rokok bahayakan jantung

advertisement
ROKOK BAHAYAKAN JANTUNG ? OH NO !
Setiap manusia tentu memiliki motivasi kuat untuk sehat atau tidak mudah jatuh
sakit. Bila kita membicarakan masalah sehat, maka kita tidak dapat lepas untuk
membicarakan kerja jantung beserta bagian-bagiannya.
Jantung terdiri dari empat rongga, dua rongga di sebelah kanan dan dua rongga
lagi di sebelah kiri. Kedua bagian jantung ini dibatasi pemisah (septum), sehingga
jantung kanan tidak berhubungan langsung dengan jantung kiri. Sedangkan
jantung dan kiri terdiri dari dua rongga pula, yakni serambi dan bilik. Serambi
berfungsi menampung darah dari seluruh tubuh, yaitu serambi kanan berisi darah
kotor atau darah yang sudah miskin oksigen, sedangkan serambi kiri menerima
darah bersih dari paru-paru untuk kemudian dipompakan lagi ke seluruh tubuh.
Karena itu, jantung kiri dan kanan dipisah oleh sekat, sehingga darah yang berada
di bagian kiri jantung tidak tercampur dengan yang berada di sebelah kanan.
Seperti diungkapkan sebelumnya, jantung bagian kanan berisi darah kotor dan
jantung kiri berisi darah bersih. Darah bersih yang berada di bagian kiri jantung
mengandung banyak oksigen, karena darah baru mengambil oksigen dari paruparu (istilah populernya dibersihkan).
Sementara itu, jantung harus bekerja sepanjang hidup, karena dengan hanya itulah
terus-menerus darah dipompakan ke seluruh tubuh mulai dari ujung kepala sampai
ke ujung kaki.
Meskipun seseorang dalam keadaan diam atau istirahat, jantung tetap memompa.
Satu kali berdenyut atau sekali pompa sebanyak 75 ml darah dialirkan. Andaikan
dalam satu menit jantung berdenyut 60 kali, maka jumlah darah yang dipompakan
adalah kelipatan dari 60 dengan 75, yaitu 4500 ml atau 4,5 liter. Kalau dihitung
penuh selama 24 jam, dimana aktivitas dari 24 jam itu dibagi untuk tidur, duduk,
bersantai, olahraga, berkendaraan, maka dapat dikalkulasikan jumlah darah yang
dipompakan keluar sekitar 8.500 liter, sementara jantung berdenyut sekitar
105.600 kali sehari semalam. Kalau dinilai puluhan tahun, kerja jantung bukanlah
suatu kerja yang ringan, melainkan sangat berat.
Serangan jantung akut sendiri adalah kematian otot-otot jantung yang disebabkan
karena terhentinya pasokan darah ke otot jantung akibat tersumbatnya satu atau
lebih pembuluh darah arteri koroner oleh gumpalan darah. Gumpalan darah ini
disebut trombus.
Tersumbatnya pembuluh koroner mengakibatkan otot-otot jantung yang
diperdarahi tidak mendapat pasokan darah dengan segala nutrisi yang ada di
dalamnya seperti glukosa, vitamin dan mineral, hormon-hormon dan elektrolit
seperti natriun, kalium, magnesium, dan kalsium. Pasokan oksigen yang sangat
diperlukan untuk hidupnya otot jantung juga akan berhenti. Matinya sebagian otot
jantung ini akan mengakibatkan gangguan fungsi jantung sebagai pompa untuk
memompakan darah ke seluruh tubuh, termasuk organ seperti hati (limpa), paru,
ginjal, serta yang lainnya. Intinya adalah pasokan darah beserta zat makanan di
dalamnya untuk kebutuhan tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki akan
terganggu.
Tergantung pada pembuluh koroner mana yang tersumbat, dan berapa pembuluh
koroner yang tersumbat akan berdampak pada luasnya otot jantung yang
mengalami kematian. Bila yang tersumbat itu pembuluh koroner utama (left main
coronary artery), serangan jantung biasanya berakhir dengan kematian. Demikian
juga bila yang tersumbat itu satu pembuluh koroner atau cabang dari pembuluh
koroner yang ada biasanya penderita akan tertolong.
Hal ini juga tergantung pada pertolongan yang diberikan saat terjadinya serangan
jantung. Dan ini berhubungan erat dengan waktu datang pasien ke unit darurat
(emergency room). Bila pasien datang tidak lebih dari enam jam setelah
dirasakannya gejala, biasanya pemberian terapi trombolitik akan sangat
bermanfaat. Terapi trombolitik ini dimaksudkan untuk membuka kembali
sumbatan koroner yang terjadi.
Gejala Serangan Jantung Akut
Penderita serangan jantung akut akan merasakan nyeri dada khas akibat
terhentinya pasokan darah ke otot jantung yang diperdarahi oleh pembuluh
koroner yang tersumbat. Bisa dikatakan, nyeri dada yang dirasakan pasien saat
mengalami serangan jantung itu merupakan jeritan dari otot jantung yang terhenti
pasokan oksigen dan zat makanan lain untuknya. “Hei, gue nggak dapat oksigen
nih!” demikian kira-kira jeritan otot jantung tadi.
Macam-macam manifestasi nyeri dada dapat dirasakan. Mulai dari terasa
terhimpit barang berat, rasa terbakar, rasa diremas, dipelintir, sampai rasa diirisiris dengan pisau. Nyeri dada khas ini lebih dikenal dengan istilah angina pektoris.
Biasanya ini berlangsung lebih dari 20 menit. Nyeri dada ini tidak hilang hanya
dengan istirahat, dan juga tidak hilang dengan pemberian obat nitrat di bawah
lidah. Rasa nyeri di dada ini sering menjalar ke lengan kiri sampai ke jari-jari
tangan.
Terasa tembus sampai ke punggung dan dapat pula sampai ke leher sehingga
terasa seperti dicekik dan dapat pula ke rahang bawah. Nyeri angina ini dapat juga
seperti keluhan penderita sakit lambung (maag), yaitu berupa rasa nyeri di ulu hati.
Sering juga dikeluhkan oleh pasien sebagai rasa sukar bernafas.
Serangan jantung akut ini biasanya diikuti dengan keringat yang bercucuran yang
sering melebihi pekerja berat. Tapi juga dikeluhkan sebagai keringat dingin yang
dapat membasahi pakaian penderita.
Di samping itu, ada juga serangan jantung yang seolah-olah tanpa gejala. Pasien
hanya merasakan tak enak di dada. Keadaan ini dikenal sebagai silent myocardial
infarction. Diagnosa biasanya ditegakkan dokter berdasarkan hasil rekaman listrik
jantung (EKG) waktu datang ke ruang emergensi dan kenaikan enzim jantung. Ini
sering terdapat pada penderita dengan diabetes mellitus (DM).
Kiat Mencegah Serangan Jantung
Usaha pencegahan seharusnya telah dimulai sejak dini, karena proses
penyempitan pembuluh darah koroner berdasarkan penelitian sudah dapat terjadi
sejak usia 5-12 tahun. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk menjalani pola
hidup sehat, yakni menghindari faktor-faktor risiko yang mengakibatkan jantung
koroner seperti merokok, tekanan darah tinggi, DM, kolesterol darah tinggi,
obesitas (kegemukan), dan stres psikologis. Merokok termasuk faktor risiko
utama penyakit jantung koroner (PJK).
Bila seseorang telah dinyatakan menderita PJK, jangan merasa panik. Yang
penting adalah penderita memeriksakan diri dengan benar untuk mendapatkan
pengobatan yang semestinya. Selanjutnya adalah penting untuk mengontrol
faktor-faktor risiko untuk mencegah serangan jantung selanjutnya yang dapat
berakibat fatal. Perlu juga dihindari faktor pencetus seperti aktifitas fisik yang
berlebihan dan stres emosional, walaupun 50% serangan jantung dapat terjadi
tanpa faktor pencetus.
Faktor pencetus ini dapat mengakibatkan pecahnya tumpukan lemak dan
bermacam-macam bahan kimia yang mengakibatkan penyempitan tersebut (plak
ateroklerosis), sehingga terbentuk jendalan darah (trombus) yang dapat
menyumbat pembuluh darah koroner yang bersangkutan. Di samping itu, sangat
perlu memeriksakan diri ke dokter secara teratur dan memakan obat-obat yang
diberikan. Kontrol teratur diperlukan untuk menilai progesifitas PJK agar obatobat dapat disesuaikan. Bila perlu dilakukan tindakan intervensi seperti
kateterisasi jantung. Untuk selanjutnya dapat dipertimbangkan tindakan
pembalonan (PTCA) dengan atau tanpa Sten atau bedah pintas koroner.
Gaya Hidup
Upaya seseorang untuk menghindari PJK bagi yang belum menderita PJK, atau
seseorang yang telah menderita penyakit jantung iskemi namun tidak berlanjut
menjadi serangan jantung, atau berakhir dengan kematian mendadak, adalah
dengan menjauhi gaya hidup PJK yang berisiko tinggi. Ada enam langkah yang
harus dilakukan : pertama, bila anda perokok, berhentilah merokok sekarang
juga ; kedua bila anda menderita kolesterol tinggi, lakukan diet rendah kolesterol
dengan membatasi bahan makanan yang berkolesterol tinggi ; ketiga, bila anda
menderita tekanan darah tinggi, kontrol tekanan darah dengan membatasi garam
atau berkonsultasilah dengan dokter anda ; keempat, bila anda menderita DM,
minta nasihat dokter anda untuk dapat mengontrol gula darah anda ; kelima, atasi
stres psikologis bila kehidupan dan pekerjaan anda menyebabkan stres psikologi
yang tinggi ; terakhir, berolahraga teratur, mintalah nasihat pada dokter keluarga
atau spesialis jantung dan pembuluh darah anda.
Kebiasaan Merokok
Rokok mengandung kurang lebih 4.000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 di
antaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, terutama jantung kita. Racun
utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida.
Definisi tar sendiri adalah hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada
paru-paru, sementara nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan
peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paruparu yang mematikan. Sedangkan karbon monoksida adalah zat yang mengikat
hemoglobin dalam darah, dan membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.
Lebih jauh, efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok (perokok
pasif) mengalami risiko kemungkinan menderita penyakit dibanding yang tidak
mengisap asap rokok. Adapun perbandingannya adalah 14 kali menderita kanker
paru-paru, mulut dan tenggorokan, empat kali menderita kanker esophagus, dua
kali menderita kanker kandung kemih, dan dua kali terkena serangan jantung.
Rokok juga meningkatkan risiko kefatalan bagi penderita pneumonia, gagal
jantung, tekanan darah tinggi, abortus, bayi lahir prematur, bayi lahir cacat, dan
impoten.
Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok, tapi secara tidak sadar mengisap
asap rokok dari lingkungannya. Terbukti dari penelitian yang diadakan akan
mengalami risiko yang lebih besar dari perokok aktif.
Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena
untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot
asap rokok secara lebih keras, lebih dalam dan lebih lama.
Rokok dan Penyakit Jantung
Berhenti merokok bagi penderita PJK sangat penting untuk mencegah progesifitas
penyakit. Dari penderita PJK yang telah dibuktikan dengan angiografi koroner,
angka kematian dalam lima tahun pada perokok akibat infark miokard lebih tinggi
dibandingkan dengan mereka yang telah berhenti merokok.
Berhenti merokok mengurangi risiko kejadian koroner (coronary avent), baik pada
orang tua maupun penderita PJK. Pasien perokok yang selamat dari penyakit
jantung, setelah keluar dari rumah sakit mempunyai kemungkinan untuk
mendapat serangan ulang dalam tiga tahun bila mereka berhenti merokok
dibandingkan dengan penderita yang masih merokok.
Terdapat hubungan yang kuat antara risiko PJK dan merokok, serta risiko yang
timbul lebih banyak dari jumlah rokok yang dihisap per hari dibandingkan
lamanya merokok. Berita baik yang dapat digunakan untuk memotivasi orang
agar berhenti merokok adalah bukti bahwa pada perokok yang telah satu tahun
berhenti merokok, risiko terhadap infark miokard menurun pada tingkat yang
hampir sama dengan orang yang tidak pernah merokok.
Dilaporkan pula, merokok lebih meningkatkan kejadian iskemi daripada progressi
ateroklerosis. Sesungguhnya merokok dapat menyebabkan peningkatan kebutuhan
oksigen miokard dan peningkatan energi sebesar 10 persen. Selain juga dapat
menyebabkan penurunan aliran darah koroner yang disebabkan karena
meningkatnya “alfa adrenergik” pada tonus koroner dan meningkatkan iskemi
miokard.
Merokok juga dapat mengurangi efektivitas obat anti angina. Peningkatan
kemampuan latihan dan penurunan serangan angina terjadi bila berhenti merokok
pada penderita yang mendapat obat beta blocker dan nifedipin. Mekanisme dari
perburukan simpton dan penurunan kapasitas latihan kemungkinan disebabkan
karena pengurangan pasokan oksigen ke miokard.
Download