MEMBANGUN PERADABAN ISLAM Oleh Evita Khoeriah

advertisement
MEMBANGUN PERADABAN ISLAM
Oleh
Evita Khoeriah
Irda Jamilatusyamsiah Hartoyo
Kundari Agustianingsih
Abstrak
Peradaban adalah sekumpulan konsep (mafahim) tentang kehidupan.
Peradaban bisa berupa peradaban spiritual ilahiyah (diiniyyah ilahiyyah)
atau peradaban buatan manusia (wadl‟iyyah basyariyyah). Peradaban
spiritual ilahiyah lahir dari sebuah ideologi („aqidah), sebagaimana
peradaban Islam yang lahir dari aqidah Islamiyah. Sedangkan peradaban
buatan manusia muncul dari sebuah ideologi, seperti misalnya peradaban
kapitalis Barat, yang merupakan sekumpulan konsep tentang kehidupan yang
muncul dari ideologi sekularisme. Peradaban semacam ini bisa pula tidak
berasal dari sebuah ideologi, semisal peradaban Shinto, Yunani, Babilonia,
dan Mesir Kuno. Peradaban-peradaban tersebut sekedar merupakan
sekumpulan konsep yang disepakati sekelompok manusia, sehingga menjadi
sebuah peradaban yang bersifat kebangsaan.
A.
Pengertian Peradaban Islam
Peradaban islam diartikan sebagai perkembangan atau kemajuan
kebudayaan islam dalam perspektif sejarahnya. Disini dapat pula
dikemukakan makna peradaban islam dalam tiga pengertiannya yang
berbeda-beda. Pertama kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang
dihasilkan dalam suatu suatu periode kekuasaan islam, mulai dari
periode Nabi Muhammad SAW. Sampai perkembangan kekuasaan
islam sekarang,; kedua hasil-hasil yang dicapai oleh umat islam
dalam lapangan kesusastraan, ilmu pengetahuan, dan kesenian; ketiga
kemajuan politik atau kekuasaan islam yang berperan melindungi
pandangan hidup islam terutama dalam hubungannya dengan wadah-
1
wadah penggunaan bahasa dan kebiasaan hidup bermasyarakat.
Beberapa karya tentang sejarah (historiografi) umat islam yang
ditulis
oleh
para
ahli
terdahulu
menunjukkan
model-model
periodisasi sejarah
Islam yang berbeda-beda. Diantaranya, karya Ahmad Syalabi,
Sejarah dan Kebudayaan Islam, membagi babakan sejarah dimaksud
berdasarkan perkembangan islam pada masa Nabi dan para penguasa
muslim melalui dinasti-dinasti islam, dalam karya lain seperti di tulis
oleh Hasan Ibrahim Hasan, Islamic History and Culture (632 -1986)
Dalam karya-karya mutakhir tentang sejarah peradaban islam, para
ahli
cenderung
menyederhanakan
periodisasinya
menjadi
tiga
babakan utama yaitu : periode klasik, periode pertengahan, dan
periode modern. Diantara karya-karya dimaksud, disini yang layak
penulis kembangkan
Adalah periodesasi yang dibuat oleh Ira M Lapidus dalam
karyanya A History of Islamic Societis dengan pembabakan sebagai
berikut :
1.
Periode awal peradaban islam di Timur Tengah (abad VII XIIM) Periode penyebaran peradaban Islam Timur Tengah ke
wilayah lain atau disebut
juga era “Penyebaran Global
Masyarakat Islam” (abad XIII – XIX M)”
2.
Periode perkembangan modern umat islam (abad XIX – XX
M).
Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al – Hadha-rah al –
Islamiyyah. Kata Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan Kebudayaan Islam. “ Kebudayaan” dalam Bahasa arab
adalah al – Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat,
masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata “ kebudayaan” ( Arab, al
–Tsaqafah; Inggris, culture ) dan “ Peradaban” ( Arab, al- Hadharah; Inggris,
civilization ). Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah
itu dibedakan.
2
Banyak pengertian peradaban (civilization) yang berkembang sampai saat
ini. Berdasarkan pengertian menurut para pakar atau segi bahasa. Kita akan mencoba
menelaahnya, dalam khazanah ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan kita
sebagai manusia yang berperan besar dalam peradaban yang ada di dunia ini.
Ada beberpa pakar yang menyambungkan dalam pengertian peradaban,
diantaranya adalah:
Samuel Huntington
Memberikan pengertian peradaban sebagai nilai, institusi dan polafikir
yang menjadi bagian terpenting dari suatu masyarakat dan mewariskan
satu generasi ke generasi lainnya.
Rene Sedilot
Menagrtikan peradaban sebagai khasanah pengetahuan dan kecakapan
tekhnis yang terus meningkat dari suatu generasi ke generasi selanjutnya
dan sanggup berlanjut secara terus-menerus.
B.
Pengertian Islam Hadlarah
Terdapat perbedaan antara Hadlarah dan Madaniyah. Hadlarah adalah
sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang
kehidupan. Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari bendabenda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.
Hadlarah bersifat khas, terkait dengan pandangan hidup. Sementara
madaniyah bisa bersifat khas, bisa pula bersifat umum untuk seluruh umat
manusia. Bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadlarah, seperti
patung, termasuk madaniyah yang bersifat khas. Sedangkan bentuk-bentuk
madaniyah yang menjadi produk kemajuan sains dan perkembangan
teknologi/ industri tergolong madaniyah yang bersifat umum, milik seluruh
umat manusia. Bentuk madaniyah yang terakhir ini bukan milik umat
tertentu, akan tetapi bersifat universal seperti halnya sains dan
teknologi/industri.
3
Perbedaan
antara
hadlarah
dengan
madaniyah
harus
selalu
diperhatikan. Begitu pula harus diperhatikan perbedaan antara bentukbentuk madaniyah yang menjadi produk suatu hadlarah dengan bentukbentuk madaniyah yang merupakan produk sains dan teknologi/industri. Hal
ini amat penting pada saat kita akan mengambil madaniyah, agar kita dapat
membedakan bentuk- bentuknya atau agar dapat membedakannya dengan
hadlarah. Jadi, tidak ada larangan bagi kita untuk mengambil bentukbentuk madaniyah Barat yang menjadi produk sains dan teknologi/industri.
Namun madaniyah Barat yang merupakan produk hadlarah-nya, jelas tidak
boleh kita ambil, karena jelas- jelas bertentangan dengan hadlarah Islam,
baik dari segi asas dan pandangannya terhadap kehidupan, maupun dari arti
kebahagiaan hidup bagi manusia.
Hadlarah Barat dibangun berdasarkan pemisahan agama dari
kehidupan dan pengingkaran terhadap peran agama dalam kehidupan. Hal
ini berakibat munculnya paham sekular, yaitu pemisahan agama dari urusan
negara -suatu hal yang wajar bagi mereka yang memisahkan agama dari
kehidupan dan mengingkari keberadaan agama dalam kehidupan. Diatas
landasan inilah mereka tegakkan sendi-sendi kehidupan beserta peraturanperaturannya.
Kehidupan menurut mereka hanya untuk (meraih) manfaat/maslahat.
Manfaat menjadi ukuran bagi setiap perbuatan mereka. Manfaat merupakan
dasar
tegaknya
sistem
dan
hadlarah
Barat. Dari sinilah manfaat menjadi paham yang menonjol dalam sistem
dan hadlarah ini. Menurut mereka, kehidupan ini semata-mata hanya
digambarkan dalam kerangka manfaat. Sedangkan kebahagian mereka
artikan sebagai usaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin kenikmatan
jasmani, serta tersedianya seluruh sarana kenikmatan tersebut. Dengan
demikian hadlarah Barat adalah hadlarah yang dibangun berdasarkan
mashlahat saja. Tidak ada nilai lain selain manfaat. Mereka tidak mengakui
apapun selain manfaat. Mereka jadikan manfaat sebagai ukuran bagi setiap
perbuatan. Aspek kerohanian –menurut mereka-, menjadi urusan pribadi
4
yang tidak ada hubungannya dengan masyarakat, dan terbatas hanya pada
lingkungan gereja serta para gerejawan. Wajar, dalam hadlarah Barat tidak
terdapat nilai-nilai moral, rohani, dan kemanusiaan. Yang ada hanya nilai
nilai materi dan manfaat saja. Atas dasar inilah segala aktivitas
kemanusiaan diambil alih oleh organisasi-organisasi yang berdiri sendiri di
luar pemerintahan, seperti organisasi Palang Merah dan missi-missi
zending. Seluruh nilai-nilai telah tercabut dari kehidupan kecuali nilai
materi, yaitu memperoleh keuntungan. Jelas bahwa hadlarah Barat
sebenarnya adalah himpunan dari mafahim tentang kehidupan sebagaimana
diuraikan sebelumnya. Adapun hadlarah Islam berdiri di atas landasan yang
bertentangan dengan landasan hadlarah Barat. Pandangannya tentang
kehidupan dunia juga berbeda dengan yang dimiliki oleh hadlarah Barat.
Demikian pula arti kebahagiaan hidup menurut Islam sangat berlawanan
dengan arti kebahagiaan hidup menurut hadlarah Barat. Hadlarah Islam
berdiri atas dasar iman kepada Allah SWT, dan bahwasanya
Dia telah menjadikan untuk alam semesta, manusia, dan hidup ini
suatu aturan yang masing-masing harus mematuhinya.Diutusnya untuk kita,
Nabi Muhammad SAW dengan membawa Agama Islam.
Dalam Islam peradaban disebut juga khadharah, artinya sekumpulan
konsep tentang kehidupan yang berupa peradaban spiritual atau buatan
manusia. Peradaban spiritual ini dalam bidang religi, contohnya peradaban
islam dan sebagainya, sedangkan peradaban manusia contohnya peradaban
yunani dan babilonia.
Jadi, hadlarah Islam berdiri di atas dasar akidah Islam yaitu beriman
kepada Allah, Malaikat malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab suciNya, Hari Kiamat, serta kepada Qadla dan Qadar baik buruknya dari Allah
SWT. Akidahlah yang menjadi dasar bagi hadlarah ini. Dengan demikian
hadlarah ini berlandaskan pada asas yang memperhatikan ruh (yaitu
hubungan manusia dengan Pencipta). Konsep kehidupan menurut hadlarah
Islam, dapat dilihat dalam konsep dasar Islam yang lahir dari akidah Islam
5
serta yang menjadi dasar bagi kehidupan dan perbuatan manusia di dunia.
Konsep dasar itu adalah penggabungan materi dengan ruh, yaitu
menjadikan semua perbuatan manusia berjalan sesuai dengan perintah Allah
dan larangan-Nya.
Konsep ini yang menjadi dasar pandangannya tentang kehidupan.
Sebab, pada hakekatnya perbuatan manusia itu adalah materi. Sedangkan
kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah -pada saat perbuatan
itu dilakukan-, ditinjau dari halal-haram-nya perbuatan, adalah ruh. Maka
terjadilah penggabungan antara materi dengan ruh. Dengan demikian jalur
perbuatan seorang muslim adalah perintah Allah dan larangan-Nya.
Sedangkan tujuan yang mengarahkan amal perbuatan agar berjalan di atas
jalur perintah Allah dan larangan-Nya adalah keridlaan Allah semata, bukan
manfaat. Sedangkan maksud dilakukannya suatu perbuatan adalah nilai
yang senantiasa diraih manusia tatkala dia melakukan suatu perbuatan. Nilai
ini tentu saja berbeda-beda tergantung dari jenis perbuatannya. Adakalanya
nilai itu bersifat materi, misalnya orang berdagang yang bermaksud mencari
keuntungan. Perbuatan dagangnya itu merupakan perbuatan yang bersifat
materi, sedangkan yang mengendalikan perbuatan dagangnya adalah
kesadarannya akan hubungan dirinya dengan Allah, sesuai dengan perintah
dan larangan-Nya karena mengharap ridla Allah.
Adapun nilai yang ingin diperoleh dari aktivitas dagangnya adalah
keuntungan, yang merupakan nilai materi. Kadang- kadang nilai suatu
perbuatan bersifat kerohanian, misalnya Shalat, Zakat, Shaum atau Haji.
Ada pula yang bersifat moril, seperti jujur, amanah atau tepat janji. Bisa
juga bersifat kemanusiaan, seperti menyelamatkan orang yang tenggelam
atau menolong orang yang berduka. Nilai-nilai semacam ini senantiasa
diusahakan manusia untuk dapat terwujud pada saat ia melakukan
perbuatan.
Hanya saja nilai-nilai tersebut bukanlah penentu suatu perbuatan, dan
bukan pula tujuan utama dilakukannya perbuatan. Jadi, hanya sekedar nilai
perbuatan yang berbeda-beda tergantung dari jenis perbuatan. Selain itu,
6
kebahagiaan hidup menurut Islam adalah mendapatkan ridla Allah SWT.
Bukan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia. Sebab,
pemuasan kebutuhan manusia, baik yang bersifat jasmani maupun naluri
merupakan sarana mutlak untuk menjaga kelangsungan hidup manusia,
tetapi tidak menjamin adanya kebahagiaan. Inilah pandangan hidup menurut
Islam, dan inilah dasar bagi pandangan tersebut, yang menjadi asas bagi
hadlarah Islam. Tentu sangat berlawanan dengan hadlarah Barat. Begitu
pula halnya dengan bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan hadlarah
Islam yang jelas-jelas bertentangan dengan bentuk- bentuk madaniyah yang
menjadi produk hadlarah Barat. Sebagai contoh, lukisan adalah bentuk
madaniyah.
Kebudayaan Barat menganggap bahwa lukisan perempuan telanjang
yang menampilkan seluruh bentuk keindahan tubuh sebagai madaniyah
yang sesuai dengan paham kehidupannya terhadap wanita. Karena itu,
orang
Barat memandangnya sebagai bentuk madaniyah yang bersifat seni
yang diagung-agungkan jika memenuhi syarat-syarat seni. Namun bentuk
madaniyah semacam ini bertentangan dengan hadlarah Islam dan
berlawanan dengan pandangannya terhadap wanita, yaitu sebagai suatu
kehormatan yang wajib dijaga. Islam melarang lukisan semacam ini, karena
akan merangsang syahwat biologis lelaki/wanita yang berasal dari naluri
melestarikan jenis manusia dan dapat menyebabkan kerusakan akhlak.
Contoh lain, apabila seorang muslim hendak mendirikan rumah yang
termasuk salah satu bentuk madaniyah, maka ia akan membangun
rumahnya sedemikian rupa agar jangan sampai aurat wanita penghuni
rumah mudah terlihat oleh orang luar, misalnya dengan mendirikan pagar di
sekeliling rumahnya. Lain halnya dengan orang-orang Barat, mereka tidak
memperhatikan hal-hal semacam ini sesuai dengan hadlarah-nya.
Dengan demikian, seluruh bentuk madaniyah yang menjadi produk
hadlarah Barat seperti patung dan sejenisnya, model pakaian, apabila
memiliki ciri khas orang-orang kafir, tidak boleh dipakai oleh orang
7
muslim. Sebab, pakaian semacam ini menyandang pandangan hidup
tertentu. Akan tetapi jika tidak demikian, yakni telah menjadi kebiasaan
dalam berbusana dan tidak dianggap sebagai pakaian khusus orang kafir hanya dipakai untuk sekedar memenuhi kebutuhan atau pemanis busana-,
maka pakaian tersebut termasuk jenis madaniyah yang bersifat umum dan
boleh dikenakan. Bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan oleh sains dan
teknologi/industri, seperti alat-alat laboratorium, alat-alat kedokteran,
mesin-mesin industri, perabotan rumah tangga, permadani, dan sebagainya.
Semua ini termasuk bentuk madaniyah yang bersifat universal, sehingga
boleh diambil tanpa khawatir terhadap sesuatu.
Bentuk-bentuk ini bukan produk hadlarah serta tidak ada hubungan
dengan hadlarah.
Dengan melihat selintas saja pada hadlarah Barat yang berkuasa di
dunia saat ini, maka kita dapati bahwa hadlarah ini tidak mampu menjamin
ketenangan dan ketenteraman manusia. Sebaliknya, hadlarah ini telah
menyebabkan kesengsaraan yang diderita oleh seluruh dunia. Hadlarah
yang landasannya adalah memisahkan agama dari kehidupan, yang
bertentangan dengan fitrah manusia, dan tidak memandang aspek spritual
sedikit pun dalam kehidupan umum, memandang bahwa kehidupan dunia
sebagai manfaat belaka, serta menjadikan hubungan sesame manusia
berdasarkan pada manfaat. Hadlarah semacam ini tidak menghasilkan apaapa selain kesengsaraan dan keresahan yang terus-menerus. Sebab, selama
manfaat dijadikan asas, akan mengakibatkan perselisihan dan baku hantam
dalam memperebutkannya.
Hubungan sesama manusia dibangun dengan mengandalkan kekuatan,
menjadi sesuatu yang wajar. Karena itu, penjajahan merupakan hal yang
wajar bagi penganut hadlarah ini. Akhlak pun menjadi guncang. Sebab,
hanya manfaat saja yang tetap menjadi asas kehidupan. Dengan demikian,
wajar jika akhlak telah tergerus dari kehidupan masyarakat Barat,
bersamaan dengan tergesernya nilai-nilai kerohanian. Maka, menjadi wajar
8
pula bila kehidupan ini berjalan atas dasar persaingan, permusuhan, baku
hantam, dan penjajahan.
Krisis kerohanian melanda umat manusia, keresahan yang kronis,
serta kejahatan yang merajalela di seluruh dunia merupakan bukti nyata dari
dampak hadlarah Barat. Hadlarah inilah yang kini berkuasa di seluruh
dunia. Dia telah menimbulkan berbagai dampak berbahaya, dan
membahayakan kelangsungan hidup umat manusia. Namun jika kita
mengamati hadlarah Islam yang pernah berkuasa di dunia sejak abad VI
hingga akhir abad XVIII M, kita dapati betapa hadlarah ini tidak pernah
menjadi penjajah, karena memang bukan tabiatnya untuk menjajah.
Hadlarah ini tidak membedakan antara kaum Muslim dengan yang lainnya.
Keadilan terjamin bagi seluruh bangsa yang pernah tunduk di bawahnya
selama masa kekuasaan Islam. Karena hadlarah ini berdiri atas dasar ruh
yang berusaha mewujudkan seluruh nilai- nilai kehidupan, baik itu nilai
materi, spiritual, moral, maupun kemanusiaan; disamping menjadikan
akidah sebagai titik perhatian dalam hidup ini. Kehidupan pun dipandang
sebagai kehidupan yang berjalan sesuai dengan perintah Allah dan
larangan-Nya. Kebahagian hidup adalah dengan meraih keridlaan Allah
SWT. Apabila hadlarah Islam kembali berkuasa di dunia sebagaimana
masa-masa sebelumnya, tentu hadlarah ini akan mampu menangani
berbagai krisis yang melanda dunia, dan mampu menjamin kesejahteraan
bagi seluruh umat manusia.
C.
Cara menyatukan antara Adab dan Pendidikan
Menyatukan adab dan pendidikan adalah menyatukan perilaku atau
adab yang baik dengan pendidikan, Karena banyak terjadi orang-orang yang
berpendidikan tidak memiliki adab sama sekali, sehingga membuat orang
berpendidikan tinggi sekalipun jika tidak beradab maka tidak akan
sempurna. Adab dan pendidikan slaing berkaitan satu sama lain, karena
orang beradab tidak akan di pandang orang apabila dia tidak berpendidikan
dan orang yang berpendidikan tidak akan di pandang orang karena dia tidak
9
memiliki adab. Adab kita pelajari di pesantren dan pendidikan formal atau
duniawi kita pelajari di sekolah, adapun untuk mempersatukan antara adab
dan pendidikan, para pendidik yang memiliki adab telah mendirikan
beberapa pesantren modern atau sekolah berbasis pesantren, yang di
dalamnya di pelajari suatu adab dengan belajar mengaji dan sopan santun
menurut islam dalam kitab-kitab kuning di pesantren dan belajar pendidikan
formal di sekolah.
Pesantren di Indonesia terdiri dari dua system yaitu tadisional dan
modern. Keduanya mempunyai missi lembaga pendidikan yang bertujuan
khusus mempelajari agama. Pada pesantren tradisional missi ini diwujudkan
dalam bentuk kajian kitab kuning yang terbatas seperti fiqh, aqidah, tata
bahasa arab, akhlakul banin (untuk murid laki-laki) dan akhlakul banat
(untuk murid perempuan) dimana di dalamnya membhas tenteng akhlakakhlak terpuji dan tercela bagi kali-laki dan perempuan, dan itu termasuk
belajar mengenai peradaban atau kesopanan dalam islam. Sementara dalam
psantren modern missi ini diwujudkan dalam bentuk kurikulum. Yang di
organisir menyederhanakan kandungan kitab kuning sehingga bersifat
madrasi dan melengkapinya dengan mata pelajaran ilmu-ilmu yang biasa
disebut “ilmu-ilmu pengetahuan umum”
Adab adalah Pengertian Adab menurut bahasa ialah kesopanan,
kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak. Adapun menurut M. Sastra
Praja, adab yaitu tata cara hidup, penghalusan atau kemuliaan kebudayaan
manusia. Sedangkan menurut istilah, adab ialah: “Adab ialah suatu ibarat
tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah”.
Dengan demikian dapatlah diambil pengertian bahwa adab ialah
mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang,
terhormat atau tercelanya nilai seseorang. Maka jelaslah bahwa seseorang itu
bisa mulia dan terhormat di sisi Allah Seseorang akan menjadi orang yang
beradab dengan baik apabila ia mampu menempatkan dirinya pada sifat
kehambaan yang hakiki. Tidak merasa sombong dan tinggi hati dan selalu
ingat bahwa apa yang ada di dalam dirinya adalah pemberian dari Allah swt.
10
Sifat-sifat tersebut telah dimiliki Rasulullah saw. Secara utuh dan
sempurnaan manusia apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang baik.
Konsepsi pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan alGhazali tentang pentingnya pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai
suatu metode pembentukan akhlak yang utama. Pandangan al-Ghazali
tersebut sesuai dengan pandangan ahli pendidikan Amerika Serikat, John
Dewey, yang dikutip oleh Ali Al Jumbulati menyatakan: “Pendidikan moral
terbentuk dari proses pendidikan dalam kehidupan dan kegiatan yang
dilakukan oleh murid secara terus-menerus”. Oleh karena itu pendidikan
akhlak menurut John Dewey adalah pendidikan dengan berbuat dan
berkegiatan (learning to do), yang terdiri dari sikap tolong-menolong,
berbuat kebajikan dan melayani orang lain, dapat dipercaya dan jujur. Ahli
pendidikan Amerika ini berpendirian bahwa akhlak tidak dapat diajarkan
melalui cara lain kecuali dengan pembiasaan melakukan perbuatan yang
berproses.
Konsepsi pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan alGhazali tentang pentingnya pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai
suatu metode pembentukan akhlak yang utama. Pandangan al-Ghazali
tersebut sesuai dengan pandangan ahli pendidikan Amerika Serikat, John
Dewey, yang dikutip oleh Ali Al Jumbulati menyatakan: “Pendidikan moral
terbentuk dari proses pendidikan dalam kehidupan dan kegiatan yang
dilakukan oleh murid secara terus-menerus”.
Oleh karena itu pendidikan akhlak menurut John Dewey adalah
pendidikan dengan berbuat dan berkegiatan (learning to do), yang terdiri
dari sikap tolong-menolong, berbuat kebajikan dan melayani orang lain,
dapat dipercaya dan jujur. Ahli pendidikan Amerika ini berpendirian bahwa
akhlak tidak dapat diajarkan melalui cara lain kecuali dengan pembiasaan
melakukan perbuatan yang berproses.
Pribadi muslim dapat dilihat dari contoh dan tauladan Rasulullah
SAW. Pendidikan “liberal” bukan membentuk pribadi manusia, tetapi
memecah belahkan pribadi manusia manusia dalam fase individu, dan
11
menciptakan puak – puak yang bersaingan satu sama lain dalam fase
kumpulan. Metode yang digunakan oleh pendidikan liberal, bukan
merapatkan hubungan seseorang dengan orang lain, malah antara guru
dengan murid, tetapi merenggangkan. Konsep pendidikan Islam yang
tergambar dalam amalan Syekh Abdul Samad dari Palembang adalah satu –
satunya jalan kea rah penciptaan manusia yang mempunyai pribadi yang
terpadu ( Personality Integration ).
Memang masalah pendidikan ini mendapat perhatian besar dari ahli –
ahli fikih dari dahulu sampai sekarang. Apa yang akan terjadi pada dunia
esok di tentukan oleh bentuk dan corak pendidikan yang kita berikan kepada
anak – anaknya dalam olah raga dan mempercantik jasmani karena mereka
menginginkan masyarakat yang segar bugar, sedang Athena ingin melihat
ahli – ahli politik terdiri dari filosof, sebab itu logika sudah diajarkan kepada
anak – anak kita hari kecil. Islam menginginkan manusia yang memantulkan
sifat – sifat Tuhan agar berhak menjadi Khalifah Allah di atas bumi ini
menekankan bahwa contoh dan tauladan Rasulullah SAW mesti ditiru dan
diamalkan oleh setiap muslim, bukan hanya dihafal dan disimpan dalam
buku sejarah. Sampai di sini memang betul dan nampaknya mudah, tetapi
dalam amalan tidak mudah, terutama di dalam masa umat Islam tidak
memegang Kendali kuasa dunia, atau dalam masa kemunduran seperti
sekarang ini, di mana tauladan Rasulullah SAW bukan yang Nampak, tetapi
tauladan dari yang lain yang lebih menonjol.
12
DAFTAR PUSTAKA
Langgulung, Hasan. Prof. Dr. 1985. Pendidikan dan Peradaban Islam. Jakarta:
Grafindo\
www.pendidikanperadaban.blogspot.com
www.peendidikanislam.blogspot.com
www.google.com
www.wikipedia.com
13
Download