya produksi untuk penyediaan
bibit (Gambar 38). Dulu masyarakat menggunakan konsep perkebunan organik,
untuk mengatasi hama yang menyerang biasanya mereka menggunakan pestisida
nabati. Karena sekarang sumber pestisida nabati sulit diperoleh serta ada
banyaknya pupuk dan obat kimia yang menurut mereka lebih praktis maka
sekarang penggunaan pestisida nabati sudah banyak ditinggalkan.
Susetiawan (2010) menyatakan bahwa pembangunan dapat menghilangkan
pengetahuan lokal masyarakat. Seharusnya dengan adanya pembangunan dapat
tetap mendukung pengetahuan lokal masyarakat. Perkembangan teknologi yang
ada akan lebih bermakna jika tetap berdasarkan pada pengetahuan lokal
masyarakat dan tetap dapat dimanfaatkan sesuai dengan adat masyarakat.
62
Wisjnuprapto (2010) menyatakan, pembangunan suatu perdesaan harus
memperhatikan (1) potensi sumberdaya lokal, baik sumberdaya manuasia maupun
sumberdaya alam, (2) tingkat teknologi yang tersedia serta tingkat ekonomi
masyarakat
setempat,
(3)
keterlibatan
masyarakat
setempat
sehingga
menumbuhkan rasa memiliki dan mengembangkan semangat kegotongroyongan,
dan (4) adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Sehingga dengan kemajuan
teknologi pada saat ini seharusnya dapat mendukung pengetahuan lokal
masyarakat lokal dan tetap mempertahankan adat masyarakatnya. Selain itu
teknologi juga harus dapat menyesuaikan kondisi masyarakat sehingga
masyarakat dapat tetap menikmati teknologi tersebut.
Sistem berkebun masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo juga
akan dapat lebih maju dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun
teknologi yang diterapkan seharusnya tetap dapat menunjukan pengatahuan lokal
masyarakat serta adat masyarakat dalam berkebun. Hal ini diharapkan dapat
memajukan perkebunan sayuran yang menjadi komoditas masyarakat namun tetap
melestarikan budaya masyarakat.
a
b
Gambar 38 a) Bibit cabai, b) Benih sawi.
5.4 Pengembangan Kampung Konservasi POGA
Masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo memiliki pengetahuan
mengenai pemanfaatan tumbuhan terutama tumbuhan pangan dan tumbuhan obat.
Hal ini dikarenakan pangan dan kesehatan sudah menjadi kebutuhan pokok
manusia. Pengetahuan mengenai pemanfaatan tersebut diperoleh secara turuntemurun. Namun kondisinya saat ini pemanfaatan tumbuhan tersebut sudah
berkurang, hal ini dikarenakan mulai masuknya obat kimia dan makanan cepat
saji yang dianggap lebih praktis.
63
Kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan sudah mulai pudar
karena beberapa faktor diantaranya adanya pembangunan yang mulai menggeser
kearifan lokal tersebut. Wisjnuprapto (2010) menyatakan, pembangunan suatu
perdesaan harus memperhatikan (1) potensi sumberdaya lokal, baik sumberdaya
manuasia maupun sumberdaya alam, (2) tingkat teknologi yang tersedia serta
tingkat ekonomi masyarakat setempat, (3) keterlibatan masyarakat setempat
sehingga
menumbuhkan
rasa
memiliki
dan
mengembangkan
semangat
kegotongroyongan, dan (4) adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Sehingga
dengan kemajuan teknologi pada saat ini seharusnya dapat mendukung
pengetahuan
lokal
masyarakat
lokal
dan
tetap
mempertahankan
adat
masyarakatnya. Selain itu teknologi juga harus dapat menyesuaikan kondisi
masyarakat sehingga masyarakat dapat tetap menikmati teknologi tersebut.
Susetiawan (2010) menyatakan bahwa pembangunan dapat menghilangkan
pengetahuan lokal masyarakat. Seharusnya dengan adanya pembangunan dapat
tetap mendukung pengetahuan lokal masyarakat. Perkembangan teknologi yang
ada akan lebih bermakna jika tetap berdasarkan pada pengetahuan lokal
masyarakat dan tetap dapat dimanfaatkan sesuai dengan adat masyarakat.
Pengembangan kampung konservasi diharapkan dapat menjembatani antara
pembangunan dengan kearifan lokal masyarakat. Kampung konservasi merupakan
suatu bentuk pembangunan dengan memasukan ilmu pengetahuan dan teknologi
untuk mendukung kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan
khususnya tumbuhan obat dan tumbuhan pangan.
Kampung konservasi selain dapat melestarikan kearifan lokal masyarakat
juga diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Manfaat
nyata yang diharapkan antara lain dapat meningkatkan kemandirian masyarakat
dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari (pangan dan obat) dengan pemanfaatan
sumberdaya (tumbuhan) yang ada dilingkungan mereka.
Damayanti (2003) mengategorikan spesies tumbuhan obat penting menjadi
tiga yaitu (1) spesies yag paling banyak diketahui oleh masyarakat, (2) spesies
yang paling banyak untuk mengobati satu jenis penyakit, dan (3) jenis yang paling
bermanfaat untuk pengobatan. Dalam pengembangan kampung konservasi POGA
64
(Pangan dan Obat Keluarga) dapat disesuaikan dengan spesies penting yang
dimanfaatkan masyarakat.
Pendokumentasian pengetahuan lokal masyarakat yang dapat digunakan
sebagai dasar dalam pengembangan kampung konservasi POGA. Dengan
diketahuinya spesies yang banyak dimanfaatkan maka dapat diketahui spesies
yang penting untuk dikembangkan. Spesies yang dikembangkan sebaiknya adalah
spesies yang banyak dimanfaatkan. Dengan demikian masyarakat akan merakasan
pentingnya kampung konservasi POGA tersebut.
Sosialisasi mengenai pentingnya kampung konservasi POGA dapat menjadi
langkah lanjutan. Dalam sosialisasi tersebut dapat ditekankan manfaat yang
diperoleh oleh masyarakat baik manfaat ekonomi, ekologi dan sosial budaya.
Manfaat ekonomi dapat diperoleh masyarakat dengan kemandirian dalam
pemenuhan kebutuhan pangan dan obat maka akan mengurangi pengeluaran
masyarakat untuk konsumsi karena sudah dapat terpenuhi dari lingkungan
mereka. Selain itu komoditas yang dikembangkan juga dapat digunakan sebagai
komoditas untuk diperjualbelikan sehingga akan menambah pendapatan
masyarakat tersebut. Manfaat ekologi yang diharapkan adalah dengan
pengembangan kampung konservasi POGA tersebut dapat menjaga kelestarian
spesies dan ekosistem lingkungan. Manfaat sosial budaya adalah lestarinya
pengetahuan lokal masyarakat yang menjadi salah satu kekayaan budaya yang
tertuang dalam kampung konservasi POGA tersebut.
Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat terdiri dari 63
spesies dari 35 famili (Lampiran 3). Jika dilihat dari spesies yang dimanfaatkan
ada beberapa spesies yang banyak dimanfaatkan untuk mengobati tekanan darah
tinggi. Masyarakat banyak memanfaatkan tumbuhan obat untuk menurunkan
tekanan darah tinggi, misalnya spesies seperti alpukat, labu siam, belimbing,
mengkudu, salam dan mentimun untuk mengobati tekanan darah tinggi. Selain itu
spesies dari famili Zingiberaceae juga menjadi penting karena dimanfaatkan
masyarakat sebgai komoditas ekonomi (diperjualbelikan) di pasar lokal. Spesies
kina (Cinchona pubescens) dan spesies tumbuhan yang dapat digunakan sebagai
campuran obat seperti kingkong (Eupatorium triplinerve). Pemanfaatan kulit
pohon kina yang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku obat malaria masih
65
diambil dari hutan di kawasan TAHURA. Belum ada masyarakat yang
membudidayakan spesies tersebut di pekarangan maupun kebun.
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan pada masyarakat
terdiri dari 78 spesies dari 34 famili (Lampiran 4). Spesies tumbuhan yang
berpotensi untuk dikembangkan antara lain garut (Maranta arundinacea),
ganyong (Canna edulis), gadung (Dioscorea hipsida) dan uwi (Dioscorea alata).
Spesies tersebut banyak dimanfaatkan masyarakan sebagai makanan selingan nasi.
Namun selain untuk dikonsumsi sendiri masyarakat juga mulai mengembangkan
untuk diperdagangkan.
Kampung konservasi POGA tersebut jika dapat dikembangkan pada
masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo diharapkan dapat melestarikan
kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan terutama pangan dan
obat. Selain itu kelestarian lingkungan juga dapat terjaga dengan manfaat yang
dirasakan
oleh
masyarakat.
Meskipun
dalam
pengembangannya
juga
membutuhkan teknologi dan ilmu pengetahuan namun hal itu hanya sebagai
pendukung pengetahuan masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat
memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan secara berkelanjutan dengan sentuhan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tabel 6 Pengembangan Kampung Konservasi POGA
No
1
Kegiatan
Pendokumentasian
pengetahuan lokal
masyarakat
Tujuan
Mengetahui spesies tumnbuhan
yang dimanfaatkan oleh
masyarakat dalam pemenuhan
kebutuhan sehari-hari
Hasil
Daftar spesies
tumbuhan yang
dimanfaatkan oleh
masyarakat dalam
pemenuhan
kebutuhan
2
Inventarisasi potensi
tumbuhan
Mengetahui spesies tumbuhan
yang ada di lingkungan
masyarakat
Daftar spesies
tumbuhan yang ada
di lingkungan
masyarakat
3
Sosialisasi
pemanfaatan
tumbuhan berdasarkan
pengetahuan lokal
masyarakat dan
potensi lingkungan
Mengembangkan pengetahuan
lokal masyarakat mengenai
pemanfaatan tumbuhan dalam
pemenuhan kebutuhan seharisehari sehingga dapat
melestarikan pengetahuan lokal
Pemahaman
masyarakat
mengenai
pengetahuan lokal
dalam pemanfaatan
spesies tumbuhan
66
masyarakat
4
Sosialisasi program
konservasi POGA
Mensosialisasikan program
kampung konservasi POGA
kepada masyarakat luas termasuk
tujuan dan manfaat serta
mengetahui respon masyarakat
mengenai program tersebut
Masyarakat
memberikan respon
positif (bersedia
mengkikuti program
kampung
konservasi POGA)
5
Sosialisasi
pelaksanaan program
kampung konservasi
POGA
Mensosialisasikan tahapan
program kampung konservasi
POGA:
1. Penyiapan lahan (pekarangan
rumah)
2. Penyiapan bibit
3. Penanaman
4. Perawatan spesies tumbuhan
5. Pemanenan
6. Proses pasca panen
7. Pemanfaatan spesies
tumbuhan
Masyarakat
mengetahui tahapan
yang akan
dilaksanakan dalam
program konservasi
POGA untuk
membentuk
kemandiriran
masyarakat
6
Kegiatan pasca panen
Pemanfaatan hasil dari
pengembangan kampung
konservasi POGA baik dalam
bentuk produk untuk dijual
maupun dalam bentuk produk
untuk konsumsi pribadi sehingga
meningkatkan kemandirian
Masyarakat mampu
memproduksi hasil
panen baik untuk
memenuhi
kebutuhan seharihari hingga untuk
komoditas ekonomi
7
Pendidikan konservasi
Memberikan pengetahuan
mengenai konservasi terhadap
anak-anak
Anak-anak
memiliki
pengetahuan dan
kesadaran mengenai
konservasi sehingga
akan menjaga
kelestarian dalam
pemanfaatan speseis
tumbuhan yang
berkelanjutan
Pengembangan kampung konservasi POGA untuk di masyarakat sekitar
kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I tidaklah sulit, hal ini dikarenakan
67
masyarakat yang sebenarnya telah menerapkan konsep ini pada lahan pekarangan
rumah mereka. Masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari hasil
budidaya tanaman yang ada di pekarangan mereka, pola masyarakat tersebut
menunjukan bahwa masyarakat sudah menerapkan konsep POGA sejak dulu.
Spesies yang akan mudah dikembangkan adalah spesies tumbuhan yang sudah
dibudidayakan masyarakat sejak dulu baik di pekarangan (Lampiran 12) maupun
di kebun.
Pengembangan kampung konservasi POGA diharapkan dapat membentuk
sikap masyarakat yang pro-konservasi. Sikap pro konservasi yang diharapkan
antara lain: 1) Cognitive (persepsi, pengetahuan, pengalaman, pandangan dan
keyakinan), 2) Affective (emosi, senang, benci, dendam, sayang, cinta, dan lainlain), 3) Overt actions (kecenderungan bertindak). Tujuan utama dari program
kampung konservasi POGA diharapkan membentuk sikap yang dapat menjamin
kelestarian pengetahuan lokal masyarakat dan kelestarian sumberdaya yang
dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu akan membentuk masyarakat yang
mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dan akan meningkatkan perekonomian
masyarakat. Dengan terpenuhinya kebutuhan masyarakat dari lingkungannya
maka diharapkan masyarakat akan dapat hidup selaras dengan alam.
68
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1
Kesimpulan
1.
Bentuk interaksi masyarakat dengan kawasan TAHURA merupakan upaya
pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Saat ini interaksi utama yang
masih berjalan adalah pada pengambilan rumput dan kayu bakar. Namun
selain itu pemanfaatan plasma nutfah yang berasal dari dalam hutan
merupakan suatu bentuk interaksi yang pernah dilakukan oleh masyarakat.
Masyarakat menggunakan sumberdaya dari dalam hutan (plasma nutfah)
seperti spesies ganyong, garut dan gadung untuk dibudidayakan sebagai
tumbuhan pangan, serta budidaya pohon watel dan suren sebagai bahan
bangunan.
2.
Jumlah spesies yang dimanfaatkan masyarakat sebanyak 140 spesies dari 57
famili. Masyarakat memanfaatkan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan
pangan, obat, kayu bakar, tanaman hias, bahan bangunan, pakan ternak,
bahan kerajinan, bahan pewarna dan untuk keperluan ritual keagamaan,
sedangkan untuk pestisida nabati masyarakat hanya mengetahui spesies
yang digunakan. Spesies yang paling banyak dimanfaatkan adalah sebagai
tumbuhan
pangan
(78
spesies).
Tumbuhan
pangan
yang
mulai
dikembangkan antara lain garut, ganyong dan gadung. Setelah tumbuhan
pangan masyarakat banyak memanfaatkan tumbuhan untuk obat, spesies
tumbuhan obat penting adalah labu siam sebagai obat tekanan darah tinggi
yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Selain itu spesies dari famili
Zingiberaceae juga penting bagi masyarakat karena dapat dimanfaatkan
sebagai tumbuhan obat dan bahan pangan.
3.
Kearifan lokal yang masih ada antara lain sistem “araman” yang mereka
terapkan dalam mengambil rumput di dalam kawasan., kearifan masyarakat
dalam mencari kayu bakar dengan hanya memanfaatkan ranting pohon yang
sudah terjatuh juga merupakan bentuk kearifan dalam pelestarian hutan.
Pemanfaatan lahan sekitar rumah (pekarangan) untuk menanam sayuran
adalah salah satu bentuk budidaya yang diterapkan oleh masyarakat.
69
Kearifan lokal yang saat ini sudah ditinggalkan masyarakat adalah pada
sistem berkebun yang sudah mulai banyak menggunakan obat dan pupuk
kimia. Salah satu bentuk upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat
adalah dengan budidaya spesies tumbuhan yang mereka manfaatkan.
6.2
Saran
1.
Perlu memelihara dan mengembangkan lebih lanjut kearifan lokal
masyarakat yang dapat membantu dalam upaya konservasi kawasan.
2.
Pengembangan Kampung Konservasi POGA (Pangan dan Obat Keluarga)
sebagai bentuk kemandirian masyarakat dan diharapkan dapat meningkatan
pendapatan masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo sehingga
dapat meningkatkan kemandirian masyarakat
3.
Spesies tumbuhan pangan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai
salah satu sumber pangan alternatif pengganti nasi adalah garut (Maranta
arundinacea) dan ganyong (Canna edulis).
4.
Pemerintah Daerah setempat diharapkan dapat memfasilitasi masyarakat
untuk mengatur penjualan komoditas pertanian (sayuran) sehingga
masyarakat dapat menjual hasil pertaniannya dengan harga yang
menguntungkan masyarakat.
5.
Perlu adanya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dari perguruan
tinggi secara terus menerus untuk mendukung dan mengembangkan
pengetahuan yang dimiliki masyarakat dalam pelestarian pemanfaatan
tumbuhan.
70
DAFTAR PUSTAKA
[Pemda Kabupaten Karangayar] BAPPEDA Kabupaten Karanganyar. 2010.
Karanganyar Dalam Angka.
Anggana AF. 2011. Kajian Etnobotani Masyarakat di Sekitar Taman Nasional
Gunung Merapi (Studi Kasus Desa Umbulharjo, Sidorejo, Wonodoyo dan
Ngablak) [Skripsi]. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ardiansyah S. 2008. Kajian Interaksi Masyarakat Dengan Hasil Hutan Non-Kayu
(Studi Kasus di KPH Banyuwangi Utara, Perum Perhutani Unit II
Provinsi Jawa Timur) [Skripsi]. Departemen Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Ardhita EO, Rahayu RNS, Arimukti SD, Sari DM. 2012. Laporan Praktek Kerja
Lapang Profesi Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur.
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Arizona D. 2010. Etnobotani dan Potensi Tumbuhan Berguna di Taman Nasional
Gunung Ciremai, Jawa Barat [Skripsi]. Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Asnawi A. 1992. Peranan Tumbuhan dalam Upacara Daur Hidup Suku Bangsa
Banjar. Di dalam: Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani; CisaruaBogor, 19-20 Februari 1992. Departemen Pertanian RI, LIPI,
Perpustakaan RI. Bogor.
Damayanti EK. 2003. Pengelolaan Hutan Secara Lestari Berbasiskan Tumbuhan
Obat: Studi Kasus Di Hutan Pendidikan Gunung Walat, IPB [Tesis].
Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Darwanto DH. 2010. Ketahanan Pangan Mandiri di Indonesia. Di Dalam
:Sunarminto BH, editor. Pertanian Terpadu Untuk Mendukung
Kedaulatan Pangan Nasional. BPFE. Yogyakarta: Hal 53-63.
Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan. 2002. Pengenalan dan Budidaya Talas,
Garut, Gembili, Ubi Kelapa, Gadung, Iles-iles, Suweg/Acung. Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Pangan Produksi Tanaman Pangan Direktorat
Kacang-kacangan dan Umbi-umbian.
Handayani A. 2010. Etnobotani Masyarakat Sekitar Kawasan Cagar Alam
Gunung Simpang (Studi Kasus di Desa Balegede, Kecamatan Naringgul,
Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) [Skripsi]. Departemen Konservasi
71
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Hasim I. 2009. Tanaman Hias Indonesia. Penebar Swadaya: Jakarta.
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Koperasi karyawan Departemen
Kehutanan Gedung Manggala Wanabakti Blok I. Jakarta Pusat.
Ikhsan SB. 2010. Teknologi Praktis Untuk Petani Mandiri. Al-Ajda Press.
Yogyakarta.
Kardinan A. 1999. Pestisida Nabati: Ramuan dan Aplikasi. Penebar Swadaya.
Bogor.
Kartiwa S, Martowikidro W. 1992. Hubungan antara Tumbuhan dan Manusia
Dalam Upacara Adat di Indonesia. Di dalam: Seminar dan Lokakarya
Nasional Etnobotani; Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992. Departemen
Pertanian RI, LIPI, Perpustakaan RI. Bogor.
Kristianti H. 2012. Obat-obatan Herbal Ramuan Herbal Pustaka Penyembuh 101
Penyakit. Salam Media. Yogyakarta.
Martin GJ. 1998. Etnobotani : Sebuah Manual Pemuliharaan Manusia dan
Tumbuhan. Mohamed M, Penerjemah. Kota Kinabalu : Natural History
Publication (Borneo).
Novitasari. 2011. Etnobotani Masyarakat Suku Tengger: Studi Kasus di Desa
Ranu Pane Wilayah Enclave Taman Nasional Bromo Tengger Semeru,
Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang [Skripsi]. Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Purnomo. 1992. Jenis – jenis Tumbuhan yang Digunakan Dalam Tradisi “Nyekar”
di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fakultas Biologi Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta.
Purwita IBP. 1990. Upacara Ngaben. Pemda Tingkat I Bali. Denpasar.
Rachmat M, Wahyono D. 2007. Tanaman Biofarmaka sebagai Biopestisida.
Direktorat Jenderal Holtikultura, Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran
dan Biofarmaka bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Obat dan
Aromatik. Jakarta.
Riswan S, Soekarman. 1992. Status Pengetahuan Etnobotani Di Indonesia.
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pertanian dan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia: Bogor. Hal: 1-7.
Rostiana O, Hadipoentyanti E, Abdullah A. 1992. Potensi Bahan Pewarna Alam
di Indonesia. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani.
72
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pertanian dan
Lembaga Ilmu Pengetahuan: Bogor.
Septiatin A. 2009. Apotek Hidup dari Rempah-rempah, Tanaman Hias, dan
Tanaman Liar. Yrama Widya. Bandung.
Singarimbun M, Effendi S. 1999. Metode Penelitian Survai. LP3ES. Jakarta
Siswoyo, Zuhud EAM, Soekamdi R, Sandra E. 2004. Inventarisasi dan
Identifikasi Sumberdaya Alam Hayati Berupa Tumbuhan Selain Obat Di
Kabupaten Sintang. Bogor : Pemerintah Kabupaten Sintang dan
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas
Kehutanan IPB.
Susetiawan. 2010. Pembangunan Perdesaan Dalam Rangka Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat. Di dalam Chozin MA, Sumardjo, Poerwanto
R, Purbayanto A, Khomsan A, Fauzi A, Toharmat T, Hardjanto, Seminar
KB, editor. Pembangunan Perdesaan Dalam Rangka Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat. IPB Press.Bogor: Hal 114-146.
Uluk A, Sudana M, Wollenberg E. 2001. Ketergantungan Masyarakat Dayak
Terhadap Hutan di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang. CIFOR :
Bogor.
Wisjnuprapto. 2010. Makna Pembangunan Lingkungan Perdesaan Dalam
Menerangi Kemiskinan dan Pelestarian Lingkungan. Di dalam Chozin
MA, Sumardjo, Poerwanto R, Purbayanto A, Khomsan A, Fauzi A,
Toharmat T, Hardjanto, Seminar KB, editor. Pembangunan Perdesaan
Dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. IPB
Press.Bogor: Hal 79-96.
Wijoyo PM. 2012. Rahasia Sukses Bertanam Sayuran di Pekarangan. Pustaka
Agro Indonesia: Jakarta.
Zuhud EAM, Ekarelawan, S Riswan. 1994. Hutan Tropika Indonesia Sebagai
Sumber Keanekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan Obat. Dalam
Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan
Tropika Indonesia. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
73
LAMPIRAN
74
Lampiran 1 Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Nama lokal
Adas pulowaras
Adem ati
Akasia
Alang-alang
Alpukat
Andong
Anggur
Apel
Apel ijo
Asem
Asparagus
Awar-awar
Bakung
Bambu kuning
Bambu petung
Bandotan
Banyon
Bawang
Bayem
Bayem abang
Bayem duri
Benahong
Bengkoang
Beras ketan
Blimbing
Blimbing wuluh
Bliwang
Brambang
Buncis
Bunga sepatu
Nama Ilmiah
Foeniculum vulgare Mill.
Litsea glutinosa (Lour.) CD. Robins
Acacia decurrens Wiilld.
Imperata cylindrica L.
Persea gratissima Gaertn
Cordyline fruticosa L.
Vitis vinifera L.
Malus sylvestris Mill.
Chrysophyllum cainito L.
Tamarindus indica L.
Asparague officinalis L.
Ficus septica Burm.F.
Crinum asiaticum L.
Bambusa vulgaris Schrad.
Dendrocalamus asper Schult. F
Agratum conyzoides L.
Tetrastigma papilosum (Bl.) Planch.
Allium sativum L.
Amaranthus tricolor L.
Celosia argentina L.
Amaranthus spinosus L.
Anredera cordifolia (Ten.) Steenis
Pachyrrizus erosus (L.) Urb
Oryza sativa glotinosa L.
Averhoa carambola L.
Averrhoa blimbi L.
Eriobotrya japonica (Thunb.) Lindl.
Allium cepa L.
Phaseolus vulgaris L.
Hibiscus rosa sinensis L.
Famili
Apiaceae
Lauraceae
Fabaceae
Poaceae
Lauraceae
Agavaceae
Vitaceae
Rosaceae
Sapotaceae
Fabaceae
Asparagaceae
Moraceae
Amaryllidaceae
Poaceae
Poaceae
Asteraceae
Vitaceae
Amaryllidaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Basellaceae
Fabaceae
Poaceae
Oxalidaceae
Oxalidaceae
Rosaceae
Amaryllidaceae
Fabaceae
Malvaceae
Habitus
perdu
pohon
pohon
herba
pohon
perdu
liana
pohon
pohon
pohon
herba
pohon
herba
bambu
bambu
herba
liana
herba
herba
herba
herba
liana
semak
herba
perdu
perdu
perdu
herba
herba
semak
Sumber
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
hutan
hutan
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
Habitat
pekarangan
pekarangan
pekarangan
hutan
ladang
pekarangan
pekarangan
ladang
ladang
ladang
pekarangan
hutan
pekarangan
ladang
hutan
hutan
hutan
ladang
pekarangan
pekarangan
pekarangan
pekarangan
ladang
ladang
pekarangan
pekarangan
ladang
ladang
pekarangan
pekarangan
75
Lampiran 1 Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat (lanjutan)
No
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
Nama lokal
Butrowali
Cabe puyang
Ceker ayam
Cengkeh
Ciplukan
Codo
Cuwut
Dadap
Damar
Daun dewa
Dele
Dempul
Dewondaru
Duren
Edelweiss
Gadung
Gaganan
Ganyong
Garut
Hokeri
Jagung
Jahe
Jambu air
Jambu kluthuk
Janggelan
Jarak
Jati
Jati belanda
Jemani
Jenggot wesi
Nama Ilmiah
Tinospora crispa (L.) Hook F.
Polygonum hidropiper L.
Digitaria adscendens ( Kunth ) Henrard var.
Syzygium aromaticum (L.) Merr at Perry
Physalis angulata L.
Elaeagnus loureirii Champ.
Cyrtandra sp.
Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.
Agathis dammara (Lamb.) Rich.
Gynura procumbens (Lour.) Merr.
Glycine max (L.) Merr.
Glochidion rubrum Bl.
Eugenia uniflora L.
Durio zibethinus Murr.
Anaphalis javanica (Bl.) Boerl.
Dioscorea Hispida Dennstedt.
Centella asiatica L.
Canna edulis Ker -Gawl.
Maranta arundinaceae L.
Anthurium Hokeri var.
Zea mays L.
Zingiber officinale Roxb
Euginia aquea Burm
Psidium guajava L.
Mesona palustris BL.
Ricinus communisL.
Tectona grandis Linn. f.
Guazuma ulmifolia Lamk.
Anthurium Jemani
Usnea sp.
Famili
Menispermaceae
Poaceae
Poaceae
Myrtaceae
Solanaceae
Elaeagnaceae
Gesneriaceae
Fabaceae
Araucariaceae
Asteraceae
Fabaceae
Euphorbiaceae
Myrtaceae
Bombaceae
Asteraceae
Dioscoreaceae
Apiaceae
Cannaceae
Marantaceae
Araceae
Poaceae
Zingiberaceae
Myrtaceae
Myrtaceae
Lamiaceae
Euphorbiaceae
Verbenaceae
Sterculiaceae
Araceae
Usneaceae
Habitus
liana
herba
herba
pohon
herba
perdu
herba
pohon
pohon
herba
herba
pohon
perdu
pohon
semak
herba
herba
herba
semak
herba
semak
herba
pohon
pohon
semak
perdu
pohon
pohon
herba
lumut
Sumber
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
hutan
hutan
hutan
budidaya
budidaya
hutan
hutan
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
hutan
hutan
budidaya
hutan
Habitat
pekarangan
pekarangan
ladang
ladang
ladang
hutan
hutan
hutan
hutan
pekarangan
ladang
hutan
hutan
ladang
hutan
ladang
pekarangan
hutan
pekarangan
pekarangan
ladang
pekarangan
ladang
ladang
pekarangan
hutan
hutan
hutan
pekarangan
hutan
76
Lampiran 1 Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar (lanjutan)
No
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
Nama lokal
Jeruk
Jeruk pecel
Jeruk purut
Jinten
Jipan
Kacang abang
Kacang ijo
Kacang panjang
Kacang tanah
Kadaka
Kalanjana
Kaliandra
Kangkung
Kanthil
Kapri
Kapulaga
Kates
Katuk
Kayu manis
Kayu putih
Kecubung
Kedondong
Keji beling
Kemangi
Kemenyan
Kencur
Kentang
Kina
Kingkong
Klopo
Nama Ilmiah
Citrus sp.
Citrus aurantium L.
Citrus hystric DC.
Nigella sativa Linn.
Sechium edule (Jacq.) Sw.
Vigna umbellata (Thunb.)
Vigna Radiata L.
Vigna unguiculata sesquipedalis L.
Arachis Hypogaea L
Aspelium nidus L.
Pennisetum purpureum Schum.
Calliandra haematocephala Hassk.
Ipomea aquatica Forsk
Michelia alba DC.
Pisum sativum L.
Amomum cardamomun L.
Carica papaya L.
Sauropus adrogynus (L) Merr
Cinnamomum burmanni (nees.) Bl.
Eucalyptus deglupta Bl.
Datura metel L.
Spandias pinnata L.
Strobilanthes crispus (L.) Bl.
Ocimum sanctum L.
Styrax officinalis L.
Kaemferia galanga L.
Solanum Tuberosum L.
Cinchona pubescens Vahl
Eupatorium triplinerve Vahl
Cocos nucifera L.
Famili
Rutaceae
Rutaceae
Rutaceae
Ranunculaceae
Cucurbitaceae
Fabaceae
Fabaceae
Fabaceae
Fabaceae
Aspleniaceae
Poaceae
Fabaceae
Convolvulaceae
Magnoliaceae
Fabaceae
Zingiberaceae
Caricaceae
Euphorbiaceae
Lauraceae
Myrtaceae
Solanaceae
Anacardiaceae
Acanthaceae
Lamiaceae
Lauraceae
Zingiberaceae
Solaaceae
Rubiaceae
Asteraceae
Arecaceae
Habitus
perdu
perdu
perdu
herba
liana
liana
liana
liana
herba
perdu
herba
pohon
herba
pohon
herba
herba
herba
herba
pohon
pohon
perdu
pohon
herba
semak
pohon
herba
herba
pohon
herba
palem
Sumber
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
hutan
hutan
budidaya
Habitat
ladang
ladang
ladang
ladang
pekarangan
ladang
ladang
ladang
ladang
pekarangan
hutan
hutan
ladang
ladang
ladang
pekarangan
ladang
ladang
hutan
hutan
ladang
ladang
pekarangan
ladang
hutan
pekarangan
ladang
hutan
hutan
ladang
77
Lampiran 1 Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat (lanjutan)
No
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
Nama lokal
Kluwih
Kopi
Kunci
Kunir
Kunir putih
Lempeni
Lidah buaya
Lidah mertua
Lombok gede
Lombok rawit
Mawar
Melati
Mendong
Mimba
Nangka
Orang-aring
Pace
Pare
Parijoto
Pelem
Petai
Pinus
Pohong
Rambutan
Rilarat
Rumput A
Rumput B
Rumput C
Rumput D
Salam
Nama Ilmiah
Artocarpus camansi Park.
Coffea robust Lindl.
Castrochilus panduratum Ridl.
Curcuma domestica Val.
Kaemferia rotunda L.
Ficus ribes Reinw. ex Blume
Aloe vera L.
Sansevieria trifasciata
Capsicum annum L.
Capsicum frutescens L.
Rosa sp.
Jasminum sambac L.
Fimbristylis globulods
Azadirachta indica A. Juss
Artocarpus heterophyllus Lamk.
Mutia diversifolia (Bl.) Wedd.
Morinda citrifolia L.
Momordica charantia L.
Medinella speciosa Linn.
Mangifera indica L
Parkia speciosa Hassk.
Pinus merkusii Jung et de Vriesse
Manihot utilissima Pohl.
Nephelium lappaceum L.
Rubus chrysophyllus Miq.
Panicum sp.
Strobilanthes sp.
Oplismenus compositus (L.) Beauv.
Isachne sp.
Syzygium polyanthum Wigh Walp.
Famili
Moraceae
Rubiaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Moraceae
Liliaceae
Dracaenaceae
Solanaceae
Solanaceae
Rosaceae
Oleaceae
Apiaceae
Meliaceae
Moraceae
Urticaceae
Rubiaceae
Cucurbitaceae
Melastomataceae
Anacardiaceae
Fabaceae
Pinaceae
Euphorbiaceae
Sapindaceae
Rosaceae
Poaceae
Acanthaceae
Poaceae
Poaceae
Myrtaceae
Habitus
pohon
pohon
herba
herba
herba
pohon
herba
herba
herba
herba
perdu
semak
semak
pohon
pohon
semak
pohon
liana
perdu
pohon
pohon
pohon
perdu
pohon
liana
herba
herba
herba
herba
pohon
Sumber
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
Habitat
ladang
ladang
pekarangan
pekarangan
pekarangan
hutan
pekarangan
pekarangan
ladang
ladang
pekarangan
pekarangan
hutan
hutan
ladang
hutan
ladang
pekarangan
pekarangan
ladang
ladang
hutan
ladang
ladang
hutan
hutan
hutan
hutan
hutan
pekarangan
78
Lampiran 1 Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat (lanjutan)
No
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
Nama lokal
Sawi
Selada air
Sembung
Serai
Sukun
Suren
Suruh
Teh
Tales
Telo
Tembakau
Temu ireng
Temulawak
Terong
Timun
Tomat
Tumb.bawah H
Upluk
Uwi
Wortel
Nama Ilmiah
Brassica rapa L.
Nasturtium sp.
Astronia macrophylla Blume
Cymbopogon citratus (DC.) Stapf
Artocarpus comunis Forst
Toona sureni Merr.
Piper betle Linn.
Camellia sinensis L.
Colocasia esculenta Blume.
Ipomea Batatas L.Sin
Nicotina tabacum L.
Curcuma aeruginosa Roxb.
Curcuma xanthorrhiza Roxb
Solanum melongena L.
Cucumis sativus L.
Solanum lycopersicum L.
Rubia cordifolia L.
Clerodendrum fragarans (Vent.) Willd.
Dioscorea alata L.
Daucus carota L.
Famili
Brassicaceae
Brassicaceae
Melastomataceae
Poaceae
Moraceae
Meliaceae
Piperaceae
Theaceae
Aracaceae
Euphorbiaceae
Solanaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Solanaceae
Cucurbitaceae
Solanaceae
Rubiaceae
Verbenaceae
Dioscoreceae
Apiaceae
Habitus
herba
herba
pohon
herba
pohon
pohon
liana
perdu
herba
herba
perdu
herba
herba
herba
perdu
herba
semak
pohon
herba
herba
Sumber
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
budidaya
hutan
budidaya
budidaya
Habitat
ladang
pekarangan
hutan
pekarangan
ladang
hutan
pekarangan
ladang
ladang
ladang
hutan
pekarangan
pekarangan
ladang
ladang
pekarangan
hutan
hutan
ladang
ladang
79
Lampiran 2 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat
No
1
Nama lokal
Foeniculum vulgare Mill.
Apiaceae
perdu
Bagian yang
digunakan
buah,daun
Lauraceae
pohon
daun
diare
-
Lauraceae
pohon
buah
-
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
Kandungan kimia *)
Khasiat
2
Adas
pulowaras
Adem ati
melancarkan asi
Karminatif
3
Alpukat
Litsea glutinosa (Lour.) CD.
Robins
Persea gratissima Gaertn
4
5
6
7
8
9
Apel ijo
Asem
Bandotan
Bawang
Bayem
Bayem duri
Chrysophyllum cainito L.
Tamarindus indica L.
Ageratum conyzoides L.
Allium sativum Linn.
Amaranthus tricolor Linn.
Amaranthus spinosus L.
Sapotaceae
Caesalpiniaceae
Asteraceae
Amaryllidaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
pohon
pohon
herba
terna
semak
terna
buah
daun
daun
umbi
daun,batang
daun,batang
menurunkan tekanan darah
ringgi
Penuat jantung
demam
demam
mengurangi bau badan
anemia
pelancar asi
10
Benahong
Basellaceae
liana
daun
kulit
11
12
Bengkoang
Blimbing
Anredera cordifolia (Ten.)
Steenis
Pachyrrizus erosus (L.) Urb
Averhoa carambola L.
Papilionaceae
Oxalidaceae
semak
pohon
umbi
buah
13
Bliwang
14
15
16
17
Rosaceae
perdu
buah,daun
Brambang
Bunga sepatu
Butrowali
Eriobotrya japonica (Thunb.)
Lindl.
Allium cepa Linn.
Hibiscus rosasinensis L.
Tinospora crispa (L.) Hook F.
memutihkan kulit
menurunkan tekanan darah
ringgi
penurun panas, diare
Amaryllidaceae
Malvaceae
Menispermaceae
terna
semak
liana
umbi
buah, daun
umbi
masuk angin
obat gatal
diabetus
Cabe puyang
Polygonum hidropiper L.
Poaceae
herba
umbi
pegel
Vitamin B
Minyak atsiri, Alkaloid
Pirodoksin,
KNO3,Vitamin A,
Vitamin C, Vitamin K
dan Garam pospat
Hibisetinn, Zat pahit
Picroretin, Berberine,
Columbin
Tannin, Minyak atsiri,
Quertesin
80
Lampiran 2 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat (Lanjutan)
Digitaria adscendens ( Kunth )
Henrard var.
Syzygium aromaticum (L.) Merr
at Perry
Poaceae
herba
Bagian yang
digunakan
daun
Myrtaceae
pohon
bunga
sakit gigi
Solanaceae
Asteraceae
semak
herba
buah
daun
pegal-linu
diabetes
Dele
Duren
Gaganan
Physalis angulata L.
Gynura procumbens (Lour.)
Merr.
Glycine max (L.) Merr.
Durio zibethinus Murr.
Centella asiatica L.
Fabaceae
Bombaceae
Apiaceae
herba
pohon
herba
buah
buah
daun
pegal-linu
memutihkan kulit
meningkatkan daya ingat
25
26
27
Garut
Jahe
Jambu kluthuk
Maranta arundinaceae L.
Zingiber officinale Roxb
Psidium guajava L.
Marantaceae
Zingiberaceae
Myrtaceae
semak
terna
perdu
daun
rimpang
buah,daun
melancarkan pencernakan
penghangat badan
diare,demam berdarah
28
29
30
31
32
33
Janggelan
Jati belanda
Jenggot wesi
Jeruk pecel
Jinten
Jipan
Mesona palustris BL.
Guazuma ulmifolia Lmk.
Usnea sp.
Citrus aurantium L.
Nigella sativa Linn.
Sechium edule (Jacq.) Sw.
Lamiaceae
Lamiaceae
Usneaceae
Rutaceae
Ranunculaceae
Cucurbitaceae
semak
pohon
lumut
pohon
herba
liana
daun
daun
lumut
buah
biji
buah
34
35
Kates
Katuk
Carica papaya L.
Sauropus adrogynus (L) Merr
Caricaceae
Euphorbiaceae
terna
herba
daun,buah
daun
melancarkan pencernakan
menurunkan berat badan
campuran obat
obat batuk
segala macam penyakit
menurunkan tekanan darah
ringgi
menambah nafsu makan
melancarkan asi
No
Nama lokal
18
Ceker ayam
19
Cengkeh
20
21
Ciplukan
Daun dewa
22
23
24
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
Kandungan kimia *)
Khasiat
reumatik
Minyak atsiri, Zat samak,
Kariofilin, Eugenitin,
Eudenin, Isoeugenitin,
Lemak
Minyak atsiri, Flavonoid
Glikosidasiatoksida,
Asam asiatikat
Zat pati
Tannin, Minyak atsiri,
Lemak asam malat
Tanin, Lendir, Damar
Minyak tsiri
Protein, Lemak,
Kalsium, Fosfor, Zat
besi, Vitamin A, Vitamin
B, Vitamin C
81
Lampiran 2 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat (Lanjutan)
Lauraceae
pohon
Kayu putih
Cinnamomum burmanni (nees.)
Bl.
Eucalyptus deglupta Bl.
Bagian yang
digunakan
kulit kayu
Myrtaceae
pohon
daun
masuk angin
38
39
40
Keji beling
Kemangi
Kencur
Strobilanthes crispus (L.) Bl.
Ocimum citriodorum L.
Kaemferia galanga L.
Acanthaceae
Lamiaceae
Zingiberaceae
terna
semak
herba
daun
daun
rimpang
peluruh kencing
mengurangi bau badan
obat memar
41
42
Kina
Kingkong
Cinchona pubescens Vahl
Eupatorium triplinerve Vahl
Rubiaceae
Asteraceae
pohon
herba
kulit kayu
daun
malaria
campuran obat
43
Klopo
Cocos nucifera L.
Arecaceae
palem
batang, buah,
daun
penawar racun,pelancar
haid
44
45
46
Kunci
Kunir
Kunir putih
Castrochilus panduratum Ridl.
Curcuma domestica Val.
Kaemferia rotunda L.
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
terna
terna
terna
rimpang
rimpang
rimpang
masuk angin
maag
maag
47
48
49
50
Lidah buaya
Lombok rawit
Orang-aring
Pace
Aloe vera L.
Capsicum frutescens L.
Mutia diversifolia (Bl.) Wedd.
Morinda citrifolia L.
Liliaceae
Solanaceae
Urticaceae
Rubiaceae
herba
herba
perdu
pohon
daun
buah
daun
buah
melancarkan pencernakan
sariawan
penyubur rambut
menurunkan tekanan darah
tinggi
No
Nama lokal
36
Kayu manis
37
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
Khasiat
campuran obat
Kandungan kimia *)
Minyak atsiri, dammar,
Ca-Oksalat
Phellandrene, Aldehyde,
Keton, Phenol
Kalsium, Silikat
Minyak atsiri
Minyak atsiri, Borneol,
Kamper, Sineol, Etil,
Alkohol
Minyak atsiri, Ayapin,
Kumarin,
Timohidrokuinon
Minyak lemak, Mineral,
Vit. A, Vit. B, Vit. C,
Fitosterin, Kolin, Enzim,
Glukosa, Sukrosa
Minyak atsiri
Minyak atsiri, Borneol,
Kamper, Sineol, Etil,
Alkohol
Minyak karvon, Asam
kaprilat, Morindadiol,
Soranyidiol
82
Lampiran 2 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat (Lanjutan)
51
Pare
Momordica charantia L.
Cucurbitaceae
semak
Bagian yang
digunakan
buah
52
53
Parijoto
Salam
Melastomataceae
Myrtaceae
perdu
pohon
bunga
daun
54
Serai
Poaceae
semak
batang
55
56
57
58
Suruh
Telo
Tembakau
Temu ireng
Medinella speciosa Linn.
Syzygium polyanthum Wigh
Walp.
Cymbopogon citratus (DC.)
Stapf
Piper betle Linn.
Ipomea batatas L.Sin
Nicotina tabacum L.
Curcuma aeruginosa Roxb
Piperaceae
Euphorbiaceae
Solanaceae
Zingiberaceae
liana
herba
perdu
terna
daun
umbi
daun
rimpang
menyuburkan kandungan
menurunkan tekanan darah
ringgi
menurunkan tekanan darah
ringgi
mimisan, keputihan
diabetus
diabetus
obat setelah melahirkan
59
Temulawak
Curcuma xanthorrhiza Roxb
Zingiberaceae
terna
rimpang
penambah nafsu makan
60
Timun
Cucumis sativus L.
Cucurbitaceae
perdu
buah
61
62
Tomat
Upluk
Solanaceae
Verbenaceae
herba
pohon
buah
akar
menurunkan tekanan darah
ringgi
sariawan
demam
Apiaceae
herba
buah
obat mata
No
Nama lokal
Nama Ilmiah
Solanum lycopersicum L.
Clerodendrum fragarans
(Vent.) Willd.
63 Wortel
Daucus carota L.
*) Sumber Zuhud EAM dan Haryanto (1994)
Famili
Habitus
Kandungan kimia *)
Khasiat
menurunkan tekanan darah
ringgi
Asam trikhosapat, Resin,
Mpmprdisin, Momordin,
Asam resinat, Saponin,
Asam lemak
Minyak atsiri, Tanin,
Flavonoid
Minyak atsiri
Minyak atsiri
Minyak atsiri, Zat pati,
lamar, lemal
Minyak atsiri, zat warna
kurkumin, Furnerol, Pati
-
83
Lampiran 3 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan pangan
No
Nama lokal
Nama ilmiah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
Adas Pulowaras
Alpukat
Anggur
Apel
Asem
Asparagus
Bakung
Bambu Petung
Bawang
Bayem
Bayem Abang
Bayem Duri
Bengkoang
Beras Ketan
Blimbing
Blimbing Wuluh
Brambang
Buncis
Cengkeh
Dele
Duren
Gadung
Ganyong
Garut
Jagung
Jahe
Jambu Air
Jambu Kluthuk
Janggelan
Jeruk
Jeruk Pecel
Jeruk Purut
Jinten
Jipan
Kacang Abang
Kacang Ijo
Kacang Panjang
Kacang Tanah
Kangkung
Kapri
Kapulaga
Foenilum vulgare Mill.
Persea americana Mill.
Vitis vinifera L.
Malus sylvestris Mill.
Tamarindus indica L.
Asparague officinalis L.
Crinum asiaticum L.
Dendrocalamus asper Schult. F
Allium sativum L.
Amaranthus sp.
Celosia argentina L.
Amaranthus spinosus L.
Pachyrrhizus erosus L.
Oryza sativa glotinosa L.
Averhoa carambola L.
Averrhoa blimbi L.
Allium ascalonicum L.
Phaseolus vulgaris L.
Syzygium aromaticum (L.) Merr.
Glycine max (L.) Merr.
Durio zibethinus Merr.
Dioscorea hispida Dennstedt.
Canna edulis Ker -Gawl.
Maranta arundinaceae L.
Zea mays L.
Zingiber officinale Rosc.
Euginia aquea Burm
Psidium guajava Linn.
Mesona palustris Bl.
Citrus sp.
Citrus aurantium Linn.
Citrus hystric DC.
Nigella sativa L.
Sechium edule (Jacq.) Sw.
Vigna umbellata (Thunb.)
Vigna Radiata L.
Vigna unguiculata sesquipedalis L.
Arachis hypogaea L
Ipomea aquatica Forsk.
Pisum sativum L.
Amomum cardamomun L.
Famili
Apiaceae
Lauraceae
Vitaceae
Rosaceae
Fabaceae
Asparagaceae
Amaryllidaceae
Poaceae
Liliaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Basellaceae
Poaceae
Oxalidaceae
Oxalidaceae
Liliaceae
Fabaceae
Myrtaceae
Fabaceae
Bombaceae
Dioscoreaceae
Cannaceae
Marantaceae
Poaceae
Zingiberaceae
Myrtaceae
Myrtaceae
Lamiaceae
Rutaceae
Rutaceae
Rutaceae
Ranunculaceae
Cucurbitaceae
Fabaceae
Fabaceae
Fabaceae
Fabaceae
Convolvulaceae
Fabaceae
Zingiberaceae
Bagian yang
digunakan
herba
buah
buah
buah
buah
bunga
bunga
umbi
umbi
daun
daun
daun
umbi
buah
buah
buah
umbi
buah
bunga
buah
buah
umbi
rimpang
umbi
buah
rimpang
buah
buah
daun
buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
daun
buah
rimpang
84
Lampiran 3 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan pangan (Lanjutan)
No
Nama lokal
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
Kates
Katuk
Kayu Manis
Kecubung
Kedondong
Kemangi
Kencur
Kentang
Klopo
Kluwih
Kopi
Kunci
Kunir
Lombok Gede
Lombok Rawit
Nangka
Pace
Pare
Pelem
Petai
Pohong
Rambutan
Salam
Sawi
Selada Air
Serai
Sukun
Suruh
Teh
Tales
Telo
Tembakau
Terong
Timun
Tomat
Uwi
Wortel
Nama ilmiah
Carica papaya L.
Sauropus adrogynus (L) Merr.
Cinnamomum burmanni (nees) Bl.
Datura metel L.
Spandias pinnata L.
Ocimum citriodorum Vis.
Kaemferia galanga L.
Solanum tuberosum L.
Cocos nucifera L.
Artocarpus camansi Park.
Coffea robust Lindl.
Castrochilus panduratum Ridl.
Curcuma domestica Val.
Capsicum annum L.
Capsicum frutescens L.
Artocarpus heterophyllus Lamk.
Morinda citrifolia L.
Momordica charantia L.
Mangifera indica L
Parkia speciosa Hassk.
Manihot utilissima Pohl.
Nephelium lappaceum L.
Syzygium polyanthum Wigh Walp.
Brassica rapa L.
Nasturtium sp.
Cymbopogon citratus (DC.) Stapf
Artocarpus comunis Forst
Piper betle Linn.
Camellia sinensis L.
Colocasia Esculenta L. Schott
Ipomea batatas L.Sin
Nicotina tabacum L.
Solanum melongena L.
Cucumis sativus L.
Solanum lycopersicum L.
Dioscorea alata L.
Daucus carota L.
Famili
Caricaceae
Euphorbiaceae
Lauraceae
Solanaceae
Anacardiaceae
Lamiaceae
Zingiberaceae
Solaaceae
Arecaceae
Moraceae
Rubiaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Solanaceae
Solanaceae
Moraceae
Rubiaceae
Cucurbitaceae
Anacardiaceae
Fabaceae
Euphorbiaceae
Sapindaceae
Myrtaceae
Brassicaceae
Brassicaceae
Poaceae
Moraceae
Piperaceae
Theaceae
Aracaceae
Euphorbiaceae
Solanaceae
Solanaceae
Cucurbitaceae
Solanaceae
Dioscoreceae
Apiaceae
Bagian yang
digunakan
buah,daun
daun
kulit kayu
bunga
buah
daun
rimpang
umbi
buah,air
buah
buah
rimpang
rimpang
buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
umbi
buah
daun
daun
daun
batang
umbi
daun
daun
umbi
umbi
daun
buah
buah
buah
umbi
buah
85
Lampiran 4 Tumbuhan yang dimanfaatkan untuk bahan kerajinan,anyaman dan
tali
No
Nama lokal
Nama Ilmiah
Famili
1
2
3
4
5
6
Andong
Bambu Petung
Banyon
Damar
Mendong
Pinus
Cordyline fruticosa L.
Dendrocalamus asper Schult. F.
Tetrastigma papilosum (Bl.) Planch.
Agathis dammara L.
Fimbristylis globulods
Pinus merkusii Jung et de Vriesse
Agavaceae
Poaceae
Vitaceae
Araucariaceae
Apiaceae
Pinaceae
7
Rilarat
Rubus chrysophyllus Miq.
Rosaceae
Lampiran 5 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai kayu bakar
No
Famili
Nama lokal
Nama ilmiah
Banyon
Blimbing
Cengkeh
Codo
Cuwut
Damar
Tetrastigma papilosum (Bl.) Planch.
Averhoa carambola L.
Syzygium aromaticum (L.) Merr.
Elaeagnus loureirii Champ.
Cyrtandra sp.
Agathis dammara (Lamb.) Rich.
Vitaceae
Oxalidaceae
Myrtaceae
Elaeagnaceae
Gesneriaceae
Araucariaceae
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jati
Jati Belanda
Kayu Manis
Lempeni
Mimba
Pinus
Rilarat
Salam
Sembung
Tectona grandis Linn. f.
Guazuma ulmifolia Lamk.
Cinnamomum burmanni (nees.) Bl.
Ficus ribes Reinw. ex Blume
Azadirachta indica A. Juss
Pinus merkusii Jung et de Vriesse
Rubus chrysophyllus Miq.
Syzygium polyanthum Wigh Walp.
Astronia macrophylla Blume
Verbenaceae
Sterculiacea
Lauraceae
Moraceae
Meliaceae
Pinaceae
Rosaceae
Myrtaceae
Melastomataceae
16
Suren
Toona sureni Merr.
Meliaceae
1
2
3
4
5
6
Lampiran 6 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pewarna
No
Nama lokal
Nama ilmiah
Famili
1
Jati
Tectona grandis Linn. f.
Vebernacea
2
Kunir
Curcuma domestica Val.
Zingiberaceae
86
Lampiran 7 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak
No
Nama lokal
Nama ilmiah
Famili
1
2
3
4
5
6
7
Alang-Alang
Kalanjana
Pohong
Rumput A
Rumput B
Rumput C
Rumput D
Imperata cylindrica L.
Pennisetum purpureum Schum.
Manihot utilissima Pohl.
Panicum sp.
Strobilanthes sp.
Oplismenus compositus (L.) Beauv.
Isachne sp.
Poaceae
Poaceae
Euphorbiaceae
Poaceae
Acanthaceae
Poaceae
Poaceae
8
Tumb.Bawah H
Rubia cordifolia L.
Rubiaceae
Lampiran 8 Tumbuhan yang dimanfaatkan untuk kebutuhan ritual keagamaan
No
Nama lokal
Nama ilmiah
Famili
1
2
3
4
5
6
Awar-awar
Bambu kuning
Beras ketan
dewondaru
Kanthil
Kemenyan
Ficus septica Burm.F.
Bambusa vulgaris Schrad.
Oryza sativa glotinosa L.
Eugenia uniflora L.
Michelia alba
Styrax officinalis L.
Moraceae
Poaceae
Poaceae
Myrtaceae
Magnoliaceae
Lauraceae
7
Mawar
Rosa sp.
Rosaceae
8
Melati
Jasminum sambac L.
Oleaceae
Lampiran 9 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Nama lokal
Nama ilmiah
Famili
Akasia
Dewondaru
Edelweiss
Hokeri
Jemani
Jeruk
Kadaka
Acacia decurrens Wiilld.
Eugenia uniflora L.
Anaphalis javanica
Anthurium hokeri
Anthurium jemani
Citrus sp
Aspelium nidus L.
Fabaceae
Myrtaceae
Asteraceae
Araceae
Araceae
Rutaceae
Aspleniaceae
Kaliandra
Calliandra haematocephala Hassk.
Fabaceae
9
10
11
12
13
Kanthil
Lidah Buaya
Lidah Mertua
Mawar
Melati
Michelia alba
Aloe vera L.
Sansevieria trifasciata
Rosa sp.
Jasminum sambac Ait
Magnoliaceae
Liliaceae
Dracaenaceae
Rosaceae
Oleaceae
14
Suruh
Piper betle Linn.
Piperaceae
87
Lampiran 10 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pestisida nabati
No
Nama lokal
Nama ilmiah
Famili
1
2
3
Cengkeh
Jarak
Mimba
Syzygium aromaticum (L.) Merr.
Ricinus communis
Azadirachta indica Neem.
Myrtaceae
Euphorbiaceae
Meliaceae
4
Tembakau
Nicotina tabacum L.
Solanaceae
Lampiran 11 Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Nama lokal
Codo
Cuwut
Dadap
Dempul
Jati
Jati Belanda
Kaliandra
Pinus
Sembung
Suren
Nama ilmiah
Elaeagnus loureirii Champ.
Cyrtandra sp.
Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.
Glochidion rubrum Bl.
Tectona grandis Linn. F.
Guazuma ulmifolia Lamk.
Calliandra haematocephala
Pinus merkusii
Astronia macrophylla Blume
Toona sureni Merr.
Famili
Elaeagnaceae
Gesneriaceae
Fabaceae
Euphorbiaceae
Verbenaceae
Sterculiaceae
Fabaceae
Pinaceae
Melastomaceae
Meliaceae
88
Lampiran 12 Tumbuhan yang dibudidayakan di pekarangan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Nama Lokal
Adas
Pulowaras
Akasia
Andong
Anggur
Asparagus
Bakung
Bayem
Bayem Abang
Bayem Duri
Benahong
Blimbing
Blimbing
Wuluh
Buncis
Butrowali
Daun Dewa
Gaganan
Garut
Hokeri
Jahe
Janggelan
Jemani
Jipan
Kadaka
Kapulaga
Kencur
Kunci
Kunir
Kunir Putih
Lidah Mertua
Mawar
Melati
Pare
Parijoto
Salam
Selada Air
Suruh
Temu Ireng
Temulawak
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39 Tomat
Nama Ilmiah
Famili
Manfaat
Foenilum vulgare Mill.
Acacia mangium Wiilld.
Cordyline fruticosa L.
Vitis vinifera L.
Asparague officinalis L.
Crinum asiaticum
Amaranthus tricolor Linn.
Celosia argentina L.
Amaranthus spinosus L.
Anredera cordifolia (Ten.) Steenis
Averhoa carambola L.
Apiaceae
Fabaceae
Agavaceae
Vitaceae
Asparagaceae
Amaryllidaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Amaranthaceae
Basellaceae
Oxalidaceae
obat,pangan
hias
hias
pangan
pangan
pangan
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan
obat
obat,pangan
Averrhoa blimbi L.
Phaseolus vulgaris L.
Tinospora crispa (L.) Hook F.
Gynura procumbens (Lour.) Merr.
Centella asiatica
Maranta arundinaceae L.
Anthurium Hokeri
Zingiber officinale Roxb
Mesona palustris BL.
Anthurium Jemani
Sechium edule (Jacq.) Sw.
Aspelium nidus L.
Amomum cardamomun L.
Kaemferia galanga L.
Castrochilus panduratum Ridl.
Curcuma domestica Val.
Kaemferia rotunda L.
Sansevieria trifasciata
Rosa sp.
Jasminum sambac L.
Momordica charantia L.
Medinella speciosa Linn.
Syzygium polyanthum Wigh Walp.
Nasturtium sp.
Piper betle Linn.
Curcuma aeruginosa Roxb.
Curcuma xanthorrhiza Roxb
Oxalidaceae
Fabaceae
Menispermaceae
Asteraceae
Apiaceae
Marantaceae
Araceae
Zingiberaceae
Lamiaceae
Araceae
Cucurbitaceae
Aspleniaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Dracaenaceae
Rosaceae
Oleaceae
Cucurbitaceae
Melastomataceae
Myrtaceae
Brassicaceae
Piperaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
pangan
pangan
obat
obat
obat
obat,pangan
hias
obat,pangan
obat,pangan
hias
obat,pangan
hias
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan
obat,pangan,pewarna
obat,pangan
hias
hias,ritual
hias,ritual
obat,pangan
obat
obat,pangan
pangan
obat
obat,pangan
obat,pangan
Solanum lycopersicum L.
Solanaceae
obat,pangan
89
Lampiran 13 Sketsa pemanfaatan lahan oleh masyarakat
90
91
92
Lampiran 14 Kondisi pekarangan
Download