Hubungan Dukungan Sosial dengan Psychological

advertisement
78
Hubungan Dukungan Sosial dengan Psychological Well Being pada
Remaja Korban Sexual Abuse di Kabupaten Langkat
Eryanti Novita, S.Psi, M.Psi
Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
Azhar Aziz, S.Psi, MA
Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
Suryani Hardjo, S.Psi, MA
Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
Abstrak
Dampak sexual abuse pada anak-anak dan remaja berupa tekanan psikologis, sehingga memunculkan
berbagai kecenderungan psikopatologi, termasuk depresi, penyalahgunaan alkohol, perilaku antisosial, resiko
bunuh diri, kecemasan tentang seks dan ketertekanan kehidupan pribadinya. Dibutuhkan penanganan yang
serius dan segera dari semua pihak agar budaya kekerasan dapat diubah, dan bagi korban dibutuhkan
penanganan secara intensif agar dapat hidup dan menghadapi masa depannya secara positif dengan mencapai
kesejahteraan psikologisnya (psychological well being). Bagi korban sexual abuse langkah awal yang dapat
ditempuh mendorong sikap terbuka dan melakukan prevensi intervensi pada pihak sekolah, orang tua dan
anak. Tujuan penelitian adalah ingin melihat : Hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well
being pada korban sexual abuse di Kabupaten Langkat. Data diungkap melalui Skala kesejahteraan
psikologis dan dukungan sosial. Jumlah populasi adalah 32 orang anak dan remaja yang mengalami sexual
abuse dan tehnik pengambilan sampel adalah total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan Psychological well being. Hasil ini
dibuktikan dengan koefisien korelasi rxy = 0,679 : p = 0,017; p < 0,050. Dengan demikian maka hipotesis
yang telah diajukan dalam penelitian ini, dinyatakan diterima, dimana semakin tinggi dukungan sosial maka
akan semakin tinggi Psychological well being dan sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka akan
semakin rendah Psychological well being.
Kata kunci : psychological; well being; dan sexual abuse
yang dicatat oleh komnas perempuan
PENDAHULUAN
Masalah
adalah
Indonesia. Hampir mencapai seperempat
problem manusia yang merupakan suatu
total kasus adalah kekerasan seksual yaitu
kenyataan
dari
sebanyak 93.960 kasus. Jenis kekerasan
mengalami
seksual terbanyak adalah pemerkosaan,
perkembangan bahkan dapat dikatakan
mencapai 4845 kasus. Sementara itu
bahwa usia kejahatan seumur dengan
jumlah
manusia
masyarakat
masyarakat
sosial
yang
karena
maka
kejahatan
dan
produk
selalu
kasus
tertinggi
pada
setiap
dimana
terdapat
tahunnya menurut data yang dilansir
disitu
terdapat
Legal Resoucer Center untuk Keadilan
kejahatan.
Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC
Menurut Direktur LRC KJHAM,
KJHAM) Jateng adalah pemerkosaan.
Fatkhurozi pada tahun 1999 hingga 2011,
Pada tahun 2014, terjadi 140 kasus
ada 400.939 kasus kekerasan perempuan
pemerkosaan dengan 172 korban, dan 4
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
79
orang di antaranya meninggal. Hal ini
berdaya,
menunjukkan betapa banyaknya kasus
mempercayai
pemerkosaan
ketidakadilan secara umum.
dan
sexual
abuse
di
Indonesia (Suara Merdeka, 5 Januari
2015.).
perilaku
pasif,
orang
Dibutuhkan
lain
sulit
dan
penanganan
rasa
yang
serius dan segera dari semua pihak agar
Sexual abuse menjadi salah satu
budaya kekerasan dapat diubah, dan bagi
bahasan yang cukup menantang pada
korban dibutuhkan penanganan secara
berbagai permasalahan kehidupan saat
intensif agar dapat hidup dan menghadapi
ini, permasalahan sexual abuse semakin
masa depannya secara positif dengan
banyak ditemui dan dialami anak-anak,
mencapai
keadaan ini efeknya dirasakan pula
(psychological well being)
sampai usia dewasa.
Hunter
kesejahteraan psikologisnya
Psychological
(dalam
Gosita,
2013)
well
being
mempengaruhi penyesuaian sosial anak
menyebutkan 80 % korban sexual abuse
untuk
pelakunya adalah pria dan wanita serta 90
anak/remaja lain yang tidak pernah
% pengalaman seksual melibatkan korban
mengalami
yang masih anak-anak. Penelitian ini
Psychological well being adalah konsep
mengungkap beberapa kompleksitas yang
multidimensional mengenai sejauh apa
terlibat dalam masalah sexual abuse yang
seseorang
dialami anak-anak, dampak pelecehan
psikologisnya secara positif. Berdasarkan
seksual dan tekanan psikologis pada
teori kesehatan mental, teori psikologi
anak-anak,
memunculkan
perkembangan, Ryff (dalam Moningka
berbagai kecenderungan psikopatologi,
2013) mengemukakan 6 dimensi yang
termasuk
tercakup dalam psychological well being,
sehingga
depresi,
penyalahgunaan
dapat
menjalankan
yaitu
diri,
Acceptance),
ketertekanan
Dampak
tentang
kehidupan
kekerasan
seks
dan
pribadinya.
seksual
amat
normal
pengalaman
alkohol, perilaku antisosial, resiko bunuh
kecemasan
hidup
1)
penerimaan
yang
seperti
negatif.
fungsi-fungsi
diri
mengacu
(Selfkepada
bagaimana individu menerima diri dan
pengalamannya;
2)
hubungan
berpengaruh terhadap harga diri anak,
interpersonal (Positive Relation with
yang termanifestasikan dalam sikap dan
Others), yang mengacu pada bagaimana
perilaku mereka di masyarakat. Bagi
individu membina hubungan dekat dan
korban yang masih anak-anak akan
saling percaya dengan orang lain; 3)
terbentuk citra diri yang negatif, rasa tak
otonomi (Autonomy), yang mengacu pada
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
80
kemampuan individu untuk lepas dari
memasuki periode remaja awal; yang
pengaruh orang lain dalam menilai dan
memberikan kesempatan mereka untuk
memutuskan
4)
tumbuh, tidak hanya dalam dimensi fisik,
penguasaan lingkungan (Environmental
tetapi juga dalam kompetensi kognitif
Mastery) yang mengacu pada bagaimana
dan sosial, otonomi, harga diri, dan
kemampuan individu menghadapi hal-hal
keintiman. Karena menghadapi berbagai
di
hidup
perubahan yang terjadi secara bersamaan,
(Purpose in Life), yang mengacu pada
mereka membutuhkan bantuan dalam
hal-hal yang dianggap penting dan ingin
menjalani masa ini (Feldman, 2009;
dicapai individu dalam kehidupan; serta
Weiner, 1992; Rönkä, & Pulkkinen,
6)
1995, dalam Faturahman, 2012)
segala
lingkungannya;
sesuatu;
5)
pertumbuhan
tujuan
pribadi
(Personal
Growth), yang mengacu pada bagaimana
individu memandang dirinya berkaitan
KAJIAN PUSTAKA
dengan harkat manusia untuk selalu
Psychological Well Being
tumbuh dan berkembang.
Menurut Corsini (dalam Solihin
Bagi korban sexual abuse langkah
2006), pengertian well-being adalah suatu
awal yang dapat ditempuh mendorong
keadaan subyektif yang baik, termasuk
sikap terbuka dan melakukan prevensi
kebahagiaan,
intervensi pada pihak sekolah, orang tua
dalam hidup. Psychological well being
dan
adalah
anak.
diperlukan
Intervensi
agar
yang
anak-anak
tepat
tumbuh,
berkembang secara sehat dan bahagia.
selfesteem,dan
tingkat
kepuasan
kemampuan
individu
dalam menerima dirinya apa adanya,
membentuk
hubungan
yang
hangat
Sebuah studi yang dilakukan oleh
dengan orang lain, mandiri terhadap
Aizer (dalam Saeroni, 2011) terhadap
tekanan sosial, mengontrol lingkungan
anak berusia 5 hingga 14 tahun yang
eksternal, memiliki arti dalam hidup,
kurang mendapat dukungan dan perhatian
serta
secara sosial dari orang tua maupun
secara kontinyu (Ryff & Keyes, dalam
lingkungan
Flannery, 2009).
dimana
individu
tinggal,
memperlihatkan kenakalan, penggunaan
merealisasikan
potensi
Psychological
dirinya
well
being
obat dan alkohol, dan bermasalah di
berhubungan dengan kepuasan pribadi,
sekolah. Peran dukungan sosial menjadi
keterikatan,
sangat
anak-anaknya
stabilitas
suasana
berusia remaja, terutama ketika anak
terhadap
diri
penting
ketika
harapan,
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
rasa
hati,
sendiri,
syukur,
pemaknaan
harga
diri,
81
kegembiraan, kepuasan dan optimisme,
terhadap dirinya sendiri, tanggung jawab
termasuk juga mengenali kekuatan dan
terhadap diri sendiri, berani mengakui
mengembangkan bakat dan minat yang
kesalahan, dan instrospeksi diri; 2)
dimiliki (Bartram & Boniwell, dalam
hubungan positif dengan orang lain, yaitu
Faturochman 2012).). Psychological well
tingkat kemampuan dalam berhubungan
being memimpin individu untuk menjadi
hangat dengan orang lain, hubungan
kreatif dan memahami apa yang sedang
interpersonal yang didasari kepercayaan,
dilakukannya
serta perasaan empati dan kasih sayang
(Bartram
&
Boniwell,
Faturochman 2012).
yang kuat; 3) otonomi, yaitu tingkat
Berdasarkan uraian di atas, dapat
kemampuan individu dalam menentukan
disimpulkan bahwa psychological well
nasib sendiri, kebebasan, pengendalian
being secara umum dapat diartikan
internal,
individual,
sebagai suatu bentuk kepuasan terhadap
perilaku
internal,
aspek-aspek
hidup
bahwa pikiran dan tindakan seseorang
mendatangkan
atau
sehingga
menimbulkan
berasal
dari
dan
pengaturan
dasar
kepecayaan
dirinya
sendiri
dan
perasaan bahagia dan perasaan damai
seharusnya tidak ditentukan oleh kendali
pada hidup seseorang, namun standar
orang lain; 4) penguasaan lingkungan,
kepuasan pada setiap orang berbeda
yaitu tingkat kemampuan individu untuk
sehingga hal ini bersifat subjektif.
memilih atau menciptakan lingkungan
Psychological
well
being,
yang sesuai dengan kondisi batinnya.
dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain
Penguasaan lingkungan dapat dilakukan
perbedaan
jenis
dengan
pendidikan,
pendapatan,
kelamin,
usia,
pernikahan,
dua
cara,
yaitu
merubah
lingkungan agar sesuai dengan kondisi
kepuasan kerja, kesehatan, agama, waktu
individu
luang,
hidup,
lingkungannya) dan individu beradaptasi
kemampuan atau kompetensi, dukungan
dengan lingkungan yang ada tanpa
sosial dan kepribadian (Eddington &
merubah
Shuman dalam Faturochman (2012).
berubah adalah individunya); 5) tujuan
Dimensi Psychological Well Being
hidup, yaitu pemahaman yang jelas
peristiwa
dalam
Ryff (1989) mengemukakan enam
(yang
lingkungan
mengenai
tujuan
diubah
adalah
tersebut
hidup,
(yang
pendirian
dimensi psychological well being, yaitu:
terhadap tujuan, dan tujuan yang telah
1)
tingkat
direncanakan; 6) pertumbuhan pribadi,
kemampuan individu dalam bersikap
yaitu tingkat kemampuan individu dalam
penerimaan
diri,
yaitu
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
82
mengembangkan potensinya secara terus
Mayer,
menerus, menumbuhkan dan memperluas
dukungan sosial merupakan hubungan
diri
suatu
yang di dalamnya terkandung pemberian
kekuatan yang terus berjuang untuk
bantuan dan hubungan itu memiliki nilai
menyatakan diri dan melawan rintangan
positif bagi penerima bantuan.
sebagai
eksternal,
orang
sehingga
(person),
menyatakan
bahwa
akhirnya
Sarason, Levine, dan Basham
individu berjuang untuk meningkatkan
(1983) mendefinisikan dukungan sosial
psychological well being dari pada
sebagai keadaan yang bermanfaat bagi
sekedar memenuhi aturan moral.
individu yang diperoleh dari orang lain
Dukungan Sosial
yang dapat dipercaya. Sarason dkk.
Dukungan
karena
pada
1986)
sosial
merupakan
bermanfaat
kebutuhan
bagi
(1983) mendefinisikan dukungan sosial
sebagai adanya pemberian informasi baik
seseorang, seperti yang dinyatakan Lin,
secara
Woefel
bahwa
pemberian bantuan tingkah laku atau
dukungan sosial merupakan kebutuhan,
materi melalui hubungan sosial yang
seperti
akrab
dan
Light
persetujuan,
(1985),
esteem,
dan
verbal
atau
maupun
hanya
non
verbal,
disimpulkan
pertolongan yang diperoleh dari orang-
keberadaan
orang yang mempunyai arti bagi dirinya.
seseorang merasa diperhatikan, bernilai
Dukungan sosial menurut House
mereka
yang
dari
membuat
dan dicintai.
(dalam Cohen dan Syme, 1985), diartikan
Dukungan
dapat
disimpulkan,
uraian
menolong dengan melibatkan aspek-
merupakan bantuan yang diberikan dalam
aspek empat macam dukungan, yakni
suatu hubungan sosial yang akrab, di
dukungan instrumen (menolong orang
dalamnya meliputi berbagai aspek yakni
secara langsung dengan memberikan
persetujuan, esteem, emosi, informasi,
sesuatu), dukungan emosional (memberi
alat, penilaian atau penghargaan bagi
perhatian, cinta, dan simpati), dukungan
seseorang
informatif
mempunyai
informasi
yang
dapat digunakan penerima untuk coping),
dan dukungan appraisal (umpan balik
secara
langsung
tentang
fungsi
atas
berdasarkan
sebagai bentuk hubungan yang bersifat
(memberi
di
sosial
dari
orang
arti
lain
sehingga
yang
merasa
diperhatikan.
Beberapa
menunjukkan
pendapat
ahli
aspek-aspek
yang
perorangan pada peningkatan harga diri).
terkandung
Leavy (dalam Ganster, Fusilier dan
Schefer dan Lazarus (dalam Ronald dan
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
dalam
dukungan
sosial.
83
Paul, 1984) menyebutkan tiga dimensi
dukungan sosial yang bersifat langsung,
yang terkandung dalam dukungan sosial.
misalnya bantuan peralatan, pekerjaan,
Pertama,
dan keuangan.
dukungan
emosional
yang
adanya
keakraban
dan
Dua pendapat di atas intinya
penerimaan yang memberi keyakinan;
mengandung kesamaan, sehingga dapat
kedua, dukungan sosial yang berwujud
disimpulkan
atau memberi pelayanan dan bantuan
dukungan sosial bentuknya merupakan
secara langsung; dan ketiga, dukungan
bantuan
informasi
penghargaan, informatif, dan instrumen
melibatkan
yang
nasihat,
meliputi
pemecahan
pemberian
masalah
bahwa
yang
aspek-aspek
bersifat
emosional,
yang
yang diberikan bagi individu agar dapat
dihadapi individu, dan penilaian terhadap
memecahkan masalah yang dihadapi.
perilaku individu.
Dalam
penelitian
ini
aspek-aspek
House (dalam Cohen dan Syme,
dukungan sosial dari House yang penulis
1995) membagi dukungan sosial atas
refleksikan dalam butir-butir pernyataan
empat
dukungan
skala penelitian.
emosional
Hipotesis
aspek,
emosional.
merupakan
yakni
a)
Dukungan
bentuk
dukungan
sosial
Dari uraian teori diatas di ajukan
berupa empati, kepedulian dan perhatian
hipotesis sebagai berikut :
terhadap orang yang bersangkutan; b)
Ada
dukungan
dukungan sosial dengan psychological
penilaian/penghargaan.
Dukungan
dukungan
penilaian
sosial,
well being
yang
positif
antara
anak korban sexual abuse
ungkapan
dengan asumsi bahwa semakin baik
hormat secara positif kepada seseorang,
dukungan sosial maka semakin baik
dorongan untuk maju atau persetujuan
psychological well being anak, dan
dengan gagasan atau perasaan individu
sebaliknya semakin tidak baik dukungan
dan
sosial
perbandingan
berupa
merupakan
hubungan
positif
seseorang
dengan orang-orang lain; c) dukungan
informatif.
merupakan
berupa
Dukungan
bentuk
pemberian
informatif
dukungan
sosial
nasehat,
saran,
petunjuk-petunjuk, dan umpan balik; d)
dukungan
instrumental
instrumental.
merupakan
Dukungan
bentuk
maka
semakin
tidak
baik
psychological well being anak.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada 32
orang remaja korban sexual abuse.
Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Analisis
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
84
Korelasi Product Moment dari Pearson.
Teknik analisis data ini digunakan dalam
upaya mengungkap hubungan antara satu
variabel bebas, yakni dukungan sosial,
dan
satu
variabel
terikat,
yakni
Psychological Well Being.
Bedasarkan
hasil
Tabel 1
Rangkuman Hasil Analisis Korelasi
Product Moment
Statis
tik
Koefisi
en (rxy)
X–
Y
0,679
Koef.
Det
(r2)
0,461
p
BE
%
Ket
0,017
59,
5
S
perhitungan
Analisis Korelasi Product Moment, dapat
HASIL DAN PEMBAHASAN
hubungan
Hasil penelitian ini membuktikan
positif yang signifikan antara dukungan
bahwa terdapat hubungan positif yang
sosial dan Psychological Well Being.
signifikan antara dukungan sosial dengan
Hasil ini dibuktikan dengan koefisien
Psychological Well Being. Hasil ini
korelasi rxy = 0,679 ; p < 0,050. Hasil ini
dibuktikan dengan koefisien korelasi rxy =
mengartikan
tinggi
0,679 ; p < 0,050. Dengan demikian
dukungan sosial maka akan semakin
maka hipotesis yang telah diajukan dalam
tinggi
penelitian
diketahui
bahwa
terdapat
bahwa
semakin
Psychological
Well
Being
,
ini,
dinyatakan
diterima,
sebaliknya, semakin rendah dukungan
dimana semakin tinggi dukungan sosial
sosial
rendah.
maka Psychological Well Being akan
Dengan
semakin tinggi dan semakin rendah
maka
akan
semakin
Psychological Well Being.
demikian maka hipotesis yang telah
dukungan sosial, maka
Psychological
diajukan dalam penelitian ini, dinyatakan
Well Being akan semakin rendah.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
diterima.
Koefisien determinan (r2) dari
penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
hubungan di atas adalah sebesar r2 =
Tusya’ni (2014) yang
0,461 ini menunjukkan
Psychological
bahwa kesejahteraan psikologis pada
Well Being di bentuk atau dipengaruhi
ibu bekerja tergolong tinggi. Tingginya
oleh Dukungan Sosial sebesar 46,1%.
kesejahteraan psikologis tersebut salah
Tabel berikut merupakan rangkuman
satunya
hasil perhitungan r product moment.
sosial
tinggi
menunjukkan
disebabkan oleh
yang
pula.
dirasakan
dukungan
ibu
Kondisi
bekerja
tersebut
menunjukkan bahwa ibu bekerja tidak
terbebani dengan masalahmasalah peran
ganda, karena dukungan sosial yang ibu
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
85
bekerja dapatkan cukup memadai, dengan
dipengaruhi
Koefisien
kualitas
hubungan
remaja
dengan
dukungan
(p<0,05) menunjukkan bahwa hipotesis
keluarga dan lingkungan,
terutama
yang menyatakan ada hubungan positif
dengan orang tua (Shek, 1997; Sastre &
antara
dengan
Ferriere, 2000; Van Wel, Linssen &
diterima.
Abma, 2000; Kef & Dekovic, 2004).
korelasi
sebesar
dukungan
kesejahteraan
0,494
sosial
psikologis
oleh
tersebut
Sumbangan efektif variabel dukungan
Anak-anak
yang
ditinggalkan
orang
sosial terhadap kesejahteraan psikologis
tuanya karena menjadi buruh migran,
adalah sebesar 24,4%.
cenderung kehilangan kedekatan, baik
Kemudian Graham dan Jordan
secara geografis maupun emosi dengan
(2011), mengungkap adanya perbedaan
orangtuanya serta tidak mendapat kontrol
pada anak- Psychological well being anak
dari lingkungan sekitarnya (Orrelana et
korban sexual abuse dari keluarga dengan
al., 2001).
anak-anak yang memiliki perhatian dan
Sebuah studi yang dilakukan oleh
dukungan dari orang tua, masyarakat,
Aizer (dalam Saeroni, 2011) terhadap
lembaga
serta
anak berusia 5 hingga 14 tahun yang
lingkungan. Anak-anak dari keluarga
kurang mendapat dukungan dan perhatian
yang tidak perduli cenderung mengalami
secara sosial dari orang tua maupun
gejala depresif dan memiliki tingkat
lingkungan
Psychological well being
yang lebih
memperlihatkan kenakalan, penggunaan
rendah,
berperilaku
obat dan alkohol, dan bermasalah di
destruktif seperti melakukan kekerasan
sekolah. Peran dukungan sosial menjadi
di
sangat
pemerhati
mereka
sekolah, putus
membolos,
sosial,
juga
sekolah, perilaku
kebut-kebutan,
dimana
penting
individu
ketika
tinggal,
anak-anaknya
merokok,
berusia remaja, terutama ketika anak
penyalahgunaan narkoba, mengkonsumsi
memasuki periode remaja awal; yang
minuman keras, seks bebas (Dacey &
memberikan kesempatan mereka untuk
Kenny, 1997; Lazarry, 2000), hingga
tumbuh, tidak hanya dalam dimensi fisik,
menarik diri dari lingkungan (Feldman,
tetapi juga dalam kompetensi kognitif
2009; Buist et al., 2004). kesejahteraan
dan sosial, otonomi, harga diri, dan
psikologis merupakan sebuah gagasan
keintiman. Karena menghadapi berbagai
yang dianggap relatif kompleks (Ryff,
perubahan yang terjadi secara bersamaan,
1989; Rathi & Rastogi, 2007), yaitu
mereka membutuhkan bantuan dalam
keadaan psikologis yang memang sangat
menjalani masa ini (Feldman, 2009;
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
86
Weiner, 1992; Rönkä, & Pulkkinen,
adalah dukungan sosial (Ryff &Keyes
1995, dalam Faturahman, 2012)
1995).Dukungan sosial adalah kehadiran
pada
salah
Penelitian ini lebih difokuskan
orang lain yang dapat membuat individu
faktor dukungan sosial sebagai
percaya
satu
penyebab
terjadinya
bahwa
dirinya
dicintai,
diperhatikan, dan merupakan bagian dari
Psychological Well Being, bila korban
kelompok
mendapatkan
yang
Dukungan ini dapat berasal dari berbagai
datang dari keluarga dan orang-orang
sumber diantaranya orang yang dicintai
disekitarnya,
merasa
seperti orang tua, pasangan, anak, teman,
terkucil dan terpisah dari kelompok,
dan kontak sosial dengan masyarakat
maka akan muncul rasa kecewa, bingung,
(Rietschlin,
kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut,
Menurut Teori selektivitas sosioemosi,
putus asa, ketergantungan, kekosongan,
sumber utama dukungan sosial bagi
dan kerinduan. Korban akan merasa
lansia, mengutamakan kontak dengan
seperti remaja lain yang tidak terlihat
individu
cacat cela oleh masyarakat sehingga ia
menyenangkan seperti pasangan, anak,
mampu memiliki Psychological well
dan teman, sehingga lansia lebih selektif
being.
dalam memilih jaringan sosialnya karena
dukungan
korban
Psychological
merupakan
sebuah
sosial
tidak
hubungan
remaja
dalam
yang
2009)
Taylor,
sudah
2009).
dikenal
dan
being
mereka sangat mementingkan kepuasan
gagasan
yang
emosional (Cartensen, dalam Santrock,
2012).
yaitu keadaan psikologis yang memang
dipengaruhi
(Taylor,
well
dianggap relatif kompleks (Ryff, 2007),
sangat
sosial
oleh
kualitas
tersebut
dalam
Individu
membangun
dan
memelihara hubungan sosial, sehingga
membuat
mereka
untuk
memilih
keluarga, orang tua dan lingkungannya.
dukungan sosial yang berbeda untuk
Psychological well being dapat dicirikan
fungsi yang berbeda, misalnya, orang-
sebagai indikator fungsi mental yang
orang tertentu yang diandalkan untuk
baik. Psychological well being sebagai
dukungan emosional, sementara yang lain
suatu dorongan untuk menggali potensi
untuk dukungan instrumental. Dukungan
diri individu secara keseluruhan agar
empiris untuk model konvoi sosial secara
dapat mencapai kesuksesan.
jelas
Salah
mendukung
satu
faktor
psychological
mengidentifikasi
pentingnya,
yang
melihat sumber yang berbeda dalam
well-being
dukungan sosial yang berkaitan dengan
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
87
usia karena kualitas dukungan sosial pada
penelitian
lansia meningkat seiring waktu (Kahn &
dimana semakin tinggi dukungan sosial
Antonucci, dalam Gurung, Taylor, &
maka akan semakin tinggi Psychological
Seeman, 2003). Kualitas hubungan telah
well being dan sebaliknya semakin
terbukti mempengaruhi tingkat depresi,
rendah dukungan sosial maka akan
well-being dan kualitas hidup (Antonuci
semakin
& Akiyama, dalam Chen & Miller,
being.
2002), sehingga sumber dukungan yang
ini,
dinyatakan
rendah
diterima,
Psychological
well
Dukungan sosial yang diterima
berbeda menyebabkan well-being pada
oleh
remaja
korban
sexual
abuse
lansia juga berbeda.
memberikan pengaruh sebesar 46,1%
Melihat pengaruh dari dukungan
terhadap. Psychological well beingnya.
sosoal terhadap Psychological well being
Berdasarkan hasil penelitian ini maka
sebesar 46,1%, ini berarti masih terdapat
diketahui bahwa masih terdapat sebesar
53,9% pengaruh dari faktor lain, dimana
53,9% peranan dari faktor lain terhadap
faktor-faktor lain tersebut tidak dilihat
Psychological
dalam penelitian ini, yaitu: perbedaan
dimana faktor-faktor lain tersebut dalam
jenis
pendidikan,
penelitian ini tidak dilihat, diantaranya
pendapatan, pernikahan, kepuasan kerja,
adalah: perbedaan jenis kelamin, usia,
kesehatan, agama, waktu luang, peristiwa
pendidikan,
dalam
kepuasan kerja, kesehatan, agama, waktu
kelamin,
hidup,
usia,
kemampuan
atau
kompetensi, dan kepribadian.
luang,
well
being
pendapatan,
peristiwa
kemampuan
PENUTUP
kepribadian
Kesimpulan
Saran
atau
tersebut,
pernikahan,
dalam
hidup,
kompetensi,
dan
Berpedoman pada hasil-hasil dan
Berdasarkan hasil penelitian telah
pembahasan yang telah dibuat, maka
diketahui bahwa sumbangan dukungan
dapat
social
disimpulkan
bahwa
erdapat
sangat
berpengaruh
terhadap
hubungan positif yang signifikan antara
Psychological well being remaja korban
dukungan sosial dengan Psychological
sexual abuse maka di sarankan kepada
well being. Hasil ini dibuktikan dengan
keluarga yang memiliki anak remaja
koefisien korelasi rxy = 0,679 : p = 0,017;
korban
p < 0,050. Dengan demikian maka
memberikan dukungan terhadap korban.
sexual
hipotesis yang telah diajukan dalam
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
abuse
untuk
selalu
88
Kepada
seluruh
masyarakat
setempat untuk lebih turut berperan serta
untuk
melakukan
pengembangan
tindakan
psikologis
terhadap
korban sexual abuse, dan mengingat
kecenderungan
meningkatnya
kasus
sexual abuse maka disarankan kepada
masarakat
luas
untuk
lebih
perduli
terhadap gejala terjadinya sexual abuse.
Disarankan
kepada
peneliti
selanjutnya untuk dapat mencari dan
meneliti
faktor-faktor
lain
yang
berpengaruh terhadap Psychological well
being, dimana faktor-faktor lain tersebut
dalam
penelitian
diantaranya
adalah:
ini
tidak
perbedaan
dilihat,
jenis
kelamin, usia, pendidikan, pendapatan,
pernikahan, kepuasan kerja, kesehatan,
agama, waktu luang, peristiwa dalam
hidup, kemampuan atau kompetensi, dan
kepribadian
DAFTAR PUSTAKA
Arief Gosita. 2013. Masalah Korban
Kejahatan (Kumpulan karangan),
Edisi Kedua, Jakarta: Akademika
Pressindo.
Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek (Edisi
Revisi) Jakarta: Rineka Cipta.
Candra, I.W. 2002. Hubungan antara
Dukungan Sosial dan Harga Diri
dengan Depresi pada Penderita
Kanker. (Tesis) Yogyakarta: Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Flannery, R. B. (2009). Psychological
Trauma and Post Traumatic Stress
Disorder: A Review. International
Journal of Emergency Mental
Health. 1 (2)
Joni, Muhammad. 2011. Hentikan
Kekerasan terhadap Anak Sekarang
(online)
tersedia:http://www.medanbisnisdail
y.com (akses 4/4/2011)
Kurniawati. Y. 2000. Dukungan Sosial,
Harga Diri & Optimisme pada
Mahasiswa
Baru.
(Skripsi).
Yogyakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Mboiek, P. B. 1992. Pelecehan seksual
suatu
bahasan
psikologis
paedagogis, makalah dalam Seminar
Sexual Harassment, Surakarta 24 Juli
(Surakarta: Kerjasama Pusat Studi
Wanita Universitas Negeri Surakarta
dan United States Information
Service).
Poerwandari, E. K. 2000. Kekerasan
Terhadap Perempuan: Tinjauan
Psikologi Feministik, Dalam Sudiarti
Luhulima
(Ed)
“Pemahaman
Bentuk-Bentuk Tindak Kekerasan
Terhadap
Perempuan
Dan
Alternative Pemecahannya” Jakarta:
Kelompok kerja “convention watch”
Pusat Kajian Wanita dan Gender,
Universitas Indonesia
M. Ali Chasan Umar. 2008. Kejahatan
Seks dan Kehamilan Di Luar Nikah,
Cetakan 1, Jakarta: CV Panca
Agung.
Ryff, C. & Keyes, C. 2011. The structure
of psychological well-being revisited.
Journal of Personality and Social
Psychology, 69: 719-727.
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
89
Santrock, W. J. 2002. Life span
development (9th ed.). New York:
Mc Grow Hill Company.
Sarason, B. R., Sarason, I. G., & Pierce,
G. R. 1990. Social support: An
interactional view. Canada: A Wiley
Interscience Publication.
Sears, D. O., Freedman, J. L., & Peplau ,
L. A. (1985). Psikologi sosial (jilid
1). Jakarta: Penerbit Erlangga.
Smet, B. 1994. Psikologi kesehatan.
Jakarta: PT Grasindo.
Smith, J. 2004. Social support: key to
psychological wellbeing among
rural, low Income mothers. Makalah
disampaikan pada Seminar Family
Policy Impact, University of
Maryland, USA.
Saeroni, Muhammad 2011. Fenomena
Anak Sebagai Pelaku Kekerasan
(Online). Tersedia:
http://sahabatperempuan.wordpress.c
om. (akses: 25/3/2015)
Sisca, H., & Moningka, C. 2013.
Resiliensi perempuan dewasa muda
yang pernah mengalami kekerasan
seksual di masa kanak-kanak. Jurnal
Proceeding
PESAT
(Psikologi,
Ekonomi, Sastra, Arsitektur & Sipil)
Vol : 3 Oktober 2009.
Solihin, L. 2006. Tindakan Kekerasan
pada anak dalam keluarga. Jurnal
Pendidikan Penabur – no. 03 (.III).
Suara Merdeka. 2015. Tahun 2014,
Terjadi 27 Kasus Perkosaan. Suara
Merdeka, 5 Januari 2015.
Sulistyaningsih, E., & Faturochman 2012.
Dampak sosial psikologis perkosaan.
Buletin Psikologi, Tahun X, No. 1,
Juni 2002, 9-23. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015
Download