PERSOALAN KERACUNAN LAMTORO

advertisement
PERSOALAN KERACUNAN LAMTORO (LEUCAENA LEUCOCEPHALA)
MASIH BELUM TUNTAS
Jacob Nulik
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT
ABSTRAK
Lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan pakan andalan yang dominan bahkan sampai
100% menyusun ransum penggemukan ternak sapi di Amarasi, Kabupaten Kupang, berlangsung sejak
tahun 1970-an. Penggunaan lamtoro hingga 100% di Amarasi ini secara umum dan kasat mata tidak
menunjukkan tanda-tanda keracunan mimosin, di mana ternak sapi sangat mungkin telah memiliki
mikroba penting dalam rumen yang mampu mendegradasi mimosin dalam pakan. Namun penggunaan
lamtoro tidaklah dengan cepat menyebar ke tempat lain di NTT dengan penggunaan seintens di Amarasi.
Masih ditemukan kasus-kasus tanda-tanda keracunan mimosin pada ternak yang mengkonsumsi lamtoro
dalam jumlah banyak di tempat lain, yang kemungkinan telah menghambat penggunaan lamtoro sebagai
pakan di NTT. Metoda yang dikembangkan Jones untuk mendeteksi DHP dalam urine ternak ternyata
belum begitu peka untuk mendeteksi bentuk 2,3 DHP dan untuk 3,4 DHP pada ternak yang
mengkonsumsi lamtoro asal tanah-tanah alkalin, seperti Timor, konsentrasi acid masih perlu
ditambahkan untuk dapat mendeteksi 3,4 DHP. Masalah-masalah tersebut masih memerlukan penelitian
dan pengkajian yang lebih mendalam, antara lain untuk mengidentifikasi dan mengisolasi serta
mengembangkan pemanfaatan mikroba pendegradasi mimosin yang efktif, sehingga pemanfaatan
lamtoro sebagai pakan berkualitas dan produktif pada kondisi kering NTT dapat lebih ditingkatkan.
Kata Kunci:
Lamtoro (Leucaena leucocephala), Amarasi, NTT, Ternak sapi; 3,4
mimosin.
DHP; 2,3 DHP,
PENDAHULUAN
Andalan pakan hijauan asal Lamtoro (Leucaena leucocephala Lam. de Wit) dalam memenuhi
kebutuhan ternak sapi di Nusa Tenggara Timur, secara umum, dan di Kecamatan Amarasi - Kabupaten
Kupang, secara khusus telah berlangsung cukup lama. Penggunaan lamtoro di Kecamatan Amarasi
sudah berlangsung sejak tahun 1970-an ketika progam Panca Usaha Ternak Potong (PUTP) mulai
digalakkan oleh Dinas Peternakan. Walaupun pada tahun 1987 lamtoro mulai terganggu pemanfaatannya
oleh serangan hama kutu loncat (Heteropsyla cubana), yang mengakibatkan penurunan produktivitas
tanaman ini, namun kondisi ini secara alamiah telah relatif pulih, hingga pemanfaatan lamtoro masih
berlanjut hingga sekarang. Hasil penelitian dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa L.
leucocephala cv. Tarramba, yang diperkenalkan lewat kegiatan ACIAR mulai tahun 2003 di Timor lebih
toleran terhadap serangan hama kutu loncat dibandingkan dengan kultivar-kultivar lainnya yang telah
banyak dikembangkan di NTT (K28, K500 dan lainnya) sebelumnya. Hal ini membawa harapan yang
lebih baik guna pengembangan tanaman pakan asal hijauan lamtoro di NTT secara umum, dan di Pulau
Timor, khususnya.
Penggunaan lamtoro sebagai pakan ternak di Amarasi secara kasat mata tidak menunjukkan
tanda-tanda keracunan, walaupun diberikan kepada ternak sebagai pakan dominan dan bahkan sampai
100%. Namun di beberapa tempat lain di NTT, diamati adanya kasus keracunan dengan tanda-tanda
seperti bulu-bulu pada bagian badan dan ekor ternak yang rontok dan pertumbuhan ternak yang
terhambat ketika lamtoro diberikan dalam jumlah banyak. Kasus keracunan ini antara lain diamati pada
kegiatan penelitian kerjasama antara BPTP NTT dan ACIAR tahun 2007 di Kebun Percobaan Lili (BPTP
NTT) menggunakan ternak sapi Bali yang didatangkan dari lokasi Kecamatan Insana TTU dengan tandatanda ternak banyak mengeluarkan air liur dan berbusa, ternak mengalami gugur bulu pada bagian
badan dan ekornya, dan uji coba kandungan 3,4 DHP dalam urine menurut petunjuk Jones (1987)
menunjukkan tanda positif (dengan warna pink) (Pengamatan Dr. Esnawan Budisantoso, 2007, belum
dipublikasikan). Pada penelitian pemberian pakan tambahan daun lamtoro pada ternak sapi ongole di
Sumba Timur (KP Waingapu) tahun 2005 diamati bahwa daun level lamtoro sampai 30% dari total pakan
yang diberikan mengakibatkan ternak mengalami gugur bulu yang sangat banyak dan ternak mengalami
hambatan pertumbuhan.
Menurut beberapa kejadian tanda-tanda keracunan yang ditemui tersebut, bisa kita berpraduga
bahwa kemungkinan belum diadopsinya penggunaan lamtoro dengan lebih intensif seperti halnya di
Amarasi oleh petani di lain lokasi sentra-sentra produksi ternak sapi di NTT karena adanya pengalaman
buruk sebelumnya dengan penggunaan pakan lamtoro pada ternak sapinya sehingga petani enggan
memanfaatkan pakan yang sebenarnya sangat berkualitas ini. Untuk itu dirasakan masih perlu dilakukan
kajian-kajian yang lebih mendalam tentang masalah-masalah ini, sekaligus untuk mendapatkan solusi
yang tepat pengembangan pemanfaatan lamtoro di Nusa Tenggara Timur. Penelitian dan pengkajian
perlu dilakukan antara lain untuk mengidentifikasi mikroba yang efektif dalam mendegradasi DHP dapat
pula melibatkan ternak kambing, yang selain lebih toleran terhadap pakan lamtoro, juga ada
kemungkinan ternak ini dapat merupakan sumber mikroba yang efektif jika hasil penelitian dan pengajian
menunjukkan atau memperoleh hasil yang demikian. Perlu pula dicari cara praktis untuk mentransfer
mikroba yang diisolasi ini ke ternak sapi di lokasi-lokasi lain dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan
ternak serta dampaknya terhadap peningkatan pemanfaatan lamtoro sebagai pakan ternak berkualitas di
Nusa Tenggara Timur.
Gambar 1. Warna Pink yang terdeteksi pada urine ternak sapi Bali yang digunakan pada penelitian
pemberian pakan legume lamtoro di KP Lili BPTP NTT tahun 2007 (Sumber: Dr. Esnawan
Budisantoso).
PENGEMBANGAN TANAMAN LAMTORO DI NUSA TENGGARA TIMUR
Leucaena leucocephala telah masuk dan dikenal masyarakat, terutama petani, di Nusa Tenggara
Timur sejak era penjajahan Belanda. Saat itu L. leucocephala dimasukkan ke NTT, terutama di kawasan
Amarasi di Timor untuk mengatasi masalah lahan kritis dan untuk memberantas berkembangnya
tanaman gulma Lantana camara, dan pengembangannya cukup berhasil karena dukungan kuat oleh
Raja Amarasi, yang mengharuskan rakyatnya mengembangkan tanaman lamtoro dengan sistem sangsi
dan penghargaan yang berjalan dengan baik (Nulik et al., 1996; Piggin dan Nulik, 2005).
Sejak tahun 1970-an karena lamtoro telah berkembang dengan sangat baik, maka sumber pakan
ini mulai dimanfaatkan oleh masayarakat tani sebagai pakan ternak dan kemudian pemerintah, dalam hal
ini oleh Dinas Peternakan Provinsi NTT, melihat peluang pengembangan usaha penggemukan ternak
sapi (yang saat itu dikenal dengan istilah paron) melalui program PUTP (Panca Usaha Ternak Potong)
yang berkembang dengan baik sejak saat itu (Nulik et al., 1996). Karena hal ini, kini Amarasi telah
terkenal, baik di dalam maupun luar negeri, sebagai lokasi penggemukan ternak yang menggunakan
lamtoro sebagai pakan dominan bahkan sampai 100% dengan ternak sapi yang tahan terhadap mimosin.
Pengembangan tanaman lamtoro, di tempat lainnya di NTT dilakukan mulanya sebagai tanaman
penghijauan dan sebagai usaha konservasi tanah dan air, namun pengembangan penggunaannya
sebagai pakan ternak tidaklah secara intensif sebagaimana yang dilakukan di Amarasi. Sebab kurangnya
adopsi pengembangan tanaman lamtoro maupun pemanfaatannya sebagai pakan ternak sapi di tempat
lain di NTT belum dapat dimengerti dengan baik dan perlu dikaji untuk mengidentifikasi akar
permasalahannya.
Usaha untuk mengujiadaptasikan jenis-jenis tanaman lamtoro yang tahan atau toleran terhadap
serangan hama kutu loncat telah mulai dilakukan sejak adanya kasus serangan pada tahun 1987 sampai
saat ini. Hasil pengamatan ini antara lain membuahkan temuan bahwa L. leucocephala cv. Tarramba
cukup toleran terhadap kutu loncat, terutama selama musim kemarau, sementara jenis yang
diintroduksikan sebelumnya, seperti K28, masih terinvestasi dan daunnya tidak se-sehat dibandingkan
dengan penampilan Tarramba. Jenis KX2 (hibrida antara L. palida dan L. leucocephala) ditemukan
sangat tahan terhadap kutu loncat, namun saat ini masih sulit dalam pengembangannya karena masih
harus menggunakan materi vegetatif yang keberhasilannya sangat rendah untuk kondisi lingkungan NTT
(Nulik et al., 2005). Pekerjaan lanjutan untuk menghasilkan KX2 yang dapat dikembangkan
menggunakan biji masih dalam progres yang kurang lebih membutuhkan 2 tahun lagi di Queensland
University, Australia. Leucaena leucocephala cv.Tarrramba dapat menghasilkan hijauan 11-12 ton BK per
ha per tahun, sedangkan KX2 dapat menghasilkan hijauan sampai 18 ton BK per ha per tahun, namun
penampilan daunnya selama kemarau terlihat tidak sebaik yang dihasilkan oleh Tarramba. Leucaena
collinsii didapat sangat tahan terhadap serangan kutu loncat dan lebih rendah kandungan mimosinnya vs
L. leucocephala (<2%) walaupun ini masih membatasi penggunaannya pada ternak monogastrik hanya
sampai <15% dalam BK ransum, juga produksi BK hijauannnya lebih rendah dibandingkan dengan L.
leucocephala (Tropical Forages, 2006?).
Gambar 2. Kondisi tanaman L. leucocephala cv. Tarramba pada bulan Oktober 2007 di lokasi Amarasi
sebagai hasil pertumbuhan kembali ketika dipangkas pada bulan Juli-Agustus.
Dari tampilan Gambar 2 di atas dapat dilihat bahwa tidak ada tanaman pakan lain yang dapat
tumbuh pada kondisi kering seperti ini, terutama bagi jenis rumput-rumputan. Sehingga dengan masih
mampunya tanaman lamtoro (dalam hal ini kultivar Tarramba) menghasilkan hijauan jika dipangkas
selama musim kemarau, maka boleh dikatakan bahwa tanaman ini berpotensi untuk memberikan
pendapatan bagi petani selama musim kemarau dengan memanfaatkannya sebagai sumber pakan
berkualitas, yang akan dikonversikan menjadi daging oleh ternak sapi. Dengan kata lain sementara
tanaman lainnya sudah tidak mampu lagi memberikan pendapatan bagi petani, lamtoro masih mampu.
Dengan demikian boleh juga dikatakan tanaman lamtoro mampu memberikan pendapatan bagi petani
sepajang tahun, baik selama musim hujan maupun sepanjang musim kemarau yang berlansung antara 7
sampai 9 bulan di NTT, di mana kebanyakan tanaman, bahkan yang tahan kering sekalipun, sudah tidak
mampu memberikan hasil yang berarti.
KASUS KERACUNAN LAMTORO DI BERBAGAI TEMPAT
Mimosin [b-N-(3-hydroxy-4-pyridone)-a-minopropionic acid] adalah asam amino bebas yang
terdapat dalam tanaman Leucaena leucocephala. Leucaena mengandung mimosin dalam semua bagian
tanaman, 4-10% di tunas (Jones, 1979), 1-1.5% di dalam akar (Mathews and Rai, 1985) dan sekitar 0.5%
dalam bintil-bintil akar (Soedarjo and Borthakur, 1998). Mimosin bersifat racun bagi ternak, yang dapat
memberikan tanda-tanda seperti pembengkakan kelenjar tiroid, gugur bulu (Jones, 1979). Namun
sebagian ternak mempunyai bakteri rumen yang dapat mendegradasi mimosin dan memanfaatkannya
sebagai sumber nutrisi (Jones and Megarity, 1986).
Mikroba rumen mendegradasikan mimosin menjadi 3 hydroxy 4 (IH) Pyridone (DHP) yang
kemudian diabsorbsi kedalam aliran darah dan pada akhirnya dikeluarkan lewat urine. Ternak yang tahan
atau toleran terhadap 3,4 DHP urinenya akan bebas dari 3,4 DHP atau bahkan turunannya 2,3 DHP, oleh
karena mikroba dalam rumen dapat mendegradasi baik 3,4 DHP maupun 2,3 DHP, sehingga tidak
terdeteksi dalam urine ternak (TGS, 2005).
Kasus keracunan lamtoro, mulanya diamati dan dipublikasikan oleh Jones et al., (1985) ketika
ternak sapi di Australia diberikan pakan lamtoro dengan sistem renggut langsung dari lahan pertanaman
lamtoro. Ternak sapi yang mengalami keracunan lamtoro menunjukkan tanda-tanda antara lain: gugur
bulu pada bagian tubuh dan ekor ternak, pertumbuhan yang terhambat dan jelek, ternak mengeluarkan
air liur yang berlebihan, dan terjadi pembengkakan pada kelenjar tyroid. Ini umumnya pada ternak yang
dalam urinenya terdeteksi adanya 3,4 DHP dengan warna reaksi urine pink. Sementara metode deteksi
yang dikembangkan oleh Jones tersebut belum begitu peka untuk mendeteksi adanya 2,3 DHP.
Selanjutnya akibat keracunan dengan masih ditemukan 2,3 DHP dalam urine (warna reaksi biru) belum
dimengerti dengan baik dan masih memerlukan penelitian dan kajian lebih jauh. Pengamatan pada ternak
kambing yang disuntikan dengan mimosin maupun 2,3 DHP tidak menunjukkan gejala-gejala keracunan
yang berarti sepertihalnya pada 3,4 DHP, kecuali ada sedikit penurunan konsumsi pakan (Reis et al.,
1999). Penurunan konsumsi pakan ini, tentunya dapat mengakibatkan penurunan performans
pertumbuhan pada ternak juga, yang perlu dikaji lebih jauh, terutama pada ternak sapi, yang tidak
setoleran dibandingkan ternak kambing.
Walaupun kasus kematian jarang terjadi oleh akibat keracunan mimosin, namun temuan di
Australia mendapatkan bahwa ternak yang bergantung kepada lamtoro pada awal hujan dengan banyak
pertumbuhan tunas muda dan dikonsumsi dengan sangat banyak dapat mengakibatkan kematian yang
tiba-tiba, ini dijumpai dalam beberapa kasus di daerah Taroom, Australia. Hasil post mortems pada
ternak ini diperoleh bahwa rumen dipadati dengan lamtoro muda, terjadi perdarahan internal di hati dan
jantung, serta test darah menunjukkan bahwa level tyroxine dari 50 turun menjadi sektar 4-10, yang
berarti bahwa kelenjar tiroid sangat terganggu.
Keberadaan 3,4 DHP pada ternak yang mengkonsumsi Lamtoro asal lokasi dengan tanah yang
tinggi alkalin (hingga urin juga tinggi alkalinnya) kadang tidak terdeteksi dengan metoda Jones yang
menggunakan konsentrasi NHCl … namun jika ditingkatkan baru dapat terdeteksi. Dengan
menambahkan acid sebanyak 3 tetes dari yang direkomendasikan ternyata baru warna pink cerah dapat
terlihat yang mengkonfirmnasi adanya keracunan mimosin (Shelton and Larsen, 2001). Hal yang sama
juga dutemukan oleh Dr. Esnawan Budisantoso (2007, belum dipublikasikan) seperti dijelaskan
sebelumnya, pada ternak sapi yang mengkonsumsi lamtoro di Timor. Timor didominasi dengan tanahtanah yang basa dengan kandungan alkalin yang tinggi (pH dapat berkisar antara 7-9).
SOLUSI PEMANFAATAN LAMTORO DAN MENGATASI MASALAH
KERACUNAN SAMPAI SAAT INI
Untuk mengatasi pengaruh keracunan ini selanjutnya Jonnes dan Megarrity (1986) menemukan
bahwa ternak kambing di Hawaii yang mengkonsumsi lamtoro sampai 100% ternyata tidak mengalami
kasus keracunan ini, dan dengan mengambil miroba (lewat cairan rumen) dan dimasukkan ke dalam
rumen ternak sapi yang mengalami kasus keracunan di Australia tersebut dan ternyata dalam beberapa
minggu ternak ini dapat pulih kembali dan bahkan memberikan pertumbuhan yang sangat baik, sehingga
pengembangan lamtoro di Australia makin marak.
Alison et al. (1992) berhasil mengisolasi mikroba dari jenis Synergistes jonesii dari rumen ternak
kambing yang tahan terhadap mimosine, di mana mikroba ini mampu memetabolisir DHP. Ternyata
mikroba ini mampu bertumbuh hanya dari DHP dan dua jenis asam amino yang tidak lasim yaitu arginin
dan histidin (McSweeney et al., 1993). Selanjutnya kultur dari organisme ini digunakan sebagai inokulan
untuk melindungi ternak ruminansia di tempat lain terhadap keracunan mimosin (Quirk et al., 1998;
Hammond et al., 1989) dan sekali telah establish organisme ini dapat menyebar ke ternak lain dalam
kelompok melalui kontak sehari-hari lewat air liur.
Mikroba S. jonesii bersifat anaerobic dan dapat mati jika berkontak langsung dengan oksigen.
Sehingga jangan bergantung pada cara mencampurkan kotoran ternak sapi dengan air minum. Jika
ternaknya telah diinokulasi dengan berhasil, maka keberadaan mikroba ini dapat bertahan sampai sekitar
9 bulan, dan pengecekan kembali perlu dilakukan apakah ternak masih bebas dari pengaruh mimosin
atau DHP (3,4 atau 2,3) dan lakukan tindak lanjut sesuai kondisi yang diperoleh.
Gambar 3. Ternak sapi yang mengalami tanda-tanda keracunan mimosin 3,4 DHP (kiri) dan ternak yang
sama setelah 4 minggu drenching (dicekoki) dengan S. jonesii.
KAJIAN-KAJIAN PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN
LAMTORO YANG MASIH PERLU DILAKUKAN
Cara deteksi adanya kasus keracunan sebelumnya telah dikembangkan oleh Jones (1987),
namun akhir-akhir ini cara deteksi ini diketahui belum begitu peka untuk mendeteksi kasus sub-clinical
toxicity (atau toxisitas yang tidak terlihat secara kasat mata). Tanda keracunan dengan kasus ke dua ini
adalah terdapatnya 2,3 DHP dalam urine yang oleh hasil uji coba yang dikembangkan saat ini
menampakkan warna biru pada reaksi urine ternak. Namun belum dimengerti dengan baik pengaruh
pada ternak yang menunjukkan adanya kasus keracunan sub-clinical ini, dan ini perlu dilakukan atau
diketahui lewat penelitian dan pengkajian yang lebih baik lagi.
Berkembangnya penanaman dan pemanfaatan lamtoro yang belum meluas di tempat lain di NTT
seperti halnya di Amarasi perlu dikaji dengan baik. Ini perlu dilakukan untuk mendapatkan atau
mengidentifikasi akar permasalahan belum diadopsi dengan baiknya pemanfaatan daun lamtoro sebagai
pakan ternak sapi. Perlu dilihat apakan ini memang diakibatkan oleh adanya pengalaman petani
sebelumnya dengan pemanfaatan pakan lamtoro dan adanya kasus keracunan sehingga petani secara
turun-temurun kemudian tidak memanfaatkan sumber pakan ini dengan baik sebagai pakan ternak sapi.
Perlu dilihat juga apakah ini kemungkinan diakibatkan oleh karena belum biasa menggunakan lamtoro
sebagai pakan ternak dan karena itu ternak sapi belum beradaptasi yang selanjutnya bakteri penghancur
mimosin tidak berkembang dalam rumen ternak dan seterusnya berkaitan dengan kejadian keracunan
jika ternak dipaksa mengkonsumsi lamtoro.
Hasil studi preliminari pada bulan Oktober 2007 yang secara cepat dilakukan di Kabupaten
Kupang di Lokasi Amarasi, Kebun Percobaan BPTP NTT di Lili dan di Desa Silu dengan menggunakan
metoda pendeteksian DHP dalam urine yang telah diperbaiki, ditemukan bahwa ada ternak yang
memang bebas dari pengaruh mimosin dan ada juga ditemukan pada level mild (2,3 DHP) yaitu warna
biru (Tube No 5 dari kiri Gambar 4). Ini ternyata ditemukan di lokasi Amarasi, namun ternak sapi ini
berasal dari lokasi luar Amarasi yang ditampung sementara sebelum dipasarkan. Dan yang sama sekali
bersih dari pengaruh DHP adalah juga berasal dari lokasi Amarasi (mengkonsumsi lomtoro secara
dominan), dan ternaknya memang lahir dan digemukkan di lokasi ini juga. Namun ada juga ternak yang
sudah dimasukkan untuk beberapa minggu yang benar-benar urinnya bebas dari DHP. Ini menimbulkan
indikasi adanya kepentingan melakukan pengkajian dan penelitian untuk mengidentifikasi mikroba yang
dapat mengatasi pengaruh mimosin dan mengisolasikan serta mengembangkan dan
mempergunakannya untuk ternak di lokasi yang sebelumnya ternak sapi belum biasa dengan
mengkonsumsi pakan lamtoro, terutama dalam jumlah banyak, seperti halnya yang dipraktekkan di
kawasan Amarasi.
Gambar 4. Preliminari pengamatan yang dilakukan dengan metoda yang diperbaiki untuk pendeteksian
adanya tanda keracunan lamtoro di beberapa lokasi, antara lain Amarasi, Lili dan Silu,
Kabupaten Kupang (Tube 1 bebas, Tube 5 warna biru 2,3 DHP mild toxicity).
PENUTUP
Jika penelitian dan pengkajian kasus keracunan lamtoro ini dapat dilakukan dan dapat diketahui
sebab-sebab mengapa adopsi pemanfaatan daun lamtoro sebagai pakan ternak sapi dominan berjalan
lambat maupun mendapatkan pengetahuan yang baik dari kasus keracuanan sub-klinis dan akibatnya
secara pasti pada produksi ternak maupun cara-cara efektif mengatasinya, maka kita harapkan lomtoro
dapat lebih diberdayakan pemanfaatannya di tempat selain Amarasi. Juga diharapkan dari kegiatan ini
pengembangan tanaman pakan lamtoro makin digiatkan, diperbanyak, diperluas areal
pengembangannya, terutama untuk jenis-jenis lamtoro yang toleran dan bahkan yang tahan terhadap
serangan kutu loncat (seperti cv. Tarramba dan KX2). Dalam hal ini diharapkan KX2 telah dapat
dikembangkan dengan menggunakan biji dan bukan lagi dengan menggunakan materi vegetatif yang
keberhasilannya masih sangat rendah untuk NTT. Pengembangan dengan biji diharapkan akan dapat
dilakukan dalam dua tahun waktu penelitian lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Allison, M. J., W. R. Mayberry, C. S. McSweeney, and D. A. Stahl. (1992). Synergistes jonesii, gen. nov.,
sp. nov.: A Rumen Bacterium That Degrades Toxic Pyridinediols. Syst. Appl. Microbiol.
15:522-529.
Jones, R. J. 1985. Leucaena Toxicity And The Ruminal Degradation Of Mimosine. In: A. A. Seawright, M.
P. Hegarty, L. F. James, and R. F. Keeler (Ed.) Plant Toxicology. Proc. of the Australia-U.S.A.
Poisonous Plants Symp. Queensland Department of Primary Industries, Yeerongpilly,
Queensland, Australia, pp 111-119.
Jones, R.J. and R.G. Megarrity (1986). Successful Transfer Of Dihydroxypyridine-Degrading Bacteria
From Hawaiian (USA) Goats To Australian Ruminants To Overcome The Toxicity Of Leucaena.
Aust. J., 63, 259-262.
Mathews, A. & Rai, V. P. (1985). Mimosine Content Of Leucaena Leucocephala And Sensitivity Of
Rhizobium To Mimosine. J Plant Physiol 117, 377–382.
Nulik, J., D. Kana Hau dan Asnah. (1996). The Amarasi Farming Systems, Its Economica Aspects And
The Adoption Of Group Pen Feeding System. ACIAR
Nulik, J et al. (2003). Amarasi, Its Farming Systems And The Adoption Of Group Pen System In Beef
Cattle Fattening. ACIAR Proceedings.
Piggin, C., and Jacob Nulik (2005). The Success Story Of Leucaena Leucocephala Usage In Amarasi
System. Proceedings of The XX International Grassland Congress, Ireland UK, June-July 2005.
Reis P,J., R. Puchala, T. Sahlu and A.L. Goetsch. (1999). Effects Of Mimosine And 2,3-Dihydroxypyridine
On Fiber Shedding In Angora Goats. J. Anim. Sci. 1999. 77:1224–1229
Soedarjo, M. & Borthakur, D. (1998). Mimosine, A Toxin Produced By The Tree-Legume Leucaena
Provides A Nodulation Competition Advantage To Mimosine-Degrading Rhizobium Strains. Soil
Biol Biochem 30, 1605–1613.
Soedarjo, M., Hemscheidt, T. K. & Borthakur, D. (1994). Mimosine, A Toxin Present In Leguminous Trees
(Leucaena Spp.), Induces A Mimosine-Degrading Enzyme Activity In Some Strains Of
Rhizobium. Appl Environ Microbiol 60, 4268–4272.
Shelton, M., and P. Larsen (2001). Mimosine Toxicity In Southern Texas. Tropical Grassland Society of
Australia Inc. Vol. 17, No. 1, March 2001.
Download