SKRIPSI KAJIAN METODE DETEKSI BAKTERI PATOGEN

advertisement
SKRIPSI
KAJIAN METODE DETEKSI
BAKTERI PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT ASAL PANGAN
DI PUSAT RISET OBAT DAN MAKANAN BADAN POM RI
Oleh :
TRI OCTORA ANGELIA
F24051927
2009
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
KAJIAN METODE DETEKSI
BAKTERI PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT ASAL PANGAN
DI PUSAT RISET OBAT DAN MAKANAN BADAN POM RI
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh :
TRI OCTORA ANGELIA
F24051927
2009
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Tri Octora Angelia. F24051927. Kajian Metode Deteksi Bakteri Patogen Penyebab
Penyakit Asal Pangan di Pusat Riset Obat dan Makanan Badan POM RI. Di bawah
bimbingan Ratih Dewanti-Hariyadi dan Winiati P. Rahayu.
RINGKASAN
Mikroorganisme sering mencemari pangan dan deteksinya dapat dilakukan
dengan metode konvensional dan metode cepat. Metode konvensional memerlukan
waktu yang lama karena berbasiskan morfologi dan sifat biokimiawi, dan kadangkadang memerlukan konfirmasi berdasarkan uji serologi. Metode cepat yang
berbasiskan Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat mengidentifikasi dengan cara
memperbanyak DNA target pada patogen. Perbanyakan DNA tersebut dapat
berlangsung dengan adanya fragmen oligonukleotida yang komplementer terhadap
DNA target tersebut (primer), enzim DNA polimerase, deoksinukleotida, Mg2+,
buffer dan thermal cycler. Deteksi patogen dalam pangan juga dilakukan oleh Pusat
Riset Obat dan Makanan, Badan POM RI. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
uji serologi untuk konfirmasi Salmonella spp., metode deteksi berbasiskan DNA
terhadap B. cereus dalam pangan, dan menetapkan limit deteksi B. cereus dalam
nasi goreng.
Konfirmasi Salmonella spp. dilakukan dengan uji serologi antigen O dengan
Slide Agglutination Test (SAT). Reaksi positif SAT adalah terbentuknya aglutinasi
karena antigen dan antibodi saling mengkompleks. Deteksi B. cereus dengan
amplifikasi gen penyandi enterotoksin T menggunakan real-time PCR. Isolat DNA
yang digunakan sebagai DNA target dalam amplifikasi diperoleh dari tiga metode
isolasi, yaitu metode pendidihan, metode dengan pelarut fenol:kloroform, dan metode
dengan kit komersial. Isolat DNA yang sudah diamplifikasi, kemudian ditetapkan
limit deteksinya berdasarkan threshold cycle (Ct) amplikon.
Uji serologi terhadap sepuluh isolat Salmonella spp. menunjukkan bahwa
masing-masing isolat memiliki antigen O dan motilitas yang berbeda-beda. Hal ini
memungkinkan spesies Salmonella spp. tersebut diklasifikasikan ke dalam subspesies
yang lebih spesifik. Isolasi DNA dengan menggunakan metode ekstraksi
fenol:kloroform menghasilkan isolat DNA yang lebih murni. Hal tersebut
ditunjukkan oleh puncak kurva peleburan produk amplifikasi DNA B. cereus terpusat
pada suhu 81.5°C. Limit deteksi B. cereus dalam nasi goreng adalah 1.3 CFU/ml.
Optimasi suhu annealing, konsentrasi primer, dan konsentrasi Mg2+ perlu dilakukan
untuk memperoleh hasil optimal dalam proses amplifikasi PCR.
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
KAJIAN METODE DETEKSI
BAKTERI PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT ASAL PANGAN
DI PUSAT RISET OBAT DAN MAKANAN BADAN POM RI
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh:
TRI OCTORA ANGELIA
F24051927
Dilahirkan di Medan, 6 Oktober 1987
Tanggal lulus : 28 Agustus 2009
Menyetujui,
Bogor, 7 September 2009
Dr. Ir. Ratih Dewanti-Hariyadi, MSc
Dosen Pembimbing I
Prof. Dr. Winiati P. Rahayu
Dosen Pembimbing II / Lapang
Mengetahui,
Dr. Ir. Nurheni Sri Palupi, Msi
A.n. Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Sekretaris
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 6 Oktober 1987 di Medan
dari pasangan Hisar P. Samosir dan Tiodor Agustina Saragi.
Kedua orangtua memberi penulis seorang kakak lelaki, dr. Andre
Somba Gugun Samosir dan seorang kakak perempuan Andika
Putri Listiawati, STP.
Pendidikan penulis dimulai dari TK Anging Mamiri,
dilanjutkan ke SD Negeri Setia Mulya 1, SLTP Negeri 1 Cimahi, dan SMA Negeri 2
Cimahi. Kemudian penulis melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor Fakultas
Teknologi Pertanian dengan mayor Ilmu dan Teknologi Pangan dan minor
Perkembangan Anak.
Selama menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor, penulis
mengimbangi studi dengan kegiatan ekstrakurikuler, antara lain: menyuluh para
pedagang pangan dan warga sekitar kampus IPB mengenai keamanan pangan,
mengepalai Departemen Peduli Pangan Indonesia dalam Himpunan Profesi
HIMITEPA, mengurus komisariat Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan (HMPPI),
mengikuti Paduan Suara Fakultas, dan mengambil peran dalam sejumlah kegiatan
Persekutuan Mahasiswa Kristen. Kegemaran penulis mempelajari hal-hal yang baru
dan menciptakan hubungan sosial dengan orang lain dapat dipenuhi melalui kegiatakegiatan tersebut. KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
Kebaikan-Nya dan kekuasaan-Nya telah memberi penulis kemampuan untuk
menyelesaikan skripsi ini.
Penulis juga ingin menyampaikan ungkapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Mama dan Papa tersayang, Abang Andre sebagai panutanku, Kakak Andika Putri
sebagai pengaduanku.
2. Ibu Dr. Ir. Ratih Dewanti-Hariyadi, M.Sc sebagai pembimbing yang senantiasa
menuntun dan mengarahkan penulis selama studi hingga memperoleh kelulusan
ini.
3. Ibu Prof. Dr. Winiati P. Rahayu sebagai pembimbing yang memberi kesempatan
magang bagi penulis di Pusat Riset Obat dan Makanan Badan POM RI dan
memberi saran-saran untuk penelitian dan penyelesaian skripsi ini.
4. Ibu Siti Nurjanah, STP, M.Si sebagai penguji yang memberi masukan bagi
penulis demi kelayakan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen dan Staf Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) atas
bantuan dan bimbingan yang diberikan kepada penulis selama menempuh
pendidikan di Departemen ITP.
6. Saudara-saudara yang selalu mendukungku, Uda Ridwan beserta Inanguda,
Abang Jon, Eda Ika beserta Nate dan Naomi, Nastry, dan Dian yang terkasih.
Terima kasih atas doa kalian.
7. Golden Generation ITP 42 yang telah berjuang bersama-sama dalam menempuh
studi di ITP. Yanka, Tiyu, Icha, Fahmi, Kamlit, Hesti, Galih, Dina, Ester, Tere
senang dapat memiliki pengalaman dan mempelajari hal-hal baru bersama kalian.
8. Ntet, Nonk, Mpe, Ditol, Dini yang terus bersamaku dari awal berada di asrama
IPB hingga studi kita untuk strata-1 ini berakhir.
9. Ibu Ida, Ibu Suci, Ibu Novi, Ibu Ning, Ibu Khusnul, Ibu Wiwi serta para staf
Pusat Riset Obat dan Makanan Badan POM yang menjadi rekan sekaligus
pembimbing teknis.
i 10. Mike, Tiwi, Upik, dan Fauzan yang telah bersama-sama dengan penulis
melaksanakan magang di Pusat Riset Obat dan Makanan, Badan POM.
11. Seluruh pihak yang telah membantu penulis hingga sampai di titik akhir Strata-1
ini.
Penulis menyadari kekurangan ataupun kesalahan tak lekang dari skripsi ini.
Oleh karena itu, penulis sangat menghargai dan mengharapkan kritik dan saran bagi
skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dan
perkembangan ilmu pengetahuan.
Bogor, 7 September 2009
Penulis
ii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................................
i
DAFTAR ISI .....................................................................................................
iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................
v
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................
vi
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
viii
I.
PENDAHULUAN .....................................................................................
1
A. LATAR BELAKANG ............................................................................
1
B. TUJUAN ................................................................................................
4
C. MANFAAT ............................................................................................
4
II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................
5
A. KEADAAN UMUM INSTANSI MAGANG ........................................
5
1. Sejarah dan Perkembangan Instansi ..................................................
5
2. Lokasi dan Tata Letak Instansi ..........................................................
6
3. Visi dan Misi Instansi ........................................................................
6
4. Struktur Organisasi Instansi ...............................................................
6
B. KERACUNAN PANGAN .....................................................................
8
C. Bacillus cereus .......................................................................................
9
D. Salmonella spp. ......................................................................................
11
E. METODE DETEKSI KONVENSIONAL .............................................
14
F. METODE DETEKSI CEPAT (RAPID METHOD) BAKTERI
PATOGEN DENGAN PCR ...................................................................
17
1. Tahap Pra-Amplifikasi Real-Time PCR ............................................
19
2. Pembacaan Produk Hasil Real-Time PCR .........................................
23
III. METODOLOGI PENELITIAN ..............................................................
27
A. TEMPAT DAN WAKTU MAGANG ....................................................
27
B. LINGKUP KEGIATAN PENELITIAN ................................................
27
C. BAHAN DAN ALAT ............................................................................
29
iii 1. Identifikasi Serovar Salmonella spp. ...............................................
29
2. Metode Deteksi B. cereus Berbasiskan DNA .................................
30
D. METODE PENELITIAN .......................................................................
31
1. Identifikasi Serovar Salmonella spp. ...............................................
31
2. Metode Deteksi B. cereus Berbasiskan DNA .................................
32
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................
41
A. Identifikasi Serovar Salmonella spp. ......................................................
41
B. Metode Deteksi B. cereus Berbasiskan DNA .........................................
45
1. Tahap Persiapan Sampel ..................................................................
45
2. Tahap Isolasi DNA ..........................................................................
48
3. Tahap Amplifikasi ...........................................................................
57
4. Evaluasi Kinerja Real-Time PCR .....................................................
59
V. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................
69
A. KESIMPULAN ......................................................................................
69
B. SARAN ..................................................................................................
69
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................
70
LAMPIRAN ......................................................................................................
74
iv DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Pembagian subgenus Salmonella berdasarkan karakteristik
biokimia ............................................................................................
12
Tabel 2. Distribusi serovar dalam genus Salmonella pada tahun 2007 ...........
13
Tabel 3. Data uji serologi antigen O dan motilitas...........................................
41
Tabel 4
Data kurva standar dari metode isolasi pendidihan, ekstraksi dengan
fenol:kloroform, dan ekstraksi dengan kit komersial DNA ..............
61
Tabel 5. Limit deteksi kultur murni B. cereus dan B. cereus dalam
nasi goreng ........................................................................................
62
v DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1a. Antisera ......................................................................................
16
Gambar 1b. Visualisasi aglutinasi ..................................................................
16
Gambar 2.
Grafik sigmoidal proses amplifikasi dengan real-time PCR
(Edwards et al., 2004). ................................................................
Gambar 3.
23
Kurva standar amplifikasi kultur murni dari enam tingkat
pengenceran dengan real-time PCR (Edwards et al., 2004) ......
24
Gambar 4.
Melt curve yang memiliki sebuah puncak Tm ...........................
25
Gambar 5.
Tahapan kerja pada identifikasi serovar Salmonella spp. ..........
27
Gambar 6.
Tahapan kerja pada uji amplifikasi DNA kultur murni
B. cereus ......................................................................................
Gambar 7.
Gambar 8.
28
Tahapan kerja pada uji amplifikasi DNA B. cereus dalam
nasi goreng ..................................................................................
29
Koloni tipikal B. cereus pada MYPA + Polymyxin B ...............
46
Gambar 9a. Fase aqueous (atas), Interfase (tengah), dan Fase organik
(bawah) dalam isolasi fenol:kloroform yang memiliki lapisan
interfase tebal .............................................................................
53
Gambar 9b. Fase aqueous (atas), Interfase (tengah), dan Fase organik
(bawah) dalam isolasi fenol:kloroform yang memiliki lapisan
interfase sangat tipis ...................................................................
53
Gambar 10a. Grafik amplifikasi DNA B. cereus hasil isolasi
metode pendidihan .....................................................................
60
Gambar 10b.Grafik amplifikasi DNA B. cereus hasil isolasi
metode dengan pelarut fenol:kloroform .....................................
60
Gambar 10c. Grafik amplifikasi DNA B. cereus hasil isolasi
metode dengan kit komersial .....................................................
60
Gambar 10d.Kurva standar kultur murni B. cereus metode pendidihan .........
60
vi Gambar 10e. Kurva standar kultur murni B. cereus metode dengan pelarut
fenol:kloroform ..........................................................................
60
Gambar 10f. Kurva standar kultur murni B. cereus metode dengan
kit komersial ...............................................................................
60
Gambar 11a. Melt curve dari DNA yang diisolasi dengan metode pendidihan
67
Gambar 11b. Melt curve dari DNA yang diisolasi dengan metode ekstraksi
fenol:kloroform ..........................................................................
66
Gambar 11c. Melt curve dari DNA yang diisolasi dengan metode ekstraksi
dengan kit komersial ..................................................................
66
Gambar 12a.Grafik amplifikasi isolat DNA B. subtilis ..................................
67
Gambar 12a. Melt curve isolat DNA B. subtilis .............................................
67
vii DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.
Struktur organisasi Badan POM RI..........................................
74
Lampiran 2.
Prosedur pembuatan media TSB (Atlas, 2006) .......................
75
Lampiran 3.
Prosedur pembuatan media MYPA (Atlas, 2006) ...................
76
Lampiran 4.
Persiapan kultur bakteri (PROM Biotech, 2008) ....................
77
Lampiran 5.
Data jumlah koloni B. cereus dan konsentrasi kultur murni
B. cereus .................................................................................
Lampiran 6.
Isolasi DNA metode pendidihan (Hein et al., 2001 dengan
modifikasi) ..............................................................................
Lampiran 7.
78
79
Isolasi DNA metode ekstraksi dengan fenol:kloroform
(Sambrook et al., 1989 dengan modifikasi) ...........................
80
Lampiran 8.
Isolasi DNA sesuai dengan panduan kit komersial ................
81
Lampiran 9.
Penetapan Limit of Detection (LOD) Mikroba
(PROM Biotech, 2008) ...........................................................
82
Lampiran 10. Uji motilitas Salmonella spp. .................................................
83
viii I.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Peristiwa keracunan pangan sering dilaporkan di media massa dan sering
pula diasumsikan sebagai penyakit ringan seperti sakit perut, mual, dan
muntah. Asumsi ini menyebabkan kajian dan penelusuran terhadap penyakit
asal pangan dengan gejala tersebut kurang mendapat perhatian dari
masyarakat, pemeriksaan kurang seksama dari pemerintah serta pihak terkait
bidang kesehatan. Hal ini terbukti dengan minimnya data dan laporan
mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang diperantarai pangan, padahal
pelaporan sangat penting untuk tindak lanjut investigasi keracunan pangan
dan untuk itu diperlukan pendeteksian dan pengidentifikasian penyebab
keracunan pangan.
Penanganan produk olahan pangan yang buruk dan konsumsi pangan
kurang matang biasanya menjadi penyebab utama keracunan pangan. Salah
satu contoh penyakit akibat keracunan pangan ialah Salmonellosis, hal ini
sering menjadi masalah kesehatan manusia yang disebabkan oleh bakteri
patogen Salmonella (Gast, 2003). Salmonellosis sangat mudah ditularkan dari
hewan ke manusia baik secara langsung ataupun melalui perantara seperti
produk makanan yang berasal dari hewan, tumbuhan, dan lingkungan.
Salmonella enterica serovar Enteritidis merupakan salah satu penyebab utama
gastroenteritis.
Pangan yang berpeluang tinggi menyebabkan keracunan pangan ialah
pangan yang frekuensi konsumsinya tinggi dan dikonsumsi dalam jumlah
banyak. Pangan yang banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia ialah nasi
(Deptan, 2009). Nasi selain sebagai sumber karbohidrat bagi manusia, juga
menjadi sumber nutrisi bagi mikroorganisme. Produk olahan nasi yang cukup
banyak diminati oleh penduduk Indonesia ialah nasi goreng. Selain itu, nasi
goreng yang digunakan biasanya berasal dari nasi sisa yang dibiarkan
semalam dan baru dimasak keesokan paginya. Hal ini rentan terhadap
kontaminasi bakteri patogen karena dibiarkan pada zona berbahaya (suhu
5-60°C). Oleh karena itu, diperlukan pendeteksian yang tepat untuk
1
menganalisis dan menjamin keamanan pangan nasi goreng dari bahaya
mikrobiologi tersebut.
Bakteri patogen yang berkembang dengan baik pada substrat
berkarbohidrat tinggi salah satunya ialah Bacillus cereus (Supardi dan
Sukamto, 1992). Bakteri ini merupakan jenis bakteri Gram positif yang
memiliki peptidoglikan tebal dan mampu menghasilkan spora tahan panas
serta toksin ekstraseluler. Hal ini menyebabkan B. cereus masih mungkin
berkembang walaupun makanan telah dimasak. Jumlah B. cereus yang
mencapai 106 koloni per gram pangan telah mampu menyebabkan keracunan
pangan (USFDA, 2001).
Pendeteksian bakteri patogen dalam pangan pada umumnya dilakukan
dengan metode konvensional yang berbasiskan pada reaksi biokimia. Metode
konvensional memerlukan serangkaian uji, yaitu uji morfologi, uji biokimia,
dan perlu konfirmasi dengan uji serologi. Penetapan serovar melalui uji
serologi merupakan rangkaian pendeteksian Salmonella yang penting sebab
bakteri ini sangat beragam serotipenya. Selain itu, penetapan serovar sangat
membantu studi epidemiologi dan penelusuran sumber bakteri penyebab
penyakit asal pangan. Salah satu metode konvensional untuk menetapkan
serovar Salmonella adalah Slide Agglutination Test (SAT). Melalui uji ini
data kasus epidemiologi keracunan pangan di seluruh dunia dapat
diperbandingkan. Hal ini memakan waktu berhari-hari, padahal konsumsi
pangan terus berlangsung dan perlu tindakan cepat untuk mendeteksi bahaya
mikrobiologi dalam pangan. Oleh karena itu, dibutuhkan metode deteksi yang
mampu menganalisis faktor penyebab keracunan pangan secara cepat, tepat,
dan sensitif.
Metode deteksi terus mengalami perkembangan untuk melengkapi
ataupun mengatasi keterbatasan metode standar sebelumnya. Metode cepat
yang dalam dekade ini berkembang pesat ialah metode deteksi berbasiskan
DNA. Metode berbasiskan DNA memiliki spesifisitas terbaik dan sesuai
untuk mendeteksi patogen dalam pangan (de Boer dan Beumer, 1999).
Prinsip metode ini adalah hibridisasi antara DNA target dan fragmen
oligonukleotida yang komplementer terhadap DNA target tersebut. Metode
2
berbasiskan DNA dibedakan menjadi tiga, yaitu hibridisasi asam nukleat
dengan probe, amplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR), dan
subtyping molekuler.
Amplifikasi DNA dengan PCR, dimana DNA spesifik dari bakteri
patogen diperbanyak mencapai jutaan kopi DNA sehingga tampak sebagai
pita DNA, dilanjutkan dengan deteksi elektroforesis gel agarosa. Namun,
proses amplifikasi dan deteksi yang terpisah ini dianggap berisiko terhadap
kontaminasi pita DNA dan kurang praktis. Oleh karena itu, dikembangkanlah
real-time PCR yang melangsungkan proses amplifikasi dan deteksi sekaligus
dalam sebuah instrumen.
Sensitivitas uji PCR yang tinggi sangat menguntungkan penelusuran
patogen penyebab keracunan pangan (misalnya B. cereus). Secara teoritis
hanya dengan satu molekul DNA dari bakteri dalam pangan, pendeteksian
patogen dapat dilakukan (Naravaneni dan Jamil, 2005). Di samping itu,
teknik ini fleksibel sehingga berkembang secara pesat disesuaikan dengan
kebutuhan analisis. Fleksibilitasnya memberikan keleluasaan bagi peneliti
dalam memodifikasi tahapan persiapan sampel hingga berupa isolat DNA.
Persiapan isolat DNA dan amplifikasi seringkali berbeda bagi setiap bakteri.
Hal ini dilakukan untuk memperoleh optimasi amplikon sehingga deteksi
B. cereus dalam pangan semakin sensitif, akurat, dan valid.
Preparasi isolat DNA sebelum amplifikasi menjadi tahapan penting agar
amplifikasi berjalan lancar. Isolasi DNA menjadi tahapan kritis setiap metode
berbasiskan DNA. Untuk memperoleh isolat DNA dengan kuantitas dan
kualitas yang baik, beragam metode isolasi DNA telah dikembangkan.
Beberapa metode yang digunakan untuk preparasi isolat DNA ialah metode
pendidihan, metode pelisisan dengan pelarut alkalin, dan metode ekstraksi
dengan fenol:kloroform. Metode isolasi DNA dengan fenol:kloroform paling
banyak digunakan untuk mengekstraksi DNA kromosomal dari sel
(Sambrook et al., 1989). Kemurnian isolat DNA berpengaruh besar terhadap
sensitivitas uji real-time PCR. Sensitivitas yang diperoleh dari real-time PCR
lebih tinggi dibandingkan PCR standar, yang ditunjukkan dengan angka limit
deteksi yang rendah.
3
Hal yang menjadi tantangan dalam deteksi cepat ialah persiapan sampel
yang belum terstandarisasi. Untuk itu diperlukan pengembangan metode pada
tahap persiapan isolat DNA agar metode PCR menjadi metode analisa yang
lebih baik, lebih cepat serta lebih sensitif, dan selanjutnya metode tersebut
dapat divalidasi.
B. TUJUAN
Secara umum, kegiatan magang ini bertujuan untuk memperluas
wawasan,
melatih
sikap
dan
kemampuan
teknis
mahasiswa
serta
mengaplikasikan ilmu selama magang di bidang keamanan pangan, Pusat
Riset Obat dan Makanan Badan POM RI. Tujuan khusus dari kegiatan
magang ini, antara lain:
1.
Mengidentifikasi serovar Salmonella spp dengan metode deteksi
berbasiskan imunologi.
2.
Mempelajari metode deteksi B. cereus berbasiskan DNA dengan realtime PCR, mencakup tahap isolasi DNA dan amplifikasi.
3.
Mengevaluasi limit deteksi dan spesifisitas uji B. cereus dari sampel
pangan nasi goreng.
C. MANFAAT
Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan ini adalah:
1. Melengkapi data serovar Salmonella spp. yang tumbuh pada sampel
pangan dan data tersebut dapat dipergunakan untuk penelusuran sumber
penyebab kasus keracunan pangan yang mungkin disebabkan oleh genus
Salmonella.
2. Memberikan pengetahuan mengenai perkembangan metode deteksi cepat
dengan real-time PCR serta metode isolasi DNA yang dapat diterapkan
oleh laboratorium-laboratorium uji untuk mendeteksi bakteri patogen
dalam sampel pangan.
4
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. KEADAAN UMUM INSTANSI MAGANG
1. Sejarah dan Perkembangan Instansi
Kemajuan teknologi telah membawa perubahan-perubahan yang cepat
dan signifikan pada industri farmasi, obat asli Indonesia, makanan,
kosmetika dan alat kesehatan. Dengan menggunakan teknologi modern,
industri-industri tersebut kini mampu memproduksi dalam skala yang
sangat besar mencakup berbagai produk dengan range yang sangat luas.
Dengan dukungan kemajuan teknologi transportasi dan entry barrier
yang makin tipis dalam perdagangan internasional, maka produk-produk
tersebut dalam waktu yang amat singkat dapat menyebar ke berbagai
negara dengan jaringan distribusi yang sangat luas dan mampu
menjangkau seluruh strata masyarakat.
Konsumsi masyarakat terhadap produk-produk termaksud cenderung
terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat
termasuk pola konsumsinya. Sementara itu pengetahuan masyarakat masih
belum memadai untuk dapat memilih dan menggunakan produk secara
tepat, benar dan aman. Di lain pihak, iklan dan promosi secara gencar
mendorong konsumen untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan
seringkali tidak rasional.
Perubahan teknologi produksi, sistem perdagangan internasional dan
gaya hidup konsumen tersebut pada realitasnya meningkatkan risiko
dengan implikasi yang luas pada kesehatan dan keselamatan konsumen.
Apabila terjadi produk sub standar, rusak atau terkontaminasi oleh bahan
berbahaya maka risiko yang terjadi akan berskala besar dan luas serta
berlangsung secara amat cepat.
Untuk itu Indonesia harus memiliki Sistem Pengawasan Obat dan
Makanan (SisPOM) yang efektif dan efisien yang mampu mendeteksi,
mencegah dan mengawasi produk-produk termaksud untuk melindungi
keamanan, keselamatan dan kesehatan konsumennya baik di dalam
maupun di luar negeri sehingga dibentuklah Badan POM yang memiliki
5
jaringan nasional dan internasional serta kewenangan penegakan hukum
dan memiliki kredibilitas profesional yang tinggi.
2. Lokasi dan Tata Letak Instansi
Badan POM RI terletak di Jalan Percetakan Negara No. 23, Jakarta
Pusat.
3. Visi dan Misi Instansi
Adapun Visi dan Misi dari Badan POM RI adalah :
a.
Visi Badan POM RI
Obat dan Makanan terjamin aman, bermanfaat dan bermutu.
b.
Misi Badan POM RI
Melindungi masyarakat dari Obat dan Makanan yang berisiko
terhadap kesehatan.
4. Struktur Organisasi Instansi
Badan POM RI ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor
166 Tahun 2000 tentang Kedudukan, Tugas, fungsi, Kewenangan,
Susunan
Organisasi
dan
Tata
Kerja
Lembaga
Pemerintah
Non
Departemen, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden
Nomor 173 tahun 2000. Pembentukan Badan POM RI ini ditindaklanjuti
dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor
02001/SK/KBADAN POM RI, tanggal 26 Februari tahun 2001, tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan setelah
mendapatkan persetujuan Menteri Negeri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor 34/M.PAN/2/2001 tanggal 1 Februari 2001. Berikut ini adalah
struktur organisasi Badan POM:
a.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
b.
Sekretariat Utama
c.
Inspektorat
d.
Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Narkotika,
Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA)
6
e.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk
Komplemen
f.
Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya
g.
Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional
h.
Pusat Penyidikan Obat dan Makanan
i.
Pusat Riset Obat dan Makanan
j.
Pusat Informasi Obat dan Makanan
k.
Unit Pelaksana Teknis Badan POM
Struktur organisasi dalam bentuk skema dapat dilihat pada Lampiran 1.
Pusat Riset Obat dan Makanan, bagian dari struktur organisasi Badan
POM RI, merupakan tempat magang dipenuhi. Berikut ini adalah
penjelasan lebih lanjut mengenai sub-instansi ini:
a.
Kedudukan
Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM) adalah unsur pelaksana
tugas Badan POM RI yang berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Kepala Badan POM. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari
secara teknis dibina oleh Deputi dan secara administrasi dibina oleh
Sekretariat Utama. Pusat Riset Obat dan Makanan dipimpin oleh
seorang kepala pusat.
b.
Tugas dan Fungsi
Sesuai dengan SK Kepala Badan POM RI No. 02001/KBADAN
POM RI tanggal 26 Februari 2001, Pusat Riset Obat dan Makanan
mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang riset toksikologi,
keamanan pangan dan produk terapetik.
Pusat Riset Obat dan Makanan menyelenggarakan fungsi :
1. Penyusunan rencana dan program riset Obat dan Makanan.
2. Pelaksanaan riset obat dan makanan.
3. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan riset Obat dan
Makanan.
c. Susunan Organisasi
Secara organisasi, Pusat Riset Obat dan Makanan terdiri dari:
7
1) Bidang Toksikologi
2) Bidang Keamanan Pangan
3) Bidang Produk Terapetik
4) Kelompok Pejabat Fungsional
5) Sub Bagian Tata Usaha
d.
Bidang Toksikologi
Bidang Toksikologi mempunyai tugas melaksanakan penyusunan
rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan laporan
pelaksanaan riset toksikologi.
e.
Bidang Keamanan Pangan
Bidang Keamanan Pangan mempunyai tugas melaksanakan
penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan
laporan pelaksanaan riset keamanan pangan.
f.
Bidang Terapetik
Bidang Produk terapetik mempunyai tugas melaksanakan
penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan
laporan pelaksanaan riset produk terapetik.
g.
Sub Bagian Tata Usaha
Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas memberikan pelayanan
teknis dan administrasi di lingkungan Pusat Riset Obat dan Makanan.
B. KERACUNAN PANGAN
Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia karena di dalamnya
terdapat zat-zat gizi yang penting bagi kehidupan. Zat-zat gizi tersebut
diperlukan untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak,
mengatur proses di dalam tubuh, perkembangbiakan, dan menghasilkan energi
untuk beraktivitas. Zat gizi yang dimaksud, antara lain: karbohidrat, protein,
lemak, vitamin dan beberapa mineral. Bahan pangan dengan komponen
tersebut juga merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan mikroba.
Pertumbuhan mikroba dalam bahan pangan dipengaruhi oleh berbagai
faktor, seperti tersedianya nutrien, air, suhu, pH, oksigen, dan adanya zat
penghambat. Keberadaan mikroba di dalam pangan tidak selamanya
8
menguntungkan, tetapi juga dapat mendatangkan kerugian. Misalnya jika
kehadiran mikroba tersebut mengubah bau, rasa, dan warna yang tidak
dikehendaki; menurunkan berat atau volume; menurunkan nilai gizi/nutrisi;
mengubah bentuk dan susunan senyawa serta menghasilkan toksin yang
membahayakan di dalam pangan (Supardi dan Sukamto, 1999).
Pangan yang memiliki kandungan mikroba tertentu dapat menimbulkan
penyakit bila dikonsumsi. Menurut penyebabnya, penyakit yang ditimbulkan
oleh makanan dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu keracunan
dan infeksi mikroba. Keracunan dapat terjadi karena tertelannya suatu racun
baik organik atau anorganik yang mungkin terdapat secara alamiah pada bahan
pangan, serta tertelannya toksin yang merupakan hasil metabolisme sel-sel
mikroba tertentu. Gejala keracunan karena toksin tersebut disebut intoksikasi.
Sedangkan tertelannya atau masuknya mikroba ke dalam tubuh, kemudian
menembus sistem pertahanan tubuh dan hidup serta berkembang biak di dalam
tubuh disebut infeksi (Supardi dan Sukamto, 1999).
Menurut Walderhaug (2007), patogen-patogen penyebab keracunan
pangan, antara lain: Salmonella spp., Staphylococcus aureus, Clostridium
perfringens, Bacillus cereus, Campylobacter sp., Shigella sp., Clostridium
botulinum, dan Escherichia coli. Salah satu bentuk kasus keracunan pangan
yang disebabkan oleh bakteri patogen ialah keracunan pangan yang menjadi
Kejadian Luar Biasa (KLB) di Amerika, Inggris, Kanada, dan Norwegia.
Bakteri penyebab KLB tersebut adalah Bacillus cereus yang terdapat pada nasi
putih dan nasi goreng (Supardi dan Sukamto, 1999). Agar KLB tersebut dapat
dicegah di Indonesia, diperlukan metode yang mampu mendeteksi bakteri
patogen tersebut pada sampel pangan secara sensitif, spesifik, akurat, dan cepat
untuk menjamin keamanan pangan.
C. Bacillus cereus
Bacillus cereus adalah bakteri pembentuk spora yang tergolong ke dalam
famili Bacillaceae. Spora B. cereus tahan terhadap panas dan radiasi. Bakteri
ini bersifat aerobik sampai anaerobik fakultatif, katalase positif, dan
kebanyakan Gram positif serta mempunyai enzim proteolitik (Fardiaz, 1992).
9
B. cereus juga memproduksi enterotoksin dan metabolit-metabolit lainnya.
Tidak
memproduksi
indol,
reaksi
Voges-Proskauer
positif,
dapat
menggunakan sitrat sebagai sumber karbon, mereduksi nitrat, tidak
memproduksi urease dan penisilinase, dapat tumbuh secara anaerobik di
dalam media cair yang mengandung 1% glukosa, memproduksi asam dari
glukosa, sukrosa, maltosa dan gliserol, serta tahan terhadap lisozim (Supardi
dan Sukamto, 1999).
Jenis pangan yang sering ditumbuhi B. cereus terutama adalah daging,
nasi, sayuran, sosis, makaroni, dan kadang-kadang ikan, susu atau es krim.
Pangan penyebab keracunan umumnya mengandung sel B. cereus dalam
jumlah tinggi. Analisis mikrobiologi terhadap B. cereus pada agar darah
menunjukkan bahwa dari 17 KLB yang terjadi di Inggris tahun 1971-1976,
kandungan B. cereus pada nasi penyebab keracunan tersebut berkisar antara
3 x 105 – 2 x 109 CFU/g dengan rata-rata 5 x 107 CFU/g (Supardi dan
Sukamto,
1999).
Konsumsi
pangan
yang
mengandung
lebih
dari
106 B.cereus/g (USFDA, 2001) sudah dapat menyebabkan keracunan pangan,
khususnya pada pangan yang dibiarkan saat preparasi tanpa dimasukkan ke
dalam lemari pendingin sebelum dihidangkan.
B. cereus tumbuh cepat apabila substratnya mengandung karbohidrat.
Sedangkan bila substratnya tidak mengandung karbohidrat, pertumbuhannya
akan sangat lambat dan tidak dapat membentuk toksin. B. cereus dapat
tumbuh secara baik pada media yang mengandung 0.025 M glukosa dan
mencapai maksimum setelah 4.5 jam (Supardi dan Sukamto, 1999). Produksi
toksin terjadi selama pertumbuhan logaritmik, dan mencapai maksimum
sampai glukosa di dalam medium habis dipecah oleh bakteri tersebut.
Galur B. cereus yang bersifat patogenik digolongkan ke dalam bakteri
penyebab intoksikasi dan dapat dibedakan atas dua grup berdasarkan sifat
patogeniknya, yaitu galur penyebab diare dan galur penyebab muntah. Galur
penyebab diare yang memproduksi enterotoksin dapat tumbuh pada berbagai
pangan dan mempunyai waktu inkubasi sejak tertelan sampai timbulnya
gejala intoksikasi berkisar antara 8-16 jam. Galur yang memproduksi toksin
10
emetik mempunyai masa inkubasi lebih pendek, sekitar 1-5 jam (Supardi dan
Sukamto, 1999).
Galur B. cereus yang beragam tersebut dapat dibedakan berdasarkan gen
spesifik yang dimiliki masing-masing galur. Berdasarkan beberapa penelitian
terdapat beberapa gen spesifik yang terdapat pada B. cereus, antara lain: gen
penghasil cereulide (ces), sejenis toksin emetik (Fricker et al., 2007),
phosphotidyl inositol (PI-1) (Myers dan Sakelaris, 2004), gyrase (gyrB)
(Myers dan Sakelaris, 2004), enterotoksin non-hemolitik (Nhe) (Hansen dan
Hendriksen, 2001), sitotoksin (cytK) (Lund et al., 2000), hemolysin (hblA)
(Mantynen dan Lindstrom, 1998), dan enterotoksin T (BceT) (Mantynen dan
Lindstrom, 1998).
Target gen spesifik akan menentukan primer yang digunakan dalam uji
amplifikasi dengan PCR, target gen yang banyak digunakan ialah ces karena
toksin ini spesifik dihasilkan B. cereus emetik (Fricker et al., 2007). Berbeda
dengan sekuens gen 16S rRNA karena identik dengan beberapa bakteri lain,
termasuk B. anthracis. Keidentikan tersebut terlihat dari struktur primer 16S
rRNA Bacillus anthracis, Bacillus cereus, Bacillus mycoides, dan Bacillus
thuringiensis setelah ditetapkan dengan metode sekuensing dideoksi
transkripsi terbalik, hasilnya menunjukkan semua galur memiliki sekuens
serupa (tingkat kemiripannya lebih dari 99%) (Ash et al., 1991).
Penggunaan gen spesifik bersamaan dengan dye fluoresence pada realtime PCR memberikan limit deteksi (LOD) B.cereus sebesar 101-103 cfu/g
sampel pangan tanpa tahap pre-enrinchment. Dengan pengkayaan, limit
deteksi dapat mencapai 100 cfu/g. Apabila metode isolasi DNA dengan
pendidihan saja, limit deteksi menjadi kurang sensitif (Fricker et al., 2007).
D. Salmonella spp.
Salmonella merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang yang tidak
membentuk spora, fakultatif anaerobik, mampu tumbuh pada pH mendekati
4.0-9.0
dengan
pH
optimum
7.0,
dan
termasuk
dalam
famili
Enterobacteriaceae. Bakteri ini berukuran 0.7-1.5 x 2-5 µm, motil dengan
flagela peritrikus, kecuali Salmonella Pullorum dan Salmonella Gallinarum
11
yang tidak motil karena tidak mempunyai flagela. Bakteri ini tumbuh
optimum pada suhu 35-37°C, dapat mengkatabolisme bermacam karbohidrat
menjadi asam dan gas, menggunakan sitrat sebagai sumber tunggal karbon,
memproduksi H2S dan dapat mendekarboksilasi lysine menjadi kadaverin dan
ornithin menjadi putrescin. Salmonella dapat tumbuh pada kadar garam
maksimal 8% (Rusyanto, 2005).
Nama Salmonella pertama kali diberikan oleh Lignieres pada tahun 1990
sebagai penghormatan kepada seorang ahli bakteriologi Amerika Serikat
D.E. Salmon yang telah berhasil mengkarakterisasikan bakteri Bacillus
penyebab
kolera
pada
babi
dan
memasukkannya
dalam
famili
Enterobacteriaceae. Taksonomi Salmonella pertama kali diperkenalkan oleh
White (1929) dan dimodifikasi oleh Kauffman (1934). Tahun 1966,
Kauffman mulai mengklasifikasikan 51 grup somatik Salmonella menjadi
4 sub genera dengan menggunakan karakteristik biokimia. Sub genus kelima
lalu ditambahkan setelah ditemukannya beberapa karakteristik yang berbeda.
Adapun karakteristik biokimia masing masing sub genus dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Pembagian subgenus Salmonella berdasarkan karakteristik
biokimia*
Klasifikasi
Subgenus 1
Subgenus 2
Subgenus 3
Subgenus 4
Subgenus 5
Karakteristik
Mampu menggunakan dulcitol, banyak berhubungan atau
ditemukan pada manusia atau hewan vertebrata berdarah panas.
Isolasi frekuensinya sangat tinggi
Mampu menggunakan dulcitol dan malonat
Mampu menggunakan malonat dan O-nitriphenyl-ß-Dgalactopyranoside (ONPG)
Mampu tumbuh dalam KCN
Tidak dapat memetabolisme dulcitol, malonat, mampu
mengkatabolisme ONPG dan tumbuh dalam KCN
*Sumber: D’Aoust (2000)
Genus Salmonella terdiri dari dua spesies, yaitu S. enterica. dan
S. bongori. Spesies S. enterica masih dapat dikelompokkan lagi menjadi
enam subspesies, antara lain: S. enterica subsp. enterica, S. enterica subsp.
salamae, S. enterica subsp. arizonae, S. enterica subsp. diarizonae, S. enterica
subsp. houtenae, and S. enterica subsp. indica berdasarkan antigen (O)
somatik dan antigen (H) flagelar melalui serotyping. Distribusi spesies
beserta jumlah serovar dari masing-masing subspesies disajikan pada Tabel 2.
12
Spesies dan subspesies dibedakan berdasarkan uji biokimia, serologi, dan
genetik (Mazumdar, 2008).
Tabel 2. Distribusi serovar dalam genus Salmonella pada tahun 2007*
Spesies
Salmonella enterica
Subspesies
Enterica (I)
Salamae (II)
Arizonae (IIIa)
Diarizonae (IIIb)
Houtenae (IV)
Indica (V)
Salmonella bongori (VI)
Total
Jumlah serovar
1531
505
99
336
73
13
22
2579
*Sumber: World Health Organization (WHO), 2009
Spesies terbanyak dari genus Salmonella adalah Salmonella enterica dan
subspesies terbanyak ialah subspesies enterica yang berjumlah 1531 serovar.
Angka romawi pada masing-masing subspesies, kecuali angka VI pada
spesies Salmonella bongori, digunakan untuk mempersingkat penamaan
serovar.
Pada tingkat genus diferensiasi Salmonella ke dalam spesies didasarkan
pada perbedaan reaksi bakteri terhadap antigen. Hingga tahun 2000 lebih dari
2500 serovar Salmonella telah teridentifikasi (D’Aoust, 2000). Skema yang
disepakati secara internasional untuk menetapkan serovar Salmonella hingga
saat ini ialah skema Kauffmann-White. Seluruh serotipe Salmonella
ditetapkan berdasarkan antigennya (Mazumdar, 2008).
Antigen O merupakan antigen karbohidrat bagian dari lipopolisakarida.
Gram negatif, salah satunya Salmonella, memiliki antigen O yang unik. Dan
antigen H tersusun dari subunit protein, disebut flagelin, yang membentuk
karakteristik flagela. Salmonella merupakan bakteri enterik yang unik karena
bakteri ini dapat mengekspresikan dua antigen flagela yang berbeda. Kedua
antigen flagela dikenal dengan antigen H fase 1 (monofasik) dan fase 2
(bifasik). Isolat dengan flagela monofasik hanya menunjukkan satu tipe
flagelin, sedangkan Salmonella bifasik memiliki fase 1 dan 2 pada antigen H.
Penentuan tipe bifasik dengan cara menginokulasi Salmonella pada media
inversi, yaitu media semi solid yang diberikan antisera positif dari fase 1.
Salmonella bifasik akan tetap menunjukkan pergerakan yang ditandai dengan
13
meluasnya koloni ke tepi agar, sedangkan Salmonella monofasik tidak motil
sebab antibodi yang terdapat pada sera telah berikatan dengan antigen flagela
pada bakteri tersebut.
Salmonella merupakan bakteri patogen penyebab Salmonellosis. Gejala
klinis salmonellosis pada manusia terbagi menjadi demam tifoid dan non
tifoid. Demam tifoid atau disebut dengan demam enterik disebabkan infeksi
oleh galur tifoid atau paratyphi sehingga disebut salmonellosis tifoid. Demam
enterik dapat ditularkan atau disebarkan oleh individu yang terinfeksi serta
makanan atau minuman yang terkontaminasi. Demam non tifoid disebut juga
gastroenteritis merupakan infeksi terbatas dan terlokalisasi pada epitel
intestinal. Gejala salmonellosis non tifoid hampir mirip dengan salmonellosis
tifoid, yaitu: mual, kram abdominal, diare berair dan mungkin berdarah,
demam dengan durasi kurang dari 48 jam, serta muntah dapat terjadi 8-72 jam
setelah terinfeksi.
Center for Disease Control and Prevention (CDC, 2008) Amerika
Serikat
mengestimasi setiap tahunnya di Amerika Serikat jumlah kasus
penyakit Salmonellosis non tifoid dari bahan pangan (foodborne disease)
mencapai 1.4 juta kasus, 15608 harus dirawat dan 553 meninggal (30.6% dari
seluruh kasus kematian yang disebabkan oleh patogen asal pangan).
E. METODE DETEKSI KONVENSIONAL
Analisis pangan terhadap kemungkinan adanya bakteri patogen atau
bakteri pembusuk merupakan standar yang diharuskan untuk mengetahui
kualitas pangan dan menjamin keamanan pangan (de Boer dan Beumer,
1999). Analisis tersebut biasanya menggunakan metode konvensional yang
telah distandarkan sehingga setiap negara di dunia memiliki standar yang
sama dalam menilai kualitas pangan.
Metode deteksi konvensional yang dimaksud ialah metode pengkulturan
bakteri pada media spesifik dan menghitung sel bakteri yang hidup dalam
pangan. Prinsipnya ialah mikroorganisme bermultiplikasi pada media
pertumbuhan sehingga dapat dideteksi. Metode ini sensitif, dapat memberi
14
hasil uji baik kuantitatif ataupun kualitatif, dan menjadi standar bagi uji
mikrobiologi terhadap produk pangan secara internasional.
Metode konvensional meliputi persiapan media kultur (pengkayaan,
pengkayaan selektif, dan penumbuhan pada agar selektif), penghitungan
koloni, pengkarakterisasian dengan uji biokimia, yang dapat dilanjutkan
dengan penetapan serotipe (serovar) dengan uji serologi.
Uji biokimia saat ini dipermudah dengan adanya API test. Identifikasi
dengan API, menurut USFDA dalam BAM (2007), tidak dapat menggantikan
uji serologi. API test hanya untuk mengidentifikasi perkiraan spesies tertentu,
misalnya Salmonella spp. Oleh karena itu, penetapan serovar Salmonella
tidak dapat ditentukan dengan uji biokimia API.
Bakteri dari genus yang sama, setelah diuji biokimiawi memiliki sifat
biokimia yang sama, tidak menjamin bahwa bakteri-bakteri tersebut berasal
dari serovar yang sama. Bakteri-bakteri tersebut bisa saja berasal dari
subspesies yang sama, tetapi serotipenya berbeda. Hal ini disebabkan dinding
sel mikroorganisme mengandung protein dan lipopolisakarida. Setiap bakteri
memiliki kemungkinan stuktur molekul protein atau lipopolisakarida yang
berbeda. Antigen merupakan bagian dari struktur tersebut, oleh karena itu
antigen setiap bakteri mungkin pula berbeda-beda. Pada genus Salmonella
pembedaan antar subspesies dapat lebih lanjut dilakukan dengan melihat
antigen O, antigen Vi, dan antigen H spesies tersebut.
Konfirmasi patogen dengan uji imunologi dapat dilakukan dengan Slide
Agglutination Test (SAT) yang diterapkan pada uji serologi. Uji serologi
(serotyping) merupakan tahapan dalam metode konvensional untuk
mengkonfirmasi koloni tipikal yang telah diperoleh dari uji morfologi dan uji
biokimia. Juga mengidentifikasi organisme pada tingkat subspesies dan
menjadi salah satu alat penting bagi klasifikasi taksonomi serta pengawasan
kasus keracunan pangan atau KLB akibat kontaminasi patogen tertentu,
misalnya Salmonella spp. Walaupun uji biokimia juga mengkonfirmasi
koloni tipikal, uji tersebut tidak dapat mensubstitusi uji serologi. Sebab kedua
uji mengidentifikasi dua sifat yang berbeda, sifat biokimia dan serotipe.
15
Serotipe galur Salmonella dilakukan dengan mengidentifikasi antigen
permukaan (LPS, antigen O) terlebih dahulu, kemudian antigen flagela
(protein, antigen H). Sebagian besar galur Salmonella menunjukkan 2 fase
antigen H. Setelah keseluruhan serotyping dilaksanakan, barulah serotipe
dapat ditetapkan berdasarkan skema Kauffmann-White, Popoff dan Le Minor,
(WHO, 2009) memanfaatkan kombinasi antigen O dan antigen H spesifik.
Prinsip uji ini adalah aglutinasi antigen pada patogen-antibodi dalam
antisera. Aglutinasi yang diharapkan terjadi (uji positif) pada SAT terbentuk
karena antigen dan antisera berikatan. Proses aglutinasi memerlukan proporsi
antisera dan suspensi bakteri yang tepat atau ekuivalen, agar dapat terlihat
jelas dengan mata telanjang. Penetesan antisera dikendalikan dengan pipet
tetes (lihat tanda panah pada Gambar 1a) yang melengkung dan menyempit di
bagian ujungnya untuk memperkecil volume antisera yang diteteskan.
(a)
(b)
Gambar 1. (a) Antisera; (b) Visualisasi aglutinasi [sebelah kiri pada slide]
Kelebihan atau kekurangan salah satu di antara kedua komponen tersebut
tidak akan menghasilkan ikatan yang kompak sehingga aglutinasi tidak
terlihat jelas pada gelas objek. Visualisasi dari aglutinasi ditunjukkan oleh
tanda panah pada Gambar 1b.
Kekurangan dari metode ini ialah memerlukan pengalaman yang baik
dari peneliti untuk melihat aglutinasi, menghabiskan antisera cukup banyak,
memerlukan waktu pengujian serologi saja minimal tiga hari. Prosedur yang
panjang dan diperlukannya waktu inkubasi di setiap tahapan menyebabkan
waktu deteksi dengan metode konvensional hingga berhari-hari. Kelemahan
16
lain dari metode ini ialah diperlukan banyak alat gelas dan tenaga peneliti
(tidak otomatis dengan instrumen).
Saat ini telah banyak teknik yang dikembangkan untuk mempermudah
pelaksanaan metode konvensional, misalnya: gravimetric diluter, pulsifier
dan stomacher yang mempermudah homogenisasi; spiral plater, dipslide, dan
petrifilm untuk enumerasi dan deteksi; colony counter dan kit uji untuk
konfirmasi atau identifikasi (de Boer dan Beumer, 1999). Meskipun demikian
waktu
pendeteksian
tidak
berkurang
secara
signifikan
hingga
dikembangkanlah metode deteksi cepat.
F. METODE
DETEKSI
CEPAT
(RAPID
METHOD)
BAKTERI
PATOGEN DENGAN PCR
Perkembangan terkini dalam teknologi, secara teori membuat proses
deteksi dan identifikasi bakteri patogen lebih cepat, tepat, sensitif, dan
spesifik dibandingkan dengan metode konvensional (Anonim, 2001). Metode
deteksi dengan teknik molekuler meliputi DNA probes, Polymerase Chain
Reaction (PCR), Restriction Enzyme Analysis (REA), Random Amplification
of Polymorphic DNA (RAPD), Pulsed Field Gel Electrophoresis (PFGE),
dan Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) (Jay, 1996).
Metode-metode tersebut sering disebut sebagai metode cepat (rapid methods).
Metode deteksi cepat patogen dan kontaminan mikrobiologi lainnya
dalam makanan merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin
keamanan pangan konsumen. Keuntungan dari metode cepat dibandingkan
dengan metode konvensional adalah waktu lebih singkat (4–48 jam), tidak
membutuhkan banyak tenaga, serta lebih sensitif dan akurat (Patel dan
Williams, 1994; Anonim, 2001). Sedangkan metode konvensional untuk
mendeteksi patogen asal pangan bergantung pada waktu yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan bakteri dalam media kultur, yang diikuti oleh isolasi,
identifikasi biokimia, dan terkadang harus diikuti dengan uji serologi.
Metode uji berbasiskan DNA yang telah dikembangkan secara komersial
untuk mendeteksi patogen asal pangan, antara lain: probes, PCR dan
bakteriofage (Patel dan Williams, 1994). Metode paling populer adalah
17
amplifikasi DNA dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) (de Boer dan
Beumer, 1999).
PCR adalah metode in vitro untuk
memperbanyak sekuens DNA
tertentu, perbanyakan tersebut seperti halnya replikasi DNA pada sel hidup.
Lazimnya metode ini (PCR standar) memerlukan tahapan isolasi DNA,
amplifikasi sekuens target dengan PCR, pemisahan produk amplifikasi
(amplikon) dengan elektroforesis gel agarosa, dan memperkirakan ukuran
fragmen dengan DNA ladder setelah pewarnaan dengan ethidium bromida.
Pada bagian akhir, verifikasi hasil PCR dilakukan dengan pembelahan
spesifik amplikon oleh endonuklease restriksi atau pemindahan amplikon
terpisah ke dalam membran kemudian dihibridisasi dengan probe DNA
spesifik. Alternatif verifikasi lain dengan sekuensing langsung menggunakan
semi-nested PCR. Perkembangan PCR lainnya yang lebih nyaman digunakan
ialah real-time PCR, di mana amplifikasi PCR dan verifikasi dilakukan sekali
jalan dengan probe khusus (oligonukleotida berlabel fluoresen yang spesifik
terhadap gen target).
Real-time PCR melakukan amplifikasi dan deteksi dalam satu tahapan
sebab akumulasi produk spesifik dicatat secara kontinyu selama siklus. Hal
ini tidak dapat dilakukan pada PCR standar yang masih mengandalkan
elektroforesis gel agarosa untuk mengkuantitasi amplikon. Hasil dari
elektroforesis gel agarosa ini memperpanjang waktu deteksi dan kurang tepat
karena pengukurannya berdasarkan ukuran molekul. Padahal molekul yang
berbeda mungkin saja memiliki ukuran yang sama atau hampir sama.
Pendeteksian dengan gel agarosa menganggap molekul yang berbeda tersebut
sebagai molekul yang sama (Dharmaraj, 2009).
Pendeteksian produk real-time PCR secara kuantitatif berbeda dengan
PCR standar yang mengkuantitasi amplikon berdasarkan panjang basa atau
bobot molekul. Kuantitas produk real-time PCR dihitung berdasarkan
threshold cycle (Ct) yaitu waktu di mana intensitas fluoresen lebih besar
daripada fluoresen yang ditimbulkan oleh noise (background fluorescence).
Noise dapat disebabkan oleh penempelan larutan isolat DNA beserta
pereaksi-pereaksi PCR pada dinding tabung microwell.
18
Format PCR standar yang berdasarkan analisis titik akhir (fase plato)
kurang kuantitatif karena hasil akhir produknya tidak didasarkan konsentrasi
sekuens target dalam sampel, tetapi berdasarkan pada ukuran molekul hasil
amplifikasi (amplikon). Berikut ini beberapa kekurangan deteksi amplikon
jika dilakukan pada fase plato dengan elektroforesis gel agarosa: kurang tepat,
sensitivitas rendah, tidak otomatis, hanya berdasarkan ukuran molekul,
pewarnaan ethidium bromida kurang sensitif, dan memperpanjang waktu
deteksi (Dharmaraj, 2009).
Keunggulan real-time PCR adalah pendeteksian diukur tepat pada saat
target amplifikasi terdeteksi pertama kali di setiap siklus (fase eksponensial),
bukan di fase akhir amplifikasi (fase plato) seperti yang terjadi pada PCR
standar. Keunggulan real-time PCR lainnya ialah analisis dapat dilakukan
tanpa membuka tabung sehingga mengurangi risiko kontaminasi amplikon
PCR atau molekul target lainnya. Menurut Edwards et al. (2004), aplikasi
teknologi real-time PCR mengurangi waktu penanganan atau pengujian dan
meningkatkan keakuratan kuantifikasi metode PCR. Dengan demikian,
penggunaan teknik real-time PCR lebih efisien dan efektif dibandingkan PCR
standar (Edwards et al., 2004).
Kuantifikasi real-time PCR dapat dilakukan dengan dua teknik:
(1) penggunaan dye fluoresence yang berikatan dengan DNA untai ganda, dan
(2) penggunaan probe oligonukleotida DNA modifikasi yang mengeluarkan
fluoresen ketika hibridisasi dengan DNA komplementer. Data yang
dihasilkan dapat dianalisis dengan perangkat lunak komputer yang terhubung
dengan thermal cycler untuk menghitung jumlah kopi DNA atau threshold
cycle (Ct) dari patogen dalam sampel pangan tertentu.
Sebelum tahap amplifikasi dengan real-time PCR, diperlukan tahap
persiapan, kemudian setelah tahap amplifikasi diperlukan evaluasi produk
PCR. Tahap persiapan dan evaluasi tersebut dijelaskan lebih lanjut di bawah
ini:
1.
Tahap Pra-Amplifikasi Real-Time PCR
Tahap pra-amplifikasi PCR standar dan real-time PCR tidak
berbeda, meliputi persiapan sampel dan isolasi DNA untuk memperoleh
19
isolat DNA sebagai DNA target amplifikasi. Prosedur isolasi DNA
merupakan tahapan yang paling banyak dimodifikasi sebelum amplifikasi
dengan PCR dimulai. Terdapat enam tahap dalam mengisolasi DNA,
yaitu preparasi sampel, pelisisan sel, proteksi dan stabilisasi DNA,
pemisahan DNA dari debris sel, presipitasi DNA, dan pemekatan DNA.
Prosedur
yang
umum
digunakan
untuk
mengisolasi
DNA
kromosomal sebagai DNA target untuk uji amplifikasi dikembangkan
oleh Sambrook et al. (1989). Prosedur isolasi DNA juga dikembangkan
oleh Chapaval et al. (2008). Tahapan isolasi DNA prosedur-prosedur
tersebut dapat diperbandingkan berdasarkan enam tahap dalam
mengisolasi DNA. Enam tahap mengisolasi DNA berdasarkan Sambrook
et al., (1989), sebagai berikut:
a.
Preparasi sampel
Sampel pangan yang telah diinokulasi secara artifisial dan
dihomogenisasi, kemudian diencerkan.
b.
Pelisisisan sel
Pelisisan sel dilakukan dengan 10% sodium dodecylsulphate
(SDS) dan 0.2 mg/ml proteinase K. Selanjutnya divorteks dan
diinkubasi selama 2 jam pada suhu 65°C.
c.
Proteksi dan stabilisasi DNA
Suspensi dari tahap persiapan sampel ditambahkan 500 µl buffer
(100 mM NaCl, 500 mM Tris (pH 8.0) untuk menjaga kestabilan
DNA ketika pelisisan sel.
d.
Pemisahan DNA dari debris sel dan protein
DNA
dipisahkan
melalui
ekstraksi
dengan
larutan
fenol:kloroform (1:1 v/v, pH 8.0). Ekstraksi tersebut diulang hingga
tiga kali dan setiap kali pengulangan fase aqueous dipindahkan ke
tabung bersih.
e.
Presipitasi DNA
Fase aqueous ditambah etanol 95% (mengandung 0.3 M sodium
asetat) sebanyak 2.5 kali volume fase aqueous, diaduk, kemudian
20
diinkubasi semalam pada suhu -20°C untuk mengendapkan DNA
kromosomal.
f.
Pemekatan DNA
DNA di-recovery dengan sentrifugasi dan pelet DNA dicuci dua
kali dengan etanol 70%.
Enam tahapan mengisolasi DNA berdasarkan metode yang
dikembangkan oleh Chapaval et al. (2008) adalah sebagai berikut:
a.
Preparasi sampel
Sebanyak 2.5 ml kultur yang telah diinkubasi semalam dalam
Brain Heart Infusion Broth (BHIB) disentrifus dengan kecepatan
33000 g selama 30 detik, kemudian supernatan dibuang dan pelet
diresuspensi.
b.
Pelisisisan sel
Pelet diresuspensi dalam 700 µl buffer ekstraksi (1.4 M NaCl;
100 mM Tris-HCl [pH 8.0]; 200 mM EDTA pH 8.0; 40% PVP
(polyvinylpyrrolidone);
2%
CTAB
(cetyltrimethylammonium
bromide), 20 mg/ml Proteinase K; 0.2% β-Mercaptoethanol).
Tabung diinkubasi pada suhu 65°C selama 30 menit dengan
pengocokan setiap 10 menit.
c.
Proteksi dan stabilisasi DNA
Suspensi dari tahap persiapan sampel diberi buffer 1.4 M NaCl;
100 mM Tris-HCl pH 8.0 untuk menjaga kestabilan DNA ketika
pelisisan sel. Buffer tersebut diberikan bersamaan dengan larutan
pelisis sel.
d.
Pemisahan DNA dari debris sel dan protein
Sebanyak 650µl kloroform:isoamil alkohol (24:1) ditambahkan
dan larutan disentrifus pada kecepatan 33000 g selama 7 menit. Fase
aqueous di bagian atas dipindahkan ke dalam sebuah tabung 1.5 ml
dan 200 µl buffer ekstrasi tanpa proteinase K ditambahkan. Larutan
diaduk perlahan dan 650 µl kloroform:isoamil alkohol (24:1)
ditambahkan.
Tabung
kembali
disentrifus
dan
ekstraksi
21
kloroform:isoamil alkohol (24:1) dilakukan dua kali menggunakan
650 µl kloroform:isoamil alkohol.
e.
Presipitasi DNA
DNA dipresipitasi dengan penambahan sejumlah volume yang
sama dengan isopropanol pada suhu ruang.
f.
Pemekatan DNA
Isopropanol dihilangkan dan pelet dicuci dengan 70 µl etanol
70%. Pelet DNA dikeringudarakan dan diresuspensi dalam 40 µl
buffer Tris-EDTA (TE) (10 mM Tris-HCl pH 8.0; 1 mM EDTA pH
8.0 dan 10 µg/ml RNAse).
Prinsip dasar isolasi DNA adalah serangkaian proses untuk
memisahkan DNA dari komponen-komponen sel lainnya. Hasil ekstraksi
merupakan tahapan penting untuk langkah berikutnya. Oleh sebab itu,
tahapan ini harus dilakukan dengan baik dan bebas kontaminasi. Isolasi
yang banyak digunakan ialah ekstraksi dengan fenol:kloroform, seperti
halnya kedua metode yang telah dijelaskan di atas. Teknik ekstraksi
fenol:kloroform menghasilkan kualitas yang lebih baik dibandingkan
dengan metode pendidihan (Fricker et al., 2007).
Reagen lain yang penting dalam isolasi DNA ialah Phosphate Buffer
Saline (PBS) yang berfungsi melarutkan matriks pangan sehingga berada
dalam kondisi fisiologis, sekaligus mengendapkan inhibitor-inhibitor
yang tidak diperlukan seperti kalsium. Buffer TE digunakan untuk
menjaga tekanan osmotik dan Cetyltrimethyl Ammonium Bromida
(CTAB), Sodium Dodecyl Sulphate (SDS), Ethylene Diamine Tetraacetic
Acid (EDTA) berfungsi untuk melisis matriks pangan dan merusak lipid
pada membran sel sehingga DNA lebih mudah diekstraksi (Anonim,
2008). Proteinase K digunakan untuk merusak protein dan enzim RNAse
berfungsi untuk menghilangkan RNA sehingga dalam suspensi tertinggal
hanya DNA.
22
2. Pembacaan Produk Hasil Real-Time PCR
Amplifikasi yang dijalankan dalam thermal cycler ditampilkan
dalam bentuk grafik pada layar komputer dengan software yang aplikabel
terhadap thermal cycler, contohnya adalah software IQ-5 (Bio-Rad).
Grafik-grafik yang diperoleh berupa grafik amplifikasi, kurva standar, dan
kurva peleburan (melt curve). Grafik tersebut digunakan untuk
mengevaluasi kinerja amplifikasi real-time PCR.
Grafik amplifikasi
Grafik amplifikasi terbentuk semenjak proses amplifikasi
dimulai. Grafik ini berfungsi untuk menentukan apakah dalam
thermal cycler terjadi amplifikasi atau tidak. Grafik amplifikasi
dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.
PCR Base Line Subtracted RFU
a.
DNA
teramplifikasi
Base line threshold
Perpotongan
siklus dan Bt
Cycle
DNA tidak
teramplifikasi
Ct
Gambar 2. Grafik sigmoidal proses amplifikasi dengan
real-time PCR (Edwards et al., 2004)
Amplifikasi
ditetapkan
berdasarkan
intensitas
fluoresen,
semakin banyak produk amplifikasi yang dihasilkan, semakin besar
akumulasi fluoresen yang terbaca. Peningkatan fluoresen tersebut
ditandai dengan terbentuknya gradik sigmoidal, seperti yang
tergambar pada Gambar 2 (garis hijau). Grafik sigmoid akan
berpotongan dengan base line threshold yang telah ditentukan secara
otomatis oleh program. Titik perpotongan antara grafik sigmoid dan
base line threshold jika direfleksikan terhadap sumbu x (Cycle)
adalah threshold cycle (Ct) bagi sampel yang diamplifikasi. Garis
23
biru pada Gambar 2 akan terbentuk jika tidak terjadi amplifikasi
pada thermal cycler.
Nilai Ct adalah siklus di atas noise dimana akumulasi produk
(senilai 2n, n ialah jumlah pengulangan siklus amplifikasi) terbaca
pertama kali pada fase eksponensial. Fase eksponensial berakhir
menjadi fase plato saat pereaksi dalam campuran reaksi PCR sudah
habis. Nilai Ct digunakan dalam kurva standar sebagai fungsi
terhadap log konsentrasi bakteri.
Kurva standar
Kultur murni bakteri yang telah diketahui konsentrasinya
(CFU/ml) diencerkan hingga diperoleh konsentrasi bakteri terendah
(1 CFU/ml). Seluruh tingkat pengenceran yang berturut-turut,
misalnya mengandung 100-106 CFU/ml diisolasi DNAnya dan
diamplifikasi. Amplifikasi beberapa tingkat pengenceran suatu kultur
murni secara otomatis oleh software IQ-5 akan digambarkan dalam
bentuk kurva standar, selain grafik amplifikasi. Kurva standar
amplifikasi disajikan dalam Gambar 3.
Kurva Standar
Threshold cycle (Ct)
b.
Log konsentrasi bakteri (CFU/ml)
Gambar 3. Kurva standar amplifikasi kultur murni dari enam
tingkat pengenceran dengan real-time PCR (Edwards
et al., 2004)
Enam titik pada kurva standar menunjukkan terdapat enam
tingkat pengenceran yang masing-masing memiliki nilai Ct. Kurva
24
standar merupakan hubungan antara log konsentrasi bakteri dan
threshold cycle (Ct). Kurva ini digunakan dalam penetapan limit
deteksi konsentrasi bakteri yang belum diketahui pada suatu sampel
pangan. Penetapan limit deteksi tersebut memanfaatkan persamaan
linear yang dibentuk kurva standar. Nilai Ct yang diketahui setelah
isolat DNA diamplifikasi merupakan nilai y dan log konsentrasi
merupakan nilai x dalam persamaan linear tersebut sehingga
konsentrasi bakteri dalam suatu sampel pangan dapat diketahui.
Melt curve
Kurva peleburan atau melt curve merupakan kurva hubungan
antara suhu (T) dan turunan dari unit fluoresen (-d(RFU)/dT)
digunakan untuk memonitor perubahan dalam suhu peleburan, yaitu
suhu di mana 50% amplikon DNA untai ganda terpisah menjadi dua
untai tunggal. Melt curve diperoleh berdasarkan siklus yang
ditambahkan setelah siklus amplifikasi. Target amplifikasi dalam
siklus tersebut adalah produk amplifikasi (amplikon). Melt curve
disajikan pada Gambar 4.
-d(RFU)/dT
c.
Suhu (°C)
Gambar 4. Melt curve yang memiliki sebuah puncak Tm
Puncak kurva pada melt curve merupakan nilai Tm amplikon,
jika nilainya dibaca pada sumbu absis. Amplikon yang berasal dari
DNA target yang sama akan
memiliki nilai Tm yang sama,
25
ditunjukkan dengan puncak pada titik suhu yang sama. Melt curve
pada Gambar 4 memiliki nilai Tm yang sama, berarti produk berasal
dari DNA yang sama yaitu DNA target dan produknya spesifik.
Selain itu melt curve mampu menunjukkan ada atau tidaknya produk
non spesifik. Produk non spesifik akan membentuk puncak pada
suhu yang berbeda dengan amplikon (produk spesifik) atau melt
curve dapat pula memiliki lebih dari satu puncak suhu.
26
III.
METODOLOGI PENELITIAN
A. TEMPAT DAN WAKTU MAGANG
Kegiatan magang dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Pusat Riset
Obat dan Makanan, Badan POM RI, Jakarta. Waktu penelitian dilaksanakan
dari bulan Februari sampai dengan Juli 2009.
B. LINGKUP KEGIATAN PENELITIAN
Kegiatan yang dilakukan mencakup dua kegiatan, yaitu (1) melakukan
identifikasi
serovar
Salmonella
spp.
berbasiskan
imunologi
dan
(2) melakukan deteksi B. cereus dengan metode berbasiskan DNA.
Identifikasi serovar dengan cara uji aglutinasi pada gelas objek dilakukan
terhadap sepuluh isolat Salmonella spp. yang merupakan koleksi Departemen
Ilmu dan Teknologi Pangan (IPB) dan telah diuji secara biokimiawi. Sepuluh
isolat tersebut diuji serologi untuk mengetahui antigen O yang dimiliki oleh
masing-masing isolat sebab antigen O merupakan dasar pengelompokan
serogrup Salmonella spp. Selain itu, dilakukan uji motilitas untuk mengetahui
masing-masing isolat bersifat motil atau tidak. Antigen O merupakan antigen
yang diuji pertama kali pada uji serologi, sedangkan motilitas diuji sebagai
prasyarat uji antigen H. Diagram alir kegiatan deteksi Salmonella spp. dapat
dilihat pada Gambar 5.
Isolat Salmonella spp.
Pre-enrichment dalam Trypticase Soy
Broth (24 jam)
Ditumbuhkan dalam Nutrient Agar
(24 jam)
Uji Serologi (Antigen O)
Uji Motilitas dengan agar semi solid
Gambar 5. Tahapan kerja pada identifikasi serovar Salmonella spp.
27
Kegiatan yang dilakukan untuk mendeteksi DNA B. cereus dengan realtime PCR meliputi isolasi DNA kultur murni bakteri B. cereus dan isolasi
DNA dari sampel pangan nasi goreng, amplifikasi dan evaluasi kinerja realtime PCR berupa limit deteksi amplikon. Isolasi DNA dilakukan dengan tiga
metode, yaitu metode pendidihan, metode ekstraksi dengan fenol:kloroform,
dan metode ekstraksi dengan kit komersial. Isolat DNA B. cereus, dari kultur
murni dan nasi goreng, diamplifikasi dengan real-time PCR.
Amplifikasi DNA kultur murni B. cereus digunakan untuk membentuk
kurva standar, sedangkan amplifikasi DNA B. cereus dalam sampel pangan
untuk menetapkan limit deteksi B. cereus dalam nasi goreng. Tahapan kerja
isolasi DNA dari kultur murni B. cereus dan dari sampel pangan disajikan
pada Gambar 6 dan 7.
Kultur murni (KM) B. cereus
Pengenceran (10-1-10-8)
Ditumbuhkan dalam MYPA
Metode pendidihan
Isolasi DNA
Metode ekstraksi dengan fenol:kloroform
Metode ekstraksi dengan kit komersial
Amplifikasi Real-time PCR
Gambar 6. Tahapan kerja pada uji amplifikasi DNA kultur murni B. cereus
28
Sampel pangan nasi goreng
Inokulasi artifisial (KM 10-2)
Sampel pangan tanpa inokulasi
Pengenceran (10-1-10-6)
Pengenceran (10-1)
Isolasi DNA
Metode pendidihan
Metode ekstraksi dengan fenol:kloroform
Amplifikasi Real-time PCR
Gambar 7. Tahapan kerja pada uji amplifikasi DNA B. cereus dalam nasi goreng
C. BAHAN DAN ALAT
1.
Identifikasi Serovar Salmonella spp.
a.
Kultur bakteri
Galur bakteri yang digunakan dalam uji serologi ialah
Salmonella spp. yang diisolasi dari daging ayam yang berasal dari
pasar lokal. Sepuluh isolat yang disimpan dalam Brain Heart
Infusion Broth (BHIB) merupakan koleksi Departemen Ilmu dan
Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor dan telah ditetapkan
sebagai Salmonella spp. berdasarkan uji biokimia.
b. Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah Nutrien Agar (Merck) dan
Antisera O (National Salmonella Centre – Statens Seruminstitut).
c. Alat-alat
Alat-alat yang digunakan adalah gelas objek (slide), cawan petri,
pipet mikro, jarum ose, dan Laminar Air Flow (Vision).
29
2.
Metode Deteksi B. cereus Berbasiskan DNA
a.
Kultur bakteri
Galur referensi yang digunakan merupakan jenis bakteri Gram
positif, Bacillus cereus ATCC 11778 dan Bacillus subtilis ATCC
6633 NCTC 10400. Bakteri-bakteri tersebut ditumbuhkan di
Trypticase Soy Broth (TSB) (Merck) pada suhu 37°C. Sel bakteri
dihitung dengan perhitungan cawan sebar (USFDA, 2001) pada
media agar spesifik Mannitol Yolk Polymixin Agar (MYPA) (Oxoid)
dan diinkubasi pada suhu 30°C selama 48-72 jam. Sampel pangan
yang dianalisa adalah pangan yang banyak mengandung karbohidrat
yaitu nasi goreng. Sampel diambil dari tempat penjualan makanan di
sekitar kampus IPB, Bogor.
b. Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah Ilustra Bacteria Genomic
Prep Mini Spin Kit (GE Healthcare) yang terdiri dari: buffer lisis,
buffer elusi, dan buffer pencuci. Selain itu juga digunakan Lisozim
(USB), Proteinase K (USB), RNAse A (USB), CTAB (Merck), PBS
(Merck), EDTA (Merck), Tris-HCl solution (USB), Triton-X
solution (USB), SDS solution (USB), Isopropanol (Merck),
Amonium asetat (Merck), Fenol (Merck), Kloroform (Merck), Asam
asetat glasial (Merck), NaCl (Merck), Etanol absolut (Merck),
MiliQ, RNAse free water (USB), IQ SYBR Green (Bio-Rad), Primer
forward dan reverse BceT (Bio-Rad), isolat DNA yang diekstrak dari
kultur murni B. cereus (pengenceran 10-1-10-8), isolat DNA dari
sampel pangan yang tidak diinokulasi (pengenceran 10-1), isolat
DNA yang telah diinokulasi secara artifisial (pengenceran 10-1-10-6).
c. Alat-alat
Alat-alat
yang
digunakan
adalah
Stomacher
(Seward),
Refrigerator Microsentrifuge (Hettich), Water Bath, Laminar Air
Flow (Vision), Hot Plate (Thermolyne), Touch Mixer (Thermolyne),
30
Analytical Balance (Shimadzu), Autoklaf (Hirayama), Automatic
Colony Counter (Acolyte), Lampu UV, kamera digital, tabung
mikrosentrifus 1.5 ml, tabung konikal 15 ml (Iwaki), inkubator,
bunsen, pipet mikro (Eppendorf), pipet volumemetrik, bulb, gelas
piala, gelas ukur, labu Erlenmeyer, botol semprot, cawan petri, jarum
ose, tabung reaksi, rak tabung reaksi, sudip, magnetic stirrer, gelas
pengaduk, Real-time PCR (Bio-Rad), micro well, dan adhesive
sealer.
D. METODE PENELITIAN
1.
Identifikasi Serovar Salmonella spp. (WHO, 2009)
Konfirmasi Salmonella spp. dengan uji imunologi dilakukan untuk
mendeteksi
antigen dengan O Slide Agglutinasion Test (SAT) dan
motilitas dengan agar semi solid. Mula-mula, sepuluh isolat Salmonella
spp. dalam BHIB diinokulasi dan ditumbuhkan pada media NA,
kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35°C. Uji serologi antigen
O dimulai dengan satu tetes antisera O polivalen diteteskan pada gelas
objek, kemudian 1 ose Salmonella spp. diambil dari NA dan dicampur
dengan jarum ose selama 1 menit. Gelas objek tersebut digoyang
perlahan selama 1-2 menit. Uji positif ditunjukkan dengan adanya
aglutinasi. Uji positif berarti antibodi pada sera spesifik berikatan dengan
antigen yang dimiliki bakteri. Aglutinasi tidak akan terjadi jika bakteri
tidak memiliki antigen yang dapat berikatan dengan antibodi.
Uji motilitas dilakukan pada hari yang sama dengan pengujian
antigen O. Satu ose Salmonella spp. diambil dari NA, kemudian
diinokulasi satu titik pada bagian tengah agar semi solid dan diinkubasi
semalam pada suhu 37°C. Isolat yang menunjukkan pergerakan (sekitar
40 mm dari titik inokulasi atau lebih dari 50% jari-jari cawan agar) ke
tepi agar semi solid dikonfirmasi bersifat motil.
31
2.
Metode Deteksi B. cereus Berbasiskan DNA (Alarcon et al., 2006;
Fricker et al., 2007)
a.
Tahap persiapan
1) Persiapan media
Media yang perlu dipersiapkan untuk penyegaran kultur
bakteri adalah media Trypticase Soy Broth. Media selektif untuk
isolasi bakteri adalah Mannitol Egg Yolk Polymyxin Agar
(media selektif B.cereus), Egg Yolk Emulsion serta Polymyxin B
(untuk menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatif). Media
selektif digunakan untuk isolasi dan penghitungan kultur bakteri
patogen, baik kultur murni maupun kultur dari sampel pangan.
Prosedur pembuatan media dapat dilihat pada Lampiran 2 dan 3.
2) Persiapan kultur bakteri
Bacillus cereus disegarkan pada media TSB setiap
2 minggu sekali dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam,
lalu disimpan pada suhu 16°C. Untuk pengecekan kemurnian
kultur, kultur B. cereus dalam TSB diinokulasi sebanyak 1 lup
ke permukaan agar Mannitol Egg Yolk Polymyxin Agar (MYPA)
padat dalam cawan petri steril. Koloni tipikal B. cereus pada
MYPA dengan suplementasi polymyxin B akan berwarna pink
cerah dan dikelilingi zona presipitasi.
Selain bakteri patogen B. cereus, disiapkan juga B. subtilis
yang digunakan untuk menguji spesifisitas primer BceT. Primer
BceT merupakan DNA dari gen penyandi enterotoksin T pada
DNA kromosomal B. cereus. Isolat DNA bakteri tersebut
diamplifikasi kemudian melt curve yang terbentuk dianalisis
untuk mengetahui apakah primer BceT dapat menempel pada
DNA kromosomal selain DNA gen penyandi enterotoksin
B. cereus yang berarti primer kurang spesifik. Bakteri ini pun
disegarkan setiap 2 minggu sekali dalam TSB dan diinkubasi
32
pada suhu 37ºC selama 24 jam, lalu disimpan pada suhu 16°C.
Prosedur persiapan kultur bakteri dapat dilihat pada Lampiran 4.
B. cereus dan B.subtilis disegarkan dan diinkubasi pada
suhu 37ºC selama 24 jam sehari sebelum DNA diisolasi. Kultur
murni B. cereus yang hendak diisolasi diencerkan terlebih
dahulu (10-1-10-8), sedangkan kultur murni B. subtilis diambil
1 ml dan langsung diisolasi. Pengenceran serial kultur murni
B. cereus dilakukan untuk diisolasi DNA-nya sebanyak 1 ml
dari masing-masing pengenceran dan untuk ditumbuhkan dalam
MYPA sebanyak 0.1 ml. Penumbuhan kultur bakteri dalam
MYPA dilakukan dengan teknik surface plate untuk perhitungan
konsentrasi bakteri yang terdapat pada kultur murni (CFU/ml).
Jumlah koloni pada beberapa tingkat pengenceran dan
konsentrasi bakteri kultur murni B. cereus dapat dilihat pada
Lampiran
5.
Konsentrasi
tersebut
digunakan
sebagai
perhitungan log konsentrasi bakteri dalam kurva standar
amplifikasi.
3) Persiapan sampel pangan
Sampel pangan yaitu nasi goreng dibagi menjadi dua,
masing-masing sejumlah 25 gram dan salah satunya diinokulasi
B. cereus dengan konsentrasi 8.8 x 105 CFU/g (konsentrasi
diperoleh dari perhitungan koloni dalam MYPA). Bagian
sampel pangan yang tidak diinokulasi disebut sampel pangan
(SP), sedangkan bagian yang diinokulasi secara artifisial dengan
kultur murni B. cereus disebut sampel pangan spike (SPS). Baik
SP (25 gram) maupun SPS (25 gram) dimasukkan ke dalam
plastik steril yang masing-masing berisi 225 ml NaCl 0.85% dan
dihomogenisasi dengan stomacher (30 detik, 230 rpm), lalu
dituang ke dalam botol sampel. Setelah itu, SP diambil 1 ml dan
diisolasi DNA-nya, sedangkan SPS diencerkan hingga tingkat
pengenceran 10-6 kemudian dari seluruh tingkat pengenceran
33
diambil 1 ml untuk diisolasi DNA-nya dan diambil 0.1 ml untuk
diiinokulasikan pada MYPA dan dihitung koloni B. cereus yang
tumbuh. Pengamatan dan penghitungan koloni dilakukan setelah
MYPA diinkubasi (37ºC) selama 2 hari. Perhitungan koloni
tipikal B. cereus mengikuti hitungan cawan (USFDA, 2001).
Koloni tipikal B. cereus pada MYPA adalah koloni pink
cerah dan dikelilingi zona presipitasi. Cawan yang digunakan
untuk perhitungan ialah cawan dengan koloni tipikal berkisar
antara 15-150 koloni. Perhitungan jumlah koloni per ml
dilakukan dengan Standard Plate Count (BAM edisi ke-8)
dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan: N = jumlah koloni per ml atau per g produk
∑C = jumlah semua koloni yang dihitung
n1 = jumlah cawan pada pengenceran pertama
n2 = jumlah cawan pada pengenceran kedua
d = pengenceran pertama yang dihitung
b. Tahap isolasi DNA
Sebanyak 1 ml dari masing-masing pengenceran diisolasi DNAnya dengan tiga metode, yaitu (1) Metode pendidihan, (2) Metode
ekstraksi dengan fenol:kloroform, dan (3) Metode ekstraksi dengan
kit komersial. Metode pendidihan dan metode ekstraksi dengan
fenol:kloroform digunakan untuk perbandingan hasil amplifikasi
dengan kit komersial dalam uji sensitivitas dan spesifisitas. Berikut
ini uraian prosedur kerja dalam ketiga metode tersebut.
1) Metode pendidihan (Hein et al., 2001 dengan modifikasi)
Kultur
murni
atau
sampel
pangan
yang
telah
dihomogenisasi dan dilakukan pengenceran (10-1-10-8) diambil
masing-masing 1 ml, lalu disentrifus. Supernatan dibuang dan
pelet dicuci dengan 500 µl buffer TE 1X sebanyak dua kali,
disentrifus, kemudian pelet disuspensikan dengan buffer TE 1X
34
dan lisozim, diinkubasi pada suhu ruang (25°C) selama
15 menit, ditambahkan proteinase K, setelah itu diinkubasi pada
suhu 55°C selama 1 jam, kemudian dididihkan selama 15 menit,
didinginkan dalam freezer (4°C) selama 30 menit, dan
supernatan digunakan sebagai sumber DNA target. Prosedur
kerjanya dapat dilihat pada Lampiran 6.
Modifikasi yang dilakukan terhadap metode pendidihan
(Hein et al., 2001) adalah waktu sentrifugasi dari 5700 g selama
15 menit menjadi 14000 g selama 10 menit untuk menjamin
seluruh
bakteri
telah
menjadi
pelet,
kemudian
setelah
pendidihan 100°C selama 15 menit, suspensi DNA tidak
disentrifus, melainkan segera didinginkan dalam freezer (4°C)
selama 30 menit untuk merenaturasi DNA yang telah
terdenaturasi saat dididihkan.
2) Metode ekstraksi dengan fenol:kloroform (Sambrook et al.,
1989 dengan modifikasi)
Kultur
murni
atau
sampel
pangan
yang
telah
dihomogenisasi dan dilakukan pengenceran (10-1-10-8) diambil
masing-masing 1 ml, lalu disentrifus dan pelet diresuspensi
dengan 500 µl buffer TE 1X sebanyak 2 kali. Setelah
disentrifus, pelet diresuspensi dengan 500 µl buffer TE 1X dan
100 µl lisozim, diinkubasi pada suhu 4°C selama 5 menit.
Kemudian ditambahkan 25 µl SDS 10%, 50 µl NaCl 5M, dan
100 µl proteinase K (20 mg/ml), divortex dan diinkubasi pada
suhu 55°C selama 2 jam. Selanjutnya ditambahkan 500 µl
fenol:kloroform (1:1 v/v), divortex dan diinkubasi -20°C selama
30 menit, lalu disentrifus pada suhu 4°C, 12000 rpm selama
10 menit. Lapisan air bagian atas diambil dan dipindahkan ke
tabung eppendorf baru, ditambahkan 500 µl fenol:kloroform
(1:1 v/v), divortex dan diinkubasi -20°C selama 30 menit, lalu
disentrifus pada suhu 4°C, 12000 rpm selama 10 menit. Lapisan
35
air bagian atas diambil dan dipindahkan ke tabung eppendorf
baru, ditambahkan 500 µl kloroform, disentrifus pada suhu 4°C,
12000 rpm selama 10 menit. Lalu lapisan air bagian atas
dipindahkan ke tabung eppendorf baru, ditambahkan 0.3 kali
volume lapisan air ammonium asetat 10M pH 7.4 dan
isopropanol dingin 1 kali volume fase aqueous, diinkubasikan
-20°C selama semalam, kemudian disentrifus 14000 rpm selama
30 menit. Selanjutnya pelet ditambah dengan 500 µl etanol 70%
dan disentrifus 12000 rpm selama 5 menit. Supernatan dibuang
dan pelet dikeringudarakan, kemudian dilarutkan dalam 50 µl
buffer TE 1X. Prosedur kerja metode ekstraksi dengan
fenol:kloroform ini dapat dilihat pada Lampiran 7.
Modifikasi yang dilakukan terhadap metode pendidihan
(Hein et al., 2001) adalah buffer lisis yang digunakan pada
metode Sambrook et al. (1989) pada 1 ml kultur bakteri diganti
dengan buffer TE untuk menjaga tekanan osmosis bakteri,
campuran buffer lisis pada Sambrook et al. (1989) yaitu
100 mM NaCl, 500 mM Tris (pH 8.0), 10% sodium
dodecylsulphate, dan 0.2 mg/ml proteinase K diganti dengan
campuran buffer yang diberikan bertahap, terdiri atas 500 µl
buffer TE 1X dan 100 µl lisozim untuk merusak dinding sel
bakteri, kemudian ke dalam campuran buffer dan kultur bakteri
ditambahkan 25 µl SDS 10%, 50 µl NaCl 5M, dan 100 µl
proteinase K (20 mg/ml) untuk menhilangkan protein yang
dapat mengganggu amplifikasi. Modifikasi juga dilakukan pada
komposisi pelarut fenol:kloroform (1:1 v/v) sebagai ganti dari
pelarut
fenol:kloroform:isoamil
alkohol
(25:24:1
v/v/v).
Kloroform biasanya ditambahkan dengan isoamil alkohol
dengan perbandingan 24:1 untuk mengurangi busa yang
terbentuk ketika ekstraksi. Campuran senyawa ini sering disebut
CIAA (Chloroform Isoamyl Alcohol). Pelarut ini dimodifikasi
karena keterbatasan pelarut isoamil alkohol. Fase aqueous dari
36
ekstraksi dengan fenol:kloroform pada metode Sambrook et al.
(1989) ditambahkan 0.3 M Natrium Asetat pH 4.8, namun pada
metode yang dimodifikasi garam yang ditambahkan adalah
10 M Ammonium Asetat pH 7.4 disesuaikan dengan garam
yang tersedia. Kedua garam tersebut berfungsi sama dan dapat
saling menggantikan. Selain itu, etanol absolut pada metode
Sambrook et al. (1989) diganti dengan isopropanol karena
isopropanol lebih cepat mempresipitasikan DNA, lalu waktu dan
kecepatan sentrifus diganti dari 15 menit menjadi 30 menit
untuk memperoleh pelet DNA karena waktu 15 menit tidak
cukup untuk mengendapkan DNA di dasar tabung. Pelet yang
dikeringvakumkan diganti dengan cara dikeringudarakan karena
keterbatasan instrumen.
3) Metode ekstraksi sesuai panduan kit komersial
Sebanyak 1 ml kultur murni B. cereus dari delapan tingkat
pengenceran masing-masing dimasukkan ke dalam tabung
mikrosentrifus dan disentrifus dengan kecepatan 14000 rpm
selama 3 menit. Supernatan yang terdapat dalam tabung dibuang
tanpa merusak pelet, lalu ditambahkan 40 µL buffer lisozim dan
segera divorteks selama 10 detik sampai sel bakteri benar-benar
tersuspensi, kemudian suspensi tersebut ditambahkan 20 µL
lisozim, divorteks dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu
kamar 25ºC, lalu disentrifus 5000 rpm selama 5 detik untuk
mengumpulkan sampel di dasar tabung. Inkubasi dilanjutkan
pada suhu kamar (25ºC) selama 5 menit. Kemudian 20 µL
Proteinase K ditambahkan ke dalam sampel, lalu divorteks.
Setelah itu, ditambahkan 10 µL buffer lisis, divorteks dan
disentrifus 5000 rpm selama 5 detik. Suspensi diinkubasi pada
suhu 55oC selama 7 menit, divorteks selama 10 detik dan
disentrifus 5000 rpm selama 5 detik. Proses inkubasi dilanjutkan
pada suhu 55oC selama 8 menit, kemudian disentrifus 5000 rpm
37
selama 5 detik. Lalu ditambahkan 5 µL RNAse-A, divorteks
dan disentrifus 5000 rpm
selama 5 detik. Sampel kembali
diinkubasi pada suhu kamar (25ºC) selama 15 menit. Setelah itu,
ditambahkan 500 µl buffer lisis, divorteks selama 10 detik dan
inkubasi pada suhu kamar (25ºC) selama 5 menit. Setelah itu,
cairan dipindahkan ke dalam kolom mini yang diletakkan di
dalam collection tube dan disentrifus pada 15000 rpm selama
1 menit, lalu cairan pada collection tube dibuang dan kolom
diletakkan pada collection tube.
Sebanyak 500 µL buffer lisis ditambahkan ke dalam kolom
mini dan disentrifus 15000 rpm selama 1 menit, kemudian
cairan pada collection tube dibuang kembali dan kolom
diletakkan kembali ke dalam collection tube. Setelah itu, ke
dalam kolom mini ditambahkan
500 µL wash buffer dan
disentrifus dengan kecepatan 14000 rpm selama 3 menit,
kemudian collection tube dan kolom mini dipindahkan ke dalam
tabung mikrosentrifus baru. Sebanyak 200 µL buffer elusi
(70oC) ditambahkan ke dalam matriks fiber dalam kolom mini,
lalu diinkubasi pada suhu kamar (25ºC) selama 1 menit dan
disentrifus pada 14000 rpm selama 1 menit. Cairan pada tabung
mikrosentrifus digunakan sebagai isolat DNA. Prosedur kerja
metode isolasi DNA dengan kit komersial dapat dilihat pada
Lampiran 8.
c.
Tahap amplifikasi (Alarcon et al., 2006 dengan modifikasi)
Sebanyak 2.0 µl isolat DNA, yang diperoleh dari 8 tingkat
pengenceran untuk kultur murni, 1 tingkat pengenceran SP, dan
6 tingkat pengenceran SPS, digunakan sebagai templat untuk
amplifikasi PCR. Isolat DNA (2.0 µl) dicampur dengan 9.5 µl
RNAse free water, 12.5 µl SYBR Green supermix, 0.5 µl masingmasing forward dan reverse primer BceT. Volume total larutan
adalah 25 µl.
38
Larutan tersebut diamplifikasi dengan kondisi, sebagai berikut:
predenaturasi 95°C selama 10 menit, denaturasi pada suhu 95°C
selama 10 detik dan penempelan pada suhu 55°C selama 30 detik
(40 siklus) dengan thermal cycler iCycler IQ System, dilanjutkan
dengan 80 siklus (suhu 55°C selama 10 detik) untuk menghasilkan
melt curve yang digunakan dalam spesifisitas uji.
Kondisi amplifikasi menurut Alarcon et al. (2006) yaitu
denaturasi pada suhu 95°C selama 15 detik dan penempelan pada
suhu 60°C selama 1 menit dengan thermal cycler GeneAmp 5700
Sequence Detection System dimodifikasi menjadi kondisi seperti
yang dijelaskan di atas untuk menyesuaikan dengan jenis primer dan
thermal cycler yang digunakan sehingga amplifikasi dapat
berlangsung.
Primer (forward dan reverse) BceT dianalisis dengan Basic
Local Alignment Search Tool (BLAST, NCBI) untuk mengetahui
spesifitasnya terhadap gen target. Urutan nukleotida sepasang primer
tersebut adalah 5’-GAA TTC CTA AAC TTG CAC CAT CTC G-3’
untuk forward primer yang terletak pada urutan basa nukleotida
2208-2232 pada DNA kromosomal B. cereus dan 5’-CTG CGT
AAT CGT GAA TGT AGT CAA T-3’ reverse primer yang terletak
pada urutan basa nukleotida 1587-1611 pada DNA kromosomal
B. cereus. Produk amplifikasi dari sepasang primer ini adalah
646 pasang basa.
d. Evaluasi kinerja real-time PCR
Amplifikasi real-time PCR dilakukan untuk menetapkan limit
deteksi kultur murni B. cereus dan limit deteksi B. cereus pada nasi
goreng. Selain itu, real-time PCR dapat digunakan untuk
menghasilkan melt curve. Kurva tersebut dipakai dalam spesifisitas
uji. Kinerja real-time PCR dievaluasi dengan cara menetapkan limit
deteksi, sensitivitas dan spesifisitas uji.
39
1) Limit deteksi
Isolat DNA kultur murni dengan beberapa tingkat
pengenceran diamplifikasi dan diperoleh nilai Ct dari masingmasing pengenceran serta kurva standar. Pengenceran tertinggi
yang masih dapat teramplifikasi merupakan limit deteksi kultur
murni B. cereus dalam penelitian ini. Kurva standar memberikan
persamaan linear yang digunakan untuk mengukur limit deteksi
B. cereus dalam sampel pangan. Persamaan linear kurva standar
digunakan untuk menghitung konsentrasi bakteri yang belum
diketahui dalam sampel pangan. Konsentrasi B. cereus pada
sampel pangan nasi goreng dapat dihitung dengan memasukkan
nilai Ct hasil amplifikasi sebagai nilai y pada persamaan linear,
kemudian nilai yang diperoleh diantilogkan.
Limit deteksi dengan real-time PCR memiliki satuan
CFU/ml atau CFU/g. Oleh karena itu, setiap isolasi DNA
dilakukan, pencawanan pada media selektif dari beberapa
pengenceran juga dilakukan untuk mengetahui jumlah koloni
pada kultur murni atau pun koloni pada sampel pangan.
Prosedur penetapan limit deteksi bakteri patogen dengan PCR
dapat dilihat pada Lampiran 9.
2) Spesifisitas uji
Primer
BceT
diuji
spesifisitasnya
dengan
cara
membandingkan melting temperature (Tm) dari puncak melt
curve yang terbentuk antara amplikon yang diperoleh dari isolat
DNA B. cereus dan amplikon yang diperoleh dari isolat DNA
B. subtilis. Hasil amplifikasi (amplikon) yang spesifik
ditunjukkan dengan nilai Tm yang sama pada puncak melt
curve. Tm merupakan suhu peleburan di mana 50% DNA untai
ganda telah terdenaturasi menjadi DNA untai tunggal. Secara
teoritis, Tm amplikon dari isolat DNA B. cereus dan B. subtilis
berbeda karena DNA target merupakan DNA spesifik dari
B. cereus.
40
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. IDENTIFIKASI SEROVAR Salmonella spp.
Isolat Salmonella yang digunakan telah dikonfirmasi dengan API 20E
dan teridentifikasi sepuluh isolat tersebut sebagai Salmonella spp. Melalui uji
serologi Salmonella spp. dapat lebih dispesifikkan menjadi subspesies yang
berbeda berdasarkan antigen-antigen yang dimiliki masing-masing isolat.
Pengujian serologi penting karena struktur molekul protein atau polisakarida
setiap bakteri berbeda dan juga struktur antigennya. Bagi genus Salmonella,
uji serologi merupakan standar metode deteksi konvensional. Hasil uji
serologi terhadap antigen O dan motilitas Salmonella spp. dapat dilihat pada
Tabel 3.
Tabel 3. Data uji serologi antigen O dan motilitas
No.
Spesimen
Uji Serologi
Uji Motilitas(*)
1.
Gb
OMF
Motil
2.
PB5
O:8
Motil
3.
PGB3
O:1,4,12
Motil
4.
PGB5
O:12
Motil
5.
PKS1
O:8
Tidak motil
6.
PKS2
O:5
Motil
7.
PL21
O:5
Tidak motil
8.
PL22
O:6,7,14
Tidak motil
9.
PM3
O:8
Tidak motil
10.
RGB1
O:1,4,12
Motil
Keterangan: (*) Motil jika koloni yang seragam meluas ke tepi
agar semi solid (>50% jari-jari cawan)
Uji serologi antigen O diikuti dengan uji motilitas karena uji motilitas
merupakan bagian dari uji serologi. Uji motilitas harus dilakukan terlebih
dahulu sebelum antigen H (flagela) diuji untuk memastikan bahwa isolat
Salmonella yang akan diuji antigen H-nya memiliki flagela (motil). Uji
41
serologi yang lengkap, seharusnya meliputi uji serologi terhadap antigen (O)
somatik, antigen Vi, dan antigen (H) flagelar. Namun, serotyping yang
dilaksanakan di Pusat Riset Obat dan Makanan dibatasi pada tahap uji antigen
O, disesuaikan dengan antisera yang tersedia. Uji antigen Vi tidak dilakukan
sebab antisera tidak tersedia, sehingga penentuan apakah bakteri tersebut
lebih patogen (jika uji positif) atau tidak belum dapat terlaksana, sedangkan
uji antigen H tidak dilaksanakan karena antisera tidak lengkap. Padahal dalam
pengujian aglutinasi antigen-antisera diperlukan seluruh jenis antisera
individual. Kelengkapan tersebut penting karena kerja dilakukan bertahap,
apabila terdapat antigen-antisera yang tidak menunjukkan aglutinasi,
kemudian dapat dilanjutkan dengan antisera lainnya hingga diperoleh
aglutinasi. Jika ada tahapan uji yang dilewati maka kespesifikan antigen pada
patogen tidak dapat dipastikan.
Uji antigen O dilakukan pada Salmonella karena bakteri ini termasuk
Gram negatif. Bakteri Gram negatif memiliki membran luar yang memiliki
lipopolisakarida, di mana antigen O merupakan bagian dari lipopolisakarida
tersebut. Oleh karena itu, antisera mudah bereaksi dengan antigen karena
letaknya di permukaan membran luar sel bakteri.
Uji serologi pada spesimen Gb hanya dapat dilakukan sampai pada
antigen O serogrup OMF (O Multi-phase F sera), karena antisera O individual
bagi grup F tidak tersedia. Antisera individual berarti sera tersebut hanya
mengandung satu faktor tunggal antigen, berbeda dengan antisera polivalen
yang memiliki beberapa faktor tunggal antigen. Serogrup F jarang
teridentifikasi sebagai penyebab penyakit pada manusia atau pun sapi.
Sedangkan serogrup yang diidentifikasi banyak menyebabkan penyakit pada
anak sapi, susu sapi, dan manusia berasal dari Salmonella serogrup B, C, D,
dan E (Jayarao dan Henning, 2001). Spesimen PB5, PKS1, dan PM3
teridentifikasi memiliki antigen O:8, spesimen PKS2 dan PL2 memiliki
antigen O:5, dan spesimen PGB5 memiliki antigen O:12. Terdapat pula
spesimen yang teridentifikasi memiliki antigen O lebih dari satu faktor
tunggal, yaitu spesimen PGB3 dan RGB1 dengan serovar O:1,4,12 dan
spesimen PL22 dengan serovar O:6,7,14.
42
Hasil serotyping terhadap kesepuluh isolat menujukkan Salmonella
dengan serovar O:12 paling banyak ditemukan pada isolat Salmonella spp.
dalam daging ayam, yakni dari spesimen PGB3, PGB5, dan RGB1. Serovar
O:12 terdapat pada serogrup B, anggota serogrup B yang dilaporkan menjadi
sumber penyakit di Indonesia, yaitu Salmonella enterica subspesies enterica
serovar Typhimurium dan S. Paratyphi B. Penamaan S. Typhimurium
berdasarkan hasil uji serologi menjadi I 4,5,12:i:1,2, artinya galur
S. Typhimurium merupakan spesies Salmonella enterica subspesies enterica
yang memiliki antigen O:4, O:5, dan O:12, antigen H fase 1 (i) dan antigen H
fase 2 (1 dan 2).
Anggota genus Salmonella mempunyai struktur antigen yang tidak stabil
dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu dan bakteri ini pada suatu
saat dapat membentuk variasi secara tiba-tiba (Poernomo, 2004). Galur
Salmonella yang awalnya teridentifikasi memiliki antigen O, bisa saja ketika
diuji ulang mengalami autoglutinasi (rough strain of Salmonella), galur ini
ialah galur yang telah kehilangan sifat antigen O-nya. Oleh karena itu pada
setiap awal tahapan uji serologi perlu dilakukan suspensi bakteri dengan NaCl
0.85%, jika suspensi menggumpal maka bakteri tersebut telah mengalami
autoglutinasi dan perlu disubkulturkan pada Agar darah atau Agar MuellerHinton untuk me-recovery kondisi smooth (mengandung struktur antigen O).
Seluruh isolat Salmonella spp. saat pengujian autoglutinasi menunjukkan
reaksi negatif, maka uji serologi dilanjutkan dengan menggunakan antisera
polivalen O. Jika aglutinasi tidak terjadi dengan antisera Polivalen O berarti
bakteri bukan Salmonella dan serotyping tidak perlu dilakukan. Antibodi
pada sera spesifik akan menggumpal dengan bakteri yang memiliki antigen
sesuai (CDC, 2009).
Setelah uji antigen O dilaksanakan, sepuluh isolat harus ditumbuhkan
dalam medium agar semi solid, Swarm Agar, untuk melihat motilitasnya. Jika
Salmonella motil, berarti bakteri tersebut berflagela dan memiliki antigen H
yang harus diuji lebih lanjut. Swarm Agar yang diprasyaratkan oleh WHOCDC (2009), tersusun atas TSB, KNO3, dan agar. Karena media ini tidak
tersedia di laboratorium, dibuatlah media agar semi solid dari Nutrien Agar,
43
Nutrien Broth, Beef extract, dan KNO3 untuk uji motilitas. Modifikasi
tersebut tetap memberi komposisi yang sama dengan medium uji motilitas
(M103, BAM) dan motilitas dapat diuji.
Perpindahan tipikal dari Salmonella ialah yang menunjukkan pergerakan
sejauh 40 mm dari titik/tempat yang telah diinokulasi. Pergerakan bakteri
dapat dilihat dari koloni yang menyebar dari inokulasi satu titik di tengah
agar menjadi melebar ke tepi agar. Bakteri yang dianggap layak untuk
dilakukan uji serologi antigen H ialah bakteri (koloni seragam) yang bergerak
ke tepi melebihi setengah dari jari-jari agar semi solid. Jika terdapat
pergerakan menuju tepi agar, berarti bakteri tersebut berflagela dan secara
teoritis memiliki antigen H. Apabila tidak terdapat pergerakan, padahal uji
morfologi dan biokimia mengidentifikasi secara umum bahwa bakteri uji
ialah Salmonella, inkubasi perlu dilanjutkan selama 24 jam (35°C). Jika tetap
tidak ada pergerakan bakteri pada medium semi solid, bakteri dalam medium
tersebut diinkubasi kembali pada suhu 25°C selama 5 hari. Hasil pengamatan
terhadap kesepuluh isolat yang diinokulasi pada agar semi solid dan
diinkubasi selama satu hari, isolat yang menunjukkan motilitas tipikal ialah
spesimen Spesimen Gb, PB5, PGB5, PKS2, RGB1, dan PGB3. Visualisasi uji
motilitas isolat Salmonella spp. dapat dilihat pada Lampiran 10.
Spesimen PKS1, PL21, PL22, dan PM3 walaupun tidak motil, masih
dapat diasumsikan sebagai Salmonella spp. karena tidak semua Salmonella
motil. Ada beberapa spesies Salmonella yang tidak mempunyai antigen (H)
flagela (tidak motil), misalnya S. Pullorum dan D. Gallinarum (Gast, 2003).
Menurut Gast (2003), lebih dari 2400 subspesies S. enterica bersifat motil.
Oleh karena itu, uji serologi tidak cukup hanya pada tahap uji antigen O,
tetapi harus dilengkapi dengan uji antigen H fase 1 dan 2 sehingga
identifikasi serovar lengkap.
Kelebihan dilakukannya uji serotipe ialah identifikasi Salmonella spp.
lebih lengkap, penulisan serovar yang jelas dan diterima oleh sebagian besar
negara di dunia, penyediaan data bagi kasus epidemik Salmonella dan dapat
diperbandingkan
dengan
subspesies
Salmonella
yang
juga
pernah
menyebabkan epidemik di negara-negara lain. Keuntungan diketahuinya
44
serovar melalui uji serologi ini ialah kemudahan dalam penelusuran bakteri
Salmonella yang menjadi sumber penyakit asal pangan atau kasus epidemik
di Indonesia dan kemudahan memperbandingkan serovar Salmonella spp.
dengan negara lain.
Menurut WHO dalam Global Salmonella Surveillance (2009), serotyping
dapat menjadi metode terbaik dalam penetapan fenotip bakteri sebab metode
ini memiliki kemampuan membedakan subspesies secara teliti dan
memberikan informasi serotipe yang penting bagi kasus-kasus epidemik.
Kemudahan penerapan dan pelaksanaan metode deteksi ini menjadikan SAT
dapat diaplikasikan oleh pihak yang hendak melakukan uji serologi. Kendala
utama bagi terlaksananya uji ini secara luas ialah biaya yang tinggi dalam
penyediaan antisera. Metode lain, seperti sistem molekuler yang saat ini
berkembang pesat tidak dapat menggantikan uji serotipe yang bekerja dengan
prinsip aglutinasi antisera dan antigen.
B. DETEKSI B. cereus BERBASISKAN DNA
1.
Tahap Persiapan Sampel
Tahap pengkulturan sangat penting dilakukan untuk menyediakan
kecukupan jumlah bakteri B. cereus awal yang hendak diinokulasi.
Pengkulturan dilakukan dalam medium cair Trypticase Soy Broth (TSB),
yaitu medium yang berfungsi membiakkan bakteri atau memperkaya
bakteri karena memiliki nutrisi yang menunjang pertumbuhan bakteri.
Kultur murni bakteri B. cereus digunakan untuk menentukan limit
deteksi kultur murni dan menghasilkan kurva standar.
Pengkulturan bakteri dilakukan pada medium TSB dan medium
BHIB. Setelah dicawankan ternyata pertumbuhan bakteri lebih baik
pada medium BHIB. Oleh karena itu, sebaiknya untuk pengkulturan
bakteri atau pun pengkayaan sebelum isolasi DNA menggunakan
medium BHIB. Medium BHIB menyediakan lebih banyak nutrisi yang
mendukung pertumbuhan bakteri dibandingkan dengan TSB.
Media TSB termasuk media non-selektif sehingga semua bakteri
dapat tumbuh. Apabila kerja tidak aseptik, bakteri selain B. cereus
45
dapat tumbuh. Oleh karena itu, untuk menjamin kemurnian biakan
kultur murni B. cereus, uji morfologi untuk melihat keseragaman dan
koloni tipikal B. cereus dilakukan dalam MYPA beberapa hari sebelum
isolasi DNA hendak dilaksanakan. Apabila kultur murni yang
dicawankan pada MYPA hanya membentuk koloni tipikal pink cerah
dengan zona presipitasi di sekelilingnya, seperti pada Gambar 8, berarti
kultur murni masih seragam dan tidak terkontaminasi bakteri lain
sehingga dapat dilakukan isolasi DNA.
Gambar 8. Koloni tipikal B. cereus pada MYPA + Polymyxin B
Media MYPA merupakan media selektif B. cereus. MYPA
mengandung manitol yang tidak dapat difermentasi oleh B. cereus,
namun oleh beberapa bakteri lain (misalnya B.subtilis dan S. aureus)
dapat difermentasi. Penambahan kuning telur dapat memperjelas koloni
tipikal B. cereus sebab kuning telur memiliki lesitin dan B. cereus
menghasilkan enzim fosfatidilkolin hidrolase, fosfolipase C yang
menghidrolisis lesitin. Dengan begitu, koloni tipikal B. cereus akan
mendegradasi lesitin yang terlihat sebagai zona presipitasi di sekeliling
koloni (Schraft dan Griffiths, 1995). Polymyxin B juga ditambahkan
pada MYPA untuk menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatif.
46
Konsentrasi bakteri biakan kultur murni (KM), dihitung dari
pencawanan MYPA 8.8 x 108 CFU/ml dan pengenceran KM 10-2
digunakan 0.1 ml untuk menginokulasi nasi goreng secara artifisial.
Dengan asumsi, sampel pangan spike berkonsentrasi kurang lebih
106 CFU/ml pada sampel pangan. Asumsi tersebut diperkuat dengan hasil
hitungan cawan yang diperoleh dari beberapa tingkat pengenceran SPS,
yaitu sebesar 4.5 x 106 CFU/g seperti yang terlampir pada Lampiran 5.
Konsentrasi tersebut merupakan konsentrasi patogen B. cereus yang dapat
menyebabkan keracunan pangan. Pada konsentrasi tersebut metode deteksi
sudah harus mampu mendeteksi keberadaan patogen tersebut.
Pengenceran serial 1:10 dari kultur murni B. cereus dan sampel nasi
goreng yang diinokulasi secara artifisial bertujuan untuk menetapkan limit
deteksi dari B. cereus yang diamplifikasi dengan real-time PCR. Secara
teoritis, amplifikasi PCR memungkinkan deteksi hanya dengan 1 CFU/ml
atau 1 CFU/g sampel pangan. Oleh karena itu, SPS diencerkan hingga
enam tingkat pengenceran, dengan asumsi pada tingkat pengenceran
keenam diperoleh konsentrasi bakteri 101-100 CFU/g.
Tujuan inokulasi ±106 B. cereus CFU/g secara artifisial pada sampel
nasi goreng adalah untuk menjamin spesifisitas amplifikasi, di mana
produk amplifikasi yang diharapkan terbentuk murni dari penempelan
primer spesifik dan DNA target yang komplementer. Tujuan inokulasi
tersebut juga dapat menggantikan waktu inkubasi khusus pada persiapan
sampel sebab umumnya nasi goreng yang diinokulasi bakteri secara
artifisial diberi tambahan waktu inkubasi untuk memperkaya jumlah sel
bakteri patogen sehingga peluang DNA terdeteksi semakin besar. Pada
penelitian PROM terdahulu (2008), sampel pangan diinkubasi pada suhu
30oC selama 4 jam untuk memperbanyak jumlah bakteri uji tersebut.
Namun, pada penelitian ini nasi goreng tidak diinkubasi terlebih dahulu
sesudah inokulasi kultur murni B. cereus ke dalam nasi goreng. Hal ini
dilakukan karena adanya asumsi pemeriksaan risiko kontaminasi bakteri
patogen merupakan tindakan segera sesaat setelah pangan selesai diolah,
sehingga waktu deteksi pun lebih cepat. Inokulasi nasi goreng secara
47
artifisial dengan kultur murni yang telah diinkubasi semalam dalam TSB
telah cukup untuk menjamin diperolehnya DNA target bagi proses
amplifikasi. Menurut Sambrook et al. (1989), pertumbuhan bakteri
mencapai fase log akhir setelah diinkubasi semalam. Fase log akhir
merupakan saat yang optimal untuk memanen bakteri, di mana kuantitas
DNA maksimal.
2.
Tahap Isolasi DNA
a.
Diferensiasi metode isolasi DNA
1) Metode pendidihan
Metode pendidihan menggunakan enzim untuk melisis sel
bakteri dan mengisolasi DNA, juga buffer TE 1X untuk menjaga
tekanan osmotik DNA. Enzim yang digunakan adalah lisozim dan
proteinase K. Lisozim ditambahkan karena enzim ini mampu
mencerna membran luar sel bakteri. Aktivitas enzim lisozim
efektif pada suhu ruang (25°C). Proteinase K merupakan enzim
proteolitik yang digunakan untuk menghilangkan protein. Protein
dapat menghambat proses amplifikasi DNA. Suhu optimum
aktivitas enzim proteinase K ialah 55-60°C selama 1-2 jam.
Semakin lama inkubasi setelah penambahan proteinase K, daya
recovery DNA semakin baik (Sambrook et al., 1989). Oleh
karena itu, waktu inkubasi yang digunakan adalah selama 2 jam
pada suhu 55°C.
Pendidihan cukup dilakukan sekali karena denaturasi
berulang dikhawatirkan malah merusak struktur DNA atau pun
DNA menjadi sulit renaturasi kembali saat didinginkan. Menurut
Sambrook et al. (1989) semakin panjang waktu pendidihan,
denaturasi DNA akan menjadi irreversibel.
2) Metode ekstraksi dengan fenol:kloroform
Metode
ekstraksi
dengan
fenol:kloroform
mampu
menghasilkan isolat DNA yang lebih murni karena sel bakteri
dilisis oleh enzim dan deterjen, kemudian DNA diekstraksi
48
berulang. Enzim yang digunakan pada metode ini sama dengan
pada metode pendidihan, yaitu lisozim dan proteinase K.
Perbedaannya adalah pada metode ini digunakan deterjen SDS
untuk membantu pelisisan sel. SDS merupakan salah satu deterjen
yang berfungsi melisis membran sel dengan membuat lubang
kecil sehingga DNA plasmid lepas, tetapi tetap mempertahankan
keutuhan DNA kromosomal berbobot molekul tinggi. Deterjen
tersebut mengemulsi lipid juga protein pada sel dan mengganggu
interaksi polar yang mempersatukan membran sel, kemudian
membentuk kompleks dengan lipid dan protein. Hal ini
menyebabkan lipid dan protein tersebut berpresipitasi dalam
larutan. SDS ditambahkan bersamaan dengan proteinase K, lalu
diinkubasi. Penambahan enzim proteolitik (dalam penelitian ini
proteinase K) dilakukan sebelum DNA diekstraksi dengan pelarut
fenol:kloroform. Basis sebagian besar dari purifikasi asam nukleat
adalah menghilangkan protein yang sering terbawa ketika
mengekstrak larutan aqueous asam nukleat (Sambrook et al.,
1989).
Penggunaan beberapa senyawa pelisis diperlukan karena
B. cereus merupakan bakteri Gram positif yang memiliki
peptidoglikan tebal. Apabila pelisisan tidak sempurna, DNA tidak
akan terekstraksi dan proses amplifikasi tidak dapat terjadi.
3) Metode dengan kit komersial
Metode isolasi DNA yang telah diterapkan di Pusat Riset
Obat dan Makanan, Badan POM RI (2008) menggunakan kit
komersial. Kit komersial menggunakan PBS pada tahap awal
isolasi DNA. PBS digunakan untuk melarutkan matriks pangan,
menjaga keseimbangan kondisi fisiologis, dan mengendapkan
inhibitor-inhibitor yang tidak diperlukan seperti kalsium (Espy
et al., 2006). Buffer lisozim yang ditambahkan terdiri atas NaCl,
Tris-HCl pH 8.0, EDTA, Triton X-100. Penambahan EDTA dan
Triton X-100 berfungsi untuk membantu pelisisan sel terjadi,
49
sedangkan NaCl berperan sebagai sumber ion Na+ untuk
menghambat muatan negatif menempel pada fosfat di DNA yang
menyebabkan molekul DNA saling tolak menolak dan Tris-HCl
berfungsi untuk mempertahankan pH, pH 8.0 diperlukan oleh
lisozim agar dapat bekerja dengan baik. Enzim RNAse A juga
digunakan untuk menghilangkan RNA, karena enzim ini mampu
mencerna RNA dan bekerja sangat cepat di suhu ruang.
Kolom mini dan larutan yang telah disediakan oleh
menufaktur digunakan, setelah pelisisan matriks pangan dan
membran luar sel bakteri serta penghilangan protein dan RNA
yang dapat menjadi inhibitor proses amplifikasi. Kolom mini
merupakan kolom silika yang berguna untuk menahan DNA,
namun permeabel bagi molekul-molekul lainnya.
Larutan dari kit komersial, terdiri atas buffer lisis, buffer
pencuci, dan buffer elusi. Buffer lisis digunakan untuk melisis sel
bakteri, buffer pencuci digunakan untuk mencuci benang DNA,
dan buffer elusi digunakan untuk mengelusi DNA dan membawa
DNA melewati membran pada kolom mini. Buffer lisis umumnya
adalah larutan garam dan deterjen (Dollard, 1994).
Proses amplifikasi B. cereus yang diinokulasi pada sampel pangan
hanya menggunakan metode pendidihan dan metode dengan kit
komersial dengan alasan yang akan dijelaskan pada pembahasan
penetapan limit deteksi.
b. Perbandingan metode isolasi DNA
a.
Preparasi sampel
Metode
pendidihan,
metode
ekstraksi
dengan
fenol:kloroform, dan metode ekstraksi dengan kit komersial
berasal dari sampel yang sama sehingga tidak ada faktor yang
dapat pembeda hasil isolasi hingga tahap ini.
50
Sentrifugasi pada awal tahap isolasi DNA berfungsi untuk
mendapatkan pelet dari sampel pangan yang mengandung bakteri,
sedangkan lemak/minyak pangan berada pada supernatan dan
dibuang.
b. Pelisisisan sel
Pelisisan sel pada metode pendidihan hanya menggunakan
SDS dan lisozim, sedangkan pada metode pendidihan juga
ditambahkan SDS dan waktu inkubasi 55C lebih lama 1 jam
dibandingkan metode pendidihan. Hal ini berpengaruh terhadap
kemurnian isolat DNA yang dihasilkan. Isolat DNA yang dilisis
dengan lisozim, proteinase K, dan SDS lebih mempermudah
DNA terekstraksi karena sel dilisiskan lebih sempurna dan protein
sebagai inhibitor PCR dicerna lebih baik (waktu inkubasi lebih
panjang) oleh proteinase K.
Kit komersial juga menggunakan lisozim, proteinase K dan
SDS dalam pelisisan sel. Namun waktu inkubasi untuk enzim
bekerja sangat singkat sehingga pelisisan atau pencernaan oleh
enzim maupun SDS tidak optimal.
c.
Proteksi dan stabilisasi DNA
Proteksi dan stabilisasi DNA dilakukan oleh buffer dan
kation tertentu untuk mempertahankan pH dan stabilitas DNA.
Metode pendidihan tidak menambahkan NaCl dalam buffernya
karena menginginkan DNA tetap larut dalam air. Ion Na+
berfungsi menetralisir muatan negatif fosfat di DNA dengan cara
membentuk ikatan ionik dengan muatan negatif tersebut, dan
memperkenankan molekul-molekul DNA bersatu (Dollard, 1994).
Jika muatan negatif tersebut tidak terikat dengan ion Na+, DNA
akan
saling
tolak
menolak.
Metode
ekstraksi
dengan
fenol:kloroform dan kit komersial menambahkan NaCl pada
buffer enzim sehingga stabilitas DNA lebih terjaga dan
mempermudah presipitasi DNA.
51
d.
Pemisahan DNA dari debris sel dan protein
Metode
pendidihan
memisahkan
DNA
dengan
cara
sentrifugasi, DNA kromosomal akan larut pada supernatan,
sedangkan debris sel mengendap akibat pendidihan yang disusul
segera dengan pendinginan. Pendidihan menyebabkan DNA
terdenaturasi dan menginaktivasi enzim nuklease atau DNase
yang mencerna asam nukleat dan menyebabkan penurunan
kualitas
maupun
kuantitas
DNA
selama
penyimpanan.
Pendinginan segera setelah pendidihan menyebabkan DNA
kromosomal terenaturasi kembali dan larut air, sedangkan DNA
plasmid sulit didenaturasi karena secara topologi intertwined
(Sambrook et al., 1989) sehingga mengendap bersama debris sel
serta protein yang terdenaturasi.
Metode ekstraksi dengan fenol:kloroform memisahkan DNA
dari lipid, polisakarida, dan protein melalui 3 fase yang dibentuk,
yaitu fase aqueous dimana DNA larut, interfase dimana protein
larut, dan fase organik dimana lipid atau polisakarida larut. DNA
termasuk molekul polar sehingga larut pada air (fase aqueous) dan
fase ini yang diambil saat ekstraksi DNA dengan pelarut
fenol:kloroform. Pemisahan komponen-komponen tersebut ke
dalam tiga fase memberikan isolat DNA yang lebih murni.
Ekstraksi fenol:kloroform dilakukan dua kali hingga lapisan
keruh interfase tidak tebal. Lapisan keruh interfase yang tebal
dapat terlihat pada Gambar 9a, sedangkan hasil yang diharapkan
adalah lapisan interfase yang sangat tipis (Gambar 9b). Lapisan
keruh menandakan protein masih banyak terdapat pada interfase.
Protein tersebut dapat menjadi inhibitor PCR jika menempel pada
isolat DNA. Pada penelitian ini ekstraksi dengan fenol:kloroform
dilanjutkan dengan penambahan kloroform untuk menghilangkan
sisa fenol dan protein yang terbawa pada fase aqueous.
52
atas
tengah
bawah
(a)
(b)
Gambar 9. Fase aqueous (atas), Interfase (tengah), dan Fase
organik (bawah) dalam isolasi fenol:kloroform, (4a) Lapisan
interfase tebal dan (4b) Lapisan interfase sangat tipis
Fenol yang digunakan harus memiliki pH lebih dari 7.6 agar
DNA larut pada fase aqueous (bagian atas). Tris-HCl pH 8.0
digunakan untuk meningkatkan pH fenol. Setelah pH tercapai,
fenol seharusnya ditambah dengan hydroxyquinolin sebanyak
0.05% total volume fenol sebagai antioksidan dan 0.1M Tris-Cl
pH 8.0 sebanyak 0.1 total volume fenol sebagai buffer bagi fenol.
Namun karena keterbatasan senyawa kimia hidroxyquinolin,
senyawa ini tidak ditambahkan ke dalam fenol. Untuk mencegah
oksidasi, fenol disimpan pada botol gelap di suhu -20°C. Fenol
tetap bekerja sebagaimana mestinya pada saat ekstraksi
fenol:kloroform
tanpa
hydroxyquinolin,
tetapi
tentu
saja
mengurangi efektivitas ekstraksi karena hydroxyquinoline (0.1 %)
selain merupakan antioksidan, juga inhibitor RNAase dan kelator
ion logam yang lemah. Dalam ekstraksi dengan fenol:kloroform,
senyawa ini akan mempermudah pembedaan fase organik dan
fase aqueous karena memberi warna kuning pada fase organik.
Campuran fenol:kloroform akan membentuk fase cair-cair.
Bagian atas disebut fase aqueous, sedangkan bagian bawah
disebut fase organik. DNA akan larut pada fase aqueous, asalkan
pH fenol:kloroform lebih dari 7.6 (Sambrook et al., 1989). Oleh
53
sebab itu, saat ekstraksi DNA dilakukan bagian yang diambil
ialah fase aqueous. Fase aqueous yang diambil hanya sekitar 90%
karena dikhawatirkan protein pada interfase ikut terambil saat
pemipetan. Ekstraksi fenol:kloroform dilakukan dua kali karena
protein pada interfase sudah tidak tampak pada ekstraksi kedua,
setelah itu dilanjutkan dengan pemberian kloroform untuk
menghilangkan sisa fenol. Kloroform juga berperan dalam
mendenaturasi protein dan membantu pemisahan fase aqueous
dan fase organik (Birren et al., 1997).
Pemberian fenol:kloroform memerlukan inkubasi pada suhu
-20°C selama 30 menit. Suhu tersebut merupakan suhu yang
dapat menjaga kestabilan DNA, mempresipitasi DNA, dan
menginaktivasi enzim yang mungkin ikut terekstraksi. Pemberian
kloroform tidak memerlukan inkubasi sebab sekedar mencuci fase
aqueous dan menghilangkan fenol. Pencucian dengan kloroform
dilanjutkan dengan sentrifugasi 12000 rpm selama 10 menit pada
suhu 4°C untuk menjaga DNA tidak terdegradasi. Setelah
sentrifus akan terbentuk 2 fase cair-cair, yang diambil adalah fase
aqueous di mana DNA larut, sedangkan fase organik berisi
kloroform dan komponen terlarut (lipid) dan interfase berisi fenol
dan komponen terlarut (protein) dibuang.
Metode dengan kit komersial memisahkan DNA dari debris
sel dengan cara filtrasi oleh membran silika pada kolom yang
telah disediakan kit tersebut. Sebagian besar debris berukuran
lebih besar daripada DNA. Kemurnian DNA seharusnya lebih
baik dibandingkan isolat DNA dari metode pendidihan dan
ekstraksi fenol:kloroform karena membran tersebut hanya
mengikat DNA berdasarkan kekuatan ionik yang dimiliki DNA,
namun permeabel terhadap komponen lain selain DNA. Ikatan
ionik tersebut dapat terbentuk jika pH buffer 8.0 dan garam
dengan konsentrasi yang tepat, misal 5 mM KPO4 dilarutkan
54
dalam etanol 80%. Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi, DNA
tidak akan teradsorpsi pada membran atau kolom silika.
e.
Presipitasi DNA
Penambahan garam dan alkohol yang tepat berperan penting
dalam presipitasi DNA setelah ekstraksi fenol:kloroform. Garam
yang ditambahkan adalah 10 M Ammonium Asetat pH 7.4
sebanyak 0.3 volume hasil ekstraksi DNA. Selain garam 10 M
Ammonium Asetat pH 7.4 dapat juga digunakan garam 3 M
Natrium Asetat pH 4.8. Kedua garam tersebut memiliki fungsi
dan peran yang sama dalam tahap isolasi DNA. Pemberian garam
kation monovalen (Na+ atau NH3+) ini berfungsi untuk
menurunkan pH sehingga DNA mengalami renaturasi. Garam
3 M Natrium Asetat pH 4.8 disarankan untuk mempresipitasi
sebab DNA mudah di-recovery dari larutan cair yang berkation
monovalen (Birren et al., 1997).
Penambahan alkohol dimaksudkan untuk me-recovery DNA
sebab DNA tidak larut dalam alkohol. Alkohol kurang polar
dibandingkan dengan air, sehingga ikatan ionik antara Na+ dan
fosfat semakin kuat karena berkurangnya hidrasi oleh air.
Akibatnya DNA berpresipitasi. Alkohol dingin diperlukan saat
hendak mengisolasi DNA yang kurang dari 100 pasang basa atau
DNA yang diperoleh dari hasil pengenceran berkali-kali (Birren
et al., 1997). Presipitasi DNA oleh alkohol dapat dilakukan
dengan etanol absolut atau isopropanol. Kedua alkohol tersebut
memiliki sifat yang berbeda, yaitu: (1) Etanol lebih volatil
dibandingkan
dengan
dikeringudarakan
tanpa
isopropanol
vakum,
(2)
sehingga
pelet
dapat
Etanol
lebih
efektif
dibandingkan isopropanol dalam melarutkan garam sehingga
garam tidak tertinggal pada pelet DNA, (3) Etanol membutuhkan
2.5 kali volume total suspensi DNA untuk dapat mempresipitasi
DNA, sedangkan isopropanol cukup dengan 1 kali volume total,
dan (4) Akibat kepolarannya, etanol lebih lama mengendapkan
55
DNA dibandingkan dengan isopropanol. Beberapa protokol
menyarankan etanol atau isopropanol diberikan dalam kondisi
dingin (4°C) untuk mempertahankan integritas DNA. Menurut
Sambrook et al. (1989), suhu yang dingin (4°C) atau suhu ruang
(25°C) alkohol tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil
presipitasi DNA.
Sesudah
pemberian
garam
berkation
monovalen
dan
etanol/isopropanol, fase aqueous tersebut diinkubasi pada suhu
-20°C semalam sehingga muncul flokulan putih. Flokulan
tersebut terdiri dari DNA kromosomal dan ammonium, jika
ekstraksi berjalan sempurna. Apabila ekstraksi tidak murni,
kemungkinan kontaminan yang terdapat pada flokulan putih
tersebut adalah RNA berbobot molekul tinggi, SDS, protein, dan
kompleks membran.
Flokulan berupa benang putih DNA akan mudah teramati jika
konsentrasi DNA yang terekstrak tinggi. Tahap sentrifugasi perlu
dilakukan setelah inkubasi (-20°C) semalam untuk melekatkan
flokulan pada dasar tabung eppendorf. Bagian yang dibuang
setelah sentrifugasi ini adalah supernatan dan pelet dijaga tetap
berada pada dasar tabung eppendorf. DNA kromosomal akan
membentuk kompleks tak larut dan lebih sulit terenaturasi
dibandingkan dengan DNA plasmid karena target isolat DNA
ialah DNA kromosomal, yang diambil ialah bagian peletnya,
bukan supernatan yang mengandung DNA plasmid.
Metode pendidihan memerlukan DNA larut pada supernatan
sehingga tidak ada tahap presipitasi, sedangkan metode ekstraksi
dengan kit komersial mempresipitasi DNA ketika tahap adsorpsi
DNA dilakukan, yaitu dengan etanol 80%. Etanol juga merupakan
senyawa kurang polar dibandingkan dengan air. Prinsip
presipitasi etanol sama dengan isopropanol.
56
f.
Pemekatan DNA
Pelet DNA sangat sulit diperoleh dan recovery sulit terjadi,
yang berarti konsentrasi DNA rendah. Menurut Birren et al.
(1997), untuk DNA dengan konsentrasi rendah, peningkatan daya
recovery
dapat
dilakukan
dengan
memperpanjang
waktu
sentrifugasi, bukan dengan memperlama waktu inkubasi. Oleh
karena itu, sentrifugasi yang biasanya dilakukan 10 menit
diperpanjang menjadi 30 menit.
Pelet hasil sentrifugasi diberi etanol 70% untuk mencuci
benang DNA. Etanol 70-80 % akan melarutkan garam NH3+ yang
kemungkinan masih terdapat pada isolat DNA, tanpa melarutkan
asam nukleat. Setelah pencucian dengan etanol 70%, pelet
dikeringkan. Pengeringan tersebut dapat dilakukan dengan alat
vakum jika kuantitas pelet besar. Namun, kuantitas pelet yang
diperoleh dari isolasi DNA ini sangat rendah (pelet tidak tampak
jelas) sehingga pelet dikeringudarakan. Pelet yang sudah kering
dilarutkan dalam buffer TE 1X untuk menjaga tekanan osmotik
DNA.
Metode isolasi yang banyak digunakan untuk mengisolasi DNA
adalah metode ekstraksi dengan fenol:kloroform. Fenol mampu
mendenaturasikan protein secara efisien dan menghasilkan isolat
DNA yang cukup murni.
3.
Tahap Amplifikasi
Amplifikasi real-time PCR menggunakan campuran pereaksi dan
isolat DNA dengan total volume 25 µl, yaitu volume minimal bagi thermal
cycler yang digunakan dalam penelitian. Komposisi atau konsentrasi dye
fluorescence, buffer PCR, Mg2+, deoksinukleotida, DNA polimerase, dan
primer sangat berpengaruh terhadap efektivitas amplifikasi. Campuran
buffer PCR, Mg2+, deoksinukleotida, dan DNA polimerase telah tersedia
57
secara komersial yakni IQ SYBR Green Supermix dan digunakan dalam
proses amplifikasi ini.
SYBR Green digunakan sebagai dye fluorescence sebab lebih mudah
untuk mendeteksi produk PCR (amplikon) dan ekonomis, dibandingkan
penggunaan probe, dan juga lebih sensitif dibandingkan pewarnaan
dengan ethidium bromida pada elektroforesis gel agarosa. SYBR Green
bekerja dengan cara mengikat DNA untai ganda dan mengeksitasikan
sinar. Sinar berupa fluoresen akan meningkat sebanding dengan akumulasi
produk PCR. Sayangnya, SYBR Green mengikat juga DNA untai ganda
lain (bukan produk spesifik) dalam reaksi, misalnya primer dimer.
Komposisi campuran reaksi mengandung RNAse free water yang
berfungsi untuk melarutkan senyawa lainnya dalam larutan untuk reaksi
PCR. SYBR Green berperan sebagai pewarna fluoresen, DNA polimerase
berperan sebagai enzim yang memperpanjang primer secara komplementer
terhadap DNA target, dan deoksinukleotida berfungsi untuk menyediakan
basa nukleotida bagi proses polimerisasi oleh DNA polimerase. Primer
berfungsi untuk mengawali polimerisasi oleh DNA polymerase dan
menjadi penentu spesifisitas gen yang dianalisis. Isolat DNA atau DNA
templat berfungsi sebagai DNA target yang akan diamplifikasi.
Campuran reaksi beserta DNA target dipipet pada microwell dan
ditutup oleh microseal adhesive agar cairan tidak menguap keluar dari well
saat amplifikasi berjalan. Apabila cairan dibiarkan menguap akan
mengurangi DNA target yang teramplifikasi, dengan kata lain mengurangi
konsentrasi bakteri yang terdeteksi.
Amplikasi dilaksanakan pada suhu 95°C selama 10 menit sebagai
tahap predenaturasi untuk menjamin bahwa semua DNA untai tunggal
telah menjadi DNA untai tunggal; (40 siklus) 95°C selama 10 detik tahap
denaturasi dan 55°C selama 45 detik tahap penempelan (annealing). Suhu
tersebut merupakan suhu yang dikembangkan Fricker et al. (2007) untuk
mendeteksi B. cereus pada sampel pangan pasta dan nasi. Waktu
annealing diturunkan dari 60 detik menjadi 45 detik berdasarkan trial and
error. Dalam waktu 45 detik DNA target sudah teramplifikasi dan
58
terdeteksi. Tahap perpanjangan (extension) tidak perlu lagi dilakukan
dengan real-time PCR karena yang diperlukan ialah data awal terjadinya
amplifikasi di setiap siklus (fase eksponensial), bukan akumulasi produk di
fase akhir (fase plato) seperti halnya PCR standar. Hal ini mempersingkat
waktu amplifikasi.
Proses amplifikasi (40 siklus) dilanjutkan dengan 80 siklus untuk
memperoleh melt curve dan mengetahui melting temperature (Tm) produk
PCR. Amplifikasi dari bakteri yang sama dengan primer yang sama akan
memiliki melting temperature (suhu saat DNA untai ganda menjadi DNA
untai tunggal) yang sama (Tm). Nilai Tm dapat digunakan untuk
menetapkan spesifisitas uji dan hanya dapat dibaca pada melt curve. Melt
curve ialah grafik perbandingan suhu dan turunan RFU terhadap suhu
sehingga dapat diketahui spesifisitas bakteri. Untuk memperoleh melt
curve, amplifikasi dilanjutkan dengan menambahkan 80 siklus dengan
suhu 55°C (sesuai suhu annealing) selama 10 detik.
4.
Evaluasi Kinerja Real-Time PCR
Pemaparan mengenai limit deteksi untuk menilai sensitivitas uji PCR
dan spesifisitas uji akan dijelaskan di bawah ini.
a.
Limit deteksi
Grafik amplifikasi dan kurva standar hasil amplifikasi dari isolat
DNA yang diisolasi dengan metode pendidihan, metode ekstraksi
dengan fenol:kloroform, dan metode ekstraksi dengan kit komersial
disajikan pada Gambar 10. Grafik amplifikasi berbentuk sigmoid
terdiri atas beragam warna yang masing-masing menandakan
pengenceran
isolat
DNA
yang
teramplifikasi.
Grafik
10a,
menggambarkan 8 tingkat pengenceran teramplifikasi, Grafik 10b
menggambarkan 7 tingkat pengenceran teramplifikasi, Grafik 10c
hanya 3 tingkat pengenceran teramplifikasi. Kurva standar tersebut
menunjukkan bahwa konsentrasi bakteri berbanding terbalik dengan
nilai Ct. Semakin tinggi konsentrasi bakteri maka nilai Ct akan
semakin rendah karena jumlah DNA target lebih banyak sehingga
59
primer lebih cepat menempel pada DNA target. Oleh karena itu, nilai
Ct pada kultur murni B. cereus sebelum pengenceran paling rendah
Threshold cycle (Ct)
PCR Base Line Subtracted RFU
dan semakin tinggi pengenceran, semakin tinggi pula nilai Ct.
Log konsentrasi bakteri (CFU/ml)
Cycle
(d)
Threshold cycle (Ct)
PCR Base Line Subtracted RFU
(a)
Log konsentrasi bakteri (CFU/ml)
Cycle
(e)
Threshold cycle (Ct)
PCR Base Line Subtracted RFU
(b)
Log konsentrasi bakteri (CFU/ml)
Cycle
(c)
(f)
Gambar 10. (a-c) Grafik amplifikasi DNA B. cereus, (a) Hasil isolasi metode
pendidihan; (b) Hasil isolasi metode fenol:kloroform; (c) Hasil isolasi
dengan kit komersial. (d-f) Kurva standar kultur murni B. cereus, (d)
Metode pendidihan; (e) Metode ekstraksi dengan fenol:kloroform; (f)
Metode dengan kit komersial
60
Kurva standar kultur murni B. cereus yang DNA-nya diisolasi
dengan kit komersial hanya menunjukkan tiga tingkat pengenceran
yang DNA-nya teramplifikasi. Hal ini disebabkan tahap persiapan
isolat DNA tidak sebaik isolasi DNA dengan metode pendidihan dan
ekstraksi dengan fenol:kloroform. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
sedikitnya waktu saat pelisisan sel dengan enzim dan deterjen.
Masing-masing kurva standar di atas memiliki nilai R2, slope,
y-int serta efisiensi kurva standar yang ditabulasikan pada Tabel 4.
Nilai R2 dijadikan tolak ukur kurva standar yang paling baik dalam
penelitian ini. Nilai optimum R2 dan E suatu kurva standar, berturutturut, adalah 1.000 dan 90-110%. Kurva standar yang memiliki nilai
optimum diasumsikan sebagai kurva standar yang terbaik (Alarcon
et al., 2006). Kurva standar yang memberi nilai R2 mendekati nilai
optimum adalah kurva standar dari metode pendidihan dengan nilai R2
sebesar 0.944. Melalui persamaan linear yang diperoleh dari kurva
standar juga dapat ditentukan efisiensi amplifikasi. Nilai efisiensi
merupakan perbandingan antara reagen dan produk yang terbentuk
dan menunjukkan persentase efisiensi PCR dalam proses amplifikasi.
Tabel 4. Data kurva standar dari metode isolasi pendidihan, ekstraksi
dengan fenol:kloroform, dan ekstraksi dengan kit komersial
DNA
Metode
Metode
Metode
Nilai
ekstraksi dengan ekstraksi dengan
pendidihan
fenol:kloroform
kit komersial
R2
0.944
0.817
0.894
Slope
-0.321
-0.087
-0.639
y-int
31.208
29.805
37.172
1.3 x 105
2.8 x 1013
3.6 x 103
Efisiensi (%)
Seluruh nilai efisiensi amplifikasi ini melebihi kisaran optimal
efisiensi amplifikasi. Hal ini disebabkan oleh produk non spesifik
yang terbentuk. Produk non spesifik disebabkan karena amplifikasi
61
yang terjadi bukan antara primer BceT dan DNA target, misalnya
amplifikasi antara primer dan primer, amplifikasi antara primer dan
RNA sehingga terjadilah over efficiency di mana reagen dianggap
sangat efisien menghasilkan banyak produk. Karena seluruh nilai
efisiensi terlampau tinggi, kurva standar yang terbaik untuk penetapan
limit deteksi hanya ditentukan berdasarkan nilai R2 yang mendekati
optimum.
Mengacu pada data kurva standar (Tabel 4) yang diperoleh,
isolasi DNA dengan metode pendidihan dijadikan sebagai kurva
standar dalam penelitian ini. Oleh karena itu, untuk penetapan limit
deteksi
B.
cereus
dalam
sampel
pangan
selanjutnya
akan
menggunakan persamaan linear dari kurva standar metode pendidihan.
Sensitivitas uji merupakan limit deteksi terendah yang mampu
dicapai oleh pendeteksian real-time PCR. Data penentuan limit
deteksi kultur murni B. cereus dan B. cereus pada sampel pangan nasi
goreng dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Limit deteksi kultur murni B. cereus dan B. cereus dalam nasi goreng
Sampel
KM
SPS
SP
Pengenceran
Sampel
1.0 x 10-1
1.0 x 10-2
1.0 x 10-3
1.0 x 10-4
1.0 x 10-5
1.0 x 10-6
1.0 x 10-7
1.0 x 10-8
1.0 x 10-6
1.0 x 10-1
Keterangan:
Threshold Cycle (Ct)
Metode
Metode
Pendidihan
Fenol:
Kloroform
29.45
28.99
29.92
29.31
30.36
29.36
31.05
29.40
31.58
29.42
31.16
29.44
31.94
29.68
31.79
‐
31.68
31.78
31.78
31.56
CFU/ml
Metode
Metode Fenol:
pendidihan
Kloroform
7
8.8 x 10
8.8 x 106
8.8 x 105
8.8 x 104
8.8 x 103
8.8 x 102
8.8 x 101
8.8
1.6
1.3
8.8 x 107
8.8 x 106
8.8 x 105
8.8 x 104
8.8 x 103
8.8 x 102
8.8 x 101
8.8
1.3
2.0
KM = Kultur murni B. cereus
SPS = Nasi goreng yang telah diinokulasi secara artifisial
dengan kultur murni (10-1)
SP = Nasi goreng yang tidak diinokulasi secara artifisial
Kultur murni B. cereus masih terdeteksi hingga pengenceran tertinggi
(10-8) dengan metode pendidihan sehingga limit deteksinya adalah
8.8 CFU/ml, sedangkan DNA B. cereus yang diisolasi dengan metode
62
ekstraksi fenol:kloroform limit deteksi adalah 88 CFU/ml. Metode
ekstraksi dengan fenol:kloroform tidak dapat mengisolasi DNA pada
pengenceran tertinggi (10-8) sehingga tidak terjadi amplifikasi. Isolat DNA
pada pengenceran 10-8 tidak terisolasi dengan baik akibat homogenisasi
yang kurang pada tahap pengenceran juga tahap isolasi DNA.
Metode pendidihan dan metode ekstraksi dengan fenol:kloroform
mampu mengamplifikasi DNA B. cereus dari SPS hingga pengenceran
tertinggi (10-6). Limit deteksi B. cereus pada sampel pangan yang
diinokulasi secara artifisial (SPS) dari metode pendidihan adalah
1.6 CFU/ml, sedangkan dari metode ekstraksi dengan fenol:kloroform
adalah 1.3 CFU/ml. Sampel pangan yang tidak diinokulasi turut diisolasi
dan isolat DNA diamplifikasi untuk menguji kesensitifan metode ini.
Metode deteksi berbasiskan DNA berupa amplifikasi dengan real-time
PCR mampu mendeteksi B. cereus pada sampel pangan tanpa inokulasi
kultur murni B. cereus. Limit deteksi B. cereus pada sampel nasi goreng
(SP) dengan metode pendidihan ialah 1.3 CFU/ml, sedangkan ekstraksi
dengan metode fenol:kloroform adalah 2.0 CFU/ml. Angka limit deteksi
metode pendidihan lebih rendah daripada metode fenol:kloroform karena
senyawa inhibitor pada metode pendidihan lebih banyak. Isolasi DNA
dengan metode pendidihan hanya menggunakan lisozim dan proteinase K
untuk menghancurkan dinding sel dan menghilangkan protein, sedangkan
isolasi DNA dengan ekstraksi fenol:kloroform selain menggunakan
lisozim, SDS dan proteinase K, juga masih dilanjutkan dengan ekstraksi
fenol:kloroform sehingga inhibitor PCR seperti lipid, protein, polisakarida
terpisah dari DNA yang hendak diisolasi. Hal tersebut menyebabkan DNA
yang diisolasi oleh ekstraksi fenol:kloroform konsentrasinya lebih tinggi
dan teramplikasi lebih cepat, Ct amplikon hasil isolasi dengan ekstraksi
fenol:kloroform lebih rendah dibandingkan dengan metode pendidihan.
Real-time PCR masih memerlukan optimasi pada beberapa komponen
reaksi dan suhu annealing untuk memperoleh hasil optimum. Komponen
reaksi yang masih perlu dioptimasi, antara lain konsentrasi magnesium dan
konsentrasi primer.
63
Magnesium memungkinkan enzim polimerase berfungsi secara
optimal sebab menstimulasi aktivitas enzim tersebut. Dalam penelitian ini,
magnesium tidak ditambahkan pada campuran komponen reaksi PCR,
dengan asumsi Mg2+ yang terdapat pada SYBR telah optimum untuk
proses amplifikasi. Konsentrasi magnesium yang terlalu tinggi akan
menghasilkan akumulasi produk non spesifik, tetapi konsentrasi terlalu
rendah tidak akan memberikan hasil amplikon. Menurut Anderson (2006),
Mg2+ penting bahkan perlu ditambahkan ketika DNA target disimpan
dalan buffer TE, karena EDTA akan mengkelat Mg2+ sehingga reaksi akan
kekurangan Mg2+.
Konsentrasi primer juga perlu dioptimasi karena konsentrasi yang
terlalu tinggi akan meningkatkan kemungkinan terbentuknya produk non
spesifik, sedangkan konsentrasi terlalu rendah proses amplifikasi tidak
akan berkangsung.
Hal lain yang masih memerlukan optimasi ialah suhu annealing. Suhu
annealing yang terlalu tinggi menyebabkan primer tidak akan menempel,
sedangkan suhu annealing yang terlalu rendah menyebabkan primer akan
menempel di mana saja dan terbentuklah produk non spesifik. Hal ini yang
diduga menyebabkan nilai efisiensi sangat besar pada amplifikasi DNA
B. cereus di atas.
b. Spesifisitas uji
Spesifisitas uji dipengaruhi oleh pasangan primer yang digunakan,
mencakup susunan nukleotida, panjang nukleotida, melting temperature
(Tm) primer, annealling tempereture, dan konsentrasi primer. Primer yang
spesifik terhadap B. cereus dianalisis dengan program BLAST. Primer
spesifik yang digunakan adalah BceT1_F 5’-GAA TTC CTA AAC TTG
CAC CAT CTC G-3’ untuk forward primer dan BceT2_R 5’-CTG CGT
AAT CGT GAA TGT AGT CAA T-3’ untuk reverse primer. Primer
tersebut komplementer terhadap DNA target gen penyandi enterotoksin
B. cereus. Panjang basa nukleotida keduanya ialah 25 basa nukleotida.
64
Semakin panjang oligonukleotida, semakin spesifik primer tersebut.
Ukuran amplikon yang dihasilkan adalah 646 pasang basa.
Forward primer memiliki Tm 62.9 dan reverse primer memiliki Tm
61.3 sehingga selisih suhu peleburan keduanya adalah 1.6°C. Selisih Tm
sepasang primer sebaiknya tidak lebih dari 3°C. Selisih Tm pasangan
primer semakin kecil, maka pasangan primer tersebut semakin baik
digunakan dalam amplifikasi sebab Tm akan berpengaruh pada suhu
penempelan antara primer dan DNA target. Suhu penempelan (annealing)
biasanya 5°C di bawah Tm primer. Penempelan akan berjalan serempak
apabila Tm keduanya sama.
Penentuan suhu Tm amplikon berguna untuk mengukur spesifisitas uji
amplifikasi dari isolat DNA B. cereus. Nilai Tm amplikon ditentukan
berdasarkan melt curve yang diperoleh dari metode pendidihan dan metode
ekstraksi dengan fenol:kloroform, dan metode dengan kit komersial tersaji
pada Gambar 11. Berdasarkan melt curve, puncak kurva amplikon yang
terbentuk dari amplifikasi B. cereus dan primer BceT berada pada suhu
81.5°C sehingga suhu tersebut merupakan Tm amplikon.
Puncak melt curve yang dibentuk dari DNA hasil isolasi dengan
metode pendidihan tidak terpusat pada Tm yang sama karena spesifisitas
amplikon terganggu oleh adanya inhibitor PCR akibat isolat DNA kurang
murni. Metode dengan kit komersial juga menghasilkan puncak kurva
pada suhu yang berbeda-beda yang berarti terdapat produk non spesifik
pada hasil amplifikasi. Spesifisitas terbaik dicapai ketika hanya satu
puncak yang terbentuk pada sebuah melt curve dan melt curve dari
beberapa pengenceran suatu sampel memperlihatkan puncak pada suhu
yang sama.
Melt curve dari ketiga metode ada yang memiliki dua puncak juga
karena adanya larutan di dinding microwell yang teramplifikasi dan
amplikon dari amplifikasi tersebut yang terdeteksi pertama kali, kemudian
ketika larutan tersebut habis karena menguap barulah larutan pada dasar
microwell, yang seharusnya menjadi target deteksi, mengalami proses
amplifikasi dan terbentuklah puncak kedua pada melt curve. Apabila
65
terdapat dua puncak, kemungkinan terbesar puncak yang menunjukkan Tm
-d(RFU)/dT
amplikon sesungguhnya adalah puncak kedua.
Suhu
(a)(°C)
-d(RFU)/dT
(a)
Suhu
(b)(°C)
-d(RFU)/dT
(b)
Suhu
(c) (°C)
(c)
Gambar 11. Melt curve dari DNA yang diisolasi dengan (a) metode
pendidihan, (b) metode ekstraksi dengan fenol:kloroform, dan
(c) metode ekstraksi dengan kit komersial
66
Kurva amplikon dari isolat DNA hasil isolasi dengan metode
pendidihan dan ekstraksi fenol:kloroform semuanya memiliki puncak
dengan suhu 81.5 °C. Berdasarkan melt curve tersebut, nilai Tm produk
PCR (amplikon) ditetapkan sebesar 81.5°C. Spesifisitas amplikon yang
diperoleh dari metode isolasi DNA dengan pelarut fenol:kloroform paling
baik karena puncaknya lebih terpusat pada Tm 81.5°C. Setiap warna kurva
pada melt curve menunjukkan isolat DNA berasal dari pengenceran yang
berbeda, misalkan pada Gambar 11c terdapat tiga warna kurva yang
membentuk puncak maka terdapat tiga pengenceran isolat berbeda yang
menghasilkan produk PCR. Agar melt curve hanya memiliki satu puncak,
isolat DNA harus murni, larutan yang akan diamplifikasi harus homogen,
dan diusahakan larutan tersebut tidak menempel di sekitar dinding atas
microwell, selain di dinding dasar microwell.
Spesifistitas diuji pula dengan menggunakan kontrol negatif
B. subtilis. Primer spesifik B. cereus ini (BceT) komplementer terhadap
DNA gen penyandi enterotoksin B. cereus sehingga tidak dapat
mengamplifikasi DNA selain DNA dari gen penyandi enterotoksin
B. cereus. Jika primer spesifik hanya terhadap B. cereus maka amplifikasi
tidak dapat terjadi pada kontrol negatif. Grafik amplifikasi dan melt curve
dari B. subtilis yang diamplifikasi dengan primer BceT disajikan pada
-d(RFU)/dT
PCR Base Line Subtracted RFU
Gambar 12.
Cycle
Suhu (°C)
(a)
(b)
Gambar 12. (a) Grafik amplifikasi dan (b) melt curve isolat DNA
B. subtilis
67
Pada penelitian ini, primer BceT ternyata mampu meningkatkan
fluoresen yang berarti proses amplifikasi terjadi. Amplifikasi yang terjadi
ditunjukkan dengan terbentuknya kurva sigmoidal pada grafik amplifikasi
(Gambar 9a) dan puncak melt curve (Gambar 9b) menunjukkan Tm 82°C
berbeda dengan Tm amplikon dari amplifikasi isolat DNA B. cereus.
Nilai Tm amplikon yang hanya berselisih sedikit ini masih perlu dilakukan
amplifikasi ulang untuk menjamin bahwa Tm B. subtilis tersebut berasal
dari amplikon DNA B. subtilis, bukan dari produk non spesifik yang
terbentuk saat amplifikasi karena kurang optimalnya konsentrasi primer
atau suhu annealing. Konsentrasi primer yang terlalu tinggi akan
menyebabkan primer menempel di sembarang sekuens DNA dan
terbentuklah produk yang dalam melt curve ini memiliki nilai Tm bukan
pada DNA target. Oleh karena itu, perlu dilakukan optimasi konsentrasi
primer, baik reverse maupun forward primer. Apabila produk non spesifik
terbentuk, suhu annealing perlu dinaikkan (1-2°C) secara bertahap.
68
VI.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Antigen
yang
dimiliki
patogen
dapat
digunakan
untuk
mengklasifikasikan patogen tersebut ke dalam tingkatan yang lebih rendah
dari spesies, penetapan serovar berdasarkan antigen ini banyak diterapkan
pada penamaan Salmonella. Sepuluh isolat yang telah dikonfirmasi
merupakan spesies yang sama yaitu Salmonella spp. ternyata terdiri dari
6 serovar yang berbeda berdasarkan antigen O yang dimilikinya, yaitu
Salmonella spp. dengan antigen O:5, O:8, O:11 (OMF hanya memiliki faktor
tunggal 0:11), O:12, O:1,4,12 dan O:6,7,14.
Uji amplifikasi dengan real-time PCR merupakan salah satu metode
deteksi patogen berbasiskan DNA yang dapat diterapkan pada sampel pangan
yang telah diinokulasi. Isolasi DNA dapat langsung dilakukan tanpa
penambahan waktu inkubasi setelah kultur murni B.cereus diinokulasi. Isolasi
DNA
menggunakan
metode
ekstraksi
dengan
fenol:kloroform
direkomendasikan untuk pengujian yang memerlukan DNA murni, seperti
halnya amplifikasi dengan PCR.
Metode deteksi berbasiskan DNA dengan real-time PCR memiliki
sensitivitas tinggi, limit deteksi terendah yang dicapai pada sampel pangan
nasi goreng yang diinokulasi B. cereus adalah 1.3 CFU/ml. Sampel pangan
nasi goreng yang tidak diinokulasi ternyata juga mengandung B. cereus dan
patogen tersebut dapat dideteksi secara langsung oleh metode deteksi dengan
real-time PCR. Sampel pangan yang mengandung 1.3 CFU/ml B. cereus
dapat terdeteksi dengan real-time PCR.
B. SARAN
1. Uji serologi sebaiknya dilakukan secara lengkap sehingga penetapan
serovar dan penamaan subspesies dapat dilakukan.
2. Optimasi suhu annealing, konsentrasi primer, dan konsentrasi Mg2+ perlu
dilakukan untuk memperoleh hasil optimal dalam proses amplifikasi PCR.
69
DAFTAR PUSTAKA
Alarcon, B., B. Vicedo, and R. Aznar. 2006. PCR-based procedures for detection
and quantification of Staphylococcus aureus and their application in food.
Journal of Applied Microbiology 100 (2006), p.352-364.
Anderson, J.M. 2006. Design and Applications in Molecular Biology Research:
PCR and Primer Design. http://www.google.co.id/ppt [10 Maret 2009]
Anonim. 2001. Rapid Methods for Detecting Foodborne Patogens. Bacteriological
Analytical Manual Online, FDA.
Ash, C., J. A. E. Farrow, M. Dorsch, E. Stackebrandt, and M. D. Collins. 1991.
Comparative analysis of Bacillus anthracis, Bacillus cereus, and related
species on the basis of reverse transcriptase sequencing of 16S rRNA. Int.
J.Syst. Bacteriol. 41:343–346.
Atlas, R.M. 2006. Handbook Of Microbiological Media for the Examination of
Food. 2nd Ed. CRC Press, Boca Raton.
[Badan POM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2008. Kajian dan Penelusuran
Mikroba Patogen Penyebab Keracunan Pada Pangan. Laporan Bidang
Keamanan Pangan Pusat Riset Obat dan Makanan. Jakarta.
Birren, B., E.D. Green, S. Klapholz, R.M. Myers, and J. roskams. 1997. Genome
Analysis. A Laboratory Manual Vol.1/Analyzing DNA. Cold Spring Harbor
Laboratory Press, USA.
Boom, R., C.J.A. Sol, M.M.M. Salimans, C. L. Jansen, P. M. E. Wertheim-Van
Dillen, and J. Noordaa. 1990. Rapid and simple method for purification of
nucleic acids. J. Clin. Microbiol. 28:495-503.
[CDC] Center for Disease Control and Prevention. 2008. Biosafety in
Microbiological and Biomedical Laboratories (BMBL) - 4th edition, US
Government
Printing
Office,
Washington.
http://www.cdc.gov/od/ohs/biosfty.htm [21 April 2009].
Chapaval, L., D.H. Moon, J.E. Gomes, F.R. Duarte, and S.M. Tsai. 2008. An
alternative method for Staphylococcus aureus DNA isolation. Arq. Bras.
Med. Vet. Zootec., v.60, n.2, p.299-306.
Cohen, N.D., L.J. Martin, R.B. Simpson, D.E. Wallis, and H.L. Neibergs. 1996
Comparison of polymerase chain reaction and microbiological culture for
detection of salmonellae in equine feces and environmental samples.
American Journal of Veterinary Research 57, 780–786.
70
de Boer, E. and R.R. Beumer. 1999. Methodology for detection and typing of
foodborne microorganisms. International Journal of Food Microbiology 50
(1999) 119–130.
[Deptan]
Departemen
Pertanian.
2009.
Situasi
konsumsi.
http://bkp.deptan.go.id/seputar bkp/web konsumsi [16 juli 2009].
Dharmaraj, S. 2009. RT-PCR: The Basics. http://www.ambion.com/techlib [27
Februari 2009].
Dollard,
K.
1994.
DNA
isolation
from
union.
http://www.accessexcellence.org/AE/AEC/AEF/1994/dollard_onionDNA.ph
p [21 Juli 2009].
D’Aoust, J.Y. 2000. Salmonella. Di dalam: The Micobiological Safety and
Quality of Food, Vol.III. Lind B.M., Baird-Parker T.C., dan Gould G.W.,
editor. Aspen Publisher, Maryland.
Edwards, K., J. Logan, and N. Sanders. 2004. Real-time PCRAn Essential Guide.
Horizon Bioscience, London.
Espy, M. J., J. R. Uhl, L. M. Sloan, S. P. Buckwalter, M. F. Jones, E. A. Vetter, J.
D. C. Yao, N. L. Wengenack, J. E. Rosenblatt, F. R. Cockerill III, and T. F.
Smith. 2006. Real-time PCR in Clinical Microbiology: Applications for
Routine Laboratory Testing. Clinical Microbiology Reviews, Vol. 19 No. 1,
p. 165–256.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Fricker, M., U. Messelha¨ußer, U. Busch, S. Scherer, and M. Ehling-Schulz. 2007.
Diagnostic real-time PCR assays for the detection of emetic Bacillus cereus
strains in foods and recent food-borne outbreaks. Applied And
Environmental Microbiology, Vol. 73, No. 6. Mar. 2007, P. 1892–1898.
Gast, R.K. 2003. Salmonella Infections. Di dalam: Diseases of Poultry. Saif,
Y.M., Barness H.J., Fadly, A.M., Glisson, F.R., McDougald, L.R., dan
Swayne, D., editor. Blackwell Publishing, Iowa.
Hansen, B. M and N. B. Hendriksen. 2001. Detection of Enterotoxic Bacillus
cereus and Bacillus thuringiensis Strains by PCR Analysis. Applied and
Environmental Microbiology, Vol. 67, No. 1, p. 185–189.
Hein, I., A. Lehner, P. Rieck, K. Klein, E. Brandl, and M. Wagner. 2001.
Comparison of Different Approaches To Quantify Staphylococcus aureus
Cells by Real-time Quantitative PCR and Application of This Technique for
Examination of Cheese. Applied and Environmental Microbiology, Vol. 67,
No. 7, p. 3122–3126.
71
Jay, J. M. 1996. Staphylococcal Gastroenteritis. In Modern Food Microbiology.
5th. 429-450.
Jayarao, B. M. and D. R. Henning. 2001. Prevalence of foodborne pathogens in
bulk tank milk. J. Dairy Sci. 84:2157–2162.
Lund, T., De M. L. Buyser, and P. E. Granum, 2000. A new cytotoxin from
Bacillus cereus that may cause necrotic enteritis. Molecular Microbiology,
38: 254-261.
Mäntynen, V. and K. Lindström. 1998. A rapid PCR-based DNA test for
enterotoxic Bacillus cereus. Appl Environ Microbiol, Vol. 64, No. 5, p.
1634-1639.
Mazumdar, S.D. 2008. Surface plasmon resonance (SPR) biosensor for rapid
detection of Salmonella and Salmonella infections. Fachbereich Pharmazie,
der Philipps-Universität Marburg, Marburg.
Medici, D. D., L. Croci, E. Delibato, S. D. Pasquale, E. Filetici, and L. Toti. 1995.
Evaluation of DNA Extraction Methods for Use in Combination with SYBR
Green I Real-time PCR To Detect Salmonella enterica Serotype Enteritidis
in Poultry. Applied and Environmental Microbiology, Vol. 69, No. 6, p.
3456–3461.
Myers, C. J. and S. Sakelaris. 2004. Oligonucleotide primers for phosphotidyl
inositol in Bacillus cereus. United States Patent 6713620.
http://FreePatentsOnline.com [20 Februari 2009].
Naravaneni, R and K. Jamil. 2005. Rapid detection of foodborne pathogen by
using molecular techniques. J. of Med Microbiol. 51-54.
Patel, P. D., and D. W. Williams. 1994. Evaluation of commercial kits and
instruments for the detection of foodborne bacterial patogens and toxins. In
P. D. Patel (ed.), Rapid analysis techniques in food microbiology. Chapman
& Hall, Glasgow, Scotland. hal 61-97.
Poernomo, J.S. 2004. Variasi tipe antigen Salmonella pullorumyang ditemukan di
Indonesia dan penyebaran serotipe Salmonella pada ternak. Wartazoa Vol.
14 No. 4, p. 143-159.
Rusyanto, W. 2005. Prevalensi Serovar dan Galur Resisten Antibiotik Salmonella
pada Rantai Produksi Udang Tambak. Tesis. IPB Press, Bogor.
Sambrook, J., E.F. Fritsch, and T. Maniatis. 1989. Molecular Cloning.
A Laboratory Manual. Cold Spring Harbor Laboratory Press, New York.
72
Schraft, H. and M. W. Griffiths. 1995. Specific oligonucleotide primers for
detection of lecithinase-positive Bacillus spp. by PCR. Applied and
Environmental Microbiology, Vol. 61, No. 1, p. 98–102.
Supardi, I. dan Sukamto. 1999. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan
Pangan. Alumni, Bandung.
[USFDA] U.S Food and Drug Administration. 2001. Bacillus cereus.
Bacteriological Analytic Manual January 2001, Chapter 14. FDA, United
State.
[USFDA] U.S Food and Drug Administration. 2007. Salmonella. Bacteriological
Analytic Manual December 2007 Edition. FDA, United State.
[WHO] World Health Organization. 2009. Global Salm-Surv: A Global
Salmonella Surveillance and Laboratory Support Project of the World
Health Organization. WHO National Salmonella and Shigella Center,
Thailand.
73
Lampiran 1. Struktur organisasi Badan POM RI
KEPALA BADAN PENGAWAS
1.
2.
Inspektorat
3.
4.
Pusat
Pengujian
Obat dan
Makanan
Nasional
Deputi I
Bidang Pengawasan
Produk Terapetik dan
Narkotika,
Psikotropika dan Zat
Adiktif
1. Dit. Penilaian Obat
dan Produk Biologi
2. Dit. Pengawasan
Distribusi Produk
Terapetik & PKRT
3. Dit.Standardisasi
Produk Terapetik &
PKRT
4. Dit. Pengawasan
Produksi Produk
Terapetik & PKRT
5. Dit. Pengawasan
Narkotika,
Psikotropika dan Zat
Adiktif (NAPZA)
Sekretariat Utama
Biro Perencanaan dan
Keuangan
Biro Kerjasama Luar
Negeri
Biro Hukum dan Humas
Biro Umum
Pusat
Penyidikan
Obat dan
Makanan
Pusat
Riset
Obat dan
Makanan
Pusat
Informasi
Obat dan
Makanan
Deputi II
Bidang Pengawasan Obat
Tradisional, Kosmetik,
dan Produk Komplemen
Deputi III
Bidang Pengawasan
Keamanan Pangan dan
Bahan Berbahaya
1. Dit. Penilaian Obat
Tradisional, Suplemen
Makanan dan Kosmetik
2. Dit. Standardisasi Obat
Tradisional, Kosmetik
dan Produk Komplemen
3. Dit. Inspeksi dan
Sertifikasi Obat
Tradisional, Kosmetik,
dan Produk Komplemen
4. Dit. Obat Asli Indonesia
1. Dit. Penilaian
Keamanan Pangan
2. Dit. Standardisasi
Produk Pangan
3. Dit. Inspeksi dan
Sertifikasi Produk
Pangan
4. Dit. Surveilan dan
Penyuluhan Keamanan
Pangan
5. Dit. Pengawasan
Produk dan Bahan
Berbahaya
UNIT PELAKSANA TEKNIS BPOM
74
Lampiran 2. Prosedur pembuatan media (Atlas, 2006)
TSB (Triptone Soy Broth)
75
Lampiran 3. Prosedur pembuatan media (Atlas, 2006)
MYPA (Mannitol Egg Yolk Polymyxin Agar) (BAM M95)
76
Lampiran 4. Persiapan kultur bakteri (PROM Biotech, 2008)
a.
Bakteri uji
b.
Bakteri kontrol
77
Lampiran 5. Data jumlah koloni dan konsentrasi B. cereus
Kultur murni B. cereus (KM) pada medium MYPA
Cawan
10-6
10-7
10-8
CFU/ml
1
88
7
1
8.8 x 108
2
87
5
0
78
Lampiran 6. Isolasi DNA metode pendidihan (Hein et al., 2001 dengan
modifikasi)
79
Lampiran 7. Isolasi DNA metode ekstraksi dengan fenol:kloroform
(Sambrook et al., 1989 dengan modifikasi)
80
Lampiran 8. Isolasi DNA sesuai dengan panduan kit komersial
81
Lampiran 9. Penetapan Limit of Detection (LOD) Mikroba (PROM Biotech, 2008)
82
Lampiran 10. Uji motilitas Salmonella spp.
Uji motilitas
Visualisasi
Motilitas
Positif
Motil
Negatif
Tidak motil
83
Download