Perkembangan Teknologi Komunikasi dan

advertisement
Perkembangan Teknologi Komunikasi
dan Kesenjangan Informasi
Anne Ratnasari
ABSTRAK
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat dewasa ini, di satu sisi
memberikan peluang bagi kemajuan masyarakat, tetapi di sisi lain juga telah menimbulkan
kesenjangan informasi, baik pada tingkat makro maupun mikro. Pada tingkat makro,
kesenjangan ini sangat tampak dalam hal ketidakseimbangna arus informasi dan penguasaan
teknologi di kalangan negara-negara maju (core nations) dan negara-negara sedang
berkembang (peripheral nations). Melalui penguasaan teknologi yang luas, dan dengan misi
penguasaan pasar dunia, arus informasi dari negara-negara maju ke negara-negara sedang
berkembang jauh lebih banyak ketimbang sebaliknya. Hal ini terjadi akibat sejarah panjang
sejak masa kolonial. Pada tingkat mikro, kesenjangan informasi terjadi akibat perbedaan
tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi. Mereka yang memiliki tingkat pendidikan dan tingkat
ekonomi lebih tinggi cenderung memiliki peluang lebih tinggi pula dalam mengakses informasi
dibandingkan mereka yang tingkat pendidikan dan tingkat ekonominya lebih rendah.
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Saat ini teknologi komunikasi dan informasi
berkembang sangat pesat, baik pada teknologi
pengolahan, penyimpanan, pengiriman, maupun
penerimaan informasi. Kemajuan-kemajuan yang
dicapai oleh manusia dalam bidang teknologi
komunikasi dan informasi berjalan sedemikian cepat
sehingga sejumlah ahli menyatakan bahwa kini
sedang terjadi revolusi komunikasi dan informasi.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai manusia
dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi
meningkatkan kemampuan manusia dalam
menerima, mengolah, menyimpan, dan mengirim
informasi. Dengan teknologi baru, manusia
mengirim pesan secara lebih efisien dan efektif,
menerima informasi secara lebih cepat dan akurat,
mengolah dengan cepat, rapi, dalam kapasitas yang
sangat besar.
Namun demikian, terdapat kondisi-kondisi di
masyarakat yang menyebabkan mereka berbeda
dalam kemampuan untuk menguasai, atau
menggunakan teknologi komunikasi dan informasi.
Karena faktor-faktor tertentu itu, teknologi
komunikasi menyebar secara tidak merata di
masyarakat. Terdapat kalangan yang memiliki
kesempatan dan kemampuan lebih besar untuk
menguasai, atau menggunakan teknologi
komunikasi dan informasi, akan tetapi banyak juga
kalangan yang kurang bahkan mungkin tidak
memiliki kesempatan dan kemampuan untuk
menggunakan hal itu.
Kesempatan dan kemampuan dalam menguasai
dan menggunakan teknologi komunikasi ini sangat
berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat
dalam menerima, mengolah, menyimpan, dan
mengirim informasi. Perbedaan kemampuan
masyarakat dalam menyerap teknologi komunikasi
dan informasi dapat menciptakan kondisi
masyarakat yang menguasai informasi lebih banyak
(information-rich) pada satu pihak, dan
Anne Ratnasari. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Kesenjangan Informasi
327
masyarakat yang kekurangan informasi, atau
menguasai informasi hanya sedikit (informationpoor) di lain pihak, sehingga terjadi kesenjangan
informasi di dalam masyarakat.
Jika dilihat secara ekonomis, informasi dapat
dikelompokkan ke dalam sumber daya, seperti
dikatakan Severind dan Tankard (1997:277):
Information is a resource. It has value, and it lets
people do things that they could not do otherwise.
An old aphorism states that knowledge is power,
and this mean simply that knowledge gives people
the capability to do things, to take advantage of
opportunities.
Selanjutnya mereka menegaskan bahwa
pengetahuan, sebagaimana wujud kekayaan yang
lain, tidak terdistribusikan secara merata di
masyarakat. Orang-orang yang masih berkutat
dalam kemiskinan mereka juga biasanya miskin
dalam informasi.
Dengan latar belakang demikian, maka akan
timbul pertanyaan: Apakah kemajuan dalam bidang
teknologi komunikasi dan informasi itu akan
mendatangkan banyak manfaat kepada manusia
atau malah mendatangkan sejumlah masalah?
Apakah faktor-faktor yang menyebabkan teknologi
komunikasi menyebar secara tidak merata yang
pada gilirannya akan menciptakan kesenjangan
informasi di tengah masyarakat?
1.2 Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kaitan
antara perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi pada satu sisi, dengan kesenjangan informasi yang terjadi di masyarakat pada sisi yang lain.
1.3 Batasan Konsep
Terdapat dua konsep yang akan diberikan
batasan dalam tulisan ini, yaitu teknologi
komunikasi dan informasi, serta kesenjangan
informasi.
Teknologi Komunikaksi dan Informasi. Yang
dimaksud dengan teknologi komunikasi dan
informasi adalah berbagai piranti baru/mutakhir,
baik piranti keras maupun lunak, yang digunakan
328
manusia dalam menerima, mengolah, menyimpan,
dan mengirim informasi; seperti komputer, satelit,
televisi, dan lain-lain. Sebagaimana didefinisikan
Rogers (1986:2) teknologi komunikasi adalah, “the
hardware equipment, organizational structures,
and social values by which individuals collect,
process, and exchange information with other
individuals”. Tidak termasuk dalam kategori ini
adalah perangkat komunikasi dan informasi
tradisional, seperti kentongan dan sejenisnya.
Kesenjangan Informasi. Adapun kesenjangan
informasi diartikan sebagai perbedaan pemilikan
informasi oleh masyarakat, baik pada tingkat makro
(sebuah negara, atau masyarakat), maupun pada
tingkat mikro (individu). Dalam literatur ilmu
komunikasi, kesenjangan informasi ini ada yang
menyebut sebagai knowledge-gap (kesenjangan
pengetahuan, yang lebih merujuk kepada
kesenjangan informasi di tingkat mikro/individu.
Lihat, misalnya, ringkasan penelitian Tichenor dan
kawan-kawan (dalam Severind dan Tankard,
1997:277-289), ada juga yang menamakannya
sebagai information imbalance (ketidakseimbangan informasi, yang menekankan kesenjangan
informasi pada tingkat yang lebih makro,
masyarakat atau bangsa. Lihat Hamelink dalam
Downing, et al. , 1991:219).
2. Perkembangan Teknologi
Komunikasi
2.1 Perkembangan Peradaban Manusia
Alvin Toffler menganalisis gejala-gejala
perubahan dan pembaharuan peradaban manusia.
Sejarah dunia atau peradaban manusia dibaginya
ke dalam tiga gelombang peradaban, yaitu
gelombang pertama (8000 SM-1700 M), gelombang
kedua (1700-1970 M), dan gelombang ketiga (19702000 M). Gelombang peradaban pertama
berlangsung ketika manusia menemukan teknologi
pertanian, yang membuat mereka cenderung
menetap di suatu tempat. Pada masa ini, mereka
menggunakan energi yang telah disimpan oleh
alam berupa energi matahari, angin, air, dan lainlain.
M EDIATOR, Vol. 5
No.2
2004
Gelombang kedua ditandai dengan
ditemukannya mesin uap pada 1712, yang disusul
penemuan berbagai mesin yang dapat bergerak
cepat. Pada masa ini, berkembang industri batu
bara, tekstil batu bara, besi baja, dan lain-lain.
Gelombang kedua ditandai oleh pemilahan yang
tegas antara konsumen dan produsen yang
mengarah kepada adanya spesialisasi di
masyarakat. Gejala lain yang muncul adalah
ekspansi dan integrasi pasar dunia. Karena
keperluan untuk penyedian bahan baku, pada masa
ini banyak pola perdagangan berubah menjadi
penjajahan. Peradaban gelombang kedua segera
digantikan peradaban gelombang ketiga karena
terjadinya kerusakan alam yang hebat, cadangan
energi yang tidak dapat diperbaharui, dan
berakhirnya penjajahan yang menghilangkan
subsidi tersembunyi bagi harga bahan baku.
Munculnya gelombang ketiga ditandai oleh
kemajuan teknologi pada bidang-bidang
komunikasi dan pemrosesan, penerbangan dan
aplikasi angkasa luar, energi alternatif yang dapat
diperbaharui, genetik dan bio teknologi, dengan
elektronik mikro serta komputer sebagai teknologi
intinya (lihat Alisjahbana, 1985:15-18).
2.2 Perkembangan Teknologi
Komunikasi
Sebagaimana dijelaskan Toffler, gelombang
peradaban terakhir ditandai oleh berkembangnya
teknologi komunikasi dan informasi. Menurut
Grant (1995:1), teknologi komunikasi adalah sistem
saraf dari masyarakat kontemporer, mengirimkan,
mendistribusikan, dan mengendalikan informasi,
dan menghubungan sedemikian banyak berbagai
hal yang terpisah. Oleh sebab itu, teknologi
komunikasi sangat penting bagi kegiatan
perdagangan, pengendalian, dan hubungan
antarpribadi. Bahkan, menurut Cheryl Currid
(1993:1), kita sekarang sedang diinvasi oleh alatalat elektronik. Menurut Currid, kita tidak dapat
melaksanakan urusan kita tanpa menggunakan
peralatan elektronik, entah itu komputer, telepon
seluler, faks, atau yang lainnya. Apa pun yang kita
lakukan tidak dapat menghentikan invasi itu.
Rogers, dalam bukunya Communication
Technology, membagi perkembangan teknologi
komunikasi ke dalam empat zaman (four eras), yaitu
zaman tulisan, cetakan, telekomunikasi, dan
komunikasi interaktif.
Zaman tulisan dimulai pada 4000 tahun
sebelum Masehi, ketika bangsa Sumeria menulis
di tanah liat. Selama ribuan tahun, tulisan memiliki
peran yang penting dalam berkomunikasi,
sekurangnya sampai abad ke-15 ketika ditemukan
mesin cetak. Zaman cetakan dimulai saat mesin
cetak ditemukan oleh Gutenberg pada tahun 1456,
sekalipun teknologi pencetakan di Cina sudah
dikenal sejak tahun 1000. Salah satu dampak
ditemukannya mesin cetak adalah membuat buku
menjadi tersebar luas. Sebelum zaman Gutenberg,
seorang ‘penulis’ buku yang terampil hanya
mampu menggandakan buku sebanyak 2 buah
dalam satu tahun. Dengan mesin cetak yang baru
ditemukan Gutenberg, orang mampu memproduksi
satu buku dalam satu hari. Begitu pentingnya
temuan mesin cetak ini sehingga tahap ini dianggap
sebagai awal dari terjadinya renaissance.
Zaman telekomunikasi ditandai oleh
ditemukannya telegraf oleh Samuel Morse, yang
mengirim pesan telegraf untuk pertama kalinya dari
Baltimore ke Washington D.C. Sampai sebelum
Morse mengirim pesan telegraf pertamanya,
informasi dapat bergerak secepat kendaraan yang
membawanya. Lalu lintas informasi sama saja
dengan lalu lintas orang dan barang. Akan tetapi,
ketika telegraf ditemukan, segalanya berubah.
Perjalanan informasi menjadi berkali-kali lebih cepat
dari perjalanan kereta api tercepat yang mana pun.
Rogers mengelompokkan radio, televisi, dan film
ke dalam bentuk-bentuk telekomunikasi yang
utama.
Datangnya era komunikasi interaktif ditandai
oleh kehadiran komputer. Komputer membuat perubahan pada telekomunikasi yang umumnya berlangsung satu arah. Dengan adanya komputer, komunikasi dapat dilakukan secara interaktif. Menurut Rogers, terdapat berbagai media komunikasi
baru, antara lain: komputer mikro, konferensi jarak
jauh, teleteks, videoteks, televisi kabel interaktif,
satelit komunikasi (Rogers, 1986:27-33).
Anne Ratnasari. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Kesenjangan Informasi
329
Menurut Naisbitt, kemajuan-kemajuan yang
dicapai manusia dalam telekomunikasi dan
ekonomi, meletakkan fondasi untuk suatu sistem
jalan raya informasi internasional, di mana kita
dapat dipersatukan dalam satu jaringan tunggal
dunia. Selanjutnya Naisbitt mengatakan, “Kita
bergerak menuju kemampuan untuk
mengkomunikasikan apa pun, kepada siapa saja,
di mana saja, dengan bentuk apa saja – suara, data,
teks atau citra (image) – dengan kecepatan
cahaya.” (1990:13). Dikatakannya pula bahwa
perdagangan, perjalanan, dan televisi, meletakkan
landasan bagi terciptanya gaya hidup global
(1990:108).
Kemajuan-kemajuan yang dicapai manusia di
bidang teknologi komunikasi dan informasi
mengantar manusia ke dalam proses globalisasi.
Salah satu sarana yang mengantar ke proses itu
adalah adanya jalan raya informasi (information
superhighway), sebagaimana dijelaskan Dahlan
(2000:3) bahwa pembangunan jalan raya informasi
didukung oleh seperangkat teknologi komunikasi
berupa perangkat pengolah informasi (komputer),
pengiriman dan penyaluran (serat optik, satelit),
penghantaran pesan (broadband ISDN,
pemampatan digital), penyimpanan dan perekaman,
hingga ke perangkat penampilan informasi.
Penggunaan perangkat-perangkat itu bertujuan
untuk mencapai komunikasi yang lebih efektif dan
efisien.
Menurut catatan Straubhar dan LaRose
(2000:5), transisi untuk memasuki masyarakat
informasi dipercepat oleh perubahan yang cepat
dalam teknologi. Tidak dapat lagi dikatakan bahwa
berbagai media komunikasi seperti media cetak,
radio, televisi, film, telepon, dan komputer,
sepenuhnya terpisah. Perkembangan dalam
komputer dan jaringan telekomunikasi telah
mengarah kepada penyatuan atau konvergensi
dengan media massa konvensional. Salah satu
bukti konvergensi itu adalah jaringan internet.
Internet
merupakan
jaringan
yang
menghubungkan komputer secara global. Para
pengguna komputer melalui internet dapat saling
bertukar data. Banyak dari halaman-halaman Web
menyediakan audio dan video juga grafik. Menurut
330
Straubhar dan LaRose, internet adalah model media komunikasi masa depan: sebuah jaringan
kumputer yang cepat, yang dapat digunakan untuk
membaca berita, menonton video, mendengarkan
musik, dan sebagainya.
Internet, sebagai salah satu simpul
perkembangan teknologi informasi paling akhir
memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat, baik
untuk kebutuhan politik, bisnis maupun
pendidikan. Purbo (1999:105-127) menjelaskan
berbagai contoh kegunaan internet untuk dunia
pendidikan. Internet antara lain dapat digunakan
untuk universitas virtual, perpustakaan on-line,
ensiklopedia, jurnal ilmiah elektronik, majalah
sekolah, penawaran beasiswa, seminar jarak jauh,
dan sebagainya.
3. Kesenjangan Informasi
Namun demikian, seiring dengan
perkembangan teknologi komunikasi yang pesat,
salah satu hal yang tidak akan mudah untuk diatasi
adalah kenyataan bahwa penyebaran teknologi
komunikasi memerlukan dana yang besar. Dengan
demikian, tanpa campur tangan pemerintah atau
lembaga tertentu di masyarakat, teknologi
komunikasi mutakhir akan sulit terjangkau oleh
masyarakat dari status sosial ekonomi bawah.
Sebagaimana pernah dicatat oleh satu komisi
khusus tentang tata informasi dan komunikasi
dunia baru dari lembaga PBB Unesco, yang
menyatakan bahwa perkembangan fasilitas
komunikasi terjadi terus-menerus, namun ciri yang
nyata adalah adanya perbedaan dan kesenjangan.
Perbedaan-perbedaan itu dapat terjadi di dalam
negara, secara regional, antara negara maju dan
negara berkembang, bahkan juga antara individu
di masyarakat.
Kesenjangan informasi dapat terjadi pada
tingkat mikro (individu), ataupun pada tingkat
makro (masyarakat, atau negara/bangsa).
Kesenjangan informasi di tingkat mikro ditunjukkan
dengan kesenjangan pengetahuan yang dimiliki
oleh masing-masing pribadi. Sedangkan
kesenjangan informasi pada tingkat makro ditandai
oleh aliran informasi ke dalam sistem sosial dan
M EDIATOR, Vol. 5
No.2
2004
negara. Analisis mengenai kesenjangan informasi
ini didasarkan kepada pandangan Hamelink untuk
tingkat makro dan Tichenor untuk tingkat mikro.
3.1 Kesenjangan Informasi di Tingkat
Makro
Dalam tulisannya yang berjudul Information
Imbalance, Hamelink (dalam Downing, et al.,
1990:217-228), mengawali tulisannya dengan
menyatakan bahwa kajian komunikasi internasional
memberikan perhatian yang cukup besar kepada
ketidakseimbangan aliran produk media seperti
berita, film-televisi, dan film. Namun demikian,
perhatian kurang diberikan kepada
ketidakseimbangan informasi dalam bidang
ekonomi antara negara-negara inti (core nations,
yaitu negara-negara industri yang kaya seperti
Amerika Serikat, Kanada, Eropa Barat, Jepang, dan
Australia) dengan negara-negara pinggiran (peripheral nations, yaitu negara-negara miskin yang
didominasi oleh negara-negara Afrika, Asia, dan
Amerika Latin). Yang dimaksud negara pinggiran
oleh Hamelink tidak berarti bahwa negara-negara
tersebut terbelakang dalam budaya dan nilai-nilai
kemanusiaan, hal itu hanyalah menunjukkan
bahwa negara-negara tersebut lemah dalam
perimbangan kekuasaan global yang ada saat ini.
Dalam tulisannya, Hamelink menguraikan tiga
hal pokok, yang terdiri dari penjelasan mengenai
pengertian ketidakseimbangan informasi, mengapa
terjadi ketidakseimbangan informasi di antara
negara-negara inti dan pinggiran, serta menjelaskan
bagaimana ketidakseimbangan ini mempengaruhi
prospek pembangunan di negara-negara
pinggiran.
Sebagaimana telah dikemukakan,
ketidakseimbangan informasi berkenaan dengan:
1. Pemilikan informasi yang berguna dalam
jumlah banyak oleh negara-negara maju.
2. Sejumlah negara memiliki kapasitas yang lebih
baik, yaitu kemampuan dalam memproduksi,
merekam, dan menyebarkan informasi,
dibandingkan negara lain.
3. Kapasitas ini berkaitan dengan perangkat
keras informasi, perangkat lunak informasi,
dan berbagai jenis informasi seperti informasi
tentang ilmu pengetahuan dan teknik,
keuangan dan perdagangan, sumber daya,
militer, dan informasi yang berkenaan dengan
perkembangan mutakhir.
Mengenai perangkat keras informasi,
kebanyakan dari perangkat keras untuk mengolah
dan mengirimkan informasi berada di negaranegara inti. Berbagai gambaran ketidakseimbangan
yang dicatat Unesco mengenai keadaan dunia pada
tahun 1984 antara lain sebagai berikut:
(1) Negara-negara pingggiran secara bersamasama hanya menguasai 4 persen perangkat
lunak komputer.
(2) Dari 700 juta telepon, 75 persen berada di 9
negara kaya, negara-negara miskin menguasai
kurang dari 10 persen, dan di daerah
pedesaannya kurang dari 1 telepon untuk
setiap 1000 penduduk.
Sejalan dengan apa yang diuraikan Hamelink,
Biagi (1996:363-365) mencatat keprihatinan negaranegara berkembang mengenai arus informasi yang
tidak seimbang antara negara maju dan negara
berkembang. Dijelaskannya bahwa kantor-kantor
berita tingkat dunia serta jaringan televisi yang
memiliki siaran internasional umumnya berada di
negara maju. Dalam rangka mencari keadilan,
negara-negara berkembang menuntut agar dibuat
tata informasi dunia baru (New World Information
and Communication Order). Menurut Robert G.
Picard, ilmuwan yang setuju akan hal itu, setiap
bangsa harus percaya diri dalam kapabilitas
komunikasi, maka dengan demikian mereka akan
terbebas dari kekuasaan bangsa yang lain. Tata
informasi dan Komunikasi Dunia Baru juga
menegaskan hak untuk menentukan sistem
komunikasi apa yang akan digunakan, apa yang
harus dikomunikasikan, dan untuk tujuan apa.
Dimulai pada tahun 1970-an sejumlah
organisasi komunikasi dan jurnalistik telah
mendiskusikan masalah ini, termasuk Unesco. Pada
tahun 1978, Unesco mengadopsi satu deklarasi
yang mendukung prinsip-prinsip kemandirian bagi
bangsa-bangsa untuk menentukan sistem
komunikasinya sendiri. Empat tahun kemudian
Unesco membentuk satu komisi beranggotakan 16
Anne Ratnasari. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Kesenjangan Informasi
331
orang yang hasil kerjanya terkenal dengan nama
McBride Report. Laporan ini mendaftarkan
sebanyak 82 cara untuk mencapai tata informasi
dan komunikasi dunia yang baru. Laporan ini
mendapat kritik dari negara-negara maju. Amerika
Serikat, di bawah pemerintahan Reagen,
menghentikan kontribusinya sebesar $ 50 juta dollar karena keberatan atas prinsip-prinsip yang
terdapat dalam laporan McBride.
Mengenai perangkat lunak informasi,
kesenjangan dapat dilihat pada volume dan arah
arus informasi. Arus informasi internasional tidak
seimbang, karena informasi bergerak di antara
negara-negara inti, dan sedikit yang bergerak
antara negara inti dan negara pinggiran, dan sangat
sedikit yang bergerak di antara negara-negara
pinggiran. Hubungan telepon, teleks, dan telegraf
yang berlangsung di antara negara pinggiran
hanya kurang dari 10 persen.
Arus informasi dari negara inti ke negara
pinggiran cenderung berjalan satu arah.
Diperkirakan arus informasi dari negara inti ke
negara pinggiran 100 kali lebih banyak
dibandingkan dengan yang mengalir dari negara
pinggiran ke negara inti. Informasi yang mengalir
dari negara pinggiran ke negara inti berupa
informasi mentah yang nilainya rendah, sebaliknya
dari negara inti ke pinggiran berupa informasi yang
telah dikemas dengan harga tinggi. Demikian pula
informasi di bidang ilmu pengetahuan.
Ketidakseimbangan terjadi karena riset dan
pengembangan yang dilakukan oleh negara
pinggiran hanya kurang dari tiga persen.
Akses yang leluasa terhadap informasi
keuangan dan perdagangan menjadi hak istimewa
sejumlah perusahaan-perusahaan swasta di
negara-negara inti, yang didukung oleh perangkat
komputer serta jaringan komunikasi lembaga
keuangan seperti perbankan besar, kantor berita,
dan surat kabar.
Begitu pula halnya dalam informasi
sumberdaya. Dengan menggunakaan sistem
penginderaan jarak jauh, negara-negara inti dapat
memanfaatkan informasi yang dihasilkannya untuk
mengetahui, misalnya, kapan musim panen akan
tiba di berbagai belahan dunia, atau untuk
332
mengetahui kandungan mineral di bumi. Semua
informasi itu dapat digunakan untuk
memenangkan persaingan dengan negara lain.
Demikian juga dalam bidang militer, penggunaan
alat informasi yang canggih membuat militer di
negara inti menjadi lebih maju dan kuat.
Singkatnya, arus informasi dunia berlangsung
secara tidak seimbang (senjang) baik dilihat dari
segi arahnya, volumenya, maupun kualitasnya.
Kapasitas untuk memproduksi, menyebarluaskan,
serta mengakses informasi terdistribusi secara tidak
merata di antara negara-negara di dunia.
Mengapa kesenjangan informasi secara
makro ini terjadi?
Menurut penjelasan Hamelink, faktor utama
terjadinya ketidakseimbangan global disebabkan
oleh sejarah penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa
terhadap negara-negara lainnya. Sebelum abad ke15, ketika penjajahan oleh bangsa Eropa dimulai,
negara-negara pinggiran telah memiliki
perdagangan dan jaringan informasi yang luas
yang dilakukan oleh berbagai kerajaan di Mesir,
Cina, India Mesopotamia, yang menghubungkan
Asia, Afrika, Mediterania, dan Pasifik. Pada
pertengahan abad ke-18, ekonomi penjajahan
secara internasional telah menjadi nyata. Secara
bertahap, kesibukan perdagangan dan jaringan
informasi telah beralih yang tadinya antara negaranegara pinggiran ke negara-negara inti, seperti
Inggeris, Perancis, Spanyol, Belanda, Portugal, dan
lain-lain.
Hamelink memberikan contoh ketidakseimbangan terjadi dalam arus informasi bidang
teknologi. Alih teknologi (the transfer of technology) diperkenalkan bukan dalam rangka memenuhi
kebutuhan dasar yang ada di negara pinggiran,
melainkan (sebagaimana misi perdagangan dalam
penjajahan) untuk mendukung perluasan bisnis
transnasional.
Pasar informasi internasional didominasi oleh
perusahaan transnasional yang jumlahnya tidak
lebih dari 100 yang mengendalikan tiga perempat
dari perdagangan perangkat keras dan lunak
informasi dunia. Perusahaan-perusahaan ini
memiliki saling hubungan (interlocked) satu
dengan lainnya. Dengan demikian, kekuatan
M EDIATOR, Vol. 5
No.2
2004
perusahaan-perusahaan transnasional di bidang
informasi itu menyisakan sedikit bahkan mungkin
tidak ada ruang untuk negara-negara pinggiran
memiliki peran di pasar. Hamelink menyimpulkan,
selain kemerdekaan formal yang mereka miliki,
kebanyakan negara-negara pinggiran pada
dasarnya masih mengalami hubungan penjajahan
baru.
Ketidakseimbangan informasi merupakan
masalah untuk sejumlah hal krusial bagi negaranegara pinggiran, dan juga untuk sistem informasi
internasional secara keseluruhan. Pertama,
kapasitas informasi yang terbatas dari kebanyakan
negara-negara pinggiran merupakan hambatan
yang serius dalam upaya mereka memerangi
kemiskinan dan masalah lainnya. Kedua,
kedaulatan nasional negara-negara pinggiran
mengalami hambatan ketika demikian banyak
informasi mengenai mereka justru berada di pusat
data yang dimiliki negara-negara lain. Ketiga,
ketidakseimbangan informasi mengarahkan kepada
integrasi kultural negara-negara pinggiran dalam
kultur yang dipromosikan oleh negara inti.
Kesenjangan internal berkembang karena elit
perkotaan menjadi menjadi bagian dari ekonomi
internasional, sedangkan kaum miskin di
perdesaan berada tertinggal di belakang.
3.2 Kesenjangan Informasi di Tingkat
Mikro (Individu)
Kesenjangan informasi di tingkat mikro atau
individu ditunjukkan oleh pemilikan informasi yang
berbeda-beda di antara individu karena sebabsebab tertentu di masyarakat atau pada individu
itu sendiri. Berkaitan dengan kesenjangan
informasi pada tingkat individu ini, terdapat teori
yang sudah direplikasi berkali-kali berkenaan
dengan hal itu. Teori mengenai hal ini disebut
dengan Knowledge Gap Hypothesis atau teori
mengenai kesenjangan pengetahuan yang
dikemukakan oleh Tichenor, Donohoe, dan Olien
(ringkasan teori ini serta replikasi dan
pengembangannya dapat dibaca pada Severind
dan Tankard, 1997:277-292).
Upaya untuk meningkatkan kehidupan
masyarakat dengan meningkatkan jumlah informasi
melalui media massa (dan media komunikasi
lainnya), menurut Severin dan Tankard, tidak akan
selalu berjalan dengan semestinya. Media-media
komunikasi itu dapat memberikan pengaruh yang
tidak diharapkan berupa peningkatan perbedaan
atau kesenjangan pengetahuan di antara anggota
masyarakat yang kelasnya berbeda. Mereka
merujuk kepada Tichenor, Donohoe, dan Olien
yang menyatakan pendapat mereka mengenai hal
tersebut sebagai berikut:
As the infusion of mass media information into a
social system increases, segments of the population with higher socioeconomic status tend to acquire this information at a faster rate than the lower
status segment, so that the gap in knowledge between these segments tends to increase rather than
decrease (dikutip dari Severind dan Tankard,
1997:279).
Tichenor dan kawan-kawan menjelaskan
bahwa fenomena kesenjangan informasi ini akan
terjadi terutama pada masalah yang menjadi
perhatian umum seperti masalah-masalah publik
dan berita mengenai ilmu pengetahuan.
Kemungkinan untuk terjadinya menjadi berkurang
pada masalah-masalah khusus seperti olah raga,
dan sebagainya. Selain karena faktor kelas sosial
yang berbeda, kesenjangan pengetahuan juga
dapat diakibatkan oleh tingkat pendidikan.
Tichenor dan kawan-kawan menguji hipotesis yang
mengaitkan kedua hal itu. Hasilnya menunjukkan
bahwa perolehan informasi untuk topik yang sering
dipublikasikan akan lebih cepat diproses di antara
mereka yang lebih tinggi pendidikannya
dibandingkan dengan yang lebih rendah
pendidikannya. Dan terdapat korelasi yang tinggi
antara perolehan pengetahuan dengan tingkat
pendidikan, khususnya mengenai topik yang
mendapat publikasi tinggi pada media.
Tichenor dan kawan-kawan mengemukan
penjelasan mengapa fenomena kesenjangan
pengetahuan di antara individu itu terjadi. Menurut
mereka, pertama, terdapat perbedaan keterampilan
berkomunikasi di antara mereka yang tingkat
sosial-ekonominya tinggi dan rendah. Kedua,
Anne Ratnasari. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Kesenjangan Informasi
333
terdapat perbedaan jumlah informasi yang dimiliki,
atau karena latar belakang informasi yang telah
dimiliki. Dengan demikian mereka yang tingkat
sosial eknominya tinggi mungkin telah mengetahui
sebelumnya melalui pendidikan atau terpaan
berbagai media. Ketiga, mereka yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi mungkin
memiliki kontak sosial yang relevan. Keempat,
karena mekanisme terpaan selektif. Mereka yang
berasal dari tingkat sosial ekonomi rendah mungkin
merasakan bahwa isu-isu publik bagi mereka tidak
relevan.
Teori yang dikemukakan oleh Tichenor dan
kawan-kawan ini telah mendapatkan dukungan dari
peneliti-peneliti lain yang menguji teori mereka.
Seperti penelitian terhadap debat calon presiden
Amerika Serikat pada tahun 1992, penelitian film
pendidikan “Sesame Street”, dan lain-lain. Teori
ini telah juga mendapat tanggapan dan kritik.
Misalnya saja, Rogers menyatakan bahwa
kesenjangan harus diterapkan bukan saja pada efek
pengetahuan melainkan juga pada sikap dan
perilaku. Peneliti lainnya, Genova dan Greenberg,
malah mengemukakan hasil yang agak berbeda.
Menurut mereka, kesenjangan pengetahuan lebih
berhubungan dengan minat audiens daripada status sosial ekonomi atau pendidikan.
Bagaimana relevansi teori Tichenor dan
kawan-kawan mengenai kesenjangan pengetahuan
dengan teknologi komunikasi yang berkembang
pesat? Beberapa ahli telah mencoba mengaitkan
kedua hal tersebut. Teknologi berkembang cepat
sehingga wajar jika para ahli memperkirakan
dampaknya yang besar terhadap masyarakat.
Parker dan Dunn, yang dikutip Severind dan Tankard, menyatakan bahwa dampak positif dari
kehadiran teknologi komunikasi itu adalah
terbukanya peluang untuk mengurangi biaya
pendidikan karena masyarakat dapat menyediakan
akses yang terbuka dan setara untuk kesempatan
belajar untuk anggota masyarakat dalam seluruh
hidupnya. Namun demikian, kedua ahli ini juga
mencatat bahwa jika akses terhadap pelayanan
informasi tidak tersedia secara universal bagi
seluruh masyarakat, mereka yang telah kaya
informasi akan mendapat keuntungan, sementara
334
yang miskin informasi akan relatif tetap miskin.
Meluasnya kesenjangan informasi ini akan
mengarah kepada terjadinya ketegangan sosial.
Berkenaan dengan dampak teknologi
komunikasi, Natan Kazman (lihat Rogers, 1986:169170) menyatakan bahwa teknologi komunikasi itu
akan memiliki dampak sebagai berikut:
(1) Adanya peningkatan jumlah informasi yang
dikomunikasikan kepada semua individu dalam
satu masyarakat.
(2) Peningkatan yang lebih besar jumlah informasi
bagi mereka yang kaya informasi (informationrich), dibandingkan dengan mereka yang
miskin informasi. Teknologi komunikasi akan
meningkatkan informasi yang dimiliki setiap
individu, tetapi khususnya menguntungkan
orang yang kaya informasi. Hal ini memperlebar
kesenjangan informasi.
(3) Akan terjadi banjir informasi terutama pada
mereka yang kaya informasi, yang mungkin
tidak dapat menangani informasi berjumlah
besar yang mereka terima.
(4) Teknologi komunikasi mutakhir akan
menciptakan kesenjangan informasi baru
sebelum kesenjangan informasi lama teratasi.
Ketika akses terhadap teknologi komunikasi
tidak setara, kesenjangan akan semakin besar.
Straubar dan LaRose (2000: 423-424)
mencontohkan mereka yang berasal dari kelas atas
memiliki akses terhadap media cetak karena mereka
dapat menyediakannya secara lebih mudah dan
mereka memiliki waktu luang yang lebih banyak.
Kesenjangan dalam akses terhadap komputer dan
pelayanan jaringan akan semakin meluas antara
kelompok penghasilan dan tingkat pendidikan
(fenomena ini disebut oleh beberapa ahli sebagai
digital divide).
3.4 Menanggulangi Kesenjangan
Informasi
Bagaimana mengatasi ketidakseimbangan
informasi di antara negara inti dan negara pinggiran? Terdapat tiga pendekatan utama untuk mengatasi hal itu. Pendekatan pertama menekankan
kesalingtergantungan bangsa-bangsa di dunia dan
M EDIATOR, Vol. 5
No.2
2004
menyarankan agar negara-negara pinggiran lebih
menyatukan diri ke dalam ekonomi internasional.
Dengan demikian mereka akan memiliki akses terhadap keuangan, pengetahuan, dan teknologi melalui
transfer internasional. Masalah yang dihadapi adalah pendekatan ini malah seringkali meningkatkan
ketergantungan negara-negara miskin serta tidak
menolong mereka untuk memecahkan masalah
dasar untuk mengatasi kemiskinan.
Pendekatan kedua menyarankan agar negaranegara pinggiran memiliki posisi tawar yang lebih
tinggi. Mereka dapat menekan negara-negara inti
untuk mendapatkan skema perdagangan yang
lebih adil, transfer teknologi yang lebih murah, dan
jalan keluar bagi penyelesaian utang. Posisi tawar
dapat dikembangkan melalui kerjasama negara
pinggiran dalam mengelola sumberdaya dan
energi. Masalah yang dihadapi dengan cara seperti
ini adalah negara inti dapat saja melakukan
perubahan seperti mengganti tenaga manusia
dengan robot serta memproduksi bahan-bahan
sintetis untuk mengganti bahan mentah.
Pendekatan yang ketiga menyarankan untuk
menggantungkan kepada kemampuan diri sendiri
secara radikal. Langkah ini menyarankan agar
negara-negara miskin memisahkan diri dari jaringan
internasional. Karena langkah-langkah individual
dari negara pinggiran tampaknya mengalami
kegagalan, maka pendekatan ini harus dilakukan
secara bersama-sama oleh negara pinggiran, yang
memerlukan kepemimpinan yang visioner serta
mereka sanggup mengatasi konflik-konflik di antara
mereka sendiri.
Di akhir tulisannya, Hamelink menyatakan
keyakinannya bahwa ketidakseimbangan informasi
di antara negara inti dan negara pinggiran
merupakan bagian krusial dari hubungan
internasional setelah negara-negara lepas dari
penjajahan. Karena banyak kepentingan terlibat
dalam hal ini, maka pemecahannya masih
memerlukan waktu yang panjang.
Menurut Dahlan, untuk menanggulangi
kesenjangan informasi, baik untuk konteks global
maupun nasional, dalam kerangka pemerataan
pembangunan, memerlukan upaya yang
mencakup:
1.
Pemerataan akses. Yaitu, pemerataan akses bagi
seluruh masyarakat terhadap semua pelayanan
dan jaringan dengan memperhatikan prinsip
equitable, affordable, dan obiquotous.
2. Pemerataan teknologi. Yaitu, pemerataan
penguasaan teknologi informasi bukan saja
bagi yang bergerak dalam komunikasi,
melainkan di semua bidang melalui program
pendidikan sejak sekolah dasar.
3. Pemerataan prasarana komunikasi dan
informasi. Yaitu, membangun prasarana
komunikasi secara merata karena prasarana
komunikasi menentukan struktur sosial
ekonomi masyarakat.
4. Pemerataan kesempatan berkomunikasi. Yaitu,
peran serta aktif dari masyarakat dalam proses
komunikasi, termasuk menata keberadaan media seperti televisi sehingga terpencar ke
daerah yang akan memberikan kesempatan
berkomunikasi yang lebih luas untuk
masyarakat setempat (1997:16-19).
Adapun komisi khusus Unesco yang
ditugaskan untuk merumuskan tata informasi dan
komunikasi dunia baru, memberikan berbagai saran untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi di
antara negara maju dan negara berkembang. Saran-saran itu, antara lain, perlunya bantuan teknik
untuk mengembangkan infrastruktur komunikasi,
bantuan material, dan dana, serta alih teknologi
(McBride, 1980:205).
4. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat dibuat
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi yang telah, sedang, dan akan terjadi
di masa yang akan datang merupakan ikhtiar
manusia yang sangat berguna untuk mencapai
kesejahteraan hidupnya. Pada dasarnya,
teknologi komunikasi dan informasi yang
ditemukan oleh manusia bersifat netral.
Artinya, penemuan-penemuan itu tidak
dikhususkan untuk orang-orang tertentu.
2. Namun demikian, teknologi komunikasi
menyebar secara tidak merata di masyarakat,
Anne Ratnasari. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Kesenjangan Informasi
335
3.
yang bias terhadap tingkat sosial ekonomi,
tingkat pendidikan, dan lain-lain. Mereka yang
telah memiliki informasi ternyata lebih siap
untuk menggunakan teknologi informasi baru
dibandingkan dengan mereka yang miskin
informasi. Hal ini menimbulkan kesenjangan
informasi, baik pada tingkat makro (seperti
kesenjangan antar negara, kesenjangan antar
masyarakat dalam negara,), maupun pada
tingkat mikro (individu).
Terdapat berbagai cara untuk mengatasi
kesenjangan informasi. Pada tingkat hubungan
internasional sekurangnya dikemukakan tiga
model penyelesaian dari yang bersifat
akomodatif, sampai model yang konfrontatif.
Sejauh ini model-model untuk mengatasi
ketimpangan informasi antarnegara belum
terlihat efektif. Adapun untuk menanggulangi
kesenjangan informasi di tingkat mikro, salah
satunya adalah dengan pemerataan akses
informasi baik berbentuk penyediaan
perangkat keras dan lunak maupun melalui
berbagai kekbijaksanaan untuk membantu
kaum yang lemah dan miskin. M
Currid, Cheyl. 1993. Electronic Invasion. New York:
Brady Publishing.
Dahlan, Alwi. 1997. “Pemerataan Informasi,
Komunikasi dan Pembangunan.” Pidato
Pengukuhan Guru Besar Tetap Ilmu
Komunikasi, Fisip, UI, Jakarta.
______. 2000. “Globalisasi Informasi dan
Komunikasi.” Program Pascasarjana Fisip, UI
Jakarta.
Downing, John.,et al. 1990. Questioning The Media: A Critical Introduction. Newbury Park,
California: Sage Publication, Inc.
Grant, August E., dan Jennifer Harman Meados.
1995. Communication Technology. Update,
4th Edition. Boston: Focal Press.
McBride, Sean., ed. 1983. Aneka Suara Satu
Dunia. Terj. Anonim. Jakarta: PN Balai Pustaka
UNESCO.
Naisbitt, John., dan Patricia Aburdene.1990.
Megatrend 2000. Penerjemah F.X Budiyanto.
Jakarta: Binarupa Aksara.
Purbo, Onno W. 1999. Teknologi Warung Internet.
Jakarta: Elex Media Komputindo.
Daftar Pustaka
Alisjahbana, Iskandar. 1985. “Beberapa Pemikiran
Mengenai Dampak dan Kecenderungan
Revolusi Komunikasi/Revolusi Industri II di
Dunia dan di Indonesia,” dalam As Ahmad
dan S.S. Ecip. (Ed). Komuikasi
Pembangunan. Jakarta: Sinar Harapan.
Biagi, Shirley. 1996. Media Impact: An Introduction to Mass Media. Belmont: Wadworth Publishing Company.
Rogers, Everett M. 1986. Communication Technology: The New Media In Society. New York:
The Free Press.
Severin, Werner J., James W. Tankard, Jr. 1997.
Communication Theories: Origins, Methods,
and Uses in the Mass Media. Fourth Edition.
New York: Longman.
Straubhar, Joseph., Robert LaRose. 2000. Media
Now, Communication Media in the
Informatin Age. Second Edition. Belmont:
Wadworth.
M M M
336
M EDIATOR, Vol. 5
No.2
2004
Download