Analisis Faktor-Faktor yang Menentukan Kejadian Berat Bayi Lahir

advertisement
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1
Pengertian Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR)
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi
yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa
memandang masa kehamilan (Proverawati & Ismawati, 2010).
Dahulu neonatus dengan berat badan kurang dari 2.500 gram atau
sama dengan 2.500 gram disebut prematur. Pembagian menurut
berat badan ini sangat mudah tetapi tidak memuaskan. Sehingga
lambat laun diketahui bahwa tingkat morbiditas dan mortalitas pada
neonatus tidak hanya bergantung pada berat badan saja, tetapi
juga pada tingkat maturitas bayi itu sendiri.
Pada tahun 1961 oleh WHO menetapkan bahwa semua
bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram
disebut Low Birth Weight Infants (LBWI atau dalam bahasa
Indonesia BBLR). Pada tahun 1970, kongres European Perinatal
Medicine II yang diadakan di London juga mengusulkan definisi
untuk mendapatkan keseragaman batasan tentang maturitas bayi
lahir, yaitu sebagai berikut (Proverawati & Ismawati, 2010) :
a. Bayi kurang bulan, adalah bayi dengan masa kehamilan
kurang dari 37 minggu (259 hari).
5
6
b. Bayi cukup bulan, adalah bayi dengan masa kehamilan
mulai 37 minggu sampai 42 minggu (259-293 hari).
c. Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan
mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih).
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia
kehamilan yang belum cukup bulan (prematur), disamping itu juga
disebabkan dismaturitas. Dismaturitas artinya bayi lahir cukup bulan
(usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan lahirnya lebih kecil
ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram.
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan bayi BBLR,
yaitu (Proverawati & Ismawati, 2010) :
I. Menurut harapan hidupnya :
a.
Bayi berat lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir 15002500 gram.
b.
Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), yaitu berat lahir
1000-1500 gram.
c.
Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER), yaitu berat
lahir kurang dari 1000 gram.
II.
Menurut masa gestasinya :
a.
Prematuritas murni, yaitu masa gestasinya kurang dari
37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat
badan untuk masa gestasi berat atau biasa disebut
7
neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan
(NKB-SMK).
b.
Dismaturitas, yaitu bayi lahir dengan berat badan
kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi
itu. Berat bayi mengalami retardasi pertumbuhan
intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa
kehamilannya (KMK).
Berdasarkan jurnal penelitian kesehatan di Tanzania
(2008) menyatakan bahwa di seluruh dunia, sekitar 16% kelahiran
hidup, 20 juta bayi diantaranya lahir dengan berat kurang dari 2500
gram dan 90% di antara mereka lahir di negara berkembang.
Prevalensi berat lahir rendah (BBLR) bervariasi diantara wilayah
geografis. Asia Selatan tengah memimpin dengan prevalensi 31.1%
sementara Asia secara keseluruhan memiliki prevalensi 19.7%.
Prevalensi BBLR di Amerika Utara dan Eropa masing-masing
adalah 6,8% dan 6,5%. Di Amerika Latin persentase bayi BBLR
adalah 10,1% sedangkan di Afrika diperkirakan 14 % .
Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran
di dunia dengan batasan 3,3%-3,8% dan lebih sering terjadi di
negara-negara berkembang atau sosio ekonomi rendah. Secara
statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara
berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding
bayi dengan berat badan lahir lebih dari 2500 gram (WHO, 2007).
8
BBLR
termasuk
faktor
utama
dalam
peningkatan
mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta
memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya
dimasa depan (WHO, 2004). Dewasa ini angka kematian bayi
(AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi. Menurut data Survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKB di Indonesia
yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup (BPS, 2011). Angka kematian
bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berdasarkan Profil
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 10,34 per 1000 kelahiran
(Dinkes Jateng, 2011). Penyebab langsung kematian bayi adalah
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan kekurangan
oksigen (asfiksia) (Depkes, 2010).
Angka kejadian BBLR di Indonesia sangat bervariasi
antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%30%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI (Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia), angka BBLR sekitar 7,5%.
Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada
sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010
yakni maksimal 7% (Depkes, 2010). Berdasarkan Profil Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah jumlah berat bayi lahir rendah (BBLR) di
Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21,184 (3,73%)
meningkat apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631
(2,69%).
9
Risiko permasalahan yang sering terjadi pada bayi BBLR
(Proverawati & Ismawati, 2010) :
1. Gangguan metabolik
Terjadi karena hanya sedikitnya lemak tubuh dan sistem
pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum matang. Asupan
glukosa yang kurang, berakibat sel-sel syaraf di otak mati dan
mempengaruhi
kecerdasan
bayi kelak.
Hiperglikemia
sering
merupakan masalah pada bayi yang sangat amat prematur yang
mendapat cairan glukosa berlebihan secara intravena tetapi
mungkin juga terjadi pada bayi BBLR lainnya. Masalah pemberian
ASI pada BBLR terjadi karena ukuran tubuh bayi kecil, kurang
energi, lemah, lambungnya kecil dan tidak dapat menghisap.
2. Gangguan imunitas
Daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena
rendahnya kadar Ig G, maupun gamma globulin. Bayi prematur
relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis
serta reaksi terhadap infeksi belum baik. Karena sistem kekebalan
tubuh bayi BBLR belum matang. Bayi juga dapat terkena infeksi
saat jalan lahir atau tertular infeksi ibu melalui plasenta.
3. Gangguan pernafasan
Sindroma gangguan pernafasan pada bayi BBLR adalah
perkembangan
imatur
pada
sistem
pernafasan
atau
tidak
adekuatnya jumlah surfaktan pada paru-paru. Bayi BBLR dapat
10
mengalami gangguan pernafasan oleh karena bayi menelan air
ketuban sehingga masuk ke dalam paru-paru dan kemudian
mengganggu pernafasannya. Ini tidak hanya dialami bayi BBLR
saja, tetapi juga bayi cukup bulan. Khusus bayi prematur, umumnya
gangguan pernafasannya berkaitan dengan organ paru-paru yang
belum matang.
4. Gangguan sistem peredaran darah
Perdarahan pada neonatus mungkin dapat disebabkan
karena kekurangan faktor pembekuan darah dan faktor fungsi
pembekuan darah abnormal atau menurun. Sebagai tindakan
pencegahan terhadap perdarahan otak dan saluran cerna pada
bayi, dapat diberikan injeksi vitamin K yang penting untuk
mempertahankan mekanisme pembekuan darah normal.
5. Gangguan cairan dan elektrolit
Kerja
ginjal
masih
belum
matang,
menyebabkan
kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air
masih belum sempurna. Saluran pencernaan bayi BBLR belum
berfungsi sempurna sehingga penyerapan makanan dengan lemah.
Aktivitas otot pencernaan masih belum sempurna, sehingga
pengosongan lambung berkurang.
11
Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi
BBLR antara lain sebagai berikut (Proverawati & Ismawati, 2010) :
1. Gangguan perkembangan dan pertumbuhan
Pada bayi BBLR, pertumbuhan dan perkembangan lebih
lambat berkaitan dengan maturitas otak.
2. Gangguan bicara dan komunikasi
Penelitian longitudinal menunjukkan perbedaan kecepatan
bicara yang menarik antara BBLR dan berat lahir normal (BLN).
Pada
bayi
BBLR
kemampuan
bicaranya
akan
terlambat
dibandingkan BLN sampai usia 6,5 tahun.
3. Gangguan neurologi dan kognisi
Gejala neurologis yang paling sering dilaporkan adalah
Cerebral Palsy. Makin kecil usia kehamilan bayi makin tinggi
resikonya. Gejala neurologi lain adalah retardasi mental, MMR
(motor, metal retardasi) dan kelainan EEG (dengan atau tanpa
epilepsi). Gangguan selama periode perinatal akan meningkatkan
resiko neurologis. Untuk usia kehamilan tua BBLSR (sehat) tetap
beresiko untuk gangguan belajar dan gangguan perilaku.
4. Gangguan belajar/masalah pendidikan
Sulit menilai untuk negara berkembang karena faktor
kemiskinan juga berperan pada kinerja sekolah. Suatu penelitian
longitudinal di Negara maju menunjukkan bahwa lebih banyak anak
BBLR dimasukkan ke sekolah khusus.
12
5. Gangguan atensi dan hiperaktif
Dikenal sebagai Minimal Brain Disorders yang merupakan
gangguan neurologi. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini
lebih banyak dengan berat lahir < 2041 gram. Sering disertai
dengan gejala ringan dan perubahan perilaku. Paling sering disertai
gangguan disfungsi intregasi sensori.
Menurut
Proverawati
&
Ismawati
(2010)
penyebab
terjadinya bayi BBLR secara umum bersifat multifaktorial, sehingga
kadang
mengalami
kesulitan
untuk
melakukan
tindakan
pencegahan. Namun, penyebab terbanyak terjadinya bayi BBLR
adalah kelahiran prematur. Semakin muda usia kehamilan semakin
besar resiko jangka pendek dan jangka panjang dapat terjadi.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan
bayi BBLR secara umum (Proverawati & Ismawati, 2010) yaitu
sebagai berikut :
1. Faktor Ibu
a.
Penyakit :

Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia
sel
berat,
preeklampsi
perdarahan
berat,
antepartum,
eklampsia,
hipertensi,
infeksi
selama
kehamilan (infeksi kandung kemih, dan ginjal),
13

Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular
seksual (PMS), penyakit tipoid, hepatitis, ISPA,
bronkitis, atau TBC.
b.
Ibu :

Angka
kejadian
prematuritas
tertinggi
adalah
kehamilan pada usia < 20 tahun atau lebih dari 35
tahun.

Jarak kehamilan yang terlalu dekat atau pendek
(kurang dari 1 tahun).

c.
Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
Keadaan sosial ekonomi :

Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial
ekonomi rendah.

Mengerjakan aktivitas fisik beberapa jam tanpa
istirahat.
d.

Keadaan gizi yang kurang baik.

Pengawasan antenatal yang kurang.
Sebab lain :

Ibu perokok, ibu peminum alkohol, ibu pecandu
obat narkotik.
2. Faktor janin :
a.
Kelainan kromosom.
b.
Infeksi janin kronik (inklusi sitomegali, rubella bawaan).
14
c.
Disautonomia familial.
d.
Radiasi.
e.
Kehamilan ganda/kembar (gemeli).
f.
Aplasia pancreas.
3. Faktor plasenta :
a.
Berat plasenta berkurang atau berongga atau keduanya
(hidramnion).
b.
Luas permukaan berkurang.
c.
Plasentitis vilus (bakteri, virus, dan parasite).
d.
Infark.
e.
Tumor (korioangioma, mola hidatidosa).
f.
Plasenta yang lepas.
g.
Sindrom plasenta yang lepas.
h.
Sindrom transfusi bayi kembar (sindrom parabiotik).
4. Faktor lingkungan :
a.
Bertempat tinggal di dataran yang tinggi.
b.
Terkena radiasi.
c.
Terpapar zat beracun.
15
Berdasarkan tipe BBLR, penyebab terjadinya bayi BBLR
dapat digolongkan
menjadi sebagai berikut
(Proverawati &
Ismawati, 2010) :
1. BBLR tipe KMK (Kecil untuk Masa Kehamilan), disebabkan
oleh :
a.
Ibu hamil yang kekurangan nutrisi.
b.
Ibu memiliki hipertensi, preeklampsia atau anemia.
c.
Kehamilan kembar, kehamilan lewat waktu.
d.
Malaria kronik, penyakit kronik.
e.
Ibu hamil merokok.
2. BBLR tipe prematur disebabkan oleh :
a.
Berat badan ibu yang rendah, ibu hamil yang masih
remaja, kehamilan kembar.
b.
Pernah melahirkan bayi prematur sebelumnya.
c.
Cervical imcompetence (mulut rahim yang lemah
hingga tak mampu menahan berat bayi dalam rahim).
d.
Perdarahan sebelum atau saat persalinan (antepartum
hemorrhage).
e.
Ibu hamil yang sedang sakit.
f.
Kebanyakan tidak diketahui penyebabnya.
16
2.2
Faktor-Faktor Ibu yang Mempengaruhi Terjadinya
BBLR
1.
Status gizi ibu hamil
Status
gizi
sebelum
dan
selama
hamil
dapat
mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila
status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil
kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan
dengan berat badan normal. Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil, salah satu
caranya dengan memantau pertambahan berat badan selama
hamil. Berat badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai
dengan umur kehamilan. Berat badan ibu yang kurang akan
beresiko melahirkan bayi dengan berat badan kurang atau Berat
Bayi Lahir Rendah (Waryana, 2010).
Berikut kenaikan berat badan normal bagi wanita hamil tiap
trimester (Waryana, 2010):
a)
Trimester I (0-12 minggu) : kenaikan berat badan sebesar
0,7 – 1,4 kg.
b)
Trimester II (sampai usia 28 minggu) : kenaikan berat
badan sebesar 6,7 – 7,4 kg.
c)
Trimester III (sampai usia 40 minggu) : kenaikan berat
badan sebesar 12,7 – 13,4 kg.
17
Menurut Romauli (2011) proporsi kenaikan berat badan
selama hamil adalah sebagai berikut :
a) Kenaikan berat badan trimester I lebih kurang 1 kg, karena
berat badan ini hampir seluruhnya merupakan kenaikan
berat badan ibu.
b) Kenaikan berat badan trimester II adalah 3 kg atau
0,3kg/minggu. Sebesar 60% kenaikan berat badan ini
dikarenakan pertumbuhan jaringan pada ibu.
c) Kenaikan berat badan trimester III adalah 6 kg atau 0,30,5kg/ minggu. Sebesar 60% kenaikan berat badan ini
karena pertumbuhan jaringan janin.
Pengaruh gizi terhadap kehamilan sangat penting. Berat
badan ibu hamil. Pada wanita hamil dengan gizi buruk, perlu
mendapat gizi yang adekuat baik jumlah maupun susunan menu
atas kualitasnya serta mendapat akses pendidikan kesehatan
tentang
gizi.
Karena
adanya
malnutrisi
pada
ibu
hamil,
menyebabkan volume darah menjadi berkurang, aliran darah ke
uterus dan plasenta berkurang, ukuran plasenta berkurang dan
transfer nutrient melalui plasenta berkurang sehingga janin tumbuh
lambat atau terganggu. Ibu hamil dengan kekurangan gizi
cenderung melahirkan prematur atau BBLR (Romauli, 2011).
Ada beberapa cara lain untuk mengetahui status gizi ibu
hamil, yaitu dengan mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) dan
18
mengukur kadar Hemoglobin (Hb). Pengukuran LILA dimaksudkan
untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi
Kronik (KEK). Di Indonesia batas ambang LILA resiko KEK adalah
23,5 cm, hal ini berarti ibu hamil dengan resiko KEK diperkirakan
akan melahirkan bayi BBLR. Pengukuran kadar Hb untuk
mengetahui kondisi ibu apakah menderita anemia gizi. Ibu hamil
akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai
di bawah 11 gr/dl selama trimester III (Waryana, 2010).
2.
Status Ekonomi
Status ekonomi dinyatakan dengan pendapatan keluarga.
Pendapatan memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap
kejadian BBLR. Keluarga dengan pendapatan tinggi akan mampu
memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan. Sebaliknya keluarga
dengan pendapatan rendah akan mengalami kesulitan dalam
memenuhi kebutuhan gizi. Pada ibu hamil, kekurangan nutrisi
sangat berpengaruh pada kondisi janin yang dikandung.
Ekonomi
seseorang
mempengaruhi dalam pemilihan
makanan yang akan dikonsumsi sehari-hari. seorang dengan
ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar
sekali gizi yang dibutuhkan tercukupi ditambah lagi adanya
pemeriksaan membuat gizi ibu semakin terpantau. Ibu hamil
dengan kekurangan zat gizi yang penting bagi tubuh akan
19
menyebabkan anak lahir dengan berat badan rendah (Proverawati
& Asfuah, 2009).
3.
Usia Ibu
Usia reproduktif yang optimal bagi seorang ibu adalah 20-
35 tahun (Bartini, 2012). Pada usia tersebut rahim sudah siap
menerima kehamilan, mental ibu sudah matang dan mampu
merawat bayi dan dirinya.
Pada usia kurang dari 20 tahun, organ-organ reproduksi
(rahim, vagina, payudara) belum matang dan belum siap untuk
menerima kehamilan. Pada usia di atas 35 tahun, fungsi-fungsi
organ repoduksi mulai menurun, sehingga tidak bagus untuk
menjalani kehamilan (Bartini, 2012). Menurut Prawirahardjo (2008)
salah satu efek dari proses degeneratif (penurunan fungsi organ)
adalah sklerosis (penyempitan) pembuluh darah arteri kecil dan
arteriole miometrium menyebabkan aliran darah ke endometrium
tidak merata dan maksimal sehingga dapat mempengaruhi
penyaluran nutrisi dari ibu ke janin dan membuat gangguan
pertumbuhan janin dalam rahim.
4.
Pengawasan ANC (Antenatal Care)
Perawatan ibu selama kehamilan sangat menentukan
kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya. Selama kehamilan
berbagai program yang termasuk paket pelayanan ANC adalah 5T
(Timbang berat badan, Ukur tekanan darah, Ukur tinggi fundus,
20
Tablet Fe, Imunisasi TT) diharapkan ibu secara rutin mengontrol
kehamilannya minimal 4 kali selama kehamilan dengan sebaran, 1
kali pada trimester 1, 1 kali pada trimester ke dua dan 2 kali pada
trimester ke tiga (Depkes RI, 2009).
Pemeriksaan kadar Hb (haemoglobin dalam darah) pada
ibu hamil juga perlu dilakukan agar kesehatan ibu hamil dapat
terpantau, khususnya terhadap penyakit anemia (kurang darah).
Anemia merupakan salah satu penyebab terbanyak dari kematian
ibu di Indonesia. Kurangnya asupan makanan yang mengandung
zat besi, adalah penyebab anemia. Pemeriksaan Hb dilakukan
minimal 2 kali selama hamil, yakni pada awal kehamilan dan pada
usia 30 minggu, serta sering diulang menjelang persalinan. Untuk
mencegah anemia sebaiknya ibu hamil meminum tablet tambah
darah (zat besi) minimal 90 tablet selama hamil (Bartini, 2012).
Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan
resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan
melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar (Waryana,
2010).
5.
Pendidikan
Tingkat pendidikan ibu hamil juga sangat berperan dalam
kualitas perawatan bayinya. Informasi yang berhubungan dengan
perawatan
kehamilan
sangat
dibutuhkan,
sehingga
akan
meningkatkan pengetahuannya. Penguasaan pengetahuan erat
21
kaitannya
dengan
tingkat
pendidikan
seseorang.
Penelitian
menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, maka
semakin baik pula pengetahuannya tentang sesuatu. Pada ibu
hamil dengan tingkat pendidikan rendah kadang ketika tidak
mendapatkan cukup informasi mengenai kesehatannya maka ia
tidak tahu mengenai bagaimana cara melakukan perawatan
kehamilan yang baik (Romauli, 2011).
6.
Penyakit/komplikasi Selama Kehamilan
Beberapa komplikasi langsung dari kehamilan seperti
anemia, perdarahan, preeklamsia/eklamsia, hipertensi, ketuban
pecah dini (KPD) dan kelainan lainnya, keadaan tersebut
mengganggu kesehatan ibu dan juga pertumbuhan janin dalam
kandungan sehingga meningkatkan resiko kelahiran bayi dengan
berat rendah (Cunningham, 2005: Praworahardjo, 2008, Manuaba,
2010).
Perdarahan antepartum perdarahan pervaginam pada
kehamilan di atas 28 minggu atau lebih. Karena perdarahan
antepartum terjadi pada usia kehamilan lebih dari 28 minggu maka
sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester 3.
Komplikasi dari perdarahan antepartum tersebut adalah kelahiran
prematur dan gawat janin sering tidak terhindarkan sebagian
karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan
dalam kehamilan yang belum aterm (Prawirahardjo, 2008).
22
Anemia (kadar Hb kurang dari 11 gr %) pada saat
kehamilan dapat mengakibatkan efek buruk pada bayi dan ibunya.
Anemia mengurangi suplai oksigen pada metabolisme ibu karena
kurangnya hemoglobin yang mengikat oksigen dan mengakibatkan
efek tidak langsung pada ibu dan bayi antara lain, kerentaan ibu
terhadap infeksi, kematian janin, kelahiran prematur dan bayi berat
lahir rendah (Prawirahardjo, 2008)
Menururt Prawirahardjo (2008) dalam keadaan normal,
selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. Ketuban pecah
dini (KPD) adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum
persalinan. Bila KPD terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu
disebut KPD pada kehamilan prematur. Selaput ketuban pecah
terjadinya karena ketidakseimbangan antara sintesis dan degradasi
ekstraseluler
matriks,
perubahan
struktur,
jumlah
sel
dan
katabolisme kalogen. Salah satu komplikasi dari KPD adalah
meningkatkan resiko persalinan prematur dan melahirkan bayi
dengan berat lahir rendah. Biasanya setelah ketuban pecah disusul
persalinan, pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan
terjadi selama 24 jam. KPD juga menyebabkan oligohidromnion
yang akan menekan tali pusat sehingga terjadi asfiksia dan hipoksia
pada janin dan membuat nutrisi ke janin berkurang serta
pertumbuhan terganggu (Manuaba, 2010).
23
Preeklamsia adalah sindrom spesifik kehamilan berupa
berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitas
endotel. Eklamsia adalah terjadinya kejang pada wanita dengan
preeklamsia yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Keadaan ini
mempunyai pengaruh langsung terhadap kualitas janin karena
terjadi penurunan aliran darah ke plasenta menyebabkan janin
kekurangan nutrisi sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin.
Normalnya pada saat proses nidasi terjadi remodelling arteri spiralis
yaitu terjadinya invasi troboblas ke dalam lapisan otot arteri spiralis.
Invasi juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis sehingga
memudahkan arteri spiral menjadi distensi dan dilatasi. Distensi dan
dilatasi lumen arteri spiralis memberikan dampak penurunan
tekanan darah, penurunan resistensi vaskular dan peningkatan
aliran darah uteroplasenta. Namun pada preeklamsia invasi
troboblas tidak optimal sehingga terjadi vasospasme arteri spiralis
menjadi kaku dan keras sehingga membuat aliran uteroplasenta
tidak adekuat (Cunningham, 2005; Prawirahardjo, 2008).
Menurut Prawirahardjo (2008) hipertensi dalam kehamilan
ada yang bersifat kronik, sudah mengalami hipertensi sebelum
hamil dan hipertensi gestasional, hipertensi yang timbul pada
kehamilan dan menghilang setelah tiga bulan pasca persalinan.
Efek hipertensi ini pada janin adalah menghambat pertumbuhan
24
janin disebabkan menurunnya perfusi uteroplasenta, sehingga
menimbulkan infusiensi plasenta.
7.
Pekerjaan Ibu
Seorang wanita hamil dengan aktifitas kerja yang berat
beresiko mengalami persalinan prematur atau bayi dengan BBLR.
Jenis pekerjaan juga dihubungkan dengan penghasilan yang dapat
mempengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi wanita hamil tersebut.
Dari beberapa penelitian, persalinan prematur dan BBLR dapat
terjadi pada wanita yang bekerja terus menerus selama kehamilan,
terutama bila pekerjaan tersebut memerlukan kerja fisik atau berdiri
untuk waktu yang lama. Keadaan ini dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan serta kesejahteraan janin yang
dikandungnya (Farrer H, 2001).
8.
Paritas
Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami
wanita tanpa memperhatikan hasil konsepsi tersebut hidup atau
mati. Paritas 2 sampai 3 merupakan paritas yang paling aman
ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan lebih dari 3
memiliki angka kematian lebih tinggi. Propil ibu yang meninggal
saat atau sesaat setelah melahirkan antara lain disebabkan oleh
tingginya paritas yaitu telah mempunyai anak sebanyak 4 orang
atau lebih (Winkjosastro, 2007).
25
Kehamilan lebih dari 4 kali baik anak hidup maupun anak
mati (grande multi gravida), mempunyai resiko tinggi pada
kehamilan dan persalinan berikutnya. Ini berkaitan dengan kerja
sistem tubuh yang terlalu sering dan dalam jangka waktu yang
relative singkat. Tidak adanya jeda waktu bagi tubuh ibu untuk
beristirahat, akan berakibat munculnya resiko yang berbahaya
(Bartini, 2012).
9.
Jarak kehamilan
Jarak kelahiran adalah jarak lahirnya anak yang satu
dengan yang lainnya. Jarak kelahiran < 2 tahun dapat menimbulkan
pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan
pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan
baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat
berdekatan < 2 tahun akan mengalami peningkatan risiko terhadap
terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan
plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat
melahirkan bayi dengan BBLR (Iskandar, 2009).
Menurut Bartini (2012) jarak persalinan terakhir dengan
kehamilan sekarang kurang dari 2 tahun merupakan faktor resiko
yang menyebabkan komplikasi selama kehamilan dan persalinan.
Hal ini disebabkan karena waktu yang ideal bagi tubuh untuk
memulihkan fungsinya setelah
kehamilan adalah 2 tahun.
menjalani perubahan
selama
26
10. Kebiasaan ibu
Kebiasaan ibu yang menjadi faktor resiko BBLR yaitu, ibu
yang merokok baik aktif maupun pasif dan ibu peminum alkohol
serta ibu pecandu obat narkotik. Asap rokok mengandung sejumlah
teratogen potensial seperti nikotin, karbon monoksida, sianida, tar
dan berbagai hidrkarbon. Zat ini selain bersifat fetotoksin, juga
memiliki efek vasokontriksi pembuluh darah dan mengurangi kadar
oksigen dan gangguan pembuluh darah sehingga membuat aliran
nutrisi dari ibu ke janin terhambat dan terganggu, akhirnya
pertumbuhan janin terhambat (Cunningham, 2005).
Download