Telisik Ilmiah ”Gamelan Minangkabau”

advertisement
24
KO M PA S, S A B T U, 3 S E P T E M B E R 2 01 6
Akhir Pekan Buku
Telisik Ilmiah
”Gamelan Minangkabau”
Publikasi ilmiah
internasional tentang alat
musik idiophone Indonesia
selain gamelan Jawa dan
Bali boleh dibilang masih
langka. Karena itu,
terbitnya buku yang
membahas talempong
Minangkabau dapat
dianggap istimewa.
OLEH SURYADI
M
inat Jennifer yang kini menjadi
associate professor etnomusikologi dan antropologi di Oberlin College Ohio pada musik talempong
relatif agak menyimpang dari kecenderungan umum sarjana asing yang biasanya lebih tertarik meneliti ”paradoks”
sistem kekerabatan matrilineal dan agama Islam di Minangkabau.
Buku ini berasal dari disertasi penulisnya berjudul Packaging Ethnicity:
State Institutions, Cultural Entrepreneurs, and the Professionalization of Minangkabau Music in Indonesia (2007).
Dilengkapi dengan contoh-contoh video,
audio, dan foto-foto yang tersedia secara
online, buku ini menganalisis transformasi musik talempong yang sejak 60
tahun terakhir telah mengalami perubahan sebagai respons terhadap berbagai kekuatan di luarnya, termasuk
kompleksitas peristiwa politik, pelembagaan (institusionalisasi), profesionalisasi kesenian, dan tekanan-tekanan dari sistem ekonomi pasar bebas.
Dalam tulisan yang terbagi dalam
enam bab, Jennifer memetakan talempong dalam konteks nagari, unit geopolitik tradisional Minangkabau yang
independen. Kemudian menelusuri lebih jauh permainan musik talempong
secara tradisional dan konteks sosialbudaya masyarakat Minangkabau dan
meneropong fenomena monetisasi talempong yang telah mendorong munculnya kreasi-kreasi baru musik ini.
Berbagai pertunjukan talempong kreasi baru ini kemunculannya merupakan
konsekuensi logis dari fenomena institusionalisasi terhadap musik ini. Talempong diatonik pada awalnya merupakan eksperimen yang dilakukan
oleh para dosen ISI Padang Panjang
(ketika masih bernama ASKI) yang kemudian melahirkan orkes talempong.
Tetap berfokus pada talempong diatonik kreasi baru, Jennifer menganalisis bagaimana pasar membentuk dan
menghidupkan baik genre-genre kesenian tradisional maupun kreasi-kreasi
baru; atau bisa dirumuskan secara sebaliknya: bagaimana kesenian dimodifikasi dan dibentuk untuk disesuaikan
dengan kehendak pasar dan kehendak
khalayak pembayar.
Transformasi talempong
Pada bab kesimpulan, Jennifer merangkum efek musikal dan kultural dari
transformasi talempong akibat terjadinya institusionalisasi, profesionalisasi,
dan monetisasi kesenian tradisional di
Indonesia. Ada dua poin penting yang
dikemukakannya dalam bab pemungkas
ini.
Pertama, pengajaran kesenian tradisional Minangkabau melalui institusi-institusi pendidikan formal telah menurunkan kualitasnya. Tujuan pelestarian yang dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan seni di Sumatera Barat
justru membawa kesenian tradisional
itu ke arah sebaliknya: lembaga-lembaga
pendidikan seni, seperti ISI Padang Panjang, justru melemahkan musik talempong itu sendiri (juga genre-genre lainnya) ketimbang memperkuat atau melestarikannya.
Menurut Jennifer, hal itu secara tidak
disadari terjadi melalui empat cara. Pertama, dengan mendekontekstualisasikan genre-genre kesenian tradisional itu
dan mengeluarkannya dari sistem nilai
asli yang semula melekat padanya. Kedua, dengan menerapkan pendekatan
pedagogis dalam pengajaran kesenian
tradisional yang berakibat mencair atau
menipisnya kandungan estetisnya. Ketiga, dengan memproduksi kelas musisi
kampus yang cenderung mengabaikan
atau memandang rendah praktik-praktik musik para seniman tradisional di
kampung-kampung dan memarjinalkan
posisi seniman-seniman tradisi tersebut. Terakhir, dengan mendorong perkembangan kesenian tradisional melalui
bentuk-bentuk ekspresi baru yang namanya otomatis diidentikkan dengan
para musisi kampus itu.
Berbeda dengan pandangan penulis
buku ini tentang adanya efek ”negatif”
dari institusionalisasi kesenian daerah di
sejumlah lembaga pendidikan seni, saya
sendiri justru melihat bukan tidak ada
efek positif yang ditimbulkannya. Pembaruan-pembaruan musikal mengingatkan orang kepada versi tradisional atau
yang aslinya. Penampil (performer) tradisional tetap punya ruang kreasi sendiri
di samping timbalan (counterpart) mereka yang membuat kreasi-kreasi baru.
Dinamika kesenian daerah tidak mungkin dapat dihambat: ia berubah mengikuti perubahan lingkungan geografis
dan masyarakatnya.
Kedua, transformasi talempong telah
mengubah musik ini dari sekadar penanda identitas sub-lokal yang semula
hanya asosiatif dengan nagari menjadi
penanda identitas etnik yang mewakili
Minangkabau secara keseluruhan. Sebagai simbol etnis yang bersifat pan-Minangkabau (supra nagari), fungsinya
sama dengan lagu pop Minang, sebagaimana telah saya bahas dalam disertasi saya, The Recording Industry and
’Regional’ Culture in Indonesia: The Case
of Minangkabau (Leiden University,
2014). Berbagai kreasi baru musik talempong tersebut telah ikut mendorong
meningkatnya kepekaan etnik (ethnic
sensibilities), dalam konteks ini: perasaan keminangan.
Membaca buku ini jelas memperkaya
pengetahuan kita tentang dinamika kesenian tradisional yang terjadi di Indonesia di masa kontemporer ini. Apa
yang terjadi pada ”gamelan Minangkabau” di Sumatera Barat ini boleh jadi
mewakili keadaan musik tradisional di
banyak daerah lainnya di Indonesia.
Serbuan budaya asing telah mempengaruhi kesenian daerah, mengubah
strukturnya, dan juga persepsi masyarakat terhadapnya.
Satu pertanyaan yang tidak ditemukan jawabannya dalam buku ini, yaitu
mengapa musik talempong yang cen-
SENI RUPA
Yang Kecil dan yang Feminin
OLEH THOMAS PUDJO WIDIJANTO
B
ayangan lukisan berukuran besar
langsung sirna saat memasuki ruang pameran dua perupa perempuan, Bunga Jeruk dan Feintje Likawati,
di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Karya rupa kecil-kecil yang dipamerkan 14
Agustus-14 September 2016 itu justru
menawarkan alternatif baru dalam
panggung pameran seni rupa Indonesia.
Dua perupa Yogyakarta, Bunga Jeruk
dan Feintje, bukanlah perupa kemarin
sore dalam tataran estetika seni rupa di
Tanah Air. Keduanya sudah sangat berpengalaman, bagaimana membangun sikap kesenimannya. Karena itu, pemilihan berpameran ukuran di bawah 50
cm tentu tak lepas dari kedewasaan
strategi bagaimana harus bersikap dalam
membangun profesi.
Bolehlah karya mereka kecil-kecil,
tetapi penggambaran kekuatan kedua
perupa dalam membangun konsep karya
terasa sekali. Bunga Jeruk mampu menunjukkan teknik pewarnaan yang begitu eksploratif. Demikian pula Feintje
karya-karya drawing-nya, menunjukkan
kematangannya dalam membangun dasar karya lukis yang tak lagi konvensional.
Karya Bunga Jeruk berjudul ”Boldfish”, misalnya menyuguhkan kontroversi perangai binatang kucing dan ikan.
Ikan bersayap yang berwarna kuning itu,
dengan riang berenang dalam air yang
berwarna padat biru tua bagian bawah
dan biru muda di bagian atas. Tanpa rasa
takut ikan itu berenang di dekat kucing
berwarna hitam legam.
Mata kucing membelalak dalam dua
warna, kelopak mata hitam dengan dikitari warna hijau dan kuning dan bibir
warna merah muda. Kucing yang berwajah sangar, ikan yang bergembira,
ketika dipandang secara keseluruhan,
bukan menjadi kisah pemangsaan, tetapi
justru tampak adanya harmoni dalam
tata warna gambar yang ceria.
Demikian halnya karya berjudul ”Black Cat”. Kucing hitam yang dalam keyakinan Jawa sering dipahami sebagai
binatang mistis dan angker. Di atas kepala kucing hitam bertengger burung
berwarna putih cantik, indah. Bukan
kucing memangsa burung itu, tetapi burung itu seperti terlindungi oleh si kucing.
Kehidupan fauna darat dan air hampir mendominasi keseluruhan karya Bunga Jeruk, yang disatukan dalam latar
belakang air atau langit dalam tata warna
biru muda dan biru tua. Tampak sekali
terbaca seluruh karya yang dipamerkan
Bunga Jeruk merupakan satu tarikan
benang merah dalam tema kehidupan
yang disuguhkan dengan segar.
KOMPAS/THOMAS PUDJO WIDIJANTO
Karya Bunga
Jeruk berjudul
”Dreamer”
Karyanya berjudul ”Dreamer” seperti
menggambarkan kerinduan seorang perempuan akan kasih sayang. Perempuan
berbadan putih mulus dengan latar belakang warna hitam pekat. Di atas kepala
perempuan itu bertaburan berbagai bentuk bunga, bunga cinta atau bunga kasih
sayang berwarna merah. Bentuk-bentuk
bunga kasih sayang yang bermacam-macam itu seolah menunjukkan bahwa
makna kasih sayang itu tidak tunggal.
Bukan beban
Karya Bunga Jeruk memang tidak
senapas dengan karya Feintje. Perempuan yang pernah satu kos saat berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI)
Yogyakarta ini lebih membidik figur-figur realis baik yang berupa profil wajah
atau lengkap dengan tubuhnya.
Namun, jika dilihat pesan yang hendak disampaikan, keduanya ingin bertutur. Berbicara tentang apa yang dilihat
di sekelilingnya, yang pasti tentang manusia.
Seperti mendongeng tentang kultur
Bali lewat karyanya berjudul ”Balinesse
Boy”, Feintje menggambar profil seorang remaja Bali berpakaian adat lengkap dengan aksesoris kepala. Dari coraknya, jelas tampak pakaian adat klasik.
Feintje seperti ingin berbicara ada perubahan yang berjalan dalam pakaian
adat Bali.
Dalam seri karyanya berjudul
”Freindship” I, II, III, dan IV menegaskan Fientje memang ingin menunjukkan profil atau sosok manusia Indonesia lengkap dengan pakaian khas-
nya. Termasuk karyanya berjudul ”Lotus”, berupa bunga lotus yang menaungi
sosok perempuan, juga ingin menunjukkan bahwa lotus memiliki makna
kultural di beberapa daerah, termasuk di
dalamnya Bali.
Melukis dengan ukuran kecil antara
25 x 25 cm sampai 25 x 35 cm memang
menjadi niatan keduanya dalam pameran kali ini. ”Biasanya saya melukis dengan ukuran besar dan bisa berbulan-bulan baru selesai. Untuk pameran
di Sangkring ini, saya ingin melukis
dengan lebih fun, lebih bebas, dan santai,
yang bukan berarti seenaknya. Kita harus benar-benar cermat, mengapa melukis obyek tertentu yang terlalu sederhana, harus dilukis dalam ukuran
besar,” kata Bunga Jeruk.
Akan sangat berarti jika dengan kanvas ukuran kecil, semua obyek bisa dilukis. Ada obyek tertentu yang hanya
menarik secara visual, artinya tidak ada
visi dan misi tertentu yang ingin disampaikan. Hanya sekadar melukis obyek yang dipandang indah. ”Katakanlah,
obyek itu terlalu ’ringan’ untuk kanvas
ukuran besar, kanvas ukuran kecil, itu
tidak menjadi masalah,” katanya.
Menurut Bunga Jeruk lukisan besar
terlalu memerlukan space yang besar
juga. Lukisan kecil terasa lebih intim
interaksinya dengan penikmat, karena
harus dilihat lebih dekat. ”Kalo lukisan
besar, justru harus dilihat dari jauh,”
katanya.
Hampir semua karya Bunga Jeruk
memang menunjukkan sebuah harmoni
kehidupan, meski harmoni itu hanya
sebuah impian atau ilusi sekali pun.
Bukan hanya harmoni makna, tetapi
juga harmoni tata warna. Karena itu,
lukisan Bunga Jeruk yang kenes (cantik
menggemaskan) ini juga menarik ditonton remaja-remaja SMP atau SD karena kagum pada figurnya yang menyerupai vignette.
Perupa Putu Sutawijaya yang juga
pemilik Sangkring Art Space menyatakan, pameran dua perupa perempuan
yang berukuran kecil-kecil itu justru
menimbulkan inspirasi adanya alternatif
baru dalam panggung pameran seni rupa
Indonesia.
”Terkadang pameran, apalagi pameran tunggal selalu terbebani mimpi-mimpi besar yang malah menjadi penghambat terpenuhinya sebuah keinginan berekspresi. Pameran lukisan sebenarnya
tidak perlu dengan karya-karya ukuran
besar. Meski kecil kalau memberi sentuhan, mengapa tidak? Besar kecil
ukuran jangan memberi beban berekspresi,” kata Putu. Pada akhirnya, apa
yang ditampilkan dua perupa ini, bisa
disebut sebagai yang kecil dan feminin,
serta menaburkan keindahan yang meneduhkan.
RAGAM PUSTAKA
Hikayat Musik Tradisional Jawa
I
 Judul: Gongs & Pop Songs: Sounding
Minangkabau in Indonesia
 Penulis: Jennifer A. Fraser
 Penerbit: Ohio University Research in
International Studies, Ohio University
Press
 Cetakan: I, 2015
 Tebal: xv + 270 halaman
 ISBN: 978-0-89680-294-0
derung menghadirkan suasana ceria bisa
eksis dalam kultur musik Minangkabau
yang cenderung melankolis dan menonjolkan kesedihan? Irama musik yang
identik dengan darek (pedalaman Minangkabau) ini ”kebanyakan menimbulkan rasa kegembiraan dan semangat
bekerja” (lihat: ”Seni Suara Minangkabau”, dalam Z. Moechtar & Aman St.
Sinaro, Pantjaran Budaja: Buku batjaan
mengenai kebudajaan dan kemasjarakatan untuk Sekolah2 Landjutan Bagian
Atas di Indonesia (S.M.A., S.G.A., S.M.E.,
dan lain-lain). Djakarta: Penerbit ”Siliwangi” N.V., 1953: 64)
Gongs & Popsongs adalah buku yang
kaya secara akademis. Dengan analisis
dan interpretasi yang mendalam, buku
ini jelas merupakan sebuah sumbangan
ilmiah yang penting untuk memahami
dinamika kesenian lokal Indonesia di
zaman kontemporer. Ia merupakan salah satu rujukan ilmiah yang berharga
untuk studi etnomusikologi dan etnografi mengenai musik daerah di Indonesia.
SURYADI
Dosen dan Peneliti di Leiden Institute for Area Studies (LIAS),
Universiteit Leiden, Belanda
nteraksi yang berlangsung lama antara orang Jawa dan orang
asing mengakibatkan transformasi kebudayaan dan membentuk tradisi Jawa yang kompleks. |Termasuk musik tradisionalnya.
Dalam publikasi berjudul Gamelan, Interaksi Budaya dan
Perkembangan Musikal di Jawa (Pustaka Pelajar, 2003), Sumarsam membagi tiga babak pertemuan kebudayaan Jawa
dengan kebudayaan asing. Era itu adalah Jawa-Hindu, Jawa-Islam, dan Jawa-Barat yang mengiringi perkembangan musik tradisional Jawa.
Sejarah musik Jawa dapat ditelusuri dari periode awal
kerajaan Hindu di Jawa Tengah (abad ke-8 sampai abad ke-10),
meski fakta-fakta musikal pada periode ini langka. Memasuki
periode Jawa-Islam (abad ke-15), keterbukaan orang Jawa
terhadap musik dan tari-tarian dilestarikan oleh sufisme.
Menurut sufisme, musik dan tari-tarian dapat dipakai
sebagai sarana untuk bersatu dengan Tuhan.
Interaksi budaya Jawa dan Barat berawal saat pelaut Eropa
singgah di pantai Jawa pada akhir abad ke-16. Mereka memainkan
musik untuk penguasa setempat. Masuknya musik Eropa tahap
kedua terjadi saat para pedagang Portugis mengenalkan musik
mereka yang dimainkan oleh budak-budak asal India, Afrika, dan
Asia Tenggara.
Setelah perang besar di Jawa pada 1825-1830, watak asli
kolonial mulai muncul, berupa eksploitasi dan kontrol Belanda di
Nusantara sampai abad ke-20. Pada era itu jalinan erat antara
penguasa Belanda dengan para bangsawan Jawa turut memengaruhi budaya adiluhung Jawa. Seperti musik orkestra yang
dimainkan bersama alunan gending Jawa di keraton
(TGH/LITBANG KOMPAS)
Jejak Kesenian Tradisional Banten
D
alam ranah etnomusikologi, studi musik terfokus pada
musik sebagai obyek yang terkait dengan kebudayaan di
mana musik tersebut diproduksi. Wacana soal musik
tradisional sebagai salah satu aktivitas kesenian, harus kembali
pada kebudayaan sebagai induk wacana.
Purwo Rubiono dalam buku berjudul Misteri Pelog dan
Slendro, Studi Musik Pentatonis di Banten (Dinas Pendidikan
Provinsi Banten, 2012) menulis, diskusi soal nada pentatonik
harus dikaitkan dengan gamelan. Bunyi gamelan, seperti yang
ditemukan di Jawa, Madura, dan Bali, menghasilkan 5 tangga
nada (pentatonik) asli Indonesia, yakni pelog dan slendro.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan sejumlah
tokoh/pelaku kesenian tradisional Banten, Purwo menemukan
jejak kesenian tradisional Banten yang masih hidup hingga kini.
Sisa-sisa kesenian tradisional itu sulit dipublikasikan karena
belum dilakukan penelitian mendalam. Sehingga Banten hanya
dikenal dari debusnya saja.
Adapun jejak kesenian dan kebudayaan Banten itu, antara lain
Angklung Buhun (alat musik dari bambu yang berukuran lebih
besar dari angklung biasa), Suling Buhun (alat tiup dari bambu),
Calung Renteng (kumpulan bambu yang diikat dengan tali), dan
Ubrug (seni pertunjukan yang diiringi gamelan berlaras slendro,
lengkap dengan penari dan sinden).
Merujuk pada keberadaan suku Baduy, maka Angklung Buhun
adalah alat musik asli Banten. Usianya sama dengan usia
masyarakat Baduy beserta aktivitas pertaniannya. Angklung
Buhun yang berlaras slendro, di Kanekes dimainkan dalam satu
rangkaian ngaseuk (ritual menanam padi).
(TGH/LITBANG KOMPAS)
Download