Nemo Dat Rule dalam Putusan Mahkamah Agung Republik

advertisement
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Bab ini sesuai dengan judul di atas, akan dikemukakan suatu tinjauan
kepustakaan atas kaedah nemo dat rule. Tujuan dari pemaparan kepustakaan yang
membicarakan mengenai nemo dat rule yang merupakan asas hukum perdagangan
internasional yang menjadi fokus dari penelitian ini adalah untuk memperoleh
gambaran konsepsional, yakni suatu kerangka analisis mengenai nemo dat rule.
Dengan kerangka analisis nemo dat rule tersebut, diperoleh suatu alat bedah
terhadap Putusan 1887, Putusan yang diuraikan di Bab III. Disamping itu, studi
kepustakaan ini juga akan memberikan suatu jawaban awal, jawaban konsepsional
terhadap pertanyaan dalam rumusan masalah penelitian dan penulisan karya tulis
ilmiah ini; yaitu bagaimana nemo dat rule dalam Putusan Mahkamah Agung
Republik Indonesia No. 1887 K/PDT/1986.
Mencapai tujuan tersebut di atas, Bab ini dipilah ke dalam lima Sub Bab.
Sub Bab yang pertama membicarakan tentang tinjauan umum transaksi
perdagangan internasional, Sub Bab kedua dikemukakan tentang hukum transaksi
perdagangan internasional, Sub Bab ketiga tentang hakikat dari nemo dat rule,
Sub Bab keempat dikemukakan tentang sejarah singkat keberadaan nemo dat rule
dan mengakhiri Bab ini Penulis kemukakan secara singkat tentang arti penting
studi kepustakaan, terutama arti penting untuk mengantisipasi apa yang dicapai
dalam bagian analisis di Bab III, yaitu menggambarkan jawaban atas pertanyaan
bagaimana keberadaan nemo dat rule dalam Putusan 1887.
17
2.1.
Tinjauan Umum Transaksi Perdagangan Internasional
Adapun pengertian dari transaksi perdagangan internasional atau disebut
juga dengan transaksi bisnis internasional adalah:
“...act of transaction or conducting any business; management;
proceeding; that which is done; an affair”. Kemudian
disebutkan “...it may involve selling, leasing, borrowing,
mortaging or lending... it must therefore consist of an act
agreement, or several acts or agreements, or several acts or
agreement having some connection with each other, in which
more than one person in concerned, and by which the legal
relations of such persons between themselves are altered...”
yang berkewarganegaraan berbeda.22
Menurut Jeferson Kameo dalam bukunya, ada
tiga cara dalam
mengidentifikasi suatu transaksi, apakah transaksi tersebut memiliki atau tidak
memiliki karakteristik atau ciri-ciri transaksi perdagangan internasional. 23 Cara
yang pertama, menitikberatkan pada perpindahan barang; cara yang kedua
memfokuskan diri kepada tempat kedudukan dari para pihak dalam suatu
transaksi; dan cara yang ketiga adalah cara penentuan karakteristik internasional
dari suatu transaksi yang menggabungkan antara cara yang pertama dengan cara
yang kedua, atau disebut juga dengan cara hibrida.24
Jual beli dalam arti khusus ialah jual beli perusahaan, dalam hal ini adalah
transaksi ekspor-impor. Transaksi ekspor-impor adalah transaksi perdagangan
internasional (international trade) yang sederhana dan tidak lebih dari membeli
dan menjual barang antara pengusaha-pengusaha yang bertempat di negara yang
22
Wyasa Putra I. D., Aspek-Aspek Hukum Perdata Internasional Dalam Transaksi Bisnis
internasional, Refika Aditama, Bandung, 2008, hlm., 2.
23
Jeferson Kameo, Op.Cit., hlm., 1.
24
Lihat penjelasan yang sama di Bab I, hlm., 2, Supra.
18
berbeda. 25 Dengan kata lain bahwa kegiatan ekspor impor merupakan jual beli
yang dilakukan secara internasional, artinya dilakukan antar negara.
Dalam jual beli perusahaan, yang dalam hal ini adalah ekspor impor,
terdapat ciri-ciri khusus. Kekhususan ini dapat ditelaah melalui unsur-unsur dalam
jual beli berikut ini: 26 Pertama, unsur subjek yang terdiri dari penjual dan
pembeli. Dua pihak dalam transaksi ini atau salah satunya adalah pengusaha, yaitu
perseorangan atau badan hukum yang menjalankan perusahaan. Kedua, unsur
obyek, yang terdiri dari benda dan harga. Benda adalah barang dagangan, yaitu
barang yang dibeli atau dijual lagi atau disewakan. Harga adalah nilai benda
sebagai imbalan yang dapat menghasilkan nilai lebih yang disebut keuntungan
atau laba. Sedangkan ketiga, adalah unsur perbuatan, terdiri dari menjual dengan
penyerahan dan membeli dengan pembayaran harga. Peyerahan barang dengan
menggunakan alat angkut khusus dan dengan syarat khusus pula. Pembayaran
biasanya dilakukan melalui bank dengan menggunakan dokumen-dokumen atau
surat-surat berharga. Untuk unsur tujuan, yaitu keuntungan atau laba yang
diperhitungkan.27
Ada berbagai motif atau alasan mengapa subjek hukum (pelaku dalam
perdagangan) melakukan transaksi perdagangan internasional. Diantaranya adalah
adakalanya produksi yang dihasilkan di suatu negara itu belum dapat dikonsumir
seluruhnya di dalam negeri dan ada pula yang masih memerlukan bantuan pihak
25
Roselyne Hutabarat, Transaksi Ekspor Impor, Erlangga, Jakarta, 1991, hlm., 1.
26
C. S. T. Kansil, Hukum Perusahaan Indonesia (Aspek Hukum dan Ekonomi) Bagian Dua, PT.
Pradnya Paramita, Jakarta, 2001, hlm., 7.
27
Ibid.
19
di negara lain untuk mengolahnya. Kemungkinan lain karena konsumsi di dalam
negeri sudah melebihi dari yang dibutuhkan, maka kelebihannya itu dapat
diekspor ke negara lain untuk memperoleh devisa.28
Selain itu, setiap negara berbeda dengan negara lainnya ditinjau dari sudut
sumber daya alamnya, iklimnya, letak geografisnya, penduduk, keahliannya,
tenaga kerja, tingkat harga, keadaan struktur ekonomi dan sosialnya. Perbedaanperbedaan tersebut menimbulkan pula perbedaan barang yang dihasilkan, biaya
yang diperlukan serta mutu dan kuantum barang yang dihasilkan. Sehingga ada
barang yang hanya dapat diproduksi dan dihasilkan di satu negara dan tidak dapat
dihasilkan oleh negara lainnya. Hal-hal demikian pula yang menyebabkan
terjadinya perdagangan antar negara satu dengan negara lainnya.29
Latar belakang adanya perdagangan internasional dilihat dari sudut legalitas
dapat dijelaskan bahwa perdagangan ekspor impor termasuk kegiatan yang
mengandung resiko tinggi, kerena eksportir dan importir berjauhan secara
geografis, berbeda bahasa, kebiasaan dan hukum dalam transaksi ekspor impor,
satu resiko yang dihadapi oleh ekportir adalah apabila terjadi penyimpangan
maupun pembatalan kontrak. Resiko tersebut dapat dihindari, apabila setiap
transaksi ekspor yang dilakukan, dituangkan dalam bentuk tertulis atau ke dalam
bentuk kontrak dagang (sales contract).
28
Hadisoeprapto Hartono., Kredit Berdokumen (Letter of Credit) Cara Pembayaran dalam Jual
Beli Perniagaan, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 1984, hlm., 1.
29
Ibid., hlm., 2.
20
Adapun tahap pelaksanaan kontrak dagang (sales contract) ada dua tahap,
yakni tahap awal perjanjian dan tahap terjadinya perjanjian.30 Pertama, tahap awal
perjanjian adalah tahap dimana terjadi penawaran produk yang dilakukan oleh
penjual (eksportir). Hal ini biasanya disertai dengan harga barang, mutu barang,
jumlah barang serta syarat-syarat lain yang biasanya disebut an inquiry for a
quotation. Apabila penawaran telah disetujui oleh Pembeli (importir), maka kedua
belah pihak mengikatkan diri untuk melakukan “perjanjian jual beli” dengan
syarat-syarat yang telah disepakati.31
Kedua, tahap terjadinya perjanjian merupakan tahap realisasi dari tahap
awal perjanjian. Dalam tahap ini dituangkan secara rinci dan tertulis tentang
segala sesuatu yang dianggap penting dalam transaksi ekspor impor. Sedangkan
yang sama dengan itu adalah realisasi dari perjanjian, yaitu pelaksanaan kontrak
suatu perdagangan internasional dan hal ini berarti melibatkan kepentingan lebih
dari satu hukum nasional dan masing-masing pihak yang terkait dalam transaksi
perdagangan internasional menginginkan agar kontrak yang mereka buat tunduk
pada hukum di negara mereka. Pada transaksi perdagangan internasional, masingmasing negara tunduk pada konvensi-konvensi serta perjanjian dagang
internasional, yaitu ketentuan yang berlaku secara internasional yang disusun oleh
badan internasional dan dalam pertemuan resmi antar negara. 32 Selain itu, juga
tunduk pada lex mercatoria. Salah satu asas dalam lex mercatoria adalah nemo
dat rule.
30
Etty Susilowati Suhardo, Cara Pembayaran dengan Letter of Credit dalam Perdagangan Luar
Negeri, Semarang: FH UNDIP, 2001, hlm., 12.
31
Ibid.
32
Ibid.
21
Dalam setiap transaksi perdagangan, baik itu transaksi perdagangan
internasional maupun tidak, selalu menimbulkan hak dan kewajiban bagi masingmasing pihak yang bertransaksi. Pihak penjual diwajibkan melakukan penyerahan
barang yang telah diperjanjikan dan berhak pula sesuai dengan prestasinya untuk
menerima pembayaran atas harga barang yang telah dijualnya. Begitu pula
sebaliknya, pihak pembeli berkewajiban membayar atau melunasi harga dari
barang yang diserahkan dan berhak menuntut penyerahan barang yang
dibelinya.33 Selain itu, ada pula kewajiban supaya tidak melanggar nemo dat rule
yang menjadi fokus kajian skripsi ini.
2.2.
Hukum Transaksi Perdagangan Internasional
Hukum transaksi perdagangan internasional merupakan bidang hukum yang
berkembang cepat. Ruang lingkup bidang hukum ini pun cukup luas. Hubunganhubungan dagang yang sifatnya lintas batas dapat mencakup banyak jenisnya, dari
bentuknya yang sederhana, yaitu dari barter, jual beli barang atau komoditi
(produk-produk pertanian, perkebunan, dan sejenisnya), hingga hubungan atau
transaksi dagang yang kompleks.
Kompleksnya
suatu
hubungan
atau
suatu
transaksi
perdagangan
internasional ini paling tidak disebabkan oleh adanya jasa teknologi (khususnya
teknologi informasi) sehingga transaksi-transaksi dagang semakin berlangsung
dengan cepat. Batas-batas negara bukan lagi halangan dalam bertransaksi. Bahkan
33
H. M. N., Purwosutjipto, Pengaturan Pokok Hukum Dagang Indonesia-Jilid 4: Hukum Jual Beli
Perusahan, Penerbit Djambatan, Jakarta 2003, hlm., 21.
22
dengan pesatnya teknologi, dewasa ini para pelaku dagang tidak perlu mengetahui
atau mengenal siapa rekan dagangnya yang berada jauh di belahan bumi.34
Hukum
transaksi
perdagangan
internasional
adalah
hukum
yang
dipergunakan sebagai dasar transaksi bisnis lintas batas negara, yaitu perangkat
kaidah, asas-asas dan ketentuan hukum, termasuk institusi dan mekanismenya,
yang digunakan untuk mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam suatu
transaksi bisnis dalam hubungan dengan objek transaksi, prestasi para pihak, serta
segala akibat yang timbul dari akibat transaksi.35
Definisi hukum perdagangan internasional menurut Schmitthoff adalah
sekumpulan aturan yang mengatur hubungan-hubungan komersial yang sifatnya
perdata. Aturan-aturan hukum tersebut mengatur transaksi-transaksi yang berbeda
negara.36
Hukum transaksi perdagangan internasional memiliki beberapa sumber
hukum, yaitu perjanjian internasional, hukum kebiasaan internasional (lex
mercatoria), prinsip-prinsip hukum umum, putusan-putusan badan pengadilan dan
publikasi sarjana-sarjana hukum terkemuka (doktrin), kontrak dan hukum
nasional.37
Dalam
kaitannya
dengan
uraian
mengenai
hukum
perdagangan
internasional, skripsi ini hanya akan membicarakan satu aspek dari banyak aspek
34
Ibid., hlm., 10.
35
Wyasa Putra I. D, Op. Cit.
36
Adolf, Huala, Op. Cit. hlm., 4.
37
Ibid., hlm., 76.
23
dalam hukum perdagangan internasional, aspek yang dimaksud adalah nemo dat
rule.
2.3.
Hakikat Nemo Dat Rule
Kepustakaan yang membicarakan tentang bagaimana berlakunya asas
hukum nemo dat quod non habet atau nemo dat rule dalam mengatur transaksi
perdagangan internasional di Indonesia memang harus diakui, sulit Penulis
temukan. Oleh sebab itu, berikut di bawah ini Penulis mengambil sepenuhnya
uraian dalam Bab tentang Tinjauan Kepustakaan ini dari suatu Penelitian
Individual yang tidak dipublikasikan. Penelitian individual tersebut dilakukan
oleh Jeferson Kameo di Glasgow Skotlandia. Penelitian dimaksud adalah
penelitian terhadap asas atau kaedah hukum, menurut Kontrak Sebagai Nama
Ilmu Hukum yang mengatur tentang jual-beli yang dilakukan oleh penjual dan
ternyata penjual itu bukanlah merupakan pemilik dari barang yang dijual (sale by
a non owner).
Apakah kepemilikan atas suatu benda milik satu pihak dapat dialihkan
kepada pihak lain apabila benda itu ternyata dijual oleh orang yang bukan
pemilik? Pertanyaan inilah yang Penulis maksudkan sama dengan unsur dalam
pertanyaan „bagaimana‟ berlakunya asas nemo dat qoud non habet atau nemo dat
rule yang telah Penulis rumuskan di dalam rumusan masalah Penelitian dan
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini di dalam Bab I.38
Penelitian hukum sebagaimana dikemukakan di atas menemukan bahwa
asas dalam hukum perdagangan internasional (lex mercatoria) hasil dikte hukum
38
Lihat Bab I Skripsi ini, Sub Judul Rumusan Masalah Penelitian, hlm., 14. Supra.
24
yang bernama nemo dat rule itu dapat dijumpai dalam rumusan peraturan
perundangan yang berlaku di Skotlandia. Rumusan itu adalah:
“... where goods are sold by a person who is not their owner,
and who does not sell them under the authority or with the
consent of the owner, the buyer acquires no better title to the
goods than the seller had, unless the owner of the goods is by
his conduct precluded from denying the seller’s authority to
sell.39 Yang diartikan sebagai berikut... tatkala sejumlah barang
dijual oleh orang yang bukan pemilik dari barang-barang itu,
dan juga bahwa barang-barang itu ternyata telah dijual oleh si
penjual karena sebelumnya tidak ada kewenangan yang
diberikan oleh pemilik barang-barang itu atau bahwa barangbarang itu ternyata telah dijual tanpa persetujuan yang
diberikan oleh pemilik barang kepada penjual untuk menjual
barang tersebut, maka dengan demikian si pembeli barangbarang tersebut tidak memiliki hak yang lebih baik dari hak
yang dimiliki oleh penjual, terkecuali, apabila dapat dibuktikan
bahwa pemilik dari benda-benda itu, karena tindakan-tindakan
yang telah ia lakukan, dihalangi untuk menyangkal kewenangan
si penjual untuk menjual barang-barang itu.”
Kutipan di atas adalah merupakan kutipan dari rumusan peraturan
perundangan yang pada hakikatnya mengandung asas hukum dalam perdagangan
internasional atau lex mercatoria yaitu nemo dat rule. Sebagaimana dapat dilihat
dari perumusan ketentuan yang dikemukakan di atas, asas tersebut pada
hakikatnya mengandung perintah, obligation, atau perikatan bahwa tidak
seorangpun dapat mengalihkan hak yang lebih baik daripada hak yang ia miliki.
Selanjutnya, kutipan itu juga mengandung apa yang disebut sebagai pengecualian
terhadap nemo dat rule. Apabila diperhatikan dengan cermat, dalam penggalan
yang paling akhir dari kutipan di atas, terlihat suatu rumusan yang menjelaskan
lebih lanjut atau ada yang mengatakan pemberian pengecualian terhadap
pengertian nemo dat rule yang sebenarnya. Pengecualian atau exemption tersebut
39
Pasal 21 ayat (1) the Sale of Goods Act 1979.
25
yaitu bahwa seorang pemilik atas benda dapat dicegah untuk menyatakan klaim
bahwa barang miliknya telah dijual oleh seorang penjual yang tidak mempunyai
kewenangan untuk menjual suatu barang, sebab barang itu bukan milik si Penjual.
Penggalan akhir dari kutipan tentang nemo dat rule sebagaimana telah
Penulis kemukakan di atas itu:
“unless the owner of the goods is by his conduct precluded from
denying the seller’s authority to sell,” atau “terkecuali, apabila
dapat dibuktikan bahwa si pemilik dari benda-benda itu, karena
tindakan-tindakan yang telah ia lakukan, dihalangi untuk
menyangkal kewenangan si penjual untuk menjual barangbarang itu.”
Di dalam Kontrak Sebagai Nama Ilmu Hukum, menyerupai apa yang
dikenal di dalam lex mercatoria dan di dalam sistem hukum Skotlandia juga
dikenal dengan kaedah personal bar. Kaedah personal bar dalam literatur English
common law disebut sebagai estoppel. Hanya saja perlu Penulis kemukakan di
sini, seperti terungkap dalam Penelitian individual yang sudah dikemukakan di
atas, yaitu bahwa khusus mengenai estoppel yang mengecualikan berlakunya asas
nemo dat itu, di dalam sistem hukum Inggris sendiri masih terdapat keragu-raguan
di kalangan para ahli. Rujukan pada common law mencatat bahwa; klaim apabila
pengecualian atas nemo dat rule itu didasarkan kepada estoppel yang biasanya
dipahami di Inggris itu, bisa jadi kuranglah tepat. Mengapa demikian? Sebab,
dalam pengertian estoppel, larangan hanya sebatas menghalangi pemilik barang
untuk melakukan bantahan apabila penjual tidak punya wewenang menjual
barang.
Kenyataanya,
rumusan
dalam
penggalan
Pasal
undang-undang
sebagaimana telah Penulis kemukakan di atas tersebut lebih dari pada itu. Yaitu
bahwa rumusan Pasal tersebut di samping mencegah pemilik barang untuk
26
memberikan sanggahan bahwa penjual tidak berhak untuk menjual, Pasal dalam
penggalan undang-undang di atas juga menegaskan kembali prinsip, bahwa
sejatinya lebih dari sekedar apa yang dikemukakan di atas, hak milik dalam
barang yang dijual oleh penjual yang menurut pemilik barang tidak berwenang
menjual barang itu sudah beralih dari pemilik barang kepada pembeli. Dalam
suatu putusan pengadilan, dikatakan:
We doubt whether this principle ... ought really to be regarded
as part of the law of estoppel. At any rate it differs from what is
sometimes called “equitable estoppel” in this vital respect, that
the effect of its application is to transfer a real title and not
merely a metaphorical title by estoppel”. 40 Dengan kata lain,
para hakim itu meragukan apakah prinsip sebagaimana ada
dalam penggalan Pasal dalam undang-undang yang telah
Penulis kemukakan di atas ... haruslah benar-benar dituruti
sebagai satu bagian dari hukum tentang estoppel.
Bagaimanapun juga ketentuan sebagaimana ada dalam
penggalan Pasal yang dikemukakan di atas itu berbeda dari apa
yang kadang dimengerti sebagai “estoppel ekuiti”. Bahwa
sesungguhnya akibat dari rumusan dalam penggalan Pasal
sebagaimana telah Penulis kemukakan di atas itu adalah bahwa
ada peralihan hak yang nyata dari pemilik benda kepada
pembeli, dan tidak sekedar peralihan yang sifatnya metaforikal
atau semu.
Penelitian individual yang tidak dipublikasikan sebagaimana telah
diungkapkan di atas, mengungkapkan bahwa sejatinya pengecualian (exemption)
terhadap asas nemo dat quot non habet itu dapat dibenarkan tidak dengan
mendasarkan diri kepada English common law of estoppel sebagaimana telah
Penulis kemukakan di atas. Yang benar adalah bahwa justifikasi terhadap
40
Hasil Penelitian Individuil sebagaimana telah Penulis kemukakan di atas dari Eastern
Distributors Ltd v Goldring [1957] 2 Q.B. 600 at 611, per Lord Devlin. Perlu Penulis kemukakan
penjelasan kutipan ini yaitu bahwa yang dimaksud dengan Eastern Distributors Ltd v Goldring
adalah nama para pihak yang bersengketa pda tahun 1957. Pihak Penggugat adalah Eastern
Distributors Ltd, sedangkan Pihak Tergugat adalah Goldring, dan keputusannya dimuat di dalam
Jurnal Hukum yang singkatannya adalah Q. B., atau Queen Bench Edisi Kedua putusan dimuat
mulai halaman 600 dan pertimbangan hakim yang bernilai hukum sebagaimana dikemukakan di
atas dapat ditemukan pendapat dari Lord Devlin pada halaman 611.
27
pengecualian nemo dat rule musti didasarkan kepada kewenangan seorang agen.
Kewenangan agen tersebut adalah kewenangan agen yang di dalam Scottish
Common Law 41 dikenal berjenis apparent authority. Jelasnya, yang dimaksud
dengan apparent authority adalah kewenangan agen yang nampak di atas
permukaan ada, meskipun ada kemungkinan,
42
apabila di kemudian hari
dibuktikan ternyata kewenangan agen untuk mengalihkan kepemilikan barang dari
pihak prinsipal kepada pembeli yang membeli dari agen itu ternyata tidak ada.
Perlu ditegaskan di sini bahwa pengecualian terhadap nemo dat rule yang
mencari justifikasi kepada asas hukum apparent authority dan bukan kepada
English doktrin bernama estoppel itu, logikanya, atau rasio legisnya pernah
dikemukakan oleh seorang hakim Inggris yang sangat terkenal yaitu Lord
Denning. Dalam suatu dikta putusan di mana Dening menjadi ketua majelis untuk
menyidangkan kasus yang berdimensi perdagangan internasional, dikatakan:
In the development of our law, two principles have striven for
mastery. The first is for the protection of property: no one can
give a better title then he himself possesses. The second is for
the protection of commercial transactions: the person who takes
in good faith and for value without notice should get a good
title. The first principle has held sway for along time, but it has
been modified by the Common Law itself and by statute so as to
meet the needs of our times. 43 Yang berarti, dalam
pembangunan hukum di Inggris, dua asas atau prinsip hukum
41
Mengenai perbedaan antara Scottish Common Law dengan English common law ini uraian yang
lebih tepat dapat dibaca dalam Buku Jeferson Kameo, Kontrak Sebagai Nama Ilmu Hukum,
Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
42
Sekali lagi ada kemungkinan, tidak selamanya setelah dibuktikan di kemudian hari ternyata
kewenangan itu tidak ada.
43
Bishopsgate Motor Finance Corporation Ltd v Transport Brakes Ltd [1949] 1 K.B. 322 mulai
dapat dibaca point pengecualian nemo dat rule pada halaman 336 sampai dengan halaman 337 di
mana di dalamnya terdapat pendapat hukum Lord Denning. Keterangan dikutip dari hasil
penelitian Jeferson Kameo yang tidak dipublikasikan sebagaimana telah Penulis kemukakan di
atas.
28
telah berlomba-lomba untuk saling menguasai satu sama
lainnya. Prinsip yang pertama adalah kaedah perlindungan
kepada harta kekayaan atau hak milik. Prinsip itu menegaskan
bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memberikan suatu
titel atau hak yang lebih baik daripada apa yang dia miliki.
Sedangkan prinsip yang kedua adalah untuk melindungi
transaksi-transaksi perdagangan44: yaitu asas bahwa seseorang
yang memperoleh suatu barang atau hak secara beriktikad baik,
dan bahwa barang itu dibayarkan dengan nilai yang sesuai atau
pantas dengan barang tersebut tanpa terlebih dahulu
mengetahui secara pasti mengenai siapa sesungguhnya pemilik
barang tersebut maka si orang (pembeli) yang beriktikad baik
tersebut haruslah diberikan perlindungan dengan menghargai
bahwa hak atau titel yang ia peroleh adalah titel yang baik.
Prinsip yang pertama telah memerintah jagat raya sejak lama
sekali, namun prinsip tersebut telah dimodifikasi oleh Common
Law 45 itu sendiri dan juga oleh undang-undang yang berlaku
sehingga dengan modifikasi itu ada hukum yang bisa memenuhi
kebutuhan kita saat ini.
Apapun analisis dalam rangka mencari pembenar terhadap pengecualian
berlakunya nemo dat rule, seperti telah dikemukakan di atas, namun dari uraian
tentang apa itu nemo dat rule maupun sejumlah rasionalisasi yang diberikan
kepada kemungkinan pengecualian (exemption) atas asas itu menunjukan bahwa
nemo dat rule itu sendiri pada hakikatnya (its nature) adalah suatu kaedah hukum
atau suatu perikatan (obligation). Perikatan tersebut timbul karena hukum (the
dictate of the Law). Dalam struktur analisis ilmu hukum, perikatan yang demikian
itu ada di dalam penggalan definisi kontrak di bawah ini:
44
Perlu dikemukakan di sini bahwa ketika Lord Dening menguasai peradilan Inggris, pada waktu
itu Inggris sedang giat-giatnya berjuang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sistem hukum
common law mereka (English) juga harus belajar dari sistem hukum Common Law Skotlandia
yang lebih baik dalam mengatur perlindungan kepada transaksi-transaksi bisnis internasional yang
pada saat Dening berkuasa kualitas dan kuantitasnya memang berada pada titik-tidak kejayaan.
45
Peneliti yang hasil penelitian ilmiahnya tidak dipublikasikan dan dirujuk sepenuhnya dalam Bab
ini menegaskan bahwa dapat dipastikan apabila Lord Dening tidak merujuk kepada English
common law tetapi Scottish Common Law. Banyak putusan-putusan Dening yang merekonsiliasi
antara Scottish Common Law dan English common law sebab Dening bersedia belajar untuk
membangun English common law dan mereformasi sistem hukum Inggris dengan bertransposisi
untuk menaikan derajat English common law mendekati Scottish Common Law.
29
Segenap kewajiban bagi setiap orang berjanji atau bersepakat
dengan orang lain untuk memberikan, atau berbuat atau tidak
berbuat sesuatu terhadap atau untuk orang lain tersebut, atau
berkenaan dengan segenap kewajiban yang dituntut oleh hukum
kepada setiap orang untuk memberikan atau berbuat atau tidak
berbuat sesuatu terhadap atau untuk orang lain apabila
keadilan
menghendaki
meskipun
tidak
diperjanjikan
46
sebelumnya.
Sehingga merujuk kepada hakikat nemo dat rule sebagai suatu kontrak dan
memperhatikan definisi kontrak sebagaimana telah Penulis kemukakan di atas,
maka apabila penggalan dalam definisi kontrak tersebut di atas diganti dengan
larangan nemo dat rule, maka rumusan penggalan dari definisi itu akan
menyebabkan definisi kontrak sebagaimana dikemukakan di atas hanya berlaku
untuk satu kewajiban, yaitu larangan nemo dat rule yang rumusannya menjadi:
“... larangan tidak boleh nemo dat rule bagi setiap orang,
termasuk mereka yang melakukan transaksi bisnis internasional
yang otomatis juga merupakan suatu janji atau kata-sepakat
yang dinyatakan secara diam-diam antara orang yang satu
dengan orang lainnya untuk memberikan barang, misalnya
dalam Putusan 1887 adalah pupuk, atau berbuat, dalam hal ini
memerintahkan agar pengangkut dalam Putusan 1887
menyerahkan pupuk kepada tiga pihak yang memesan dari PT.
Gespamindo sebagai orang lain tersebut di dalam hubungan
hukum yang menjadi sengketa di Putusan 1887, atau larangan
untuk tidak melakukan nemo dat rule mengingat hal itu
merupakan tuntutan hukum (the dictate of the Law) supaya
siapa saja tidak memberikan atau berbuat atau tidak berbuat
sesuatu yang merugikan orang lain sebab semua hal itu sama
juga dengan dipenuhinya suatu tuntutan keadilan di dalam
Hukum”.
2.4.
Sejarah Keberadaan Nemo Dat Rule
Meskipun terlihat pada kutipan yang baru saja dikemukakan di atas ada
sedikit aspek historis mengenai perkembangan berlakunya dan juga modifikasinya
46
Definisi Kontrak itu dikutip dari Buku Jeferson Kameo, Kontrak Sebagai Nama Ilmu Hukum,
Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, hlm., 2.
30
asas nemo dat quot non habet sebagaimana diungkap oleh Lord Denning di atas,
namun dalam Bab ini, Penulis juga merasa perlu untuk memberikan sedikit
gambaran tentang sejarah keberadaan nemo dat rule ini sehingga sedikit dapat
memberikan gambaran tentang bagaimana keberadaan nemo dat rule yang telah
dijanjikan dalam rumusan masalah dalam Bab I untuk dicarikan jawabannya.
Sejarah perlindungan terhadap hak milik yang belakangan ini lebih tren
dengan sejarah perkembangan hak-hak asasi manusia sebetulnya sudah terlihat
dari perlindungan hak milik yang terdapat di balik nemo dat rule. Menurut
penelitian individuil yang tidak dipublikasikan yang berkali-kali dijadikan
referensi Penulis untuk penyusunan Bab Tinjauan Kepustakaan ini, nemo dat rule
adalah suatu prinsip yang sangat tetap (a well-established principle) yang dapat
dilihat dalam surat-surat Paulus kepada jemaatnya yang menjadi bagian dari
bangsa yang berada dan tunduk ke dalam hukum positif Romawi. Menurut
penelitian individuil di atas, prinsip tersebut diadopsi oleh Ulpian ke dalam
produk hukum bernama Digest yang ditulis oleh Ulpian.47 Dalam karyanya itu,
Ulpian menegaskan pengakuan akan kebenaran suatu kaedah nemo plus iuris ad
alium transferre potest, quam ipse habet.48
Latin maxim yang menjadi rujukan pula dari lex mercatoria, atau yang saat
ini dikenal dengan hukum dagang/bisnis internasional diartikan sebagai tidak ada
47
Ulpian mengemukakan perihal nemo dat rule dalam Paragraf ke-50.
48
Kepustakaan yang dirujuk oleh Peneliti di atas dapat dibandingkan dengan tulisan De Zulueta,
Roman Law of Sale, dalam halaman 36. Dan dapat pula dibandingkan dengan buku Buckland and
McNair, berjudul Roman Law and Common Law, dalam halaman 77. Apabila rumusan kaedah itu
ditilik secara etimologis, kata per kata maka kata nemo adalah kata dalam bahasa Latin yang
berarti: tidak seorang pun, sedangkan plus artinya lebih dari, iuris artinya dapat dibenarkan, ad
artinya agar supaya, alium artinya pihak lain, transferee artinya orang yang menerima peralihan,
potest artinya kekuasaan, quam artinya dengan cara, ipse artinya dia, dan habet artinya miliki.
31
seorangpun yang dapat mengalihkan kepada orang lain suatu hak yang lebih besar
dari apa yang ia miliki. Untuk memberi ilustrasi yang jelas mengenai kaedah yang
terdapat di dalam maxim Latin, orang dapat mengambil contoh dari situasi di
mana ada seorang pembeli yang beriktikad baik yang membeli barang curian.
Barang curian tersebut dibeli oleh pembeli yang beriktikad baik, entah dibeli
langsung dari pencuri atau dari seseorang yang sudah membeli barang tersebut
dari pencuri. Maka menurut kaedah hukum yang mengatur mengenai
perlindungan hak milik dalam sejarah kaedah tersebut di jaman kekaisaran
Romawi, pembeli tadi tidak berhak atas barang yang telah dia beli. Sehingga
barang itu dalam keadaan berada dalam kompetisi antara pembeli dari pencuri
dengan pemilik dari benda itu. Hal ini terjadi karena orang yang menjual barang
yang dibeli oleh pembeli itu ternyata tidak mempunyai hak atau titel, dan menurut
kaedah di dalam maxim di atas, pencuri tersebut tidak dapat memberikan kepada
pembeli suatu hak atau suatu titel yang lebih baik daripada yang dimiliki oleh
pencuri tersebut.
Di dalam sistem hukum Romawi pun nemo dat rule sesungguhnya juga
memperoleh pengecualian, terutama dalam hal yang berkaitan dengan peralihan
surat-surat berharga yang dijaman itu sudah dikenal dengan accomodation bill.
Dalam hubungan hukum seperti itu, seorang penarik bill yang menerbitkan surat
tersebut mempunyai hak yang lebih baik dibandingkan dengan si indorser.
Demikian pula dengan apa yang dikatakan oleh Bell:49
“...possessors of moveables who have lawfully come into
possession, may in some cases give a better title than they have;
49
Lihat Bell dalam penelitian individuil yang tidak dipublikasikan di atas.
32
their own title may be that of mere factor or agent, --not
proprietor, -- but they may sell so as validly to vest the
purchaser in bona fide with a right of property”. Artinya, orang
yang menguasai benda bergerak yang secara sah telah
memegang barang-barang itu, dapat dalam hal-hal tertentu
memberikan hak atau titel yang lebih baik daripada yang
mereka peroleh; hak atau titel mereka mungkin sebatas sebagai
faktor atau agen dan bukan pemilik benda, -- tetapi mereka
dapat menjual supaya secara sah dapat memberikan kepada
pembeli yang beriktikad baik dengan suatu hak atas benda.”
Di Indonesia, nemo dat rule dapat dijumpai dalam Pasal 584 KUHPerdata
yang menyatakan sebagai berikut:
Hak milik atas suatu kebendaan tak dapat diperoleh dengan
cara lain, melainkan dengan pemilikan, karena perlekatan,
karena daluwarsa, karena pewarisan, baik menurut undangundang, maupun menurut surat wasiat, dan karena penunjukkan
atau penyerahan berdasar atas suatu peristiwa perdata untuk
memindahkan hak milik, dilakukan oleh seorang yang berhak
berbuat bebas terhadap kebendaan itu.
Menurut Penulis, nemo dat rule yang secara tersurat memang tidak terlihat
di dalam rumusan ketentuan tersebut dapat diinfers dari penggalan kalimat
dilakukan oleh seorang yang berhak berbuat bebas terhadap kebendaan itu.
Penggalan kalimat dari rumusan Pasal 584 tersebut memberikan isyarat bahwa
tanpa kepemilikan seseorang tidak dapat mengalihkan hak milik.
Masuknya rumusan yang menurut pendapat Penulis berdimensi nemo dat
rule di atas di dalam sistem KUHPerdata Indonesia, dalam perspektif sejarah
dapat disimpulkan bahwa aturan tersebut tidak dapat dilepaskan dari rumusan
Ulpian sebagaimana telah Penulis kemukakan di atas. Sebagai bagian dari sistem
hukum yang menganut tradisi civil law, maka KUHPerdata Indonesia juga
sesungguhnya sudah tidak terlalu asing lagi dengan nemo dat rule.
33
Di dalam sistem hukum positif Indonesia pun, nemo dat rule ternyata
memperoleh pengecualian yang sama dengan yang terjadi dalam kancah
pengaturan perdagangan internasional, seperti yang gambarannya telah Penulis
uraikan di atas. Pengecualian dimaksud adalah diatur dalam Pasal 548 yang
mengatakan tiap-tiap kedudukan berkuasa yang beriktikad baik, memberi kepada
si yang memangkunya, hak-hak atas kebendaan yang dikuasai.50
2.5.
Arti Penting Tinjauan Kepustakaan atas Nemo Dat Rule
Memperhatikan tinjauan kepustakaan tentang hakikat nemo dat rule dan
sejarah keberadaaan kaedah hukum tersebut sebagaimana telah Penulis
kemukakan di atas, maka berikut di bawah ini Penulis perlu pula mengemukakan
arti penting tinjauan kepustakaan di atas, dalam konteks menjawab pertanyaan
dalam rumusan masalah penelitian sebagaimana telah Penulis kemukakan di
dalam Bab I skripsi ini. Bahwa arti penting dari studi kepustakaan di atas adalah
keberadaan nemo dat rule, yang pada hakikatnya adalah merupakan suatu kontrak
itu ternyata bisa jadi tidaklah merupakan suatu kaedah yang bersifat mutlak
(absolut). Dalam semua sistem hukum, baik itu sistem hukum yang sudah
tergolong ancient atau kuno, maupun dalam sistem hukum di Inggris dan
Skotlandia serta sistem hukum di Indonesia, nemo dat rule dikecualikan dalam
rangka memberikan perlindungan kepada pembeli yang beriktikad baik (in good
faith) yang membeli suatu harga barang dengan bayaran yang sesuai dengan harga
barang tersebut.
50
Uraian pengecualian nemo dat rule tersebut dapat dibaca lebih jauh dalam Pasal 548 Ayat (1),
(2), (3) dan (4) KUHPerdata Indonesia.
34
Isu hukum selanjutnya, yang juga menjadi arti penting dari studi
kepustakaan ini adalah, dalam konteks Putusan 1887, apakah para hakim yang
mengadili Putusan 1887 itu juga telah mempertimbangkan pengecualian yang
berlaku dalam lex mercatoria atau hukum perdagangan internasional dalam
rangka memberikan perlindungan terhadap ketiga perusahaan yang memesan
pupuk untuk dibeli dari Australia tersebut? Dalam Bab Selanjutnya hal ini
dianalisis secara khusus, 51 terutama setelah dikemukakan terlebih dahulu hasil
penelitian yaitu gambaran tentang Putusan 1887.
51
Lihat Bab III Sub Bab Analisis Nemo Dat Rule dalam Putusan 1887, hlm., 62. Supra.
35
Download