pemotongan dan pemungutan - Kebijakan Kesehatan Indonesia

advertisement
GAMBARAN BEBAN PAJAK DI RS. ISLAM DAN PROSPEK
KEDEPANNYA SERTA KONSESI PAJAK *)
(Drs. H.S.Eko Prijono, MM – MUKISI)
I.
PENDAHULUAN
1. UU Rumah Sakit
Rumah Sakit sebagaimana tertuang dalam Pasal 20 UU Rumah Sakit
No. 44 tahun 2009 berdasarkan pengelolaannya dapat dibagi menjadi
Rumah Sakit Publik dan Rumah Sakit Privat.
Rumah Sakit Publik dapat dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah dan badan hukum yang bersifat Nirlaba. Sedangkan Rumah
Sakit Privat dikelola oleh badan hukum dengan tujuan Profit yang
berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero.
Sesuai dengan asas dan tujuan sebagaimana tertuang dalam pasal 2,
bahwa Rumah Sakit mempunyai fungsi sosial. Hal ini tentu saja
sangat berkaitan langsung dengan Rumah Sakit Publik yang bersifat
Nirlaba.
Meskipun bersifat Nirlaba dan amanah fungsi sosial, Rumah Sakit
Publik tetap dituntut menjaga standard mutu pelayanan kesehatan
sebagai acuan dalam melayani pasien. Dan untuk menjaga standard
mutu tersebut diperlukan sarana dan prasarana serta tenaga
profesional yang susuai standard.
Dalam hal pembiayaan terdapat perbedaan yang cukup besar antara
Rumah Sakit Publik yang dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah dan badan hukum swasta yang bersifat Nirlaba. Pembiayaan
Rumah Sakit Pemerintah bersumber selain dari penerimaan Rumah
Sakit, maka masih diperoleh dari Anggaran Pemerintah/Pemerintah
Daerah, sedangkan Rumah Sakit Publik yang dikelola swasta sangat
mengandalkan penerimaan dari operasional Rumah Sakit disamping
berasal dari sumber lain yang tidak mengikat.
Pada prakteknya cukup banyak Rumah Sakit Publik yang dikelola oleh
organisasi keagamaan yang bersifat Nirlaba dengan segala
permasalahan khususnya dalam hal pembiayaan. Agar Rumah Sakit
tetap dapat eksis membantu Pemerintah dalam mencapai tujuannya
yaitu pelayanan kesehatan yang didasarkan pada nilai kemanusiaan,
etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti
Pengenaan pajak di RS
1
diskriminasi, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai
fungsi sosial, maka sudah selayaknya Rumah Sakit Publik yang
dikelola swasta yang bersifat Nirlaba mendapat bantuan sumber
pembiayaan dan Insensif dari Pemerintah.
2. Permasalahan Rumah Sakit Publik yang dikelola oleh Swasta.
Secara umum dalam menjalankan UU Rumah Sakit tersebut tidak
ada perbedaan yang cukup signifikan antara Rumah Sakit Publik
dengan Rumah Sakit Privat.
Dalam UU Rumah Sakit pasal 30 ayat 1.h. disebutkan Rumah Sakit
Publik dan Rumah Sakit yang ditetapkan sebagai Rumah Sakit
pendidikan mendapat Insentif pajak yang lebih lanjut akan diatur
dengan Peraturan Pemerintah. Sampai dengan tahun fiskal 2009
Rumah Sakit Nirlaba belum mendapatkan Insentif Pajak.
Beberapa permasalahan Rumah Sakit Nirlaba antara lain :
a. Pelayanan bermutu
Rumah Sakit Nilaba tetap dituntut memberikan pelayanan yang
bermutu sesuai dengan standard mutu pelayanan kepada pasien.
b. Pembiayaan
Untuk mempertahankan pelayanan bermutu, maka Rumah Sakit
Nirlaba harus membiayai sarana dan prasarana, tenaga ahli serta
Administrasi Manajemen secara mandiri. Pembiayaan tersebut
antara lain :
- Penyediaan sarana fisik
- Penyediaan Peralatan Medis
- Penyediaan bahan operasional
- Pembiayaan tenaga ahli
- Pembiayaan manajemen
c. Fasilitas Umum
Dalam pembiayaan fasilitas umumpun Rumah Sakit Nirlaba tidak
diberikan Insentif antara lain :
- Pembiayaan tarif Listrik
- Pembiayaan tarif Air
- Pembiayaan tarif Bahan Bakar
- Pembiayaan tarif Gas Medis
- Perpajakan
Pengenaan Pajak di RS
2
II.
UNDANG UNDANG PERPAJAKAN
UU No. 28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan pasal 1 antara lain menyebutkan :
Ayat 1 :
“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan UndangUndang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat”.
Ayat 2 :
“Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak,
pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan”.
Ayat 3 :
“Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha
yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan
nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, orhanisasi sosial
politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap”.
Dalam hal ini Rumah Sakit Nirlaba termasuk Wajib Pajak yang harus
memenuhi kewajiban pajaknya.
1. UU Pajak Penghasilan
Sebagaimana tertuang dalam pasal 2.b UU No. 36 tahun 2008
tentang Pajak Penghasilan, maka Badan (dalam hal ini Rumah Sakit
Nirlaba) termasuk menjadi Subyek Pajak.
Sedangkan yang menjadi Obyek Pajak adalah penghasilan, yaitu
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh
wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
Pengenaan Pajak di RS
3
kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apapun (pasal 4 ayat 1 Undang-Undang ini)
Dengan demikian setiap penghasilan yang diperoleh Rumah Sakit
Publik menjadi Obyek Pajak sesuai dengan Undang-Undang.
2. UU PPN dan PPnBM
Terhadap penyerahan barang kena pajak dan penyerahan jasa kena
pajak di daerah pabean dikenai Pajak berdasarkan UU No. 42 tahun
2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.
UU No. 42 tahun 2009 Pasal 1 :
Ayat 1 :
“Daerah pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi
wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya, serta tempattempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang
didalamnya berlaku Undang-Undang yang mengatur mengenai
kepabeanan”.
Ayat 2 :
“Barang adalah barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya
dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan
barang tidak berwujud”.
Ayat 3 :
“Barang kena pajak adalah barang yang dikenai pajak berdasarkan
Undang-Undang ini”.
Ayat 4 :
“Penyerahan Barang Kena Pajak adalah setiap kegiatan penyerahan
Barang Kena Pajak”.
Ayat 5 :
“Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan yang berdasarkan suatu
perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang,
fasilitas, kemudahan, atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa
yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau
permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan”.
Pengenaan Pajak di RS
4
Ayat 6 :
“Jasa Kena Pajak adalah jasa yang dikenai pajak berdasarkan
Undang-Undang ini”.
Ayat 7 :
Penyerahan Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pemberian Jasa
Kena Pajak.
Berdasarkan pasal 1 tersebut diatas, maka setiap transaksi
penyerahan barang / jasa kena pajak yang dilakukan oleh Rumah
Sakit dikenai Pajak berdasarkan Undang-Undang ini kecuali yang
tidak dikenai PPN berdasarkan pasal 4A Undang-Undang ini.
Pengecualian atas Barang / Jasa Kena Pajak dituangkan dalam pasal
4A Undang-Undang ini yaitu :
Ayat 2 :
Jenis barang yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai adalah
barang tertentu dalam kelompok barang sebagai berikut :
a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya.
b. Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak
c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah
makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman
baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan
dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering.
( Meskipun tidak tidak dikenai PPN atas penyajian makanan dan
minuman tersbut dikenai retribusi daerah ).
d. Uang, emas batangan, dan surat berharga.
Ayat 3 :
Jenis jasa yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai adalah jasa
tertentu dalam kelompok jasa sebagai berikut :
a. Jasa pelayanan kesehatan medis
b. Jasa pelayanan sosial
c. Jasa pengiriman surat dengan perangko
d. Jasa keuangan
e. Jasa asuransi
Pengenaan Pajak di RS
5
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
III.
Jasa keagamaan
Jasa pendidikan
Jasa kesenian dan hiburan
Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan
Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan
udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari jasa angkutan udara luar negeri
Jasa tenaga kerja
Jasa perhotelan
Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan
pemerintahan secara umum
Jasa penyediaan tempat parkir
Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam
Jasa boga atau katering.
PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN DI RUMAH SAKIT
Setiap penghasilan yang diterima oleh Wajib Pajak Orang Pribadi
maupun Badan dikenai Pajak berdasarkan pasal 4 ayat 1 UU No. 36
tahun 2008. Dengan demikian atas penghasilan orang pribadi yang
bekerja di rumah sakit dan badan dikenai Pajak Penghasilan.
1. Pajak Penghasilan pasal 21
Pasal 21 ayat (1)
“Pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan,
jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri
wajib dilakukan oleh :
a. Pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan,
dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai.
Rumah Sakit sebagai pemberi kerja dalam hal ini diwajibkan
melakukan pemotongan terhadap penghasilan yang diterima oleh
wajib pajak orang pribadi baik pegawai maupun bukan pegawai.
Dengan demikian berdasarkan pasal 21 ini Rumah sakit harus
melakukan pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima oleh :
Pengenaan Pajak di RS
6
a. Pegawai tetap dan pegawai tidak tetap
Rumah Sakit menghitung, memotong dan menyetorkan potongan
PPh 21 pegawai tetap dan pegawai tidak tetap ke Kantor Pajak
serta membuat administrasi pajaknya.
Penghasilan pegawai tetap dan pegawai tidak tetap yang
dikenakan pajak meliputi antara lain :
- Gaji/Upah
- Tunjangan
- Lembur
- Tunjangan Hari Raya
- Insentif
- Penghasilan lain kena pajak
Pajak yang disetor adalah penghasilan tersebut diatas setelah
dikurangi dengan PTKP dan biaya yang boleh dikurangkan.
Besarnya PTKP adalah :
a. Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh
ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi
b. Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah)
tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.
c. Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh
ribu rupiah) tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya
digabung dengan pebghasilan suami sebagaimana dimaksud
dalam pasal 8 ayat (1).
d. Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah)
tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang
menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang
untuk setiap keluarga.
Pajak yang diterutang dihitung dari tarif pajak (pasal 17 ayat
1.a.) dikalikan dengan Penghasilan Kena Pajak.
Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi adalah :
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,00 (lima 5 % (lima persen)
puluh juta rupiah)
Di atas Rp 50.000.000,00 (lima puluh 15 % (lima belas
juta
rupiah)
sampai
dengan
Rp persen)
Pengenaan Pajak di RS
7
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh
juta rupiah)
Di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus
lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
Di atas Rp 500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah)
25 % (dua puluh lima
persen)
30 %
persen)
(tiga
puluh
b. Dokter dan tenaga medis lainnya
Rumah Sakit menghitung, memotong dan menyetorkan potongan
PPh 21 jasa dokter ke Kantor Pajak serta membuat administrasi
pajaknya.
Penghasilan dokter yang dikenakan pajak meliputi baik gaji
maupun jasa yang diterima dari profesinya.
Tarif pajak sebagaimana pasal 17 ayat 1.a. di atas
2. Pajak Penghasilan pasal 23
Rumah Sakit dapat bertindak sebagai WAPU maupun WABA dalam
transaksi yang berkaitan dengan penghasilan yang termasuk kategori
penghasilan pasal 23.
Pasal 23 UU No. 36 tahun 2008 yaitu :
Ayat (1) :
Atas penghasilan tersebut dibawah ini dengan nama dan dalam
bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau
telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subyek
pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha
tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib
Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh
pihak yang wajib membayarkan :
Huruf a.
Sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto atas :
1. Deviden sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf g.
2. Bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf f.
3. Royalti
4. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah
dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal
21 ayat (1) huruf e.
Pengenaan Pajak di RS
8
Huruf b.
Sebesar 2% (dua persen)
1. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (2).
2. Imbalan sehubungan dengan jasa tehnik, jasa manajemen, jasa
konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah
dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal
21.
Dengan demikian atas transaksi-transaksi tersebut diatas, maka
Rumah sakit akan dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
pasal 23 tersebut.
3. Pajak Pengasilan Badan
Pada setiap periode tahun fiskal Rumah Sakit membuat Laporan Laba
Rugi untuk menghitung Pajak Penghasilan yang terutang.
Pada perhitungan ini tidak ada perbedaan antara Rumah Publik
dengan Rumah Sakit Privat maupun badan usaha lain yang
berorientasi Profit.
Penghasilan yang menjadi Obyek pajak badan sebagaimana pasal 4
ayat (1) huruf c adalah laba usaha.
Tarif Pajak Penghasilan Badan adalah berdasarkan pasal 17 :
ayat (1) huruf b :
“Wajib Pajak Badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah
sebesar 28% (dua puluh delapan persen).
Ayat (2a) :
Tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b menjadi 25 %
(dua puluh lima persen) yang mulai berlaku sejak tahun pajak 2010.
Beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan Pajak
Penghasilan Badan antara lain :
a. Penerapan sistem akuntansi.
b. Penghasilan yang dikenai pajak bersifat final : pasal 4 ayat (2)
c. Yang dikecualikan dari obyek pajak : pasal 4 ayat (3)
d. Biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto : pasal 6
ayat (1)
e. Biaya yang tidak boleh dikurangkan : pasal 9 ayat (1)
Pengenaan Pajak di RS
9
Dari beberapa hal tersebut tidak dibedakan antara Rumah sakit
publik dengan Rumah sakit privat atau badan hukum profit yang lain.
Di dalam biaya yang tidak boleh dikurangkan terdapat beberapa hal
yang memberatkan Rumah sakit publik antara lain ;
Pasal 9 ayat (1) huruf c
Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali
1. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan
usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan
hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan
anjak piutang.
2. Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan
sosial yang dibentuk oleh Penyelenggara jaminan sosial.
3. Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin simpanan
4. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan
5. Cadangan penanaman kembali untuk usaha kehutanan
6. Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat
pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan limbah
industri.
Rumah sakit publik swasta yang cukup banyak melayani
tidak mampu, menanggung resiko yang cukup tinggi
tertagihnya piutang atas pasien tidak mampu, akan
tidak termasuk pengecualian biaya yang tidak
dikurangkan.
pasien
tidak
tetapi
boleh
Dengan tidak dibolehkan beban cadangan piutang tak tertagih
mengurangi penghasilan bruto, maka beban pajak penghasilan
badan menjadi tinggi dan cukup memberatkan.
IV.
PENGENAAN PPN DAN PPnBM DI RUMAH SAKIT
Dalam hal pelayanan jasa kesehatan, maka Rumah sakit tidak dikenai
PPN, namun demikian terhadap penjualan obat farmasi untuk rawat jalan
yang dilakukan oleh Instalasi farmasi Rumah sakit (bukan Apotik) tetap
dikenakan PPN.
Pengenaan Pajak di RS
10
V.
PENGENAAN PAJAK LAINNYA DI RUMAH SAKIT
Atas kepemilikan tanah dan bangunan, maka rumah sakit dikenai PBB.
Sampai saat ini Rumah Sakit masih diperbolehkan mengajukan
keringanan PBB walaupun harus memenuhi persyaratan yang cukup rumit
dan masih dapat diberikan keringanan sebesar 50 %.
VI.
BEA MASUK DAN CUKAI
Peraturan Menteri Keuangan No. 22/PMK.04/2006 tentang Pembebasan
Bea masuk dan cukai atas barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah
umum, amal, sosial, dan kebudayaan.
Pasal 1
Dalam Keputusan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan kiriman
hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial dan kebudayaan
adalah :
a. Barang yang diperlukan untuk mendirikan atau memperbaiki
bangunan ibadah, rumah sakit, poliklinik, dan sekolah atau barang
yang akan merupakan inventaris tetapnya.
b. Mobil klinik, sarana pengangkut orang sakit, sarana pengangkut
petugas ibadah umum, sarana pengangkut petugas kesehatan.
c. Barang yang diperlukan untuk pemakaian tetap oleh perkumpulan
dan badan-badan untuk tujuan kebudayaan
d. Barang yang diperlukan untuk ibadah umum seperti tikar
sembahyang, permadani, atau piala-piala untuk perjamuan suci, atau
barang hadiah dalam rangka perayaan haris besar keagamaan.
e. Peralatan operasi, perkakas pengobatan dan bahan pembalut yang
digunakan untuk badan-badan sosial
f. Makanan, obat-obatan dan pakaian untuk diberikan dengan CumaCuma kepada masyaarakat yang memerlukan termasuk bantuan
bencana alam.
g. Barang peralatan belajar mengajar untuk lembaga pengajaran dan
diberikan dengan Cuma-Cuma untuk meningkatkan kecerdasan
masyarakat.
Atas barang-barang tersebut, maka Rumah Sakit yang telah ditetapkan
dalam lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini dibebaskan dari bea
masuk dan cukai atas barang-barang tersebut diatas.
Pengenaan Pajak di RS
11
VII.
PENUTUP
1. Prospek RS Publik Swasta
Dalam mencapai tujuan yaitu Rumah sakit diselenggarakan
didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas,
manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan,
perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial
(UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit pasal 2), maka Rumah
sakit publik swasta sangat diharapkan berperan lebih besar.
Disamping itu dapat membantu tanggungjawab pemerintah dalam
menggerakkan peran serta masyarakat dalam pendirian Rumah sakit
sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.
(UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit pasal 6 ayat (1) huruf f)
2. Harapan
Peningkatan peran serta Rumah sakit publik swasta akan dapat
direalisasikan tentunya dengan peran Pemerintah melalui beberapa
langkah real yang dapat menjadi pemicu peningkatan peran rumah
sakit publik swasta tersebut.
Harapan-harapan yang dibutuhkan oleh Rumah sakit publik swasta
antara lain :
a. Bantuan sumber dana dari pemerintah
b. Insentif Pajak
1. PPN
Terhadap pelayanan obat farmasi untuk Rawat Jalan agar
termasuk pengecualian yang tidak dikenai PPN.
Hal ini sangat membantu meringankan beban berobat
pasien.
2. PPh Badan
- Kelonggaran beberapa biaya yang tidak boleh
dikurangkan yaitu cadangan piutang tak tertagih untuk
pasien tak mampu hendaknya termasuk dikecualikan
yang boleh dikurangkan.
- Karena selisih usaha RS. Publik swasta tidak dibagikan
kepada
Pemilik
tetapi
dipergunakan
sebagai
Reinvestment, maka Tarif Pajak Badan hendaknya dapat
dihilangkan atau maksimal 5 %.
Pengenaan Pajak di RS
12
3. PBB
Tarif PBB untuk RS. Publik swasta hendaknya ditetapkan
sebesar 50 % dari tarif standard. Dengan demikian RS.
Publik swasta tidak perlu mengajukan keringanan setiap
kali jatuh tempo pembayaran PBB.
4. Insentif Pajak Lain
Insentif pajak lain diberikan kepada RS. Publik swasta
yang berperan aktif dalam mendukung kebijakan
pemerintah dalam pelayanan kesehatan dan sosial antara
lain :
- Insentif diberikan kepada rumah sakit publik swasta
yang mempunyai fasilitas kamar kelas III (pasien tak
mampu) lebih dari 25 %.
- Insentif diberikan kepada rumah sakit publik swasta
yang ikut melayani program pemerintah (Jankesmas,
Jamsostek, Askes, KB).
- Mempunyai Instalasi limbah, kawasan bebas rokok
- Melakukan kegiatan sosial.
_____________
*) Disampaikan dalam rangka Seminar 1 hari tentang “Kriteria Pelayanan sosial
RS dan Konsesi Pajak untuk RS non-profit”, Rabu 9 Juni 2010, di Hotel
Santika Jakarta.
Pengenaan Pajak di RS
13
Download