opinio juris - Kementerian Luar Negeri

advertisement
DIREKTORAT JENDERAL HUKUM DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL
KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA
Volume 15  Januari—April 2014
ARTIKEL
Indonesia dan Hukum Internasional: Dinamika Posisi Indonesia terhadap
Hukum Internasional
Damos Dumoli Agusman
ASEAN dan Penguatan Rule of Law Hukum Hak Asasi Manusia di Kawasan
Asia Tenggara
Heribertus Jaka Triyana
Penerapan Rezim Extraterritorial Jurisdiction dalam Hukum Siber di
Indonesia
Purna Cita Nugraha
The Judicial Expansive Attitude towards Public Policy in Enforcement of
Foreign Arbitral Awards in Indonesia
Mahmudin Nur Al-Gozaly
RESENSI BUKU
Investor-State Arbitration
Muhammad Ferdien
ISTILAH HUKUM
i
Jurnal Hukum dan Perjanjian Internasional
OPINIO JURIS
Volume 15  Januari—April 2014
DIREKTORAT JENDERAL HUKUM DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL
KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA
2014
Jurnal Hukum dan Perjanjian Internasional
OPINIO JURIS
Volume 15  Januari—April 2014
Diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional
Kementerian Luar Negeri
Sejak Oktober 2009
Penanggung Jawab
Wiwiek Setywati Firman, SH.
Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, SH., MA
Redaktur
Yoshi Iskandar, SH.; Kemal Haripurwanto, SH., LL.M; Amrih Jinangkung, SH., LL.M;
Elmar Iwan Lubis, SH.; Drs.Sukarsono; Sudarsono, SH., MM; Rofita, SH; Zainul Idris
Yunus, SE; Fajar Yusuf SH., LL.M.
Editor
Nenda Inasa Fadhilah, SH., LL.M.; Santa Marelda Saragih,SH., MH.; Ratih
Wulandari, SIP.; Vina Novianti, S.Hum.; Rike Octaviany, SH., LL.M.; M. Ferdien, SH.;
Nova Maulani, SH., LL.M.
Disain Grafis
Abdul Hayyi, Asep Hermawan
Sekretariat
Uki Subki, S.Sos, M.Si.; Anisa Husna, S.Hum; Tasunah; Maisaroh, S.Sos., Sutono
Alamat Redaksi:
Sekretariat Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional
Kementerian Luar Negeri
Jl. Taman Pejambon No. 6 Jakarta Pusat
Telp. +62 21 3846633 Fax. +62 21 3858044; Email: [email protected]
Jurnal Opinio Juris versi digital dapat diunduh di website
http://pustakahpi.kemlu.go.id/
Tulisan yang dimuat dalam Jurnal Opinio Juris adalah pendapat dan
analisis pribadi dari para penulis dan tidak mewakili pandangan/posisi
Kementerian Luar Negeri dan/atau Pemerintah Republik Indonesia.
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
DAFTAR ISI
Daftar Isi .............................................................................................................v
Pengantar Redaksi ........................................................................................ vi
Indonesia dan Hukum Internasional: Dinamika Posisi Indonesia
terhadap Hukum Internasional ................................................................. 8
Damos Dumoli Agusman
ASEAN dan Penguatan Rule of Law Hukum Hak Asasi Manusia di
Kawasan Asia Tenggara.............................................................................. 45
Heribertus Jaka Triyana
Penerapan Rezim Extraterritorial Jurisdiction dalam Hukum
Siber di Indonesia ...................................................................................... 104
Purna Cita Nugraha
The Judicial Expansive Attitude Towards Public Policy in
Enforcement of Foreign Arbitral Awards in Indonesia ........... 12727
Mahmudin Nur Al-Gozaly
RESENSI BUKU ..........................................................................................1711
ISTILAH HUKUM .................................................................................... 17777
TENTANG PENULIS ............................................................................... 18080
v
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
PENGANTAR REDAKSI
Memasuki tahun keenam penerbitan Jurnal Opinio Juris telah
diterbitkan sebanyak 15 volume dengan berbagai macam topik dan isu
yang dimuat. Usia enam tahun terbitan sebuah Jurnal dengan
kekhususan di bidang hukum internasional merupakan upaya
mempertahankan keberadaan Jurnal Opinio Juris dan meningkatkan
kualitas tampilan dan isi tulisan secara terus menerus. Disamping itu
sirkulasi Jurnal Opinio Juris telah menyentuh berbagai kalangan baik
legislatif, eksekutif, yudikatif, misi diplomatik, lembaga kajian termasuk
civitas akademika terutama Fakultas Hukum diberbagai penjuru tanah
air. Tampilan dalam bentuk e-journal juga dapat dibaca melalui website
http://pustakahpi.kemlu.go.id.
Dalam Volume 15 tahun 2014 ini terdapat empat kontributor penulis
utama yaitu:
Dr. iur Damos Dumoli Agusman dengan judul tulisan Indonesia dan
Hukum Internasional – Dinamika Posisi Indonesia terhadap Hukum
Internasional¨; Purna Cita Nugraha dengan judul tulisan Penerapan
Rezim Extraterritorial Jurisdiction dalam Hukum Siber di Indonesia¨;
Mahmudin Nur Al-Gozaly dengan judul tulisan ¨The Judicial Expansive
Attitude towards Public Policy in Enforcement of Foreign Arbitral
Awards in Indonesia¨; dan Heribertus Jaka Triyana dengan judul tulisan
ASEAN dan Penguatan Rule of Law Hukum Hak Asasi Manusia di
Kawasan Asia Tenggara. Meskipun pada volume 15 ini hanya terdapat 4
tulisan, namun tulisan yang ada memuat isu yang beragam, dengan
harapan pembaca Jurnal dapat menikmati tulisan tersebut.
vi
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Redaksi Jurnal Opinio Juris membuka peluang seluas-luasnya bagi
pemerhati hukum internasional untuk menuangkan pemikiran, ide,
gagasannya dalam bentuk sumbangan tulisan dan secara bersama
mengembangkan Jurnal Opinio Juris sebagai salah satu dari sedikit Jurnal
Hukum Internasional yang ada di Indonesia.
Akhir kata Redaksi Jurnal Opinio Juris berharap agar jurnal ini dapat
menjadi wadah sumbangsih pemikiran di bidang hukum dan perjanjian
internasional yang berkaitan dengan pelaksanaan hubungan luar negeri.
Terima kasih dan selamat membaca.
Redaksi Opinio Juris
vii
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
INDONESIA DAN HUKUM INTERNASIONAL:
DINAMIKA POSISI INDONESIA TERHADAP
HUKUM INTERNASIONAL
Damos Dumoli Agusman
Abstract
Jurists had debated the relationship between international law and
national law for many years. They created the legendary theories,
namely monism and dualism and continue with adoption and
transformation theories. Within the historical perspective of Indonesia,
international law is the pro establishments that give the legitimation
for colonial state to colonize its colony. Therefore, international law is
different with the legal system of Indonesia and become a new element
within the architecture of Indonesian Law. The impact of the
aforementioned issue is Indonesian legal system had not concerned
with the existence of international law, particularly international
treaties.
The issue concerning relationship between international treaties and
national law in Indonesia become unique and interesting. Indonesian
tradition of international law had been colored by nationalistic
sentiment, resistance and the struggling against the colonial tone of
international law. This presumption and tradition will affect the
behavior of Indonesia toward international law as stated by Ko Swan
Sik.
Keywords: international law, national law, Indonesian legal system,
treaty law
A. Pendahuluan
Pakar
hukum
Belanda,
Lambertus
Erades,
pernah
mengekpresikan kegelisahannya bahwa “the relation between international
law and municipal law is a subject with which many generations of lawyers have
8
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
wrestled, are wrestling and will continue to wrestle”.1 Para pakar hukum
telah lama berdebat soal bagaimana hubungan kedua bidang hukum ini
yang akhirnya melahirkan teori legendaris yang disebut dengan monisme
dan dualisme dan berlanjut dengan derivatif-nya yaitu teori adopsi dan
transformasi. Studi tentang hubungan kedua hukum ini sudah banyak,
tidak hanya soal interaksi antara kedua hukum ini namun juga menguak
konflik diantara keduanya. Namun sayangnya, studi ini masih terbatas
pada negara-negara modern2 dan belum banyak mengkaji sistem-sistem
hukum di negara-negara berkembang. Belum banyak terkuak bagaimana
hubungan hukum internasional dan hukum nasional di negara-negara
baru yang lahir setelah PD II dan yang melepaskan diri tradisi hukum
kolonialnya seperti Indonesia.3
Negara-negara bekas koloni, yang mewariskan sistem hukum
negara penjajahnya, lebih gampang menjelaskan hubungan kedua hukum
ini karena negara-negara ini cenderung mewarisi sistem hukum yang
dianut oleh negara penjajahnya yang telah menyediakan doktrin untuk
1 Lambertus Erades, ‘International Law and the Netherlands Legal Order’, di H.F. van Panhuys (ed.),
International Law in the Netherlands, vol. III (1980), 376.
2 Andrea Bianchi, ‘International Law and US Courts: the Myth of Lohengrin Revisited’, 15 EJIL (2004)
4, 751; Tidak seperti pengalaman negara-negara Barat, Ko berargumen bahwa Negara-negara Asia
tidak pernah membahas masalah ini, lihat Swan Sik Ko, ‘International Law in Municipal Legal Orders
of Asian States: Virgin Land’, di Ronald St. J. Macdonald (ed.), Essays in Honour of Wang Tieya
(1994), 740.
3 Studi komparatif dengan merujuk pada beberapa system hukum Negara berkembang dalam proses
penyusunan perjanjian internasional dan status domestik perjanjian internasional dapat ditemukan di
Duncan B Hollis, Merritt R. Blakeslee and L. Benyamin Ederington (eds), National Treaty Law and
Practice (2005); David Sloss (ed.), The Role of Domestic Courts in Treaty Enforcement, A Comparative
Study (2009); Dinah Shelton (ed.), International Law and Domestic Legal Systems: Incorporation,
Transformation and Persuasion (2011).
9
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
persoalan ini.4 Bekas jajahan Inggris akan serta merta mewarisi sistem
common law yang telah menyediakan doktrin untuk persoalan hubungan
hukum internasional dan hukum nasional yang cenderung menganut
dualisme, namun untuk Indonesia persoalan ini tampaknya belum jelas.5
Indonesia adalah negara baru yang memperoleh kemerdekaannya
dan pejajahan Belanda dengan perjuangan pahit. Akibatnya, Indonesia
cenderung anti penjajah dan menjadi tidak antusias mengadopsi tradisi
hukum Belanda sehingga cenderung membangun sistem hukumnya
sendiri.6 Bagi Indonesia, secara historis hukum internasional adalah pro
establishement yang memberi legitimasi bagi negara penjajah untuk terus
menjajah negara jajahannya. Hukum internasional pada waktu itu
menjadi sangat tidak bersahabat bagi Indonesia. Itulah sebabnya, hukum
internasional menjadi agak asing bagi sistem Indonesia dan menjadi
elemen yang cenderung baru dalam arsitektur hukum Indonesia.
Akibatnya, bagaimana sistem hukum Indonesia menyikapi hukum
4 Tiyanjana Maluwa, ‘The Incorporation of International Law and its Interpretational Role in
Municipal Legal Systems in Africa: An Exploratory Survey’, 23 SAYIL (1998), 48.
5 Bekas koloni Inggris di dunia berkembang seperti Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh dan
lainnya) dan di Asia Tenggara (Malaysia, Singapora, Brunei Darussalam) akan tanpa terelakkan
menerapkan prinsip common law Inggris pada status perjanjian internasionalnya. Namun Shaw
memberi kesan bahwa hal tersebut akan berbeda pada Negara civil law, lihat Malcolm N. Shaw,
International Law (1997), 123.
6 Swan Sik Ko mengkategorikan Negara-negara tersebut sebagai tanah perawan, lihat Sik Ko (note 4),
737-752.
10
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
internasional khususnya perjanjian internasional belum mendapatkan
perhatian dalam sistem hukum ini.7
Persoalan tentang hubungan perjanjian internasional dan hukum
nasional menjadi sangat menarik dan unik. Pengalaman sejarah Indonesia
sedikit banyak dapat menjelaskan relasi ini. Indonesia melepaskan diri
dari sistem kolonialisme Belanda yang waktu itu dilabelkan sebagai
dunia Barat, dunia yang menciptakan “hukum internasional”. Tradisi
Indonesia sudah diwarnai oleh sentimen nasionalisme, resistensi dan
perlawanan terhadap apa yang diyakini sebagai “hukum internasional
kolonial”. Persepsi dan tradisi ini, seperti kata Ko Swan Sik8 akan
mewarnai sikap Indonesia terhadap hukum internasional.
Indonesia memisahkan diri dari Belanda dengan cara revolusioner
dan dengan demikian menolak mewarisi tradisi hukum Belanda tentang
hukum internasional.9 Indonesia membangun sistem hukumnya sendiri
dan menetapkan sikap tersendiri terhadap hukum internasional.
Sekalipun mempertahankan tradisi civil law
Belanda, Indonesia
merumuskan UUD-nya sendiri setelah kemerdekaan.
Sejak kemerdekaan, Indonesia berjuang keras untuk memperoleh
pengakuan internasional yang akhirnya diperoleh pada tahun 1949.
7 Satu-satunya sumber berbahasa Inggris mengenai hukum perjanjian internasional Indonesia hanya
ada pada Swan Sik Ko, The Indonesian Law and Treaties 1945-1990 (1993).
8 Sik Ko (note 4), 738.
9 Selama masa kolonial, Indonesia tidak memiliki sistem hukum yang mengatur perjanjian
internasional karena merupakan bagian dari Belanda dan tidak memiliki kedaulatan. Setelah masa
kemerdekaan, Indonesia mewarisi sebagian besar sistem hukum Belanda (hukum perdata dan
hukum pidana) terkecuali hukum konstitusi.
11
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Setelah itu, Indonesia mengalami 3 periode rejim pemerintahan, pertama
disebut dengan ‘orde lama’10 yang ditandai dengan sistem demokrasi
terpimpin oleh Presiden Sukarno yang sangat dominan dalam politik
nasional. Pada awalnya Presiden Sukarno berorientasi pada demokrasi
namun lambat laun mengarah pada pelanggengan kekuasaan yang
ditandai dengan istilah Presiden seumur hidup. Krisis ekonomi pada
tahun 1960-an menggiring keruntuhan rejim ini dan selanjutnya diganti
dengan rejim ‘orde baru’ yang dipimpin oleh pemerintahan militer
Presiden Soeharto. Krisis ekonomi yang sama terjadi pada tahun 1998 dan
juga memaksa rejim orde baru ini mengakhiri kekuasaannya yang
kemudian diganti dengan rejim ketiga yaitu rejim ‘reformasi’ yang
menguasai sampai saat ini.
Pada masa rejim otoriter baik orde lama maupun orde baru,
perdebatan tentang hubungan hukum internasional dan hukum nasional
tidak berkembang. Sistem politik yang dominan pada waktu itu dengan
serta merta akan memberikan jawaban politik terhadap persoalan juridis
ini. Persoalan ini tidak kontroversial dan tidak merangsang publik untuk
membahas persoalan ini dari segi hukum. Namun di era reformasi
pertanyaan tentang status hukum dari suatu perjanjian internasional di
dalam sistem hukum Indonesia sudah mulai mencuat. Pertanyaan ini
lahir karena tekanan dari dua arah secara bersamaan yaitu internal
10 Istilah ‘orde lama’ (1945-1966) diperkenalkan dan dipergunakan oleh rejim ‘orde baru’ (1966-1999).
12
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
maupun eksternal. Secara internal, Indonesia mulai mempraktekkan
demokrasi modern yang harus ditandai dengan prinsip rule of law,
partisipasi parlemen, pembagian kekuasaan dan kepastian hukum.
Prinsip-prinsip demokrasi ini menuntut adanya ketegasan hukum
tentang status suatu perjanjian internasional dalam sistem hukum.
Tekanan eksternal terjadi akibat globalisasi. Ciri utama dari
globalisasi adalah semakin kaburnya batas perbedaan antara hukum
internasional dan hukum nasional. Dewasa ini telah lahir banya
perjanjian internasional yang bersifat intrusif ke hukum nasional seperti
perjanjian tentang lingkungan hiudp, HAM dan perdagangan. Sifat
intrusif dari perjanjian ini telah mendorong para pakar Indonesia untuk
menemukan jawaban terhadap status perjanjian ini dalam kaca mata
hukum nasional.
B. Respon Indonesia terhadap Hukum Internasional
1. Sikap Permusuhan (1945-1966)
Indonesia memiliki sikap yang sama dengan negara-negara Asia
pada umumnya terhadap hukum internasional, yakni selektif: memilih
norma hukum internasional yang bermanfaat bagi perjuangannya dan
menolak norma yang merugikannya.11 Sikap ini selaras dengan
pengalaman sejarahnya yang melihat hukum internasional sangat
11 James Leslie Brierly, The Law of Nations (1963), 43-44; J.J.G. Syatauw, Some Newly Established
Asian States and the Development of International Law (1961), 221.
13
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
menguntungkan negara penjajah dan sebaliknya merugikan setiap negara
yang hendak merdeka karena karakternya yang ‘separatism”.12 Sentimen
ini telah mendorong para pendiri bangsa untuk mencap bahwa
kolonialisme adalah dunia Barat si pencipta hukum internasional.
Hukum ini menjustifikasi penundukan bangsa Asia Afrika terhadap
kolonialisme.13 Sebaliknya, proklamasi kemerdekaan oleh dunia Barat
dituduh
sebagai
tindakan
sepihak
yang
melanggar
hukum
internasional.14
Berakhirnya perang kemerdekaan ditandai dengan pembentukan
the Netherlands-Indonesia Union pada tahun 1949 dan sejak itu sikap
Indonesia terhadap hukum internasional berorientasi pada Belanda yakni
sangat bersahabat. Namun sikap bersahabat ini hanya berlansung singkat
karena sejak 1950 Indonesia memutuskan secara sepihak Konferensi Meja
12 Kemerdekaan Indonesia terjadi sebelum kaidah self-determination yang dikembangkan dalam UN
Universal Declaration of Human Rights 1948 dan Declaration of Granting Independence to Colonial
People and Countries, 1960. Pada tahap selanjutnya, seiring proses dekolonialisasi setelah Perang
Dunia Kedua, pandangan Negara berkembang terhadap hukum internasional telah menjadi topik
klasik di buku-buku hukum internasional, lihat N. Shaw (note 7), 36-39; Michael Akehurst, Modern
Introduction to International Law (1977), 29; Antonio Cassese, International Law (2005), 115-123.
Beberapa peneliti membahasnya dalam topik “Third World Approaches to International Law”, lihat
B.S. Chimni, ‘Third World Approaches to International Law: Manifesto’, 8 International Community
Law Review (2006), 3-27; David P. Fidler, ‘Revolt Against of From Within the West? TWAIL, the
Developing World, and the Future Direction of International Law’, 2 Chinese JIL (2003) 29, 1-46;
Antony Anghie and B.S. Chimni, ‘Third World Approaches to International Law and Individual
Responsibility in Internal Conflicts’, 2 Chinese JIL (2003) 1, 77-103.
13 Persepsi terhadap hukum internasional sebagai penopang kolonialisme dimiliki oleh sebagian
besar orang Asia pada abad ke-20, lihat Muthucumaraswamy Sornarajah, ‘Asian Perspective to
International Law in the Age of Globalization’, 5 Sing. J. Int'l & Comp. L. (2001) 2, 284-313.
14 Sunaryati Hartono, ‘The Interaction between National Law and International Law in Indonesia’, di
Paul Waart, Paul Peters and Erik Denters (eds), International Law and Development (1988), 35.
14
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Bundar 1949, yang waktu itu dikritik sebagai melanggar hukum
internasional. Sejak itu, seiring dengan memburuknya hubungan
Indonesia dengan Belanda, sikap anti Barat semakin menguat dan
cenderung menjadi identik dengan sikap anti hukum internasional. Sikap
Indonesia menjadi sangat anti Barat dan cenderung membangkitkan
semangat
revolusi
yang
pernah
dikobarkan
pada
era
perang
kemerdekaan.15 Akibatnya, sentimen ini berimbas pada sikap yang sama
yaitu anti terhadap hukum internasional.
Beberapa kebijakan Indonesia pada era ini sangat sarat dengan
perlawanan terhadap hukum internasional. Pada tahun 1957, kekecewaan
Indonesia terhadap PBB semakin memuncak karena PBB dianggap tidak
lagi membantu Indonesia dalam pertikaian dengan Belanda atas Irian
Barat sehingga pada tahun 1958 Indonesia mengeluarkan PP No. 23 tahun
1958 yang menasionalisasikan semua Perusahaan Belanda di Indonesia.
Berdasarkan penjelasan dari PP ini, kebijakan ini diambil dalam rangka
penyelamatan kelangsungan dan kelancaran ekonomi akibat perjuangan
pembebasan Irian Barat. Kebijakan nasionalisasi ini telah menimbulkan
kontroversi dan melahirkan gugatan terhadap Indonesia di pengadilan
Jerman.16 Para pakar hukum internasional juga angkat bicara mengkritisi
15 B.H. Vlekke, Indonesia in 1956 (1957), 9.
16 Decision of Landesgericht 1958 and Oberlandesgericht Bremen 1959, De Vereingde Deli
Maatschapijen vs Deutsch-Indonesischen Tabak Handels G.m.b.H; Martin Domke, ‘Indonesian
Nationalisation Measures before Foreign Courts’, 54 AJIL (1960) 2, 205-323 and the reply by Hans W.
Baade, ‘Indonesian Nationalization Measures Before Foreign Courts- a Reply’, 54 AJIL (1960), 801-835.
15
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
kebijakan ini sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.17 Pakar
hukum internasional Mochtar Kusumaatmadja sendiri mengakui bahwa
kebijakan ini prima facie bertentangan dengan hukum internasional
tentang perlindungan warga asing beserta propertinya.18
Resistensi Indonesia terhadap hukum internasional memuncak
pada waktu munculnya ancaman strategis yang diakibatkan oleh hukum
laut yang berlaku pada saat itu. Lebar laut yang hanya diperkenankan 3
mil telah mengakibatkan Indonesia dipisahkan oleh laut bebas dan
membuka ruang bagi kebebasan kapal-kapal perang Belanda di tengahtengah perebutan Irian Barat. Akibatnya Indonesia melihat hukum laut
yang berlaku saat itu sangat merugikan kelangsungan hidup Indonesia
karena wilayah Indonesia menjadi tercerai-berai dan sangat rawan
terhadap disintegrasi oleh daerah-daerah yang pada waktu itu cenderung
menguat. Ancaman ini menimbulkan persoalan ketahanan dan keamanan
negara dan semakin meningkatkan sentimen negatif bahwa hukum
internasional tidak adil.19
Sebagai reaksi terhadap ketidakadilan hukum laut ini maka pada
tahun 1957 Indonesia mengeluarkan deklarasi unilateral yang terkenal
17 Board of Editors, ‘The Measure Taken by Indonesian Government against the Netherlands
Enterprises’, 5 NILR (1958) 3, 227-247; Lord McNair, ‘The Seizure of Property and Enterprises in
Indonesia’, 6 NILR (1959) 3, 218-256; Alfred Verdross, ‘Die Nationalisierung niederländischer
Unternehmungen in Indonesien im Lichte des Völkerrechts’, 6 NILR (1959) 3, 278-290.
18 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional (1976), 48-49.
19 Beberapa penulis seperti Sornarajah menyatakan bahwa: ‘once free, the new States began to
construct a series of principles of international law that conserved their interest’, lihat Sornarajah
(note 15), 286.
16
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
dengan Deklarasi Djuanda. Deklarasi ini menegaskan bahwa laut yang
berada diantara pulau-pulau adalah laut yang menghubungkan pulaupulau ketimbang memisahkannya. Untuk itu, Deklarasi menetapkan
penarikan garis pangkal lurus yang menghubungkan titik-titik terluar
dari pulau-pulau terluar dan selanjutnya mengklaim bahwa perairan
didalamnya yang semula adalah laut bebas menjadi perairan pedalaman.
Deklarasi ini tentu saja mengundang protes keras dari negara-negara
Barat20 khususnya Amerika Serikat21 yang menganggap Deklarasi ini
sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional. Walaupun deklarasi
ini ditolak dalam Konferensi Jenewa 1958 tentang Hukum Laut, Indonesia
tetap bersikukuh dengan kebijakan ini dengan mengeluarkan UU No. 4
Tahun 1960 yang mempertahankan
sikap
‘persistent non-compliance’
terhadap ‘international law’, sampai akhirnya gagasan ini diterima dalam
Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut.
Sikap apatis terhadap hukum internasional semakin meningkat
manakala politik luar negeri Indonesia mendekat ke blok sosialis Russia
dan China di era perang dingin, dan eskalasinya semakin buruk pada
tahun 1963 waktu Presiden Soekarno menggagas ide kontroversial
tentang ‘new emerging forces’ (NEFOS) yang mewakili negara-negara Asia,
Amerika Latin, negara-negara sosialis dan berhadapan dengan apa yang
dia sebut sebagai ‘old emerging forces’ (OLDEFOS) yang merujuk pada
20 Daniel P. O’Connell, The International Law of the Sea (1982), 39.
21 Arthur H. Dean, ‘The Second Geneva Conference on the Law of the Sea: The Fight for Freedom of
the Seas’, 54 AJIL (1960) 4, 753.
17
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
negara-negara kapitalis. Gerakan ini berakhir ketika Soekarno dipaksa
turun dari kekuasaannya pada tahun 1966. Sikap perlawanan terhadap
hukum internasional mencapai klimaks pada saat Indonesia melalui
suratnya tanggal 20 January 1965 menyatakan mundur
22
dari
keanggotaan PBB dan semua organnya dengan dasar pertimbangan sbb:
… that in the circumstances which have been created by colonial
powers in the United Nations so blatantly against our anticolonial struggle and indeed against the lofty principles and
purposes of the United Nations Charter, the Government felt
that no alternative had been left for Indonesia but withdrawal
from the United Nations.
Sikap permusuhan Indonesia terhadap hukum internasional juga
memperoleh dukungan dari para pakar Indonesia. Dalam rangka
pembelaan terhadapa posisi Indonesia yang menarik diri sepihak dari
Perjanjian Konferensi Meja Bundar 1949 yang dituduh sebagai
pelanggaran pacta sunt servanda, Roeslan Abdulgani, berpendapat bahwa
tindakan itu bisa dibenarkan berdasarkan prinsip rebus sic stantibus.23
22 Piagam PBB tidak memiliki aturan terkait mundurnya Negara dari PBB sehingga ada argument
bahwa tindakan Indonesia tidak memiliki dasar hukum, lihat Egon Schwelb, ‘Withdrawal from the
United Nations: the Indonesian Intermezzo’, 61 AJIL (1967), 661-672. Pada tahun 1966, keanggotaan
Indonesia berlanjut dan Sekjen PBB U Thant menganggap bahwa mundurnya Indonesia sebagai
penangguhan tindakan Indonesia di PBB. Oleh karenanya, Indonesia tetap harus membayar
kontribusi tahunan selama masa penangguhan tersebut, lihat Kusumaatmajda (note 20), 89-99.
23 Roesland Abdulgani, Hukum dalam Revolusi dan Revolusi dalam Hukum (1965), 36.
18
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Dalam pernyataannya di London Conference on the Suez Canal Crisis 1956,
Abdulgani
mengklarifikasi
posisi
Indonesia
terhadap
perjanjian
internasional dengan menyatakan:
Mr. Chairman, I understand fully Sir Anthony Eden’s remarks
this morning about respect for the sanctity of international law.
However Mr. Chairman, I should add one comment upon this,
and that is that most of international treaties which are a
reflection of international law do not respect the sanctity of men
as equal human beings irrespective of their race, or their creed or
locality. Most of the existing laws between Asian and African
and the old-established western world are more or less outmoded
and should be regarded as a burden of modern life. They should
be revised and be made more adaptable to modern international
relations and the emancipation of all parts of mankind.24
Presiden Soekarno juga menggunakan dalil yang diungkapkan
oleh Roeslan Abdulgani diatas dalam setiap pidato retorikanya yang
akhirnya berhasil menarik hati rankyat Indonesia untuk mendukung
kebijakan anti terhadap hukum internasional. Soekarno mengkritik para
ahli yang terlalu menekankan pada kesakralan perjanjian internasional
karena setiap perjanjian harus dapat direvisi jika bertentangan dengan
24 Pidato Menlu RI pada London Conference on Suez Canal, Aug. 16, 1956, in Abdulgani (note 25),
59.
19
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
keadilan dan kemanusiaan. Menurut Soekarno, perjanjian internasional
yang merestui penjajahan harus segera diakhiri.25 Pakar hukum lain yang
mengecap pendidikan di Belanda, Muhammad Yamin, juga mengkritik
hukum internasional yang berlaku saat itu sebagai ciptaan Eropa Barat
dimana negara-negara Eropa Timur dan Asia tidak terlibat dalam
permubataannya.26
Sentimen anti hukum internasional ini telah mengkristal menjadi
persepsi publik dan mengakibatkan perkembangan hukum internasional
pada era ini di Indonesia sangat lambat bahkan mengarah ke apatisme.
2. “Sikap Bersahabat” Era Orde Baru (1966-1998)
Sejak 1966, Indonesia dibawah kekuasaan rejim orde baru yang
dipimpin oleh Presiden Soeharto sampai tahun 1998. Rejim ini ditandai
dengan
dominasi
mengambil
kekuasaan
keputusan
ketatanegaraan
eksekutif
politik
sebelumnya
yang
telah
yang
sangat
mendorong
senantiasa
solid.
rejim
mampu
Pengalaman
ini
untuk
menekankan stabilitas politikd dan ekonomi sehingga menutup ruang
adanya perubahan konstitutional yang bakal rawan terhadap stabilitas
dimaksud.
Di bawah rejim ini, sikap terhadap hukum internasional
cenderung “bersahabat” karena kiblat politik luar negeri-nya sangat
25 President Soekarno’s Speech on Aug. 17, 1959, Bahan-bahan Pokok Indoktrinasi (1964), 33.
26 Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, vol. III (1960), 48.
20
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
bersahabat dengan dunia Barat. Terjadi pergeseran yang signifikan dari
yang semula bermusuhan menjadi lebih berkerjasama dengan dunia
internasional. The attitude had moved from being hostile to being more
cooperative with respect to international law. Pergeseran ini ditegaskan
oleh pakar hukum internasional, Mochtar Kusumaatmadja, yang
berupaya mencari keseimbangan antara kebutuhan negara-negara
berkembang dan stabilitas hukum internasional yang berlaku saat itu.
Dia menyadari bahwa hukum internasional yang berlaku mungkin sudah
usang dan tidak lagi sesuai dengan perubahan masyarakat internasional.
Namun dalam menyikapi keusangan hukum internasional ini sikap
penolakan Indonesia tidak harus diartikan sebagai pelanggaran hukum
ini. Selanjutnya dia mengembangkan dalil bahwa Indonesia dapat saja
tidak menerapkan norma hukum internasional yang usang itu sepanjang
Indonesia juga memperhatikan kepentingan hukum negara-negara lain.
Dalam hal ini Indonesia sangat ingin berkontribusi terhadap perubahan
hukum internasional yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat
internasional yang telah berubah ini.27
Politik luar negari Indonesia selanjutnya terinspirasi dengan
gagasan konstruktif dari Mochtar Kusumaatmadja sehingga penolakan
terhadap hukum laut internasional yang kerasa di jaman orde lama
bergeser menjadi politik keterlibatan yang konstuktif di jaman orde baru.
Sejak era ini, Indonesia tidak lagi menolak membabi buta hukum laun
27 Kusumaatmadja (note 20), 63.
21
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
namun turut aktif menegosiasikan klaim Deklarasi Djuanda-nya pada
rangkaian perundingan hukum laut di PBB yang berakhir dengan
diterimanya konsep negara kepulauan pada
Konferensi PBB tentang
Hukum Laut 1982.28 Suksesnya Indonesia memeperoleh pengakuan atas
apa yang selama ini dinilai sebagai “pelanggaran hukum internasional”
telah mengubah pola pikir para ahli bahwa apa yang dilakukan oleh
Indonesia
adalah
“membuat
hukum
internasional”
melanggarnya (making instead of breaking international law).29
ketimbang
Mochtar
Kusumaatmadja30 selalu menekankan bahwa klaim unilateral yang
didorong oleh kebutuhan prinsip suatu negara dapat mengkristal
menjadi suatu norma hukum baru berdasarkan kebiasaan internasional.
Dalam hal ini menurunya, klaim unilateral dari negara berkembang,
terlepas apakah itu destruktif atau konstruktif terhadap hukum
internasional pada awalnya, tidak harus berarti tetap desruktif pada
akhirnya. Dalil ini telah dibuktikan dengan pengalaman Indonesia di
bidang hukum laut.
Mengingat bahwa rejim order baru didukung oleh kekuasaan
militer yang kuat di wilayah politik, hukum internasional juga dimaknai
28 The Archipelagic concept for which Indonesia sought international recognition had been submitted
to the UN Conference by Mochtar Kusumaatmadja in a well descriptive international legal policy, see
Kusumaatmadja, Konsepsi Hukum Negara Nusantara pada Konferensi Hukum Laut ke III (The
Legal Concept of Archipelagic State at Conference of Law of the Sea)(1977).
29 Barbara Kwiatkowska, ‘The Archipelagic Regime in the Philippines and Indonesia, Making or
Breaking International Law’, 6 International Journal of Estuarine (1991) 1, 13-30.
30 Kusumaatmadja (note 20), 56-65.
22
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
dan diperlakukan dalam konteks berdasarkan politik ketimbang hukum.
Dalam hal ini kehendak politik Presiden sangat menentukan tentang
bagaimana hukum internasional beroperasi di wilayah hukum nasional.
Sehingga tidaklah mengherankan jika keputusan politik lah yang
mendorong Indonesia menerima jurisdiksi Mahkamah Internasional
untuk penyelesaian konflik pulau Sipadan dan Ligitan dengan Malaysia
pada tahun 1997. Kekuatan politik pula yang mendorong Indonesia
mengintegrasikan Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia tahun 1976,
yang oleh masyarakat internasional dinilai sebagai pelanggaran hukum
internasional.31 Artinya, hukum internasional tidak berakar pada sistem
hukum nasional melainkan ditegakkan dan bahkan dilanggar oleh
pertimbangan politik yang kuat.
Issue HAM sangat menonjol di era orde baru. Dalam hal ini
Indonesia
mengembangkan
prinsip
hukum
internasional
tentang
penolakan campur tangan asing kedalam masalah dalam negeri dalam
rangka serangan internasional di bidang HAM.32 Mengingat kekuatan
militer di Indonesia berorientasi pada keamanan nasional yang acap kali
memasuki wilayah sipil, maka hukum internasional tentang HAM
31 Pada tahun 1975 Indonesia ‘menganeksesi’ Timor Timur dengan merujuk pada hak selfdetermination yang telah ditunjukan oleh perwakilan rakyat Timor Timur melalui Balibo Declaration
of 1975. PBB tidak mengakui klaim Indonesia bahwa rakyat Timor Timur telah mempergunakan hak
self-determination dan tetap menyimpan isu tersebut di Agenda sampai tahun 1999, dimana setelah
referendum yang disponsori PBB, Timor Timur menjadi negara merdeka.
32 Anja Jetschke, ‘Linking the Unlinkable? International Norms and Nationalism in Indonesia and the
Philippines’, di Thomas Risse, Stephen C. Ropp and Kathryn Sikkink (eds), The Power of Human
Rights: International Norms and Domestic Change (1999), 141; Bahwa sosialisasi suatu negara pads
norma HAM international dapat dibagi pada model spiral 5 fase: 1. Represi; 2. Penyangkalan; 3.
Konsesi taktis; 4. Status preskriptif; 5. Tingkah laku yang mengikuti aturan secara konsisten.
23
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
menjadi tidak kompatibel dengan politik pemerintah. Kecaman HAM
terhadap
Indonesia
semakin
memuncak
pada
waktu
Indonesia
menduduki Timor Timur pada tahu 1975. Dalam rangka menjawab
kecaman internasional ini, Indonesia menggalang kekuatan Asia dan
mengembangkan konsep Asian value dengan melahirkan apa yang
disebut konsep cultural relativism (melawan Western universality of human
rights)33 yang oleh dunia akademisi dikecam sebagai upaya untuk
melegitimasi kekuasaan otoriter.34
Kebijakan HAM ini pada hakekatnya didasarkan pada konsep
tentang negara integral yang telah digagas oleh Professor Soepomo pada
watu pendirian negara di awal kemerdekaan, yang pada waktu itu
menolak ide individualisme.35 Pada tahap persiapan kemerdekaan RI, ide
negara integralistik dinilai lebih berakar pada kultur Indonesia yang
menekankan bahwa hak individu dan hak negara tidak dapat dipisahkan.
Ide ini secara efektif diterapkan oleh pemerintah order baru sehingga
tidak membuka ruang bagi penghormatan HAM individu seperti yang
dibayangkan oleh dunia Barat.
33 R.J. Vincent, Human Rights and International Relations (2001), 39-48.
34 Knut D. Asplund, ‘Resistance to Human Rights in Indonesia’, 10 Asia-Pacific Journal on Human
Rights and Law (2009) 1, 27-47.
35 Prof. Soepomo, anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia,
menyatakan di depan BPUPKI bahwa ide ‘negara totaliter’ seperti Jerman di bawah Nazi atau Jepang
sebelum PD II agar dipakai pada negara Indonesia, lihat Supomo, ‘Integralist State’ di Herbert Feith
and Lance Castles (eds), Indonesian Political Thinking 1945-1966 (1970), 188-192.
24
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
3. Hukum International di Era Reformasi (1998-sekarang)
Rerformasi politik yang berlangsung sejak 1999 telah melahirkan
perubahan
radikal
dalam
sistem
hukum
dan
kelembagaan
ketatanegaraan Indonesia. Dalam perubahan radikal ini, hukum
internasional sayangnya belum memperoleh perhatian yang memadai
dan bahkan tidak melahirkan sama sekali aturan konstitusi tentang
hukum internasional. Luputnya perhatian politik terhadap hukum
internasional dapat dimaklumi. Reformasi yang terjadi sejak tahun 1998
dipicu oleh tekanan politik domestik dalam rangka menyelesaikan
persoalan dalam negari akibat krisis multi dimensi yang dipicu oleh krisi
ekonomi.
Sehingga
arah
reformasi
lebih
diorientasikan
pada
pembangunan kelembagaan konstitusional dimana hukum internasional
bukan merupakan prioritas. Dalam konteks ini gerakan reformasi tidak
melihat ada yang salah dalam hukum internasional dalam sistem hukum
Indonesia dan kalau pun ada tidaklah langsung bersentuhan persoalan
reformasi itu sendiri. Oleh sebab itu persoalan status hukum internasional
tidaklah merupakan agenda penting dalam reformasi.
Faktor utama lainnya yang mengakibatkan hukum internasional
tidak menjadi perhatian reformasi adalah karena disiplin hukum ini tidak
terlalu popular dalam kesharian masyarakat dan tidak terlalu menarik
minat publik Indonesia. Hukum internasional masih dipahami sebagai
bidang yang ekslusif tugas pemerintah khususnya kementerian luar
negeri. Ketertarikan terhadap hukum internasional masih terbatas pada
komunitas akademis dan itu pun masih diajarkan secara minimalis dan
25
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
masih jauh dari standar negara-negara maju36 sehingga studi dan
penelitian tentang hukum internasional masih sangat langka.37 Sekalipun
merupakan mata kuliah dalam berbagai universitas, hukum ini masih
diajarkan secara terisolasi tanpa perlu mengkaitkannya dengan hukum
nasional. Di lain pihak, disiplin hukum tata negara dan administrasi
negara telah berkembang dengan pesat di Indonesia namun agak
membisu soal hukum internasional. Bab tentang hubungan hukum
internasional dan hukum nasional sekalipun diajarkan di mata kuliah
hukum internasional jarang merujuk kepada praktik Indonesia dan kalau
pun ada hanya bersifat indikasi saja.38 Pakar hukum Indonesia secara
umum masih belum memiliki minat untuk mendalami tentang status
hukum internasional di dalam sistem hukum nasional.
Sampai pada tahun 2000-an, hubungan hukum internasional dan
hukum nasional belum menjadi perhatian akademis dan belum
menyinggung kepentingan praktis para praktisi sehingga bukanlah
36 Hikmahanto Juwana, ‘Teaching International Law in Indonesia’, 5 Sing. J. Int'l & Comp. L. (2001)
412, 412-415.
37 Beberapa ahli hukum telah meneliti masalah perjanjian internasional dari kebijakan hukum
Indonesia namun kebanyakan berpusar pads masalah pembuatan perjanjian internasional bukan
malah status perjanjian internasional di hukum Indonesia, seperti Harjono, Politik Hukum Perjanjian
Internasional (1999); Swan Sik Ko turut menulis secara singkat mengenai Hukum Indonesia dalam
keterkaitannya dengan perjanjian internasional, lihat Swan Sik Ko, The Indonesian Law and Treaties
1945-1990 (1994).
38 Ahli hukum Indonesia di era 1950 seperti Prof. Utrecht dan Prof. Kusumaatmadja di 1980s telah
mengindikasikan bahwa Indonesia cenderung mempergunakan pendekatan monisme, lihat E.
Utrecht and Moh. Saleh Djindang, Pengantar dalam Hukum Indonesia (1983), 120; Kusumaatmadja
(note 20), 65-67.
26
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
merupakan isu yang kontroversial. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor
sbb:
Pakar konstitusi/tatanegara dan pakar hukum internasional di
Indonesia masih terpaku dengan wilayah disiplinnya sendiri-sendiri dan
memandang hukum internasional menurut perspektif masing-masing.39
Bagi pakar konstitusi/tatanegara, perjanjian internasional secara teoritis
adalah sumber hukum tatanegara. Sedangkan bagi pakar hukum
internasional, perjanjian internasional adalah dokumen hukum yang
tunduk pada hukum internasional. Pakar hukum internasional tidak
tertarik untuk membahas status hukum ini dalam sistem hukum nasional.
Karena perjanjian internasional ditangani oleh eksektuf yang kuat dan
dominan maka issue-issue praktis tentang perjanjian internasional tidak
pernah muncul dalam wacana dan perdebatan publik.
Jika timbul
permasalahan maka keputusan politik akan dengan serta merta
menuntaskannya tanpa hiruk pikuk debat publik. Komunitas akademis
menjadi tidak terstimulasi untuk memperdebatkannya dan kalaupun
didiskusikan maka akan terlihat kurangnya aspek-aspek internasional
dari hukum tatanegara, dan sebaliknya lemahnya pembahasan aspek
konstitusional dari hukum internasional.
Sejak kemerdekaan RI tahun 1945, dunia akademisi Indonesia
diwarnai oleh sentimen nasionalisme yang tinggi dan memandang
39 Situasi ini turut disebabkan oleh struktur Fakultas Hukum di Indonesia dimana hukum
konstitusi/administrasi dan hukum internasional adalah subjek terpisah dengan departemen yang
berbeda.
27
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
hukum internasional sebagai hukum kolonial. Para pakar akan melirik
hukum internasional hanya jika mempengaruhi kepentingan hukum
nasionalnya.40
Sebagai negara kepulauan (archipelagic state), Indonesia berada
pada wilayah terpencil yang jauh dari interkasi lintas perbatasan.
Hubungan
internasional
hanya
dilihat
sebagai
hubungan
antar
pemerintah ketimbang hubungan antar manusia. Pola pikir ini
mendorong para pakar untuk bersikap konservatif tentang hukum
internasional sehingga hanya memandang perjanjian internasional
sebagai dokumen antar negara urusan ekslusif kementerian luar negeri.
Pertanyaan tentang status domestik dari perjanjian internasional tidak
meyangkut kepentingan publik sehingga tidak menjadi perhatian para
pakar konstitusi/tatanegara maupun pakar hukum internasional.
C. Perlunya
Rejim
Hukum
yang
jelas
tentang
Perjanjian
Internasional dalam transisi demokrasi Indonesia
1. Konsekuensi
dari
Sistem
Hukum
yang
berlandaskan
Demokrasi
Indonesia sedang menuju ke arah sistem demokrasi penuh. Dalam
suatu negara demokrasi, prinsip rule of law/Rechtsstaat, yang bercirikan
legalitas, kepastian hukum dan equality adalah bagian yang tidak
40 Hukum laut menjadi subjek yang menarik pada tahun 1960-1982 saat Indonesia mengajukan
kepentingan strategies national pada konsep kepulauan internasional ke PBB.
28
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
terpisahkan. Semua negara demokrasi pada umumnya akan mengalami
tuntutan tentang elemen-elemen ini yang pada akhirnya harus
memperjelas tentang status perjanjian dalam sistem hukum nasionalnya.
Mengingat perjanjian internasional akan menciptakan hak dan kewajiban
terhadap individu maka validitasnya dalam hukum nasional harus jelas
secara konstitutional dan tidak didasarkan pada suatu diskresi semata.
Dengan kata lain, rejim hukum yang jelas yang mengatur status
perjanjian dalam hukum nasional adalah conditio sine quo non untuk suatu
sistem negara demokrasi. Proses transisi demokrasi di Indonesia
mensyaratkan rejim hukum yang jelas tentang hukum internasional.
Sebelum menjadi negara demokrasi, pada umumnya suatu negara
tidak memiliki rejim hukum yang jelas tentang status hukum
internasional dalam hukum nasionalnya. Afrika Selatan, contohnya,
sebagai bekas jajahan negara-negara persemakmuran seyogianya sudah
memiliki rejim yang jelas dari negara penjajahnya, namun kenyataannya
asumsi ini tidak tercermin dalam jurisprudensinya.41 Rejim hukum yang
jelas tentang status hukum khsusunya perjanjian internasional baru
tercipta sejak lahirnya Konstitusi baru tahun 1994 Afrika Selatan.42 Untuk
pertama kalinya, Konstitusi Afrika Selatan menyediakan memuat norma
yang mengatur perjanjian dan hukum internasional dalam hukum
41 J.W. Bridge, ‘The Relationship between International Law and the Law of South Africa’, 20 ICLQ
(1971), 746.
42 Dermott Devine, ‘The Relationship between International Law and Municipal Law in the Light of
the Interim South African Constitution 1992’, 44 ICLQ (1995), 1.
29
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
nasionalnya. Hubungan hukum internasional dan hukum nasional lebih
jelas diatur pasca reformasi di Afrika Selatan.43
Negara-negara demokrasi baru di Eropa Timur dan bekas Uni
Soviet juga mengalami situasi yang sama dan pada umumnya dituntut
untuk memperjelas status perjanjian dan hukum internasional dalam
hukum nasionalnya. Sebelum proses demokratisasi, status hukum
internasional sama sekali tidak diatur dalam konstitusi maupun undangundang nasionalnya. Akibatnya, sistem hukumnya menjadi tidak
konsisten dan tidak tegas dalam teori dan prakteknya. Itulah sebabnya,
para pakar di negara-negara ini mendesak agar hubungan hukum
internasional dan hukum nasional diatur secara jelas dalam konstitusi.44
Sekalipun masing-masing negara berbeda dalam mengatur hubungan ini
namun klausula tentang ini sudah terdapat di banyak konstitusi negaranegara tersebut.45
Indonesia pada akhirnya harus melalui tuntutan seperti yang
dialami negara-negara demokrasi dimaksud. Sejak jatuhnya orde baru,
terdapat tuntutan yang keras untuk perubahan struktur dan bangunan
43 Andre Stemmet, ‘The Influence of Recent Constitutional Developments in South Africa on the
Relationship between International Law and Municipal Law’, 33 Int'l L.(1999) 1, 74.
44 Eric Stein, ‘International Law in Internal Law: Toward Internationalization of Central-Eastern
European Constitutions’, 88 AJIL (1994) 3, 427-450.
45 Vladlen S. Vereshchetin, ‘New Constitution and the Old Problem of the Relationship between
International Law and National Law’, 7 EJIL (1996), 34.
30
JURNAL OPINIO JURIS
politik
Indonesia.46
Vol. 15  Januari-April 2014
Struktur politik dan ketatanegaraan ini telah telah
mengalami reformasi melalui amandemen UUD 1945 yang berlangsung
antara tahun 1999-2002. Reformasi konstitusional telah menghasilkan
perubahan fundamental yang ditandai dengan pembagian kekuasaan
yang signifikan dalam rangka terbentuknya sistem demokrasi.
UUD 1945 sebelum amandemen telah dikritik oleh para ahli HTN
karena memiliki banyak kelemahan.
Pakar konstitusi Moh. Mahfud47
menyatakan bahwa UUD 1945 sebelum amandemen menciptakan sistem
ekesekutif yang lebih kuat, lemahnya checks and balances, banyaknya
pendelegasian aturan ke level UU, banyaknya norma konstitusi yang
rancu, serta penekanan pada kemauan politik dan integritas para politisi.
Amandemen UUD 1945 telah menciptakan sistem yang secara teori
dalam
mengatasi
kelemaahan-kelemahan
ini
melalui
pemberian
kekuasaan lebih besar kepada Parlemen, terciptaknya sistem checks and
balances serta dianutnya prinsip rule of law. Namun sayangnya, persoalan
tentang status perjanjian internasional dalam hukum Indonesia masih
belum terjamah oleh amandemen. Sebelum amandemen, pertanyaan ini
ditangani melalui diskresi pemerintah tanpa proses checks and balances
dari kekuasaan parlemen. Sistem yang terbentuk dapat menciptakan
stabilitas dalam mengeimplementasikan perjanjian internasional namun
46 I Ketut Putra Erawan, ‘Political Reform and Regional Politics in Indonesia’, 39 Asian Survey (1999)
4, 588.
47 Moh. Mahfud, Amandemen Konstitusi Menuju Reformasi Tata Negara (1999), 52; Saldi Isra,
Pergeseran Fungsi Legislasi: Menguatnya Model Legislasi Parlementer dalam Sistem Presidensial
Indonesia (2010), 1-10.
31
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
secara bersamaan gagal menjelasan tentang statusnya dalam hukum
nasional.
UUD 1945 yang telah diamandemen telah mentransformasikan
beberapa ciri-ciri sbb:
(a) dari otoriter ke pemerintahaan demokratis,
(b) dari executive heavy ke equal checks and balances,
(c) dari kekuasaan militer ke supremasi hukum
(d) dari pengingkaran ke penghormatan terhadap HAM,
(e) dari sentralisasi ke otonomi daerah.
Konstelasi
kekuasaan ketatanegaraan
dewasa ini
tentunya
membutuhkan adanya sistem hukum yang jelas termasuk rejim hukum
yang mengatur hubungan hukum internasional dan hukum nasional.
Struktur ketatanegaraan pasca amandemen telah memperjelas kekuasaan
masing-masing lembaga negara, baik eksekutif, legislatif dan judikatif.
Kekuasaan eksekutif telah diberi kekuasaan yang terbatas namun masih
memegang kekuasaan untuk membuat perjanjian internasional dan
implementasinya. Kekuasaan legislatif diberi kekuasaan yang lebih besar
dalam pembuatan undang-undang dan tentunya akan mencakup
kekuasaan
yang
dapat
mempengaruhi
penentuan
status
norma
internasional kedalam hukum nasional. Kekuasaan judikatif saat ini telah
bebas
dari
pengaruh
eksekutf
dan
tentunya
berwenang
menginterpretasikan dan menentukan kekuatan mengikat perjanjian
internasional. Selain itu, bebasnya kekuasaan judikatif juga melahirkan
pertanyaan apakah kekuasaan ini mencakup unuk menguji perjanjian
32
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
internasional terhadap UUD 1945. Dalam sistem checks and balances ini,
setiap organ negara harus memiliki posisi konstitusional yang jelas
tentang hak dan kewajiban dari perjanjian internasional.
Perdebatan tentang hubungan hukum nasional dan hukum
internasional khususnya perjanjian internasional telah menjadi agenda
publik. Pertanyaan tentang status perjanjian internasional dalam hukum
nasional telah mencuat tidak hanya di kalangan praktisi melainkan juga
di kalangan pembuat UU dan penegak hukum. Perjanjian internasional
yang dibuat oleh Indonesia semakin meningkat baik dari segi kualitas
maupun kuantitias. Perjanjian yang dibuat deawas ini cenderung mulai
mengatur hak dan kepentingan individual seperti HAM, lingkungan
hidup dan perdagangan sehingga melahirkan pertanyaan tentang
bagaimana
penerapaknya
dalam
hukum
nasional.48
Dengan
perkembangan ini maka ketiadaan rejim hukum yang jelas akan
melahirkan ketidakpastian hukum tentang hak dan kewajiban individual
yang
lahir
dari
perjanjian-perjanjian
tersebut.
Dari
perspektif
internasional, Indonesia tentunya dituntut untuk memenuhi kewajiban
internasionalnya yang lahir dari setiap perjanjian internasional yang
mengikatnya. Para pakar meyakini bahwa negara yang tidak memiliki
48 Debat yang mengemuka pada rangkaian Focussed Group Discussions dalam Status Perjanjian
Internasional di Sistem Hukum Indonesia telah dilaksanakan oleh Kemlu RI dan dihadiri oleh ahli
hukum dari berbagai universitas semenjak tahun 2006, hasilnya bisa dibaca di Perjanjian
Internasional dalam Teori dan Praktik Indonesia, Kompilasi Permasalahan, Kementerian Luar Negeri
Republik Indonesia (2008); Status Perjanjian Internasional dalam Tata Perundang-undangan
Nasional, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (2009).
33
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
rejim hukum yang jelas tentang hukum internasional akan mengalami
risiko ganda, yaitu melanggar hukum internasional dan merusak balance
of powers dalam sistem konstitusinya.49
Ketidakpastian akibat tidak adanya rejim hukum yang jelas
tentang hukum internasional semakin diperparah dengan derasnya arus
globalisasi. Karakter perjanjian internasional di era globalisasi ini sangat
intrusif dan menyentuh wilayah ekslusif hukum nasional, seperti
perjanjian-perjanjian
di
bidang
HAM,
lingkungan
hidup
dan
perdagangan.50 Hukum Indonesia tidak dapat lagi berdiri sendiri.
Pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa setiap sistem
hukum nasional saat ini harus melakukan rekonsiliasi terhadap standar
internasional. Jika di masa-masa lalu hukum nasional bisa kebal dari
pengaruh internasional maka dewasa ini telah mengkristal adanya syarat
minimum bagi setiap negara untuk mematuhi suatu perjanjian
internasional.51
Sebagai negara demokrasi yang terinspirasi dengan model Barat,
Indonesia saat ini berupaya untuk menerapkan standar negara-negara
modern. Sistem negara hukum, partisipasi parlemen, pembagian
49 Giuliana Ziccardi Capaldo, ‘Treaty and National Law in a Globalizing Sytem’, in The Global
Community, 1 Yearbook of Internatioanl Law and Jurisprudence (2003) , 140.
50 Banyak yang berargumen bahwa globalisasi hukum internasional telah memasuki ranah domestik
yang dulu secara eksklusif mengatur hubungan antara pemerintah dan warganya, lihat Anne Marie
Slaughter and William Burke-White, ‘The Future of International is Domestic (or, The European Way
of Law)’, 47 Harv. Int'l L. J. (2006) 2, 327.
51 Stefan Kadelbach, ‘The Transformation of Treaties into Domestic Law’, 42 GYIL (1999), 67.
34
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
kekuasaan, kepastian hukum merupakan ciri-ciri negara demokrasi yang
hendak dibangun oleh negara Indonesia. Konsekuensi logis dari upaya
ini adalah bahwa Indonesia perlu memiliki rejim hukum yang jelas yang
mampu menjawab secara pasti dan predictable tentang status perjanjian
internasional
dalam hukum
nasional.
Pertanyaan
tentang
status
perjanjian ini juga akan terkait dengan kedudukan hirarkis-nya dalam
sturktur perundang-undangan. Sejak kemerdekaannya, Indonesia telah
menganut teori Stufenbau dari Hans Kelsen. Dengan teori ini maka
Indonesia telah membangun secara hirarkis sumber hukum dan tata
urutan perundang-undangannya yang dimulai dari norma fundamental
Pancasila, UUD 1945, UU dan seterusnya.52 Sistem hirarkis ini juga akan
menyisakan
pertanyaan
tentang
bagaimana
kedudukan
hukum
internasional khsusunya perjanjian internasional dalam bangunan
hirarkis tersebut.53
52 Semenjak tahun 1966, terinspirasi oleh Hans Kelsen dengan teori Grundnorm and Stufenbau des
Rechts/Stufenbau der Rechtsordnung dan Hans Nawiasky dengan teori Staatsfundamental Norm,
Indonesia telah menyusun sistem hirarki norma. Saat ini diatur oleh UU No. 12 tahun 2011 yang
menyatakan bahwa tata urutan peraturan adalah:
a. Undang-Undang Dasar 1945;
b. Ketetapan MPR;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi;
g. Peraturan Daerah Kabupaten.
53 Tata urutan perjanjian internasional diakui merupakan a critical subject dalam status perjanjian
internasional di hokum nasional, lihat Francis G. Jacobs, ‘Introduction’, di G. Jacobs and Roberts (note
3), xxiv.
35
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
2. Pentaatan terhadap Hukum Internasional
Indonesia menghadapi tekanan dinamis dari dua arah sekaligus
secara bersamaan Pertama, tekanan dari dinamika reformasi yang
menuntut adanya standar demokrasi serta penegakan dan pentaatan
hukum termasuk kewajiban internasional Indonesia yang lahir dari
hukum termasuk perjanjian internasional.
Kedua, tekanan dari
globalisasi yang juga membentuk suatu sistem dalam masyarakat
internasional yang telah menuntut adanya standar minimum tentang
postur suatu sistem hukum nasional dalam mengimplementasikan
kewajiban internasionalnya.54
Sejak kemerdekaan, Indonesia telah membuat banyak perjanjian
internasional dan telah merupakan aktivitas rutin dari pemerintah.
Indonesia turut aktif membuat perjanjian internasional dalam berbagai
forum baik multilateral, regional maupun bilateral. Sampai saat ini,
Indonesia telah mendpositkan sekitar 4000 dokumen “perjanjian” yang
mengatur berbagai issue. Jumlah perjanjian yang membutuhkan
pemberlakuan
khususnya
di
dalam
bidang
hukum
nasional
ekonomi
seperti
juga
semakin
pasar
bebas,
meningkat
investasi,
penghindaran pajak berganda; kerjasama hukum seperti ekstradisi,
bantuan hukum timbal balik, pembrantasan kriminal terorganisasi, anti
korupsi, dan pemberantasan terorisme.
54 Kadelbach (note 53), 67-68.
36
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Sejak reformasi tahun 1998, semua Presiden yang memerintah
sampai saat ini secara konsisten menetapkan politik luar negeri yang
berorientasi pada peningkatkan peran Indonesia di fora internasional,
menciptakan perdamaian, pemulihan citra Indonesia di mata dunia, dan
mendorong terciptanya tata ekonomi dunia yang lebih baik pada tingka
regional
nasional.55
maupun
internasional
Untuk
memperoleh
serta
mendukung
reputasi
dan
pembangunan
kredibilitas
dimata
internasional seperti yang dicanangkan dalam politik luar negeri itu
Indonesia
harus
memperlihatkan
kepatuhannya
kepada
hukum
internasional.56 Pentaatan terhadap perjanjian internasional merupakan
parameter utama. Sebagai pihak dalam perjanjian internasional Indonesia
terikat pada prinsip pacta sunt servanda, suatu prinsip fundamental dalam
hukum perjanjian internasional bahwa para pihak harus melaksanakan
perjanjian
dengan
itikad
baik.57
Kegagalan
untuk
melaksanakan
perjanjian akan melahirkan pelanggaran hukum internasional dan hanya
akan merusak reputasi dan kredibilitas Indonesia di mata dunia.
Kegagalan mentaati perjanjian internasional akan melahirkan
pertanggungjawaban internasional dan negara tidak dapat berlindung
55 Kementrian Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Rencana Pembangungan Jangka
Menengah 2004 – 2009, Bab 8.
56 Dari implikasi empiris pre-commitment and diffusion theories, Ginsburg menemukan bahwa
adopsi hukum international merupakan strategy yang berguna bagi demokrasi untuk menetapkan
kebijakan tertentu, menambah kepercayaan pads pemerintah dan rejim yang berkuasa dan
menambah reputasi internasional, lihat Tom Ginsburg, Svitlana Chernykh and Zachary Elkins,
‘Commitment and Diffusion: How and Why National Constitutions Incorporate International Law’,
University of Illinois Law Review (2008), http://works.bepress.com/tom_ginsburg/18, 201 (last
visited on 9 April 2013).
57 Article 26 VCLT of 1969.
37
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
dibalik hukum nasionalnya untuk menjustifikasi kegagalan ini. Dalam hal
ini, suatu negara justru harus memastikan bahwa pentaatan perjanjian ini
mendapat justifikasi dari hukum nasionalnya. Di lain pihak, bagaimana
perjanjian internasional ditransformasikan, diadopsi, dan diperingkatkan
dalam hukum nasional adalah urusan hukum nasional.58 Kedaulatan
hukum nasional untuk menentukan status ini akan tetap dihormati
sepanjang
hukum
internasional
masih
berkarakter
Westphalian.59
Mengingat bahwa hukum nasional harus menentukan status ini maka
setiap hukum nasional harus memiliki rejim hukum yang jelas tentang
hukum internasional khususnya perjanjian internasional.
Globalisasi saat ini cenderung mensyaratkan adanya kepastian
bahwa setiap hukum nasional negara pihak mentaati perjanjian
internasional sehingga dan untuk itu hukum internasional telah mulai
mengembangkan suatu mekanisme pentaatan perjanjian. Indonesia telah
menjadi pihak pada berbagai perjanjian internasional yang menyediakan
mekanisme pentaatan dimaksud seperti Konvensi-konvensi HAM yang
diperlengkapi
dengan
mekanisme
monitoring.60
Indonesia
telah
dimonitor secara regular oleh mekanisme ini dan dari perspektif politik
58 Kadelbach (note 53), 66.
59 Stephane Beaulac, ‘Westphalia, Dualism and Contextual Interpretation’, EUI Working Papers,
European University Institute (2007), 5-6; Mattias Kumm, ‘Democratic Constitutionalism Encounters
International Law: Terms of Engagement’, di S. Choudhry (ed.), The Migration of Constitutional Ideas
(2006), 258.
60 Michael O'Flaherty and Claire O'Brien, ‘Reform of UN Human Rights Treaty Monitoring Bodies: A
Critique of the Concept Paper on the High Commissioner's Proposal for a Unified Standing Treaty
Body’, 7 Human Rights Law Review (2007) 1, 141-172.
38
JURNAL OPINIO JURIS
luar
negeri
tetap
Vol. 15  Januari-April 2014
berkomitment
untuk
mentaati
kewajiban
perjanjiannya.61 Mengingat konvensi-konvensi HAM mengatur hak
indvidu yang merupakan domain hukum nasional, maka implementasi
dari hak-hak ini di dalam hukum nasional menjadi mutlak. Untuk
maksud itu, Indonesia sudah menghadapi berbagai persoalan hukum
tentang bagaimana perjanjian ini beroperasi di dalam hukum nasional.62
Dalam konteks regional, Indonesia saat ini terlibat dalam proses
konstitusionalisasi di ASEAN. Diberlakukannya Piagam ASEAN 2008
telah melahirkan pertanyaan baru tentang hubungan Piagam ASEAN
termasuk aturan turunannya dengan hukum nasional setiap negara. Para
pakar telah membayangkan munculnya perosalan-persoalan hukum dari
meningkatnya konstitusionalisasi hukum internasional yang disebabkan
beroperasinya
Piagam
ASEAN
termasuk
persoalan
bagaimana
mengintegrasikan norma-norma yang lahir dari sistem ASEAN kedalam
hukum nasional, menginterpretasikannya serta menerapkannya dalam
domain hukum nasional.63
61 Semenjak tahun 1998, Indonesia telah meluncurkan rangakaian rencana aksi dalam hak asasi
manusia yang ditujukan, inter alia, implementasi norma dan standar hak asasi manusia. Rencana
kerja yang berlaku saat ini (2011-2014) diatur dalam Peraturan Presiden No. 23 tahun 2011.
62 Badan HAM PBB seperti Committee on the Elimination of Racial Discrimination mempertanyakan
status Konvensi di hukum nasional dan sejauh mana pengadilan domestik dapat secara langsung
menerapkan aturan Konvensi dimaksud, UN Doc. CERD/C/IDN/3, Seventy-first session, Geneva, 30
July-18 August 2007, question no. 3.
63 Diane Desierto, ‘ASEAN’S Constitutionalization of International Law: Challenges to Evolution
under the New ASEAN Charter’, 49 Colum. J. Transnat’l L. (2010-2011), 268-320.
39
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
3. Desentralisasi
Salah satu agenda utama dari reformasi 1998 adalah tuntutan
desentralisasi kekuasaan yang selama ini terkonsentrasi pada pemerintah
pusat. Sebelumnya, pemerintah pusat memegang kendali pemerintahaan
atas pemerintah daerah. Kekuasaan pemerintah daerah bersumber dari
pemerintah pusat sehingga dalam pelaksanaan fungsinya pemerintah
daerah bertindak atas nama pemerintah pusat.
UUD 45 hasil reformasi telah memberi ruang bagi otonomi daerah
yang memberikan kekuasaan yang lebih besar kepada daerah melalui
sistem tiga lapis: pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
Masing-masing tingkat diberikan otonomi untuk melaksanakan fungsi
pemerinthaan untuk hampir di semua bidang kecuali politi luar negeri,
pertahana, keamanan, keuangan, kehakiman dan agama.
Secara paralel terdapat pula otonomi khusus yang diberikan
kepada dua provinsi yaitu Provinsi Aceh dan Papua. Otonomi khusus ini
diberikan karena secara historis terdapat karakteristik khusus dari kedua
daerah ini yang berbeda dengan daerah-daerah lain. Tuntutan akan
otonomi khusus ini sudah ada sebelum reformasi berlangsung dan
selama ini telah menjadi issue politik yang sensitif antara pusat dan
daerah. Konflik antara pusat dan daerah ini telah mengundang perhatian
internasional
dan
berpontensi
untuk
gerakan
separatisme
yang
melibatkan negara-negara lain. Dengan otonomi khusus ini maka kedua
daerah tersebut memperoleh kekuasaan yang lebih besar dibandingkan
provinsi-provinsi lainnya.
40
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Adanya otonomi daerah ini akan melahirkan pertanyaan baru
tentang kekuasaan membuat perjanjian internasional pemerintah daerah
khususnya jika materi yang diperjanjikan berada dibawa kewenangan
eksklusifnya. Terlebih lagi dengan otonomi khusus yang diberikan
kepada Pemerintah Papua dan Aceh telah melahirkan tuntutan baru agar
mereka dapat langsung berinteraksi dengan masyarakat internasional
atas namanya sendiri yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan
apakah mereka berwenang untuk membuat perjanjian dengan pihak
asing. Pertanyaan ini bukan hal yang baru bagi setiap negara modern dan
selalu muncul di banyak negara khususnya yang berkarakter federalisme.
Para pakar hukum sepakat bahwa konstitusi masing-masing
negara sangat menentukan dalam pemberian kekuasaan membuat
perjanjian oleh entitas daerah. Kekuasaan ini dapat dinikmati oleh
pemerintah daerah jika diberikan oleh konstitusinya.64 Draft akhir dari
Komisi Hukum Internasional tentang Perjanjian Internasional65 yang
kemudian dihapus pada saat Konferensi pada tahun 1969 menyerahan
persoalan ini kepada konstitusi masing-masing negara. Draft tersebut
menyatakan: States members of a federal union may posses a capacity to
conclude treaties if such capacity is admitted by the federal constitution and
within the limits there laid down. Dihapuskan draft pasal ini tidak diartikan
64 Helmut Steinberger, ‘Constitutional Subdivisions of States or Unions and their Capacity to
conclude Treaties’, 27 ZaöRV (1967), 428; Thomas A. Levy, ‘Provincial International Status Revisited’,
3 Dalhousie L.J. (1976-1977), 75.
65 ILC Official Records: 21st session, Supplement No. 9 (A/6309/Rev.1), UN (1966), 10.
41
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
sebagai penolakan terhadap kekuasaan negara bagian untuk membuat
perjanjian internasional.66
Menurut pandangan tradisionl, kekuasaan membuat perjanjian
internasional secara keseluruhan berada di tangan Raja sebagai atribut
kedaulatan.
Namun
gerakan
konstitusionalisme
dan
pemisahan
kekuasaan dewasa ini telah mendorong lahirnya aturan konstitusi yang
membedakan
antara
membuat
perjanjian
internasional
dengan
melaksanakan perjanjian internasional.67 Sebagai konsekuensi, kekuasaan
membuat perjanjian telah telah dialokasikan kepada berbagai organ
negara baik secara horizontal maupun vertikal. Secara horizontal terdapat
tuntutan untuk adanya partisipasi parlemen sehingga terjadi pembagian
kekuasaan antara pemerintah dan parlemen dan memberikan kepada
parlemen kekuasaan untuk melaksanakan perjanjian dalam kerangka
fungsi legislasi. Secara vertikal telah lahir pemerintah daerah yang
memiliki kewenangan eksklusif atas beberapa urusan pemerintahaan
yang mengakibatkan mereka harus berpartisipasi jika urusan eksklusif ini
diperjanjikan dengan pihak asing.
66 Mark E. Villiger, Commentary on the 1969 Vienna Convention on the Law of Treaties (2009), 127128; Alasan utama penghapusan adalah dengan membuat kecakapan (bagi negara bagian untuk
membuat perjanjian internasional) hanya bergantung bagi aturan konsitusi federal, paragraf tersebut
akan dapat menjadi pemicu untuk bagi negara lain untuk menginterpretasikan sendiri konstitusi
tersebut, lihat J.S. Stanford, ‘United Nations Law of Treaties Conference: First Session’, 19 U. Toronto
L.J. (1969), 60-61.
67 Luzius Wildhaber, ‘Provisions of Internal Law Regarding Competence to Conclude a Treaty’, 8 Va.
J. Int'l L. (1967-1968), 94.
42
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Persoalan ini sangat nyata dalam sistem federalisme karena
kekuasaan pemerintah terbagi antara pemerintah pusat dan daerah dan
setiap penduduk akan tunduk pada dua otoritas pembuat undangundang secara bersamaan. Dalam hal ini masing-masing otoritas tidak
tunduk satu sama lain (subordinasi) melainkan bersifat koordinatif.68
Praktek negara menunjukkan bahwa ternyata persoalan kontroversi
tentang kekuasaan membuat perjanjian internasional oleh entitas atau
bagian negara tidak hanya melulu terjadi pada situasi negara federalisme
melainkan juga dalam situasi hubungan kolonial. overseas territories, dan
dependent territories. Ini membuktikan bahwa persoalan kekuasaan
membuat perjanjian bisa muncul di setiap entitas selain negara.
Walapun
terdapat
kecenderungan
negara-negara
untuk
menghapuskan kekuasaan membuat perjanjian dari entitas daerah,69
persoalan dasarnya masih mewarnai hubungan pusat dan daerah.
Tantangan yang muncul saat ini adalah bagaimana menangani konflik
antara pusat dan daerah jika pemerintah pusat membuat perjanjian yang
materinya dibawah kekuasaan eksklusif dari pemerintah daerah. Saat ini
muncul gagasan bahwa keterlibatan pemerintah daerah untuk membuat
perjanjian tidaklah semata-mata untuk maksud melindungi kepentingan
daerah tsb melainkan adalah konsekuensi dari desentralisasi dan
68 A. Kim Campbell, ‘Federalism and International Relations: The Canadian Experience’, 85 Am.
Soc'y Int'l L. Proc. (1991), 125.
69 Oliver J. Lissitzyn, ‘Territorial Entities other than Independent States in the Law of Treaties’, RdC
(1968-III), 87.
43
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
globalisasi. Di era globalisasi terdapat kebutuhan adanya kebijakan luar
negeri oleh otonomi daerah sebagai konsekuensi dari demokratisasi,
federalisme,
tingkat
pertumbuhan
ekonomi,
meningkatnya
internasionalisasi pasar.70
Terlepas dari apa pun struktur negara, apakah kesatuan atau
federalisme, pertanyaan tentang bagaimana kewenangan eksklusif daerah
diperlakukan jika urusan yang dibawah wewenang eksklusif ini menjadi
objek dan materi dari suatu perjanjian internasional. Pertanyaan ini akan
bersentuhan dengan kekuasaan membuat perjanjian internasional
menurut hukum konstitusinya. Beberapa perjanjian justru telah membuka
ruang bagi partisipasi sub-negara jika materinya adalah wewenang
eksklusif dari sub-negara itu yang berada di luar kewenangan pemerintah
pusat.71 Dalam hal ini fenomena desentralisasi tetap melahirkan persoalan
kontroversi terhadap posisi negara terhadap perjanjian internasional.
***
70 Ferran Requejo, ‘Foreign Policy of Constituents Units in a Globalised World’, di Ferran Requejo
(ed.), Foreign Policy of Constituents Units at the Beginning of 21st Century (2010), 11.
71 Agreement Establishing the World Trade Organization menyatakan di Pasal XII bahwa Setiap
Negara atau wilayah kepabeanan terpisah memiliki otoritas penuh untuk mengatur hubungan
dagang eksternal dan masalah-masalah lain yang diatur di Perjanjian ini dan Perjanjian Dagang
Multilateral yang mengacu pada Perjanjian ini, dalam aturan yang disetujui diantara mereka dan
WTO. Aksesi tersebut akan berlaku pada Perjanjian ini dan Perjanjian Dagang Multilateral yang
terlampir.
44
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
ASEAN DAN PENGUATAN RULE OF LAW HUKUM
HAK ASASI MANUSIA DI KAWASAN ASIA
TENGGARA
Heribertus Jaka Triyana
Abstrak
The principle of rule of law and human rights protection in the
Association of Southeast Asian Nations has been accpeted as one of the
fundamental principle in the ASEAN human rights norms and
mechanisms. As a ruled-based organization, ASEAN commits to
implement this principle in its decision making and its implementation
processes for better human rights protection. Derivation of this
principle, equality before the law, supremacy of law, accountability,
participation, and transparancy has been used as a common vision to
reach one vision and one community in Southeast Asian cooperation
under auspices of the ASEAN. It then developes certain theories in
international human rights law and international organization law,
such as the social function of law as well as principle of
complementarity as frameworks of legal analysis to test whether the
principle of rule of law inspires future affective and practical human
rights advocacy and adjudication in South East Asian countries.
It reveals that the principle of rule of law for human rights’ protection
is still evolving and has tremendous influance for better human rights
advocacy at strategic level within ASEAN cooperations while at the
operational and tactical levels, it has less attention to it. At the same
time, human rights adjudication has far beyond its reach due to its
limited mandate and function. Remarkably, its institutionalization has
led to public awareness and scutiny for better improvement of its
capacity in the future as requisite to establish a more powerful human
rights insitutions.
Keywords: ASEAN Charter, Rule of Law, Human Rights
A. LATAR BELAKANG
45
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
The Association of the Southeast Asian Nations (ASEAN) adalah
sebuah organisasi internasional regional di kawasan Asia Tenggara72. Ia
telah memenuhi kriteria hukum sebagai sebuah organisasi internasional
regional ketika Piagam ASEAN diratifikasi oleh semua anggota sehingga
berlaku
pada tanggal 15 Desember 200873. Penandatanganan Piagam
ASEAN tersebut disandarkan pada 2 (dua) dasar pemikiran, yaitu: (1).
Adanya kepentingan bersama; dan (2). Adanya kenyataan saling
Organisasi Internasional dalam studi hukum internasional dan hukum organisasi internasional
tidak memiliki pengertian atau definisi yang pasti. Kajian tersebut hanya dapat mendeskripsikan
tentang ciri atau elemen umum sehingga diperoleh pengertian apa itu sebuah organisasi
internasional. Lihat Phillipe Sand and Pierre Klein, Bowett’s Law of International Indtitutions, Fith
Edition, Thompson and Sweet and Maxwell, hlm. 18; Jan Klabbers, An Introduction to International
Institutions, Cambridge University Press, 2002, hlm. 6-9; Deskrpsi tersebut menghasilkan beberapa
kriteria mengenai apa itu organisasi internasional, seperti dibentuk oleh negara-negara, memiliki
dokumen hukum pembentukannya, memiliki struktur organisasi, markas besar, dan memiliki tujuan
yang hendak dicapai dalam kerangka kerja sama internasional, lihat Sumaryo Suryokusumo, Studi
Kasus Hukum Organisasi Internasional, Alumni, 1997, hlm. 37-38; Burhan Tsani, Hukum Organisasi
Internasional, Diklat Bahan Ajar Hukum Organisasi Internasional FH UGM, 2012, hlm. 7; N. White, The
Law of International Organization, London, 1958, hlm. 7-9; C.F Amersinghe, Principles of the Institutional
Law of the International Organizations, Cambridge University Press, 1996, hlm. 10. Kajian ASEAN
sebagai sebuah organisasi internasional adalah Haas, Basic Documents of Asian Regional Organizations,
1974, volume 1-9; ASEAN, The Asian Report, 1979, Volume 2; Garnut, ASEAN in A Changing Pacific and
World Economy, 1980; Broinowski, Understanding ASEAN, 1982; ASEAN, The First Twenty Years, 1987;
Tommy Koh, dan Rosario G Manalo, The Making of the ASEAN Charter, World Scientific Publishing,
2009, hlm. 117; dan ASEAN, ASEAN Masterplan 2020, ASEAN, hlm. 26
73 Ciri tersebut telah dipenuhi oleh ASEAN yaitu: ASEAN dibentuk dengan perjanjian internasional;
ASEAN memiliki tujuan yang berkesinambungan; ASEAN beranggotakan negara; sifat keanggotaan
ASEAN adalah terbuka dan sukarela; ASEAN memiliki organ seperti organ pleno dan organ
subsidier; memiliki sekretariat tetap; dan ASEAN mehgikuti dan diatur dengan hukum internasional.
Lihat Mohd Burhan Tsani, Arti Penting Piagam ASEAN, Pidato Pengukuhan Guru Besar FH UGM, 7
Mei 2008; Thailand adalah Negara terakhir yang meratifikasi Piagam ASEAN pada bulan November
2008; Marie Pangestu, “The Future of ASEAN”, the Indonesian Quarterly, vol. XXV, No. 4, 1997, hlm.
362-365; dan Tomyy Koh, ibid, hlm. 119; Bennet mencirikan organisasi internasional adalah memiliki
A permanent organization to carry on a contiuing set of funcions; Voluntary membership of eligible parties; A
basic instrument stating goals, structure, and method of operation; A broadly representative concultative
conference organ, and A permanent secretary to carry on continuous administrative reseach, and information
functions dalam Bennet, International Organization, 5 th.ed., Prentice Hall Inc., 1991, New Jersey, hlm. 2
72
46
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
ketergantungan diantara rakyat dan Negara-Negara anggota ASEAN
dalam kesatuan visi, identitas dan komunitas (one vision, one identity, and
one community) yang saling peduli dan berbagi bagi terciptanya
kemakmuran bersama74. Dari dua dasar pemikiran inilah, ASEAN
menjadi sebuah organisasi internasional regional yang menjadi institusi
pembentuk hukum (law making institution) pertama kali terhadap
regionalisasi hukum di kawasan Asia Tenggara, khususnya di bidang hak
asasi manusia (HAM) seturut dengan ketentuan hukum internasional75.
Penandatanganan Piagam ASEAN (ASEAN Charter) dengan
sendirinya merubah ASEAN dari suatu asosiasi longgar menjadi
organisasi berdasarkan aturan hukum
(rule-based organization dan
mempunyai personalitas hukum (legal personality) dan kapasitas hukum
(legal capacity)76. Sifat rule-based organization ini dijiwai oleh aplikasi
ASEAN, Roadmap for ASEAN Community 2009-2015, 2011, hlm. 1-5.
Regionalisasi atau regionalism adalah wadah terciptanya hukum yang berlaku dikawasan tertentu
yang memiliki norma dan mekanisme berlaku secara khusus dan ditaati oleh anggota-anggotanya
untuk mewujudkan kepentingan bersama kawasan. Regionalisasi ini harus dilaksanakan sesuai
dengan prinsip dan ketentuan yang diatur dalam Piagam PBB, seperti dalam ketentuan Pasal 52 (1),
(2), (3) dan (4) yaitu upaya kerjasama regional (regional arrangement) yang mendukung terciptanya
tujuan PBB dikawasan tertentu yang dalam hal ini adalah di Asia Tenggara, lihat D.W. Bowett,
Hukum Organisasi Internasional, alih bahasa oleh Bambang Iriana Djajaatmadja, Sinar Grafika, 1995,
hlm. 205. Lihat juga Hubungan yang makin rapat serta kehidupan bangsa-bangsa yang semakin
bergantung satu sama lain, menuntut adanya kerjasama antara bangsa-bangsa dalam suatu sistem
kerjasama regional. Hal tersebut diungkapkan dalam Report of the Rockefeller Brothers Fund yang
mengatakan bahwa; ”Pengelolaan regional tidak lagi masalah pilihan. Hal tersebut telah dipaksakan
oleh teknologi, ilmu pengetahuan dan ekonomi dalam dunia kontemporer sekarang ini”. M. Sabir,
ASEAN Harapan dan Kenyataan, Jakarta, PT. Penebar Swadaya, 1992, hlm. 21-22
76 Seperti dibahas dalam Centre of International Law. CIL ASEAN Charter Series 2010: Workshop on
Implementing Legal Personality and Privileges and Immunities. National University of Singapore, 2010;
Sumaryo Suryokusumo, Pengantar Hukum Organisasi Internasional, PT Tatanusa, Jakarta, 2007, hlm. 19;
Jiangyu Wang. International Legal Personality of ASEAN and the Legal Nature of the China-ASEAN Free
Trade Agreement. CHINA-ASEAN RELATIONS: ECONOMIC AND LEGAL DIMENSIONS, 2010; John
74
75
47
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
prinsip rule of law yang terdapat dalam Mukadimah dan dalam Pasal 1 (7)
Piagam ASEAN77. Semula, berlandaskan Deklarasi Bangkok 1967 atau the
ASEAN Declaration, hubungan antara negara ASEAN pada hakikatnya
merupakan suatu pernyataan politik (political statements) yang tidak
memiliki kekuatan mengikat terhadap negara anggota maupun organisasi
itu sendiri dan pada saat ini keadaan tersebut berbeda karena adanya
prinsip rule of law78. Rule of law dalam studi hukum organisasi
internasional adalah sebuah konsep yang sangat mendasar bagi eksistensi
suatu organisasi internasional dalam mecapai tujuannya dimana ia
menjadi dasar tata kelola organisasi yang baik dalam mengatur pola
hubungan antara individu, organ organisasi dan negara anggota dalam
ranah publik dan privat didasari oleh prinsip-prinsip supremasi hukum
(supremacy of law), kesamaan dihadapan hukum (equality before the law),
akuntabilitas (accountability), pemisahan kekuasaan organisasi (seperation
of power), kepastian hukum (legal certainty), partisipasi (participation)
dalam proses pengambilan keputusan organsasi dan transparansi
(transparency)79.
Wong, Zou Keyuan, Zeng Huaquan, eds., Singapore: World Scientific; Dominic McGoldrick (Ed),
“The ASEAN Charter: ‘Current Developments: Public International Law”, International Comparative
Law Quarterly, vol 58, Januari 2009, Cambrigde University, hlm 197.
77 Human Rights Resource Center, Rule of Law Untuk Hak Asasi Manusia di Kawasan ASEAN, Studi
Data Awal, UI Press, 2011, hlm. 10-12.
78 Alexandra Retno Wulan dan Bantarto Bandoro, “ASEAN Quest for A Full-Fledged Community”,
CSIS, 2007, hlm iv-ix.
79 Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan PBB, “The Rule of Law and Sekretaris Jenderal PBB,
Transititional Justice in Conflict and Post-Conflcit Societies, Dewan Keamanan PBB, 2004, S/2004/616,
hlm. 4; “Guidance Note of the Secretary General: United Nations Approach to Rule of Law Assisstance”, 14
48
JURNAL OPINIO JURIS
Dalam
konteks
Vol. 15  Januari-April 2014
ASEAN,
Severino
menyatakan
bahwa
kontekstualisasi dan aplikasi prinsip rule of law adalah “...untuk
mewujudkan norma-norma yang mengatur perilaku anggota ASEAN
dalam forum ASEAN serta perilaku domestik negara-negara anggotanya
terhadap rakyat, demokrasi, HAM dan kebebasan-kebebasan dasar dalam
suatu tata pemerintahan yang baik, pemerintahan yang konstitusional
dan
keadilan
sosial
dalam
mewujudkan
tujuan
ASEAN”80.
Kontekstualisasi rule of law tersebut di atas telah bergeser dan menjadi
sebuah langkah bersama (common vision) dan pendekatan aktif (proactive
approach) untuk menghadapi tantangan eksternal dan internal ke depan
dalam mencapai tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam ASEAN81.
Piagam ASEAN merumuskan 15 (lima belas) tujuan ASEAN82 dan 14
(empat belas) prinsip-prinsip dasar83 yang menjadi sebuah sumber
April 2008, hlm. 1; dan Dencho Georgiev, “Politics or Rule of Law: Deconstruction and Legitimacy in
International Law”, 4 European Journal of International Law, 1993, hlm. 1-10.
80 Rodolfo Severino, “The ASEAN Charter: One Year on”, Opinion Asia, 10 Januari 2010, dapat diakses
di http://opinionasia.com/ASEANCharteroneyearon.
81 Pasca penandatanganan Piagam ASEAN, terdapat lima prioritas kegiatan untuk mempersiapkan
perubahan ASEAN yaitu penyusunan Term of Reference (ToR) pembentukan Permanent Representatives
to ASEAN, penyusunan Rules and Procedures ASEAN Coordinating Council dan ASEAN Community
Councils, penyusunan supplementary protocols mengenai dispute settlement mechanism, penyusunan
perjanjian baru menggantikan perjanjian pendirian Sekretariat ASEAN tahun 1976, serta penyusunan
ToR pembentukan badan HAM ASEAN. Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Deplu, ASEAN
Selayang Pandang, 2007, hlm. 41.
82
Tentang 15 Tujuan ASEAN baca Pasal 1 Piagam ASEAN.
Prinsip-prinsip diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Piagam ASEAN. Dalam pasal 2 ayat (1) ditegaskan
bahwa Dalam mencapai tujuan-tujuan yang disebutkan dalam Pasal 1, ASEAN dan Negara-Negara
Anggotanya menegaskan kembali dan memegang teguh prinsip-prinsip dasar yang tertuang dalam
deklarasi-deklarasi, persetujuanpersetujuan, konvensi-konvensi, concords, traktat-traktat, dan
instrumen ASEAN lainnya.
83
49
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
hukum (constituent instrument) ASEAN84. Dalam struktur ASEAN, prinsip
rule of law menjadi dasar strategis dan operasional pembentukan 3 (tiga)
komunitas ASEAN, yaitu: (1). komunitas Politik-Keamanan (PoliticalSecurity Community); (2). Komunitas Ekonomi (Economic Community); dan
(3). Komunitas Sosial Budaya (Socio-Cultural Community) sebagai peretas
jalan menuju komunitas tunggal ASEAN pada tahun 201585. Selain itu,
prinsip rule of law secara substantif telah digunakan sebagai dasar filosofis
pembentukan regionalisasi hukum dibidang perlindungan HAM86,
seperti: (1). Agreement on the Privileges and Immunities (API) of the ASEAN87;
(2). the ASEAN Regional Agreement for Disaster Management and Emergency
Assistance (AADMER)88; dan (3). the ASEAN Declaration on Human Rights
Mohd. Burhan Tsani, op.cit, no. 2, hlm. 2
Dalam struktur ASEAN, untuk mewujudkan tiga komunitas tersebut dibentuk, tiga badan
komunitas ASEAN yaitu badan komunitas politik-keamanan ASEAN (ASEAN Political-Security
Community Council), Badan komunitas ekonomi (ASEAN Economic Community Council) , dan Badan
komunitas sosial budaya (ASEAN Socio-Cultural Community Council). Lihat ASEAN Charter Pasal 9;
Dibandingkan dengan Kemlu, Pembentukan Komunitas ASEAN Pada Tahun 2015, Power Point
Presentation on ASEAN Workshop, Aryaduta Hotel, Jakarta, 10 Desember 2010 dan Alexandra, op.cit,
no. 6.
84
85
ASEAN, op.cit, no. 10.
ASEAN, Agreement on the Priveleges and Immunities of ASEAN, 2nd Edition, ASEAN Secretariat, 2010.
88 Signed in July 2005, ASEAN 2006. This Agreement has been ratified by all ten Members States and
it came into force on 24 December 2009. Persetujuan ini menjadi persetujuan internasional regional
yang pertama kali mengatur tentang penanggulangan bencana yang berlaku mengikat di kawasan
Asia Tenggara; Lihat dalam Heath, J. Benton, “Disaster, Relief, and Neglect: The Duty to Accept
Humanitarian Assistance and the Work of the International Law Commission”, the International Law
And Politics, Vol. 43: 419, 2011, hlm. 446; AADMR adalah interumen hukum regional pertama yang
mengatur tentang penangulangan bencana dan berlaku di Asia Tenggara dimana aturan mengenai
hal tersbeut dalam hukum internasional masih tersebar dalam berbagai aturan hukum seperti dalam
the United Nations, such as the United Nations General Assembly Resolution A/Res/46/182 of 1991
and A/Res/57/150 of 2002; by international humanitarian agencies such as the Active Learning
Network for Accountability and Performance in Humanitarian Action (ALNAP), the Development
Assistance Committee of the OECD (OECD-DAC Criteria), and from the Humanitarian
86
87
50
JURNAL OPINIO JURIS
(ADHR/AHRD)89.
fungsi
Vol. 15  Januari-April 2014
Mudahnya, rule of law dalam Piagam ASEAN memiliki
yang kompleks dan
menentukan dalam penguatan
dan
perlindungan HAM, yaitu: (1). Sebagai salah satu elemen dasar
perlindungan HAM yang menjadi landasan filosofis adopsi nilai-nilai
universal HAM dan partikularisme nilai-nilai bersama Asia Tenggara
dalam norma dan mekanismenya; (2). Sebagai justifikasi pembenar atas
dasar
pembentukan
hukum
HAM
dalam
konteks
norma
dan
prosedurnya; dan (3). Pengembangan dan penguatan kelembagaan
ASEAN dalam perlindungan HAM di Asia Tenggara dalam kaitannya
dengan Konvensi-konvensi dasar HAM internasional yang diratifikasi
oleh negara-negara anggota ASEAN90.
Ketiga produk hukum tersebut di atas merupakan contoh
mutakhir regionalisasi hukum di kawasan Asia Tenggara terkait dengan
pemajuan dan perlindungan HAM berdasarkan aplikasi prinsip rule of
Accountability (HAP); and by the International Law Applicable to Disaster (the IDRL) developed
from heterogeneous collection of international instruments with regards to customs, industrial
accidents, nuclear emergency, civil defense, food aids, sea or air transport, telecommunication,
satellite imaging, lihat Fisher, D, “Domestic Regulation of International Humanitarian Relief in
Disasters and Armed Conflict: A Comparative Analysis”, the International Review of the Red Cross,
Volume 89 Number 866, June 2007, hlm. 353-354.
89 Deklarasi HAM ASEAN ini ditandatangani oleh 10 kepala negara anggota ASEAN pada tanggal 18
November 20120 oleh Haji Hassanal Bolkiah, Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen, Susilo
Bambang Yudhoyono, Thongsing Thammavong, Dato Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak, U Thein
Sein, Benigno S Aquino III, Lee Hsien Loong, Yingluck Shinawarta, Nguyen Tan Dung yang
mengadopsi 9 prinsip dasar HAM, 15 hak sipil dan politik, 9 jenis hak ekonomi, sosial dan budaya,
hak atas pembangunan, hak atas perdamaian dan ditutup dengan kerjasama regional dan
internasional dalam hal pemajuan HAM dalam Deklarasi tersebut. Lihat Phnom Penh Statement on
the Adoption of the ASEAN Human Rights Declaration (AHRD), 18 November 2012.
90 Randall Peerenboom, “Varieties of Rule of Law: An Introduction and Provisional Conclusion”, in
Randall Pereenboom (Editor), Asian Discourse of Rule of Law, Theories and Implementation of Rule of Law
in Twelve Asian Countries, France and the US, London, New York, Routledge Curzon, 2004, hlm. 10-23.
51
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
law91. Mereka dijiwai oleh bidang kerjasama antar negara dengan acuan
non politik atau kerjasama non pertahanan keamanan (non high political
commitment) namun pada aras kerjasama kesejahteraan dan penciptaan
keamanan yang komprehensif (soft political commitment) dalam konteks
penguatan rule of law di Asia Tenggara92.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut di atas,
permasalahan pokok dalam paper ini dirumuskan sebagai berikut, yaitu:
“Bagaimanakah ASEAN mengimplementasikan prinsip rule of law dalam
regionalisasi hukum HAM di Asia Tenggara sehingga penguatan
kapasitas hukum perlindungan HAM dapat diperkuat dan ditingkatkan
secara efektif sebagai salah satu pencapaian tujuan dasar ASEAN?”.
Paper ini akan mengkaji secara kritis dan mendalam (in depth)
mengenai tiga aspek hukum terkait dengan permasalahan pokok
tersebut, yaitu: (1). Bagaimana eksistensi prinsip rule of law dalam Piagam
ASEAN dan dalam studi hukum organisasi internasional; (2). Bagaimana
Michelle Staggs Kelsall, “The New ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights:
Toothless Tiger or Tentative First Step?”, East-West Center, 2009, hlm. 2-3; SAPA Task Force (FORUMASIA), Hiding Behind the Limits, 2009, hlm.1-5; dan Tommy Koh, dan Rosario G Manalo, The Making of
the ASEAN Charter, World Scientific Publishing, 2009, hlm. 117; dan ASEAN, ASEAN Masterplan 2020,
ASEAN, 2008, hlm. 26.
92 Rule of Law dalam Piagam ASEAN diartikan sebagai “sebuah organisasi yang didasarkan pada
aturan hukum dalam mencapai komunitas dengan nilai-nilai dan norma-norma bersama yang
berbasis pada aturan-aturan hukum yang dibuat dan disepakati bersama”, Rodolfo C. Seeverino,
“ASEAN Way and the Rule of Law”, Pidato pada Konferensi Hukum Internasional tentang SistemSistem Hukum ASEAN dan Integrasi Regional, Asia-Europe, University of Malaya, Kuala Lumpur 3
September 2001; dan dibandingkan dengan Wolfgang Benedek, “Human Rights and Security:
Challanges and Prospects” dalam Francisco Ferrandiz and Antonius CGM Robben (eds),
Multidiciplinary Perspectives on Peace and Conflicts Research A View From Europe, Humanitarian Net,
University of Bilbao, Spain, 2007, hlm. 29-51.
91
52
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
peran dan fungsi rule of law dalam peningkatan, pemajuan dan
perlindungan HAM dalam Piagam ASEAN dan kepatuhan (compliance)
negara anggota ASEAN terhadap penerapan prinsip tersebut didalam
urusan
dalam
negerinya;
(3).
Bagaimana
mekanisme
penguatan
kepatuhan hukum terhadap implementasi prinsip rule of law dalam
kerangka kegiatan ASEAN di Asia Tenggara. Untuk mengkaji secara
kritis dan mendalam, paper ini akan dimulai dengan menempatkan
landasan konsep dan teori yang relevan terhadap regionalisasi hukum
perlindungan HAM oleh organisasi internasional, konsep kedaulatan
negara dan teori-teori hukum internasional yang relevan. Dibagian akhir,
paper ini akan menyimpulkan secara deduktif mengenai peran ASEAN
terhadap penguatan dan kepatuhan negara anggota ASEAN terhadap
aplikasi rule of law sebagai salah satu elemen terpenting dan sebagai salah
satu sarana justifikasi akuntabilitas upaya perlindungan HAM di Asia
Tenggara
dalam
kerangka
kegiatan
ASEAN
sebagai
organisasi
internasional.
B. Landasan Konsep dan Teori
Teori adalah analisis hubungan antar fakta dan dipahami
sebagai sebuah bangunan atau sistem yang tersruktur dari sekumpulan
ide, gagasan, atau pemikiran yang berfungsi untuk menerangkan
terjadinya sesuatu atau mengapa sesuatu itu ada yang dikemukan oleh
53
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
seorang atau beberapa ahli dibidangnya93. Dalam studi hukum organisasi
internasional, teori adalah sekumpulan ide, gagasan atau pemikiran
mengenai apa itu organisasi internasional dan mengapa organisasi
internasional itu ada dan perlu dipertahankan oleh masyarakat
internasional94. Teori didasari oleh suatu pernyataan-pernyataan umum
tentang suatu kebenaran-kebenaran tertentu (konsep) dalam hubungan
antara subyek hukum internasional yaitu organisasi internasional dan
bagaimana mereka berinteraksi dalam mencapai tujuan dasar dalam
organisasi internasional tersebut yang dapat dilihat dari berbagai sudut
pandang pemahaman baik realis, naturalis, positivis maupun sosiologis95.
Konsep dibangun dari rasio-rasio hukum mengenai kebenaran
atas suatu fenomena, fakta atau data96. Konsep dalam studi hukum
organisasi internasional adalah rasio-rasio hukum menegnai kebenaran
atas suatu fenomena, fakta atau data mengapa negara-negara bersepakat
membentuk suatu ikatan bersama dalam suatu oragnisasi internasional
dan mengapa mereka menundukkan diri serta mengikatkan diri terhadap
hak dan kewajiban hukum yang timbul. Konsep pertama dalam paper ini
adalah adanya rasio yuridis yang berupa fakta hukum dan adanya
A.S. Hornby, Oxford Advanced Leaner’s Dictionary, Sixth Edition, 2000, hlm. 1346.
Simon Chesterman and Clare Rhoden, Studying Law at University, Allen and Unwin, 1999, hlm. 7879; Jan Klabbers, An Introduction to International Institutiuonal Law, Cambridge, 2002, hlm. 1-4; dan
Christhoper Joyner, The United Nations and International Law, Cambridge, 1997, hlm. 9-11.
95 Anthony D’Amato, The Need of Theory of International Law, Northwestern School of Law, 2004, hlm.
9-23 dan Chesterman and Rhoden, ibid, hlm. 10
96Aulis Arnio, Essay on Doctrinal Study of Laws, Springer, 2011, hlm, 119-121; dan Spinezi, Maria,
Ancilla Iuris, 2007, hlm. 66
93
94
54
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
fenomena sosiologis pembentukan ASEAN oleh 10 negara di Asia
Tenggara97. Salah satu konsep mengenai eksistensi ASEAN adalah
adanya fakta keinginan bersama untuk hidup di kawasan yang damai,
aman
dan
stabil,
pertumbuhan
ekonomi
yang
berkelanjutan,
kesejahteraan bersama, kemajuan sosial, serta untuk memajukan
kepentingan, cita-cita, dan aspirasi bersama masyarakat Asia Tenggara98.
Disamping
itu,
Negara-negara
anggota
ASEAN
sepakat
untuk
membentuk komunitas ASEAN sebagai langkah untuk menjamin
pembangunan berkelanjutan yang bermanfaat bagi generasi-generasi
sekarang
dan
mendatang
dan
menempatkan
kesejahteraan
dan
penghidupan yang layak serta kemakmuran rakyat sebagai pusat proses
pembentukan komunitas ASEAN99. Keinginan bersama tersebut harus
tetap menghormati kedaulatan (sovereignty) dan kesetaraan (equality)
negara-negara
anggota
ASEAN
serta
mematuhi
prinsip-prinsip
demokrasi dan perlindungan HAM dan kebebasan dasar manusia100.
Burhan Tsani, op.cit, no. 2, hlm. 5-6 dan ASEAN, op.cit, no.3, hlm. 5-8.
ASEAN, op.cit, no. 7 dan bandingkan dengan Sjamsumar Dam dan Riswadi, Kerjasama ASEAN:
Latar Belakang, Perkembangan dan Masa Depan, Ghalia Indah, 1995, hlm. 15-17 dan Marie Pangestu,
op.cit, no. 2, hlm. 363.
99 Baca lebih lanjut Bagian Pendahuluan Piagam ASEAN; dan ASEAN, Annual Report, Implementing
the Roadmap for An ASEAN Community 2015, 2009, hlm. 9-12.
97
98
Pasal 2 ayat 2 (h dan i) yang menentukan bahwa ASEAN dan Negara-negara anggotanya wajib
bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip berikut, yaitu: (h). Berpegang teguh pada aturan hukum, tata
pemerintahan yang baik, prinsip-prinsip demokrasi dan pemerintahan yang konstitusional; dan (i).
Menghormati kebebasan fundamental dan perlindungan hak asasi manusia dan pemajuan keadilan
sosial.
100
55
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Konsep kedua adalah adanya kebutuhan (need) yang berbentuk
fakta empiris mengenai regionalisasi hukum di ASEAN101. Regionaliasi
hukum ini memiliki arti penting dalam studi hukum organisasi
internasional sebagai katalisator ASEAN memiliki personalitas dan
kapasitas hukum dalam mencapai tujuannya berdasarkan prinsip rule of
law102 Regionalisasi hukum ini menentukan kapasitas hukum dalam
melaksanakan kegiatan dan pencapaian tujuan ASEAN sebagai sebuah
organisasi internasional di Asia Tenggara103. Kegiatan tersebut memiliki
dua (2) dimensi hukum terkait dengan pemenuhan hak dan kewajiban
hukum yang dikenal dalam hukum organisasi internasional, yaitu: (a).
Dimensi hukum internal; dan (b). dimensi hukum eksternal104. Aspek
pertama mencakup pemenuhan 3 (tiga) aspek hukum kelembagaan
ASEAN sebagai sebuah organisasi internasional, yaitu: (1). aspek
akuntabilitas; (2). Aspek legitimasi; dan (3). Aspek pelaksanaan tata
organisasi yang baik (good organization governance)105. Aspek kedua terkait
Ronald Bruce, Revolution, Reforms and Regionalization in South East Asia: Cambodia, Laos and
Vietnam, Oxford: Routledge, 2006, hlm. 100-1002; dan Tan Sri Ahmad Fauzi bin Abdul Razak, “Facing
Unfair Criticims”, dalam Tommy Koh, op.cit, no. 1, hlm. 21-22.
102 Alan R White, Grounds of Liability, Oxford University Press, 1985, hlm. 23-34; dan Jan Klabbers, The
Concepts of Treaty in International Law, The Hague, 1996, hlm. 182-187.
103 Lihat argumen hukum dalam Andrew Halpin, “The Concept of Legal Power”, 16 Oxford Journal of
Legal Studies, 1996, hlm. 129-152; Enzo Cannizaro (eds), The European Union as An Actor in International
Relations, The Hague, 2002, hlm. 151-152 dan Jan Klabbers, “The Life and Times of the Law of
International Organizations, 70 Nordic Journal of International Law, 2001, hlm. 287-317.
104 D.W. Bowett, op.cit, no. 4, hlm. 6-16.
105 Koenraad Van Brabant, Accountable Humanitarian Action: An Overview of Recent Trends, dalam ICRC,
FORUM (War and Accountability), April 2002; lihat yurisprudensi dimensi hukum internal ini di PBB
dalam hal pembiayaan operasi perdamaian PBB dalam the Certain Expenses of the United Nations
1962, Advisory Opinion of the International Court of Justice concerning Cetain Expenses of the United Nations
101
56
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
dengan kemampuan ASEAN dalam membuat dan melaksanakan hukum
yang berlaku dan dipatuhi oleh anggota-anggotanya serta kemungkinan
terkena klaim hukum terhadap aplikasi hukum tersebut oleh pihak ketiga
(negara diluar anggota ASEAN dan/atau organisasi internasional
lainnya), khususnya bagi pemajuan dan perlindungan HAM106.
Konsep Kedaulatan Negara adalah konsep ketiga yang menjadi
kerangka pemahaman untuk menemukan beberapa aspek hukum terkait
dengan penundukan diri negera-negara pada ASEAN, yaitu: (1). alasanalasan hukum mengapa Negara adalah pihak utama yang memiliki
kewajiban perlindungan HAM dan supremasi negara terhadap pemajuan
dan
perlindungan
HAM
terhadap
masyarakatnya107;
dan
(2).
persinggungan kedaulatan dalam upaya perlindungan HAM telah
mengubah paradigma kedaulatan negara dari Mashab Westphalia ke
Mashab Hobessian108 yang dapat digunakan untuk menginterprestasikan
(Article 17, Paragraph 2, of the Charter), 20 July 1962, dikutip oleh Robert Siekmann, Basic Documents on
United Nations and Related Peace Keeping Forces, Tim Asser Institute, 1989, hlm.111; dan The Report of
the Panel for United Nations Peace Operation (the Brahimi Report), UN Doc. A/55/305-S/2000/809,
21 August 2000.
106 Dominic Goldrick, op.cit. no. 5, hlm. 16-23; dalam aspek hukum ini, praktek hukum PBB bisa
dijadikan rujukan studi karena memiliki kesamaan dimensi operasionalnya, lihat dalam John Cerone,
“Minding the Gap: Outlining KFOR Accountability in Post Conflict in Kosovo”, 12 European Journal of
International Law, 2001, hlm. 496-88; Adam Roberts, “Humanitarian Issues and Agencies as Triggers
for International Military Action”, 839 International Review of the Red Cross (Vol. 82, September 2000),
hlm. 679; dan Secretary_General Bulletin: “Observance by United Nations Forces of International
Humanitarian Law”, entry into force 12 August 1999, UN Doc. ST/SGB/1999/13 (6 August 1999).
107 Kristen Hessler, “State Soverignty as an Obstacle to International Criminal Law” dalam Larry May
dan Zachary Hoskins, International Criminal Law And Philosophy, Cambridge University Press, 2010,
hlm 39-57.
108 Mashab Westphalia memandang kedaulatan Negara sebagai sebuah cikal bakal munculnya
Negara karena “Negara terbentuk di suatu wilayah atau teritori tertentu sehingga otoritas nasional
memiliki kapasitas hukum untuk membuat, melaksanakan dan memaksakan berlakunya hukum
57
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
cakupan, sifat dan area prinsip-prinsip perlindungan HAM yang ada
dalam Piagam ASEAN.
Menurut Mashab Westhalia, kedaulatan Negara adalah kekuasaan
tertinggi yang merdeka dari pengaruh dari kekuasaan lain yang dimiliki
oleh
Negara
untuk
mengakui,
memajukan,
melindungi
dan
melaksanakan ketentuan norma HAM di wilayah negaranya dan di
yurisdiksinya109. Yurisdiksi adalah kekuasaan suatu negara untuk
membuat hukum tentang perlindungan HAM dan berlaku terhadap
tersebut di wilayahnya itu terhadap orang, benda dan perbuatan hukum yang ada. Mashab ini
menciptakan beberapa asas dasar dalam hukum internasional yaitu asas non intervensi dan asas
kesamaan atau kesedarajatan dalam hubungan antar Negara yang diadopsi dalam Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mashab Wetphalia ini muncul ketika pada tahun 1648
ditandatangani Perjanjian Perdamaian Westphalia antara Kaisar Suci Roma dengan Raja Kerajaan
Perancis yang berisi 128 Pasal yang pada intinya mengakui Bahwa Kaisar memiliki kedaulatan penuh
terhadap wilayahnya sebagai sebuah konsep kadaulatan negara berdasarkan adagium cujus regio ejus
religio (Agama penguasa adalah agama wilayah penguasa itu). Selain itu, Mashab ini memiliki ciri
bukan sebagai sebuah penjabaran atas prinsip keadilan (principles of justice), namun merupakan
pengejawantahan dari definisi prerogatif suatu negara (penguasa) berdaulat dan bagaimana
menjamin diplomasi diantara para penguasa berdaulat tersebut dalam melaksanakan kedaulatan
dalam negerinya terkait dengan orang, perbuatan dan peristiwa hukum yang muncul dalam
hubungan bilateral atau multilateral. Lihat Jhon H. Jackson, “Sovereignty-Modern: A New Approach
to an Outdated Concept’, 97 American Journal of International Law, 2003, hlm. 786-787; dan Allen
Buchanann, “Rawl’s Law of People: Rules for a Vanished Westphalian World, 115 Ethics, 2004, hlm.
35-66; Stehpen Krasner, Sovereignty: Organized Hypocrisy, Princeton University Press, 1999, hlm. 20.
Sedangkan Mashab Hobbessian yang dikembangkan oleh pemikiran Thomas Hobbes, Imanuel Kant
dan Hans Kelsen memandang kedaulatan Negara sebagai sebuah bentuk kontrol relatif dari suatu
Negara berdaulat terhadap warganegaranya dan memberikan justifikasi kekuasaan eksternal bagi
terciptanya dan terpeliharanya tertib dan stabilitas sosial terhadap individu atau populasi yang ada
di wilayah suatu Negara berdaulat itu sendiri. Lihat Larry May, Crimes Against Humanity: A Normative
Account, Cambridge University Press, 2005, hlm. 9; Hans Kelsen, Principles of International Law, 2nd ed,
1966, hlm. 180; Lyal Sunga, Individual Responsibility in International Law for Serious Human Rights
Violations, 1992, hlm.140-141; lihat juga P. Reuter, Droit International Public, 1983, hlm. 235; J Pritchard,
“The International Military Tribunal for the Far East and Its Contemporary Resonances”, 149 Military
Law Review 25, 1995, hlm. 33.
109 Huala Adolf, 1990, Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum INternasional, PT Rajagrafindo Persada,
Jakarta, hlm.7.
58
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
orang, benda atau perbuatan-perbuatan (yurisdiksi legislatif); kekuasaan
negara terhadap orang, perbuatan atau benda didalam proses peradilan
HAM (yurisdiksi adjudikasi); atau kekuasaan negara untuk memaksakan
berlakunya kewajiban perlindungan HAM dan dipatuhinya ketentuan
hukum dan penghukuman bagi pelanggaran terhadap ketentuanketentuan HAM tersebut (yurisdiksi penegakan hukum)110. Arti penting
Mashab ini adalah diterimanya prinsip “the exhaustion of local remedies”,
yaitu prinsip dasar perlindungan HAM oleh Negara yang mengutamakan
pengunaan norma dan mekanisme perlindungan HAM nasional (primacy)
sebelum mengunakan norma dan mekanisme yang terdapat dalam sistem
regional dan internasional dalam kerangka ASEAN111.
Piagam ASEAN secara jelas mengadopsi Mashab kedaulatan
Negara Westphalia dalam prinsip-prinsip dasar ASEAN, yaitu: (a).
menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesetaraan, integritas wilayah,
dan identitas nasional seluruh Negara-Negara Anggota ASEAN; (b). tidak
campur tangan urusan dalam negeri Negara-Negara Anggota ASEAN;
(c). penghormatan terhadap hak setiap Negara Anggota untuk menjaga
eksistensi nasionalnya bebas dari campur tangan eksternal, subversi, dan
paksaan; (d). menghormati kebebasan fundamental, pemajuan dan
F. Sugeng Istanto, Hukum Internasional, hlm. 45; Malcolm N. Shaw, International Law, 4th ed, 1997,
hlm. 452-456; Cristopher L. Blakesley, “Extraterritorial Jurisdiction”, dalam MC. Bassiouni,
“International Criminal Law Procedure”, 1986, hlm. 1; L. Henkin, R. Pugh, O. Schachter and H. Smith,
International Law in Theory and Practice, 2nd ed, 1987, hlm. 820-825.
111 The United Nations Human Rights, Office for the High Commissioner on Human Rights, The High
Commissioner on Human Rights Strategic Management Plan 2008-2009, p. 1-5.
110
59
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
perlindungan hak asasi manusia, dan pemajuan keadilan sosial; (e).
menjunjung tinggi Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum
internasional, termasuk hukum humaniter internasional, yang disetujui
oleh Negara-Negara Anggota ASEAN; (f). tidak turut serta dalam
kebijakan atau kegiatan apa pun, termasuk penggunaan wilayahnya,
yang dilakukan oleh Negara Anggota ASEAN atau Negara non-ASEAN
atau subyek non-negara mana pun, yang mengancam kedaulatan,
integritas wilayah atau stabilitas politik dan ekonomi Negara-Negara
Anggota ASEAN112.
Mashab Hobbesian berperan besar sebagai dasar munculnya
doktrin intervensi kemanusiaan (humanitarian intervention)113, penerimaan
pelanggaran HAM berat sebagai sebuah bentuk ancaman terhadap
keamanan
dan
perdamaian
internasional114,
berkembangnya
asas
responsibility to protect (R2P)115 dan diterimanya paham kedaulatan Negara
sebagai sebuah tanggung jawab (sovereignty as responsibility)116 dalam
upaya pemajuan dan perlindungan HAM. Kesmua pemahaman ini secara
ASEAN Secretariat, Piagam ASEAN, 2009.
J.L Holzgrefe and Robert O. Keohane, Humanitarian Intervention, Ethical, Legal and Political Dillemas,
Cambridge University Press, 2003.
114 SC Res 827 (May 25,1993), UN Doc S/25704 (May 3, 1993), 3 ILM 1159 dan SC Res 955 (November 8,
1994), UN Doc S/1994/140 tentang pembentukan ICTY dan ICTR.
115 The Asia Pacific Center for R2P, The Responsibility to Protect in Southeast Asia, January 2009, hlm.6
yang dielaborasikan dengan beberapa pemikiran dari B. Cheng, “Custom: the Future of General State
Practice in Divided World” dalam R. Macdonald dan D. Johnston (editor), The Structure and Process of
Internatmional Law: Essay in Legal Philosophy, Doctrine and Theory, Dordrecht, Martinus Nijhoff
Publisher, 1983, hlm. 513
116 J.L Holzgrefe and Robert O. Keohane, op.cit, no. 42, hlm. 45-67.
112
113
60
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
prinsip telah diadopsi dalam AHRD, khususnya dalam Bagian dan pada
Bagian Penutupnya. Disamping itu, Mashab ini juga digunakan dan
diambil sebagai salah satu prinsip dasar ASEAN khususnya oleh the
ASEAN Intergovernmental Commission of Human Rights (AICHR) sebagai
badan yang memiliki fungsi sebagai badan yang memiliki yurisdiksi
pelengkap dari yurisdiksi hukum nasional negara-negara anggota
ASEAN117.
Konsep keempat adalah konsep yuridis sosiologis organisasi
internasional yang menjadi latar belakang terbentuknya ASEAN oleh
masyarakat Asia Tenggara118. Organisasi internasional dalam arti luas,
adalah bentuk kerjasama antar pihak-pihak yang bersifat internasional
untuk tujuan yang bersifat internasional119. Pada hakekatnya organisasi
internasional timbul karena “ubi societas, ibi jus’ (dimana ada masyarakat
disana ada hukum), termasuk juga ASEAN dimana seiring dengan
perkembangan teknologi, telekomunikasi dan transportasi intensitas
interaksi antara negara juga semakin meningkat khususnya di kawasan
Asia Tenggara120. Dalam interaksi tersebut, timbul banyak persinggungan
The AICHR ToR, Chapter 1 (1.5) yang menentukan bahwa “to enhance regional cooperation with a view
to complementing national and international efforts on the promotion and protection of human rights”; and
Chapter 2 (2.3) yang menentukan bahwa “recognition that the primary responsibility to promote and protect
human rights and fundamental freedoms rests with each Member State”.
118 Jan Klabbers, “The Life and Times of the Law of International Organization, 70 Nordic Journal of
International Law, 2001, hlm. 287; Alan Dashwood, “The Limits of European Community Powers, 21
European Law Review, 1996, hlm. 125; dan Finn Seyersted, Objective International Personality of
International Organizations: Do Their Capacities Really Depend Upon the Conventions Establishing Them?,
Copenhagen, 1963, hlm. 28-30.
119 Klabbers, ibid, hlm. 288.
120 Tommy Koh, op.cit, no. 1, hlm. 5.
117
61
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
kepentingan antara negara terkait dengan bidang kehidupan yang sangat
luas yang tentunya tidak dapat disandarkan kepada peraturan dari
masing-masing
negara
namun
memerlukan
pengaturan
bersama
internasional agar kepentingan masing-masing negara lebih terjamin121.
Kebutuhan akan suatu pembuatan peraturan bersama tersebut kemudian
membuat negara-negara berfikir bagaimana mekanisme yang paling
efisien dalam realisasinya yang diwadahi oleh suatu organisasi
internasional, dalam hal ini adalah ASEAN122.
Teori pertama yang digunakan dalam paper ini adalah Teori
Efektifitas Perlindungan HAM dan Teori Fungsi Sosial Hukum
Internasional yang dikemukakan oleh Phillip Allot (the Social Function of
International Human Rights Law Theory)123. Teori ini memandang bahwa
hukum HAM internasional adalah sebuah sistem hukum yang terbentuk
dan berkembang dari, ke dan untuk masyarakat internasional, dalam
suatu masyarakat internasional yang terbentuk dari masyarakat nasional
tanpa memandang perbedaan suku, agama dan ras untuk mewujudkan
kepentingan bersama umat manusia berdasarkan prinsip-prinsip dasar
perlindungan HAM dan kebebasan dasar umat manusia124. Untuk
anggota
ASEAN,
Teori
ini
berkorelasi
dan
bermanfaat
pada
Daswood, op.cit, no. 47, hlm. 126.
CF Amersinghe, Principles of the Institutional Law of International Organization, Cambridge
University Press, 1996, hlm. 68-79.
123 Phillips Allot, The Concept of International Law’, 10 Europan Journal of International Law, 1999, hlm.
31-50.
124 Ibid.
121
122
62
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
ditemukannya pola untuk memetakan permasalahan, tantangan sekaligus
kesempatan dalam upaya perlindungan HAM kedepan sebagai indikator
pelaksanaan rule of law menurut ketentuan Piagam ASEAN125.
Berdasarkan Teori Fungsi Sosial Hukum Hak Asasi Manusia,
hukum HAM dalam Piagam ASEAN ini memiliki tiga dimensi hukum
yang saling menentukan, yaitu: (1). Hukum tersebut membawa
perubahan dalam struktur hukum dan sistem sosial masyarakat dalam
kurun waktu tertentu; (2). Hukum tersebut memasukkan kepentingan
bersama dalam perilaku yang diharapkan dalam pembentukan dan
praktek identitas komunal yang disepakati; dan (3). Hukum tersebut
membawa pengharapan hukum (legal expectation) yang akan terjadi pada
masyarakat tersebut dimasa yang akan datang yang sesuai dengan
identitas dan nilai-nilai sosial masyarakatnya, tata nilai dan tujuan hidup
bersama dalam suatu kesepakatan yuridis untuk hidup bersama secara
damai dan sejahtera126. Dencho Georgiev menyebut ketiga dimensi
hukum ini sebagai sebuah kebenaran (correctness) yang memiliki
implikasi hukum untuk pemenuhannya (entitlement) dalam mekanisme
dan kegiatan entitas hukum yang bersangkutan127.
Heribertus Jaka Triyana, “Politics and Law of Human Rights in Southeast Asia: A Critical Legal
Analysis”, Presented at the Short Course on Human Rights and Democracy in Southeast Asia for the
ASEAN Diplomats, 24-25 August 2009, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT UGM)-Deplu RI,
Yogyakarta.
126 Allot, op.cit, no. 52, hlm.31.
127 Georgiev, op.cit, no. 8, hlm. 1-6 dan Jack Donelly, Universal Human Rights In Theory and Practice,
Second Edition, Ithaca Cornell University Press, London, 2000, hlm. 10
125
63
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Dari ketiga dimensi hukum tersebut, Teori ini memberikan
kerangka analisis atau justifikasi pembenar bahwa perlindungan HAM
adalah salah satu elemen terpenting dari prinsip rule of law dalam konteks
dan perspektif ASEAN disaat ini dan dimasa yang akan datang, yaitu: (1).
Hukum HAM merupakan bagian dari eksistensi bersama masyarakat
Asia Tenggara yang memiliki kesamaan identitas (self-constituting of a
society); (2). Eksistensi bersama tersebut terbentuk dari ide dasar yang
sama dan membentuk perilaku nyata berdasarkan ide dasar tersebut; (3).
Hukum HAM ini digerakkan oleh bentuk korelaksi sosial yang sama
dengan doktrin nilai-nilai Asia (a distinctive social forms); (4). Hukum
HAM ini mengeneralisasi sistem hukum perlindungan HAM yang ada
sesuai dengan kepentingan sosial bersama masyarakat Asia Tenggara; (5).
Hukum HAM ini pada saat bersamaan membentuk partikularisasi dalam
segmen sosial berdasarkan pembatasan yang diakui dan diatur dalam
konstitusi dan undang-undang nasional negara anggota; (6). Hukum
HAM ini menentukan kepentingan bersama dari masyarakat sesuai
dengan nilai-nilai dan tujuan bersama yang membentuk tatanan bersama
(societal order); (7). Hukum HAM ini memerlukan penjelasan-penjelasan
teoritis dalam hubungan antar komunitas sehingga terbangun kondisi
seutuhnya mengenai tatanan nilai dan tujuan yang disepakati (agreed
values and purposes); dan (8). Hukum HAM ini harus mampu digunakan
sebagai perekayasa sosial (social engineering) dalam kesadaran privat dan
publik secara bersamaan sehingga tumbuhlah kepedulian bersama untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan ketentuan dalam norma dan
64
JURNAL OPINIO JURIS
mekanisme
tersebut128.
Vol. 15  Januari-April 2014
Dari kedelapan ciri atau karakteristik tersebut,
tegaknya rule of law akan berdampak positif bagi upaya pemenuhan dan
perlindungan HAM dan mengharuskan negara sebagai anggota ASEAN
untuk menjalankan hukum yang fungsional sebagai sebuah cara untuk
mencapai tujuan bersama ASEAN di kawasan Asia Tenggara129.
C. Eksistensi Prinsip Rule of Law Dalam Kerangka Hukum ASEAN
Sebagai Sebuah Organisasi Internasional
Black mendefinisikan prinsip hukum sebagai “a fundamental truth
or doctrine, as of law; a comprehensive rule or doctrine which furnishes a basis or
origin for others; a settled rule of action, procedure, or legal determination” atau
suatu kaidah kebenaran pokok atau sebagai sebuah norma hukum;
keseluruhan aturan atau norma yang menjadi dasar pembenar terhadap
pembentukan norma atau kaidah yang lainnya; sebuah peraturan yang
pasti untuk melakukan perbuatan hukum, tata cara atau pencapaian
terhadap suatu tujuan-tujuan hukum130. Dengan demikian, prinsip
hukum berfungsi sebagai dasar pembenar ataupun dasar pemaaf
terhadap proses pembentukan dan pelaksanaan suatu ketentuan hukum
yang berlaku dalam masayarakat internasional dan pada masyarakat
pada suatu negara yang berdaulat131. Prinsip hukum memiliki dimensi
luas dalam artian sebagai sebuah preskripsi hukum: baik sebagai sebuah
Allot, loc.cit.
Peerenboom, op.cit, no. 19, hlm. 48.
130 Black., H.C., Black’s Law Dictionary, 6th ed., St. Paul: West Publishing Co, 1990.
131 Aulis Arnio, Essay on Doctrinal Study of Laws, Springer, 2011, hlm, 119-121.
128
129
65
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
perintah, larangan atau perkenan, kompetensi hukum dan sebuah definisi
hukum132 sehingga prinsip hukum adalah salah satu pengertian dari asas
hukum yang dikenal dalam sistem-sistem hukum yang ada di dunia133.
Rule of law adalah sebuah prinsip hukum yang keberadaanya
diakui oleh masyarakat internasional dan diakui pula oleh sistem-sistem
hukum yang ada didunia134. Disamping itu, prinsip rule of law juga
diterima dan dipraktekkan dalam mekanisme organisasi internasional,
seperti di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)135. Kenyataannya,
prinsip ini tidak bisa berdiri sendiri karena ia memerlukan aspek lain
non yuridis seperti stabilitas politik, keamanan dan kemauan serta
kemandirian entitas pelaksananya136. Mudahnya, secara konsepsional dan
normatif, rule of law adalah hukum itu sendiri dan sudah tidak ada lagi
pertentangan
pendapat
mengenainya,
namun
kegagalan
dalam
melaksanakannya dalam tataran implementasi adalah masalah hukum
dalam kerangka rule of law yang menyebabkan dinamisasi dan aktualisasi
prinsip hukum ini dalam kenyataannya137.
Ibid, hlm. 122.
Ibid; bandingkan dengan Spinezi, Maria, Ancilla Iuris, 2007, p. 66 dan Mochtar Mochtar
Kusumatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Alumni, Bandung, 2003, hlm.148; dan Sam Suhaedi
Atmawiria, Pengantar Hukum Internasional, Alumni, Bandung, 1968, hlm.58.
134 Thomas M Franck and Arun K. Timeringedam, “International Law and Constitutional Making,
Chinese Journal of International Law 2003, hlm. 468 dan 514
135 Jeremy Mathan Farral, The United Nations Sanctions and the Rule of Law, Cambridge University
Press, 2007.
136 Gerry J. Simpson, “The Situation on the International Legal Theory Front: The Power of Rules and
the Rules of Power”, The European Journal of International Law, Vol. 11, No. 2, 2000, hlm. 439-464.
137 Franck and Timeringedam, op.cit, no. 63, hlm. 510.
132
133
66
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Definisi rule of law sangat beragam dan kompleks dari yang
mendefinisikannya secara formal dan material138, luas dan sempit139, serta
tebal dan tipis140 walaupun semua definisi tersebut menyetujui bahwa
rule of law adalah produk hukum mashab Positivist yang sangat
mengedepankan tiga (3) cita hukum, yaitu keadilan, kepastian dan
kemanfaatan hukum141. Keberagaman definisi tersebut memberikan
gambaran atau deskripsi umum mengenai apa itu rule of law dalam kajian
dan relevansinya secara yuridis, yaitu: (1). Ia adalah asas hukum,
sekaligus prinsip hukum dan dogma hukum142; (2). Eksistensinya adalah
untuk mencapai keadilan hukum, disamping kemanfaatan dan kepastian
hukum143; (3). Ketaatannya ditujukan pada kesadaran perilaku subyek
hukum untuk mencapai tujuan hukum yang telah disepakati bersama
dalam sebuah ikatan yuridis sosiologi144; dan (4). Model implementasinya
adalah
sebagai
sebuah
proses
untuk
mencegah
terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan dan/atau wewenang dari pada sebagai
sebuah hasil terhadap penyalahgunaan kekuasaan dan/atau wewenang
Georgiev, op.cit, no. 8, hlm. 10-11.
Qurratul Ain, Hak Asasi Manusia dan Rule of Law: Sebuah Pengantar, Paper 2008, tidak
dipublikasikan, hlm 3-6.
140 Human Rights Resource Center, op.cit, no. 6, hlm. 12-15.
141 Simpson, op.cit, no. 65; Georgiev, op.cit, no. 8; Farnck and Timerindam, op.cit, no, 63.
142 Farral, op.cit, no. 64, hlm. 35.
143 Simpson, op.cit, no. 65, hlm. 460 dan bandingkan dengan Andrew Altman and Christopher Heath
Wellman, A Liberal Theory of International Justice, Oxford University Press, 2009.
144 Phillipe Nonet and Phillip Selznik, Law and Society in Transition, Harper Book, New York, 1978,
hlm. 1
138
139
67
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
tersebut145. Dapat disimpulkan bahwa rule of law merupakan suatu
legalisme hukum yang mengandung gagasan bahwa keadilan dapat
diciptakan dan dilayani melalui pembuatan dan pelaksanaan sistem
peraturan dan prosedur hukum yang bersifat obyektif, tidak memihak,
otonom dan membuka peluang partisipasi dalam pembuatan dan
pelaksanaannya dengan mengedepankan asas-asas hukum yang berlaku
secara umum146.
Secara yuridis dalam kajian hukum internasional, prinsip rule of
law digunakan sebagai salah satu sumber hukum internasional seturut
dengan ketentuan Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional (MI) karena
ia memenuhi beberapa kriteria sebagai sumber hukum internasional
sebagai berikut, yaitu147: (1). Prinsip tersebut adalah bagian dari hukum
internasional itu sendiri yang dapat diketemukan dalam perjanjian
internasional, instrumen pokok suatu organisasi internasional ataupun
dalam praktek negara dalam melaksanakan hubungan internasional; (2).
Keberadaannya adalah mandiri terdapat dalam dokumen-dokumen
hukum internasional, kebiasaan hukum dan keputusan-keputusan
hukum organisasi internasional yang berlaku sebagai dasar berlakunya
B.S. Chimi, “International Institution Today: An Imperial Global State in the Making, European
Journal of International Law, Vol. 15, No. 1, 2004, hlm. 2-7 dan Geuther Teupner, “Substantive and
Reflexive Law, Society Law Review, vol. 17, no. 2, 1983, hlm. 247.
146 Sacipto Raharjo, Biarkan Hukum Mengalir: Catatan Kritis Tentang Pergulatan Manusia dan Hukum,
Penerbitan Kompas, 2007, hlm. 77 dan 133.
147 Massimo La Torre, Law and Institutions, Springer, 2009, hlm. 61 dan Simpson, op.cit, no, 65, hlm.
459.
145
68
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
suatu kerjasama internasional dalam hubungan internasional; (3). Prinsip
tersebut dapat membantu hakim atau lembaga penyelesaian sengketa
untuk berkreasi dalam menemukan hukum ketika terjadi sengketa antara
para pihak atau ketidakjelasan aturan hukum sehingga mereka dapat
memutuskan perkara dan memberikan fatwa hukum secara adil,
imparsial dan akuntabel; (4). Keberadaanya sangatlah penting dalam
sistem hukum yang bersangkutan karena adanya jaminan kesetaraan
hukum dalam sistem hukum tersebut (checks and balances); (5). Aspek
filosofisnya merupakan cakupan dasar dalam asas tersebut yang menjadi
dasar tujuan dari kegiatan organisasi internasional; dan (6). Prinsip ini
memiliki fungsi dasar sebagai “reservoir” atau tempat diketemukannya
rasionalitas suatu aturan hukum yang mengatur kapasitas dan
personalitas hukum terkait dengan dimensi hukum internal dan
eksternal148.
Rule of law dalam studi hukum organisasi internasional adalah
sebuah konsep yang sangat mendasar bagi eksistensi suatu organisasi
internasional dalam mecapai tujuannya dimana ia menjadi dasar tata
kelola organisasi yang baik yang mengatur pola hubungan antara
individu, organ organisasi dan negara anggota dalam kasanah publik dan
privat didasari oleh prinsip-prinsip supremasi hukum, kesamaan
dihadapan hukum, akuntabilitas, pemisahan kekuasaan organisasi,
kepastian hukum, partisipasi dalam proses pengambilan keputusan
148
Spinezi, ibid, hlm 67.
69
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
organsasi dan transparansi149. Secara konseptual, rule of law menjadi
pemersatu antara studi hukum internasional dan studi hubungan
internasional yang dilaksanakan oleh organisasi internasional sebagai
salah satu subyek hukum internasional yang mengabungkan paham
Positivis dan paham Realis sehingga tercipta paham baru, yaitu Positivis
Realis150. Menurut paham ini, rule of law menjadi dasar justifikasi legal
terhadap pencapaian tujuan bersama yang memiliki legitimasi sosiologis
yang kuat dalam masyarakat internasional dimana mereka menerimanya
sebagai sebuah kebenaran hukum dan kewajiban internasional serta
kegagalan dalam melaksanakan kewajiban tersebut menjadi dasar
terjadinya pertanggungjawaban negara151.
Dalam sistem PBB, prinsip rule of law menjadi model tata kelola
PBB yang menggantikan orientasi hasil kepada orientasi proses yang
didasarkan pada keterkaitan antara HAM dan demokrasi dalam
mencapai tujuannya152. Rule of law memberikan elemen-elemen dasar
yang memformulasikan struktur, operasi dan evaluasi berdasarkan
Op.cit, no. 8.
Shirley V. Scott, “International Law As An Ideology: Theorizing the Relationship Between
International Law and International relations; 5 European Journal of International Law, 1994, hlm. 311316; dibandingkan dengan George Schawarzerberger, Power Politics, 1951; dan H. Morgenthau, Politics
Among Nations: The Strugle for Power and Peace, 1949.
151 F. Boyle, World Politics and International Law, 1985, hlm. 6-7 dan Gearoid Tuathail, Simon Dalby and
Paul Routledge, The Geopolitics Reader, Second Edition, Routledge, London and New York, 2007, hlm.
263.
152 Sekretaris Jenderal PBB, Guidance Note of the Secretary General: United Nations Apparoach to Rule of
Law Assistance, 14 April 2008, hlm. 1; dan Paul F. Diehl, The Politics of Global Governance, International
Organizations in An Interdependent World, Lynne Rienner Publishers, 2005, hlm. 9-11
149
150
70
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
elemen-elemen persamaan, pertanggungjawaban, dan penghindaran
kesewenang-wenangan hukum dalam struktur PBB153. Selain itu, rule of
law memperoleh justifikasi dan dukungan yang sangat luas dalam kerja
sama PBB yang mengarah pada terbentuknya rule of law sebagai salah
satu hukum kebiasaan internasional yang memenuhi elemen substansi
(opinio jurist) dan elemen formal (state practice)154. Prinsip rule of law adalah
saling menguatkan dan saling tergantung dengan HAM dan demokrasi
sehingga penggabungan diantara mereka merupakan keharusan dalam
pencapaian tujuan PBB dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang155.
Pada akhirnya, PBB mengembangkan rule of law sebagai sebuah tolok
ukur penyelenggaraan tata pemerintahan organisasi yang baik khususnya
dalam sistem peraturan dan prosedur hukum yang bersifat obyektif,
tidak memihak, otonom dan membuka peluang partisipasi dalam
pembuatan dan dalam pelaksanaannya sehingga penundukan diri negara
anggota PBB didasari oleh kepatuhan atas rasa dan tertib hukum dan
bukan karena motif kepentingan (political interests)156.
Prinsip rule of law terdapat dalam Mukadimah dan dalam Pasal 1
(7) Piagam ASEAN157. Dalam kerangka ASEAN, prinsip rule of law
diterapkan sesuai dengan fungsinya seturut dengan Teori Fungsi Sosial
Farral, op.cit, no. 64.
Giorgiev, op.cit, no. 8, hlm. 67 dan Simpson, op.cit, no. 65, hlm. 456.
155 Sekjen PBB, op.cit, no. 79, hlm. 2 dan Human Rights Resource Center, op.cit, no. 6, hlm. 10.
156 Farral, op.cit, no. 65, hlm, 78; dan A/ 59/2005/: “In Larger Freedom: Toward Development,
Security and Human Rights for All”, 21 March 2005.
157 Human Rights Resource Center, op.cit, no. 6, hlm. 10-12.
153
154
71
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Hukum Internasional158. Mukadimah Piagam ASEAN menyatakan bahwa
semua anggota mematuhi prinsip-prinsip demokrasi, rule of law dan tata
pemerintahan yang baik dan penghormatan dan perlindungan HAM dan
kebebasan-kebebasan manusia yang fundamental. Pasal 1 (7) menentukan
bahwa
tujuan
ASEAN
adalah
untuk
memperkuat
demokrasi,
meningkatkan tata pemerintahan yang baik dan rule of law, dan
memajukan
serta
melindungi
HAM
dan
kebebasan-kebebasan
fundamental dengan memperhatikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban
dari negara-negara Anggota ASEAN. Piagam ASEAN tidak lagi menjadi
satu-satunya instrumen yang mengatur rule of law, namun penguatan dan
pelaksanaannya telah diikat dengan diciptakannya tiga komunitas
hukum, yaitu komunitas Politik-Keamanan (Political-Security Community);
Komunitas Ekonomi (Economic Community); dan Komunitas Sosial
Budaya (Socio-Cultural Community) sebagai peretas jalan menuju
komunitas ASEAN pada tahun 2015. Ketiga komunitas ini menjadi sarana
bersama dimana negara-negara anggota ASEAN berinteraksi dan
bekerjasama yang lebih erat untuk membentuk norma-norma bersama
dan menciptakan mekanisme bersama untuk mencapai tujuan dan
sasaran ASEAN di bidang politik dan keamanan159.
Jhonston, “Functionalism in the Theory of International Law”, 26 Canadian Yearbook of International
Law, 1988, hlm. 6-9 dan didasarkan pada argumentasi Allot, op.cit, no. 52.
159 Deklarasi Cha-am Hin Tentang Langkah-Langkah Pengembangan Sebuah Komunitas ASEAN
Tahun 2009 (2009-2015), 1 Maret 2009
158
72
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Prinsip rule of law juga dikembangkan menjadi sebuah model
kegiatan ASEAN yang menggantikan orientasi hasil kepada orientasi
proses yang didasarkan pada keterkaitan antara HAM dan demokrasi
dalam mencapai tujuannya160. Rule of law memberikan elemen-elemen
dasar yang memformulasikan struktur, operasi dan evaluasi berdasarkan
elemen-elemen persamaan, pertanggungjawaban, dan penghindaran
kesewenang-wenangan hukum dalam struktur kelembagaan ASEAN161.
Selain itu, rule of law memperoleh justifikasi dan dukungan yang sangat
luas dalam kerja sama ASEAN dengan PBB dan organisasi internasional
lainnya yang mengarah pada terbentuknya rule of law sebagai salah satu
hukum kebiasaan internasional162. Prinsip rule of law adalah saling
menguatkan dan saling tergantung dengan HAM dan demokrasi
sehingga penggabungan diantara mereka merupakan keharusan dalam
pencapaian tujuan ASEAN atau sebagai sebuah “conditio sine qua non”163.
Pada akhirnya, ASEAN mengembangkan rule of law sebagai sebuah tolok
ukur penyelenggaraan tata pemerintahan organisasi yang baik khususnya
dalam sistem peraturan dan prosedur hukum yang bersifat obyektif,
ASEAN, ASEAN Handbook on International Cooperations in Trafficking in Persons, ASEAN Public
Affairs Services, 2010.
161 ASEAN, ASEAN Masterplan 2020, ASEAN, 2008.
162 ASEAN, Agreement on Priveleges and Immunities of ASEAN, ASEAN Secretariat, 2010.
163 Camoying, Luningning G, “Establishing an ASEAN Human Rights Mechanism: Development and
Prospects”, Insights, Issue No. 1, March 2005.
160
73
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
tidak memihak, otonom dan membuka peluang partisipasi dalam
pembuatan dan dalam pelaksanaan kegiatan ASEAN164.
Dapat disimpulkan bahwa prinsip rule of law dalam Piagam
ASEAN secara substantif memenuhi keenam kriteria sebagai sumber
hukum yang berlaku mengikat bagi negara-negara anggota ASEAN dan
bagi organ-organ ASEAN, yaitu: (1). Prinsip tersebut adalah bagian dari
hukum internasional regional itu sendiri yang telah dipraktekkan oleh
negara-negara Asia Tenggara yang menjadi anggota ASEAN165; (2).
Keberadaanya adalah mandiri secara yuridis formal walaupun ia tetap
memerlukan faktor penentu non yuridis seperti faktor keamanan dan
stabilitas politik dalam pelaksanaan pembangunan bersama166; (3). Prinsip
ini membantu hakim atau lembaga penyelesaian sengketa yang ada
dalam mekanime ASEAN untuk berkreasi dan menemukan hukum
khususnya terhadap pencapaian tujuan ASEAN167; (4). Keberadaannya
sangatlah penting dalam sistem hukum ASEAN yang dibuktikan dengan
dicantumkannya prinsip tersebut dalam Terms of References AICHR
sebagai bagian integral struktur ASEAN dan dalam Mukadimah AHRD
Severino, op.cit, no. 21 dan bandingkan dengan Hiro Katsumata, ASEAN’s Cooeperative Security
Enterprise, Norms and Interests in the ASEAN Regional Forum, Palgrave McMilan, 2009.
165 Mohamed El Zeidy, The Principle of Complementarity in International Criminal Law, Origins,
Deleopment and Practice, Martinus Nijhoff Publisher, 2008, hlm. 5-152.
166 Human Rights Resource Center, op.cit, no. 6, hlm. 16.
167 Michael Wesley, The Regional Organization in Asia Pacific, Exploring Institutional Changes, Palgrave
McMilan, 2003 dan Marie Pangestu, “The Future of ASEAN”, the Indonesian Quarterly, vol. XXV, No.
4, 199
164
74
JURNAL OPINIO JURIS
sebagai sebuah norma
Vol. 15  Januari-April 2014
hukum168;
(5). Aspek filosofisnya tercakup dalam
prinsip tersebut yaitu memberikan pengutamaan kepada pencapaian
keadilan, kepastian dan kemanfaatan bersama dan masyarakat yang
sejahtera169;
dan
(6). Prinsip ini
menjadi
reservoir
atau
tempat
diketemukannya aturan hukum terkait dengan pencapaian dan tata
laksana kegiatan ASEAN berdasarkan tata pemerintahan organisasi yang
baik khususnya dalam sistem peraturan dan prosedur hukum yang
bersifat obyektif, tidak memihak, otonom dan membuka peluang
partisipasi dalam pembuatan dan dalam pelaksanaannya170.
Selain itu, prinsip rule of law dalam kerangka ASEAN menjadi
pedoman
utama
dalam
penguatan
struktur
kelembagaan
dan
pengembangan kelembagaan ASEAN itu sendiri yang akuntabel dan
memiliki legitimasi yang kuat dalam mencapai tujuannya. Dasar
penguatan tersebut terletak pada diterimanya elemen-elemen dasar dar
prinsip rule of law dalam keragka kerja ASEAN, yaitu: (1). Diataatinya
prinsip berkuasanya hukum (supremacy of law); (2). Persamaan didepan
hukum (equality before the law); (3). Pertanggungjawaban hukum (fairness
in the application of the law); (4). Adanya pemisahan kekuasaan dalam
pengambilan dan pelaksanaan keputusan hukum (separation of power); (5).
Timothy LH MacCormack and Sue Robertson, “Jurisdictional Aspects of the Rome Statute for the
New International Criminal Court”, 23 Melbourne University Law Review, 1999, hlm. 652-660 dan
Geoffrey Watson, “The Humanitarian Law of the Yugoslavia War Crimes Tribunal: Jurisdiction in
Prosecutor v Tadic”, 36 Virginia Journal of International Law, 1997, hlm. 717.
169 Lijun Yang, “On the Principle of Complementarity in the Rome Statute of the International
Criminal Court”, Chinese Journal of International Law, Vol.4, No. 1, 2005, hlm. 122.
170 ASEAN, op.cit, no. 89.
168
75
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Adanya partisipasi dalam pembuatan keputusan hukum di ASEAN
(participation in the decision making); (6). Adanya kepastian hukum (legal
certainty); (7). Dihindarinya kesewenang-wenangan hukum (avoidance of
arbitrariness); dan (8). Keterbukaan prosedur dan pelaksanaan hukum
(transparency)171.
Burhan Tsani dalam hal ini berargumentasi bahwa prinsip rule of
law dalam Piagam ASEAN mampu digunakan sebagai instrumen hukum
untuk meniadakan penilaian negatif bahwa ASEAN selama ini hanya
menyentuh kaum elit politik yang berkuasa di Asia Tenggara; ASEAN
hanyalah “keranjang kosong tanpa isi” bagi terciptanya kemakmuran
bersama masyarakat Asia Tenggara; dan ASEAN tidak memiliki relevasi
terhadap peningkatan kesejahteraan dan keamanan di kawasan Asia
Tenggara secara langsung khususnya terhadap penciptaan keamanan
komprehensif kepada umat manusia172. Disamping itu, prinsip rule of law
dalam Piagam ASEAN memberikan penguatan kepada ASEAN sebagai
sebuah institusi regional (regional arrangement) yang harus diberdayakan
dalam upaya-upaya penyelesaian sengketa di kawasan Asia Tenggara
berdasarkan ketentuan Pasal 52 (1) Piagam PBB dan sebagai institusi
penyelesaian sengketa secara damai menurut ketentuan Pasal 33 Piagam
Erman Suparman, “Kerjasama Bidang Peradilan Antar Negara Dan Upaya Penyeragaaman
Pranata Hukum Antar Bangsa, Paper tidak di[ublikasikan, 2010, hlm. 2-6.
172 Burhan Tsani, op.cit, no. 1, hlm. 18-19.
171
76
JURNAL OPINIO JURIS
PBB173.
Vol. 15  Januari-April 2014
Rule of law dalam Piagam ASEAN mempertajam peran dan fungsi
ASEAN seturut dengan Resolusi Majelis Umum PBB tahun 1970 yang
menentukan bahwa “Negara-negara anggota PBB harus mencari dan
mengunakan penyelesaian sengketa internasional sedini mungkin dan
seadil-adilnya dengan cara negosiasi, jasa baik mediasi, konsiliasi,
arbitrase, penyelesaian melalui pengadilan, mengunakan upaya-upaya atau
badan-badan regional yang ada atau cara-cara penyelesaian sengketa lainnya
berdasarkan pilihan mereka sendiri”174 (kursif penulis).
D. Aplikasi Prinsip Rule of Law dalam Penguatan dan Perlindungan
HAM dalam Kerangka ASEAN (AHRD dan AICHR)
Randall Peerenboom secara khusus meneliti dan mengkaji secara
mendalam dan kritis kaitan antara rule of law dan perlindungan HAM
serta kebebasan dasar umat manusia dan menghasilkan temuan hukum
bahwa keduanya memiliki hubungan yang kompleks dan saling
menentukan satu dengan yang lainnya175. Kompleksitas tersebut sangat
dipengaruhi oleh struktur, isi serta budaya hukum dalam sistem itu
sendiri serta faktor eksternal non sistem tersebut176. Dilain sisi, Robert
Bowett, op.cit, no.4, hlm. 205 dan Farral, op.cit, no. 64, hlm. 84.
General Assembly Declaration on Principles of International Law Concerning Friendly Relations and
Cooperations Among States in Accordance with the Charter of the United Nations, GA Res. 2625 (XXV), 24
October 1970; dan lihat uraian selengkapnya dalam JG Merills, International Disputes Settlement, 3rd
Editions, Cambridge University Press, 2000.
175 Peerenboom, op.cit, no. 19 dan Javaid Rehman, International Human Rights Law: A Practical Approach,
Longeman Press, 2003;
176 Ibid, hlm. 20
173
174
77
JURNAL OPINIO JURIS
McCorquodale
menguatkan
Vol. 15  Januari-April 2014
asumsi
yuridis
bahwa
organisasi
internasional memiliki kewajiban internasional terhadap perlindungan
HAM berdasarkan 3 (tiga) argumen hukum, yaitu: (1). Organisasi
internasional tidak boleh bertindak bertentangan dengan kewajiban
hukum yang dimiliki oleh anggotanya terhadap kewajiban mereka pada
instrumen perlindungan hukum HAM yang diterimanya; (2). Organisasi
internasional terikat pada hukum kebiasaan internasional mengenai
perlindungan HAM sama seperti pada negara dan individu; dan (3).
Kewajiban hukum perlindungan HAM tersebut telah berkembang ke
organisasi internasional secara langsung177. ASEAN mengambil ketiga
argumen hukum ini sebagai rasionalitas dan fakta hukum pembentukan
norma dan mekanisme perlindungan HAM dalam kerangka rule of law178.
Sejalan dengan kedua argumentasi hukum tersebut di atas,
Komite Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya menyatakan bahwa: “State
Parties should ensure that their actions as members of international
organizatioions take due account of their rights to water. Accordingly, State
parties that are members of international financial institutions, notably the
Robert McCorquodale, “International Organizations and International Human Rights Law: One
Giant Leap for Humankind”, in Kaiyan Homi Kaikobad and Michael Bohlander, International and
Power Perspective on Legal Order and Justice, Martinus Nijhoff Publishers, 2009, hlm. 154-156.
178 Tommy Koh, op.cit, no. 1, hlm. 18; Heppy Ratna, AICHR dan Penguatan Perlindungan HAM di
ASEAN,
http://news.antara.co.id/berita/1256362459/aichr-dan-penguatan-perlindungan-ham-diasean, 2009; dan Human Rights Committee, General Comment 3, Article 2, para 1, Implementation at
the national level (Thirteenth session, 1981), Compilation of General Comments and General
Recommendations Adopted by Human Rights Treaty Bodies, UN Doc. HRI/GEN/1/Rev.1 at 14
(1994), University of Minnesota Human Rights Library, http://www1.umn.edu/humanrts/gencomm/hrcom13.htm.
177
78
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
International Monetary Fund, the World Bank, and regional development banks,
should take steps to ensure that the right to water is taken into account in their
lending policies, credit agreements and other international measures”179.
Mudahnya,
organisasi
internasional
terikat
terhadap
kewajiban
pemenuhan dan perlindungan HAM dalam menjalankan fungsinya180.
Selain itu, yurisprudensi internasional juga menguatkan argumentasi
tersebut di atas bahwa organisasi internasional memiliki kewajiban
pemenuhan dan perlindungan HAM secara langsung berdasarkan
aplikasi hukum kebiasaan internasional sebagai sebuah penghormatan
atas Piagam PBB181.
Mahkamah Internasional memutuskan secara jelas bahwa:
“International organizations are subjects of international law and, as such, are
bound by any obligations incumbent upon them under general rules of
international law, under their constitutions or under international agreements to
which they are parties”182. Dengan demikian, eksistensi rule of law dan
penguatan perlindungan HAM dalam kerangka ASEAN memiliki
rasionalitas hukum yang dibangun dari keyakinan hukum yang
ditunjukan dalam aturan-aturan normatif internasional dan praktek-
Committe on Economic, Social and Cultural Rights, General Comments 15: The Rights To Water”,
UN Doc. E/C.12/2002/II, 2002, para. 36.
180 Coomans and Kaminga (eds), Extraterritorial Application of Human Rights Treaties, Antwerp, 2004,
hlm. 214 dan Reinisch, “Securing the Accountability of International Organizations”, 7 Global
Governance, 2001, hlm. 131-135.
181 Blokker and Schemers, International Institutional Law, Fourth Edition, Leiden, 2003, hlm. 1002-1003.
182 Interpretation of the Agreement of March 25, 1951 between the WHO and Egypt: Advisory Opinion, ICJ
Report 1980, para. 73, hlm. 89-91.
179
79
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
praktek subyek hukum internasional sehingga memperoleh suatu
legitimasi yang kuat183.
Perlindungan HAM menjadi kerangka kerja dan tujuan yang
hendak dicapai oleh ASEAN184. Tujuan tersebut didasarkan pada aturanaturan hukum (rule of law) dalam Piagam ASEAN, dimana ASEAN telah
melahirkan isi dan wadah perlindungan HAM dalam konteks dan
perspektif
ASEAN185.
Pasal
14
Piagam
ASEAN
menjadi
dasar
pembentukan Badan HAM ASEAN atau the ASEAN Intergovernmental
Commission of Human Rights (AICHR). Pada tanggal 18 November 2012,
Deklarasi HAM ASEAN disepakati oleh 10 kepala Negara anggota
ASEAN dalam Koferensi Tahunan di Phnom Penh, Kamboja sebagai
pengejawantahan bagian Mukadimah dan Pasal 1 (7) Piagam ASEAN186.
Lawson, “Out of Control, State Responsibility and Human Rights: Will the ILC’s Definitions of the Act of
State Meet the Challanges of the 21st Century?, dalam Castermans, Van Hoof and Smith (eds), The Role of
Nations State in the 21st Century, Human Rights, International Organizations and Foreign Policies, Essay in
Honor of Peter Baehr, Cambridge, MA, 1999, hlm. 91.
184 Marie Pangestu, “The Future of ASEAN”, the Indonesian Quarterly, vol. XXV, No. 4, 1997, hlm. 362365.
185
Tempo
Interaktif,
“Deklarasi
HAM
ASEAN
Diteken”,
http://www.tempo.co/read/news/201211/18/118442473/deklarasihamasean.html, diakses pada
tanggal 17 Desember 2012
186 Pasca penandatanganan Piagam ASEAN, terdapat lima prioritas kegiatan untuk mempersiapkan
perubahan ASEAN yaitu penyusunan Term of Reference (ToR) pembentukan Permanent Representatives
to ASEAN, penyusunan Rules and Procedures ASEAN Coordinating Council dan ASEAN Community
Councils, penyusunan supplementary protocols mengenai dispute settlement mechanism, penyusunan
perjanjian baru menggantikan perjanjian pendirian Sekretariat ASEAN tahun 1976, serta penyusunan
ToR pembentukan badan HAM ASEAN. Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Deplu, ASEAN
Selayang Pandang, 2007, hlm. 41; Deklarasi HAM ASEAN ini ditandatangani oleh 10 kepala negara
anggota ASEAN pada tanggal 18 November 20120 oleh Haji Hassanal Bolkiah, Samdech Akka Moha
Sena Padei Techo Hun Sen, Susilo Bambang Yudhoyono, Thongsing Thammavong, Dato Sri Mohd
Najib Tun Abdul Razak, U Thein Sein, Benigno S Aquino III, Lee Hsien Loong, Yingluck Shinawarta,
Nguyen Tan Dung yang mengadopsi 9 prinsip dasar HAM, 15 hak sipil dan politik, 9 jenis hak
183
80
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Kedua aturan perlindungan HAM tersebut berlaku dalam keadaan damai
(normal), ASEAN juga telah berhasil membuat the ASEAN Regional
Agreement for Disaster Management and Emergency Assistance (AADMER)
dalam situasi darurat187. AADMER adalah ketentuan regional yang
menyatukan semua ketentuan mitigasi dan pengelolaan bencana
internasional dilevel Asia Tenggara sebagai sebuah standar minimal
terhadap perlindungan HAM dan kebebasan dasar umat manusia188.
Dengan demikian, ASEAN pada prinsipnya mengadopsi secara filosofis
semua norma dan mekanisme perlindungan HAM yang telah ada189.
Deklarasi HAM ASEAN merujuk pada kesesuian dan ketepatan hukum
terhadap
norma
dan
mekanisme
HAM
internasional
dengan
menambahkan cakupan penekanan pengaturannya terhadap hak atas
perdamaian, hak atas pembangunan, dan mekanisme kerjasama regional
dan internasional sesuai dengan isi, tujuan dan mekanisme dalam Piagam
ASEAN 190.
Ketiga ketentuan perlindungan dan pemajuan HAM dalam
ASEAN tersebut di atas diharapkan muncul pola positif dan berkorelasi
ekonomi, sosial dan budaya, hak atas pembangunan, hak atas perdamaian dan ditutup dengan
kerjasama regional dan internasional dalam hal pemajuan HAM dalam Deklarasi tersebut. Lihat
Phnom Penh Statement on the Adoption of the ASEAN Human Rights Declaration (AHRD), 18
November 2012.
187 Op.cit, no. 17.
188 ASEAN, The ASEAN Regional Agreement for Disaster Management and Emergency Assistance
(AADMER) Work Programme 2009-2015, ASEAN, 2009, hlm. 3-8; 15-17, dan 27.
189 Bagian Mukadimah Deklarasi menyatakan dengan jelas bahwa ASEAN lebih mengikatkan dirinya
terhadap komitmen bersama pada Deklarasi Universal HAM 1948; Piagam PBB; Deklarasi Vina
mengenai Program Aksi HAM; dan semua perjanjian dasar HAM dimana anggota ASEAN
menjadinya anggotanya.
190 Mertokusumo, S., 1996, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Liberty Yogyakarta, hlm. 3-5.
81
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
secara dinamis dalam meningkatnya harapan hukum (legal expectation)
oleh masyarakat di Asia Tenggara terhadap perbaikan kondisi
penghormatan dan perlindungan HAM dalam kerangka rule of law191.
Harapan hukum ini muncul dalam aspek meningkatnya budaya hukum
(legal culture); sturuktur hukum (legal structure) dan substansi hukum
(legal substance) perlindungan HAM di Asia Tenggara. Akibat hukumnya
adalah daya paksa hukum norma dan mekanisme HAM ASEAN
memperoleh justifikasi dan legitimasi legal, sosial dan politik192.
Selanjutnya, akuntabilitas dan legitimasi norma dan mekanisme ini harus
diterima di dalam sistem hukum nasional suatu negara anggota
ASEAN193. Kajian menadalam rule of law dalam Piagam ASEAN akan
dielaborasikan terhadap pembentukan dan implementasi sebagai sebuah
perubahan institusional dari AADMER dan AHRD di bawah ini194.
Kompas Cyber media, “Deklarasi HAM ASEAN Hormati Prinsip-Prinsip HAM Universal”,
kompas.com,
http://www.internasional.kompas.com/read/2012/11/18/11304138/deklarasihamasean.html,
diakses pada tanggal 17 Desember 2012.
192 Tommy Koh, dan Rosario G Manalo, The Making of the ASEAN Charter, World Scientific Publishing,
2009, hlm. 117; dan ASEAN, ASEAN Masterplan 2020, ASEAN, 2008, hlm. 26.
193 Lihat penundukan dan pelaksanaan kewajiban hukum internasional kedalam sistem hukum
nasional dalam F. Sugeng Istanto, Hukum Internasional, Penerbitan Universitas Atmajaya Yogyakarta,
1994, hlm. 45; Malcolm N. Shaw, International Law, 4th ed, 1997, hlm. 452-456; Cristopher L. Blakesley,
“Extraterritorial Jurisdiction”, dalam MC. Bassiouni, “International Criminal Law Procedure”, 1986,
hlm. 1; L. Henkin, R. Pugh, O. Schachter and H. Smith, International Law in Theory and Practice, 2nd ed,
1987, hlm. 820-825.
194 MC Abad Jr, “The Association of South East Asian Nations: Challanges and Responses”, dalam
Micheal Wesley, The Regional Organisazation in Asia-Pacific: Exploring Institutional Changes”, Palgrave
McMilan, 2003, hlm.50.
191
82
JURNAL OPINIO JURIS
1.
Vol. 15  Januari-April 2014
Rule of law Dan Implementasi AADMER
AADMER adalah instrumen hukum regional berlaku mengikat
bagi anggota ASEAN mulai tanggal 24 Desember 2009 yang merupakan
kerangka kerja proaktif dalam hal kerjasama regional195, koordinasi
fungsional196, bantuan teknis, dan mobilisasi sumber daya dalam hal
pengelolaan bencana197. Tujuan dasar dari instrumen hukum ini adalah
untuk perlindungan HAM dan hak-hak kebebasan dasar manusia dalam
situasi bencana dengan menerapkan ketentuan-ketentuan standar
penanganan bencana seperti yang ditentukan dalam mekanisme PBB198,
norma-norma
dasar
internasional
penanganan
bencana199
dan
Bab VI menentukan sebagai berikut, yaitu: “the role and functions for effective cooperation between
international humanitarian institutions and Government with regard to disaster management throughout
Article 28 and 30; and effective coordination at mitigation, emergency and reconstruction and rehabilitation are
specifically determined in Articles 33. In Article 30, consent and appeal-based cooperation have been determined
to foster national and international cooperation of disaster management”.
196 Bab IX menentukan bahwa: “technical assistance in terms of supervision in the making of all policy
friendly disaster management in all sustainable development process. Article 71 determines that technical
assistance shall be provided in: identification of threat, potential policy making disaster, exploitation activities,
usage of goods and services, land use planning, management of natural resources, reclamation and budget-based
allocation to disaster management”
197
ASEAN, ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response,
http://www.aseansec.org/17579.htm, 2008, diakses pada tanggal 2 Juni 2012.
198 The United Nations, The United Nations General Assembly Resolution 46/182 , UNGA, 2001 dan
dibandingkan dengan Heath, J. Benton, “Disaster, Relief, and Neglect: The Duty to Accept
Humanitarian Assistance and the Work of the International Law Commission”, the International Law
And Politics, Vol. 43: 419, 2011, hlm. 446
199 HIVOS, Disaster Management: Planning and Paradigm in Indonesia, 11 Juni 2007 and Permana,
Mengubah Paradigma Penanganan Bencana di Indonesia, Paper, West Java Disaster Reduction Studies
Center, Juni 2007, hlm. 2-6;
195
83
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
pendekatan-pendekatan internasional200 sebagai pengejawantahan prinsip
rule of law201.
AADMER
akuntabilitas,
mengadopsi
relevansi,
asas-asas
keberlanjutan
partisipasi,
dan
transparansi,
koherensi
sehingga
pemberdayaan masyarakat yang terkena bencana menjadi kunci pokok
dalam pengelolaan bencana202. Disamping itu, persetujuan tersebut
mengadopsi pengelolaan bencana sebagai sebuah satu kesatuan langkah
berupa pencegahan, mitigasi dan rehabilitasi dengan menekankan
penguatan kapasitas masyarakat terhadap kerentanan dan faktor risiko
bencana, baik bencana alam atau bencana yang disebabkan oleh faktor
manusia203. Prinsip rule of law dalam AADMER jelas menjadi inspirasi
pengaturan community-based disaster risk reduction management
(CBDRM)204. Dalam Mukadimah, CBDRM diartikan sebagai “a process in
which at-risk communities are actively engaged in the identification, analysis,
Spieker, Heike, Standardization Approaches to Disaster Response, Class Presentation, tidak
dipublikasikan, 2007
201 Bagian Mukadimah The ASEAN Agreement for Disaster Management and Emergency Assistance,
ASEAN, 2006; dan Pitsuwan, Surin, The ASEAN Agreement for Disaster Management and
Emergency Assistance, diakses pada http://www.asean.org/18441.htm, pada tanggal 14 September
2011 dan Friedman, J., Empowerment: The Politics of Alternative Development, Cambridge MA, Blackwell,
1992, hlm.5-20.
202 Skjernaa, Anton,“Theorizing the Impacts of International Law in State Behavior in World Politics”,
Paper, presented at the International Studies Association in San Francisco, 2008, hlm.1
203 Abarquez, Imelda and Murshed, Community-based Disaster Risk Management: Field Practitioners’
Handbook, ADPC, 2005, hlm. 14; and Maskrey, A., Module on Community-based Disaster Risk
Management, CBDRM-2 Handout, Bangkok, 1998; dan Hoffman, S.H., and Oliver-Smith, A.,
Catastrophe & Culture, the Anthropology of Disaster, Oxford; Hunter., D., et all, International
Environmental Law and Policy, Foundation Press, New York, 2002;
204 Hoffman and Smih, ibid.
200
84
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
treatment, monitoring and evaluation of disaster risk in order to reduce their
vulnerabilities and enhance their capacities”205.
Langkah-langkah nyata telah diinisiasikan oleh ASEAN terhadap
implementasi AADMER, seperti pembuatan program kerja 2010-2015
dalam menuju masyarakat ASEAN yang tanggap dan cakap dalam
penanganan bencana206. ASEAN Committee on Disasster Management
(ACDM) merupakan organ teknis ASEAN dalam mengimplementasikan
kerangka kerja dan prinsip-prinsip dasar AADMER dalam perspektif rule
of law, yaitu: (1). Penilaian faktor risiko bencana dan peringatan awal
bencana; (2). Pencegahan dan mitigasi bencana; (3). Kesiapsiagaan dan
tanggap darurat; dan (4). Pengembalian kekeadaan semula207. Program
kerja ini sangat dibutuhkan karena negara-negara ASEAN sangat rentan
terhadap risiko bencana, khususnya risiko bencana banjir, tanah longsor,
gunung meletus, tsunami, kekeringan dan lain sebagainya208.
Preamble, ibid dibandingkan dengan with Abarquez, Imelda and Murshed, Community-based
Disaster Risk Management: Field Practitioners’ Handbook, ADPC, 2005, hlm. 14; dan Hodgson., R.L.P.,
“Community Participation in Emergency Technical Assistance Programmes, “Technical Support for
Refugees, (Proceedings of the 1991 Conference), ed, R.A. Reed, WEDC; Sakai, M., Konflik Sekitar
Devolusi Kekuasaan Ekonomi dan Politik: Suatu Pengantar, Antropologi Indonesia, Volume 68, 2002;
Samadhi, W.P., Desentralisasi Setengah Hati: Berpindahnya “Sentralisme” ke Daerah, Penelitian, 2005.
206 Abarquez, op.cit, no. 132.
207 Fisher, D, “Domestic Regulation of International Humanitarian Relief in Disasters and Armed
Conflict: A Comparative Analysis”, the International Review of the Red Cross, Volume 89 Number 866,
Juni 2007, hlm. 353-354.
208 Sphere Project, The Humanitarian Charter and Minimum Standard in Humanitarian Response, 2011
edition, Sphere Project Pub, 2011, hlm. 4; Acciaoli, G.L., “Archipelagic Culture” as An Exclusionary
Government Discourse in Indonesia”, The Asia Pacific Journal of Anthropology 2 (1); dan Baiquni, M.
and Rijanta, R, Konflik Pengelolaan Lingkungan dan Sumber Daya Dalam Era Otonomi dan Transisi
Masyarakat, Paper (unpublished), 2007.
205
85
JURNAL OPINIO JURIS
Dalam
implementasi
Vol. 15  Januari-April 2014
terhadap
anggotanya,
AADMER
memberikan hak dan kewajiban hukum kepada negara anggota ASEAN
untuk merubah dan menyesuaikan peraturan nasionalnya terkait dengan
pengelolaan bencana seturut dengan isi, maksud dan tujuan AADMER209.
Dalam ASEAN Roadmap ASEAN Community 2009-2015, AADMER
dijalankan dengan menentukan 12 langkah politik, hukum dan ekonomi
dalam menguatkan rule of law penanganan bencana di Asia Tenggara
salah satunya adalah perubahan hukum, kebijakan, program, proyek,
kegiatan dan pendanaan penanganan bencana seturut dengan misi dan
visi ASEAN210. Indonesia dan Thailand menjadi contoh terhadap aplikasi
rule of law dalam kerangka implementasi AADMER seperti yang akan
diuraikan di bawah ini.
Indonesia telah mengambil langkah-langkah tersebut dan telah
menjalankan ketentuan, isi dan tujuan AADMER ketika mengundangkan
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana sebelum AADMER berlaku sebagai ketentuan hukum yang
mengikat211. Sebagai sebuah ketentuan hukum normatif, pembentukan
Dalam Building Disaster-Resilient Nations and Safer Communities Strategis Objectives, AADMER
menentukan bahwa: “AADMER strenghtens effective mechanisms and capabilities to prevent and reduce
disaster lossess in lives, and in social, economic, and environmental assets of ASEAN Member States and to
jointly respond to disaster through concreted national efforts and intensified regional and international
cooperations”. Burgstaller, Markus, Theories of Compliance with International Law, Martinus Nijhoff
Publisher, 2005, hlm.85 dan bandingkan dengan ASEAN, Roadmap for An ASEAN Community 20092015, 2011, hlm. 77.
210 Ibid.
211 Pada tanggal 26 April 2007, Undang-undang tersebut diundangakan dalam
Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66. Undang-undang ini berisi 13 Bab dan 85 Pasal yang telah
209
86
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
dasar hukum, kebijakan nasional, program, proyek, kegiatan dan
pendanaan penanggulangan bencana telah sesuai dengan ketentuan
AADMER di Indonesia setelah diundangkannya Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2007 seturut dengan prinsip rule of law dalam perlindungan
HAM dan kebebasan dasar manusia saat bencana212. Namun demikian,
faktor-faktor non yuridis seperti implementasi kebijakan desentralisasi,
harmonisasi perangkat aturan hukum terkait dengan kemudahan akses
bantuan, koordinasi antara lembaga pusat dan daerah serta intervensi
kemanusiaan dari kelompok masyarakat madani dan lembaga swadaya
masyarakat mereduksi dan mengurangi efektifitas pelaksanaan ketentuan
isi, tujuan dan prinsip-prinsip AADMER yang telah diadopsi dalam
ketentuan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 di Indonesia
khususnya dalam penanggulangan bencana alam gempa bumi di Padang,
Sumatera Barat, Erupsi Gunung Merapi di DIY dan bencana banjir di
Distrik Wasior, Papua Barat213.
Infektivitas tersebut juga terjadi di Thailand ketika pada tahun
2010, Kota Bangkok mengalami bencana alam banjir yang hampir
melumpuhkan seluruh aktivitas penduduknya. Thailand memiliki tiga
mengannti dan merubah aturan penanggangan bencana di Indonesia seperti Keputusan Presiden
Nomor 28 Tahun 1979 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana;
Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana dan
Pengungsi dan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1984 Tentang Epidemik.; Penyesuaian dengan
Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pengaturan Pendanaan dalam Pengelolaan
Bencana.
212 Heribertus Jaka Triyana dan Richo Andi Wibowo, “Implementasi Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2007 Terhadap Penangulan Bencana Erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Sleman dan
Magelang”, Laporan Penelitian 2011, Unit Penelitian dan Pengembangan FH UGM, hlm. 12.
213 Ibid, hlm. 14-27.
87
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
aturan hukum, yaitu: (1). Thai Martial law 1914; (2). Thai Emergency Decree
2005; dan (3). Thai Internal Security Act 2008 yang secara garis besar
mengambil isi, tujuan dan prinsip-prinsip dasar AADMER dalam
menentukan adanya faktor bencana dan upaya-upaya penanggulangan
bencana alam dalam kategori “keadaan bahaya”214. Faktor stabilitas
keamanan dan peran militer menjadi penentu pelaksanaan rule of law
dalam AADMER yang menyebabkan pemberdayaan masyarakat untuk
tanggap
bencana
masih
belum
terperdayakan
seturut
prinsip
pembentukan
aturan
hukum,
AADMER215.
Dapat
disimpulkan
bahwa,
kebijakan, program, kegiatan dan pendanaan rule of law dalam
peningkatan kapasitas negara dan masyarakat dalam AADMER telah
diinkorporasikan dalam aturan hukum nasional negara anggota ASEAN.
Rencana kerja, haluan kerja, pembentukan kelembagaan ASEAN yang
bersinergi dengan kelembagaan pengelolaan bencana di dalam negeri
negara-negara anggota ASEAN telah dibuat dan diinisiasikan dan telah
diterima sebagai sebuah kebenaran hukum. Namun demikian, faktor
penentu lain dalam implementasi yaitu pengetahuan masyarakat dilevel
paling bawah, faktor keamanan dan politik internal negara anggota,
peran dan fungsi masyarkat madani dan LSM masih menentukan
ICJ dan Libertas, “Regional Consultation on Security Laws Operating in ASEAN and Possible
Advocacy Work Concerning Access to Justice Mechanisms, Regional Consultation, 4-6 Oktober 2012,
Bangkok, hlm. 149.
215 Ibid, hlm. 150.
214
88
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
efektivitas rule of law AADMER dalam implementasi regionalisasi aturan
hukum mengenai pengelolaan bencana yang menjadi basis kegiatan
ASEAN sampai tahun 2015216.
2.
Rule of Law dan Implementasi AHRD dan Peran AICHR
Eksistensi AICHR dan khususnya AHRD banyak menuai pro dan
kotra dalam wacana rule of law ASEAN217. Banyak kalangan dan
penggerak HAM, seperti Navi Pillay menyatakan bahwa AHRD hanyalah
merupakan pernyataan pengulangan dan repetisi yang tidak perlu karena
dalam
penyusunannya
perlindungan
HAM
tidak
dan
tidak
memenuhi
standar
melibatkan
internasional
kelompok-kelompok
masyarkat sipil di Asia Tenggara218. Dilain sisi, hampir semua kepala
pemerintahan atau perwakilan negara-negara yang terlibat dalam
pembuatannya menyatakan hal sebaliknya karena Deklarasi tersebut
merupakan penegasan kembali komitmen ASEAN dalam perlindungan
HAM dalam konteks dan perspektif negara-negara Asia Tenggara219.
Naryanto, H.S., The Basis Principle of Disaster, Mitigation and Disaster Management in Disaster
Handling, The Research Institution and Social Development KWI (LPPS-KWI)- Caritas and Cordaid,
2001; dan Permana, R., Mengubah Paradigma Penanganan Bencana di Indonesia, Paper, West Java
Disaster Reduction Studies Center, June 2007.
217 Verena Harpe, “Harpe: Deklarasi HAM ASEAN Kontroversial”, DW, Ammnesty International,
2012; Suruhanjaya HAM Malaysia, Deklarasi HAM ASEAN Bertentangan Dari Pada Apa Yang Dijangka,
Press Release, 19 November 2012.
218 ABC News, “Deklarasi HAM ASEAN Tidak Penuhi Standar Internasional PBB”, 12 December
2012.
219
Tempo.com,
“Deklarasi
HAM
ASEAN
Diteken”,
http://www.tempo.co/read/news/2012/11/18/Deklarasihamasean.html, diakses pada tanggal 15
Desember 2012 dan Tempo.com, “Indonesia akan Tandatangani Deklarasi HAM ASEAN”,
216
89
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Norma perlindungan HAM dalam AHRD memang dibentuk
berdasarkan Piagam PBB, Deklarasi HAM Universal 1948, Deklarasi Wina
Tentang Program dan Aksi HAM dan Konvensi-Konvensi Pokok HAM
dimana negara-negara anggota ASEAN menjadi anggotanya, yaitu: the
Internnational Covenant on Civil and Political Rights 1966 (ICCPR)220, the
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR)221,
the Convention on the Ellimination of All Forms of Racial Discrimination
(CERD)222, the Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or
Degrading Treatment or Punishment 1984 (CAT)223; the Convention on the
Ellimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW)224; dan
the Convention on the Rights of the Child (CRC)225. Norma perlindungan
HAM dalam AHRD memiliki kekhususan tersendiri, yaitu: (1). Prinsip
non diskriminasi lebih dikembangkan mencakup non diskriminasi
terhadap kelompok orang dalam kategori rentan, kondisi fisik dan psikis
http://www.twmpo.co/read/news/2012/11/17/078442362/indonesia.html, diakses pada tanggal
15 Desember 2012.
220 Berlaku pada tanggal 23 Maret 1976, 993 UNTS 171, 1966 UNJYB 193; 1977 UKTS 6, anggota
Komite adalah 18 orang.
221 Berlaku pada tanggal 3 January 1976; 993 UNTS 3; 1966 UNJYB 170, anggota Komite adalah 18
Orang.
222 Berlaku pada tanggal 4 Januari 1969, GA Res. 2106 A (XX) 21 December 1965, anggota Komite
Adalah 18 orang.
223 Berlaku tanggal 26 Juni 1987, GA Res. 39/46, 10 December 1984, anggota Komite adalah 10 orang.
224 Berlaku tanggal 3 September 1981, GA Res 34/180, 18 Desember 1979, anggota Komite adalah 23
Orang.
225 Berlaku pada tanggal 2 September 1990, GA Res. 44/25 (Annex), UNGAOR, 44 th Sess., Supp. No.
49, at 166, UN Doc. A/RES/44/49 (1990), 30 ILM 1448 (1989), anggota Komite adalah 10 orang.
90
JURNAL OPINIO JURIS
dan status yang
lainnya226;
Vol. 15  Januari-April 2014
(2). Penekanan kesetaraan hukum bagi
kelompok-kelompok tertentu seperti perempuan, anak, orang tua, orang
dengan kebutuhan khusus, buruh migran dan kelompok marjinal
diterima sebagai bagian integral dari perlindungan HAM dan kebebasan
dasar umat manusia227; (3). Pembatasan terhadap perlindungan HAM
dalam AHRD diperluas cakupannya seperti yang ditentukan dalam
DUHAM dan ICCPR, yaitu pembatasan yang diatur oleh hukum dan
pembatasan berdasarkan keadilan berdasarkan pada keamanan nasional,
ketertiban umum, kesehatan publik, keamanan umum dan moralitas
bersama dalam kerangka perwujudan negara kesejahteraan didalam
negara yang demokratis; dan (4). Menekankan arti penting hak atas
pembangunan dan hak atas perdamaian sebagai norma HAM partikular
bagi ASEAN yang memiliki kesamaan faktor historis sebagai negara
berkembang dan sebagai negara-negara bekas kolonilisasi negara-negara
barat228.
Jika norma-norma dalam AHRD dikaitkan dengan peran dan
fungsi AICHR sebagai badan intergral dari ASEAN maka akan terlihat
segmentasi dan dinamisasi yang sangat nyata dalam kerangka rule of law
Lihat dalam General Principles of the AHRD, principle 2 yang menentukan bahwa”Every person is
entitled to the rights and freedoms set forth herein, without any distiction of any kind, such as race,
gender, age, language religion, political or other opinion, national or social origins, economic status,
birth, disability or other status”. AHRD, 2012.
227 General Prindiples 4 of the AHRD menentukan bahwa: “The Rights of women, children, the
elderly, persons with disablilities, migrant workers, and vulnerable groups are an inalianable, integral
and invisible part of human rights and fundamental freedoms, AHRD, ibid.
228 MC Abad Jr, op.cit, no. 123, hlm. 61.
226
91
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
perlindungan HAM229. Berdasarkan the 'Cha-am Hua Hin Declaration
on the Inauguration of the ASEAN Intergovernmental Commission on
Human Rights (AICHR), High Level Meeting menyetujui Terms of
Reference of the AICHR (TOR AICHR)230. Dalam TOR tersebut
disebutkan bahwa AICHR merupakan badan antar pemerintah dan
merupakan bagian integral dari
struktur organisasi ASEAN yang
bertujuan untuk menguatkan perlindungan HAM di Asia Tenggara231.
Peran dan fungsi Badan HAM ASEAN (selanhutnya disebut sebagai
AICHR) dalam perlindungan HAM menimbulkan permasalahan hukum
(legal problems), dan tantangan (legal challanges) pada saat ini dan pada
Pareenboom, op.cit, no. 19 dan Harpe, op.cit, no. 146.
ToR ini berisi sembilan (9) area dan cakupan norma dan mekanisme bagi pelaksanaan tugas dari
AICHR yang terdiri dari tujuan, prinsip, badan konsultasi antar pemerintah, mandat dan fungsi,
komposisi, modalitas, peran dan fungsi Sekretariat Jenderal dan Sekretariat ASEAN, rencana kerja
dan pendanaan serta ketentuan umum dan ketentuan penutup. Lihat Heribertus Jaka Triyana,
“Tinjauan Yuridis Tentang Badan HAM ASEAN Dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia”, Jurnal
Mimbar Hukum FH UGM, Volume 23, Nomor 3, Oktober 2011, hlm. 612-623.
231 Chapter 3 of the AICHR ToR yang menyatakan bahwa AICHR is an intergovernmental body and an
integral part of the ASEAN organizational structure and it is a consultative body. Ia memiliki fungsi sebagai
berikut, yaitu: 1). To promote and protect human rights and fundamental freedoms of the peoples of ASEAN;
(2). To uphold the right of the peoples of ASEAN to live in peace, dignity and prosperity; (3). To contribute to
the realization of the purposes of ASEAN as set out in the ASEAN Charter in order to promote stability and
harmony in the region, friendship and cooperation among ASEAN Member States, as well as the well-being,
livelihood, welfare and participation of ASEAN peoples in the ASEAN Community building process; (4). To
promote human rights within the regional context, bearing in mind national and regional particularities and
mutual respect for different historical, cultural and religious backgrounds, and taking into account the balance
between rights and responsibilities; (5). To enhance regional cooperation with a view to complementing national
and international efforts on the promotion and protection of human rights; and (6). To uphold international
human rights standards as prescribed by the Universal Declaration of Human Rights, the Vienna Declaration
and Programme of Action, and international human rights instruments to which ASEAN Member States are
parties.
229
230
92
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
saat mendatang dalam implementasi AHRD232. Permasalahan dan
tantangan tersebut adalah:
Pertama, meskipun tujuan dari AICHR adalah “to promote and
protect human rights and fundamental freedoms of the peoples”
tetapi
kewenangan tersebut terbatas pada promosi dan belum mencakup aspek
proteksi HAM kepada individu atau kelompok individu di wilayah
negara-negara anggota ASEAN, khususnya dalam implementasi hak sipil
dan politik dalam AHRD233. Mudahnya, kewenangan tersebut hanya
akan sampai pada tataran pemerintah dalam bentuk rekomendasi atau
saran perbaikan yang bersifat tidak mengikat dan kewenangan yang
demikian mereduksi sifat pemehuhan hak-hak tersebut yang bersifat
segera
dan
menjalankan
harus234.
Kenyataan
mekanisme
ini
perlindungan
menjadikan
HAM
di
AICHR
bawah
hanya
standar
perlindungan yang diakui dan berlaku secara internasional, khususnya
dalam implementasi ICCPR (Kamboja, Indonesia, Laos, Philipina,
Tahiland dan Vietnam adalah anggota dari ICCPR)235.
Padahal, ToR
Heribertus Jaka Triyana, “Politics and Law of Human Rights in Southeast Asia: A Critical Legal
Analysis”, Presented at the Short Course on Human Rights and Democracy in Southeast Asia for the
ASEAN Diplomats, 24-25 August 2009, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT UGM)-Deplu RI,
Yogyakarta, hlm. 3-7.
233 Ibid.
234 Michelle Staggs Kelsall, “The New ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights:
Toothless Tiger or Tentative First Step?”, East-West Center, 2009, hlm. 2-3.
235 Lihat semua ketentuan norma dan mekanisme HAM terkait dengan standar-standar internasonal
yang harus dilaksnakan oleh negara dalam melindungi dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi
efektivitas perlindungannya seperti dalam Human Rights Committee, General Comment 3, Pasal 2,
para 1, Implementation at the national level (Thirteenth session, 1981), Compilation of General
Comments and General Recommendations Adopted by Human Rights Treaty Bodies, UN Doc.
HR1/GEN/1/Rev.1 at 4 (1994); General Comment, Op.Cit, No. 5; Pasal 1 of the European Convention
232
93
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
AICHR menentukan bahwa mekanisme dan standar tersebut harus sesuai
dengan standar internasional seperti yang ditentukan dalam the Universal
Declaration of Human Rights 1948, dan the Vienna Declaration and Programme
of Action236.
Dalam sistem hukum Thailand, isu konsultasi dan diseminasi
perlindungan HAM oleh AICHR pasti tidak akan menyentuh isu-isu
keadaan darurat yang terjadi di wilayah Thailand Selatan terkait dengan
for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms 1954, 4 November 1950, berlaku 3
September 1953; 213 UNTS 221; ETS 5, 1 EYB 316; Pasal 3 dan 4 Convention Relating to the Status of
Refugees 1951, 28 July 1951, berlaku 22 April 1954, 189 UNTS 150; 1954 ATS 5; 1961 NZTS 2; Preamble of
the Convention on the Political Rights of Women; Prinsip 7 of the Declaration on the Granting of
Independence to Colonial Countries and Peoples 1960, UNGA, 14 Desember 1960, GA Res 1514,
UNGAOR, 15th Sess, Supp No. 16, UN. Docs. A/4684 (1961); Bagian I European Social Charter 1961, 18
October 1961, berlaku 26 February 1965, 529 UNTS 89, ETS 35, 9 EYB 247; Pasal 2 of the International
Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination 1966; Pasal 2 of the International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights 1966, berlaku 3 January 1976; 993 UNTS 3; 1966
UNJYB 170; Pasal 2 of the International Covenant on Civil and Political Rights 1966, lihat the American
Convention on Human Rights 1969, entered into force 18 July 1978, 1114 UNTS 123; OASTS No. 36, 9
ILM 673; Article 2 of the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women
1979, berlaku 3 September 1981, 1249 UNTS 13, 1989 UKTS 2, 19 ILM 33; lihat African Charter on
Human and Peoples’ Rights 1981 (Banjul Charter), berlaku 21 October 1986, 21 ILM 59 (1982); Pasal 4 of
the Declaration of the Elimination of All Forms of Intolerance and of Discrimination based on Religion and
Belief 1981, UNGA, GA Res 36/55, UNGAOR 36th Sess, Supp. No. 51, UN Doc. A/36/51 (1981), 21
ILM 205 (1982); lihat the Siracusa Principles on the Limitation and Derogation Provisions in the International
Covenant on Civil and Political Rights 1984, UN Doc. E/CN.4/1984/4 (28 September 1984) 7 HRQ 3
(1985); Additional Protocol to the American Convention on Human Rights in the Area of Economic, Social and
Cultural Rights 1988, OASTS No. 69, 28 ILM (1989); lihat Pasal seluruhnya Convention Against Torture
and Other Cruel Inhuman or Degrading Treatment or Punishment 1984, berlaku 26 Juni 1987, GA Res
39/46, UNGAOR, 39th Sess, Supp. No. 51, UN Doc. A/39/51 (1985), 23 ILM 1027; bandingkan dengan
the Inter-American Convention to Prevent and Punish Torture 1985, berlaku 28 Februari 1987, OASTS No.
67, OAS Doc. OEA/SER. P, AG/DOC 2023/85, 25 ILM 519 (1986); International Convention on the
Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid, 30 November 1973, GA Res. 3068 (XXVII) (1973),
1015 UNTS 246, 28 UNGAOR Supp(No. 30), UN. Doc. A/Res/3068 (1973), 13 ILM 50 (1974).
236 Chapter 1 (1.6) of the AICHR ToR.
94
JURNAL OPINIO JURIS
bentrokan
masyarkat
Vol. 15  Januari-April 2014
Muslim
dengan
Pemerintah
Thailand237.
Kekosongan advokasi hukum oleh ASEAN (AICHR) dalam implementasi
hak sipil dan politik, perlindungan hak anak dan permepuan dalam
AHRD telah terjadi selama ini. AICHR belum pernah mengeluarkan
rekomendasi atau saran perbaikan kondisi pelanggaran HAM yang
ditujukan kepada Pemerintah Thailand akibat diberlakukannya 3 aturan
mengenai keamanan nasional Thailand secara ofensif, yaitu: (1). Martial
Law 1914; (2). Emergency Decree 2005; dan (3). Internal Security Act 2008238.
Keberadaan ketiga aturan tersebut merupakan cerminan kedaulatan
mutlak dari Negara Thailand untuk melaksanakan yurisdiksinya
sehingga membatasi dan membuat mekanisme perlindungan HAM
ASEAN tidak
bisa menyentuh perubahan kebijakan, program dan
kegiatan militer Thailand dalam menangani pemberontakan tersebut239.
Keadaan di Thailand ini sama dengan kondisi di Philipina terkait
dengan isu pelanggaran HAM di wilayah Philipina Selatan terkait
dengan isu keamanan dan pergerakan pembebasan Bangsa Moro240.
Perbedaan versi tindakan hukum antara gerakan pembebasan dengan
CrCF dan MAC, Thailand Compilation of Report: Recommendation to the Judiciary Concerning the
Administration of Justice in the Security Related Cases in the Southern Border Province, Cross Cultural
Foundation and Muslim Attorney Commission, 2010, hlm. 5-9.
238 Martial Law Act dan Emergency Decree Law mencakup Provinsi Pattani, Yala, dan Narathivat
sedangkan the Internal Security Act mencakup district Chana, Thepa, Nathwawae dan Sabayoy di
Songkhla. Ketiga aturan hukum ini terkait dengan dakwaan terhadap pemberontakan yang diadili
dengan mengunakan darurat militer yang ditujukan kepada penduduk sipil sehingga banyak terjadi
pelanggaran HAM dalam proses peradilan bagi mereka yang disangka terlibat dalam gerakan
pemberontakan.
239 CrCF dan MAC, op.cit, no. 166, hlm.139.
240 Koran Tempo, “Pembentukan Bangsa Moro”, 10 Oktober 2012, hlm. B2.
237
95
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
justifikasi terorisme menjadi konflik berkepanjangan yang sarat dengan
pelanggaran HAM241. Kekosongan hukum dalam bidang advokasi
perlindungan
HAM
oleh
AICHR
dalam AHRD
terbentur
oleh
implementasi the Human Security Act Philipina tahun 2007 yang
memberikan legitimasi kepada Pemerintah Filipina untuk mengambil
langkah-langkah militer untuk melindungi kepentingan nasional242.
Kedua preseden ini juga memperburuk reputasi AICHR dalam
melaksanakan
diseminasi
AHRD
dan
fungsi
konsultasi
dengan
pemerintah Myanmar terkait dengan isu pelanggaran HAM atas etnis
Rohingya243. Sampai saat ini, langkah-langkah perbaikan atau remedies
yang bisa digunakan untuk memperbaiki kondisi perlindungan HAM
belum pernah diinisiasikan oleh AICHR karena terbentur dengan aturan
hukum yang ada dan kebijakan pemerintah terkait dengan isu atau
masalah keamanan dalam negeri yang sarat dengan pelanggaran HAM,
seperti penahanan penduduk sipil oleh militer dan diadili di pengadilan
militer, masa penahanan yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum
acara pidana, dan tidak adanya rehabilitasi dan kompensasi244.
Kedua, kekaburan norma dan mekanisme hukum perlindungan
HAM ASEAN telah terjadi khususnya terhadap implementasi norma dan
Wawancara dengan Atty. Roberto Cadiz, pada tanggal 6 Oktober di Bangkok.
ICJ and Libertas, Regional Consulattion on Security Laws Operating in ASEAN and Possible
Advocacy Work Concerning Access to Justice Mechanisms, 4-6 October 2012, Bangkok.
243 Wawancara dengan Dith Vin Tinth, Senior Lawyer on Human Rights Protection in Myanmar, 5
Oktober di Bangkok, Thailand.
244 ICJ, op.cit, no. 171, hlm. 108.
241
242
96
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
mekanisme HAM internasional dan nasional yang telah ada dan berlaku
dan
menjadi
kewajiban
setiap
negara
anggota
ASEAN
untuk
melaksanakannya. Kekaburan ini terletak pada tiga aspek hukum, yaitu:
(1).
Ketidakadaan jaminan kepastian hukum bahwa kewenangan
perlindungan hukum yang ada dalam AHRD memberikan kewenangan
hukum kepada AICHR sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam
implemtasinya; (2). Ketidakjelasan eksistensi dari AHRD dan AICHR
adalah sebagai pelengkap dari sistem norma dan mekanisme hukum
nasional dan internasional dan bukan sebagai duplikasi dari norma dan
mekanisme yang telah ada245; (3). Ketidakadaan suatu panduan kerja atau
rule of engagement (RoE) yang dimiliki oleh AICHR terkait dengan upaya
diseminasi HAM dalam AHRD yang menjadi domain dari lembaga HAM
nasional di negara-negara anggota ASEAN (national human rights
institutions) (NHRI)246; dan (4). Ketidakadaan mekanisme konsultasi dan
koordinasi yang dimiliki oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang
bergerak dibidang perlindungan HAM terhadap AICHR terhadap upaya
konsolidasi dan penguatan norma dalam AHRD khususnya terhadap
partisipasi masyarakat247. Keempat kekaburan norma dan mekanisme
Michelle Staggs Kelsall, “The New ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights:
Toothless Tiger or Tentative First Step?”, East-West Center, 2009, hlm. 2- 4.
246 Lihat selengkapnya dalam Yigen, et all, National Human Rights Institutions: Articles and Working
Papers, The Danish Center For Human Rights, Wilden Plada, Denmark, hlm. 44; Mortem Kjaerum,
National Human Rights Institution Implementing Human Rights, Martinus Nijhoff Publisher, 2003, hlm.
2-4; dan Pacific Forum Secretariat, National Human Rights Institutions Pathways of the Pacific States,
Pacific Islands Forum Secretariat, hlm. 2-10.
247 SAPA Task Force (FORUM-ASIA), Hiding Behind the Limits, 2009, hlm.1-5.
245
97
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
hukum ini berimbas pada mencuatnya kekaburan atau bias hukum
perlindungan HAM oleh ASEAN pada saat ini dan pada masa yang akan
datang, khususnya antara AHRD dan AICHR248.
Ketiga, kemungkinan munculnya konflik hukum dan tumpang
tindihnya aturan hukum terkait dengan mekanisme perlindungan HAM
oleh AICHR terhadap AHRD di wilayah negara-negara anggota ASEAN.
Masalah ini disebabkan oleh dua masalah mendasar yaitu249: (1). Tingkat
kesesuaian aturan atau norma (materi atau substansi) perlindungan HAM
yang terdapat di level nasional dan yang terdapat dilevel internasional
yang harus dijadikan acuan kerja AICHR dalam melaksanakan ketentuan
AHRD; dan (2). Kesesuaian aturan mengenai mekanisme atau prosedur
perlindungan HAM yang terdapat di level nasional dan internasional
dalam mekanisme konsultasi dan diseminasi oleh AICHR terhadap
implementasi AHRD250.
Jawaban dasar dalam konteks kemungkinan munculnya konflik
hukum tentang kewenangan hukum terletak pada ketidakjelasan
mengenai
dasar
hukum
pembentukan
agenda
koordinasi
dan
konsultasinya oleh AICHR terhadap AHRD, yaitu: (a). apakah Badan
tersebut akan membatasi peran dan fungsi koordinasi terhadap upaya
Heribertus Jaka Triyana, “Tinjauan Yuridis Tentang Badan HAM ASEAN Dalam Sistem Hukum
Nasional Indonesia”, Jurnal Mimbar Hukum FH UGM, Volume 23, Nomor 3, Oktober 2011, hlm. 612-623.
249 Ibid, hlm. 630.
250 Sripapha Sriprasert, “The International Norms and Mechanism of Human Rights”, Peper presented at
the Workshop of the Asia Pacific Curriculum, the Mahidol University, 9-12 Oktober 2009, Bangkok,
hlm. 7.
248
98
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
promosi dan perlindungan hukum HAM yang telah diratifikasi oleh
semua anggota ASEAN; atau (b). Tidak hanya terbatas pada peran dan
fungsi koordinasi terhadap upaya promosi dan perlindungan hukum
HAM bagi AHRD tersebut. Jawaban dari permasalahan pertama akan
terkait dengan dispersitas reservasi pada kedua instrumen itu sendiri,
dan jawaban terhadap permasalahan hukum kedua akan tertuju pada ada
tidaknya basis penentuan upaya koordinasi dan pemenuhan terhadap
kewajiban-kewajiban hukum yang timbul oleh AICHR kepada negaranegara anggota ASEAN terhadap efektifitas perlindungan norma AHRD.
Selama hampir lima (5) tahun, AICHR masih memfokuskan kerjanya
dalam menyusun tematis kegiatan advokasi melalui tema-tema tertentu
yang menonjol di kawasan Asia Tenggara dan belum memfokuskan
garapan kerjanya seturut dengan norma dan mekanisme perlindungan
HAM dalam AHRD seperti yang telah dilakukan di kawasan Eropa dan
Latin Amerika dalam konteks regionalisasi hukum perlindungan HAM.
Dalam Roadmap for An ASEAN Community 2009-2015, aksi-aksi
penguatan perlindungan HAM telah ditentukan sebagai sebuah kegiatan
ASEAN sebagai organisasi internasional yang memiliki dimensi hukum
eksternal dan internal dalam kerangka rule of law. Aksi-aksi tersebut
adalah: (1). Pendirian Badan HAM ASEAN dan Kerangka Kerjanya; (2).
Menyempurnakan norma dan mekanisme perlindungan HAM khusus
kepada hak-hak anak dan perempuan; (3). Bekerjasama dengan badanbadan sektoral dalam kerangka kerja ASEAN dalam perlindungan HAM;
(4). Memperkuat interaksi dan jalinan kerja sama perlindungan HAM
99
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
khususnya dengan masyarakat madani dan organisasi kemasyarakatan
yang
relevan
dengan
bidang
kerja
badan-badan
ASEAN;
(5).
Meningkatkan kerjasama pertukaran data dan informasi dibidang
perlindungan HAM diantara anggota ASEAN sesuai dengan ketentuan
Piagam PBB dan Deklarasi Universal HAM; (6). Meningkatkan
pendidikan dan kesadaran publik mengenai HAM; dan (7). Bekerjasama
secara giat dan penuh dalam usaha pembentukan komisi perlindungan
hak-hak anak dan perempuan.
Dari ketujuh bidang aksi tersebut, penguatan rule of law dalam
perlindungan HAM ASEAN sebagai sebuah kegiatan organisasi
internasional regional perlu ditindaklanjuti dengan menentukan skala
prioritas perlindungan, orientasi pemenuhan, model advokasi dan
konsultasi
dan
pembuatan
bank
data
mengenai
permasalahan
perlindungan HAM di semua negara anggota ASEAN. Selain itu,
reformulasikan peran dan fungsi AICHR sebagai fasilitator dan
kolaborator dan bukan sebagai subyek atau obyek perlindungan HAM
dalam kerangka rule of law perlu ditegaskan kembali supaya AICHR
memiliki kewenangan hukum dalam melaksanakan AHRD yang tidak
menduplikasi
kewenangan
dari
lembaga
perlindungan
HAM
internasional dan lembaga-lembaga perlindungan HAM nasional suatu
negara dengan jalan AICHR harus diberi kewenangan hukum untuk
membentuk fatwa atau legal comment mengenai satandar perlindungan
HAM dalam AHRD.
100
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Aksi-aksi tersebut harus didasarkan pada orientasi pendekatan
konsultasi dan diseminasi perlindungan HAM yang memberdayakan
individu dan kelompok individu dengan diarahkan dan mulai
dikembangkan pada tataran proses yang terus menerus (transformasi)
atau transformational development dan bukan menekankan pendekatan
transkasional sebagai sebuah proyek tahunan atau lima tahunan diranah
advokasi aktif dalam sebuah kegiatan organisasi ASEAN. AICHR harus
mampu mengaplikasikan model konsultasi dan koordinasi berdasarkan
bottom up system berdasarkan partisipasi dari para pelaku perlindungan
HAM dilevel nasional berdasarkan rights-based approach sebagai amanat
konstitusional dari AHRD dan Piagam ASEAN yang mengacu pada
aplikasi prinsip kedaulatan negara sebagai sebuah tanggung jawab untuk
melindungi HAM bagi setiap individu atau kelompok individu sebagai
sebuah pendekatan proaktif yang ditujukan langsung kepada negara
untuk perbaikan sistem atau mekanisme perlindungan HAM di level
nasional. Langkah terakhir adalah AICHR harus terus mengembangkan
rasio-rasio atau indikator pelaksanaan kebijakan atau program (objectively
verified indicators) bagi pelaksanaan perlindungan HAM di Asia Tenggara,
khususnya dalam penyusunan kerangka kerja dalam tema-tema tertentu
perlindungan HAM bagi kaum marjinal, orang tua, permpuan dan anak
sebagai isu advokasi dilevel taktis, sedangkan advokasi dilevel startegis
antar pemerintah adalah dikembangkannya kesepahaman mengenai hak
atas pembangunan dan hak atas perdamaian sebagai sebuah gerakan
101
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
perlindungan HAM kolektif terhadap ekspansi kekuatan kapital dunia di
Asia Tenggara.
V. Kesimpulan
Paper
ini
mengimplementasikan
menyimpulkan
prinsip
rule
bahwa
of
law
ASEAN
dalam
telah
pembentukan
regionalisasi hukum (norma dan mekanisme) HAM di Asia Tenggara.
Kenyataan
ini
berdampak
pada
penguatan
kapasitas
hukum
perlindungan HAM oleh ASEAN sebagai sebuah organisasi internasional.
Rule of law telah sesuai dengan ketentuan hukum HAM internasional
seperti ketentuan dalam Piagam PBB, Deklarasi HAM universal, dan
yang lainnya. Harapan hukum (legal expectation) perbaikan kondisi
perlindungan HAM memperoleh sandaran hukum yang kuat bagi
advokasi dan adjudikasi perlindungan HAM di Asia Tenggara yang
dapat digunakan oleh orang perorang dan kelompok orang dalam usaha
perbaikan pemenuhan HAM bagi mereka. Aspek ini adalah aspek hukum
terpenting dari elemen rule of law dalam kerangka ASEAN. Negaranegara anggota ASEAN memiliki kewajiban hukum untuk memenuhinya
dan pengingkaran serta ketidaktaatan mereka terhadap norma dan
mekanisme tersebut merupakan suatu pelanggaran negara terhadap
kewajiban perlindungan HAM dalam AHRD dan Piagam ASEAN.
Namun demikian, rule of law tersebut masih harus ditindaklanjuti
dengan langkah-langkah nyata perbaikan struktur kelembagaan dan
koordinasi perlindungan HAM dalam kerangka ASEAN, khususnya
102
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
terhadap pelaksanaan AHRD oleh AICHR, AHRD terhadap perilaku
negara-negara anggota ASEAN, dan AICHR terhadap eksistensi lembagalembaga nasional HAM, kelompok masyarakat sipil dan madani serta
pemenuhan kewajiban internasional yang muncul dari ratifikasi negaranegara anggota terhadap instrumen hukum HAM internasional. Selain
itu, pendekatan komprehensif terhadap pemahaman bersama terhadap
faktor penentu non yuridis dari aplikasi rule of law dalam perlindungan
HAM seperti faktor keamanan, sensitifitas isu kedaulatan negara,
interprestasi atas limitasi-limitasi pemenuhan HAM dalam konteks
kepentingan nasional negara anggota ASEAN serta tekanan dari
diplomasi hegemoni ekonomi dari kelompok kapitalis dan negara-negara
barat perlu dijadikan acuan pengambilan kebijakan, program dan
kegiatan perlindungan HAM dilevel strategis oleh pemimpin-pemimpin
ASEAN. Akhirnya, ASEAN, rule of law dan perlindungan HAM di Asia
Tenggara adalah sebuah keniscayaan dalam dinamika regionalisasi
hukum di kawasan Asia Tenggara yang harus kita sikapi secara positif
sebagai sebuah harapan dan bukan sebagai sebuah permasalahan.
103
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
PENERAPAN REZIM EXTRATERRITORIAL
JURISDICTION DALAM HUKUM SIBER DI
INDONESIA
Purna Cita Nugraha
Abstract
The application of positive law in Indonesia particularly Article 2 of the
Information and Electronic Transaction Law, in which extraterritorial
jurisdiction of national law is applied against other countries, will
definitely create problems when it comes face to face with other
jurisdictions. In order to overcome the obstacles in implementing the
aforesaid article, Indonesia has to carry out international cooperations
through agreements or other forms of international cooperations.
International cooperations can also be done in the form of the
formulation of norms or international principles that can later be
recognized as customary international law.
Keywords: cyberspace, extraterritorial jurisdiction, and international
cooperation.
A.
LATAR BELAKANG
Kehidupan
modern
meningkatkan
ketergantungan
pada
infrastruktur-infrastruktur yang saling terhubung dan bergantung satu
sama lain. Sementara sektor-sektor seperti pangan, air, kesehatan dan
transportasi dan infrastruktur yang mendukung sektor-sektor tersebut
merupakan
suatu
yang
sifatnya
sangat
penting
dan
kritis,
kemampuannya untuk menghubungkan terdapat pada Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) yang merupakan komponen penting
dalam kehidupan sehari-hari.
104
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Ruang siber yang merupakan keseluruhan dari komponenkomponen tersebut di atas kadang dikategorikan sebagai sektor
tersendiri, yang pada praktiknya sangat berkaitan dengan sektor-sektor
lain, sama seperti sektor energi dan transportasi yang tidak dapat begitu
saja dipisahkan. Ruang siber dapat diilustrasikan sebagai lapisan tipis
atau sistem syaraf yang menghubungkan sektor-sektor yang lain
sehingga membuat sektor-sektor lain dapat saling berkomunikasi dan
berfungsi. 251
Seiring terjadinya globalisasi, kemajuan di bidang teknologi
informasi seperti lahirnya internet yang menciptakan ruang siber
diharapkan memberi manfaat yang seluas-luasnya bagi kesejahteraan dan
kelangsungan hidup manusia. Namun demikian, manfaat tersebut diikuti
juga dengan munculnya berbagai jenis tindak kejahatan baru dengan
memanfaatkan teknologi yang ada saat ini. Di satu sisi, internet
merupakan suatu ruang yang dapat memungkinkan para penggunannya
beraktivitas di dalamnya, namun di sisi lain internet juga berfungsi
sebagai media bagi para penggunanya untuk membantu aktivitas dan
kegiatannya.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Marty Natalegawa
menyampaikan bahwa:
“the impact of the cyber world on every aspect of human life is
enormous. At every moment of the day, informastion floods from all
251 Lihat Dave Clemente, Cyber Security and Global Interdependence: What is Critical?, Chantam
House, London, 2013, hlm. v
105
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
directions at immense speed. While the cyber space provides
convenience to our life, it also comes with its own challanges. Indeed,
we are confronted by paradoxes. It provides vast opportunities for all
nations. Yet, in the wrong hands, it can be an instrument of crimes
and discord.”252
Globalisasi merupakan akibat dari pengembangan teknologi yang
membuat hubungan komunikasi antar individu dan bahkan komunikasi
antar
negara
menjadi
lebih
mudah,
dan
sebaliknya,
hal
itu
mengakibatkan meningkatnya juga aktivitas rutin. Dampaknya bertolak
belakang dari berbagai kepentingan yang statis di masa lalu dan berubah
pada saat ini sehingga bergerak menuju suatu pengaturan yang bersifat
universal untuk memenuhi kebutuhan manusia secara global. 253
Pada praktiknya, meningkatnya penggunaan teknologi akan
membawa banyak kejutan yang harus direspon oleh hukum. Dengan kata
lain, peningkatan tersebut akan mengakibatkan permasalahan hukum.
Hal tersebut terlihat dari paparan sebagai berikut :
“This increase of technology utility will bring more surprise which
should be responded in the field of law. In another word, it will result
in law problems.”254
252 Statement by H.E. DR. R. Marty. M. Natalegawa, Minister for Foreign Affairs of the Republic of
Indonesia, at the Seoul Conference on Cyberspace, Seoul, 17 October 2013
253 Lihat Jeane Neltje Saly, Globalization, Law Enforcement and Cyber Crime in National Law
System, Indonesia Law Journal Vol. 2 No. 2, National Law Development Agency, Mininstry of Law
and Human Rights, Jakarta, 2007, hlm. 18
254 Ibid.
106
JURNAL OPINIO JURIS
Aturan
hukum
Vol. 15  Januari-April 2014
yang
ada
seringkali
tidak
cukup
untuk
mengakomodasi kegiatan atau aktivitas pemanfaatan informasi dan
teknologi. Misalnya saja, hukum pidana belum mampu menampung
kebutuhan akan perlunya alat bukti tindak pidana siber atas tindak
pidana yang terkait dengan komputer (computer-related crimes).
Permasalahan hukum selalu terkait dengan masalah-masalah lain
di luar hukum. Di bidang yang sangat pesat perkembangannya seperti
teknologi dan informasi, meningkatnya pemanfaatan teknologi informasi
merupakan salah satu aspek yang mempercepat globalisasi yang
kemudian ditandai dengan memudarnya batas-batas antar Negara. Oleh
karena itu, untuk mempertahankan agar suatu Negara tetap tertib
sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, maka hukum
harus berfungsi sebagai pedoman dalam menyeimbangkan kepentingan
nasional dan internasional.
Internet
sebagai
bentuk
kemajuan
teknologi
informasi,
memungkinkan para pemakainya melewati batas yurisdiksi negara
masing-masing. Masalah yurisdiksi di internet erat kaitannya dengan
masalah penegakan hukum di tiap-tiap negara. Sebagai dunia tanpa
batas, penerapan yurisdiksi di internet bukan hal yang mudah. Perlu ada
kepastian mengenai hukum yang akan diterapkan di dunia tanpa batas
107
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
tersebut. Yurisdiksi suatu negara sebagaimana kita ketahui selama ini,
dapat dikembangkan dan dipergunakan di dunia tanpa batas.255
Salah satu yurisdiksi yang terdapat dalam peraturan perundangan
atau hukum nasional Indonesia adalah yurisdiksi ekstrateritorial
(extraterritorial jurisdiction). Yurisdiksi ekstrateritorial berbicara mengenai
kemampuan
hukum
dari
suatu
negara
untuk
melaksanakan
kedaulatan/kewenangannya di luar wilayahnya.
Pada
tataran
implementasi,
penerapan
prinsip
yurisdiksi
ekstrateritorial tentu akan menemui sejumlah hambatan, terutama apabila
berhadap-hadapan dengan yurisdiksi Negara lain. Prinsip yurisdiksi
ekstrateritorial mungkin tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena
suatu
negara
pada
kenyataannya
tidak
dapat
melaksanakan
kekuasaannya di wilayah negara lain walaupun mempunyai yurisdiksi
atas suatu perbuatan hukum, subjek/objek hukum, dan kepentingan
hukum tertentu.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, masalah yang hendak
dikaji adalah sebagai berikut :
255 Ayu Putriyanti, Yurisdiksi di Internet/Cyberspace, Media Hukum, Volume IX. No. 2, April-Juni,
2009, hlm. 1
108
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Apakah terdapat kendala dalam penerapan hukum positif
khususnya rezim extraterritorial jurisdiction di Indonesia saat ini?
C. PENERAPAN PRINSIP EXTRATERRITORIAL JURISDICTION
OLEH INDONESIA
Yurisdiksi negara untuk mengatur ruang siber meliputi yurisdiksi
legislatif, yurisdiksi eksekutif, dan yurisdiksi yudikatif pada tataran
konseptual dapat diterapkan dalam konteks ekstrateritorial. Pada intinya
prinsip-prinsip yurisdiksi tersebut didesain untuk mengatur penentuan
yurisdiksi, misalnya dalam hal di mana dan kapan suatu Negara
mempunyai kewenangan untuk membentuk hukum terkait dengan
subyek-subyek/masalah-masalah yang bersifat ekstrateritorial.
Dalam tataran pembentukan hukum (jurisdiction to prescribe),
suatu negara dimungkinkan dan mempunyai kewenangan untuk
membuat serta menetapkan yurisdiksi terhadap hal-hal yang bersifat
ekstrateritorial. Namun, dalam konteks pemberlakuannya, perlu diuji
lebih lanjut apakah akan melanggar kedaulatan negara lain atau tidak.
Yurisdiksi negara untuk membentuk hukum yang bersifat
ekstrateritorial terdiri dari 3 (tiga) jenis yurisdiksi, yaitu: 1) yurisdiksi atas
subjek ektrateritorial saja, misalnya Section 46 Competition Act Kanada
yang melarang perjanjian monopoli yang dibuat di luar wilayah Kanada
oleh perusahaan-perusahaan Kanada; 2) yurisdiksi atas perorangan
secara ekstrateritorial saja, misalnya Section 477.1 the Criminal Code
Kanada yang menetapkan pelanggaran di atas kapal Berbendera Kanada
109
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
di laut oleh Warga Negara Kanada maupun orang asing; 3) Yurisdiksi
atas perbuatan-perbuatan secara ekstrateritorial oleh aktor/pelaku
ekstrateritorial, misalnya the Crimes Against Humanity and War Crimes Act
khususnya Sections 6 dan 8 pada pelanggaran di luar wilayah Kanada dan
di luar yurisdiksi dari pelaku. 256
Membentuk hukum atau pengaturan yang bersifat ekstrateritorial
bukanlah merupakan suatu pelanggaran atau hal yang ilegal dalam
hukum internasional. Pada hakikatnya, dasar yang tegas bagi penerapan
jurisdiction to prescribe diperlukan untuk menjustifikasi “infringement of
sovereignty” atau pelanggaran kedaulatan yang diatur dalam peraturan
atas ruang siber misalnya konten internet. Sebagaimana yang dinyatakan
oleh Mahkamah Internasional (International Court of Justice) dalam
opininya dalam Kasus Lotus (Lotus Case), bahwa suatu negara tidak boleh
melaksanakan kedaulatannya dalam bentuk apapun di dalam wilayah
negara lain dan yurisdiksi tidak dapat dilakukan oleh negara tersebut di
luar wilayahnya kecuali dengan suatu aturan yang memperbolehkannya
yang diperoleh dari kebiasaan internasional atau dari suatu konvensi. 257
Pada
hakikatnya,
permasalahan
baru
ada
ketika
negara
menegakkan atau melaksanakan hukumnya secara ekstrateritorial.
256 Lihat Steve Coughlan, et.al, Global Reach, Local Grasp: Constructing Extraterritorial Jurisdiction
in the Age of Globalization, Dalhousie Law School, Prepared for the Law Commission of Canada,
2006, hlm.15
257 Lihat Samuel F. Miller, Prescriptive Jurisdiction over Internet Activity: The Need to Define and
Establish the Boundaries of Cyberliberty, Indiana University School of Law, Digital Repository
@Maurer Law, Indiana Journal of Global Legal Studies, Volume 2, Issue 2, 2003, hlm. 229
110
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Apabila suatu negara tidak menegakkan atau melaksanakan hukum yang
telah ditetapkannya tersebut maka sebenarnya secara praktis hal itu tidak
akan menimbulkan persoalan. Namun akan sangat tidak bijak apabila
suatu negara tidak mampu memetakan yurisdiksi preskriptifnya
(prescriptive jurisdiction) secara ekstrateritorial, misalnya dengan melihat
di mana Indonesia berniat dan mempunyai potensi serta kapasitas untuk
melakukan penegakan hukum terhadap hukum yang telah Indonesia
tetapkan.
Dalam
hal
ini
kriteria
yang
diberikan
oleh
Mahkamah
Internasional dalam menerapkan yuridiksi negara secara ekstrateritorial
terhadap negara lain adalah adanya: 1) permissive rule yang berasal dari
kebiasaan internasional (international costumary law); dan 2) permissive rule
yang berasal dari suatu konvensi.
Pada konteks pelaksanaannya oleh Indonesia, pembentukan rezim
ekstrateritorial khususnya dalam hukum siber terdapat pada Pasal 2
Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (UU ITE), sebagai berikut:
“Undang-Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan
perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang
berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum
Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau
di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.”258
258 Lihat Pasal 2 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
111
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Pada penjelasan Pasal 2 UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik disebutkan bahwa Undang-Undang ini
memiliki jangkauan yurisdiksi tidak semata-mata untuk perbuatan
hukum yang berlaku di Indonesia dan/atau dilakukan oleh warga negara
Indonesia, tetapi juga berlaku untuk perbuatan hukum yang dilakukan di
luar wilayah hukum (yurisdiksi) Indonesia baik oleh warga negara
Indonesia maupun warga negara asing atau badan hukum Indonesia
maupun badan hukum asing yang memiliki akibat hukum di Indonesia,
mengingat pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Informasi Elektronik
dan Transaksi Elektronik dapat bersifat lintas teritorial atau universal.259
Dalam tataran pembentukan hukum (jurisdiction to prescribe),
Indonesia
tentu
mempunyai
kewenangan
untuk
membuat
serta
menetapkan yurisdiksi terhadap hal-hal yang bersifat ekstrateritorial
dalam hukum sibernya. Namun, tentu saja masih belum jelas dalam
konteks penegakannya karena perlu diuji lebih lanjut apakah akan
melanggar kedaulatan negara lain atau tidak.
Selain itu, permasalahan baru muncul ketika Indonesia berniat
untuk menegakkan atau melaksanakan Pasal 2 UU ITE tersebut secara
ekstrateritorial terhadap Negara lain. Penegakan secara unilateral oleh
Indonesia dapat dipastikan akan mengalami hambatan ketika berhadaphadapan dengan yurisdiksi negara yang lain. Oleh karena itu, penegakan
259 Lihat Penjelasan Pasal 2 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik
112
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Pasal 2 UU ITE terhadap wilayah negara lain ataupun di luar wilayah
Indonesia tersebut dirasa akan sangat lemah.
Untuk itu, dalam tataran proses pembentukan, Pasal 2 UU ITE ini
sebenarnya belum selesai dikonstruksikan legislasinya oleh Indonesia.
Hal ini karena Pasal 2 UU ITE membutuhkan pembentukan suatu rezim
hukum baru agar dapat berlaku secara efektif. Sesuai dengan Pendapat
Hukum Mahkamah Internasional dalam Kasus Lotus (Lotus Case), rezim
hukum baru yang dimaksud di sini adalah hukum kebiasaan
internasional (international
customary law)
dan
konvensi ataupun
perjanjian internasional.
Dalam rangka mengatasi hambatan yurisdksi dalam penegakan
Pasal 2 UU ITE tersebut, Indonesia memiliki yurisdiksi untuk
mengadakan
kerja
sama
internasional
dalam
bentuk
perjanjian
internasional atau bentuk lain dengan negara (perjanjian bilateral) atau
negara-negara lain (perjanjian regional dan multilateral) lingkup ruang
siber. Kerja sama internasional tersebut juga dapat dilakukan dalam
bentuk perumusan norma-norma atau prinsip-prinsip internasional yang
nantinya dapat berfungsi sebagai international customary law.
Gagasan mengenai kerja sama internasional ini sekali lagi secara
tegas dinyatakan oleh Marty Natalegawa di Seoul Conference on
Cyberspace, Seoul, pada tanggal 17 Oktober 2013, sebagai berikut:
“We need to establish a global arrangement through which the
cyberspace contributes to addressing the challanges of our time, such
as poverty, climate change, armed conflicts, corruption and natural disasters.
We must, therefore, develop and promote cyberspace principles and norms
that will support and sustain development. That will bring common progress
113
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
instead of marginalization of world citizens. That will promote democracy and
tolerance instead of extremism and hatred. And that will strenghten
cooperation and collaboration instead of confrontation and rivalry. In this
regard, Indonesia believes such norms and principles must be
developed through the United Nations.”260
Menurut Jonathan Zittrain261, dalam menjawab pertanyaan dalam
wawancara secara online dengan penulis mengenai kemungkinan
pengembangan/pembentukan rezim yurisdiksi ektrateritorial untuk
menegakkan hukum siber dari satu negara terhadap negara lain dengan
menggunakan perjanjian internasional, Zittrain menyatakan bahwa hal
tersebut mungkin dilakukan, namun hal tersebut akan sangat lambat
prosesnya karena berbagai kepentingan politis. Zittrain memberikan
contoh Rusia yang mempunyai maksud untuk memiliki suatu kerangka
hukum untuk menyerahkan informasi hasil identifikasi dari pihak-pihak
yang terlibat dalam tindak pidana siber dari wilayahnya, atau bahkan
mungkin mempertimbangkan opsi ekstradisi, namun tentu Pihak Rusia
menginginkan hal yang sama dari negara lain, misalnya Amerika Serikat,
dan pengertian mengenai tindak pidana antara satu negara dengan
negara lain akan sangat berbeda. Idealnya, kita dapat memikirkan opsi
260 Marty Natalegawa, op.cit.
261 Jonathan L. Zittrain adalah seorang Profesor Hukum di Harvard Law School dan Kennedy School
of Government, Profesor Ilmu Komputer di Harvard School of Engineering dan Ilmu Pengetahuan
Terapan Harvard, dan co-founder dari Berkman Center for Internet & Society. Minat penelitiannya di
bidang penguasaan properti digital dan konten, kriptografi, privasi elektronik, peran perantara
dalam arsitektur internet, komputasi manusia, serta penyebaran teknologi yang berguna dan tidak
mengganggu dalam pendidikan.
114
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
lain seperti membuat sistem finansial perbankan kita menjadi lebih kuat,
sehingga tingkat kriminalitas dapat diturunkan, atau dampak dari tindak
pidana tersebut tidak terlalu besar. Akan lebih mudah misalnya mengatur
dan memverifikasi rating dari kredit seseorang.262
Lebih lanjut Zittrain menyampaikan bahwa dalam membentuk
suatu perjanjian internasional dalam hukum siber, masalah akan muncul
dari hal-hal yang detail yang perlu diatur. Zittrain dapat melihat adanya
kemungkinan pembentukan rezim internasional dalam bentuk perjanjian
internasional seperti ektradisi dan lain sebagainya, namun sulit untuk
membayangkan penerapan perjanjian internasional dan memberlakukan
ekstradisi untuk semua hal. Zittrain menyatakan bahwa hal tersebut
hanya dapat dimungkinkan untuk kasus-kasus prioritas saja. Selanjutnya
disampaikan
bahwa
kebijakan
akan
tergantung
dari
bentuk
persoalannya, apakah sesuatu yang akan berdampak besar, di mana
sejumlah penuntutan akan membuat perubahan besar (where a few wellplaced prosecutions can make a dent), ataukah hanya upaya yang tidak
262 Hasil wawancara secara online dengan Prof. Jonathan L. Zittrain pada tanggal 23 Juli 2013
melalui sebuah thread di Facebook.com yang disponsori oleh Berkman Center for Internet & Society,
Harvard University. Pada kesempatan tersebut Jonathan Zittrain akan menjawab pertanyaanpertanyaan seputar cyber security dan Internet governance secara real time dari para penanya
termasuk pertanyaan penulis. Dapat diakses melalui https://www.facebook.com/BerkmanCenter.
Question : What about in matters related to cyber crime such as hacking, carding, etc? Do you think
it’s possible to use extraterritorial jurisdiction to adjudicate the person from other state? And can we
combine it with extradition treaty bilaterally to make it enforcable?
Answer : Possible, just that the gears turn slowly. The Russians, for example, may be game to have a
framework for turning over identifiying information of those engaging in internet-based crime from
their turf, or even extradition, but they’ll want the same from, say, the US—and qour definitions of
crime may vary greatly. Ideally, we could have financial systems be more resilient, so that the crime
level dreps overall, or the impact of crime is felt less harshly. It should be easier to manage and verify
one’s credit rating, for example.
115
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
menimbulkan efek perubahan besar (more like fish in the ocean). Hal
pertama yang harus dilakukan adalah menentukan pelanggaran/tindak
pidana yang akan diatur.263
Dapat disimpulkan dari pendapat Zittrain di atas bahwa pada
prinsipnya terdapat kemungkinan pembentukan rezim yurisdiksi
ekstrateritorial dalam hukum siber melalui perjanjian internasional,
namun masalah yang akan dihadapi adalah pengaturan-pengaturan yang
bersifat detail di dalamnya termasuk penentuan pelanggaran/tindak
pidana yang akan diatur.
Dalam rangka penentuan pengaturan detail terkait apa-apa saja
yang hendak diatur dalam suatu perjanjian internasional baik bilateral
maupun internasional dan internasional sebenarnya dapat mengacu pada
perjanjian internasional atau konvensi yang telah ada untuk dijadikan
sebagai patokan. Terkait dengan penentuan pelanggaran yang akan
diatur, Convention on Cybercrime 2001 telah menentukan sebagai berikut:
263 Ibid.
Question : so, you would suggest pre-emptive and preventive action by technical arrangements on
this particular matters? Say Indonesia, Malaysia, and Singapore both has the same rules and
principles on extraterritorial jurisdiction to prosecute internet-based crime, the only obstacle is the
sovereignty of each sountry to willingly hand over the offender. I think it’ll be the best way if
somehow these countries have their own extradition treaty that include internet based crime to
possibly enforce the extraterritorial jurisdiction considering there’s no international regime regarding
this matter.
Answer: The devil will be in details—I could see something working here, but it’s hard to imagine
invoking the treaty and performing an extradition for all but the most high priority defendants. So the
wisdom of this will depend, in part, by a sense of the shape of the problem: is it something that’s
kingpin-heavy, where a few well-placed prosecutions can make a dent, or more like fish on the ocean.
Definining the problem will be a first step: is it DDOS, identity theft,....?
116
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
“whereas, the Council of Europe in Convention on Cybercrime has
devided the types of cybercrime into some classifications as follow: 1) illegal
access; 2) illegal interception; 3) data interference; 4) system interference; 5)
misuse of devices; 6) computer-related forgery; 7) computer-related fraud;
offences related to child pornography; 8) offences related to infringements of
copyright and related rights.”264
Selain itu, dalam tataran legislasi, Convention on Cybercrime 2001
menawarkan langkah-langkah kebijakan kriminalisasi hukum pidana
(substantive criminal law measure), hukum acara (procedural law), dan
tentunya kerja sama internasional (international cooperation) yang dapat
juga diikuti dalam pembentukan hukum siber.
Langkah-langkah kebijakan kriminalisasi pidana (substantive
criminal law measure) yang diatur meliputi pelanggaran terhadap
kerahasiaan atau privasi (offences against the confidentiality), integritas dan
ketersediaan sistem serta data komputer (misalnya akses ilegal, intersepsi
ilegal, data interference, dan penyalahgunaan komputer), computer-related
offences (seperti computer-related forgery dan computer-related fraud), contentrelated offences (seperti pornografi anak), dan pelanggaran Hak Kekayaan
Intelektual.265
264 Ahmad M. Ramli, The Urgency of Ratification of Convention on Cybercrime, Indonesia Law
Journal Vol. 2 No. 2, National Law Development Agency, Mininstry of Law and Human Rights,
Jakarta, 2007, hlm. 2
265 Global Project on Cybercrime, The Cybercrime Legislation of Commonwealth States: Use of the
Budapest Convention and Commonwealth Model Law, Council of Europe contribution to the
Commonwealth Working Group on Cybercrime, Data Protection and Cybercrime Division, 2013, hlm.
79
117
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Hukum acara atau prosedur untuk menegakkan hukum pidana
seperti langkah-langkah yang lebih efektif untuk melakukan investigasi
atau penyelidikan tindak pidana siber yang meliputi expedited preservation
of stored computer data, pengungkapan arus data secara parsial, production
orders, penggeledahan dan penyitaan data komputer yang disimpan,
penyadapan secara real-time terhadap arus data dan konten. Langkahlangkah prosedural tersebut dapat diaplikasikan terhadap perbuatan
yang dilakukan dengan sistem komputer, dan pengumpulan alat bukti
(proses penyidikan) secara umum, serta kondisi dan pengaturan tersebut
dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang (abuse of
powers).266
Bentuk
kerja
sama
internasional
yang
ditentukan
dalam
Convention on Cybercrime 2001 meliputi prinsip-prinsip umum (general
principles) seperti ekstradisi, bantuan hukum timbal balik, informasi
sukarela (spontaneous information) dan langkah-langkah tertentu seperti
akses terhadap trans-border data komputer yang tersimpan, bantuan
timbal balik terhadap pengumpulan arus data secara real time, bantuan
timbal balik terhadap penyadapan data konten, point of contact selama 24
jam dalam 7 hari, dan lain sebagainya.267
Dari
paparan-paparan
tersebut
di
atas
dapat
diperoleh
pemahaman bahwa terdapat banyak manfaat dari keikutsertaan suatu
266 Ibid., hlm. 79-80
267 Ibid, hlm. 80
118
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
negara dalam konvensi tersebut. Bagi Indonesia, tentu saja urgensi untuk
ikut serta dan melakukan aksesi terhadap Convention on Cybercrime 2001
dilakukan agar nantinya Pasal 2 UU ITE yang mengatur mengenai
prinsip ekstrateritorial dapat dijalankan secara efektif. Namun, untuk
mengaksesi Convention on Cybercrime 2001, suatu negara harus melakukan
harmonisasi pengaturan tindak pidana siber dalam hukum nasionalnya
dengan konvensi tersebut.
Untuk itu, Pemerintah sedang menyusun Rancangan Undang
Undang tentang Tindak Pidana Teknologi Informasi (RUU TIPITI) yang
mengatur secara khusus mengenai tindak pidana siber, mengingat masih
ada tindak pidana yang tidak tercakup dalam UU ITE.
Seperti yang telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya bahwa
pembentukan prinsip ekstrateritorial digunakan untuk mengontrol atau
mempengaruhi tingkah laku negara-negara lain. Dalam kaitan ini,
langkah-langkah didesain sedemikian rupa untuk memberikan jangkauan
secara ekstrateritorial dengan mempengaruhi tindakan-tindakan dari
negara-negara lain. Tindakan untuk mengontrol atau mempengaruhi
tingkah laku negara-negara lain ini juga dilakukan oleh Dewan Eropa
sebagai penggagas dari Convention on Cybercrime 2001. Hal ini terlihat dari
“persuasive power” dari konvensi tersebut yang menyaratkan bahwa untuk
mengaksesi Konvensi Dewan Eropa 2001 tersebut, suatu negara terlebih
dahulu harus melakukan harmonisasi pengaturan tindak pidana siber
dalam hukum nasionalnya dengan konvensi tersebut. Tentu saja, untuk
ikut serta dalam konvensi ini, Indonesia “dipaksa” untuk mematuhi dan
119
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
menyesuaikan norma-norma/aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam
konvensi tersebut.
Dalam hal ini, walaupun konvensi tersebut bersifat terbuka,
konvensi yang dihasilkan dari bentuk paham regionalisme atau kawasan
tertentu cenderung akan mendapatkan resistensi khususnya dari negaranegara dari kawasan yang berbeda. Sehingga suatu keniscayaan bahwa
konvensi
yang
dapat
diterima
oleh
semua
kalangan
adalah
konvensi/traktat/perjanjian internasional yang dihasilkan oleh forum
multilateral atau dalam hal ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di tingkat multilateral atau PBB sendiri, Indonesia bersama Brazil
dan Jerman sedang memperkenalkan suatu resolusi yang diberi nama UN
Resolution on the Right to Privacy in the Digital Age. Upaya ini dilakukan
untuk menegaskan peran PBB dalam merespon merebaknya tindak
penyadapan dan mata-mata melalui internet dan telekomunikasi oleh
Amerika Serikat yang dibeberkan oleh Edward Snowden.
Rancangan resolusi PBB tersebut pada intinya mengajak negaranegara Anggota PBB untuk : 1) menghormati dan melindungi hak privasi,
termasuk dalam konteks komunikasi digital; 2) untuk mengambil
langkah-langkah terukur dalam mengakhiri pelanggaran-pelanggaran
terhadap hak-hak tersebut dan menciptakan kondisi-kondisi untuk
mencegah pelanggaran tersebut, termasuk menjamin aturan-aturan
nasional
sesuai
dengan
kewajibannya
sesuai
dengan
Hukum
Internasional mengenai HAM; 3) mereview prosedur, praktik, dan
legislasi terkait pengawasan terhadap komunikasi, intersepsi dan
120
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
pengumpulan data secara personal, termasuk pengawasan komunikasi
secara
masal,
memperhatikan
penyadapan
penghormatan
dan
pengumpulan
terhadap
hak-hak
data
dengan
privasi
dengan
menjamin implementasi dari seluruh kewajibannya pada hukum
internasional tentang HAM; 4) membentuk atau mempertahankan
mekanisme internal yang mandiri dan efektif dalam menjamin
transparansi dan akuntabilitas bagi pengawasan komunikasi oleh negara,
serta penyadapan dan pengumpulan data personal/individu yang
dilakukan oleh negara. 268
Untuk itu, selain melakukan harmoniasi hukum nasional terhadap
Convention on Cybercrime 2001, perlu kiranya dipikirkan alternatif lain
bagi pembentukan rezim internasional dalam rangka penerapan prinsip
ekstrateritorial. Alternatif lain yang perlu dipertimbangkan pada konteks
pembentukan hukum siber adalah pembentukan norma-norma dan
prinsip-prinsip tingkah laku dalam bentuk international customary law.
Dalam hal ini, ASEAN melalui mekanisme ASEAN Regional Forum
(ARF) sebagai suatu forum dialog dan konsultasi di bidang politik dan
keamanan di kawasan sudah
mulai membahas isu-isu yang terkait
dengan keamanan siber dan membentuk work plan on cyber security.
Diharapkan pembentukan work plan on cyber security tersebut pada
akhirnya akan melahirkan suatu rezim internasional dalam waktu dekat
sehingga Anggota ARF dan wilayahnya akan memiliki soft law sendiri
268 UN Draft Resolution A/C.3/68/L.45/Rev.1 tanggal 20 November 2013, hlm. 2-3
121
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
yang berkaitan dengan masa depan internet dan keamanan siber. Hasil
dari ARF dapat berupa resolutions, declarations, statements, principles,
objectives, declarations of principles, guidelines, standards, or action plans dan
memiliki morally binding power bagi Negara-Negara Anggota ARF.
Selanjutnya, alternatif lain dalam membentuk rezim internasional
untuk dapat menerapkan dan memberlakukan Pasal 2 UU ITE secara
efektif adalah dengan mekanisme pembentukan perjanjian bilateral.
Dalam hal ini perjanjian bilateral tersebut dapat mengatur 3 (tiga)
kewenangan secara ekstrateritorial, yaitu: 1) bantuan timbal balik dan
kerja sama terhadap bidang-bidang tertentu secara ekstrateritorial,
sebagai contoh dari perjanjian ini adalah bantuan hukum timbal balik; 2)
kewenangan ekstrateritorial secara resiprokal, misalnya operasi gabungan
antar dua negara; 3) kewenangan ekstrateritorial secara bersama,
misalnya dalam bentuk pendirian komisi bersama serta pendirian liason
office dan liasion officer.
Contoh perjanjian bilateral yang mengatur ketiga kewenangan
secara ekstrateritorial seperti tersebut di atas adalah Memorandum of
Understanding between The Government of The Republic of Indonesia and The
Government of Australia on Combating Transnational Crime and Developing
Police Cooperation Tahun 2008 (MoU 2008) dan Arrangement between The
Indonesian National Police and The Australian Federal Police on Cooperation in
Preventing and Combating Transnational Crime Tahun 2011 (Arrangement
2011) di bawah kerangka kerja sama Lombok Treaty.
122
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Kedua perjanjian tersebut merupakan perjanjian pelaksana dari
Agreement between The Republic of Indonesia and Australia on The Framework
for Security Cooperation, yang disebut dengan Perjanjian Lombok atau
Lombok Treaty. Lombok Treaty telah disahkan oleh Indonesia melalui
Undang-Undang Nomor 47 Tahun 2007 Tentang Pengesahan Perjanjian
antara Republik Indonesia dan Australia Tentang Kerangka Kerja Sama
Keamanan (Agreement between The Republic of Indonesia and Australia on The
Frameworkfor Security Cooperation).
Salah satu lingkup kerja sama prioritas yang diatur baik oleh MoU
2008 maupun Arrangement 2011 adalah tindak pidana siber. Hal ini
terlihat dari Paragraph 6 MoU 2008 sebagai berikut:
“Paragraph 6 MoU: Priority Crime Types, Priority criminal issues
under this MoU will include but are not limited to: 1) terrorism; 2) illicit
trafficking in narcotics drugs and psychotropic substances and their precursors;
3) people smuggling and trafficking in persons; 4) transnational child
exploitation; 5) money laundring and proceeds of crime action; 6) cyber crimes;
7) arms smuggling; 8) transnational economic crimes; 9) corruption; 10)
environmental crime; 11) illegal fishing; 12) intellectual property crime; 13)
identity crime; 14) sea piracy; and 15) other types of crime if deemed necessary by
both Parties.”269
Dan diatur juga pada Paragraph 3 Arrangement 2011, sebagai
berikut:
“Paragraph 3: Scope of Cooperation, The Participants will cooperate in:
Preventing and combating transnational crimes, in particular acts relating to:
269 Lihat Paragraph 6 MoU: Priority Crime Types, Memorandum Of Understanding Between The
Government Of The Republic Of Indonesia And The Government Of Australia On Combating
Transnational Crime And Developing Police Cooperation Tahun 2008
123
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
terrorism, people smuggling, trafficking in persons, money laundering,
corruption, illegal fishing, illegal mining, illegal logging, cyber crimes, child
exploitation, economic crime, intellectual property crime, illicit trafficking in
narcotic drugs and psychotropic substances and their precursors, illicit
trafficking in arms, ammunition, explosives and other dangerous materials and
the illegal production thereof other types of crimes if deemed necessary by both
Participants.”270
Kedua perjanjian tersebut baik MoU 2008 maupun Arrangement
2011 mengatur baik mengenai bantuan timbal balik dan kerja sama
terhadap bidang-bidang tertentu secara ekstrateritorial, kewenangan
ekstrateritorial secara resiprokal, dan kewenangan ekstrateritorial secara
bersama. Sebagai contoh baik MoU 2008 maupun Arrangement 2011
mengatur
mengenai
bentuk-bentuk
kerja
sama
yang
bersifat
ekstrateritorial, yaitu: 1) kerja sama dan koordinasi operasi dan intelijen
serta pertukaran informasi untuk keperluan penegakan hukum; 2) operasi
bersama (joint operational activities); 3) pembentukan atau penempatan
Liason Offices dan/atau Liason Officers di kedua Negara; 4) pengembangan
kapasitas seperti peningkatan kapasitas institusional, organisasi, sumber
daya manusia, dan peralatan.271
Terkait dengan pembentukan atau penempatan Liason Offices
dan/atau Liason Officers di kedua negara, hal ini telah direalisasikan
270 Lihat Paragraph 3: Scope of Cooperation, Arrangement Between The Indonesian National Police
And The Australian Federal Police On Cooperation In Preventing And Combating Transnational
Crime Tahun 2011
271 Lihat Paragraph 4 MoU 2008 dan Paragraph 4 Arrangement 2011
124
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
dengan pembentukan The Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation
(JCLEC) di Semarang tahun 2004 . Dalam pelaksanaannya, JCLEC akan
berkerja sama dengan dengan badan-badan lain seperti the South East
Asian Regional Centre for Counter Terrorism (SEARCCT) di Kuala Lumpur,
Malaysia dan International Law Enforcement Academy (ILEA) di Bangkok,
Thailand.272
KESIMPULAN
Berdasarkan pada penjelasan bab-bab sebelumnya dapat ditarik
suatu simpulan, yaitu:
Dalam penerapan hukum positif di Indonesia saat ini khususnya Pasal 2
UU ITE tersebut secara ekstrateritorial terhadap negara lain dapat
dipastikan akan mengalami hambatan ketika berhadap-hadapan dengan
yurisdiksi negara yang lain tersebut. Hal ini dikarenakan dalam tataran
proses pembentukan, Pasal 2 UU ITE ini sebenarnya belum selesai
dikonstruksikan legislasinya oleh Indonesia. Hal ini karena Pasal 2 UU
ITE membutuhkan pembentukan suatu rezim hukum baru secara
internasional agar dapat berlaku secara efektif.
Dalam rangka mengatasi hambatan yurisdksi untuk melaksanakan Pasal
2 UU ITE tersebut, Indonesia memiliki yurisdiksi untuk mengadakan
272 http://www.jclec.com/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=28, diakes
tanggal 16 Desember 2013
125
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
kerja sama internasional dalam bentuk perjanjian internasional atau
bentuk lain dengan negara lain (perjanjian bilateral) atau negara-negara
lain (perjanjian regional dan multilateral). Kerja sama internasional
tersebut juga dapat dilakukan dalam bentuk perumusan norma-norma
atau prinsip-prinsip internasional yang nantinya dapat dianggap sebagai
international customary law.
126
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
THE JUDICIAL EXPANSIVE ATTITUDE TOWARDS
PUBLIC POLICY IN ENFORCEMENT OF FOREIGN
ARBITRAL AWARDS IN INDONESIA
Mahmudin Nur Al-Gozaly
Abstrak
Penggunaan konsep “kebijakan publik” oleh peradilan nasional sebagai
landasan untuk menolak eksekusi keputusan arbitrase asing
menyisakan persoalan dalam sistem peradilan Indonesia. Peradilan
Indonesia diketahui telah beberapa kali menolak pelaksanaan keputusan
arbitrase asing dengan dasar konsep “kebijakan publik”. Artikel ini
menganalisis apakah peradilan nasional Indonesia telah berhasil
membangun penalaran hukum yang cukup dan konsisten dengan
ketentuan United Nations Convention on the Recognition and
Enforcement of Arbitral Awards (Konvensi New York). Namun
demikian, konsep “kebijakan publik” menurut Konvensi New York
telah menimbulkan interpretasi yang beragam. Kenyataan, bahwa
Indonesia belum memiliki hukum dan regulasi nasional yang khusus
mengatur penegakan keputusan arbitrase asing di Indonesia,
menyebabkan keleluasaan bagi peradilan nasional untuk menafsirkan
konsep “kebijakan publik” dan karenanya semakin menambah
keyakinan adanya resistensi peradilan nasional terhadap arbitrase
internasional. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa peradilan
Indonesia yang menolak penegakan keputusan arbitrase asing telah
menerapkan konsep kebijakan publik dalam arti yang sangat luas.
Selain itu, konsep tersebut juga sering digunakan secara bergantian
dengan konsep pemeliharaan "ketertiban umum" dan perlindungan
"kepentingan publik" bagi Negara.
Kata kunci: kebijakan publik, peradilan Indonesia, putusan arbitrase
asing, Konvensi New York
127
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
A. INTRODUCTION
Despite a signatory Party to the 1958 United Nations (UN)
Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral
Awards (also known as the New York Convention), Indonesia has been
accused of being unfriendly to foreign arbitration.273 One of the reasons is
that an international arbitration might be time consuming when it comes
to enforcing due to prevailing long procedures. Further, some of arbitral
awards were found to have been overturned by the Indonesian court,
raising concerns about the certainty and finality of enforcement of the
arbitral awards in the country. A study has pointed out that six out of 29
foreign arbitral decisions were annulled by the central Jakarta district
court for particular reasons (to be discussed below).274
Yet, the rejection of foreign arbitration is actually allowed by the
Convention for a number of possible rationales, one of which is a
condition where such a foreign award would clearly contradict the public
policy, regulated by national laws.275 However, the public policy has yet
to be comprehensively specified in the currently related Indonesia’s
arbitration laws, in particular the Law No. 30 of 1999 on Arbitration and
273 Hukum Online, “Indonesia is Unfriendly to International Arbitration”, 27 April 2011
<http://en.hukumonline.com/pages/lt4db81f2f12c73/indonesia-is-unfriendly-to-internationalarbitration>, retrieved on 19 January 2013.
274 Ibid.
275 Article V (2) b of the New York Convention.
128
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Alternative Dispute Resolution (hereinafter referred to as the Arbitration
Law),276 which in turn has brought about the domestic legal uncertainty in
the enforcement of international arbitration.277
The adoption of national public policy exception to alien arbitral
awards’ enforcement in Indonesia, mainly like in many other developing
countries,278 has shown to be what is known as “a very unruly horse”,279
which has made it difficult for a winning party to enforce international
awards. In fact, some internal decisions showed that judges often relied
on “public interests” as enumerated in the state’s national directive
principle in the Preamble of the 1945 Constitution280—the terminology
that is not similar to the term “public policy” embodied in the
Convention.
276 See Law No. 30 of 1999 on Arbitration and Alternative Dispute Resolution in Hadiputranto,
Hadinoto & Partners (HHP) Law Firm, “Arbitration in Indonesia: Law No. 30 of 1999 on Arbitration
and
Alternative
Dispute
Resolution,
(HHP,
2011)
<http://www.
hhp.co.id/files/Uploads/Documents/Type%202/HHP/br_hhp_arbitrationindonesia>, retrieved on
19 January 2013.
277 See Karen Mills, “Enforcement of Arbitral Awards in Indonesia and Other Issues of Judicial
Involvement in Arbitration”, presented in the Inaugural International Conference on Arbitration of
the Malaysia Branch of the Chartered Institute of Arbitratiors in Kuala Lumpur, 1 March 2003
(Karimsyah
Lawfirm
Jakarta,
2003)
8
<http://www.arbitralwomen.org/files/publication/4310102632224>, retrieved on 5 January 2013.
278 See generally Nandang Sutrisno, Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards in
Developed and Developing Countries: A Comparison of the US and Indonesia, Thesis, (Institute of
Comparative Law – MacGill University, 1993).
279 In Richardson v. Mellish, 2 Bing 229 (1824), Judge Burrough underlined that public policy is “a
very unruly horse, and when once you get astride it you never know where it will carry you.” See
Dharmendra Rautray, ‘The Public Policy Hurdle to Enforcement of Foreign Awards in India’ (2012)
66(4) ADR News 16, 16.
280 “…protect all the people of Indonesia and all the independence and the land that has been
struggled for, and to improve public welfare, to educate the life of the people and to participate
toward the establishment of a world order based on freedom, perpetual peace and social justice….”
See Preamble to the 1945 Constitution.
129
JURNAL OPINIO JURIS
Moreover,
Indonesian
Vol. 15  Januari-April 2014
courts
appeared
to
have
imposed
constraints using the concept of the national interests especially to protect
economic goals. For example, the Indonesia’s central district court’s
annulment of an award granted by the arbitration panel in Geneva,
Switzerland in Karaha Bodas v Pertamina and PLN (hereinafter referred
to as Karaha Bodas case) constitutes the municipal court’s affirmation to
set aside an international arbitration award using the rationales of
economic protectionist ends. But, the award was later overturned by the
state’s Supreme Court meaning that the arbitral award was domestically
enforceable because arguments taken by the district court were not only
poorly reasoned and flawed, but also violated against the Arbitration
Law.281
Nevertheless, in addition to the court using the article V (2) b of
the New York Convention as a ground for vacating the award that would
be in direct violation against the public policy in place, it referred to the
Supreme Court’s Regulation No. 1 of 1999 which emphasised that the
application of international arbitration awards in Indonesia may apply as
long as it does not violate “public order” consistent with all underlying
principles of the legal system and society.282 In this respect, on the one
hand the court considered rules under the Convention to recognise and
281 Noah Rubins, ‘The Enforcement and Annulment of International Arbitration Awards in
Indonesia’ (2005) 20(2) American University International Law Review 359, 384-393.
282 See the Decision of Pertamina vs Karaha Bodas, No. 86/PDT.G/2002/PN.JKT.PST
<http://www.lfip.org/lawe506/documents/session14/e506kbjakartadctfinal.doc> 26-8.
130
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
enforce the foreign arbitral award, and on the other hand, it relied upon
the national arbitration laws to resist the enforcement of such an award.
In fact, the Arbitration Law does not specify public policy pertaining to
annulment aspects; it merely provides public policy in terms of
enforcement actions.283 In this regard, the court seemed to have confused
between the proceeding before it with regard to recognition and
enforcement and to the overruling procedures under the Arbitration
Law.284
A general picture of the use of public policy by Indonesian court
in relation to the recognition and enforcement of foreign arbitral awards
can be seen through their attitude towards foreign arbitral awards. In the
judgment of the Supreme Court in E. D. & F.MAN (Sugar) Limited v. Yani
Haryanro, for instance, the court enforced the arbitral award between
those parties considering that it was in line with the public policy.285
However, it has been annotated that the court did not provide sufficient
reasoning on the scope of public policy.286 Nonetheless, contravening
Indonesian regulation with regard to the need of the people might be
included in the public policy. In the Judgment of the Central District
Court No. 499/PdtlGIVII1988 in 1989, the court invalidated a private
contract between an English vendor and an Indonesian sugar buyer
283 Article 66 of the Arbitration Law.
284 Rubins, above n 9, 396-7.
285 See E.D. & F. MAN (Sugar) Limired v. Yani Haryanto No. 1 Pen. Ex·r/Arb.lnt.lPdtlI991, 1 March
1991.
286 Sutrisno, above n 6, 105.
131
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
provided the fact that it contradicted the public policy and a regulation
which only authorised Badan Urusan Logistik (Indonesian national
agency of procurement) to import sugar to the country.287 Although such
a decision did not correlate to the application of foreign arbitral awards, it
may have somehow provided how public policy was depicted in the
state’s judicial system.
Nonetheless, the status of enforceability of foreign arbitral awards
in Indonesia might remain unclear and perceived to be unable to deal
with constraints of the application of alien arbitration awards, despite the
fact that it has ratified the New York Convention, promulgated the
implementing regulation and enacted the Arbitration Law. The
Indonesian central district court’s reluctance to enforce the award based
its decision on a more widely defined ‘public policy’ including ‘public
interests’ and ‘public order’. The existence of the various use of exception
indicates that it has yet to specify public policy as may be stipulated in the
Convention.288
Therefore, such an absence (or imprecise definition) of necessary
public policy regulation or measures may pertain to the fact that
Indonesian judiciary uses a dualist approach in the face of foreign
arbitration. It adheres to the New York Convention in terms of
recognition and enforcement of foreign arbitral awards, but on the other
287 Ibid.
288 Ibid 108.
132
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
hand it strictly applies domestic broad notion of public policy to set aside
foreign
arbitration
awards
without
properly
adherence
to
the
Convention.289 It can be said that in spite of having incorporated the
Convention into the Indonesian legal regime through a Presidential
Decree No. 34 of 1981, Indonesian judiciary, in practice, have often
defined public policy according to national enactment rather than
international laws with regard to denial of foreign arbitral awards. The
full obedience to the rules under the treaty has not always been reflected
in practice.290 In fact, both the absence of implementing regulations and
the tendency to rely upon national laws instead of international values
have been conceived as adding to the major flaw of the applicability of
foreign arbitral awards.291
The aforementioned ambivalence and lack of implementing
regulations pertaining to the enforceability of foreign arbitral awards in
Indonesia have actually become the Indonesian judicial hostility to
international arbitration. The fact that Indonesia has integrated the
Convention into its legal system through ratification should make the
application of alien arbitral awards possible. In practice, with reference to
the national view of public policy, there will be justifications for refusing
289 Gennady M Danilenko, ‘Implementation of International Law in CIS States: Theory and Practice’
(1999)
10
European
Journal
of
International
Law
(EJIL)
<
http://ejil.oxfordjournals.org/content/10/1/51.full.pdf+html>, 1-2.
290 Ibid.
291 Fifi Junita, ‘Experience of Practical Problems of Foreign Arbitral Awards Enforcement in
Indonesia’ (2008) 5 Macquarie J. Bus. L. 369, 378.
133
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
the enforcement of foreign awards. Yet, a concern can be raised as to
whether a national legal concept of public policy does not contravene the
‘doctrine’ of public policy under international law. The International Law
Association (ILA) has formulated the “international standard” of public
policy defence purporting to provide for a restrict method of determining
public policy constraints.292 Nonetheless, if international setting of public
policy basically emanates from restrictive approach of national public
policy, the applicability of global public policy will mostly be determined
by national law rather than international law.293 In fact, some have argued
that international public policy in relation to foreign arbitral awards
enforcement basically relies upon national law, where national courts
may have the most significant roles in making the enforcement
possible.294
In addition, the scope of public policy exception as stipulated in
the article V (2) b of the Convention has been discerned to be vague. 295
Such a definitional vagueness will then lead to creating possible
challenges to the certainty and finality of a foreign award as each state
292 See International Law Association, “Resolution of the ILA on Public Policy as Bar to Enforcement
of
International
Arbitral
Awards”,
(ILA,
2002)
<http://www.epublications.bond.edu.au/context/theses/article/1023/index/2/type/native/viewc
ontent>, retrieved on 20 January 2013.
293 Junita, above n 19, 385.
294 See United Nations Conference on Trade and Development, “Dispute Settlement, International
Commercial Arbitration” (UNCTAD, 2005) <http://unctad.org/en/Docs/edmmisc232add38_en.pdf
> 38-9, retrieved on 5 January 2013.
295 Allen B. Green and Josh Weiss, ‘Public Policy and International Arbitration in the European
Union’ (2011) 2 American Review of International Arbitration 661, 662.
134
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
party will have its own international public policy framework. In the
currently global economy and competition, despite the presence of
emerging regional and global cooperation, every state will remain
focusing on promoting and protecting its own national interests.296
Consequently, there is always a possibility for overuse of public policy
exception by various countries with their respective legal stance.
Therefore, enforcing state parties are likely to abuse the public
policy defence. In fact, the adoption of a broad notion of the public policy
exception has been reported to be exaggerated.297 In the Indonesian
context, the use of public policy exception by the court not only has been
criticised as exaggerating but also as out of the principle of
fundamentality, which often put it into intervention to international
commercial arbitration.298 Further, opposing a foreign valid arbitral award
by putting the public policy exception in place would undermine the
valuable tenet of arbitration legal regime. Loosing parties are enabled to
make use of the opportunity to challenge an arbitrage award so it is likely
to threaten the essential advantages of arbitration including flexibility,
reduced cost, speedy process, privacy, a neutral form and a definite
296 Ibid 613.
297 Karen E. Minehan, ‘The Public Policy Exception to the Enforcement of Foreign Judgments:
Necessary or Nemesis’ (1996) 18 Loyola of Los Angles International and Comparative Law Review
795, 796.
298 Fifi Junita, ‘Refusing Enforcement of Foreign Arbitral Awards under Article V (2) b of the New
York Convention: The Indonesian Perspective’ 2009 2(2) Contemporary Asia Arbitration Journal 301,
312-4.
135
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
choice of law.299 The tenet of fundamentality will then be a more certain
basis for a court to adjudicate an international arbitral award brought into
it, adding that an award merely not in line with a country's public policy
may not necessarily justify annulment, unless it is evidently on the
contrary to the national skeleton principle of justice and morality which
can be considered justified by international law of public policy.300
Purpose and Scope
This paper basically contains concerns about the Indonesia
judiciary’s stance of public policy defence and thus seeks to assess
whether Indonesian court’s interpretation with particular reference to
foreign arbitration awards enforcement comply with the article V (2) b of
the Convention. Bearing in mind that the Convention leaves much
discretionary power of enforcement of alien arbitrage awards to the rule
of procedure of the territory where such awards adhere to,301 this paper
also elaborates rule of enforcement procedure regulated in the prevailing
Indonesian arbitration laws, including the Arbitration Law, purporting to
assess it on the basis of international fundamentality principles of public
policy. Additionally, few Indonesian cases concerned will be discussed in
order to analyse how Indonesian judicial practices establish public policy
299 Andrew T. Guzman, ‘Arbitrator Liability: Reconciling Arbitration and Mandatory Rules’ (2000) 49
DUKE Law Journal 1279, 1284-8; Green and Weiss, above n 23, 615.
300 Junita, above n 26, 312-3.
301 Article III of the New York Convention.
136
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
exception as one of the reflections of the right of the state and its judiciary
to exercise its fundamental control over foreign arbitral proceedings.
The fact that Indonesia’s arbitration has been said to be still
finding its way302 is not included in this paper. This research paper
focuses thoroughly upon the legal aspect of using the defence ground for
opposing awards of foreign arbitration. In other words, it is aimed at
analysing the New York Convention, international law of public policy,
and Indonesia’s municipal laws with regard to arbitral awards. Yet,
discussion in this paper excludes internal arbitration awards; instead, it is
confined to the denial of enforcement of foreign arbitration awards.
In many literatures, the term “foreign arbitration” has often been
confused with “international arbitration”. The two are practically and
legally different. While foreign arbitration is basically used to differentiate
it from “national arbitration”, international arbitration vests a broad sense
of trade of international interests, embracing the borderless movement of
goods or money.303
Moreover, according to the United Nations Commission on Trade
Law
(UNCITRAL)
Model
Law
on
International
Commercial
302 Mills, above n 5, 34.
303 According to the European tradition, the internationality of arbitration is often linked to at least
two conditions: parties involved have distinct nationalities and habitual places of residence, and the
seats of the parties. Alan Redfern and Martin Hunter, Law and Practice of International Commercial
Arbitration (Sweet & Maxwell, 1991) 11-3; J. L. Delvolve, Arbitration in France: The French Law of
National and International Arbitration (Kluwer Law and Taxation Publishers, 1982) 82-4.
137
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Arbitration,304 international arbitration is based on criteria if (i) the parties
in their arbitration agreement have the places of business in different
countries; (ii) either the place of arbitration or any location where a
substantial part of the obligations under the arbitration agreement is
performed is situated outside the state where the parties have the places
of business; (iii) there is an agreement between the parties that the subject
of the agreement pertains to more than a country.305
The above distinction, however, may not be satisfactory enough as
in practice there may be parties who agree to consider an arbitration
agreement to be not national nor international as governed by the
UNCITRAL definition. Additionally, even if the parties have come to an
arbitration agreement which is deemed “international” or “foreign”
arbitration, at the end its finality and certainty will primarily be
determined by municipal courts. In this regard, the nationality of
arbitration will still take place to a certain extent.306 What is more, the
scope of international or foreign arbitration will vary since the national
law eventually determines the internationality of arbitration.
Therefore, in this paper, the term “foreign arbitration” will be
considered similar to the term “international arbitration” in terms of how
the award is enforced. The equalisation of the two relates to the fact that
304 The United Nations Commission on International Trade Law adopted UNCITRAL Model Law on
21 June 1985. Until now, Indonesia has yet to adopt the Model Law.
305 Article I (3) of the UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration.
306 Sutrisno, above n 6, 4-5.
138
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
the fundamental discussed in this paper does not touch on the analyses of
internationality aspect of arbitration, but the denial of enforcement “as
opposed” to the tenet of “pro-enforcement” valued in the New York
Convention.
This paper finally finds that public policy as opposed to
international arbitral awards execution, both in the context legislation by
the Parliament and in enforcement by the court, is much more perceived
to be the entire legal system and the Indonesian society commonly known
as “public order”. The expansive judicial attitudes towards adoption of
public policy exception in Indonesia has been primarily influenced by the
generally prevailing rules of civil procedures, namely the Code of Civil
Procedures which emphasises that a foreign arbitral award should be
treated the same as a ruling of foreign judgement as well as a decision
handed in by the Indonesian courts. In fact, grounds for justifying the
expansive use of public policy defence (or public order in the context of
Indonesia) are often based on a number of legal facts found in courtroom,
such as a mistaken contextualisation of mandatory rules of law, contract
found invalid substantially (illegality), public interests protection and
overlapping of procedural and substantive public policy.
139
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
B. ENFORCEMENT OF FOREIGN ARBITRAL AWARDS UNDER
THE NEW YORK CONVENTION
1. Nature of International Commercial Arbitration
“Arbitration”, originally from the Latin word “arbitrare” which
means the authority to cope with something with wisdom,307 can be
defined as a means, alternative to judiciary adjudication, of dispute
settlement and problems solving in a speedy and private manner of
particularly commercial disputes among business parties,308 by a third
party approved.309
The choice of forum of arbitration has been considered the
emerging reference for commercial disputes not only because its award is
final and binding, but also its proceedings are speedy but not
publicised.310 Further, the parties are enabled to choose their arbitrators,
opt for the applicable law and place of arbitration, and arbitral procedures
that prevail in the proceedings.311 Arbitration is thus conducted outside
courtroom where disputants can choose arbitrators as a neutral third
307 D.M. Lawrance, A Treatise on the Law and Practice of Arbitrations and Awards for Surveyors,
Valuers, Actioneers and Estate Agents (The Estates Gazette Limited, 1959) 1.
308 Alan Redfern and Martin Hunter, Law and Practice of International Commercial Arbitration
(Sweet & Maxwell, 4th ed, 2004) 481-2.
309 Martin Domke, The Law and Practice of Commercial Arbitration (Callaghan and Company, 1968)
1.
310 Huala Adolf, “Improving Enforcement of International Arbitral Awards in ASEAN Countries”,
presented at the 10th General Assembly of the ASEAN Law Association, 21 October 2009 <www.baniarb.org/pdf/Newsletter8.pdf> 2, retrieved on 20 January 2013.
311 Redfern and Hunter, above n 36, 482.
140
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
party, the choice of law, and place of arbitration, whose award is final and
binding.
In addition, aware that arbitration is not always linked to
commerce, international commercial arbitration has then been deemed
the most likely accepted term in a way that could distinguish it from its
use in the other contexts of, for example, employment and family
arbitration law. This differentiation is very essential, in particular when
an arbitration award comes into recognition and enforcement, for in a
country that is not party to the Convention, or a party that has
reservations, an arbitral award not categorised as commercial disputes
cannot be recognised as binding and enforceable.312
2. Enforcement of International/Foreign Arbitral Awards
The Convention is a multilateral treaty which basically sets out the
international legal regime for the recognition and enforcement of foreign
arbitration awards. Two ultimate aims of the Convention are to provide
private parties with facilitation for recognition and enforcement of
international
arbitration
agreements
as
an
alternative
dispute
settlement313 and make their enforcement more possible,314 so that the
312 Sutrisno, above n 6, 7.
313 Susan Choi, ‘Judicial Enforcement of Arbitration Awards under the ICSID and New York
Conventions’ (1996) 28 New York University Journal International Law and Politics 175, 187.
314 Green and Weiss, above n 23, 663.
141
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Convention focuses more on the aspect of recognition and enforcement
rather than resisting the awards.315 However, the treaty, in principle,
allows for the possibility of enforcing states to annul an award granted by
arbitration forum as a result of an arbitration agreement. Although the
treaty allows a state’s court to oppose foreign award enforcement, its
denial proceedings seem to fall outside the scope of the Convention.316 In
short, recognition and enforcement of a foreign award constitute a very
important part of the whole process of transnational commercial
arbitration, especially in determining the success of an international
commercial arbitration by means of making an award rendered
enforceable,317 fundamentally aimed at fostering judicial order and
uniformity in the field of international arbitration.318
The use of “recognition” and “enforcement” of foreign arbitral
awards under article I (1) of the Convention has indeed its own certain
purposes. Whereas the first pertains to the attitude of accepting or
respecting the legal impact of foreign arbitral awards, the later constitutes
commitment to carrying out a final award rendered by arbitrators.319 Once
a foreign arbitral award is enforced means that it is recognised either
315 Matthias Scherer and Sam Moss, ‘Resisting Enforcement of A Foreign Arbitral Award under the
New York Convention’ (2008) 51 Inter-Pacific BAR Association (IPBA) Journal 17, 17.
316 Ibid.
317 Green and Weiss, above n 23, 663-4.
318 Hans Harnik, ‘Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards’ (1983) 31 American
Journal Comparative Law 703, 703.
319 Sutrisno, above n 6, 27.
142
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
through full compliance by a losing party or an ordering decision by a
municipal court; though, a foreign arbitral award may be recognised to a
certain extent but not be enforced for particular reasons.320
Apart from voluntary adherence to an award by the losing party,
the certainty, finality and efficacy of foreign arbitration awards, at the end
of the day, relies on its enforcement by domestic courts. In particular,
when a party is reluctant to abide by a foreign arbitral award, the winning
party is entitled to submitting a bid for enforcement to a certainly related
municipal court. In this respect, the national judiciary will have to play an
essential role in the international arbitration award enforcement. That is
why the Convention appears to put a foreign arbitral award in the same
line as the decision of a competent domestic court in a way that the
judiciary lends their hand to make the award enforceable.321
At least four principles can be identified in the Convention in
relation to recognition and enforcement of international arbitration
awards. First, the Convention puts the onus on the state parties to commit
to recognising and enforcing the awards. Article III of the Convention
states that “Each Contracting State shall recognize arbitral awards as
binding and enforce them in accordance with the rules of procedure of the
territory where the award is relied upon, under the conditions laid down
320 See Redfern and Hunter, above n 31, 447-9.
321 Brette L. Steele, ‘Enforcing International Commercial Mediation Agreements as Arbitral Awards
under the New York Convention’ (2007) 54(5) UCLA Law Review 1385, 1392-3.
143
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
in the following articles...”.322 Second, regarding a contracting party that
has the duty to enforce the awards domestically, the enforcement relies
primarily on the rules of procedures under the prevailing national laws.323
Yet, this principle has been criticised as setting a minimum standard for
the recognition and enforcement, for the provision appears to put
emphasis on the availability, and maybe the favourability, of national
laws and courts in complying with the foreign arbitration award.324 Third,
even if the nature of binding is not written in the international arbitral
award, the treaty recognises such awards as final and binding.325 Fourth,
the treaty prevents the double enforcement process of arbitral awards
from occurring. The Convention merely enables arbitral awards
enforcement in the territory of the state party in which the enforcement is
sought. It is stated that “this Convention shall apply to the recognition
and enforcement of arbitral awards made in the territory of a state other
than the state where the recognition and enforcement of such awards are
sought.326 Fifth, to enforce the arbitral awards a winning party is only
required handing in two valid burdens of documentation concerned.327 As
322 Article III of the New York Convention.
323 Ibid.
324 Scherer and Moss, above n 42, 17-8.
325 The Convention does not specify whether an arbitration agreement should explicitly state in
which binding force of the agreement must be stated. It merely emphasises that an award granted
must be recognised as binding by a contracting state. See article II (2) and III of the New York
Convention.
326 Article I of the New York Convention.
327 Rene David, Arbitration in International Trade (Kluwer, 1985), 96.
144
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
mentioned in the article IV (1) of the Convention, the party wishing a
foreign arbitral award to be enforced “... shall, at the time of the
application, supply: (a) The duly authenticated original award or a duly
certified copy thereof; (b) The original agreement referred to in article II
or a duly certified copy thereof.”
3. Formal, Procedural Conditions for the Request of Enforcement
With regard to the procedural requirements, in principle, the party
seeking enforcement is obliged to satisfy particular formal and procedural
conditions. Further, the winning party has to ensure that at least the
documents pursuant to the article IV (1) are supplied. How to certify such
a duly copy of an award is not explained in the Convention. In this
respect, validation of the certification is determined by the court pursuant
to the governing law of the place of arbitration or the law of the place of
enforcement, consistent with article IV of the Convention.328
If the foreign arbitral award or the arbitration clause does not use
an official language of the country where enforcement is sought, pursuant
to article IV (2), the seeking party must fulfil a duly certified translation or
a translation by a sworn translator. In certain countries, particular
additional requirements are put in place for the enforcement of foreign
arbitral awards. In the Philippines, for instance, a party that seeks arbitral
328 Albert Jan van den Berg, The New York Arbitration Convention of 1958 (Kluwer, 1981), 252.
145
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
awards enforcement is required to supply a clear and explicit burden of
proving, consisting of the forms and solemnities of contracts stating the
involvement of the parties, the description of any person, property or
thing referred to in the award.329 In China, a party seeking enforcement
must supply the information in detail about the reluctant party, such as
the assets and the internal economic situation which must show that the
losing party is in a wealthy condition.330 The failure to prove that the
losing party lacks of assets would lead to a rejected enforcement by the
court.
However, there may be an issue regarding the rules of procedures
of foreign awards enforcement on which the Convention is silent. The
issue pertains to time limits for arbitral enforcement. Consequently, this
issue can be governed by rules of procedures under the municipal law of
the country in which enforcement is sought. China, England and
Switzerland, for example, impose such a period of limitation differently.
In China, the seeking party must submit needed documents to the court
within six months after the date of the foreign award was received.331
Whereas the prevailing law in England imposes six years for the party
329 Gamaliel G. Bongco, ‘The Enforcement of Foreign Agreements and Awards in the Philippines’
(2009) The Arbitration Journal 21(1) 34, 38, 40-2.
330 Ariel Ye, ‘Enforcement of Foreign Arbitral Awards and Foreign Judgements in China’ (2007) 74(3)
Defense Counsel Journal 248, 250-1; See also Scherer and Moss, above n 43, 24-5.
331 Pursuant to the article 219 of the China’s Civil Procedure Law, six month period applies for
parties who are legal person or other organization seeking enforcement, but one-year period applies
for a condition when one of the parties or both parties is/are natural person. Ibid 250.
146
JURNAL OPINIO JURIS
who seeks to enforce the arbitral
Vol. 15  Januari-April 2014
award,332
the time limit in Switzerland is
ten years.333 In short, a time limits aspect may become an issue when it is
not respected by the party concerned. As the Convention is silent on this
issue, its application will vary from state to state and thus the seeking
party must be aware of complying with it for arbitral awards
enforcement.
Another issue relates to reservation. Although every contracting
state has the obligation to recognise and enforce the awards, the attitudes
of reservation are made possible according to the article I (3) of
Convention, encompassing the reciprocity and commercial reservations.
The reciprocity reservation is defined as a condition that the application
of treaty will not include all foreign arbitral awards applied for
enforcement in a contracting country; instead, its application is confined
to awards rendered in other contracting states. This principle of
reciprocity reservation is upheld on the basis of a mutual principle,
meaning that applications for foreign arbitral awards enforcement may be
rejected when the country of the reluctant party is not yet prepared to also
enforce the awards in that country.334 On the other hand, the commercial
reservation means that the Convention will solely apply in all kinds of
commercial disputes in a country party to the Convention. In this sense,
332 Scherer and Moss, above n 42, 19, 25.
333 Ibid.
334 Setiawan, ‘Eksekusi Putusan Arbitrase Asing: Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1990’
(1990) 6 Varia Peradilan 143, 145-7.
147
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
each country will impose different measures for this reservation.335 The
term commercial has the correlation with any legal relationship to which
a business purpose belongs.336 In the Indonesia’s legal system, for
instance, where commercial and civil issues are differentiated, it is
important to pay attention to the distinction between the two, for there
may be a contract which has business purposes but are not considered
commercial. Hence, the failure to understand the legal system of either an
enforcing or rendering country is likely to pose denial of enforcement of
the arbitration award.337
C. DENIAL OF ENFORCMENT OF A FOREIGN ARBITRAL
AWARD UNDER THE NEW YORK CONVENTION
1. Grounds to Challenge a Foreign Arbitral Award
Valid grounds to challenge enforcement of a foreign arbitral
award granted by the arbitral panel are legally possible under the
Convention. In general, enforcement of the award can be either successful
or unsuccessful, depending on how successful a winning party can
present their case in court with all the material and procedural
requirements met in the application for enforcement. On the other hand,
335 Sutrisno, above n 6, 28-9.
336 Harnik, above n 45, 706.
337 Sutrisno, above n 6, 29.
148
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
the failure to full all the requirements may lead to the award
unenforceable. In other words, the plaintiff’s failure to provide valid
burden of proving is in line with the defendant’s success to avail valid
grounds for resisting such enforcement.
Article V of the New York Convention provides for the grounds
for the competent court to deny or annul enforcement of an award. The
party contesting enforcement, pursuant to article V (1) of the Convention,
must prove one of these five grounds in order for resisting enforcement to
be successful, encompassing (a) the incapacity of the party concerned and
the invalidity of the arbitration agreement; (b) the party’s improper notice
of the appointment of the arbitrators or arbitration proceedings or the
party’s inability to present his or her case; (c) the arbitrators acting out of
their authority; (d) the composition of arbitral authority contravening the
agreement of the parties or the law of the country the agreement
concluded; (e) the suspension or annulment of the award by a competent
authority of the state of a rendered award. Further, the national
competent authority may also refuse enforcement in a way that (a) “the
subject matter of the differences is not capable of settlement by arbitration
under the law of that country or (b) the recognition or enforcement of the
award would be contrary to the public policy of that country.”338
However, it should be noted that the above provision provides the
competent court with the term “may” to block foreign awards
338 Article V (2) a, b of the New York Convention.
149
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
enforcement. The permissive word has been shown to allow the judiciary
to resist enforcing the award even if it is found that the reluctant party
finds it successful in providing the court with sufficient and adequate
grounds for denial.339 In this respect, the Convention was conceived as
actually a pro-enforcement feature, for it stands for the proposition that
the judiciary should actually confirm foreign arbitral awards granted by
the arbitral forum absent extenuating conditions.340
The above support for a pro-enforcement posture under the
Convention has at least two reasons. First, valuing the motivation of the
conclusion of the Convention, the pro-enforcement proposition was
largely aimed at ensuring obedience and full compliance of the parties
concerned with the treaty in recognition and enforcement of international
arbitration awards.341 In fact, the judicial proceedings has been narrowly
drawn and known to tend to focus merely on formal, procedural
judgment rather than to substantively focus on possible errors made in
the awards.342 Second, the Convention puts the onus on the national
courts to be supportive of a valid arbitral agreements and its enforcement
domestically. The value ensured in this reason is that it protects the
339 Redfern and Hunter, above n 36, 12-32.
340 Green and Weiss, above n 23, 663.
341 Andrew T. Guzman, ‘Arbitrator Liability: Reconciling Arbitration and Mandatory Rules’ (2000) 49
DUKE Law Journal 1279, 1289.
342 Richard Garnett, ‘International Arbitration Law: Progress towards Harmonisation’ (2002) 3
Melbourne Journal of International Law 400, 404 -5.
150
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
mutually binding nature of the arbitration agreements from diminishing
by parochial views of the desirability.343
2. Losing Grounds for Contesting Enforcement
After the issuance of the award, the reluctant party seeking
invalidation of foreign arbitration award must realise that former’s
attitude in the arbitral proceedings may have an effect on its ability to
present in the latter’s forum for objecting enforcement. This carefulness
must be noted for at least two reasons.344 The first thing relates to the
relief previously sought in the arbitrage award, which may not be
formulated cautiously which in turn contributes to enforcement problems
at the end. Another reason may pertain to the judicial institutions in
several jurisdictions that uphold rules of procedure estopping the
opposing party from adjuring grounds enumerated in the Convention.
Yet, the treaty does not appear to expressly mention this prohibition
matter. However, the Convention inherently values the tenet of good faith
that should inherently exist in the arbitration contract between the parties
so that the failure to carrying out obligation in good faith will also be
conceived as the violation against the purposes and objectives of the New
York Convention.345
343 Green and Weiss, above n 23, 664-5.
344 Scherer and Moss, above n 43, 20.
345 Ibid 20, 25.
151
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Therefore, a party wishing to challenge enforcement may be
halted from objecting reinforcement of an award. With this in mind, three
different conditions have been pointed out in which estopping the
reluctant party from refusing award enforcement may take place. First,
the party will likely be unable to be reluctant to objecting enforcement if
they fail to defend grounds guaranteed in the Convention for contesting
enforcement in the arbitration proceedings and if the courts finally find
either the arbitration agreement is invalid or breach of due process is in
place.346 This doctrine of estoppel has ever been adopted in the Hong
Kong court, when it had to halt the losing party from questioning the
invalidity of the arbitration contract as it was found to have failed to
object the arbitration tribunal jurisdiction.347
Second, the party seeking resisting enforcement may be estopped
based on the principle that the invalidation of an arbitral award can be
challenged merely in the jurisdiction of the place of arbitration within the
period of time limitation. For example in China, whereas many foreign
arbitral awards have simply been refused on the ground that the
application of enforcement exceeded the period of limitation, the party’s
failure to petition the court in the jurisdiction other than the place of
arbitration will indeed result in the court’s denial of resisting enforcement
346 Ibid 20.
347 See ‘China Nanhai Oil Joint Service Corporation Shenzlien Branch v Gee Tai Holdings Co Ltd’
(1995) XX Hong Kong Law Review 215, 670-2; See also Scherer and Moss, above n 43, 21, 25.
152
JURNAL OPINIO JURIS
of the
awards.348
Vol. 15  Januari-April 2014
Another example may be found in Indonesian case,
where the Central District Court of Jakarta refused to enforce an
international arbitration award by the arbitral panel in London (LCIA) on
the grounds that the court is not the jurisdiction of the place of arbitration
adding that the enforcement of the award would violate the Indonesia’s
public policy.349
Third, the party will be precluded from being able to request for
annulment of enforcement of foreign arbitral awards if they have raised
the grounds unsuccessfully in applying for invalidation of the awards
elsewhere. Through using the principle of estoppel, the Hong Kong court
was shown to have halted the reluctant party from seeking to resist
enforcement of an award concluded in Switzerland.350 The reason why the
party was precluded was that the party failed two times to invoke the
grounds under the Convention in annulment proceedings in the US court
and in the Indonesia’s Supreme Court previously.351 From the above,
thus, estopping the losing party from objecting enforcement of the foreign
348 Yi, above n 57, 251-3.
349 See Bankers Trust Company & Bankers Trust International vs PT. Jakarta International Hotels and
Development, Tbk, and Bankers Trust Company & Bankers Trust International vs. PT. Mayora Indah
in Decision of the District Court of South Jakarta No. 454/Pdt.G/1999/PN.Jak.Sel, 30 May 2000 with
the applications for Exequatur of international arbitrations No. 001/Pdt/Arb.Int/1999 with respect to
LCIA Award No. 8199 of 18 June 1999 and No. 004/Pdt/Arb.Int/1999 with respect to LCIA Award
No. 9128 of 19 October 1999. Tony Budidjaja, ‘Public Policy as Grounds for Refusal of Recognition and
Enforcement of Foreign Arbitral Awards in Indonesia’ (2001) Interpacific Bar Association Journal in
Mills, above n 5, 28-30.
350 Scherer and Moss, above n 43, 21-2.
351 See Perusahaan Pertambangan Minyak Dan Gas Bumi Negara (Pertamina) vs Karaha Bodas
Company LLC, 27 March 2003, at the High Court of the Hong Kong SAR and Court of First Instance
(2003) 21 ASA Bull 3/2003, 667. Ibid 22, 25-6.
153
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
awards may be based not only on the fact that the party unsuccessfully
prove the annulment of the enforcement, but also on the fact that they fail
to raise grounds in enforcement arbitral process elsewhere.
D. ASSESSMENT OF USE OF PUBLIC POLICY EXCEPTION IN
THE ENFORCEMENT OF FOREIGN ARBITRAL AWARDS IN
INDONESIA
1. Public Policy Notion under Indonesian Arbitration Laws
In general, cases where enforcement of foreign arbitral awards has
been challenged have been frequent, but only few have been annulled by
the Court. Internationally, about ten percent of all the compiled arbitral
contract related cases, in the Yearbook Commercial Arbitration, was
reportedly refused through decisions of the municipal courts around the
world.352 In Indonesia, six out of 29 foreign arbitral awards were found to
have been invalidated by the central first instance Jakarta court on the
grounds most of which were based on the exception of public policy.353
The adoption of public policy reasoning in the judicial involvement in
adjudicating foreign arbitral contract based cases is interesting, for not
only did the judiciary appear to have interpreted public policy widely,
352 See Albert Jan van den Berg, ‘New York Convention of 1958: Refusals of Enforcement’ (2007) 18(2)
ICC International Commercial Arbitration Bull 15, 48-9.
353 Hukum Online, above n 1.
154
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
but also the fact that the Indonesia’s arbitration laws have yet to create
clear, definite scope of public policy. Whereas the New York Convention
leaves the issue of public policy to national laws and regulation of
contracting states,354 the Indonesia’s Law No. 30 of 1999 on Arbitration
and Alternative Dispute Resolution (or the Arbitration Law), for example,
unfortunately, does not address this issue. Nonetheless, even though the
Arbitration Law does not provide detailed information about definition of
public policy, it still stipulates a number of principles in conformity to
those enshrined in the Convention.355 However, the Law appears to pose
several issues that need coping with. For example, the principles of
finality and enforceability of arbitration awards stated in article 60 of the
Arbitration Law is deemed in contrast to article 66 (c) of the Law, which
state that (c) “an international arbitral award can be enforced in Indonesia
unless it violates “public order”. The Law does not use the term “public
policy” as exactly as the legal term stated in the Convention.
While the meaning of public policy is not explained in the
Convention, the other term “public order” produced in the Law gives no
clear guidance as to whether it specifically refers to the international356 or
Indonesia’s national public policy, which in turn may open broad
354 Article V (2) b of the New York Convention.
355 See Article 60 of the Arbitration Law stating “The arbitration award is final and has a permanent
and binding legal effect on the parties” which confirms the article III of the Convention.
356 “International” in the frame of international public policy has been discerned to be distinct from
domestic public policy, as the former is used in the context of private international law containing
foreign elements. See Junita, above n 26, 317.
155
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
interpretation for the judicial authority in adjudicating arbitral awards
related cases. In fact, public order popularly known in civil law countries
has been found to usually be used interchangeably with public policy
commonly known in common law system.357
In addition, the absence of definition of public policy is also in
place in the Indonesian implementing regulation namely the Supreme
Court Regulation No. 1 of 1990. The Regulation constitutes the
implementation legislation of the Presidential Decree No. 34 of 1981 on
the Ratification of the 1958 New York Convention.358 Yet, public order
reservation is emphasised in a way that enforcement of foreign arbitral
awards may be vacated by the court, even though that reservation is not
the only one exception that can be used by the court to object application
of award. The principles of reciprocity reservation, commerciality
reservation and exequatur are included as grounds for the national court
to set aside the enforcement.359 Article 3 (3) of the Supreme Court
357 Ibid 318.
358 The fact that Indonesia ratified the New York Convention through a Presidential Decree does not
necessarily mean that the country automatically had implementing rules of procedures of national
regulation concerning the use of public policy exception in relation to oppose arbitral awards
enforcement in conformity to the article III of the Convention. Hence, the highest Indonesian judicial
authority (the Supreme Court) decided to formulate such a needed implementation regulation in
order to pose national rules of procedures to which the Court shall adhere in adjudicating foreign
arbitral proceedings. See Sudargo Gautama, ‘Some Legal Aspects of International Commercial
Arbitration in Indonesia’ (1990) 7(4) Journal of International Arbitration 93, 102-3.
359 A number of reservations can be legally justified under the Supreme Court Regulation,
encompassing: “(1) The awards must be rendered by arbitral institutions or ad hoc arbitrators in a
country which is party to a bilateral or unilateral convention with Indonesia relating to the
recognition and enforcement of foreign arbitral awards based on the principle of reciprocity; (2) The
awards must be limited to those falling within the scope of commercial law under Indonesian law; (3)
156
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Regulation reechoes that enforcement of a foreign arbitral award shall not
be carried out if it violates public order. The definition of public order is
further found in article 4 (2) of the Supreme Court Regulation which
specifies that public order constitutes “the basic principles of the entire
legal system and society in Indonesia.” It can then be said that public
policy does not merely constitute values adhering to prevailing laws, but
also it includes principles evolving in societies.
In this regard, the statement that Indonesia laws give no clear
definition of public order is merely “half correct”.360 The reason why the
Indonesia’s concept of public order is still vague relates to the fact that it
still raises issues. First, this definition has been criticised as it takes a
likely broadened approach to public order in practice, adding that
substances and scopes are widely covered in the legal regime and society
of Indonesia.361 Second, meaning contained in the concept of public order
can be discerned to be too flexible, adding that its application will tend to
be blended with political interests. If so, the use of public order defence
may be aimed at protecting the vested political interests of the ruling
power rather than preserving the entire legal system and society.
The awards must not contravene public policy; (4) The awards must be enforced in Indonesia after
applicants obtain a writ of execution (exequatur) From the Supreme Court of Indonesia.”
See article 3 of the Supreme Court Regulation.
360 Robert N. Hornick, ‘Indonesian Arbitration in Theory and Practice’ (1991) 39 American Journal of
Comparative Law 575, 576.
361 Junita, above n 26, 318.
157
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
2. Judicial Attitudes towards Foreign Arbitral Awards Public Policy
Before going further to discuss the Indonesia’s judicial attitudes
towards public policy exception, there are three different factors to refusal
of enforcement of foreign arbitral awards that can be noted here. First, the
refusal of awards enforcement may be influenced by the tendency to
object enforcement ordered by a foreign judgement. Pursuant to methods
of enforcement of foreign judgements, Indonesia’s judicial system adheres
to the “evidentiary method” which obliges the court to treat a foreign
judgment merely as evidence which in turn not only assess as to whether
such a ruling contravenes the principle of public order, but also carry out
fact finding proceedings.362
According to article 1338 of the prevailing Code of Civil Procedure
(Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering),363 a contract validly entered
into force must be binding on the parties concerned, depending on
whether it meets the requirements under the article 1320 of the Code,
posing that (i) the parties must be indeed competent to enter into a
contract; (ii) the contractual terms and provisions must be clear and
certain; (iii) the parties are bound by such terms voluntarily; and (iv) the
contractual agreement may not be for a purpose contrary to prevailing
362 Sutrisno, above n 6, 98-9.
363 The Code of Civil Procedure was at first prevailed in the middle of the 19th Century with its
name was Dutch Code of Civil Procedure (known as Burgelijke Reglement of de Rechtsvordering or
the “RV”). Now, the Code remains into force for civil legal matters. Mills, above n 5, 8.
158
JURNAL OPINIO JURIS
laws or public
policy.364
Vol. 15  Januari-April 2014
With this in mind, the notion of unenforceability
of foreign judgments has been perceived to having a strong effect on the
unenforceability of foreign arbitration awards.365 However, such an
impact is not merely a perceived influence; rather it is what is exactly
stated in the prevailing Code of Civil Procedure. Article 440 of the Code
clearly gives affirmative position of how the Indonesian judicial court
should treat a foreign award, adding that an award of the arbitrator panel
a ruling handed in by a foreign court rendered will be treated the same as
the decision of the national court. This is what makes the ongoing judicial
hostility to international arbitration remain in place in Indonesia.366
However, there are also rulings known to have confirmed
enforcement of the awards on the grounds that the awards do not
contradict public policy (or public order in the context of Indonesia). In
the Supreme Court Decision No. 1/1959 handed in 5 September 1959, the
prohibition of appeal of arbitral awards contained in arbitration contract
was not in direct violation against public order, whereas the Indonesian
judicial system permits appeal of arbitral awards under the prevailing
laws and regulations.367 Yet, the stance of the court appeared to be
consistent when the court decided rather differently. In the Decision of
the Central District Court, Jakarta, No. 499/PdtlGIVII1988 handed in 27
364 See article 1320 of the Code of Civil Procedure.
365 Sutrisno, above n 6, 99.
366 Junita above n 26, 304.
367 Sutrisno, above n 6, 104.
159
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
July 1989, the court annulled a commercial contract between an
Indonesian sugar buyer and an English vendor as it was contrary to the
public policy and a regulation which only appointed Badan Urusan
Logistik as the only Indonesian agency of procurement to import sugar to
the country.368 Public policy here was broadened not only related to legal
system, but also a mater pertaining to sugar as the object of the contract
representing on the people’s basic need. However, precedent around the
globe has shown that a foreign award merely in contravention of the
domestic
law
cannot
necessarily
determine
the
foreign
award
unenforceable; the refusal of the foreign award should be relied upon the
fact that it is contrary to the fundamental policy of the municipal law
instead.369
In addition, if looking at several cases, one will be finding that
there are various, expansive definitions that might be classified as matters
contrary to public policy in the Indonesia context for refusal of
enforcement of foreign arbitral awards. First, the ground for rejecting
application of foreign awards is linked to Indonesia’s concept of public
policy rather than international public policy. What is meant by
international public policy can be known through Parsons & Whittemore
Oveseas Co. Inc. vs Societe Generale de l'Industrie du Papier, showing
that public policy violated should be interpreted narrowly, and such
368 Ibid 105.
369 Rautray, ‘above n 7, 17.
160
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
violation occurs when the content of an award is contrary to morality and
justice.370 In this context, a violation of public policy ultimately requires
burden of proving representing evidence substantially contravening basic
principles of morality and justice. Nonetheless, in Pertamina vs Karaha
Bodas Company LLC (Karaha Bodas case) the court construed public
policy exception grounds differently, with it emphasising merely national
arbitration laws against which the award was deemed in contravention.
In this regard, the concept of national public policy was much
emphasised. The court considered rules under the Convention to
recognise and enforce the foreign arbitral award, but it relied upon the
national arbitration laws to resist the enforcement of such an award.371
Such an overuse of public policy defence has been criticised as expanding
the judicial attitude towards a wider ground for public exception relief as
guaranteed in the Convention.372
Second, a widened definition of public policy by the Indonesian
court is also to do with it confused with mandatory rules.373 Nonetheless,
in the above case of importing sugar from an English vendor, an issue
was raised as to whether it concerned public policy or more about a
370 See Parson & Whittemore Overseas Co. Inc. vs Societe Generale de l'Industrie da Papier
(RAKTA), 508 F.2d.969.973(2d Cir.1974) in Sutrisno, above n 6, 48, 56, 61.
371 See Decision of Pertamina vs Karaha Bodas, No. 86/PDT.G/2002/PN.JKT.PST, above n 10, 26-8.
372 W. Laurence Craig, ‘Some Trends and Developments in the Law and Practice of International
Commercial Arbitration’ (1995) 30 Texas International Law Journal 11-2.
373 The notion of a broad public policy used by the Indonesian court to deny the enforcement can be
seen among other things through the equation between mandatory rules of law and public policy. See
Junita, above n 26, 319-20.
161
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
mandatory body appointed to be a state logistics agency to serve as a
storage facility to ensure that various strategic commodities, including a
strategy to stabilise the price of food basic commodities, are working for
the fulfilment of the basic needs of the Indonesia people. Yet, a doubt still
remained as to whether the worry about the violation against the
mandatory rules of importing the sugar by the individual would have a
serious consequence on the Indonesia’s entire society.374 Additionally, a
violation against mandatory rules under the domestic laws does not
necessarily mean a contravention of public policy, consisting of
fundamental policy of national law, justice and morality of the nation.
Rather, public policy violation should be viewed as the attitude which
sets aside values, norms and rules under the international obligations.375
Further, it has been emphasised that international restrictive approach to
public policy defence does not cover all national mandatory rules of
enforcement by the judiciary.376 In other words, it can be said that using
the domestic sense of public policy has been discerned to be not
reasonably enough for objecting the international nature of arbitral
awards so that merely adopting the ground of contravention of internal
374 Ibid.
375 See Committee on International Commercial Arbitration, “Final Report on Public Policy as A Bar
to Enforcement of International Arbitral Awards” at the International Law Association New Delhi
Conference,
2002,
<http://www.ila-hq.org/download.cfm/docid/BD0F9192-2E98-4B178D56FFE03B80B3EA> 6, retrieved on 20 February 2013.
376 Jean-Francois Poudret and Sebastien Besson, Comparative Law of International Arbitration
(Stephen Berti & Annette Ponti Trans., 2nd ed, 2007) 857-8.
162
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
mandatory rules of law is not a good legal justification for
nonenforcement of the international arbitration awards. In the context of
the aforementioned contract between an Indonesian importer and an
English vendor, under the obligations of international trade law, hence,
the contract can be perceived to be valid which its arbitral awards as a
result of disputes rising must also be upheld under the international law.
From this standpoint, the national court as a judicial entity of national
state bodies has also the duty to ensure that such international obligations
are preserved, observed by the party concerned.
Third, with regard to the second above notion, the judicial attitude
towards public policy exception is conceived as emphasising sovereignty
preservation and local protectionism rather than the observance of
international setting of public policy. Consequently, execution of foreign
decisions and awards may be perceived to be contrary to the principle of
sovereignty. Supporters of the jurisdictional sovereignty will indeed
justify the dominant role of states in the name of preserving sovereignty
by means of regulating and controlling any activities within the territory
claimed to purport to protect local fundamental interests of the people,
including intervening substantive, procedural of awards execution by the
municipal courts.377 The tendency of the Indonesian courts to be reluctant
to foreign awards enforcement may to some extend be “understandable”
377 See Veronica L. Taylor, “Contract and Contract Enforcement in Indonesia: An Institutional
Assessment” in Tim Lindsey (ed), Indonesia, Law and Society (Federation Press, 2nd ed, 2008) 581-2.
163
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
as a means to protect local businesspersons due to their inferior position
they have come into in contracts with foreign business entities. It is not
peculiar that due to economically though bargaining of the foreign parties
in particular developed countries based companies, Indonesian parties
often had to agree clauses which did not benefit the Indonesian sides and
make them parties continuously dependent on the foreign well
established enterprises.378 The fact that the Indonesian foreign investment
laws are very friendly and accommodative to foreign investors, in a way
that the legislation is for the purpose of attracting the flow of money from
outside, has definitely added to the situations most advantageous to the
foreign businessmen.379 In the Indonesian point of view, such a situation
has undeniably made the courts seek a legally justifying ground for
vacating execution of a contract to which one of the signing parties is
Indonesian, as an attempt to express the sensitivity towards an assumed
exploitation, even though such a judicial attitude can be categorised as
violating against international trade law.380
However, it is obvious that the Indonesian judiciary tends to
adopt juridical sovereignty approach to enforcement of foreign judgments
and awards, whereas one of the prevailing laws clearly stipulates that
378 Sutrisno, above n 6, 101.
379 See Todung Mulya Lubis, “Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang Penanaman Modal
Asing: Harapan dan Kenyataan Sebuah Telaah Mengenai Kebijaksanaan Penanarnan Modal” in
Sumantoro (ed.), Hukum Ekonomi (Penerbit Universitas Indonesia, 1986) 91-4.
380 See C. Noles, ‘Enforcement of Forum Selection Agreements in Contracts between Unequal Parties’
(1981) 11 Georgia Journal of International and Comparative Law 693-4, 706-7.
164
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
every valid contract binds on signing parties. Pursuant to article 1338 of
the Code Civil, all valid contracts will have the force of law and thus bind
on the contracting parties. A foreign award upholding the Indonesian
prevailing rules of contract between parties which has been annulled by
the internal court with escape clause of violating public policy, as can be
seen in the Decision of the Central District Court, Jakarta, No.
499/PdtlGIVII1988 dated 27 July 1989, has raised a serious concern about
the consistency of enforcement of international foreign awards between
concept and practice. As previously discussed, the concept of public
policy (or “public order” in the Indonesian context) constitutes “the basic
principles of the entire legal system and society in Indonesia.”381
Nevertheless, the fact that the decision has invalidated the foreign award
is also in contrast to the provision which clearly observes the contract that
had a binding effect on the parties concerned. In the view of contractual
theory, the states even do not have an authority to control over the
arbitration which its enforcement should better be halted from being
interfered with by domestic legal system and municipal court.382
Fourth, refusal of enforcement on the basis of public policy
defence has been found to have confused the procedural with the
substantive aspect of public policy.383 In this regard, reasoning construed
381 Article 4 (2) of the Supreme Court Regulation.
382 See Andrew Barraclough and Jeff Waincymer, ‘Mandatory Rules of Law in International
Commercial Arbitration’ (2005) 6 Melbourne Journal of International Law 4-6
<http://mjil.law.unimelb.edu.au/files/dmfile/downloadebcc1.pdf>, retrieved on 20 February 2013.
383 Junita, above n 26, 320.
165
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
by the Indonesian judiciary has often overlapped the substance and due
process public policy exception under the article V (1) b with procedural
public policy according to V (2) (b). This broad notion of the Indonesia
judicial style of use of public policy exception can be seen in Karaha
Bodas case where the court has been criticised as having overused the
exception of “procedural Indonesia’s public policy” instead of substantive
international public policy. The court obviously adopted norms and rules
under the Convention with regard to recognition and enforcement of the
awards, but expressly did not use the public policy exception in line with
all the principles enumerated in the treaty constituting pro-enforcement
of international arbitral awards, adding that the refusal was generated by
the economic crisis facing the country at the time the award’s enforcement
was sought.384 Instead, the first instance court adopted the internal
Indonesian law to confirm the application for invalidation of the award
without sufficiently proving that the enforcement of the award was
highly likely to contribute to the destruction of fundamental policy of the
Indonesian legal system and the entire society.
However, the expanded notions of the judicial attitude towards
public policy defence as explained above have actually occurred. A
question as to whether such broad, expansive use of public policy will
remain and will not only depend on legislation but also on the judicial
384 See the Decision of Pertamina vs Karaha Bodas, above n 10.
166
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
culture through which the enforcement of foreign arbitral awards arising
out from a valid contract will be made possible. In a country that holds
civil law system like Indonesia, enactment and written laws have the role
in determining the judicial stance towards foreign awards.
Nonetheless, the fact, that the Supreme Court has invalidated the
ruling made by the first instance court which refused enforcement of the
award, had brought about progress in terms of respect for foreign arbitral
awards arising out of valid contract between parties. The most recent
arbitral awards enforcement based cases of PT. Wahana Adhireksa
Wiraswasta vs Cocoa Merchants' Association of America, Inc. (the
decision handed in 18 July 2001), Oceanis Shipping Limited v. Mrs. R.
Adji A. Suryo Di Puro (decision dated 15 February 2001) and Balmac
International Inc. v. Firma Sinar Nusantara 11 April 2001,385 are among
the cases which show that the court relied to the rules under the
Convention. With the Indonesian judicial system today adopting the
valuable tenet of jurisprudence consisting of past final decisions, it is
hoped that the country will then be in full preservation and adherence to
international laws in particular in relation to enforcement of international
law of arbitration. Hence, the state’s obedience to international treaties
through ratification is not enough. Instead, its obedience should extend to
the state’s judiciary’s adherence and reliance to international laws,
including laws of arbitration.
385 Rubins, above n 9,398-400.
167
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
E. CONCLUSSION
In the Indonesian context, public policy defence as opposed to
international arbitral awards execution, both in the context of legislation
and in enforcement, is much more perceived to be the entire legal system
and the Indonesian society commonly known as “public order”. In fact,
the use of public policy and public order has often been used
interchangeably. Through assessment of various cases, it is found that the
Indonesian judicial attitude towards public policy use as a means to
refuse enforcement of foreign arbitral awards to public policy has been so
broad, expansive that the decisions made by the court have raised
criticisms, for grounds construed by the court have merely relied upon
the domestic sense of public policy, not as required by the values and
principles under international law.
Four primary broad notions of public policy adoption by the
Indonesian judiciary have been found. First, the reason for objecting
application of foreign arbitral awards is much linked to Indonesia’s
concept of public policy rather than international public policy, posing
that a violation of public policy requires an obvious contravention of
fundamental policy of morality and justice of the entire legal system and
society. Second, a broadened scope of public policy by the court is also to
do with it confused with mandatory rules. Third, with regard to the
second above notion, the judicial stance of public policy defence is
conceived as emphasising more on sovereignty observation and national
168
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
protectionism rather than adherence to international standard of public
policy. Accordingly, enforcement of foreign awards may be perceived to
be in contrast to the principle of sovereignty, purporting to protect local
fundamental interests of the people, including intervening substantive,
procedural of awards execution by the municipal courts. Fourth, denial of
enforcement on the basis of public policy exception has been found to
have overused the exception of “procedural Indonesia’s public policy”
instead of substantive international public policy.
The aforementioned expansive judicial attitudes towards adoption
of public policy exception in Indonesia have been primarily influenced by
the generally prevailing rules of civil procedures, namely the Code of
Civil Procedures which emphasises that a foreign arbitral award should
be treated the same as a ruling of foreign judgement as well as a decision
handed in by the Indonesian courts. Further, the enforceability of foreign
arbitral awards in Indonesia will remain uncertain if the country has still
yet to formulate obvious, comprehensive legislation on this matter. The
absence of necessary public policy regulation or measures will indeed
have an impact on the judicial attitude towards foreign arbitration which
so far has created the major flaw of the applicability of foreign arbitral
awards.
In view of the above, enactment dealing with the judicial attitudes
issues is therefore needed to ensure that full obedience to the rules under
the New York Convention be observed, adopted and used by the
judiciary. For a country like Indonesia which often takes a dualist
169
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
approach in interpreting and implementing international laws, actions to
pass a law will in a way give treaties domestic effect and certainly
provide for judicial enforcement of the Convention. In other words, the
obedience and compliance with international laws by a state should
practically include the obedience and adherence by the judiciary of the
state. If not, this ambivalence and lack of implementing legislation with
regard to the enforceability of foreign arbitral awards in the country will
remain contributing to the Indonesian judicial hostility to international
arbitration.
170
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
RESENSI BUKU
Judul
: Investor-State Arbitration
Penulis buku
: Christopher F. Dugan, Don Wallace, Jr., Noah D.
Rubins, Borzu Sabahi
Penerbit
: Oxford University Press
Bahasa
: Inggris
Jumlah halaman
: xxx + 791
Tahun penerbitan
: 2011
Pembuat resensi
: Muhammad Ferdien, S.H.
Buku ini adalah sebuah
hasil pembelajaran dan praktik
selama
bertahun-tahun
dalam
bidang arbitrase investasi. Pada
awalnya buku ini ditulis sebagai
sebuah buku wajib bagi para
mahasiswa dalam sebuah seminar
mengenai
arbitrase
investor-
negara, dimana para penulis telah
mengajarkan
selama
beberapa
Georgetown
Center.
subjek
tersebut
tahun
University
Dengan
di
Law
banyaknya
171
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
perjanjian-perjanjian investasi, dan perkembangan yang dihasilkan dari
arbitrase investasi sebagai suatu wilayah praktik dimana para penulis
terlibat secara aktif, fokus dari buku tersebut telah diubah untuk
menyesuaikan dengan kalangan pembaca yang lebih luas.
Investasi lintas batas merupakan hal yang fundamental bagi
perdagangan di abad ke-21, tetapi sulit dikatakan sebagai suatu fenomena
yang baru. Walaupun pada umumnya perbatasan negara dan politik
telah memperlambat migrasi orang dan modal dari satu negara ke negara
lainnya, namun hanya di situasi tertentu yang jarang terjadi, hambatan
tersebut terbukti dapat diatasi. Dan untuk alasan yang baik: walaupun
emigrasi modal dapat berarti bahwa dana untuk modal tersebut tidak
mempromosikan pembangunan di ekonomi asalnya, tetapi dana tersebut
tampak lebih produktif di tempat lain, dan sebagian dari investasi
tersebut untuk kemudian dapat menemukan jalannya untuk kembali ke
ekonomi asal investor.
Ada tiga kategori besar investasi lintas batas: investasi portofolio,
investasi langsung, dan investasi tidak langsung. Investasi porfolio di
antaranya meliputi sekuritas yang diperdagangkan secara publik, seperti
saham dan obligasi dari perusahaan asing. Foreign Direct Investment (FDI)
atau Investasi Asing Langsung biasanya terdiri dari gabungan jangka
menengah dan jangka panjang dari uang, peralatan, keahlian, atau aset
lain di negara lain, dalam perusahaan baik yang sedang berkembang atau
yang baru berdiri yang didirikan untuk tujuan menjalankan beberapa
bisnis. International Monetary Fund mendefinisikan investasi jenis tersebut
172
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
sebagai "investasi yang dibuat untuk mempertahankan kepentingan yang
langgeng pada sebuah perusahaan yang beroperasi dalam sebuah
ekonomi selain dari ekonomi asal investor, tujuan investor adalah untuk
memiliki peranan yang efektif dalam manajemen perusahaan.” Sebagai
akibat dari kelangkaan pinjaman bank komersial, kondisi makroekonomi
yang membaik, dan rezim hukum liberal, aliran investasi langsung yang
lintas batas tumbuh pesat dalam dekade terakhir di abad ke-20.
Sementara itu, investasi langsung adalah metode yang digunakan untuk
memindahkan sumber daya secara lintas batas dalam pasar yang
ditargetkan tanpa benar-benar berpartisipasi dalam program atau proyek
yang dihasilkan. Contohnya meliputi lisensi paten dan pengalihan
kekayaan intelektual lainnya, perjanjian bantuan teknis, dan pengaturan
pemasaran bersama.
Demikian pula, konsentrasi sumber daya alam dan tenaga kerja di
negara-negara berkembang yang secara metaforis diistilahkan ‘selatan’
membuat investasi lintas batas menjadi suatu bagian penting dari
pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi untuk seluruh
dunia. Dikarenakan keahlian dan modal awal yang diperlukan untuk
mengeksploitasi sumber daya sebagian besar berada di ‘utara’, negaranegara kurang berkembang atau less developed countries tidak bisa
membuka potensi aset sumber daya alam mereka tanpa setidaknya
suntikan FDI pada awal prakarsa pembangunannya.
Semakin pentingnya investasi internasional telah disertai dengan
pesatnya perkembangan suatu bidang besar yang baru dari hukum
173
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
internasional, yang mendefinisikan kewajiban negara tuan rumah
terhadap investor asing dan menciptakan prosedur untuk menyelesaikan
sengketa sehubungan dengan kewajiban tersebut. Pada prinsipnya,
bidang hukum baru tersebut dikodifikasikan dalam suatu jaringan yang
luas dari perjanjian investasi bilateral dan multilateral, yang didukung
dengan hukum kebiasaan internasional yang terus berkembang. Secara
umum dalam perjanjian-perjanjian tersebut, entitas asing dari satu negara
penandatangan yang telah berinvestasi sesuai dengan ketentuan di
wilayah negara penandatangan lain dapat menikmati berbagai jenis
perlindungan,
khususnya
dari
diskriminasi
dan
pengambilalihan
(expropriation) tanpa kompensasi, serta persyaratan untuk perlakuan yang
adil dan setara dan perlindungan dan keamanan penuh investasi. Ketika
seorang investor merasa bahwa hak-haknya di dalam perjanjian telah
dilanggar, investor tersebut dapat mengajukan gugatan ganti rugi ke
pengadilan arbitrase internasional, yang biasanya diatur dan dikelola di
bawah naungan lembaga arbitrase terkemuka tetapi terkadang pula
arbitrase yang ad hoc.
Berbeda dengan sistem tradisional, investor yang menerima
manfaat dari perjanjian investasi semacam ini tidak perlu lagi untuk
memohon ke pemerintah mereka sendiri untuk mendukung klaim
mereka secara diplomatis. Mereka dapat langsung melanjutkan ke proses
arbitrase melawan negara tuan rumah, sehingga menghilangkan
hambatan diplomatis dan politis untuk secara langsung menyelesaikan
sengketa yang muncul pada hukum kebiasaan internasional. Subyek
174
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
arbitrase negara-investor terletak di ujung tombak dari hukum
internasional dan penyelesaian sengketa, dan mereka memainkan peran
yang semakin penting dalam perkembangan sistem ekonomi global.
Lebih lanjut, kajian mengenai bentuk arbitrase tersebut memberikan
wawasan tentang perkembangan dalam hukum kebiasaan internasional,
konflik yang tak terhindarkan antara negara pengimpor dan pengekspor
modal, dan status individu dan perusahaan dalam tatanan hukum
internasional.
Bab I – III dari buku ini menerangkan tentang sejarah perlakuan
terhadap pihak asing dan investasi berdasarkan hukum internasional dan
memberikan suatu gambaran atas perjanjian-perjanjian internasional
yang paling penting yang memberikan investor sebuah hak untuk
arbitrase gugatan. Analisis historis ini sangat penting untuk memahami
perkembangan arbitrase negara-investor dan konsep-konsep seperti
tanggung jawab negara, penyangkalan hukum (denial of justice), habisnya
upaya hukum nasional, dan pendukungan (espousal).
Bab IV – VIII memberikan suatu analisis mengenai aturan
arbitrase yang paling umum digunakan dalam penyelesaian sengketa
negara-investor.
Bab IX – XIX menguraikan elemen-elemen yang paling penting
dari substansi dan prosedur yang menjadi karakter arbitrase negarainvestor, meliputi hukum yang berlaku, persetujuan (consent), prinsip
perlakuan nasional (national treatment) dan perlakuan nondiskriminasi
(most-favored nation treatment), perlakuan yang adil dan setara, standar
175
JURNAL OPINIO JURIS
minimum,
Vol. 15  Januari-April 2014
perlindungan
dan
keamanan
penuh,
pengambilalihan
(expropriation), klausula-klausula payung (umbrella clauses), dan akhirnya
masalah kerugian (damages).
Bab XX – XXI membahas tentang tantangan dan penegakan
putusan, khususnya proses pembatalan berdasarkan Konvensi Law of the
International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID).
Bab XXII menerangkan tentang perkembangan masa depan dari
arbitrase negara-investor. Tema sentral dalam bagian penutup ini
meliputi
tantangan
globalisasi,
benturan
negara pengimpor dan
pengekspor modal, batasan-batasan terhadap kedaulatan negara, dan
evolusi dari suatu yurisprudensi investasi internasional.
Topik penyelesaian sengketa negara-investor berbeda nyata dari
bidang hukum lainnya yang terkait. Perbedaan dengan hukum
internasional publik (dan subtopik perlindungan diplomatik) adalah
dalam hal bahwa salah satu pihak yang terlibat hampir selalu merupakan
pihak swasta, yang secara tradisional sama sekali dianggap bukan
sebagai subjek hukum internasional. Meskipun arbitrase investor-negara
meminjam banyak prosedur dari arbitrase komersial internasional,
berbagai standar untuk kewajiban dan kompensasi dalam sengketa
kategori baru ini berasal bukan dari kesepakatan para pihak pihak tetapi
sebagian besar berasal dari bahasa perjanjian dan hukum kebiasaan
internasional yang berdiri sendiri.
176
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
ISTILAH HUKUM
Nenda Fadhilah
Accession
"Accession" is the act whereby a state accepts the offer or the opportunity to
become a party to a treaty already negotiated and signed by other states.
Accession adalah proses bergabung suatu negara pada traktat yang telah
dinegosiasikan dan ditandatangani oleh negara lain. Sehingga negara
tersebut bukanlah kelompok negara yang turut bernegosiasi dalam
pembuatan traktat. Accession dapat dilakukan secara terbuka pada
negara-negara lain atau terbatas dengan persyaratan tertentu (contoh:
posisi geografis atau persetujuan negara-negara pihak traktat)
Exhaustion of Local Remedies
A person whose rights have been violated should make use of domestic remedies to
right a wrong, rather than first address the issue to an international committee,
court or other tribunal. Access to an international organ should be available, but
only as a last resort, after the domestic remedies have been exhausted.
Exhaustion of Local Remedies adalah konsep dimana seseorang atau badan
hukum harus menyelesaikan masalah mereka melalui peradilan lokal
sampai tingkat terakhir sebelum dapat membawa masalah pada tribunal
atau arbitrase internasional. Hal ini karena peradilan lokal dianggap
dapat menyelesaikan masalah dengan lebih cepat. Perkecualian bagi
konsep Exhaustion of Local Remedies adalah apabila tidak adanya prosedur
177
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
penyelesaian masalah pada peradilan lokal, peradilan lokal tidak efektif
atau terlalu lama menyelesaikan masalah tanpa alas an yang jelas.
Konsep ini umum dipakai pada permasalahan hukum antara negara
dengan perseorangan atau badan hukum. Contoh-contoh sengketa yang
mensyaratkan Exhaustion of Local Remedies diantaranya sengketa investasi
terutama yang bermuara di International Centre for Investment Dispute
(ICSID) dan perkara hak asasi manusia di European Courts of Human
Rights.
Geographical Indication/Indikasi Geografis
Place names (or words associated with a place) used to identify products (for
example, “Champagne”, “Tequila” or “Roquefort”) which have a particular
quality, reputation or other characteristic because they come from that place.
Indikasi
geografis
adalah
konsep
dimana
suatu
produk
hanya
diperbolehkan memakai nama tempat atau kata yang berasosiasi tertentu
dikarenakan produk dari tempat tersebut memiliki kualitas, reputasi atau
karakteristik lain yang khas. Contoh Indikasi geografis adalah Champagne
dimana hanya sparkling wine yang berasal dari Champagne, Perancis
yang boleh memakai nama Champagne.
Most Favoured Nation
A treaty status granted to a nation, usually in international trade, allowing it to
enjoy the privileges that the other party accords to other nations under similar
circumstances.
178
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Prinsip Most Favoured Nation adalah prinsip dimana negara setuju untuk
memberikan perlakuan yang sama dan paling menguntungkan bagi
semua negara dalam hal perdagangan dan investasi. Prinsip ini
tercantum pada umumnya di perjanjian investasi dan perdagangan.
Prinsip Most Favoured Nation dapat mencakup keseluruhan bagian
perjanjian atau dibatasi pada klausula tertentu seperti masalah bea masuk
dan penyelesaian sengketa.
Dengan pencantuman klausula Most Favoured Nation dalam perjanjian
dagang antara negara A dan B maka negara A tidak hanya memperoleh
perlakuan yang dijanjikan pada perjanjian dagang tersebut namun juga
perlakuan yang lebih baik yang dijanjikan oleh negara B pada perjanjian
dagang negara B yang selanjutnya.
National Treatment
A provision contained in some treaties, usually commercial ones, according
foreigners the same rights, in certain respects, as those accorded to nationals.
Prinsip National Treatment berarti bahwa barang impor atau investor asing
yang telah masuk ke pasar dalam negeri akan mendapat perlakuan yang
sama dengan barang lokal atau investor lokal. Perlakuan sama dan setara
ini seperti tidak ada pemungutan pajak tambahan selain bea impor dan
tidak adanya lisensi khusus untuk menjual barang impor.
179
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
TENTANG PENULIS
Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, SH., MA,
Lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tahun
1987. Penulis memperoleh gelar Master of Arts di bidang Hukum
Internasional dan Politik dari University of Hull, Inggris pada tahun 1991
dan memperoleh gelar Doctor iuris di bidang Hukum Perjanjian
Internasional dari Goethe University pada tahun 2014. Penulis pernah
mengikuti program hukum internasional pada The Hague Academy of
International Law, Den Haag, Belanda. Penulis pernah menjabat sebagai
Direktur Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya pada Kementerian Luar
Negeri tahun 2006-2010 dan Konsul Jenderal RI di Frankfurt di tahun
2010-2014. Saat ini bertugas sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Hukum
dan Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri.
Heribertus Jaka Triyana, S.H., LL.M, MA
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Penulis memperoleh
gelar LLM dari University of Melbourne, Australia dan gelar MA dari RuG
dan RuB Belanda dan Jerman. Saat ini penulis menjadi kandidat Doktor
Ilmu Hukum dari FH UGM-Rijks Universiteit Groningen Belanda (2012sekarang). Selain sebagai dosen pada FH Universitas UGM, penulis telah
sering kali menjadi Staf Ahli pada bidang Penataan Ruang dan
Pariwisata baik pada Pemerintah Daerah, DPD, Kemkominfo dan terakhir
menjadi Reviewer ahli perubahan Undang-Undang Tentang Perjanjian
Internasional, DPR RI, 2013. Penulis juga telah menghasilkan beberapa
publikasi dibidang Ruang, Perdagangan dan Industri Pariwisata yang
terakhir yaitu diantaranya: The Indonesian Compliance and Its Effective
Implementation to the ASEAN Agreement on Disaster Response, Book
Chapter in Zwitter, Herman and Heinzte, The International Law on
Humanitarian Action, Cambridge University Press (to be published,
November 2014); The Implementation of the Natural Disaster
Management Program in Indonesia Between 2007-2013, Jurnal Mimbar
Hukum, Vol. 25, No. 1, February, ISSN 0852100x; The Implementation of
the International Norms on Disaster Response in Indonesia, Korea
Legislation Reserach Institute, Volume 3, Number 1, March 2013
180
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Purna Citra Nugraha, S.H., M.H.
Lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Jurusan Hukum
Pajak Angkatan 2004, menyelesaikan S2 pada Magister Hukum Bisnis
Universitas Padjadjaran di Tahun 2010, dan saat ini sedang dalam proses
menyelesaikan studi S3 pada universitas yang sama. Kini bertugas
sebagai Staf Sekretariat Wakil Menteri Luar Negeri, Biro Administrasi
Menteri, Kementerian Luar Negeri RI.
Mahmudin Nur Al-Gozaly, S.H., LL.M.
Lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung
tahun 2008. Penulis menempuh pendidikan lanjutan di Melbourne Law
Master, University of Melbourne, Australia dan memperoleh gelar LL.M
pada tahun 2013. Penulis pernah mengikuti program Regional Training
Course for Southeast Asia on the New Generation of Investment Policies for
Sustainable Development pada bulan Mei 2013 di Bangkok, Thailand yang
diselenggarakan oleh United Nations Conference on Trade and Development
(UNCTAD) bekerjasama dengan International Institute for Sustainable
Development (IISD). Penulis pernah menjadi Editor in Chief pada Buku
“Diplomasi Indonesia dalam Dinamika Internasional” yang diterbitkan
oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri pada
tahun 2009. Sejumlah tulisannya juga pernah dimuat di Jakarta Post. Saat
ini Penulis bertugas di Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya,
Kementerian Luar Negeri.
Muhammad Ferdien S.H.
Muhammad Ferdien, lahir di Jakarta pada 6 Desember 1984. Lulusan S1
dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini telah bergabung dengan
Kementerian Luar Negeri sejak 2009. Fungsional Dipomat pada
Direktorat Hukum ini pernah mengikuti International Humanitarian Law
Moot Court and Migration Legal Issue Training for ASEAN Diplomats
pada 2011 dan The President Speechwriting Program di Washington DC
pada 2012.
181
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Nenda Inasa Fadhilah S.H., LL.M
Staf Fungsional Diplomat Direktorat Perjanjian Ekonomi, Sosial dan
Budaya. Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan dengan
program kekhususan Hukum Internasional pada tahun 2009 serta Master
of Laws (International Legal Studies) dari Georgetown University Law
Center di Washington, DC pada tahun 2013. Penulis memasuki
Kementerian Luar Negeri pada tahun 2010 dan mengikuti Sekolah Dinas
Luar Negeri (Sekdilu) Angkatan XXXV.
182
JURNAL OPINIO JURIS
Vol. 15  Januari-April 2014
Jurnal Hukum dan Perjanjian Internasional
OPINIO JURIS
Jurnal Opinio Juris menerima tulisan dengan tema hukum internasional,
perjanjian internasional, diplomasi, hubungan internasional, dan isu-isu
dalam negeri yang memiliki dimensi hukum dan perjanjian internasional.
Ketentuan Penulisan:
1. Panjang tulisan 10—20 halaman kertas A4 (termasuk abstraksi, isi,
catatan kaki, dan daftar pustaka), format MS Word, spasi satu setengah,
font Times New Roman ukuran 11. Untuk catatan kaki, spasi satu dan
font Times New Roman ukuran 10;
2. Tulisan dapat dibuat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris;
3. Setiap naskah harus disertai abstraksi maksimal 1 halaman A4. Untuk
tulisan dalam bahasa Indonesia, abstraksi dibuat dalam bahasa Inggris
dan untuk tulisan dalam bahasa Inggris, abstraksi dibuat dalam bahasa
Indonesia. Jumlah kata abstraksi sekitar 100 kata.
4. Rujukan dibuat dalam bentuk catatan kaki (footnote);
5. Tulisan harus asli dari penulis, belum pernah diterbitkan, dan tidak
sedang dikirimkan ke penerbit lain;
6. Untuk setiap naskah yang masuk, redaksi berhak mengedit dengan tidak
mengubah maksud dan isi tulisan;
7. Apabila diperlukan, redaksi akan memberikan masukan dan
rekomendasi kepada penulis tentang tulisan yang dikirim;
8. Setiap naskah yang dikirim harus disertai daftar riwayat hidup singkat
penulis (curriculum vitae) yang setidak-tidaknya terdiri dari pekerjaan,
pendidikan, alamat, dan nomor telepon yang bisa dihubungi;
9. Setiap naskah yang disetujui untuk diterbitkan akan mendapatkan
kompensasi finansial;
10. File naskah beserta kelengkapan lainnya dapat dikirim ke email Redaksi.
Sekretariat Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Interansional
Kementerian Luar Negeri
Jalan Taman Pejambon No. 6 Jakarta Pusat
Telp: +62 21 3846633 Fax: +62 21 3858044
Email: [email protected]
http://pustakahpi.kemlu.go.id/
183
Download