133Th.XIII - St.Stefanus Cilandak

advertisement
Media Komunikasi Paroki St. Stefanus, Cilandak - Jakarta Selatan
133Th.XIII
#
September 2015
SALIB! JALAN KESELAMATAN
Yang
23 Pemimpin
Melayani
dan
37 Bangkitlah
Bersinarlah
Proyek
47 Salib
Keselamatan
Bapa
“
Di awal saya tergabung sebagai pelatih di paduan suara Seraphim, ternyata bukanlah
hal yang mudah. Sedikit mengejutkan karena setiap tim suara kala itu memiliki ciri
khas kekurangannya masing-masing.
Lets go!
Kita mulai dari SOPRAN yang dulu anggotanya hanya berjumlah 3-5 orang, dalam
melatih team sopran membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dikarenakan lambatnya kemampuan membaca notasi disertai kurangnya musikalitas terhadap nada dan
suara.
Lain halnya dengan ALTO, group yang satu ini berkeunikan suara serak-serak basah.
Sehingga suatu saat tercetus sebuah julukan untuk Alto yaitu “Banjir Bandang”.
Berlanjut ke tim TENOR, tim tenor di Seraphim itu sungguh membuat saya frustasi karena jumlah penyanyinya yang tidak
pernah lengkap di setiap sesi latihannya. Selalu timbul tenggelam (hari ini muncul besok hilang, begitu terus bergantian
orang).
Tim terakhir tidak kalah dari semuanya adalah karakter anggota BASS yang suaranya keras, kuat dan belum berdinamika.
Sama halnya seperti ‘Badak’ dan secara pribadi, kala itu mereka sesuka hati meledek anggota tim suara lain bilamana
ada anggota yang salah dalam bernyanyi.
Terlepas dari itu semua saya bangga sebagai pelatih di Seraphim karena mereka lekas belajar dan berkembang serta
berlatih tidak kenal lelah sehingga akhirnya saat ini telah tumbuh menjadi sebuah keluarga yang semakin hangat dan solit
serta musikalitas yang matang nan mumpuni.
Saya bangga pun siap untuk terus berkarya menjadi pelayan Tuhan dalam keluarga tercintaku ini, Keluarga Besar Paduan
Suara Seraphim Choir” Arkadius Ari Wibowo, Choir Master of Seraphim Choir.
DAFTAR ISI
SEPUTAR PAROKI
6 : Bersyukur Karena Telah Memilihku
Apa Adanya
7 : Kunjungan Pastoral DPH ke
Lingkungan Bartolomeus - Wilayah V
10: Kursus Persiapan Perkawinan
11: Ekaristi Sumber Kekuatan Hidup Kita
18: Merajut Harapan, Iman dan Kasih
20: Pembekalan Prodiakon
28: Rindu untuk Bertemu
29. Perayaan Pesta Nama Lingkungan
St. Elias - Wilayah XII
30: Workshop Pemazmur St. Stefanus
33: Pertemuan Pendalaman Alkitab
34: Bulan Kitab Suci di Lingkungan Kami
- Lingkungan Sta. Maria Goretti
36: Kegiatan Holland Spreken Lingkungan St. Elias - Wilayah XII
41
PROFIL
51: PESONA SABDA,
In Cruce Salus
36: OPINI,
Apa yang Membuat HOMILI dapat
dimengerti?
ORBITAN LEPAS
56: Kar - Do - Mu
60: Mati Kok Di Salib
“Titik Balik Kehidupan ”
16
SEPUTAR PAROKI
63: PSIKOLOGI,
Meraih Sukses dengan Melepaskan
Diri dari Belenggu yang Mengikat
Kepribadian
67: PENDIDIKAN, Membaca itu Menarik
Karya Pelayanan Melalui Bakti Sosial
69: SANTO SANTA, Hieronimus
70: POTRET GEREJA, Mengenal Lebih
Dalam POLIKLINIK St. Stefanus
58
ORBITAN LEPAS
73: DANA PAROKI, Agustus 2015
74: TUNAS STEFANUS & ONGKOS
CETAK, Brigitta Carmen Oey
75: MEWARNAI, Menerima Hosti
Salib Kristus yang Berkemenangan
4. KERLING
Karena Orang yang Tersalib itu!
Seorang Pastor asal Belanda yang sudah puluhan tahun hidup dan berkarya di sebuah
desa, di suatu pedalaman Pulau Sumatera, mempunyai ekspresi iman “Karena Orang
yang Tersalib itu!” setiap kali ia harus menjawab aneka macam pertanyaan dari pihak
lain.
“Mengapa Pastor mau meninggalkan negaramu yang maju, dan mau susah-susah bekerja di negara kami bahkan bekerja di pedalaman yang serba terbatas dan sederhana?”
Jawabannya mantap sambil menunjuk dengan jari ke arah sebuah salib yang terpasang
di tembok pastoran, “Karena Orang yang Tersalib itu!”
“Mengapa Pastor mau menjadi seorang pastor, biarawan dan misionaris, padahal dengan kepandaian dan talenta yang ada, Pastor bisa mempunyai profesi apa saja, yang
banyak diperhitungkan oleh dunia ini?” Jawabannya tidak berubah dan terasa sungguh
keluar dari kedalaman iman dan hatinya yang paling dalam, “Karena Orang yang Tersalib itu!”
Pembaca yang terkasih, pengalaman iman seorang Pastor itu akan menghantarkan kita
untuk merenungkan makna Salib bagi kehidupan kita. Mengapa Salib menjadi satusatunya alasan baginya dan sungguh menjadi sumber kekuatan bagi hidup dan karyakaryanya? Dengan imannya yang dalam, kita diajak untuk masuk ke dalam pengalaman
iman kita masing-masing, apakah Salib sungguh kita hayati sebagai sumber iman, dan
bukan sekedar assesoris di dalam mobil, dekorasi di dalam tembok rumah dan sekedar
gaya hidup yang kita kenakan sebagai kalung? Dalam edisi ini, MediaPass mengajak kita
untuk melihat dan menggunakan Salib, jauh dari sekedar assesoris dan gaya-gayaan,
tetapi sampai kepada permenungan tentang Salib sebagai suatu tanda kemenangan
atau sebagai sumber kekuatan bagi umat Katolik.
Sebagai umat beriman Katolik, kita tidak hanya sekedar berdoa dengan membuat tanda
Salib sebelum dan sesudahnya, tetapi juga diharapkan untuk menghayatinya sebagai
ekspresi iman. Untuk itu, kita perlu mengetahui asal usul Salib itu sendiri dengan seluruh latar belakang dan perkembangan teologinya. Semoga tulisan-tulisan dalam MediaPass ini, mampu untuk membantu kita dalam memahami dan merenungkan Salib
secara lebih mendalam. Selamat membaca, Tuhan memberkati kita.***
Pimpinan: A. Setyo Listiantyo Creative Design: Agung E. W, Y.
Triasputro B, Benny Arvian, Redaksi: Paulus Sihombing, Adiya
W. S, Constantine J. N, Kornelius Jemada, Felicia Nediva, Donald
Saluling, Veronica Putri Larosa, Prima Pasaribu, Saverinus Januar,
Ignatia Astrid D. F Liputan/Artikel : redaksimediapass@yahoo.
com, [email protected], 081328130513 Facebook:
[email protected] Iklan & Donasi : Dian Wiardi
(0818 183 419) No rekening Komsos: BCA dengan no 731 0278879 an. Mirjam Anindya Wiardi atau R. Prakoso
Penerbitan Majalah MediaPASS dibawah perlindungan Dewan Paroki St. Stefanus Cilandak melalui Seksi Komunikasi Sosial
Ketua Dewan Paroki: Antonius Sumardi, SCJ Penasehat KOMSOS: Dauddy Bahar Ketua Seksi KOMSOS: Agustinus
Sonny Prakoso Sekretaris: Alberta S. Listiantrianti Bendahara: Dian Wiardi Koord. Unit Kerja: A. Setyo Listiantyo Koord.
Unit Media: Dian Wiardi Koord. Unit Teknologi Informasi (IT): Sukiahwati Hartanto Web Page: www.st-stefanus.or.id
Email: [email protected] twitter: @ParokiStefanus Redaktur: Sukiahwati Hartanto Programmer: Yorren Handoko
Administrator: Patricia Utaminingtyas, Dian Wiardi, Sukiahwati Hartanto, Irene, Susan J Warta Paroki: Dian Wiardi,
Yohanes Ledo Radio/Video/TV: Yohanes Triasputro B, Benny Arvian Mading : Kornelius Jemada Facebook : Constantine
J. N Twiter: Susan J, Irene
s
a
m
t
s
i
r
h
AC
r
n
u
o
e
y
J
c
i
s
Mu
SPECIAL PERFORMANCES OF
-$.$57$&21&(5725&+(675$
6(5$3+,0&+2,5 - 6W6WHSKDQXV3DULVK
ZLWK&RQGXFWRU0XVLF'LUHFWRU
$9,335,$71$
GUEST ARTISTS
0,.(02+('(ǩ+(1<-$1$:$7,
$5,:,%2:2ǩ$'5,$1,&+6$1 9LROLQ6RORLVW
SUNDAY
0&6XVDQ%DFKWLDU
R E S E R VAT I O N
$ 8 / $ 6 , 0 )2 1 , $ -$ . $ 5 7$
Jl. Industri Raya Blok B-14 Kav.1, Kemayoran, Jakarta
Supported by :
$GL6RHGLUMR
$OGRULR:HQQDUV
Media Partner :
) 2 5 , 1 7 ( 5 1 $ / $ 8 ' , ( 1 & ( 2 1 /<
6. SEPUTAR PAROKI
Bersyukur Karena Telah Memilihku Menjadi MuridNya
Bulan Kitab Suci Nasional
Andre Laoh
U
mat hadir di rumah
keluarga
Billy Hans Tanu
untuk merenungkan injil
Yoh 1: 35-51 dalam pertemuan pertama BKSN
(Bulan Kitab Suci Nasional).
Pertemuan
pertama ini dipimpin
Yohana Rexana biasa dipanggil Nana
Muhono dan dibantu
Bpk. Iwan Odananto
sebagai fasilitator.
Umat membaca, merenungkan dan berbagi
apa itu artinya, “Bersyukur karena telah
memilihku menjadi
muridNya” di pengalaman hidup kita
masing-masing.
Belajar menjadi muridNya berarti
kita harus rajin mendengar, belajar dan melakukan di kehidupan
sehari-hari apa yang di ajarkan Tuhan Yesus didalam Kitab Suci.
Seminimal mungkin pada misa mingguan kita betul-betul mendengarkan,
merenungkan, makna sabda dari bacaan injil. Dan alangkah lebih baik
Kegiatan Sharing oleh Iwan
Odananto foto Dok Pribadi
kalau mau menjadi murid teladan
yang selalu rindu atas sabda Bapa
kita tiap hari.
Pertemuan pertama BKSN ditutup
dengan ramah tamah dan makan
malam bersama.***
Penulis : warga lingkungan Felisitas Wilayah
XI
7. SEPUTAR PAROKI
Kunjungan Pastoral DPH
Lingkungan Bartolomeus - Wilayah V
Warga Lingkungan
St. Bartolomeus
Foto DW dok MP
P
ada hari Selasa, tanggal 25
Agustus 2015, Pastor Paroki
dan tujuh anggota Dewan
Paroki Harian (DPH) Paroki St.
Sfefanus-Cilandak
mengadakan
kunjungan pastoral ke lingkungan
St. Bartolomeus yang berada di
Wilayah V – St. Irenius. Kunjungan
Pastoral yang dipimpin oleh Wakil
Ketua DPH, Bapak Eddy Cahyanto
ini dimaksudkan untuk berdialog
langsung dengan umat, mendengarkan persoalan-persoalan yang dialami oleh umat; keluhan-keluhan ataupun masukan-masuk-an dari umat.
Dalam kesempatan berbagi pikiran,
ketua lingkungan menyampaikan
situasi dan kondisi lingkungan, dimana terdapat 62 KK yang terbagi
dalam beberapa kelompok umur
mulai dari 0 sampai 100 tahun. Sebagian besar kegiatan di lingkungan
masih bergabung dengan lingkungan yang lain, di wilayah V. Yang
sudah diusahakan sendiri oleh lingkungan adalah doa Rosario khusus,
sebanyak dua kali, dengan maksud
supaya umat bisa lebih akrab dan
kompak. Tetapi yang datang dalam
acara rosario biasanya hanya sekitar
10-12 orang saja. Oleh karena itu,
koordinator Wilayah V menyarankan untuk bergabung dengan lingkungan lain, mengingat ada banyak
umat yang rindu untuk berkumpul
bersama karena merasa sudah kompak. Menanggapi saran tersebut,
Pastor Setiadi menandaskan bahwa
apabila Lingkungan atau Wilayah
semakin hidup maka Gereja akan
semakin hidup. Maka yang menjadi
“pekerjaan rumah,” bukan pertamatama menggabungkan lingkungan
yang kurang aktif dan hidup, tetapi
bagaimana mengusahakan agar se-
8
tiap lingkungan berusaha dengan
suka dukanya, belajar terus menerus
untuk menghidupi diri.
Hasil pembicaraan yang lain adalah
harapan agar warga melapor apabila ada kematian atau hal-hal lainnya sehingga jangan menyalahkan
pengurus lingkungan apabila warga
yang tidak diperhatikan. Menurut
Bapak Eddy, biar bagaimanapun
juga umat harus diperhatikan supaya mereka tidak hilang, karena ada
pihak-pihak tertentu begitu gencar
mencari orang-orang yang tidak
diperhatikan oleh Gereja Katolik.
Pastor Paulus Setiadi,
SCJ menyampaikan
prgram-program kerja
Selanjutnya Pastor Setiadi memberikan penjelasan tentang hal-hal
yang berkaitan dengan kegiatan
paroki. Selama 5 tahun ke depan,
Keuskupan Agung Jakarta (KAJ)
akan ada Arah Dasar Keuskupan
yang baru. Dalam hal ini, akan ada
program-program yang dibuat dan
akan disosialisasikan kepada seluruh umat. Selain itu, untuk memberikan pelayanan yang lebih baik
dan efektif, paroki akan melakukan
penataan tentang pendataan umat,
akan mengadakan pembinaan secara keseluruhan dan mengajak
semua umat untuk terlibat. Disisi
lain, meskipun paroki kita selalu
berbenah tentang macam-macam
hal, namun tentu saja ada kekurangan
di sana-sini, misalnya koordinasi
antar seksi yang tidak mudah, DPH
mengatur seksi juga tidak mudah,
pembangunan gudang dan lain sebagainya.
Selain hal-hal di atas, dalam pertemuan
ini, DPH paroki mensosialisasikan
sebuah gerakan sebagai berikut. Sebagaimana kita ketahui, Gereja Universal mulai tahun lalu sudah mengadakan sidang umum para Uskup
sedunia yang membicarakan tentang keluarga, yaitu panggilan dan
perutusan keluarga dalam Gereja
dan dunia zaman sekarang dan
mencanangkan tahun 2016 sebagai
tahun keluarga. Mengingat betapa
pentingnya keluarga di dalam Gereja
Katolik, Gereja KAJ akan ikut ambil
bagian di dalam apa yang digariskan
oleh Tahta Suci bahwa Gereja memberi perhatian khusus kepada keluarga. Bahkan secara khusus, KAJ
di dalam Arah Dasar 2016-2020,
memberikan prioritas utama kepada
pengembangan pastoral keluarga
yang utuh dan terpadu. Dan sejalan
dengan gerakan Gereja KAJ tersebut, untuk tahun ini, DPH Paroki
St. Stefanus sudah mencanangkan
terbangunnya kehidupan keluarga
Katolik yang sejati. Oleh karena itu,
9
di dalam kunjungan DPH sepanjang
tahun ini, fokus perhatian, perbincangan dan pelayanan diarahkan
soal-soal keluarga.
Masih dalam pertemuan dan kunjungan pastoral, Seksi Kerasulan
Keluarga menjelaskan dan mensosialisasikan tentang pendampingan
bagi keluarga-keluarga, baik di lingkungan maupun di Gereja. Berikut
ini beberapa bentuk pendampingan
yang sedang diusahakan. Seksi
Kerasulan mempunyai program
Agape, dimana umat mempunyai
peluang untuk konseling. Bagi mereka yang sudah menikah, diadakan
misa peringatan Hari Ulang Tahun
Bpk. Benny
perwakilan SKK
menyampaikan
program-program
SKK
Perkawinan (HUP) setiap 2 bulan
sekali, untuk mengukuhkan supaya
mereka lebih bersatu atau keluarga
tetap utuh. Pada akhirnya, Seksi
Kerasulan mengharapkan agar setiap lingkungan mempunyai per-
hatian kepada keluarga-keluarga,
misalnya dengan mengadakan doa
bersama dalam keluarga, retret keluarga dan lain sebagainya.
Anggota DPH
Menjelang akhir pertemuan, masih
ada saran dari lingkungan, yakni
mengadakan kolekte khusus secara
periodik untuk Coin for Jesus (CFJ).
Berkaitan dengan saran tersebut,
pihak DPH melihat bahwa tidaklah mungkin saran itu ditindak
lanjuti, karena kolekte itu sudah
ada aturannya. Berkaitan dengan
CFJ, pada tahun ke-2 ini kita sudah mulai agak kerepotan dan ini
akan menjadi evaluasi tentang perlu tidaknya tahun depan diadakan
CFJ. Tahun ini, kita sudah ada pencanangan Tahun Syukur dan Tahun
Syukur ditandai dengan munculnya
CFJ lagi. Sebagai catatan, CFJ tahun lalu hasilnya bagus dan seluruh umat, baik anak-anak maupun
orang tua bisa berpartisipasi.
Pertemuan penuh persaudaraan ini
ditutup dengan doa dan berkat oleh
Pastor Setiadi. Semoga kemuliaan
Tuhan semakin bertambah dalam
setiap usaha dan niat baik yang dilahirkan dari perjumpaan ini.(DW)***
10. SEPUTAR PAROKI
Kegiatan KPP
bersama para
pengajar Foto
DW
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN Anastasia Marhaeni
P
ada hari Sabtu dan minggu,
tanggal 12 dan 13 September
2015 diadakan Kursus Persiapan Perkawinan untuk wilayah
dekenat selatan Keuskupan Agung
Jakarta di paroki St. Stefanus, Cilandak. KPP dimulai dari jam 08.00
sampai dengan jam 18.00 di aula gedung Leo Dehon lantai 4.
Penyelenggara KPP yang bertindak
sebagai panitia adalah seksi Kerasulan Keluarga paroki St. Stefanus.
Para calon pengantin dari parokiparoki se dekenat selatan Keuskupan Agung Jakarta yang mengikuti
KPP berjumlah 35 pasang dan 2
single karena pasangannya berada
di luar kota. Adapun pasangan yang
kawin campur adalah 6 pasang Katolik- Islam dan 11 pasang yang Katolik-Kristen.
Tujuan diselenggarakannya KPP
adalah memberi pendampingan
pada umat yang ingin melangsung-
kan pernikahannya sehingga mereka lebih siap membentuk keluarga
sesuai rencana Allah.
Selama 2 hari itu, mereka diajarkan
mengenal spiritualitas perkawinan
Katolik hukum dan moral ajaran
gereja, Liturgi perkawinan, ekonomi
rumah tangga, panggilan menjadi
orang tua, komunikasi suami istri,
seksualitas perkawinan Katolik dan
keluarga berencana, kawin beda
agama dan beda gereja. Setelah itu,
acara dilanjutkan dengan sharing
kelompok dan ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh
pastor Antonius Sumardi, SCJ.
Keseluruhan acara berjalan lancar
sesuai yang direncanakan. Semua
presentasi terlaksana tepat waktu,
disiplin dan ketertiban peserta terjaga baik.
Penulis : Panitia KPP
11. SEPUTAR PAROKI
Ekaristi
P
Sumber Kekuatan Hidup Kita
ada hari Minggu, 6 September 2015, Paguyuban
Alumni KEP/PAK bekerjasama dengan PDKK, KTM dan
PLL mengadakan seminar “Ekaristi dan Adorasi” yang dibawakan oleh Pastor Emanuel Martasudjita, Pr. Acara yang dihadiri oleh
sekitar 150 orang di gedung Leo
Dehon, lantai 4 tersebut dimulai
pada pukul 10:15, diawali dengan
beberapa lagu pujian yang dibawakan oleh tim pujian PDDK Malam
St. Stefanus.
Pastor Paulus Setiadi
SCJ memberikan kata
sambutan. Seluruh foto oleh
DW dok MP.
Setelah memuji Tuhan bersamasama, pembawa acara mempersilahkan Pastor Paulus Setiadi, SCJ
untuk memberikan kata sambutan.
Dengan jenaka ia mengatakan bahwa ketika masih belajar Teologi di
Yogyakarta, ia dan pembicara dalam seminar ini pernah sungguhsungguh satu kelas, tapi bedanya,
ia hanya sebagai pendengar, sedangkan sang pembicara dalam seminar ini, Pastor Martasujita berlaku
sebagai pengajar. Lebih lanjut Pastor Setiadi mengajak umat untuk
bersyukur karena dalam seminar
kali ini, mendapatkan narasumber
yang sangat kompeten dan banyak
menulis buku tentang Ekaristi.
Tentunya hal ini bisa membantu
para umat yang hadir untuk mePastor Emanuel
Martasudjita, Pr
menjelaskan kepada
para peserta seminar
mahami makna Ekaristi sebagai
sumber kekuatan hidup kita. Pastor Setiadi menandaskan bahwa di
dalam Ekaristi, bukanlah seorang
imam tertahbis yang mengubah
roti dan anggur menjadi tubuh dan
12
darah, melainkan Tuhan sendirilah yang mengubahnya. Dengan
demikian, perayaan Ekaristi itu
tidak bergantung kepada imamnya.
Untuk pengertian lebih mendalam,
Pastor Setiadi mengajak umat untuk menyimak dengan baik presentasi sang narasumber yang sudah
ditunggu-tunggu ini.
nusiawi yang pernah dicapai tidaklah berarti apa-apa. Dalam keadaan
demikian, yang diperlukan hanyalah
belas kasih Allah. Dengan belas
kasih Allah ini, kita diantar untuk
masuk ke dalam perayaan Ekaristi,
sebagaimana kita diyakinkan bahwa
perayaan Ekaristi itu sesungguhnya
merupakan perayaan belas kasih Allah.
Suasana Para peserta Seminar
Dengan gayanya yang komunikatif,
ceria, dan lucu tetapi inspiratif, Pastor Emanuel Martasudjita, Pr menyampaikan materi kepada para
umat yang hadir; bahasanya mudah
dimengerti dengan contoh-contoh
yang lucu sehingga membuat umat
yang hadir tidak mengantuk dan
tetap menyimak dengan tekun.
Mengawali penyampaian materinya,
ia mengisahkan pengalamannya
mendampingi kakaknya, Pastor Djito
Pandrio, SJ pada waktu sakit. Ketika melihat kakaknya yang terbaring
dan koma, ia dicerahkan bahwa semua gelar, pengalaman, prestasi ma-
Kemudian kita diajak masuk ke
pengertian Ekaristi yang lebih
dalam. Setiap orang mempunyai
banyak kerinduan. Kerinduan
tersebut dalam bahasa Skolastic
pada abad ke 12-13 disebut potentia oboedientialis yaitu keterbukaan akan Allah. Panggilan manusia yang paling dalam dan paling
tinggi adalah bersatu dengan Allah. Jiwa kita memang hanya rindu
kepada Allah. Dialah yang memberikan jawaban akan kerinduan
itu. Undangan dari Allah adalah
bersatu dengan-Nya, inilah undangan untuk tinggal dalam Kristus. Pengalaman akan Allah yang
13
real dan konkret dapat dialami
umat Katolik dalam PERAYAAN
EKARISTI, sebab Ekaristi adalah
tempat tinggalnya Kristus dalam
diri kita, dan kita dalam Kristus.
Kristus yang kita imani yang hadir
dalam rupa roti meresap dalam seluruh pori-pori hidup kita. Itulah sebabnya kita disebut kudus karena
telah menerima “Yang Kudus” dalam dirinya. Kudus bukan dalam
arti moral karena semua orang secara de facto adalah pendosa. Tapi
orang disebut kudus karena telah
menerima “Yang Kudus” dalam
tubuhnya/dirinya dalam komuni
suci.
Ekaristi sebagai sumber hidup
Gereja. Hidup menurut hari Tuhan. Hari Tuhan bagi Gereja awal
sama dengan Perayaan Ekaristi.
Yang menarik, sebenarnya hari
Minggu sejak abad pertama atau
sejak jaman para rasul adalah hari
Tuhan. Mengapa? Kata “Minggu”
berasal dari kata “dominus” yang
artinya hari Tuhan karena pada
hari itu Tuhan bangkit. Maka
hitungan yang benar sebetulnya
dimulai dengan hari Minggu, bukan hari Senin. Makanya dalam
penanggalan liturgi, hari Senin
sampai Sabtu mengikuti nama hari
Minggu sebelumnya. Orang lupa
bahwa yang hari pertama adalah
justru hari Minggu dan bukan hari
Senin. Ini mengandung konsekuensi spiritualitas yang sangat mendalam. Hari Minggu adalah saat
kita merayakan kebangkitan Tuhan
dan dari sejak dulu, yang namanya
merayakan kebangkitan Tuhan itu
paling pas merayakannya dengan
Ekaristi/Misa Kudus. Itulah mengapa Misa hari Minggu wajib bagi orang
Katolik dimana menerima kekuatan
rohani untuk bekal kerja kita mulai
dari Senin sampai dengan Sabtu.
Sang pembicara melanjutkan pembicaraan tentang Adorasi. Menga-
Pastor
Martin van
Ooij sedang
berdiskusi
dengan peserta
seminar
pa kita perlu Adorasi? Ia bertanya
kepada umat yang hadir, apakah
sempat berdoa sungguh-sungguh di
depan Tuhan yang hadir dalam Ekaristi? Begitu kita menerima komuni,
duduk, maka tidak jarang langsung
buka tas untuk mengecek handphone. Atau begitu komuni, duduk,
dan sering langsung diajak berdoa
tahun syukur. Kita tidak sempat doa
pribadi. Demikian juga dengan pastor yang ada di altar, setelah memberi komuni sendiri, harus membagi
komuni kepada para prodiakon, lalu
bagi komuni ke umat, purifikasi, doa
sesudah komuni,
pengumuman,
14
seluruh dunia dan juga ujud-ujud
yang lainnya.
Pembicara menandaskan bahwa
dengan melakukan Adorasi-Ekaristi, kita semakin mengenal Yesus, bukan melalui buku, gambar,
maupun cerita, tetapi langsung berjumpa. Dengan berteman atau bergaul dengan Yesus, membuat kita
dekat dan mirip Yesus; kita ketularan suci, damai, dan rendah hati
karena dekat dengan Tuhan secara
fisik; aura kekudusan, seperti Musa
(Kel 34:28-35); mengurangi dosa,
dan bahkan dosa kita diampuni oleh
Tuhan; melakukan silih bagi dosa
sendiri dan dosa sesama.
Pastor Emanuel Martasudjita, Pr
menjelaskan beberapa pertanyaan
yang disampaikan para peserta
seminar
berkat dan keluar gedung gereja.
Dengan situasi seperti itu, kita, baik
pastor maupun umatnya, dikondisikan sedemikian rupa, sehingga
tidak sempat omong-omong (berkomunikasi secara personal) dengan
Yesus yang hadir. Untuk itulah,
kita perlu Adorasi.
Adorasi adalah saat dimana kita
bersama dengan Yesus. Dalam adorasi pribadi, kita bisa berdoa dengan
ujud, misalnya silih atas dosa-dosa
pribadi, silih untuk jiwa-jiwa di api
penyucian yang masih menantikan
kebahagiaan surga, silih untuk jiwa-jiwa yang dipanggil pda hari ini
dan tidak siap (abortus, orang yang
dibunuh, kecelakaan) yang ada di
Apa yang kita doakan dalam Adorasi? Pertama, yang penting hadir di
hadirat Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Kedua, tentang
apa yang didoakan sekunder. Ketiga, bila bersama, bisa memakai
buku Adorasi-Ekaristi, misalnya
Ibadat Adorasi-Ekaristi. Bila sendiri, lebih bebas lagi.
Bila kita doa Adorasi pribadi, pertama lakukan sembah sujud pada
awal dan akhir, dapat berdoa Rosario, dapat berdoa aneka macam doa
devosi lainnya (koronka, litani, doadoa lain), dapat merenungkan sabda
Tuhan dalam meditasi, tetapi bukan
berdiskusi di depan Sakramen Mahakudus.
Pada saat kita Adorasi, kita sering
menghadapi kesulitan dalam ber-
15
Adorasi. Kadang kita mengantuk.
Bagi Yesus, entah tertidur atau
tidak, yang penting hadir. Yang
penting jangan ingin tidur di depan
Sakramen Mahakudus. Kalau Adorasi terasa biasa, sulit konsen, rutinitas, lalu bagaimana? Jangan menyepelekan rutinitas karena hidup
kita ditopang oleh rutinitas: detak
jantung, gerak paru-paru yang teratur dan rutin sehingga kita bisa
beraktifitas macam-macam. Begitu
pula secara rohani, doa-doa yang
teratur dan terasa tak ada manfaatnya sebenarnya itu menopang seluruh jalan di Tuhan. Jangan meremehkan yang rutin dan sepertinya
biasa saja karena itu bermakna secara rohani. Itulah yang membuat
kita tetap di jalan Tuhan karena digerakkan oleh doa-doa pribadi kita
yang teratur.
Mungkinkah Adorasi-Ekaristi abadi? Adorasi abadi adalah Adorasi
yang dilaksanakan terus menerus,
selama 24 jam sehari dan tujuh hari
selama sepekan dan seterusnya. Untuk mengadakan Adorasi-Ekaristi
abadi, sebetulnya sangat mudah.
Sang pembicara mengajak kita berhitung. Berapa jam dalam satu hari?
Kemudian, dihitung selama satu
hari dan satu minggu? Sekurangkurangnya hanya diperlukan “satu
orang, satu jam saja, satu Minggu”
untuk berjaga bakti atau Adorasi.
Maukah dan relakah kita melakukan Adorasi selama 1 jam dari 168
jam yang diberikan Tuhan selama
seminggu?
Para Panitia Seminar
Akhirnya, di penghujung pemberian
materi, sang pembicara menyimpulkan bahwa yang paling penting
dalam hidup kita adalah bersatu
dengan Tuhan. Hal-hal yang lain
itu adalah perutusan sesuai dengan
bidang masing-masing. Tetapi kesatuan dengan Tuhan sebenarnya
yang paling agung terjadi dalam
perayaan Ekaristi saat kita menerima tubuh Kristus. Tapi kapan kita
berdoa benar-benar dengan Yesus
secara hati ke hati? Itulah Adorasi!
Dan manfaat Adorasi begitu banyak.
Dan bagaimana kita berdoa? Yang
paling penting kita hadir sedangkan apa yang kita doakan adalah
sekunder.
Setelah kesimpulan dari sang
pembicara, diberikan waktu untuk w. Setelah itu, dilanjutkan
dengan perayaan Ekaristi. Semoga
seminari Ekaristi dan Adorasi ini
memperkaya apa arti Ekaristi dan
Adorasi bagi kita. (DW) ***
16. SEPUTAR PAROKI
K
Karya Pelayanan Melalui
Bakti Sosial Operasi Katarak
atarak menjadi penyebab
utama kebutaan di Indonesia. Paparan sinar ultraviolet, gaya hidup yang tidak sehat,
menjadi beberapa dari faktor risiko
terjadinya katarak. Untungnya,
katarak dapat dikoreksi atau direhabilitasi. Sehingga tidak berujung
pada kebutaan. Katarak terjadi akibat gangguan metabolisme dari lensa mata. Lensa mata yang mestinya
jernih, karena metabolismenya terganggu, membuat warnanya menjadi keruh. Akibatnya, sinar yang
masuk tidak dapat tembus karena
terhalang. Gangguan metabolisme
bisa terjadi karena berbagai faktor.
Faktor usia (sebagai proses degenerasi dan biasanya terjadi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun),
trauma (karena benturan yang cukup keras), atau penyakit seperti
diabetes. Namun faktor yang paling
penting dan paling besar pengaruhnya adalah paparan sinar ultraviolet (UV).
Melihat permasalahan tersebut,
PSE St. Stefanus merasa terpanggil untuk ambil bagian dalam membantu mengurangi beban para penderita katarak. Melalui baksos yang
diselenggarakan oleh PSE setiap
tahunnya, para penderita katarak
secara rutin dapat mendapatkan
kesempatan untuk dapat terbantu
penglihatannya.
Operasi Katarak, Foto KJ dok MP
Penyelanggaraan bakti sosial operasi katarak sudah menjadi salah
satu program kerja tahunan dari
PSE St. Stefanus. Dengan target peserta sebanyak 200 orang setiap tahunnya. Program ini sudah berjalan
selama 15 tahun, sejak Ibu Margareth menjabat sebagai ketua seksi
PSE. Dan sekarang dilanjutkan oleh
Ibu Christina Budiman.
Dalam tahun ini PSE St. Stefanus
sudah menyelenggarakan baksos
operasi katarak sebanyak dua kali.
Hal ini disebabkan karena baksos
operasi katarak pertama, yang diselenggarakan pada bulan Januari di
Rumah Sakit Tebet hanya mecapai
58 orang. Sehingga diselelenggarakan baksos kedua, pada hari Sabtu,
12 September 2015, bertempat di
17
Graha Kirana, RS Cipto Mangunkusumo.
Acara tersebut dimulai pada pukul
06.00 Wib, dengan jumlah peserta
yang sudah mendaftar sebanyak 86
orang. Para calon pasien terlihat
antusias dan rela mengantri untuk
mengikuti proses pemeriksaan fisik,
sebelum dinyatakan lolos untuk di
operasi. Tak sedikit pula para calon
pasien yang gagal di operasi dengan
alasan tekanan bola mata, tekanan
darah dan tekanan gula darah yang
tidak stabil.
Sebelumnya baksos operasi katarak
pernah diselenggarakan di Gedung
Leo Dehon. Dengan jumlah pasien
yang ditangani bisa mencapai 130
orang. Namun dikarenakan adanya
peraturan pemerintah yang mengharuskan tindakan dilakukan di
rumah sakit, mengingat jika terjadi
resiko pada peserta, maka peserta
akan dapat segera ditangani oleh
pihak rumah sakit. Maka baksos
selanjutnya diselenggarakan di rumah sakit, yang notabenenya mampu menangani maksimal 90 orang
peserta.
Bakti sosial operasi katarak ini
tentunya memakan biaya yang cukup banyak. Namun agar baksos ini
tetap terselenggara, maka PSE St.
Stefanus mengadakan kerjasama
dengan PERDAMI (Persatuan Dokter Mata Indonesia), agar diperoleh
keringanan biaya rumah sakit. Sedangkan untuk jumlah dokter yang
Anggota PSE dan salah satu
pasien Operasi Katarak
melakukan tindakan operasi, ada
sebanyak 25 orang. Dan untuk dapat diketahui peserta yang pada
saat itu tidak dapat dilakukan tindakan operasi, masih mendapatkan
kesempatan di baksos operasi katarak selanjutnya.
Kami sempat menemui seorang
pasien yang sudah berhasil dioperasi yaitu Bapak Hans Trantawan
dari Paroki St. Albertus Harapan
Bekasi. Menurut beliau, dia cukup
puas dengan kegiatan sosial ini,
karena sangat bermanfaat bagi banyak orang. Pernyataan bapak Hans
tersebut tentu selaras dengan semangat gereja Katolik yaitu kasih.
Kasih tentu tidak mengenal batas
suku, agama, ras antar golongan. Berarti seluruh fasilitas yang ada di Indonesia seharusnya dapat diberlakukan secara umum tanpa mengenal
perbedaan dan beruntungnya paroki
St. Stefanus sudah memulainya dari
dulu. Proivisiat untuk PSE St. Stefanus, majulah terus. (KJ&Pr)***.
18. SEPUTAR PAROKI
MERAJUT HARAPAN, IMAN DAN KASIH
(Rekoleksi dan Kebersamaan Seksi Kerasulan Keluarga Paroki St. Stefanus, Cilandak)
Benny dan Anastasia Marhaeni
P
ada hari tanggal 4 - 6 September 2015, Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) menyelengarakan rekoleksi di Villa Bella
Vista, Sindanglaya, Jawa Barat.
Rekoleksi yang dihadiri sebanyak
24 anggota aktif SKK ini, dipimpin
oleh Rm. Joost Kokoh dan dibantu
oleh pengurus SKK selaku fasilitator. Tujuan diselenggarakannya
rekoleksi adalah untuk membangkitkan kembali semangat pelayanan tim SKK, memperkuat “teamwork” dan kekerabatan diantara
pengurus.
Rekoleksi dimulai pukul 9 pagi
de-ngan suatu penegasan bahwa
dalam menjalankan
pelayanan,
kita harus mempunyai Harapan,
Iman dan Kasih. Harapan dan
Iman akan penuh jika mempunyai
Kasih (Mati-us 28:1-10). Itulah inti
permenungan yang diberikan oleh
Romo Jost Kokoh. Untuk menguraikan tema diatas, Romo Kokoh
mengawali permenungan dengan
menyampaikan beberapa ungkapan salam kudus yang sesuai dalam Injil, yaitu “salam damai,” “...
damai sejahtera-Ku menyertai
kamu sampai akhir jaman…."
Salam kudus yang diberikan dalam berbagai bahasa itu bermakna
Peserta Rekoleksi SKK
bahwa salam yang disampaikan
oleh Tuhan Yesus itu menjiwai segala bangsa. Dalam hal ini, peserta
diundang untuk menghayati kata
pertama Tuhan Yesus kepada Maria Magdalena, orang berdosa yang
bertobat, yaitu "SALAM" (Mat 28:
9). Kita harus membagi salam atau
kedamaian, bukan kebencian, harus
punya kasih, efek yang positif, dan
saling bekerja sama.
Romo lalu menyampaikan pentingnya karakter kudus yang harus
dimiliki oleh setiap umat Katolik,
terlebih yang dipanggil untuk melayani sesama, termasuk para anggota SKK. Berikut ini beberapa
karakter kudus yang harus diusahakan oleh kita semua: jadilah penuh
pengertian,
bukan
penghakiman, mengutamakan damai, bukan
perselisihan, selalu bersyukur, tidak
19
bersungut-sungut, berbagi senyuman, bukan kebencian, dan lain sebagainya. Berbicara mengenai yang
kudus, kita harus sampai kepada
yang utama, yakni menghayati Roh
Kudus. Dengan inspiratif, Romo Kokoh mengajak kita untuk merenungkan Roh Kudus dalam lambang: M
A M A. M = Minyak artinya saling
menguatkan. A = AIR artinya Saling menyegarkan. M = Merpati artinya kedamaian dan ketulusan. A =
Api artinya saling menghangatkan,
dalam sikap dan ttur kata.
Menghidupi karakter kudus tidaklah mudah, karena kadangkala
ada hambatan-hambatan dalam
melakukan pelayanan. Semua peserta rekoleksi diajak oleh Romo Kokoh untuk menyadari adanya tujuh
roh jahat yang mengganggu; Lucifer
yang dilambangkan dengan burung
Merak (artinya kesombongan), Belpagor yang dilambangkan dengan
Kura-kura (artinya pemalas dan
lamban), Syetan yang dilambangkan
dengan Singa (artinya emosi, labil,
suka mengomel, dan suka berteriakteriak), Lefiata yang dilambangkan
dengan Ular (artinya licik, iri hati),
Mammon yang dilambangkan dengan
Serigala (artinya cuek, acuh tak acuh),
Ba Alsebu yang dilambangkan dengan
Babi (artinya rakus), Asmodeus yang
dilambangkan dengan Kambing (artinya dosa birahi).
Mengakhiri permenungannya, Romo
Kokoh menegaskan agar kita harus
menunjukkan karya yang nyata,
berdoa untuk sesama dan alam semesta dan mempunyai ucapan yang
penuh dengan cinta. Dengan ini semua, kita semua akan hidup dalam
rajutan Harapan, Iman dan Cinta
Kasih.
Secara umum, Romo menyampaikan
permenungannya dengan kalimatkalimat yang pendek. Namun penuh
makna, jelas dan sederhana. Romo
Kokoh juga memotivasi anggota
SKK dengan berbagai media, diantaranya pemutaran beberapa video/
film berdurasi pendek, yang berisi
kisah-kisah inspiratif untuk menggugah semangat dalam melayani,
berbagi dan berbelarasa dengan
sesama yang membutuhkan.
Rekoleksi ini juga diisi dengan sessi
saling meneguhkan diantara pengurus SKK dengan memberikan dukungan dan pesan, satu sama lainnya. Akhirnya serangkaian acara
rekoleksi sehari penuh ini ditutup
dengan Sakramen Ekaristi Kudus
yang dipimpin oleh Romo Kokoh.
Pada Jumat malam team SKK mengadakan informal meeting membahas rencana kerja, Sabtu malam
setelah rekoleksi diisi dengan games
untuk mempererat kekerabatan dan
tukar pikiran mengenai warisan
yang diwacanakan akan jadi topik
seminar dipandu oleh ibu Arie Mukti****
Penulis adalah anggota Seksi Kerasulan Keluarga
20. SEPUTAR PAROKI
Pembekalan PRODIAKON
Paroki St. Stefanus Cilandak bersama Rm. Emanuel Martasudjita, Pr
Prodiakon Paroki adalah
umat awam yang diangkat
oleh Uskup untuk melayani
ibadat atau liturgi di Paroki
dalam jangka waktu tertentu.
Sebagai umat awam, latar
belakang para Prodiakon tentu
berbeda-beda. Tidak semua
Prodiakon, secara formal
atau informal, pernah belajar
tentang pelayanan ibadat atau
liturgi. Padahal untuk dapat
melayani Gereja dengan baik,
mereka harus memahami
dan menghayati seluk-beluk
pelayanan ibadat atau segala
sesuatu yang berkaitan
dengan liturgi. Oleh karena
itu, mereka perlu sarana,
bimbingan, dan pembinaan
untuk mengantarkan
mereka kepada pemahaman
dan penghayatan sebagai
Prodiakon dengan segala
konsekuensinya.
Atas dasar itulah, pada tanggal 5 September 2015, Paroki St.
Stefanus Cilandak mengadakan
Pembekalan Prodiakon. Acara
pembekalan tersebut diadakan di
Gedung Leo Dehon Lt. 4 – Paroki
St. Stefanus Cilandak. Kegiatan
yang dilaksanakan merupakan
agenda kerja DPP St. Stefanus Cilandak yang sudah sejak Mei 2015
direncanakan. Akan tetapi mengingat padatnya jadwal dari sang
narasumber, Rm. Emanuel Martasudjita, Pr maka rencana tersebut
baru dapat terealisasi pada bulan
September. Harapannya, bahwa dengan dihadirkannnya Rm.
Emanuel Martasudjita, Pr selaku
penulis buku “Kompendium Tentang Prodiakon,” maka berbagai
pertanyaan yang sering muncul di
forum para Prodiakon seputar tugas pelayanan dapat diminimalisir.
Sedikit tentang sang narasumber,
Rm. Emanuel Martasudjita, Pr adalah Penulis buku “Kompedium Tentang Prodiakon.” Beliau menerima
gelar doktor Theologi dari Universitas
Innsbruck, Austria sejak 1996. Selain
itu beliau juga aktif menjadi dosen
Theologi Dogmatik dan Liturgi di
Fakultas Teologi di Universitas Sanata Dharma dan juga aktif sebagai staff Seminari Tinggi St. Paulus
Kentungan, Yogyakarta dari tahun
1996 sampai dengan saat ini. Terakhir beliau juga merupakan Ketua
Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang.
Sebagaimana termuat dalam bukunya, Rm. Martasudjita mempresenta-
21
sikan tentang pengertian dan sejarah
Prodiakon, peran kaum awam dalam liturgi gereja, syarat dan tugas
Prodiakon paroki, profil Prodiakon
yang baik, spiritualitas hidup Prodiakon, paham dasar liturgi bagi Prodiakon, perlengkapan liturgi bagi Prodiakon paroki, pelayanan penerimaan
komuni, pelayanan sabda, serta pelayanan ibadat sakramentali-devosi.
Foto PAS dok MP
Acara pembekalan Prodiakon tersebut dimulai pada pukul 10.00 WIB,
dan dibuka dengan kata sambutan dari bapak Edi Cahyanto selaku Wakil Ketua Dewan. Setelah
Rm. Marta menyampaikan materi,
maka dilanjutkan dengan makan
siang dan berakhir dengan sesi tanya jawab sampai pada pukul 14.30
WIB. Atas kerjasama para panitia,
acara tersebut berjalan dengan
sukses. Menurut bapak Iwan
Gunadi dan Bapak Edi Budi
selaku PIC acara dan Bapak
Yongki Sugito selaku ketua
22
Kompendium tentang
Prodiakon kurang lebih
berarti ikhtisar segala hal
yang mesti diketahui dan
dipahami tentang prodiakon
dan oleh prodiakon. Buku ini
menyajikan secara kurang
lebih lengkap dan dalam
bahasa yang ringkas, padat,
dan sederhana mengenai
pengertian dan sejarah
prodiakon, peran kaum
awam dalam liturgi Gereja,
syarat dan tugas prodiakon,
profil prodiakon yang baik,
spiritualitas prodiakon,
paham dasar tentang liturgi,
perlengkapan liturgi bagi
prodiakon, penerimaan
komuni, pelayanan
sabda, pelayanan ibadat
sakramentali-devosi.
Prodiakon St. Stefanus Cilandak,
jumlah peserta yang datang ada
sebanyak 64 orang, dimana peserta tersebut terdiri dari 49 anggota
Prodiakon yang aktif dan 15 orang
anggota Prodiakon yang tidak aktif.
Menurut beliau, total keseluruhan
anggota Prodiakon (baik yang aktif
dan non-aktif) yang ada di St. Stefanus Cilandak ada sebanyak 94
orang. Peserta lainnya adalah tamu
undangan dari luar Paroki St. Stefanus Cilandak yaitu para suster
dari Susteran Charitas, yang diwakili oleh Sr. M. Melani, Fch & Sr. M.
Paola, Fch. Serta lima orang Prodiakon dari Paroki Pasar Minggu.
Pastor Emanuel
Martasudjita, Pr
Acara yang berdurasi kurang lebih 5
jam ini, terasa sangat singkat mengingat banyaknya hal-hal yang ingin
ditanyakan oleh peserta pada saat
sesi tanya jawab terkait dengan halhal liturgis. Materi yang disampaikan tentu saja diambil dari buku
Kompendium Tentang Prodiakon
dan Ekaristi yang dikemas dengan
sangat menarik dan tidak terlepas
dari humor segar sang Narasumber.
Hingga pada detik akhir waktu yang
tersisa, masih saja banyak peserta
yang aktif mengajukan berbagai
pertanyaan, yang tentu saja dijawab
dengan baik oleh Rm. Marta.
Akhirnya, acara tersebut ditutup
dengan doa penutup yang dibawakan oleh Bapak Bonaventura Sutadi
selaku Ketua Paguyuban Prodiakon
Paroki St. Stefanus Cilandak, yang
kemudian diakhiri dengan acara
sesi foto para Prodiakon, panitia
dan Rm. Emanuel Martasudjita, Pr.
Tidak lupa juga panitia mengundang
kembali para Prodiakon untuk turut
serta dalam acara Seminar Ekaristi
dan Adorasi yang akan diselenggarakan keesokan harinya, dengan
tempat dan narasumber yang sama.
(Pr)***
23. SEPUTAR PAROKI
Pemimpin Yang Melayani
Antonius Santosa
Suasana Pembekalan
Lingkungan. seluruh Foto
oleh PAS dok MP
H
ari Sabtu tanggal 12 September 2015, di Gedung
Leo Dehon, saya mengikuti
pembekalan bagi para Koordinator Wilayah dan Ketua Lingkungan
yang diselenggarakan oleh Dewan
Paroki Harian. Seperti biasa, dalam
membicarakan kegiatan-kegiatan
gereja selalu muncul berulang kali
kata-kata seperti : melayani, pelayan, dan yang dilayani sebagai
ungkapan atas segala hal yang mendasari kegiatan yang dilakukan oleh
mereka yang terlibat.
Melayani sesama bagi umat Katolik
merupakan tugas utama di dunia
seperti yang dicontohkan Tuhan Yesus sendiri yang berkata : “Aku datang untuk melayani, bukan untuk
dilayani”. Dia datang sebagai gembala bagi domba-dombaNya.
Dia
lah Gembala Yang Baik. Dan, kita,
terlebih para pengurus lingkungan
dan wilayah, diharapkan menjadi
gembala yang baik yang selalu siap
melayani umatNya (domba-dombaNya).
Saya jadi teringat Robert K. Greenleaf yang menulis sebuah essay dalam bukunya “The Servant as Leader” (1970) tentang servant leadership
(kepemimpinan yang melayani) atau
tepatnya mengenai servant leader atau pemimpin-pelayan. Pada
hakekatnya, para pengurus lingkungan dan wilayah adalah servant
leader atau pemimpin yang memposisikan dirinya sebagai pelayan.
Ketua Lingkungan/Koordinator wilayah beserta anggota pengurus
yang lain sebagai pemimpin-pelayan
24
pertama-tama berfokus pada pertumbuhan dan kesejahteraan umat.
Pemimpin-pelayan menempatkan
kebutuhan orang lain (umat) sebagai yang utama. Pemimpin-pelayan
membantu umat dapat tumbuh sebagai pribadi, berkembang menjadi
lebih sehat, lebih bijaksana, dan lebih sejahtera sehingga lebih dihargai martabatnya dan dapat tampil
maksimal.
Greenleaf menyatakan juga bahwa
individu ataupun organisasi dapat berperan sebagai servant leaders (pemimpin-pelayan), sehingga
seksi-seksi ataupun Dewan Paroki
sekalipun dapat menggunakan organisasi atau lembaganya sebagai
alat untuk melayani umat.
Ada beberapa ciri dan keutamaan
yang seharusnya dimiliki seorang
pemimpin-pelayan, yaitu :
1. Memiliki Visi Pemimpin. Visi
adalah arah ke mana lingkungan
atau wilayah dan umat yang dipimpin akan dibawa oleh seorang
pemimpin. Visi pemimpin lingkungan/wilayah akan menginspirasi
tindakan umat dalam membangun
lingkungan/wilayahnya, Visi yang
baik mengandung harapan-harapan
yang memberi semangat bagi umat
yang dipimpin. Visi pemimpin-pelayan akan memberi arah ke mana
umat yang dipimpin dan dilayani
dibawa menuju keadaan yang lebih
baik.
2. Orientasi pada Pelayanan.
Pemimpin-pelayan lingkungan/wilayah berorientasi pada pelayanan
sejati. Pelayanan sejati didorong
oleh rasa cinta kasih, bukan untuk
mencari popularitas atau mendapatkan pamrih tertentu. Pelayanan
sejati adalah buah dari cinta kasih..
Sikap melayani terutama ditujukan
untuk mereka yang paling membutuhkan pelayanan. Ia harus berpihak kepada mereka yang secara sosial ekonomi, pendidikan dan sosial
budaya membutuhkan pelayanan
lebih besar.
3. Membangun Kepengikutan
(Followership).
Pemimpin-pelayan lingkungan/wilayah mengutamakan terciptanya kepengikutan
(followership) karena dalam kenyataannya keberhasilan lingkungan/wilayah lebih banyak ditentukan
oleh para umat. Penelitian yang
dilakukan Profesor Robert E. Kelley, pelopor pengajaran Followership and Leadership dari CarnegieMellon Unversity, menunjukkan
bahwa keberhasilan suatu organisasi 80 persen ditentukan oleh para
pengikut (followers) dan 20 persen
merupakan kontribusi pemimpin
(leader). Pemimpin-pelayan mengatakan setiap keberhasilan sebagai
keberhasilan “kita”; bukan keberhasilan “saya” atau “kami”. Sebaliknya apabila terjadi kegagalan,
merupakan kegagalan “saya” dan
sebagai pemimpin dia bersedia memikul tanggungjawab
25
4. Membentuk Tim dan Bekerja
dengan Tim. Pemimpin-pelayan
lingkungan/wilayah sebaiknya membentuk tim (team work) dan bekerja
dengan tim tersebut. Ia meminta
tim untuk mengikutinya, menjelaskan visi dan misi, serta mempercayakan timnya untuk bekerja. Ia
harus pandai-pandai memilih orang
yang mau bekerja keras untuk lingkungan/wilayah, bukan orang yang
tidak mau berbuat apa-apa, atau
orang yang cenderung menimbulkan
masalah bagi lingkungan/wilayah.
Pemimpin harus memiliki kejelian
memilih anggota tim, antara lain
melalui rekam jejak (track record),
bakat (talenta), kapabilitas, mentalitas dan moralitasnya.
5. Setia pada Misi. Kalau visi adalah arah ke depan ke mana lingkungan/wilayah akan dibawa, maka misi
adalah bagaimana menjalankan
tugas-tugas untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan. Pemimpin
membuat rencana-rencana yang
dikaitkan dengan jangka waktu
tertentu, program-program kerja
serta perangkat lain membantu
dalam menjalankan misinya. Misi
pemimpin-pelayan adalah melayani
mereka yang membutuhkan. Ia harus selalu setia pada misi pelayanan
dalam kondisi apa pun, kondisi baik
atau buruk, karena dengan demikian tujuan dapat dicapai.
6. Menjaga Kepercayaan.
Menjadi pemimpin lingkungan atau
wilayah adalah menerima keper-
Presentasi Diskusi
cayaan dari Tuhan untuk memimpin
umatNya. Pemimpin adalah orangorang pilih-an di antara sejumlah
orang-orang lain dan pilihan itu
didasarkan pada beberapa kelebihan tertentu yang menyebabkan ia
dipercaya untuk menjadi pemimpin.
Maka kepercayaan yang diterimanya harus dijaga dan dipelihara dengan membuktikan melalui tindakantindakan nyata melayani umat dan
menghindari hal-hal yang membuat
umat kehilangan kepercayaan kepadanya.
7. Mengambil Keputusan.
Keputusan pemimpin-pelayan ada-
26
lah kekuatan dalam memimpin dan
mengelola lingkungan/wilayahnya.
Keputusan yang demokratis, bijak,
adil, serta dilandasi cinta-kasih pasti akan didukung oleh umat.
8. Melatih dan Mendidik Pengganti.
Melatih dan mendidik pengganti
(membentuk kader ) merupakan kewajiban seorang pemimpin. Seorang
pemimpin-pelayan seharusnya memiliki beberapa kader pengganti
apabila pemimpin berhalangan dan
yang akan meneruskan kepemimpinan selanjutnya. Bertambahnya usia
seorang pemimpin-pelayan mengakibatkan kemampuan fisik dan
daya pikirnya berkurang dan oleh
karenanya pro-ses regenerasi tidak
dapat dihindari. Pemimpin-pelayan
mendidik dan melatih pengganti
karena ia tidak berorientasi pada
kekuasaan tetapi pada pelayanan.
9. Memberdayakan kaum Perempuan.
Sumber Daya Manusia, khususnya kaum perempuan memiliki
kemampuan-kemampuan tertentu
yang tidak dimiliki kaum laki-laki.
Pemimpin-pelayan harus pandaipandai mengajak kaum perempuan
untuk lebih terlibat dalam setiap
kegiatan demi keberhasilan lingkungan/wilayahnya.
Sebaliknya,
kaum perempuan hendaknya lebih percaya diri dan lebih berani
mengambil alih tugas yang kebanyakan dikerjakan kaum laki-laki.
10. Memberi Tanggung Jawab.
Memberi tanggungjawab kepada
pengurus lain adalah memberi kesempatan kepadanya untuk berkembang dan tentu saja diikuti dengan
mengawasi serta kemudian meminta pertanggungjawaban. Memberi
pengurus lain tanggungjawab adalah memberi mereka kesempatan
memperoleh ketrampilan dan menggapai keberhasilan, dan hal itu dapat dimulai dari hal-hal yang kecil.
Suasana Diskusi
pembekalan
27
Sharing pengalaman
11. Memberi Teladan.
Pertama-tama seorang pemimpinpelayan hendaknya meneladan Sang
Pelayan yaitu Yesus sendiri betapa
Ia ketika masih di dunia berkenan
memimpin/menggembalakan
domba-dombaNya dengan penuh
cinta-kasih dan penuh keikhlasan.
Bahkan, Ia mengorbankan diriNya
mau mati di salib demi kita semua.
Pemimpin-pelayan memberi teladan kepada pengurus dan umat lain
dengan apa yang mereka lakukan.
Sesudah itu ia menganjurkan umat
untuk melakukan apa yang diteladankannya.
12. Menyadari Pentingnya Hubungan / Komunikasi.
Yang paling penting, pemimpinpelayan hendaknya bisa menciptakan komunikasi yang baik dengan
umatnya. Sebab, dengan terbangunnya komunikasi yang baik,
pemimpin-pelayan dapat menyerap
harapan dan keinginan umat, mendengarkan keluhan dan mengetahui
masalah yang dihadapi umat untuk
bahan penentu kebijakannya dalam
membuat program-program kerja
lingkungan/wilayah. Dalam arti
yang lebih luas, pemimpin-pelayan
hendaknya dapat berperan sebagai
seorang bapak atau ibu (mengayomi), sahabat (teman), guru (teladan, tempat bertanya) dan pembina
(memperbaiki yang salah).
Itulah apa yang ingin saya bagi untuk Ibu/Bapak sekalian, khususnya
setelah saya mengikuti pembekalan
para Ketua Lingkungan dan Koordinator Wilayah.
Ada yang terasa mengganjal dalam hati saya dengan istilah Ketua
Lingkungan yang terasa formal dan
berjarak. Jujur, saya lebih senang
menggunakan istilah Pamong Lingkungan karena terasa lebih dekat,
ada unsur penggembalaannya (jw :
ngemong) dan lebih terasa diayomi.
Barangkali ini hanya perasaan saya
saja.
Berkat Tuhan Menyertai Kita Semua.***
Penulis : Anggota Dewan Paroki
28. SEPUTAR PAROKI
RINDU UNTUK
R
BERTEMU
Andre Laoh
indu untuk bertemu, umat
dari lingkungan Felicitas dan
Anastasia berkumpul bersama
didalam misa Lingkungan mengawali Bulan Kitab Suci Nasional pada
hari Sabtu pagi tanggal 5 September
2015 dirumah Keluarga Handoko.
Misa di pimpin RD. Paulus Haruna
dan dibantu teman teman OMK
Anastasia untuk mendukung acara
ekaristi (Angel, Matthew, Vigo sebagai putra / putri altar dan Andre
membaca bacaan kitab suci).
Setelah misa, sedikitnya 60 umat
dengan Romo beramah tamah untuk menghilangkan kerinduan ‘ngobrol’ sambil menikmati makanan
dan minuman yang telah disiapkan
oleh keluarga Handoko.
Ibu Jocelyn Handoko juga berbincang
bincang dengan umat yang hadir untuk sharing bagaimana beliau mempratekan cara cara sederhana untuk
lebih konservasi air (yang menjadi
perhatian khusus sekarang ini dalam musim kemarau) dan membuat
kompos dari sampah dapur dalam
berumah tangga. Dengan lebih sadar diri dan menjalankan praktek
pratek mudah ini kita semua bisa
juga ikut dalam "Save our Home"
dari malapetaka kehabisan air dan
membantu mengurangi pembuangan sampah yang sekarang sangat
sulit di wilayah Tangerang Selatan.
Beberapa contoh sederhana untuk
mengurangi pemakaian air di rumah:
1. Cuci mobil cukup dengan dua
ember air. Satu ember air dan
sabun untuk mencuci dan satu
ember air untuk menghilangkan
sabunnya;
2. Air untuk cuci sayur, buah, beras
dari dapur di "buang" ke taman
kita;
3. Sisa air teh dan daun tehnya
dibuang ke tanaman;
3. Kalau mandi dengan shower,
29. SEPUTAR PAROKI
matikan dulu airnya pada waktu
bersabun;
4. Dibuatkan resapan air hujan untuk menampung air yang turun
dari genteng rumah dan mengurangi air yang terbuang ke jalan
an;
Dengan berakhirnya acara, tiap
umat diberi hadiah pohon kecil
(mangga,
kedondong,jeruk
dan
tomat) dalam kompos dari hasil
sampah dapur dan air bekas mencuci beras atau sayur/buah.***
Penulis adalah warga Wilayah XI
Kamis, 18 Juni 2015 lalu Paus Fransiskus mengeluarkan ensikliknya mengenai lingkungan
hidup. Paus Fransiskus memulai ensikliknya dengan “Kidung Sang Surya”, hymne Santo
Fransiskus dari Assisi.
Surat berisi ajaran otoritatif Gereja itu dimaksudkan untuk memulai kembali pembicaraan
global tentang perlindungan “rumah bersama kita” dari ancaman perubahan iklim.
Ensiklik bertajuk ‘Laudato Si’ (Praise Be to You) itu merupakan seruan profetik Paus kepada
pemerintah berbagai negara, agama-agama, pelaku bisnis, dan setiap orang untuk bersama-sama berupaya mengatasi tantangan perubahan iklim.
30. SEPUTAR PAROKI
WORKSHOP PEMAZMUR
SANTO STEFANUS
Anton Suritno
Foto Sie
Liturgi dik
Pribadi
Ketentuan tentang Pemazmur
dalam PUMR:
61. Sesudah bacaan pertama menyusul mazmur tanggapan yang merupakan unsur pokok dalam Liturgi
Sabda. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral
yang penting karena menopang permenungan atas sabda Allah.
Mazmur tanggapan hendaknya diambil sesuai dengan bacaan yang
bersangkutan dan biasanya diambil
dari Buku Bacaan Misa (Lectionarium).
Dianjurkan bahwa mazmur tanggapan dilagukan, sekurang-kurangnya
bagian ulangan yang dibawakan
oleh umat. Pemazmur melagukan
ayat-ayat mazmur dari mimbar atau
tempat lain yang cocok.
102. Pemazmur bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung
dari Alkitab di antara bacaan-ba-
caan. Supaya dapat menunaikan tugasnya dengan baik, ia harus menguasai cara melagukan mazmur, dan
harus mempunyai suara yang lantang serta ucapan yang jelas.
-------------------------------------------------Ada yang merasa geli ketika pemazmur mengucapkan: ”Mazmur
Tanggapan, dengan refrein: …”
Lalu, setiap mengakhiri satu ayat
ia memberi aba-aba kepada umat
dengan ucapan ”Refrein!” Frasa dan
kata itu sebenarnya tak ada dalam
buku Lectionarium. Mungkin terpaksa dilakukan agar umat terjaga
dan bersiap ikut menanggapi Sabda
secara kompak.
Cara itu mengingatkan kita pada
petunjuk pelaksanaan saat upacara
bendera, misalnya: ”Inspektur upacara memasuki tempat upacara….
Pasukan disiapkan… Mengheningkan cipta mulai…” Petunjuk upacara bendera itu mungkin setara
31
dengan rubrik dalam buku liturgis.
Bedanya, dalam perayaan liturgi petunjuk rubrik itu tidak dibacakan.
Cara instruktif itu dapat dianggap mengabaikan kaidah keindahan berliturgi karena mengandalkan kata-kata petunjuk yang tidak
diperlukan. Satu contoh lagi untuk
virus verbalisme. Ada cara-cara lain
yang lebih indah untuk menghidupkan pembawaan Mazmur Tanggapan. PUMR 61 juga sudah menganjurkan bahwa Mazmur Tanggapan
hendaknya dilagukan, sekurangkurangnya bagian ulangan (refrein/
antifon) yang dibawakan oleh umat.
Pilihan cara dan tempat
Cara membawakan mempunyai dua
arti membacakan atau melagukan.
Membawakan Mazmur Tanggapan
dengan cara dibacakan biasanya
dipilih untuk Misa harian, atau jika
tidak ada pemazmur yang bertugas.
Peran pemazmur pun diambil alih
langsung oleh lektor, yang mestinya
lebih tepat oleh petugas lain.
Membacakan saja memang tidak dianjurkan. Jika terpaksa dilakukan,
maka perlu penjiwaan yang sesuai
dengan isi teks mazmurnya, bukan
dibacakan seperti untuk pembacaan
Kitab Suci. Jika tidak dilagukan,
Mazmur Tanggapan didaras sedemikian rupa sehingga membantu
permenungan Sabda Allah.
Melagukan dapat dalam cara sederhana (hanya bagian ulangan yang
dinyanyikan) atau cara lengkap (semua dinyanyikan). Inilah cara yang
dianjurkan sesuai dengan hakikat
suatu mazmur sebagai nyanyian.
PUMR 61 memperjelas: ”Umat tetap
duduk dan mendengarkan; dan sesuai ketentuan, mereka ambil bagian
dengan melagukan ulangan, kecuali
jika seluruh mazmur dilagukan sebagai satu nyanyian utuh tanpa
ulangan.”
Di mana tempat pemazmur bertugas? Pemazmur melagukan ayatayat mazmur dari mimbar atau
tempat lain yang cocok. Di mimbar,
karena Mazmur Tanggapan masih
merupakan unsur Liturgi Sabda.
Di tempat lain karena ada beberapa
pertimbangan. Misalnya, karena
sang pemazmur adalah bagian dari
koor atau karena jumlah pemazmur
tidak tertampung di mimbar, maka
dipilihlah tempat lain yang lebih
memadai.
Cara musikal
Cara menyanyikan Mazmur Tanggapan ternyata tidaklah tunggal. Kelima cara berikut ini pada
dasarnya pengembangan dari dua
cara melagukan yang sudah ada,
yakni cara dengan ulangan (responsorial) atau tanpa ulangan (PUMR
61).
Empat cara pertama berkaitan dengan ulangan, yang selalu dilagukan bersama oleh seluruh jemaat.
(1) Pemazmur dan umat: Seorang
pemazmur memimpin jemaat da-
32
lam menanggapi Sabda. Ia terlebih
dulu melagukan bagian ulangan,
kemudian umat mengulanginya. (2)
Pemazmur dan umat: Supaya lebih
variatif, diperlukan dua pemazmur.
(3) Kor dan umat: Untuk lebih menampilkan kebersamaan maka peran seorang pemazmur digantikan
kelompok kor. (4) Umat dibagi dua
kelompok: Terdiri dari kelompok jemaat yang duduk di bagian kanan
dan kiri, atau deretan depan dan
belakang.
Satu cara lagi tidak memakai ulangan: (5) Umat bersama-sama: Ini cara
yang paling menunjukkan partisipasi
umat secara penuh. Semua bersamasama menanggapi Sabda Allah dengan
bernyanyi sejak awal hingga akhir.
Cara pertama sudah lazim dilakukan. Keempat cara lainnya boleh dicoba. Marilah kita bawakan Mazmur
Tanggapan secara optimal sebagai
ungkapan sukacita menyambut
Sabda Allah. (Christophorus H.
Suryanugraha OSC)
-------------------------------------------------Mengingat masih minimnya pengetahuan tentang Pemazmur dan
mazmur, seperti tersebut di atas,
maka Komunitas Pemazmur Paroki
St. Stefanus Cilandak mengadakan
kegiatan workshop, dengan tujuan
meningkatkan mutu pemazmur
yang memang baru beberapa bulan
terakhir komunitas ini terbentuk,
dan menginduk pada Paguyuban
Lektor-Lektris St. Stefanus.
Workshop Komunitas Pemazmur St.
Stefanus, Cilandak diadakan selama
2 (dua) kali hari Minggu berturutturut, 13 dan 20 September 2015, di
Gedung Leo Dehon.
Peserta Workshop adalah anggota
lama Komunitas pemazmur dan
anggota baru komunitas ini. Jumlah Anggota seluruh komunitas
pemazmur ini, sebanyak 36 orang
pemazmur. Namun yang mengikuti
workshop tersebut hanya 26 orang
anggota lama dan baru. Anggota
yang tidak bisa mengikuti adalah
anggota yang ijin karena berbagai
alasan, diantaranya ada kegiatan
lain.
Acara workshop diisi dengan berbagai materi teori maupun praktek
sebanyak 6 sesi oleh para pelatih pemazmur maupun narasumber yang
kompeten di bidangnya, yaitu : Ibu
Mia S, Bpk. Ibnuwoto, Ibu Irene,
Bpk. SB. Ratiko, dan Bpk. Anton B.
Suritno.
Acara dibuka oleh Pastor Kepala
Paroki, Romo Antonius Sumardi,
SCJ; yang dilanjutkan pengarahan
oleh Ketua Seksi Liturgi Paroki,
Bpk. Agus Maryono.
Semoga dengan diadakan kegiatan
workshop ini, komunitas Pemazmur
St. Stefanus, dapat melakukan pelayanan, semakin baik. Tuhan memberkati.***
Penulis adalah Seksi Liturgi
33. SEPUTAR PAROKI
Suasana
pendalaman
Kitab suci,
Foto dok
Pribadi
PERTEMUAN
PENDALAMAN
ALKITAB
LINGKUNGAN ST. CLEMENTUS DAN STA. FAUSTINA
D
iselenggarakan pada Selasa, 22 September 2015 Pk.
19.30 - 21.30 di kediaman
Ibu Cesilia, Jl. Pinang Perak II Pondok Indah dan dihadiri oleh 22
orang. Tema yang dibahas dalam
pertemuan ke 3 dari buku panduan
KKS adalah bersyukur karena Allah mengubahku menjadi manusia
baru.
Pertemuan dipandu oleh ibu Koordinator Wilayah IV yakni Ibu Lina
Wibowo. Ia memaparkan bagaimana
sosok seorang Farisi yang bernama
Nikodemus yang secara diam-diam
menemui Tuhan Yesus karena kita
tahu bahwa bagaimana kehidupan
orang Farisi.
Ibu Lina menjelaskan lebih lanjut
apakah yang dimaksud dengan Lahir kembali dan Hidup baru di dalam
Endang Surastri
kehidupan kita sekarang, bagaimana seseorang mengalami dilahirkan
kembali, karena pengalaman Iman
seseorang tidaklah sama dan bagaimana seseorang mengalami pertobatan.
Acara sharing begitu sangat menarik karena di situ kita merasakan
saling memberi kekuatan, memberi
rasa syukur akan kebaikan dan pertolongan Tuhan yang luar biasa.
Tuhan memakai siapapun di dalam
karyaNya. Ada beberapa umat yang
memberi sharing dan umat yang
hadir mendengarkan dan menanggapi dengan antusias.
Akhir dari pertemuan ditutup dengan santap malam bersama.***
Penulis adalah warga Wilayah IV
34. SEPUTAR PAROKI
Bulan Kitab Suci di Lingkungan Kami
Lingkungan Sta. Maria Goretti
B
Benediktus Jaston Sinaga
ulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional yang
pantas dan layak kita syukuri bersama. Tahun 2015 ini Bulan Kitab Suci Nasional mengambil
tema: Aku bersyukur Kepada-Mu,
Penolongku dan Allahku”.
Pertemuan pertama memilih sub
tema: “Bersyukur karena Allah
memilihku menjadi murid-Nya”
dengan belajar dari Andreas dan
Filipus (Yoh 1: 35-31). Pertemuan
kedua memilih sub tema: “ Bersyukur karena Allah tidak pernah
meninggalkanku”, belajar dari Maria Magdalena (Yoh 20: 11-18). Pertemuan ketiga memilih sub tema:
“Bersyukur karena Allah mengubahku menjadi Manusia Baru”, belajar
dari Nikodemus (Yoh 3: 1-10). Dan
pertemuan keempat memilih sub
tema: “ Bersukur karena Aku hidup
sebagai Anak Terang”, belajar dari
orang buta (Yoh 9: 1-41)
Umat lingkungan kami, Lingkungan Santa Maria Goretti, Wilayah X
Santa Katharina Siena, yang berlokasi di sekita Pondok Pinang juga
mengadakan pertemuan doa lingkungan pendalaman materi Bulan
Kitab Suci Nasional 2015. Setiap
hari Sabtu pukul 19:30 WIB di rumah salah satu warga, umat ber-
kumpul mengakan berdoa ibadat
sabda dan sekaligus mendalami
kitab suci mengikuti tema yang digariskan dari Seksi Kerasulan Kitab
Suci (KKS) Paroki Santo Stefanus
Cilandak yang mengikuti tema bulan kitab suci nasional.
Suasana
pendalaman
Kitab suci,
Foto dok
Pribadi
Pertemuan pertama
Pertemuan pertama diadakan pada
hari Sabtu 5 September 2015 pukul 19:30 – 21:30 WIB bertempat
di rumah Bapak/Ibu Sutopo Driyawastyo. Sekitar 20 orang hadir dalam pertemuan ini, dengan 4 orang
pria dan 16 orang wanita. Topik
pembahasan cukup menarik dengan
membandingkan profile dan karakteristik panggilan Santo Andreas
dan Santo Filipus sebagai murid Yesus yang pertama.
35
lam begitu mengetahui bahwa jenazah Yesus tidak ada lagi di kubur
itu. Dunia seakan gelap tak tahu
berbuat apa. samapi 2 kali Yesus
berbicara kepada Maria Magdalena
“Ibu, mengapa engkau menangis,
siapakah yang engkau cari”, namun Maria Magdalena tidak mengenali bahwa yang berbiacara itu
adalah Yesus (bdk Yoh 20: 13, 15).
Kemudian Yesus memanggil Maria
Magdalena dengan panggilan secara
spesifik, dengan melihat relasi yang
baik dan mendalam antara Yesus
dengan Maria Magdalena, dengan
panggilan nama yang spesik “Maria”, lalu kemudian Maria Magdalena mengenal suara itu dan menyadarkannya bahwa sungguh orang
bebicara kepadanya adalah Yesus
sendiri (bdk Yoh 20:16).
Pertemua kedua
Pertemuan kedua diadakan pada
tanggal hari Sabtu, 12 September
2015 pukul 19:30 – 21:30 WIB di
rumah Bapak Goenaryo Soetaryadi.
Sekitar 22 orang umat hadir dalam pertemuan kedua ini, dengan 7
orang pria dan 15 orang wanita.
Pertemuan kedua ini belajar dari
Santa Maria Magdalena yang mengajak kita untuk selalu bersyukur
karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Diceritakan dalam Injil Yoh 20: 11-18 perjumpaan Maria
Magdalena dengan Yesus di kubur.
Pada mulanya Maria Magdalena
begitu shock dan sedih yang menda-
Cerita ini mengajarkan kepada kita
bahwa bahwa hendaknya kita membangun hubungan yang intens dan
dalam dengan Yesus, mengenaliNya.dan dengan demikian kita dapat diberi kekuatan untuk dapat
lepas dari segala kegelapan, keraguan, putus harapan, dan perasaan
nelangsa yang begitu mendalam.
Semoga ki-ta apati menjalin relasi
yang baik dan intens dengan Yesus,
mengenal dan mengalami Yesus dalam kehidupan sehari-hari sehingga
damai dan sukacita terpancar dari
diri kita ke lingkungan kita masingmasing. Tuhan memberkati.***
Penulis warga lingkungan Sta. Maria Goretti
37. SEPUTAR PAROKI
BANGKIT DAN BERSINARLAH!
Outbound dan Camping OMK St. Stefanus
Orang Muda Katolik (OMK)
adalah generasi penerus Gereja. Di
tangan mereka harapan dan masa
depan Gereja dipertaruhkan. Dalam
kitab suci, kita tahu bahwa masa
depan suatu bangsa seringkali ditentukan oleh orang muda.Dalam
Perjanjian lama Allah membangkitkan pemimpin muda bagi orang Israel. Samuel, Saul, dan Daud dipilih
Allah ketika mereka masih muda.
Yesus sendiri adalah orang muda.
Oleh karena itu pendampingan dan
pembinaan kepada orang muda menjadi hal yang tidak bisa disepelekan
dalam kehidupan menggereja.
Dalam pendampingan OMK harus
dipandang sebagai pribadi yang sedang berkembang. Mereka memiliki ciri khas dan keunikan yang
tak tergantikan, kualitas, bakat dan
minat yang perlu dihargai. Mereka
mempunyai perasaan, pola pikir,
tata nilai dan pengalaman tertentu,
serta masalah dan kebutuhan yang
perlu dipahami. Mereka memiliki
hak dan kewajiban, tanggung jawab
dan peran tersendiri yang perlu
diberi tempat. Semua itu merupakan potensi untuk dikembangkan
dalam proses pembinaan, sehingga
kaum muda dapat berperan aktifpositif dalam kehidupan Keluarga,
Gereja dan Masyarakatnya.
Pada hari sabtu tanggal 19 September 2015 pukul 05.00 WIB beberapa
peserta camping keakraban dan outbound sudah mulai datang dan berkumpul di depan ruang OMK lebih
tepatnya di halaman gereja. Dua
Bus sudah menunggu dari jam 04.00
wib dini hari. Matahari-pun belum
terlalu terang, dan peserta Camping
dengan antusias menunggu peserta
lain yang masih dalam perjalanan
ke gereja sembari melakukan registrasi dan pendaftaran ulang.
38
Sekitar pukul 06.30 wib semua
peserta sudah mulai lengkap. Keberangkatan ke Cibodas saat itu pukul 06.00 wib, waktu tersebut sudah
mulai mundur dari perkiraan awal
yang ditentukan oleh panitia. Saat
dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan terjadi kemacetan yang
sangat panjang, karena sudah mulai jalur buka dan tutup di daerah
puncak.
Rombongan tiba di daerah Camping
Ground Mandalawangi, kira-kira
pukul 10.30 dengan membawa sekitar 120-an peserta termasuk panitia
Outbound. Dan panas, bercampur
hawa dingin sudah mulai terasa di
tempat tersebut. Acara dimulai dengan secara bersama-sama berkum-
pul ke area yang ditentukan oleh
panitia. Semua peserta termasuk
beberapa panitia mulai gabung dalam games yang disediakan oleh
fasilitator dengan memperkenalkan
timnya yaitu Vigara Outbound. Masing peserta mulai dalam pembagian
kelompok/team work Outbound. Se-
mua terhanyut dalam permainan
games yang disediakan oleh Team
Vigara. Games mulai seru, perut
mulai lapar dan matahari pun berdiri persis diatas kepala, hal itu pun
tidak menyurutkan setiap kelompok
untuk menujukan diri sebagai yang
juara mengalahkan kelompok lain.
Pukul 12.30 saatnya makan siang.
Semua kembali ke campnya untuk
istirahat makan siang dan waktu
yang diberikan itu hanya 30 menit
dan dianjurkan oleh panitia untuk
mengganti pakaian dengan pakaian yang bisa bergerak bebas, karena akan ada dilanjutkan dengan
39
tracking ke air terjun Cibereum.
Waktu sesingkat tersebut sangat
dimanfaatkan peserta untuk istirahat dan menikmati area camping
disekitarnya sembari menunggu
yang lain. Setelah makan siang acara kembali diambil alih oleh Tim
Vigara untuk melanjutkan sesinya.
Setelah semuanya diajak berpikir,
bermain, kerjasama team, kompak,
diajak kreatif dlianjutkan tracking
ke Air terjun Cibereum.
Tracking pun diambil alih oleh
panitia, dan masing-masing timnya
berjumlah 11 orang diantaranya
1 sebagai ketua anggota treking.
Perjalanan yang jauh, bebatuan,
mendaki, butuh usaha dan kekompakan dari masing-masing tim agar
tidak tertinggal di tengah jalan apalagi sampai tersesat ataupung hilang dari salah satu anggota tim.
Setelah mencapai puncak air terjun
Cibereum, semuanya terlihat bahagia dan senang. Berbagai macam
yang dilakukan agar setelah mencapai puncak air terjun tersebut. Ada
yang langsung mandi, lihat pemandangan, dan ngobrol-ngobrol santai.
Setelah puas menikmati sekitar air
terjun Cibereum, perlahan-lahan
masing-masing mulai turun kembali
ke camp dengan wajah yang capek,
lesu, lemas. Sebelum mandi panitia
menyediakan snack sore. Setelah selesai mandi diisi dengan acara sesi
motivasi dan doa bersama.
40
Tepat pukul 21.00 wib acara bebas.
Dibuka dengan pembakaran api unggun oleh Ketua Panitia Fabyanus
Tessen. Kembali masing-masing
kelompok diajak untuk menunjukan kebolehan dan kelebihan kelompoknya. Sesi acara bebas itu diantranya adalah live accoustic, dance,
vocal goup, dan masih banyak lagi.
Setelah api unggun diisi oleh Fr.
Surya Doa malam dan meditasi.
Setelah doa malam selesai, semua
peserta dan panitia terlihat capek
dan lelah. Langsung menuju tempat
camp untuk beristirahat dan ada
beberapa yang masih terlihat menikmati malam dengan api unggun
dan bernyanyi ria.
Tgl 20 September Pukul 06.00 wib,
waktunya bangun pagi untuk senam bersama, menari dan dilanjutkan dengan sarapan pagi. Pembagian kelompok perwilayah dan
apa yang akan kamu lakukan ke-
pada wilayahmu dan sesi tersebut
diisi oleh Koordinator Kepemudaan
dan Misa penutup dipimpin oleh
Rm. Paulus Setiadi. Waktu sudah
menujukan pukul 12.00 wib untuk makan siang, setelah makan
siang semua melalukan operasi semut atau pembersihan sekitar area
camping. Pukul 13.00 wib kembali
ke jakarta. Semuanya semangat,
senang dan pengalaman camping
yang tek terlupakan. See you Guys.
Salam (SA)***
41. PROFIL
TITIK BALIK KEHIDUPAN
(Berbincang Bersama Iwan Odananto)
Iwan Odananto
berbicara dengan
istri dan anaknya.
Foto Put
K
ita diajak untuk menelusuri
kisah hidup seorang sahabat kita. Ia terlahir dengan
nama Antonius Iwan Odananto
pada tanggal 13 April 1965 di Surabaya. Ia mengenyam pendidikan di
Universitas Indonesia (lulus tahun
1990) dan mendapat beasiswa S2
di Drexel University Philadelphia
(tahun 1991-1993). Setelah selesai
sekolah, ia mulai masuk ke dunia
kerja. Ia pernah bekerja di Citibank
Jakarta, sebagai corporate banking
dan posisi terakhir adalah Assistant
Vice President. Setelah 10 tahun, ia
dan istrinya tinggal di sekitar Cinere, sekarang ia dan keluarga tinggal di lingkungan Theresia Wilayah
II, salah satu lingkungan di Paroki
kita.
Beruntung sekali, MediaPass berkesempatan berbincang-bincang dengannya, salah satu putera terbaik Gereja yang melepaskan karir
terbaiknya pada era krisis tahun
1999 dan menjadi pengajar. Kesehariaannya sederhana dan saat ini ia
menikmati tugasnya sebagai dosen
Akuntansi di Fakultas Ekonomi At-
42
majaya. Yang mengagumkan, sambil bekerja sebagai dosen, saat ini
ia masih mau belajar sesuatu yang
baru, yakni berkuliah filosofi-teologi
S1 di STF Driyarkara. Barangkali
semuanya itu untuk mendukung
panggilan Tuhan yang ia tekuni,
yakni menjadi seorang Katekes.
Berangkat dari kegelisahaan dan
kekagumannya atas karya Tuhan,
ia menerima panggilan itu dengan
senang hati untuk mendampingi
para katekumen.
Iwan sangat mengagumi sosok
ayahnya yang sederhana, rendah
hati dan tidak diktator, walaupun
berlatar belakang keluarga militer. 20 tahun lalu, Iwan yang tidak
berhura-hura, sekalipun segalanya
ada, mampu melihat bahwa arti
hidup yang sebenarnya bukan karena melulu soal-soal duniawi. Ia
berusaha melakukan penyangkalan
dirinya atas apa yang ia kerjakan
sekarang, tetapi dia tidak menyesal.
Semua yang ia pikirkan dan pilih
sudah dipikirkan dengan baik di dalam rahmatNya.
KATAKESE BUKAN PILIHAN
Sampai dengan usia 33 tahun, Iwan
menjalankan kegiatan spiritual Katolik pada umumnya. Saat karir
semakin bagus dan tingkat kemapamanan sudah dicapainya dengan
baik, kemudian Iwan merenungi kehidupannya. Ia mencari tahu kegelisahannya tentang makna hidup itu
sebenarnya.
Melalui pembicaraan yang serius
dengan istrinya, Bernadette Briliana Setiawita Wardani atau biasa
dipanggil Lia, Iwan memberanikan
diri untuk meninggalkan pekerjaannya dan kemudian mencari pekerjaan yang lebih ringan, supaya
kemudian mempunyai waktu untuk hidup menggereja, menghidupi
imannya secara lebih baik. Pertama
kali terlibat dalam kegiatan menggereja, Iwan ikut dalam KEP yang
diselenggarakan pertama kali di
gereja Paroki kurang lebih pada
tahun 2001. Akan tetapi pekerjaannya masih sering menuntutnya untuk banyak keluar kota, sehingga ia
tidak mampu mengikuti KEP secara
penuh. Baru pada waktu KEP tahap
kedua, Iwan berhasil menyelesaikannya sampai dengan tahap pengutusan.
Seiring dengan keterlibatannya dalam KEP, cara pandangnya berubah.
Ia merasa lebih terarah kepada sesuatu yang lebih “kekal” dan semangat menggerejanya berkobar-kobar,
dimana ia juga mulai aktif dalam
level lingkungan. Ia juga mulai
jatuh cinta untuk belajar Kitab Suci
secara lebih mendalam.
Tahun 2009, saat itu bidang pengajaran di Paroki membutuhkan tambahan tenaga pengajar karena calon
baptis semakin banyak. Meskipun
merasa tidak mampu dan layak
karena bidang katekese bukanlah
keahliannya, Iwan menerima tawaran untuk dipersiapkan sebagai
43
Iwan Odananto mengajar para Katakumen setiap hari Minggu
tenaga pengajar dan untuk itu ia
mengikuti Kursus Pendidikan Kitab
Suci (KPKS) dari tahun 2002 sampai dengan 2005. Berkat usahanya
yang kuat, ia mulai menjalankan
tugas resmi dari Bapak Uskup untuk Kerasulan Kitab Suci sampai
kurang lebih sekitar 5 tahun terhitung hingga hari ini. Selama lima
tahun itu, ia rajin memberikan
pengajaran di wilayah-wilayah
atau lingkungan-lingkungan di Jakarta, bukan hanya di parokinya
sendiri. Pengajaran pertamanya
menjadi pengalaman yang tak terlupakan, saat itu ia mengajar di
Gd. Ventura, karena Gd. Leo Dehon
sedang mengalami pembangunan.
Ia bahagia dengan panggilan khusus
ini dan berusaha untuk terus memberikan diri sebaik-baiknya dan tetap
terbuka terhadap kritik, koreksi dan
saran dari pihak Gereja.
KATOLIK KTP, di Maintain Saja
Tidak Cukup
Baginya, keselamatan itu adalah
mengenal Bapa sebagai satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus yang diutus oleh Bapa.
Jadi kunci keselamatan adalah MENGENAL Allah dan Yesus. Tetapi
makna “Mengenal” itu bukan sekedar mengetahui, melainkan sehati,
sepemikiran dan berjalan bersama
dalam kata dan tindakan. Padahal
bagi Iwan, dulu-dulunya, ukuran
menjadi Katolik yang baik itu, kalau
kita tidak pernah absen ke gereja,
tidak membuat onar atau membebani masyarakat, dan selalu memberikan kolekte. Itu saja! Maka tidaklah
44
mengherankan kalau kemudian
ia merasa menjadi produk Katolik
yang Buta, dimana ia merasa tahu,
tetapi tidak mengenal.
“Gereja Katolik adalah Gereja yang
sulung, Gereja yang didirikan Yesus
sendiri, Gereja yang kaya pengajaran dan pengalaman,” kata Iwan
dengan penuh keyakinan. Ironisnya, banyak di kalangan kita, umat
Katolik, justru miskin pengetahuan
akan iman.
“
lumbung padi yang
banyak tikusnya tapi
kurus-kurus.”
Akibatnya, kita, sebagian umat Katolik, menjadi pribadi-pribadi yang
tidak mudah bersyukur dan kering.
Itulah yang menjadi keprihatinan
Iwan.
Untuk menjawab keprihatinan
itu, ia menilai bahwa kehidupan
Paroki harus mengedepankan kegiatan liturgi dan katekese. Inilah
ujung tombaknya kehidupan menggereja. Liturgi adalah tindakan
iman bersama-sama kepada Allah.
Katakese sendiri berarti bertekun
dalam pengetahuan iman. Karena
fungsinya yang penting tersebut,
maka kedua-duanya harus bergerak maju. Khusus soal katakese, ia
melihat bahwa selama ini kegiatan
katakese hanya terfokus mengurusi
soal calon-calon katakumen, padahal
yang sudah menjadi Katolik sendiri
masih membutuhkan katakese yang
berkelanjutan. Nah dalam hal ini,
kita kurang memberikan tempat
bagi bina lanjut pendalaman iman
bagi umat dan selama sekitar 6 tahun terlibat dalam bidang Katakese,
ia merasa perlu melakukan sesuatu
bagi penghidupan pengetahuan kepada umat Katolik sendiri. Secara
khusus, di mata Iwan, Gereja St.
Stefanus sekarang ini memasuki ke
dalam masa yang disebut “maintenance,” dimana secara sadar dan
tidak sadar, kita menjalankan ritme
program yang rutinitas, akan tetapi
pengetahuan iman umatnya bertumbuh sangat lamban. Untuk itulah kita perlu mengajak umat untuk
bertekun dalam pengajaran, karena
menjadi suatu aspek iman yang penting bahwa kita harus fides quaerens intellectum, yang berarti “iman
itu perlu mencari pemahaman.”
MEMBERI SEKALIGUS MENERIMA
Yesus menyatakan, “Akulah jalan
dan kebenaran dan hidup!” Dengan sangat jelas Yesus menunjukkan otoritas dan jati dirinya untuk
menyelamatkan kita. Namun persoalannya, ada banyak sekali tawaran-tawaran akan kebenaran dan
itu seringkali membuat orang-orang
Kristiani terombang-ambing dalam
iman dan kepercayaannya. Dalam
krisis iman semacam itu, tidak jarang kita mendengar orang-orang
Kristiani yang memutuskan untuk
meninggalkan Yesus.
45
nyangkal diri, dan ikut
Yesus setiap hari. Dan
Salib sebagai identitas
adalah yang utama. Salib
itu sendiri adalah segala
ketidaknyamanan yang
dialami, dirasakan, ditanggung sebagai akibat
memilih Yesus.
“Saya mengajar tidak hanya memberi tetapi juga sekaligus menerima,” jelas Iwan. Cara Tuhan memanggil mereka (katakumen) itu
bermacam-macam dan membuat
Iwan tersentuh. Bahkan Ia menemukan bahwa Yesus benar, bahwa
merekalah yang dipilih Yesus, bukan mereka dan kita yang memilih
Yesus. Oleh karena itu, Iwan begitu
sangat tulus dan sungguh-sungguh
bersemangat dalam melayani katekumen. Satu hal lagi yang membuat
Iwan bersiteguh dan tekun dalam
pelayanan, yakni “pengorbanan”
mereka untuk menjadi Katolik, dimana mereka menghadapi banyak
kesulitan dan tentangan dari orangorang di sekitarnya. Iwan melihat
bahwa mereka siap “membayar”
dengan harga yang tidak murah
sampai dengan dibenci dan dijauhi,
bahkan diusir dari keluarga.
Seperti halnya dalam kehidupan
Katolik, siapa yang ikut Yesus memang harus memanggul salib, me-
YESUS DIATAS SEGALANYA
Iwan dan Lia dianugerahi
Tuhan,
seorang
anak yang diberi nama
Benedictus Darendra Nareshwara,
biasa dipanggil Naresh. Anak
satu-satunya yang lahir di Jakarta
pada tanggal 17 Februari 1995 itu
berkuliah di Universitas Indonesia,
jurusan Teknik Mesin. Sejak dini
Naresh diarahkan oleh orangtuanya untuk mengenal Allah secara
bertangungjawab. Sebagai contoh,
pada saat Komuni pertama Naresh
didorong untuk ikut PPA sampai
berhenti sendiri, kemudian SMP ia
ikut dalam Persekutuan Doa Remaja di Kedoya, Jakarta Barat. Bahkan ketika ia menginjak SMA, Iwan
menuntunnya untuk belajar berdoa
dengan Kitab Suci.
“Saya telah mengarahkan dia bahwa hidup; tidak hanya, sekolah,
kerja, karir, mendapatkan nilai
atau apapun, tetapi juga mengenal
Allah,” kata Iwan. Iwan menyadari
untuk menghargai pilihan-pilihan
anaknya, dan Iwan sendiri selaku
orangtua harus memberikan yang
46
baik dan benar. Mempercayakan
apa yang Nares pilih secara proporsional dengan situasi yang tepat
tanpa harus enforce.
Ketika Bapak Soeharto (Presiden
ke-2) mengundurkan diri sebagai
Presiden dan Indonesia jatuh dalam krisis yang berkepanjangan, Ia
mengambil sebuah sikap yang cukup aneh pada saat itu, yaitu tidak
bekerja untuk sementara waktu.
Padahal Iwan dan Lia adalah keluarga yang bekerja karena memang
kebutuhan hidup di Jakarta dan ada
beberapa pinjaman. Setelah berhitung akhirnya istrinya memberikan
persetujuan, dan terlewatilah masa
satu tahun. Apa yang dibuat selama
satu tahun tersebut? Ia berpantang
dan berpuasa, serta ikut mendoakan
agar negara kita tidak runtuh. Setelah melewati satu tahun, Ia malah
merasakan bahwa Tuhan ingin agar
Iwan tidak melanjutkan pekerjaannya.
“Secara rasio menolak, karena tidak
sesuai cita-cita, tetapi batin mengatakan tidak,” tegas Iwan saat itu.
Tetapi Lia, wanita yang berkelahiran Bogor tanggal 18 September
1965, menyetujui suara batin tersebut. Maka Iwan siap menguji kata
batin tersebut sampai sekarang.
Lia-pun menyadari perannya yang
akan menjadi penafkah utama, dan
puji Tuhan, pekerjaannya semakin
bagus. Sekarang Lia bekerja sebagai konsultan sebuah perusahaan
di bagian Business Development.
Di sela-sela kesibukannya Lia meluangkan waktu untuk melayani
anak-anak kurang mampu yang memerlukan bantuan berupa bimbingan belajar yang ia berikan setiap
minggu siang di rumah. Di samping
itu ia juga tekun mengikuti kelompok pembinaan iman Schooled by the
Spirit yang dimoderatori oleh Romo
Sugiri, SJ dan Pendalaman Alkitab
‘Gabriel’ yang dibimbing oleh Romo
Hendra Sutedja, SJ serta Komunitas
Kancil (Rekan Cilik) yang melayani
anak-anak jalanan yang terlantar.
Keluarga ini merasakan karya nyata belas kasih Tuhan dan terus belajar membagikan kasih itu dengan
siapapun yang mau menerimanya.
Mengakhiri perbincangan dengan
MediaPass, Iwan memberikan oleholeh permenungan kepada kita sekalian. Ada 2 hal yang menjadikan
Iwan hidup kembali dan menerima
berkat langsung dari Bapa,
“Apa gunanya orang
memperoleh seluruh dunia
tetapi kehilangan nyawanya?
dan “Barangsiapa mengasihi
orang tuanya, suaminya,
istrinya, anaknya lebih dari
Aku, ia tidak layak bagiKu.”
Dan itulah titik balik Iwan Odananto, sebelumnya ia sangat mengagungkan karir dan kesuksesan duniawi, namun sekarang ia memilih
menjadi “yang terkecil” di dunia ini,
agar Yesus semakin besar.(Put)***
47. ORBITAN UTAMA
SALIB PROYEK KESELAMATAN BAPA
K
etika Seksi Komsos Paroki
St. Stefanus meminta saya
untuk menulis artikel dengan tema “Salib jalan Keselamatan,“ dengan fokus pada sejarah
Salib, saya sempat bingung, mau
menulis apa! Kalau mencari tahu
sejarah Salib kan tinggal tanya Om
Google tentu sudah dikasih banyak
jawaban dan memang benar banyak
jawaban. Tetapi kalau semua informasi dari internet itu ditulis disini
hingga memenuhi lembaran-lembaran MediaPass, tentu bukan yang
menjadi tujuan kita.
Disamping itu, kita perlu melihat dan menyaring sejauh mana
informasi-informasi itu membuat
iman kita menjadi lebih baik. Bagaimana pun informasi historis sangatlah penting, karena iman kita
bukan berasal dari sebuah legenda
atau mistis belaka. Namun dalam
hal ini, tanpa mengabaikan diskursus
mengenai sejarah, memahami makna
penyaliban Yesus jauh lebih relevan
dan visioner, karena akan menguak
misteri dari Proyek Keselamatan
yang dicanang-kan oleh Bapa Surgawi kita. Akan tetapi, ada baiknya
secara sekilas kita dasarkan makna
penyaliban Yesus atas sejarah Salib,
yang barangkali memenuhi hasrat
keingintahuan kita.
Latar belakang Penggunaan
Salib di Romawi
Berdasarkan informasi dari Google,
bukti-bukti tentang adanya penyaliban (penggunaan salib sebagai
hukuman bagi masyarakat Roma)
ditemukan di dalam tulisan-tulisan
Cicero dan Quantilian. Cicero menulis, “Biarlah setiap nama yang ada
di atas salib dijauhkan tidak hanya dari tubuh penduduk Romawi,
tetapi bahkan dari pikirannya.” (Pro
Rabiro 5). Quantilian juga menulis,
“Menemukan penyaliban sebagai
alat untuk menghindar yang efektif
bagi penjahat dan pendurhaka dan
juga merupakan sumber kepuasan
untuk korban dari suatu perbuatan
jahat yang dilakukan seseorang.”
(Declamationes minores 274)
Mirip dengan kebiasaan bangsabangsa di sekitarnya, penyaliban
di dalam masyarakat Romawi
berkaitan dengan proses penyembahan kepada dewa-dewa. Hengel
mengutip Dionysius of Helicarnassus dalam karyanya Antiquitates
Romane 2.10.3, “Aslinya, ini merupakan cara untuk mempersembahkan para kriminal kepada dewa-dewa yang dari neraka. Sesuai dengan
hukum Roma yang lama: ‘Romulus’
penghianat itu mati sebagai persembahan untuk Zeus dari neraka.”
48
Masyarakat Roma mengenal salib
tidak hanya dalam proses penyembahan kepada para dewa, tetapi juga
sebagai salah satu cara penghukuman yang paling keji. Pada masa pemerintahan Romawi, penghukuman
salib hanya ditujukan kepada para
penjahat dan golongan budak yang
merupakan masyarakat golongan
bawah. Hal ini tidak diberlakukan
kepada masyarakat golongan atas,
yaitu penduduk kota Roma yang
memiliki status sebagai orang bebas.
Di wilayah kekuasaan Romawi, hukuman salib menjadi sangat populer. Sejarah kekristenan mencatat,
bahwa Yesus Kristus mati di atas
kayu salib di dalam pemerintahan
Pontius Pilatus, perwakilan kekaisaran Romawi yang ada di daerah
Yudea.
Yesus dan Salib
Bagaimana kita memahami Tuhan
Yesus dan peristiwa penyaliban atas
diriNya? Bagaimana kita memaknai
penyaliban itu? Ssumber pengajaran Katolik dari situs Sarapan pagi
Biblika memberikan pencerahan
tentang sejarah salib dan maknanya
sebagai berikut:
Hukuman mati dengan cara
“menggantung” penjahat di atas
kayu/pohon, di mata orang Israel
adalah hukuman kutuk, ini berlaku
dalam Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru.
“Menyalibkan” penjahat dalam
keadaan hidup menggantung di
kayu (model salib/ palang seperti
“+” ) itu tidak terdapat pada
Perjanjian Lama. Penyaliban
baru dikenal pada masa
penjajahan Romawi di tanah
Yudea. Namun ada kalanya, ada
cara penghukuman yang mirip
dalam Perjanjian Lama yaitu
dengan menggantungkan mayat di
sebuah pohon/tiang kayu sebagai
peringatan (Ul.21,22-23 ).
Kisah Para Rasul 5:30, mencatat
istilah khusus yang diucapkan
Petrus yaitu kata yang sudah
dikenal dalam agama Yahudi,
bahwa orang yang mati dengan
cara digantung pada kayu adalah
dikutuk oleh Allah (bandingkan
dengan Kisah 10:39, Galatia 3:13).
Yesus memang dihukum dengan
cara Romawi yaitu “salib.” Namun
cara ‘menggantung’ di kayu itulah
yang sedang diangkat topiknya
oleh Petrus dihadapan pengadilan
Agama Yahudi (Sanhedrin) dengan
referensi TAURAT.
Dosa adalah perbuatan jahat
di mata Allah, dosa bagaikan
hutang, dan juga perbuatan yang
mengakibatkan “kutuk.” “Kutuk
Dosa” inilah yang sedang dibayar
oleh Yesus, bandingkan khotbah
Petrus diatas dengan tulisan Rasul
Paulus dalam Galatia 3:13 dibawah
ini:
Kristus telah menebus kita dari
kutuk hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita, sebab
ada tertulis: “Terkutuklah orang
yang digantung pada kayu salib!”
Hukuman kutuk dengan cara
“digantung pada kayu” juga menjadi
49
Patung Salib di Gereja Kristus Raja Pejompongan
diukir oleh Seniman Ukir I Wayan Winten
beragama Hindu. Foto DW dok MP
pokok pembicaraan Paulus, bahwa
kematian Yesus diatas kayu (salib)
bukan hal yang kebetulan, tetapi
suatu pernyataan bahwa dengan
kematian “cara gantung” ini
menyatakan bahwa “Yesus menjadi
terkutuk” sebagai ganti manusia
yang terkutuk atas dosa. Darahnya
yang suci dan hakikatnya yang
adalah Allah, sehingga darah
tersebut adalah darah yang sungguh
mahal, dan olehNya semua umat
manusia dosa-dosanya boleh
diampuni.
Hukuman Salib (gantung pada
kayu) tetaplah hukuman kutuk,
makna ini tidak berubah. Dan karya
Kristus tidak selesai di Kayu Salib
saja bukan? Kemudian Ia masih
dalam karya selanjutnya yaitu Ia
bangkit dan Ia naik ke Surga.
Namun bagi orang percaya,
Kematian Salib adalah tanda
pembayaran “kutuk dosa”,
dengan darahNya, Ia dengan
lunas membayar hutang dosa (1
Korintus 7:23). Kemenangan yang
sesungguhnya adalah dengan bukti
bahwa Ia tidak mati selamanya,
tetapi Dia bangkit sebagai tanda
kitapun dibangkitkan setelah “mati”
akibat dosa.
Karena Yesus Kristus yang
mengalami hukuman “gantung pada
kayu” itu bangkit, maka makna salib
yang negatif itu berubah menjadi
lambang kemenangan. Itulah
kemenangan Yesus Kristus dan
umatNya yang percaya kepadaNya.
50
Proyek Keselamatan
Allah Bapa
Kembali kepada permenungan saya,
pada akhirnya saya sampai kepada
kesimpulan bahwa Salib adalah
proyek keselamatan Allah Bapa.
Dengan Salib, dimana Yesus sebagai aktor utamanya, Allah Bapa ingin menyelamatkan seluruh umat
manusia. Mengapa dengan Salib?
Dalam perspektif saya, karena kedosaan manusia dan dunia sudah
begitu berat dan hanya pantas diganjar dengan hukuman mati yang
paling keji. Maka Allah yang ingin
menyelamatkan dan mengampuni
manusia, mengambil alih posisi manusia tersebut; Allah sendiri yang
mengambil rupa seorang hamba,
menjalani hukuman keji itu. Justru
dengan begitu, Allah ingin mengangkat apa yang dianggap hina menjadi
mulia; Salib yang penuh penghinaan, “dibaptis” oleh Tuhan Yesus
menjadi Salib yang menyelamatkan
dan memberi kemenangan iman.
Jaminannya apa? Terletak kepada
peristiwa kebangkitan, Paskah! Kebangkitan Kristus memberi jaminan
bahwa Tuhan Yesus mengalahkan
maut, mengalahkan makna salib sebagai lambang penghinaan dan kekalahan. Kebangkitan memberi makna
Salib secara baru, yakni lambang kemuliaan dan kemenangan.
De-ngan Salib (memandang, memakai, dan membuat tanda salib),
kita
diundang
oleh Tuhan Yesus
untuk berjalan bersamaNya, setia dalam suka duka perjalanan hidup menuju puncak
Golgota. Bukan perjalanan
tanpa harapan! Karena Golgota bukanlah akhir dari segalagalanya. Golgota bukan tujuan
hidup kita, Paskahlah tujuan
kita. Merengkuh dan memeluk Salib, ber-arti kita merengkuh harapan akan kemuliaan Paskah. Hidup
yang paskali, adalah kebahagiaan
hidup karena dosa-dosa kita telah
ditebus; dengan kata lain, kita telah menang atas dosa.
Penulis Paulus Sabar (pernah menjadi katakese) & Romo Guntoro SCJ (Misionaris
SCJ)
51. PESONA SABDA
IN CRUCE SALUS
Serafin Dany Sanusi, OSC
“Ya
Tuhan,
salib-Mu
kami sembah,
kebangkitanMu
yang suci kami
muliakan dan
kami puji, sebab
berkat salib
itu, seluruh
bumi dipenuhi
sukacita.”
D
emikian sederet doa yang
dikidungkan para rahib, biarawan, biarawati dan kaum
religius tatkla mendaraskan Doa
Haria (Brevir) pada setiap Hari Raya
Salib Suci. Gereja Kudus menjadikan tanggal 14 September sebagai
Hari Raya Salib Suci, Kemegahan
Salib (Exaltation of The Holy Cross).
Yang menarik dalam doa di atas –
minimal bagi saya pribadi - adalah
kalimat “… berkat salib itu seluruh
bumi dipenuhi sukacita”. Hal ini
menandakan bahwa sejatinya salib
tidak (lagi) bermakna penderitaan
(suffering) melainkan lebih bermakna sebagai sumber sukacita (happiness) dan sumber keselamatan (salvation). Itu pulalah yang mendasari
pemilihan judul dari tulisan ini: In
Cruce Salus (Di dalam Salib ada
Keselamatan).
Salib Sumber Sukacita
Sejarah salib adalah sejarah kekelaman. Salib merupakan lambang
kematian. Salib merupakan sarana
penghukuman yang mengerikan
bagi para penjahat kelas kakap. Salib menjadi simbol penghinaan yang
paling keji bagi para penjahat politik pada jaman Yesus. Ketika Yesus
dijatuhi hukuman mati dengan cara
disalib maka Ia pun dikategorikan
sebagai penjahat, entah penjahat
kelas kakap atau pun penjahat politik.
Akan tetapi ketika salib disematkan
pada Yesus maknanya pun mengalami pergeseran. Salib tidak lagi
merupakan simbol penghukuman
yang mengerikan dan penghinaan
yang paling keji, tetapi lebih menjadi simbol sukacita. Di dalam penderitaan-Nya Yesus tetap memberikan hati-Nya untuk menghibur
52
para perempuan yang menangisi
Dia (Luk. 23:28). Di saat-saat akhir
hidup-Nya Yesus pun masih tetap
memberikan penghiburan bagi seorang penjahat yang disalibkan bersama-Nya: “Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya hari ini juga engkau
akan ada bersama-sama dengan
Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).
Sukacita paling besar dirasakan
oleh Maria, sang ibunda setia, dan
para murid-Nya. Perkataan Yesus:
Ibu inilah anakmu dan inilah ibumu
(Yoh. 19: 26-27) merupakan sebuah
kelegaan luar biasa bagi Maria dan
juga para murid. Mereka tidak perlu
berlama-lama meratapi kematian
Yesus. Kini mereka disatukan oleh
dan di dalam Yesus sebagai keluarga.
Salib adalah simbol sukacita iman.
Sukacita iman lebih dari sekedar
suasana hati, tetapi berkaitan dengan jati diri. Jati diri para perempuan yang dihibur oleh Yesus,
penjahat yang disalibkan bersama
Yesus, dan Maria serta para muridNya adalah pribadi-pribadi yang
bersukacita karena telah berjumpa
dengan Kristus. Itu pula yang menjadi pesan utama pesan pastoral
Paus Fransiskus dalam “Evangelii
Gaudium” (EG). Dalam EG Paus
Fransiskus mengajak setiap orang
beriman untuk berdaya upaya mencari cara dan bertekun setia meluangkan waktu untuk tetap membangun perjumpaan dengan Kristus
atau membiarkan diri dijumpai oleh
Kristus.
Salib tidak bermakna sebagai bagian
dari karya keselamatan jika di dalamnya tidak ditemukan sukacita.
Maka kita semua diajak dan dipanggil untuk menjadi pribadi yang
bersukacita dalam Kristus seperti
juga diajarkan oleh Santo Paulus:
“Bersukacitalah senantiasa dalam
Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Fil. 4:4).
Salib Sumber Keselamatan
Seorang anak mengeluh kepada
saya, “Pastor salib saya hari ini berat sekali”. Dengan agak heran saya
bertanya kepada anak tersebut, “Apa
yang terjadi sehingga kamu mengatakan bahwa salibmu pada hari ini
berat sekali?”. Dengan wajah sedikit
loyo anak itu mengatakan bahwa
saat ini ia ngantuk sekali sehingga
tidak dapat mengikuti pelajaran
dengan baik. Rasa kantuk dan tidak
dapat mengikuti pelajaran dengan
baik dikatakan oleh anak itu sebagai salib. Apakah setiap penderitaan
yang dialami oleh umat Kristen dapat dikatakan sebagai salib?
Setiap penderitaan tidaklah serta
merta dipandang sebagai salib. Salib, juga, tidaklah semata dipandang
sebagai simbol penderitaan dan kesengsaraan. Penderitaan dapat dipandang sebagai salib jika penderitaan tersebut membawa seseorang
pada keselamatan. Seorang ibu
yang melahirkan anaknya secara
normal tentu mengalami kesakitan
yang amat sangat. Rasa sakit yang
diderita selama proses melahirkan
53
Lukisan Kayu di Gereja Toasebio
foto DW dok MP
tersebut dapat disebut sebagai salib,
karena penderitaan tersebut membawa keselamatan dan kehidupan
baru bagi seorang anak manusia.
Dengan demikian salib merupakan
daya yang mampu memancarkan
nilai-nilai keselamatan bagi hidup
manusia.
Pembaptisan yang kita terima selain
menjadikan kita sebagai anak Allah dan ahli waris surga, juga menjadikan kita sebagai penyandang
Salib Kristus. Sebagai penyandang
Salib Kristus kita harus mampu
menawarkan nilai-nilai keselamatan dan harus mampu mengangkat
martabat mereka yang miskin, tersingkir, hina dan termajinalisasi kepada keselamatan nyata di dunia.
Ada tiga pilar utama dalam
mengintegrasikan semangat keselamatan: cultus, communio, dan
caritas. Cultus adalah kebersatuan hidup dengan Allah. Pewartaan
akan salib sebagai simbol keselamatan tidaklah mungkin dilakukan
jika tidak ada kebersatuaan hidup
antara manusia dengan Allah. Kebersatuan tersebut tercermin dalam
hidup doa, merayakan misa, dan
spiritualitas batin lainnya. Com-
munio merupakan kebersatuan
dengan keluarga atau komunitas.
Hal ini diekspresikan dengan kemampuan bekerjasama, kemauan
untuk saling menguatkan dan membela antar anggota keluarga atau
komunitas. Caritas disebut pula
sebagai kebersatuan dengan orangorang di luar keluarga atau komunitas. Hal ini diekspresikan dengan
karya-karya pelayanan.
Penutup
In cruce salus bukanlah sekedar
slogan. Di dalamnya mengandung
makna pewartaan sebagai buah sukacita dan keselamatan. Sukacita
iman yang kita alami karena Salib
Kristus haruslah kita wartakan.
Itulah yang dilakuakn oleh dua
orang murid Emmaus yang bergegas kembali ke Yerusalem untuk
mewartakan sukacita iman setelah
perjumpaan mereka dengan Tuhan.
Untuk itu perlulah kita senantiasa
membangun perjumpaan dengan
sesama agar kita dapat menjadi pewarta Salib Sukacita dan Salib Keselamatan. Tidak akan pernah ada
pewartaan tanpa perjumpaan.***
Penulis adalah biarawan dan Imam Ordo
Salib Suci
Apa yang membuat
HOMILI dapat
dimengerti?
Paula S.
Bonang
Paroki St.
Stefanus
Cilandak/
Ling. St.
Bernardus
Maria Endah Pratiwi
Paroki St. Stefanus Cilandak/
Ling. Timotius / Wilayah VIII
“Homili pastor mudah mengerti jika
diberikan contoh dengan kehidupan
sehari-hari.”
Lia
Paroki St. Ludovikus
Waklibang/aktivitas Koor
“Lebih baik homili harus berbentuk
cerita dan ada candaannya (lucu dan
ada leluconnya).”
Michael
Ibnuwoto
Widya
Paroki St.
Stefanus
Cilandak/
Ling.
Lingkungan
Bernardus
“Homili sebaiknya
berisikan hal-hal
praktis, sebuah nasihat
atau pesan yang berisi
ajaran moral. Apabila
dibawakan dengan
semangat, menggunakan
kata-kata / kalimat yang
mudah dimengerti dan
harus berkaitan dengan
situasi kehidupan nyata
sehari-hari.”
“Homili yang bisa memberikan
jawaban atas permasalahan
yang sedang ngetrend
pada kehidupan keluarga/
lingkungan. Dan harus tetap
berdasarkan Nats/Konteks
atas Bacaan injil pada saat itu.
Sehingga umat paling tidak bisa
mendapatkan penghiburan dan
pulang dengan senyum.”
Felix Handawi
Paroki St. Stefanus
Cilandak/ Ketua
Ling. St. Elias
“Homili yang mudah dimengerti adalah
homili yang menggunakan bahasa
awam, dengan contoh-contohkehidupan
sehari-hari. Mudah diingat dan bisa
diaplikasi dalam kehidupan pribadi.”
Elisabeth
Arum
Paroki St.
Fransiskus
Asisi, Tebet
/aktivitas
OMK
“Kalau homilinya dibawakan
dengan tidak monoton,
intonasi tidak datar dan ada
gerakan-gerakan pasti akan
lebih menarik.”
Muliawan
Margana
Ketua
Ikatan
Sarjana
Katolik
Indonesia
“Homili memiliki peran central
dalam sebuah perayaan ekaristi,
karena disanalah banyak masalah
dan kerinduan umat mendapatkan
jawabanya. Ada dua hak inti dalam
sebuah Homili yang sifatnya saling
melenglapi, yang pertama sebaiknya
pesan Kristian ini haruslah ‘membumi’
dan yang kedua haruslah berakar pada
ajaran kKristus sendiri. Bila kedua
hal ini terpenuhi maka niscaya akan
Diana Herman
Paroki St. Stefanus Cilandak/ Ling.
St. Bartolomeus/ Wilayah V
“Homili mudah dimengerti apabila
Pastor mampu mengurai bacaan Misa
dengan baik, menggunakan bahasa
yang sederhana, Berbicara dengan
suara yang cukup keras (sound system
yang jelas) sehingga umat bisa dengan
mudah mendengarkan, tidak harus
konsentrasi penuh untuk menyimak.
Juga perlu suasana Gereja yang cukup
tenang tidak berisik oleh suara-suara
lain. Berbicara dengan intonasi.
Seakan-akan umat diajak berdialog,
dan bukan hanya sebagai penonton
saja. Apabila memungkinkan diberikan
contoh-contoh nyata dalam kehidupan.”
memberikan dampak yang positif bagi
umat. Kedua hal tersebut tidak bisa
dipisahkan, karena menyampaikan
sesuatu yang membumi saja tanpa
dasar filosofi ajaran Kristiani akan
membuat umat kehilangan orientasi
hidupnya dan bahkan dapat terjebak
pada kemungkinan praktis. Demikian
pula Homili yang sangat filosofi juga
akan sulit dipahami oleh umat..”
56. ORBITAN LEPAS
Kar – Do – Mu
(Karya-Doa-Musyawarah)
Martin van Ooij, SCJ
B
arangkali kita sudah akrab
dengan semboyan “Ora et
Labora” (Doa dan Karya)
yang merupakan salah satu kekayaan Spiritualitas Benediktin.
Dengan semangat yang sejalan, saya
pernah menelorkan semboyan “KarDo-Mu” (Karya-Doa-Musyawarah) agar dihidupi oleh umat Katolik yang
pernah saya layani. Bagaimana sejarah lahirnya semboyan ini? Marilah
sejenak melihat jauh ke belakang,
ke masa yang disebut “GESTAPU”
pada bulan Oktober 1965. Pada waktu itu, keadaan ekonomi negara dan
masyarakat hancur, jalan-jalan rusak, dan mereka tidak mempunyai
bahan tanaman; padahal di Lampung,
khususnya di daerah transmigrasi,
masyarakat sangat bergantung pada
tanaman dan bibit.
Dalam situasi demikian, setelah
“Gestapu,” pimpinan negara, polisi,
dan tentara mendesak masyarakat
agar berdoa dan memilih salah satu
agama demi keamanan. Taktik itu
ditempuh untuk memulihkan stabilitas di negara kita. Maksudnya
baik, tetapi saya sebagai pastor
yang baru berumur 30 tahun waktu
itu dan sebagai anak dari keluarga
petani, melihat bahwa taktik pemerintah kurang mengenai sasaran
atau kurang menjawab keprihatinan
yang pokok di dalam masyarakat.
Berdoa atau beragama tanpa diimbangi dengan lapangan pekerjaan
itu ibaratnya seperti burung yang
terbang dengan satu sayap. Maka
saya mencoba bermusyawarah dengan para pemimpin masyarakat
untuk menciptakan pekerjaan dan
memperbaiki infrastruktur. Lantas,
terinspirasi oleh St. Benediktus yang
mempunyai semboyan “Ora et Labora,” saya mempromosikan sebuah
Sidang KWI tahunan. Foto
Pormadi
57
motto, “Kar-Do” yang artinya “Karya
dan doa.” Kebetulan kata “Cardo”
dalam bahasa latin berarti “engsel”
dan itu terdiri dari dua bagian. Engsel hanya ada gunanya apabila terdapat keseimbangan di antara dua
bagian tersebut. Begitu pula dengan
hidup kita, perlulah keseimbangan
antara karya dan doa.
Setelah pedoman Kar-Do sudah disosialisasikan, muncul gagasan baru untuk menambah kata
“Musyawarah.” Dan ternyata amat
tepat. Setelah keluarga-keluarga
atau setiap bentuk kemasyarakatan ada karya dan doa, justru
musyawarah kemudian membawa
dimensi baru yang menggairahkan
seluruh hidup. Dengan musyawarah,
semangat hidup kita diperkaya
dan menjadi subur dalam segala
lapisannya. Peran masing-masing
anggota entah keluarga, komunitas
kantor, atau bentuk yang lain akan
memperkaya dan membuat “KarDo” kita menjadi seimbang. Dalam
musyawarah, bukan lagi pribadi
yang diutamakan, melainkan kebersamaanlah yang menjadi sasaran.
Kembali ke semangat para Benediktin, mereka membagi waktu dalam
tiga bagian, yakni: 1) Delapan jam
untuk doa, 2) Delapan jam untuk
berkarya, dan 3) Delapan jam untuk
tidur/makan/dan lain-lain. Tentu
kita tidak dapat meniru jadwal para
rahib Benediktin itu. Meskipun demikian, suatu “home schedule” masih
mungkin untuk dibuat oleh setiap
keluarga. Keluarga perlu membuat
“Home schedule” dimana unsur
karya dan doa atau Kar-Do bisa dimasukkan. Seringkali tidak mudah
membuat suatu jadwal harian di
dalam keluarga yang mengandung
Kar-Do. Maka disitulah pentingnya
musyawarah. Adanya musyawarah
dalam keluarga memperkaya dan
membuat seluruh hidup menjadi
harmonis.
Agar tercipta hidup yang harmonis,
tentu perlu suatu latihan. Semakin
diusahakan (bertekun dalam latihan), semakin besar harapan menjadi keluarga atau komunitas yang
sejahtera dan bahagia. Buah dari
usaha kita untuk mewujudkan KarDo-Mu dalam kehidupan harian,
menjamin juga hidup tanpa stres,
depresi, dan ketegangan yang merusak kebersamaan.
Apakah kita memang bermaksud
membangun kebersamaan? Apakah
kita mau dan mampu menyadari
bahwa kita sendiri bisa menjadi berkat bagi orang lain atau sebaliknya?
Semuanya tergantung pada diri kita
sendiri. Percayalah bahwa Roh Kudus masih hidup dan juga aktif mendampingi hidup kita.
Mengakhiri tulisan ini, saya ingin
menegaskan sekali lagi. Kar-Do-Mu
bukanlah obat. Kar-Do-Mu adalah
tantangan, bahkan sarana untuk
membangun hidup beriman yang
nyata dan membahagiakan. Salam
Kar-Do-Mu. Tuhan memberkati.***
58. ORBITAN LEPAS
SALIB KRISTUS
YANG BERKEMENANGAN
K
F.X. Indrapradja, OFS
ristus
Yesus,
yang
walaupun dalam rupa
Allah, tidak menganggap kese-taraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus
dipertahankan,
melainkan
telah mengosongkan diri-Nya
sendiri, dan mengambil rupa
seorang hamba, dan menjadi
sama dengan manusia. Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diri-Nya dan taat sampai mati,
bahkan sampai mati di kayu
salib. Itulah sebabnya Allah
sangat meninggikan Dia dan
mengaruniakan kepadanya
nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus
bertekuk lutut segala yang
ada di langit dan yang ada
di atas bumi dan yang ada di
bawah bumi, dan segala lidah
mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan
Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)
Pesta gerejawi yang kita rayakan
pada tanggal 14 September 2015
mempunyai sebuah sejarah yang
panjang. Penemuan salib Kristus di
tanah suci oleh Santa Helena, untuk pertama kali dirayakan dalam
Gereja pada tanggal 14 September
365. Perayaan itu diselenggarakan
dalam gereja yang dibangun atas
perintah putera Helena, Kaisar
Roma Konstantinus, di situs Golgota dan makam Yesus. Perayaan
untuk memperingati ini menyebar
luas dengan cepat di tengah umat
Kristiani di seluruh dunia, dan pada
abad ke-7, pesta ini digabungkan
dengan pesta berkenaan dengan
restorasi dari relikwi salib itu yang
direbut dari orang-orang Persia –
lalu dinamakan “Pesta Kemenangan Salib” (Inggris: “Feast of the
Triumph of the Cross”) atau “Pesta Peninggian Salib” (Inggris: Feast
of the Exaltation of the Cross) dalam
kalender liturgi Gereja Roma.
Dunia kuno sungguh merasa ngeri
menyaksikan kematian lewat penyaliban – sebuah praktek pemberian hukuman mati yang mengerikan dan memalukan. Akan tetapi,
orang-orang Kristiani menghormati
salib, baik sebagai tanda penderitaan
Yesus maupun piala kemenangan-
“Kita menghormati salib sebagai
penjaga iman, penguat harapan,
dan takhta kasih. Salib adalah
tanda belas kasih, bukti pengampunan, sarana rahmat, dan pataka
damai-sejahtera. Kita menghormati
salib (Kristus) karena salib itu telah
mematahkan kesombongan kita,
mencerai-beraikan rasa iri kita, menebus dosa-dosa kita dan menjadi
silih terhadap hukuman atas diri
kita.......
Sketsa oleh Teguh Ostenrik
“Kami menyembah Engkau, Tuhan
Yesus Kristus, di sini dan di semua
gereja-Mu yang ada di seluruh
dunia; dan kami memuji Engkau,
sebab dengan salib suci-Mu Engkau
telah menebus dunia. Amin.”
Nya atas Iblis, dosa dan maut. Kita
menghormati salib Kristus karena
melalui salib-Nya kita sampai pada
pengenalan dan pengalaman akan
kasih Yesus kepada kita yang begitu
besar dan agung, dan melalui bilurbilur-Nya kita telah diselamatkan
dan disembuhkan (Yes 53:5; bdk. 1Ptr
2:24). Rupert dari Dreutz, seorang rahib dan abas Benediktin pada abad
ke-12 mempermaklumkan dengan
mengharukan:
“Salib Kristus adalah pintu ke surga, kunci masuk ke dalam firdaus,
kejatuhan Iblis, pengangkatan umat
manusia, konsolasi/penghiburan atas keberadaan kita dalam penjara,
hadiah bagu kebebasan kita ......
Para tiran dihukum oleh salib (Kristus) dan orang-orang berkuasa dikalahkan oleh salib (Kristus) itu. Salib
mengangkat orang-orang susah dan
menghormati orang-orang miskin.
Salib adalah akhir dari kegelapan,
penyebaran terang, kaburnya maut,
kapal kehidupan dan kerajaan keselamatan.......
“Apa pun yang kita capai bagi Allah,
apa pun yang berhasil kita capai dan
harapkan, adalah buah dari penghormatan kita terhadap salib (Kristus). Oleh Salib, Kristus menarik
segala sesuatu kepada diri-Nya. Itu
adalah kerajaan Bapa, tongkat lambang kekuasaan dari sang Putera,
dan meterai Roh Kudus, suatu saksi
bagi Tritunggal Mahakudus secara
total.”***
60. ORBITAN LEPAS
‘‘Mati Kok di Salib’’
Fr. Surya Nandi
Patung “Corpus Christi”
Karya Teguh Ostenrik untuk
Paroki Cilangkap, bahan yang
digunakan adalah besi bekas.
Foto Put
61
Penyakit Jaman Ini
Menurut salah satu situs di internet,
ada 10 “pembunuh” paling mematikan di Indonesia. Yang pertama adalah stroke, kedua penyakit jantung
sistemik, urutan ketiga disusul oleh
penyakit TBC, sedangkan kecelakaan menempati urutan ke-9. Kita
semua tentu merindukan kematian
secara wajar. Meninggal karena
berumur tua, dengan didampingi
saudara-saudari yang terkasih. Namun demikian justru hal itu tidak
terjadi pada Yesus. Yesus wafat
dengan cara yang mengerikan yakni
dengan disalibkan. Pertanyaannya
adalah kenapa Yesus harus mati
di Salib, kenapa tidak mati karena
stroke saja atau mati karena sudah
berumur tua?
Salib Bagi Orang Yahudi
Untuk orang Yahudi salib adalah
suatu batu sandungan (bdk 1 Kor:
22). Orang yang disalib merupakan
orang hina dan berdosa. Bagi mereka
adalah tidak masuk akal seseorang
yang diberkati mati dengan cara
yang hina seperti itu. Pandangan
orang-orang Yahudi tersebut dapat
dimengerti. Apabila kita mengingat
bagaimana para Bapa bangsa Israel
mati, sebut saja Abraham, Ishak,
Yakub, Musa, dan Yosua, mereka
meninggal secara wajar. Mereka
meninggal ketika berumur ratusan
tahun, ketika rambutnya memutih,
dan ketika telah beranak-cucu. Singkatnya para Bapa bangsa itu mati
dengan tanda-tanda bahwa mereka
diberkati Allah.
Gambaran kematian orang yang
diberkati Allah itu tentu kontras
dengan kematian Yesus. Yesus wafat sekitar umur 33 tahun pada saat
masih ganteng-gantengnya - harta
tidak punya – tidak menikah - apalagi mempunyai anak cucu, dan
yang paling tragis ia mati di hukum
mati dengan disalibkan. Oleh karenanya kata-kata Rasul Paulus “aku
memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain
Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan…” (1 Kor 2:2) menjadi suatu
hal yang kontradiktif bagi cara
pikir orang-orang Yahudi. Mungkin
orang-orang Yahudi akan berkomentar “orang yang mati disa-lib
kok diikuti”
Saudara Muslim Memandang
Salib
Saudara muslim menempatkan
Yesus pada kedudukan yang tinggi sebagai nabi dan rasul Allah.
Setidaknya ada 40an ayat dalam
Al-quran yang berbicara mengenai Yesus dan satu surat tersendiri
berbicara mengenai Maria. Umat
muslim mengakui bahwa Yesus dikandung tanpa persetubuhan oleh
perawan Maria. Umat muslim juga
percaya bahwa Yesus melakukan
berbagai mujizat, menyembuhkan
orang sakit, bahkan menghidupkan
orang mati.
Namun dua hal yang tidak bisa saudara muslim terima yakni 1) bahwa
Yesus adalah Tuhan 2) bahwa Yesus
62
mati di Salib. Dalam kepercayaan
saudara kita itu, Yesus memang
seorang Nabi, tetapi bukan Tuhan.
Lantas, yang disalibkan bukanlah
Yesus melainkan salah satu murid yang menyerupai Yesus. Yesus
sendiri selamat dari salib. Senada
dengan pandangan Yahudi, bagi
mereka tidak masuk akal orang
yang saleh, suci, rasul Allah mati
dengan cara yang hina.
Salib bagi “Kita”
Tentu sedikit uraian diatas tidak
bermaksud
mempertentangkan
Iman kita dengan Iman orang Yahudi dan saudara muslim. Justru dengan mengetahui bagaimana orang
non-katolik memandang salib, kita
sendiri berefleksi mengenai “apa
artinya jika Yesus Tuhan kita wafat
di Kayu Salib”?
Jawabannya adalah karena Kasih
Allah yang tidak terbatas. Yesus
sudi memilih jalan Salib bagi keselamatan kita. Dengan demikian
Yesus mau menanggung salib demi
kasih-Nya kepada manusia. Bukankah tiada kasih yang lebih besar
daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatsahabatnya? (bdk Yoh 15:13).
Maka jelas bagi saya/kita kenapa
Yesus tidak mati karena stroke.
Jika mati karena stroke karya penebusan dosa tidak akan terlaksana
(bdk. Yes 52:13 – 53:12). Nubuat
para Nabi tentang Mesias yang
dihina, menderita, dan sengsara
tidak jadi digenapi. Yesus tidak juga
menghindari salib agar dapat hidup
aman sentosa hingga nantinya mati
tua. Dengan wafatnya di kayu salib,
ia mau menunjukkan kepada kita
Kasih ilahi. Ka-sih yang sudi mengorbankan dirinya demi sahabatsahabatnya. Kita se-bagai muridNya dipanggil untuk melakukan hal
yang serupa.
“Saat sedang mengetik tulisan singkat ini saya memandang sebuah
salib. Salib pemberian teman-teman
saya di seminari. Kalau tidak salah
saudara Joko yang membelikan
untuk saya. Untungnya Joko tidak
salah pilih. Joko memilih salib yang
ada corpus-nya. Di salib itu tergantung Yesus. Yesus yang seolah-olah
dengan suara lirih berkata “ikutilah
Aku, dan pikullah salibmu ”Saya yakin Diapun juga berkata demikian
kepada saudara.***
Satu badan dari “Corpus Christi
ketika dibaringkan saat tahap
akhir penyelesaiaannya.
63. PSIKOLOGI
Meraih SUKSES dengan
Melepaskan Diri dari BELENGGU
yang Mengikat Kepribadian
H
M.M. Nilam Widyarini
ampir semua orang pernah
mengalami masalah dalam
suatu periode kehidupan.
Menarik bahwa ada orang-orang
yang mampu keluar dari belitan
masalah selama bertahun-tahun
dan mulai menentukan arah baru
dengan segar untuk hidupnya. Di
sisi lain, di sekeliling kita juga dapat menemukan orang-orang yang
seolah semakin tenggelam dalam
pusaran masalah. Mengapa demikian?
Seorang ahli psikometri ternama
yang sangat peduli dengan dunia
pendidikan, akrab dipanggil dengan
nama Jahja Umar, dalam beberapa
forum melontarkan pendiriannya
bahwa pendidikan itu semestinya
ibarat kawah candradimuka. Maksudnya adalah bahwa suatu institusi pendidikan semestinya memberikan tantangan yang tinggi kepada
para siswa atau mahasiswanya, sehingga ketika mereka usai menempuh pendidikannya sudah terampil
memecahkan masalah dan keluar
sebagai orang yang benar-benar
kompeten dalam bidangnya.
Membicarakan pendidikan sebagai sebuah kawah candradimuka,
kita dapat membayangkan anakanak atau orang-orang yang didik
bergelut dengan tugas-tugas yang
sulit. Sangat mungkin bahwa dalam periode pendidikan itu mereka
yang dididik mengalami stres ketika tugas-tugas dirasa terlalu sulit,
terutama bila tidak mendapatkan
dukungan informasi dan dukungan
emosi yang dibutuhkan. Pak Jahja
Umar mengisahkan beberapa tingkah mahasiswa doktoral di UCLA
pada saat mereka menghadapi stres,
termasuk beliau sendiri saat itu. namun demikian, nyatanya banyak
diantara mereka berhasil menjadi
orang-orang hebat di tingkat dunia
dalam bidangnya.
Kawah candradimuka bukan hanya
ada dalam dunia pendidikan, melainkan juga dalam wilayah hidup
yang lain. Kesulitan yang muncul
karena suatu keadaan dapat menyebabkan masalah dalam beberapa
ranah kehidupan. Namun demikian, hal ini tidak berarti bahwa kita
harus menghindari masalah dengan
menarik diri, dsb. Seperti halnya
64
lepaskan
dalam dunia pendidikan, suatu kesulitan dalam hidup pada dasarnya
justru merupakan peluang bagi kita
untuk mengasah kepribadian dan
tantangan untuk dapat mengepakkan sayap dan terbang tinggi.
Belenggu Kepribadian
Seperti dinyatakan di atas, bahwa
ada orang-orang yang mampu ke-
luar dari belitan masalah dan mulai
menentukan arah baru dengan segar untuk hidupnya, dan di sisi lain
ada juga orang-orang yang seolah
semakin tenggelam dalam pusaran masalah. Mengapa mereka
mengalami perkembangan ke
arah yang berbeda meski samasama meng-hadapi masalah?
65
Jawaban pertanyaan ini secara utuh
tentu saja merupakan suatu gambaran proses yang dinamis, yang
melibatkan banyak faktor penentu
pada tiap-tiap individu. Meskipun
demikian, di antara gambaran yang
utuh itu nampaknya terdapat hal
yang dapat dikatakan sebagai kunci
yang menentukan seseorang keluar
dari belitan masalah atau tengelam
dalam masalah.
Kunci tersebut tidak lain adalah diri
individu itu sendiri, yakni keterbukaan dirinya untuk menemukan
perspektif yang segar, di luar perspektif yang berkembang secara otomatik hasil pembiasaan oleh lingkungan yang sangat berpengaruh
bagi dirinya.
Misalnya, seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang otoriter,
dibiasakan untuk selalu mengatakan ”Ya” terhadap apapun permintaan orang tua. Akibat pengaruh
orang tua yang sangat kuat, akhirnya kebiasaan ’taat tanpa nalar’ di
rumah membuat ia saat berhadapan
dengan orang-orang lain cenderung
tidak asertif, sulit mengekspresikan
perasaan, takut dinilai salah, dsb.
Persoalan yang bermula dari rumah
ini dapat menjadi penyebab kegagalan orang ybs dalam menempuh
studi, meraih kebahagiaan dalam
bekerja, dsb.
Sangat mungkin bahwa mereka
yang dibesarkan oleh orang tua yang
otoriter, saat menghadapi kesulitan
menghadapi tugas-tugas sekolah
maupun di dunia kerja, berhadapan dengan guru atau atasan yang
memiliki otoritas, tidak sanggup
mengomunikasikan kesulitannya,
memilih menarik diri, dst, hingga
menuai kegagalan.
Suatu keadaan yang mengelilingi
kita sejak masa kecil membentuk
kepribadian kita, dan cenderung
menentukan reaksi-reaksi kita secara otomatis dalam interaksi sosial, dan menentukan keberhasilan/
kegagalan dalam beberapa ranah kehidupan. Padahal, dalam kenyataan
situasi yang kita hadapi selalu berbeda. Setiap saat dalam hidup kita,
realitas yang kita hadapi adalah realitas baru yang segar.
Meskipun setiap saat realitas selalu
segar, namun kita cenderung memaknai situasi baru secara sama,
menggunakan perspektif lama yang
dihasilkan oleh pengalaman hidup
kita. Pola-pola perilaku kita tanpa
kita sadari terbelenggu oleh pola
reaksi mental dan emosional yang
bercokol dalam diri sejak masa kecil. Dalam keadaan demikian, kepribadian kita berkembang dibawah
pusaran arus masalah, dan tidak
akan kunjung berkembang.
Melihat Realitas Secara Segar
Kepribadian meski relatif stabil
(tidak mudah berubah), namun bukan berarti tidak dapat berubah.
Bahkan dalam hidup ini kita sebenarnya memiliki PR untuk terus
66
mengembangkan kepribadian yang
mampu menyokong kebahagiaan
kita dalam kebersamaan dengan
orang-orang lain.
Gambaran di atas telah menunjukkan bahwa perkembangan kepribadian terkait dengan kesadaran kita
dalam melihat realitas. Kepribadian
berkembang seiring dengan perluasan kesadaran kita. Semakin luas
kesadaran kita, kepribadian kita
semakin berkembang secara sehat/
matang.
Mengenai kesadaran, kita dapat
memahaminya sebagaimana yang
dimaksudkan dalam terapi Gestalt.
Kesadaran adalah sebuah bentuk
pengalaman keterhubungan secara
penuh dengan eksistensi diri sendiri. Individu yang sadar memahami
apa yang dilakukannya (what is), bagaimana ia melakukan hal tersebut
(how), memahami berbagai macam
alternatif yang dipilihnya (chooses),
serta memahami pilihannya untuk
menjadi siapa dirinya sesungguhnya (who).
Kesadaran utuh mencakup seluruh
dimensi diri: persepsi, aliran pikiran,
perasaan, tegangan-tegangan anggota badan, pada konteks di sini dan
kini. Kesadaran dapat dilihat sebagai suatu kontinum. Titik kesadaran
paling lemah adalah saat kita tidur.
Saat tidur kita dalam keadaan tidak
sadar, kehilangan kontak dengan
pengalaman kekinian. Pada titik
kesadaran yang paling penuh, kita
mengalami kontak penuh dengan
kenyataan di sekeliling; menjadi
hidup secara penuh, melihat, merasakan, mengamati, menghayati tiap
aliran proses di dalam keseluruhan
eksistensi hidup kita.
Kesadaran penuh membuat kita menangkap setiap sinyal yang mengenai panca indera kita. Kesadaran
merupakan proses mengetahui dan
menjadi hidup (knowing and being).
Banyak di antara kita mengalami
hambatan untuk mengembangkan pribadi secara paripurna, disebabkan terpaku pada pengalamanpengalaman lampau, terperangkap
di dalamnya, dan tidak mampu
menyadari realitas saat ini dan di
sini. Dalam keadaan demikian, kita
perlu berproses agar mampu memahami adanya hambatan, kekakuan,
interupsi, dan ketumpulan dalam
kesadaran.
Dengan kesadaran diri yang penuh,
kita dapat membiarkan organisme
kita (jiwa dan raga) mengambil alih
dan mengatur tingkah laku kita secara mengalir, bebas dari tekanan
masa lampau maupun angan-angan
untuk masa mendatang. Sedikit
banyak kita dapat bersandar pada
kebijaksanaan organisme kita sendiri yang bekerja sesuai realitas saat
ini dan di sini. Dengan demikian kita
mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas pilihan-pilihan
hidup kita sendiri.***
Penulis adalah psikolog AGAPE St. Stefanus
67. PENDIDIKAN
MEMBACA ITU MENARIK
P
ada zaman sekarang “membaca” itu kurang diminati oleh
banyak orang. Padahal, untuk
“membaca,” saat ini kita mempunyai
teknologi yang modern, yang dapat
mendukung kita agar dapat “membaca” lebih mudah, tanpa membutuhkan transportasi untuk ke
sebuah toko buku dan aneka pengeluaran lain yang begitu merepotkan.
Dengan kata lain, kita telah dimanjakan oleh teknologi untuk secara
lebih mudah, cepat dan praktis bisa
memperoleh kesempatan untuk
“membaca” yang seluas-luasnya.
Kita juga mengetahui bahwa dengan banyak “membaca,” kita bisa
mendapat ilmu pengetahuan dalam
berbagai bidang. Oleh karena itu,
sangat disayangkan bila kebiasaan
“membaca” justru semakin kurang
diminati oleh banyak orang.
Kita, khususnya yang kurang mempunyai minat untuk “membaca,”
bisa belajar dari realitas berikut ini.
Orang-orang yang sukses, rata-rata
bukan hanya belajar dari sebuah
68
pengalaman tapi juga didasari dengan banyak “membaca.” Terlepas
dari kenyataan bahwa “membaca”
itu sangat bermanfaat, memang
“membaca” bukanlah hal yang bisa
dianggap menyenangkan bagi sebagian orang. Namun, bagaimana
pun juga, semua orang, terlebih lagi
untuk para anak-anak yang tingkat
keingintahuannya tinggi dapat dianjurkan untuk “membaca” bukubuku ilmu pengetahuan yang menarik.
kita dalam proses belajar. Dan yang
tidak kalah pentingnya, membaca
novel, meskipun diluar mata pelajaran sekolah, justru bisa menghibur
otak yang sudah lelah dengan
pelajaran yang di dapat di sekolah
dan dengan demikian kita tidak
stress karena harus belajar terusmenerus.
“Membaca” itu sangat menarik
karena dengan “membaca” kita dapat mengasah kemampuan menulis, mendukung kemampuan untuk
public speaking, meningkatkan
konsentrasi, menambah wawasan,
dan dapat menjauhkan dari resiko
penyakit Alzheimer. Selain itu, dengan “membaca” membuat daya
imaginasi menjadi semakin tinggi,
dan dapat memetik suatu pesan
moral yang terdapat didalamnya.
Setiap orang memiliki kriteria ketertarikan pada suatu hal yang bisa
didukung dengan “membaca.” Sebagai contohnya saya sendiri yang suka
membaca cerita fiksi dan ilmu-ilmu
yang berhubungan dengan fotografi.
Awal mulanya karena kebiasaan
melihat kegemaran mama saya dalam membaca novel, membuat saya
tertarik membaca novel. Dimulai
dengan membaca novel-novel itulah, kemudian saya tertarik dan terbantu dalam mengerjakan tugas-tugas mengarang di sekolah dan saya
semakin tertarik untuk “membaca”
hal-hal yang saya sukai.
Tentu, tidak ada ruginya “membaca” selama yang dibaca itu hal
yang bermanfaat dan sesuai dengan
bidang ketertarikannya. Misalnya,
kita “membaca” sebuah novel, karena memang kita mempunyai ketertarikan kepada dunia sastra. Hal
tersebut tidak merugikan, selama
diimbangi dengan menulis atau bisa
dimulai dengan mengembangkan
isi novel tersebut dengan pola pikir
pribadi yang menciptakan ide-ide
kreatif. Pengembangan ide-ide kreatif secara otomatis bisa membantu
Oleh karena itu, “membaca” dapat
dibuat menarik jika orang-orang
terdekat kita juga suka “membaca.”
Dimulai dari diri sendiri, kita dapat
mempengaruhi dan dipengaruhi secara positif dari yang lain. Dalam
sebuah keluarga, orang tua dan
anak bisa saling mendukung untuk
menciptakan habitus atau kebiasaan “membaca”. Namun sebagai
catatan terakhit, dalam membaca
buku, tetap harus selektif dalam
memilih buku, terlebih lagi untuk
dibaca oleh anak-anak. (FN)***
69. SANTO SANTA
Hieronimus berbangsa Illyria, kedua orangtuanya beragama Kristen,
namun dia baru dibaptis pada tahun
360, ketika pergi ke Roma bersama
sahabatnya Bonosus untuk melanjutkan studi retorika dan filsafat di
kota itu. Dalam tradisi artistik Gereja Katolik Roma, biasanya dia, yang
adalah pelindung pendidikan teologi, dilukiskan sebagai seorang Kardinal, bersebelahan dengan Uskup
Agustinus dari Hippo, Uskup Agung
Ambrosius, dan Paus Gregorius I.
Bahkan bilamana dia dilukiskan
sebagai seorang pertapa uzur, dengan salib, tengkorak, dan Alkitab
sebagai satu-satunya perabot dalam
bilik pertapaannya, harus disertai
pula topi merah atau sesuatu yang
lain dalam lukisan tersebut untuk
menunjukkan status kardinalnya .
Hieronimus
(Imam dan Pujangga Gereja) 30 September
H
ieronimus atau dikenal
sebagai Santo Jerome
(sekitar 347 – 30 September, 420; terkenal sebagai
penerjemah Alkitab dari Bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam
Bahasa Latin. Dia juga adalah
seorang apologis Kristen. Dia diakui oleh Vatikan sebagai salah
seorang Doktor Gereja.
Hieronimus meninggal dunia di
dekat kota Betlehem pada tanggal 30
September 420. Tanggal kematiannya diperoleh dari kitab Chronicon
karya Santo Prosper dari Aquitaine.
Jenazahnya mulanya dimakamkan
di Betlehem, dan konon kemudian
dipindahkan ke gereja Santa Maria
Maggiore di Roma, meskipun berbagai tempat di Barat mengaku memiliki relikui Hieronimus katedral di
Nepi, Italia mengaku menyimpan
kepalanya, yang menurut tradisi
lain tersimpan di Biara Kerajaan
Spanyol, San Lorenzo de El Escorial,
Madrid.***
Sumber wikipedia
70. POTRET GEREJA
Mengenal Lebih Dalam Poliklinik St. Stefanus
P
oliklinik adalah fasilitas pelayanan
kesehatan
yang
diselenggarakan untuk kepentingan umum, dengan penyelenggara lebih dari satu jenis tenaga
kesehatan (perawat atau bidan) dan
dipimpin oleh seorang tenaga medis (dokter umum, dokter spesialis
dan dokter gigi). Sebagai salah satu
bentuk perwujudan iman, Gereja
Paroki St. Stefanus juga mengelola
sebuah klinik agar mampu untuk
berbagi cinta dan harap-an kepada
semakin banyak orang. Berdasarkan jenis pelayanannya, poliklinik
dibagi menjadi Poliklinik Pratama
dan Poliklinik Utama. Dalam hal
ini, Paroki St. Stefanus masih termasuk dalam kategori penyelenggara pelayanan medik dasar, maka
Poliklinik St. Stefanus digolongkan
dalam jenis Poliklinik Pratama.
Seperti yang sudah disebutkan diatas, poliklinik ini diselenggarakan
untuk kepentingan umum, dengan
tujuan untuk melayani sesama
dengan penuh kasih, memberi perhatian agar umat mendapatkan
perawatan kesehatan dasar, dan
memberikan bantuan kesehatan kepada saudara-saudara yang miskin.
Dengan sasaran utama yang tentu
saja adalah umat di Paroki, yang
tidak mampu berdasarkan data dari
ketua lingkungan dan mendapatkan
Kartu Kuning (Dana Sehat/ DS),
masyarakat umum yang tidak mampu, serta semua warga masyarakat
yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Sejarah Berdirinya
Poliklinik St. Stefanus berdiri pada
periode tahun 1981 – 1985 ini dibentuk oleh Seksi Sosial Paroki, dengan
menempati ruang darurat di ruang
ganti Putra–putri Altar. Dikarenakan belum adanya gedung dan
masih belum dapat berdiri sendiri
maka dijalinlah kerjasama dengan
Yayasan St. Antonius Padua dari
Paroki St. Antonius Padua (Bidara
Cina), yang dikelola oleh Kongregasi Imam - Imam Hati Kudus Yesus
(SCJ). Kemudian pada periode tahun 1986 – 2003, menempati ruang
di lantai dasar gedung Serba Guna.
Lalu pada tahun 2003 sampai dengan saat ini, berlokasi di Jl. KH.
Muhasyim IV No. 11 RT. 012 RW.
06, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Dokter Klinik sedang memeriksa
seorang anak menggunakan
Stetoskop Foto Tyo dok MP
71
Perijinan (Surat Ijin Praktik)
Untuk mendirikan dan menyelenggarakan sebuah poliklinik, perlu
mendapatkan izin dari pemerintah
daerah kabupaten/kota, setelah
sebelumnya mendapatkan rekomendasi dari dinas kesehatan kabupaten/kota setempat, dengan ketentuan apakah poliklinik tersebut telah
memenuhi ketentuan persyaratan
poliklinik.
Poliklinik selama ini, maka pada
tanggal 20 November 2014 Pengurus Dewan Paroki Gereja Santo Stefanus mengeluarkan surat, yaitu surat Pengurus Gereja dan Dana Papa
(PGDP) No. 048/DP-PGDP/11/2014,
yang menyatakan bahwa penyelenggaraan Klinik Pratama St. Stefanus
menjadi dalam pendampingan Seksi
Kesehatan, dengan drg. Shinta Wibowo sebagai selaku ketuanya.
Untuk memenuhi hal tersebut,
maka pada tanggal 13 Januari 2009
keluar Surat Izin dengan No. 268/
BPU-T/47003/Yanke/ I/2014, perihal
perizinan untuk Balai Pengobatan
Umum (BPU) dan No. 269/BPGT/47003/Yankes/I/2014, perihal perizinan untuk Balai Pengobatan Gigi
(BPG) St. Stefanus yang berlaku
sampai dengan tanggal 13 Januari
2014.
Jumlah Tenaga Medis dan
Kesehatan
Jumlah tenaga medis dan tenaga
kesehatan yang terlibat untuk saat
ini ada sebanyak 25 orang, dengan
formasi dokter umum sebanyak
6 orang, dokter gigi sebanyak 12
orang, perawat umum sebanyak
1 orang, perawat gigi sebanyak 1
orang, asisten apoteker sebanyak 1
orang, dan petugas administrasi sebanyak 4 orang.
Setelah perizinannya diperpanjang
lagi, maka pada tanggal 10 Februari
2014 keluar Surat Izin dengan No.
0070/KP-T/47003/Yankes /II/2019,
perihal perizinan untuk Klinik
Pratama St. Stefanus yang berlaku
sampai dengan tanggal 10 Februari
2019.
Sebelum poliklinik St. Stefanus
berada dalam pembinaan dan pendampingan seksi kesehatan, Poliklinik Pratama St. Stefanus ini
masih berada dalam pendampingan
Seksi Pelayanan Sosial dan Ekonomi
(PSE) Paroki St. Stefanus. Seiring
dengan telah berjalannya kegiatan
Prosedur Menjadi Pasien
Bagi peserta yang ingin mendaftar,
dapat langsung datang ke poliklinik
tersebut, dan mendaftar ke bagian
pendaftaran dengan cara mengisi
form pendaftaran. Namun terlebih
dahulu, pasien dapat menyampaikan ke bagian pendaftaran apakah
pasien hendak diperiksa oleh dokter
umum atau dokter gigi. Lalu selanjutnya pasien menunggu panggilan
pemeriksaan (sesuai urutan).
Biaya Pengobatan
Untuk biaya pengobatannya sendiri
dapat dilihat berdasarkan jenis pe-
72
Jam Buka Praktek
Jadwal buka prakteknya adalah
setiap hari Senin s/d Sabtu, pukul
09.00-12.00 WIB dan pukul 15.0017.00 Wib. Sementara untuk hari
Minggu dan Hari Raya ataupun hari
libur, poliklinik St. Stefanus tidak
beroperasi atau tutup.
Perawatan gigi
meriksaan atau tindakan yang dilakukan. Apakah diperiksa dokter
umum atau dokter gigi? Harganya
relatif berbeda. Sementara untuk
pasien yang termasuk penerima bantuan Dana Sehat (DS) hanya diperuntukkan bagi umat di Paroki St.
Stefanus yang tidak mampu. Tentu
saja seperti yang sudah disebutkan
sebelumnya, harus terlebih dahulu
mengajukan ke bagian Pelayanan
Sosial Ekonomi (PSE) Paroki St.
Stefanus. Dan bagi pasien yang
tidak mampu (bukan umat St. Stefanus) hanya akan mengganti biaya
obat saja (berdasarkan kepekaan
dokter)
Pelayanan Yang Tersedia
Tidak jauh berbeda dengan pelayanan di poliklinik umumnya, pelayanan yang tersedia di Poliklinik
St. Stefanus juga sama, yaitu dapat
dilihat dengan adanya Pelayanan
Umum/dokter umum, Pelayanan
Gigi/dokter gigi (tambal, cabut, gigi
tiruan sederhana), Laboratorium
Sederhana (Gula Darah Sewaktu,
Asam Urat, Cholesterol) serta Pijat
Refleksi
Program Jangka Panjang,
Menengah dan Pendek
Sebagai Poliklinik yang berada dalam naungan Paroki, tentu saja
poliklinik ini mempunyai pedoman
dasar pelayanan sesuai dengan prinsip Injil, adapun yang menjadi pedoman dasarnya adalah “…Jika Iman
itu tidak disertai perbuatan, maka
iman itu pada hakekatnya adalah
mati.” (Yak 2:14), dengan kata lain
menjadi saksi hidup akan kasih Allah adalah hal mutlak yang harus dilakukan, karena Allah adalah Kasih
(Deus Caritas Est). Hal itu tentu
saja selaras dengan program jangka panjang Poliklinik St. Stefanus
yaitu memberikan pelayanan kesehatan kepada mereka yang membutuhkan. Sementara untuk program
jangka menengahnya sendiri adalah
mengedepankan tumbuhnya sikap
peduli, mau saling membantu, melayani serta mendukung satu sama
lain. Lalu untuk program jangka
pendeknya adalah melayani melalui
sistem pelayanan terbuka; melayani
masyarakat yang mampu maupun
yang tidak mampu, tanpa perbedaan.(Pr)***
73. DANA PAROKI
DANA PAROKI AGUSTUS - 2015
No Wil
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
1
1
1
1
2
2
2
2
3
3
3
3
3
4
4
4
5
5
5
5
6
6
6
7
7
7
7
7
8
8
8
9
9
9
10
10
10
10
11
11
11
12
12
12
Lingkungan
St.Hubertus
St.Yoh.Pemandi
St.Gregorius
St.Yudas Tadeus
Sta. Theresia
Sta.M.Immaculata
Sta.Maria Fatima
Sta.M. Bernadette
St.Markus
St.Nicodemus
St.Oktavianus
St.Paulinus
St.Quirinus
St.Antonius
St.Clementus
Sta. Faustina
Sta.Angela
St.Bartholomeus
Emmanuel
Sta.Ursula
St.M.Magdalena
St.Aloysius
St.Thomas Aquino
Sta.Helena
Romo Sanjoyo
St.Simeon
Sugiyopranoto
St.Theodorus
St.Paulus
St.Timotius
Sta.Veronica
St.Bonaventura
St.Bonifacius
Keluarga Kudus
St.Yoh Don Bosco
St.Kristoforus
Sta. Maria Goretti
Sta.Maria B.Setia
Sta.Felicitas
Sta.Anastasia
Maria Ratu Damai
St.Bernardus
St.Dionisius
St.Elias
Kode
HBS
YPE
GRR
YTA
THE
MIM
MFA
BDE
MKI
NDS
OTS
PLN
QRS
ATS
CLS
FSA
AGE
BTS
EML
URS
MMA
ALS
TAQ
HLN
RSO
SMN
SGO
THO
PLS
TTS
VRA
BVA
BFS
KKS
DBD
CRS
MGI
MBS
FSE
ANS
MRD
BDS
DNS
ELS
Perhit. 3-Agt15
Amplop
5
4
4
3
2
10
1
2
4
4
5
2
3
1
1
40
3
14
7
21
2
6
2
2
3
2
3
1
1
2
2
RP
260,000
62,000
87,000
170,000
250,000
480,000
10,000
150,000
1,000,000
695,000
1,700,000
80,000
300,000
50,000
10,000
309,000
70,000
310,000
255,000
660,000
200,000
180,000
4,000
29,000
150,000
70,000
100,000
50,000
200,000
100,000
25,000
Perhit. 10-Agt15
Perhit. 18-Agt15
Perhit. 24-Agt15
Amplop
RP
Amplop
RP
Amplop
2
90,000
4
310,000
5
4
100,000
3
30,000
3
85,000
2
175,000
9
10
735,000
9
9
190,000
9
115,000
2
1
20,000
3
110,000
2
18
558,000
3
70,000
5
5
90,000
10
355,000
6
1
100,000
11
325,000
5
2
70,000
2
50,000
2
6
190,000
2
120,000
4
3
50,000
3
1
100,000
3
100,000
1
4
355,000
1
20,000
1
1
100,000
10
35
6
460,000
5
55,000
8
3
370,000
7
2
250,000
1
3
8
260,000
1
4
225,000
6
2
150,000
8
95,000
5
2
7,000
5
30,000
5
2
4
23,000
1
4
23,000
31
265,000
17
8
77,000
9
95,000
6
4
90,000
2
20,000
40
10
420,000
2
20,000
20
6
160,000
2
3
320,000
3
60,000
7
4
310,000
8
194,000
4
1
50,000
6
265,000
4
5
23,000
1
25,000
3
3
80,000
8
6
100,000
2
70,000
7
5
370,000
2
50,000
2
7
304,000
2
70,000
2
2
40,000
4
130,000
3
2
130,000
4
200,000
2
3
100,000
5
2
200,000
6
1
100,000
3
400,000
4
Perhit. 31-Agt15
RP
Amplop
RP
180,000
1
120,000
4
120,000
2,110,000
2
150,000
1,246,000
5
375,000
75,000
1
50,000
100,000
10
780,000
165,000
6
470,000
181,000
5
60,000
260,000
150,000
320,000
3
80,000
350,000
4
230,000
30,000
20,000
8
247,000
520,000
1,815,000
4
335,000
650,000
1,370,000
10
880,000
200,000
1
20,000
450,000
4
350,000
20,000
9
475,000
285,000
6
140,000
400,000
3
260,000
50,000
7
39,000
25,000
10,000
10
81,000
245,000
45,000
2
15,000
1,590,000
6
170,000
595,000
7
120,000
40,000
5
100,000
380,000
6
240,000
50,000
1
61,000
220,000
2
200,000
60,000
2
6,000
205,000
4
80,000
180,000
4
120,000
150,000
2
110,000
100,000
1
200,000
125,000
5
235,000
50,000
1
50,000
250,000
1
20,000
430,000
2
100,000
220,000
3
55,000
SEKSI KOMUNIKASI SOSIAL (KOMSOS)
“Memberitakan pekerjaan tanganNYA”
ST. STEFANUS
Membutuhkan tenaga muda yang berkomitmen untuk pelayanan gereja, sebagai
wartawan, designer dan fotografer. Bagi yang berminat menghubungi Sdr. Tyo
(HP: 081328130513)
74. TUNAS STEFANUS
L
ingkungan Faustina Wilayah
4 boleh berbangga dengan
prestasi Brigitta Carmen Oey
(Carmen) kls 6 SD di Tarakanita
1, Barito. Selain aktif berpartisipasi di sekolah dengan kegiatan
Bina Iman, Bina Prestasi dan
Olah Vokal, Carmen tidak lupa
juga aktif melayani di paroki
Stefanus sebagai Putri Altar.
Prestasi Carmen di bidang
Matematika sudah membuktikan keuletannya dengan mendapatkan beberapa penghargaan di
lomba Matematika yang diikuti
setiap tahunnya (di utus sekolah
dan keinginan pribadi).
Putri dari Bp. Sugianto Widjaja
dan Ibu Hedwig Natalia (cucu
dari Oma Kim ) ini sedang sibuk
mempersiapkan diri untuk pendidikan lanjut yaitu jenjang
SMP. Semoga sukses ya mendapatkan sekolah yang di inginkan.(SJ)***
Tuhan Memberkati!
Brigitta Carmen Oey
Foto Dok Pribadi
Jika teman-teman sudah mewarnai lembar mewarnai dalam Tunas Stefanus. Hasil karya-nya bisa dimasukkan ke dalam kotak
KOMSOS atau difoto dan dikirimkan ke email redaksimediapass@
yahoo.com. Hasil karya pemenang akan dipasang di website dan
Facebook.
DONASI PENGGANTIAN BIAYA CETAK MAJALAH MEDIAPASS SEPTEMBER 2015
1 Lingk. Sta. Maria Goretti
2 Lingk. St. Octavianus
3 Lingk. Sta. Maria Fatima
Total
450,000
2,100,000
50,000
2,600,000
Terima kasih atas donasi yang telah diberikan, kami menunggu kontribusi Anda di edisi-edisi berikutnya. Harap memberitahukan apabila donasi dikirim melalui transfer. Untuk setiap penerimaan donasi,
akan diberikan bukti penerimaan resmi.
Iklan & Donasi : Dian Wiardi (0818 183 419)
No rekening Komsos: BCA dengan no 731 0278879 an. Mirjam Anindya Wiardi atau R. Prakoso
Mewarnai
Download