alternatif penanganan anak hiperaktif menggunakan terapi

advertisement
ALTERNATIF PENANGANAN ANAK HIPERAKTIF MENGGUNAKAN
TERAPI GELOMBANG OTAK
Oleh :Imam Yuwono,M.Pd
Kontak person: 08195193182
/081347477781
ABSTRAK
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan ini ditandai dengan
ketidakmampuan menfokuskan perhatian kepada sesuatu yang dihadapi. Pada saat
mengikuti pembelajaran perhatian mudah beralih pada suatu hal ke hal yang lain. Melakukan
suatu kegiatan tidak terkontrol (hiperaktif) dan tidak sabaran (impulsif). Perilaku hiperaktif dan
impulsif dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi dan
komunikasi. Kriteria anak hiperaktif pada masa sekolah adalah sebagai berikut: (1)
mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (defisit dalam memusatkan perhatian)
sehingga anak tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya secara
baik. (2) jika diajak bicara siswa hiperaktif tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya
(bersikap apatis terhadap lawan bicaranya (3) mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang
dari luar dirinya.(4) tidak dapat duduk tenang walaupun dalam batas waktu lima menit dan
suka bergerak serta selalu tampak gelisah. (5) sering mengucapkan kata-kata secara
spontan (tidak sadar).(6) sering melontarkan pertanyaan yang tidak bermakna kepada guru
selama pelajaran berlangsung. (7) mengalami kesulitan dalam bermain bersama temannya
karena ia tidak memiliki perhatian yang baik
Penelitian yang dilakukan oleh Steven W. Lee yang dikutip oleh Feni Olivia (2007) anak
hiperkatif menghasilkan gelombang theta berlebihan. Tetapi tidak cukup menghasilkan
gelombang beta. Gelombang theta merupakan gelombang otak pada kisaran frekwensi 4-8
Hz. Yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar (subconsciaus mind). Gelombang theta
muncul saat manusia bermimpi dan saat terjadi REM (rapit eye movement). Pikiran bawah
sadar menyimpan memori jangka panjang dan merupakan gudang inspirasi kreatif. Selain itu,
pikiran bawah sadar menyimpan materi yang berasal dari kreativitas yang tertekan atau tidak
diberi kesempatan untuk muncul ke permukaan dan materi psilologis yang di tekan. Semua
materi yang berhubungan dengan emosi, baik emosi positif maupun negatif tersimpan dalam
pikiran bawah sadar. Emosi–emosi yang negatif yang tidak teratasi dengan baik, setelah
masuk ke pikiran bawah sadar akhirnya menjadi beban psikologis yang menghambat
kemajuan diri seseorang. Gelombang beta adalah gelombang otak yang frekwensinya paling
tinggi. Yaitu berkisar antara 12 sampai 40 Hz. Gelombang beta dihasilkan oleh proses
berpikir secara sadar. Kita menggunakan gelombang beta untuk berpikir, berinteraksi,
berkonsentrasi dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seseorang berkurang dalam gelombang
beta maka ia sulit untuk menfokuskan pikiran, dan menyadari sesuatu diluar diri.
Penelitian ini akan mengungkap bagaimana cara meningkatkan gelombang beta anak
hiperaktif dengan menggunakan terapi gelombang otak.
PENDAHULUAN
Istilah hiperaktif pada dasarnya diambil dari istilah ADHD (Attention Deficit Hyperactive
Desorders). Definisi ADHD adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan
tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada dua tempat
dan suasana yang berbeda. Aktifitas anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan yang
ditandai dengan gangguan perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakkan jari-jari tangan,
kaki, pensil, tidak dapat duduk dengan tenang dan selalu meninggalkan tempat duduknya
meskipun pada saat dimana dia seharusnya duduk degan tenang. Terminologi lain yang
dipakai mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi perasaan yang meletup-letup,
aktifitas yang berlebihan, suka membuat keributan, membangkang dan destruktif yang
menetap.
PERMASALAHAN
1. Bagaimana cara melakukan terapi gelombang otak?
2. Apakah menggunakan terapi gelombang otak dapat mengurangi perilaku tak terkontrol
anak hiperaktif?
KAJIAN PUSTAKA
Diagnosis anak hiperaktif
Bila didapatkan seorang anak dengan usia 6 hingga 12 tahun yang menunjukkan
tanda-tanda hiperaktif dengan prestasi akademik yang rendah dan kelainan perilaku,
hendaknya dilakukan evaluasi awal kemungkinan. Untuk mendiagnosis ADHD digunakan
kriteria DSM IV yang juga digunakan, harus terdapat 3 gejala : Hiperaktif, masalah perhatian
dan masalah konduksi
KRITERIA A MASING-MASING (1) ATAU (2)
(1) Enam atau lebih dari gejala
(2) Enam atau lebih gejala dari kurang perhatian atau konsentrasi yang tampak paling
sedikit 6 bulan terakhir pada tingkat maladaptive dan tidak konsisten dalam
perkembangan
A. INATTENTION
a. Sering gagal dalam memberi perhatian secara erat secara jelas atau membuat
kesalahan yang tidak terkontrol dalam sekolah, bekerja atau aktivitas lainnya
b. Sering mengalami kesulitan menjaga perhatian/ konsentrasi dalam menerima tugas
atau aktifitas bermain
c. Sering kelihatan tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung menyelesaikan
pekerjaan rumah, pekerjaan atau tugas, mengerjakan perkerjaan rumah (bukan
karena perilaku melawan), gagal untuk mengerti perintah
d. Sering kesulitan mengatur tugas dan kegiatan
e. Sering menghindar, tidak senang atau enggan mengerjakan tugas yang membutuhkan
usaha (seperti pekerjaan sekolah atau perkerjaan rumah)
f. Sering kehilangan suatu yang dibutuhkan untuk tugas atau kegiatan ( permainan, tugas
sekolah, pensil, buku dan alat sekolah lainnya )
g. Sering mudah mengalihkan perhatian dari rangsangan dari luar yang tidak berkaitan
h. Sering melupakan tugas atau kegiatan segari-hari
Enam atau lebih gejala dari hiperaktivitas/impulsifitas yang menetap dalam 6 bulan
terakhir
B. HIPERAKTIFITAS
a. Sering merasa gelisah tampak pada tangan, kaki dan menggeliat dalam tempat duduk
b. Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan
tetap duduk.
c. Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak
seharusnya (pada dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan
tertentu atau kelelahan )
d. Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang.
e. Sering berperilaku seperti mengendarai motor
f. Sering berbicara berlebihan
C. IMPULSIF
a. Sering mengeluarkan perkataan tanpa berpikir, menjawab pertanyaan sebelum
pertanyaannya selesai
b. Sering sulit menunggu giliran atau antrian
c. Sering menyela atau memaksakan terhadap orang lain (misalnya dalam percakapan
atau permainan).
KRITERIA B: Gejala hiperaktif-impulsif yang disebabkan gangguan sebelum usia 7 tahun.
KRITERIA C : Beberapa gangguan yang menimbulkan gejala tampak dalam sedikitnya 2
atau lebih situasi ( misalnya di kelas, di permainan atau di rumah )
Penanganan anak hiperaktif yang selama ini dilakukan
Melihat penyebab hiperaktif yang belum pasti terungkap dan adanya beberapa teori
penyebabnya, maka tentunya terdapat banyak terapi atau cara dalam penanganannya
sesuai dengan landasan teori penyebabnya. Beberapa terapi untuk anak hiperaktif:
1. Terapi medikasi atau farmakologi adalah penanganan dengan menggunakan obatobatan. Terapi ini hendaknya hanya sebagai penunjang dan sebagai kontrol terhadap
kemungkinan timbulnya impuls-impuls hiperaktif yang tidak terkendali.
Sebelum
digunakannya obat-obat ini, diagnosa ADHD haruslah ditegakkan lebih dulu dan
pendekatan terapi okupasi lainnya secara simultan juga harus dilaksanakan, sebab bila
hanya mengandalkan obat ini tidak akan efektif. Beberapa obat yang dipergunakan.
Menurut beberapa penelitian dan pengalaman klinis banyak obat yang telah diberikan
pada penderita ADHD, diantaranya adalah : antidepresan, Ritalin (Methylphenidate HCL)
, Dexedrine (Dextroamphetamine saccharate/Dextroamphetamine sulfate) , Desoxyn
(Methamphetamine
HCL),
Adderall
(Amphetamine/Dextroamphetamine),
Cylert
(Pemoline), Busiprone (BuSpar), Clonidine (Catapres). Methylphenidate, merupakan obat
yang paling sering dipergunakan, meskipun sebenarnya obat ini termasuk golongan
stimulan, tetapi pada ksus hiperaktif sering kali justru menyebabkan ketenangan bagi
pemakainanya. Selain methylphenidate juga dipakai Ritalin dalam bentuk tablet, memilki
efek terapi yang cepat, setidaknya untuk 3-4 jam dan diberikan 2 atau 3 kali dalam sehari.
Methylphenidate juga tersedia dalam bentuk dosis tunggal.
Dextroamphetamine
merupakan obat lain yang dipergunakan. Ritalin atau methylphenidate, obat stimulan
yang biasa diberikan pada anak penyandang ADHD
ternyata dapat menyebabkan
perubahan struktur sel otak untuk jangka waktu lama, ilmuwan melaporkan. Joan Baizer
profesor fisiologi dan biofisika dari University of Buffalo mengungkapkan pemberian
Ritalin setiap hari selama bertahun tahun pada sel otak tikus terlihat sama seperti yang
diakibatkan oleh amphetamin atau kokain.
2. Terapi nutrisi dan diet banyak dilakukan dalam penanganan penderita.
Diantaranya
adalah keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan (Intestinal
Permeability or "Leaky Gut Syndrome"), penanganan
alergi makanan atau reaksi
simpang makanan lainnya. Feingold Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif yang
dilaporkan cukup efektif. Suatu substansi asam amino (protein), L-Tyrosine, telah diujicobakan dengan hasil yang cukup memuaskan pada beberapa kasus, karena
kemampuan
L-Tyrosine
mampu
mensitesa
(memproduksi)
norepinephrin
(neurotransmitter) yang juga dapat ditingkatkan produksinya dengan menggunakan
golongan amphetamine. Beberapa terapi biomedis dilakukan dengan pemberian
suplemen nutrisi, defisiensi mineral, essential Fatty Acids, gangguan metabolisme asam
amino
dan toksisitas Logam berat. Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap
penderita ADHD adalah terapi EEG Biofeed back, terapi herbal, pengobatan homeopatik
dan pengobatan tradisional Cina seperti akupuntur.
3. Terapi sensori integration. Sensori integration adalah pengorganisasian informasi melalui
beberapa jenis sensori di anataranya adalah sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan
grafitasi, penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan penciuman yang sangat berguna
untuk menghasilkan respon yang bermakna. Beberapa jenis terapi sensori integration
adalah memberikan stimulus vestibular, propioseptif dan taktil input. Menurunkan tactile
defensivenes dan meningkatkan tactile discrimanation. Meningkatkan body awareness
berhubungan dengan propioseptik dan kinestetik. Selain sensory integration terapi
sensori lain yang dikenbal dalam terapi gangguan perkembangan dan perilaku adalah
Snoezelen. Snoezelen adalah sebuah aktifitas yang dirancang mempengaruhi system
Susunan Saraf pusat melalui pemberian stimuli yang cukup pada system sensori primer
seperti penglihatan, pendengaran, peraba, perasa lidah dan pembau. Disamping itu juga
melibatkan sensori internal seperti vestibular dan propioseptof untuk mencapai relaksasi
atau aktivasi seseorang untuk memperbaiki kualitas hidupnya
4. Terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan perkembangan dan perilaku pada anak
yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan dan perilaku anak di dunia,
diantaranya
adalah sensory Integration (AYRES), snoezelen, neurodevelopment
Treatment (BOBATH), modifukasi Perilaku, terapi bermain dan terapi okupasi lainnya.
5. Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak,
minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan
kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan
bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau
terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan
sesuai dengan kebutuhan terapi.
Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD haruslah bersifat holistik dan menyeluruh.
Penanganan ini harus melibatkan multi disiplin ilmu yang dikoordinasikan antara dokter,
orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita.
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subyek
penelitian adalah siswa hiperaktif di kelas IX SMP X dengan jumlah siswa sebanyak 9 orang, tiga
orang diantaranya merupakan siswa hiperaktif. Penelitian dilakukan
dengan
durasi
waktu
selama 3 bulan.
Prosedur dan tahap-tahap penelitian ini akan diuraikan sebagai berikut:
1. Kegiatan Pra Penelitian, Pada kegiatan pra penelitian dilakukan pengamatan awal dengan cara
mengamati perilaku siswa hiperaktif di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, maupun di luar
kelas pada saat anak istirahat. Hasil pengamatan ini dijadikan bahan pertimbangan untuk
menentukan langkah tindakan berikutnya. Data yang dikumpulkan melalui studi pendahuluan dapat di
deskripsikan sebagai berikut:
a. Ketiga anak hiperaktif yang berinisial, S, Y, dan N di kelas IX selalu nampak gelisah dalam
mengikuti pelajaran. Mereka hanya bisa bertahan duduk manis memperhatikan pelajaran
maksimal 5 menit.
b. Perhatian mereka mudah beralih-alih, tidak fokus ke materi pelajaran yang disampaikan guru,
mereka selalu gagal dalam mengerjakan tugas
c. Sering menunjukkan perilaku yang melanggar norma/aturan sekolah seperti naik kursi, naik meja
dan keluar ruangan saat pembelajarn berlangsung
d. Pada saat jam istirahat ketiga siswa hiperaktif membuat kelompok tersendiri, mereka cenderung
bermain untuk menimbulkan kegaduhan. Seperti mengeluarkan suara keras (ha, ha, ha) secara
bergantian
e. Ketiga siswa ini sering bertindak tanpa kesadaran seperti, melempari genting sekolah
menggunakan batu kerikil
f.
Saat jam istirahat ketiga siswa hiperaktif sangat menyukai bermain di pekarangan/kebun sekolah
dari pada di dalam ruangan.
g. Siswa Y dan S sangat menyukai kegiatan mengejar serangga, seperti kumbang, belalang maupun
capung
h.
Siswa Y, S dan N akan berhenti melakukan aktifitas ketika mendengar suara serangga, mereka
memperhatikan dengan seksama bunyi serangga di pekarangan sekolah.
i.
Siswa S sangat menyukai suara musik, sehingga pada saat pembelajaran jika ada suara musik
perhatian siswa bisa beralih ke suara musik.
2. Kegiatan Penelitian,
Tahap 1. Perencanaan tindakan, Rencana tindakan ini meliputi:
a. Menyiapkan alat peraga pembelajaran berupa rekaman suara serangga, VCD player dan
perangkatnya.
b. Menyiapkan lembar pengamatan tentang perhatian siswa pada saat pembelajaran
c. Mendesain
rencana
pembelajaran
(RPP),
membuat
instrument
tes
perhatian
dan
mempersiapkan LKS
Tahap 2. Pelaksanaan tindakan, tahap tindakan merupakan penerapan kegiatan pembelajaran
yang telah disusun dalam perencanaan, yaitu menggunakan pembelajaran dengan media belajar
sambil mendengarkan suara serangga. Adapun langkah pembelajaran sebagai berikut:
1. Eksplorasi
a. Kelas VII yang berjumlah 9 anak dibuat menjadi 3 kelompok belajar.Tiga orang siswa
hiperaktif disebar kedalam kelompok-kelompok. Pada dasarnya setiap kelompok ada satu
anak hiperaktif
b. Guru menjelaskan prosedur belajar dengan diiringi musik suara serangga
c. Guru membunyikan suara serangga untuk menarik perhatian siswa
2. Eksplanasi
a. Guru membunyikan rekaman suara serangga dengan suara sayup-sayup
b. Setelah semua anak tenang (tertuju pada suara serangga) guru mulai menjelaskan konsep
operasi penjumlahan bilangan bulat.
c. Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok heterogen beranggotakan 3
orang, setiap kelompok ada satu siswa hiperaktif.
d. Guru menugaskan kelompok untuk mengerjakan tugas kelompok
e. Siswa hiperaktif bersama siswa reguler mengerjakan tugas kelompok
f.
Suara serangga dibunyikan sayup-sayup mengiringi diskusi kelompok
g. Suara serangga dibunyikan keras, ketika ada anak yang kurang memperhatikan jalannya
diskusi.
h. Ketika ingin menarik perhatian siswa suara serangga dikeraskan sesaat kemudian
dikecilkan lagi
3. Ekspansi
Pada tahap ini, guru memberikan kesimpulan materi yang telah dibahas guna
memantapkan pemahaman siswa
4. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan memberikan tes secara lisan
Tahap 3. Observasi
Pelaksanaan observasi dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung menggunakan
lembar pengamatan. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data tentang
aktivitas siswa yang mengganggu perhatian terhadap pelajaran\
Tahap 4. Refleksi
Pada tahap ini data yang diperoleh dalam siklus I dikumpulkan dan dianalisa. Hasil analisa
pada tahapan ini akan digunakan sebagai acuan untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa lembar pengamatan
digunakan untuk mengumpulkan data tentang aktifitas yang menggaggu perhatian siswa
hiperaktif dalam proses belajar mengajar.
Analisis Data dan Refleksi
Data aktifitas yang mengganggu perhatian siswa diperoleh dengan cara melakukan
pengamatan ketika proses relajar mengajar berlangsung. Data ini dianalisis secara deskriptif
kuantitatif menggunakan skor rata-rata kriteria dan prosentase ketuntasan belajar secara
perorangan. Menurut Depdikbud (1995) dalam Sawadi Nata (2006:9) Ketentuan ketuntasan
belajar dihitung berdasarkan rumus:
Jumlah perolehan skor
Rata-rata skor =
Jumlah option perilaku
Jumlah perolehan skor
Prosentase skor =
x 100%
Skor maksimal
Adapun kriteria presentase sebagai berikut:
Keterangan :
4 : Amat Baik
5 : Baik
6 : Sedang
7 : Cukup
8 : Kurang
< 35%
35% - 44%
45% - 64%
65% - 84%
85% - 100%
Kriteria ketuntasan belajar
Siswa dikatakan berhasil dalam pembelajaran ketika, ia berkurang dalam melakukan perilaku
yang mengganggu pelajaran.
Aktifitas pengganggu perhatian dalam pembelajaran
sebelumnya sebanyak 8 atau 9 kali (lebih dari 85%) dalam dua jam pelajaran. Setelah
penelitian ini menurun hingga skor 5 atau kurang dari 44%. Dalam dua jam pelajaran.
PEMBAHASAN
1. Cara terapi gelombang otak
Terapi gelombang otak adalah jenis terapi permainan untuk merangsang otak
agar menghasilkan impuls-impuls listrik. Aliran listrik ini, yang lebih dikenal sebagai
gelombang otak. Gelombang otak diukur dengan dua cara yaitu amplitudo dan frekuensi.
Amplitudo adalah besarnya daya impuls listrik yang diukur dalam satuan micro volt.
Frekuensi adalah kecepatan emisi listrik yang diukur dalam cycle per detik, atau hertz.
Frekuensi impuls menentukan jenis gelombang otak yaitu beta, alfa, theta, dan delta. Jenis
atau kombinasi dan jenis gelombang otak menentukan kondisi kesadaran pada suatu saat.
Pandangan keliru yang selama ini ada dalam benak banyak orang adalah otak hanya
menghasilkan satu jenis gelombang pada suatu saat. Saat kita aktif berpikir kita berada pada
gelombang beta. Kalau kita rileks kita berada di alfa. Kalau sedang ngelamun, kita di theta.
Dan, kalau tidur lelap kita berada di delta. Pandangan itu salah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pada suatu saat, pada umumnya, otak kita menghasilkan empat jenis gelombang
secara bersamaan, namun dengan kadar yang berbeda. Dalam kondisi tertentu, misalnya
meditasi, kita dapat secara sadar mengatur jenis gelombang otak mana yang ingin kita
hasilkan. Setiap orang punya pola gelombang otak yang unik dan selalu konsisten. Keunikan
itu tampak pada komposisi ke empat jenis gelombang pada saat tertentu. Komposisi
gelombang otak itu menentukan tingkat kesadaran seseorang. Meskipun pola gelombang
otak ini unik, tidak berarti akan selalu sama sepanjang waktu. Kita dapat secara sadar,
dengan teknik tertentu, mengembangkan komposisi gelombang otak agar bermanfaat bagi
diri kita.
2. Dasar pemikiran perlunya terapi gelombang otak bagi anak hiperaktif?
Menurut beberapa penelitian, penyebab anak hiperaktif antara lain:
1. Adanya disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh dopamin sebagai
neurotransmitter pencetus gerakan dan sebagai kontrol aktivitas diri. Akibatnya
menyebabkan terjadinya hambatan pada sistem kontrol perilaku. Anak menjadi hiiperaktif
salah satunya karena produksi hormon adrenalin tidak terkontrol. Hormon adrenalin
merangsang untuk melakukan suatu kegiatan. Produksi hormon adrenalin yang
berlebihan mengakibatkan anak melakukan kegiatan di luar kontrol diri. Kondisi ini
mengakibatkan anak sulit untuk berkonsentrasi pada sesuatu yang dilakukan.
(Psyichiatric Association Press (1994)
2. Anak hiperkatif menghasilkan gelombang theta berlebihan. Tetapi tidak cukup
menghasilkan gelombang beta. Gelombang theta merupakan gelombang otak pada
kisaran frekwensi 4-8 Hz. Yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar (subconsciaus
mind). Gelombang theta muncul saat manusia bermimpi dan saat terjadi REM (rapit eye
movement). Pikiran bawah sadar menyimpan memori jangka panjang dan merupakan
gudang inspirasi kreatif. Selain itu, pikiran bawah sadar menyimpan materi yang berasal
dari kreativitas yang tertekan atau tidak diberi kesempatan untuk muncul ke permukaan
dan materi psilologis yang di tekan. Semua materi yang berhubungan dengan emosi,
baik emosi positif maupun negatif tersimpan dalam pikiran bawah sadar. Emos–emosi
yang negatif yang tidak teratasi dengan baik, setelah masuk ke pikiran bawah sadar
akhirnya menjadi beban psikologis yang menghambat kemajuan diri seseorang.
Gelombang beta adalah gelombang otak yang frekwensinya paling tinggi. Yaitu berkisar
antara 12 sampai 40 Hz. Gelombang beta dihasilkan oleh proses berpikir secara sadar.
Kita menggunakan gelombang beta untuk berpikir, berinteraksi, berkonsentrasi dalam
kehidupan sehari-hari. Meskipun beta sering menghilang saat manusia menfokuskan
pikiran, gelombang beta sangat dibutuhkan agar manusia dapat menyadari sesuatu
diluar diri. Bersamaan dengan gelombang otak lainnya gelombang beta sangat
dibutuhkan dalam proses kreatif. Tanpa gelombang beta semua kreatifitas yang
merupakan hasil pikiran bawah sadar akan tetap terkunci dibawah sadar, tanpa bisa
terangkat ke permukaan dan disadari oleh pikiran. Walaupun gelombang beta
merupakan komponen penting dalam kesadaran diri manusia, namun gelombang beta
tidak dapat beroperasi tanpa didukung oleh gelombang otak yang lain. Apabila hal ini
terjadi maka seseorang akan dipenuhi rasa kekhawatiran, ketegangan dan proses
berpikir yang tidak fokus. Gelombang alfa adalah gelombang otak yang frekwensinya
sedikit lebih lambat dibandingkan beta. Yaitu 8-12 Hz (hertz). Gelombang alfa
berhubungan dengan kondisi yang rilek dan santai. Dalam kondisi alfa, pikiran dapat
melihat gambaran mental secara jelas dan dapat merasakan sensasi dengan lima indera
apa yang terjadi dalam pikiran. Gelombang alfa adalah pintu gerbang bawah sadar.
Manfaat gelombang alfa adalah sebagai jembatan penghubung antara pikiran sadar dan
bawah sadar. Untuk meningkatkan konsentrasi anak hiperaktif diperlukan latihan untuk
mengurangi gelombang theta dan banyak menghasilkan gelombang beta. ( Steven W.
Lee yang dikutip oleh Feni Olivia (2007)
3. Anak hiperaktif memiliki masalah dalam pendengaran. Bisa mendengar tetapi kesulitan
mengerti apa yang didengarnya. Karena telinga dan otak tidak bekerja efesien dalam
memproses suara. Ada yang kesulitan memilih suara dari banyak sumber suara yang
berbeda. Ada yang kesulitan memusatkan pendengaran pada suara tertentu. Misalnya,
seharusnya anak mendengar suara guru, tetapi ia malah tertarik pada bunyi es krim di
luar ruangan. Akibatnya anak menjadi terganggu oleh suatu hal beberapa saat. Anak
menjadi terganggu oleh suara disekitarnya. Memperbaiki jalur pendengaran dengan
terapi suara akan memulihkan kapasitas pendengaran (penerimaan suara) sehingga
anak akan dapat belajar terfokus dan menangkap suara yang diinginkan langsung ke
pusat bahasa di otak. (Wilens TE dalam Widodo (2004)
Berdasarkan beberapa hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk
menangani anak hiperaktif di sekolah maupun dirumah tidak bisa disamakan dengan
melakukan remedial terhadap kesulitan belajar secara umum. Sebelum melakukan
pembelajaran terhadap anak hiperaktif, perlu terlebih dahulu melakukan terapi sesuai dengan
permasalahan anak. Terapi yang dilakukan difokuskan sebagai latihan kontrol hormon
adrenalin, meningkatkan gelombang beta dan mengurangi gelombang theta. Selain itu terapi
dimanfaatkan untuk memperbaiki jalur pendengaran, sebab kondisi telinga dan otak anak
hiperaktif
tidak efesien dalam memproses suara. Mereka kesulitan memilih suara dari
banyak sumber suara yang berbeda. Terapi gelombang otak dapat dilakukan dengan
menggunakan permainan-permainan untuk mengontrol hormon adrenalin, meningkatkan
gelombang beta, dan memperbaiki jalur pendengaran
3. Terapi gelombang otak mengurangi perilaku tidak terkontrol
Data hasil pengamatan tentang aktivitas yang mengganggu perhatian dalam pembelajaran
ketika studi pendahuluan diperoleh melalui pengamatan ketika anak mengikuti pembelajaran
matematika selama dua jam pelajaran atau 80 menit. Data yang diperoleh dirangkum pada tabel
berikut:
Tabel 1 : Hasil pengamatan aktifitas siswa yang mengganggu perhatian dalam pembelajaran
No
Aspek yang diamati
Nama responden/
Presentase skor
Rata –rata skor
1
Meninggalkan tempat duduk di
2
kelas
3
Berlari kesana kemari dalam kelas
Y
S
N
8,6
7,8
7,8
Y
S
N
95,5
86,6
86,6
Gelisah dengan tangan dan kaki
4
yang senantiasa bergerak
Melontarkan pertanyaan yang tidak
5
bermakna kepada guru
Mengeluarkan suara aneh diluar
kontrol diri
Tabel diatas menunjukkan bahwa ketiga siswa hiperaktif yang menjadi responden Pada saat
dilakukan pengamatan awal subyek memiliki kecenderungan melakukan kegiatan yang menggu
perhatian pembelajaran yang sangat tinggi. Perilaku negatif ini dilakukan siswa sebanyak 7 sampai
9 kali dalam dua jam pelajaran. Artinya pada saat studi pendahuluan ketiga siswa sangat kurang
dalam memperhatikan pelajaran yang disampaikan guru. Pelaksanaan tindakan siklus pertama
dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan atau 40x8 jam pelajaran = 320 menit. Tujuan yang ingin
dicapai pada tindakan siklus pertama adalah meningkatnya perhatian siswa hiperaktif terhadap
materi pelajaran. Tindakan yang dicobakan adalah menjelaskan konsep pelajaran dengan iringan
suara serangga. Strategi pembelajaran yang dilakukan menggunakan langkah sebagai berikut:
1) Eksplorasi, kelas VII yang berjumlah 9 anak dibuat menjadi 3 kelompok belajar.Tiga orang siswa
hiperaktif disebar kedalam kelompok-kelompok. Pada dasarnya setiap kelompok ada satu anak
hiperaktif. Guru menjelaskan prosedur belajar dengan diiringi musik suara serangga.Guru
memotivasi belajar siswa dengan cara bertanya tentang konsep pembelajaran yang akan
disampaikan. Diakhir tahap ini anak hiperaktif diajak mendengarkan suara serangga dengan
seksama.
2) Eksplanasi, pada tahap guru menjelaskan konsep matematika, diiringi suara serangga yang
dimainkan dengan sayup-sayup. Guru memberikan kesempatan siswa untuk memahami konsep
matematika dengan metode totorial teman sebaya (teman yang tidak hiperaktif). Jika anak
hiperaktif yang melkukan kegiatan mengganggu perhatian, maka suara serangga di putar
secara nyaring. Pada saat tertentu ketika siswa mulai tenang suara serangga dibunyikan sayupsayup.
3) Ekspansi, pada tahap ini, guru memberikan kesimpulan materi yang telah dibahas dengan
teman sebaya memantapkan pemahaman siswa
4) Evaluasi, Evaluasi dilakukan dengan memberikan pertanyaan lisan untuk mengetahui sejauh
mana pemahaman siswa terhadap konsep pembelajaran.
Observasi, pelaksanaan observasi dilakukan oleh peneliti diakhir pertemuan siklus pertama.
Observasi
menggunakan lembar pengamatan. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh data tentang aktivitas yang sebenarnya terjadi dalam proses belajar mengajar. Hasil
pengmatan pada siklus pertama tertera pada tabel berikut:
Tabel 2: Pengamatan aktifitas siswa yang mengganggu perhatian dalam pembelajaran
No Aspek yang diamati
1
2
3
4
5
SIKLUS I
Nama responden/
Rata –rata skor
Y
S
N
Presentase skor
Y
S
N
88,8
82,2
82,2
Meninggalkan tempat duduk di kelas
Berlari kesana kemari dalam kelas
Gelisah dengan tangan dan kaki yang
senantiasa bergerak
Melontarkan pertanyaan yang tidak
bermakna kepada guru
Mengeluarkan suara aneh diluar
kontrol diri
8
7,6
7,6
Refleksi Tindakan pada siklus pertama dilakukan selama 4 kali pertemuan atau 8 jam pelajaran
selama 320 menit. Pembelajaran diiringi suara serangga, ada siklus pertama, perilaku subyek tidak
banyak mengalami perubahan dengan data studi pendahuluan. Dimungkinkan subyek masih
menyesuaikan dengan media pembelajaran. Pada pertemuan akhir mulai berpengaruh pada perilaku
subyek. Skor penurunan aktifitas pengganggu perhatian pada sesi ini belum mencapai hasil yang
signifikan. Skor rata-rata yang diperoleh subyek Yadalah 8 atau kriteria kurang, subyek S = 7,6 atau
kurang dan subyek N memperoleh 7,6 atau kurang. Perlakuan yang dilakukan pada sesi pertama
belum banyak berpengaruh pada peningkatan perhatian subyek.
Pada tahap eksplorasi siswa mendengarkan bunyi serangga tidak disertai penghayatan,
sehingga pengaruh suara serangga terhadap peningkatan perhatian siswa tidak signifikan, bahkan
cenderung sama dengan pada saat studi pendahuluan. Pada tahap eksplanasi, iringan bunyi
serangga pada saat penyampaian konsep dan pada saat diskusi dengan teman sebaya berhasil
menarik perhatian siswa hiperaktif. Walaupun skor penurunan perilaku mengganggu pembelajaran
tidak menurun secara signifikan akan tetapi lebih baik daripada saat studipendahuluan.
Revisi
Pada siklus berikutnya perlu diadakan perubahan strategi penggunaan iringan susra serangga
pada saat pembelajaran. Pada tahap eksplorasi siswa perlu peningkatan penghayatan terhadap bunyi
serangga. Dengan menghayati diharapkan suara serangga akan mempengaruhi gelombang otak
anak hiperaktif, yang akan mempengaruhi perhatian anak. Pada tahap eksplanasi musik yang
ditimbulkan dari suara serangga dibunyikan secara sayup-sayup mengiringi pemahaman konsep
matematika. Dengan suara sayup diharapkan akan memberikan ketenangan pada otak anak.
Pelaksanaan tindakan siklus kedua, dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan atau 40x8 jam
pelajaran = 320 menit. Tujuan yang ingin dicapai pada tindakan siklus kedua adalah
mengoptimalkan perhatian siswa hiperaktif terhadap materi pelajaran. Tindakan yang dicobakan
adalah menjelaskan konsep pelajaran dengan iringan suara serangga. Strategi pembelajaran yang
dilakukan menggunakan langkah sebagai berikut:
Eksplorasi (10 menit)
1) Bernyanyi bersama menggunakan iringan tepuk tangan
2) Mendengarkan suara serangga, kali ini posisi siswa duduk dengan tenang dilantai untuk
meresapi alunan suara serangga
3) Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran hari itu, yaitu akan membahas beberapa
operasi penjumlahan pada bilangan bulat.
Eksplanasi (60 menit)
1) Guru membunyikan rekaman suara serangga dengan suara sayup-sayup
2) Setelah semua anak tenang (tertuju pada suara serangga) guru mulai menjelaskan konsep
operasi penjumlahan bilangan bulat.
3) Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok heterogen beranggotakan 3
orang, setiap kelompok ada satu siswa hiperaktif.
4) Guru menugaskan kelompok untuk mengerjakan tugas kelompok
5) Siswa hiperaktif bersama siswa reguler mengerjakan tugas kelompok
6) Suara serangga dibunyikan sayup-sayup mengiringi diskusi kelompok
7) Suara serangga dibunyikan keras, ketika ada anak yang kurang memperhatikan jalannya
diskusi.
8) Ketika ingin menarik perhatian siswa suara serangga dikeraskan sesaat kemudian dikecilkan
lagi
Ekspansi (10 menit)
1) Bersama dengan siswa, guru membahas hasil kerja siswa dan dilanjutkan dengan menghitung
skor yang diperoleh tiap kelompok
2) Memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapat skor paling tinggi, dan kepada
siswa yang paling memperhatikan pelajaran
Observasi, pelaksanaan observasi dilakukan oleh peneliti diakhir pertemuan siklus kedua.
Observasi
menggunakan lembar pengamatan. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh data tentang aktivitas
siswa hiperaktif dalam proses belajar mengajar. Hasil
pengmatan pada siklus pertama tertera pada tabel berikut:
Tabel 3: Pengamatan aktifitas siswa yang mengganggu perhatian dalam pembelajaran
SIKLUS II
No
Aspek yang diamati
Nama responden/
Presentase skor
Rata –rata skor
1
Meninggalkan tempat duduk di
2
kelas
3
Berlari kesana kemari dalam kelas
Y
S
N
6,6
6,6
5,8
Y
S
N
73,3
73,3
64,4
Gelisah dengan tangan dan kaki
4
yang senantiasa bergerak
Melontarkan pertanyaan yang tidak
5
bermakna kepada guru
Mengeluarkan suara aneh diluar
kontrol dir
Refleksi
Tindakan pada siklus kedua dilakukan selama 4 kali pertemuan atau 8 jam pelajaran selama
320 menit. Pembelajaran diiringi suara serangga, pada siklus kedua, perilaku subyek banyak
mengalami perubahan dibandingkan pada siklus pertama. Dimungkinkan subyek mulai
menyesuaikan strategi dan media pembelajaran. Terbukti skor aktifitas siswa yang mengganggu
pembelajaran siswa Y dan S dengan skor 6,6 dan siswa N memperoleh skor 5,8. Ketiga siswa
hiperaktif mengalami penurunan frekwensi aktifitas pengganggu perhatian yang cukup signifikan.
Pasa sesi sebelumnya pada level kurang menjadi sedang. Prosentase skor menurun dari 88,8%
pada sesi sebelumnya menurun menjadi 64,4%.
Pada
tahap
eksplorasi
siswa
mendengarkan
bunyi
serangga mulai
menggunakan
penghayatan, sehingga pengaruh suara serangga terhadap peningkatan perhatian siswa cukup
signifikan. Pada tahap eksplanasi, iringan bunyi serangga pada saat penyampaian konsep dan
pada saat diskusi dengan teman sekelompok berhasil menarik perhatian siswa hiperaktif.
Pengaturan frekwensi suara serangga untuk menarik perhatian siswa ketika terjadi kegaduhan
ternyata mampu menarik perhatian siswa hiperaktif.
Penurunan frekwensi gangguan perhatian pada siklus kedua ini cukup signifikan. Namun
demikian belum mencapai batas penurunan yang diharapkan pada penelitian ini, yaitu menurunkan
aktifitas pengganggu pelajaran dari 9 kali atau lebih dalam 2 jam pelajaran menjadi 4 atau 5 kali
dalam 2 jam pelajaran. Dengan demikian perlu penambahan frekwensi tindakan pada siklus
berikutnya.
Revisi
Tindakan pada siklus ketiga pada prinsipnya menggunakan strategi pembelajaran pada siklus
kedua. Pemanfaatan suara serangga pada pembelajaran siklus ketiga selain untuk mengiringi
penjelasan konsep perlu difariasikan lagi. Misalnya digunakan untuk menarik perhatian ketika anak
tidak mau menjawab pertanyaan, untuk memberikan hadiah, ketika siswa bisa duduk dengan
tenang. Menarik perhatian ketika ingin masuk kelas mengikuti pelajaran.
Pelaksanaan tindakan siklus ketiga, dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan atau 40x8 jam
pelajaran = 320 menit. Tujuan yang ingin dicapai pada tindakan siklus kedua adalah
mengoptimalkan perhatian siswa hiperaktif terhadap materi pelajaran. Tindakan yang dicobakan
adalah menjelaskan konsep pelajaran dengan iringan suara serangga. Strategi pembelajaran yang
dilakukan menggunakan langkah sebagai berikut:
Eksplorasi (10 menit)
1) Bernyanyi bersama menggunakan iringan tepuk tangan
2) Mendengarkan suara serangga, kali ini posisi siswa duduk dengan tenang dilantai untuk
meresapi alunan suara serangga
3) Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran hari itu, yaitu akan membahas beberapa
operasi penjumlahan pada bilangan bulat.
Eksplanasi (60 menit)
1) Guru membunyikan rekaman suara serangga dengan suara sayup-sayup
2) Setelah semua anak tenang (tertuju pada suara serangga) guru mulai menjelaskan konsep
operasi penjumlahan bilangan bulat dengan tehnik simpan dua bilangan
3) Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok heterogen beranggotakan 3
orang, setiap kelompok ada satu siswa hiperaktif.
4) Guru menugaskan kelompok untuk mengerjakan tugas kelompok
5) Siswa hiperaktif bersama siswa reguler mengerjakan tugas kelompok
6) Suara serangga dibunyikan sayup-sayup mengiringi diskusi kelompok
7) Suara serangga dibunyikan keras, ketika ada anak yang kurang memperhatikan jalannya
diskusi, seketika anak akan menoleh ke suara. Ketika anak memperhatikan pelajaran maka
bunyi serangga diputar sayup-sayup lagi.
8) Suara serangga dibunyikan keras, ketika ada anak mampu menjawab pertanyaan dengan baik
dan bisa duduk dengan tenang.
9) Ketika ingin menarik perhatian siswa suara serangga dikeraskan sesaat kemudian dikecilkan
10) Bunyi serangga diputar ketika guru ingin menarik perhatian siswa untuk memasuki ruangan
Ekspansi (10 menit)
11) Bersama dengan siswa, guru membahas hasil kerja siswa dan dilanjutkan dengan menghitung
skor yang diperoleh tiap kelompok
12) Memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapat skor paling tinggi, dan kepada
siswa yang paling memperhatikan pelajaran
Observasi, pelaksanaan observasi dilakukan oleh peneliti diakhir pertemuan siklus ketiga.
Observasi
menggunakan lembar pengamatan. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh data tentang aktivitas
siswa hiperaktif dalam proses belajar mengajar. Hasil
pengmatan pada siklus ketiga tertera pada tabel berikut:
Tabel 4: Pengamatan aktifitas siswa yang mengganggu perhatian dalam pembelajaran
SIKLUS III
No Aspek yang diamati
Nama responden/
Presentase skor
Rata –rata skor
Y
1
Meninggalkan tempat duduk di kelas
2
Berlari kesana kemari dalam kelas
3
Gelisah dengan tangan dan kaki
S
N
Y
S
N
55,5
48,8
yang senantiasa bergerak
4
Melontarkan pertanyaan yang tidak
bermakna kepada guru
5
Mengeluarkan suara aneh diluar
kontrol diri
5,4
5
4,4
60
Refleksi pelaksanaan tindakan siklus ketiga
Pemanfaatan suara serangga pada pembelajaran siklus ketiga, berhasil merubah kebiasaan
perilaku subyek penelitian yang mengganggu perhatian dalam pembelajaran. Terbukti skor aktifitas
siswa yang mengganggu pembelajaran siswa Y = 5,4 atau kriteria baik, siswa S dengan skor 5 atau
mencapai kriteria baik dan siswa N memperoleh skor 4,4 atau kriteria amat baik. Ketiga siswa
hiperaktif mengalami penurunan frekwensi aktifitas pengganggu perhatian yang cukup signifikan.
Pada sesi sebelumnya pada level kurang menjadi sedang. Prosentase skor menurun dari 88,8%
pada sesi sebelumnya menurun menjadi 64,4%.
Pada
tahap
eksplorasi
siswa
mendengarkan
bunyi
serangga mulai
menggunakan
penghayatan, sehingga pengaruh suara serangga terhadap peningkatan perhatian siswa cukup
signifikan. Pada tahap eksplanasi, iringan bunyi serangga pada saat penyampaian konsep dan
pada saat diskusi dengan teman sekelompok berhasil menarik perhatian siswa hiperaktif.
Pengaturan frekwensi suara serangga untuk menarik perhatian siswa ketika terjadi kegaduhan
ternyata mampu menarik perhatian siswa hiperaktif.
Penurunan frekwensi gangguan perhatian pada siklus kedua ini cukup signifikan. Namun
demikian telah mencapai batas penurunan yang diharapkan pada penelitian ini, yaitu menurunkan
aktifitas pengganggu pelajaran dari 9 kali atau lebih dalam 2 jam pelajaran menjadi 4 atau 5 kali
dalam 2 jam pelajaran. Pada siklus ketiga pengaruh pemanfaatan suara serangga berhasil
meningkatkan perhatian siswa dalam pembelajaran sesuai dengan kriteria keberhasilan yang
diharapkan dalam penelitian ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan temuan penelitian dan analisis hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Terapi gelombang otak anak ADHD dapat dilakukan dengan mendengarkan suara serangga
2. Pemanfaatan bunyi serangga dalam pembelajaran matematika dapat digunakan untuk
meningkatkan perhatian siswa hiperaktif.
3. Peningkatan perhatian siswa hiperaktif ditandai dengan menurunnya perilaku pengganggu
perhatian dari 8/9 kali menjadi 4/5 kali dalam dua jam pelajaran. Atau dari prosentase skor
tertinggi 95,5% menjadi 48,8%.
4. Penurunan perilaku pengganggu perhatian pembelajaran dengan angka diatas dibutuhkan
waktu 960 menit atau 24 jam pelajaran.
5. Langkah pembelajaran pemanfaatan bunyi serangga, pada tahap eksplorasi siswa
dikondisikan untuk menghayati alunan bunyi serangga untuk menarik minat anak, tahap
eksplanasi bunyi serangga dikondisikan dengan suara sayup-sayup mengiringi penjelasan
konsep matematika dan diskusi dengan teman sebaya. Tahap ekspansi bunyi serangga diatur
sedemikian rupa untuk menarik perhatian ketika anak bertanya, menjawab pertanyaan dan
melakukan aktifitas tak terkontrol
Berdasarkan hasil temuan penelitian ini disarankan kepada:
1. Kepada guru maupun terapis anak hiperaktif menggunakan bunyi serangga dalam
pembelajaran matematika. Penggunaan bunyi serangga bisa difariasikan untuk menarik
perhatian, memotivasi belajar, menenangkan pikiran dan mengiringi diskusi
2. Kepada peneliti lanjutan, disarankan melakukan penelitian untuk mengukur seberapa besar
pengaruh bunyi serangga untuk meningkatkan gelombang beta dan memperbaiki jalur
pendengaran anak hiperaktif.
DAFTAR PUSTAKA
APA. Diagnostic and statistical manualof mental disorders. Washington. DC American Psychiatric
Assosiation Press. 1994
Ashman. A &Elkin, J. (1994). Education Children with Special Need. New Jersey : Scon Edition
Englewood eliffs Prentice. Inc.
Berit H. Johnson & Skjorten M.D. (2003). Pendidikan Kebutuhan Khusus. Bandung: Uniplb Forlag.
Devisi International. Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus Fak. Pendidikan Universitas Oslo.
PPS Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Berk, L.E. (1998). Development Through The Lifespan. Needham Heights.
A Viacom Company: Allyn and Bacon.
Elia J. Ambrosini PJ Rapoport : Treatment of attention –deficit-hyperactivity disorder. N Engl J Met
1999. Maret 11: 340
http://www.gelombangotak.com/ a/n Irawan
Grainger, J. (1997). Children’s Behaviour, Attention and Reading Problems Strategies for School
Based Interventions. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
Jessica Grainger (2003), Children,s Behaviour Attention and Reading Problem : Terjemahan , Jakarta
: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Mercer, D.C. dan Mercer, A.R. (1989). Teaching Student with Learning Problem. Ohio: Merril
Publishing Company.
Skjorten, Miriam, D. & Johnsen, Berit, H.(2003). Pendidikan Kebutuhan Khusus, Suatu Pengantar
(Alih bahasa, Susi Septaviana R.). Bandung : PPS UPI.
Sunanto, Juang (2006) Pengantar Penelitian dengan Subyek Tunggal: University of Tsukuba
Widodo Judarwanto (2007) Penatalaksanaan Attention Deficit Hyperactive Disorders pada anak :
jakarta
BIODATA PENULIS
a. Nama
: Imam Yuwono, S.Pd..M.Pd
b. Jenis Kelamin
: Laki-laki
c. NIP
: 196608031991031014
d. Pendidikan
: Pasca Sarjana /Pendidikan Berkebutuhan Khusus
UPI Bandung Bekerjasama Univ.Oslo Norway
e. Pekerjaan
: Dosen PLB FKIP Unlam Banjarmasin
Download