perlindungan hukum atas hak cipta

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini bahasan mengenai topik Hak Kekayaan Intelektual selanjutnya
disebut HKI sedang menghangat dengan adanya kasus diklaimnya karya cipta di
bidang seni batik Indonesia oleh negara tetangga Malaysia. Hal ini sungguh
membuat resah rakyat Indonesia dan menyulut berbagai macam reaksi di dalam
negeri, pasalnya kasus ini bukan kali pertama Malaysia mengklaim dirinya
sebagai pemilik karya cipta terutama di bidang kesenian, baik seni musik,
kesenian reog, batik tradisional hingga makanan khas Indonesia “tempe”.
Pemerintah Indonesia tentunya dapat lebih tegas mengamankan aset-aset
seni dan budaya milik Bangsa Indonesia itu sendiri, karena Indonesia merupakan
salah satu negara yang telah meratifikasi pembentukan World Trade Organization
(WTO) melalui Undang-Undang No. 7 tahun 1994.
Konsekuensinya adalah
Indonesia harus melaksanakan kewajiban untuk menyesuaikan peraturan
perundang-undangan nasionalnya dengan ketentuan WTO, termasuk yang
berkaitan dengan Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property
Rights (TRIPs-WTO).1
Hak Kekayaan Intelektual disebut pula dengan Intellectual Property Right
selanjutnya disebut dengan IPR. World Intellectual Property Organization
1
Afrillyanna Purba, dkk, TRIPs-WTO dan Hukum HKI Indonesia, PT Rineka Cipta,
Jakarta, 2005, hal 1
2
(WIPO) merumuskan Intellectual Property sebagai “The Legal Right which result
from intellectual activity in the industrial, scientific, literary, or artistic fields”
dengan
demikian IPR merupakan suatu perlindungan terhadap hasil karya
manusia baik hasil karya yang berupa aktifitas dalam ilmu pengetahuan, industri,
sastra dan seni. Persetujuan TRIPs-WTO memuat berbagai norma dan standar
perlindungan bagi karya-karya intelektual. Di samping itu juga mengandung
pelaksanaan penegakan
hukum di bidang HKI. HKI dalam ilmu hukum
dimasukkan dalam golongan hukum benda (zakenrecht) yang mempunyai obyek
benda intelektual yaitu benda (zaak) tidak berwujud.2
Secara garis besar Hak Kekayaan Intelektual dibagi dalam 2 (dua)
kelompok, yaitu:
1. Hak Cipta (Copy Rights)
2. Hak Kekayaan Perindustrian (Industrial Property Rights).
Hak cipta dapat diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) bagian, yaitu :
a. Hak cipta;
b. Hak yang berkaitan dengan Hak Cipta (neighbouring rights).3
Menurut WIPO hak kekayaan Perindustrian dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Patent (paten)
b. Utility Models (Model dan Rancang Bangun) atau dalam hukum
Indonesia dikenal dengan istilah paten sederhana (simple patent)
c. Industrial Design (Desain Industri)
d. Trade Mark (Merek Dagang);
2
Ridwan Khairandy, Pengantar Hukum Dagang, UII Press, Yogyakarta, 2006, hlm. 226
H.OK, Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2003, hal 13
3
3
e. Trade Names (Nama Niaga atau Nama Dagang)
f. Indication of Source or Applelation of Origin (sumber tanda atau
sebutan asal)4
Hak Cipta sebagai salah satu bagian dari bidang Hak Kekayaan
Intelektual, diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta. Dalam Pasal 1 disebutkan sebagai berikut:
Angka 1 : Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima
hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya
atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi
pembatasan-pembatasan
menurut
perundang-undangan
yang berlaku.
Angka 2 : Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara
bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu
Ciptaan
berdasarkan
kemampuan
pikiran,
imajinasi,
kecekatan, ketrampilan, atau keahlian yang dituangkan ke
dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.
Angka 3 : Ciptaan
adalah
menunjukkan
hasil
setiap
keasliannya
karya
dalam
Pencipta
lapangan
yang
ilmu
pengetahuan , seni, atau sastra
Angka 4 : Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai Pemilik Hak
Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta,
atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak
yang menerima hak tersebut.
4
Ibid, hal 14
4
Pasal 12 ayat (1) dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang
Hak Cipta, Ciptaan yang dilindungi dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan
sastra, yang mencakup:
a. Buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya
tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
b. Ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan;
d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
e. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan
pantomim;
f. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir,
seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;
g. Arsitektur;
h. Peta;
i. Seni batik;
j. Fotografi;
k. Sinematografi;
l. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain
dari hasil pengalihwujudan.
Mengenai sejarah ciptaan batik pada awalnya merupakan “ciptaan” khas
bangsa Indonesia yang dibuat secara konvensional. Ciptaan adalah hasil setiap
karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan,
seni, atau sastra. Karya-karya cipta tersebut memperoleh perlindungan hukum
5
karena
mempunyai nilai seni, baik pada motif, gambar, maupun komposisi
warnanya. Menurut terminologi, batik adalah gambar yang dihasilkan dengan
menggunakan alat canting atau sejenisnya dengan bahan lilin sebagai penahan.5
Sebagai kebudayaan tradisional (Traditional Knowledge) yang turun
temurun, maka Hak Cipta seni batik harus dilindungi seperti yang diamanatkan
oleh Pasal 10 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta
yakni “Negara memegang hak cipta atas folklore dan hasil kebudayaan rakyat
yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad,
lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya”.
Dalam penjelasan pasal di atas yang dimaksud dengan folklore adalah
sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun
perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya
berdasarkan standard dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun
temurun termasuk hasil seni antara lain berupa lukisan, gambar, ukir-ukiran,
pahatan, mozaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrument musik dan
tenun tradisional.
Menurut Pasal 1 angka 1 UU Hak Cipta, hak cipta adalah hak eksklusif
bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak
ciptaannya maupun memberi ijin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasanpembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak eksklusif
adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak
ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa ijin pemegangnya.
Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta, atau pihak yang
5
Suyanto, A.N, Sejarah Batik Yogyakarta, Merapi, Yogyakarta, 2002, hal 101
6
menerima hak tersebut dari pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut
hak dari pihak yang menerima hak tersebut. Hak eksklusif tersebut menurut Pasal
2 UU Hak Cipta meliputi hak untuk mengumumkan.
Tidak dapat dipungkiri budaya merupakan salah satu aspek yang
membentuk jatidiri Bangsa. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk
dengan kekayaan keanekaragaman budayanya. Arus globalisasi seringkali
menyebabkan kebudayaan Bangsa Indonesia terancam, baik itu musnah karena
keengganan untuk melestarikan dari generasi Bangsa maupun diakui oleh bangsa
lain sebagai kebudayaan mereka.
Salah satu karya asli Bangsa Indonesia adalah batik. Batik merupakan
karya cipta nenek moyang Bangsa Indonesia sejak berabad-abad lalu. Batik
dengan berbagai ragam dan coraknya adalah kekayaan Bangsa yang penting dan
perlu terus dijaga dan dilindungi.
Perlindungan di bidang Hak Kekayaan Intelektual sudah bukan merupakan
hal yang baru bagi Bangsa Indonesia, oleh karena itu masih perlu terus
dimasyarakatkan, agar dalam masyarakat timbul minat dan kebanggaan untuk
menciptakan karya intelektual dan penemuan terutama dalam bidang ilmu
pengetahuan, seni dan tekhnologi. Selain itu ditanamkan rasa tanggung jawab dan
perasaan
sosial,
agar
memanfaatkan
karyanya
untuk
sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat dan tidak hanya mengejar terjaminnya kepastian dan
perlindungan hukum bagi pribadi saja.6
6
www. Info hukum.com, diakses 5 April 2011
7
Berdasarkan dari fakta di atas maka penulis bermaksud mengadakan
penelitian tentang “Perlindungan Hukum Atas Hak Cipta Batik Banyumas
berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di
atas, dapat
dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap Batik Banyumas berdasarkan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap ciptaan Batik Banyumas
berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
D. Kegunaan Penelitian
1.
Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan
ilmu hukum khususnya dapat menambah referensi, masukan pemikiran dan
bahan kajian tentang proses pendaftaran hak ciptaan dalam bidang Hak
Kekayaan Intelektual.
2.
Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat
pada umumnya dan bagi perajin batik pada khususnya mengenai pentingnya
pendaftaran suatu ciptaan dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual serta
diharapkan dapat mengenalkan batik Banyumas ke lingkup yang lebih luas.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hak Kekayaan Intelektual
1. Pengertian dan Pengaturan Hak Kekayaan Intelektual
Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak yang diberikan kepada
orang-orang atas hasil dari buah pikiran mereka. Biasanya hak eksklusif
tersebut diberikan atas penggunaan dari hasil buah pikiran si pencipta
dalam kurun waktu tertentu. Buah pikiran tersebut dapat terwujud dalam
tulisan, kreasi artistik, simbol-simbol, penamaan, citra, dan desain yang
digunakan dalam kegiatan komersil.
Menurut Bambang Kesowo:
HKI dapat diartikan sebagai Hak atas kepemilikan terhadap karyakarya yang timbul atau lahir karena adanya kemampuan
intelektualitas manusia dalam bidang ilmu pengetahuan teknologi.
Karya-karya tersebut merupakan kebendaan yang merupakan hasil
kemampuan intelektualitas seseorang manusia dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi melalui daya cipta, rasa, karsa dan
karyanya yang memiliki nilai-nilai moral, praktis dan ekonomi.7
Menurut Eddy Damian:
Secara substantif, pada hakikatnya pengertian HKI dapat
dideskripsikan sebagai hak-hak atas harta kekayaan yang
merupakan produk olah pikir manusia (kemampuan intelektual
manusia). Dengan perkataan lain , HKI adalah hak atas harta
kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia.8
7
Bambang Kesowo, Pengantar Umum Mengenai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
di Indonesia, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1995, hal 4
8
hal 34
Eddy Damian , Hukum Hak Cipta (UUHC No 19 Tahun 2002) , Alumni , Bandung , 2004,
9
Dari sekian banyak pengertian hak kekayaan intektual yang dirumuskan
oleh para sarjana, belum ada definisi yang dapat diterima secara universal,
dikarenakan hak kekayaan intelektual yang merupakan hasil dari
kemampuan intelektualitas manusia selalu terus berkembang seiring
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
a. Pengaturan HKI Internasional
Tonggak sejarah pengaturan masalah HKI dimulai dengan
disetujuinya Paris Convention pada tahun 1883 di Brussels, yang
mengalami perubahan terakhir di Stockholm pada tahun 1979. Paris
Convention
ini
mengatur
mengenai
perlindungan
hak
milik
perindustrian yang meliputi inventions, trademarks, service marks,
industrial
design,
utility
model
(small
paten),
trade
nomes
(designations under which an industrial or commercial activity is
carried on), geographical indications (indications of source and
appellations of origin) dan the repression of unfaircompetition).
Beberapa tahun kemudian, yaitu pada tahun 1886 disahkan
Berne Convention yang mengatur mengenai perlindungan terhadap
karya-karya di bidang ilmu pengetahuan, seni dan kesusasteraan, yang
meliputi semua ciptaan-ciptaan di bidang sastra (literary works), musik
(musical works), drama tari (choreographic works), artistik (artistic
works), fotografi (photographic works), audiovisual (audiovisual
works), program komputer (computer programs), rekaman suara
(sound recording), karya siaran (broadcasts) dan perwajahan tipografi
penerbitan (typographical arrangements of publication).
10
Pada awalnya kedua konvensi tersebut masing-masing
membentuk union yang berbeda, yaitu Union Internasional untuk
perlindungan Hak Milik Perindustrian (The International Union for the
Protection of Industrial Property) dan Union Internasional untuk
perlindungan Hak Cipta (International Union for the Protection of
Literary and Artistic Works).
Perkembangan selanjutnya timbul keinginan untuk membentuk
suatu organisasi dunia tentang HKI. Melalui konferensi Stockholm
pada tahun 1967, telah diterima suatu konvensi khusus untuk
membentuk organisasi
dunia tentang HKI,
yaitu
Convention
Establising the World Intellectual Property Organization (WIPO).
WIPO sebagai organisasi HKI , yang kemudian menjadi pengelola
tunggal dari kedua konvensi tersebut di atas.
Adapun tugas WIPO dalam rangka perlindungan terhadap HKI,
antara lain:
1) Mengurusi kerjasama administrasi pembentukan perjanjian
atau traktat internasional
2) Mengembangkan dan melindungi hak kekayaan intelektual
di seluruh dunia
3) Melakukan kerjasama di antara negara-negara di seluruh
dunia
4) Melakukan kerjasama dengan organisasi internasional
lainnya, hal ini meliputi:
11
a) Mendorong
dibentuknya
perjanjian
atau
traktat
internasional dan memodernisasi legislasi nasional
b) Memberikan
bantuan
teknik
pada
negara-negara
berkembang dalam rangka pengembangan perlindungan
HKInya
c) Mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi
d) Memberikan bantuan pelayanan guna menyediakan
fasilitas untuk memperoleh perlindungan terhadap
penemuan, merk dan desain produk industri yang
diperlukan oleh negara-negara anggota
e) Mengembangkan kerjasama administrasi di antara
negara-negara anggota WIPO.
Namun
demikian
ada
beberapa
kelemahan
WIPO
yang
menyebabkan lembaga ini dianggap tidak mampu lagi dalam melindungi
HKI, antara lain:
1) Belum
bisa
mengadaptasi
perubahan
struktur
perdagangan
internasional, tingkat inovasi ekonomi dan teknologi
2) Tidak
dapat
memberlakukan
ketentuan-ketentuan
internasional
terhadap bukan anggotanya
3) Tidak memiliki mekanisme untuk berkonsultasi menyelesaikan dan
melaksanakan penyelesaian sengketa yang timbul
4) Tidak memiliki mekanisme untuk mengendalikan dan menghukum
pelaku pelanggaran terhadap hak milik intelektual baik pelaku negara
anggota WIPO ataupun negara yang bukan anggota WIPO.
12
Menurut Fidel S. Djaman (dalam bukunya Rachmadi Usman),
WIPO mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain:
1) WIPO hanya merupakan organisasi yang anggotanya terbatas (tidak
banyak), sehingga ketentuan-ketentuannya tidak dapat diberlakukan
terhadap non anggota
2) WIPO tidak memiliki mekanisme untuk menyelesaikan dan
menghukum setiap pelanggaran di bidang HKI;
3) WIPO dianggap juga tidak mampu mengadaptasi perubahan struktur
perdagangan internasional dan perubahan tingkat inovasi teknologi.9
Adanya kelemahan WIPO tersebut, menyebabkan tidak mampu
lagi melindungi HKI, maka timbul gagasan untuk melakukan pertemuanpertemuan General Agreement on Trariff and Trade (GATT) untuk
membahas masalah HKI. Pada konvensi GATT Putaran Uruguay di
Marakesh (Maroko) tentang hak milik intelektual pada bulan September
tahun 1990 ditetapkan Agreement on Trade Related Aspects of Intelectual
Property Rights (TRIPs), yaitu tentang aspek-aspek dagang yang terkait
dengan hak milik intelektual dan pembentukan World Trade Organization
(WTO), yang di dalamnya mempunyai struktur organisasi yang berkaitan
dengan HKI.
TRIPs merupakan bagian dari WTO, sedangkan WTO
dimaksudkan sebagai pengganti sekretariat GATT.
9
hal.15
Rahmadi Usman, Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual, PT.Alumni, Bandung, 2003,
13
TRIPs merupakan tonggak dalam perkembangan standar-standar
internasional dalam sistem HKI. TRIPs mempunyai karateristik –
karakteristik antara lain:10
1) Pengertian bahwa perlindungan HKI yang seimbang dan efektif
merupakan suatu masalah perdagangan dan untuk itu diarahkan ke
dalam sebuah aturan perdagangan multilateral yang lebih luas
2) Lingkup pengaturan hukum yang telah menyeluruh mencakup Hak
Cipta, Hak Terkait dan Kekayaan Industri dalam suatu perjanjian
internasional
3) Pengaturan-pengaturan yang terperinci mengenai penegakan dan
administrasi HKI dalam sistem hukum nasional
4) Penggunaan mekanisme penyelesaian sengketa dalam sengketa WTO
5) Pembuatan proses-proses yang transparan secara terstruktur untuk
mendorong pemahaman yang lebih rinci dari hukum HKI nasional
dari negara-negara anggota WTO.
Secara garis besar persetujuan TRIPs mengandung tiga ciri utama,
yaitu:
1) Memuat kewajiban negara-negara anggota untuk menyesuaikan
peraturan perundang-undangan nasional dengan berbagai perjanjian
internasional di bidang HKI sebagai persyaratan minimal, hal ini
disebabkan TRIPs menggunakan prinsip kesesuaian penuh atau full
compliance sebagai syarat minimal pesertanya.
10
hal. 31
Tim Lindsey, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, PT.Alumni, Bandung, 2002,
14
2) Dibanding dengan persetujuan internasional di bidang HKI yang
sudah ada, persetujuan TRIPs memuat norma-norma yang baru dan
menerapkan standard perlindungan yang lebih tinggi.
3) Memuat ketentuan mengenai penegakan aturan yang ketat disertai
mekanisme penyelesaian sengketa melalui panel dan ancaman
tindakan balasan di bidang perdagangan yang bersifat silang.
Menurut TRIPs Hak Kekayaan Intelektual terdiri dari:
1) Copy Right and Related Right (Hak Cipta dan Hak terkait
di dalamnya).
2) Trademark (Merek).
3) Geographycal Indications (Indikasi Geografis)
4) Industrial Design (Desain Industri)
5) Patent (Paten)
6) Lay-out Design Tophographic of Circuits (Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu)
7) Protection of Undisclosed Information (Rahasia Dagang)
8) Control of Anti-Competitive Practices in Contractual Licenses
(Perlindungan Terhadap Persaingan Curang).
b. Pengaturan HKI di Indonesia
Pengaturan perundangan HKI di Indonesia dimulai sejak jaman
penjajahan Belanda dengan diundangkan Octrooi Wet No.136
Staatzblad No.1911 No.313 Industrieel Eigendom 1912 dan Auterswet
1912 Staatblad 1912 No.600. Setelah Indonesia merdeka, Menteri
Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman No.JG 1/2/17 tanggal
29 Agustus 1953 tentang Pendaftaran Sementara Paten.
15
Sedangkan Pengaturan HKI dalam Undang-Undang di Indonesia
pertama kali diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1961
tentang Merek Perusahaan dan Perniagaan. Pengaturan HKI di
Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan seiring dengan
tumbuh dan berkembangnya perjanjian internasional, yaitu:
1)
Hak Cipta diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta
2)
Merek diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001
tentang Merek
3)
Paten diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001
tentang Paten
4)
Desain Industri diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun
2000 tentang Desain Industri
5)
Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu diatur dalam Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
6)
Rahasia Dagang diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2000 tentang Rahasia Dagang
7)
Varietas Tananam diatur dalam Undang-Undang Nomor 29
tentang Varietas Tananam
2. Ruang Lingkup Hak Kekayaan Intelektual
Pengelompokan Hak Kekayaan Intelektual dapat dikategorikan
dalam kelompok sebagai berikut:
a. Hak Cipta (Copy Right)
b. Hak Kekayaan Perindustrian (Industrial Property Right)
16
Hak cipta itu sendiri dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian, yaitu:
a.
Hak Cipta;
b.
Hak yang berkaitan dengan hak cipta (neighbouring rights).11
Menurut Otto Hasibuan:
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dibagi atas dua kelompok besar,
yakni Hak Milik Perindustrian (Industrial Property Right) dan Hak
Cipta (Copyright). Yang termasuk kelompok Hak Milik Perindustrian,
antara lain Paten (Patents), Merek Dagang (Trademarks), Desain
Industri (Industrial Design), Rahasia Dagang (Undisclosed
Information), Indikasi Geografis (Geographical Indication), Model
dan Rancang Bangun (Utility Models), dan Persaingan Curang (Unfair
Competition), sedangkan yang termasuk kelompok Hak Cipta
dibedakan antara Hak Cipta (atas seni, sastra dan ilmu pengetahuan)
dan hak-hak yang terkait dengan hak cipta (Neighbouring Rights).12
Berdasarkan Convention Establishing The World Intellectual
Property Organization, selanjutnya hak kekayaan perindustrian dapat
diklasifikasikan lagi menjadi:
a. Patent (Paten);
b. Utility Models (Model dan Rancangan Bangunan) atau dalam
hukum Indonesia dikenal dengan istilah paten sederhana (Simple
Patent);
c. Industrial Design (Desain Industri);
d. Trade Merk (Merek Dagang);
e. Trade Names (Nama Niaga atau Nama Dagang)
f. Indication of Source or Appelation of Origin (Sumber Tanda atau
sebutan asal).13
11
OK, Saidin, Op.Cit, hal.13
12
Otto Hasibuan, Hak Cipta Di Indonesia (Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu, Neighbouring
Rights) dan Collecting Society), PT.Alumni, Bandung, 2008, hal 21.
13
H. OK Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, PT.Raja Grafindo, Jakarta, 2004,
hal13
17
Berdasarkan beberapa literatur, khususnya literatur yang ditulis
oleh para pakar dari Negara yang menganut system anglo saxon,
bidang hak kekayaan perindustrian yang dilindungi tersebut, masih
ditambah lagi beberapa bidang lain. Menurut William T. Frayer , hak
atas kekayaan perindustrian itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Patent
b. Utility Models
c. Industrial Designs
d. Trade Secrets
e. Trade Marks
f. Service Marks
g. Trade Names or Commercial Names
h. Appleation of Origin
i. Indication of Origin
j. Unfair Competition Protection.14
Berdasarkan kerangka WTO/TRIPs, ada dua bidang lagi yang perlu
ditambahkan yaitu:
a. Perlindungan varietas baru tanaman, dan
b. Integrated Circuit (rangkaian elektronika terpadu).15
Apabila dicermati dalam ketentuan TRIPs, HKI dapat digolongkan
dalam 8 (delapan) golongan16, yaitu:
14
Ibid, hal 15
15
Loc.cit
16
Djubaidah dan Muhamad Jumhana, Hak Milik Intelktual (Sejarah, Teori dan
Prekteknya di Indonesia), Citra Adiyta Bhakti, Bandung1997, hal 123
18
a. Hak cipta dan Hak terkait lainnya;
b. Merek dagang;
c. Indikasi Geografis;
d. Desain produk industri;
e. Paten;
f. Desain Lay Out (topografi) dari rangkaian elektronik terpadu;
g. Perlindungan terhadap informasi yang dirahasiakan;
h. Pengendalian atas praktik persaingan curang.
Menurut Saidin dalam Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual,
pengelompokan di atas dapat disederhanakan menjadi bagan berikut
ini:17
Material
(Benda
berwujud)
Hak Cipta (Copy rights)
Hak Cipta
Benda
Immaterial
(Benda tidak
berwujud)
Hak Atas Kekayaan
Intelektual
Hak Atas
Kekayaan
Perindustrian
17
H.OK Saidin, Op.Cit, hal 16
Hak yang bersempadan
dengan hak cipta atau
hak terkait














Patent
Utility Models
Industrial Designs
Trade Secrets
Trade Marks
Service Marks
Trade Names or
Commercial Names
Appelations of Origin
Unfair Competition
Protection
New Varieties of
Plants Protection
Integrated Circuits
19
3. Tujuan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual
Permasalahan mengenai HKI akan menyentuh berbagai aspek
seperti teknologi, industri, sosial, budaya dan berbagai aspek lainnya.
Namun aspek yang terpenting jika dihubungkan dengan upaya
perlindungan bagi karya intelektual adalah aspek hukum. Hukum
diharapkan mampu memberikan perlindungan bagi karya intelektual.
Perlindungan hukum menurut Andi Hamzah adalah perlindungan
mencangkup keseluruhan kaidah atau norma dan nilai mengenai suatu segi
kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk mencapai kedamaian dan
kesejahteraan masyarakat. Sedangkan perlindungan hukum menurut
kamus bahasa Indonesia yaitu perlindungan adalah melindungi atau
peraturan, hukum adalah aturan yang secara resmi dianggap mengikat dan
dibuat oleh pemerintah. Jadi perlindungan hukum dapat diartikan sebagai
suatau peraturan yang dibuat oleh pemerintah untuk melindungi dan
mengatur pergaulan hidup masyarakat dalam berbagai bidang18.
HKI sebagai hak milik dalam penguasaan dan penggunaan hak
tersebut harus dibatasi agar tidak merugikan orang lain. Hak milik menurut
ketentuan Pasal 570 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
disebutkan bahwa:
Hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu kebendaan
dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu dengan
kedaulatan sepenuhnya, asal tidak bersalahan dengan undang-undang, atau
peraturan umum yang ditetapkan oleh sesuatu kekuasaan yang berhak
18
Djubaidah dan Muhamad Jumhana , Op.Cit, hal 126
20
menetapkannya dan tidak mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya
itu dengan tak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak itu demi
kepentingan umum berdasar atas ketentuan undang-undang dan dengan
pembayaran ganti rugi.
Berdasarkan ketentuan pasal tersebut, maka dapat diketahui bahwa
setiap hak milik mempunyai unsur:
a. Kemampuan untuk menikmati atas benda atau hak yang menjadi objek
hak milik tersebut;
b. Kemampuan untuk mengawasi atau menguasai benda yang menjadi
objek hak milik itu, yaitu misalnya untuk mengalihkan hak milik itu
kepada orang lain atau memusnahkannya.19
Namun demikian, hukum pun memberikan pembatasan kepada
pemiliknya untuk menikmati maupun menguasai atas benda, atau hak yang
merupakan miliknya tersebut.
Ketentuan Pasal 27 ayat (2) Deklarasi Hak Asasi Manusia se
Dunia menyebutkan bahwa:
“Setiap orang memiliki hak untuk mendapat perlindungan (untuk
kepentingan moral dan materi) yang diperoleh dari ciptaan ilmiah,
kesusastraan atau artistik dalam hal dia sebagai pencipta”
Argumen moral ini direfleksikan oleh tersedianya hak moral yang
tidak dapat dicabut bagi para pencipta di banyak Negara. Berdasarkan
ketentuan bahwa perlindungan terhadap karya intelektual adalah
merupakan hak bagi setiap orang.
19
Ibid, hal 31
21
Beberapa keuntungan dan manfaat yang dapat diharapkan dengan
adanya perlindungan HKI, baik secara ekonomi makro maupun ekonomi
mikro yaitu:
a.
Perlindungan HKI yang kuat dapat memberikan dorongan untuk
meningkatkan landasan teknologi nasional guna memungkinkan
pengembangan teknologi yang lebih cepat lagi.
b.
Pemberian perlindungan hukum terhadap HKI pada dasarnya
dimaksudkan sebagai upaya untuk mewujudkan iklim yang lebih baik
lagi bagi tumbuh dan berkembangnya gairah mencipta atau
menentukan sesuatu di bidang ilmu pengtahuan, seni, dan sastra.
c.
Pemberian perlindungan hukum terhadap HKI bukan saja merupakan
pengakuan Negara terhadap hasil karya dan karsa manusia, melainkan
secara ekonomi makro merupakan penciptaan suasana yang sehat
untuk menarik penanaman modal asing, serta memperlancar
perdagangan internasional. Begitu besar manfaat yang dapat dirasakan
dengan terlindungnya HKI pada warga negaranya, maka setiap negara
akan memberikan perlindungan yang ketat.20
B. Hak Cipta
1.
Sejarah Perkembangan Hak Cipta di Indonesia
Keaslian suatu karya, baik berupa karangan atau ciptaan
merupakan suatu hal esensial dalam perlindungan hukum melalui hak
cipta. Hal ini berarti bahwa karya tersebut harus benar-benar merupakan
hasil karya orang yang mengakui karya tersebut sebagai karangan atau
20
Ibid, hal.32-33
22
ciptaanya. Hak pengarang atau pencipta di Indonesia disebut author
right. Istilah ini digunakan sejak diberlakukannya Auteurswet 1912 Stb.
1912 No. 600, yang kemudian dalam peraturan perundang-undangan
selanjutnya menggunakan istilah hak cipta.
Dalam kepustakaan hukum Indonesia yang pertama kali dikenal
istilah Hak pengarang ( author right ), setelah diberlakukannya undang –
undang hak pengarang (auteurswet 1912 ) atau Stb. 1912 No. 600,
kemudian menyusul istilah hak cipta, istilah inilah yang kemudian
dipakai dalam peraturan perundang–undangan selanjutnya. Pengertian
kedua istilah tersebut menurut sejarah perkembangannnya mempunyai
perbedaan yang cukup besar.
Pengenalan terhadap pengertian hak cipta sebagai definisi dalam
bahasa Indonesia dari kata copyright. Penggunaan istilah tersebut dalam
masyarakat termasuk dalam perkembangan kurikulum dalam fakultas
hukum untuk studi ilmu hukum. Hak cipta ( copyright ) sebagai satu
bidang studi lainnya dalam kerangka perlindungan hak atas kekayaan
intelektual atau intellectual property right.
Berikut ini adalah perkembangan hak cipta di Indonesia:
a. Zaman Penjajahan Belanda
Sebagaimana diketahui Indonesia dijajah Belanda selama 3 ½
abad. Sebagai negara jajahan, masalah hak cipta termasuk masalah
hukum, sosial, ekonomi, politik, budaya semuanya dikuasai dan
ditentukan oleh penjajah. Kedaulatan, termasuk dalam hubungan
internasional dikendalikan oleh pemerintah kolonial tersebut.
23
Belanda menandatangani naskah Konvensi Bern pada tanggal 1
April 1913, dengan mengikutsertakan Indonesia dalam konvensi
tersebut. Ketika Konvensi Bern ditinjau kembali di Roma pada tanggal
2 Juni 1928, peninjauan kembali ini dinyatakan pula berlaku di
Indonesia (Staatblad tahun 1931 No. 325). Konvensi inilah yang
kemudian berlaku di Indonesia sebagai jajahan Belanda dalam
hubungannya dengan dunia internasional khususnya mengenai hak
cipta.
Pengaturan secara formal hak cipta di Indonesia pada zaman
penjajahan Belanda ini berdasarkan Auteurswet Tahun 1912,
sebagaimana tersebut dalam Staatsblad tahun 1912 No. 600 yang
dinyatakan berlaku mulai tanggal 23 September 1912.
Walaupun Indonesia pada waktu itu telah memberlakukan
Auteurswet 1912, dalam kenyataannya pentaatan dan penegakan
hukum ketentuan-ketentuan belumlah diaktualisasikan sebagaimana
mestinya. Hal ini tampak dari adanya buku-buku terbitan Balai
Pustaka berupa terjemahan buku-buku yang para pengarangnya
berasal
dari
beberapa
negara
eropa,
tanpa
meminta
izin
menerjemahkan terlebih dahulu dari pengarang aslinya.21
b. Zaman Penjajahan Jepang
Pada masa Indonesia dijajah Jepang selama 3 ½ tahun, secara
de facto kekuasaan dalam pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan
juga dalam bidang hukum, termasuk dalam hal hak cipta ini juga
21
Eddy Damian, Hukum Hak Cipta, PT. Alumni, Bandung, 2002, hal. 138-139
24
dikendalikan oleh pemerintah Jepang. Namun karena pergolakan dan
kemelut peperangan, hukum perang yang berlaku waktu itu seakan
tidak memungkinkan pelaksanaan dan pemeliharaan hak cipta.
Hak Cipta di Indonesia berada dalam keadaan status quo pada
masa pendudukan Jepang ini. Sebagai konsekuensi peperangan,
pemerintah Jepang tidak berkesempatan untuk mengurus dan menata
perkembangan dengan masalah hak cipta ini.
c. Zaman Kemerdekaan
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia
menyatakan dirinya sebagai bangsa dan negara yang merdeka,
berdaulat dan bersatu. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
menetapkan berlakunya Undang-Undang Dasar 1945. Pasal II Aturan
Peralihannya menyatakan: “Segala badan negara dan peraturan yang
ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru
menurut Undang-Undang Dasar ini”. Pasal ini diperjelas dengan
Peraturan Presiden No. 2 Tahun 1945 yang ditetapkan tanggal 10
Oktober 1945.
Setelah
dicantumkan
Konvensi
lagi
dalam
Bern
daftar
diperbaharui,
negara-negara
Indonesia
tidak
yang menjadi
pesertanya. Naskah resminya diumumkan dalam “Document de la
COnfernce de Brucelles du 5 au 28 Juni 1948”.
Piagam ini ternyata menghapuskan Indonesia dari daftar
anggotanya, karena dinilai perjanjian yang diadakan Belanda pada
masa yang lampau untuk bekas Hindia Belanda dahulu, tidak otomatis
25
beralih kepada Indonesia. Sebab lain, bahwa Indonesia sebagai negara
yang telah merdeka dan berdaulat, tidak pernah menyatakan dirinya
secara tegas untuk terikat dengan Konvensi Bern tersebut. Keputusan
Kabinet Karya dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak ikut
serta menjadi anggota Perjanjian Bern untuk Perlindungan Karya
Sastra Seni (The Bern Convention for Protection of Literary and
Artistic Works).
Istilah hak cipta berasal dari negara yang menganut Common
Law, yaitu copyright. Berbeda dengan negara Inggris, penggunaan
istilah copyright dikembangkan untuk melindungi penerbit, bukan
untuk melindungi si pencipta. Namun, seiring dengan perkembangan
hukum dan teknologi, maka perlindungan diberikan kepada pencipta
serta cakupan hak cipta diperluas, tidak hanya mencakup bidang buku,
tetapi juga drama, musik, artistic work, fotografi, dan lain-lain.
Perkembangan pengaturan hukum hak cipta sejalan dengan
perkembangan
kebutuhan
masyarakat
dewasa
ini,
bahkan
perkembangan perdagangan internasional, artinya bahwa konsep hak
cipta telah sesuai dengan kepentingan masyarakat untuk melindungi
hak-hak si pencipta berkenaan dengan ciptaanya, bukan kepada
penerbit lagi. Di sisi lain, demi kepentingan perdagangan, pengaturan
hak cipta telah menjadi materi yang penting dalam TRIPs agreement
yang menyatu dalam GATT/WTO. Selain itu, konsep hak cipta telah
berkembang menjadi keseimbangan antara kepemilikan pribadi
(natural justice) dan kepentingan masyarakat atau sosial.
26
2.
Pengertian dan pengaturan Hak Cipta
Pengertian hak cipta asal mulanya menggambarkan hak untuk
menggandakan atau memperbanyak suatu karya cipta. Istilah hak
(copyright) tidak jelas siapa yang pertama kali menggunakannya, tidak
ada satupun perundang-undangan yang secara jelas menggunakannya
pertama kali. Menurut Stanlay Rubenstain, sekitar 1740 tercatat pertama
kali orang menggunakan istilah copyright22
Pengertian menurut ketentuan Pasal 1 angka (1) UndangUndang No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta menyatakan bahwa:
“Hak cipta adalah hak ekslusif bagi pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Berdasarkan ketentuan pasal ini, maka hak cipta dapat
didefinisikan sebagai suatu hak monopoli untuk memperbanyak atau
mengumumkan ciptaan yang dimiliki oleh pencipta atau pemegang hak
cipta lainnya yang dalam implementasinya memperhatikan pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan ketentuan Auteurswet 1912 Pasal 1 menyatakan:
“Hak cipta adalah hak tunggal dari pencipta, atau hak dari yang
mendapat hak tersebut, atas hasil ciptaannya dalam lapangan
kesusasteraan, pengetahuan dan kesenian, untuk mengumumkan dan
memperbanyak dengan mengingat pembatasan-pembatasan yang
ditentukan oleh undang-undang.”23
22
Djubaedilah dan Muhamad Djumhata, OP.Cit, hal 47
23
H.OK Saidin, Op.Cit, hal 58-59
27
Berbeda dengan ketentuan Auteurswet 1912, berdasarkan Universal
Copyright Convention dalam Pasal 5 menyatakan sebagai berikut:
“Hak cipta meliputi hak tunggal si pencipta untuk membuat, menerbitkan
dan memberi kuasa untuk membuat terjemahan dari karya yang
dilindungi perjanjian ini.”24
Ketentuan Auteurswet 1912 maupun Universal Copyright
Convention menggunakan istilah “hak tunggal” sedangkan UUHC
Indonesia menggunakan istilah “hak khusus” bagi pencipta.
Pengertian hak cipta berdasarkan ketentuan Auteurswet 1912 maupun
Universal Copyright Convention, mencakup pengertian yang lebih
luas, karena memuat kata-kata “menerbitkan terjemahan” yang pada
akhirnya tidak saja melibatkan pencipta tetapi juga pihak penerbit dan
penerjemah.
Mengacu pada pengertian hak cipta berdasarkan Pasal 1 ayat
(1) UUHC, maka terdapat dua unsur penting sebagai hak-hak yang
dimiliki si pencipta, yaitu:
a.
Hak ekonomis (economic rights). Hak ekonomis adalah hak yang
dimiliki oleh seorang pencipta untuk mendapatkan keuntungan
atas ciptaannya. Undang-undang Hak Cipta Indonesia memberi
hak ekonomis kepada pencipta, antara lain; hak untuk
memperbanyak, hak untuk adaptasi, hak untuk distribusi, hak
untuk pertunjukan, hak untuk display.
24
Ibid, hal.59
28
b.
Hak moral (moral rights). Hak moral adalah hak khusus serta
kekal yang dimiliki si pencipta atas hasil ciptaannya, dan hak itu
tidak dipisahkan dari penciptanya. Hak moral ini adalah hak
pencipta atau ahli warisnya, untuk menuntut kepada Pemegang
Hak Cipta supaya nama Pencipta tetap dicantumkan pada
Ciptaannya;
Memberi
persetujuan
dalam
perubahan
hak
Ciptaannya; Memberi persetujuan terhadap perubahan atau nama
samaran pencipta; Menuntut seseorang yang tanpa persetujuannya
meniadakan nama Pencipta yang tercantum pada ciptaannya.
Ketentuan mengenai hak moral diatur dalam Pasal 24 UU No 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta .
Ada dua unsur penting yang terkandung dari rumusan
pengertian hak cipta yang termuat dalam ketentuan UUHC Indonesia,
yaitu:
a.
Hak yang dapat dipindahkan, dialihkan kepada pihak lain atau
hak ekonomi.
b.
Hak moral yang dalam keadaan bagaimanapun, dan dengan jalan
apapun tidak dapat ditinggalkan daripadanya (mengumumkan
karyanya, menetapkan judulnya, mencantumkan nama sebenarnya
atau nama samarannya dan mempertahankan keutuhan atau
integritas ceritanya.25.
Hak yang dapat dipindahkan atau dialihkan itu sekaligus
merupakan bukti nyata bahwa hak cipta itu merupakan hak
kebendaan. Dalam terminologi UUHC Indonesia, pengalihan itu dapat
25
Racmadi Usman, Op.Cit, hal.86
29
berupa pemberian izin (lisensi) kepada pihak ketiga. Misalnya untuk
karya film dan program computer, pencipta ataupun penerima hak
(produser) berhak untuk memberi izin atau melarang orang lain yang
tanpa
persetujuannya
menyewakan
ciptaannya
tersebut
untuk
kepentingan yang bersifat komersil. Selanjutnya mengenai hak moral
merupakan kekhususan yang tidak ditemukan pada hak manapun di
dunia ini.
Berkaitan dengan hak moral, dalam Pasal 6 Konvensi Bern
tercantum mengenal hak-hak moral, yang menyatakan bahwa:
“…Pencipta memiliki hak untuk mengklaim kepemilikan atas
karyanya dan mengajukan keberatan atas distorsi, mutilasi atau
perubahan-perubahan serta perbuatan pelanggaran lain yang berkaitan
dengan karya tersebut yang dapat merugikan kehormatan atau reputasi
si pengarang atau si pencipta”.
Menurut Rooseno Harjowidigdo keberadaan hak moral dapat
dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu:
1) Attribution Right, yang bertujuan untuk meyakinkan nama pencipta
dicantumkan di dalam ciptaannya;
2) Integrity Right, yang bertujuan untuk melindungi ciptaan pencipta
dari penyimpangan, pemenggalan atau pengubahan yang merusak
integritas (kehormatan atau nama baik) pencipta.26
Menurut Tim Lindsey dkk:
Hak Moral adalah hak-hak pribadi pencipta/pengarang untuk dapat
mencegah perubahan atas karyanya dan untuk tetap disebut sebagai
pencipta karya tersebut.27
26
Rooseno Harjowidigdo, Perjanjian Lisensi Hak Cipta Musik, Perum Percetakan Negara
RI, Jakarta, 2005, hal. 51
30
Makna hak moral seperti yang diatur dalam Pasal 24 UUHC adalah
bahwa hak moral, pencipta dari suatu karya cipta memiliki hak untuk:
a. Dicantumkan nama atau nama samarannya di dalam ciptaannya
ataupun salinannya dalam hubungan dengan pengguna secara
umum;
b. Mencegah
bentuk-bentuk
distorsi,
mutilasi
atau
bentuk
pemotongan, perusakan, penggantian yang berhubungan dengan
karya cipta yang pada akhirnya akan merusak apresiasi dan reputasi
pencipta.
Hak-hak moral adalah hak-hak pribadi pencipta atau
pengarang untuk dapat mencegah perubahan atas karyanya dan untuk
tetap disebut
sebagai
pencipta karya
tersebut. Hak-hak ini
menggambarkan hidupnya hubungan berkelanjutan dari si pencipta
dengan karyanya walaupun kontrol ekonomi atas karyanya tersebut
hilang, karena telah diserahkan sepenuhnya kepada Pemegang Hak
Cipta atau lewat jangka waktu perlindungannya seperti yang diatur
dalam UUHC yang berlaku.
Hak moral dalam keadaan bagaimanapun dan dengan jalan
apapun tidak dapat ditinggalkan daripadanya , seperti mengumumkan
karyanya , menetapkan judulnya , mencantumkan nama sebenarnya
atau nama samarannya dan mempertahankan keutuhan atau integritas
ceritanya.28
27
Tim Lindsey, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, PT.Alumni, Bandung, 2006,
hal. 118
28
Rachmadi Usman, Op.Cit, hal 86
31
3. Ciptaan yang Dilindungi
UUHC Tahun 2002 telah merinci dua belas kelompok ciptaan
sesuai
dengan
jenis
dan
sifat
ciptaan.
Ciptaan-Ciptaan
yang
dikelompokkan merupakan ciptaan-ciptaan yang tergolong tradisional dan
yang tergolong
baru. Pada dasarnya yang dilidungi UUHC adalah pencipta yang atas
inspirasinya menghasilkan setiap karya dalam bentuk yang khas dan
menunjukkan keasliannya di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra.
Perlu ada keahlian pencipta untuk dapat melakukan karya cipta yang
dilindungi hak cipta. Ciptaan yang lahir harus mempunyai bentuk yang
khas dan menunjukkan keaslian sebagai ciptaan seseorang atas dasar
kemampuan dan kreativitasnya yang bersifat pribadi pencipta.
Keseluruhan uraian tersebut tercermin dari ketentuan Pasal 1 angka
(3) UUHC 2002 yang menetapkan:
“Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta dalam bentuk yang khas
dan menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni,
atau sastra.”
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, jelaslah bahwa ciptaan yang
mendapat perlindungan hak cipta, yaitu:
a.
Ciptaan yang merupakan hasil proses penciptaan atas inspirasi,
gagasan, ide berdasarkan kemampuan dan kreativitas pikiran,
imajinasi, kecekatan, ketrampilan atau keahlian pencipta.
32
b.
Dalam penuangannya harus memiliki bentuk yang khas dan
menunjukkan keaslian (orisinal) sebagai ciptaan seseorang yang
bersifat pribadi.29
Ciptaan-ciptaan yang dilindungi hak cipta terdapat dalam ketentuan Pasal
12 ayat (1), yang menyatakan bahwa ciptaan-ciptaan yang dilindungi
adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang
mencakup:
a. Buku, program computer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis
yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya.
b. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu.
c. Alat peraga yang digunakan untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan.
d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks.
e. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, atau pewayangan, dan
pantonim.
f. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni
kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan.
g. Arsitektur.
h. Peta.
i. Seni batik.
j. Fotografi.
k. Sinematografi.
l. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain
dari hasil pengalihwujudan.
29
Rachmadi Usman, Op.Cit, hal.121
33
Ketentuan Pasal 12 ayat (2) menyatakan bahwa:
“Ciptaan sebagaimana dimaksud dalam huruf 1 dilindungi sebagai
ciptaan tersendiri dengan tidak mengurangi hak cipta atas ciptaan yang
asli”.
Ketentuan Pasal 12 ayat (3) menyatakan bahwa:
“Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2),
termasuk juga semua ciptaan yang tidak atau belum diumumkan, tetapi
sudah
merupakan
suatu
bentuk
kesatuan
yang
nyata,
yang
memungkinkan perbanyakan hasil karya itu.”
Berdasarkan ketentuan Pasal 12 UUHC tersebut maka dapat
dipahami bahwa yang dilindungi oleh UUHC adalah yang termasuk
dalam karya ilmu pengetahuan, kesenian, kesusastraan. Satu hal yang
dapat dicermati bahwa yang dilindungi dalam hak cipta ini adalah
haknya, bukan benda yang merupakan perwujudan dari hak tersebut
sehingga bukan buku, patung dan lukisan yang dilindungi, tetapi hak
untuk menerbitkan atau memperbanyak atau mengumumkan buku,
patung atau lukisan tersebut. Buku, patung, kain batik, kepingan VCD,
program computer yang terekam dalam kepingan CD Rom, dilindungi
sebagai hak atas benda berwujud, benda materiil yang dalam
terminologi Pasal 499 KUH Perdata dirumuskan sebagai “barang”.
Dengan demikian semakin jelas bahwa benda yang dilindungi dalam
hak cipta ini adalah benda immaterial (benda tak berwujud) yaitu dalam
bentuk hak.
34
Selain ciptaan yang dilindungi dalam Pasal 12 UUHC, ada
beberapa ciptaan yang dilindungi UUHC, sebagaimana dituangkan
dalam ketentuan Pasal 10 ayat (1) dan (2) menyatakan:
(1) Negara memegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah,
sejarah, dan benda budaya nasional lainnya.
(2) Negara memegang hak cipta atas folklore dan hasil kebudayaan
rakyat yang menjadikan milik bersama seperti cerita, hikayat,
dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian,
kaligrafi, dan karya seni lainnya.
Ciptaan yang ada dalam ketentuan Pasal 12 UUHC, ciptaan
tersebut dilindungi dalam wilayah dalam negeri maupun luar negeri,
sementara itu untuk ciptaan yang terdapat pada ketentuan Pasal 10
UUHC sifat perlindungannya hanya berlaku ketika ciptaan itu
digunakan oleh orang asing. Selain mengatur ciptaan yang diberikan
perlindungan, UUHC juga mengatur ciptaan-ciptaan yang tidak
diberikan
perlindungan
hukum.
Beberapa
ciptaan
yang
tidak
mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan UUHC, yaitu:
a. Hasil rapat terbuka lembaga-lembaga negara;
b. Peraturan perundang-undangan;
c. Pidato kenegaraan atau pidato pejabat pemerintah;
d. Putusan pengadilan atau penetapan hakim;
e. Keputusan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya.
35
4. Jangka Waktu Pemilikan Hak Cipta
Sejarah perkembangan hak cipta di Indonesia sama seperti di luar
negeri, yaitu dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan (science) dan
teknologi, namun landasan berpijaknya tetap dipengaruhi oleh landasan
filosofi dan budaya hukum suatu negara.
Berdasarkan Auteurswet 1912, hak cipta hanya dibatasi jangka
waktunya sampai 50 tahun, tetapi dalam UUHC 1982, hak cipta dibatasi
hanya 25 tahun. Kemudian dalam UUHC No. 7 tahun 1987 dan UUHC
No. 12 Tahun 11997 kembali dimajukan menjadi selama hidup pencipta
dan 50 tahun mengikuti ketentuan Berne Convention Tahun 1967 yang
diadopsi oleh Auterswet 1912.
Perubahan-perubahan dalam ketentuan tersebut membuktikan
begitu kuatnya pengaruh budaya hukum asing ke dalam budaya hukum
Indonesia. Ide mengenai pembatasan jangka waktu hak cipta, sebenarnya
didasarkan atas landasan filosofis tiap-tiap hak kebendaan termasuk hak
cipta mempunyai fungsi sosial.
Masa perlindungan hukum yang diatur dalam UUHC sifatnya
sangat variatif. UUHC mengatur masa perlindungan tersebut dengan
membagi ke dalam tiga bagian, yaitu:
a. Ciptaan berupa buku, pamflet, dan semua karya tulis lain, drama atau
drama musikal, tari dan koreografi, segala bentuk seni rupa seperti seni
lukis, seni pahat dan seni patung, seni batik, lagu atau musik dengan
atau tanpa teks, arsitektur, ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan sejenis
36
lainnya, alat peraga; peta; terjemahan, tafsir, saduran dan bunga rampai
dilindungi selama hidup pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima
puluh) tahun setelah pencipta meninggal dunia;
b. Ciptaan berupa program komputer, sinematografi, fotografi, database,
dan karya hasil pengalihwujudan dilindungi selama 50 (lima puluh)
tahun sejak pertama kali diterbitkan;
c. Ciptaan yang ada dalam Pasal 10 ayat (2) UUHC dilindungi tanpa batas
waktu dan Pasal 11 ayat (1) dan (3) UUHC dilindungi sejak ciptaan
tersebut pertama kali diumumkan.
Selain UUHC, pembatasan masa perlindungan hak cipta juga
dikenal dalam Auteurswet 1912, Konvensi Bern, Universal Copy Rights
Convention dan berbagai Konvensi dan kesepakatan internasional
lainnya. Berdasarkan Auteurswet 1912, hak cipta dibatasi sampai 50
tahun setelah meninggalnya si pencipta, ketentuan ini dijumpai pada
Pasal 37, yang merupakan pengambilalihan dari ketentuan Konvensi
Bern.
Pada awalnya Konvensi Bern menentukan jangka waktu 50 tahun,
namun setelah direvisi di Stokholm tahun 1967 jangka waktu tersebut
dikurangi menjadi 25 tahun. Hal ini dimaksudkan memberikan
kesempatan kepada negara berkembang untuk dapat menikmati karya
cipta orang asing. Berdasarkan revisi Konvensi Bern ini UUHC 1982
memberikan batasan perlindungan hak cipta selama 25 tahun. Namun
dengan adanya perubahan UUHC 1982, jangka waktu pemilikan hak
cipta itu diperpanjang menjadi 50 tahun, begitu juga dalam UUHC 2002
memberikan jangka waktu selama 50 tahun.
37
Pembatasan jangka waktu pemilikan hak cipta perlu diberikan
karena diharapkan hak cipta itu tidak dikuasai dalam jangka waktu yang
panjang di tangan si pencipta yang sekaligus sebagai pemiliknya, sehingga
dengan berakhirnya jangka waktu pemilikan hak cipta si pencipta maka
orang lain dapat menikmati hak tersebut secara bebas, yaitu diperbolehkan
untuk mengumumkan atau memperbanyak tanpa harus minta izin kepada
si pencipta atau si pemegang hak.
5. Pendaftaran Hak Cipta
Menurut Prof. Kollewijn sebagaimana dikutip oleh Sekardono
mengatakan ada 2 jenis cara atau stesel pendaftaran, yaitu:
a. Stelsel konstitutif, berarti bahwa hak atas ciptaan baru terbit karena
pendaftaran yang telah mempunyai kekuatan.
b. Stelsel deklaratif, berarti bahwa pendaftaran itu bukanlah menerbitkan
hak, melainkan hanya memberikan dugaaan atau sangkaan saja menurut
undang-undang bahwa orang yang hak ciptanya terdaftar itu adalah si
berhak sebenaranya sebagai pencipta dari hak yang didaftarkan.30
Sistem pendaftaran hak cipta menurut UUHC disebutkan bahwa
pendaftaran ciptaan dilakukan secara pasif artinya bahwa, semua
permohonan pendaftaran diterima dengan tidak terlalu mengadakan
penelitian mengenai hak pemohon, kecuali sudah jelas ada pelanggaran
hak cipta.
Hal ini dikuatkan dengan Pasal 36 UUHC yang menentukan:
30
Soekardono R.,Hukum Dagang Indonesia I, Dian Rakyat,1981,hlm 151
38
“Pendaftaran ciptaan dalam daftar umum ciptaan tidak mengandung arti
sebagai pengesahan atas isi, arti, maksud atau bentuk dari ciptaan yang
didaftarkan”
Pasal 2 ayat (1) UUHC 2002 menjelaskan bahwa:
“Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul
secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.”
Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUHC 2002, bahwa hak
cipta itu timbul secara otomatis setelah ciptaan dilahirkan, sehingga
pendaftaran hak cipta bukan merupakan suatu keharusan karena tanpa
didaftarkan pun hak cipta secara otomatis dilindungi oleh UUHC. Kendala
apabila ciptaan tidak didaftarkan adalah apabila ada pelanggaran hak cipta
maka pembuktiannya akan lebih sulit.
Ketentuan Pasal 5 ayat (1) UUHC 2002 menyatakan bahwa kecuali
terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai pencipta adalah:
a.
Orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum ciptaan pada
Direktur Jenderal; atau
b.
Orang yang namanya tersebut dalam ciptaan atau diumumkan sebagai
pencipta pada suatu ciptaan.
Apabila dicermati, maka ketentuan pasal tersebut menjelaskan agar
hasil karya cipta seseorang didaftarkan untuk mempermudah dalam hal
pembuktian apabila ada sengketa atau pelanggaran hak cipta itu sendiri.
Hak cipta seseorang yang sudah terdaftar dalam daftar ciptaan, maka
sebagai pemegang hak cipta telah terjamin, apabila ada pihak lain yang
mengklaim bahwa yang terdaftar tersebut adalah miliknya, maka pihak
yang mengklaim tersebut yang wajib membuktikan kebenaran haknya.
39
6. Perlindungan Hukum terhadap Hak Cipta
Secara filosofis, perlindungan terhadap karya cipta sangat
diperlukan, karena karya cipta merupakan hasil pemikiran, karya dan karsa
seseorang yang diwujudkan dalam bentuk ciptaan, sehingga diperlukan
sikap hidup yang menghormati dan menghargai karya cipta yang
diwujudkan dalam pengakuan atas hak seseorang terhadap ciptaannya.
Pengakuan dan penghormatan atas hak cipta menjadi tidak
memadai apabila tidak diikuti dengan upaya dan tindakan perlindungan
hukum. Berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap hak cipta, terlebih
dahulu perlu diketahui mengenai perlindungan hukum pada umumnya.
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa: Perlindungan Konsumen
adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk
memberi
perlindungan
kepada
konsumen.
Adapun
pengertian
perlindungan hukum tidak diatur secara khusus, akan tetapi Sudikno
Mertokusumo, memberikan gambaran terhadap perlindungan hukum,
yaitu:
Segala upaya yang dilakukan untuk menjamin adanya kepastian
hukum yang didasarkan pada keseluruhan peraturan atau kaidah-kaidah
yang ada dalam suatu kehidupan bersama. Keseluruhan peraturan itu dapat
dilihat
baik
dari
Undang-undang
maupun
ratifikasi
Konvensi
Internasional.31
31
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta,
2008, hal.70
40
Perlindungan hukum memberikan perlindungan lebih lanjut
terhadap
kepentingan-kepentingan
manusia
yang
sudah
mendapat
perlindungan dari ketiga kaidah lainnya, yaitu kaidah agama, kesusilaan
dan kesopanan, kaidah hukum juga memberikan perlindungan terhadap
kepentingan manusia yang belum mendapat perlindungan dari ketiga
kaidah tadi.
Permasalahan mengenai HKI akan menyentuh berbagai aspek
seperti teknologi, industri, sosial, budaya dan berbagai aspek lainnya.
Namun aspek terpenting jika dihubungkan dengan upaya perlindungan
bagi karya intelektual adalah aspek hukum. Hukum diharapkan mampu
mengatasi berbagai permasalahan yang timbul berkatian dengan HKI
tersebut. Hukum harus dapat memberikan perlindungan bagi karya
intelekutal, sehingga mampu mengembangkan daya kreasi masyarakat
yang akhirnya bermuara pada tujuan berhasilnya perlindungan hukum.
Perlindungan hukum terhadap suatu ciptaan dimulai sejak ciptaan
tersebut ada atau berwujud, bukan karena pendaftaran. Artinya, suatu
ciptaan baik yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar tetap mendapat
perlindungan hukum.
Hak cipta tidak melindungi ide–ide atau gagasan, tetapi hak cipta
melindungi perwujudan ide atau expression of ideas, dalam hal ini hak
cipta melindungi hak cipta yang dapat dilihat, dibaca dan didengar.
Berkenaan dengan persoalan ruang lingkup “ ciptaan atau karya “ apa saja
yang mendapat perlindungan hak cipta adalah ciptaan tersebut dalam
bentuk (karya tersebut dapat dilihat, dibaca, maupun didengar). Hak cipta
41
dilindungi secara sendiri dengan tidak mengurangi hak cipta atau karya
asli, termasuk kesatuan nyata (real) yang dapat diperbanyak. Ketentuan
Pasal 12 UUHC, menyatakan bahwa ciptaan yang dilindungi adalah
ciptaan dalam bidang ilmu pemgetahuan,seni dan sastra yang meliputi:
a.
Buku, program computer, pamflet, susunan perwujudan (lay out)
karya tulis yang diterbitkan dan semua hasil karya tulis lainnya;
b.
Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan yang lain sejenis dengan itu;
c.
Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan;
d.
Ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
e.
Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan
pantonim;
f.
Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir,
seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan;
g.
Arsitektur;
h.
Peta;
i.
Seni batik;
j.
Fotografi;
k.
Sinematografi;
l.
Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, data base dan karya lain
dari hasil pengalihanwujudan.
Berdasarkan keterangan dari Dirjen HKI dalam situsnya menjelaskan
bahwa:
42
Pendaftaran hak cipta bersifat sukarela dan lebih merupakan sebagai alat
bukti awal di pengadilan apabila di kemudian hari timbul sengketa. Apabila
terdapat sengketa di bidang hak cipta terhadap ciptaan yang tidak terdaftar,
maka hakim dapat menentukan siapa yang memiliki hak cipta atas ciptaan
yang dipersengketakan berdasarkan pemeriksaan di muka pengadilan
dengan melihat pihak mana yang dapat menunjukkan sumber dari
ciptaannya.32
UUHC 2002 telah membuka upaya memaksimalkan perlindungan
terhadap hak cipta melalui perubahan status tindak pidana hak cipta dari
delik aduan menjadi delik umum (delik biasa), artinya pihak aparat penegak
hukum dapat dengan serta merta menindak dan memproses pelaku tindak
pidana hak cipta tanpa harus menunggu laporan atau aduan dari masyarakat
atau pihak yang merasa dirugikan oleh pelaku tindak pidana hak cipta.
Pasal 29 UUHC 2002 Ayat (1) menyatakan bahwa Hak Cipta atas Ciptaan:
a.
Buku, pamflet dan semua karya tulis lain;
b.
Drama atau drama musikal, tari dan koreografi;
c.
Segala bentuk seni rupa seperti seni lukis, seni pahat dan seni patung;
d.
Seni batik;
e.
Lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
f.
Arsitektur;
g.
Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan sejenis lainnya;
h.
Alat peraga;
i.
Peta;
32
www.Info.HKI.com, diakses 7 Oktober 2011
43
j.
Terjemahan, tafsir, saduran dan bunga rampai, berlaku selama hidup
pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah
pencipta meninggal dunia.
Ayat (2) Untuk Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
dimiliki oleh 2 (dua) orang atau lebih, Hak Cipta berlaku selama hidup
Pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung hingga 50
(lima puluh) tahun sesudahnya.
Kemudian Pasal 30 UUHC 2002 Ayat (1) menyatakan bahwa Hak Cipta
atas ciptaan:
a.
Program Komputer;
b.
Sinematografi;
c.
Fotografi;
d.
Database;
e.
Karya hasil pengalihwujudan, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun
sejak pertama kali diumumkan.
Ayat (2) Hak cipta atas perwajahan karya tulis yang diterbitkan
berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan.
Ayat (3) Hak cipta atas ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2) pasal ini serta Pasal 29 ayat (1) yang dimiliki atau dipegang
oleh suatu badan hukum berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak
pertama kali diumumkan.
Pasal 33 UUHC 2002 menyebutkan bahwa jangka waktu perlindungan
bagi hak pencipta sebagaimana dimaksud dalam:
a.
Pasal 24 ayat (1) berlaku tanpa batas;
44
b.
Pasal 24 ayat (2) dan ayat (3) berlaku selama berlangsungnya jangka
waktu hak Cipta atas Ciptaan yang bersangkutan, kecuali untuk
pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Penciptanya.
Mengenai kapan perlindungan hukum terhadap hak cipta diberikan,
diatur dalam Pasal 34 UUHC 2002 yang menyebutkan:
Tanpa mengurangi hak pencipta atas jangka waktu perlindungan hak cipta
yang dihitung sejak lahirnya suatu Ciptaan, penghitungan jangka waktu
perlindungan bagi Ciptaan yang dilindungi:
a.
Selama 50 (lima puluh) tahun;
b.
Selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh)
tahun setelah Pencipta meninggal dunia. Dimulai sejak 1 Januari untuk
tahun berikutnya setelah Ciptaan tersebut diumumkan, diketahui oleh
umum, diterbitkan, atau setelah Pencipta meninggal dunia.
Perlu di pahami bahwa perlindungan hukum yang diberikan oleh UU
terhadap hak cipta tidak lain bertujuan untuk merangsang aktivitas para
Pencipta agar terus menghasilkan karya cipta yang lebih kreatif.
C. Batik
1.
Sejarah Batik
Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang
berarti menulis dan "nitik". Kata batik sendiri merujuk pada teknik
pembuatan corak Motif Batik - menggunakan canting atau cap dan
pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna. Motif
batik pada baju batik "malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain,
sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris
teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing.
45
Jadi kain baju batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau
corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam
sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas
bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak
bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester). Kain yang
pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini
dikenal dengan kain bercorak batik, biasanya dibuat dalam skala industri
dengan teknik cetak (print).
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah
menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama.
Secara historis batik sangat erat hubungannya dengan Kerajaan
Majapahit dan kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa pada masa dulu.
Pengembangan batik dengan gencar berlangsung di masa Kerajaan
Mataram pada tahun 1600 sampai tahun 1700. Pada kurun waktu itulah
batik meluas ke seantero Jawa. Sejarah pembatikan di Indonesia
berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran
ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan
batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian
pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik di Indonesia
telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang
kepada kerjaan dan raja-raja berikutnya.
Perempuan-perempuan
Jawa
di
masa
lampau
menjadikan
keterampilan mereka dalam membatik busana batik dan blus batik
sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik
46
adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap"
yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada
beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang
memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega
Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir, pekerjaan membatik
adalah lazim bagi kaum lelaki. Ragam corak dan warna Desain Busana
Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik
memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak
busana batik dan blus batik hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu.
Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para
pedagang asing dan para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah
dipopulerkan oleh orang Tionghoa.
Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan
hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti
bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung
atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti
warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih
dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing
corak memiliki perlambangan masing-masing. Teknik Desain Busana
Batik dan membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak
ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal-usul Batik. Ada
yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian
dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India.
47
Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia,
Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga
sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian,
batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari
Indonesia, terutama dari Jawa.
Setelah Perang Dunia, industri batik mundur karena kurang bahan
bakunya, tetapi membangun kembali di bawah orde Sukarno yang
melontarkan kebijaksanaan “Sandang Pangan Rakyat” yang memandang
batik sebagai pakaian umum. Pada tahun 1955, GKBI (Gabungan
Koperasi Batik Indonesia) yang dibentuk pada tahun 1948 di Yogyakarta
mendapat perlindungan seperti tunjangan harga kain putih dan hak
peredaran monopoli. Pemerintah menargetkan menyuplai batik cap yang
murah kepada orang awam. Para pembatik di berbagai daerah
menghasilkan banyak keuntungan di bawah kebijaksanaannya. Akan
tetapi, dari tahun 1956 sampai tahun 1957 bermacam-macam pakaian
yang harganya murah mulai diimpor seiring dengan pengenduran
pembatasan impor, jadi zaman keemasan pengusaha batik sudah selesai.
Kemudian, kesadaran rakyat terhadap pakaian menujukan perubahan
yang pesat di kalangan penduduk kota, anak-anak, dan pria. Oleh karena
itu, orang yang mengenakan pakaian Barat bertambah lebih lanjut.
Di bawah orde Soeharto, kebijaksanaan kemajuan ekonomis
dijalankan
maka
kebijaksanaan
perlindungan
pengusaha
batik
dihapuskan. Ironisnya target kebijaksanaan Soekarno itu, direalisasikan
oleh perusahaan pakaian dan tekstil yang berkembang di lingkungan
48
ekonomi baru. Kemudian, sebagian besar pengusaha batik yang menjadi
biasa pembuatan batik cap murah terdesak oleh perusahaan tersebut
di atas, terpaksa beralih ke usaha yang lain atau menutup usaha.
Pada awal tahun 1970-an, teknologi print batik muncul. Oleh sebab
itu, batik tulis dan batik cap semakin tergeser oleh print batik. Tanpa
perlu dikatakan, pasaran batik tulis dan batik cap kalah bersaing dengan
print batik yang dapat diproduksi masal. Di dalam keadaan itu pembatik
tulis dan cap khawatir akan masa depannya. Jika kain-kain tersebut
dihadapkan kepada konsumen, apa bedanya antara print batik dan batik
yang dibuat secara tradisional? Dasarnya print batik tidak dibuat sebagai
barang yang bermutu tinggi, tetapi dibuat barang yang bermutu
rendah.Sebaliknya, Iwan Tirta, Josephine Komara, dan sebagainya
membuat “batik generasi baru” yang mempunyai kemewahan dan rasa
kelas tinggi yang misalnya dipakai benang emas dan perak serta
digunakan sutera bukan katun. Batik yang mereka buat menjadi populer
di kalangan wanita kota-kota Indonesia dan luar negeri. Pengusaha batik
generasi baru biasanya dinamakan“pencipta tekstil” atau“kreator tekstil”.
Makin lama makin terang pada awal tahun 1990-an, secara garis
besar permintaan batik terbagi tiga pasaran, yaitu kelas tinggi, kelas
menengah, dan kelas rendah. Di dalam pasaran tersebut, segi kuantitas
pasaran kelas rendah menduduki perbandingan secara mutlak karena
sebagian besar penduduknya tinggal di desa-desa, kemudian ada banyak
wanita yang riwayat pendidikan dan pendapatan rendah. Oleh karena itu,
49
pasaran batik kelas rendah menjadi terbesar. Permintaan batik kelas
tinggi masih kukuh sebab ada adat yang memakai batik tulis bermotif dan
berwarna tradisional waktu berdandan di Jawa.
Batik yang menarik dunia ini tidak hanya batik generasi baru, batik
tulis, dan batik cap saja. Selain itu, jangan melupakan pakaian, barang
kelongtong, dan produksi interior yang mencetak motif batik seperti
bunga, garuda, parang, dan lain-lain. Barang-barang tersebut sudah
menjadi populer di kalangan baik orang Indonesia maupun orang asing
karena dapat menegaskan kembali identitasnya bagi orang Indonesia.
Untuk orang asing seperti turis, barang-barang tersebut di atas menjadi
kenang-kenangan perjalanannya.
Akhirnya, daya tarik batik bukan hanya pada tiga pasaran (batik
tulis,
batik cap, batik print) dan barang-barang bermotif batik saja,
melainkan saling merangsang, meningkatkan nilai keadaannya, dan
memainkan harmoni, yaitu hidup berdampingan dan makmur bersama.
2. Ragam Corak Batik Indonesia
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang
dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat
itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan
tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya, batik mengalami
perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman
lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief
candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan
50
corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis
seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun
corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing
daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang
demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik
tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
Indonesia adalah negara kepulauan yang paling luas di seluruh
dunia. Terletak di Asia Tenggara dan terdiri atas bermacam-macam
pulau, serta jumlahnya lebih dari dua ratus ribu. Luas tanahnya kira-kira
lima kali lipat daripada Jepang dan penduduknya lebih dari dua ratus juta
orang. Mengenai teknik celup dan tenun tradisional, kata orang tekniknya
juga mencapai sebanyak jumlah pulau atau suku. Motifnya atau
warnanya berbeda berdasarkan masing-masing desa. Oleh karena itu,
Indonesia adalah negara terkemuka dalam bidang celup dan tenun
tradisional. Selain batik yang sangat disenangi oleh orang Jepang dengan
namanya “Jawa Sarasa”, di Indonesia ada teknik celup dan tenun seperti
ikat, simbut, tritik, pelangi, pentol, dan lain-lain. Diantaranya, batik, ikat,
pelangi, dan tritik (semua itu memang bahasa Indonesia) sudah menjadi
kata-kata internasional. Latar belakang yang penginternasionalan katakata bahasa Indonesia tersebut berdasarkan hasil usaha peneliti ilmu
Antropologi orang Belanda seperti Rouffaer, Jasper, dan sebagainya.
Sejak akhir abad XIX sampai permulaan abad XX, hal itu mulai
diperkenalkan oleh Rouffer di Eropa.
51
Daerah
penghasil
batik
adalah
sekitar
Sumatera
selatan
(Palembang dan Jambi), Pulau Jawa, Pulau Madura, dan sebagian Pulau
Bali. Di dalam Pulau Jawa, daerah pedalaman Yogyakarta dan Surakarta,
dan daerah pesisir yaitu Pekalongan dan Cirebon merupakan dua daerah
penghasil batik terbesar.
Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman
kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja
berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik
rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad
XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik
tulis sampai awal abad XX dan batik cap dikenal baru setelah perang
dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan
penyebaran ajaran Islam, banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa
adalah daerah-daerah santri dan kemudian batik menjadi alat perjuangan
ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian
Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian
yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman
dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan
hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh
karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka
kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan
di tempatnya masing-masing.
52
Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan
selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah
tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang
tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat
yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang
dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuhtumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon
mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu,
serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama
dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna
coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad
yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga
mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan
Pangeran Diponegoro tahun 1825.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun
perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat di daerah Jawa Tengah
Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu
tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung
berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.
Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya dalam
proses
cap
maupun
dalam
batik
tulisnya.
Bahan-bahan
yang
dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-
53
bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari
dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan
“Sidoluruh”.
Sedangkan asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal
semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati.
Daerah pembatikan pertama ialah di desa Plered. Pembatikan pada masa
itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh
wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap
pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan
tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria
maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh
karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik
pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh
rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.
Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga
raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak
keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah
baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah Timur
Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Meluasnya daerah pembatikan
ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah
perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga
kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh
pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam
dan daerah baru itu.
54
Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang
pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan
daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat.
Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran
Diponegoro mengembangkan batik.
Ke Timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik
yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga
menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik
berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.
3. Cara Pembuatan Batik
Ditinjau dari cara pembuatannya, proses pembuatan batik dapat
ditempuh melalui dua cara :
a. Pertama, yaitu proses pembuatan dilakukan oleh perajin batik dengan
menggunakan tangan dibantu alat tradisional yakni canting, maka
hasil produksi tersebut dinamakan batik tulis.
b. Kedua, yaitu proses pembuatan dilakukan oleh perajin dengan
menggunakan alat cap, maka produksi tersebut dinamakan batik cap.
Untuk membuat batik, peralatan yang diperlukan adalah: kain
mori (bisa terbuat dari sutra, katun atau campuran kain polyester), pensil
untuk membuat desain kain batik, canting yang terbuat dari bambu,
berkepala tembaga serta bercerat atau bermulut, canting ini berfungsi
seperti sebuah pulpen. Canting dipakai untuk menyendok lilin cair yang
panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat
warna, gawangan (tempat untuk menyampirkan kain), lilin, panci dan
kompor kecil untuk memanaskan.
55
Langkah- langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Langkah pertama kita membuat desain kain batik di atas kain mori
dengan pensil atau biasa disebut molani. Dalam penentuan motif,
biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih
suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih
untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada.
b. Langkah kedua adalah menggunakan canting yang telah berisi lilin
cair untuk melapisi motif yang diinginkan. Disesuaikan dengan
kebutuhan, misalnya sarung batik berbeda dengan celana. Tujuannya
adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna,
bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena. Setelah lilin cukup
kering, celupkan kain ke dalam larutan pewarna.
c. Proses terakhir adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna
direbus dengan air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan
lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat
jelas. Pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah digambar
terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti
lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Nglorot misalnya pada
kain baju batik, sarung batik, baju kebaya, kain bordir, dan lain-lain.
56
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif yaitu dengan
menggunakan konsep legis positivies, yang mengemukakan bahwa hukum
identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh
lembaga atau pejabat yang berwenang. Konsep tersebut meninjau hukum
sebagai suatu sistem normatif yang mandiri, bersifat otonom serta
mengabaikan norma lain yang bukan norma hukum.33
B. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian ini adalah diskriptif, yaitu suatu penelitian yang
menggambarkan keadaan atau gejala yang akan diteliti juga dengan
keyakinan-keyakinan tertentu, mengambil kesimpulan dari bahan-bahan
tentang obyek-obyek masalah yang akan diteliti juga dengan keyakinankeyakinan tertentu.34
C. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Perpustakaan Unsoed dan Perpustakaan
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
33
Soemitro Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta,
1998, hal 15
34
Soeryono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan
Singkat, Rajawali Pers, Jakarta, 1994, hal. 12
57
D. Sumber Data
Di dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yaitu
data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka. Sedangkan jenis-jenis data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.
Bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan.
b.
Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang memberikan keterangan
atau penjelasan tentang bahan hukum primer, yaitu permasalahan yang
sedang diteliti.
c.
Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk
terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu antara
lain kamus.
E. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan melakukan inventarisasi
dan studi pustaka terhadap data sekunder yang berhubungan dengan
permasalahan yang sedang diteliti.
F. Metode Penyajian Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif yang disusun
secara sistematis sebagai satu kesatuan yang utuh, yang didahului dengan
pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penelitian, tinjauan pustaka,
metode penelitian dan diteruskan dengan analisa data dan hasil pembahasan
serta diakhiri dengan simpulan. Penyusunan antara bahan yang satu dengan
bahan yang lain harus relevan dengan permasalahan sebagai satu kesatuan,
saling berhubunganserta urut dan beraturan.
58
G. Metode Analisis Data
Data dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Normatif karena
penelitian ini bertitik tolak dari peraturan-peraturan yang ada sebagai norma
hukum positip. Sedangkan kualitatif dimaksudkan analisis data yang bertitik
tolak pada usaha-usaha penemuan asas-asas dan informasi-informasi yang
bersifat ungkapan, monografis dan responden.35
35
Soemitro, Ronny Hanitijo, Op.Cit, hal 98
59
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai
berikut:
1.
Pengertian Batik
Secara etimologis, kata “batik” berasal dari bahasa Jawa ”tik” yang
berarti kecil, yang dapat diartikan sebagai gambar yang serba rumit. Dalam
kesusasteraan Jawa kuno dan pertengahan, proses batik diartikan sebagai
“serat nitik”. Riyanto, dkk. (1997) dalam “Katalog Batik Indonesia, Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Indrustri Kerajinan dan Batik”
menjelaskan bahwa setelah Keraton Kartosuro pindah ke Surakarta, muncul
istilah “mbatik” dari Jarwo Dosok “ngembat titik” yang berarti membuat titik.
Batik juga disebut sebagai kain bercorak. Kata batik dalam bahasa Jawa
berasal dari akar kata “tik”. Mempunyai pengertian berhubungan dengan
suatu pekerjaan halus, lembut, dan kecil, yang mengandung unsur keindahan.
Indria (2008) dalam “Katalog Pameran Batik Bandung Kontemporer”
menyebutkan bahwa batik berarti menitikkan malam dengan canting sehingga
membentuk corak yang terdiri dari susunan titikan dan garisan. Batik sebagai
kata benda merupakan hasil penggambaran corak di atas kain dengan
menggunakan canting sebagai alat gambar dan malam sebagai perintang.
60
Menurut Iwan Tirta (2009) dalam Quo Vadis Batik Indonesia
mendefinisikan batik sebagai teknik mengolah kain atau tekstil dengan
menggunakan lilin dalam proses pencelupan warna, dimana semua proses
tersebut menggunakan tangan. Pengertian lain dari batik adalah serentang
warna yang meliputi proses pe-malaman (lilin pencelupan atau pewarnaan
dan pelorotan atau pemanasan), hingga menghasilkan motif yang halus yang
semuanya ini memerlukan ketelitian yang tinggi.
Pengertian batik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kain
bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau
menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan
cara tertentu. Malam dalam hal ini berarti lilin cair yang digunakan dalam
proses pembuatannya. Lebih lanjut dijelaskan oleh Santosa Doellah (2002)
dalam bukunya “Batik: Pengaruh Zaman dan Lingkungan” menyatakan
bahwa batik adalah sehelai was yakni sehelai kain yang dibuat secara
tradisional dan teruntai juga digunakan dalam matra tradisional beragam hias
pola tertentu yang pembuatannya menggunakan teknik celup rintang dengan
malam (lilin batik) sebagai bahan perintang warna. Oleh karena itu, suatu
wastra dapat disebut batik apabila mengandung dua unsur pokok, yaitu teknik
celup rintang yang menggunakan lilin sebagai perintang warna dan pola yang
beragam hias khas batik.
2.
Latar Belakang Penciptaan Batik Banyumas
Penciptaaan batik Banyumas diawali dengan adanya Kademangankademangan atau Kadipaten di wilayah Banyumas. Berdirinya Kademangankademangan atau Kadipaten telah memunculkan tradisi membatik di daerah
61
Banyumas. Selain para Demang, para pengikut Pangeran Diponegoro dalam
memenuhi kebutuhan sandang (pakaian), mereka juga membuat batik. Salah
seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang terkenal bernama Najendra
merupakan tokoh seni batik Banyumas. Beliau telah mengembangkan seni
batik di daerah Banyumas, dimana karya-karya yang diciptakannya sedikit
banyak telah mempengaruhi kekhasan batik Banyumas hingga saat ini.
Tahun 1913 hingga 1933 merupakan periode pemerintahan Bupati
Banyumas yang bernama Pangeran Aria Gandasubrata. Pada masa itu, motif
batik Banyumas kembali diperkaya dengan diciptakannya motif Parang
Gandasubrata. Motif batik tersebut diciptakan oleh Pangeran Aria
Gandasubrata yang merupakan kombinasi dari motif Parang Gandasuli
(bunga putih yang harum) dengan motif Madu Broto yang melambangkan
kasih sayang.
Selanjutnya, pada masa pendudukan Belanda seni batik Banyumas
dipengaruhi corak batik yang diciptakan oleh seorang nyonya Belanda
bernama Matheron, keponakan dari seorang janda Belanda bernama Van
Oosterom yang tinggal di Banyumas untuk melakukan misi membaca ayatayat Alkitab kepada perempuan-perempuan yang bekerja di studio batiknya.
Sebelumnya ia memproduksi batik sambil berdakwah di Semarang, lalu
setelah pindah ke Banyumas, ia membawa warna-warna dari gaya batiknya
bang biru ungon (merah-biru-ungu) dan mencampurnya dengan warna coklat
lokal. Setelah meninggal, usaha batiknya diserahkan kepada Nyonya
Matheron dan Nona Willemse. Dari Nyonya Matheron inilah, tercipta motif
batik “Matheros” atau “Mantelon” (sesuai dengan lidah orang Banyumas)
62
yang terkenal, dan banyak ditiru serta dikembangkan di wilayah Banyumas
hingga saat ini. Setelah masa pendudukan Belanda berakhir, usaha batik
di wilayah Banyumas mayoritas dilakukan oleh masyarakat keturunan
Tionghoa, antara lain Ibu Kwee Hoe Loei, Kho Siang Kie dan Lian Kheng.
Selain kualitas, motif juga menjadi daya tarik batik Banyumas. Salah
satu ciri khas batik Banyumas terletak pada keindahan motifnya yang
menggunakan warna utama coklat soga dan biru wedelan yang dahulu
menggunakan zat warna alam. Kedua warna tersebut, diproses menggunakan
teknik lorodan yang dapat dikembangkan menjadi beratus-ratus motif.
Keindahan batik Banyumas terlihat pada paduan warna yang serasi antara
bidang-bidang, garis dan isian yang beraneka ragam. Terdapat ratusan kreasi
motif batik Banyumas, di antaranya adalah:
a. Motif Lumbon
Lumbon adalah daun lumbu yang merupakan bahan dasar makanan khas
“buntil”.
b. Motif Jayan atau Jahean
Jahe merupakan tanaman apotek hidup, digunakan sebagai bumbu
masakan tertentu, bahan campuran minuman, atau permen.
c. Motif Ayam Puger
Motif ini menyimbolkan kondisi sosial di Banyumas, ayam jago, bangunan
tikelan, garis, menggambarkan bangunan tradisional.
d. Motif Babon Angrem
Babon angrem merupakan sebutan orang Banyumas pada ayam yang
sedang mengerami telurnya.
63
e. Motif Kekayon
Motif ini diciptakan oleh keturunan Bupati Banyumas Pangeran Aria
Gandasubrata yang merupakan motif khusus untuk keluarga.
f. Motif Gandasubrata
Motif ini merupakan perpaduan antara motif Parang Gandasuli dan motif
Madu Bronto yang merupakan motif batik dari Solo.
g. Motif Sida Mukti
Motif ini biasanya dipakai untuk acara pernikahan, mempunyai makna
sida (menjadi) dan mukti (mulia) atau berarti: menjadi mulia, sukses dalam
berkarir, dan bahagia dalam menjalani hidup.
h. Gabah Mawur, diharapkan si pemakai motif ini melimpah rejekinya
gabah-beras mawur/mambrah-mambrah alias banyak.
i. Jagadan, diharapkan si pemakai bisa menjalani atau menguasai kehidupan
yang lebih baik di jagad raya (dunia) ini.
j. Duda Brengos, berkembang anggapan bahwa pembuat motif batik ini
adalah seorang duda yang brengosan (duda yang berjenggot dan
berkumis).
Masih terdapat banyak motif batik Banyumas lainnya, diantaranya
Jahe Srimpang, Sungai Serayu, Gunungan, Sekarsurya, Sidoluhung, Kopi
Pecah, Dawet Ayu, Cebong Kumpul, Parung Salak, dan lain-lain. Para
penggiat batik Banyumas saat ini juga menghasilkan motif-motif lain dengan
melakukan kombinasi, terobosan motif baru sehingga tercipta suatu karakter
seni batik kontemporer yang khas dan indah.
64
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disusun pembahasan hasil
penelitian sebagai berikut:
1. Konsep Perlindungan Hukum
Menurut Sudikno Mertokusumo (2010) dalam bukunya “Mengenal
Hukum Suatu Pengantar”, perlindungan hukum adalah suatu hal atau
perbuatan untuk melindungi subjek hukum berdasarkan pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku disertai dengan sanksi-sanksi bila ada
yang melakukan wanprestasi. Lebih lanjut dinyatakan bahwa perlindungan
hukum adalah adanya jaminan hak dan kewajiban manusia dalam rangka
memenuhi kepentingan sendiri maupun di dalam hubungan dengan manusia
lain.
Kehadiran hukum dalam masyarakat adalah untuk mengintegrasikan
dan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan yang bisa bertentangan satu
sama
lain.
Berkaitan
dengan
hal
tersebut,
hukum
harus
mampu
mengintegrasikannya sehingga benturan-benturan kepentingan itu dapat
ditekan sekecil-kecilnya. Perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan
tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi kepentingan lain
pihak. Perlindungan terhadap masyarakat mempunyai banyak dimensi yang
salah satunya adalah perlindungan hukum. Adanya perlindungan hukum bagi
setiap Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali telah termaktub dalam
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945
(UUD NKRI Tahun 1945), untuk itu setiap produk yang dihasilkan oleh
65
legislatif harus senantiasa mampu memberikan jaminan perlindungan hukum
bagi semua orang, bahkan harus mampu menangkap aspirasi-aspirasi hukum
dan keadilan yang berkembang di masyarakat. Hal tersebut, dapat dilihat dari
ketentuan yang mengatur tentang adanya persamaan kedudukan hukum bagi
setiap Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali.
Perjanjian multilateral, baik Berne Convention maupun TRIP’s
Agreement mengatur tentang konsep dasar perlindungan hukum tentang Hak
Cipta. Salah satu konsep dasar pengakuan lahirnya hak atas Hak Cipta adalah
sejak suatu gagasan itu dituangkan atau diwujudkan dalam bentuk yang nyata
(tangible form). Pengakuan lahirnya hak atas Hak Cipta tersebut tidak
diperlukan suatu formalitas atau bukti tertentu, berbeda dengan hak-hak dari
pada hak atas kekayaan intelektual lainnya, seperti paten, merek, desain
industri dan desain tata letak sirkuit terpadu. Timbulnya atau lahirnya hak
tersebut diperlukan suatu formalitas tertentu yaitu dengan terlebih dahulu
mengajukan permohonan pemberian hak.
Selain prinsip
yang paling fundamental
tersebut, di
dalam
perlindungan Hak Cipta juga dikenal prinsip atas asas originalitas (keaslian).
Asas originalitas ini merupakan suatu syarat adanya perlindungan hukum
di bidang Hak Cipta. Originalitas ini tidak bisa dilakukan seperti halnya
novelty (kebaruan) yang ada dalam paten, karena prinsip originalitas adalah
tidak meniru ciptaan lain, jadi hanya dapat dibuktikan dengan suatu
pembuktian oleh Penciptanya. Di dalam penjelasan Undang-Undang No. 31
Tahun 2000 tentang Desain Industri dijelaskan bahwa original berarti sesuatu
66
yang langsung berasal dari sumber asal orang yang membuat atau yang
mencipta atau sesuatu yang langsung dikemukakan oleh orang yang dapat
membuktikan sumber aslinya.
Penjelasan Umum Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta dan penjelasan Undang-Undang No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan
atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana
diubah dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987, Pasal 1 menyebutkan
bahwa suatu karya cipta harus memiliki bentuk yang khas dan menunjukkan
keaslian sebagai ciptaan seseorang atas dasar kemampuan dan kreatifitasnya
yang bersifat pribadi. Dalam bentuk yang khas, artinya karya tersebut harus
telah selesai diwujudkan dalam bentuk yang nyata, sehingga dapat dilihat,
didengar atau dibaca.
2. Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta atas Batik Banyumas Berdasarkan
Undang-Undang No. 19 Tahun 2002
Berdasarkan uraian tentang pengertian batik, maka dapat dijelaskan
bahwa batik Banyumas merupakan kain bergambar yang dibuat dengan
menuliskan atau menerakan malam hingga membentuk suatu motif yang
menggambarkan kebiasaan masyarakat Banyumas, dibuat secara bolak-balik
dengan cara lorodan. Dalam selembar kain batik Banyumas, akan dapat
diketahui nilai filosofi masyarakat Banyumas yang “cablaka” yaitu apa yang
tampak di depan harus sama seperti apa yang tampak di belakang (njaba
njero pada).
67
Secara definitif, dalam penciptaan batik Banyumas mengandung
beberapa unsur yaitu Pencipta, Ciptaan, motif, unsur seni dan originalitas.
Unsur-unsur tersebut dapat dijelaskan melalui Undang-Undang Hak Cipta
Tahun 2002 Pasal 1 angka (2), yang menyatakan bahwa:
Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama
yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan
kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian
yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.
Terkait dengan Ciptaan, bunyi Pasal 1 angka (3) Undang-undang No.
19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta sebagai berikut:
Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan
keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.
Rachmadi Usman (2001) menyatakan bahwa dalam penuangannya
suatu ciptaan harus memiliki bentuk yang khas dan menunjukkan keaslian
(original) sebagai ciptaan seorang yang bersifat pribadi.
Adapun pengertian Hak Cipta diatur dalam Pasal 1 angka (1) UU No.
19 tahun 2002, yang menyatakan:
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
perundang-undangan yang berlaku.
Terkait dengan hak ekslusif, Pasal 2 ayat (1) UU No. 19 tahun 2002,
menyatakan bahwa:
Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang
timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.
Lebih lanjut tentang hak eksklusif, Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU
No. 19 Tahun 2002 menyatakan bahwa:
68
Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata
diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang
boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. Dalam
pengertian “mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan
menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan,
menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan,
mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan
mengkomunikasikan Ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun.
Konsep yang mendasar dari hukum hak cipta adalah bahwa hak cipta
bukan melindungi suatu ide atau konsep, tetapi melindungi bagaimana ide
atau konsep itu diekspresikan dan dikerjakan. Tidak diperlukan pengujian,
tetapi karya harus original, dibuat sendiri, bukan hasil copy dari sumber lain,
dan penciptanya harus berkontribusi tenaga dan keahlian. Dengan demikian,
hak cipta tidak melindungi ide-ide atau informasi sampai ide atau informasi
tersebut dituangkan dalam bentuk yang dapat dihitung atau dalam bentuk
materi, dan dapat diproduksi ulang. Hal ini tercermin dalam Pasal 2 TRIPs
yang
menyatakan
bahwa
perlindungan
hak
cipta
diberikan
untuk
“pengungkapan bukan ide-ide, tata cara, metode dari pengoperasian konsep
matematika”.
Selanjutnya menurut Suyud Margono (2003) dalam bukunya yang
berjudul “Hukum dan Perlindungan Hak Cipta” menyatakan bahwa:
Hak cipta tidak melindungi ide-ide/gagasan, tetapi Hak Cipta
melindungi perwujudan atau gagasan tersebut (expression of ideas),
dalam hal ini Hak Cipta melindungi ciptaan yang dapat dilihat, dibaca
atau didengar.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka jika dihubungkan antara
pengertian batik dengan Pasal 1 angka (2), Pasal 1 angka (3), Pasal 1 angka
(1), Pasal 2 ayat (1) UU No. 19 Tahun 2002 dan Penjelasannya, serta
pendapat Rachmadi Usman dan Suyud Margono, maka dapat dideskripsikan
69
bahwa batik Banyumas merupakan hasil karya Pencipta yang menunjukkan
keasliannya di bidang seni yang dapat dilihat, dimana Pencipta memperoleh
Hak Cipta. Hak cipta merupakan terminologi hukum yang menggambarkan
hak-hak yang diberikan kepada Pencipta atas suatu Ciptaan dalam lapangan
ilmu pengetahuan, seni, atau sastra yang dapat dilihat, dibaca atau didengar.
Pencipta adalah seseorang atau beberapa orang yang mewujudkan suatu
ciptaan untuk pertama kali berdasarkan ide yang dimilikinya dan seseorang
itu mempunyai hak-hak sebagai Pencipta atas Ciptaannya.
Menurut Copinger dalam buku karangan Damian (2002) yang
berjudul “Hukum Hak Cipta UUHC No. 19 Tahun 2002”, menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan Pencipta adalah:
…the “author” of the work is to be the first owner of the copyright
there in. (Pencipta dari suatu ciptaan merupakan pemiliki pertama dari
ciptaan itu sendiri.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka jika dihubungkan antara
penciptaan batik Banyumas dengan bunyi Pasal 1 angka (2) dan pendapat
Copinger, maka dapat dideskripsikan bahwa batik Banyumas yang dibuat
oleh pengrajin batik, baik oleh perorangan maupun bersama-sama merupakan
salah satu bentuk ciptaan, dimana pengrajin batik tersebut dinyatakan sebagai
pencipta yang sekaligus memegang Hak Cipta hasil karya batik tersebut.
Batik
Banyumas
merupakan
karya
cipta
yang
memerlukan
keterampilan dan keahlian yang spesifik. Sebagai hasil karya intelektual,
batik Banyumas mendapat perlindungan hukum sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Secara historis,
dapat diidentifikasi beberapa pencipta motif batik Banyumas yaitu:
70
a. Matheron, seorang Nyonya Belanda yang menciptakan motif “Materos”
yang hingga saat ini masih diproduksi di wilayah Banyumas. Motif batik
Materos menggunakan warna biru-hitam-krem dengan menambahkan
pinggiran dengan motif bunga-bunga berwarna merah.
b. Pangeran Aria Gandasubrata, Bupati Banyumas periode 1913-1933 yang
menciptakan motif Parang Gandasubrata. Motif batik ini merupakan
kombinasi dari motif Parang Gandasuli (bunga putih yang harum) dengan
motif Madu Broto yang melambangkan kasih sayang.
Karya motif batik yang diciptakan oleh Matheron dan Pangeran Aria
Gandasubrata tersebut merupakan wastra batik yang dibuat secara tradisional
dan mengandung makna filosofis, simbolis dan nilai kesakralan. Motif batik
tersebut juga digunakan sebagai busana dalam tatanan dan tuntunan budaya
yang telah terpelihara secara turun-menurun, sehingga karya seni batik
tersebut merupakan bagian dari folklor (ekspresi budaya) yang dilindungi
Undang-Undang Hak Cipta Tahun 2002 pasal 10 ayat (2), yang berbunyi:
Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat
yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda,
babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya
seni lainnya.
Terdapat
adanya
perbedaan
perlindungan
karya
seni
batik
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 10 dengan Pasal 12 UUHC Tahun
2002. Dalam Pasal 10, karya seni batik yang dimaksud adalah wastra batik
yang dibuat secara tradisional yang mengandung makna filosofis, simbolis
dan nilai kesakralan serta digunakan sebagai busana dalam tatanan dan
tuntunan budaya yang merupakan bagian dari folklor (ekspresi budaya).
71
Terdapat motif batik tradisional Banyumas yang memang telah diwariskan
secara turun-temurun, dan hingga saat ini tidak dapat diketahui siapa
penciptanya. Batik yang dilindungi dalam Pasal 10 UUHC 2002 ini
dimasukkan dalam kategori hasil seni berupa gambar, karena yang dilindungi
adalah motif batiknya.
Adapun karya seni batik yang dilindungi dalam Pasal 12 UUHC 2002
adalah batik yang dibuat secara konvensional untuk tujuan komersil atau
industri, di mana dalam pasal ini tidak disebutkan bahwa batik tersebut harus
tradisional atau bukan tradisional yang pada umumnya batik yang dilindungi
dalam Pasal 12 ini sudah diketahui penciptanya, dengan kata lain disebut
dengan batik kontemporer yang bukan merupakan folklor. Motif batik
Banyumas hasil kreasi dan inovasi dari perajin batik saat ini merupakan batik
kontemporer yang dilindungi menurut Pasal 12 Undang-undang No. 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta sebagai berikut:
(1) Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam
bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup:
a. Buku, Program Komputer, Pamflet, Perwajahan (lay out) karya tulis
yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
b. Ceramah, Kuliah, Pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan;
d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
e. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan,
pantomime;
f. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir,
seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;
g. Arsitektur;
h. Peta;
i. Seni batik;
j. Fotografi;
k. Sinematografi;
l. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain
dari hasil pengalihwujudan.
72
(2) Ciptaan sebagaimana dimaksud dalam huruf l dilindungi sebagai Ciptaan
tersendiri dengan tidak mengurangi Hak Cipta atau Ciptaan Asli.
(3) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2),
termasuk juga semua ciptaan yang tidak atau belum diumumkan, tetapi
sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang nyata, yang
memungkinkan perbanyakan hasil karya itu.
Pasal 12 ayat (1) huruf i No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta telah
memasukkan seni batik sebagai salah satu ciptaan yang dilindungi, karena
termasuk dalam lingkup seni, sastra dan ilmu pengetahuan. Perlindungan
hukum terhadap hak cipta atas batik Banyumas berdasarkan Undang-Undang
Hak Cipta tahun 2002, dapat dijelaskan melalui penjelasan Pasal 12 ayat (1)
huruf i, bahwa batik yang dibuat secara konvensional dilindungi sebagai
bentuk ciptaan tersendiri. Karya-karya seperti itu memperoleh perlindungan
karena mempunyai nilai seni, baik pada ciptaan motif atau gambar maupun
komposisi warnanya. Disamakan dengan pengertian seni batik adalah karya
tradisional lainnya yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang terdapat
di berbagai daerah, seperti seni songket, ikat, dan lain-lain yang dewasa ini
terus dikembangkan. Dengan demikian, maka seni batik termasuk
di dalamnya batik Banyumas telah mendapat perlindungan hukum di dalam
hukum positif di Indonesia. Ciptaan yang ada dalam ketentuan pasal tersebut
dilindungi dalam lingkup wilayah dalam negeri maupun luar negeri.
Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu
ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk
membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya, hak
cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas. Terkait dengan masa
berlaku hak cipta, bunyi Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Hak Cipta tahun
2002 menyatakan bahwa:
73
(1) Hak Cipta atas Ciptaan:
a. buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lain;
b. drama atau drama musikal, tari, koreografi;
c. segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni pahat, dan seni patung;
d. seni batik;
e. lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
f. arsitektur;
g. ceramah, kuliah, pidato dan Ciptaan sejenis lain;
h. alat peraga;
i. peta;
j. terjemahan, tafsir, saduran, dan bunga rampai,
berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima
puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia.
Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Hak Cipta tahun 2002
dapat dijelaskan bahwa seni batik sebagai ciptaan yang dilindungi, maka
pemegang hak cipta atas karya batik memperoleh perlindungan selama
hidupnya dan terus berlangsung hingga 50 tahun setelah meninggal dunia.
Adapun bagi hak cipta yang dimiliki oleh 2 (dua) orang atau lebih, maka hak
cipta berlaku selama hidup pencipta yang meninggal dunia paling akhir, dan
berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun sesudahnya. Selama jangka waktu
perlindungan tersebut, pemegang hak cipta memiliki hak ekslusif untuk
melarang pihak lain mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya, atau
memberi ijin kepada orang lain untuk melakukan pengumuman dan
perbanyakan ciptaan tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 ayat (1) UUHC 2002).
Terkait dengan ciptaan batik tradisional yang penciptanya tidak
diketahui secara pasti (anonim), maka termasuk folklor yang dilindungi
Undang-Undang No. 19 Tahun 2002, sebagaimana tertuang dalam ketentuan
Pasal 10 ayat (2) yang menyatakan bahwa:”Negara memegang hak cipta atas
folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadikan milik bersama seperti
cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi,
74
tarian, kaligrafi dan karya seni lainnya”. Dalam penjelasan pasal tersebut,
yang dimaksud dengan folklor adalah sekumpulan ciptaan tradisional, baik
yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang
menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standard dan nilainilai yang diucapkan atau diikuti secara turun-temurun termasuk hasil seni
antara lain berupa lukisan, gambar, ukir-ukiran, pahatan, mozaik, perhiasan,
kerajinan tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional.
Masa perlindungan hak cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat
yang menjadi milik bersama berlaku tanpa batas waktu. Hal ini tertuang
dalam Pasal 31 Ayat 1a yang menyatakan bahwa:
(1) Hak Cipta atas Ciptaan yang dipegang atau dilaksanakan oleh Negara
berdasarkan:
a. Pasal 10 ayat (2) berlaku tanpa batas waktu.
Jangka waktu perlindungan tersebut diberikan terhadap seni batik
tradisional, misalnya Sidoluhur, Parang Rusak, Udan Riwis, Kawung dan
Elar Mabur, Ayam Puger, Truntum, Lumbon dan motif batik tradisional
lainnya. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa batik tradisional tersebut
telah diciptakan dan dihasilkan secara turun-temurun oleh masyarakat
Indonesia sehingga diperkirakan perhitungan jangka waktu perlindungan hak
ciptanya telah melewati jangka waktu perlindungan yang ditetapkan dalam
undang-undang. Karena itu, batik tradisional yang ada menjadi milik bersama
masyarakat Indonesia (public domein), dimana hak cipta batik tradisional
tersebut dipegang oleh Negara. Hal ini berarti bahwa Negara menjadi wakil
bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menguasai kekayaan tradisional
yang ada. Perwakilan oleh Negara dimaksudkan untuk menghindari sengketa
75
penguasaan atau kepemilikan yang mungkin timbul di antara individu atau
kelompok masyarakat tertentu. Selain itu, penguasaan oleh Negara menjadi
penting, khususnya apabila terjadi pelanggaran hak cipta atas batik tradisional
Indonesia yang dilakukan oleh pihak negara lain.
Tiap hak kekayaan intelektual memiliki pembatasan jangka waktu.
Tetapi, pembatasan jangka waktu tersebut hanya membatasi hak ekonomi atas
suatu ciptaan (dalam hal ini adalah motif batik). Artinya, hak ekonomi berupa
hak eksklusif (untuk menggunakannya dalam bisnis) yang dimiliki oleh
pencipta berlaku selama hidup pencipta dan 50 tahun setelah pencipta
meninggal dunia. Adapun hak moral atau hak untuk tetap dicantumkannya
nama pencipta dalam motif batik akan tetap melekat sampai kapan pun.
Seni batik Banyumas yang dibuat dengan cara-cara yang konvensional
layak untuk dilindungi sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 12 Ayat (1)
huruf i Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Penjiplakan
terhadap batik Banyumas jelas merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap
hak cipta. Pada dasarnya, sekalipun seni batik di Indonesia telah mendapat
perlindungan, namun hal ini tidak berarti bahwa para pencipta batik,
khususnya batik Banyumas telah memanfaatkan Undang-Undang No. 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta tersebut dalam upaya mendapatkan
perlindungan bagi hasil karya cipta batiknya. Masih banyak para penggiat
Batik Banyumas yang belum memahami undang-undang tersebut, khususnya
para pengusaha batik skala kecil. Di sisi lain, sebagian penggiat maupun
pengusaha batik yang telah mengetahui Undang-Undang No. 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta pun belum menganggap penting keberadaan undangundang tersebut.
76
Banyak faktor yang menyebabkan pencipta maupun pengrajin batik
Banyumas enggan untuk memanfaatkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2002,
diantaranya adalah masih rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat
terhadap hak cipta, mereka juga belum menganggap penting perlindungan
hukum terhadap pendaftaran hak cipta batik, di samping karena biaya
pendaftaran hak cipta yang relatif mahal dan prosedur pendaftaran yang
berbelit-belit juga dikarenakan banyaknya syarat permohonan pendaftaran
ciptaan yang harus dipenuhi. Muhamad Firmansyah (2008) dalam bukunya
“Tata Cara Mengurus HAKI”, menuliskan syarat- syarat permohonan
pendaftaran ciptaan sebagai berikut:
a. Mengisi formulir pendaftaran ciptaan rangkap tiga (formulir dapat diminta
secara cuma-cuma pada Kantor DJHKI), lembar pertama dari formulir
tersebut ditandatangani di atas materai Rp.6.000 (enam ribu rupiah);
b. Surat permohonan pendaftaran ciptaan mencantumkan hal-hal berikut:
1) Nama, kewarganegaraan dan alamat pencipta;
2) Nama, kewarganegaraan dan alamat pemegang hak cipta (nama,
kewarganegaraan dan alamat kuasa) jenis dan judul ciptaan;
3) Tanggal dan tempat ciptaan diumumkan untuk pertama kali;
4) Uraian ciptaan rangkap tiga;
c. Surat permohonan pendaftaran ciptaan hanya dapat diajukan untuk satu
ciptaan;
d. Melampirkan bukti kewarganegaraan pencipta dan pemegang hak cipta
berupa fotocopy KTP atau paspor
e. Jika pemohon badan hukum, maka pada surat permohonannya harus
dilampirkan turunan resmi akta pendirian badan hukum tersebut
f. Melampirkan surat kuasa, bilamana permohonan tersebut diajukan oleh
seorang kuasa, beserta bukti kewarganegaraan kuasa tersebut
g. Jika permohonan tidak bertempat tinggal di dalam wilayah RI, maka untuk
keperluan permohonan pendaftaran ciptaan ia harus memiliki tempat
tinggal dan menunjuk seorang kuasa di dalam wilayah RI
h. Jika permohonan pendaftaran ciptaan diajukan atas nama lebih dari
seorang dan atau suatu badan hukum, maka nama-nama pemohon harus
ditulis semuanya, dengan menetapkan satu alamat pemohon
i. Melampirkan bukti pemindahan hak jika ciptaan tersebut telah
dipindahkan
j. Melampirkan contoh ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya atau
penggantinya
k. Membayar biaya permohonan pendaftaran ciptaan Rp.75.000, khusus
untuk permohonan pendaftaran ciptaan program komputer sebesar
Rp.150.000.
77
Kendala lain terkait dengan masih rendahnya pemanfaatan instrumen
pendaftaran Hak Cipta seni batik oleh para pengrajin batik Banyumas adalah
karena faktor budaya dari para pengrajin batik yang menganggap bahwa suatu
penjiplakan atau peniruan motif batik merupakan suatu hal yang biasa.
Bahkan pengusaha batik skala kecil cenderung merasa bangga jika hasil karya
cipta motif batik mereka ditiru atau dinikmati oleh pihak lain sehingga mudah
tersebar luas di masyarakat, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan
penjualan kain batik mereka. Menurut Parlugutan Lubis dalam buku karangan
Abdulkadir Muhammad (2001) yang berjudul “Kajian Hukum Ekonomi Hak
Kekayaan Intelektual”, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi warga
masyarakat untuk melanggar HKI antara lain:
a. Pelanggaran HKI dilakukan untuk mengambil jalan pintas guna
mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari pelanggaran
tersebut;
b. Para pelanggar menganggap bahwa sanksi hukum yang dijatuhkan oleh
pengadilan selama ini terlalu ringan bahkan tidak ada tindakan preventif
maupun represif yang dilakukan oleh para penegak hukum;
c. Ada sebagian warga masyarakat sebagai pencipta yang bangga apabila
hasil karyanya ditiru oleh orang lain, namun hal ini sudah mulai hilang
berkat adanya peningkatan kesadaran hukum terhadap HKI;
d. Dengan melakukan pelanggaran, pajak atas produk hasil pelanggaran
tersebut tidak perlu dibayar kepada pemerintah; dan
e. Masyarakat tidak memperhatikan apakah barang yang dibeli tersebut asli
atau palsu (aspal), yang penting bagi mereka harganya murah dan
terjangkau dengan kemampuan ekonomi.
Sistem pendaftaran hak cipta berdasarkan Undang-Undang No. 19
Tahun 2002 bersifat deklaratif artinya, pendaftaran bukan merupakan suatu
keharusan. Menurut Rachmadi Usman (2003) dalam bukunya “Hukum Hak
Atas Kekayaan Intelektual” menyatakan bahwa pendaftaran hanya untuk
pembuktian, bukan untuk menerbitkan hak melainkan hanya memberikan
78
dugaan atau sangkaan hukum (rechtsvermoeden) atau presumption iuris yaitu
pihak yang haknya terdaftar adalah pihak yang berhak atas hak tersebut dan
sebagai pemakai pertama atas hak yang didaftarkan.
Berdasarkan sistem tersebut, maka pendaftaran karya seni batik bukan
merupakan suatu keharusan bagi pencipta atau pemegang hak cipta
sebagaimana tersirat dalam penjelasan Pasal 35 Ayat (4) yang menyatakan
bahwa ketentuan tentang pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak merupakan kewajiban untuk mendapatkan hak cipta. Hak cipta timbul
secara otomatis setelah ide pencipta dituangkan dalam suatu karya cipta yang
berwujud, misalnya dalam karya seni batik. Hal ini berarti bahwa suatu
ciptaan, baik yang terdaftar maupun tidak terdaftar, akan tetap dilindungi oleh
undang-undang. Pendaftaran hak cipta akan bermanfaat untuk membuktikan
kebenaran pihak yang dianggap sebagai pencipta yang sebenarnya apabila
terjadi sengketa kasus di pengadilan. Artinya pendaftaran yang dilakukan
oleh pencipta dijadikan sebagai dasar pembuktian untuk menentukan
kebenaran pencipta dan bukan sebagai dasar kepemilikan pencipta yang
bersangkutan.
Apabila terjadi sengketa terkait dengan hak cipta, pengajuan tuntutan
dapat dilakukan secara pidana. UU No. 19 Tahun 2002 telah merumuskan
perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai tindak pidana hak cipta.
Undang-undang tersebut juga telah membuka upaya memaksimalkan
perlindungan terhadap hak cipta melalui perubahan status tindak pidana hak
cipta dari delik aduan menjadi delik umum (delik biasa), artinya pihak aparat
79
penegak hukum dapat dengan serta merta menindak dan memproses pelaku
tindak pidana hak cipta tanpa harus menunggu laporan atau aduan dari
masyarakat atau pihak yang merasa dirugikan oleh pelaku tindak pidana hak
cipta. Selain itu, ancaman pidananya pun diperberat, guna lebih melindungi
pemegang hak cipta dan sekaligus memungkinkan dilakukan penahanan
sebagaimana diatur dalam KUHAP.
Pelaku pelanggaran hak cipta dapat dipidana penjara paling singkat
1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta
rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Jika ditinjau dari
ketentuan pidana dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 Pasal 72 ayat
(1) tersebut, cukup sesuai apabila diterapkan pada para pelaku pelanggaran
hak cipta, khususnya pada karya seni batik.
80
BAB V
SIMPULAN
Perlindungan hukum terhadap Hak Cipta atas batik Banyumas berdasarkan
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 mencakup batik kontemporer dan batik
tradisional. Batik kontemporer merupakan seni batik hasil kreasi dan inovasi dari
perajin batik saat ini yang dibuat secara konvensional untuk tujuan komersil atau
industri. Seni batik tersebut mendapat perlindungan hukum karena termasuk
dalam lingkup seni menurut ketentuan Pasal 12 ayat (1) Undang-undang Nomor
19 Tahun 2002. Adapun seni batik tradisional yang mengandung makna filosofis,
simbolis dan nilai kesakralan serta digunakan sebagai busana dalam tatanan dan
tuntunan budaya yang merupakan bagian dari folklor dilindungi oleh Undangundang Nomor 19 Tahun 2002 Pasal 10 ayat (2).
81
DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku:
Anonim, Katalog Batik Banyumasan, Disperindagkop, Kabupaten Banyumas,
2008.
Damian, Eddy, Hukum Hak Cipta UUHC No. 19 Tahun 2002, Alumni, Bandung, .
2002.
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2008.
Djubaidah dan Muhamad Jumhana, Hak Milik Intelktual (Sejarah, Teori dan
Prekteknya di Indonesia), Citra Adiyta Bhakti, Bandung, 1997.
Doellah, Santosa, Batik: Pengaruh Zaman dan Lingkungan, Danar Hadi,
Surakarta, 2002.
Firmansyah, Muhamad, Tata Cara Mengurus HAKI, Visi Media, Jakarta, 2008.
Hamzuri, Batik Klasik, Djambatan, Jakarta, 1981.
Hanitijo, Soemitro Ronny, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia,
Jakarta, 1998.
Harjowidigdo, Rooseno, Perjanjian Lisensi Hak Cipta Musik, Perum Percetakan
Negara RI, Jakarta, 2005.
Hidayat, Komaruddin dan Putut Widjanarko, Reinventing Indonesia: Menemukan
Kembali Masa Depan Bangsa, Mizan, Bandung, 2008.
Indria, Alga, Katalog Pameran Batik Bandung Kontemporer, Yogyakarta, 2008.
Kesowo, Bambang, Pengantar Umum Mengenai Hak Atas Kekayaan Intelektual
(HAKI) di Indonesia, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1995.
Khairandy, Ridwan, Pengantar Hukum Dagang, UII Press, Yogyakarta, 2006.
Lindsey, Tim, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, PT.Alumni, Bandung,
2006.
Margono, Suyud, Hukum dan Perlindungan Hak Cipta, Novindo Pustaka
Mandiri, Jakarta, 2003.
Mertokusumo, Sudikno, 2010, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Universitas
Atmajaya, Yogyakarta 2010.
82
Muhammad, Abdulkadir, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001.
Otto Hasibuan, Hak Cipta di Indonesia (Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu,
Neighbouring Rights) dan Collecting Society), PT. Alumni, Bandung,
2008.
Purba, Afrillyanna, TRIPs-WTO dan Hukum HKI Indonesia Kajian Perlindungan
Hak Cipta Seni Batik Tradisional Indonesia, PT. Rineka Cipta, Jakarta,
2005.
Rahmadi Usman, Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual, PT.Alumni, Bandung,
2003.
Riyanto, D., Cahyo B., dan Widyanto, M., Katalog Batik Indonesia, Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Indrustri Kerajinan dan Batik,
Yogyakarta, 1997.
Saidin, O.K., Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2003.
Situngkir, Hokky dan Rolan Dahlan, 2009. Fisika Batik: Implementasi Kreatif
Melalui Sifat Fraktal pada Batik secara Komputasional.
Soekanto, Soeryono dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan
Singkat, Rajawali Pers, Jakarta, 1994.
Suyanto, A.N, Sejarah Batik Yogyakarta, Merapi, Yogyakarta, 2002.
Tirta, Iwan, 2009. Quo Vadis Batik Indonesia, Makalah dalam Konferensi
Intemasional Dunia Batik, Kerjasama antara International Centre for
Culture and To ism (ICCT) dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
2-6 November, 2009.
Peraturan Perundang-undangan:
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Referensi Internet
www. Info hukum.com, diakses 5 April 2011
www.Info.HKI.com, diakses 7 Oktober 2011
Download