BAB II - andry bastian

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Teori Umum
2.1.1. Konsep Dasar Desain
1. Definisi Desain
Desain secara etimologi, istilah desain diambil dari kata “designo”
(italy) yang artinya gambar. Sedang dalam bahasa inggris desain diambil
dari bahasa latin “designare” yang artinya merencanakan atau merancang.
Menurut Hurts (2006:8), bahwa “Desain adalah proses iteratif yang
melibatkan banyak aktivitas tinjauan ke belakang dan pararel” .
Menurut Simartama (2010:184), “Desain adalah bagaimana
aplikasi yang dirancang menjadi sesuai dengan kebutuhan”.
Berdasarkan dari kedua definisi menurut para ahli diatas maka
dapat disimpulkan bahwa desain merupakan rancangan dasar, atau proses
iteratif yang melibatkan banyak aktivitas tinjauan ke belakang dan paralel
yang menjadi tahapan awal dalam mewujudkan suatu aplikasi atau
gagasan, dimana pembuatan atau perancangannya memikirkan berbagai
macam pertimbangan dan perhitungan meliputi aspek fungsi estetik dan
lainnya dengan maksud agar benda atau gagasan yang dirancang sesuai
dengan kebutuhan.
10
11
2.1.2
Konsep Dasar Sistem
1. Definisi Sistem
Menurut Mustakini (2007:4), yaitu ”suatu sistem adalah jaringan
daripada elemen-elemen yang saling berhubungan, membentuk satu
kesatuan yang untuk melaksanakan suatu tujuan pokok dari sistem
tersebut.”
Menurut Kusrini (2008:11), yaitu ”sistem adalah sebuah tatanan
yang terdiri atas sejumlah komponen fungsional (dengan tugas/fungsi
khusus) yang saling berhubungan dan secara bersama-sama bertujuan
untuk memenuhi suatu proses/pekerjaan tertentu”
Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
sistem merupakan jaringan daripada elemen-elemen yang terdiri atas
sejumlah komponen fungsional (dengan tugas/fungsi khusus) yang saling
berhubungan serta membentuk satu kesatuan dan melaksanakan suatu
tujuan pokok secara bersama-sama sehingga dapat memenuhi suatu proses
atau pekerjaan tertentu dari sistem tersebut.
12
2. Karakteristik Sistem
Menurut
Mustakini
(2009:54),
Suatu
sistem
mempunyai
karakteristik. Karakteristik sistem adalah sebagai berikut ini:
Sumber: Mustakini (2009:54)
Gambar 2.1. Karakteristik Sistem
a. Suatu
sistem
mempunyai
komponen-komponen
sistem
(components) atau subsistem-subsistem.
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen-komponen yang
saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama dalam
membentuk suatu kesatuan. Komponen sistem tersebut dapat
berupa suatu bentuk sub-sistem.
b. Suatu sistem mempunyai batas sistem (boundary).
Batasan sistem membatasi antara sistem yang satu dengan yang
lainnya atau sistem dengan lingkungan luarnya.
13
c. Suatu sistem mempunyai lingkungan luar (environment).
Lingkungan luar sistem adalah suatu bentuk apapun yang ada
diluar ruang lingkup atau batasan sistem yang mempengaruhi
operasi sistem tersebut.
d. Suatu sistem mempunyai penghubung (interface).
Penghubung sistem merupakan media yang menghubungkan
sistem dengan sub-sistem yang lain, dengan demikian dapat
terjadi suatu integrasi sistem yang membentuk suatu kesatuan.
e. Suatu sistem mempunyai tujuan (goal).
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan (goals) atau sasaran
sistem (objective). Sebuah sistem dikatakan berhasil apabila
mengenai sasaran atau tujuannya, jika suatu sistem tidak
mempunyai tujuan maka operasi sistem tidak akan ada
gunanya.
3. Klasifikasi Sistem
Menurut Mustakini (2009:53), Suatu sistem dapat diklasifikasikan:
a. Sistem abstrak (abstact system) dan sistem fisik (phisical
system)
Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ideide yang tidak tempak secara fisik, misalnya sistem teknologi
yaitu sistem yang berupa pemikiran-pemikiran hubungan antara
14
manusia dengan Tuhan. Sitem fisik merupakan sistem yang ada
secara fisik.
b. Sistem Alami (natural system) dan Sistem Buatan Manusia
(human made system)
Sistem alami adalah sistem yang keberadaannya terjadi secara
alami/natural tanpa campuran tangan manusia. Sedangkan
sistem buatan manusia adalah sebagai hasil kerja manusia.
Contoh sistem alamiah adalah sistem tata surya yang terdiri
dari atas sekumpulan planet, gugus bintang dan lainnya.
Contoh sistem abstrak dapat berupa sistem komponen yang ada
sebagai hasil karya teknologi yang dikembangkan manusia.
c. Sistem pasti (deterministic system) dan sistem tidak tentu
(probobalistic system)
Sistem tertentu adalah sistem yang tingkah lakunya dapat
ditentukan/diperkirakan sebelumnya. Sedangkan sistem tidak
tentu
sistem
tingkah
lakunya
tidak
dapat
ditentukan
sebelumnya. Sistem aplikasi komputer merupakan contoh
sistem yang tingkah lakunya dapat ditentukan sebelumnya.
Program aplikasi yang dirancangdan dikembangkan oleh
manusia dengan menggunakan prosedur yang jelas, terstruktur
dan baku.
d. Sistem Tertutup (closed system) dan Sistem Terbuka (open
system)
15
Sistem tertutup merupakan sistem yang tingkah lakunya tidak
dipengaruhi oleh lingkungan luarnya. Sebaliknya, sistem
terbuka
mempunyai
prilaku
yang
dipengaruhi
oleh
lingkungannya. Sistem aplikasi komputer merupakan sistem
relative tertutup, karena tingkah laku sistem aplikasi komputer
tidak dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi diluar sistem.
16
2.1.3
Konsep Dasar Kendali / Kontrol
1. Definisi Pengontrolan
Menurut Yusron (2009:1) “proses pengaturan atau pengendalian
terhadap satu atau beberapa besaran (variabel, parameter) sehingga berada
pada suatu harga range tertentu”
Berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pengontrolan
berasal dari kata kontrol. Kontrol sama dengan pengawasan, pemeriksaan
dan pengendalian.1
Sedangkan pengontrolan itu sendiri adalah proses, cara pembuatan
mengontrol (mengawasi, memeriksa), pengawasan, pemeriksaan.2
Berdasarkan definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan
bahwa
pengontrolan
adalah
proses
pengawasan,
pemeriksaan,
pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel, parameter)
sehingga berada pada suatu harga range tertentu.
Menuru Haryoko (2009:1), dalam sistem pengendali dikenal
adanya Sistem Pengendali Loop Terbuka (Open-loop Control Sistem) dan
Sistem Pengendali Loop Tertutup (Closed-loop Control Sistem)
1
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1989, hal. 459
2 IBID, hal. 459
17
1. Sistem Kendali Loop Terbuka
Sistem kendali terbuka adalah sistem yang berhubungan
dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima
masukan dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau
subsistem yang lainnya. Karena sistem sifatnya terbuka dan
terpengaruh oleh lingkungan luarnya, maka suatu sistem harus
mempunyai suatu sistem pengendali yang baik.
Walaupun
tidak
memberikan
umpan
balik
sebagai
pembanding untuk validasi, sistem kendali terbuka masih tetap
memungkinkan untuk menyelesaikan perintah dengan baik asalkan
objek terkendali tidak mengalami perubahan yang tidak terpredeksi
sebelumnya.
Sistem pengendalian dengan loop terbuka lebih sederhana
dan lebih murah dari pada loop tertutup yang lebih rumit, dengan
catatan implementasinya harus disesuaikan pada situasi dimana
semua pengaruh pada objek terkendali dapat diprediksi serta tidak
tergantung faktor-faktor luar.
Masukan
Elemen
Kendali
Alat
Terkendali
Keluaran
Sumber : Haryoko (2009:1)
Gambar 2.2. Sistem Pengendali loop terbuka
18
Sistem pengendali sangat berkaitan erat dengan kemajuan
teknologi
komputer.
Dengan
menggunakan
suatu
bahasa
pemrograman tertentu komputer memungkinkan untuk dapat
mengendalikan kinerja peralatan lain, sehingga dapat diperintah
sesuai dengan kondisi yang diinginkan.
2 Sistem Kendali Tertutup
Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan
dan tidak terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini
bekerja secara otomatis tampa adanya turut campur tangan dari
pihak diluarnya. Secara teoritis sistem tertutup ini ada, tetapi
kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar tertutup, yang ada
hanyalah relatively closed system (secara relatif tertutup, tidak
benar-benar tertutup). Sistem kendali loop tertutup ini terdapat
umpan balik dari sinyal sistem terkendali yang berfungsi sebagai
validasi hasil keluaran terhadap sinyal input.
Sumber : Haryoko (2009:2),
Gambar 2.3. Sistem Pengendali loop tertutup
19
Keterangan:
i : masukan referensi yang menentukan suatu nilai bagi
sistem yang dikendalikan
u : sinyal umpan balik dari keluaran
c : sinyal kontrol
o : sinyal keluaran
20
2.2
Teori Khusus
2.2.1
Konsep Dasar Arduiono
1. Definisi Arduino
Menurut Sulaiman (2012:1), arduino merupakan platform yang
terdiri dari software dan hardware. Hardware Arduino sama dengan
mikrocontroller pada umumnya hanya pada arduino ditambahkan
penamaan pin agar mudah diingat. Software Arduino merupakan software
open source sehingga dapat di download secara gratis. Software ini
digunakan untuk membuat dan memasukkan program ke dalam Arduino.
Pemrograman
Arduino
tidak
sebanyak
tahapan
mikrocontroller
konvensional karena Arduino sudah didesain mudah untuk dipelajari,
sehingga para pemula dapat mulai belajar mikrocontroller dengan
Arduino.
Menurut Santosa (2012:1), arduino adalah kit elektronik atau papan
rangkaian elektronik open source yang di dalamnya terdapat komponen
utama yaitu sebuah chip mikrokontroler dengan jenis AVR dari
perusahaan Atmel.
Berdasarkan dua definisi yang dikemukakan diatas dapat
disimpulkan bahwa arduino merupakan kit elektronik atau papan
rangkaian elektronik yang didalamnya terdapat komponen utama yaitu
sebuah chip mikrokontroler dengan jenis AVR dari perusahaan Atmel
serta sofware pemrograman yang berlisensi open source.
21
2. Hardware Arduino
Menurut Sulaiman (2012:1) Arduino merupakan platform open
source baik secara hardware dan software. Arduino terdiri dari
mikrocontroller megaAVR seperti ATmega8, ATmega168, ATmega328,
ATmega1280, dan ATmega 2560 dengan menggunakan Kristal osilator 16
MHz, namun ada beberapa tipe Arduino yang menggunakan Kristal
osilator 8 MHz. Catu daya yang dibutuhkan untuk mensupply minimum
sistem Arduino cukup dengan tegangan 5 VDC. Port arduino Atmega
series terdiri dari 20 pin yang meliputi 14 pin I/O digital dengan 6 pin
dapat berfungsi sebagai output PWM (Pulse Width Modulation) dan 6 pin
I/O analog. Kelebihan Arduino adalah tidak membutuhkan flash
programmer external karena di dalam chip microcontroller Arduino telah
diisi dengan bootloader yang membuat proses upload menjadi lebih
sederhana. Untuk koneksi terhadap komputer dapat menggunakan RS232
to TTL Converter atau menggunakan Chip USB ke Serial converter
seperti FTDI FT232.
22
Sumber : Djuandi (2011:5)
Gambar 2.4: Papan Arduino USB Standar
Arduino board sendiri telah tersedia dalam banyak jenis baik yang
sudah berkoneksi USB maupun serial. Contoh Arduino yang terkoneksi
dengan USB seperti: Arduino Uno, Arduino Duemilanove, Arduino
Diecimila, Arduino NG Rev. C , Arduino FIO, dan Arduino lilypad. Untuk
lilypad memiliki ukuran sebesar kancing baju dan anti air sehingga dapat
dicuci. Sedangkan Arduino Severino merupakan contoh untuk yang
terkoneksi secara serial. Untuk para pemula yang bingung memiliih jenis
board yang cocok, dapat memilih Arduino Duemilanove atau Arduino
UNO karena kedua jenis ini yang paling banyak digunakan. Namun jika
ingin berkreasi lebih maka dapat membuat board sendiri dengan
menyesuaikan kebutuhan dan dana yang ada. Selain Arduino board, juga
terdapat perangkat tambahan yang disebut shield untuk pengembangan
Arduino. Dengan shield ini maka tidak perlu lagi repot menyolder karena
23
semua sudah didesain sesuai dengan pin arduino. Contoh shield seperti :
Ethernet shield untuk mengkoneksikan arduino dengan LAN, Xbee untuk
memungkinkan beberapa arduino berkomunikasi secara wireless.
Sumber : (Djuandi 2011:5)
Gambar 2.5 Arduino USB
3. Sofware Arduino
Menurut Sulaiman (2012:1) arduino diciptakan untuk para pemula
bahkan yang tidak memiliki basic bahasa pemrograman sama sekali karena
menggunakan bahasa C++ yang telah dipermudah melalui library.
Arduino menggunakan Software Processing yang digunakan untuk
menulis program kedalam Arduino. Processing sendiri merupakan
penggabungan antara bahasa C++ dan Java. Software Arduino ini dapat diinstall di berbagai operating system (OS) seperti: LINUX, Mac OS,
Windows. Software IDE Arduino terdiri dari 3 (tiga) bagian:
24
1. Editor program, untuk menulis dan mengedit program dalam
bahasa processing. Listing program pada Arduino disebut sketch.
2. Compiler, modul yang berfungsi mengubah bahasa processing
(kode program) kedalam kode biner karena kode biner adalah satu–
satunya bahasa program yang dipahami oleh mikrocontroller.
3. Uploader, modul yang berfungsi memasukkan kode biner kedalam
memori mikrocontroller.
Struktur perintah pada arduino secara garis besar terdiri dari 2
(dua) bagian yaitu void setup dan void loop. Void setup berisi perintah
yang akan dieksekusi hanya satu kali sejak arduino dihidupkan sedangkan
void loop berisi perintah yang akan dieksekusi berulang-ulang selama
arduino dinyalakan.
25
Sumber : http://thingm.com
Gambar 2.6 Arduino Software
2.2.2
Konsep Dasar Mikrokontroler
1. Definisi Mikrokontroller
Menurut Setiawan (2011:1) Mikrokontroller adalah suatu IC
dengan kepadatan yang sangat tinggi, dimana semua bagian yang
diperlukan untuk suatu kontroler sudah dikemas dalam satu keping,
biasanya terdiri dari CPU (Central Processing Unit), RAM (Random
Access Memory), EEPROM/EPROM/PROM/ROM, I/O, Serial & Parallel,
Timer, Interupt Controller.
26
Menurut Fauzi (2011:1) Mikrokontroler adalah sebuah chip yang
berfungsi sebagai pengontrol rangkaian elektronik dan umunya dapat
menyimpan program didalamnya.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan
bahwa mikrokontroller adalah suatu IC yang didesain atau dibentuk
dengan kepadatan yang sangat tinggi, dimana semua bagian yang
diperlukan suatu kontroler sudah dikemas dalam satu keping, biasanya
terdiri dari CPU (Central Processing Unit), RAM (Random Access
Memory), EEPROM/EPROM/PROM/ROM, I/O, Serial & Parallel, Timer,
Interupt Controller dan berfungsi sebagai pengontrol rangkaian elektronik
serta umunya dapat menyimpan program didalamnya.
Menurut
Setiawan
(2011:10)
Seperti
umumnya
komputer,
mikrokontroler adalah alat yang mengerjakan instruksi-instruksi yang
diberikan kepadanya. Artinya, bagian terpenting dan utama dari suatu
sistem terkomputerisasi adalah program itu sendiri yang dibuat oleh
seorang programmer. Program ini menginstruksikan komputer untuk
melakukan jalinan yang panjang dari aksi-aksi sederhana untuk melakukan
tugas yang lebih kompleks yang diinginkan oleh programmer.
27
Sumber : http://mikrokontroler.tripod.com/6805/bab1.htm
Gambar 2.7 Blok Hardware Mikrokontroller
3. Arsitektur Mikrokontroller
Menurut Setiawan (2011:11) arsitektur
adalah
rancangan
hardware internal yang berkaitan dengan: tipe, jumlah dan ukuran
register serta rangkaian lainnya. Arsitektur pada sebuah mikrokontroler
sangat mempengaruhi kinerja pada saat melakukan proses pengendalian
(control).
Menurut
Setiawan
(2011:11)
Semua
jenis
mikrokontroler
didasarkan pada arsitektur Von-Neuman atau arsitektur Harvard.
a. Arsitektur Von-Neuman
Mikrokontroler
yang
di
disain
berdasarkan
arsitektur
ini
memilik sebuah data bus 8-bit yang dipergunakan untuk
"fetch" instruksi dan data. Program (instruksi) dan data disimpan
pada memori
28
utama secara bersama-sama. Ketika kontroler mengalamati
suatu alamat di memori utama, hal pertama yang dilakukan dalah
mengambil instruksi
mengambil
untuk
dilaksanakan
dan
kemudian
data pendukung dari instruksi tsb. Cara ini
memperlambat operasi.
Sumber : http://agfi.staff.ugm.ac.id
Gambar 2.8 Arsitektur Mikorkontroller Von-Neuman
b. Arsitektur Harvard
Arsitektur ini memilik bus data dan instruksi yang terpisah,
sehingga memungkinkan eksekusi dilakukan secara bersamaan.
Secara teoritis hal ini memungkinkan eksekusi yang lebih cepat
tetapi dilain pihak memerlukan disain yang lebih kompleks.
29
Sumber : http://agfi.staff.ugm.ac.id
Gambar 2.9 Arsitektur Mikrokontroller Harvard
Didalam mempelajari mikrokontroler, kita dituntut untuk dapat
menguasai dua hal yang sangat pokok, berdasarkan arsitektur
mikrokontroler tersebut kedua hal tersebut adalah hardware dan
software.
dari mikrokontroler. Hardware akan sangat kita perlukan ketika
kita akan manggunakan
dengan
mikrokontroler
device (perangkat)
yang
untuk
sifatnya
berhubungan
berada
diluar
mikrokontroler, software (instruksi) dalam hal ini juga tidak
kalah penting karena didalam mengendalikan suatu system kita
juga
harus
digunakan.
memahami
instruksi
dari mikrokontroler yang
30
4. Instruksi Mikrokontroller
Menurut Setiawan (2011:12) Instruksi pada mikrokontroler dikenal
ada 2 yaitu:

CISC
Saat ini hampir semua mikrokontroler adalah mikrokontroler CISC
(Complete Instruction Set Computer). Biasanya memiliki lebih dari
80 instruksi. Keunggulan dari CISC ini adalah adanya instruksi
yang bekerja seperti sebuah makro, sehingga memungkinkan
programmer untuk
menggunakan
sebuah instruksi
menggantikan beberapa instruksi sederhana lainnya.

RISC
Saat ini kecenderungan industri untuk menggunakan disain
mikroprosesor RISC
Dengan menggunakan
(Reduced
Instruction
jumlah instruksi
yang
Set
Computer).
lebih
sedikit,
memungkinkan lahan pada chip (silicon real-estate) digunakan
untuk meningkatkan kemampuan chip. Keuntungan dari RISC
adalah kesederhanaan disain, chip yang lebih kecil, jumlah pin
sedikit dan sangat sedikit mengkonsumsi daya.
5. Macam Memory Pada Mikrokontroller
Menurut Setiawan (2011:12) Mikrokontroller mempunyai beberapa
macam memory antara lain :
31

Eeprom - Electrically Erasable Programmable Read Only Memory
Beberapa mikrokontroler memiliki EEPROM yang terintegrasi pada
chipnya. EEPROM ini dugunakan untuk menyimpan sejumlah kecil
parameter yang dapat berubah dari waktu ke waktu. Jenis memori ini
bekerja relatif pelan, dan kemampuan untuk dihapus/tulis nya juga
terbatas.

FLASH (EPROM)
FLASH meberikan pemecahan yang lebih baik dari EEPROM ketika
dibutuhkan sejumlah besar memori non-volatile untuk program.
FLASH ini bekerja lebih cepat dan dapat dihapus/tulis lebih sering
dibanding EEPROM.

Battery Backed-Up Static RAM
Memori ini sangat berguna ketika dibutuhkan memori yang besar
untuk menyimpan data dan program. Keunggulan utama dari RAM
statis adalah sangat cepat dibanding memori non-volatile, dan juga
tidak terdapat keterbatasan kemampuan hapus/tulis sehingga sangat
cocok untuk aplikasi untuk menyimpan dan manipulasi data secara
lokal.

Field Programming/Reprogramming
Dengan menggunakan memori non-volatile untuk menyimpan
program akan memungkinkan mikrokontroler tersebut untuk
diprogram
ditempat,
tanpa
melepaskan
dari
sistem
yang
32
dikontrolnya. Dengan kata lain mikrokontroler tersebut dapat
diprogram setelah dirakit pada PCB.

Otp - One Time Programmable
Mikrokontroler OTP adalah mikrokontroler yang hanya dapat
diprogram satu kali saja dan tidak dapat dihapus atau dimodifikasi.
Biasanya digunakan untuk produksi dengan jumlah terbatas. OTP
menggunakan EPROM standard tetapi tidak memiliki jendela untuk
menghapus programnya.

Software Protection
Dengan "encryption" atau proteksi fuse, software yang telah
diprogramkan akan terlindungi dari pembajakan, modifikasi atau
rekayasa ulang. Kemampuan ini hanya dipunyai oleh komponen
OTP atau komponen yang dapat diprogram ulang. Pada komponen
jenis Mask ROM tidak diperlukan proteksi, hal ini dikarenakan
untuk membajak isi programnya seseorang harus membacanya
(visual) dari chip nya dengan menggunakan mikroskop elektron.
6. Input/Output Mikrokontroller
Menurut
Setiawan
(2011:14)
Mikrokontroller
mempunyai
beberapa Input/Output diantaranya yaitu :

UART (Universal Asynchronous Receiver Transmitter) adalah
adapter serial port adapter untuk komunikasi serial asinkron.
33

USART
(Universal
Synchronous/Asynchronous
Receiver
Transmitter) merupakan adapter serial port untuk komunikasi
serial sinkron dan asinkron. Komunikasi serial sinkron tidak
memerlukan start/stop bit dan dapat beroperasi pada click yang
lebih tinggi dibanding asinkron.

SPI (serial peripheral interface) merupakan port komunikasi
serial sinkron.

SCI (serial communications interface) merupakan enhanced
UART (asynchronous serial port).

I2C bus (Inter-Integrated Circuit bus) merupakan antarmuka
serial 2 kawat yang dikembangkan oleh Philips. Dikembangkan
untuk aplikasi 8 bit dan banyak digunakan pada consumer
elektronik, otomotif dan indistri. I2C bus ini berfungsi sebagai
antarmuka jaringan multi-master, multi-slave dengan deteksi
tabrakan data. Jaringan dapat dipasangkan hingga 128 titik
dalam jarak 10 meter. Setiap titik dalam jaringan dapat
mengirim dan menerima data. Setiap titik dalam jaringan harus
memiliki alamat yang unik.

Analog to Digital Conversion (A/D). Fungsi ADC adalah
merubah besaran analog (biasanya tegangan) ke bilangan
digital. Mikrokontroler dengan fasilitas ini dapat digunakan
untuk aplikasi-aplikasi yang memerlukan informasi analog
34
(misalnya voltmeter, pengukur suhu dll). Terdapat beberapa
tipe dari ADC sbb:
o Succesive Approximation A/D converters.
o Single Slope A/D converters.
o Delta-Sigma A/Ds converters.
o Flash A/D.

D/A (Digital to Analog) Converters. Kebalikan dar ADC
seperti diatas.

Comparator. Mikrokontroler tertentu memiliki ssebuah atau
lebih
komparator.
Komparator
ini
bekerja
seperti
IC
komparator biasa tetapi sinyal input/output terpasang pada bus
mikrokontroller.
6. Interupsi
Menurut Setiawan (2011:15) Interupt merupakan metode yang
efisien
bagi
mikrokontroler
untuk
memproses
periperalnya,
mikrokontroler hanya bekerja memproses peripheral tsb hanya pada saat
terdapat data diperiperal tsb. Pada saat terjadi interupt, mikrokontroler
menunda operasi yang sedang dilakukan kemudian mengidentifikasi
interupsi yang datang dan menjalankan rutin pelayanan interupsi. Rata-rata
mikrokontroler memiliki setidak-tidaknya sebuah interupsi eksternal,
interupsi yang dimiliki bisa dipicu oleh "edge" atau "level". Edge triggered
interupt bekerja tidak tergantung pada pada waktu terjadinya interupsi,
35
tetapi interupsi bisa terjadi karena glitch. Sedangkan Level triggered
interupt harus tetap pada logika high atau low sepanjang waktu tertentu
agar dapat terjadi interupsi, interupsi ini tahan terhadap glitch Interrupts
ada 2.

Maskable Interrupts
Dengan maskable interupt kita dapat bebas memilih untuk
menggunakan satu atau lebih interupsi. Keuntungan maskable
interupt ini adalah kita dapat mematikan interupsi pada saat
mikrokontroler sedang melakukan proses yang kritis sehingga
interupsi yang datang akan diabaikan.

Vectored Interrupts
Pada saat terjadi interupsi, interupt handler secara otomatis akan
memindahkan program pada alamat tertentu yang telah ditentukan
sesuai dengan jenis interupsi yang terjadi.
2.2.3. Konsep Dasar Resistor
1. Definisi Resistor
Menurut Budiharto (2008:1) bahwa "Resistor adalah salah satu
komponen elektronika yang berfungsi untuk memberikan hambatan
terhadap aliran arus listrik"
Menurut Rusmadi (2009:10), bahwa “Resistor adalah tahanan atau
hambatan arus listrik”.
36
Berdasarkan kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
resistor merupakan salah satu komponen elektronika dasar yang
mempunyai fungsi untuk memberikan hambatan atau tahanan terhadap
aliran arus listrik pada perangkat elektronika.
Sumber: Rusmadi (2009:12)
Gambar 2.10 Resistor
Sumber : gaussmarkov.net
Gambar 2.11 Simbol Resistor
2. Jenis Resistor
Menurut Rusmadi (2009:11), dalam bidang elektronika, Resistor
dapat di bagi menjadi 2 yaitu:
37
a. Resistor Tetap (Fixed Resistor)
Menurut Rusmadi (2009:11), bahwa “Resistor Tetap adalah
resistor yang nilainya besaranyan sudah ditetepkan oleh pabrik
pembuatannya dan tidak dapat di ubah-ubah”.
Resistor memiliki nilai resistansi, sebagai nilainya ada yang
dicantumkan langsung pada badannya
dan sebagian lagi karena
bentuk fisiknya kecil.
Menurut Rusmadi (2009:15), Resistor dibagi menjadi 6 yaitu:
1. Resistor Kawat
Resistor kawat ini adalah jenis resistor pertama yang lahir
pada generasi pertama pada waktu rangkaian elektroniaka
masih mengguanakan Tabung Hampa (Vacuum Tube).
Bentuknya bervariasi dan fisik agak besar. Resisistor ini
biasanya banyak digunakan dalam rangkaian daya karena
memiliki ketahanan yang tinggi yaitu disipasi terhadap
panas yang tinggi.
2. Resisitor Batang Karbon (Arang)
Pada awalnya resistor ini dibuat dari bahan karbon kasar
yang diberi lilitan kawat yang kemudian diberi tanda
dengan
kode
warna
berbentuk
gelang
dan
pembacaanya dapat dilihat pada table kode warna.
3. Resistor Keramik atau Porselin
untuk
38
Dengan adanya perkembangan teknologi elektronika, saat
ini telah dikembangkan jenis resistor yang dibuat dari
bahan keramik atau porselin. Jenis resistor ini banyak
dipergunakan dalam rangkaian-rangkaian modern seperti
sekarang ini karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki
ketahanan yang tinggi. Di pasaran kita akan menjumpai
resisitor jenis ini dengan ukuran bervariasi mulai dari 1/4
Watt, 1/3 Watt, ½ Watt, 1 Watt dan 2 Watt.
4. Resisitor Film Karbon
Sejalan dengan perkembangan teknologi para produsen
komponen elektronika telah memunculkan jenis resistor
yang dibuat dari bahan karbon dan dilapisi dengan bahan
film yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh
luar. Nilai resistansinya dicantumkan dalam bentuk kode
warna seperti pada Resistor Karbon.
5. Resisitor Film Metal
Resistor
Film
Metal
dibuat
dengan
bentuk
hamir
menyerupai resistor film karbon dan memiliki keadalan dan
stabilitas yang tinggi dan tahan terhadap perubahan
temperatur.
6. Resisitor Tipe Film Tebal
Resistor jenis ini bentuknya merip dengan resistor film
metal, namun resistor ini dirancang khusus agar memiliki
39
kehandalan yang tinggi. Sebagai contoh sebuah resistor
film tebal dengan rating daya 2 Watt saja sudah mampu
untuk dipakai menahan beban tegangan di atas satuan Kilo
Volt.
b. Resistor Tidak Tetap (Variabel Resistor)
Menurut Rusmadi (2009:16), bahwa “Resistor Tidak Tetap
adalah Resistor yang nilai resistansinya (tahananya) dapat dirubahrubah sesuai dengan keperluan dan perubahannya dapat dilakukan
dengan jalan mengeser atau memutar pengaturnya”.
Menurut Rusmadi (2009:16), bahwa Resistor Tidak Tetap
dibagi menjadi 8 yaitu:
a) Potensiometer
Potensiometer adalah komponen pembagi tegangan yang
dapat disetel sesuai dengan keinginan. Bentuk fisik dari
Potensiometer pada umumnya besar dan dibuat dari bahan
kawat atau arang (karbon).
b) Potensiameter Preset
Potensiameter
Preset
bentuknya
sangat
kecil
danpengaturannya sama dengan Trimpot yaitu dengan
menggunakan obeng yang diputar pada bagian lubang coakan.
40
c) NTC dan PTC
NTC adalah singakatan dari Negative Temperature Coefficient
sedangkan PTC adalah singkatan dari Positive Temperature
Coefficient. Sifat dari komponen NTC adalah Resisitor yang
nilai
tahannya
akan
menurun
apabila
temperature
sekelilingnya naik dan sebaliknya komponen PTC adalah
Resistor yang nilai tahannya akan bertambah besar apabila
temperaturnya turun.
d) LDR ( Light Dependent Resisitor)
LDR adalah singkatan dari Light Dependent Resisitor yaitu
resisitor yang tergantung cahaya, artinya nilai tahannya akan
berubah-ubah apabila terkena cahaya dan perubahannya
tergantungdari intensitas cahaya yang diterimanya.
e) VDR (Volttage Dependent Resistor)
VDR adalah singkatan dari Volttage Dependent Resistor yaitu
resistor yang nilai tahannya akan berubah tergantung tegangan
yang diterimanya. Sifat dari VDR adalah semakin besar
tegangan yang diterimanya maka tahanannya akan semakin
mengecil sehingga arus yang melalui VDR akan bertambah
besar.
41
3. Satuan
Ohm (simbol: Ω adalah satuan SI untuk resistansi listrik, diambil
dari nama Georg Ohm.
Satuan yang digunakan prefix :
Ohm = Ω
Kilo Ohm = KΩ
Mega Ohm = MΩ
KΩ = 1 000Ω
MΩ = 1 000 000Ω
4. Penandaan Resistor
Menurut Tama (2009:3) Resistor aksial biasanya menggunakan
pola pita warna untuk menunjukkan resistansi. Resistor pasang-permukaan
ditandas secara numerik jika cukup besar untuk dapat ditandai, biasanya
resistor ukuran kecil yang sekarang digunakan terlalu kecil untuk dapat
ditandai. Kemasan biasanya cokelat muda, cokelat, biru, atau hijau,
walaupun begitu warna lain juga mungkin, seperti merah tua atau abu-abu.
Resistor awal abad ke-20 biasanya tidak diisolasi, dan dicelupkan
ke cat untuk menutupi seluruh badan untuk pengkodean warna. Warna
kedua diberikan pada salah satu ujung, dan sebuah titik (atau pita) warna
di tengah memberikan digit ketiga. Aturannya adalah "badan, ujung, titik"
memberikan urutan dua digit resistansi dan pengali desimal. Toleransi
42
dasarnya adalah ±20%. Resistor dengan toleransi yang lebih rapat
menggunakan warna perak (±10%) atau emas (±5%) pada ujung lainnya.
a. Identifikasi 4 Pita
Identidentifikasi empat pita adalah skema kode warna yang
paling sering digunakan. Ini terdiri dari empat pita warna yang
dicetak mengelilingi badan resistor. Dua pita pertama merupakan
informasi dua digit harga resistansi, pita ketiga merupakan faktor
pengali (jumlah nol yang ditambahkan setelah dua digit resistansi)
dan pita keempat merupakan toleransi harga resistansi. Kadangkadang terdapat pita kelima yang menunjukkan koefisien suhu,
tetapi ini harus dibedakan dengan sistem lima warna sejati yang
menggunakan tiga digit resistansi. Berikut table identifikasi 4 pita :
Tabel 2.1 Table Identifikasi 4 Pita
Warna
Hitam
Cokelat
Merah
Jingga
Kuning
Hijau
Biru
Ungu
Abuabu
Putih
Emas
Pita
Keempat
(Toleransi)
Pita Kelima
(Koefisien
Suhu)
±1% (F)
±2% (G)
100 ppm
50 ppm
15 ppm
25 ppm
Pita
Pertama
Pita
Kedua
Pita Ketiga
(Pengali)
0
1
2
3
4
5
6
7
0
1
2
3
4
5
6
7
x 100
x101
x102
x 103
x 104
x 105
x 106
x 107
±0.5% (D)
±0.25% (C)
±0.1% (B)
8
8
x 108
±0.05% (A)
9
9
x 109
x10-1
±5% (J)
43
x10-2
Perak
Kosong
±10% (K)
±20% (M)
Sebagai contoh, hijau-biru-kuning-merah adalah 56 x 104Ω
= 560 kΩ ± 2%. Deskripsi yang lebih mudah adalah: pita pertama,
hijau, mempunyai harga 5 dan pita kedua, biru, mempunyai harga
6, dan keduanya dihitung sebagai 56. Pita ketiga,kuning,
mempunyai harga 104, yang menambahkan empat nol di belakang
56, sedangkan pita keempat, merah, merupakan kode untuk
toleransi ± 2%, memberikan nilai 560.000Ω pada keakuratan ± 2%.
b. Identifikasi 5 Pita
Identifikasi lima pita digunakan pada resistor presisi
(toleransi 1%, 0.5%, 0.25%, 0.1%), untuk memberikan harga
resistansi ketiga. Tiga pita pertama menunjukkan harga resistansi,
pita keempat adalah pengali, dan yang kelima adalah toleransi.
Resistor lima pita dengan pita keempat berwarna emas atau perak
kadang-kadang diabaikan, biasanya pada resistor lawas atau
penggunaan khusus. Pita keempat adalah toleransi dan yang kelima
adalah koefisien suhu.
44
Sumber : Rusmadi (2009:13)
Gambar 2.12 Skema Warna Resistor
c. Resistor Pasang Permukaan
Gambar 2.13 menunjukan empat resistor pasang permukaan
(komponen pada kiri atas adalah kondensator) termasuk dua
resistor nol ohm. Resistor nol ohm sering digunakan daripada
lompatan kawat sehingga dapat dipasang dengan mesin pemasang
resistor.
45
Sumber : baselo.comuf.com
Gambar 2.13 Resistor Pasang Permukaan
Resistor pasang-permukaan dicetak dengan harga numerik
dengan kode yang mirip dengan kondensator kecil. Resistor
toleransi standar ditandai dengan kode tiga digit, dua pertama
menunjukkan dua angka pertama resistansi dan angka ketiga
menunjukkan pengali (jumlah nol). Contoh:
"334"
= 33 × 10.000 ohm = 330 KOhm
"222"
= 22 × 100 ohm = 2,2 KOhm
"473"
= 47 × 1,000 ohm = 47 KOhm
"105"
= 10 × 100,000 ohm = 1 MOhm
Resistansi kurang dari 100 ohm ditulis: 100, 220, 470. Contoh:
"100"
= 10 × 1 ohm = 10 ohm
"220"
= 22 × 1 ohm = 22 ohm
46
Kadang-kadang harga-harga tersebut ditulis "10" atau "22"
untuk mencegah kebingungan. Resistansi kurang dari 10 ohm
menggunakan 'R' untuk menunjukkan letak titik desimal. Contoh:
"4R7"
= 4.7 ohm
"0R22"
= 0.22 ohm
"0R01"
= 0.01 ohm
Resistor presisi ditandai dengan kode empat digit. Dimana tiga
digit pertama menunjukkan harga resistansi dan digit keempat
adalah pengali. Contoh:
"1001"
= 100 × 10 ohm = 1 kohm
"4992"
= 499 × 100 ohm = 49,9 kohm
"1000"
= 100 × 1 ohm = 100 ohm
"000" dan "0000" kadang-kadang muncul bebagai harga untuk
resistor nol ohm
Resistor pasang-permukaan saat ini biasanya terlalu kecil untuk
ditandai.
d. Penandaan Tipe Industri
Format: XX YYYZ

X: kode tipe
47

Y: nilai resistansi

Z: toleransi
Rentang suhu operasional membedakan komponen kelas
komersil, kelas industri dan kelas militer.
Table 2.2 Rentang Daya Operasional Resistor
Kode
Tipe
BB
CB
EB
GB
HB
GM
HM
Rating Daya
(Watt)
1/8
¼
½
1
2
3
4
Teknik
MIL-R-11
RC05
RC07
RC20
RC32
RC42
-
Teknik
MIL-R-39008
RC05
RC07
RC20
RCR32
RCR42
-
Table 2.3 Kode Toleransi Pada Resistor
Toleransi
±5%
±20%
±10%
±2%
±1%
±0.5%
±0.25%
±0.1%
Teknik Industri
5
2
1
-
Teknik MIL
J
M
K
G
F
D
C
B

Kelas komersil: 0 °C hingga 70 °C

Kelas industri: −40 °C hingga 85 °C (seringkali −25 °C
hingga 85 °C)
48

Kelas militer: −55 °C hingga 125 °C (seringkali -65 °C
hingga 275 °C)

Kelas standar: -5 °C hingga 60 °C
2.2.4. Konsep Dasar Dioda
1. Definisi Dioda
Menurut Budiharto (2009:02), “Piranti semikonduktor yang
mengalirkan arus ke satu arah”.
Kalau ia dialiri arus AC maka akan berhasil didapatkan arus DC
dari arus AC ini. Karenanya pada sifat yang demikian maka dioda bisa
digunakan sebagai perata arus yang biasa dipasang di adaptor.
Menurut Rusmadi (2009:32), bahwa “Dioda adalah termasuk
komponen semikonduktor yang terdiri dari 2 buah elektroda yaitu anoda
(bahan P) dan katoda (bahan N)”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Dioda adalah
piranti semikonduktor yang terdiri dari 2 buah elektroda yaitu anoda
(bahan P) dan katoda (bahan N).Komponen elektronika dengan dua
terminal, yang terbentuk dari dua jenis semikonduktor, yaitu type P yang
biasa disebut dengan anoda dan type N yang biasa disebut dengan katoda,
dimana kemudian kedua semikonduktor ini digabungkan. Untuk membuat
diode dalam keadaan conduct, diperlukan tegangan biasnya sebesar 0,3
49
volt untuk dioda dengan bahan germanium atau 0,7 volt untuk dioda
dengan bahan silikon.
Sumber: Rusmadi (2009:33)
Gambar 2.14 Bentuk dan Simbol Dioda
Perlu diketahui bahwa komponen dioda ini pada umumnya hamper
selalu dipergunakan dalam rangkaian, terutama pada rangkaian Power
Supply.
Menurut Rusmadi (2009:34) Fungsi diode dalam suatu rangkaian
adalah:
1. Penyearah tegangan listrik.
2. Pengaman tegangan listrik.
3. Memblokir tegangn listrik.
50
2.2.5. Konsep Dasar Transistor
1. Konsep Dasar Transistor
Menurut Budiharto (2009:3), bahwa “transistor merupakan salah
satu semikonduktor yang dianggap paling berperan dan dapat digunakan
sebagai penyearah arus, menyimpan sebagian arus, penguat arus, dan juga
membangkitkan frekuensi rendah maupun frekuensi tinggi”.
Menurut Rusmadi (2009:42), bahwa “Transistor adalah merupakan
komponen dasar yang paling penting dan banyak dipergunakan dalam
setiap rangkaian”.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan
bahwa transistor merupakan komponen dasar yang banyak dipergunakan
dalam rangkaian elektronika dan berfungsi sebagai penyearah arus,
menyimpan sebagian arus, penguat arus, dan juga membangkitkan
frekuensi rendah maupun frekuensi tinggi.
Sumber : Rusmadi (2009:40)
Gambar 2.15 Transistor
51
Menurut Kenny (2012:7) Pada umumnya, transistor memiliki 3
terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (C). Tegangan yang
di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur arus
dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada
keluaran tegangan dan arus output Kolektor.
Transistor disusun menggunakan sambungan dioda. Berdasarkan jenis
sambungan transistor dibedakan menjadi dua jenis sebagai berikut.
a. BJT (Bipolar Juction Transistor)
BJT memiliki 2 dioda yang kutub positif atau kutub negatifnya
terhimpit, serta memiliki terminal, yaitu emitter (E), kolektor (C),
dan basis (B). BJT dapat dibagi menjadi dua jenis berikut ini:
1. NPN (Negative Positive Negative)
Transistor NPN terdiri dari 1 lapisan semikondutor tipe-p
di antara 2 lapisan semikonduktor tipe-n. Arus kecil yang
memasuki basis pada emitter dikuatkan di keluran kolektor.
Dengan kata lain, transistor NPN hidup ketika tegangan basis
lebih tinggi dari pada tengan emitter.
52
Sumber: Rusmadi (2009:41)
Gambar 2.16 Simbol Transistor NPN
2. PNP (Positive Negative Positive)
Transistor PNP terdiri dari 2 lapisan semikonduktor tipe-n
di antara 2 alpisan semikonduktor tipe-p. arus kecil yang
meninggalkan basis pada moda tunggal emitter dikuatkan
dikeluran kolektor. Dengan kata lain, transistor PNP hidup
ketika tegangan basis lebih rendah dari pada tegangan emitter.
53
Sumber: Rusmadi (2009:41)
Gambar 2.17 Simbol Transistor PNP
Transistor merupakan komponen yang sangat penting dalam
dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan
dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras
suara, sumber listrik stabil (stabilisator) dan penguat sinyal radio.
Dalam
rangkaian-rangkaian digital,
transistor
digunakan
sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat
dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate,
memori dan fungsi rangkaian-rangkaian lainnya.
3. Jenis-Jenis Transistor
Secara umum, transistor dapat dibeda-bedakan berdasarkan banyak
kategori: menurut Miko (2012:1)

Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide

Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic,
Surface Mount, IC, dan lain-lain
54

Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET,
VMOSFET, MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari
transistor yaitu IC (Integrated Circuit) dan lain-lain.

Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel

Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High
Power.

Maximum frekuensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency,
RF transistor, Microwave, dan lain-lain

Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan
Tinggi, dan lain-lain
a. BJT
BJT (Bipolar Junction Transistor) adalah salah satu dari dua jenis
transistor. Cara kerja BJT dapat dibayangkan sebagai dua diode
yang terminal positif atau negatifnya berdempet, sehingga ada tiga
terminal. Ketiga terminal tersebut adalah emiter (E), kolektor (C),
dan basis (B).
Perubahan arus listrik dalam jumlah kecil pada terminal basis dapat
menghasilkan perubahan arus listrik dalam jumlah besar pada
terminal kolektor. Prinsip inilah yang mendasari penggunaan
55
transistor sebagai penguat elektronik. Rasio antara arus pada
koletor dengan arus pada basis biasanya dilambangkan dengan β
atau
. β biasanya berkisar sekitar 100 untuk transistor-
transisor BJT.
b. FET
FET dibagi menjadi dua keluarga: Junction FET (JFET) dan
Insulated Gate FET (IGFET) atau juga dikenal sebagai Metal
Oxide Silicon (atau Semiconductor) FET (MOSFET). Berbeda
dengan IGFET, terminal gate dalam JFET membentuk sebuah
diode dengan kanal (materi semikonduktor antara Source dan
Drain). Secara fungsinya, ini membuat N-channel JFET menjadi
sebuah versi solid-state dari tabung vakum, yang juga membentuk
sebuah diode antara grid dan katode. Dan juga, keduanya (JFET
dan tabung vakum) bekerja di "depletion mode", keduanya
memiliki impedansi input tinggi, dan keduanya menghantarkan
arus listrik dibawah kontrol tegangan input.
FET lebih jauh lagi dibagi menjadi tipe enhancement mode dan
depletion mode. Mode menandakan polaritas dari tegangan gate
dibandingkan dengan source saat FET menghantarkan listrik. Jika
kita ambil N-channel FET sebagai contoh: dalam depletion mode,
gate adalah negatif dibandingkan dengan source, sedangkan dalam
enhancement mode, gate adalah positif. Untuk kedua mode, jika
56
tegangan gate dibuat lebih positif, aliran arus di antara source dan
drain akan meningkat. Untuk P-channel FET, polaritas-polaritas
semua dibalik. Sebagian besar IGFET adalah tipe enhancement
mode, dan hampir semua JFET adalah tipe depletion mode.
2.2.6. Elisitasi
1. Definisi Elisitasi
Menurut Guritno, Sudaryono dan Untung Rahardja (2010:302),
“Elisitasi (elicitation) berisi usulan rancangan sistem baru yang
diinginkan oleh pihak manajemen terkait dan disanggupi oleh penulis
untuk dieksekusi”.
Menurut Nugroho (2010:10), Akuisisi informasi dari seseorang
atau kelompok dengan cara yang tidak mengungkapkan maksud dari
wawancara atau percakapan. Sebuah teknik pengumpulan intelijen
sumber manusia, umumnya terbuka.
Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa elisitasi adalah akuisi informasi dari seorang
kelompok atay usulan rancangan sistem baru yang diinginkan oleh pihak
terkait dan disanggupi oleh penulis untuk dieksekusi.
57
2. Jenis-jenis Elisitasi
Guritno, Sudaryono dan Untung Rahardja (2010:302), Elisitasi
didapat melalui metode wawancara dan dilakukan melalui tiga tahap,
yaitu sebagai berikut:
1.
Elisitasi Tahap I
Berisi seluruh rancangan sistem baru yang diusulkan oleh pihak
manajemen terkait melalui proses wawancara.
2.
Elisitasi Tahap II
Merupakan hasil pengklasifikasian dari elisitasi tahap I berdasarkan
metode MDI. Metode MDI ini bertujuan untuk memisahkan antara
rancangan sistem yang penting dan harus ada pada sistem baru
dengan rancangan yang disanggupi untuk dieksekusi.
a.
M pada MDI itu artinya Mandatory. Maksudnya requirement
tersebut harus ada dan tidak boleh dihilangkan pada saat
membuat sistem baru.
b.
D pada MDI itu artinya Desirable. Maksudnya requirement
tersebut tidak terlalu penting dan boleh dihilangkan. Tetapi jika
requirement tersebut digunakan dalam pembentukan sistem,
akan membuat sistem tersebut lebih perfect.
c.
I pada MDI itu artinya Inessential. Maksudnya bahwa
requirement tersebut bukanlah bagian dari sistem yang dibahas
dan merupakan bagian dari luar sistem.
3.
Elisitasi Tahap III
58
Merupakan hasil penyusutan dari elisitasi tahap II dengan cara
mengeliminasi semua requirement yang optionnya I pada metode
MDI. Selanjutnya semua requirement yang tersisa diklasifikasikan
kembali melalui metode TOE.
a.
T artinya Technical, maksudnya bagaimana tata cara / tehnik
pembuatan requirement tersebut dalam sistem yang diusulkan.
b.
artinya
Operasional,
maksudnya
bagaimana
tata
cara
penggunaan requirement tersebut dalam sistem yang akan
dikembangkan.
c.
E artinya Economic, maksudnya berapakah biaya yang
diperlukan guna membangun requirement tersebut di dalam
sistem.
Metode TOE tersebut dibagi kembali menjadi beberapa option, yaitu
sebagai berikut:
a.
High (H) : Sulit untuk dikerjakan, karena tehnik pembuatan dan
pemakaiannya sulit serta biayanya mahal. Sehingga requirement
tersebut harus dieliminasi.
b.
Middle (M) : Mampu untuk dikerjakan.
c.
Low (L) : Mudah untuk dikerjakan.
4. Final Draft Elisitasi
Final draft merupakan hasil akhir yang dicapai dari suatu proses
elisitasi yang dapat digunakan sebagai dasar pembuatan suatu sistem
yang akan dikembangkan.
59
2.3
Literatur Review
Literature Review ini dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui
landasan awal dan sebagai pendukung bagi kegiatan penelitian yang
dilakukan oleh peneliti, sehingga dapat menghindari pengulangan hal yang
sama dalam penelitian dan dapat melakukan pengembangan ketingkat
yang lebih tinggi dalam rangka menyempurnakan/melengkapi penelitian
yang nantinya akan dikembangkan lagi untuk kedepannya. Penelitian ini
yang saya tulis dengan judul “Desain dan Pengontrolan Sistem
Keamanan Kendaraan Bermotor Memanfaatkan Arduino Uno
Berbasis Mikrokontroller ATMega328 Melalui Media Handphone”.
Adapun Literature Review sebagai landasan dalam mendukung penelitian
adalah sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Sistandi dan Supriyanto (2008) yang
berjudul “Alat Pengontrol Peralatan Listrik Rumah Tangga Via Yahoo
Messenger”. Penelitian ini membahas tentang pengontrolan peralatan
listrik rumah tangga dengan menggunakan menggunakan sebuah aplikasi
messengger sebagai input. Cara kerja pengontrolan adalah dengan
mengirimkan informasi melalui Yahoo Mesengger sebagai media
informasinya lalu diteruskan ke komputer dan diterima lalu diproses di
rangkaian terakhir mengeluarkan output yang diinginkan. Penulis
mengakui beberapa kekurangan yang ada pada alat yang dibuatnya antara
lain Kekurang pada alat ini adalah server yang berada di rumah harus
stanbay 24 jam, jika server mati maka peralatan tidak bisa dikontrol.
60
Untuk pengembangannya pilihan SET ON / OFF pada peralatan listrik
yang berbeda dapat dilakukan bersamaan
2. Penelitian yang telah dilakukan oleh Kurniawan (2010) yang berjudul
”Pengontrolan
Alat
Elektronik
Rumah
Tangga
Menggunakan
Mikrokontroler AT89S52 berbasis WEB” diusulkan untuk memperbaiki
kekurangan yang ada pada penelitian sebelumnya, dimana kekurangan
pada penelitian sebelumnya tersebut masih belum terintegrasi dengan
baik. Untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem pada penelitian
sebelumnya, maka pada penelitian ini menggunakan metode berbasis
Internet Protocol (IP) dengan aplikasi Visual Basic. Namun, upaya
tersebut masih belum dapat diimplementasikan dan belum optimal karena
pada sistem ini masih menggunakan beberapa alat, sehingga proses
pengontrolan
kurang
efisien.
Penelitian
ini
juga
melakukan
pengendalian motor servo sebagai tindak lanjut dari penelitian yang
peneliti lakukan.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Insani (2008) yang berjudul “Metode
Pengontrolan Motor Dengan Sinyal GSM Pada Aplikasi Palang Pintu
Kereta Api”. Penelitian ini mambahas tentang pengontrolan palang pintu
kereta api dengan menggunakan sinyal GSM sebagai input. Sistem ini
juga meggunakan GPS (Global Positioning Sistem), GIS (Geographic
Information Sistem), VTS (Vehicle Tracking Sistem) jadi kita dapat
mengontrol sistem ini melalui jalur komunikasi dari jarak jauh. Cara kerja
pengontrolan adalah dengan pengiriman sinyal ke perangkat GSM dan
61
mikrokontroler, kemudian dilakukan pengontrolan palang pintu kereta
oleh mikrokontroler, dan adanya sinyak feedback jika terjadi kegagalan
pengontrolan.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Saputro (2010) yang berjudul “Robot
Internet Nirkabel ”. Penelitian ini membahas tentang mengendalikan
robot secara remote lokal, yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan
protokol TCP/IP. Robot Internet Nirkabel ini juga dapat dikendalikan
melalui jaringan internet dengan menggunakan Web Browser yang akan
membuka interface web Robot melalui internet. Akan tetapi dibutuhkan
sebuah teknologi Port Forwarding untuk bisa menghubungkan jaringan
internal robot dengan jaringan ip publik yang diberikan oleh Internet
Service Provider (ISP). Teknologi Port Forwarding dilakukan dengan
cara menyamakan port dari router yang terhubung dengan IP publik
dengan port yang berada pada wireless robot. Kemudian akan didapatkan
sebuah kombinasi IP publik dengan port yang akan menjadi IP publik dari
robot.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Istiyanto (2004) yang berjudul
“Rancangan dan Implementasi Prototipe Sistem Kendali Jarak Jauh
Berbasis AT89C52 Dan Layanan SMS GSM”. Penelitian ini membahas
tentang pengontrolan device dari jarak jauh memanfaatkan fitur SMS
yang ada pada handphone melalui jaringan telekomunikasi GSM.
Dari beberapa sumber literature review di atas, dapat diketahui bahwa
62
penelitian tentang sistem pengontrolan device melalui media handphone
ini sudah ada pada Perguruan Perguruan Tinggi Raharja. Untuk itu saya
melakukan penelitian ini yang berjudul “Desain dan Pengontrolan Sistem
Keamanan Kendaraan Bermotor Memanfaatkan Arduino Uno Berbasis
Mikrokontroller ATMega328 Melalui Media Handphone”.
Penelitian yang akan dilakukan oleh penulis mengambil konsep dari
beberapa penelitian di atas, dan merupakan pengembangan dari
penelitian sebelumnya. Sehingga penelitian yang dilakukan oleh penulis
merupakan penelitian level 2.
Download