analisis kebiasaan nyamuk vektor filariasis menghisap - E

advertisement
LAPORAN HASIL PENELITIAN
ANALISIS KEBIASAAN NYAMUK VEKTOR FILARIASIS
MENGHISAP DARAH DENGAN METODE POLYMERASE CHAIN
REACTION - RESTRICTION FRAGMENTS LENGTH
POLYMORPHISM (PCR - RFLP)
Oleh:
Juhairiyah, SKM
Dkk
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENGENDALIAN PENYAKIT
BERSUMBER BINATANG (LITBANG P2B2) TANAH BUMBU
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2016
SK PENELITIAN
ii
iii
iv
SUSUNAN TIM PENELITI
No
Nama
Unit Kerja
1
Juhairiyah,
SKM
2
drh.
Dicky
Andiarsa,
M.Ked
3
Budi Hairani,
S.Si
4
Syarif
Hidayat, S.Si
5
Deni
Fakhrizal,
S.KM
6
Dian Eka S.,
S.Si
7
Wulan
R.G.S.,
S.KM
8
Erly Haryati,
A.md. AK
Sari
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Balai
Litbang
P2B2
Tanah
Bumbu
Kedudukan
Keahlian/
dalam tim
Kerjaan
Ketua Peneliti Kesehatan
Masyarakat
Uraian tugas
Bertanggungjawab
untuk
semua
aspek
penelitian
Peneliti
Kedokteran
Laboratorium
Peneliti
Biologi
Peneliti
Biologi
Bertanggungjawab
untuk
aspek
analisa
DNA
Peneliti
Kesehatan
Masyarakat
Peneliti
Kimia
Peneliti
Kesehatan
Masyarakat
Bertanggungjawab
untuk
penanganan
sampel
dan
analisa data
Bertanggungjawab
untuk
penanganan
sampel
dan
analisa data
Bertanggungjawab
untuk
aspek entomologi
dan analisa data
Anggota
Analis
Kesehatan
v
Bertanggungjawab
untuk
aspek parasitologi
dan penanganan
sampel
Bertanggungjawab
untuk
aspek parasitologi
dan analisa DNA
Bertanggungjawab
untuk
penanganan
sampel
dan
administrasi
PERSETUJUAN ETIK
vi
PERSETUJUAN ATASAN
Tanah Bumbu, 20 Desember 2016
Mengetahui,
Ketua Panitia Pembinaan
Ilmiah Pusat litbang Upaya
Kesehatan Masyarakat
Kepala Balai Litbang P2B2
Tanah Bumbu
Pengusul,
Ketua Pelaksana
Sri Irianti, SMK.,M.Phil.Ph.D
NIP 195804121981022001
dr. Hijaz Nuhung, M.sc
NIP 196708012000121005
Juhairiyah, SKM
NIP 198609272008122001
Menyetujui,
Kepala Pusat Litbang
Upaya Kesehatan Masyarakat
drg. Agus Suprapto, M.Kes
NIP 196408131991011001
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT serta sholawat dan
salam tidak lupa dihaturkan kepada baginda Rasulullah SAW, atas terlaksananya
penelitian “Analisis Kebiasaan Nyamuk Vektor Filariasis Menghisap Darah
dengan Metode Polymerase Chain Reaction - Restriction Fragments Length
Polymorphism (PCR - RFLP) Tahun 2016 “ oleh tim peneliti Balai Litbang P2B2
Tanah Bumbu. Penelitian dilaksanakan di dua desa endemis filariasis yaitu desa
Antar Raya dan Karya Jadi Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan.
Tujuan Umum penelitian yaitu menganalisa kebiasaan menghisap darah nyamuk
vektor filariasis, yang mana dengan tujuan tersebut dapat dianalisa kemungkinan
adanya perpindahan parasit filaria dari manusia ke hewan ataupun sebaliknyaserta
kemungkinan adanya parasit filaria yang umumnya terdapat pada hewan yang
kemudian menginfeksi manusia, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan
untuk pengendalian penyebaran filaria.
Dengan selesainya penelitian dan laporan ini, tidak lupa kami juga
ucapkan terima kasih atas bantuan yang telah dilakukan kepada kami, kepada :
1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan
2. Kepala Balitbangda Propinsi Kalimantan Selatan
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala beserta jajarannya
4. Kepala Puskesmas Marabahan dan Puskesmas Tabukan beserta jajarannya
5. Kepala Desa Antar Raya dan Karya Jadi
6. Serta pihak-pihak tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Kami menyadari bahwa dalam laporan ini masih terdapat banyak
kekurangan, baik dalam pelaksanaan penelitian yang disebabkan keterbatasan
kemampuan peneliti maupun hasil penelitian yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Demi kesempurnaan pelaksaan penelitian dan laporannya dimasa
yang akan datang, kami mohon saran dan masukan dari berbagai pihak, atas saran
dan masukannya kami ucapkan terima kasih.
Tanah Bumbu, 20 Desember 2016
Ketua Pelaksana
Juhairiyah, SKM
NIP 198609272008122001
viii
RINGKASAN EKSEKUTIF
Filariasis atau yang dikenal juga dengan sebutan elephantiasis atau yang dalam
bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit kaki gajah adalah penyakit menular
kronis yang disebabkan oleh infeksi cacing filarial. Kabupaten Barito Kuala
merupakan salah satu kabupaten endemis filariasis di Kalimantan Selatan. Dengan
target nasional Mf Rate kurang dari 1%, Kabupaten Barito Kuala dinyatakan
endemis filariasis dengan angka microfilaria rate sebesar 2,19%. Penyebaran
parasit filaria dari manusia ke hewan ataupun sebaliknya bisa terjadi karena
nyamuk vektor penyakit ini berasal dari jenis yang sama (genera Culex,
Mansonia, Anopheles, dan Aedes). Meskipun jenis parasit yang diketahui
menyerang manusia dan juga hewan adalah jenis Brugia malayi, telah dilaporkan
adanya kasus Hepatic Dirofilariasis (parasit filaria pada hewan) pada manusia
yang diduga karena dibawa oleh nyamuk yang terinfeksi cacing immature dari
darah hewan. Karena itu perlu dilakukan penelitian di daerah endemis filaria
untuk mengetahui kebiasaan nyamuk menghisap darah, sehingga dapat dianalisa
kemungkinan adanya perpindahan parasit filaria antara manusia dan hewan.
Penelitian untuk mengetahui kebiasaan nyamuk vektor filaria menghisap darah
perlu dilakukan sehingga menjadi evaluasi dan pertimbangan dalam penanganan
penyebaran filaria yang selama ini terfokus pada inang manusia dan nyamuk
vektor. Teknik PCR-RFLP digunakan karena kemampuan menganalisa adanya
DNA parasit dan membedakan DNA donor (inang manusia dan hewan) pada
nyamuk. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kebiasaan nyamuk
menghisap darah (bloodmeal), sedangkan variabel bebas yaitu jenis/spesies
nyamuk (biodiversity), jenis mikrofilaria, dan inang filaria.
Berdasarkan hasil penelitian penangkapan nyamuk yang dilakukan di dua desa
endemis filariasis di Kabupaten Barito Kuala ditemukan Jenis nyamuk yang
tertangkap di Desa Antar Raya terdiri atas 21 jenis spesies dari 5 genus. Spesies
yang
paling
mendominasi
adalah
Cx.vishnui
menyusul
kemudian
Cx.tritaenirhynchus, Ma.uniformis, Cx.sitiens, Ma.dives dan Cx.quinquefasciatus.
Sedangkan di Desa Karya Jadi ditemukan sebanyak 10 spesies nyamuk dengan
ix
spesies yang paling mendominasi yaitu
Ma.uniformis, disusul kemudian
Cx.tritaenirhynchus, Ae.cancricomes, Cx.quinquefasciatus dan Ae.albopictus.
Berdasarkan hasil penelitian di Desa Karya Jadi, kelimpahan nisbi, frekuensi
dan dominasi tertinggi dengan penangkapan umpan orang terdapat pada jenis
nyamuk Ma.uniformis, yang merupakan vektor di Kabupaten Barito Kuala.
Sedangkan di Desa Antar Raya kelimpahan nisbi, frekuensi dan dominasi spesies
tertinggi yaitu nyamuk Cx.vishnui. banyaknya spesies Cx.vishnui yang tertangkap
di Desa Antar Raya diduga disebabkan di sekitar pemukiman banyak terdapat
kolam bekas dan dikelilingi oleh sungai.
Nilai MHD (man hour density) yaitu kepadatan nyamuk menggigit tertinggi
per orang per jam dan nilai MBR (man bitting rate) yaitu kepadatan nyamuk
perorang perhari, umumnya lebih tinggi di luar rumah dibandingkan dengan di
dalam rumah. Hal tersebut kemungkinan karena jenis nyamuk yang ditemukan
lebih bersifat eksofilik. Di wilayah penelitian, kepadatan nyamuk yang ditangkap
di Desa Antar Raya dan Karya Jadi lebih tinggi di luar rumah dari pada di dalam
rumah. Kepadatan nyamuk Culex sp., Mansonia sp., Anopheles sp., Aedes sp. dan
Armigeres sp. yang tertangkap di Desa Antar Raya dan Desa Karya Jadi
kepadatannya lebih tinggi di luar rumah, karena dekat dengan tempat habitat
larva yang berada di sekitar rumah penduduk.
Berdasarkan hasil analisis PCR yang dilakukan pada sampel nyamuk yang
diperoleh di lapangan, tidak terdapat DNA mikrofilaria pada sampel nyamuk dan
kontrol positif yang diperoleh dari sampel darah positif mikrofilaria koleksi
Laboratorium Parasitologi Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu. Dilakukan kembali
analisis PCR menggunakan primer Cytochrome B pada kontrol positif darah
mikrofilaria. Hasil PCR tersebut menunjukkan hasil positif DNA Cytochrome B.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Primer yang dipilih sebagai
primer untuk analisi mikrofilaria tidak cocok karena ukuran terlalu panjang dan
spesifik. sehingga, kontrol yang digunakan pada penelitian hanya dari Kit dan
DNA Cytochrome B yang menunjukkan bahwa kit ekstrkasi dan kit PCR serta
peralatan untuk melakukan proses PCR berjalan sesuai fungsinya.
Pada penelitian ini primer yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan larva
B.malayi pada nyamuk yang merupakan endemis di wilayah Kabupaten Barito
x
Kuala berasal dari penelitian Thanomsub, yang menyatakan primer yang
digunakan memperkuat 1,5kb gen glutathione peroxidase cacing filarial, sehingga
sensitif untuk mendeteksi keberadaan larva mikrofilaria. Namun berdasarkan hasil
penelitian, primer yang digunakan tidak dapat mendeteksi adanya DNA pada
darah Kontrol positif mikrofilaria. Hal tersebut dimungkinkan bahwa primer yang
digunakan tidak cocok untuk mendeteksi mikrofilaria B.malayi dari sampel darah
positif yang berasal dari Indonesia.
Proses RFLP pada penelitian ini tidak dapat dilaksanakan seperti yang
direncanakan, karena tidak ada satupun sampel nyamuk yang positif untuk
analisis PCR Gen Cytochrome B. Hal tersebut dikarenakan kurangnya optimasi
proses pada analisis DNA, yang menjadi salah satu kelemahan dalam penelitian
ini adalah semua proses menggunakan kit, sehingga bahan yang dimiliki untuk
optimasi menjadi terbatas.
xi
ABSTRAK
Filariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang
ditularkan oleh nyamuk vektor. Di Indonesia terdapat tiga spesies cacing filariasis
yaitu W. bancrofti, B. malayi dan B. timori. Kabupaten Barito Kuala merupakan
salah satu kabupaten endemis filariasis di Kalimantan Selatan dengan angka
microfilaria rate sebesar 2,19%. Berbagai penelitian telah melaporkan adanya
kasus Hepatic Dirofilariasis, parasit filaria yang umumnya terdapat pada hewan
yang kemudian ditemukan pada manusia. Perlu dilakukan penelitian di daerah
endemis filaria untuk menganalisa kemungkinan adanya perpindahan parasit
filaria antara manusia dan hewan dengan cara mengetahui kebiasaan nyamuk
menghisap darah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik
analisa Deoxyribose Nucleic Acid (DNA) dengan Polymerase Chain Reaction
(PCR)-Restriction Fragments Length Polymorphism (RFLP) telah terbukti
mampu mendeteksi parasit filaria di dalam sampel jaringan nyamuk, hewan, dan
manusia. Teknik ini juga digunakan untuk membedakan DNA manusia dari DNA
donor lainnya pada darah nyamuk. Adanya nyamuk vektor filariasis berdasarkan
penelitian terdahulu di Kabupaten Barito Kuala yaitu Cx.quinquefasciatus dan
Ma.uniformis dapat menjadi faktor risiko terjadinya penularan. Pada analisis PCR
tidak ditemukan DNA mikrofilaria pada sampel nyamuk maupun kontrol positif
yang berasal dari sampel darah positif mikrofilaria. Hal tersebut disebabkan
primer yang digunakan tidak cocok untuk mendeteksi mikrofilaria B.malayi dari
sampel darah positif yang berasal dari Indonesia. Proses RFLP pada penelitian ini
tidak dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan, karena tidak ada satupun
sampel nyamuk yang positif untuk analisis PCR Gen Cytochrome B. Hal tersebut
dikarenakan kurangnya optimasi proses pada analisis DNA.
Kata Kunci : Kebiasaan menghisap, vektor, filariasis, PCR, RFLP
Abstract
Filariasis is a disease caused by the filarial worm that is transmitted by mosquito
vectors. There are three species of filariasis worm In Indonesia that W. bancrofti, B.
malayi and B. timori. Barito Kuala is one filariasis endemic districts in South Kalimantan
with a number of microfilaria rate of 2.19%. Various studies have reported Hepatic
Dirofilariasis cases, a filarial parasites that normally occur in animals that were later
found in humans. A research in filarial endemic areas need to conducted to analyze the
possibility of filarial parasite transfer between humans and animals with knowing the
habits of mosquitoes suck blood. The method used in this research is the analysis
technique deoxyribose Nucleic Acid (DNA) by Polymerase Chain Reaction (PCR) Restriction Fragments Length Polymorphism (RFLP) have proven capable of detecting
filarial parasites in the tissue samples of mosquitoes, animals, and humans. This
technique is also used to distinguish human DNA from other donor DNA in the blood of
mosquitoes. The presence of mosquito vectors of filariasis based on previous research in
Barito Kuala namely Cx.quinquefasciatus and Ma.uniformis can be risk factors for
transmission. In PCR analysis of DNA microfilariae are not found in mosquito samples
and positive control samples derived from positive blood microfilariae. It is caused the
primers are not suitable for detecting microfilaria B.malayi of positive blood samples
originating from Indonesia. RFLP process in this study can not be implemented as
xii
planned, caused no positive mosquito samples for PCR analysis of gene Cytochrome B.
That is because the lack of optimization processes in DNA analysis.
Keyword : Biting habit, vectore, filariasis, PCR, RFLP
xiii
DAFTAR ISI
SK PENELITIAN ................................................................................................... ii
SUSUNAN TIM PENELITI ................................................................................... v
PERSETUJUAN ETIK .......................................................................................... vi
PERSETUJUAN ATASAN .................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii
RINGKASAN EKSEKUTIF ................................................................................. ix
ABSTRAK ............................................................................................................ xii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiv
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xvi
DAFTAR GRAFIK ............................................................................................. xvii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xix
PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
A.
Latar Belakang ...................................................................................... 1
B.
Perumusan Masalah Penelitian ............................................................. 3
C.
Pertanyaan Penelitian ............................................................................ 3
D.
Tujuan Penelitian (Umum dan Khusus) ............................................... 3
E.
Manfaat Penelitian ................................................................................ 3
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 5
METODE ............................................................................................................ 9
A.
Kerangka Teori dan Kerangka Konsep ................................................ 9
B.
Variabel dan Definisi Operasional ...................................................... 10
C.
Desain Penelitian ................................................................................ 12
D.
Tempat dan Waktu .............................................................................. 12
E.
Populasi dan Sampel (Estimasi dan Cara Pemilihan) ......................... 12
F.
Instrumen Pengumpul Data ............................................................... 12
G.
Bahan dan Prosedur Pengumpul data ................................................. 13
H.
Pengolahan dan Analisis Data ............................................................ 16
HASIL ............................................................................................................... 17
PEMBAHASAN ............................................................................................... 69
KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 80
DAFTAR KEPUSTAKAAN ............................................................................ 82
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Darah Jari Identifikasi Filariasis di Kabupaten Barito
Kuala Tahun 2012 ................................................................................................... 1
Tabel 2. Definisi Operasional Penelitian .............................................................. 10
Tabel 3. Keanekaragaman Nyamuk di Desa Antar Raya Pada Penangkapan
Pertama.................................................................................................................. 20
Tabel 4. Keanekaragaman Nyamuk di Desa Antar Raya Pada Penangkapan Kedua
............................................................................................................................... 21
Tabel 5. Kelimpahan Nisbi, Frekuensi dan Dominasi Spesies Nyamuk di Desa
Antar Raya pada Penangkapan Pertama ............................................................... 22
Tabel 6. Kelimpahan Nisbi, Frekuensi dan Dominasi Spesies Nyamuk di Desa
Antar Raya pada Penangkapan Kedua .................................................................. 23
Tabel 7. Kepadatan Nyamuk di Desa Antar Raya pada Penangkapan Pertama ... 23
Tabel 8. Kepadatan Nyamuk di Desa Antar Raya pada Penangkapan Kedua ...... 24
Tabel 9. Kode dan jumlah sampel yang digunakan untuk analisis PCR ............... 38
Tabel 10. Pembagian Pool Nyamuk ...................................................................... 43
Tabel 11. Hasil sampel PCR dengan Primer B.malayi ......................................... 43
Tabel 12. Hasil PCR Sampel AR 1 – AR 22 dengan Primer W. bancrofti ........... 45
Tabel 13. Hasil PCR Sampel AR 30 – AR 49 dengan Primer B. Malayi ............. 46
Tabel 14.Hasil PCR Sampel AR 30 – AR 49 dengan Primer W. bancrofti .......... 47
Tabel 15. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa
Antar Raya, urutan sampel 1-20............................................................................ 50
Tabel 16. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa
Antar Raya, urutan sampel 21-40.......................................................................... 51
Tabel 17. Keanekaragaman nyamuk yang tertangkap di Desa Karya Jadi selama 2
malam .................................................................................................................... 53
Tabel 18. Kelimpahan nisbi, frekuensi dan dominasi spesies nyamuk yang
tertangkap di Desa Karya Jadi............................................................................... 53
Tabel 19. Kepadatan Nyamuk di Desa Karya Jadi ............................................... 54
Tabel 20. Pembagian pool sampel nyamuk........................................................... 59
Tabel 21. Hasil PCR Sampel T 1 – T 10 dengan primer dengan Primer B. malayi
dan W. bancrofti .................................................................................................... 60
Tabel 22. Hasil PCR Sampel MU 1 – MU 20 dengan Primer B. malayi .............. 61
Tabel 23. Hasil PCR Sampel MU 1 – MU 22 dengan Primer W. bancrofti ......... 62
Tabel 24. Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer B. Malayi ................. 63
Tabel 25. Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer W. bancrofti ............. 65
Tabel 26. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa
Karya Jadi, urutan sampel 1-24 ............................................................................. 66
Tabel 27. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa
Karya Jadi, urutan sampel 25-48 ........................................................................... 67
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Kabupaten Barito Kuala .............................................................. 17
Gambar 2. Gel elektroforesis PCR Identifikasi DNA Vertebrata ......................... 41
Gambar 3. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel AR 1 – AR 22 dengan Primer B.
malayi .................................................................................................................... 44
Gambar 4. Gel elektroforesis hasil PCR Sampel AR 1 – AR 22 dengan Primer W.
bancrofti ................................................................................................................ 45
Gambar 5. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel AR 30 – AR 49 dengan Primer
B. malayi ............................................................................................................... 47
Gambar 6. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel AR 30 – 49 dengan Primer W.
bancrofti ................................................................................................................ 48
Gambar 7. Gel Elektroforesis Hasil PCR sampel Darah Manusia Positif
Mikrofilariasis Menggunakan Primer Cytochrome B ........................................... 49
Gambar 8. Gel Elektroforesis Hasil PCR sampel Darah Manusia Positif
Mikrofilariasis Menggunakan Primer B.malayi dan W.bancrofti ......................... 49
Gambar 9. gel elektroforesis hasil PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk
dari Desa Antar Raya, urutan sampel 1-20 ........................................................... 51
Gambar 10. Gel elektroforesis hasil PCR gen Cytochrome B pada sampel
nyamuk dari Desa Antar Raya, urutan sampel 21-40 ........................................... 52
Gambar 11. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel T 1 – T 10 ............................. 61
Gambar 12. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel MU 1 - MU 20 dengan Primer
B. malayi ............................................................................................................... 62
Gambar 13. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel MU 1 – MU 22 dengan Primer
W. bancrofti........................................................................................................... 63
Gambar 14. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer B.
malayi .................................................................................................................... 64
Gambar 15. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer W.
bancrofti ................................................................................................................ 65
Gambar 16. Gel elektroforesis Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada
sampel nyamuk dari Desa Karya Jadi, urutan sampel 1-24 .................................. 67
Gambar 17. Gel elektroforesis Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada
sampel nyamuk dari Desa Karya Jadi, urutan sampel 25-48 ................................ 68
xvi
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. Aktivitas nyamuk An.peditaeniatus di Desa Antar Raya ...................... 25
Grafik 2. Aktivitas nyamuk An.brevipalpis di Desa Antar Raya .......................... 25
Grafik 3. Aktivitas nyamuk Ae.aegypti pada penangkapan pertama di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 26
Grafik 4. Aktivitas nyamuk Ae.aegypti pada penangkapan kedua di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 26
Grafik 5. Aktivitas nyamuk Ae.albopictus pada penangkapan pertama di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 26
Grafik 6. Aktivitas nyamuk Ae.albopictus pada penangkapan kedua di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 27
Grafik 7. Aktivitas nyamuk Ae.cancricomes di Desa Antar Raya ........................ 27
Grafik 8. Aktivitas nyamuk Cx.tritaenirhynchus pada penangkapan pertama di
Desa Antar Raya ................................................................................................... 28
Grafik 9. Aktivitas nyamuk Cx.tritaenirhynchus pada penangkapan kedua di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 28
Grafik 10. Aktivitas nyamuk Cx.vishnui pada penangkapan pertama di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 28
Grafik 11. Aktivitas nyamuk Cx.vishnui pada penangkapan kedua di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 29
Grafik 12. Aktivitas nyamuk Cx.sitiens di Desa Antar Raya ............................... 29
Grafik 13. Aktivitas nyamuk Cx.sinensis di Desa Antar Raya ............................. 30
Grafik 14. Aktivitas nyamuk Cx.pseudosinensis di Desa Antar Raya .................. 30
Grafik 15. Aktivitas nyamuk Cx.gellidus pada penangkapan pertama di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 30
Grafik 16. Aktivitas nyamuk Cx.gellidus pada penangkapan kedua di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 31
Grafik 17. Aktivitas nyamuk Cx.bitaeniarhynchus pada penangkapan pertama .. 31
Grafik 18. Aktivitas nyamuk Cx.bitaeniarhynchus pada penangkapan kedua...... 32
Grafik 19. Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus pada penangkapan pertama ... 32
Grafik 20. Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus pada penangkapan kedua ...... 32
Grafik 21. Aktivitas nyamuk Cx.hutchinsoni pada penangkapan pertama di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 33
Grafik 22. Aktivitas nyamuk Cx.hutchinsoni pada penangkapan kedua di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 33
Grafik 23. Aktivitas nyamuk Cx.fuscocephalus di Desa Antar Raya ................... 34
Grafik 24. Aktivitas nyamuk Ma.uniformis pada penangkapan pertama di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 34
Grafik 25. Aktivitas nyamuk Ma.uniformis pada penangkapan kedua di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 34
Grafik 26. Aktivitas nyamuk Ma.dives pada penangkapan pertama di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 35
xvii
Grafik 27. Aktivitas nyamuk Ma.dives pada penangkapan kedua di Desa Antar
Raya....................................................................................................................... 35
Grafik 28. Aktivitas nyamuk Ma.annulifera pada penangkapan pertama di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 36
Grafik 29. Aktivitas nyamuk Ma.annulifera pada penangkapan kedua di Desa
Antar Raya ............................................................................................................ 36
Grafik 30. Aktivitas nyamuk Ma.annulata di Desa Antar Raya ........................... 37
Grafik 31. Aktivitas nyamuk Ar.subalbatus di Desa Antar Raya ......................... 37
Grafik 32. Aktivitas nyamuk An.umbrosus di Desa Karya Jadi ........................... 55
Grafik 33. Aktivitas nyamuk Ae.cancricomes di Desa Karya Jadi ....................... 55
Grafik 34. Aktivitas nyamuk Ae.albopictus di Desa Karya Jadi .......................... 56
Grafik 34. Aktivitas nyamuk Ae.aegypty di Desa Karya Jadi .............................. 56
Grafik 36. Aktivitas nyamuk Cx.tritaeniorhynchus di Desa Karya Jadi ............... 57
Grafik 37. Aktivitas nyamuk Cx.hutchinsoni di Desa Karya Jadi ........................ 57
Grafik 38. Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus di Desa Karya Jadi ............... 58
Grafik 39. Aktivitas nyamuk Ma.uniformis di Desa Karya Jadi........................... 58
Grafik 40. Aktivitas nyamuk Ma.annulifera di Desa Karya Jadi .......................... 59
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Dokumentasi Kegiatan
Lampiran 2 : Surat ijin Kesbangpol Provinsi Kalimantan Selatan
Lampiran 3 : Surat ijin Kesbangpol Kabupaten Barito Kuala
Lampiran 4 : Surat ijin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala
Lampiran 5 : Hasil analisis PCR Balai Veteriner Banjarbaru
xix
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filariasis atau yang dikenal juga dengan sebutan elephantiasis atau yang
dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit kaki gajah adalah penyakit
menular kronis yang disebabkan oleh infeksi cacing filarial. Cacing filaria ini
menyerang saluran dan kelenjar getah bening, sehingga menyebabkan rusaknya
sistem limfe dan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae dan
scrotum. Filariasis dapat mengakibatkan cacat seumur hidup serta stigma sosial
bagi penderita dan keluarganya.1
Filariasis dapat ditularkan oleh seluruh jenis spesies nyamuk. Di Indonesia
diperkirakan terdapat lebih dari 23 spesies vektor nyamuk penular filariasis yang
terdiri dari genus Anopheles, Aedes, Culex, Mansonia, dan Armigeres. Pada tahun
2009 setelah dilakukan survei darah jari pada kabupaten/kota terdapat 356
kabupaten/kota dari 495 kabupaten/kota di Indonesia atau sebesar 71,9%
sedangkan 139 kabupaten/kota (28,1%) tidak endemis filariasis.2
Di Kalimantan Selatan filariasis juga masih menjadi permasalahan,
terutama di daerah pedesaan, hal ini dimungkinkan karena masih banyaknya
tempat yang potensial bagi perkembangbiakan vektor seperti persawahan,
hutan dan rawa yang baik bagi nyamuk vektor filariasis.3
Kabupaten Barito Kuala merupakan salah satu kabupaten endemis filariasis di
Kalimantan Selatan. Pada tahun 2012 situasi filariasis di Kabupaten Barito Kuala,
berdasarkan hasil pemeriksaan darah jari yang dilaksanakan oleh BBTKL PP
Banjarbaru di 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Marabahan (Desa Antar Raya,
Desa Antar Baru, Desa Antar Jaya) dan Kecamatan Tabukan (Desa Karya Jadi
dan Desa Karya Makmur), dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Darah Jari Identifikasi Filariasis di Kabupaten Barito
Kuala Tahun 2012
Kecamatan
Desa
Sampel
Positif
MF Rate (%)
Tabukan
Karya Jadi
228
5
2,19
Karya
276
0
0
Makmur
Marabahan
Antar Raya
200
2
1
Antar Baru
107
0
0
Antar Jaya
208
0
0
1
Kemudian dilakukan Cross Check oleh Subdit Filariasis dan Kecacingan,
Kementerian Kesehatan RI dengan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) di
Desa Karya Jadi Kecamatan Tabukan pada 100 sampel, dan didapat hasil 10
sampel positif Filariasis (Rate=10%). Dengan target nasional Mf Rate kurang dari
1%, Kabupaten Barito Kuala dinyatakan endemis filariasis dengan angka
microfilaria rate sebesar 2,19%. Kabupaten Barito Kuala telah mulai melakukan
Pemberian Obat Massal Pencegah (POMP) Filariasis dimulai pada tahun 2013
setiap tahun selama lima tahun berturut-turut dengan sasaran seluruh penduduk di
Kabupaten Barito Kuala.4
Secara umum nyamuk vektor filaria pada manusia dan hewan yaitu genera
Culex, Mansonia, Anopheles, dan Aedes. Meskipun pada umumnya jenis parasit
yang diketahui menyerang manusia dan juga hewan adalah jenis Brugia malayi,5,6
namun telah dilaporkan adanya kasus Hepatic Dirofilariasis (parasit filaria yang
umumnya terdapat pada hewan) yang kemudian ditemukan pada manusia. Parasit
tersebut diduga karena dibawa oleh nyamuk yang terinfeksi cacing immature dari
darah hewan, yang membuktikan bahwa kebiasaan nyamuk betina dewasa
menghisap darah dapat berpindah-pindah dari manusia ke hewan sampai darah
yang dihisap mencukupi untuk mengembangkan telurnya.7 Besar kemungkinan
hampir setiap filariasis pada hewan terutama mamalia dapat menginfeksi manusia
(zoonosis). Infeksi tersebut dibawa oleh nyamuk yang menghisap darah hewan
yang terinfeksi yang kemudian menghisap darah manusia.8
Kegiatan pengendalian filariasis selama ini terfokus pada deteksi dan
pengobatan pada manusia serta pengendalian nyamuk vektor, untuk dapat
memutuskan rantai penularan perlu dilakukan penanganan pada hewan apabila
terbukti terdapat perpindahan parasit dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Sehingga perlu dilakukan penelitian di daerah endemis filaria untuk mengetahui
kebiasaan nyamuk menghisap darah, untuk dapat dianalisa kemungkinan adanya
perpindahan parasit filaria antara manusia dan hewan.
Teknik analisa Deoxyribose Nucleic Acid (DNA) dengan Polymerase Chain
Reaction (PCR) telah terbukti mampu untuk mendeteksi parasit filaria di dalam
sampel jaringan nyamuk, hewan, dan manusia.8–12 Teknik ini juga digunakan
untuk membedakan DNA manusia dari DNA donor lainnya pada darah nyamuk.13
2
Sehingga, teknik ini cocok digunakan untuk menganalisa kemungkinan adanya
perpindahan parasit filaria dari manusia ke hewan ataupun sebaliknya melalui
vektor nyamuk yang sama.
B. Perumusan Masalah Penelitian
Upaya memutus penyebaran parasit filaria adalah bagian penting dari eliminasi
filariasis. Adanya kemungkinan perpindahan parasit filaria dari hewan ke manusia
ataupun sebaliknya juga harus diwaspadai. Karena itu, diperlukan sebuah studi
untuk mengidentifikasi kebiasaan nyamuk vektor filaria menghisap darah, apakah
anthrofilik atau zoofilik.
C. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian yaitu :
1. Apakah masih terdapat mikrofilaria di dalam tubuh nyamuk?
2. Jenis parasit filaria apa yang terdapat dalam tubuh nyamuk?
3. Apakah nyamuk yang terdapat mikrofilaria di dalam tubuhnya menghisap
darah manusia atau hewan atau keduanya (hewan dan manusia)?
D. Tujuan Penelitian (Umum dan Khusus)
Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisa kebiasaan menghisap darah
nyamuk vektor filariasis di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini yaitu:
1. Mendeteksi nyamuk yang positif carrier mikrofilaria sehingga dapat
ditentukan jenis nyamuk yang menjadi vektor filariasis di Kabupaten Barito
Kuala;
2. Mendeteksi DNA manusia dan hewan pada jaringan nyamuk untuk
mengetahui kebiasan nyamuk menghisap darah;
3. Menilai kemungkinan perpindahan parasit filaria antara hewan dan manusia.
E. Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini dapat dianalisa kemungkinan adanya perpindahan parasit
filaria dari manusia ke hewan ataupun sebaliknya melalui nyamuk vektor serta
kemungkinan adanya parasit filaria yang umumnya terdapat pada hewan yang
3
kemudian menginfeksi manusia. Sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan
untuk pengendalian penyebaran filaria.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Filariasis limfatik merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh cacing
filaria melalui berbagai jenis nyamuk yang berperan sebagai vektor. Di Indonesia
terdapat tiga spesies cacing penyebab filariasis yaitu W. bancrofti, B. malayi dan
B. timori. Daur hidup cacing filarial ada 2 yaitu di dalam tubuh penderita
(manusia atau hewan) dan di dalam tubuh nyamuk.
Secara morfologi, cacing dewasa (disebut makrofilaria) hidup di saluran dan
kelenjar limfe, sedangkan anaknya (disebut mikrofilaria) ada di dalam sistem
peredaran darah. Mikrofilaria dapat ditemukan di dalam peredaran darah tepi pada
waktu-waktu tertentu sesuai dengan periodisitas, pada umumnya periodisitas
nokturna, yaitu banyak terdapat di dalam darah tepi pada malam hari, sedangkan
pada siang hari banyak terdapat di kapiler organ dalam seperti paru-paru, jantung
dan ginjal.
Makrofilaria (cacing dewasa) berbentuk silindris, halus seperti benang
berwarna putih susu dan hidup di dalam sistem limfe. Cacing betina bersifat
ovovivipar dan berukuran 55 - 100 mm x 0,16 µm, dapat menghasilkan jutaan
mikrofilaria. Cacing jantan berukuran lebih kecil ± 55 µm x 0,09 mm dengan
ujung ekor melingkar. Makrofilaria dapat bertahan hidup cukup lama di dalam
kelenjar limfe, dan dapat terjadi kerusakan sistem limfe ditempat tinggal cacing
ini. Makrofilaria akan mati dengan sendirinya setelah 5-7 tahun, tetapi kerusakan
sistem limfe yang berat tidak dapat pulih kembali. Cacing dewasa betina, setelah
mengalami fertilisasi, mengeluarkan jutaan anak cacing yang disebut mikrofilaria.
Ukuran mikrofilaria 200–600 µm x 8 µm dan mempunyai sarung. Secara
mikroskopis, morfologi spesies mikrofilaria dapat dibedakan berdasarkan: ukuran
ruang kepala serta warna sarung pada pewarnaan giemsa, susunan inti badan,
jumlah dan letak inti pada ujung ekor.14
Pada saat nyamuk menghisap darah yang mengandung mikrofilaria, maka
mikrofilaria akan terbawa masuk kedalam lambung nyamuk dan mikrofilaria
melepaskan selubungnya, selanjutnya menembus dinding lambung lalu bergerak
menuju otot atau jaringan lemak di bagian dada. Setelah ± 3 hari, mikrofilaria
mengalami perubahan bentuk menjadi larva stadium 1 (L1), bentuknya seperti
sosis berukuran 125-250 µm x 10-17 µm, dengan ekor runcing seperti cambuk.
5
Setelah ± 6 hari dalam tubuh nyamuk, larva tumbuh menjadi larva stadium 2 (L2)
disebut larva preinfektif yang berukuran 200-300 µm x 15-30 µm, dengan ekor
yang tumpul atau memendek. Pada stadium ini larva menunjukkan adanya
gerakan. Hari ke 8 -10 pada spesies Brugia atau hari ke 10 - 14 pada spesies
Wuchereria, larva dalam nyamuk tumbuh menjadi larva stadium 3 (L3) yang
berukuran ± 1400 µm x 20 µm. L3 tampak panjang dan ramping disertai dengan
gerakan yang aktif. Stadium 3 ini merupakan cacing infektif. Pada saat nyamuk
infektif menggigit manusia, maka larva L3 akan keluar dari probosis dan tinggal
di kulit sekitar lubang gigitan nyamuk. Pada saat nyamuk menarik probosisnya,
larva L3 akan masuk melalui luka bekas gigitan nyamuk dan bergerak menuju
sistim limfe. Cara penularan tersebut menyebabkan tidak mudahnya penularan
filariasis limfatik dari satu orang ke orang lain pada suatu wilayah tertentu,
sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang dapat terinfeksi filariasis limfatik,
apabila orang tersebut mendapat gigitan nyamuk ribuan kali.15
Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui terdapat 23 spesies nyamuk dari 5
genus yaitu Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres yang menjadi
vektor Filariasis. Sepuluh spesies nyamuk Anopheles telah diidentifikasi sebagai
vektor Wuchereria bancrofti tipe pedesaan. Culex quinquefasciatus merupakan
vektor Wuchereria bancrofti tipe perkotaan. Enam spesies Mansonia merupakan
vektor Brugia malayi. Di Indonesia bagian timur, Mansonia dan Anopheles
barbirostris merupakan vektor fialariasis yang penting . Beberapa spesies
Mansonia dapat menjadi vektor Brugia malayi tipe sub periodic nokturna.
Sementara Anopheles barbirostris merupakan vektor penting terhadap Brugia
timori yang terdapat di Nusa Tenggara Timur dan kepulauan Maluku Selatan.
Untuk melaksanakan pemberantasan vektor Filariasis, perlu mengetahui
bionomik (tata hidup) vektor yang mencakup tempat berkembang biak, perilaku
menggigit (mencari darah) dan tempat istirahat. Tempat perindukan nyamuk
berbeda-beda tergantung jenisnya. Umumnya nyamuk beristirahat di tempattempat teduh, seperti semak-semak di sekitar tempat perindukan dan di dalam
rumah pada tempat-tempat yang gelap. Sifat nyamuk dalam memilih jenis
mangsanya berbeda-beda, dapat hanya menyukai darah manusia (antropofilik),
darah hewan (zoofilik), atau darah hewan dan manusia (zooantropofilik).
6
Demikian juga mencari mangsanya berbeda-beda, dapat hanya di luar rumah
(eksofagik) atau dalam rumah (endofagik). Perilaku nyamuk ini dapat
berpengaruh terhadap distribusi kasus Filariasis. Setiap daerah mempunyai spesies
nyamuk berbeda-beda, dan pada umumnya terdapat beberapa spesies nyamuk
sebagai vektor utama dan spesies lainnya hanya merupakan vektor potensial.14
Telah dilaporkan adanya kasus Hepatic Dirofilariasis (parasit filaria yang
umumnya terdapat pada hewan) yang kemudian ditemukan pada manusia. Parasit
tersebut diduga karena dibawa oleh nyamuk yang terinfeksi cacing immature dari
darah hewan, yang membuktikan bahwa kebiasaan nyamuk betina dewasa
menghisap darah dapat berpindah-pindah dari manusia ke hewan sampai darah
yang dihisap mencukupi untuk mengembangkan telurnya.(1) Besar kemungkinan
hampir setiap filariasis pada hewan terutama mamalia dapat menginfeksi manusia
(zoonosis). Infeksi tersebut dibawa oleh nyamuk yang menghisap darah hewan
yang terinfeksi yang kemudian menghisap darah manusia.8
Beberapa jenis hewan dapat berperan sebagai sumber penularan Filariasis
(hewan reservoir). Dari semua spesies cacing filaria yang menginfeksi manusia di
Indonesia, hanya Brugia malayi tipe sub periodik nokturna dan non periodik yang
ditemukan juga pada lutung (Presbytis cristatus), kera (Macaca fascicularis) dan
kucing (Felis catus). Penanggulangan Filariasis pada hewan reservoir ini tidak
mudah, oleh karena itu juga akan menyulitkan upaya pemberantasan Filariasis
pada manusia.14
Pemutusan transmisi vektor merupakan unsur utama program eliminasi
filariasis limfatik sehingga metode deteksi untuk mengetahui ada tidaknya infeksi
pada nyamuk adalah sangat diperlukan.16 Pada daerah endemik deteksi yang
sangat bermanfaat adalah finger prick test dan The DEC provocative test,17 yang
menjadi standar emas pengujian. Oleh karena parasit mempunyai periode
nokturnal (penampakan pada darah hanya pada malam hari) yang membatasinya
sehingga test ini hanya efektif dilakukan pada malam hari. Uji
berdasarkan
antigen dan antibody hanya memberikan hasil yang positif beberapa bulan setelah
infeksi dan hasil dari uji tersebut memberikan gambaran keberadaan transmisi
filaria pada suatu saat yang sangat awal.18 Berbeda dengan xenomonitoring (uji
deteksi adanya mikrofilaria/larva pada nyamuk) yang menggambarkan transmisi
7
pada saat itu. Teknik lain adalah dengan menggunakan Polimerase Chain
Reaction (PCR) yang dapat mendeteksi 1 pikogram DNA filaria pada darah
penderita.19
Teknik PCR terbukti mampu mendeteksi DNA parasit filaria pada semua tahap
larva baik dari darah hospes maupun perantara. Teknik ini pun menggunakan
waktu yang lebih sedikit dibandingkan pemeriksaan menggunakan mikroskop,
khususnya untuk sampel dalam jumlah besar. Teknik Polymerase Chain Reaction
(PCR) dan Restriction Fragments Length Polymorphism (RFLP) cukup sensitif
untuk membedakan DNA dari beberapa sumber darah pada nyamuk, sehingga
dapat digunakan untuk mendeteksi kemungkinan transmisi mikrofilaria dari
hewan ke manusia atau sebaliknya.8-13
8
METODE
A. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep
Kerangka Teori
Kerangka teori dari penelitian ini mengadopsi dari segi tiga epidemiologi
(Epidemiology Triangle) yang dikemukakan oleh Gordon dan La Richt pada tahun
1950, menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada manusia
dipengerahui oleh tiga faktor utama yaitu host, agent dan environment.
Filariasis
Vektor
- B. malayi
- B. timori
- W. banchrofti
-
Culex
Anopheles
Mansonia
Aedes
Kerangka Konsep
Seseorang atau hewan dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila
orang atau hewan tersebut darahnya dihisap oleh nyamuk yang infektif yaitu
nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3), yang didapat sewaktu nyamuk
tersebut menghisap darah penderita atau hewan reservoir yang mengandung
mikrofilaria. Siklus penularan filariasis melalui dua tahap, yaitu tahap pertama
perkembangan dalam tubuh nyamuk (vektor) yang dipengaruhi oleh umur
nyamuk, tempat kembang biak, keanekaragaman dan kelimpahan. Pada tahapan
kedua yaitu perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoir
9
dipengaruhui oleh kebiasaan nyamuk menghisap darah, untuk mengetahui apakah
nyamuk vektor menghisap darah manusia atau hewan diperlukan sebuah analisis
kebiasaan nyamuk menghisap darah guna penanggulangan filariasis secara
menyeluruh (manusia dan hewan).
Kerangka konsep pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
----------------
Tidak diteliti
B. Variabel dan Definisi Operasional
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kebiasaan nyamuk menghisap
darah (bloodmeal), sedangkan variabel bebas yaitu jenis/spesies nyamuk
(biodiversity), jenis mikrofilaria, dan inang filaria.
Definisi Operasional pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Definisi Operasional Penelitian
No
1.
Variabel
Jenis
mikrofilaria
2.
Carrier
Definisi Operasional
Skala
Parasit nematoda atau cacing Nominal
filaria limfatik, merusak
jaringan
kelenjar/saluran
getah bening. Ada 3 jenis
nematoda jaringan yaitu
Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori
Nyamuk pembawa parasit Nominal
Kategori
Wuchereria
bancrofti,
Brugia malayi
dan
Brugia
timori
Ya atau tidak
10
No
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Variabel
mikrofilaria
DNA
manusia dan
hewan
Definisi Operasional
nematoda atau cacing filaria
Materi genetik pada tubuh
manusia dan hewan yang
terbentuk dari empat tipe
nukleotida yang berikatan
secara kovalen membentuk
rantai polinukleotida dengan
rangka gula fosfat tempat
melekatnya basa-basa
Filaria
penyakit menular kronis yang
disebabkan
oleh
infeksi
cacing filaria, menyerang
saluran dan kelenjar getah
bening,
sehingga
menyebabkan
rusaknya
sistem
limfe
dan
pembengkakan pada tangan,
kaki, glandula mammae dan
scrotum.
Inang filaria
Tempat untuk cacing filaria
hidup dan berkembang
Tempat
Tempat
perindukkan
kembang biak nyamuk/tempat
tinggal
nyamuk untuk berkembang
biak
Kelimpahan
Banyaknya individu nyamuk
per spesies dalam sampel
yang diambil
Keanekaraga Variasi jenis nyamuk yang
man
ditemukan
dalam
suatu
komunitas
Vektor
Arthropoda
yang
dapat
memindahkan
atau
menularkan
suatu
agen
infeksi dari sumber infeksi
kepada hospes yang rentan.
Kebiasaan
Kecenderungan nyamuk yang
menghisap
menghisap darah manusia
atau hewan di luar rumah dan
di dalam rumah
Skala
Kategori
Nominal
DNA manusia
dan atau DNA
Hewan
Nominal
Positif
Negatif
Nominal
Manusia dan
atau hewan
Perkebunan,
hutan, sawah
Nominal
atau
Nominal
Banyak
tidak
atau
Nominal
Tinggi,
sedang, rendah
Nominal
Vektor
atau
bukan vektor
Nominal
Menghisap
darah manusia
dan
atau
hewan
di
dalam dan di
luar rumah
11
C. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain potong lintang.
D. Tempat dan Waktu
Penelitian akan dilaksanakan pada dua desa endemis filariasis di Kabupaten
Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan pada bulan Maret sampai dengan
Desember 2016.
E. Populasi dan Sampel (Estimasi dan Cara Pemilihan)
Populasi yaitu semua jenis nyamuk yang ada di Kabupaten Barito Kuala,
sedangkan sampel adalah nyamuk yang diketahui sebagai vektor filaria di daerah
pengambilan sampel (Cx.quinquifasciatus, Cx.tritaeniorhynchus, Ma.uniformis,
An.umbrosus dan An.nigerimus).3 Penangkapan nyamuk akan dilakukan di rumah
penderita yang tercatat positif filariasis pada tahun 2012 dan 2 rumah di sekitar
rumah penderita tersebut (jarak ± 200 meter) dengan menggunakan teknik
purposive sampling.
Kriteria inklusi yaitu nyamuk vektor filaria yang tertangkap dengan metode
Hand Catches dan metode Human Landing Collection. Kriteria ekslusi yaitu
nyamuk vektor filaria jantan dan nyamuk yang tidak menghisap darah.
F. Instrumen Pengumpul Data
Nyamuk vektor filaria dikumpulkan dengan metode
Hand Catches
(penangkapan dengan menggunakan aspirator tanpa umpan manusia/resting) dan
Human Landing Collection (penangkapan nyamuk dengan umpan manusia).
Kedua metode dipilih karena mampu memfasilitasi penangkapan semua jenis
nyamuk vektor filaria. Hasil penangkapan nyamuk berupa jenis, jumlah, lokasi,
kepadatan, dan waktu penangkapan akan dicatat dalam tabel hasil. Selanjutnya
nyamuk yang telah dikumpulkan akan diseleksi dan dikelompokkan (pools)
berdasarkan jenis untuk digunakan dalam proses Polymerase Chain Reaction
(PCR) dan Restriction Fragments Length Polymorphism (RFLP).
Teknik PCR terbukti mampu mendeteksi DNA parasit filaria pada semua tahap
larva baik dari darah inang maupun perantara. Teknik ini pun menggunakan
waktu yang lebih sedikit dibandingkan pemeriksaan menggunakan mikroskop,
khususnya untuk sampel dalam jumlah besar. Teknik PCR-RFLP digunakan
12
karena cukup sensitif untuk membedakan DNA dari beberapa sumber darah pada
nyamuk.8-13
G. Bahan dan Prosedur Pengumpul data
Bahan
Dalam penelitian ini digunakan bahan-bahan yaitu: kit ekstraksi, kit PCR, set
primer untuk filaria dari jenis Brugia malayi, B. timori, dan Wucheria banchrofti,
set primer DNA untuk manusia, monyet, kucing, dan anjing, enzim restriksi,
bahan elektroforesis, dan bahan-bahan untuk penangkapan nyamuk
Proses ekstraksi menggunakan Tissue DNA Extraction Kit Vivantis dan Proses
PCR menggunakan DNA Amplification Kit Vivantis (Selangor, Malaysia). Primer
DNA yang digunakan yaitu :
1. Cytochrome
B
H.
sapiens
---
CCATCCAACATCTCAGCATGATGAAA-3’
(Forward
dan
Reverse
5’5’-
13
CCCCTCAGAATGATATTTGTCCTCA-3’)
2. W. bancrofti --- (Forward 5’-CTGAGTGAAATCAATGAACTGC-3’ dan
Reverse 5’-GTCCATCCGATGAAGTTCCACC-3’)20
3. B. malayi --- (Forward 5’-ATGTCCGCACAACTTTTGATTTTATCG-3’ dan
Reverse 5’-TTAAATTTCACGTTCCAGTTCATCGAT-3’)10
4. B. timori --- (Forward 5’-AGTGCGAATTGCAGACGCATTGAG-3’ dan
Reverse 5’-AGCGGGTAATCACGACTGAGTTGA-3’)21
5. D. immitis --- (Forward 5’-AGTGTAGAGGGTCAGCCTGAGTTA-3’) dan
Reverse 5’-ACAGGCACTGACAATACCAAT-3’)21
6. D. repens --- (Forward 5’-CATTGATAGTTTACATTCAAATAA-3’ dan
Reverse 5’-GATTCATTTATTGCATTA-AGCAAGC-3’)21
Prosedur Pengumpulan Data
1) Penangkapan sampel nyamuk dengan metode Hand Catches dan Human
Landing Collection11,22:
a. Penangkapan nyamuk dilakukan oleh kader yang direkrut dari
penduduk lokal. Tim akan memberikan pengarahan kepada para kader
sebelum penangkapan nyamuk;
b. Kader dibagi menjadi dua kelompok dengan masing-masing kelompok
terdiri atas enam orang, kelompok pertama bertugas menangkap
13
nyamuk pukul 18.00 sampai dengan 24.00, sedangkan kelompok kedua
bertugas menangkap nyamuk pukul 24.00 sampai dengan 06.00;
c. Setiap kelompok waktu dibagi atas tiga orang yang bertugas di luar
rumah dan tiga orang bertugas di dalam rumah. Rotasi dilakukan setiap
satu jam untuk memastikan variasi dalam efisiensi penangkapan
nyamuk;
d. Kader duduk di kursi ataupun di lantai dan membiarkan bagian betis
terbuka. Kader juga menangkap nyamuk yang menempel (resting) pada
dinding, tanaman, kandang, dan tempat istirahat lainnya. Nyamuk
ditangkap menggunakan aspirator dan dimasukkan ke dalam gelas
kertas;
e. Nyamuk dikumpulkan setiap satu jam selama rentang waktu yang
tentukan dengan aturan 50 menit penangkapan 10 menit istirahat;
f. Nyamuk dibawa ke laboratorium Entomologi Balai Litbang P2B2
Tanah Bumbu untuk diidentifikasi dan diseleksi berdasarkan jenis,
lokasi, dan waktu penangkapan.
2) Prosedur Laboratorium meliputi Ekstraksi DNA dari nyamuk, Polymerase
Chain Reaction (PCR) - Restriction Fragments Length Polymorphism
(RFLP).
Pengerjaan
prosedur
laboratorium
akan
dikerjakan
di
Laboratorium Biomolekular Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas
MIPA di Banjarbaru. Adapun rincian prosedur yang akan dilakukan
adalah sebagai berikut:
a. Ekstraksi DNA dari nyamuk
1. Nyamuk yang telah diseleksi dan dikelompokkan diambil sebanyak
25 ekor per pool dipisahkan kepala dan perut untuk identifikasi
keberadaan larva mikrofilaria, kemudian diambil 2 ekor pada
masing-masing pool untuk analisis kebiasaan nyamuk menghisap
darah;23
2. DNA dari sampel jaringan/darah nyamuk dihomogenasi kemudian
diekstrak menggunakan Tissue DNA Extraction Kit Vivantis untuk
identifikasi mikrofilaria dan Blood DNA Extraction Kit Vivantis
dengan protokol sesuai panduan pabrik;
14
3. Hasil disimpan untuk kemudian digunakan dalam PCR.
b. Polymerase Chain Reaction (PCR)
1. Kit PCR yang digunakan adalah DNA Amplification Kit Vivantis
2. Sampel DNA hasil ekstraksi (akan ditentukan melalui uji
pendahuluan agar diketahui jumlah DNA optimal untuk PCR)
dicampur dengan PCR mix dan set primer DNA yang telah
disiapkan;
3. Tube sampel dimasukkan ke dalam Thermal Cycler (kondisi PCR
menyesuaikan hasil optimasi);
4. Elektroforesis pada gel agarosa. Ukuran DNA dibandingkan dengan
standar ladder DNA 100 bp.
5. Sampel positif dari proses PCR dikirim untuk sequencing agar bisa
ditentukan enzim restriksi yang digunakan pada proses RFLP.
c. Restriction Fragments Length Polymorphism (RFLP)
1. Sebanyak 15 µl hasil PCR digunakan dalam reaction mix berisi
enzim restriksi.
2. Reaction mix diinkubasi menggunakan waterbath pada suhu yang
ditentukan produsen untuk masing-masing enzim.
3. Elektroforesis pada gel agarosa untuk melihat profil potongan DNA,
apabila ukuran potongan DNA terlalu kecil dan sulit dilihat maka
akan dilanjutkan dengan elektroforesis pada gel polyacrylamide.
PCR-RFLP merupakan analisis DNA yang mengkombinasikan teknik
multiflikasi DNA (PCR) dengan teknik pemotongan DNA (restriksi).
Rantai DNA tertentu yang telah dimultiflikasi kemudian dipotong
menggunakan Enzim Restriksi. Teknik ini telah berhasil digunakan untuk
diagnosis Filariasis pada manusia serta untuk membedakan sumber darah
dari vektor penyakit Malaria dan Chagas.10,13,24
DNA yang dimultiflikasi dalam penelitian ini adalah DNA adalah bagian
dari Gen Cytochrome B dari mitokondria vertebrata (GenBank Accession
Number DQ112962.3). Total produk PCR yang diharapkan adalah 358 bp
dengan sekuen berikut (area yang di-highlight merupakan posisi primer):
1
ccatccaaca tctccgcatg atgaaacttc ggctcactcc ttggcgcctg
cctgatcctc
15
61
121
181
241
301
caaatcacca
aaccgccttt
tcatcaatcg
ctaccttcac
gccaatggcg
aggcctatat
tacggatcat
gcttgcaact
atagcaacag
ctgagggg
caggactatt cctagccatg cactactcac cagacgcctc
cccacatcac tcgagacgta aattatggct gaatcatccg
cctcaatatt ctttatctgc ctcttcctac acatcgggcg
ttctctactc agaaacctga aacatcggca ttatcctcct
ccttcatagg ctatgtcctc ccgtgaggcc aaatatcatt
H. Pengolahan dan Analisis Data
Data hasil penangkapan nyamuk berupa jenis, jumlah, lokasi, kepadatan, dan
waktu penangkapan akan di editing, dientri dan kemudian dimasukkan ke dalam
tabel untuk dianalisa secara deskriftif. Untuk mengetahui kepadatan populasi
nyamuk dari hasil Penangkapan di daerah penelitian, maka data yang diperoleh
dihitung menurut rumus yaitu:
Jumlah nyamuk yang positif mengandung mikrofilaria akan dianalisa untuk
mendapatkan angka Infection Rate, dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Infection Rate
:
Sedangkan data hasil PCR-RFLP akan dikelompokkan berdasarkan jenis
nyamuk dan mikrofilaria yang dikandungnya.
16
HASIL
Gambaran Umum Wilayah Penelitian
Gambar 1. Peta Kabupaten Barito Kuala
Kabupaten Barito Kuala dengan nama ibukota kabupaten adalah Marabahan.
Secara geografis terletak antara 2o29’50” – 3o30’18” Lintang Selatan dan
114o20’50” – 114o50’18” Bujur Timur. Dengan luas wilayah 2.996,96 Km2 atau
7,99 % dari luas propinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan secara administratif,
batasan wilayah Kabupaten Barito Kuala adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara
:
Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten
Tapin
2. Sebelah Selatan
: Laut Jawa
3. Sebelah Timur
: Kabupten Banjar dan Kota Banjarmasin
4. Sebelah Barat
: Kabupaten Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten Barito Kuala terbagi menjadi 17 kecamatan dengan 201 desa.
Kecamatan Kuripan merupakan kecamatan yang terluas dengan luas wilayah
343,5 km2 atau 11,46% dari luas Kabupaten Barito Kuala dan kecamatan
Mandastana 339,0 km2 (11,31%), sedangkan Kecamatan yang memiliki luas
17
terkecil adalah Kecamatan Wanaraya dengan luasnya 37,50 km2 atau 1,25% dari
luas wilayah Kabupaten Barito Kuala.
Bentuk morfologi Kabupaten Barito Kuala merupakan dataran rendah dengan
ketinggian 0,2 sampai dengan 3 meter dari permukaan laut. Karena merupakan
dataran rendah maka hampir disemua kecamatan tumbuh hutan galam yang
digunakan sebagai bahan bangunan dan purun yang dimanfaatkan untuk anyaman
tikar, bakul. Kabupaten Barito Kuala dibelah oleh sungai Barito yang
membentang dari selatan sebagai muara sungainya (Kecamatan Tabunganen)
hingga ke utara (Kecamatan Kuripan). Selain sungai Barito, sungai yang ada di
Kabupaten Barito Kuala antara lain Sungai Negara, Sungai Kapuas, Sungai
Alalak, Sungai Puntik, Saluran Drainase Tamban, Saluran Drainase Anjir Pasar,
Saluran Drainase Tabukan dan Saluran Drainase Tabunganen. Sungai – sungai ini
selain berguna untuk transportasi, juga untuk pengairan sawah.
Kecamatan Marabahan
Kecamatan Marabahan mempunyai 10 buah desa dengan luas wilayah 221
km2 dan berbatasan, dimana batas-batasnya adalah :
Sebelah Utara
: Kecamatan Bakumpai
Sebelah Selatan
: Kecamatan Berambai
Sebelah Timur
: Kecamatan Cerbon
Sebelah Barat
: Kecamatan Tabukan
Secara astronomis Kecamatan Marabahan terletak pada 02Ëš 50’ 50” - 03Ëš 18’
0” lintang selatan dan pada 114Ëš 40’ 50” - 114Ëš 40’ 0” bujur timur. Secara
Topografi, kecamatan Marabahan merupakan dataran rendah dan rawa, dimana
ketinggian dari permukaan laut adalah sebelah utara rata-rata 10 m dari
permukaan laut dan sebelah selatan : rata-rata 2 m dari permukaan laut, sehingga
kecamatan Marabahan memiliki lahan basah, dimana sebagian besar wilayahnya
dikelilingi oleh sungai dan rawa pasang surut. Kondisi ini menyebabkan tanah
daerah ini mengandung lahan gambut (peatland). Endapan gambut daerah ini
berasal dari sisa-sisa tumbuhan rendah rawa termasuk tipe “Topogeneus Peat”
yang mempunyai ketebalan hingga ±150 meter. Selain itu juga, tingkat ke
asamaan tanah mencapai Ph 3-5, sehingga air tanah ditempati ini tidak dapat
langsung dikonsumsi karena mengandung senyawa besi dan sulfur atau disebut
18
larutan firit. Seperti daerah yang berada di wilayah Indonesia pada umumnya,
kecamatan Marabahan mengalami dua musim yaitu musim hujan dan musim
kemarau.
Salah satu desa di Kecamatan marabahan yaitu desa Antar Raya yang menjadi
lokasi penelitian. Desa Antar Raya memiliki luas wilayah sebesar 28,86 Km2.
Jumlah penduduk di Desa Antar Raya pada tahun 2015 adalah sebanyak 1.087
jiwa dengan 534 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 553 jiwa berjenis kelamin
perempuan. Jumlah rumah tangga sebanyak 50 rumah tangga dan kepadatan
penduduk 32,92 per Km2.
Kecamatan Tabukan
Secara astronomis Kecamatan Tabukan terletak pada Lintang 2o48’21”LS dan
pada Bujur 114o38’24”BT. Secara administrasi terdiri dari 11 desa dengan luas
116.00 Km2, selain itu berbatasan dengan wilayah kecamatan lainnya, yaitu :
1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Palingkau Lama, Kabupaten
Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah
2. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Tabukan
3. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tabukan dan Kecamatan
Barambai
4. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Palingkau Lama, Kabupaten
Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.
Salah satu desa di Kecamatan Tabukan yaitu Desa Karya Jadi, yang
merupakan desa tempat penelitian ini dilakukan. Desa Karya Jadi memiliki luas
wilayah sebesar 15,30 Km2. Jumlah penduduk sebesar 746 jiwa dengan jumlah
rumah tangga sebanyak 187. Jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki
sebesar 372 jiwa dan 374 jiwa penduduk berjenis kelamin laki-laki.
DESA ANTAR RAYA
Penangkapan Nyamuk
Pengumpulan data berupa penangkapan nyamuk di Desa Antar Raya dilakukan
sebanyak 2 kali kegiatan yaitu pada bulan Juni dan September 2016. Penangkapan
nyamuk dilakukan ulang dikarenakan pada pengumpulan data pertama setelah
dianalisis secara PCR, hasilnya tidak menunjukkan adanya DNA, sementara
semua sampel nyamuk sudah terlanjur diekstrak.
19
Penangkapan nyamuk pertama dilakukan pada tanggal 2-4 Juni 2016 selama 3
malam, seharusnya penangkapan nyamuk dilakukan selama 4 malam, namun
kendala penelitian dikarenakan malam terakakhir merupakan malam pertama
ramadhan sehingga penangkapan nyamuk tidak dapat dilakukan dikarenakan adat
budaya setempat yang melakukan sholat malam pada bulan ramadhan (sholat
teraweh) dan kader penangkap nyamuk tidak dapat melakukan penangkapan
nyamuk pada malam tersebut. Lokasi penangkapan nyamuk dilakukan di sekitar
rumah penderita.
Penangkapan nyamuk yang kedua dilakukan pada tanggal 25-26 September
2016 selama 2 malam dikarenakan anggaran untuk penangkapan nyamuk hanya 4
malam, sehingga dibagi masing-masing dua malam dengan Desa Karya Jadi.
Lokasi penangkapan nyamuk tetap dilakukan disekitar rumah penduduk.
Keanekaragaman nyamuk di Desa Antar Raya
Keanekaragaman nyamuk yang tertangkap pada penangkapan pertama di Desa
Antar Raya terdapat 20 spesies nyamuk dari 5 genus, seperti terlihat pada tabel
berikut :
Tabel 3. Keanekaragaman Nyamuk di Desa Antar Raya Pada Penangkapan Pertama
Jenis nyamuk
An.peditaeniatus
An.brevipalpis
Ae.aegypti
Ae.albopictus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.vishnui
Cx.sitiens
Cx.sinensis
Cx.pseudosinensis
Cx.gellidus
Cx.bitaeniarhynchus
Cx.quinquefasciatus
Cx.hutchinsoni
Cx.fuscocephalus
Ma.uniformis
Ma.dives
Ma.annulata
Ma.annulifera
Ar.subalbatus
Total
Umpan Orang (HLC)
UOL
UOD
Jml
%
Jml
%
7 46.67
2
13.33
0
0.00
0
0.00
1 12.50
1
12.50
0
0.00
0
0.00
516 46.74
304
27.54
736 46.73
438
27.81
233 45.16
139
26.94
0
0.00
0
0.00
1 25.00
0
0.00
5 62.50
1
12.50
0
0.00
1
100.00
26 29.89
24
27.59
10 31.25
9
28.13
0
0.00
0
0.00
105 38.89
89
32.96
60 48.00
37
29.60
7 43.75
7
43.75
1 25.00
2
50.00
3 12.50
1
4.17
1711 45.09
1055
27.80
Resting
D
Jml
0
0
3
1
137
206
60
0
1
0
0
20
1
0
42
18
0
1
9
499
Total
L
%
0.00
0.00
37.50
50.00
12.41
13.08
11.63
0.00
25.00
0.00
0.00
22.99
3.13
0.00
15.56
14.40
0.00
25.00
37.50
13.15
Jml
6
1
3
1
147
195
84
2
2
2
0
17
12
1
34
10
2
0
11
530
%
40
100
38
50
13
12
16
100
50
25
0
20
38
100
13
8
13
0
46
14
15
1
8
2
1104
1575
516
2
4
8
1
87
32
1
270
125
16
4
24
3795
20
Keanekaragaman genus nyamuk yang tertangkap terdapat dari 5 genus yaitu
Anopheles sp, Aedes sp, Culex sp, Mansonia sp dan Armigeres dengan jumlah
nyamuk yang tertangkap yaitu sebanyak 3.795 ekor. Spesies yang paling banyak
ditangkap yaitu Cx.vishnui baik pada saat ditangkap menggunakan umpan orang
di dalam dan di luar rumah serta pada saat istirahat/ resting baik di dalam maupun
di luar rumah, menyusul kemudian Cx.tritaenirhynchus dan Cx.sitiens. Pada
penangkapan nyamuk yang kedua diperoleh lebih sedikit spesies nyamu yang
tertangkap, seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 4. Keanekaragaman Nyamuk di Desa Antar Raya Pada Penangkapan Kedua
Umpan Orang (HLC)
Jenis nyamuk
UOL
Jml
Ae.cancricomes
Resting
UOD
%
Jml
D
%
Jml
L
%
Jml
Total
M
%
Jml
%
28
46.67
12
20.00
7
11.67
13
21.67
2
36.11
60
Ae.albopictus
7
58.33
1
8.33
2
16.67
2
16.67
3
138.89
12
Ae.aegypty
1
11.11
5
55.56
2
22.22
1
11.11
0
123.46
9
265
56.87
102
21.89
50
10.73
49
10.52
0
2.26
466
0
0.00
2
50.00
2
50.00
0
0.00
0
0.00
4
12
46.15
5
19.23
3
11.54
6
23.08
0
88.76
26
0
0.00
2
100.00
0
0.00
0
0.00
0
0.00
2
36
80.00
4
8.89
3
6.67
2
4.44
0
9.88
45
0
0.00
1
100.00
0
0.00
0
0.00
0
0.00
1
131
43.96
76
25.50
52
17.45
39
13.09
2
4.39
298
3
60.00
0
0.00
1
20.00
1
20.00
0
400.00
5
Cx.tritaeniorhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Cx.gellidus
Cx.visnui
Cx.bitaeniorhynchus
Ma.uniformis
Ma.annulifera
Ma.dives
Total
0
0.00
1
50.00
0
0.00
1
50.00
0
2500.00
2
483
192.547
211
22.69
122
13.12
114
12.26
7
1.32
930
Pada tabel di atas terlihat bahwa keanekaragaman nyamuk yang didapat pada
penangkapan kedua diperoleh sebanyak 930 ekor nyamuk dengan 12 spesies dari
3 genus. Spesies Cx.tritaeniorhynchus yang paling banyak diperoleh pada
penangkapan nyamuk yang kedua yaitu sebanyak 466 ekor dengan 256 ekor
(56,87%) yang ditangkap menggunakan umpan orang
di dalam rumah lebih
banyak dibandingkan dengan yang ditangkap menggunakan umpan orang di luar
rumah yaitu sebanyak 102 ekor (21,89%). Pada penangkapan kedua juga
dilakukan resting morning yang dilakukan sekitar pukul 07.00-09.00 WITA
dengan spesies nyamuk yang didapat yaitu Ae.cancricomes, Ae.albopictus, dan
Ma.uniformis. Jumlah nyamuk yang didapat pada penangkapan kedua lebih
21
sedikit dibandingkan pada penangkapan pertama dimungkinkan Karena jumlah
malam penangkapan yang lebih sedikit.
Kelimpahan Nisbi, Frekuensi dan Dominansi Spesies
Banyaknya individu nyamuk per spesies pada penangkapan nyamuk yang
dilakukan pertama di Desa Antar Raya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5. Kelimpahan Nisbi, Frekuensi dan Dominasi Spesies Nyamuk di Desa Antar
Raya pada Penangkapan Pertama
Umpan Orang
Jenis Nyamuk
Jumlah
KN (%)
FS
DS
An.peditaeniatus
15
0.40
1
0.40
An.brevipalpis
1
0.03
0.33
0.01
Ae.aegypti
8
0.21
1
0.21
Ae.albopictus
2
0.05
0.33
0.02
Cx.tritaenirhynchus
1104
29.09
1
29.09
Cx.vishnui
1575
41.50
1
41.50
Cx.sitiens
516
13.60
1
13.60
Cx.sinensis
2
0.05
0.33
0.02
Cx.pseudosinensis
4
0.11
0.67
0.07
Cx.gellidus
8
0.21
0.67
0.14
Cx.bitaeniarhynchus
1
0.03
0.33
0.01
Cx.quinquefasciatus
87
2.29
1
2.29
Cx.hutchinsoni
32
0.84
0.67
0.56
Cx.fuscocephalus
1
0.03
0.33
0.01
Ma.uniformis
270
7.11
1
7.11
Ma.dives
125
3.29
1
3.29
Ma.annulata
16
0.42
1
0.42
Ma.annulifera
4
0.11
1
0.11
Ar.subalbatus
24
0.63
1
0.63
Keterangan :
KN (%)
: Kelimpahan Nisbi
FS
: Frekuensi Spesies
DS
: Dominan Spesies
Berdasarkan hasil pada tabel di atas diketahui bahwa kelimpahan paling tinggi
pada spesies Cx.vishnui sebesar 41,50% dengan frekuensi kemunculan spesies
pada malam penangkapan yaitu 1 dan dominasi spesies sebesar 41,50%.
Kelimpahan nisbi pada penangkapan nyamuk kedua di Desa Antar Raya seperti
pada tabel berikut :
22
Tabel 6. Kelimpahan Nisbi, Frekuensi dan Dominasi Spesies Nyamuk di Desa Antar
Raya pada Penangkapan Kedua
Umpan Orang
Jenis Nyamuk
Jumlah
KN (%)
FS
DS
Ae.cancricomes
Ae.albopictus
Ae.aegypty
Cx.tritaeniorhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Cx.gellidus
Cx.visnui
Cx.bitaeniorhynchus
Ma.uniformis
Ma.annulifera
Ma.dives
60
12
9
466
4
26
2
45
1
298
5
2
6.45
1.29
0.97
50.11
0.43
2.80
0.22
4.84
0.11
32.04
0.54
0.22
1
1
1
1
1
1
0.5
1
0.5
1
1
1
6.45
1.29
0.97
50.11
0.43
2.80
0.11
4.84
0.05
32.04
0.54
0.22
Penangkapan nyamuk kedua yang dilakukan di Desa Antar Raya, diketahui
bahwa Cx.tritaeniorhynchus dengan kelimpahan nisbi terbesar yaitu 50,11%,
frekuensi 1 dan dominasi spesies 50,11. Berbeda dengan penangkapan pertama,
Cx.tritaeniorhynchus merupakan spesies kedua terbanyak.
Kepadatan Nyamuk
Kepadatan nyamuk menggigit tertinggi per orang per jam (man hour
density/MHD) dan Kepadatan nyamuk perorang perhari (man bitting rate/MBR)
pada penangkapan pertama dan kedua di Desa Antar Raya dapat dilihat pada tabel
di bawah:
Penangkapan pertama :
Tabel 7. Kepadatan Nyamuk di Desa Antar Raya pada Penangkapan Pertama
MHD
MBR
Total
Jenis Nyamuk
MHD
Luar
Dalam
Luar
Dalam
An.peditaeniatus
0.06
0.02
0.08
0.19
0.06
An.brevipalpis
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
Ae.aegypti
0.01
0.01
0.02
0.03
0.03
Ae.albopictus
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
Cx.tritaenirhynchus
4.30
2.53
6.83
14.33
8.44
Cx.vishnui
6.13
3.65
9.78
20.44
12.17
Cx.sitiens
1.94
1.16
3.10
6.47
3.86
Cx.sinensis
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
Cx.pseudosinensis
0.01
0.00
0.01
0.03
0.00
Cx.gellidus
0.04
0.01
0.05
0.14
0.03
Cx.bitaeniarhynchus
0.00
0.01
0.01
0.00
0.03
Cx.quinquefasciatus
0.22
0.20
0.42
0.72
0.67
Cx.hutchinsoni
0.08
0.08
0.16
0.28
0.25
Total
MBR
0.25
0.00
0.06
0.00
22.78
32.61
10.33
0.00
0.03
0.17
0.03
1.39
0.53
23
Jenis Nyamuk
Cx.fuscocephalus
Ma.uniformis
Ma.dives
Ma.annulata
Ma.annulifera
Ar.subalbatus
MHD
Luar
Dalam
0.00
0.00
0.88
0.74
0.50
0.31
0.06
0.06
0.01
0.02
0.03
0.01
Total
MHD
0.00
1.62
0.81
0.12
0.03
0.03
MBR
Luar
Dalam
0.00
0.00
2.92
2.47
1.67
1.03
0.19
0.19
0.03
0.06
0.08
0.03
Total
MBR
0.00
5.39
2.69
0.39
0.08
0.11
Penangkapan Kedua
Tabel 8. Kepadatan Nyamuk di Desa Antar Raya pada Penangkapan Kedua
MHD
MBR
Total
Jenis Nyamuk
MHD
Luar
Dalam
Luar
Dalam
Ae.cancricomes
Ae.albopictus
Ae.aegypty
Cx.tritaeniorhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Cx.gellidus
Cx.visnui
Cx.bitaeniorhynchus
Ma.uniformis
Ma.annulifera
Ma.dives
0.23
0.06
0.01
2.21
0.00
0.10
0.00
0.30
0.00
1.09
0.03
0.00
0.10
0.01
0.04
0.85
0.02
0.04
0.02
0.03
0.01
0.63
0.00
0.01
0.33
0.07
0.05
3.06
0.02
0.14
0.02
0.33
0.01
1.73
0.03
0.01
1.17
0.29
0.04
11.04
0.00
0.50
0.00
1.50
0.00
5.46
0.13
0.00
0.50
0.04
0.21
4.25
0.08
0.21
0.08
0.17
0.04
3.17
0.00
0.04
Total
MBR
1.67
0.33
0.25
15.29
0.08
0.71
0.08
1.67
0.04
8.63
0.13
0.04
Pada penangkapan nyamuk pertama di Desa Antar Raya diketahui kepadatan
nyamuk tertinggi pada spesies Cx.vishnui dengan nilai MHD sebesar 6,13
nyamuk/jam/orang, lebih tinggi di luar rumah dibandingkan di dalam rumah yaitu
sebesar 3,65 nyamuk/jam/orang. Pada penangkapan nyamuk kedua nilai MHD
tertinggi pada spesies Cx.tritaeniorhynchus dengan nilai MHD tertinggi di luar
rumah
(2,21
nyamuk/jam/orang)
dibandingkan
di
dalam
rumah
(0.85
nyamuk/jam/orang). Kepadatan nyamuk perorang perhari dengan nilai MBR
tertinggi pada spesies Cx.vishnui yaitu sebesar 32,61 nyamuk/orang/malam. Lebih
banyak di luar rumah (20,44 nyamuk/orang/malam) dibandingkan di dalam rumah
(12,17
nyamuk/orang/malam).
Cx.tritaeniorhynchus
dengan
Pada
nilai
penangkapan
MBR
tertinggi
nyauk
kedua
yaitu
15,29
nyamuk/orang/malam, sama seperti pada penangkapan pertama, nilai MBR lebih
besar di luar rumah dibandingkan di dalam rumah.
24
Aktivitas Nyamuk menghisap darah
An.peditaeniatus
Spesies ini hanya ditemukan pada penangkapan nyamuk pertama di Desa
Antar Raya dengan aktivitas menghisap darah seperti pada gambar berikut :
Grafik 1. Aktivitas nyamuk An.peditaeniatus di Desa Antar Raya
Aktivitas menghisap nyamuk spesies An.peditaeniatus dengan umpan orang
tertinggi pada pukul 18.00-19.00 dan 21.00-22.00 WITA di luar rumah,
sedangkan perilaku istirahat paling tinggi paada pukul 18.00-19.00 dan 20.0021.00 WITA.
An.brevipalpis
Spesies nyamuk An.brevipalpis juga hanya ditemukan pada penangkapan
nyamuk pertama di Desa Antar Raya dengan aktivitas menghisap darah seperti
pada gambar berikut:
Grafik 2. Aktivitas nyamuk An.brevipalpis di Desa Antar Raya
Nyamuk An.brevipalpis hanya tertangkap 1 ekor pada saat istirahat yaitu pada
pukul 24.00-01.00 WITA dengan nilai MHD 0,01 nyamuk/jam/orang.
Ae.aegypti
Aktivitas nyamuk Ae.aegypti menghisap darah pada penangkapan pertama dan
kedua dapat dilihat pada gambar berikut :
25
Penangkapan pertama
Grafik 3. Aktivitas nyamuk Ae.aegypti pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
Penangkapan kedua
Grafik 4. Aktivitas nyamuk Ae.aegypti pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Aktivitas Ae.aegypti menghisap darah dengan umpan orang terlihat dari pukul
18.00-19.00 WITA sampai dengan 21.00-22.00 WITA di dalam dan di luar
rumah. Perilaku istirahat Ae.aegypti bervariasi baik di dalam maupun di luar
rumah.
Ae.albopictus
Nyamuk spesies Ae.albopictus terdapat pada penangkapan pertama dan
penangkapan kedua seperti pada gambar berikut :
Penangkapan pertama
Grafik 5. Aktivitas nyamuk Ae.albopictus pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
26
Penangkapan kedua
Grafik 6. Aktivitas nyamuk Ae.albopictus pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Aktivitas Ae.albopictus pada penangkapan pertama tidak terlihat sedangkan
pada penangkapan kedua terdapat MHD nyamuk Ae.albopictus yang menghisap
darah dengan umpat orang di luar rumah dengan nilai sebesar 0,06
nyamuk/jam/orang. Perilaku istirahat nyamuk Ae.albopictus di dalam rumah pada
pukul 19.00-20.00 WITA dan 24.00-01.00 WITA di dalam rumah sedangkan di
luar rumah pada pukul 03.00-04.00 dan 05.00-06.00 WITA.
Ae.cancricomes
Nyamuk Ae.cancricomes hanya terdapat pada penangkapan kedua dengan
aktivitas menghisap darah seperti terlihat pada gamabar berikut :
Grafik 7. Aktivitas nyamuk Ae.cancricomes di Desa Antar Raya
Berdasarkan gambar terlihat bahwa aktivitas Ae.cancricomes menghisap darah
dengan umpan orang tertinggi pada pukul 18.00-19.00 WITA baik di dalam
maupun di luar rumah, sedangkan perilaku istirahat terlihat paling tinggi pada
pukul 19.00-20.00 dan 23.00-24.00 WITA.
Cx.tritaenirhynchus
Nyamuk
Cx.tritaenirhynchus
dengan
spesies
terbanyak
kedua
pada
penangkapan pertama dan terbanyak pertama pada penangkapan kedua dapat
dilihat aktivitas menghisap darah pada gambar berikut :
27
Penangkapan pertama
Grafik 8. Aktivitas nyamuk Cx.tritaenirhynchus pada penangkapan pertama di Desa Antar
Raya
Penangkapan kedua
Grafik 9. Aktivitas nyamuk Cx.tritaenirhynchus pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Berdasarkan gambar grafik di atas aktivitas Cx.tritaenirhynchus paling tinggi
pada pukul 22.00-24.00 di luar rumah dan di dalam rumah pada pukul 22.0002.00 WITA. Perilaku istirahat paling tinngi dari pukul 21.00-23.00 WITA di luar
rumah sedangkan di luar rumah pada pukul 22.00-23.00 dan 03.00-04.00 WITA.
Cx.vishnui
Aktivitas Nyamuk Cx.vishnui terlihat seperti pada gambar berikut :
Penangkapan pertama
Grafik 10. Aktivitas nyamuk Cx.vishnui pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
28
Penangkapan kedua
Grafik 11. Aktivitas nyamuk Cx.vishnui pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Berdasarkan gambar di atas aktivitas Cx.vishnui menghisap darah tertinggi
pada pukul 02.00-03.00 WITA pada penangkapan pertama dan pada penangkapan
kedua pada pukul 20.00-21.00 WITA di luar rumah. Perilaku istirahat tertinggi
pada pukul 04.00-05.00 WITA di luar rumah.
Cx.sitiens
Spesies nyamuk Cx.sitiens hanya terdapat pada penangkapan pertama dengan
aktivitas sebagai berikut :
Grafik 12. Aktivitas nyamuk Cx.sitiens di Desa Antar Raya
Nyamuk Cx.sitiens aktivitas pada umpan orang teringgi pada pukul 21.0022.00 WITA di luar rumah sedangkan di dalam rumah teringgi pada pukul 01.0002.00 WITA. Perilaku istirahat tertinggi pada pukul 19.00-20.00 WITA di luar
rumah.
Cx.sinensis
Nyamuk Cx.sinensis juga hanya terdapat pada penangkapan pertama, aktivitas
Cx.sinensis dapat dilihat pada gambar :
29
Grafik 13. Aktivitas nyamuk Cx.sinensis di Desa Antar Raya
Nyamuk Cx.sinensis hanya terdapat pada saat istirahat yaitu pada pukul 24.0001.00 WITA.
Cx.pseudosinensis
Nyamuk dengan spesies Cx.pseudosinensis hanya terdapat pada penangkapan
pertama dengan aktivitas sebagai berikut :
Grafik 14. Aktivitas nyamuk Cx.pseudosinensis di Desa Antar Raya
Aktivitas Cx.pseudosinensis pada umpan orang hanya terdapat pada pukul
19.00-20.00 WITA di luar rumah, sedangkan perilaku istirahat tertinggi pada
pukul 24.00-01.00 WITA di luar rumah.
Cx.gellidus
Aktivitas Cx.gellidus dapat dilihat pada gambar berikut :
Penangkapan pertama
Grafik 15. Aktivitas nyamuk Cx.gellidus pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
30
Penangkapan kedua
Grafik 16. Aktivitas nyamuk Cx.gellidus pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Berdasarkan gambar grafik di atas aktivitas Cx.gellidus pada umpan orang
teringgi pada pukul 19.00-20.00 WITA di luar rumah pada penangkapan pertama
sedangkan pada penangkapan kedua tertinggi pada pukul 18.00-19.00 dan 23.0024.00 WITA. Perilaku istirahat Cx.gellidus pada penangkapan pertama terdapat
pada pukul 19.00-20.00 dan 24.00-01.00 WITA.
Cx.bitaeniarhynchus
Aktivitas nyamuk spesies Cx.bitaeniarhynchus dapat dilihat pada gambar
berikut :
Penangkapan pertama
Grafik 17. Aktivitas nyamuk Cx.bitaeniarhynchus pada penangkapan pertama
di Desa Antar Raya
31
Penangkapan kedua
Grafik 18. Aktivitas nyamuk Cx.bitaeniarhynchus pada penangkapan kedua
di Desa Antar Raya
Berdasarkan
penangkapan
yang
dilakukan
pertama
maupun
kedua
Cx.bitaeniarhynchus hanya terdapat pada pukul 23.00-24.00 WITA dengan
umpan orang di dalam rumah sedangkan pada perilaku istirahat tidak ditemukan.
Cx.quinquefasciatus
Aktivitas Cx.quinquefasciatus pada penangkapan pertama maupun kedua dapat
dilihat pada gambar berikut :
Penangkapan pertama
Grafik 19. Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus pada penangkapan pertama
di Desa Antar Raya
Penangkapan kedua
Grafik 20. Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus pada penangkapan kedua
di Desa Antar Raya
32
Pada penangkapan pertama aktivitas Cx.quinquefasciatus tinggi pada umpan
orang di luar rumah pada pukul 20.00-21.00 WITA, sedangkan pada penangkapan
kedua pada pukul 01.00-04.00 WITA. Pada umpan orang di dalam rumah
aktivitas Cx.quinquefasciatus tinggi mulai pukul 03.00-06.00 WITA. Perilaku
istirahat Cx.quinquefasciatus pada penangkapan pertama dan kedua bervariasi
dimualai pada pukul 19.00 WITA dan menurun pada pukul 05.00 WITA.
Cx.hutchinsoni
Aktivitas Cx.hutchinsoni dapat dilihat pada gambar berikut :
Penangkapan pertama
Grafik 21. Aktivitas nyamuk Cx.hutchinsoni pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
Penangkapan kedua
Grafik 22. Aktivitas nyamuk Cx.hutchinsoni pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Pada penangkapan pertama aktivitas Cx.hutchinsoni tertinggi pada umpan
orang di luar rumah pada pukul 23.00-24.00 WITA dengan perilaku istirahat
tertinggi pada pukul 23.00-04.00 WITA. Pada penangkapan kedua hanya
ditemukan di dalam rumah ditemukan aktivitas dengan umpan orang pada pukul
19.00-20.00 dan 05.00-06.00 WITA sedangkan perilaku istirahat ditemukan pada
pukul 18.00-19.00 dan 24.00-01.00 WITA.
33
Cx.fuscocephalus
Nyamuk spesies Cx.fuscocephalus tidak ditemukan pada penangkapan kedua,
aktivitas Cx.fuscocephalus dapat dilihat pada gambar berikut :
Grafik 23. Aktivitas nyamuk Cx.fuscocephalus di Desa Antar Raya
Berdasarkan gambar di atas Cx.fuscocephalus hanya terdapat pada saat istirahat
pada pukul 05.00-06.00 WITA dengan nilai MHD 0.01 nyamuk/jam/orang.
Ma.uniformis
Aktifitas nyamuk Ma.uniformis dapat dilihat pada gamabar berikut
Penangkapan pertama
Grafik 24. Aktivitas nyamuk Ma.uniformis pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
Penangkapan kedua
Grafik 25. Aktivitas nyamuk Ma.uniformis pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
34
Pada gambar grafik di atas terlihat bahwa aktivitas nyamuk Ma.uniformis baik
pada umpat orang maupun pada saat istirahat, di dalam maupun di luar rumah
pada penangkapan pertama maupun pada penangkapan kedua aktivitas tinggi
dimulai pada pukul 18.00-19.00 dan mulai menurun pada pukul 21.00-22.00
WITA.
Ma.dives
Aktivitas nyamuk Ma.dives dapat dilihat pada gambar berikut :
Penangkapan pertama
Grafik 26. Aktivitas nyamuk Ma.dives pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
Penangkapan kedua
Grafik 27. Aktivitas nyamuk Ma.dives pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Gambar di atas menujukkan bahwa pada penangkapan nyamuk Ma.dives yang
pertama aktivitas pada umpan orang tinggi pada pukul 18.00-19.00 WITA baik di
dalam maupun di luar rumah, sedangkan pada penangkapan yang kedua hanya
ditemukan di luar rumah pada pukul 01.00-02.00 WITA. Perilaku istirahat
Ma.dives pada penangkapan pertama tinggi pada pukul 19.00-20.00 WITA di
dalam rumah, sedangkan di luar rumah pada pukul 18.00-19.00 WITA.
Ma.annulifera
Aktifitas nyamuk Ma.annulifera dapat dilihat pada gamabar berikut :
35
Penangkapan pertama
Grafik 28. Aktivitas nyamuk Ma.annulifera pada penangkapan pertama di Desa Antar Raya
Penangkapan kedua
Grafik 29. Aktivitas nyamuk Ma.annulifera pada penangkapan kedua di Desa Antar Raya
Pada penangkapan pertama aktivitas Ma.annulifera ditemukan pada umpan
orang di luar rumah hanya pada pukul 19.00-20.00 WITA, seddangkan pada
penangkapan kedua pada pukul 21.00-22.00, 23.00-24.00 dan 03.00-04.00.
perilaku istirahat Ma.annulifera di dalam rumah pada penangkapan pertama
ditemukan pada pukul 02.00-03.00 WITA sedangkan di luar rumah pada
penagkapan kedua pada pukul 19.00-20.00 WITA.
Ma.annulata
Spesies nyamuk Ma.annulata hanya ditemukan pada penangkapan pertama
dengan aktivitas seperti terlihat pada gambar berikut :
36
Grafik 30. Aktivitas nyamuk Ma.annulata di Desa Antar Raya
Berdasarkan gambar di atas aktivitas Ma.annulata pada umpan orang tertinggi
di luar rumah pada pukul 18.00-19.00 WITA. Perilaku istirahat terdapat pada
pukul 19.00-20.00 dan 24.00-01.00 WITA.
Ar.subalbatus
Nyamuk dari spesies Ar.subalbatus hanya terdapat pada penangkapan pertama,
dengan aktivitas sebagai berikut
Grafik 31. Aktivitas nyamuk Ar.subalbatus di Desa Antar Raya
Aktivitas Ar.subalbatus tertinggi pada umpat orang di luar rumah pada pukul
20.00-21.00 WITA. Perilaku istirahat tertinggi pada pukul 05.00-06.00 WITA.
Analisis PCR mikrofilaria pada nyamuk
Analisis PCR untuk mengetahui keberadaan mikrofilaria di dalam nyamuk
yang ditangkap di Desa Antar Raya. Nyamuk yang ditangkap kemudian
dipisahkan dengan melihat ada/tidak ada darah dalam tubuhnya (menghisap/tidak
menghisap darah), untuk nyamuk yang telah menghisap darah akan dijadikan
sampel penelitian, sedangkan yang tidak menghisap akan disimpan.
Analisis PCR dilakukan sebanyak 2 kali dengan sampel nyamuk yang berbeda
sesuai dengan hasil penangkapan nyamuk di Desa Antar Raya. Analisis PCR
dilakukan lagi, karena pada analisis PCR yang pertama tidak ditemukan adanya
DNA pada tubuh nyamuk. Analisis PCR pertama dilaksanakan pada 20 Juni
37
sampai dengan 1 Juli 2016 di Laboratorium Biologi Molekuler Fakultas MIPA
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Anlisis PCR pertama
1.
Hasil ekstraksi DNA
Total 137 sampel (single maupun pool) nyamuk yang telah diekstrak
menggunakan kit ekstraksi DNA merek Vivantis (rincian pada tabel di
bawah). Beberapa sampel kemudian diambil secara random untuk diukur
konsentrasi DNA-nya menggunakan spektrofotometer. Kode dan jumlah
sampel yang digunakan dalam analisis PCR dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 9. Kode dan jumlah sampel yang digunakan untuk analisis PCR
Pool Filaria
Kode
Kode
No.
Spesies
Conc.
No. PCR
PCR Ekstrak
1
A1
A1
An. Peditaeniatus
1
2
A2
A1.1
An. Peditaeniatus
3
A3
A1.2
An. Peditaeniatus
4
A4
A1.3
An. Peditaeniatus
5
BB
B1
An. Brevipalpis
1
6
C1
C1
Ae. Aegypti
1
7
C2
C1.1
Ae. Aegypti
8
C3
C1.2
Ae. Aegypti
9
C4
C1.3
Ae. Aegypti
10
DD D1
Ae. Albopictus
1
11
E1
E1
Cx. Tritaenirhynchus
1
12
E2
E1.1
Cx. Tritaenirhynchus
13
E3
E1.2
Cx. Tritaenirhynchus
14
E4
E1.3
Cx. Tritaenirhynchus
15
E5
E2
Cx. Tritaenirhynchus
2
16
E6
E2.1
Cx. Tritaenirhynchus
17
E7
E2.2
Cx. Tritaenirhynchus
18
E8
E2.3
Cx. Tritaenirhynchus
19
E9
E3
Cx. Tritaenirhynchus
3
20 E10 E3.1
Cx. Tritaenirhynchus
21 E11 E3.2
Cx. Tritaenirhynchus
22 E12 E3.3
Cx. Tritaenirhynchus
23 E13 E4
Cx. Tritaenirhynchus
4
24 E14 E4.1
Cx. Tritaenirhynchus
25 E15 E4.2
Cx. Tritaenirhynchus
26 E16 E4.3
Cx. Tritaenirhynchus
27 E17 E5
Cx. Tritaenirhynchus
5
28 E18 E5.1
Cx. Tritaenirhynchus
29 E19 E5.2
Cx. Tritaenirhynchus
30 E20 E5.3
Cx. Tritaenirhynchus
31
F1
F1
Cx. Vishnui
1
32
F2
F1.1
Cx. Vishnui
33
F3
F1.2
Cx. Vishnui
34
F4
F1.3
Cx. Vishnui
-
Blood Meal
No.
PCR
1
2
3
1
1
2
3
1
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
38
No.
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
Kode
PCR
F5
F6
F7
F8
F9
F10
F11
F12
F13
F14
F15
F16
F17
F18
F19
F20
G1
G2
G3
G4
G5
G6
G7
G8
G9
G10
G11
G12
G13
G14
G15
G16
G17
G18
G19
G20
HH
II
J1
J2
J3
J4
KK
L1
L2
L3
L4
L5
L6
L7
Kode
Ekstrak
F2
F2.1
F2.2
F2.3
F3
F3.1
F3.2
F3.3
F4
F4.1
F4.2
F4.3
F5
F5.1
F5.2
F5.3
G1
G1.1
G1.2
G1.3
G2
G2.1
G2.2
G2.3
G3
G3.1
G3.2
G3.3
G4
G4.1
G4.2
G4.3
G5
G5.1
G5.2
G5.3
H1
I1
J1
J1.1
J1.2
J1.3
K1
L1
L1.1
L1.2
L1.3
L2
L2.1
L2.2
Spesies
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Vishnui
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sitiens
Cx. Sinensis
Cx. Pseudosinensis
Cx. Gellidus
Cx. Gellidus
Cx. Gellidus
Cx. Gellidus
Cx. Bitaeniarhynchus
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Conc.
-
Pool Filaria
No. PCR
2
Blood Meal
No.
PCR
1
2
3
3
1
2
3
4
1
2
3
5
1
2
3
1
1
2
3
2
1
2
3
3
1
2
3
4
1
2
3
5
1
1
1
1
1
1
2
3
1
1
1
2
3
1
1
2
3
2
1
2
39
No.
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
Kode
PCR
L8
M1
M2
M3
M4
NN
O1
O2
O3
O4
O5
O6
O7
O8
O9
O10
O11
O12
O13
O14
O15
O16
O17
O18
O19
O20
P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7
P8
P9
P10
P11
P12
P13
P14
P15
P16
Q1
Q2
Q3
Q4
RR
S1
S2
S3
Kode
Ekstrak
L2.3
M1
M1.1
M1.2
M1.3
N1
O1
O1.1
O1.2
O1.3
O2
O2.1
O2.2
O2.3
O3
O3.1
O3.2
O3.3
O4
O4.1
O4.2
O4.3
O5
O5.1
O5.2
O5.3
P1
P1.1
P1.2
P1.3
P2
P2.1
P2.2
P2.3
P3
P3.1
P3.2
P3.3
P4
P4.1
P4.2
P4.3
Q1
Q1.1
Q1.2
Q1.3
R1
S1
S1.1
S1.2
Spesies
Cx.quinquefasciatus
Cx. Hutchinsoni
Cx. Hutchinsoni
Cx. Hutchinsoni
Cx. Hutchinsoni
Cx. Fuscocephalus
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Dives
Ma. Annulata
Ma. Annulata
Ma. Annulata
Ma. Annulata
Ma. Annulifera
Ar. Subalbatus
Ar. Subalbatus
Ar. Subalbatus
Conc.
1,33 ng
-
Pool Filaria
No. PCR
Blood Meal
No.
PCR
3
1
1
1
1
2
3
1
1
2
3
2
1
2
3
3
1
2
3
4
1
2
3
5
1
2
3
1
1
2
3
2
1
2
3
3
1
2
3
4
1
2
3
1
1
1
1
2
3
1
1
2
40
No.
135
136
137
Kode
PCR
S4
YY
ZZ
Kode
Ekstrak
S1.3
+
Spesies
Ar. Subalbatus
Culex jantan (-)
Aedes betina (+)
Conc.
0,42 ng
2,6 ng
Total
PCR
Pool Filaria
No. PCR
Blood Meal
No.
PCR
3
1
1
39
105
2. Analisis PCR DNA vertebrata
Dari 105 sampel yang dianalisis PCR untuk keberadaan DNA vertebrata,
tidak ditemukan satupun sampel positif termasuk kontrol positif (nyamuk dari
lab entomologi Litbang P2B2 Tanah Bumbu dan DNA dari kit vivantis).
3. Analisis PCR DNA filaria
Total 39 sampel disiapkan untuk analisis DNA filaria. Namun kegiatan ini
tidak dilaksanakan karena melihat hasil PCR DNA vertebrata dimana tidak ada
satupun sampel yang menunjukkan hasil positif, dengan asumsi bahwa hasil
negatif yang didapatkan pada analisis PCR DNA vertebrata adalah karena tidak
adanya DNA yang berhasil diekstrak menggunakan kit ekstraksi. Berikut
gambar gel elektroforesis hasil analisis PCR :
Gambar 2. Gel elektroforesis PCR Identifikasi DNA Vertebrata
Keterangan gambar diatas :
M
: Ladder 100 kb
Nomor 1
: Kontrol positif (nyamuk koleksi Laboratorium
Entomologi Balai Litbang P2B2 Tanah bumbu
yang telah menghisap darah)
41
Nomor 2
:
Nomor 3
Nomor 4-8
:
:
Kontrol negatif (nyamuk koleksi Laboratorium
Entomologi Balai Litbang P2B2 Tanah bumbu
yang tidak menghisap darah)
Kontrol dari Kit
Pool nyamuk spesies Cx. Tritaenirhynchus yang di
dapat dilapangan
Pada kegiatan analisis PCR pertama, ada beberapa kemungkinan penyebab
tidak ditemukannya DNA yaitu sebagai berikut:
1. Beberapa bahan kit DNA memerlukan penanganan khusus pada saat
pengiriman seperti kondisi suhu bahan, biasanya pengaturan suhu dilakukan
dengan penggunaan dry ice pada saat pengemasan. Sedangkan bahan tersebut
dikirimkan dari luar pulau Kalimantan. Jauhnya jarak Tanah Bumbu
menyebabkan bahan sampai di Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu dalam
kondisi dry ice sudah habis. Pada saat dilakukan pengecekan DNA kontrol
yang disertakan pada kit, tidak didapatkan band DNA saat elektroforesis.
2. Primer DNA yang dipilih diambil dari sumber jurnal luar negeri. Meskipun
primer tersebut bersifat umum, namun masih terdapat kemungkinan bahwa
primer tersebut tidak cocok dengan vertebrata di Indonesia.
Berdasarkan hasil tersebut, dilakukan uji banding pengerjaan analisis PCR
yang dilakukan oleh Balai Veteriner Kementerian Pertanian di Banjarbaru, dengan
menggunakan Kit ekstraksi dan PCR dari Vivantis dan Qiagen namun primer
tetap sama. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari Balai Veteriner Kementerian
Pertanian di Banjarbaru hasil PCR menunjukkan bahwa penggunakan kit Vivantis
tidak terdapat adanya DNA, namun dengan menggunakan Qiagen terdapat DNA
walaupun konsentrasinya rendah, dan hasil PCR negatif. Hal tersebut
menunjukkan bahwa Kit ekstraksi Vivantis yang digunakan tidak berfungsi
dengan baik. Primer DNA yang digunakan hanya Cytochrome B, sedangkan
primer mikrofilaria tidak diuji.
Analisis PCR kedua
Nyamuk yang tertangkap di Desa Antar Raya dipisahkan yang menghisap
darah dan tidak, yang menghisap darah dijadikan sebagai sampel. Nyamuk untuk
pool analisis mikrofilaria sebanyak 25 ekor nyamuk per pool dan akan diambil 2
42
ekor dari masing-masing pool untuk dilakukan analisis kebiasaan nyamuk
menghisap darah, dengan pembagian pool sebagai berikut :
Tabel 10. Pembagian Pool Nyamuk
Genus
Spesies
Aedes
Ae.cancricomes
Ae.albopictus
Ae.aegypty
Culex
Cx.tritaenirhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Cx.gellidus
Cx.visnui
Cx.bitaeniorhynchus
Mansonia Ma. Uniformis
Ma. Annulifera
Ma.dives
Jumlah
Blood
Mikrofilaria
n
pool
46
2
13
1
7
1
50
15
9
4
2
2
125
4
25
2
25
1
10
1
2
1
2
1
115
3
23
1
23
0
5
1
1
1
1
0
150
7
2
12
2
1
138
5
1
6
1
1
Hasil analisis PCR yang dilakukan, tidak terdapat DNA mikrofilaria pada
sampel nyamuk dan pada sampel darah positif mikrofilaria (control positif darah
mikrofilaria) yang diperoleh dari koleksi di Laboratorium Parasitologi Balai
Litbang P2B2 Tanah Bumbu, namun DNA Cytochrome B menunjukkan hasil
positif. Berdasarkan hasil tersebut kami menarik kesimpulan bahwa Primer yang
kami pilih sebagai primer untuk analisi mikrofilaria tidak cocok karena ukuran
terlalu panjang dan spesifik. Sehingga, kontrol yang digunakan hanya dari Kit dan
DNA Cytochrome B yang menunjukkan bahwa kit ekstrkasi dan kit PCR serta
peralatan untuk melakukan proses PCR berjalan sesuai fungsinya. Berikut hasil
analisis PCR yang dilakukan pada sampel penangkapan nyamuk kedua :
Tabel 11. Hasil sampel PCR dengan Primer B.malayi
No
Lane
Kode
Sampel
1
1
AR 1
Cx.tritaenirhynchus
2
2
AR 2
Cx.tritaenirhynchus
3
3
AR 3
Cx.tritaenirhynchus
4
4
AR 4
Cx.tritaenirhynchus
5
5
AR 5
Cx.tritaenirhynchus
6
6
AR 6
Cx.tritaenirhynchus
7
7
AR 7
Cx.tritaenirhynchus
8
8
AR 8
Cx.tritaenirhynchus
9
9
AR 9
Cx.tritaenirhynchus
10
10
AR 10
Cx.tritaenirhynchus
Bagian
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Primer
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
43
No
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Lane
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
M
K (+)
K (-)
Kode
AR 11
AR 12
AR 13
AR 14
AR 15
AR 16
AR 17
AR 18
AR 19
AR 20
AR 21
AR 22
Sampel
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ladder 100 kb
Kontrol positif
Kontrol negatif
Bagian
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Primer
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Berikut gambar gel elektroforesis hasil PCR untuk table di atas
Gambar 3. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel AR 1 – AR 22 dengan Primer B. malayi
Tabel
dan Gambar menunjukkan hasil PCR dari sampel AR 1 – AR 22
menggunakan primer B. malayi. Sampel tersebut berasal dari bagian kepala dan
perut Cx.tritaenirhynchus dan Ma. uniformis. Semua sampel menunjukkan hasil
negatif yang artinya tidak mengandung mikrofilaria B. malayi.
44
Tabel 12. Hasil PCR Sampel AR 1 – AR 22 dengan Primer W. bancrofti
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Lane
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
K (+)
M
K (-)
Kode
AR 1
AR 2
AR 3
AR 4
AR 5
AR 6
AR 7
AR 8
AR 9
AR 10
AR 11
AR 12
AR 13
AR 14
AR 15
AR 16
AR 17
AR 18
AR 19
AR 20
AR 21
AR 22
Sampel
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Kontrol positif
Ladder 100 kb
Kontrol negatif
Bagian
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Primer
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Berikut gambar gel elektroforesis hasil PCR untuk table di atas
Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel AR 1 – AR 22 dengan Primer W.
bancrofti
Gambar 4. Gel elektroforesis hasil PCR Sampel AR 1 – AR 22 dengan Primer W.
bancrofti
45
Tabel dan Gambar menunjukkan hasil PCR dari sampel AR 1 – AR 22
menggunakan primer W. bancrofti. Sampel tersebut berasal dari bagian kepala dan
perut Cx.tritaenirhynchus dan Ma. uniformis. Semua sampel tidak mengandung
mikrofilaria W. bancrofti.
Tabel 13. Hasil PCR Sampel AR 30 – AR 49 dengan Primer B. Malayi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Lane
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
K
K (-)
K (+)
M
Kode
AR 30
AR 31
AR 32
AR 33
AR 34
AR 35
AR 36
AR 37
AR 38
AR 39
AR 40
AR 41
AR 42
AR 43
AR 44
AR 45
AR 46
AR 47
AR 48
AR 49
Sampel
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Ae.albopictus
Ae.albopictus
Cx.visnui
Cx.visnui
Ae.aegypty
Ae.aegypty
Ma.dives
Ma.dives
Cx.hutchinsoni
Cx.hutchinsoni
Cx.gellidus
Cx.gellidus
Ma. Annulifera
Ma. Annulifera
Cytochrome B
Kontrol negatif
Kontrol positif
Ladder 100 kb
Bagian
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Primer
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
46
Berikut gambar gel elektroforesis hasil PCR untuk table di atas
Gambar 5. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel AR 30 – AR 49 dengan Primer B.
malayi
Tabel
dan Gambar
menunjukkan hasil PCR sampel AR 30 – AR 49
menggunakan primer B. malayi. Sampel tersebut berasal dari bagian kepala dan
perut nyamuk Ae.cancricomes, Cx.quinquefasciatus, Ae.albopictus, Cx.visnui,
Ae.aegepty, Ma.dives, Cx.hutchinsoni, Cx.gellidus, dan Ma. Annulifera. Semua
sampel menunjukkan hasil negatif, yaitu tidak mengandung mikrofilaria B.
malayi.
Tabel 14.Hasil PCR Sampel AR 30 – AR 49 dengan Primer W. bancrofti
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Lane
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Kode
AR 30
AR 31
AR 32
AR 33
AR 34
AR 35
AR 36
AR 37
AR 38
AR 39
AR 40
AR 41
AR 42
AR 43
AR 44
AR 45
Sampel
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Ae.albopictus
Ae.albopictus
Cx.visnui
Cx.visnui
Ae.aegepty
Ae.aegepty
Ma.dives
Ma.dives
Cx.hutchinsoni
Cx.hutchinsoni
Bagian
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Primer
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
47
No
17
18
19
20
21
22
23
24
Lane
17
18
19
20
K (+)
K
K (-)
M
Kode
AR 46
AR 47
AR 48
AR 49
Sampel
Cx.gellidus
Cx.gellidus
Ma. Annulifera
Ma. Annulifera
Kontrol positif
Cytochrome B
Kontrol negatif
Ladder 100 kb
Bagian
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Primer
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
Berikut gambar gel elektroforesis hasil PCR untuk table di atas
Gambar 6. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel AR 30 – 49 dengan Primer W. bancrofti
Tabel dan Gambar menunjukkan hasil PCR sampel AR 30 – AR 49
menggunakan primer W. bancrofti. Sampel tersebut berasal dari bagian kepala dan
perut nyamuk Ae.cancricomes, Cx.quinquefasciatus, Ae.albopictus, Cx.visnui,
Ae.aegepty, Ma.dives, Cx.hutchinsoni, Cx.gellidus, dan Ma. Annulifera. Semua
sampel tidak ada yang mengandung mikrofilaria W. bancrofti.
Gambar gel elektroforesis di bawah adalah hasil PCR sampel darah positif
mikrofilaria koleksi Laboratorium Parasitologi Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
menggunakan primer DNA Cytochrome B, B. malayi, dan W. banchrofti. Semua
sampel menunjukkan hasil positif DNA Cytochrome B vertebrata, namun hasil
sebaliknya ditunjukkan pada PCR menggunakan kedua primer DNA mikrofilaria.
48
Gambar 7. Gel Elektroforesis Hasil PCR sampel Darah Manusia Positif Mikrofilariasis
Menggunakan Primer Cytochrome B
Keterangan gambar :
M
K (-)
Nomor 1-11
:
:
:
Ladder
Kontrol Negatif
Darah Manusia Positif Mikrofilaria Koleksi
Laboratorium Parasitologi Balai Litbang
P2B2 Tanah Bumbu
Gambar 8. Gel Elektroforesis Hasil PCR sampel Darah Manusia Positif Mikrofilariasis
Menggunakan Primer B.malayi dan W.bancrofti
Keterangan gambar :
M
K (-)
Nomor 1-11
:
:
:
Ladder
Kontrol Negatif
Darah Manusia Positif Mikrofilaria Koleksi
Laboratorium Parasitologi Balai Litbang
49
Nomor 12-22
:
P2B2 Tanah Bumbu Primer B.malayi
Darah Manusia Positif Mikrofilaria Koleksi
Laboratorium Parasitologi Balai Litbang
P2B2 Tanah Bumbu Primer W.bancrofti
Anilsis PCR-RFLP
Sebanyak 40 ekor nyamuk dilakukan PCR-RFLP untuk mengetahui
kebiasaan nyamuk menghisap darah dan mikrofilaria di dalam darahnya.
Terlambatnya proses PCR-RFLP sampel nyamuk yang didapat dilapangan
dikarenakan menunggu kedatangan bahan dan enzim yang harus memesan ke luar
negeri dan sempat ditahan di Bea Cukai, dan juga karena banyaknya waktu
terbuang untuk pembandingan Uji PCR di Balai Veteriner Pertanian Banjarbaru
(menunggu hasil) untuk menguji kualitas kit ekstraksi dan kit PCR. Proses PCRRFLP dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan analisis PCR untuk
mengetahui keberadaan gen Cytochrome B pada tubuh nyamuk sampel. Berikut
hasil analisis PCR gen Cytochrome B di desa Antar Raya urutan sampel 1-20 :
Tabel 15. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa Antar
Raya, urutan sampel 1-20
Lane
Kode
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
M
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Nama Sampel
Ledder
Ma.annulifera
Ma.annulifera
Cx.gellidus
Cx.hutchinsoni
Cx.bitaeniorhynchus
Ma.dives
Ae.aegypty
Ae.aegypty
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Cx.visnui
Cx.visnui
Ae.albopictus
Ae.albopictus
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Hasil PCR
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
50
Berikut gambar gel elektroforesis hasil PCR untuk table di atas :
Gambar 9. gel elektroforesis hasil PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari
Desa Antar Raya, urutan sampel 1-20
Berikut hasil analisis PCR gen Cytochrome B di desa Antar Raya urutan
sampel 21-40 :
Tabel 16. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa Antar
Raya, urutan sampel 21-40
Lane
Kode
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
M
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Nama Sampel
Ledder
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Hasil PCR
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
51
Berikut gambar gel elektroforesis hasil PCR untuk table di atas :
Gambar 10. Gel elektroforesis hasil PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari
Desa Antar Raya, urutan sampel 21-40
Dari total 40 pool yang diambil untuk analisis PCR-RFLP, tidak ada satupun pool
yang positif untuk analisis PCR Gen Cytochrome B. Hasil negatif ini bisa terjadi
karena kemungkinan DNA primer yang tidak sesuai maupun karena tidak ada atau
rendahnya konsentrasi DNA template yang diperoleh dari ekstraksi diawal.
Konfirmasi kecocokan DNA primer telah dilakukan dengan menggunakan stok
darah manusia yang positif membawa mikrofilaria, dimana semua sampel yang
diuji positif untuk analisis PCR Gen Cytochrome B seperti yang terlihat pada
gambar 7 sebelumnya.
RFLP DNA hasil PCR Gen Cytochrome B
Karena tidak ada sampel yang positif pada PCR yang dilakukan sebelumnya,
maka proses RFLP tidak dapat dilanjutkan.
DESA KARYA JADI
Penangkapan nyamuk di Desa Karya Jadi dilakukan pada tanggal 21 sampai
dengan 22 September 2016 Selama 2 malam. Penangkapan nyamuk dilakukan di
sekitar rumah penderita, yang kemudian langsung diidentifikasi.
Keanekaragaman nyamuk di Desa Karya Jadi
Banyaknya nyamuk yang tertangkap di Desa Karya Jadi adalah sebanyak 1.432
ekor dengan 10 spesies nyamuk dari 4 genus dapat dilihat pada tabel berikut
52
Tabel 17. Keanekaragaman nyamuk yang tertangkap di Desa Karya Jadi selama 2 malam
Umpan Orang (HLC)
Jenis nyamuk
UOL
n
An.umbrosus
Ae.cancricomes
%
UOD
n
%
Total
Resting
D
n
L
%
n
M
%
n
%
0.00
7
4
57.14
2
28.57
1
14.29
0
0.00
0
71
47.97
42
28.38
12
8.11
17
11.49
6
4.05
148
Ae.albopictus
7
35.00
3
15.00
1
5.00
3
15.00
6
30.00
20
Ae.aegypty
0
0.00
0
0.00
1
50.00
1
50.00
0
0.00
2
240
49.59
188
38.84
19
3.93
37
7.64
0
0.00
484
Cx.tritaeniorhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Ma.uniformis
Ma.annulifera
Malaya
Total
1
14.29
3
42.86
3
42.86
0
0.00
0
0.00
7
19
35.19
21
38.89
6
11.11
8
14.81
0
0.00
54
308
43.81
263
37.41
65
9.25
66
9.39
1
0.14
703
3
50.00
1
16.67
0
0.00
2
33.33
0
0.00
6
0
0.00
0
0.00
0
0.00
1
100.00
0
0.00
1
653
45.60
523
36.52
108
7.54
135
9.43
13
0.91
1432
Berdasarkan tabel keanekaragaman nyamuk yang tertangkap di Desa Karya
Jadi diketahui bahwa Ma.uniformis yang tertangkap paling banyak pada umpan
orang di luar maupun di dalam rumah serta pada saat istirahat di luar maupun di
dalam rumah dengan jumlah sebanyak 703 ekor. Penangkapan nyamuk istirahat
juga dilakukan pada pagi hari dari pukul 07.00-09.00 WITA. Spesies nyamuk
yang tertangkap pada saat resting morning yaitu Ae.cancricomes, Ae.albopictus
dan Ma.uniformis.
Kelimpahan Nisbi, Frekuensi dan Dominansi Spesies
Banyaknya individu nyamuk per spesies pada penangkapan nyamuk yang
dilakukan di Desa Karya Jadi dapat dilihat pada Tabel 5 berikut :
Tabel 18. Kelimpahan nisbi, frekuensi dan dominasi spesies nyamuk yang tertangkap di
Desa Karya Jadi
Umpan Orang
Jenis Nyamuk
Jumlah
KN (%)
FS
DS
An.umbrosus
Ae.cancricomes
Ae.albopictus
Ae.aegypty
Cx.tritaeniorhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Ma.uniformis
Ma.annulifera
Malaya
7
148
20
2
484
7
54
703
6
1
0.49
10.34
1.40
0.14
33.80
0.49
3.77
49.09
0.42
0.07
0.5
1
1
0.5
1
1
1
1
1
1
0.24
10.34
1.40
0.07
33.80
0.49
3.77
49.09
0.42
0.07
53
Keterangan :
KN (%)
: Kelimpahan Nisbi
FS
: Frekuensi Spesies
DS
: Dominan Spesies
Berdasarkan hasil pada tabel di atas diketahui bahwa kelimpahan paling tinggi
pada spesies Ma.uniformis sebesar 49,09% dengan frekuensi kemunculan spesies
pada malam penangkapan yaitu 1 dan dominasi spesies sebesar 49,09%.
Kepadatan Nyamuk
Kepadatan nyamuk menggigit tertinggi per orang per jam (man hour
density/MHD) dan Kepadatan nyamuk perorang perhari (man bitting rate/MBR)
pada penangkapan nyamuk di Desa Karya Jadi dapat dilihat pada tabel:
Tabel 19. Kepadatan Nyamuk di Desa Karya Jadi
MHD
Total
Jenis Nyamuk
MHD
Luar
Dalam
MBR
Luar
Dalam
An.umbrosus
Ae.cancricomes
Ae.albopictus
Ae.aegypty
Cx.tritaeniorhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Ma.uniformis
Ma.annulifera
0.17
2.96
0.29
0.00
10.00
0.04
0.79
12.83
0.13
0.03
0.59
0.06
0.00
2.00
0.01
0.16
2.57
0.03
0.02
0.35
0.03
0.00
1.57
0.03
0.18
2.19
0.01
0.05
0.94
0.08
0.00
3.57
0.03
0.33
4.76
0.03
0.08
1.75
0.13
0.00
7.83
0.13
0.88
10.96
0.04
Total
MBR
0.25
4.71
0.42
0.00
17.83
0.17
1.67
23.79
0.17
Pada penangkapan nyamuk di Desa Karya Jadi diketahui kepadatan nyamuk
tertinggi pada spesies Ma.uniformis dengan nilai total MHD sebesar 4,76
nyamuk/jam/orang, lebih tinggi di luar rumah 2,57 nyamuk/jam/orang
dibandingkan di dalam rumah yaitu sebesar 2,19 nyamuk/jam/orang. Spesies
nyamuk dengan kepadatan tertinggi kedua yaitu Cx.tritaeniorhynchus dengan
nilai total MHD sebesar 3,57 nyamun/jam/orang. Kepadatan nyamuk perorang
perhari dengan nilai MBR tertinggi pada spesies Ma.uniformis yaitu sebesar 23,79
nyamuk/orang/malam. Lebih banyak di luar rumah (12,83 nyamuk/orang/malam)
dibandingkan di dalam rumah (10,96 nyamuk/orang/malam).
54
Aktivitas Nyamuk menghisap darah
An.umbrosus
Aktivitas An.umbrosus yang tertangkap di Desa Karya Jadi pada umpan orang
dan perilaku istirahat dapat dilihat pada gambar
Grafik 32. Aktivitas nyamuk An.umbrosus di Desa Karya Jadi
Berdasarkan gambar di atas aktivitas An.umbrosus paling tinggi pada umpan
orang di luar rumah pada pukul 02.00-03.00 WITA. Perilaku istirahat terlihat pada
pukul 19.00-20.00 WITA.
Ae.cancricomes
Aktivitas nyamuk Ae.cancricomes di dalam maupun di luar rumah dapat dilihat
pada gambar berikut :
Grafik 33. Aktivitas nyamuk Ae.cancricomes di Desa Karya Jadi
Gambar di atas menunjukkan aktivitas Ae.cancricomes paling tinggi pada
pukul 18.00-19.00 WITA pada umpan orang di luar rumah, sedangkan di dalam
rumah pada pukul 19.00-20.00 WITA. Perilaku istirahat baik di dalam maupun di
luar rumah tertinggi pada pukul 18.00-19.00 WITA.
Ae.albopictus
Aktivitas nyamuk Ae.albopictus yang tertangkap di Desa Karya Jadi dapat
dilihat pada gambar berikut :
55
Grafik 34. Aktivitas nyamuk Ae.albopictus di Desa Karya Jadi
Berdasarkan gambar grafik aktifitas Ae.albopictus aktivitas paling tinggi pada
umpan orang di luar rumah yaitu pukul 18.00-19.00. perilaku istirahat terdapat
pada pukul 18.00-21.00 di dalam dan di luar rumah serta pukul 01.00-02.00 dan
03.00-04.00 di luar rumah.
Ae.aegypty
Aktivitas Ae.aegypty menghisap darah dengan umpan orang di dalam dan di
luar rumah serta perilaku istirahat dapat dilihat pada gambar berikut :
Grafik 35. Aktivitas nyamuk Ae.aegypty di Desa Karya Jadi
Nyamuk Ae.aegypty yang diperoleh di Desa Karya Jadi hanya terdapat pada
saat istirahat yaitu pada pukul 19.00-20.00 di dalam rumah dan 01.00-02.00 di
luar rumah.
Cx.tritaeniorhynchus
Aktivitas Cx.tritaeniorhynchus di dalam dan di luar rumah dapat dilihat pada
gambar berikut
56
Grafik 36. Aktivitas nyamuk Cx.tritaeniorhynchus di Desa Karya Jadi
Berdasarkan gambar aktivitas Cx.tritaeniorhynchus paling tinggi menghisap
orang di dalam rumah pada pukul 23.00-24.00 dan di luar rumah pada pukul
24.00-01.00 WITA. Perilaku istirahat tertinggi pada pukul 22.00-23.00 WITA.
Cx.hutchinsoni
Aktivitas nyamuk Cx.hutchinsoni dapat dilihat pada gambar berikut
Grafik 37. Aktivitas nyamuk Cx.hutchinsoni di Desa Karya Jadi
Gambar aktivitas Cx.hutchinsoni di atas menunjukkan Cx.hutchinsoni
menghisap umpan orang pada pukul 18.00-19.00 WITA di luar rumah, sedangkan
di dalam rumah pada pukul 22.00-23.00,01.00-02.00 dan 03.00-04.00 WITA.
Sedangkan Cx.hutchinsoni istirahat di dalam rumah pada pukul 19.00-21.00 dan
22.00-23.00 WITA di dalam rumah.
Cx.quinquefasciatus
Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus dapat dilihat pada gambar berikut
57
Grafik 38. Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus di Desa Karya Jadi
Aktivitas nyamuk Cx.quinquefasciatus menghisap darah dengan umpan orang
tertinggi dan perilaku istirahat pada pukul 23.00-24.00 WITA di luar rumah.
Sedangkan di dalam rumah aktivitas menghisap darah paling tinggi pada pukul
18.00-19.00 WITA. perilaku istirahat di dalam rumah ditemui pada pukul 21.0022.00 dan 02.00-03.00 WITA.
Ma.uniformis
Aktivitas Ma.uniformis di Desa Karya Jadi dapat dilihat pada gambar berikut
Grafik 39. Aktivitas nyamuk Ma.uniformis di Desa Karya Jadi
Aktivitas menghisap darah maupun istirahat Ma.uniformis meningkat tinggi
pada pukul 19.00-20.00 WITA, menurun pada pukul 21.00-01.00 WITA dan
meningkat kembali pada pukul 02.00-05.00 WITA.
Ma.annulifera
Aktivitas spesies nyamuk Ma.annulifera di Desa Karya Jadi dapat dilihat pada
gambar berikut :
58
Grafik 40. Aktivitas nyamuk Ma.annulifera di Desa Karya Jadi
Berdasarkan gambar aktivitas spesies nyamuk Ma.annulifera pada umpan
orang tertinggi mulai pukul 18.00-21.00 WITA pada umpan orang di luar rumah,
sedangkan menggunakan umpan orang di luar rumah terdapat pada pukul 04.0005.00 WITA. Nyamuk Ma.annulifera berdasarkan gambar terdapat istirahat pada
pukul 19.00-20.00 WITA.
Analisis PCR mikrofilaria pada nyamuk
Analisis PCR dilakukan untuk mengetahui keberadaan mikrofilaria di dalam
nyamuk yang ditangkap di Desa Karya Jadi. Sampel nyamuk yang diambil adalah
nyamuk yang telah menghisap darah. Proses ekstraksi menggunakan Tissue DNA
Extraction Kit Vivantis dan Proses PCR menggunakan DNA Amplification Kit
Vivantis (Selangor, Malaysia). Control positif yang digunakan hanya dari Kit dan
Cytochrome B. Jumlah nyamuk dalam setiap pool adalah sebanyak 25 ekor untuk
analisis mikrofilaria, dengan 2 ekor nyamuk yang dijadikan sampel untuk analisis
kebiasaan menghisap darah pada masng-masing pool, beriut jumlah pool nyamuk
untuk sampel di Desa Karya Jadi :
Tabel 20. Pembagian pool sampel nyamuk
Genus
Spesies
Anopheles
An.umbrosus
Aedes
Culex
Jumlah
Blood
Mikrofilaria
n
pool
6
1
7
1
Ae.cancricomes
Ae.albopictus
Ae.aegypty
100
20
2
8
2
2
92
18
0
4
1
0
Cx.tritaenirhynchus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
125
6
25
10
1
2
115
5
23
5
1
1
59
Genus
Spesies
Mansonia
Ma. Uniformis
Ma. Annulifera
Malaya
Malaya.sp.
Jumlah
Blood
250
6
20
1
1
1
Mikrofilaria
n
pool
230
10
5
1
0
0
Sebanyak 24 pool nyamuk dianalisis PCR untuk mengetahui keberadaan
mikrofilaria dalam darah nyamuk, diperoleh hasil tidak ditemukan mikrofilaria,
seperti terlihat pada tabel dan gambar berikut:
Tabel 21. Hasil PCR Sampel T 1 – T 10 dengan primer dengan Primer B. malayi dan W.
bancrofti
No
Lane
Kode
Sampel
Bagian
Primer
Hasil
1
1
T1
Cx.tritaenirhynchus
Kepala B. malayi
(-)
2
2
T1
Cx.tritaenirhynchus
Kepala W. bancrofti
(-)
3
3
T2
Cx.tritaenirhynchus
Perut
B. malayi
(-)
4
4
T2
Cx.tritaenirhynchus
Perut
W. bancrofti
(-)
5
5
T3
Cx.tritaenirhynchus
Kepala B. malayi
(-)
6
6
T3
Cx.tritaenirhynchus
Kepala W. bancrofti
(-)
7
7
T4
Cx.tritaenirhynchus
Perut
B. malayi
(-)
8
8
T4
Cx.tritaenirhynchus
Perut
W. bancrofti
(-)
9
9
T5
Cx.tritaenirhynchus
Kepala B. malayi
(-)
10
10
T5
Cx.tritaenirhynchus
Kepala W. bancrofti
(-)
11
11
T6
Cx.tritaenirhynchus
Perut
B. malayi
(-)
12
12
T6
Cx.tritaenirhynchus
Perut
W. bancrofti
(-)
13
13
T7
Cx.tritaenirhynchus
Kepala B. malayi
(-)
14
14
T7
Cx.tritaenirhynchus
Kepala W. bancrofti
(-)
15
15
T8
Cx.tritaenirhynchus
Perut
B. malayi
(-)
16
16
T8
Cx.tritaenirhynchus
Perut
W. bancrofti
(-)
17
17
T9
Cx.tritaenirhynchus
Kepala B. malayi
(-)
18
18
T9
Cx.tritaenirhynchus
Kepala W. bancrofti
(-)
19
19
T10
Cx.tritaenirhynchus
Perut
B. malayi
(-)
20
20
T10
Cx.tritaenirhynchus
Perut
W. bancrofti
(-)
11
(+)
Kontrol positif
12
K
Cytochrome B
13
(-)
Kontrol negatif
14
L
Ladder 100 kb
60
Gambar 11. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel T 1 – T 10
Tabel dan Gambar menunjukkan hasil PCR sampel T 1 - T 10. Sampel ini
berasal dari bagian kepala dan perut nyamuk Cx.tritaenirhynchus. Semua sampel
tidak mengandung mikrofilaria, baik mikrofilaria B. malayi maupun W.bancrofti.
Tabel 22. Hasil PCR Sampel MU 1 – MU 20 dengan Primer B. malayi
No Lane
Kode
Sampel
Bagian
Primer
1
1
MU 1
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
2
2
MU 2
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
3
3
MU 3
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
4
4
MU 4
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
5
5
MU 5
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
6
6
MU 6
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
7
7
MU 7
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
8
8
MU 8
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
9
9
MU 9
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
10
10
MU 10
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
11
11
MU 11
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
12
12
MU 12
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
13
13
MU 13
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
14
14
MU 14
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
15
15
MU 15
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
16
16
MU 16
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
17
17
MU 17
Ma. Uniformis
Perut
B. malayi
18
18
MU 18
Ma. Uniformis
Kepala
B. malayi
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
61
19
20
21
22
23
24
19
20
K
(-)
(+)
L
MU 19
MU 20
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Cytochrome B
Kontrol negatif
Kontrol positif
Ladder 100 kb
Perut
Kepala
B. malayi
B. malayi
(-)
(-)
Gambar 12. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel MU 1 - MU 20 dengan Primer
B. malayi
Tabel dan Gambar menunjukkan hasil PCR sampel MU 1 – MU 20
menggunakan primer B. malayi. Sampel ini berasal dari bagian kepala dan perut
nyamuk Ma. uniformis. Semua sampel menunjukkan hasil negatif mikrofilaria
dari jenis B. malayi.
Tabel 23. Hasil PCR Sampel MU 1 – MU 22 dengan Primer W. bancrofti
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Lane
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Kode
MU 1
MU 2
MU 3
MU 4
MU 5
MU 6
MU 7
MU 8
MU 9
MU 10
MU 11
MU 12
Sampel
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Bagian
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Primer
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
62
No
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Lane
13
14
15
16
17
18
19
20
(+)
K
(-)
L
Kode
MU 13
MU 14
MU 15
MU 16
MU 17
MU 18
MU 19
MU 20
Sampel
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Ma. Uniformis
Kontrol positif
Cytochrome B
Kontrol negatif
Ladder 100 kb
Bagian
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Kepala
Primer
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
W. bancrofti
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Gambar 13. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel MU 1 – MU 22 dengan
Primer W. bancrofti
Tabel dan Gambar menunjukkan hasil PCR sampel MU 1 – MU 22
menggunakan primer W. bancrofti. Sampel berasal dari bagian kepala dan perut
Ma. uniformis. Semua nyamuk yang menjadi sampel tidak terdeteksi DNA
mikrofilaria dari jenis W. bancrofti.
Tabel 24. Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer B. Malayi
No
Lane
Kode
Sampel
Bagian
Primer
1
1
KJ 1
An.umbrosus
Kepala
B. malayi
2
2
KJ 2
An.umbrosus
perut
B. malayi
3
3
KJ 3
Cx.hutchinsoni
Kepala
B. malayi
4
4
KJ 4
Cx.hutchinsoni
Perut
B. malayi
5
5
KJ 5
Ma. Annulifera
Kepala
B. malayi
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
63
No
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
Lane
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
K
(-)
(+)
L
Kode
KJ 6
KJ 7
KJ 8
KJ 9
KJ 10
KJ 11
KJ 12
KJ 13
KJ 14
KJ 15
KJ 16
KJ 17
KJ 18
Sampel
Ma. Annulifera
Ae.albopictus
Ae.albopictus
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Cytochrome B
Kontrol negatif
Kontrol positif
Ladder 100 kb
Bagian
perut
Kepala
Perut
Kepala
perut
Kepala
Perut
Kepala
perut
Kepala
Perut
Kepala
Perut
Primer
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
B. malayi
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Gambar 14. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer
B. malayi
Tabel dan Gambar menunjukkan hasil PCR sampel KJ 1 – KJ 18
menggunakan primer B. malayi. Sampel ini mengandung bagian kepala dan perut
nyamuk
An.umbrosus,
Cx.hutchinsoni,
Ma.
Annulifera,
Ae.albopictus,
Cx.quinquefasciatus, dan Ae.cancricomes. Semua nyamuk pada sampel tersebut
tidak terdeteksi DNA mikrofilaria dari jenis B. malayi.
64
Tabel 25. Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer W. bancrofti
No
Lane
Kode
Sampel
Bagian
Primer
1
1
KJ 1
An.umbrosus
Kepala
W. bancrofti
2
2
KJ 2
An.umbrosus
perut
W. bancrofti
3
3
KJ 3
Cx.hutchinsoni
Kepala
W. bancrofti
4
4
KJ 4
Cx.hutchinsoni
Perut
W. bancrofti
5
5
KJ 5
Ma. Annulifera
Kepala
W. bancrofti
6
6
KJ 6
Ma. Annulifera
perut
W. bancrofti
7
7
KJ 7
Ae.albopictus
Kepala
W. bancrofti
8
8
KJ 8
Ae.albopictus
Perut
W. bancrofti
9
9
KJ 9
Cx.quinquefasciatus
Kepala
W. bancrofti
10
10
KJ 10
Cx.quinquefasciatus
perut
W. bancrofti
11
11
KJ 11
Ae.cancricomes
Kepala
W. bancrofti
12
12
KJ 12
Ae.cancricomes
Perut
W. bancrofti
13
13
KJ 13
Ae.cancricomes
Kepala
W. bancrofti
14
14
KJ 14
Ae.cancricomes
perut
W. bancrofti
15
15
KJ 15
Ae.cancricomes
Kepala
W. bancrofti
16
16
KJ 16
Ae.cancricomes
Perut
W. bancrofti
17
17
KJ 17
Ae.cancricomes
Kepala
W. bancrofti
18
18
KJ 18
Ae.cancricomes
Perut
W. bancrofti
19
K
Cytochrome B
20
(-)
Kontrol negatif
21
(+)
Kontrol positif
22
L
Ladder 100 kb
Hasil
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Gambar 15. Gel Elektroforesis Hasil PCR Sampel KJ 1 – KJ 18 dengan Primer
W. bancrofti
65
Tabel dan Gambar menunjukkan hasil PCR sampel KJ 1 – KJ 18
menggunakan primer W. bancrofti. Sampel ini mengandung bagian kepala dan
perut nyamuk An.umbrosus, Cx.hutchinsoni, Ma. Annulifera, Ae.albopictus,
Cx.quinquefasciatus, dan Ae.cancricomes. Semua nyamuk pada sampel tersebut
tidak mengandung mikrofilaria dari jenis W. bancrofti.
Analisis PCR-RFLP
Sebanyak 48 ekor nyamuk dilakukan PCR-RFLP untuk mengetahui kebiasaan
nyamuk menghisap darah dan mikrofilaria di dalam darahnya, dengan terlebih
dahulu dilakukan analisis PCR Gen Cytochrome B pada tubuh nyamuk. Berikut
hasil analisis PCR Gen Cytochrome B sampel nyamuk dari Desa Karya Jadi dari
nomor urut 1-24 :
Tabel 26. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa
Karya Jadi, urutan sampel 1-24
Lane
Kode
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
M
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Nama Sampel
Ledder
An.umbrosus
Cx.hutchinsoni
Cx.quinquefasciatus
Cx.quinquefasciatus
Ae.aegypty
Ae.aegypty
Ae.albopictus
Ae.albopictus
Ma. Annulifera
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Ae.cancricomes
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Hasil PCR
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
66
Berikut gambar gel hasil analisis PCR table di atas
Gambar 16. Gel elektroforesis Hasil analisis PCR gen
nyamuk dari Desa Karya Jadi, urutan sampel 1-24
Cytochrome B pada sampel
Berikut hasil analisis PCR Gen Cytochrome B sampel nyamuk dari Desa Karya
Jadi dari nomor urut 25-48 :
Tabel 27. Hasil analisis PCR gen Cytochrome B pada sampel nyamuk dari Desa Karya
Jadi, urutan sampel 25-48
Lane
Kode
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
M
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
Nama Sampel
Ledder
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Cx.tritaenirhynchus
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Ma.uniformis
Hasil PCR
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
67
Berikut gambar gel hasil analisis PCR table di atas
Gambar 17. Gel elektroforesis Hasil analisis PCR gen
nyamuk dari Desa Karya Jadi, urutan sampel 25-48
Cytochrome B pada sampel
Sebanyak 48 sampel nyamuk dari Desa Karya Jadi yang diambil untuk analisis
PCR-RFLP, juga tidak ada satupun pool yang positif untuk analisis PCR Gen
Cytochrome B, sehingga proses RFLP juga tidak dapat dilanjutkan.
68
PEMBAHASAN
Kabupaten Barito Kuala telah melakukan pengobatan massal filariasis dan
pengobatan selektif (12 hari pemerian DEC pada penderita yang dinyatakan
positif mikrofilaria) sejak tahun 2013. Diketahui terdapat dua desa di Kabupaten
Barito Kuala yang ditemukan penderita positif mikrofilaria yaitu Desa Antar Raya
Kecamatan Marabahan dan Desa Karya Jadi Kecamatan Tabukan. Berdasarkan
hasil penelitian Jenis nyamuk yang ditemukan di Desa Antar Raya terdiri atas 21
jenis spesies dari 5 genus. Spesies yang paling mendominasi adalah Cx.vishnui
menyusul kemudian Cx.tritaenirhynchus, Ma.uniformis, Cx.sitiens, Ma.dives dan
Cx.quinquefasciatus. Sedangkan di Desa Karya Jadi ditemukan sebanyak 10
spesies nyamuk dengan spesies yang paling mendominasi yaitu Ma.uniformis,
disusul kemudian Cx.tritaenirhynchus, Ae.cancricomes, Cx.quinquefasciatus dan
Ae.albopictus.
Walaupun spesies nyamuk yang mendominasi di Desa Antar Raya bukan
merupakan vektor filariasis, namun terdapat spesies yang merupakan vektor
filariasis di daerah tersebut, yang dapat menjadi faktor risiko penularan.
Berdasarkan penelitian Balai litbang P2B2 Tanah Bumbu tahun 2011, di
Kabupaten Barito Kuala sebanyak 2 spesies yang terbukti sebagai vektor
filarisis jenis Brugia malayi yaitu Cx.quinquifasciatus, dan Ma.uniformis dengan
nilai infektif rate
pada Cx.quinquifasciatus adalah sebesar 21,74% (46
nyamuk, 10 yang ditemukan larva), dan Ma.uniformis sebesar 14,29% (dari 7
nyamuk yang tertangkap 1 positif ditemukan larva L3). Menurut
data dari
beberapa penelitian terdahulu Cx.quinquifasciatus bukan vektor filariasis di
Kalimantan Selatan, yang menjadi vektor yaitu Ma.uniformis, Ma.anulifera,
Ma.annulata, Ma.indiana, Ma.bonne, Ma.dives dan Ar.nigerrimus.3 Hal ini
bisa
terjadi
karena
faktor
lingkungan
ekologi
yang
cocok bagi
perkembangbiakan nyamuk tersebut. Begitu juga halnya dengan larva cacing
filariasis, selama ini Cx.quinquifasciatus membawa larva W.bancrofti tetapi
pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 didapatkan larva B.malayi
pada Cx.quinquifasciatus . Ini dapat terjadi karena lingkungan di tempat
tersebut baik bagi kehidupan Cx.quinqufasciatus dan patogen yang tersedia
adalah B.malayi di Kabupaten Barito Kuala.3
69
Menurut Shriram,25 Cx. quinquefasciatus merupakan vektor W. bancrofti tipe
sub periodik diurnal di Nicobarase, Pulau Nicobar India. Ma. uniformis diketahui
merupakan vektor dari B. malayi tipe hutan di Batanghari, Jambi.26 Muslim,27
melaporkan Ar. subalbatus merupakan vektor B. pahangi di daerah sub urban di
Penisular
Malaysia
dan
Bonne-Wepster,28
melaporkan
bahwa
Cx.
bitaeniorhynchus merupakan vektor W. bancrofti di Papua Nugini. Ughasi et al.29
melaporkan Ma.uniformis dan Ma. africana adalah vektor W. bancrofti di Ghana,
selain itu Ma.annulata, Ma. bonneae, Ma. uniformis dan Ma. dives juga
dilaporkan vektor B.malayi di Bengkulu.30
Berdasarkan hasil penelitian di Desa Karya Jadi, kelimpahan nisbi, frekuensi
dan dominasi tertinggi dengan penangkapan umpan orang terdapat pada jenis
nyamuk Ma.uniformis, yang merupakan vektor di Kabupaten Barito Kuala.
Tempat perindukkan nyamuk Ma.uniformis, pada penelitian Jasmi,31 di pesisir
selatan Sumatera Selatan, terdapat pada air yang tergenang yang ditumbuhi oleh
tumbuhan air yaitu genjer (Limnocharis flava). Di wilayah tempat penelitian,
terdapat tumbuhan air enceng gondok (Eichornia crassipes) atau masyarakat
setempat biasa menyebut ilung, namun pada saat survei dilakukan tidak terdapat
larva hanya terdapat Moulting (bekas ganti kulit) yang menempel di tumbuhan air
tersebut. Penelitian yang dilakukan Hossain,32 menyebutkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan terhadap kejadian filariasis.
Keadaan lingkungan di sekitar rumah (semak-semak/pohon) dan di dalam rumah
juga mendukung untuk terkena risiko filariasis. Febrianto dkk,33 menjelaskan
bahwa keberadaan kandang ternak di dekat rumah mempunyai dampak yang besar
untuk tertular filariasis. Kandang ternak mempunyai temperatur dan kelembaban
ideal untuk nyamuk vektor filariasis berkembangbiak, maka secara langsung juga
akan meningkatkan risiko untuk tertular filariasis dibandingkan mereka yang
tidak memiliki kandang ternak di luar rumah. Hasil penangkapan nyamuk pada
saat resting morning disekitar rumah penduduk dan kendang ternak ayam wilayah
penelitian ternyata diperoleh spesies nyamuk Ma.uniformis. Keadaan lingkungan
di Desa Kecamatan Bojong Sekampung Udik bentuk kolom seperti karet, kakao,
rawa, sawah yang berpotensi memberikan tempat berkembang biak bagi nyamuk
70
filariasis.34 Sama halnya dengan wilayah penelitian yang banyak dikelilingi oleh
kebun karet.
Sedangkan di Desa Antar Raya kelimpahan nisbi, frekuensi dan dominasi
spesies tertinggi yaitu nyamuk Cx.vishnui. banyaknya spesies Cx.vishnui yang
tertangkap di Desa Antar Raya diduga disebabkan di sekitar pemukiman banyak
terdapat kolam bekas dan dikelilingi oleh sungai. Berdasarkan Bram Ralph,35 Cx.
vishnui yang menyukai tempat perindukan seperti kolam, sungai dan rawa-rawa
serta bersifat zoofilik yang lebih menyukai menggigit binatang dan hanya sedikit
sekali yang menggigit pada manusia.
Nilai MHD (man hour density) yaitu kepadatan nyamuk menggigit tertinggi
per orang per jam dan nilai MBR (man bitting rate) yaitu kepadatan nyamuk
perorang perhari, umumnya lebih tinggi di luar rumah dibandingkan dengan di
dalam rumah. Hal tersebut kemungkinan Karena jenis nyamuk yang ditemukan
lebih bersifat eksofilik. Di wilayah penelitian, kepadatan nyamuk yang ditangkap
di Desa Antar Raya dan Karya Jadi lebih tinggi di luar rumah dari pada di dalam
rumah. Kepadatan nyamuk Culex sp., Mansonia sp., Anopheles sp., Aedes sp. dan
Armigeres sp. yang tertangkap di Desa Antar Raya dan Desa Karya Jadi
kepadatannya lebih tinggi di luar rumah, karena dekat dengan tempat habitat
larva yang berada di sekitar rumah penduduk. Setiawan dkk,36 di Kotawaringin
Timur Kalimantan Tengah juga melaporkan nilai MBR dan MHD pada jenis
nyamuk Cx. quinquefasciatus dan Cx. tritaeniorhynchus tertinggi di luar rumah,
hal ini karena tenpat perindukan dekat dengan pemukiman. Diperkuat oleh
Sukowati dan Shinta,37 yang menyatakan bahwa kepadatan nyamuk yang tinggi
sangat dipengaruhi oleh jumlah dan jarak tempat habitat larva dengan rumah
penduduk.
Berdasarkan aktivitas menghisap darah, Cx.vishnui yang pada saat survei
penangkapan nyamuk hanya terdapat di Desa Antar Raya walaupun bukan
merupakan vektor, namun merupakan spesies nyamuk yang paling banyak
ditemui yang dapat menjadi potensial apabila masih terdapat sumber penular.
Perilaku Cx.vishnui menghisap darah tertinggi di luar rumah pada pukul 02.0003.00 WITA pada penangkapan pertama dan pada penangkapan kedua pada pukul
71
20.00-21.00 WITA. Perilaku istirahat tertinggi pada pukul 04.00-05.00 WITA di
luar rumah.
Nyamuk spesies Cx.tritaeniorhynchus merupakan spesies nyamuk terbanyak
kedua baik di Desa Antar Raya maupun di Desa Karya Jadi. spesies
Cx.tritaeniorhynchus dan Cx.vishnui diketahui sebagai vektor Japanese
Encephalitis.38 Aktivitas Cx.tritaeniorhynchus menghisap darah di Desa Antar
Raya aktif di dalam maupun di luar rumah dengan waktu puncak sekitar pukul
22.00-24.00 di luar rumah dan di dalam rumah pada pukul 22.00-02.00 WITA.
Perilaku istirahat paling tinngi dari pukul 21.00-23.00 WITA di luar rumah
sedangkan di dalam rumah pada pukul 22.00-23.00 dan 03.00-04.00 WITA.
Sedangkan di Desa Karya Jadi aktivitas Cx.tritaeniorhynchus paling tinggi
menghisap orang di dalam rumah pada pukul 23.00-24.00 dan di luar rumah pada
pukul 24.00-01.00 WITA. Perilaku istirahat tertinggi pada pukul 22.00-23.00
WITA. Terlihat bahwa jenis Nyamuk Cx. tritaeniorhynchus bersifat endofagik
dan eksofagik.
Secara morfologi Cx. quinquefasciatus mempunyai ciri khas pada probosis
tidak ada gelang putih, tergit pada abdomen dengan gelang basal yang sempit dan
integumen pada pleuron berwarna pucat merata. Berdasarkan hasil penelitian
Cx.quinquefasciatus terdapat di dua desa endemis filariasis di Kabupaten Barito
Kuala. Berdasarkan penelitian terdahulu Cx.quinquefasciatus merupakan vektor
B.malayi di Kabupaten Barito Kuala, walaupun di Pekalongan disebutkan bahwa
Cx.quinquefasciatus merupakan vektor filariasis W. bancrofti. di Desa Antar
Raya, aktivitas menghisap darah Cx.quinquefasciatus tinggi pada umpan orang di
luar rumah pada pukul 20.00-21.00 WITA dan pukul 01.00-04.00 WITA. Pada
umpan orang di dalam rumah aktivitas Cx.quinquefasciatus tinggi mulai pukul
03.00-06.00 WITA. Perilaku istirahat Cx.quinquefasciatus pada penangkapan
pertama dan kedua bervariasi dimulai pada pukul 19.00 WITA dan menurun pada
pukul
05.00
WITA.
Jenis
Nyamuk
Cx.
quinquefasciatus
dan
Cx.
tritaeniorhynchus lebih bersifat endofilik dan eksofilik. Yahya,19melaporkan di
Batanghari, Jambi bahwa Cx. quinquefasciatus lebih bersifat eksofilik dan
zoofilik, sedangkan Ramadhani dan Yuniarto,39 melaporkan Cx. quinquefasciatus
lebih bersifat eksofagik karena lebih banyak ditemukan menggigit di luar rumah.
72
Kesukaan dan kebiasaan menghisap darah setiap jenis nyamuk pada suatu daerah
berbeda dan bersifat kompleks. Wilson dan Sevarkodiyone,40 di Tamil Nadu,
India melaporkan bahwa Cx. quinquefasciatus bersifat zoofilik karena lebih
menyukai satwa mamalia dan burung, namun Farajollahi et al.41 melaporkan
bahwa Cx. quinquefasciatus lebih bersifat zooantropofilik karena menyukai
manusia, mamalia dan burung.
Cx. bitaeniorhynchus merupakan vektor W. bancrofti di Papua Nugini,
walaupun di jepang Yoshito,42 menyebutkan tingkat infeksi Cx. bitaeniorhynchus
untuk menularkan sebagai vektor sangat rendah. Di wilayah penelitian Cx.
bitaeniorhynchus hanya terdapat di Desa Antar Raya dengan jumlah spesies yang
sedikit, sehingga perilaku menghisap darah hanya terdapat di dalam rumah yaitu
sekitar pukul 23.00-24.00 WITA. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan di
Desa Dadahup, Kalimantan Tengah, diketahui aktivitas menghisap darah nyamuk
Cx. bitaeniorhynchus menunjukkan perilaku lebih menyukai menghisap darah di
luar (eksofagik) dan di dalam rumah (endofagik) serta beristirahat di dalam rumah
(endofilik).43 Hal tersebut dikarenakan nyamuk Cx. bitaeniorhynchus yang
tertangkap pada saat penelitian sedikit sehingga perilaku yang ditemui mungkin
bukan merupakan perilaku yang sebenarnya. Sedangkan nyamuk Cx. Sitiens,
Cx.pseudosinensis, Cx.gellidus, Cx.fuscocephalus dan Cx.hutchinsoni belum
pernah dilaporkan sebagai vektor filariasis di Indonesia. Pada saat penelitian
dilakukan jumlah ekor nyamuk yang tertangkap hanya sedikit.
Pada penelitian terdahulu Ma. uniformis disebutkan sebagai vektor di
Kabupaten Barito Kuala, merupakan nyamuk terbanyak yang tertangkap pada saat
survei di Desa Karya Jadi. Ma. uniformis mempunyai ciri khas pada femur kaki
depan terdapat 3 bercak pucat, bagian mesonotum toraks terdapat sepasang garis
longitudinal pucat. Aktivitas menghisap darah maupun istirahat Ma.uniformis baik
di dalam maupun di luar rumah di Desa Karya Jadi maupun Desa Antar Raya
meningkat tinggi pada pukul 19.00-20.00 WITA, menurun pada pukul 21.0001.00 WITA dan meningkat kembali pada pukul 02.00-05.00 WITA. Sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Zainul,44 di Desa Empat Kalimantan
Selatan yang merupakan desa endemis filariasis dilaporkan bahwa waktu puncak
aktivitas menghisap darah Ma. uniformis, Ma. dives, Cx. vishnui, Cx. sitiens, Cx.
73
quinquefasciatus, Cx. fuslephalus, dan An. nigerrimus pada pukul 19.00 – 20.00
dan 04.00 – 05.00.
Ma. dives disebutkan sebagai vektor filariasis, mempunyai ciri khas pada
femur kaki depan terdapat 5 bercak pucat, bagian mesonotum terdapat kumpulan
sisik-sisik putih berbentuk bulat kurang dari 3 bagian atas pangkal sayap. Pada
penelitian ini hanya terdapat di Desa Antar Raya dengan aktivitas pada umpan
orang tinggi pada pukul 18.00-19.00 WITA baik di dalam maupun di luar rumah,
dan pada pukul 01.00-02.00 WITA di luar rumah. Perilaku istirahat Ma.dives pada
penangkapan pertama tinggi pada pukul 19.00-20.00 WITA di dalam rumah,
sedangkan di luar rumah pada pukul 18.00-19.00 WITA. Perilaku nyamuk
istirahat di dinding rumah merupakan informasi penting dan dibutuhkan bagi
pengelola program filariasis dalam pengendalian vektor. Informasi tentang
perilaku istirahat di dinding ini sangat diperlukan dalam pengendalian vektor
dengan penyemprotan rumah (indoor residual spraying = IRS). Upaya
pengendalian vektor dengan penyemprotan rumah akan sangat efektif apabila
perilaku vektor diketahui istirahat di dalam rumah.45
Ma.anulifera dan Ma.annulata disebutkan dalam penelitian Amalia sebagai
vektor filariasis di Kalimantan Selatan.3 Ma. annulata mempunyai ciri khas pada
femur kaki depan terdapat 5 bercak pucat, pada bagian mesonotum terdapat sisik
putih tidak beraturan dan pada ruas tarsal bergelang pucat lebar. Pada penelitian
Hossain,32 menyebutkan bahwa di Banglades Ma.anulifera diakui sebagai vektor
pathogen. Secara umum, vektor filariasis menghisap darah dimulai setelah
matahari terbenam, meningkat secara bertahap, memuncak antara pukul 24.00 dan
01.00 dan penurunan ke level terendah antara 05.00 dan 06.00. melihat aktivitas
menghisap darah nyamuk vektor pathogen penyakit secara harian, memungkin
untuk mengurangi paparan terhadap nyamuk yang terinfeksi. Di wilayah
penelitian, walaupun nyamuk spesies Ma.anulifera yang tertangkap sedikit, namun
masih memungkinkan untuk terjadi penularan. Di Desa Antar Raya aktivitas
Ma.annulifera menghisap darah terdapat di dalam dan luar rumah sekitar pukul
19.00-22.00 WITA. Perilaku istirahat Ma.annulifera di dalam rumah dan di luar
rumah. Di Desa Karya Jadi aktivitas spesies nyamuk Ma.annulifera menghisap
darah mulai pukul 18.00-21.00 WITA, sedangkan di luar rumah pada pukul
74
04.00-05.00 WITA. Nyamuk Ma.annulifera istirahat pada pukul 19.00-20.00
WITA. Spesies Ma.annulata, hanya terdapat di Desa Antar Raya pada survei
nyamuk pertama, aktivitas Ma.annulata pada umpan orang tertinggi di luar rumah
pada pukul 18.00-19.00 WITA, sedangkan di dalam rumah pada pukul 19.0020.00 WITA. Perilaku istirahat terdapat pada pukul 19.00-20.00 dan 24.00-01.00
WITA. Nyamuk Mansonia sp hidup secara nokturnal, berada di wilayah hutan
dan rawa endemik, lingkungan kotor dan area peternakan ikan yang tidak terpakai.
Nyamuk Mansonia sp bersifat agresif dan menghisap darah saat manusia berada
dalam aktivitas malam hari khususnya di luar rumah. Sesuai dengan hasil
penelitian, ditemukan aktivitas Mansonia sp lebih banyak di luar rumah baik pada
saat menghisap darah maupun istirahat (eksofagik dan eksofilik).
Ar.subalbatus berdasarkan hasil penelitian hanya terdapat di Desa Antar Raya
pada penangkapan pertama. Ar. subalbatus dilaporkan sebagai vektor filariasis (B.
pahangi) pada kucing dan anjing di suburban Kuala Lumpur, Peninsular
Malaysia.27 Pada penelitian yang dilakukan Yahya,46 tidak ditemukan larva
B.malayi pada toraks dan proboscis nyamuk Ar.subalbatus. Aktifitas menghisap
darah Ar.subalbatus dimulai pada pukul 18.00 WIB. Pada hasil penelitian aktifitas
Ar.subalbatus menghisap darah tertinggi dengan umpan orang di luar rumah pada
pukul 20.00-21.00 WITA. Perilaku istirahat tertinggi pada pukul 05.00-06.00
WITA.
Spesies Anopheles terdapat di Desa Antar Raya yaitu An.peditaeniatus dan
An.brevipalpis. pada penelitian Verhaeghen,47 An.peditaeniatus merupakan vektor
B.malayi. Di Indonesia An.peditaeniatus merupakan vector potensial B.malayi di
Bengkulu.30,48 Aktivitas menghisap darah An.peditaeniatus dengan umpan orang
tertinggi pada pukul 18.00-19.00 dan 21.00-22.00 WITA di luar rumah,
sedangkan perilaku istirahat paling tinggi paada pukul 18.00-19.00 dan 20.0021.00 WITA. Sedangkan An.brevipalpis, belum pernah terlapor sebagai vektor
filariasis di Indonesia.
Pada penelitian ini juga terdapat genus Aedes. Spesies nyamuk Ae.cancricomes
ditemukan di dua desa tempat penelitian. Aktivitas menghisap darah paling tinggi
pada pukul 18.00-19.00 WITA pada umpan orang di luar rumah, sedangkan di
dalam rumah pada pukul 19.00-20.00 WITA. Perilaku istirahat baik di dalam
75
maupun di luar rumah tertinggi pada pukul 18.00-19.00 WITA. Terlihat bahwa
Ae.cancricomes bersifat endofilik dan eksofilik. Nyamuk Ae.albopictus dan
Ae.aegypty walau dalam jumlah kecil namun ikut tertangkap pada saat dilakukan
penelitian. Aktifitas Ae.albopictus aktivitas paling tinggi pada umpan orang di
luar rumah yaitu pukul 18.00-19.00. perilaku istirahat terdapat pada pukul 18.0021.00 di dalam dan di luar rumah pukul 01.00-02.00 dan 03.00-04.00 WITA.
Nyamuk Ae.aegypty yang diperoleh di Desa Karya Jadi hanya terdapat pada saat
istirahat yaitu pada pukul 19.00-20.00 di dalam rumah dan 01.00-02.00 WITA di
luar rumah. Di Desa Antar Raya Aktivitas Ae.aegypti menghisap darah dengan
umpan orang terlihat dari pukul 18.00-19.00 WITA sampai dengan 21.00-22.00
WITA di dalam dan di luar rumah. Perilaku istirahat Ae.aegypti bervariasi baik di
dalam maupun di luar rumah. Biasanya Aedes mempunyai kebiasaan menghisap
darah pada siang hari, seperti yang dilaporkan oleh Hadi,49 di berbagai daerah di
Indonesia yaitu Cikarawang, Babakan, dan Cibanteng Kabupaten Bogor,
Cangkurawuk Darmaga Bogor, Pulau Pramuka, Pulau Pari, Kepulauan Seribu,
Gunung Bugis, Gunung Karang, Gunung Utara Balikpapan dan Kayangan,
Lombok Utara. Namun pada penelitian ini terdapat nyamuk Aedes yang
menghisap darah pada malam hari. Dharma,50 menyebutkan dalam penelitiannya
bahwa Ae.aegypti yang mempunyai kebiasaan mengisap darah hospes pada siang
hari, ternyata mampu juga mengisap darah hospes pada malam hari.
Banyak faktor yang mempengaruhi vektor potensial akan positif mikrofilaria
termasuk diantaranya jumlah mikrofilaria yang dihisap cukup atau tidak untuk
berkembang di tubuh nyamuk. Syarat nyamuk menjadi vektor antara lain adalah
umur nyamuk, kontak antara manusia/hospes dengan nyamuk,
menghisap darah, dan kerentanan nyamuk terhadap parasit.
51
frekuensi
Estimasi kapasitas
menjadi vektor adalah dipengaruhi faktor lingkungan, tingkah laku, biokimia dan
seluler yang mempengaruhi hubungan antara vektor, patogen yang akan
ditransmisikan oleh vektor, dan hospes tempat patogen tersebut akan
ditransmisikan. Baik tersebut tingkah laku dan faktor lingkungan mempunyai
peran untuk membedakan kapasitas sebagai vektor.52,53 Sebagai contoh spesies
nyamuk
tertentu
mungkin
secara
genetik
dan
biokimia
cocok
untuk
perkembangan secara komplit dari patogen tertentu, tetapi jika spesies nyamuk ini
76
jarang kontak dengan hospes yang megandung patogen atau sumber darah yang
diinginkan tidak termasuk hospes tersebut maka nyamuk ini bukan merupakan
vektor yang cocok untuk pathogen.
Berdasarkan hasil analisis PCR yang dilakukan pada sampel nyamuk yang
diperoleh di lapangan, tidak terdapat DNA mikrofilaria pada sampel nyamuk dan
kontrol positif yang diperoleh dari sampel darah positif mikrofilaria koleksi
Laboratorium Parasitologi Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu. Dilakukan kembali
analisis PCR menggunakan primer Cytochrome B pada kontrol positif darah
mikrofilaria. Hasil PCR tersebut menunjukkan hasil positif DNA Cytochrome B.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Primer yang dipilih sebagai
primer untuk analisis mikrofilaria tidak cocok karena ukuran terlalu panjang dan
spesifik. Sehingga, kontrol yang digunakan pada penelitian hanya dari Kit dan
DNA Cytochrome B yang menunjukkan bahwa kit ekstrkasi dan kit PCR serta
peralatan untuk melakukan proses PCR berjalan sesuai fungsinya.
Penelitian yang dilakukan oleh Haryuningtyas dan Subekti,54 dalam
mendeteksi larva mikrofilaria di Kabupaten Barito Kuala menggunakan metode
PCR dengan Hha 1 repeat, tidak ditemukan hasil positif mikrofilaria.
Haryuningtyas dan Subekti,54 juga membuktikan bahwa PCR adalah cukup
sensitif untuk mendeteksi 1 ekor nyamuk dalam pool nyamuk negatif. Menurut
Ramzy et al.,16 keuntungan dari metode berbasis PCR ini yaitu dapat digunakan
untuk mendeteksi satu parasit pada pool nyamuk yang berasal dari lapang
sehingga menyebabkan aplikasi di lapangan lebih efektif daripada pembedahan
nyamuk untuk menemukan larva. PCR assay dari Hha I repeat dapat mendeteksi
sedikitnya 10 fg dari B. malayi DNA genomic serta memiliki sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi.55
Pada penelitian ini primer yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan larva
B.malayi pada nyamuk yang merupakan endemis di wilayah Kabupaten Barito
Kuala berasal dari penelitian Thanomsub,10 yang menyatakan primer yang
digunakan memperkuat 1,5kb gen glutathione peroxidase cacing filarial, sehingga
sensitif untuk mendeteksi keberadaan larva mikrofilaria. Namun berdasarkan hasil
penelitian, primer yang digunakan tidak dapat mendeteksi adanya DNA pada
darah kontrol positif mikrofilaria. Hal tersebut dimungkinkan bahwa primer yang
77
digunakan tidak cocok untuk mendeteksi mikrofilaria B.malayi dari sampel darah
positif yang berasal dari Indonesia.
Desain primer adalah parameter yang paling penting untuk keberhasilan teknik
PCR. Urutan dari primer yang digunakan untuk amplifikasi PCR mungkin
memiliki pengaruh besar pada spesifisitas dan sensitivitas reaksi. PCR dapat gagal
jika set primer dirancang dengan buruk, sehingga tidak ada produk salinan atau
terjadinya
ketidaksesuaian.
Beberapa
pertimbangan
desain
kunci
untuk
keberhasilan PCR adalah diantaranya panjang primer, suhu mencair, konten GC,
panjang DNA target, dan pembentukan struktur sekunder.
Berikut adalah daftar karakteristik yang harus dipertimbangkan ketika
merancang primer : (1). Panjang Primer harus 15-30 residu nukleotida (basa). (2).
Optimal G-C konten harus berkisar antara 40-60%. (3). Ujung 3' dari primer harus
berisi G atau C untuk menjepit primer. (4). Ujung 3’ satu set primer, yang
mencakup primer ditambah untai dan primer dikurangi strand, tidak harus
melengkapi satu sama lain, juga tidak bisa ujung 3' dari primer tunggal menjadi
pelengkap untuk urutan lainnya di primer. (5). Suhu leleh Optimal (Tm) bagi
primer berkisar antara 52-58 ° C. (6). mengulangi Di-nukleotida (mis,
GCGCGCGCGC atau ATATATATAT) atau basa tunggal (misalnya, AAAAA
atau CCCCC) harus dihindari karena dapat menyebabkan tergelincir sepanjang
segmen prima struktur DNA dan atau hairpin loop untuk membentuk. Jika tidak
dapat dihindari karena sifat dari template DNA, maka hanya mencakup
pengulangan atau basa tunggal berjalan dengan maksimal 4 basa.56-58
Pada penelitian ini sebanyak 88 ekor nyamuk yang telah menghisap darah
diambil untuk analisis PCR-RFLP, berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan
tidak ada satu ekor nyamuk yang positif untuk analisis PCR Gen Cytochrome B.
Secara umum, proses PCR dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal
kompleks seperti mendesain DNA primer, menyiapkan bahan dan reagen,
mengatur campuran bahan untuk reaksi, protokol standar PCR, menghitung
Melting Temperature (Tm), dan mengatur kondisi pada Thermal Cycler.58
Ketelitian pada hal tersebut meningkatkan peluang berhasilnya proses PCR yang
dilakukan.
78
Dalam penelitian ini DNA primer yang digunakan adalah primer yang telah
digunakan sebelumnya untuk PCR Gen Cytochrome B vertebrata oleh Oshagi et
al.13 Karena DNA primer tersebut memang telah terbukti berhasil dalam
multiflikasi DNA targetnya, sehingga pertimbangan di atas kami kesampingkan.
Ketidaksesuaian DNA primer adalah salah satu pertimbangan hasil negatif
yang didapat dari proses PCR. Akan tetapi kemungkinan ini sudah terbantahkan
dengan uji konfirmasi primer dengan menggunakan stok sampel darah manusia
yang positif filaria. Semua sampel yang digunakan menunjukkan positif DNA
Cytochrome B. Pun demikian, perbedaan utama antara kedua macam sampel
adalah dalam penelitian ini digunakan sampel nyamuk, bukan sampel darah
langsung seperti pada uji konfirmasi. Sehingga ada kemungkinan proses ekstraksi
yang dilakukan tidak cukup optimal untuk mendapatkan DNA template yang
cukup untuk proses PCR.
Optimasi proses adalah bagian penting dari keberhasilan analisis DNA.
Sebagian besar proses hanya dilakukan optimasi terbatas seperti penambahan
Proteinase K pada proses ekstraksi DNA dan penambahan sebagian bahan dalam
campuran reaksi untuk PCR. Bahkan setelah dilakukan optimasi-pun masih ada
kemungkinan kegagalan dalam analisis DNA tersebut, sehingga proses optimasi
harus rutin dilakukan terutama jika ditemukan kendala dalam memperoleh hasil
yang diharapkan. Kelemahan dalam penelitian ini adalah semua proses
menggunakan kit, sehingga bahan yang dimiliki untuk optimasi menjadi terbatas.
Proses RFLP dilakukan dengan maksud untuk membedakan lebih jauh sumber
DNA Cytochrome B yang ada dalam nyamuk. Enzim restriksi XhoI seharusnya
akan memotong DNA dari manusia dan tidak akan memotong DNA dari hewan
vertebrata, sedangkan untuk membedakan sumber darah dari hewan vertebrata
yang berbeda digunakan enzim restriksi TaqI. Akan tetapi karena tidak ada
satupun pool nyamuk yang positif dalam PCR, proses RFLP ini tidak dapat
dilaksanakan seperti yang direncanakan.
79
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Pada analisis PCR untuk mendeteksi nyamuk yang positif carrier mikrofilaria,
tidak ditemukan DNA mikrofilaria pada sampel nyamuk dan kontrol positif
yang berasal dari sampel darah manusia positif mikrofilaria. Hal tersebut
karena primer yang digunakan tidak cocok untuk mendeteksi mikrofilaria
B.malayi dari sampel darah positif yang berasal dari Indonesia. Namun,
terdapatnya nyamuk vektor filariasis berdasarkan penelitian terdahulu di
Kabupaten Barito Kuala yaitu Cx.quinquefasciatus dan Ma.uniformis dapat
menjadi faktor risiko terjadinya penularan.
2.
Analisis PCR juga dilaksanakan untuk mendeteksi DNA manusia dan hewan
pada jaringan nyamuk untuk mengetahui kebiasan nyamuk menghisap darah,
namun tidak ada satupun sampel nyamuk yang positif untuk analisis PCR
Gen Cytochrome B. Hal tersebut dikarenakan kurangnya optimasi proses
pada analisis DNA.
3.
Dikarenakan pada anaisis PCR gen Cytochrome B menunjukkan hasil negatif,
proses RFLP untuk dapat menilai perpindahan parasite antara hewan dan
manusia pada penelitian ini tidak dapat dilaksanakan seperti yang
direncanakan. Salah satu kelemahan dalam penelitian ini adalah semua proses
menggunakan kit, sehingga bahan yang dimiliki untuk optimasi menjadi
terbatas.
Saran
1.
Melanjutkan program pengobatan filariasis selama 5 tahun berturut-turut,
karena masih ditemukannya nyamuk vektor filariasis berdasarkan hasil
penelitian terdahulu yang dapat menjadi faktor risiko penularan, serta perlu
dukungan dan kerja sama tokoh masyarakat serta lintas sektor dalam upaya
pencegahan dan pengendalian filariasis terutama untuk membersihkan
lingkungan agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk vektor
filariasis.
2.
Perlu dilakukan pemilihan primer yang tepat untuk analisis PCR deteksi
mikrofilaria.
80
3.
Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk kembali melakukan analisis
kebiasaan nyamuk menghisap darah dengan metode PCR-RFLP dengan
waktu optimasi yang cukup.
81
DAFTAR KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
Subdit Filariasis dan Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI. Pedoman
Program Eliminasi Filariasis di Indonesia. (2006).
Anonim. Filariasis di Indonesia. Bul. Jendela Epidemiologi. 1, 1–8 (2010).
Safitri, Amalia; Risqhi, H. R. R. M. Identifikasi Vektor dan vektor potensial
filariasis di Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong. J. Buski 4, 73–79 (2012).
Dinas Kesehatan Barito Kuala. KEGIATAN FILARIASIS DINKES
BARITO KUALA. Diakses dari <http://dinkes.baritokualakab.go.id/
index.php? option =com_content&view=article&id=70:kegiatan-filariasisdinkes-barito-kuala& catid=50:p2p&Itemid=77>
Wongkamchai, S., Nochote, H. & Foongladda, S. A high resolution melting
real time PCR for mapping of filaria infection in domestic cats living in
brugian filariosis-endemic areas. Vet. Parasitol. 201, 120–127 (2014).
Ambily, V. R., Pillai, U. N., Arun, R., Pramod, S. & Jayakumar, K. M.
Detection of human filarial parasite Brugia malayi in dogs by histochemical
staining and molecular techniques. Vet. Parasitol. 181, 210–214 (2011).
Kim, M. K. et al. The First Human Case of Hepatic Dirofilariasis. J. Korean
Med Scie 17, 686–690 (2002).
Azaziah, P. et al. A survey of canine filarial diseases of veterinary and public
health significance in India. Parasit. Vectors 3, (2010).
Erickson, S. M., Fischer, K., Weil, G. J., Christensen, B. M. & Fischer, P. U.
Distribution of Brugia malayi larvae and DNA in vector and non-vector
mosquitoes: implications for molecular diagnostics. Parasit. Vectors 2,
(2009).
Thanomsub, B. W., Chansiri, K., Sarataphan, N. & Phantana, S. Differential
diagnosis of human lymphatic filariasis using PCR-RFLP. Mol. Cell. Probes
14, 41–46 (2000).
Boakye, D. A. et al. Monitoring lymphatic filariasis interventions: Adult
mosquito sampling, and improved PCR – based pool screening method for
Wuchereria bancrofti infection in Anopheles mosquitoes. Filaria J. 6, (2007).
Nuchprayoon, S., Junpee, A. & Nithiuthai, S. Detection of filarial parasites in
domestic cats by PCR-RFLP of ITS1. 140, 366–372 (2006).
Oshaghi, M. A., Chavshin, A. R. & Vatandoost, H. Analysis of mosquito
bloodmeals using RFLP markers. Exp. Parasitol. 114, 259–264 (2006).
Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Repubik Indonesia
Nomor 94 tahun 2014, tentang Penanggulangan Filariasis. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2014.
Kazura JW. Lymphatic Filarial Infections: An Introduction To The Filariae.
Dalam Klei Thomas R, Rajan T V. The Filaria. New York (USA): Kluwer
academic publishers; 2002.
Ramzy RM, Farid HA, Kamal IH, Ibrahim GH, Morsy ZS, Faris R, et al. A
polymerase chain reaction-based assay for detection of Wuchereria bancrofti
in human blood and Culex pipiens. Trans R Soc Trop Med Hyg.
1997;91(2):156–60.
Mc Mahon JE, Simonsen PE. Filariases. dalam G. COOK (Eds). Manson’s
Tropical Diseases 20th. London: ELBS – W.B. Saunders; 1996.
82
18. Williams SA, Laney SJ, Bierwert LA, Sauners LJ, Boakye DA, Fischer P, et
al. Development and standardization of rapid, PCR-based method for the
detection of Wuchereria bancrofti in mosquitoes, for xenomonitoring the
human prevalence of bancroftian filariasis. Trop Med Par. 2002;96:S41-46.
19. Zhong M, McCarthy J, Bierwert L, Lizotte-Waniewski M, Chanteau S,
Nutman TB, et al. A Polymerase Chain Reaction Assay for Detection of the
Parasite Wuchereria bancrofti in Human Blood Samples. Am J Trop Med
Hyg. 1996;54:357–63.
20. Siridewa K, Karunanayake EH, Chandrasekharan NV. Polymerase Chain
Reaction (PCR)-based technique for the detection of Wuchereria bancrofti in
human blood sample, hydrocele fluid and mosquito-vectors. Am J Trop Med
Hyg. 1996;54:72–6.
21. Rishniw M, Barr SC, Simpson KW, Frongillo MF, Franz M, Dominguez
Alpizar JL. Discrimination between six species of canine microfilariae by a
single polymerase chain reaction. Vet Parasitol. 2006;135(3–4):303–14.
22. WHO. Lymphatic filariasis: a handbook of practical entomology for national
lymphatic filariasis elimination programmes. (WHO Press, 2013).
23. Pedersen, E. M., Stolk, W. A., Laney, S. J. & Michael, E. The role of
monitoring mosquito infection in the Global Programme to Eliminate
Lymphatic Filariasis. Trends Parasitol. 25, 319–327 (2009).
24. Roellig DM, Gomez-Puerta LA, Mead DG, Pinto J, Ancca-Juarez J, Calderon
M, et al. Hemi-nested PCR and RFLP methodologies for identifying blood
meals of the Chagas disease vector, Triatoma infestans. PLoS One [Internet].
2013;8(9):e74713.
Available
from:
http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0074713
25. Shriram AN, Krishnamoorthy K, Vijayachari P. Diurnally Subperiodic
Filariasis Among the Nicobarese of Nicobar District - Epidemiology, Vector
Dynamics & Prospects of Elimination. Indian J Med Res. 2015;141:598 –
607.
26. Yahya, Santoso, Ambarita L. Aktivitas Menggigit Mansonia uniformis
(Diptera: Culicidae) di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. J Buski.
2015;5(3):140 – 148.
27. Muslim A, Fong MK, Mahmud R, Lau YL, Sivanandam S. Armigeres
subalbatus Incriminated as a Vector of Zoonotic Brugia pahangi Filariasis in
Suburban Kuala Lumpur, Peninsular Malaysia. Parasit Vectors.
2013;6(219):2–5.
28. Bonne-Wepster J. Culex bitaeniorhynchus as Vector Of Wuchereria bancrofti
in New-Guinea. Doc Med Geogr Trop. 1956;8(4):375 – 379.
29. Ughasi J, Bekard HE, Coulibaly M, Delphina D, Gyapong J, Appawu M, et
al. Mansonia africana and Mansonia uniformis are Vectors in the
Transmission of Wuchereria bancrofti Lymphatic Filariasis in Ghana. Parasit
Vectors. 2012;5(89):2–5.
30. Suzuki T, Sudomo M, Bang YH, Lim BL. Studies on Malayan Filariasis in
Bengkulu (Sumatera), Indonesia With Special Reference to Vector
Confirmation. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 1981;12(1):47 –
54.
83
31. Jasmi, Iswensi, Pebriweni. Survei Larva Mansonia dan Anopheles di
Kenagarian Koto Pulai Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan
Sumatera Barat. Sainmatika. 2009;6(2):15–22.
32. Hossain M, Bashar K, Rahman K.M.Z, Razzak M.A, Howlader A.J. Biting
Rhythms of Selected Mosquito Species (Diptera: Culicidae) in Jahangirnagar
University, Bangladesh. J Mosq Res [Internet]. 2015;5(8):2015. Available
from: http://biopublisher.ca/index.php/jmr/article/view/1734
33. Febrianto B, Astri M, Widiarti I. Faktor Risiko Filariasis di Desa Samborejo
Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Bul Penelit Kesehat.
2008;36(2):48 – 58.
34. Zen S. Studi komunitas nyamuk penyebab filariasis di Desa Bojong
Kabupaten Lampung Timur. Bioedukasi J Pendidik Biol. 2015;6(2):129–33.
35. Ralph B. A. Contributions of the American Entomological Institute. Thailand.
1967;2(1).
36. Setiawan B, Soeyoko, Satoto TB. Epidemiologi Filariasis Limfatik di
Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur Prov. Kalteng. Bul
Spirakel. 2012;4:4–16.
37. Sukowati S, Shinta. Habitat Perkembangbiakan dan Aktivitas Menggigit
Nyamuk Anopheles sundaicus dan Anopheles subpictus di Purworejo, Jawa
Tengah. J Eko Kes. 2009;8(1):915 – 925.
38. Gopalakrishnan R, Baruah I, Veer V. Monitoring of malaria, Japanese
encephalitis and filariasis vectors. Med J Armed Forces India [Internet].
2014;70(2):129–33.
Available
from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.mjafi.2013.10.014
39. Ramadhani T, Yunianto B. Aktivitas Menggigit Nyamuk Culex
quinquefasciatus di Daerah Endemis Filariasis Limfatik Kelurahan Pabean
Kota Pekalongan Provinsi Jawa Tengah. Aspirator. 2009;1(1):11–5.
40. Wilson JJ, Sevarkodiyone SP. Behavioral Expression (Breeding and Feeding)
of Mosquitoes in an Agro Ecosystem. (Athikulam, Virudhunagar District
Tamil Nadu, India). Eur J Biol Sci. 2013;5(3):99 – 103.
41. Farajollahi A, Fonseca DM, Kramer LD, Marm AK. “Bird biting”
Mosquitoes and Human Disease: A review of the Role of Culex pipiens
Complex Mosquitoes in Epidemiology. Infect Genet Evol. 2011;7(11):1577 –
1585.
42. Wada Y. Vector Mosquitoes of Filariasis in Japan. Trop Med Health.
2011;39(1):39–45.
43. Rasyid MR. Vektor Potensial Filariasis dan Habitatnya di Desa Mandomai
Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Institut Pertanian Bogor;
2016.
44. Zainul S, Santi M, Ririh Y. Populasi Nyamuk Dewasa di Daerah Endemis
Filariasis Studi di Desa Empat Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar
Tahun 2004. J Kesehat Lingkung. 2005;2(1):85–97.
45. Bruce CLJ. Essential Malariology. London (ENG): William Heinemann
Medical Books Ltd; 1980.
46. Yahya, Santoso, Salim M, Arisanti M. Deteksi Brugia malayi pada Armigeres
subalbatus dan Culex quinquefasciatus yang diinfeksikan darah penderita
filariasis dengan metode PCR. Aspirator. 2014;6(September):35–42.
84
47. Verhaeghen K, Van Bortel W, Trung HD, Sochantha T, Keokenchanh K,
Coosemans M. Knockdown resistance in Anopheles vagus, An. sinensis, An.
paraliae and An. peditaeniatus populations of the Mekong region. Parasit
Vectors. 2010;3(1):59.
48. Boo LL, Liliana K, Sudomo M, Joesoef A. Status of Brugian Filariasis
Research in Indonesia and Future Studies. Bul Penelit Kesehat.
1985;13(2):31–55.
49. Hadi UK, Soviana S, Gunandini DJ. Aktivitas Nokturnal Vektor Demam
Berdarah Dengue di Beberapa Daerah di Indonesia. JEI. 2012;9(1):1–6.
50. Dharma WK, Hoedojo, Nugroho RA, Suriptiastuti, Inggrid AT, Arif BS.
Survei fauna nyamuk di Desa Marga Mulya , Kecamatan Mauk , Tangerang. J
Kedokt Trisakti. 2004;23(2):57–62.
51. DITJEN PPM dan PL. Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor. Jakarta:
Ditjen PPM dan PL, Depkes RI; 2004.
52. Black W.C, Moore CG. Population Biology as a tool for studying vector
borne diseases. University Press of Colorado; 1996.
53. Woodring JL, Higgs S, READY BJ. Natural cycles of vector borne pathogen.
University Press of Colorado, Niwot. Colo; 1996.
54. Haryuningtyas D, Subekti DT. Deteksi Mikrofilaria / Larva Cacing Brugia
malayi pada Nyamuk dengan Polimerace Chain Reaction. Jjtv.
2008;13(3):240–8.
55. Nuchprayoon S. DNA-based diagnosis of lymphatic filariasis. Southeast
Asian J Trop Med Public Health. 2009;40(5):904–13.
56. Analytical Methods Committee. PCR – the polymerase chain reaction. Anal
Methods
[Internet].
2014;6(59):333–6.
Available
from:
http://xlink.rsc.org/?DOI=C3AY90101G
57. Garg N, Pundhir S, Prakash A, Kumar A. PCR Primer Design: DREB Genes.
J Comput Sci Syst Biol [Internet]. 2008;1(1):021–40. Available from:
http://www.omicsonline.com/ArchiveJCSB/2008/December/03/JCSB1.021.p
hp
58. Lorenz TC. Polymerase Chain Reaction: Basic Protocol Plus Troubleshooting
and Optimization Strategies. J Vis Exp [Internet]. 2012;(63):e3998. Available
from:
http://www.jove.com/video/3998/polymerase-chain-reaction-basicprotocol-plus-troubleshooting
85
LAMPIRAN
Download