1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan
manusia. Dikatakan penting karena perkawinan dapat mengubah status hukum
seseorang, yang semula dianggap sebagai anak muda atau belum dewasa, setelah
melangsungkan perkawinan, kemudian dapat dikatakan dewasa dengan berbagai
konsekuensi yuridis dan sosiologis yang menyertainya. Perubahan status seseorang
setelah melangsungkan perkawinan dapat dicontohkan terkait dengan perubahan
hak politiknya, sebagaimana diatur dalam Pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata yang menentukan sebagai berikut: “Yang belum dewasa adalah mereka
yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun dan tidak kawin
sebelumnya. Bila perkawinan dibubarkan sebelum umur mereka genap dua puluh satu tahun,
maka mereka tidak kembali berstatus belum dewasa.”1
Berdasarkan ketentuan Pasal 330 tersebut, dapat diketahui bahwa perkawinan
mengubah kedudukan hukum seseorang, dalam arti bahwa orang yang belum
dewasa atau belum berumur 21 tahun, belum dapat melakukan perbuatan hukum
sebagai orang dewasa, dengan dilangsungkannya perkawinan, meskipun usia
seseorang belum 21 tahun, secara yuridis dikatakan “dewasa”, sehingga seorang
tersebut dapat melakukan perbuatan hukum sebagaimana orang yang sudah dewasa.
Hal ini juga berlaku dalam hukum adat Bali. Karena seseorang yang semula
dianggap anak muda laki-laki (teruna) dan anak muda perempuan (deha) menurut
1
Subekti dan R. Tjitrosudibio, 1999, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(Burgerlijk Wetboek), Pradnya Paramita, Jakarta, hlm. 90
2
hukum adat Bali, dengan perkawinan akan menjadi suami istri (alaki-rabi), dengan
berbagai konsekuensi yuridis dan sosiologis yang menyertainya dalam kehidupan
bermasyarakat.
Masyarakat hukum adat di Bali (dikenal dengan istilah “desa adat” atau
“desa pakraman”) meyakini perkawinan memiliki arti penting karena erat
kaitannya dengan tanggung jawab atau kewajiban (dikenal dengan istilah
swadharma) seseorang, baik terhadap keluarga maupun masyarakat. Tanggung
jawab atau kewajiban tersebut meliputi kewajiban yang berkaitan dengan aktivitas
keagamaan sesuai dengan ajaran agama Hindu (parhayangan), aktivitas
kemanusiaan (pawongan) dan aktivitas memelihara lingkungan (palemahan), baik
itu untuk kepentingan keluarga maupun masyarakat. Tanggung jawab seseorang
dalam masyarakat hukum adat (desa pakraman), dituangkan lebih lanjut dalam
aturan yang berlaku di desa pakraman, yang dikenal dengan sebutan awig-awig
desa pakraman. Kalau kewajiban yang tertuang dalam awig-awig dilanggar, maka
kepada pelanggarnya dapat dikenakan sanksi, mulai yang paling ringan, berupa
minta maaf (ngaksama), sampai yang paling berat, dikucilkan (kasepekang).
Masyarakat hukum adat di Bali merupakan masyarakat yang menganut sistem
kekeluargaan patrilineal yang selanjutnya dikenal dengan sebutan purusa atau
kapurusa. Berdasarkan sistem kapurusa ini, garis keturunan seseorang dilacak
dengan mengikuti garis kapurusa, orang tua laki-laki (ayah), namun dalam hal-hal
tertentu dapat juga ditarik dari garis keteurunan perempuan (ibu) yang berstatus
kapurusa. Hal itulah yang menyebabkan setiap pasangan suami istri masyarakat
hukum adat Bali yang beragama Hindu, sangat berkepentingan untuk memiliki
3
keturunan atau anak laki-laki. Alasannya, anak laki-lakilah yang nantinya
diharapkan dapat meneruskan garis keturunan keluarganya dan meneruskan
tanggung jawab (swadharma), baik dalam lingkungan keluarga maupun
masyarakat.
Dianutnya sistem kekeluargaan patrilineal (kapurusa) oleh masyarakat Bali
berpengaruh terhadap pelaksanaan dan bentuk perkawinan bagi masyarakat hukum
adat di Bali. Perkawinan bagi masyarakat hukum adat di Bali, pada hakekatnya
sama dengan perkawinan sebagaimana diatur di dalam undang-undang perkawinan
nasional yang kini berlaku, yaitu Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan. Di dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1), disebutkan bahwa “Perkawinan
adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pengertian perkawinan menurut
hukum adat Bali, dirumuskan sebagai sebuah ikatan suci antara seorang pria
dengan seorang wanita dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang utama, yang
keturunan “purusa”.2
Perkawinan adalah samskara atau sakramen, dan termasuk salah satu dari
sekian banyak sakramen sejak proses kelahiran atau gharbadana sampai proses
upacara kematian atau antyasti.3 Perkawinan bersifat religius dan obligator atau
mengikat, hal ini dihubungkan dengan adanya kewajiban bagi seseorang untuk
mempunyai keturunan laki-laki (purusa atau putrika),agar anak tersebut dapat
2
Gde Djaksa, 1976, Hubungan Perkawinan Menurut Hukum Hindu dengan
Perkawinan Menurut UU No. 1/1974, Skripsi pada Fakultas Hukum Ul, Jakarta, hlm. 41.
3
Gde Pudja, 1983/1984, Pengantar Tentang Perkawinan Menurut Hukum Hindu,
Mayasari, Jakarta, hlm. 17.
4
menyelamatkan orang tuanya dari neraka.4 Arti perkawinan menurut umat Hindu
merupakan ikatan antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri
dalam rangka mengatur hubungan seks yang layak guna mendapatkan keturunan
anak pria dalam rangka menyelamatkan arwah orang tuanya.5
Dalam hubunganya dengan tujuan perkawinan, maka arti perkawinan bagi
umat Hindu dapat dijelaskan, bahwa perkawinan (masa berumah tangga) dipandang
sebagai salah satu tingkat kehidupan manusia yang disebut dengan masa grehasta,
yaitu masa yang merupakan kelanjutan masa kehidupan brahmacari (masa belajar).
Setelah masa berumahtangga (grehasta), seseorang selanjutnya akan memasuki
masa wanaprasta(masa mendalami kerohanian). Tingkatan kehidupan terakhir
adalah bhiksukaatau juga disebut sanyasin(masa lepas dari ikatan keduniawian).
Keempat tingkatan hidup itu disebut dengan Catur Asrama.Kataasrama berasal
dari katasrama (bahasa Sanskerta) yang berarti latihan atau aktivitas keagamaan.6
Catur Asrama berarti empat kegiatan (tingkatan) hidup dari seluruh proses
kehidupan manusia, yaitu lahir, masa berumah tangga/kawin, masa pendalaman
kerohanian, dan masa pelepasan dengan duniawi.
Bagi masyarakat hukum adat di Bali yang beragama Hindu, perkawinan
dipandang sebagai “kewajiban”. Dikatakan sebagai kewajiban karena perkawinan
mempunyai arti dan kedudukan yang sangat penting dan khusus dalam kehidupan.
Salah satu tujuan perkawinan menurut pandangan masyarakat Hindu di Bali sangat
terkait dengan tujuan dan kewajiban seseorang untuk mempunyai anak, untuk
4
Ibid.,hlm. 16.
Gde Pudja, Op.Cit. hlm. 15.
6
Ketut Wiana, 1993,Tujuan Hidup Menurut Hindu dalam Kasta Dalam Hindu
Kesalahpahaman Berab adabad, Yayasan Dharma Naradha, Denpasar , hlm. 9.
5
5
menebus dosa-dosa orang tuanya dengan menurunkan seorang putra.7 Selanjutnya
penekanan pada upaya untuk memperoleh anak dalam perkawinan dapat dalam
Sloka No. 2 dari Weda Slokantara.8 Pemaparan tentang pentingnya mempunyai
anak, juga dapat diketahui dari Pasal 161 Buku IX ManawaDharmasastra.9
Anak diumpamakan sebagai perahu yang akan menghantar seseorang, yaitu
roh yang sedang menderita di neraka dan untuk menyelamatkan itu seorang anak
harus mempunyai putra dan bila tidak berputra harus menggantikannya dengan
anak lain atau mengangkat anak. Selain itu, dambaan akan keturunan dalam
perkawinan ini erat hubungannya dengan keinginan agar keluarga tersebut tidak
punah (caput, putung). Dengan mempunyai keturunan dipercayai bahwa nantinya
upacara-upacara yadnya (korban suci, tulus dan ikhlas) dapat diteruskan, termasuk
menyelenggarakan upacara-upacara yang diperlukan bila orang tua meninggal,
serta melanjutkan hubungan-hubungan kekerabatan.
Secara singkat dapat dikemukakan, bahwa tujuan perkawinan dalam
pandangan agama Hindu, selain membentuk keluarga yang bahagia dan kekal
(makardi rahayu kayang riwekas), juga untuk mendapatkan keturunan, untuk
meneruskan tanggung jawab (swadharma) orang tua dan leluhurnya. Tanggung
jawab sosial spiritual yang dimaksud terdiri atas: tanggung jawab terhadap
keagamaan sesuai ajaran agama Hindu (parhyangan), tanggung jawab sosial
(pawongan) dan tanggung jawab terhadap lingkungan alam (palemahan).
7
Gde Pudja, Op.Cit, hlm.16
Tjok Istri Putra Astiti, 1981, Perkawinan Menurut Hukum dan Agama Hindu di
Bali, Biro Dokumentasi & Publikasi FH & PM Unud, Denpasar, hlm. 6.
9
Gde Pudja dan Tjokorda Rai Sudharta, 1878,Manawa Dharmasastra (Manu
Dharmacastra) Dit. Jen Bimas Hindu dan Departemen Agama RI, Jakarta,hlm. 572.
8
6
Kewajiban sosial-spiritual bagi pasangan suami istri pada dasarnya untuk
meneruskan kewajiban “membayar” (penaura) (pembayaran) hutang (rna).10
Berdasarkan paparan mengenai hakekat dan tujuan perkawinan menurut
agama Hindu dan hukum adat Bali, dapat dikatakan bahwa perkawinan tidak
sekadar ikatan lahir batin, tetapi jauh lebih dalam lagi sebagai implementasi bukti
bhakti secara kenyataan (sekala) dan secara gaib (niskala) seseorang terhadap
Tuhanya, leluhur dan orang tuanya. Oleh karena itu, sebuah perkawinan yang ideal,
pada masyarakat yang bersistemkan patrilineal,mereka sebagai pasangan suami
istri (alakirabi), tidak hanya hidup dan berkehidupan dalam satu tanah pekarangan
(tegak umah), tetapi perkawinan membawa konsekuensi bahwa pasangan suamiistri secara bersama dan berlanjut pada keturunannya (preti sentana) untuk
melanjutkan keyakinan beragamanya (ngaturang sembah di sanggah).
Menurut hukum adat Bali, memperoleh anak laki-laki sangat didambakan
oleh setiap pasangan suami istri.Anak laki-laki merupakan harapan kedua orang
tua, seperti menjadi penerus generasi. Anak laki-laki mengganti kedudukan
bapaknya dalam masyarakat apabila kelak sudah kawin (menjadi kerama banjar
atau kerama desa). Anak laki-laki juga melaksanakan upacara agama (seperti:
ngaben, dan lain-lain), serta selalu menyembah (astiti-bhakti) kepada leluhur yang
bersemayam di tempat suci (sanggah, merajan atau pura).
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa untuk menyelamatkan roh
orang tua dari neraka hendaknya seorang anak melangsungkan perkawinan dan
mempunyai putra (dalam hal ini yang dimaksud putra adalah anak laki-laki).
Apabila tidak memperoleh putra, hendaknya ditempuh jalan lain, yaitu mengganti
10
Suhardana F.X, 1987.HukumPerdata I.Pranhalindo, Jakarta, hlm. 2
7
dengan anak lain, seperti mengangkat anak, atau apabila keluarga tersebut hanya
mempunyai anak wanita saja, maka dapat mengukuhkan salah seorang anak
perempuannya menjadi sentana rajeg (mengubah status anak perempuan menjadi
anak laki-laki). Sentana rajeg (sentana = keturunan, ahli waris; rajeg = kukuh,
tegak) adalah anak wanita yang kerajegang sentana, yaitu dikukuhkan statusnya
menjadi
penerus
keturunan
atau
purusa.
Dalam
Kitab
Manawa
Dharmacastrasentana rajeg disebut dengan istilah putrika yang kedudukannya
sama dengan anak laki-laki, yaitu sebagai pelanjut keturunan dan ahli waris
terhadap harta benda orang tuanya, serta menggantikan kedudukan anak lakilaki.11Sesudah melangsungkan perkawinan pasangan suami istri ini disebut
alakirabi, masomahan, atau makurenan. Kuren, somah, rabi, dapat berarti suami
atau istri, suami disebut juga raka dan istri biasanya dipanggil rai. Raka-rai dapat
berarti suami istri.12
Sebagai konsekuensi sistem kekeluargaan patrilineal (kapurusa) yang diikuti,
selanjutnya dalam masyarakat hukum adat Bali dikenal dua bentuk perkawinan,
yaitu: (1) Perkawinan biasa (dikenal dengan nganten biasa), dalam hal ini pihak
wanita meninggalkan keluarganya dan masuk menjadi anggota keluarga suaminya;
(2) Perkawinan nyentana atau Nyeburin, dalam hal ini pihak laki-laki yang yang
meawak luh (berstatus wanita atau predana) dan meninggalkan keluarganya untuk
masuk menjadi anggota keluarga istrinya yang meawak muani (berstatus sebagai
laki-laki atau purusa) dan tetap bertempat tinggal dalam keluarganya pada saat
11
Gde Pudja, loc.cit.
Lebih jauh tentang keluarga dan perkawinan, baca, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan
Kebudayaan Daerah, 1976/1977. Adat Istiadat Daerah Bali. (hlm 101 – 112). Geertz,
Hildred and Clifford Geertz. 1975.
12
8
perkawinan dilangsungkan. Wanita yang dikawini secara Nyeburin berstatus
sebagai sentana rajeg, yang melanjutkan keturunan keluarganya.13
Sejalan dengan kemajuan program Keluarga Berencana (KB) yang
diperkenalkan sejak awal tahun 1970-an, telah menyebabkan banyak pasangan
suami istri memilih untuk melahirkan anak dalam jumlah yang terbatas, satu atau
dua orang anak saja, laki-laki atau perempuan.14 Apabila anak perempuan satusatunya, bermaksud melangsungkan perkawinan dengan seorang laki-laki yang juga
berasal dari keluarga yang hanya memiliki satu anak laki-laki saja, muncul
permasalahan mengenai jenis perkawinan yang akan dipilih.
Jika memilih perkawinan biasa, keluarga perempuannya keberatan, karena
keluarga ini akan ditinggalkan oleh anak perempuan satu-satunya yang dimiliki.
Kalau memilih bentuk perkawinan nyentana, keluarga laki-laki pasti juga tidak
akan setuju, karena keluarga ini akan ditinggalkan oleh satu-satunya anak laki-laki
yang dimiliki.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wayan P. Windia, dapat
diketahui bahwa permasalahan di atas diselesaikan dengan melangsungkan
perkawinan Pada Gelahang atau perkawinan negen ayah. Dalam hal ini pasangan
suami istri tidak melangsungkan perkawinan biasa dan juga tidak melangsungkan
perkawinan nyentana, melainkan memilih bentuk “perkawinan alternatif” di luar
dua bentuk perkawinan yang secara tradisional dikenal dalam hukum adat Bali.
13
Wayan P. Windia dan Ketut Sudantra,2006,Pengantar Hukum Adat Bali, Lembaga
Dokumentasi dan Publikasi FH Unud, hlm 85.
14
Gerakan pemuda pada era 1980-an yang mengkampanyekan program Keluarga
Berencana (KB) adalah Gerakan Pemuda Zero Population Grouth (ZPG). Program KB
yang dikampanyekan yaitu: tunda usia perkawinan, tunda kelahiran anak pertama,
jarangkan kelahiran anak dan stop dua anak, laki perempuan sama saja.
9
Bentuk perkawinan ini memang baru diperkenalkan kepada masyarakat sebagai
salah satu bentuk perkawinan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat. Oleh karena itu untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat hukum
adat Bali diperlukan cukup waktu, sebab sampai saat ini masih menjadi polemik
diantara masyarakat adat Bali.15
Dalam masyarakat Bali, terdapat banyak istilah yang dipergunakan untuk
menyebut perkawinan Pada Gelahang, seperti perkawinan Negen Dadua,
perkawinan Mepanak Bareng, dan perkawinan Magelar Warang. Istilah-istilah
yang digunakan tersebut maksudnya sama, bahwa yang dimaksud perkawinan Pada
Gelahang adalah perkawinan yang dilangsungkan antara seorang anak laki-laki
dengan seorang perempuan, dalam mana pihak laki-laki atau pihak perempuan
tidak saling meninggalkan rumahnya dan sama-sama berstatus kapurusa di
rumahnya masing-masing.16
Bentuk perkawinan pada gelahang umumnya dipilih karena baik calon suami
maupun calon istri bertindak sebagai purusa, di rumahnya masing-masing.
Hal ini terjadi karena keduanya merupakan anak tunggal dan atau oleh karena
ada sebab tertentu, sehingga pasangan suami istri ini bertanggung jawab
untuk meneruskan kewajiban (swadharma) orang tua, serta leluhur masingmasing keluarga, secara sekala (alam nyata) maupun niskala (alam tidak
nyata), sesuai dengan kesepakatan pengantin beserta keluarganya.17
Perkawinan dilangsungkan setelah berbagai persyaratan yang ditentukan
sesuai hukum adat (dalam hal ini hukum adat Bali), maupun hukum negara (dalam
hal ini Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), oleh calon
pengantin. Apabila persyaratan yang ditentukan tidak atau belum dipenuhi, akan
muncul masalah seperti: perkawinan tidak diakui oleh masyarakatnya, bahkan
15
Wayan P. Windia, dkk, Op Cit, hlm. 24
Ibid, hlm. 30.
17
Ibid, hlm. 53
16
10
berakibat pada anak keturunan dan harta benada yang diperolehnya dalam
perkawinan. Salah satu persyaratan adat yang wajib dipenuhi di dalam perkawinan
pada gelahang adalah pembuatan perjanjian perkawinan atau yang disebut dengan
perjanjian mewarang.
Sebagai konsekuensi dianutnya sistem kekerabatan patrilineal (kapurusa),
membawa dampak terhadap pencatatan dan penerbitan akta perkawinan bagi
pasangan suami istri masyarakat hukum adat Bali yang beragama Hindu. Dalam
akta perkawinan ada penegasan pihak antara pasangan tersebut yang berstatus
kapurusa. Dalam perkawinan biasa, suami berstatus sebagai kapurusa, sedangkan
dalam perkawinan nyentana atau kaceburin, pihak istri yang berstatus sebagai
kapurusa.Seorang istri atau suami yang berstatus kapurusa atau tidak, dapat
diketahui dari akta perkawinannya. Dalam akta perkawinan (terutama dalam
perkawinan Nyentana, secara tegas ditulis bahwa sang istrilah yang berstatus
Kapurusa.
Selain terkait dengan status masing-masing suami dan istri, pilihan bentuk
perkawinan (perkawinan Biasa, perkawinan Nyentana, dan perkawinan Pada
Gelahang), juga membawa konsekuensi terhadap kedudukan masing-masing suami
istri terhadap penguasaan harta warisan, serta tanggung jawab (swadharma) baik
dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
Sebagai bentuk perkawinan baru tentunya pro dan kontra terhadap kehadiran
perkawinan Pada Gelahang menjadi sesuatu yang wajar. Terlepas dari pro-kontra
kehadiran perkawinan Pada Gelahang di masyarakat, tesis ini mengungkap sisi lain
11
keberadaan perkawinan ini, utamanya terkait dengan pembuatan perjanjian
perkawinan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana telah diuraikan di
atas, maka dalam penelititian tesis ini permasalahanya dapat dirumuskan sebagai
berikut:
a. Bagaimana pelaksanaan perkawinan Pada Gelahang di Kabupaten Tabanan
dan Kota Denpasar?
b. Mengapa klausula yang mengatur mengenai anak di dalam perjanjian
perkawinan Pada Gelahang dapat mengikat secara hukum?
C.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menemukan jawaban atas
dua permasalahan yang dikemukakan di atas. Apabila dirinci, tujuan khusus
penelitian ini adalah:
a. untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan perkawinan Pada Gelahang
di Kabupaten Tabanan dan Kota Denpasar.
b. untuk mengetahui dan menganalisis konsekuensi yuridis mengenai klausula
yang mengatur tentang anak di dalam perjanjian perkawinan Pada Gelahang.
D.
Keaslian penelitian
Keaslian penelitian dilakukan penelusuran penelitian pada referensi dan hasil
penelitian. Hasil penelusuran diketahui memang ada penelitian yang berkaitan dengan
12
perkawinan Pada Gelahang atau dengan istilah lain perkawinan Negen Dadua.
Penelitian yang dilakukan oleh Putu Ayu Sriasih Wesna dengan judul “Pelaksanaan
Pewarisan Dalam Perkawinan Negen Dadua Berdasarkan Hukum Adat Bali”18
Adapun rumusan permasalahan yang dirumuskan oleh peneliti tersebut
adalah:
1. Bagaimana akibat hukum terhadap kekerabatan pada pasangan yang
melangsungkan perkawinan negen dadua ?
2. Bagaimanakah pembagian waris dalam perkawinan negen dadua?
Penelitian diatas berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengangkat pokok pemasalahan yaitu
mengapa klausa yang mengatur mengenai anak dalam perjanjian perkawinan pada
perkawinan Pada Gelahang mengikat secara hukum. Dengan demikian sepanjang
pengetahuan peneliti, penelitian yang berkaitan dengan klausula yang mengatur
tentang anak dalam perjanjian Pada Gelahang belum pernah dilakukan dan dalam
kesempatan ini peneliti meneliti masalah tersebut.
E.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang berupa temuan tentang bentuk perjanjian perkawinan
Pada Gelahang dan kepastian hukum dari isi perjanjian perkawinan Pada
Gelahang yang mengatur mengenai anak, diharapkan dapat memberikan manfaat
teoritis dan manfaat praktis, seperti diuraikan di bawah ini.
18
Putu Ayu Sriasih Wesna, 2012, Pelaksanaan Pewarisan Dalam Perkawinan Negen
Dadua Berdasarkan Hukum Adat Bali, Tesis pada Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta,
hlm. 41
13
1.
Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran
bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu hukum,
khususnya bidang ilmu perjanjian yaitu mengenai pembuatan perjanjian
perkawinan Pada Gelahang yang sesuai dengan hukum.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi warga masyarakat, khususnya umat Hindu di Bali, adanya kejelasan
mengenai pembuatan perjanjian perkawinan Pada Gelahang yang sesuai
dengan hukum, sehingga dapat mencegah terjadinya masalah di kemudian
hari.
b. Bagi institusi pemerintah yang berwenang dalam pembuatan perjanjian
(Notaris). Temuan penelitian berupa kejelasan landasan yuridis bentuk
perjanjian perkawinan Pada Gelahang yang sesuai dengan ketentuan
hukum yang berlaku.
Download