BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Kemampuan

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Kemampuan
Kemampuan seorang individu untuk terus menjalankan usaha dalam menjalani
berbagai macam tugas hingga berhasil yang bisa dikerjakan oleh seseorang. Menurut
Winardi (2007:319) mendefinisikan kemampuan sebagai karakteristik individual seperti
intelegensia, manual skill, traits yang merupakan kekuatan potensial seseorang untuk
berbuat dan sifatnya stabil. Sedangkan menurut As’ad (2000:60) bahwa kemampuan pada
individu tersebut paling tidak ditentukan oleh tiga aspek kondisi dasar, yaitu : kondisi
sensoris dan kognitif, pengetahuan tentang cara respon yang benar, dan kemampuan
melaksanakan respon tersebut.
Kemampuan (ability) sering disamakan dengan bakat (apitude). Wiliam dan
Michael yang dikutip oleh Suryabrata (2004:160) menjelaskan bahwa kemampuan adalah
bakat individu untuk melakukan suatu tugas yang tergantung sedikit banyak latihan.
Sedangkan Bingham dalam Suryabrata (2004:161) lebih menitikberatkan pada kemampuan
individu setelah individu tersebut mendapat latihan-latihan.
Guilford dalam Suryabrata (2004:163) membagi kemampuan menjadi tiga jenis
yaitu:
a. Kemampuan Perseptual
5
Kemampuan perseptual adalah melalui kemampuan dalam mengadakan persepsi atau
pengamatan antara lain mencakup faktor-faktor kepekaan indera, perhatian, kecepatan
persepsi dan sebagainya.
b. Kemampuan Psikomotor
Kemampuan psikomotor mencakup beberapa faktor antara lain kekuatan, kecepatan
gerak, ketelitian, keluwesan dan lain-lain.
c. Kemampuan intelektual
Kemampuan intelektual adalah kecenderungan yang menekankan pada kemampuan
akal dimana mencakup beberapa faktor lain seperti ingatan, pengenalan, evaluasi,
berpikir dan lain-lain.
Menurut Chaplin (2001:1) bahwa ability (kemampuan, kecakapan, ketangkasan,
bakat dan kesanggupan) merupakan tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu
perbuatan. Kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir atau merupakan
hasil latihan atau praktek. Sedangkan menurut Gunawan (2002:231) bahwa kemampuan
berasal dari kata sanggup yang artinya bisa melakukan sesuatu. Sedangkan kemampuan itu
sendiri artinya kesanggupan, kecakapan dan kekuatan. Berdasarkan beberapa teori di atas
dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan untuk
melakukan sesuatu atau kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam
suatu pekerjaan.
2.2
Hakekat Bahasa
2.2.1 Pengertian Bahasa
Bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antara anggota masyarakat yang
terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginannya.
Bahasa sebagai suatu sistem lambang bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan
diri. Berbahasa berarti menggunakan bahasa berdasarkan pengetahuan individu tentang
adat dan sopan (Badudu dalam Dhieni, 2005:18).
Menurut Bromley dalam Dhieni (2005:18) bahwa bahasa sebagai suatu sistem simbol
yang teratur untuk mentransfer berbagai ide maupun informasi yang terdiri dari simbolsimbol visual maupun verbal. Simbol-simbol visual tersebut dapat dilihat, ditulis, dan
dibaca. Dijelaskan pula oleh Gustian (2006:16) bahwa bahasa merupakan ciri paling
menonjol dari cara berpikir simbolik. Bahasa adalah penggunaan kata-kata untuk
menyatakan benda-benda atau tindakan. Kemampuan anak dalam penggunaan bahasa
merupakan indikasi dari kemampuan anak untuk mengolah informasi yang diterima oleh
dirinya.
Sehubungan dengan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat
komunikasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal untuk menyatakan
informasi.
2.2.2 Fungsi Bahasa
Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai
sarana komunikasi masyarakat yang modern. Menurut Sunaryo (2000:6) bahwa fungsi
bahasa diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Bahasa Sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya
atau
perasaannya
pada
sasaran
yang
tetap,
yakni
ayah
ibunya.
Dalam
perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk
mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan
lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk
mengekspresikan dirinya melalui tulisannya.
b. Bahasa Sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak
akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain.
Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua orang yang pernah
dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman
dengan kita.
c. Bahasa Sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia
memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian
dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain.
Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa.
Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa
dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan
semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokanbentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan
integrasi (pembaruan) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya.
d. Bahasa Sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan
pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun
pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi
adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Fungsi bahasa
sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat kontrol
sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah.
Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah
kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada
akhirnya rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan
secara lebih jelas dan tenang.
Sehubungan dengan hal di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa memiliki fungsifungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk
mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan
integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk
melakukan kontrol sosial
Menurut Bromley dalam Dhieni (2005:17) berpendapat bahwa ada 5 (lima) macam
fungsi bahasa sebagai berikut.
a. Bahasa menjelaskan keinginan dan kebutuhan individu
Anak usia dini belajar kata-kata yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan
utama mereka.
b. Bahasa dapat merubah dan mengontrol perilaku
Anak-anak belajar bahwa mereka dapat mempengaruhi lingkungan dan mengarahkan
perilaku orang dewasa dengan menggunakan bahasa.
c. Bahasa membantu perkembangan kognitif
Secara simbolik bahasa menjelaskan hal yang nyata dan tidak nyata. Bahasa
memudahkan kita untuk mengingat kembali suatu informasi dan menghubungkannya
dengan informasi yang baru diperoleh.
d. Bahasa membantu mempererat interaksi dengan orang lain
Bahasa berperan dalam memelihara hubungan dengan orang lain di sekitar.
e. Bahasa mengekspresikan keunikan individu.
Dalam artian bahwa melalui bahasa dapat disampaikan perasaan pribadi kepada orang
lain.
Berdasarkan pendapat di atas, selain bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dapat
disimpulkan bahwa bahasa juga berfungsi untuk menambah pengetahuan dan mengetahui
informasi secara mendalam, dengan bahasa kita dapat mengemukakan ide-ide atau gagasan
untuk menjadikan diri kita lebih maju. Selain itu pula, kita dapat menjelaskan pikiran,
perasaan dan perilaku kita melalui bahasa serta dapat mempererat hubungan kita dengan
masyarakat luas.
2.3
Hakekat Puisi
2.3.1 Pengertian Puisi
Sejak awal puisi telah dihubungkan dengan apa yang terjadi pada manusia baik yang
bersifat natural maupun yang bersifat supra natural, seperti yang diungkapkan tanpa
imajinasi, susunan irama dan bunyi yang menyenangkan.
Pada hakekatnya puisi mengkomunikasikan pengalaman yang penting, karena puisi
lebih terpusat dan terorganisasi fungsi tersebut bukanlah menerangkan sejumlah
pengalaman, tetapi memberikan kesempatan kepada manusia untuk terlibat imajinasi dalam
pengalaman tersebut.
Puisi adalah salah satu seni yang tertua. Puisi hidup sejak manusia menemukan
kesdngan dalam berbahsa. Pada masyarakat primitif, puisi merupakan bagian penting
dalam kehidupan manusia, terutama dalam kaitannya dengan upacara yang dilakukan
Menurut Pradopo (2001) bahwa puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat
puisi adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur kepuitisan, sedangkan
menurut Wellek dan Waren (dalam Pradopo, 2001) bahwa analisis yang bersifat dicotomis
yaitu pembagian dua bentuk dan isi belumlah dapat memberi gambaran yang nyata dan
tidak memuaskan.
Menurut Pratama (2010:1) puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya
yang dirangkai menjadi suatu bentuk tulisan yang mengandung makna. Pembuat puisi atau
penyair tidak sembarangan dalam membuat karyanya tersebut. Puisi yang dibuat oleh para
penyair biasanya terkesan indah. Namun mereka juga membuat puisi dengan gaya bahasa
yang susah dimengerti. Walaupun susah dipahami tapi ada arti puisi yang tersimpan
didalamnya. Lagipula membuat puisi itu harus bebas walaupun hasilnya bagus atau jelek
menurut orang lain. Di dalam dunia puisi ada dua macam puisi yaitu puisi lama dan juga
puisi baru. Sebuah puisi menjadi indah karena terdapat majas (gaya bahasa) didalam
rangkaian puisi tersebut. Puisi biasanya mengandung makna konotasi didamnya.
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya
berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat
dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 2006:4)
menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta.
Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya,
orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia
adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf,
negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 2001:99) mengumpulkan definisi puisi sebagai
berikut. Menurut Samuel Taylor Coleridge bahwa puisi itu adalah kata-kata yang terindah
dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara
sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat
erat berhubungannya, dan sebagainya. Sedangkan menurut Carlyle mengatakan bahwa
puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu
memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun
begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik,
yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
Wordsworth (dalam Pradopo, 2001:99) mendefinisikan bahwa puisi adalah
pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan.
Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang
bercampur-baur. Ditambahkan pula oleh Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu
merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta
berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya
selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh
perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara
teratur). Sedangkan menurut Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detikdetik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat
mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan
yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai.
Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Sehubungan dengan hal di atas dapat disimpulkan bahwa puisi adalah ungkapan
perasaan atau pikiran penyairnya yang dirangkai menjadi suatu bentuk tulisan yang
mengandung makna.
2.3.2 Makna Puisi
Makna dalam puisi menurut Zippien (2010:1) adalah sebagai berikut.
a. Tema/sense adalah gagasan pokok yang diciptakan/dilukiskan oleh penyair melalui
puisinya.
b. Perasaan/feeling adalah sikap penyair terhadap tema yang dikemukakan dalam
puisinya.
c. Nada dan suasana/tone adalah sikap penyair terhadap pembaca/ penikmat puisi.
d. Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan oleh penyair.Amanat seringkali tersirat
di balik kata-kata yang disusun dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.
Seringkali amanat ini tidak disadari penyair.
2.3.3 Unsur-Unsur Puisi
Menurut Pradopo (2003:6) bahwa unsur-unsur puisi yang membangun kedua unsur
puisi dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Unsur-unsur fisik
1) Judul yaitu suatu ide tentang sesuatu, misalnya nama orang, tempat, waktu dan
suatu masa.
2) Diksi yaitu esensi seni penelitian puisi. Diksi dihasilkan oleh penyair peneliti puisi
menggunakan pemilihan kata yang cermat sistimetis uantuk meghasilakn diksi yang
coco dengan suasana.
3) Imagery adalah mengajak membaca untuk berhayal (berimajinasi)
4) Majas adalah bahasa yang berkias yang dapat menghidupkan efek dan
menghidupkan konotasi-konotasi tertentu
5) Bunyi (suara) merupakan penjelmaan rasa yang harus dilakukan dengan kesadaran.
b) Unsur Batin
1) Tema
Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair lewat puisi. Tema puisi
biasanya mengungkapkan persoalan manusia bersifat hakiki seperti cinta kasih,
ketakutan, kebahagiaan, kedukaan, kesengsaraan hidup, keadilan dan kebenaran,
Ketuhanan, kritik, sosial dan protes.
2) Rima
Rima adalah persoalan bunyi yang berulang-ulang yang ditemukan pada akhir baris
atau kata-kata tertentu setiap baris.
3) Ritme
Ritme merupakan bagian yang fundamental, yaitu rangkaian alur suara atau
pengulangan bunyi yang berulang dan tersusun rapi.
4) Perasaan
Perasaan dalam puisi diungkapkan perasaan penyair puisi dapat mengungkapkan
perasaan gembira, sedih, terharu, gelisah, benci, cinta, dendam dan sebagainya.
Perasaan yang diungakapkan penyair bersifat total artinya tidak setengah-setengah.
5) Mengandung amanat atau perasaan yang disampaikan penyair atau pembaca.
Menuru Djojosuroto (2004:36) bahwa struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai
berikut.
a. Tema/makna (sense);
Tema yaitu media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan
makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna
keseluruhan.
b. Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam
puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan
psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas
sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan
pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu
masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya
bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan,
pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang
sosiologis dan psikologisnya.
c. Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan
tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte,
bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah
begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah
pembaca, dll.
d. Amanat/tujuan/maksud (intention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong
penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan
puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
2.3.4 Karakteristik Puisi Anak
Puisi anak adalah puisi yang ditulis untuk anak dengan bahasa lugas dan mudah
dipahami anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian
anak serta akrab dengan dunia anak-anak. Ciri-ciri puisi anak TK menurut Bams (2013)
diantaranya adalah bahasa yang sederhana sehingga anak mudah memahaminya, simpel
atau tidak panjang seperti puisi orang dewasa karena menyesuiakan dengan kemampuan
dari anak yang masih duduk di bangku sekolah, isi puisi dapat dipahami manfaatnya.
Menurut Azhar (2012:1) bahwa pada hakekatnya puisi anak masing menggunakan
kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak. Selain itu kata-kata itu juga dirangkai
masih seperti struktur asli kalimat. Dijelaskan pula oleh Azhar (2012:1) bahwa
karakteristik puisi anak adalah sebagai berikut.
a. Puisi anak adalah puisi yang berisi kegembiraan.
b. Mengutamakan bunyi bahasa dan membangkitkan semangat bermain bahasa.
c. Harus berupaya memperbaiki ketajaman imajinasi visual dan kata yang dipergunakan
mengembangkan imajinasi dan melihat serta mendengar kata-kata dalam cara baru.
d. Menyajikan cerita sederhana dan memperkenalkan tindakan sehari-hari.
e. Ditulis berdasarkan pengalaman anak
f. Berbentuk informasi sederhana yang membuat anak dapat menafsirkan dan menangkap
sesuatu dari puisi itu.
g. Tema puisi harus menyenangkan anak-anak, menyatakan sesuatu kepada anak,
menggelitik
egonya,
mengingat
kebahagiaan,
menyentuh
kejenakaan
dan
membangkitkan semangat pribadi anak-anak.
h. Dapat dibaca anak-anak dan mudah dimengerti
Sehubungan dengan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik puisi
anak yakni puisi sederhana, tidak panjang, bahasanya mudah dipahami dan menyenangkan.
2.4
Hakekat Peranan Guru
2.4.1 Pengertian Peranan
Peranan menurut Levinson (dalam Arisandi, 2011:23) adalah suatu konsep perihal
apa yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peran
meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam
masyarakat, peran dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang
membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
Menurut Biddle dan Thomas (dalam Arisandi, 2011:5) bahwa peranan adalah
serangkaian
rumusan
yang membatasi
perilaku-perilaku
yang
diharapkan
dari
pemegang kedudukan tertentu. Misalnya dalam keluarga, perilaku ibu dalam keluarga
diharapkan bisa memberi anjuran, memberi penilaian, memberi sangsi dan lain-lain.
Menurut Soekanto (dalam Klara, 2011:12) bahwa peranan adalah aspek dinamis dari
kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan
kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran. Ditambahkan oleh Linton (dalam Klara,
2011:12) bahwa peran adalah the dynamic aspect of status. Dengan kata lain, seseorang
menjalankan perannya sesuai hak dan kewajibannya.
Pengertian peranan menurut Merton (dalam Klara, 2011:12) adalah pelengkap
hubungan peranan yang dimiliki seseorang karena meduduki status sosial tertentu.
Sedangkan menurut King (dalam Klara, 2011:12) bahwa peranan merupakan seperangkat
perilaku yang diharapkan dari orang yang memiliki posisi dalam sistem sosial.
Palan (dalam Klara, 2011:13) memberikan definsi tentang peranan yakni merujuk
pada hal yang harus dijalankan seseorang di dalam sebuah tim. Namun menurut Alo
Liliweri (dalam Klara, 2011:13) peranan adalah sebuah harapan budaya terhadap suatu
posisi atau kedudukan, dimana pola perilaku yang ditetapkan saat anggota keluarga
berinteraksi dengan anggota lainnya. Menurut Donna (dalam Klara, 2011:13) bahwa
peranan adalah kreasi budaya, oleh karena itu budaya menentukan pola perilaku seseorang
dalam berbagai posisi sosial
Sehubungan dengan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa peranan adalah
berbagai hal yang harus dijalankan sesuai dengan kedudukan.
2.4.2 Peranan Guru TK
Dalam pengertian yang sederhana guru adalah orang yang memberikan ilmu
pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang
melaksanakan pendidikan. Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di
masyarakat. Kewibaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga masyarakat tidak
meragukan figur guru. Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Guru adalah figur
manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan
(Syaiful, 2005:1). Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus
sebagai guru. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian
untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru.
Menjadi guru berdasarkan tuntutan pekerjaan adalah suatu perbuatan yang mudah,
tetapi menjadi guru berdasarkan panggilan jiwa atau tuntutan hati nurani adalah tidak
mudah, karena kepadanya lebih banyak dituntut suatu pengabdian kepada anak didik guru
daripada karena tuntutan pekerjaan dan material oriented. Guru yang mendasarkan
pengabdiannya karena panggilan jiwa merasakan jiwanya lebih dekat dengan anak
didiknya.
Seorang guru dinamakan sebagai tenaga pendidik, merupakan suatu komponen yang
bertugas menyelenggarakan kegitan belajar mengajar, bimbingan, melatih, mengelola,
meneliti, dan mengembangkan serta memberikan pelayanan tehnik. Guru sebagai tenaga
kependidikan memiliki tugas pokok melaksanakan proses belajar mengajar.
2.4.3 Karakteristik Guru
Dalam UU RI No.14, Tahun 2005 tentang ketentuan umum Bab I Pasal I Ayat I,
bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini dan jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan
menengah. Dalam rumusan tersebut secara tersirat dapat dikatakan bahwa, guru merupakan
salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam
usaha pembentukan sumber daya manusia yang profesional dibidang pembangunan. Oleh
karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur dibidang kependidikan harus berperan
secara aktif dan menempatkan kedudukannnya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan
tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.
Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Karena
tugasnya itu, guru dapat menambah kewibawaannya dan keberadaan guru sangat
diperlukan oleh masyarakat. Mereka tidak meragukan lagi akan urgensinya guru bagi anak
didik.
2.4.4 Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pendidik anak usia dini adalah profesional yang bertugas merencanakan,
melaksanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran, serta melakukan
pembimbingan, pengasuhan dan perlindungan anak didik. Pendidik PAUD bertugas di
berbagai jenis layanan baik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal seperti
TK/RA, KB, TPA dan bentuk lain yang sederajat. Pendidik PAUD pada jalur pendidikan
formal terdiri atas guru dan pendamping, sedangkan pendidik PAUD pada jalur pendidikan
nonformal terdiri atas guru, guru pendamping dan pengasuh.
Tenaga
kependidikan
bertugas
melaksanakan
administrasi,
pengelolaan,
pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan
pada lembaga PAUD. Tenaga kependidikan terdiri atas pengawas/penilik, kepala sekolah,
pengelola, administrasi, dan petugas kebersihan. Tenaga kependidikan PAUD jalur
pendidikan formal terdiri atas pengawas, kepala TK/RA, tenaga administrasi dan petugas
kebersihan. Sedangkan tenaga kependidikan pada PAUD jalur pendidikan nonformal terdiri
atas pengelola, administrasi dan petugas kebersihan.
Standar pendidik diantaran adalah harus memiliki kualifikasi dan kompetensi guru
PAUD didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi beserta lampirannya.
Bagi guru PAUD jalur pendidikan formal (TK, RA dan yang sederajat) dan guru PAUD
jalur pendidikan non formal (TPA, KB dan yang sederajat) yang belum memenuhi
kualifikasi akademik dan kompetensi disebut guru pendamping dan pengasuh.
Kualifikasi akademik dan kompetensi guru pendamping yakni memiliki ijazah D-II
PGTK dari Perguruan Tinggi terakreditasi atau memiliki ijazah minimal SMA atau
sederajat dan memiliki sertifikat pelatihan/pendidikan/ kursus PAUD yang terakreditasi.
2.4
Peranan Guru Dalam Mengembangkan Kemampuan Berpuisi Anak TK
Materi puisi memang merupakan salah satu sub dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia yang ada dalam pendidikan di Indonesia. Berpuisi merupakan kemampuan
menulis dan membaca yang melibatkan aspek lafal, intonasi, kebermaknaan, ekspresi dan
gagasan. Berpuisi sangat penting dalam membangun karakter anak karena mengandung
unsur seni. Didalamnya ada aspek rasa keindahan, baik sebagai karya tulis maupun dalam
penyajiannya, sehingga dalam berpuisi, kecerdasan intelektual, emosional, dan bahkan
spiritual siswa dapat tumbuh dan berkembang.
Puisi dapat diartikan sebagai hasil karya tulis yang mengandung unsur seni, karena
puisi adalah hasil buah fikir manusia dalam bentuk tulisan yang penuh dengan rasa
keindahan (rasa-emosi). Dalam berpuisi, baik waktu menulis, membaca, maupun
mendegarkannya, ada nuansa khusus sehingga emosional penulis, pembaca, ataupun
pendengarnya terbawa hanyut oleh jiwa dari puisi itu. Menurut Erman (2003) bahwa
peranan
guru
dalam
mengembangkan
kemampuan
berpuisi
pada
anak
yakni
mengembangkan kemampuan membaca puisi yang melibatkan ketepatan aspek lafal,
intonasi, kebermaknaan, ekspresi dan gagasan sangatlah penting bagi anak-anak dalam
mengembangkan ketiga potensi di atas. Dengan demikian, melalui berpuisi sekaligus dapat
membangkitkan dan mengembangkan potensi emosional (afektif, rasa-budi) sekaligus
kemampuan berfikir (cognitive, akal-fikir), dan ketrampilan psikis (Erman, 2003).
Namun pembelajaran puisi ini masih kurang diminati oleh anak-anak, karena belum
tumbuhnya kesadaran akan peran berpuisi yang bisa mengembangkan IQ, EQ dan SQ.
Mereka tidak biasa dan tidak membiasakan berkomunikasi, sehingga yang tumbuh adalah
rasa rendah diri, pemalu dan rasa takut salah. Padahal, dengan berpuisi siswa akan terlatih
dalam menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berkreasi (kreatifitas) melalui
kegiatan eksplorasi, inquiri, penalaran dan komunikasi.
Download