INVENTARISASI FITOPLANKTON DI PERAIRAN BENDUNGAN

advertisement
Serambi Saintia, Vol. II, No. 2, Oktober 2014
ISSN : 2337 - 9952
INVENTARISASI FITOPLANKTON DI PERAIRAN BENDUNGAN
BEURAYEUN KECAMATAN LEUPUNG KABUPATEN ACEH BESAR
Jalaluddin1, Nurul Akmal2, Azwir3
FKIP Biologi Universitas Serambi Mekkah
2,3)
Mahasiswa Pascasajana Unsyiah
1)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Fitoplankton di perairan
Bendungan Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek garis dengan teknik
purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di
perairan Bendungan Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar
ditemukan sejumlah fitoplankton dari divisi: Divisi Chlorophyta 67% yang
terdiri dari spesies Chlamydomonas sp, Volvox sp, Cladophora sp, Chlorella sp,
Closterium sp, Spirogyra sp, Fragrilaria sp, Asterionella sp, dan Euglena sp
yang mewakili di perairan Bendungan Beurayeun Kecamatan Leupung
Kabupaten Aceh Besar. Divisi Chrysophyta 22% yang terdiri dari spesies
Fragilaria sp dan Asterionella sp yang mewakili di perairan Bendungan
Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar. Divisi Euglenophyta
11% yang terdiri dari spesies Euglena sp yang mewakili di perairan Bendungan
Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar.
Kata kunci : Invetarisasi, Fitoplanton
PENDAHULUAN
Inventarisasi merupakan kerja awal dalam pengumpulan data tentang kekayaan
jenis tumbuhan dan hewan di suatu kawasan. Hasil inventarisasi ini dapat disusun
secara sistematis tentang jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di suatu daerah.
Menurut Purwadarminta (1990: 95) mengatakan inventarisasi adalah pencatatan atau
pengumpulan data tentang kegiatan, hasil yang ingin dicapai.
Inventarisasi yang dimaksudkan disini menyangkut dengan sebaran jenis-jenis
fitoplankton yang ada diperairan Beurayeun. fitoplankton yang telah ditemukan
dilakukan identifikasi. Identifikasi dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
taksonominya yaitu: divisio, kelas, ordo, famili, genus dan spesies. Syarat-syarat
khusus untuk mengidentifikasikan suatu jenis tumbuhan dan hewan yang belum dikenal
di dunia pengetahuan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam kode
international tata nama hewan. Pemberian nama ilmiah setiap binatang menggunakan
sistem yang disebut nomenklatur. Dengan sistem ini, setiap spesies diberi nama ilmiah
yang terdiri dari 2 kata. Kata pertama adalah nama genus, sedangkan kata kedua adalah
nama spesies. Namun terkadang ada kata ketiga yang ditulis setelah kata kedua. Kata
ketiga tersebut merupakan nama orang yang pertama menemukan binatang tersebut dan
memberi nama ilmiah, misalnya Agromyza phaseoli (Tryon) (Pracaya, 2010:26).
Plankton adalah organisme akuantik yang hidup melayang di air sehingga
kemampuan gerakkannya sangat terbatas dan selalu terbawa arus. Plankton dapat
dibagi menjadi dua golongan utama yaitu fitoplankton (organisme plankton yang
119
Jalaluddin, Nurul Akmal, Azwir
bersifat tumbuhan) dan zooplankton (organisme plankton yang bersifat hewan)
(Nontji,1993).
Fitoplankton merupakan tumbuhan renik yang hidup melayang-layang di
peraian dan memegang peranan yang penting dalam ekosistem akuatik. Keberadaanya
sangat diperlukan karena memiliki kandungan klorofil sehingga mampu dilakukan
proses fotosintesis. Proses fotosintesis pada akuatik yang melakukan oleh fitoplankton
merupakan sumber nutrisi bagi kelompok organisme akuatik yang berperan sebagai
konsumen (Sachoemar dan Aliyah, 1996).
Komunitas dalam arti ekologi mengacu pada suatu kumpulan populasi yang
terdiri dari species yang berlainan yang menempati daerah tertentu. Dalam
kenyataannya komunitas dapat memiliki ukuran berapapun, bahkan sekecil toples
laboratorium berisi air yang mengandung bakteri, jamur dan protozoa (Ewuise,
1990:5). Selanjutnya Michael (1994: 268) menjelaskan bahwa:
Komunitas diberi nama dan digolongkan menurut species atau bentuk hidup
yang dominan, habitat fisik dan kekhasan fungsional. Analisis komunitas dapat
dilakukan dalam setiap lokasi tertentu berdasarkan pada perbedaan zona atau
gradien lingkungan, makin beragam komunitasnya karena batas yang tajam
terbentuk oleh perubahan yang mendadak dalam sifat fisika lingkungan.
Fitoplankton adalah tumbuh-tumbuhan air yang berukuran sangat kecil yang
terdiri dari sejumlah besar klas yang berbeda. Fitoplankton bisa ditemukan diseluruh
massa air mulai dari permukaan laut sampai pada kedalaman dengan intensitas cahaya
yang masih memungkinkan terjadinya fotosintesis (Nontji, 2002:126). Hal ini juga
diperjelas lagi oleh Isnansetyo (1995: 13) menjelaskan bahwa:
Fitoplankton dapat dikatakan sebagai pembuka kehidupan di planet bumi ini,
karena dengan adanya fitoplankton memungkinkan makhluk hidup yang lebih
tinggi tingkatannya ada di muka bumi. Fitoplankton juga disebut plankton
nabati, merupakan tumbuhan yang amat banyak ditemukan di semua perairan
tapi sulit dilihat kehadirannya karena ukurannya yang mikroskopis.
Menurut Hutabarat (1985: 106), “mereka memiliki peranan yang sama
pentingnya baik di sistem pelagik maupun seperti yang diperankan juga oleh tumbuhtumbuhan hujan yang lebih tinggi tingkatannya di ekosistem daratan, mereka adalah
produsen-produsen utama (primary producer) zat-zat organik”.
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil mampu
melaksanakan reaksi fotosintesis dimana air dan CO2 dengan adanya sinar surya dan
garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat (Nontji,
2002: 126).
Lingkungan distribusi fitoplankton umumnya disemua dan disepanjang perairan
serta pada kondisi air yang berbeda. Oleh sebab itu fitoplankton tersebar luas di danau,
di sungai dan di laut, baik air yang mengalir, tawar, asin, payau maupun air yang
tenang. Menurut Nontji (1993) menjelaskan bahwa:
Fitoplankton sebagai tumbuhan perairan yang berukuran mikroskopsi, hidup
melayang dalam air dengan kemampuan gerak yang lemah, sehingga
pergerakannya banyak ditentukan oleh perairan air. Fitoplankton menerima
energi untuk pertumbuhan melalui fotosintesis dan hanya menempati lapisan air
yang mendapat cahaya matahari.
Menurut Romimohtarto dan Jauwana (2001), fitoplankton merupakan makanan
alami larva organisme dan sebagai produsen utama diperairan, sedangkan organisme
120
Serambi Saintia, Vol. II, No. 2, Oktober 2014
ISSN : 2337 - 9952
konsumen adalah zooplankton, larva ikan, udang dan sebagiannya. Produsen adalah
organisme yang memiliki kemampuan untuk menggunakan sinar matahari sebagai
sumber energi untuk menghasilkan makanan sendiri.
Menurut Siswanto ( 1997), sebagai organisme renik, fitoplankton memegang
peranan yang sangat penting dalam rantai makanan yang berlangsung di ekosistem
perairan. Dengan demikian zat organik yang dihasilkan sangat dibutuhkan oleh
organisme akuatik lainnya seperti zooplankton dan berbagai jenis udang dan biota
lainnya.
Fitoplankton mempunyai kemampuan untuk melakukan fotosintesis, sehingga
menjadi sumber makanan bagi crustacea (zooplankton) yang bersifat harbivora dan
pada gilirannya kemudian dimakan oleh ikan – ikan dan larva ikan. Fitoplankton sangat
penting sebagai produsen primer dengan kandungan nutrisi yang tinggi terdiri dari
protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan lain – lain ( Anonymous, 2011).
Tumbuhan ganggang merupakan tumbuhan talus yang hidup di air, baik air
tawar maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab dan
basah. Yang hidup di air ada yang bergerak aktif ada yang tidak. Jenis-jenis yang hidup
bebas di air, terutama yang tubuhnya bersel tunggal dan dapat bergerak aktif
merupakan penyusun plankton, tepatnya fitoplankton (Tjitrosoepomo, 1989:30).
Menurut Romimohtarto (2001: 39), “Meskipun fitoplankton membentuk
sejumlah besar biomassa di laut, kelompok ini hanya diwakili oleh beberapa filum saja.
Sebagian besar bersel satu dan mikroskopis, mereka termasuk filum Choropytha, yaitu
alga -hijau yang meliputi diatom dan kokolitofor, selain itu terdapat jenis laga biru
(Chyanophyta), alga coklat (Phaenophyta) dan satu kelompok besar dari Dinoflagellata
(Pyrophyta)”.
Menurut Romimohtarto dan Jauwana (2001), fitoplankton merupakan makanan
alami larva organisme dan sebagai produsen utama diperairan, sedangkan organisme
konsumen adalah zooplankton, larva ikan, udang dan sebagiannya. Produsen adalah
organisme yang memiliki kemampuan untuk menggunakan sinar matahari sebagai
sumber energi untuk menghasilkan makanan sendiri. Menurut Siswanto ( 1997),
sebagai organisme renik, fitoplankton memegang peranan yang sangat penting dalam
rantai makanan yang berlangsung di ekosistem perairan. Dengan demikian zat organik
yang dihasilkan sangat dibutuhkan oleh organisme akuatik lainnya seperti zooplankton
dan berbagai jenis udang dan biota lainnya.
Fitoplankton mempunyai kemampuan untuk melakukan fotosintesis, sehingga
menjadi sumber makanan bagi crustacea (zooplankton) yang bersifat harbivora dan
pada gilirannya kemudian dimakan oleh ikan - ikan dan larva ikan. Fitoplankton sangat
penting sebagai produsen primer dengan kandungan nutrisi yang tinggi terdiri dari
protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan lain-lain ( Anonymous, 2011).
Kehidupan fitoplankton sangat dipengaruhi oleh komponen abiotik dan biotik
yang sangat saling berinteraksi satu sama lain. Faktor abiotik yang mencakup
paramenter fisika dan kimia perairan arus, suhu, intensitas cahaya matahari, pH air,
oksigen terlarut dan suhu hara yang memegang peranan penting dalam menentukan
keberadaan jenis fitoplankton di perairan (Anonymous, 2011).
Kehidupan fitoplankton tergantung pada faktor fisika dan kimia suatu peraian.
Faktor – faktor tersebut antara lain seperti suhu, intesitas cahaya, derajat keasaman
(pH), oksigen terlarut (DO) dan unsur – unsur hara perairan. Adanya penambahan atau
masuknya unsur – unsur hara yang berlebihan dapat menyebabkan eutrofikasi, sehingga
121
Jalaluddin, Nurul Akmal, Azwir
kualitas suatu perairan tersebut akan menurun dan dapat mempengeruhi keberadaan
fitoplankton. (Makson,1981).
Suhu merupakan salah satu factor penting dalam mengatur proses kehidupan
dan penyebaran organism di suatu peraian. Suhu air sangat dipengaruhi oleh jumlah
sinar matahari yang jatuh ke permukaan air, yang sebagian dipantulkan ke atmosfir dan
sebagian lainnya masuk ke perairan dan disimpan dalam bentuk energy.Menurut
Effendi dan Susilo (2001), suhu optimal untuk kehidupan plankton 200C300C.Intensitas cahaya yang masukke dalam perairan sangatberpengaruh terhadap
aktifitas fitoplankton dalam melakukan proses fotosintesis. Intensitas cahaya berfungsi
sebagai factor yang mendukung untuk kehidupan organism tersebut dalam habitatnya
(Nontji, 1993).
Organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan dengan ph netral dengan
kisaran toleransi antara asam lemah dan basa lemah. Nilai pH optimal untuk
pertumbuhan plankton berkisar antara 7 sampai dengan 8,5. Kondisi perairan yang
bersifat basa sesuai bagi kehidupan plankton dan sebaliknya bila kondisi perairan yang
bersifat basa sesuai bagi kehidupan planton dan sebaliknya bila kondisi perairan
bersifat asam akan membahayakan kelangsungkan hidup plankton karena akan
menyebabkan terjadinya gangguan metabolism dan respirasi (Hamidah, 2001).
Fitoplankton dalam pertumbuahnnya membutuhkan banyak unsure hara makro
dan mikro. Nitrat dan fosfat merupakan unsure hara nakro yang dibutuhkan oleh
fitoplankton sebagai nutrient yang biasanya menjadi factor pembatas bagi pertumbuhan
fitoplanton dan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas perairan. Nitrat dapat
digunakan untuk menentukan kesuburan perairan sedangkan fosfor dapat digunakan
secara efektif untuk pertumbuhan fitoplankton dalam bentuk anorganik yang terlarut
(ortofosfat) (Goldman dan Horne, 1983).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2012 di perairan bendungan
Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar. Sampel yang diambil
diindentifikasi di laboratorium FKIP Biologi Serambi Mekkah Banda Aceh. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek garis dengan teknik
purposive sampling.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil penelitian jenis fitoplankton di perairan Bendungan Beurayeun
Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar yang dilakukan pada tanggal 23 Januari
2012 disajikan pada Tabel 1 Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat 9
spesies fitoplakton dari 3 divisi.
122
Serambi Saintia, Vol. II, No. 2, Oktober 2014
ISSN : 2337 - 9952
Tabel 1 Jenis-Jenis Fitoplankton yang Terdapat di perairan Bendungan Beurayeun Kecamatan
Leupung Kabupaten Aceh Besar
Divisi
1. Chlorophyta
Kelas
Ordo
Family
2. Ulvophyceae
3. Trebouxiophyceae
4. Zygnemophyceae
2.
3.
4.
5.
2. Chrysophyta
5. Bacillariophyceae
6. Pennales
7. Fragilariaceae
7. Fragilaria
8. Asterionella
7. Fragilaria sp
8. Asterionella sp
3. Euglenophyta
6. Euglenoidea
7. Euglenales
8. Euglenaceae
9. Euglena
9. Euglena sp
\
Chlamydomonaceae
Volvocaceae
Cladophoraceae
Chlorellaceae
Closteriaceae
Zygemataceae
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Chlamydomonas
Volvox
Cladophora
Chlorela
Closterium
Spirogyra
Spesies
1. Volvocale
Cladophorales
Chlorellales
Desmidrales
Zygnematales
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Genus
1. Chlorophyceae
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Chlamydomonas sp
Volvox sp
Cladophora sp
Chlorela sp
Closterium sp
Spirogyra sp
Hasil penelitian terhadap jenis fitoplankton diseluruh lokasi penelitian diperoleh
9 spesies terdiri dari 3 divisi, 6 kelas, 7 ordo dan 8 family yang terdapat di perairan
Bendungan Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar.
Komposisi Jumlah Divisi Fitoplankton yang Ditemukan Dilokasi Penelitian
Untuk mengetahui komposisi divisi jenis fitoplankton yang terdapat di perairan
Bendungan Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar, maka dapat dilihat
pada tabel 2 berikut.
Tabel 2 Komposisi Jenis Divisi Fitoplankton pada Lokasi Penelitian
No
Familia
Spesies
Chlorophyta
1
6
Chrysophyta
2
2
Euglenophyta
3
1
Jumlah
9
Persentase (%)
67
22
11
100
Berdasarkan tabel 2 di atas, diketahui bahwa jumlah spesies fitoplankton yang
banyak ditemukan yaitu pada divisi Chlorophyta yaitu 67%, sedangkan pada divisi
Chrysophyta dan Charophyta masing-masing hanya ditemui 22%, sedangkan
Euglenophyta hanya 11% saja. Untuk lebih jelasnya persentase divisi fitoplankton yang
ditemukan pada lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 4.1 Komposisi jumlah divisi dari jenis fitoplankton yang ditemukan dilokasi penelitian
123
Jalaluddin, Nurul Akmal, Azwir
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di perairan Bendungan
Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar ditemukan sejumlah
fitoplankton dari divisi:
1. Divisi Chlorophyta 67% yang terdiri dari spesies Chlamydomonas sp, Volvox sp,
Cladophora sp, Chlorella sp, Closterium sp, Spirogyra sp, Fragrilaria sp,
Asterionella sp, dan Euglena sp yang mewakili di perairan Bendungan Beurayeun
Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar.
2. Divisi Chrysophyta 22% yang terdiri dari spesies Fragilaria sp dan Asterionella sp
yang mewakili di perairan Bendungan Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten
Aceh Besar.
3. Divisi Euglenophyta 11% yang terdiri dari spesies Euglena sp yang mewakili di
perairan Bendungan Beurayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2011. (online), (http://id.wikipedia.org/wiki/tsunami.com; diakses 9
september 2011).
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
Anonymous. 2008. (online), (http://www.Bandaacehkota.go.id; diakses 9 september
2011).
Ferianita, F. M. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Handayani, i. N. 2008. Keanekaragaman fitoplanton di Pantai Pasir Putih Barat dan
Muara Sungai Cikamal Pangandaran Jawa Barat. Journal. Jakarta
Pracaya. (2010). Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta : Penebar Swadaya.
Hutabarat dan Evans., 2000. Pengantar Oseanografi, Universitas Indonesia-Press,
Jakarta
Nontji, Anugerah., 2005. Laut Nusantara. Cetakan Keempat. Djambatan. Jakarta.
Nontji, Anugrah., 1993. Laut Nusantara. Cetakan Kedua. Djambatan. Jakarta.
Hutabarat,L.,Evans, S.M.1984. Pengantar Oceanografi.UI Press. Jakarta
.
124
Download