materi sosialisasi

advertisement
MATERI SOSIALISASI
PANCASILA
(Sebagai
Dasar dan
Ideologi
Negara)
BHINNEKA
TUNGGAL
IKA
(Semboyan
Negara)
Materi
Sosialisasi
NKRI
(Bentuk
Negara)
UUD NRI
Tahun 1945
(Konstitusi
Negara)
1
2
DASAR HUKUM SOSIALISASI
D
A
S
A
R
H
U
K
U
M
UU NOMOR 27 TAHUN 2009
tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD,
Pasal 15 Ayat (1) huruf e
KEPUTUSAN MPR RI NO. 1/MPR/ 2010
Tentang Peraturan Tata Tertib MPR,
Pasal 22 ayat (1) huruf e
INPRES NO.6 TAHUN 2005 tentang
Dukungan kelancaran pelaksanaan
Sosialisasi UUD NRI Tahun 1945 yang
dilakukan oleh MPR
KOMITMEN
PIMPINAN MPR
MEMASYARAKATKAN
PANCASILA,
UUD NRI TAHUN
1945, NKRI,
BHINNEKA
TUNGGAL IKA
LATAR BELAKANG SOSIALISASI
(Terjadinya Krisis Multidimensi)
FAKTOR INTERNAL
Pemahaman dan Pengamalan nilainilai Pancasila dan ajaran agama
yang sempit serta lunturnya
penghargaan terhadap
kemajemukan.
Terjadinya Ketidakadilan dalam
bidang Pembangunan Ekonomi,
Sosial, Politik dan Hukum di pusat
dan daerah.
FAKTOR EKSTERNAL
Globalisasi yang membawa
persaingan antar bangsa yang
semakin tajam.
Kuatnya pengaruh budaya asing dan
kurangnya sarana teknologi industri
dalam perumusan kebijakan negara
TAP MPR No.VI Tahun 2001 Tentang Etika Kehidupan Berbangsa
3
4
SUMBER-SUMBER PANCASILA
SEBAGAI DASAR NEGARA
KETUHANAN YANG MAHA ESA
SUMBER:
1.
2.
3.
4.
NILAI KEAGAMAAN
ADAT ISTIADAT
KEBUDAYAAN
NILAI-NILAI YANG
HIDUP DALAM
MASYARAKAT
5. PERKEMBANGAN
IDEOLOGI DUNIA
PADA SAAT ITU
KEMANUSIAAN YANG ADIL
DAN BERADAB
PERSATUAN INDONESIA
PANCASILA
KERAKYATAN YANG DIPIMPIN
OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN
DALAM PERMUSYAWARATAN/
PERWAKILAN
KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH
RAKYAT INDONESIA
Pancasila Sebagai Dasar Negara (TAP MPR RI NO. XVIII/MPR/1998)
KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA
Norma Dasar (Grundnorm) menurut Hans Kelsen dan
Norma Fundamental Negara (Staatsfundamentalnorm)
menurut Hans Nawiasky
Filosofische Grondslag
yaitu sebagai fondamen,
filsafat, pikiran yang
mendalam, menurut
Soekarno
PANDANGAN
HIDUP
PANCASILA
(WAY OF LIFE)
PEMERSATU
BANGSA
Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis negara sehingga
setiap materi muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai
yang terkandung dalam Pancasila. (Penjelasan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011)
5
PROSES PERUMUSAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA
SIDANG PERTAMA BPUPKI
(Ir. SOEKARNO MENAWARKAN
5 PRINSIP DASAR NEGARA
YANG DIBERI NAMA
PANCASILA)
1 JUNI 1945
DASAR NEGARA/PANCASILA
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme Atau
Peri-kemanusiaan
3. Mufakat Atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan Yang
Berkebudayaan
PANITIA KECIL/PANITIA
SEMBILAN
SIDANG PPKI
(PANCASILA DALAM PIAGAM
JAKARTA)
22 JUNI 1945
(PANCASILA DALAM
PEMBUKAAN
UUD NRI TAHUN 1945)
18 AGUSTUS 1945
PIAGAM JAKARTA
PANCASILA
1. Ketuhanan
Dengan
Kewajiban
Menjalankan
Syariat Islam Bagi PemelukPemeluknya
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan
Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin
Oleh Hikmat Kebijaksanaan
Dalam Permusyawaratan /
Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat Indonesia
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil
Dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin
Oleh Hikmat Kebijaksanaan
Dalam Permusyawaratan /
Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi
Seluruh Rakyat Indonesia
6
PANCASILA SEBAGAI SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM
Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara, Pasal 2 Undang-Undang
No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dalam
penyelenggaraan kekuasaan negara yang berdasarkan atas hukum, Pancasila harus
selalu dijadikan rujukan dalam pembangunan hukum.
Secara akademik, hal tersebut sesuai dengan pendapat Hans Nawiasky tentang Teori
Hierarki Norma Hukum bahwa norma hukum itu berjenjang dan berlapis dalam suatu
hierarki tata susunan, dimana suatu norma yang lebih rendah berlaku, bersumber dan
berdasar pada norma yang lebih tinggi. Yang disebut dengan Staatsfundamentalnorm
(norma fundamental negara).
Untuk itu semua dokumen hukum negara mulai UUD, TAP MPR, UU/PERPU, PP, Perpres,
Perda Provinsi, Perda Kab/Kota, substansinya harus mendasarkan dan tidak boleh
bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
7
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PANCASILA
PANCASILA
KETUHANAN YANG
MAHA ESA
Mengandung nilai-nilai
antara lain :
1. Setiap orang
Indonesia bertuhan,
menurut agama
dan kepercayaanya;
2. Menjalankan
agama dan
kepercayaan secara
berkeadaban serta
saling
menghormati;
3. Segenap agama dan
kepercayaan
mendapat tempat
dan perlakuan yang
sama.
KEMANUSIAAN
YANG ADIL DAN
BERADAB
Mengandung nilainilai antara lain :
PERSATUAN
INDONESIA
Mengandung nilainilai antara lain :
1.Perlakuan
terhadap manusia
secara adil, tidak
memihak, dan
berpegang kepada
kebenaran;
1.Persatuan dalam
arti luas;
2. Beradab
maksudnya berbudi
luhur, sopan dan
bersusila.
3. Bersatu dalam
keberagaman.
2. Melindungi
segenap bangsa;
KERAKYATAN YANG
DIPIMPIN OLEH
HIKMAT
KEBIJAKSANAAN
DALAM
PERMUSYAWARATAN
/ PERWAKILAN
Mengandung nilainilai antara lain :
1. Rakyat memiliki
kedaulatan;
2. Nilai
Demokrasi;
3. Prinsip
Musyawarah;
4. Rakyat memiliki
Perwakilan.
KEADILAN SOSIAL
BAGI SELURUH
RAKYAT INDONESIA
Mengandung nilainilai antara lain:
1. Perlakuan yang
adil terhadap
Rakyat;
2. Adil dalam
segala aspek
kehidupan;
3. Perlindungan
terhadap rakyat
agar hidup
sejahtera.
8
PRINSIP-PRINSIP DALAM PEMBUKAAN (PREAMBULE)
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
9
Pengakuan HAM
Sebagai Hak
Universal Segala
Bangsa
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan
oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,
karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Penegasan Tentang
Perjuangan
Pergerakan
Kemerdekaan
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah
kepada
saat yang
berbahagia
dengan
selamat
sentausa
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Pengakuan Terhadap NilaiNilai Religi, Tekad Untuk
Merdeka, Pernyataan
Bukan Negara Sekuler dan
Bukan Negara Agama
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan
oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas,
maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
1. Hakikat Tujuan
Negara;
2. Cara Mencapai
Tujuan Negara
Melalui Hukum
Dasar dan
Kedaulatan
Rakyat;
3. Prinsip Dasar
Penyelenggaraan
Negara.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah
Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,
maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu
susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan,
serta dengan
mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
TANTANGAN MASA KINI DAN IMPLEMENTASI
NILAI-NILAI PANCASILA
KONDISI
FAKTUAL
MASYARAKAT
1. Menguatnya paham-paham individualisme, egoisme sektoral, sikap materialistis, dan
mengendurnya sikap toleransi.
2. Banyak terjadi konflik sosial dalam masyarakat.
3. Penegakkan hukum belum optimal.
4. Pembangunan demokrasi masih mencari bentuk.
5. Penyalahgunaan kekuasaan serta praktek KKN.
6. Masih tingginya pengangguran dan kemiskinan.
PERUBAHAN
LINGKUNGAN
STRATEGIS
1. Dinamika politik global yang penuh dengan persaingan.
2. Negara-negara di dunia dituntut untuk saling bekerja sama, yang masing-masing juga
berkewajiban melindungi kepentingan nasionalnya.
3. Interdependensi antarnegara semakin menguat, pada saat yang bersamaan kesenjangan
kekuatan ekonomi dan sosial semakin melebar karena agenda dan isu internasional masih
dominan dipengaruhi oleh kebijakan negara-negara maju.
4. Membangun demokrasi yang mengedepankan prinsip-prinsip keragaman, menghindari
diktator mayoritas dan tirani minoritas.
PERKEMBANGAN
IPTEK
IMPLEMENTASI
NILAI NILAI
PANCASILA
1.
2.
3.
4.
Arus informasi yang semakin masif
Melahirkan masyarakat yang lebih menghargai kualitas individu.
Masyarakat lebih kompetitif sehingga persaingan antar individu akan memuncak.
Tumbuhnya sikap individualisme telah mengakibatkan berkurangnya semangat gotongroyong .
Seluruh perumusan dan kebijakan negara harus bersendikan pada nilai-nilai
pancasila seperti :
1. Dibidang politik yang selalu berpihak pada rakyat.
2. Dibidang Ekonomi lebih berpihak kepada ekonomi kerakyatan, yang ditujukan
untuk kemakmuran rakyat dengan melakukan keberpihakan.
3. Dibidang agama, sosial dan budaya membangun kehidupan kemasyarakatan,
kebangsaan, dan kenegaraan dengan membangun etos kerja bersendikan kepada
nilai-nilai Pancasila seperti persatuan, kerukunan dan toleransi.
4. Dibidang pertahanan dan keamanan, melaksanakan esensi sistem keamanan
rakyat semesta yaitu TNI dan POLRI sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai
kekuatan pendukung.
10
PANCASILA DAN KETERTIBAN DUNIA
Prinsip Kebebasan
dan Hak Asasi
Saling
Ketergantungan
(Interdependensi)
Ideologi
Transnasional
Terganggunya
Ketertiban di Setiap
Negara
Pancasila Sebagai
Solusi
1.Prinsip HAM universal berlaku bagi setiap orang dimanapun dia berada tanpa memandang perbedaan agama, minoritas, mayoritas, laki-laki,
perempuan, tua dan muda, dsb.
2.Setelah Deklarasi Umum Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) pada 10 Desember 1948.
3.Tahun 1966 DUHAM ditindaklanjuti dengan dua perjanjian internasional yaitu The International Covenant on Civil and Politicaal Rights (CCPR)
dan The International Covenant on Economical and Social and Cultural Rights (CESCR) yang mengikat secara hukum bagi negara-negara
anggota.
4.HAM adalah tuntutan yang dapat dipaksakan pemenuhannya secara hukum dan melekat pada diri setiap manusia.
5.Pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi hak individu, dalam konteks Indonesia pemerintah menjamin HAM setiap warga negara
berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1.Saling Ketergantungan (interdependensi) secara harfiah diartikan sebagai hubungan saling ketergantungan.
2.Isu tersebut semakin berkembang sejalan dengan makin banyaknya negara modern dan aktor-aktor hubungan
internasional baru yang melakukan interaksi dengan negara lain dalam rangka mencapai kepentingannya masing-masing.
3.Interdependensi secara harfiah merupakan perwujudan manusia (negara) sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup
tanpa bantuan dari manusia lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka ia akan berinteraksi sesamanya.
4.Negara dengan segala kelebihan dan kekurangannya melakukan interaksi dengan negara lain. Intensitas interaksi itulah
yang kemudian memunculkan interdependensi (ketergantungan) asing.
1. Ideologi transnasional merujuk pergerakan ideologi global yang melintasi batas-batas antar negara dan bangsa.
2. Ideologi itu merupakan gerakan politik untuk mempengaruhi kebijakan politik suatu negara.
3. Ancaman Liberalisme, Sosialisme, dan fundamentalisme akan mengancam eksistensi Bangsa Indonesia yang sudah mempunyai jati
diri bangsa, yaitu ideologi Pancasila.
1. Disintegrasi bangsa, melalui gerakan-gerakan separatis, sentimen kesukuan, ketidakpuasan terhadap kebijakan nasional dan
terorisme.
2. Keresahan sosial akibat ketimpangan kebijakan ekonomi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.
3. Upaya penggantian ideologi negara dengan ideologi lain yang tidak sesuai dengan jiwa dan semangat bangsa itu.
4. Potensi konflik antar kelompok/golongan baik akibat perbedaan pendapat maupun akibat masalah SARA.
5. Bentuk "penjarahan" sumber daya alam melalui eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkontrol yang dapat merusak
lingkungan atau pembagian hasil yang tidak seimbang baik yang dilakukan secara "legal" maupun ilegal sehingga meyebabkan
kerugian bagi negara.
6. Upaya menghancurkan moral dan budaya bangsa melalui disinformasi, propaganda, peredaran narkotika dan obat-obat terlarang,
film-film porno atau berbagai kegiatan kebudayaan asing yang mempengaruhi masyarakat terutama generasi muda, yang dapat
merusak budaya bangsa.
1.Pancasila dapat dijadikan sebagai alternatif ideologi dunia.
2.Pancasila mampu memberikan kontribusi berarti bagi terwujudnya perdamaian dunia.
3.Pancasila menghendaki setiap orang memiliki akses ekonomi yang sama dengan semangat gotong-royong, menginginkan
setiap aset alam dikuasai oleh negara yang digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Berbeda dengan kapitalisme yang
menghendaki seminimal mungkin campur tangan negara dan lebih menyerahkannya kepada mekanisme pasar (liberalisasi).
4.Pancasila sifatnya universal sebagai solusi atas berbagai permasalahan kemanusiaan di dunia internasional, yang
menjunjung tinggi nilai-nilai agama, kemanusiaan, memiliki semangat persaudaraan, saling menghormati dan menghargai
perbedaan, demokrasi serta memperhatikan kesejahteraan dan keadilan rakyat.
11
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
SEBAGAI HUKUM DASAR
UNDANG-UNDANG DASAR
mengatur 3 hal penting :
1. Pembatasan kekuasaan
organ-organ negara.
2. Mengatur hubungan
antar lembaga-lembaga
negara.
3. Mengatur hubungan
kekuasaan antar
lembaga-lembaga negara
dengan warga negara.
Merupakan hukum dasar tertulis dan tertinggi
serta merupakan puncak dari seluruh
peraturan perundang-undangan.
12
SEJARAH PERJALANAN UNDANG-UNDANG DASAR
UUD 1945
18 AGUSTUS 1945
S.D. 27 DESEMBER
1949
1. Masa peralihan
revolusi fisik
belum tuntas
2. Rongrongan
penjajah tidak
mengakui
kemerdekaan
Indonesia
3. Praktek
penyelenggaraa
n negara
menggunakan
sistem
parlementer
sedangkan UUD
1945
menggunakan
sistem
Presidensiil
KONSTITUSI
RI SERIKAT
1949
UUD
SEMENTARA
1950
27 DESEMBER 1949
S.D. 17 AGUSTUS
1950
17 AGUSTUS 1950
S.D. 5 JULI 1959
1. Banyak negara
bagian yang
tidak tunduk
kepada
pemerintah
federal
2. Wibawa
pemerintah
berkurang
3. Dari 16 negara
bagian hanya 3
negara bagian
yang tunduk :
negara republik
indonesia ,
Indonesia timur,
dan negara
sumatera timur
UUD 1945
Dekrit Presiden
5 JULI 1959 S.D.
TAHUN 1999
1. Lembaga
konstituante
selama 2,5
Tahun belum
dapat
menyelesaikan
tugasnya
2. Rapat tidak
memenuhi
Kuorum
3. Situasi tanah air
semakin genting
4. Tanggal 5 Juli
1959 Presiden
mengeluarkan
Dekrit untuk
kembali ke UUD
1945
Tuntutan
reformasi
Perubahan UUD
1945
13
UUD NRI
Tahun
1945 Hasil
Perubahan
1. Perubahan
pertama tahun
1999, ditetapkan
Tanggal 19
Oktober 1999.
2. Perubahan kedua
tahun 2000,
ditetapkan
tanggal 18
Agustus 2000.
3. Perubahan ketiga
tahun 2001,
ditetapkan
tanggal 9
November 2001.
4. Perubahan
keempat tahun
2002, ditetapkan
tanggal 10
Agustus 2002.
PROSES PERUBAHAN
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
Tuntutan Reformasi
Antara lain:
1.Amandemen UUD 1945
2.Penghapusan doktrin
Dwi Fungsi ABRI
3.Penegakan hukum, HAM,
dan pemberantasan KKN
4.Otonomi Daerah
5.Kebebasan Pers
6.Mewujudkan kehidupan
demokrasi
Sebelum Perubahan
1. Pembukaan
2. Batang Tubuh
- 16 bab
- 37 pasal
- 49 ayat
- 4 pasal Aturan
Peralihan
- 2 ayat Aturan
Tambahan
3. Penjelasan
Latar Belakang
Perubahan
1. Kekuasaan tertinggi di
tangan MPR
2. Kekuasaan yang sangat
besar pada Presiden
3. Pasal-pasal yang terlalu
“luwes” sehingga dapat
menimbulkan multitafsir
4. Kewenangan pada
Presiden untuk mengatur
hal-hal penting dengan
undang-undang
5. Rumusan UUD 1945
tentang semangat
penyelenggara negara
belum cukup didukung
ketentuan konstitusi
Hasil Perubahan
Sidang MPR
Kesepakatan Dasar
1.Pembukaan
2.Pasal-pasal:
- 21 bab
- 73 pasal
- 170 ayat
- 3 pasal Aturan Peralihan
- 2 pasal Aturan Tambahan
1. Sidang Umum MPR 1999
Tanggal 14-21 Okt 1999
2. Sidang Tahunan MPR
2000
Tanggal 7-18 Agt 2000
3. Sidang Tahunan MPR
2001
Tanggal 1-9 Nov 2001
4. Sidang Tahunan MPR
2002
Tanggal 1-11 Agt 2002
1.Tidak mengubah
Pembukaan UUD 1945
2.Tetap mempertahankan
Negara Kesatuan
Republik Indonesia
3.Mempertegas sistem
presidensiil
4.Penjelasan UUD 1945
yang memuat hal-hal
normatif akan dimasukan
ke dalam pasal-pasal
5.Perubahan dilakukan
dengan cara “adendum”
14
Tujuan Perubahan
Menyempurnakan aturan
dasar, mengenai:
1.Tatanan negara
2.Kedaulatan Rakyat
3.HAM
4.Pembagian kekuasaan
5.Kesejahteraan Sosial
6.Eksistensi negara
demokrasi dan negara
hukum
7.Hal-hal lain sesuai dengan
perkembangan aspirasi dan
kebutuhan bangsa
Dasar Yuridis
1.Pasal 3 UUD 1945
2.Pasal 37 UUD 1945
3.TAP MPR No.IX/MPR/1999
4.TAP MPR No.IX/MPR/2000
5.TAP MPR No.XI/MPR/2001
15
NASKAH RESMI UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
Naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan
Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959 serta dikukuhkan secara aklamasi
pada tanggal 22 Juli 1959 oleh Dewan Perwakilan Rakyat (sebagaimana
tercantum dalam Lembaran Negara Nomor 75 Tahun 1959)
Naskah Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (hasil Sidang Umum MPR Tahun 1999), sebagaimana tercantum
dalam Lembaran Negara Nomor 11 Tahun 2006
Naskah Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (hasil Sidang Tahunan MPR Tahun 2000), sebagaimana tercantum
dalam Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 2006
Naskah Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (hasil Sidang Tahunan MPR Tahun 2001), sebagaimana tercantum
dalam Lembaran Negara Nomor 13 Tahun 2006
Naskah Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 (hasil Sidang Tahunan MPR Tahun 2002), sebagaimana
tercantum dalam Lembaran Negara Nomor 14 Tahun 2006
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Satu
Naskah (Risalah Rapat Paripurna ke-5 Sidang Tahunan MPR Tahun 2002
Sebagai Naskah Perbantuan Dan Kompilasi Tanpa Ada Opini)
16
BENTUK DAN KEDAULATAN
BAB I
Negara Indonesia ialah Negara
Kesatuan, yang berbentuk Republik
[Pasal 1 (1)]
Negara Indonesia
adalah negara hukum
[Pasal 1 (3)***]
Kedaulatan berada di
tangan rakyat dan
dilaksanakan
menurut UndangUndang Dasar
[Pasal 1 (2)***]
PENATAAN KEKUASAAN/LEMBAGA NEGARA
17
PUSAT
UUD NRI TAHUN 1945
kpu
BPK
bank
sentral
Presiden
DPR
MPR
DPD
MA
kementerian
negara
TNI/POLRI
Pemerintahan Daerah
Provinsi
Gubernur
Lingkungan
Peradilan Umum
DPRD
Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota
Lingkungan
Peradilan Militer
DPRD
Legislatif
DAERAH
Lingkungan
Peradilan Agama
`
Bupati/
Walikota
KY
badan-badan lain
yang fungsinya
berkaitan dengan
kekuasaan
kehakiman
dewan
pertimbangan
Perwakilan
BPK Provinsi
MK
Lingkungan
Peradilan TUN
Eksekutif
DPR
Presiden
Memegang kekuasaan
membentuk UU
Pasal 20 (1)*
Memegang kekuasaan
pemerintahan
Pasal 4 (1)
Yudikatif
MA
MK
Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan
yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan
Pasal 24 (1)***
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
BAB II
ANGGOTA
DPR
ditambah
UTUSAN
DAERAH dan
GOLONGAN
MPR
18
ANGGOTA
DPR
dan
ANGGOTA
DPD
Dipilih melalui
pemilu
Wewenang Sesudah Perubahan
Wewenang Sebelum Perubahan
1.
Menetapkan dan mengubah UUD 1945;
1.
2.
Menetapkan garis-garis besar daripada haluan
negara;
Mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar
[Pasal 3 ayat (1)*** dan Pasal 37**** ];
2.
3.
Memilih dan memberhentikan Presiden dan
Wakil Presiden;
Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden [Pasal 3
ayat (2)***/**** ];
3.
4.
Membuat Putusan yang tidak dapat dibatalkan
oleh lembaga negara lainnya;
Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden
dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang
Dasar [Pasal 3 ayat (3)***/****];
4.
Memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan
oleh Presiden dalam hal terjadi kekosongan Wakil
Presiden [Pasal 8 ayat (2)***];
5.
Memberikan penjelasan/penafsiran terhadap
Putusan MPR;
6.
Meminta pertanggungjawaban Presiden.
5. Memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan
calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh
partai politik atau gabungan partai politik yang
pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih
suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan
umum sebelumnya sampai berakhir masa jabatannya
[Pasal 8 ayat (3)****].
MEKANISME PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR
LEMBAGA YANG
BERWENANG
MPR berwenang
mengubah dan
menetapkan
Undang-Undang
Dasar
PROSES PERUBAHAN
Usul perubahan
diajukan oleh
sekurangkurangnya 1/3
dari jumlah
anggota MPR
[Pasal 37 (1)****]
diajukan secara
tertulis dan
ditunjukkan dengan
jelas bagian yang
diusulkan untuk
diubah beserta
alasannya
[Pasal 37 (2)****]
[Pasal 3 Ayat (1)]
Putusan dilakukan
dengan persetujuan
sekurang-kurangnya
50% + 1 anggota
dari seluruh anggota
MPR
[Pasal 37 (4)****]
sidang MPR dihadiri
oleh sekurangkurangnya 2/3 dari
jumlah anggota
MPR
[Pasal 37 (3)****]
OBJEK PERUBAHAN
Pasal-Pasal
Undang-Undang Dasar
Yang tidak dapat
dilakukan perubahan
1. Pembukaan UndangUndang Dasar
(Kesepakatan Dasar)
2. Bentuk Negara
Kesatuan Republik
Indonesia
[Pasal 37 (5)****]
19
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
BAB VII
anggota DPR
dipilih melalui
pemilihan umum
[Pasal 19 (1)**]
DPR
memegang
kekuasaan
membentuk UU
[Pasal 20 (1)*]
20
anggota DPR
dapat
diberhentikan
dari jabatannya,
yang syaratsyarat dan tata
caranya
diatur dalam
undang-undang
(Pasal 22B**)
Fungsi, Wewenang, dan Hak
Antara lain tentang:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan
fungsi pengawasan [Pasal 20A (1)**] ;
mempunyai hak interpelasi, hak angket, dan hak
menyatakan pendapat [Pasal 20A (2)**] ;
pengajuan usul pemberhentian Presiden dan/atau
Wakil Presiden [Pasal 7B (1)***] ;
persetujuan dalam menyatakan perang, membuat
perdamaian dan perjanjian
[Pasal 11 (1) dan (2)****] ;
pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam
pengangkatan duta [Pasal 13 (2)*] ;
pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam
menerima penempatan duta negara lain
[Pasal 13 (3)*] ;
7. pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam
pemberian amnesti dan abolisi [Pasal 14 (2)*] ;
8. persetujuan atas perpu [Pasal 22 (2)] ;
9. pembahasan dan persetujuan atas RAPBN yang
diajukan oleh Presiden [Pasal 23 (2) dan (3)***] ;
10. pemilihan anggota BPK dengan memperhatikan
pertimbangan DPD [Pasal 23F (1)***] ;
11. persetujuan calon hakim agung yang diusulkan oleh KY
[Pasal 24A (3)***] ;
12. persetujuan pengangkatan dan pemberhentian anggota
KY [Pasal 24B (3)***] ;
13. pengajuan tiga orang calon anggota hakim konstitusi
[Pasal 24C (3)***] ;
MEKANISME PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG
Terkait dengan
Kewenangan DPD
DPD
DPR
dapat
mengajukan RUU
yang sesuai
dengan
kewenangannya
[Pasal 22D (1)***]
memegang
kekuasaan
membentuk
UU
[Pasal 20 (1)*]
ikut membahas
dan memberikan
pertimbangan
atas RUU yang
sesuai dengan
kewenangannya
[Pasal 22D (2)***]
Anggota
berhak
mengajukan
usul RUU
(Pasal 21*)
mendapat
persetujuan bersama
RUU dibahas
oleh DPR dan
Presiden untuk
mendapat
persetujuan
bersama
[Pasal 20 (2)*]
Presiden
berhak
mengajukan
RUU
[Pasal 5 (1)*]
tidak mendapat
persetujuan bersama
21
Dalam hal RUU
tidak disahkan
dalam waktu
30 hari, RUU
tersebut sah
menjadi UU
dan wajib
diundangkan
[Pasal 20 (5)**]
mengesahkan
UU
[Pasal 20 (4)*]
tidak boleh
diajukan lagi
dalam
persidangan
masa itu
[Pasal 20 (3)*]
22
mengajukan
PENYUSUNAN RANCANGAN
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
[Pasal 23 (2)***]
RAPBN
Presiden
DPR
memberi
pertimbangan
[Pasal 23 (2)***]
DPD
TIDAK
membahas
bersama
[Pasal 23 (2)***]
RAPBN
Pemerintah
menjalankan
persetujuan
YA
APBN
Pemerintah
menjalankan
APBN
tahun lalu
[Pasal 23 (3)***]
23
PERATURAN PEMERINTAH SEBAGAI PENGGANTI UNDANG-UNDANG
(PERPU)
setuju
Presiden
Dalam hal ihwal
kegentingan yang
memaksa, berhak
menetapkan
Perpu
[Pasal 22 (1)]
Perpu itu
harus
mendapat
persetujuan
DPR
[Pasal 22 (2)]
menjadi UU
DPR
tidak
setuju
harus dicabut
[Pasal 22 (3)]
24
DEWAN PERWAKILAN DAERAH
BAB VIIA
Anggota DPD dipilih dari
setiap provinsi melalui pemilu
[Pasal 22C (1)***]
Anggota DPD dari setiap
provinsi jumlahnya sama dan
jumlah seluruh anggota DPD itu
tidak lebih 1/3 jumlah
anggota DPR
[Pasal 22C (2)***]
DPD
Anggota DPD dapat
diberhentikan dari
jabatannya, yang syaratsyarat dan tata caranya
diatur dalam
undang-undang
[Pasal 22D (4)***]
25
KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH
KEWENANGAN DPD
I.
RUU yang berkaitan
dengan:
1. Otonomi daerah
2. Hubungan pusat dan daerah
3. Pembentukan dan pemekaran
serta penggabungan daerah
4. Pengelolaan sumber daya
alam dan sumber daya
ekonomi lainnya
5. Perimbangan keuangan pusat
dan daerah
6. RAPBN
7. Pajak
8. Pendidikan
9. Agama
II. Pemilihan anggota BPK
memberi
pertimbangan
dapat
melakukan
pengawasan
dapat
mengajukan
ikut
membahas
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
SYARAT, MASA JABATAN, WEWENANG, KEWAJIBAN DAN HAK PRESIDEN/WAKIL PRESIDEN
BAB III
Calon Presiden dan calon
Wakil Presiden harus seorang
warga negara Indonesia sejak
kelahirannya dan tidak pernah
menerima kewarganegaraan
lain karena kehendaknya
sendiri, tidak pernah
mengkhianati negara, serta
mampu secara rohani dan
jasmani untuk melaksanakan
tugas dan kewajiban sebagai
Presiden dan Wakil Presiden.
[Pasal 6 (1)***]
Presiden/
Wakil Presiden
26
Presiden dan Wakil Presiden
dipilih dalam satu pasangan
secara langsung oleh rakyat
[Pasal 6A (1)***]
Presiden dan Wakil Presiden
memegang jabatan selama
lima tahun, dan sesudahnya
dapat dipilih kembali dalam
jabatan yang sama, hanya
untuk satu kali masa jabatan.
(Pasal 7 *)
Wewenang, Kewajiban, dan Hak
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
Antara lain tentang:
memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD [Pasal 4 (1)];
berhak mengajukan RUU kepada DPR [Pasal 5 (1)*];
menetapkan peraturan pemerintah [Pasal 5 (2)*];
memegang teguh UUD dan menjalankan segala UU dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa [Pasal 9 (1)*];
memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL, dan AU (Pasal 10);
menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR [Pasal 11 (1)****];
membuat perjanjian internasional lainnya… dengan persetujuan DPR [Pasal 11 (2)***];
menyatakan keadaan bahaya (Pasal 12);
mengangkat duta dan konsul [Pasal 13 (1)]. Dalam mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 13 (2)*];
menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 13 (3)*];
memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan MA [Pasal 14 (1)*];
memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 14 (2)*];
memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan UU (Pasal 15)*;
membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden (Pasal 16)****;
pengangkatan dan pemberhentian menteri-menteri [Pasal 17 (2)*];
pembahasan dan pemberian persetujuan atas RUU bersama DPR [Pasal 20 (2)*] serta pengesahan RUU [Pasal 20 (4)*];
hak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti UU dalam kegentingan yang memaksa [Pasal 22 (1)];
pengajuan RUU APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD [Pasal 23 (2)***];
peresmian keanggotaan BPK yang dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD [Pasal 23F (1)***];
penetapan hakim agung dari calon yang diusulkan oleh KY dan disetujui DPR [Pasal 24A (3)***];
pengangkatan dan pemberhentian anggota KY dengan persetujuan DPR [Pasal 24B (3)***];
pengajuan tiga orang calon hakim konstitusi dan penetapan sembilan orang anggota hakim konstitusi [Pasal 24C (3)***].
PRESIDEN PERLU MENDAPAT PERSETUJUAN DAN PERTIMBANGAN DPR
SERTA PERTIMBANGAN MA
DPR
dengan
persetujuan
Presiden
MA
menyatakan perang, membuat perdamaian dan
perjanjian dengan negara lain dan internasional
lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan
mendasar bagi kehidupan rakyat
[Pasal 11 (1)**** dan (2)***]
menyatakan keadaan bahaya
(Pasal 12)
dengan
pertimbangan
mengangkat dan menerima Duta
[Pasal 13 (2)* dan (3)*]
memberi grasi dan rehabilitasi
dengan
pertimbangan
[Pasal 14 (1)*]
memberi amnesti dan abolisi
[Pasal 14 (2)*]
memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda
kehormatan yang diatur dengan
undang-undang
(Pasal 15 *)
dengan
pertimbangan
27
28
KEMENTERIAN NEGARA DAN DEWAN PERTIMBANGAN
Presiden
membentuk suatu
dewan pertimbangan
yang bertugas
memberikan nasihat
dan pertimbangan
kepada Presiden
(Pasal 16) ****
dibantu
menteri-menteri negara
[Pasal 17 (1)]
yang diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden
[Pasal 17 (2)*]
membidangi urusan tertentu
dalam pemerintahan
[Pasal 17 (3)*]
Pembentukan,
pengubahan, dan
pembubaran
kementerian negara
diatur dalam undangundang
[Pasal 17 (4) ***]
PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu
pasangan secara langsung oleh rakyat
[Pasal 6A (1)***]
diusulkan partai politik atau gabungan partai
politik peserta pemilu sebelum pelaksanaan pemilu
[Pasal 6A (2) ***]
Pemilu
mendapatkan suara >50%
jumlah suara dalam pemilu
dengan sedikitnya 20% di
setiap provinsi yang
tersebar di lebih dari 1/2
jumlah provinsi
[Pasal 6A (3)***]
Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih
pasangan calon yang
memperoleh suara terbanyak
pertama dalam pemilu
pasangan calon yang
memperoleh suara terbanyak
kedua dalam pemilu
Pemilu
pasangan yang
memperoleh
suara terbanyak
[Pasal 6A (4)****]
Presiden
dan
Wapres
29
PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
DALAM HAL KEDUANYA BERHALANGAN TETAP SECARA BERSAMAAN
parpol atau gabungan parpol
yang pasangan calon
Presiden dan Wapresnya
meraih suara terbanyak
pertama dalam pemilu
sebelumnya
Presiden
dan
Wapres
[Pasal 8 (3)****]
parpol atau gabungan parpol
yang pasangan calon
Presiden dan Wapresnya
meraih suara terbanyak
kedua dalam pemilu
sebelumnya
30
mengusulkan
pasangan calon
Presiden dan
Wapres
MPR
selambat-lambatnya
dalam waktu 30 hari
menyelenggarakan
sidang MPR untuk
memilih
mengusulkan
pasangan calon
Presiden dan
Wapres
PEMILIHAN WAKIL PRESIDEN DALAM HAL TERJADI KEKOSONGAN WAKIL PRESIDEN
MPR
Presiden
mengajukan
dua calon
Wapres
[Pasal 8 (2)***]
selambat-lambatnya
dalam waktu 60 hari
menyelenggarakan
sidang MPR untuk
memilih Wapres
Wapres
terpilih
MEKANISME PENGUSULAN PEMBERHENTIAN
PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN
DPR
Pendapat DPR bahwa Presiden
dan/atau Wakil Presiden telah
melakukan pelanggaran hukum
ataupun telah tidak lagi
memenuhi syarat
[Pasal 7B (2)***]
MPR
DPR
menyelenggarakan
sidang paripurna
untuk meneruskan
usul pemberhentian
kepada MPR
[Pasal 7B (5)***]
Pengajuan permintaan DPR
kepada MK hanya dapat
dilakukan dengan dukungan
sekurang-kurangnya 2/3 dari
jumlah anggota yang hadir
dalam sidang paripurna yang
dihadiri oleh sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah
anggota
[Pasal 7B (3)***]
MK
wajib memeriksa, mengadili,
dan memutus paling lama 90
hari setelah permintaan
diterima
[Pasal 7B (4)***]
terbukti
tidak terbukti
wajib menyelenggarakan
sidang untuk memutuskan
usul DPR paling lambat 30
hari sejak usul diterima
[Pasal 7B (6)***]
Keputusan diambil dalam
sidang paripurna, dihadiri
sekurang-kurangnya 3/4
jumlah anggota, disetujui
sekurang-kurangnya 2/3
jumlah yang hadir, setelah
Presiden dan/atau wakil
presiden diberi kesempatan
menyampaikan penjelasan
[Pasal 7B (7)***]
31
Presiden
dan/atau Wakil
Presiden terus
menjabat
usul DPR
tidak diterima
usul DPR
diterima
Presiden
dan/atau Wakil
Presiden
diberhentikan
32
PEMERINTAHAN DAERAH
BAB VI
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerahdaerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten
dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan
undang-undang [Pasal 18 (1)**]
Gubernur,
Bupati,
Walikota
dipilih secara
demokratis
[Pasal 18 (4)**]
PEMERINTAHAN DAERAH
KEPALA PEMERINTAH
DAERAH
DPRD
mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan menurut asas otonomi dan
tugas pembantuan [Pasal 18 (2)**]
menjalankan otonomi seluas-luasnya,
kecuali urusan pemerintahan yang oleh
UU ditentukan sebagai urusan
Pemerintah Pusat [Pasal 18 (5) **]
berhak menetapkan peraturan daerah
dan peraturan-peraturan lain untuk
melaksanakan otonomi dan
tugas pembantuan [Pasal 18 (6)**]
anggota
DPRD dipilih
melalui
pemilu
[Pasal 18 (3) **]
PEMERINTAHAN DAERAH
(Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah)
Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan
daerah provinsi, kabupaten, dan kota, atau antara provinsi dan
kabupaten dan kota, diatur dengan undang-undang dengan
memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah
[Pasal 18 A (1)**]
Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam
dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan
daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan
undang-undang
[Pasal 18 A (2)**]
Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan
daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan
undang-undang
[Pasal 18 B (1)**]
Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang
[Pasal 18 B (2)**]
33
34
PEMILIHAN UMUM
BAB VIIB
Parpol/ Gabungan
Parpol
[Pasal 6A (2)***]
Partai Politik
Perseorangan
[Pasal 22E (3)***]
[Pasal 22E (4)***]
PEMILIHAN UMUM
“luber jurdil” setiap lima tahun
[Pasal 22E (5)***]
[Pasal 22E (1)***]
Presiden dan
Wapres
anggota
DPR
anggota
DPRD
[Pasal 22E (2)***]
kpu
anggota
DPD
KEKUASAAN KEHAKIMAN (MAHKAMAH AGUNG)
BAB IX
Hakim agung harus
memiliki integritas
dan kepribadian yang
tidak tercela, adil,
profesional, dan
berpengalaman di
bidang hukum
[Pasal 24A (2)***]
MA
Pasal 24A ***
Umum
Agama
35
Calon hakim agung
diusulkan oleh Komisi
Yudisial kepada DPR
untuk mendapat
persetujuan dan
ditetapkan sebagai
hakim agung oleh
Presiden
[Pasal 24A (3)***]
Militer
TUN
Kewajiban dan Wewenang
1. berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undangundang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh
undang-undang [Pasal 24A (1)***];
2. mengajukan tiga orang anggota hakim konstitusi [Pasal 24C (3)***];
3. memberikan pertimbangan dalam hal Presiden memberi grasi dan
rehabilitasi [Pasal 14 (1)*].
36
KOMISI YUDISIAL
BAB IX
Anggota Komisi
Yudisial harus
mempunyai
pengetahuan dan
pengalaman di bidang
hukum serta memiliki
integritas dan
kepribadian yang
tidak tercela
[Pasal 24B (2)***]
KY
Pasal 24B ***
Anggota Komisi
Yudisial diangkat dan
diberhentikan oleh
Presiden dengan
persetujuan DPR
[Pasal 24B (3)***]
Wewenang
1. mengusulkan pengangkatan hakim agung [Pasal 24B (1)***];
2. mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan
menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta
perilaku hakim [Pasal 24B (1)***].
KEKUASAAN KEHAKIMAN (MAHKAMAH KONSTITUSI)
BAB IX
Hakim konstitusi
harus memiliki integritas
dan kepribadian yang
tidak tercela, adil,
negarawan yang menguasai
konstitusi dan
ketatanegaraan, serta tidak
merangkap sebagai pejabat
negara
[Pasal 24C (5)***]
MK
37
mempunyai
sembilan orang anggota
hakim konstitusi yang
ditetapkan oleh Presiden,
yang diajukan masingmasing tiga orang oleh MA,
tiga orang oleh DPR dan tiga
orang oleh Presiden
[Pasal 24C (3)***]
Wewenang dan Kewajiban
1. berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya
bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang
Dasar,
memutus
sengketa
kewenangan
lembaga
negara
yang
kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil
pemilihan umum [Pasal 24C (1)***];
2. wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden
menurut Undang-Undang Dasar [Pasal 24C (2)***].
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BAB VIIIA)
(Keanggotaan, Tugas, dan Wewenang)
Anggota BPK dipilih
oleh DPR dengan
memperhatikan
pertimbangan DPD
dan diresmikan
oleh Presiden
[Pasal 23F (1)***]
BPK
Hasil pemeriksaan
keuangan negara
diserahkan kepada
DPR, DPD, dan
DPRD, sesuai
dengan
kewenangannya
[Pasal 23E (2)***]
Untuk memeriksa pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan
negara diadakan satu Badan
Pemeriksa Keuangan yang
bebas dan mandiri
[Pasal 23E (1)***]
BPK berkedudukan di ibu kota
negara, dan memiliki
perwakilan di setiap provinsi
[Pasal 23G (1)***]
Hasil pemeriksaan tersebut
ditindaklanjuti oleh lembaga
perwakilan dan/atau badan
sesuai dengan undang-undang
[Pasal 23E (3)***]
38
PAJAK, PUNGUTAN LAIN, MACAM DAN HARGA MATA UANG,
DAN HAL-HAL LAIN MENGENAI KEUANGAN NEGARA
Pajak dan pungutan lain yang bersifat
memaksa untuk keperluan negara
(Pasal 23A***)
diatur dengan
Undang-Undang
diatur dengan
ditetapkan dengan
Hal-hal lain
mengenai
keuangan negara
(Pasal 23C***)
Macam dan harga
mata uang
(Pasal 23B****)
BANK SENTRAL
BAB VIII
bank sentral
Pasal 23D ****
susunan
kedudukan
kewenangan
Tanggung jawab
diatur dengan undang-undang
independensi
39
40
WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
BAB X
warga negara
ialah orang-orang
bangsa Indonesia
asli dan orangorang bangsa lain
yang disahkan
dengan undangundang sebagai
warga negara
WARGA
NEGARA DAN
PENDUDUK
Penduduk ialah
warga negara
Indonesia dan
orang asing yang
bertempat tinggal
di Indonesia
[Pasal 26 (2)**]
[Pasal 26 (1)]
Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya [Pasal 27 (1)]
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan [Pasal 27 (2)]
Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara [Pasal 27 (3)**]
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan
dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang (Pasal 28)
HAK ASASI MANUSIA
BAB XA
berkewajiban menghargai hak
asasi orang lain serta tunduk
kepada pembatasan yang
ditetapkan Undang-Undang
(Pasal 28J) **
Perlindungan terhadap perlakuan
diskriminatif, pemajuan,
penegakan, dan pemenuhan HAM
adalah tanggung jawab negara,
terutama pemerintah
(Pasal 28I) **
hidup sejahtera lahir dan batin,
memperoleh pelayanan kesehatan,
mendapat kemudahan dan perlakuan
khusus untuk memperoleh kesempatan
dan manfaat guna mencapai persamaan
dan keadilan, berhak atas jaminan
sosial serta perlindungan hak milik
pribadi
(Pasal 28H) **
perlindungan diri pribadi,
keluarga, kehormatan, martabat,
harta benda, dan rasa aman serta
untuk bebas dari penyiksaan
(Pasal 28G) **
untuk hidup serta
mempertahankan hidup
dan kehidupan
(Pasal 28A) **
HAK
ASASI
MANUSIA
berkomunikasi,
memperoleh, mencari,
memiliki, menyimpan,
mengolah dan menyampaikan
informasi,
(Pasal 28F) **
41
membentuk keluarga dan
melanjutkan keturunan, hak anak atas
kelangsungan hidup, tumbuh, dan
berkembang serta perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi
(Pasal 28B) **
mengembangkan diri, mendapat
pendidikan, memperoleh manfaat
dari IPTEK, seni dan budaya,
memajukan diri secara kolektif
(Pasal 28C) **
pengakuan yang sama di hadapan
hukum, hak untuk bekerja, perlakuan
yang adil dalam hubungan kerja,
kesempatan yg sama dalam
pemerintahan, dan berhak atas status
kewarganegaraan
(Pasal 28D) **
kebebasan memeluk agama,
meyakini kepercayaan, memilih
kewarganegaraan, memilih tempat
tinggal, kebebasan berserikat,
berkumpul dan berpendapat
(Pasal 28E) **
42
AGAMA
BAB XI
Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa
[Pasal 29 (1)]
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu
[Pasal 29 (2)]
PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA
BAB XII
Pertahanan dan
Keamanan Negara
Tiap-tiap warga negara
berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha
pertahanan dan
keamanan negara
[Pasal 30 (1)**]
TNI (AD, AL, AU)
POLRI
sebagai alat negara sebagai alat negara
yang menjaga
bertugas
keamanan dan
mempertahankan,
ketertiban
melindungi, dan
masyarakat bertugas
memelihara keutuhan
melindungi,
dan kedaulatan
mengayomi, melayani
masyarakat, serta
negara
menegakkan hukum
[Pasal 30 (3)**]
[Pasal 30 (4)**]
Susunan dan kedudukan TNI, POLRI,
hubungan kewenangan TNI dan POLRI,
syarat-syarat keikutsertaan warga negara
dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara, serta hal-hal yang terkait dengan
pertahanan dan keamanan
diatur dengan undang-undang
[Pasal 30 (5)**]
43
Usaha pertahanan dan
keamanan negara
dilaksanakan melalui
sistem pertahanan dan
keamanan rakyat
semesta oleh TNI dan
POLRI, sebagai
kekuatan utama, dan
rakyat, sebagai
kekuatan pendukung
[Pasal 30 (2)**]
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
BAB XIII
44
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan
satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan
undang-undang [Pasal 31 (3)****]
Setiap warga negara
wajib mengikuti
pendidikan dasar dan
pemerintah wajib
membiayainya
[Pasal 31 (2)****]
PENDIDIKAN
DAN
KEBUDAYAAN
Setiap warga
negara berhak
mendapatkan pendidikan
[Pasal 31 (1)****]
Negara memajukan kebudayaan
nasional Indonesia di tengah
peradaban dunia dengan menjamin
kebebasan masyarakat dalam
memelihara dan mengembangkan
nilai-nilai budayanya
[Pasal 32 (1)****]
Negara memprioritaskan anggaran
pendidikan sekurang-kurangnya
20% dari APBN dan APBD untuk
memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan
nasional [Pasal 31 (4)****]
Pemerintah memajukan ilmu
pengetahuan dan teknologi dengan
menjunjung tinggi nilai-nilai agama
dan persatuan bangsa untuk
kemajuan peradaban serta
kesejahteraan umat manusia
[Pasal 31 (5)****]
Negara menghormati dan memelihara
bahasa daerah sebagai kekayaan
budaya nasional
[Pasal 32 (2)****]
PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
45
BAB XIV
Cabang-cabang produksi yang
penting bagi negara dan
menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara
[Pasal 33 (2)]
disusun sebagai usaha bersama
berdasar atas asas kekeluargaan
[Pasal 33 (1)]
Fakir miskin dan anak-anak
yang terlantar dipelihara
oleh negara
[Pasal 34 (1)****]
Bumi dan air dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat
[Pasal 33 (3)]
PEREKONOMIAN
NASIONAL
DAN
KESEJAHTERAAN
SOSIAL
diselenggarakan berdasar atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta
dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional [Pasal 33 (4)****]
Negara mengembangkan sistem jaminan
sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah
dan tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan
[Pasal 34 (2)****]
Negara bertanggung jawab
atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum
yang layak
[Pasal 34 (3)****]
BENDERA, BAHASA, LAMBANG NEGARA,
DAN LAGU KEBANGSAAN
BAB XV
1. Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih
(Pasal 35)
2. Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia (Pasal 36)
3. Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Pasal 36A) **
4. Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya (Pasal 36B) **
Bendera, Bahasa, Dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan.
(Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009)
46
ATURAN PERALIHAN
47
Pasal I
Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum
diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini ****)
Pasal II
Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk melaksanakan
ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut UndangUndang Dasar ini ****)
Pasal III
Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya pada 17 Agustus 2003 dan sebelum
dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung ****)
ATURAN TAMBAHAN
Pasal I
Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan terhadap materi
dan status hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan
Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk diambil putusan pada Sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat tahun 2003 ****)
Pasal II
Dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal ****)
48
PILIHAN BENTUK NEGARA
Dalam sidang BPUPKI yang membahas rancangan Undang-Undang Dasar,
mengenai pilihan bentuk negara. Ada anggota yang mengusulkan bentuk
Negara Kesatuan (unitarisme) dan ada yang mengusulkan bentuk Negara
Serikat (Federalisme)
Dari risalah sidang BPUPKI tercatat ada 17 (tujuh belas) orang yang
mengusulkan Negara Kesatuan (uni) dan ada 4 (empat) orang yang
mengusulkan Negara Federal
1. Dipilihnya Negara Kesatuan oleh Anggota BPUPKI dikarenakan Negara
Kesatuan dianggap lebih menjamin persatuan yang kuat.
2. Sedangkan bentuk negara federasi adanya syarat membentuk beberapa
negara bawahan terlebih dahulu sebelum membentuk Negara Republik
Indonesia Serikat sebagai negara atasan.
BENTUK NEGARA INDONESIA
49
1. Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan,
yang berbentuk Republik Pasal 1 Ayat (1).
2. Negara Kesatuan Republik Indonesia
merupakan bentuk negara yang dipilih
sebagai komitmen bersama para pendiri
bangsa.
3. Negara kesatuan adalah bentuk yang
ditetapkan sejak awal berdirinya negara
Indonesia dan dipandang paling tepat untuk
mewadahi ide persatuan sebuah bangsa
yang majemuk ditinjau dari berbagai latar
belakang.
4. Negara Kesatuan adalah suatu negara yang
hanya mempunyai satu pusat pemerintahan
yang mengatur seluruh daerah tidak ada
negara dalam negara, satu kepala negara,
satu badan legislatif yang berlaku bagi
seluruh wilayah negara bersangkutan.
50
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
BATAS WILAYAH
BATAS ZEE
• 17.508 Pulau
• 3 Zona Waktu
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara
kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batasbatas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang
(Pasal 25A) **
WILAYAH NEGARA DAN DEKLARASI JUANDA
Pengakuan
masyarakat
internasional
mengenai batas
laut teritorial
Indonesia hanya
sepanjang 3 mil
laut terhitung dari
garis pantai
pasang surut
terendah
1. Tanggal 13 Desember 1957
pemerintah Indonesia mengeluarkan Deklarasi Djuanda
2. Penentuan batas laut 12 mil yang
diukur dari garis-garis yang
menghubungkan titik terluar pada
pulau-pulau Negara Republik
Indonesia akan ditentukan dengan
Undang-undang.
3. Deklarasi Juanda menegaskan
bahwa Indonesia merupakan satu
kesatuan wilayah Nusantara. Laut
bukan lagi sebagai pemisah, tetapi
sebagai pemersatu bangsa
Indonesia. Prinsip ini kemudian
ditegaskan melalui Peraturan
Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 4/PRP/1960
tentang Perairan Indonesia.
1. Deklarasi Juanda, Indonesia
menganut konsep negara
kepulauan yang berciri
Nusantara (archipelagic state).
2. Konsep itu kemudian diakui
dalam Konvensi Hukum Laut
PBB 1982 (UNCLOS 1982 =
United Nations Convention on
the Law of the Sea) yang
ditandatangani di Montego
Bay, Jamaika, tahun 1982.
3. Indonesia meratifikasi UNCLOS
1982 tersebut dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor
17 Tahun 1985.
4. Sejak itu dunia internasional
mengakui Indonesia sebagai
negara kepulauan.
Berkat pandangan visioner Deklarasi Djuanda, Bangsa Indonesia
akhirnya memiliki tambahan wilayah seluas 2.000.000 kilo meter
persegi, termasuk sumber daya alam yang dikandungnya.
51
52
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
DALAM UNDANG-UNDANG DASAR
Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik
[Pasal 1 (1)]
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan
daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,
kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan
undang-undang.
[ Pasal 18 (1)**]
Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang
bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang
[Pasal 18B (1)**]
Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat
beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang diatur dalam undang-undang
[Pasal 18B (2)**]
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri
Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan
undang-undang.
(Pasal 25A**)
Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat
dilakukan perubahan.
[Pasal 37 (5)****]
ISTILAH DAN PENGERTIAN BHINNEKA TUNGGAL IKA
Istilah Bhinneka Tunggal Ika ditulis oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma yang
terjemahan isinya berbunyi :
“bahwa agama budha dan siwa (hindu) merupakan zat yang berbeda tapi nilai-nilai
kebenaran jina (budha) dan siwa (hindu) adalah tunggal. Terpecah belah tetapi satu jua
artinya tidak ada dharma yang mendua”
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mulai menjadi pembicaraan terbatas pada sidang-sidang
BPUPKI antara Muhammad Yamin, Ir. Soekarno, I Gusti Bagus Sugriwa sekitar dua setengah
bulan sebelum proklamasi
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika diusulkan oleh Muhammad Yamin kepada Ir. Soekarno
agar dijadikan semboyan negara.
Pengertian Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi satu jua. Bhinneka
Tunggal Ika oleh pendiri bangsa diberikan penafsiran baru karena dinilai relevan
dengan keperluan strategis Bangsa Indonesia, yang memiliki makna, walaupun di
Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, budaya, adat, bahasa, dan lain
sebagainya namun tetap satu kesatuan sebangsa dan setanah air.
53
BHINNEKA TUNGGAL IKA SEBAGAI
SEMBOYAN NEGARA
KEANEKARAGAMAN
1. Bangsa yang majemuk
memiliki jumlah penduduk
yang cukup besar
2. Memiliki bahasa daerah yang
berbeda beda
3. Mempunyai suku bangsa yang
beragam
4. Mempunyai agama yang
berbeda
5. Warna kulit bermacam macam
6. Adat istiadat dan
7. Banyak lagi perbedaaan
lainnya
SUMPAH PEMUDA
54
SEMBOYAN
BHINNEKA TUNGGAL
IKA
1. Kami putra dan putri
Indonesia mengaku
bertumpah darah yang
satu, tanah air
Indonesia
1. Ikrar untuk bersatu padu
mendirikan Negara
Kesatuan Republik
Indonesia
2. Kami putra dan putri
Indonesia mengaku
berbangsa yang satu,
bangsa Indonesia
2. Cita-cita membangun
sebuah bangsa
Indonesia yang bersatu
3. Kami putra dan putri
Indonesia menjunjung
bahasa persatuan,
bahasa Indonesia
3. Semboyan yang
mengungkapkan rasa
persatuan dan kesatuan
yang berasal dari
keanekaragaman
Semboyan adalah Perkataan atau kalimat pendek yg dipakai sebagai dasar tuntunan
(pegangan hidup); inti sari suatu usaha dan sebagainya; slogan; moto.
KEKAYAAN DAN KEBERAGAMAN BANGSA
FLORA DAN
FAUNA
BERANEKA
RAGAM
JUMLAH
PENDUDUK
237 JUTA
JIWA (BPS
2010) DAN
SEKARANG +
240 JUTA
JIWA
700
BAHASA
DAERAH
BERAGAM
ADAT
ISTIADAT
1128
SUKU
BANGSA
BERAGAM
BUDAYA
6 AGAMA
55
BHINNEKA TUNGGAL IKA
DALAM UNDANG-UNDANG DASAR
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari
jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang
tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
[Pasal 6A (3)***]
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas
kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur
dengan undang-undang.
[ Pasal 18 (1)**]
Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat
istimewa yang diatur dengan undang-undang.
[Pasal 18B (1)**]
Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.
[Pasal 18B (2)**]
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang
batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang.
(Pasal 25A**)
Yang menjadi warga negara ialah orang orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan
dengan undang-undang sebagai warga negara.
[Pasal 26 (1)**]
Negara menjamin kemerdekaan tiap tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
[Pasal 29 (2)]
Negara memajukan kebudayaan nasional lndonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan
masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
[Pasal 32 (1)****]
Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
[Pasal 32 (2)****]
Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
(Pasal 36A**)
56
57
TENTANG
PENINJAUAN TERHADAP MATERI DAN STATUS
HUKUM KETETAPAN MPRS DAN MPR RI
TAHUN 1960 SAMPAI DENGAN TAHUN 2002
Ada 139 TAP MPRS & TAP MPR
(1960 s.d. 2002)
“Dikelompokkan Menjadi
6 (enam) Pasal
Berdasarkan
Materi dan Status Hukumnya”
DASAR HUKUM PEMBENTUKAN
TAP MPR RI NOMOR I/MPR/2003
58
1. Pasal I Aturan Tambahan UUD NEGARA RI TAHUN 1945
“Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan terhadap materi dan status
hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat untuk diambil putusan pada Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 2003”
2. Pasal I Aturan Peralihan UUD NEGARA RI TAHUN 1945
“Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru
menurut Undang-Undang Dasar ini”
3. Pasal II Aturan Peralihan UUD NEGARA RI TAHUN 1945
“Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar
dan belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”
4. TAP MPR RI Nomor II/MPR/1999 sampai dengan perubahan yang kelima tahun 2002 tentang Peraturan
Tata Tertib MPR RI
5. TAP MPR RI Nomor III/MPR/2002 tentang Penetapan Pelaksanaan Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2003
SUBSTANSI
TAP MPR RI NOMOR I/MPR/2003
PASAL 1
TAP MPRS/TAP MPR yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (8 Ketetapan)
PASAL 2
TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan (3 Ketetapan)
PASAL 3
TAP MPR yang dinyatakan tetap berlaku sampai dengan terbentuknya
Pemerintahan Hasil Pemilu 2004 (8 Ketetapan)
PASAL 4
TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan tetap berlaku sampai dengan terbentuknya
undang-undang (11 Ketetapan)
PASAL 5
TAP MPR yang dinyatakan masih berlaku sampai dengan ditetapkannya Peraturan
Tata Tertib baru oleh MPR Hasil Pemilu 2004 (5 Ketetapan)
PASAL 6
TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan tidak perlu dilakukan tindakan hukum lebih
lanjut, baik karena bersifat final (einmalig), telah dicabut, maupun telah selesai
dilaksanakan (104 Ketetapan)
59
60
PASAL 1
TAP MPRS/TAP MPR YANG DICABUT DAN DINYATAKAN
TIDAK BERLAKU
Ada 8 (delapan) TAP, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Ketetapan MPRS RI Nomor X/MPRS/1966 tentang Kedudukan Semua Lembaga-Lembaga Negara
Tingkat Pusat dan Daerah pada Posisi dan Fungsi yang Diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/1973 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata-kerja Lembaga
Tertinggi Negara dengan/atau antar Lembaga-Lembaga Tinggi Negara.
Ketetapan MPR RI Nomor VII/MPR/1973 tentang Keadaan Presiden dan/atau Wakil Presiden
Republik Indonesia Berhalangan.
Ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata-Kerja
Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau Antar Lembaga-Lembaga Tinggi Negara.
Ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/1988 tentang Pemilihan Umum.
Ketetapan MPR RI Nomor XIII/MPR/1998 tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan
Wakil Presiden Republik Indonesia.
Ketetapan MPR RI Nomor XIV/MPR/1998 tentang Perubahan dan Tambahan atas Ketetapan
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/1988 tentang Pemilihan Umum.
Ketetapan MPR RI Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia.
Kedelapan TAP tersebut telah berakhir masa berlakunya dan/atau telah diatur
di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
61
PASAL 2
TAP MPRS/TAP MPR YANG DINYATAKAN TETAP
BERLAKU DENGAN KETENTUAN
Ada 3 (tiga) TAP, yaitu:
1.Ketetapan MPRS RI Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis
Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik
Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk
Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme.
2. Ketetapan MPR RI Nomor XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi Dalam Rangka
Demokrasi Ekonomi.
3. Ketetapan MPR RI Nomor V/MPR/1999 tentang Penentuan Pendapat di Timor Timur.
62
Pasal 2
1. TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966
Tentang:
Pembubaran PKI, Pernyataan Sebagai
Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah
Negara Republik Indonesia bagi Partai
Komunis Indonesia dan Larangan Setiap
Kegiatan untuk Menyebarkan atau
Mengembangkan Faham atau Ajaran
Komunisme/Marxisme-Leninisme.
TETAP BERLAKU DENGAN KETENTUAN:
Seluruh ketentuan dalam Ketetapan
MPRS RI Nomor XXV/MPRS/1966 ini, ke
depan diberlakukan dengan BERKEADILAN
dan MENGHORMATI HUKUM, PRINSIP
DEMOKRASI dan HAK ASASI MANUSIA.
63
Pasal 2
2. TAP MPR No. XVI/MPR/1998
TETAP BERLAKU DENGAN KETENTUAN:
Tentang:
Politik Ekonomi Dalam Rangka
Demokrasi Ekonomi
Pemerintah berkewajiban mendorong
keberpihakan politik ekonomi yang lebih
memberikan kesempatan dukungan dan
pengembangan ekonomi, usaha kecil
menengah, dan koperasi sebagai pilar
ekonomi dalam membangkitkan terlaksananya
pembangunan nasional dalam rangka
demokrasi ekonomi sesuai dengan hakikat
Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
64
Pasal 2
3. TAP MPR No. V/MPR/1999
TETAP BERLAKU DENGAN KETENTUAN:
Tentang:
Penentuan Pendapat di
Timor Timur
Ketetapan ini tetap berlaku sampai
terlaksananya ketentuan dalam Pasal 5 dan
Pasal 6 Ketetapan MPR RI
Nomor V/MPR/1999.
(Karena masih adanya masalah-masalah
kewarganegaraan, pengungsian, pengembalian
asset negara, dan hak perdata perseorangan)
65
PASAL 3
TAP MPR YANG DINYATAKAN TETAP
BERLAKU SAMPAI DENGAN TERBENTUKNYA
PEMERINTAHAN HASIL PEMILU 2004
Ada 8 (delapan) TAP, yaitu:
1. Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004.
2. Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan dalam Penyelenggaraan
Otonomi Daerah.
3. Ketetapan MPR RI Nomor VIII/MPR/2000 tentang Laporan Tahunan Lembaga-Lembaga Tinggi Negara
pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2000.
4. Ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/2001 tentang Penetapan Wakil Presiden Republik Indonesia
Megawati Soekarnoputri Sebagai Presiden Republik Indonesia.
5. Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2001 tentang Pengangkatan Wakil Presiden Republik Indonesia.
6. Ketetapan MPR RI Nomor X/MPR/2001 tentang Laporan Pelaksanaan Putusan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia oleh Lembaga Tinggi Negara pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia Tahun 2001.
7. Ketetapan MPR RI Nomor II/MPR/2002 tentang Rekomendasi Kebijakan untuk Mempercepat
Pemulihan Ekonomi Nasional.
8. Ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/2002 tentang Rekomendasi atas Laporan Pelaksanaan Putusan
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia oleh Presiden, Dewan Pertimbangan Agung,
Dewan Perwakilan Rakyat, Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung pada Sidang Tahunan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
Kedelapan TAP tersebut tidak berlaku karena Pemerintahan hasil
Pemilu 2004 telah terbentuk
66
PASAL 4
TAP MPRS/TAP MPR YANG DINYATAKAN TETAP
BERLAKU SAMPAI DENGAN TERBENTUKNYA
UNDANG-UNDANG
Ada 11 (sebelas) TAP, yaitu:
1. TAP MPRS Nomor XXIX/MPRS/1966 Tentang Pengangkatan Pahlawan Ampera.
2. TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
3. TAP MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan,
Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional Yang Berkeadilan; serta Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. TAP MPR Nomor III/MPR/2000 Tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan.
5. TAP MPR Nomor V/MPR/2000 Tentang Pemantapan Persatuan Dan Kesatuan Nasional.
6. TAP MPR Nomor VI/MPR/2000 Tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian
Negara Republik Indonesia.
7. TAP MPR RI Nomor VII/MPR/2000 Tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara
Republik Indonesia.
8. TAP MPR Nomor VI/MPR/2001 Tentang Etika Kehidupan Berbangsa.
9. TAP MPR Nomor VII/MPR/2001 Tentang Visi Indonesia Masa Depan
10. Ketetapan MPR Nomor VIII/MPR/2001 Tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan
Pencegahan KKN.
11. Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.
67
Pasal 4
1. TAP MPRS Nomor XXIX/MPRS/1966 Tentang
Pengangkatan Pahlawan Ampera
Substansi:
Setiap korban perjuangan menegakkan dan melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat
dalam melanjutkan pelaksanaan Revolusi 1945 mencapai masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila adalah Pahlawan Ampera.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Memerintahkan pembentukan undang-undang tentang pemberian gelar, tanda jasa,
dan lain-lain tanda kehormatan.
Hasil Kajian:
Karena undang-undang yang mengatur tentang pemberian gelar, tanda jasa, dan lain-lain
tanda kehormatan SUDAH DISAHKAN (UU No. 20 Tahun 2009) maka ketetapan ini tidak berlaku lagi
68
Pasal 4
2. TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 Tentang
Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN
Substansi:
Perlu berfungsinya lembaga-lembaga negara dan penyelenggara
negara, menghindarkan praktek KKN serta upaya pemberantasan KKN harus dilakukan secara
tegas terhadap siapapun juga.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Terlaksananya seluruh ketentuan yang terdapat di dalam TAP MPR RI No. XI/MPR/1998.
Hasil Kajian:
Karena amanat dari Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 belum dilaksanakan dan/atau
dituangkan ke dalam undang-undang maka ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
69
Pasal 4
3.TAP MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi
Daerah; Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya
Nasional yang Berkeadilan; Serta Perimbangan Keuangan Pusat
dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
Substansi:
Penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan yang luas,
nyata dan bertanggung jawab di daerah secara proporsional diwujudkan
dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan
serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
undang-undang tentang pemerintahan daerah sebagaimana diamanatkan oleh
Pasal 18, 18A, dan 18B UUD Negara RI Tahun 1945.
Hasil Kajian:
Karena amanat dari Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 belum seluruhnya dituangkan ke
dalam undang-undang maka ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
70
Pasal 4
4. TAP MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata
Urutan Peraturan Perundang-undangan
Substansi :
TAP MPR RI No. III/MPR/2000
1. Tata urutan peraturan perundang-undangan;
2. Lembaga Negara yang berwenang menguji
undang-undang terhadap Undang-Undang
Dasar;
3. Lembaga Negara yang berwenang menguji
peraturan perundang-undangan di bawah
undang-undang terhadap undang-undang.
UUD 1945
TAP MPR
UU
PERPU
UUD
NRI
Tahun
1945
UU/
PERPU
PP
Dibentuknya undang-undang sesuai dengan
substansi TAP MPR RI No. III/MPR/2000.
UUD NRI
Tahun 1945
TAP MPR
UU/PERPU
PP
PERPRES
PP
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
UU No. 12 Tahun 2011
UU No. 10 Tahun 2004
PERPRES
PERDA PROVINSI
KEPRES
PERDA
PERDA
PERDA
KAB/KOTA
Hasil Kajian:
Dengan telah terbentuknya 3 (tiga) undang-undang yang mengatur 3 (tiga) substansi utama dalam TAP MPR RI No. III/MPR/2000, yaitu:
1.
UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang di dalamnya diatur tentang Tata Urutan
Peraturan Perundang-undangan;
2.
UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang MK yang mengatur bahwa kewenangan menguji UU terhadap UUD dilakukan oleh MK; dan
3.
UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang MA yang menegaskan bahwa kewenangan
menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang dilakukan oleh MA;
maka Ketetapan ini tidak berlaku lagi.
71
Pasal 4
5. TAP MPR Nomor V/MPR/2000 Tentang
Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional
Substansi:
Ketetapan ini mempertegas perlunya kesadaran dan komitmen yang kuat
untuk memantapkan persatuan dan kesatuan nasional dalam menghadapi berbagai
masalah bangsa mencapai tujuan nasional.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Perlu diwujudkan persatuan dan kesatuan nasional antara lain melalui pemerintahan yang mampu
mengelola kehidupan secara baik dan adil, serta mampu mengatasi berbagai permasalahan
sesuai dengan arah kebijakan dan kaidah pelaksanaan dalam TAP MPR RI No. V/MPR/2000.
Hasil Kajian:
Berbagai amanat yang terdapat dalam ketetapan ini tetap diperlukan sebagai
pedoman dalam penyusunan berbagai kebijakan maupun penyusunan peraturan perundang-undangan
untuk mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Nasional serta menjamin keutuhan NKRI
maka ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy)
72
Pasal 4
6. TAP MPR Nomor VI/MPR/2000 Tentang
Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan
Kepolisian Negara Republik Indonesia
Substansi:
Mengamanatkan pemisahan lembaga TNI dan POLRI, menentukan peran dan fungsi
masing-masing, serta terwujudnya kerjasama dan saling membantu.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Memerintahkan pembentukan undang-undang yang terkait dengan pemisahan
kelembagaan TNI dan POLRI.
Hasil Kajian:
Pemisahan TNI dan POLRI secara kelembagaan telah diatur dengan
UU No. 2/2002 tentang Kepolisian Negara RI, UU No.3/2002 tentang Pertahanan Negara, dan
UU No. 34/2004 tentang TNI, namun kerjasama dan saling membantu antara TNI dan POLRI
masih perlu diatur dengan undang-undang maka Ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
73
Pasal 4
7. TAP MPR RI Nomor VII/MPR/2000 Tentang
Peran TNI dan Peran POLRI
Substansi:
Ketetapan ini mengamanatkan tentang jati diri, peran, susunan dan kedudukan, tugas bantuan,
dan keikutsertaan TNI dan POLRI dalam penyelenggaraan negara.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Memerintahkan pembentukan undang-undang yang terkait dengan penyempurnaan pasal 5 ayat (4)
dan pasal 10 ayat (2) tentang hak memilih dan dipilih TNI dan POLRI yang disesuaikan dengan
UUD, dan pembentukan undang-undang tentang penyelenggaraan
wajib militer dan yang berkaitan dengan tugas bantuan antara TNI dan POLRI.
Hasil Kajian:
Belum terbentuknya undang-undang mengenai penyelenggaraan wajib militer,
dan tugas bantuan antara TNI dan POLRI maka Ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
74
Pasal 4
8. TAP MPR Nomor VI/MPR/2001 Tentang
Etika Kehidupan Berbangsa
Substansi:
Ketetapan ini mengamanatkan untuk meningkatkan kualitas manusia yang beriman, bertaqwa, dan
berahklak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. Pokok-pokok etika
kehidupan berbangsa mengacu pada cita-cita persatuan dan kesatuan, ketahanan, kemandirian,
keunggulan dan kejayaan, serta kelestarian lingkungan yang dijiwai oleh nilai-nilai agama dan nilai-nilai
luhur budaya bangsa.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Perlu ditegakkan Etika Kehidupan Berbangsa yang meliputi, etika sosial dan budaya, etika politik dan
pemerintahan, etika ekonomi dan bisnis, etika penegakkan hukum yang berkeadilan dan
berkesetaraan, etika keilmuan, dan etika lingkungan untuk dijadikan acuan dasar dalam penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan arah kebijakan dan kaidah pelaksanaannya, serta
menjiwai seluruh pembentukan undang-undang.
Hasil Kajian:
Ketetapan ini belum sepenuhnya dijadikan pedoman dalam perumusan berbagai kebijakan
maupun penyusunan peraturan perundang-undangan terutama yang berkaitan dengan
Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara maka Ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
75
Pasal 4
9. TAP MPR Nomor VII/MPR/2001 Tentang Visi
Indonesia Masa Depan
Substansi:
Visi Indonesia masa depan diperlukan untuk menjaga kesinambungan arah penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia melalui
visi ideal, visi antara dan visi lima tahunan.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Perlu diwujudkan masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil,
sejahtera, maju, mandiri serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara
sesuai dengan arah kebijakan dan kaidah pelaksanaan
Hasil Kajian:
Dengan dijadikan TAP MPR RI No. VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan
sebagai salah satu landasan operasional dari Undang-Undang tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, bahkan menjadi sumber inspirasi, motivasi, kreativitas,
serta arah kebijakan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara maka
ketetapan ini tetap berlaku (memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
76
Pasal 4
10. Ketetapan MPR Nomor VIII/MPR/2001 Tentang
Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan
dan Pencegahan KKN
Substansi:
Ketetapan ini mengamanatkan untuk mempercepat dan lebih menjamin efektivitas pemberantasan
KKN sebagaimana diamanatkan dalam TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara
yang Bersih dan Bebas KKN, serta berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Memerintahkan pembentukan undang-undang serta peraturan pelaksanaannya untuk
percepatan dan efektivitas pemberantasan dan pencegahan KKN sampai
terlaksananya seluruh ketentuan dalam ketetapan ini.
Hasil Kajian:
Karena amanat dari TAP MPR RI No. VIII/MPR/2001 belum dilaksanakan
dan/atau dituangkan ke dalam undang-undang maka ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
77
Pasal 4
11. Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 Tentang
Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam
Substansi:
• Ketetapan ini mendorong pembaharuan agraria melalui proses yang berkesinambungan berkenaan dengan
penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya agraria, dilaksanakan
dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum;
• Pengelolaan sumber daya alam yang terkandung di daratan, laut dan angkasa dilakukan secara optimal, adil,
berkelanjutan, dan ramah lingkungan untuk keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Amanat TAP MPR No. I/MPR/2003:
Memerintahkan pembentukan undang-undang untuk mendorong pembaharuan agraria dan
pengelolaan sumber daya alam yang harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keutuhan NKRI, HAM,
supremasi hukum, KESRA, demokrasi, kepatuhan hukum, partisipasi rakyat, keadilan termasuk kesetaraan gender,
pemeliharaan sumber agraria/sumber daya alam, memelihara keberlanjutan untuk generasi kini dan generasi
yang akan datang, memperhatikan daya tampung dan daya dukung lingkungan, keterpaduan
dan koordinasi antar sektor dan antar daerah, menghormati dan melindungi hak masyarakat hukum adat,
desentralisasi, keseimbangan hak dan kewajiban negara, pemerintah, masyarakat dan individu sesuai dengan
arah kebijakan sampai terlaksananya seluruh ketentuan dalam Ketetapan ini.
Hasil Kajian:
Ketetapan ini diperlukan untuk mendorong percepatan pembentukan dan pengharmonisan
berbagai undang-undang, terutama yang berkaitan dengan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber
daya alam secara konprehensif. Oleh karena itu Ketetapan ini tetap berlaku
(memiliki daya laku/validity dan daya guna/efficacy).
78
PASAL 5
TAP MPR YANG DINYATAKAN MASIH BERLAKU
SAMPAI DENGAN DITETAPKANNYA PERATURAN
TATA TERTIB YANG BARU OLEH MPR
HASIL PEMILU 2004
Kelima TAP MPR yang terdapat di dalam Pasal 5 tentang
Peraturan Tata Tertib MPR, yaitu:
1. TAP MPR No. II/MPR/1999
2. TAP MPR No. I/MPR/2000
3. TAP MPR No. II/MPR/2000
4. TAP MPR No. V/MPR/2001
5. TAP MPR No. V/MPR/2002
sudah tidak berlaku lagi
karena telah terbentuknya Peraturan Tata Tertib
MPR hasil PEMILU 2004.
79
PASAL 6
TAP MPRS/TAP MPR YANG DINYATAKAN TIDAK
PERLU LAGI DILAKUKAN TINDAKAN HUKUM LEBIH
LANJUT, BAIK KARENA BERSIFAT FINAL (EINMALIG),
TELAH DICABUT, MAUPUN TELAH SELESAI
DILAKSANAKAN
Ketetapan di dalam pasal ini
berjumlah 104 Ketetapan.
PENGAWALAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG DASAR
(SISTEM KONSTITUSIONALISME)
ALINEA Ke-4
PEMBUKAAN UUD NRI
TAHUN 1945
Berbunyi “...maka
disusunlah Kemerdekaan
Kebangsaan Indonesia itu
dalam suatu UndangUndang Dasar Negara
Indonesia, yang
terbentuk dalam suatu
susunan Negara Republik
Indonesia yang
berkedaulatan rakyat...”
Dalam UUD NRI
Tahun 1945 Pasal 1
Ayat (2)***
UUD NRI TAHUN
1945
Merupakan sumber
hukum tertinggi dan
tertulis serta
merupakan puncak
dari seluruh peraturan
perundang-undangan.
“Kedaulatan berada di
tangan rakyat dan
dilaksanakan menurut
Undang-Undang
Dasar”
MAHKAMAH KONSTITUSI
1. Untuk menjaga paham
konstitusionalisme atau
menjaga kemurnian UndangUndang Dasar
2. Salah satu tugasnya adalah
menguji undang-undang
terhadap Undang-Undang Dasar
agar tidak ada undang-undang
yang bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
HIERARKI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
UUD NRI
Tahun 1945
TAP MPR
UU/PERPU
PP
PERPRES
PERDA PROVINSI
PERDA KAB/KOTA
UU No. 12 Tahun 2011
81
82
SUMPAH PALAPA
Sumpah Palapa berbunyi: Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira
Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring
Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik,
samana isun amukti palapa". ([Dia] Gajah Mada Patih Amangkubumi Kerajaan Majapahit tidak
akan melepaskan puasa. Gajah Mada berucap: "Jika telah mengalahkan Nusantara, [baru] saya
akan melepaskan puasa (tidak lagi berpuasa). Jika telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung
Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, [baru] saya akan melepaskan
puasa.
CIKAL BAKAL NEGARA
INDONESIA
Kerajaan Majapahit sekitar abad
XIII sampai abad XV merupakan
kerajaan besar yang sangat
berjaya, yang sangat disegani,
yang berhasil menyatukan
Nusantara yang terkenal dengan
“Sumpah Palapa”
VISI MAJAPAHIT
Menyatukan kembali
seluruh wilayah
nusantara (pulau-pulau
yang berada di luar pulau
jawa) dalam satu
kesatuan, satu kehendak
dan satu jiwa.
Sumpah Palapa
mengilhami para
founding fathers
untuk menggali
kembali, dan
memelihara visi
nusantara, bersatu
dalam wawasan
nusantara
ORGANISASI-ORGANISASI PERGERAKAN BANGSA
83
BERDIRI ORGANISASI PERGERAKAN
KERAJAAN
SRIWIJAYA
KERAJAAN
MAJAPAHIT
(ABAD XIII – XV)
KERAJAAN
MATARAM
AWAL PENJAJAHAN
DIAWALI MASUKNYA
BANGSA EROPA,
SPANYOL, PORTUGIS
(1521), BELANDA
(1602) KE INDONESIA
PERLAWANAN TOKOH
PERJUANGAN MASIH
BERSIFAT KEDAERAHAN
SULTAN AGENG
TIRTAYASA, CIK DIK TIRO,
TEUKU UMAR, SULTAN
HASANUDDIN, IMAM
BONJOL, PANGLIMA
POLIM, PANGERAN
DIPONEGORO
1. Budi Utomo (1908), didirikan Oleh Dr.
Soetomo dan kawan-kawan dengan
ketuanya Dr. Wahidin Sudiro Husodo;
2. Serikat Dagang Islam (1909), di Pimpin
Oleh H. Saman Hudi
3. Serikat Islam (1911), dipimpin oleh HOS
Tjokroaminoto;
4. Muhammadiyah (1912), dipimpin oleh Kh.
Ahmad Dahlan;
5. Indische Party (1915), didirkan Oleh Tiga
Serangkai dr. Tjipto Mangunkusumo, Ki
Hajar Dewantara, dan Douwes Dekker;
6. Indische Social Demokratische Partij
(ISDP) (1920),
7. Partai Komunis Hindia (1920), diubah
menjadi Partai Komunis Indonesia pada
tahun 1924, dipimpin oleh Semaun;
8. Jamiyah Nahdlatul Ulama (1926)
dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari dan
9. Partai Nasional Indonesia (1927),
dipimpin Oleh Ir. Soekarno.
84
SUMPAH PEMUDA 1928
KONGRES PEMUDA
Kongres pemuda
dilaksanakan 27-28 Oktober
1928 dihadiri Oleh 750
pemuda dan Perwakilan
Organisasi Perhimpunan
Pelajar Pelajar Indonesia,
Jong Java, Jong Islamiten
Bond, Jong Sumatranen
Bond, Pemuda Indonesia,
Jong Celebes, Jong Ambon,
Jong Batak, dan Pemuda
Kaum Betawi.
TUJUAN KONGRES PEMUDA
1. Mempersatukan
seluruh pemuda
Indonesia.
2. Mencanangkan citacita kemerdekaan.
3. Memperjuangkan
Indonesia merdeka.
HASIL KONGRES PEMUDA
1. Kami putra dan putri
Indonesia mengaku
bertumpah darah yang
satu, tanah Indonesia.
2. Kami putra dan putri
Indonesia mengaku
berbangsa yang satu,
bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri
Indonesia menjunjung
bahasa persatuan,
bahasa Indonesia.
Sumpah pemuda merupakan cikal bakal pendorong perjuangan pergerakan
Indonesia dan memperkuat persatuan nasional serta menuju cita-cita
kemerdekaan Indonesia.
UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
85
86
PANITIA SEMBILAN
Soekarno
Achmad Soebardjo
Abdul Wachid Hasjim
Mohammad Hatta
Abdoel Kahar
Moezakir
Muhammad Yamin
Alexander Andries
Maramis
Agoes Salim
Abikusno
Tjokrosoejoso
87
Pengertian “Pilar”
1. Tiang Penguat (Bangunan);
2. Dasar (Yang Pokok);
Induk
3. Tiang Penyangga
(Geladak Kapal).
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
Edisi IV Tahun 2009 Halaman 1073
1. Kedudukan tidak sederajat, setiap pilar
kehidupan memiliki tingkat, fungsi, dan
konteks yang berbeda.
2. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi
negara menjadi pilar kehidupan utama
yang mewarnai dan menjiwai pilar-pilar
kehidupan yang lainnya.
3. Dalam 4 pilar kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara sesunggguhnya
masih banyak pilar-pilar kehidupan lainnya
seperti bendera, bahasa, lambang negara
dan lain-lain.
MEKANISME PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR
BAB XVI
Usul perubahan diajukan
oleh sekurang-kurangnya
1/3 dari jumlah
anggota MPR
[Pasal 37 (1)****]
diajukan secara tertulis dan
ditunjukkan dengan jelas
bagian yang diusulkan untuk
diubah beserta alasannya
[Pasal 37 (2)****]
MPR
Khusus mengenai
bentuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia tidak
dapat dilakukan
perubahan
[Pasal 37 (5)****]
sidang MPR dihadiri
oleh sekurangkurangnya 2/3 dari
jumlah anggota MPR
[Pasal 37 (3)****]
Putusan dilakukan
dengan persetujuan
sekurang-kurangnya
50% + 1 anggota dari
seluruh anggota MPR
[Pasal 37 (4)****]
88
PEMBEKALAN ANGGOTA MPR RI PERIODE 2014 - 2019
MATERI SOSIALISASI
1.
2.
3.
4.
Pancasila Sebagai Dasar dan Ideologi Negara
UUD NRI Tahun 1945 Sebagai Konstitusi Negara
NKRI Sebagai Bentuk Negara
Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Semboyan Negara
Jakarta 26 s.d. 29 September 2014
Download