1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Sumber Daya Manusia

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu aset dan elemen yang
penting dalam suatu organisasi atau perusahaan, karena sumber daya manusia itu
sendiri ikut menentukan maju mundurnya, serta berkembang tidaknya suatu
perusahaan atau organisasi. Pada masa sekarang ini perusahaan-perusahaan berusaha
untuk saling bersaing satu sama lain dalam hal peningkatan aset-aset sumber daya
terutama bidang sumber daya manusia, yaitu karyawan melalui pengembangan
manajemen sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia itu sendiri
merupakan tuntutan yang mendesak agar perusahaan bisa tetap eksis dan bertahan
serta dapat berkembang untuk lebih maju, sehingga hendaknya direncanakan atau
dikendalikan dengan baik. Sumber daya manusia yang paling penting adalah
manusia, karena manusia, semua sumber daya yang ada hanya dapat berguna dan
hanya dapat bergerak jika ada yang mengerakannya.
Manusia adalah salah satu unsur yang penting dalam suatu organisasi
(Marwan, 1986). Diera globalisasi ini peran sumber daya manusia dalam menentukan
keberhasilan perusahaan tidak dapat diabaikan begitu saja. Sumber daya manusia
merupakan foktor paling penting dalam mewujudkan visi dan misi perusahaan.
Kedudukan istimewa sumber daya manusia adalah kemampuan untuk bertahan dan
1
2
berkembang secara dinamis dibanding dengan sumber-sumber keunggulan daya saing
lain yang kini semakin berkurang kemampuannya, seperti teknologi produk dan
proses produksi.
Menurut Robbins (2001), sikap kerja mencakup kepuasan kerja, komitmen
organisasional dan keterlibatan kerja. Masalah kepuasan kerja bukanlah hal
sederhana, baik dalam arti konsepnya maupun dalam arti analisisnya, karena
kepuasan kerja mempunyai konotasi yang beraneka ragam. Dalam menganalisis
kepuasan kerja, banyak faktor yang perlu mendapat perhatian misalnya, sifat
pekerjaan seseorang mempunyai dampak tertentu pada kepuasan kerja. Handoko
(1998: 193), kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau
tidak menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka.
Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaanya. Stoner &
Wankel (1986: 8), mengenai kepuasan kerja karyawan hanya dipilih variabel situasi
yang terdapat empat variabel, hal ini disebabkan karena keempat variabel ini pada
umumnya memiliki pengaruh dominan terhadap kepuasan kerja karyawan, empat
variabel tersebut adalah sebagai berikut: (1). Faktor gaji/upah, merupakan imbalan
lansung yang berupa uang yang dapat memberikan rasa puas bagi karyawan atas
sumbangan mereka pada pencapaian tujuan perusahaan. (2). Faktor karakteristik
pekerjaan, merupakan tingkat dimana suatu pekerjaan memberikan ragam aktivitas
yang menuntut bakat, keahlian, kemandirian dan pekerjaan menyediakan kondisi
keamanan maupun kenyamanan sehingga karyawan merasa puas dalam pekerjaannya.
(3). Faktor sosial, merupakan tingkat dimana komunikasi dan kerja sama antar
3
karyawan maupun antara karyawan dengan atasan memberikan reaksi emosional
yang menyenangkan atau memuaskan. (4). Faktor kesempatan promosi, merupakan
tingkat dimana untuk memikul tanggung jawab lebih tinggi diberikan kesempatan
yang seluas-luasnya dan seadil-adilnya kepada semua karyawan.
Mengingat pentingnya komitmen dalam organisasi saat ini banyak perusahaan
yang memasukan unsur komitmen sebagai salah satu syarat untuk memegang suatu
jabatan atau posisi yang ditawarkan dalam iklan-iklan lowongan pekerjaan. Meskipun
saat ini sudah sangat umum, namun tidak jarang pengusaha maupun pegawai masih
belum memahami arti komitmen secara sungguh-sungguh. Padahal pemahaman
tersebut sangatlah penting agar tercipta kondisi kerja yang kondusif sehingga
perusahaan dapat berjalan secara efisien dan efektif.
Komitmen organisasional merupakan kondisi dimana pegawai sangat tertarik
terhadap tujuan, nilai-nilai dan sasaran organisasinya. Komitmen terhadap organisasi
artinya lebih dari sekedar keanggotaan formal, tetapi merupakan sikap menyukai
organisasi dan kesediaan untuk mengusahakan tingkat upaya yang tinggi bagi
kepentingan organisasi demi mencapai tujuan. Berdasarkan definisi tersebut, dalam
komitmen organisasi tercakup unsur loyalitas terhadap organisasi, keterlibatan dalam
pekerjaan, dan identifikasi terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
Keterlibatan kerja merupakan kerelaan seseorang untuk bekerja keras dan
berupaya melebihi tuntutan kerja yang ditentukan oleh perusahaan. Keterlibatan kerja
perawat di Rumah sakit Bethesda sangatlah diharapkan karena itu merupakan
4
tanggung jawab dalam bekerja, agar apa yang diharapkan oleh perusahaan bisa
tercapai dengan adanya keterlibatan kerja ini.
Kinerja ialah kesuksesan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan
(As’ad, 1998). Penilaian kinerja (Bernadin dan Russel, 1993) merupakan cara
mengukur kontribusi individu (karyawan) kepada organisasi tempat mereka bekerja.
Tujuan dari pelaksanaan dari penilaian kinerja secara umum adalah untuk
menghasilkan informasi yang akurat dan sahih berkenan dengan perilaku dan kinerja
anggota organisasi. Dengan memberikan sikap kerja dalam hal ini, kepuasan kerja,
komitmen organisasi dan keterlibatan kerja kepada karyawan, berarti akan
memberikan dorongan kepada karyawan untuk mengerahkan kemampuan, keahlian
dan keterampilan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, yang secara lansung akan
meningkatkan kinerja karyawan tersebut. Mengingat bahwa setiap individu
perusahaan berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda, maka akan sangat
penting bagi perusahaan untuk melihat apa kebutuhan dan harapan karyawannya, apa
bakat dan keterampilan yang dimilikinya. Jika perusahaan dapat mengetahui hal-hal
tersebut, maka akan lebih mudah untuk menempati karyawan pada posisi yang paling
tepat, sehingga ia akan termotivasi. Tentu saja usaha-usaha memahami kebutuhan
karyawan tersebut harus disertai dengan penyusunan kebijakan perusahaan dan
prosedur kerja yang efektif. Untuk melakukan hal ini tentu bukan perkara yang
gampang, tetapi memerlukan kerja keras dan komitmen yang sungguh-sungguh dari
manajemen.
5
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “HUBUNGAN SIKAP KERJA TERHADAP KINERJA PERAWAT PADA
RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA”
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah-masalah penelitian
dapat dirumuskan sebagai berikut: bagaimana hubungan sikap kerja dengan kinerja
perawat?, karena sikap kerja terdiri dari tiga sub konsep yaitu kepuasan kerja,
komitmen organisasional dan keterlibatan kerja. Maka untuk memperjelas masalah
penelitian dirumuskan persoalan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana hubungan sikap kerja terhadap kinerja perawat?
2. Bagaimana hubungan antara masing-masing elemen sikap kerja yang terdiri
dari kepuasan kerja, komitmen organisasi dan keterlibatan kerja terhadap
kinerja perawat?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Untuk mengetahui hubungan sikap kerja terhadap kinerja perawat.
2. Untuk mengetahui hubungan antara masing-masing elemen sikap kerja yang
terdiri dari kepuasan kerja, komitmen organisasi dan keterlibatan kerja
terhadap kinerja perawat.
6
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini berguna untuk:
1. Bagi penulis
: Sebagai sumbangan penting dan memperluas wawasan
bagi kajian ilmu yang telah dipelajari diperkuliahan
dalam ilmu manajemen sumber daya manusia sehingga
dapat
dijadikan
sebagai
suatu
rujukan
untuk
pengembangan penelitian sumber daya manusia yang
akan datang.
2. Bagi Perusahaan: Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pikiran
bagi
pemimpin rumah sakit umum untuk dapat
meningkatkan kinerja perawat.
3. Bagi pembaca :
Dapat
memberikan
sumbangan
penting
dan
memperluas kajian ilmu manajemen khususnya sumber
daya manusia yang menyangkut sikap kerja dan kinerja
perawat.
1.5. Batasan Penelitian
Agar dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hubungan sikap
kerja dengan kinerja perawat, maka penulis membatasi penelitiannya pada:
1. Penelitian ini dilakukan pada perawat di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.
2. Responden yang diteliti adalah perawat pada Rumah Sakit Bethesda
Yogyakarta.
7
3. Pembahasan di fokuskan pada hubungan sikap kerja terhadap kinerja perawat
yang dilihat dari:
a. Sikap kerja
Dalam sikap kerja ada tiga variabel yang perlu di bahas dalam
penelitia ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
a). Kepuasan kerja
Karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi akan
memandang pekerjaannya sebagai hal yang menyenangkan.
Berbeda dengan karyawan yang memiliki kepuasan kerja rendah,
ia akan melihat pekerjaannya sebagai hal yang menjemuhkan dan
membosankan sehingga karyawan tersebut bekerja dalam keadaan
terpaksa sehingga hasilnya yang dicapai sangat tidak memenuhi
standar.
Indikator variabel kepuasan kerja antara lain:
¾ Pembayaran gaji dan upah
Pembayaran gaji dan upah adalah bayaran yang diterima oleh
karyawan untuk suatu masa waktu.
¾ Karakteristik pekerjaan
Karakteristik
pekerjaan
merupakan
pekerjaan
yang
dilaksanakan itu sesuai dan menyenangkan bagi karyawan.
8
¾ Promosi pekerjaan
Promosi
pekerjaan
merupakan
penaikan
jabatan
yakni
menerima kekuasaan dan tanggung jawab lebih besar dari
kekuasaan dan tanggung jawab sebelumnya.
¾ Sosial
Faktor sosial merupakan hubungan interaksi sosial dengan
rekan kerja maupun kepada atasan.
b). Komitmen organisasional
Melibatkan semua karyawan dalam kegiatan terhadap sebuah
perusahaan agar menyatukan loyalitas atau kesetiaan seorang
karyawan terhadap tempat ia bekerja.
c). Keterlibatan kerja.
Kerelaan karyawan untuk bekerja keras dan berupaya untuk
melebihi tuntutan kerja yang ditentukan oleh perusahaan.
b. Kinerja
Untuk mengukur kinerja, masalah yang paling pokok adalah
menetapkan kriterianya. As’ad (1994), kinerja karyawan dapat
didefinisikan sebagai kemampuan kerja atau taraf kesuksesan yang
dicapai oleh sesorang dalam pekerjaannya selama periode tertentu
yang menurut aturan atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu
dan disepakati bersama yang berlaku untuk pekerjaan yang
9
bersangkutan. Adapun indikator variabel kinerja karyawan (sugiyono,
1999) antara lain:
a). Kualitas kerja
Kualitas kerja adalah hasil yang diperoleh dari pekerjaan itu sendiri
yang tidak dapat diukur dengan angka-angka misalnya; ketaatan
dalam prosedur, disiplin dedikas.
b). Kuantitas kerja
Kuantitas kerja adalah hasil yang diperoleh dari pekerjaan itu sendiri
yang dapat diukur dengan angka-angka misalnya; pencapaian target
tepat waktu, produktif.
c). Etika kerja
Etika kerja adalah panduan tingkah laku obyektif, jujur dan
semangat pengabdian yang menjadi pegangan setiap karyawan
berdasarkan nilai-nilai ahlak mulia.
Download