- Universitas Negeri Padang Repository

advertisement
1
f
.-
'/
C
R
K
-
;.
W
M
c
rn
I
'
.-
2
c
:
3
Z
I:
C
2 E
2
I .c .C
I
I
.
.2
c
m
,E ! :$:
2 ( ."" :-
8
g ;
3
a %5
g .?
X
urn
-
z-5
2
F?
2
m
a
.a
.-
2
ii 5
* -5 E
w
I
-4
T
c;
::
cc <i
0 2 :
QC,
3~2;
wgc:
;5s
S ?a:v);
-4
tindakan-tindakan yang tepat dalam mitigasi bencana secara aktif.
Sebagai praktisi d a n sekaligus peneliri masalah-rnasalah d a n
gejala-gejala yang terjadi di lingkungan hidup, saya berharap buku
ini d ~ p a menjadi
t
penambah khazanah pengetahuan kita tentang
bencana dan mitigasinya.
Mataram, Desember 2014
Dr. L. Sukardi
Peneliti Kebencanaan dan Lingkungan Hidup
Universitas Mataram
-
f-
t.
KABA PENGAMTAR
Dr. Nana Sutrisna
(Peneliti Pertanian dan Linokungan Hirltrp
BPTP Lembang Jawa Barat)
.
- &-
dengan p e r t u m b u h a n penduduk )rang relatif
cepat dari produ ksi pangan a h n n~engz!-,iba:l:an
mnsyarakat d u n i a suartl saat a k a n mengalami
JAi,
, . .
.
h~ 1 5 1 s~ v n g a l~~ .p a y aun:vk
mcncegali klisis
. , -,._ .*_w-.. .:.- .-... pangan tersehut mengakibatkan setiap negara
m~nyl1.!a?-!:X! k?b;j:!:2::
*;;'
. ,:>c >,ri-,:b~j?iil&5iL I I I L L I ~
ketersediaan pangan yang cukup. Upava untuk merealisasi kan ha1
+----I
, , , .,
~ . ; ~ x
! c~~ :~z i2r n
~: ~
~;udh
~~:~
u11tuk pangal.
P c n ~ ~ lmencoba
is
men?ingntknn kira qpml.l;l !I:?!I\,!~:: p~nn:r,bnhni~
l u a s lahan pangan clapat mengganggu sistem dalarn siklus
hidrolnfi dnn dqpnr ro~-.r>iniL)ulka~
bcncnna dcgr-ail as^ I;~l>iin,
aj?nhiia
~engelolaanIah2r-1pan5an t w p n memcrhntil.:nn tind,~k~l:~-tir?dal;an
::lii~igasid c g r a d a s ~lahan. Semoga huku ini bermanfaat untuk kita
scmua, tcrutarna u n t u k para mahasis\va dan r n a r l ; a r ~ k ? tp!-~ktizi
pertmian, !in~kunnanhidup, J A Irn;llsv;7rakar
I
1ahn)~a.
--.
*.LC..
5 +
.C%
. < .
I
C
-..a
I ~ I I :
Dr. N a n a S u t r i s n a
Peneliti Pcrtanian dan Lingkungan Hidup
CPTF L ~ ' I I I L , ~j aIwI ~a Bnrar
I
I
p's;r'..
.
VI
GEOGRAFI BENCANA A L A M
____-.-
I
--.
^-
--
_
-
__.____--.
--
KATA PENGANTAR
hecara geograhs sebagian bcsar wilayah Indonesia berada
pada kawasan rawan bencana, baik bencana aktual maupun
hencana potensial. Bencana aktual dapat dikelompokkan pada
hrrnr-?.n?
+-.----.
hnn-nn
--L-rur
! ~ t ~ i b d i~ i U ~ I L Iilpi,
I I ~ banjir, b ~ n j l r
bandang, longsor, dan bencana-bencana yang bersifat kekinian.
Sedangkan h ~ n c a n apotensial m e r ~ l p a k a nh r n r ~ ~ r ? a - E ? ~ n ~ z n ~
yang terjadi akibat eksploitasi su~nberdaya alarn oleh generasi
c e k z r z n ~ ,s t h i n .w ~ 1m ~ n i c i . !t t . . t ] : ~ t . f ; r l ~ , : ~ "r,c>r?c::na kckcringan dan
hancurnva keanekaragaman havati, bencana degrad2si Ishan
dan kelaparan untuk generasi yang akan datang. Bencana alam
merilnakar! ~eristinrnntnu rangk2iqn p~ristiwayang mengancam
atau mengganggu kehidupan dan penghidupan masynraknt yang
di sebahk.311 oleh gejala-gejala
- .
alarn, balk itu gejala-gejala di perut
bumi maupun akibat gejala-gejala cuaca dan perubahan iklim.
Mirigasi h ~ n c a n dilakukan
a
untuk mcmperkecil jurnlah korhan jiwa
..
R
p
.n-"-1-1,
1 - -1~..-.;. clan kpnlPianhgrtg hend-q n i t v ? n-n+;noq~.,,-. .;.. ...-.*...
iiri:iiL i!;sci-:r>crikacl
cukun menyirn svtiqp negqrn ilnti~lrhers2tx d,n
beke rja sarna untuk mengatasi pennasalahan tersebut, agar terjadi
keseimbangan ekosistem dalam mendukung proses kehidupan di
L L U ~ L ~ A A L ; .
-
7
C_,
I
',LA.
A.L"L,*L',*
1cjr33 I
iF
.. .
.
,
..*.. :
. ....
..
. - .. - ,
. , ,:
. . . ..
-- <
~ ~ ~ ~ ~ ~ , r a r ; ~ n i ; ~ ~ a e ~ e ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ 1 i r ; ~ r : ~ i ! ~
I-. '.L:;,,r...".i
~C ~ h O t "'-?A~
atasnya, termasuk manusia. Keinginan Penulis untuk menyusun
buku Geografi Bencana Alum ini sudah lama muncul, retapi karena
keterbatasan waktu selalu menjadi alasan untuk menundanya.
Penulis berharap, buku ini dapat menarnbah khazanah 1'Ireratur
isu kebencanaan dan lingkungan hidup bagi masyarakat.
Padang, Desember 2014
Dedi Hermon
?b
L.
.- -.. .
. ,
.
+.'L<%.l.
,
'.
(
~,
.-
T-..-
.,
.-
~
~
>..?..=>?+.8
~
- .
~
?
,
.- .
I
d
.
~
,
'
.
...
$
~
~
.
'.
t..
- . . .. ..
f
6
i
DARAR ISI
KATA PENGAhTAR
L. Sukardi: Peneliti Kebencanaan dan
Lingkungan Hidup Universitas Matararn
KATA PFNCAhJAR
Nana Sutrisna: Peneliti Pertanian dan
Lingkungan Hidup BPTP Lembang Jawa Barat
vi i
ix
Y1
DAFTAR TAREL
BAFTAR GAMBAR
BAE 1.
EENCAKA ALAhI
BAE 2
KLASIFIKASI BENCANA A U M
BAB 3
xxi
1
15
PEhlETAAN DALAM MITIGASI
BENCANA ALAM
BAR 4
xv
0
METODE DAN TEKNTK RTSFT MTTTGAST
SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)
QRrrra
'
x
GEOGRAFI BENCANA ALAM
25
35
,q
-5
~
BAB 5
A.
Riset Mitigasi Bencana Banjir
B.
Riset Mitigasi Bencana Longsor
B.
KAJIAN BIOGEOGRAFI DALAM MITIGASI
BENCANA EKOLOGI
A.
Ilmu Ekologi sebagai Dasar Ilmu Biogeografi
Bencana Alarn
B.
Peranan Tumbuhan dalarn Mitigasi Bencana
Ekologi
C. Desain Kebijakan Tanggap Darurat dan
Pemulihan Bencana Letusan Gunung Sinabung
(Oleh: Deni Hermonnim Research of Geography
M.Pd.G FlS UN? 25-27 Agustus 2014
139
D. Reinstitusionalisasi Pengetahuan Lokal
Tradisional untuk Mitigasi Bencana Gunung
Api (Oleh: Erianioni. Peneliti M Pd Cr FTC
UNP 25-27 Agustus 2014)
22 1
C . Bioma Penciri Tejadinya Bencana Ekologi
D. Pengelolaan Hutan Berbasis Mitigasi
Bencana Ekologi
E. Pengelolaan Pertanian Berbasis Mitigasi
BAB 8
E
f
?
.
Pengelolaan Mangrove Berbasis Mitigasi
Bencana Ekologi
D , . m " ~ l ~ l - ~P-l - - ? :---..-c.LhLLvAr+rll~
& Z . C I ~ ~ ~ L L IL
I I d ~ uit r t t>risis
7
.
1
Analisis Kerentanan Sosial Ekonomi Akibat
Letusan Gunung Sinabung Provinsi Sumatera
Utara (Oleh: Paus Iskarni dan Yudi Antoni/
Tim Research of Geography M.Pd.G FIS UNP,
25-27 Agnstus 2014)
184
KONSEP DAN PENDEKATAN MITIGAS1
BENCANA ALAM Dl INDONESIA
DAFTAR PUSTAKA
A
Mitigasi Bencana Ekologi
BAS 6
RAR 7
TEmIk RISE'I' MITIGASI RENCANA
nEGF,A,ASI LL4EL\N
A.
Evaluasi Tingkat Kemarnpuan Lahan
R.
Evaluasi Tingkat Kesesuaian Lahan
-WEIJAKAN DAN MITIGASI GGOGRAFI
BENCANA LETLJSAN GUNUNG API
A.
Analisis Rahan Letusan Gunung Sinabung
Prov~nsiSumatera Utara
(Oleh: Suratrnan Karim dan Helfirla T d ~ a l /
'Frr, .'lesca:c!:
c f Ccqqapl';p :.:.F:.G
TI5 'c:KE
25-27 Agustus 2014)
GEOGRAFI BENCANA ALAM
BIOGRAFI PENULIS
221
1.
'I
Garnbar 9 Klasifikasi Bencana Alarn
Garnbar 10 Peta Tingkat Kapasistas Bencana Gempa
Kawasan Sumatera Barat (Waindo SpecTerra,
201 1)
Gambar 11 Peta Tingkat Kerentanan Bencana Gempa
Kawasan Sumatera Barat (Waindo SpecTerra,
201 1)
Garnbar 12 Peta Tingkat Kerentanan Bencana Tsunami
Kawasan Sumatera Barat (Waindo SpecTerra.
201 1)
Gambar 13 PetaTingkat Risiko Rencana Longsnr Ka~.vasan
Sumatera Barat (Waindo SpecTerra, 201 1)
C~amhar14 Kawasan DAS sebagai Indikator Penentu
Renczr,z ? ? = ~ i i!F?zrmcn.
r
201 ??
Gambar 15 Banjir di Kuranji Kota Padang (2012)
Gambar 1 G Banjir Bandang Pasaman (2012)
Gambar 17 Raniir Randanp K l ~ r a n i iKnta P l r l q n ~(301 3 )
Gambar 18 Banjir Bandagg Ambon (2013)
Garnbar 19 Tion~sordi Kenagarian Suneai Batang Mnninjg~l
Agam (2013)
:~zmhar70 H a l ~ t ~ r l g T. ~
irn
nl l Grcy,rxfi cicngan EiogeograS
dan Ilmu Lainnva (smile-lv.blogs~orr n m ,
20 12)
Ga~nbar21 Ruang Lingkup Kaiian Ekologl dan Il~ogeografi
Gambar 22 Biodiversity sebagai Kornponen Utama dalarn
Ekologi (warungbiologi.blogspot.com, 201 2)
G Z Z I ~2X
23 ?zr?:cxbangaii Ti-us: d i d Tun: seld111aTcii~ur~
201 1 (trustnet.com, 2022)
(;anitrat 3 4
I
I
I
Garnbar 26 Populasi Kuda Sumbawa dan Populasi Burung
Flamingo
Gambar 27 Suksesi (Ilmu212.hlogspot.com, 2012)
Garnbar 28 Klimaks (kiteklik.blogspot.com)
Cambar 23 Zona Bioma di Bumi (http://www.learner.
org/courses, 2012)
Gambar 30 Bioma Tundra di Pegunungan Alaska (amersol.
edu-pe, 2012)
Gambar 3 i Bioma Hutan BerdaunJarum (rahmatkusnadi6.
blogspot.com, 20 12 )
Gambar 32 Bioma Hutan Berdaun Lebar (rahmatkusnadi6.
hlcrr~-n:.com,
291 2;
Gambar 33 Bioma Hutan Tin~cri
- S I ITmr;ric
~
(?nClix-~,~*:;:~.
A
L
Piorna Padang Rumpuc (bioiogipedia.blogspot.
com, 2012)
(-?,-L
d a L l l -~2a2l Herbs (thefreegeorge.com, 20 12)
Gambar
.34
qr
Gambar 36 ( A ) Annuals, (B) Biennials, ( C ) Parenninl
jfoxleas.com~20 12; gardenguides.com, 20 12;
Gambar 37 Savana (antropocene-it, 2012)
Gambar 3 8 Wadi (omantourism.gov.om, 2012)
Gamhnr 19 Bioms H u t m Flujan Tropis (id.wikipcdia. org.
2012)
Gambar 40 Eadak Sumatera dan Betet (himabio.ub.ac.id,
201 2 dan en.wikipedia.nrg, mi?)
Gambar 41 I l l ~ ~Logging
ol
(kleanindustries.con< 2012)
S ~ e s i ~
v iqn ? T ~ l i h
P~ip-~h
Gambar 25 Proses Fotosintesis dan Respirasi (bio.
miarni.edu, 2012)
Daftar Gambar
[I
1
Gambar 43 Wanatani Beradasarkan Kemiringan Lereng
(echonaturalis.blogspot.com, 20 12)
Gambar 6 1 Batu Andesit Terbungkus Talk (Hasil Penelitian,
2014)
Gambar 62 Peta arah Penyebaran Bahan Letusan Gunung
Sinabung (Sumber PVMBG Badan Geologi,
20 14)
Gambar 6 3 Danau Lao Kawar
Gambar 64 Hierarki Kebijakan
Gambar 65 Consistency Ratio (<0,1)
Gambar 66 Prioritas Kebijakan
Gamhar 44 Illegal Logging dan Bencana (echonaturalis.
blogspot.com, 2012)
Ganibar 45 Skema Pertanian Terpadu (livestockreview.
com, 2012)
Gambar 46 Mindazbesi (livestockreview.com, 2012)
,
I
Gambar 47 Cara Tanarn Sistem Legowo 2: 1 (singingtaco.
corn, 2012)
Gamhar 48 P~ndekatanP~mhanzilnanR~~rk~lanjtitan
Gambar 49 Ekosistem Mangrove (singingtaco.com, 2012)
(Sarxbnr 3';' R n n t a ~Mnkanan pada !-,!<oclctcrn hlansrove
(qin~invtarornm, 7 0 1 71
Ganlbar 5 1 Terumbu Karang (singingtaco.com, 201 2)
Garnbar 52 Kerusakan Mangrove akibat Pencemaran
(singingtaco.com, 201 2)
Gambar 53 Dampak Kerusakan Mangrove (singingtaco.
corn, 2012)
Gambar 54 Fauna Ekosistem Mangrove (singingtaco.com,
2012)
Gambar 55 Tipe Interaksi a n t a r a Ekosistem Padang
Lamun, Terumhu Karang, clan Mangr-ove
(Tetelepta, 2001)
Gambar 56 Wanamina Pola Empang Parit (Bengen, 2002)
Gambar 57 Ekosistem Laut (slnglngtaco.com, 2012)
Gambar 58 Sea Mount di Lantai Samudera Sebelah Barat
Rengkulu
B,>,,I
LI~LU>:+
tAu!l~1lg
~~
iik)i
Ganibal GO E a t u a n Pasir V u i k a ~ ~ i (Surrci
k
S t o n e ) ('riaail
Penelitian, 2014)
C
S - n ~ i t
.
:m
a
xvm
C-.
-b-t
r
-
GEOGRAFI BENCANA ALAM
.--
I
I.) _I
-.---,
D a f t a r Gambar
----.--
177
182
195
205
206
206
'SQ
2.
F?
0
2.
L
N
0 P,
IS"
'"
7i
.-m
-5
$,-.
c
-
-
2
g ;: 72
C7
,
d
r-
4
- $
% cc ..-c c2 rd
rd
-c -s.:;/ 23
Cf-l
cd
y i 3 .m
c 1: ;
5 13. ' (TI
-
r(
~"
:; U,
sc. *
bO
+
.
2
.
I
[=
0
2L: $ 2
!.
c,
- *
--2+
a,
CL,
C:
c-
z
c,
2
5
'n
*
23
z.,
Lombok, Nusa Tenggara, Flores, dan sebagian Pulau Sulawesi
dan berakhir di Laut Banda. Outer arc meliputi kepulauan yang
terdapat di bagian barat Pulau Sumatera seperti Pulau Mentawai,
Sipora, Siberut, Nias, Enggano terus ke Pantai Selatan Jawa, dan
Kepulauan Nusa Tenggara meliputi Pulau Sumba, dan Pulau Rote.
Dinamika geologi Indonesia terus terjadi akihar siklus gempa di
pantai barat Sumatera dalam 12 tahun terakhir, menyebabkan
terjadinya anomali kerentanan dan perubahan batimetri kelautan
serta terbentuknya seamount di sekitar Palung Jawa.
Indonesia juga merupakan negara cincin api di dunia karena
dikelilingi oleh deretan gunung api aktif dari barat hingga timur.
Oleh sebab itu, berbagai fenomena seperti gempa bumi dan erupsi
gunung api sering terjadi di Indonesia. Saat ini gunung api yang
sedang aktif erupsi adalah Gunung Sinabung di Karo Sumatera
T-~T-F-
tr9-n
/
<,
C - O ~ D ; ? ; >C O > ; - A ~ I
~
r
A
I~ W It? : t ! , ~ t
k-rm~i?i2n
n,-?t-t:l?
memengaruhi terjadinya perubahan bentang lahan. Gempa dengan
skala besar (>6,s SR) tanah longsor, sedangkan gempa skda kecil
(<6,5 SR) dapat mengakibatkan berlangsungnya proses detactmmt
atau hancurnya agregat tanah. sehingga butir-butir tanah terlepas.
~utir-butirtanah tersebut akan menjadi bahan rombakan yang
halus dan bersifat sangat labil, sehingga berpotensi tinggi untuk
tererosi, dan apabila butir-butir tanah halus tersebut dipengaruhi
oleh hujan akan berpotensi menyumbat pori-pori tanah, dengan
demikian proses erosi akan intensif karena konsentrasi run off
akan hesar mengikis dan rnenghan~utkantanah-tanah permukaan
(Hermon, 20 12).
!:~z~z!j.
Kemunculnya deretan gunung api tersebut diakibatkan oleh faktor
geologis, yaitu let& Indonesia yang Serada pada zona p-Prtemuan
3 lempeng aktif dunia yaitu Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik.
Interaksi ketiga lempeng itulah yang membentuk busur kepillauafi
vulkanik, Indonesia juga merupakan negara cincin api di dunia
karena dikeiiiingi oieh cieretan gunung api aktirddi i barat hingga
[email protected]!eh sebab itu, h~rhagaifenornena seperti eempa bumi
dan erupsi gunung api sering terjadi di Indonesia. Faktor tersebui
menyebabkan incionrsia Laya akan sumber dava dm d x h v a
juga akan bencana (Setiawan, 2014).
Bencana genlpa me~upakanbencana darn yang mcnirnbulkan
getnrnn di kulit bumi. sehingga dapat rnerllsak tatanan kulit
bumi. Gempa sangat berbahava sekali karena terjadi secara
~ ~ ~dlae y a i g
mendadak dan tlba-tiba, dan sampai saat ini b e i u dcld
marnpu memprediksi waktu akan terjadinya gempa. Gempa dapat
C.__L_..
,
dusnou~*.
P
I
.
t j c x v v d mr,
Z C l G ) :ii ip.;;grugf
~ ~ J ~ ~ ~ , > . L J
. L~Uu>~
I I>
~~ J u
Garnbar 1Cincin A p i Pasific (Pacific Rina of Fire)
rl2n T i n r ~ nA n i di Indnnnci-
GEOGRAFl BENCANA A L A M
..
.--
.
-
-- - --...
_.%
....
-.
-.-..
--
B A B 1 ) Bencana Alam
-.-. --. .,-..-- -.___
..
,_._ ..-
.-
'Y.
3
'
II
P
II
.I
I
I
I
1
'
temperatur rnengakibatkan terjadinya peristiwa kondensasi
(pembentukan molekul air (H,O), dalam proses pengawanan.
Angin berperan rnemindahkan awan yang berisi butir-butir air ke
tempat lain (darat) dan jatuh menjadi hujan. Hujan yang sampai
ke daratan mengalir lagi ke laut melalui run off, perkolasi, dan
sungai. Turnbuhan (daun) berperan sebagai pelindung tanah dari
hantaman langsung butir hujan, batang kayu berfungsi sebagai
penghambat run off agar alirannya tidak berbahaya rerhadap
kelestarian tanah dan lahan, dan akar tumhuhan berperan sebagai
penahan air d;ll?m tanah, sehingga tcrjadi kescimbangan air pada
musim hujan dan musim kemarau. Tanah yang tidak tertutup
tumbuhan dapat menyebabkan pecahnya agregat tanah (erosi
percikan). Butir tanah hasil erosi percikar, diendankan k ~ r n h a l i
d m bcrpotensi rnenyumbat pori-pori tanah, ha1 ini mengakibatkan
-- -~
..
o
.
.
.
-..--..
<,.
, , ,, ,L-22r-t I A ~ . I ; ~ : ~ ~.., r ~ r ~ ~ n ~
n~
;~
:!:;
dzi;+i, l , L i ~ ~ l k~ I I K ~
lereng, air yang tergenang mengalir menjadi aliran permukaan (run
~$9 sehingga terjadi erosi permukaan. Kekuatan run offsemakin
ccpat karena alirannya tidak terhambat olch batane-batan~k n y l
bcrpotensi n~eriir~~bulkan
erosi alur, erosi parit, dan erosi lembah.
Pada lahan-lahan berlereng yang tersusun atas bahan-bahan
rorrlbakan yallg terbentuk cii atas batuan yang kedap air berpotensi
,
lapisan Satuan k e d a p a i l
menimbulkan bencnn;l I v g ~ o r lczrensl
Li bawd1 ballan rornbakan berfungsi sebagai bidang luncur bagi
b3han di atasnya. Lrbih h ~ r l r a i ! a s aiagi padn saat hujan yang di
iringi oleh gempa akan mempercepat proses terjadinva longsor
clenga11r ingkat hahaya clan risiko ynng tinggi sckali. Feristiwa ini
sccara langsung akan memcngaruhi eksistensi t ~ i r n b ~ t h adan
n I~han
sebagai subsistem hidrologi tidak dapat berfilngsi optimal dalam
ciklllc hk!mlcgI. Sz!zir, icii, gcmpa d a p i ~l~e~liinbuikan
bencana
susulan, selain longsor, bencana lain yang terjadi setelah terjadinva
g.-.illl'a bum: ;viaran r;c.hakaran. h ; i r i i i r . :jkih?t yr'cnhn).? +!nd;!?gdillding pembatas Lcl~dungan,penlngkatan aktivitas gunung api,
I
8
u
Gambar 2 Longsor Akibat Gempa 6,2 SR di
C C : ~Scrcmpah Acch Tengah 2013
d
i,c_rl~g.;nryang r e q a d l zk?at
gempa Sum1 secara !angsung
dapat memengaruhi hilangnya keanekaragaman hayati (bencana
r l * n l ~ c j~CJJ
)
ruszl.rn\i? !?h2r.(benca!:a .'egra&:;i
!:!:zn).
RLs;l!:n;.n
dan hilangnya kcanckaragaman hayati (tumbuhan dan hewan)
.. .
- .. .
:!;:?n .rlcmcr,gru-u!~j r;?::::;~ hldro:ogi scsclra lokd nlclupun sei2l.d
~lobal.Sikius hidrologi mrrl1p3kan c1r2t11
cict~m
rl~n~a
q?lhsjct~rr!
n
air (laut, sungai, danau, dan air dalam tanah) subsistcm atmosfel(.?figin, l~:c.lcn~l:ab;:n,tc:?~pcl;x:us, dan cn!;nyn ~nntahari),subsistcl.rl
lahan (tanah, tumt-.uh3n, hewnn, dan m a n ~ l s i a )fisik, yang s a l i n ~
berkaitan satu sama lainriya untu k mencapai proses kesimbangan
di humi. Penvinaran cahaya matahari v a n s menvehnhkan
tcriadinya fluktuasi tenlperatur- c l i 1>11rni;rka13 rneny,>kih>!kan
. . ,
+--;-A;
---.-..-.-,-,
...
.
, . -,., . . !-.,, :.
...,, < ~ . I I I n ~o r ~z i 8~ I ~
.
.
g i r t2nsh ( , m ~ l l !p~r ~
n si ~ ct.~r.?yflr?.i n!~!?
t?l?:l!l d32 !r~;'nl-'n:1-:::1
I'
oleh timbuhan: evapotranspirasi) ke atmosfer. Akibat fluktuasi
- 7 - - - ?
! 4
L
GEOGRAFl B E N C A N A A L A M
7
L,,L
1
'<,,
.,,~.t+.,at,
,ano
..
- -.. .-
. .-..
.---.-. ..-
--.
.-.
.
-
B A B 1 I Bencana A l a m
-
.-.-
-..----
...+.r..:*
-..-- 5
'.
I ~
bisa begitu mudah keluar melalui kerak burni karena terletak
pada mantel yang sama, ha1 ini ditunjukkan oleh gerakan-gerakan
konvektif besar yang menyebabkan turunnya magma bagian atas
yang lebih dingin, digantikan oleh magma bagian dalarn yang lebih
panas dalam siklus terus-menerus, rnirip dengan air mendidih
dalarn kecel. Konveksi aliran ini banyak terciapat di dalam mantel
dan bergerak seperti ban berjalan, marnpu bergerak seluas kerak
bumi. Untuk alasan ini, dibagi menjadi banyak lempeng kerak yang
bergerak antara satu dengan lainnya beberapa centimeter setiap
tahun. Hanya tepi lempeng kerak ini merupakan daerah lemah dan
tidak stabil dari kerak bumi di mana magma dari mantel dengan
mudnh dapat muncul untuk membcntuk gurlurlg berapi. Kerak
bumi adalah terpendek (hanya 5-10 krn) kedekatannya dengan
I .
1 l4.u~JL!!!LC%
calir?r: di 'Sa\s.ail p c ~ ~ ~ n ~giunung
~ n ~ ,u lt ann a ,
tapi sebagian besar terbentuk atail masih nedanp t ~ r h ~ n t l lhka ~ i
In1 hanya scpanjang batas antara dua lempeng kerak di rnana
terjadi tabrakan antara satu dengan yang lain. ladi. salah satu
dari dua lempeng (A) mereda/~nenyurutclan bergerak ke bawah
- - .
,.
. ~.~ EPLC~CQ
! ~ = p ~ f ikiiil
g (E): L C , igsvidi I I ( I I ~1aua111
1 1 1 2 1 1 1 (-13.12
rnenj2ck
kurang padat; magma baru ini rnemberikan kontribusi mendorong
tepi lernpeng kerak R kr x t g c dan mrmhentl-~l-l : i s ~ ~gu,rlnnn
c
P
(pegunungan), sejajar dengan tepi kerak. Ini terjadi pada lempeng
1- A :
trtna d ~ i l z ~ I1
I I ~1
: I I . ~ ! > ~ ; : ~ . . c1.!'?
~~w:.t)nl:norma] di ban.311 icmpcng
Asia clan hasil dari tekanan besar adalah pcsunungan Himalaya
dan dataran tinggi Tibet. Hal yang sarna terjadi di sepanjang pantai
barnr selunih A m ~ r i k a rlj
, mann I:crdr S ~ l i l u d :P~sifil.:
~
rncnyurut
di bawah lempeng Penua Amerika untuk membentuk Pegunungqn
Andcs dan Rockv. klalya di sini, ada banyak kesalahan dan celah
dalarn kerak bumi, yang disebabkan oleh tekanan yane cenderun3
rnembengltok dan alcibatnva banvali gunung berapi. Letusan
1 ,.ts,t
L
.
I
1
q
,
!!laulna
;C
-
A
I
,"
.
.
,,- . *-..
"
3
0
-.-I
-....*.,.-.-,
2: . J ^ l l - - ,..<,.
-.I
*,-,... + L L .
.- .
L.LCI.I.C,
1
.,.
dari batuan di sepanjang jalan. Jadi magma jenuh di bawah tekanan
besar dengan gas-gas seperti CO,, SO,, HCI, HE H,O, dan lainnya.
Ketika magma naik sepanjang lubang utama dari gunung berapi,
tekanan berkurang dan gas terpisah dari magma membentuk
gelembung. Ini cenderung untuk naik ke atas dan meningkatkan
tekanan yang diberikan ke atas oleh lava. Penting untuk diketahui
bahwa magma meletus dari gunung berapi tidak datang langsung
dari mantel, tetapi dari ruang magmatik besar atau "kaldera"
dan terletak di dalam kerak bumi. Kaldera tersebut terletak
pad3 beberapa kilometer di bawah gunung berapi, langsung
berhubungan dengan kawahnva. Viskositas magma sangat
penling untuk menjelaskan letusan gunung berapi karena sangat
bervariasi. Magma vancr pal in^ k ~ n t n m~mhent::l:
l
C : I K ; ; ~ ; ~ k<i-,ii-i;
cli rnana batuan cair cenderung mernadat segera setelah letusan
. . ... . . . . . . , . I U ~ t I u d I.~ .h ~ ( \ ~ Ak~barnya,
ni~.
magma ~ n i
cenderung menyumbat vulkanik dan menyumbat lubang dengan
tutup dari rriagrna padat pada akhir setiap letusan. Kesirnpulnn
untuk setiap letusan e k s ~ l o s i hanva
f
r n ~ r l l y k ~
)qn~!:?h
n
?;3cr:a;T;z
menuju letusan berikutnya, walaupun terjadi setelah beberapa
abad, bahkan tekanan dari dasar magma dan gas. cepat atmi larnbat
ccncicrun~mcnlbuat tutup tersebut meledak sehingga letusan dari
gl.lnunp, bernpi Sir;sanya mentja~l~L.
( ; > I rk~?!ncitC
)
_cere!n!: p c r i c d r
waktu paniang yang tenang. Kerasnya Ictusan di dacrah sekitarnva
t-Iipic I! l ~ ! e iedak3n
h
yang discbabkan ole11%as-gas )rang dilepaskan
dengan keras oleh magma vang sangat kental, hprpprak hersnmn
ejurnl311 nbu, bara dan pui~ig-puingyang berasal dari bagianbayian dari guntlng.~jl2nr
hancur O ! P ~I d a k a n . Ini n ~ c ~ r i ~ b t ~ ~ i ~ u k
.
.
awan gas panas yang tinggi dan besar dan partikl padat yang dapat
rxn;ii:i pddd bibi-~isigunung berapi da11rnembrnrtlk mirnr, dnri zbu
dan gas yang membakar segalr; sesuatu di senaniane ialan m r r r k ?
o f . j t ,
.
r,qk-brq-
I - - # .
--6-.-#..-
- . - - A
7
4.LL
.
J . U - J C A I C 4
rneiintasi iapirqn keralr h ~ i r n !Clan rn~nrfeknm_pn:lsi1?2~i2!?
GEOGRAFI BENCANA ALAM
-----------
-
--
-----
BAB 1 I Bencana Alam
9
L
Lubang Kepundan
-53."~~~
E r u p s i samping,
L e l e r a n lava
-
...sl
.
Letusan gunung api juga mengeluarkan lahan yang sangat
berbahaya terhadap kelestarian keanekaragaman hayati dan
lahan. Lahar juga mempakan salah satu ancaman bagi kelestarian
ekosistem dan lahan. Lahar merupakan banjir bandang di lereng
gunung yang terdiri dari campuran bahan vulkanik berukuran
lempung sarnpai bongkah, yang bisa bersifat panas atau dingin.
Lahar panas berasal dari letusan gunung api yang memiliki danau
kawah yang berubah menjadi panas, sedmgkan lahan dingin terjadi
karena percarnpuran material letusan dengan air hujan di sekitar
gunung yang kemudian membuat lumpur kental dan mengalir
dari lereng gunung. Hasil letusan gunung api yang lain adalah
Serupa abu ~ ~ u l k a n Fang
i k bcrsifat panas yang kcluar bersamaan
dengan awan panas. Abu dan awan panas yang bergerak secara
.. ,ii-.d-!~ !!lc.!!.icTna~k;ln ~lcrosc!i
\.:rl~t!..al
d a y mcrusak komposisi
atmosfer dan laoisan ozon. sedanekan yane bergerak r n e n ~ ~ r ~ l n i
arah lereng akan rnengakibatkan rusaknya ekosistem dan lahan,
sehingga memicu terjadinya bencana ekologi d a n bencana
degradasi lahan pada kawasan tersebut. Letusan gunung api juga
di~j;*; i i i t - i i 5 ; i * i l ~ ~ kdil
t
eku>isLcltj i d k i t t , k 4 1 A ~ I S
i IIIII;>I~;I~II
laut) dan tsunami apabila rerjadi pada gunung bawah laut atau
gununc-gunun~y 3 . n ~terdnp3t di l211t. T . ~ t i ~ c n_qlin1ins
n
api yanz
paling berbahaya terjadi di Indonesia padat tanggal 27 Agustus
Erupsi 7ksentrik
E r u p s i s a1
mping
I,
u
.
1
..
,
...
,.,
, _ >
.. ,
.. .._.
I . .
...
.
i
, .
Gambar 3 Proses Letusan Gunung Api
Letusan gunung api selalu mengeluarkan gas-gas vulkanik
yang cukup berbahaya dan dapal menlengaruhi keberlanjutan
lingkungan hidup, baik secara lokal maupun secara global.
-kornposisi
gas-gas atmosCcr cia11 uzon yang berubah a k a n
menimhrilkan r l i n a m i k a gejala-gejala cuaca dan iklim vann
relatit' cepat, ha1 ini memengaruhi unsur-unsur ciiaca dalam
w a k t i l yang sangat cepat. Gas-gas yang di!cc!uzr!:az
sant teri:ldl
letusan gunung api antara lain Karbon Monoksida (CO), Karbon
Dioksida (CO,), Hidrngen Si~lfida(H,S), SIIJLIT IJioksida (SO,)
dan Nitrogen (N,) vang mernbahavakan bagi marlusia karena
berl~bahnyapola hidrometeoro~o~i.
sehingga memicu terjadinya
hcncana hic!izrr,c:ccic!zgi. Se!2I2 itr?, ! e t ~ s 2 gvnl-lng
~?
api j i i y
rnengeluarkan lava, berupa cairan magma bersuhu sangat tinggi
. .
r-anp menoal~rkc pcrrnuman mcta:u: ~aivnl:~ U I I L I I I ' , : r l ~ ) ~~ . a v
encer rnarnpu ~ r ~ c l ~ g ajaull
l i r da-i sumbernya riiengikutl sungai
atau lembah yang ada, sedangkan lava kental mengalir tidak jauh
dari sumbcrnva (Hcrmon, 201 2).
f??
1
s
d
?
l
t
l
3
!
?
,
.
,
l
,.
.
'.
:c,},' ~ ! ! l t!
?;;
'!)*-'>'!!.,
y ( t ' ~ ? - : ?!:#'r:l>,
c ? ~ ' c,'
! ~ ' *' ? sLf?:;l
*~
'
letusan rerdengar sampai 4.000 kn? dari pusat letusan, sedangkan
semburan debu vulkanisnya sejauh SO km. Letusan gunung api
ln11r dapnt rncnirnh1,rlkan tsunami y.1ng sangat hesal-, ~ i . l ~ i l ~ ~ - a
oh
dapar menrhsnrl~rkankera~amanhavati (ekosistem) pesisir dan
lahan. Hal ini dapat nlengakibatkan terjadinya flegradasi lahan
yang sangat lama dan memunculkan lahan kritis akibat hanyaknva
tcrl~oscntrasihTaCldi pcrrnukaan tanah. 1Vaktu pemulihan Idla11
hnl-qr tnrl-onl t r v l ..r . - - ;
;.,n- r n f i r n l - \ , . c , , L ~ - - - ,I-:-..?
nqd?
, -.<,' . .~ - . . . - -. - - . - .-... .
-.
y:lny snnfar h ~ s n rr.i a n h ~ ~ t l 11nava-11p2ya
ih
~rki?maslI a h a n !mng
berkesinambungan agar kembali tercipta lahan-lahan potensial dan
rnempunyai fungsi yang beikelan jutan (Hermon, 20 12).
,
~
..+,
*..*-*
GEDGRAFl B E N C A N A A L A M
j
L
.
-
.-.
- -
-.
.
-
BAB 1 I Bencana Alsm
.
....
11
..
I
u
II
1
I
I
I
sangat kompleks untuk segera diselesaikan, demi terjaganya
keseimbangan suatu daerah atau kawasan. Demikian pula halnya
dengan keberlanjutan unsur-unsur ekosistem dan mencegah
kerusakan dari suatu ekosistem, sehingga kepunahan-kepunahan
spesies secara massal dapat dihindarkan.
Mitigasi bencana merupakan kajian untuk meminimalkan
darnpak kerugian akibat kejadian-kejadian bencana, baik kerugian
materil maupun kerugian moril. Mitigasi bencana harus bersifat
tuntas, sehingga masvarakat yang hidup pada kawasan bencana
dituntut untuk dapat bersikap proaktif, baik pada masa pra
Dencana, masa kejadian bencana, maupun pada masa pasca
bencana.
Menurut Hermon (2012), secara umum tindakan-tindakan
mitigasi bencana adalah sebagai berikut.
Sosiogeografi dalam mitigasi bencana diperlukan untuk
menciptakan masyarakat yang responsif terhadap tanggap darurat
hencana, sehingga pola-pola mitigasi Sencana yang dibangun
dan dikembangkan, bukan lagi berbasis fisik dan teknologi, tapi
mitigasi berbasis masyarakat. Menurut Horton dan Hunt (i992),
banyaknya kerugian akibat bencana selalu berkaitan d e n ~ a n
perilaku masyarakat yang terkena dampak suatu bencana. Perilaku
;,
-
,
.
1
,
I
1
I
.
.
r
I
,
r
-
_
_ - - .
_ -_---.--
------
2.
Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang
p e n a t a a n ruang, izin mendirikan l)ar~gunan(IMB), dan
peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana.
-
A-
1
I / L ~ ~ I ~> Ir >) *
De-<-A-L-,-.>.,.,,,-,t.,,t,*,
~,-I-,,!,,,?l,L
,:,>v; < : o n w - L
.
----.-..
7 . - - -
.
,
~
"
IJLIILCIIId
aA U ~
.VCAI,
kt;:
daerah yang lebih arnan.
5.
Fenyulul~andan peningkatan ke~vaspadagnmasyarakat.
6.
Perenrana2n rlne-qh y - ? m ; = ~ ; ; : ~;:; T ; ; ; , - , ; ~ c, r~d i I ,,d :,I , I - ; u- ;-, r-r
evakuasi jika terjadi bencana.
7
J
7.
Penvu~ilnanperaturan
8.
Pembuatan peta rawan bencana dan pernetaan
I'clrl'ouatan pedoman atau standar prosedur.
.
i (3
I
cr.
--"--"~-"-
prr1~ndann-r1nA3n-,>r>
0
rn~?a!gh,
n
r r ~ i ~ h ~ r abrosur,
tan
!eaflc;. dan poster.
11. Penelitian dan penpkaiian karnkteristik h c n r n n n .
12. l'engkajian analisis risiko b ~ n c a n a .
13. lrllernalisasi penanggulangan bencana dalam muatan lokal
!4.
I
mrpjqrli 4 l c q r C l q i q v
.L,.
pendidikan.
Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana.
l'~rk11;91;trl
~ i r ~ i r - ~ c~ nv ci ivq f cIqI?-.
v+;+c,,.LrGj;u;.
- - t L.n ~ r
16. Mengutarnakan penanggulangan bencana dalam perencanaan
mengatasl dampak darl suatu bencana. Keberlanjutan kehidupan
masyarakat pasca bencana rnerupakan permasalahan sosial yang
GEOGAAFI BENCANA A L A M
Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahava,
dan larangan memasuki daerah rawan bencana.
2. .vc.inc:l~nndasar kebcncanaan bagi aparat dan maayarakat.
dan histeria massa. Informasi geografi tentang keruangan
suatu bcncana sangat dipcrlukan masyarakat agar isu bencana,
kepnnikan, clan histeria massa tidak lagi tcrjadi pada masyarakat.
Geografi kebencanaan lebih menekankan pada konsep
keruangan (spatial concept), konsep regional (regional concept),
konsep ekologi (ecologycal concept), dalam me~akukanmitigasi
:erhadap bcncana. K o n s c ~k c r ~ a n g a nmcrupakan konscp van5
paling utama dalam melakukan mitigasi bencana. Perurnusan
peta-peta kerentanan, per3 icerawanan, peta r:slko, dan pet3 Sahava
bencana tergolong pada Sistem Peringatan Dini suatu bencana.
Pendckatan regional lebih menekankan pada perencanaan region
pra hencana clan paqcq henrana, s e h i n- -~ wpen\lusun?n F.enc?m
Trita Ruang W i l a ~ a h(RTRW) sebaiknva lcbih beroricntasi pada
L ~ I I C ~d ~e ~I ~l ~, del~likid~l
a~l
sccara 6sik masaiah icebencanaan bisa
diatasi. Konscp ekologi dan lingkungan hidup, baik fisik maupun
~ r l ~ i arln r r i ~ ~ - - t kirlilr?tnr
~n
1 1 t 3 r n l ~,p
1.
.-
.-.--. ,..--
pembangunan.
I
.~
~
. -
.-..>
...
.
,
BAB 1 I Bencana Alam
-- - ..-
-- . --.
A
2.5:
- ..-' 1 3
Gempa bumi menimbulkan getaran pada kulit bumi, baik oleh
akibat tenaga tektonisme, vulkanisme, maupun akibat runtuhanruntuhan di perut atau di kulit bumi. Gempa tektonisme terjadi
akibat adanya penekanan magma pada zona subduksi lempeng
tektonik yang mengakibatkan terjadinya perubahan energi pada
magma, sehingga akan rnemicu energi magma untuk keluar dari
dapur magma. Apabila energi magma tidak bisa keluar melalui
saluran kawah, energi magma ini akan mendesak lempeng bumi
sehingga bergerak. Gerakan dari lempeng bumi ini akan memicu
gempa tektonik. Namun, apabiia energi magma dapat keluar
melalui saluran kawah gunung api akan menimbulkan pelepasan
cnergi magma (magma) yang relatif besar ke permukaan bumi,
secara langsung zkan rnenimbulkan getaran di kulit bumi, ha1 ini
d i k e d dengan isciiai~<ernpa 1~1ji;21:il;.G c I I ! ?'~~!kd~>li.
~~
i ! ~ iLC!jddi
Ittljih fluktuatif dan herulanp- dencran area vane, relatif semnit kalau
dibandingkarl dengan gempa tektonik. Gempa vulkanik secara
meteorologis dikenzl dengan gempa tremor, yaitu gempa vulkanik
\rang
- datanya digunakan untuk penciri atau penanda tahapan
.
1
. h t - w r ( ~ ~ ~ i l ~i ;r ~
i i rl s( i~l r~) ~ ( I I I ~ J AI ! I) ; .~
(terban) merupakan gempa yang rerjadi akibat runtuhan material
ri~ntnhnnynnz disebnbkfln
oleh alam, maupun runtuhan yang disebabkan oleh aktivitas
.
V I , : I ! ? ~ ~ ~ {17F~n:?pli~:~n2:!!l>,
~:!
5,*111~1(1!1:!
t1f1?La11;411
!?I
.,oi
menimbulkan yetaran pada kulit bumi.
,JL>
I
,.:1.!!1!1t3:.
it--:
Gempa tektonisme (tektonik) terjadi akibat tiga pola
pergerakan (pergeseranl lernpena
.
. bumi. Gcmpa tektonik akibat
tubrukan lempeng umumnya terjadi antara pergerakan d u a
lempeng yang saline menekan, lempeng )rang lemah akan terdorong
ke ntnq, c~rlanzkanI ~ r n p e n gvan? k ~ i a takan menghlljam ke
bawzh dan menjadi pernicu terjadinya penekanan magma. l3ilih;ll
- .,
'.!+.I
~ . < ~ . L A L . ~! .C~ !l b . (yi>~i[~a?i]x,
: a ~ i 1- ~ i - - l t ~ . i
I i i , ',v , o , i , ~ ,
i
~ I L > a o ~
t
I>J,-?,
s i n j i t
-
snmudcrn (!cmpcng s.~n;udcrn)mcmp!:n;-?i
1 0 et
!:lrx!::tris~i!:
0
6
l1r n*n' D, 7
kuat dan tebal, sedangkan lempeng-lempeng yang menyusun
p?!?
.
6
GEOCRAFI BENCANA ALAM
I__a_
__
.
_
.
Gambar 4. Lernpeng-lempeng Bumi (Noor, 2009)
1
f,cud~lghdil g t l i ~ p di U l l i u : l d l l
di prrilt atall rli yrrm~ikggnhirmi; hni!:
.
benua mempunyai karakteristik yang tipis dan lemah, sehingga
mempunyai potensi yang cukup besar untuk patah.
..--
~
~
-.-.._
^ >_ -
-
-~--.
Lempeng Asia )rang menjwsun Benua Asia beradu dengan
L ~ m ~ e Pn ugs t r a ! i Z ;.ar,g d s z i r , z r : :c;go!ong
pad; Icmpeng
samudcra. Zona subduksi terjadi pada wilayah barat dari nunusan
.
.
-~- c p x I a u a nNias dan Xlentau-ai. Kuaktcr-istik icrilpcng y a ~ lemah
g
menyusiln _pliylrm K~prllaiianNiss dsrz .Ment..ivai tersehut a k ~ n
mempunyai potensi yang sangat besar terhadap perubahan bentang
;:l~lnigugusun kcpulauan tersebut. Gugusan Kepulauan Nias dan
Mentnwai aknn tenggelam dan tvila.ynh pesisir Pulau Sumatera akan
rurun apabila patahnya lempeng Renua (Asia) akibat tubrukan
dua lempeng tersebut. namun g u p s a n K ~ p l l l a i ~ aNinc
n
rlan
Mentawai akan hertamhah 11.1asapahila lempeng Benua (Asia)
d ~ i i , i t , , , ,;!n
knncisten meng!?ujzm LC Peru: burni.
Z Z ! ~ ! : !?22~1:~21>
:irdi<:.~:.
:t
t
,.
..
,y,,i;ii.itTt:-i+. \I , .- ~ l . ! > [ ~ ~ & !jhga
!.~,
Batas subduksi adalah batas lempeng yang berupa tumbukan
lernpeng di mana salah satu lcrnpcng mcnvusup kc dalam perut
- -.
-
.
<
-.
- ----------
21
- ------BAB
----
Klasifikasc Bencana Alam
m
17
bumi dan lempeng lainnya terangkat ke permukaan. Contoh
batas lempeng konvergen dengan tipe subduksi adalah Kepulauan
Indonesia sebagai bagian dari lempeng Benua Asia Tenggara dengan
lempeng Samudra Hindia-Australia bi sebelah selatan SumatraJawa-NTB dan m.Batas kedua lempeng ini berupa suatu zona
subduksi yang terletak di laut yang berbentuk palung (trench)
yang memanjang dari Sumatra, Jawa, hingga ke Nusa Tenggara
Timur. Contoh lainnya adalah Kepulauan Philipina, sebagai hasil
subduksi antara lempeng Samudra Philipina dengan lempeng
Samudra Pasifik. Obduksi !C)hd~rrtinv)ada!nh Satas lempeng yang
merupakan hasil tumbukan lempeng benua dengan benua yang
membentt~l,suatu rangkalan pegunungan (Garnbar 4). Contoh
batas lempeng tipe obduksi adalah Fegunungan Himalava vane
r-rlcrupakan hasil tumbukan lempeng Benua India (Asia) dengan
lempenq
~
RP;~,-19
~
Munculnya tsunami adalah akibat pergerakan lempeng
yang saling bertubrukan, karena akibat dari tubrukan lempeng
(konvergen) ini akan menghasilkan perubahan morfologi dasar
laut secara vertikal dan tiba-tiba, sehingga terjadi perubahan energi
air laut yang juga secara tiba-tiba. Tsunami terjadi umumnya pada
kekuatan gempa > 6 , s SR, terjadi pergeseran atau zona subduksi
lempeng di laut, pada kedalaman <10 krn.
r /,fi,;;~;~~li;(:
~ ~ i ~ :11 7 3 f i o ;
!;.\:tit
liumber: jfuoor, 2009)
Gamhar 6 . Icaraktericti!: Konvcr~en:
Obduction/Ohr(~rk~i
!>+a+) d3n
Subductron/Subduksi (bawah)
Potensi megathrust atau gempa besar terjadi akibat energi
)Ian;; di!cpasi;an sangat besar dalam waktu yang lama, dan sistem
perserakan lcmpeng adalah saling bertubrukan. Paniang gerakan
lempeng yang bertubrukan minimal >500 km, seperti yang terjadi
pada gempa Aceh tahrln 301?C;,~ 1 2 "dilk.~:l
~
c!eh :ssnami yang
sangat dahsyar. Pergerakan !empeng yang saling bertubrukan ini,
---L:l...,.....,., L- .,l ~ . .~, , i~i i i~ :t:ii:i-be!ig
,
pii~i3i1,:!kan ~ c r p o r c n sr~
n~nr;ntak>>r~
r a l ~ l.zr Iln~l t t ;*lng scrnpit 2ar1 dalml. Apsljila ~ i d a k
~erjadipatahan
lempeng, maka akan terbentuk punggung-punggung laut dan juga
berpotensi memhentlrk gunung-gunung bawah laut.
- 7
LL
Garnbar 5. Konvergen (atas), Divergen (tengah) d a n
Transforms (bawah) (Noor, 2009)
- .-
,.-,
18
GEOGRAFI B E N C A N A A L A M
,
-.
A*-.--
- .. .
BAB 2 1 KIasifikasi Bencana I l a r n
Accretionary
wedge
Oceanic
crust
Trench
/
Forearc
Volcank
Island
arc
Backarc region
Sumber: (Noor, 2009)
Gambar 8. Komponen Zona Subduksi, Palung (Trench),Jalur Busur
Gunung api (Volcanic Arc)
Nnnr
Gambar 7. Punggung Samudera
-
P -nm
-n
. ir 4
tnl.tnq;lr
.--AA-.
;.,mi
,-- -.-
rlln-tt tnrilrli
-dr--
-.
-
ii-ihqt n a r q l i n
.- - .
- . " ". '
-
lemnenrr
I- &>.
yang saling menjauh (divergetz), yang tidak memiliki poteilsi
tsunami wala~.~pun
pergerakan lempeng terjadi di laut. Potensi
tsunami muncul apabila terjadi longsoran pada dinding-dinding
-.....
c i m ~ l d e r ? (c!indinz
,
p c r . r ; ~ c n c - ~ r : n z z z r ?!nzt
e
3cac dir?dir?c
pegunungan laut) akibat besarnva gempa yang terjadi. Tsunami
akibat terjadinya longsoran dinding samudera pernah terjadi di
Papr.l:, Nl-lgini t a h ~ ~! W
n R . rmlai.lp11n cernpa vany terjadi t 6 S R
Gerakan lempeng yang sejajar (slip atau transfirm) juga dapat
menin~l>ulkan
gernpn y m g C L I F ; I I ~ besal; seper-ti gcmpa Pariaman
tahun 2009 dan gempa darat sepanjang Patahan Semangko. Gempa
ini ;lk;ln menimhulknn b ~ n c a n ;)rang
,
,sangat h c n r , a p h i l a tcrjadi
~ ~ r ~ e r a kl ~ar n n e n vdarnr (Patahan S e m a n ~ k o ) .
QnnQ)
j1.1wa
m c n i ? l a c k a n , h a h w a hat:,< diverpen nrlal2h
batas antar lempeng yang saling menjauh satu dan lainnya.
Pcmisahan ini disebabkan karena adanva gava tarik (tensionalforce)
yang
- meneakibatkan naiknva magma keperrnukaan d m menlbcn~uk
.
rnacerla! barn kern2
r iava y m g bemudian berda~~lp;?:Kp:-)(.i;!ic;.mpc~y
yang saling menjauh. Contoh yang paling terkenal dari batas
! e z vL..e
~ > ~ n,-..-i n~ n i cT ~ ~ -T , Q-*P T C T ------1D A~ c a l ~ hV ---go--~ t n n o t ~ nTeng;rh
g
S?rn~.!dra {%.lid
Oceanic Ri4qes) yang berada di dasar Samudra Atlantiic, di sarnping
. ,- ..
itu contof~la;nnya adai21 ri;r::ing yang rcrjadi nntnra E c n ~ l nl\,r:!<:?
rlrn~anJa7irahArah van? mcmbcntilk l a l ~ merah.
t
Sednnsk,m. batas
transform adalah batas antar lempeng yang saling berpapasan d m
saling bcrgcscr sntu d m illinnya rncngl~as;ill.culsulltu sesal ~ l l c ~ l c l r l t ~ r
jenis Strikr Slip Fnlrlt. Contoh h t n s lempeng jenis transforms adalah
patahan San Andreas di Amerika Serikat yang merupakan pergeseran
lempeng Samudra Pasifik dengan lempeng Benua Amerika LJtara.
Rer-r~lnsarksnreor-i tektoriik lempeng, lempeng-lempeng vane ada
-
- A .
---
- - - - --.
BAB 2 1 Klasifikasi Bencana Alam
-- ------ -- '
m
21
saling bergerak d m berinteraksi satu dengan lainnya. Pergerakan
lempeng-lempeng tersebut juga secara tidak langsung dipengaruhi
oleh rotasi bumi pada sumbunya. Sebagaimana diketahui bahwa
kecepatan rotasi yang
.
- teriadi
bola bumi akan akan sernakin cepat
ke arah ekuator. Prinsip-prinsip dari pergerakan lempeng bumi,
di mana pada hagian kutub (Eulerpo!e) masuk kc dalarn lingkaran
besar sedangkan kearah ekuator masuk ke dalarn lingkaran kecil.
Interaksi antar lempeng dapat saling mendekat (subduction), saling
menjauh dan saling berpapasan (strike slip fault).
,-
!
,I
Bencana Alam
(Geohidromefeorolo~i)
+
I
I
Bencana gempa bumi dan letusan gunung api tergolong pada
bencana geologi akibat dominannya tenaga endogen (tenaga perut
bumi) sebagai pemicu utarna te jadinya bencana, sehingga tsunami
juga digolongkan ke dalam bencana geologi. Bencana longsor,
banjir, degradasi lahan, bencana ekologi, bencana puting beliung,
dan bencana kebakaran hutan, dikelompokkan ke dalam bencana
hidrometeorologi, yaitu bencana yang terjadi akibat hilangnya
keseimbangan air di bumi akibat rusaknya sistem dalam siklus
hidrologi.
Bencana alam potensial merupakan bencana alam yang tejadi
perlahan. waktu vans lama, dalarn ulilayah prig sangat !uas, dan
menimbulkan bahaya yang mematikan dan berdampak untuk
. ~c.~~-,!ai:s P m i i a L-~hiCll!p?~!
5; J T V ! < ~hum:. Ccncana a l n i i i I-vr~i.t:rr>!a!
olah dianggap hukan sebagai suatu bencana, karena d a m ~ a k
L t . ~ l c d ! l ni ~ l i~ttrjadiunttiK generasl yang akan datang akibat
perbuatan generasi sekarang y m g terlalu mengeksploitasi sumber
dava alam. Bencana kekeringan yang menimpa negara-negara di
Afrikn Tenvah (Fthinpil! mnr::yk~::
2;:;;
i;;di&,;
vdlls
mencirikan bencana potensial itu telah mulai pada saat ini. Dalam
kajian Biogeografi untuk kebencanaan, bencana e k o l o ~ iat311
punahnya keanekarzgaman hayati, dapat memberikan dampak
1
r
Bencana Geolog~
\L-
I
Bencana Hidrometeorologi
I
.
.
L.
A*!::
terhatla!> r i l r n l l r l l n n ? l p L e m ~ m ~ z ~
e!<r;sis:crn
::
4.
Banjir Bandang
I
4
4=,
72
.
-
GEOGRAFI BENCANA ALAM
-
.
-
--..-
d-l,l!-l,lmm ~ n i + i . i : ~ t ~ r ~
keberlangsungan kehidupan manusia. Selain itu, degradasi lahan
juga tergolong pada hencana potensial, bencana ini berpotensi
vang sangat besar terhadap mlinc!!!nva bcncana kelnpnran ~intilk
senma inakhluk hidup di rnuka bum;.
---- -- --BAB 2 1 Klasifikasi Bencana Alam
m
; 23
CI3-t
Tinggi
I
i
-~
!
i
I
I
i
I
!
-.-.,
~.
1
I
I
--
- -
-
- ..
--
--
r-
.
.
.
.
A
Sumber: IWainrln Z n ~ r T o r r a7ni 1 !
Garnbar 10. Peta Tingkat Kapasistas Bencana Gempa Kawasan
Garnbar 11. Peta Tingkat Kerentanan Bencana Gempa Kawasan
'Sumatera Barat
Sumatera Barat
7
.
,*---
rSarlrer 1,14?1), starr
(1999), Baban dan Yosof (2001), distribusi keruangan (spatial
distribution) renr3ng knrv;7wn rat&-gnhcnra-na secarg t e t n k rektcrd
adalah ukuran untuk menentukan bahwa pemanfaatan ruang
dalam k 3 i v ~ ~ a7 vrr 1
1 1 c , l r ) 4 cl ipqr c;;?mz~i
sccnra jcias, sehlngga &an
mcmheri sinergi yang sanzat besar terhadap p~mcrint2hrlalam
mengusahakan kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat.
:.:~;;iirlit
-T;i~isseii
ddil
Riel vrlc I
( I ??l..r!,
Hasil analisis keruangan dengan sistem informasi geografi
yang berupa peta-peta kawasan rawan bencana dapat rli~unzkan
sebagai dasar penyusunan penggunaan lahan untuk permukiman
yang tepat bagi masvarakat variu hrrrlutim di kn:~rzsan r;iivan
bencana, sehingga jumlah kerugian harta benda dan jiwa dapat
ditekan seminimal mungkin kaiau terjadi bencana (Dake, 1991;
Mather, 1997; Carver et al. 2000: serta Renscrn dan 7;!67igc;, 2Q04).
Ada beberapa aIasan penggunaan SIG di berbagai disiplin ilmu,
vaitu: ( 1 ) SIG sangat efekrif d i dnlarn membantu proses-proses
pembentukan, pengembangan atau perbaikan petamental yang
..-I L C L ~ ICii~~~iiiki
oieh setiap orang. (2) STC mrnggunakan dnta
spasial maupun atribut secara terintegrasi h i n ~ c~i cat ~ m n v nday?*
.,., . ~ t, ~ l l ~ l l l v U a n rr~r~ninn~nh
n c r t n n - T q ? n r jn
' q'.'r'; . ~
' ' ( 2 ) SIC; ~ i i ~ f i i , ,~, c
kemampuan untuk menguraikan unsur-unsur yang terdapat di
~
LA
GEOGAAFI BENCANA ALAM
LL
BAB 3 1 Pernetaan dalarn Mitigasi Bencana Alam
I
i
permukaan bumi ke dalam bentuk layer atau coverage data spasial,
(4) SIG memiliki kemampuan-kemarnpuan yang sangat baik dalam
memvisualkan data spasial berikut atribut-atributnya, dan (5) SIG
sangat membantu pekerjaan-pekerjaan yang erat kairannya dengan
bidang-bidang spasial dan geo-informmi (West et al., 2000; Chust
eta!., 2004; d m Prahasta, 2005).
untuk masa yang akan datang. Beberapa produk SIG yang sering
digunakan untuk analisis spzsial wilayah adalah GIs Arc View, Arc
GIs, R2V, Arc/info, ER Mapper, ERDAS, Spans GIs, dan sebagainya.
Arc View merupakan salah satu perangkat lunak desktop SIG dan
pemetaan yang telah dikembangkan oleh ESRI, sehingga pengguna
dapat memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan
visualisasi, meng-explore, menjawab query, menganalisis data
secara geografis, dan sebagainya. Secara umum kemampuan Arc
View adalah: (1) pertukaran data, membaca, dan menuliskan data
dala~nformat perangkat lunak GIs lainnya, (2) melakukan analisis
statistik dengan operasi-operas; rn2ternatis, (3) menampilkan
informasi (basisdata) spasial maupun atribut, (4) menjawab query
svasial rnallnlln ntrihlrt ( 4 ) m~!7bul-nn fring<i-fcjii3~;1:,15:ir S!G.
( 6 ) membuat peta tematik, (7) meng-costumize aplikasi denean
-_------- L I C 1 ~ t d 3~d K .I L (6)
~ , melaKukan tungsl-fungsi SIG
dengan menggunakan extension yang ditujukan untuk mendukung
penggunaan perangkat lunak Arr 16rur (Wesr et al., 2000).
1
..-..trt.dA4LL,."'L
1.
Sumber: (Waindo SpecTerra, 2011)
Gambar 12. Petd Tingkat Kerentanan Bencana Tsunami Kawasan
S u m a t ~ r aRarat
Wenurur Herrmflnn dnn Osinski (!Q9Q), T c r n c ~ ~ cr tn n l .
(2001), Appleton dan Lovet (20031, serta Wane et al. (20041,
pengguliaari SIC untuk melakukan suaru pemodelan sangat
diperlukan dalarn memberikan arahan dalarn penataan suatu lahan.
Selanjtirnya Vanlnzaki dan Gesite (1Q!33),Zain (2002), Kato dan
Ynknh2ri f 1945)
Gertn 7 n i n
pt
nl
I?nn6~\
r n t ~ n ; ~ l ~ c L qh rq ,h v r q
SIG C L I ~ U P r r c k ~ ~ddidlll
i
~ ~ ~ e ~ r l ~ r e d l kemampuan
ks~kan
suatu lahan terhadap kerusakan dan konservasi air sehingga
menghasilkan arahan yang sangat tepat dalam pengelolaan lahan
s;ihll:4si
j?K
GEOGRAFI BENCANA *LAM
1
1
.
Memantau luas wilayah bencana alam
Ezer:h tcrdampak L c ~ ~ c a r lseperti
n
banj~r,longsor, lumpur
panas, letusan p n u n g m ~ r a p i ,Fexafirauan kcrusakan
daeral~aiiran sungai (DAS), dan sebagainya dapat dideteksi
dari c l t r ~pezginderaan jauh, iial ini ,.lirr?~~ngkinitan
karcna
seluruh daerah terdampak bencana dapat diamati dari atas
pada citra penginderaan jailh. Sehingg:! sccarsl jelas, scluruh
dacrah terdanlpak bcncana dapat dil~itungluasnva dengsn
memfungsikan skala citra penginderaan jauh. Sebagai
contoh pcrllhgh?n Gnndisi hiZrc!~gi ZAS Lare11a Jampak
pprluasan !ahan kaxvasan budidava yang tidnk terkendali tanpa
, ..
. ...
, , i u ' . ~ t . ~ . ; i . ! & . : ~ i iF . : + I L : ; ~ I I - K ~ kons~rxq<i
I~~~~
I ; ~ T I : I dpn
~~
3ir ~ + r ; n !-.2!i mengnra5 pada kondisl yarlg kurang di~nginkan,yaitu
peningkatan erosi dan sedimentasi, penurunan produktivitas
~
peruhahnn
lahan, dan percepatan decradasi lahan. I T R S ~akhir
L>
----.-_-.
BAB 3 ( Pemetaan dalam Mitigasi Bencana Alam
I
_
-.- ------
-
.......... Penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data/
informasi sebagaimana adanya dun bukan sebagaimana seharusnya,
dengan tujuan dan kegunaan. tertentu .................. ...........-..
(Hermon, 2009).
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa penelitian mitigasi
bencana tidak b l e h dimanipulasi yang disesuaikan oleh keinginan
peneliti. Penelitian kebencanaan yang bersifat kuantitatif yang
dilakukan dengan benar dan 'sebagaimana adanya' tidak mustahil
diperoleh hipotesis H1 ditolak dan hipotesis HO diterima, tapi
dalam kenvataannva sering dipaksakan hipotesis H1 diterima,
sehingga kalau mengacu pada 'sebagaimana seharusnya', terbuka
i
s t a t i s t i k . Daiam ha1 i n i ,
peluang unruk n ~ c m a n i p l ~ l a sdata
penelitian mitigasi bencana disarankan untuk menggunakan
pene!::inn kuniltar11; hcrjn!an a p adanya,
~
sct~lnggn
prlunng ~ n r u k
r n ~ m a n i p ~ ~ ldata
a s i hisa dihindarkan dzn data vacy ditarnnilkan
bersifat valid. Hasil penelitian rnitigasi bencana berupa peta-peta
mitigasi bencana, baik itu peta kerawanan suatu bencana, peta
kerentanan suatu bencana, peta risiko suatu bencana, maupun
.
pL~d
~vnkudb~
pdud bddi L C I ~ ~ U I I I Y ~Lt~~cclild.
1
1.
Penelitian mitigasi bencana berbasis SIG dianjurkan tidak
menggunakan istilah populasi d a n sampel, tapi sebaiknya
menggunakan istilah teknik pengurnpulan data dan teknik
analisis data. Karakterisrik penelirian mitigasi bencana adalah,
naturalistik (alamiah, terkait konteks), descriptive data (kata-kata
atau gambar), coqcern with process (penekanan pada proses),
inductive analysis (analisis secara induktif), participant perspective
(melihat dari perspektif individu subjek), transferability, analytic
generalization, extrapolation, moderategeneralization. Oleh karena itu,
istilah sampel dan poplllasi tidak p p u l e r dipakai dalarn penelitian
mitigasi bencana (Hermon, 2009).
A.
Riset Mitigasi Bencana Banjir
Bencana banjir adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
, c c ~ ,I ~ L t i l111~11ggci11ggu
~eniclupandan p e n g h ~ d ~ p a n
----,,
i I i i ~ ~ ~ c l l
UL1A5
I
rnasvarakat yang disebabkan oleh meluapnya air sungai yang
disebabkan oleh faktor alamiah akihat rusaknya bufler zone pnda
kawasan umer dar frl2erqh qlirqn c l l n y ; ) c~hin;~::rr,zn;:l:i'Jat:;a,;
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis. Sedangkan, mitigas1
bencana banjir merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi
risiko bcncana hanji t h i k r n ~ l a l ~~ Pi I Z ~ ~ ~ ~ S I I Zt?r;if:
~ : : iriaiiyiifi
penyadaran dan peningkarnn kemarnpuan menghadapi ancaman
bencana banllr (I'aimin et a/., 2009 dninrn Herrnon, 2012).
Kerawanan bqnjir ~ d n l 3 hmernp-rcrkiraknndaet d~-d,lct
,111 )rani:
mungkin meniadi sasaran banjir. Wilavah-wilayah van$ rentan
hanjir biacany,t terletak pada daerah datar, dekat dengan sungai,
berada di daerah cekungan dan di daerah pasang surut air laut.
Sedangkan h ~ n r i l kI a l ~ a r abcntukan baniir pada umumnva terdapar
pada daerah rendah s e h q c r q i 1 L i h q t h?nj;r :r-n; +?-;?:Ji
!--:L!-,,;,
.ul;l;s<,
.T
L;d.dii)~ic i a ~ . ~ 1111
a i ~~llernll~k~
trnnkar ~rlrmh;lh?nt3n2!?
yang tinggi dibanding daerah-daerah lain yang jarang terlanda
banjir. Kondisi kelembaban tanah yang tinggi ini disebabkan karena
L
Garnbar 13. Peta Tingkat Risiko Bencana Longsor
Kawas~nSumatera Barat
--..
&.F*
36
GEOGRAFI BENCANA ALAM
-- _
..__._ -.._.-_____._CI
I
---
- - - - . - - - * - - I - -
. -. - . - - - - . - -
BAB 4 ( Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
---.---.
-
37
7.
bentuk lahan tersebut rerdiri dari material halus yang diendapkan
dari proses banjir dan kondisi drainase yang buruk sehingga daerah
tersebut mudah terjadi penggenangan air. Sedangkan tipologi
kawasan rawan bencana banjir adalah klasifikasi kawasan rawan
bencana banjir sesuai dengan karakter dan kualitas kawasannya
berdasarkan aspek fisik alamiah vang menghasilkan tipe-tipe zona
berpotensi bencana banjir (PVMBG, 2007).
alih untuk pemukiman, pabrik-pabrik, industri, dan lainnya
(Asdak, 2010 dalam Hermon, 2012). Kawasan DAS dikenal juga
dengan watershed, merupakan kawasan penampung hujan untuk
sungai, kawasan ini harus memiliki hutan sekitar 40% dari luas
kawasan (Hermon, 20 12).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat
kerawanan tinggi terhadap berbagai ancaman bencana alam.
Bencana alam baniir. tanah longsor, da.n de9radasi lahan memiliki
frekuensi kejadian sangat tinggi di Indonesia. Posisi geografis
Indonesia cli cdaerah tropis terietak di antara dua benua dan dua
samudera menjadikan Indonesia memiliki sistem cuaca dan
~ k i t r nkonrrnen maritim yang khas. h.leskipun po!a iklim terjadi
n ~ r p i l i r l ntFr?ttJr
~??-\prtih P T Z ~ " t i pmyrim
~;~
!;*zr:
?nn m::zirn
kemarau, jika terjadi gangguan tropis, sering timbul cuaca
ekstrem yang dapat mrmic-11terjadiny~hencana a J a ~(FTerrnen,
2012). Bencana alam banjir di Indonesia tampaknya dari tahun ke
?a.i~unr n e r n ~ i ~kecenberungm
kl
rnenlngkat, Scgitl: juga bcncana
banjir yang setiap tahun terjadi di seluruh penjuru tanah air.
K e c ~ n d e r n n g ~~?er.ingk-xr.yz
n
benczna bnzjir di !zdoncsia tidak
hanya luasnya saja melainkan kerugiannya juga ikut bertambah
p d a . Jika C I I ~ I I U ~ Ubcncrtna banjlr hanya mclanda Lola-Aota Lcsar
di Indonesiar akan trrapi parla w;lt s ~ k a r a n gini hencana tersebut
telah melanda dan merambah sampai ke pelosok tanah air. Lima
fal..to~ pentin:< pcn),cb;lb banjir di Indonesia vaitu: faktor h i ~ i a n ,
faktor hancurnyn rctcnsi DAS, faktor kcsalahan perencanann
pembangunan alur sungai, faktor pendangkalan sungai dan faktor
kesalahan tata wilavah d m pembanzunan saran2 rlan prasarana
Kota-kota besar di Indonesia nirngalami peningkatan pcrpulasi
. *_'_
1
.
.... ..,..,
......,.,,.. 2 . . . - . I
, . .. .
.>.II~:,
i i ~ . ~ i t i i : ? i r <~ ; a ? i - i j i i ! ~ ~ n ~ !
dar! rlipnl I-P I I Y ! ~ ? . L2!?2n-!nl??.!?y3r.s s c b r ~ n r n y nun~c!:d ~ e m h
preservasi dan konservasi untuk menjaga keseimbangan, diambil
....
:L.
..
kc,.
4
y,I.LLL
,
LL1l+
z 1 8 i
I ' 8 1 ; :
G3mbz: 14. Kawasaii ZAS setjagai indiicdtur Penentu Bencana Banjir
n
.-?!I !r,t:.:!n
ci:~er:!.il-c!ncrni? ).an&memlliki tingkat bahaya barijil
perlu dilakukan a3ar pemerintah dapat mrngamhi! I;et\ij&ar!
yang tepat untuk menanggulanginya. Peta merupakan salah satu
snrgng yang haik da!31n n~c!:).ajil;an data dan infarrnasi. Melalui
pets dapat dilcetahui informnsi tentang ruang muka bumi yang
sebenarnya. ldentifikasi kerawanan banjir dengan menggunakan
SIG dspat dilakukan dengan cepat. mudah dan a.kurat. K ~ r a w a n a n
baniir dapat diidentifikasi secara cepat melalui .SIG dengan
menwnrrnml-err m .....
n+-Ar
i
_. . L.....,..
;:I;
:,,. 1 1 j i ~ i ,!iiit.ic,!
, ,. .
pnrnmerrr hanllr; S P ~ P T intiltrasi
~ ~ :
tnr?nh, kcmirin~nnIc-cng, dan
penggunaan lahan. Melalui SIG diharapkan akan mempermudah
penyajian informasi spasial khususnva yang terkait d r n ~ a n
+:.-7-
-.;L.
l , c t < a . ~ j i
- .
-'*-
.-4-
'
'IS!
GFOGRAF! BENCANA ALAM
................
BAB 4 1 Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
............................
......-.--.--.
. . . . 39
i
I
penentuan tingkat kerawanan banjir serta dapat menganalisis dan
memperoleh informasi baru dalam mengidentifikasi daerah-daerah
yang sering rnenjadi sasaran banjir. Prediksi daerah-daerah yang
memiliki kernungkinan terlanda banjir telah dilakukan oleh Lapan
di seluruh wilayah Indonesia, dengan demikian seharusnya ada
tindak lanjut dari berbagai instansi vane terkait supava seluruh
kornponen rnasyarakat )rang ada di daerah tersebut merniliki
persiapan dalam menghadapi kemungkinan banjir yang bisa saja
terjadi (Hermon, 20 12).
dan dilanjutkan dengan pengisian skor yang dikalikan dengan
kepangkatan masing-masing peta. Gabungan skor dilakukan
dengan teknik overlay ketiga peta yang kemudian diklasifikasikan
tingkat potensi bencana banjir suaor kawasan atau wilayah tersebut
(Hermon et al., 2008 dalam Hermon, 2012). Sebaran skor untuk
menelisi potensi bencana banjir suatu wilayah dapai dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. lndikator Tingkat Kerawanan Bencana Banjir
No
1.
Tingkat Kerawanan Bencana Banjir
1
Metode analisis yang dlgunakan untuk mcncapai mencliti
tingkat kerawanan bencana banjir adalah menggunakan metode
pendekatan analisis overlay dcngan SIG. Overiay dilakukan dengan
:y::t ?jp: ?;::
: ? ~ 2 : : ! : . -,-2:r:;: n,-:2
T<ri7:7i:rz3
! > r P r s - ~2~- .7 2
Infiltrasi Tanah, dan Peta Penggunaan Lahan, di mana ketiga peta
tprsetrut m ~ r u p a t a npzrarneter-parameter kunci untuk rr,ene!iti
tingkat kerawanan bcncana I~anjir.Prosedur pemberian harkat dnn
SoSm pada masing-masing parameter atau variabe: berbeda-beda,
yaitu dengan memerhatikan seberapa besar pengaruh parameter...-..----..-..
* ^ ,?L..*
LCr;.t I lerl?ad;lp ierj;idinj;a banjir. S2iliakiii kte>a
t L
pengaruh parameter tersobut terhadap banjir rnaka nilai bobotnva
~ u g bcsa~,
a
scbaliAr~yajiAa pengaruhnya keciI nlaka nilai bobotnya
i ~ l g 2k c i ! (P.limi:~rt r:!., 2009 da!cz Xermon, 2012).
lndikator
Harkat
Bobot
Skor
Tekstur
Halus &at)
.
I;-+Ir".-,.-<
15
5
Agak Halus (liat berlernpung, liat berdebu,
u ,
Ly
d
4
s3c:L,:
Sodang (Iernpung, debu)
3
HgaK
haSar (Ilat Derpaslr, lempung berpasir,
liat lernpung berpasir)
2
Kasar (pasir, pasir berliat, pasir berlempung,
1
--
9
6
pasir herdebu)
LICI
pCLLCliLh,
PBB = 3T
PDI3
T
L
LU
+ 51, + 21,IJ
(Herman p t n l . , 3008)
: Kerawanan
: Peta
:P
~ t alcrrncq
: Peta
R#P+,??O
-...
IZencana Uanjir
tckstur tanah
-
penggunaan l a l ~ a n
;!>i
...,,,,
. .,,,.,,
>-..-.,,,.,.,.*
-1.
nq.,,l
.I
,-?
L.IC...
- A a n
%
+
--.!LC:
* . U L U I I
L2::gJ;1
;;;;&A;:
>21
-
3
5
1
Penggunaan Lahan
l a h a n T r r h l ~ k a ,Sungai, \r?raduk, Rawa,
Alang-alang
5
P~rrnirkiman,YPOUII Campuran, T.rnaman
Pekarangan
4
6
2
VEit~i-ridl~,
Sdwdil, Tegdidrl
3
6
Perkebunan, Sernak
2
4
tilltan
1
3
--
Surnhrr: : l ? r i i ? ~ i > , rt
UI'.,
jliiuaj uuiom Hcrmon ( 2 ~ 1 2 )
menganalisis peta tekstur tanah, peta lcreng, dan peta penggunaan
lahan suatu kawasan atau wilayah dengan SIG (Arc Vew 3.3),
&.
A0
-
GFnGRAFI PENCANA ALAM
.- .
>
--- - .-
-
_
.
. _ ~ - _ . _-_- __ .- - -
----
BAB 4 1 Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
--.------
----
---
-41
-Aa*.-
Pembuatan nilai interval kelas kerawanan banjir bertujuan
untuk membedakan kelas kerawanan banjir antara yang satu
dengan yang lain. Rumus yang digunakan untuk membuat kelas
interval adalah digunakan formula yang dikemukakan oleh
Dibyosaputro (1999) dalam Hermon (2012), yaitu:
I=-
C-b
k
Di rnana:
I : besar jarak interval kelas;
c : jumlah skor tertinggi (50)
b : jumlah skor terendah (10)
k : jurnlah kelas yang diinginkan (3)
<23,3
11
111
Tingkat Kerawanan
Rencana Baviir
Lahan Sangat Stabil
Rendah
23,3-36,6
Cahan Agak Stabil
Sedang
>36,6
Lahan Tidak Stabil
Tinggi
Surr~ber:tielmon i 2 i r l i i
Zonasi tingkat kerawanan bencana banjir rerdiri atas tiga (3)
zona:
a.
b.
Zona A: tingkat kerawanan bencana banjir rendah: tidak
,jut
s;j.inln a ~ k ~ rballa),a
li
b c ~ ~ c a nbanjir
a
yang mcngancam
pemukiman masyarakat.
Zona C: tingkat kcrawanan bencarla banjir sedung: peluang
+nv:qJ;...., .
.
-?
_
. ^ _ _
LI1.<.
L
-,.::,- i
._I...,..
GEOGRAFI BENCANA ALAM
.
.-
. .
a--
-
A
I. ..<?/ ,!I :
Peta kerentanan bencana banjir dihasilkan dari tumpang susun
dari peta penggunaan lahan, kemiringan lereng, bentuk lahan,
dan kelem baban tanah (Hermon, 20 12). Adapun formula yang
digunakan untuk mendapatkan peta kerentanan banjir adalah:
+ (KL x 3) + (JTx 1.5) +
(PL x 1,5).....,.
KB = Kerentanan Banjir
BL = Bentuk lahan
KL = Kemiringan Lereng
- -
1
2. Tingkat Kerentanan Bencana Banjir
(Hermon, 2012)
Karakteristik Lahan
Intewal
Zona C: tingkat kerawanan bencana banjir tinggi: peluang
terjadinya bencana banjir 1 kali dalam 1 tahun.
KB = (BL x 4)
Tabel 2. Hasil Perhitungan Interval Tingkat Kerawanan Bencana Banjir
Zona
c.
J-I--- . 6 . . l . L .
T
T
PI,
I
. -
, , . I , , <
8
.
>r>'3*3
= Penggunaan Lahan
Menurut Hcrmon (20121, uji ketelitinn dimaksudkan untuk
r?~r_n.c~cc?kk,an
amu rnenguji kcbenaran hdsil i ~ ~ ~ e r p r e rdengan
asi
keadaan sesungguhn~~a
di larangan. dalam ha1 ini uji ketelitian
me.nr?l:zp heheraps ?:cgia;;lr; j ~ a i t i i . ( i j llre~lriiiiici~ik-titikpada
peta yang akan digunakan untuk ufi ketelitisn, mptnrle :7?.ng
bigundcan a6;11ah purposive jurtlplirlg d a r ~stratified samplzng, (2)
mencocokkw~par?.rl?eter I I ~ S I ! ?r,aIisis p,-nslndcraan jauli c-lrr~girr!
parameter yang ada di lapangan, dan (3) wawancara dengan
per.~duduksctcmpat untuk memperolrh k c r e r a n p n mengenai
bnnjir, meliputi: pcristinrn banjir ( t n h u n tcl-jadinva baniir) dan
karakteristik banjir (periode ulang, lama genangan dan kedalaman
genangan) .
-...-
r +L I-/ .I. L 1 . . .
i
B A B 4 ( Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
. .
..
43
Unit Model
Pennguriaan
.
Pt
Skar
No
-
Unit Model
Podzols
Regosol
Kriteria
Skor
3
Kriterla
Zona Da tara an Rer
4
I
Grumus
Lona vataran Ilnggi
Lapangan Golt
Area
Tabel 3. Kriteria Kerentanan Banjir (Pemilihan Kriteria Berdasarkan
MAFF-Japan, Zain: 2002 ) dalam Hermon (2012)
1
No
Lahan-PL (Tipe)
Kuburan
Zona Perbukitan, kemiringan<l5%
5
lndustri
3
Zona Daltaran Reridah Pantai
Industrial Estate
Zona Perbukitan, kemiringan>=15%- (40%
2
Bentuklahan
Sawah (2 kaii dalam setahun)
Zcna Pcrbukitan, kemiringan>=40%
3
6
Sawah (satu kali dalam setahun)
Zona Pegunungan, kemiringan<l5%
-.
Kebun Campura
2
..---
Lcna verunun,"an. k~mii;ngan>=i5?<
- <4-40%
n--I--L
1
7
untuk menentukan
, ,
--*-
* / P
-..
I ~ ~ ~ ~ ~r y , : ~ (
~ ~1n ~
l T 2
r r ~
n
zonasi
Surnber: MAFF-Japan (Zain, 2002) dolorn H e r r n o n (2012)
Annlisis
7
? ~ ~ X ~ : ! L Z X $ ~ i - ~ i L i : c I:<Aiig LIikcii~~kdk.-i~
1 OIPII
yaitu:
i : besar jarak i n t e r v a l kelas
c . j u n i l a l ~<lk(:)t !t.r!i~~ggi
(19)
b : jumlah s k o r t e r e n d a h (5)
~
Tabcl 4.
.
.
- - .- ..
.-
- ~ ... .
..
.
.
..
BAB 4 / Metode dan Teknik Riset M ~ t i g a s Bencana
i
-
45
.,-
,
P c n ~ k ! a s i f i l : ~ s i ~tingkat
n
k c r e n t 11.111 b , , ~ ~ j dilakukan
il
pada
hasil a k h i r a p l i k a s i m o d e l p a d a d a t a a t r i b u t SlG. Llari p e r s a m a a n
di atas, maka Interval tingkat kerentnnnn hnnjir rlnpnt dilihat p n d a
k : j u n ~ l a lkeias
~
v a n g cliinzinkan (3)
kvrentanan banjir
7ona P~vlrnllnvan,k e r n i r i n ~ s n \ - 4 A W
ois
Padang Runiput
Hutan
Iahan
GEOGRAFl BENCANA ALAM
#
I
I
11
-1
I
3
--.
. ---
'1
I-
-
..'I?
.t-*...-. c2
,4
r-
.:
f
*3
1
- 4
J
J
!!
j
..
'>
r:
.-
6
t;'
I
M
1
-
-1
1
A
.-?O
5 '! p 2'
? T 3
3 a
U
'
r.:
lo,:,y
or.
4.
Analisis Kesesuaian Lahan untuk Perrnukirnan Bebas Banjir
Selain penentuan zona tingkat potensi kerawanan bencana
banjir, mitigasi bencana banjir juga dapat dilakukan dengan
penelitian tingkat kesesuaian lahan untuk permukiman bebas
banjir, ha1 ini disebabkan karena permukiman merupakan
indikator utama yang harus diselamatkan dari potensi bencana
banjir. Analisis data untuk mengidentifikasikan kesesuaian lahan
untuk permukiman bebas banjir dikembangkan berdasarkan
USDA (1971). Perumusan zona tingkat kesesuaian lahan untuk
permukiman bebas banjir dilakukan dengan GIs Arc GIs 10.1
(Hermon, 20 12).
Tabel 7. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Permukiman Bebas Banjir
Simbol
Kriteria Kesesuaian Lahan
u n t u k Permukiman
Harkat
Skor
1
Peta Tingkat Potensl Bencana
f
PPBl
Rendah
1
3
PPB2
Sedang
2
6
3
9
1'
i
t
i
PPB3
Tinggi
Peta Lereng
ngat Curam
iring- Curam
Peta Tanah
-
P;
: ~ o t i z o l s .A n r l i s n l s
sols, 5podosols,
u~sisols
Histosols
i
PB1
>50% volume tanah
Banyak
1
1
PB2
15-50 % volume tanah
Sedang
7
2
4 5 % volume tanah
-..- r . . - - -
Tanpa-Sedikit
3
3
PB3
n-*- -T:--t--.
I
'
a
.
*.
.1llw..\01
I
I,,..
!
PE1
Rahaya erosi tirleei
Erosi Berat
1
1
E
PE2
Bahaya erosi rendah-sedang
Erosi Sedang
2
2
PF?
Rahayz crczi rcr?d,?l?
Erosi ! ? ; n ~ ~ n
.3,
i
Sumber: pdu'dnpmedia.com (2012)
r-c<?
r,,,n!lr,vn
-
1
-
-
-
Surnber: USDA (1971) r l ~ r n o r l ~ f i ko al ~~~Hprrnnn
h
(7017)
G a r n b a r 15. B a n j i i di Kuranji K o t a Padang (2012)
.
- -50
-=h
GEOGRAFI BENCANA ALAM
--....-
-
-----
BAB 4 1 Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
----.--
----.
1 51
Analisis model kesesuaian lahan untuk permukiman bebas
banjir (Hermon, 20 12) adalah sebagai berikut.
PFB = PE
+ PB + PT + PL + 3 (PPB)
PFB : Permukiman Bebas Banjir
PE : Peta Tingkat Erosi (Bahaya Erosi)
PB : Peta Sebaran Ratuan
PT : Peta Tanah
PL : Peta Lereng (Kemiringan Lereng, %)
PBB : Peta Bahaya Banjir
5.
Tingkat Bahaya Bencana Banjir Bandang
Banjir bandang merupakan satu bahaya alam (natural hazard)
yang terjadi pada kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan
kecepatan aliran yang dapat merusak daerah yang dilaluinya.
Penelitian tingkat bahaya banjir bandang, dapat dilakukan melalui
penelitian pemetaan dengan analisis citra satelit (Landsat) pada
kawasan sepanjang aliran sungai.
Tabel 8. Hasil Perhitungan Interval T i n ~ k a tK ~ w q ~ r a i aLahan
n
untuk
Permukiman yang Bebas Banjir(Hermon, 2012)
Interval
Zona
II
11,6-16,2
>15,2
!II
Agak Sesuai untuk Perrnukiman
Tidal. Scsual untuk Pcrmuklman
--.. - .~ - ..
--
-
K O ~ P~nnhitvrno3n
.
Intnn,*l ~ n c n r ~ ~ , i ,!,hqVc
,,n+l.L
n..--..L:-....
.
- - - -..- n-.-:;- -.
nr.l.
.,. L- - I . . -
i ,
memasukkan skor pengkalian pada rurnus
Hermon (20 12j, menjelaskan bahwa zonasi tingkat kesesuaian
Iahau 1int11lr ~ern?,ukimzn
yang bet.3~Sanjir Terdiri aras tiga (3)
zona:
a.
Zona A: sesuai untuk permukirnan: tidak acla sama sekali
bahava bencana baniir vang meneancam pemukiman
n~asyarakat.
I.
Zorltr B: agak scsuai untuk pcrrnukiman: pcluang terjadinya
bencana baniir 1 kali dalam 5 t a h u n vang m e n i m p a
permukirnan rn2sy3rakat.
Gembar 16.Banjlr Bandang Pasarncln (2012)
b<eur,jiji~l!anpern2kaix-1Cicra Lnndsa: ur,ruk ana!isis tingkat
bahaya banjir bandang disebabkan karena Citra Landsat 7+ ETM
dapar rr~erekambebcrapa pararnetrr tentans kerawanan rerharlap
bahaya banjir banclang, sepcrti kerniringan Icrcng, penggunaan
lahan, bentuk lahan dan kelembaban tanah vang dianalisis
rlrnzan m ~ n g g i i n a k a nF 9 n A . C ?t?uF?. a.Iqpr. u e r r ? i r i z c a--v - n l-.--,*\-diperoleh dari mode! tiga dimensi daernh pcnelitian. Sccara
..
.
. .
..-1!!1
s ~ . ! t '!ii d l i d F.c~1111 I!i!:arl
~ C ell::
I
nier~1:3;1K;1n
penurunnn narl
modc! :iga dimci~si.Xlodcl tiga climensi diperole!~i l a i a~laiisis
peta kontur, yaitu mengubah garis kontur menjadi data Digital
&3
..
.
8 ,
permukiman masyarakat.
e'm
52
----
GEOGRAFI BENCANA A L A M
--
----.---
-- ---..-.
- -..- ----------.
-
--.
-. .
--
BAB 4 1 Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
--~.-
- -
-. -.-------.-
.------.-.-
~.
-
6.;.;
:
~-
53
I
Elevation Model (DEM). Dari model tiga dimensi ini juga dapat
diturunkan informasi kemiringan lereng, dan dengan digabungkan
dengan informasi pada citra dapat juga diperoleh bentuklahan
daerahpenelitian (Hermon, 2012).
Scrrnber: 4a:kus.co.rd
(2i)l~:
Gambar 18. Banjir Bandang A m b o n (2013)
I
..-
I
-
.
t
-
:
I
.. - .. .
i~cls-'t.-t-e--9eks-?--
q..,.31,.,~.
..-A
t
..---- A $ - .-.-,-,---,
\
,
1
Gambar 17. Banjir Bandang Kuranji Kota Padang (2012)
TBB = ( B l x 0 . 1 5 )
b
i
+ (B2x0.19) + (B3x0.32) +
I
I
~ ! ? 4 x - O . ~ &) i
( R 5 ~ 0 . 7 1 )i1:T77~(-0:15)j (gcrmon, 251 3'!
Ketet .i!lgarl:
B 1 = Landsat TM band
B 2 = 1,andsar T M hand
E 3 = Landsat T M band
B 4 = Landsat TM band
B 5 = Landsat TM band
w 7 = Landsat TM band
U ,
I
Mitigasi bcncana banjir bandang sccara pasif juga harus
diiakukar~r ~ ~ e i a l upenyidikan
i
yang [erst! uktur de11gan nietodernetode penelitian yang berbasis keruangan dengan out put petapeta. Peta-peta yang ciihasilkan dapat digunakan untuk acuan
pelaksanaan mitigasi bencana banjir bandang secara akti f, ha1 ini
batasan kawasan potcnsi bencana banjir bandang dan batasan
k~nrnsane v ~ k u a s jelas
i
dan rnxdah diaplikasikan pcnzcnasiannya
di lapangan.
B. Riset Mitigasi Bencana Longsor
1
2
3
4
5
Bencana longsor adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
yang mcngancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupnn
masyarakat yang disebabkan oleh bergeraknya massa tanah dari
puncd: lercng ke barivxh lereng sehingga rnengdibatkm tirnbulnya
7
Lorhin
iixari
L~riiniqnh3rtq hp0r-l~
rnlnlicil L ~ q i c - t t i linnjrirnn~n
n
L
dan darnr)di. pslk.oiorls. seciancrkan rrllLlt?asl bencdlia ionesor
merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana
longsor, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran
I
p?!?
54
-
GEOGRAFI BENCANA ALAM
.----
-.. --
-
-
i
- --
.-
BAB 4 1 Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
-- .---.----------
=-,
---- .---
v
55
dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana
longsor. Selain itu, tipologi kawasan rawan bencana longsor adalah
klasifikasi kawasan rawan bencana longsor sesuai dengan karakter
dan kualitaq kawasannya herdasarkan aspek fisik alamiah yang
menghasilkan tipe-tipe zona berpotensi bencana longsor (PVMBG,
2007 dalam Hermon, 20 12).
dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan pada aspek-aspek
penggunaan ruang yang didasarkan pada perlindungan terhadap
keseimbangan ekosistem dan jaminan terhadap kesejahteraan
rnasyarakat vang dilakukan secara harrnonis, vaitu: penilaian
pada struktur ruang dan pola ruang pada kawasan rawan bencana
longsor sesuai dengan tipologi serta tingkat kerawanan fisik alami
dan tingkat risiko, serta menjaga kesesuaian antara kegiatan
pelaksanaan pemanfaatan ruang dengan fungsi kawasan yang telah
ditetapkan dalaln rencana tata ruang wilayahnya.
Hermon (2012), menjelaskan bahwa penelitian mitigasi
bencana longsor dapat dilakukan dengan penelitian tingkat
bahaya longsor yang berbasis keruangan dengan memanfaatkan
SIG sebagai alat analisis. Pendekatan keruangan dapat dilakukan
herdasarkan pada kriteria yang dikembangkan oleh MAFF-Japan
,- .
,~-n
?JtY0:
a r t , , : ~ - , i , : , ; ! A ~ N :.,:I.,,, : . r i ~ ~ . ~ ~ ~ - : ~ n a : > ? ; \ - ; i ~ ~ ! ~ ; ; r ; ~ ~
dilakukan dalam pengumpulan data penelitian tingkat bahava
longsor Mode! PdillT-Japan (Zain, 2092) adalah:
!
P e r u m u s a n n e t a nenacrunaan I s h a n . R u m u s a n p e t a
penggunaan lahan dilakukan berdasarkan pada interpretasi
Citra Landsat 7 + ETM dengan alat analisis ERDAS 8.6.
Klasifikasi penggunaan lahan dianalisis dengarl teknlk
supervised classification. s c h i n ~ ~
dirurnuskan
a
cnam po!a
penggunaan lahan sementara, yaitu: (1) hutan, (2) kebun
campuran, ( 3 ) semak, ( I j lahan terbuka, (5) sawah, dan
(6) pemukirnan. Survei lapang dilakukan untuk mengoreksi
hetepatan clan keakuratan hasil analisis citra dcngan CPS,
sehingga d i h a s i l k ~ n~ o l apr.nqcylnaan Iahan v a n g t ~ p a t
dan akurat untuk dijadikan scbagai peta penggunaan lahan
iokasi peneiirian. 'u'nruk rnengeiuarkarl cia~aurribui-11yd
dianalis~smelalui tooIs Vector (raster t o vector) dan dianalisis
I
Gambar 19. Longsor di Kenagarian Sungai Batang
IV?n;nj;r~!
,4gam (.!131dtj
Myesrer e t nl. (1997) dan PVMBG (2007) dalam Hcrmon
!7nI?), r n e n j ~ l a s k n nbah1:n ndn 2 !dun) p e n d e k n t a n unr~lll:
melakukan penelitian tingkat bahaya longsor, vaitu: (1) pendekatan
rekayas.1, dilah~tkaiiiilcia!ui pcrtimbarlgan-pcrtimbangan pada
aspek-aspek rekayasa geologi dan rekayasa teknik sipil. Rekavasa
~colozi~7i-1itu
melalui keginran p n g a m n r n n yang berkaitan dengan
qtrllkt~~r,
ieniq hatiian nrnrnnrfnlnni tnnnnrlfr, ?~nhidrnInni+ln
. > c i ~ r dI bI I I L I ~~ I L B Y ,V~ ~ I I Kc i ~ i c ~ ~ ~Ge~icd~i
k d ~ l i kd11a11
cevive~(Siwi e.31962-1990) atau kajian yang didasarkan pada kriteria fisik alami
dan kriteria aktivitas manusia, dan (2) pendekatan keruangan yang
7
7
.
/
7
VOTII
I ? n t ~ r +
r l p n ,I
n?n
t
-
l___
---.
IGrlr- 2 3
\4rnrlrr~tC r 1 r 4 ~ c dri t 0 !
13nnfi'i
proses pengolahan citra menggunakan perangkat anallsls
ERDAS 8.6, yang mencakup: (1) koreksi radiometrik guna
~ .z-
p!!~,
, 56
GEOGRAFI BENCANA ALAM
-..- .-
(1IC A r r
--
-l_-__---_
_
.
~
-
- .----
-.- -. -- .-.- ---
,
--.-
-- .-
. .
BAB 41 Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
- -
-- -
- --
-- ---.
---
57
meminimalkan pengaruh tutupan awan, (2) koreksi geometrik
untuk standardisasi citra ke dalam standar geodetik peta rupa
bumi, (3) interpretasi dan klasifikasi jenis tutupan lahan, dan
(4) konversi data citra ke dalarn format vektor. Dari data yang
sudah diperoleh dilakukan analisis dan simulasi model dengan
perangkat analisis Arc Mew 3.3.
2.
3.
4.
Peta Bentuk lahan skala 1:50.000 dianalisis dengan GIs Arc
View 3.3. untuk mengeluarkan data atribut-nya.
Peta Jenis Tanah skala 1:50.000 dianalisis dengan GIs Arc Vim
3.3. untuk mengeluarkan data atribut-nya.
P ~ t aCurah Hujan ~ k 2 l a1:5O.O(lQ clian2liqiq cl~nz;lnGTC Arc
View 3.3. untuk mengeluarkan data atribut-nya.
7
-.
Geo!c.ci skala 1:50.000 d:malisis densan G!S Arc l/icLc,
3.3. untuk rneneeluarkan
data atrihut-nva.
6.
Peta Lereng skala 1:50.000 dianalisis dengan GlS Arc Viav.3.3.
nntuk mengeluarkan data ntribut-nyz.
7.
Dari data yang sudah diperoleh dilakukan analisis dan simulasi
model dengan perangkat analisis Arc Vim 3.3 (Suwedi et al., 2006).
Zonasi tingkat bahaya longsor dilakukan dengan simulasi model
Ministry of Agriculture Forestry and Fishery-Japan (Hamazaki dan
Gesite, 1993; Zain, 2002; Zain et al., 2006), yaitu:
'eta
Peta Administrasi skala 1:50.000 dianalisis dengan GIs Arc
View 3.3. untuk mengeluarkan data atribut-nya.
Langkah-langkah analisis untuk perumusan zona tingkat
bahaya longsor model MAFF-Japan (Zain, 2002) dalam Hermon
(2012) ada:ah sebaeai berikilt.
1.
Peta penggunaan lahan diperoleh dari proses pengolahan data
citra menjadi data digital. Proses pengolahan citra menggunakan
perangkat analisis ERDAS 8.6, yang mencakup: (1) koreksi
radiornetrik guna meminima!kan pengaruh tutupan awan, (2)
koreksi geometrik untuk standardisasi citra ke dalam standar
gcodetik peta rupa bumi, (3) interpretasi dan klasifikasi jenis
tutupan lahan, dan (4) konversi data citra ke dalam format vektor.
Menganalisis dan mcrumuskan data-data digital dari
bermacam peta dengan GIS Arc View 3 . 3 .
a.
Pets Curah Ilujan sl.a!<l 1.50.000
b.
Peta Eentuklahan skala 1:50.000
c.
Peta Lereng skala 1:50.000
ci.
Peta jenis lanah skala 1 :5U.C100
Peta Genlnni skala 1 -r;n nnn
P
Gi I
P
LU
S
ST
G
I I ~ I J ~ :
: Curah
Hujan;
Lahan;
: Lerenq;
:Jenis Tanah;
: Tipe Geologi;
Li-' : S C I I Li aLi l aI1~1
TBL : Tincrkat Bahava Longsor
: Penggunaan
Analisis data dilakukan d e n p n GTS ynz tcrdiri d2ri cm?nt
tahap, yaitu (1) tahap tumpang susun data spasial, (2) tahap
editing data atr-ihut, (3) taliap a ~ ~ a l i stabulcr,
is
d311 (d) p r ~ s c ~ ~ t a s i
grafis (spasictl) hasil analisis. Metode ynng digunnknn dnlnm tnhnp
analisis tabuler adalah metode scoring. Setiap parameter penentu
tingkat bahava longsor diberi skor tertentu, dan kemudian pada
setiap unit analisis skor tersel->utdijumlahkan. Hasil penj~~rnlal~an
-1
..+-,..l I . . - 1 . -..... -JI: .l.-CL-1;,l.*.-,.~:i;lc l . ~ - : l . - .L. , ......, 1 ... ,. . . . . I . ~ . -.
., .-.
a:..
.;-.,,.I
L A , ,
<
.
U.ILU..
A,.<
I n n y n r K i n q i t i k n ~ it)ncC-at hnhny!
* l , i l l L l l L U I . C L , I
L"I*L,.C'L.
~ L L I . L ~ U
J
!cr?gscr hcrdls?rl.3.n J l - ~ r ~ ! ? h
skor parameter longsor.
LIF
@T-
58
GEOGRAFl BENCANA ALAM
------
BAB 4 ( Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
-- .
-"**-
. ...* -
.. _
'
59
I -,_.-_IC_
Tabel 9. Harkat Kriteria Tingkat Bahaya Lonsor MAFF-Japan (Hermon,
2012)
No
4
Unit M a
Unit Model
Jenis Tanah
Skor
Kriteria
Curah HL
I
.--
,>
Harkat
Skor
Histosols
5
10
Ferralsols
3
6
Gleysols
5
10
Acrisols
5
10
Lithosols
3
6
Podzols
2
4
Andosols
3
6
.L
nnn
--..
5
Lzhar: ( I :DC!
Tipe Geologi
L3CIzncan k c
Tarnan
Kuburan
lnrl~j~tri
2
4
5
10
Alluvium
1
1
Pleistocene, endapan sedirncn
2
2
P!:#:,*:,T~,
.
1
Pleistocene, endapan vulkanik
2
2
Miocene, batu kapur
3
J
P G , < ~ ~ Z 5&; d : i X ~ p
?
3
9
Material Vulkanik Muda
1
1
Sawah (2 kali daiam setahun)
+
12
Material Vulkanik Tua
3
3
Sawah (satu kali dalani setahun)
4
12
-
6
-
-
-
Bentuklahan
Per,kebcrnar!
Paclang RumPut
. - . .
Penggunaan
Regosols
~;IYJWIU~O~
industrial Estate
Kebun Lampuran
2
Kriteria
Kawa
4
Miocene, Vulkanik
- - -- - . - -Zona Dataran Rendah Pantai
3
5
5
Zona Dataran Rendall
5
5
Zona Dataran Tinggi
3
3
Zona P~rbukitan,kernirinean<lS%
4
4
Zona Perbukitan. kernirin~an,=40%
2
Z
Zona Pegunungan, k~rnirineancl59;;
3
3
Zona P e ~ u n u n ~ akernirin~anz=15%
n.
- <40%
2
---
-
3
12
Laban (Ti
7n-7
P n n i t v ~ f n o n nkomirinnnv\-/ln*
~
~
~
~-
1
~
Surnber: MAFF-Japan (Zain, 2002) dalom Hermon (2012)
7
GEOGRAFI BENCANA ALAM
---.-.
- -
--
BAB 4 1 Metode dan Teknik Riset Mitigasi Bencana
-----
-.
-*
61
I
I
Mengingat I l m u Geografi m e r u p a k a n ibu dari ilmu
pengetahuan (mother of science), maka bahasan bidang ilmu
dalarn geografi selalu bersifat makro dan global dalam konteks
ke lingkungan (environmental/ecology) , keruangan (spatial), dan
kewilayahan (region). Berdasarkan ha1 tersebut Ilmu Biogeografi
dikhususkan rnembahas penyebaran, interaksi, dan adaptasi
hewan dan tumbuhan dalam aspek kelingkungan, keruangan,
dan kewilayahan. Kaitan antara hewan dan tumbuhan dengan
lingkungannya dipelajari daiam ilmu ekologi. Ilmu ekologi ini
dibahas dan dikembangkan dalam perspektif ilmu geografi,
s ~ h i n g g asecara otomatis kajian hewan dan tumbuhan juga dalam
konteks keruangan dan kewilayahan. Dengan demikian, terjadi
sintesis ilmu ekoloei menuiu ilmu biogeografi yang bersifat
kompleks dan menghasilkan bidang-bidang kajian yang dibai~as
--.---?.
.,-"..+,...+-.-
L
-
.&>.
..
A-.s-,-
-..
..,,.. ? ..,,,,,
",,Vr-7.,,4
3 ,
I
1
#.',<
.
,487.
membuat rumah tangga tersebut dapat dihuni. Dalarn hal ini ekologi
mengandung makna zdanya hubungan timbal balik antara makhluk
hidup (biotik) dengan lingkungan (abiotik). Eko!ogi merupakan ilmu/
studi tentang kehidupan dalam rumah tangga lingkungan dengan
penekanan pada keseluruhan pola hubungan antar; makhluk hidup
dengan lingkungan.
Levels of
organization
.
1
~ k ~ , t < i cst l* d : ~ ~ ! i ii - i j ' i . i i @ i i ! < & ~
P
. I , ,
C ,
Ruang Lingkup Ekologi
: I ~ i i iZ C Z t Z : ; z
.I
-
.1
-
1
] , \ t . l [ $ - - i ~ i !vtqiij~di
- ~ ~ n ~ fii!2i.-ni!ni
di
,\I
"^'"'"""""
o , ~ a c t ~ > ~ a3 ~ t ~
(power) dan menuiu pada gerakan snsial baru (ncw social movement).
Berdasarkan perkembangan tersebut dan mulai rusaknya sistemsistcm cl.:n!ngi J Y I ~ ~ tJr, r h l ~ k t ihnnynknvn kcmsnknn ( l . i ~ 6 i ? l p r ~ i t ~ ) .
sehinsga kcseimhangan alam rerpanggu, maka disepakati ekologi
menjadi suatu ilmu (sience).
Eknlncqi hcraqal dari kataoicos (rumah) dan locos (ilmu), S e h i n ~ ~ a
ekclogi mempakan ilm~!tentans rurnnh. Ekologi juga dikatakan ilrnu
n . .. . ..1 . ....-,._
J : -:,.:I.,,
i t ' l I i i ~ i i Qii.c!!i?d:j
,
,. .,.... L-I-..n-.?
._..-LI.I
a d ~ ? "rnd;';;!u'c: hi?::~ dnn !Ingkungn jrmg ~ a ! i n gh ~ r i n t ~ r 3 k ~ l .
Ekologi merupakan ilmu rumah tangga lingkungan yang meliputi
selunvh r n a k h l i ~ khidup dan seluruh proses-proses fungsional yang
7
(.iii:',!:.t
1
O , ~ ~ ~ . I . . A L A C . , ~ A.ur,,LLI,
. ~ .
GEOGRAFI BENCANA ALAM
LLL.,L-.I
Ruang Lingkup Biogeografi
Gambar 21. Ruang Lingkup Kcljian Ekologi dan BiogeografI
Lc)~cv~
m ~ jmi 2 a ia11~q
~
tentmuo arimya
-..
-- rnCnlli>si
r -----'r ~ i r l . n . ~ p a3 1k1
!cc!:~~'ZF~Z
alarn yang tergolong tidak merupakan penpetahuan ilmiah, tetapi
trrzolnnz pndn ilhnm. pencerah. filsafat. nilai dan nnrma. D r n ~ a n
adanya perkembangan masyarakat menuju pada masyarakat modern,
I>!I:I!-J~!!(IIb . t ' j ! i C I L ~ f > . . j l )
Universe
llryn
A. Ilmu Ekologi sebagai Dasar llmu Bioqeoqrafi Bencana Aiam
Tr.
~alyl->
S"'"svyRms
I-
-
b*
kumpulan dari makhluk hidup-makhluk hidup sejenis yang hidup
yang ada d a n hidup pada s u a t u wilayah t e r t e n t u . Secara
sedcrhana, ei.:ologi scia!u mcmbahns tcncang ckosisrcm, )'37g
m~rlipakanc l l a t i i sictcm di maria cli dal2mnya terdapat interaksi
antara faktor-faktor biotik dan abiotik. Sedangkan tempat
beropcrasinya ekosistc::l clil.cri~l Jcngan Liosfw. Siht-sifat suatu
ckosistcrn adnlgh: (1) terhukn, (2) memhutuhkan makanan atau
bahan hakar untuk memperbarui energi clan materi yang habis
dipakai. ( 3 ) m e n ~ a n d u -n eseiumlah
.
subsistem, (4) mempunvai
l i r ~ l ~ r ~ n zsirnl)intik,
an
parasitik, atau kornensalistik baik dengan
i
$ 1 .
. . .. 1 .. . ... .: . .,..- , I - : -,+:T.
J - ,
/ r \ +,,A,,,+
r.... I l . ? L \ . , 1 '
I,,<,L,,\
l l l l l U V U I .
CtC.,+L,.1
c " . ' L C * I I
.Ir,r..l.. UU..
r ' z ! n z !innl,!iqn?i>,
r-qnn
lrrI!?.:yih
DL--' D L * '
L * - ~ r(2p
-.
'
\ - ,
L'_.-._
tr/rtPnt?l <\Virakr~siirn~h~
2003).
-->---
.:-.-
BAB 5 1 Kajian Biogeografi dalam Mitigasi Bencana Ekologi
AL--.--.-.
*.
.
...--
-. -
-- .-.----
-.-
.
65
Ekologi dapat dibagi atas dua, yaitu: autecology dan synecology.
Autecology merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara
satu individu dengan individu lain dalam lingkungannya.
Sedangkan, Synecology adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antara beberapa individu (unit individu) dengan lingkungannya.
Selain itu, berdasa~karl pada jenis lingkungan dan habitat (tempat
hidupnya), ekologi dapat dibedakan menjadi ekologi laut (marine
ecology), ekologi air tawar (fresh water ecology) ekologi daratan
(terrestrial ecology). Berdasarkan makhluk hidupnya, ekologi dapat
lagi dibagi menjadi ekologi populasi, ekologi komunitas, dan
ekologi ekosistem. Sedangkan berdasarkan jenis individunya,
ekologi dapat dibagi alas ekologi hewan dan ecology tumbuhan.
penting berupa konvensi tentang biodiversity (CBD) yang ditanda
tangani oleh 158 negara. Hingga tahur! 2000, konvensi tersebut
telah ditandatangani dan diratifikasi oleh 180 negara, termasuk
Indonesia. Adapun tujuan dari konvensi biodiversity tersebut
adalah melestarikan dan mendayagunakan secara berkelanjutan
biodiversity dan berbagai keuntungannya secara adil dan merata
dari hasil pemanfaatan sumber genetika tersebut, alih teknologi
yang relevan serta pembiayaan yang mencukupi dan memadai.
Herrnon (2010) menielaskan h a h v ~ ahinllilt~rritlrr n e r ~ - ~ ~ ? L ? n
istilah yang sering kali dipergunakan oleh para ahli biologi
, . ..
..
. , .
ir,,...-,.....--.
.--A-
-- .
- @ - - I - - .
u d L
~
~
.
v
n.
1 .
~ u vr v t~ - t tr a c. r , . , r r
, I
I
I.
v \ r r r ~ ~ t O s L L~1~i Vl t f > I L j 1 d l d U UlUCIlL'C??,11)')
m e r u p a k a n istilah yang d i g u n a k a n u n t u k m e n e r a n g k a n
keragaman ekosistem dan herbagai bentuk variabilitas hewan,
tumbuhan. sena iasad renjk dj alam. Denyan rlemi t i n n h i n r l i ~ ~ ~ r r i t ; mencakup keragaman ekosistem (habitat) jenis (spesies) dan
genetik (varietashas). Konvensi tentang biodiversity (Convention
on Biological Diversity,CBD)mendefinisikan bahwa biodiversity
sebanai variasi vans terdapat i l i a n t a r a r n a k l ~ l ~ l~>ki r i ~ ! pd?ri
semua sumber termasuk di antaranya ekosistem daratan, lautan,
dan sumber ekositcm perairan lain, serta kornpleks-kornpleks
ekologis yana merupakan bagian dari keanekarapamannva. Tni
mlncakup keanekaragaman cli dalanl spesies, di antara spesies,
dan eknsistem. Dengan demikim, definisi hindillcrtity terscbrlt
secara luas dipergunakan untuk tiga ( 3 ) tingkatan dari organisasi
bioiogi, yairu keanekaragaman genet~k,speses, dan ekosistem.
Meneineat nentinonvl hindi~r~vcittr
h~criI r ~ h i r l ~ l ~
r n
qqnn ~ r r A;
i ~
pcrm~!;;i;
!,~~ni;,
Lciidkd L i J r i ~ l L1 1 i e i ~ s ~ d l i k d 1 1s1d1~~ld~ d~peri~rknn
at
Konferensi tentang lingkungan dan pembangunan PBB di Rio
d e Janeiro pada 1992 telah menghasilkan satu (1) dokumen
GEOGRAFI BENCANA A L A M
--_..
_
I
.
_-_-_-_____
._-.__I-
-._._
__-_I____
_-
wbagai K O I T I ~ U ~ I i~i It aI r n a daiam Ekoiog~
Garnbar 22. 2lcdivc;;i:):
*
an
.
djn t ~ ~ ; L l l ~ a m n y ~
ckosistern k e dalam aeenda politil: sehg~aic i l a t l ~ma.sa!l~!~
sl~rn??e~
daya merupakan prioritas yang harus dilaksanakan. Piagam
Riini? 11nr11k A l n r n , j r m g ditcri!l~nPOI3 p ~ l c l abulan Olctobel- 1982.
merupakan suatu lanykah pentiny rnencnpni t1.1juanin;. Pcrnerintah
harus mempeialari dan menerapkan hasil kesepakatan yang
tertuang dalam "Konvensi tentane. Biodiversitv" yang menvatakan
spesies d m licbcragaman genetik selw~aiw;lriwrl bersarna.
~ v ~ ~ ? I - ~ ~ I ~ ~ II r~ ~I l. :!l ~c :.I>
~: t.~>: ;! -IL I T I > ~ R - ; ~
T
rclll>
II
I,,
8
. ..
I . I ~ L , I1 ~-
r
c ~ L c ~ P . I !4!1 . 1 5\ V , L ! I ~ . . I I I
l3rrS;lma
lru
t1GaK I~CTartl
!?;!1'.
intcrn?-.ionnl jug2 bci;;f,ii k ~ ~ : c h i iclliddclp
if
~ U I I I ~ Cddya
I
tertentu dalam suatu negara. Pendekatan ini tidak mencampuri
saeasan kedaiilatan naqio~al.. 4 k m ret2pi ini Scrrnakna bahwa
BAS 5
1
..*. .lwj
Kajian Biogeografi dalam Mitigasi Bencana Ekologi
.-
.
67
suatu negara tidak akan dibiarkan sendirian dalarn melindungi
spesies-spesies yang ada dalarn batas-batas nasiondnya. Konvensi
ini perlu didukung oleh suatu rancangan finansial yang disokong
secara aktif oleh masyarakat internasional. Rancangan ini tidak
hanya berupaya untuk menjamin konservasi sumber daya
genetik Sagi semua bangsa, namun rnenjarnin bahwa bangsa
yang memiliki sumber daya tersebut akan mendapat bagian yang
adil dari setiap manfaat dan penerimaan yang diperoleh dari
pengembangan sumber daya tersebut, sehingga sangat mendorong
kegiatan konservasi spesies pada setiap n e p r a . Rancangan juea
dapat berupa suatu Dana Perwalian (Trust Fund), di mana semua
negara dapat memberikan sumber daya pada negara lain, dengan
catatan negara penerima sumber daya tersebut akan memberikan
sumbangan dana yang sesuai dengan nilai sumber daya yang
l,i-.r.. rerr,erintz)l T?PC?TI-Z?PZ~~? xr3ny
c!i:m'.i!zw.
!?c?r=nr!
memiliki kawasan hutan tropik dapat menerima sumbangan dana
untnk terns melakukan konvrv;rci hutan.
A-
W
W
C
r B - m-FnnnnplOn
~
~
W
-
W
~
T
~
T
H
K
TethnOlowInc TR In bQ WfSIW
mmm-OMm011O
r n ~ F E m l l
Surnber: (trustn~t.corn,2012)
Cadan-badan pembangunan il~ternasional(Bank Dunia dan
bank-bank utarna lainnya), badan-badan FBB, d m badan-badan
bilateral harus memberi perhatian yang iuas dan bersistem pada
berbagai masalah dan kesempatan konservasi spesies. Meski pun
perdagangan internasionai daiam aiam asii dan produk-produk
alarrl a ~ l ic~-!ltnph ~ s 3 . rs2mpsi
~
szat ir,i ni!ai ekoncn?i yang
terkandung dalarn keberagarnan geneti k dan proses-proses ekologi
i i l i 11131t1t11 nirncl'apat 1lr.1llal ;ill! l ~ r ~ r i c 1 1Ti!~c.laka!l-ri!~claE:a~~
1.
yang
dapat diambil mencakup analisis dampak lingkungan dari proyekproyek p~mbangunan)Tang perhatian uta,manya pada habitathabitat spesies dan sistem penvanyga kehidupan, identifikasi
kawasan yang mernpunyai kepadatan spesies luar biasa dengan
A,,--:-+
;ndc;;zi;mc :iaggi dzn i i i ~ i i g h a d ~ pzncaiiiaii
i
besal; si-rta
Dana yang diperlukan u n t u k mcnjalankan konservasi
yang efektif sangat besar. Kebutuhan konservasi hutan troyik
memerlukan pembiayaan sebesar $170 juta setahun selama
sekurang-kurangnya iima tahun (Hermon, 2 G i O j. Seiain i t u
d i ~ ~ r l n k a!agi
n k~giatan-k~giatan
knnservasi rli Iliar kawasan
yang dil~ndungi,pengelolaan alarn as11 (wlldlijej, daerah-daerah
rc ~ I ~ : P V V I ' ~ T ~ M P I I I , karnpanytl prndidikar~,dar. lain scbagainya.
Pendekatan lain yang biayanya lebih ringan adalah konservasi
cadangan Sen yang sangat penting melalui "kax~lasnnkonservasi
genetik" di negara-negara vang memi liki kekavaan biologis.
Kegiatan semacam ini banyak yang dapat dikerjakan oleh organisasi
masyx&at d a i Sad=, anon ~cmcria:zh !nlz;'.yz.
,,,,,,,,,
kesempatan-kesernpatan khusus u n t u k nlengaitkan kor~servasi
c p c s ~ c sdcnean h n n t l i a n ~~rnhancl11n~3n.
-
GEOGRAFl B E N C A N A A L A M
-
I
-
-
-
.
. ..
B A B 5 1 Kajian Biogeografi dalarn Mitigasi Bencana Ekologi
. . . ... ... . ~
-
69
C
T
R
mendapat perhatian selayaknya. Selanjutnya, pemerintah harus
mendukung dan memperluas program pendidikan rnasyarakat,
agar masalah-masalah spesies mendapat perhatian selayaknya dari
seluruh masyarakat. Setiap bangsa memiliki sumber daya terbatas
dalarn kaitannya dengan prioritas-prioritas konservasi. Dilemanya
adalah bagaimana memanfaatkan sumher daya ini s e e f i s i ~ n
mungkin. Kerja sama dengan negara tetangga yang rnempunyai
spesies dan ekosistem yang sama dapat mengefisienkan program
dan meringankan beban biaya bagi inisiatif regional.
Secara lokal, pernerintah perlu rnengikuti pendekatan baru
yaitu dengan mengantisipasi dampak kebijakan yang diambil
dalarn berbagai sektor dan mencegah konsekuensi-konsekuensi
vang tidak dikehendaki. Pemerintah harus meninjau kembali
program-program di berbagai bidang seperti pertanian, kehutan?,
dan permukiman yang mungkin rnerusak dan menghancurkan
biodiversity. Pemerintah harus bisa menentukan berapa banyak
kawasan lindung yang diperlukan, terutarna dalam kaitannya
dengan kemampuan kawasan itu dalam m e m b a n t u tujuan
pembangunan nasional, dan membuat ketentuan-ketentuan
lebih !anjut untuk melindungi cadangan gen (varietas primitif)
yang rnungkin saja tidal: terlindungi o!ch kawasan lindungkonvensional. Selain i tu, pemerintah per1u melaksanakan dan
z i , c m p c r ~ ~S a~ Ts A ~ ~ Z ! ~,,~!!ng
; ;
; i ~ i ~ ! . -.
! \ , : ! - ~ g ~ ~ ~ ! ~ ~ ! > - > . ~ b\rafiar
~ l :bu ] ~ ~ ~ :
,
mendesak antara lnin r n e n c a k u ~~ c n e c l o l a a nalarn asli clan
Kawasan llndung secara lebih baik, pcrlunya kawasan lindung
non konvensional (seperti pos-pos ekologi yanp, rnemperlihatkan
krberhasilan di Rrazil), provck-pro~rel;ka~vasanperburuan dan
-
,-
I
I
---J---.dA-
+
,d+,,.-AL*
-p
~
.- - 1
~
~
~
i
~
c
Lud!d
i r \
a
~
I
l
1.
111u1d.
..
n
. -
I ~ L ) U ~
I VI I I S I I I I ,
Thailand, dan Zimbabwe), promosi pariwisata cagar alarn, upava
~encegahanpcrburuan tanpa izin frnrsklpur? hnnyn relntif ~ r d i k i t
spesies vang terancam akibnt perhuruan gelap ini, dibandingkan
ri~nnqn
-l.:L,l;
I.-..
ss.I
~!lil,l:'t TI,
,Lt<,-l:
nasional, seperti vnng t ~ l a l idisiapkar~di Iehih dari 25 liegar-a,
d-1pat menjadi alat penting bagi pcngoordinasian program-program
krrnscrvasi d?n y e r n h n n g ~ l n n n .
- 3
. h L .
.A
t,v,-,,-
L C I I L 1 I L.
, , I , ,,,,I,
11,
4 0 1
- 4
r
~
1
l
l
~
~
~
Tindakan lnin y a n s dnpat dinmbil pcmcrintah u n t u k
n ~ e l ~ g h a d a pkrisis
i
punallnya biodiversitj~adalah melakukan
konservasi soesies dalam perencanaan tata stlna l a h 2 n rlan
percncanaan sccara ekspl i s i t caclangan rnl~wl!l;l..ya genetik mereka
d-,lq-
";,-t*. ..
.
. .
. .
1 :,.: * , i n
'iiri*.iih.d.ii
sl_r!?l'_.crd3!-3 :i!:;r? d c ~ g l n
mcmf:3ku:!;r?n
- . -..,,- ,,,,,,,,,
-;-,--*-
!..
~
,
7 . .
~
1
'
r1 s i~ i
I
tlenyan s~srernp e n i l n i ? g
perhatian pada spesies-spesies yang bernilai tinggi namun belum
GEOGRAFI R F N C A N A A L A M
~
I
~
~
:
l
~
i
K L I ; I I&~ A~L .~ l - i ~ l ~ Yi ~~ aI
9 1
I
~
t ~ l a hpunah (horanan.
b l o g s p o t . c o m , 2012)
Cambar 24.
i
~ . , ~ . t l y ~ J ~ ~ , ;t <L~ ,l ii q~b idi,
,t;<t;,
AID5 yang t e l a l ~puno:, I.l.rLtLdua/alo.
hloespot.com, 2 n l 2 )
Spc;ic;
yang Teldh P u n a h
hlcningkatnva perhatian masyarakat dapat dilihat pada
tumbuhnva Wildlife Club di Kenya, sekarang jurnlahnya lebih dari
1.SOP club dcngan se1:itar 100.000 anEqota. Pcrl:cn~banganyang
nirilcl
r191qw-i nonrlirlil-?n
L n n c n r x r ? c i
,irin? r p r i ? r l i r l ;
7qmhiq
L
n;
i ~ ~ c i o ~ ~srlumiah
c s ~ d , -it!(, keio~npoukonqervns, I~er!rnhlln~
dl hnwah
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang mempunyai
pengaruh politik kuat. Di Amerika Serikat, kcanggotaan Audubon
B A B 5 1 Kajian Biogeografi dalam Mitigasi Bencana Ekologi
71
Society mencapai 38.500 pada tahun 1985. Di Uni Soviet, organisasiorganisasi pencinta alam mempunyai anggota lebih dari 35 juta.
Semua ini menunjukkan bahwa masyarakat memberi nilai pada
alam lebih daripada hanya sekadar kepentingan ekonomi semata.
Sebagai jawaban atas perhatian masyarakat ini, pernerintah
sudah seharusnya rnelindnngi spcsics-spesies yarlg terancam
musnah, terutama melalui penciptaan kawasan hutan lindung.
Sekarang ini, total kawasan lindung di seluruh dunia mencapai
lebih dari 4 juta kilometer persegi, kurang lebih sama dengan
luas negara-negara Eropa Barat diphungkan, atau dua kali luas
Indonesia. Luas total ka-wasan lindung di Eropa (di luar Uni Soviet)
pada tahun 1985 mencapai 3,9910 dari luas wilayah keseluruhan,
di Uni Soviet 2,5470, Amerika Utara 8,196, Amerika Selatan 6.1Yo.
d A ~ f ; ;:,a
C',>:o.
dan di A s i a (di luar Uni Soviet) dan Australia
masing-masine 4 . 3 % Spj?? f ? h y ~?1179. ji;z< ? - ~ \ A . , I L a r t .. .
in1 bertambah rnenjadi lebih dari 8090, sekirar dua per tiganya
untuk mcnyelamatkan
berada di Dunia Ketiea. M;lsih nda ivakt~?
biodivcrsity dan ekosistemnya. Dan ini merupakan prasyarat
n~irtlu:; Ld5i !)t.~-ti;>angnnan
berkclanjutan. Kegagaian kita untuk
melakukannya tidak akan dimaafkan olch generasi mendatang.
--
Kegunaan energi oleh turnbuhan ialah untuk: (1) mengambil
s e n y a w a - s e n y a w a o r g a n i k , (2) fotosintesis, (3) merombak
bahan-bahan organik melalui proses respirasi dan transpirasi,
dan (4) berturnbuh dan berkembang biak. Perubahan energi radiasi
menjadi energi kimia oleh tumbuhan hijau dilakukan melalui
proses fotosintesis. Sedangkan proses respirasi adalah kebalikan
dari proses fotosintesis, yaitu melalui: (1) tahap perombakan gula
menjadi asam piruvat yang biasa disebut glikolisa atau fermentasi
sampai terbentuk alkohol, (2) tahap perornbakan asam pinivat
rnccjadi karbondioksida, dan (3) tahap transfer energi yang biasa
disebut tahap posporilasi oxidative.
UQ,
r-
1lnr.1.n~
Cl'
()? 94
U G M
(?.-,PI,
e-
M
A
*)6"-"*w6
. A
+ OWz+
-
0 3 W
B. Beranan Tumbuhan dalam Mitiaasi B ~ n c s n aEkololqi
Perbedaan antara tumbuhan dan hewan (tingkat tinggi) ialah
b a h w a ;)?\van ridak dapat meng1,lasilkan rnakanannya sendiri. Oleh
sebab itu, tumbuhan disebut iuga makhlu k h irliin v 2 n t~e r g o l o n ~
k r p a d a s e l f nutrisirlg organism, selain cendawan dan bakteri.
Dengan d e m i k i a n , turnbuhan mcrcpakan rnaF;ll!uk hidup yang
punya peranan penting dalam mengubah energi di alam menjadi
c
-..c~gi
.
kimia &II encrgi potensial vans d;7pat rlirn?nf;ratk2n olch
rnakhluk !lidup lainnya. Menurut Odurn(lQq?\ e n ~ r n i-++~l?h
.-,
T . U ; ~ ~R,3n7arnl?i~nn
II
lrntlrl- m~l?~:!;!:;'~:
="i;;;c;a : ; c - . i . j ~ (trlt,!,ql
US
.
. , ~sc~elln~O
he abiiity to do work).
.-..
.
72
GEOGRAFl BENC4MA ALAM
.
~
.......
.
.
-
.
-
.
-
.-
..A.
.. . - .
Garnbar 2 5 . Proses Fotosintesis
d a n Respirasi
rilnutuiian snnRat h ~ r p e r ? n d i 3 1 n n Za!anl p i o s e s
menciptakan keseimbangan alam, ha1 ini karena tumbuhan
merupakan salah satu subsistem v a n s sangat penting di
T
I
BAB 5 Kajian Biogeografi dalam Mitigasi Bencana Ekologi
Fl~ktora ~ i o t ~t iingicun~an
k
tisik), adaiah aiam Ilnsliunyan
yang berasai daj-I b u k a n m a k h l u k h i d u p . Pada prinsipnvn
iingkungall ~ ~ b i o r ciapat
ik
dibagi atas beberapa faktor-: (1) suhu.
( 7 )ni r, mcr11p;li;an tal;ror iitama vang sangat penting untuk proses
kehidupan, (I:? tnnah, merupakan media untuk pertumbuhan
tumbuhan. K o m p o n e n ekosistem ada dua vaitu: (1) uutotrophic
(auto/sendiri dan trophic/makanan), merupakan makhluk hidup yang
dapat menghasilkan makanan sendjri dengan menggunakan sinar
matahari sebagai sumber e n e r g i . Energi radiasi d a r i m a t a h a r i
s e l a n j u t n y a d i u b a h rnenjadi energi potensiai dengan mengambil
bahan-bahan sederhana, atau ion-ion, kemudian m e n g o l a h n y a
rnenjndi m ~ l c k u lkomp!tks sepcrti karSohidrnt, protcin, Icmnli,
dnn s e b a g a i n v i l . ( 2 ) Hctcrotropic (hetero/lainnva d a n tropic'
d a l a m s u a t u ekosistem, a n t a r a lain a d a l a h sebagai berikut.
(1) dapat memanfaatkan energi radiasi matahari secara langsung
untuk kebutuhan fisiologinva dan mengubahnya menjadi energi
potensial d a n energi kinetik, (2) u n t u k t u m b u h a n tingkat tinggi
berperan sebagai produser, terutama t u m b u h a n yang mempunyai
zat hijau d a u n (chlorophvl), (3) u n t u k t u m b u h a n tingkat rendah
berperan sebagai dekomposer untuk proses-proses humifikasi dan
mineralisasi, rnengubah bahan-bahan o r g a n i k m e n j a d i b a h a n b a h a n anorganik, d a n (4) p e m b e r s i h u d a r a d e n g a n mengambil
CO, d a n mensuplai 0,.
Ekosistem ialah sesuatu sistem di m a n a di dalamnya terdapat
interaksi antara faktor-fdktor hiotik d a n ahiotik. nerdasarkan
definisi tersebut, lautan, h u t a n , rawa, danau, dan areal pertanian
d a p a t dikategorikan sehagal ekosisrcrn. I-ak:or hio:li dapa:
~
j
r j ~h <?)
l x r ~ j t ~! ~f 1
: ) t ~ ~ r ~n h ~ . ~ f3'1
h a ~nhrtxr2n
,
dnn
~
f?!
manusia. Tumbuhar! dengan lingkungan biotiknya mempunyai
h i l h ~ i n p nyanz arat, teriltama dalam sistem kehidupan a n t a r
organisme. M ~ n u r r l tO d u m (1 ?92), hubungan a n t a r individu
. .. . .
dapa: serupa: ( 1 ) nerra!isme, y x c u h u b u n g a n 2nrar ! I ? ~ ! J V ! ~ ! I - I
yang tidak merugikan a n t a r a individu yang satu d ~ n g a nindividu
!nir,n~,.n,
(2) zur::a!i:;r;Ac, )'zitE 11c5U~g2r.3 2 ~ 7 : iT1di\,jd:! x r- -g.nmo
s a l i n g m e n g u n t u n g k a n , (3) p r o t o k o p e r a s i yaitu h u b u n g a n
i11dii.idu
~ n i r i pd e n g a n m u t u a l ~ s m e ,tap1 ridnl: 5crsifn:
nhlisatif, (4) l : n m ~ n ~ ? l i s ryna~i t i ~h i i h i ~ n g a nanrar individll. di
m a n a s a t u individu b e r u n t u n g sedangkan individu lain tidak
mengalami kerugian, (5) kompcti:;i y a i r u I l u b u n g ; i ~ ii l l i t a r
i n d i v i d u , d i m a n a s a t u i n d i \ l i d ~ im c n z n s d n n i n d i v i d u
lainnya m e n g a l a m i k e k a l a h a n , (6) amensalisnle yaitu
huhllnpan a n t a r i n d i v i d u yang tidak t e r p e n e a r u h s a t u s a m a
n
lainnya, clan (7) p a r a s i t i s n ~r~a n p r e ~ l a l i s r n r ,l ~ t ~ i ) a n $ aantar
.,
. i i ~ r t i ~-r;ii
. '.., ,
1
'
1 " 1
I - : .......
~ s
f i \ ~ r r~, c i
I~.L~.....<.L
,I
1.
t i 8 1 11;
.
I I I I ~ !, # I
t i
~
a
tner.gz!.?mi I : e r a ~ i n n .
~
s
r
~
r
a ~ h r c; . ~ , , , ~ , L I ~ L ~ I
\
i.~~l,i;,,ili,jl;;,
~
1
l
; I I\
1
..-.
,
% I !~ . I ; - ,I, Il ~ b , ! j ~ . IiI L ! , . . .
(llt.!L!!
1
\ :!!!>;! l ! t ! i ( J
l ~
.
,..
l ~ ; ~! ~! ! !: ~ ! ~ . . ~ ! ! ; j j ~
PL" ' '
'
bcr.t1:mh1ih dnn h c r k c m l a n e biali d c r l e a r ~1:1en\7usurr
kcmball b a h ~ nyL711g s u d a h ;~cla.S c l a i r ~i t u , clcrnen-elejnen
c k o s i s t e m d a p a t d i b e i l a k a l ~ar a s : ( 1 ) c ~ l ~ i o t i yaitu
k,
elemenelemen van:,: ticlal, I i i d ~ i p ,,.cpci-ti: ~ a t ~ a ;iir,
! ~ , dan udara, (2)
-.... . J
...-- I.. .I- - . I . " .
1 . ~.
I I\CJI
LC I
~ ~ C I . A
~u n t u k
/'7\
v I v u u a L r i r L ~ . ~ , ~ u I * c IIIILLU.
A ~ I
I.-)UIIIC.II.
\.A
s ~ ) : ~ i ~ s
1
1
IIC,WC~II
vang mernakan t u m b u h a r m a u p u n hewan lainnva. d a n (4)
dekomposer. vaitu n?ak!?lul,. hidup \Inns Ix>r-sif;lthrtc!-c>t
rnf ynn!?,
dapat mensintesis rnakhluk hidup yang telah mati. Elemen-elemen
;;?;
...-- - - -- - -. p<..i-~i
v, c
),.I~B! ~!L.:I!I 1 + ~ J ~ . J , : ! \ I ,
..
,sukscsi, dan klimaks ilala~ilekosisrern.
;at>,..,
.,
-,,I
;I-I~/,
IL:,,,
~.:>!<,*I~I
1
t
8-1:-
I
.
)~:!II.
I
Populasi m e r u p a k a n makhluk h i d u p sejenis yang h i d u p
bet-asosiasi :;oIlingg;~~-ncl.upak,~n
sari^ ikat;ill kclonipok k(tcrl dalarn
l i n g l c u n p n . Knml~nitnqmcrupakan qnntri kumpulan mnkhlul;
hidcrp yang niempunyai hubungan timbal hnlik sesamanya dnn
l i n ~ k u n p ndi mnnn mereka hidiln. S ~ l a t kniii~initxq
i~
d2n pn?iilasi
t iclak a k ~ n
r c . ~ . l > r1n1 k~ <cak;jlig!~.q sr;vrti aya v a l ~ gterljhat sei.rarang,
.L ~. L L .~ i -1' ,
, ~ S L C A * ~: , L
,-.
f..
i ..
l ~....
~ ~
L
I
,
<
* 8 a ,
11,
1
! t,o(
,
t r t 6
i
i~ 8 ~ ' i d n i j i . I~i.1
$ (
. .
f!'?L~:-~C~>:
~ ~ ; ~ .!c'~:~c?!:[I!
h<?r;c,~:!: d.1~::!cd2!:
,.!
.:,!;
- . ~~ I~ I , i l i ! , bl: ! !~!
!?i,?!:]?j~i?<
\,<!!I,<
I;id;lp,
- ..
4
GEOGRAFI BENCANA A L A M
-.
DCE 5 ) Krtjian Eiogcografi dalarn Mitigasi Bencana Ekologi
75
kemudian menjadi beberapa makhluk hidup yang mungkin hidup
di sana, barulah kemudian datang pula jenis-jenis lain dan hidup
lagi di tempat tersebut sehingga akhirnya terbentuk komunitas
yang kompleks.
Gambar 26. Populasi Kuda Sumbawa dan Populasi Burung Flamingo
7
- -
. .
-
r ~ . - k . ~ ht . . - ~ ~ . . k q . . J ; i r q c o i r e . .
-
Proses pencapaian komunitas yang kompleks di~nulaioleh
rum hn h - t ~ ~h m
~ ~ h atin3k;lt
n
rendah. Proses-proses yang teriadi
n ~ u l a idari keaclaan kosong makhluk hidup rerscbut sampai
menladl suaru tlngkarL2 komunlras y m g kempleks il.;rhvr < I ~k\t+i
(succession). Suksesi d i p e n g a r ~ h ioleh dua faktor ekologi, yaitu
:arm!: dZr: j!;!;;;',.
K!im2t.,s .;~z;: terjgC1_i 21:jhlt n
r~
-n
-ac
ar ~ . i rha n a h
disebut klimaks edapik, sedangkan yang dipengaruhi oleh iklim
disebut hlin~dks,kllm. Kalau suatu i;iimal:s dirus2k, ' r , c ~ ~ ! ? i i n
cylihiarkan tanpa diyn,qzl~,
maka k~nrlaanaknn berancsur-angsur
berubah menuju keadaan sebelum diganggu sehingga mencapai
. .
kenlantapan ekologi kcmbali, xnai,,~plusc:. .ir,:lll; c!e~n:!.i;lnJ i s c l ~ u t
suksesi kedua (secondnry strccrs<ion).
r6
.
-'
""..
""'
. i F . m . - n-- A r
---"A
A*-*
e""..
.--
-..- *.. '..,"'"'"""
i.-...-.
'"""
kalau tumbuh-tumbuhan tersebut menentukan sifat habitat atau
kanopinva liarnpir memenuhi seluruh areal komunitas. Variasi
vane kecil dalarn suatu lokasi akan menimbulkan sita. Suatu
komunitas tumbuhan yang terdiri dari dua spesies yang dominan
atau lebih disebut asosiasi. Bila pada suatu daerah kontingen
t e r s e b ~ tmacam-macam asosiasi dari tipe-tipe tumbuhan yang
Sam2 disebuc for.~asi.
I,
I
C
- .
b":
,
-
.
GEOGRAFl BENCANA ALAM
.--
.
_
.
,
__
._
_
_.__.__
.-__.
_
_",.*
_._^
.
-~
BAB 5 ( Kajian Biogeografi dalam Mitigasi Bencana Ekologi
_.-^
77
4.
Bioma Hutan Tinggi Sub Tropis
Daerah yang mendapat curah hujan banyak, mempunyai
t u m b u h a n h u t a n dengan pohon-pohonan yang tingpi.
Hutannya mempunyai sifat-sifat yang dapat menyesuaikan
diri dengan keadaan iklim yang lembab.
Sumber: (thcfreegeorge.com, 2012)
Gambar 35. Herbs
Ada tiga jenis lurnput-rurnputan yairu: (1) annuals, yang siklus
illclupn\la beslangsung dalam I tai-ruri,
! ? i i - n ~ . i ~ nr:2ny
:r
!-I;>! .::::,
.... ....
- ! ? >L..
l r , . , i ? r * n n r r .? .
,-I.-m
Gambar 33. Bioma Hutan Tinggi Sub Tropis
5.
EiomaPadanr~Rumput
Tumbuhan yang berbuilga yang tidak bcrkqu dlscbu: fierl;:.
Rumput-rumputan rnerupakan bagian terbcsar dari herbaceous.
Rnialig 1 ~ 1 1 n p ubsi-i~as-ruas
t
yang dihatasi o:ch h u k i i - h u h
t
- , ~ % . ~ .
h,. n.v 1 . - ? r n h ~ n r r n
l r l ~r-nl~rimn c r t ~ ~ m h r l h n - :
~ a d asuaru tahun dan mulai berbunga.:berbuah ~ a d atali^^!!
h c r i k ~ ~ ~ t n jarli
y a , c i k l i i q hirllrpnva h c r l a n ~ s u n g2 tahun. d:~::
( 3 ) pnrcltni,!l:, y a n g hid1113lama dari rahun ke tahun. Rumr~:i:rumpucan merupa1:an b3glan caripaca L,ornun!r,as h a : : ! ! )
ataupun sernak bclukar.
(nod~q).
-
D
Gambar 34. Bioma Padang Rumput
Sumber: (foxleas.com, 2012; gardenguides.com, 2012; naampruitt.com, 2012)
Gambar 36. (A) Annuals. fB) Biennials. (C1 Perennials
82
GEOGRAFl BENCANA ALAM
BAB 5 1 Kajian Biogeografi dalam Mitigasi Bencana Ekologi
- .-
-
- .- --
--
-
---- -- ---
,*
83
.
I".
.,
,:3 * . 2 3
*.;
;
.
Tt,. .;. *..:
';.:,
,
f'
.
[
Download