Daftar Isi - The Habibie Center

advertisement
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
1
Daftar Isi
JURNAL DEMOKRASI & HAM
Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
ANALISIS
Dewi Fortuna Anwar
Tatanan Dunia Baru di bawah Hegemoni
Amerika Serikat
7
Riza Sihbudi
Pasca Agresi Amerika ke Irak
29
Philips J. Vermonte
Reformasi PBB, Masalah Keamanan dan
Perdamaian Internasional: Isu dan Pemecahannya
55
Ninok Leksono
Dunia dan Isu Pertahanan Pasca Perang Teluk II
74
TELAAH BUKU
Rahadi T. Wiratama
Bangsa: Antara Bayangan dan Realitas
85
BIODATA PENULIS
91
2
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
JURNAL DEMOKRASI & HAM
Terbit sejak 20 Mei 2000
ISSN: 1411-4631
Penanggungjawab:
Dr. Ahmad Watik Pratiknya
Dewan Redaksi:
Prof. Dr. Muladi, SH. (Ketua),
Dr. Indria Samego, Dr. Dewi Fortuna Anwar,
Umar Juoro, MA. MAPE., Ade Armando, MA.
Pimpinan Redaksi:
Andi Makmur Makka
Redaktur Pelaksana:
Andrinof A. Chaniago
Redaktur:
Taftazani, Rudi M. Rizki
Sekretaris:
Chitra Puspitahati
Usaha:
Ghazali H. Moesa, Aulia Fitriani,
Delianti Naim
Sirkulasi:
The Habibie Center
Gambar Kulit:
Alfian Tirtakusuma
Layout:
Tim IDH-THC
Penerbit:
The Habibie Center
Alamat Penerbit dan Redaksi:
Jl. Kemang Selatan No. 98, Jakarta 12560 - Indonesia
Telp.: (021) 7817211, Fax: (021) 7817212
Website: http://www.habibiecenter.or.id
E-mail: [email protected]
EDITORIAL
LAHIRNYA
‘the GLOBAL EMPIRE’
Kota Baghdad, masa Mesopotamia lama dari bangsa Sumeria,
Babylon, memang sudah berubah. Hanya bekas-bekas tembok Babylon
yang menunjang kerajaan dibawah pemerintahan Raja Nebuchadnezzar
(abad keenam sebelum masehi) masih ditemukan di Tigris. Jika bukan
karena di hancurkan oleh orang-orang Mongol, situs peradaban lama
yang kaya itu, sudah disapu oleh banjir, badai padang pasir, selebihnya
sudah di buldoser untuk pembukaan jalan baru. Wajah kota Baghdad
dan Irak pada umumnya, sekarang penuh dominasi aspirasi pemimpin
modern Irak Saddam Husein yang keras dan paling dibenci Amerika
Serikat. Baghdad sudah berubah menjadi kota modern. Tetapi Baghdad
dan Irak tidak pernah sepi dari sorotan dunia. Terakhir Amerika Serikat
dengan mengejutkan telah melancarkan invasi ke Irak dan berhasil
menjatuhkan rezim Saddam Husein. Sebuah bangsa dan negara yang
merdeka dan berdaulat. Bahkan sampai saat ini, Amerika Serikat, masih
meguasai seluruh negara itu dan membentuk pemerintahan baru
sebagaimana yang diinginkannya, kendatipun, tindakan Amerika Serikat
mengagresi Irak, penuh kontroversi dan bertentangan dengan opini
dunia. Seruan dari berbagai penjuru dunia yang meminta dihentikannya
agresi, jangan membunuh rakyat Irak hanya untuk minyak serta berbagai
bujukan sampai kutukan, tidak membuat Amerika dan sekutunya
menghentikan invasi dan agresi itu. Apakah ini karena Amerika
menganggap dirinya sebagai “Chosen People” (masyarakat pilihan).
Imaji masyarakat pilihan inilah yang mungkin meyakinkan masyarakat
Amerika ditakdirkan untuk memimpin dunia. Kerja keras, hemat,
persamaan yang jadi prinsip orang-orang Amerika yang puritan,
membuat mereka cepat menjadi bangsa besar (bahkan menjadi hyper
power), menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagai “pemimpin dunia”, Amerika merasa bertanggung jawab
atas keamanan dunia. Di belahan dunia mana yang bergolak, Amerika
Serikat datang mencampurinya, seperti yang dilukiskan dengan baik
4
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
dalam karakter Rambo pada film produksi Amerika. Tetapi tesis ini,
mungkin tidak sepenuhnya benar, karena ternyata banyak rakyat
Amerika juga jadi penentang cara berpikir seperti ini.
Yang dirisaukan, sejak runtuhnya kekuasaan Uni Soviet serta
sekutunya yang pernah menciptakan kekuatan “bipolar” berhadapan
dengan negara barat yang dipimpin Amerika Serikat, di dunia ini hanya
menyisahkan Amerika Serikat sebagai kekuatan tunggal dalam
percaturan politik dunia. Dan Amerika Serikat sangat menyadari hal
ini, apalagi dalam gengaman pemimpin seperti George Walker Bush.
Lihatlah bukti-bukti berikut ini: Perserikatan Bangsa-Bangsa, satusatunya lembaga dunia tertinggi untuk mengatur hubungan antar bangsa
tidak dianggap eksistensinya oleh Amerika Serikat. Ketika invasi Amerika
Serikat sudah mulai di lancarkan ke Irak, Kofi Annan yang berteriak
keras ketika terjadi intervensi Indonesia ke Timor Timur, bahkan
penganjur diadilinya militer dan sipil dari pihak Indonesia yang dianggap
melakukan pelanggaran HAM berat pasca jajak pendapat di Timor
Timur, kini yang menyangkut agresi Amerika Serikat dan pembunuhan
rakyat sipil Irak, tidak berbicara nyaring. Anehnya, ia hanya bersuara
memperjuangkan bantuan PBB pasca perang, sementara pasukan Irak
masih berperang dan rakyat sipil Irak masih jadi sasaran aksi militer
oleh pasukan Amerika Serikat. Oposisi dari negara Eropa besar seperti
Jerman, Prancis di anggap sepi Amerika Serikat. Opini dunia dan
sebagian besar rakyat Amerika yang menentang perang, tidak merubah
niat Bush menghancurkan Irak yang diperintah Saddam Husein.
Dalam aksi militer, selain dengan Irak, jauh sebelum George Walker
Bush jadi presiden, Amerika sudah menunjukkan karakter aslinya
sebagai “pengekspor perang” dengan terlibat di Vietnam, Panama, ElSalvador, Haiti, Cuba, dan berikut mungkin Suriah dan Iran. Dalam
Perang Teluk Pertama, Jerman dan Jepang yang tidak mendukung secara
militer, dipaksa turut membantu perang itu dengan bantuan keuangan.
Hegemoni berlanjut, dalam mendikte opini dunia,seperti halnya
mengenai hal “terorisme”, misalnya, Amerika Serikat menciptakan opini
yang dipaksakan untuk diadopsi oleh seluruh negara lain, seperti apa
yang dikehendakinya. Ketika Osama Bin Laden “dituduh” menyerang
gedung World Trade Center di New York, seluruh dunia bereaksi dan
manggut-manggut apa yang dikotbahkan pemimpin Amerika Serikat
mengenai terorisme, termasuk Indonesia. Begitu pula pengertian HAM
dan demokrasi, banyak dikaitkan dengan konteks Amerika Serikat dan
Editorial
5
negara maju lainnya. Sementara Amerika Serikat terbukti mendukung
berbagai rezim, seperti di Gautemala, Nicaragua dan di Amerika Latin
yang melakukan pelanggaran HAM terhadap rakyatnya. Israel yang
setiap hari membunuh rakyat sipil Palestina, sebagaimana dalam agresi
AS ke Irak hanya jadi tontonan waktu santai di seluruh dunia.
Dalam media, selama ini Amerika Serikat yang terkenal pendekar
kemerdekaan pers, tetapi dalam perang “Badai Gurun” dan invansinya
ke Irak, membuktikan kebohongan dan standar ganda Amerika Serikat
pada apa yang disebutnya kebebasan pers. Berita wartawan harus di
sensor sesuai dengan kebijakan pemerintah, pemilik televisi memecat
wartawan yang bersuara lain dengan suara “mesin perang” dari Gedung
Putih, contoh Peter Arnett. Pemancar televisi lawan di bom, situs televisi
Aljazeera diacak, bahkan Media Watch Amerika Serikat mencaci maki
media cetak dan televisi yang beritanya bertentangan dengan berita media
utama di AS, contoh penghujatan terhadap Peter Jenning dari ABC.
CNN televisi yang menjadi acuan dunia internasional dalam perang
Irak, hanya “mengabdi” kepada pemerintahnya dan tanpa malu-malu
menyiarkan berita yang tidak benar. Karena itu, kemerdekaan pers di
Amerika Serikat selama ini, hanya mitos, mungkin Indonesia lebih maju
dalam kebebasan pers.
Edward C.Herman dalam buku “Triumph of the Market”
melukiskan bagaimana keinginan Amerika Serikat “menswastakan”
dunia dan mendominasi ekonomi. Katanya, Amerika Serikat dan tentu
negara maju lainnya, selalu ingin mengelola perdagangan melalui tarif,
kuota,subsidi, bahkan perampasan dan penguasaan impor, ancaman
pembalasan dan pemboikotan.
Banyak cara “mengelola” perdagangan dunia ini dilakukan dengan
mula-mula menuduh sebuah negara melakukan “perdagangan tidak
adil”. Ketika negara yang dituduh gentar, maka mulailah negara itu
didikte. Dibalik kekuatannya sebagai negara besar, Amerika Serikat
menciptakan “ketergantungan” dalam alur perdagangan yang normal,
negara besar memanipulasi cara pedagangan dengan membuat
perjanjian bilateral tetapi “menginjak kaki” mitra dagangnya yang kecil.
Banyak negara-negara dunia ke tiga, terpaksa patuh dan tunduk atas
peraturan sepihak dari Amerika Serikat. Setelah perang dunia ke II,
mulai direkayasa pemberian saksi internasional dengan menciptakan
lembaga peminjaman dana yang besar, termasuk di dalamnya IMF, Bank
Dunia, International Development Bank, semuanya didominasi Amerika
6
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Serikat. Negara-negara kecil, musuh Amerika Serikat biasanya dihukum
dengan menghentikan bantuan, lalu diberikan bantuan dari lembaga
“internasional” yang terdiri lembaga keuangan swasta. Cara ini ternyata
kemudian lebih fatal akibatnya bagi negara kecil dibandingkan dengan
pertama. Di sinilah aturan baku Amerika Serikat, IMF dan Bank Dunia
akan diberlakukan secara umum. John Gallagher dan Ronald Robinson
dalam artikel “The Imperalism of Free Trade”, menulis bahwa cara
seperti inilah yang disebut “kebijakan penjajah”. Kebijakan itu misalnya
kini disebut: “penciptaan ekonomi terbuka, privatisasi, proteksi hak-hak
investor luar negeri, aturan tentang ekspor bahan mentah, dan lain-lain.
Semua strategi ekonomi ini, biasanya diterapkan IMF pada negara
peminjam dan akrab dengan telinga kita di Indonesia yang sudah
terperangkap strategi “The Imperialism of Free Trade” Amerika Serikat.
Sebagai “bangsa terpilih”, Amerika Serikat katanya penganjur
persamaan hak, tetapi setelah peristiwa World Trade Center, pemerintah
Amerika melakukan diskriminasi terhadap warga negara lain.
Mahasiswa asing didaftar, dicurigai dan banyak calon mahasiswa yang
ditolak masuk ke Amerika Serikat.
Jika hal ini terus terjadi, akan muncul suatu hegemoni tunggal yang
akan merubah tatanan dunia. Negara Eropa Barat dan Jepang di Asia
yang kuat, masih jauh tertinggal dari Amerika Serikat dan kekuatan
ekonomi, dana bantuan, kekuatan militer. Runtuhnya Uni Soviet yang
sebagian bekas negara anggotanya “sudah dijerat” dana bantuan
Amerika Serikat, makin mengukuhkan kekuatan Amerika Serikat sebagai
negara besar dan berpengaruh. Negara dunia ketiga yang banyak
menerima bantuan lembaga keuangan dunia, makin lemah sebagai
negara merdeka dan berdaulat. Negara-negara ini, tidak sanggup lagi
mandiri mengelola kebijaksanaan keuangan dan fiskalnya. Diakui atau
tidak, Amerika Serikat akan melenggang dalam menciptakan “the Global
Empire” atau “kekaisaran global” yang menaklukkan dunia seperti
ungkapan Edward C. Hermann. Salah satu contoh yang menguatkan
telah dipertontonkan lagi Amerika Serikat dengan menginvasi Irak.
(AMM) ‰
ANALISIS
Tatanan Dunia Baru
di bawah
Hegemoni Amerika Serikat
Dewi Fortuna Anwar
Invasi Amerika Serikat (A.S.) ke Irak yang dimulai secara besarbesaran pada tanggal 20 Maret 2003 menyulut kontroversi internasional.
Tindakan A.S. ini dipandang banyak pengamat sebagai tonggak sejarah
baru dalam hubungan antar bangsa, yang menandai berakhirnya era
pasca-Perang Dingin dan dimulainya era Tatanan Dunia Baru di bawah
hegemoni Amerika Serikat secara lebih terbuka.
Invasi A.S. itu pada awalnya berdalih sebagai upaya untuk melucuti
senjata pemusnah massal yang dituduhkan tetap dikembangkan oleh
rezim Saddam Hussein, sehingga melanggar sanksi PBB (Persatuan
Bangsa-Bangsa).1 Namun Amerika Serikat menolak membiarkan tim
inspeksi senjata PBB melanjutkan tugasnya dengan alasan bahwa
Saddam Hussein tidak kooperatif, dan satu-satunya cara yang dapat
memaksa Saddam Hussein ialah aksi militer. Walaupun gagal
meyakinkan komunitas internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB,
untuk mendukung aksi militer di Irak mengingat inspeksi senjata yang
dilakukan Tim PBB masih berlangsung, A.S. tetap memutuskan untuk
menyerang Irak secara unilateral. Dengan didukung segelintir negara
1. Pada akhir tahun 1990 Irak melakukan invasi terhadap Kuwait untuk merebut ladang
minyak yang dipersengketakan kedua negara. Agresi Irak tersebut dikecam masyarakat
internasional. Dengan mandat dari Dewan Keamanan PBB A.S. memimpin pasukan
koalisi pada awal tahun 1991 dalam operasi yang diberi nama Badai Gurun “Desert Storm”
untuk memaksa pasukan Irak mundur dari Kuwait. Sejak kekalahannya pemerintahan
Presiden Saddam Hussein dijatuhi sanksi PBB, antara lain ia tidak diperkenankan melakukan
interaksi ekonomi dengan pihak luar. Irak juga diperintahkan untuk menghancurkan seluruh
senjata non-konvensional yang dimilikinya, seperti senjata kimia dan biologis. Perang Irak
I berlangsung di bawah pemerintahan Presiden George Bush Sr.
8
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
yang termasuk dalam “coalition of the willing”, antara lain Inggris dan
Australia, pasukan A.S. menyerbu Irak tanpa mandat PBB. Misi
seranganpun bergeser dari perlucutan senjata pemusnah massal menjadi
penggulingan terhadap pemerintahan Saddam Hussein serta
menggantinya dengan pemerintahan baru di bawah arahan Washington.
Serangan militer A.S. ke Irak yang berhasil mencapai misinya
menggulingkan rezim Saddam Hussein dalam waktu relatif singkat (20
hari) memiliki implikasi luas. Selain mengubah wajah Irak dan peta
politik Timur Tengah sesuai kehendak Washington, aksi unilateral A.S.
di Irak telah mengabaikan beberapa prinsip dasar tatanan internasional
yang telah terbentuk sejak akhir Perang Dunia II. Menurut pasal 51
Piagam PBB suatu negara hanya diperbolehkan menyerang negara lain
sebagai upaya mempertahankan diri melawan agresi militer. Serangan
yang dilakukan tanpa provokasi atau alasan yang sah, dianggap sebagai
agresi dan tidak sah menurut hukum internasional. Selain untuk
mempertahankan diri, aksi militer oleh suatu negara atau kumpulan
negara terhadap negara lain hanya dimungkinkan apabila ada mandat
dari Dewan Keamanan PBB, misalnya untuk mencegah kejahatan
kemanusiaan yang meluas. Piagam PBB sengaja dirancang demikian
untuk mencegah pecahnya kembali perang-perang berskala besar seperti
terjadi dalam Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (19391945). Beranjak dari pengalaman dua perang dunia yang menelan begitu
besar korban nyawa dan harta, masyarakat internasional telah berusaha
untuk membangun berbagai aturan dan institusi yang disepakati bersama
yang mengharamkan penggunaan senjata dalam menyelesaikan konflik.
Serangan A.S. terhadap Irak, apapun alasan yang dikemukakan
pemerintahan Presiden Bush, secara sengaja mengabaikan Piagam PBB
dan mengenyampingkan peran PBB sebagai satu-satunya institusi
inter nasional yang memiliki wewenang dan legitimasi untuk
mengerahkan kekuatan militer di arena internasional. Serbuan pasukan
A.S. ke Irak bukanlah dalam rangka mempertahankan diri, melainkan
merupakan tindakan pre-emption atau mendahului, guna mencegah
kemungkinan Saddam Hussein memberikan senjata pemusnah massal
yang diduga dimilikinya kepada kelompok teroris yang mungkin akan
menggunakannya untuk menyerang Amerika Serikat. Namun baik
sebelum maupun sesudah perang berlangsung tidak terdapat bukti-bukti
yang meyakinkan bahwa Saddam Hussein terlibat dalam serangan teroris
ke Amerika Serikat, memiliki kaitan dengan Al-Qaeda ataupun benarbenar memiliki senjata pemusnah massal seperti dituduhkan oleh
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
9
pemerintahan Bush. Dengan melakukan serangan pre-emption terhadap
suatu negara berdaulat, berdasarkan asumsi-asumsi ancaman yang masih
bersifat spekulatif, A.S. tanpa malu-malu telah menempatkan dirinya di
atas hukum internasional yang berlaku, atau menganggap bahwa aturan
internasional yang ada tidak mengikat dirinya sebagai satu-satunya
negara adidaya. Hal ini merupakan aktualisasi dari doktrin Bush yang
menyebabkan A.S. dikecam oleh hampir seluruh negara di dunia,
termasuk oleh sebagian sekutunya di Eropa.
Makalah singkat ini akan mencoba menguraikan evolusi kebijakan
luar negeri dan pertahanan A.S. dari multilateralisme dan deterrence
(menangkal) menuju unilateralisme dan pre-emption (mendahului), serta
dampaknya terhadap tatanan internasional, terutama terhadap aliansi
A.S. dengan Eropa Barat dan peranan PBB.
Amerika Serikat Dari Multilateralisme ke Doktrin Bush
Predominasi A.S dalam politik internasional, sesungguhnya
bukanlah suatu hal baru. Abad ke dua puluh telah dinyatakan sebagai
abad Amerika. Ketika Perang Dunia II berakhir secara relatif kekuatan
A.S. dibandingkan dengan negara-negara lainnya semasa itu lebih besar
daripada sekarang ini. A.S. merupakan satu-satunya negara yang
berhasil keluar dari Perang Dunia II dengan kekuatan utuh, dengan
kemampuan ekonomi, militer dan teknologi yang jauh melebihi negara
manapun di dunia waktu itu. Sebagian besar negara-negara Eropa
hancur akibat Perang Dunia. Eropa Barat yang luluh lantak dibangun
kembali oleh A.S. melalui program Marshall Plan. Jerman dan Jepang
yang kalah perang diduduki oleh pasukan A.S., sementara sistem politik
dan ekonomi kedua negara tersebut juga dibangun kembali oleh
Washington. Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina (RRC) yang
kemudian tampil sebagai saingan ideologis dan militer A.S. dalam Perang
Dingin juga menderita kerugian yang tidak sedikit dari serbuan Jerman
(Uni Soviet) dan pendudukan Jepang (Cina). Dibandingkan dengan
situasi sekarang ini, di mana di samping A.S. juga ada kekuatan ekonomi
lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu Uni Eropa dan Jepang, serta
munculnya RRC sebagai kekuatan yang semakin diperhitungkan, posisi
A.S. pada era awal pasca- Perang Dunia II jelas lebih dominan.2
2. Peter Howard, “Endgames: Washington, UN, and Europe”. Foreign Policy in
Focus, Interhemispheric Resource Center (IRC). 28 Februari, 2003
10
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Namun dengan posisi yang sangat dominan tersebut, A.S. tidak
mengembangkan kebijakan unilateral seperti sekarang ini. Sebaliknya,
A.S. justru menjadi penggerak utama lahirnya berbagai aturan dan
institusi internasional serta kerjasama multilateral, baik pada tingkat
regional maupun global. Dalam kurun waktu yang singkat setelah
Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945 organisasi Persatuan Bangsa
Bangsa (PBB) didirikan, disusul oleh badan-badan internasional lainnya
seperti IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia. Dalam
badan-badan tersebut A.S. merupakan aktor utama dan penyandang
dana utama. Masyarakat internasional juga mengeluarkan serangkaian
perjanjian internasional yang mengatur hubungan antar negara, seperti
Piagam PBB, The Genocide Convention, Konvensi Jenewa tahun 1949,
Universal Declaration of Human Rights serta GATT (General
Agreement on Tariff and Trade). Seluruh peraturan, perjanjian dan
institusi-institusi internasional tersebut ditujukan untuk memelihara
perdamaian dunia serta untuk meningkatkan kemakmuran secara lebih
merata melalui sistem perekonomian yang lebih terbuka.
Interdependensi ekonomi juga akan berdampak positif dalam
memelihara hubungan damai antar bangsa. Idealisme pasca Perang
Dunia II adalah terwujudnya suatu tatanan dunia baru yang lebih
beradab, di mana peperangan antar- negara untuk memperebutkan
pengaruh dan sumber daya ekonomi tidak lagi mendominasi hubungan
internasional. Selanjutnya persaingan dan konflik akan diselesaikan
berdasarkan hukum-hukum internasional melalui lembaga-lembaga
internasional yang sengaja diciptakan untuk itu. Dengan kata lain
hubungan internasional hendak dikelola melalui proses multilateral yang
mengharuskan adanya konsultasi dan kesepakatan antara para
anggotanya.
Idealisme tentang Tatanan Dunia baru yang damai yang sepenuhnya
diatur oleh hukum internasional, di mana PBB menempati posisi sentral,
memang tidak berlangsung lama. Munculnya Perang Dingin antara
Blok Barat yang kapitalis di bawah pimpinan A.S. dan Blok Timur yang
komunis di bawah pimpinan Uni Soviet sejak akhir tahun 1940-an
meningkatkan kembali peranan kekuatan militer sebagai unsur utama
dalam hubungan internasional. Masing-masing blok mengembangkan
kemampuan militer, termasuk senjata nuklir, untuk menangkal lawannya.
Dengan demikian politik internasional selama Perang Dingin terutama
dibentuk oleh sistem perimbangan kekuatan (balance of power) yang
cenderung mengecilkan peranan PBB.
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
11
Sesungguhnya komposisi Dewan Keamanan PBB yang terdiri dari
lima anggota tetap yang masing-masing memiliki hak veto merupakan
cerminan dari sistem perimbangan kekuatan. Kelima anggota tetap
Dewan Keamanan PBB adalah negara-negara yang berada pada pihak
yang menang dalam Perang Dunia II, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet,
Britania, Perancis dan Cina.3 Peran PBB tidak jarang disandera oleh
kebijakan negara-negara adidaya, terutama dalam hal-hal yang
menyangkut kepentingan langsung Amerika Serikat atau Uni Soviet.
PBB sering tidak dapat mengambil sikap tegas terhadap suatu
permasalahan karena di veto oleh salah satu anggota tetap Dewan
Keamanan.
Namun walaupun di satu pihak peranan PBB relatif lemah, Perang
Dingin justru memaksa pihak-pihak yang berkonflik untuk mendukung
hukum internasional serta mengembangkan sistem multilateral karena
beberapa hal. Pertama, baik A.S. maupun Uni Soviet menyadari bahwa
konflik terbuka di antara mereka akan mengakibatkan kehancuran total,
mengingat kemampuan senjata nuklir yang dimiliki masing-masing dapat
menghancurkan dunia berkali-kali. Dengan demikian kedua negara
adidaya dipaksa untuk menahan diri dan mematuhi prinsip-prinsip dasar
hukum internasional yang melarang suatu negara melakukan agresi
terhadap negara lain. Meskipun mereka bersaing dan saling menjegal,
kedua negara adidaya menyadari bahwa mereka juga harus tetap bekerja
sama untuk mencegah terjadinya perang terbuka di antara mereka.
Kedua, baik A.S. maupun Uni Soviet bersaing merebut pengaruh
global sehingga masing-masing pihak berusaha tampil sebagai pihak
yang benar. Pelanggaran terhadap hukum internasional oleh salah satu
pihak akan mer ugikan citra negara yang bersangkutan dan
menguntungkan pihak lawan. Perseteruan antara A.S. dan Uni Soviet
bukanlah sekedar perseturuan antara dua kekuatan militer tradisional.
Perang dingin merupakan konflik antara dua sistem secara total, meliputi
ideologi, sistem politik, sosial dan ekonomi yang oleh masing-masing
pihak hendak dikembangkan secara universal.
Ketiga, persaingan global yang berkembang selama Perang Dingin
memaksa kedua adidaya untuk memperkuat dirinya dengan membentuk
3. Sampai tahun 1975 kursi Cina di PBB diisi oleh Taiwan. Namun setelah normalisasi
hubungan A.S. dengan RRC, kursi Cina di PBB diisi oleh RRC, sementara Taiwan tidak
lagi diakui sebagai negara yang berdaulat sehingga tidak memiliki perwakilan di PBB.
12
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
aliansi-aliansi pertahananan, serta membujuk negara-negara netral untuk
tidak berpihak pada blok lawan. Dengan demikian selama Perang Dingin
berlangsung baik A.S. maupun Uni Soviet tidak leluasa melakukan
tindakan unilateral, terutama apabila tindakan tersebut dapat merugikan
kepentingan langsung salah satu negara adidaya.
Kendati jelas merupakan kekuatan hegemon, selama ini peranan A.S.
tidak terlalu dipermasalahkan oleh negara-negara yang berada di bawah
naungannya karena Washington lebih banyak menjalankan “soft power”,
daripada “hard power”, yaitu menerapkan hegemoni melalui upaya-upaya
persuasi dan pengaruh daripada melalui tekanan dan ancaman semata.
Sebelum doktrin Bush lahir pada tahun 2002 predominasi A.S. dalam
percaturan internasional memiliki tiga tonggak utama, yaitu kekuatan
ekonomi, kekuatan militer dan peranan A.S. dalam institusi-institusi
multilateral.4 A.S. memberikan bantuan ekonomi langsung pada sekutusekutunya atau negara-negara yang dianggapnya bersahabat, baik melalui
bantuan uang seperti sewaktu Marshall Plan di Eropa Barat, ataupun
dengan membuka pasarnya terhadap ekspor dari negara-negara tersebut.
Dengan kekuatan militernya yang sangat besar A.S. juga bertindak sebagai
pelindung keamanan bagi sekutu-sekutunya, misalnya dengan mendirikan
aliansi militer multilateral NATO (North Atlantic Treaty Organisation) di
Eropa Barat serta aliansi pertahanan bilateral, misalnya dengan Jepang
dan Korea Selatan, di mana Washington merupakan “sumbu” (hub)
sementara para sekutunya merupakan jari-jari (spokes) dalam sistem
pertahanan tersebut. Pengaruh A.S. juga dirasakan, baik secara langsung
maupun tidak langsung, melalui berbagai institusi internasional di mana
A.S. merupakan pemegang saham terbesar. Seperti telah disinggung
sebelumnya sampai tahun-tahun terakhir ini, A.S. masih merupakan
pendukung utama sistem multilateral, misalnya dalam melahirkan WTO
(World Trade Organisation) dan Kyoto Protocol tentang lingkungan hidup.
Selama Perang Dingin, negara-negara komunis tentu saja melihat
A.S. sebagai ancaman dan musuh yang harus dilawan. Namun bagi
sebagian besar negara-negara lainnya A.S. cenderung dilihat sebagai
“benign superpower”, yaitu adidaya yang bersahabat dan tidak perlu
ditakuti. Di samping itu, walaupun banyak negara tidak sejalan dengan
kebijakan luar negeri Amerika Serikat mereka tetap mengagumi
4. Pierre Hassner, “Definitions, Doctrines, and Divergences”. The National Interest,
Number 69, Fall 2002, hal.33.
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
13
keunggulan-keunggulan yang dimiliki A.S., terutama kemajuan
perekonomiannya, keunggulan teknologinya, sistem politiknya maupun
dinamika kehidupan bermasyarakatnya. Melalui proses globalisasi yang
juga dimotori oleh Amerika Serikat, terutama oleh perusahaanperusahaan multinasionalnya, sebagian besar masyarakat dunia telah
menjadikan A.S. sebagai rujukan utama nilai-nilai yang mereka anut
dan kembangkan dalam proses modernisasi negara masing-masing.
Namun sejak keputusan A.S. untuk menyerang Irak tanpa
persetujuan Dewan Keamanan PBB, citra A.S. sebagai “benign
superpower” sirna. Demontrasi anti- perang secara besar-besaran di
berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara sekutu A.S. sendiri,
menunjukkan bahwa kini Washington dipandang sebagai agresor.
Walaupun A.S. berdalih bahwa serangannya ke Irak adalah untuk
membebaskan rakyat Irak dari tirani rezim Saddam Hussein, namun
sebagian besar masyarakat internasional melihat tindakan tersebut
sebagai perang yang tidak sah, dan kehadiran pasukan A.S. di Irak
sebagai pendudukan atas negara yang berdaulat.
A.S. dewasa ini telah menampakkan dirinya sebagai kekuatan
hegemon yang tidak segan bertindak sendiri tanpa dukungan negaranegara lain, dan tanpa perlu mengindahkan aturan-aturan internasional,
walaupun tindakan unilateralnya dilakukan atas nama penegakan
hukum internasional. Adalah suatu ironi Presiden Bush memerintahkan
penyerangan terhadap Irak dengan melanggar Piagam PBB, untuk
menghukum Saddam Hussein yang dituduhnya telah melanggar resolusi
PBB tentang pemusnahan senjata massal.
Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa A.S. memutuskan untuk
meninggalkan proses multilateral yang dulu dibangunnya, dan apakah
sistem unipolar yang hendak diterapkan Washington di bawah
pemerintahan Presiden George W. Bush akan dapat dipertahankan oleh
A.S. secara berkelanjutan? Atau apakah kebijakan A.S. tersebut justru
akan memunculkan perlawanan dan upaya-upaya untuk membangun
kembali kekuatan pengimbang serta penguatan peranan PBB?
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya sikap arogansi
dan kecenderungan unilateral A.S. Pertama adalah rubuhnya Uni Soviet
dan berakhirnya Perang Dingin sehingga A.S. merupakan satu-satunya
negara adidaya yang tersisa. Dengan sendirinya tidak ada lagi kekuatan
pengimbang yang setara yang mampu bertindak sebagai penghalang
apabila A.S. betul-betul berkeinginan untuk mengambil tindakan sesuai
kepentingannya sendiri, terlepas dari sikap negara-negara lain.
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
14
Kedua, kekuatan ekonomi A.S. yang sedemikian dominan, melebihi
Uni Eropa dan Jepang, dua kekuatan ekonomi terbesar lainnya. Asumsi
bahwa globalisasi ekonomi semakin meningkatkan saling ketergantungan
antara negara-negara di dunia ternyata tidak sepenuhnya benar, karena
yang terjadi adalah hubungan asimetris, di mana negara berkembang
jauh lebih tergantung pada negara-negara maju daripada sebaliknya.
Ketergantungan A.S. pada perdagangan internasional relatif rendah
mengingat 90% dari produksinya adalah untuk konsumsi dalam negeri,
sementara pasar A.S. merupakan tujuan ekspor utama bagi negaranegara lain.5
Ketiga, kenyataan bahwa kemampuan militer A.S. merupakan yang
terbesar di dunia dan cenderung meningkat, walaupun Perang Dingin
telah berakhir. Selama Perang Dingin politik internasional mengalami
militerisasi, di mana kemampuan militer menjadi penentu utama
hubungan antara A.S. dan Uni Soviet. Setelah Perang Dingin berakhir
sebagian negara yang terlibat langsung dalam konflik, seperti Rusia dan
negara-negara Eropa Barat mengurangi anggaran militer mereka,
berbeda dengan A.S. yang tetap memiliki anggaran militer yang tinggi
seperti sewaktu Perang Dingin masih berlangsung. Anggaran belanja
militer A.S. melebihi total anggaran militer tujuh negara dengan belanja
militer terbesar lainnya. Kenyataan ini membuat jurang kemampuan
militer antara A.S. dan negara-negara lainnya, termasuk sekutusekutunya dalam NATO, semakin lebar.6
Ketiga faktor di atas menunjukkan bahwa sebagai negara Amerika
Serikat dewasa ini berada dalam kelas tersendiri, dengan kemampuan
yang tidak tertandingi oleh negara manapun ataupun oleh gabungan
beberapa negara sekalipun. Tidaklah mengherankan apabila tidak ada
satu negarapun yang secara terbuka berani menantang keperkasaan A.S.
(kecuali Irak di bawah Saddam Hussein), walaupun banyak negara yang
kritis terhadap kebijakan Washington. Posisi yang ditempati A.S.
sekarang melebihi kekuasaan Britania Raya di puncak kejayaan
empirumnya pada abad ke-19, dan hampir serupa dengan kekuasaan
Kekaisaran Romawi di masa jayanya.
5. Kenneth N. Waltz, “Globalization and American Power”. The National Interest,
Number 59, Spring 2000, hal. 49-50.
6. Ibid. hal. 54.
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
15
Namun memiliki kemampuan yang tidak tertandingi tidak serta
merta menyebabkan A.S. mesti bertindak unilateral. Di samping
kemampuan dan kesempatan, faktor penentu lainnya adalah kemauan.
Seperti telah disinggung sebelumnya, pada tahun-tahun pertama setelah
Perang Dingin berakhir Washington tetap menunjukkan komitmennya
pada proses multilateral. Dalam Perang Teluk tahun 1991 Presiden
George Bush (ayah dari Presiden George Walker Bush) berupaya
mendapatkan mandat dari Dewan Keamanan PBB serta menggalang
pasukan koalisi yang betul-betul berasal dari banyak negara untuk
memaksa Saddam Hussein keluar dari Kuwait, walaupun secara militer
pasukan A.S. mampu melakukannya sendiri. Presiden Bill Clinton
selama delapan tahun berkuasa (1992-2000) juga menunjukkan
dukungan yang kuat terhadap proses multilateral, termasuk mendorong
dibentuknya organisasi-organisasi regional baru. Hal ini terlihat misalnya
dari dukungan A.S terhadap APEC (Asia Pacific Economic Cooperation)
yang melakukan pertemuan tingkat tinggi buat pertama kalinya pada
tahun 1992 di Seattle, A.S. atas undangan Clinton, dan pembentukan
ASEAN Regional Forum (ARF) pada tahun 1993. Clinton juga
memainkan peranan besar dalam pembentukan WTO sebagai badan
pengganti GATT dan mencegah Uni Eropa menjadi terlalu proteksionis
dalam kebijakan ekonominya. Pemerintah A.S., khususnya wakil
Presiden Al Gore, juga menjadi motor utama lahirnya Kyoto Protocol
untuk melindungi lingkungan hidup, antara lain melalui pengurangan
emisi.
Memang di bawah pemerintahan Presiden Clinton dalam beberapa
kesempatan A.S. juga melakukan tindakan unilateral, misalnya
melakukan beberapa kali serangan udara terhadap Irak, Afghanistan
dan Kenya, yang terakhir bahkan sebagai balasan atas pemboman
kedutaan besar A.S. oleh sekelompok teroris, walaupun dalam skala
yang relatif kecil. A.S. bersama NATO juga melakukan serangan udara
terhadap Serbia di Kosovo pada tahun 1999 untuk menghentikan
pembantaian yang dilakukan oleh tentara Serbia terhadap penduduk
Muslim di sana. Serangan NATO tersebut dilakukan tanpa mandat
Dewan Keamanan PBB, karena ditentang Rusia dan RRC. Hanya saja
tindakan-tindakan unilateral terdahulu berskala kecil, sebagai balasan
atas berbagai serangan teroris terhadap kepentingan A.S. di luar negeri.
Walaupun memicu kontroversi serangan unilateral NATO ke Kosovo
tidak menimbulkan kecaman internasional karena tindakan tersebut
dilihat sebagai “humanitarian intervention” atau intervensi kemanusiaan
16
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
guna mencegah kejahatan kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Namun secara keseluruhan selama pemerintahan Clinton, A.S.
tampaknya tetap mendukung sistem multilateral dan mengutamakan
upaya-upaya damai untuk mengatasi berbagai konflik internasional,
misalnya dengan mendorong terjadinya dialog di Semenanjung Korea
dan di Timur Tengah.
Dukungan Presiden Clinton pada proses multilateral dan kerjasama
internasional merupakan refleksi ideologi liberal yang dianut presiden
dari Partai Demokrat tersebut. Dalam pandangan kelompok liberal, yang
juga sering disebut “merpati” karena lebih mengutamakan penggunaan
diplomasi daripada militer dalam menyelesaikan konflik, A.S. tetap harus
bekerjasama dengan negara-negara lain untuk memajukan kepentingan
global secara keseluruhan. Kepemimpinan A.S. diraih melalui
penggunaan “soft power” dengan tetap memperhatikan aspirasi negaranegara lain, terutama negara-negara sahabat. Dalam perspektif liberal
hubungan internasional tidak lagi semata-mata diwarnai oleh kompetisi
antar-negara di mana kemampuan militer merupakan komponen utama,
tetapi juga bercirikan ker jasama dalam satu jaringan saling
ketergantungan. Walaupun A.S. merupakan satu-satunya negara adidaya
ia tidak dapat seenaknya memaksakan kehendaknya pada negara lain
apabila ia ingin tetap diterima sebagai anggota jaringan. Perspektif liberal
ini bertolak belakang dengan pandangan kelompok “realist” yang tetap
menilai bahwa politik internasional didominasi oleh persaingan militer
antar-negara untuk menentukan negara mana yang paling dominan.
Politik luar negeri A.S. mengalami perubahan fundamental ketika
Presiden Clinton digantikan oleh Presiden George W. Bush. Berbeda
dengan Presiden Bush Senior yang memiliki pengalaman luas dalam
hubungan internasional dan cenderung multilateralis, karena pernah
menjabat sebagai Direktur CIA dan Duta Besar di RRC, Presiden Bush
Junior tidak memiliki pengalaman diplomasi sama sekali. Walaupun
Jenderal Colin Powell yang dianggap sebagai seorang tokoh moderat
dan pendukung multilateralisme ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri,
Bush sendiri cenderung berpendirian unilateralist. Di samping itu
anggota Kabinet Bush dalam bidang luar negeri dan pertahanan
didominasi oleh tokoh-tokoh konservatif yang berpandangan
unilateralist. Mereka ini antara lain adalah Wakil Presiden Dick Cheney,
Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, Richard Perle (Kepala Dewan
Kebijakan Pertahanan), Paul Wolfowitz (Wakil Menteri Pertahanan),
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
17
John Bolton (Asisten Menlu bidang Kontrol Senjata) dan Lewis Libby
(Kepala Staf kantor Wakil Presiden).7
Dalam pandangan kelompok konservatif yang memiliki perspektif
“realist” garis keras ini prioritas luar negeri A.S. adalah melindungi
kepentingan nasional A.S. sendiri, terutama keamanan nasional, tanpa
perlu mempertimbangkan komitmen-komitmen internasional yang
selama ini mengikat Washington. Sebagai negara adidaya, A.S. harus
berani bertindak sendiri untuk melindungi kepentingan nasionalnya serta
tidak perlu ragu menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuan,
karena militer dianggap sebagai instrumen yang sah dalam politik
internasional. Bagi kalangan konservatif garis keras ini bagaimana
pandangan negara-negara lain atas tindakan-tindakan unilateral A.S.
sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Majalah Time menulis bahwa
Menteri Luar Negeri Colin Powell yang begitu populer karena perannya
dalam Perang Teluk sama sekali tidak berdaya dalam Kabinet Bush.
Kendati Powell sendiri dinilai sebagai seorang penganut aliran
konser vatif: “Powell is a multilaterallist; other Bush advisers are
unilateralists. He’s internationalist; they are America first”. Pandangan
Powell dikatakan sebagai “compassinonate conservatism”, atau
konservatisme yang memiliki kepedulian pada pihak lain, sementara
kelompok garis keras sama sekali tidak peduli pada hal-hal di luar
kepentingan A.S.8
Jauh sebelum serangan teroris tanggal 11 September 2001 yang
menghancurkan World Trade Center di New York dan merusak sebagian
bangunan Pentagon, kantor Departemen Pertahanan di Washington,
kalangan konservatif telah berupaya memajukan visi mereka tentang
peranan A.S. dalam membentuk tatanan dunia baru pasca-Perang
Dingin. Salah satu visi tersebut ialah untuk menjaga ketertiban dunia
dengan mempertahankan hegemoni A.S., terutama keunggulan
militernya, serta mencegah negara lain untuk membangun kemampuan
yang dapat menyaingi hegemoni A.S. tersebut, terutama di wilayahwilayah strategis seperti Eropa Barat, Asia Timur, wilayah bekas Uni
Soviet dan Asia Barat Daya.9 Visi ini memandang Tatanan Dunia Baru
7. Time, September 10, 2001. hal.32-33.
8. Ibid. hal 31.
9. Paul Wolfowitz, “Remembering the Future”. The National Interest. Number 59.
Spring 2000, hal.36.
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
18
sebagai Pax Americana, di mana kepemimpinan A.S. dalam menentukan
bentuk serta aturan politik internasional tidak menghadapi tantangan
dari para pesaing. Hal ini terlihat dari draft memo yang ditulis Wolfowitz
ketika menjabat sebagai asisten di Departemen Pertahanan pada tahun
1992 yang bocor ke pers sehingga memicu kontroversi. Makalah tersebut
kemudian terbit dengan judul Defence Planning Guidance for 1992-1994.
Di samping itu diusulkan bahwa A.S. menggunakan doktrin pre-emptive
strike, atau mendahului menyerang potensi musuh secara unilateral
apabila pasukan gabungan tidak dapat dibentuk.10 Namun selama
pemerintahan Presiden Bill Clinton, doktrin pre-emptive strike ini tidak
dipakai.
Bagi kelompok konservatif yang menganut paham realist, hegemoni
A.S. dalam percaturan politik global merupakan konsekuensi logis dari
kekalahan Uni Soviet dan kemenangan A.S. dalam Perang Dingin.
Mereka tentu tidak ingin melihat kemunculan perimbangan kekuatan
baru menggantikan Uni Soviet yang kembali dapat memicu kompetisi
dan ketidakstabilan global. Dalam visi Pax Americana A.S. bertindak
sebagai polisi dunia, dengan mandat dan acuan tugas yang dapat
ditentukannya sendiri. Seperti dikatakan Wolfowitz, visi Pax Americana
ini sesungguhnya juga dianut oleh kelompok liberal, walaupun dalam
mencapai tujuan kalangan liberal lebih mendukung pendekatan
multilateralist. Yang menentang hanyalah kelompok isolasinist yang
ultra-kanan seperti Pat Buchanan.11
Perbedaan antara kelompok konservatif tradisional yang menganut
paham realist dengan kalangan konservatif baru (Neo-Conservative)
seperti Wolfowitz adalah yang pertama tidak terlalu peduli tentang isuisu demokrasi dan hak asasi manusia, sementara yang kedua melihat
bahwa Pax Americana juga ditujukan untuk memajukan demokrasi dan
HAM secara global. Dalam hal ini kelompok konservatif baru memiliki
tujuan yang serupa dengan kelompok liberal, hanya saja dalam cara
pencapaian tujuan mereka berbeda, yaitu yang pertama tidak segan
menggunakan kekuatan militer secara unilateral apabila dinilai perlu,
sementara kelompok kedua cenderung memilih menggunakan sanksi
10. Lihat Bara hasibuan, “Kaum Neo-Cons di Balik Perang Irak”. Kompas, 14
April 2003.
11. Wolfowitz ibid.
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
19
non-militer, baik melalui PBB maupun secara bilateral untuk menghukum
rezim yang dianggap salah.12
Sebelum perang Irak yang membuat posisi A.S. terisolasi, kebijakan
unilateral A.S. di bawah pemerintahan Presiden Bush juga telah
mengundang banyak kritik, termasuk dari negara-negara sekutu A.S.
sendiri. Atas desakan kalangan industri besar pemerintahan Bush
menolak meratifikasi Kyoto Protocol untuk mengurangi pengeluaran
emisi. Mengingat A.S. adalah negara yang memproduksi emisi terbesar
di dunia, tindakan sepihak A.S. tersebut jelas semakin mempersulit
per juangan internasional untuk melindungi lingkungan hidup.
Kebijakan Washington tersebut dikecam luas, terutama oleh negaranegara Eropa Barat. Hubungan A.S. dengan Rusia dan RRC juga
menjadi tegang ketika pemerintahan Bush menyatakan ingin kembali
mengembangkan pertahanan misile nasional (national missile defence)
untuk melindungi wilayah A.S. dari serangan intercontinental ballistic
missiles. Ini berarti secara sepihak akan keluar dari Anti-ballistic Missile
Treaty yang ditandatangani pada tahun 1972. Kebijakan ini juga
membuat sekutu-sekutu A.S. di Eropa Barat khawatir karena A.S. hanya
terfokus pada perlindungan tanah airnya sendiri tanpa mempedulikan
keamanan sekutu-sekutunya. Tindakan unilateral A.S. lain yang juga
mengundang banyak kecaman adalah penolakan A.S. atas dibentuknya
Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court),
karena A.S. khawatir tentaranya yang tersebar diberbagai pelosok dunia
akan banyak yang diseret ke pengadilan tersebut. Mahkamah ini
merupakan bagian dari upaya masyarakat internasional untuk
menegakkan hak asasi manusia (HAM), agar orang-orang yang
bertanggung jawab terhadap pelanggaran HAM berat dapat diseret ke
pengadilan internasional apabila negaranya sendiri gagal mengadilinya.
Ketiga kasus di atas secara jelas menunjukkan bahwa pemerintahan
Presiden Bush Jr. menjadikan kepentingan nasional A.S. secara sempit
sebagai acuan utama dalam mengelola hubungannya dengan dunia luar,
tanpa memperdulikan komitmen-komitmen multilateral atau nilai-nilai
12. Namun menarik untuk disimak bahwa dalam artikelnya yang dikutip di atas
Wolfowitz juga menjelaskan bahwa demokrasi tidak bisa dipaksakan dari luar. Demokrasi
hanya mungkin tercipta apabila ada dukungan dari dalam negeri yang bersangkutan.
Wolfowitz juga mengatakan bahwa leverage yang dimiliki A.S. untuk memaksakan
perubahan terbatas.
20
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
universal yang dulu justru gigih diperjuangkan Amerika Serikat. Namun
sebelum peristiwa 11 September 2001 unilateralisme A.S. lebih
berorientasi ke dalam, yaitu untuk melindungi kepentingan A.S. secara
langsung, tanpa mengubah tatanan internasional yang berlaku. Situasi
berubah setelah serangan teroris yang menghancurkan WTC
mempermalukan negara adidaya tersebut, dan membuatnya untuk
pertama kali merasa sangat terancam dan tidak berdaya. Dengan
menggunakan kekuatan militernya yang tidak tertandingi kebijakan
unilateralisme A.S. akhirnya diarahkan ke luar, tidak saja untuk
menghancurkan ancaman atau potensi ancaman, tetapi juga untuk
mengubah lingkungan strategis sesuai perspektif dan kepentingan
Washington.
Pada awalnya serangan teroris ke A.S. memaksa Washington untuk
mengurangi sikap unilateralismenya. A.S. menyadari bahwa terorisme
merupakan ancaman transnasional sehingga untuk menghadapinya
diperlukan kerjasama internasional. Masyarakat internasionalpun
menunjukkan simpati pada kerugian yang diderita A.S. A.S. berhasil
menggalang dukungan dan partisipasi internasional untuk menyatakan
“perang” terhadap terorisme. Namun kebijakan multilateral melawan
terorisme, yang mengedepankan kerjasama internasional dalam bidang
intelijen, memberantas pencucian uang dan kegiatan-kegiatan non-militer
lainnya, kembali dikalahkan oleh kecenderungan unilalteralisme dan
militerisme para pembuat kebijakan di Washington.
Serangan teroris ke A.S. membuka peluang bagi kelompok
konservatif dalam pemerintahan Bush untuk merealisasikan doktrin preemptive strike yang sudah lama mereka kemukakan, untuk
memusnahkan ancaman maupun potensi ancaman dari manapun
sumbernya. Para teroris yang menabrakkan pesawat ke gedung WTC
dan Pentagon disinyalir merupakan anggota dari Al-Qaeda, organisasi
teroris Islam ekstrim di bawah pimpinan Osama bin Laden yang
bermukim di Afghanistan. Walaupun para teroris tidak bertindak atas
nama suatu negara, dan terorisme merupakan ancaman non-tradisional
yang dilakukan oleh aktor-aktor non-negara, Washington membalas
serangan tersebut seolah-olah sedang menghadapi agresi militer
konvensional. Yakin atas keterlibatan Osama bin Laden dan Al-Qaeda
meskipun bukti-bukti belum sepenuhnya terkumpul, A.S. melakukan
serangan militer besar-besaran ke Afghanistan untuk membunuh bin
Laden dan menumbangkan rezim Taliban yang melindungi bin Laden.
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
21
Tindakan pembalasan yang dilakukan A.S. terhadap rezim Taliban
di Afghanistan, untuk kejahatan yang dilakukan oleh individu-individu
dari negara lain yang tidak berkaitan langsung dengan rezim tersebut,
melangkah jauh dari perang pembalasan yang diperbolehkan oleh
Piagam PBB ketika menghadapi agresi militer dari negara lain. (Sebagian
besar pelaku penyerangan tanggal 11 September 2001 adalah warga
negara Arab Saudi). Namun hal ini tampaknya tidak dipedulikan oleh
pemerintahan Bush, walaupun aksi militer A.S. di Afghanistan mendapat
banyak kecaman internasional. A.S. berdalih bahwa rezim Taliban
membiarkan wilayah Afghanistan dipakai oleh kelompok Al-Qaeda yang
tetap merupakan ancaman bagi A.S., sehingga untuk menghancurkan
Al-Qaeda dan mencegah aksi terror selanjutnya rezim Talibanpun harus
ikut dihancurkan. Dalam perang melawan teroris yang dicanangkan
A.S. negara yang membiarkan kelompok teroris berada di wilayahnya
tampaknya juga dianggap sebagai teroris atau pendukung terorisme
sehingga perlu diperangi, sebelum ancaman itu menjadi kenyataan.
Pandangan pemerintah A.S. tentang ancaman yang dihadapi negara
tersebut dan strategi menghadapinya semakin dikembangkan melalui
apa yang kemudian dikenal sebagai Doktrin Bush. Doktrin Bush pertama
kali disampaikan pada tanggal 1 Juni 2002, dalam pidato wisuda
mahasiswa akademi militer West Point. Dalam pidato tersebut Bush
menjelaskan bahwa ancaman masa depan datang dari para teroris serta
dari para diktator yang mengembangkan senjata pemusnah massal yang
dapat diberikan kepada para teroris. Untuk menghadapi ancaman
tersebut strategi deterrence seperti waktu menghadapi ancaman Blok
Komunis selama Perang Dingin tidak lagi sesuai. Sebaliknya A.S. harus
mengantisipasi ancaman tersebut dan melakukan tindakan pre-emption,
yaitu menyerang sebelum ancaman tersebut menjadi kenyataan.
Pemikiran Bush dapat dilihat dari kutipan-kutipan pidatonya sebagai
berikut: “We cannot defend America and our friends by hoping for the
best. We cannot put our faiths in the word of tyrants who solemnly sign
nonproliferation treaties and then systematically break them. If we wait
for threats to fully materialize we will have waited too long”. (Kita tidak
dapat mempertahankan Amerika dan rekan-rekan kita dengan
mengharap yang terbaik. Kita tidak dapat meletakkan kepercayaan kita
pada kata-kata tiran yang menandatangani perjanjian non-proliferasi
namun secara sistematis melanggar perjanjian tersebut. Kalau kita
menunggu ancaman untuk menjadi kenyataan kita sudah terlambat).
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
22
Berikutnya Bush mengatakan bahwa “.. the war on terror will not be
won on the defensive. We must take the battle to the enemy, disrupt his
plans and confront the worst threats before they emerge”. (Perang
melawan teror tidak dapat dimenangkan secara defensif. Kita harus
membawa pertempuran kepada musuh, ganggu rencananya dan hadapi
tantangan terburuk sebelum ia menjelma). Bush juga menjelaskan
bahwa tentara A.S. harus siap menyerang setiap saat di pelosok dunia
manapun: “A military that must be ready to strike at a moment’s notice
in any dark corner of the world”.13
Pandangan Bush ini, yang merupakan kelanjutan dari doktrin preemptive strike yang dikemukakan Pentagon tahun 1992, samasekali tidak
lagi mengindahkan Piagam PBB dan hukum internasional lainnya
tentang perang yang sah. Doktrin ini membenarkan tindakan agresi
terhadap negara lain hanya berdasarkan kecurigaan A.S. terhadap niat
atau kemampuan yang dimiliki negara tersebut. Tentara A.S. dapat
melakukan serangan di mana saja, kapan saja, melawan siapa saja sesuai
persepsi ancaman Washington, tanpa memerlukan mandat PBB ataupun
dukungan internasional. Perang melawan terorisme merupakan perang
tanpa mengenal batas waktu ataupun batas wilayah.
Serangan A.S. terhadap Irak untuk menggulingkan rezim Saddam
Hussein, kendati seperti telah disinggung sebelumnya tidak terdapat bukti
yang kuat bahwa Saddam Hussein memiliki kaitan dengan Al-Qaeda,
merupakan realisasi Doktrin Bush. Seperti diketahui keinginan tokohtokoh konservatif A.S. untuk menyingkirkan Saddam Hussein, yang
dicurigai telah mengembangkan senjata pemusnah massal sehingga
mengancam Isreal dan kepentingan A.S. di Timur Tengah secara
keseluruhan, telah cukup lama tercetus. Misalnya, pada tahun 1998 di
bawah bendera Project for the New American Century (PNAC) 18 orang
tokoh konservatif menulis surat pada Presiden Clinton untuk
mendongkel Saddam Hussein dari kekuasaan.14 10 dari 18 tokoh tersebut
kini duduk dalam pemerintahan Bush, dan setelah terjadi serangan
teroris di New York yang akhirnya melahirkan Doktrin Bush, keinginan
untuk menggulingkan Saddam mendapat pembenaran baru.
13. Commencement Speech given by President George w. Bush to the U.S. Military
Academy’s 2002 graduating class at West Point. The speech was given on June 1,
2002, at West Point New York. JINSA Online, June 4, 2002.
14. Bara Hasibuan op.cit.
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
23
Lebih jauh lagi Doktrin Bush menyatakan bahwa A.S. tidak saja
akan memerangi setiap potensi ancaman yang mungkin mucul, tetapi
juga akan secara aktif mendukung “freedom” atau kebebasan di seluruh
dunia. Menurut seorang pengamat, pidato Bush di West Point
merupakan pidato bersejarah yang meletakkan dasar bagi lahirnya
tatanan dunia baru dengan A.S. sebagai pusatnya dan “kebebasan”
sebagai tujuannya.15 Menggulingkan rezim Taliban di Afghanistan dan
rezim Saddam Hussein di Irak untuk membuka jalan terbentuknya
pemerintahan yang demokratis merupakan wujud dari Doktrin Bush
yang oleh seorang pengamat juga disebut sebagai “liberty doctrine”.
Berbeda dengan pemerintahan Clinton sebelumnya yang juga
mengupayakan penyebaran demokrasi melalui dukungan pada gerakangerakan pro-demokrasi dan tekanan ekonomi atau diplomatik pada rezim
yang tidak demokratis, Bush memaksakan demokrasi pada negara-negara
sasaran melalui intervensi militer A.S. secara langsung dan mengubah
tatanan politik di negara tersebut di bawah komando Washington.
Presiden Bush yakin A.S. berada pada posisi yang benar dan merasa
berkewajiban untuk menyebar kebenaran serta melawan kekuatan jahat
(evil) secara unilateral di seluruh penjuru dunia dengan menggunakan
kekuatan militer A.S. yang tidak tertandingi, dan tidak boleh ditandingi.
Seperti dikatakannya: “America has, and intends to keep, military
strengths beyond challenge—thereby making the destabilizing arms races
of other eras pointless, and limiting rivalries to trade and other pursuits
of peace”.16 Amerika di bawah Presiden Bush merupakan misionaris
bersenjata yang percaya bahwa A.S. ditakdirkan untuk memimpin dunia
demi kebaikan dunia itu sendiri.
Tantangan terhadap hegemoni Amerika Serikat
Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa dominasi suatu negara
terhadap negara lain tidak dapat bertahan selama-lamanya. Dominasi
yang berlebihan selalu menimbulkan perlawanan dan akan muncul
kekuatan-kekuatan baru yang menyaingi. Hegemoni A.S. dengan
kebijakan unilateralisme yang kontroversial baru berlangsung dalam dua
15. Tod Lindberg, “The War on Terror: The Bush Doctrine”. Hoover Digest, 2002
no. 4, Fall Issue.
16. Pidato di West Point, ibid.
24
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
tahun terakhir, namun perlawanan terhadap ketidakseimbangan kekuatan
ini sudah mulai tampak. Kecaman terhadap unilateralisme tidak saja
datang dari negara-negara yang memang selama ini kritis atau jauh dari
A.S., tetapi juga dari sebagian sekutunya.
Seperti telah disinggung sebelumnya, kepemimpinan A.S. yang telah
berlangsung sejak Perang Dunia II berakhir relatif dapat diterima secara
luas karena kepemimpinan tersebut berlangsung dalam kerangka sistem
multilateral. Dengan demikian negara-negara lain, khususnya negaranegara besar lainnya, tetap dilibatkan dalam setiap kebijakan internasional
yang diambil. Namun setelah pemerintahan Bush menunjukkan bahwa
ia hanya peduli pada kepentingan nasional A.S. dan menjalankan
kebijakan-kebijakan unilateral dalam interaksi internasional, A.S. mulai
dilihat sebagai ancaman oleh sebagian sekutunya sendiri.
Keinginan A.S. untuk menyerang Irak tanpa mengindahkan upaya
PBB yang berusaha mengatasi krisis Irak melalui cara damai mendapat
tantangan dari sebagian besar negara di dunia, terutama dari Perancis
dan Jerman yang merupakan sekutu A.S. dalam NATO (North Atlantic
Treaty-Pakta Pertahanan Atlantik Utara). RRC dan Rusia, yang
merupakan anggota Dewan Keamanan PBB juga menentang serangan
militer A.S. ke Irak. Penolakan sebagian besar negara di dunia terhadap
keinginan A.S. melancarkan aksi militer ke Irak bukanlah karena mereka
mendukung Saddam Hussein, namun karena mereka menilai bahwa
tidak ada alasan kuat untuk membenarkan penyerangan. Tim inspeksi
senjata PBB masih melaksanakan tugas mereka dan belum menemukan
bukti-bukti bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal seperti yang
dituduhkan. Di samping itu penggulingan pemerintahan suatu negara
yang berdaulat oleh negara lain tidak dibenarkan oleh Piagam PBB.
Dengan kata lain negara-negara yang menentang sikap A.S. ingin tetap
berpegang pada hukum internasional yang berlaku, dan tetap
menempatkan PBB sebagai satu-satunya kekuatan internasional yang
berwenang untuk menggelar aksi militer secara internasional.
Tindakan A.S. telah menimbulkan perpecahan di dalam NATO. Hal
ini jelas menunjukan ketidakpuasan sebagian anggota NATO, khususnya
Perancis dan Jerman yang merupakan dua negara terbesar dalam Uni
Eropa, atas tindakan sewenang-wenang A.S. yang sama sekali tidak
mempedulikan pendapat pihak lain. A.S. telah memutuskan untuk
menyerang Irak dan terserah negara lain untuk mendukungnya atau
tidak. Akhirnya A.S. hanya didukung oleh sedikit negara yang
merupakan sekutunya yang paling setia, antara lain Britania. Hubungan
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
25
A.S. dengan negara-negara Eropa yang menentang perang, yang dijuluki
Menteri Pertahanan Rumsfeld sebagai “Eropa Tua” menjadi tegang.
Sikap anti A.S. meluas di Eropa, termasuk di negara-negara yang
pemerintahnya mendukung perang.
Terlalu dini untuk mengatakan bahwa sebagai konsekuensi dari
ketidakpuasan terhadap arogansi A.S. akan segera muncul kekuatan
tandingan baru. Untuk sementara waktu kekuatan A.S. tidak tertandingi,
dan tidak satupun negara yang secara terbuka mengatakan hendak
menyaingi A.S., namun kondisi seperti ini diyakini tidak akan
berlangsung selamanya. Kendati A.S. bertekad untuk mencegah
munculnya kekuatan pesaing, sistem hegemoni mengandung kelemahan
dasar, yaitu ia tidak populer. Semakin kuat dan semakin dominan suatu
negara, yang cenderung memunculkan sikap arogan seperti yang
belakangan ini ditunjukkan A.S., maka akan semakin banyak pihak yang
tidak menyukainya.
Di Eropa Barat mulai muncul upaya untuk lebih mandiri dari A.S.
dalam bidang pertahanan. Sebenarnya sejak lama beberapa negara,
terutama Perancis, telah ingin membentuk pakta pertahanan Eropa Barat
di luar NATO, namun hal tersebut sulit direalisasikan. Namun pada
tanggal 29 Mei 2003 ini empat negara anggota Uni Eropa, Jerman,
Perancis, Belgia dan Luksemburg penentang perang Irak mengadakan
pertemuan di Brussel. Mereka sepakat untuk membentuk komando
pasukan di luar NATO. Meskipun ditentang keras oleh Britania dan
sebagian besar anggota Uni Eropa lainnya, usul keempat negara tersebut
dikabarkan mendapat dukungan dari Rusia dan Yunani.17 Apabila tiga
negara besar, Perancis, Jerman dan Rusia memutuskan untuk
membangun kekuatan militer tandingan jelas mereka berpotensi mampu
mengimbangi kekuatan A.S., mengingat kemampuan ekonomi dan
teknologi yang mereka miliki. Sebagian besar persenjataan Uni Soviet
diwarisi oleh Rusia, sementara Perancis dan Jerman merupakan dua
negara besar yang memiliki sejarah kebesaran militer di masa lalu.
Di lingkungan Asia Pasifik juga ada negara besar yang berpotensi
menjadi pesaing A.S. dalam jangka menengah dan panjang. Baik dilihat
dari pertumbuhan ekonomi maupun moder nisasi militer yang
dilakukannya, RRC diyakini akan tampil sebagai kekuatan global dalam
17. Koran Tempo, “Rusia Isyaratkan Dukung Pakta Pertahanan Eropa”. 2 Mei
2003.
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
26
waktu yang tidak terlalu lama. RRC tentu tidak akan dapat menerima
dalam jangka panjang suatu tatanan dunia yang sepenuhnya dikontrol
dan dibentuk oleh A.S., yang tidak memberi tempat yang sejajar pada
negara-negara besar lainnya.
Menurut Kenneth Waltz, ahli politik internasional beraliran realist
dari A.S., Amerika Serikat sekarang sedang berada pada puncak kejayaan
yang tidak akan dapat dipertahankannya terlalu lama. Pertama, penduduk
A.S. hanya 276 juta jiwa dari 6 milyar jiwa, atau 5 % dari total penduduk
dunia. Kemampuan fisik dan kemauan politik A.S. tidak akan mampu
menanggung beban internasional yang berat seperti sekarang ini untuk
selamanya. Kedua, negara-negara lain tidak akan puas ditempatkan dalam
gerbong belakang. Baik teman maupun musuh akan beraksi, sebagaimana
negeri-negeri sejak dahulu telah beraksi terhadap ancaman predominasi:
mereka akan memperbaiki perimbangan kekuatan.18
Di samping akan muncul upaya perimbangan kekuatan terhadap
dominasi A.S., betapapun A.S. akan mencoba mencegah munculnya
perlombaan senjata baru, sebagian besar masyarakat internasional juga
akan tetap berjuang untuk memperkuat sistem multilateralisme yang
selama ini sudah berjalan dengan cukup baik. Pertentangan A.S. dan
Eropa belakangan ini bukanlah karena persaingan ideologis atau karena
mereka bermusuhan. Perselisihan terjadi terutama karena pandangan
yang dianut A.S. tentang cara terbaik mengatur hubungan internasional
berbeda dengan pendekatan negara-negara yang tergabung dalam Uni
Eropa. Sebagai satu-satunya negara adidaya A.S. mampu dan lebih
suka bertindak secara unilateral, sementara Uni Eropa adalah organisasi
multilateral di mana setiap anggota dituntut untuk bertindak secara
multilateral, berdasarkan keputusan yang dibuat secara bersama, untuk
setiap keputusan.19
Walaupun A.S. dan Uni Eropa memiliki kemampuan ekonomi yang
relatif sama, visi dan bentuk kekuasaan mereka berbeda. A.S. merupakan
kekuatan militer yang tetap menganggap bahwa berbagai konflik di dunia
dapat diselesaikan secara militer. Sebaliknya, negara-negara yang
tergabung dalam Uni Eropa telah berupaya menyingkirkan kemungkinan
18. Waltz, op.cit. hal-55-56.
19. Anne-Marie Slaughter, “The Future of Intrenational Law: Ending the U.S.Europe Divide”. Crimes of War Project.- http://www.crimesofwar.org/sept-mag/septslaughter-printer.html.
Dewi Fortuna Anwar, Tatanan Dunia Baru
27
ancaman perang melalui berbagai per janjian dan kerjasama
internasional. Setiap pertikaian diupayakan untuk diselesaikan melalui
institusi-institusi sipil, misalnya melalui negosiasi atau melalui proses
hukum regional atau internasional. Bukanlah suatu kebetulan bahwa
A.S. yang gemar melancarkan aksi militer di luar negeri tidak pernah
mengalami perang di dalam negeri sejak Perang Saudara pada abad ke19, sementara negara-negara Eropa Barat yang berkali-kali hancur oleh
perang akhirnya memutuskan untuk mengedepankan cara-cara damai.
Seperti dikatakan seorang pengamat, “the EU is a civilian superpower,
wielding civilian power in contrast to the U.S.’s military power’. 20
Menarik untuk disimak bahwa kekuatan yang berpotensi dapat
mengubah tatanan global yang sekarang didominasi Amerika Serikat
adalah Eropa Barat yang merupakan sekutu terdekat A.S. dalam 50 tahun
terakhir. Perseteruan antara A.S. dan EU mengenai ICC (International
Criminal Court) secara jelas menunjukkan perbedaan pandangan antara
keduanya mengenai hukum internasional dan jurisdiksinya. A.S.
mengancam akan memutuskan bantuan militer pada negara-negara yang
menolak menandatangi perjanjian bilateral dengannya untuk menjamin
bahwa tentara A.S. yang berada di negara yang bersangkutan terbebas
dari jurisdiksi ICC. Sebaliknya EU mengingatkan negara-negara yang
hendak bergabung masuk EU, misalnya Turki dan Turkmenistan, untuk
tidak menandatangani perjanjian tersebut apabila mereka tetap ingin
diterima di dalam EU.21
Bagaimana dengan nasib PBB ke depan? Tindakan unilateral A.S.
dalam menyerang Irak jelas telah melecehkan dan memarjinalkan peran
PBB. PBB menunjukkan ketidakberdayaannya ketika berhadapan
dengan kemauan keras A.S. Namun walaupun A.S. berusaha
menunjukkan bahwa PBB tidak memiliki kemampuan untuk
menyelesaikan masalah-masalah internasional, terutama apabila
diperlukan suatu tindakan militer secara cepat, hal ini tidak mengurangi
otoritas yang dimiliki PBB. Serangan A.S. ke Irak tidak memiliki
legitimasi karena tidak didukung oleh PBB. A.S. pun sesungguhnya
menyadari hal ini, sehingga Washington berupaya untuk meyakinkan
PBB agar mengeluarkan resolusi yang melegitimasi serangan atas Irak
tersebut. Menteri Luar Negeri Colin Powell secara khusus
20. Andrew Moravcsik, “The Quiet Superpower”. Newsweek, June 17, 2002.
21. Slaughter, ibid.
28
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
menyampaikan presentasi di depan Dewan Keamanan PBB untuk
menunjukkan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. 22
Demonstrasi besar-besaran di seluruh dunia menentang invasi A.S. ke
Irak terutama disebabkan oleh pandangan bahwa tindakan A.S. tersebut
tidak sah karena tidak mendapat mandat PBB.
Tindakan unilateralisme A.S. justru meningkatkan tekad sebagian
besar masyarakat internasional untuk memperkuat PBB dan proses
multilateral. Misalnya, masyarakat internasional menuntut agar
pembangunan Irak setelah perang usai harus dilakukan oleh PBB, bukan
oleh A.S. semata. Tiga pemimpin Eropa yang menentang perang,
Presiden Vladimir Putin dari Rusia, Presiden Jacques Chirac dari Perancis
dan Kanselir Gerhard Schroder dari Jerman mengadakan pertemuan di
St. Petersburg pada tanggal 11 April 2003, beberapa hari setelah pasukan
A.S. memasuki Baghdad. Dalam pertemuan tersebut ketiga pemimpin
menegaskan bahwa PBB harus memainkan peran utama dalam
rekonstruksi Irak untuk mencegah kolonialisme baru di negeri tersebut.
Perdana Menteri Britania, Tony Blair, pendukung utama Bush yang turut
mengirim pasukan ke Irak, juga menuntut agar PBB lah yang harus
berperan utama di Irak pasca-perang.23
Seperti dikatakan Kenneth Waltz, tidak saja musuh tetapi teman pun
tidak suka diperlakukan sebagai warga kelas dua oleh suatu negara adidaya.
Tindakan unilateralisme A.S. di Irak mendapat dukungan dari sebagian
negara seperti Britania karena komitmen persekutuan atau karena mereka
yakin akan kebenaran tindakan tersebut. Namun upaya A.S. untuk
menguasai Irak secara ekonomi pasca-perang, antara lain dengan hanya
memberikan kontrak-kontrak kerja bernilai besar kepada perusahaanperusahaan A.S., menimbulkan ketidakpuasan luas dari negara-negara besar
lainnya, termasuk sekutu-sekutu setia A.S. sendiri. Apabila peranan utama
dimainkan oleh PBB maka pembangunan Irak tentu akan melibatkan banyak
negara. Dengan demikian tantangan atas unilateralisme A.S. tidak saja
disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan tindakan militer atau karena
ia mangabaikan hukum-hukum internasional, tetapi juga karena
kepentingan ekonomi negara-negara lain yang turut dirugikan. ‰
22. Ramesh Thakur and Andrew Mack, “The United nations. More relevant
now than ever”. Special to the Japan Times. Sunday, march 23, 2003.
23. The Moscow Times.com, “Petersburg Summit Pushes for UN Role”. April,
14, 2003.
ANALISIS
Pasca Agresi Amerika
ke Irak
Riza Sihbudi1
Pengantar
Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, pada 21 Maret 2003, Amerika
Serikat (AS) akhirnya memang melancarkan agresi paling brutal terhadap
rakyat dan negara Irak tanpa dikutuk—apalagi dicegah—oleh PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa). AS—yang didukung sepenuhnya oleh
Inggris, Australia dan Spanyol—sama sekali tidak menghiraukan kecaman
dan keberatan dari berbagai negara yang anti-perang. Sejak awal Presiden
AS, George W. Bush, memang tidak mempunyai opsi lain selain
mengumandangkan genderang perang. AS bahkan tidak perlu menunggu
hasil sidang DK (Dewan Keamanan) PBB yang semula hendak
memperdebatkan rancangan resolusi kedua yang mereka buat bersama
Inggris. Pasalnya, Prancis dan Rusia yang memiliki hak veto di DK PBB
sudah dipastikan akan menjegal rancangan resolusi yang memberikan
wewenang penggunaan kekuatan militer terhadap Irak itu.
Agresi sudah dilancarkan dan hanya dalam waktu tiga pekan negara
Irak pun sudah sepenuhnya berada di bawah pendudukan para serdadu
kolonial AS dan kawan-kawannya. Bagaimana pun kekuatan militer Irak
tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan militer para agresor (AS).
Apalagi sebelum diduduki, Irak sudah terlebih dulu dilucuti oleh PBB.
1. Ahli Peneliti Utama dan Kepala Bidang Perkembangan Politik Internasional pada
Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI); Dosen Pasca
Sarjana Universitas Indonesia (UI) Program Kajian Timur Tengah dan Islam; Ketua
Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta; dan, Wakil Ketua Umum
Pengurus Pusat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI).
30
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Skenario utama AS pun sudah jelas yaitu membentuk pemerintahan
boneka di Irak. Tujuan utamanya, menguasai ladang minyak Irak.
Sampai sekarang komoditas minyak memang belum bisa digantikan oleh
energi lain untuk kebutuhan industri. Jadi, penguasaan minyak sangat
strategis buat AS. Apalagi, cadangan minyak di Irak merupakan yang
terbesar setelah Arab Saudi. Di samping itu, Bush sendiri seorang
pengusaha minyak.
Dengan menguasai Irak, AS juga mendapatkan pijakan baru di
kawasan Teluk Parsi, karena setelah Revolusi Islam di Iran (1979), AS
kehilangan basis utamanya di kawasan ini. Bush dan para anteknya
menjadikan para pembelot Irak untuk berkuasa di Baghdad untuk
menggantikan rezim Saddam Hussein, kendati kekuatan kelompok oposisi
di Irak—di luar suku Kurdi dan kaum Muslim Syiah—sebenarnya tidak
begitu kuat. Mereka bahkan cenderung terpecah-pecah, karena tidak
adanya figur yang mampu menjadi tokoh pemersatu gerakan anti-Saddam.
Yang menjadi pertanyaan, apa sebenarnya ambisi AS di bawah Bush
untuk menduduki Irak, dan apa dampak agresi AS ke Irak terhadap
kawasan Timur Tengah?
Tekanan Faksi Pro-Israel
Pada awal Januari 2003, Pemerintah Irak menyatakan menerima
Resolusi DK PBB No. 1441, 2 dan UNMOVIC (United Nations
Monitoring, Verification and Inspection Comission) yaitu tim inspeksi
senjata PBB yang diketuai Hans Blix, pun sudah melakukan tugasnya,
kendati waktu itu mereka berharap dapat diberikan waktu tambahan
sekitar tiga bulan lagi. Gelombang aksi anti-perang yang digerakkan
kaum aktivis pro-perdamaian pun melanda di berbagai kawasan,
termasuk di negara-negara Barat yang selama ini dikenal sebagai sekutu
dekat AS, seperti Inggris dan Australia. Bahkan demo anti-perang juga
marak di AS sendiri.
Namun, kesemuanya itu tidak menyurutkan sedikit pun ambisi
George W. Bush untuk melancarkan aksi militer terhadap Irak, baik
dengan ataupun tanpa persetujuan PBB, dengan target utama
menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein guna menguasai minyak
2. Resolusi 1441 disahkan pada 8 November 2002, yang isinya antara lain menuntut
Irak untuk mengijinkan dan memberikan akses sepenuhnya kepada UNMOVIC dan
IAEA untuk meneliti segala hal yang berkaitan dengan persenjataan yang dimiliki Irak.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
31
Irak serta melayani kepentingan Israel. Jika memperhatikan pernyataanpernyataan Bush (dan para pejabat tinggi AS lainnya) baik sebelum
maupun setelah keluarnya Resolusi 1441, serta persiapan yang makin
intensif dari angkatan bersenjata AS sejak Januari 2003,3 maka jelas
sekali bahwa Bush memang sangat berhasrat menyerang dan menduduki
Irak.
Sebelum keluarnya resolusi DK PBB tersebut, Bush tidak hanya
menuduh Saddam Hussein sebagai “ancaman bagi perdamaian dunia”
karena terus mengembangkan senjata-senjata pemusnah massal, namun
Saddam pun dituduh berkolaborasi dengan kaum “teroris” internasional,
khususnya Osama Bin Laden. Bahkan Saddam juga didakwa terlibat
dalam kasus pemboman di Bali. Suatu tuduhan yang bagi banyak orang,
sangat tidak masuk akal.
Dalam pidato kenegaraannya (“state of the union”), 29 Januari 2003,
Bush memang tidak secara eksplisit menyatakan deklarasi perang
terhadap Irak. Namun, secara implisit keinginan Bush untuk sesegera
mungkin menyerang Irak dan menggulingkan Presiden Saddam Hussein,
tetap menggebu. Bagi Bush tidak ada opsi lain selain perang dan perang,
kendati laporan hasil tim UNMOVIC maupun Badan Tenaga Atom
Internasional (IAEA) sudah menyatakan tidak menemukan bukti-bukti
yang otentik dan akurat (otentik belum tentu akurat, dan sebaliknya)
perihal kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak. Bush juga
menganggap sepi terhadap makin maraknya aksi-aksi anti-perang di
berbagai belahan dunia, termasuk di AS sendiri.
Pada awal Maret 2003, AS dan Inggris mengultimatum Irak, jika
sampai 17 Maret 2003 belum menghancurkan senjata pemusnah
massalnya, negeri Saddam Hussein ini akan diserang habis-habisan.
Waktu itu Gedung Putih mengaku menemukan bukti-bukti baru bahwa
Irak belum menghancurkan senjata pemusnah massalnya.4 Sebelumnya,
dalam konferensi pers yang diadakan pada 6 Maret 2003, Bush kembali
menegaskan niatnya untuk menginvasi Irak dengan atau tanpa
persetujuan DK PBB.
3. Hingga saat itu AS telah menempatkan 250.000 tentara, dan 215.000 di antaranya
sudah siap tempur. Kekuatan pasukan AS akan mencapai 310.000 personel. Qatar
menjadi pusat komando dalam serangan AS ke Irak, sedangkan Kuwait saat itu sudah
menampung hampir 140.000 personel militer AS dan Inggris.
4. CNN.com (10 Maret 2003).
32
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Padahal dalam waktu yang sama, baik Ketua UNMOVIC, Hans
Blix, maupun Direktur IAEA, Mohammed ElBaradei, dengan gamblang
sudah mengemukakan bahwa tidak diketemukannya bukti-bukti yang
konkrit perihal pelanggaran Irak terhadap Resolusi DK PBB No. 1441.
ElBaradei bahkan mengatakan tudingan AS dan Inggris bahwa Irak
berusaha mendapatkan uranium dari Niger adalah tidak benar. Tudingan
itu bisa dipastikan hanya didasarkan pada dokumen-dokumen palsu yang
direkayasa oleh para agen dinas intelijen.
Oleh sebab itu, suara keras yang menentang rencana serangan AS
ke Irak pun kian meluas. Dalam komunike yang dikeluarkan pada akhir
Konferensi Tingkat Tinggi darurat di Doha, Qatar, 5 Maret 2003, negaranegara anggota OKI atau OIC (Organization of Islamic Conference)
satu suara dalam menolak serangan AS. Ke-57 negara anggota OKI
juga menolak setiap ancaman terhadap keamanan negara Islam mana
pun. Suara OKI ini sejalan dengan hasil KTT Liga Arab maupun
Gerakan Nonblok (GNB) sebelumnya. Menyinggung ancaman AS untuk
menggulingkan Saddam dan “menata kembali” peta Timur Tengah, para
pemimpin OKI dengan tegas menentang setiap usaha memaksakan
perubahan di kawasan ini dan menentang campur tangan pihak luar
terhadap urusan internal mereka.
Dalam pertemuan darurat para Menlu Prancis, Rusia, dan Jerman
di Paris, mereka juga secara tegas menolak rencana serangan militer ke
Irak. Selain menolak perang, Prancis bersama Rusia menyatakan siap
menggunakan hak veto. “Kami tidak akan meluluskan kerangka resolusi
yang merencanakan penggunaan kekuatan senjata. Rusia dan Prancis
sebagai anggota tetap DK PBB, sepenuhnya akan mempertanggung–
jawabkan hal tersebut,” kata Menlu Perancis Dominique de Villepin
dalam jumpa pers bersama Menlu Jerman Joschka Fischer dan Menlu
Rusia Igor Ivanov. Pemimpin umat Katolik dunia, Paus Yohanes Paulus
II, pun kembali mendesak seluruh pemimpin dunia untuk menghindari
perang. Sementara itu, para aktivis perdamaian mulai berdatangan ke
Irak untuk menjadi tameng manusia dalam menghadapi serangan AS.
Akan tetapi, gerakan perlawanan global tidak mampu mengubah
ambisi Bush menyerang Irak. Para pejabat AS menyatakan, serangan
terpaksa ditunda (dari rencana semula, 17 Maret 2003), karena waktu
itu Turki tidak mengizinkan penggunaan pangkalan militernya. Dalam
sebuah pemungutan suara, parlemen Turki menolak penempatan 62.000
tentara AS di wilayahnya. Untuk itu, Kementerian Luar Negeri AS
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
33
kemudian menyarankan meningkatkan paket bantuan ekonomi kepada
Turki menjadi 30 milyar dollar AS. Tawaran AS sebelumnya hanya 26
milyar dollar AS. Dan, Turki pun kemudian mengijinkan wilayahnya
dijadikan sebagai pangkalan bagi serangan udara AS ke Irak.5
Bush sendiri kembali menegaskan, Saddam harus disingkirkan,
kalau perlu dengan kekuatan. Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan
dendam pribadi Bush terhadap Saddam. Pernyataan Bush itu
mencerminkan bahwa ambisinya untuk melancarkan agresi sama sekali
tidak mengendur. Tidak ada perubahan dari posisi Bush yang tetap akan
menginvansi Irak dengan atau tanpa payung PBB. Jelas sekali, Bush
mendapat tekanan dari kelompok garis keras di AS yang militeristik
dan sangat pro-Israel. Perang menjadi satu-satunya tujuan mereka untuk
mencapai sasaran utamanya yaitu menguasai minyak Irak dan
mengamankan Israel.
Sebaliknya, Irak terus menarik simpati masyarakat global dengan
sikapnya yang kooperatif. Irak membuka seluruh akses, termasuk ke
Istana Kepresidenan, bagi UNMOVIC maupun IAEA. Menurut juru
bicara PBB di Irak Yasuhiro Ueki, Irak pun kembali menghancurkan
tiga rudal dan lima mesin rudal. Sebelumnya, Irak menghancurkan enam
rudalnya. Sejak Februari 2003, Irak memang telah memusnahkan
puluhan rudal Al-Samoud II, yang dicurigai AS dapat menjangkau Israel.
Namun, semuanya itu tampaknya tidak ditanggapi oleh Bush dan
para sekutunya. Ia bahkan menuding Saddam berlaku “kucing-kucingan”
seraya makin memperkuat jumlah kekuatan militernya di sekitar kawasan
Teluk Parsi. Jika demikian halnya, siapakah yang sebenarnya dapat
diharapkan mencegah ambisi Bush untuk mengobarkan peperangan
terhadap Irak? Seperti yang sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir
sebelum 21 Maret 2003, tekanan masyarakat dunia tidak mampu
mengubah sikap keras kepala Bush. Bahkan ancaman Prancis dan Rusia
untuk menggunakan hak vetonya jika AS dan Inggris tetap mengajukan
rancangan resolusi kedua ke DK PBB, ditanggapi Bush dengan ancaman
balik untuk tetap menyerang Irak, dengan atau tanpa mandat PBB.
Sebenar nya yang saat itu masih bisa diharapkan dapat
menghentikan ambisi perang Bush, adalah sikap rakyat AS sendiri.
5. Kendati pemerintahannya dipimpin oleh seorang PM dari sebuah partai Islam,
namun politik Turki lebih banyak ditentukan oleh kalangan militer konservatif yang sangat
pro-AS.
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
34
Demonstrasi antiperang di AS yang mulai meluas—jika semakin
membesar—bukan tidak mungkin mampu mempengaruhi sikap
Kongres, yang berada di belakang Bush. Di Inggris posisi PM Tony Blair
sempat goyah, karena 200 anggota parlemen dan 10 menteri dari Partai
Buruh melancarkan “pembangkangan” terhadap Blair.6 Ini disebabkan
makin kuatnya tekanan dari rakyat Inggris yang menentang perang. Hal
yang sama bukan mustahil dapat terjadi juga di AS. Dan, jika ini terjadi
maka benarlah apa yang tertulis dalam sebuah poster para aktivis
antiperang di Eropa: Drop Bush, Not Bombs. Sayangnya, suara hati
nurani sebagian rakyat AS tidak dapat mencegah ambisi perang Bush.
Paling tidak, ada enam faktor yang memotivasi Bush di balik ambisi
perangnya.7 Pertama, Bush menggunakan isyu “perang Irak” untuk
menutupi berbagai ketidak-berhasilannya dalam mengatasi persoalan
sosial-ekonomi di dalam negerinya sendiri. Ini misalnya terlihat dari salah
satu slogan yang diusung para penggiat anti-perang Irak di Washington
DC pada saat itu, yaitu “Money for Jobs, Not for War” (gunakan uang
negara untuk menciptakan lapangan kerja, bukan untuk membiayai
perang).
Kedua, keinginan Bush untuk melampiaskan dendam keluarganya
terhadap Saddam. Bush tidak pernah menyembunyikan kemurkaannya
pada Saddam Hussein yang dituduh pernah berupaya membunuh
ayahnya, Bush senior (mantan Presiden AS George Bush). Ketika
membombardir Irak pada 1990-1991, Bush senior memang berhasil
mengusir pasukan Irak dari Kuwait, namun ia gagal menggulingkan
kekuasaan Saddam. Ironisnya, justru ia sendiri yang kemudian
“terguling” dari kekuasaan karena dikalahkan oleh Bill Clinton dalam
pemilihan Presiden AS tahun 1992. Kegagalan sang bapak itulah yang
di kemudian hari hendak ditebus oleh sang anak.
Ketiga, Bush ingin menutupi kegagalannya dalam memburu Osama
bin Laden dan Mullah Umar di Afghanistan. Sekalipun ia sukses
meluluh-lantakkan Afghanistan—dengan mengorbankan ribuan nyawa
warga sipil negeri ini—namun Bush gagal total dalam mengejar target
utamanya, yaitu menangkap (hidup atau mati) pemimpin Al-Qaidah,
Osama bin Laden, yang dituding sebagai pelaku utama serangan yang
6. CNN.com (9 Maret 2003).
7. Lihat juga, Tim ISMES, Saddam Melawan Amerika (Jakarta: Pensil 324, 2003),
hlm. 33-34.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
35
amat fenomenal terhadap WTC dan Pentagon pada 11 September 2001,
serta pemimpin Taliban, Mullah Umar, yang menjadi sekutu utama
Osama.
Keempat, terinspirasi oleh keberhasilannya dalam menghancurkan
rezim Taliban dan menciptakan rezim boneka di Afghanistan, Bush
berusaha melakukan hal yang sama di Irak. Oleh sebab itu setelah
menggulingkan Taliban, obsesi Bush berikutnya adalah menggulingkan
Saddam Hussein dan mendirikan rezim boneka di Irak yang dapat didikte
oleh Washington. Tujuannya, tidak lain, untuk menguasai minyak Irak.
Seperti diketahui, Irak menjadi salah satu negara yang memiliki cadangan
minyak terbesar di dunia. Menguasai minyak Irak sangat berarti baik
bagi AS maupun Bush pribadi, yang keluarganya memiliki bisnis minyak.
Saddam, yang di masa lalu, dipertahankan oleh AS untuk dijadikan
sebagai “monster” bagi negara-negara kaya minyak di kawasan Teluk
Parsi agar mereka selalu berlindung di bawah payung AS, dianggap sudah
tidak memiliki arti strategis lagi bagi Bush.
Kelima, seperti dalam kasus kampanye anti-terorisme yang
dikembangkan AS pasca-tragedi 11 September 2001, dalam kasus Irak
pun tampak jelas kuatnya pengaruh faksi garis keras di lingkaran elite
politik Gedung Putih. Mereka, yang dimotori Wapres Dick Cheney,
Menhan Donald Rumsfeld, Deputi Menhan Paul Wolfowitz, serta
Penasehat Keamanan Nasional (NSC) Condoleezza Rice, memang
dikenal sebagai kelompok “neo-konservatif ” yang selalu mengedepankan
pendekatan pragmatis dan sangat militeristis.8 Yang ada di benak mereka
hanya perang dan perang. Sementara persoalan hak-hak asasi manusia
dan demokrasi justru dikesampingkan. Tidak mengherankan, jika
seorang Nelson Mandela (mantan Presiden Afrika Selatan) menuduh
AS di bawah Bush sebagai negara yang sama sekali tidak memiliki sopan
santun dalam pergaulan internasional.
Keenam, selain berwatak militeristis, mereka juga dikenal sangat
pro-Israel. Oleh karena itu, ambisi Bush untuk melucuti senjata Irak
8. Dalam beberapa hal, kelompok ini sangat dipengaruhi oleh kalangan fundamentalis
Protestan. Ini antara lain dikemukakan ahli sosial demokrat dari Jerman, Thomas Meyer,
dalam diskusi bertema “Perang dan Fundamentalisme” di Jakarta, 8 April 2003.
Pandangan tersebut didasarkan pada dukungan untuk Bush yang berasal dari para
fundamentalis Protestan yang terorganisir baik dan memiliki suara yang banyak. “Yang
paling penting kaum fundamentalis di Amerika mencakup 40 persen jumlah pemilih,”
kata Thomas Meyer. “George W. Bush Beraliran Politik Fundamentalis Halus”, Kompas
(10 April 2003).
36
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
juga dimaksudkan untuk mengeliminir ancaman militer Arab terhadap
Israel. Irak adalah satu-satunya negara Arab yang pernah “mengirim”
rudal Scud ke Israel sewaktu berlangsung Perang Kuwait (1990-1991).
Memang ini sudah menjadi kebijakan dasar AS yang tidak akan
membiarkan negara Arab manapun memiliki kekuatan militer yang
menyamai, apalagi melebihi, kekuatan militer Israel. Di sisi lain, dengan
mengobarkan perang terhadap Irak, Bush dan para pendukungnya
berharap dunia internasional akan mengalihkan perhatian dari
kekejaman dan kebiadaban yang terus-menerus dilakukan rezim Israel
di bawah PM Ariel Sharon terhadap warga sipil Palestina.
Memang, ada yang mengaitkan ambisi Bush ini dengan
dikembangkannya doktrin pre-emptive strike yang dianut AS pasca
Peristiwa 11 September 2001. Inti dari doktrin ini adalah—mirip “doktrin”
di dunia sepakbola—”pertahanan yang baik adalah menyerang.” Artinya
AS harus melancarkan serangan terlebih dulu terhadap siapa atau negara
mana pun yang oleh AS dipersepsikan potensial dapat menjadi ancaman
bagi kepentingan nasional AS. Selain itu, AS secara hitam-putih
“membagi” dunia ini hanya menjadi dua yaitu “kami” atau “mereka”
yang kadangkala dikenal dengan prinsip “either or” (“either you are with
us or with our enemy”), dan yang dimaksud dengan “our enemy” oleh
AS adalah kaum “teroris” internasional. Jadi, siapa pun yang tidak mau
memerangi atau membantu AS dalam memerangi kaum “teroris”—
apalagi yang dicurigai/dituduh mempunyai kaitan dengan kelompok
“teroris” internasional—maka mereka bisa dianggap sebagai musuh AS,
dan dengan sendirinya “halal” untuk diperangi. Celakanya, AS bebas
menafsirkan siapa saja yang berhak dikategorikan sebagai “teroris”.
Namun, dari faktor-faktor yang mendorong terjadinya agresi AS ke
Irak tersebut, yang paling kuat adalah kuatnya tekanan faksi pro-Israel di
lingkaran pemerintahan Bush. Mereka tidak hanya menghendaki
disingkirkannya Saddam Hussein yang dianggap dapat membahayakan
keamanan Israel, melainkan juga menginginkan “jatah” dari minyak Irak
pasca-Saddam. Jay Garner, pensiunan jenderal AS, yang ditunjuk Bush
untuk menjadi “penguasa sementara” di Irak, misalnya, dikenal sebagai
salah seorang arsitek sistem pertahanan rudal Arrow di Israel. Ia juga
punya kaitan erat dengan The Jewish Institute for National Security Affairs,
salah satu kelompok lobi Yahudi AS yang mendukung penuh kebijakan
garis keras rezim PM Israel, Ariel Sharon. Oleh sebab itu, bisa dimengerti
jika sasaran AS berikutnya, setelah Irak, adalah Suriah dan Iran, dua
negara Timur Tengah yang masih menolak perdamaian dengan Israel.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
37
Perhitungan Ekonomi dan Bisnis
Bush berhasil mewujudkan ambisinya dengan melancarkan agresi
terhadap Irak dan mendongkel Presiden Saddam Hussein dari
kekuasaannya. Namun, agresi itu pada hakekatnya mencerminkan
terkuaknya kebohongan liberalisme, kapitalisme dan demokrasi, yang
selalu diagung-agungkan oleh AS serta para sekutu dan simpatisannya.
Memang sangat ironis, ketika dunia mengaku memasuki era yang
modern dan beradab, yang terjadi justru suatu perilaku sangat biadab
dan barbar9 yang dilakukan oleh negara kuat yang mengaku sebagai
pendekar hak-hak asasi manusia dan demokrasi terhadap negara yang
lemah. Yang lebih ironis lagi, Bush—yang oleh Pemimpin Republik Islam
Iran Ayatullah Ali Khamenei dijuluki sebagai penganut setia
“Hitlerisme”—mengatasnamakan “perdamaian dan kebebasan” dalam
melancarkan agresinya ke Irak. Dunia hanya bisa terperangah dan
geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa menyaksikan kebiadaban Bush dan
para anteknya.
Setelah berakhirnya era Perang Dingin yang ditandai dengan
runtuhnya komunisme Uni Soviet dan Eropa Timur, Francis Fukuyama10
menyebut abad ini sebagai era kemenangan gemilang demokrasi dan
liberalisme. Tapi, barbarisme yang dipertontonkan Bush dan para
sekutunya terhadap rakyat Irak, tampaknya telah memporak-porandakan
tesis Fukuyama. Kini, demokrasi dan liberalisme macam apa yang
hendak dibanggakan, jika penguasa dunia seperti AS di bawah Bush
dapat berbuat semena-mena dengan menebarkan kebohongan dan
kemunafikan?11
Dulu, Presiden AS Ronald Reagan pernah menjuluki Uni Soviet
sebagai “kerajaan setan” lantaran negara adidaya komunis itu
9. Menurut seorang Rohaniwan asal Malang, Benny Susetyo Pr. (dalam artikelnya,
“Neo-Barbarisme dan Matinya Demokrasi,” Kompas, 8 April 2003), “Barbarisme yang
dikumandangkan AS dan sekutunya adalah modern (neo-barbarisme), bermodalkan
teknologi persenjataan modern.”
10. Dalam karyanya yang banyak diperbincangkan, The End of History and the
Last Man (New York: The Five Press, 1992).
11. Menurut Susetyo, “Demokrasi dunia telah mati akibat perilaku manusia jahat
yang berhati iblis. Demokrasi telah dikhianati oleh kekuasaan yang hegemonik. Demokrasi
hanya dijadikan tameng untuk merebut kekuasaan dari sesama. Ia menjadi lipstik negaranegara adikuasa untuk mencari dukungan dari negara-negara lain. Penegakan demokrasi
di dunia akhirnya binasa di tangan mereka yang selalu haus kekuasaan.” Lihat, Susetyo,
“Neo-Barbarisme …”
38
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
mengembangkan politik teror dan otoriterianisme. Tudingan yang hampir
sama kemudian diarahkan Bush terhadap Saddam Hussein. Bagi Bush,
penguasa Irak itu layak disingkirkan, karena “mengembangkan senjata
pemusnah massal, menjalankan kebijakan represif terhadap rakyatnya,
dan menjalin persekutuan dengan kaum teroris internasional.” Oleh
karenanya, agresi terhadap Irak ini diperlukan guna “membebaskan
rakyat Irak” dan “menciptakan perdamaian dunia.”
Bush jelas menyembunyikan niat jahat yang sebenarnya, yaitu
menguasai sumber-sumber minyak milik Irak, baik untuk kepentingan
AS sendiri12 maupun untuk kepentingan Israel.13 Berbagai dalih yang
dipakainya untuk menyerang Irak dengan mudah dapat dipatahkan. Oleh
sebab itu, Irak jelas bukan target akhir dan satu-satunya dari Bush dan
para anteknya. Setelah Irak, target berikutnya adalah Iran, Suriah, Libya
dan Arab Saudi. Keberhasilan “proyek” Irak akan mendorong Bush—
yang dikendalikan kaum Zionis internasional—untuk menjalankan
“proyek” berikutnya. Dengan demikian, sangat sulit mempercayai begitu
saja argumen-argumen—tentang kepemilikan senjata pemusnah massal
Irak, keterkaitan Saddam dengan jaringan “terorisme” internasional,
dan sikap represif rezim Saddam— yang dipakai Bush untuk
melancarkan agresinya di Irak. Jelas ada perhitungan-perhitungan
ekonomi dan bisnis yang mendasari agresi AS ke Irak.
Pertama, Irak adalah sebuah negara yang memiliki cadangan minyak
kedua terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Oleh Centre for Global
Energy Studies (CGES) London, Irak diperkirakan memiliki 112 milyar
barrel cadangan minyak. Bahkan cadangan minyak Irak diperkirakan
lebih tinggi dari angka itu, karena sumber minyak di kawasan Gurun
Pasir Barat yang belum dieksploitasi, misalnya, kemungkinan masih bisa
menghasilkan sumber minyak tambahan. Dengan memiliki cadangan
minyak 112 milyar barrel, Irak merupakan pemilik 11 persen cadangan
minyak dunia yang belum sepenuhnya terjamah. Irak memiliki sekitar
2.000 ladang minyak yang menghasilkan sekitar 2,5 juta barrel minyak/
hari dari 15 deposit utama minyak di sebelah utara, selatan, dan timur
12. Menurut Susetyo, “Semua orang tahu, AS tak mampu meredam nafsu menguasai
sumber minyak. Demi minyak, Bush menipu dunia dengan menggunakan terminologi
terorisme.” Ibid.
13. Setelah agresi AS ke Irak, negeri Yahudi ini sibuk merancang pembangunan
pipa minyak dari Irak ke Israel.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
39
Irak. Kapasitas sebenarnya ladang-ladang minyak itu diperkirakan dapat
mencapai 2,8 juta barrel/hari.
Irak juga mempunyai 12 pabrik penyulingan minyak dengan total
kapasitas 677.000 barrel/hari, terbesar ada di daerah selatan dan utara.
Masing-masing kilang itu memiliki kapasitas 170.000 dan 150.000 barrel/
hari. Sebelum Perang Teluk 1991, Irak mengekspor minyak melalui empat
pipa ke Turki, Suriah, Arab Saudi dan dua pelabuhan di Teluk Parsi
antara lain di Min-Al-Bakr yang dapat melayani supertankers dan
mengapalkan hingga 1,3 juta barrel/hari. Sumber daya minyak Irak
diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan impor minyak AS selama
hampir satu abad. Kesimpulannya, posisi Timur Tengah (termasuk Irak),
masih cukup signifikan dalam pasokan minyak dunia.
Kedua, minyak dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia
jika harganya tidak stabil, terutama jika harga minyak naik secara tajam.
Hal itu menyebabkan nilai impor minyak meningkat, biaya produksi
meningkat, yang akhirnya akan menurunkan produktivitas. Produktivitas
ekonomi yang anjlok, akan memerosotkan perekonomian, dan
menghambat pertumbuhan kesempatan kerja. Pertumbuhan ekonomi
tentu penting bagi AS. Irak memiliki potensi memainkan harga minyak
dunia karena persediaannya yang melimpah. Bila harga minyak tibatiba merosot US$10 saja, AS diperkirakan akan kehilangan pemasukan
pajak sebesar US$100 milyar.14 Oleh karena itu, AS merasa khawatir
terhadap kestabilan harga dan pasokan minyak dunia. Misalnya, jika
rezim Saddam Hussein mendadak menghancurkan fasilitas minyak di
Irak, dan kemudian Kuwait, Iran dan Arab Saudi. Pada Perang Teluk
1991, Irak menghancurkan infrastruktur perminyakan Kuwait.
Kekhawatiran lain adalah, adanya potensi pengurangan produksi minyak
di Teluk. Itu pernah terjadi melalui aksi embargo terhadap AS dan
negara-negara Barat lainnya yang mendukung Israel, ketika terjadi
Perang Arab-Israel 1973.
AS sangat khawatir, jika kontrol produksi minyak jatuh ke tangan
pihak yang anti-Barat, karena ketergantungan negara-negara industri
Barat, khususnya AS, pada minyak impor. Oleh sebab itu, penggusuran
Saddam di Irak dianggap akan mampu menghentikan permasalahan
minyak dunia dengan peningkatan pasokan. Selama ini produksi minyak
Irak telah terganggu karena terbatasnya investasi dan faktor politik di
14. Gatra (29 Maret 2003), hlm. 40.
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
40
negeri ini. Jika ada perubahan rezim di Irak, diharapkan akan ada
tambahan pasokan minyak dunia sebanyak 3-5 juta barrel/hari. Ketika
ditanya apa alasan AS untuk melancarkan Perang Teluk pada 1991,
James Baker saat menjabat Menteri Luar Negeri AS saat itu menjawab
bahwa alasannya adalah pekerjaan (jobs). Menurut Baker, penciptaan
kesempatan kerja atau lapangan pekerjaan yang ada akan anjlok atau
hilang, jika Saddam sepenuhnya mampu mengontrol arus suplai minyak
dari Teluk Parsi, atau Saddam bertindak sesuai keinginannya untuk
mempengaruhi harga minyak. “Apalagi kalau Saddam berhasil
mengontrol minyak Irak dan Kuwait,” kata Baker.15
Ketiga, pada 17 September 2002, Gedung Putih, dengan titipan
pesan dari Bush, mengeluarkan dokumen 30 halaman berjudul The
National Security Strategy of The United States. Gambaran umum dari
dokumen itu adalah, tentang strategi kebijakan nasional AS didasarkan
pada keunikan internasionalisasi AS yang merefleksikan kesatuan nilainilai dan kepentingan nasional mereka. Tujuan dari strategi itu adalah
membentuk dunia yang—tentu saja menurut persepsi AS—tidak saja
“lebih aman,” tetapi juga “lebih baik.” Tujuannya adalah, “kebebasan”
ekonomi dan politik, hubungan “serasi” dengan negara-negara lain, dan
“penghargaan” pada nilai-nilai kemanusiaan. Untuk mencapai tujuan
itu, AS akan meningkatkan aspirasi soal nilai-nilai kemanusiaan;
memperkuat aliansi untuk membasmi “terorisme” dan bekerja untuk
menghindari serangan pada AS dan sekutunya; bekerja dengan pihak
lain untuk “menghindari” konflik regional; mencegah ancaman musuh
terhadap AS dan sekutunya dengan senjata pemusnah massal;
menciptakan era baru untuk pertumbuhan ekonomi global lewat pasar
bebas dan perdagangan bebas; meningkatkan siklus pembangunan
dengan membuka komunitas dan membangun sarana demokrasi;
menciptakan agenda untuk aksi kerja sama dengan pusat-pusat kekuatan
global; serta mentransformasikan lembaga keamanan nasional AS untuk
menghadapi tantangan dan kesempatan abad 21.16 Namun, dalam
prakteknya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan diabaikan oleh
AS demi perhitungan ekonomi dan bisnis, sebagaimana terlihat dari
agresi ke Irak.
15. Simon Saragih, “Alasan Perang dari Perspektif Ekonomi”, Kompas (23 Maret
2003).
16. Ibid.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
41
Sejak 1998 ChevronTexas (salah satu perusahaan minyak terbesar
di AS) sudah mengincar minyak Irak. Dan, sejak 2002, AS kekurangan
pasokan minyak 1,5 juta barel/hari akibat krisis politik di Nigeria dan
Venezuela. Sejauh ini, perusahaan-perusahaan AS benar-benar vakum
dari bisnis minyak di Irak. Produksi minyak di Irak termasuk terendah
di dunia. Namun, hal itu juga sekaligus membuatnya sangat menarik
bagi investor asing. Menurut US Energy Information Administration,
hanya 15 dari 73 ladang minyak yang telah dikembangkan sebagai akibat
Perang Teluk 1991 dan sanksi PBB. Pada awal April 2003, ada pertemuan
antara para eksekutif perusahaan minyak AS dengan Dick Cheney dan
para pejabat Deplu AS. Topik yang dibahas: “kepentingan menata
industri minyak Irak pasca Saddam.” Saat itu kubu garis keras yang
dimotori Cheney dan Rumsfeld menghendaki kontrol penuh AS atas
minyak Irak, yang ditolak kubu (Menlu AS) Collin Powell.17
Keempat, konflik internasional selalu melahirkan tragedi
kemanusiaan, yaitu situasi di mana setidaknya ribuan warga sipil akan
menderita kelaparan atau mati tanpa bantuan internasional. Pada 1999
PBB menemukan kondisi itu di 23 negara. Akibat situasi itu PBB harus
menanggung beban besar, baik beban kemanusiaan maupun biaya
material. Sebagai contoh, lebih dari US$4 milyar yang telah dikeluarkan
PBB untuk melaksanakan misinya di Kamboja dan Somalia serta US$5
juta/hari di Yugoslavia untuk keperluan peacekeeping operation oleh
NATO. Dalam kasus agresi ke Irak, AS diperkirakan telah
menganggarkan dana US$ 60-95 milyar. Dana itu selain digunakan untuk
operasi militer, juga untuk rehabilitasi fisik dan kemanusiaan Irak
pascaperang.18
Kelima, setiap berakhirnya sebuah peperangan, pasti disusul dengan
tahap rekonstruksi atau pembangunan kembali infrastruktur yang
hancur. Pada 1991, ketika Kuwait dibebaskan pasukan Sekutu yang
dipimpin AS dari belenggu aneksasi Irak, negara Arab kaya tersebut
harus mengeluarkan dana rekonstruksi sampai US$200 milyar. Proyek
sebanyak itu jatuh ke kontraktor-kontraktor AS, yang kemudian
membaginya kepada negara-negara lain sekutu “proyek” perang tersebut.
Jika kasus Kuwait bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan, maka
17. Tempo (13 April 2003), hlm. 145.
18. Tubagus Erif Faturahman, “Menghitung Biaya Perang”, Kompas (26 Maret
2003).
42
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
biaya rekonstruksi Irak pasca agresi AS diperkirakan tidak akan jauh
dari angka US$200 milyar. Jumlah ini jelas sangat signifikan bagi AS,
setidaknya sebanding dengan ongkos yang telah dikeluarkan untuk
agresinya ke Irak. Artinya, pendarahan (bleeding) pada anggaran defisit
AS dapat dihentikan. Sebelum melancarkan agresi ke Irak, defisit
anggaran AS pada 2003 diperkirakan mencapai US$300 milyar yang
merupakan rekor terburuk selama ini. Begitu melancarkan agresi,
proyeksi defisit diduga melonjak menjadi US$400 milyar. Dengan
berakhirnya agresi, bleeding anggaran dapat dihentikan dan keadaan
yang lebih buruk bagi perekonomian AS dapat dihindari.19
Keenam, pada 5 April 2003, tokoh-tokoh Irak di pengasingan dan
sejumlah pejabat senior AS melakukan pertemuan di London. Pertemuan
itu menghasilkan kesepakatan bahwa perusahaan-perusahaan minyak
internasional akan diberikan peran utama untuk menghidupkan kembali
industri perminyakan Irak di masa pasca-agresi.20 Pemerintah Bush juga
mendapatkan persetujuan Kongres AS untuk biaya awal rekonstruksi
di Irak sebesar US$2,45 milyar. Anak perusahaan Halliburton (terkait
dengan Dick Cheney) bernama Kellogg, Brown & Root (KBR), tanpa
tender sudah memenangkan kontrak pemadaman api di ladang-ladang
minyak Irak yang terbakar selama invasi. Perusahaan AS lainnya
bernama Bechtel Group (terkait dengan pemerintahan Ronald Reagan
dan mantan Menlu AS George Shultz serta mantan Menhan AS Caspar
Weinberger), Fluor Corp (di perusahaan ini Philip Carroll berperan
sebagai Chief Executive Officer sekarang), Parsons Corp, Louis Berger
Group, dan Washington Group International. Semua perusahaan—yang
pernah menyumbang dana kampanye politik Bush-Cheney sebesar
US$3,5 juta—telah memenangkan sebagian kontrak bisnis di Irak.
Sementara itu, USAID (Badan AS untuk Pembangunan
Internasional) pada tahap awal sudah membagi kontrak utama sebesar
US$900 juta hanya kepada perusahaan AS. Perusahaan negara sekutu
AS hanya berhak sebagai subkontraktor. Perusahaan Stevedoring Service
of America yang berpusat di Seattle, ditawari kontrak US$4,8 juta untuk
mengelola pelabuhan Umm Qasr. Beberapa perusahaan AS itu punya
kaitan politik dengan rezim Bush, salah satunya perusahaan energi dan
konstruksi Halliburton Co., yang penah dipimpin Dick Cheney. Pada
19. A Tony Prasetiantono, “Ekonomi Pasca-Perang Irak”, Kompas (11 April 2003).
20. “Minyak Irak Diperebutkan”, Kompas (9 April 2003).
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
43
saat bersamaan sekitar 80 perusahaan Inggris sudah menunggu untuk
memperoleh kontrak di Irak.21 Penunjukan Jay Garner (Presiden SY
Technology, sebuah unit dari L-3 Communication Holding Inc.) sebagai
“penguasa sementara” di Irak pasca Saddam juga tak terlepas dari
perhitungan bisnis rezim Bush. Pada 1999, misalnya, perusahaan milik
Garner memperoleh kontrak proyek Star Wars senilai US$365 juta. Dia—
yang sangat dekat dengan The Jewish Institute for National Security
Affairs yang mendukung kebijakan garis keras razim Sharon—menjadi
konsultan sistem rudal Patriot dan sistem pertahanan rudal Arrow Israel.
SY Technology juga mendapat kontrak senilai US$1,5 milyar sebagai
penyedia jasa logistik untuk pasukan khusus AS di Irak.22
Di sisi lain, tidak sedikit negara di dunia yang sibuk mendekati AS
agar mendapat bagian keuntungan ekonomi pasca-agresi. Lebih jauh
lagi, kontrak bisnis di Irak dalam tiga tahun (2003-2006) menyangkut
omzet sebesar US$30 milyar. Secara total, diperkirakan Irak
membutuhkan US$100 milyar atau bahkan lebih untuk memulihkan
ekonomi. Itu bukan hanya untuk membangun industri minyak, tetapi
juga sarana-sarana lainnya. Namun dari semua pemberitaan yang ada,
perusahaan-perusahaan AS terkesan sangat rakus dan ambisius.23 Bisnis
minyak Irak pasca-agresi AS, kemungkinan besar akan dipegang oleh
ExxonMobil (AS), BP (Inggris) dan Royal Dutch/Shell, ConocoPhilips
(AS), ChevronTexaco (AS). Perusahaan yang bergerak di bidang jasa
pendukung pertambangan minyak seperti Halliburton dan Schlumberger
(keduanya dari AS) juga akan diuntungkan. Bahkan mantan pimpinan
Shell Oil Co Philip J. Carroll, juga sudah dipilih AS untuk menjalankan
industri perminyakan Irak pasca-agresi AS. Sebelumnya, berbagai
perusahaan AS sudah menangani kontrak-kontrak bisnis untuk
mengelola pelabuhan di Umm Qsar. Juga lima perusahaan AS lainnya
telah memenangkan kontrak bisnis untuk memadamkan ladang-ladang
minyak yang terbakar, serta mendapatkan kontrak untuk pembangunan
sarana di Irak.
21. Tempo (13 April 2003), hlm. 143.
22. Ibid, hlm. 144. Garner memang hanya selama sekitar tiga pekan menjadi
“penguasa sementara” di Irak pasca-Saddam, karena sejak 5 Mei 2003, posisinya
digantikan oleh Lewis Paul Bremer III, seorang diplomat kawakan yang juga dikenal
dekat dengan kalangan “neo-konservatif” (seperti Henry Kissinger) dan lobi Yahudi.
Lihat juga, Tempo (18 Mei 2003), hlm. 134-135 dan Kompas (12 Mei 2003).
23. “Pada Era Rekonstruksi Irak”, Kompas (13 April 2003).
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
44
Besarnya peranan yang telah dan akan dimainkan para pelaku bisnis
minyak AS di Irak pasca-agresi, mendapat reaksi cukup keras dari
sejumlah negara Uni Eropa. Pada 10 April 2003, misalnya, Komisi Eropa
telah mengusut kontrak-kontrak bisnis AS di Irak yang baru diumumkan
setelah terjadinya agresi. Mereka mengusut, apakah kontrak-kontrak
itu sudah sesuai dengan aturan main World Trade Organization (WTO).
“Kami sekarang mengevaluasi apakah kontrak-kontrak itu sudah sesuai
dengan aturan WTO,” kata Arancha Gonzalez, juru bicara Komisi
Perdagangan UE. 24 Alan Larson, Wakil Menlu AS untuk urusan
ekonomi, bisnis, pertanian, memberikan jawaban bernada membela
perusahaan AS. “Kontrak bisnis itu dilakukan untuk memastikan agar
warga Irak bisa dilayani secepat mungkin, bukan untuk menggarap
manfaat ekonomi semata pada era rekonstruksi.”25 Namun, Eropa tidak
yakin dengan jawaban itu. Karena itu, perusahaan-perusahaan Eropa
mengancam. “Kalau ada pihak yang ingin menyingkirkan Lukoil, kami
akan menggugatnya melalui pengadilan arbitrase di Geneva, yang akan
segera menyita ladang minyak itu,” kata Wakil Presiden Lukoil (Rusia)
Leonid Fedun.26
Ada ketakutan dari perusahaan Rusia, Perancis, Jerman, bahwa
kontrak-kontrak bisnis yang sudah mereka genggam akan hilang begitu
saja. Maka tidak heran, jika trio Prancis-Jerman-Rusia yang paling keras
menyuarakan agar wewenang di Irak dikembalikan ke Irak. Pada 8 April
2003, perusahaan minyak utama Rusia Lukoil mengancam akan
memblokir untuk jangka watu lama pengembangan ladang minyak
raksasa West Qurna di Irak. Tindakan ini akan dilakukan jika ada
perusahaan AS atau Inggris yang berambisi merebut peran utamanya
dalam proyek itu. 27 Konvensi Geneva memang melarang negara yang
menduduki suatu negara untuk melakukan komitmen jangka panjang,
khususnya komitmen komersial. Oleh sebab itu, pertarungan
memperebutkan lahan bisnis di Irak pasca-agresi AS, diperkirakan akan
semakin meningkat tajam di waktu mendatang.
24. Ibid.
25. Ibid.
26. Ibid.
27. Ibid.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
45
Berakhirnya Kekuasaan Saddam
Seperti yang sudah banyak diperkirakan sebelumnya, runtuhnya rezim
Saddam Hussein tak bisa dielakkan. Bagaimanapun, kekuatan militer ASInggris tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan militer Irak. Ini memang
sebuah “perang” (lebih tepat disebut agresi atau invasi) yang sangat tidak
adil dan tidak berimbang. Betapa tidak, Irak pascaperang Kuwait 1991
secara ekonomi-politik-militer dijatuhi hukuman oleh PBB—atas tekanan
AS—berupa embargo dan sanksi di hampir segala sektor kehidupan,
kecuali untuk bahan makanan dan obat-obatan. Selain itu, Irak pun dilucuti
senjatanya oleh PBB—lagi-lagi atas tekanan AS.
Bahwa Saddam itu “monster” (dan bahkan “preman” karena
kegemarannya memeras para emir yang kaya di sekitarnya) jelas sulit
dibantah. Ia bahkan bukan sekedar “monster” bagi para tetangga
Arabnya, melainkan juga bagi rakyatnya sendiri. Mungkin sudah sulit
dihitung berapa nyawa yang melayang akibat kekejaman mesin politik
Saddam sejak ia berkuasa pada 1979. Namun, mayoritas rakyat Irak—
termasuk sekitar 60 persen warga Syiah yang selama ini terpinggirkan—
jelas lebih membenci para agresor AS dan Inggris ketimbang Saddam.
Oleh sebab itu, harapan AS dan Inggris bahwa para serdadu mereka
akan disambut hangat warga Irak menjadi sia-sia belaka.
Di samping itu, di mana letak moralitas AS dan Inggris? Pada 1980an AS dan Inggris jelas ikut andil dalam membangun kekuatan militer
Irak di bawah Saddam. Entah berapa juta atau bahkan milyar dolar
yang sudah dikantongi AS dan Inggris dari rezim Saddam. Yang jelas di
bawah Saddam, Irak membelanjakan sekitar 51% dari GDP-nya untuk
membangun sektor pertahanan. Kemudian AS dan Inggris memberikan
dukungan penuh ketika Saddam “didorong” untuk menyerbu Iran guna
mencegah meluasnya revolusi Islamnya Imam Khomeini. Setelah sukses
membendung pengaruh Imam Khomeini (yang sangat ditakuti AS dan
para sekutunya), justru Saddam sendirilah yang kemudian dihancurkan.
Dengan kata lain, Irak terlebih dulu dilemahkan sebelum akhirnya
diserang habis-habisan. Ibarat seorang anak manusia yang dirampok
hartanya kemudian tak diberi makan berhari-hari lantas dipukuli bertubitubi. Daya tahannya pasti sangat terbatas. Begitu pula halnya dengan
Irak di bawah Saddam. Bagi sebagian warga Irak, kejatuhan Saddam
memang disambut dengan penuh antusias.
Ketika Saddam masih berkusa, di kalangan rakyat Irak ada motto
yang sangat terkenal yaitu: “dengan darah dan nyawa, kami rela
46
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
berkorban demi Saddam.” Tidak jelas, apakah karena motto inilah maka
Saddam Hussein mampu bertahan selama 24 tahun. Juga, tidak jelas
apakah “kerelaan” rakyat Irak untuk berkorban demi Saddam itu sematamata karena kecintaan mereka kepada sang pemimpin. Atau, justru
karena ketakutan mereka kepada mesin politik Saddam yang sering
digambarkan sebagai sebuah “republic of fear” itu. Pasalnya, di negara
dengan sistem politik yang amat tertutup seperti Irak, sulit untuk
membedakan antara kecintaan dan ketakutan rakyat pada sang
pemimpin. Seorang pedagang di Baghdad misalnya—sebagaimana
dikutip Sandra Mackey—memberikan ilustrasi yang menarik, “This is
radio, but if Saddam says this is refrigerator, it is refrigerator.” 28
Saddam yang pada 28 April 2003 genap berusia 66 tahun sering
digambarkan—terutama oleh media AS—sebagai penguasa paling
otoriter di kawasan Timur Tengah. Ini tidak mengherankan, karena
Saddam bukan hanya tidak mau memberikan ruang gerak bagi perbedaan
pendapat (apalagi oposisi) di kalangan warga Irak, tapi ia juga tidak
segan-segan untuk “menghabisi” para lawan politiknya dengan caracara yang amat kasar. Belum setahun meraih jabatan presiden (Juli 1979),
Saddam sudah mengeksekusi pemimpin Syiah Irak Ayatullah
Muhammad Baqer al-Sadr (pada April 1980), yang sejak awal menentang
rezim Partai Ba’th. 29 Saddam menganggap warga Syiah—yang
jumlahnya mencapai sekitar 60% dari seluruh penduduk Irak vis-à-vis
17% warga Arab Sunni—sebagai ancaman utama.
Sikap represif Saddam memang tidak hanya tertuju pada kaum
Syiah, melainkan juga terhadap warga Kurdi—sekitar 20% dari seluruh
penduduk Irak—dan kalangan Partai Ba’th sendiri, khususnya mereka
yang menentang kebijakan sang pemimpin (selain sebagai presiden,
Saddam juga memegang jabatan sebagai Ketua Dewan Komando
Revolusioner [RCC], Sekjen Komando Regional Partai Sosialis Ba’th
Arab, dan Panglima AB). Di antara para tokoh Partai Ba’th dan anggota
RCC yang di eksekusi sejak Saddam berkuasa, terdapat nama-nama
seperti: Menteri Urusan Kurdi Khaled Abed Osman, Deputi PM ‘Adnan
Husain, Menteri Pendidikan Mohammad Mahjoub, Menteri Industri
28. Sandra Mackey, Passion and Politics: The Turbulent World of the Arabs (New
York: Penguin Book, 1994).
29. Chibli Mallat, The Middle East into the 21st Century: Studies on the ArabIsraeli Conflict, the Gulf and Political Islam (Ithaca, NY: Ithaca Press, 1997).
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
47
Mohammad ‘Ayeh, dan Menteri Kesehatan Riyadh Ibrahim.30 Namun,
yang membuat dunia ikut terperangah adalah ketika Saddam, pada
Februari 1996, tega “menghabisi” dua menantunya yang juga masih
dari lingkungan keluarganya sendiri, yaitu Saddam Kamil al-Majid dan
Hussein Kamil al-Majid.
Dalam perjalanan sejarah Irak modern, Saddam tercatat sebagai
pemimpin Irak yang—menurut Mackey—”memperkenalkan cara-cara
kekerasan dan teror dalam jaringan keamanan negara guna
mempertahankan kekuasaannya.” Ia pun tercatat sebagai pemimpin
yang—sebelum terjadinya agresi AS—menjerumuskan bangsa dan
negaranya ke dalam dua perang besar: melawan Iran (1980-1988) dan
melawan Sekutu (1990-1991). Bahkan sejak Saddam berkuasa, rakyat
Irak praktis hanya selama dua tahun menikmanti suasana perdamaian.
Ia sangat terobsesi untuk menjadi “pemimpin Dunia Arab.” Karena itu,
Saddam—yang dalam biografi resminya diterjemahkan sebagai “pejuang
yang tabah”—menyebut perang Irak-Iran sebagai perang antara “bangsa
Arab melawan bangsa Parsi,”31 dan ia memang didukung oleh mayoritas
negara Arab. Tapi ketika ia menyerbu Kuwait, yang terjadi justru
sebaliknya.
Mengapa Saddam identik dengan politik kekerasan dan kekerasan
politik? Tampaknya ini tidak terlepas dari latar belakang pribadinya yang
sejak kecil sudah akrab dengan kehidupan yang serba keras. Pada usia
kanak-kanak ia berada di bawah asuhan ayah tirinya, Ibrahim al-Hassan
yang digambarkan—oleh Musallam Ali Musallam—sebagai “a crude,
brutal and illiterate peasant.”32 Memasuki usia remaja, Saddam mulai
terlibat dalam aktivitas politik dengan menjadi anggota Partai Ba’th.
Pada usia 22 tahun ia sudah menjadi bagian dari “regu penembak” Ba’th
yang melakukan usaha pembunuhan terhadap Jenderal Abdul Karim
Qassim, PM Irak waktu itu. Dan, pada usia 31 tahun, sebagai asisten
sekjen partai, Saddam menjadi bagian penting dari keberhasilan kaum
30. Samir al-Khalil, Republic of Fear: The Inside Story of Saddam’s Iraq (London,
Hutchinson, 1990).
31. Oleh sebab itu, salah satu pasukan elite Irak di bawah Saddam diberi nama “AlQaddisiyyah,” yang diambil dari nama salah satu perang dalam sejarah Islam pada zaman
Nabi Muhammad SAW antara pasukan Arab (Islam) melawan pasukan Persia.
32. Musallam Ali Musallam, The Iraqi Invasion of Kuwait: Saddam Hussein, his
State and International Power Politics (London: British Academic Press, 1996).
48
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Ba’this dalam mengambil-alih kekuasaan di Irak (dikenal sebagai
“revolusi 1968”).33 Sebelas tahun kemudian (1979), giliran bossnya
sendiri, Ahmad Hassan al-Bakr, yang ia depak. Padahal selain menjadi
Sekjen Partai Ba’th dan Presiden Irak waktu itu, al-Bakr juga masih
tergolong keluarga dekat Saddam.
Di bawah kepemimpinan Saddam, Irak memang berhasil menjadi
salah satu kekuatan politik-militer yang tangguh di kawasan Timur
Tengah, khususnya Teluk Parsi. Dibanding para penguasa Irak
sebelumnya, Saddam lebih mampu menciptakan stabilitas politik
domestik dan menjadikan negaranya—sebelum terkena sanksi PBB
pasca-invasi ke Kuwait—sebagai pengekspor minyak terbesar kedua di
kalangan OPEC. Tapi, keberhasilan Saddam membangun kekuatan
militer Irak,34 tidak bisa dilepaskan dari peranan negara-negara Barat,
termasuk AS. Tanpa dukungan dan bantuan Barat, maka hampir
mustahil Irak di bawah Saddam dapat mengembangkan berbagai jenis
senjata pemusnah massal (sebagaimana yang selalu dituduhkan AS).
Kebijakan AS terhadap Irak waktu itu dilandasi oleh kekhawatiran
mereka terhadap kemungkinan meluasnya pengaruh revolusi Islam Irannya Khomeini ke negara-negara sekitarnya.
Ternyata, apa yang dilakukan AS terhadap Irak waktu itu lebih mirip
“memelihara seekor anak singa.” Setelah besar, sang singa justru bersiap
menerkam majikannya. Oleh karena itu, sejak awal dekade 1990an,
dengan susah payah AS (dan Inggris) berupaya keras untuk
menggulingkan Saddam. Setelah berbagai aksi militer—baik yang legal
maupun ilegal ditinjau dari sudut hukum internasional—terhadap Irak
tidak mampu menjatuhkan kekuasaan Saddam, AS juga mendorong
terjadinya “perlawanan dari dalam.” Waktu itu, AS menyusun tiga
alternatif skenario: membujuk pasukan elite Garda Republik untuk
mengucilkan Saddam; atau, melemahkan Garda Republik; atau,
melemahkan militer Irak seraya mempersenjatai kelompok oposisi,
khususnya yang tergabung dalam Kongres Nasional Irak (INC).
Tidak terlalu sulit bagi AS untuk menggulingkan Saddam dan
kemudian membentuk sebuah pemerintahan boneka, sebagaimana yang
33. Beberapa sumber media Barat menyebutkan, AS ikut mambantu kudeta yang
dilancarkan kaum Ba’this pada 1968.
34. Di bawah Saddam, Irak diperkirakan membelanjakan sekitar 51% GDP negaranya
untuk membangun sektor pertahanan.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
49
telah mereka lakukan di Afghanistan (ketika menggulingkan Taliban).
Namun, “model Afghanistan” kendati terbukti berhasil meruntuhkan
rezim lama, dalam prakteknya belum sepenuhnya berhasil menciptakan
stabilitas politik di negara ini. Di samping itu, Irak jelas bukan
Afghanistan. Sekalipun Saddam “ditakuti” dan tidak disukai oleh
kebanyakan pemimpin di Timur Tengah, namun mereka umumnya tidak
menyetujui jika Washington terlalu jauh melibatkan diri dalam
pergulatan politik domestik di Irak. Ini terbukti dari kurangnya dukungan
dari sejumlah pemimpin Timur Tengah terhadap AS. Turki, misalnya,
sebagai anggota NATO, hampir selalu mendukung setiap aksi militer
AS-Inggris terhadap Irak, namun Ankara justru khawatir terhadap
kemungkinan munculnya “negara Kurdi” di Irak utara. Maklum,
sebagaimana Irak, Turki pun memiliki sekitar 20% warga Kurdi.
AS boleh saja “berkampanye” bahwa agresinya dimaksudkan untuk
menegakkan sebuah tatanan politik yang demokratis di Irak. Faktanya,
hampir semua rezim yang pro-AS di Timur Tengah justru tidak
menjalankan prinsip-prinsip politik yang demokratis. Mengapa AS tidak
“mendemokratiskan” para sekutunya terlebih dulu sebelum melakukannya
terhadap Irak? Hal ini sangat kecil kemungkinan dilakukan Bush,
mengingat mayoritas kekuatan oposisi di negara-negara Arab sekutu
Washington justru didominasi kelompok-kelompok yang anti-AS. Oleh
karena itu, sangat diragukan jika AS benar-benar akan mendorong proses
demokratisasi di Timur Tengah, termasuk Irak. Asumsi yang paling
sederhana, jika proses demokratisasi berjalan di Irak, maka hampir
dipastikan kekuasaan akan jatuh ke tangan kaum Syiah (sebagai kekuatan
mayoritas). Apakah AS akan membiarkan munculnya rezim Syiah di Irak?
Tampaknya tidak. Betapa pun, membiarkan kaum Syiah mengendalikan
kekuasaan di Irak, akan sama artinya dengan menciptakan “Iran baru”
di kawasan ini.35 Padahal, sejak kemenangan kaum Syiah dalam revolusi
1979, Iran selalu dianggap sebagai “musuh” oleh AS. Belum lagi jika
melihat sikap pasif AS terhadap kasus-kasus pembatalan pemilu di Aljazair
(1992) serta pembekuan Partai Refah oleh rezim militer di Turki (1997).
35. Apalagi, tidak lama setelah kembali dari pengasingannya di Iran, Ayatullah
Mohammed Baqir al-Hakim, ulama tinggi Syiah, meminta AS segera meninggalkan Irak
dan membiarkan rakyat Irak menentukan pemerintahannya sendiri. Kompas (13 Mei
2003).
50
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Dampak Agresi Amerika
Berakhirnya riwayat kekuasaan Saddam jelas akan membawa
dampak sangat besar, baik dalam arti positif maupun negatif, bagi
kawasan Timur Tengah. Positif jika, pertama, AS dan Inggris (juga PBB)
mampu mendorong terbentuknya rezim baru di Irak yang demokratis.
Ini sesuai dengan komitmen awal AS dan Inggris yang selalu
mendengungkan slogan “akan membebaskan” rakyat Irak dari
cengkeraman sebuah rezim yang otoriter dan menindas, serta akan
mengembalikan hak-hak rakyat Irak atas potensi kekayaan minyak
negara mereka.
Kedua, AS secepatnya memenuhi janjinya untuk mewujudkan
terbentuknya sebuah negara Palestina merdeka. Sumber dari segala
sumber konflik akut di kawasan Timur Tengah adalah masalah Palestina.
Dalam hal ini tentu yang dimaksudkan adalah hak-hak sah bangsa
Palestina untuk mendirikan dan memiliki sebuah negara yang merdeka
dan berdaulat serta diakui dan dilindungi oleh lembaga-lembaga
internasional. Dukungan AS bagi pembentukan negara Palestina akan
dapat meminimalisir sentimen anti-AS yang (sejak agresi ke Irak)
berkobar di sanubari mayoritas rakyat Arab, yang dengan sendirinya
juga akan mengurangi berkembang-biaknya aksi-aksi “terorisme”.
Ketiga, setelah terbentuknya pemerintahan yang demokratis di Irak
dan berdirinya negara Palestina merdeka, AS juga mendorong terjadinya
proses demokratisasi di negara-negara Arab lainnya yang menjadi sekutu
utamanya. Ini diharapkan akan dapat mencegah munculnya “monstermonster” baru di Dunia Arab setelah berakhirnya era Saddam Hussein.
Ini sekaligus juga dapat mengantarkan Timur Tengah memasuki era
baru, yaitu sebagai zona perdamaian dan demokrasi.
Sebaliknya, jika ketiga hal itu tidak dilakukan AS setelah berakhirnya
kekuasaan Saddam di Irak, maka yang akan terjadi justru ketidakstabilan
politik yang makin meningkat di kawasan ini. Apalagi jika AS hanya
mementingkan ambisinya untuk menguasai minyak Irak dan negaranegara Timur Tengah lainnya serta sekedar mengeliminir ancaman
militer terhadap Israel. Dengan kata lain dampak yang ditimbulkannya
justru akan menjadi sangat negatif.
Invasi ke Irak ada kemungkinan besar akan diikuti dengan invasi
AS ke Iran, dengan alasan yang sama: menghancurkan senjata-senjata
pemusnah massal. Bahkan Suriah, Libya dan Arab Saudi bisa jadi akan
menjadi target berikutnya, karena tujuan utama AS adalah menguasai
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
51
80 persen cadangan minyak dunia serta melindungi kepentingan Israel.
Indikasinya sudah terlihat jelas di mana setelah berhasil menduduki Irak,
AS mulai mengusik program nuklir Iran 36 serta menuding Suriah
“menyembunyikan” para mantan petinggi rezim Saddam Hussein.37
Sementara itu masalah Palestina ada kemungkinan besar akan dilupakan
begitu saja,38 karena George W. Bush membutuhkan dukungan kalangan
lobi Yahudi AS untuk dapat terpilih kembali dalam pemilihan presiden
2004. Jika ini yang terjadi, maka hampir bisa dipastikan eskalasi
kekerasan akan lebih mendominasi panggung politik Timur Tengah
pasca-agresi AS ke Irak.
Bahwa Irak di bawah Saddam memiliki berbagai jenis senjata
pemusnah massal, bisa jadi benar, kendati AS tidak juga berhasil
membuktikan kepemilikan senjata pemusnah massal Irak setelah
36. Lihat juga, “Iran confronted on nuclear plans”, International Herald Tribune
(May 9, 2003).
37. Dalam wawancara dengan televisi Israel, 12 Mei 2003, setelah berbicara dengan
Ariel Sharon, Colin Powell kembali memperingatkan, “jika ingin menjalin hubungan
lebih baik dengan AS, Suriah harus tidak mencoba merusak Irak pasca-invasi dan
menghentikan upaya melindungi kelompok radikal Palestina.” Kompas (13 Mei 2003).
38. AS memang sudah melontarkan gagasan soal “Peta Perdamaian” (road map)
Timur Tengah yang berpedoman pada pidato Bush (24 Juni 2002) tentang solusi konflik
Israel-Palestina, dan terdiri dari tiga tahap yaitu: Tahap I (Oktober 2002 - Mei 2003):
dihentikannya serangan Palestina, kembalinya koordinasi keamanan Israel-Palestina,
pelaksanaan reformasi Palestina, penarikan pasukan Israel dari wilayah A di Tepi Barat,
mencabut boikot atas kota-kota di Palestina, dan pembekuan pembangunan permukiman
Yahudi. Tahap I (Juni 2003 - Desember 2003): proses lanjutan pelaksanaan reformasi
Palestina dan penarikan pasukan Israel ke posisi sebelum meletusnya intifadah Al Aqsa
(28 September 2000) serta kembalinya Duta Besar Mesir dan Jordania untuk Israel ke
Tel Aviv. Pada tahap ini akan digelar konferensi damai Timur Tengah pertama dan
membahas tentang berdirinya negara Palestina dengan perbatasan sementara. Tahap III
(2004-2005): menggelar konferensi damai Timur Tengah kedua dan mendeklarasikan
berdirinya negara Palestina dengan perbatasan sementara. Konferensi damai tersebut
juga membahas jalur Suriah-Israel dan Lebanon-Israel. Pascadeklarasi negara Palestina
sementara akan langsung dibuka dengan perundingan membahas isu-isu krusial seperti
status Kota Yerusalem, permukiman Yahudi, pengungsi Palestina, dan perbatasan akhir
negara Palestina-Israel yang diproyeksikan berakhir pada 2005. Namun banyak kalangan
yang pesimis, mengingat selama ini AS terbukti tidak mampu menekan kelompok garis
keras di Israel. Rezim Sharon menunjukkan keengganannya untuk menerima “Peta
Perdamaian” bahkan ketika Menlu AS Colin Powell mengadakan lawatan ke Israel,
pada 12 Mei 2003. Lihat, Kompas (11 dan 13 Mei 2003); dan Tempo (18 Mei 2003),
hlm. 130-131.
52
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
berakhirnya kekuasaan Saddam.39 Tapi di kawasan Timur Tengah, Irak
jelas bukan satu-satunya. Israel pun sudah lama diketahui memiliki dan
mengembangkan berbagai jenis senjata pemusnah massal (termasuk
nuklir). Bahkan dibanding Irak di bawah Saddam, Israel di bawah PM
Ariel Sharon, menjadi satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah
yang dengan jelas selalu menjauhi perdamaian. Di luar kawasan Timur
Tengah, Korea Utara pun secara terbuka juga sudah mengungkapkan
program senjata nuklirnya. Namun, terhadap Irak dan Korea Utara,
PBB (yang dikendalikan AS) berlaku diskriminatif.
Saddam bisa jadi telah melakukan pembantaian terhadap ribuan
warga sipil (khususnya dari etnis Kurdi dan kaum Syiah di Irak selatan),
namun hal yang sama juga dilakukan Sharon terhadap warga sipil
Palestina. Ironisnya, AS dan PBB begitu mudah menjatuhkan resolusi
yang tegas dan keras terhadap Irak, namun hal yang sama tidak pernah
mereka lakukan terhadap Israel. Memang, kuatnya dominasi lobi Yahudi
terhadap politik AS, khususnya di bawah Bush, tidak bisa dipungkiri.
Namun, sebagai badan internasional yang bertugas mengayomi warga
dunia, PBB seharusnya dapat berlaku adil terhadap semua negara
anggotanya. Yang terjadi kini, PBB justru makin terjebak dalam politik
standar ganda AS di Timur Tengah.
Tuduhan Bush soal adanya persekutuan Saddam dengan kelompok
“terorisme” internasional, khususnya Al-Qaeda dan Osama Bin Laden
juga sulit diterima akal sehat dan cenderung mengada-ada. Hal ini
sebenarnya tidak lebih dari sekedar akal-akalan Bush guna mendapatkan
simpati masyarakat internasional bagi agresinya terhadap Irak. Banyaknya
keluarga korban Peristiwa 11 September 2001 yang mengikuti aksi
unjukrasa antiperang di AS, menunjukkan bahwa upaya Bush untuk
mengaitkan Saddam dengan Osama kurang mendapat respons positif
dari rakyat AS sendiri. Dengan menyebarkan tuduhan adanya persekutuan
Saddam-Osama, Bush hendak mendeklarasikan bahwa agresinya terhadap
Irak adalah sama dengan perang melawan “terorisme” internasional, oleh
karenanya warga dunia harus mendukungnya. Padahal sebagai seorang
fundamentalis garis keras, kecil kemungkinan Osama bersekutu dengan
Saddam yang sosialis dan sekuler.
39. Bagaimanapun AS adalah salah satu pemasok utama peralatan militer Irak,
termasuk berbagai jenis senjata kimia dan biologi yang dipakai Irak dalam perang melawan
Iran (1980-1988). Namun, kemungkinan besar Irak sudah menghancurkan senjata-senjata
pemusnah massalnya seperti yang dikehendaki DK PBB.
Riza Sihbudi, Pasca Agresi Amerika ke Irak
53
Seperti sudah disinggung di atas, agresi ke Irak memang menjadi
kebutuhan Bush guna menaikkan popularitasnya di dalam negeri
(kendati sebenarnya banyak rakyat AS yang menentangnya), atau guna
menutupi berbagai kegagalannya dalam menangani berbagai persoalan
(khususnya ekonomi) domestik, atau untuk mengalihkan perhatian dari
kegagalannya memburu Osama dan Mullah Umar di Afghanistan, atau
untuk menciptakan sebuah rezim boneka di Baghdad guna lebih
menjamin suplai minyak Timur Tengah (serta memajukan bisnis minyak
keluarga Bush?), atau pun sekedar untuk melampiaskan dendam ayahnya
(Bush senior) yang gagal menggulingkan Saddam Hussein.
Namun, seharusnya Bush dan para penasehatnya menyadari, agresi
AS ke Irak justru kontra-produktif terhadap doktrin perang melawan
“terorisme” internasional yang dikembangkan Washington pasca
peristiwa 11 September 2001. Karena Bush benar-benar mewujudkan
rencananya dalam menyerang Irak, maka sebenarnya tidak ada bedanya
ia dengan kaum “teroris” yang tengah diperanginya. Yang paling banyak
menjadi korban dari serangan militer AS adalah para warga sipil Irak
(yang sudah menderita akibat 12 tahun embargo PBB yang disponsori
AS), bukan Saddam Hussein atau penguasa Irak lainnya. Padahal kaum
“teroris” juga selalu mengorbankan warga sipil demi tujuan-tujuan
politiknya.
Implikasi serius lainnya dari agresi AS ke Irak adalah makin
menebalnya sentimen anti-AS di Dunia Arab khususnya serta di Dunia
Islam pada umumnya. Selama ini masyarakat Arab dan Islam menyoroti
dengan kritis kebijakan AS yang justru selalu mendukung penuh
pelanggaran hak-hak asasi manusia yang setiap hari dilakukan penguasa
dan militer Israel terhadap warga sipil Palestina. Agresi dan pendudukan
AS terhadap Irak justru semakin memperkuat asumsi bahwa AS
sebenarnya tidak sedang memerangi “terorisme”, melainkan memerangi
bangsa dan rakyat Arab yang mayoritas muslim.
Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Dan, selanjutnya
akan terciptalah lingkaran kekerasan yang makin sulit dikendalikan. Oleh
sebab itu, agresi AS ke Irak pada hakekatnya justru membuka peluang
besar bagi peningkatan gerakan-gerakan radikal pro-kekerasan atau
“terorisme” yang dilakukan kaum tertindas atau mereka yang
termarjinalisasikan. Bila AS berhasil menciptakan sebuah pemerintahan
boneka dan melanggengkan pendudukannya di Irak, maka kemelut
berkepanjangan di seluruh Timur Tengah menjadi sulit dihindarkan.
54
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Proses radikalisasi akan terjadi. Sikap anti-AS pun akan makin tumbuh
subur. Bukan tidak mungkin, pembunuhan terhadap warga AS dan
sekutunya di Timur Tengah akan menjadi peristiwa yang makin
mewarnai politik di kawasan ini, sebagaimana yang terjadi di kota
Riyadh, Arab Saudi, 12 Mei 2003, yang menewaskan sedikitnya 10 warga
AS dalam serangan “bom bunuh diri” yang dilakukan warga Saudi.
Aksi serupa juga terjadi di Casablanca (Maroko), 16 Mei 2003—yang
menewaskan 40 orang—dengan target utama Pusat Komunitas Yahudi,
rumah makan Spanyol dan Konsulat Belgia. Sebelumnya seorang warga
AS dibunuh di Kuwait. Dengan kata lain, gambaran suram akan
menyelimuti kawasan Timur Tengah pascaagresi AS ke Irak. Jika
demikian halnya, maka sebenarnya siapakah yang pada hakekatnya
bertanggung-jawab dan patut disalahkan dalam hal berkembang-biaknya
fenomena terorisme internasional? Saddam Hussein, Osama Bin Laden,
atau justru George W. Bush sendiri? ‰
ANALISIS
Reformasi PBB,
Masalah Keamanan dan
Perdamaian Internasional:
Isu dan Pemecahannya
Philips J Vermonte1
PENDAHULUAN
Wacana mengenai usaha mereformasi Perserikatan Bangsa-bangsa
(PBB) senantiasa muncul dan menurut sebagian pihak reformasi ini telah
menjadi keharusan yang mendesak. Apalagi sejak Perang Dingin usai
yang kemudian menjadikan Amerika Serikat (AS) sebagai satu-satunya
super power yang tersisa. Dilihat secara sepintas, berakhirnya Perang
Dingin telah meniadakan struktur politik dan keamanan internasional
yang bipolar serta membawa struktur baru yang unipolar. Pandangan
mengenai struktur unipolar ini sangat riskan karena ia akan memberikan
justifikasi pada aksi-aksi unilateralis dari negara super power yang tersisa
yang pada akhirnya akan menegaskan eksistensi lembaga multilateral
seperti PBB. Walaupun demikian, beragam analisis mengenai persoalan
ini menyatakan bahwa struktur politik internasional saat ini sama sekali
bukanlah struktur yang unipolar, yaitu struktur yang memprasyaratkan
kehadiran sebuah negara super power yang sangat kuat dan mampu
mengatasi persoalan serta menjaga keamanan dan perdamaian
internasional secara sendirian.2
1. Peneliti Departemen Hubungan Internasional Centre for Strategic and International
Studies (CSIS).
2. Lihat misalnya tulisan Samuel Huntington, “The Lonely Superpower”, Foreign
Affairs, vol. 78/2 (March/April, 1999), hal. 35-49.
56
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Oleh Karena itu, relevansi PBB justru menemukan kembali
momentumnya setelah Perang Dingin usai. Sebab, untuk adanya perubahan
konstelasi politik internasional yang signifikan, diperlukan sebuah institusi
multilateral yang memiliki legitimasi untuk menjamin keamanan dan
perdamaian dunia. Beranjak dari pemahaman ini, PBB memerlukan sebuah
penataan ulang agar mampu menyesuaikan diri dan dapat menjalankan
tugasnya secara efektif sesuai mandat yang telah diberikan oleh masyarakat
internasional. Atas dasar itu pula, wacana mengenai reformasi PBB kembali
menguat, apalagi sejak dua aksi militer yang dimotori oleh Amerika Serikat
ke Afganistan tahun 2001 dan ke Irak untuk menggulingkan rezim Saddam
Hussein pada tahun 2003. Walapun demikian, tulisan ini didasarkan
pemahaman bahwa keharusan melakukan reformasi PBB tidak melulu
hanya berurusan dengan seruan untuk mengurangi kecenderungan
unilateral dari negara-negara besar (utamanya AS). Akan tetapi, ia juga
terkait dengan persoalan yang jauh lebih mendasar yakni usaha untuk
menjadikan PBB sebagai sebuah lembaga internasional yang mampu
beradaptasi dengan lingkup politik internasional yang berubah-ubah.
Ringkasnya, kecenderungan unilateral AS hanya merupakan salah satu,
dan bukan satu-satunya faktor yang mendorong pentingnya reformasi PBB.
Tulisan ini bermaksud memberikan uraian atas wacana mengenai
reformasi PBB. Untuk tujuan tersebut, tulisan ini akan dibagi ke dalam
tiga bagian. Pada bagian pertama akan dibahas beberapa isu penting
yang berkaitan dengan perubahan lansekap politik internasional
kontemporer. Pada bagian kedua, akan dipaparkan poin-poin dari
reformasi PBB, yang sedang dan telah diselesaikan sejak lama, sebelum
peristiwa 911 dan serangan militer ke Irak. Sementara, pada bagian ketiga
akan berisi beberapa kesimpulan dan agenda ke depan yang berkaitan
dengan persoalan reformasi PBB. Catatan lain yang juga perlu
disampaikan adalah bahwa tulisan ini membahas isu reformasi PBB yang
terkait dengan kinerja PBB dalam menjaga keamanan dan perdamaian
internasional, bukan dalam pengertian reformasi PBB dan keseluruhan
badan-badan khusus yang berada di bawah koordinasinya.3
3. Secara paralel juga berkembang wacana mengenai revitalisasi badan-badan khusus
PBB seperti WHO, FAO, UNDP, UNHCR, UNICEF dan lain lain. Untuk isu revitalisasi
PBB dalam kaitannya dengan badan-badan khusus tersebut, salah satu tulisan yang
dapat dijadikan rujukan adalah Koichiro Matsuura, “Revitalizing the U.N. Specialized
Agencies”, dalam Japan Review of International Affairs, vol. 13/2 (Summer, 1999),
hal. 131-148.
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
57
USAINYA PERANG DINGIN
Apa Yang (Tidak) Berubah?
Selama masa Perang Dingin, peran PBB dalam menjaga keamanan
internasional relatif terabaikan. Kedua superpower, AS dan Uni Soviet
(US), sering kali mengabaikan PBB antara lain dengan alasan karena
kedua negara tersebut sama-sama mengkhawatirkan bahwa PBB akan
condong memihak kepada salah satu di antara keduanya. Di sisi PBB,
kedua negara tersebut pun tidak pernah diminta mengirim pasukan untuk
terlibat dalam peace keeping operations (PKO) pada masa itu. Hal ini
sejalan dengan prinsip non-imparsialitas dalam hal pengiriman pasukan
penjaga perdamaian sebagaimana yang dikemukakan oleh mantan
Sekjen PBB Dag Hammarskjold (yang memulai pengiriman pasukan
penjaga perdamaian PBB). Menurut Hammarskjold, PKO adalah “a
measure undertaken without prejudice to the rights, claims or positions
of the parties concerned”.4 Walaupun demikian, beberapa kasus tetap
menunjukkan bahwa PBB, dalam hal ini Dewan Keamanan (DK), dinilai
lebih condong kepada kekuatan AS. Sebut saja dalam kaitannya dengan
otorisasi yang diberikan oleh DK pada AS untuk mengirimkan pasukan
ke Korea pada tahun 1950-an.5
Pada masa Perang Dingin, PBB mengalami dua persoalan utama
dalam melaksanakan fungsinya sebagai penjaga perdamaian dan
keamanan internasional. Pertama, PBB harus menghadapi politik kedua
negara super power yang selalu berusaha menghindari penyelesaian
melalui PBB untuk konflik-konflik yang berkaitan dengan negara
sekutunya masing-masing. Atau, pada beberapa kasus, konflik yang
terjadi bisa mengancam keutuhan PBB karena persaingan kedua negara
super power tersebut dalam memperebutkan pengaruh di tubuh lembaga
ini. Sebagai contoh adalah dalam misi PBB melalui United Nations
Operation in the Congo (ONUC) pada tahun 1960-1964. Negara Kongo,
yang baru merdeka dan relatif berada di bawah pengaruh Blok Timur
yang dipimpin oleh Uni Soviet, menghadapi ancaman gerakan separatis
dari salah satu provinsinya yang kaya mineral. Gerakan separatis di
4. Lihat Bruce Russet dan James S. Sutterlin, “The U.N. in a New World Order”,
Foreign Affairs, vol.70/2 (Spring, 1991), hal. 70.
5. Lihat Jose E. Alvares, “The Once and Future Security Council”, The Washington
Quarterly, vol.18/2 (Spring 1995), hal. 6.
58
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
provinsi bernama Katanga ini didukung oleh Belgia yang merupakan
bekas pemerintah kolonial di Kongo. Selain itu, pemerintah ini juga
menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh sebagian anggota
angkatan bersenjatanya. Untuk meredam itu semua, pemerintah Kongo
meminta bantuan PBB untuk mengirimkan pasukan penjaga
perdamaian. Tragedi tersebut terjadi karena ONUC tidak diperkuat
dengan mandat untuk menggunakan senjata sehingga akibatnya misi
ini terjebak dalam konflik politik di Kongo. Misi ONUC telah
menyebabkan lebih dari 200 anggota pasukan perdamaian PBB tewas,
bahkan Sekretaris Jenderal PBB Dag Hammarskjold kehilangan
nyawanya di Kongo.6
Sejak semula, Uni Soviet telah menolak keterlibatan PBB di Kongo.
Setelah peristiwa ini, Uni Soviet bahkan menolak membayar iurannya.
Penolakan ini berlangsung selama dua tahun. Melihat kenyataan ini,
AS mengancam akan menggunakan artikel 19 dari Piagam PBB yang
menyebutkan bahwa ‘any member state whose arrears equals or exceeds
the amount of the contribution due from it for the proceeding two years
would lose their vote in the General Assembly’. Perselisihan ini hampir
mengancam eksistensi PBB, namun kemudian berhasil diselesaikan
setelah MU PBB pada akhirnya mencapai kompromi bahwa AS akan
menghentikan usahanya untuk mengeluarkan US dan sebagai timbal
baliknya US harus menerima keputusan MU PBB untuk membentuk
misi perdamaian dalam tubuh PBB yaitu dengan pembentukan Special
Committee on Peacekeeping.7 Dari hal di atas, tampak jelas bahwa apa
yang terjadi dalam tubuh PBB ketika itu merupakan akibat langsung
dari persaingan blok Timur dan Barat dalam memperebutkan pengaruh
di negara-negara baru merdeka sejalan dengan proses dekolonisasi.
Kedua, dalam konflik yang terjadi antar negara-negara yang relatif
tidak berada dalam proxy pengaruh langsung kedua blok super power
ini, PBB harus menghadapi isu yang rumit seperti isu kedaulatan dan
prinsip-prinsip non-intervensi. Kedua isu di atas memberikan hambatan
yang serius bagi PBB untuk menyelesaikan konflik-konflik tersebut.
Sehingga, sebagaimana terjadi juga pada masa setelah Perang Dingin,
6. Lihat A.B Fetherston, Towards a Theory of United Nations Peacekeeping (London:
Macmillan, 1994), hal.13-15. Periksa juga D. Whitaker, United Nations in Action
(London: University College of London, 1995), hal. 31
7. lihat Whitaker, United Nations in Action (1995).
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
59
keterlibatan PBB dalam upaya menyelesaikan sebuah konflik selalu
menjadi isu kontroversial, karena PBB harus menjaga kenetralan,
menjembatani concern mengenai masalah kedaulatan dan isu
humanitarian yang tidak mengenal batas geografis dalam waktu yang
bersamaan.
Penting untuk dipahami bahwa beberapa feature dari politik
internasional setelah usainya Perang Dingin tidak mengalami perubahan
yang signifikan. Beberapa hal yang konstan, sebagaimana
diargumentasikan oleh Robert Jervis (1993) adalah bahwa: politik
internasional tetaplah anarkis di mana tidak ada kekuatan yang
mengatasi kedaulatan negara-negara di dunia untuk membuat dan
menjamin terlaksananya sebuah hukum dan kesepakatan internasional.
Di samping itu, beberapa sumber konflik juga tidak mengalami
perubahan, seperti pencarian prestise, persaingan ekonomi, nasionalisme
yang agresif, standard legitimasi yang berbeda, perselisihan agama dan
juga ambisi teritorial.8
Apabila diperhatikan, hal-hal yang tidak mengalami perubahan
tersebut justru merupakan inti persoalan dari hubungan antar negara
di dunia. Oleh karena itu, bubarnya Uni Soviet justru membuka peluang
bagi munculnya konflik-konflik baru, dimana yang sebelumnya ‘diredam’
oleh stabilitas yang diciptakan oleh struktur politik internasional yang
bipolar. Kenyataan ini bisa dilihat dari terjadinya peningkatan secara
drastis jumlah konflik internal di berbagai negara di dunia. Data PBB
menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1992 hingga 1995, 9 dari 11
operasi keamanan yang dilaksanakan PBB merupakan operasi untuk
memulihkan keamanan dan perdamaian dalam konflik yang bersifat
intra-states. .... tersebut memperlihatkan adanya peningkatan bila
dibandingkan dengan data PBB tahun 1988, di mana hanya satu dari
lima konflik yang tercatat pada tahun tersebut yang bersifat intra-states.9
Kecenderungan peningkatan aktifitas PBB dalam isu perdamaian,
sebagaimana terekam selama periode 1988 - 1994, bisa dilihat dalam
tabel 1.
8. Selanjutnya periksa Robert Jervis, “The Future of World Politics: Will It Resemble
The Past?” dalam Lynn-Jones, S.M., Miller, S.E.(eds), America’s Strategy in a Changing
World (Cambridge: MIT Press, 1993), hal.10.
9. selanjutnya periksa Boutros Boutros-Ghali, An Agenda for Peace: 2nd edition
(New York: UN Publication, 1995).
60
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Tabel 1.
Beberapa data aktifitas PBB
dalam bidang perdamaian dan keamanan, 1988-1994
Hingga
31 Jan 1988
Resolusi DK yang diadopsi dalam waktu
12 bulan terakhir
Perselisihan dan konflik dimana PBB aktif
terlibat dalam usaha preventive diplomacy
dan peacemaking dalam 12 bulan terakhir
Total peacekeeping operation yang dikirim
Jumlah personel militer yang dikirim
Jumlah polisi yang dikirim
Personel sipil internasional yang dikirim
Jumlah negara yang ikut menyumbang
personel militer dan sipil
Budget peacekeeping pertahun
(dalam juta dollar)
Negara dimana PBB aktif dalam kegiatan
elektoral dalam 12 bulan terakhir
Sanksi yang dijatuhkan DK
Hingga
31 Jan 1992
Hingga
16 Des 1994
15
53
78
11
5
9,570
35
1,516
13
11
11,495
155
2,206
28
17
73,393
2,130
2,260
26
56
76
230.4
1,689.6
1
3,610
6
2
21
7
Sumber: Boutros Boutros-Ghali, An Agenda For Peace (2nd Edition, 1995), hal.8
Joanne Gowa (1989) menyatakan bahwa pertarungan dengan Uni
Soviet telah menciptakan perasaan bersatu, sebagaimana konsekuensi
dari sumbangan tiap negara dalam koalisi anti – Soviet yang memberi
kesempatan pada tiap negara dalam koalisi untuk mengambil manfaat
ekonomi dan politik dari koalisi tersebut. Karena setiap negara yang
menjadi bagian dari koalisi berusaha menghindari instabilitas politik di
dalam negeri masing-masing yang dapat mengguncang koalisi, dan saling
membantu menjaga stabilitas politik dengan ....... secara baik masalahmasalah sosial.10 Keadaan yang sama pun terjadi di dalam blok Timur
yang dipimpin oleh Uni Soviet. Dengan demikian pada akhirnya
terbentuklah sebuah sistem bipolar yang menciptakan stabilitas dalam
sistem politik internasional.
10. Joanne Gowa, “Bipolarity, Multipolarity, and Free Trade” sebagaimana dikutip
dalam Robert Jervis, The Future of World Politics, hal. 18.
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
61
Berakhirnya Perang Dingin juga memunculkan fenomena baru yang
berbeda dari dua masalah utama yang dihadapi PBB dalam masa Perang
Dingin seperti diuraikan di atas, yakni penyelesaian di luar mekanisme
PBB dan persoalan mengenai kedaulatan dan prinsip non-intervensi.
Setelah bubarnya Uni Soviet, harapan yang digantungkan kepada
PBB untuk menjadi sebuah lembaga internasional yang kredibel
meningkat. Beberapa alasan dikemukakan sebagai dasar munculnya
harapan tersebut. Diantaranya, Pertama, bahwa secara alamiah AS akan
mengkaji ulang kepentingan nasionalnya dan juga keterlibatannya dalam
berbagai isu global. Oleh karena itu, dunia akan mengalami situasi di
mana tidak ada sebuah global leadership yang efektif untuk mengelola
konflik internasional. Akhirnya, PBB akan kembali menjadi tumpuan
dan kunci dalam menjalankan fungsi tersebut.
Kedua, adalah bahwa PBB menjadi satu-satunya institusi yang
paling mungkin mendapat legitimasi untuk menyelesaikan konflik-konflik
internal yang berpotensi mengancam keamanan sebuah region dan juga
mengancam keamanan internasional yang mengemuka setelah Perang
Dingin. Untuk memulihkan perdamaian di wilayah-wilayah konflik,
hanya institusi semacam PBB yang menmiliki mandat internasional
sehingga dapat terlihat secara intensif, baik secara militer dan non-militer,
dalam usaha menyelesaikan konflik-konflik tersebut.
Ide dasar pembentukan PBB adalah menjalankan collective security
yang berinti pada kesadaran bahwa:
“all states would join forces to prevent one of their number from using coercion
to gain advantage. Under such system, no government could conquer another
or otherwise disturb the peace for fear of retribution from al other government.
Any attack would be treated equal as if it were an attack on each of them. The
notion of self defense, universally agreed as a right of sovereign states, was
expanded to include the international community’s right to prevent war.”11
Namun, pengalaman PBB sejak awal pendiriannya dalam
mengimplementasikan ide collective security memperlihatkan beberapa
persoalan serius. Thomas G. Weiss dan kawan-kawan12 menggambarkan
beberapa persoalan tersebut sebagai berikut: Pertama, negara-negara di
11. Lihat Weiss, T.G., Forsythe, D.P., Coate, R.A., The United Nations and Changing
World Politics (Boulder: Westview Press, 1994), hal. 21.
12. Ibid, hal.22-23
62
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
dunia secara natural sering menolak bergabung dalam penerapan sebuah
sanksi PBB kepada sebuah negara tertentu karena mereka telah
menetapkan sendiri siapa kawan dan lawannya masing-masing. Kedua,
adanya masalah dalam pendistribusian power. PBB selalu mengalami
kesulitan untuk bertindak melawan kepentingan negara-negara yang
memiliki nuklir. Selain itu, PBB juga sulit untuk bertindak diluar
kepentingan negara-negara yang sangat kuat secara ekonomi. Ketiga,
ide collective security relatif mahal biayanya. Misalnya, sanksi ekonomi
kepada sebuah negara tidak hanya akan mempengaruhi negara yang
terkena sanksi, tapi akan mempengaruhi negara-negara lain yang
memiliki hubungan ekonomi dan politik erat dengan negara
bersangkutan. Contoh konkritnya adalah ketika PBB menjatuhkan sanksi
pada Afrika Selatan yang menjalankan politik apartheid, Bulgaria telah
memilih untuk mendukung sanksi tersebut. Namun di lain pihak,
Bulgaria tetap melakukan perdagangan senjata dengan rezim tersebut.13
Keempat adalah bahwa ide collective security didasarkan pada asumsi
bahwa semua korban (agresi atau konflik) sama pentingnya. Akibatnya,
ada anggapan bahwa PBB akan bertindak sama terhadap serangan atas
Bosnia, Kuwait, Palestina, Argentina dan lain-lain. Padahal, sejarah
menunjukan bahwa tidak pernah semua negara bertindak sama dalam
sebuah isu, hal itu disebabkan karena perbedaan kepentingan dan cara
pandang masing-masing negara.
Dalam kaitan dengan ini, penting untuk diperhatikan pernyataan
yang dikeluarkan oleh Presiden AS George W. Bush bahwa AS hanya
akan ikut serta dalam misi intervensi di luar wilayahnya selama hal itu
bersesuaian dengan kepentingan nasional AS secara langsung. Presiden
Bush juga menyatakan bahwa yang ia maksud dengan kepentingan
nasional AS adalah “whether our territory is threatened, our people
could be harmed [or] whether or not our defense alliances are
threatened”.14 Selain itu, AS akan semakin memilih untuk berhati-hati
untuk melibatkan diri dalam berbagai konflik internal sebagaimana
diingatkan oleh pakar hubungan internasional AS Joseph Nye bahwa
13. Thomas Weiss, The United Nations and Changing World, hal.23.
14. Dikutip oleh Brett D. Schaefer, “The United States and The United Nations:
What To Expect In The Future” dalam Heritage Lectures No.730 (The Heritage
Foundation: January 2002), hal.3
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
63
‘a human right policy is not itself a foreign policy; it is an important part
of foreign policy’. 15
Keempat persoalan di atas menjadi obyek diskusi dalam wacana
mengenai reformasi PBB. Dalam kaitannya dengan permasalahan
pertama, kewibawaan PBB untuk menghasilkan sebuah keputusan yang
mengikat seluruh anggotanya menjadi persyaratan mutlak. Persoalan
kedua mengenai distribusi power yang berkaitan dengan manajemen
kekuasaan dalam tubuh PBB sendiri. Ia berkaitan dengan kewenangan
yang dimiliki oleh Majelis Umum, Dewan Keamanan dan juga dalam
hubungannya dengan kepemilikan atas hak veto dari kelima anggota
tetap DK PBB. Masalah ketiga dan keempat sangat erat berkaitan satu
sama lain, karena perspesi tentang “mahalnya” biaya sanksi yang
diterapkan PBB akan ditentukan oleh kepentingan nasional dari masingmasing negara anggota PBB.
Kesemuanya ini jelas berkaitan dengan kemampuan PBB sendiri
dalam menemukan mekanisme untuk pelaksanaan mandatnya dalam
menjaga keamanan dan perdamaian internasional, baik melalui
mekanisme sanksi, embargo atau operasi militer dalam payung PBB.
Ironisnya, di tengah munculnya harapan untuk menjadikan PBB sebagai
sebuah lembaga dunia yang mampu meredam kecender ungan
unilateralis dari negara-negara besar, peristiwa seperti serangan AS dan
Inggris ke Irak tahun 2003 ini jelas memperlihatkan ketidakberdayaan
PBB. Sehingga, wacana untuk mereformasi PBB kembali menguat.
Bagian berikut dari tulisan ini akan membahas persoalan reformasi PBB
dalam kaitannya dengan keempat hal tersebut.
REFORMASI PBB:
Apa Yang (Tidak) Mungkin?
Masalah Legitimasi
Dengan tendensi seperti yang diungkapkan oleh Boutros BoutrosGhali dalam laporannya An Agenda For Peace mengenai peningkatan
terjadinya konflik internal di seluruh dunia, tampak jelas bahwa isu utama
yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa PBB semakin terdorong
15. Lihat Joseph Nye, “Redefining National Interest”, Foreign Affairs vol.78/4 (July/
August 1999), hal.31.
64
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
untuk terlibat dalam berbagai tindakan, baik militer maupun non-militer,
dan harus berhadapan dengan prinsip-prinsip kedaulatan dan
humanitarian. Walaupun kontroversial, PBB mendapat legitimasi untuk
melakukan hal tersebut karena diberi mandat melakukan enforcement
sesuai dengan Chapter VII Piagam PBB untuk menghadapi sebuah negara
agresor yang mengancam keamanan dan perdamaian internasional.
Berbagai pendapat muncul dan menyatakan bahwa kemanusiaan
(humanity) adalah nilai yang universal, dan intervensi adalah tindakan
yang dapat dibenarkan, sepanjang dilakukan oleh instrumen global
seperti PBB. Alasannya adalah bahwa Piagam PBB tidak hanya mengakui
kedaulatan negara, akan tetapi juga melindungi hak masyarakat (the
rights of the people). Seperti dinyatakan oleh Paul Taylor:
“ statehood could be interpreted as being conditional upon respect for such
rights: for instance the Preamble held that the organization was ‘to reaffirm
faith in fundamental rights’, and article 1 (3) asserted the obligation to ‘achieve
international cooperation….in promoting and encouraging respect for human
rights and fundamental freedom for all”.16
PBB sendiri telah mendirikan sebuah unit di markas besarnya di New
York yang disebut Department of Humanitarian Affairs. Departemen ini
dibentuk berdasarkan Resolusi Majelis Umum no.46/182 yang dikeluarkan
pada bulan Desember 1991. Resolusi ini merupakan terobosan penting
karena ia memberi legitimasi bagi operasi humanitarian PBB. Dalam
resolusi tersebut dinyatakan bahwa semua anggota PBB setuju untuk
membuka akses bagi setiap misi PBB untuk mengantarkan bantuan
kemanusiaan.17
Masalah kemanusiaan juga memberi legitimasi yang kuat bagi PBB
untuk melakukan intervensi. Karena di tengah semua konflik, hampir
dapat dipastikan warga sipil yang tidak bersenjatalah yang akan menjadi
korban utama. Seperti yang dinyatakan Sadako Ogata:
“in April 1991, 1.7 million Iraqi Kurds fled to Iran or the Turkish border.
UNHCR is assisting over a million Somali refugees in the neighboring countries
of Kenya, Yemen, Djibouti and Ethiopia. In the former Yugoslavia, we are
16. lihat Paul Taylor, International Organization in the Modern World: the Regional
and the Global Process (London: Pinter, 1993), hal.274.
17. lihat A. Jan, et al., Peacemaking and Peacekeeping for the Next Century: Report
of the 25th Vienna Seminar (New York: International Peace Academy, 1995), hal. 41.
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
65
protecting and assisting over 1.5 million refuges in Serbia, Croatia and
Montenegro as well as almost 3 million displaced and affected population in
Bosnia and Herzegovina…in the space of one forthnight, some 600,000 persons
fled ethnic killing in Burundi to seek refuge in Rwanda, Tanzania and Zaire”.18
Walaupun demikian, pada banyak kasus, harus diakui pula bahwa
PBB tidak selalu siap dalam melakukan operasi peacekeeping ataupun
enforcement, karena memang kedua instrumen ini tidak terlembaga di
dalam tubuh PBB.19 Proposal untuk pembentukan sebuah “tentara PBB”
yang standby dan bertanggung jawab langsung pada Sekretaris Jenderal
telah lama muncul. Namun hingga saat ini beragam persoalan teknis
yang muncul dalam ide tersebut belum pernah terjawab, semisal aspek
legal, pendanaan dan pengelolaan pasukan itu sendiri.
Distribusi Power dan Manajemen Kekuasaan
Selain Sekretaris Jenderal, Dewan Keamanan dan Majelis Umum
juga merupakan institusi yang berperan dalam pengambilan keputusan
oleh PBB. Dengan demikian, ketiga organ ini juga masuk dalam agenda
reformasi PBB yang luas. Pada prinsipnya, PBB memiliki ‘elemen
pemerintahan’ dalam organ-organnya. PBB memiliki Majelis Umum
yang berfungsi sebagai organ ‘legislatif ’, Dewan Keamanan sebagai
organ ‘eksekutif ’, dan ia juga memiliki International Court of Justice
yang berfungsi sebagai organ ‘yudikatif ’.20 Ketiga organ inilah yang
membedakan PBB saat ini dari organisasi dunia lain dari waktu ke waktu.
Bila sebelumnya international collective security dijalankan oleh institusi
berformat konferensi hingga organisasi longgar seperti The Peace of
Westphalia (1648), The Peace of Utrecht (1713) dan The Congress of
Vienna (1815) serta Liga Bangsa-bangsa (League of Nations) setelah
Perang Dunia I, maka PBB saat ini memiliki elemen supranasional yang
sebetulnya jauh lebih kuat.21
18. Lihat Sadako Ogata, “The interface between peacekeeping and humanitarian
action”, dalam Warner (ed), New Dimension of Peacekeeping (Dordrecht: Martinus
Nijhoff, 1995), hal. 119.
19. lihat John Gerard Rugie, “Wandering in the Void: Charting the U.N.’s New
Strategic Role”, Foreign Affairs vol. 72/5 (November/December, 1993), hal. 28.
20. Analogi ini diberikan oleh Nigel D. White dalam tulisannya “Accountability and
Democracy Within the U.N: a Legal Perspective”, International Relations vol.XIII/6
(December 1997), hal. 3-4.
21. Ibid
66
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Sebagaimana diketahui, DK yang beranggotakan 15 negara
termasuk 5 anggota tetap, jauh lebih powerful daripada MU PBB.
Sehingga secara kasat mata, terlihat bahwa DK bisa saja mengadopsi
resolusi yang bertentangan dengan aspirasi lebih banyak negara dalam
MU. Karena itu persoalan representasi dalam tubuh DK menjadi isu
besar dari keseluruhan agenda reformasi PBB.
Apabila dilihat dari sejarah pembentukannya, kewenangan yang
besar yang diberikan pada DK merupakan akibat dari pengalaman
traumatis Perang Dunia II. Saat itu, para pendiri PBB sepakat untuk
memberikan mandat utama dan kekuasaan yang besar pada DK untuk
memenuhi cita-cita utama pendirian PBB yaitu ‘to save succeeding
generations from the scourge of war, which twice in our lifetime has
brought untold sorrow to mankind’.22 Akan tetapi, saat ini persoalan
struktur DK semakin mendapat perhatian, tidak hanya karena persoalan
pemilikan senjata nuklir oleh beberapa negara, namun juga karena
persoalan representasi.
Sebenarnya, keanggotaan DK sendiri telah ditingkatkan dari 11
menjadi 15 negara pada tahun 1965. Namun hal ini masih dinilai tidak
representatif bagi keanggotaan PBB. Ketika PBB didirikan pada tahun
1945, anggota PBB berjumlah 51 negara, sehingga jumlah 11 negara di
DK setara dengan 22 persen dari keseluruhan anggota. Apalagi dengan
jumlah anggota lebih dari 185 negara seperti saat ini, persentase itu
menjadi jauh lebih kecil hingga hanya 8 persen. Sehingga tidak dapat
dipungkiri bahwa DK seringkali dinilai tidak demokratis dan sama sekali
tidak representatif.23 Untuk mengembalikannya kepada rasio awal, DK
harus berjumlah 40 negara namun hal ini relatif sulit dilakukan karena
negara anggota PBB akan menunggu giliran terlalu lama untuk menjadi
anggota tidak tetap DK tersebut.
Olara Otunnu (1993)24 mengajukan dua usul untuk memecahkan
masalah ini. Pertama, struktur keanggotaan diusulkan untuk dibagi ke
22. Kalimat ini tertuang dalam baris pertama pembukaan Piagam PBB.
23. Periksa Nigel D. White, Accountability and Democracy Within the United
Nations, hal. 5.
24. Lihat Olara A. Otunnu, “Maintaining Broad Legitimacy For United Nations
Action” dalam Roper, J et all (eds), Keeping the Peace in the Post-Cold War Era:
Strengthening Multilateral Peacekeeping (New York: The Trilateral Commission, 1993),
hal. 72-73.
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
67
dalam tiga lapisan. Lapis pertama adalah 5 anggota tetap PBB dengan
hak veto yang akan sulit untuk dihapuskan. Pada lapis kedua dipilih 5
anggota tetap baru tanpa hak veto. Namun keanggotaannya tidak
sepenuhnya tetap, tapi kelima negara ini diberi masa keanggotaan fixed
term selama 10 tahun dan bisa dipilih kembali. Beberapa negara yang
masuk kualifikasi ini adalah Jepang, Jerman, Brazil mewakili Amerika
Latin dan Karibia, India mewakili Asia dan Nigeria mewakili Afrika.
Lapis ketiga adalah anggota tidak tetap PBB sebanyak 10 atau 11 anggota
dengan mekanisme rotasi seperti yang berlaku saat ini.
Usul kedua adalah dengan memberikan hak veto regional. Di mana
hak veto baru diberikan kepada negara yang mewakili sebuah kawasan
tertentu. Menurut Otunnu, kawasan yang mendesak diberi hak veto
regional baru ini adalah Amerika Latin dan Afrika yang memang belum
terwakili oleh kelima anggota tetap DK PBB saat ini.
Usulan ini muncul untuk mengimbangi ketidakpuasan banyak
negara terhadap hak veto yang dimiliki negara-negara anggota tetap
DK. Walaupun demikian, isu hak veto sebetulnya tidak menjamin
efektifitas kinerja DK. Karena, negara-negara besar bisa saja
menghindari pemungutan suara di DK dan mengambil langkah-langkah
unilateral seperti serangan atas Irak tahun ini. Selain itu, sebenarnya
penggunaan hak veto oleh kelima negara anggota tetap DK itu telah
jauh menurun jumlahnya setelah Perang Dingin usai. Selama Perang
Dingin, jumlah veto yang terjadi adalah 240, sementara sejak tahun
1990 hingga 1999 hanya terjadi 7 veto.25 Namun demikian, jumlah veto
yang kecil tersebut, DK masih tetap bisa di bypass oleh berbagai pihak.
Contoh lain di luar serangan terhadap Irak oleh AS dan Inggris adalah
ketika NATO memulai aksi militer di Yugoslavia tanpa persetujuan DK
PBB. Negara NATO tahu persis bahwa apabila mereka melalui
mekanisme PBB, maka Rusia akan mem-veto proposal serangan militer
ke negara ex-Yugoslavia yang dipimpin oleh Slobodan Milosevic
tersebut.26
25. Periksa Richard Butler, “Bewitched, Bothered, and Bewildered: Repairing the
Security Council”, Foreign Affairs vol.78/5 (September/October, 1999), hal.9.
26. ibid.
68
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Prinsip Selektifitas Versus Universalitas
Pengalaman NATO di Bosnia dan Kosovo memperlihatkan kerumitan
menentukan standard untuk memulai aksi militer PBB dalam menjamin
keamanan dan perdamaian internasional. Sebagian besar negara di dunia
menyetujui bahwa tindakan Milosevic bertentangan dengan azas
perikemanusian dan karena itu membenarkan aksi NATO di negara exYugoslavia itu, walaupun pada awalnya tidak dilakukan dalam kerangka
PBB. Di pihak lain, dunia bereaksi keras terhadap aksi unilateral AS dan
Inggris di luar kerangka PBB terhadap rezim Saddam Hussein di Irak.
Oleh karena itu, tampaknya persoalan utama dari setiap operasi militer
PBB adalah menemukan dasar yang kuat untuk menjustifikasinya bahwa
negara yang dituju oleh sebuah operasi militer adalah yang secara jelas
mengancam perdamaian dan keamanan internasional.
Agaknya, PBB akan sangat sulit memegang teguh prinsip
universalitas. Alasannya adalah karena persoalan ini tidak melulu
berkaitan dengan imperatif moral humanitarian, akan tetapi ia berkaitan
juga dengan kesiapan infrastruktur, dana, dan yang jauh lebih penting
dari semuanya adalah kepentingan nasional dari negara-negara anggota
PBB. Dalam kasus AS, hal ini telah digambarkan dengan baik oleh Joseph
Nye. Nye menyebutkan betapa dorongan moralis rakyat dan pemerintah
AS untuk mengirim pasukan ke Somalia untuk membantu penyelesaian
konflik di negara tersebut menghilang setelah di layar-layar televisi AS
ditampilkan gambar tiga mayat prajurit AS yang diseret di jalan
Mogadishu oleh milisi Somalia yang membunuhnya.
Akibatnya, AS (dan juga PBB) enggan dan terlambat melakukan
intervensi militer dan kemanusiaan di Rwanda pada tahun 1994 karena
ketiadaan dukungan dari publik domestik di AS. Padahal, skala kejahatan
kemanusiaan di Rwanda jauh lebih besar dari yang terjadi di Somalia
beberapa waktu sebelumnya.27 Apabila keterlibatan PBB di Somalia dikaji
lebih jauh, tampak bahwa PBB memiliki keterbatasan untuk memberikan
bantuan yang komprehensif untuk menyelesaikan konflik, seperti
rehabilitasi sosial dan ekonomi bahkan sampai persoalan memulihkan
keadilan dan ketertiban melalui pemulihan fungsi kepolisian dan lembaga
yudisial.28
27. Periksa Joseph Nye, Redefining the National Interest, hal.32.
28. Lihat misalnya Omar Halim, “Reforming the United Nations: What Has Been
Achieved?”, The Indonesian Quarterly vol. XXV/2 (1997), hal. 200.
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
69
Di luar kemampuan teknis, masalah ketersediaan dana juga dapat
menjelaskan keterbatasan PBB ini. Walaupun banyak kekecewaan yang
dilontarkan terhadap AS, harus diakui bahwa AS berperan penting dalam
kesiapan PBB melakukan operasi militer untuk menjaga keamanan dan
perdamaian internasional. AS telah memberikan sumbangan yang sangat
signifikan dalam pendanaan PBB dan juga operasi peacekeeping di
berbagai tempat di belahan dunia. Berbagai negara menolak untuk
mengurangi jumlah kontribusi dana AS, baru sampai pada tahun 2000
negara-negara anggota PBB setuju mengurangi jumlah yang yang harus
dibayar AS, dari 25 persen dari total budget PBB menjadi 22 persen.
Bahkan untuk operasi peacekeeping di seluruh dunia, jumlahnya
dikurangi dari 31 persen dari total dana yang dibutuhkan menjadi 27
persen.29
Salah satu alternatif untuk mengatasi dikotomi antara prinsip
selektifitas dan universalitas adalah dengan cara pemberian kewenangan
lebih besar secara legal oleh PBB kepada organisasi-organisasi regional
untuk bekerjasama menjalankan fungsi penjaga keamanan dan
perdamaian internasional. Dengan cara semacam ini, masalah
kurangnya dukungan dari negara-negara besar untuk terlibat dalam
operasi militer di wilayah-wilayah yang tidak menempati prioritas dalam
kepentingan nasionalnya kemungkinan akan teratasi.
Sebetulnya hal ini pun dimungkinkan oleh piagam PBB,
sebagaimana dinyatakan oleh Pasal 52 dan 53 dari Chapter VIII Piagam
PBB, yang berbunyi:
“Article 52. 1. Nothing in the present Charter precludes the existence of regional
arrangements or agenicies for dealing with such matters relating to the
maintenance of international peace and security are appropriate for regional
action provided that such arrangement or agencies and their activities are
consistent with the Purposes and Principles of the United Nations.
Article 53. 1 . The Security Council shall, where appropriate, utilize such
regional arrangements or agencies for enforcement action under its authority.
But no enforcement action shall be taken under regional arrangements or by
regional agencies without the authorization of the Security Council.”
Salah satu preseden yang bisa dijadikan rujukan oleh PBB adalah
adalah tindakan NATO di Bosnia dan Herzegovina beberapa tahun lalu.
29. Periksa Brett D. Schaefer, The United States and the United Nations, fn.1.
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
70
Pengiriman pasukan penjaga perdamaian oleh Economic Community
of West African States (ECOWAS) ke Liberia ketika mengalami konflik
internal dapat memberi gambaran mengenai peran organisasi regional.
Pendelegasian wewenang juga menjadi alternatif untuk mengurangi
beban budget PBB, yang semakin meningkat karena bertambahnya
jumlah aktifitas PBB dalam masalah penjagaan keamanan dan
perdamaian internasional. Ilustrasi pendanaan PBB dalam peacekeeping
operation bisa dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 2.
Biaya Riil Peacekeeping Operation 1989-1995 (dalam milyar dollar)
UNPROFOR
UNOSOM II
UNTAC
ONUMOZ
UNIKOM
UNAMIR
UNAVEM I
MINURSO
3,132
1,782
1,651
541.7
237.4
236.8
186.3
155.2
ONUSAL
UNOMIL
UNAMIC
UNOSOM I
UNAVEM II
UNOMIG
UNMIH
UNMOT
110.8
54.2
37.3
25.2
20.5
14.8
11.3
1.4
Sumber: A. Jan, et al., Peacemaking and Peacekeeping for the Next Century: Report of
the 25th Vienna Seminar (New York: International Peace Academy, 1995), hal.93. Singkatan
bisa dilihat di bagian appendix tulisan ini.
Dalam konteks yang lebih luas, organisasi regional seperti The
Organization of American States (OAS) telah melangkah lebih jauh
ketika negara-negara anggota OAS dalam pertemuan tahunannya tahun
1991 telah setuju untuk bertindak secara multilateral di kawasannya,
apabila terjadi kudeta di salah satu negara anggota yang tentu saja
berpotensi menciptakan instabilitas keamanan di kawasan itu. Bahkan
dalam Inter-American Democratic Charter yang baru ditandatangani
pada bulan September 2001, negara-negara anggota OAS memperkuat
komitmennya kembali dengan menyatakan secara terbuka bahwa OAS
tidak akan pernah melegitimasi dan mentoleransi pergantian rezim secara
inkonstitusional di wilayahnya.30 Komitmen regional semacam ini akan
sangat memudahkan PBB dalam usahanya menjaga keamanan dan
perdamaian internasional.
30. Lihat Philips J. Vermonte, “Democracy Interrupted: Lessons From Venezuela”,
The Jakarta Post 24 Mei 2002.
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
71
KESIMPULAN UMUM: BEBERAPA AGENDA KEDEPAN
Berdasarkan uraian ini, dapat diringkaskan bahwa reformasi PBB
sangat perlu dilakukan karena tantangan yang dihadapi oleh PBB juga
semakin besar. Seusai Perang Dingin, PBB kembali menemukan
momentum untuk bisa membawa dirinya menjadi sebuah instrumen
global yang mendapatkan mandat internasional untuk menjaga
perdamaian dan keamanan internasional. Namun, untuk mampu
memenuhi mandat ini, PBB harus menyelesaikan beberapa persoalan
mendasar, tidak hanya pada aspek organisasional di tubuh PBB sendiri
(dalam hal ini DK), namun juga menemukan formula dan tindakan yang
bisa diterima oleh sebanyak mungkin negara melalui perumusan
legitimasi yang bisa dibenarkan oleh hukum internasional.
Secara organisasional, PBB memerlukan reformasi untuk
memperbaiki struktur organisasinya sehingga ia menjadi lebih
representatif dan demokratis sesuai dengan perubahan konstelasi politik
internasional. Legitimasi yang diberikan dan diamanatkan oleh Piagam
PBB harus bisa dioperasionalkan secara teknis. Mengingat
“keterbatasan” PBB sebagai sebuah lembaga multilateral yang
mensyaratkan mekanisme pengambilan keputusan yang relatif rumit,
PBB perlu terus mendorong kerjasama dengan lembaga regional untuk
dapat secara bersama-sama menjalankan fungsi penjaga perdamaian
dan keamanan internasional sebagaimana diamanatkan oleh Piagam
PBB sendiri. Untuk mencapai tujuan ini, PBB perlu mendorong
organisasi-organisasi regional untuk mengkaji ulang prinsip nonintervensi dan mendorong penerimaan terhadap prinsip humanitarian,
agar pengakuan atas kedaulatan negara juga diikuti dengan pengakuan
atas hak individual untuk mendapatkan perlindungan keamanan. ‰
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
72
Appendix
United Nations Peacekeeping Operations
Tahun dimulai
UNTSO
UNMOGIP
UNEF I
UNOGIL
ONUC
UNTEA/UNSF
UNYOM
UNFICYP
DOMREP
UNIPOM
UNEF II
UNDOF
UNIFIL
UNGOMAP
UNIIMOG
UNTAG
UNAVEM I
ONUCA
ONUSAL
MINURSO
UNIKOM
UNAMIC
UNAVEM II
UNPROFOR
UNOSOM I
UNTAC
ONUMOZ
UNMIH
UNOMIG
UN Truce Supervision Organization
UN Military Observer Group in India
and Pakistan
UN Emergency Force I
UN Observer Group in Lebanon
UN Operation in the Congo
UN Temporary Executive Authority/
UN Security Force in West New Guinea
(West Irian)
UN Yemen Observer Mission
UN Peacekeeping Force in Cyprus
Mission of the Representative of the
Secretary-General in the Dominican Republic
UN India Pakistan Observer Mission
UN Emergency Force II
UN Disengagement Observer Force
UN Interim Force in Lebanon
UN Good Offices Mission in Afghanistan
and Pakistan
UN Iran-Iraq Military Observer Group
UN Transitional Assistance Group
UN Angola Verification Mission
UN Observer Mission in Central America
UN Observer Mission in El Salvador
UN Mission for the Referendum in
Werstern Sahara
UN Iraq-Kuwait Ibserver Mission
UN Advance Mission in Cambodia
UN Angola Verification Mission
UN Protection Force in the Former Yugoslavia
UN Operation in Somalia I
UN Transitional Agency in Cambodia
UN Operation in Mozambique
UN Mission in Haiti
UN Observer Mission in Georgia
1948
1949
1956
1958
1960
1962
1963
1964
1965
1965
1965
1974
1978
1988
1988
1989
1989
1989
1991
1991
1991
1991
1991
1992
1992
1992
1992
1993
1993
Philips J. Vermonte, Reformasi PBB
73
Tahun dimulai
UNOMIL
UNAMIR
UNOMUR
UNOSOM II
UNASOG
UNMOT
UNAVEM III
UNCRO
UNPREDEP
UNTAET
UN Observer Mission in Liberia
UN Assistance Mission for Rwanda
UN Observer Mission Uganda Rwanda
UN Operation in Somalia II
UN Aouzou Strip Observer Group
UN Mission of Observers in Tajikistan
UN Angola Verification Mission
UN Confidence Restoration Operation
UN Preventive Deployment
UN Transitional Authority in East Timor
1993
1993
1993
1993
1994
1995
1995
1995
1995
1999
Sumber: UN Department of Public Information (dikutip dalam A. Jan
et al (1995, 94).
ANALISIS
Dunia dan Isu Pertahanan
Pasca Perang Teluk II
Ninok Leksono1
PERANG Teluk II yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS)
yang didukung oleh sekutu utamanya, Inggris, berlangsung selama
sekitar tiga pekan, mulai dari habisnya batas waktu bagi Saddam Hussein
untuk meninggalkan Irak tanggal 20 Maret 2003 hingga jatuhnya ibukota
Baghdad 9 April 2003 dan kota-kota di utara, termasuk Tikrit beberapa
hari kemudian.
Namun, meski pendek, Perang tersebut telah menimbulkan banyak
dampak, langsung ataupun tidak langsung. Dampak tersebut juga amat
mendalam, khususnya bagi dunia yang terbelah, antara yang mendukung
dan menentang serangan pimpinan AS di atas.
Artikel ini pertama-tama bermaksud melihat permasalahan
keamanan internasional berkaitan dengan perkembangan situasi dunia
di awal abad ke-21, khususnya pasca Serangan 11 September 2001 di
AS. Berikutnya akan diulas pula sejumlah isu keamanan yang potensial
menjadi konflik di masa datang. Melengkapi artikel ini, coba pula
dikemukakan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi
situasi keamanan yang banyak mengalami berbagai perubahan dewasa
ini, dan seiring dengan itu juga dikemukakan bagaimana hal tersebut
direspon oleh kebijakan pembangunan pertahanan.
Sifat konflik
Bagi AS Serangan 11 September 2001 telah mengubah persepsinya
mengenai keamanan nasional. Pandangan bahwa Tanah Air Amerika
aman telah diruntuhkan, sehingga pemerintah yang memang
berkewajiban melindungi segenap warga terpanggil untuk menempuh
1. Redaktur Senior Kompas dan Pengajar Jurusan HI - FISIP UI
Ninok Leksono, Dunia dan Isu Pertahanan
75
langkah apa pun. Ide yang lalu banyak diadopsi oleh penanggung jawab
keamanan nasional AS adalah bahwa kalau perlu pihak yang berpotensi
mengancam keamanan AS diperangi di tempat asalnya. Kalau perlu
AS akan melancarkan serangan semacam itu secara sepihak, tanpa
meminta dan tanpa dukungan Dewan Keamanan (DK) PBB sekali pun.
Ketika menjelang Perang Teluk II, AS merasa bahwa dukungan
yang ia harapkan tidak akan ia peroleh di DK PBB, karena Perancis dan
Rusia selaku anggota tetap DK banyak diberitakan akan menggunakan
hak veto mereka untuk menghalangi penggunaan kekuatan terhadap
Irak, maka AS lalu memilih melakukan aksi sepihak bersama Inggris.
Sejumlah kalangan menyebut invasi AS ke Irak sebagai satu perang
mendahului (pre-emptive war), sementara kalangan lain menyebutnya
sebagai perang pencegahan (preventive war). Perlu dijelaskan di sini,
bahwa sesungguhnya perang mendahului dilakukan oleh satu pihak yang
bermusuhan dengan menyerang lebih dulu musuh yang sudah
menghunus pedang atau mengarahkan rudal ke pihak tadi.
Atas dasar itu, argumen perang re-emtif dalam kasus Irak terakhir
tampak lemah, karena hampir semua orang tahu Irak tidak – dan tidak
punya kemampuan – mengarahkan rudal ke arah wilayah AS.
Dengan itu, maka sebenarnya yang dilakukan AS kemarin ini tidak
lain adalah melancarkan perang preventif. Karena, kalaupun benar Irak
memang bermaksud mengancam AS, atau secara umum negara ini
merupakan ancaman bagi adidaya AS, maka ancaman tersebut bisa
dikatakan masih merupakan ancaman kecil. Irak – meminjam istilah
pengamat militer Hasnan Habib – baru berupa anak macan, belum
macan dewasa. Sifat preventif lalu tampak menonjol karena macan tidak
diserang ketika ia sudah dewasa atau berbahaya, tetapi justru ketika
masih kecil. Ia diserang sekarang, bukan lima tahun lagi, misalnya.
Aksi Presiden AS George W Bush terhadap Irak bisa dikatakan
sebagai satu hal baru dalam sejarah dunia kontemporer. Apa yang
dilakukan AS ini dikhawatirkan akan dijadikan sebagai preseden dalam
praktik penyelesaian pertikaian antarbangsa.
Memang mungkin saja tidak semua negara yang berniat
melancarkan perang preventif bisa menahan kutukan dunia sekuat AS.
Tetapi tetap saja perang preventif telah dilihat sebagai satu pilihan solusi
bagi penyelesaian konflik modern.
Sementara langkah AS di atas juga telah menimbulkan kekhawatiran
terhadap sejumlah negara yang sering disebut-sebut AS sebagai
pendukung terorisme.
76
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Jadi ramifikasi serangan AS ke Irak terakhir ini menjangkau ke
berbagai pihak, mulai dari negara-negara yang melihat tetangga di
perbatasannya sebagai musuh seperti India dan Pakistan, hingga Iran
dan Korea Utara yang termasuk dalam apa yang sering disebut sebagai
bagian dari “Poros Setan”.
Sebelum 20 Maret 2003, seperti ada pemahaman, bahwa sejak
berakhirnya Perang Dunia II hingga berakhirnya Perang Dingin ada
semacam konsensus mengenai penggunaan kekuatan dan bagaimana
hal itu harus diatur.
Kini dengan aksi AS sebagai preseden, bukannya tidak mungkin
satu hari satu kekuatan besar lain melakukan hal yang menimbulkan
kecemasan itu. Dikhawatirkan perdamaian relatif yang ada sejak Perang
Dunia II yang ditandai dengan penerapan ketat mengenai tata-cara
penggunaan kekuatan kini dihadapkan pada tantangan serius.2
Sebelum ini, adanya pembatasan legal bagi penggunaan kekuatan untuk
aksi nyata pertahanan diri dan aksi penegakan perdamaian internasional
menjadi salah satu alasan utama turunnya jumlah perang antarnegara,
meskipun jumlah negara bertambah banyak. Tidak banyak negara yang
berani melanggar piagam PBB yang menetapkan persyaratan spesifik bagi
penggunaan kekuatan untuk melancarkan aksi preemtif. Dua perkecualian
yang menonjol, seperti dicatat oleh Chris Reus-Smidt dari Department of
International Relations dari Australian National University di Canberra
adalah serangan Israel tahun 1981 ke reaktor nuklir Irak di Osirak dan
serangan negara Yahudi ini yang memicu Perang Enam Hari tahun 1967.
Kini Doktrin Bush memperkenalkan aspek preventif dan invasi ke
Irak merupakan bentuk penerapannya yang pertama. Hal itu dapat
dilihat dengan telah dibukanya Kotak Pandora, yaitu di mana orang tak
bisa mengetahui di mana limitnya. Yang terjadi, seperti disinggung oleh
Prof Hilary Charlesworth dari Centre for International and Public Law
ANU, persepsi ancaman benar-benar ada pada si pelaku perang preventif.
Ringkas kata, kini di dunia telah tumbuh kekhawatiran bahwa sikap
“jalan sendiri semau sendiri” seperti dilakukan oleh AS sudah menjadi
semacam realita kehidupan internasional. Negara adidaya ini akan terus
bersikap mengabaikan komunitas internasional sejauh itu dirasanya
cocok dengan kepentingannya, misalnya saja ketika ia tidak mau tunduk
pada Traktat Kyoto yang membatasi pemanasan global.
2. Jane Macartney, Reuters, Singapura, The Jakarta Post, 28/3/03
Ninok Leksono, Dunia dan Isu Pertahanan
77
Keadidayaan besar kemungkinan adalah salah satu alasan mengapa
AS mampu bersikap seperti itu. Status itu sendiri ditopang dengan
kekuatan ekonomi, sains dan teknologi, pengaruh politik di badan-badan
dunia, serta tentu saja keperkasaan dalam militer.
Dukungan Militer Perkasa
Keperkasaan militer ini lah yang kemudian diperlihatkan dalam
Perang Irak terakhir. Senjata berteknologi tinggi (hi-tech) makin besar
peranannya. Bahkan karena didukung oleh persenjataan canggih ini
pula AS memberanikan diri menerapkan perang digital.
Teknologi dan aneka persenjataan terbaru tersedia dalam berbagai
pilihan, tetapi jelas bahwa adanya sosok seperti Menteri Pertahanan
(Menhan) Donald H Rumsfeld yang pro pada doktrin perang modern
menjadi satu elemen pendorong penting bagi terjadinya Perang Teluk
2003 yang sudah sama-sama kita saksikan.
Pada dasarnya, teori perang baru yang diyakini Menhan AS ini
memberi tekanan besar pada kekuatan udara, komunikasi komputer,
dan kekuatan darat yang tidak besar tetapi lincah. Semua unsur di atas
melambangkan ketinggian teknologi yang telah dicapai AS.
Semenjak bergabung dengan pemerintahan Bush, Rumsfeld memang
sudah berbicara tentang “transformasi”, yang ia maksudkan sebagai
orientasi pada kekuatan yang lebih ramping dan banyak ditopang oleh
teknologi, dan jauh berbeda dengan kekuatan pada zaman Perang Dingin.
Ini berbeda dengan apa yang diyakini oleh jenderal status quo, bahwa
perang masa depan masih akan dimenangkan dengan cara lama, yaitu dengan
daya tembak (firepower) mematikan, dan kekuatan darat yang memadai.
Ketika Presiden Bush semakin jelas akan menyerang Irak, maka
cetak biru perang yang dicapai adalah konsensus antara Rumsfeld dan
Jenderal Tommy Franks. Franks meminta kekuatan konvensional
berjumlah 250.000 pasukan tempur dan pendukung. Sementara
Rumsfeld mendapatkan persetujuan Franks untuk menggelar pasukan
secara bertahap, tidak sekaligus semuanya. Rumsfeld juga mendapat
persetujuan untuk menerapkan strategi yang akan melancarkan serangan
udara dan darat secara simultan, gerak maju ke Baghdad yang cepat,
serta penggunaan secara ekstensif unit-unit operasi khusus.
Ketika dilaksanakan di medan tempur, yang diharapkan adalah
strategi ini mampu menimbulkan efek “mengejutkan dan menakutkan”
(shock and awe). Hanya saja dalam pelaksanaannya tidak semua rencana
perang digital ini mulus.
78
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Namun pemikiran baru petinggi pertahanan Amerika ini sebenarnya
juga mewakili apa yang telah hidup dalam beberapa tahun terakhir di
kalangan penasihat kebijakan pemerintah AS, yang jelas mendukung
diberlakukannya serangan preemtif terhadap musuh-musuh Amerika
di era menyebar-luasnya isu senjata pemusnah massal.
Dalam upaya itu, AS dapat memanfaatkan keunggulannya dalam
teknologi tinggi. Antara lain, adalah kemajuan dalam teknologi
komunikasi, pengelak radar (stealth), robotik, dan penetapan sasaran
(targeting) presisi, yang kesemuanya itu diharapkan bisa bertindak
sebagai “pengganda kekuatan” sehingga mengurangi kebutuhan akan
tentara darat dan kanon besar.3
Jadi apa yang diuji coba dalam Perang Irak terakhir ini sebenarnya
bukan saja kecanggihan militer AS, tetapi keseluruhan filosofi
peperangan. Antara lain karena pendekatan Rumsfeld kontras tajam
dengan doktrin “kekuatan berlebih” (overwhelming force) yang digagas
oleh Jenderal Colin Powell, yang menjelang Perang Teluk 1991 menjabat
sebagai Kepala Staf Gabungan.
Kalau Powell meminta 550.000 pasukan untuk melancarkan Perang
Teluk 1991, Rumsfeld dan koleganya yang sepaham berpendapat, bahwa
menggelar pasukan dalam jumlah sangat besar tidak selalu dibutuhkan
di era ketika sistem komputasi-jaringan yang kuat dan munisi akurat
semakin bisa menggantikan banyak pekerjaan berbahaya.
Dari pertarungan ide di atas, maka hasil Perang Irak kemarin
memang bisa menentukan nasib visi Rumsfeld, yang diakui memang
mendapat tantangan dari banyak kalangan pimpinan militer. Kalau AS
bisa menang cepat, maka akan ada langkah untuk mempercepat
modernisasi kekuatannya dan membuatnya semakin bersandar pada
persenjataan teknologi canggih. Hal itu pada gilirannya juga akan terus
memberi berkah rejeki pada industri yang terakhir agak terseok
Pameran Persenjataan Canggih
Seperti halnya pada Perang Teluk 1991, Perang Teluk 2003 juga
mempertontonkan aksi persenjataan berteknologi tinggi. Seperti halnya
pada Perang Teluk I, serangan juga dimulai dengan penembakan ratusan
rudal jelajah Tomahawk, yang dilakukan serentak bersama pemboman
oleh jet siluman (stealth) F-117A Nighthawk.
3. Business Week, 7 April 2003
Ninok Leksono, Dunia dan Isu Pertahanan
79
Kekuatan udara semakin mengokohkan perannya dalam Perang
berbasis teknologi tinggi ini, antara lain dengan pengerahan jet-jet baru
seperti Super Hornet F/A-18E yang dilengkapi dengan sensor laser kuat
dan dapat menetapkan empat sasaran sekaligus. AS juga mengerahkan
tiga pesawat pembom dari tiga generasi, mulai dari B-52, B-1, dan B-2
untuk misi pemboman sasaran strategis.
Sementara pesawat tempur menguasai udara, dan pembom
menghancurkan sasaran militer, kekuatan udara lain juga memberi
sumbangan besar, yakni helikopter tempur Apache Longbow yang
menjadi ujung tombak bagi gerak maju divisi tank AS. Heli AH-64D
yang sering dijuluki heli tempur paling maju di dunia ini – meski sempat
ditembak jatuh dalam Perang Irak 2003, konon oleh senapan petani –
dapat mengunci 16 tank musuh sebagai sasaran dalam satu waktu.
Kekuatan udara kini pun diperkuat dengan pesawat tak berawak (drone)
seperti Predator yang diterbangkan di atas sasaran, mengambil citra video
medan tempur dan mengirimkannya ke komandan medan tempur serta
Komando Sentral AS di Qatar melalui satelit komunikasi.
Peran satelit tampaknya juga semakin membesar. Hal ini ditandai
dengan semakin banyaknya bom-bom yang dipergunakan, dan
mengandalkan panduan satelit. Seperti halnya satelit-satelit GPS
mengirim informasi pada bom yang tengah dijatuhkan, mengoreksi arah,
dan memandunya ke sasaran.
Kekuatan Amerika di Irak dengan demikian memang menikmati
semua kemajuan teknologi yang telah dicapai bangsa itu, sehingga gambar
besar tentang jalannya perang serta pengorganisasiannya bisa diperoleh
secara real-time, dan dengan dukungan komunikasi jaringan, hubungan
antara komandan dan pasukan bisa dilakukan dengan kecepatan tinggi.
DOKTRIN RUMSFELD
1. Serangan secepat kilat jauh ke dalam wilayah musuh dengan
pasukan lebih sedikit tetapi dengan perlengkapan lebih baik.
2. Penekanan pada bom dan rudal berpengaruh presisi untuk
melumpuhkan komando dan memaksa musuh menyerah, dan
itu dilakukan dengan membatasi korban di kalangan sipil.
3. Penggunaan lebih banyak operasi khusus.
80
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Kebutuhan Pemutakhiran
Seiring dengan perkembangan situasi internasional, di mana ada
kecenderungan melancarkan aksi sepihak dalam kemasan perang
intervensi, serta melalui pengamatan mengenai pola perang modern yang
semakin mengandalkan persenjataan teknologi canggih, maka tidak
sedikit negara yang kemudian termotivasi untuk melakukan
pemutakhiran peralatan militer selain pemutakhiran doktrin pertahanan.
Berikutnya juga disadari, bahwa upaya-upaya untuk pemutakhiran
peralatan militer tersebut ternyata tidak selamanya semulus seperti
diinginkan. Sejumlah faktor ternyata tetap bermain di sini, sehingga
meskipun kalangan industri amat berharap bisa menjual produk mereka,
akan tetapi pemerintahnya tidak selalu mewujudkan rencana penjualan
tersebut.
Ternyata prinsip-prinsip yang tetap berlaku dalam banyak transfer
senjata adalah sebagaimana dikemukakan oleh Andrew Pierre, bahwa
hal itu bukan hanya sekadar transaksi biasa, tetapi lebih banyak terkait
dengan hubungan politik.
Jadi kedekatan hubungan antara pemasok (supplier) dan penerima
(recipient) amat menentukan kelancaran transfer senjata. Perubahan
politik amat mewarnai transfer senjata. Polandia relatif belum lama lepas
dari pengaruh Blok, namun ketika kredensial demokratiknya memuaskan
AS, maka transfer empat skadron F-16 pun bukan hal yang sulit. Beda
halnya dengan Indonesia, meski dikenal dekat dengan AS, namun setelah
beberapa kali dalam kurun satu dekade terakhir, Indonesia terganjal
permintaannya untuk mendapatkan transfer perlengkapan dari AS.
Realita ini sesungguhnya bernuansa paradoks dengan trend yang ada
dalam perdagangan senjata internasional. Ketika industri perlengkapan
militer dunia masih terpusat pada sejumlah negara industri maju – dalam
hal ini AS dan negara-negara Eropa – maka pilihan pun tidak banyak
bagi negara-negara yang menginginkan senjata. Ini lah kondisi yang
disebut sebagai seller’s market atau pasarnya penjual. Dalam kondisi ini,
penjual leluasa menetapkan harga dan berbagai persyaratan lain.
Memasuki dekade 1980-an, sains dan teknologi mulai mengalir ke
negara-negara industri baru di Asia seperti Malaysia dan Singapura,
dan bahkan di negara berkembang seperti Indonesia.
Bila platform senjata utama seperti pesawat tempur umumnya masih
dikuasai oleh negara-negara industri maju, di lain pihak senjata seperti
senapan serbu atau kapal patroli cepat sudah bisa dibuat oleh negara
industri baru dan negara berkembang.
Ninok Leksono, Dunia dan Isu Pertahanan
81
Bahkan harus dicatat di sini, bahwa di antara negara industri maju
itu sendiri juga terjadi persaingan yang semakin sengit. Situasi pasca
Perang Dingin, negara-negara bekas Blok Barat mencoba memperoleh
dividen perdamaian. Hal ini ditandai dengan dilakukannya pengurangan
anggaran belanja militer. Situasi tersebut membuat daya beli internal
susut, dan daya jual produk makin tinggi. Konsekuensinya, antara
sesama negara maju tadi harus bersaing ketat memperebutkan pasar.
Situasi ini juga akan membuat pasar senjata internasional menjadi
lebih cair, di mana konsumen punya lebih banyak pilihan. Trend pasar
pun kemudian akan bergeser dari seller’s market ke buyer’s market atau
pasar pembeli.
Tetapi rupanya sifat pasar yang seperti itu masih tetap belum bisa
mengubah ciri dasar transfer senjata, yaitu yang menyangkut jauhdekatnya hubungan antara penjual-penerima.
Sementara dari segi pembeli, urusan pembelian senjata juga ternyata
bukan hanya menyangkut persetujuan penjual, tetapi berikutnya juga
tersedianya dana pembelian.
Ditawarkan Tapi Tak Selalu Bisa Dibeli
Setiap kali usai satu perang, maka satu pihak yang ingin mendapat
keuntungan adalah industri senjata yang berkinerja baik, khususnya di
pihak pemenang. Ilustrasi paling spektakuler mengenai hal ini adalah di
Pameran Kedirgantaraan Paris tahun 1991 yang dilaksanakan kurang
dari empat bulan dari Perang Teluk I. Di sana, jet siluman (stealth) yang
mengawali Perang itu datang dengan profil tinggi, sementara jet Tornado
Inggris, demikian pula Jaguar Perancis yang bercat kuning coklat tampak
di sana-sini gosong tersengat cuaca gurun yang amat terik. Ada juga rudal
Patriot.
Dengan dipromosikan sebagai combat proven – atau terbukti unggul
dalam pertempuran – sederet senjata lalu memang mengundang daya
tarik bagi pembeli, khususnya dari negara-negara berkembang yang
merasa sudah cukup punya rejeki atau yang sedang dihadapkan pada
satu tantangan keamanan.
Dalam hal Perang Teluk 1991, pembeli utama adalah negara-negara
Teluk sendiri yang dari dekat mendengar kehebatan persenjataan
tersebut, dan selain itu – khususnya Kuwait – juga ingin menjadikan
pembelian perlengkapan militer AS sebagai salah satu bentuk ucapan
terima kasih kepada negara adidaya itu karena telah membantunya
mengusir Irak Saddam Hussein.
82
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Tetapi sekali lagi meskipun persaingan di antara pemasok menguat,
hal itu tidak serta-merta diikuti dengan penjualan bebas. Apa yang
dialami Indonesia boleh jadi merupakan satu contoh yang gamblang
tentang dimensi non-ekonomi atau perdagangan dari penjualan senjata.
Perubahan orientasi politik pemerintahan AS yang cenderung
mengaitkan masalah seperti HAM pada transfer senjata membuat Indonesia
tidak bisa membeli jet F-5E dari Yordania menyusul pecahnya Insiden Dili
tahun 1991. Keinginan untuk membeli F-16 tambahan pun pada paruh
kedua tahun 1990-an tak diluluskan, hal yang membuat Indonesia pada
tahun 1997 menanda-tangani persetujuan dengan Rusia untuk membeli jet
Sukhoi. (Persetujuan ini sendiri kemudian dibatalkan menyusul pecahnya
krisis moneter tahun 1997 yang memburuk pada tahun 1998.)
Pengalaman makin seretnya transfer perlengkapan militer dari AS
bertambah buruk lagi menyusul pecahnya aksi kekerasan pasca Jajak
Pendapat Timor Timur tahun 1999. Setelah itu AS, juga negara-negara
Eropa Barat, menerapkan embargo terhadap Indonesia menyangkut
penjualan perlengkapan dan suku cadangnya.
Keadaan ini amat memukul Indonesia, baik secara psikologis-politis,
maupun secara kemampuan militer. Tidak saja jet F-16, tetapi bahkan
jet Hawk yang buatan Inggris pun ikut terkena karena menggunakan
avionik buatan Amerika. Lebih buruk lagi, embargo juga mengenai
pesawat angkut Hercules, padahal di masa Indonesia banyak terkena
konflik internal lima tahun terakhir, pesawat ini banyak digunakan untuk
menjalankan misi kemanusiaan (civic/humanitarian mission).
Selain menyangkut persepsi mengenai HAM, ganjalan dari pemasok
lazimnya dikaitkan dengan pertimbangan politik, misalnya pembelian
tersebut lalu akan memicu destabilisasi keamanan, meskipun hal ini
sering juga tidak berlaku. Salah satu contohnya adalah, akuisisi senjata
Amerika dan Perancis oleh Taiwan. Dalam arti, meski RRC tidak senang
dengan pembelian Taiwan tersebut, tetapi penjualan jet Mirage dari
Perancis dan F-16 Amerika tetap dijalankan.
Tampak bahwa dari pihak pemasok sendiri terdapat kebijakan yang
dipandang dari kacamata umum bisa terkesan kurang konsisten. Artinya,
pertimbangan ekonomi perdagangan untuk mendukung industri
domestik lebih mengemuka dibandingkan dengan pertimbangan politik
yang mengakomodasi ketidak-senangan RRC terhadap penjualan di era
1990-an tersebut.
Ninok Leksono, Dunia dan Isu Pertahanan
83
Sebaliknya pemasok lain juga tidak peduli dengan kerisauan AS.
Betapa pun banyak protes AS disampaikan terhadap Rusia yang menjual
pembangkit listrik nuklir terhadap Iran, yang dikhawatirkan bisa sekalian
untuk memproduksi bahan pembuat bom nuklir, Rusia tetap jalan terus
dengan penjualannya ke Iran. Hal sama juga terjadi dengan pengapalan
rudal balistik Korea Utara ke sejumlah negara Timur Tengah, atau
transfer teknologi misil RRC ke Pakistan.
Pengawasan Makin Ketat
Transfer senjata boleh jadi tetap akan mengikuti idiom khasnya
hingga kapan pun, seperti yang menyangkut pola hubungan pemasokpenerima. Tetapi khususnya menyangkut senjata pemusnah massal –
dalam hal ini nuklir, biologi, dan kimia – negara seperti AS tampaknya
akan semakin ketat.
Menyusul Serangan 11 September 2001, AS merasa bahwa serangan
dengan metode paling tak terduga – seperti menjadikan pesawat
penumpang sebagai rudal – pun akan terus mengancam dirinya. Tetapi
tetap yang dikhawatirkan paling serius adalah serangan yang
menggunakan senjata pemusnah massal. Di sini pengawasan dilakukan
dengan mengekang tidak saja bomnya, tetapi juga sarana pelontarannya.
Untuk bomnya, pengetatan pengawasan dilakukan dengan
membatasi transfer atau penggunaan reaktor dan fasilitas nuklir yang
berkapasitas memproduksi material bahan bakar bom, seperti yang
dimiliki Korea Utara di Yongbyon. Meski sejauh ini AS dan Korea Utara
masih membuka pintu dialog, tetapi pada pekan ketiga Mei 2003 AS
sudah menyuarakan niat untuk bersikap lebih tegas terhadap Pyongyang.
Gambaran yang bisa terjadi kalau sampai perundingan tidak produktif
dan situasi memburuk, di mana Korea Utara semakin meningkatkan
ancaman militernya, adalah serangan preemtif A.S. dengan sasaran
khusus fasilitas nuklir Yongbyoan.
Dalam kaitannya dengan sarana pelontaran (delivery), sebenarnya
sejak tahun 1987 negara-negara besar sudah mendirikan apa yang
dinamakan Regim Pengawasan Teknologi Rudal (MTCR, Missile
Technology Control Regime). Regim ini jelas membuat banyak negara
yang ingin mengembangkan teknologi peroketan pun jadi kesulitan,
karena memang teknologi roket bersifat ganda, bisa sipil untuk
peluncuran satelit pemantau cuaca, atau untuk militer guna mengangkut
hulu ledak konvensional atau pemusnah massal.
84
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
Tantangan Teknologi Maju
Perang modern seperti Perang Teluk 1991 dan lebih-lebih Perang
Irak 2003 memperlihatkan, bahwa persenjataan teknologi canggih
semakin besar peranannya dalam membantu memenangkan perang.
Dukungan teknologi – seperti telah diuraikan di atas – tidak saja
diwujudkan dalam bom-bom yang semakin pintar, karena ia dipandu
kesasaran dengan sinyal satelit, tidak jatuh bebas, tetapi juga jaringan
komunikasi untuk mendukung peperangan.
Harus diakui, bahwa kemajuan teknologi informasi-komunikasi
(ICT) telah dieksploitasi seoptimal mungkin oleh AS dalam Perang Teluk
2003. Dengan apa yang disebut “Internet Taktis”, maka Komando
Sentral bisa memperoleh informasi semua medan tempur seketika,
prajurit di lapangan pun – dengan peralatan mobile PDA (Personal
Digital Assistance) - juga bisa mendapat informasi terkini menyangkut
perkembangan pergerakan kekuatan.
Jaringan komputer – meski tidak sepenuhnya aman – telah menjadi
alas bagi dikembangkannya doktrin perang digital. Semula memang hal
ini amat dikhawatirkan. Tetapi dengan bisa diselesaikannya kampanye
perang Irak dalam tempo tiga pekan, dan dengan jumlah pasukan lebih
sedikit dibanding jumlah pasukan pada Perang Teluk 1991, maka
keyakinan terhadap efektivitas sistem berbasis ICT mendapat pijakan
kuat (vindicated).
Di sini pun lagi-lagi AS berada dalam posisi paling depan, karena
bisa dikatakan bahwa ICT, komputer dan Internet lahir dan berkembang
pesat di negeri adidaya itu. Sementara negara-negara berkembang justru
semakin tidak mampu menjangkau kemajuan yang ada, bahkan terjadi
kesenjangan digital (digital divide).
Jadi, sebagai penutup dapat dikemukakan di sini, bahwa dihadapkan
pada situasi internasional, khususnya lingkungan keamanan yang
berubah secara fundamental, negara-negara berkembang memang
menghadapi tantangan baru yang tidak sepenuhnya bisa direspons secara
memadai, baik yang berkaitan dengan penguasaan teknologi,
pemerolehan persenjataan canggih, maupun penyediaan infrastruktur
pendukung yang dibutuhkan.
Memang tidak sepenuhnya hal itu kesalahan negara berkembang,
karena negara-negara maju memang dalam perkembangannya
cenderung menerapkan sistem dan aturan yang makin ketat bagi
penyebar-luasan teknologi, khususnya yang berkaitan dengan
pertahanan. ‰
TELAAH BUKU
Bangsa:
Antara Bayangan dan Realitas
Rahadi T. Wiratama
Benedict Anderson, Imagined Communities,
Komunitas-Komunitas Terbayang,
Pengantar: Daniel Dhakidae, Yogyakarta: Insist
bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, liii + 336
halaman, termasuk Kepustakaan dan Indeks, 2001
Telah lama kebangsaan memperoleh serangan gencar dari berbagai
aliran pemikiran dan kepentingan. Cukup unik bahwa kaum Marxis
maupun para kapitalis berskala global – dua entitas yang saling
bertentangan – memiliki kecurigaan yang sama terhadap segala sesuatu
yang diasosiasikan dengan “bangsa,” “kebangsaan” dan “negara
bangsa,” tentu saja dengan alasannya masing-masing. Di mata kaum
Marxis kebangsaan — yang kemudian menjadi salah satu dasar bagi
munculnya chauvinism itu — merupakan penghalang bagi terciptanya
solidaritas kemanusiaan internasional. Pada tahap ini, kalangan Marxis
memiliki posisi yang kurang-lebih sama dengan kaum humanis-liberal.
Lebih dari itu, kaum Marxis – dan kali ini berbeda dengan posisi kaum
humanis-liberal – beranggapan bahwa kebangsaan, yang sering kali
menjelma ke dalam bentuk nation-state itu, hanya akan menghasilkan
sebuah organisasi kekuasaan yang berfungsi untuk mereproduksi relasirelasi kapitalistis. Sementara itu, di sisi yang lain, bagi kalangan kapitalis
raksasa paham kebangsaan yang memunculkan kedaulatan teritorial itu
merupakan penghalang bagi ekspansi modal.
Betapapun ide dan praktek bangsa-kebangsaan-nation state kerap
kali memperoleh serangan dari berbagai spektrum ideologi dan
kepentingan, namun pada abad ke-20 dan ke-21 ini fenomena semacam
86
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
itu tetap muncul sebagai fakta yang sulit ditolak, sejak ia muncul untuk
pertama kalinya di daratan Eropa pada abad ke-18. Lalu, mengapa gejala
bangsa, kebangsaan dan negara-bangsa – di tengah-tengah kritik atas
fenomena itu – tetap bertahan hingga kini? Mengapa kematian bangsakebangsaan-negara bangsa yang pernah diramalkan sebelumnya tak
kunjung terwujud—bahkan di era kekinian yang, konon, tak lagi
mengenal batas-batas teritorial? Dan, mengapa pula kajian tentang aspekaspek kebangsaan tetap memiliki daya pikat yang kuat bagi ilmu-ilmu
sosial-humaniora?
Sederetan pertanyaan pokok itulah pada akhirnya mendorong
Benedict Anderson – Profesor Ilmu Politik asal Universitas Cornell, AS
– untuk melakukan upaya pelacakan terhadap asal-usul nasionalisme.
Dengan kata lain, melalui buku ini, Anderson bermaksud untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan: mengapa fenomen bangsakebangsaan-negara bangsa memiliki daya tahan yang luar biasa? Berbeda
dengan para pemikir klasik tentang nasionalisme yang sebelumnya kerap
menjadi referensi, Anderson rupanya memiliki rumusan tersendiri
tentang bangsa. Dalam pandangan Anderson, bangsa atau nation
merupakan sebuah komunitas politik terbayang—imagined political
community. Ia dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas
(limited) secara inheren, karena pasti ada batas-batas teritorial dengan
bangsa-bangsa lain di sekitarnya; berdaulat (sovereign), karena para
pembayangnya menganggap perlu ada perlindungan; dan akhirnya ia
dibayangkan sebagai sebuah komunitas (community), karena para
anggotanya memiliki rasa persaudaraan antar mereka.
Ketika internalisasi bayangan tentang bangsa mencapai titik kul
minasinya, menurut pengamatan Anderson, para anggota komunitas
itu bersedia – jangankan mengorbankan orang lain – bahkan untuk
mengorbankan dirinyapun orang rela demi apa yang mereka hayati
sebagai komunitas-komunitas terbayang itu. Namun Anderson juga tak
lupa menambahkan bahwa munculnya print capitalism – yang ikut
menyebarluaskan “kesadaran bersama” pada beberapa abad sebelumnya
itu – telah memberikan dasar bagi munculnya gagasan komunitaskomunitas terbayang di daratan Eropa. Lebih dari itu, Anderson meyakini
adanya unsur-unsur kebudayaan dari para pembayang bangsa yang lebih
dulu hadir. Faktor inilah yang, menurut Anderson, membuat konstruk
komunitas-komunitas terbayang memiliki watak antropologis.
Dalam buku – yang edisi aslinya diterbitkan tahun 1983 ini –
Anderson mengawali pemaparannya dengan mengetengahkan konflik
Rahadi T. Wiratama, Bangsa: Antara Bayangan dan Realitas
87
bersenjata antar tiga negara yang berdiri di atas landasan ideologi
Marxisme-Leninisme di tahun 1978-1979: RRC dan Republik
Demokratik Kamboja di satu sisi versus Republik Sosialis Vietnam di
sisi lain. Meski maksud pemaparan itu tidak dinyatakan secara eksplisit,
namun – melalui ilustrasi pertikaian ketiga negara yang mengaku sebagai
pewaris ajaran Marxis-Leninis itu – pembaca “digiring” untuk
memberikan tafsiran: bahwa kaum Marxis-Leninis yang, konon, memiliki
solidaritas atas dasar persaudaraan internasional toh akhirnya – dan
ternyata – dapat masuk ke dalam bentuk pertikaian antar sesama mereka
sendiri atas nama kepentingan nasionalnya masing-masing. Soalnya
adalah, dapatkah masing-masing negara itu memberikan label kepada
para prajurit yang tewas di medan tempur itu sebagai “gugur dalam
membela Marxisme-Leninisme?” Dari ilustrasi semacam itu secara
karikatural Anderson mengajukan pertanyaan, bagaimana mungkin kita
dapat membayangkan sebuah tugu peringatan dari sebuah makam yang
bertuliskan: “Marxis Tak Dikenal” ataupun “Liberal Tak Dikenal,”
hanya sekadar untuk menunjukkan ideologi-politik yang dianut oleh
mereka yang gugur di medan tempur? Dari persoalan yang diajukan
Anderson ini, muncul pertanyaan lebih lanjut: manakah yang lebih
absurd? Pandangan paham kebangsaan ataukah pandangan kaum
Marxis dan Liberal?
Lalu, apa signifikansi dari hasil pelacakan Anderson atas komunitaskomunitas terbayang itu terhadap polemik teoritis antara para pembayang
bangsa dengan lawan-lawannya? Salah satu jawabannya adalah bahwa
ketika berbagai aliran ideologi dan pemikiran mendera nasionalisme
sebagai sebuah bentuk absurditas, kenyataan – sebagaimana yang
ditunjukkan Anderson – justru memberikan dasar untuk
menjungkirbalikkan keyakinan yang selama ini hampir tak tergoyahkan
itu. Sebab, kaum Marxis maupun Liberal toh akhirnya tetap merupakan
anggota (baca: warganegara) dari sebuah komunitas besar (baca: bangsa)
betapapun mereka menolaknya. Kaum Marxis maupun Liberal pasti
akan mengalami kesulitan untuk menemukan seorang manusia di muka
bumi ini yang tidak memiliki tanah air, betapapun ia – seandainya
memang ditemukan jenis manusia semacam ini – mungkin lebih merasa
sebagai anggota umat manusia sedunia daripada anggota bangsa atau
negara tertentu. Ini berarti bahwa kaum Marxis maupun Liberal yang
membayangkan persaudaraan umat manusia sedunia tanpa tanah air
ternyata tidak kalah absurdnya dengan para pembayang bangsa. Dengan
88
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
demikian, karya Anderson ini secara provokatif membangkitkan
pemahaman baru bahwa baik kaum Marxis maupun Liberal tidak perlu
menjadi naif dalam memandang nasionalisme hanya karena mereka
meyakini – dan sekaligus berharap – tiadanya garis demarkasi teritorial
yang menyekat solidaritas dan persaudaraan antar manusia sedunia,
sebagaimana – di sisi yang lain – sikap curiga dan naif yang juga sering
kali dianut oleh para pembayang bangsa terhadap “humanisme
universal” versi Marxisme maupun Liberalisme.
Namun, lepas dari persoalan dan polemik antara para pembayang
bangsa dengan lawan-lawan politiknya itu, rangkaian logic yang
menghubungkan antara “bangsa,” “kebangsaan” dan akhirnya: “negara
bangsa” ternyata juga mengandung problematiknya sendiri. Terlebih
ketika hubungan itu disederhanakan menjadi “bangsa” dan “negara”—
dua entitas yang secara awam kerap dipahami sebagai kesatuan yang
tidak bermasalah. Dalam pengantarnya di buku ini Daniel Dhakidae –
dengan mengambil contoh Jerman pada era the Third Reich dan
Indonesia pada masa Orde Baru – mengungkapkan bahwa justru di
sanalah letak kekisruhan logic yang mendasari hubungan antara bangsa
dengan negara. Proses dari bangsa menjadi negara – sebagaimana
ditunjukkan oleh banyak kasus – sering kali mengalami distorsi. Sebab
ketika banyak pihak ikut andil dalam mewujudkan komunitas-komunitas
terbayang, proyek itu akhirnya justru jatuh ke tangan negara—suatu
fenomen yang pada dasarnya juga disadari oleh Anderson sendiri.
Sebagaimana dikemukakan Anderson, penyelewengan komunitaskomunitas terbayang ke dalam bentuk-bentuk nasionalisme resmi,
nasionalisme imperial ataupun nasionalisme rasis – yang anti
kemanusiaan itu – sesungguhnya merupakan lawan dan sekaligus
“anomali” dari apa yang oleh Anderson dinyatakan sebagai paham
kebangsaan berwatak kerakyatan yang lebih dulu hadir.
Bentuk-bentuk nasionalisme anti kerakyatan itulah yang kerap
memberikan “sumbangan” terhadap berbagai tragedi kemanusian dalam
wujud holocaust dan genocide, sebagaimana dipraktikkan oleh kaum
ultra-nasionalis Jerman, fasis Itali dan militeris Jepang semasa Perang
Dunia II, serta kaum rasis Serbia di era 90-an. Pada tahap ini, komunitaskomunitas terbayang akhirnya terperosok menjadi fasisme atau statenationalism. Dari sisi ini, bayangan tentang bangsa – yang oleh para
pembayangnya sama sekali jauh citra kekuasaan dan kekerasan itu –
justru sering dijadikan klaim negara fasis untuk membenarkan kehadiran
Rahadi T. Wiratama, Bangsa: Antara Bayangan dan Realitas
89
dan tindakannya. Di masa Orde Baru, misalnya, makna kebangsaan –
di bawah jargon “demi persatuan dan kesatuan” – direduksi menjadi
stabilitas nasional dengan segala perangkat keras dan lunaknya. Dengan
demikian, proyek komunitas-komunitas terbayang – yang semula dirintis
dan dikerjakan oleh para pembayang yang bernama “bangsa” itu – telah
direbut dan dibelokkan sedemikian rupa oleh kekuatan-kekuatan yang
lebih besar (baca: negara), apalagi jika tidak ditujukan dalam rangka
dominasi dan hegemoni.
Pada tahap ini muncul suatu ironi, yakni ketika generasi para
pembayang bangsa – yang menurut Anderson, berideologi kerakyatan
itu – harus menyaksikan karya ciptanya menjadi sumber “legitimasi”
bagi pihak lain untuk menciptakan mesin-mesin pembunuh. Dengan
kata lain, sebagian dari rangkaian tragedi kemanusiaan yang mengisi
lembar-lembar sejarah moderen umat manusia itu ternyata berhubungan
erat dengan soal bangsa-kebangsaan-negara bangsa. Pada titik inilah
muncul sebuah petaka: yakni ketika proses pembayangan komunitas yang
pada mulanya bersifat antropologis (baca: kebudayaan) itu kemudian
berubah menjadi proses yang bersifat politis (baca: kekuasaan). Jika itu
yang menjadi duduk perkaranya, maka bukankah gejala bangsakebangsaan-negara bangsa justru vis-à-vis dengan gagasan penguatan
masyarakat sipil, penegakkan demokrasi dan penghormatan atas HAM
yang kini juga tengah diperjuangkan di berbagai negeri? Oleh sebab itu,
dapat dimengerti apabila sampai hari ini kalangan Marxis maupun
liberal-demokrat tetap mencurigai kebangsaan dengan segala raison détre
dan manifestasinya.
Namun, lepas dari kritik yang memang patut dilakukan untuk
menilai buku ini, Anderson pada dasarnya telah menawarkan perspektif
baru dalam memahami munculnya fenomen kebangsaan. Cara
Anderson memahami munculnya asal-usul kebangsaan dari sudut
pandang subyek – yang oleh Daniel Dhakidae disebut sebagai
anthropological in nature itu — ternyata memiliki daya eksplanatif
tersendiri. Oleh sebab itu pula karya Anderson ini memiliki pengaruh
yang cukup kuat – dan sekaligus menyulut serangkaian polemik — dalam
ilmu-ilmu sosial-humaniora kontemporer, terutama di bidang cultural
studies. Tidaklah mengherankan jika buku ini telah diterjemahkan ke
dalam lebih dari duapuluh bahasa. Keseriusan Anderson – yang berlatar
belakang sebagai ilmuwan politik ahli Indonesia itu – dalam melakukan
eksplorasi atas asal-usul komunitas-komunitas terbayang itu telah
90
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-Juli 2003
mendorongnya untuk menjelajah lorong waktu (menjangkau hingga
abad ke 13), memasuki berbagai ruang (benua, kawasan dan negeri),
serta mengkaji berbagai sumber literatur yang amat bervariasi: mulai
dari sejarah, sosiologi, antropologi, sastra/linguistik hingga arsitektur,
teologi, filsafat dan ekonomi. Atas dasar itu, cukup beralasan jika karya
Anderson – yang ingin merangkai hubungan logic antara pembayang
dengan sosok bayangannya di satu sisi, serta aktifitas kebudayaan untuk
mewujudkan bayangan tentang bangsa di sisi lain itu – dapat dinilai
sebagai “artefak” diskursus antropologi-politik yang menawarkan metoda
dan rekonstr uksi pemaknaan bar u terhadap asal-usul bangsakebangsaan-nation state. ‰
91
BIODATA PENULIS
Dewi Fortuna Anwar, Direktur Program dan Riset, The Habibie Center,
Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusian (IPSK), LIPI,
Anggota Dewan Direktur Center for Information and Development
Studies (CIDES)
Riza Sihbudi, Ahli Peneliti Utama dan Kepala Bidang Perkembangan
Politik Internasional pada Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI); Dosen Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI) Program Kajian Timur Tengah dan Islam; Ketua Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Jakarta; dan, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Ilmu
Politik Indonesia (AIPI).
Philips J. Vermonte, Peneliti Departemen Hubungan Internasional Centre
for Strategic and International Studies (CSIS).
Ninok Leksono, Redaktur Senior Kompas dan Pengajar Jurusan HI –
FISIP UI
Rahadi T.Wiratama, Peneliti di CESDA-LP3ES
Demokrasi & HAM Vol. 3, No. 2, Mei-September 2003
FORMULIR BERLANGGANAN
SAYA BERMINAT BERLANGGANAN
Nama
Mulai Edisi
: ..................................................................................................
: ..................................................................................................
: ..................................................................................................
Mohon dicatat sebagai pelanggan Jurnal Demokrasi dan HAM
dan mohon dapat dikirim ke alamat saya:
Alamat
..................................................................................................
Pekerjaan
Telepon/Fax
: ..................................................................................................
: ..................................................................................................
: ..................................................................................................
..................................................................................................
Instansi
Alamat kantor : ..................................................................................................
..................................................................................................
Harga Langganan
† 2 Edisi: Rp. 34.000,(termasuk disc 15%).
† 4 Edisi: Rp. 60.000,(termasuk disc 25%).
• Beri tanda pada kolom yang
Anda pilih.
• Harga sudah termasuk ongkos
kirim untuk Jabotabek.
• Luar Jabotabek dikenakan biaya
kirim via jasa Pos Rp. 5.000,per eksemplar.
• Harga Eceran Rp. 20.000,per eksemplar
Pembayaran dimuka:
Transfer ke Bank Mandiri Cabang Jakarta Kemang Raya,
a/n Yayasan The Habibie Center • a/c 126.0002195401
(mohon bukti transfer difax bersamaan formulir ini)
..................................................................................................
................................., .........................
Tandatangan:
_____________________
f a x k e : ( 0 2 1 ) 7 8 1 7 2 1 2 • a ta u k i r i m k e : J l . K e m a n g S e l a ta n N o . 9 8 , J a k a r ta 1 2 5 6 0 , Te l p . ( 0 2 1 ) 7 8 1 7 2 11
92
Download