Analisis Sifat Optik Non-Linier pada Polimer poli

advertisement
Analisis Sifat Optik Non-Linier pada Polimer poli (p-fenilen vinilen)
dengan Menggunakan Metode Pariser-Parr-Pople (PPP)
Studi kasus: Molekul Fenilen Vinilen
Eka Suarso
Abstrak: Bahan polimer merupakan bahan yang mempunyai potensi aplikasi sebagai
bahan optik untuk teknologi komunikasi. Bahan tersebut memiliki sistem ikatan
konjugasi yang mempunyai kontribusi penting terhadap sifat optik non-linier (ONL).
Salah satu bahan polimer yang banyak dipakai sebagai bahan optik adalah poli (pfenilen vinilen) (PPV). Dalam studi ini sudah ditinjau secara teoritis mengenai sifat
ONL dari polimer PPV, khususnya monomer fenilen vinilen. Sifat ONL tersebut
ditunjukkan oleh nilai polarisabilitas order kedua dan ketiga dari molekul yang
bersangkutan. Dengan menerapkan metode Pariser-Parr-Pople (PPP) dilakukan
perhitungan polarisabilitas order kedua (β) dari molekul fenilen vinilen. Hasil
perhitungan menunjukkan bahwa besar nilai polarisabilitas order kedua (β) bergantung
kepada energi foton (ћω) yang diberikan. Pada studi ini nilai β mencapai hasil
maksimal sebesar 14,8 au jika diekspos dengan energi foton (ћω) sekitar 4,2 eV.
Kata Kunci: Sifat optik non-linier (ONL), poli (p-fenilen vinilen) (PPV),
polarisabilitas order kedua (β), metode Pariser-Parr-Pople (PPP)
PENDAHULUAN
Poli (p-fenilen vinilen) (PPV)
Sifat
optik
nonlinier
merupakan salah satu polimer organik
didefinisikan
yang banyak dipakai sebagai bahan
disebabkan oleh pengaruh medan optik
optik dalam teknologi telekomunikasi
yang kuat terhadap suatu bahan5).
dan pemrosesan sinyal. Hal ini dise-
Untuk memahami sifat ONL kita harus
babkan karena PPV memiliki struktur
meletakkannya dalam kerangka polari-
ikatan elektron-π dan respon non-linier
sasi non-linier di dalam bahan akibat
1,2)
pengaruh medan elektromagnetik2,5).
terhadap cahaya
. Pengembangan
sebagai
(ONL)
Sifat
adanya
memodifikasi
kehadiran suseptibilitas yang bersifat
molekulnya melalui variasi panjang
non linier2,6). Dalam tingkat molekul,
ikatan, variasi rantai utama, variasi
suseptibilitas tersebut terkait dengan
rantai cabang, ataupun variasi donor-
polarisabilitas non-linier dari molekul
akseptor. Kondisi ini merupakan akibat
bersangkutan.
delokalisasi elektron- 
sifat
yang cukup
3,4)
dominan di sepanjang rantai polimer
ONL
ini
ditandai
yang
sifat PPV dapat diupayakan karena
kemungkinan
ONL
gejala
Secara
bahan
dengan
makroskopis
ditentukan
oleh
suseptibilitasnya, yaitu suatu besaran
.
Staf Pengajar PS Fisika FMIPA Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru
e-mail: [email protected]
165
166
Jurnal Fisika FLUX, Vol. 8, No. 2, Agustus 2011 (165 – 174)
yang menentukan besarnya respon
dari
non-linier bahan terhadap medan yang
merupakan monomer dari polimer Poli
bekerja. Sedangkan secara micros-
(p-fenilen
kopis sifat ONL bahan dipengaruhi oleh
menggunakan
struktur
Pariser-Parr-Pople (PPP).
molekulnya
(untuk
bahan
molekul
fenilen
vinilen)
vinilen,
(PPV)
metode
yang
dengan
semiempiris
anorganik) dan keberadaan struktur
elektronik yang terjadi sepanjang rantai
METODOLOGI PENELITIAN
polimer atau molekul (untuk bahan
organik/polimer)
2,4,6)
studi
ONL
sifat
. Oleh sebab itu
sistem
elektron
total
jamak
( Hˆ )
dari
merupakan
tingkat
penjumlahan dari Hamiltonian masing-
penting,
masing elektron dalam medan inti dan
khususnya yang terkait dengan nilai
medan elektron7,8). Menurut Hartree9),
polarisabilitasnya. Pada penelitian ini,
Hamiltonian total sistem elektron-π
akan
dalam satuan atom berbentuk:
monomernya
pada
Hamiltonian
dipandang
dilakukan
perhitungan
nilai
polarisabilitas non-linier order kedua (β)
)
h  core   1 2  2  
(
(1)
elektron9,10). Misalkan ψn merupakan
dengan:
a
za
r a
adalah
Hamiltonian teras dari elektron ke-  ,
yang menunjukkan interaksi antara
1
elektron-  dengan teras.
adalah
r 
energy potensial akibat pengaruh
interaksi elektron ke-  dan elektron
ke-  .
.....
)
(
z
1
1
Hˆ   h  core  1 2 
  1 2   2   a  1 2 

  r 

 a r a
  r 
sedangkan
1
r a
adalah energy
potensial akibat pengaruh interaksi
elektron ke-  dengan inti atom ke- a .
orbital molekul-orbital molekul yang
membentuk set lengkap, dengan n
menyatakan nomor orbital7,8,10), maka
interaksi antar elektron yang muncul
pada
Persamaan
bahwa permasalahan elektron jamak
disederhanakan menjadi masalah satu
dapat
disederhanakan sebagai penjumlahan
medan rata-rata yang dirasakan oleh
masing-masing elektron. Oleh sebab
itu
untuk
satu
elektron
berlaku
hubungan11):
F  n  n  n .
Adapun z a menunjukkan muatan inti
dari atom a .
Sementara Fock menjelaskan
(1)
Untuk
dapat
Hartree-Fock,
…..(2)
merealisasikan
C.C.J.
teori
Roothan12,13)
mengubah persamaan-persamaan di
atas ke dalam bentuk matriks, dengan
Suarso, E., Analisis Sifat Optik ..............
cara
mengemukakan
aproksimasi
atau
memakai
data
yang
167
telah
dalam pembentukan orbital molekul.
ada10,13,14). Dengan menggabungkan
Dalam hal ini setiap orbital molekul
Persamaan (2) dan (3), lalu dilakukan
dinyatakan sebagai kombinasi linier
proses
dari orbital atom, yang dikenal dengan
seluruh Cnµ, maka akan diperoleh
Molecular Orbital-Linear Combination
persamaan sekuler yang berbentuk10):
(
 F 
Dengan demikian:
 n    C n    ,
….. (3)

energi
terhadap
 n S  C n  0 , ….(5)
)
of Atomic Orbitals (MO-LCAO)7,8,9,10).
minimisasi
Persamaan ini dikenal sebagai
persamaan
Hartree-Fock-Roothan
dengan   adalah orbital atom ke-µ,
(HFR), yaitu sekumpulan persamaan
dan Cnµ merupakan koefisien LCAO
linier untuk menentukan energi orbital
bagi orbital atom ke-µ di dalam orbital
molekul
molekul ke-n.
koefisien
Orbital atom-orbital atom

harus dipilih secara tepat, sehingga
membentuk
set
lengkap,
dimana
berlaku {ψn} sebagai fungsi gelombang
{n }
dengan
LCAO
koefisien-
{Cnµ}
yang
bersangkutan. Dalam hal ini Fμυ adalah
matriks Fock, yaitu Hamiltonian efektif
satu elektron. Penyelesaian Persamaan
(5) dapat dilakukan dengan proses
diagonalisasi matriks F melalui iterasi
ternormalisasi10):
elemen matrik kerapatan order ikatan.
 n  n  C nC n    ,

Cara

seperti
ini
dikenal
sebagai
metode Self-Consisten-Field(SCF)10,15).
dengan
      1
jika µ = υ
     S
jika µ  υ
Pariser-Parr-Pople (PPP) mela...(4)
kukan penyempurnaan Persamaan (5)
dengan menggunakan konsep dasar
Di sini Sμυ merupakan integral overlap
elektron-  8,16), sehingga Persamaan
yang dapat diperoleh dari perhitungan
(6) dapat ditulis dalam bentuk:
F    I   12V  P    t   12V  P 1    
Berdasarkan konsep zero differential
aproksimasi
overlap
menjadi17,18):
(ZDO),
PPP
melakukan
F   I   12V  P
jika
 
F   t   12V  P
jika
 
dari
….. (7)
Persamaan
(7)
…... (8)
168
Jurnal Fisika FLUX, Vol. 8, No. 2, Agustus 2011 (165 – 174)
dengan Fμυ menunjukkan Hamiltonian
q    m n C nC n ,
efektif atau elemen matriks Fock, Iµ =
12,6 eV merupakan potensial ionisasi
elektron-π pada atom ke-µ. tμυ adalah
energi hoping elektron antara dua atom
bertetangga
terdekat,
yang
mempresentasikan harga ikatan, yang
besarnya -2,5 eV untuk ikatan rangkap
dan –2,3 eV untuk ikatan tunggal dan
δμυ adalah
delta
kronecker,
yang
jika   
1
 
0
jika   
Vμυ
,
merepresentasikan
potensial coulomb antara elektron ke-µ
dan ke-υ yang besarnya bergantung
atom.
Dalam
hal
ini
digunakan model Ohno16) yaitu:
V  
Parameter
karbon
didekati
jumlah elektron pada orbital molekul
tersebut.
Sedangkan
1  0,584r 2
.
….(9)
berikatan
dengan
atom
langsung,
rumus
empiris
ke-µ,
yang
Dengan
nilainya
komputasi
menggunakan
Self
Consistent Field (SCF).
Perumusan Polarisabilitas Order
Kedua (Β) Pada Molekul Fenilen
Vinilen
Sifat optik non-linier order kedua
untuk bahan organik pada tingkat
nilai polarisabilitas order kedua (β).
ini
ditentukan
oleh
berbagai faktor, antara lain19):
a. Kuat donor dan akseptor.
b. Panjang ikatan konjugasi.
rantai molekul untuk molekul yang
atom karbon berkaitan erat dengan
aromatik.
bentuk:
yang
pendekatan
mengandung
yang
satu.
pendekatan-pendekatan
Menurut Coulson16) jarak antara dua
tersebut,
adalah
c. Jenis cincin yang ada di sepanjang
r   1,52  0,21q  (Å) ….(10)
ikatan
dikenal
sebagai kerapatan elektron pada atom
Polarisabilitas
antara dua
Coulson, yaitu:
order
qµµ
mikroskopik dapat diungkapkan melalui
11,0
jarak
yang
molekul ke-n dan mn menunjukkan
perhitungan
potensial repulsif antar elektron atau
jarak
atom ke-µ dan ke-υ dalam orbital
Fock (Fμυ) dapat dilakukan melalui
Vµµ dikenal sebagai “on site potensial”,
pada
dengan qμυ adalah order ikatan antara
tersebut, penyelesaian elemen matriks
mempunyai nilai :
sedangkan
…..(11)
n
antara
kedua
diungkapkan
atom
dalam
Mengacu
gugus
kepada
senyawa
persamaan
suseptibilitas order kedua berikut:
Suarso, E., Analisis Sifat Optik ..............
Persamaan 12 harga polarisabilitas
polimer
order kedua (β), disepanjang rantai
bentuk5,20):
dirumuskan
dalam
1
E ng  
E mg
)
)
(

1
1
 nm  gm 

  E  2 

E




E



 E mg  
ng
mg
ng

)
(
mn
gn
)
(

..(12)


 2 
….. (13)
)
(


(
N
)
(
 xxx 
)
(
 ijk2
dapat




)
)
(
)
(
)
(
)
(
i
j
k
i
k
k
i

 gn
nm
mg
 gnj nm
mg
gnj nm
mg




*


 ng  2 p
mg   p
ng
 p
 mg   p
ng
 p
mg
 2 p
mn

)
(
N
2
(
)
(
ijk2 
169

 gn  g  n .
Dalam hal ini ΔEng adalah selisih
.....(14)
antara energi keadaan tereksitasi ke-n
dengan energi keadaan dasar, ΔEmg
Untuk
adalah selisih antara energi keadaan
mengandaikan
tereksitasi
energi
sumbu molekul terhadap mana medan
merupakan
listrik diarahkan, maka momen dipole
ke-m
dengan
keadaan dasar dan 
suatu
molekul,
jika
sumbu-x
kita
sebagai
transisinya:
besarnya energi foton medan radiasi
x  e  x p ,
yang digunakan. Adapun m dan n
…..(15)
p
menandakan keadaan tereksitasi ke-n
di mana xp menyatakan posisi atom
dan ke-m, sedangkan g menunjukkan
karbon
keadaan dasar.
Selanjutnya,
Apabila radiasi elektromagnetik
ke-p
harus
sepanjang
keadaan
dipandang
sumbu-x.
eksitasi
sebagai
n
eksitasi
diserap oleh suatu molekul, maka akan
elektron yang berlangsung dari orbital
terjadi transisi dari keadaan dasar ke
molekul ke-i ke orbital molekul ke-k,
keadaan tereksitasi yang melibatkan

momen dipole transisi  gn , yang
jadi
besarnya dapat dihitung dengan cara
diperoleh persamaan berikut:
n  ik ,
oleh
sebab
itu
berdasarkan persamaan (14) dan (15)
19,21)
kuantum

 gn  e g
x
p
p
ik  e C ip C kq x p  pq
…..(16)
pq
Dalam hal ini Cip dan Ckq adalah
keadaan tereksitasi ke-n dan ke-m,
koefisien
dihitung
kombinasi
linier.
Menurut
PPP momen dipol transisi antara dua
fungsi keadaan eksitasi, yaitu dari
rumus
dengan
17,18,19)
:
menggunakan
170
Jurnal Fisika FLUX, Vol. 8, No. 2, Agustus 2011 (165 – 174)
 nm  e C ip C kq x p
if
i  j

k  l
if
k  l

i  j
p
 nm   e C ipC jq x p
1
2
p
Dengan
e
adalah
muatan
……(17)
Struktur elektronik dari molekul
elektron yang besarnya 1 dalam satuan
Fenilen
atom (a.u). Berdasarkan Persamaan
mencakup besaran-besaran berikut:
(16) dan (17), kita dapat menghitung
1. Order Ikatan
harga polarisabilitas order kedua (β)
Vinilen,
Dengan
yang
memasukkan
dihitung
jumlah
untuk molekul Fenilen Vinilen dengan
elektron pada orbital molekul Fenilen
terlebih dahulu menghitung besaran-
Vinilen yang ke-n (mn = 2) dan koefisien
besaran struktur elektronik keadaan
kombinasi linier {Cnυ} yang diperoleh
dasar pada molekul tersebut dengan
dari hasil diagonalisasi matriks Fμυ ke
menggunakan
dalam persamaan (11) maka diperoleh
metode
perhitungan
semiempiris PPP.
nilai-nilai order ikatan qμυ sebagai
berikut:
q12 = q21 = 0,9662
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perhitungan polarisabilitas order
ke-2 () dari molekul Fenilen Vinilen
dilakukan
dengan
menggunakan
metode PPP secara komputasi. Dalam
studi ini perhitungan dilakukan dalam
dua tahap, yaitu
menghitung nilai
struktur elektronik dari molekul Fenilen
Vinilen, kemudian dilanjutkan dengan
menghitung harga polarisabilitas order
kedua
()
berdasarkan
nilai-nilai
struktur elektroniknya. Perhitungan ini
dilakukan
dengan
beberapa
parameter
menggunakan
empiris
diperoleh dari hasil eksperimen.
yang
q23 = q32 = 0,2545
q34 = q43 = 0,5671
q45 = q54 = 0,7460
q56 = q65 = 0,5832
q67 = q76 = 0,7361
q78 = q87 = 0,5953
q83 = q38 = 0,7146
Hasil perhitungan menunjukan
bahwa q12 merupakan order ikatan
yang terbesar, sementara q23 adalah
order ikatan yang paling kecil. Karena
order
ikatan
berkaitan
dengan
besarnya energi ikat atau jarak antara
dua atom maka energi ikat C1-C2 lebih
besar dari yang lainnya dan energi ikat
C2-C3 lebih kecil dari yang lainnya,
171
Suarso, E., Analisis Sifat Optik ..............
artinya semakin besar order ikatannya
maka
semakin
besar
pula
energi
Berdasarkan
nilai-nilai
order
ikatan tersebut, maka dapat diperoleh
ikatnya.
harga r dari Persamaan (10) seperti
2. Jarak antara dua atom karbon (r)
yang tercantum dalam tabel 1.
Tabel 1. Nilai jarak antara 2 atom karbon pada molekul PV.
Tunggal
Rangkap
Linier
1,47Å
1,32Å
Benzena
1,39 Å
1,37 Å
Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa
Coulomb, energi hopping dan order
ikatan tunggal lebih panjang daripada
ikatan, diperoleh hasil sebagai berikut:
ikatan rangkap baik pada rantai linier
maupun benzena.
3. Energi-energi eigen
Energi
eigen
diperoleh
proses diagonalisasi matriks
dari
Focks
 1  17,197eV
 2  14,115eV
 3  12,087eV
 4  11,298eV
Dari
nilai-nilai
5
6
7
8
di
 2,902eV
 2,113eV
 0,085eV
 2,9978eV
atas
diperoleh
yang diungkapkan oleh Persamaan (8).
susunan
Dengan mensubstitusi nilai potensial
Gambar 1 dan keadaan tereksitasinya
ionisasi (I) = 12,6 eV, potensial
dapat digambarkan seperti Gambar 2.
tingkatan
energi
seperti
Gambar 1. tingkatan energi MO (energi eigen)
 ik   45
 il   46
 kj   35
 lj   36
Gambar 2. tingkatan energi keadaan tereksitasi beserta fungsi keadaannya.
172
Jurnal Fisika FLUX, Vol. 8, No. 2, Agustus 2011 (165 – 174)
Dimana
besarnya
energi
yang
dibutuhkan untuk eksitasi berturut-turut:
R38 = R83 = 0,685 Å.
Berdasarkan
nilai-nilai
tersebut,
diperoleh jarak x berturut-turut sebagai
E 45   5   4  8,396eV
E
5
3
  5   3  9,185eV
E
6
4
6
3
  6   4  9,185eV
x(1) = x(2) + R(1,2) = 4,8869 Å,
  6   3  9,974eV
x(2) = x(3) + R(2,3) = 4,2283 Å,
E
berikut:
Untuk mempermudah perhitung-
x(3) = x(4) + (3,4) = 2,7624 Å,
an polarisabilitas non-linier order ke-2
x(4) = x(5) + (4,5) = 2,0625 Å,
( ), selanjutnya besaran-besaran yang
x(5) = R(5,6) = 0,6981 Å,
terkait harus diproyeksikan terhadap
x(6) = 0,
sumbu
x(7) = R(6,7) = 0,6833 Å,
x
sebagai
sumbu
molekul
(Gambar 3), sehingga diperoleh harga-
x(8) = x(7) + R(7,8) = 2,0769 Å.
harga sebagai berikut:
Kemudian masukkan nilai x
dan koefisien kombinasi linier {Cnυ}
kedalam Persamaan (16) dan (17)
maka didapatkan harga momen dipole
berturut-turut :
Gambar 3. Proyeksi jarak antara 2
atom karbon pada polimer PPV.
µ01 = 1,1132;
µ02 = 0,6214;
µ03 = 0,5482;
Pada Gambar 3 terlihat bahwa
µ04 = - 0,2054;
untuk r12, r34, r56, r67 dan r38 terproyeksi
µ12 = µ34 = 0,7595; dan
terhadap sb-x sebesar R = r cos
µ13 = µ24 = - 0,3128 .
(/3), sehingga diperoleh hasil lengkap
untuk R proyeksi berturut-turut:
Selanjutnya dengan mensub-
R12 = R21 = 0,660 Å;
stitusi harga momen dipole dan selisih
R23 = R32 = 1,470 Å;
enegi keadaan ke dalam Persamaan
R34 = R43 = 0,695 Å;
(13), lalu memplotnya terhadap besar
R45 = R54 = 1,370 Å;
energi foton (ħω), diperoleh grafik
R56 = R65 = 0,695 Å;
hubungan antara
R67 = R76 = 0,685 Å;
terhadap energi eigen (ħω) seperti
R78 = R87 = 1,390 Å; dan
gambar berikut:
polarisabilitas xxx
Suarso, E., Analisis Sifat Optik ..............
173
Gambar 4. Grafik hubungan antara Polarisabilitas order ke-2 (Bxxx)
terhadap Energi Foton (ħω)
Dari grafik terlihat bahwa harga 
karbon
bergantung pada nilai energi foton
panjang ikatan tunggal 1,47Å dan
(ħω),
panjang
yaitu
mencapai
harga
untuk
ikatan
rantai
linier
rangkapnya
untuk
1,32Å,
maksimal sebesar 14,8 a.u jika
sementara
diekspos dengan energi foton (ħω)
panjang ikatan tunggal 1,39Å dan
sekitar 4,2 eV.
panjang
ikatan
gugus
adalah
rangkapnya
benzena
1,37Å.
Dengan demikian berdasarkan struktur
elektronik tersebut diperoleh nilai 
KESIMPULAN
Dalam paper ini telah dihitung
mencapai harga maksimal sebesar
polarisabilitas non-linier order ke-2 ()
14,8 a.u jika diekspos dengan energi
pada molekul fenilen vinilen dengan
foton (ħω)
menggunakan
menunjukkan
metode
semiempiris
sekitar 4,2 eV. Hasil ini
bahwa
besar
PPP. Dari hasil perhitungan diperoleh
polarisabilitas non-linier order ke-2 ()
nilai
bergantung kepada energi foton yang
order
ikatan
berkisar
antara
0,2545 - 0,9662. Jarak antar atom
diberikan.
174
Jurnal Fisika FLUX, Vol. 8, No. 2, Agustus 2011 (165 – 174)
DAFTAR PUSTAKA
1)
Anthony Garito, Rui Fang Shi and
Marvin Wu. Nonlinear Optics of
Organics and Polymer Materials,
Physics Today, 51, (May 1994).
2)
Paras N. Prasad and D. J.
Williams, Introduction to nonlinier
optical effects in molecules and
polymers, John Willey and Sons,
inc. New York, (1991).
3)
Camellia Panatarani dan R.E.
Siregar,
Sintesis
PPV
dan
Karakteristiknya,, skripsi, 7, 12-13
Mei (1998).
4)
5)
6)
E. Suarso, F. Fitrilawati, K.M. Liu
dan R. E. Siregar (2003), “Studi
Sifat Optik Non Linier Molekul
Fenilen
Vinilen
dengan
Menggunakan Metode PariserParr-Pople (PPP)”, Simposium
Polimer Nasional IV, Jakarta.
Robert W. Boyd, Non Linear
Optics, Acad. Press. Inc. Harcourt
Brace Jovanovich,
Publisher,
(1992).
Hamidillah Ajie dan R.E. Siregar,
Perhitungan Efek Optik Nonliliner
Order Ketiga pada Turunan
Molekul Stilbene, Skripsi, 4,
Februari (1998).
7)
Eyring, Walter and Kimball,
Quantum Chemistry, John Willey
and Sons.Inc. New York, (1994)
bab XII dan XIII.
8)
Frank. L. Pilar, Elementary
Quantum
Chemistry,
Second
Edition, Mc Graw Hill, International
Edition, (1990).
9)
A.K.
Chandra,
Introduction
Quantum Chemistry, Tata Mc
Graw-Hill, New Delhi, (1979).
10) Rustam E. Siregar, Metode
Semiempiris
Kimia
Kuantum
Aplikasi
dalam
Spektroskopi
Molekul, Universitas Padjadjaran,
(1989).
11) M. Kotani, Quantum Mechanics of
Elektronic Structure of Simple
Molecul, Handbuch Der Physics.
S.Fluggeced,
Vol.
XXXVI/2,
(1961).
12) C.C. J. Roothan, Rev.Mod.Phys,
23, 69, (1951).
13) C.C. J. Roothan, J.Chem.Phys,
19, 1445, (1951).
14) E. Clementi et.al, J.Chem.Phys,
38, 2686, (1963).
15) K.F. Freed, Acc.Chem.Res, 16,
1379, (1983).
16) H. Suzuki, Elektron Absorbtion
Spectra
and
Geometry
of
Organics Molecules, Acad. Press,
(1967).
17) J.A.
Pople,
Proc.Phys.Soc,
(London) A 68, 81, (1955).
18) R.G. Parr, J.Chem.Phys,
1184, (1960).
23,
19) M.O.
Tjia,
Synthesis,
Characterization and Application
of Conjugated Chain Nonlinear
Material, Laporan Hasil Penelitian
Tahap I Program Hibah Tim
Penelitian Pasca Sarjana/URGE,
Jurusan Fisika ITB Bandung,
1997.
20) R. Holfmann, J.Chem.Phys, 39,
1397, (1963).
21) P.A. Franken, A.E. Hill, C.W.
Peters,
G.
Weinreich,
Phys.Rev.Lett. 7, 118, (1961).
Download