MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM BINGKAI

advertisement
43
MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM BINGKAI DRAMA:
Kajian Pendidikan Karakter Berbasis Karya Sastra
Ahmad Yasid
(Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep)
Abstrak
Drama merupakan bagian dari karya sastra, dan sastra adalah suatu karya yang lahir
dari perasaan dan imajinasi, dan selalu bertemakan tentang manusia dan lingkungannya.
Drama sebagai bagian dari karya sastra mencerminkan keadaan sosial budaya bangsa,
dan sudah semestinya diwariskan kepada generasi muda. Dalam dunia pendidikan,
drama menjadi materi penting sebagai salah satu upaya pembentukan karakter peserta
didik, dan pemahaman serta pelestarian sosial budaya bangsa. dengan alasan itu, karya
sastra tentu berpotensi besar untuk membawa manusia ke arah perubahan, termasuk
perubahan karakter. Sastra khususnya drama, sebagai ekspresi seni bahasa yang bersifat
reflektif sekaligus interaktif, dapat menjadi spirit bagi munculnya gerakan perubahan
masyarakat, bahkan kebangkitan suatu bangsa ke arah yang lebih baik, penguatan rasa
cinta tanah air, serta sumber inspirasi dan motivasi kekuatan moral bagi perubahan
sosial budaya dari keadaan yang kurang baik ke keadaan yang mandiri.
Kata Kunci: pendidikan, drama, pengarang, sastra, pembentukan karakter
Pendahuluan
Drama merupakan karya sastra yang
dapat berbentuk naskah dan juga pementasan. Dalam bentuk naskah, pihak yang
terlibat adalah pengarang dan pembaca.
Dalam bentuk pementasan, pihak yang
terlibat sekurang-kurangnya ada pengarang
naskah (jika pementasan berdasarkan
naskah), kru pementasan (di antaranya;
pemain, sutradara, penata musik, dan
penata artistik), dan penonton.
Dalam pembahasan kali ini, berkenaan
dengan topik yang disajikan, akan membuktikan dapat tidaknya drama dijadikan
sebagai media pembentukan karakter
peserta didik. Di antara pekerja seni drama
memungkinkan ada yang tidak peduli
apakah naskah dan/atau pementasannya
bermanfaat sebagai pembentukan karakter
atau tidak, dan tidak jarang mereka lebih
memilih hanya berkreasi/berekspresi.
Namun, ada pula pekerja seni drama yang
berpegang pada prinsip bahwa karya seninya
harus bermanfaat dan tidak sekedar
menghibur, tetapi juga membangun karakter
atau sebagai transformasi nilai yang
berdampak pada karakter diri. Perbedaan
para pekerja seni itu sudah ada sejak lama
dan tampaknya tidak dapat dipaksa harus
memilih satu bagian saja.
Drama merupakan bagian dari karya
sastra, dan sastra adalah suatu karya yang
terlahir dari perasaan dan imajinasi,
perasaan manusia sehingga menimbulkan
kesan yang menarik. Sastra sering kali
tercipta dari hasil karya imajinasi pikiran
manusia itu sendiri, sehingga dapat
menghasilkan suatu karya sastra yang
temanya selalu tentang manusia dan
lingkungannya. Sastra terlahir dari dorongan
manusia untuk mengungkapkan diri, hal
yang berisi tentang masalah manusia,
kemanusiaan, dan semesta (Semi, 1993:1).
Volume 3, Nomor 1, Januari 2012
44
MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK
Menurut Welleck dan Warren (1993),
sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah
karya seni. Sastra merupakan segala sesuatu
yang ditulis dan dicetak. Selain itu, sastra
merupakan karya imajinatif yang dipandang
lebih luas pengertiannya daripada karya
nonfiksi. Dengan ini, Karya sastra pada
umumnya berisi tentang permasalahan yang
meliputi kehidupan manusia. Permasalahan
itu dapat berupa apa yang terjadi dalam
dirinya sendiri. Karena itu, karya sastra
memiliki dunianya sendiri yang merupakan
hasil pengamatan sastrawan terhadap
kehidupan yang diciptakan itu sendiri baik
berupa novel, puisi maupun drama yang
berguna untuk dipahami dan dimanfaatkan
oleh para penikmat karya sastra sebagai
media hiburan dan apresiasi.
Drama dapat dibicarakan dari sisi
teknikalitas, seperti mengenai teknik
perwujudannya, antara format realis dengan
surealis atau absurd, atau antara yang
konvensional dengan eksperimental, dan
seterusnya. Bisa juga pendekatan atas
suasana bangunan dramatik seperti antara
tragedi dengan komedi. Yang pasti, drama
baik bentuk pementasan maupun naskah
memiliki nilai sebagai interpretasi suatu
realitas sosial budayanya.
Drama merupakan karya sastra sebagai
fenomena psikologis, sehingga menampilkan
aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh
dalam sebuah naskah maupun bentuk
pementasan. Dengan ini, karya sastra
(seperti drama) dan psikologi secara
fungsional dapat dikatakan memiliki
pertautan yang erat. Karya sastra dan
psikologi memiliki hubungan fungsional
karena sama-sama mempelajari keadaan
kejiwaan orang lain, dan juga memiliki objek
yang sama yaitu kehidupan manusia.
Perbedaannya, psikologi lebih pada gejala
riil, dan sastra bersifat imajinatif (Jatman,
1985:165).
Jurnal Pelopor Pendidikan
Dengan ini, drama dilihat dari pemaknaannya dalam konteks sosial dan
kultural tentu hadir sebagai fungsi
instrumental, dan di lain pihak sebagai
sarana ritual, bersifat penataan hubungan
komunitas secara vertikal dengan yang di
“atas”. Dengan sendirinya drama berdasarkan fungsinya dapat dipandang dan
diproses secara serius. Di sini, drama
khususnya bentuk pementasan merupakan
sebagai sarana bermain-main dari
komunitas, berfungsi horisontal sebagai
upaya memelihara hubungan di antara
anggota komunitas.
Dari alasan ini kemudian budaya drama
dipelihara dan diperkembangkan. Sifatnya
drama ketidakterpisahan dengan komunitasnya sebagai sarana memelihara nilai-nilai
yang menjadi landasan dan identitas
komunitas. Makna (meaning) sebagai apa
yang dianggap benar dari suatu drama
dimaksudkan untuk menjaga nilai dominan
dalam komunitas.
Drama dan Kepengarangan
Drama seringkali disamakan dengan
teater. Dua istilah ini memang tumpang
tindih. Drama berasal dari bahasa Yunani
“draomai” yang berarti berbuat, bertindak;
sementara teater berasal dari kata Yunani
juga “theatron” yang berarti tempat pertunjukan. Kata teater sendiri mengacu kepada sejumlah hal yaitu: drama, gedung
pertunjukan, panggung pertunjukan,
kelompok pemain drama, dan segala
pertunjukan yang dipertontonkan.
Karya sastra yang berupa dialog-dialog
dan memungkinkan untuk dipertunjukan
sebagai tontonan disebut dengan drama,
sedangkan karya seni berupa pertunjukan
yang elemen-elemennya terdiri atas seni
gerak, musik, dekorasi, make up, costum,
dan lainnya disebut teater. Sebagaimana
yang jelaskan Jakob Soemardjo, bahwa
drama dibedakan menjadi dua, yaitu drama
Ahmad Yasid
naskah dan drama pentas. Istilah yang kedua
inilah, yakni drama pentas, seringkali
disamakan dengan teater.
Berdasarkan pejelasan tersebut, drama
dan teater dapat dibedakan bahwa drama
termasuk seni sastra, dan teater sebagai seni
pertunjukan. Selain dua istilah ini, ada istilah
lain yang sejenis yakni sandiwara dan tonil.
Sandiwara berasal dari bahasa Jawa dan tonil
berasal dari bahasa Belanda.
Drama sebagai karya sastra atau seni,
Kuypers (1977:251-254) menjelaskan bahwa
karya seni boleh dipandang sebagai tanda,
karena dibuat dengan maksud menyampaikan sesuatu. Tanda yang secara wajar yang
dengan sendirinya me-nyampaikan sesuatu
adalah lambang atau simbol.
Yoshinobu Inoura (1971:1) menjelaskan
tentang drama sebagai berikut:
“be it ordinary drama, or masked
drama, or puppet drama, all drama
expresses man’s spiritual and cultural
life directly, impressively and vividly by
bodily action. It comport and delight
people, stimulates them to think, and
purifies their minds. And it reflects
man’s life all the better for this”.
Dari pengertian ini dapat diakatan
bahwa drama, baik drama biasa maupun
drama bertopeng dan lainya, merupakan
cara pengukuran kehidupan spiritual dan
kultural kehidupan manusia dengan impresif
melalui gerakan tubuh. Pendapat ini lebih
dekat pada drama pementasan. Pada
dasarnya drama sebagai hiburan, tetapi juga
merangsang manusia untuk berpikir dan
menjernihkan pikirannya. Artinya, drama
mencerminkan kehidupan manusia dengan
cara yang lebih baik.
Drama dikatakan mencerminkan
kehidupan manusia dengan cara yang lebih
baik karena drama dapat melaksanakan
fungsi katarsis. Aristoteles (dalam Humar
Sahman, 1993) mengatakan bahwa drama
harus memperlihakan kesatuan dari bentuk
dan struktur karya seni. Sebagai kesatuan,
drama itu akan dapat melaksanakan fungsi
katarsis, yang dapat diartikan sebagai
sublimasi atau pembebasan tekanan batin
seperti adanya tekanan-tekanan sosial. Jika
tekanan batin ini tidak dikatarsis, tentu akan
bisa mengambil bentuk tindakan yang
destruktif ataupun asosial.
Dalam sebuah drama yang berbentuk
naskah atau pemintasan yang didasarkan
pada naskah diperlukan pengarang, tanpa
adanya seorang pengarang drama tentu
tidak akan tercipta seatu drama. Seorang pengarang menjadi komponen penting dalam
drama, sebab ia merupakan orang yang
pertama kali mengetahui sosial dan kultural
yang kemudian diinterpretasikan dalam
bentuk drama.
Menjadi pengarang selalu ditantang
harus kreatif menyikapi hidup dan
kehidupan. Ia harus menjadi orang yang
pintar dalam menyelesaikan persoalan tidak
saja dalam cerita drama yang dikarangnya,
tetapi juga dalam realitas kehidupan.
Seorang pengarang harus tegar dan tahan
banting serta percaya diri, termasuk sikap
mentalnya dalam menghadapi realitas
kehidupan. Pengarang ditantang harus
menghadapinya secara total sehingga dapat
menikmati keindahan hidup. Bagi seorang
pengarang, keindahan tidak selalu berupa
keadaan atau barang yang menyenangkan.
Keadaan yang menyedihkan bahkan sering
pula menegangkan pun ia rasakan sebagai
keindahan. Itulah sebabnya pengarang
ditantang harus dapat me-nyelesaikan
hampir semua persoalan kehidupan dengan
baik. Persoalan kehidupan harus diselesaikan
tidak seperti halnya persoalan membangun
suatu bangunan, seperti memabngun rumah
Membangun sebuah rumah dikatakan
rampung jika kriteria yang ditentukan
sebelumnya telah terpenuhi. Misalnya,
seseorang membangun gedung untuk
kantor. Gedung itu ditanyakan selesai jika
Volume 3, Nomor 1, Januari 2012
45
46
MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK
telah dilengkapi dengan lantai, dinding, atap,
dan dicat. Setelah kriteria itu terpenuhi,
berarti selesailah pembangunan gedung itu.
Namun, penyelesaian persoalan hidup yang
pengarang lakukan lebih dari sekedar
keringan basah, ia terkadang dan tak jarang
menyerahkan keputusan kepada Tuhan
Mahakuasa.
Pengarang mungkin sudah mengajukan
berbagai alternatif pemecahan persoalan
seperti halnya yang sering pengarang
kembangkan dalam mengarang drama.
Dalam mengakhiri cerita drama, pengarang
kadang-kadang secara eksplisit mengajukan
alternatif pemecahan persoalan sehingga
apresiator dengan mudah dapat menangkap
pesan itu. Namun, tidak tertutup kemungkinan pengarang hanya memberikan
rambu-rambu alternatif, dan dapat terjadi
juga pengarang menyerahkan sepenuhnya
alternatif pemecahan persoalan kepada
apresiator. Cara yang demikian pun
pengarang tempuh ketika menyelesaikan
persoalan hidup. Pengarang mengajukan
berbagai alternatif pemecahan itu kepada
Tuhan Mahakuasa. Dengan sikap mental
yang demikian, pengarang dapat menikmati
hidup ini sebagai sesuatu yang indah.
Proses kreatif tidak hanya berpengaruh
terhadap sikap mental pengarang dalam
menyikapi hidup, tetapi juga hidup orang
lain. Jika dimintai saran oleh teman, tetangga, saudara, orang tua, atau anak, dan
entar siapa lagi yang sedang menghadapi
persoalan hidup, pengarang berusaha secara
kreatif mengajukan berbagai alternatif.
Pengarang seperti sedang mengarang
drama, pikiran dan imajinasinya berkembang
jauh. Hasil akhirnya adalah skenario
pemecahan persoalan. Kemudian, seorang
pengarang sodorkan skenario itu kepada
orang yang meminta saran itu. Bahkan, tidak
jarang terjadi seketika dimintai saran,
pengarang langsung masuk ke dalam proses
kreatif. Dengan demikian, jika terjadi dialog
Jurnal Pelopor Pendidikan
antara pengarang dan peminta bantuan,
dialog yang pengarang ucapkan itu seperti
halnya dialog yang biasa pengarang tulis
dalam drama. Artinya, mulai urutan materi
dialog sampai pada akhir dialog, isi dialog
dan gaya berdialog berkembang secara
kreatif dengan arah pemecahan persoalan.
Pengarang harus menjadi orang yang
sangat peka. Sering terjadi tanpa diminta
pengarang berperan dalam menyelesaikan
persoalan orang lain Atas dasar alasan ini,
seorang pengarang senantiasa melakukan
interaksi dengan realitas baik secara
langsung maupun tidak. Sebagaimana
pendapat Welek dan Austin Warren (dalam
budianto, 1989:127), bahwa situasi sosial
memang menentukan kemungkinan
dinyatakannya nilai-nilai estetis, tetapi tidak
secara langsung menentukan nilai-nilai itu
sendiri. Pendapat sama juga dilontarkan oleh
Teeuw (1983:61), bahwa pengarang tidak
lepas dari paham-paham, pikiran-pikiran,
atau pandangan dunia pada zamannya
ataupun sebelumnya. Ia tidak lepas dari
kondisi sosial budayanya.
Putu Wijaya, sebagai pengarang, ia pun
menyadari ada keterkaitan antara proses
kreatifnya dengan realitas. Dia menyatakan
bahwa drama Lautan Bernyanyi (semula
cerpen), Tak Sampai Tiga Bulan, Aduh, Anu,
dan Dag Dig Dug, misalnya, dikarangnya
berdasarkan realitas. Namun, realitas itu
dikembangkannya melalui kreativitas
imajinasinya (Eneste, 1982:145-168).
Para pengarang lain, seperti Teguh
Karya, Arifin C. Noor, atau Asrul Sani, berpendapat sama bahwa ralitas merupakan
sumber inspirasi ide cerita sekaligus sumber
inspirasi cara menceritakannya. Pendapat
Teguh Karya, kesenian adalah abstraksi
kehidupan. Inilah sebabnya dia berpendapat
bahwa kita harus melengkapinya dengan
filsafat dan ilmu. Prinsip itulah yang dipegang
oleh Teguh Karya sehingga dia mengkritik
film yang menampilkan adegan cowok
Ahmad Yasid
menjemput pacara dengan helikopter.
Kritikannya ditujukan pula pada film yang
meng-gambarkan orang miskin selalu
dengan isak tangis menghiba atau orang kaya
dengan mobil mewah dalam jumlah banyak.
Bagi Teguh Karya, ada realitas yang lain:
orang miskin tidak selalu menangis dan
temannya yang kaya, tetapi mobilnya hanya
satu (Suara Merdeka, 17 April 1994: X).
Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa drama merupakan hasil
interpretasi seorang pengarang. Dan kepengarangan sebuah drama tentu tidaklah
semudah membalikkan telapak tangan, tapi
memerlukan perhatian dan keseriusan
supaya tercipta suatu drama (naskah drama)
yang bermakna dan benar-benar sebagai
perwujudan sosial budaya dari kehidupan
manusia.
Drama dan Pendidikan Karakter
Drama sebagai karya sastra yang
mencerminkan keadaan sosial budaya
bangsa haruslah diwariskan kepada generasi
mudanya. Karena itu, drama menjadi materi
penting dalam proses pendidikan sebagai
salah satu upaya pembentukan karakter
peserta didik, dan sebagai generasi muda
yang sudah semestinya memahami dan
melestarikan sosial budaya bangsa. Hal ini
diperkuat dengan pendapat Herfanda
(2008:131), bahwa sastra memiliki potensi
yang besar untuk membawa masyarakat ke
arah perubahan. Tentunya perubahan di sini
termasuk perubahan karakter. Sebagai
ekspresi seni bahasa yang bersifat reflektif
sekaligus interaktif, sastra khususnya drama
dapat menjadi spirit bagi munculnya gerakan
perubahan masyarakat, bahkan kebangkitan
suatu bangsa ke arah yang lebih baik,
penguatan rasa cinta tanah air, serta sumber
inspirasi dan motivasi kekuatan moral bagi
perubahan sosial budaya dari keadaan yang
kurang baik ke keadaan yang mandiri.
Dengan berbagai fungsi sastra, sekolah
atau lembaga pendidikan sudah semestinya
memperhatikan bahan ajar drama baik
berupa naskah maupun dalam bentuk
pementasan. Para pengajar yang kesulitan
dalam mengajarkan karya sastra dikarenakan ketidakmampuannya sehingga hanya
mengajarkan drama secara sekilas, hanya
mengenai pengertian drama dan isinya.
Sedangkan hal inilah yang menyebabkan
siswa kurang memperhatikan nilai-nilai
karya sastra dan hanya dipandang sebagai
main-main. Maka, penerapan pendidikan
karakter berbasis sastra tidak tercapai
dengan baik
Padahal, spirit-spirit dalam drama
menjadi bagian terpenting dari pendidikan
karakter peserta didik. Artinya, drama tidak
hanya sekadar menjadi sesuatu yang mampu
memberikan kemenarikan dan hiburan serta
penanaman dan pemupukan rasa keindahan, tetapi juga dapat memberikan pencerahan mental dan intelektual. Dalam
keadaan demikian, Ismail dan Suryaman
(2006) menjelaskan bahwa karya sastra
(drama) haruslah sudah diperkenalkan
kepada anak sejak usia dini. Hal ini dimaksudkan agar kemampuan literasi
tumbuh sehingga budaya berimajinasi dan
berkreasi serta membaca dapat berkembang. Kemampuan tersebut tidak dapat
tumbuh tanpa usaha sadar dan terencana.
Usaha sadar dan terencana itu dapat
dilakukan dengan pendidikan yang lebih
memperhatikan potensi alamiah peserta
didik khususnya minat dan bakat dalam
bidang sastra.
Selain mengandung keindahan, karya
sastra juga memiliki nilai manfaat bagi
pembaca. Segi kemanfaatan muncul karena
penciptaan karya sastra berangkat dari
kenyataan sehingga lahirlah paradigma
bahwa sastra yang baik menciptakan
kembali rasa kehidupan, baik bobotnya
maupun susunannya; menciptakan kembali
Volume 3, Nomor 1, Januari 2012
47
48
MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK
ke-seluruhan hidup yang dihayati: kehidupan
emosi, kehidupan budi, individu maupun
sosial, serta dunia yang sarat objek (Ismail
dan Suryaman, 2006). Hal itu bisa dicapai
dengan menghadirkan proses kreatif dari
para peserta didik, sehingga ia mampu
menjadi pengarang maupun komponen
sastra lainnya.
Abrams (1981) menjelaskan mengenai
karya sastra pada empat paradigma, yaitu;
pertama, paradigma karya sastra sebagai
karya objektif (sesuatu yang otonom,
terlepas dari unsur apa pun); kedua,
Paradigma karya sastra sebagai karya
mimesis (tiruan terhadap alam semesta);
ketiga, Paradigma karya sastra sebagai karya
pragmatis (yang memberikan manfaat bagi
pembaca); keempat, paradigma karya sastra
sebagai karya ekspresif (pengalaman dan
pemikiran pencipta). Dengan demikian,
karya sastra memang memiliki segi manfaat
yang sangat besar baik bagi pembaca
maupun ke-terlibatan diri di dalamnya,
khususnya berkenaan dengan nilai-nilai yang
ter-kandung agar diri yang terlibat dalam
sastra lebih mampu menerjemahkan
persoalan-persoalan hidup melalui
kesalehan sosial dan kesalehan ritual.
Berdasarkan paparan tersebut dapatlah
disimpulkan bahwa sastra dengan demikian
dapat berfungsi sebagai media pemahaman
budaya suatu bangsa (yang di dalamnya
terkandung pula pendidikan karakter).
Melalui drama, misalnya, model kehidupan
dengan menampilkan tokoh-tokoh cerita
sebagai pelaku kehidupan menjadi representasi dari budaya masyarakat (bangsa).
Tokoh-tokoh cerita dalam drama terlihat
bersifat, bersikap, dan berwatak. Kita dapat
belajar dan memahami tentang berbagai
aspek kehidupan melalui pemeranan oleh
tokoh tersebut, termasuk berbagai motivasi
yang dilatari oleh keadaan sosial budaya
tokoh itu. Hubungan yang terbangun antara
pembaca dengan dunia cerita dalam sastra
Jurnal Pelopor Pendidikan
adalah hubungan personal. Hubungan
demikian akan berdampak kepada terbangunnya daya kritis, daya imajinasi, dan
rasa estetis. Dengan kata lain, Melalui karya
sastra seperti drama, peserta didik tidak
hanya belajar budaya konseptual dan
intelektualistis, melainkan dihadapkan
kepada situasi atau model kehidupan
konkret. Sastra dapat dipandang sebagai
budaya dalam tindak (culture in action), dan
membaca sastra Indonesia misalnya, berarti
mempelajari kehidupan bangsa Indonesia.
Sastra dalam pendidikan nasional sudah
diakui untuk dikembangan melalu standar isi
(SI) yang prakarsai oleh BSNP (Permendiknas
No. 22 Th. 2006). Dalam setandar isi (SI)
terdapat standar kompetensi (SK) mata
pelajaran Bahasa Indonesia yang merupakan
kualifikasi kemampuan minimal peserta
didik yang digambarkan melalui penguasaan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap
positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Standar kompetensi ini merupakan dasar
bagi peserta didik untuk memahami dan
merespons situasi lokal, regional, nasional,
dan global. Artinya, kajian sastra dalam
lingkungan pendidikan memang menjadi
kajian formal yang mesti diperhatikan.
Dengan demikian, drama sebagai
bagian dari karya sastra dapat menjadi
sarana untuk tercapainya pendidikan
karakter, dan dapat mengantarkan pada
pembentukan karakter peserta didik dengan
baik. Sebab, di dalam drama pementasan,
misalnya, peserta didik akan diperkenalkan
dengan banyak hal di antaranya; 1) olah
vokal, 2) olah nafas, raga, dan rasa, 3) teknik
berakting dan memahami sebuah naskah,
dan seterusnya. Dengan itu, peserta didik
akan memiliki kemampuan kepekaan
terhadap sesuatu dalam kehidupan sosial
budayanya, dan kemampuan lainnya yang
dapat mengantarkan minat dan bakat
potensi alamiahnya.
Ahmad Yasid
Implikasi Drama Pada Karakter Peserta
Didik
Dalam drama, seseorang akan dibiasakan peka terhadap lingkungan sekitarnya
termasuk pada dirinya sendiri. Drama di
sekolah (lembaga pendidikan) selain sebagai
pembelajaran apresiasi sastra, peserta didik
akan dirangsang untuk memiliki kepandaian
dalam membaca naskah dan bermain peran,
dimana kedua hal ini menjadi materi dalam
suatu pembelajaran apresiasi drama.
Salah satu manfaat dari drama, misalnya, seorang guru menugaskan peserta didik
menyaksikan pementasan drama atau
membuat naskah drama yang kemudian
dibahas di kelas merupakan perwujudan dari
pemanfaatan drama sebagai sumber belajar.
Pembelajaran sastra melalui drama ini akan
membuat peserta didik merasa senang dan
semangat, sehingga dengan sendirinya
terbangun suatu karakter dalam diri peserta
didik.
Drama dalam fungsinya sebagai suatu
sumber belajar di sekolah dapat dipandang
sebagai jenis sumber belajar yang dirancang
secara sengaja dibuat atau dipergunakan
untuk membantu belajar mengajar (learning
resources by design). Selain itu, drama dapat
dijadikan sumber belajar yang dimanfaatkan
guna memberi kemudahan kepada peserta
didik dalam belajar, yaitu berupa segala
macam sumber belajar yang ada di sekeliling
kita (learning resources by utilization).
Karena itu, pelajaran drama dalam
dunia pendidikan diharapkan dapat mewujudkan cita-cita pendidikan nasional yang
sekarang lagi semarakkan oleh pendidikan
karakter, sesuai dengan standar kompetensi
dalam mata pelajaran bahasa Indonesia
yaitu:
1. Peserta didik dapat mengembangkan
potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan
peng-hargaan terhadap hasil karya
kesastraan dan hasil intelektual
bangsa sendiri.
2. Pendidik dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan
kompetensi bahasa peserta didik
dengan menyediakan berbagai
kegiatan berbahasa, bersastra, dan
sumber belajar.
3. Pendidik lebih mandiri dan leluasa
dalam menentukan bahan ajar
kebahasaan dan kesastraan sesuai
dengan kondisi lingkungan sekolah
dan kemampuan peserta didiknya.
4. Orang tua dan masyarakat dapat
secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah.
5. Sekolah dapat menyusun program
pendidikan tentang kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan keadaan
peserta didik dan sumber belajar
yang tersedia.
6. Daerah dapat menentukan bahan
dan sumber belajar kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan kondisi dan
kekhasan daerah dengan tetap
memperhatikan
kepentingan
nasional.
Dalam Permendiknas No. 22 Th. 2006
mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan
efisien sesuai dengan etika yang
berlaku, baik secara lisan maupun
tulis.
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan dan bahasa
negara.
3. Memahami bahasa Indonesia dan
menggunakannya dengan tepat dan
kreatif untuk berbagai tujuan.
4. Menggunakan bahasa Indonesia
untuk meningkatkan kemampuan
Volume 3, Nomor 1, Januari 2012
49
50
MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK
intelektual, serta kematangan
emosional dan sosial.
5. Menikmati dan memanfaatkan karya
sastra untuk memperluas wawasan,
memperhalus budi pekerti, serta
meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan berbahasa.
6. Menghargai dan membanggakan
sastra Indonesia sebagai khazanah
budaya dan intelektual manusia
Indonesia.
Berdasarkan harapan dan tujuan
tersebut, penekanan pembelajaran drama
sebagai bagian dari karya sastra diorientasikan pada manfaatnya bagi
pengembangan karakter peserta didik, di
samping manfaat estetis. Penekanan ini
menjadi bagian terpenting di dalam pembelajaran bersastra yang meliputi kegiatan
mendengarkan, berbicara, membaca, dan
menulis. Oleh karena itu, materi drama
diarahkan untuk meningkatkan apresiasi
terhadap sastra agar peserta didik memiliki
kepekaan terhadap sastra yang baik dan
bermutu yang akhirnya berkeinginan
membaca, menulis dan berkreatifitas
lainnya.
Kegiatan bersastra pada masa modern
ini, sesungguhnya kurikulum telah
memungkinkan peserta didik untuk mahir
dan terbiasa membaca dan menulis. Akan
tetapi, bagaimana dengan implementasinya
di kelas maupun di rumah sehingga
berimplikasi terhadap peserta didik. Selama
ini, para pengajar dan peserta didik telah
banyak menghabiskan waktunya untuk
keterampilan seperti bahasan kosakata,
hubungan huruf-bunyi, dan jawaban
terhadap pertanyaan secara tertulis.
Sedangkan penerapan kejiwaan secara
langsung masih relatif kurang, seperti
pementasan drama atau penulisan drama
yang hasil refleksi langsung dari sosial
budayanya. Maka, drama menjadi hal yang
Jurnal Pelopor Pendidikan
juga sangat penting untuk meningkatkan dan
menumbukan kreativitas peserta didik.
Manfaat lain dari drama, misalnmya,
pementasan drama yang merupakan karya
seni/sastra bersifat kolektif, sehingga akan
mengajarkan bagaimana menjadi sutradara.
Sedangkan sutradara merupakan otak utama
dari sebuah pementasan. Biasanya sutradaralah yang memilih dan menafsirkan
naskah, memilih pemain dan melatihnya,
dan mengoordinasikan semua pihak yang
terlibat dalam pementasan. Jika dia mempunyai pegangan yang mengacu pada nilai
religi, nilai estetis, nilai filosofis, dan nilai
komersial (CF. Tambajong, 1981: 68).
Drama akan memberikan banyak
manfaat yang bukan hanya masalah
membaca dan menulis, tapi juga pada
kemampuan mendengarkan berbicara.
Melalui pembelajaran drama, peserta didik
akan mampu menjadi pendengar dan
pembicara yang handal, mempunyai
kemampuan lingustik. Kemampuan ini
bukan semata-mata untuk kepentingan
hubungan sosial dan pribadi, tetapi juga
untuk kepentingan mengembangkan
karakter peserta didik yang siap menghadapi
masa depan. Dengan demikian, pembelajaran drama akan membangun peserta
didik berkarakter, paling tidak akan memiliki
kemampuan membaca, menulis, mendengarkan, dan melisankan (membahasakan) dengan baik.
Penutup
Bermain drama, mengarang naskah
drama, dan menjadi sutradara sebuah
pementasan drama sesungguhnya dapat
menjadi bekal bagi pembentukan karakter.
Namun, pada pengalamannya hal itu
tergantung pada diri kita masing-masing. Jika
menjadikan drama sebagai media berekspresi saja, kita hanya sampai pada
kemampuan berekspresi. Akibatnya, ada
Ahmad Yasid
pemain drama, sinetron, atau film yang
selalu diberi peran (dalam sinetron, drama,
atau film itu) sebagai ibu yang sangat arif
menyikapi hidup, baik ketika suka maupun
duka, tetapi dalam kehidupan nyata dia
mengakhiri hayatnya secara tragis: bunuh
diri. Ada pengarang drama yang berakhlak
mulia dalam naskah dramanya, tetapi
kehidupan nyatanya dia berakhlak sebaliknya. Ada sutradara yang menguasai berbagai
ilmu, termasuk ilmu agama, tetapi hidupnya
jauh dari pengalaman agamanya.
Jadi, drama dalam dunia pendidikan
akan menjadi salah satu media membangun
karakter baik bagi peserta didik maupun
komponen lainya. Drama dapat mengantarkan kita untuk mencapai nilai-nilai
kehidupan. Kecuali, jika drama hanya
dipandang atau dijadikan sebagai media
berekspresi, peranan drama tentu saja hanya
sebatas media berekspresi yang tak
bermakna pada realitas kehidupan diri yang
sesungguhnya.[]
Daftar Pustaka:
A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Jakarta:
PT. Pustaka Jaya, 1983.
A.Y. Herfanda, “Sastra sebagai Agen
Perubahan Budaya” dalam Bahasa dan
Budaya dalam Berbagai Perspektif,
Aanwar Effendi, ed. Yogyakarta: FBS
UNY dan Tiara Wacana, 2008.
Atar Semi, Anatomi Sastra, Padang: Angkasa
Raya, 1993.
Humar Sahman, Mengenali Dunia Seni
Rupa: Tentang Seni, Aktivitas Kreatif,
Apresiasi, Kritik dan Esai, Cet. Ke-1,
Semarang: IKIP Semarang, 1993.
Jatman Darmanto, Sastra, Psikologi, dan
Masyarakat, Bandung: Penerbit
Alumni, 1985.
Jabrohim, Metodologi Penelitian Sastra,
Yogyakarta: Hanindita Graha Widya,
2003.
K. Kuypers, Elseviers Filosofische en
Psychologiche Encyclopedie,
Amsterdam: Elsevier, 1977.
M.H. Abrams, A Glossary of Literary
Lamps, New York: Holt Rinehart &
Winston, 1981.
Pemusuk Eneste, Proses Kreatif: mengapa
dan Bagaimana Saya Mengarang,
Jakarta: PT. Gramedia, 1982.
Panuti Sudjiman, Kamus Istilah Sastra,
Jakarta: UI Press, 1990.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 22 Tahun
2006 tentang Standar Isi, Jakarta,
2006.
Rene Wellek & Austin Warren, Teori
Kesusastraan, terj. Melani Budianta,
Jakarta: Gramedia, 1993.
T. Ismail dan M. Suryaman, Instrumen
Pemilihan Buku Sastra untuk
Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Pusat
Perbukuan Depdiknas, 2006.
Yoshinobu Inoura, The Traditional Theater of
Japanese, Tokyo: Japanes National
Commission for UNESCO, 1971.
Volume 3, Nomor 1, Januari 2012
51
52
MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK
Dalam drama, seseorang akan dibiasakan peka
terhadap lingkungan sekitarnya termasuk pada
dirinya sendiri.
Jurnal Pelopor Pendidikan
Download