persepsi masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan

advertisement
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP INDIVIDU YANG
MENGALAMI GANGGUAN JIWA DI KELURAHANPORIS
PLAWAD KECAMATAN CIPONDOH KOTA TANGERANG
2011
Skripsi diajukan guna memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar
Sarjana Keperawatan (S. Kep)
ALFIANA SUCI ROMADHON
107104000389
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011 M / 1432 H
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan judul
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP INDIVIDU YANG
MENGALAMI GANGGUAN JIWA
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
DISUSUN OLEH
ALFIANA SUCI ROMADHON
NIM 107104000389
Jakarta, November 2011
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M
i
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Jakarta, 13 Desember 2011
Penguji I
Ns. Eni Nuraini, S. Kep, M. Sc
NIP: 198008022006042001
Penguji II
Ns. Waras Budi Utomo, S.Kep, MKM
NIP : 197905202009011012
Penguji III
Ns. Tjahyanti K, M.Kep, Sp.Kep J
ii
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Jakarta, 13 Desember 2011
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
iii
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2.
Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3.
Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
iv
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Alfiana Suci Romadhon
Tempat/Tanggal Lahir
: Tangerang, 14 Desember 1989
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Status
: Belum Menikah
Alamat
: Jln. KH Mustofa RT 001/04 Al-fitroh
Poris plawad Cipondoh Tangerang
Telepon/Hp
: 085710608831
Email
: [email protected]
Riwayat Pendidikan
:
1. MI Al-fitroh
(1995-2001)
2. SLTP Negeri 10 Tangerang
(2001-2004)
3.
(2004-2007)
MAN ipondoh
4. S-1 Keperawatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2007-2011)
Pengalaman Organisasi
1. Anggota SABARA polsek metro Cipondoh
(2006-2007)
2. Anggota divisi keilmuan BMJ Ilmu keperawatan
(2007-2008)
3. Ketua divisi infkom BEMJ Ilmu Keperwatan
( 2010-2011)
4. Ketua divisi Medis LK ESQ
(2011-2013)
v
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Skripsi, Desember 2011
Alfiana Suci Romadhon, NIM: 10710400038
Persepsi Masyarakat Terhadap Individu yang Mengalami Gangguan Jiwa
di
Kelurahan Poris Plawad Kecamatan Cipondoh Tangerang, 2011
xvi + 87 halaman + 14 tabel + 2 bagan + 4 lampiran
ABSTRAK
Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap
rangsangan yang diterima oleh orgnisme atau individu sehingga merupakan suatu
yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrasi dalam diri individu (walgito
2001), persepsi temasyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa
dapat diteliti melalui self percepstion ataupun secara external perseption. Self
perception adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang berasal
dari dalam individu menjadi objek dalam dirinya sendiri, sedangkan external
perception yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang datang dari
luar individu.
Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui
persepsi masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa. Di
Kelurahan Poris Plawad Cipondoh Tangerang tujuan khusus mengetahui external
perception masyarakat tentang gangguan jiwa dan mengetahui self perception
masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa.
Jenis penelitian menggunakan deskriptif eksploratif dan variabelnya
adalah persepsi Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2011, dengan jumlah
sampel 115 responden dari masyarakat Kelurahan Poris Plawad Cipondoh
Tangerang dan tekhnik pengambilan sampel menggunakan tekhnik simple random
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.
Analisis yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian
menunjukan bahwa dari 115 responden (60%) adalah perempuan, tingkat
pendidikan SMA 69 responden (56%) serta usia responden dimulai dari 16-50
tahun. Sebanyak 110 responden (95,7%). Berpersepsi baik, 5 responden(4,3%.)
berpersepsi sangat baik dan tidak ada yang berpersepsi tidak baik apalagi
bepersepsi sangat tidak baik. self perseption masyarakat yang sangat baik
sebanyak 68 responden (59%) dan sebanyak 47 responden (41%) berpersepsi
baik, external perception masyarakat berpersepsi baik 110 responden (95,7%).
Dan beberapa berpersepsi sangat baik yaitu 5 responden (4,3%).
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan masyarakat dapat berperan serta
dalam penyembuhan penderita ganguan jiwa, khususnya yang berada di
Kelurahan Poris Plawad Cipondoh Tangerang.
Kata kunci: persepi, masyarakat dan gangguan jiwa
Daftar bacaan: 17 (2000-2009)
vi
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
NURSING SCIENCE STUDY PROGRAM
ISLAMIC STATE UNIVERSITY (UIN) SYARIF
JAKARTA
Undergraduateed Thesis, December 2010
HIDAYATULLAH
Alfiana Suci Romadhon, NIM: 107104000389
Public perception about person who have mental disorder in Poris Plawad
Cipondoh Tangerang
xvi + 87 pages + 14 table + 2 charts + 4 attachments
ABSTRACT
Perception is an organization, interpretation process to stimulus which
accepted by organism or individual so that become a meaningful and an activity
which intergration in individual (Walgito 2001). Community perception to person
who have mental disorder can be investigated from self perception or from
external perception. Self perception is a perception which occur because stimulus
come from individual who become object in it self. External perception is a
perception which occur because stimulus from outside the individual.
General purpose this research is to know public perception about person
who have mental disorder in Poris Plawad Cipondoh Tangerang. Special purpose
this research is to know community external perception and self perception about
person who have mental disorder.
Research type was descriptive explorative and the variable is perception.
This research was held on August 2011 with the number of samples 115
respondents from Poris Plawad Cipondoh Tangerang community and sampling
techniques using simple random sampling. Data’s collection were done by
collecting the questioner from the respondents. Analysis which use in this
research is univariate analysis. Outcome from this research showing from 115
respondents 60% are women, 56% or 69 respondents their education are high
school and 95,7% respondents age from 16-50 years old. Perception 5 respondents
or 4,3% are good, there are no very good perception, bad perception or very bad
perception. Community’s self perception which very good are 69 respondents or
59% and 47 respondents or 41% have good perception. External perception which
very good are 95,7% and 5 respondents or 4,3% have very good perception.
Based in this research outcome community participants could become a
meaningful contributing in healing mental disorder patients especially in Poris
Plawad Cipondoh Tangerang.
key word: perception, Public and mental disorder
Reading list : 17 (2000-2009)
vii
LEMBAR PERSEMBAHAN
Kuhaturkan doa yang teriing air mata
Tak mungkin cukup untuk membalas airmata yang telah engkau keluarkan ibu
Berkat doa dan perjuanganmu
Ku terus melangkah dan maju
Lamunanku melukis indah tentang mu.
senyapnya malam takkan jua menghitung jasa-jasamu
debur luapan ombak,takkan mampu menandingi kasih dan sayangmu.
Aku putri kecilmu yang dulu kau puja dengan tangis bahagia mu.
kini bergelut dengan kerasnya hidup,lepas dari timangan mu. hingga tak ku sadari
intaian maut ku sendiri.
OH...IBUKU.,WAHAI...AYAHKU!,...
sematkanlah RIDHOmu untukku.supaya TUHAN mencintaiku,.karna TUHAN
meminta bersyukurku kepadaNYA dan juga kepada mu.
viii
KATA PENGANTAR
‫اﻟﺴ ﻼم ﻛ ﻢیﻋﻞ ورﺣﻤﺔ اﷲ وﺑﺮﻛ ﺎت‬
Bismillairrahmaniirrahim
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya. Shalawat dan salam tak lupa disampaikan kepada baginda kita Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa manusia dari zaman kegelapan ke zaman
yang terang benderang. Atas izinNya lah skripsi dengan judul “Persepsi
masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa di Kelurahan Poris
Plawad Cipondoh Tangerang 2011” dapat diselesaikan.
Skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat akhir dari suatu program
akademikIlmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mendapat
gelar S.kep. Akan tetapi peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata
sempurna, hal ini dikarenakan adanya keterbatasan peneliti terhadap pengetahuan,
pengalaman dan kemampuan penulis melihat fakta dan realita yang ada serta
bagaimana pemecahan masalah dari suatu fenomena yang terjadi disekitarnya.
Penulis banyak mendapatkan dukungan, bantuan, dan motivasi dari berbagai
pihak dalam proses penyelesaian skripsi ini. Penulis menginginkan memberikan
ucapan terimakasih yang mungkin hanya bisa dituliskan dalam skripsi kepada:
1. Prof. DR (hc). Dr. M. K. Tadjudin, Sp. And. Selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2.
Drs. H. Achmad Gholib, MA, selaku Pembantu Dekan Bidang
Administrasi Umum Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3.
Dra.
Farida
Hamid,
M.Pd,
selaku
Pembantu
Dekan
Bidang
Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
ix
4. Ibu Tien Gartinah, M.N. Selaku Ketua Program Studi dan Ibu Irma
Nurbaeti, S.Kp, M.Kp, S.Mat. Sebagai Sekretaris Program Studi IImu
Keperawatan (PSIK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5.
Ibu Tjahyanti k. M.kep, Sp. Kep. J dan Bapak Waras Budi Utomo S. Kep,
M.KM Selaku pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan
mencurahkan pikiranya untuk memberikan bimbingan, petunjuk, nasehat
dan arahan kepada penulis selama menyusun skripsi.
6.
Seluruh dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan khususnya
dosendosen Ilmu Keperawatan yang tidak bisa disebutkan satu persatu
serta staf akademik Program Studi Ilmu Keperawatan, Bapak Azib dan Ibu
Syamsiah.
7.
Kepala Litbang Linmas Tangerang, Kelurahan Poris Plwad yang telah
memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian.
8. Ucapan terimakasihku teristimewa kepada keluarga, terutama ibu yang
selalu memberikan doanya, motivasinya, kasih sayangnya dan dukunganya
baik moral maupun spiritual demi keberlangsungan studiku dan masa
depanku dan ayah yang selalu menjadi motivatorku, serta adikku (Dede
maulana hasannudin).
9. Sahabat-sahabat terbaikku di keperawatan (Latifah, Uswatun Hasanah,
Atni, Dina, Mega, Risti ) yang selalu memberikan motivasi dan doanya.
10. Sahabat terbaiku (Budi, Firdaus, Edwin, Syifa dan Dita ) kalian yang
selalu mendukung dan menberikan motivasi serta doa untuku
11. Beberapa kanda-kanda di LK ESQ , (Eky Muryadi, Sarah fatimah dan
Tati)
teman-teman relawan LK ESQ yang memberikan doanya dan
motivasinya.
12. Keluarga Besar PSIK UIN khususnya teman-teman angkatan 2007, kakakkakak dan adik-adik PSIK yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu
namanya. Terima kasih atas semangat dan dukungan kalian.
x
13. Seluruh warga Kelurahan Poris Plawad karena telah membantu kelancaran
proses penyusunan skripsi . Penulis menyadari skripsi ini masi jauh dari
kesempurnaan. Penulis mengharapkan kesempurnaan itu dapat terbentuk
dengan sebuah kritikan dan saran yang membangun dari berbagai pihak.
Semoga rahmat Allah selalu tercurahkan kepada kita semua.
‫واﻟﺴ ﻼم ﻛ ﻢیﻋﻞ‬
Ciputat, November 2011
Alfiana Suci Romadhon
xi
DAFTAR ISI
LEMBAR PESETUJUAN ........................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................... ii
LEMBAR PERNYATAAN ...................................................................................... iv
RIWAYAT HIDUP ................................................................................................... v
LEMBAR PERSEMBAHAN ................................................................................... vi
ABSTRAK................................................................................................................. vii
ABSTRACT ............................................................................................................ viii
KATA PENGANTAR ............................................................................................... ix
DAFTAR ISI ............................................................................................................ xiv
DAFTAR TABEL ..................................................................................................... xviii
DAFTAR BAGAN ................................................................................................... xix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. xx
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A.
Latar Belakang .............................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah ......................................................................................... 5
C.
Pertanyaan Penelitian .................................................................................... 5
D.
Tujuan Penelitian .......................................................................................... 6
1. Tujuan Umum ........................................................................................... 6
2. Tujuan Penlitian ....................................................................................... 6
E.
Manfaat Penelitian ........................................................................................ 6
F.
Ruang Lingkup ............................................................................................. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 8
A.
PERSEPSI .................................................................................................. 8
1. Pengertian Persepsi ................................................................................... 8
2. Syarat Terjadinya Persepsi ........................................................................ 10
3. Proses Terjadinya Persepsi........................................................................ 10
4. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ........................................................ 11
5. Macam-macam Persepsi ........................................................................... 14
6. Persepsi dalam Pandangan Al-Qur’an ...................................................... 15
xii
B.
INDIVIDU DAN MASYARAKAT ............................................................. 15
a. Pengertian Individu dan Masyarakat ......................................................... 15
b. Ciri Masyarakat Berdasarkan Georafis ...................................................... 17
c. Fungsi masyarakat terhadap individu ........................................................ 18
d. Stigma dan diskriminasi di masyarakat ..................................................... 19
e. Sehat Jiwa ................................................................................................ 20
C.
Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa ............................................................. 21
1. Gangguan Kognisi ................................................................................... 22
2. Gangguan Sensasi ..................................................................................... 23
3. Gangguan Persepsi….. .............................................................................. 26
4. Gangguan perhatian ................................................................................. 26
5. Ganguan ingatan ....................................................................................... 27
6. Gangguan asosiasi .................................................................................... 30
7. Gangguan pertimbangan ........................................................................... 31
8. Gangguan pikiran ..................................................................................... 32
9. Gangguan isi pikir .................................................................................... 36
10. Fobia ........................................................................................................ 38
11. Gangguan kesadaran ................................................................................. 39
12. Gangguan orientasi ................................................................................... 41
13. Gangguan kemauan ................................................................................. 41
14. Gangguan emosi dan afek ........................................................................ 43
15. Gangguan psikomotor ............................................................................... 44
D.
KRITERIA SEHAT JIWA ......................................................................... 47
E.
ISTILAH PERILAKU ABNORMAL ........................................................ 51
F.
PERAN PERAWAT KESEHATAN JIWA ............................................... 52
1. Keprawatan Jiwa ...................................................................................... 52
2. Peran perawat ........................................................................................... 54
3. Peran perawat dalam masing-masing tingkat pelayanan kesehatan ............ 55
BAB III KEARANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL ..................... 57
A.
Kerangka Konsep .......................................................................................... 57
B.
Definisi Oprasional ....................................................................................... 58
xiii
BAB IV METODE PENELITIAN .......................................................................... 60
A.
Desain Penelitian .......................................................................................... 60
B.
Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................................... 60
C.
Populasi dan Sampel ..................................................................................... 60
1. Populasi ................................................................................................. 60
2. Sampel .................................................................................................. 61
3. Teknik Pengambilan sampel ................................................................... 62
D.
Alat Pengumpul Data .................................................................................... 63
E.
Tehnik Pengumpulan Data ............................................................................ 64
1. Pengumpulan data .................................................................................. 64
2. Tahap pengumpulan data ........................................................................ 64
F.
Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen ......................................................... 65
1. Uji Validitas ........................................................................................... 65
2. Reabilitas .............................................................................................. 65
G.
Pengolahan Data ........................................................................................... 66
1. Editing .................................................................................................. 66
2. Coding ................................................................................................... 67
3. Scoring ................................................................................................... 67
4. Entri data ............................................................................................... 67
5. Cleaning data ......................................................................................... 67
H.
Tehnik Analisa Data ...................................................................................... 68
I.
Etika Penelitian ............................................................................................ 68
1. Prinsip –prinsip penelitian ...................................................................... 68
2. Masalah Etika penelitian ........................................................................ 68
BAB V HASIL PENELITIAN ................................................................................ 71
A.
Gambaran Umum Tempat Penelitian ............................................................. 71
B.
Karakteristik Responden ............................................................................... 72
1. Proporsi Responden................................................................................ 72
2. Jenis kelamin.......................................................................................... 73
3. Usia ....................................................................................................... 73
4. Pendidika n ............................................................................................ 74
xiv
C.
Persepsi Responden....................................................................................... 74
1. Self persepsion ....................................................................................... 75
2. Eksternal Peseption ............................................................................... 76
BAB VI PEMBAHASAN ......................................................................................... 77
A.
Interpretasi dan Diskusi Hasil ........................................................................ 77
B.
Distribusi Demografi Responden................................................................... 77
1. Jenis Kelamin ......................................................................................... 77
2. Usia ....................................................................................................... 78
3. Pendidikan ............................................................................................. 78
C.
Distribusi Persepsi Eksternal perseption dan self perseption ......................... 78
D.
Keterbatasan Penelitian ................................................................................. 80
E.
Implikasi Penelitian....................................................................................... 81
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 83
A.
Kesimpulan ................................................................................................... 83
B.
Saran ............................................................................................................ 84
1. Bagi Masyarakat..................................................................................... 84
2. Bagi Peneliti selajutnya .......................................................................... 84
3. Bagi Institusi Pendidikan dan Ilmu Keprerawatan .................................. 84
DAFTAR PUSTAKA
xv
DAFTAR TABEL
No. tabel
Tabel 3.1 Definisi operasional..................................................................................... 58
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden............................................ 73
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden ........................................................ 73
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden ................................... 74
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden..................................................... 74
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Self Perseption Responden .......................................... 75
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Eksternal Perseption Responden ................................. 76
xvi
DAFTAR BAGAN
No. Bagan
Bagan 2.1 Proses Terbentuknya Persepsi .................................................................... 11
Bagan 3.1 Kerangka konsep ........................................................................................ 55
xvii
LAMPIRAN
Lampiran
1. Surat ijin penelitian
2. Informed consent
3. Kuesioner
4. Hasil analisa univariat
xviii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari
penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang
meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. (WHO 1947 dalam Hidayat,
1999). Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No.23,1992
dalam Hidayat, 1999).
Kesehatan tidak dipandang dari fisik saja agar tercipta kesehatan
yang holistik maka diperlukan pula jiwa yang sehat, kesehatan jiwa itu
sendiri adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik,
intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan
itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain (Undang-undang kesehatan
jiwa No.3/th 1966 dalam Depkes RI). Indikator sehat jiwa meliputi sikap
yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi
diri, keutuhan, kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan
kecakapan dalam beradaptasi dengan lingkungannya (Stuart & Laraia 1998
dalam Yosep, 2007). Kesehatan jiwa meliputi kemampuan individu dan
kelompok lingkungannya untuk berinteraksi dengan yang lain sebagai cara
untuk mencapai kesejahteraan, perkembangan yang optimal, dengan
menggunakan kemampuan mentalnya (kognisi, afeksi, dan relasi) memiliki
1
2
prestasi individu serta kelompoknya konsisten dengan hukum yang berlaku
(Yosep, 2007).
Ketika individu sudah tidak bisa berinteraksi dengan yang lain
sebagai cara untuk mencapai kesejahteraan, perkembangan yang optimal,
dengan menggunakan kemampuan mentalnya (kognisi, afeksi, dan relasi)
memiliki prestasi individu serta kelompoknya dengan hukum yang berlaku
maka individu tersebut dapat dikatakan mengalami gangguan kejiwaan,
gangguan jiwa adalah bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang
patologik dari unsur psikis. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain
tidak terganggu.
Sekali lagi, yang sakit dan menderita ialah manusia seutuhnya dan
bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya. Hal-hal yang dapat
mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan dan konstitusi, umur dan
sex, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat,
kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan,
kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan,
hubungan antara manusia, dan sebagainya ( Yosep, 2007).
Jumlah penderita gangguan jiwa menurut badan Kesehatan Dunia
(WHO) tahun 2002 menunjukkan bahwa 154 juta orang secara global
mengalami depresi dan 25 juta orang menderita skizofrenia; 15 juta orang
berada di bawah pengaruh penyalahgunaan zat terlarang. Lima puluh juta
orang menderita epilepsi. Sekitar 877.000 orang meninggal karena bunuh
diri tiap tahunnya (Yosep, 2007). Data Riset Kesehatan Daerah 2007 dari
Badan Penelitian Perkembangan Departemen Kesehatan RI (Depkes RI,
3
2008) menunjukan prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia sebesar
0,46% atau 4,6 permil dengan kata lain 100 penduduk Indonesia 4-5
diantaranya menderita gangguan jiwa berat, prevalensi tertinggi terdapat di
propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (2,03%), diikuti oleh Aceh
(1,85%), dan Sumatra Barat (1,67%) berdasarakan angka prevalensi
tersebut, maka prevalensi gangguan jiwa berat diketiga wilayah tersebut
diatas prevalensi nasional sedangkan untuk Jumlah penderita gangguan
mental emosional adalah 11,6%
sementara untuk DKI Jakarta adalah
14,1%.
Data tersebut menunjukan banyaknya penderita gangguan jiwa atau
masalah psikososial di Indonesia. persepsi masyarakat tentang penderita
gangguan mental (gangguan jiwa) mengarah pada stigma dan diskriminasi,
persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap
rangsangan yang diterima oleh organisme atau individu sehingga
merupakan suatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integgrasi
dalam diri individu (Walgito, 2001) dan persepsi adalah daya mengenal
barang kualitas atau hubungan dan perbedaan antara hal ini melalui proses
mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah panca indra dapat
merangsang (Maramis, 2004).
Stigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ciri negatif
yang menempel pada diri seseorang
karena pengaruh lingkungannya
(Departemen Pendidikan Nasional, 2001 dalam Noorkasani. dkk, 2007 ).
Misal, stigma masyarakat tentang pencandu napza, stigma sosialnya adalah
sekali pecandu selamanya pecandu. Sesungguhnya seseorang dapat berubah
4
jika dibantu, didukung dan didorong untuk berubah, seorang pecandu dapat
berubah jika diberi kesempatan dan dukungan untuk berubah termasuk
dukungan lingkungan yang positif. Demikian pula pada penderita gangguan
jiwa yang telah dinyatakan sembuh dan dikembalikan ke keluarganya,
sering kambuh lagi karena adanya stigma masyarakat bahwa mereka tidak
dapat sembuh. Mereka dikucilkan dari pergaulan di lingkungannya, tidak
diberi peran dan dukungan sosial setra diejek (Noorkasani. dkk, 2007).
Diskriminasi adalah perilaku yang dihasilkan oleh steriotip atau
prasangka lalu di tunjukan dalam tindakan yang terbuka atau rencana
tertutup untuk menyingkirkan, menjauhi, atau membuka jarak baik bersifat
fisik maupun sosial dengan kelompok tertentu. Diskriminasi didasarkan
pada variasi bentuk identitas yang mungkin bersifat institusional (melalui
aturan atau organisasi tertentu) dan melalui hubungan antar pribadi
(Liliweri, 2002).
Dari uraian tersebut persepsi masyarakat akan mempengaruhi
sikap dan perlakuan mereka terhadap individu yang mengalami gangguan
jiwa. Dukungan atau penerimaan masyarakat akan menjadi treatment
tersendiri untuk penderita gangguan jiwa dalam proses penyembuhannya.
Pada studi pendahuluan yang dilakukan penulis melalui observasi
pada beberapa penderita gangguan jiwa di Kelurahan Poris Plawad
Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang didapatkan, keluarga yang memiliki
anggota keluarga dengan gangguan jiwa atau kecacatan, mereka melakukan
tindakan yang tidak memanusiakan manusia Seperti; dikurung dalam
ruanggan gelap dan sempit, membiarkannya berkeliaran dengan kondisi
5
yang memprihatinkan dengan kedaan pakaian lusuh kotor dan tidak terawat.
masyarakat sekitar yang mengetahuinya hanya membiarkan saja dan
bersikap tidak perduli.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap individu yang mengalami
gangguan jiwa. Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelurahan Poris Plawad
Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang. Untuk memudahkan peneliti dalam
birokrasi dan peneliti juga telah mengenal karakteristik wilayah tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah yang ingin
diteliti adalah bagaimana persepsi masyarakat terhadap individu yang
mengalami gangguan jiwa di Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang.
C.
Pertanyaan Penelitian
Melihat rumusan masalah diatas, yang menjadi pertanyaan
penelitian adalah:
1.
2.
Bagaimana persepsi masyarakat tentang gangguan jiwa?
Bagaimana persepsi masyarakat terhadap individu yang mangalami
gangguan jiwa.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap individu yang
mengalami gangguan jiwa.
6
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui eksternal perception masyarakat tentang gangguan jiwa
b. Mengetahui self perception masyarakat terhadap individu yang
mengalami gangguan jiwa
E.
Manfaat Penelitian
1.
Untuk klien
Hasil Penelitian ini dapat menjadi masukan pada klien dan keluarga
dalam melakukan perawatan kepada anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa terhadap penerimaan penderita gangguan jiwa di
2.
masyarakat.
Untuk masyarakat
Dapat memberi masukan untuk masyarakat tentang persepsi mereka
mengenai individu dengan gangguan jiwa.
3.
4.
Untuk institusi pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan atau dasar dalam proses
pembelajaran keperawatan jiwa.
Untuk institusi pelayanan kesehatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan puskesmas agar kasus-kasus
gangguan jiwa dapat terdeteksi secara dini dan pelayanan kesehatan
5.
jiwa dapat dijangkau oleh masyarakat luas.
Untuk profesi keperawatan
Hasil penelitian ini akan diperoleh persepsi masyarakat terhadap
individu yang mengalami gangguan jiwa, sehingga dapat menjadi
7
tamabahan ilmu pengetahuan bagi perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan.
6.
Untuk penelitian yang akan datang
Hasil
penelitian
mengembangkan
ini
dapat
penelitian
dijadikan
selanjutnya
sebuah informasi
yang
berkaitan
untuk
dengan
gangguan jiwa.
7.
Untuk peneliti
a. Memberikan pengalaman nyata dalam melaksanakan penelitian
sederhana secara ilmiah dalam rangka mengembangkan diri dalam
melaksanakan fungsi perawat sebagai peneliti
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi peneliti sendiri mengenai gambaran persepsi
masyarakat tehadap individu yang mengalami gangguan jiwa.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan disain kuantitatif dengan
pendekatan deskriptif eksprolatif yang tujuannya untuk memperoleh
informasi tentang gambaran persepsi masyarakat terhadap individu yang
mengalami gangguan jiwa. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara.
Responden penelitian ini adalah masyarakat di Kelurahan Poris Plawad
Kecamatan Cipondoh kota Tangerang.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Persepsi
1. Pengertian Persepsi
Kehidupan individu tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan
fisik maupun sosial, dalam interaksi ini individu menerima rangsangan
atau stimulus dar luar dirinya, persepsi merupakan proses akhir dari
penghambatan yang di awali dari proses penginderaan, yaitu proses yang
diterima stimulus oleh alat indra, kemudian individu ada perhatian, lalu
di teruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang suatu
yang dinamakan persepsi. Dengan persepsi individu menyadari dan dapat
menegrti tentang keadaan lingkungan yang ada disekitarnya maupun
tentang hal yang ada dalam diri individu yang bersangkutan.
Istilah
persepsi
biasanya
di
gunakan
untuk
mengunggkapkan tentang pengalaman terhadap suatu benda ataupun
sesuatu kejadian yang dialami. Persepsi dianggap sebagai sebuah
pengaruh ataupun sebuah kesan oleh benda yang semata-mata
menggunakan pengamatan, penginderaan. Pesepsi
ini didefinisikan
sebagai proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data
indra kita (penginderaan) untuk di kembangkan sedemikianrupa sehingga
kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita
sendiri (Saleh, 2002).
8
9
Definisi lain menyebutkan bahwa persepsi adalah kemampuan
membeda-bedakan, mengelompokan, memfokuskan perhatian terhadap
suatu objek rangsang. Dalam proses persepsi melibatkan proses
interpretasi berdasarkan pengalaman terhadap suatu peristiwa atau objek.
Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian
terhadap rangsangan yang diterima oleh orgnisme atau individu sehingga
merupakan suatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrasi
dalam diri individu (Walgito, 2001) dan
pesrpespsi adalah daya
mengenal barang kualitas atau hubungan dan perbedaan antara hal ini
melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah panca
indra dapat merangsang (Maramis, 2004).
Dengan demikian, persepasi dapat di artikan sebagai proses
diterimanya rangsangan melalui panca indra yang didahului oleh
perhatian sehingga individu mampu mengetahui, mengartikan, dan
menghayati tentang hal yang di amati, baik yang ada diluar maupun
dalam diri individu.
Ciri-ciri umum dunia persepsi, pengindraan terjadi dalam suatu
objek tertentu, konteks ini disebut sebagai dunia persepsi. Agar
dihasilkan suatu penginderaan yang bermakna.
a. Modalitas: rangsangan-rangsangan yang diterima harus sesuai
dengan modalitas tiap-tiap indera, yaitu sifat sensoris dasar dan
masing-masing indera (cahaya untuk penglihatan, bau untuk
10
b.
penciuman, suhu untuk perasa, bunyi bagi pendengaran, sifat
c.
permukaan bagi peraba dan sebagainya.
Dimensi ruang: dunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi
ruang), kita dapat mengatakan atas,bawah,tinggi-rendah,luas-
d.
sempit,latar depan-latar belakang, dan lain-lain.
Dimensi waktu: dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti
e.
cepet-lambat,tua-muda.
Struktur konteks, keseluruhan yang menyatu: objek atau gejalagejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu
dengan
konteksnya.
Struktur
dan
konteks
ini
merupakan
keseluruhan yang menyatu.
2.
Syarat Terjadinya persepsi
a. Adanya objek
b. Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan
persepsi
c. Adanya alat indra sebagai reseptor penerima stimulus
d. Saraf sensori sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak (saraf
pusat atau pusat kesadaran). Otak dibawa melalui saraf motorik untuk
mengadakan respon
3.
Proses Terjadinya Persepsi
Menurut Sunaryo (2002) persepsi melewati tiga proses yaitu;
a. Proses fisik adanya objek menstimulus reseptor atau alat indra
11
b. Proses fisiologis kemudian stimulus tersebut merangsang saraf
sensoris di otak
c. Proses psikologis proses terjadinya di dalam otak sehingga individu
menyadari yang diterima.
Gambar 2.1.
Skema proses terjadinya pesrsepsi (Sunaryo 2002)
Objek
Stimulus
Reseptor
Otak
Saraf sensori
Saraf motorik
Persepsi
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Dalam
pendekatan
konvensional,
persepsi
masih
selalu
dikaitkan dengan faktor-faktor syaraf dan faalnya saja. Misalnya:
persepsi tentang dalam (3 dimensi) di tentukan oleh pandangan dua mata
(binokuler) dimana terdapat perbedaan antara stimuli yang ditangkap
oleh retina kanan dan retina kiri. pengaruh kebudayaan termasuk
12
kebiasaan hidup, nampak juga dalam berbagai gejala hubungan manusia
dengan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
a. Faktor-Faktor Fungsional
Faktor-faktor fungsional ini juga disebut sebagai faktor
personal atau perseptor, karena merupakan pengaruh-pengaruh di dalam
individu yang mengadakan persepsi seperti kebutuhan, pengalaman
masa lalu dan hal-hal lainnya. Berarti persepsi bersifat selektif secara
fungsional sehingga obyek-obyek yang mendapatkan tekanan dalam
persepsi biasanya obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang
melakukan persepsi. Termasuk dalam faktor fungsional ini adalah
pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar
belakang sosial budaya. Jadi yang menentukan persepsi bukan jenis
atau bentuk stimulus tetapi karakteristik orang menentukan respon atau
stimulus.
b. Faktor-Faktor Struktural
Faktor struktural merupakan pengaruh yang berasal dari
sifat stimulus fisik dan efek-efek yang ditimbulkan pada sistem syaraf
individu
Prinsip yang
bersifat struktural
yaitu
apabila
kita
mempersepsikan sesuatu, maka kita akan mempersepsikan sebagian
suatu keseluruhan. Jika kita ingin memahami sutau peristiwa, kita
tidak dapat meneliti faktor-faktor yang terpisah, tetapi harus
mendorongnya dalam hubungan keseluruhan. Sebagai contoh dalam
memahami seseorang kita harus melihat masalah-masalah yang
dihadapinya, konteksnya maupun lingkungan sosial budayanya.
13
Dalam mengorganisasi sesuatu, kita harus melihatn konteksnya.
Walaupun stimulus yang kita terima tidak lengkap, kita akan
mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian
stimulus yang kita persepsi.
Menurut Shaleh dan Wahab (2004) Karena persepsi lebih
bersifat psikologis daripada merupakan proses penginderaan saja
maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi:
a.
Perhatian yang selektif
Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak
sekali rangsangan dari lingkungannya. Meskipun demikian tidak
berarti harus menanggapi semua rangsangan yang diterimanya
untuk itu, individu memustakan perhatianya pada rangsanganrangsangan tertentu sajadengan demikian objek-objek atau gejala
b.
lain tidak akan tampil kemuka sebagai objek pengamatan.
Ciri- ciri rangsangan
Rangsangan yang bergerak di antara rangsangan yang diam akan
lebih menarik perhatian. Demikian juga ra ngsangan yang paling
besar diantara yang keci; yang kontras dengan latar belakangnya
c.
dan intensitas rangsangannya paling kuat.
Nilai dan kebutuhan individu
Seorang seniman tentu mempunyai pola dan cita rasa yang
berbeda dalam pengamatannya di bandingkan seseorang yang
bukan seniman, atau seorang anak dari glongan ekonomi rendah
melihat koin lebih lebih besar daripada anak-anak orang kaya.
14
d.
Pengalaman terdahulu
Pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagai
mana
seseorang mempersepsi
dunianya.
Setelah
manusia
menginderakan objek dilingkungannya, ia memproses hasil
penginderaannya itu dan timbullah makna tentang objek itu pada
diri manusia yang bersangkutan yang dinamai persepsi. Persepsi
ini selanjutnya menimbulkan reaksi yang sesuai dengan refleks
(Bell 1989 dalam Shaleh & Wahab 2004).
5. Macam-Macam Persepsi.
Ada dua macam persepsi yaitu: external perseption, yaitu persepsi
yang terjadi karena adanya rangsangan yang datang dari luar individu.
Self-perceptio, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang
berasal dari dalam individu menjadi objek dalam dirinya sendiri. Dengan
persepsi, individu dapat menyadari dan dapat mengerti tentang keadaan
lingkungan yang ada di sekitar maupun tentang keadaan diri individu yang
bersangkutan (self perception). Dengan dua alat penghubung antar
individu dengan dunia luar adalah alat indra. Persepsi merupakan suatu
proses yang di dahului pengindraan, yaitu dengan di terimanya stimulus
oleh reseptor di teruskan ke otak atau pusat saraf yang di organisasikan
dan diinterpretasikan sebagai proses psikologis. Akhirnya individu
menyadari apa yang di lihat dan didengarkan (Sunaryo 2002).
15
6. Persepsi dalam pandangan Al-qur’an
Persepsi adalah fungsi psikis yang penting yang menjadi jendela
pemahaman bagi peristiwa dan realitas kehidupan yang dihadapi manusia.
Manusia sebagai makhluk yang diberikan amanah kekhalifaan diberikan
sebagai macam keistimewaan yang salah satunya adalah proses dan fungsi
persepsi yang lebih rumit dan lebih kompleks dibandingkan makhluk
Allah yang lainnnya.
B.
Individu dan Masyarakat
1. Pengertian Individu dan Masyarakat
Individu adalah manusia yang berdiri sendiri secara otonom
yang mempunyai keunikan, berbeda satu sama lain, tetapi berkolerasi
dengan yang lain dan harus mempertanggungjawabkannya pada Allah
SWT.
a. Individu dan lingkungan, Sebagai makhluk individu selalu
berinterkasi dengan lingkungannya itu bisa berbentuk benda mati
dan bis aberupa benda hidup. Benda hidup terdiri dari tumbuhtumbuhan, hewan dan manusia.
b. Individu dalam kehidupan sosial
Dalam kehidupan sosial, individu berinteraksi dengan kehidupan dan
kenyataan sosial. Kenyataan dlam kehidupan sosial. Dapat berupa
social things (benda-benda sosial). Dan social fact (kenyataan
sosial).
Masyarakat adalah Sekumpulan manusia yang saling bergaul,
saling berinteraksi. Masyarakat merupakan satu-kesatuan hidup manusia
16
atau society, dalam bahasa arab berarti ikut serta, berpartisipasi
(Koentjaraningrat, 1990 dalam Efendi 1998 ).
Ciri-ciri masyarakat yang dikemukakan Koentjaraningrat adalah :
a.
b.
Interaksi antar warganya
Adat istiadat, norma-norma, hukum-hukum dan aturan-aturan
c.
d.
khas yang mengatur seluruh pola tingkah laku masyarakat.
Suatu komunitas dalam waktu
Suatu rasa identitas kuta yang mengikat semua warga.
Dengan demikian masyarakat adalah kesatuan hidup manusia
yang beriteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat
kontinyu terkait oleh suatu rasa identitas kebersamaan (Koentjaraningrat
1990 dalam Efendi 1998).
Menurut
linton (2000). Masyarakat
mengandung beberapa unsur:
a.
Manusia yang hidup bersama. Didalam ilmu sosial tidak ada ukuran
mutlak ataupun angka pasti untuk menentukan beberapa jumlah
manusia yang harus ada akantetapi secara teorisis adalah dua orang
b.
yang hidup bersama.
Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari manusia
yang dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti. Mereka juga
mempunyai keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan ataupun
perasaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbullah
peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia dalam
kelompok tersebut.
17
c. sadar bahwa mereka adalah satu kesatuan merupakan suatu sistem
hidup
bersama.
Sistem
kehidupan
bersama
menimbulkan
kebudayaan oleh karena setiapa anggota kelompok merasa terikat
satu dengan yang lainnya.
2. Jenis-jenis Masyarakat Berdasarkan Geografis Memiliki Karakteristik
yang Berbeda Menurut Safrudin (2002)
a. Masyarakat desa
Adalah sekelompok orang yang hidup bersama dan kerjasama dalam
berhubungan secara erat dan tahan lama dengan sifat-sifat yang hampir
sama (homogen) disuatu daerah tertentu dengan matpencaharian dari
sektor agraris (Syafrudin, 2009).
Ciri-ciri masyarakat desa:
1) Dalam masyarakat desa diantara warga mempunyai hubungan yang
lebih mendalam dan erat
2) Sistem kehidupan umumnya
berkelompok
dengan
dasar
kekeluargaan
3) Sebagian besar masyarakat desa hidup dari pertanian.
4) Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam mata pencaharian,
agama, adat istiadat.
b. Masyarakat kota
Masyarakat kota adalah suatu himpunan penduduk tidak agraris
yang bertempat tinggal didalam dan sekitar atau kegiatan ekonomi,
pemerintah, kesenian, ilmu pengetahuan.
18
Pengertian masyarakat kota lebih di tekankan pada sifat-sifat serta ciri-ciri
yang berada pada kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat
pedesaan.
Ciri-ciri masyarakat kota:
1) Kehidupan keagamaan berkurang jika dibandingkan dengan
masyarakat desa.
2) Orang kota pada umumnya dapat mengurus diri sendiri.
3) Pembagian kerja warga kota tegas dan batas-batasnya nyata.
4) Kemungkinan untuk mendapat kerja juga lebih banyak
5) Jalan pikiran rasional.
6) Jalan kehidupan cepat mengakibatkan pentingnya faktor waktu.
Perubahan faktor-faktor sosial juga tampak dengan nyata
c. Masyarakat pinggiran
Masyarakat yang tinggalnya di daerah-daerah pinggirankota yang
kehidupannya selalu di warnai dengn kegelisahan dan kemiskinan dan
mencari nafkah dengan cara menjadi pemulung.
c. Fungsi masyarakat terhadap individu
Dengan adanya stuktur, maka secara fisiologis anggoat
masyarakat merasa berada pada batasan kewenangan tertentu dalam
setiap melakukan aktifitasnya;individu senantiasa menyesuaikan diri
dengan keterlibatan dan keturunan masyarakat yang ada. Nilai-nilai dan
norma kemasyarakatan yang dapat diharapkan berfungsi sebagai
pembatas perilaku individu agar tidak melanggar batas-batas hak dan
19
kepentingan anggota masyarakat yang lain (Syani, 1995 dalam
Badrujaman). Struktu masyarakat berfungsi sebagai pengawas sosial,
yaitu sebagai penekan kemungkinan pelanggaran yang dapat terjadi
terhadap norma-norma, nilai-nilai dan peraturan-peraturan yang ada,
sehingga disiplin dalam kelompok dapat dipertahankan. Pengawasan
dimaksudka sebagai tujuan untuk kedisiplinan para anggota kelompok
dan menghindarkan atau membatasi adanya penyelewengan dari anggota
kelompok.
d. Stigma dan Diskriminasi di Masyarakat
1. Pengertian
Stigma menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ciri
negatif yang menempel pada diri seseorang
karena pengaruh
lingkungannya (Departemen Pendidikan Nasional, 2001).
Diskriminasi adalah perilaku yang dihasilkan oleh steriotip atau
prasangka lalu di tunjukan dalam tindakan yang terbuka atau rencana
tertutup untuk menyingkirkan, menjauhi, atau membuka jarak baik bersifat
fisik maupun sosial dengan kelompok tertentu. Diskriminasi didasarkan
pada variasi bentuk identitas yang mungkin bersifat institusional (melalui
aturan atau organisasi tertentu) dan melalui hubungan antar pribadi
(Liliweri, 1994).
20
2.
Stigma di Masyarakat
Stigma masyarakat tentang pencandu napza, stigma sosialnya
adalah sekali pecandu selamanya pecandu.”sesungguhnya seseorang dapat
berubah jika dibantu, didukung dan didorong untuk berubah, seorang
pecandu dapat berubah jika diberi kesempatan dan dukungan untuk
berubah termasuk dukungan lingkungan yang positif. Demikian pula pada
penderita gangguan jiwa yang telah dinyatakan sembuh dan dikembalikan
ke keluarganya, sering kambuh lagi karena adanya stigma masyarakat
bahwa mereka tidak dapat sembuh. Mereka dikucilkan dari pergaulan di
lingkungannya, tidak diberi peran dan dukungan sosial setra diejek
(Noorkasani, Heryati, & Ismail, 2007).
e.
Sehat Jiwa
1.
Pengertian
Kesehatan
jiwa
adalah
kemampuan
individu
dalam
penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan sosialnya.
Terdapat beberapa pola yang ada dalam kesehatan jiwa. Yaitu pola
simtomatis,pola penyesuaian diri, pola pengembangan potensi, dan pola
agama. Pola simtomatis adalah pola yang berkaitan dengan gejala dan
keluhan. Kesehatan mental berarti terhindarnya seseorang dari segala
gejala, keluhan, dan gangguan mental, baik berupa neurosis maupun
psikosis. Pola penyesuaian diri adalah pola yang berkaitan dengan
seseorang (Bastaman 1995 dalam Stuart, 2007).
21
Kesehatan jiwa adalah penyesuaian manusia terhadap dunia
dan satu sama lain sesuai Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara
holistik, atau dapat dikatakan juga secara somato-psiko-sosial. Dalam
mencari penyebab gangguan jiwa, maka ketiga unsur ini harus
diperhatikan. Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejalagejala yang patologik dari unsur psike. Hal ini tidak berarti bahwa unsur
yang lain tidak terganggu. Sekali lagi, yang sakit dan menderita ialah
manusia
seutuhnya
dan bukan hanya
badannya,
jiwanya
atau
lingkungannya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia
ialah keturunan dan konstitusi, umur dan sex, keadaan badaniah, keadaan
psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan,
pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang
yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar amanusia, dan
sebagainya (Yosef , 2007).
C. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa
1. Gangguan kognisi
Kognisi adalah suatu proses mental yang dengannnya
seseorang individu menyadari dan memepertahankan hubungan dengan
lingkungannya baik lingkungan dalam maupun lingkungan luarnya
(fungsi mengenal).
Bagian-bagian dari proses kognisi bukan merupakan
kekuatan terpisah-pisah, tetapi sebenarnya ia merupakan cara dari
seorang individu untuk berfungsi dalam hubungannnya dengan
lingkungannya.
22
2.
Gangguan sensasi
Sensasi atau penginderaan adalah pengetahuan atau
kesadaran atau suatu rangsang. Terdapat 6 macam sensasi yaitu: rasa
kecap, rasa raba, rasa cium, penglihatan, pendengaran, dan kesehatan.
Untuk setiap sensasi harus ada rangsang yang dapat diartikan sebagai
setiap perubahan energi luar yang dapat menimbulkan suatu jawaban.
a)
Hiperestesia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
abnormal dari kepekaan dalam proses penginderaan, baik terasa
b)
panas, dingin, nyeri atau raba.
Anestesia adalah suatu keadaan dimana tidak didapatkan sama
sekali perasaan pada penginderaan. Sifatnya dapat menyeluruh,
setempat, atau sebagian saja. Dibedakan pada anestesia
fungsional
c)
daerah
anestesia
yang
terkena
tidak
sesuai
persyaratan yang biasanya menimbulkan anestesi.
Parestesia adalah keadaan dimana terjadi perubahan pada
perasaan yang normal (biasanya rasa raba), misalnya kesemutan.
Parestesia bisa berupa:acropraestesia adalah keadaan dimana
terjadi perasaan menebal pada ujung-ujung ekstermitas (baal).
Aestereognosis adalah keadaan dimana terjadi kegagalan atau
d)
benda dengan rasa raba.
Sinestesia adalah suatu keadaan dimana rangsangan yang sesuai
e)
dengan alat indra tertentu, di tanggapi oleh indra yang lain.
Hiperosmia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
kepekaan berlebihan indra penciuman (fungsi membau).
23
f)
Hiperkinestesia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan
g)
kepekaan yang berlebihan terhadap perasaan gerak tubuh
Hipokinestesia adalah keadaan dimana terjadi penurunan
kepekaan terhadap perasaan gerak tubuh.
3.
Gangguan Persepsi
Persepsi atau pencerapan, adalah kesadaran akan suatu
rangsang yang dimengerti. Jadi persepsi adalah sensasi ditambah
dengan pengertian yang di dapat dari proses interaksi dan asosiasi
macam-macam rangsang yang masuk atau dengan perkataan lain dapat
disebutkan sebagai pengalaman tentang benda-benda dan kejadian yang
ada pada saat itu.( Maramis, 2004).
a) Ilusi adalah suatu persepsi yang salah/palsu, dimana ada atau
pernah ada rangsangan dari luar. Ilusi sering terjadi dalam
kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mengekspresikan emosi
atau motivasi yang sangat kuat dengan melakukan interpretasi yang
salah terhadap gambaran penginderaan. Keadaan tersebut biasanya
secara sadar di represi dan nantinya secra dinamis akan
diinterpretasikan sebagai ilusi.
b) Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya
rangsang dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang
“khayal” halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan
mental penderita yang “terepsesi” halusinasi dapat terjadi karena
dasar-dasar organik fungsional, psikotik, maupun histerik.
24
Jenis-jenis halusinasi
a. Halusinasi pendengaran (auditif, akustik)
Paling sering di jumpai dapat berupa bunyi mendenging atau
suara bising yang tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering
terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna.
Biasanya suara tersebut ditunjukan pada penderita sehingga
tidak jarang penderita dertengkar ataupun berdebat dengan
suara-suara tersebut. Suara tersebuat dapat dirasakan berasal
dari jauh atau dekat, bahkan mungkin datang dari tiap bagian
tubuhnya sendiri. Suara bisa menyenangkan, menyuruh
berbuat baik, tetapi dapat pula berupa ancaman, mengejek,
memaki atau bahkan yang menakutkan dan kadang-kadang
mendesak/memerintah
untuk
berbuat
sesuatu
seperti
membunuh dan merusak (Yosep, 2007).
b. Halusinasi penglihatan (visual, optik)
Lebih sering terjadi pada keadaan delirium (penyakit organik).
Biasanya sering muncul bersamaan dengan penurunan
kesadaran. Menimbulkan rasa takut akibat gambaran-gambaran
yang mengerikan.
c. Halusinasi penciuman (olfaktorik)
Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu
dan dirasakan tidak enak, melambangkan rasa bersalah pada
penderita sebagi suatu kombinasi moral.
25
d. Halusinasi pengecapan (gustatorik)
Walaupun jarang terjadi, biasanya
bersamaan
dengan
halusinasi penciuman, penderita merasa mengecap sesuatu.
Halusinasi gastrik lebih jarang daripada gustatorik.
e. Halusinasi raba (taktil)
Merasa diraba, disentuh, ditiup, atau seperti ada ulat, yang
bergerak dibawah kulit. Terutama pada keadaan delirium
toksis dan skizofrenia.
f. Halusinasi seksual, ini termasuk halusinasi raba
Penderita
merasa
diraba
dan
diperkosa,
sering
pada
skizofrenian dengan waham kebesaran terutama mengenai
organ-organ.
g. Halusinasi kinestetik
Penderita merasa badannya bergerak-gerak dalam suatu
ruangan atau angota badannya yang bergerak-gerak, misalnya
“phantom phenomenon” atau tungkai yang diamputasi selalu
bergerak-gerak (phantom limb). Sering pada skizofrenia dalam
keadaan toksik tertentu.
h. Halusinasi viseral
Timbulnya
perasaan
tertentu
di
dalam
tubuhnya.
Depersonalisasi adalah perasaan aneh pada dirinya bahwa
pribadinya sudah tidak seperti biasanya lagi serta tidak sesuai
dengan kenyataan yang ada.sering pada skizofrenia dan
sindrom lobus parietalis. Misalnya merasa dirinya terpecah
26
menjadi dua. Derealisasi adalah suatu perasaan aneh tentang
lingkungannnya yang tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya
perasaan bahwa segala sesuatu yang di alaminya seperti di
dalam mimpi.
4.
Gangguan perhatian
Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energi menilai
dalam suatu proses kognitif yang timbul dari luar akibat suatu rangsang.
Agar suatu perhatian dapat memeperoleh hasil, harus ada 3 syarat yang
dipenuhi yaitu: inhibisi, disini semua rangsangan yang tidak termasuk
objek perhatian harus disingkirkan; apersepsi, yang dikemukakan hanya
hal yang berhubungan erat dengan objek perhatian; adaptasi alat-alat
yang digunakan harus berfungsi baik karena diperlukan untuk
penyesuaian terhadap objek pekerjaan.(Maramis, 2004).
Beberapa gangguan perhatian
a)
Distraktibiliti adalah perhatian yang mudah dialihkan oleh
rangsangan yang tidak berarti, misalnya: suaranyamuk, suara
kapal, orang lewat, dan sebagainya.
b) Aproseksia adalah suatu keadaan dimana terdapat ketidak
sanggupan
c)
untuk
memperhatikan
secara
tekun
terhadap
situasi/keadaan tanpa memandang pentingnya masalah tersebut.
Hiperproseksia adalah suatau keadaan dimana terjadinya
pemusatan/konsentrasi perhatian yang berlebihan, sehingga
5.
sangat mempersempit persepsi yang ada.
Gangguan ingatan
27
Ingatan (kenangan, memori) adalah kesanggupan untuk
mencatat, menyimpan, memproduksi isi dan tanda-tanda kesadaran.
Jadi proses ingatan terdiri dari 3 unsur yaitu: pencatatan (mencamkan,
reception and registration), penyimpanan (menahan,
retention,
preservation), pemanggilan kembali (recalling). Gangguan ingatan
terjadi bila terdapat gangguan pada satu atau lebih dari tiga unsur
tersebut, faktor yang mempengaruhi adalah keadaan jasmaniah
(kelelahan, sakit, kegelisahan), dan umur. Sesudah usia 50tahun fungsi
ingatan akan berkurang secara bertahap.(Yosep, 2007).
Berikut beberapa gangguan ingatan:
a)
Amnesia
Ketidak mampuan mengingat kembali pengalaman yang ada,
dapat bersifat sebagian atau total retrograd/antegrad dan dapat
timbul oleh faktor organik/psikogen. Sebab organik, kerusakan
pada unsur pencatatan dan penyimpanan, sedangkan sebab
psikogen karena proses pemanggilan kembali terhalang oleh
faktor psikologis. Pada amnesia psikogen: tidak ada gangguan
kesadaran, tidak ada kerusakan fungsi intelek tual yang bersifat
selektif terhadap kejadian yang tidak menyenangkan, dapat
terjadi penyembuhan secara tiba-tiba dan sempurna.
b) Hipernemsia
28
Suatu keadaan pemanggilan kembali yang berlebihan sehingga
seseorang dapat menggambarkan kejadian-kejadian yang lalu
dengan sangat teliti sampai kepada hal-hal sekecil-kecilnya.
Sering keadaan mania, paranoia, dan katatonik.
c) Paramnemsia (pemalsuan/pemulihan ingatan)
Adalah gangguan dimana terjadi penyimpangan/pemiuhan
terhadap ingatan-ingatan lama yang dikenal dengan baik. Hal ini
terjadi akibat distorsi proses pemanggilan paramnesia berguna
sebagai pelindung terhadap rasa takut.
d) Konfabulasi
yaitu keadaan dimana secara sadar seorang mengisi lubanglubang dalam ingatannya dengan cerita yang tidak sesuai dengan
kenyataan, akan tetapi yang bersangkutan percaya akan
kebenarannya.
e) Pemalsuan retrospektif
disebut sebagai ilusi ingtan yang berbentuk sebagai jawaban
terhadap kebutuhan afektif. Penderita akan memberikan
kesimpulan
yangsalah
terhadap
suatu
kejadian
dengan
menambahkan hal-hal yang keil dibuatnya sendiri atau
menghubungkan dengan pengalaman yang tidak berdasarkan
kenyataan sama sekali.
f) Deja vu (ilusi ingatan)
29
suatu perasaan seakan-akan pernah melihat sesuatu yang
sebenarnya belum pernah dilihatnya. Keadaan ini timbul apabila
saat itu mempunyai ingatan asosiasi dengan pengalaman
masalalu yang sengaja dilupakan, biasanya pengalaman tersebut
pusat konflik yang direpresi secara konsekuen.
g) De jamais vu
suatu perasaan palsu terhadap suatu kejadian yang sebenarnya
pernah dialaminya tetapi saat ini dirasakan belum atau tidak
pernah dialaminya/dilihatnya. Gejala ini sering terjadi pada
skizofrenia, psikoneurosis, lesi pada lobus temporalis, misalnya
epilepsi, kelelahan dan toksis.
6.
Gangguan asosiasi
Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu
perasaan, kesan atau gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan
kesan atau gambaran ingatan respon/konsep lain, yang memang
sebelumnyaberkaitan dengannya (Maramis, 2004)
Dalam kehidupan mental normal, proses asosiasi terjadi
secara terus menerus dengan pola-pola tertentu. Faktor-faktor yang
menentukan pola-pola dalam proses asosiasia antara lain:
1.
2.
3.
4.
Keadaan lingkungan pada saat itu
Kejadian-kejadian yang baru terjadi
Pelajaran dan pengalaman sebelumya
Harapan-harapan dan kebiasaan seseorang
30
5.
Kebutuhan dan riwayat emosionalnya
Beberapa bentuk gangguan asosiasi:
1) Retradasi (perlambatan); adalah proses asosiasi yang berlangsung
lebih lambat dari biasanya.
2) Kemiskinan ide; suatu keadaan dimana terdapat kekurangan
asosiasi syang dapat dipergunakan.
3) Perseversi; suatu keadaan dimana suatu asosiasi diulang-ulang
kembali secara terus menerus yang seakan-akan mengambarkan
seseorang tidak sanggupa lagi untuk melepaskan ide yang telah
diucapkan.
4) Fligth of ideas (lari cita, pikiran melompat-lompat); suatu keadaan
dimana aliran asosiasi berlangsung sangat cepat yang tampak dari
perubahan isi pembicaraan dan pikiran. Di sini tampak ide belum
selesai disusul dengan ide yang lain.
5) Inkoherensi; suatu keadaan dimana aliran asosiasi tak berhubungan
satu dengan yang lain.dapat berbentuk sebagai “gado-gado kata”
(word salad) atau suatu neologisme (pembentukan kata-kata baru
yang tidak berarti). Inkoherensi dapat dikatakan suatu “asosiasi
longgar”.
6) Blocking (hambatan. benturan); suatu keadaan dimana terjadi
kegagalan membentuk asosiasi, mulai dari situasi sementara akibt
reaksi emosional yang kuat sampai pada blocking yang lama
seperti terdapat pada penyakit jiwa yang berat disini penderita tidak
dapat menerangkan mengapa dia berhenti.
31
7) Aphasia; suatu keadaan dimana terjadi kegagalan sebagian atau
seluruhnya untuk menggunakan atau memahami bahasa. Dalam
beberapa buku, gangguan asosiasi dimasukan dalam gangguan arus
pikiran.
7.
Gangguan pertimbangan
Pertimbangan (penilaian) adalah suatu proses mental untuk
membandingkan/menilai beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja
dengan memberikan nilai-nilai untuk memutuskan maksud dan tujuan
dari suatu aktivitas. Membandingkan disini meliputi istilah tentang
”besarnya
kepentingan”,
”kebenarannya”,
“kebaikannya”,
”kecantikannnya dan sebagainya. Tiga hal yang akan mendukung
berfungsinya
pertimbangan
yaitu:
aparat
sensoris
yangmampu
mempunyai persepsi diskriminasi yang teliti. Ingatan yang penuh
dengan data-data sebagai dasar untuk membandingkan. Aparat motoris
yang mempunyai keterampilan atau kemampuan untuk memutuskan
serta adanya mekanisme inhibisi untuk aktivitas yang berlebihan.
Dalam beberapa buku masalah pertimbangan ini dibahas
dalam gangguan proses berpikir (isi pikiran) beberapa bentuk waham.
32
8.
Gangguan pikiran
Pikiran umum adalah meletakan hubungan antara berbagai
bagian dari pengetahuan seseorang. Berpikir merupakan suatu proses
dalam
mempersatukan
atau
menghubungkan
ide-ide
dengan
membayangkan, membentuk pengertian untuk menarik kesimpulan,
serta proses-proses yang lain untuk membentuk ide-ide baru. Jadi dalam
prses berpikir meliputi proses pertimbangan, pemahaman, ingatan serta
penalaran (Yosep, 2007).
Proses berpikir yang normal mengandung ide, simbol, dan
asosiasi yang terarah pada tujuan dan yang dibangkitkan oleh suatu
masalah atau tugas yang dapat menghantar pada suatu penyelesaian
yang berorientasi pada kenyataan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
proses berpikir yaitu:
1) Faktor somatik (gangguan otak dan kelelahan)
2) Faktor psikologik (gangguan emosi dan psikosa)
3) Faktor sosial (kegaduhan dan keadaan sosial tertentu)
Beberapa bentuk gangguan proses berpikir:
a. Gangguan bentuk pikiran (produksi; termasuk semua
penyimpangan dari pemikiran rasional, logik dan terarah pada
suatu tujuan:
b. Pikiran deristik
Adalah bentuk pikiran dimana tidak ada hubungan antara proses
mental dengan pengalamannya yang sedang berjalan. Di sini
33
proses mental tidak sesuai atau tidak mengikuti kenyataan,
logika atau pengalaman.\
c. Pikiran autistik
Gangguan dalam proses berpikir dimana terjadi kegagalan
dalam membedakan batas antara kenyataan dan fantasi. Dengan
berpikir autistik seorang dapat memuaskan keinginannnya
secara khayalan (imaginatif) dengan mengabaikan usaha-usaha
untuk memuaskan secara realistik.
d. Pikiran yang non-realistik
Bentuk pikiran yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan.
Merupakan gejala yang menonjol pada skizofrenia hebefrenik
disamping tingkah laku yang kekanak-kanakan. Ketiga bentuk
pikiran tersebut bisa dibedakan, kadang-kadang dijadikan satu
dengan memakai salah satu istilah saja.
e. Pikiran obsesif
Gangguan pikiran dimana satu ide selalu datang berulang-ulang,
irasional dan secara sadar tak diinginkan, tapi tidak dapat
dihilangkan.
f. Konfabulasi
Gangguan pikiran dimana seorang mempersatukan hal-hal atau
kejadian yang tidak berkaitan, dalam suatu usaha untuk mengisi
kekosongan
pikiran
yang
timbul
karena
kehilangan
ingatan.Gangguan arus atau jalan pikiran meliputi cara dan laju
proses asosiasi dalam pemikiran:
34
g. Flight of idea (lari, cita pikiran melompat-lompat melayang)
adalah keadaan dimana terjadi perubahan yang mendadak, cepat
dalam pembicaraan, sehingga suatu ide belum selesai sudah
disusul oleh ide yang lain. Dikatakan yang berasal dari dalam
maupun luar. Suatu kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan
artinya akan meimbulkan suatu pikiran baru “clang associaton”.
h. Retardasi (perlambatan) yaitu keadaan dimana terjadi
perlambatan dalam jalan pikiran seseorang, sering dijumpai
pada penderita skizofrenia dan psikosa efektif fase depresi.
i. Presevarasi, yaitu suatu keadaan dimana seseorang secara
berulang memberitahukan suatu ide, pikiran atau thema secara
berlebihan.
j. Circumstantiality (pikiran berbelit-belit, pikiran berputar-putar)
yaitu suatu keadaan dimana untuk menuju secara tidak langsung
kepada ide pokok dengan menambahkan banyak hal yang
remeh-remeh yang menjemukan dan tidak relevan. Sering
didapat pada anak/orang terbelakang (MR), epilepsi dan
gangguan jiwa senil yang tidak berat.
k. Inkoherensi, yaitu suatu keadaan dimana terdapat gangguan
dalam bentuk bicara, pembicaraannnya sukar atau tidak dapat
ditangkap maksudnya. Inkoherensi ini dapat dikatakan sebagai
suatu asosiasi yang ekstrim. Pada inkoherensi ada gado-gado
kata “(word salad).
35
l.
Blocking (hambatan, halangan, benturan) yaitu suatu keadaan
dimana jalan pikiran secara tiba-tiba berhenti, hal ini tidak dapat
diterangkan oleh penderita. Kemungkinan disebabkan oleh
aktivitas yang kompleks dan dominan akibat efek yang tidak
enak atau disetujui.
m. Logorea, yaitu banyak bicara dimana kata-kata baru yang tidak
n.
dipahami secara umum.
Neologisme, yaitu membentuk kata-kata baru yang tidak di
o.
pahami secara umum.
Irelevansi, yaitu suatu keadaan dimana isi pikiran atau ucapan
tidak ada hubungannnya dengan pernyataan atau dengan hal
p.
yang sedang dibicarakan.
Aphasia, yaitu suatu keadaan dimana seseorang tidak atau sukar
mengerti pembicaraan orang lain (sensorik) dan atau tidak dapat
atau sukar bicara (motorik). Sering terjadi pada kerusakan otak.
9.
Gangguan isi pikiran (meliputi isi pikiran non verbal atau isi
pikiran yang diceritakan)
1) Waham
suatu kepercayaan yang terpaku dan tidak dapat dikoreksi atas
dasar fak ta dan kenyataan. Tetapi harus dipertahankan, bersifat
patologis dan tidak terkait dengan kebudayaan setempat. Adanya
waham menunjukan suatu gangguan jiwa yang berat, isi waham
dapat menerangkan pemhaman terhadap faktor-faktor dinamis
36
penyebaba gangguan jiwa. Terbentuknya kepercayaan yang
bersifat waham adalah sebagai perlindungan diri terhadap rasa
takut dan untuk pemuasan kebutuhan. Waham ada yang sistematis
dan tidak sistematis, diklasifikasi menurut isinya dan isi waham
biasanya mempunyai kecenderungan untuk menguasai/menonjol
(Maramis, 2004)
2) Waham kebesaran (waham ekspansif)
Suatu kepercayaan palsu dimana seseorang memperluas atau
memperbesar kepentingan dirinya, baik mengenai kualitas
tindakan/kejadian /orang disekelililng, dalam bentuk tidak
realistik. Waham ini timbul akibat perasaan yang tidak wajar,
tidak aman, dan rasa dan rasa rendah diri yang secara sadar
dihalangi oleh komponen ideal dan efektif dari waham itu sendiri.
Isi dari waham kebesaran sering menunjukan kekecewaan,
kegagalan, dan perasaan tidak aman (Yosep, 2007).
3) Waham depresif (menyalahkan diri sendiri;
Kepercayaan yang tidak berdasar. Menyalahkan diri sendiri akibat
perbuatan-perbuatannya
yang
melanggar
kesusilaan
atau
kejahatan lain. Waham depresif sering dirasakan sebagai; waham
bersalah (perasaan bersalah, kehilangan harga diri), waham sakit
(gangguan perasaan tubuh yang berasal dari viseral yang
dipengaruhi oleh keadaan emosi ), waham miskin (kehidupan
perasaan nilai sosial).
37
4) Waham somatis (waham hipokondria);
Kecenderungan yang menyimpang dan bersifat dungu (bizarre)
mengenai fungsi dan keadaan tubuhnya, misalnya penderita
merasa tubuhnya membusuk atau mengeluarkan bau busuk.
5) Waham nihilistik;
Suatu kenyataan bahwa dirinya atau orang lain sudah meninggal
atau dunia ini sudah hancur.
6) Waham kejar;
Penderita yakin bahwa ada orang yang sedang mengganggunya,
menipunya, memata-matai atau menjelekan dirinya.
7) Waham hubungan;
Keyakinan bahwa ada hubungan langsung antara interpretasi yang
salah dari pembicaraan, gerakan atu digunjingkan.
8) Waham pengaruh;
Keyakinan yang palsu bahwa dia adalah merupakan subyek
pengaruh dari orang lain atau tenaga gaib yang tidak terlibat.
9) Ideas reference (pikiran hubungan)
Suatu keadaan yang mana pembicaraan orang, benda atau
kejadian dihubungkan dengan dirinya sendiri. Penderita mungkin
menyadari pikirannya tidak masuk akal, misalnya bunyi burung
dikira suatu berita bagi dirinya.
38
10) Pre-okupasi
Adanya suatu pikiran yang terpaku hanya pada sebuah ide saja,
yang biasanya berhubungan dengan keadaan emosional yang
kuat.
11) Thougth insertion (sisip pikiran).
Adalah suatu perasaan bahwa ada pikiran dari luar yang disispkan
yang dimasukan kedalam otaknya.
12) Thougth board cast (siar pikir)
Adalah suatu perasaan bahwa pikirannya telah disiarkan melalui
radio, televisi, kawat listrik dan lampu.
10.
Fobia
Fobia adalah rasa takut yang irasional terhadap suatu benda
atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh penderita
walau disadari bahwa hal tersebut irasional. Fobia dapat mengakibatkan
suatu kompulsi, bentuk fobia bervariasi dan banyak yang mengenai
benda serta keadaan.
11. Gangguan kesadaran
Kesadaran
adalah
kemampuan
seseorang
untuk
mengadakan hubungan dengan lingkungan serta dirinya sendiri melalui
pancaindera dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungan serta
dirinya sendiri. Bila kesadaran itu baik, maka terjadi orientasi (waktu
tempat dan orang) dan pengertian yang baik pula serta informasi akan
39
digunakan secara afektif (melalui ingatan dan pertimbangan). Bentukbentuk gangguan kesadaran (Maramis, 2004)
1)
Kesadaran kuantitatif
a)
Kesadaran yang
kemampuan
menurun;
persepsi,
suatu
perhatian
kesadaran
dan
dengan
pemikiran
yang
b)
c)
berkurang secara keseluruhan.
Apatis (kesadaran seperti orang yang mengantuk).
Somnolen (kesadaran seperti orang yang mengantuk benar,
d)
memberi jawaban bila dirangsang).
Sopor (hanya bereaksi dengan rangsangan yang kuat, ingatan,
e)
orientasi dan pertimbangan sudah hilang).
Subkoma dan koma (tidak didapat
f)
rangsangan apapun).
kesadaran yang meninggi; keadaan reaksi yang meningkat
reaksi
terhadap
terhadap suatu rangsangan, disebabkan oleh zat toksik yang
2)
merangsang otak atau oleh faktor psikologik.
Kesadaran kualitatif
Terjadi perubahan dalam kualitas kesadaran, dapat ditimbulkan
oleh keadaan toksik, organik, dan psikogen.
a)
Stupor, karena faktor psikogen didapatkan pada keadaan
b)
katatonia, depresi, epilepsi, ketakutan, dan reaksi disosiasi.
Twiligth state (keadaan dini, senja, senjakala); kehilangan
ingatan atas dasar psikologik yang mana kesadaran
terganggu
dan
mengaburkan,
dalam
beberapa
keadaan
sehingga
penderita
tidak
sangat
mengenali
lingkungannya. Dapat disertai halusinasi dengar, sehingga
dapat melakukan tindakan tertentu. Biasanya penderita
40
lupa tentang tindakan selama senja dan seolah-olah dalam
c)
mimpi, brlangsung beberapa menit sampai beberapa hari.
Fuge; suatu periode penurunan kesadaran dengan pelarian
menimbulkan banyak setres, tetapi dapat mempertahankan
d)
kebiasaan dan ketrampilannya.
Confusion (bingung) ; gangguan keadaan karan rusaknya
aparat sensoris dimana didapatkan kesulitan pengertian,
e)
mengacau, disorientasi disertai gangguan fungsi asosiasi.
Tranco (trans); keadaan kesadaran tanpa reaksi yang jelas
terhadap
mendadak
lingkungan
roman
yang
biasanya
mukatampak
mulai
seperti
secara
bengong,
kehilangan akal atau melamun. Dapat ditimbulkan oleh
hipnosa atau upacara kepercayaan.
12. Gangguan orientasi
Orientasi adalah kemampuan seseorang untuk mengenal
lingkungannya serta hubungannya dengan waktu, ruang, dan terhadap
dirinya serta orang lain. Disorientasi atau gangguan orientasi dapat
timbul sebagai gangguan dan kesadaran, mngenai waktu, mengenai
tempat dan mengenai orang. Disorientasi dapat terjadi pada setiap
41
gangguan jiwa yang mana ada kerusakan yang hebat dari ingatan,
pesepsi, dan perhatian.
13. Gangguan Kemauan
Kemauan adalah suatu proses dimana keinginan- keinginan
dipertimbangkan untuk kemudian diputuskan dilaksanakan sampai
mencapai tujuan (Maramis, 2004).
Proses kemauan sebagai berikut:
1) Saat terlihat (terdiri dari tanggapan dan tegangan yang cukup kuat).
2) Saat objektif (sudah ada yang diingini, walau hanya dalam niat
saja, tetapi benda yang menjadi tujuannya sudah ada).
3) Saat aktual (timbul kesadaran akan keingina dan menghendaki,
tindakan sudah dikhayalkan dan dialami).
4) Saat subyektif (berupa tindakan kemauan itu sendiri, dengan
kesdaran penuhdan menggunakan segala daya dan tenaga).
Kemauan dapat dirusak oleh gangguan emosional, gangguangangguan kognisi, kerusakan otak organik, dalam keadaan tidak
terlatih atau bahkan terlalu banyak latihan.
Bentuk-bentuk gangguan kemauan:
1)
Abulia (kemauan yang kemah); suatu keadaan inaktivitas
sebagai akibat ketidak sanggupan membuat keputusan atau
memulai suatuntingkah laku.
42
2)
Negativisme; ketidaksanggupan dalam bertindak atas sugesti
dan tidak jarang terkadi melakukan sesuatu yang bertentangan
3)
dengan yang disugestikan.
Kekakuan (rigiditas); ketidak mampuan memiliki keleluasaan
dalam memutuskan untuk merubah suatu tingkah laku, misal
stereotipe yang merupakan sikap atau gerakan mekanis yang
4)
dilakukan berulang-ulang.
Kompulsi; suatu keadaan dimana seseorang merasa didorong
untuk melakukan suatu tindakan, yang disadari sebagai suatu
5)
irasional atau tidak ada gunanya.
Kleptomania (mencuri konpulsif), yaitu sering mencuri barang
6)
yang mempunyai arti simbolis dan biasanya tidak bernilai.
Pyromania (membakar konpulsif), dipandang sebagi suatu
7)
bentuk simbolis pemuasan seksual.
Mencuci tangan berulang-ulang dengan tidak dapat dicegah atau
dikuasai.
14.
Gangguan Emosi dan Afek
Emosi
adalah
suatu pengalaman
yang
sadar dan
memberikan pengaruh pada aktivitas tubuh dan menghasilkan sensasi
organis dan kinetis. Afek adalah kehidupan perasaan emosional
seseorang , menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran,
biasa berlangsung lama dan jarang disertai omponen fisiologik.
Dikaitkan dengan pengertian afek, maka emosi merupakan
manifestasi afek keluar disertai oleh banyak komponen fisiologik,
biasanya berlangsung relatif singkat. Kdang-kadang istilah emosi dan
afek tidak dibedakan dan dipakai bersama-sama (Yosep, 2007).
43
Bentuk-bentuk gangguan emosi dan afek:
1)
Euforia; emosi yang menyenangkan, masa riang, senang
gembira, bahagia yang berlebihan dan tidak sesuai keadaan, hal
2)
ini menunjukan adanya gangguan.
Elasi; eforia yang berlebihan disertai
motorik
sering
merupakan emosi yang labil dan sering berubah menjadi mudah
3)
tersinggung.
Eksaltasi; elasi yang berlebihan dan biasanya disertai dengan
4)
sikap kebesaran (waham kebesaran).
Eklasi (kegairahan); gairah yang berlebihan disertai rasa aman,
damai, dan tenang biasanya berhubungan dengan perasaan
5)
keagamaan yang kuat.
Inapropiate afek (afek yang tidak sesuai);, adalah suatu gejala
gangguan emosi dimana dijumpai perbedaan yang jelas antara
emosi yang tampak dengan situasi yang menyebabkannya,
misalnya tertawa ketika suatu musibah.
44
6)
Afek yang kaku (rigid), suatu keadaan dimana rasa hati tetap
dipertahankan, walau terdapat rangsangan yang biasanya
7)
menyebabkan reaksi emosional yang berlebihan.
Emosi labil adalah suatu gejala dimana terdapat ketidak stabilan
yang berlebihan dan bermacam emosional, cepat berubah dari
8)
emosi satu pada emosi yang lain.
Cemas dan depresi merupakan gejala yang terlihat dari ekspresi
9)
muka atau tingkah laku.
Ambivalensi adalah emosi dan afek yang berlawana yang timbul
bersama-sama pada seseorang, suatu objek atau keadaan, benci
10)
tapi rindu.
Apatis, kurang atau tidak ada sama sekali reaksi emosional
11)
dalam keadaan- keadaan yang seharusnya menimbulkan emosi.
Emosi yang tumpul dan datar, penguragan atau tidak ada sama
sekali tanda-tanda ekspresi afektif.
15.
Gangguan psikomotor
Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh
keadaan jiwa, sehingga merupakan afek bersama yang menegenai
badan dan jiwa. Juga meliputi kondisi, perilaku motorik dari suatu
perilaku (Yosep, 2009).
Bentuk-bentuk gangguan psikomotor
1)
Aktivitas yang meningkat.
45
2)
Hiperaktivitas, hiperkinesia, aktivitas dan pergerakan yang
3)
4)
berlebihan dengan intensititas respon yang meningkat.
Hipertonisitas, peningkatan gangguan otot tubuh
Gaduh gelisah katatonik, aktivitas motorik yang tampak tidak
bertujuan, berkali-kali dan seakan-akan tak dipengaruhi oleh
5)
rangssangan dari luar.
Aktivitas yang menurun
a) Hipoaktivitas,
hipokinesia, aktivitas dan pergerkan
berkurang dengan intensitas respon yang menurun.
b) Kelambanan motoris, aktivitas berkurang menyeluruh,
c)
misal pada orang suprakatatonik.
Atonisitas, keadaan tonus dan kontraksi otot yang abnormal
dapat menyeluruh atau sebagian saja.
d) Paralisa, kehilangan fungsi otot baik secara keseluruhan
6)
atau sebagian saja.
Aktivitas yang terganggu atau tidak sesuai.
a) Ataksia, tidak terdapat koordinasi pada gerakan tungkai
atau dalam sikap berdiri.
b) Apraksia, tidak sanggup memanipulasi benda dengan cara
c)
yang terarah.
Atetosi, gerakan terus memerus, difus, seperti tungkai dan
dirasakanya nyeri.
d) Gerakan khoreiform, gerakan tidak teratur secara terus
menerus yang tidak dikuasai oleh kemauan.
46
e)
Spasme, kontraksi otot-otot sebagian atau seluruh yang
f)
tidak dikuasai oleh kemauan.
Tremor, kontraksi serat-serat otot yang ringan dan ritmis,
yang tidak dikuasai, dapat lambat atau cepat, kasar atau
halus teratur atau tidak teratur.
g) Konvulsi, kejang terus-menerus pada daerah tubuh yang
luas dan biasanya dengan kehilangan kesadaran.
h) Aktivitas yang berulang-ulang.
i) Katalepsi, mampertahankan secara kaku posisi badan
j)
tertentu.
Fleksibilitas serea, salah satu bentuk katalepsi, yang mana
posisi badan yang dibuat orang lain dipertahankan terus.
k) Stereotipi, gerakan salah satu badn beruang-ulang dan tidak
l)
bertujuan.
Manerisma, gerakan stereotipi dan teaterikal, berbentuk
rituil dan selalu diulang-ulang.
m) Otomatisme perintah dia menurut sebuah perintah secara
otomatis tanpa disadari.
n) Otomatisme, berbuat sesuatu secara otomatis sebagi
ekspresi simbolik aktivitas tak sadar.
o) Ehopraksia, langsung meniru gerakan orang lain padasaat
dia melihat.
p) Ekholalia, langsung mengulangi atau meniru apa yang
dikatakan orang lain.
47
q) Negativisme;
suatu
pertahanan
psikologik
yang
diperhatikan dengan melawan atau menentang terhadap apa
yang disuruh. Ada 2 macam, yaitu; aktif, (melaksanakan
sebaliknya dari apa yang diperintahkan); pasif (tidak
r)
melaksanakan apa yang diperintahkan, contoh; mutisme)
Aversi, suatu reaksi yang agresif dan tegas yang
diperlihatkan dengan melawan, mendengki, membenci,
nonkooperatif, menolak, dan kadang-kadang menunjukan
reaksi stupor.
D. Kriteria Sehat Jiwa
Menurut pendapat Oldewelt (1979) kriteria sehat jiwa adalah:
1.
Memiliki perasaan yang harmonis dan seimbang
2.
Selalu merasa aman dan terjamin (pasti, tepat, dan berhati-hati)
3.
Memiliki kepercayaan, baik terhadap diri sendiri maupun
4.
terhadap orang lain.
Punya kemampuan untuk memahami dan mengontrol diri
5.
6.
7.
sendiri.
Memiliki kepribadian yang matang dan terintegrassi secara utuh
Punya relasi sosial yang memuaskan
Mempunyai stuktur sistem syaraf yang sehat, dan memiliki daya
8.
lentur untuk beradaptasi.
Bahagia, bebas/merdeka jiwanya, luhur dan memiliki kesusialaan
9.
serta memeluk agama dan mempunyai pedoman
Tidak sakit agar dapat produktif
48
Ciri-ciri pribadi sehat berdasarkan aspek penyesuaian dirinya
(Saanin, 1979 dalam Yosep, 2007).
1)
Ditinjau dari aspek sikap terhadap dirinya sendiri.
Ciri perilakunya: menunjukan penerimaan diri, memiliki jati diri
yang memadai (positif), memiliki penilaian yang realistik
terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
2)
Ditinjau dari aspek realitas ciri perilakunya memiliki pandangan
yang realistik terhadap diri sendiri dan terhadap dunia, orang,
3)
mempunyai benda di sekelilingnya.
Ditinjau dari aspek integrasi.
Ciri perilakunya: berkepribadian utuh, bebas dari konflikkonflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik
4)
terhadap stres.
Ditinjau dari aspek kompetensi.
Ciri perilakunya: memiliki kompetensi fisik, intelektual,
emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai
5)
problem hidup.
Di tinjau dari aspek otonomi.
Ciri perilakunya: memiliki kemandirian, tanggung jawab, dan
penentuan diri yang memadai disertai kemampuan cukup untuk
membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
6) Di tinjau dari aspek pertumbuhan aktualisasi diri.
49
Menunjukan kecenderungan ke arah menjadi semakin matang,
semakin
berkembang
kemampuan-kemampuannya
dan
mencapai pemenuhan diri pribadi.
Harus cermat memeriksa kriteria-kriteria tersebut. Dan
semua itu adalah pengertian yang relatif. Tidak ada seorang pun yang
dapat memenuhi kriteria ini dengan sempurna. Seseorang mungkin
kurang dalam satu segi, tetapi masi memiliki kesehatan yang baik,
bebrati dia dianggap sebagai rang yang normal. Sebaliknya, kalau
seseorang berkurang terlalu banyak karakteristik (sifat-sifat) atu
menunjukan kekeurangan yang asangat dalam satu-dua sifat maka
kemungkinan besar dia dia nggap abnormal (Saanin 1979 dalam
Yosep).
E. Istilah Perilaku Abnormal
Ada bebebrapa istilah yang sering dipakai secara bergantian
sejalan dengan gejala perilaku berkelainan yaitu: perilaku abnormal,
perilaku maladaptif, gangguan mental, dan ketidakwarasan. (Carson 1980
dalam Suliswati 2000).
a.
Perilaku abnormal
Istilah ini memiliki arti yang bermacam-macam. Kadangkadang untuk menunjuk aspek batiniah kepribadian, aspek perilaku
yang dapat langsung diamati, atau keduanya kadang-kadang yang di
maksud hanyalah perilaku spesifik tertentu seperti phobia, atau
kategori perilaku yang lebih kompleks seperti skizophreni. Kadang
50
kadang diartikan sebagai problem atau masalah yang
bersifat kronik atau berkepanjangan atau hanya berupa simptomsimptom seperti pengaruh obat-obatan tertentu yang bersifat akut
atau temporer atau cepat hilang. Secara kasar sama artinya dengan
gangguan mental (jiwa) dan dalam konteks yang lebih luas sama
artinya dengan perilaku maladaptif.
b.
Perilaku maladaptif
Istilah ini memiliki arti luas meliputi setip perilaku yang
mempunyai dampak merugikan bagi individu dan atau masyarakat.
Pemakaiannya tidak hanya mencakup gangguan –gangguan seperti
neurosis dan psikosis yang bermacam-macam jenisnya, melainkan
juga berbagai bentuk perilaku baik peprorangan maupun kelompok
seperti praktik bisnis curang, prasangka ras atau golongan, alienasi
atau ketersaingan atau apatisme
c.
Gangguan mental
Istilah ini menunjuk pada semua bentuk perilaku abnormal,
mulai dari yang ringan sampai yang melumpuhka. Ada yang
kuarang senang dengan istilah ini karena dipandang mengandaikan
adanya dualisma antara jiwa dan badan, serta memberikan kesan
seolah-olah selalu terjadi gangguan serius terhadap fungsi
kehidupan norma. Namun istilah ini diterima secara resmi (Yosep,
2007).
51
d.
Psiko patologi
Istilah ini Berarti ilmu yang secara khusus elakukan kajian
tentang perilaku abnormal atau gangguan mental. Namun sering
juga dipakai sebagai istilah lin bagi kedua istilah tersebut
1) Penyakit jiwa
Dulu istilah ini sering disebut sama dengan penyakit gangguan
mental. Kini dipersempit hanya meliputi gangguan-gangguan
yang meilbatkan patologi otak atau berupa disoraganisai
kepribadian yang parah. Istilah ini memang cocok bila di
maksud adalah gangguan-gangguan yang benar melumpuhkan,
namun rasanya kurang tepat untuk gangguan yang lebih
disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya.
2) Gangguan perilaku
Secara khusus istilah ini menunjukan gangguan–gangguan
yang disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya,
seperti gagal mempelajari jenis-jenis kemampuan yang
diperlukan (contoh ketidak mampuan mencintai lawan jenis,
tidak memiliki konsep diri yang positif dan sebagainya). Atau
terlanjur mempelajari bentuk-bentuk perilaku yang maladaptif
(contohnya: anak yang menjadi remaja yang agresif karena
mencontoh perilaku orang tuanya dan tekanan keadaan dalam
keluarga yang tidak harmonis).
52
3) Penyakit mental
Dulu istilah ini menunjuk pada gangguan-gangguan yang
berkaitan dengan patologi otak. Kini istilah itu sudah jarang
dipakai.
4) Ketidakwarasan
Ketidakwarasan (insanity) merupakan istialh hukum yang
mengandung arti bahwa individu yang di kenai prediket tidak
waras secara mental tidak mampu mempertanggung jawabkan
perbuatan-perbuatannya
atau
tidak
mampu
melihat
konsekuensi – konsekuensi dari tindakan – tindakannya.
Akibatnya,
jika
ia
melakukan
perbuatan
yang
dapat
dikategorikan sebagai tindak pidana terhadapnya tidak dapat
dikenakan tuntutan hukuman. Jelas, istilah tersebut menunjuk
pada gangguan mental yang serius.
F.
Peran Perawat Kesehatan Jiwa
1. Keperawatan Jiwa
Keperawatan
jiwa
adalah
pelayanan
keperawatan
profesional didasarkan pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa pada
manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respon psikososial yang
maladaptif yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial, denagn
mengguanakan diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa (komunikasi
terapeutik dan terapi modalitas keperawatan kesehatan jiwa) melalui
pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah,
53
mempertahankan, dan memulihkan masalah kesehatan jiwa klien
(individu, keluarga, kelompok komunitas). Keperawatan jiwa adalah
proses interpersonal yang berusaha meningkatkan dan mempertahankan
perilaku sehingga klien dapat berfungsi utuh sebagai manusia
(Suliswati, 2004)
Tatanan tradisional dari keperawatan jiwa mencakup
fasilitas psikiatri, pusat kesehatan mental masyarakat unit psikiatri di
rumah sakit umum, fasilitas-fasilitas tempat tinggal dan praktik
pribadi. Dengan diprakarsainya bentuk baru pelayanan kesehatan,
timbul suatu tatana alternatif sepanjang rentang asuhan keperawatan
jiwa. Tatana tersebut meliputi pelayanan di rumah, program rawat
inap parsial, puast-pusat penitipan, panti asuhan, atau rumah
kelompok, hospice, asosiasi perawat kunjungan, unit kedaruratan,
klinik
pelayanan
utama,
sekolah,
penjara,
industri,
fasilitas
pengelolaan perawatan dan organisasi pemeliharaan kesehatan.
Prinsip keperawatan jiwa berlandaskan paradigma dapat ditinjau dari
empat
komponen
yaitu
mausia,
lingkugan,
kesehatan,
dan
keperawatan (Depkes RI, 2000).
2.
Peran Perawat
Perawat berperan dalam mengobservasi perubahan, baik
kecil maupun menetap yang terjadi pada klien, mendemonstarsikan
penerimaan, respek, memahami klien dan mempromosikan ketertarikan
klien dan berpartisipasi speran perawat adalah, sebagai
54
pendidik,sebagai pemimpin di dalam situasi yang bersifat lokal,
nasional,dan internasional; sebagai “surrogate parent” dan sebagai
konselor.
Perawat berkerjasama dengan lembaga kesehatan mental,
konsultasi dengan yayasan kesejahteraan, memberikan pelayanan
kepada klien di luar klinik, aktf melakukan penelitian dan membantu
pendidikan masyarakat. Dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa,
perawat jiwa dapat melakukan aktivitas pada tiga area utama ( Stuart
dan Sundeen,1995 dalam Yosep 2007):
a.
Aktivitas memberikan asuhan keperawatan langsung kepada
b.
c.
klien.
Aktivitas komunikasi
Aktivitas dalam pengelolaan (manajemen keperawatan)
Dalam hubungan perawat klien, elemen peran keperawatan
jiwa meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Kompetensi klinik
Advokasi klien keluarga\
Tanggung jawab fiskal (keuangan)
Kerjasama antara disiplin ilmu bidang keperawatan
Tanggung gugat sosial
Parameter etik legal
55
3.
Peran perawat dalam masing-masing tingkat pelayanan kesehatan
jiwa
a.
peran dalam prevensi primer
1) Memberi penyuluhan tentang prinsip-prinsip sehat jiwa.
2) Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan, tingkat
kemiskinan, dan pendidikan.
3) Memberikan pendidikan dalam kondisi normal, pertumbuha
dan perkembangan , dan pendidikan seks.
4) Melakukan rujukan yang sesuai sebelum gangguan jiwa
terjadi, berdasarkan pada stresor dan perubahan kehidupan
yang potensial.
5) Membantu klien di RSU untuk menghindari masalah psikiatri
dimasa mendatang.
6) Bersama-sama keluarga memberi dukungan pada anggota
keluarga dan meningkatkan fungsi kelompok.
7) Aktif dalam kegiatan masyarakat dan politik yang berkaitan
dalam kesehatan jiwa
b. Peran perawat dalam prevensi sekunder
1) Melakukan skrining dan pelayanan evaluasi kesehatan jiwa.
2) Melaksanakan kunjungan rumah atau pelayanan penanganan di
rumah
3) Memberi pelayanan kedaruratan psikiatri
4) Menciptakan lingkunagn terapeutik.
5) Melakukan supervisi klien yang mendapatkan pengobatan.
56
6)
7)
8)
9)
Memberi pelayanan pencegahan bunuh diri
Memberikan konsultasi
Melaksanankan intervensi krisis
Memberikan psikoterapi individu, keluarga, dan kelompok
pada berbagai tingkat usia.
10) Memberikan intervensi pada komunitas dan organisasi yang
telah teridentifikasi masalah yang dialaminya.
c. Peran perawat dalam prevensi tersier
1) Melaksanakan latihan vokasional dan rehabilitasi
2) Mengorganisasi “after care” untuk klien yang telah pulang dari
fasilitas kesehatan jiwa untuk memudahkan transisi dari rumah
sakit ke komunitas.
3) Memberikan pilihan “partial hospitalization” (perawatan rawat
siang) pada klien.
57
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A.
Kerangka Konsep
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah diuraikan di atas.
Persepsi masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa
perlu diteliti, agar melalui penelitia ini dapat memberi pemahaman
masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa. Dibawah ini
dijelaskan kerangka konsep yang akan dilakukan penelitian di Kelurahan,
kecamatan Cipondoh, Kota Tngerang.
Persepsi
1. External perseption,
yaitu persepsi yang
terjadi karena adanya
rangsangan yang datang
dari luar individu
2. Self-perseption, yaitu
persepsi yang terjadi
karena adanya
rangsangan yang
berasal dari dalam
individu menjadi objek
dalam dirinya sendiri
Bagan 3.1 Kerangka Konsep
55
58
B.
Definisi Operasional
Definisi orperasional adalah mendefinisikan variabel secara
operasional secara berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga
memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara
cermat terhadap suatu objek atau fenomena.
Variabel
Persepsi
masyarakat
Definisi
Operasional
proses
Cara Ukur
kuesioner
diterimanya
Alat
Hasil Ukur
Ukur
Skala
0-25% =
Likert
sangat tidak
rangsangan
setuju (sangat
melalui
panca
tidak baik)
indra
yang
26-50% =
didahului
oleh
tidak setuju
perhatian
(tidak baik)
sehingga
51-75% =
masyarakat
setuju (baik)
mampu
76-100 =
mengetahui,
sangat setuju
mengartikan,
(sangat baik)
Skala
Pengukuran
Ordinal59
dan menghayati
tentang hal yang
di amati, baik
yang ada diluar
maupun
External
diri.
Persepsi
perseption,
seseorang
dalam
kuesioner
Skala
0-10:sangat
likert
tidak setuju
Ordinal
(sangat tidak
tentang suatu hal
baik
Dipengruhi oleh
rangsangan-
11-20: tidak
rangsangan dari
setuju (tidak
luar.
baik
21-30: setuju
(baik)
31-40: sangat
setuju (sangat
baik)
Self-
Persepsi
perseption
seseorang yang
tidak setuju
bersal dari
(sangat tidak
dirinya sendiri
baik )
setelah melihat
objek tanpa
dipengaruhi
rangsangan dari
luar.
kuesioner
0-15: sangat
16-30: tidak
setuju (tidak
baik)
31-45: setuju
Ordinal
60
BAB IV
METODE PENELITIAN
A.
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan
dengan jenis penelitian deskriptif eksploratif, yaitu jenis rancangan
penelitian yang bertujuan untuk menemukan yang menarik perhatian, yang
belum diketahui, belum dipahami, belum dikenali, sesuatu yang baru dari
hasil eksplorasi yang mendalam pada obyek tertentu (menurut Kotler,
2003). Sesuatu yang baru itu dapat saja berupa pengelompokan suatu gejala,
fakta, dan penyakit tertentu.
B.
Lokasi dan Waktu penelitian
Sebelum pelaksanaan penelitian yang sebenarnya, peneliti akan
melaksanakan uji coba kuesioner mengenai persepsi masyarakat terhadap
individu yang mengalami gangguan jiwa di wilayah kerja kecamatan
Cipondoh. pada kelurahan yang berbeda pada bulan Juli 2011. Penelitian
sebenarnya dilaksanakan di kelurahan poris plawad pada bulan Agustus
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek
atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
60
61
kesimpulannya (Sugiono, 2004; Hidayat, 2008). Populasi dalam penelitian
ini adalah masyarakat di Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh,
Kota Tangerang. dimana akan memudahkan peneliti dalam birokrasi dan
peneliti sudah mengetahui karakteristik wilayah tersebut.
Serta dalam studi pendahuluan didapatkan hasil keluarga yang
memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa atau kecacatan, mereka
melakukan tindakan yang tidak memanusiakan manusia Seperti; dikurung
dalam ruanggan gelap dan sempit, membiarkannya berkeliaran dengan
kondisi yang memprihatinkan dengan kedaan pakaian lusuh kotor dan tidak
terawat. masyarakat sekitar yang mengetahuinya hanya membiarkan saja
dan bersikap tidak perduli.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti atau
sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat,
2008). Sampel pada penelitian ini adalah masyarakat kelurahan Poris
Plawad yang sekitar wilayah kerja kelurahan tersebut. yaitu dengan
mengambil beberapa anggota populasi menjadi sampel yaitu disesuaikan
dengan kriteria inklusi yang telah ditentukan.
Adapun sampel yang diambil harus memiliki kriteria sebagai
berikut:
a. Kriteria Inklusi
1) Masyarakat kelurahan Poris Plawad, sekitar wilayah kerja
kelurahan tersebut terdapat penderita gangguan jiwa.
62
2) Mampu berkomunikasi dengan baik, tidak terganggu pendengaran
dan penglihatannya.
3) Mampu membaca dan menulis
4) Usia 15tahun atau lebih
b.
Jumlah Sampel
Penelitian ini menggunakan variabel tunggal (Univariat). Dikemukakan
bahwa ukuran besar sampel diambil dengan menggunakan rumus
Estimasi (Nursalam, 2003), yaitu :
n = Z21-α/2 x P x (1-P)
d²
Keterangan :
n : Besarnya sampel
Z²1-α/2 : Confident interval = 95% = 1,96
P : Proporsi untuk sifat tertentu yang diperkirakan terjadi pada
populasi= 50% = 0,5
d : Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang
diinginkan.
Peneliti menggunakan presisi sebesar 10% = 0,1
n = (1,96)² x 0.5x (1-0,5) / (0.1)²
n = 0.9604 / 0.01
n = 96,04 = 96 sampel
63
Peneliti juga mengantisipasi apabila terjadi data yang mengurangi
kelengkapan dengan menambah jumlah sampel sebanyak 10 % dari
jumlah responden sebenarnya (Aziz, 2008), dengan perhitungan sebagai
berikut:
10% x 96 = 9.6 = 9
Jadi dari 96 sampel + 9 sampel cadangan = 105 sampel
Pada pelaksanaanya, pengumpulan data melibatkan 115 warga
kelurahan Poris Plawad dikarenakan wilayah yang luas dan populasi
yang bnyak. Dalam Kelurahan tersebut terdapat 11 RW dan 48 RT.
3. Teknik Pengambilan Sempel
Teknik sampling merupakan suatu proses seleksi sempel yang
digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sempel
akan mewakili keseluruhan populasi yang ada. Teknik sampling yang
digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling yaitu
pengambilan sampel dengan secara acak. Besar semple cukup, ciri-ciri
populasi terwakili dan variasi antar unit.
D.
Alat pengumpulan data
Pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah kuesioner
atau angket yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan mengacu pada
kerangka konsep dan teori yang telah dibuat. Instrumen ini terdiri dari dua
bagian yaitu data demografi meliputi inisial nama, umur, jenis kelamin,
pekerjaan, dan pendidikan.
64
Bagian kedua kuisioner berisi 25 pernyataan tentang persepsi
masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa. Penilaian
untuk pernyataan 1-13
persepsi positif masyarakat
yaitu: skala Likert
Sangat setuju, Setuju, Tidak setuju dan Sangat tidak setuju
Sedangkan penilaian pernyataan 14-25 pernyataan negatif
mengenai penderita gangguan jiwa juga menggunakan skala Likert, yaitu:
Sangat tidak setuju, Tidak setuju, Setuju, dan Sangat setuju. Pada
pernyataan no: 5, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 20, 24, dan 25 adalah pernyataan
self perseption sedangkan sisanya pernyataan no : 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10,
11, 18, 19, 21, 22, dan 23 adalah pertanyaan eksternal perseption
E. Tehnik Pengumpulan Data
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilaksananakan pada bulan Mei 2011. Pengumpulan data
dilakukan oleh peneliti dengan memakai kuesioner.
2. Tahap pengumpulan data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses
pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam penelitian
(Nursalam, 2003). Pengumpulan data dilakukan di kantor Litbang Linmas
Kota Tangerang dengan prosedur sebagai berikut :
a. Setelah proposal mendapat persetujuan dari pembimbing akademik
dilanjutkan dengan membuat surat permohonan dari PSIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang ditujukkan kepada Litbang Linmas Kota
Tangerang.
65
b. Setelah mendapat persetujuan dari Litbang Linmas kota Tangerang,
peneliti meyerahkan surat permohonan tersebut kepada ketua Litbang
Linmas kota Tangerang. Setelah itu peneliti melakukan teknik random
sampling atau pengambilan sampel secara acak.
F. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu
benar- benar mengukur apa yang diukur. Suatu kuesioner dikatakan valid
jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang
akan diukur oleh kuesioner tersebut. Dalam hal ini digunakan beberapa item
pertanyaan yang dapat secara tepat mengungkapkan variabel yang diukur
tersebut. Uji ini dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing –
masing skor item pertanyaan dari tiap variabel dengan total skor variabel
tersebut (Arikunto, 2006).
Uji validitas dapat menggunakan rumus Pearson Product Moment.
r hitung =
r hitung
n
= Koefisien korelasi
= Jumlah responden
∑Xi = Jumlah skor item
∑Yi = Jumlah skor total
Uji validitas ini dilakukkan di Kelurahan poris plawad pada RT
001/04 yang berbeda dilakukan pada 30 responden. hasil r tabel
66
menunjukkan nilai 0,367. Beberapa pertanyaan 4, 5, 6, 9, dan 13
dikeluarkan karena tidak sesuai dengan uji satatistik.
2.
Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks
yang menunjukkan sejauh mana
suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti
menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila
dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama,
dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2005). Teknik
pengujian pada penelitian ini menggunakan teknik Alfa Cronbach (α),
dalam uji reliabilitas r hasil adalah alpha. Ketentuannya apabila r alpha > r
tabel, maka pertanyaan tersebut reliabel. Sebaliknya bila r alpha < r tabel
maka pertanyaan tersebut tidak reliabel.
Uji kuesioner dilakukan untuk menguji kuesioner yang akan
digunakan dalam penelitian gambaran persepsi masyarakat Pertanyaan dan
pernyataan pada uji kuesioner ini diajukan kepada masyarakat kelurahan
poris plawad RT 001/04 Tangerang dengan jumlah responden sebanyak 30,
pada tanggal 06 Agustus sampai dengan 08 Agustus 2011 dengan jumlah
responden sebanyak 30 orang.
Hasil dari uji reliabilitas penelitian menunjukkan nilai Alpha
Crombach (α) dri variabel, yaitu pada variable persepsi adalah 0.711 dari 14
pertanyaan karena pertanyaan 10, 16, 11, 1, 2, 3, 24, 8, 14, 7, dan 15. Di
keluarkan karena tidak sesuai dengan syarat uji statistik. Jadi sisa 14
pertanyaan
tersebut menunujukkan bahwa pertanyaan dalam kuisioner
dapat dikatakan reliabel.
67
G. Pengolahan Data
Proses pengolahan data peneliti menggunakan langkah-langkah
pengolahan data diantaranya:
1. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data atau
formulir kuesioner yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat
dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul
2. Codinng
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap
data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting
bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam
pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code
book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari
suatu variabel.
3. Scoring
Tahap ini meliputi nilai masing-masing pernyataan dan penjumlahan hasil
scoring dari semua pernyataan.
4. Entry data
Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan
kedalam master tabel atau data base komputer, kemudian membuat
distribusi frekuensi sederhana.
68
5. Cleaning data
Cleaning data merupakan kegiatan memeriksa kembali data yang sudah
dientri, apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan mungkin terjadi pada
saat meng-entry data ke komputer.
H. Tekhnik Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan mengunakan komputer, yaitu
analisa univariat. Analisa univariat adalah analisis yang dilakukkan pada dua
atau lebih variabel yang hanya memiliki satu variabel terikat (Setiadi, 2007).
Analisa univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari faktor
persepsi masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa.
I. Etika Penelitian
1. Prinsip-prinsip Etika Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian khususnya jika yang menjadi
subyek penelitian adalah manusia, maka peneliti harus memahami hak dasar
manusia. Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya, sehingga
peneliti yang akan dilaksanakan benar-benar menjunjung tinggi kebebasan
manusia.
Beberapa prinsip penelitian pada manusia yang harus
dipahami antara lain:
a. Prinsip Manfaat
Prinsip aspek maka segala bentuk manfaat adalah segala bentuk
penelitian yang dilakukan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk
69
kepentingan manusia. Prinsip ini dapat ditegakkan dengan membebaskan,
tidak memberikan atau menimbulkan kekerasan pada manusia, tidak
menjadikan manusia untuk dieksploitasi. Penelitian yang dihasilkan
dapat memberikan manfaat dan mempertimbangkan antara aspek risiko
dengan aspek manfaat, bila penelitian yang dilakukan dapat mengalami
dilema etik.
b. Prinsip Menghormati Manusia
Manusia mempunyai hak dan merupakan makhluk yang mulia yang
harus di hormati, karena manusia berhak untuk menentukan pilihan
antara mau dan tidak untuk diikut sertakan menjadi subyek penelitian.
c. Prinsip Keadilan
Prinsip ini dilakukan untuk menjunjung tinggi keadilan manusia dengan
menghargai hak atau memberikan pengobatan secara adil, hak menjaga
privasi manusia dan tidak berpihak dalam perlakuan terhadap manusia.
2. Masalah Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang
sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan
berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus
diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Inform Consent
Inform cosent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan
responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Inform
consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan
70
memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan
inform consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan
penelitian, mengetahui dampaknya. Jika subyek bersedia, maka mereka
harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia,
maka peneliti harus menghormatinya.
b. Anonimity (Tanpa Nama)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan
dalah penggunaan subyek penelitian dengan cara tidak memberikan atau
mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya
menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang
akan disajikan.
c. Confidentiality (Kerahasiaan)
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah
lainya. Informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh
peneliti, hanya kelompok data tersusun yang akan dilaporkan pada hasil
riset.
71
BAB V
HASIL PENELITIAN
A.
Gambaran Umum Tempat Penelitian
Kelurahan poris plawad terletak di sebelah timur Kota
Tangerang dengan luas Wilayah 205 Ha terdiri dari Tanah Darat 205 Ha,
Tanah Sawah 0 Ha, dan Tanah Rawa 0 Ha. Letak ketinggian dari permukaan
laut sekitar 12 Km dengan curah hujan rata-rata 2200 mm/tahun.
Wilayah Kelurahan Poris Plawad terdiri dari 11 RW (Rukun
Warga) dan 48 RT (Rukun Tetangga). Jarak dari ibu kota negara sekitar 26
Km, jarak dari ibu kota provinsi Banten sekitar 75 Km dan jarak dari Ibu
Kota
Tangerang
sekitar
5
Km
yang
dihubungkan
oleh
jalan
negara/provinsi/kota dengan batas- batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan
: Sungai Mookevaart
(Cisadane)/ Kec. Batuceper.
2. Sebelah timur berbatasan dengan
: kel. Poris gaga Baru
kec.Batu ceper
Kel. Poris Plawad Utara
Kec.Cipondoh
3. Sebelah selatan berbatasan dengan : Kel. Poris Plawad Utara
Kec. Cipondoh
4. Sebelah barat berbatasan dengan
: Kel. Tanah Tinggi Kec.Cipondoh
Jumlah seluruh pendukduk yang ada di wilayah kerja
kelurahan poris plawad dibagi berdasarkan:
1. Kepala keluarga
Laki-laki
: 3,202 orang
Perempuan
: 200 orang
Jumlah
: 3,402 orang
71
2. Jumlah penduduk
Laki-laki
: 7,285 orang
Perempuan
: 5,943 orang
Jumlah
: 13,228 orang
B.
Karakteristik Responden
1. Proporsi Responden
72
Dibagi berdasarkan jumlah RT yang ada diwilayah kerjakelurahan poris
plawad, dari 48 RT di dapatkan beberapa RT yg menjadi responden.
RT
2.
01
Jumlah Responden
29 responden
04
30 responden
08
28 responden
05
28 responden
Total
115 responden
Jenis kelamin
Data jenis kelamin disajikan dalam bentuk tabel dan menggunakan data
numerik
73
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di Kelurahan
Poris Plawad 2011
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
Frekuensi
46
69
115
prosentase
40%
60%
100
Dari tabel 5.1 diatas menunjukan bahwa pada penelitian ini jumlah yang
paling banyak menjadi responden adalah perempuan dengan jumlah 69
responden atau 60% dari total responden sedangkan jumlah responden
3.
laki-laki adalah 46 atau 40% dari total responden.
Usia
Data umur responden disajikan dalam bentuk tabel dan menggunakan data
numerik.
Tabel 5.2
Usia reponden di Kelurahan Poris Plawad
Jumlah
Mean
Median
Mode
29
28
32
maksimum
minimum
50
16
Dari tabel 5.2 diatas menunjukan bahwa rata usia responden adalah 29,
usia yang terbanyak adalah 32, terendah usia yang menjadi responden
4.
adalah 16,dan tertinggi usia responden adalah 50.
Pendidikan
Data pendidikan disajikan dalam bentuk tabel dan menggunakan data
numerik.
74
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di Kelurahan
Poris Plawad 2011
Tidak sekolah
SD
SMP
SMA
PT
Total
Ferkuensi
1
8
25
65
16
115
Prosentase %
0,9
7
22
57
14
100
Dari tabel 5.3 diatas menunjukkan sebagian besar responden mempunyai
tingkat pendidikan setingkat SMA yaitu sebesar 65 orang atau 56 %,
berikutnya SMP sebanyak 25 orang atau 22%. Pendidikan
perguruan
tinggi yaitu sebanyak 16 orang atau 13% , dan hanya sebagian kecil
responden yang tidak sekolah sebanyak 1orang atau 0,9%.
C.
Persepsi Responden
Tabel 5.4 menggambarkan hasil persepsi responden. Hasil persepsi dalam
penelitian ini dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu sangat tidak baik, tidak
baik, baik, dan sangat baik.
75
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap
Individu yang mengalami gangguan jiwa di Kelurahan Poris Plawad
Tangerang 2011
n = 115
Frekuensi
0
0
110
5
115
Sangat tidak baik
Tidak baik
Baik
Sangat baik
Total
percent
0
0
95.7
4.3
100
Tabel 5.4 menunjukan bahwa mayoritas reponden berpersepsi baik yaitu
110 responden atau 95,7%. Dan beberapa berpersepsi sangat baik yaitu 5
responden atau 4,3%. Dan tidak ada yang berpersepsi tidak baik apalagi
bepersepsi sangat tidak baik.
Persepsi responden dibagi berdasarkan self perseption, dan eksternal
1.
perseption berikut hasil dari self perseption dan eksternal perseption.
Sefl perception
Tabel dibawah ini menunjukan hasildari sefl perseption responden.
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Self Perseptio Responden Terhadap
Individu yang mengalami gangguan jiwa di Kelurahan Poris Plawad
Tangerang 2011
Sangat tidak
baik
Tidak Baik
Baik
Sangat baik
Total
Frekuensi
0
Percent%
0
0
47
68
0
41
59
115
100
Tabel 5.5 menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki self
perseption yang sangat baik sebanyak responden 68 atau 59% dan
76
sebanyak 47 responden atau 41% berpersepsi baik, tidak ada yang
berpersepsi tidak baik atau sanagt tidak baik.
2. Eksternal Perception
Tabel dibawah ini menunjukan hasildari eksternal perseption responden.
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Eksternal Perseption Responden Terhadap
Individu yang mengalami gangguan jiwa di Kelurahan Poris Plawad
Tangerang 2011
Sangat tidak baik
Tidak Baik
Baik
Sangat baik
Total
Frekuensi
0
0
110
5
115
Persentase (%)
0
0
97
Tabel 5.6 menunjukan bahwa sebagian besar reponden berpersepsi baik
yaitu 110 responden berpersepsi baik atau 95,7%, 5 responden atau 4,3%
berpersepsi sangat baik dan tidak ada yang berpersepsi tidak baik apalagi
bepersepsi sangat tidak baik.
77
BAB VI
PEMBAHASAN
Bab ini mengurakan mengenai pembahasan yang meliputi
interpretasi dan deskripsi hasil penelitian, keterbatasan penelitian, dan
selanjutnya akan dibahas juga implikasi penelitian terhadap keperawatan
dan penelitian yang berhubungan dengan persepsi masyarakat
.
A. Interpretasi dan Diskusi Hasil
Penelitian ini seperti sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya
bertujuan untuk Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap individu
yang mengalami gangguan jiwa. selama bulan Agustus 2011 di Kelurahan
Poris Plawad dengan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara
yang dilakukan oleh peneliti kepada 115 responden pada 4 RT. Penelitian
disini akan menjelaskan tentang persepsi masyarakat, ekternal perseption
dan self perseption.
B. Distribusi Demografi Responden
1. Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian dapat terlihat bahwa sebagian besar
responden adalah wanita (60%) atau 69 responden sedangkan pria hanya
40% atau sekitar 46 responden. Ini dikarnakan dalam pengambilan
semple lebih banyak perempuan.
78
2. Usia
Berdasarkan hasil penelitian bahwa usia yang menjadi responden adalah
dimulai dari usia 16 tahun usia77yang terbanyak adalah 32, rata-rata usia
responden adalah 29 tahun., dan tertinggi usia responden adalah 50
tahun
3. Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden mempunyai
tingkat pendidikan setingkat SMA yaitu sebesar 65 orang atau 56 %,
berikutnya SMP sebanyak 25 orang atau 22%. Pendidikan perguruan
tinggi yaitu sebanyak 16 orang atau 13% , dan hanya sebagian kecil
responden yang tidak sekolah sebanyak 1orang atau 0,9%.
C. Distribusi Persepsi Ekaternal perseption dan self perseption
Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian
terhadap rangsangan yang diterima oleh orgnisme atau individu sehingga
merupakan suatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrasi dalam
diri individu (walgito 2001) dan pesrpespsi adalah daya mengenal barang
kualitas atau hubungan dan perbedaan antara hal ini melalui proses
mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah panca indra dapat
merangsang (Maramis 2000). Persepsi memberikan makna pada stimuli
indrawi (sensory stimuli). Menafsirkan makna inderawi melibatkan sensasi,
atensi, ekspektasi, motivasi, memori, dan prasangka sosial (DesiDerato1976 dalam Lutfi 2009).
Hasil penelitian menggambarkan hampir semua reponden berpersepsi baik
yaitu 110 responden berpersepsi baik atau 95,7%. Dan beberapa berpersepsi
79
sangat baik yaitu 5 responden atau 4,3%. Dan tidak ada yang berpersepsi
tidak baik apalagi bepersepsi sangat tidak baik. Persepsi disini
mengambarkan Kehidupan individu tidak lepas dari interaksi dengan
lingkungan fisik maupun sosial, dalam interaksi ini individu menerima
rangsangan atau stimulus dari luar dirinya, terhadap penderita gangguan
jiwa. Dengan persepsi individu menyadari dan dapat mengerti tentang
keadaan lingkungan yang ada disekitarnya maupun tentang hal yang ada
dalam diri individu yang bersangkutan, melalui media masa atau sumbersumber berita dan persepsi masyarakat terhadap individu yang mengalami
gangguan jiwa (Sunaryo, 2002).
Self perseption adalah persepsi yang terjadi karena adanya
rangsangan yang berasal dari dalam individu menjadi objek dalam dirinya
sendiri (sunaryo, 2002). Dari hasilpenelitian sebagian besar responden
memiliki self perseption yang sangat baik sebanyak responden 68 atau 59%
dan sebanyak 47 responden atau 41% berpersepsi baik, tidak ada yang
berpersepsi tidak baik atau sanagt tidak baik. External perseption, yaitu
persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang datang dari luar
individu Dari hasil penelitian mayoritas reponden berpersepsi baik yaitu 110
responden berpersepsi baik atau 95,7%. Dan beberapa berpersepsi sangat
baik yaitu 5 responden atau 4,3% tidak ada yang berpersepsi tidak baik, dan
bepersepsi sangat tidak baik. kesediaan informasi,
ketika seseorang
menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan sebuah
persepsi, serta persepsi dapat timbul berdasarkan kebutuhan individu
tersebut (sunaryo, 2002).
80
Hasil persepsi tersebut dipengaruhi oleh masyarakat tersebut
atau individu tersebut terhadap interpretasi seseorang tentang apa yang
dilihatnya dipengararuhi oleh karakteristik individual, seperti sikap, motif,
kepentingan, minat pengalaman dan harapan (Lutfi 2009). Masyarakat
sudah memiliki pemahaman yang baik terhadap penderita gangguan jiwa
sehingga mereka tidak lagi menstigma negatif terhadap penderita gangguan
jiwa. Menurut responden pederita gangguan jiwa juga manusia yang berhak
mendapat penghidupan yang layak dan mendapat pengobatan dan
penanganan, merekapercaya bahwa penderit gangguan jiwa dapat sembuh
karena dari beberapa responden memiliki pengalaman mengenai penderita
gangguan jiwa, yaitu warga sekitar rumahnya, saudara, dan teman mereka
ada yang pernah mengalami gangguan jiwa dan sekarang sudah hidup
normal seperti sedia kala. Sebagian besar dari mereka setuju dengan
pendapat yang tertera dalam kuesioner bahwa dukungan masyarakat dapat
meningkatkan kesembuhan pada penderita gangguan jiwa, mereka tidak lagi
takut terhadap orang gila (penderita gangguan jiwa) yang ada disekitar
mereka, bahkan mereka beranggapan jika sudah ada yang berperilaku diluar
sewajarnya mereka kan segera antisipasi dan membawanya kerumah sakit
sebagai langkah awal penanganan pada penderita gangguan jiwa.
81
D. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari adanya keterbatasan dalam pelaksanaan
penelitian ini, keterbatasan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:.
1. Belum ada instrumen pengumpulan data yang baku dalam penelitian ini,
sehingga instrumen dalam penelitian ini disusun sendiri oleh peneliti
berdasarkan literatur yang didapatkan mengenai persepsi masyarakat
terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa dan sudah dilakukan
uji validitas dan reliabilitas.
2. Houthrone effect ; subjek penelitian mengetahui bahwa dirinya sedang
diteliti sehingga dapat mempengaruhi jawaban responden.
3. Subyek penelitian terlalu banyak dan luas
4. Data yang di kumpulkan kurang karena pihak-pihak terkait tidak
mempunyai data yang dibutuhkan.
5. Peneliti mencari sendiri penderita gangguan jiwa yang berada di wilayah
penelitian.
E. Implikasi Hasil Penelitian
1. Implikasi Terhadap Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu
pengetahaun keperawatan, khususnya pada lansia dan dijadikan sebagai
2.
rujukan tambahan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Implikasi Terhadap Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan berpengaruh terhadap peningkatan
pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan keperawatan dalam melakukan
82
asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan jiwa, karena dari
hasil penelitian persepsi masyarakat sebagian besar adalah baik,
3. Implikasi Terhadap Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar penelitian selanjutnya bagi
peneliti dan peneliti lainnya.
83
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah
dijabarkan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat ditarik
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Gambaran jenis kelamin responden di Kelurahan Poris Plawad
Cipondoh Tangerang sagian besar berjenis kelamin perempuan
sebanyakan 69
responden, sedangkan laki-laki berjumlah 31
2.
responden.
Gambaran usia responden di mulai sejak usia 16 tahun sampai , usia
3.
50tahun.
Gambaran pendidikan responden pada penelitian ini sebagian besar
adalah SMA hanya sedikit yang tingkat pendidikannya sampai
4.
perguruan tinggi dan tidak sekolah.
Gambaran persepsi masyarakat pada penelitian ini adalah sebagian
besar reponden berpersepsi baik yaitu 110 responden atau 95,7%. Dan
beberapa berpersepsi sangat baik yaitu 5 responden atau 4,3%. Dan
tidak ada yang berpersepsi tidak baik apalagi bepersepsi sangat tidak
5.
baik.
Gambaran self perseption masyarakat adalah sebagian besar responden
memiliki self perseption yang sangat baik sebanyak responden 68 atau
83
84
59% dan sebanyak 47 responden atau 41% berpersepsi baik, tidak ada
6.
yang berpersepsi tidak baik atau sanagt tidak baik.
Gambaran eksternal perseption masyarakat sebagian besar reponden
berpersepsi baik yaitu 110 responden berpersepsi baik atau 95,7%. Dan
beberapa berpersepsi sangat baik yaitu 5 responden atau 4,3%. Dan
tidak ada yang berpersepsi tidak baik apalagi bepersepsi sangat tidak
baik.
B.
Saran
1. Bagi masyarakat
Penelitian tentang gambaran persepsi masyarakat terhadap
individu yang mengalami gangguan jiwa didapatkan sebagian besar
mempunyai persepsi baik, untuk itu diharapkan bagi masyarakat untuk
meningkatkan persepsi
serta tindakan pencegahan dan perawatan
individu yang mengalami gangguan jiwa. Peningkatan persepsi ini bisa
dengan cara pembuktian pemberian tindakan pencegahan dan
perawatannya agar penderita gangguan jiwa bisa merasakanya. Seperti
memberikan dukungan masyarakat, serta motivasi dan dorongn juga
tidak mengucilkan mereka.
2.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa persepsi masyarakat
terhadap Individu yang mengalami gangguan jiwa sebagian besar baik,
dari self perseption maupun eksternal perseptio hasilnya adalah baik.
Oleh karena itu, peneliti menyarankan bagi peneliti selanjutnya dapat
melakukan penelitian kepada aspek yang lebih luas lagi,
mengembangkan variabel-variabel yang belum diteliti, dan metode
85
yang lebih lengkap untuk lebih menyempurnakan penelitian ini dan
juga dapat menggunakan analitik sehingga mengetahui hubungan antar
variabel.
3.
Bagi Institusi Pendidikan dan Ilmu Keperawatan
a.
Meningkatkan peran instansi terkait serta perawat khususnya
keperawatan keperawatan jiwa dalam pelaksanaan pembinaan
masyarakat, karena masyarakat cenderung berpersepsi baik,
b.
diharapakan sikap dan perilaku juga baik.
Memberikan saran dan pertimbangan kepada instansi tertinggi
dalam penyusunan kebijakan upaya meningkatkan kesejahteraan
c.
pe.nderita gangguan jiwa.
Menambah bahan literatur
mengenai
masyarakat tentang gangguan jiwa.
gambaran
persepsi
86
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
RinekaCipta. 2006
Depkes RI. Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta:
Balai Pustaka. 2000
Efendi Nasrul. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta :
EGC 1998
Hidayat, A. Aziz Alimul. Metode Penelitian Keperawtan dan Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika. 2008.
______________________. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika. 2008
Lutfi Ikhwan, dkk. Psikologi Sosial. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN
Ciputat. 2009
Liliweri Alo. Makna budaya dalam komunikasi Atar Budaya. Yogyakarta :
LKis 2002
Maramis,W.F. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Uiniversity Perss.
2004
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.2002
Nursalam. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Segung Seto. 2001
Noorkasiani, dkk. Sosiologi Keperawatan. Jakarta : EGC 2007
Perry & Potter. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC 2002
Shaleh, Abdul Rahman dan Wahab, Muhib Abdul . Psikologi Suatu
Pengantar Perspektif dalam Islam. Jakarta: Kencana. 2004.
Sunaryo. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC. 2002.
Suliswati,dkk. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta:
Kedokteran EGC.2004
Semiun, Yustinus. Kesehatan mental. Yogyakarta: Kanisius. 2006
Syafrudin. Sosial Budaya Dasar. Jakarta: CV Trans Info Media. 2009
Stuart, Gail W. Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC. 2002
87
WHO. Kesehatan Mental, Hak Asasi dan Legislasi edisi Khusus tentang
Kesehatan Mental. 2005;The Lancet, 4 September , 2007,
Yosep, Iyus. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama. 2007
INFORMED CONSENT
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP INDIVIDU
YANG MENGALAMI GANGGUAN JIWA DI
KELURAHAN PORIS PLAWAD KECAMATAN
CIPONDOH KOTA TANGERANG
TAHUN 20011
Assalamualaikum. WR. WB
Saya mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan sedang
mengadakan penelitian untuk mengumpulkan data sebagai bahan penyusunan
tugas akhir (skripsi). Untuk itu saya mohon kepada bapak/ibu (sebagai responden
studi saya) dapat meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner ini. Dalam
kuesioner ini jawaban bapak/ibu akan dijaga kerahasiaannya sehingga kejujuran
bapak/ibu dalam menjawab kuesioner ini akan sangat saya hargai. Terima kasih
banyak atas bantuan dan kerjasama bapak/ibu untuks peran sertanya dalam studi
saya.
TTD
Hormat Saya,
Responden
(Peneliti)
Alfiana Suci Romadhon
Nomor Responden
LEMBAR KUESIONER
Petunjuk Pengisian:
1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap item pertanyaan
2. Pertanyaan di bawah ini mohon di isi semuanya
3. Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Bapak/ibu yang paling sesuai dengan
kondisi yang dialami dengan memberikan tanda cek list ( √ )
4. Isilah titik yang tersedia dengan jawaban yang benar
A. Karakteristik Responden
1. Nama Lengkap
: ………………….
2. Jenis Kelamin
: a. Laki – Laki
3. Umur
: …………………………………..
4. Pendidikan Terakhir
: a. Tidak Sekolah
c. SMP
e. Perguruan Tinggi
b. Perempuan
b. SD
d. SMA
1. Persepsi
pilihlah salah satu jawaban untuk setip pertanyaan berikut dengan
memberikan tanda cek list ( √ ) pada kolom yang tersedia.
NO
Pertanyaan
1.
Gangguan jiwa adalah perilaku
abnormal yang dilakukan oleh
seseorang seperti ngomong sendiri,
bicara kacau, emosinya mudah
berubah, tiba-tiba menagis kemudian
tertawa, menarik diri dari lingkungn
keluarga dan sosial.
2.
Gangguan jiwa itu dapat terjadi
karena seseorang yang tidak dapat
menyelesaikan
masalah
yang
dialami.
3.
Gangguan jiwa adalah penyakit
keturunan
Orang yang mengalami gangguan
kesehatan jiwa itu tidak dapat
disembuhkan
walaupun
sudah
dirawat di rumah sakit jiwa dan
dinyatakan sembuh
Menurut
saya
orang
dengan
gangguan jiwa yang selama ini
menjadi objek kekerasan baik fisik
dan juga seksual.
Gangguan jiwa adalah penyakit yang
tidak disadari dan timbul dengan
sendirinya
Gangguan jiwa dapat menyerang
siapa saja
Seorang pecandu narkoba adalah
orang yang terganggu jiwanya, akibat
mengkonsumsi obat-obatan terlarang
tersebut
Tekanan dari lingkungan keluarga
dan masyarakat dapat memicu
terjadinya gangguan jiwa.
Gangguan jiwa adalah penyakit yang
tidak ada obatnya.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Gangguan jiwa itu terjadi karena
dirasuki oleh makluk halus (stan atau
Setuju Sangat
Tida Sangat
Tidak
setuju k
setuju setuju
jin)
12.
13
14.
15.
16.
Saya
pernah
mendengar
jika
penderita gangguan jiwa itu dapat
sembuh jika lingkungan sekitar
membantu dan mendukungnya
Menurut saya penderita gangguan
jiwa adalah manusia yang haknya
dilindungi
Menurut saya Penderita gangguan
jiwa sudah tidak berguna lagi karena
sudah tidak dapat berfikir dengan
menggunakan akalnya
Saya yakin penderita gangguan jiwa
itu menyusahkan
Menurut saya Penderita gangguan
jiwa
tidak
perlu
mendapat
pengobatan
17.
Menurut saya penderita gangguan
jiwa itu lebih baik di kurung saja
karena akan memganggu orang lain
18.
Jika ada anggota keluarga saya yang
mengalami gangguan kesehatan jiwa,
maka hal itu akan sangat memalukan
dan dapat merusak nama baik
keluarga.
19.
Jika ada anggota keluarga atau orangorang
disekitar
saya
sudah
menunjukan perilaku lain di luar
kebiasaan, misal suka menyendiri,
melamun, dan menunjukan perilaku
diluar batas kewajaran. Maka perlu
dicurigai dan segera mendapat
pertolongan.
20.
Saya pernah bertemu orang dengan
gangguan jiwa di jalan dengan
keadaan lusuh kotor dan bau.,
kelihatan
menjijikan
sehingga
membuat saya ketakutan.
21
Orang dengan gangguan kesehatan
jiwa adalah hal yang sangat
menakutkan karena dapat melakukan
kekerasan kepada orang lain
22.
Penderita ganggu jiwa itu berbahaya
23.
Penderita gangguan jiwa sebaiknya
di jauhi
24.
Menurut saya gangguan jiwa itu
adalah kutukan
25.
Menurut saya penderita gangguan
jiwa itu
sudah tidak dapat
berkomunikasi lagi jadi sebaiknya
diabaikan saja keberadaannya
INFORMED CONSENT
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP INDIVIDU
YANG MENGALAMI GANGGUAN JIWA DI
KELURAHAN PORIS PLAWAD KECAMATAN
CIPONDOH KOTA TANGERANG
TAHUN 20011
Assalamualaikum. WR. WB
Saya mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan sedang
mengadakan penelitian untuk mengumpulkan data sebagai bahan penyusunan
tugas akhir (skripsi). Untuk itu saya mohon kepada bapak/ibu (sebagai responden
studi saya) dapat meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner ini. Dalam
kuesioner ini jawaban bapak/ibu akan dijaga kerahasiaannya sehingga kejujuran
bapak/ibu dalam menjawab kuesioner ini akan sangat saya hargai. Terima kasih
banyak atas bantuan dan kerjasama bapak/ibu untuks peran sertanya dalam studi
saya.
TTD
Hormat Saya,
Responden
(Peneliti)
Alfiana Suci Romadhon
Nomor Responden
LEMBAR KUESIONER
Petunjuk Pengisian:
1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap item pertanyaan
2. Pertanyaan di bawah ini mohon di isi semuanya
3. Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Bapak/ibu yang paling sesuai dengan
kondisi yang dialami dengan memberikan tanda cek list ( √ )
4. Isilah titik yang tersedia dengan jawaban yang benar
A. Karakteristik Responden
1. Nama Lengkap
: ………………….
2. Jenis Kelamin
: a. Laki – Laki
3. Umur
: …………………………………..
4. Pendidikan Terakhir
: a. Tidak Sekolah
c. SMP
e. Perguruan Tinggi
b. Perempuan
b. SD
d. SMA
1. Persepsi
pilihlah salah satu jawaban untuk setip pertanyaan berikut dengan
memberikan tanda cek list ( √ ) pada kolom yang tersedia.
NO
Pertanyaan
1.
Gangguan jiwa adalah perilaku
abnormal yang dilakukan oleh
seseorang seperti ngomong sendiri,
bicara kacau, emosinya mudah
berubah, tiba-tiba menagis kemudian
tertawa, menarik diri dari lingkungn
keluarga dan sosial.
2.
Gangguan jiwa itu dapat terjadi
karena seseorang yang tidak dapat
menyelesaikan
masalah
yang
dialami.
3.
Gangguan jiwa adalah penyakit
keturunan
Orang yang mengalami gangguan
kesehatan jiwa itu tidak dapat
disembuhkan
walaupun
sudah
dirawat di rumah sakit jiwa dan
dinyatakan sembuh
Menurut
saya
orang
dengan
gangguan jiwa yang selama ini
menjadi objek kekerasan baik fisik
dan juga seksual.
Gangguan jiwa adalah penyakit yang
tidak disadari dan timbul dengan
sendirinya
Gangguan jiwa dapat menyerang
siapa saja
Seorang pecandu narkoba adalah
orang yang terganggu jiwanya, akibat
mengkonsumsi obat-obatan terlarang
tersebut
Tekanan dari lingkungan keluarga
dan masyarakat dapat memicu
terjadinya gangguan jiwa.
Gangguan jiwa adalah penyakit yang
tidak ada obatnya.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Gangguan jiwa itu terjadi karena
dirasuki oleh makluk halus (stan atau
Setuju Sangat
Tida Sangat
Tidak
setuju k
setuju setuju
jin)
12.
13
14.
15.
16.
Saya
pernah
mendengar
jika
penderita gangguan jiwa itu dapat
sembuh jika lingkungan sekitar
membantu dan mendukungnya
Menurut saya penderita gangguan
jiwa adalah manusia yang haknya
dilindungi
Menurut saya Penderita gangguan
jiwa sudah tidak berguna lagi karena
sudah tidak dapat berfikir dengan
menggunakan akalnya
Saya yakin penderita gangguan jiwa
itu menyusahkan
Menurut saya Penderita gangguan
jiwa
tidak
perlu
mendapat
pengobatan
17.
Menurut saya penderita gangguan
jiwa itu lebih baik di kurung saja
karena akan memganggu orang lain
18.
Jika ada anggota keluarga saya yang
mengalami gangguan kesehatan jiwa,
maka hal itu akan sangat memalukan
dan dapat merusak nama baik
keluarga.
19.
Jika ada anggota keluarga atau orangorang
disekitar
saya
sudah
menunjukan perilaku lain di luar
kebiasaan, misal suka menyendiri,
melamun, dan menunjukan perilaku
diluar batas kewajaran. Maka perlu
dicurigai dan segera mendapat
pertolongan.
20.
Saya pernah bertemu orang dengan
gangguan jiwa di jalan dengan
keadaan lusuh kotor dan bau.,
kelihatan
menjijikan
sehingga
membuat saya ketakutan.
21
Orang dengan gangguan kesehatan
jiwa adalah hal yang sangat
menakutkan karena dapat melakukan
kekerasan kepada orang lain
22.
Penderita ganggu jiwa itu berbahaya
23.
Penderita gangguan jiwa sebaiknya
di jauhi
24.
Menurut saya gangguan jiwa itu
adalah kutukan
25.
Menurut saya penderita gangguan
jiwa itu
sudah tidak dapat
berkomunikasi lagi jadi sebaiknya
diabaikan saja keberadaannya
LAMPIRAN
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
%
30
100.0
0
.0
30
100.0
Excludeda
Total
a. Listwise deletion based on all variables in
the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.711
14
Item Statistics
Mean
Std. Deviation
N
A4
A5
A6
A9
A12
A13
A17
A18
A19
A20
2.30
2.93
3.10
3.00
3.03
3.13
2.87
3.03
2.43
2.30
.877
.521
.548
.000
.556
.507
.973
.890
.858
.535
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
A21
A22
A23
A25
2.73
3.00
3.23
3.00
.691
.743
.568
.743
30
30
30
30
Item-Total Statistics
Scale Mean if
Item Deleted
A4
A5
A6
A9
A12
A13
A17
A18
A19
A20
A21
A22
A23
A25
Frequencies
37.80
37.17
37.00
37.10
37.07
36.97
37.23
37.07
37.67
37.80
37.37
37.10
36.87
37.10
Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha
Item Deleted
17.614
18.144
18.000
19.334
17.237
18.240
14.530
16.547
17.885
18.166
16.240
15.334
16.671
14.645
Total Correlation
.129
.207
.223
.000
.387
.193
.520
.276
.098
.194
.469
.593
.504
.728
if Item Deleted
.726
.707
.706
.715
.690
.708
.664
.705
.730
.708
.677
.658
.677
.638
Statistics
jk
N
Valid
Missing
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Sum
usia
pendidikan
persepsi
115
115
115
115
0
1.60
2.00
2
.492
1
2
184
0
29.79
28.00
23a
8.504
16
50
3426
0
3.76
4.00
4
.812
1
5
432
0
66.83
67.00
65a
4.935
55
86
7685
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown
Frequency Table
jk
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
laki-laki
46
40.0
40.0
40.0
perempuan
69
60.0
60.0
100.0
115
100.0
100.0
Total
usia
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
16
1
.9
.9
.9
17
2
1.7
1.7
2.6
18
2
1.7
1.7
4.3
19
5
4.3
4.3
8.7
20
7
6.1
6.1
14.8
21
4
3.5
3.5
18.3
22
1
.9
.9
19.1
23
9
7.8
7.8
27.0
24
6
5.2
5.2
32.2
25
5
4.3
4.3
36.5
26
2
1.7
1.7
38.3
27
9
7.8
7.8
46.1
28
7
6.1
6.1
52.2
29
1
.9
.9
53.0
30
9
7.8
7.8
60.9
31
5
4.3
4.3
65.2
32
3
2.6
2.6
67.8
33
2
1.7
1.7
69.6
34
1
.9
.9
70.4
35
7
6.1
6.1
76.5
36
6
5.2
5.2
81.7
37
1
.9
.9
82.6
38
1
.9
.9
83.5
39
1
.9
.9
84.3
40
4
3.5
3.5
87.8
41
1
.9
.9
88.7
43
1
.9
.9
89.6
44
1
.9
.9
90.4
45
3
2.6
2.6
93.0
46
2
1.7
1.7
94.8
47
2
1.7
1.7
96.5
48
1
.9
.9
97.4
50
3
2.6
2.6
100.0
115
100.0
100.0
Total
pendidikan
Cumulative
Frequency
Valid
tidak sekolah
Percent
1
SD
Valid Percent
.9
Percent
.9
.9
8
7.0
7.0
7.8
SMP
25
21.7
21.7
29.6
SMA
65
56.5
56.5
86.1
PT
16
13.9
13.9
100.0
115
100.0
100.0
Total
Descriptives
Descriptive Statistics
N
hasilpersepsi
Valid N (listwise)
Minimum
115
Maximum
3
Mean
4
Std. Deviation
3.04
.205
115
Frequencies
Statistics
hasilpersepsi
N
Valid
Missing
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Sum
115
0
3.04
3.00
3
.205
3
4
350
hasilpersepsi
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid
baik
110
95.7
95.7
95.7
sangat baik
Total
5
115
4.3
100.0
4.3
100.0
100.0
Frequencies
Statistics
hasilpersepsi
N
Valid
Missing
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Sum
115
0
3.04
3.00
3
.205
3
4
350
hasilpersepsi
Cumulative
Frequency
Valid
baik
sangat baik
Total
Percent
Valid Percent
Percent
110
95.7
95.7
95.7
5
4.3
4.3
100.0
115
100.0
100.0
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
jk * hasilpersepsi
Missing
Percent
115
N
100.0%
Percent
0
.0%
jk * hasilpersepsi Crosstabulation
Count
hasilpersepsi
baik
jk
laki-laki
43
perempuan
Total
sangat baik
Total
3
67
110
46
2
5
Total
69
115
N
Percent
115
100.0%
Frequencies
Statistics
ekternal.persepton.kat
N
Valid
115
Missing
0
ekternal.persepton.kat
Cumulative
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
1
.9
.9
.9
109
94.8
94.8
95.7
5
4.3
4.3
100.0
115
100.0
100.0
sangat tidak baik
baik
sangat baik
Total
Frequencies
ekternal.persepton.kat
Cumulative
baik
sangat baik
Total
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
110
95.7
95.7
95.7
5
4.3
4.3
100.0
115
100.0
100.0
Download