125.6 6 0 s pe simen

advertisement
125.660 SPESIMEN
125.660 Spesimen Sejarah Alam
Galeri Salihara
15 Agustus — 15 September 2015
125660specimens.org
25
27
5
4
6
3
12
23
2
10
18
14
16
15
17
13
19
20
21
22
Galeri Salihara
Jl. Salihara No. 16
Jakarta Selatan
Indonesia
Senin–Sabtu 11.00–20.00 WI B
Minggu 11.00–15.00 WI B
salihara.org
Gambar poster atas izin:
Fred Langford Edwards
1
8
11
9
24
26
7
125.660 spesimen SejArAh AlAm
3
Pengantar Kurator
4
Sambutan Salihara
5
Sambutan mZB/lIPI
6
Koleksi Pelat Kaca Negativ lIPI
8/15
_
9
16
Fred Langford
edwards
9/15
Perjalanan Wallace
Wallace: Sebuah Kehidupan
(Andrew Berry)
20
_
Kronik hidup Wallace
(Andrew Berry)
15
26
28
Partisipan & Karya
32
40
Dukung Proyek
Foto riset Kuratorial
42
47
49
menyingkap Iklim Panjang
di Indonesia: Proyek Pengeboran
Towuti (Satrio Wicaksono)
Kurator
Penerbit Publikasi / Ucapan Terima Kasih
56
Lokakarya Intensif “Bayangan Spesimen”
(dengan laleh Torabi)
Profil Schering Stiftung
57
59
58
Tim Pameran
125.660 spesimen
Partisipan Indonesia
2
29
Ari Bayuaji
31
Theo Frids Hutabarat
36
Aprina Murwanti & Bharoto Yekti
38
Intan Prisanti
35
Lintang Radittya
31
farid rakun (EQUANORTH)
38
Ary Sendy
39
Andreas Siagian
39
Zenzi Suhadi (WALHI)
49
Satrio Wicaksono (Towuti Drilling Project)
44
Tintin Wulia
44
Mahardika Yudha
Partisipan Internasional
28
Fred Langford Edwards
29
Shannon Castleman
30
Lucy Davis
30
Mark Dion
31
Sigrid Espelien (EQUANORTH)
34
Geraldine Juarez
34
Flora Lichtman & Sharon Shattuck
35
Cindy Lin
37
Edwin Scholes & Tim Laman
47
Laleh Torabi
45
Robert Zhao Renhui & The Institute of Critical Zoologists
125.660 SPESIMEN
SEJARAH ALAM
125.660 Spesimen Sejarah Alam merupakan pameran seni dan sains
tentang koleksi sejarah alam kolonial dan transformasi lingkungan
yang dihasilkannya di Indonesia. Pameran ini menyusuri jejak Alfred
russel Wallace (1823–1913), yang terutama dikenal karena (bersama
Charles Darwin) menemukan teori evolusi melalui seleksi alam. Sejak
1854 hingga 1862, Wallace menjelajahi Nusantara melayu sembari
mendokumentasikan keanekaragaman hayati wilayah tersebut dan
membangun sebuah koleksi spesimen besar untuk museum-museum
eropa. Pameran ini mengundang para seniman untuk menelusuri
kembali, memanfaatkan ulang, dan menilai lagi ekspedisinya, dokumendokumennya, dan beragam artefaknya; para seniman dipersilakan untuk
meneliti pergerakan pengetahuan kolonial dan transformasi lanskap
Indonesia dari bermacam-macam perspektif dan melalui beraneka
medium.
Pameran ini menyajikan karya-karya 13 seniman Indonesia dan 13
seniman asing, berikut materi arsip dan spesimen zoologis dari Pusat
Penelitian Biologi/lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Cibinong,
Bogor, serta artefak-artefak sejarah yang terkait. Sebuah sorotan
khusus mengenai 125.660 Spesimen adalah seleksi atas koleksi pelat
kaca negatif LIPI yang bersejarah, yang mendokumentasikan perubahan
lingkungan dan botanis kepulauan Indonesia pada pergantian abad
kedua puluh. Pelat-pelat negatif ini belum pernah disajikan di hadapan
publik dan merupakan satu-satunya dari koleksi sejenis yang ada di
Indonesia.
Selamat Anthroposen!
Anna-Sophie Springer & etienne Turpin
Kurator
3
125.660 spesimen
SELAKU PEMBUKA
Sejarah seni rupa pada dasarnya adalah kisah tentang perluasan kerja, media, dan
wacana seni rupa. Tak terkecuali di Indonesia. Sejak paling tidak awal 1980-an,
sejumlah senirupawan Indonesia sudah lazim mendasarkan penciptaan karya-karya
mereka kepada riset, baik riset yang dikerjakan sendiri maupun riset para ilmuwan
atau ahli di bidang-bidang yang bersangkutan. Ini bukan hanya reaksi terhadap
arus besar penciptaan yang bertumpu kepada emosi dan ekspresi pribadi, tetapi
juga upaya untuk terlibat ke dalam diskusi sosial dan gelombang perubahan yang
seluas-luasnya. Seni rupa kontemporer dapat dipandang sebagai seni rupa yang
mencoba memeluk kebudayaan ilmiah dan menghadirkan bentuk-bentuk yang
melampaui seni lukis, seni patung dan seni-seni “konvensional” yang lain. Banyak karya
bersifat konseptual, baik karena karya-karya tersebut menerjemahkan atau menyadur
konsep tertentu (misalnya saja tanggapan kritis tentang lingkungan hidup, atau hasil
temuan riset biokimia), maupun karena mereka mengerjakan representasi langsung
atas konsep-konsep (misalnya saja pameran arsip seni rupa, atau pameran yang
menyajikan riset sosial-budaya sang seniman untuk masalah tertentu).
Pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam hendak mendorong kecenderungan di atas
lebih jauh lagi, mungkin juga lebih radikal. Ini bukan hanya pameran seni rupa, tapi
4
juga pameran ilmu; bukan hanya representasi seni berdasarkan temuan ilmiah, tetapi
juga presentasi hasil kerja keilmuan itu sendiri. Di ruang pameran, kita menatap bukan
hanya karya-karya kaum senirupawan, tapi juga karya-karya kaum ilmuwan, peneliti,
dan pegiat lingkungan hidup—dari Indonesia maupun mancanegara; bukan hanya
karya-karya seni atau terkemas-seni, tetapi juga spesimen dan dokumentasi ilmiah itu
sendiri.
Pameran ini hanya mungkin terselenggara berkat usul, gagasan, dan daya upaya
pasangan kurator Anna-Sophie Springer dan etienne Turpin. Kekayaan pengalaman
mereka, ketajaman sudut pandang mereka, dan luasnya wawasan mereka telah
berhasil menarik para seniman, ilmuwan, peneliti, dan pegiat lingkungan terkait ke
dalam langkah interpretasi, reinterpretasi, apropriasi, dan proyeksi yang kaya dan
beragam atas jejak-jejak Wallace. Seraya memperluas makna dan cakupan seni rupa,
pameran ini hendak mengingatkan kita kembali akan peran Nusantara sebagai situs
penting bagi penelitian ilmu-ilmu kealaman, pelestarian lingkungan dan kelangsungan
biodiversitas dunia. menatap ke depan, kita mengharapkan lebih banyak lagi pameranpameran di Indonesia yang bisa menggabungkan hasil-hasil kerja keilmuan dan kerja
kesenian.
Selamat menyaksikan.
Nirwan Dewanto
Komunitas Salihara
MZB/LIPI
Indonesia telah dikenal sebagai negara megadiversity di dunia. Data terkini mencatat
bahwa tidak kurang dari 17.000 pulau di Indonesia merupakan rumah bagi sekitar
80.000 jenis kriptogram, 30.000-40.000 jenis flora berbiji, 8.157 jenis fauna vertebrate
serta ribuan organisme lainnya yang tersebar di dalam 74 tipe ekosistem. Proses ilmiah
pencatatan keanekaragaman hayati tersebut telah berlangsung sejak berabad-abad
yang lalu. Manuskrip-manuskrip kuno dan relief-relief candi merupakan contoh-contoh
media yang menggambarkan flora dan fauna yang ada pada saat itu. Pencatatan
secara ilmiah dan sistematis baru dimulai sejak masuknya bangsa eropa ke Indonesia.
eksplorasi alam Indonesia yang tercatat secara ilmiah kemungkinan besar dimulai
oleh Georg eberhard rumphius (1627-1702) yang menelurkan sebuah karya jenius
berjudul het Amboinsche Kruidboek (herbarium Amboinense). Buku tersebut berisi
deskripsi dan ilustrasi sekitar 1200 jenis tumbuhan dari maluku. Setelah rumphius,
tercatat nama-nama lain, seperti J.R. Forester, Sparrman, Thomas Horsfield, Salvadori,
Gmelin, Muller, dan Finsch, menghiasi deskprisi flora dan fauna Indonesia. Namun
dari sekian banyak ilmuwan dan naturalis tersebut hanya Alfred Russel Wallace yang
membuat sintesis mengenai evolusi dari spesimen-spesimen yang dikumpulkannya
sehingga dia dapat membuat batas-batas geografis maya dari komunitas fauna yang
kemudian dikenal sebagai Garis Wallacea. Perjalanan A.r. Wallace tersebut kemudian
menginspirasi begitu banyak kalangan, ilmuwan atau bukan, tentang pentingnya
eksplorasi dan penelitian alam.
Pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam ini digelar oleh Komunitas Salihara dalam
rangka menapaktilasi perjalanan A.r. Wallace tersebut. Puslit Biologi-lIPI yang
memiliki tugas pokok dan fungsi dalam penelitian dan pengembangan biologi
mendukung acara ini. Apalagi, Puslit Biologi-lIPI merupakan pusat depository nasional
keanekaragaman hayati Indonesia dimana spesimen-spesimen ilmiah dari flora, fauna
dan mikroba disimpan di museum Zoologicum Bogoriense, herbarium Bogoriense dan
Indonesia Culture Collection; untuk diteliti dan dikembangkan. Selain itu, Puslit BiologilIPI mungkin merupakan satu-satunya institusi pemerintah dengan ahli taksonomi
terbanyak yang bertugas untuk menguak keanekaragaman hayati Indonesia.
melalui pameran ini, kami berharap dapat turut menginspirasi para pengunjung
terutama generasi muda sehingga terjadi suatu diseminasi ilmiah tentang pentingnya
ilmu pengetahuan dasar hayati dan konservasi alam. Dengan demikian kekayaan alam
Indonesia yang masih melimpah dapat digunakan dan dimanfaatkan secara lestari
demi kemakmuran rakyat Indonesia.
Cibinong,
Kepala Bidang Zoologi (museum Zoologicum Bogoriense)
Pusat Penelitian Biologi-lIPI
5
125.660 spesimen
F OTO - F O TO DA R I
K O L E K S I P E L AT
KACA
N E G AT I F L I P I
S E K I TA R 1 9 2 0 – 3 5
6
7
KoleKSI PelAT KACA NeGATIF lIPI
125.660 spesimen
8
Alfred Russel Wallace, 1862
Alfred Russel Wallace:
Sebuah Kehidupan
Andrew Berry
Alfred Russel Wallace menggambarkan delapan
tahun yang ia habiskan menjelajahi kepulauan Asia
Tenggara sebagai “peristiwa utama yang menentukan”
dalam hidupnya. Ketika ia berangkat ke sana pada
1854, ia adalah seorang kolektor-naturalis tak terkenal
dengan reputasi ilmiah yang minim; ketika kembali,
ia menjelma menjadi seorang ilmuwan yang diakui
setelah bersama Charles Darwin menemukan teori
evolusi melalui seleksi alam. Ia mungkin pemegang
otoritas terbesar dalam bidang biologi tropis yang
hidup pada masanya. Terbit pada 1869, tujuh tahun
setelah kepulangannya, The Malay Archipelago adalah
kisah Wallace tentang tahun-tahun yang menentukan
itu. Dalam autobiografinya pada 1905, Wallace
berkomentar bahwa buku itu “terus menjadi buku
saya yang paling populer dan bahkan sekarang, tiga
puluh enam tahun setelah penerbitan pertamanya,
penjualannya mealmpaui semua penjualan yang lain.”
Buku itu hingga hari ini merupakan tulisan Wallace
yang paling mudah didapat dan paling banyak dibaca.
Edisi kesepuluh dan terakhirnya terbit pada 1891,
tetapi naskahnya tetap terbit dalam satu dan lain
wujud sejak diterbitkan pertama kalinya.
Lahir di Usk, Monmouthshire pada 1823,
Wallace adalah anak kedelapan dari sembilan
bersaudara dalam sebuah keluarga kelas menengah
yang keuangannya sedang merosot drastis. Ayahnya,
seorang pengacara yang tak pernah berpraktik,
kehilangan banyak uang warisan akibat investasiinvestasi yang buruk. Sebagian besar kenangan terawal
Wallace berkaitan dengan rasa rendah diri akibat
kemiskinan. Ia meninggalkan sekolah pada usia 13
tahun dan lantas bekerja menjadi asisten kakaknya,
seorang surveyor tanah. Tahun-tahun saat menyusuri
pedesaan Inggris, dengan tongkat survei di tangan,
membuat minatnya terhadap sejarah alam tumbuh,
diiringi keingintahuan amatir tentang tanaman yang
ia lihat. Ketertarikan pada sejarah alam ini kemudian
berpijak pada landasan yang lebih kuat pada 1844 saat
Wallace bertemu dengan seorang naturalis otodidak
lain, Henry Walter Bates (1825-1892). Walaupun pada
usia 19 saat itu—ia dua tahun lebih muda ketimbang
Wallace, Bates telah menerbitkan makalah ilmiah
tentang kumbang dan tanpa kesulitan membuat
Wallace menjadi penggemar kumbang. Pada 1847,
Wallace menyusun kontribusi pertamanya untuk
kepustakaan ilmiah dengan menulis catatan pendek
tentang kumbang.
Namun Wallace dan Bates memiliki ambisi yang
jauh melampaui kumbang Inggris. Dua bacaan yang
khas telah memengaruhi mereka: kisah perjalanan
ilmiah dan buku tentang spekulasi seputar evolusi.
Kisah Charles Darwin tentang perjalanannya di atas
Beagle pertama kali muncul pada 1839 dan Personal
narrative of travels to the equinoctial regions of America,
during the years 1799–1804 karya Alexander von
Humboldt terbit di Inggris pada 1814. Von Humboldt
bahkan menciptakan bentuk baru kisah perjalanan
dengan narasinya, yang menguraikan perjalanan
sekaligus menyajikan observasi ilmiah, etnografis, dan
geografis. Pada 1844, Robert Chambers secara anonim
menerbitkan The Vestiges of the Natural History of
Creation, di mana ia mengajukan sebuah model tanpa
argumen kuat tentang alam semesta dan bagaimana
segala sesuatu di dalamnya telah mengalami
perubahan progresif. Karya laris ini menyebarkan
gagasan menyimpang dan bidah bahwa spesies
tidaklah tetap sebagaimana kisah penciptaan dalam
Kitab Kejadian. Wallace terkesan dan menulis kepada
Bates, “Pendapatku tentang Vestiges tampaknya lebih
positif daripada pendapatmu. Aku tidak menganggap
gagasannya sebagai generalisasi yang tergesagesa, tetapi sebuah hipotesis pintar yang didukung
kuat oleh analogi dan fakta yang mencengangkan,
meskipun tetap harus dibuktikan dengan lebih banyak
fakta dan penjelasan tambahan yang mana dapat
dilakukan penelitian untuk menjelaskan masalah
tersebut.” Meskipun muda dan tak berpengalaman,
Wallace dan Bates dengan berani memutuskan
bahwa mereka sendiri dapat memasok “fakta dan
penjelasan tambahan” itu melalui sebuah ekspedisi
ilmiah. Mereka memilih Amazon sebagai tujuan
dan mendanai perjalanan tersebut dengan penjualan
spesimen tiruan ke museum-museum dan kolektorkolektor melalui Samuel Stevens, agen mereka yang
berbasis di London.
Wallace dan Bates berlayar menuju Brazil
pada 1848. Setelah awalnya bekerja bersama,
mereka kemudian berpisah, dengan Wallace yang
berfokus pada Rio Negro, percabangan Amazon di
9
eSAI
125.660 spesimen
10
utara, semantara Bates pada Solimões di Selatan.
Wallace berjuang hingga sampai di mata air sumber
mata air Rio Negro yang terpencil sembari terus
mengumpulkan spesimen, memetakan sungai, dan
dengan hati-hati mencatat apa pun yang ia temui.
Perjalanan ilmiah ini lalu mencapai tahapnya yang
paling heroik dan sunyi; pada 1852 kesehatan Wallace
memburuk dan ia harus bertolak pulang (Bates tetap
tinggal di Amazon hingga 1859). Pada 12 Juli, Wallace,
yang masih lemah oleh serangan demam yang
berkepanjangan, berangkat ke Belém menumpang
Helen. Di atas kapal itu terdapat spesimen senilai
kurang-lebih dua tahun perjalanan (termasuk yang
dari perairan hulu Rio Negro) dan beberapa lusin
binatang hidup. Yang terakhir ini, dibawa melintasi
benua oleh Wallace, adalah binatang peliharaan
sekaligus harapannya, paspornya menuju lingkaran
elite ilmuwan—bayangkan berjalan masuk ke salon
ilmiah London dengan burung tukan bertengger di
atas lengan! Namun, impian Wallace menjadi ilmuwan
tersohor berakhir tragis di tengah Atlantik. Rupanya,
karena kargo yang mudah terbakar dikemas dengan
ceroboh, Helen terbakar pada 6 Agustus dan perintah
pun dikeluarkan untuk meninggalkan kapal. Wallace,
satu-satunya penumpang, hanya punya waktu untuk
mencengkeram satu tas kecil berisi catatan dari kabin
yang ia tinggali bersama sang kapten. Dalam keadaan
lemah, ia tergesa-gesa dan kalang kabut turun ke
perahu sekoci lewat sisi kapal dengan tali sehingga
tangannya terkelupas parah. Kemudian terjadilah
hal yang sudah tentu merupakan salah satu peristiwa
paling tragis dalam sejarah ilmu pengetahuan: dengan
harapan bahwa kapal terbakar itu akan menarik
perhatian kapal lain, dua perahu sekoci mengelilingi
api yang menjilat-jilat. Wallace menyaksikan hewanhewannya berlompatan dari kandang menghindari
nyala api dan berusaha meloloskan diri dari kapal
namun, satu demi satu, terbakar habis.
Setelah sepuluh hari terombang-ambing di
atas perahu terbuka di tengah Atlantik, Wallace
dan awak Helen akhirnya diselamatkan. Wallace
berhasil kembali ke Inggris setelah total 80 hari di
tengah lautan (perjalanannya dengan Bates yang
damai dan tenteram hanya berlangsung 29 hari).
Untungnya, Stevens agennya telah mengasuransikan
koleksi Wallace sehingga situasi keuangannya tidak
separah apa yang terlihat. Masa depannya, sebaliknya,
niscaya berbeda. Tanpa koneksi, pemasukan,
atau prospek pekerjaan dalam ilmu pengetahuan,
Wallace tidak lebih baik ketimbang saat ia dan Bates
memulai perjalanan ke Brazil pada 1848. Ia cukup
cepat menyadari bahwa jika ia hendak mewujudkan
impiannya untuk menjadi bagian dari dunia ilmuwan,
ia harus melakukannya dari awal lagi.
Selama delapan belas bulan berikutnya, ia
menulis beberapa makalah dan dua buku, satu tentang
pohon palem di Amazon dan yang lainnya sebagai
upaya untuk menghasilkan kisah perjalanan ala von
Humboldt/Darwin, berjudul A Narrative of Travels on
the Amazon and Rio Negro. Keduanya terbit pada 1853
sudah tentu dengan kualitas yang tak memuaskan
karena banyaknya materi yang hilang. Namun,
isu besarnya adalah ke mana sebaiknya Wallace
pergi setelah itu. Ia mempertimbangkan beberapa
kemungkinan, termasuk Filipina dan Andes, tetapi ia
menghindari kawasan di mana kolektor lain bergerak
aktif. Ia memilih Asia Tenggara karena kawasan
itu tidak terwakili dengan baik di Museum Inggris.
Alasan Wallace sebetulnya tidak jujur: penyebab
utama sedikitnya bahan tentang Asia Tenggara di
Inggris adalah karena kawasan itu terutama dikuasai
oleh Belanda, yang tentunya menyimpan koleksi
mereka di museum-museum Belanda tentunya. Selain
itu, ada pula daya tarik Pulau Nugini yang jarang
dikunjungi dan hingga saat itu menjanjikan kekayaan
hayati yang belum dieksplorasi. Dan, mungkin yang
lebih signifikan bagi Wallace, terdapat pula prospek
pengumpulan spesimen yang memang menarik
sekaligus dapat mendatangkan harga tinggi di pasar
bursa sejarah alam. Setelah terbitnya Vestiges, gagasangagasan tentang transmutasi tengah marak beredar.
Kedekatan yang jelas antara Kera Besar dan spesies
kita sendiri tak pelak membuat makhluk tersebut
menjadi pusat perhatian yang khusus. Peluang untuk
mengamati Orangutan di alamnya pasti sangat
memikat bagi Wallace, apalagi prospek finansial
besar yang akan ia dapatkan dari penjualan materi
terkait Orangutan di Eropa. Jika ditilik kembali, kita
mendapati bahwa, dari sudut pandang ilmiah, Asia
Tenggara sungguh kebetulan merupakan pilihan tepat
bagi Wallace. Ia adalah seorang ahli hutan tropis basah
Dunia Baru; di sini ia akan memperoleh kesempatan
untuk mengeksplorasi alam tropis basah Dunia Lama,
sebuah kawasan dengan iklim yang relatif serupa tetapi
dihuni oleh tanaman dan hewan yang sangat berbeda.
Terlebih lagi, dengan minatnya pada hubungan timbalbalik antara geografi dan ekologi, sebuah kepulauan
adalah pilihan tujuan yang logis. Sebagian dari kunci
pemahaman Darwin toh berasal dari Galapagos;
Asia Tenggara maka memiliki potensi untuk menjadi
Galapagos-nya Wallace.
Terlepas dari hal-hal menarik di atas, Asia
Tenggara bukanlah tanpa kekurangan. Ada masalah
praktis, yaitu perolehan izin-izin yang tepat dan
paspor dari pihak berwenang Belanda; dan, seperti
perjalanan Wallace lainnyah, ada masalah terkait
ongkos. Wallace mendekati Royal Geographical
Society (RGS) guna mendapatkan bantuan bagi
perjalanan awalnya ke Singapura. Setelah beberapa
lama Wallace mondar-mandir, RGS mengatur supaya
ia bepergian dengan kapal brig HMS Frolic di bawah
komando Kapten Nolloth. Wallace bergabung dengan
kapal itu di Portsmouth pada 1854 dan terkesan
dengan sambutan ramah yang ia terima, pada kapten
yang meluangkan waktu untuk tamunya di kabinnya
sendiri. Dalam benak Wallace, mungkin Frolic
dibandingkan dengan Beagle—ia seolah mengikuti
jejak langkah salah seorang pahlawannya. Namun
ternyata tidak. Peristiwa dunia ikut campur tangan
dan Frolic diarahkan menuju Crimea, di mana perang
telah meletus pada Oktober sebelumnya. Wallace
yang frustrasi menimbang-nimbang pilihan yang ia
punya dan akhirnya RGS mengatur supaya ia berlayar
dengan kelas pertama di atas kapal uap P & O menuju
Singapura. Ini mengangkat peluang yang tidak
dimungkinkan oleh opsi kapal angkatan laut: Wallace
dapat membawa asisten walaupun asisten ini harus
berlayar di kelas dua. Wallace tampaknya menyambar
kesempatan itu, ingat akan kesepian akut yang ia
alami. Dengan pemberitahuan mendadak, ia merekrut
Charles Allen, “seorang bocah London, anak tukang
kayu yang telah bekerja membantu-bantu saudara
perempuan saya; orangtuanya ingin agar dia pergi
bersama saya untuk belajar menjadi kolektor.”
Transportasi hanyalah satu dari banyak detail
sebelum keberangkatan yang harus diurusi Wallace.
Dalam hal koneksi bermanfaat yang harus didapatkan
di Inggris sebelum berangkat ke Singapura, Sir James
Brooke (1803-1868) menduduki peringkat atas.
Brooke, yang dijuluki “Rajah Putih dari Sarawak”,
telah mempertaruhkan suatu bentuk diplomasi yang
aktif di bawah todongan senjata, hingga mendapatkan
wilayah kekuasaannya sendiri di Sarawak. Ia terbukti
menjadi pilar penyangga pada tahap pertama
perjalanan Wallace. Wallace membalas jasanya,
membela Brooke yang kemudian menghabiskan paruh
terakhir kariernya untuk menangkis tuduhan bahwa,
dengan alasan meredam bajak laut dan pengayauan,
ia menggunakan kekerasan berlebihan terhadap
pribumi.
Wallace akrab dengan fauna Inggris dan
Amazonia. Namun, pada era sebelum adanya panduan
lapangan, bagaimana ia mengidentifikasi spesimen
di Asia Tenggara? Ia membeli sebuah buku Lucien
Bonaparte yang tebal, Conspectus Generum Avium,
dan menyisir Museum Inggris untuk materi yang tidak
diikutsertakan dalam daftar baru burung dunia edisi
tersebut (1850). Untungnya, Bonaparte, keponakan
sang kaisar, telah menyediakan margin yang luas
di sekitar teksnya sehingga dapat mengakomodasi
tambahan dan anotasi Wallace; buku ini menjadi
“kawan setia di setiap perjalanan” Wallace. Tidak
mengejutkan bahwa Wallace lalu mengangkut buku
ini dan beberapa terbitan tebal lainnya, menggunakan
kereta mengelilingi Asia Tenggara. Ia merancang
gagasan mengenai panduan lapangan, setidaknya
dalam bayangannya saja: apa “yang diperlukan
kolektor di luar maupun dalam negeri adalah memiliki
ikhtisar yang ringkas dan murah dengan apa ia
dapat menyebutkan setidaknya spesies yang kerap
ditandai, jika tidak semua.” Pemasukan utama Wallace
rencananya adalah melalui penjualan spesimen via
Stevens, tetapi ia juga berada pada posisi di mana
ia dapat menjual laporan dari lapangan untuk
diterbitkan. Di sini ia melakukan praktik yang ia
ciptakan saat pertama kali pergi ke Brazil bersama
Bates, perbedaannya adalah kali ini ia akan dibayar
atas upayanya. Ia juga menyusun kesepakatan dengan
Lovell Reeve, seorang bandar dalam spesimen sejarah
alam, yang setuju untuk menerbitkan surat-surat
Wallace dalam The Literary Gazette yang ia sunting
dari 1850-1856.
Alih-alih mengitari Tanjung Harapan, Wallace
dan Allen mengambil rute yang lebih pendek
melewati daratan di Suez, yang mencakup perjalanan
dari Iskandariyah hingga Kairo diteruskan dengan
menyeberangi gurun pasir Suez di ujung utara
Laut Merah. Mereka tiba di Singapura pada malam
hari tanggal 18 April 1854. Perjalanan Wallace ini
merupakan keberhasilan yang mencengangkan
baik dalam hal kontribusinya untuk pemikiran
ilmiah sekaligus jumlah spesies menarik baru yang
ditemukannya. Mari kita mulai dengan memahami
alasan utama mengapa perjalanan ini dirayakan:
identifikasi Wallace atas ketidaksinambungan
biogeografis antara biota Asia dan Australia dan
penemuannya, yaitu dua langkah evolusi melalui
seleksi alam. Hebatnya—anehnya, bahkan—Wallace
memilih untuk tidak menceritakan jalannya peristiwa
yang berujung pada terobosan-terobosan tersebut
dalam halaman-halaman The Malay Archipelago.
11
eSAI
125.660 spesimen
Garis Wallace
12
Dalam On the Physical Geography of SouthEastern Asia and Australia (1845), ahli geografi
dan zoologi George Windsor Earl (1813-1865)
mencatat bahwa pulau-pulau yang berdekatan
dengan Australia, termasuk Nugini, dipisahkan oleh
laut-laut yang dangkal dan memiliki biota dengan
aspek-aspek yang sama di antara mereka, sedangkan
pulau-pulau yang berdekatan dengan Semenanjung
Melayu, termasuk Jawa, Sumatra, dan Borneo, samasama dipisahkan oleh laut-laut yang dangkal dan
juga memiliki biota dengan aspek-aspek serupa
di antara mereka. Maka, Earl menggarisbawahi
secara longgar ketidaksinambungan biogeografis
(dan geografis) yang batas persisnya diidentifikasi
oleh Wallace dan selanjutnya disebut oleh Thomas
Henry Huxley sebagai “Garis Wallace”. Sejak masih
di London, Wallace telah mengetahui gagasangagasan Earl dan The Malay Archipelago sarat dengan
pemikiran biogeografis seperti itu. Banyak dari
bagian-bagian buku ini, yang bisa dibaca sekilas saja,
mengungkapkan proses pergulatan Wallace dengan
masalah-masalah yang akan membuatnya sibuk
sepanjang karier ilmiahnya: apa yang menentukan
spesies mana hidup di suatu lokasi? Berapa lama dua
daratan telah saling terpisah? Apakah pernah ada
penghubung yang kini tenggelam di antara pulaupulau itu? Seberapa efisienkah persebaran—Wallace
menyebutnya “flotsam and jetsam theory”, teori
barang-barang terapung—di antara pulau-pulau?
Sebagaimana yang telah kita lihat, minatnya tentang
topik-topik ini berumur panjang umur, mungkin
karena, sebagai kolektor profesional, informasi
mengenai distribusi adalah sesuatu yang penting
baginya secara komersial: seberapa jauh ia harus
bepergian untuk menemukan suatu bentuk yang
sangat berbeda dari apa yang sudah ia miliki? Ia bisa
mendapatkan uang lebih untuk dua spesies yang
berbeda alih-alih dua varietas dari satu spesies.
Dalam bab tinjauan pendahuluannya dalam
The Malay Archipelago, Wallace menyebutkan
ketidaksinambungan Asia/Australasia ini:
Tidak ada tempat yang memperlihatkan
kontras besar antara dua pembagian wilayah
Nusantara ini dengan sedemikian mencolok
kecuali saat kita melewati Pulau Bali ke
Lombok, di mana dua daerah itu berjarak
sangat dekat. Di Bali terdapat burung barbet,
burung pengicau, dan burung pelatuk; beralih
ke Lombok, semua itu tidak lagi terlihat, tetapi
justru ada banyak kakatua, burung pengisap
madu, dan sejenis kalkun, yang tak dikenal
pula di Bali dan di pulau-pulau lebih jauh di
sebelah barat. Selat di sini lebarnya 24 km
sehingga kita bisa menyeberangi satu bagian
besar bumi ke bagian besar lainnya dalam dua
jam, namun perbedaan kehidupan hewannya
begitu jauh bagaikan antara Eropa dan
Amerika.
Transisi biologis tegas yang digambarkan di sini
antara dua pulau yang bertetangga, bagi Wallace,
mengonfirmasikan bahwa determinan biogeografis
sama-sama berlandaskan pada sejarah maupun
adaptasi. Jelas, organisme beradaptasi dengan
lingkungannya—penghuni gurun secara tipikal
berbeda dengan penghuni hujan hutan tropis—
tetapi ini hanya satu bagian dari cerita saja. Wallace
memiliki pengalaman langsung di Dunia Tropis Baru
maupun Dunia Tropis Lama. Berdasarkan iklimnya,
pulau-pulau Asia Tenggara tidak terlalu jauh berbeda
ketimbang Amazon, tetapi sungguh tidak ada yang
sama sehubungan dengan spesies flora dan fauna dua
kawasan tersebut. Lebih jauh lagi, walapun kondisi
iklim antara Australia dan Nugini berbeda jauh, “fauna
dua kawasan tersebut, walaupun pada umumnya beda
spesies, secara karakter sangat mirip.”
Argumen standar “teologi alam” waktu itu, yang
memandang adanya bukti rancangan ilahi dalam alam,
menyatakan bahwa kawasan-kawasan dengan iklim
yang serupa pasti dihuni oleh serangkaian tanaman
dan hewan yang serupa pula. Maka, “rancangan” saja
tidak dapat menjelaskan apa yang disaksikan Wallace.
Faktor-faktor sejarah—baik biologis (evolusioner)
maupun geologis—mestinya memainkan peranan
penting. Kesimpulan Wallace dengan gemilang
didukung oleh geologi modern: kawasan Asia dan
Australasia terletak di atas dua lempeng tektonik
berbeda yang menyatu setelah terpisah jauh
sebelumnya. Kedekatan Bali dan Lombok adalah
peristiwa yang secara geologis terjadi baru-baru ini;
jurang biologis antara keduanya adalah warisan dari
masa lalu geologis yang sangat jauh.
Evolusi Melalui Seleksi Alam
Penemuan Garis Wallace jelas disajikan secara
tidak menonjol dalam The Malay Archipelago,
tetapi hal itu secara positif menjadi pusat perhatian
sehubungan dengan kontribusinya yang bersifat ilmiah
dan paling membuatnya terkenal, yang bersumber
dari perjalanannya ke Asia Tenggara. Penemuan
evolusi melalui seleksi alam bahkan tidak disebutsebut dalam The Malay Archipelago. Seperti yang telah
kita lihat, Wallace tertarik dengan apa yang kerap
disebut “Persoalan Spesies”—yang hari ini kita sebut
evolusi—sejak membaca Vestiges pada 1845. Pada
1855, penerapan yang ajek selama satu dasawarsa
memberinya ganjaran.
Wallace mengenangnya dalam My Life:
Saya pasti mengacu pada artikel yang saya
tulis di Sarawak, yang membentuk kontribusi
pertama saya terkait persoalan tentang
asal-usul spesies…. Setelah selalu tertarik
dengan persebaran geografis hewan dan
tanaman, ... dan kini secara yakin menyadari
secara kuat perbedaan mendasar antara
negeri-negeri tropis Timur dan Barat; juga
karena telah membaca buku-buku seperti
“Conspectus”-nya Bonaparte, yang telah
disebutkan, dan beberapa katalog serangga
dan reptil di Museum Inggris (yang hampir
semuanya saya hapal), yang menyediakan
segudang fakta tentang distribusi hewan di
seluruh dunia, terpikir oleh saya bahwa faktafakta ini belum pernah digunakan secara
sepantasnya sebagai petunjuk-petunjuk
mengenai bagaimana spesies muncul. Karya
besar Lyell bagi saya menyediakan sifat-sifat
utama suksesi spesies pada suatu zaman dan,
dengan mengombinasikan dua hal itu, saya
pikir kesimpulan yang berharga dapat dicapai,
... yang secara singkat dapat dikatakan sebagai
berikut: “Tiap spesies muncul secara bersamaan
baik dalam ruang maupun waktu dengan
spesies yang sudah ada dan terkait dekat.” Ini
jelas mengarah pada semacam evolusi. Hal itu
menyiratkan bila dan di mana kejadiannya
dan bahwa hal itu hanya dapat terjadi
melalui kemunculan alami, sebagaimana
yang dinyatakan dalam Vestiges; tetapi
bagaimananya masih merupakan rahasia yang
baru disingkap beberapa tahun kemudian.
Apa yang disebut “Hukum Sarawak” ini adalah
makalah yang luar biasa. Sampai saat itu kontribusi
Wallace secara solid bersifat empiris—observasi
sejarah alam—tetapi kini ia muncul sepenuhnya
sebagai pemikir sintentis, sebagai pencetus teori
biologi. Ia mengajukan apa yang pada dasarnya
merupakan separuh teori evolusi, yaitu apa yang
disebut Darwin “keturunan dengan modifikasi”:
gagasan bahwa munculnya suatu kebaruan biologis
merupakan proses genealogis. Hal ini berlaku
baik dalam ruang maupun waktu. Misalnya, kita
menemukan banyak spesies kanguru di Australia
karena pada masa lalu seekor nenek moyang kanguru
muncul di Australia dan spesies yang ada kini
merupakan keturunannya yang mengalami modifikasi.
Wallace telah mengenali bahwa perubahan terjadi
di alam dari generasi ke generasi; apa yang belum
ia miliki adalah mekanisme yang akan membawa
perubahan itu menghasilkan adaptasi—kesesuaian
suatu organisme dengan lingkungannya.
Wallace berharap bahwa makalahnya yang singkat
dan berargumen tegas akan menyulut kontroversi di
London. Gagasan-gagasan bidahnya, ia bayangkan,
akan mengangkat derajatnya di mata para koleganya,
dari sekadar kolektor menjadi ilmuwan. Tetapi ia
dibuat kecewa. Bahkan Darwin, yang telah menggarap
teorinya selama lebih dari 15 tahun dan dengan
demikian berada dalam posisi untuk mengapresiasi
makna penting makalah Wallace, awalnya hanya
bergeming. Nyatanya, umpan balik pertama yang
diterima Wallace adalah dari Stevens. “Segera setelah
makalah ini muncul, Mr. Stevens menulis surat
bahwa ia mendengar beberapa naturalis menyatakan
‘penyesalan’ mereka karena ‘aku sedang berteori
sementara apa yang kami lakukan seharusnya adalah
mengumpulkan lebih banyak fakta’.”
Terlepas dari apa yang terlihat, tak semua orang
besar dalam ilmu pengetahuan tak terkesan. Charles
Lyell, sumber bagi banyak informasi paleontologis
yang dipakai Wallace dalam makalahnya, membuka
catatan baru tentang Persoalan Spesies dan mendesak
kawannya, Darwin, untuk menerbitkan gagasannya
sebelum ia didului. Namun, Wallace tak tahu apaapa soal ini dan menulis kepada Darwin bahwa
“Saya mulai merasa sedikit kecewa karena makalah
saya tidak menimbulkan perbincangan maupun
pertentangan.” Tanggapan Darwin memberikan
semangat. “Kaukatakan bahwa kau agak terkejut
karena tidak ada perhatian yang dipusatkan pada
makalahmu dalam Annals. Rasanya saya tidak terkejut;
sebab, sangat sedikit naturalis yang peduli terhadap
apa-apa yang semata-mata melampaui deskripsi
spesies. Namun, jangan menyangka makalahmu tidak
diperhatikan: dua orang yang sangat baik, Sir C. Lyell
dan Mr. E. Blyth di Calcutta, secara khusus meminta
perhatian saya mengenainya.” Wallace pun sadar
bahwa Darwin tertarik dengan pokok permasalahan
yang sama seiring kekecewaannya yang muncul karena
Hukum Sarawak yang kurang berdampak. Maka,
terjadilah salah satu tikungan paling aneh dan luar
biasa dalam seluruh sejarah sains. Alih-alih langsung
mengirimkan gagasan besar yang berikutnya ke
sebuah jurnal, Wallace mengirimkannya ke Charles
13
eSAI
125.660 spesimen
Darwin. Ini mungkin hal paling menguntungkan yang
pernah terjadi pada Darwin.
Kisah momen penemuan Wallace telah dikenal
baik—tujuh versi penuturan Wallace tentang itu
tercetak dalam buku-buku—tetapi sekali lagi Wallace
menganggap The Malay Archipelago pentas yang tak
sesuai untuk kisah tersebut.
Berikut adalah versi yang ia paparkan dalam My Life:
14
Kesulitan besarnya adalah memahami
bagaimana, jika satu spesies secara bertahap
berubah menjadi yang lain, secara terusmenerus ada begitu banyak spesies yang
berbeda, begitu banyak yang berbeda dari
kerabat terdekatnya hanya berdasarkan ciriciri yang kecil namun pasti dan konstan.
Logikanya adalah jika memang merupakan
hukum alam bahwa spesies terus-menerus
berubah sehingga menjadi spesies baru dan
berbeda pada waktunya, dunia akan menjadi
penuh dengan campuran rumit dari beragam
bentuk-bentuk yang sedikit berbeda, sehingga
spesies yang pasti dan konstan yang kita lihat
tidak akan ada.... Masalahnya lalu tidak hanya
bagaimana dan mengapa spesies berubah
tetapi bagaimana dan mengapa spesies
berubah menjadi spesies yang baru dan pasti,
yang berbeda dari satu sama lain dalam
banyak hal ...
Suatu hari sesuatu mengingatkan saya pada
“Principles of Population” karya Malthus, yang
saya baca dua belas tahun sebelumnya. Saya
memikirkan pemaparannya yang gamblang
mengenai “hambatan positif ”—untuk
meningkatkan penyakit, kecelakaan, perang,
dan kelaparan—yang menjaga populasi suku
liar tetap jauh lebih rendah ketimbang ratarata populasi masyarakat beradab. Lantas
terpikir oleh saya bahwa semua penyebab
ini atau penyebab serupa lainnya secara
terus-menerus juga berlaku pada hewan....
Mengapa sebagian mati dan sebagian hidup?
Jawabannya jelas bahwa secara keseluruhan
yang paling sesuailah yang hidup. Dari efek
penyakit, yang tersehatlah yang lolos; dari
musuh, yang terkuat, tercepat, atau terlicin;
dari kelaparan, pemburu yang terbaik atau
mereka yang pencernaannya paling baik; dan
seterusnya. Kemudian tiba-tiba dalam benak
saya datang ilham bahwa proses yang berjalan
sendiri ini niscaya akan memperbaiki ras
karena, dalam tiap generasi, yang lemah tak
pelak akan disingkirkan dan yang unggul akan
bertahan—artinya, yang paling sesuailah yang
akan bertahan.... Artinya, semua perubahan
yang diperlukan bagi adaptasi spesies
terhadap kondisi-kondisi yang berubah akan
dihadirkan; ... Dengan demikian, tiap bagian
dari organisasi hewan dapat dimodifikasi
persis seperti yang dibutuhkan, dan persis
dalam proses modifikasi inilah yang tak
termodifikasikan akan lenyap sehingga
ciri-ciri pasti dan keterpisahan tiap spesies
yang baru akan terjelaskan. Semakin saya
memikirkannya, semakin saya yakin bahwa
akhirnya saya menemukan hukum alam
yang telah lama dicari untuk memecahkan
persoalan asal-usul spesies....
Malamnya saya menguraikannya secara
cukup lengkap dan dua malam berikutnya
menuliskannya secara hati-hati agar dapat saya
kirimkan kepada Darwin lewat pos berikutnya,
yang akan berangkat dalam sehari atau dua
hari lagi.
Di sinilah mekanisme evolusioner yang hilang itu—
proses yang menyelaraskan perubahan dari generasike-generasi demi tujuan-tujuan adaptasi. Darwin telah
memberinya nama “seleksi alam”, tetapi karya besar
yang ia tulis mengenai topik permasalahan itu masih
jauh dari tuntas.
Surat Wallace yang berisi kejutan tiba di kediaman
Darwin, Down House di Kent, pada 18 Juni 1858.
Darwin, yang diam-diam telah memeram gagasannya
segera setelah kembali dari perjalanan di atas Beagle
pada 1836, terpukul atas hilangnya peluang menjadi
pencetus gagasan pertama. Ia menulis kepada kawan
yang ia percayai, Lyell, bahwa “seluruh karya asliku,
entah apa jadinya nanti, akan hancur.” Darwin, lagilagi menulis kepada Lyell, bertekad akan melakukan
yang terpuji: “Lebih baik kubakar seluruh bukuku
daripada dia [Wallace] atau siapa pun mengira aku
berlaku picik.” Namun, kolega Lyell dan Darwin
dalam bidang botani, Joseph Dalton Hooker, datang
menyelamatkan dengan sebuah rencana di mana
mereka harap klaim Darwin atas prioritas dapat dijaga
tanpa membahayakan hak Wallace. Mereka pun
menyusun rencana dua kali presentasi teori dalam
ajang pertemuan forum biologi akademik utama di
London, Linnean Society, pada 1 Juli mendatang.
Bersama makalah Wallace, mereka akan menyajikan
tulisan panjang Darwin yang belum diterbitkan
mengenai pokok soal tersebut. Teori evolusi melalui
seleksi alam maka dipaparkan di Burlington House,
Piccadilly, London pada 1 Juli 1858. Darwin memacu
dirinya untuk menyegerakan On the Origin of Species
yang terbit pada November 1859.
Sejarawan sains memperdebatkan apakah Wallace
diperlakukan secara adil atau tidak oleh Lyell dan
Hooker dalam upaya mereka yang tergesa untuk
menjaga preseden Darwin. Namun, satu hal sangat
jelas: Wallace tidak memendam kekecewaan dan tidak
merasa diperlakukan tak adil atas jalannya peristiwa
yang terjadi. Dalam sepucuk surat yang ia tulis untuk
ibunya pada Oktober 1858, “Aku sudah menerima
surat-surat dari Mr. Darwin dan Dr. Hooker, dua dari
naturalis-naturalis Inggris paling ternama, dan aku
senang sekali. Aku mengirim sebuah esai untuk Mr.
Darwin tentang permasalahan yang sedang ia tulis
dan akan menjadi karya besarnya. Ia menunjukannya
ke Dr. Hooker dan Sir C. Lyell, yang menganggapnya
penting sekali dan membacakannya segera di hadapan
Linnean Society. Aku yakin koneksi dengan orangorang terkemuka ini akan membantuku sepulangku
nanti.” Setelah segala kekecewaan, segala frustrasi,
segala kerja keras, ia akhirnya bermetamorfosis dari
kolektor rendahan menjadi sosok berilmu.
Adalah membingungkan bahwa, dengan makna
penting peristiwa-peristiwa di atas dalam hidup
Wallace, ia tidak memaparkannya dalam The Malay
Archipelago. Mungkin alasan mengapa Wallace
mengabaikan penemuan ilmiah ini dalam The Malay
Archipelago adalah karena ia tak ingin membebani
pembacanya dengan gagasan-gagasan ilmiah yang
besar dan sulit. Ini toh buku kisah perjalanan, bukan
buku pengetahuan. Namun, mungkin Wallace
memang menghindari gagasan ilmiah teoretik:
pemaparan empiris mengenai keberadaan dan
ketiadaan hewan di pulau-pulau yang berbeda bisa
saja pantas untuk dimasukkan, tetapi teori pemersatu
yang besar (yang berlaku atas seluruh kehidupan,
bukan Asia Tenggara saja) tidaklah tepat. Namun,
toh Wallace tidak menghindari topik evolusi melalui
seleksi alam dalam The Malay Archipelago; ia hanya
menghindari penjelasan tentang bagaimana ia
menemukannya. Misalnya, dalam sebuah pembahasan
tentang mimikri di mana suatu spesies telah berevolusi
untuk menyerupai spesies lain atau suatu benda dalam
lingkungannya, Wallace menulis,
Jika adaptasi yang sedemikian luar biasa
seperti ini berdiri sendiri, akan sangat sulit
ia dijelaskan; tetapi walaupun ini mungkin
kasus paling sempurna yang telah diketahui
mengenai imitasi untuk perlindungan,
ada ratusan kemiripan serupa di alam dan
dari semua ini adalah mungkin untuk
mengerucutkannya menjadi sebuah teori
tentang cara bagaimana mereka semua
perlahan-lahan muncul. Prinsip variasi
dan prinsip “seleksi alam”, atau yang paling
mampu menyelaraskan dirilah yang lestari,
sebagaimana diuraikan Mr. Darwin dalam
Origin of the Species-nya yang dielu-elukan
itu, menawarkan fondasi bagi teori seperti
itu; dan saya sendiri telah berupaya untuk
memberlakukannya pada semua kasus
imitasi utama.
Mungkin Wallace menghindari kontroversi. Lagi pula,
pada 1869, saat The Malay Archipelago diterbitkan,
On the Origin of Species baru berusia sepuluh tahun.
Menariknya, penyebutan Wallace tentang proses
evolusioner memang memicu reaksi-reaksi yang
bertentangan. Sebuah ulasan anonim tentang The
Malay Archipelago, misalnya, dalam British Quarterly
Review edisi Juli 1869, mengkritik Wallace atas
pretensi Darwiniannya: “Mr. Wallace telah lama
dikenal sebagai salah satu pendukung terkemuka
teori-teori Darwinian mengenai ‘variasi dan seleksi
alam’; dan kegelisahannya yang tampak jelas untuk
membuktikan teori-teori tersebut membangkitkan
kecurigaan kita serta membawanya pada spekulasi
yang sangat samar-samar.”
Walaupun demikian, gagasan bahwa Wallace
menarik diri dari kontroversi tidaklah mungkin.
Sepanjang kariernya, ia intelektual yang berani.
Darwin telah secara hati-hati menghindari topik
evolusi manusia dalam On the Origin of Species, tetapi,
dengan makalahnya pada 1864, “The Origin of Human
Races and the Antiquity of Man Deduced From
the Theory of Natural Selection,” Wallace menyasar
langsung pada wilayah super-sensitif ini segera setelah
ia kembali dari Asia Tenggara. Tampaknya, kesimpulan
yang paling meyakinkan adalah bahwa Wallace
semata-mata menganggap kisah tentang penemuan
ilmiahnya tidak perlu ia gembar-gemborkan sendiri.
Pada tiap-tiap penyebutannya tentang evolusi melalui
seleksi alam dalam The Malay Archipelago, ia tak
menyebutkan kontribusinya terhadap teori itu; selalu
Mr. Darwin dan Mr. Darwin saja. Wallace memang
mengidap penyakit rendah hati. Karya besarnya
tentang evolusi ia beri judul Darwinism. Dan pada
1908, dalam acara untuk memperingati 50 tahun
publikasi Darwin-Wallace, Wallace mengingatkan
dunia bagaimana penyebutan jasanya harus dilakukan
secara adil: “Saat itu saya (sejak itu pun masih
sering) ‘anak muda yang tergesa-gesa’: dia (Darwin)
mahasiswa yang bersusah-payah dan sabar, yang selalu
berupaya mencari pembuktian penuh atas kebenaran
yang ia temukan alih-alih mencapai kemasyhuran
pribadi.”
15
eSAI
125.660 spesimen
16
17
Fred Langford
Edwards
Re-Collecting
Alfred Russel Wallace, 2007–15
Proyek fotografi dokumenter
yang masih berjalan
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman dan masingmasing The Linnean Society
of London; World Museum
Liverpool; National Museum
Wales, Cardiff; Natural History
Museum of London and Tring;
Cambridge University Museum
of Zoology.
FreD lANGForD eDWArDS
125.660 spesimen
18
19
FreD lANGForD eDWArDS
125.660 spesimen
20
Perjalanan Wallace menghasilkan dua jenis
baru pengetahuan ilmiah: teori, sebagaimana yang
kita lihat, dan data. Yang terakhir ini datang dalam
dua bentuk: spesies baru bagi ilmu pengetahuan
dan informasi baru tentang persebaran spesies ini
maupun spesies yang sudah digambarkan sebelumnya.
Praktik pengumpulannya berbeda dengan masa kita.
Bahwa suatu spesies itu langka—dalam bahasa hari
ini, terancam punah—lebih merupakan rangsangan
bagi pengumpulannya alih-alih sebaliknya. Dengan
kepekaan modern kita, amatlah sulit untuk membaca
kisah Wallace tentang pembunuhan brutal seekor
Orangutan yang sangat gigih: “Kedua kakinya patah,
sebelah sambungan pinggangnya dan bagian bawah
tulang punggungnya hancur total, dan dua peluru
pipih ditemukan di leher dan rahangnya! Tapi dia
masih hidup saat jatuh.” Obyek-obyek Wallace sifatnya
ilmiah—cara utama yang kita pakai mempelajari
Orangutan adalah dengan meneliti spesimen mati—
sekaligus komersial, karena spesimen tersebut akan
dihargai sangat tinggi di London. Perbedaan antara
waktu itu dan sekarang utamanya adalah perbedaan
logistik. Karena kita dapat mengapalkan bahan keluarmasuk dengan relatif mudah, tiap masalah dapat
diselesaikan dengan panggilan telepon dan kartu
kredit. Wallace, sebaliknya, kerap mendapati upaya
pengumpulannya tertunda atau gagal karena peralatan
pentingnya—seperti jepitan untuk menempatkan
serangga—yang dipesan dari Stevens berbulan-bulan
sebelumnya lewat jaringan rumit kapal uap pos,
terlambat atau bahkan tak pernah sampai.
Pengawetan spesimen teramat sulit dalam
kondisi yang kerap dialami Wallace. Upaya-upaya
untuk mengeringkan materi dalam cuaca basah
yang berkepanjangan akan berujung pada spesimen
yang berjamur dan tak berguna, tetapi mungkin
tantangan yang paling sukar datang dari spesies lain
yang mengira bahwa spesimen Wallace yang sulit
diperoleh adalah peluang menyantap makanan.
Khususnya, bagi lalat blue bottle atau lalat hijau yang
akan “mengerubungi kulit burung saat pertama
kali dikeluarkan untuk dikeringkan dan memenuhi
bulu-bulu burung itu dengan telur-telurnya, yang
jika dibiarkan saja akan menghasilkan belatung
esok harinya.” Anjing liar juga merupakan “musuh
besar dan membuatku selalu berjaga-jaga. Jika anak
buahku meninggalkan burung yang sedang dikuliti
sebentar saja, sudah pasti burung itu akan digondol
pergi. Segala sesuatu yang dapat dimakan harus
digantungkan di atap, di luar jangkauan anjinganjing itu.” Bahwa Wallace dan orang-orangnya
bahkan berhasil menciptakan koleksi yang signifikan
dalam kondisi seperti itu adalah hal yang luar biasa.
Belum lagi bajak laut dan bandit-bandit yang harus
dipikirkan. Namun, mungkin musuhnya yang paling
gigih dari semuanya adalah mikroba, khususnya
dengan adanya kemungkinan luka atau terkena gigitan
serangga, yang awalnya hanya berupa gatal-gatal kecil
lalu dalam iklim yang basah dan panas itu berubah
menjadi infeksi serius.
Terlepas dari rangkaian rintangan yang
fenomenal, koleksi Wallace memang menakjubkan.
Ia mengumpulkan sejumlah total 125.660 spesimen—
artinya, luar biasa, 44 spesimen per hari. Ingat pula
bahwa angka tersebut tidak termasuk banyaknya
spesimen yang dikumpulkan tetapi harus dibuang
karena pengawetannya bermasalah. Dari 109.700
spesimen serangga yang dikumpulkan Wallace,
diperkirakan 7.758 berhasil, via Stevens, mencapai
koleksi Museum Inggris (kini Museum Sejarah
Alam). Tetapi ada berapa banyak spesies berbeda yang
direpresentasikan dalam 125.660 spesimen itu dan,
dari spesies-spesies itu, ada berapa banyak yang baru
bagi ilmu pengetahuan? Mari berfokus pada burung,
yang pada umumnya digambarkan dengan cukup
baik dan dengan demikian menandai batas bawah
keampuhan Wallace sebagai kolektor. Ada kuranglebih 10.000 spesies burung yang diketahui; 212 di
antaranya ditemukan di Asia Tenggara oleh Wallace—
sekitar 2% dari semua spesies burung.
Koleksi ilmiah Wallace bukan saja pencapaian
yang luar biasa, melainkan keberhasilan dagang
pula. Beberapa spesimen yang menonjol, khususnya,
mendapatkan harga yang tinggi. Satu pengiriman
tiga rangka dan kulit Orangutan, misalnya, dibeli
oleh Museum Inggris dengan harga £96. Dan Wallace
menerima lebih dari £1.000 atas koleksi Kepulauan
Aru-nya. Sepanjang waktu ia selalu dilayani dengan
baik oleh Stevens. Bagi Wallace, fase keamanan
finansial ini terbukti berusia pendek karena tampaknya
ia mewarisi ketidakcakapan ayahnya mengelola uang.
Hanya ketetapan pemerintah tentang daftar pensiun
sipil £200 per tahun sajalah, yang diurus oleh Darwin
pada 1881, yang membantu meringankan kehidupan
Wallace sehingga tak harus dibayangi kegelisahan
finansial selamanya.
Observasi Wallace mengenai Asia Tenggara tak
terbatas pada sejarah alam saja, ia juga memiliki
minat yang mendalam terhadap etnografi. Saat ini
telah diajukan bahwa minatnya terhadap transisi
manusia dari masyarakat Australonesia ke Melanesialah yang menjadi kunci pengembangan gagasannya
mengenai seleksi alam. Namun, bagi Wallace, manusia
bukanlah semata-mata hewan kajian yang lain. Ia
menyusun observasi antropologis yang lengkap
dan melakukan upaya penuh tekad untuk merekam
banyak bahasa yang ia jumpai. Upayanya sebagai ahli
bahasa, menurut pemaparannya sendiri, terhambat
oleh kekurangannya dalam ranah ini: “Kelemahan
lain yang lebih serius adalah dalam hal ingatan
verbal yang, digabung dengan ketidakmampuan
menghasilkan bunyi vokal, membuat penguasaan
semua bahasa asing menjadi sangat sulit dan buruk
sekali.” Maka, bahwa ia mampu mengakumulasi
banyak informasi linguistik maka adalah hal yang
justru mencengangkan.
Setelah pengalamannya dengan Helen, dapat
dimengerti bahwa Wallace gelisah tentang perjalanan
pulangnya. Pada 1859, ia menulis kepada Bates saat
ia mendengar bahwa Bates akhirnya kembali dari
Amazon: “Izinkan aku mengucapkan selamat atas
sampainya kau di rumah dengan selamat beserta
segala harta karunmu; keberuntungan baik yang aku
yakin kali ini akan ditakdirkan untukku.” Kepulangan
Wallace ke Inggris dimajukan sekitar sebulan karena
berita, yang ia terima saat mengumpulkan spesimen
di Sumatra, bahwa Zoological Society of London
(ZSL) akan menanggung biaya perjalanan pulangnya
dari Singapura jika ia menemani dua burung
cenderawasih hidup yang sedang dijual di Singapura
ke London. Setibanya di Singapura, Wallace kecewa
karena ia dibuat percaya bahwa pengaturan ZSL
sifatnya menyeluruh sementara kenyataannya tidak
demikian: instruksinya hanyalah bahwa ia harus
mengurusi burung-burung itu. Bebas biaya perjalanan
tidak disebut-sebut. Wallace maka harus menguras
koceknya sebesar $552 (Singapura) untuk tiket kelas
pertama ke Marseilles, dari mana ia akan berkereta
menyeberangi Prancis. Nantinya ia akan mengklaim
ongkos perjalanan dari ZSL. Ada beberapa momen
genting, seperti saat Wallace dihadapkan dengan
kelangkaan kecoa kapal—makanan kesukaan burungburung itu—di atas kapal uap P & O yang higienis dan
nyaman, Ellora, di luar Iskandariyah. Lebih jauh lagi,
penyebutan nama burung-burung itu dalam telegraf
untuk ZSL entah bagaimana menjadi amburadul.
Entah bagaimana para petugas ZSL menanggapi berita
tentang “garadisi birds” (dari seharusnya, paradise
birds). Wallace tiba di Folkestone pada 31 Maret
1862 setelah perjalanan lebih dari delapan tahun.
Kontrasnya dengan kepulangannya yang sebelum
itu—pasca-Helen—sangat jelas. Dulu ia korban
selamat yang kurus kering dari sebuah kapal yang
tenggelam, yang berduka atas hilangnya koleksinya;
kini ia seorang tokoh ilmu pengetahuan yang sukses
dan terkenal.
Wallace langsung menceburkan diri dalam
kehidupan London, jelas menikmati akses barunya
pada kalangan terkemuka dalam lingkungan
sains Inggris. Dalam beberapa bulan saja, ia telah
bepergian untuk menemui Darwin maupun Lyell.
Namun, prioritas Wallace adalah menggarap sains:
menakjubkan bahwa ia produktif selama tahuntahun ini, menekuni koleksinya dan menuliskan
observasinya. Ia juga menghabiskan waktu untuk
membela gagasan-gagasan evolusioner dalam
tulisan-tulisan—waktu itu ia beranggapan sebaiknya
disebut sebagai “Darwinianisme”. Pada 1865, ia
mengunjungi acara pertemuan roh yang pertama dan
segera menjadi seorang spiritualis yang teguh. Pada
1866, ia menerbitkan pamflet pertamanya mengenai
spiritualisme. Urusan pribadi juga berubah-ubah
dengan cepat. Segera setelah kembali, ia berjumpa
dengan seorang Miss Leslie lewat klub catur yang ia
kunjungi. Mereka bertunangan dan tampaknya, dari
perspektif Wallace, segala sesuatu berjalan dengan
baik. Namun Miss Leslie membatalkan pertunangan
dan meninggalkan Wallace yang malang dalam
keadaan hancur: “Belum pernah dalam hidup aku
merasakan emosi yang sedemikian menyakitkan.”
Namun, tak semua hancur berantakan: Wallace
menikah dengan Annie Mitton pada 5 April 1866.
Dengan segala sesuatu yang berlangsung saat
itu, tak mengherankan bahwa The Malay Archipelago
tidak muncul hingga tujuh tahun setelah ia kembali.
Namun, ada alasan-alasan penundaan lain selain
penuhnya jadwal Wallace. Dua bukunya tentang
Amazon tidak mendapat sambutan baik—ini sebagian
jelas karena hilangnya catatannya dan materi-materi
lain di atas Helen—tetapi ia pasti juga bertanya-tanya
apakah penulisannya sudah cukup bagus. Bukunya
mengenai palem mendapat ulasan keras oleh pakar
botani terkemuka saat itu, William Jackson Hooker,
Direktur Kew Gardens: “Karya ini jelas lebih sesuai
untuk meja ruang tamu ketimbang perpustakaan ahli
botani.” Buku perjalanan Amazon mendapat ulasan
yang lebih baik tetapi penjualannya buruk. Wallace
mengenang dalam My Life: “Hanya 750 eksemplar
yang dicetak dan saat saya pulang kembali dari Timur
pada 1862, sekitar 250 eksemplar masih ada. Jadi, sama
sekali tidak ada laba untuk dibagikan.”
Ada pula unsur persaingan dalam kegelisahan
Wallace mengenai penulisan The Malay Archipelago.
Bates telah kembali dari Amazon pada 1859 dan
21
eSAI
125.660 spesimen
22
bukunya, The Naturalist on the River Amazons, pada
1863 telah muncul dengan sambutan meriah. Wallace
sendiri menyebut, buku itu memiliki “kekuatan
observasi dan ciri-ciri gaya yang menyenangkan.”
Menulis kepada Darwin pada 1864, Wallace berterusterang, “Saya payah sekali kalau menulis sesuatu yang
bercerita. Saya ingin sesuatu untuk diperdebatkan
lalu saya pikir akan jauh lebih mudah kalau saya terus
saja. Lebih baik saya menyerah daripada menulis buku
sebagus Bates, walaupun saya rasa topik saya lebih
bagus.” Selain itu, bagaimana ia dapat bersanding
dengan tulisan-tulisan oleh von Humboldt dan
Darwin? Darwin memberinya semangat dalam
tanggapannya terhadap kegelisahan Wallace, “Dengan
kekuatan penulisanmu, saya tidak ragu kau akan dapat
menulis buku yang hebat”—tetapi Wallace hampir tak
maju-maju. Proses penyusunan buku itu pelik karena
Wallace memilih menghindari pendekatan kronologis.
Ia lebih suka menyusun struktur penceritaannya
berdasarkan geografi, melintasi kawasan itu dari barat
ke timur karena perjalanannya yang memutar-mutar.
Jika ditengok kembali, Wallace toh senang
karena telah menunda menulis bukunya hingga
ia menganalisis (dan menerbitkan) banyak materi
yang ia bawa pulang. Hal ini membuatnya “mampu
menuliskan buku yang tidak sekadar kisah perjalanan
seorang musafir tetapi juga sebuah sketsa yang cukup
lengkap tentang seluruh Nusantara Melayu yang besar
dari sudut pandang seorang naturalis yang filosofis.”
Ia menciptakan racikan dengan memanfaatkan
karya-karya penerbitannya sendiri, informasi dari
otoritas standar tentang kawasan itu, juga “sebuah
jurnal utuh yang dapat ditoleransi” (catatan-catatan
panjang yang ia buat di lapangan). Akhirnya, setelah
Wallace “memperoleh jasa layanan para seniman
dan pengukir kayu terbaik di London saat itu” untuk
ilustrasinya, naskah itu diserahkan ke tangan penerbit
dan yang harus dilakukan tinggal menyusun lembar
persembahan. Pada 20 Januari 1869, Wallace menulis
kepada Darwin: “Aku akan senang sekali jika kau
mengizinkan aku mempersembahkan buku kecilku
tentang Perjalanan Melayu ini untukmu, walaupun
buku ini merupakan karya yang sangat kecil dan
bersahaja untuk kehormatan seperti itu.” Darwin
membalas dua hari kemudian, “Niatmu untuk
mempersembahkannya untukku membuatku senang
sekali dan aku menganggapnya sebagai kehormatan
besar, demikianlah apa adanya kenyataannya.” The
Malay Archipelago diterbitkan oleh Macmillan & Co.
pada 9 Maret 1869 dalam dua volume oktavo (lipatan
delapan). Jumlah cetakan pertamanya 1.500 eksemplar
dan harga jualnya £1. Wallace dibayar sebesar £100
dengan royalti 7 shilling 6 penny per eksemplar
setelah terjualnya 1.000 eksemplar pertama. Buku itu
terjual dengan baik dan edisi keduanya sebanyak 750
eksemplar diedarkan pada Oktober tahun yang sama.
Terjemahan Jerman dan Belanda masing-masing
muncul pada 1869 dan 1870. Edisi ketiga bahasa
Inggris (1.000 eksemplar), yang muncul pada Februari
1872, adalah terbitan Inggris pertama dalam volume
gabungan.
Strategi penulisan Wallace menciptakan dua
masalah baginya. Pertama, kebijakannya untuk
mencakupkan materi sejarah alam yang padat dan
menambahkan bab-bab yang meringkas biologi dan
geografi tiap kawasan berarti plot naratifnya tak pelak
terganggu. Kedua, penolakannya terhadap penuturan
kronologis—kerapkali ia harus merajut beberapa
kunjungan terpisah ke suatu lokasi yang sama menjadi
satu naratif tunggal—niscaya menghilangkan gaya
penceritaan yang langsung dan mulus ala “ini,
kemudian ini, kemudian itu” yang mencirikan kisahkisah perjalanan terbaik. Solusi Wallace adalah
berfokus pada sketsa: peristiwa tertentu, spesimen
tertentu, orang-orang tertentu. Pada momen-momen
sorotan inilah The Malay Archipelago seolah hidup.
Karena Wallace dapat memanfaatkan catatancatatan panjang yang ia buat di lapangan, prosanya
menyimpan, bahkan tujuh tahun setelah peristiwanya,
kesegaran kesan pertama. Sketsa-sketsanya cemerlang.
Keistimewaan khususnya adalah apa yang bisa kita
sebut “salindia Wallace”. Pemaparannya berawal kering
dan ilmiah—membosankan, bahkan—tetapi mulai
berirama seiring antusiasme Wallace mengalahkan
dirinya sendiri hingga tulisannya turun derajat
menjadi racauan-racauan yang paling tidak ilmiah.
Penggambarannya tentang durian ini terkenal dan
sudah selayaknya demikian:
Durian tumbuh di pohon yang besar
dan kokoh, agak menyerupai elm dalam
karakternya secara umum tetapi dengan kulit
pohon yang lebih halus dan bersisik. Buahnya
bulat atau sedikit lonjong, kurang-lebih sebesar
sebutir kelapa yang besar, berwarna hijau, dan
seluruh permukaannya tertutup duri yang
kuat pendek, yang dasarnya saling menyentuh
satu sama lain sehingga menjadi agak bersegi
enam, sementara ujungnya sangat kuat dan
tajam. Buah ini dipersenjatai begitu lengkap
sehingga jika dahan buahnya jatuh maka
sulitlah untuk mengangkatnya dari tanah....
Kemudian daging buahnya itulah, yang halus,
lengket, dan kaya, tanpa apa-apa lagi namun
justru di situlah kenikmatannya. Rasanya
tidak masam, tidak manis, tidak pula gurih,
tapi tidak akan ada yang menginginkan semua
rasa itu karena buah ini sempurna apa adanya.
Buah ini tidak menimbulkan mual ataupun
efek buruk lainnya, dan semakin banyak kau
memakannya, semakin tak ingin kau berhenti.
Memang, makan Durian adalah sensasi baru,
senilai dengan perjalanan menuju ke Timur.
The Malay Archipelago mendapat sambutan baik, baik
dari para pengulas maupun kolega-kolega Wallace.
Darwin khususnya sangat apresiatif. Ia menulis pada
5 Maret:
Senang sekali saya menerima bukumu pagi
ini. Keseluruhan perwajahan dan ilustrasinya
yang dihiasi banyak ornamen indah sekali.
Terberkatilah kau dan penerbitmu karena
telah memotong dan menyepuh halaman
buku.
Tentang lembar persembahan, terlepas
dari betapa jauhnya kata-katamu dari yang
berhak kuterima, kurasa itulah ungkapan
persembahan terbaik yang pernah kulihat ...
hal yang bisa dibanggakan oleh anak-cucuku.
Kemudian, pada 22 Maret, setelah membaca buku itu:
“Menurutku bagus sekali, dan ... Dari semua kesan
yang kudapatkan dari buku ini, yang terkuat adalah
bahwa kegigihanmu atas nama ilmu pengetahuan
heroik sekali.” Pada April 1869, John Lubbock, seorang
kawan dan tetangga Darwin, mengulas buku itu untuk
Macmillan’s Magazine, menyimpulkan, “bahwa karya
Mr. Wallace, saya rasa, layak disejajarkan dengan
kisah-kisah perjalanan terbaik yang pernah terbit.”
Ulasan-ulasan yang negatif cenderung berfokus
pada empat area. Satu, seperti yang telah kita lihat,
berasal dari para pengulas yang memanfaatkan
The Malay Archipelago sebagai kesempatan untuk
menyerang teori evolusi. Kritik lain adalah tentang
perhatian buku itu terhadap detail ilmiah. The Atlantic
Monthly (Agustus 1869) mengungkapkannya dengan
manis: “Mr. Wallace rupanya memeras habis catatan
harian yang berlimpah-ruah untuk menghasilkan
buku ini dan tampaknya telah bertekad untuk tidak
meninggalkan apa pun.” Sebuah ulasan tanpa nama
di British Quarterly Review (Juli 1869) meringkaskan
dua area kritik utama: pembelaan Wallace terhadap
pemerintahan kolonial Belanda dan kutukannya
terhadap degradasi moral masyarakat “beradab” jika
dibandingkan dengan masyarakat “biadab”:
Lagi dan lagi, dengan semangat membara,
ia bela sistem kolonial Belanda.... Ia memuji
rencana untuk mendorong debitur menjadi
budak bagi krediturnya, menyesalkan
perdagangan bebas, dan melihat adanya
manfaat dalam monopoli, bahkan meminta
maaf atas rusaknya “pepohonan pala dan
semanggi di banyak pulau, demi membatasi
budidayanya pada satu atau dua pulau, di
mana monopoli dapat dijaga dengan mudah.”
... Kami lebih suka sejarah alamnya ketimbang
politik ekonominya; khususnya demikian
saat di antara kesimpulan observasinya ia
berargumen atas keunggulan suku-suku
biadab dengan siapa ia telah tinggal bersama
dan menyesalkan kebejatan moral yang
dihasilkan peradaban modern.
Hubungan Wallace dengan masyarakat “biadab”
merupakan paradoks. Ia amat mengagumi dunia
komunal Rumah Panjang Dayak yang egaliter dan
masyarakat pribumi lain, dan terkadang memberi
kesan bahwa ia mendukung suatu versi doktrin
“biadab yang mulia” di mana manusia secara asali baik
namun rusak oleh tipu daya peradaban. Karena ia
bergantung pada masyarakat “biadab” untuk bantuan
dan keramahan sepanjang perjalanannya, ia memiliki
perspektif yang tercerahkan yang tidak biasa pada era
ketika rasisme masih menjadi norma. Bahkan kaum
yang secara politis liberal progresif—kaum abolisionis
garis keras—biasa memiliki pandangan rasis.
Sebaliknya, Wallace menulis dari Sarawak pada 1855
bahwa, “Semakin jauh saya melihat masyarakat tak
beradab ini, semakin saya yakin bahwa sifat manusia
secara keseluruhan baik, dan perbedaan hakiki antara
manusia biadab dan beradab seolah lenyap.” Perspektif
ini akan berdampak besar terhadap pemikiran
ilmiahnya karena berkontribusi dalam penolakannya,
yang pertama kali diutarakan dalam sebuah artikel
pada 1869, atas kecukupan seleksi alam untuk
menjelaskan evolusi manusia. Ia menyadari bahwa
orang “biadab” di Kepulauan Aru dengan siapa ia telah
bekerja, misalnya, secara mental merupakan tandingan
setara bagi lelaki terhormat yang paling canggih di
London. Perbedaan yang ada terletak pada pendidikan
saja. Tetapi bagaimana seleksi alam yang, berdasarkan
definisinya, hanya merespons kebutuhan langsung saat
kebutuhan itu mempengaruhi keberlangsungan dan
reproduksi, dapat bertanggung jawab atas evolusi otak
penduduk Kepulauan Aru? Wallace menyimpulkan,
maka, bahwa pasti ada semacam kekuatan
teleologis yang bekerja dalam evolusi manusia; ini
mendemonstrasikan betapa kuatnya pemahamannya
23
eSAI
125.660 spesimen
24
akan mekanisme proses evolusi.
Meski demikian, walaupun tercerahkan, tak
perlu kita mengira bahwa Wallace membayangkan
perspektif relativistik modern terhadap ras dan
budaya. Prediksinya atas nasib masyarakat Nugini
mengungkapkan dirinya sebagai seseorang dari
zamannya: “Jika gelombang kolonisasi mencapai
Nugini, hampir tak diragukan lagi ras Papua akan
punah. Masyarakat yang suka berperang dan enerjik,
yang tidak akan menyerah pada perbudakan nasional
atau penghambaan domestik, akan lenyap di hadapan
kulit putih seperti halnya serigala dan harimau.”
Kritik terhadap antusiasme Wallace akan
sistem kolonial Belanda mengambil dua wujud. Ada
perbedaan-perbedaan ideologis antara kebijakan
perekonomian kolonial Inggris dan Belanda.
Perdagangan bebas dipandang sebagai kunci yang
menyangga keberhasilan upaya semacam Singapura,
yang pada dasarnya diciptakan Sir Thomas Stamford
Raffles pada 1819. Sebaliknya, Belanda lebih menyukai
monopoli yang dikendalikan secara hati-hati. Selain
itu, ada pula isu apakah sistem kolonial Belanda, yang
berusaha mengendalikan pertanian lokal melalui
pajak, secara inheren cenderung sewenang-wenang.
Dengan simpatinya (dan empatinya) seumur hidup
terhadap pihak yang tidak diunggulkan, adalah hal
yang mengejutkan bahwa Wallace memilih berpihak
pada pemerintah kolonial. Mungkin apresiasinya
atas keramahan James Brooke di Sarawak, diiringi
hubungan pribadinya yang dekat dengan Brooke,
membuatnya cenderung bersimpati dengan
pemerintahan yang paternalistik.
Keluhan kedua dalam British Quarterly Review
adalah tentang halaman-halaman terakhir The
Malay Archipelago di mana Wallace memuat sebuah
kotak sabun untuk menyerang ketidakadilan dalam
masyarakat industrial Inggris dibandingkan dengan
masyarakat “biadab” egaliter yang ia jumpai dalam
perjalanannya. Ini mengingatkan kembali akan
kiasan yang muncul dalam buku Amazon-nya yang
sebelumnya, dikutip di sini dalam sebuah bait yang
ditulis oleh Wallace pada 1951:
Haruskah jutaan mengalami kesengsaraan ini
Dan sedikit orang memetik buahnya yang
manis, Tidak adakah, terpenjara dalam
padatnya kota, Tersebar di tanah-tanah kita
yang paling kaya, Jutaan orang yang hidup
lebih nestapa—Lebih nista fisiknya dan
kesehatan moralnya—Ketimbang Indian
merah di alam liar yang tak tersentuh ini?
Sejak awal dalam hidupnya, Wallace terinspirasi
oleh tokoh reformasi sosial dan proto-sosialis asal
Wales, Robert Owen, dan akhirnya menyatakan
diri sepenuhnya sebagai sosialis. Wallace sendiri
mengenal kemiskinan dan selama hari-hari surveinya
bekerja di kalangan miskin pedesaan sehingga sebagai
pengamat yang ilmiah pasti memiliki perasaan pribadi
yang mendalam tentang ketidakadilan masyarakat
era Victoria. Dalam tanggapannya terhadap para
pengulas The Malay Archipelago, Wallace mencicipi
untuk pertama kali sebentuk kritik yang makin lama
makin kerap ditujukan kepada dirinya seiring ia
makin berpihak secara politis. Keterlibatannya dalam
reformasi tanah membuatnya, pada 1881, menjadi
presiden pertama Land Nationalization Society, yang
menganggap kepemilikan tanah pribadi sebagai akar
dari banyak penyakit masyarakat. Pada 1882, Wallace
menerbitkan buku, Land Nationalization: Its Necessity
and Its Aims, yang ia persembahkan untuk “Kaum
Pekerja Inggris”. Ia terus menjadi juru kampanye
yang penuh semangat tentang persoalan ini, seorang
“radikal yang merah membara” dalam kalimatnya
sendiri, sepanjang sisa hidupnya.
Dampak The Malay Archipelago tidak hanya
terbatas pada ranah politik. Tak mengejutkan,
buku tersebut menginspirasi satu generasi musafir
untuk menjelajahi kawasan tersebut. A Naturalist’s
Wanderings in the Eastern Archipelago karya Henry
Forbes pada 1883 dimulai dengan tribut untuk
Wallace. Dan, memang, The Malay Archipelago terus
bermanfaat bagi para ilmuwan kontemporer. Wallace
begitu menyeluruh dalam survei biologinya dan
teliti dalam pencatatannya sehingga pemaparannya
berguna sebagai standar dalam mengevaluasi
dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh
penggundulan hutan, polusi, dan sebangsanya. Sebuah
makalah tahun 2010 mampu mengukur penurunan
populasi Orangutan menggunakan informasi dari
Wallace pada tingkat ketika ia menjumpai hewan
tersebut di hutan di Borneo pada 1855.
Tak seperti buku yang ditulis oleh ilmuwan pada
umumnya, The Malay Archipelago juga berdampak
terhadap sastra. Baik Arthur Conan Doyle maupun
Somerset Maugham memanfaatkannya sebagai
sumber. Namun, pewaris sastrawi yang paling
berutang pada Wallace adalah Joseph Conrad, yang
baginya The Malay Archipelago adalah “buku favorit
di sebelah tempat tidur”. Beberapa karya Conrad
memanfaatkan sumber dari buku tersebut, tetapi
gaung Wallace terdengar paling kuat dalam Lord
Jim (1900), sebuah buku yang sebagian didasarkan
atas kehidupan James Brooke. Conrad memilih
dengan baik. Bagian mengenai Wallace ini diinspirasi
langsung oleh kisahnya menangkap kupu-kupu
birdwing, Ornithoptera croesus:
Hari berikutnya, saya pergi ke tempat
yang sama dan berhasil menangkap seekot
Ornithoptera betina. Keesokan harinya,
saya menangkap yang jantan. Kupu-kupu
ini merupakan spesies baru dan sangat
mengagumkan sebagai salahsatu kupu-kupu
dengan warna terindah di dunia. Sayap
spesimen jantan memiliki lebar lebih dari
tujuh inci dan berwarna hitam beludru serta
jingga kemerah-merahan. Kupu-kupu lain dari
famili yang sama sayapnya berwarna hijau.
Keelokan dan keindahan serangga ini tak
dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Dan hanya seorang naturalis yang dapat
memahami kegembiraan saya ketika akhirnya
kupu-kupu ini berhasil tertangkap. Ketika
mengeluarkannya dari jaring dan membuka
sayapnya yang cantik, jantung saya berdegup
kencang. Darah saya naik hingga ke kepala.
Saya tiba-tiba merasa lebih lemas daripada
ketika menghadapi kematian. Kepala saya
sakit sepanjang hari. Terlampau besar
kegembiraan yang saya alami, sementara bagi
orang lain hal tersebut sangat remeh.
Bagian tersebut memuat semuanya: sejarah alam
yang cermat, drama yang dituturkan dengan baik,
“salindia Wallace” dari observasi yang berjarak hingga
keterlibatan yang penuh gairah, serta, akhirnya, sekilas
gaya mengejek diri sendiri ala Wallace.
Menulis pada 1863, setahun setelah Wallace
kembali dari Asia Tenggara, Huxley—yang tak pernah
berlebihan dalam memuji orang—menilai Wallace dan
perjalanannya: “Sekali dalam satu generasi, mungkin
dapat dijumpai seorang Wallace yang secara fisik,
mental, dan moral terkualifikasi untuk berkelana
tanpa cedera di seluruh hutan tropis liar Amerika
dan Asia; menyusun koleksi yang menakjubkan
ke mana ia pergi; dan lebih jauh lagi memikirkan
secara jauh kesimpulan-kesimpulan yang disiratkan
oleh koleksinya.” Menimbang-nimbang The Malay
Archipelago, kita bisa menambahkan pada penilaian
tersebut bahwa jarang pula semangat penjelajahan
dan kecemerlangan ilmiah diiringi kemampuan yang
ditakdirkan untuk menulis secara liris dan penuh
hasrat sekaligus cermat tentang perjalanan-perjalanan
yang penuh mara bahaya, lokasi-lokasi geografis
yang memancing keingintahuan, spesies-spesies
spektakuler, tempat-tempat yang tak terbayangkan,
dan masyarakat-masyarakat yang luar biasa.
Lahir di London, Andrew Berry memperoleh gelar
dalam bidang Zoologi di Oxford University dan
Phd untuk Genetika Evolusioner dari Princeton
University. Pernah duduk sebagai Harvard Junior
Fellow, kini ia mengajar Biologi Evolusioner dan
Organisme di Harvard. Memadukan teknik biologi
lapangan dengan biologi molekuler, riset Berry
adalah penyelidikan untuk menemukan buktibukti teori seleksi alam Darwin pada tataran DNA.
Ia telah mempublikasikan jurnal dengan beragam
topik seperti tikus raksasa di Papua Nugini, tikus di
Kepulauan Atlantik, kutu dari Timur Jauh, dan lalat
buah. Di Harvard, ia turut mengajar dalam kelaskelas mengenai biologi evolusioner, perkembangan
evolusi berpikir, dan basis fisik sistem biologi. Ia juga
mengajar progam kuliah musim panas luar negeri
di Queen’s College, Oxford, yang menggabungkan
sejarah sains dengan ulasan tentang pemikiran
terkini dalam biologi evolusioner. Ia telah
mengadakan kuliah umum mengenai topik-topik
evolusi dan sejarah biologi di depan peserta-peserta
umum di seluruh dunia—dari Ankara hingga
Antartika. Dalam sejarah sains, Berry tertarik
dengan peran sejarah alam dalam perkembangan
ide-ide tentang evolusi. Penekanan khususnya,
dalam bidang itu, adalah pada hidup dan karya
Alfred Russel Wallace, ahli biologi era Victoria,
yang, bersama Charles Darwin, mencetuskan teori
seleksi alam. Berry menyunting kumpulan tulisan
Wallace (Infinite Tropics, Verso 2002) dan menulis
kata sambutan untuk edisi Penguin Classics 2014
dari The Malay Archipelago, kisah Wallace tentang
perjalanan ilmiahnya selama delapan tahun di Asia
Tenggara. Berry juga menulis, bersama James D.
Watson, kisah sejarah dan dampak genetika modern
yang diterbitkan untuk memperingati 50 tahun
penemuan si ulir ganda (DNA, Knopf 2003). Sebagai
pengajar dan pembicara, Berry berusaha untuk
meruntuhkan misteri seputar topik yang paling
penting dan paling kerap disalahtafsirkan dari
seluruh pemikiran dalam biologi: evolusi.
25
Esai dan kronik hidup di halaman berikut
dipublikasikan dalam The Malay Archipelago oleh
Alfred Russel Wallace, diedit oleh Andrew Berry
(London: Penguin Books, 2014).
Terjemahan disingkat oleh Ninus D. Andarnuswari.
eSAI
125.660 spesimen
Kronik Hidup
Alfred Russel Wallace
Andrew Berry
26
1823
1828
1837
Pada 8 Januari, Alfred Russel Wallace lahir
di dekat Usk, monmouthshire, sebagai
anak kedelapan dari sembilan bersaudara.
orangtuanya, Thomas Vere Wallace dan
mary Anne Greenell pindah ke Usk untuk
menghemat uang. mr. Wallace adalah
seorang pengacara berizin yang tidak pernah
berpraktik tetapi terkadang bekerja sebagai
guru dan pustakawan. Ia menggantungkan
hidupnya terutama pada warisan yang
semakin menipis.
Keluarga itu pindah ke Hertford, di
rumah kerabat mrs. Wallace. Pada 1831,
Wallace masuk ke Hertford Grammar
School, di mana ia mendapatkan
pendidikan klasik. Pada 1835, mr. Wallace
ditipu orang sehingga sisa warisannya
semakin menipis. Situasi finansial
keluarga tersebut terjun bebas dan
Wallace ditarik dari sekolah sekitar Natal
1836.
Wallace pindah ke london selama
sekitar enam bulan bersama kakaknya,
john, seorang tukang kayu magang.
Di sini Wallace mengenal ajaran utopis
sosialis robert owen dan pemikiran
radikal khas london mechanic’s Institute.
Pada musim panas 1837, Wallace
meninggalkan london dan pergi ke
Bedfordshire untuk bergabung dengan
kakaknya yang lain, William, dalam
bisnis survei tanah secara berjalan kaki.
Wallace belajar survei sendiri dari Survei
Trigonometri Inggris.
1845
1847
1848
William mendadak meninggal;
Wallace meninggalkan leicester
dan mengambil alih bisnis
William di Neath sembari terus
memupuk minatnya terhadap
kumbang dan sejarah alam
secara umum lewat suratmenyurat dengan Bates.
Wallace menerbitkan makalah ilmiahnya yang
pertama (sebuah catatan tentang sejarah
alam) dalam The Zoologist dan bersama
Bates merencanakan sebuah ekspedisi ilmiah
ke negeri-negeri tropis, yang akan mereka
danai dari penjualan tiruan spesimen. Pilihan
destinasi mereka terinspirasikan dari A Voyage
up the Amazon karya W.h. edwards.
Wallace dan Bates berangkat dari Inggris pada
25 April menuju Belém, Brazil. Setelah awalnya
bekerja bersama, pada maret 1850 pasangan
itu berpisah, dengan Bates berfokus pada
Solimões, cabang selatan Amazon, dan Wallace
pada sebelah utara rio Negro. Ia melakukan
dua ekspedisi di sana, Agustus 1850-September
1851 dan oktober 1851 – mei 1852.
1858
1859
Pada Februari, saat tengah mengalami serangan demam malaria di Pulau halmahera,
maluku, ia mendapat sekilas ilham tentang mekanisme adaptasi dalam evolusi (apa yang
disebut Darwin “seleksi alam”). Wallace menulis “Ternate Manuscript” dan “On the Tendency
of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type,” yang ia kirim ke Darwin agar
diteruskan ke Sir Charles lyell. Pada 18 juni, surat dan naskahnya sampai di tangan Darwin
yang tak dapat menentukan prioritas hingga keputusannya ditentukan oleh para koleganya,
lyell dan joseph hooker. Dua orang ini kemudian menyajikan penemuan ganda mengenai
seleksi alam dalam pertemuan linnean Society pada 1 juli, membacakan baik makalah
Wallace maupun materi Darwin yang belum diterbitkan. Pada oktober, berita mengenai
penerbitan gabungan itu mencapai Wallace yang girang.
makalah mengenai apa yang nantinya
dikenal sebagai “Garis Wallace”, “On
the Zoological Geography of the Malay
Archipelago” dibacakan di depan
Linnean Society pada 3 November;
On the Origin of Species karya Darwin
diterbitkan pada 24 November.
1869
1870
1871
1875
The malay Archipelago terbit pada
9 maret, diikuti edisi keduanya
setahun kemudian. Dalam
Quarterly review edisi April,
dalam sebuah tinjauan atas edisi
Principles of Geology lyell yang
terbaru, Wallace menyatakan
kesimpulannya bahwa seleksi
alam saja tidak dapat menjelaskan
evolusi manusia.
menerbitkan Contributions to the Theory
of Natural Selection. Wallace menanggapi
taruhan sebesar £500 dari ilmuwan eksentrik
john hampden yang ingin membuktikan
bahwa bumi tidak datar dengan sebuah
demontrasi elegan, memanfaatkan keahlian
surveinya. Sayangnya, hampden selanjutnya
menjadi duri dalam daging karena
memfitnah Wallace dalam upayanya untuk
mendapatkan kembali uangnya.
mulai bekerja sebagai
penilai ujian, tugas
yang ia teruskan hingga
1897. Ini biasanya
menghabiskan waktu
selama tiga minggu
dalam setahun dan
menghasilkan sekitar
£50.
on miracles and
modern Spiritualism
1893
1898
1903
1905
1907
1908
Dipilih
sebagai
Fellow of
the royal
Society.
The Wonderful
Century
man’s
Place in the
Universe
My Life
Is mars
habitable?
menerima medali Darwin-Wallace dari linnean Society di
London; Medali Copley dari Royal Society; dan Order of Merit,
penghargaan dari takhta kerajaan atas jasa luar biasa dalam
angkatan bersenjata atau dalam ilmu pengetahuan, seni,
sastra, atau promosi budaya. Order of Merit dianugerahkan
secara terbatas hanya untuk dua puluh empat anggota.
1840
1844
Wallace dan William awalnya bergerak ke Kingston, dekat
Hereford di perbatasan Wales, lalu ke Neath di Wales Selatan,
di mana mereka lantas terlibat dalam pekerjaan teknik sipil di
samping melakukan survei. minat Wallace terhadap tanamtanaman tumbuh seiring perjalanan-perjalanan mereka
ke pedesaan. Ia menabung agar dapat membeli sebuah
buku, Elements of Botany karya john lindley, hanya untuk
menemukan bahwa buku itu merupakan risalah sistematika,
bukan panduan mengenai tanaman Inggris yang ia cari. Pada
1842, pembelian buku yang lebih berhasil, yaitu Treatise on the
Geography and Classification of Animals oleh William Swainson,
menandai awal mula ketertarikan seumur hidup terhadap
biogeografi.
Saat bisnis survei William mengalami penurunan, Wallace menerima
pekerjaan di leicester Collegiate School untuk mengajar khususnya
survei, menggambar, dan sedikit aritmetika. Ia berjumpa dengan
henry Walter Bates, dua tahun lebih muda, yang memperkenalkan
Wallace pada kegiatan mengoleksi kumbang. Ia juga memperdalam
bacaannya: Personal Narrative of Travels to the Equinoctial Regions
of America karya Alexander von humboldt, perjumpaan pertamanya
dengan perjalanan ke negeri tropis; Essay on the Principle of
Population karya Thomas maltus, yang menjadi kunci ke pemikiran
evolusionernya kemudian; dan polemik evolusioner Robert
Chambers yang diterbitkan secara anonim, Vestiges of Natural
History of Creation. Ia juga menghadiri kuliah dan demonstrasi
tentang mesmerisme, yang menandai awal mula minatnya terhadap
pendekatan alternatif terhadap pikiran manusia.
1852
1854
1855
Wallace meninggalkan Belém dan pergi ke Inggris dengan kapal helen pada
12 juli 1852. Pada 6 Agustus, helen terbakar dan tenggelam di tengah Atlantik.
Sepuluh hari kemudian, kapal jordeson menyelamatkan Wallace dan awak
helen. Kembali di london pada 1 oktober, Wallace menyelamatkan secuil dari
serangkaian catatan ilmiah dan gambar yang bisa ia bawa dari helen. Setahun
kemudian, ia menerbitkan Palm Trees of the Amazon dan A Narrative of Travels
on the Amazon and rio Negro. Sempat berjumpa dengan Charles Darwin di
ruang serangga di museum Inggris. Saat merencanakan sebuah ekspedisi baru,
ia mendapatkan dukungan dari royal Geographic Society yang membantu
mengurus transportasi gratis ke Singapura lewat kapal uap P & o.
Berangkat dari
Southampton
menuju Singapura
pada 4 maret. lihat
“Malay Archipelago
Timetable” untuk
rencana perjalanan
delapan tahun
berikutnya.
Di Sarawak, Borneo, ia
menulis makalah teorinya
yang pertama, “On the
law Which has regulated
the Introduction of New
Species,” yang menyajikan
bukti biogeografis dan
stratigrafis untuk landasan
genealogis dalam
diversifikasi biologis.
1862
1864
1865
1866
Tiba di Folkestone
pada 31 maret
setelah lebih dari
delapan tahun
pergi jauh.
Wallace menerbitkan dua makalah
penting: yang satu tentang evolusi
manusia, “The Origin of Human
races Deduced From the Theory
of ‘Natural Selection’,” dan satu lagi
tentang pola variasi populasi alam,
“On the Phenomena of Variation
and Geographical Distribution as
Illustrated by the Papilionidæ of
the Malayan Region.”
Ia mengikuti
pertemuan roh untuk
pertama kalinya,
menjadi spiritualis,
dan setahun kemudian
menerbitkan yang
pertama dari banyak
makalah tentang
“Aspek Ilmiah dari
Hal-hal Supranatural.”
Pada 5 April, Wallace menikahi Annie mitten, putri
temannya, William mitten, seorang pakar lumut.
Tiga anak lahir: herbert Spencer (1867–1874), Violet
Isabel (1869–1945), dan William Greenell (1871–1951).
Keluarga ini berpindah-pindah selama tahuntahun berikutnya: pada 1870, ke Barking, Essex;
1872, ke Grays, Essex; 1876, ke Dorking, Surrey;
1878, ke Croydon, Surrey; 1881, ke Godalming,
Surrey; 1889, ke Parkstone, Dorset; dan pada 1902,
ke Broadstone, Dorset.
1876
1880
1881
1886
1889
1890
mahakarya
Wallace terbit:
The Geographical
Distribution
of Animals,
dan menjadi
landasan
dalam ranah
biogeografi
evolusioner.
Island Life
menjadi presiden pendiri
The land Nationalisation
Society. land Nationalisation:
Its Necessity and its Aims
menyusul pada 1882. Berkat
upaya Darwin yang diamdiam meyakinkan pihak-pihak
tertentu, Wallace menerima
pensiun sipil sebesar £200 per
tahun dari pemerintah Inggris.
Berkeliling Amerika
Serikat dan Kanada untuk
memberikan kuliah, kembali
pada musim panas
1887. Berjumpa dengan
kakaknya, john, yang pergi
ke California saat Demam
emas 1849, dan tokoh-tokoh
terkemuka seperti Presiden
Grover Cleveland, john muir,
dan oliver Wendell holmes.
Karya besar
Wallace
tentang evolusi,
Darwinism, terbit.
Terinspirasi
oleh tulisantulisan edward
Bellamy, Wallace
menyatakan diri
sebagai sosialis.
Bersaksi di
hadapan royal
Commission
on Vaccination,
berargumen
bahwa bahaya
vaksinasi cacar
air melebihi
manfaatnya.
1910
1913
1915
The World of Life
Pada 7 November, Wallace meninggal di rumahnya,
old orchard, Broadstone, Dorset. Ia dikebumikan di
pemakaman Broadstone. Sebuah monumen berupa
batang pohon fosil yang diambil dari lapisan fosil
Purbeck, yang diperkirakan berasal dari 150 juta tahun
yang lalu, didirikan.
Pada 25 April, setelah rekan kerja Wallace berkampanye,
sebuah medali untuk menghormati Wallace diluncurkan
di Westminster Abbey, dekat makam Darwin.
27
KroNIK hIDUP WAllACe
125.660 spesimen
Partisipan & Karya
FR E D LANG FOR D E DWAR D S
Re-Collecting Alfred Russel Wallace, 2007–15
Proyek fotografi dokumenter yang masih berjalan
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman dan masing-masing The Linnean Society of London;
World Museum Liverpool; National Museum Wales, Cardiff;
Natural History Museum of London and Tring;
Cambridge Univerity Museum of Zoology
Kini hanya ada dua spesimen tunggal, dari koleksi berjumlah besar yang dihasilkan Alfred Russel Wallace
antara 1854 dan 1862, yang ada di museum di Asia Tenggara—yaitu, burung Flycatcher di Museum
Sejarah Alam Singapura dan satu kumbang tanduk panjang, yang baru dua tahun lalu dihadiahkan
kepada Museum Sejarah Alam Kuching, Sarawak, oleh Daren Mann, Oxford University Museum of
Natural History, Inggris. Spesimen lainnya disimpan dalam koleksi-koleksi museum sejarah alam di
Inggris, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Namun toh “koleksi Wallace” tetap tak mudah dilacak
keberadaannya. Walaupun menarik bagi sejarawan sains untuk mengetahui kolektor siapa sesungguhnya
yang mengumpulkan spesimen apa, di museum-museum sejarah alam koleksi ini biasanya diarsipkan
berdasarkan urutan taksonominya saja. Bagaimanapun, selama label aslinya masih menempel pada
bendanya, adalah mungkin—walau melelahkan—untuk menelusurinya dalam suatu koleksi.
28
Salah satu sorotan pada acara 125.660 Spesimen Sejarah Alam adalah tampilnya foto-foto berformat
besar setinggi 45 meter karya Fred Langford Edwards. Bekerja bersama Dr. George Beccaloni dari
Museum Sejarah Alam London, fotografer asal Inggris ini telah mencurahkan beberapa tahun karier
artistiknya untuk memetakan dan mendokumentasikan spesimen asli Wallace dalam koleksi zoologi
Inggris, meliputi koleksi milik Natural History Museum of London and Tring, Cambridge University
Museum of Zoology, World Museum Liverpool, juga Linnean Society of London yang menyimpan buku
catatan asli Wallace.
Secara teliti lagi cermat, Edwards memotret ratusan spesimen Wallace yang telah dikumpulkan di
kepulauan Nusantara dengan peralatan format-medium sehingga foto yang diambil dapat diperbesar
dimensinya jauh melebihi objek aslinya. Dengan mengeluarkan tiap spesimen, termasuk seekor
kumbang dan kulit orangutan yang diperoleh Wallace di Sarawak, dari pengarsipan dan memotretnya
sebagai objek yang unik, Edwards menekankan persamaan dan perbedaan mereka, yang menjadi sangat
gamblang pada gambar-gambar berukuran poster. Wallace dan naturalis lainnya juga meneliti spesimen
secara cermat dengan tujuan untuk mengidentifikasi spesies baru dan varietasnya. Berdasarkan
observasi-observasi inilah Wallace, secara terpisah dari Darwin, selanjutnya mengemukakan kaitan
yang amat penting antara varietas dan kesesuaiannya terhadap habitatnya. Inilah langkah mendasar
menuju konsep mekanisme evolusi seperti yang kita ketahui sekarang—seleksi alam.
Karya Fred Langford Edwards merupakan peninjauan yang berlapis-lapis dan berkesinambungan
atas wacana-wacana pengetahuan. Praktiknya mencakup riset lapangan dan penggunaan baru koleksi
artefak yang terakumulasi atas nama sains, kedokteran, antropologi, dan kebudayaan secara luas.
Karyanya belum pernah dipamerkan di Indonesia.
Fred Langford Edwards adalah seniman visual yang tinggal di Wales Utara, Inggris. Selama dua
puluh tahun ia berpengalaman dalam kerja-kerja interdisipliner dan kolaborasi dengan banyak museum
sains, lembaga farmasi, dan institusi pendidikan, menciptakan karya-karya seni kontemporer yang
memanfaatkan sumber sejarah budaya dan disiplin-disiplin lain secara luas. Dengan karya-karya ini, Edwards
tertarik untuk menjelajahi dan menciptakan referensi pada koleksi-koleksi akademik/khusus, cagar maupun
pribadi, yang jarang diperlihatkan kepada publik sebagai arsip-arsip yang tersembunyi dari sejarah sains
dan gagasan. Baru-baru ini, ia bekerja di lapangan untuk menyelidiki tanaman obat dan flora terkait di hutan
hujan tropis dan hutan kabut Provinsi Napo, Ekuador, serta kontribusi naturalis Inggris Alfred Russel Wallace
bagi pemikiran ilmiah kontemporer.
A R I B AY U A J I
Paradise Almost Lost (#1, #2, #3, #4), 2014
Kertas cetak digital dengan muka (face-mounted) akrilik
bersih dan disangga panel komposit alumunium Opus
40 x 50 cm (2); 50 x 40 cm (2)
Atas izin seniman
Ari menyajikan sebuah karya yang terdiri atas empat foto
yang diambil di daerah terpencil bernama Muntig Siokan di
dekat Pantai Meetasari, Sanur, Bali. Saat mengunjungi daerah
ini, ia menjumpai banyak sekali plastik sampah dengan
bermacam jenis, ukuran, dan warna yang mengotori pantai
dan juga pepohonan di sekitarnya. Yang sekilas terlihat seperti
instalasi seni ini sebenarnya “lanskap plastik” malapetaka yang
dihasilkan oleh manusia karena gaya hidup boros mereka: bukti
yang tak bisa disangkal atas dampak terhadap daerah pantai saat
banyak orang yang tinggal di Bali maupun berkunjung sebagai
turis membuang sampah mereka ke sungai, lembah, laut, dan
pantai. Tidak ada burung di pepohonan pada hari itu… hanya
ada kantung-kantung plastik warna-warni yang membuat
Ari teringat akan ilustrasi “Natives Shooting the Great Bird of
Paradise” dari buku Wallace, The Malay Archipelago. Tetapi apa
yang saya tangkap dengan kamera terlihat seperti situasi setelah
penembakan dan perdagangan dari apa yang digambarkan
Wallace hampir dua abad lalu.
Ari Bayuaji lahir di Indonesia tahun 1975. Pindah untuk menetap di
Kanada tahun 2005, ia mengambil kuliah Seni Murni di Concordia
University sambil berkarya di studio miliknya di Montreal (Kanada)
dan Bali. Karyanya telah dipamerkan dalam pameran bersama
maupun tunggal di Denmark, Kanada, Singapura, dan Indonesia.
Pada 2008, ia membuat instalasi yang ditampilkan di KBRI
Ottawa, Kanada. Instalasi tersebut terbuat dari banyak ornamen
arsitektur tradisional dan peralatan rumah tangga tua. Pada 2011,
ia menyelenggarakan pameran tunggal besar di La Chapelle
Notre-Dame-de-Bon-Secours, sebuah gereja katolik di Montreal.
Pada 2014, The Esplanade Singapura menugaskan Bayuaji untuk
membuat instalasi di ruang terbuka utama gedung tersebut secara
bersamaan dengan acara Tapestry of Sacred Music Festival 2014.
S HAN NON CASTLE MAN
Tree Wounds, Muna Island, Sulawesi, 2010–11
5 Foto hitam-putih
44 x 34,5 cm setiap
Atas izin seniman
Serial Tree Wounds dimulai selama kunjungan pertama Shannon
ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, saat ia pertama kali melihat
kerusakan parah pada banyak pohon jati tua di hutan konservasi.
Hutan konservasi di Muna adalah perkebunan kayu jati tua yang
telah diberi status “Konservasi”—bukan karena keanekaragaman
hayati (yang telah hancur karena penanaman kayu pada abad
19 dan abad 20) melainkan karena perkebunan yang terdahulu
menjaga tingkat permukaan air di pulau tersebut. Ia diberitahu
bahwa, karena penebangan pohon jati di area “Konservasi” adalah
tindakan ilegal, warga sekitar yang melewati pohon jati besar
dalam jangka waktu beberapa bulan akan mengapak pohon itu
sedikit demi sedikit… hingga akhirnya pohon itu tumbang atau
mati dan tidak ada yang bisa disalahkan. Beberapa bulan setelah
kunjungan pertama, saya kembali ke pulau dengan selembar
besar beledu hitam dan mengitari hutan untuk mengambil foto
pohon-pohon rusak yang saya temui.
Seleksi foto-foto ini adalah bagian dari karya yang
lebih besar yang diproduksi untuk Migrant Ecologies Project
(migrantecologies.org), sebuah kolaborasi dengan Lucy Davis
yang juga tampil dalam pameran ini; filmnya, Jalan Jati, adalah
bagian dari serial proyek Shannon yang sama dengan Tree
Wounds.
29
Saat ini Shannon Castleman bekerja sebagai asisten profesor
tamu di Virginia Commonwealth University di Richmond, Virginia.
Ia merupakan anggota Migrant Ecologies Project, payung untuk
inisiatif seni dan ekologi di Asia Tenggara. Dari 2006 hinga 2013,
ia bekerja sebagai asisten profesor fotografi dan pencitraan digital
di School of Art, Design and Media di Nanyang Technological
University, Singapura. Tahun 2013, ia menjadi dosen tamu di School
of Interdisciplinary Study di San Francisco Art Institute. Sebelum
bekerja di Nanyang Technological University, ia mengajar fotografi
di Dar Al Hekma College di Jeddah, Arab Saudi. Ia menerima Murphy
& Cadogan Fine Arts Fellowship pada 2003 dan penghargaan Gary
B. Fritz Imagemaker Award dari Society of Photographic Education
pada 2012. Karyanya telah ditampilkan di beberapa pameran di
Amerika Serikat, Eropa, dan seluruh Asia seperti, Singapore Art
Museum; Asian Civilization Museum di Singapura; Royal Botanical
Gardens di Edinburgh, Skotlandia; Yokohama Museum of Art dan
Contemporary Art Museum of Kumamoto, keduanya di Jepang.
PArTISIPAN & KArYA
125.660 spesimen
MARK DION
L U CY DAV I S
Jalan Jati (Teak Road), 2012
Film animasi, 23 menit
Sutradara/Animasi: Lucy Davis
Tata suara: Zai Kuning & Zai Tang
Atas izin seniman
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the Interior
(Orang Utan Attacked By Dyak), 2015
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the Interior
(Remarkable Beetles), 2015
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the Interior
(Female Orang Utan), 2015
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the Interior
(Strange Forest Tree), 2015
4 kolase kertas dengan pensil warna, penjepit spesimen, dan ilustrasi dari
The Malay Archipelago karya Alfred Russel Wallace; rekonstruksi adeganadegan film animasi Davis, Together Again (Wood: Cut), 2009
21 x 29 cm setiap
Atas perkenan seniman
30
Kisah-kisah “Dua Pulau Setelah Ledakan Bisnis Kayu”: Pulau
Muna, Sulawesi Tenggara, dan Singapura tampil dalam tarian
antara ingatan genetis, sejarah, magis, dan ekologis pohon dan
manusia ini dinarasikan bermacam rupa dengan kepastian yang
utopian ala DNA; lewat firasat dukun Pulau Muna dan campur
tangan seekor kakatua migran dan benih-benih beringin yang
dibawanya. Pokok permasalahan utama/aktor utama film ini
adalah kayu dari tempat tidur jati yang ditemukan di sebuah
toko barang bekas dan tak terpakai di Singapura. Sebagian
besar animasi ini dikompilasikan dari cetakan kayu tempat
tidur ini yang dipotong-potong.
Serangkaian kolase kertas ini dibuat berdasarkan ilustrasi asli
dari buku Alfred Russel Wallace, The Malay Archipelago (1869).
Karya kolase ini adalah bagian dari karya lebih besar yang
menjelajahi kisah-kisah realis-magis tentang orang-orang dan
hutan-hutan di kepulauan Asia Tenggara. Dalam karya-karya, ini
Lucy menjelajahi bagaimana “kekuatan” hutan, hewan, tanaman,
dan orang-orang dapat terwujud dan berubah di “pedalaman”
Wallace yang bermasalah.
Lucy Davis adalah seniman, penulis seni, dan Asisten Profesor di
School of Art Design and Media (ADM), Nanyang Technological
University Singapura. Ia adalah pendiri Migrant Ecologies
Project. Beberapa praktiknya membahas alam dalam seni dan
budaya visual, material, dan ingatan Asia Tenggara. Riset Migrant
Ecologies adalah finalis French Prix COAL Art & Ecology awards
(2011) dan dinominasikan untuk APBC Signature Asia Pacific Art
Prize Singapore Art Museum (2011). Film pendeknya yang berjudul
Jalan Jati diputar di berbagai belahan dunia dan memenangkan
Promotion Award di Oberhausen ISFF (2012) dan dua Singapore
Short Film Awards (2013).
Anthropocene Monument, 2014
Pensil warna di atas kertas
32 x 42 cm
Atas izin Galerie Nagel Draxler Berlin/Köln
Mark Dion adalah seorang seniman Amerika yang terkenal
akan penggunaan presentasi ilmiah dalam instalasinya. Dion
tersohor di Eropa dan Amerika Serikat melalui instalasinya
yang menggabungkan ketertarikannya akan arkeologi,
ekologi, dan zoologi ke dalam karya yang mengeksplorasi
representasi alam dalam kebudayaan. Seninya mengungkap
struktur yang mengatur dunia alam, mengaburkan batasan
antara alam dan budaya; dalam pandangannya, “alam adalah
salahsatu arena paling mutakhir untuk menciptakan ideologi”.
Karyanya seringkali berbentuk susunan semacam meja berisi
objek berdasarkan cabinet of curiosity bersejarah. Instalasi ini
mengomentari struktur kekuatan di balik definisi taksonomi.
Selama 1990-an, karyanya menggabungkan fokus pada ekologi,
seringkali berdasarkan kerja lapangan yang menyeluruh, dan
sebuah penyidikan atas ideologi museum, terutama museum
sejarah alam. Pada 1994 ia menciptakan instalasi, The Delirium
of Alfred Russel Wallace.
Dalam 125.660 Specimens Sejarah Alam, terjepit di antara
aspal yang tercecer dan lempengan beton, kultur material
yang tertangkap dalam Anthropocene Monument karya Mark
Dion adalah sebuah onggokan tak beraturan atas objek-objek
umum namun mendetail. Himpunan ini terdiri dari batu pasir,
basal, granit, dan besi, sedikit meruncing menuju garis tipis
yang menjadi dasarnya. Sebagai gambar, karya ini sebenarnya
bukan merupakan monumen, melainkan sindiran bahwa
monumen untuk Antroposen—sebuah kala geologi baru yang
tengah diperdebatkan oleh Komisi Stratigrafi Internasional dan
Perkumpulan Ilmu Geologi yang akan mengenali dampak dari
aktivitas manusia terhadap catatan geologi bumi—mungkin
berlebihan. Sebenarnya, monumen semacam apa yang dapat
menggantikan segala macam sampah dan kotoran yang dikenal
sebagai kultur material, ketika akumulasi besar ini secara tepat
dan eksplisit adalah monumen dari Antroposen? Tentunya,
monumen semacam itu hanya akan memperjelas kesia-siaan
karena Antroposen itu sendiri menentang skala representasi yang
menciptakan kesan monumental. Gambar dua dimensi Dion ini
menawarkan sebuah skema abstrak atas kondisi Antroposen
saat ini, yang secara definisi menantang agen manusia untuk
menempatkan agensi mereka dalam skala waktu geologi dan
menentukan aktivitasnya berdasarkan pemahaman atas dampak
jangka panjang.
Sebuah instalasi media campuran termasuk rangkaian objek
yang disesuaikan dari berbagai koleksi sejarah alam, sekelompok
instrumen dan alat untuk menghimpun koleksi, serta seekor anjing
taksidermi yang menyiapkan buaian (mewakili figure Alfred Russel
Wallace ketika demam malarianya mencapai puncak yang begitu
hebat sampai-sampai ia “melihat” proses evolusi oleh seleksi
alam). Dion telah mengadakan pameran secara internasional,
diantaranya di dOCUMENTA 13, Jerman (2012). Karyanya juga
telah dipamerkan di MoMA PS1 di New York; Guggenheim Bilbao;
Minneapolis Institute of Art in Minnesota; Tate Gallery, London dan
Museum of Modern Art, New York. Pada 2014 ia menggelar sebuah
pameran solo besar berjudul The Academy of Things di tiga
tempat di Dresden, Jerman, the Oktogon of the Academy of Visual
Arts Dresden, the Galerie Neue Meister of the Albertinum dan the
Grünes Gwölbe yang tersohor.
EQUANORTH
Kertiyasa: Reproducing Reproductions, 2015
Porselen berglasir putih dan bersepuh emas, fotokopi teks dan gambar
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman
Pada 1995, Yayasan Harapan Kita (YHK) meminta sebuah
kantor konsultan asal Norwegia bernama GAS AS untuk
mengembangkan sebuah rencana cindera mata wisata untuk
Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Rencana ini batal di
tengah jalan karena kematian mendadak pendiri YHK dan
pencetus TMII, Ibu Tien Soeharto, satu tahun kemudian.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula: nasib buruk pun menimpa
Sang Suami, Jenderal TNI Soeharto, yang tak lama kemudian
terpaksa lengser takhta. Sebagai akibat, rencana dan rancangan
satu seri cindera mata ini pun masuk peti dan tak pernah siapa
pun bicarakan lagi.
Tepat dua puluh tahun kemudian, di sebuah pasar loak di
Oslo, pasangan seniman Norwegia-Indonesia EQUANORTH
menemukan sebagian arsip penelitan milik GAS AS untuk
rencana ini. Temuan mereka ini meliputi beberapa lembar
sketsa tangan, koleksi teks dan gambar rujukan, serta maketmaket studi berbahan keramik porselen yang menunjukkan
pendekatan modernis khas GAS AS. Sejak penemuan ini,
EQUANORTH pun terobsesi untuk melengkapi koleksi
penelitian TMII milik GAS AS. Mereka bertekad untuk tak
berhenti berburu—sampai komplit.
Bila TMII adalah sebuah usaha me-mini-kan “Indonesia”
(dari wilayah yang luasnya hampir 200.000 hektar untuk muat
dalam sebuah kawasan yang “hanya” seluas 145 hektar), maka
rencana GAS AS meneruskan logika yang sama dengan memini-kan Taman yang sudah mini ini ke dalam skala barang
kenang-kenangan. Lewat Kertiyasa: Reproducing Reproductions,
EQUANORTH mencoba memutarbalikkan makna “logika
serba mini” ini lewat proses tiru-meniru. Pada pameran kali ini,
EQUANORTH tidak saja mempersembahkan koleksi buruan
berharga mereka sampai sekarang, mereka juga menyajikan
replika dari barang-barang temuan tersebut yang juga terbuat
dari porselen—persis menyerupai aslinya.
Tunggu apa lagi? Untuk pertama kalinya dalam sejarah, lewat
pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam koleksi cindera mata
bersejarah ini dapat Anda miliki!
Tidak cukup sampai di situ! Lewat memiliki dan menggunakan
koleksi ini semaunya, Anda pun dapat terlibat dalam sebuah
proses perubahan TMII: dari sebuah museum identitas bangsa
milik penguasa, menjadi perpustakaan kesalahan milik bersama.
Memang pada akhirnya, Anda pikir apa dan punya siapakah
“Indonesia”?
EQUANORTH adalah Sigrid Espelien dari Norwegia dan farid rakun
dari Indonesia. Mereka bertemu mata di Cranbrook Academy of Art,
Michigan, Amerika Serikat, dan tak lama kemudian memutuskan
untuk menjalani hidup bersama. Sampai saat ini, secara terpisah,
masing-masing dari mereka malang melintang tak keruan dan
berkeliling ke berbagai belahan dunia lewat pameran, diskusi,
bangunan, publikasi, tulisan, dan pembuatan fiksi. Pameran
ini merupakan pameran pantas pertama yang mereka lakukan
bersama.
THEO FRIDS
H U TA B A R AT
Tracing Insulinde, 2015
Proyeksi video di atas lukisan
6:25 menit, 120 x 120 cm
Atas izin seniman
Re-tracing Insulinde, 2015
Print dan gambar di atas kertas buku tua
24 x 15,5 cm (6); 30 x 24 cm (1)
Atas izin seniman
Zeemansgid to Oost-Indische Archipel, 2015
Cover, peta, dan indeks dari buku teks Belanda tua
15,5 x 24 cm (cover dan indeks) dan 70 x 24 cm (peta)
Atas izin seniman
Peta merupakan hasil rekonstruksi akal manusia terhadap
realitas yang dijelajahinya. Dengan demikian setiap peta
merupakan hasil proyeksi dari tiap pembuat peta; masing-masing
menggambarkan dunia sebagaimana yang dia bayangkan. Ketika
wilayah Indonesia yang dulu dikenal melalui nama seperti Hindia
Timur, Insulinde, atau Hindia Belanda mulai menarik perhatian
para penjelajah, tidak aneh jika penggambarannya dalam
peta berbeda-beda bentuknya. ‘Bentuk’ menjadi problematis,
karena berkaitan langsung dengan praktek penaklukan dan
kepemilikan.
Karya ini memperlihatkan peta sebagai bentuk yang
bertumpuk sebagai akumulasi pengetahuan. Pergeseran dalam
penggambaran bentuk peta bisa dilihat sebagai pergeseran
pengetahuan itu sendiri. Melalui gestur melukis dan drawing,
perubahan ini ditelusuri jejaknya, berbarengan dengan
dibentuknya jejak baru. Gestur ini membayangkan pendekatan
lain dalam pembacaan (serta penulisan) arsip, seperti peta, dan
secara aktif memaknai pengetahuan yang dibentuknya.
Pada bagian lain, dihadirkan pula halaman-halaman
sebuah buku cetakan tahun 1913 berjudul Zeemansgid voor
den Oost-Indischen Archipel. Buku yang judulnya bisa
diterjemahkan sebagai Panduan untuk Pelaut ke Kepulauan
Hindia Timur ini secara langsung memperlihatkan bagaimana
pengetahuan dibentuk dan dilegitimasi dalam sebuah buku
panduan: sebuah pemandangan akan Hindia Timur yang
terabstraksi menjadi deretan tulisan dan gambar. Melalui karya
ini, Theo mengandaikan posisi sebagai ‘pelaut yang mengikuti
panduan’, sembari terus menyadari bahwa Hindia Timur, atau
Insulinde, atau Indonesia, sesungguhnya merupakan kenyataan
yang terlalu ‘licin’ untuk bisa diikuti.
31
Theo Frids Hutabarat menyelesaikan studi di Studio Seni Lukis,
FSRD ITB pada 2010 dan Program Magister Seni Rupa pada 2013
di fakultas yang sama. Theo banyak mengerjakan lukisan dan video
instalasi dengan tema yang mempersoal wacana dan urgensi seni
lukis kontemporer. Theo berpartisipasi pada beberapa pameran,
antara lain Jakarta Biennale #14, Jakarta (2011); Pressing,
Videoinsight Center, Turin (2013); S Manifesto #4, Galeri Nasional
Indonesia, Jakarta (2014); Artstage 2015, Singapura (2015). Selain
aktif sebagai seniman, Theo juga bekerja sebagai guru seni rupa di
sekolah swasta di Bandung.
PArTISIPAN & KArYA
125.660 spesimen
32
Peta dari buku Wallace Kepulauan Nusantara (1869);
garis hitam menandai perjalanannya, mulai dari
Singapura di tahun 1854, dan menunjukkan Kepulauan
Aru sebagai tujuan paling baratnya.
33
PerjAlANAN WAllACe
125.660 spesimen
FLORA LICHTMAN
& S H A R O N S H AT T U C K
G E RALD I N E J UAR E Z
Intercolonial Technogalactic, 2015
Instalasi media campuran menggunakan foto yang diapropriasi, kode, label
arsip, benang, bingkai kipas angin dan esai
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman
34
Intercolonial Technogalactic adalah arsip abu-abu tentang
gelombang baru kolonisasi yang disulut oleh platform dan
algoritme dengan misi “mengelola informasi dunia.” Karya ini
membahas kehendak akuisisi yang bersifat ekonomis dan ilmiah
serta mempertanyakan peran impuls-impuls kolonial ini dalam
basis data korporat yang penuh dengan representasi koleksi
kelembagaan dari seluruh dunia, termasuk Museum Nasional
Indonesia, Jakarta. Alfred Russel Wallace memproyeksikan
impuls kolonialisme ke masa depan, Google Cultural Institute
melakukan hal ini ke masa lalu, dan keduanya bergantung pada
ide-ide konservasionis untuk menghimpun informasi demi
laba—walaupun data dan hewan adalah spesies yang berbeda
sehingga mendatangkan spesimen yang berbeda pula. Alammenjadi-budaya-menjadi-data. Pengelolaan informasi tak
pernah bebas nilai. Siapa yang menjajah sang penjajah?
Geraldine Juárez (México City, 1977) adalah seniman visual
yang berkarya melalui pertunjukan, instalasi, dan media digital
untuk memahami cara-cara sumber daya ekonomi dan budaya
dimediasikan dan didistribusikan dalam jejaring masyarakat
kontemporer. Ia sebelumnya merupakan anggota di Eyebeam’s
Moving Image Studio dan anggota senior di lab produksi mereka,
F.A.T Lab, serta merupakan salah satu penerima penghargaan
Maker Muse Award dari Kindle Foundation pada 2010. Karyanya
telah dipamerkan secara internasional di galeri-galeri dan museummuseum seperti Science Friction dan Fabrikken (Denmark);
Alingsås Konsthall, Liljevachs, dan Bonniers Konsthallen (Swedia);
Museum of Contemporary Art of Vovjina (Republik Serbia); Barbican
di London, Furtherfield dan Northern Gallery for Contemporary Art
(Inggris); Pan Pallazzo Art, Napoli (Italia); Centre for Canadian
Architecture, Montreal (Kanada); MU (Belanda); dan festivalfestival seperti transmediale, Berlin (Jerman); Click (Denmark);
Transitio (Meksiko); Piksel (Norwegia), dan Run Computer Run
(Irlandia). Geraldine tinggal dan bekerja di Gothenburg, Swedia.
The Animated Life of A.R. Wallace, 2013
D-Video, 7:50 menit
Disutradarai, diproduseri, dan disunting oleh Flora Lichtman
dan Sharon Shattuck
Video atas izin Sweet Fern Productions
Dalam rangka memperingati 100 tahun kematian Alfred Russel
Wallace pada 7 November 1913, animasi boneka kertas berdurasi
singkat ini merayakan kehidupan menakjubkan dan kontribusi
ilmiah yang terus lestari dari sosok Wallace; peneliti sezaman
yang sedikit lebih muda ketimbang Charles Darwin. Bersama
Darwin, Wallace menemukan teori seleksi alam—proses evolusi
di mana organisme yang beradaptasi lebih baik lebih cenderung
bertahan hidup dan mewariskan ciri-ciri mereka ketimbang
organisme dengan kemampuan adaptasi yang lebih buruk.
Animasi ini dinarasikan oleh biologis evolusioner Dr. George
Beccaloni dan Prof. Dr. Andrew Berry.
Flora Lichtman adalah jurnalis video yang tinggal di New York.
Karyanya telah ditampilkan di Science Friday di NPR (National
Public Radio), Popular Science, dan New York Times, serta banyak
media lainnya. Sharon Shattuck adalah animator dan pembuat film
yang juga tinggal di New York. Karyanya telah ditampilkan di PBS
(Public Broadcasting Service), Slate, dan Radiolab. Berdua, Flora
dan Sharon menjalankan Sweet Fern Productions LLC, sebuah
perusahaan multimedia yang membuat proyek-proyek jurnalisme
sains, termasuk serial New York Times Op-Docs, Animated Life,
yang menggunakan boneka kertas untuk menceritakan penemuanpenemuan ilmiah seperti penemuan Alfred Russel Wallace.
CI N DY LI N
& L I N TA N G R A D I T T YA
Slimy Friction, 2015
4 Papan sirkuit cetak, spesimen Plectostoma wallacei wallacei
3 PCBs 8cm x 8cm; 1 PCB 12cm x 12cm
Atas izin seniman; spesimen atas izin LIPI/MZB
Penemuan, klasifikasi, dan kepunahan (segera) siput bergenus
Plectostoma mengingatkan kita pada jejaring yang rumit dan
kusut di mana manusia dan nonmanusia secara terus-menerus
terjerat dan terkelindan. Pertama kali dinamai pada 1887
berdasarkan nama Alfred Russel Wallace oleh Ancey pada 1887,
Plectostoma wallacei wallacei dan siput-siput kawan mereka
memiliki ketergantungan yang hampir mutlak pada habitat batu
kapur yang langka di Asia Tenggara—membangkitkan suatu
gambaran baik mengenai dominasi ruang maupun kerentanan
yang ekstrem. Dalam ayunan antara dominasi dan isolasi,
nasib Plectostoma wallacei wallacei nampaknya ditentukan oleh
beragam ekskavasi penambangan batu kapur di Asia Tenggara.
Etsa siluet Plectostoma wallacei wallacei mempersoalkan ironi
keprihatinan kita terhadap hewan nonmanusia yang akan segera
lenyap ini. Diproduksi dengan substansi mineral yang diperoleh
melalui ekstraksi sumber daya dalam operasi penambangan yang
merusak lingkungan, teknologi seperti transistor dan papan
sirkuit tertutup merepresentasikan hidup dan mati Plectostoma.
35
Cindy Lin adalah seorang peneliti yang mengabdikan diri pada
kajian mengenai ruang ilmiah dan teknologi bersama, teknologi
vernakuler, dan pertukaran pengetahuan antargenerasi di Global
South. Ia akan menjadi mahasiswi PhD di School of Information,
University of Michigan, Ann Arbor, musim gugur 2015 ini. Sebagai
mahasiswi malam hari dan penggemar biologi, ia terobsesi dengan
Grastropoda dan Rodensia, baik yang hidup maupun mati, juga
dengan spesies asing invasif.
Lintang Radittya adalah seniman multidisiplin yang lahir di
Yogyakarta pada 1981. Karyanya berfokus pada seni interaktif,
elektronika, synthesizer, suara sintetis, dan seni pertunjukan.
Pada 2011, Lintang menjadi salah seorang pendiri KENALI
RANGKAI PAKAI, kenalirangkaipakai.blogspot.com, sebuah
proyek yang berfokus pada riset dan pengembangan synthesizer
DIY di Indonesia, dan pada 2013 menggagas SYNTHESIA-ID,
synthesia-ind.blogspot.com, sebuah proyek yang berupaya
mendokumentasikan dan menciptakan pangkalan data (penciptaan
dan pengembangan) budaya synthesizer di Indonesia. Pada 2014,
Lintang bergabung dengan Sewon FoodLab, sebuah proyek
yang berfokus pada seni-bio, pengembangan penanaman, dan
media baru. Lintang aktif dalam pembuatan dan pengembangan
lokakarya baik tentang seni elektronik maupun synthesizer
sekaligus dalam skema musik eksperimental dan noise di
Yogyakarta.
PArTISIPAN & KArYA
125.660 spesimen
APR I NA M U RWANTI
& BHAROTO YETKI
Obsessive Collecting, 2015
Instalasi mixed media, plastik, resin,
kertas, cat enamel, cat aklirik, bordir di atas beludru
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman
36
Instalasi duo seniman ini melihat spesimen Wallace sebagai artefak tindakan koleksi.
Melalui pendekatan populer seperti pemasangan model spesimen yang dipilih, kotak
bergambar, produksi bagian-bagian spesimen, instruksi manual, poster spesimen dan contoh
pemodelan, praktik ini bertujuan untuk menggugah penonton sehingga dapat ikut menyelami
perasaan Wallace sebagai kolektor yang obsesif. Modus obsesif-kolektif serupa Wallace
dapat ditemui dalam pemodelan hobby kit. Instalasi ini memiliki tujuan untuk membang
kit kan apresiasi pada tindakan Wallace dan memiliki misi untuk mengurangi kesenjangan
antara biogeografi, seni dan budaya populer. Pembuatan model hobby kit spesimen Wallace
pada instalasi secara simbolis menggarisbawahi mobilitas pengetahuan yang ditransfer melalui
tindakan praktek. Aprina dan Bharoto menganggap bahwa adanya inisiatif untuk menyorot
keindahan akan tindakan obsesif-kolektif dengan cara pandang kontemporer sangatlah
penting untuk merepresentasikan aset intelektual yang dimiliki Wallace melalui spesimen
temuannya. Pada praktiknya, pemodelan tidak hanya dilakukan oleh penyendiri, tetapi juga
oleh orang-orang yang mendedikasikan waktu mereka dalam seni replikasi, memperhatikan
detil, mengumpulkan elemen visual dan yang paling penting, untuk membuat modifikasi
maupun versi mereka sendiri. Melalui duplikasi spesimen dalam praktik pemodelan hobby
kit, audiens dapat menggali lebih dalam tentang biogeografi dan cerita penemuan Wallace,
untuk kemudian menciptakan dan menemukan versi mereka dalam mengapresiasi Wallace.
Ide untuk membuat replika model spesimen kit dimaksudkan untuk menyebarluaskan temuan
berharga bagi biogeografi melalui cara yang ringan dan populer. Instalasi ini menawarkan
perspektif untuk melihat obsesi dan koleksi sebagai tindakan yang cerdas dan strategis.
Aprina dan Bharoto bergabung untuk mengintegrasi latar belakang keilmuan dan praktik
mereka di berbagai bidang, antara lain: modeling komputer tiga dimensi, desain produk, desain
kriya tekstil dan instalasi dalam konteks seni kontemporer. Aprina adalah seniman instalasi
berlatar belakang praktik kriya tekstil. Selain melakukan praktik seni, Aprina bekerja sebagai
akademisi seni di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan bekerja paruh waktu di beberapa proyek
seni pemerintah maupun LSM. Aprina memiliki latar belakang studi bidang seni rupa dengan
spesialisasi praktik kreatif instalasi dari University of Wollongong, Australia dan Kriya Tekstil
ITB. Aprina memiliki pengalaman pameran solo di Wollongong Australia, dan pameran bersama
di Yogyakarta, Wollongong, Malaysia dan Jakarta. Bharoto adalah seniman 3D virtual dan dosen
di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong yang terobsesi dengan proses dan teknik
modeling. Terkadang, Bharoto bermain dengan keterampilan animasi dan kompetensi desain
produk yang dimilikinya untuk mengoptimalkan presentasi model-model 3D yang dihasilkan.
Bharoto baru saja menyelesaikan studinya dalam bidang animasi komputer tiga dimensi dari
Bournemouth University, Inggris dan memiliki latar belakang pendidikan desain produk dari ITB.
Bharoto pernah memenangkan beberapa penghargaan seperti Champion of Black Innovation
Awards (2009), Hugocreate Poster Competition round 10,12,13,14 (2009–10), 1001 Mascot
Design Central Park (2010), Automotive Styling Design Competition (2010) dan Vice-Chancellor’s
Scholarship pada National Centre of Computer Animation, Bournemouth University, Inggris. Karya
Bharoto dipublikasikan pada berbagai media nasional dan internasional, antara lain I.D. Magazine,
Tuvie, NotCot, Kompas dan lain sebagainya. Aprina dan Bharoto bertemu lima belas tahun yang
lalu ketika menempuh studi desain tingkat sarjana di ITB. Karya kolaborasi Aprina dan Bharoto
pertama kali ditampilkan di Viva La Gong Festival, Wollongong, Australia tahun 2012. Instalasi
‘Obsessive Collecting’ merupakan debut mereka di Indonesia. Mulai 2015, Aprina dan Bharoto
berjanji untuk melatih keterampilan dan memakai keahlian mereka secara interdisipliner untuk
menawarkan model dan pendekatan baru dalam praktik seni kontemporer.
EDWIN SCHOLES
& TIM LAMAN
Bulu-bulu cenderawasih telah menghiasi kostum dan riasan para kepala suku-kepala suku
pribumi di kawasan timur Nusantara selama ribuan tahun. Di dunia Barat, keberadaan
burung itu telah diketahui sejak awak Ferdinand Magellan menjumpainya pada abad 16.
Wallace adalah naturalis Barat pertama yang mengamati perilaku cenderawasih di Kepulauan
Aru dan Nugini di alam liar. Dalam sepucuk surat yang dikirim lewat pos pada 1857, ia
menulis, “Sudah saya saksikan perilaku mereka saat memamerkan bulu-bulu mereka, saya
yakin ini informasi baru; indah dan megah sekali.” Pada akhir ekspedisi ini, Wallace kembali
ke London dengan sepasang burung hidup untuk sebuah aviari di Kew Gardens.
Pada abad 20, pada era televisi, perilaku burung itu dipelajari lebih jauh dan muncullah
keinginan untuk menyiarkan keunikannya kepada masyarakat yang jauh tanpa membunuh
hewan itu. Perilaku, ukuran, bentuk, warna, dan bulunya “tak habis-habis ragamnya” di
antara 39 spesies yang berkerabat dekat ini. Keanekaragamannya yang luar biasa—termasuk
penyebab dan akibatnya—maka mencerminkan pentingnya seleksi seksual dalam proses
evolusi. Habitat burung ini yang naik-turun dan terpencil, serta tempatnya bertengger untuk
memamerkan bulu, sulit dijangkau sehingga memotretnya pun tak mudah. Namun, seorang
Inggris yang lain, Sir David Attenborough, seratus tahun setelah perjumpaan Wallace pada
1957, untuk pertama kalinya menangkap dengan kamera tarian pinangan salah seekor
cenderawasih untuk seri dokumenter BBC-nya, Zoo Quest.
Adalah demi menyusuri jejak para naturalis terdahulu seperti Wallace dan Sir
Attenborough ketika ahli biologi Ed Scholes dari Laboratorium Ornitologi Cornell di Amerika
Serikat dan fotografer National Geographic Tim Laman menjelajahi Nusantara dari 2004–11.
Tujuan mereka adalah menangkap gambar seluruh 39 spesies familia cenderawasih untuk
yang pertama kalinya. Supaya berhasil, mereka mengadakan 18 ekspedisi ke 51 area lapangan
yang berbeda serta mengambil 39.000 foto. Di samping foto, Ed dan Tim juga merekam
banyak footage video dan audio burung itu. 125.660 Spesimen Sejarah Alam menyajikan
serangkaian nyanyian burung yang langka ini dari Perpustakaan Macaulay di Laboratorium
Ornitologi Cornell. Seleksi rekaman audio dipilih agar sesuai dengan kulit cenderawasih
yang dipinjamkan kepada pameran ini oleh LIPI/MZB, dan mencakup teriakan Semioptera
wallacei, Paradisaea apoda, and Paradisaea rubra—burung-burung yang ditulis oleh Wallace
dalam Kepulauan Nusantara.
Turut dipamerkan adalah buku Scholes dan Laman, Birds of Paradise – Revealing the
Worlds Most Extraordinary Birds (2012). Dalam pameran, buku ini menyingkap sebuah
pohon keluarga evolusioner dari burung cendrawasih dalam pohon keluarga burung.
Bidadari Halmahera
(Semioptera wallacii)
8 pejantan dewasa memamerkan
gaya menarik betina
Maluku Utara, Pulau Halmahera,
Labi-labi lek (Indonesia)
Lintang 1.45465 / Bujur 128.38135
Edwin Scholes, 2008, 12:27 menit
Bidadari Halmahera
(Semioptera wallacii)
8 pejantan dewasa memamerkan
gaya menarik betina
Maluku Utara, Pulau Halmahera,
Labi-labi lek (Indonesia)
Lintang 1.45465 / Bujur 128.38135
Edwin Scholes, 2008, 25:22 menit
Cenderawasih Merah
(Paradisaea rubra)
2 dewasa betina, 2 dewasa pejantan,
1 pejantan belum dewasa memamerkan
gaya menarik betina
Pulau Gam, Kepulauan Raja Ampat
Lintang -0.44659 / Bujur 130.67616
Tim Laman, 2010, 45:31 menit
Cenderawasih Kuning Besar
(Paradisaea apoda)
2 pejantan dewasa memanggil-manggil
dan menyanyi
Hutan Badi Gaki, Pulau Wokam,
Kepulauan Aru (Indonesia)
Lintang -5.87232 / Bujur 134.4618
Tim Laman, 2010, 1:54:02 menit
37
Semua rekaman atas izin Macaulay
Library, Cornell Lab of Ornithology
Tim Laman & Edwin Scholes,
Birds of Paradise – Revealing the
World’s Most Extraordinary Birds.
Washington, D.C. / Ithaca, NY: National
Geographic Society & The Cornell Lab
of Ornithology, 2012.
Buku, 227 halaman
31 x 25,7 cm
Koleksi pribadi
Edwin Scholes adalah seorang ahli ornitologi dan kurator video keanekaragaman hayati di
Laboratorium Ornitologi Cornell, Cornell University, Ithaca, New York. Ia telah mempelajari
cenderawasih selama lebih dari satu dasawarsa dan merupakan seorang pakar terkemuka
mengenai evolusinya dan perilakunya.
Tim Laman adalah seorang ahli biologi lapangan dan jurnalis foto kehidupan liar yang berafiliasi
dengan Museum Zoologi Komparatif di Harvard University, Cambridge, MA. Ia adalah anggota
International League of Conservation Photographers dan telah memotret lebih dari dua puluh
artikel untuk majalah National Geographic.
PArTISIPAN & KArYA
125.660 spesimen
ARY S E N DY
Sharing Anxieties, 2015
Instalasi TV dua channel
Video HD dan suara
Proyek ini adalah hasil kolaborasi dengan Heru Sukmadana S.
I N TA N P R I S A N T I
Svarna Nusantara – hinggap, 2015
Kulit kayu, organdi, indigo, secang, manik-manik
108 cm x 74 cm
Atas izin seniman
Svarna Nusantara – terbang pulang, 2015
Kulit kayu, organdi, indigo, secang, manik-manik
90 cm x 50 cm
Atas izin seniman
38
Ilmuwan dan para penjelajah pada masa kolonialisme mencatat
dan menggambarkan detail flora dan fauna yang mereka
temui di sepanjang perjalanan mereka sebagai bagian dari
hasil ekspedisi. Gambar pada catatan para ilmuwan tersebut
menjadi inspirasi dalam pembuatan karya ini. Berbagai macam
bunga yang hadir sebagai representasi dari berbagai wilayah di
Indonesia mengajak kita untuk lebih mencermati keragaman
fauna yang berada di dekatnya– kupu–kupu dalam karya ini.
Visual dari beberapa pulau besar di Indonesia dihadirkan dalam
motif acak yang dipadukan dengan kupu-kupu dari berbagai
daerah di Indonesia. Dalam proses pembuatan karya ini, Intan
bereksperimen dengan kain kulit kayu dengan pewarna alam
indigo dan secang serta proses cetak digital dan foiling pada kain
organdi.
Intan Prisanti mengenyam studi di Fakultas Seni Rupa dan
Desain di Institut Teknologi Bandung jurusan Kriya Tekstil. Dalam
tugas akhirnya, Intan melakukan eksplorasi kulit kayu saeh
menggunakan pewarna alam indigo dan secang yang terinspirasi
oleh tren pakaian pada tahun 60an. Ia juga memiliki ketertarikan
pada bidang mode dan edukasi anak. Intan memiliki pengalaman
bekerja di studio seorang desainer profesional dan juga sebagai
desainer junior pada sebuah label lokal di Indonesia. Saat ini Intan
bekerja sebagai fashion & beauty reporter sekaligus penata gaya
di majalah gaya hidup Wanita. Di waktu luang, ia mencari inspirasi
lewat petualangan kuliner, musik, dan traveling.
Proyek ini melibatkan 5–10 ibu rumah tangga yang menghadiri
audisi untuk peran di sebuah iklan televisi. Iklan ini bertujuan
untuk memberikan beragam informasi tentang industri
minyak kelapa sawit yang tidak diketahui oleh orang awam. Ibu
rumah tangga memiliki peran krusial dalam menentukan pola
konsumsi sebuah keluarga. Sayangnya, sering kali mereka tidak
memahami hubungan antara konsumsi dan dampak lingkungan
yang ditimbulkan oleh pilihan konsumsi itu sendiri.
Melalui narasi yang berbeda-beda, video ini menggunakan
metode dan proses kreatif sebagaimana umumnya dipakai
agen periklanan. Dengan kata lain, audisi ini menggunakan
format yang sama persis dengan proses audisi dari produksi
iklan sebenarnya, dan setiap ibu rumah tangga diminta untuk
memeragakan naskah sebagaimana telah ditulis oleh copywriter.
Sebagai penduduk, kita kurang kritis terhadap problematika
yang kita hadapi bersama. Kita kurang aktif dalam mencari solusi
alternatif karena tidak sedikit penduduk yang bahkan tidak
menyadari keberadaan masalah tersebut. Sikap acuh terutama
terlihat diantara warga kota yang hidup jauh dari perkebunan
kelapa sawit.
Selama penelitian untuk proyek ini, Ary menyadari bahwa
akumulasi informasi yang ia himpun tidak akan dimiliki oleh
orang lain jika mereka tidak berusaha mencari tahu. Ia ingin
berbagi pengalaman (dan kekhawatirannya)–semakin banyak
orang yang peduli akan isu-isu dalam industri kelapa sawit,
semakin banyak dialog akan tercipta.
Ary Sendy Trisdiyarto tinggal dan lahir di Jakarta, Ia belajar di
Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi, dengan
fokus pada bidang studi Fotografi. Sebagai seorang seniman, ia
bekerja dengan media foto dan video dan tertarik pada isu-isu
seperti globalisasi, konsumsi, perencanaan kota, dan tantangan
pembangunan di negara-negara berkembang melalui berbagai
observasi terkait latar belakang sosial, sejarah, geografi, dan
politik. Ia juga telah berpartisipasi dalam berbagai pameran seni
rupa—di antaranya “REGENERASI”—ARTE Indonesia Art Festival di
Jakarta International Convention Center, Jakarta (2014), “CITY_NET
ASIA” di Seoul Museum of Art, Seoul (2011), “Post Psychedelia”
di Selasar Sunaryo, Bandung (2010). “SLIMMER” merupakan
pameran tunggal yang diproduksi oleh Ary Sendy pada 2008 dan
telah dipresentasikan di RURU Gallery, ruangrupa, Jakarta.
ANDREAS SIAGIAN
Loreng: Kisah dari Jejak Citra Harimau Indonesia, 2015
Instalasi mixed media dan gambar arksip
240 x 60 cm
Atas izin seniman
Loreng adalah sebuah instalasi yang menuturkan kisah-kisah
dari kompilasi arsip citra, teks dan obyek yang berkaitan dengan
Harimau Indonesia. Karya ini berdasarkan sebuah proyek
penelitian berbasis online oleh Andreas Siagian untuk topik
Squarefocus: Tales of The Unforgotten di squaresolid.tumblr.
com, sebuah blog khusus mengenai binatang yang dikerjakan
oleh dirinya sejak awal tahun 2012.
Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau
Bali (Panthera tigris balica), dua dari tiga sub-spesies Harimau
di Indonesia dinyatakan punah pada pertengahan abad 20.
Sedangkan satu-satunya sub-spesies yang tersisa yaitu Harimau
Sumatra (Panthera tigris sumatrae) saat ini terancam punah,
dengan jumlah spesies sekitar 400 ekor di alam liar. Teknologi
pencitraan dan kondisi jaman penjajahan Belanda menyebabkan
hanya sedikit dokumentasi visual mengenai Harimau Indonesia
sebelum tahun 1950 dan dokumentasi tersebut terpencar di
berbagai perpustakaan negara seperti Belanda dan Jerman.
Karya Loreng menampilkan sejarah kebudayaan melalui
jejak – jejak yang terdapat dari dokumentasi citra Harimau
Indonesia. Loreng akan mengajak kita kembali mengamati fakta
yang terungkap dari dokumentasi mengenai Harimau Indonesia
dan sejarah yang terkait dari fakta tersebut.
Instalasi ini dikumpulkan dari:
Animals vs. Animals (Forum Yuku.com); Indonesia Visual Art Archive (IVAA),
Yogyakarta, Indonesia; Leiden University Library, Belanda; Lifepatch – Citizen
Initiative in Art, Science, and Technology; Squaresolid | Squarefocus: Tales of The
Unforgotten; Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda; Wikimedia
Dengan ucapan terima kasih kepada Koleksi Museum Zoologicum Bogoriense
(LIPI/MZB).
Andreas Siagian adalah seorang seniman lintas disiplin yang
praktiknya berkembang mulai dari pemrograman kreatif dalam citra
dan bunyi, elektronik berbasis swakriya hingga instrumen bunyi.
Sejak tahun 2004, dia bekerja dengan inisiatif berbasis komunitas dan
menciptakan beragam instalasi, lokakarya serta festival di Indonesia.
Andreas juga terlibat sebagai salah satu pendiri beberapa inisiatif
seperti lifepatch—inisiatif warga dalam seni, sains, dan teknologi.
Andreas merupakan co-director HackteriaLab 2014, Yogyakarta.
Z E N Z I SU HAD I / WALH I
Pembalakan rawa gambut untuk kebun kelapa sawit
di Provinsi Kalimantan, 2014
Atas izin Zenzi Suhadi dan WALHI
Program Publik
29 Agustus
13–15.00 WIB Diskusi Keanekaragaman
Hayati & Konservasi Bersama WALHI Galeri Salihara
Kolaborasi antara biologis Zenzi Suhadi dan Kantor Nasional
WALHI bertujuan untuk tujuan kolaborasi ini adalah penciptaan
desain peta komprehensif yang memvisualisasikan kanebangan
hutan di Nusantara, serta mempublikasikan data terkait dampak
sosial dan biologis kasus-kasus tersebut. Dengan membantu
untuk mensintesis dan mendesain koleksi informasi lengkap
WALHI terkait status kontemporer ekosistem hutan Indonesia,
pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam memberikan kontribusi
yang penting dan berkelanjutan dalam menanamkan urgensi
akan komunitas lokal yang berhubungan erat secara budaya
dan sosial dengan ekologi hutan, serta mengindikasikan strategi
untuk respon bermakna lewat seni, sains, dan teknologi serta
partisipasi grassroot. Pameran ini menampilkan dua foto dari
drone yang mendokumentasikan pembersihan lahan gambut
di Kalimantan yang terpotret oleh WALHI pada Juli 2014. Pada
29 Agustus, Zenzi akan hadir di galeri untuk berdiskusi tentang
keanekaragaman hayati dan konservasi sebagai bagian dari
program publik mingguan.
39
Zenzi Suhadi adalah biologis dan aktivis lingkungan serta penggiat
hutan di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia / WALHI. Ia telah
memicu beragam investigasi sebagai bagian dari organisasi, dan
saat ini tengah membuat sebuah platform untuk membuat sistem
laporan, pembagian informasi, dan jangkauan publik kampanye
WALHI lebih baik lagi.
PArTISIPAN & KArYA
125.660 spesimen
2.
1.
40
4.
5.
6.
3.
7.
1. Mount Santubong,
Sarawak, Borneo. Foto oleh
Etienne Turpin dan AnnaSophie Springer, 2014.
2. Burung spesimen
Wallace. Foto oleh Etienne
Turpin dan Anna-Sophie
Springer, 2013; atas izin
Natural History Museum
London.
3. Tengkorak Babirusa.
Foto oleh Etienne Turpin
dan Anna-Sophie Springer,
2015; atas izin Oxford
University Museum of
Natural History.
4. Kumbang spesimen
Wallace. Foto oleh Etienne
Turpin, 2015; atas izin
Oxford University Museum
of Natural History.
5. Spesimen Panthera
pardus No. 6044 di Museum
Buitenzorg. Foto oleh
Etienne Turpin, 2014; atas
izin LIPI/MZB.
6. Wallace Notebook,
1855–59. Foto oleh Etienne
Turpin, 2015; atas izin The
Linnean Society of London.
7. Meja di koleksi
herpetofauna, LIPI/MZB.
Model untuk arsitektur
pameran 125.660 Spesimen
di Komunitas Salihara. Foto
oleh Anna-Sophie Springer,
2015.
41
FoTo rISeT KUrATorIAl
125.660 spesimen
42
100 Days of
Natural History
Kampanye Penggalangan
Dana Independen
Dimulai sejak tanggal 8 Mei 2015
dan berlanjut selama 100 hari sampai
pameran dibuka tanggal 15 Agustus
2015, kampanye online “100 Days of
Natural History” setiap hari merilis
satu karya fotografi yang dikumpulkan
selama proses riset persiapan pameran
dua tahun ke belakang. Setiap foto
dijual sebagai sebuah edisi single untuk
menggalang dana produksi bagi seniman
yang saat ini tengah menyiapkan karya
baru mereka untuk 125.660 Spesimen
Sejarah Alam.
Setiap cetakan berkualitas tinggi tersedia
dengan donasi 100 Dolar AS melalui
situs 125660specimens.org.
Setiap pengiriman karya akan dilengkapi
katalog pameran yang ditandatangani
seluruh seniman.
43
125660SPeCImeNS.orG
125.660 spesimen
MAHARDIKA YUDHA
The Face of the Black River, 2013
Video HD satu channel, 9:30 menit
Edisi tunggal
Atas izin Singapore Art Museum
TINTIN WULIA
Still/Life, 2015
Instalasi (pertunjukan) dengan sebuah tabung kimia, labu Erlenmeyer,
larva nyamuk, ikan cupang, kamera pengawas, komputer, dan monitor
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman
44
Still/Life mungkin merupakan ekstraksi dari sebuah lengkungan
kecil dalam siklus mangsa dan pemangsa yang membuat bumi
berputar. Seekor ikan cupang cantik ditaruh di dalam sebuah
tabung kimia selama pameran dan secara teratur diberi makan
larva nyamuk. Akan tetapi, makanan hidup ini disediakan
dalam jumlah banyak, sehingga larva yang bertahan hidup
dapat kabur lewat pipa distilasi. Ujung pipa diarahkan ke sebuah
labu Erlenmeyer untuk memberikan kesempatan bagi nyamuk
yang telah dewasa dan memiliki sayap untuk kabur jika mereka
cukup kuat. Sebuah kamera terus mengawasi proses makan dan
kabur, namun seluruh instalasi ini—termasuk ruang dan waktu
yang ditempati observer—memaknai konteks ruang dan waktu
yang lebih besar. Seiring sebuah rekaman time-lapse diputar di
monitor yang juga memotret dalam bingkai, sebuah video tanpa
akhir bergema dan mengingatkan kita akan siklus lebih besar
dalam kehidupan.
Tintin Wulia tinggal di Brisbane, Australia, dan bekerja secara
internasional. Karyanya menginvestigasi batas-batas geopolitik
yang memisahkan dunia di tengah globalisasi, dengan melalukan
riset multidisiplin dalam bidang seni dan geopolitik. Melalui
metode interaktif dan partisipasi, ia melibatkan masyarakat dalam
model hubungan sosiopolitik untuk memicu dialog- dialog kritis.
Karyanya seringkali -process-based. Tintin telah berpartisipasi
dalam berbagai biennale dan triennale termasuk Sharjah Biennale
(2013), Jogja Biennale (2013), Asia Pacific Triennale (2012),
Gwangju Biennale (2012), Jakarta Biennale (2009), Yokohama
Triennale (2005), and Istanbul Biennale (2005). Karyanya telah
dipamerkan secara ekstensif di berbagai grup pameran seperti
Hiroshima Museum of Contemporary Art, ZKM Center for Art and
Media, Haus der Kulturen der Welt, Witte de With, Vita kuben at
Norlandsoperan, Centraal Museum, Museum of Contemporary
Photography in Chicago, Espace culturel Louis Vuitton, Institute
of Contemporary Arts in London, Institute of Contemporary Arts
Singapore, Foundation for Art and Creative Technology, 4A Centre
for Contemporary Asian Art, dan Galeri Nasional Indonesia, serta
festival-festival terkemuka seperti International Film Festival
Rotterdam, Clermont-Ferrand International Short Film Festival,
Pusan International Film Festival and New York Underground Film
Festival.
Menangkap refleksi di permukaan Kali Angke, salah satu dari 13
sungai di Jakarta, video Mahardika Yudha merupakan sebuah
komentar cerdik atas tekanan ekologi dan lingkungan urban.
Namanya, yang memiliki arti “sungai merah”, merupakan
saksi bisu atas pembunuhan massal kaum Cina oleh penjajah
Belanda pada tahun 1740, yang meninggalkan sungai berwarna
merah oleh darah. Hari ini, sungai tersebut telah berubah
menjadi hitam pekat akibat kontaminasi limbah domestik dan
pabrik; keadannya semakin memburuk setelah sistem kanal
pemerintah lokal gagal. Akan tetapi, air yang stagnan, mati,
dan beracun tersebut masih dipakai oleh orang-orang yang
tinggal di sekitarnya. Refleksi dinamis dari sungai hitam dalam
karya ini merupakan sebuah abstraksi puitis dari realita, masa
lalu dan masa kini: sebuah pengingat akan sejarah kelamnya,
dan sebuah komentar atas isu lingkungan dan ketidakcakapan
legislatif saat ini.
Mahardika (“Diki”) Yudha adalah koordinator riset pengembangan
di Forum Lenteng Jakarta, sebuah forum seniman new media
kolektif, dan merupakan anggota Divisi Pengembangan Seni Video
di ruangrupa, sebuah inisiatif seniman berbasis di Jakarta. Terakhir,
Diki ditunjuk sebagai penata artistik untuk OK Video Festival 2013,
festival seni video terkemuka Indonesia yang telah diakui di dunia
internasional. Diki telah terlibat dalam berbagai proyek riset dan
pameran internasional, termasuk Sao Paolo International Short
Film Festival, Brazil (2004); the Bilbao International Documentary
Film Festival, Spain (2004); Gang Festival Australia (2006);
International Festival for Experimental Film, India (2006); Seoul
International New Media Festival dan Center for Art and Media
ZKM, Jerman. Tahun lalu, karyanya juga dipamerkan di 8th SeMA
Biennial MediaCity Seoul 2014, Seoul Museum of Art (SEMA) dan
Sights and Sounds: Global Film and Video, The Jewish Museum,
New York.
ROBERT ZHAO RENHUI
& THE INSTITUTE OF
CR ITICAL ZOOLOG I STS
A Guide to the Flora and Fauna of the World, 2013
55 Pelat dengan dokumen dan buklet dalam
kotak arsip yang diukir dengan tangan
34cm x 24cm x 3cm
Koleksi pribadi (pameran ini mencakup seleksi atas 8 pelat)
Fotografer Robert Zhao Renhui mempelajari dan menyusun katalog tentang evolusi alam—
sebagai hasil dari eksperimen, transformasi, dan dampak antropogenik. Bersama dengan
A Guide to the Flora and Fauna of the World (2013) karya The Institute of Critical Zoologists, Zhao
Renhui mengumpulkan 55 spesies hewan dan tanaman yang lebih sering terlihat seperti produk
khayalan liar ketimbang kenyataan. Penemuan ini tidak mengejutkan karena semua spesies yang
didokumentasikan adalah organisme dan spesies yang dimodifikasi secara buatan, yang beradaptasi
dengan perubahan habitat mereka sebagai akibat interferensi manusia. Kendati semua contoh ini
kenyataannya memang ada, objek-objek pasca-alam yang menarik ini, termasuk telur manusia, kecoa
yang dikendalikan dari jarak jauh, dan ikas emas bertato, memicu rasa ketidakpastian mengenai
hubungan antara fakta dan rekayasa. Mungkin kita dapat bertanya: Apa yang sesungguhnya kita
ketahui tentang alam? Seberapa tepat waktu atau seberapa tertinggalkah pandangan kita tentang
teori evolusi? Koleksi Institut ini mengguncang perspektif kita yang biasa mengenai spesies
nonmanusia, lebih-lebih karena koleksi tersebut menyajikan serangkaian “quasi-naturalia” dalam
tradisi klasifikasi ilmiah yang objektif. Dalam konteks pameran, A Guide to the Flora and Fauna of
the World ini maka bertolak belakang dengan koleksi spesimen Wallace yang bersejarah. Walaupun
aktivitas manusia akhir-akhir ini mengancam keanekaragaman hayati hutan-hutan hujan tropis,
perusahaan-perusahaan seperti Panasonic telah mulai mengembangbiakkan herba berteknologi
tinggi di bawah pencahayaan LED yang hemat energi. Pameran ini mempersembahkan seleksi
sembilan spesies yang langsung berhubungan dengan kepulauan Asia Tenggara.
45
Robert Zhao Renhui adalah seniman dari Singapura yang bekerja terutama dengan fotografi tetapi
kerap mengadopsi pendekatan multidisiplin dengan menyajikan foto-foto bersama dokumen dan objek
lain. Pamerannya baru-baru ini meliputi Busan Biennale (2014); Daegu Photo Biennale (2014); Moscow
International Biennale of Young Art (2014); PhotoIreland (2014); Singapore Biennale (2013); President’s
Young Talents (2013); The Institute of Critical Zoologists, Chapter Arts Centre, Inggris (2012). Karyanya
telah mendapatkan Deutsche Bank Award in Photography, University of the Arts, London (2011) dan
beberapa penghargaan lain. Ia juga telah tampil dalam sorotan utama di ArtAsiaPacific, Artforum
International, ArtInfo, Fotografia, dan Punctum.
The Institute of Critical Zoologists (Singapura) bertujuan untuk mengembangkan pendekatan kritis
terhadap pandangan zoologis, atau bagaimana manusia memandang hewan. Masyarakat urban
tinggal secara relatif terisolasi dari hewan; namun, tuntutan dan pandangan kita terhadap hewan telah
berkembang besar sepanjang satu abad terakhir. Tak dapat disangkal bahwa memandang hewan
dianggap hal yang menyenangkan dan diinginkan dalam masyarakat. Meski demikian, hubungan
antara hewan dan manusia telah mencapai keadaan yang mengerikan di mana hewan dieksploitasi baik
secara visual maupun sebagai komoditas. Belum lagi ancaman budaya, ekologis, dan lingkungan dari
kebun binatang, pameran museum sejarah alam, dan memorabilia hewan, di mana antropomorfisme
memainkan peranan kunci.
PArTISIPAN & KArYA
125.660 spesimen
46
Bengkel kerja wayang
kulit; foto atas izin
koleksi pelat kaca
negatif LIPI
Lokakarya Intensif
Bayangan Spesimen
DENGAN LALEH TORABI
9–11 September 2015, 16.00–18.00 WIB tiga hari
Galeri Komunitas Salihara
Untuk maks. 10 anak 7–12 tahun
Gratis dengan RSVP ke [email protected]
selama kapasitas masih tersedia
Pertunjukan wayang kulit adalah tradisi Indonesia yang berumur ratusan tahun. Melalui desain dan sosok
simbolisnya, jenis seni ini merepresentasikan dunia fisik maupun spiritual, membangun hubungan antara
yang hidup dengan leluhur. Bayangan yang dihadirkan oleh wayang kulit merepresentasikan dunia-dunia
tersebut dan pertunjukannya membawa dunia bayangan menjadi hidup. Lewat perwujudannya sebagai
sosok-sosok bayangan, jiwa-jiwa leluhur menubuh dan hadir di sebuah kerajaan yang secara historis
nyata sekaligus merupakan mitos.
Dalam “Lokakarya Bayangan Spesimen” untuk anak sekolah dan remaja sebagai rangkaian acara
pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam, kami mengembalikan spesimen zoologis Alfred Russel
Wallace ke dunia asli mereka, menghidupkan mereka kembali dalam segala keanekaragaman mereka.
Katak terbang dan burung cenderawasih, segala jenis kupu-kupu dan kumbang, reptilia dan mamalia;
semuanya akan berkembang biak dan menjumpai kita di tempat ini. Sembari membayangkan vegetasi
yang kaya dalam hutan-hutan dan pulau-pulau di mana dulunya spesimen-spesimen ini hidup, ruang
yang kita bagi bersama pun akan tumbuh.
Dengan interaksi yang sarat permainan dan keaktifan, pengunjung muda pameran di Galeri
Salihara ini akan mendapatkan akses ke konten pameran dan konteks sejarah. Anak-anak dan remaja
diajak dan didampingi oleh seniman dan ahli boneka teater asal Berlin, Laleh Torabi, untuk membuat
boneka bayangan sendiri. Hewan dan tumbuhan dari koleksi Wallace akan menjadi inspirasi kita.
Karakter hewan akan muncul keluar dari bayangan sejarah, membawa banyak spesies kembali hidup.
Teori Wallace mengenai evolusi akan memandu peserta untuk mengembangkan proses kreatif sendiri
hingga tentunya spesies-spesies baru akan lahir pula. Pada akhir lokakarya, kita akan berkesempatan
untuk bersama-sama membuat pertunjukan dengan boneka bayangan yang telah kita buat, yang akan
ditampilkan di bawah bermacam jenis pencahayaan.
Menggunakan kardus, kertas, kawat, bambu, dan bahan-bahan temuan, peserta lokakarya akan
membuat boneka bayangan hewan mereka sendiri dan menjelajahi sifat-sifat beragam spesies. Objek,
gambar, dan spesimen hewan dari cerita Wallace menawarkan landasan riset yang inspiratif bagi para
naturalis muda. Selain itu, karya-karya oleh para seniman Indonesia dan internasional yang merespons
koleksi Wallace akan memberikan perspektif baru bagi anak-anak.
Dalam lokakarya kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana paruh burung
dan kulit luar kumbang berevolusi? Bagaimana habitat kupu-kupu dapat memengaruhi besarnya ukuran
kupu-kupu tersebut, bagaimana sayap mereka yang indah dapat terbentuk, dan bagaimana cantiknya
mereka terbang? Pola, gambar, dan struktur internal apa dari boneka bayangan klasik yang mengikuti
bentuk-bentuk yang dapat dijumpai di alam? Dan bentuk dan dekorasi baru seperti apa yang bisa
diciptakan dan belum pernah terlihat sebelumnya?
47
Dalam karyanya, seniman grafis Laleh Torabi memadukan unsur tradisional Asia dengan pengaruh Eropa
kontemporer sambil menemukan bahasanya sendiri. Sebagai seniman boneka bayangan, ia terpesona oleh
budaya dan seni Indonesia serta menafsirkan bahasa formal dan teknik pertunjukan wayang kulit dengan cara
yang unik dan luar biasa. Boneka-bonekanya telah menarik perhatian beberapa ahli boneka bayangan yang
lantas menjadikan boneka-boneka itu sebagai koleksi mereka. Dalam lima tahun ini, Laleh Torabi semakin
terlibat dengan pengajaran dan pendidikan seni. Ia juga mempelajari teknik pertunjukan bayangan Eropa dari
para master boneka bayangan Jerman dan Turki.
loKAKArYA INTeNSIF
125.660 spesimen
P E R J UA N G A N
AKAN
K E K AYA A N
DA N
HA S I L N YA
YA N G M E N Y E D I H K A N . . . T E L A H D I S E RTA I D E N G A N
K E HA N C U R A N
T E R S I M PA N
KO N YO L
DI
ALAM,
PRODUKPRODUK
YA N G
YA N G
LEBIH
BAHKAN
M E N Y E D I H K A N L A G I K A R E NA S E M UA I T U TA K DA PAT
D I P U L I H K A N . T I DA K HA N YA H U TA N B E RU M U R R AT U S A N
TA H U N
DENGAN
48
YA N G
HILANG,
B E N C A NA ,
YA N G
T E TA P I
SERINGKALI
S E LU RU H
DIIKUTI
KANDUNGAN
M I N E R A L YA N G A DA D I P E R M U K A A N B U M I , HA S I L DA R I
P E RU B A HA N
L A M B AT
E O NA N
TA H U N
YA N G
TELAH
H I L A N G DA N P E RU BA HA N G E O L O G I S , T E L A H DA N M A S I H
T E RU S D I HA B I S K A N
HINGGA
TA R A F YA N G B E LU M
P E R NA H D I C A PA I S E B E LU M N YA , DA N M U N G K I N DA L A M
J U M L A H YA N G TA K DA PAT D I S A M A I DA R I S E LU RU H
Z A M A N YA N G M E N DA H U LU I S E JA R A H M A N U S IA .
— Alfred Russel Wallace, “The plunder of the earth,” 1898
Menyingkap Iklim
Panjang di Indonesia:
Proyek Pengeboran Towuti
satrio Wicaksono (sW) dalam percakapan dengan
Anna-sophie springer (As) dan etienne Turpin (eT)
Lanskap Indonesia bagian tengah yang kaya dan
beranekaragam memberi inspirasi bagi Alfred Russel
Wallace untuk mencetuskan teori-teori seleksi alam
dan biogeografi, tetapi sejarah lingkungan dan iklim
jangka panjang kawasan ini belum banyak diketahui.
Dari Mei hingga Juli 2015, Proyek Pengeboran Towuti
(PPT)—proyek pengeboran danau pertama di Asia
Tenggara—mengadakan ekspedisi ilmiah internasional
untuk mengebor ke dalam sedimen di dasar Danau
Towuti di Sulawesi Selatan. Inti bor yang didapatkan
akan digunakan untuk merekonstruksi evolusi iklim
dan lingkungan Indonesia tengah selama 650.000
tahun yang lalu melalui analisis biogeokimia dan
fisika. Secara bersamaan, penelitian ini menyoroti
proses alam yang membantu membentuk lanskap
yang disaksikan Wallace selama ekspedisinya sendiri
antara 1854 hingga 1862. Kami bertemu Satrio
Wicaksono, Koordinator Proyek Pengeboran Towuti
dan mahasiswa
Brown University,
Amerika Serikat, untuk
pertama kalinya dalam
Konferensi Timur Laut
Mengenai Indonesia
yang ke-12 di Cornell
University pada
musim gugur 2014.
Setelah korespondensi
surat elektronik yang
berlangsung mengenai
proyek unik itu, dan
gagalnya sebuah
kunjungan ke Danau Towuti pada Juni 2015, kami
berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan
Satrio tentang riset tersebut.
As:
Dapatkah Anda jelaskan tentang asal-usul
Proyek Pengeboran Towuti? Apa yang mengawali riset
Anda di kawasan Sulawesi? Mengapa area ini penting?
Dan apa tujuan keseluruhan proyek ini?
s W : Kepulauan Indonesia dan lautan yang
mengelilinginya adalah sumber utama panas dan
uap air global sehingga memainkan peranan penting
dalam sistem iklim global. Pemahaman yang lebih
baik, tentang mekanisme presipitasi dan konveksi di
sekitar kepulauan ini seiring waktu, tidak hanya akan
memberikan kita pengertian yang lebih baik tentang
bagaimana presipitasi Indonesia di masa depan tetapi
juga memberikan kita wawasan yang lebih mendalam
tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan sistem
iklim global. Sayangnya, data iklim yang tersedia
di Indonesia terbatas. Berdasarkan penelitian kami
sebelumnya, Danau Towuti, yang berlokasi di jantung
kepulauan Indonesia,
mengandung
ratusan meter
sedimen yang dapat
digunakan untuk
merekonstruksikan
perubahan lingkungan
dan iklim selama
~800.000 tahun
terakhir. Inilah satusatunya dokumentasi
semacam itu yang ada
di kawasan ini. Proyek
Pengeboran Towuti
adalah proyek pengeboran ilmiah yang pertama di Asia
Tenggara, dan berdasarkan perspektif paleoklimatik,
lokasinya sempurna.
Pembimbing PhD saya di Brown, Dr. James Russell,
pertama kali membayangkan PPT sekitar sepuluh
tahun yang lalu, saat ia tengah mulai bekerja di
kawasan Indonesia. Sebagai pakar mengenai iklim
tropis masa lalu maupun ekosistem danau, ia tertarik
dengan rekonstruksi dan penguraian informasi
49
INTerVIU
125.660 spesimen
lingkungan dan iklim yang terkandung dalam lapisanlapisan lumpur yang terkubur di bawah danau-danau
tropis. Bersama dengan Profesor Satria Bijaksana dari
Institut Teknologi Bandung, James memulai penelitian
pendahuluan di Danau Towuti dan danau-danau
sekitarnya pada 2007. Setelah sesi-sesi kerja lapangan
dan analisis data awal, keduanya, bersama dengan para
kolaborator mereka, mulai menulis proposal untuk
proyek pengeboran pada 2012.
e T:
Anda menyebutkan sebelumnya bahwa Anda
telah melakukan penelitian di kawasan ini sebelum
proyek ini—dapatkah Anda jelaskan lebih jauh tentang
persiapan Anda?
50
s W : Kami melaksanakan ekspedisi seismik pada
2007, 2010, dan 2013, juga ekspedisi pengintian
(coring) pada 2010. Analisis seismik dibutuhkan
untuk memindai sedimen di bawah danau. Data
refleksi seismik diperoleh melalui sistem peluru udara
(air-gun), yang mirip dengan ultrasuara yang kerap
dipakai untuk perempuan hamil.
Sistem ini memungkinkan kami
mendeteksi ketebalan lumpur yang
telah berakumulasi di atas dasar
danau selama hampir satu juta tahun.
Menggunakan data ini, kami mampu
mengidentifikasi situs yang potensial
untuk pengintian/pengeboran.
Ekspedisi pengintian pada 2010
menghasilkan beberapa piston
inti dari Danau Towuti. Masingmasingnya berukuran kira-kira 12
meter dan dasarnya bertitimangsa
kira-kira 60.000 tahun yang lalu.
Kami telah melakukan beragam
analisis kimia, biologi, dan fisika pada
inti-inti ini dan hasilnya menyatakan
bahwa perubahan-perubahan iklim
serta lingkungan besar di kawasan
ini terjadi pada periode tersebut.
Hasilnya mengonfirmasikan pendapat
kami bahwa Danau Towuti adalah
situs penting sebagai tempat untuk
mempelajari perubahan iklim dan
lingkungan di Indonesia. Sekarang,
dengan inti-inti yang baru kami
dapatkan dari PPT, kami berharap
dapat menyingkap dan memahami perubahanperubahan besar yang mungkin telah terjadi lebih jauh
sebelumnya.
e T:
Pada masanya, yang diperlukan Alfred Russell
Wallace adalah selembar surat dari Belanda untuk
mengumpulkan spesimennya di Nusantara; lebih dari
150 tahun kemudian, persyaratan legal Anda jauh lebih
banyak. Persiapan untuk proyek pengeboran seperti ini
juga sangat rumit. Dapatkah Anda memberi gambaran
tentang logistik yang dibutuhkan dalam melakukan
penelitian seperti ini?
s W : Karena PPT adalah upaya internasional,
sampai dengan dua puluh lima peneliti terlibat dalam
operasi pengeboran yang sesungguhnya. Kami harus
melengkapi banyak dokumen untuk beragam lembaga
pemerintahan dan di berbagai tingkat pemerintahan.
Pertama-tama, untuk memasuki Indonesia semua
peneliti asing harus memohon visa penelitian. Untuk
mendapatkan visa itu, proyek ini pertama-tama harus
mendapatkan stempel persetujuan dari Kementerian
Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dokumen
aplikasi visa itu terdiri atas proposal penelitian, CV,
surat keterangan sehat, foto, dan beraneka surat
pendukung; semuanya diserahkan secara online. Pada
awal Maret, kami telah menerima persetujuan dari
Kementerian, yang secara teori memberikan kami
cukup waktu untuk menerima visa sebelum jadwal
keberangkatan kami pada awal Mei.
Sayangnya, sistem kuota untuk penerbitan visa di
kantor pusat imigrasi, berikut masalah dalam sistem
elektronik mereka, membuat beberapa anggota
kami berisiko menunda
keberangkatan.
Diperlukan kunjungan
bolak-balik ke kantor-kantor
pemerintahan Indonesia,
juga panggilan telepon untuk
beberapa kedutaan dan
konsulat Indonesia di luar
negeri, demi menghindari
penundaan berkepanjangan.
Setelah beberapa panggilan
telepon tengah malam, para
anggota proyek kami berhasil
mengamankan visa mereka dan
tiba di Indonesia sesuai jadwal.
Tapi, bagi banyak di antara
mereka, ini artinya menerima
paspor dan visa hanya sehari
sebelum keberangkatan.
Begitu para anggota proyek
dari luar negeri telah tiba,
mereka harus melapor ke kantor
Kementerian Riset, Teknologi,
dan Pendidikan Tinggi di Jakarta
Pusat. Setelah kunjungan itu, ada
berkas lebih banyak lagi yang
harus dilengkapi dan diserahkan di berbagai kantor,
seperti Mabes Polri, Kementerian Dalam Negeri,
kantor imigrasi provinsi, badan konservasi sumber
daya alam provinsi, sekaligus kantor-kantor urusan
dalam negeri di tingkat kota. Kunjungan pribadi oleh
para peneliti asing tidak diperlukan di beberapa kantor
ini, jadi para anggota Indonesia dan agen-agen kami di
Jakarta dan Makassar mengunjungi kantor-kantor ini
untuk memproses berkas atas nama seluruh kelompok.
Kami juga mendatangkan peti kemas dan peralatan
pengeboran besar serta penelitian dari AS dan
Jerman. Peti kemas-peti kemas dan rig pengeborannya
cukup besar, dan hanya ada sedikit kendaraan serta
derek yang bisa dipakai untuk mengangkut barang-
barang itu ke dok kami begitu tiba di Sulawesi. Kami
harus berkoordinasi dengan bermacam-macam
kontraktor transportasi dan pengapalan untuk
membantu pergerakan peralatan tersebut. Karena
ada kesulitan teknis di tengah-tengah proyek, proyek
harus diperpanjang selama dua minggu dan kami
mendatangkan suku cadang untuk pompa hidrolik
kami dari AS. Barang-barang ini tidak mudah
ditemukan tapi akhirnya tiba dengan selamat di
Sulawesi meskipun perjalanannya pun bukannya
tanpa sandungan. Akhirnya, keberangkatan kami
yang tertunda dari Sulawesi menimbulkan masalah
lebih lanjut karena kami harus menjadwalkan ulang
pembongkaran peralatan kami dan memesan ulang
tiket pulang. Keduanya bukan hal yang mudah
dilakukan karena keberangkatan kami yang terakhir
berdekatan dengan Idul Fitri, hari libur besar di
Indonesia.
dapat membantu mereka memahami tingkat evolusi
biologis sekaligus kepekaan serta ketahanan ekosistem
hutan hujan dan akuatik Towuti terhadap perubahanperubahan lingkungan dan iklim.
Terakhir, beberapa ahli biogeokimia juga terlibat dalam
proyek ini. Danau Towuti adalah salah satu danau
terbesar yang kaya akan bijih besi di dunia. Lapisan
bebatuan ofiolit yang mengitari danau memasok logam
yang menggerakkan proses-proses biogeokimiawi
yang penting. Inti bor memungkinkan kami untuk
meluaskan pemahaman tentang proses-proses
ini, juga untuk mempelajari secara dekat dampak
perubahan iklim terhadap kimia lingkungan. Dengan
melakukannya, kami harap kami dapat memperbaiki
pengetahuan kita tentang cara yang berkesinambungan
untuk mempertahankan ekosistem Towuti terkait
perubahan-perubahan dalam iklim dan penggunaan
lahan oleh manusia akhir-akhir ini.
As:
Anda bukan satu-satunya ilmuwan yang saat
ini bekerja di situs pengeboran Towuti. Dapatkan Anda
bercerita tentang tim Anda? Bidang ilmu apa yang
menjadi keahlian kolega-kolega Anda dan apa yang
mereka cari? Lebih khusus lagi, apa yang paling Anda
harapkan untuk dapat ditemukan?
As:
Dengan skala proyek ini dan terpencilnya
area tempat Anda bekerja, pasti ada banyak perhatian.
Apakah ada perhatian dari penduduk di daerah sana
terhadap proyek ini? Apa yang dipikirkan masyarakat
tentang proyek ini?
s W : Ada sekitar tiga puluh ilmuwan yang
bekerja di Towuti, baik di situs pengeboran maupun
di laboratorium di wilayah pantai selama proyek
pengeboran ini. Para ilmuwan, dipimpin oleh Dr.
James Russell dan Prof. Satria Bijaksana, berasal dari
lima negara dan memiliki latar ilmu yang berbedabeda. Sebagian dari kami, seperti saya sendiri, tertarik
dengan persoalan-persoalan iklim. Bagaimana sejarah
curah hujan berevolusi sejak danau itu terbentuk?
Apa yang menjadi penyebab variasi pola curah hujan?
Bagaimana respons lingkungan terhadap perubahan
dalam iklim seiring waktu? Kami menggunakan
beragam data proksi yang disarikan dari inti sedimen
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Beberapa ilmuwan yang terlibat dalam PPT tertarik
dengan proses-proses geologis yang membentuk
danau. Mereka ingin menentukan usia danau, begitu
juga perubahan bentuk fisiknya seiring waktu.
Misalnya, kami melihat sekuen tanah, sedimen
sungai, gambut, dan sedimen danau di beberapa situs
pengeboran yang memungkinkan kami melakukan
deduksi mengenai perubahan geologis danau sekaligus
bagaimana tingkat air mungkin bervariasi seiring
waktu. Kami juga menemukan beberapa lapisan
abu vulkanis yang tebal, yang mungkin berasal dari
ledakan-ledakan vulkanis di utara Sulawesi. Jika bisa
dikaitkan dengan lapisan abu vulkanis yang sudah
diidentifikasi sebelumnya dari kawasan ini, lapisanlapisan ini bisa digunakan sebagai penanda cakrawala
waktu.
Danau Towuti juga merupakan rumah bagi banyak
spesies endemis dan dikelilingi salah satu hutan hujan
tropis yang paling beragam di muka bumi. Para pakar
biologi di antara kami khususnya tertarik untuk
menemukan mikrofosil dari sedimen. Hal ini akan
s W : Kami mendapatkan banyak perhatian tidak
hanya dari media lokal dan nasional, tetapi juga
dari mereka yang tinggal di sekitar danau. Warga
lokal khususnya terkejut melihat derek-derek besar
dan peralatan berat diangkut melewati desa mereka
menuju dok proyek, di mana peralatan itu dirakit
menjadi tongkang pengeboran. Warga kebingungan
dan mengira bahwa peralatan itu adalah milik PT
Vale Indonesia, sebuah perusahaan penambangan
nikel yang beroperasi tak jauh dari sana, yang kerap
terlibat dalam perselisihan dengan warga lokal. Sialnya
bagi kami, kata-kata “pengeboran” dan “proyek”
mengandung konotasi negatif.
Dalam beberapa hari setelah proyek dimulai, rumor
palsu tentang tujuan kami segera beredar luas.
Beberapa orang yang kami jumpai mengira kami
sedang melakukan eksplorasi minyak dan gas. Yang
lain sangat prihatin tentang kemungkinan dampak
lingkungan proyek ini; banyak yang bertanya kepada
kami apakah bencana lumpur seperti Lapindo1
dapat terjadi karena proyek ini. Puncaknya adalah
demonstrasi yang dilaksanakan sekitar 100 warga lokal
dan LSM-LSM dua minggu setelah proyek berjalan.
Kami mendengarkan mereka, menjawab pertanyaan
mereka, dan bekerja keras untuk menjelaskan apa
sesungguhnya PPT ini.
Kami cukup terkejut dengan gerakan-gerakan yang
menentang proyek ilmiah ini karena Dr. Russell
dan Prof. Bijaksana sudah mengadakan pertemuan
dengan camat dan para pemimpin setempat dua
bulan sebelum pengeboran dimulai. Selain itu, bupati
juga sudah mengetahui proyek ini sejak 2012 saat
masih dalam tahap perencanaan, tetapi informasi itu
rupanya tidak bergulir ke bawah menuju warga sekitar
danau. Tahun 2015 memang tahun yang sibuk dalam
politik; pemilihan bupati dan kepala daerah sudah
51
INTerVIU
125.660 spesimen
membayang-bayangi sehingga ada dimensi rumit yang
lain dalam proyek ini.
Kami telah berencana menjangkau mereka selama
kami tinggal di Sulawesi, tetapi miskomunikasi dengan
warga lokal memaksa kami untuk total dan bekerja
lebih keras dalam melakukan kegiatan itu. Kami
mengadakan banyak pertemuan dengan bermacammacam pemangku kepentingan: para pemimpin lokal,
pejabat pemerintahan, anggota dewan perwakilan
setempat, begitu juga perwakilan LSM. Kami juga
mengunjungi banyak sekolah dasar dan sekolah
menengah. Selain itu, kami memfasilitasi kunjungan
ke tongkang oleh para pejabat pemerintahan maupun
warga setempat, termasuk anak-anak sekolah, agar
mereka memiliki pemahaman lebih baik tentang
pekerjaan kami. Pada akhirnya, kami gembira sekali
mengetahui bahwa kebanyakan warga setempat
memandang positif proyek kami; banyak di antara
mereka yang menyatakan dukungan secara terbuka.
e T:
Sehubungan dengan pengeborannya itu
sendiri, berapa panjang inti individual yang Anda
ekstraksi dari dasar danau? Dalam kondisi apa Anda
mengekstraksinya (basah/kering? Keras/lunak? Dll.)?
Dan apa yang akan Anda lakukan dengan materi
ini berikutnya untuk mempelajari percontoh yang
dikumpulkan?
52
s W : Kami ingin mengebor sedimen lurus ke
bawah hingga dekat dengan permukaan dasar danau.
Kedalaman air Danau Towuti kurang-lebih 200 meter
dan sedimen yang ada di bawah air serta melapisi
bagian atas dasar danau memiliki kedalaman sekitar
180 meter. Untuk melakukan pengeboran, kami harus
menghubungkan beberapa batang bor atau pipa bor
sepanjang lima meter. Saat peralatan pengintian atau
pengeboran yang sesungguhnya diturunkan ke bawah
melalui bagian dalam pipa ini, di dalamnya diturunkan
juga pelapis inti dari plastik sepanjang tiga meter. Inti
sedimen yang dibor diambil di dalam pelapis itu dan
ditahan agar tidak jatuh dengan penangkap inti saat
diangkat naik.
Begitu pelapis keluar di atas tongkang, para ilmuwan
di tongkang memotongnya menjadi kepingankepingan yang lebih kecil (panjang maksimal: 1,5
meter), memasangkan penutup di kedua ujung
pelapis, kemudian melabelinya. Inspeksi visual
memperlihatkan bahwa sedimen basah hasil
pengeboran di dalam pelapis inti tersebut terdiri atas
fasies-fasies yang berbeda (yaitu tubuh batu dengan
ciri-ciri khusus yang merepresentasikan lingkungan
pengendapan jenis tertentu), persis seperti yang
telah kami perkirakan. Kami pun mampu melihat
materi-materi yang didominasi tanah liat, materi
yang didominasi pasir, lapisan yang didominasi
kerikil, lapisan gambut, begitu juga tefra (lapisan abu
vulkanis).
Inti sedimen yang dilabeli kemudian dibawa ke pantai
saat pergantian sif, yang berlangsung dua kali sehari.
Inti-inti itu lalu dicatat kerentanan magnetisnya dan
ciri-ciri fisik lainnya menggunakan mesin pencatat
(logger) yang kami bawa dari Brown University,
kemudian untuk sementara disimpan di laboratorium
lapangan. Kami juga menyaring sedimen yang tersisa
dalam penangkap inti dan menganalisis sampel-sampel
kecil ini di bawah mikroskop. Inti-inti sedimen saat
ini sedang dalam perjalanan menuju penyimpanan
inti lakustrin nasional AS di Minnesota, di mana
para ilmuwan yang terlibat dalam proyek ini akan
membelahnya menjadi dua nantinya selama periode
pembelahan-inti dan pengambilan percontoh tahun
ini. Pekerjaan pembelahan ini akan difoto dan berbagai
ciri fisiknya dicatat menggunakan peralatan yang lebih
canggih dan akhirnya akan dipakai lagi sebagai sampel
analisis selanjutnya oleh para ilmuwan yang berbeda di
laboratorium mereka masing-masing. Sementara itu,
inti yang diarsipkan tak akan disentuh dan disimpan di
tempat penyimpanan di Minnesota.
e T:
Dalam surat-menyurat kita dan pertemuan
sebelum ini, Anda menyebutkan bahwa sampel inti
yang Anda kumpulkan dari Danau Towuti akan
menyediakan hingga 650.000 tahun sejarah iklim.
Dapatkah Anda jelaskan lebih khusus bagaimana
pengetahuan iklim ini diekstrasi dari sampel?
Ilmu pengetahuan apa yang terlibat dalam proses
paleoklimatologi seperti itu?
s W : Paleoklimatologi adalah kajian tentang
perubahan dalam iklim yang diambil pada skala
sepanjang sejarah bumi. Baru beberapa abad
belakangan manusia mulai mengumpulkan data
curah hujan secara sistematis dengan alat pengukur
curah hujan dan data suhu dari termometer. Untuk
mendapatkan data iklim dari zaman yang jauh di
masa lalu, kita dapat menggunakan beraneka metode
proksi yang dipinjam dari ilmu-ilmu pengetahuan lain
tentang kehidupan dan bumi, yang dapat memberitahu
kita jumlah curah hujan atau suhu di suatu daerah
selama suatu periode tertentu di masa lalu.
Ciri kimiawi, biologis, dan fisika sedimen Danau
Towuti menawarkan petunjuk bagi kita mengenai
sejarah iklim kuno, serta dapat membantu kita
memahami keseluruhan pola perubahan iklim dan
membantu kita memperkirakan bagaimana iklim bisa
berubah di masa depan. Misalnya, mineralogi tanah
liat dapat memberitahu kita jenis-jenis material yang
mudah terkikis dan masuk ke dalam danau, khususnya
saat jumlah curah hujan sedang tinggi. Selama
periode-periode saat tingkat titanium di Danau Towuti
lebih tinggi ketimbang biasanya, misalnya, kita dapat
menyimpulkan bahwa periode itu adalah periode yang
relatif basah.
Menggunakan serbuk sari yang diekstrasi dari sedimen
lalu diobservasi dan dihitung di bawah mikroskop,
kita dapat mempelajari jenis-jenis tanaman yang
hidup di daerah aliran sungai. Berdasarkan analisis
isotop karbon lapisan lilin daun dan serbuk sari pada
inti sedimen 12 meter dari ekspedisi 2010, kami tahu
bahwa ekosistem yang dominan di wilayah sekitar
danau antara 33.000 hingga 16.000 tahun yang lalu
selama zaman es yang terakhir adalah sabana. Ini
mengindikasikan bahwa iklimnya jauh lebih kering
saat itu. Kami berharap bisa memperoleh informasi
iklim dan lingkungan lebih jauh pada waktunya nanti
menggunakan inti bor yang lebih panjang dari PPT.
Salah satu tujuan kami adalah menguji apakah iklim
di daerah ini juga kering selama zaman-zaman es yang
sebelumnya, dan jika demikian, mengapa.
s W : Dalam makalah mereka baru-baru ini tentang
Antroposen, ilmuwan-ilmuwan Inggris Simon Lewis
dan Mark Maslin menekankan hubungan antara
waktu dan keadaan Bumi. Bagaimana rasanya berpikir
dalam kerangka waktu yang sedemikian besar, hampir
700.000 tahun ke masa lalu? Apakah Anda pernah
membayangkan situs penelitian Anda dalam keadaan
prasejarahnya? Akan terlihat seperti apa tempat itu?
s W : Dalam skema besar skala waktu geologis,
700.000 tahun masa lalu sesungguhnya agak singkat.
Ilmuwan percaya bahwa bumi terbentuk sekitar 4,6
miliar juta tahun yang lalu. Ilmuwan bumi seperti saya
biasa menyentuh dan mengamati sampel sedimen
dan bebatuan yang usianya jutaan tahun. Bagi kami,
benda-benda itu bukan sekadar peninggalan masa
lalu melainkan juga mengandung informasi ilmiah
penting tentang masa kini dan masa depan sehingga
memang sangat berharga. Sebagai contoh, kajian
kami memungkinkan kami memahami variasi
alami lingkungan dan iklim sebelum manusia mulai
berkembangbiak di daerah tersebut.
Danau ini hari ini telah mengalami perubahanperubahan penting dalam hal ukuran dan geokimia,
yang disebabkan oleh perubahan-perubahan iklim dan
geologis. Berdasarkan data awal kami dari lapangan,
kami tahu sekarang bagaimana tingkat variasi danau.
Pengeboran di beberapa situs kami menghasilkan
bagian-bagian non-danau, seperti unit-unit gambut
dan sungai. Seperti yang telah disebutkan, lanskap
di sekitar Towuti tidaklah selalu berupa hutan hujan
tropis yang lebat. Selama periode yang lebih kering
dan musiman, kita mungkin akan melihat ekosistem
sabana. Anda bisa membayangkan hamparan luas
padang rumput dengan sedikit pohon di sana-sini,
mirip dengan Nusa Tenggara hari ini, selama periode
kering. Bersamaan dengan itu, permukaan danau pasti
lebih rendah dan danau itu lebih kecil. Gambaran yang
amat berbeda memang.
e T:
Apakah Anda berharap tim ini dapat
menemukan bukti dalam sampel-sampel ini yang
akan menyumbang dalam perdebatan Antroposen?
Menurut Skala Waktu Geologi, Kala Holosen bermula
pada 11.650 SM, persis sama dengan skala waktu yang
Anda teliti. Apakah ada kemungkinan Anda dapat
menemukan perubahan ekologis yang disebabkan
manusia dalam sampel Anda? Atau, mungkin bahkan
calon demarkasi Global Stratotype Section & Point
(GSSA) untuk Antroposen?
s W : Karena tingkat sedimentasi alami yang
lambat di danau itu (rata-rata 0.02 cm/tahun), agak
sulit untuk menemukan bukti perubahan ekologis
antropogenik dalam sampel kami. Bukti arkeologis
dan bukti berdasarkan serbuk sari menyatakan bahwa
ada sedikit gangguan dari manusia hingga akhir abad
lalu, saat manusia mulai secara aktif mengubah lanskap
sekitar danau. Saya percaya bahwa tingkat penebangan
hutan di sekeliling Danau Towuti telah meningkat
secara signifikan selama dasawarsa terakhir. Tidak
hanya penebangan hutan untuk mengambil kayu yang
semakin intensif, pembukaan lahan untuk pertanian
lada juga semakin meluas. Mungkin dalam beberapa
dasawarsa lagi bukti akan aktivitas-aktivitas ini akan
menjadi jelas dalam sedimen.
As:
Anda juga menyebutkan hubungan
antara Danau Towuti dan Garis Wallace saat Anda
memberitahu kami bahwa Anda sedang meneliti
“refugia iklim” di area tersebut. Dapatkah Anda
jelaskan tentang refugia ini sehubungan dengan
penelitian Wallace mengenai evolusi, spesiasi, dan
biogeografi? Akan menarik pula untuk mempelajari
lebih jauh tentang istilah “refugium iklim” itu sendiri.
s W : Dalam sebuah makalah yang saya terbitkan
baru-baru ini 2, saya menyimpulkan bahwa elevasi
memainkan peranan penting dalam menentukan
manifestasi ekologis perubahan iklim di Indonesia.
Berdasarkan dua rangkaian data proksi lingkungan
dan iklim dari Danau Towuti serta sebuah danau lain
yang berlokasi di elevasi yang lebih tinggi (Danau
Matano), ada perbedaan besar dalam hal curah hujan
dan ekosistem tanaman yang mengitari dua danau itu
di masa lalu. Selama zaman es yang terakhir, saat iklim
di Indonesia tengah pada umumnya lebih kering dan
lebih musiman, daerah-daerah dengan elevasi tinggi
seperti Daerah Aliran Sungai Danau Matano lebih
basah dan memiliki persentase takson hutan hujan
tropis yang lebih tinggi ketimbang daerah-daerah
dengan elevasi rendah.
Karena daerah-daerah dengan elevasi tinggi itu
menjadi rumah bagi hutan hujan tropis di tengah
ekspansi padang rumput yang didorong oleh iklim
yang mengering, kita bisa menyebutnya “refugia
iklim”. Ketika iklim menjadi semakin menguntungkan
(misalnya, lebih basah), hutan hujan tropis bisa
mengembang, menduduki daerah-daerah dengan
elevasi lebih rendah dan menelan padang rumput.
Karena banyaknya dataran tinggi di Sulawesi, juga
di pulau-pulau Indonesia yang lain, mungkin ada
beberapa “refugia iklim” selama periode kering.
Data kami menunjuk pada beberapa siklus kering dan
basah di masa lalu ini menyiratkan bahwa serangkaian
siklus ekspansi dan kontraksi hutan hujan tropis
dapat terjadi di sekitar refugia. Ekspansi hutan hujan
tropis dari dataran-dataran tinggi terdekat dapat
memainkan peranan penting dalam evolusi tanaman.
Puncak-puncak refugia yang berbeda bisa saja
mengandung spesies tanaman yang berbeda karena
mengalami sejarah biologi dan iklim yang berbeda.
Maka, saat ekspansi terjadi selama periode-periode
yang lebih basah, dan spesies-spesies yang berbeda
namun masih berkerabat berbaur, spesies tanaman
baru bisa saja dihasilkan. Kami lantas mengajukan
53
INTerVIU
125.660 spesimen
hipotesis bahwa kehadiran refugia iklim di Sulawesi
memainkan peranan penting dalam mempertahankan
keanekaragaman hayati yang tinggi di kawasan itu.
As:
Kami membayangkan bahwa selama 700.000
tahun telah banyak perubahan signifikan yang terjadi
di Sulawesi dan danau kuno yang Anda pelajari.
Namun, kami bertanya-tanya apakah perubahanperubahan yang lebih mutakhir pada hutan hujan
tropis Indonesia, keanekaragaman hayati, dan
penggunaan lahan telah berlangsung lebih ekstrem
walaupun dalam jangka waktu singkat. Mengubah
arah pemikiran kita untuk sejenak saja, akan seperti
apakah masa depan jika praktik penggunaan lahan di
Indonesia saat ini terus berlangsung? Dalam 100.000
tahun yang akan datang, apa yang akan ditemukan jika
Proyek Pengeboran Towuti dilaksanakan lagi di situs
yang sama?
54
s W : Jika Anda melihat lanskap di sekitar Towuti
saat ini, Anda akan menyaksikan petak-petak lahan
yang gundul karena pembukaan lahan. Tidaklah sulit
untuk menunjuk apa biang keladinya. Hampir setiap
hari, dan ini memuncak pada akhir pekan, Anda
bisa melihat asap yang berasal dari bukit-bukit yang
mengelilingi danau. Para petani terus membuka lahan
untuk membudidayakan lada yang akhir-akhir ini
merupakan panen yang menguntungkan, jadi mereka
menyulut api dan pada dasarnya menghancurkan
semua pohon pada area-area tanah tertentu. Ada pula
penebang pohon liar yang menebang pepohonan di
sekitar danau. Para penebang pohon ini sedikit lebih
ramah lingkungan daripada petani lada, mereka
secara selektif memilih pohon-pohon besar. Dua
aktivitas ini tentunya mengkhawatirkan menimbang
adanya potensi dampak yang terlampau besar
terhadap ekosistem danau. Hal itu juga menyedihkan
karena Danau Towuti sebetulnya area konservasi di
bawah kewenangan Kementerian Lingkungan dan
Perhutanan.
Jika kita akan mengebor sedimen danau di situs yang
sama 100.000 tahun lagi, kita akan bisa menemukan
inti yang memiliki tingkat sedimentasi jauh lebih
tinggi selama Kala Antroposen ketimbang Holosen
karena adanya peningkatan erosi. Ada kemungkinan
pula bahwa pada saat itu Danau Towuti akan jauh
lebih dangkal ketimbang hari ini. Pupuk kimia yang
digunakan dalam perkebunan lada bisa meningkatkan
jumlah nitrat dan fostrat yang pada gilirannya
meningkatkan biomassa fitoplankton dan alga. Sebagai
akibatnya, inti sedimen yang diekstraksi di masa depan
mungkin akan memiliki persentase materi organik
yang jauh lebih besar daripada yang kita temukan pada
2015. Akhirnya, kita juga akan melihat banyak sampah
yang dibuang manusia di dekat atau sekitar danau.
Kantung plastik, botol, dan materi tak terurai lainnya
dapat ditemukan dengan mudah dalam inti sedimen
di masa depan.
Catatan
1. Lumpur Lapindo (juga
dikenal sebagai Lusi) adalah
letusan lumpur vulkanis
yang terus-menerus di
Porong, Sidoarjo, Jawa
Timur. Lumpur vulkanis
terluas di dunia ini telah
menenggelamkan lusinan
desa, memaksa 30.000 warga
untuk mengungsi, dan
membuat rute jalan-jalan tol
besar ditutup serta dialihkan
sejak awal erupsinya pada
Mei 2006. Kontroversi
mengenai peristiwa ini terus
berlangsung. Beberapa pihak
beranggapan bahwa bencana
letusan dipicu oleh manusia,
tepatnya ledakan sumur gas
alam dalam pengeboran oleh
PT Lapindo Brantas di area
tersebut.
2. Wicaksono, S. A.; Russell,
J. M.; Bijaksana, S. 2015.
“Compound-specific stable
isotope records of vegetation
and hydrologic change in
central Sulawesi since 53,000
yr BP.” Palaeogeography,
Palaeoclimatology,
Palaeoecology, 430:4756, DOI:10.1016/j.
palaeo.2015.04.016.
Satrio A. Wicaksono adalah koordinator proyek untuk Proyek Pengeboran Towuti, proyek pengeboran kontinental internasional
pertama di Asia Tenggara. Sejak Mei hingga Juli 2015, proyek ini berupaya memperoleh salah satu seksi sedimentasi darat yang
terpanjang di Indonesia, yang akan dipakai untuk merekonstruksi sejarah lingkungan dan iklim kawasan setempat sejak 650.000
tahun yang lalu. Satrio saat ini tengah menuntaskan studi doktornya tentang variabilitas ekologi darat dan presipitasi lintas
skala waktu sejarah dan geologis di Brown University di Rhode Island, AS. Berasal dari Jakarta, Satrio selalu menaruh minat
pada isu-isu lingkungan (terutama perubahan iklim) sejak masih duduk di bangku SMA. Ia menempuh pendidikan tinggi di
Wesleyan University di Connecticut, AS, di mana ia mendapat gelar Bachelor of Arts dalam Geologi (dengan penghargaan) dan
Kajian Lingkungan, dan sertifikat dalam Hubungan Internasional. Saat tidak sibuk di dalam laboratorium, turun ke lapangan,
atau bekerja untuk Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, Satrio dapat dijumpai kala bermain gamelan dan berlatih tari Jawa.
Lokakarya
Awal Riset Interdisiplin
di Pusat Penelitian Biologi
LIPI/MZB
55
Pada Mei 2015, 8 seniman
Indonesia dan partisipan dalam
pameran 125.660 Spesimen
mendapat kesempatan untuk
bertemu dengan ahli zoologi
dari Pusat Penelitian Biologi
LIPI/MZB Cibinong, Bogor,
untuk lokakarya awal dan
diskusi. Tujuan dari lokakarya
ini adalah memberikan
kesempatan bagi para seniman
kontemporer Indonesia yang
bekerja dalam berbagai media
untuk mengembangkan
proyek mereka dalam pameran
ini melalui dialog langsung
dengan lingkungan riset
ilmiah di LIPI/MZB. Hasilnya
mungkin tidak dapat dilihat
secara langsung, namun para
kurator berkomitmen untuk
mendorong lahirnya penemuan
baru, kolaborasi, dan riset
seni. Kelompok ini merupakan
kelompok seniman pertama yang
mendapatkan akses dan panduan
profesional ke dalam koleksi
ilmiah LIPI/MZB. Hasilnya
adalah karya dalam pameran.
Foto-foto oleh Etienne Turpin.
FoTo rISeT
125.660 spesimen
SCHERING STIFTUNG
56
Berdiri pada tahun 2002 di Berlin,
yayasan independen dan nirlaba
ernst schering Foundation memiliki
tujuan untuk mempromosikan seni dan
ilmu pengetahuan. Di samping seni visual
kontemporer dan seni pertunjukan seperti
tarian dan musik, Schering juga fokus
pada ilmu pengetahuan alam. Selain
itu, yayasan ini juga mempromosikan
pendidikan ilmu pengetahuan dan budaya
untuk anak-anak dan remaja serta dialog
antara ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Penekanan khusus ernst Schering
Foundation adalah pada proyek-proyek
di ranah perbatasan, khususnya wajah
persinggungan antara seni dan ilmu
pengetahuan. Yayasan ini mengelola
diskusi dan simposium serta mendukung
proyek-proyek interdisipliner. Wajah
persinggungan seni dan ilmu pengetahuan
juga menjadi fokus bangsal proyeknya
yang berbasis di Berlin Unter den linden,
di mana pertunjukan oleh seniman
eksperimental muda diselenggarakan, juga
kuliah umum dan lokakarya. Bangsal itu
pun menjadi platform yang menyediakan
ruang bagi dialog interdisipliner antara
ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan
masyarakat.
Etienne Turpin
Anna-Sophie Springer
Anna-Sophie Springer adalah kurator independen,
penulis, editor, dan co-editor (bersama Charles
Stankievech) untuk K. Verlag, sebuah proyek
publikasi inSdependen berbasis di Berlin yang
mengeksplorasi peran buku sebagai situs pembuatan
pameran. Praktik-praktiknya menggabungkan
ketertarikan kuratorial, editorial, dan artistik
dengan menstimulasi hubungan cair antara
gambar, artefak, dan tulisan untuk menciptakan
kedekatan geografis, fisik, dan koginitif yang baru,
seirngkali dalam kaitannya dengan arsip bersejarah.
Sebelumnya ia telah bekerja sebagai Associate
Editor untuk publikasi 8th Berlin Biennale for
Contemporary Art dan Editor untuk penerbit pionir
Merve Verlag, Berlin, sebelum meluncurkan K. pada
tahun 2011. Anna-Sophie juga merupakan anggota
Haus der Kulturen’s (HKW) SYNAPSE International
Curators’ Network dimana bersama Etienne Turpin
ia menjadi editor seri buku intercalations: paginated
exhibition yang diterbitkan bersama K. dalam
kerangka kerja Anthropocene Project HKW. Sebagai
kurator, pameran-pameran sebelumnya (seringkali
kolaborasi) adalah Ha Ha Road (UK, 2011–12),
tentang kekuatan subversif humor; The Subjective
Object (GRASSI Ethnographic Museum Leipzig,
2012) tentang praktik-praktik display arsip; serta
serial EX LIBRIS (Galerie Wien Lukatsch, Berlin
dan lokasi lain, 2013) yang mengeksplorasi berbagai
perpustakaan sebagai ruang kuratorial. Anna-Sophie
menerima gelar M.A. dalam bidang Teori Seni
Kontemporer dari Goldsmith College, University
of London, dan gelar M.A. dalam Studi Kuratorial
dari Hochschule für Grafik und Buchkunst, Leipzig.
Pada tahun 2014, ia menjalani residensi melalui
program Craig-Kade Visiting Scholar in Residence
di Rutgers University, New Jersey. Saat ini, ia tengah
melakukan penelitian doktornya di Centre for
Research Architecture, Goldsmiths College, London.
Etienne Turpin adalah filsuf yang meneliti,
mendesain, menjadi kurator, dan menulis tentang
sistem urban kompleks, unsur politik-ekonomi
data dan infrastruktur, estetika dan budaya visual,
dan sejarah kolonial-ilmiah Asia Tenggara. Di
University of Wollongong, Australia, ia merupakan
Vice-Chancellor’s Postdoctoral Research Fellow
di SMART Infrastructure Facility, Faculty of
Engineering and Information Science, dan Associate
Research Fellow di Australian Center for Cultural
Environmental Research, Department of Geography
and Sustainable Communities. Di Jakarta,
Indonesia, ia merupakan direktur anexact office
dan salah satu investigator utama PetaJakarta.org.
bersama Dr. Tomas Holderness. Ia juga merupakan
anggota SYNAPSE International Curators’ Network
of the Haus der Kulturen der Welt in Berlin,
Germany, dimana bersama Anna-Sophie Springer
ia menjadi editor seri buku intercalations: paginated
exhibition sebagai bagian dari Das Anthropozän
Projekt. Ia telah mengajar budaya visual, desain, dan
teori desain di College of Environmental Design,
University of California Berkeley; Taubman College
of Architecture and Urban Planning, University
of Michigan; dan Daniels Faculty of Architecture,
Landscape and Design, University of Toronto.
57
KUrATor
125.660 spesimen
125,660 Specimens of Natural History adalah sebuah proyek kuratorial yang masih terus berjalan
oleh Anna-Sophie Springer dan etienne Turpin.
Iterasi jakarta, 125.660 Spesimen Sejarah Alam, diwujudkan melalui kemitraan dengan pusat seni
Komunitas Salihara dan museum Zoologicum Bogoriense/lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(MZB/LIPI), bekerjasama dengan Schering Stiftung serta didukung oleh Goethe-Institut dan OCA
– The Office for Contemporary Art Norway, dan The British Council.
Penelitian di Anna-Sophie Springer untuk proyek ini berhasil atas dukungan Goethe-Institut
research Travel Grant untuk para kurator.
Tim pAmeRAn KOmUniTAs sALiHARA
Kurator
Anna-Sophie Springer
Dr. etienne Turpin
Tim salihara
Dian Ina mahendra, manajer Galeri Komunitas Salihara
Asikin hasan, Kurator Seni Kontemporer Komunitas Salihara
Nirwan Dewanto, Direktur Program Komunitas Salihara
partner Riset ilmiah
Pusat Penelitian Biologi, lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (lIPI/mZB), Cibinong
58
Tim Kurator ilmiah
Prof. Dr. Rosichon Ubaidillah, M.Phil., Head of Zoology Section, Museum Zoologicum Bogoriense
Dr. Awit Suwito, Kepala Sub-seksi manajemen Koleksi
Dr. Amir Hamidy, Kurator Herpetofauna
Ir. maharadatunkamsi, m.Sc., Kurator mammalia
Dr. Djunijati Peggie, m.Sc., Kurator Serangga
mohammad Irham, m.Sc., Kurator Burung
Tim produksi pameran
Sonja Dahl, Koordinator Proyek
Alex Berceanu, Art Director
Alifa Rachmadia Putri, Asisten Kurator & Stategi Media
robin hartanto, Asisten riset Desain
Widya ramadhani, Asisten riset
Tatyana Kusumo, Asisten Desain Pameran
supporters
collections
fabricators
LIPI
media partners
peneRBiT pUBLiKAsi
Publikasi ini diterbitkan sebagai bagian dari pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam
(15 Agustus – 15 September 2015), Komunitas Salihara, jakarta, Indonesia.
editor
Anna-Sophie Springer & etienne Turpin
Desain
Alexandra Berceanu
managing editor dan Pemeriksa Naskah
Anna-Sophie Springer
Asisten editorial
Alifa Rachmadia Putri
Penerjemah
Ninus D. Andarnuswari, Selly Nur Fadhillah, Alifa Rachmadia Putri
Koreksi
Alifa Rachmadia Putri, Dian Ina Mahendra
Percetakan
Cano
© 2015 setiap editor, seniman, desainer, dan co-editor
ISBN 978-0-9939074-7-0
UcApAn TeRimA KAsiH
Terima kasih kepada Dian Ina mahendra, seluruh seniman, ilmuwan, dan kontributor, serta
seluruh staf Komunitas Salihara.
Para kurator ingin mengucapkan terima kasih kepada:
lauren Allen, Bergit Arends, Franz Xaver Augustin, Angeline Basuki, Dr. Annette Bhagwati,
Dr. George Beccaloni, Prof. Dr. Andrew Berry, Dr. Heinrich Blömeke, Lynda Brooks, Irma Chantily,
Elaine Charwat, Yantri Dewi, Nirwan Dewanto, Errol Fuller, Prof. Dr. Matthias Glaubrecht,
Anita hermannstädter, Sam hodgson, Tomas holderness, Dr. Darren mann, Dr. Charles leh,
Jeffrey T. Malecki, Erik Meijaard, Heike Catherina Mertens, Uwe Moldrzyk, Ening Nurjanah,
Ho Tzu Nyen, Richard Pell, Jeffrey Petersen, Dr. Robert Prys-Jones, farid rakun, Felix Sattler,
Anthony Sebastian, Katrin Sohns, Charles Stankievech, Dr. renate Sternagel, Fitria Sudirman,
Jolyon Sutcliffe, Dr. Pim Westerkamp, Matthew Young, LIPI/MZB, SYNAPSE International
Curators’ Network dan Australian Centre for Cultural Environmental Research dari
University of Wollongong.
Dan semua orang yang telah membeli foto dari 100 Days of Natural History untuk
mendukung kampanye pameran di 125660specimens.org.
59
125.660 spesimen sejarah Alam
Galeri Salihara
15 Agustus — 15 September 2015
125660specimens.org
Gratis untuk umum
galeri salihara
jl. Salihara No. 16
jakarta Selatan
Indonesia
Informasi untuk pers: [email protected]
15 AgUsTUs
Senin–Sabtu 11.00–20.00 WIB
minggu 11.00–15.00 WIB
salihara.org
16.00 WIB
Pembukaan Pameran untuk Pers
dan Kolektor
19.00 WIB
Pembukaan Pameran untuk Publik
19.45 WIB
The Slave Pianos, Punkasila,
mark von Schlegell & Iwank Celenk present:
“Sometimes — History Needs A Push”
Performance by The Lepidopters Trio:
Terra Bajraghosa, Iwank Celenk & Danius Kesminas
19 AgUsTUs
19.00 WIB
Bincang Kurator
22 AgUsTUs
13–15.00 WIB
lokakarya Taksidermi Bersama Ahli Zoologi lIPI/mZB
15–17.00 WIB
Diskusi ekologi Urban
& jelajah Pemukiman Pasar minggu
10–12.00 WIB
Lokakarya Dengan Fotografer Fred Langford Edwards
13–15.00 WIB
Fred Langford Edwards Artist Talk
13–15.00 WIB
lokakarya Papercuts Untuk Anak-Anak
Bekerja Sama Dengan Club Kembang
15–17.00 WIB
Diskusi Keanekaragaman hayati & Konservasi
Bersama WAlhI
9–11 sepTemBeR
16–18.00 WIB
(tiga hari)
Lokakarya Intensif “Spesimen Bayangan”
Buat Wayang Binatangmu Sendiri Bersama
Seniman Boneka Teater laleh Torabi, Berlin, jerman
12 sepTemBeR
13.00 WIB
Wisata museum Zoologicum Bogoriense,
Bersama Kurator mZB
29 AgUsTUs
15 sepTemBeR
Penutupan Pameran
Seluruh kegiatan dibuka gratis untuk umum dan dilaksanakan di Galeri Salihara kecuali jika disebutkan lokasi lain.
Untuk mendaftar silakan hubungi [email protected].
Daftar Karya
Meja 10
Meja 1
Burung Cendrawasih Kuning Besar
(Paradisaea apoda)
Taksidermi pajangan yang sebelumnya dipamerkan
di Museum Zoologicum Bogoriense
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Burung Cendrawasih Kuning-Kecil
(Paradisaea minor)
Taksidermi pajangan yang sebelumnya dipamerkan
di Museum Zoologicum Bogoriense
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Flora Lichtman & Sharon Shattuck
The Animated Life of A.R. Wallace, 2013
D-Video, 7:50 menit
Disutradarai, diproduseri, dan disunting oleh Flora
Lichtman dan Sharon Shattuck
Video atas izin Sweet Fern Productions
Meja 2
Kupu-kupu di Kepulauan Nusantara
Dua kotak berisi contoh spesies kupu-kupu yang
dikoleksi oleh Alfred Russel Wallace
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
“Kodok Terbang Wallace”
(Rhacophorus nigropalmatus)
Spesimen basah ilmiah dalam botol bersejarah
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Meja 3
Cetakan jejak Badak (Rhinoceros sondaicus)
Spesiman ilmiah
42 x 41 x 8 cm
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Tengkorak Orangutan (Pongo), betina dewasa
(no. 6660) dan bayi (no. 6652)
Spesimen ilmiah dalam koleksi tulang-belulang
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
“Mias—Times seen—”
Halaman dalam Species Notebook (1855-1859)
oleh A.R. Wallace
Faksimili atas izin The Linnean Society of London
Meja 4 & 5
EQUANORTH (farid rakun & Sigrid Espelien)
Kertiyasa: Reproducing Reproductions, 2015
Porselen berglasir putih dan bersepuh emas,
fotokopi teks dan gambar
Dimensi beragam
Atas izin seniman
Meja 6
Cindy Lin & Lintang Radittya
Slimy Friction, 2015
4 Papan sirkuit cetak, spesimen Plectostoma
wallacei wallacei
3 PCBs 8cm x 8cm; 1 PCB 12cm x 12cm
Atas izin seniman; spesimen atas izin LI PI / MZ B
Mark Dion
Anthropocene Monument, 2014
Pensil warna di atas kertas
32 x 42 cm
Atas izin Galerie Nagel Draxler Berlin/ Köln
Meja 7
Tintin Wulia
Still/ Life, 2015
Instalasi (pertunjukan) dengan sebuah tabung
kimia, labu Erlenmeyer, larva nyamuk, ikan cupang,
kamera pengawas, komputer, dan monitor
Dimensi beraga
Atas izin seniman
Intan Prisanti
Svarna Nusantara – hinggap, 2015
Kulit kayu, organdi, indigo, secang, manik-manik
108 cm x 74 cm
Atas izin seniman
Meja 8
Mahardika Yudha
The Face of The Black River, 2013
Video H D satu channel, 9:30 menit
Edisi tunggal
Atas izin Singapore Art Museum
Seleksi gambar harimau di squaresolid.tumblr.com
Proyek Andreas Siagian
Atas izin seniman
Laleh Torabi
Spesimen Bayangan, 2014
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman
Meja 11
Shannon Castleman
Tree Wounds, Muna Island, Sulawesi, 2010–11
5 Foto hitam-putih
44 x 34,5 cm setiap
Atas izin seniman
Meja 12
Sebuah Taksonomi Minyak Kelapa Sawit
100 contoh produk yang menggunakan minyak
kelapa sawit
African oil palm (Elaeis guineensis)
Ilustrasi botani bersejarah dari ensiklopedia medis
oleh Franz Eugen Köhler, Köhler’s MedizinalPflanzen in naturgetreuen Abbildungen mit kurz
erläuterndem Texte: Atlas zur Pharmacopoea
germanica, austriaca, belgica, danica, helvetica,
hungarica, rossica, suecica, Neerlandica, British
pharmacopoeia, zum Codex medicamentarius,
sowie zur Pharmacopoeia of the United States of
America. Gera-Untermhaus, 1887.
Koleksi pribadi
“From rainforest to your cupboard: the real story
of palm oil”
Laporan koran interaktif
The Guardian, 10 November 2014
theguardian.com/sustainable-business/nginteractive/2014/nov/10/palm-oil-rainforestcupboard-interactive
Geraldine Juarez
Intercolonial Technogalactic, 2015
Instalasi media campuran menggunakan foto yang
diapropriasi, kode, label arsip, benang, rak metal,
dan esai
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman
Meja 13
Lucy Davis
Jalan Jati (Teak Road),
2012 Film animasi, 23 menit
Sutradara/Animasi: Lucy Davis
Tata suara: Zai Kuning & Zai Tang
Atas izin seniman
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the
Interior (Remarkable Beetles), 2015
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the
Interior (Female Orang Utan), 2015
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the
Interior (Orang Utan Attacked By Dyak), 2015
In which Alfred Russel Wallace Journeys to the
Interior (Strange Forest Tree), 2015
4 kolase kertas dengan pensil warna, penjepit
spesimen, dan ilustrasi dari The Malay Archipelago
karya Alfred Russel Wallace; rekonstruksi adeganadegan film animasi Davis, Together Again
(Wood: Cut), 2009
21 x 29 cm setiap
Atas perkenan seniman
Meja 14
“Cendrawasih ‘Sayap Standar Wallace’”,
jantan dan betina
Ilustrasi oleh Keulemans untuk Bab XXIV,
“Batchian” dalam A.R. Wallace, Kepulauan
Nusantara, 1869
Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii)
Dua spesimen kulit burung (jantan dan betina)
dari koleksi ornitologi
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriese
(MZ B / LI PI)
Alfred Russel Wallace
Surat untuk John Edward Gray
The Dell, Grays, Essex, 20 Maret 1873
Faksimili atas izin London Natural History Museum;
© A.R. Wallace Literary Estate and the Trustees
of The Natural History Museum
Tim Laman & Edwin Scholes
Birds of Paradise – Revealing the World’s
Most Extraordinary Birds
Washington, D.C. / Ithaca, NY: National
Geographic Society & The Cornell Lab
of Ornithology, 2012.
Buku jilid keras, 227 halaman
31 x 25.7 cm
Koleksi pribadi
Intan Prisanti
Svarna Nusantara – terbang pulang, 2015
Kulit kayu, organdi, indigo, secang, manik-manik 90
cm x 50 cm
Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii)
Atas izin seniman
8 pejantan dewasa memamerkan gaya
menarik betina
Meja 9
Maluku Utara, Pulau Halmahera, Labi-labi
lek (Indonesia)
Kumbang di Kepulauan Nusantara
Lintang 1.45465 / Bujur 128.38135
Dua kotak berisi contoh spesies kumbang yang
Edwin Scholes, 2008, 12:27 menit
dikoleksi Alfred Russel Wallace
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense (MZ B /
Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii)
LI PI)
8 pejantan dewasa memamerkan gaya
Serangga di Kepulauan Nusantara
Kotak berisi contoh spesies serangga yang
dikoleksi Alfred Russel Wallace
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
menarik betina
Maluku Utara, Pulau Halmahera, Labi-labi
lek (Indonesia)
Lintang 1.45465 / Bujur 128.38135
Edwin Scholes, 2008, 25:22 menit
Meja 15
Ari Bayuaji
Paradise Almost Lost, 2014 (#1, #2)
Kertas cetak digital dengan muka (face-mounted)
akrilik bersih dan disangga panel komposit
alumunium Opus
40 x 50 cm setiap
Atas izin seniman
Paradise Almost Lost, 2014 (#3, #4)
Kertas cetak digital dengan muka (face-mounted)
akrilik bersih dan disangga panel komposit
alumunium Opus
50 x 40 cm setiap
Atas izin seniman
Meja 16
Burung Cendrawasih Kuning Besar
(Paradisaea apoda)
Spesimen kulit burung (jantan) dari koleksi
ornitologi
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Sketsa Paradisaea apoda
Halaman dalam Species Notebook (1855–59)
oleh A.R. Wallace
Faksimili atas izin The Linnean Society of London
Cenderawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda)
2 pejantan dewasa memanggil-manggil
dan menyanyi
Hutan Badi Gaki, Pulau Wokam, Kepulauan Aru
(Indonesia)
Lintang -5.87232 / Bujur 134.4618
Tim Laman, 2010, 1:54:02 menit
Burung Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra)
Spesimen kulit burung (jantan) dari koleksi
ornitologi
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Sketsa kepala Paradisaea rubra, dari sisi samping
dan perut
Halaman dalam Species Notebook (1855–59)
oleh A.R. Wallace
Faksimili atas izin The Linnean Society of London
Cenderawasih Merah (Paradisaea rubra)
2 betina dewasa, 2 pejantan dewasa, 1 pejantan
belum dewasa memamerkan gaya menarik betina
Pulau Gam, Kepulauan Raja Ampat
Lintang -0.44659 / Bujur 130.67616
Tim Laman, 2010, 45:31 menit
Meja 17
Perserikatan Bangsa-bangsa
Perangko Spesies Terancam Punah 2015
3 lembar penuh (€ 0,80, US$ 1,20, CH F 1,40)
Dirilis 16 April 2015
Koleksi pribadi
“Burung Bidadari Halmahera Wallace, Jantan dan
Betina”
Ilustrasi oleh T.W. Wood untuk Bab XXIV,
“Batchian”, dalam buku Kepulauan Nusantara
(1869) oleh A.R. Wallace
Burung Cendrawasih Kuning-kecil
(Paradisaea minor)
Spesimen kulit burung (jantan) dari koleksi
ornitologi
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Charles Darwin
Surat untuk A.R. Wallace
Down Bromley, Kent, 1 May 1857
Dalam: The Letter from Ternate: The
correspondence associated with the joint
announcement of the theory of natural selection,
with particular reference to the contribution of
Alfred Russel Wallace
Dicetak dan dipublikasikan oleh Tim Preston
(Reigate: TimPress, 2013), 24–6.
19,5 x 13,5 cm
Koleksi pribadi
Meja 18
Burung di Kepulauan Nusantara
Kotak berisi contoh spesies burung yang dikoleksi
dan pertama kali dideskripsikan oleh Alfred Russel
Wallace
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Kakatua Hitam (Probosciger aterrimus)
& Kakatua Putih (Cocatua alba)
Spesimen kulit burung dari koleksi ornitologi
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
“Kepala Kakatua Hitam”
Ilustrasi oleh T. W. Wood untuk Bab XXX,
“Kepulauan Aru” dalam A.R. Wallace, Kepulauan
Nusantara, 1869
Meja 19 & 20
Theo Frids Hutabarat
Tracing Insulinde, 2015
Proyeksi video di atas lukisan, 6:25 menit
120 x 120 cm
Atas izin seniman
Re-tracing Insulinde, 2015
Print dan gambar di atas kertas tua
24 x 15,5 cm (6); 30 x 24 cm (1)
Atas izin seniman
Sampul, peta, dan indeks dari buku teks
Belanda tua
15,5 x 24 cm (sampul dan indeks) dan
70 x 24 cm (peta)
Atas izin seniman
Meja 21 & 22
Aprina Murwanti & Bharoto Yekti
Obsessive Collecting, 2015
Instalasi media campuran, plastik, resin, kertas,
cat enamel, cat aklirik, bordir di atas beludru
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman
Meja 23
Orangutan (Pongo) no. 6664 (kulit)
Spesimen kulit primata dari koleksi mamalia
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Orangutan (Pongo) no. 6664 (tengkorak)
Spesimen tengkorak primata dari koleksi mamalia
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
“Seekor Orangutan Diserang oleh Suku Dayak”
Ilustrasi oleh T. W. Wood untuk A.R. Wallace,
Kepulauan Nusantara, 1869
Meja 24
Robert Zhao Renhui
& The Institute of Critical Zoologists
A Guide to the Flora and Fauna of the World, 2013
55 Pelat dengan dokumen dan buklet dalam kotak
arsip yang diukir dengan tangan
34cm x 24cm x 3cm
Koleksi pribadi (pameran ini mencakup seleksi
atas 8 pelat)
Meja 25
Macan Sumatra (Panthera tigris sumatrae)
no. 12712 (tengkorak)
Spesimen tengkorak primata dari koleksi mamalia
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Macan Sumatra (Panthera tigris sumatrae),
kulit (digulung)
Spesimen kulit primata dari koleksi mamalia
Atas izin Museum Zoologicum Bogoriense
(MZ B / LI PI)
Andreas Siagian
Loreng: Kisah dari Jejak Citra Harimau
Indonesia, 2015
Instalasi mixed media dan gambar arksip
240 x 60 cm
Atas izin seniman
Meja 26
Gerardus Mercator, “Insulae Indiae Orientalis
Praecipuae, in quibus Moluccae celeberrimae sunt,”
dari Atlas sive Cosmographicae Meditationes
de Fabrica Mundi et Fabricati Figura, Amsterdam,
1616; faksimili atas izin Perpustakaan Lisbon
Geographic Society
Franz Wilhelm Junghuhn, “Kaart van het eiland
Java”, Breda 1855.
Faksimili atas izin Perpustakaan Nasional di
Berlin, Jerman
Peta dari buku Wallace Kepulauan Nusantara
(1869); garis hitam menandai perjalanannya,
mulai dari Singapura di tahun 1854, dan
menunjukkan Kepulauan Aru sebagai tujuan
paling baratnya
Berkas untuk Open Call untuk Seniman:
125.660 Spesimen Sejarah Alam
di Komunitas Salihara
Buku, 128 halaman
Anna-Sophie Springer dan Etienne Turpin (ed.),
Januari 2015
Jatna Supriatna, A.A. Thasun Amarasinghe,
Chris Margules (eds.), Proceedings of the Second
International Conference on Alfred Russel Wallace
and the Wallacea – Indonesia 10–13 November
2013, Taprobanica, Vol. 7, No. 3, July 2015
(Alfred Russel Wallace Centenary Issue): 120–212.
Donasi dari Pusat Riset Perubahan Iklim (RCCC/ U I)
Meja 27
Ary Sendy
Sharing Anxieties, 2015
Instalasi TV dua channel,
Video H D dan suara
Proyek ini adalah hasil kolaborasi dengan Heru
Sukmadana S.
Pembalakan rawa gambut untuk kebun kelapa
sawit di Pulau Kalimantan, 2014
Atas izin Zenzi Suhadi dan WALH I
Dinding
Fred Langford Edwards
Re- Collecting Alfred Russel Wallace, 2007–15
Proyek fotografi dokumenter yang masih berjalan
Dimensi bervariasi
Atas izin seniman dan masing-masing Linnean
Society of London; World Museum Liverpool;
National Museum Wales, Cardiff; Natural History
Museum of London and Tring; Cambridge University
Museum of Zoology.
Zeemansgid to Oost-Indische Archipel, 2015
125,660 Specimens of Natural History adalah sebuah proyek kuratorial yang masih terus berjalan oleh Anna- Sophie Springer dan Etienne Turpin.
Iterasi Jakarta, 125.660 Spesimen Sejarah Alam , diwujudkan melalui kemitraan dengan pusat seni Komunitas Salihara dan Museum Zoologicum Bogoriense/ Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (M Z B / LI PI),
bekerjasama dengan Schering Stiftung serta didukung oleh Goethe-Institut dan OCA – The Office for Contemporary Art Norway dan The British Council.
Download