Prevalensi bakteriuria asimtomatik pada ibu hamil

advertisement
J Kedokter Trisakti
Oktober-Desember 2004, Vol. 23 No. 4
Prevalensi bakteriuria asimtomatik pada ibu hamil
Paul Bukitwetan,* Oktavianus Ch. Salim,** Julius E. Surjawidjaja,*
Mahyunis Aidilfit* dan Murad Lesmana*
*Bagian Mikrobiologi dan **Bagian Kesehatan Masyarakat,
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
ABSTRAK
Bakteriuria asimtomatik seringkali dijumpai pada kehamilan. Bila tidak mendapatkan pengobatan, sebanyak
20-30% kasus bakteriuria asimtomatik akan mengarah pada pielonefritis. Penelitian bertujuan untuk mengetahui
prevalensi bakteriuria asimtomatik pada ibu hamil. Sebanyak 184 sampel urine dari ibu hamil dengan berbagai
usia kehamilan yang datang untuk pemeriksaan rutin di Puskesmas Kecamatan Tambora, diuji secara bakteriologis.
Hasil penelitian menunjukkan, 65 ibu hamil (35,3%) memberikan hasil hitung koloni sebesar >100.000 cfu/mL.
Identifikasi dari isolat menunjukkan bahwa seluruhnya adalah Escherichia coli. Proporsi terbesar didapatkan
pada wanita berusia 20-30 tahun sebesar 72,3%. Usia kehamilan >28 minggu merupakan kelompok dengan
bakteriuria yang paling banyak 48,7%. Ditinjau dari frekuensi kehamilan, pada kehamilan ≥3 ditemukan paling
banyak kasus bakteriuria. Sedangkan piuria banyak didapatkan pada ibu hamil dengan bakteriuria pada usia
kehamilan >28 minggu. Uji kepekaan terhadap isolat E. coli menunjukkan bahwa antibiotika yang masih efektif
adalah golongan quinolon sedangkan terhadap obat-obat yang termasuk golongan betalaktam banyak yang resisten.
Kata kunci : Bakteriuria, asimtomatik, ibu hamil, usia kehamilan
Prevalence of asymptomatic bacteriuria among pregnant mothers
ABSTRACT
Asymptomatic bacteriuria is common in pregnancy. If left untreated, asymptomatic bacteriuria will lead to
acute pyelonephritis in 20-30% of cases.The objective of the study was to determine the prevalence of asymptomatic
bacteriuria ini pregnancy. A total of 184 urine samples from pregnant mothers at various weeks of gestation who
visited Tambora Health Center for antenatal care examinations were cultured. Colony count showed 65 subjects
(35.3%) with colonial growth of >100,000 cfu/mL and the organisms were identified as Escherichia coli.
Bacteriuria was found predominant (72.3%) in pregnant mothers 20-30 years of age. High frequency of bacteriuria
was found in multi para mothers 3 and more. Pyuria was found frequently in pregnant mothers after 28 weeks of
gestation. Antibiotic susceptibility test performed on E. coli showed that quiniolone was the group of antibiotics
against which still susceptible while against beta-lactam most of them were resistant.
Keywords : Bacteriuria, asymptomatic, pregnant mothers, gestation
127
Bukitwetan, Salim, Surjawidjaja, dkk.
PENDAHULUAN
Infeksi saluran kemih sering kali dijumpai
menyertai kehamilan dan dapat bermanifestasi
dalam tiga bentuk, yaitu bakteriuria asimtomatik,
sistitis dan pielonefritis.(1) Umumnya infeksi saluran
kemih pada kehamilan tidak menimbulkan gejalagejala, akan tetapi meskipun asimtomatik,
bakteriuria ini dapat menempatkan ibu hamil pada
risiko kelahiran bayi dengan berat badan kurang
atau kelahiran preterm. Di samping itu, perubahan
fisiologis yang terjadi pada saluran kemih selama
kehamilan dapat mengarah pada risiko terjadinya
pielonefritis apabila ibu hamil tersebut mengalami
kolonisasi bakteri di saluran kemihnya meskipun
dalam bentuk asimtomatik dan dibiarkan tanpa
pengobatan. Dilaporkan sekitar 20-30% bakteriuria
asimtomatik yang tidak mendapatkan pengobatan
akan berkembang menjadi pielonefritis.(2,3) Ini
berbeda dengan keadaan pada ibu hamil yang tidak
mengalami bakteriuria di mana hanya sekitar 0,4 1,2% yang berkembang menjadi pielonefritis.(3)
Insidens pielonefritis paling banyak dijumpai pada
kehamilan lanjut, umumnya pada akhir trimester
kedua atau awal trimester ketiga. Pielonefritis dapat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal
maupun fetal.(2,3)
Bakteriuria asimtomatik didefinisikan sebagai
adanya kolonisasi bakteri yang persisten pada
saluran kemih tanpa diikuti gejala saluran kemih(1)
dan dijumpai pada sekitar 5-10% ibu hamil.(1,5) Pada
wanita yang tidak hamil, bakteriuria asimtomatik
tidak menimbulkan risiko seperti pada saat hamil
dan tidak akan menetap. Berbeda dengan keadaan
tersebut, bakteriuria pada ibu hamil hampir selalu
menetap dan akan menimbulkan kelainan atau
gejala-gejala.(1,4,5) Faktor risiko untuk terjadinya
infeksi saluran kemih pada ibu hamil dan tidak hamil
tidak banyak berbeda. Faktor risiko tersebut dapat
berupa usia, pada wanita tidak hamil prevalensi
bakteriuria asimtomatik meningkat dengan
bertambahnya umur. Jumlah kelahiran (paritas)
merupakan faktor risiko pada ibu hamil; risiko
infeksi saluran kemih akan bertambah besar dengan
bertambahnya jumlah kelahiran atau kehamilan
(paritas). Juga keadaan sosio-ekonomik seringkali
menjadi faktor risiko untuk terjadinya infeksi
128
Bakteriuria pada kehamilan
saluran kemih.(6) Bakteriuria pada ibu hamil dapat
terjadi sebelum kehamilan ataupun pada saat hamil.
Sekitar 1-2% dari ibu hamil yang pada awal
kehamilannya tidak menunjukkan bakteriuria, dapat
mengalami bakteriuria di tengah masa
kehamilannya.
Etiologi dari bakteriuria tidak berbeda antara
ibu hamil dan tidak hamil. Kebanyakan adalah
golongan kuman koliform seperti Escherichia coli,
Klebsiella dan Enterobacter. Kelompok ini
menduduki tempat utama sebagai penyebab dari
infeksi saluran kemih,(4) akan tetapi dari ketiga
spesies kuman tersebut, E. coli yang menduduki
tempat teratas dan dapat ditemukan pada sekitar
65-80% kasus-kasus. (1) Diagnosis bakteriuria
ditegakkan apabila hasil hitung koloni bakteri di
urine jumlahnya lebih dari 100.000 colony forming
units (cfu) per mililiter urine.(1) Untuk melengkapi
data mengenai bakteriuria asimtomatik pada ibu
hamil di Indonesia, dilakukan penelitian untuk
mengetahui prevalensi bakteriuria asimtomatik pada
ibu hamil di Pusat Kesehatan Masyarakat Tambora,
Jakarta Barat.
BAHAN DAN CARA
Subyek penelitian
Semua ibu hamil yang datang ke Bagian
Kebidanan Pusat Kesehatan Masyarakat Tambora,
Jakarta Barat untuk keperluan pemeriksaan
kehamilan rutin (antenatal care) dalam periode satu
tahun yaitu April 2000 - Maret 2001 dipilih sebagai
subyek penelitian. Kepada wanita hamil tersebut
ditanyakan kesediaannya untuk ikut dalam
penelitian ini secara suka rela dan bila bersedia
diminta untuk menandatangani surat persetujuan
(informed consent). Selanjutnya kepada subyek
diberikan kuesioner yang meliputi data pribadi serta
riwayat kehamilan dan riwayat penyakit yang
pernah dialami.
Bahan pemeriksaan
Bahan pemeriksaan untuk studi ini adalah
urine arus tengah pada pagi hari. Urine diambil
sebelum subyek minum sesuatu untuk
menghindarkan efek penipisan (dilusi).(7)
J Kedokter Trisakti
Kepada subyek dijelaskan mengenai cara yang
layak untuk mengumpulkan urine. Sebelum
berkemih penderita diminta untuk membersihkan
genitalia eksterna terlebih dahulu dengan air sabun
kemudian dibilas dengan air. Air kemih awal
dibiarkan tidak ditampung, tetapi air kemih di
tengah-tengah (arus tengah) ditampung sebanyak
20-30 mL di dalam tempat steril yang telah
disediakan. Subyek juga diminta untuk menjaga
agar tempat tampung urine tidak menyentuh paha,
genitalia eksterna, pakaian dan tidak memegang
bagian dalam dari tempat tampung tersebut. Setelah
diperoleh, urine segera dimasukkan ke dalam
kantong plastik yang berisi potongan-potongan es
dan dibawa ke Puskesmas. Dari Puskesmas urine
segera ditansport di dalam kotak pendingin ke
Laboratorium Mikrobiologi FK USAKTI untuk
diproses.
Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis langsung dilakukan
dengan sediaan hapus sampel urine yang tidak
disentrifugasi dan dipulas dengan pewarnaan Gram.
Dihitung jumlah kuman yang tampak per lapangan
pandangan besar (LPB) serta dicatat ada atau
tidaknya lekosit. Bilamana pada pemeriksaan
mikroskopis urine ditemukan banyak sel epitel dan
flora normal vagina, sampel urine tidak diproses
dan tidak dipakai dalam studi karena keadaan
tersebut menggambarkan adanya kontaminasi
Hitung koloni dan biakan kuman
Perhitungan jumlah koloni bakteri di urine
dilakukan dengan menggunakan sengkelit yang
terkalibrasi yaitu yang dapat memindahkan cairan
sebanyak 0,01 mL dan 0,001 mL. Sengkelit secara
tegak lurus dimasukkan ke dalam sampel urine yang
tidak disentrifugasi dan urine dipindah tanamkan
pada lempeng agar darah dan agar MacConkey,
kemudian disebar secara merata menggunakan
sengkelit yang sama. Lempeng agar kemudian
diinkubasi secara aerobik pada suhu 35-37 0C
selama 24-48 jam. Koloni-koloni yang tumbuh
dihitung dan hasil hitungan yang diperoleh
digandakan 1000 kali (untuk biakan yang
menggunakan sengkelit 0,001 mL) dan 100 kali
(untuk sengkelit 0,01 mL). Hasil yang didapat dari
Oktober-Desember 2004, Vol. 23 No. 4
masing-masing dijumlahkan kemudian dirataratakan; dengan demikian didapatkan angka jumlah
kuman per mililiter urine. Terhadap isolat dilakukan
identifikasi dengan menggunakan metode baku yang
berlaku.(7)
Interpretasi hitung koloni
Jika pada lempeng agar darah didapatkan
jumlah koloni <10.000 cfu/mL maka dianggap
bukan bakteriuria; bila 10.000 sampai 100.000 cfu/
mL mungkin karena kontaminasi; dan bila jumlah
kuman ≥100.000 cfu/mL, ini dianggap bermakna
sebagai suatu bakteriuria.(7)
Jumlah lekosit urine
Sepuluh mililiter sampel urine yang telah
dikocok merata dengan menggunakan vorteks
dimasukkan ke dalam tabung sentrifus dan dipusing
dengan kecepatan 2500 rpm selama 5 menit. Cairan
supernatan dibuang dan endapannya (sedimen)
diambil. Satu tetes sedimen diletakkan di atas gelas
alas, ditutup dengan kaca penutup dan dilihat di
bawah mikroskop. Pembacaan dilakukan sedikitnya
pada 3 lapangan pandangan mikroskopis dengan
menggunakan LPB dan hasil yang didapat dirataratakan. Bila ditemukan lekosit >5/LPB, maka
dapat dikatakan piuria.(7)
Analisis data
Perangkat lunak Epi Info versi 6 (Center
for Disease Control and Prevention, Atlanta, GA)
dipakai untuk pengolahan data. Pengujian statistik
untuk menentukan perbedaan prevalensi bakteriuri
asimtomatik berdasarkan usia kehamilan digunakan
uji chi-square. Tingkat kemaknaan yang gunakan
untuk menguji hipotesis adalah 0,05.
HASIL
Sebanyak 184 sampel urine yang diperoleh dari ibu
hamil yang datang untuk pemeriksaan kehamilan
di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat, telah
dilakukan pemeriksaan bakteriologis berupa biakan
urine dan hitung koloni. Dari 184 sampel tersebut,
65 (35,3%) memberi hasil hitung koloni >100,000
cfu/mL dan identifikasi kuman menunjukkan
keseluruhannya adalah spesies Escherichia coli.
129
Bukitwetan, Salim, Surjawidjaja, dkk.
Bakteriuria pada kehamilan
Tabel 1. Distribusi bakteriuria berdasarkan usia kehamilan
Dari 65 ibu hamil yang hitung koloni dari
biakan urinenya >100,000 cfu/mL tersebut, yang
paling banyak adalah dari kelompok usia antara 2030 tahun dengan prevalensi sebesar 47 (72,3%),
sisanya 17 orang (26,2%) dijumpai pada kelompok
usia >30 tahun dan 1 orang (1,5%) pada kelompok
usia <20 tahun.
Sebanyak 6 (20,7%) pada ibu hamil dengan
usia kehamilan <12 minggu menunjukkan biakan
urine dengan hitung koloni >100,000 cfu/mL. Pada
kelompok usia kehamilan 13-24 minggu besarnya
30,6% menjadi 41,5% pada usia kehamilan lebih
dari 24 minggu. Uji chi-square menunjukkan adanya
perbedaan prevalensi bakteriuria yang bermakna
secara statistik (p<0,05) menurut usia kehamilan
(Tabel 1).
Ditinjau dari frekuensi dan usia kehamilan,
prevalensi bakteriuria paling banyak ditemukan
pada kehamilan ≥ 3 dengan usia kehamilan >24
minggu sebesar 21,7% (Tabel 2) .
Gejala piuria (adanya lekosit di urine) dijumpai
pada 54 (83,1%) ibu hamil dari antara 65 dengan
bakteriuria positif. Keadaan piuria lebih banyak
banyak dijumpai pada wanita yang usia
kehamilannya mencapai >24 minggu, yaitu 36
(66,7%) sedang pada kehamilan <12 minggu dan
antara 13-24 minggu, jumlahnya masing-masing
adalah 4 (7,4%) dan 14 (25,9%).
Uji kepekaan antibiotika terhadap isolat E. coli
dilakukan dengan menggunakan metode difusi
cakram mnunjukkan bahwa kuman yang menjadi
penyebab bakteriuria banyak resisten terhadap
antibiotika yang lazim digunakan untuk pengobatan,
yaitu ampisilin, amoksisilin, dan kloramfenikol
(Tabel 3). Lebih dari separuh isolat E.coli
menunjukkan resistensi terhadap ketiga obat
tersebut (66 - 88,7%).
Tabel 3. Uji kepekaan antimikrobial terhadap
65 isolat Escherichia coli
Terhadap seftriakson yang merupakan
antibiotika yang relatif baru, 40% isolat E. coli yang
didapatkan dari ibu hamil juga menunjukkan
resistensi. Hanya terhadap obat-obat yang termasuk
di dalam golongan quinolon, seperti siprofloksasin
dan norfloksasin, masih banyak isolat E. coli yang
menunjukkan kepekaan yaitu 92,5% terhadap
norfloksasin dan 100% terhadap siprofloksasin.
Tabel 2. Frekuensi kehamilan dan prevalensi bakteriuria (persen)
berdasarkan usia kehamilan (minggu)
130
J Kedokter Trisakti
PEMBAHASAN
Bakteriuria asimtomatik pada ibu hamil di
Puskesmas Kecamatan Tambora, Jakarta Barat,
menunjukkan prevalensi yang tinggi yaitu sebesar
35,3%. Hasil penelitian ini jauh lebih tinggi
dibandingkan studi di Amerika rata-rata sebesar 47%, namun pada kelompok tertentu dapat berkisar
antara 2% sampai 11%. (1,3,4,6) Namun, hasil
prevalensi studi ini masih lebih rendah dibandingkan
di Benin, Nigeria(8) yang menunjukkan bahwa
prevalensi bakteriuria asimtomatik sangat tinggi
(86,6%) dan ini selaras dengan tingginya proporsi
pyuria yang didapatkan pada ibu hamil di tempat
tersebut.
Prevalensi bakteriuria asimtomatik pada ibu
hamil di Tambora dijumpai paling tinggi pada
kelompok usia 20-30 tahun, yaitu 72,3% (47/65)
dari seluruh ibu hamil yang biakan urinenya
memberikan hitung koloni sebesar 10,000 cfu/mL;
pada usia >30 tahun prevalensi tersebut besarnya
26,2% (17/65), sedangkan pada ibu hamil yang
berusia di bawah 20 tahun hanya 1,5% saja (1/65).
Hasil studi ini berbeda dengan penelitian yang
dilakukan oleh Andriole(9) yang menyatakan bahwa
prevalensi bakteriuria asimtomatik meningkat sesuai
dengan peningkatan umur.
Pada penelitian ini, prevalensi bakteriuria
meningkat tajam, yaitu dari 20,7% dan 30,6% pada
usia kehamilan <12 minggu dan antara 13-24
minggu, menjadi 41,5% saat usia kehamilan
mencapai >24 minggu, (Tabel 1). Karena risiko
terjadinya bakteriuria meningkat sesuai dengan usia
kehamilan maka pemeriksaan urine sebagai suatu
upaya penyaringan (screening) terhadap terjadinya
infeksi saluran kemih sebaiknya dilakukan sejak
trimester pertama. Pada studi yang pernah dilakukan
meliputi sejumlah besar ibu hamil (3000 orang),
Stenqvist(10) mengevaluasi usia kehamilan yang
optimal untuk melakukan penyaringan. Pada studi
tersebut dilaporkan bahwa risiko untuk menderita
bakteriuria pada waktu hamil meningkat dari 0,8%
pada usia kehamilan 12 minggu menjadi 1,9% pada
akhir usia kehamilan. Oleh karena itu Stenqvist(10)
menganjurkan untuk melakukan penyaringan mulai
pada kehamilan minggu ke-16. Meskipun demikian,
Oktober-Desember 2004, Vol. 23 No. 4
sebenarnya pada kebanyakan ibu hamil, kejadian
bakteriuria pada kehamilan adalah merupakan
cerminan dari keadaan sebelumnya yaitu telah
adanya kolonisasi bakteri pada saluran kemih
sebelum kehamilan terjadi dan hanya sejumlah kecil
saja yang terjadi pada saat kehamilan.(4)
Multiparitas juga dilaporkan mempunyai
kaitan dengan meningkatnya frekuensi infeksi
saluran kemih.(9) Hubungan antara paritas, usia
kehamilan dan meningkatnya frekuensi bakteriuria
seperti yang ditunjukkan pada penelitian ini (Tabel
2) adalah sesuai dengan hasil-hasil yang pernah
dilaporkan oleh beberapa peneliti lain. (8-10)
Observasi pada penelitian ini menunjukkan bahwa
multiparietas (kehamilan kedua, ketiga atau
seterusnya) pada usia kehamilan di atas 24 minggu
menunjukkan peningkatan yang bermakna dari
frekuensi bakteriuria yaitu dari 10,4% pada
kehamilan pertama, dan 9,4% pada kehamilan
kedua menjadi 21,7% pada kehamilan ketiga.
Derajat piuria yang didapatkan pada penelitian
ini sebesar 83,1%, ternyata jauh lebih tinggi
dibandingkan di Amerika yang mendapatkan 2030% dari mereka yang bakteriurik.(1) Sesuai dengan
hasil-hasil yang sudah pernah dilaporkan(4,5,10)
jumlah piuria yang dijumpai pada penelitian ini
paling banyak terdapat pada ibu hamil >24 minggu.
Millar dan Cox (1) menyatakan bahwa adanya
bakteriuria dalam kondisi kehamilan di mana timbul
perubahan fisiologis, memudahkan terjadinya
pielonefritis pada ibu hamil. Kondisi ini disebabkan
terjadinya obstruksi ureter secara relatif karena
pembesaran dari uterus yang menyebabkan tekanan
pada ureter serta adanya hormon progesterone yang
menyebabkan relaksasi otot polos ureter dan
kandung kemih. Bendungan di ureter dan kandung
kemih disertai adanya glukosuria dan aminoasiduria
yang diinduksi oleh kehamilan merupakan medium
yang baik untuk perkembangbiakan kuman.
Selanjutnya, pielonefritis merupakan faktor
risiko yang tinggi untuk terjadinya kelainan yang
berhubungan dengan kehamilan seperti misalnya
kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat
badan rendah.(3) Juga dilaporkan bahwa ibu hamil
dengan pielonefritis menunjukkan angka kematian
bayi yang lebih tinggi (2,4 - 4 kali). Kelahiran bayi
131
Bukitwetan, Salim, Surjawidjaja, dkk.
dengan berat badan rendah yang merupakan salah
satu akibat dari pyelonefritis pada kehamilan,
diduga disebabkan oleh karena kelahiran yang
belum cukup bulan dan juga karena retardasi
pertumbuhan janin. (4) Pada ibu hamil yang
menunjukkan gejala infeksi saluran kemih,
komplikasi berupa prematuritas dapat dijumpai
pada 20-50% kehamilan.(4)
Model eksperimental pada mencit hamil
mendukung teori yang mengemukakan bahwa
kuman E. coli berkembang biak melalui jalan
transplasental dan menginduksi kelahiran prematur;
tetapi teori ini belum terbukti pada manusia.(11)
Infeksi di daerah saluran kemih bagian bawah yang
menjalar ke atas (ascending) adalah kejadian yang
paling mungkin sebagai penyebab kelahiran
prematur tersebut, tetapi sekali lagi hal ini masih
perlu pembuktian.(11) Kebanyakan pyelonefritis yang
merupakan komplikasi bakteriuria asimtomatik
terjadi pada usia kehamilan lanjut, umumnya pada
akhir trimester kedua atau awal trimester ketiga.(1)
Oleh karena terbukti bahwa bakteriuria
asimtomatik pada kehamilan yang tidak diberi terapi
akan berlanjut dan menimbulkan berbagai kelainan
dan komplikasi maka di negara-negara barat seperti
Amerika, Kanada dan Inggris, diambil kebijakan
untuk memberikan antibiotika jangka pendek.(4)
Akan tetapi untuk masing-masing negara jenis
antibiotika yang digunakan berbeda-beda, meskipun
demikian karena E. coli merupakan patogen yang
predominan sebagai kausa bakteriuria(3,4,11,12) maka
pengobatan ditujukan terhadap organisme ini.
Dari hasil uji kepekaan (Tabel 3) yang
dilakukan, dapat dilihat bahwa hanya golongan
quiniolon (siprofloksasin dan norfloksasin)
menunjukkan efektivitas yang tinggi terhadap E.
coli, sedangkan untuk seftriakson efektivitasnya
hanya 40% saja. Hasil ini berbeda dengan yang
dilaporkan di negara-negara Barat di mana
antibiotika seperti ampisilin, amoksisilin dan
trimetoprim masih efektif dan banyak digunakan
untuk terapi bakteriuria.(2,4,12) Namun demikian,
Christensen(2) juga mengakui bahwa penggunaan
obat-obat betalaktam seperti ampisilin dan
amoksisilin menimbulkan masalah di dalam
pengobatan karena banyaknya kuman E. coli
132
Bakteriuria pada kehamilan
menunjukkan tingkat resistensi yang tinggi terhadap
ampisilin dan amoksisilin.
Resistensi terhadap seftriakson yang
ditunjukkan oleh 40% isolat E. coli dari penderita
di Puskesmas Kecamatan Tambora kemungkinan
besar adalah karena organisme ini memproduksi
enzim beta-laktamase yang berspektrum lebih luas
(extended spectrum betalactamase). Lagipula
seftriakson kurang disukai untuk digunakan sesaat
sebelum kelahiran karena dapat menyebabkan
kernikterus sebagai akibat dari derajat pengikatan
protein yang tinggi dari obat ini.(2)
Fluoroquinolon dapat mencapai konsentrasi
jaringan yang tinggi di ginjal dan telah digunakan
sebagai antibiotika alternatif dalam pengobatan
pielonefritis untuk menggantikan obat lapis pertama
yang telah tidak efektif lagi karena adanya resistensi
kuman.(2) Akan tetapi pemakaiannya pada ibu hamil
banyak dipersoalkan(2) dan dianggap merupakan
kontraindikasi oleh karena ada kemungkinan
terjadinya artropati. Oleh karena itu, dianjurkan
agar menggunakan obat golongan nitrofurantoin
atau golongan betalaktam tertentu, seperti
sefaleksin, untuk terapi bakteriuria pada kehamilan.
Kedua obat ini dianggap memenuhi persyaratan
dalam hal keamanannya dan efikasinya untuk ibu
hamil dengan bakteriuria.(2)
Dari berbagai laporan (4,5,6,12) dapat
disimpulkan bahwa pada infeksi saluran kemih
waktu hamil, sering ditemukan E. coli sebagai
penyebab utamanya. Karena bakteriuria
asimtomatik pada kehamilan sudah jelas ada
hubungannya dengan risiko terjadinya pielonefritis
pada usia kehamilan yang lanjut serta berkaitan pula
dengan komplikasi maternal maupun fetal, maka
pemeriksaan bakteriologis untuk mendeteksi adanya
bakteriuria pada kehamilan perlu dilakukan dalam
upaya preventif.
KESIMPULAN
Prevalensi bakteriuria asimtomatik pada ibu
hamil sangat tinggi (35,3%). Bakteri penyebab E.
coli ternyata sudah resisten terhadap antibiotika
yang lazimnya digunakan untuk pengobatan.
J Kedokter Trisakti
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada
Kepala Puskesmas Kecamatan Tambora beserta staf
atas bantuannya dan kerjasamanya dalam penelitian
ini. Kami ucapkan terima kasih juga kepada Dr.
Hasrul D. Biran dan Dr. Raditya Wratsangka untuk
dukungan dan saran-sarannya.
Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
Millar LK, Cox SM. Urinary tract infections
complicating pregnancy. Infect Dis Clin North
Am 1997; 11: 13-26.
Christensen B. Which antibiotics are appropriate
for treating bacteriuria in pregnancy? J
Antimicrob Chemother 2000; 46 (suppl.1): 2934.
Gilstrap LC, Ramin SN. Urinary tract infections
during pregnancy. Obstet Gynecol Clin North Am
2001; 28: 581-91.
Patterson TF, Andriole VT. Bacteriuria in
pregnancy. Curr Treatment Options Infect Dis
2003; 5: 81-7.
MacLean AB. Urinary tract infection in
pregnancy. Br J Urol 1997; 80 (Suppl.1): 10-3.
Oktober-Desember 2004, Vol. 23 No. 4
6.
Santos JF, Ribeiro RM, Rossi P, Haddad JM, Guidi
HG, Pacette AM, et al. Urinary tract infections
in pregnant women. Int Urogynecol J Pelvic Floor
Dysfunct 2002; 13: 204-9.
7. Thomson RB, Miller JM. Specimen collection,
transport, and processing: Bacteriology. In:
Murray P, Baron EJ, Jorgensen JH, Pfaller MA,
Yolken RH, editors. Manual of Clinical
Microbiology, 8th ed. Washington DC: ASM Press;
2003. p. 286-330.
8. Akerele P, Abhulimen F, Okonofua J. Prevalence
of asymptomatic bacteriuria among pregnant
women in Benin City, Nigeria. J Obstet Gynaecol
2001; 21: 141-4.
9. Andriole VT, Patterson TF. Epidemiology, natural
history, and management of urinary tract
infections in pregnancy. Med Clin North Am
1991; 75: 359-73.
10. Stenqvist K, Dahlen-Nilsson I, Lidin-Janson G,
Lincoln K, Oden A, Rignella S, et al. Bacteriuria
in pregnancy. Am J Epidemiol 1989; 129: 372-9.
11. Ovalle A, Levancini M. Urinary tract infrctions
in pregnancy. Curr Opin Urol 2001; 11: 55-9.
12. Winstanley TG, Limb DI, Eggington R, Hancock
F. A 10 year survey of the antimicrobial
susceptibility of urinary tract isolates in the UK:
the micro base project. J Antimicrobiol
Chemother 1997; 40: 591-4.
133
Download