naskah publikasi - Fakultas Psikologi UII

advertisement
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN
ANTARA KUALITAS MIMPI DENGAN MANAJEMEN DIRI
PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
Oleh:
AGUNG CATUR NUGROHO
FUAD NASHORI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2006
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN
ANTARA KUALITAS MIMPI DENGAN MANAJEMEN DIRI
PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
Oleh:
AGUNG CATUR NUGROHO
FUAD NASHORI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2006
i
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN
ANTARA KUALITAS MIMPI DENGAN MANAJEMEN DIRI PADA PADA
MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
Telah Disetujui Pada Tanggal
_____________________
Dosen Pembimbing
(H. Fuad Nashori, S.Psi., M. Si.)
ii
HUBUNGAN
ANTARA KUALITAS MIMPI DENGAN MANAJEMEN DIRI
PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
Agung Catur Nugroho
Fuad Nashori
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas mimpi dengan
manajemen diri. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara kualitas
mimpi dengan manajemen diri.
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Fakultas Psikologi.
Skala yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Skala Kualitas Mimpi yang mengacu
pada skala Kualitas Mimpi yang disusun oleh Nashori (2004), dan skala Manajemen Diri. Skala
Manajemen Diri mengacu pada aspek-aspek manajemen diri yang diadaptasi dari strategi
manajemen diri menurut Manz (1986) dan Gie (1996 ).
Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan program SPSS versi 13.0 for
Windows, untuk melihat hubungan kualitas mimpi dan manajemen diri digunakan uji korelasi
product moment dari Pearson. Hasil analisis data dengan menggunakan analisis statistik korelasi
Product Moment diperoleh koefisien korelasi (rxy) = 0,247 dan p = 0,062, karena pO>O0,05 maka
dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan antara kualitas mimpi dengan manajemen diri. Dengan
demikian berarti hipotesis pada penelitian ini ditolak.
Kata Kunci: Manajemen Diri, Kualitas Mimpi
iii
1
Pengantar
Setiap manusia memiliki berbagai macam kebutuhan, tujuan, sasaran
atau cita-cita pribadi. Upaya yang dilakukan setiap manusia untuk memenuhi
kebutuhannya dilakukan dengan menggunakan perencanaan.
Salah satunya
adalah dengan mengatur dan mengelola dirinya sebaik mungkin sehingga
mampu membawa ke arah tercapainya tujuan hidup yang telah ditetapkannya.
Proses mengatur dan mengelola diri sendiri dengan sebaik-baiknya
sehingga mampu membawa ke arah tercapainya tujuan hidup yang telah
ditetapkan oleh individu yang bersangkutan diistilahkan oleh Gie (1996), sebagai
manajemen diri. Lebih lanjut Gie (1996) mengemukakan bahwa strategi
manajemen diri yang pertama dan utama adalah berusaha mengetahui diri
sendiri, baik segala kelebihan dan kekuatannya maupun kekurangan dan
kelemahannya dengan segenap kekuatan dan potensinya.
Manajemen diri juga didefinisikan sebagai suatu cara untuk mengubah
perilaku yang kurang dikehendaki seseorang tetapi terus dialami oleh individu
yang bersangkutan (Prawitasari, 1993). Pengelolaan diri akan lebih mudah
dilakukan jika individu memiliki kematangan penalaran tinggi secara emosi, dan
mampu mengelolah stress yang terjadi pada dirinya. Mahoni (Suhartini, 1992)
mendefinisikan manajemen diri sebagai suatu cara yang digunakan seseorang
dalam bekerja dengan melakukan pengontrolan terhadap dirinya dan hasil
kerjanya, yang dilakukan oleh dirinya sendiri tanpa harus ada kontrol dari luar.
Masing-masing individu memiliki tingkat kemampuan manajemen diri
yang berbeda-beda, dari yang rendah hingga tinggi. Menurut Pedler dan Boydell
(1985), tingkat efektivitas seorang individu dalam melakukan manajemen
2
terhadap
dirinya
dipengaruhi
sejauh
mana
individu
tersebut
mampu
mempertahankan (surviving), memelihara (maintaining), dan mengembangkan
(developing) empat aspek diri yang dimilikinya, yaitu: kesehatan (health),
ketrampilan atau keahlian (skills), aktivitas (action), dan identitas diri (identity).
Mahasiswa merupakan individu-individu yang sering memiliki masalah
dengan manajemen diri. Hal ini dapat dicontohkan seorang mahasiswa yang
bernama Ryan (nama samaran). Dalam wawancara dengan penulis ia
menerangkan bahwa ia kesulitan mengelola waktu dan keuangannya. Selama
kuliah empat tahun ia baru menyelesaikan 60 SKS. Hal ini terjadi karena
kebiasaannya clubbing dan mengikuti berbagai kegiatan yang tidak berkaitan
dengan studi. Ia juga memiliki masalah keuangan, yaitu punya banyak hutang
kepada teman-temannya.
Tidur, sebagai kebutuhan fisiologis manusia yang harus dipenuhi, dapat
juga berpengaruh terhadap manajemen diri seseorang. Menurut Irvannuddin
(www.indomedia.com/sriwijayapost/, 12 Juli 2004) seseorang yang kualitas
tidurnya rendah akan menjadi uring-uringan selama masa terjaga, mudah
tersinggung, nafsu makan menurun, konsentrasi terganggu, dan seks meningkat.
Hal ini secara tidak langsung juga mempengaruhi tingkat efektivitas individu
dalam melakukan manajemen terhadap dirinya.
Maas (Nashori, 2004), mengemukakan tidur adalah suatu keadaan di
mana kesadaran seseorang akan sesuatu menjadi turun, namun aktivitas otak
tetap memainkan peran yang luar biasa dalam mengatur fungsi pencernaan,
aktifitas
jantung
dan
pembuluh
darah,
serta
fungsi
kekebalan,
dalam
memberikan energi pada tubuh dan dalam pemrosesan kognitif, termasuk dalam
3
penyimpangan, penataan, dan pembacaan informasi yang disimpan dalam otak,
serta perolehan informasi saat terjaga. Tanda yang bisa diketahui kalau
seseorang sudah tertidur adalah hilangnya kesadaran atau tak ada respon (Asror,
2005).
Selama tidur, tubuh mengalami perubahan fisiologis dan psikologis.
Pengalaman yang biasa disebut dengan mimpi pada dasarnya adalah manifestasi
dari perubahan-perubahan tersebut (Asror, 2005). Lebih lanjut Asror (2005)
mengemukakan kejadian-kejadian tersebut diubah ke dalam bentuk visual yang
dikomunikasikan oleh alam bawah sadar kepada yang tidur dalam bentuk simbolsimbol. Rangsang suara atau aroma dapat ditangkap oleh alam bawah sadar dan
dikomunikasikan dalam bentuk mimpi.
Mimpi, menurut Chaplin (1997), adalah deretan tamsil dan ide yang lebih
kurang saling bertalian dan berlangsung selama orang tidur, atau selama orang
dikuasai obat bius, atau sewaktu seseorang berada dalam situasi hipnotis.
Asror (2005) menyatakan bahwa di dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surat
Yusuf ayat 44 disebutkan adanya dua mimpi, yaitu mimpi buruk yang diistilahkan
dengan hulm, dan mimpi benar atau baik yang diistilahkan dengan ru’ya. Mimpi
buruk adalah mimpi yang bercampur aduk dan kacau. Dengan kata lain, mimpi
buruk adalah mimpi yang tidak jelas dan kacau sehingga sulit untuk
diinterpretasikan. Adapun mimpi yang benar diistilahkan dengan ru’ya ash-
saadiqah dan mimpi yang baik diistilahkan dengan ru’ya al-hasanah. Mimpi yang
benar (ru’ya) yang ada dalam al-Qur’an adalah mimpi benar yang mana Allah
SWT menurunkan wahyu atau ilham kepada para Nabi atau Rasul dan hambahambanya yang lain atau memberi tahu sesuatu yang akan terjadi pada masa
4
yang akan datang. Dengan penjelasan Asror di atas dapat dikatakan bahwa
mimpi mempunyai kualitas tersendiri.
Sementara itu Nashori (2004) menyebutkan bahwa kualitas mimpi adalah
suatu
keadaan
di
mana
mimpi
yang
diperoleh
seseorang
banyak
menggambarkan hal-hal yang benar, menghasilkan optimisme serta kepastian
bagi individu yang mengalaminya.
Individu
yang
memiliki
kualitas
mimpi
yang
positif
cenderung
menggambarkan diri sebagai orang yang penuh gairah, sementara orang yang
memiliki kualiatas mimpi yang negatif (buruk) cenderung merasa tak berdaya,
lelah dan sebagainya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa mimpi adalah suatu
aktifitas yang terjadi di alam bawah sadar. Kemudian timbul pertanyaan, apakah
ada hubungan antara kualitas mimpi dengan manajemen diri seseorang?
Landasan Teori
Kualitas mimpi bisa diketahui melalui aspek-aspek kualitas mimpi yang
dirumuskan peneliti berdasarkan
laporan penelitian Nashori (2004) Peranan
Kualitas Tidur dan Kualitas Mimpi terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa. Ada 7
aspek kualitas mimpi, yaitu: meminta perlindungan Tuhan dari mimpi buruk,
memperoleh mimpi yang menyenangkan, memperoleh mimpi yang berisi
ramalan, pengetahuan masa lalu, petunjuk, peringatan; memandang hidup lebih
positif dan optimis setelah bermimpi, menjaga jarak dengan mimpi buruk,
introspeksi dan monitoring diri berkaitan dengan mimpi, dan mengambil hikmah
dari mimpi.
5
Skala Manajemen diri digunakan untuk mengukur tingkat manajemen diri
subyek.
Skala
ini
disusun
berdasarkan
strategi
manajemen
diri
yang
dikemukakan Manz (1986) dan Gie (1996). Strategi tersebut diadaptasi menjadi
aspek-aspek manajemen diri, yaitu: pengamatan diri, pendorongan diri,
pengorganisasian diri, dan pengendalian diri.
Metode Penelitian
Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel tergantung : Manajemen Diri
Variabel bebas
: Kualitas Mimpi
Subjek Penelitian
Subjek penelitiannya adalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang
berasal dari
Fakultas Psikologi. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dan
tercatat aktif sebagai mahasiswa. Jumlah subjek adalah 60 orang.
Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini akan dilakukan secara kuantitatif. Metode pengumpulan
data yang digunakan dalam skala manajemen diri dan kualitas mimpi
menggunakan skala sikap model Likert.
Aitem-aitem dalam skala manajemen diri dan kualitas mimpi tersebut
dikelompokkan menjadi dua, yaitu favourable dan unfavourable. Tanggapan
subjek terhadap aitem-aitem dalam skala ini dikelompokkan menjadi empat,
yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai
(STS). Skor bergerak antara 1-4. Untuk aitem-aitem favorable, penilaiannya
6
adalah skor 4 untuk sangat sesuai (SS), 3 sesuai (S), 2 tidak sesuai (TS), dan 1
sangat
tidak
sesuai
(STS).
Sementara
untuk
aitem-atem
unfavorable,
penilaiannya adalah skor 1 untuk sangat sesuai (SS), 2 sesuai (S), 3 tidak sesuai
(TS), dan 4 sangat tidak sesuai (STS).
Metode Analisis Data
Untuk melihat hubungan kualitas mimpi dan manajemen diri digunakan
uji korelasi product moment dari Pearson (Azwar, 1997). Pengolahan data pada
penelitian ini menggunakan tehnik pengolahan data dari program SPSS versi 13.0
for Windows.
Hasil Penelitian
Uji asumsi dilakukan untuk mengetahui apakah syarat-syarat untuk
melakukan uji hipotesa dengan menggunakan product moment dari Pearson
dapat memberikan hasil yang dapat menjawab hipotesis. Uji asumsi ini meliputi
uji normalitas dan uji linieritas.
Uji Normalitas. Uji normalitas dilakukan pada tiap variabel untuk
mengetahui apakah data statistik parametrik yang diperoleh dapat memenuhi
distribusi kurve normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan
menggunakan teknik One Sample Kolmogorov-Smirnov. Untuk mengetahui uji
normalitas dapat diketahui dengan melihat nilai p-nya. Apabila nilai p > 0,05
maka dapat dikatakan bahwa data terdistribusi normal. Hasil uji normalitas pada
skala manajemen diri diperoleh hasil F sebesar 0,424 dan p = 0,994 dengan
demikian data yang diperoleh dari skala manajemen diri terdistribusi normal
7
(sesuai dengan kurve normal) karena p > 0,05. Pada skala kualitas mimpi hasil
uji normalitasnya diperoleh F sebesar 0,693 dan p = 0,722. Karena p > 0,05
maka data skala kualitas mimpi terdistribusi normal (sesuai dengan kurve
normal).
Uji Linieritas. Uji linieritas dilakukan untuk mengetahui pola bentuk
hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung apakah hubungannya
linier atau tidak. Hasil uji linieritas hubungan antara kualitas mimpi dan
manajemen diri diperoleh hasil F = 6,758 dan p = 0,014 (p < 0,05), maka dapat
disimpulkan bahwa hubungan antara kualitas mimpi dan manajemen diri
mempunyai hubungan yang linier.
Uji Hipotesis
Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji penelitian ini adalah
dengan menggunakan analisis Product Moment dari Pearson. Hasil analisis data
dengan menggunakan analisis statistik korelasi Product Moment diperoleh
koefisien korelasi (rxy) = 0,247 dan p = 0,062, karena p_>_0,05 maka dapat
diartikan bahwa tidak ada hubungan antara kualitas mimpi dengan manajemen
diri. Dengan demikian hipotesa yang diajukan ditolak.
Pembahasan
Melalui hasil analisis statistik deskriptif diketahui bahwa tingkat kualitas
mimpi subjek penelitian berada dalam tingkat sedang, sedangkan
tingkat
manajemen diri subjek penelitian berada dalam tingkat rendah. Subjek sejumlah
58 orang terdiri dari 7 orang atau 12,07 % memiliki kualitas mimpi tinggi, 50
8
orang atau 86,21 % memiliki kualitas mimpi sedang, dan 1 orang atau 1,72 %
memiliki kualitas mimpi rendah. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif juga
diketahui tingkat manajemen diri subjek, dimana dari 60 orang subjek tidak ada
yang memiliki tingkat manajemen diri tinggi atau 0%, 1 orang atau 1,72 %
memiliki tingkat manajemen diri sedang, 57 orang atau 98,28% % memiliki
tingkat manajemen diri rendah.
Hasil analisis data diatas menunjukkan bahwa kualitas mimpi mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia berada dalam kategori sedang,
dan skor manajemen dirinya masuk dalam kategori rendah.
Berdasarkan hasil korelasi product moment dari Pearson diperoleh hasil
sebesar (rxy) = 0,247 dan p = 0,062 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa
tidak ada hubungan antara kualitas mimpi dengan manajemen diri. Hasil ini juga
membuktikan bahwa hipotesa penelitian yang menyatakan bahwa ada hubungan
antara kualitas mimpi dengan manajemen diri ditolak. Tidak adanya hubungan
antara kualitas mimpi dengan manajemen diri berarti kualitas mimpi tidak
mendukung kemampuan manajemen diri subjek penelitian.
Hal itu terjadi karena kemampuan manajemen diri seseorang juga
dipengaruhi oleh faktor lain selain kualitas mimpi. Misalnya faktor kematangan
emosi, tingkat penalaran dan kemampuan mengelola stres yang terjadi pada
dirinya. Menurut Prawitasari (1993) pengelolaan diri akan lebih mudah dilakukan
jika individu memiliki kematangan secara emosi, penalaran tinggi dan mampu
mengelola stres yang terjadi pada dirinya. Menurut Pedler dan Boydell (1985),
tingkat efektifitas seorang individu dalam melakukan manajemen terhadap
dirinya dipengaruhi sejauh mana individu tersebut mampu mempertahankan
9
(surviving), memelihara (maintaining), dan mengembangkan (developing) empat
aspek diri yang dimilikinya, yaitu: kesehatan (health), ketrampilan atau keahlian
(skills), identitas diri (identity), dan aktivitas (action). Seorang yang memiliki
kualitas mimpi yang baik, tetapi apabila dia tidak menggunakan potensinya
sebaik mungkin, maka manajemen dirinya akan rendah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen diri tidak dipengaruhi
oleh kualitas mimpi. Tidak adanya hubungan antara kualitas mimpi dengan
manajemen diri bisa disebabkan aspek-aspek skala manajemen diri yang peneliti
ajukan belum mencakup keseluruhan arti dari manajemen diri tersebut, seperti
tidak adanya aspek penetapan sasaran diri sendiri dan manajemen waktu.
Selama ini manajemen diri mempunyai definisi yang berbeda-beda dan lebih
sebagai strategi perilaku manajemen diri yang baik. Semestinya penetapan
sasaran diri sendiri dan manajemen waktu menjadi aspek-aspek penting.
Kelemahan penelitian ini adalah keseluruhan subjek penelitian berasal
dari
mahasiswa
Psikologi
UII
Yogyakarta
yang
masih
aktif,
sehingga
karakteristiknya bersifat homogen. Akan lebih baik jika penelitian ini juga
melibatkan subjek yang lebih beragam (heterogen), agar bisa digeneralisasikan
secara lebih baik pada seluruh populasi.
Kesimpulan
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa hipotesis yang menyatakan ada
hubungan antara kualitas mimpi dengan manajemen diri ditolak. Berdasarkan
hasil analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
10
tidak ada hubungan antara kualitas mimpi dengan manajemen diri pada
mahasiswa Psikologi UII Yogyakarta dengan koefisien korelasi sebesar rxy =
0,247 dengan p= 0,062 (p > 0,05).
Saran
Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema yang sama,
penyempurnaan alat ukur baik skala manajemen diri maupun skala kualitas
mimpi perlu dilakukan. Penyempurnaan skala ini bisa dilakukan dengan
memperbaiki kalimat atau tata bahasa, menambah aitem dan menambah aspekaspek alat ukur. Selain itu, pada saat menyusun latar belakang sebaiknya subyek
yang akan diteliti memiliki perhatian terhadap mimpi mereka. Selanjutnya bisa
dikembangkan
menjadi
pemaknaan
mimpi
atau
interpretasi
mimpi
dan
pentingnya hal tersebut terhadap manajemen diri.
Penelitian tentang kualitas mimpi beserta dampaknya terhadap aspekaspek lain dalam kehidupan manusia masih jarang dilakukan di Indonesia. Hal ini
membuka kesempatan bagi para peneliti untuk melakukan penelitian lebih
banyak lagi tentang hal tersebut. Terdapat banyak variabel lain yang bisa
dikombinasikan dengan kualitas mimpi, seperti kecemasan, stres, motivasi kerja,
efikasi diri, dan lain-lain.
Penelitian tentang manajemen diri juga belum banyak dilakukan di
Indonesia. Masih terbuka banyak kesempatan bagi para peneliti untuk melakukan
penelitian tentang apa sajakah yang mempengaruhi manajemen diri seseorang.
Sebagai contoh adalah mengkombinasikan antara kecerdasan emosi dengan
manajemen diri. Sebaliknya, para peneliti juga dapat melakukan penelitian
11
mengenai dampak manajemen diri terhadap aspek-aspek lain dalam kehidupan
manusia. Secara teoritis, terdapat beberapa hal yang dipengaruhi oleh
manajemen diri dan belum pernah diteliti sebelumnya, seperti kesehatan
(health), ketrampilan atau keahlian (skills), aktivitas (action), dan identitas diri
(identity). Para peminat manajemen diri juga dapat meneliti hubungan
manajemen diri dengan sikap terhadap mimpi.
12
Daftar Pustaka
Asror, M. 2005. The Dream: Sketsa Mimpi dalam Tinjauan Islam, Kedokteran
dan Psikologi. Surabaya: Jawara (Citra Pelajar Group).
Azwar, S. 1995. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Liberti.
_____, S. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Edisi III. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_____, S. 2004. Penyusunan Skala Psikologi. Cet. VI. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Brigham, J. C. 1991. Social Psychology. New York: Harper Collins Publisher, Inc.
Covey, S. 1997. The 7 Habits of Highly Effective People (diterjemahkan oleh
Budijanto). Jakarta: Binarupa Aksara.
Gie, T. L. 1996. Stategi Hidup Sukses. Yogyakarta: Liberti.
Hadi, S. 1986. Statistik. Jilid III cetakan IV. Yogyakarta: Yayasan Penerbit
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
____, S. 1993. Metodologi Research. Vol. III. Yogyakarta: Andi Offset.
Olahraga
M.
2004.
http:www.indomedia.com.03/03/06
Irvannuddin,
Teratur
bila
Susah
Tidur.
Juriana, 2000. Kesesuaian Antara Konsep Diri Nyata dan Ideal dengan
Kemampuan Manajemen Diri Pada Mahasiswa Pelaku Organisasi. Skripsi
(tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi. Universitas Gadjah Mada.
Kanfer, F. H, and Godstein, A. P. 1975. Helping People Change: A Textbook of
Methods. New York: Perganoma Press, Inc.
13
Manz, C. C. 1986. Seni Memimpin Diri Sendiri (diterjemahkan oleh A.M.
Mangunhardjana). Yogyakarta: Kanisius.
Nashori, F. 2004. Peranan Kualitas Tidur dan Kualitas Mimpi Terhadap Prestasi
Belajar Mahasiswa. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Fakultas
Psikologi. Universitas Islam Indonesia.
______, F. 2002. Mimpi Nubuwat: Menetaskan Mimpi yang Benar. Cet. I.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Palmquist, S. Fondasi Psikologi Perkembangan: Menyelami Mimpi, Mencapai
Kematangan Diri (diterjemahkan oleh M. Shodiq). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Prawitasari, J. E. 1993. Kepemimpinan di Masyarakat. Handout kuliah S2
Psikologi Universitas Gadjah Mada (tidak diterbitkan). Yogyakarta.
Prijosaksono, A., dan Mardianto, M. 2004. Self Management: Guru Terbaik
Sekaligus Musuh Terbesar Manusia. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Ramadhani, Graifhan. Teori Mimpi Secara Ilmiah. http:www. shterate.com.
25/03/06
Soekadji, S. 1983. Modifikasi Perilaku: Penerapan Sehari-hari dan Penerapan
Profesional. Yogyakarta: Liberti.
Suhartini, H. 1992. Pengaruh Metode Pengelolaan Diri Sendiri Terhadap Prestasi
Kerja Praktek Harian. Jurnal Psikologi UGM. Yogyakarta. Th. XIX, No.1.
Desember 1992, 25-30.
14
Identitas Penulis
Nama
Alamat Rumah
No. Hp
: Agung Catur Nugroho
: Timoho GK IV / 972 , Yogyakarta 55225
: 0813 2877 3772
Download