Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Manajemen Keuangan
2.1.1 Pengertian Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan mempunyai peranan yang sangat penting di dalam
perusahaan. Karena tugas dari manajemen keuangan tidak hanya mencatat,
membuat laporan, mengandalikan posisi kas dan mencari dana. Akan tetapi,
manajer keuangan juga harus mampu menginvestasikan dana. Menurut Gitman &
Zutter (2012 : 4) Manajemen keuangan bisa didefisinikan sebagai sains dan seni
dalam mengelola uang. Dalam tingkat individual/pribadi, keuangan berkaitan
dengan keputusan individual mengenai seberapa banyak setiap individu
menghabiskan
pendapatan
mereka,
seberapa
banyak
setiap
individu
menyimpannya, dan bagaimana setiap individu menginvestasikan uang simpanan
mereka. Dalam konteks bisnis, manajemen keuangan melibatkan bentuk
keputusan yang sama dengan konteks individual: bagaimana perusahaan
mengumpulkan uang dari investor, bagaimana perusahaan menginvestasikan uang
dalam upaya untuk mendapatkan keuntungan dan bagaimana perusahaan
memutuskan untuk menginvestasikan kembali keuntungan dalam bisnis atau
mendistribusikan kembali keuntungan tersebut kepada investor.”
Adapun pengertian manajemen keuangan menurut Kamaludin, (2011:1)
adalah :
“Upaya untuk mendapatkan dana dengan cara yang paling
menguntungkan serta mengalokasikan dana secara efisien dalam
perusahaan sebagai sarana untuk mencapai sasaran bagi pemegang
saham.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen keuangan
merupakan aktivititas yang berkaitan dengan menginvestasikan uang dalam upaya
untuk mendapatkan keuntungan, menginvestasikan kembali keuntungan tersebut
sebagai sarana untuk mencapai sasaran bagi pemegang saham.
17
2.2
Pasar Modal
2.2.1 Pengertian Pasar Modal
Apabila pemodal ingin melakukan investasi dalam bentuk aktiva riil,
aktiva finansial ataupun sekuritas, maka pemodal tersebut turut ikut serta di pasar
modal. Definisi pasar modal menurut Brigham dan Houston (2010:190) yang
diterjemahkan oleh Ali Akbar Yulianto adalah :
“Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk utang jangka
menengah dan jangka panjang serta saham perseroan.”
Sedangkan definisi pasar modal menurut Irham Fahmi, (2012:55) adalah:
“Pasar modal adalah tempat dimana berbagai pihak khususnya
menjual saham (stock) dan obligasi (bond) dengan tujuan dari hasil
penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan
dana atau untuk memperkuat modal perusahaan.”
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pasar modal
merupakan tempat bertemunya pihak yang mempunyai kelebihan dana dan pihak
yang memerlukan dana dengan memperjualbelikan aset finansial jangka panjang.
2.3
Teori Keagenan (Agency Theory)
2.3.1 Pengertian Agency Theory
Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham
(shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen
merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi
kepentingan pemegang saham. Karena mereka dipilih, maka pihak manejemen
harus
mempertanggungjawabkan
semua
pekerjaannya
kepada
pemegang
saham(Randy Ichsan, 2013).
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak antara principal dengan
agent. Menurut Darmawati et al. (2005) dalam Agung Anugrah Sutisna (2014)
inti dari hubungan keagenan adalah adanya pemisahan antara kepemilikan
(principal/investor) dan pengendalian (agent/manajer). Kepemilikan diwakili oleh
investor yang mendelegasikan kewenangan kepada agen dalam hal ini manajer
untuk mengelola kekayaan investor. Investor mempunyai harapan bahwa dalam
18
mendelegasikan wewenang pengelolaan tersebut, mereka akan memperoleh
keuntungan dengan bertambahnya kekayaan dan kemakmuran investor.
Setyapurnama dan Norpratiwi (2004) dalam Agung Anugrah Sutisna
(2014) menyatakan hubungan keagenan dapat menimbulkan masalah pada saat
pihak-pihak yang bersangkutan mempunyai tujuan yang berbeda. Pemilik modal
menghendaki bertambahnya kekayaan dan kemakmuran para pemilik modal,
sedangkan manajer juga menginginkan bertambahnya kesejahteraan bagi para
manajer. Dengan demikian munculah konflik kepentingan antara pemilik
(investor) dengan manajer (agen) yang biasa disebut masalah keagenan (agency
problem).
Masalah keagenan (agency problem) terjadi karena adanya pemisahan fungsi
kepemilikan dan fungsi pengelolaan perusahaan yang menimbulkan konflik
(Jensen dan Meckling, 1976). Penyebab konflik antara pemilik dengan manajer
diantaranya adalah membuat keputusan yang berkaitan dengan aktivitas pencairan
dana dan penggunaan dana, yang apabila diabaikan akan berdampak pada
penurunan kinerja perusahaan oleh manajer. Konflik kepentingan antara manajer
dan pemegang saham dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme yang dapat
mensejajarkan kepentingan-kepentingan terkait. Ada beberapa alternatif untuk
mengurangi masalah keagenan (agency problem), dengan adanya kepemilikan
saham oleh institusional dan kepemilikan saham oleh manajemen (Tendi
Haruman, 2008). Namun dengan munculnya mekanisme pengawasan tersebut
akan menimbulkan biaya yang disebut agency cost.
2.4
Struktur Kepemilikan
Dengan semakin berkembangnya suatu perusahaan, pemilik tidak mungkin
melaksanakan semua fungsi yang dibutuhkan dalam pengelolaan suatu
perusahaan, karena keterbatasan kemampuan, waktu, dan sebagainya. Dalam
kondisi yang demikian pemilik perlu menunjuk pihak lain (agen) yang
profesional, untuk melaksanakan tugas mengelola kegiatan yang lebih baik.
19
Struktur
kepemilikan
(Ownership
Structure)
adalah
komposisi
kepemilikan dalam perusahaan yang mempengaruhi kinerja suatu perusahaan.
Menurut Sugiarto (2009:59) struktur kepemilikan adalah :
“Struktur kepemilikan saham, yaitu perbandingan jumlah saham
yang dimiliki oleh orang dalam (insider) dengan jumlah saham yang dimiliki
oleh investor. Atau dengan kata lain struktur kepemilikan saham adalah
proporsi kepemilikan institusional dan kepemilikan manajemen dalam
kepemilikan saham perusahaan. Dalam menjalankan kegiatannya suatu
perusahaan diwakili oleh direksi (agent) yang ditunjuk oleh pemegang saham
(principals).”
Sedangkan menurut I Made Sudana (2011:11) menyatakan struktur
kepemilikan adalah :
“Struktur” kepemilikan merupakan pemisahan antara pemilik
perusahaan dan manajer perusahaan. Pemilik atau pemegang saham adalah
pihak yang menyertakan modal kedalam perusahaan, sedangkan manajer
adalah pihak yang ditunjuk pemilik dan diberi kewenangan mengambil
keputusan dalam mengelola perusahaan, dengan harapan manajer bertindak
sesuai dengan kepentingan pemilik.”
Tujuan perusahaan adalah memaksimumkan kemamkmuran pemegang
saham yang diterjemahkan sebagai memaksimumkan harga saham. Tetapi dalam
kenyataannya tidak jarang manajer memiliki tujuan yang lain yang mungkin
bertentangan dengan tujuan utama tersebut. Manajer diberi kekuasaan oleh
pemilik kekuasaan yaitu pemegang saham, untuk membuat keputusan dan hal ini
menciptakan konflik potensial atas kepentingan yang disebut teori agen (agency
theory) (Brealey, Myers dan Marcus, 2008:14).
2.4.1 Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan
pengambilan keputusan. Manajer dalam hal ini memegang peranan penting karena
manajer melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan
serta pengambilan keputusan. Menurut Herman Darwis (2009) dalam Riska
Maliana (2015) pengertian kepemilikan manajerial adalah :
“Kepemilikan manajerial adalah pemegang saham dari pihak
manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan
perusahaan (direktur dan komisaris).”
20
Sedangkan menurut Imanta dan Satwiko (2011:68) kepemilikan manajerial
adalah :
“Merupakan kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manager
atau dengan kata lain manager juga sekaligus sebagai pemegang
saham.”
Kepemilikan manajerial merupakan salah satu cara untuk mengurangi
masalah keagenan, hal ini dikarenakan kepemilikan manajerial merupakan alat
pengawasan terhadap kinerja manajer yang bersifat internal. Biasanya manajer
lebih mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak
menyukai kepentingan pribadi tersebut. Dengan adanya kepemilikan manajerial
diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan sebagai akibat kepemilikan
manajemen yang meningkat. Kepemilikan oleh manajemen yang besar akan
efektif memonitoring aktivitas perusahaan. Menurut Herman Darwis (2009)
dalam Riska Maliana (2015) kepemilikan manajerial dapat diukur sebagai
berikut :
Kepemilikan Manajerial =
∑
∑
2.4.2 Kepemilikan Institusional
%
Kepemilikan institusional merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja perusahaan (Wening, 2007 dalam Waryanto, 2010).
Adanya kepemilikan oleh institusional akan mendorong peningkatan pengawasan
yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen, karena kepemilikan saham
mewakili suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau
sebaliknya terhadap kinerja manajemen. Menurut Juniarti dan Sentosa ( 2009)
dalam Yeterina dan Shella (2012) pengertian kepemilikan institusional adalah
sebagai berikut :
“Kepemilikan Institusional merupakan presentase kepemilikan
perusahaan yang dimiliki oleh investor institusional seperti
pemerintah, perusahaan investasi, bank, perusahaan asuransi
maupun kepemilikan lembaga dan perusahaan lain.”
Sedangkan kepemilikan institusional yang dikemukakan oleh Herman
Darwis (2009) dalam Riska Maliana (2015) adalah :
21
“Pemegang saham dari pihak institusi seperti bank, lembaga asuransi,
perusahaan investasi dan institusi lainnya.”
Dalam hubungannya dengan fungsi monitoring, investor institusional
diyakini memiliki kemampuan untuk memonitoring tindakan manajemen lebih
baik dibandingkan investor individual. Ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh
investor institusional sangat tergantung pada besarnya investor yang dilakukan.
Semakin besar kepemilikan oleh institusi keuangan untuk mengawasi manajemen
dan
akibatnya
akan
memberikan
dorongan
yang
lebih
besar
untuk
mengoptimalkan nilai perusahaan sehingga kinerja perusahaan juga akan
meningkat. Menurut Herman Darwis (2009) dalam Riska Maliana (2015)
kepemilikan institusional dapat diukur dari jumlah presentasi saham yang dimiliki
oleh institusi.
Kepemilikan Institusional =
2.5
∑
∑
%
Kinerja Perusahaan
Kinerja keuangan perusahaan disebut juga suatu penentuan yang
mengukur mengenai baik buruknya perusahaan dalam prestasi kerja dapat dilihat
dari kondisi keuangannya pada periode tertentu. Kondisi keuangan dianalisis
dengan alat-alat analisis keuangan.
Menurut Irham Fahmi (2012:2) pengertian kinerja keuangan adalah
sebagai berikut:
“Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk
melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan
menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan
benar.”
Berdasarkan pengertian
diatas dapat
disimpulkan bahwa kinerja
merupakan hasil atau prestasi yang dicapai perusahaan mengenai posisi keuangan
perusahaan. Kinerja perusahaan digunakan untuk melihat seberapa jauh hasil kerja
dari pihak manajemen untuk mencapai tujuan perusahaan yang dapat dilihat dari
laporan keuangan perusahaan.
22
2.5.1 Pengukuran Kinerja Perusahaan
Rasio keuangan merupakan alat utama untuk menganalisa keuangan. Ada
dua kelompok yang menganggap rasio keuangan berguna. Pertama, terdiri dari
manajer yang menggunakannya untuk mengukur dan melacak kinerja perusahaan
sepanjang waktu. Kedua, pengguna rasio keuangan mencakup para analis yang
merupakan pihak ekternal bagi perusahaan.
Rasio keuangan sangat penting dalam melakukan analisis terhadap kondisi
keuangan perusahaan. Menurut Hanafi (2012:36) ada lima jenis rasio keuangan
yang sering digunakan:
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek
2. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam
menggunakan asetnya dengan efisien.
3. Rasio Utang atau Leverage
Rasio utang atau leverage adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahan
dalam memenuhi total kewajibannya.
4. Rasio Keuntungan atau Profitabilitas
Rasio Keuntungan atau Profitabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan profit atau laba.
5. Rasio Pasar
Rasio pasar adalah rasio yang mengukur prestasi pasar relatif terhadap nilai
buku, pendapatan, atau dividen.
2.5.2 Rasio Profitabilitas
Menurut Harahap (2013:304) mengungkapkan bahwa rasio profitabilitas
adalah:
“Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan
mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber daya
yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan,
jumlah cabang, dan sebagainya. Rasio ini menggambarkan
kemampuan perusahaan menghasilkan laba.”
23
Sedangkan, menurut Gitman (2012:629)
“Profitabilitas adalah hubungan antara pendapatan dan biaya-biaya
yang dihasilkan dengan penggunaan asset perusahaan yang lancar
dan tetap dalam aktivitas produktif”.
Analisis
profitabilitas
memberikan
bukti
pendukung
mengenai
kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dan sejauh mana efektivitas
pengelolaan perusahaan. Alat-alat analisis yang sering digunakan untuk analisis
profitabilitas adalah rasio profitabilitas Return on Asset (ROA) dan Return on
Equity (ROE). Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan
perusahaan dalam mencari laba atau keuntungan.
2.5.3 Return on Assets (ROA)
Return on Assets menurut Kasmir (2012:201) adalah rasio yang
menunjukan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan.
Sedangkan menurut I Made Sudana (2011:22) mengemukakan bahwa
Return On Assets (ROA) menunjukan kemampuan perusahaan dengan
menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah
pajak.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Return On Asset (ROA)
adalah rasio yang menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh
dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan. Karena itu digunakan angka
laba setelah pajak dan rata-rata kekayaan perusahaan. Dengan demikian rasio ini
menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasinya perusahaan dengan
jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan
operasi tersebut.
Selain itu, ROA memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas
perusahaan karena menunjukan efektivitas manajemen dalam menggunakan
aktiva untuk memperoleh pendapatan. Rasio ini digunakan untuk mengukur
kemampuan manajemen perusahaan dalam memperoleh keuntungan (laba) secara
keseluruhan. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik
produktivitas asset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya
akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik
24
perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin diminati investor, karena
tingkat pengembalian akan semakin besar. Menurut Harahap (2013:305)
semakin besar ROA, berarti bahwa aktiva lebih cepat berputar untuk meraih laba.
Berikut ini rumus untuk menghitung beberapa ukuran kinerja tersebut diatas
menurut I Made Sudana (2011:22) :
Return on Assets (ROA) =
(
)
%
2.5.4 Return on Equity (ROE)
Menurut Kasmir (2012:204) Return On Equity (ROE) adalah rasio untuk
mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri”.
Sedangkan menurut Irham Fahmi (2012:98) Return On Equity (ROE)
adalah rasio yang digunakan untuk mengkaji sejauh mana suatu perusahaan
mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas
ekuitas.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa rasio ini merupakan
perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri dan sejauh
mana perusahaan mampu memberikan laba atas ekuitas.
Return On Equity (ROE) juga digunakan untuk mengukur tingkat
pengembalian perusahaan atau efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan
keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas (shareholders’ equity) yang dimiliki
oleh perusahaan. Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin efisien perusahaan
menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan laba atau keuntungan bersih,
maka dari itu suatu perusahaan memiliki peluang untuk memberikan pendapatan
yang besar bagi para pemegang saham. Berikut ini rumus untuk menghitung
beberapa ukuran kinerja tersebut diatas menurut Irham Fahmi (2012:98) :
2.6
Return on Equity (ROE) =
Laporan Keuangan
(
)
%
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang
terjadi dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Di dalam laporan keuangan
setiap transaksi yang terjadi dalam organisasi atau perusahaan dicatat,
25
diklarifikasikan yang pada akhirnya laporan keuangan ini dapat dijadikan media
untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan serta dapat
dijadikan sebagai sarana informasi dalam proses pengambilan keputusan.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai laporan
keuangan, berikut dikemukakan pengertian laporan keuangan menurut Harahap
(2013:105) yaitu :
“Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil
suatu usaha perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu
tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah:
neraca atau lapran laba/rugi, atau hasil usaha, laporan arus kas,
laporan perubahan posisi keuangan”.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulka bahwa laporan keuangan
perusahaan
terdiri dari laporan-laporan yang melaporkan posisi keuangan
perusahaan pada suatu waktu tertentu yang dilaporkan dalam neraca dan
perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas
dimana neraca menunjukan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan.
Laporan laba-rugi menunjukan hasil operasi suatu perusahaan selama periode
tertentu. Sedangkan laopran perubahan ekuitas menunjukan sumber dan
penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan.
2.6.1 Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat karena memiliki suatu tujuan. Menurut Hanafi
(2012:27) tujuan laporan keuangan adalah :
“Laporan keuangan perusahaan bertujuan meringkas kegiatan dan
hasil dari kegiatan tersebut untuk jangka waktu tertentu”
Sedangkan menurut Sutriono (2009:9) tujuan utama dari laporan
keuangan adalah sebagai berikut :
“Laporan keuangan sidudun dengan maksud untuk menyediakan
informasi keuangan suatu perusahaan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan sebagai bahan pertimbangan di dalam mengambil
keputusan. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut antara lain
manajemen, pemilik, kreditor, investor dan pemerintah”.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari laporan
keuangan adalah menyediakan informasi keuangan yang dapat menggambarkan
26
kinerja keuangan perusahaan sehingga laporan keuangan ini dapat digunakan
sebagai acuan dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan ini tidak hanya
bermanfaat bagi perusahaan tetapi juga bagi pihak-pihak lain yang ingin
mengetahui kondisi perusahaan terutama kinerja keuangan perusahaannya.
2.6.2 Manfaat Laporan Keuangan
Selain memiliki tujuan yang hendak dicapai, laporan keuangan juga
memiliki beberapa manfaat. Menurut Irham Fahmi (2011:4) manfaat laporan
keuangan adalah sebagai berikut :
“Untuk mengukur hasil usaha dan perkembangan perusahaan dari
waktu ke waktu dan untuk mengetahui sudah sejauh mana
perusahaan mencapai tujuannya”
2.7
Penelitian Terdahulu
Beberapa hasil penelitian terdahulu akan dijelaskan secara ringkas karena
penelitian ini mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya. Meskipun ruang
lingkup hampir sama tetapi karena obyek dan periode waktu yang digunakan
berbeda, maka dapat dijadikan referensi untuk melengkapi. Berikut ringkasan
penelitian terdahulu :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
1
Peneliti/
tahun
Arum
Ardianings
ih dan
Komala
Ardiyani
(2010)
Judul
Variabel
ANALISIS
PENGARU
H
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN
TERHADA
P KINERJA
PERUSAHA
AN
X1=kepemili
kan
manajerial
X2=kepemili
kan
institusional
Y= kinerja
perusahaan
27
Rasio
Hasil
return on 1. secara parsial struktur
asset
kepemilikan manajerial
(ROA)
dan variabel Return on
asset (ROA) berpengaruh
signifikan terhadap kinerja
perusahaan
2. secara simultan
menunjukkan bahwa
semua variabel tidak
berpengaruh secara
signifikan terhadap
kinerja perusahaan.
2
Ajeng
Asmi
Mahaputer
i dan
I.Kt.Yadny
ana (2014)
3
Puspito
(2011)
PENGARU
H
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN,
KEBIJAKA
N
PENDANA
AN DAN
UKURAN
PERUSAHA
AN PADA
KINERJA
PERUSAHA
AN
PENGARU
H
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN PADA
KINERJA
PERUSAHA
AN
DENGAN
STRUKTUR
MODAL
SEBAGAI
PEMODER
ASI
X1=
Kepemilikan
Manajerial
X2=
Kepemilikan
Institusional
X3=
Kebijakan
Pendanaan
X4= Ukuran
Perusahaan
Y= Kinerja
Perusahaan
Return
on
Equity
(ROE)
1. Kepemilikan manajerial
berpengaruh negatif
signifikan terhadap kinerja
perusahaan
2. Kepemilikan
Institusional berpengaruh
negatif signifikan terhadap
kinerja perusahaan
3. Kebijakan Pendanaan
tidak berpengaruh
signifikan terhadap kinerja
4. Ukuran Perusahaan
tidak berpengaruh
signifikan terhadap kinerja
X1= struktur
kepemilikan
manajerial
X2= struktur
kepemilikan
institusional
Y = kinerja
perusahaan
Z = struktur
modal
Return
On
Equity
(ROE)
1.Tidak ada pengaruh
antara struktur
kepemilikan manajerial
terhadap kinerja
perusahaan
2. Tidak ada pengaruh
antara struktur
kepemilikan institusional
terhadap kinerja
perusahaan
3.ada pengaruh yang
signifikan antara variabel
moderasi (interaksi SKM
dan SM) terhadap kinerja
perusahaan, yang
memperkuat pengaruh
antara struktur
kepemilikan manajerial
terhadap kinerja
perusahan.
4.ada pengaruh yang
signifikan antara variabel
moderasi (interaksi SKM
dan SM) terhadap kinerja
perusahaan, yang
memperlemah pengaruh
antara struktur
kepemilikan manajerial
terhadap kinerja
perusahan.
28
4
Titis
Waskito
(2014)
PENGARU
H
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN
MANAJERI
AL,
KEPEMILI
KAN
INSTITUSI
ONAL, DAN
UKURAN
PERUSAHA
AN
TERHADA
P KINERJA
KEUANGA
N
(Ditinjau
Dari
Perusahaan
Manufaktur
Yang
Terdaftar Di
Bursa Efek
Indonesia
Tahun 2008
Sampai
Dengan
Tahun 2011)
X1=
kepemilikan
manajerial
X2=
kepemilikan
institusional
X3= ukuran
perusahaan
Y= kinerja
keuangan
29
Return
on asset
(ROA)
1.variabel kepemilikan
manajerial mempunyai
pengaruh
positif terhadap kinerja
keuangan
2. variabel kepemilikan
institusi mempunyai
pengaruh negatif terhadap
kinerja keuangan
3. variabel ukuran
perusahaan
tidak mempunyai
pengaruh positif terhadap
kinerja keuangan
4. variable kepemilian
manajerial, kepeilikan
institusi dan ukuran
perusahaan merupakan
penjelas yang signifikan
dan
bersama-sama
berpengaruh terhadap
kinerja keuangan
5
Denny
Andika
Rahman
(2010)
PENGARU
H
INSTITUTI
ONAL
OWNERSH
IP, BOARD
INDEPEND
ENCE DAN
AUDIT
COMMITT
E
MEETING
FREQUEN
CY
TERHADA
P
FINANCIA
L
PERFORM
ANCE
PERUSAHA
AN
MANUFAK
TUR YANG
TERDAFTA
R DI
BURSA
EFEK
INDONESI
A
X1=
institusional
ownership
X2= board
independence
X3= audit
committe
meeting
frequency
Y= financial
performance
30
Return
on
Equity
(ROE)
1.variabel
institusional
ownership
berpengaruh
positif terhadap kinerja
perusahaan
2.variabel
board
independence berpengaruh
positif terhadap kinerja
keuangan perusahaan
3.variabel audit committe
meeting
frequency
berpengaruh
positif
terhadap kinerja keuangan
perusahaan
6
Yulius
Ardy
Wiranata
(2013)
PENGARU
H
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN
TERHADA
P KINERJA
PERUSAHA
AN
MANUFAK
TUR DI
INDONESI
A
X1=kepemili
kan asing
X2=
kepemilikan
pemerintah
X3=kepemili
kan
manajerial
X4=
kepemilikan
institusional
X5=
kepemilikan
keluarga
Y= kinerja
perusahaan
Return
On Asset
(ROA)
7
Yeterina
Widi
Nugrahanti
dan
Shella
Novia
(2012)
PENGARU
H
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN
SEBAGAI
MEKANIS
ME
CORPORA
TE
GOVRNAN
CE
TERHADA
P KINERJA
PERBANK
AN
X1=
kepemilikan
asing
X2=
kepemilikan
pemerintah
X3=kepemili
kan
institusional
X4=
kepemilikan
manajerial
Y= kinerja
perbankan
Return
On
Assets
(ROA)
31
1.kepemilikan
asing
berpengaruh
positif
signifikan terhadap kinerja
perusahaan manufaktur
2.kepemilikan pemerintah
tidak
berpengaruh
terhadap
kinerja
perusahaan manufaktur
3.
kepemilikan
institusional
tidak
berpengaruh
terhadap
kinerja
perusahaan
manufaktur
4. kepemilikan manajerial
tidak
berpengaruh
terhadap
kinerja
perusahaan manufaktur
5. kepemilikan keluarga
berpengaruh
negatif
signifikan terhadap kinerja
perusahaan manufaktur
6.ukuran perusahaan tidak
berpengaruh
terhadap
kinerja
perusahaan
manufaktur
7.leverage
berpengaruh
positif terhadap kinerja
perusahaan manufaktur.
1.kepemilikan asing tidak
berpengaruh
terhadap
kinerja perbankan
2.kepemilikan pemerintah
tidak
berpengaruh
terhadap kinerja perbankan
3.kepemilikan institusional
berpengaruh
positif
terhadap kinerja perbankan
4. kepemilikan manajerial
tidak
berpengaruh
terhadap kinerja perbankan
5.ukuran
bank
berpengaruh
positif
terhadap
kinerja
perbankan.
8
Ridho Alief
Noviawan
dan Aditya
Septiani
(2013)
PENGARU
H
MEKANIS
ME
CORPORAT
E
GOVERNAN
CE DAN
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN
TERHADA
P KINERJA
KEUANGA
N
9
DINI
PENGARU
NUR’AENI H
(2010)
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN
SAHAM
TERHADA
P KINERJA
PERUSAHA
AN
X1= ukuran
return on
dewan
assets
komisaris
(ROA).
X2=
komisaris
independen
X3= ukuran
dewan direksi
X4= ukuran
komite audit
X5=
kepemilikan
institusional
X6=
kepemilikan
manajerial
Y= kinerja
keuangan
X1=
kepemilikan
manajerial
X2=
kepemilikan
institusional
X3=
kepemilikan
publik
X4=
kepemilikan
asing
Y= kinerja
perusahaan
32
Return
on
Assets
(ROA)
1. ukuran dewan komisaris
berpengaruh positif tidak
signifikan terhadap kinerja
keuangan
2. komisaris independen
berpengaruh negatif tidak
signifikan terhadap kinerja
keuangan.
3. ukuran dewan direksi
berpengaruh
positif
signifikan
terhadap kinerja keuangan.
4. ukuran komite audit
berpengaruh negatif tidak
signifikan terhadap kinerja
keuangan.
5.
kepemilikan
institusional berpengaruh
positif
signifikan terhadap kinerja
keuangan.
6. kepemilikan manajerial
berpengaruh positif tidak
signifikan terhadap kinerja
keuangan.
1. kepemilikan saham oleh
jajaran manajerial dalam
perusahaan
tidak
berpengaruh
terhadap
kinerja perusahaan
2. kepemilikan saham
institusional
berpengaruh
positif
terhadap
kinerja
perusahaan
3. kepemilikan saham
publik tidak berpengaruh
terhadap
kinerja
perusahaan
4. kepemilikan saham
asing
berpengaruh
positif
terhadap
kinerja
perusahaan
10
MG.
Kentris
Indarti dan
Lusi
Extaliyus
(2013)
PENGARU
H
CORPORAT
E
GORVERNA
NCE
PRECEPTI
ON INDEX
(CGPI),
STRUKTUR
KEPEMILI
KAN, DAN
UKURAN
PERUSAHA
AN
TERHADA
P KINERJA
KEUANGA
N
X1= Good
Corporate
Governance
X2=
kepemilikan
manajerial
X3=
kepemilikan
Institusional
X4= ukuran
perusahaan
Return
On
Equity
(ROE)
1.Good Corporate
Governance berpengaruh
positif signifikan terhadap
kinerja keuangan
perusahaan
2. kepemilikan manajerial
berpengaruh positif
signifikan terhadap kinerja
keuangan perusahaan
3. kepemilikan
institusional berpengaruh
positif tidak signifikan
terhadap kinerja keuangan
perusahaan
4. ukuran perusahaan
berpengaruh
positif tidak signifikan
terhadap kinerja keuangan
perusahaan
Berdasarkan penelitian terdahulu, penelitian sekarang dimaksudkan untuk
menguji pengaruh perkembangan struktur kepemilikan saham berupa kepemilikan
manajerial dan kepemilikan institusional terhadap kinerja perusahaan yang
diproksi oleh Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arum Ardianingsih dan
Komala Ardiyani (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Pengaruh
Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Perusahaan dengan menggunakan rasio
ROA menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap
kinerja perusahaan sedangkan kepemilikan institusional tidak berpengaruh
terhadap kinerja perusahaan, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Titis
Waskito (2014) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Struktur
Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Ukuran Perusahaan
Terhadap Kinerja Keuangan (Ditinjau Dari Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008 Sampai Dengan Tahun 2011), tapi
berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yulius Ardy Wiranata (2013)
dengan judul Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Perusahaan
Manufaktur di Indonesia yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak
33
berpengaruh
terhadap
kinerja
perusahaan
manufaktur
dan
kepemilikan
institusional tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan manufaktur.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yeterina Widi Nugrahanti
dan Shella Novia (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Struktur
Kepemilikan Sebagai Mekanisme Corporate Governance Terhadap Kinerja
Perbankan dengan menggunakan rasio ROA menyatakan bahwa kepemilikan
manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja perbankan dan kepemilikan
institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan, sama dengan
penelitian yang dilakukan oleh Dini Nura’eni (2010) dan berbeda dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ridho Alief Noviawan dan Aditya Septiani
(2013) dengan judul Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Struktur
Kepemilikan Terhadap Kinerja Keuangan menggunakan rasio ROA menyatakan
bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif tidak signifikan terhadap
kinerja keuangan dan kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan
terhadap kinerja keuangan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ajeng Asmi Mahaputeri dan
I.Kt.Yadnyana (2014) dengan penelitiannya yang berjudul Pengaruh Struktur
Kepemilikan, Kebijakan Pendanaan dan Ukuran Perusahaan Pada Kinerja
Perusahaan menggunakan rasio ROE menyatakan bahwa Kepemilikan manajerial
berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja perusahaan dan kepemilikan
Institusional berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja perusahaan, berbeda
dengan penelitian yang dilakukan oleh MG. Kentris Indarti dan Lusi Extaliyus
(2013) dengan judul Pengaruh Corporate Governance Preception Index (CGPI),
Struktur Kepemilikan, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan
menggunakan rasio ROE dan menyatakan bahwa kepemilikan manajerial
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan dan
kepemilikan institusional berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja
keuangan perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Puspito (2011) dengan
penelitiannya yang berjudul Pengaruh Struktur Kepemilikan Pada Kinerja
Perusahaan Dengan Struktur Modal Sebagai Pemoderasi menggunakan rasio ROE
34
menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara struktur kepemilikan manajerial
terhadap kinerja perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Denny Andika Rahman
(2010) dengan penelitiannya yang berjudul Pengaruh Institutional Ownership,
Board Independence dan Audit Committe Meeting Frequency Terhadap Financial
Performance Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
menggunakan rasio ROE menyatakan bahwa variabel institusional ownership
berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
2.8
Kerangka Pemikiran
Perusahaan
bertujuan
meningkatkan
kinerja
perusahaanya
untuk
memaksimalkan nilai perusahaan, dengan mengelola keuangannya. Setiap
perusahaan pasti memiliki bagian manajemen keuangan yang merupakan salah
satu manajemen terpenting bagi suatu perusahaan. Manajemen keuangan adalah
segala aktivitas yang terkait dengan pengelolaan keuangan pada suatu perusahaan.
Menurut Gitman & Zutter (2012 : 4) “Manajemen keuangan bisa
didefisinikan sebagai sains dan seni dalam mengelola uang. Dalam tingkat
individual/pribadi, keuangan berkaitan dengan keputusan individual mengenai
seberapa banyak setiap individu menghabiskan pendapatan mereka, seberapa
banyak setiap individu menyimpannya, dan bagaimana setiap individu
menginvestasikan uang simpanan mereka. Dalam konteks bisnis, manajemen
keuangan melibatkan bentuk keputusan yang sama dengan konteks individual:
bagaimana perusahaan mengumpulkan uang dari investor, bagaimana perusahaan
menginvestasikan uang dalam upaya untuk mendapatkan keuntungan dan
bagaimana perusahaan memutuskan untuk menginvestasikan kembali keuntungan
dalam bisnis atau mendistribusikan kembali keuntungan tersebut kepada
investor.”
Manajemen keuangan yang baik akan berpengaruh baik terhadap kinerja
perusahaan, begitupun sebaliknya. Kinerja Perusahaan disebut juga suatu
penentuan yang mengukur mengenai baik buruknya perusahaan dalam prestasi
kerja dapat dilihat dari kondisi keuangannya pada periode tertentu. Kondisi
35
keuangan dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan. Perusahaan yang memiliki
kinerja yang baik dapat menciptakan nilai tambah dan dapat memberikan
keuntungan bagi para pemegang saham.
Untuk mendukung peningkatan kinerja perusahaan salah satunya dengan
menggunakan rasio profitabilitas. Menurut Gitman (2012:629) Profitabilitas
adalah hubungan antara pendapatan dan biaya-biaya yang dihasilkan dengan
penggunaan asset perusahaan yang lancar dan tetap dalam aktivitas produktif.
Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Assets
(ROA) dan Return on Equity (ROE).
Rasio ROA ini sering dipakai manajemen untuk mengukur kinerja
keuangan perusahaan dan menilai kinerja operasional dalam memanfaatkan
sumber daya yang dimiliki perusahaan, disamping perlu mempertimbangkan
masalah pembiayaan terhadap aktiva tersebut. Nilai ROA yang semakin
mendekati 1, berarti semakin baik profitabilitas perusahaan karena setiap aktiva
yang ada dapat menghasilkan laba. Dengan kata lain semakin tinggi nilai ROA
maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan tersebut. Pengukuran kinerja
keuangan perusahaan dengan ROA menunjukkan kemampuan atas modal yang
diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.
ROA (Return On Asset) adalah rasio yang menunjukan hasil (return) atas jumlah
aktiva yang digunakan dalam perusahaan (Kasmir, 2012:201). Penelitian ini juga
menggunakan rasio ROE, menurut Ajeng Asmi Mahaputeri dan I.Kt.Yadnyana
(2014) salah satu ukuran kinerja perusahaan adalah Return on Equity (ROE).
Kemampuan
perusahaan
dengan
menggunakan
modal
sendiri
dalam
menghasilkan laba tercermin dalam ROE. Tingkat pengembalian dari modal yang
disediakan oleh pemilik perusahaan kepada para pemegang saham. Dengan kata
lain, ROE menunjukkan tingkat keuntungan yang akan dinikmati oleh pemegang
saham.
Memaksimalkan kekayaan perusahaan melalui peningkatan kinerja
perusahaan merupakan hal yang penting bagi perusahaan. Menurut Adrian Sutedi
(2011)
dalam
menjalankannya,
pemilik
perusahaan
(pemegang
saham)
menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga-tenaga profesional (agents).
36
Tujuan dari dipisahkanya pengelolaan dari kepemilikan perusahaan yaitu agar
pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin dengan
biaya yang seefisien mungkin dengan dikelolanya perusahaan oleh tenaga-tenaga
profesional. Namun, adanya pemisahan kepemilikan ini dapat memicu timbulnya
agency theory.
Agency theory menjelaskan bagaimana pihak–pihak yang terlibat dalam
perusahaan (manajer, pemilik perusahaan dan kreditor) akan berperilaku, karena
pada dasarnya mereka memiliki kepentingan yang berbeda. Manajer mempunyai
kewajiban untuk memaksimumkan kesejahteraan para pemegang saham, namun
disisi lain manajer juga mempunyai kepentingan untuk memaksimumkan
kesejahteraan mereka (Dini Nuraeni, 2010). Masalah keagenan (agency problem)
pun dihadapi para pemegang saham, dimana para pemegang saham kesulitan
untuk memastikan bahwa dananya tidak disalahgunakan oleh manajemen
perusahaan untuk mendanai kegiatan yang tidak menguntungkan para pemegang
saham (Wulandari, 2006 dalam Ajeng Asmi Mahaputeri dan I.Kt.Yadnyana,
2014). Menurut Byrd, Parrino, dan Pritsch (1998) dalam Titis Waskito (2014)
menyebutkan bahwa struktur kepemilikan saham merupakan salah satu
mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan (agency problem). Sedangkan,
Struktur kepemilikan saham yaitu proporsi kepemilikan manajemen dan
institusional dalam kepemilikan saham perusahaan (Sujoko dan Soebiantoro,
2007 dalam Titis Waskito, 2014)
Menurut Crutchley & Hansen (1989) serta Bathala et al. (1994) dalam
Yulius Ardy Wiranata (2010) menyimpulkan bahwa dengan level kepemilikan
manajerial yang tinggi dapat digunakan untuk membantu mengurangi masalah
keagenan karena dengan peningkatan proporsi saham yang dimiliki manajer akan
menurunkan kecenderungan manajer untuk melakukan tindakan konsumsi yang
hanya mementingkan dirinya sendiri dengan demikian akan menyatukan
kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Hal ini akan berdampak
pada kinerja perusahaan karena manajer bertindak sesuai dengan keinginan
pemegang saham dan akan berhati-hati dalam pengambilan keputusan karena
37
manajer akan ikut menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan
keputusan yang salah.
Pengaruh investor institusional terhadap manajemen perusahaan dapat
menjadi sangat penting serta dapat digunakan untuk menyelaraskan kepentingan
manajemen dengan pemegang saham (Solomon dan Solomon, 2004 dalam
Wulandari, 2005). Menurut Murwaningsari (2008) dalam Yeterina Widi
Nugrahanti dan Shella Novia (2012) menyatakan bahwa kepemilikan
institusional mempunyai pengaruh terhadap kinerja perusahaan. Dini Nuraeni
(2010) juga menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif
terhadap kinerja perusahaan. Tindakan pengawasan perusahaan oleh pihak
investor institusional dapat mendorong manajer untuk lebih memfokuskan
perhatiannya terhadap kinerja perusahaan, sehingga perilaku opportunistic yang
mementingkan diri sendiri akan berkurang.
2.8.1 Hubungan Kepemilikan Manajerial dengan Kinerja Perusahaan
Menurut Jensen (1993) dalam Dini Nuraeni (2010) Kepemilikan saham
manajerial dapat membantu penyatuan kepentingan antara pemegang saham dan
manajer. Semakin meningkatnya proporsi kepemilikan saham manajerial maka
kinerja perusahaan juga semakin baik. Dengan meningkatkan kepemilikan saham
manajerial akan mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham
sehingga manajer temotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Semakin besar proporsi kepemilikan manajerial pada perusahaan, maka
manajemen cenderung lebih giat untuk kepentingan pemegang saham karena bila
terdapat
keputusan
yang
salah
manajemen
juga
akan
menanggung
konsekuensinya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ridho
Alief Noviawan dan Aditya Septiani (2013) yang menyatakan bahwa
kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
2.8.2 Hubungan Kepemilikan Manajerial dengan Return On Assets (ROA)
Melalui
kepemilikan
manajerial,
pemilik
atau
pemegang
saham
mengharapkan agar manajer bekerja dengan hati-hati dalam mengelola
perusahaan untuk mencapai kinerja perusahaan yang baik. Bagi pemilik atau
pemegang saham dengan kepemilikan manajerial maka manajer dapat dikontrol
38
agar mereka tidak mengambil kebijakan dengan risiko yang tinggi yang dapat
mengancam kelangsungan hidup perusahaan. Semakin besar proporsi kepemilikan
manajemen pada perusahaan, maka manajemen cenderung berusahan lebih giat
untuk kepentingan pemegang saham yang tidak lain adalah dirinya sendiri.
Menurut Mirawati (2013) menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan saham
manajerial dalam perusahaan maka memotivasi manajemen agar berusaha
mengingkatkan kinerja dan meningkatkan laba atau profitabilitas (ROA)
perusahaan untuk kepentingan pemegang saham dan untuk kepentingan
sendirinya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Titis Waskito
(2014) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh
terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan return on assets (ROA)
2.8.3 Hubungan Kepemilikan Manajerial dengan Return On Equity (ROE)
Kepemilikan saham perusahaan oleh manajer cenderung melakukan
strategi untuk meningkatkan kinerja keuangan jangka panjangnya. Insentif berupa
saham yang diberikan kepada pihak manajer memacu mereka untuk bekerja lebih
keras dan cerdas dalam meningkatkan nilai badan usaha, yang juga merupakan
milik pihak manajer. Harapan dari adanya kepemilikan manajerial adalah bahwa
para manajer puncak dapat lebih konsisten dalam menjalankan perusahaan,
sehingga tercipta keselarasan kepentingan antara manajemen dengan pemegang
saham dan dapat meningkatkan kinerja perusahaan (Syafruddin, 2006 dalam
Ridho Alief Noviawan dan Aditya Septiani, 2013). Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh MG. Kentris Indarti dan Lusi Extaliyus (2013)
yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kinerja
keuangan perusahaan yang diukur dengan ROE, hal tersebut menunjukkan
semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan akan dapat
menyatukan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham, sehingga
kinerja perusahaan semakin bagus.
2.8.4 Hubungan Kepemilikan Institusional dengan Kinerja Perusahaan
Kepemilikan institusional memiliki peran penting dalam meminimalisir
konflik keagenan yang terjadi antara manajer dan pemegang saham. Keberadaan
investor institusional dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang
39
efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajer. Kepemilikan
institusional memiliki arti penting dalam memonitor manajemen, karena dengan
adanya kepemilikan oleh institusional akan mendorong peningkatan pengawasan
yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.
Apabila institusional merasa tidak puas atas kinerja manajerial, maka
mereka akan menjual sahamnya ke pasar. Perubahan perilaku institusional
ownership dari pasif menjadi aktif ini dapat meningkatkan akuntabilitas
manajerial sehingga manajer akan bertindak lebih hati-hati dalam menjalankan
aktifitas perusahaan. Hal ini berarti bahwa manajer dituntut untuk selalu
menunjukan kinerja yang baik kepada para pemegang saham. Semakin tinggi
struktur kepemilikan institusional maka semakin kuat kontrol eksternal terhadap
perusahaan. Menurut Dini Nuraeni (2010) menyatakan bahwa kepemilikan
institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
2.8.5 Hubungan Kepemilikan Institusional dengan Return On Asset (ROA)
Kepemilikan institusional merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja perusahaan. Dengan adanya kepemilikan oleh investor
institusional dapat mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal
terhadap kinerja manajemen, karena kepemilikan saham mewakili suatu sumber
kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau malah memperburuk
kinerja manajemen. Brous & Kini (1994) dalam Dini Nuraeni (2010)
menyatakan bahwa ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh investor
institusional sangat tergantung pada besarnya investasi yang dilakukan. Menurut
Arum dan Komala (2010) menyatakan bahwa adanya kepemilikan institusional
akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja
perusahaan. Selain itu pengawasan yang baik dari pihak institusi akan mengurangi
biaya agensi sehingga tidak akan mengurangi laba bersih (ROA) perusahaan.
2.8.6 Hubungan Kepemilikan Institusional dengan Return On Equity
(ROE)
Dengan pengawasan yang optimal terhadap pihak manajemen maka
diharapkan keputusan/kebijakan yang diambil oleh manajemen dapat lebih
meningkatkan kinerja perusahaan terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan
40
pemegang saham. Keberadaan institusional investor dalam suatu perusahaan
mempunyai pengaruh positif terhadap ROE. Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Denny Andika Rahman (2010) yang menyatakan bahwa
institusional
ownership
berpengaruh
positif
terhadap
kinerja
keuangan
perusahaan, hasil ini mengindikasikan bahwa semakin besar presentase
kepemilikan saham institusi semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk
mencapai kinerja keuangannya yang diukur dengan ROE.
41
Perusahaan
Kinerja Perusahaan
Manajemen
Keuangan
Profitabilitas
Agency Theory
ROA
Struktur Kepemilikan
Saham
Kepemilikan
Manajerial
Kepemilikan
Institusional
Kepemilikan
Publik
Sumber : dibuat oleh peneliti, 2015
Ket
:
yang diteliti
yang tidak diteliti
Gambar 1.1
Kerangka Pemikiran
42
ROE
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka penulis membuat hipotesis
sebagai berikut:
Hipotesis 1 :
Ha: terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemilikan manajerial dan
kepemilikan intitusional terhadap kinerja perusahaan dengan ukuran ROA pada
sektor Consumer Goods Industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
2010-2014 baik secara simultan dan parsial.
Ho: tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemilikan manajerial dan
kepemilikan intitusional terhadap kinerja perusahaan dengan ukuran ROA pada
sektor Consumer Goods Industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
2010-2014 baik secara simultan dan parsial.
Hipotesis 2 :
Ha: terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemilikan manajerial dan
kepemilikan intitusional terhadap kinerja perusahaan dengan ukuran ROE pada
sektor Consumer Goods Industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
2010-2014 baik secara simultan dan parsial.
Ho: tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemilikan manajerial dan
kepemilikan intitusional terhadap kinerja perusahaan dengan ukuran ROE pada
sektor Consumer Goods Industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
2010-2014 baik secara simultan dan parsial.
43
Download