Pengaruh Terapi Muscle Relaxation Terhadap

advertisement
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD Yogyakarta
PENGARUH TERAPI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PESERTA
PROLANIS
Rusnoto, Ika Alviana
Prodi Keperawatan, STIKES Muhammadiyah Kudus
[email protected]
Abstrak
Relaksasi otot progressive merupakan salah satu terapi non farmakologis untuk merilekkan
otot dan menurunkan kecemasan sehingga menyebabkan tekanan darah menurun. Hipertensi
merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik
lebih dari 80 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk menggetahui Pengaruh Terapi Progressive
Musle Relaxation Terhadap Penurunan Tekanan Darah Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun
2016. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperimen, desain penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre test dan post test two group. Populasi dalam
penelitian ini adalah pasien hipertensi di prolanis Puskesmas Welahan I Jepara dengan ratarata kunjungan tiap bulannya berjumlah 40 pasien hipertensi. Tehnik pengambilan sampel
dalam penelitian ini yaitu secara non probability sampling berupa purposive sampling (suatu
tehnik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang
dikehendaki peneliti) berjumlah 32 responden. Hasil penelitian menunjukan tekanan darah
sistolik 0,001 dan diastolik 0,002 (<0,05) yang berarti terdapat pengaruh terapi progressive
muscle relaxation terhadap penurunan tekanan darah di puskesmas welahan i jepara tahun
2016.
Kesimpulan : Ada pengaruh terapi progressive musle relaxation terhadap penurunan tekanan
darah di puskesmas welahan I jepara tahun 2016.
Kata Kunci :hipertensi, relaksasi otot progresif, tekanan darah
Jumlah Pustaka : 38 (2006-2015)
PENDAHULUAN
Hipertensi atau tekanan darah tinggi
merupakan penyebab kematian dan kesakitan
yang tinggi. Penyakit mematikan didunia ini
juga dikenal sebagai silent killer, karena
hampir tidak menimbulkan gejala apapun.
Menurut Triyanto (2014) dalam buku World
Health Organization (WHO) tercatat pada
tahun 2012 sedikitnya sejumlah 839 juta
kasus hipertensi, diperkirakan menjadi 1,15
milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari
total penduduk dunia, dimana penderitanya
lebih banyak dari wanita (30%) di
bandingkan pria (29%). Sekitar 80%
kenaikan kasus hipertensi terjadi terutama
dinegara-negara berkembang.
Di Jawa Tengah pada tahun 2008
terdapat sebanyak 865,204 penderita
hipertensi, pada tahun 2009 terdapat
sebanyak 698,816, Pada tahun 2010 terdapat
THE 5TH URECOL PROCEEDING
sebanyak 562,117, Pada tahun 2011 terdapat
sebanyak 634,860, Pada tahun 2012 terdapat
sebanyak 544,771.(Provinsi Jawa Tengah,
2012).
Di Kabupaten Jepara pada tahun
2015 terdapat 15.469 kasus hipertensi yang
menduduki peringkat pertama dari penyakit
tidak menular, dimana penderitanya lebih
banyak wanita yaitu sebesar 11.520
sedangkan pria sebesar 3.939 (DKK Jepara,
2015). Di Puskesmas Welahan I Jepara
tahun 2015 setiap tahun terdapat jumlah
kunjungan rata-rata 1375 pasien dengan
hipertensi rata-rata kunjungan pasien
hipertensi tiap bulannya 115 orang. Angka
ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan
Puskesmas Welahan 2 dimana terdapat 979
pasien
dengan
hipertensi
rata-rata
kunjungan pasien hipertensi tiap bulannya
80 orang pasien hipertensi.
367
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Progresive
Muscle
Relaxation
(PMR) merupakan pengembangan metode
respon relaksasi dengan melibatkan faktor
peregangan otot diikuti dengan relaksasi otot
dan psikis yang dapat menciptakan suatu
lingkungan
internal
sehingga
dapat
membantu pasien mencapai kondisi
kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi
(Purwanto, 2006). Relaksasi PMR memiliki
beberapa keunggulan selain metodenya yang
sederhana, tehnik ini juga dapat dilakukan
kapan saja dan dimana saja tanpa
membutuhkan ruangan yang sangat khusus.
PMR
akan
menghasilkan
frekuensi
gelombang alpha pada otak yang bisa
menimbulkan perasaan bahagia, senang,
gembira, dan percaya diri sehingga dapat
menekan pengeluaran hormon kortisol,
epinefrin dan norepinefrin yang merupakan
vasokontriksi kuat pada pembuluh darah.
(Price, 2005).
Di indonesia bukti pengaruh PMR
terhadap tekanan darah sudah dilakukan oleh
Rudi Harmono (2010) Penggaruh Latihan
Relaksasi
Otot
Progresif
Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Klien Hipertensi
Primer mendapatkan hasil bahwa tindakan
PMR memiliki hubungan yang
signifikan dalam menurunkan tekanan
Pekerjaan
darah pada hipertensi.
Berdasarkan
survey Wiraswasta
pendahuluan yang dilakukan di
IRT
Puskesmas Welahan I Jepara pada
Petani
bulan Desember 2015 terhadap 10
Pedagang
Total
pasien hipertensi didapatkan rata-rata
tekanan darah sistoliknya 165,7 mmHg dari
hasil pengukuran terakhir. Dari hasil
observasi catatan medis obat yang banyak
dikonsumsi adalah captopril, menurut
pengakuan dari 10 pasien tersebut tekanan
darah mereka kadang mengalami penurunan
kadang juga menetap kadang juga meningkat
meskipun sudah minum obat. Selain di
Puskesmas Welahan I belum terdapat
program
terintegrasi
penatalaksanaan
hipertensi yang bertumpu antara obat-obatan
dengan pilar yang lain seperti program
relaksasi untuk menurunkan stress termasuk
terapi
PMR
(Progressive
Muscle
Relaxation).
UAD Yogyakarta
Metode kuantitatif dengan pendekatan
quasy experiment. Pengambilan sampel
menggunakan teknik non probability
sampling dengan pendekatan purposive
sampling.
Analisis
penelitian
ini
menggunakan uji wilcoxon.
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien
hipertensi di Puskesmas Welahan I Jepara.
Yang berjumlah 32 responden
Kelompok
Intervensi
Umur
Respon
den
Umur
36-45
Umur
46-55
Umur
56-65
Umur
66-75
Total
Kelompok
Kontrol
Frekue
nsi
Present
ase (%)
Frekue
nsi
Present
ase (%)
5
31,3
4
25,0
8
50,0
7
43,8
3
18,8
5
31,3
0
0
0
0
16
100.0
16
100.0
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien
dengan hipertensi di Puskesmas Welahan I
Jepara yang memenuhi kriteria inklusi dan
Kelompok Intervensi
Frekuensi
3
5
3
5
16
Presentase
(%)
18,8
31,3
18,8
31,3
100.0
Kelompok Kontrol
Frekuensi
5
6
2
3
16
Presentase
(%)
31,3
37,5
12,5
18,8
100.0
eksklusi. sebanyak 16 responden intervensi
dan 16 responden kontrol.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisa Univariat
Hasil penelitian dapat disajikan dalam tabel
berikut:
Tabel 4.1Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Umur Di Puskesmas
Welahan I Jepara Tahun 2016 (N=32)
METODE
THE 5TH URECOL PROCEEDING
368
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Bedasarkan tabel 4.1 diatas dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar umur
pasien yang menderita hipertensi adalah
umur 46-55 tahun dengan jumlah kelompok
intervensi 8 responden (50,0%) dan
kelompok kontrol 7 responden (43,8%).
Tabel 4.3
Distribusi
Frekuensi
Responden
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di
Puskesmas Welahan I Jepara Tahun 2016
(N=32)
Kelompok
Intervensi
Tabel 4.2Distribusi Frekuensi Responden
Kelompok
Intervensi
Jenis
Kelami
n
Peremp
uan
Lakilaki
Total
Kelompok
Kontrol
Frekue
nsi
Present
ase (%)
Frekue
nsi
Present
ase (%)
10
62,5
9
56,3
6
37,5
7
43,8
16
100.0
16
100.0
Berdasarkan Jenis Kelamin Di Puskesmas
Welahan I Jepara Tahun 2016 (N=32)
Tekana
n Darah
Kelomp
ok
Interven
si
Sebelu
m
Perlaku
an
Sistole
Diastole
Tekana
n Darah
Sistole
Diastole
Ringan
Presenta
se (%)
Sedang
Presenta
se (%)
Berat
Presenta
se (%)
Total
UAD Yogyakarta
Kelompok
Kontrol
Pendidi
kan
Freku
ensi
Present
ase
(%)
Freku
ensi
Present
ase
(%)
SD
7
43,8
7
43,8
SMP
5
31,3
3
18,8
SMA
4
25,0
6
37,5
Total
16
100.0
16
100.0
Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar tingkat
pendidikan pasien hipertensi pada kelompok
intervensi sebanyak 7 responden 43,8%
berpendidikan SD sedangkan pasien
hipertensi pada kelompok kontrol 7
responden 43,8% berpendidikan SD.
Tabel 4.4
Distribusi
Frekuensi
Responden
Berdasarkan Pekerjaan Di Puskesmas
Welahan I Jepara Tahun 2016 (N=32)
7
(43,8%)
9 (56,3
%)
0
16
(100
%)
10
(62,5%)
6
(37,5%)
0
16
(100
%)
11
(68,8%)
5
(31,3%)
0
16
(100
%)
14
(87,5%)
2
(12,5%)
0
16
(100
%)
Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar jenis
kelamin pasien hipertensi pada kelompok
intervensi dan kontrol adalah perempuan
pada kelompok intervensi sebanyak 10
responden (62,5%) dan kelompok kontrol
sebanyak 9 responden (56,3%).
THE 5TH URECOL PROCEEDING
Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar pekerjaan
pasien hipertensi kelompok intervensi adalah
ibu rumah tangga 5 responden 31,3% dan
pedagang 5 responden 31,3% sedangkan
kelompok kontrol adalah ibu rumah tangga 6
responden 37,5%.
Tabel 4.5
Distribusi
Frekuensi
Bedasarkan
Tingkatan Tekanan Darah Sebelum Dan
Sesudah Perlakuan Pada Kelompok
Intervensi Terapi PMR Di Puskesmas
Welahan I Jepara Tahun 2016
Pada tabel 4.5 menunjukan bahwa
tekanan darah sistolik responden sebelum
dilakukan terapi PMR pada kelompok
intervensi pada kategori ringan sebanyak 7
responden (43,8%), pada kategori sedang
sebanyak 9 responden (56,3%), sedangkan
369
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan
darah diastolik kelompok intervensi sebelum
dilakukan terapi PMR pada kategori ringan
sebanyak 10 responden (62,5%) sedangkan
kategori sedang 6 responden (37,5%)
sedangkan kategori berat tidak ada.
Sedangkan tekanan darah sistolik responden
sesudah dilakukan terapi PMR pada
intervensi pada kategori ringan sebanyak 11
responden (68,8%), pada kategori sedang
sebanyak 5 responden (31,3%), sedangkan
kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan
darah diastolik kelompok intervensi sesudah
dilakukan terapi PMR pada kategori ringan
sebanyak 14 responden (87,5%) sedangkan
kategori sedang 2 responden (12,5%)
sedangkan kategori berat tidak ada.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Bedasarkan Tingkatan
Tekanan Darah Sebelum Dan Sesudah
Perlakuan Pada Kelompok Kontrol Terapi
PMR Di Puskesmas Welahan I Jepara Tahun
2016
Pada tabel 4.6 menunjukan bahwa
tekanan darah sistolik responden sebelum
dilakukan terapi PMR pada kelompok
kontrol pada kategori ringan sebanyak 9
responden (56,3%), pada kategori sedang
sebanyak 7 responden (43,8%), sedangkan
kategori berat tidak ada. Sedangkan tekanan
darah diastolik kelompok intervensi sebelum
dilakukan terapi PMR pada kategori ringan
sebanyak 10 responden (62,5%) sedangkan
kategori sedang 6 responden (37,5%)
sedangkan kategori berat tidak ada.
Sedangkan tekanan darah sistolik responden
sesudah dilakukan terapi PMR pada
kelompok kontrol pada kategori ringan
sebanyak 10 responden (62,5%), pada
kategori sedang sebanyak 6 responden
(37,5%), sedangkan kategori berat tidak ada.
Sedangkan tekanan darah diastolik kelompok
kontrol sesudah dilakukan terapi PMR pada
kategori ringan sebanyak 12 responden
(75,0%) sedangkan kategori sedang 4
responden (25,0%) sedangkan kategori berat
tidak ada.
2. Analisa Bivariat
Tabel 4.7
Perbandingan Rata-Rata Tekanan Darah
Sebelum Dan Sesudah Perlakuan Pada
Kelompok Control Dan Kelompok Intervensi
Terapi PMR
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD Yogyakarta
Dari
hasil
analisa
wilcoxon
didapatkan bahwa nilai p value dari
kelompok tekanan darah sistole kelompok
kontrol di dapatkan hasil p value 0,157 > α
(0,05), sedangkan tekanan darah diastole
kelompok kontrol di dapatkan hasil p value
0,190 > α (0,05), sedangkan sistole kelompok
intervensi sebesar 0,001 < α (0,05),
sedangkan diastole kelompok intervensi
sebesar 0,002 < α (0,05). Hal ini dapat
disimpulkan bahwa pada kelompok kontrol
sistole dan diastole tidak ada pengaruh
penurunan tekanan darah dengan demikian
Ha ditolak dan Ho diterima, sedangkan pada
kelompok intervensi sistole dan diastole ada
pengaruh penurunan tekanan darah, dengan
demikian Ha diterima dan Ho ditolak yang
bearti ada Pengaruh Terapi Progressive
Muscle Relaxation Terhadap Penurunan
Tekanan Darah Di Puskesmas Welahan I
Jepara.
PEMBAHASAN
A. Pengaruh Terapi Progressive Muscle
Relaxation Terhadap Perubahan
Tekanan
Darah
Pada
Pasien
Hipertensi Di Wilayah Kerja
Puskesmas Welahan I Jepara
Berdasarkan hasil penelitian tentang
pengaruh terapi PMR terhadap perubahan
tekanann darah pasien hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas Welahan I Jepara,
didapatkan sebagian besar responden
kelompok intervensi mengalami hipertensi
berat tidak ada, hipertensi sedang 9
responden , hipertensi ringan 7 responden.
Sedangkan kelompok kontrol mengalami
hipertensi berat tidak ada, hipertensi sedang
7 responden, hipertensi ringan 9 responden.
Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan
uji wilcoxon diperoleh sistolik p value =
0,001 dan diastolik p value = 0,002 Lebih
kecil dari nilai < 0,05 maka Ho ditolak dan
Ha diterima. Hal ini dapat ditarik kesimpulan
bahwa ada pengaruh terapi PMR dengan
perubahan tekanan darah pada pasien
hipertensi di wilayah kerja puskesmas
Welaha I Jepara.
Sesuai dengan analisis diatas didapatkan
tekanan darah sistolik dari kelompok
370
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
perlakuan sebelum dilakukan terapi PMR
adalah Ringan 7 responden (43,8%) Sedang
9 responden (56,3%) dan setelah perlakuan
adalah ringan 11 responden (68,8%), sedang
5 responden (31,3%). sedangkan hasil uji
statistik didapatkan nilai sig = 0,001 maka
dari hasil p value dapat disimpulkan bahwa
terjadi penurunan yang bermakna antara ratarata tekanan darah sistolik sebelum terapi
PMR dan sesudah terapi PMR
pada
kelompok perlakuan (P value/ Sig < 0,05).
Dari hasil penelitian ini juga dapat
disimpulkan bahwa terapi PMR 5 hari secara
berturut-turut dapat menurunkan tekanan
darah sistolik sebesar p value = 0,001.
Sesuai dengan analisis diatas didapatkan
tekanan darah diastolik dari kelompok
perlakuan sebelum dilakukan terapi PMR
adalah Ringan 10 responden (62,5%),
sedang 6 responden (37,5%) dan setelah
perlakuan adalah ringan 14 responden
(87,5%), sedang 2 responden (12,5%).
sedangkan hasil uji statistik didapatkan
nilai sig = 0,002 maka dari hasil p value
dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan
yang bermakna antara rata-rata tekanan
darah diastolik sebelum terapi PMR dan
sesudah terapi PMR
pada kelompok
perlakuan (P value/ Sig < 0,05). Dari hasil
penelitian ini juga dapat disimpulkan
bahwa terapi PMR 5 hari secara berturutturut dapat menurunkan tekanan darah
sistolik sebesar p value = 0,002.
Pada penelitian ini ditemukan
responden dengan hipertensi di Puskesmas
Welahan I Jepara sebelum di lakukan terapi
PMR didapatkan hasil pada kelompok
intervensi sistole berat tidak ada, sedang 9
responden (56,3%), ringan 7 responden
(43,8%), sedangkan diastole sebelum
perlakuan pada kelompok intervensi berat
tidak ada, sedang 6 responden (37,5%),
ringan 10 responden (62,5%). Sedangkan
setelah perlakuan kelompok intervensi sistole
berat tidak ada, sedang 5 responden (31,3%),
ringan 11 responden (68,8%). Sedangkan
diastole kelompok intervensi setelah
perlakuan berat tidak ada, sedang 2
responden (12,5%), ringan 14 responden
(87,5%). Sedangkan untuk nilai sig
didapatkan kelompok intervensi sistole 0,001
dan diastole 0,002. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa ada pengaruh penurunan terapi PMR
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD Yogyakarta
terhadap penurunan tekanan darah, karna
responden kooperatif dan mengikuti langkahlangkah terapi PMR dengan urut dan benar
serta bersungguh sungguh setiap harinya.
Namun dalam terapi PMR tidak dapat
menurunkan tekanan darah kembali normal
atau tetap tetapi hanya dapat mengurangi
tekanan darah dan dapat kembali sewaktu
waktu jika tidak di lakukan terapi PMR setiap
hari dan mengubah pola hidup menjadi sehat.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian tentang “Pengaruh
Terapi Progressive Muscle Relaxation
Terhadap Peenurunan Tekanan Darah Pada
Pasien Hipertensi Di Wilayah Kerja
Puskesmas Welahan I Jeepara” dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut
1.
Ada perbedaan yang bermakna
tekanan darah sistol post pre pada kelompok
intervensi dengan nilai p value sebesar 0,001
(p < 0,05) dan nilai Z sebesar -3,418 dan
tekanan darah diastole pre dan post dengan
nilai p value sebesar 0,002 (p < 0,05) dan
nilai Z sebesar -3,082.
B. SARAN
1. Bagi Peneliti
Dengan dilaksanakannya penelitian
ini, peneliti dapat menerapkan hasil
penelitian dilapangan dengan memberikan
penyuluhan pada masyarakat tentang upaya
penanganan hipertensi berbasis relaksasi
PMR.
2. Bagi Stikes Muhammadiyah Kudus
Hasil
penelitian
ini
diharapkan dapat memberikan
informasi ilmiah bagi mahasiswa
Stikes Muhammadiyah Kudus.
3. Bagi Puskesmas Welahan I Jepara
Dengan dilaksanakannya penelitian
ini, diharapkan dapat memberikan refrensi
bagi Puskesmas Welahan I Jepara untuk
melakukan upaya dalam penggobatan pasien
hipertensi.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai acuan untuk referensi dan
masukan dalam melakukan penelitian
selanjutnya.
371
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
REFERENSI
Alim, M. N. (2009). pengaruh kompetensi.
Jakarta: Nuha Medika.
Arif muttaqin, K. S. (2011). Asuhan
Keperawatan
Gangguan
Sistem
Perkenihan. Banjarmasin : Salemba
Medika.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Azwar, Saifudin. (2012). Reliabilitas dan
Validitas. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Dalimartha, e. (2008). Care yourself
hypertension. Jakarta: Penebar Plus.
Dewi, S. d. (2010). Hidup Bahagia Bersama
Hipertensi. Jakarta: A Plus Books.
Dewi, S. (2010). Hidup Bahagia Dengan
Hipertens. Yogyakarta: A Plus.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
(2012). Pelayanan Medis Dasar.
Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Tengah.
EI Wayan, S. (2013). Asuhan Keperawatan
Klien dengan Gangguan Sistem
Cardiovaskuler. Yogyakarta: Gosyen
Publishing.
Ganong, W. F. (2008). Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran Edisi 22. Jakarta: EGC.
Gunawan, L. (2012). Hipertensi “Tekanan
Darah Tinggi”. Yogyakarta:
Kanisius.
Hawks, B. &. (2009). Medical Surgical
Nursing Clinical Mnagement for
Positive Outcomes. elseveir Saunders.
Hidayat, A. (2007). Metode Penelitian
Kebidanan Dan Tehnik Analisis Data.
Surabaya: Salemba.
Junaidi, I. (2010). Hipertensi Pengenalan,
Pencegahan,
dan
Pengobatan.
Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Kushariyadi, S. &. (2011). Terapi Modalitas
Psikogeriatrik. Jakarta: Salemba
Medika.
Lewis, et, al. (2011). Life satisfaction and
student engagement in adolescents.
Journal of youth & adolescence ,
40:249-262.
Maryani, A. (2009). Pengaruh progressive
muscle relaxation (PMR). Jakarta:
Nuha Medika.
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD Yogyakarta
Mashudi. (2012). Pengaruh Progressive
Muscle Relaxation terhadap Kadar
Glukosa Darah pada Pasien Diabetes
Militus Tipe 2. Jurnal Health and Spor
, 686-694.
Muhammadun, A. (2010). Hidup Bersama
Hipertensi. Yogyakarta: In Books.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Ronny,
S.
F.
(2010).
Fisiologi
kardiovaskular. Jakarta: EGC.
Setiawan, A. d. (2010). Metodologi
Penelitian kebidanan. Jakarta: Nuha
Medika.
Silbernagl, S. a. ( 2006). Teks & Atlas
Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Snyder. M., L. R. (2002). Complementary
Alternative Therapies In Nursing. New
York: Springer Publishing Company,
Inc.
Sudoyo A, e. a. (2006). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
372
ISBN 978-979-3812-42-7
Download