Data diatas dapat diketahui bahwa jumlah kunjungan lama di

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk sarana pelayanan kesehatan yang
dapat diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta. Pelayanan kesehatan di rumah
sakit dapat berupa kegiatan pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap,
pelayanan rawat darurat, dan pelayanan farmasi yang mencakup pelayanan medik
dan penunjang medik (Yoseph, 2001).
Azwar (2006) menyatakan bahwa pelayanan kesehatan adalah pelayanan
jasa. Pengertian jasa didalamnya berbeda dengan barang. Jika barang merupakan
suatu obyek, benda atau alat, maka jasa adalah suatu perbuatan, kinerja
(perfomance). Seseorang tidak dapat menilai hasil dari jasa sebelum ia
menikmatinya sendiri. Mereka akan meyimpulkan kualitas jasa dari tempat
(place), Orang (people), peralatan (equipment), bahan-bahan komunikasi
(communication materials), simbol, harga yang mereka amati.
Salah satu cara utama mendeferensiasikan pelayanan jasa kesehatan
termasuk pelayanan rawat jalan adalah memberikan jasa pelayanan kesehatan
yang berkualitas, lebih tinggi dari pesaing secara konsisten. Kuncinya adalah
memenuhi atau melebihi harapan pasien tentang mutu pelayanan yang
diterimanya. Setelah menerima jasa pelayanan kesehatan, pasien akan
membandingkan jasa yang dialami dengan dengan jasa yang diharapkan. Jika jasa
yang dirasakan tidak sesuai dengan jasa yang diharapkan, maka pasien tidak puas
1
2
dan akhirnya tidak akan loyal kepada rumah sakit. Namun jika jasa yang
dirasakan memenuhi atau bahkan melebihi harapan pasien maka pasien akan puas
dan tetap bersedia menjalin hubungan jangka panjang dengan rumah sakit serta
menjadi pasien yang loyal kepada rumah sakit (Robbins, 2007).
Menurut Sulistiadi (2002), pemasaran merupakan salah satu masalah bagi
setiap rumah sakit atau organisasi pelayanan kesehatan lainnya. Kurang
berhasilnya pemasaran diantaranya akibat kurangnya rumah sakit berpihak pada
kepentingan klien karena apa yang telah disampaikan saat dipasarkan seringkali
tidak sesuai dengan apa yang didapatkan klien, dan ini tentunya akan
menimbulkan image yang tidak baik untuk rumah sakit tersebut.
Kotler (2012) menyatakan bahwa strategi pemasaran dibuat untuk memberi
petunjuk pada para manager bagaimana agar produk/jasa yang dihasilkan dapat
sampai pada konsumen dan bagaimana memotivasi konsumen untuk membelinya.
Rumah sakit perlu mendesain program pemasaran agar produk mendapat respon
dari pasar sasaran. Perlu alat supaya program tersebut mencapai sasaran. Alat
disini adalah program yang bisa dikontrol oleh organisasi, alat tersebut lazim
disebut marketing mix.
Marketing mix adalah kombinasi dari empat atau lebih variabel atau
kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan. Marketing Mix
yang lazim digunakan perumahsakitan di Indonesia adalah 5P yaitu: product,
price, place, promotion dan people (Supranto ,2001).
Selain lima “P” di atas juga bisa ditambahkan physical evidence dan
process. Sesuai dengan pendapat Supranto (2001), penelitian difokuskan kepada
3
elemen marketing mix 5P (product, price, place, promotion dan people)
ditambahkan dengan salah satu elemen P yang lain yang nantinya lebih mudah
untuk
dilakukan
perubahan
yaitu
process.
Pemilihan
elemen
process
dibandingkan dengan pysical evidence, bukan karena pysical evidence tidak
penting dalam strategi pemasaran, tetapi mengedepankan aspek kemudahan dalam
mempengaruhi dan merubahnya.
Menurut Lovelock (1991) marketing mix adalah alat perusahaan untuk
memperoleh respon yang diinginkan dari pasar sasaran, tetapi yang terlebih
penting lagi bagaimana memahami marketing mix dari sudut pandang atau
persepsi pelanggan. Dari kacamata atau sudut pandang pasien marketing mix
merupakan jalan keluar bagi masalah pasien, biaya yang harus dikeluarkan oleh
pasien, memperoleh pelayanan yang menyenangkan, nyaman dan komunikasi
yang baik dari rumah sakit terhadap pelanggan.
Marketing mix diharapkan dapat meningkatkan perceived quality konsumen
yaitu penilaian konsumen terhadap suatu produk. Bila persepsi konsumen
terhadap mutu pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit baik maka image
konsumen (corporate image) terhadap rumah sakit akan positif, kondisi ini dapat
meningkatkan kepuasan konsumen atau pasien (customer satisfaction). Dampak
dari kepuasan pasien adalah customer loyalty yang merupakan perilaku konsumen
sebagai akibat dari layanan yang diberikan. Guna menciptakan loyalitas
pelanggan, perusahaan perlu mengelola permintaan menjadi inelastis dengan cara
penyesuaian marketing mix, dengan memperhatikan kualitas pelayanan,
4
melakukan promosi yang intensif, dan melakukan relationship marketing
(Sabarguna, 2004).
Loyalitas Pelanggan adalah suatu kesetiaan yang ditunjukkan dengan
perilaku pembelian teratur yang dalam waktu panjang melalui serangkaian
keputusan pelanggan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa kualitas hubungan
buyer-seller mempunyai pengaruh positif terhadap tingkat pembelian kembali
Kepuasan konsumen/klien merupakan ukuran keberhasilan pemasaran. Dengan
kepuasan tersebut terciptalah suatu image positif dari klien. Untuk mendapatkan
image yang baik diperlukan suatu hubungan (relationship) dan komunikasi yang
baik (Simamura, 2001).
Sulistiadi (2002) menjelaskan bahwa Rumah Sakit sebagai lembaga
kesehatan, dimana masalah pelayanan kesehatannya yang paling sering mendapat
pengaduan maupun keluhan dari masyarakat. Keluhan-keluhan dari masyarakat
tersebut biasanya diakibatkan oleh kelalaian atau kesalahan dari petugas kesehatan
di rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam
hal ini adalah pasien, di mana pasien merasa kurang puas terhadap kualitas
pelayanan yang dilakukan oleh petugas kesehatan.
Faktor-faktor yang bisa dikatakan rawan tuntutan dari sebuah Rumah Sakit,
contohnya adalah prosedur pendaftaran pasien yang berbelit-belit, padahal pasien
dalam keadaan kritis, pelayanan yang kurang cepat dan tanggap dari pihak dokter
terhadap pasien yang dalam keadaan gawat, dokter yang langsung memberikan
resep obat kepada pasien tanpa pemeriksaan terlebih dahulu, dokter yang kurang
ramah, penundaan operasi karena sebab yang tidak jelas, petugas Customer
5
Service yang kurang ramah dalam memberikan informasi kepada pasien maupun
pengunjung, administrasi yang berbelit-belit, fasilitas kesehatan yang kurang
lengkap, keamanan dan kenyamanan pasien dan keluarga selama menjalani proses
perawatan kesehatan yang kurang terjamin, biaya perawatan yang terlalu mahal,
serta terjadinya malpraktek dalam Rumah Sakit (Sulistiadi, 2002).
Kehidupan di masyarakat, biasanya apabila mereka telah memilih rumah
sakit, maka mereka akan percaya sepenuhnya terhadap kualitas atau mutu
pelayanan dari rumah sakit tersebut, sehingga mungkin akan terbentuk Customer
Relations yang baik antara rumah sakit dan konsumen yang pernah menjadi
pasien di rumah sakit tersebut. Sudah sepantasnya apabila terjadi kesalahan dari
rumah sakit baik itu mengandung unsur kesengajaan atau bukan, konsumen
mendapatkan ganti rugi dari rumah sakit. Meskipun konsumen tidak begitu
mengharapkan ganti rugi dari rumah sakit, namun ada harapan peningkatan atau
perbaikan dalam pelayanan terhadap pasien (Sabarguna, 2005).
Menurut Suryani (1998) berbagai macam keluhan dari masyarakat dapat
menimbulkan dampak positif dan dampak negatif bagi rumah sakit itu sendiri.
Dampak positif yang ditimbulkan dari keluhan tersebut dianggap sebagai
masukan yang akan membawa peningkatan kualitas / mutu pelayanan, sehingga
bisa dianggap sebagai titik pacu untuk memperbaiki kesalahan demi menciptakan
kualitas / mutu pelayanan yang lebih baik. Dampak negatifnya adalah jika
keluhan-keluhan tersebut tidak segera ditangani, maka akan menurunkan
kredibilitas rumah sakit secara keseluruhan, karena dari satu pasien dapat
mempengaruhi pasien lain atau konsumen lainnya, sehingga akan membuat image
6
yang buruk bagi rumah sakit tersebut. Akhir-akhir ini, dalam kenyataannya adalah
masyarakat terutama konsumen rumah sakit semakin kritis terhadap kualitas /
mutu pelayanan yang mereka terima. Rumah sakit berlomba-lomba untuk
meningkatkan kualitas / mutu pelayanan, baik mutu pelayanan fasilitas, maupun
keramahan petugas, yang bertujuan agar mereka tidak kehilangan konsumen atau
langganan mereka serta meningkatkan loyalitas pasien.
Kemampuan rumah sakit untuk menarik dan mempertahankan pelanggan
baru merupakan sebuah fungsi yang tidak berasal dari produk atau pelayanan itu
sendiri, namun juga berkaitan dengan bagaimana organisasi tersebut melayani
pelanggan lama dan reputasi yang diciptakan oleh rumah sakit, baik didalam
maupun diluar rumah sakit. Mencari pelanggan baru lebih sulit dan memerlukan
biaya lebih mahal dibandingkan bila mempertahankan pelanggan lama. Loyalitas
pelanggan akan menjadi kunci sukses, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi
keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Pelanggan yang loyal karena puas dan
akan meneruskan hubungan pembelian (Wijono, 1996).
Wijono (1996) menambahkan bahwa loyalitas pelanggan adalah pelanggan
yang tidak hanya membeli ulang suatu barang dan jasa, tetapi juga mempunyai
komitmen dan sikap positif terhadap perusahaan jasa, misalnya dengan
merekomendasikan orang lain untuk membelinya. Pelanggan loyal menurut
Griffin dalam penelitian Chriswardani (2006) mempunyai karakter sebagai
berikut: melakukan pembelian secara teratur, membeli produk selain lini produk
atau jasa yang biasa dikomsumsi, memberi rekomendasi pada pihak lain,
menunjukkan resistensi atau daya tolak terhadap produk pesaing.
7
Keuntungan loyalitas dapat dikatakan bersifat jangka panjang dan
kumulatif, dimana meningkatnya loyalitas pelanggan dapat menyebabkan
profitabilitas yang lebih tinggi, dan basis keuangan yang lebih stabil. Selain itu
perusahaan yang dapat mempertahankan pelanggannya, akan mendapatkan
banyak keuntungan. Keuntungan tersebut antara lain: menurunkan biaya
pemasaran, mempersingkat waktu dan biaya transaksi, menurunkan biaya turn
over, meningkatkan cross selling yang akan memperbesar pangsa pasar,
menurunkan biaya kegagalan, seperti biaya ganti rugi (Simamura, 2001).
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Yogyakarta berdiri sejak tanggal 1
Oktober 1987. Rumah Sakit ini merupakan pengembangan dari klinik Bersalin
Tresnowati yang beralamat di Jalan Letkol Sugiyono Yogyakarta.Dari klinik ini
berkembang menjadi sebuah rumah sakit umum dengan tipe kelas “D” meliputi
pelayanan dasar umum, gigi dan kebidanan. Tahun 1988 pelayanan sudah mulai
memanfaatkan gedung rumah sakit yang berada di wilayah Wirosaban Kelurahan
Sorosutan Kecamatan Umbulharjo. RSUD Kota Yogyakarta memiliki visi “
Menjadi pilihan utama dalam pelayanan Perumahsakitan”. Sampai saat ini RSUD
Kota Yogyakarta ditetapkan menjadi Rumah Sakit kelas “B” Pendidikan.
Kepemilikan RSUD Kota Yogyakarta saat ini berada di bawah Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia (Pemerintah) (Profil RSUD Kota Yogyakarta 2013
diunduh dari www.rumahsakitjogja.com/profil tanggal 05 Januari 2014).
Mutu pelayanan Rumah Sakit Daerah Kota Yogyakarta pada tahun 1999,
memperoleh Sertifikat dari KARS Pusat “ terakreditasi penuh “ dengan 5
pelayanan yang meliputi: Administrasi Dan Manajemen, Pelayanan Medis, Rawat
8
Darurat, Keperawatan, Dan Rekam Medis. Tahun 2010 mendapat Sertifikasi lagi
dari KARS Pusat “ terakreditasi penuh 12 Pelayanan “. Yaitu dari 5 bidang yang
sebelumnya ditambah 7 bidang meliputi : Farmasi, K3, Radiologi, Laboratorium,
Pelayanan Kamar Operasi, PPI, dan Perinatal Resiko Tinggi (Profil RSUD Kota
Yogyakarta 2013).
Data di Rekam Medik dapat diketahui juga kunjungan pasien di Poliklinik
sebagai berikut:
Tabel 1.1 Jumlah kunjungan poliklinik RSUD Kota Yogyakarta tahun 2010-2012.
2010
2011
2012
Pasien
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
Lama
74.825
82,09
75.565
80,39
76.114
79,2
Baru
16.327
17,91
18.434
19,61
20.014
20,8
Total
91.152
100
93.999
100
96.128
100
Sumber : Bagian Pelaporan dan Statistik Instalasi Catatan Medik RSUD Kota Yogyakarta
Data diatas dapat diketahui bahwa jumlah kunjungan lama di Poliklinik
RSUD Kota Yogyakarta pada tahun 2010 sebesar 74.825 pasien, tahun 2011
meningkat menjadi 75.565 dan tahun 2012 sebesar 76.114. Data tersebut
didapatkan informasi mengenai retensi pasien lama, yaitu pasien yang melakukan
kunjungan ulang di poliklinik mulai tahun 2010 sampai 2012. Retensi pasien
cukup tinggi, namun peningkatan jumlah pasien lama dari tahun ke tahun tidak
sebanding oleh perbandingan peningkatan banyaknya pasien baru dari tahun ke
tahun.
Kondisi peningkatan jumlah kunjungan pasien lama yang tidak sebanding
dengan peningkatan pasien baru menjadi permasalahan yang harus diperhatikan
oleh manajerial rumah sakit, karena menurunnya loyalitas dapat menyebabkan
peningkatan angka kunjungan pasien menjadi terhambat. Peningkatan jumlah
9
pasien yang sedikit akan berpengaruh terhadap pemasukan poliklinik, karena
pasien yang periksa di poliklinik juga akan memanfaatkan pelayanan penunjang
seperti laboratorium, fisioterapi, konsultasi gizi, dll. Upaya manajemen untuk
meningkatkan jumlah kunjungan ke RSUD Kota Yogyakarta telah dilakukan,
salah satunya dengan menggalakkan strategi pemasaran rumah sakit.
Struktur organisasi Pemasaran di RSUD Kota Yogyakarta yang dipegang
oleh Kepala Sub. Bagian Hukum dan Pelayanan berada langsung dibawah
Direktur RSUD Kota Yogyakarta sehingga bertanggung jawab langsung kepada
Direktur rumah sakit. Menurut Kepala Sub. Bagian Hukum dan Pelayanan RSUD
Kota Yogyakarta pihak manajerial rumah sakit mendukung kegiatan pemasaran
dan menyiapkan sarana/fasilitas, dana maupun tenaga untuk melaksanakan
program pemasaran dan menerima masukan-masukan untuk perbaikan mutu
pelayanan sehingga tercapai visi rumah sakit (Profil RSUD Kota Yogyakarta
2013 diunduh dari www.rumahsakitjogja.com/profil tanggal 05 Januari 2014).
Segmentasi pasar RSUD Kota Yogyakarta adalah seluruh masyarakat
Yogyakarta baik ekonomi bawah sampai ekonomi menengah keatas. Kepuasan
adalah kebahagiaan kami adalah motto yang dimiliki oleh Karyawan di RSUD
Kota Yogyakarta, hal ini sangat mendukung upaya rumah sakit untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas kepada pasien. Positioning RSUD Kota Yogyakarta
diantara kompetitor adalah menjadi rumah sakit yang terdepan dalam memberikan
pelayanan yang berkualitas dan memuaskan pelanggan di Kota Yogyakarta.
RSUD Kota Yogyakarta saat ini sedang mempersiapkan diri untuk akreditasi
menjadi rumah sakit tipe B Pendidikan, diharapkan dengan akreditasi ini rumah
10
sakit dapat mengembangkan diri menjadi rumah sakit yang maju dan menjadi
rumah sakit pilihan masyarakat di Kota Yogyakarta. (Profil RSUD Kota
Yogyakarta 2013)
Kegiatan yang diadakan oleh bagian humas antara lain adalah pelaksanaan
program kesehatan masyarakat di rumah sakit (PKMRS) seperti temu pasien yang
diisi ceramah (dengan tema Narkoba, kesehatan jiwa, masalah seksual dan
masalah kesehatan lainnya yang umum terjadi di masyarakat), selain itu juga
diadakan kegiatan bakti sosial, pemeriksaan, pengobatan gratis di berbagai tempat
di kota Yogyakarta, dan melakukan survei kepuasan dan keluhan pelanggan di
rumah sakit.
Penanganan keluhan pasien melalui kotak saran dan sms interaktif langsung
direspon dengan cepat dan dievaluasi, mendorong pasien untuk menyampaikan
keluhan, memberikan saran atau masukan yang berkaitan dengan pelayanan.
RSUD Kota Yogyakarta telah melakukan secara teratur survei kepuasan pasien
atau penelitian untuk melihat mutu pelayanan rumah sakit.
Rumah Sakit di Yogyakarta yang menjadi pesaing RSUD Kota Yogyakarta
adalah RSI Hidayatullah, RS PKU Muh. Kotagede, RS PKU Muh.Yogyakarta, RS
DKT, RS Griya Mahardika, dan masih banyak rumah sakit pesaing yang lainnya.
Rumah sakit-rumah sakit ini terletak masih dalam lingkup sekitar kota
Yogyakarta, mempunyai pelayanan spesialisasi dan sarana penunjang yang
lengkap, selain itu mempunyai tarif yang murah dan dapat melayani pasien
asuransi.
11
Melihat permasalahan yang sudah dipaparkan di atas maka penting bagi
RSUD Kota Yogyakarta
mempunyai strategi pemasaran yang tepat, dengan
program-program pemasaran tersebut dapat dilakukan usaha meningkatkan mutu
pelayanan, dengan mutu pelayanan yang baik akan dapat memuaskan pelanggan
sehingga pelanggan akan loyal kepada RSUD Kota Yogyakarta. Melihat apakah
program-program pemasaran atau kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan sudah
efektif maka perlu dilakukan penelitian yang akan menganalisis persepsi pasien
tentang marketing mix dan pengaruhnya terhadap loyalitas. Mengetahui
bagaimana persepsi pasien tentang marketing mix maka akan memberikan
masukan bagi bagian humas rumah sakit untuk membuat program-program
pemasaran yang dapat meningkatkan mutu pelayanan sehingga dapat memuaskan
pasien dan tidak hanya memikirkan peningkatan pelanggan baru namun
meningkatkan secara signifikan jumlah pelanggan lama yang loyal dan terhadap
RSUD Kota Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
1. Rumusan Masalah Umum
Apakah ada pengaruh persepsi pasien tentang marketing mix terhadap
loyalitas pasien di Poliklinik RSUD Kota Yogyakarta?
2. Rumusan Masalah Khusus
a. Bagaimana persepsi pasien tentang marketing mix yang meliputi:
product, price, place, promotion, people dan process di Poliklinik
RSUD Kota Yogyakarta?
12
b. Bagaimana loyalitas pasien di Poliklinik RSUD Kota Yogyakarta?
c. Apakah ada pengaruh secara parsial antara persepsi pasien tentang
marketing mix yang meliputi: product, price, place, promotion, people
dan process terhadap loyalitas pasien di Poliklinik RSUD Kota
Yogyakarta?
d. Apakah ada pengaruh bersama- sama antara persepsi pasien tentang
marketing mix terhadap loyalitas pasien di Poliklinik RSUD Kota
Yogyakarta?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisis dan menjelaskan pengaruh persepsi pasien tentang
marketing mix terhadap loyalitas pasien di Poliklinik RSUD Kota
Yogyakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui persepsi pasien tentang marketing mix yang meliputi:
product, price, place, promotion, people dan process di Poliklinik
RSUD Kota Yogyakarta
b. Mengetahui loyalitas pasien di Poliklinik RSUD Kota Yogyakarta.
c. Menganalisis dan menjelaskan pengaruh secara parsial antara persepsi
pasien tentang marketing mix yang meliputi: product, price, place,
promotion, people dan process terhadap loyalitas pasien di Poliklinik
RSUD Kota Yogyakarta.
13
d. Menganalisis dan menjelaskan pengaruh bersama- sama antara persepsi
pasien tentang marketing mix terhadap loyalitas pasien di Poliklinik
RSUD Kota Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Sebagai sumber informasi bagi rumah sakit secara umum dan
poliklinik tentang pengaruh pesepsi pasien tentang marketing mix terhadap
loyalitas pasien pada pelayanan Rumah Sakit.
2. Manfaat Teoritis
a. Bagi
keilmuan
marketing,
sebagai
sumber
wawasan
tentang
pengetahuan dan persepsi marketing mix serta pengaruhnya terhadap
loyalitas pasien di Poliklinik RSUD Kota Yogyakarta.
b. Bagi
penelitian
berikutnya,
sebagai
sumber
referensi
untuk
pengembangan penelitian yang menyangkut persepsi seseorang tentang
marketing mix dan pengaruhnya terhadap loyalitas.
Download