Prevalensi Demensia di RSUD Raden Mattaher Jambi

advertisement
Prevalensi Demensia di RSUD Raden Mattaher Jambi
Triana Linda Larasati
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Jambi
Jln. Letjen Soeprapto samping RSUD Raden Mattaher Telanaipura Jambi
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar belakang : Peningkatan pelayanan di bidang kesehatan telah meningkatkan usia
harapan hidup. Usia harapan hidup di Indonesia tahun 2000 mencapai 67 tahun dan
jumlah populasi lansia sebanyak 17 juta (7%). Penurunan fungsi kognitif merupakan
masalah penting pada usia lanjut meskipun penyebabnya belum jelas. Demensia
didefinisikan sebagai gangguan signifikan (dapat mengganggu kerja normal atau fungsi
sosial) dari dua atau lebih domain kognisi, dimana salah satunya adalah memori.
Tujuan : Mengetahui prevalensi demensia di Poliklinik Penyakit Saraf RSUD Raden
Mattaher.
Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Jumlah
sampel sebanyak 108 responden. Responden dipilih mulai usia 45 tahun keatas.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan form MMSE. Analisis
data dilakukan dengan menggunakan anilisis univariat dan tabulasi silang.
Hasil : Responden yang mengalami demensia banyak terjadi pada usia ≥ 60 tahun.
Perempuan berisiko tinggi menderita demensia. Demensia banyak terjadi pada responden
yang tanpa ada pasangan hidup. Semakin rendah tingkat pendidikan responden, semakin
tinggi risiko mengalami demensia. Tidak bekerja atau pensiunan meningkatkan risiko
demensia. Adanya riwayat diabetes mellitus, hipertensi, stroke, dan riwayat keluarga
demensia dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya demensia pada responden.
Kesimpulan : Sebanyak 56 responden (51,9%) dalam kondisi normal, 39 responden
(36,1%) kemungkinan demensia, dan 13 responden (12,0%) mengalami demensia.
Kata kunci : demensia;sosiodemografi;DM;hipertensi;stroke;demensia pada keluarga.
1
ABSTRACT
Background : The improvement of healthy services have increased life expectancy. Life
expectancy in Indonesia in 2000 achieve 67 years old and elderly population as much as 17
millions (7%). Functional cognitive impairment was mainly problem for elderly, although
the cause is still unclear. Dementia was classified as significant impairment (can disturb
normal function or social function) from two or more cognition domain, which is memory.
Objective : To know about prevalence of dementia in Neurological clinic of Raden
Mattaher Hospital.
Methode : This study is a descriptive study with cross sectional study desaign. Total sample
108 respondent. Respondent are selected from 45 years old and above. Data was collected
using questionnaires and MMSE form. Data analysis perfomed using univariate analysis
and cross tabulation.
Result : The age of respondent who had dementia is commonly happen within age ≥ 60
years old. Women are high risk to get dementia. Dementia many occur in respondent who
do not have a life partner. The lower education of respondent, high risk to have dementia.
Not working or retired have increase risk of dementia. There is diabetic history,
hypertension history, stroke history, and family history in respondent can increase risk of
dementia.
Conclusion : From 108 respondent, 56 respondent (51,9%) normal, 39 respondent (36,1%)
may have dementia, and 13 respondent (12,0%) have dementia.
Key Word : dementia;sociodemographic, DM;hyperthension;stroke;dementia in family.
2
pelayanan di bidang
P eningkatan
kesehatan telah meningkatkan
usia harapan hidup. Menurut
perkiraan pada tahun 2020 usia harapan
hidup di Indonesia akan mencapai 71
tahun dan jumlah penduduk lansia
diperkirakan sebanyak 28 juta jiwa, ini
merupakan peringkat tertinggi ke empat
setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.
Penurunan
fungsi
kognitif
merupakan masalah penting pada usia
lanjut meskipun penyebabnya belum jelas.
Demensia
didefinisikan
sebagai
gangguan signifikan (dapat mengganggu
kerja normal atau fungsi sosial) dari dua
atau lebih domain kognisi, dimana salah
satunya adalah memori.
METODE
Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah dekriptif
kategorik, dianalisis secara deskriptif
untuk variable kategorik yang hasilnya
berupa
frekuensi
dan
persentase
(proporsi) dari angka kejadian demensia
di Poliklinik Rawat Jalan Penyakit Saraf
RSUD Raden Mattaher yang disajikan
dalam bentuk tabel maupun grafik.
Desain Penelitian ini adalah cross
sectional (potong lintang) dimana peneliti
melakuan observasi satu kali dan
pengukuran
variable
subyek
saat
pemeriksaan dilakukan.
Pemilihan Sampel
Data diambil dari Rumah Sakit Umum
(RSUD) Raden Mattaher Jambi selama
November-Desember 2012. Sebanyak 108
sampel yang diteliti, baik demensia
maupun yang memiliki faktor risiko
demensia.
Responden yang dijadikan sampel adalah
responden yang memenuhi kriteria inklusi
seperti berikut : berusia di atas 45 tahun
yang kontrol di Poliklinik Penyakit Saraf
RSUD Raden Mattaher, berusia diatas 45
tahun yang memiliki riwayat diabetes
mellitus, dan/atau hipertensi dan/atau
stroke, dan/atau riwayat demensia pada
keluarga, bersedia ikut dalam penelitian
dengan menandatangani inform consent
atau persetujuan setelah mendapat
penjelasan. Sedangkan responden yang
berusia diatas 45 tahun yang kontrol di
Poliklinik Penyakit Saraf RSUD Raden
Mattaher yang memiliki gangguan mental
dan kesadaran tidak akan dijadikan
sampel penelitian dan akan di eksklusi.
HASIL
Pada penelitian ini di dapatkan
108 responden lansia yang kontrol ke
Poliklinik Penyakit Saraf RSUD Raden
Mattaher Jambi, dan memenuhi kriteria
inklusi.
Frekuensi
sosiodemografi
responden dapat dilihat pada Tabel 1.
Dari Tabel 1 didapatkan responden
yang berumur pada usia pertengahan
(45-59 tahun) sebanyak 35 responden
(32,4%), usia lanjut (60-69 tahun)
sebanyak
40
responden
(37,0%),
sedangkan usia tua (70-89 tahun)
sebanyak 33 responden (30,6%). Dari
penelitian ini juga didapatkan sebanyak
60 responden (55,6%) berjenis kelamin
laki-laki dan 48 responden (44,4%)
berjenis kelamin perempuan. Sebanyak 82
responden (75,9%) berstatus masih
menikah, 21 responden (19,4%) berstatus
janda, dan 5 responden (4,6%) berstatus
duda.
Data frekuensi tingkat pendidikan
responden didapatkan sebanyak 26
responden
(24,1%)
berpendidikan
terakhir SD, 15 responden (13,9%)
berpendidikan SMP, 31 responden
(28,7%)
berpendidikan
SMA,
30
responden
(27,8%)
berpendidikan
sarjana, dan 6 responden (5,6%) tidak
bersekolah. Data frekuensi pekerjaan
responden yang didapat sebanyak 9
responden (8,3%) bekerja sebagai
PNS/TNI,
6
responden
(5,6%)
wiraswasta, 3 responden (2,8%) bekerja
sebagai buruh/tani, 37 responden (34%)
bekerja sebagai IRT, pendeta, dosen, dan
lainnya, serta 53 responden (49,1%) tidak
bekerja atau sudah pensiun.
3
Tabel 4.1
Responden.
Frekuensi
Variabel
Usia
Usia
pertengahan
Usia lanjut
Usia tua
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Status
pernikahan
Kawin
Janda
Duda
Tingkat
Pendidikan
Tidak
sekolah
SD
SMP
SMA
Sarjana
Sosiodemografi
Frekuensi
%
35
32,4
40
33
37,0
30,6
60
48
55,6
44,4
82
21
5
75,9
19,4
4,6
Tabel 2 Frekuensi Riwayat Diabetes
Mellitus, Hipertensi, Stroke, Riwayat
Demensia Pada Keluarga, dan Skor
MMSE Responden
Variabel
6
26
15
31
30
5,6
24,1
13,9
28,7
27,8
Pekerjaan
PNS/TNI
9
8,3
Wiraswasta
6
5,6
Buruh/Tani
3
2,8
Lain-lain
37
34,3
Tidak
53
49,1
bekerja
Hasil
penelitian
didapatkan
frekuensi riwayat diabetes mellitus,
hipertensi, stroke, riwayat demensia pada
keluarga, dan nilai MMSE responden
dapat dilihat pada Tabel 2.
Riwayat
DM
Tidak ada
Ada
Riwayat
hipertensi
Tidak ada
Ada
Riwayat stroke
Tidak ada
Ada
Riwayat keluarga
Tidak ada
Ada
Frekuensi
%
93
15
86,1
13,9
47
61
43,5
56,5
75
33
69,4
30,6
103
5
95,4
4,6
Skor MMSE
Normal
56
51,9
Kemungkinan
39
36,1
Demensia
13
12
Demensia
Dari Tabel 2 didapatkan sebanyak
93 responden (86,1%) tidak memiliki
riwayat diabetes mellitus, 15 responden
(13,9%) memiliki riwayat diabetes
mellitus. Sebanyak 47 responden (43,55)
tidak memiliki riwayat hipertensi,
sedangkan 61 responden (56,5%)
memiliki riwayat hipertensi. Data
frekuensi responden yang tidak memiliki
riwayat stroke sebanyak 75 responden
(69,4%), sedangkan 33 responden
(30,6%) memiliki riwayat storke. Dari
Tabel 4.3 didapatkan juga sebanyak 103
responden (95,4%) tidak memiliki riwayat
demensia pada keluarga, dan 5 responden
(4,6%) memiliki riwayat demensia pada
keluarga. Hasil skor MMSE responden
didapatkan sebanyak 56 responden
(51,9%) normal, 39 responden (36,1%)
mengalami
kemungkinan
gangguan
kognitif, dan 13 responden (12%)
mengalami gangguan kognitif.
4
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Sosiodemografi Responden.
Sosiodemografi responden yang diteliti
adalah usia, jenis kelamin, Status
pernikahan, tingkat pendidikan, dan
pekerjaan.
Hasil
tabulasi
silang
prevalensi
demensia
berdasarkan
sosiodemografi responden dapat dilihat
pada Tabel 3 sampai dengan Tabel 7.
Tabel
3
Prevalensi
Berdasarkan Usia.
Variab
el
Demensia
Skor MMSE
Kemungk
Nor
Deme
inan
mal
nsia
Demensia
To
tal
Usia
Usia
perten
gahan
21
11
3
35
Usia
lanjut
22
13
5
40
Usia
Tua
Total
13
15
5
33
56
39
13
10
Berdasarkan hasil Tabel 3,
sebanyak
35
responden
berusia
pertengahan (45-59 tahun), 40 responden
berusia lanjut (60-69 tahun), dan 33
responden berusia tua (≥ 70 tahun). Dari
35 responden yang berusia pertengahan,
21 responden (60%) tidak mengalami
demensia,
11
responden
(31,4%)
mengalami kemungkinan demensia, dan 3
responden (8,6%) menderita demensia.
Pada 40 responden yang berusia lanjut,
22 responden (55,0%) dalam keadaan
normal,
13
responden
(32,5%)
kemungkinan demensia, dan 5 responden
(12,5%) mengalami demensia. Responden
yang berusia tua sebanyak 13 responden
(39,4%) dalam keadaan normal, 15
responden
(45,5%)
mengalami
kemungkinan demensia, dan 5 responden
(15,2%) mengalami demensia.
Tabel
4
Prevalensi
Berdasarkan Jenis Kelamin
Varia
bel
Demensia
Skor MMSE
Kemungki Dem
Nor
nan
ensi
mal
Demensia
a
Tot
al
Jenis
kelam
in
Lakilaki
34
23
3
60
Perem
22
16
10
48
puan
56
39
13
108
Total
Hasil dari Tabel 4 menunjukan
bahwa dari 108 responden penelitian, 60
responden diantara berjenis kelamin lakilaki dan 48 lainnya perempuan. Sebanyak
34 responden laki-laki (56,7%) dalam
keadaan normal, 23 responden (38,3%)
kemungkinan demensia, dan 3 responden
(5%) mengalami demensia. Untuk
responden perempuan 22 diantaranya
(51,9%) dalam keadaan normal, 16
responden
(33,3%)
kemungkinan
demensia, dan 10 responden (20,8%)
demensia.
Tabel
5
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan Status pernikahan
Variab
el
Skor MMSE
Kemung
Nor
kinan
Deme
mal Demens nsia
ia
Tot
al
Status
pernik
ahan
Nikah
47
28
7
82
Janda
8
8
5
21
Duda
Total
1
3
1
5
56
39
13
108
Hasil
prevalensi
demensia
berdasarkan status pernikahan dari 108
5
responden, responden yang berstatus
masih menikah 47 (57,3%) diantaranya
dalam keadaan normal, 28 reponden
(34,1%) kemungkinan demensia, dan 7
responden (8,5%) mengalami demensia.
Responden yang berstatus janda , 8
responden
(38,1%)dalam
keadaan
normal,
8
responden
(38,1%)
kemungkinan demensia, dan 5 responden
(23,8%) demensia. Lima responden yang
berstatus duda, 1 diantaranya (20,0%)
dalam keadaan normal, 3 responden
(60%) kemungkinan demensia, dan 1
responden (20,0%) mengalami demensia.
Tabel
6
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Variabel
Skor MMSE
Kemun
No
gkinan Deme
rm
Demens nsia
al
ia
Tot
al
Tingkat
pendidik
an
SD
3
15
8
26
SMP
9
5
1
15
SMA
24
7
0
31
Sarjana
20
10
0
30
Tidak
0
2
4
6
sekolah
56
39
13
108
Total
Hasil Tabel 6 menunjukkan 26
responden yang berpendidikan SD tidak
mengalami
demensia
sebanyak
3
responden
(11,5%),
kemungkinan
demensia 15 responden (57,7%), dan 8
responden lainnya (30,8%) mengalami
demensia. Responden yang berpendidikan
akhir SMP, 9 diantaranya (60%)dalam
keadaan normal, 5 responden (33,3%)
kemungkinan demensia, dan 1 responden
(6,7%) mengalami demensia. Untuk
responden yang berpendidikan akhir
SMA, 24 responden (77,4%) dalam
keadaan normal, 7 responden (22,6%)
kemungkinan demensia, dan tidak ada
responden yang mengalami demensia.
Responden yang berpendidikan akhir
sarjana, 20 responden (66,7%) dalam
keadaan normal, 10 responden (33,3%)
kemungkinan demensia, dan tidak ada
responden yang mengalami demensia.
Responden yang tidak bersekolah, 2
responden
(33,3%)
mengalami
kemungkinan demensia dan 4 responden
(66,7%) mengalami demensia.
Berdasarkan hasil Tabel 7, bahwa 8
(88,9%) responden yang bekerja sebagai
PNS/TNI dalam keadaan normal dan 1
responden
(11,1%)
kemungkinan
demensia. Responden yang bekerja
sebagai wiraswasta, 4 responden (66,7%)
dalam keadaan normal dan 2 responden
(33,3%)
kemungkinan
demensia.
Responden yang bekerja sebagai buruh
atau tani, 2 responden (66,7%)
mengalami kemungkinan demensia, dan 1
(33,3%) responden mengalami demensia.
Untuk reponden yang bekerja selain yang
telah disebutkan, 13 responden (35,1%)
normal, 14 responden (37,8%) mengalami
kemungkinan
demensia,
dan
10
responden (27,0%) mengalami demensia.
Responden yang tidak bekerja, 31
responden (58,5%) normal, 20 responden
(37,7%) kemungkinan demensia, dan 2
responden (3,8%) mengalami demensia.
Tabel 7 Prevalensi Demensia
Berdasarkan Pekerjaan.
Variab
el
Skor MMSE
Kemung
Nor
kinan
Deme
mal Demensi nsia
a
Tot
al
Pekerja
an
PNS/T
NI
8
1
0
9
Wirasw
asta
4
2
0
6
6
Buruh/
Tani
0
2
1
3
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Hipertensi Responden.
Lainlain
13
14
10
37
Prevalensi demensia berdasarkan
riwayat hipertensi responden dapat
dilihat pada Tabel 9
Tidak
bekerja
Total
31
20
2
53
56
39
13
108
Tabel
9
Berdasarkan
Responden
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Diabetes Mellitus Responden
Prevalensi demensia berdasarkan riwayat
diabetes mellitus responden dapat dilihat
pada Tabel 8.
Dari Tabel 8 didapatkan 93
responden tidak memiliki riwayat diabetes
mellitus, 50 responden (53,8%) dalam
keadaan normal, 33 reponden (35,5%)
kemungkinan
demensia,
dan
10
responden (10,8%) mengalami demensia.
Sedangkan dari 15 responden yang
memiliki riwayat diabetes mellitus, 6
responden (40,0%) dalam keadaan
normal, 6 responden lainnya (40%)
kemungkinan demensia, dan 3 responden
(20,0%) mengalami demensia.
Tabel
8
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan Riwayat Diabetes Mellitus
Responden
Varia
bel
Skor MMSE
Kemungk
Nor
inan
Deme
mal Demensi
nsia
a
Tot
al
Varia
bel
Prevalensi
Riwayat
Demensia
Hipertensi
Skor MMSE
Kemung
Nor
kinan
Dem
mal Demensi ensia
a
Tot
al
Riway
at HT
Tidak
ada
Ada
Total
30
14
3
47
26
25
10
61
56
39
13
108
Hasil
Tabel
9
didapatkan
sebanyak 47 (43,4%) responden tidak
memiliki riwayat hipertensi dan 61
(56,4%) responden memiliki riwayat
hipertensi. Dari responden yang tidak
memiliki riwayat hipertensi, 30 responden
(63,8%) dalam keadaan normal, 14
responden
(29,8%)
kemungkinan
demensia, dan 3 responden (6,4%)
mengalami
demensia.
Sedangkan
responden yang memiliki riwayat
hipertensi, 26 responden (42,6%) dalam
keadaan normal, 25 responden (41,0%)
kemungkinan
demensia,
dan
10
responden (16,4%) mengalami demensia.
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Stroke Responden
Riwa
yat
DM
Tidak
ada
50
33
10
93
Ada
Total
6
56
6
39
3
13
15
10
8
Sebanyak 75 (69,4%) responden
tidak memiliki riwayat stroke, sedangkan
33 (30,5%) responden lainnya memiliki
riwayat stroke. Dari 75 responden yang
tidak memiliki riwayat stroke, 45
responden (60,0%) dalam keadaan
normal,
25
responden
(33,3%)
kemungkinan demensia, dan 5 responden
(6,7%) mengalami demensia. Sedangkan
7
dari 33 responden yang memiliki riwayat
stroke, 11 responden (33,3%) dalam
keadaan normal, 14 responden (42,4%)
kemungkinan demensia, dan 8 responden
(24,2%) mengalami demensia. Prevalensi
demensia berdasarkan riwayat stroke
responden dapat dilihat pada Tabel 10
Tabel
10
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan Riwayat Stroke Responden
Varia
bel
Skor MMSE
Kemungk
Nor
inan
Deme
mal Demensi
nsia
a
Tot
al
Riwa
yat
strok
e
Tidak
ada
45
25
5
75
Ada
Total
11
56
14
39
8
13
33
10
8
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Demensia Pada Keluarga.
Prevalensi demensia berdasarkan
riwayat demensia pada keluarga dari 108
responden, 103 responden tidak memiliki
riwayat demensia pada keluarga,
sedangkan 5 responden memiliki riwayat
demensia pada keluarga. Dari banyaknya
responden yang tidak memiliki riwayat
demensia pada keluarga, 53 responden
(51,5%) normal, 37 responden (35,9%)
kemungkinan
demensia,
dan
13
responden (12,6%) mengalami demensia.
Responden yang memiliki riwayat
demensia pada keluarga, 3 responden
(60,0%) normal dan 2 responden (40,0%)
lainnya
mengalami
kemungkinan
demensia.
Prevalensi
demensia
berdasarkan riwayat demensia pada
keluarga dapat dilihat pada Tabel 11
Tabel
11
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan Riwayat Demensia Pada
Keluarga Responden
Varia
bel
Skor MMSE
Kemung
Nor
kinan
Deme
mal Demensi nsia
a
Tot
al
Riway
at
deme
nsia
pada
kelua
rga
Tidak
ada
53
37
13
103
Ada
Total
3
56
2
39
0
13
5
108
PEMBAHASAN
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Sosiodemografi Responden
Telah
dilakukan
penelitian
terhadap 108 responden lansia di RSUD
Raden Mattaher Jambi dengan batasan
lansia menurut WHO yaitu usia
pertengahan (45-59 tahun), usia lanjut
(60-70 tahun), usia tua (71-89 tahun), dan
usia sangat tua (>90 tahun). Hasil
penelitian menunjukan sebanyak 3
responden (8,6%) usia pertengahan, 5
responden (12,5,0%) usia lanjut, dan 5
responden (15,2%) berusia tua yang
mengalami demensia. Sesuai dengan usia
lanjut sebagai faktor risiko terjadinya
demensia dan bertambahnya usia
meningkatkan pula terjadinya hipertensi,
diabetes mellitus, dan stroke. Semakin
bertambahnya usia, sel-sel dalam tubuh
manusia mengalami proses penuaan,
dimana
proses
penuaan
tersebut
mengurangi kemampuan memperbarui
sel-sel itu sendiri yang juga dapat
menyebabkan
terjadinya
gangguan
kognitif. Survey yang dilakukan oleh
8
Dementia UK (2007) penderita demensia
dini didapatkan pada umur 30 dan
semakin meningkat kemungkinan terjadi
demensia pada umur 60 tahun keatas38.
Hampir 40% orang yang berumur di atas
65 tahun memiliki gangguan memori,
pada saat tidak adanya pengaruh dari
obat-obatan yang mempengaruhinya, hal
ini disebut juga “age-associated memory
impairment”, yang mana hal ini
merupakan
proses
penuaan
yang
normal39.
Pada penelitian ini sebanyak 3
responden (5%) berjenis kelamin laki-laki
dan 10 responden (20,8%) berjenis
kelamin perempuan mengalami demensia.
Menurut penelitian Alfindra pada tahun
2011 laki-laki lebih cenderung terkena
gangguan kognitif daripada perempuan,
dikarenakan kebiasaan merokok pada
laki-laki dapat menurunkan fungsi
kognitif1. Penelitian yang dilakukan
Sulistyanti dkk pada tahun 2009 bahwa
wanita lebih berisiko tinggi mengalami
penyakit demensia alzheimer dibanding
laki-laki. Hal ini disebabkan karena cara
wanita menyelesaikan masalah itu lebih
emosional, sensitif, tergantung, dan pasif,
sedangkan laki-laki lebih mandiri,
emosinya lebih stabil, dominan dan lebih
impulsive. Perbedaan tingkat stress juga
mempengaruhi penyebab demensia, lakilaki lebih rendah tingkatan stresnya
daripada wanita. Selain itu umur wanita
juga lebih panjang dari laki-laki dan lakilaki memiliki resiko yang lebih tinggi
untuk mendapat demensia vaskuler40.
Responden yang berstatus masih
menikah sebanyak 7 (8,5%) mengalami
demensia, sedangkan responden yang
berstatus janda 5 (23,8%) dan duda 1
(20,0%) mengalami demensia. Banyak
responden dengan status janda atau duda
yang mengalami demensia daripada
responden yang masih menikah. Karena
pada penelitian ini ditemukan banyaknya
responden yang berstatus janda daripada
yang berstatus duda. Hal ini sama dengan
hasil penelitian Krister yang menyatakan
bahwa responden yang tidak memiliki
pasangan atau janda/duda atau berpisah
saat usia pertengahan memiliki risiko dua
kali lipat untuk mengalami gangguan
kognitif daripada responden yang masih
memiliki pasangan hidup41. Laki-laki
yang memiliki pasangan hidup yang
mengalami demensia lebih protektif
terhadap
pasangannya.
Hubungan
perkawinan yang baik bisa dimasukkan
sebagai bantuan sosial untuk kehidupan
seseorang, terutama dalam mengatasi
dan mencegah gangguan emosi hebat
yang dapat mempercepat kemunduran
mental seseorang40.
Hasil penelitian ini didapatkan
pendidikan responden terdiri dari
pendidikan SD sebanyak 8 responden
(30,8%), SMP sebanyak 1 responden
(6,7%), tidak sekolah sebanyak 4
responden (66,7%) mengalami gangguan
kognitif, sedangkan responden yang
tingkat pendidikan SMA dan Sarjana
tidak ditemukan mengalami demensia.
Responden yang tidak pernah bersekolah
kemungkinan untuk mengalami demensia
2 kali lebih besar daripada responden
yang berpendidikan tinggi. Semakin
rendah pendidikan seseorang maka
semakin
tinggi
risiko
terjadinya
demensia40,42.
Pendidikan
mampu
mengkompensasi
semua
tipe
neurodegenerative
dan
gangguan
vaskular, dan juga mempengaruhi berat
otak. Orang yang berpendidikan lebih
lanjut, memiliki berat otak yang lebih dan
mampu menghadapi perbaikan kognitif
serta neurodegenerative dibandingkan
orang yang berpendidikan rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Carol
bahwa responden dengan perbedaan level
pendidikan memiliki patologi otak yang
serupa tetapi dengan pendidikan yang
lebih
tinggi
maka
otak
dapat
mengkompensasi efek dari demensia43.
Orang yang berpendidikan lebih lanjut
memiliki
kemampuan
untuk
mengkompensasi kelainan pada usia
lanjutnya. Penelitian yang dilakukan oleh
9
EClipSE
(Epidemiological
Clinicopathological Studies in Europe)
mengemukakan bahwa responden yang
memiliki level pendidikan yang lebih
tinggi sebelumnya dapat mengurangi
risiko untuk mengalami demensia pada
usia tuanya44.
Pada penelitian ini didapatkan
hasil
responden
yang
mengalami
demensia
berdasarkan
penelitian
responden bekerja sebagai buruh/tani 1
(33,3%), lain-lainnya 10 (27,0%), dan
tidak bekerja sebanyak 2 (3,8%),
responden yang status pekerjaannya
sebagai PNS/TNI dan wiraswasta tidak
ditemukan
mengalami
demensia.
Alzheimer maupun demensia sering
terjadi pada pensiunan dan tidak bekerja.
Alzheimer tidak hanya terjadi pada
pekerja tua, tetapi siapa saja yang
bekerja karena kebutuhan ekonomi45.
Mereka
yang
berperkerjaan
menggunakan pikiran dan tenaga lebih
sedikit risiko terkena demensia daripada
mereka
yang
bekerja
hanya
mengandalkan tenaga atau pikiran saja,
karena seringnya otak bekerja juga
melatih untuk dapat mengkompensasi
neurodegenerative pada usia lanjut.
Almeida dkk, melakukan penelitian
tentang efek komputer terhadap penderita
demensia, hasilnya responden yang
memiliki komputer pribadi diketahui
memiliki penurunan risiko demensia
sekitar 30-40% disbanding orang yang
tidak memiliki komputer46
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Diabetes Mellitus Responden
Sebanyak 3 responden yang
memiliki riwayat diabetes mellitus
(20,0%) mengalami penurunan fungsi
kognitif, sedangkan responden yang tidak
memiliki riwayat diabetes mellitus 10
(10,8%) responden mengalami penurunan
fungsi kognitif. Diketahui bahwa diabetes
mellitus memiliki hubungan yang
signifikan terhadap peningktan risiko
semua tipe demensia, penyakit Alzheimer,
dan demensia vaskular. Hubungan antara
diabetes dan demensia dapat dijelaskan
melalui kerusakan-kerusakan pembuluh
darah dan efek nonvascular dari diabetes
itu sendiri. Diabetes terkenal komplikasi
dari mikro dan makrovaskularnya, dan
juga berhubungan kuat terhadap faktor
risiko dari penyakit jantung dan
serebrovaskular. Vaskular demensia
diciri-cirikan oleh infark otak kecil dan
otak besar yang biasanya berhubungan
dengan perubahan vaskular. Penelitian
lain menyatakan bahwa responden
diabetes yang mengkonsumsi obat antidiabetes oral kemungkinan besar memiliki
risiko untuk semua jenis demensia dan
demensia vaskular31.
Diabetes mellitus tipe 1 maupun
tipe 2 mempunyai hubungan terhadap
penurunan kognitif. Pada tipe 1 ini
tercermin dari ringan sampai sedang
penurunan mental dan berkurangnya
fleksibilitas mental. Pada diabetes tipe 2
mempengaruhi
perubahan
kognitif
terutama pada pembelajaran dan memori,
fleksibilitas mental, dan kecepatan
mental47.
Menurut Leibson dkk pada tahun
1997 bahwa risiko yang dari demensia
meningkat pada laki-laki maupun
perempuan. Dengan AODM (Adult Onset
Diabetes Mellitus) relatif pada orang
yang tanpa AODM. Meskipun risiko
penyakit Alzheimer meningkat untuk
kedua laki-laki maupun perempuan
dengan AODM relatif dengan yang tanpa
AODM, namun ini mencapai signifikan
hanya untuk laki-laki.48
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Hipertensi Responden
Sebanyak 61 responden yang
memiliki riwayat hipertensi, 10 responden
(16,4%)
diantaranya
mengalami
penurunan fungsi kognitif, sedangkan 3
responden yang tidak memiliki riwayat
hipertensi (6,4%) mengalami penurunan
fungsi kognitif. Hal ini disebabkan karena
10
hipertensi merupakan salah satu faktor
risiko timbulnya stroke. Sebagian besar
responden yang memiliki riwayat
hipertensi lama menderita hipertensi < 10
tahun.
Penelitian
sebelumnya
menyebutkan adanya hipertensi yang
berpengaruh menurunkan status fungsi
kognitif pada penderita yang mengalami
hipertensi di atas 20 tahun1,16.
Mengingat insiden dari demensia
pada populasi lansia yang meningkat
drastic didunia dan akumulasi bukti
bahwa hipertensi mungkin membantu
terjadinya penyakit Alzheimer dan
vaskular demensia. Peningkatan tekanan
darah dihubungkan dengan penurunan
kognitif meskipun beberapa penelitian
cross-sectional
menunjukan
adanya
hubungan campuran antara tekanan
darah tinggi dan pengetahuan/kognitif.
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan
pembentukan plak-plak di pembuluh
darah, yang nantinya dapat dihantarkan
menuju ke otak, sehingga otak mengalami
gangguan fungsi normalnya dan juga
dapat berakibat terjadinya stroke.49
Hipertensi juga telah lama
diketahui sebagai penyebab penyakit
serebrovaskular dan penyakit jantung
koroner.
Hipertensi
juga
dapat
menyebabkan ateroskelrosis yang parah
dan
gangguan
autoregulasi
serebrovaskular, yang mana diperkirakan
adanya korelasi dengan penyebab
demensia49. Menurut data Woman’s
Health Initiative Memory Study (WHIMS)
perempuan yang berusia tua dengan
hipertensi
meningkatkan
risiko
demensia.50
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Stroke Responden
Sebanyak 5 responden (6,7%)
tidak mengalami stroke tetapi mengalami
gangguan kognitif, dan sebanyak 8
responden (24,2%) responden menderita
stroke dan mengalami demensia.
Hasil penelitian yang dilakukan
Bruno
dkk,
menunjukkan
adanya
hubungan serangan stroke iskemik
pertama dengan demensia, terutama
ketika
area
sistem
saraf
pusat
supratentorial dipengaruhi dan gangguan
permanen dari fungsi dasar neurologis.
Adanya iskemi diotak yang menyebabkan
aliran darah ke otak tidak lancar
mengurangi asupan oksigen serta nutrisi
ke otak yang mana pada bagian otak
tertentu tersebut dapat mengalami
gangguan fungsinya, seperti gangguan
fungsi kognitif.51
Responden stroke iskemik lebih
mungkin
untuk
terkena
demensia
daripada responden yang tidak ada
riwayat stroke. Pada responden rawat
inap, stroke iskemik meningkatkan risiko
demensia setidaknya lima kali lipat. Ada
beberapa mekanisme pokok. Pertama,
stroke dapat secara langsung atau
penyebab utama dari demensia, dimana
hal tersebut diklasifikasikan secara umum
sebagai demensia multi-infark atau
demensia vaskular. Kedua, adanya stroke
mungkin
mempercepat
serangan
demensia atau penyakit Alzheimer.
Ketiga, stroke dan demensia dapat
berbagai faktor lingkungan umum dan
biologis dasar, seperti apolipoprotein e4
allel.52
Prevalensi
Demensia
Berdasarkan
Riwayat Demensia Pada Keluarga
Responden yang tidak memiliki
riwayat demensia pada keluarga,
didapatkan
bahwa
sebanyak
53
responden (51,5%) normal, 37 responden
(35,9%) kemungkinan demensia, dan 13
responden (12,6%) mengalami demensia.
Responden yang memiliki riwayat
demensia pada keluarga, 3 responden
(60,0%) normal dan 2 responden (40,0%)
lainnya
mengalami
kemungkinan
demensia. Pada penelitian hanya sedikit
ditemukan responden dengan riwayat
demensia pada keluarga.
11
Satu gen (Apolipoprotein E) telah
dikaitkan dengan meningkatnya risiko
dari onset akhir penyakit Alzheimer.
Apolipoprotein E (ApoE) membawa dan
mengirimkan kolesterol ke sel-sel saraf
yang digunakan untuk memperbaiki dan
menetapkan hubungan yang baru. Ada
tiga jenis umum dari gen ApoE. Jenis
ApoE 3 paling sering, jenis ApoE 4 yang
diperkirakan dapat meningkatkan risiko
penyakit Alzheimer sementara jenis ApoE
2 muncul memiliki pengaruh protektif.53
Analisis kimia untuk isi plak
neuritik menunjukkan bahwa inti plak
terdiri dari peptide, yaitu protein amiloidbeta yang merupakan fragmen protein
yang lebih besar, dan protein precursor
amiloid (APP), yang dikode oleh gen
pada kromosom 21. Peran sentral amiloid
pada pathogenesis penyakit Alzheimer
telah ditegakkan berdasarkan penyakit
Alzheimer familial yang lebih jarang yang
disebabkan oleh mutasi gen APP.
Observasi terdahulu pada responden
sindrom Down (trisomi 21) juga
mendukung
peran
amiloid
pada
pathogenesis, karena pada individu ini
terjadi gambaran premature Alzheimer
dan berisiko akan kelebihan amiloid
akibat gen ekstra. Mayoritas kasus
bersifat nonfamilial, dan pada kasus yang
familial, dideteksi mutasi gen yang lain.4
Hasil
penelitian
secara
keseluruhan didapatkan, 56 responden
(51,9%) normal, 39 responden (36,1%)
kemungkinan
demensia,
dan
13
responden (12,0%) mengalami demensia.
REFERENSI
1.
2.
Tamin A. Hubungan Antara Gangguan
Kognitif dengan Retinopati Hipertensi
Pada Penderita Pasca Stroke Iskemik:
studi potong lintang (Tesis Magister).
Semarang: Bagian Ilmu Penyakit Saraf
FKUNDIP;2011.
Darmojo R. B. Geriatri. Teori Proses
Menua. Edisi ke – 4. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI; 2010.hal 3 – 9.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
Lumbantobing SM. Kecerdasan Pada Usia
Lanjut dan Demensia. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI; 2011.hal. 1 – 7,10,1719,31.
Ginsberg L. Lecture Note Neurologi.
Perkembangan dan Degenerasi. Edisi
kedelapan. Jakarta : Penerbit Erlangga;
2008.hal 168.
Lumbantobing
SM.
Neurogeriatri.
Demensia. Jakarta : Balai Penerbit FKUI;
2011.
Sadock J B, Virginia A. Buku Ajar Psikiatri
Klinis. Delirium, Demensia, dan Gangguan
Amnesik serta Gangguan Kognitif dan
Gangguan Mental Lainnya Karena Kondisi
Umum. Edisi 2. Jakarta : EGC; 2004.hal
57 – 63.
Lakey L, Chandaria K, Quince C, Kane M,
Saunders T. Dementia 2012 : A national
challenge. Alzheimer’s Society (serial
online) 2012 Mar (diakses 15 Mei 2012); 2
–
3.
Diunduh
dari
:
URL:
http://alzheimers.org.uk/dementia2012
Savva M G, Wharthon B S, Path F R C.
Age, Neuropathology, and Dementia. N
Eng J Med. 2009; 360:2302-09.
Fernandez RL, Leal J, Gray A. Dementia
2010. Alzheimer’s Research Trust (serial
online) 2010 Mar (diakses 15 Mei 2012); 4
5.
Diunduh
dari
:
URL:
http://www.dementia2010.org
Gill M T, Gahbauer A E. Trajectories of
Disability in the Last Year of Life. N Eng J
Med. 2010;362:1173-80.
Mitchell L S, Shaffer L M. The Clinical
Course of Advances Dementia. N Eng J
Med. 2009;361:1529-38.
Nugroho
W.
Komunikasi
dalam
Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.
2006.hal 5.
Santoso H, Andar I. Memahami Krisis
Lanjut Usia. Jakarta: Gunung Mulia. 2009.
Sa’bah UM. Bagaimana Awet Muda dan
Panjang Usia. Jakarta : Gema Insani.
2001.
Youngson R, editor. Antioksidan Manfaat
Vitami C & E bagi Kesehatan. Jakarta :
Arcan. 2005.
Wiyoto. Gangguan Fungsi Kognitif Pada
Stroke.
Pendidikan
Kedokteran
Berkelanjutan. Bagian Ilmu Penyakit Saraf.
Surabaya. FK UNAIR. 2002.
Lubis RH. Penilaian Kapasitas Fungsional
dan Faktor-Faktor yang Berhubungan
pada Pasien Demensia: studi potong
lintang (Tesis Magister). Jakarta: Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FKUI;2011.
Juva K . Functional Assessment Scales in
Detecting Dementia. Age and ageing. 1997.
12
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
Weiner HL, Levitt P L. Buku Saku
Neurologi. Edisi 5. Jakarta : EGC; 2012.
Lumbantobing SM. Neurologi Klinik
Pemeriksaan Fisik dan Mental. Berbahasa.
Jakarta
:
Balai
Penerbit
FK
UI;2011.hal.156.
Kusumoputro S, Sidiarto D L. Fungsi
Luhur Otak. Jakarta: UI-Press; 2010.
Lezak MD. Neuropsychological Assesment.
3rd ed. New York: Oxford University Press.
1995;17-40.
Prasetyo TB. Nilai Normal Montreal
Cognitive Assesment Versi Indonesia: studi
potong lintang (Tesis Magister). Jakarta:
Bagian Ilmu Penyakit Saraf FKUI; 2011.
Tedjasukmana R, Wendra A, Sutji H,
Sidiarta K. The Mini Mental State
Examination in Healthy Individuals In
Jakarta A Preliminary Study. Neurona.
1998;15:4-8
Tierney MC, Szalai JP, Snow G, Fisher
RH, Dunn E. Domain Specificity of The
Subtest of The Mini Mental State
Examination.
Arch
Neurology.
1997;54:713-16
Crum RM, Anthony JC, Bassett SS, Folstein
MF. Population-Based Norms for The Mini
Mental State Examination by Age and
Education Level. J Am Med Assoc.
1993;269:283-91.
Zhu L, Fratiglioni L, Guo Z, Tores HA,
Winbald B, Viitanen M. Association of Stroke
with Dementia, Cognitive Impairment, and
Functional Disability in The Very Old : A
Population
Based
Study.
Stroke.
1998;27:2094-98.
Prencipe M, Ferreti C, Casini AR, Santini M,
Giubilei F, Culasso F. Stroke, Disability, and
Dementia : Result of a population survey.
Stroke. 1997;28;531-36.
Wijoto. Dementia Mechanism; White Matter
Changes, Strategic Stroke ad Multiple
Lacunar Infarct. Editor. Departemen
Neurologi FK USU. Medan. Sjahrir H,
Anwar Y, Kadri A: Neurologic Update II.
Pertemuan Ilmiah Tahunan. Medan 19-21
Juli 2009. Badan Penerbit USU;2009;11438.
Rahmawati D. diagnosis dan Faktor Risiko
Demensia Vaskular Pada Usia Lanjut.
Update Management of Neurological
Disorders in Ederly. Pertemuan Ilmiah
Tahunan UNDIP-UNS-UGM XXI. Salatiga
8-9
April
2006.
Badan
Penerbit
UNDIP;2006:129-45.
Xu WL, Qiu C.X, Wahlin A, Winbald B.
Diabetes mellitus and risk of dementia in the
Kungsholmen project. AAN Enterprises Inc.
2004;63:1181-86.
32. Lawrence V, Samsi K, Banerjee S, Morgan
C, Murray J. The Experience of Dementia
Across Three Ethnic Groups. Medsacap.
2011;51(1):39-50.
33. Poerwadi T, Wijoto, Hamdan M. NeuroBehaviour. Pertemuan Ilmiah Nasional II.
Surabaya 18-20 Mei 2007. Airlangga
University Press;2007:99.
34. Kusumoputro
S.
Pengenalan
dan
Penatalaksanaan Demensia Alzheimer dan
Demensia Lainnya. Konsensus Nasional.
Jakarta: PT.Eisai Indonesia.
35. Dahlan S. Langkah–Langkah Membuat
Proposal Penelitian Bidang Kedokteran dan
Kesehatan. Edisi 2. Jakarta : CV Sagung
Seto; 2009.
36. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar–Dasar
Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke-4.
Jakarta : CV Sagung Seto; 2011.
37. Dahlan S. Besar Sampel dan Cara
Pengambilan Sampel Dalam Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan. Edisi 3. Jakarta
: Penerbit Salemba Medika; 2009.
38. Knapp M, Martin P. Dementia UK The Full
Report. Alzheimer’s Society (serial online)
2007 (diakses 10 Mei 2013);28. Diunduh
dari
:
URL:
http://alzheimers.org.uk/dementiauk.
39. Normal Aging vs Dementia [editorial].
Alzheimer Society of Canada 2002.
40. Rachmawati DS, Warih AP. Pengaruh Jenis
Kelamin, Pendidikan dan Status Perkawinan
Terhadap Terjadinya Demensia pada Lansia.
Publikasi FK UMY. 2009;7-9.
41. Being Married Protects You Againts
Alzheimer’s in Later Life. Nhs UK 2009 July
7.
42. Low Education Level Linked To Alzheimer’s,
Study Show. Sciencedaily 2007 Okt 10.
43. Why More Education Lowers Dementia Risk.
Sciencedaily 2007 Okt 10.
44. Keage H. Education, The Brain and
Dementia:
Neuroprotection
or
Compensation?. BRAIN. 2010;133:22102216.
45. Alzheimer’s Disease/Dementia in The
Workplace. HRinfodesk 2011 Feb 2.
46. Ananda SK. Komputer Mampu Turunkan
Risiko Demensia. Merdeka.
47. Biessels
GJ.
Diabetes
and
Dementia.European
Endocrin
Disease.
2006:10-12.
48. Leibson CL, Rocca WA, Hanson VA. Risk of
Dementia Among Persons with Diabetes
Mellitus: A Population-based Cohort Study.
Am J Epid. 1997;145:301-8.
49. Igase M, Kohara K, Miki T. The Association
Between Hypertension and Dementia in the
Elderly. Hindawi Pub. Corp. 2012.
13
50. Hyperthension Linked to Dementia in Older
Women. Einstein 2010 Jan 12.
51. Censori B, Ornella M, Cristina A, Massimo
C, Luciano C, Bruna G, et all. Dementia
After First Stroke. Aha J Med. 2007;1205.
52. Zhu L, Luara F, Zenchao G, et all.
Association of Stroke With Dementia,
Cognitive Impairment, and Functional
Disability in the Very Old: A PopulationBased Study. Aha J Med.1998;29:2094-2099.
53. Huang W, Qiu C, Von SE, Winbald B,
Fratiglion L. APOE Genotype, Family
History Of Dementia, and Alzheimer Disease
Risk: a 6-year Follow-up Study. Arch Neurol.
2005;62(3):453.
14
Download