modul - Blog UB - Universitas Brawijaya

advertisement
FORUM STUDI MAHASISWA PENGEMBANG PENALARAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL
KURIKULUM PENDIDIKAN ANGGOTA (KPA)
FORDIMAPELAR UB
2009
GEDUNG SEKBER UKM JL.MT.HARYONO KAV.5
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
0
DAFTAR ISI
1.


2.


3.












4.



5.
6.
7.
8.



9.
KESADARAN LINGKUNGAN INTERNAL ........................................................... 2
Sejarah FORDIMAPELAR ................................................................................. 2
Pengenalan AD/ART, GBPK, KPA ..................................................................... 3
KESADARAN LINGKUNGAN EKSTERNAL ......................................................... 5
Profil Lembaga Mahasiswa UB ........................................................................ 5
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus ............................................................ 7
PENALARAN ................................................................................................... 19
Sejarah Logika ................................................................................................ 19
Pengantar Logika ............................................................................................ 20
Pembagian Logika .......................................................................................... 23
Pikiran ............................................................................................................ 24
Asas Berpikir .................................................................................................. 25
Kata ................................................................................................................ 26
Universal dan Partial ...................................................................................... 28
Bermakna ....................................................................................................... 29
Abstrak dan Konkret ....................................................................................... 31
Ambigu ........................................................................................................... 32
Konsepsi dan Penilaian ................................................................................... 34
Kesesatan/Falaccia ......................................................................................... 35
PSIKOLOGI ...................................................................................................... 45
Psikologi Sosial ............................................................................................... 49
Teori Perkembangan Psikososial .................................................................... 62
Kognisi ........................................................................................................... 72
SOSIOLOGI ..................................................................................................... 75
IDEOLOGI ....................................................................................................... 80
POLITIK .......................................................................................................... 97
PENDIDIKAN .................................................................................................. 139
Andragogi ....................................................................................................... 142
Psikologi Pendidikan ....................................................................................... 146
Filsafat Pendidikan ......................................................................................... 150
FILSAFAT ........................................................................................................ 153
1
I KESADARAN LINGKUNGAN INTERNAL
I.
SEJARAH BERDIRINYA FORDIMAPELAR
Berawal dari keinginan para aktivis yang ada di universitas Brawijaya pada awal tahun
80-an antara lain, Sundjojo, Anang Susapto, Edward, Andrek Prana, Gatot Suryanto,
R.Soendoro RZ., Yudiono, Lukman, Dwi Putro Mudjiwidodo, Heru PHS., Ibnu Tricahyo,
Saiful Usman, Sudi Harono, Dwi Agung Nugroho, dan H. B. Marwoto, untuk memiliki
suatu forum dimana mereka dapat berkumpul dan berdiskusi maka mereka sepakat
berbentuk suatu lembaga. Pada tanggal 6 April 1981 diadakan rapat yang dihadiri
oleh mahasiswa seperti yang tersebut di atas dan tercetus ide konsep untuk
membentuk UNIT AKTIVITAS DISKUSI. Setelah berkonsultasi dengan Masyur Effendi
SH. (PR III pada waktu itu) dan Ir. Syahri Muhammad selaku Koordinator Bidang Penal
aran BKK UNIBRAW saat itu ide diwujudkan. Pada tanggal 8 April 1981 dibuka
pendaftaran untuk menjadi anggota UNIT AKTIVITAS DISKUSI. Pada tanggal 13 April
1981, diadakan suatu forum untuk seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya yang
mana di forum tersebut dikemukakan pemikiran dasar tentang keinginan membentuk
suatu aktivitas diskusi. Dalam forum tersebut telah dicapai suatu keputusan bersama
yaitu, dibentuknya suatu team komisi yang bertugas mencari format dan membuat
Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga bagi lembaga kemahasiswaan yang
akan dibentuk tersebut. Setelah sebelumnya disetujui, memang diperlukan adanya
lembaga kemahasiswaan yang dapat menampung mereka yang ingin berkumpul dan
berdiskusi. Maka pada tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir
FORDIMAPELAR UNIBRAW.
Pada tanggal 4 Mei 1981 diadakan Musyawarah Anggota bagi anggota Unit Aktivitas
Diskusi yang telah terdaftar, untuk membahas AD/ART. Pada Musyawarah Anggota
itu dapat disetujui beberapa poin yang menentukan perkembangan selanjutnya,
yaitu:
1. Mensahkan rancangan AD/ART yang telah disusun
2. Menetapkan nama unit aktivitas diskusi yaitu, Lembaga Studi Mahasiswa
Pengembang Penalaran (LEDI MAPELAR UNIBRAW)
3. Menunjuk Sundjojo sebagai ketua LEDIMAPELAR
Prof. Drs. Harsono selaku Rektor Unibraw saat itu kurang berkenan dengan nama
LEDI MAPELAR karena, mengandung konotasi yang akan rancu dengan lembaga
penelitian, lembaga bantuan hukum, dll. Yang notabene merupakan perangkat
Universitas Brawijaya. Oleh karena itu disarankan untuk mengganti kata ‘lembaga’
menjadi ‘forum’. Walaupun secara dejure FORDIMAPELAR telah berdiri secara resmi
telah diakui oleh pihak universitas, baru tanggal 4 Juni 1983 melalui SK Ketua BKK
Unibraw No. 004/SK/BKK/1983.
2
II.
PENGENALAN AD/ART, GBPK, DAN KPA
1. AD/ART FORDIMAPELAR UNIBRAW
Anggaran Dasar Fordimapelar Unibraw memuat 3 hal yaitu, pembukaan, batang
tubuh, dan penjelasan. AD/ART yang telah diperbaharui ditetapkan di Malang pada
tanggal 24 Juli 1991. Lembaga Fordimapelar Unibraw yang berbentuk LINGKAR INSAN
PENALARAN mempunyai arti sebagai berikut :
a. Warna putih melambangkan sikap FORDIMAPELAR yang obyektif dan tidak berpihak
b. Warna kuning melambangkan sikap jujur serta selalu berpijak pada realita dan
kebenaran
c. Warna biru tua melambangkan sikap ilmu pengetahuan sebagai dasar penalaran
FORDIMAPELAR
d. Warna biru muda melambangkan bahwa anggota FORDIMAPELAR generasi muda
yang mempunyai idealisme
e. Lingkaran terbuka dengan mata panah melambangkan sikap FORDIMAPELAR yang
selalu terbuka dan tanggap terhadap setiap permasalahan yang kemudian disaring
dan dianalisa sesuai dengan kapasitas pikir manusia
f. Lingkaran berlapis 3 dengan warna kuning diapit dengan warna biru tua
melambangkan FORDIMAPELAR dalam menganalisa suatu masalah selalu berpijak
pada realita dan ilmu pengetahuan serta dijiwai oleh idealisme, kebenaran, dan
kejujuran
g. Kepala manusia dengan otak terbuka melambangkan pikiran sebagai ujung tombak
penalaran dan selalu terbuka untuk menerima masukan baru
h. Kepala menghadap ke kanan dengan mulut terbuka melambangkan FORDIMAPELAR
selalu berlandaskan pada kejujuran dan berani mengungkapkan kebenaran
Semboyan FORDIMAPELAR adalah “Nalar Hasta Terusing Budi” yang menggambarkan
alam pikiran dan hakekat kegiatan FORDIMAPELAR sebagai kelompok studi yang
didukung oleh kreativitas individu, pada hakekatnya mempunyai kegiatan intelektual
yang menganalisa kebenaran tetapi juga terpanggil untuk menunaikan kewajiban
3
sosialnya. “Nalar Hasta Terusing Budi” juga berarti bahwa bagi FORDIMAPELAR
Universitas Brawijaya, bernalar, berkarya, menganalisa pikiran adalah kelanjutan dari
budi yang arif untuk memebentuk manusia seutuhnya sesuai dengan hakekat
manusia. “Nalar Hasta Terusing Budi” menurut rumusan candra sengkala adalah
‘nalar’ berwatak 1, ‘hasta’ berwatak 8, ‘terusing’ berwatak 9, dan ‘budi’ berwatak 1.
Sebagaimana lazimnya sengkala dibaca terbalik, 1981 tahun berdirinya
FORDIMAPELAR Universitas Brawijaya.
Sebagai catatan, terhadap pembukaan AD/ART tidak dapat dilakukan peninjauan
dan/atau perubahan karena, pembukaan AD/ART mengandung jiwa, hakekat, dan
falsafah FORDIMAPELAR sejak didirikannya.
2. GARIS-GARIS BESAR PROGRAM KERJA (GBPK)
Garis-garis Besar Program Kerja adalah suatu tata aturan yang menjadi
arahan/pedoman dalam membuat kebijakan/program kerja organisasi. GBPK ini
berlaku selama lima tahun dan sesudahnya dapat ditinjau kembali untuk disesuaikan
dengan perkembangan/keadaan organisasi dan perubahan-perubahan yang terjadi di
sekitarnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perkembangan/kemajuan organisasi harus
melalui suatu proses yang bertahap, terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Selain itu, dengan ditinjaunya GBPK setiap 2 tahun sekali, maka organisasi (baca :
FORDIMAPELAR) dapat dengan segera menyesuaikan diri dengan lingkungannya
sehingga eksistensi/kelangsungan hidup organisasi tetap terpelihara. Dalam GBPK
yang masih berlaku, setiap periode kepengurusan ditekankan untuk menitikberatkan
program kerjanya pada pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan
sumber daya organisasi.
3. KURIKULUM PEMBINAAN ANGGOTA (KPA)
KPA dibuat berdasarkan amanat yang secara implisit terdapat dalam AD/ART. KPA
adalah suatu susunan/rencana yang dijadikan pedoman dalam pembinaan anggota.
Sedangkan pembinaan anggota adalah segala usaha pembinaan yang dilakukan
secara sadar, terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan dan
mengembangkan kemampuan yang sesuai dengan tujuan organisasi yang meliputi
kegiatan pokok dan kegiatan penunjang.
MANIFESTO PENAL RAN
BAHWA SESUNGGUHNYA FORDI MAPELAR UNIVERSITAS BRAWIJAYA DALAM SEGALA
GERAK DAN LANGKAHNYA SELALU DIJIWAI OLEH SEMANGAT PENALARAN YANG
MENGARAH PADA PENGEJAWANTAHAN IDEALISME KEMAHASISWAAN DALAM
MEMENUHI TANGGUNGJAWAB SOSIALNYA. DAN DARI PADA ITU, SEMANGAT
PENALARAN ADALAH SUATU JIWA YANG TERPANCAR, DARI KEJERNIHAN HATI
NURANI YANG PALING DALAM DENGAN DASAR PEMIKIRAN YANG BENAR SERTA
DIWUJUDKAN DALAM KETEGUHAN SIKAP DAN KEBERANIAN MENYUARAKAN
KEBENARAN.
4
II KESADARAN LINGKUNGAN EKSTERNAL
PROFIL LEMBAGA MAHASISWA UB
Lembaga Kedaulatan Mahasiswa Universitas Brawijaya (LKM-UB)
LKM-UB merupakan sebuah wadah mahasiswa untuk mengimplementasikan peran
mahasiswa dan memberikan sumbangsih dalam turut memajukan bangsa dan negara
Indonesia. Lembaga ini didirikan tanggal 27 September 1998 dan merupakan hasil
mengintegrasikan dirinya dengan seluruh gerakan perubahan yang memperjuangkan
kebenaran dengan secara konsisten pada nilai-nilai religius, kedaulatan,
intelektualitas dan demokrasi. Lembaga ini terdiri atas
(a) lembagalembaga di tingkat Universitas :
Kongres Mahasiswa Universitas Brawijaya, KM-UB, Dewan Perwakilan Mahasiswa,
DPM, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, EM-UB dan Unit Aktivitas
Mahasiswa (Unitas)
(b) lembaga di tingkat Fakultas :
Musyawarah Umum Mahasiswa Fakultas, MUMF; Eksekutif Mahasiswa Fakultas,
EMF; Himpunan Mahasiswa Jurusan/Program , HMJ/HMP; Lembaga Otonomi
Fakultas, LOF dan
(c) Dewan Pers Kampus, DPM baik tingkat Universitas dan tingkat Fakultas.
Lembaga-lembaga di tingkat Universitas
KM-UB merupakan gabungan dari DPM dan utusan-utusan lembaga yang ada di
lingkungan universitas. KM-UB memegang amanah kedaulatan untuk merumuskan
haluan-haluan paramadigmatis ( Garis-garis besar haluan, GBH ), sedangkan sebagai
DPM merupakan legislatif yang mempunyai fungsi kontrol terhadap GBH LKM-UB.
Sementara EM-UB sebagai lembaga tinggi yang dipimpin oleh seorang Presiden
mempunyai kewajiban untuk melaksanakan ketetapan KM UB serta mewakili
mahasiswa Universitas Brawijaya dalam berbagai aktifitas mahasiswa, baik yang
sifatnya internal maupun eksternal. Presiden atau DPM dipilih melalui Pemilwa Raya
(1 tahunan ) dan dalam melaksanakan tugasnya Presiden dibantu Dewan Menteri dan
mempunyai tata hubungan koordinatif dengan UKM dan DPK UNITAS merupakan
lembaga yang berperan sebagai unit pelaksana kegiatan ekstrakurikuler di tingkat
Universitas. Unit aktivitas ini terbagi dalam lima karakter kerja, meliputi :
(1) Minat Penalaran : FORMASI, FORDI MAPELAR, UAPKM, IAAS
(2) Minat Olah Raga : IMPALA, Bola Basket, Bola Voli, Tenis lapangan, Bulutangkis,
Sepakbola, Tai Kwondo, Tapak Suci, Inkai, Perisai Diri, Merpati Putih, Setia Hati
Teratai, Persaudaraan Tenaga Dalam, Persatuan Kempo Indonesia,
(3) Minat Kesenian : Paduan Suara, Karawitan, Tari, Band, Teater
(4) Minat Khusus : Menwa, Pramuka, KSR, IMPALA
(5) Minat Kesejahteraan Mahasiswa : UAKI, UAKK, UAKKat, UAKHD, Budhis
Lembaga-lembaga tingkat Fakultas
MUMF merupakan forum tertinggi di tingkat Fakultas yang memiliki
kewenanganuntuk membuat GBH mahasiswa Fakultas. Forum ini juga berkewajiban
untuk membentuk badan tingkat Fakultas sesuai dengan kebutuhan masing-masing
fakultas. Lembaga EMF berkewajiban untuk melaksanakan hasil MUMF yang dalam
melaksanakan kegiatan internalnya memiliki hak ontonomi, sedangkan kegiatan
5
eksternal yang membawa nama Universitas harus berkoordinasi dengan EM-UB.
Lembaga EMF juga dipimpin oleh seorang Presiden hasil Pewilwa tingkat fakultas.
HMJ/HMP merupakan lembaga eksekutif tingkat jurusan atau program. Lembaga ini
memiliki jalur koordinasi dengan EMF. Sedangkan tanggungjawab kegiatan HMJ/HMP
dilakukan kepada pimpinan Fakultas. LOF sebagai unit pelaksana teknis tingkat
fakultas yang memiliki hubungan koordinatif dengan EMF.
Dewan Pers Kampus
DPK merupakan lembaga pelaksana teknis pers di lingkungan kampus, baik tingkat
Universitas maupun tingkat Fakultas yang bertugas turut mengontrol ”student
goverment”
Struktur Organisasi Lembaga Kemahasiswaan Universitas Brawijaya
KETERANGAN :
1.
: Hubungan instruktif/ derektif
2.
: Hubungan Konsultatif / koordinatif
6
ORGANISASI MAHASISWA EKSTRA KAMPUS (OMEK)
Organisasi kemahasiswaan yang bersifat ekstra kampus pada umumnya terkait
dengan aliran politik atau ideologi tertentu seperti: IMM, HMI, PMII, KAMMI, FMN,
GMNI, GMKI, PMKRI, Mapancas, Gema Pembebasan dan sebagainya. Ada pula
organisasi kemahasiswaan ekstra kampus yang didasarkan pada ikatan asal daerah,
misalnya Himpunan Mahasiswa Jawa Timur (HIMAJATI), Ikatan Mahasiswa Pelajar
Padang Lawas-Sumatera Barat (IMAPPALAS SUMBAR) atau Keluarga Pelajar dan
Mahasiswa Kalimantan Timur (KPMKT). Untuk organisasi kemahasiswaan yang
bersifat kedaerahan umumnya sekretariatnya sekaligus merupakan Asrama
Mahasiswa asal daerah yang bersangkutan. Meskipun tidak semua mahasiswa asal
daerah tersebut merupakan anggota organisasi atau tinggal di Asrama Mahasiswa
daerah yang bersangkutan.
1. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)
Dampak dari penjajahan Belanda, yang menyebabkan dunia pendidikan dan
kemahasiswaan di Indonesia telah tercekoki oleh unsur-unsur dan sosok pendidikan
Barat yang mengarah pada sekulerisme dengan meninggalkan agama, di setiap aspek
kehidupan umat manusia. Kenyataan memang menunjukkan bahwa kehidupan
kemahasiswaan berada dalam krisis keseimbangan, dimana iman dan ilmu tidak ada
keserasian. Demikian alam dan situasi kehidupan pendidikan di Indonesia sebelum
kehadiran HMI. Di pihak lain sebelum lahirnya HMI telah berdiri Perserikatan
Mahasiswa Islam (PSI) yang dalam anggaran dasarnya dengan tegas menyatakan
bahwa organisasi ini berdasarkan non agama dan non politik, dasar pertama tentu
sangat bertentangan dengan Islam. Sedang dasar kedua, non politik memang pada
prinsipnya semua organisasi kemahasiswaan itu non politik. Di Surakarta terdapat
Serikat Mahasiswa Islam (SMI) yang tokoh-tokohnya gembong PKI. Kedua organisasi
kemahasiswaan itu setali tiga uang, tak mengerti peluang terhadap perkembangan
agama. Pemrakarsa berdirinya HMI pada waktu itu membayangkan bagaimana
kehidupan mahasiswa-mahasiswa itu kelak sebagai calon sarajana dan pemimpin
umat yang asama sekali tidak mendapat pengajaran agama Islam di bangku
perkulaiahan. Betapapun kelak senadainya para intelektual yang semata-mata
mengutamakan ilmu pengetahuan tanpa didasari oleh ilmu agama sama sekali, akan
tampil sebagai tokoh masyarakat dan pemimpin bangsa. Pengalaman dan fakta
menunjukkan dan sebagai saksi sejarah siapa yang dapat menguasai generasi muda
dan cendekiawan pasti akan dapat menguasai masa depan bangsa.
Dari problem ini, sejak Nopember 1945 timbullah gagasan di benak seorang
mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (UII), yang selama ini selalu mengikuti dan
memperhatikan segala aspek dan aneka ragam kehidupan mahasiswa dan perguruan
tinggi khususnya, maupun perjalanan sejarah rakyat dan bangsa Indonesia umumnya,
untuk mendirikan organisasi mahasiswa sebagai alat perjuangan untuk mencapai
7
cita-citanya. Tersebutlah nama Lafran Pane, ia adalah Ketua III SEMA STI bidang
kemahasiswaan. Untuk mendirikan organisasi mahasiswa, lafran Pane tidak bekerja
sambil lalu saja, ia meminta saran dan pemikirn Rektor STI, yaitu Prof. A. Kahar
Muzakir. Dan pendukung idenya itu bukan sembarangan orang diikutsertakan, ia
amat selektif sekali. Mengingat kebutuhan yang mendesak, Lafran Pane berjihad,
mencari jalan keluar dari ketidakmengertian beberapa pihak tentang niat baiknya.
Yaitu, bahwa organisasi ini memang harus didirikan. Memang sudah takdir Allah,
disaat bapak Husaen Yahya yang memberi jam kuliah ilmu tafsir, memenuhi
permintaan Lafran Pane, waktunya digunakan untuk rapat. Dan pada saat itu pula
pada tanggal 5 Februari 1947 bertepatan dengan tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H,
secara formal semua peserta rapat menyetujui didirikannya organisasi mahasiswa
Islam, yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bertujuan :
1. Mempertahankan negara RI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia
2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam
2. PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu elemen
mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan Indonesia ke depan menjadi lebih
baik. PMII berdiri tanggal 17 April 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun
1960-an yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan
sosial politik di Indonesia. Pendirian PMII dimotori oleh kalangan muda NU (meskipun
di kemudian hari dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII
menyatakan sikap independen dari lembaga NU). Di antara pendirinya adalah
Mahbub Djunaidi dan Subhan ZE (seorang jurnalis sekaligus politikus legendaris).
Latar belakang pembentukan PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan
dalam menjawab tantangan zaman. Berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk
mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama'ah.
Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya
PMII:



Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.
Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
Pisahnya NU dari Masyumi.
8


Tidak enjoynya lagi mahasiswa NU yang tergabung di HMI karena tidak
terakomodasinya dan terpinggirkannya mahasiswa NU.
Kedekatan HMI dengan salah satu parpol yang ada (Masyumi) yang nota bene HMI
adalah underbouw-nya.
Hal-hal tersebut diatas menimbulkan kegelisahan dan keinginan yang kuat dikalangan
intelektual-intelektual muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai wahana
penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi mahasiswa-mahsiswa yang berkultur
NU. Disamping itu juga ada hasrat yang kuat dari kalangan mahsiswa NU untuk
mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Organisasi-organisasi pendahulu
Di Jakarta pada bulan Desember 1955, berdirilah Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama
(IMANU) yang dipelopori oleh Wa'il Harits Sugianto.Sedangkan di Surakarta berdiri
KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama) yang dipelopori oleh Mustahal
Ahmad. Namun keberadaan kedua organisasi mahasiswa tersebut tidak direstui
bahkan ditentang oleh Pimpinan Pusat IPNU dan PBNU dengan alasan IPNU baru saja
berdiri dua tahun sebelumnya yakni tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. IPNU
punya kekhawatiran jika IMANU dan KMNU akan memperlemah eksistensi IPNU.
Gagasan pendirian organisasi mahasiswa NU muncul kembali pada Muktamar II IPNU
di Pekalongan (1-5 Januari 1957). Gagasan ini pun kembali ditentang karena dianggap
akan menjadi pesaing bagi IPNU. Sebagai langkah kompromis atas pertentangan
tersebut, maka pada muktamar III IPNU di Cirebon (27-31 Desember 1958) dibentuk
Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang diketuai oleh Isma'il Makki (Yogyakarta).
Namun dalam perjalanannya antara IPNU dan Departemen PT-nya selalu terjadi
ketimpangan dalam pelaksanaan program organisasi. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan cara pandang yang diterapkan oleh mahasiswa dan dengan pelajar yang
menjadi pimpinan pusat IPNU. Disamping itu para mahasiswa pun tidak bebas dalam
melakukan sikap politik karena selalu diawasi oleh PP IPNU.
Deklarasi
Pada tanggal 14-16 April 1960 diadakan musyawarah mahasiswa NU yang bertempat
di Sekolah Mu’amalat NU Wonokromo, Surabaya. Peserta musyawarah adalah
perwakilan mahasiswa NU dari Jakarta, Bandung, Semarang,Surakarta, Yogyakarta,
Surabaya, dan Makassar, serta perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung
dibawah NU. Pada saat tu diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan. Dari
Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny. Dari
Bandung dan Surakarta mengusulkan nama PMII. Selanjutnya nama PMII yang
menjadi kesepakatan. Namun kemudian kembali dipersoalkan kepanjangan dari ‘P’
apakah perhimpunan atau persatuan. Akhirnya disepakati huruf "P" merupakan
singkatan dari Pergerakan sehingga PMII menjadi “Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia”. Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran
Rumah Tangga organisasi serta memilih dan menetapkan sahabat Mahbub Djunaidi
sebagai ketua umum, M. Khalid Mawardi sebagai wakil ketua, dan M. Said Budairy
sebagai sekretaris umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk
menyusun kelengkapan kepengurusan PB PMII. Adapun PMII dideklarasikan secara
9
resmi pada tanggal 17 April 1960 masehi atau bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal
1379 Hijriyah.
Independensi PMII
Pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII terikat
dengan segala garis kebijaksanaan partai induknya, NU. PMII merupakan
perpanjangan tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Selanjutnya
sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi
partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue
back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan
melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli
1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari
organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres
tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII.
Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari faham Ahlussunnah
wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII
dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang merah
antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan organisasi
lain. Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya
secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan
background, pada hakekat keduanya susah untuk direnggangkan.
3. PERHIMPUNAN MAHASISWA KATOLIK REPUBLIK INDONESIA (PMKRI)
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merupakan organisasi
kemasyarakatan (ormas) katolik yang berfungsi sebagai organisasi pembinaan dan
organisasi perjuangan mahasiswa katolik (juga bukan katolik) yang berazaskan
Pancasila, dijiwai kekatolikan, dan disemangati kemahasiswaan. Ditetapkan berdiri
pada 25 Mei 1947. Namun demikian cikal bakal organisasi ini telah lahir jauh
sebelumnya yakni saat berdirinya KSV Sanctus Bellarminus Batavia (didirikan di
Jakarta, 10 November 1928), KSV Sanctus Thomas Aquinas Bandung (didirikan di
Bandung, 14 Desember 1947), dan KSV Sanctus Lucas Surabaya (didirikan di
Surabaya, 12 Desember 1948).
Sejarah PMKRI
Adapun PMKRI Yogyakarta yang pertama kali diketuai oleh St. Munadjat
Danusaputro, didirikan pada tanggal 25 Mei 1947.
Fusi 11 Juni 1950 (Konggres I)
Keinginan Federasi KSV untuk berfusi dengan Perserikatan Mahasiswa Katolik
Republik Indonesia Yogyakarta saat itu, karena pada pertemuan antar KSV di
10
penghujung 1949, dihasilkan keputusan bersama bahwa “….Kita bukan hanya
mahasiswa Katolik, tetapi juga mahasiswa Katolik Indonesia ..." Federasi akhirnya
mengutus Gan Keng Soei dan Ouw Jong Peng Koen untuk mengadakan pertemuan
dengan moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta. Setelah mendapat saran dan
berkat dari Vikaris Apostolik Batavia yang pro Indonesia, yaitu Mgr. Peter J Willekens
SJ, utusan Federasi KSV (kecuali Ouw Jong Peng Koen yang batal hadir karena sakit)
bertemu dengan moderator pada tanggal 18 Oktober 1950. Pertemuan dengan Ketua
PMKRI Yogyakarta saat itu, yaitu PK Haryasudirja, bersama stafnya berlangsung
sehari kemudian. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut intinya wakil federasi KSV
yaitu Gan Keng Soei mengajak dan membahas keinginan ”Mengapa kita tidak
berhimpun saja dalam satu wadah organisasi nasional mahasiswa Katolik Indonesia?
Toh selain sebagai mahasiswa Katolik, kita semua adalah mahasiswa Katolik
Indonesia. “ Maksud Federasi KSV ini mendapat tanggapan positif moderator dan
pimpinan PMKRI Yogyakarta. Dan dari pertemuan itu dihasilkan dua keputusan lain
yaitu :


Setelah pertemuan tersebut, masing-masing organisasi harus mengadakan kongres
untuk membahas rencana fusi.
Kongres Gabungan antara Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta akan berlangsung di
Yogyakarta tanggal 9 Juni 1951.
4. IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM)
IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) ialah organisasi mahasiswa Islam di
Indonesia yang memiliki hubungan struktural dengan organisasi Muhammadiyah
dengan kedudukan sebagai organisasi otonom. Memiliki tujuan terbentuknya
akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan
Muhammadiyah. Keberadaan IMM di perguruan tinggi Muhammadiyah telah diatur
secara jelas dalam qoidah pada bab 10 pasal 39 ayat 3: "Organisasi Mahasiswa yang
ada di dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah Senat Mahasiswa dan Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)”. Sedangkan di kampus prguruan tinggi lainnya,
IMM bergerak dengan status organisasi ekstra-kampus — sama seperti Himpunan
Mahasiswa Islam maupun KAMMI — dengan anggota para mahasiswa yang
sebelumnya pernah bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM) didirikan di Yogyakarta pada tangal 14 Maret 1964,
bertepatan dengan tanggal 29 Syawwal 1384 H. Dibandingkan dengan organisasi
otonom lainya di Muhammadiyah, IMM paling belakangan dibentuknya. Organisasi
otonom lainnya seperti Nasyiatul `Aisyiyah (NA) didirikan pada tanggal 16 Mei 1931
(28 Dzulhijjah 1349 H); Pemuda Muhammadiyah dibentuk pada tanggal 2 Mei 1932
(25 Dzulhijjah 1350 H); dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM, yang namanya
11
diganti menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah [IRM]) didirikan pada tanggal 18 Juli
1961 (5 Shaffar 1381 H). Kelahiran IMM dan keberadaannya hingga sekarang cukup
sarat dengan sejarah yang melatarbelakangi, mewarnai, dan sekaligus dijalaninya.
Dalam konteks kehidupan umat dan bangsa, dinamika gerakan Muhammadiyah dan
organisasi otonomnya, serta kehidupan organisasi-organisasi mahasiswa yang sudah
ada, bisa dikatakan IMM memiliki sejarahnya sendiri yang unik. Hal ini karena sejarah
kelahiran IMM tidak luput dari beragam penilaian dan pengakuan yang berbeda dan
tidak jarang ada yang menyudutkannya dari pihak-pihak tertentu. Pandangan yang
tidak apresiatif terhadap IMM ini berkaitan dengan aktivitas dan keterlibatan IMM
dalam pergolakan sejarah bangsa Indonesia pada pertengahan tahun 1960-an; serta
menyangkut keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada waktu itu. Ketika
IMM dibentuk secara resmi, itu bertepatan dengan masa-masanya HMI yang sedang
gencar dirusuhi oleh PKI dan CGMI serta terancam mau dibubarkan oleh rezim
kekuasaan Soekarno. Sehingga kemudian muncul anggapan dan persepsi yang keliru
bahwa IMM didirikan adalah untuk menampung dan mewadahi anggota HMI jika
dibubarkan. Logikanya dalam mispersepsi ini, karena HMI tidak jadi dibubarkan, maka
IMM tidak perlu didirikan. Anggapan dan klaim yang mengatakan bahwa IMM lahir
karena HMI akan dibubarkan, menurut Noor Chozin Agham, adalah keliru dan kurang
cerdas dalam memberi interpretasi terhadap fakta dan data sejarah. Justru
sebaliknya, salah satu faktor historis kelahiran IMM adalah untuk membantu
eksistensi HMI dan turut mempertahankannya dari rongrongan PKI yang
menginginkannya untuk dibubarkan.
5. KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA (KAMMI)
KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) adalah sebuah organisasi
mahasiswa muslim yang lahir di era reformasi yaitu tepatnya tanggal 29 Maret 1998
di Malang.
Latar Belakang Berdirinya KAMMI
KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis
mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum
Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan
di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Meskipun orientasinya adalah NON
profit, namun kami jelaskan kepada segenap masyarakat bahwa kammi selalu
menjalin link sehingga bisa berkembang dan mendapatkan dana dimana-mana. Acara
ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia
12
. Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktifis
dakwah kampus. KAMMI lahir pada ahad tanggal 29 Maret 1998 PK.13.00 wib atau
bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah
Deklarasi Malang. KAMMI lahir didasari sebuah keprihatinan yang mendalam
terhadap krisis nasional tahun 1998 yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan
terutama pada sektor kepemimpinan telah membangkitkan kepekaan para pimpinan
aktivis dakwah kampus di seluruh Indonesia yang saat itu berkumpul di UMM Malang.
Pemilihan Nama
Pemilihan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang kemudian disingkat
KAMMI mengandung makna atau memiliki konsekwensi pada beberapa hal yaitu :




KAMMI adalah sebuah kekuatan terorganisir yang menghimpun berbagai elemen
Mahasiswa Muslim baik perorangan maupun lembaga yang sepakat bekerja dalam
format bersama KAMMI.
KAMMI adalah sebuah gerakan yang berorientasi kepada aksi real dan sistematis
yang dilandasi gagasan konsepsional yang matang mengenai reformasi dan
pembentukan masyarakat Islami (berperadaban).
Kekuatan inti KAMMI adalah kalangan mahasiswa pada berbagai stratanya yang
memiliki komitmen perjuangan keislaman dan kebangsaan yang jelas dan benar.
Visi gerakan KAMMI dilandasi pemahaman akan realitas bangsa Indonesia dengan
berbagai kemajemukannya, sehingga KAMMI akan bekerja untuk kebaikan dan
kemajuan bersama rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia.
6. GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI)
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (disingkat GMNI) adalah sebuah organisasi
mahasiswa di Indonesia. Organisasi ini adalah sebuah gerakan mahasiswa yang
berlandaskan ajaran Marhaenisme. GMNI dibentuk pada tanggal 22 Maret 1954
sebagai hasil gabungan dari tiga organisasi mahasiwa, masing-masing Gerakan
Mahasiswa Marhenis, Gerakan Mahasiswa Merdeka, dan Gerakan Mahasiswa
Demokrat Indonesia.
13
Sejarah
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil
proses peleburan tiga organisasi mahasiswa yang berasaskan Marhaenisme Ajaran
Bung Karno. Ketiga organisasi itu ialah:



Gerakan Mahasiswa Marhaenis, berpusat di Jogjakarta
Gerakan Mahasiswa Merdeka, berpusat di Surabaya
Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia, berpusat di Jakarta.
Proses peleburan
Proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa mulai tampak, ketika pada awal bulan
September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan
pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief
kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo. Dalam satu
rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan
Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi yang
seasas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan
kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat sambutan positif.
Deklarasi
Setelah melalui serangkaian pertemuan penjajagan, maka pada Rapat Bersama antar
ketiga Pimpinan Organisasi Mahasiswa tadi, yang diselenggarakan di rumah dinas
Walikota Jakarta Raya (Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai sejumlah
kesepakatan antara lain:




Setuju untuk melakukan fusi
Wadah bersama hasil peleburan tiga organisasi bernama "Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia" (GMNI).
Asas organisasi adalah: Marhaenisme ajaran Bung Karno.
Sepakat mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya, dalam jangka waktu enam bulan
setelah pertemuan ini.
7. GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA (GMKI)
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia adalah organisasi kemahasiswaan yang
didirikan pada tanggal 9 Februari 1950. Namun Christelijke Studenten Vereeniging op
Java (CSV) yang menjadi cikal bakal GMKI telah ada jauh sebelumnya dan berdiri sejak
28 Desember 1932 di Kaliurang.
14
Sejarah
Berdirinya CSV tidak terpisahkan dengan peranan Ir. C.L Van Doorn, seorang ahli
kehutanan yang mempelajari aspek sosial dan ekonomi khususnya ilmu pertanian
dan kemudian memperoleh doktor di bidang ekonomi serta sarjana di bidang teologi.
Dengan adanya mahasiswa di Indonesia dan bersamaan dengan berdirinya School tot
Opleiding van Indishe Artsen (STOVIA) tahun 1910-1924 di Batavia. Selain itu, berdiri
juga Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya (1913), Sekolah Teknik
di Bandung (1920), Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor (1914) dan Sekolah Hakim
Tinggi di Jakarta (1924). Pada tahun 1924 terbentuklah Batavia CSV dan inilah cabang
CSV yang pertama. Kurun waktu 1925-1927 para mahasiswa di Surabaya yang
tergabung dalam Jong Indie aktif melakukan penelaahan Alkitab. Kelompok ini
bersama Batavia CSV mengadakan Konferensi di Kaliurang pada bulan Desember
1932. Pembicara-pembicara utama kegiatan tersebut adalah Dr. J. Leimena, Ir. C.L
van Doorn dan Dr. Hendrik Kraemer. Jumlah anggota CSV op Java dalam kurun waktu
1930-an sekitar 90 orang. Cabang-cabangnya baru ada di kota-kota perguruan tinggi
di Jawa (Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya). Walaupun kecil dan lemah namun
keberadaan CSV op Java telah berhasil meletakkan dasar bagi pembinaan mahasiswa
Kristen yang akan dilanjutkan GMKI di kemudian hari. Sejumlah mahasiswa
kedokteran dan hukum di Jakarta memutuskan untuk membentuk suatu organisasi
mahasiswa Kristen. Organisasi itu untuk menggantikan CSV op Java yang sudah tidak
ada. Dalam pertemuan di STT Jakarta tahun 1945, dibentuk Perhimpunan Mahasiswa
Kristen Indonesia (PMKI) dengan maksud keberadaannya sebagai Pengurus Pusat
PMKI. Dengan demikian Dr. J. Leimena dipilih sebagai Ketua Umum dan Dr. O.E
Engelen sebagai Sekretaris Jenderal. Tetapi karena Leimena sibuk dengan tugas-tugas
sebagai Menteri Muda Kesehatan, tugas-tugasnya diserahkan kepada Dr. Engelen.
Kegiatan-kegiatan PMKI tidak jauh berbeda dengan CSV op Java dengan Penelahaan
Alkitab salah satu inti kegiatannya. Keanggotaan PMKI sebagian besar adalah
mahasiswa yang memihak pada perjuangan kemerdekaan. Terbentuklah PMKI di
Bandung, Bogor, Surabaya dan Yogyakarta (setelah UGM berdiri) segera menyusul.
Tak lama setelah PMKI lahir, awal tahun 1946 muncul organisasi baru dengan
menggunakan CSV di Bogor, Bandung dan Surabaya dengan “CSV yang baru” dan
tidak menjadi tandingan PMKI. Kesamaan kedua organisasi ini adalah merealisasikan
persekutuan iman dalam Yesus Kristus dan menjadi saksi Kristus dalam dunia
mahasiswa. Masuknya Jepang ke Indonesia mengakhiri eksistensi CSV op Java secara
struktural dan organisatoris. Pemerintah pendudukan Jepang melarang sama semua
kegiatan-kegiatan organisasi yang dibentuk pada zaman Belanda. Secara prakatis CSV
op Java tidak ada lagi sejak tahun 1942. Sepanjang sejarahnya, CSV op Java dipimpin
oleh Ketua Umumnya Dr. J. Leimena (1932-1936) serta Mr. Khouw (1936-1939).
Sedangkan sekretaris (full time) dijalankan Ir. C.L Van Doorn (1932-1936).
Dengan berakhirnya pertikaian Indonesia dengan Belanda, tahun 1949 berakhir pula
“pertentangan” antara PMKI dengan CSV baru tersebut. Tanggal 9 Februari 1950 di
kediaman Dr. J. Leimena di Jl. Teuku Umar No. 36 Jakarta, wakil-wakil PMKI dan CSV
baru hadir dalam pertemuan tersebut. Maka lahirlah kesepakatan yang menyatakan
bahwa PMKI dan CSV baru untuk meleburkan diri dalam suatu organisasi yang
dinamakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan mengangkat Dr. J.
15
Leimena sebagai Ketua Umum hingga diadakan kongres. Pertemuan tersebut
merupakan pertemuan sangat penting dan suatu moment awal perjuangan
mahasiswa Kristen yang tergabung dalam GMKI. GMKI merupakan tempat persiapan
kader dengan kompetensi dalam iman, ilmu, kepemimpinan dan kepekaan sosial
yang dapat diaplikasikan dalam tiga medan pelayanannya yakni, gereja, perguruan
tinggi dan masyarakat.
8. GERAKAN MAHASISWA PEMBEBASAN (GEMA PEMBEBASAN)
Gerakan Mahasiswa Pembebasan atau disingkat Gema Pembebasan adalah sebuah
organisasi mahasiswa ekstra kampus yang bergerak di kalangan mahasiswa untuk
menjadikan Ideologi Islam sebagai arus utama pergerakan mahasiswa di Indonesia.
Organisasi ini adalah bagian dari gerakan Hizbut Tahrir Indonesia. Dalam setiap
kegiatannya selalu menyerukan untuk diterapkannya Islam secara menyeluruh dalam
setiap aspek kehidupan, mengingat Islam (sebagaimana dipahami para aktivis
organisasi ini) adalah sebuah ideologi pembebasan yang membebaskan manusia dari
segala bentuk dominasi ideologi lain di luar Islam (Kapitalisme, Liberalisme,
Komunisme, Sosialisme, dan lain-lain).
Latar belakang
Mahasiswa dengan idealismenya memiliki potensi yang cukup besar dalam proses
perubahan sosial dan politik. Akan tetapi selama ini mahasiswa banyak diwarnai oleh
berbagai gerakan yang tidak atau kurang berani dalam mengedepankan ideologi
Islam. ( lihat: Islamisme). Oleh karena itu diperlukan sebuah jaringan dakwah kampus
se-Indonesia untuk mengkampanyekan pemikiran-pemikiran Islam dan solusi-solusi
Islam atas segala permasalahan serta untuk melahirkan kader-kader dakwah
mahasiswa yang suatu saat akan terjun ke masyarakat. Jaringan inilah yang kemudian
diberi nama Gerakan Mahasiswa Pembebasan atau disingkat Gema Pembebasan.
Pembentukan
Gema Pembebasan resmi dibentuk pada tanggal 28 Februari 2004 di Auditorium
Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Setelah terbentuk, organisasi ini terus
menyebar di Indonesia mulai tingkat pusat hingga perguruan tinggi dengan
membentuk struktur baku Pengurus Pusat (PP), Pengurus Wilayah (PW), Pengurus
Daerah (PD) dan Pengurus Komisariat (PK).
16
9. FRONT MAHASISWA NASIONAL (FMN)
Sejarah
Front Mahasiswa Nasional (FMN) resmi berdiri pada founding kongres 18 Mei 2003 di
Jakarta. menegaskan bahwa telah lahir sebuah organisasi massa mahasiswa nasional
bernama FMN. Sebuah lompatan kualitatif atas perjalanan dan kerja keras seluruh
anggota yang membangun organisasi mulai dari tingkat kampus, kota hingga
kemudian menjadi organisasi dengan skala nasional. Kongres Pendirian yang dihadiri
oleh utusan-utusan dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Ditingkat internasional,
FMN menjadi anggota Internasional League of People Struggle (ILPS) yang
mengusung platform "lawan Penjajahan dan Perang Imperialisme", dengan jumlah
keanggotaan lebih dari 200 dari 40-an Negara di seluruh dunia, ILPS pada bulan
November 2007 menyelenggarakan siding ke-3. selain tergabung dalam ILPS, FMN
juga menjadi anggota Asia Student Association (ASA), sebuah organisasi mahsiswa
yang menghimpun organisasi-organisasi mahasiswa di tingkat Asia-Pasifik, ASA dalam
2007 juga telah melaksanakan Konfrensi Luar Biasa untuk bertransformasi menjadi
Asia Pacific Student and Youth Association (APSYA).
Garis Politik FMN
Indonesia adalah negeri setengah jajahan dan setengah feudal, meskipun telah
memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945. hal ini dikarenakan masih
adanya sisa-sisa feodalisme di Indonesia. Lepas dari penjajahan fisik dan langsung
diganti dengan penjajahan secara halus melalui jerat utang dari Negara-negara
imperialisme. Selain itu, masa feodalisme Indonesia belum belum bias musnah
sepenuhnya dari tuan tanah lama dalam bentuk raja-raja kecil menjadi tuan tanah
baru dalam bentuk perusahaan dan atau perseorangan. Dengan melihat kenyatan
objektif tersebut, maka kontradiksi pokok masyarakat Indonesia atau yang menjadi
musuh utama seluruh rakyat Indonesia untuk mewujudkan cita-cita perjuangan
demokrasi dan kemerdekaan nasional adalah imperialisme, feodalisme dan kapitalis
birokrat.
Program Perjuangan FMN
"Memperjuangkan Sistem Pendidikan Nasional yang Ilmiah, Demokratis dan
Mengabdi Kepada Rakyat" adalah program perjuangan FMN. Pendidikan yang ilmiah
bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk memajukan
tingkat pemikiran sekaligus kebudayaan rakyat dan bangsa Indonesia sesuai dengan
kenyataan kongkrit rakyat Indonesia. Pendidikan yang demokratis bertujuan agar
seluruh rakyat Indonesia mampu mengakses dan menjangkau pendidikan. Sedangkan
pendidikan yang mengabdi kepada rakyat Indonesia adalah bertujuan memberi
memberi kontribusi langsung untuk memajukan kebudayaan nasional dan tenaga
produktif rakyat Indonesia. Sehingga pendidikan kemudian tidak lagi mengabdi
kepada imperialisme dan kaki tangannya. Untuk mewujudkan semua itu, FMN
17
mengkongkritkan melalui usaha-usaha perjuangan yang akan diperjuangkan melalui
organisasi. Usaha-usaha perjuangan ini adalah tuntutan perjuangan jangka pendek
yang ditujukan untuk pemenuhan hak-hak demokratis pemuda mahasiswa Indonesia.
10. MAHASISWA PANCASILA (MAPANCAS)
Sejarah Mapancas
Mahasiswa Pancasila (Mapancas) didirikan pada tanggal 28 Oktober 1958 di Jakarta.
Semangat awal pendirian organisasi ini Untuk menghimpun dan membentuk insan
yang berjiwa Pancasila guna mencapai masyarakat adil, makmur spirituil dan materiil
dalam negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tujuan Mapancas
Organisasi Mahasiswa Pancasila bertujuan menghayati, mengamalkan dan
mengamankan Pancasila yang sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 dalam dunia
kemahasiswaan khususnya dan dalam masyarakat Indonesia pada umumnya. Untuk
menghimpun dan membentuk insan yang berjiwa Pancasila guna mencapai
masyarakat adil, makmur spirituil dan materiil dalam negara Kesatuan Republik
Indonesia.
6 (ENAM) AGENDA REFORMASI 1998
1. Penegakan Supremasi Hukum
2. Pemberantasan KKN
3. Pengadilan mantan Presiden Soeharto dan kroninya
4. Amandemen Konstitusi
5. Pencabutan Dwifungsi TNI/Polri
6. Pemberian Otonomi Daerah seluas- luasnya
18
III PENALARAN
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi)
yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan akan
terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang
diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang
sebelumnya tidak diketahui, proses inilah yang disebut menalar. Metode menalar
dibagi menjadi dua jenis yaitu,
Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan
bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang
diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah
bentuk dari metode berpikir induktif.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang
umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus.
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya
diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk
bahasa, sehingga wujud penalaran akan berupa argumen. Argumenlah yang dapat
menentukan kebenaran konklusi dari premis. Tidak ada ada proposisi tanpa
pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan
terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari
proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan
untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari
rangkaian pengertian.
1. Sejarah Logika
Kita mulai dengan ulasan singkat sejarah logika yang diurutkan berdasarkan
perkembangan serta tokoh-tokoh pelakunya pada setiap masanya, artikel ini
ditujukan khusus kepada penguasaan sejarahnya saja. Ada tiga tahapan yang dilalui
oleh kata ‘logika’ sampai kemudian dikemas menjadi ilmu. Tahap pertama adalah
tentang ‘kata’ logika itu sendiri, kapankah kata itu pertama sekali di pakai sebagai
istilah? Dari bukunya Bertrand Russell “History of Western Philosophy” diceritakan
bahwa kata ‘logika’ itu pertama sekali digunakan oleh Zeno dari Citium. Setelah itu
kemudian diketahui juga bahwa ternyata Plato dan Socrates juga sudah banyak
19
melibatkan logika dalam banyak pembahasannya, tapi mereka (Plato dan
Socrates,red) belum atau tidak sampai kepada tahap memformalkan logika sebagai
ilmu. Logika pertama sekali diperkenalkan sebagai ilmu oleh Aristoteles dan
kemudian di sebarkan kepada pengikutnya sampai kemudian masuk ke dunia islam.
Menurut bukunya Richard B.Angel “Reasoning and Logic”, Aristoteles sendiri
meninggalkan enam buah buku khusus yang membicarakan ilmu logika ini yang oleh
murid-muridnya diberi nama “Organon”. Keenam buku tersebut adalah Categoriae
(mengenai pengertian-pengertian), De Interpretatiae (Mengenai keputusankeputusan) Analitica Priora (mengenai silogisme) Analitica Posteriora ( Mengenai
pembuktian) Topika (mengenai berdebat) dan De Sophisticis Elenchis (mengenai
kesalahan-kesalahan berpikir).
Adalah Theoprostus yang kemudian mengembangkan ilmu logika Aristoteles itu dan
sekaligus menyebarkannya sampai dikemudian hari masuk kedalam dunia islam.
Didunia islam, ilmu logika ini tidak diterima begitu saja dengan mulus, tapi direspon
dengan berbagai macam pendapat oleh tokoh-tokoh islam terkemuka. Ibnu Salih dan
Imam Nawawi misalnya, mereka sangat menentang penggunaan ilmu logika.
Penentangan mereka itu bukan hanya sebatas menentang tidak setuju atau tidak
sepakat tapi jauh lebih keras dari itu. Penentangan mereka sampai kepada
mengharamkan ilmu logika untuk digunakan didalam dunia islam. Namun demikian,
sebagian besar dari mereka (Jumhur Ulama) membolehkan mempelajari ilmu logika
dengan syarat orang-orang yang akan mempelajarinya sudah kokoh iman dan cukup
akalnya. Selain penolakan yang tegas serupa diatas, diantara mereka ada juga yang
malah menganjurkannya, seperti Al-Gazali, Al-Farabi , Al-Kindi dan lain-lain. Al-Kindi
bukan hanya menganjurkan tapi malah mempelajari dan sekaligus menyelidiki logika
yunani secara khusus, bahkan Al-Farabi melakukannya lebih mendalam lagi dari apa
yang sudah dilakukan oleh Al-Kindi. Logika pada perkembanganya kemudian sempat
mengalami masa dekadensi yang panjang. Logika bahkan dianggap sudah tidak
bernilai dan dangkal sekali, barulah pada abad ke XIII sampai dengan Abad XV tampil
beberapa tokoh lain seperti Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lullus dan
Wilhelm Ocham yang coba mengangkat kembali ilmu logika sebagai salah satu ilmu
yang penting untuk disejajarkan dengan ilmu-ilmu penting lainnya.
Pada abad ke XVII dan XVIII muncul lagi tokoh-tokoh berikutnya seperti Francis Bacon
membuat buku “Novum Organum Scientiarum” yang bahas-annya antara lain
tentang metode induksi yang terkenal itu. Imanuel Kant dengan Logika
Transendental- nya dan W. Leibnitz dengan Logika Aljabar. Kemudian berikutnya
muncullah tokoh-tokoh pencetus dan sekaligus orang yang paling dianggap berjasa
dalam pengembangan ilmu logika modern, seperti Bertrand Russell, George Boole
dan G.Frege. Dari tangan-tangan mereka inilah kemudian ilmu logika sampai kepada
kita.
2. PENGANTAR LOGIKA
Tidak logis…Tidak masuk akal, kita sering mendengar ucapan seperti itu dalam
kehidupan sehari-hari. Sebenarnya, Apakah yang disebut dengan tidak logis itu? Dan
apa pula yang dimaksud dengan tidak masuk akal itu? Kemudian, Apakah semua hal
bisa dijelaskan dengan logika? Mari kita lihat…
20
Dalam bahasa sehari-hari, kita sering mendengar ucapan seperti ini; Alasannya tidak
logis, berita itu tidak logis…, sekilas bagi kita seperti sudah maklum (mengetahui)
dengan persis, apa maksud dari kata-kata itu. Tapi coba kita check kembali, apakah
kita betul-betul sudah mengetahui apa maksud dari kata-kata tersebut. ‘Logis‘ yang
dimaksud dalam kata-kata tersebut adalah ‘logika‘ , jadi apakah logika itu? Logika
berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal
pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika
disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu
pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan
teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan
kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan
ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan
masuk akal.
Logika dalam definisi verbal, terdapat berbagai macam definisi tentangnya, namun
hampir semua tukang definisi menyimpulkan, Logika adalah ‘Aturan Berpikir Benar’.
Apakah aturan berpikir yang benar itu? Aturan berpikir yang benar adalah inti dari
kajian logika. Logika bisa digunakan sebagai alat untuk menguji, apakah berpikir
seperti ini sudah benar? Ataukah berpikir yang seperti itu yang benar? Dalam perkara
menguji aturan berpikir, peran logika persis seperti alat ukur (Meteran,red) untuk si
tukang jahit, Berapa ukuran baju si fulan? Berapa cm ? Atau seperti bandulan
pengukur tegak lurus sebuah bangunan, bagi tukang bangunan, dengan bandulan ini
tukang bangunan bisa mengukur, Apakah dinding yang ia bangun sudah tegak lurus
atau belum. Karena ‘tugas’ logika menangani hal-hal yang bersifat ‘aturan’ , maka
logika juga bisa didefinisikan sebagai : ‘ Aturan yang mematok hukum-hukum berpikir
untuk membedakan penalaran yang benar dari penalaran yang salah’. Dari tugas itu,
sekarang sudah menjadi lebih jelas bahwa logika tidaklah bertugas untuk mengukur
dalamnya isi hati seseorang dan luasnya makna beberapa ayat-ayat dalam kitab suci
yang abstrak. Karena tugas logika adalah untuk mengukur cara berpikir yang benar,
kemudian timbul pertanyaan, apakah kalau cara berpikirnya sudah benar, logika
mampu juga untuk mengukur isi dari pikiran itu? Untuk menjawab itu, mari kita lihat
tugas dan pekerjaan logika lebih kedalam lagi. Apakah pekerjaan logika? Logika
bekerja dengan penalaran. Kalau begitu sekarang kita harus tahu dulu, bagaimana
penalaran (fikr) bekerja. Cara kerja penalaran adalah mengubah hal-hal yang belum
diketahui menjadi pengetahuan baru. Yaitu melalui proses berpikir yang bertolak dari
sebuah target yang sudah diketahui menuju serangkaian premis yang diketahui untuk
menghasilkan pengetahuan baru. Untuk mengerjakan proses ini, pikiran akan
membuat bentuk (form) dan tata tertib tertentu, sehingga pikiran bisa bekerja
dengan aturan yang baku. Jadi sekarang kita sudah tahu, bahwa pekerjaan logika
adalah untuk mengendalikan gerak pikiran saat sedang berpikir supaya tetap
mengikuti form (bentuk) yang sudah distandarisasi. Bagaimana logika mengendalikan
penalaran (fikr) ini? Mengendalikan, bisa diartikan sebagai mengatur. Logika
mengatur gerak pikiran saat sedang berpikir dengan mengendalikan kemungkinan
benar dan kemungkinan salah. Argumentasi didalam pikiran kita bagaikan sebuah
bangunan. Yang disebut dengan sebuah bangunan adalah jika bagian-bagian
pengikatnya yang berupa batako, semen, besi dan bahan-bahan bangunan lainnya
diambil dari bahan pendukung yang benar sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Apabila salah satu dari bahan bangunan ini diambil dari materi yang salah, maka akan
21
berakibat langsung dengan keutuhan bangunan tersebut. Bagaimana proses berpikir
benar yang mengikuti bentuk (form) itu dikerjakan oleh logika? Kita ambil contoh
yang susunan bentuk (form) kata yang Benar TAPI isinya KELIRU
A : Setiap Manusia suka mencuri
B : Alexander adalah manusia
Kesimpulan : Alexander suka mencuri
Bentuk (form) diatas adalah BETUL, tapi ISI nya menjadi salah, coba kita teliti lagi :
A : Setiap manusia suka mencuri = Bentuk BENAR, tapi isi salah (tidak mungkin setiap
manusia suka mencuri)
B : Alexander adalah manusia = Bentuk dan isi BENAR
Kesimpulan : Alexander suka mencuri = Bentuk (form) nya benar tapi ISI nya menjadi
salah ketika menyimpulkan Alexander suka mencuri.
Contoh lain :
Kata 1. : Alexander adalah manusia
Kata 2 : Alexander adalah anggota STUDY CLUB
Kesimpulan : Manusia adalah anggota STUDY CLUB
Coba kita perhatikan :
Alexander adalah Manusia = BETUL
Alexander adalah anggota STUDY CLUB = BETUL
Tapi menjadi KACAU ketika disimpulkan menjadi : Manusia adalah anggota STUDY CLUB.
Kekacauan terjadi karena menarik kesimpulan dari 2 objek yang berbeda. Kalimatkalimat yang seperti inilah yang sering kita dengar sebagai sebuah pernyataan yang
tidak logis dan tidak masuk akal.
Logika sebagai ilmu pengetahuan
Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah
berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah
berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.
Logika sebagai cabang filsafat
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat
dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika lahir bersama-sama dengan
lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta
pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah
pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. Logika digunakan
22
untuk melakukan pembuktian. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang
filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.
Kegunaan logika








Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional,
kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan
mandiri.
Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asasasas sistematis
Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir,
kekeliruan serta kesesatan.
Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana
tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
3. PEMBAGIAN LOGIKA
Logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan, tergantung darimana
kita mau meninjaunya. Sistematisasi Logika pada umumnya dapat dibagi menjadi
tiga, pertama dilihat dari segi kualitasnya, kedua dari segi metodenya dan yang ketiga
dari segi objeknya. Dalam artikel ini akan kita bicarakan yang pertama dulu, yaitu
Logika dilihat dari segi kualitasnya. Dari segi kualitasnya Logika dibagi menjadi dua,
pertama adalah Logika naturalis dan yang kedua adalah Logika ilmiah. Logika
naturalis adalah sebuah kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan
manusia. Pertanyaan seperti “apakah cinta mempunyai Logika nya sendiri?” adalah
termasuk kedalam tinjauan logika naturalis, yaitu sebuah kemampuan alami dari
seseorang untuk menggunakan Logika tanpa perlu mempelajari ilmu Logika terlebih
dahulu. Khabar baiknya untuk kita semua adalah, bahwa akal manusia memang
dirancang untuk mampu berlogika secara spontan sesuai dengan hukum-hukum
Logika dasar. Ini bisa dibuktikan dengan kemampuan semua orang untuk
membedakan antara satu benda dengan benda yang lain itu adalah berbeda.
Betapapun rendahnya tingkat intelejensi seseorang, dia secara alami akan tahu
bahwa sesuatu itu adalah dirinya sendiri. A adalah A bukan B, C, D ,E atau pun yang
lainnya. Hal yang diketahui secara alami ini dalam ilmu Logika disebut sebagai Logika
naturalis yang memenuhi kaidah dasar Logika yaitu asas pemikiran ketentuan nomor
1, yakni asas identitas. Kita bisa saksikan disekitar kita aneka pernyataan dan
pertanyaan yang pada dasarnya membicarakan Logika, mereka melakukan antraksi
Logika naturalis dengan bobot dan cara yang berbeda-beda. Kemampuan mengolah
Logika naturalis yang dimiliki oleh setiap manusia berbeda-beda tergantung tingkat
intelejensi yang dimilikinya. Seorang orator politik bisa mengutarakan pernyataanpernyataannya secara logis dan baik walaupun dia pada dasarnya belum pernah
mempelajari ilmu Logika secara khusus. Seorang biduan bisa bernyanyi mengutip
istilah-istilah Logika dengan baik walaupun dia sebenarnya belum tahu hubungan23
bubungan Logika. Namun sering juga kita temui banyak diantara mereka tidak bisa
berbuat banyak ketika terlibat dalam kesulitan dan tekanan yang tinggi dalam
berpikir, sering kesulitan dalam memecahkan persoalan itu dilakukan dengan
mengikuti naluri alami yang lainnya saja, yaitu seperti mengikuti kecenderungan
pribadi, kecenderungan kelompok, kecenderungan golongan, pengaruh teman,
pengaruh kepentingan, dan sugesti-sugesti yang lainnya.
Tiba pada persoalan serupa diatas, maka terlihat jelas bahwa logika naturalis pada
suatu titik akan mengalami jalan buntu. Untuk mengatasi kebuntuan berpikir seperti
itulah maka orang-orang tempoe doeleo kemudian menyusun suatu aturan main
dalam berlogika, yaitu sebuah aturan yang menyusun rumus-rumus, patokanpatokan dan hukum-hukum berpikir yang benar. Rumus-rumusan itu selanjutnya
disebut dengan Logika ilmiah (logika Artifiliasi). Logika ilmiah bertugas untuk
memperhalus, mempertajam serta menunjukkan jalan pikiran agar akal dapat
bekerja lebih teliti, efisien , mudah dan aman. Sekarang mari kita lihat penggolongan
yang lainnya. Penggolongan yang lainnya adalah dari segi metodeloginya. Dari segi
metodenya Logika dapat dibagi menjadi dua, yaitu Logika tradisional dan logika
modern. Logika tradisional adalah Logika Aristoteles dan semua logikawan setelahnya
yang mengikuti sistem Logika aristoteles. Logika modern mulai tumbuh dan
berkembang setelah masa Aristoteles yang ditandai dengan adanya perubahanperubahan penting, diantaranya adalah ketika diperkenalkannya metode baru
semacam aljabar (Ars Magna) oleh Raymundus Lullus pada abad XIII. Sejak
pengenalan itu, akhirnya sampai juga kepada kita nama-nama besar lainnya seperti,
Roger Bacon, Francis Bacon, Rene Descartes sampai dengan Goorge Boole dan
Bertrand Russell sebagai tokoh logika modern. Dilihat dari segi objeknya, Logika
dapat dibagi menjadi logika formal dan Logika material. Logika formal bicara
mengenai hukum-hukum, patokan-patokan dan rumus-rumus berpikir benar.
Sedangkan logika material lebih konsentrasi kepada metode induktifnya, yaitu
meneliti atau mempelajari dasar-dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan. Ia
menilai hasil kerja logika formal dan menguji benar tidaknya dengan kenyataan
empiris. Dengan demikian maka sekarang semakin jelas bagi kita, bahwa logika
sebenarnya selalu ada disekitar kita, baik kita mengetahuinya ataupun tidak. Logika
bukan hanya se-onggokan ilmu yang jauh diseberang sana, tapi dia ada disini,
disekitar kita.
4. PIKIRAN
Pikiran merupakan juru kunci didalam berlogika, sebenarnya apakah yang disebut
dengan pikiran itu? Apakah semua orang sudah menyadari bahwa pikiran bisa
bekerja sendiri secara otomatis dan juga bisa bekerja dengan tuntunan si pemilik
pikiran? Mari kita lihat…
Sebagaimana telah kita ketahui sebelumnya bahwa ilmu logika pada dasarnya adalah
untuk mempelajari hukum-hukum, patokan-patokan dan rumus-rumus berpikir.
Sekarang yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah semua pemikiran yang sering
kita kemukakan dan pemikiran seseorang yang disampaikan kepada kita bisa dinilai
logis atau tidak? Membicarakan hal serupa ini serasa gampang-gampang susah,
gampang karena bagi kebanyakan kita yang disebut berpikir ya berpikir aja. Tinggal
ngikuti naluri saja, apa yang kita rasakan, apa yang kita yakini, bagaimana pikiran
24
kelompok kita, bagaimana kecenderungan pribadi kita, bagaimana kepribadian dan
sugesti-sugesti apa yang kita dapatkan, maka itulah yang akan kita sampaikan sebagai
buah pikiran. Namun demikian, diluar itu masih ada juga dari sebagian kita yang
mengemukakan buah pikirannya dengan mengikuti luapan emosi seperti caci maki,
kata pujian atau pernyataan keheranan dan kekaguman. Membicarakan pikiran juga
bisa menjadi susah jika kita harus menilai hasil buah pikiran yang disampaikan itu,
apakah sudah benar atau salah? Sudah bertujuan “baik” atau “jahat” , bertujuan
mengatakan fakta apa adanya atau hanya sekedar ingin memutar balikkan fakta,
bertujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi dan kelompok atau untuk tujuan
kebenaran dan lain-lain.
Bagaimana cara kita untuk mengetahui apa yang disampaikan seseorang dalam buah
pikirannya adalah merupakan tugas ilmu logika untuk mengukurnya. Ilmu Logika akan
menyelediki, menyaring dan menilai buah pikiran seseorang dengan cara serius dan
terpelajar serta bertujuan mendapakan kebenaran terlepas dari segala kepentingan
perorangan dan kelompok. Logika akan merumuskan, menetapkan patokan-patokan
dan memberikan hukum-hukum yang harus ditaati agar manusia bisa berpikir benar,
efisien dan teratur. Sekarang yang menjadi perhatian kita adalah, bagaimana caranya
ilmu logika melakukan hal serupa diatas?
Logika melakukan hal serupa diatas bisa dengan dua cara, pertama dengan meneliti
logika formalnya, yaitu melakukan penelitian terhadap kaidah logikanya, hukumhukum logikanya dan patokan-patokan yang digunakan, apakah sudah benar atau
masih salah dalam menarik kesimpulan atau konklusinya. Kedua dengan melakukan
penelitian terhadap logika materialnya, apakah sudah ada persesuaian antara pikiran
yang diutarakan dengan kenyataan. Sampai disini ada perbedaan sedikit, apa yang
bisa dilakukan oleh ilmu logika material dengan apa yang bisa dilakukan oleh ilmu
spiritual semacam tawasuf. Bagi ilmu logika material, mengukur kebenaran buah
pikiran itu tidak lebih dari meneliti kesatuan (non kontradiksi) antara apa yang
diucapkan berdasarkan buah pikiran dengan apa yang bisa dilihat sebagai fakta.
Apakah buah pikiran sesuai dengan kenyataan atau tidak. Bagi logika, ucapan adalah
buah pikiran. Pikiran hanya bisa berbuah jika dia diucapkan melalui suara, ucapan,
tulisan atau isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan, karena itu ia adalah
perkataan juga. Jadi pikiran dan perkataan adalah identik, tidak berbeda satu sama
lain dan yang satu bukan tambahan bagi yang lainnya. Dan bagi logika, susunan katakata yang keluar melalui ucapan, isyarat dan tulisan seseorang adalah ‘data’ dan data
itu disebut sebagai premis-premis. Apakah premisnya sudah sesuai dengan
kenyataan yang ada atau tidak.
5. Asas Berpikir
Sebagian besar orang-orang sering menuangkan pikiran nya kedalam bentuk tulisan,
perkataan, obrolan, isyarat dan lain sebagainya. Pikiran yang disampaikan itu tentu
beraneka ragam adanya, ada yang kelihatannya bagus dan masuk akal, Ada juga yang
kelihatan bagus tapi tidak masuk akal, ada juga yang kelihatannya tidak bagus tapi
masuk akal dan ada juga yang tidak bagus dan tidak masuk akal pula. Sekarang
bagaimana cara kita untuk membedakan manakah buah pikiran yang bagus dan
manakah buah pikiran yang ngaco? Untuk membedakannya kita bisa menggunakan
atau menerapkan patokan-patokan dan hukum-hukum logika yang sudah ada.
25
Hukum, patokan dan rumus logika sering juga disebut dengan Asas Berpikir. Asas
sebagaimana kita ketahui adalah pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan
dimengerti, atau bisa juga disebut sebagai pondasinya sesuatu dimana sesuatu itu
bermula. Dalam hal ‘asas pemikiran’ , maka yang disebut dengan asas pemikiran
adalah pengetahuan dimana pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas
asas ini bagi kelurusan berpikir adalah mutlak, dan salah benar-nya suatu pemikiran
tergantung kepada salah benarnya asas-asas ini. Ia adalah dasar daripada
pengetahuan dan ilmu. Asas berpikir itu dapat dibedakan menjadi 3 asas,
Pertama, Asas Identitas (Principium Identitatis) yaitu sebuah patokan dasar yang paling
mendasar. Patokan yang dipatok oleh asas identitas mengatakan bahwa segala
sesuatu itu adalah dirinya sendiri BUKAN yang lainnya. Contohnya, Jika kita mengakui
bahwa sesuatu itu adalah A, maka ia adalah A, bukan B, C, D, ataupun yang lainnya.
Identititas A adalah A sendiri. Kalau kita mengakui nama pacar kita adalah Siti, maka
yang dimaksud dengan nama Siti adalah Siti yang menunjukkan identitas seseorang
yang menjadi pacar kita itu, bukan Siti yang lainnya dan bukan pula Siti yang isterinya
tetangga.
Kedua, Asas Non kontradiksi (Principium contradictoris) yaitu sebuah aturan dasar yang
mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu TIDAK MUNGKIN sekaligus sebagai
pengakuan terhadap sesuatu itu. Misal kita mengatakan benda itu BUKAN A, maka
tidak mungkin sekaligus kita mengakui benda itu adalah A sebab realitasnya A yang
kita maksud adalah A yang sama sebagaimana yang dimaksud oleh Asas Identitas,
bahwa segala sesuatu itu adalah dirinya sendiri. Dengan kata lain bisa dirumuskan
bahwa tidak mungkin dua kenyataan yang kontradiksi menyatu secara bersamaan
sekaligus dan simultan. Tidak mungkin menyatu realitas kontradiktif sekaligus pada
detik yg sama, tertawa sekaligus menangis, pergi sekaligus tidak pergi dan
seterusnya. Asas berpikir pada patokan ini mengatakan bahwa “Tidak ada pernyataan
yang sekaligus benar dan salah”
Ketiga, Asas penolakan kemungkinan ketiga (Principium exlusi tertii) yaitu sebuah
aturan mendasar yang mengatakan bahwa antara pengingkaran dan pengakuan
maka kebenaran terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran
merupakan pertentangan mutlak, karena itu disamping tidak mungkin benar
keduanya juga bisa dipastikan tidak mungkin salah keduanya. Asas ini menolak
kemungkinan ada kebenaran yang ketiga.
6. KATA
Sering dalam berdiskusi, kita kesulitan untuk bersepakat tentang suatu persoalan
yang sesungguhnya mudah. Persoalan-persoalan mudah tersebut sering menjadi
persoalan berlarut-larut karena dua hal, pertama karena persoalan teknis, yaitu
ketidak mampuan untuk membedakan satu kata dengan kata yang lainnya dan satu
pernyataan dengan pernyataan lainnya. Kedua karena persoalan non teknis, yaitu
keinginan untuk merpertahankan kecenderungan pribadi, kepentingan kelompok,
dan aneka egoisme yang lainnya. Sekarang kita lihat hal yang pertama dulu, yaitu
persoalan teknis tentang pengetahuan kita terhadap kata-kata. Didalam berlogika
kemampuan yang paling rendah yang harus dimiliki untuk meneliti kekeliruan
berpikir, silogisme, analogi, generalisasi dan dilema adalah kemampuan untuk
26
membedakan kata perkata. Permasalahan seperti ini sekilas kelihatannya sepele,
tapi apakah betul permasalahan seperti ini adalah persoalan yang mudah dan
sepele? Mari kita lihat…
Kita sering ngeyel bersikeras mempersamakan kata tidak gemuk dengan kurus, tidak
kaya dengan miskin, tidak terang dengan gelap, tidak pandai dengan bodoh dan
sebagainya. Penggunaan kata-kata seperti itu tidaklah benar dan logis, karena kata
tidak gemuk bukanlah berarti kurus, kata tidak gemuk untuk seseorang bisa saja
berarti orang tersebut adalah orang yang berbadan atletis dan ideal. Kata ‘tidak kaya’
tidak berarti seseorang itu miskin, tidak kaya bisa juga berarti orang yang mempunyai
uang yang cukup, namun tidak sampai berlebihan sehingga dia belum layak disebut
sebagai orang yang kaya. Tidak pandai juga tidak bisa disamakan dengan bodoh,
karena orang-orang yang sekolah dan kuliah sampai sarjana sekalipun banyak juga
yang disebut sebagai orang yang tidak pandai, tapi juga tidak bisa dikatagorikan
sebagai orang yang bodoh. Dalam ilmu logika, persoalan seperti ini diatur khusus
dalam sebuah bahasan, yakni tentang pengetahuan terhadap kata. Dalam masalah
ini dikenal tiga istilah teknis, yaitu kata positif, negatif dan privatif.
Kata positif adalah suatu kata yang mempunyai pengertian tentang penegasan ‘adanya’
sesuatu terhadap dirinya sendiri, seperti :
Gemuk - menunjukkan ’adanya’ daging.
Kaya - menunjukkan ’adanya’ harta.
Terang - menunjukkan ‘adanya’ cahaya.
Pandai - menunjukkan ‘adanya’ ilmu.
Kata Negatif adalah suatu kata yang yang diawali oleh kata-kata negasi seperti, tidak,
non, tak, dan bukan, contohnya seperti :
Non Gemuk –> diawali kata ‘Non’
Tidak Kaya –> diawali kata ‘ tidak’
Tak Terang –> diawali kata ‘tak’
Tak Pandai –> diawali kata ‘tak’.
Kata Privatif adalah suatu kata yang mempunyai pengertian tentang penegasan ‘tidak
adanya’ sesuatu terhadap dirinya sendiri, seperti :
Kurus –> menunjukkan ‘ tidak adanya’ daging.
Miskin –> menunjukkan ’ tidak adanya’ harta.
Gelap –> menunjukkan ‘ tidak adanya’ cahaya.
Bodoh –> menunjukkan ’ tidak adanya’ ilmu.
Dengan memperhatikan pengertian kata tersebut, maka sekarang makin jelaslah bagi
kita bahwa tidak gemuk tidak semakna dengan kurus, tidak kaya tidak semakna
27
dengan miskin, tidak pandai tidak semakna dengan bodoh dan tidak terang tidak
sama dengan gelap. Pertanyaannya, apakah semua kata negatif tidak sama dengan
kata privatif? Tentu saja tidak semua, ada juga beberapa kata negatif yang semakna
dengan kata privatif, misalnya tidak lulus yang semakna dengan gagal, tidak hidup
semakna dengan mati, tidak pergi semakna dengan ditempat dan lain sebagainya.
Sampai disini kita sudah tahu sedikit tentang kemampuan teknis dalam berdiskusi
dari sisi logika, berikutnya akan kita bahas kemampuan teknis yang lain, yaitu tentang
penggunaan kata universal dan partial.
7. UNIVERSAL DAN PARTIAL
Pembicaraan tentang perkara umum dan khusus ini akan lebih mudah jika kita
mengetahui terlebih dahulu tentang dua hal yang menjadi fokus dari permasalahan
suatu subjek, yaitu pertama konsepsi tentang zat (esensi) dan yang kedua
pendefinisian atau penilaian tentang sifat (aksidental). Pertama bicara tentang
esensi, konsepsi tentang esensi ini sendiri bisa dikelompokkan menjadi dua
kelompok, yang pertama konsepsi tentang zat yang bersifat umum (universal) dan
yang kedua adalah zat yang bersifat khusus (partikular).
Kita mulai dari esensi yang bersifat umum, pembicaran yang merujuk kepada hal-hal
yang bersifat universal atau umum lebih banyak dijumpai diranah ilmiah, dan
seyogyanya memang digunakan untuk pembicaraan-pembicaraan yang bersifat
ilmiah dan logis.
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan lingkaran?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan kehidupan?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan manusia?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan segitiga?
Misalnya, Apa yang dimaksud dengan gunung?
Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas disebut sebagai pertanyaan universal, karena
yang dimaksud dari sipenanya adalah tentang esensi dari masing-masing hal. Yang
mana kemudian akan menghasilkan kesimpulan umum berupa :
Lingkaran itu adalah…
Kehidupan itu adalah…
Manusia itu adalah…
Segitiga itu adalah..
Gunung itu adalah….
Pengertian umum yang dihasilkan dari pertanyaan tersebut akan menjadi acuan
standar karena bisa digunakan dimana saja dan oleh siapa saja secara umum bahkan
tanpa batas. Sehingga ketika orang bertanya apakah yang dimaksud dengan lingkaran
maka sipenanya akan mendapatkan jawaban yang sama dari semua orang yang
28
menjawab tanpa memandang perbedaan ras, negara, budaya dan agama sehingga
terjaga independensi hakikat (esensi) dari perkara yang ditanyakan.
Sekarang ke esensi yang bersifat khusus. Pembicaraan yang bersinggungan dengan
perihal-perihal khusus biasanya ditujukan kepada nama sesuatu dengan menunjuk
kepada benda/hal yang bersangkutan. Dan pembicaraan mengenai masalah ini
umumnya ditemukan dalam kesehari-harian kita, dan memang seyogyanya
pembicaraan mengenai sifat-sifat khusus ini digunakan dalam pembicaraan non
ilmiah. Misalnya, ketika kita bercerita dengan tetangga perihal Hasan anaknya pak
Husin. Kata ‘Hasan’ dan ‘Pak Husin’ adalah ‘esensi khusus’ tentang orang yang
bernama Hasan sebagai Anaknya Pak Husin. Esensi khusus disitu berbicara tentang
satu pribadi, yaitu Pribadi Hasan. Akan menjadi berbeda kalau kita bercerita kepada
tetangga, bahwa nama Hasan adalah nama yang baik untuk anak laki-laki. Pengertian
kata ‘Hasan’ disana akan berubah makna menjadi esensi yang bersifat umum
(universal) karena nama Hasan belum mengikat ke pribadi manapun.
Misalnya kata ‘berlari’. Kata ‘berlari’ adalah satu kata yang bersifat umum, tapi jika
dilekatkan kepada objek tertentu, Misalnya kucing itu pandai berlari maka maknanya
akan berubah menjadi esensi khusus , yaitu esensi tentang seekor kucing. Atau
dilekatkan kepada objek lain, Misalnya Irwansyah itu berlari Kencang…, maka
pengertian umum dari kata ‘berlari’ akan berubah menjadi pengertian khusus
tentang ‘seseorang yang bernama Irwansyah’ yang berlari kencang.
Membolak balik subjek dari kalimat yang akan dibicarakan seperti ini sering
menjebak si pembicara kedalam diskusi yang berputar-putar tanpa arah jika kita tidak
sempat memperhatikan bagaimana aturan penggunaan kata-kata khusus ataupun
yang umum. Pembolak-balikan bisa saja terjadi di kata ganti yang lainnya, misalnya
bicara ‘Kucing’. Kucing adalah esensi universal…, dimana-mana kucing ya kucing. Tapi
kalau kita akan membicarakan tentang kucing mati, maka yang dimaksud sipembicara
tentulah satu kucing, atau kucing tertentu yang sudah atau akan mati. Dan
penyebutan seperti itu akan berubah esensi kucing secara universal menjadi kucing
yang khusus. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah bisa esensi umum
dikhususkan? Tentu bisa sebatas yang dikhususkan adalah objek yang sama. Misalnya
kucing, kucing adalah esensi umum…dan bisa dikhususkan menjadi kucingnya pak
budi, kucing itu, kucing mati, kucing itu bisa berlari dan lain-lain. Kalau ditambahkan
Anjing, apakah kucing masih bisa dikhususkan? Dibandingkan? Atau disamakan?
Jawabannya TIDAK bisa jika kita masih berbicara tentang satu subjek khusus yang
bernama kucing! Karena jika dibandingkan dengan subjek yang berbeda maka dia
akan kehilangan esensi umumnya (universalnya) sebagai kucing. Pengecualian hanya
bisa jika kita ingin membicarakan esensi khusus dari kelompok yang lebih besar, yaitu
Hewan.
8. BERMAKNA
Nyai Loro Kidul pun menarik kais kereta kudanya meniti jalan ke angkasa. Begitu pula
pendekar dari dunia kramat itu, melewati kobaran api yang dahsyat dengan
menunggang kuda sembrani. Di sudut negeri yang lain, Gatot Kaca dan Superman
tertegun satu sama lain menatap ke unikan kostum terbang masing-masing. Cerita
29
demikian begitu akrab di telinga kita, kita bisa saja terbius atau ikut-ikutan
menjadikan cerita seperti itu menjadi rujukan kita dalam berargumentasi ilmiah.
Sebenarnya perlu ndak sih kita mengetahui cerita serupa itu? Apakah cerita seperti
itu betul-betul ada atau hanya bohong belaka? Suatu hari kita harus
mempertanyakan cerita serupa itu demi ketelitian kita dalam memilah baik dan
buruknya pengaruh suatu cerita.
Konon ada tokoh nyata ( Vampir) tapi diperkenalkan sebagai tokoh tahayul (fiktif).
Sementara tokoh fiktif benaran ( Rambo), eh… malah di jadikan seolah-olah tokoh
nyata. Tulisan ini tidak akan membahas ketokohan dan politisasi yang sedemikian
rupa dan bukan pula bertujuan untuk menolak membaca novel dan komik. Kritis
dalam mempersoalkan cerita yang kita terima, bisa dimulai dari pengenalan kata.
Pengenalan kata yang berhubungan dengan persoalan di atas didalam ilmu logika
dikenal dengan istilah kata bermakna dan tak bermakna. Dalam pengertian kata yang
lain dikenal ada istilah kata universal dan partial. Dan jika kita teliti, kita akan
menemukan bahwa setiap kata universal selalu mempunyai dua macam pengertian,
yaitu konotasi dan denotasi. Konotasi menunjuk kepada sifat-sifat khusus dari kata
yang dibicarakan, misalnya kata ‘manusia’. Manusia adalah kata yang tidak diberikan
kepada sembarang benda, tetapi khusus hanya kepada sesuatu yang mempunyai
sifat-sifat tertentu. Berdasarkan sifat-sifat khusus tersebut akhirnya kita bisa
mengetahui bahwa yang namanya manusia itu adalah suatu makluk hidup yang
mempunyai persamaan seperti hewan dalam banyak hal tetapi berbeda dalam
beberapa hal, seperti kemampuannya untuk menerima pendidikan, bekerja dengan
menggunakan teknologi atau alat, membuat sesuatu dengan menggunakan
kemampuan akal dan sebagainya. Sedangkan denotasi menunjuk kepada barang apa
saja yang dicakup oleh kata tersebut. Misalnya kata ‘manusia’, maka dia akan
mencakup Budi, Carlie, Deni, Desi, Etty, manusia berkulit kuning, manusia berkulit
putih, manusia berkulit hitam dan sebagainya.
Suatu kata yang memiliki pengertian konotasi dan denotasi itulah yang disebut
sebagai kata yang bermakna atau konotatif. Sedangkan kata yang hanya memiliki
konotasi tetapi tidak memiliki denotasi (cakupan) disebut sebagai kata tak bermakna.
Dari keterangan diatas sekarang kita bisa menguji, apakah kata-kata seperti Mak
Lampir, Nyai Loro Kidul, Kuda Sembrani, Gatot Kaca dan Superman sebagaimana yang
kita sebutkan diawal tadi itu termasuk kedalam kelompok kata yang bermakna atau
tak bermakna. Kuda sembrani misalnya, kita mengenal nama itu dari cerita yang
ditulis dibuku-buku komik dan dongeng, yakni seekor kuda yang memiliki sayap yang
dapat terbang. Kita dapat menangkap pengertiannya, tapi sampai kapanpun kita
tidak akan menemukan jenis kuda yang seperti itu didalam realita kehidupan. Karena
ia tidak mempunyai realitas, maka dia tidak mempunyai denotasi. Dan setiap kata
yang tidak mempunyai denotasi maka dia termasuk kedalam kata yang tak bermakna.
Contoh yang lain adalah Superman, sama dengan cerita kuda sembrani, cerita
tentang Superman juga hanya bisa kita dapati dari komik dan film saja, yaitu sosok
jagoan yang bisa terbang kesana kemari dan kalau lagi marah, dia bahkan bisa
mengejar dan meremukkan jet supersonik dengan menggunakan sorot matanya saja.
Kita dapat menangkap pengertian dari cerita itu, tapi sama halnya dengan kuda
sembrani, sampai kapanpun kita juga tidak akan pernah menemui manusia seperti itu
30
dalam realitas. Dan sekali lagi, karena ia tidak mempunyai realitas, maka dia tidak
mempunyai denotasi. Dan setiap kata yang tidak mempunyai denotasi maka dia
termasuk kedalam kata yang tak bermakna.
Catatan :
Tidak setiap kata yang tidak bisa diobservasi secara indrawi adalah sama dengan kata
yang tak bermakna. Kata seperti : Malaikat, Iblis, Surga, Neraka dan semacamnya
adalah kata yang dapat dimengerti dan ada dalam realitas
9. ABSTRAK DAN KONKRET
Ah dasar orang batak! Orang batak itu tidak seperti orang jawa yang ngomongnya
halus. Orang batak ngomongnya kasar, karena orang batak kebanyakan dari Medan.
Pernyataan seperti itu sering kita dengar dan kebanyakan dari kita sudah tidak
mempersoalkan kalimat itu terkecuali jika kita sedang tidak mood dan mudah
tersinggung maka kita akan mempersoalkannya secara alami ( logika Natural ).
Sebenarnya kenapa sebagian orang bisa tersinggung dan kenapa sebagian lainnya
menganggap pernyataan seperti itu biasa-biasa saja? Mengenai kenapa sebagian
orang tidak mau tau dan tidak mau mempersoalkan isi pernyataan seperti itu,
pastilah jawabannya beragam dan jawaban mereka mudah ditebak, yaitu karena
pengaruh pergaulan.
Tapi bagi mereka yang mempersoalkannya secara alami, mereka bisa melihat bahwa
pernyataan seperti itu sebenarnya mengandung “nilai salah” dan karenanya mereka
protes. Bagaimana mereka bisa mengira-ngira kalau pernyataan seperti itu
sebenarnya mengandung “nilai salah” ? Tentu saja karena setiap orang sesungguhnya
mempunyai logika (logika natrual) yang bisa membedakan mana yang benar dan
mana yang salah secara alami. Kalau memang betul ada sesuatu yang salah disitu,
maka pertanyaannya adalah salahnya dimana? Mari kita lihat…
Bagi ilmu logika, perkara seperti itu menjadi bahan kajian khusus. Logika sangat
berkepentingan untuk membedakan makna kata-kata yang diselipkan didalam
kalimat seperti itu untuk memeriksa maksud sipenutur. Bagi logika memperhatikan
objek yang dibicarakan tersebut sangat penting, apakah yang dimaksud adalah sifat
objek atau diri si objek. “Orang jawa, Orang batak” yang disinggung dalam kalimat
diatas bisa dibedakan dalam dua pengertian kata, yaitu pengertian abstrak dan
konkret. Bagi ilmu logika, suatu kata dianggap mempunyai pengertian abstrak jika
kata itu menunjuk kepada sifat, keadaan dan kegiatan yang dilepas dari objek
tertentu. Misalnya : Kesehatan, Kebodohan, Kepandaian, Kekayaan, Kemiskinan dan
lain lain. Dan suatu kata mempunyai pengertian konkret apabila ia menunjuk kepada
suatu benda, orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi tertentu seperti : Mobil,
Motor, TV, Meja, Kursi, Orang batak itu, Orang Jawa itu, Rumah dan lain-lain. Kata
‘orang batak’ dan ‘orang jawa’ jika dimaksudkan adalah sekelompok orang yang
tinggal di Medan atau di Jawa Tengah, maka dia akan bermakna konkret. Konkret,
karena jelas yang dimaksudkan adalah tentang keberadaan (eksistensi) sekelompok
orang. Tetapi jika maksud si penutur adalah tentang sifat, cara dan sikap hidup orang
jawa dan orang batak, maka pengertian kata tersebut berubah menjadi kata abstrak.
Sebaliknya, Kesehatan, Kebodohan, Kepandaian, Kekayaan, Kemiskinan juga bisa
31
berubah maknanya menjadi kata konkret jika ia menunjuk kepada suatu benda,
orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi tertentu.
Untuk memudahkan kita dalam membedakan pengertian kata abstak dan konkret,
berikut ini adalah contoh kata yang mempunyai pengertian konkret :
Kebaikan anda tidak mungkin terlupakan.
Kesempurnaan lukisan ini mengagumkan banyak pengunjung.
Kekayaan Bill Gate bernilai Milyaran Dollar.
Kenakalan remaja membikin gerah Pemda DKI.
Sedangkan pada pernyataan berikut ini, pengertian kata-kata yang bergaris miring
dan tebal itu berubah menjadi kata Abstrak :
Kebaikan adalah perbuatan yang sangat diharapkan.
Kesempurnaan adalah tanda kesungguhan dalam berusaha dan berkarya.
Kekayaan dapat membuat orang lupa kepada Tuhan.
Kenakalan adalah sikap yang perlu mendapat perhatian khusus.
Kepiawaian dalam membedakan makna konkret dan abstark ini sangat berguna
dalam banyak kajian sosial, politik, agama dan filsafat. Sering dalam berdiskusi kita
memperhatikan orang ’sekenanya’ saja ‘memukul rata’ dalam persoalan yang terjadi
dimasyarakat dengan mengatakan, “Indonesia susah maju karena korupsi” . Satu
orang yang korupsi dinisbah-kan (dikaitkan) kepada semua orang yang tinggal
diindonesia karena hanya kesalahan dalam membedakan kata ‘indonesia’ antara satu
orang dengan yang lainya.
10. AMBIGU
Demokrasi adalah tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan kebebasan
berpendapat, persamaan hak, kesetaraan dan pengakuan. Hak Asasi adalah hak
paling mendasar yang dimiliki oleh setiap anak manusia, hak akan kebebasan, hak
akan hidup, hak akan mendapatkan ilmu dan lain-lain. Demikianlah definisi dari kata
demokrasi dan hak asasi yang sering kita temui dibeberapa buku, tapi apakah
memang demikian pengertian demokrasi yang difahami oleh semua orang di setiap
negara. Kata yang demikian didalam ilmu logika disebut dengan kata ambigu, yakni
suatu kata yang mempunyai pengertian lebih dari satu atau banyak. Kata demokrasi
berbeda pengertiannya menurut masyarakat liberal dengan masyarakat totaliter.
Suatu tindakan mungkin saja disebut demokratis disuatu tempat tapi sudah tidak lagi
ditempat lagi. Bisa jadi tindakan tertentu dianggap demokratis di Amerika tapi tidak
di China, Demokratis di China tapi tidak menurut orang tibet dan begitu seterusnya.
Begitu juga dengan pengertian kata hak asasi, disebut ambigu karena disetiap negara
mempunyai pengertian yang berbeda-beda tentang batasan hak asasi. Suatu
tindakan tertentu dianggap baik-baik aja oleh suatu negara tertentu, tapi tidak
menurut negara yang lain. Suatu tindakan disebut melanggar HAM dinegara Amerika,
32
tapi tidak menurut negara China dan Indonesia. Selain kata yang mempunyai
pengertian ambigu tersebut, didalam istilah logika dikenal juga istilah-istilah yang
lain, seperti : univok, equivok dan analog.
Univok adalah kata yang mempunyai satu makna dan jelas, tidak membingungkan
seperti : kursi, meja, pulpen, pensil dan sebagainya. Kata univok ini tidak terlalu sulit
untuk dikenali, karena kata ini lebih sering menunjuk kepada benda.
Equivok adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu dan umumnya
mempunyai dua makna, seperti : bunga, bulan, buku dan lain sebaginya. Bunga bisa
berarti adalah gadis manis nan cantik, bisa juga berarti bunga mawar yang merah nan
harum dan bisa pula berarti bunga bank. Bulan bisa berarti bulan yang ada dilangit
(planet), bisa juga berarti bulan untuk perhitungan kalender. Begitu juga buku, buku
bisa berarti panjang batang tanaman diantara dua ruas, dan bisa pula berarti kertas
yang diikat sebagian sisinya yang kemudian dijilid.
Untuk lebih jelasnya bisa kita lihat penggunaannya didalam kalimat, seperti :
• Isabella sangat menyukai bunga.
• Isabella menabung di BCA dan dapat bunga 7% satu tahun
Bunga pada kalimat pertama berarti bunga sebagai tanaman, bisa bunga mawar, bunga
melati dan lain lain. Bunga pada kalimat kedua mempunyai arti keuntungan atau
penambahan nilai dari uang yang disimpan.
• Bulan lebih kecil dari bumi
• Bulan februari sering terjadi banjir akibat hujan.
Bulan pada kalimat pertama mempunyai makna sebuah planet yang mengitari bumi.
Bulan pada kalimat kedua mempunyai makna suatu perhitungan dikalender.
Analog adalah kata yang umumnya mempunyai makna berbeda karena penggunaannya
dalam kalimat. Misalnya :






Kursi itu terbuat dari kayu jati
Banyak kader partai melakukan apa saja supaya bisa mendapatkan kursi di dewan.
Bila hujan tanah akan basah.
Banyak pejabat menyukai tempat yang basah.
Waktu muda Ani adalah bunga desa
Bunga di taman itu sungguh indah.
Terlihat ada kemiripan antara equivok dengan anolog, dan mereka memang mirip
sehingga hampir semua kata equivok bisa dibuat menjadi kata yang bermakna
analog. Sampai disini kita sudah bisa membedakan sedikit bagaimana suatu kata itu
bisa mempunyai pengertian yang sudah jelas dan tidak membingungkan dan
bagaimana juga suatu kata itu bisa mempunyai makna yang ambigu dan
memusingkan.
33
11. KONSEPSI DAN PENILAIAN
Mengeluarkan pendapat, mengemukakan teori, menyimpulkan sesuatu menjadi hal
yang benar (kebenaran) atau menjadi hal yang salah (kekeliruan) adalah pekerjaan
pikiran, dan pikiran diatur oleh logika. Logika mengatur gerak pikiran saat sedang
berpikir dengan mengendalikan kemungkinan benar dan kemungkinan salah.
Sekarang bicara kemungkinan benar dan kemungkinan salah, berarti kita harus urut
kebelakang terlebih dahulu bagaimana cara kemungkinan-kemungkinan itu timbul.
Kita bisa saja mengatakan kemungkinan perkara yang seperti ini adalah betul atau
perkara seperti itu yang betul. Atau sebaliknya, kita bisa saja bercerita bahwa hal
yang seperti itu adalah salah atau hal yang seperti ini yang salah dst.
Semua pendapat yang kita coba kemukakan itu bermula dari pengamatan atau
pemahaman kita terhadap sesuatu yang kemudian menjadi pengetahuan kita
tentangnya, yaitu sesuatu yang kita PEROLEH, sesuatu yang KITA RASAKAN, sesuatu
yang kita CAPAI, sesuatu yang kita SADARI melalui pancaindra, akal dan batin kita.
Setelah kita memperoleh pemahaman (konsepsi) tentang apa-apa yang kita dapat
dari pengamatan itu, apakah kemudian pengamatan kita itu bisa serta merta menjadi
kebenaran? Atau sebaliknya, suatu kekeliruan? Tentu saja tidak, untuk menetapkan
nilai dari apa yang kita amati kita harus mengujinya terlebih dahulu dengan alat uji
yang bernama ‘penilaian’. Disini kita berhenti sebentar, kita lihat lagi bahwa ternyata
untuk menentukan sesuatu itu mempunyai ‘nilai’ benar (kebenaran) atau salah
(kekeliruan) kita butuh tahapan- tahapan. Tahapannya apa saja?
Tahapan pertama adalah melihat bagaimana sesuatu itu bisa ada dalam pikiran
seseorang, misalnya ada mak lampir, ada kuda terbang , ada malaikat, ada nyai loro
kidul, ada hawa dingin, ada keong emas, ada api, ada kerbau, ada kerupuk, ada peyek
ada laptop dan seterusnya. Sekilas contoh keberadaan benda-benda tersebut tidak
ada bedanya, semua contoh itu sering kita lihat dan dengar. Tapi apakah yang kita
lihat dan dengar itu semuanya sudah betul? Tentang api, kerbau, kerupuk, peyek, dan
laptop sudah jelas benar adanya dan bisa dilihat dan disaksikan oleh siapa saja dan
dimana saja. Tapi mengenai yang lainnya seperti mak lampir, kuda terbang, malaikat,
nyai loro kidul, hawa panas dan keong emas? Siapa dan dimana orang pernah
menemukan dan menyaksikannya? Disini kita akan mulai bertanya-tanya, iya ada
mak lampir, kuda terbang, malaikat, nyai loro kidul, hawa panas TAPI itu kan hanya di
sinetron dan film…, betul ada keong emas, tapi keong toh tetap keong…dan kita tidak
pernah bisa mengambil emas dari keong itu. Betul ada hawa panas, tapi yang
manakah bendanya?
Disinilah tempatnya kita masuk ketahapan kedua dari pembicaraan mengenai nilai
benar (kebenaran) atau nilai salah (kekeliruan) yang ada didalam pikiran, yaitu ada
dalam pikiran yang keberadaannya ‘ada’ dengan sendirinya secara otomatis
(ekstemporal) dan ada juga yang keberadaannya ‘ada’ melalui proses pengamatan
dan penelitian (kontemplatif). Kebenaran itu bisa muncul dengan sendirinya didalam
pikiran tanpa proses pengamatan dan penelitian, kebenaran seperti ini biasanya
terhubung dengan apa-apa yang bersangkutan dengan panca Indra. Misalnya
kebenaran tentang adanya mobil, adanya handphone, adanya kucing, adanya tanah,
adanya singkong, adanya air, adanya komputer dst. Benda-benda ini ada dipikiran
secara otomatis begitu panca indra kita bersentuhan dengannya.
34
Untuk menguji tingkat otomatis ini, kita bisa perhatikan bayi atau balita, mereka
(balita) itu tidak pernah diajarkan bertanya, tapi faktanya hampir semua balita sering
bertanya, tentang nama-nama benda sekitarnya. Darimana munculnya ilmu bertanya
si balita? Tentu saja itu muncul dengan sendirinya begitu alat pancaindranya mulai
berfungsi terhadap alam materi. Sebaliknya dengan benda benda yang immaterial,
seperti mak lampir, kuda terbang, malaikat, nyai loro kidul, hawa panas dst, bendabenda immateri ini ada dan keberadaannya ada ketika dilakukan imajinasi dan
penilaian (asensi) oleh akal terhadapnya. Tapi apakah benda-benda itu benar ada
(kebenaran) atau tidak pernah ada (kekeliruan)?
Disini kita masuk ketahapan yang ketiga. Yakni pemahaman (konsepsi) dan penilaian
(asensi) terhadap suatu perkara akal. Apa-apa yang kita pahami melalui pancaindra
dan akal tidak selalu akan menghasilan pilihan BETUL (kebenaran) , atau sebaliknya
SALAH (kekeliruan) secara serta merta. Diperlukan suatu hukum untuk menentukan
nilainya. Misalnya, kuda terbang, hawa panas, perbuatan baik, perbuatan buruk.
Adalah contoh bagaimana akal memberikan hukum tehadap dua hal, yakni kuda dan
terbang, hawa dan panas. Terlihat direkaman pemikiran ada benda bernama kuda,
sekarang disambung dengan terbang? Darimana rekaman yang didapat tentang
terbang? Pastilah sudah terekam secara otomatis di pikiran ketika pancaindra melihat
burung atau sejenisnya yang bisa terbang. Kemudian dengan melalui proses
imaginasi, muncullah benda baru yang bernama kuda terbang. Cara kerja pikiran yang
merakit-rakit dan menyambung-nyambung seperti inilah yang kita sebut dengan
proses pemahaman (konsepsi) terhadap nilai dari suatu perkara. Sekarang bagaimana
dan apa yang disebut penilaian?
Gambaran pikiran atau ‘IDE’ mengenai ‘KUDA’ ditambah sayap menjadi ‘TERBANG’
adalah sebuah konsepsi. Dan yang disebut sebuah Penilaian adalah ketika ‘pikiran
menghukumi’ bahwa KUDA itu TERBANG, atau itu kuda terbang maka pikiran telah
memberikan kesimpulan atau PENILAIAN bahwa ‘ADA’ kuda terbang. Contoh lain,
hawa ditambah panas adalah ‘ide’ yang tergambar didalam pikiran, tapi jika pikiran
menghukumi nilai ide itu menjadi ‘hawa itu panas’ maka pikiran telah memberikan
kesimpulan atau PENILAIAN terhadap hawa dan panas menjadi suatu NILAI, yaitu
‘ADA’ hawa panas.
12. KESESATAN ATAU FALACCIA
Kesesatan adalah kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berfikir dikarenakan
penyalahgunaan bahasa dan/atau penyalahan relevansi. Kesesatan merupakan
bagian dari logika, dikenal juga sebagai fallacia/falacy, dimana beberapa jenis
kesesatan penalaran dipelajari sebagai lawan dari argumentasi logis. Kesesatan
terjadi karena dua hal:


i)
ii)
Ketidak tepatan bahasa: pemilihan terminologi yang salah.
Ketidak tepatan relevansi:
Pemilihan premis yang tidak tepat; yaitu membuat premis dari proposisi yang salah.
Proses kesimpulan premis yang caranya tidak tepat; premisnya tidak berhubungan
dengan kesimpulan yang akan dicari.
35
Klasifikasi kesesatan
Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan dalam
penalaran. Walaupun model klasifikasi kesesatan yang dianggap baku hingga saat ini
belum disepakati para ahli, mengingat cara bagaimana penalaran manusia
mengalami kesesatan, sangat bervariasi, namun secara sederhana kesesatan dapat
dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material.
Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (form) penalaran
yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap
prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen. Kesesatan
material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran.
Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang
menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat teriadi karena
memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan
kesimpulannya (kesesatan relevansi). Setiap kata dalam bahasa memiliki arti
tersendiri, dan masing-masing kata itu dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang
sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan. Maka, meskipun kata yang digunakan
itu sama, namun dalam kalimat yang berbeda, kata tersebut dapat bervariasi artinya.
Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat itu dapat
menimbulkan kesesatan penalaran.
Kesesatan Bahasa
Setiap kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata dalam
sebuah kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan keseluruhan arti kalimatnya.
Maka, meskipun kata yang digunakan itu sama, namun dalam kalimat yang berbeda,
kata tersebut dapat bervanasi artinya. Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata
atau arti kalimat itu dapat menimbulkan kesesatan penalaran. Berikut ini adalah
beberapa bentuk kesesatan karena penggunaan bahasa.
Kesesatan Aksentuasi
Pengucapan terhadap kata-kata tertentu perlu diwaspadai karena ada suku kata yang
harus diberi tekanan. Perubahan dalam tekanan terhadap suku kata dapat
menyebabkan perubahan arti. Karena itu kurangnya perhatian terhadap tekanan
ucapan dapat menimbulkan perbedaan arti sehingga penalaran mengalami
kesesatan.
Kesesatan aksentuasi verbal
Contoh:
Serang (kota) dan serang (tindakan menyerang dalam pertempuran)
Apel (buah) dan apel bendera (menghadiri upacara bendera)
Mental (kejiwaan) dan mental (terpelanting)
Tahu (masakan, makanan) dan tahu (mengetahui sesuatu)
Kesesatan aksentuasi non-verbal
36
Contoh sebuah iklan:
"Dengan 2,5 juta bisa membawa motor"
Mengapa bahasa dalam iklan ini termasuk kesesatan aksentuasi non-verbal (contoh
kasus): Karena motor ternyata baru bisa dibawa (pulang) tidak hanya dengan uang
2,5 juta tetapi juga dengan menyertakan syarat-syarat lainnya seperti slip gaji, KTP,
rekening listrik terakhir dan keterangan surat kepemilikan rumah.
Contoh ungkapan:
“Apa dan Ha”
memiliki arti yang berbeda-beda bila:
diucapkan dalam keadaan marah
diucapkan dalam keadaan bertanya
diucapkan untuk menjawab panggilan.
Kesesatan Ekuivokasi
Kesesatan ekuivokasi adalah kesesatan yang disebabkan karena satu kata mempunyai
lebih dari satu arti. Bila dalam suatu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah
kata yang sama, maka terjadilah kesesatan penalaran.
Kesesatan Ekuivokasi verbal
Adalah kesesatan ekuivokasi yang terjadi pada pembicaraan dimana bunyi yang sama
disalah artikan menjadi dua maksud yang berbeda.
Contoh:
teh (tumbuhan, jenis minuman) dan teh (basa sunda - kata imbuhan)
buntut (ekor) dan buntut (anak kecil yang mengikuti kemanapun seorang dewasa pergi)
menjilat (es krim) dan menjilat (ungkapan yang dikenakan pada seseorang yang memuji
berlebihan dengan tujuan tertentu)
Kesesatan Ekuivokasi non-verbal
Contoh:



Menggunakan kain/ pakaian putih-putih berarti orang suci. Di India wanita yang
menggunakan kain sari putih-putih umumnya adalah janda
Bergandengan sesama jenis pasti homo
Menggelengkan kepala (berarti tidak setuju), namun di India menggelengkan kepala
dari satu sisi ke sisi yang lain menunjukkan kejujuran.
37
Kesesatan Amfiboli
Kesesatan Amfiboli (gramatikal) adalah kesesatan yang dikarenakan konstruksi
kalimat sedemikian rupa sehingga artinya menjadi bercabang. Ini dikarenakan letak
sebuah kata atau term tertentu dalam konteks kalimatnya. Akibatnya timbul lebih
dari satu penafsiran mengenai maknanya, padalahal hanya satu saja makna yang
benar sementara makna yang lain pasti salah.
Contoh:
Dijual kursi bayi tanpa lengan.
Arti 1: Dijual sebuah kursi untuk seorang bayi tanpa lengan.
Arti 2: Dijual sebuah kursi tanpa dudukan lengan khusus untuk bayi.
Penulisan yang benar adalah: Dijual kursi bayi, tanpa lengan kursi.
Contoh lain:
Kucing makan tikus mati.
Arti 1: Kucing makan, lalu tikus mati
Arti 2: Kucing makan tikus lalu kucing tersebut mati
Arti 3: Kucing sedang memakan seekor tikus yang sudah mati.
Ali mencintai kekasihnya, dan demikian pula saya!
Arti 1: Ali mencintai kekasihnya, dan saya juga mencintai kekasih Ali.
Arti 2: Ali mencintai kekasihnya dan saya juga mencintai kekasih saya.
Kesesatan Metaforis
Disebut juga (fallacy of metaphorization) adalah kesesatan yang terjadi karena
pencampur-adukkan arti kiasan dan arti sebenarnya. Artinya terdapat unsur
persamaan dan sekaligus perbedaan antara kedua arti tersebut. Tetapi bila dalam
suatu penalaran arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya maka terjadilah
kesesatan metaforis, yang dikenal juga kesesatan karena analogi palsu.
Contoh:
Pemuda adalah tulang punggung negara.
Penjelasan kesesatan: Pemuda disini adalah arti sebenarnya dari orang-orang yang
berusia muda, sedangkan tulang punggung adalah arti kiasan karena negara tidak
memiliki tubuh biologis dan tidak memiliki tulang punggung layaknya mahluk
vertebrata. Pencampur adukan arti sebenarnya dan arti kiasan dari suatu kata atau
ungkapan ini sering kali disengaja seperti yang terjadi dalam dunia lawak Kesesatan
metaforis ini dikenal pula dengan nama kesesatan karena analogi palsu
38
Kesesatan Relevansi
Kesesatan Relevansi adalah sesat pikir yang terjadi karena argumentasi yang
diberikan tidak tertuju kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi terarah kepada
kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang (lawan bicara) yang sebenarnya
tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya. Kesesatan ini timbul
apabila orang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premis nya. Artinya
secara logis kesimpulan tersebut tidak terkandung dalam/ atau tidak merupakan
implikasi dari premisnya. Jadi penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak
menampakkan adanya hubungan logis antara premis dan kesimpulan, walaupun
secara psikologis menampakkan adanya hubungan - namun kesan akan adannya
hubungan secara psikologis ini sering kali membuat orang terkecoh.
Argumentum ad Hominem 1
Argumentum ad hominem adalah argumen diarahkan untuk menyerang manusianya
secara langsung. Penerapan argumen ini dapat menggambarkan tindak pelecehan
terhadap pribadi individu yang menyatakan sebuah argumen. Hal ini keliru karena
ukuran logika dihubungkan dengan kondisi pribadi dan karakteristik personal
seseorang yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi
argumennya. Argumen ini juga dapat menggambarkan aspek penilaian psikologis
terhadap pribadi seseorang. Hal ini dapat terjadi karena perkbedaan pandangan.
Ukuran logika (pembenaran) pada sesat pikir argumentum ad hominem 1 adalah
kondisi pribadi dan karakteristik personal yang melibatkan: gender, fisik, sifat, dan
psikologi.
Contoh 1:
Tidak diminta mengganti bohlam (bola lampu) karena seseorang itu pendek.
Kesesatan: tingkat keberhasilan pergantian sebuah bola lampu dengan menggunakan
alat bantu tangga tidak tergantung dari tinggi/ pendeknya seseorang.
Contoh 2:
Seorang juri lomba menyanyi memilih kandidat yang cantik sebagai pemenang, bukan
karena suaranya yang bagus tapi karena parasnya yang lebih cantik dibandingkan
dengan kandidat lainnya, walaupun suara kandidat lain ada yang lebih bagus
Argumentum ad Hominem 2
Berbeda dari argumentum ad hominem 1, argumentum ad hominem 2
menitikberatkan pada hubungan yang ada diantara keyakinan seseorang dan
lingkungan hidupnya. Pada umumnya argumentum ad hominem 2 ini menunjukkan
pola pikir yang diarahkan pada pengutamaan kepentingan pribadi; yaitu: suka-tidak
suka, kepentingan kelompok-bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan
SARA.
Contoh 3:
39
Pembicara G: Saya tidak setuju dengan apa yang Pembicara S katakan karena ia
bukan orang Islam
Kesesatan: ketidak setujuan bukan karena hasil penalaran dari argumentasi, tetapi
karena lawan bicara berbeda agama.
Bila ada dua orang yang telibat dalam sebuah konflik atau perdebatan, ada
kemungkinan masing-masing pihak tidak dapat menemukan titik temu dikarenakan
mereka tidak mengetahui apakah argumen masing-masing itu benar atau keliru. Hal
ini terjadi ketika masing-masing pihak beragumen atas dasar titik tolak dari ruang
lingkup yang berbeda satu sama lain.
Contoh 4:
Argumentasi apakah Isa adalah Tuhan Yesus (Kristen) ataukah seorang nabi (Islam).
Ini adalah sebuah contoh argumentasi yang tidak akan menemukan titik temu karena
berangkat dari keyakinan dan ilmu agama yang berbeda
Contoh 5:
Dosen yang tidak meluluskan mahasiswanya karena mahasiswanya berasal dari suku
yang ia tidak suka dan sering protes di kelas, bukan karena prestasi akademiknya
yang buruk.
Argumentum ad hominem 1 dan argumentum ad hominem 2 adalah argumentasiargumentasi yang mengarah kepada hal-hal negatif dan biasanya melibatkan emosi.
Argumentum ad baculum
Argumentum ad baculum (latin: baculus berarti tongkat atau pentungan) adalah
argumen ancaman mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan
alasan bahwa jika ia menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.
Argumentum ad baculum banyak digunakan oleh orang tua agar anaknya menurut
pada apa yang diperintahkan, contoh menakut-nakuti anak kecil:
Bila tidak mau mandi nanti didatangi oleh wewe gombel (sejenis hantu yang
mengerikan).
Argumen ini dikenal juga dengan argumen ancaman yang merupakan pernyataan
atau keadaan yang mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan
alasan jika menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.
Contoh argumentum ad baculum:
 Seorang anak yang belajar bukan karena ia ingin lebih pintar tapi karena kalau ia tidak
terlihat sedang belajar, ibunya akan datang dan mencubitnya.
 Pengendara motor yang berhenti pada lampu merah bukan karena ia menaati
peraturan tetapi karena ada polisi yang mengawasi dan ia takut ditilang.
 Pegawai bagian penawaran yang berbohong kepada pembeli agar produk yang ia jual
laku, karena ia takut dipecat bila ia tidak melakukan penjualan.
40
Jenis argumentum ad baculum yang juga dapat terjadi adalah mengajukan gagasan
(yang seringkali bersifat tuntutan) agar didengar dan dipenuhi oleh pihak penguasa,
namun gagasan itu didasari oleh penalaran yang samasekali irasional dan argumen
yang dikemukakan tidak memperlihatkan hubungan logis antara premis dan
kesimpulannya.
Penolakan mahasiswa akan skripsi sebagai syarat kelulusan dengan alasan skripsi
mahal dan menjadi "akal-akalan" dosen.
Argumentum ad misericordiam
(Latin: misericordia artinya belas kasihan) adalah sesat pikir yang sengaja diarahkan
untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk
memperoleh pengampunan/ keinginan.
Contoh:
 Pengemis yang membawa anak bayi tanpa celana dan digeletakkan tidur di trotoar.
 Pencuri motor yang beralasan bahwa ia miskin dan tidak bisa membeli sandang dan
pangan.
Argumentum ad populum
(Latin: populus berarti rakyat atau massa) Argumentum ad populum adalah argumen
yang dibuat untuk menghasut massa, rakyat, kelompok untuk membakar emosi
mereka dengan alasan bahwa pemikiran yang melatarbelakangi suatu usul atau
program adalah demi kepentingan rakyat atau kelompok itu sendiri. Argumen ini
bertujuan untuk memperoleh dukungan atau membenarkan tindakan si pembicara.
Di sini pembuktian logis tidak diperlukan/ tidak digunakan. Yang dipentingkan ialah
menggugah perasaan massa pendengar, membangkitkan semangat dan membakar
emosi orang banyak agar menerima suatu pernyataan tertentu.
Argumentum auctoritatis
(Latin: auctoritas berarti kewibawaan) adalah sesat pikir dimana nilai penalaran
ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi
suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut
dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya. Sikap semacam
ini mengandaikan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang berdiri sendiri (otonom),
dan bukan berdasarkan penalaran sebagaimana mestinya, melainkan tergantung dari
siapa yang mengatakannya (kewibawaan seseorang). Argumentasi ini sangat mirip
dengan argumentum ad hominem, bedanya dalam argumentum ad hominem yang
menjadi acuan adalah pribadi orang yang menyampaikan gagasan (dilihat dari
disenangi/ tidak disenangi), maka dalam argumentum auctoritatis ini dilihat dari
siapa (posisinya dalam masyarakat/ keahliannya/ kewibawaannya) yang
mengemukakan.
Contoh:
41




Apa yang dikatakan ulama A pada kampanye itu pasti benar.
Apa yang dikatakan pastor B dalam iklan itu pasti benar.
Apa yang dikatakan Rhoma Irama pasti benar.
"Saya yakin apa yang dikatakan beliau adalah baik dan benar karena beliau adalah
seorang pemimpin yang brilian, seorang tokoh yang sangat dihormati, dan seorang
dokter yang jenius"
Argumentum ad verecundiam
Argumentum ad verecundiam adalah argumentasi yang diberikan dengan sengaja
tidak terarah kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi dibuat sedemikian rupa
untuk membangkitkan perasaan malu si lawan bicara.
Contoh 1:
Pembicara G: Saya merasa aneh mengapa Pembicara S tidak setuju dengan
pernyataan saya
Pembicara S: Memang kamu orang aneh..
Argumentum ad verecundiam juga digunakan sebagai pembenaran, dan sering
dipakai dalam iklan :
Contoh 2:
"Orang pintar pasti minum jamu tolak angin!"
Contoh 3:
"Bila anda benar-benar seorang pembela kebenaran maka anda pasti akan
membenarkan apa yang saya katakan karena yang saya katakan ini adalah benar"
lgnoratio elenchi
Ignoratio elenchi adalah kesesatan yang terjadi saat seseorang menarik kesimpulan
yang sebenarnya tidak memiliki relevansi dengan premisnya. Loncatan sembarangan
dari premis ke kesimpulan yang memiliki hubungan semu (tidak benar-benar
berhubungan) biasanya dilatar belakangi oleh prasangka, emosi, dan perasaan
subyektif. Ignoration elenchi juga dikenal sebagai kesesatan penggambaran
seseorang (Image), " Halo Impact" , atau stereotyping.
Contoh:






Orang yang baru keluar dari penjara pasti jahat.
Orang Madiun pasti komunis.
Si Ucup kalau datang pasti hendak berhutang.
Orang Sagitarius pasti playboy.
Anak bungsu pasti manja.
Seorang wanita terlihat di lokalisasi pasti pelacur (padahal ia pedagang nasi bungkus).
Ignoratio elenchi mirip dengan generalisasi namun pernyataan yang dapat
digolongkan ke dalam kesesatan ini lompatan kesimpulannya harus jauh.
42
Argumentum ad ignoratiam
Adalah kesesatan yang terjadi dalam suatu pernyataan yang dinyatakan benar karena
kesalahannya tidak terbukti salah, atau mengatakan sesuatu itu salah karena
kebenarannya tidak terbukti ada.
Contoh 1:
Tuhan, setan, dan hantu itu tidak ada karena belum pernah lihat.
Contoh 2:
Seorang tersangka pencuri didakwa bersalah karena pada saat kejadian ia sedang
tidur sendirian di rumahnya dan tidak memiliki alibi/orang yang bersaksi yang melihat
bahwa ia benar sedang tidur.
Pernyataan diatas merupakan sesat pikir karena belum tentu bila seseorang tidak
mengetahui sesuatu itu ada/ tidak bukan berarti sesuatu itu benar-benar tidak ada.
Petitio principii
Adalah kesesatan yang terjadi dalam kesimpulan atau pernyataan pembenaran
dimana didalamnya premis digunakan sebagai kesimpulan dan sebaliknya,
kesimpulan dijadikan premis. Sehingga meskipun rumusan (teks/ kalimat) yang
digunakan berbeda, sebetulnya sama maknanya.
Contoh:


“Belajar logika berarti mempelajari cara berpikir tepat, karena di dalam berpikir tepat
ada logika”
Guru: "Kelas dimulai jam 7:30 kenapa kamu datang jam 8:30?"
Murid: "Ya, karena saya terlambat.."
Kesesatan petitio principii juga dikenal karena pernyataan berupa pengulangan
prinsip dengan prinsip.
Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc/ false cause)
Kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan sebab-akibat dari apa yang
terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua
peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa
peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua
adalah akiat dari peristiwa pertama - padahal urutan waktu saja tidak dengan
sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat. Kesesatan ini dikenal pula dengan
nama kesesatan post-hoc ergo propter hoc (sesudahnya maka karenanya)
Contoh:

Seorang pemuda setelah diketahui baru putus cinta dengan pacarnya, esoknya sakit.
Tetangganya menyimpulkan bahwa sang pemuda sakit karena baru putus cinta.
43
Kesesatan: Padahal diagnosa dokter adalah si pemuda terkena radang paru-paru
karena kebiasaannya merokok tanpa henti sejak sepuluh tahun yang lalu.
Kesesatan aksidensi
Adalah kesesatan penalaran yang dilakukan oleh seseorang bila ia memaksakan
aturan-aturan/ cara-cara yang bersifat umum pada suatu keadaan atau situasi yang
bersifat aksidental; yaitu situasi yang bersifat kebetulan, tidak seharusnya ada atau
tidak mutlak.
Contoh:


Gula baik karena gula adalah sumber energi, maka gula juga baik untuk penderita
diabetes.
Orang yang makan banyak daging akan menjadi kuat dan sehat, karena itu vegetarian
juga seharusnya makan banyak daging supaya sehat.
Kesesatan karena komposisi dan divisi
Kesesatan karena komposisi terjadi bila seseorang berpijak pada anggapan bahwa
apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok
tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif.
Contoh:


Badu ditilang oleh polisi lalu lintas di sekitar jalan Sudirman dan Thamrin dan polisi itu
meminta uang sebesar Rp. 100.000 bila Badu tidak ingin ditilang, maka semua polisi
lalu lintas di sekitar jalan sudirman dan thamrin adalah pasti pelaku pemalakan.
Maulana Kusuma anggota KPU sekaligus dosen kriminologi di UI melakukan korupsi,
maka seluruh anggota KPU yang juga dosen di UI pasti koruptor.
Kesesatan karena divisi terjadi bila seseorang beranggapan bahwa apa yang benar
(berlaku) bagi seluru kelompok secara kolektif pasti juga benar (berlaku) bagi
individu-individu dalam kelompok tersebut.
Contoh 1:

Banyak pejabat pemerintahan korupsi. Yahya Zaini adalah anggota DPR, maka Yahya
Zaini juga korupsi.
Contoh 2:

Umumnya pasangan artis-artis yang baru menikah pasti lalu bercerai. Dona Agnesia
dan Darius adalah pasangan artis yang baru menikah, pasti sebentar lagi mereka
bercerai.
44
IV PSIKOLOGI
Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas
psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak
mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi
psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni
berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat
didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses
mental.
Sejarah
Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di
sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf yunani
terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap tokoh
besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan
keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descartes (1596-1650) mengajukan
teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia
juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam
abad tujuh belas dan delapan belas—Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume,
memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih
berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.
Psikologi kontemporer
Diawali pada abad ke 19, dimana saat itu berkembang 2 teori dalam menjelaskan
tingkah laku, yaitu:
Psikologi Fakultas
Psikologi fakultas adalah doktrin abad 19 tentang adanya kekuatan mental bawaan,
menurut teori ini, kemampuan psikologi terkotak-kotak dalam beberapa ‘fakultas’
yang meliputi: berpikir, merasa dan berkeinginan. Fakultas ini terbagi lagi menjadi
beberapa subfakultas: kita mengingat melalui subfakultas memori, pembayangan
melalui subfakultas imaginer, dan sebagainya.
Psikologi Asosiasi
Bagian dari psikologi kontemporer abad 19 yang mempercayai bahwa proses
psikologi pada dasarnya adalah ‘asosiasi ide.’ Dimana ide masuk melalui alat indera
dan diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu seperti kemiripan, kontras,
dan kedekatan.
Dalam perkembangan ilmu psikologi kemudian, ditandai dengan berdirinya
laboratorium psikologi oleh Wundt (1879) Pada saat itu pengkajian psikologi
didasarkan atas metode ilmiah (eksperimental) Juga mulai diperkenalkan metode
intropeksi, eksperimen, dsb. Beberapa sejarah yang patut dicatat antara lain:


F. Galton > merintis test psikologi.
Charles Darwin > memulai melakukan komparasi dengan binatang.
45


A. Mesmer > merintis penggunaan hipnosis
Sigmund Freud > merintis psikoanalisa
Psikologi sebagai ilmu pengetahuan
Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusia
dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang
mempelajari alam, akan tetapi karena kekompleksan dan kedinamisan manusia untuk
dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an yaitu
sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia. Pada
tahun 1879 Wilhem Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama di University
of Leipzig, Jerman. Ditandai oleh berdirinya laboratorium ini, maka metode ilmiah
untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu memadai.
dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi untuk menjadi
ilmu pengetahuan, sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui pula
sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.
Fungsi psikologi sebagai ilmu
Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu:
1) Menjelaskan
Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi.
Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif.
2) Memprediksikan
Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa
tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi.
3) Pengendalian
Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya
berupa tindakan yang sifatnya prevensi atau pencegahan, intervensi atau treatment
serta rehabilitasi atau perawatan.
Pendekatan Psikologi
Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi
sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu
1) Pendekatan neurobiologis
Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem
syaraf. Pendekatan neurobiologis berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat dengan
impuls listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses
neurobiologi yang mendasari perilaku dan proses mental.
46
2) Pendekatan perilaku
Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas
stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S - R atau
suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja
mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian
dikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak subaliran.
3) Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana
individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan
menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu
melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.
4) Pendekatan psikoanalisa
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa
kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah
laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau
dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam
bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
5) Pendekatan fenomenologi
Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif
individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu
terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang
menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku
seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.
Kajian psikologi
Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf
pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan
anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Beberapa kajian ilmu psikologi
diantaranya adalah:
1) Psikologi perkembangan
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktorfaktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi
perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar
perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat
dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk
kepribadian khas dari individu tersebut.
2) Psikologi sosial
bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :
47



studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang
persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)
studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku
meniru dan lain-lain
studi tentang interaksi kelompok, misalnya : kepemimpinan, komunikasi hubungan
kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, persaingan, konflik
3) Psikologi kepribadian
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat
dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil
dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri
dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.
4) Psikologi kognitif
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti:
Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.
Wilayah terapan psikologi
Wilayah terapan psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian psikologi dapat
diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia dengan
spesialisasi membuat wilayah terapan ini rancu, misalnya, seorang ahli psikologi
pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya.
1) Psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan
psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi
perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi
pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan,
keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.
2) Psikologi sekolah
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik
dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.
3) Psikologi industri dan organisasi
Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan
memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu, sedangkan
psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan
berinteraksi dengan anggota-anggotanya.
4) Psikologi kerekayasaan
48
Penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin
untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin
(human error).
5) Psikologi klinis
Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami,
mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal.
6) Parapsikologi
Parapsikologi adalah cabang psikologi yang mencakup studi tentang extra sensory
perception, psikokinesis, dan sebagainya. Bagi para pendukungnya, parapsikologi
dilihat sebagai bagian dari psikologi positif dan psikologi transpersonal. Penelitian
parapsikologi pada umumnya dilakukan di laboratorium sehingga parapsikolog
menganggap penelitian tersebut ilmiah.
PSIKOLOGI SOSIAL
Akar awal Psikologi Sosial
Walau psikologi sosial merupakan disiplin yang telah lama ada ( sejak Plato dan
Aristotle), namun secara resmi, disiplin ini menjadi satu ilmu yang mandiri baru
sejak tahun 1908. Pada tahun itu ada dua buku teks yang terkenal yaitu
"Introduction to Social Psychology" ditulis oleh William McDougall - seorang
psikolog - dan "Social Psychology : An Outline and Source Book , ditulis oleh E.A.
Ross - seorang sosiolog. Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat
dipahami bahwa psikologi sosial bisa di"claim" sebagai bagian dari psikologi, dan
bisa juga sebagai bagian dari sosiologi. Psikologi sosial juga merupakan pokok
bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif utama,
yaitu perspektif struktural makro yang menekankan kajian struktur sosial, dan
perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial
dalam menjelaskan variasi perilaku manusia.. Di Amerika disiplin ini banyak dibina
oleh jurusan sosiologi - di American Sociological Association terdapat satu bagian
yang dinamakan "social psychological section", sedangkan di Indonesia, secara
formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam
prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini
sehingga dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut
mewarnainya. Pertanyaan yang paling mendasar yang senantiasa menjadi kajian
dalam psikologi sosial adalah : " Bagaimana kita dapat menjelaskan pengaruh
orang lain terhadap perilaku kita?'". Misalnya di Prancis, para analis sosial sering
mengajukan pertanyaan mengapa pada saat revolusi Prancis, perilaku orang
menjadi cenderung emosional ketimbang rasional? Demikian juga di Jerman dan
Amerika Serikat dilakukan studi tentang kehadiran orang lain dalam memacu
49
prestasi seseorang . Misalnya ketika seorang anak belajar seorang diri dan belajar
dalam kelompok, bisa menunjukan prestasi lebih baik dibandingkan ketika mereka
belajar sendiri. Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut
sebagai psikolog sosial jika dia "berupaya memahami, menjelaskan, dan
memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu
dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang
dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya"
Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang,
difokuskan pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam
bentuk instink-instink biologis - lalu dikenal dengan penjelasan "nature" - dan (2)
perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama
kehidupan mereka - dikenal dengan penjelasan "nurture". Penjelasan "nature"
dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di
mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan
serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai
seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia
didasarkan pada pandangan ini (instinktif).
Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber
perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau
instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan
utama cenderung ke arah kebiasaan - yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui
pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan "nurture
explanation". Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey
mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman
masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh
lingkungan - "situasi kita" - termasuk tentunya orang lain.
Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian
memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial - seperangkat asumsi
dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang
bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu :
perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural
(structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).
Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial
yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan jawaban yang berbeda
atas sebuah pertanyaan : "Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan
oleh para psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami
perilaku sosial?". Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih
memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang
apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku
50
seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan
mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami
perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk
memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif
tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif
terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan
dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan
sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang.
Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa
memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka.
Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka
tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya.
Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental
seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang.
Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog
sosial yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan
adalah : " Sejauhmana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?".
Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti
dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku
seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang
mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat mengharapkan agar yang namanya
mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin bekerja mencari nafkah
guna menghidupi keluarganya. Mengapa ? Karena masyarakat mengharapkan dia
berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai "seorang
ayah". Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan
agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang
membangun harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya
untuk membentuk interaksi dan harapannya. Untuk lebih jelas, di bawah ini
diuraikan satu persatu keempat prespektif dalam psikologi sosial.
1. Perspektif Perilaku (Behavioral Perspective)
Pendekatan ini awalnya diperkenalkan oleh John B. Watson (1941, 1919).
Pendekatan ini cukup banyak mendapat perhatian dalam psikologi di antara
tahun 1920-an s/d 1960-an. Ketika Watson memulai penelitiannya, dia
menyarankan agar pendekatannya ini tidak sekedar satu alternatif bagi
pendekatan instinktif dalam memahami perilaku sosial, tetapi juga merupakan
alternatif lain yang memfokuskan pada pikiran, kesadaran, atau pun imajinasi.
Watson menolak informasi instinktif semacam itu, yang menurutnya bersifat
"mistik", "mentalistik", dan "subyektif". Dalam psikologi obyektif maka fokusnya
harus pada sesuatu yang "dapat diamati" (observable), yaitu pada "apa yang
dikatakan (sayings) dan apa yang dilakukan (doings)". Dalam hal ini pandangan
51
Watson berbeda dengan James dan Dewey, karena keduanya percaya bahwa
proses mental dan juga perilaku yang teramati berperan dalam menyelaskan
perilaku sosial.
Para "behaviorist" memasukan perilaku ke dalam satu unit yang dinamakan
"tanggapan" (responses), dan lingkungan ke dalam unit "rangsangan" (stimuli).
Menurut penganut paham perilaku, satu rangsangan dan tanggapan tertentu bisa
berasosiasi satu sama lainnya, dan menghasilkan satu bentuk hubungan
fungsional. Contohnya, sebuah rangsangan " seorang teman datang ", lalu
memunculkan tanggapan misalnya, "tersen-yum". Jadi seseorang tersenyum,
karena ada teman yang datang kepadanya. Para behavioris tadi percaya bahwa
rangsangan dan tanggapan dapat dihubungkan tanpa mengacu pada
pertimbangan mental yang ada dalam diri seseorang. Jadi tidak terlalu
mengejutkan jika para behaviorisme tersebut dikategorikan sebagai pihak yang
menggunakan pendekatan "kotak hitam (black-box)" . Rangsangan masuk ke
sebuah kotak (box) dan menghasilkan tanggapan. Mekanisme di dalam kotak
hitam tadi - srtuktur internal atau proses mental yang mengolah rangsangan dan
tanggapan - karena tidak dapat dilihat secara langsung (not directly observable),
bukanlah bidang kajian para behavioris tradisional.
Kemudian, B.F. Skinner (1953,1957,1974) membantu mengubah fokus
behaviorisme melalui percobaan yang dinamakan "operant behavior" dan
"reinforcement". Yang dimaksud dengan "operant condition" adalah setiap
perilaku yang beroperasi dalam suatu lingkungan dengan cara tertentu, lalu
memunculkan akibat atau perubahan dalam lingkungan tersebut. Misalnya, jika
kita tersenyum kepada orang lain yang kita hadapi, lalu secara umum, akan
menghasilkan senyuman yang datangnya dari orang lain tersebut. Dalam kasus ini,
tersenyum kepada orang lain tersebut merupakan "operant behavior". Yang
dimaksud dengan "reinforcement" adalah proses di mana akibat atau perubahan
yang terjadi dalam lingkungan memperkuat perilaku tertentu di masa datang .
Misalnya, jika kapan saja kita selalu tersenyum kepada orang asing (yang belum
kita kenal sebelumnya), dan mereka tersenyum kembali kepada kita, maka muncul
kemungkinan bahwa jika di kemudian hari kita bertemu orang asing maka kita
akan tersenyum. Perlu diketahui, reinforcement atau penguat, bisa bersifat positif
dan negatif. Contoh di atas merupakan penguat positif. Contoh penguat negatif,
misalnya beberapa kali pada saat kita bertemu dengan orang asing lalu kita
tersenyum dan orang asing tersebut diam saja atau bahkan menunjukan rasa tidak
suka, maka dikemudian hari jika kita bertemu orang asing kembali, kita cenderung
tidak tersenyum (diam saja). Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang
mencoba menjelaskan secara lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang
diutarakan dalam pendekatan perilaku bisa terjadi. Beberapa teori antara lain
52
adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dan Teori Pertukaran
Sosial (Social Exchange Theory).
a. Teori Pembelajaran Sosial.
Di tahun 1941, dua orang psikolog - Neil Miller dan John Dollard - dalam laporan
hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia
tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian kedua orang
tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang lain.
Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa
begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard
dinamakan "social learning " - "pembelajaran sosial". Perilaku peniruan (imitative
behavior) kita terjadi karena kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita
meniru perilaku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak
menirunya. Agar seseorang bisa belajar mengikuti aturan baku yang telah
ditetapkan oleh masyarakat maka "para individu harus dilatih, dalam berbagai
situasi, sehingga mereka merasa nyaman ketika melakukan apa yang orang lain
lakukan, dan merasa tidak nyaman ketika tidak melakukannya.", demikian saran
yang dikemukakan oleh Miller dan Dollard.
Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat
belajar meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan
berupa permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anakanak dapat membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang
tersebut laki-laki maka akan ditirunya, jika perempuan tidak. Lebih jauh lagi, sekali
perilaku peniruan terpelajari (learned), hasil belajar ini kadang berlaku umum
untuk rangsangan yang sama. Misalnya, anak-anak cenderung lebih suka meniru
orang-orang yang mirip dengan orang yang sebelumnya memberikan imbalan.
Jadi, kita mempelajari banyak perilaku "baru" melalui pengulangan perilaku orang
lain yang kita lihat. Kita contoh perilaku orang-orang lain tertentu, karena kita
mendapatkan imbalan atas peniruan tersebut dari orang-orang lain tertentu tadi
dan juga dari mereka yang mirip dengan orang-orang lain tertentu tadi, di masa
lampau.
Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963),
mengusulkan satu perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar
melalui peniruan. Bandura dan Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak
perilaku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement)
sekalipun yang kita terima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui
pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model
tersebut. Proses belajar semacam ini disebut "observational learning" pembelajaran melalui pengamatan. Contohnya, percobaan Bandura dan Walters
mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif
hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film
53
atau bahkan film karton. Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori
pembelajaran sosial seyogianya diperbaiki lebih jauh lagi. Dia mengatakan bahwa
teori pembelajaran sosial yang benar-benar melulu menggunakan pendekatan
perilaku dan lalu mengabaikan pertimbangan proses mental, perlu dipikirkan
ulang. Menurut versi Bandura, maka teori pembelajaran sosial membahas tentang
(1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat
(reinforcement) dan observational learning, (2) cara pandang dan cara pikir yang
kita miliki terhadap informasi, (3) begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita
mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan
observational opportunity - kemungkinan bisa diamati oleh orang lain.
b. Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)
Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah
psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961),
Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964). Berdasarkan teori ini, kita masuk
ke dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita
memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain
akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Seperti halnya teori pembelajaran
sosial, teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan
terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita
umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut
dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi Dalam hubungan
tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan
(profit). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya
pengorbanan, pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, dan
keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial
terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan
untung-rugi. Misalnya, pola-pola perilaku
di tempat kerja, percintaan,
perkawinan, persahabatan - hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak
yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena
berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula
sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.
Berdasarkan keyakinan tersebut Homans dalam bukunya "Elementary Forms of
Social Behavior, 1974 mengeluarkan beberapa proposisi dan salah satunya
berbunyi :"Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu
bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut
menampilkan tindakan tertentu tadi ". Proposisi ini secara eksplisit menjelaskan
bahwa satu tindakan tertentu akan berulang dilakukan jika ada imbalannya.
Proposisi lain yang juga memperkuat proposisi tersebut berbunyi : "Makin tinggi
nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan
perbuatan tersebut diulanginya kembali". Bagi Homans, prinsip dasar pertukaran
54
sosial adalah "distributive justice" - aturan yang mengatakan bahwa sebuah
imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan
dengan prinsip tersebut berbunyi " seseorang dalam hubungan pertukaran
dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak
sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya - makin tingghi
pengorbanan, makin tinggi imbalannya - dan keuntungan yang diterima oleh
setiap pihak harus sebanding dengan investasinya - makin tinggi investasi, makin
tinggi keuntungan".
Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial adalah perilaku sosial
seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses
mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini
menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan
lingkungan.
2. Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)
Kita telah memberikan indikasi bahwa kebiasaan (habit) merupakan penjelasan
alternatif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial seseorang di
samping instink (instinct). Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau
hanya kedua hal tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka
dipandang terlampau ekstrem - karena mengabaikan kegiatan mental manusia.
Seorang psikolog James Baldwin (1897) menyatakan bahwa paling sedikit ada dua
bentuk peniruan, satu didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan
pada wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang perilakunya kita
tiru. Walau dengan konsep yang berbeda seorang sosiolog Charles Cooley (1902)
sepaham dengan pandangan Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka
kepada perilaku sosial yang melibatkan proses mental atau kognitif . Kemudian
banyak para psikolog sosial menggunakan konsep sikap (attitude) untuk
memahami proses mental atau kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan
Florian Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang sikap, yang
diartikannya sebagai proses mental individu yang menentukan tanggapan aktual
dan potensial individu dalam dunia sosial". Sikap merupakan predisposisi perilaku.
Beberapa teori yang melandasi perpektif ini antara lain adalah Teori Medan (Field
Theory), Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Concistency Attitude and Attribution
Theory), dan Teori Kognisi Kontemporer.
a. Teori Medan (Field Theory)
Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji perilaku sosial melalui
pendekatan konsep "medan"/"field" atau "ruang kehidupan" - life space. Untuk
memahami konsep ini perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog
memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual (instink dan kebiasaan),
bebas - lepas dari pengaruh situasi di mana individu melakukan aktivitas. Namun
Lewin kurang sepaham dengan keyakinan tersebut. Menurutnya penjelasan
55
tentang perilaku yang tidak memperhitungkan faktor situasi, tidaklah lengkap. Dia
merasa bahwa semua peristiwa psikologis apakah itu berupa tindakan, pikiran,
impian, harapan, atau apapun, kesemuanya itu merupakan fungsi dari "ruang
kehidupan"- individu dan lingkungan dipandang sebagai sebuah konstelasi yang
saling tergantung satu sama lainnya. Artinya "ruang kehidupan" merupakan juga
merupakan determinan bagi tindakan, impian, harapan, pikiran seseorang. Lewin
memaknakan "ruang kehidupan" sebagai seluruh peristiwa (masa lampau,
sekarang, masa datang) yang berpengaruh pada perilaku dalam satu situasi
tertentu.
Bagi Lewin, pemahaman atas perilaku seseorang senantiasa harus dikaitkan
dengan konteks - lingkungan di mana perilaku tertentu ditampilkan. Intinya, teori
medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling
individu bepengaruh pada perilakunya. Sesungguhnya teori medan mirip dengan
konsep "gestalt" dalam psikologi yang memandang bahwa eksistensi bagianbagian atau unsur-unsur tidak bisa terlepas satu sama lainnya. Misalnya, kalau
kita melihat bangunan, kita tidak melihat batu bata, semen, kusen, kaca, secara
satu persatu. Demikian pula kalau kita mempelajari perilaku individu, kita tidak
bisa melihat individu itu sendiri, lepas dari konteks di mana individu tersebut
berada.
b. Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap ( Attitude Consistency and Attribution Theory)
Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman mengatakan bahwa kita
cenderung mengorganisasikan sikap kita, sehingga tidak menimbulkan konflik.
Contohnya, jika kita setuju pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti
juga orang-orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang (balance).
Namun jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman dekat kita dan juga
orang-orang di sekeliling kita tidak setuju pada aborsi maka kita dalam kondisi
tidak seimbang (imbalance). Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang
nyaman, dan kemudian kita akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan
dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya dengan bersikap bahwa kita sekarang
tidak sepenuhnya setuju pada aborsi. Melalui pengubahan sikap tersebut, kita
menjadi lebih nyaman. Intinya sikap kita senantiasa kita sesuaikan dengan sikap
orang lain agar terjadi keseimbangan karena dalam situasi itu, kita menjadi lebih
nyaman.
Heider juga menyatakan bahwa kita mengorganisir pikiran-pikiran kita dalam
kerangka "sebab dan akibat". Agar supaya bisa meneruskan kegiatan kita dan
mencocokannya dengan orang-orang di sekitar kita, kita mentafsirkan informasi
untuk memutuskan penyebab perilaku kita dan orang lain. Heider
memperkenalkan konsep "causal attribution" - proses penjelasan tentang
penyebab suatu perilaku. Mengapa Tono pindah ke kota lain ?, Mengapa Ari
keluar dari sekolah ?. Kita bisa menjelaskan perilaku sosial dari Tono dan Ari jika
56
kita mengetahui penyebabnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bedakan dua
jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal (internal
causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau
personal, dan penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan
atau situasi.
c. Teori Kognitif Kontemporer
Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap.
Istilah "kognisi" digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri
seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang
manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi,
dan mengalihkan informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana,
memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Manusia memproses informasi
dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi istilah "schema"
(Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan Schwalbe, 1990; Fiske and Taylor, 1991).
Struktur tersebut berperan sebagai kerangka yang dapat menginterpretasikan
pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi struktur kognisi bisa
membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu kita
untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki diasumsikan terdiri
atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya.
Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses
informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teoriteori kognitif percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa
memperoleh informasi tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena
informasi tentang hal yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi.
3. Perspektif Struktural
Telah kita catat bahwa telah terjadi perdebatan di antara para ilmuwan sosial
dalam hal menjelaskan perilaku sosial seseorang. Untuk menjelaskan perilaku
sosial seseorang dapat dikaji sebagai sesuatu proses yang (1) instinktif, (2) karena
kebiasaan, dan (3) juga yang bersumber dari proses mental. Mereka semua
tertarik, dan dengan cara sebaik mungkin lalu menguraikan hubungan antara
masyarakat dengan individu. William James dan John Dewey menekankan pada
penjelasan kebiasaan individual, tetapi mereka juga mencatat bahwa kebiasaan
individu mencerminkan kebiasaan kelompok - yaitu adat-istiadat masyarakat atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri atas jalinan
interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur
sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi
berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita
mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan
pentingnya dampak struktur sosial atas "diri" (self) - perasaan kita terhadap diri
kita sendiri. Masyarakat mempengaruhi diri - self.
57
Sosiolog lain Robert Park dari Universitas Chicago memandang bahwa masyarakat
mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan
individu- individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah
kita menjadi tahu siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru,
mahasiswa, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita
tergantung pada peran yang kita lakukan dalam masyarakat. Beberapa teori yang
melandasi persektif strukturan adalah Teori Peran (Role Theory), Teori Pernyataan
- Harapan (Expectation-States Theory), dan Posmodernisme (Postmodernism)
a. Teori Peran (Role Theory)
Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam
hubungannya dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936),
seorang antropolog, telah mengembangkan
Teori Peran. Teori Peran
menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain
sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini,
harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita
untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang
mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua,
wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai
dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia
adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus
mengobati pasien yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial
Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas
penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course”
memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap
anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori
usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, sebagian besar warga
Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima
tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja pada usia
tujuh belah tahun, mempunyai istri/suami pada usia dua puluh tujuh, pensiun
pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda. Usia sekolah dimulai sejak
tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas tahun, pensiun
usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age grading).
Dalam masyarakat kontemporer kehidupan kita dibagi ke dalam masa kanakkanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa
mempunyai bermacam-macam pembagian lagi.
b. Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas
Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro,
yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada
58
kelompok kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok
membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai
dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapanharapan tersebut mempengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota
kelompok tadi. Sudah tentu atribut yang paling berpengaruh terhadap munculnya
kinerja yang diharapkan adalah yang berkaitan dengan ketrampilan kerjanya.
Anggota-anggota kelompok dituntut memiliki motivasi dan ketrampilan yang
diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang diharapkan bisa
ditampilkan sebaik mungkin.
Bagaimanapun juga, kita sering kekurangan informasi tentang kemampuan yang
berkaitan dengan tugas yang relevan, dan bahkan ketika kita memiliki informasi,
yang muncul adalah bahwa kita juga harus mendasarkan harapan kita pada atribut
pribadi dan kelompok seperti : jenis kelamin, ras, dan usia. Dalam beberapa
masyarakat tertentu, beberapa atribut pribadi dinilai lebih penting daripada
atribut lainnya. Untuk menjadi pemimpin, jenis kelamin kadang lebih
diprioritaskan ketimbang kemampuan. Di Indonesia, untuk menjadi presiden, ras
merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi. Berger menyebut gejala tersebut
sebagai “difusi karakteristik status”; karakteristik status mempengaruhi harapan
kelompok kerja. Status laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan dalam soal
menjadi pemimpin, warganegara pribumi asli lebih diberi tempat menduduki
jabatan presiden. Difusi karakteristik status tersebut ( jenis kelamin, ras, usia, dan
lainnya) dengan demikian, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap interaksi
sosial.
c. Posmodernisme (Postmodernism)
Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan
perilaku sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat
kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada
dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO”
merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme,
contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara gradual
seseorang akan kehilangan individualitas-nya – kemandiriannya, konsep diri, atau
jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991; Gergen, 1991) . Dalam
pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk
kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan
citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan. Berdasarkan
pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan
dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi
pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme
atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai
barang yang bisa diperdagangkan – nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa
besar yang bisa dihasilkannya.
59
Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga
sebagai produsen. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial
yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi
gaya hidup. Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi oleh seberapa
besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan
sebagai “ pilihan kita sendiri” dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya,
sesungguhnya merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari
kebudayaan yang cocok dengan tempat kita dalam struktur ekonomi masyarakat
kita. Misalnya, kesukaan remaja Indonesia terhadap musik “rap” tidak lain adalah
disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui
radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik “rap” menjadi gaya
hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap”, dia bukan remaja.
Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada di
sekelilingnya , bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya
lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut “posmo”.
Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan
ilustrasi perspektif struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat
mempengaruhi perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur
sosial – pola interaksi yang sedang terjadi dalam masyarakat – sebagian besarnya
pembentuk dan sekaligus juga penghambat perilaku individual. Dalam pandangan
ini, individu mempunyai peran yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu
bertindak karena ada kekuatan struktur sosial yang menekannya.
4. Perspektif Interaksionis (Interactionist Perspective)
Seorang sosiolog yang bernama George Herbert Mead (1934) yang mengajar
psiokologi sosial pada departemen filsafat Universitas Chicago, mengembangkan
teori ini. Mead percaya bahwa keanggotaan kita dalam suatu kelompok sosial
menghasilkan perilaku bersama yang kita kenal dengan nama budaya. Dalam
waktu yang bersamaan, dia juga mengakui bahwa individu-individu yang
memegang posisi berbeda dalam suatu kelompok, mempunyai peran yang
berbeda pula, sehingga memunculkan perilaku yang juga berbeda. Misalnya,
perilaku pemimpin berbeda dengan pengikutnya. Dalam kasus ini, Mead tampak
juga seorang strukturis. Namun dia juga menentang pandangan bahwa perilaku
kita melulu dipengaruhi oleh lingkungan sosial atau struktur sosial. Sebaliknya
Mead percaya bahwa kita sebagai bagian dari lingkungan sosial tersebut juga telah
membantu menciptakan lingkungan tersebut. Lebih jauh lagi, dia memberi catatan
bahwa walau kita sadar akan adanya sikap bersama dalam suatu
kelompok/masyarakat, namun hal tersebut tidaklah berarti bahwa kita senantiasa
berkompromi dengannya. Mead juga tidak setuju pada pandangan yang
mengatakan bahwa untuk bisa memahami perilaku sosial, maka yang harus dikaji
adalah hanya aspek eksternal (perilaku yang teramati) saja. Dia menyarankan agar
aspek internal (mental) sama pentingnya dengan aspek eksternal untuk dipelajari.
Karena dia tertarik pada aspek internal dan eksternal atas dua atau lebih individu
60
yang berinteraksi, maka dia menyebut aliran perilakunya dengan nama “social
behaviorism”. Dalam perspektif interaksionis ada beberapa teori yang layak untuk
dibahas yaitu Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory), dan Teori
Identitas (Identity Theory).
a. Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory)
Walau Mead menyarankan agar aspek internal juga dikaji untuk bisa memahami
perilaku sosial, namun hal tersebut bukanlah merupakan minat khususnya. Justru
dia lebih tertarik pada interaksi, di mana hubungan di antara gerak-isyarat
(gesture) tertentu dan maknanya, mempengaruhi pikiran pihak-pihak yang sedang
berinteraksi. Dalam terminologi Mead, gerak-isyarat yang maknanya diberi
bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam interaksi adalah merupakan “satu
bentuk simbol yang mempunyai arti penting” ( a significant symbol”). Kata-kata
dan suara-lainnya, gerakan-gerakan fisik, bahasa tubuh (body langguage), baju,
status, kesemuanya merupakan simbol yang bermakna.
Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, di mana dua atau lebih individu berpotensi
mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol
yang dikeluarkan orang lain, demikian pula perilaku orang lain tersebut. Melalui
pemberian isyarat berupa simbol, kita mengutarakan perasaan, pikiran, maksud,
dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan orang lain, kita
menangkap pikiran, perasaan orang lain tersebut. Teori ini mirip dengan teori
pertukaran sosial.
Interaksi di antara beberapa pihak tersebut akan tetap berjalan lancar tanpa
gangguan apa pun manakala simbol yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak
dimaknakan bersama sehingga semua pihak mampu mengartikannya dengan baik.
Hal ini mungkin terjadi karena individu-individu yang terlibat dalam interaksi
tersebut berasal dari budaya yang sama, atau sebelumnya telah berhasil
memecahkan perbedaan makna di antara mereka. Namun tidak selamanya
interaksi berjalan mulus. Ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan simbol yang
tidak signifikan – simbol yang tidak bermakna bagi pihak lain. Akibatnya orangorang tersebut harus secara terus menerus mencocokan makna dan
merencanakan cara tindakan mereka.
Banyak kualitas perilaku manusia yang belum pasti dan senantiasa berkembang :
orang-orang membuat peta, menguji, merencanakan, menunda, dan memperbaiki
tindakan-tindakan mereka, dalam upaya menanggapi tindakan-tindakan pihak lain.
Sesuai dengan pandangan ini, individu-individu menegosiasikan perilakunya agar
cocok dengan perilaku orang lain.
b. Teori Identitas (Identity Theory)
Teori Indentitas dikemukakan oleh Sheldon Stryker (1980). Teori ini memusatkan
perhatiannya pada hubungan saling mempengaruhi di antara individu dengan
struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat). Individu dan masyarakat
dipandang sebagai dua sisi dari satu mata uang. Seseorang dibentuk oleh interaksi,
namun struktur sosial membentuk interaksi. Dalam hal ini Stryker tampaknya
setuju dengan perspektif struktural, khususnya teori peran. Namun dia juga
memberi sedikit kritik terhadap teori peran yang menurutnya terlampau tidak
peka terhadap kreativitas individu.
61
Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran (dari teori peran) dan konsep
diri/self (dari teori interaksi simbolis). Bagi setiap peran yang kita tampilkan dalam
berinteraksi dengan orang lain, kita mempunyai definisi tentang diri kita sendiri
yang berbeda dengan diri orang lain, yang oleh Stryker dinamakan “identitas”.
Jika kita memiliki banyak peran, maka kita memiliki banyak identitas. Perilaku kita
dalam suatu bentuk interaksi, dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri
kita, begitu juga perilaku pihak yang berinteraksi dengan kita.
Intinya, teori interaksi simbolis dan identitas mendudukan individu sebagai pihak
yang aktif dalam menetapkan perilakunya dan membangun harapan-harapan
sosial. Perspektif iteraksionis tidak menyangkal adanya pengaruh struktur sosial,
namun jika hanya struktur sosial saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku
sosial, maka hal tersebut kurang memadai.
Teori Perkembangan Psikososial
Teori Erik Erikson dipilih dan disajikan dalam buku yang berjudul “Personality Theory
Researche” oleh Pervin dan Jhon sebab dianggap sebagai teori yang mendukung
perkembangan dalam ilmu psikologi. Dengan kata lain teori Erikson dikatakan sebagai
salah satu teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan. Alasan yang
pertama, karena teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki kaitan atau
hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian
manusia. Kedua, menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap
tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan, dan yang ketiga/terakhir adalah
menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan
pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan
kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan.
Melalui teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari
mengenai perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna
memahami persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman
modern seperti ini.
TEORI
Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan erat dengan
kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya. Erikson
berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasar
psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson adalah
seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada
masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang
punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering
meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu
pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan
dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang
diajukan oleh Freud. Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai
hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai
tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan
psikososial apabila istilah ini dipakai dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara
62
khusus hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai
dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme
yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Sedangkan konsep perkembangan
yang diajukan dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal,
dan genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga
dimasukkannya cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan
sekaligus dibentuk oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya.
Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumpsi
mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah
ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses yang terjadi
dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic
Principle” yang sudah dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan
persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip
epigenetic. Di mana Erikson dalam teorinya mengatakan melalui sebuah rangkaian
kata yaitu :
(1) Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami
keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap
individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling
mempengaruhi, dalam radius sosial yang lebih luas.
(2) Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara
saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan
berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari
perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.
Dalam bukunya yang berjudul “Childhood and Society” tahun 1963, Erikson membuat
sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai
perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan istilah “delapan
tahap perkembangan manusia”. Erikson berdalil bahwa setiap tahap menghasilkan
epigenetic. Epigenetic berasal dari dua suku kata yaitu epi yang artinya “upon” atau
sesuatu yang sedang berlangsung, dan genetic yang berarti “emergence” atau
kemunculan. Gambaran dari perkembangan cermin mengenai ide dalam setiap tahap
lingkaran kehidupan sangat berkaitan dengan waktu, yang mana hal ini sangat
dominan dan karena itu muncul , dan akan selalu terjadi pada setiap tahap
perkembangan hingga berakhir pada tahap dewasa, secara keseluruhan akan adanya
fungsi/kegunaan kepribadian dari setiap tahap itu sendiri. Selanjutnya, Erikson
berpendapat bahwa tiap tahap psikososial juga disertai oleh krisis. Perbedaan dalam
setiap komponen kepribadian yang ada didalam tiap-tiap krisis adalah sebuah
masalah yang harus dipecahkan/diselesaikan. Konflik adalah sesuatu yang sangat vital
dan bagian yang utuh dari teori Erikson, karena pertumbuhan dan perkembangan
antar personal dalam sebuah lingkungan tentang suatu peningkatan dalam sebuah
sikap yang mudah sekali terkena serangan berdasarkan fungsi dari ego pada setiap
tahap.
Erikson percaya “epigenetic principle” akan mengalami kemajuan atau kematangan
apabila dengan jelas dapat melihat krisis psikososial yang terjadi dalam lingkaran
kehidupan setiap manusia yang sudah dilukiskan dalam bentuk sebuah gambar. Di
63
mana gambar tersebut memaparkan tentang delapan tahap perkembangan yang
pada umumnya dilalui dan dijalani oleh setiap manusia secara hirarkri seperti anak
tangga. Di dalam kotak yang bergaris diagonal menampilkan suatu gambaran
mengenai adanya hal-hal yang bermuatan positif dan negatif untuk setiap tahap
secara berturut-turut. Periode untuk tiap-tiap krisis, Erikson melukiskan mengenai
kondisi yang relatif berkaitan dengan kesehatan psikososial dan cocok dengan sakit
yang terjadi dalam kesehatan manusia itu sendiri.
Seperti telah dikemukakan di atas bahwa dengan berangkat dari teori tahap-tahap
perkembangan psikoseksual dari Freud yang lebih menekankan pada dorongandorongan seksual, Erikson mengembangkan teori tersebut dengan menekankan pada
aspek-aspek perkembangan sosial. Melalui teori yang dikembangkannya yang biasa
dikenal dengan sebutan Theory of Psychosocial Development (Teori Perkembangan
Psikososial), Erikson tidak berniat agar teori psikososialnya menggantikan baik teori
psikoseksual Freud maupun teori perkembangan kognitif Piaget. Ia mengakui bahwa
teori-teori ini berbicara mengenai aspek-aspek lain dalam perkembangan. Selain itu
di sisi lain perlu diketahui pula bahwa teori Erikson menjangkau usia tua sedangkan
teori Freud dan teori Piaget berhenti hanya sampai pada masa dewasa.
Meminjam kata-kata Erikson melalui seorang penulis buku bahwa “apa saja yang
tumbuh memiliki sejenis rencana dasar, dan dari rencana dasar ini muncullah bagianbagian, setiap bagian memiliki waktu masing-masing untuk mekar, sampai semua
bagian bersama-sama ikut membentuk suatu keseluruhan yang berfungsi. Oleh
karena itu, melalui delapan tahap perkembangan yang ada Erikson ingin
mengemukakan bahwa dalam setiap tahap terdapat maladaption/maladaptif
(adaptasi keliru) dan malignansi (selalu curiga) hal ini berlangsung kalau satu tahap
tidak berhasil dilewati atau gagal melewati satu tahap dengan baik maka akan
tumbuh maladaption/maladaptif dan juga malignansi, selain itu juga terdapat
ritualisasi yaitu berinteraksi dengan pola-pola tertentu dalam setiap tahap
perkembangan yang terjadi serta ritualisme yang berarti pola hubungan yang tidak
menyenangkan. Menurut Erikson delapan tahap perkembangan yang ada
berlangsung dalam jangka waktu yang teratur maupun secara hirarkri, akan tetapi
jika dalam tahap sebelumnya seseorang mengalami ketidakseimbangan seperti yang
diinginkan maka pada tahap sesudahnya dapat berlangsung kembali guna
memperbaikinya.
Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama
setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial,
yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Adapun tingkatan dalam delapan
tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson adalah
sebagai berikut :
Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun.
Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan
kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu
ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik apabila dorongan oralis
pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan
64
dengan nyaman dan tepat waktu, serta dapat membuang kotoron (eliminsi) dengan
sepuasnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif
sangat menentukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila
seorang ibu bisa memberikan rasa hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas
kepada bayi mereka, maka bayi itu akan mengembangkan perasaan dengan
menganggap dunia khususnya dunia sosial sebagai suatu tempat yang aman untuk
didiami, bahwa orang-orang yang ada didalamnya dapat dipercaya dan saling
menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi terhadap sikap yang
diberikan oleh ibunya akan menimbulkan rasa aman, dicintai, dan terlindungi.
Melalui pengalaman dengan orang dewasa tersebut bayi belajar untuk
menggantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya kepercayaan
berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta juga mempercayai
kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap lingkungannya.
Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya, dan
tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada hal-hal lain yang
membuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi memenuhi keinginan
mereka sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa tidak percaya, dan dia
akan selalu curiga kepada orang lain.
Hal ini jangan dipahami bahwa peran sebagai orangtua harus serba sempurna tanpa
ada kesalahan/cacat. Karena orangtua yang terlalu melindungi anaknya pun akan
menyebabkan anak punya kecenderungan maladaptif. Erikson menyebut hal ini
dengan sebutan salah penyesuaian indrawi. Orang yang selalu percaya tidak akan
pernah mempunyai pemikiran maupun anggapan bahwa orang lain akan berbuat
jahat padanya, dan akan memgunakan seluruh upayanya dalam mempertahankan
cara pandang seperti ini. Dengan kata lain,mereka akan mudah tertipu atau
dibohongi. Sebaliknya, hal terburuk dapat terjadi apabila pada masa kecilnya sudah
merasakan ketidakpuasan yang dapat mengarah pada ketidakpercayaan. Mereka
akan berkembang pada arah kecurigaan dan merasa terancam terus menerus. Hal ini
ditandai dengan munculnya frustasi, marah, sinis, maupun depresi. Pada dasarnya
setiap manusia pada tahap ini tidak dapat menghindari rasa kepuasan namun juga
rasa ketidakpuasan yang dapat menumbuhkan kepercayaan dan ketidakpercayaan.
Akan tetapi, hal inilah yang akan menjadi dasar kemampuan seseorang pada akhirnya
untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Di mana setiap individu perlu
mengetahui dan membedakan kapan harus percaya dan kapan harus tidak percaya
dalam menghadapi berbagai tantangan maupun rintangan yang menghadang pada
perputaran roda kehidupan manusia tiap saat.
Adanya perbandingan yang tepat atau apabila keseimbangan antara kepercayaan dan
ketidakpercayaan terjadi pada tahap ini dapat mengakibatkan tumbuhnya
pengharapan. Nilai lebih yang akan berkembang di dalam diri anak tersebut yaitu
harapan dan keyakinan yang sangat kuat bahwa kalau segala sesuatu itu tidak
berjalan sebagaimana mestinya, tetapi mereka masih dapat mengolahnya menjadi
baik.
Pada aspek lain dalam setiap tahap perkembangan manusia senantiasa berinteraksi
atau saling berhubungan dengan pola-pola tertentu (ritualisasi). Oleh sebab itu, pada
tahap ini bayi pun mengalami ritualisasi di mana hubungan yang terjalin dengan
65
ibunya dianggap sebagai sesuatu yang keramat (numinous). Jika hubungan tersebut
terjalin dengan baik, maka bayi akan mengalami kepuasan dan kesenangan
tersendiri. Selain itu, numinous ini pada akhirnya akan menjadi dasar bagaimana
orang menghadapi/berkomunikasi dengan orang lain, dengan penuh penerimaan,
penghargaan, tanpa ada ancaman dan perasaan takut. Sebaliknya, apabila dalam
hubungan tersebut bayi tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu akan
merasa terasing dan terbuang, sehingga dapat terjadi suatu pola kehidupan yang lain
di mana bayi merasa berinteraksi secara interpersonal atau sendiri dan dapat
menyebabkan adanya idolism (pemujaan). Pemujaan ini dapat diartikan dalam dua
arah yaitu anak akan memuja dirinya sendiri, atau sebaliknya anak akan memuja
orang lain.
Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya
disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun.
Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus
dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu
relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka
dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam
mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan
mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata lain, ketika orang tua dalam
mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya dalam aspek-aspek tertentu
misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat
mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa
mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan. Pada usia ini menurut
Erikson bayi mulai belajar untuk mengontrol tubuhnya, sehingga melalui masa ini
akan nampak suatu usaha atau perjuangan anak terhadap pengalaman-pengalaman
baru yang berorientasi pada suatu tindakan/kegiatan yang dapat menyebabkan
adanya sikap untuk mengontrol diri sendiri dan juga untuk menerima control dari
orang lain. Misalnya, saat anak belajar berjalan, memegang tangan orang lain,
memeluk, maupun untuk menyentuh benda-benda lain. Di lain pihak, anak dalam
perkembangannya pun dapat menjadi pemalu dan ragu-ragu. Jikalau orang tua
terlalu membatasi ruang gerak/eksplorasi lingkungan dan kemandirian, sehingga
anak akan mudah menyerah karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak
seharusnya bertindak sendirian.
Orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini tidak perlu mengobarkan keberanian
anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata lain, keseimbanganlah yang
diperlukan di sini. Ada sebuah kalimat yang seringkali menjadi teguran maupun
nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya yakni “tegas namun toleran”.
Makna dalam kalimat tersebut ternyata benar adanya, karena dengan cara ini anak
akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri. Sedikit rasa malu dan
ragu-ragu, sangat diperlukan bahkan memiliki fungsi atau kegunaan tersendiri bagi
anak, karena tanpa adanya perasaan ini, anak akan berkembang ke arah sikap
maladaptif yang disebut Erikson sebagai impulsiveness (terlalu menuruti kata hati),
sebaliknya apabila seorang anak selalu memiliki perasaan malu dan ragu-ragu juga
tidak baik, karena akan membawa anak pada sikap malignansi yang disebut Erikson
66
compulsiveness. Sifat inilah yang akan membawa anak selalu menganggap bahwa
keberadaan mereka selalu bergantung pada apa yang mereka lakukan, karena itu
segala sesuatunya harus dilakukan secara sempurna. Apabila tidak dilakukan dengan
sempurna maka mereka tidak dapat menghindari suatu kesalahan yang dapat
menimbulkan adanya rasa malu dan ragu-ragu.
Jikalau dapat mengatasi krisis antara kemandirian dengan rasa malu dan ragu-ragu
dapat diatasi atau jika diantara keduanya terdapat keseimbangan, maka nilai positif
yang dapat dicapai yaitu adanya suatu kemauan atau kebulatan tekad. Ritualisasi
yang dialami oleh anak pada tahap ini yaitu dengan adanya sifat bijaksana dan
legalisme. Melalui tahap ini anak sudah dapat mengembangkan pemahamannya
untuk dapat menilai mana yang salah dan mana yang benar dari setiap gerak atau
perilaku orang lain yang disebut sebagai sifat bijaksana. Sedangkan, apabila dalam
pola pengasuhan terdapat penyimpangan maka anak akan memiliki sikap legalisme
yakni merasa puas apabila orang lain dapat dikalahkan dan dirinya berada pada pihak
yang menang sehingga anak akan merasa tidak malu dan ragu-ragu walaupun pada
penerapannya mengarah pada suatu sifat yang negatif yaitu tanpa ampun, dan tanpa
rasa belas kasih.
Inisiatif vs Kesalahan
Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang
biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak
menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak
pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu
melakukan kesalahan. Masa-masa bermain merupakan masa di mana seorang anak
ingin belajar dan mampu belajar terhadap tantangan dunia luar, serta mempelajari
kemampuan-kemampuan baru juga merasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap
inisiatif merupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi
nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara
mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya
akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan
karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya
yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalah
atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang
mereka rasakan dan lakukan.
Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang keliru, hal ini
terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlalu minim.
Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya, yaitu apabila mereka
mempunyai suatu rencana baik itu mengenai sekolah, cinta, atau karir mereka tidak
peduli terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalangi rencananya apa
dan siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi mencapai tujuannya itu.
Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami pola asuh yang salah yang
menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan mengalami malignansi yaitu akan
sering berdiam diri (inhibition). Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak
memperlihatkan suatu usaha untuk mencoba melakukan apa-apa, sehingga dengan
berbuat seperti itu mereka akan merasa terhindar dari suatu kesalahan.
67
Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat diseimbangkan, maka akan lahir
suatu kemampuan psikososial adalah tujuan (purpose). Selain itu, ritualisasi yang
terjadi pada masa ini adalah masa dramatik dan impersonasi. Dramatik dalam
pengertiannya dipahami sebagai suatu interaksi yang terjadi pada seorang anak
dengan memakai fantasinya sendiri untuk berperan menjadi seseorang yang berani.
Sedangkan impersonasi dalam pengertiannya adalah suatu fantasi yang dilakukan
oleh seorang anak namun tidak berdasarkan kepribadiannya. Oleh karena itu,
rangakain kata yang tepat untuk menggambarkan masa ini pada akhirnya bahwa
keberanian, kemampuan untuk bertindak tidak terlepas dari kesadaran dan
pemahaman mengenai keterbatasan dan kesalahan yang pernah dilakukan
sebelumnya.
Kerajinan vs Inferioritas
Tahap keempat adalah tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur
6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah
dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa
rendah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari
lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki
peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian,
teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya. Tingkatan ini
menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya
hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa
rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar.
Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil,
apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat
mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses
karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat
mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru
sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia
seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang dialami oleh anak-anak pada umumnya
menimpa anak-anak yang cenderung lebih banyak bermain bersama teman-teman
dari pada belajar, dan hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan orang tua maupun
guru dalam mengontrol mereka. Kecenderungan maladaptif akan tercermin apabila
anak memiliki rasa giat dan rajin terlalu besar yang mana peristiwa ini menurut
Erikson disebut sebagai keahlian sempit. Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa
giat dan rajin maka akan tercermin malignansi yang disebut dengan kelembaman.
Mereka yang mengidap sifat ini oleh Alfred Adler disebut dengan “masalah-masalah
inferioritas”. Maksud dari pengertian tersebut yaitu jika seseorang tidak berhasil
pada usaha pertama, maka jangan mencoba lagi. Usaha yang sangat baik dalam
tahap ini sama seperti tahap-tahap sebelumnya adalah dengan menyeimbangkan
kedua karateristik yang ada, dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan
dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi.
Dalam lingkungan yang ada pola perilaku yang dipelajari pun berbeda dari tahap
sebelumnya, anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan
mempergunakan cara maupun metode yang standar, sehingga anak tidak terpaku
pada aturan yang berlaku dan bersifat kaku. Peristiwa tersebut biasanya dikenal
68
dengan istilah formal. Sedangkan pada pihak lain jikalau anak mampu mengerjakan
segala sesuatu dengan mempergunakan cara atau metode yang sesuai dengan aturan
yang ditentukan untuk memperoleh hasil yang sempurna, maka anak akan memiliki
sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang
dapat menyebabkan relasi dengan orang lain menjadi terhambat. Peristiwa ini
biasanya dikenal dengan istilah formalism.
Identitas vs Kekacauan Identitas
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa
puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Pencapaian identitas pribadi dan
menghindari peran ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam
tahap ini. Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan
penting, karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam
pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara
seseorang terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas
tidak hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat yang
ada dalam lingkungannya. Masa pubertas terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap
sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan baik maka segenap identifikasi di
masa kanak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial secara aku, sehingga pada
tahap ini mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu sikap yang baik
dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga anak pada
jenjang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan
orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah
dirinya. Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya yang
merupakan ego sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah
dijalani sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap
terakhir/tua. Oleh karena itu, salah satu point yang perlu diperhatikan yaitu apabila
tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau tidak berlangsung secara baik,
disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya
ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya, inilah yang disebut dengan
identity confusion atau kekacauan identitas.
Akan tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan
dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi
terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam lingkungannya. Erikson menyebut
maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme. Orang yang berada dalam sifat
fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran, cara maupun jalannyalah yang terbaik.
Sebaliknya, jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan identitas ego
maka Erikson menyebut malignansi ini dengan sebutan pengingkaran. Orang yang
memiliki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa atau
masyarakat akibatnya mereka akan mencari identitas di tempat lain yang merupakan
bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau
menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya. Kesetiaan akan
diperoleh sebagai nilai positif yang dapat dipetik dalam tahap ini, jikalau antara
identitas ego dan kekacauan identitas dapat berlangsung secara seimbang, yang
mana kesetiaan memiliki makna tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan
69
standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekurangan,
kelemahan, dan ketidakkonsistennya.
Keintiman vs Isolasi
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan
memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 2030 tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan
orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan
dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan
istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan
orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain
mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi,
peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini
tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik
sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya
kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana
seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati
tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan
misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita
cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya
dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri
sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa
benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan
seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teorinya,
cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk perbedaan dan
keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini
tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan
orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain. Ritualisasi yang terjadi pada tahap ini
yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan
mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat,
kekasih, dan lain-lain. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka
dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain.
Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh
orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Apabila pada tahap pertama
sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada
masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna
keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat
apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini
adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan
dapat dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh
berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap
yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.
Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tidak
70
punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah
penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan
kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya
kurang mendapat sambutan yang baik.
Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara
generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yaitu
kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme.
Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan
menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para
penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki
kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta
memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa,
sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung
dengan baik dan menyenangkan.
Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh
orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Dalam teori Erikson, orang yang
sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap
sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan
berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap
yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah
merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja
dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut
dapat diatasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori
Erikson terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan
oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini
akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana
sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan terjadinya
integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan
maladaptif yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau
menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan
kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi
yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumpah
serapah dan menyesali kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara
integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna
memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.
PENUTUP
Pada dasarnya pusat dari perumusan konsep Erikson meliputi beberapa bagian yang
dianggap memiliki aspek penting seiring berjalannya roda dalam kehidupan manusia
yaitu :

Identitas ego yang menurut Erikson berarti bahwa perkembangan setiap individu
adalah di dalam kerangka lingkungan dan budaya di mana setiap individu dapat
menemukan dirinya yang sebenarnya.
71



Langkah-langkah guna mengembangkan psikososial yang epigenetik. Pada awalnya
teori Erikson bermula dari teori Freud mengenai psikoseksual namun kemudian
dikembangkan oleh Erikson ke luar dari pendapat tersebut dengan
mempertimbangkan perkembangan ego dalam konteks psikososial.
Perkembangan hidup manusia pada dasarnya berawal atau beredar dari masa bayi
sampai masa usia senja/tua sesuai dengan delapan tahap perkembangan yang
dikemukakan oleh Erikson.
Kekuatan ego, yang menandai masing-masing delapan langkah-langkah
perkembangan manusia adalah kebaikan seperti harapan, akan tujuan dan
kebijaksanaan.
Hal lain yang menurut Erikson penting bahwa apabila kecenderungan dari segi positif
yang diinginkan tidak dapat dicapai dalam tahap sebelumnya, maka pada tahaptahap sesudahnya semua itu dapat terulang kembali untuk dapat diraih dan
dikembangkan. Setelah mempelajari teori perkembangan kepribadian Erikson ada hal
positif dan negatif yang muncul mengenai Teori Psikososial dari Erik Erikson yaitu
bahwa pencetus ide dalam teori ini, dalam hal ini Erikson setidak-tidaknya berhasil
memberi arah perkembangan kepribadian yaitu guna pencapaian identitas ego
berikut pematangannya. Dan hal ini diterangkan maupun dipaparkan oleh Erikson
secara baik dan lengkap melalui delapan tahap yang ada. Sedangkan dari sisi
negatifnya bahwa Erikson menetapkan hubungan antar tahap agak mengikat, seolaholah tahap sebelumnya begitu menentukan secara langsung kualitas dan kuantitas
pada tahap berikutnya.
KOGNISI
Kognisi adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses
berpikir tentang seseorang atau sesuatu.
Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi
pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai,
menalar, membayangkan dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa
diartikan sebagai kecerdasan atau inteligensi. Bidang ilmu yang mempelajari kognisi
beragam, di antaranya adalah psikologi, filsafat, komunikasi, neurosains, serta
kecerdasan buatan. Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya
dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku/
tindakan mereka terhadap sesuatu. Merubah pengetahuan seseorang akan sesuatu
dipercaya dapat merubah perilaku mereka.
Sejarah
Istilah kognisi berasal dari bahasa latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi
dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan
untuk memperoleh pengetahuan. Istilah ini digunakan oleh filsuf untuk mencari
pemahaman terhadap cara manusia berpikir. Karya Plato dan Aristotle telah memuat
topik tentang kognisi karena salah satu tujuan tujuan filsafat adalah memahami
segala gejala alam melalui pemahaman dari manusia itu sendiri. Kognisi dipahami
72
sebagai proses mental karena kognisi mencermikan pemikiran dan tidak dapat
diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung,
namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan
anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan tekateki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk diimitasi. Untuk
mengetahui lebih lanjut mengenai kognisi maka berkembanglah psikologi kognitif
yang menyelidiki tentang proses berpikir manusia. Proses berpikir tentunya
melibatkan otak dan saraf-sarafnya sebagai alat berpikir manusia oleh karena itu
untuk menyelidiki fungsi otak dalam berpikir maka berkembanglah neurosains
kognitif. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh kedua bidang ilmu tersebut banyak
dimanfaatkan oleh ilmu robot dalam mengembangkan kecerdasan buatan.
Fungsi-fungsi kognisi
1) Atensi dan kesadaran
Atensi adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar
informasi yang tersedia. Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan dan proses
kognitif lainnya. Atensi terbagi menjadi atensi terpilih (selective attention)dan atensi
terbagi (divided attention). Kesadaran meliputi perasaan sadar maupun hal yang
disadari yang mungkin merupakan fokus dari atensi.
2) Persepsi
Persepsi adalah rangkaian proses pada saat mengenali, mengatur dan memahami
sensasi dari panca indera yang diterima dari rangsang lingkungan. Dalam kognisi
rangsang visual memegang peranan penting dalam membentuk persepsi. Proses
kognitif biasanya dimulai dari persepsi yang menyediakan data untuk diolah oleh
kognisi.
3) Ingatan
Ingatan adalah saat manusia mempertahankan dan menggambarkan pengalaman
masa lalunya dan menggunakan hal tersebut sebagai sumber informasi saat ini.
Proses dari mengingat adalah menyimpan suatu informasi, mempertahankan dan
memanggil kembali informasi tersebut. Ingatan terbagi dua menjadi ingatan implisit
dan eksplisit. Proses tradisional dari mengingat melalui pendataan penginderaan,
ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang.
4) Bahasa
Bahasa adalah menggunakan pemahaman terhadap kombinasi kata dengan tujuan
untuk berkomunikasi. Adanya bahasa membantu manusia untuk berkomunikasi dan
menggunakan simbol untuk berpikir hal-hal yang abstrak dan tidak diperoleh melalui
penginderaan. Dalam mempelajari interaksi pemikiran manusia dan bahasa
dikembangkanlah cabang ilmu psikolinguistik
5) Pemecahan masalah dan kreativitas
73
Pemecahan masalah adalah upaya untuk mengatasi hambatan yang menghalangi
terselesaikannya suatu masalah atau tugas. Upaya ini melibatkan proses kreativitas
yang menghasilkan suatu jalan penyelesaian masalah yang orisinil dan berguna.
Pengambilan keputusan dan penalaran
Dalam melakukan pengambilan keputusan manusia selalu mempertimbangkan
penilaian yang dimilikinya. Misalnya seseorang membeli motor berwarna merah
karena kepentingan mobilitasnya, dan kesenangannya terhadap warna merah. Proses
dari pengambilan keputusan ini melibatkan banyak pilihan. Untuk itu manusia
menggunakan penalaran untuk mengambil keputusan. penalaran adalah proses
evaluasi dengan menggunakan pembayangan dari prinsip-prinsip yang ada dan faktafakta yang tersedia.
74
V SOSIOLOGI
Pada abad ke-19 seorang ahli filsafat Auguste Comte mengenalkan istilah sosiologi.
Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti kawan dan kata logos yang berarti
kata atau berbicara. Jadi sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat. Pitirim
Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan
dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara
gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral) dan gejala sosial dengan
gejala-gejala non-sosial (misalnya gejala geografis, biologis). Selo Soemardjan
menyatakan bahwa sosiologi ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan prosesproses sosial, termasuk perubahan sosial. Obyek sosiologi adalah masyarakat
(society) yang didefinisikan oleh Selo Soemardjan adalah orang-orang yang hidup
bersama yang menghasilkan kebudayaan.
Interaksi sosial sebagai faktor utama dalam kehidupan sosial
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena tanpa interaksi
sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial baru akan terjadi
jika memenuhi dua syarat, yaitu :


Adanya kontak sosial
Adanya komunikasi
Bentuk-bentuk interaksi sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan
(competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan/pertikaian (conflict).
Suatu pertikaian mungkin mendapatkan suatu penyelesaian. Mungkin penyelesaian
tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, proses ini dinamakan
akomodasi (accomodation) dan ini berarti bahwa kedua belah pihak belum tentu
puas sepenuhnya.
Kelompok-kelompok sosial
Tipe-tipe kelompok sosial dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut atau dasar ukuran
yaitu :





Besar-kecilnya anggota
Derajat interaksi sosial
Kepentingan dan wilayah
Kesamaan tujuan
Derajat organisasi
Kelompok primer (primary group) merupakan kelompok sosial yang paling sederhana
dimana anggotanya saling mengenal dan ada kerjasama yang erat.
Kelompok sekunder (secondary group) adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang,
antara siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan
sifatnya juga tidak begitu langgeng.
75
Paguyuban (gemeinschaft) adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat
oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Dasar hubungan
tersebut adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang telah dikodratkan. Misalnya,
keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga.
Patembayan (gesellschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk
jangka pendek. Ia bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka. Misalnya,
ikatan antar pedagang, organisasi dalam suatu pabrik.
Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan
oleh anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesamanya. Misalnya, partai
politik, organisasi.
Informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti.
Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan
yang berulangkali, yang menjadi dasar bertemunya kepentingan-kepentingan dan
pengalaman yang sama. Misalnya, adalah klik (clique) suatu kelompok kecil tanpa
struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Klik tersebut
ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan timbal balik antar anggota, biasanya
hanya bersifat “antara kita” saja.
Membership group merupakan suatu kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi
anggota kelompok tersebut.
Reference group ialah kelompok-kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang
(bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
Misalnya seorang anggota partai politik yang kebetulan menjadi anggota DPR. DPR
merupakan membership group baginya, akan tetapi jiwa dan jalan pikirannya tetap
terikat pada reference group-nya yaitu partainya.
Community (masyarakat setempat) menunjuk pada bagian masyarakat yang bertempat
tinggal di suatu wilayah dengan batas-batas tertentu, dimana faktor utama yang
menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggota dibandingkan
dengan interaksi dengan penduduk di luar batas wilayahnya.
Kelompok-kelompok sosial yang tidak teratur
Kerumunan (crowd) adalah individu-individu yang berkumpul secara kebetulan di
suatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan. Bentuk-bentuk kerumunan :







Khalayak penonton atau pendengar yang formal (formal audiences)
Kelompok ekspresif yang telah direncanakan (planned expressive group)
Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations)
Kerumunan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (panic crowds)
Kerumunan penonton (spectator crowds)
Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs)
Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds)
76
Stratifikasi Sosial
Sistem lapisan dalam masyarakat dikenal dengan istilah social stratification yang
merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara
bertingkat (hirarkis). Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan
sendirinya (dalam proses pertumbuhan masyarakat itu) tetapi ada pula yang dengan
sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Ukuran-ukuran yang biasa
dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan
adalah :




Ukuran kekayaan
Ukuran kekuasaan
Ukuran kehormatan
Ukuran ilmu pengetahuan
Kebudayaan
Kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa, dan cita-cita masyarakat. Oleh
C.Kluckhohn menyimpulkan adanya 7 unsur kebudayaan yang dianggap sebagai
cultural-universals, yaitu :







Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
Sistem kemasyarakatan
Bahasa
Kesenian
Sistem pengetahuan
Religi
Kebudayaan berguna bagi manusia yaitu untuk melindungi diri terhadap alam,
mengatur hubungan antar manusia dan sebagai wadah dari segenap perasaan
manusia. Pembentukan kepribadian individu dipengaruhi oleh faktor-faktor
kebudayaan, organisme biologis, lingkungan alam, dan lingkungan sosial individu
tersebut. Tak ada kebudayaan yang statis, setiap kebudayaan mempunyai dinamika.
Gerak tersebut merupakan akibat dari gerak masyarakat yang menjadi wadah
kebudayaan.
Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan
di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di
dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok
dalam masyarakat.
Faktor-faktor yang mendorong jalannya proses perubahan adalah :




Kontak dengan kebudayaan lain
Sistem pendidikan yang maju
Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju
Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang
77





Sistem lapisan masyarakat yang terbuka
Penduduk yang heterogen
Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu
Orientasi ke muka
Nilai meningkatkan taraf hidup
Faktor-faktor yang menghambat terjadinya perubahan adalah :









Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
Perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat
Sikap masyarakat yang tradisionalistis
Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat
Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan
Prasangka terhadap hal-hal yang baru/asing
Hambatan ideologis
Kebiasaan
Nilai pasrah
Masalah dan Manfaat Sosiologi
Masalah sosial adalah ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam kebudayaan atau
masyarakat yang membahayakan hidupnya kelompok sosial. Atau menghambat
terpenuhinya keinginan-keinginan pokok para warga kelompok sosial sehingga
menyebabkan rusaknya ikatan sosial. Beberapa masalah sosial yang penting adalah :









Kemiskinan, sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara
dirinya sendiri sesuai dengan ukuran kehidupan kelompoknya dan juga tidak mampu
memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut
Kejahatan
Disorganisasi keluarga, yaitu suatu perpecahan dalam keluarga sebagai unit oleh
karena anggota-anggota keluarga tersebut gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya
yang sesuai dengan peranan sosialnya
Masalah generasi muda
Peperangan
Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat
Masalah kependudukan
Masalah lingkungan
Birokrasi
Sosiologi mempunyai kegunaan bagi proses pembangunan dalam hal-hal sebagai berikut:
a)
i.
ii.
iii.
iv.
b)
Tahap perencanaan untuk mengidentifikasi
Kebutuhan-kebutuhan sosial
Lapisan sosial
Pusat-pusat kekuasaan
Sistem dan saluran-saluran komunikasi sosial
Tahap pelaksanaan
78
i. Identifikasi terhadap kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat
ii. Pengamatan terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi
c) Tahap evaluasi
Analisis terhadap efek-efek sosial pembangunan
79
VI IDEOLOGI
Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh
Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang ide".
Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang
segala sesuatu secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan
beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan
oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Ideologi adalah suatu
ilmu yang berkaitan dengan cita-cita yang terdiri atas seperang kat gagasan-gagasan
atau pemikiran manu sia mengenai soal-soal cita politik, doktrin atau ajaran, nilainilai yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Menurut Profesor Lowenstein “ideologi adalah suatu penyelarasan dan penggabung
an pola pikiran dan kepercayaan, atau pemikiran bertukar menjadi kepercayaan,
penerangan sikap manusia tentang hidup dan kehadirannya dalam masyarakat dan
mengusulkan suatu kepemimpinan dan memperseimbangkannya berdasarkan
pemikiran dan kepercayaan itu”. Menurut Sastrapratedja, ideologi adalah
seperangkat gagasan atau pemikiran yang berorientasi pada tindakan yang
diorganisir menjadi suatu sistem yang teratur.
Ideologi merupakan gambaran dari :
•
Sejauh mana masyarakat berhasil memahami dirinya sendiri.
•
Lukisan tentang kemampuannya memberikan harapan kepada berbagai kelompok/
golongan yang ada pada masyarakat untuk mempunyai kehidupan bersama secara
lebih baik dan untuk membangun masa depan yang lebih cerah.
•
Kemampuan mempengaruhi sekaligus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan
perkembangan masyarakat.
Fungsi Ideologi :
•
Memberi struktur kognitif, pengetahuan ma- nusia sebagai landasan untuk
memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian-kejadiannya dalam alam sekitarnya.
•
Orientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta
menunjuk-kan tujuan dalam kehidupan manusia.
•
Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan bagi seseorang untuk
melangkah dan bertindak.
•
Memberikan bekal dan jalan seseorang untuk menemukan identitasnya.
•
Kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk menjalankan
kegiatan dan mencapai tujuan.
•
Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati serta
memolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang
terkandung di dalamnya.
80
Bentuk-bentuk ideologi
Menurut Karl manheim yang beraliran Marx secara sosiologis ideologi dibedakan
menjadi 2 yaitu, ideologi yang bersifat partikular dan ideologi yang bersifat komprehensif.
1) Ideologi partikular
 Nilai-nilai dan cita-cita merupakan suatu keyakinan-keyakinan yang tersusun
secara sistematis dan terkait erat dengan kepentingan kelas sosial tertentu
 Hubungan penguasa dengan rakyat pada negara komunis membela kaum
proletar sedangkan, pada negara liberal membela kebebasan individu
2) Ideologi komprehensif
 Mengakomodasi nilai-nilai dan cita-cita yang bersifat menyeluruh tanpa
berpihak pada golongan tertentu atau melakukan transformasi sosial secara
besar-besaran menuju bentuk tertentu
 Negara mengakomodasi berbagai idealisme yang berkembang dalam
masyarakat yang bersifat majemuk seperti Indonesia dengan ideologi
Pancasila
Pada konsep yang lain ideologi dibagi menjadi 2 bentuk yaitu, ideologi terbuka dan
ideologi tertutup.
a) Ideologi terbuka
 Memiliki ciri khas nilai-nilai dan cita-cita digali dari kekayaan adat istiadat,
budaya dan religius masyarakatnya.
 Menerima reformasi
 Penguasa bertanggungjawab pada masyarakat sebagai pengemban
amanah rakyat
b) Ideologi tertutup
 Nilai-nilai dan cita-cita dihasilkan dari pemikiran individu atau kelompok
yang berkuasa dan masyarakat berkorban demi ideologinya
 Menolak reformasi
 Masyarakat harus taat kepada ideologi elit penguasa
 Totaliter
Jenis-jenis Ideologi
1) Anarkisme
Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa
segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga
yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara,
pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.
Teori politik
Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa
hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha
mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format
81
yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan
individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan
dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu
dengan yang lainnya.
Anarkisme dan kekerasan
Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan
kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya,
seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon
Czolgosz, grup N17 di Yunani. Yang sangat sarat akan penggunaan kekerasan dalam
sebuah metode gerakan. Penggunaan kekerasan dalam anarkisme sangat berkaitan
erat dengan metode propaganda by the deed, yaitu metode gerakan dengan
menggunakan aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh,
yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan. Selama
hal tersebut ditujukan untuk menyerang kapitalisme ataupun negara. Namun
demikian, tidak sedikit juga dari para anarkis yang tidak sepakat untuk menjadikan
kekerasan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh. Dari berbagai selisih paham
antar anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan sebagai sebuah metode,
kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga
anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang
anarkisme yang banyak dikutip oleh berbagai media di Indonesia yang berarti sebagai
sebuah aksi kekerasan. Karena bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola
tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan
apapun.
Varian-varian anarkisme
Anarkisme, yang besar dan kemudian berbeda jalur dengan Marxisme, bukan
merupakan suatu ideologi yang tunggal. Di dalam anarkisme sendiri banyak aliranaliran pemikiran yang cukup berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan itu terutama
dalam hal penekanan dan prioritas pada suatu aspek. Aliran-aliran dan pemikiranpemikiran yang berbeda di dalam Anarkisme adalah suatu bentuk dari
berkembangnya ideologi ini berdasarkan perbedaan latar belakang tokoh, peristiwaperistiwa tertentu dan tempat/lokasi dimana aliran itu berkembang.
 Anarkisme-kolektif
Kelompok anarkisme-kolektif sering diasosiasikan dengan kelompok anti-otoritarian
pimpinan Mikhail Bakunin yang memisahkan diri dari Internationale I. Kelompok ini
kemudian membentuk pertemuan sendiri di St. Imier (1872). Disinilah awal
perbedaan antara kaum anarkis dengan Marxis, diman sejak saat itu kaum anarkis
menempuh jalur perjuangan yang berbeda dengan kaum Marxis. Perbedaan itu
terutama dalam hal persepsi terhadap negara. Doktrin utama dari anarkis-kolektif
adalah "penghapusan segala bentuk negara" dan "penghapusan hak milik pribadi
dalam pengertian proses produksi". Doktrin pertama merupakan terminologi umum
anarkisme, tetapi kemudian diberikan penekanan pada istilah "kolektif" oleh Bakunin
sebagai perbedaan terhadap ide negara sosialis yang dihubungkan dengan kaum
Marxis. Sedangkan pada doktrin kedua, anarkis-kolektif mengutamakan penghapusan
82
adanya segala bentuk hak milik yang berhubungan dengan proses produksi dan
menolak hak milik secara kolektif yang dikontrol oleh kelompok tertentu. Menurut
mereka, pekerja seharusnya dibayar berdasarkan jumlah waktu yang mereka
kontribusikan pada proses produksi dan bukan "menurut apa yang mereka inginkan".
Pada tahun 1880-an, para pendukung anarkis kebanyakan mengadopsi pemikiran
anarkisme-komunis, suatu aliran yang berkembang terutama di Italia setelah
kematian Bakunin. Ironisnya, label "kolektif" kemudian secara umum sering
diasosiasikan dengan konsep Marx tentang negara sosialis.
 Anarkisme-komunis
William Godwin menjadi orang pertama yang memberikan bentuk yang jelas
mengenai filsafat anarkisme dan meletakannya dalam konteks proses evolusi sosial
pada saat itu. Karya tersebut, boleh kita bilang adalah ‘buah matang’ yang
merupakan hasil daripada evolusi yang panjang dalam perkembangan konsep politik
dan sosial radikal di Inggris. William Godwin menyadari bahwa sebab-sebab penyakit
sosial dapat ditemukan bukanlah dalam bentuk negara tetapi karena adanya negara
itu. Pada saat ini, negara hanyalah merupakan karikatur masyarakat, dan manusia
yang ada dalam cengkraman negara ini hanyalah merupakan karikatur diri mereka
karena manusia-manusia ini digalakkan untuk menyekat ekspresi alami mereka dan
untuk melakukan tindakan-tindakan yang merusak akhlaknya. Hanya dengan caracara tersebut, manusia dapat dibentuk menjadi hamba yang taat. Ide Godwin
mengenai masyarakat tanpa negara mengasumsikan hak sosial untuk semua
kekayaan alam dan sosial, dan kegiatan ekonomi akan dijalankan berdasarkan kooperasi bebas diantara produsen-produsen; dengan idenya, Godwin menjadi penemu
Anarkisme Komunis.
Berbeda dengan anarkisme-kolektif yang masih mempertahankan upah buruh
berdasarkan kontribusi mereka terhadap produksi, anarkisme-komunis memandang
bahwa setiap individu seharusnya bebas memperoleh bagian dari suatu hak milik
dalam proses produksi berdasarkan kebutuhan mereka. Kelompok anarkismekomunis menekankan pada egalitarianism (persamaan), penghapusan hirarki sosial
(social hierarchy), penghapusan perbedaan kelas, distribusi kesejahteraan yang
merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan kesukarelaan.
Negara dan hak milik pribadi adalah hal-hal yang tidak seharusnya eksis dalam
anarkisme-komunis. Setiap orang dan kelompok berhak dan bebas untuk
berkontribusi pada produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan
pilihannya sendiri.
 Anarko-Sindikalisme
Salah satu aliran yang berkembang cukup subur di dalam lingkungan anarkisme
adalah kelompok anarko-sindikalisme. Tokoh yang terkenal dalam kelompok anarkosindikalisme antara lain Rudolf Rocker, ia juga pernah menjelaskan ide dasar dari
pergerakan ini, apa tujuannya, dan kenapa pergerakan ini sangat penting bagi masa
depan buruh dalam pamfletnya yang berjudul Anarchosyndicalism pada tahun
1938.[6] Pada awalnya, Bakunin juga adalah salah satu tokoh dalam anarkisme yang
gerakan-gerakan buruhnya dapat disamakan dengan orientasi kelompok anarkosindikalisme, tetapi Bakunin kemudian lebih condong pada anarkisme-kolektif.
83
Anarko-sindikalisme adalah salah satu cabang anarkisme yang lebih menekankan
pada gerakan buruh (labour movement). Sindikalisme, dalam bahasa Perancis, berarti
“trade unionism”. Kelompok ini berpandangan bahwa serikat-serikat buruh (labor
unions) mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk mewujudkan suatu perubahan
sosial secara revolusioner, mengganti kapitalisme serta menghapuskan negara dan
diganti dengan masyarakat demokratis yang dikendalikan oleh pekerja. Anarkosindikalisme juga menolak sistem gaji dan hak milik dalam pengertian produksi. Dari
ciri-ciri yang dikemukakan diatas, anarko-sindikalisme sepertinya tidak mempunyai
perbedaan dengan kelompok-kelompok anarkisme yang lain. Prinsip-prinsip dasar
yang membedakan anarko-sindikalisme dengan kelompok lainnya dalam anarkisme
adalah : (1) Solidaritas pekerja (Workers Solidarity); (2) Aksi langsung (direct action);
dan (3) Manajemen-mandiri buruh (Workers self-management).
 Anarkisme individualisme
Anarkisme individualisme atau Individual-anarkisme adalah salah satu tradisi filsafat
dalam anarkisme yang menekankan pada persamaan kebebasan dan kebebasan
individual. Konsep ini umumnya berasal dari liberalisme klasik. Kelompok individualanarkisme percaya bahwa "hati nurani individu seharusnya tidak boleh dibatasi oleh
institusi atau badan-badan kolektif atau otoritas publik". Karena berasal dari tradisi
liberalisme, individual-anarkisme sering disebut juga dengan nama "anarkisme
liberal". Tokoh-tokoh yang terlibat dalam individual-anarkisme antara lain adalah
Max Stirner, Josiah Warren, Benjamin Tucker, John Henry Mackay, Fred Woodworth,
dan lain-lain. Kebanyakan dari tokoh-tokoh individual-anarkisme berasal dari Amerika
Serikat, yang menjadi basis liberalisme. Dan oleh karena itu pandangan mereka
terhadap konsep individual-anarkisme kebanyakan dipengaruhi juga oleh alam
pemikiran liberalisme. Individual-anarkisme sering juga disebut "anarkisme-egois".
Selain aliran-aliran yang disebut diatas, masih banyak lagi aliran lain yang memakai
pemikiran anarkisme sebagai dasarnya. Antara lain :
 Post-Anarchism, yang dikembangkan oleh Saul Newman dan merupakan sintesis
antara teori anarkisme klasik dan pemikiran post-strukturalis.
 Anarki pasca-kiri, yang merupakan sintesis antara pemikiran anarkisme dengan
gerakan anti-otoritas revolusioner diluar pemikiran “kiri” mainstream.
 Anarka-Feminisme, yang lebih menekankan pada penolakan pada konsep
patriarka yang merupakan perwujudan hirarki kekuasaan. Tokohnya antara lain
adalah Emma Goldman.
 Eko-Anarkisme dan Anarkisme Hijau, yang lebih menekankan pada lingkungan.
 Anarkisme insureksioner, yang merupakan gerakan anarkis yang menentang
segala organisasi anarkis dalam bentuk yang formal, seperti serikat buruh,
maupun federasi.
Anarkisme dan Agama
Anarkis-kristen
Dalam agama Kristen, konsep yang dipakai oleh kaum anarkis-kristen adalah
berdasarkan konsep bahwa hanya Tuhan yang mempunyai otoritas dan kuasa di
dunia ini dan menolak otoritas negara, dan juga gereja, sebagai manifestasi
84
kekuasaan Tuhan. Dari konsep ini kemudian berkembang konsep-konsep yang lain
misalnya pasifisme (anti perang), non-violence (anti kekerasan), abolition of state
control (penghapusan kontrol negara), dan tax resistance (penolakan membayar
pajak). Semuanya itu dalam konteks bahwa kekuasaan negara tidak lagi eksis di bumi
dan oleh karena itu harus ditolak. Tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi dalam
perkembangan gerakan anarkis-kristen antara lain : Soren Kierkegaard, Henry David
Thoreau, Nikolai Berdyaev, Leo Tolstoy, dan Adin Ballou.
Anarkisme dan Islam
Dalam agama Islam, kelompok anarkisme melakukan interpretasi terhadap konsep
bahwa Islam adalah agama yang bercirikan penyerahan total terhadap Allah (bahasa
Arab allāhu ‫)ا هلل‬, yang berarti menolak peran otoritas manusia dalam bentuk apapun.
Anarkis-Islam menyatakan bahwa hanya Allah yang mempunyai otoritas di bumi ini
serta menolak ketaatan terhadap otoritas manusia dalam bentuk fatwa atau imam.
Hal ini merupakan elaborasi atas konsep “tiada pemaksaan dalam beragama”.
Konsep anarkisme-islam kemudian berkembang menjadi konsep-konsep lainnya yang
mempunyai kemiripan dengan ideologi sosialis seperti pandangan terhadap hak milik,
penolakan terhadap riba, penolakan terhadap kekerasan dan mengutamakan selfdefense, dan lain-lain. Salah seorang tokoh muslim anarkis yang berpengaruh yaitu
Peter Lamborn Wilson, yang selalu menggunakan nama pena Hakim Bey. Dia
mengkombinasikan ajaran sufisme dan neo-pagan dengan anarkisme dan
situasionisme.
Kritik atas anarkisme
Baik secara teori ataupun praktek, anarkisme telah menimbulkan perdebatan dan
kritik-kritik atasnya. Beberapa kritik dilontarkan oleh lawan utama dari anarkisme
seperti pemerintah. Beberapa kritik lainnya bahkan juga dilontarkan oleh para
anarkis sendiri serta ada juga yang muncul dari kalangan kaum kiri otoritarian seperti
yang dilontarkan oleh kalangan marxisme. Kritik biasanya dilontarkan sekitar
permasalahan idealisme anarkisme yang mustahil dapat diterapkan di dunia nyata,
seperti apa yang banyak dipecaya oleh para anarkis mengenai ajaran bahwa manusia
pada dasarnya baik dan bisa menggalang solidaritas kemanusiaan untuk
kesejahteraan manusia tanpa penindasan oleh sebagiannya yang hal tersebut banyak
dibantah oleh para ekonom. Dan juga mengenai ajaran bahwa setiap manusia lahir
bebas setara yang juga dibantah oleh para pakar sosiolog.
2) Sosialisme
Istilah sosialisme atau sosialis dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan
dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai
digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, istilah ini digunakan pertama
kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Perancis, istilah ini
mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832 yang
dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalam l'Encyclopédie Nouvelle.
Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang
berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah
ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19
85
hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan
masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat
melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite. Menurut penganut
Marxisme, terutama Friedrich Engels, model dan gagasan sosialis dapat dirunut
hingga ke awal sejarah manusia dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial.
Sosialisme sebagai sistem ekonomi
Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada konsep Karl
Marx tentang penghapusan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme
menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas
penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan,
dan sebagainya.
3) Fasisme
Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut
tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga
otoriter sangat kentara. Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari
bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu
tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan
pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah.
Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara
itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan
fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia
karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme dan
rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka
membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.
4) Kapitalisme
Kapitalisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan
usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka
pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama.
Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang
bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah
sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada
masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu
maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat
memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang
modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke
barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus
mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan
juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut. Kapitalisme memiliki
sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan
oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal
kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan
hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan
86
sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada
dua atau tiga abad yang lalu.
Perspektif filosofi kapitalisme
Kapitalisme adalah salah satu pola pandang manusia dalam segala kegiatan
ekonominya. Perkembangannya tidak selalu bergerak ke arah positif seperti yang
dibayangkan banyak orang, tetapi naik turun. Kritik keberadaan kapitalis sebagai
suatu bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah adalah salah satu faktor
yang menyebabkan aliran ini banyak dikritik. Akan tetapi, bukan hanya kritik saja
yang mengancam kapitalisme, melainkan juga ideologi lain yang ingin
melenyapkannya, seperti komunisme.
5) Komunisme
Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia. Penganut faham ini berasal dari
Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels,
sebuah manuskrip politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori
mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan
masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu
gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik. Komunisme pada awal
kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19an,
dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah
bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan
tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam
komunisme antara penganut komunis teori dengan komunis revolusioner yang
masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangannya yang saling berbeda dalam
pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai
masyarakat utopia.
Ide dasar
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional.
Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh
partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan
racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut
"Marxisme-Leninisme". Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari
pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara
ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan
proletar, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui
perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat
diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah
yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati karena
korupsi yang dilakukan oleh para pemimpinnya. Komunisme sebagai anti-kapitalisme
menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan
sangat menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu. pada prinsipnya
semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh
alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata
akan tetapi dalam kenyataannya hanya dikelolah serta menguntungkan para elit
87
partai, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistim demokrasi keterwakilan
yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi
langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis
karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana
terdapat pada paham liberalisme. Secara umum komunisme berlandasan pada teori
Dialektika materi oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan agama
dengan demikian pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama
dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya
dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang
nyata (kebenaran materi).
6) Komunitarianisme
Komunitarianisme sebagai sebuah kelompok yang terkait, namun berbeda
filsafatnya, mulai muncul pada akhir abad ke-20, menentang aspek-aspek dari
liberalisme, kapitalisme dan sosialisme sementara menganjurkan fenomena seperti
masyarakat sipil. Komunitarianisme tidak dengan sendirinya memushi liberalisme in
dalam pengertian katanya di Amerika saat ini, namun penekanannya berbeda. Paham
ini mengalihkan pusat perhatian kepada komunitas dan masyarakat serta menjauhi
individu. Masalah prioritas, entah pada individu atau komunitas seringkali
dampaknya paling terasa dalam masalah-masalah etis yang paling mendesak, seperti
misalnya pemeliharaan kesehatan, aborsi, multikulturalisme, dan hasutan.
Terminologi
Meskipun istilah komunitarianisme berasal dari abad ke- 20, kata ini berasal dari
istilah komunitarian tahun 1840-an, yang diciptakan oleh Goodwyn Barmby untuk
merujuk kepada orang yang menjadi anggota atau penganjur dari suatu masyarakat
yang komunalis. Penggunaan istilah ini di masa modern mendefinisikan ulang
pengertian aslinya. Banyak penganjur komunitarian yang menelusuri filsafat mereka
kepada para pemikir yang lebih awal. Istilahnya sendiri pada dasarnya digunakan
dalam tiga pengertian:



Komunitarianisme filosofis menganggap liberalisme klasik secara ontologis
dan epistemologis tidak koheren, dan menentangnya dengan alas an-alasan
tersebut. Berbeda dengan liberalisme klasik, yang memahami bahwa
komunitias berasal dari tindakan sukarela individu-individu dari masa prakomunitas, komunitarianisme menekankan peranan komunitas dalam
mendefinisikan dan membentuk individu. Kaum komunitarian percaya bahwa
nilai komunitas tidak cukup diakui dalam teori-teori liberal tentang keadilan.
Komunitarianisme ideologis adalah sebuah ideologi tengah yang radikal, yang
menekankan komunitas, dan kadang-kadang ditandai oleh paham kirinya
dalam masalah-masalah ekonomi dan konservatisme dalam masalah-masalah
sosial. Penggunaan istilah ini diciptakan baru-baru ini. Bila istilahnya
menggunakan huruf besar, maka kata ini biasanya merujuk kepada gerakan
Komunitarian Responsif dari Amitai Etzioni dan para filsuf lainnya.
Hukum komunitarian, juga dikenal sebagai acquis communautaire, merujuk
kepada seluruh kumpulan hukum yang diakumulasikan dalam organisasiorganisasi supra nasional seperti misalnya Uni Eropa.
88
7) Konservatisme
Konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional.
Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa Latin, conservāre, melestarikan; "menjaga,
memelihara, mengamalkan". Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan
dan berbeda-beda, kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan
yang berbeda-beda pula. Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status
quo, sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang
lampau, the status quo ante. Samuel Francis mendefinisikan konservatisme yang
otentik sebagai “bertahannya dan penguatan orang-orang tertentu dan ungkapanungkapan kebudayaannya yang dilembagakan.” Roger Scruton menyebutnya sebagai
“pelestarian ekologi sosial” dan “politik penundaan, yang tujuannya adalah
mempertahankan, selama mungkin, keberadaan sebagai kehidupan dan kesehatan
dari suatu organisme sosial.” Meskipun konservatisme adalah suatu pemikiran politik,
sejak awal, ia mengandung banyak alur yang kemudian dapat diberi label konservatif,
baru pada Masa Penalaran, dan khususnya reaksi terhadap peristiwa-peristiwa di
sekitar Revolusi Perancis pada 1789, konservatisme mulai muncul sebagai suatu sikap
atau alur pemikiran yang khas. Banyak orang yang mengusulkan bahwa bangkitnya
kecenderungan konservatif sudah terjadi lebih awal, pada masa-masa awal
Reformasi, khususnya dalam karya-karya teolog Anglikan yang berpengaruh, Richard
Hooker – yang menekankan pengurangan dalam politik demi menciptakan
keseimbangan kepentingan-kepentingan menuju keharmonisan sosial dan kebaikan
bersama. Namun baru ketika polemic Edmund Burke muncul - Reflections on the
Revolution in France - konservatisme memperoleh penyaluran pandanganpandangannya yang paling berpengaruh. Negarawan Inggris-Irlandia Edmund Burke,
yang dengan gigih mengajukan argumen menentang Revolusi Perancis, juga
bersimpati dengan sebagian dari tujuan-tujuan Revolusi Amerika. Tradisi konservatif
klasik ini seringkali menekankan bahwa konservatisme tidak mempunyai ideologi,
dalam pengertian program utopis, dengan suatu bentuk rancangan umum. Burke
mengembangkan gagasan-gagasan ini sebagai reaksi terhadap gagasan 'tercerahkan'
tentang suatu masyarakat yang dipimpin oleh nalar yang abstrak. Meskipun ia tidak
menggunakan istilah ini, ia mengantisipasi kritik terhadap modernisme, sebuah istilah
yang pertama-tama digunakan pada akhir abad ke-19 oleh tokoh konservatif
keagamaan Belanda Abraham Kuyper. Burke merasa terganggu oleh Pencerahan, dan
sebaliknya menganjurkan nilai tradisi.
8) Liberalisme
Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang
didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan
oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya
pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki
adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha
pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang
transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh
karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.
89
Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi,
hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas.
9) Marxisme
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl
Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi,
sistem sosial dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis. Teori ini
merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku
Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels.
Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia
menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum
proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjamjam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum
kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh.
Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi"
dab penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk
mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme
diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx
kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari
marxisme.
10) Nasionalisme
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan
kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu
konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap
negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy).
Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang
menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau
gabungan kedua teori itu. Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat
pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama
dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri
mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk
mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah
cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan
inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak
menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari
serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.
Beberapa bentuk dari nasionalisme
Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau
gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara, etnis,
budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan
kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua elemen
tersebut.
Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme
dimana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya,
90
"kehendak rakyat"; "perwakilan politik". Teori ini mula-mula dibangun oleh JeanJacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara tulisan yang terkenal
adalah buku berjudulk Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia "Mengenai
Kontrak Sosial").
Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh
kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh
Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman
untuk "rakyat").
Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas)
adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran
politik secara semulajadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat
romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya
etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk konsep
nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder
merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.
Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh
kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna
kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang
menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah
dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap
sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat
istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat
Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya
mereka tetapi menolak RRC karena pemerintahan RRC berpaham komunisme.
Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu
digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga
diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu
negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi.
Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang ulung, seolaholah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah
Nazisme.
Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh
legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme
etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia
semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik;
nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dari
agama Hindu. Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya
merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada
abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama
Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan
teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut
paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia.
Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.
91
11) Nazisme
Nazisme, atau secara resmi Nasional Sosialisme (Jerman: Nationalsozialismus),
merujuk pada sebuah ideologi totalitarian Partai Nazi (Partai Pekerja Nasional-Sosialis
Jerman, Jerman: Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau NSDAP) di
bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Kata ini juga merujuk pada kebijakan yang dianut
oleh pemerintahan Jerman pada tahun 1933—1945, sebuah periode yang kemudian
dikenal sebagai Jerman Nazi atau Reich Ketiga. Sampai hari ini orang-orang yang
berhaluan ekstrim kanan dan rasisme sering disebut sebagai Neonazi (neo = "baru"
dalam bahasa Yunani). Partai yang semula bernama Partai Pekerja Jerman (DAP) ini
didirikan pada tanggal 5 Januari 1919 oleh Anton Drexler. Hitler kemudian bergabung
dengan partai kecil ini pada bulan September 1919, dan menjadi pemimpin
propaganda, mengubah nama partai itu (1 April 1920), dan menjadi pemimpin partai
pada tanggal 29 Juli 1921. Nazisme bukanlah sebuah ideologi baru, melainkan sebuah
kombinasi dari berbagai ideologi dan kelompok yang memiliki kesamaan pendapat
tentang penentangan Perjanjian Versailes dan kebencian terhadap Yahudi dan
Komunis yang dipercaya berada di balik perjanjian tersebut.
12) Neoliberalisme
Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal mengacu pada
filosofi ekonomi-politik akhir-abad keduapuluhan, sebenarnya merupakan redefinisi
dan kelanjutan dari liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian
neoklasik yang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam
ekonomi domestik karena akan mengarah pada penciptaan Distorsi dan High Cost
Economy yang kemudian akan berujung pada tindakan koruptif. Paham ini
memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas merobohkan hambatan
untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan
keuntungan dari meningkatkan standar hidup masyarakat atau rakyat sebuah negara
dan modernisasi melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya
investasi. Neoliberalisme bertujuan mengembalikan kepercayaan pada kekuasaan
pasar, dengan pembenaran mengacu pada kebebasan. Seperti pada contoh kasus
upah pekerja, dalam pemahaman neoliberalisme pemerintah tidak berhak ikut
campur dalam penentuan gaji pekerja atau dalam masalah-masalah tenaga kerja
sepenuhnya ini urusan antara si pengusaha pemilik modal dan si pekerja. Pendorong
utama kembalinya kekuatan kekuasaan pasar adalah privatisasi aktivitas-aktivitas
ekonomi, terlebih pada usaha-usaha industri yang dimiliki-dikelola pemerintah. Tapi
privatisasi ini tidak terjadi pada negara-negara kapitalis besar, justru terjadi pada
negara-negara Amerika Selatan dan negara-negara miskin berkembang lainnya.
Privatisasi ini telah mengalahkan proses panjang nasionalisasi yang menjadi kunci
negara berbasis kesejahteraan. Nasionalisasi yang menghambat aktivitas pengusaha
harus dihapuskan. Revolusi neoliberalisme ini bermakna bergantinya sebuah
manajemen ekonomi yang berbasiskan persediaan menjadi berbasis permintaan.
Sehingga menurut kaum Neoliberal, sebuah perekonomian dengan inflasi rendah dan
pengangguran tinggi, tetap lebih baik dibanding inflasi tinggi dengan pengangguran
rendah. Tugas pemerintah hanya menciptakan lingkungan sehingga modal dapat
bergerak bebas dengan baik. Dalam titik ini pemerintah menjalankan kebijakankebijakan memotong pengeluaran, memotong biaya-biaya publik seperti subsidi,
92
sehingga fasilitas-fasilitas untuk kesejahteraan publik harus dikurangi. Akhirnya logika
pasarlah yang berjaya diatas kehidupan publik. Ini menjadi pondasi dasar
neoliberalism, menundukan kehidupan publik ke dalam logika pasar. Semua
pelayanan publik yang diselenggarakan negara harusnya menggunakan prinsip
untung-rugi bagi penyelenggara bisnis publik tersebut, dalam hal ini untung rugi
ekonomi bagi pemerintah. Pelayanan publik semata, seperti subsidi dianggap akan
menjadi pemborosan dan inefisiensi. Neoliberalisme tidak mengistimewakan kualitas
kesejahteraan umum.
Tidak ada wilayah kehidupan yang tidak bisa dijadikan komoditi barang jualan.
Semangat neoliberalisme adalah melihat seluruh kehidupan sebagai sumber laba
korporasi. Misalnya dengan sektor sumber daya air, program liberalisasi sektor
sumber daya air yang implementasinya dikaitkan oleh Bank Dunia dengan skema
watsal atau water resources sector adjustment loan. Air dinilai sebagai barang
ekonomis yang pengelolaannya pun harus dilakukan sebagaimana layaknya
mengelola barang ekonomis. Dimensi sosial dalam sumberdaya public goods
direduksi hanya sebatas sebagai komoditas ekonomi semata. Hak penguasaan atau
konsesi atas sumber daya air ini dapat dipindah tangankan dari pemilik satu ke
pemilik lainnya, dari satu korporasi ke korporasi lainnya, melalui mekanisme transaksi
jual beli. Selanjutnya sistem pengaturan beserta hak pengaturan penguasaan sumber
air ini lambat laun akan dialihkan ke suatu badan berbentuk korporasi bisnis atau
konsursium korporasi bisnis yang dimiliki oleh pemerintah atau perusahaan swasta
nasional atau perusahaan swasta atau bahkan perusahaan multinasional dan
perusahaan transnasional. Satu kelebihan neoliberalisme adalah menawarkan
pemikiran politik yang sederhana, menawarkan penyederhanaan politik sehingga
pada titik tertentu politik tidak lagi mempunyai makna selain apa yang ditentukan
oleh pasar dan pengusaha. Dalam pemikiran neoliberalisme, politik adalah
keputusan-keputusan yang menawarkan nilai-nilai, sedangkan secara bersamaan
neoliberalisme menganggap hanya satu cara rasional untuk mengukur nilai, yaitu
pasar. Semua pemikiran diluar rel pasar dianggap salah. Kapitalisme neoliberal
menganggap wilayah politik adalah tempat dimana pasar berkuasa, ditambah dengan
konsep globalisasi dengan perdagangan bebas sebagai cara untuk perluasan pasar
melalui WTO, akhirnya kerap dianggap sebagai Neoimperialisme.
Sekilas tentang pandangan kaum libertarian
Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme erat kaitannya dengan pembukaan pasar
luar negeri melalui cara-cara politis, menggunakan tekanan ekonomi, diplomasi,
dan/atau intervensi militer. Pembukaan pasar merujuk pada perdagangan bebas.
Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik multilateral, melalui
berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti WTO dan Bank Dunia. Ini
mengakibatkan berkurangnya wewenang pemerintahan sampai titik minimum.
Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi
pemerintah (seperti paham Keynesianisme), dan melangkah sukses dalam
pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi,
neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak
buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya.
93
Neoliberalisme bertolakbelakang dengan sosialisme, proteksionisme, dan
environmentalisme. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan secara prinsip
dengan poteksionisme, tetapi terkadang menggunakan ini sebagai alat tawar untuk
membujuk negara lain untuk membuka pasarnya. Neoliberalisme sering menjadi
rintangan bagi perdagangan adil dan gerakan lainnya yang mendukung hak-hak buruh
dan keadilan sosial yang seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam hubungan
internasional dan ekonomi.
Kekalahan liberalisme
Sejak masa kehancuran Wall Street (dikenal dengan masa Depresi Hebat atau Great
Depression) hingga awal 1970-an, wacana negeri industri maju masih 'dikuasai'
wacana politik sosial demokrat dengan argumen kesejahteraan. Kaum elit politik dan
pengusaha memegang teguh pemahaman bahwa salah satu bagian penting dari tugas
pemerintah adalah menjamin kesejahteraan warga negara dari bayi sampai
meninggal dunia. Rakyat berhak mendapat tempat tinggal layak, mendapatkan
pendidikan, mendapatkan pengobatan, dan berhak mendapatkan fasilitas-fasilitas
sosial lainnya. Dalam sebuah konferensi moneter dan keuangan internasional yang
diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Bretton Woods pada 1944,
setelah Perang Dunia II. Konferensi yang dikenal sebagai konferensi Bretton Woods
ini bertujuan mencari solusi untuk mencegah terulangnya depresi ekonomi di masa
sesudah perang. Negara-negara anggota PBB lebih condong pada konsep negara
kesejahteraan sebagaimana digagas oleh John Maynard Keynes. Dalam konsep
negara kesejahteraan, peranan negara dalam bidang ekonomi tidak dibatasi hanya
sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan
untuk melakukan intervensi fiskal, khususnya untuk menggerakkan sektor riil dan
menciptakan lapangan kerja. Pada kondisi dan suasana seperti ini, tulisan Hayek pada
tahun 1944, The Road Of Serdom, yg menolak pasal-pasal tentang kesejahteraan
dinilai janggal. Tulisan Hayek ini menghubungkan antara pasal-pasal kesejahteraan
dan kekalahan liberal, kekalahan kebebasan individualisme.
Kebangkitan Neoliberalisme
Perubahan kemudian terjadi seiring krisis minyak dunia tahun 1973, akibat reaksi
terhadap dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dalam perang Yom Kippur,
dimana mayoritas negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah melakukan
embargo terhadap AS dan sekutu-sekutunya, serta melipatgandakan harga minyak
dunia, yang kemudian membuat para elit politik di negara-negara sekutu Amerika
Serikat berselisih paham sehubungan dengan angka pertumbuhan ekonomi, beban
bisnis, dan beban biaya-biaya sosial demokrat (biaya-biaya fasilitas negara untuk
rakyatnya). Pada situasi inilah ide-ide libertarian sebagai wacana dominan, tidak
hanya di tingkat nasional dalam negeri tapi juga di tingkat global di IMF dan World
Bank. Pada 1975, di Amerika Serikat, Robert Nozick mengeluarkan tulisan berjudul
"Anarchy, State, and Utopia", yang dengan cerdas menyatakan kembali posisi kaum
ultra minimalis, ultra libertarian sebagai retorika dari lembaga pengkajian universitas,
yang kemudian disebut dengan istilah "Reaganomics". Di Inggris, Keith Joseph
menjadi arsitek "Thatcherisme". Reaganomics atau Reaganisme menyebarkan
retorika kebebasan yang dikaitkan dengan pemikiran Locke, sedangkan Thatcherisme
mengaitkan dengan pemikiran liberal klasik Mill dan Smith. Walaupun sedikit
94
berbeda, tetapi kesimpulan akhirnya sama: Intervensi negara harus berkurang dan
semakin banyak berkurang sehingga individu akan lebih bebas berusaha. Pemahaman
inilah yang akhirnya disebut sebagai "Neoliberalisme". Paham ekonomi neoliberal ini
yang kemudian dikembangkan oleh teori gagasan ekonomi neoliberal yang telah
disempurnakan oleh Mazhab Chicago yang dipelopori oleh Milton Friedman.
13) Feminisme
Inti pemikiran : emansipasi wanita. Landasan pemikiran: bahwa wanita tidak hanya
berkutat pada urusan wanita saja melainkan juga dapat melakukan seprti apa yang
dilakukan oleh pria. Wanita dapat melakukan apa saja. Sistem pemerintahan: demokrasi.
14) Pancasila
Pancasila dijadikan ideologi dikarenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai falsafah
mendasar dan rasional. Pancasila telah teruji kokoh dan kuat sebagai dasar dalam
mengatur kehidupan bernegara. Selain itu, Pancasila juga merupakan wujud dari
konsensus nasional karena negara bangsa Indonesia ini adalah sebuah desain negara
moderen yang disepakati oleh para pendiri negara Republik Indonesia kemudian nilai
kandungan Pancasila dilestarikan dari generasi ke generasi. Pancasila pertama kali
dikumandangkan oleh Soekarno pada saat berlangsungnya sidang Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (BPUPKI). Pada pidato tersebut,
Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara. Istilah dasar negara ini
kemudian disamakan dengan fundamen, filsafat, pemikiran yang mendalam, serta
jiwa dan hasrat yang mendalam, serta perjuangan suatu bangsa senantiasa memiliki
karakter sendiri yang berasal dari kepribadian bangsa. Sebagaimana kita ketahui
bersama bahwa Pancasila secara formal yudiris terdapat dalam alinea IV pembukaan
UUD 1945. Di samping pengertian formal menurut hukum atau formal yudiris maka
Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi dan arti (unsur-unsur yang
menyusun Pancasila tersebut), yaitu :


Ketuhanan (Religiusitas)
Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan keterkaitan individu dengan
sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral, suci, agung dan mulia.
Memahami Ketuhanan sebagai pandangan hidup adalah mewujudkan
masyarakat yang beketuhanan, yakni membangun masyarakat Indonesia yang
memiliki jiwa maupun semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap
perbuatan baik yang dilakukannya. Dari sudut pandang etis keagamaan,
negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin
kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat
menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dari dasar ini pula, bahwa
suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat yang
beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan
keyakinan mereka.
Kemanusiaan (Moralitas)
Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu kesadaran
tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap manusia
mempunyai potensi untuk menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang
beradab. Manusia yang maju peradabannya tentu lebih mudah menerima
95



kebenaran dengan tulus, lebih mungkin untuk mengikuti tata cara dan pola
kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengenal hukum universal.
Kesadaran inilah yang menjadi semangat membangun kehidupan masyarakat
dan alam semesta untuk mencapai kebahagiaan dengan usaha gigih, serta
dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap hidup yang harmoni penuh
toleransi dan damai.
Persatuan (Kebangsaan) Indonesia
Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian, kehadiran
Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Bangsa
Indonesia hadir untuk mewujudkan kasih sayang kepada segenap suku bangsa
dari Sabang sampai Marauke. Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap
maupun pandangan dogmatik dan sempit, namun harus menjadi upaya untuk
melihat diri sendiri secara lebih objektif dari dunia luar. Negara Kesatuan
Republik Indonesia terbentuk dalam proses sejarah perjuangan panjang dan
terdiri dari bermacam-macam kelompok suku bangsa, namun perbedaan
tersebut tidak untuk dipertentangkan tetapi justru dijadikan persatuan
Indonesia.
Permusyawaratan dan Perwakilan
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hidup berdampingan dengan
orang lain, dalam interaksi itu biasanya terjadi kesepakatan, dan saling
menghargai satu sama lain atas dasar tujuan dan kepentingan bersama.
Prinsip-prinsip kerakyatan yang menjadi cita-cita utama untuk membangkitkan
bangsa Indonesia, mengerahkan potensi mereka dalam dunia modern, yakni
kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah menguasai diri, walau
berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan perubahan dan
pembaharuan. Hikmah kebijaksanaan adalah kondisi sosial yang menampilkan
rakyat berpikir dalam tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan
membebaskan diri dari belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan aliran
tertentu yang sempit.
Keadilan Sosial
Nilai keadilan adalah nilai yang menjunjung norma berdasarkan ketidak
berpihakkan, keseimbangan,
serta pemerataan terhadap suatu hal.
Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan cita-cita
bernegara dan berbangsa. Itu semua bermakna mewujudkan keadaan
masyarakat yang bersatu secara organik, dimana setiap anggotanya
mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang serta
belajar hidup pada kemampuan aslinya. Segala usaha diarahkan kepada
potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat,
sehingga kesejahteraan tercapai secara merata.
96
VII POLITIK
Konsep-konsep Politik
Sejak awal hingga perkembangan terakhir terdapat sekurang-kurangnya lima
pandangan mengenai politik. Pertama, politik ialah usaha-usaha yang ditempuh oleh
warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua,
politik ialah segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan
pemerintahan. Ketiga, politik sebagai segala kegiatan yang diarahkan untuk mencari
dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik sebagai
kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum.
Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan/atau mempertahankan
sumber-sumber yang dianggap penting (Surbakti : 1992). Kelima cara pandang dalam
melihat politik tersebut dapat dijelaskan berikut ini.
1. Pandangan Klasik
Sebagaimana dikemukakan Aristoteles, pandangan klasik melihat politik sebagai
suatu asosiasi warga negara yang berfungsi membicarakan dan menyelenggarakan
hal ihwal yang menyangkut kebaikan bersama seluruh anggota masyarakat. Filsuf ini
membedakan urusan-urusan yang menyangkut kebaikan bersama (kepentingan
publik) dengan urusan-urusan yang menyangkut kepentingan individu atau kelompok
masyarakat (swasta). Pada hemat Aristoteles, urusan-urusan yang menyangkut
kebaikan bersama memiliki nilai moral yang lebih tinggi dari pada urusan-urusan yang
menyangkut kepentingan individu/swasta. Menurut Aristoteles, manusia merupakan
makhluk politik dan sudah menjadi hakikat manusia untuk hidup dalam polis. Hanya
dalam polis itu manusia dapat memperoleh sifat moral yang paling tinggi, karena di
sana urusan-urusan yang berkenaan dengan seluruh masyarakat akan dibicarakan
dan diperdebatkan, dan tindakan-tindakan untuk mewujudkan kebaikan bersama
akan diambil. Yang menjadi pertanyaan, apakah yang dimaksudkan dengan
kepentingan umum atau kebaikan bersama? Apakah yang harus dipandang sebagai
isi atau substansi kebaikan bersama? Siapakah yang harus menafsirkan suatu urusan
merupakan kepentingan umum atau tidak? Rumusan kepentingan umum yang
dikemukakan oleh para sarjana sangat bervariasi, sebagian mengatakan kepentingan
umum merupakan tujuan-tujuan moral atau nilai-nilai ideal yang bersifat abstrak
seperti keadilan, kebajikan, kebahagiaan, dan kebenaran. Sebagian lagi merumuskan
kepentingan umum sebagai keinginan orang banyak sehingga mereka membedakan
general will (keinginan orang banyak atau kepentingan umum) dari will of all
(keinginan banyak orang atau kumpulan keinginan banyak orang).
Sementara itu, ada yang merumuskan kepentingan umum sebagai kepentingan
golongan mayoritas. Samuel P. Huntington dalam (Surbakti : 1999), melukiskan
kepentingan umum secara singkat sebagai kepentingan pemerintah karena lembaga
pemerintahan dibentuk untuk menyelenggarakan kebaikan bersama. Konsep politik
menurut pandangan klasik ini nampak sangat kabur. Ketidakjelasan ini akan
menghadapkan kita kepada kesukaran dalam menentukan patokan kepentingan
umum yang disetujui bersama dalam masyarakat. Namun, satu hal yang patut
mendapatkan perhatian dari pandangan klasik berupa penekanan yang diberikan
pada “apa yang seharusnya” dicapai demi kebaikan bersama seluruh warga negara
97
polis, dan “dengan cara apa sebaiknya” tujuan-tujuan itu dicapai. Dengan kata lain,
pandangan klasik lebih menekankan aspek filosofis (idea dan etik) dari pada aspek
politik. Dalam pengertian politik terkandung tujuan dan etik masyarakat yang jelas.
Berpolitik ialah membicarakan dan merumuskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai
dan ikut serta dalam upaya mengejar tujuan bersama. Barangkali aspek filosifis ini
yang merupakan kelebihan, dan arena itu menjadi ciri khas pandangan klasik. Dalam
hal ini aspek-aspek filosofis lebih ditekankan dari pada aspek politik. Oleh karena itu
metode kajian yang digunakan bukan empirisme, melainkan metode spekulatifnormatif.
2. Pandangan Kelembagaan
Pandangan ini melihat politik sebagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan
negara. Dalam hal ini, Max Weber merumuskan negara sebagai komunitas manusia
yang secara sukses memonopoli penggunaan paksaan fisik yang sah dalam wilayah
tertentu. Negara dipandang sebagai sumber utama hak untuk menggunakan paksaan
fisik yang sah. Oleh karena itu, politik bagi Weber merupakan persaingan untuk
membagi kekuasaan atau persaingan untuk mempengaruhi pembagian kekuasaan
antar negara maupun antar kelompok di dalam suatu negara. Menurutnya, negara
merupakan suatu struktur administrasi atau organisasi yang kongkret, dan ia
membatasi pengertian negara semata-mata sebagai paksaan fisik yang digunakan
untuk memaksakan ketaatan. Berdasarkan pendapat Weber tersebut di atas dapat
disimpulkan tiga aspek sebagai ciri negara, yaitu :



Berbagai struktur yang mempunyai fungsi yang berbeda, seperti jabatan, peranan,
dan lembaga-lembaga yang memiliki tugas yang jelas batasnya, yang bersifat
kompleks, formal, dan permanen;
Kekuasaan untuk menggunakan paksaan dimonopoli oleh negara. Negara yang
memiliki kewenangan yang sah untuk membuat keputusan yang final dan mengikat
seluruh warga negara. Para pejabatnya mempunyai hak untuk menegakkan
keputusan itu seperti menjatuhkan hukuman dan menanggalkan hak milik. Dalam hal
ini, untuk melaksanakan kewenangan maka negara menggunakan aparatnya seperti
polisi, militer, jaksa, hakim, dan petugas lembaga pemasyarakatan.
Kewenangan untuk menggunakan paksaan fisik hanya berlaku dalam batas-batas
wilayah negara tersebut.
Sebelum perang dunia kedua, para sarjana ilmu politik mengidentifikasikan politik
sebagai studi mengenai negara. Dalam hal ini, ada berbagai literatur yang berjudul
“Pengantar ilmu politik” yang diawali dengan pernyataan ilmu politik bermula dan
berakhir dengan negara. Akan tetapi, saat ini para sarjana ilmu politik tidak lagi
menggunakan konseptualisasi itu, sebab mereka berpendapat bahwa politik
merupakan gejala serba hadir dalam masyarakat apa saja, yang tidak terbatas pada
masyarakat negara atau negara modern. Lalu mereka mencari dan merumuskan
konsep politik yang sejauh mungkin dapat diterapkan dalam sebanyak mungkin
tempat dan waktu. Timbul pertanyaan, mengapa mereka tidak lagi menggunakan
pandangan kelembagaan? Mereka mengajukan empat kritik terhadap pandangan
kelembagaan tersebut. Pertama, konsep itu terlalu sempit, ciri-ciri negara yang
disebutkan itu berlaku pada masyarakat yang berbentuk negara, khususnya negara98
negara industri maju seperti Eropa Barat, dan Amerika Utara. Sebagaimana diketahui
ada berbagai masyarakat suku atau masyarakat yang baru merdeka, yang sekalipun
belum memenuhi ciri-ciri negara modern akan tetapi sudah malaksanakan proses dan
kegiatan politik. Masyarakat yang disebutkan terakhir ini belum memenuhi ciri-ciri
negara modern, hal tersebut disebabkan antara lain :



Belum ada diferensiasi struktur dan spesialisasi peranan yang jelas. Satu struktur
melaksanakan lebih dari satu fungsi. Dengan kata lain struktur masyarakatnya masih
bersifat sederhana dan informal, akan tetapi kegiatan politik sudah berlangsung.
Tidak memiliki struktur yang memonopoli kewenangan dalam menggunakan paksaan
fisik sebab kekuasaan terpencar atau terdistribusi kepada seluruh anggota
masyarakat. Sanksi biasanya lebih kepada sanksi moral dan psikologis seperti
pengucilan dari pergaulan, sindiran, teguran, dan gossip.
Batas wilayah masyarakat belum jelas sebab penduduk cenderung berpindah,
termasuk apabila mereka tidak senang kepada pemimpin mereka.
Kedua, di negara-negara industri maju kekuasaan tidak terpusat pada negara
melainkan terdistribusikan pada negara-negara bagian, dan kepada berbagai
kekuatan politik dalam masyarakat. Ketiga, konseptualisasi di atas terlalu melihat
negara dari sudut pandang yuridis-formal sehingga negara cenderung dilihat sebagai
gejala yang statis. Keempat, yang melakukan kegiatan bukan lembaga negara (yang
tidak memiliki nilai dan kepentingan), tetapi elit yang memegang jabatan tersebut
yang ternyata memiliki nilai dan kepentingan sendiri. oleh karena itu, perilaku elit
yang memiliki jabatan pada lembaga tersebut yang dipelajari, bukannya lembaganya.
Demikian kritik yang diajukan oleh kaum behavioralist.
Akan tetapi, pada tahun 1980-an sejumlah ilmuwan politik Amerika Serikat kembali
menjadikan negara sebagai fokus kajian. Mereka memandang negara tidak lagi
sekadar arena persaingan kepentingan di antara berbagai kepentingan dalam
masyarakat, tetapi juga sebagai lembaga yang memiliki otonomi (terlepas dari
pengaruh masyarakat), dan memiliki kemampuan (yang melaksanakan kebijakan
yang dibuat sendiri). negara dilihat sebagai lembaga yang memiliki kepentingan yang
berbeda dari berbagai kepentingan yang bersaing atau bertentang yang ada di dalam
masyarakat. Pandangan ini disebut juga statist perspective (perspektif negara).
3. Pandangan Kekuasaan
Pandangan ketiga, melihat politik sebagai kegiatan mencari dan mempertahankan
kekuasaan dalam masyarakat. Oleh karena itu, ilmu politik dirumuskan sebagai ilmu
yang mempelajari hakikat, kedudukan, dan penggunaan kekuasaan di manapun
kekuasaan itu ditemukan. Robson dalam (Surbakti : 1999), merupakan salah seorang
yang mengembangkan pandangan tentang kekuasaan mengatakan bahwa, ilmu
politik sebagai ilmu yang memusatkan perhatian pada perjuangan untuk memperoleh
dan mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan, mempengaruhi pihak
lain, ataupun menentang pelaksanaan kekuasaan. Ilmu politik mempelajari hal ihwal
yang berkaitan dengan kekuasaan dalam masyarakat, yakni sifat, hakikat, dasar,
proses-proses, ruang lingkup, dan hasil-hasil kekuasaan. Yang menjadi pertanyaan,
apakah yang dimaksud dengan kekuasaan? Menurut pandangan ini, kekuasaan
merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berfikir dan berperilaku
99
sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi. Kekuasaan dilihat sebagai interaksi
antara pihak yang dipengaruhi dan mempengaruhi, atau yang satu mempengaruhi
dan yang lain mematuhi. Hubungan ini selalu diamati dan dipelajari oleh ilmuwan
politik yang mengikuti pandangan ketiga ini.
Konsep politik sebagai perjuangan mencari dan mempertahankan kekuasaan juga
memiliki sejumlah kelemahan. Pertama, konseptualisasi tersebut tidak membedakan
kekuasaan yang beraspek politik dari kekuasaan yang tidak beraspek politik.
Misalnya, kemampuan para kiyai atau pendeta untuk mempengaruhi jamaah agar
melaksanakan ajaran agama tidaklah beraspek politik. Hal itu karena tidak berkaitan
dengan pemerintah selaku pemegang kewenangan yang mendistribusikan nilai-nilai,
melainkan menyangkut lingkungan masyarakat yang lebih terbatas. Namun, apabila
konseptualisasi di atas diikuti maka kemampuan para pemimpin agama untuk
mempengaruhi cara berfikir dan perilaku anggota jamaah termasuk dalam kategori
kegiatan politik. Kedua, kekuasaan hanya salah satu konsep dalam ilmu politik. Selain
kekuasaan, ilmu politik masih memiliki konsep-konsep yang lain seperti kewenangan,
legitimasi, konflik, konsensus, kebijakan umum, integrasi politik, dan ideologi. Jadi
politik sebagai kegiatan mencari dan mempertahankan kekuasaan semata dalam ilmu
politik merupakan konseptualisasi yang sempit dan kurang tajam. Walaupun harus
diakui bahwa konsep kekuasaan politik merupakan salah satu konsep yang tidak
terpisahkan dari ilmu politik.
4. Pandangan Fungsionalisme
Fungsionalisme memandang politik sebagai kegiatan merumuskan dan melaksanakan
kebijakan umum. Menyimpang dari pandangan kelembagaan tersebut di atas.
Dewasa ini para sarjana politik memandang politik dari kacamata fungsional.
Menurut mereka, politik merupakan kegiatan para elit politik dalam membuat dan
melaksanakan kebijakan umum. Di antara sarjana politik yang menggunakan
pandangan fungsional dalam mempelajri gejala politik ialah David Easton dan Harold
Lasswell. David Easton merumuskan politik sebagai the authoritative allocation of
values for a society, atau alokasi nilai-nilai secara otoritatif, berdasarkan
kewenangan, dan karena itu mengikat untuk suatu masyarakat. Oleh karena itu, yang
digolongkan sebagai perilaku politik berupa setiap kegiatan yang mempengaruhi
(mendukung, mengubah, menentang) proses pembagian dan penjatahan nilai-nilai
dalam masyarakat.
Sementara itu, Lasswell menyimpulkan proses politik sebagai masalah who gets
what, when, how, atau masalah siapa yang mendapatkan apa, kapan, dan
bagaimana. “Mendapatkan apa” artinya mendapatkan nilai-nilai, “Kapan” berarti
ukuran pengaruh yang digunakan untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan
nilai-nilai terbanyak, “Bagaimana” berarti dengan cara apa seseorang mendapatkan
nilai-nilai. Yang menjadi pertanyaan, apa yang dimaksud dengan nilai-nilai sebagai
hal-hal yang diinginkan, hal-hal yang dikejar oleh manusia, dengan derajat kedalaman
upaya yang berbeda untuk mencapainya. Nilai-nilai itu ada yang bersifat abstrak
berupa prinsip-prinsip hidup yang dianggap baik seperti keadilan, keamanan,
kebebasan persamaan, demokrasi, kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa,
kemanusiaan, kehormatan, dan nasionalisme. Di samping yang bersifat abstrak, ada
pula nilai-nilai yang bersifat kongkret seperti pangan, sandang, perumahan, fasilitas
100
kesehatan, fasilitas pendidikan, sarana perhubungan, komunikasi, dan rekreasi. Nilainilai itu ada yang berupa kebutuhan spiritual, ada pula yang berupa kebutuhan
materi-jasmaniah. Nilai yang abstrak dan kongkrit itu dirumuskan dalam bentuk
kebijakan umum yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah. Jadi, kegiatan
mempengaruhi pemerintah dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan umum
berarti mempengaruhi pembagian dan penjatahan nilai-nilai secara otoritatif untuk
suatu masyarakat. Kelemahan pandangan fungsionalisme adalah menempatkan
pemerintah sebagai sarana dan wasit terhadap persaingan di antara berbagai
kekuatan politik untuk mendapatkan nilai-nilai yang terbanyak dari kebijakan umum.
Fungsionalisme mengabaikan kenyataan bahwa pemerintah juga memiliki
kepentingan sendiri, baik berupa kepentingan yang melekat pada kepentingan
lembaga pemerintah (yang mewakili kepentingan umum), maupun kepentingan para
elit yang memegang jabatan (melaksanakan peranan). Di samping itu, fungsionalisme
cenderung melihat nilai-nilai secara instrumental bukan sebagai tujuan seperti yag
ditekankan pandangan klasik. Bagi fungsionalisme nilai-nilai sebagai tujuan bersifat
sangat relatif karena berbeda dari satu tempat dan waktu ke tempat dan waktu yang
lain. Dalam hal ini, politik tidak dapat pernah bersifat netral, bahwa politik secara
ideal seharusnya menyangkut kebaikan bersama.
5. Pandangan Konflik
Menurut pandangan ini, kegiatan untuk mempengaruhi proses perumusan dan
pelaksanaan kebijakan umum tiada lain selain upaya untuk mendapatkan dan/atau
mempertahankan nilai-nilai. Dalam memperjuangkan hal itu seringkali terjadi
perbedaan pendapat, perdebatan, persaingan, bahkan pertentangan yang bersifat
fisik di antara berbagai pihak. Dalam hal ini di antara pihak yang berupaya
mendapatkan nilai-nilai, dan pihak yang berupaya keras mempertahankan apa yang
selama ini telah mereka dapatkan, antara pihak yang sama-sama berupaya keras
untuk mendapatkan nilai-nilai yang sama dan pihak yang sama-sama
mempertahankan nilai-nilai yang selama ini mereka kuasai. Perbedaan pendapat,
perdebatan, persaingan, bahkan pertentangan dan perebutan dalam mendapatkan
dan/atau mempertahankan nilai-nilai disebut konflik. Oleh karena itu menurut
pandangan konflik, pada dasarnya politik adalah konflik. Pandangan ini ada benarnya
sebab konflik merupakan gejala yang serba hadir dalam masyarakat, termasuk dalam
proses politik. Selain itu, konflik merupakan gejala yang melekat dalam setiap proses
politik.
Akan tetapi, konseptualisasi ini tidak seluruhnya tepat. Hal tersebut disebabkan
selain konflik, konsensus, kerja sama, dan integrasi juga terjadi dalam hampir semua
proses politik. Perbedaan pendapat, perdebatan, persaingan, dan pertentangan
untuk mendapatkan dan/atau mempertahankan nilai-nilai itu justru diselesaikan
melalui proses dialog sehingga sampai pada suatu konsensus maupun diselesaikan
lewat kesepakatan dalam bentuk keputusan politik yang merupakan pembagian dan
penjatahan nilai-nilai. Oleh karena itu, keputusan politik merupakan upaya
menyelesaikan konflik politik. Kelemahan lain dari konseptualisasi ini ialah konflik
tidak semua berdimensi politik sebab selain konflik politik terdapat pula konflik
pribadi, konflik ekonomi, konflik agama yang tidak selalu diselesaikan melalui proses
politik. Apabila konflik-konflik yang disebutkan terakhir ini berkaitan dengan
101
pemerintah atau diselesaikan melalui proses politik maka konflik-konflik yang semula
tidak berdimensi politik berkembang menjadi konflik politik. Dari segi metodologi,
kelima pandangan ini acapkali dikelompokkan menjadi dua kategori umum, yakni
tradisionalme dan behavioralisme. Ilmu politik tradisionalisme memandang gejala
politik dari segi normatif, dan menganggap tugas ilmu politik untuk memahami dan
memberikan gejala politik, bukan menjelaskan apalagi memperkirakan apa yang akan
terjadi. Ilmu politik tradisional melihat politik sebagai perwujudan tujuan masyarakatnegara. Termasuk ilmu politik tradisional dalam hal ini berupa pandangan klasik dan
pandangan kelembagaan.
Behavioralisme memandang politik dari segi apa adanya (what it is) yang berupaya
menjelaskan mengapa gejala politik tertentu terjadi, kalau mungkin juga
memperkirakan gejala politik apa yang akan terjadi. Behavioralisme memandang
politik sebagai kegiatan (perilaku), yang berawal dari asumsi terdapat keajegan atau
pola dalam perilaku manusia. Oleh karena itu, politik sebagai pola perilaku dapat
dijelaskan dan diperkirakan. Termasuk behavioralisme dalam hal ini berupa
pandangan kekuasaan, pandangan konflik, dan pandangan fungsionalisme.
SISTEM POLITIK
Sistem politik adalah keseluruhan unit-unit politik yang saling berkaitan satu dengan
yang lain untuk mempengaruhi proses politik. Bagian-bagian atau unit-unit dari
sistem politik terdiri dari input, proses, dan output. Berbagai macam input-input ini
lalu kemudian diubah oleh proses-proses yang terjadi di dalam sistem tersebut
menjadi output, yang selanjutnya output-output tersebut menimbulkan kembali
pengaruh terhadap sistem itu sendiri maupun terhadap lingkungan di mana sistem
itu berada. Rumusan ini sangat sederhana akan tetapi cukup memadai untuk
menjelaskan berbagai hal seperti input - proses - output.
LINGKUNGAN
Sebagai suatu sistem, tentu saja sistem politik memiliki ciri-ciri tertentu. Untuk
memberikan gambaran yang menyeluruh tentang pendekatan ini, berikut ini adalah
ciri-ciri utama dari sistem politik.
1. Ciri-ciri Identifikasi.
Untuk membedakan sistem politik dengan sistem sosial lainnya, kita harus bisa
mengidentifikasikannya dengan menggabarkan unit-unit dasarnya dan membuat
garis batas yang memisahkan unit-unit itu dari unit-unit yang ada di luar sistem
politik itu.
Unit-unit Sistem Politik.
Unit-unit adalah adalah unsur-unsur yang membentuk suatu sistem. Dalam sistem
politik, unit-unit ini bewrwujud tindakan-tindakan politik. Perlu sekali memperhatikan
tindakan-tindakan ini karena merekalah yang membentuk peranan-peranan politik
dan kelompok-kelompok politik.
Perbatasan.
102
Sistem politik selalu berada dalam atau dikelilingi oleh lingkungan berupa sistemsistem lain. Tidak ada sistem yang hidup dalam lingkungan yang kosong. Cara
berfungsinya suatu sistem sebagian merupakan perwujudan dari upayanya untuk
menanggapi keseluruhan lingkungan sosial, biologis, dan fisiknya. Suatu sistem politik
memiliki perbatasan dalam pengertian yang sama dengan yang dimiliki oleh suatu
sistem fisik. Yang termasuk dalam suatu sistem politik adalah semua tindakan yang
lebih kurang langsung berkaitan dengan pembuatan keputusan yang mengikat
masyarakat; dan setiap tindakan sosial yang tidak mengandung ciri tersebut tidak
termasuk di dalam sistem politik, sehingga secara otomatis akan dipandang sebagai
variabel eksternal di dalam lingkungan sistem tersebut.
2. Input dan Output
Input merupakan tuntutan dan dukungan, sedangkan output merupakan keputusan
yang otoritatif atau kebijakan umum yang mengikat seluruh masyarakat. Untuk
menjamin tetap bekerjanya suatu sistem diperlukan input-input secara ajeg. Tanpa
input sistem tidak akan dapat berfungsi - begitu pula tanpa adanya output kita tidak
dapat mengidentifikasikan pekerjaan yang dikerjakan oleh sistem tersebut. David
Easton dalam (Afan Gaffar : 1983), melakukan telaah tegas atas kehidupan politik
dalam kaitannya dengan sistem, dan memperkenalkan dua macam input ke dalam
sistem politik, yaitu tuntutan dan dukungan. Klasifikasi di bawah ini akan memberikan
gambaran nyata tentang jarak dan variasi dari input tuntutan, yaitu :
Tuntutan untuk memperoleh barang-barang dan pekerjaan seperti upah, jam kerja,
pendidikan, fasilitas rekreasi, dan transportasi.
 Tuntutan pengaturan tingkah laku seperti jaminan keselamatan, Kontrol atas harga,
dan tuntutan akan adanya suatu peraturan yang menyangkut suatu permasalahan
sosial.
 Tuntutan untuk berpartisipasi dalam sistem politik seperti, hak pilih, kesempatan
untuk menjadi pegawai negeri, dan kesempatan untuk mengorganisir kekuatan
politik formal, dan lain-lain.
 Tuntutan untuk mendapatkan informasi, dan komunikasi seperti, permintaan
keterangan dari pemerintah atas suatu kebijakan umum yang sementara dibuat atau
dilaksanakan, dan tuntutan untuk menyatakan aspirasi.
Suatu tuntutan dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk, derajat, serta intensitas
yang berbeda-beda. Sedangkan input dukungan dapat diperinci ke dalam empat
bagian besar, yaitu :
 Dukungan materi, seperti ketaatan membayar pajak, kesediaan bekerja dalam
pelayanan umum.
 Kepatuhan pada hukum, dan peraturan perundang-undangan, dan undang-undang.
 Dukungan partisipatif, seperti ikut serta menggunakan hak pilih dalam suatu
pemilihan umum, diskusi politik, dan semua kegiatan politik lainnya.
 Memperhatikan segala sesuatu yang diumumkan oleh pemerintah, hak pemerintah,
simbol-simbol kenegaraan, dan perayaan-perayaan nasional.
Jika suatu sistem politik tanggap atas semua tuntutan yang berkembang ditengahtengah masyarakat dan berupaya untuk memprosesnya secara efektif, maka
103
dukungan dan peran serta dari masyarakat akan diperoleh. Secara umum dapat
dikatakan bahwa tuntutan akan menghasilkan keputusan / kebijaksanaan umum,
sedangkan dukungan dari masyarakat akan mempermudah suatu sistem politik untuk
membuat output atau kebijakan umum.
3. Diferensiasi Dalam Suatu Sistem
Input merupakan energi bagi suatu sistem politik dan juga sekaligus merupakan
sumber informasi yang berharga bagi para pengambil keputusan politik. Input-input
ini lalu kemudian diproses menghasilkan jenis output yang berbeda dengan input
yang diperolehnya dari lingkungannya. Pekerjaan mengubah input menjadi output
yang berbeda-beda dalam waktu yang terbatas membuat struktur suatu sistem
politik harus mengenal diferensiasi minimal seperti pembagian kerja bagi anggotaanggotanya, dan menyediakan suatu struktur yang bervariasi sehingga dapat
menampung pekerjaan yang berbeda-beda dan harus diselesaikan pada saat yang
sama.
4. Integrasi Dalam Suatu Sistem
Bila suatu sistem ingin mempertahankan dirinya dari kehancuran, sistem tersebut
harus memiliki suatu mekanisme yang bisa mengitegrasikan (menyatukan) atau
bahkan memaksa para anggotanya untuk bekerjasama walaupun dalam kadar
minimal sehingga mereka dapat membuat keputusan-keputusan yang otoritatif.
A. Pengertian : Input tuntutan dan Input Dukungan
Input : Tuntutan
Input tuntutan ini pada dasarnya merupakan bahan baku, dan sekaligus merupakan
informasi yang berharga bagi sebuah sistem politik yang berasal dari masyarakat
untuk mengambil suatu keputusan/kebijakan umum. Tuntutan berasal dari orangorang atau kelompok-kelompok yang ada di tengah masyarakat yang merasa tidak
puas dengan keadaan yang ada. Ketidakpuasan tersebut dapat berupa kelangkaan
akan sebagian besar hal-hal atau benda-benda yang bernilai tinggi. Beberapa dari
tuntutan akan nilai-nilai yang relatif langka itu tidak pernah masuk ke dalam sistem
politik sebelum dipenuhi melalui perundingan-perundingan pribadi. Input tuntutan
itu dapat berupa : pendidikan, lapangan kerja, gaji, fasilitas kerja, harga-harga, suplai
kebutuhan pokok, lingkungan hidup, masalah kegamaan, gender, moral, kebudayaan
dan lain-lain. Input tuntutan dapat dibagi ke dalam dua macam, yaitu tuntutan
eksternal dan tuntutan internal :
1. Tuntutan eksternal.
Tuntutan eksternal adalah tuntutan yang berasal dari luar sebuah sistem politik.
Lingkungan sistem politik ini terdiri dari sistem-sistem lain seperti ekonomi,
kebudayaan, ekologi, pribadi-pribadi, dan demografi. Masing-masing sistem tersebut
merupakan suatu kumpulan besar variabel-variabel yang membantu atau
mempengaruhi pembentukan jenis tuntutan yang masuk ke dalam sistem politik.
104
2. Tuntutan internal.
Jenis tuntutan ini berbeda dengan pengertian tuntutan eksternal, yaitu sebuah
tuntutan yang berasal dari luar sistem politik.. Sangat perlu bagi kita untuk
membedakan tuntutan internal dengan tuntutan eksternal oleh karena tuntutan
internal bukanlah input yang dimasukkan ke dalam sistem politik, akan tetapi
merupakan suatu jenis tuntutan yang timbul dari dalam sistem itu sendiri atau
disebut juga dengan withinput. Bagaimana agar tuntutan-tuntutan tersebut dapat
diubah menjadi isu-isu politik dan faktor apa yang menentukan sehingga suatu
tuntutan dapat menjadi suatu masalah yang dapat menimbulkan diskusi politik yang
serius, atau tetap merupakan sesuatu yang harus diselesaikan secara pribadi oleh
anggota masyarakat tersebut ? Timbulnya suatu tuntutan, baik internal maupun
eksternal tidak begitu saja akan menjadi sebuah isu politik yang mendapat perhatian
para pengambil keputusan. Banyak tuntutan yang hilang begitu saja begitu diajukan
kepada pembuat keputusan / pembuat kebijakan umum, ataukah proses
pengajuannya seret dan bertele-tele hanya karena didukung oleh anggota
masyarakat yang kurang berpengaruh dan tidak pernah bisa masuk ke dalam tingkat
pembuatan keputusan, sedangkan yang lain mungkin menjadi isu politik. Isu politik
merupakan suatu tuntutan yang oleh anggota-anggota masyarakat ditanggapi dan
dianggap sebagai hal yang penting untuk dibahas melalui saluran-saluran yang diakui
dalam sistem itu.
Bila kita ingin memahami proses perubahan tuntutan menjadi isu, maka kita harus
mendapatkan data yang cukup seperti ;
(a) mengetahui hubungan antara suatu tuntutan dengan lokasi dari pencetusnya atau
pendukungnya dalam struktur kekuasaan pada masyarakat tersebut,
(b) pentingnya kerahasiaan jika dibandingkan dengan publisitas atau keterbukaan
dalam mengajukan tuntutan tersebut,
(c) masalah waktu diajukannya tuntutan tersebut,
(d) kecakapan dan pengetahuan politik,
(e) penguasaan saluran komunikasi,
(f) sikap dan suasana pemikiran masyarakat, dan
(g) gambaran yang dimiliki oleh pencetus tuntutan itu mengenai cara kerja sistem
politik tertentu. Jawaban terhadap masalah-masalah ini mungkin akan merupakan
suatu indeks pengubahan atau konversi yang mencerminkan probabilitas bagi suatu
kumpulan tuntutan untuk bisa diubah menjadi sebuah isu politik yang hidup.
B. Input : Dukungan
Untuk dapat tetap mempertahankan kelangsungan hidupnya, suatu sistem politik
juga memerlukan energi dalam bentuk dukungan. Bentuk-bentuk dukungan itu
berupa tindakan-tindakan atau pandangan-pandangan yang memajukan ataukah
merintangi sistem politik. Jadi input dukungan berfungsi untuk merintangi ataukah
memajukan suatu pengambilan keputusan atau kebijakan umum. Jenis input ini
105
disebut juga dengan support inputs. Tanpa dukungan, tuntutan tidak akan bisa
terpenuhi atau konflik mengenai tujuan tidak akan terselesaikan. Jika sebuah
tuntutan ingin mendapatkan tanggapan,
kelompok kepentingan yang
memperjuangkan satu tuntutan menjadi sebuah keputusan/kebijakan umum yang
mengikat, maka kelompok kepentingan tersebut harus mampu memperoleh
dukungan dari pihak-pihak lain yang ada di dalam sistem politik tersebut.
Menurut David Easton dalam (Mas’oed dan MacAndrews : 2000), tingkah laku
mendukung ada dua macam; (a) Tindakan-tindakan yang mendorong pencapaian
tujuan, kepentingan, dan tindakan orang lain yang mungkin berwujud memberikan
suara yang mendukung, membela, atau mempertahankan tindakan tersebut.
tindakan mendukung dalam bentuk tindakan nyata dan terbuka ini disebut juga
dengan istilah over action. Sebaliknya, tingkah laku mendukung ini mungkin tidak
berwujud tindakan yang nampak nyata dari luar, tetapi merupakan bentuk-bentuk
tingkah laku “batiniah” yang kita sebut pandangan atau suasana pemikiran. Suasana
pemikiran yang mendukung (supportif) merupakan kumpulan sikap-sikap atau
kecendrungan-kecendrungan yang kuat, ataukah suatu kesediaan untuk bertindak
demi orang lain. Dalam tahap ini, memang tidak ada tindakan nyata atau terbuka
akan tetapi implikasinya jelas bahwa seseorang mungkin akan melakukan suatu
tindakan yang searah dengan sikapnya. Bila seseorang yang kita anggap memiliki
suasana pemikiran tertentu ternyata tidak bertingkah laku atau tidak bertindak
sesuai dengan suasana pemikiran tersebut, maka kita berasumsi bahwa kita tidak
cukup dalam memahami dan menyelami perasaan yang sebenarnya dari orang
tersebut dan hanya memperhatikan sikap yang tampak dari luar saja.
C. Mekanisme Dukungan
Tidak ada satu sistem politik yang dapat menghasilkan output berupa keputusankeputusan yang otoritatif jika dukungan, di samping tuntutan tidak memperoleh jalan
masuk ke dalam sistem politik. Dukungan merupakan input yang penting bagi suatu
sistem politik. Dukungan bagi suatu sistem haruslah dipelihara dan dikelola menjadi
suatu arus dukungan yang tetap oleh karena tanpa arus dukungan yang tetap dan
ajeg suatu sistem tidak akan bisa menyerap energi yang cukup memadai untuk
mengubah tuntutan menjadi keputusan. Terdapat berbagai sarana yang bisa
digunakan oleh unit-unit politik untuk dapat menyalurkan dukungan pada suatu
sistem politik.
1. Output-output Sebagai Mekanisme Dukungan
Output dari suatu sistem politik dapat berwujud pada suatu keputusan atau
kebijakan umum. Salah satu cara untuk memperkuat ikatan antara warga negara
dengan sistem politiknya adalah dengan cara menciptakan atau membuat keputusankeputusan yang dapat memenuhi tuntutan-tuntutan warga dari sebuah sistem
politik. Output yang berwujud keputusan atau kebijakan umum merupakan
pendorong khas bagi anggota-anggota dari suatu sistem politik untuk memberikan
dukungannya. Sifat dukungan ada dua, bisa positif juga sebaliknya bisa negatif. Bila
dukungan itu negatif, ada kemungkinan dukungan itu diberikan oleh karena pemberi
dukungan takut terhadap hukuman. Sehingga dukungan yang diberikan sebagiannya
hanyalah merupakan akibat dari ketakutan akan sanksi-sanksi atau karena paksaan.
106
2. Politisasi Sebagai Mekanisme Dukungan
Begitu seorang individu lahir dan tumbuh dalam suatu masyarakat, maka pada
dasarnya ia hidup dengan anggota masyarakat lainnya dalam suatu jaringan ganjaran
dan hukuman (network of rewards and Funishment), berkomunikasi dengannya, dan
menanamkan berbagai jenis tujuan dan norma yang telah melembaga dalam
masyarakat, ilmu sosiologi menamakannya dengan istilah proses sosialisasi. Melalui
proses sosialisasi ini seorang individu belajar untuk memainkan berbagai peranan
sosialnya. Sebagian dari tujuan-tujuan dan norma-norma ini berkaitan dengan hal-hal
yang bersifat politik yang dianggap bermanfaat dari masyarakat tersebut. Mengenai
cara dan bagaimana anggota masyarakat mempelajari pola-pola politik ini, disebut
dengan istilah politisasi politik.
Proses politisasi masyarakat, pada awalnya dimulai ketika seorang anak meningkat
dewasa harus menyerap berbagai orientasi dan sikap terhadap masalah-masalah
politik yang diharapkan dimiliki oleh setiap orang dalam masyarakat tersebut. Bila
harapan-harapan anggota masyarakat mengenai cara bagaimana seharusnya setiap
orang bertingkah laku dalam situasi-situasi politik tertentu berbeda jauh, maka tidak
mungkin dilakukan tindakan bersama dalam membuat keputusan-keputusan yang
mengikat. Agar suatu sistem politik dapat tetap berfungsi dengan tertib dan tidak
hancur, anggota-anggota sistem tersebut harus memeliki harapan dasar yang sama
dalam hal patokan-patokan atau ukuran-ukuran yang harus diterapkan untuk
membuat penilaian politik, cara seorang berpikir tentang berbagai masalah politik,
dan cara anggota-anggota sistem memandang dan menafsirkan gejala politik.
Mekanisme yang dipakai selama proses balajar ini, dan yang sangat relevan dengan
proses politisasi adalah yang pertama, proses belajar atau politisasi bagi individu
tidak pernah berhenti yang dimulai dari masa kanak-kanak. Kedua, politisasi
melibatkan suatu jaringan ganjaran dan hukuman. Dengan menyelaraskan diri
dengan masyarakat kita akan mendapatkan keuntungan karena dihormati, kekayaan,
kesempatan-kesempatan yang lebih baik. Akan tetapi kalau kita mengingkari
masyarakat di luar batas, kita akan ditolak, tidak dihargai, dan seringkali menderita
kerugian material. Ketiga, komunikasi yang berulang-ulang mengenai tujuan-tujuan
dan norma-norma kepada seluruh anggota masyarakat melalui mitos, doktrin, dan
filsafat politik dalam rangka menanamkan suatu penafsiran tertentu mengenai
tujuan-tujuan dan norma-norma kepada setiap generasi. Unsur-unsur yang sangat
menentukan dalam proses penanaman dan pewarisan nilai-nilai tersebut adalah
orang tua, saudara, teman sepergaulan, guru, organisasi dan pemimpin masyarakat,
serta lambang-lambang negara seperti bendera, upacara-upacara yang dipenuhi
makna politik. Bila keterikatan (attachment) politik itu menjadi mengakar dan sangat
kuat melembaga ditengah masyarakat, sistem politik tersebut telah memiliki
legitimasi yang tinggi. Dengan demikian, politisasi secara efektif bisa membentuk
jalan dengan mana ukuran-ukuran legitimasi diciptakan dan diwariskan kepada
generasi berikutnya dalam sistem politik tersebut. secara empiris terbukti bahwa
suatu sistem politik dapat bertahan hidup lama disebabkan oleh dukungan yang
ditumbuhkan dan dipelihara oleh keyakinan yang mendalam akan legitimasi
pemerintahannya. Keyakinan yang mendalam tersebut diperoleh melalui proses
politisasi.
107
SOSIALISASI POLITIK, BUDAYA POLITIK, DAN PARTISIPASI POLITIK
A. SOSIALISASI POLITIK
1. Pengertian Sosialisasi Politik.
Berbagai pengertian dan batasan mengenai sosialisasi politik sebagaimana
dikemukakan oleh para sarjana terkemuka yang dirangkum oleh Sri Jutmini dan
Winarno (2007), adalah sebagai berikut :
a. Kenneth P. Langton
Sosialisasi politik dalam pengertian luas merujuk pada cara masyarakat dalam
mentransmisikan budaya politiknya dari generasi ke generasi
b. Richard E. Dawson
Sosialisasi politik dapat dipandang sebagai pewarisan pengetahuan, nilai-nilai dan
pandangan-pandangan politik dari orang tua, guru, dan sarana-sarana sosialisasi
lainnya kepada warga negara baru dan mereka yang menginjak dewasa.
c. Dennis Kavanagh
Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses di
mana individu belajar tentang politik dan mengembangkan orientasi terhadap politik.
d. Prewitt dan Dawson
Sosialisasi politik didefinisikan sebagai proses bagaimana warga negara memperoleh
pandangan-pandangan politik yang merupakan perkumpulan cara yang telah menjadi
pegangan bagi kehidupan politik bangsanya.
e. Cholisin
Sosialisasi politik merupakan proses transmisi orientasi politik dan budaya politik
bangsanya (sistem politik nasionalnya) agar warga negara memiliki kematangan
politik (sadar akan hak dan kewajibannya sesuai dengan yang ditentukan dalam
politik nasionalnya).
Sosialisasi politik sebagaimana yang dikemukakan oleh Gabriel Almond dan Sidney
Verba dalam (Mas’oed dan MacAndrews : 2000 : 34), adalah bagian dari proses
sosialisasi yang khusus membentuk nilai-nilai politik yang menunjukkan bagaimana
seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartisipasi dalam sistem
politiknya. Kebanyakan anak-anak, sejak masa kanak-kanaknya belajar memahami
sikap-sikap dan harapan-harapan politik yang hidup dalam masyarakatnya. Jadi
sosialisasi politik menunjuk pada proses-proses pembentukan sikap-sikap politik dan
pola-pola tingkah laku. Di samping itu sosialisasi poltik juga merupakan sarana bagi
suatu generasi untuk “mewariskan” patokan-patokan dan keyakian-keyakinan politik
kepada generasi sesudahnya. Proses ini disebut transmisi kebudayaan.
Terdapat dua hal yang harus diperhatikan mengenai proses sosialisasi politik ini.
Pertama, sosialisasi ini berjalan terus menerus selama hidup seseorang. Sikap-sikap
108
yang terbentuk selama masa kanak-kanak selalu disesuaikan atau diperkuat
sementara ia menjalani berbagai pengalaman sosial. Pengaruh keluarga pada masa
anak-anak mungkin menciptakan gambaran-gambaran yang baik mengenai suatu
partai politik tertentu dalam pemikiran seseorang, tetapi pendidikan sekolah,
pengalaman bekerja, dan pengaruh pergaulan mungkin saja merubah gambaran itu
dengan dramatis. Juga peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman tertentu
seperti perang besar atau malaise ekonomi akan meninggalkan bekas yang dalam
pada seluruh masyarakat. Bagi anggota-anggota masyarakat yang lebih tua,
pengalaman-pengalaman ini dapat menimbulkan resosialisasi, yaitu perubahan
drastis dalam sikap-sikap mereka terhadap lembaga-lembaga politik yang ada. Tetapi
pengaruh dari peristiwa-peristiwa semacam ini rupanya paling banyak menimpa
golongan pemilih (electrorate) yang berusia muda, yang mempunyai sikap-sikap yang
lebih fleksibel terhadap sistem politiknya.
Kedua, sosialisasi politik dapat berwujud transmisi dan pengajaran yang langsung
maupun tidak langsung. Sosialisasi bersifat langsung kalau melibatkan komunikasi
informasi, nilai-nilai atau perasaan-perasaan mengenai politik secara eksplisit. Mata
pelajaran kewarganegaraan di sekolah-sekolah merupakan contoh dari sosialisasi
politik langsung. Sosialisasi politik tak langsung terutama sangat kuat berlangsung di
masa kanak-kanak - sejalan dengan berkembangnya sikap penurut atau sikap
pembangkang terhadap orang tua, guru, dan teman, yaitu sikap-sikap yang
cenderung mempengaruhi sikapnya di masa dewasa terhadap pemimpin-pemimpin
politiknya dan terhadap sesama warga negara. Sosialisasi politik membentuk dan
“mewariskan” kebudayaan politik suatu bangsa. Sosialisasi politik juga bisa
memelihara kebudayaan politik suatu bangsa dalam bentuk pewarisan kebudayaan
itu oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sosialisasi politik juga bisa
merubah kebudayaan politik, yaitu bila sosialisasi itu bisa menyebabkan penduduk
atau sebagian penduduk, melihat atau mengalami kehidupan politik dijalankan
dengan cara lain. Pada waktu terjadi perubahan besar atau peristiwa-peristiwa luar
biasa, misalnya terbentuknya negara baru, sosialisasi politik bahkan dapat
menciptakan kebudayaan politik yang baru. Memelihara, merubah, dan menciptakan
kebudayaan politik adalah macam-macam fungsi yang dijalankan oleh sosialisasi
politik. Kebudayaan politik seringkali berubah secara dramatis karena adanya perang
atau revolusi. Kadang-kadang perubahan ini disengaja, yaitu merupakan tujuan
daripada pemimpin-pemimpin atau golongan-golongan politik. Tetapi perubahan
kebudayaan politik itu mungkin juga terjadi akibat tanggapan yang tidak
direncanakan dan tidak disengaja dari kelompok-kelompok atau segenap masyarakat
terhadap pengaruh dari peristiwa-peristiwa besar. Jerman Barat (Jerman saat ini) dan
Kuba merupakan contoh masyarakat yang mengalami perubahan kebudayaan di
bidang politiknya.
2. Tipe Sosialisasi Politik
Tipe sosialisasi politik yang dimaksud adalah bagaimana cara atau mekanisme
sosialisasi politik berlangsung. Oleh karena itu, tipe sosialisasi politik dapat disebut
pula dengan mekanisme sosialisasi politik. Ada dua tipe sosialisasi politik yaitu tidak
langsung dan langsung.
109
a. Sosialisasi politik tidak langsung
Sosialisasi politik tidak langsung adalah warga negara pada mulanya berorientasi
pada hal-hal yang bukan politik (non-politik), namun kemudian mempengaruhinya
untuk memiliki orientasi politik. Terdapat dua tahap dalam sosialisasi politik tidak
langsung yaitu tahap pertama berorientasi pada non-politik, tahap kedua - orientasi
pertama digunakan untuk orientasi pada politik. Sosialisasi politik secara tidak
langsung ini dapat dilakukan melalui dua cara :
 Pengalihan Hubungan Antar Individu
Hubungan antar individu yang pada mulanya tidak berkaitan dengan politik, namun
nantinya akan terpengaruh ketika berhubungan atau berorientasi dengan kehidupan
politik. Contohnya, hubungan mahasiswa dengan dosen nantinya akan membentuk
siswa manakala ia bertemu dengan bupati.
 Magang
Magang merupakan bentuk aktivitas sebagai sarana belajar. Magang di tempattempat tertentu atau organisasi non-politik, nantinya akan mempengaruhi seseorang
ketika berhubungan dengan politik. Contohnya, mahasiswa ikut organisasi
kemahasiswaan, dalam organisasi tersebut mereka belajar mengenai rapat,
melakukan voting, dan membuat keputusan. Kegiatan ini akan sangat membantu
manakala mahasiswa nanti benar-benar terjun ke dalam dunia politik praktis.
 Generalisasi
Kepercayaan dan nilai-nilai yang diyakini selama ini yang sebenarnya tidak ada
kaitannya secara langsung dengan politik dapat mempengaruhi seseorang untuk
berorientasi pada objek politik tertentu. Contohnya, seseorang yang memiliki
kepercayaan bahwa semua orang pada dasarnya baik, maka kepercayaan ini akan
menjadikan ia berprasangka baik terhadap semua pejabat negara. Sebaliknya, jika
seseorang berpendapat bahwa semua orang pada dasarnya buruk, ia akan hati-hati
manakala bertemu dengan pejabat. Jadi kepercayaan atau nilai-nilai yang diyakini
digeneralisasikan kepada kehidupan politik.
b. Sosialisasi Politik Langsung
Tipe sosialisasi politik langsung berlangsung dalam satu tahap saja, yaitu bahwa halhal yang diorientasikan dan ditransmisikan adalah hal-hal yang bersifat politik saja.
Sosialisi politik langsung dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut
:
 Peniruan Perilaku (imitasi)
Proses menyerap atau mendapatkan orientasi politik dengan cara meniru orang lain.
Yang ditiru bukan hanya pandangan politik, tetapi juga sikap-sikap politik, keyakinan
politik, harapan mengenai politik, tingkah laku politik, serta keterampilan dalam
berpolitik.
 Sosialisasi Antisipatori
110
Sosialisasi politik dengan cara belajar bersikap dan berperilaku seperti tokoh politik
yang diidealkan.
 Pendidikan Politik
Sosialisasi politik melalui pendidikan politik adalah upaya yang secara sadar dan
sengaja serta direncanakan untuk menyampaikan, menanamkan, dan memberikan
pelajaran kepada anak untuk memiliki orientasi politik tertentu. Pendidikan politik
bisa dilakukan di sekolah, organisasi, partai politik, media massa, diskusi politik, serta
forum-forum politik.
 Pengalaman Politik
Pengalaman politik adalah belajar langsung dalam kegiatan-kegiatan politik atau
kegiatan-kegiatan yang sifatnya publik. Terlibat langsung dalam kegiatan partai
politik.
3. Sarana Sosialisasi Politik
Sosialisasi dijalankan melalui bermacam-macam lembaga. Beberapa diantaranya
seperti pelajaran kewarganegaraan di sekolah-sekolah dengan sengaja direncanakan
demi tujuan sosialisasi politik. Berikut ini adalah beberapa sarana sosialisasi politik.
Keluarga, pengaruh kehidupan keluarga baik yang langsung maupun yang tidak
langsung - yang merupakan struktur sosialisasi pertama yang dialami seseorang sangat kuat dan kekal. Yang paling jelas pengaruhnya dari keluarga adalah dalam hal
pembentukan sikap terhadap wewenang kekuasaan (authority). Keluarga biasanya
membuat keputusan bersama, dan bagi si anak keputusan-keputusan yang dibuat itu
bisa otoritatif, dalam arti keengganan untuk mematuhinya dapat mengundang
hukuman. Pengalaman berpartisipasi dalam pembuatan keputusan keluarga dapat
meningkatkan perasaan kompetensi politik si anak, memberinya kecakapankecakapan untuk melakukan interaksi politik, serta membuatnya lebih mungkin
berpartisipasi dengan aktif dalam sistem politik sesudah menjadi dewasa. Keluarga
juga membentuk sikap-sikap politik masa depan dengan menempatkan individu
dalam dunia kemasyarakatan luas; dengan membentuk ikatan-ikatan etnik, linguistik,
religius, dan kelas sosialnya; dengan memperkuat nilai-nilai dan prestasi kultural dan
pendidikannya; dan dengan mengarahkan aspirasi-aspirasi pekerjaan dan
ekonominya.
Sekolah, orang yang terpelajar lebih sadar akan pengaruh pemerintah terhadap
kehidupan mereka, lebih memperhatikan kehidupan politik, memperoleh lebih
banyak informasi tentang proses-proses politik, dan lebih kompeten dalam tingkah
laku politiknya. Sekolah memberi pengetahuan kepada kaum muda tentang dunia
politik dan peranan mereka di dalamnya. Sekolah memberi pandangan yang lebih
konkrit tentang lembaga-lembaga politik dan hubungan-hubungan politik. Sekolah
juga merupakan saluran pewarisan nilai-nilai dan sikap-sikap masyarakatnya. Sekolah
dapat memegang peranan penting dalam pembentukan sikap-sikap terhadap “aturan
permainan politik” (rule of the political game) yang tidak tertulis seperti
menanamkan nilai-nilai kewajiban warganegara, hubungan politik informal, dan
integritas politik. Sekolah dapat mempertebal kesetiaan terhadap sistem politik dan
memberikan simbol-simbol umum untuk menunjukkan tanggapan yang ekspresif
111
terhadap sistem itu, seperti bendera nasional, dan ikrar kesetiaan “padamu negeri”.
Pengajaran sejarah nasional juga berfungsi memperkuat kesetiaan kepada sistem
politik.
Kelompok Pergaulan, Meskipun sekolah dan keluarga merupakan sarana yang paling
jelas terlibat dalam proses sosialisasi, ada juga beberapa unit social lain yang bisa
membentuk sikap-sikap politik seseorang. Salah satunya adalah kelompok pergaulan,
termasuk kelompok bermain di masa kanak-kanak, kelompok persabatan, dan
kelompok kerja yang kecil, di mana setiap anggota mempunyai kedudukan yang
relatif sama dan saling memiliki ikatan-ikatan yang erat. Setiap individu dalam
kelompok itu menyesuaikan pendapatnya dengan teman-temannya mungkin karena
ia menyukai atau menghormati mereka, atau mungkin pula karena ia ingin sama
dengan mereka. Jadi kelompok pergaulan itu mensosialisasikan angota-anggotanya
dengan cara mendorong atau mendesak mereka untuk menyesuaikan diri terhadap
sikap-sikap atau tingkah laku yang dianut olah kelompok itu. Seseorang mungkin
menjadi tertarik pada politik, atau mulai mengikuti peristiwa-peristiwa politik karena
teman-temannya berbuat begitu. Seorang anak lulusan sekolah menengah mungkin
memilih masuk ke suatu perguruan tinggi karena pelajar-pelajar lain temannya
berbuat hal serupa. Dalam hal ini, individu tersebut merubah kepentingan dan
tingkah lakunya agar sesuai dengan kelompoknya sebagai usaha agar ia tetap
diterima oleh anggota-anggota kelompok tersebut.
Pekerjaan, Pekerjaan - dan organisasi-organisasi formal maupun nonformal yang
dibentuk berdasar lingkungan pekerjaan tersebut, seperti serikat buruh, klub sosial,
dan semacamnya - juga merupakan saluran komunikasi informasi dan keyakinan yang
jelas. Individu-individu mengidentifikasikan diri dengan suatu kelompok tertentu dan
menggunakan kelompok itu sebagai acuan (reference) dalam kehidupan politik.
Mereka menjadi sensitif terhadap norma-norma kelompok itu dan menilai tidakantindakannya berdasar perhitungan apa yang paling baik bagi kelompok itu.
Berpartisipasi dalam suatu tawar-menawar kolektif atau dalam suatu demonstrasi
dapat merupakan pengalaman sosialisasi yang berkesan mendalam baik bagi pihak
buruh maupun pihak majikan. Buruh yang berdemonstrasi dapat mengetahui bahwa
ia dapat mempengaruhi bentuk keputusan yang akan mempengaruhi masa depannya
yang sedang dibuat, di samping ia juga dapat memperoleh pengetahuan tentang
kecakapan-kecakapan bertindak tertentu seperti berdemonstrasi dan mogok, yang
bisa berguna kelak ketika ia berpartisipasi lagi dalam bentuk-bentuk kegiatan politik
lain.
Media Massa. Masyarakat modern tidak dapat hidup tanpa komunikasi yang luas,
cepat, dan secara umum seragam. Informasi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi
di mana saja di dunia segera menjadi pengetahuan umum dalam beberapa jam saja.
Sebagian besar masyarakat dunia - terutama bagian-bagiannya yang modern - telah
menjadi satu kelompok penonton tunggal, yang tergerak hatinya oleh peristiwaperistiwa yang sama dan dirangsang oleh selera yang sama. Kita tahu bahwa media
massa - surat kabar, radio, televisi, majalah - memegang peranan penting dalam
menularkan sikap-sikap dan nilai-nilai modern kepada bangsa-bangsa yang baru
merdeka. Di samping memberikan informasi tentang peristiwa-pristiwa politik, media
massa juga menyampaikan, langsung maupun tidak, nilai-nilai utama yang dianut
112
oleh masyarakatnya. Beberapa simbol tertentu disampaikan dalam suatu konteks
emosional, dan peristiwa-peristiwa yang digambarkan di sekitar simbol itu
mengambil warna yang emosional. Karena itu, sistem media massa yang terkendali
merupakan sarana kuat dalam membentuk keyakinan-keyakinan politik.
Kontak-kontak Langsung, Tidak peduli betapa positif pandangan terhadap sistem
politik yang telah ditanamkam oleh keluarga atau sekolah, tetapi bila seseorang
diabaikan oleh partainya, ditipu oleh polisi, kelaparan tanpa ditolong, dan dipaksa
masuk wajib militer, pandangannya terhadap dunia politik sangat mungkin berubah.
Partai politik, kampanye pemilihan umum, krisis-krisis politik luar negeri dan perang,
dan daya tanggap badan-badan pemerintah terhadap tuntutan-tuntutan individu dan
kelompok-kelompok dapat mempengaruhi kesetiaan dan kesediaan mereka untuk
mematuhi hukum.
B. BUDAYA POLITIK
Kebudayaan politik termasuk kajian dari ilmu politik. Banyak sarjana ilmu politik yang
telah berupaya merumuskan makna budaya politik. Pendapat mereka tentang
budaya politik terangkum dalam (Sri Jutmini dan Winarno : 2007), adalah sebagai
berikut :
a. Gabriel Almond dan Sidney Verba
Budaya politik mengacu pada sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem
politik dan bagian-bagiannya dan sikap terhadap peranan warga negara dalam sistem
itu.
b. Kay Lawson
Budaya politik adalah terdapatnya satu perangkat yang meliputi seluruh nilai-nilai
politik yang terdapat di seluruh bangsa.
Berdasar berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan tentang budaya politik adalah
sebagai berikut,
 Budaya politik dapat saja berupa perilaku aktual warga negara yang seperti tindakan,
tetapi juga menekankan pada perilaku non-aktual yang berupa orientasi, seperti
pengetahuan, sikap nilai, kepercayaan, dan penilaian warga negara terhadap suatu
objek politik.
 Hal-hal yang diorientasikan dalam budaya politik adalah sistem politik. Objek
pembicaraan warga negara adalah kehidupan politik pada umumnya.
 Budaya politik menggambarkan orientasi politik warga negara dalam jumlah besar,
tetapi kadangkala juga perseorangan.
Kalau kita mengacu pada pendapat Gabriel Almond dan Sidney Verba di atas, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya budaya politik mencakup dua hal,
yaitu :
 orientasi warga negara terhadap objek politik, dan
 Sikap warga negara terhadap peranannya sendiri dalam sistem politik.
113
1. Orientasi Politik dan Objek Politik
Salah satu makna dari budaya politik adalah orientasi warga negara terhadap subjek
politik. Apa itu orientasi warga negara dan apa itu objek politik? Kata “orientasi”
bermakna luas meliputi melihat, mengenal, pandangan, pendapat, sikap, penilaian,
pengetahuan, kepercayaan, keyakinan, dan lain-lain. Oleh karena itu, orientasi warga
negara meliputi tiga komponen orientasi yaitu : koginitif, afektif, dan evaluatif.
 Orientasi kognitif yaitu, orientasi warga negara yang sifatnya kognitif atau
pengetahuan seperti pengetahuan, wawasan, kepercayaan dan keyakinan warga
negara terhadap suatu objek politik.
 Orientasi afektif yaitu, orientasi warga negara yang sifatnya afektif atau sikap,
seperti sikap-sikap, nilai-nilai, dan perasaan warga negara terhadap objek politik.
 Orientasi evaluatif yaitu, orientasi warga negara yang sifatnya evaluatif atau
penilaian, seperti pendapat dan penilaian warga negara terhadap suatu objek politik.
Objek politik adalah hal yang dijadikan sasaran dari orientasi politik warga negara.
Objek politik yang dijadikan sasaran orientasi itu meliputi tiga hal sebagai berikut :
 Objek politik umum atau sistem politik secara keseluruhan meliputi sejarah bangsa,
simbol negara, wilayah negara, kekuasaan negara, konstitusi negara, lembagalembaga negara, pimpinan negara dan hal lain dalam politik yang sifatnya umum.
 Objek politik input, yaitu lembaga atau pranata politik yang termasuk proses input
dalam sistem politik. Lembaga yang termasuk dalam kategori objek politik input ini
seperti partai politik, kelompok kepentingan, organisasi masyarakat, pers, dukungan
dan tuntutan.
 Objek politik output yaitu, lembaga atau pranata politik yang termasuk proses output
dalam sistem politik. Lembaga yang termasuk dalam kategori objek politik output ini
seperti birokrasi, lembaga peradilan, kebijakan, keputusan, undang-undang, dan
peraturan.
Berdasarkan uraian di atas kita dapat mengatakan bahwa orientasi warga negara
terhadap objek politik merupakan serangkaian pengetahuan, sikap, dan penilaian
warga negara terhadap objek poltik, baik objek politik secara umum, objek politik
input, maupun objek politik dalam proses output di dalam sistem politik. Meskipun
komponen orientasi politik dapat dipisah-pisahkan, akan tetapi dalam kenyataannya
ketiga komponen orientasi politik tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Ketiga
komponen itu saling berkaitan, saling berhubungan, dan saling mempengaruhi (Sri
Jutmini dan Winarno 2007 : 7). Lebih jauh Sri Jutmini dan Winarno memberikan
contoh : “seorang warga negara diminta untuk menilai seorang pemimpin negara
maka jawaban warga negara tersebut akan dipengaruhi oleh pengetahuannya
terhadap pemimpin itu dan sikapnya sendiri terhadap pemimpin tersebut.
Sikap warga negara terhadap peranannya sebagai subjek politik adalah sikap individu
terhadap partisipasinya sendiri dalam sistem politik. Warga negara sendiri dalam
kehidupan bernegara memiliki peranan, tugas, hak, dan kewajiban-kewajiban
tertentu. Sebagai warga negara, dia dapat mempertanyakan kepada diri sendiri
apakah merasa memiliki dan mampu menjalankan seluruh peranan ataukah dia
merasa tidak memiliki dan tidak mampu menjalankan peranan tersebut dalam
114
kehidupan politik. Dengan demikian pribadinya sendiri sebagai warga negara
dijadikan sasaran sikap dan orientasi dan pada saat itu ia merupakan suatu objek
politik. Orientasi warga negara terhadap objek politik dapat menghasilkan dua
orientasi yang berbeda yaitu : orientasi yang loyal atau setia terhadap sistem politik
(alliegensi), dan orientasi yang terasing atau tersisihkan dari sistem politik (allienasi).
Di antara dua orientasi tersebut terdapat orientasi apatis (apathy), yaitu seseorang
tidak mau tahu, bersikap acuh atau masa bodoh terhadap objek politik. Dengan
demikian sikap warga negara terhadap peranannya dalam sistem politik
menghasilkan dua orientasi yang berbeda, yaitu orientasi yang partisipan atau aktif
dan orientasi yang pasif.
2. Tipe-tipe Budaya Politik
Orientasi warga negara terhadap sistem atau objek politik berbeda-beda dan
beragam. Berdasarkan hal ini maka terdapat variasi budaya politik. Menurut Gabriel
Almond dan Sidney Verba dalam (Sri Jutmini dan Winarno : 2007 : 8),
mengklasifikasikan budaya politik menjadi tiga kebudayaan politik yaitu :



Budaya politik parokial;
Budaya politik subjek;
Budaya politik partisipan.
Ukuran yang digunakan untuk membedakan ketiga jenis budaya politik tersebut
adalah derajat orientasi warga negara terhadap objek politiknya. Dengan adanya
perbedaan orientasi warga negara terhadap objek politik memunculkan tiga budaya
politik yang berbeda pula, ketiga budaya politik tersebut digambarkan sebagai
berikut :
a. Budaya Politik Parokial
Dalam budaya politik parokial, orientasi politik warga negara terhadap keseluruhan
objek politik , baik umum, input, dan output, serta pribadinya mendekati nol atau
dapat dikatakan rendah. Berdasarkan hal ini maka ciri-ciri budaya politik parokial
adalah sebagai berikut :
1. Warga negara cenderung tidak menaruh minat terhadap objek-objek politik yang luas,
kecuali yang ada disekitarnya.
2. Warga tidak banyak berharap atau tidak memiliki harapan-harapan tertentu dari
sistem politik di mana ia berada.
3. Kesadaran anggota masyarakat akan adanya pusat kewenangan atau kekuasaan dalam
masyarakatnya.
4. Berlangsung dalam masyarakat yang tradisional dan sederhana.
5. Belum adanya peran-peran politik yang khusus, peran politik dilakukan serempak
bersamaan dengan peran ekonomi, keagamaan dan lain-lain.
6. Berkaitan dengan di atas maka pelaku politik tidak hanya menjalankan peran politik
tetapi berperan lain di masyarakat tersebut, contohnya : seorang kepala suku tidak
115
hanya memimpin suku, tetapi juga sekaligus penguasa ekonomi, pemimpin spiritual
dan panglima perang.
b. Budaya Politik Subjek
Dalam budaya politik subjek, orientasi politik warga negara terhadap objek politik
umum dan objek politik output adalah mendekati satu atau dapat dikatakan
orientasinya tinggi. Sebaliknya orientasi warga negara terhadap objek politik input
dan peranannya sendiri adalah mendekati nol atau dapat dikatakan rendah.
Berdasarkan hal tersebut berikut ini adalah ciri-ciri budaya politik subjek :
1. Warga negara menaruh kesadaran, minat, dan perhatian terhadap sistem politik pada
umumnya dan terutama pada objek politik output, sedangkan kesadarannya
terhadap input dan kesadarannya sebagai aktor politik rendah.
2. Warga negara menyadari sepenuhnya akan otoritas pemerintah
3. Mereka tidak berdaya mempengaruhi, bahkan tunduk dan patuh saja terhadap segala
kebijakan dan keputusan yang ada di masyarakatnya.
4. Sikapnya sebagai aktor politik adalah pasif, artinya tidak mampu berbuat banyak untuk
berpartisipasi dalam kehidupan politik.
5. Tidak banyak memberi masukan dan tuntutan kepada pemerintah, tetapi cukup puas
untuk menerima apa yang berasal dari pemerintah.
c. Budaya Politik Partisipan
Dalam budaya politik partisipan, orientasi politik warga negara terhadap keseluruhan
objek politik, baik umum, input, output, maupun pribadinya mendekati satu atau
dapat dikatakan tinggi. Berdasarkan hal ini maka ciri-ciri budaya politik partisipasi
adalah sebagai berikut :
1. Anggota masyarakat sangat partisipatif terhadap semua objek politik, baik menerima
maupun menolak suatu objek politik.
2. Kesadaran bahwa mereka adalah warga negara yang aktif dan berperan sebagai
aktivis.
3. Warga negara menyadari akan hak dan tanggungjawabnya dan mampu
mempergunakan hak itu serta menanggung kewajibannya.
4. Tidak menerima begitu saja keadaan, tunduk kepada keadaan, berdisiplin, tetapi dapat
menilai dengan penuh kesadaran semua objek politik, baik keseluruhan, input,
output, ataupun posisi dirinya sendiri.
5. Kehidupan politik dianggap sebagai sarana transaksi seperti halnya penjual dan
pembeli. Warga negara dapat menerima berdasarkan kesadarannya, tetapi juga
mampu menolak berdasarkan penilaiannya.
Lebih jauh menurut Gabriel Almond dan Sidney Verba, ketiga budaya politik di atas
sebangun dan selaras dengan budaya politiknya, yaitu sebagai berikut :
116



Budaya politik parokial sebangun dengan sistem politik tradisional.
Budaya politik subjek sebangun dengan sistem politik otoritarian.
Budaya politik partisipan sebangun dengan sistem politik demokrasi.
Keserasian antara budaya politik dengan sistem poltiknya akan membentuk
kematangan budaya politik. Dengan demikian, kematangan budaya politik bangsa
akan tergantung sejauh mana keserasian antara budaya politik dengan sistem politik
dari bangsa yang bersangkutan. Semakin serasi antara struktur atau sistem politik
dengan aspek-aspek budaya bangsa semakin matang pula budaya politiknya. Akan
tetapi dalam kenyataannya sulit dijumpai masyarakat atau bangsa yang hanya
berbudaya politik parokial, subjek atau partisipan semata. Kenyataan umumnya satu
bangsa memiliki budaya politik campuran di antara ketiga tipe kebudayaan tersebut
di atas.
C. PARTISIPASI POLITIK
Parisipasi politik adalah bentuk-bentuk keikutsertaan warga negara dalam aktivitasaktivitas politik dalam suatu negara. Bentuk-bentuk partisipasi tersebut dapat berupa
keikutsertaan warga negara dalam proses pembuatan keputusan politik, ikut
memberikan suara pada pemilihan umum, dan ikut menduduki jabatan-jabatan baik
politik maupun pemerintahan. Kecendrungan warga negara untuk ikut berpartisipasi
politik dalam bentuknya yang lebih luas bermula pada masa renaissance dan
reformasi abad ke-15 sampai abad ke-17 dan abad ke-18 dan abad ke-19. Akan tetapi
bagaimana cara berbagai golongan dalam masyarakat menuntut hak mereka untuk
ikut berpartisipasi lebih luas dalam pembuatan keputusan politik sangat berbeda di
berbagai negara. Menurut Myron Weiner dalam (Mas’oed dan MacAndrews : 2000),
bahwa paling tidak terdapat lima hal yang menyebabkan timbulnya gerakan ke arah
partisipasi yang lebih luas dalam proses politik, yaitu :
1. Penyebab Partisipasi
a. Modernisasi
Modernisasi menyebabkan indsustrialisasi, urbanisasi, penyebaran kepandaian bacatulis, perbaikan pendidikan, teknologi media massa, serta komersialisasi pertanian.
Dari kesemuanya itu membuat sebagian besar warga negara merasa mampu
mempengaruhi nasib mereka sendiri, dan mereka banyak menuntut keterlibatan
dalam politik.
b. Perubahan-perubahan kelas sosial
Selama proses modernisasi dan industrialisasi dimulai, lapangan kerja semakin
terspesialisasi, lapangan kerja semakin banyak, terbentuk kelas-kelas baru dalam
masyarakat dan kelas menengah semakin meluas. Masalah tentang siapa yang
berhak berpartisipasi dalam pembuatan keputusan politik menjadi penting dan
mengakibatkan perubahan-perubahan dalam pola-pola partisipasi.
117
c. Pengaruh kaum intelektual dan komunikasi massa modern
Kaum intelektual seperti sarjana, pengarang, wartawan sering mengemukakan ideide kepada warga negara untuk membangkitkan tuntutan akan partisipasi massa
yang lebih luas dalam pembuatan keputusan politik. Begitu pula sistem transportasi
dan komunikasi modern akan memudahkan dan mempercepat penyebaran ide-ide
baru.
d. Konflik di antara pemimpin politik
Ketika terjadi konflik di antara pemimpin politik, maka strategi yang sering digunakan
oleh para pemimpin politik adalah melibatkan kelompok-kelompok politik yang ada
dan mencari dukungan rakyat.
e. Keterlibatan pemerintah yang lebih luas dalam kehidupan sosial.
Meningkatnya peranan pemerintah dalam kehidupan sosial warga negara seperti
ekonomi, kebudayaan, pendidikan, tentunya akan menimbulkan dampak yang lebih
luas. Dampak tersebut dapat menguntungkan warga negara ataupun merugikannya.
Perjuangan untuk menuntut hak secara berkelompok dalam bentuk seperti
demonstrasi bagi masyarakat yang dirugikan akan memberikan kesempatan untuk
berperan serta mempengaruhi suatu kebijakan pemerintah.
2. Bentuk-bentuk Partisipasi Politik
Tabel berikut ini menunjukkan bentuk-bentuk partisipasi politik yang terjadi di
berbagai negara dan berbagai waktu. Kegiatan politik konvensional adalah bentukbentuk partisipasi politik yang normal di negara demokrasi modern. Sedangkan
bentuk-bentuk partisipasi yang non-konvensional termasuk beberapa yang mungkin
legal (seperti petisi) maupun yang illegal, yang penuh kekerasan, dan bersifat
revolusioner. Bentuk-bentuk dan frekuensi partisipasi politik dapat dipakai sebagai
alat ukur untuk menilai stabilitas sistem politik, dan kepuasan atau ketidakpuasan
warga negara. Berikut ini adalah tabel bentuk-bentuk partisipasi politik.
Konvensional
-Pemberian suara (voting)-Diskusi politik
-Kegiatan kampanye
-Membentuk dan bergabung dalam kelompok kepentingan
-Komunikasi individual dengan pejabat politik dan administratif
Non-Konvensional
-Pengajuan petisi
-Demonstrasi
-Konfrontasi
-Mogok
118
-Tindak kekerasan politik terhadap harta benda (pengrusakan, pembakaran, bom)
-Tindakan kekerasan politik terhadap manusia (penculikan, pembunuhan)
-Perang gerilya, revolusi.
PEMERINTAHAN DAN BIROKRASI
A. PEMERINTAHAN
1. Konsep Dasar Pemerintahan
Pemikiran tentang bentuk-bentuk pemerintahan sudah tua usianya. Ilmu politik
dimulai dengan klasifikasi bentuk-bentuk pemerintah dan sampai dewasa ini masalah
tersebut masih tetap menarik perhatian sarjana-sarjana ilmu politik. Herodotus
pernah melukiskan suatu percakapan antara tujuh saudagar Bangsa Parsi yang harus
mengadakan pilihan antara bentuk-bentuk pemerintah, yaitu antara bentuk kerajaan,
oligarkhi atau demokrasi. Menurut Herodotus, saudagar-saudagar Parsi tersebut
memilih kerajaan sebagai bentuk pemerintah yang terbaik. Namun, Plato kemudian
Aristoteles mengadakan peneyelidikan tentang bentuk-pemerintah secara mendalam
dan sistematis. Menurut Isjwara (1999), Dalam kepustakaan ilmu politik dikenal
adanya dua klasifikasi tradisionil dari bentuk-bentuk pemerintah. Pertama dan tertua
adalah klasifikasi tri-bagian (tri-partite classification) dan kedua adalah klasifikasi duabagian (bi-partite classification). Plato adalah salah seorang sarjana yang pertamatama mengadakan pembahasan yang mendalam dan sistematis tentang bentukbentuk pemerintah. Plato membahas masalah itu dalam bab VIII dan IX dari
“Republik”nya. Klasifikasi Plato tentang bentuk pemerintahan adalah sebagai berikut
:
Klasifikasi Bentuk-bentuk Pemerintah Menurut Plato
Bentuk pemerintah yang terbaik
1. Kerajaan
2. Aristokrasi
3. Demokrasi
Bentuk pemerintah yang merosot
1. Tirani
2. Oligarkhi
3. Mobokrasi
Sejalan dengan bentuk-bentuk pemerintahan yang baik dan yang merosot itu ada
pula warga negara yang baik dan ada yang buruk yang menempati jabatan-jabatan
119
yang tertinggi dalam negara itu. Jika Plato memberikan uraian-uraian yang filosofisidealistis tentang bentuk bentuk pemerintah, maka Aristoteles murid Plato sebaliknya
mengemukakan masalah bentuk pemerintah itu secara empiris induktif. Aristoteles
mengupas masalah bentuk-bentuk pemerintah setelah ia menyelidiki kurang lebih
158 konstitusi negara-negara kota Yunani yang pernah ada dan yang masih ada dalam
zamannya. Dari penyelidikan-penyelidikan konstitusionil itu hanya satu yang dapat
diketemukan kembali, yaitu penyelidikan tentang konstitusi kota Athena. Atas dasar
penyelidikan yang empiris ini Aristoteles kemudian membuat klasifikasi bentukbentuk pemerintah atas dasar dua kriteria : secara kuantitatif, yaitu berdasarkan
jumlah orang orang yang memegang kekuasaan dalam suatu negara. Dan secara
kualitatif, yaitu berdasarkan pelaksanaan kesejahteraan umum oleh penguasapenguasa negara itu. Berikut ini adalah tabel yang menunjuk hal tersebut di atas :
Bentuk
Pemerintah
Bentuk-bentuk biasa dalam
mana
penguasa-penguasa
berusaha
mewujudkan
kesejahteraan umum
Bentuk merosot dalam mana
penguasa
berusaha
mewujudkan kepentingan
dirinya sendiri/gol.
Pemerintah
seorang
Pemerintah
beberapa
orang
Pemerintah
semua
warga
negara
Monarkhi
Tirani
Aristokrasi
Oligarkhi
Polity
Demokrasi
Monarchy berasal dari kata-kata Yunani monos yang berarti satu dan archein yang
berarti menguasai , memerintah, kerajaan adalah pemerintahan dalam hal mana
seluruh kekuasan dipegang oleh seorang yang berusaha mewujudkan kesejahteraan
umum.
Tirani ialah bentuk pemerintahan di mana kekuasaan juga berpusat pada satu orang,
tetapi yang berusaha mewujudkan kepentingan dirinya sendiri dan tidak
mengindahkan kesejahteraan umum.
Aristokrasi berasal dari kata aristoi, yaitu kaum bangsawan atau cendekiawan dan
kratein yang berarti kekuasaan. Ialah bentuk pemerintah dalam mana kekuasaan
negara berpusat pada beberapa orang yang berusaha mewujudkan kesejahteraan
umum. Bentuk ini disebut aristokrasi karena orang-orang yang berkuasa adalah
orang-orang yang paling baik dan senantiasa mewujudkan kesejahteraan umum.
Bentuk merosotnya ialah oligarchi yang berarti oligoi atau beberapa, dan archein
yakni pemerintahan beberapa orang yang mengutamakan kepentingan golongan
sendiri.
Polity ialah bentuk pemerintahan dalam mana seluruh warga negara turut serta
mengatur negara dengan maksud mewujudkan kesejahteraan umum. Bentuk ini
120
ditafsirkan oleh Garner dalam (Isjwara : 1999), sebagai bentuk pemerintahan yang
menyerupai bentuk pemerintahan demokrasi konstitusionil dewasa ini. Sedangkan
menurut McIver sebagai bentuk pemerintahan di mana golongan menengah yang
memegang kekuasaan pemerintahan.
Demokrasi berasal dari kata demos yang berarti rakyat, dan kratein berarti
pemerintahan, yang ekstrim disebut sebagai bentuk merosot dari polity. Aristoteles
menganggap demokrasi sebagai bentuk merosot, karena berdasarkan
pengalamannya sendiri penguasa-penguasa di negara negara kota yang demokratis
dari zamannya seperti Athena adalah teramat korupsi.
Aristoteles menganggap demokrasi sebagai bentuk pemerintah yang buruk,
pemerosotan bentuk pemerintahan polity. Dalam hal ini Aristoteles juga berbeda
dengan Plato yang menganggap demokrasi sebagai bentuk pemerintah yang paling
buruk dari pada bentuk-bentuk pemerintah yang baik. Aristoteles menganggap
demokrasi sebagai bentuk pemerintah yang merosot, karena negara yang berbentuk
demokratis yang berkuasa adalah orang-orang miskin, serakah dan tidak beradab.
Mereka yang pertama-tama memenuhi kebutuhannya sendiri dengan tidak
mengindahkan kesejahteraan umum.
Cicero (106-43 SM), seorang filosof Romawi menggolongan bentuk-bentuk
pemerintahan berdasarkan prinsip yang dinamakannya concilium. Penggolongannya
adalah sebagai berikut : apabila concillium itu dipegang oleh seorang, maka bentuk
pemerintahan itu adalah kerajaan ; apabila dipegang oleh beberapa orang bentuk
pemerintahanya adalah aristokrasi, apabila dipegang oleh seluruh rakyat bentuk
adalah demokrasi. Cicero juga menerima adanya bentuk pemerintah yang merosot
dari pemerintah yang baik. Dominus atau despot adalah bentuk merosot dari
kerajaan dan Facto, turba et confucio adalah bentuk-bentuk merosot yang dihasilkan
oleh aristokrasi dan demokrasi. Demikian pula Hobbes, menerima penggolongan tribagian dari Aristoteles. Bagi Hobbes kriterium yang membedakan satu pemerintah
dari pemerintah lainnya ialah perbedaan dalam letak kedaulatan. Apabila kedaulatan
terletak pada satu orang bentuk pemerintah itu ialah kerajaan, apabila pada semua
warga negara, maka didapati demokrasi, dan apabila beberapa orang yang berdaulat
maka bentuknya adalah aristokrasi. Dari semua jenis bentuk pemerintahan itu
Hobbes mengutamakan kerajaan, teristimewa kerajaan mutlak. Bagi Hobbes tidak
mengenal bentuk-bentuk merosot dari pemerintahan yang baik seperti klasifikasi
Aristoteles, menurutnya tirani, oligarkhi, dan anarkhi hanya sebutan yang
dipergunakan bagi mereka yang tidak puas dengan bentuk-bentuk kerajaan,
aristokrasi dan demokrasi itu.
John Locke juga mengemukakan teori bentuk-bentuk pemerintah yang berpangkal
dari tri-bagian dari Aristoteles. Locke membedakan bentuk-bentuk pemerintahan
atas kriteria wewenang membuat hukum, jadi perbedaan yang didasarkan atas letak
kekuasaan legislatif. Berdasarkan kriteria tersebut Locke membedakan tiga jenis
bentuk-bentuk pemerintah yaitu demokrasi, oligarkhi, dan monarkhi. Kerajaan dapat
berbentuk turun-temurun, apabila yang dapat menjadi raja hanya seorang dan
keturunannya saja, ataukah kerajaan elektif atau pilihan, apabila rakyat setelah raja
itu meninggal, dapat menentukan penggatinya. Montesqueiu (1669-1785), juga
mengikuti klasifikasi Aristoteles. Ia mendalilkan adanya tiga macam bentuk
121
pemerintah yaitu republik dengan dua bentukan tambahan demokrasi dan aristokrasi
serta kerajaan dan despotisme. Dengan bentuk pemerintah republik dimaksudkan
pemerintahan di mana seluruh rakyat (demokrasi) atau sebagian rakyat (aristokrasi)
memegang kekuasaan tertinggi. Kerajaan adalah bentuk pemerintahan di mana satu
orang memerintah, tetapi memerintah menurut undang-undang yang telah
ditentukan. Despotisme adalah bentuk pemerintah di mana satu orang memerintah
tanpa undang-undang dan peraturan menurut kehendak dan kesukaannya.
Despotisme adalah pemerintahan yang didasarkan atas kesewenang-wenangan.
Ketiga macam bentuk-bentuk pemerintahan ini masing-masing didasarkan atas asas
khusus, yaitu repuplik didasarkan atas asas kebaikan warga negara yaitu demokrasi
berdasarkan cinta tanah air dan persamaan, lalu aristokrasi didasarkan atas asas
modernisasi, sedangkan kerajaan berdasarkan atas asas kehormatan, dan despotisme
didasarkan atas asas ketakutan.
Akan tetapi, disamping penerimaan tri-bagian Aristoteles itu ada pula yang
menolaknya sebagai tidak mencukupi dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan
praktek-praktek bentuk-bentuk pemerintahan modern. Di samping klasifikasi tribagian, bentuk-bentuk pemerintahan dapat juga digolongkan dalam klasifikasi duabagian (two-partite classification) yaitu dalam bentuk kerajaan dan republik.
Pembagian dalam dua jenis bentuk pemerintahan ini dimulai oleh Machiavelli yang
memulai halaman pertama dari bukunya yang termasyhur “The Prince” dengan
kalimat, “semua pemerintahan dan bentuk penguasaan yang pernah ada yang kini
menguasai manusia dan yang pernah menguasai manusia adalah atau republik atau
kerajaan”. Bagi Machiavelli tidak ada bentuk-bentuk pemerintahan selain kerajaan
dan republik. Dalam “the prince” itu, Machiavelli menganggap bentuk kerajaan
sebagai bentuk pemerintahan yang terbaik. Kedudukan raja dapat turun-temurun
atau dapat didasarkan atas pemilihan.
2. Birokrasi
Secara etimologis, birokrasi berasal dari kata biro (bureau) yang berarti kantor atau
dinas, dan kata krasi (cracy, kratie) yang berarti pemerintahan. Dengan demikian
birokrasi berarti dinas pemerintahan. Secara tipologik (tipe ideal), Max Weber dalam
(Surbakti : 1999), mendeskripsikan sejumlah karakteristik birokrasi sebagai berikut :
Pertama, dalam organisasi terdapat pembagian kerja dengan spesialisasi peranan
yang jelas. Pembagian kerja yang jelas dan terinci ini akan membuka kesempatan
untuk hanya merekrut para pegawai yang ahli dalam bidangnya dan memungkinkan
masing-masing pegawai sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan
tugasnya. Kedua, organisasi jabatan ini mengikuti prinsip hirarki. Artinya, jabatan
yang lebih rendah berada dalam kontrol dan pengawasan jabatan yang lebih tinggi.
Setiap pejabat dalam hirarki administrasi ini mempertanggungjawabkan kepada
atasannya tidak saja setiap keputusan dan tindakan yang diambilnya sendiri, tetapi
juga setiap keputusan dan tindakan yang diambil bawahannya. Untuk dapat
mempertanggungjawabkan tindakan bawahan, pejabat memiliki kewenangan untuk
memberikan pengarahan kepada bawahan dan pejabat bawahan berkewajiban
menaati pejabat atasan. Ketiga, kegiatan organisasi jabatan ini dilakukan berdasarkan
sistem aturan abstrak yang konsisten dan terdiri atas penerapan aturan-aturan ini ke
dalam kasus-kasus yang khusus. Sistem standar ini dirancang untuk menjamin
122
keseragaman tidak hanya dalam pelaksanaan setiap tugas, terlepas dari berapapun
jumlah personil yang terlibat di dalamnya, tetapi juga dalam koordinasi berbagai
tugas. Aturan dan pengaturan yang eksplisit membatasi kewajiban masing-masing
anggota organisasi dan hubungan-hubungan di antara mereka. Keempat, setiap
pejabat melaksanakan tugasnya dalam semangat kerja yang tinggi dan hubungan
yang formal dan impersonal, yaitu tanpa perasaan benci ataupun simpati, dan karena
itu tanpa afeksi atau antusiasme, artinya pejabat dalam melaksanakan tugasnya
tanpa intervensi (dicampuri) dengan kepentingan personal. Perilaku diskriminatif dan
ketidakefisienan hanya dapat dihilangkan apabila pertimbangan-pertimbangan
pribadi tidak dilibatkan dalam pelaksanaan tugas operasional organisasi. Dalam hal
ini, terdapat satu kritik terhadap Weber, yaitu hubungan-hubungan informasi yang
berlangsung di antara anggotanya justru mendorong pelaksanaan kegiatan organisasi
formal. Kelima, setiap pegawai dalam organisasi ini direkrut menurut prinsipi
kualifikasi teknis (merit sistem), digaji dan dipensiunkan menurut pangkat dan
kemampuan, dan dipromosikan menurut asas kesenioran atau kemampuan, atau
keduanya. Prinsip-prinsip ini akan mendorong pengembangan kesetiaan kepada
organisasi dan pengembangan semangat korps di antara para anggotanya. Hal-hal
inilah yang akan mendorong para pegawai untuk memajukan tujuan-tujuan
organisasi. Keenam, organisasi administrasi yang bertipe birokratis dari segi
pandangan teknis murni cenderung lebih mampu mencapai tingkat efisiensi lebih
tinggi. Oleh karena itu, birokrasi mengatasi masalah unik organisasi. Artinya,
memaksimalkan koordinasi dan pengendalian sehingga akan tercapai tidak hanya
efisiensi organisasi tetapi juga efisiensi produktif setiap pegawai. Seluruh
karakteristik birokrasi itu akan menghasilkan suatu birokrasi yang tidak hanya
superior dalam efektivitas, yaitu skala yang besar, tetapi juga superior dalam
efisiensi. Di samping fungsi birokrasi yang positif (efektif dan efisien) seperti yang
disebutkan di atas, Weber juga menyebutkan fungsi negatif dari birokrasi. Pertama,
birokrasi cenderung memonopoli informasi sehingga pihak luar tidak dapat
mengetahui atas dasar apa keputusan itu diambil. Konsep “rahasia jabatan”
merupakan penemuan unik birokrasi, dan tidak ada yang lebih dipertahankan secara
fanatik oleh birokrasi selain rahasia jabatan tersebut. kedua, apabila sudah
terlembaga, birokrasi merupakan salah satu struktur sosial yang paling sukar
dihancurkan. Menghapuskan birokrasi merupakan pekerjaan yang sia-sia. Tidak
mungkin mengelola suatu bangsa-negara yang besar atau perusahaan swasta tanpa
menggunakan spesialisasi dan keahlian yang dimiliki oleh birokrasi, pegawai dapat
diganti tetapi seluruh pola administrasi yang konsisten dengan pola birokratis itu
tidak mudah diubah. Ketiga, birokrasi yang sudah mapan cenderung bersifat mendua
terhadap demokrasi. Pada satu pihak prinsip-prinsip persamaan di depan hukum
yang melandasi kegiatan birokrasi (impersonal, sistem aturan yang homogen)
mendukung pelaksanaan demokrasi, pada pihak lain birokrasi cenderung tidak
tanggap terhadap pendapat umum.
Baik fungsi negatif maupun fungsi positif dari birokrasi dapat dipahami sebagai akibat
dari prinsip-prinsip pengorganisasian yang dimaksudkan untuk mencapai koordinasi
dan pengendalian. Pada dasarnya birokrasi merupakan aparat yang melaksanakan
keputusan yang dibuat dan dijabarkan oleh pemerintah. Untuk itu birokrasi
berkewajiban memberikan informasi dan sumber daya manusia (keahlian) kepada
pemerintah selaku pembuat peraturan, sedangkan kepada masyarakat birokrasi tidak
123
hanya memberikan pelayanan, tetapi juga menegakkan peraturan sesuai dengan
kewenangan yang ada padanya. Sehubungan dengan tugas-tugas birokrasi ini dapat
ditambahkan bahwa kenyataan menunjukkan birokrasi tidak hanya melaksanakan
kebijakan umum, tetapi juga birokrasi yang pertama-tama mengusulkan kebijakan
tersebut. berbeda dengan Weber yang memandang birokrasi sebagai netral dalam
politik, dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa birokrasi memiliki pengaruh politik
dan tindakannya ikut menentukan gerak-gerik pemerintahan. Selain itu, birokrasi
bahkan berkembang menjadi penguasa ketika peraturan diterapkan kepada
masyarakat. Kedua hal yang disebutkan terakhir ini merupakan gejala atau
karakteristik sistem politik yang disebut birokratik polity atau birokratis-otoriter.
a. New Public Manajement.
Pada awalnya birokrasi dimaksudkan untuk memfasilitasi pembengunan dengan
menciptakan efisiensi organisasi secara maksimum. Selama tahun 1930-an birokrasi
memainkan peran utama dalam pembangunan. Namun birokrasi yang semakin kuat
tersebut kemudian menunjukkan kecendrungan-kecendrungan yang kurang baik, di
antaranya birokrasi menjadi sangat sulit untuk ditembus, sentralistis, top down, dan
hierarki yang sangat panjang. Birokrasi justru menyebabkan kelambanan, terlalu
betele-tele, dan mematikan kreativitas. Birokrasi juga dipandang mengganggu
mekanisme pasar dan menciptakan distorsi ekonomi (Mardiasmo : 2004). Pada
akhirnya, birokrasi justru menyebabkan inefisiensi organisasi.
Lebih jauh Mardiasmo (2004), mengatakan bahwa, saat ini - ketika dunia dihadapkan
pada ketidakpastian (turbulence and uncertainty), teknologi informasi yang semakin
canggih, masyarakat yang semakin banyak menuntut (demanding community), dan
persaingan yang semakin ketat, maka birokrasi yang seperti itu tidak akan dapat
bekerja dengan baik. Untuk mengantisipasi era globalisasi dan masyarakat yang
semakin cerdas (knowledge based society) birokrasi perlu melakukan perubahan
menuju profesionalisme birokrasi dan lebih menekankan efisiensi. Sejak pertengahan
tahun 1980-an di Eropa dan Amerika terjadi perubahan manajemen sector public
yang cukup drastis dari sistem manajemen tradisional yang terkesan kaku, birokratis,
dan hirarkis menjadi model manajemen publik yang fleksibel dan lebih
mengakomodasi pasar. Perubahan tersebut telah mengubah peran pemerintah
terutama dalam hal hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Paradigma baru
manajemen sector publik tersebut kemudian dikenal dengan New Public
Manajement. New Public Manajement berfokus pada manajemen, penilaian kinerja,
dan efisiensi. Bukan berorientasi pada kebijakan. Penggunaan paradigma New Public
Manajement tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi bagi pemerintah di
antaranya adalah tuntutan untuk melakukan efisiensi, pemangkasan biaya (cost
cutting), dan kompetisi tender (compulsory competitive tendering - CCT). Pada
dasarnya New Public Manajement merupakan konsep manajemen sektor publik yang
berfokus pada perbaikan kinerja organisasi. Penerapan konsep tersebut akan
berimplikasi pada perlunya dilakukan pada perubahan manajerial, terutama yang
menyangkut perubahan personil dan struktur organisasi. Sehubungan dengan hal
tersebut di atastuntutan kebutuhan dan perubahan zaman maka Osborne dan
Gaebler (1992), mengajukan suatu model pemerintahan yang dikenal dengan konsep
124
“reinventing government“. reinventing government merupakan persfektif baru bagi
pemerintah. adalah sebagi berikut :
a. Pemerintahan Katalis : focus pada pemberian pengarahan bukan produksi pelayanan
publik.
Pemerintah daerah harus menyediakan (providing) beragam pelayanan public, tetapi
tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing).
Sebaliknya pemerintah daerah memfokuskan diri pada pemberian arahan, sedangkan
produksi pelayanan public diserahkan kepada pihak swasta dan/atau sektor ketiga
(lembaga swadaya masyarakat dan nonfrofit lainnya). Produksi pelayanan public oleh
pemerintah daerah, harus dijadikan sebagai pengecualian. Dan bukan keharusan:
pemerintah daerah hanya memperoduksi pelayanan public yang belum dapat
dilakukan oleh pihak non government atau pihak swasta. Pada saat sekarang ini,
telah banyak bentuk pelayanan public yang dapat diproduksi oleh sector swasta dan
sector ketiga (LSM). Bahkan pada beberapa negara, penagihan pajak dan retribusi
sudah lama dikelola oleh pihak bukan pemerintah.
b. Pemerintah Milik Masyarakat : memberi wewenang pada masyarakat dari pada
melayani.
Pemerintah daerah sebaiknya memberikan wewenang kepada masyarakat sehingga
mereka mampu menjadi masyarakat yang mampu menolong dirinya sendiri
(community self-help). Misalnya, masalah keselamatan umum adalah juga
merupakan tanggungjawab masyarakat, tidak hanya tugas kepolisian. Oleh karenanya
kepolisian semestinya tidak hanya memperbanyak polisi untuk menanggapi peristiwa
criminal, tetapi juga membantu warga untuk memecahkan masalah yang
meyebabkan timbulnya tindakan criminal. Contoh lainnya adalah pemerintah
mengembangkan usaha kecil, pemberian wewenang optimal kepada asosiasi
pengusaha kecil untuk memmecahkan masalah yang mereka hadapi.
c. Pemerintah yang Kompetitif : memotivasi semangat kompetisi dalam pemberian
pelayanan public.
Kompetisi adalah satu-satunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan
kualitas pelayanan. Dengan kompetisi, banyak pelayanan public yang dapat
ditingkatkan kualitasnya tanpa harus memperbesar biaya. Perhatikan pada pelayanan
pos oleh negara yang sifatnya monopoli - dengan memberikan kesempatan kompetisi
yang sehat pada sector pelayanan titipan kilat akan menjadi lebih cepat dari pada
kualitas ketika masih dalam bentuk pelayanan monopoli oleh pos negara dimasa lalu.
d. Pemerintah yang Digerakkan oleh Misi : mengubah organisasi yang digerakkan oleh
peraturan menjadi organisasi yang digerakkan oleh misi.
Mengenai apa yang dapat dan tidak dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah
diatur dalam mandatnya. Namun tujuan pemerintah daerah bukanlah mandatnya,
tetapi misinya.
e. Pemerintah yang Berorientasi Kepada Hasil: membiayai hasil, bukan masukan.
125
Pada pemerintahan daerah tradisional, besarnya alokasi anggaran pada suatu unit
kerja ditentukan oleh kompleksitas masalah yang dihadapi (pemerintah daerah
membiayai masukan). Semakin kompleks masalah yang dihadapi, semakin besar pula
dana yang dialokasikan. Kebijakan seperti ini kelihatannya logis dan adil, akan tetapi
yang terjadi adalah, unit kerja yang tidak punya inisiatif untuk memperbaiki
kinerjanya. Akibatnya adalah justru, mereka beranggapan bahwa semakin lama suatu
permasalah dapat dipecahkan, semakin besar peluangnya untuk memperoleh banyak
anggaran. Pemerintah daerah berciri wirausaha berusaha merubah bentuk
penghargaan dan bentuk insentif tersebut, mereka membiayai hasil dan bukan
masukan. Pemerintah daerah yang berciri wirausaha mengembangkan suatu standar
kinerja, yang akan mengukur seberapa baik suatu unit kerja mampu memecahkan
permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. Semakin baik kinerjanya, semakin
banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah
dikeluarkan oleh unit kerja tersebut.
f. Pemerintah Berorientasi pada Pelanggan: memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan
kebutuhan birokrasi.
Pemerintah daerah tradisional yang birokratis seringkali salah dalam
mengidentifikasikan pelanggannya. Penerimaan pajak memang dari masyarakat dan
dunia usaha, tetapi pemanfaataanya harus disetujui oleh DPRD. Akibatnya,
pemerintah daerah seringkali menganggap DPRD dan semua pejabat yang ikut dalam
pembahasan APBD adalah pelanggannya. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah
daerah tradisional akan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan birokrasi,
sedangkan pada masyarakat dan dunia bisnis yang merupakan pelanggan yang
sesungguhnya bagi pemerintah malah sering diabaikan. Pemerintah daerah yang
berciri wirausaha akan mengidentifikasi para pelanggan yang sesungguhnya. Dengan
cara seperti ini bukan berarti pemerintah akan mengabaikan DPRD, akan tetapi
sebaliknya, ia menciptakan sistem pertanggungjawaban ganda (dual accountability);
kepada DPRD dan kepada masyarakat luas dan dunia bisnis. Dengan demikian
pemerintah daerah tidak akan arogan, tetapi secara terus menerus akan berupaya
untuk lebih memuaskan masyarakat luas dan dunia bisnis.
g. Pemerintah Antisipatif: berupaya mencegah darpada mengobati
Pemerintah daerah tradisional yang birokratis memusatkan diri pada pelayanan
public untuk memecahkan masalah public. Jenis pemerintahan yang birokratis
tersebut biasanya cenderung bersikap reaktif. Seperti misalnya, Dinas Pemadam
Kebakaran tidak bekerja apabila tidak ada kebakaran (masalah). Apabila tidak ada
kebakaran maka tidak ada upaya pemecahan masalah berupa pencegahan agar tidak
terjadi kebakaran. Akan tetapi pemerintah daerah yang berciri wiwausaha tidak
bersifat reaktif akan tetapi proaktif. Ia tidak hanya mencoba untuk mencegah
masalah, akan tetapi juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan. Ia
menggunakan perencanaan strategis untuk menciptakan visi daerah. Visi daerah
tersebut sangat membantu masyarakat luas, dunia bisnis, dan pemerintah daerah
sendiri untuk meraih peluang yang tidak terduga serta menghadapi krisis yang tidak
terduga pula, tanpa menunggu perintah.
h. Pemerintah Desentralisasi: dari hirarki menuju partisipatif dan tim kerja
126
Lima puluh tahun yang lalu, pemerintah daerah yang sentralistis dan hirarkis sangat
diperlukan. Pengambilan keputusan harus berasal dari pusat, mengikuti rantai
komandonya hingga sampai pada staf yang paling berhubungan dengan masyarakat
dan dunia bisnis. Pada saat tersebut sistim ini sangat cocok karena teknologi
informasi masih sangat primitive, komunikasi antar berbagai lokasi masih lamban,
dan staf pada pemrintah daerah masih relative belum terdidik (masih sangat
membutuhkan petunjuk langsung terhadap apa yang harus dilaksanakan). Akan
tetapi saat ini, keadaan sudah berubah, perkembangan teknologi sudah sangat maju,
kebutuhan/keinginan masyarakat dan dunia bisnis sudah semakin kompleks, serta
staf pemerintah daerah sudah banyak yang berpendidikan tinggi. Sekarang ini,
pengambilan keputusan harus digeser ke tangan masyarakat, asosiasi-asosiasi,
pelanggan, dan lembaga swadaya masyarakat.
i. Pemerintah Berorientasi pada (Mekanisme) Pasar: mengadakan perubahan dengan
mekanisme pasar (system insentif) dan bukan bukan dengan mekanisme
administratif (sistem prosedur dan pemaksaan).
Ada dua cara alokasi sumber daya, yaitu mekanisme pasar dan mekanisme
administratif. Dari keduanya, mekanisme pasar terbukti sebagai yang terbaik dalam
mengalokasikan sumber daya. Pemerintah daerah yang bercirikan birokrasi
menggunakan mekanisme administrative, sedangkan pemerintah daerah yang
bercirikan wirausaha menggunakan mekanisme pasar. Dalam mekanisme
administrative, pemerintah daerah tradisional menggunakan perintah dan
pengendalian, mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian
memerintahkan orang untuk melaksanakannya (sesuai dengan prosedur tersebut).
dalam mekanisme pasar, pemerintah daerah wirausaha tidak memerintahkan dan
mengawasi, tetapi mengembangkan dan menggunakansistem insentif agar orang
tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat.
Reinventing Government
Steering : Pengarah
Empowering:Pemberdayaan organisasi
Competition:Persaingan
Mission-driven:Mengarahkan pada tugas
Funding outcomes :
Menggunakan/melibatkan dana
masyarakat (Anggaran berdasarkan
kinerja).
Bureaucracy
Rowing : Pelaksana
Service:Pelayanan rutin pemerintah dan
masyarakat
Monopoli: Tunggal
Role-Driven:Berdasarkan arahan/
petunjuk dari satu peraturan yang
seragam
Budgeting inputs :
Mengelola/menghabiskan Anggaran
yang tersedia Dalam satu priode
(Anggaran berimbang).
Customer driven: Penekanan pelayanan
kepada pelanggan, arah
pertanggungjawaban kinerja
diletakkan pada pelanggan.
Bureaucracy-driven: Arah
pertanggungjawaban kepada
pimpinan.
Team work: Bekerja sama dalam tim
Hierarchy: Kontrol berdasarkan tingkatan
127
berdasarkan keahlian dan
kompetensi.
Market: Pelayananan berorientasi pada
pasar
dalam organisasi
Organization: Pelayanan berorientasi
pada organisasi
Antisipatif : Mencegah
Represif : Mengobati
Konsep reinventing government muncul sebagai kritik atas kinerja pemerintah
selama ini (pemerintahan yang berciri birokrasi), dan juga sekaligus sebagai antisipasi
atas berbagai perubahan yang akan terjadi. Konsep ini menawarkan sepuluh prinsip
dasar bagi sebuah model baru pemerintahan di masa yang akan datang. reinventing
government memang merupakan konsep yang monumental, akan tetapi tanpa diikuti
dengan perubahan-perubahan lain seperti bureaucracy reengineering, rightsizing,
dan perbaikan mekanisme reward and punishment, maka konsep reinventing
government tidak akan dapat mengatasi permasalahan birokrasi selama ini.
Penerapan konsep reinventing government membutuhkan arah yang jelas dan
political will yang kuat dari pemerintah dan dukungan masyarakat. Selain itu, yang
terpenting adalah adanya perubahan pola pikir dan mentalitas baru di tubuh
birokrasi pemerintah itu sendiri oleh karena sebaik apapun konsep yang ditawarkan
jika semangat dan mentalitas penyelenggara pemerintahan masih menggunakan
paradigma lama, konsep tersebut hanya akan menjadi slogan kosong tanpa
membawa perubahan apa-apa.
b. Good Governance
Pengertian governance dapat diartikan sebagai cara mengelola urusan-urusan publik.
Word Bank memberikan definisi governance sebagai “the way state power is used in
managing economic ang social resources for development of society“. Sedangkan
United Nation Development Program (UNDP) mendefinisikan governance sabagai
“the evercise of political, economic and administrative authority to manage a nation’s
affair at all levels“. Dalam hal ini, Word bank lebih menekankan pada cara
pemerintah mengelola sumber daya social dan ekonomi untuk kepentingan
pembangunan masyarakat, sedangkan UNDP lebih menkankan pada aspek politik,
ekonomi, dan administrative dalam pengelolaan negara. Political governance
mengacu pada pembuatan kebijakan (policy/strategy formulation), economic
governance mengacu pada proses pembuatan keputusan di bidang ekonomi yang
berimplikasi pada masalah pemerataan, penurunan kemiskinan, dan peningkatan
kualitas hidup. Administrative governance mengacu pada system implementasi
kebijakan. Jika mengacu pada Word bank dan UNDP, orientasi pembangunan sector
public adalah untuk menciptakan good governance. Pengertian good governance
sering diartikan sebagai kepemerintahan yang baik. Sementara itu Word Bank
mendefinisikan good governance sebagai suatu penyelenggaraan manajemen
pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip
demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi, dan
pencegahan korupsi baik secara politik maupun secara administrative, menjalankan
disiplin anggaran serta penciptaan legal and political frame work bagi tumbuhnya
aktivitas usaha.
128
Karakteristik Good Governance Menurut UNDP
UNDP memberikan beberapa karakteristik pelaksanaan good governance yang meliputi :
1. Participation, keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat
menyalurkan aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan
berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif.
2. Rule of Law, kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
3. Transparency, transparansi dibangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi.
Informasi yang berkaitan dengan kepentingan public secara langsung dapat diperoleh
oleh mereka yang membutuhkan.
4. Responsiveness, lembaga-lembaga public harus cepat dan tanggap dalam melayani
stake holders.
5. Concensus Orientation, berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
6. Equity, setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh
kesejahteraan dan keadilan.
7. Efficiency and effectiveness, pengelolaan sumber daya public dilakukan secara berdaya
guna (efisien) dan berhasil guna (efektif).
8. Accountability, pertanggunjawaban kepada public atas setiap aktivitas yang dilakukan.
9. Strategic Vision, penyelenggara pemerintahan dan masyarakat harus memiliki visi jauh
ke depan.
PARTAI POLITIK DAN KELOMPOK KEPENTINGAN
I. PARTAI POLITIK
1. Pengertian Partai Politik
Carl friedrich dalam (Surbakti : 1999), memberi batasan mengenai partai politik, yaitu
sekelompok manusia yang terorganisasikan secara stabil dengan tujuan untuk
merebut atau mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan bagi pemimpin
partainya, dan berdasarkan kekuasaan itu akan memberikan kegunaan materil dan
idiil kepada para anggotanya. Sementara itu, Soltau dalam (Surbakti : 1999), juga
memberikan definisi partai politik sebagai kelompok warga negara yang sedikit
banyak terorganisasikan , yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan dengan
memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih, bertujuan untuk menguasai
pemerintahan dan menjalankan kebijakan umum yang mereka buat.
Dari uraian tersebut di atas dapat kita rumuskan pengertian partai politik merupakan
kelompok anggota yang terorganisasi secara rapi dan stabil yang dipersatukan dan
129
dimotivasi dengan ideologi tertentu, dan yang berusaha mencari dan
mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan melalui pemilihan umum guna
melaksanakan alternatif kebijakan umum yang mereka susun. Alternatif kebijakan
umum yang disusun ini merupakan hasil pemaduan berbagai kepentingan yang hidup
dalam masyarakat, sedangkan cara mencari dan mempertahankan kekuasaan guna
melaksanakan kebijakan umum dapat melalui pemilihan umum dan cara-cara lain
yang sah.
2. Fungsi Partai Politik
Fungsi utama partai politik ialah mencari dan mempertahankan kekuasaan guna
mewujudkan program-program yang disusun berdasarkan ideologi tertentu. Cara
yang digunakan oleh suatu pertai politik dalam sistem politik demokrasi untuk
mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan ialah ikut serta dalam pemilihan
umum, sedangkan cara yang digunakan partai tunggal dalam sistem politik totaliter
berupa paksaan fisik dan psikologik oleh suatau diktatorial kelompok (komunis)
maupun oleh diktatorial individu (fasis). Ketika melaksanakan fungsi itu partai politik
dalam sistem politik demokrasi melakukan tiga kegiatan. Adapun ketiga kegiatan
meliputi seleksi calon-calon, kampanye, dan melaksanakan fungsi pemerintahan
(legislatif dan / atau eksekutif). Apabila kekuasaan untuk memerintah telah diperoleh
maka partai politik itu berperan pula sebagai pembuat keputusan politik. Partai
politik yang tidak mencapai mayoritas di badan perwakilan rakyat akan berperan
sebagai pengontrol terhadap partai mayoritas. Dalam sistem politik totaliter
kalaupun dilaksanakan maka pemilihan umum lebih berfungsi sebagai sarana
pengesahan calon tunggal yang telah ditetapkan lebih dahulu oleh partai tunggal.
Namun, partai politik baik dalam sistem politik demokrasi maupun dalam sistem
politik totaliter, juga melaksanakan sejumlah fungsi lain. Berikut ini dikemukakan
sejumlah fungsi lain tersebut.
a. Sosialisasi Politik
Yang dimaksud dengan sosialisasi politik adalah proses pembentukan sikap dan
orientasi politik para anggota masyarakat. Melalui proses sosialisasi politik inilah para
anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik
yang berlangsung dalam masyarakat. Proses ini berlangsung seumur hidup yang
diperoleh secara sengaja melalui pendidikan formal, nonformal dan informal maupun
secara tidak sengaja malalui kontak dan pengalaman sehari-hari baik dalam
kehidupan keluarga dan tetangga maupun dalam kehidupan masyarakat. Dari segi
metode penyampaian pesan, sosialisasi politik dibagi dua, yakni : pendidikan politik
dan indoktrinasi politik.
Pendidikan politik merupakan suatu proses dialogis di antara pemberi dan penerima
pesan. Melalui proses ini, para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilainilai, norma-norma, dan simbol-simbol politik negaranya dari berbagai pihak dalam
sistem politik seperti sekolah, pemerintah, dan partai politik. Pendidikan politik
dipandang sebagai proses dialog antara pendidik seperti sekolah, pemerintah, partai
politik dan peserta didik dalam rangka pemahaman, penghayatan dan pemahaman
nilai, norma dan simbol politik yang dianggap ideal dan baik. Melalui kegiatan kursus,
latihan kepemimpinan, diskusi dan keikutsertaan dalam berbagai forum pertemuan,
130
partai politik dalam sistem politik demokrasi dapat melaksanakan fungsi pendidikan
politik.
Indoktrinasi politik ialah proses sepihak ketika penguasa memobilisasi dan memanipulasi
warga masyarakat untuk menerima nilai, norma, dan simbol yang dianggap oleh
pihak yang berkuasa sebagai ideal dan baik. Indoktrinasi politik ini dilakukan melalui
berbagai forum pengarahan yang penuh dengan paksaan psikologis, dan latihan yang
penuh disiplin.
b. Rekrutmen Politik.
Rekrutmen politik ialah seleksi dan pemilihan atau seleksi dan pengangkatan
seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam
sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya. Fungsi ini semakin
besar porsinya manakala partai politik itu merupakan partai tunggal seperti dalam
sistem politik totaliter, atau manakala suatu partai merupakan mayoritas di dalam
badan perwakilan rakyat sehingga berwenang membentuk pemerintahan dalam
sistem politik demokrasi. Fungsi rekrutmen merupakan kelanjutan dari fungsi
mencari dan mempertahankan kekuasaan. Selain itu, fungsi rekrutmen politik sangat
penting bagi kelangsungan sistem politik sebab tanpa elit yang mampu melaksanakan
peranannya, kelangsungan hidup suatu sistem politik akan terancam berakhir.
c. Partisipasi Politik
Partisipasi politik ialah kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi proses
pembuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan umum dan ikut menentukan pemimpin
pemerintahan. Kegiatan yang dimaksud antara lain mengajukan tuntutan, membayar
pajak, melaksanakan keputusan, mengajukan kritik dan koreksi atas pelaksanaan
suatu kebijakan umum, dan mendukung atau menentang calon pemimpin tertentu,
mengajukan alternatif pemimpin, dan memilih wakil rakyat dalam pemimlihan
umum. Dalam hal ini, partai politik mempunyai fungsi untuk membuka kesempatan,
mendorong, dan mengajak para anggota dan anggota masyarakat yang lain untuk
menggunakan partai politik sebagai saluran kegiatan mempengaruhi proses politik.
Fungsi ini lebih tinggi porsinya dalam sistem politik demokrasi daripada dalam sistem
politik totaliter karena dalam sistem politik yang terakhir ini lebih mengharapkan
ketaatan dari para warga negara.
d. Pemadu Kepentingan
Dalam masyarakat terdapat sejumlah kepentingan yang berbeda bahkan kadang kala
saling bertentangan seperti antara kehendak mendapatkan keuntungan sebanyakbanyaknya dan kehendak untuk mendapatkan barang dan jasa dengan harga murah
tapi bermutu; antara kehendak untuk mencapai efisiensi dan penerapan teknologi
yang canggih tetapi memerlukan tenaga kerja yang sedikit, dan kehendak untuk
mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan; antara kehendak untuk mencapai
dan mempertahankan mutu pendidikan tinggi dengan jumlah penerimaan
mahasisiwa yang lebih sedikit, dan kehendak masyarakat untuk menyekolahkan anak
ke perguruan tinggi; antara kehendak menciptakan dan memelihara kestabilan
politik dan kehendak berbagai kelompok seperti mahasiswa, intelektual, pers, dan
kelompok agama untuk berkumpul dan menyatakan pendapat secara bebas.
131
Untuk menampung dan memadukan berbagai kepentingan yang berbeda dan bahkan
sering bertentangan itu maka partai politik dibentuk. Menurut Almond dan Powel
dalam (Surbakti :1999), yang dimaksud dengan fungsi pemadu kepentingan adalah
kegiatan menampung , menganalisis dan memadukan berbagai kepentingan yang
berbeda menjadi berbagai alternatif kepentingan umum, kemudian diperjuangkan
dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik.
Sebagaimana dikemukakan di atas, fungsi ini merupakan salah satu fungsi utama
partai politik sebelum mencari dan mempertahankan kekuasaan. Fungsi ini sangat
menonjol dalam sistem politik demokrasi. Karena dalam sistem politik totaliter,
kepentingan dianggap seragam maka partai politik dalam sistem ini kurang
melaksanakan fungsi pemaduan kepentingan. Alternatif kebijakan umum yang
diperjuangkan oleh partai tunggal dalam sistem politik totaliter lebih banyak
merupakan tafsiran atas ideologi doktriner. Dalam sistem politik demokrasi, ideologi
digunakan sebagai cara memandang permasalahan dan perumusan penyelesaian
permasalahan.
e. Komunikasi Politik
Pendapat Lucyan W. Pie dalam (Surbakti :1999), bahwa komunikasi politik adalah
proses penyampaian informasi mengenai politik dari pemerintah kepada masyarakat
dan dari masyarakat kepada pemerintah. Dalam hal ini, partai politik berfungsi
sebagai komunikator politik yang tidak hanya menyampaikan segala keputusan dan
penjelasan pemerintah kepada masyarakat sebagaimana diperankan oleh partai
politik di negara totaliter tetapi juga menyampaikan aspirasi dan kepentingan
berbagai kelompok masyarakat kepada pemerintah. Kedua fungsi ini dilaksanakan
oleh partai-partai politik dalam sistem politik demokrasi. Dalam melaksanakan fungsi
ini partai politik tidak menyampaikan begitu saja segala informasi dari pemerintah
kepada masyarakat atau dari masyarakat kepada pemerintah, tetapi merumuskannya
sedemikian rupa sehingga penerima informasi (komunikan) dapat dengan mudah
memahami dan memanfaatkan. Dengan demikian segala kebijakan pemerintah yang
biasanya tidak terumuskan dalam bahasa teknis diterjemahkan ke dalam bahasa yang
mudah dipahami masyarakat. Sebaliknya, segala aspirasi, keluhan dan tuntutan
masyarakat yang biasanya tidak terumuskan dalam bahasa teknis dapat
diterjemahkan oleh partai politik ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh
pemerintah. Jadi, proses komunikasi politik antara pemerintah dan masyarakat dapat
berlangsung secara efektif melalui partai politik.
f. Pengendalian Konflik
Konflik yang dimaksud di sini dalam arti yang luas, mulai dari perbedaan pendapat
sampai pada pertikaian fisik antara individu atau kelompok dalam masyarakat. Dalam
negara demokrasi, setiap warga negara atau kelompok masyarakat berhak
menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya sehingga konflik
merupakan gejala yang sukar dielakkan. Akan tetapi, tentu suatu sistem politik hanya
akan mentolerir konflik yang tidak menghancurkan dirinya sehingga permasalahanya
bukan menghilangkan konflik itu, melainkan mengendalikan konflik melalui lembaga
demokrasi untuk mendapatkan penyelesaian dalam bentuk keputusan politik. Partai
politik sebagai salah satu lembaga demokrasi berfungsi untuk mengendalikan konflik
132
melalui cara berdialog dengan pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan
memadukan berbagai aspirasi dan kepentingan dari pihak-pihak yang berkonflik dan
membawa permasalahan ke dalam musyawarah badan perwakilan rakyat untuk
mendapatkan penyelesaian berupa keputusan politik. Untuk mencapai penyelesaian
berupa keputusan itu diperlukan kesediaan berkompromi di antara para wakil rakyat
yang berasal dari partai-partai politik. Apabila partai-partai politik keberatan untuk
mengadakan kompromi maka partai politik bukannya mengendalikan konflik,
melainkan menciptakan konflik dalam masyarakat.
g. Kontrol Politik
Kontrol politik ialah kegiatan untuk menunjukkan kesalahan dan penyimpangan
dalam isi suatu kebijakan atau dalam pelaksanakan kebijakan yang dibuat dan
dilaksanakan oleh pemerintah. Dalam melakukan suatu kontrol politik atau
pengawasan harus ada tolok ukur yang jelas sehingga kegiatan itu bersifat relatif
objektif. Tolok ukur suatu kontrol politik berupa nilai-nilai politik yang dianggap ideal
dan baik (ideologi) yang dijabarkan ke dalam berbagai kebijakan atau peraturan
perundang-undangan. Tujuan kontrol politik, yakni meluruskan kebijakan atau
pelaksanaan kebijakan yang menyimpang dan memperbaiki yang keliru sehingga
kebijakan dan pelaksanaannya sejalan dengan tolok ukur tersebut. fungsi kontrol ini
merupakan salah satu mekanisme politik dalam sistem politik demokrasi untuk
memperbaiki dan memperbaharui dirinya secara terus menerus. Dalam
melaksanakan fungsi kontrol politik, partai politik juga harus menggunakan juga tolok
ukur tersebut sebab tolok ukur itu pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan
bersama sehingga seharusnya menjadi pegangan bersama. Dalam sistem kabinet
parlementer, kontrol yang dilakukan oleh partai politik oposisi terhadap kebijakan
partai yang memerintah dapat menjatuhkan partai yang berkuasa apabila mosi tidak
percaya (karena pemerintah sulit memberi penjelasan yang memuaskan terhadap isi
kontrol politik oposisi) mendapatkan dukungan mayoritas dari parlemen.
Menurut Samuel P. Huntington dalam (Surbakti : 1999), bahwa berdasarkan
kenyataan tidak semua fungsi dilaksanakan dalam porsi dan tingkat keberhasilan
yang sama. Hal ini tidak hanya bergantung pada sistem politik yang menjadi konteks
yang melingkupi partai politik, tetapi juga ditentukan oleh faktor lain. Di antara faktor
lain itu berupa tingkat dukungan yang diberikan anggota masyarakat terhadap partai
politik (berakar tidaknya partai dalam masyarakat), dan tingkat kelembagaan partai
yang dapat diukur dari segi kemampuan adaptasi, kompleksitas organisasi, otonomi,
dan kesatuannya.
II. KELOMPOK KEPENTINGAN
Kelompok kepentingan ialah sarana yang digunakan sekelompok orang yang memiliki
kepentingan yang sama dan secara bersama-sama menyampaikan kepentingan
mereka kepada pemerintah. Kepentingan tersebut dapat berupa kebutuhankebutuhan, keinginan-keinginan, nilai-nilai, dan harapan-harapan - yang bisa
terpenuhi, akan tetapi bisa juga dikecewakan oleh tindakan-tindakan pemerintah.
Seseorang ataupun sekelompok orang bisa pula diuntungkan akan tetapi bisa
dirugikan oleh tindakan atau keputusan tersebut. Oleh karena itu warga negara
sangat memperhatikan dan berkepentingan dengan keputusan-keputusan yang
133
dibuat oleh pemerintah. Mereka menyatakan atau mengartikulasikan kepentingan
mereka kepada lembaga-lembaga politik dan pemerintah melalui kelompokkelompok yang mereka bentuk bersama dengan orang lain yang memiliki
kepentingan yang sama.
Walaupun kelompok kepentingan yang terorganisir tidak mudah dibedakan dengan
partai politik, akan tetapi ada satu perbedaan yang nampaknya secara umum
diterima. Suatu kelompok kepentingan adalah setiap organisasi yang berusaha
mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah, dan pada waktu yang sama tidak
berkeinginan memperoleh jabatan publik. Sebalikanya, partai politik benar-benar
bertujuan untuk menguasai jabatan-jabatan publik, yaitu jabatan politik, maupun
jabatan pemerintahan. Dalam praktek, perbedaan tersebut tidak setegas itu.
Keanggotaan kelompok kepentingan dan keanggotaan partai politik sering tumpang
tindih, dan lebih-lebih lagi, kelompok kepentingan sering terlibat dalam penyeleksian
calon-calon keanggotaan partai politik dan selalu berusaha agar anggota-anggotanya
terwakili dalam komisi-komisi yang dibentuk oleh pemerintah. Kadang-kadang pula
kelompok kepentingan bahkan berkembang menjadi partai politik.
A. JENIS-JENIS KELOMPOK KEPENTINGAN
Sebagaimana dikatakan oleh Gabriel A. Almond dalam (Mas’oed dan MacAndrews :
2000), bahwa kelompok-kelompok kepentingan berbeda-beda dalam struktur, gaya,
sumber pembiayaan, dan basis dukungannya. Perbedaan tersebut sangat besar
pengaruhnya dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial suatu bangsa. Walaupun
kelompok-kelompok kepentingan juga diorganisir berdasar keanggotaan, kesukuan,
ras, etnis, agama, ataupun berdasarkan isu-isu kebijaksanaan - kelompok
kepentingan yang paling kuat, paling besar, dan secara finansial paling mampu adalah
kelompok yang berdasarkan pada bidang pekerjaan atau profesi. Berikut ini adalah
beberapa jenis kelompok kepentingan yang dikenal, diantaranya adalah :
1. Kelompok Anomik
Kelompok-kelompok anomik ini terbentuk secara spontan dan seketika, dan tidak
memiliki nilai-nilai, norma-norma yang mengatur serta tidak terorganisir. Jenis
kelompok ini terbentuk tanpa ada yang merencanakan sebelumnya, terjadi begitu
saja, yang mungkin penyebabnya adalah ketidakpuasan yang lama menumpuk dan
dilampiaskan seketika pada saat ada pemicu dan bubar dengan sendirinya. Jenis
kelompok ini sering bertumpang tindih (overlap) dengan bentuk-bentuk partisipasi
politik nonkonvensional seperti demonstrasi, kerusuhan, tindak kekerasan politik dan
sebagainya. Sehingga apa yang dianggap sebagai perilaku anomik mungkin saja tidak
lebih dari tindakan-tindakan kelompok terorganisir (bukan kelompok anomik) yang
menggunakan cara-cara nonkonvensional seperti kekerasan. Boleh jadi kelompok
terorganisir yang oleh karena kepentingannya tidak terwakili secara memadai dalam
sistem politik, melakukan suatu insiden yang sepintas lalu terkesan terjadi secara
spontan dan mengarah kepada ledakan yang tidak dapat dikendalikan lagi, bila salah
memahami hakikat kejadian tersebut lalu menganggapnya sebagai tindakan
kelompok anomik. Kita harus hati-hati menilai, sebab sering kali yang nampak anomik
itu kadang kala merupakan tindakan yang direncanakan secara teliti oleh kelompok
kepentingan yang terorganisir.
134
2. Kolompok Non-Assosiasional
Kelompok kepentingan non-assosiasional pada dasarnya sudah terorganisasi, akan
tetapi jarang yang terorganisir dengan rapi dan kegiatannya bersifat temporer.
Kelompok ini berwujud seperti kelompok-kelompok keluarga dan keturunan atau
etnik, regional, status dan kelas yang menyatakan kepentingan secara kadangkala
melalui individu-individu, klik-klik, kepala keluarga, atau pemimpin agama. Secara
teoretis, kegiatan kelompok non-assosiasional terutama sekali merupakan ciri
masyarakat belum maju, di mana kesetiaan kesukuan atau keluarga-keluarga
bangsawan mendominasi kehidupan politik. Akan tetapi dalam negara industri
majupun, kelompok non-assosiasional seperti keluarga-keluarga
yang masih
berpengaruh, tokoh-tokoh kedaerahan, serta pemimpin-pemimpin agama seringkali
menerapkan pengaruhnya yang seringkali lebih besar dari pengaruh kelompok
professional. Sarana yang sering digunakan jenis kelompok ini untuk mempengaruhi
pemerintah biasanya pertemuan-pertemuan informal yang sering dihadiri oleh
pejabat pemerintah maupun pimpinan partai.
3. Kelompok Institusional
Organisasi-organisasi seperti partai politik, perusahaan besar, badan legilatif, militer,
birokrasi, dianggap sebagai kelompok kepentingan institusional atau memiliki
anggota-anggota yang khusus bertanggungjawab melakukan kegiatan lobbying.
Kelompok ini bersifat formal dan memiliki fungsi-fungsi politik atau sosial lain selain
fungsi artikulasi kepentingan. Bila kelompok-kelompok kepentingan institusional
sangat besar pengaruhnya, hal ini disebabkan oleh basis organisasinya yang kuat.
Jenis kelompok kepentingan ini sangat dominan pengaruhnya di negara-negara maju,
jika dibandingkan dengan jenis kelompok non-assosiasional.
4. Kelompok Assosiasional
Kelompok assosiasional seperti serikat buruh, kamar dagang , atau perkumpulan
pengusahan dan industri (seperti di indonesia : Kadin, Gapensi, Inkindo, dan lain-lain),
paguyuban etnik, persatuan kelompok keagamaan, dan sebagainya. Secara khas
kelompok ini menyatakan kepentingan dengan cara memakai tenaga staf
professional serta memiliki prosedur standar untuk merumuskan kepentingan.
Kelompok kepentingan ini sangat besar pengaruhnya dalam membela kepentingan
mereka. Kegiatan utama mereka adalah melakukan tawar-menawar (bargaining) di
luar saluran-saluran partai politik dengan pejabat-pejabat pemerintah tentang
kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah, atau usul suatu rancangan undangundang di parlemen. Kelompok ini juga berusaha mempengaruhi pendapat umum
(public opinion) dengan cara kampanye-kampanye lewat iklan. Studi-studi
menunjukkan bahwa kelompok kepentingan assosiasional - bila diizinkan
berkembang cenderung untuk menentukan perkembangan dari jenis-jenis kelompok
kepentingan yang lain. Basis organisasi yang menempatkannya berada di atas
kelompok kepenetingan non-assosiasional, taktik dan tujuannya sering diakui sah
dalam masyarakat. Dan dengan mewakili kelompok dan kepentingan yang luas,
kelompok assosiasional dengan efektif bisa membatasi pengaruh anomik, nonassosiasional, dan institusional.
135
B. BAGAIMANA MENCAPAI KAUM BERPENGARUH
Agar efektif, kelompok kepentingan harus mempu mencapai atau berhubungan
langsung dengan pembuat keputusan politik utama. Kelompok kepentingan dapat
saja menyatakan kepentingan anggotanya secara informal maupun formal. Tetapi
tanpa mampu menyusupi atau mempengaruhi struktur pembuatan keputusan politik
mereka tidak akan berhasil. Kelompok-keleompok kepentingan ini memiliki strategi
yang berbeda-beda untuk untuk mencapai kaum berpengaruh, dan cara mereka
mengorganisir pengaruh berbeda-beda di masing-masing sistem politik. Misalnya,
bila hanya ada satu saluran utama yang sah untuk mencapai kaum berpengaruh seperti dalam sistem politik yang didominasi oleh satu partai tunggal dan totaliter sangat sulit bagi semua kelompok umtuk secara efektif berhubungan langsung
dengan kaum berpengaruh tersebut. tuntutan-tuntutan yang disalurkan melalui
saluran yang tunggal tersebut bisa jadi diselewengkan sebelum mencapai para
pembuat keputusan utama. Dengan demikian para pembuat keputusan dihalangi
dalam memperoleh informasi tentang kebutuhan dan tuntutan dari kelompokkelompok kepentingan dalam masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini dengan
mudah dapat membuat para pengambil keputusan tersebut salah perhitungan dan
dapat menimbulkan keresahan dari kelompok-kelompok yang tidak puas yang dapat
menimbulkan kerusuhan.
Dalam mengkomunikasikan tuntutan politik, individu-individu yang mewakili
kelompok kepentingan atau dirinya sendiri biasanya tidak hanya ingin sekadar
memberi informasi. Mereka bertujuan agar pandangan-pandangan mereka dipahami
oleh para pembuat keputusan yang relevan dengan kepentingan mereka, dan
memperoleh tanggapan baik. Karena itulah kelompok kepentingan berusaha mencari
saluran-saluran khusus untuk menyalurkan tuntutan mereka dan mengembangkan
teknik-teknik penyampaian pesan agar tuntutan itu diperhatikan dan ditanggapi. Dan
saluran-saluran untuk menyatakan pendapat dalam mesayarakat berpengaruh besar
dalam menentukan luas dan efektifnya tuntutan kelompok kepentingan. Saluransaluran paling penting adalah sebagai berikut.
1. Demonstrasi dan Tindakan Kekerasan
Salah satu sarana untuk menyatakan tuntutan adalah melalui demonstrasi dan tindak
kekerasan fisik. Seperi telah kita sebut di muka, kerusuhan, demonstrasi, dan
pembunuhan merupakan ciri khas kelompok kepentingan anomik, tetapi sering juga
kelompok kepentingan lain menggunakan sarana ini : karena itu perlu dibedakan
antara (1) tindakan kekerasan spontan oleh kelompok kepentingan anomik ; dengan
(2) tindak kekerasan dan demonstrasi sebagai sarana menyatukan tuntutan yang bisa
dipakai oleh kelompok kepentingan yang lain.
2. Hubungan Pribadi
Sarana kedua untuk mencapai elit politik adalah melalui hubungan pribadi - misalnya
dengan menggunakan keluarga, sekolah, hubungan-hubungan kedaerahan sebagai
perantara. Walaupun hubungan pribadi ini umumnya dipergunakan kelompok nonassosiasional yang mewakili kepentingan keluarga atau daerah, tetapi sering juga
digunakan oleh kelompok assosiasional dan kelompok kepentingan lain. Hal ini terjadi
136
di semua sistem politik, baik yang tradisional mapun yang modern. Hubungan
langsung melalui tatap muka merupakan salah satu cara paling efektif dalam
membentuk sikap seseorang. Bila hubungan ini terjadi dalam suasana yang ramah
tamah dan bersahabat, besar kemungkinan akan memperoleh tanggapan baik.
Tuntutan yang disampaikan oleh seorang teman, anggota keluarga, atau tetangga
baik, lebih banyak diperhatikan daripada bila disampaikan secara formal oleh orang
yang belum dikenal.
3. Perwakilan Langsung
Perwakilan atau representasi langsung dalam badan legislatif dan birokrasi
memungkinkan suatu kelompok kepentingan untuk mengkomunikasikan secara
langsung dan kontinyu kepentingan-kepentingannya melalui seorang anggota aktif
dalam struktur pembuat keputusan. Anggota kelompok kepentingan institusional
pemerintahan sering mempunyai hubungan sehari-hari dengan para pembuat
keputusan, dan biasanya anggota-anggotanya sendiri terlibat dalam pembuatan
keputusan dalam suatu depertemen ataukah bagian pemerintahan tempat mereka
beraktivitas.
4. Saluran Formal dan institusional lain
Saluran-saluran lain tersebut yang harus diperhatikan salah satunya adalah media
massa seperti surat kabar, radio, televisi, dan majalah. Akan tetapi bila media massa
itu dikendalikan atau disensor oleh elit politik penguasa, maka fungsinya jadi
merosot, atau hanya menyalurkan kepentingan kelompok yang disukai oleh penguasa
saja. Dalam masyarakat terbuka media massa merupakan penyalur utama tuntutan
politik dan sarana mencapai pembuatan keputusan. Saluran institusional penting
kedua adalah partai politik. Tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi
efektifitasnya. Partai yang sangat ideologis dengan struktur oreganisasinya berbentuk
hirarki seperti partai komunis, lebih cenderung untuk mengendalikan kelompokkelompok kepentingan yang berafiliasi dengannya dan kurang mengkomunikasikan
tuntutan-tuntutan dari kelompok-kelompok tersebut. Saluran institusional ketiga
adalah melalui badan legislatif, kabinet, maupun birokrasi. Dengan menggunakan
strategi lobbying suatu tuntutan atau informasi dapat disampaikan melalui
pernyataan di depan anggota parlemen, pejabat pemerintah, dan pejabat birokrasi
yang lainnya. Hubungan dengan birokrasi di berbagai tingkatan dan depertemen
sangat penting terutama bila wewenang pembuatan keputusan didelegasikan ke
bawah.
C. EFEKTIVITAS KELOMPOK KEPENTINGAN
Faktor-faktor yang menentukan efektivitas kelompok kepentingan antara lain adalah
kemampuan untuk mengerahkan dukungan, tenaga, dan sumber daya dari anggotaanggotanya. Begitu pula luas sumber daya yang dimiliki seperti kemampuan finansial,
jumlah anggota, kecakapan politik, kesatuan organisasi dan prestisenya di mata
masyarakat dan pemerintah. Di samping sifat internalnya tersebut, efektivitas
kelompok kepentingan juga dipengaruhi oleh sifat dari isu dan kebijakan pemerintah
yang terjadi saat itu. Misalnya, pada suatu saat kebijakan pemerintah menekankan
pada pengembangan industri yang berskala besar, maka yang punya peluang lebih
137
besar untuk memiliki pengaruh adalah kelompok-kelompok kepentingan yang
memiliki anggota dengan pengetahuan yang luas dan kepentingan khusus dalam
bidang industri. Akan tetapi bila arah kebijakan pemerintah beralih kepada
pembangunan sosial, maka kelompok-kelompok kepentingan yang mengkhususkan
diri dalam perencanaan kota, perumahan, transportasi, pengobatan, dan
kesejahteraan sosial akan memperoleh lebih banyak pengaruh. Efektifitas kelompok
kepentingan sebagian besar juga ditentukan oleh perbedaan-perbedaan struktur
pemerintahan, seperti federal, kesatuan. Begitu pula otonomi dan kebebasan
kelompok kepentingan juga merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi
efektivitas kelompok kepentingan tersebut.
138
VIII PENDIDIKAN
Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya denga nbaik jika
memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksud pendidikan.
Jawaban yang benar tentang pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap
unsur-unsurnya, konsepdasar yang melandasinya, dan wujud pendidikan sebagi
sistem.
PENGERTIAN PENDIDIKAN
1. Batasan tentang Pendidikan
Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan
kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena
orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena
falsafah yang melandasinya.
a. Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan
pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut
mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk
transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai
kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.
b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan
yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik.
Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi
mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang
sudah dewasa atas usaha sendiri.
c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara
Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang
terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.
d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing
peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa
pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini
menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok
dalam kehidupan manusia.
2. Tujuan dan proses Pendidikan
a. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas,
benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan
arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin
dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
139
b. Proses pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan
oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses
pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas
pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro,
meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya
proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.
3. Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)
PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan
persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung
sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad
yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad
16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk
pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan
penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling
muda sampai paling tua.(Cropley:67)
Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan:
a. Rasional
b. Alasan keadilan
c. Alasan ekonomi
d. Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja,
dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek
e. Alasan perkembangan iptek
f. Alasan sifat pekerjaan
4. Kemandirian dalam belajar
a. Arti dan perinsip yang melandasi
Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya
lebih didorong oleh kamauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari
pembelajaran. Konsep kemandirian dalam belajar bertumpu pada perinsip bahwa
individu yang belajar akan sampai kepada perolehan hasil belajar.
b. Alasan yang menopang
Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S. 1988; 14-16) mengemukakan alasan
sebagai berikut:
 Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para
pendidik(khususnya guru) mengajarkan semua konsep dan fakta kepada peserta
didik.
 Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif.
 Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah memahami
konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret
dan wajar sesuai dengan situasi dan kondidi yang dihadapi dengan mengalami atau
mempraktekannya sendiri.
 Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seyogyanya tidak
dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta
didik.
140
B. UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN
Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
1. Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2. Orang yang membimbing (pendidik)
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
7. Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
Penjelasan:
1. Peserta Didik
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung
menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang
otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Ciri khas peserta didik yang perlu
dipahami oleh pendidik ialah:
a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan
yang unik.
b. Individu yang sedang berkembang.
c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.
2. Orang yang membimbing (pendidik)
Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya
dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan
masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang
tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik
dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan
pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan
manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.
4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
a. Alat dan Metode
Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun
diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat
melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat
pendidikan dibedakan atas alat yang preventif dan yang kuratif.
b. Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)
Lingkungan pendidikan biasanya disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga,
sekolah dan masyarakat.
141
ANDRAGOGI
A.
Pengertian
Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang
dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan
sebagau “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata
andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk
menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato.
Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy”
yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan
Kapp, “Social-pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial)
bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses
pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.
B.
Andragogi dan Pedagogi
Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama
ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak
dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui
kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman
mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan
pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan.
Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang
akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti
memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau
perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanakkanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan
seni mengajar”. Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan
pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat
perbedaan mendasar, yaitu :
1. Citra Diri
Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada
saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat
membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan
kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat
kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah
mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak.
Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri
sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali
justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa
batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan
murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling
membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan
bersifat mengarah.
142
2. Pengalaman
Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat
beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anakanak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering.
Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap
sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi,
pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar
proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan caracara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan
sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi
kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka
semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.
3. Kesiapan Belajar
Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi
pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan
bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut
akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa
yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.
4. Waktu dan Arah Belajar
Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk
masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses
pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu.
Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah
nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih
baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu
pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan
yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan
pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam
pendekatan andragogi adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan
pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan
informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.
C.
Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi
Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang
menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses
sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Menciptakan iklim untuk belajar
Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai
Merumuskan tujuan belajar
Merancang kegiatan belajar
Melaksanakan kegiatan belajar
143
7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan
pencapaian nilai-nilai.
Andragogi dapat disimpulkan sebagai :



Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial,
melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat
menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu
berubah.
D. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa
1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam
kegiatan-kegiatan
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia
dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan
praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang
belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk
memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya
dalam waktu yang cukup
6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari
warga belajar
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa
membantu pencapaian tujuan dalam belajar.
E.
Karakteristik Warga Belajar Dewasa
1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat
menentukan kehidupannya sendiri.
3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui
4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan
menjadi kebutuhannya
5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
6. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan
untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
144
7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya
8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan
masuk akal
10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena
itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin
11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis
12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon
hubungan dekat dengan teman baru.
F.
Karakteristik Pengajar Orang Dewasa
Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :
1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar
2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar
3.
Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk
kerjanya
4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain
5.
Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di
antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya
7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan
8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang
9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang
10. Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk
belajar”
11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif dan positif.
145
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
A.
Pendahuluan
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor
yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses
pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington,
1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara
psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan
apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama
studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan
memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses
dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar. Karena konsentrasinya
pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada
subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah
pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar
mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang
memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar
secara efektif.
B.
Mendorong Tindakan Belajar
Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki
sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya
kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok
yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang
disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap
atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula
pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik. Anggapan-anggapan
seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi
pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik
dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu,
semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu
yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang
dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan
berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai
dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini,
dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak
artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu
terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan
informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas
tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi
sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasiinformasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh.
Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini
berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan
himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka. Sebagai
146
penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi
pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktuwaktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan
tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya
mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian
yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya
secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil
adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh
lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri.
Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”. Adalah tugas pendidik untuk
menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara
efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan
tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong,
memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam
upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77).
Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.
C.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan
dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim
dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor
psikologis (Depdikbud, 1985 :11).
1. Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan,
faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran
turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik.
Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material
pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi
material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu
mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari
pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang
lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk,
terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang
optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik
yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software).
Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan
sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya,
pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental
ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar. Faktor
fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi
147
individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran
jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang
kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan
belajar.
2. Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar
jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara
terpisah. Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas
penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara
berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.
2.1. Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif
dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh
besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik
ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti
menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik,
menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif,
seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya. Strategi pemebelajaran
seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian
yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang
muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti
kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping
rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa
perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari
pada perhatian yang disengaja.
2.2. Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan,
pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan
gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena
itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran. Untuk kepentingan pengaturan
proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas
pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsurunsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses
belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam
proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik
lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran. Jika demikian, para
pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian
material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan
pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan,
chart, rekaman, slide dan sebagainya.
148
2.3. Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1)
menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin
karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan
untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan. Kecakapan merima kesan
sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik
mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya. Dalam konteks pembelajaran,
kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik
pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan
penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek
didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan
“titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material
pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh
kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a
(ayam), b (bebek) dan sebagainya.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat.
Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian,
ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang
selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang
dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung
semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan
untuk waktu yang relatif lama. Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk
diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang
hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan
ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek
didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah
dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu
submaterial pembelajaran selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang
telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal
yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan
tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar. Pendidik dapat
mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas
mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.
2.4. Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep
(Bochenski, dalam Suriasumantri, 1983) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide
dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagianbagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertianperngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah
proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2)
penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
149
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam
keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat
yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses
pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya
melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan
penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung
melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang
lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau
konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya
mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan
menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulankesimpulannya secara mandiri.
2.5. Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti
pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif
semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di
dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek
didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang
sesuatu. Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya
berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada
subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini,
umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara
individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik
untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus
memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni
menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek
didik
dapat
melihat
kemajuan-kemajuannya
sendiri.
Dan
sekaligus
membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan
melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya
supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.
Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas
filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat. Filsafat pendidikan pada dasarnya
menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu
berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam
filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme,
realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan
dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat
pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak
aliran filsafat itu sendiri.
150
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu
a. Filsafat pendidikan “progresif”
Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari
Roousseau
b. Filsafat pendidikan “ Konservatif”.
Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan
supernaturalisme atau realisme religius.
Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan
sebagainya.
Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan
materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak
pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah,
seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak
berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea
dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali
2. Filsafat Pendidikan Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara
dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik
dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang
menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di
luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh
yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken,
Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.
3. Filsafat Pendidikan Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah
materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran
materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach
4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun
sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa
manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut
filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.
5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman
individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas
pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap
skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini:
Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper,
Gabril Marcel, Paul Tillich
6. Filsafat Pendidikan Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran
filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan
yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang
151
benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus
terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley,
Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff
7. Filsafat Pendidikan esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang
pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolahsekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standarstandar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini:
william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
8. Filsafat Pendidikan Perenialisme Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir
pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan
progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan
perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini
penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan
moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk
mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali
nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang
kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert
Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan
progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum
progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah
masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count
dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat
yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count,
Harold Rugg.
Fenomena ”Hidup Lebih Maju”
Setiap orang, pasti menginginkan hidup bahagia. Salah satu diantaranya yakni hidup
lebih baik dari sebelumnya atau bisa disebut hidup lebih maju. Hidup maju tersebut
didukung atau dapat diwujudkan melalui pendidikan. Dikaitkan dengan penjelasaan
diatas, menurut pendapat saya filsafat pendidikan yang sesuai atau mengarah pada
terwujudnya kehidupan yang maju yakni filsafat yang konservatif yang didukung oleh
sebuah idealisme, rasionalisme(kenyataan). Itu dikarenakan filsafat pendidikan
mengarah pada hasil pemikiran manusia mengenai realitas, pengetahuan, dan nilai
seperti yang telah disebutkan diatas. Jadi, aliran filsafat yang pas dan sesuai dengan
pendidikan yang mengarah pada kehidupan yang maju menurut pikiran saya yakni
filsafat pendidikan progresivisme (berfokus pada siswanya). Tapi akan lebih baik lagi
bila semua filsafat diatas bisa saling melengkapi.
152
IX FILSAFAT
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari
bahasa Arab ‫ف ل س فة‬, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία, philosophia.
Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia
= persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya
adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa
Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi,
paling tidak bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mempelajari seluruh
fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Hal ini didalami tidak
dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan
mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan
argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari prosesproses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat
bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak
diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Logika merupakan sebuah ilmu yang
sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat
menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas
filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, dan couriousity 'ketertarikan'. Filsafat juga bisa
berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak
tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sedikit sikap skeptis yang mempertanyakan
segala hal.
Metode Filsafat
Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio yang
bertanya. Obyek materinya semua yang ada. Maka menjadi tugas filsafat
mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan
universal.
Klasifikasi filsafat
Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama ,
menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar
belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh
karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang
budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut
wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah bisa dibagi menjadi:
“Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah”. Sementara latar
belakang agama dibagi menjadi: “Filsafat Islam”, “Filsafat Budha”, “Filsafat Hindu”,
dan “Filsafat Kristen”.
Filsafat Barat
Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitasuniversitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari
tradisi falsafi orang Yunani kuno. Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas
153
Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Georg Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl
Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre. Dalam tradisi filsafat Barat,
dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu.
Ontologi membahas tentang masalah "keberadaan" (eksistensi) sesuatu yang dapat
dilihat dan dibedakan secara empiris, misalnya tentang keberadaan alam semesta,
makhluk hidup, atau tata surya. Epistemologi mengkaji tentang pengetahuan
(episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai
hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.
Dari epistemologi inilah lahir berbagai cabang ilmu pengetahuan (sains) yang dikenal
sekarang. Aksiologi membahas masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada
kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek
kualitas hidup manusia: etika dan estetika.
Etika membahas tentang perilaku menuju kehidupan yang baik. Di dalamnya dibahas
aspek kebenaran, tanggung jawab, peran, dan sebagainya.
Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika
lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai
macam hasil budaya.
Filsafat Timur
Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di
India, Republik Rakyat Cina dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi
budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan
agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat,
terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih
menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Siddharta
Gautama/Buddha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao
Zedong.
Filsafat Timur Tengah
Filsafat Timur Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan para filsuf yang bisa
dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur
Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam (dan
juga beberapa orang Yahudi!), yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut
Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafi mereka. Lalu
mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani.
Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad
Pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini
mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi
oleh orang-orang Eropa. Nama-nama beberapa fiosof Timur Tengah: Avicenna(Ibnu
Sina), Ibnu Tufail, Kahlil Gibran (aliran romantisme; kalau boleh disebut begitu)dan
Averroes.
154
Filsafat Islam
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada
sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski
semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama
Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam.
Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari
Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan.'
Filsafat Kristen
Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan
zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam
zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali
kepercayaan agamanya. Tak heran, filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah
ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau
ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas, Santo Bonaventura,
dsb.:
Munculnya Filsafat
Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M..
Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan
alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada
[agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang
bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab
lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di
Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara
intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah
Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang
terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato
sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa
sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini
menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku karangan
plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito.
Aliran-aliran filsafat
1) Aliran Materialisme
Mengajarkan bahwa hakikat realitas kemestaan adalah materi artinya semua realitas
ditentukan oleh materi yang ter-ikat pada hukum alam yaitu hukum sebab akibat
2) Aliran Idealisme/Spiritualisme
Mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentu-kan hidup dan
pengertian yang mengacu pada realitas diri dan kemestaan karena adanya akal dan
budi.
155
3) Aliran Realisme
Mengajarkan diantara kedua aliran tersebut yaitu bahwa manusia mempunyai daya
pikir, cipta dan budi atau merupakan sintesis antara jasmaniah dan rohaniah atau
materi dan non materi.
Sejarah Filsafat Barat
Sejarah Filsafat Barat bisa dibagi menurut pembagian berikut: Filsafat Klasik, Abad
Pertengahan, Modern dan Kontemporer.
Klasik
"Pra Sokrates": Thales - Anaximander - Anaximenes - Pythagoras - Xenophanes Parmenides - Zeno - Herakleitos - Empedocles - Democritus - Anaxagoras
"Zaman Keemasan": Sokrates - Plato - Aristoteles
Abad Pertengahan
"Skolastik": Thomas Aquino
Modern
Machiavelli - Giordano Bruno - Francis Bacon - Rene Descartes - Baruch de SpinozaBlaise Pascal - Leibniz - Thomas Hobbes - John Locke - George Berkeley - David Hume
- William Wollaston - Anthony Collins - John Toland - Pierre Bayle - Denis Diderot Jean le Rond d'Alembert - De la Mettrie - Condillac - Helvetius - Holbach - Voltaire Montesquieu - De Nemours - Quesnay - Turgot - Rousseau - Thomasius - Ch Wolff Reimarus - Mendelssohn - Lessing - Georg Hegel - Immanuel Kant - Fichte - Schelling Schopenhauer - De Maistre - De Bonald - Chateaubriand - De Lamennais - Destutt de
Tracy - De Volney - Cabanis - De Biran - Fourier - Saint Simon - Proudhon - A. Comte JS Mill - Spencer - Feuerbach - Karl Marx - Soren Kierkegaard - Friedrich Nietzsche Edmund Husserl
Kontemporer
Jean Baudrillard - Michel Foucault - Martin Heidegger - Karl Popper - Bertrand Russell
- Jean-Paul Sartre - Albert Camus - Jurgen Habermas - Richard Rotry - FeyerabendJacques Derrida - Mahzab Frankfurt.
Beberapa Cabang Filsafat

Filsafat Alam
Obyeknya: alam kehidupan dan alam bukan kehidupan. Tujuannya: menjelaskan
fenomena alam dari aspek eksistensi fenomena tersebut dan menelusuri syaratsyarat kemungkinan.
156

Filsafat Analitis
Ilmu memusatkan perhatian pada bahasa dan upaya untuk menganalisis pernyataan
(konsep, atau ungkapan kebahasaan aatau bentuk-bentuk logis. Tujuannya ialah
untuk menemukan pernyataan-pernyataan yang berbentuk logis dan ringkas dan
yang terbaik, yang cocok dengan fakta atau arti yang disajikan.

Filsafat Bahasa Sehari-hari
Paham ini berpandangan bahwa dengan menganalisis bahasa biasa (makna, implikasi,
bentuk dan fungsinya) kita dapat memperlihatkan kebenaran mengenai kenyataan.
Dengan analisis bahasa biasa kita dapat memahami masalah pokok filsafat dan
sekaligus dapat memecahkannya.

Filsafat Gestalt
Salah satu pandangan filsafat ini berpandangan bahwa realitas merupakan dunia
tempat organisme fisik memberikan tanggapan dalam proses mengatur strukturstruktur atau keseluruhan yang diamati.

Filsafat Kebudayaan
Filsafat ini memberikan gambaran keseluruhan mengenai gejala kebudayaan (bentuk,
nilai dan kreasinya). Tugasnya untuk menyelidiki hakekat kebudayaan, memahaminya
berdasarkan sebab-sebab dan kondisi-kondisinya yabg esensial. Filsafat ini juga
bertugas untuk menjabarkan pada tujuan-tujuannya yang paling mendasar dan
karena itu juga menemukan arah dan luas perkembangan budaya.

Filsafat Kehidupan
Filsafat kehidupan dalam bahasa sehari-hari berarti (1) cara tau pandangan hidup.
Dan ini bertujuan mengatur segalanya secara praktis. (2) Etika sebagai ilmu yang
berbicara mengenai tujuan dan kaidah-kaidah kehidupan dapat juga disebut sebagai
filsafat kehidupan.
157
Download