sarwah - STAIN Malikussaleh

advertisement
VOLUME XIII (I), JANUARI - jUNI 2014
ISSN : 1673-7090
SARWAH
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Diterbitkan Oleh :
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ( STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Sarwah
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
PENANGGUNGJAWAB REDAKTUR
EDITOR/PENYUNTING
DESIGN GRAFIS : MUHAMMAD IKHSAN, MA
: DR HAFIFUDDIN, M.Ag
: DARMADI, M.Si
: Drs. MAHDI SYIHAB, MA
SEKRETARIAT: DEWI SAPUTRI, S.Ag
Redaksi Ahli:
Drs. Hafifuddin, MAg (STAIN Malikussaleh)
Prof. Dr. Rusjdi Ali Muhammad, SH, MA (IAIN Ar-Raniry)
Prof Dr. Farid Wajdi, MA (IAIN Ar-Raniry)
Prof.Dr Hasan Asari,MA (PPS IAIN Sumatera Utara)
Prof.Dr. Hasbi Amiruddin. MA (IAIN Ar-Raniry)
Prof. Dr Irwan Abdullah, MA (PPS UGM )
Prof Dr Ahmad Nur Fadil Lubis, MA (IAIN Sumatera Utara)
Prof, Dr, Djamaludddin, SH, M,Hum (Unimal-Lhokseumawe)
Dr A.Rani Usman, MSi ( IAIN Ar-Raniry)
Prof Dr Nur Wajah Ahmad, MA (UIN Gunung Djati)
Prof. Dr. Imam Suprayogo, MA (UIN Malang)
Dr. Jamaluddin Idris, M. Ed (IAIN Ar-Raniry)
Ridwan Hasan, Ph.D (STAIN Malikussaleh)
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
DAFTAR ISI
ISSN:1693 7090
PRINSIP-PRINSIP SYURA’ DALAM HUKUM TATA NEGARA ISLAM
(Kajian Kaidah-Kaidah Hukum Islam)
Oleh: Dr. Nasrullah, S.Ag, M.Ag........................................................................
1
NIKAH SIRI DALAM PEMIKIRAN HUKUM ISLAM INDONESIA
(Analisis terhadap pelarangan dan sanksi pidana)
Oleh : Usammah M.Hum........................................................................................ 17
HUKUMAN MATI DALAM PERPSEKTIF PERUNDANG-UNDANGAN
Oleh: Bukhar S.Hi., MH........................................................................................ 29
SEKOLAH ISLAM UNGGULAN: Histories, Konsep, dan Realita
Oleh: Almuhajir, MA.............................................................................................. 45
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA TEKS NASKAH PIDATO
MAHASISWA PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS JURUSAN
TARBIYAH STAIN MALIKUSSALEH
Oleh: Novi Diana, M.Pd..........................................................................................
MENYEMAI NILAI AKHLAK BAGI MAHASISWA DALAM
BEROR-GANIASI
OLeh: Saiful Bahri, S.Pd.I, MA.............................................................................
59
67
APLIKASI TEORI DIFUSI INOVASI DALAM TEKNOLOGI INSTRUKSIONAL
Oleh: Susi Yusrianti, M.Pd.....................................................................................
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM TINGKATKAN SUMBER DAYA
MANUSIA
Oleh: Syarboini, MA..............................................................................................
PENERAPAN TEORI BELAJAR DIENES DALAM PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Lisa, S.Si., M.Pd...............................................................................................
73
81
91
PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS YANG
MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN CTL DAN KONVENSIONAL
DI SMPN 2 DEWANTARA KABUPATEN ACEH UTARA
Nuraini, S.Si., M.Pd......................................................................................... 103
LEARNING MEDIA USED IN LEARNING VOCABULARY
Oleh: Samhudi, M.Pd....................................................................................... 117
VERBAL PROCESS IN KARONESE LANGUAGE
Oleh: Jumat Barus,S.S., MS..............................................................................129
SUPERVISI KEPALA SEKOLAH
Oleh: Ramlan, S.Ag, M.Pd............................................................................... 139
AN ANALYSIS OF FACTORS EFFECTING STUDENTS’ LEARNING
RESULT OF ENGLISH SUBJECT
Oleh: Zainuddin Hasibuan, S.S., MS.................................................................... 151
ALAMAT REDAKSI
JLN Medan-Banda Aceh Desa Alue Awe TELP (0645) 47267
FAX (0645) 40329
Website: WWW.Stainmal.go.Id
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
PRINSIP-PRINSIP SYURA’ DALAM HUKUM TATA NEGARA ISLAM
(Kajian Kaidah-Kaidah Hukum Islam)
Dr. Nasrullah, S.Ag, M.Ag
[email protected]
Abstract:
In Islam, the principle of shura emphasizes moral values , religion, and highly
dependent on the culture of the peoples concerned. The Qur’an uses the word
shura in three verses; QS. al-Baqarah: 233, QS. Ali Imran: 159 and QS. alSyura: 38. In connection with the modern Islamic constitutional system is not
standardized and is only limited by the Shura Council term ‘Ahl al-Hall wa al’Aqd, Wazir and so on, but has evolved into an institution in such a way that also
adopted the doctrine kelegislation Western democracy in principle Trias Politica.
The rules of Islamic law made the scholars are remarkably important for the
next generation and the need to get high appreciation. Rule it is not raw did not
develop and even change, but on the contrary. Although the formulation tend to
have different opinions, but the rules of Islamic law that can be used as a lawmaking methodology, particularly with regard to the constitutional law of Islam.
Keywords: Principle, constitutional, Islamic law
A.Pendahuluan
Konsep pemerintahan dan negara
yang digagas oleh kebanyakan ulama
seperti Al-Mawardi, Ibnu Khaldun, dan
Ibn Taimiyah menyandarkan sumber
kekuasaan adalah Allah Swt, sedangkan
manusia berperan sebagai khalifah di muka
bumi, sehingga kekuasaan manusia berada
dalam tanggungjawab untuk memenuhi
kehendak-Nya. Dalam konteks ini, muncul
sebuah respon tentang teologi politik Islam
versus demokrasi. Diasumsikan teologi
politik Islam menempatkan Allah sebagai
kekuasaan mutlak (absolut), tetapi dalam
praktek seringkali pemahaman ini “bias”
karena secara de facto hampir semua
negara Muslim menempatkan Khalifah,
Sultan, dan Amir sebagai penguasa politik
dan sekaligus pemegang otoritas hukum.
Menurut mereka, QS. an-Nisa’: 59
menjadi dasar bagi adanya sikap tunduk,
taat, dan patuh kepada penguasa (ulil
amri) berdasar kepada ketaatan penguasa
terhadap hukum Allah (Munawir Sjadzali:
2001: 6). Ulil amri terdiri atas ulama yang
berfungsi mengemban tugas menafsirkan
hukum syari’at dan merumuskan ketentuan
1
keadilan, dan umara yang bertugas
menegakkan berlakunya hukum Allah
dan mempertahankan negara Islam.
Oleh karena itu, kedaulatan negara dan
kedaulatan rakyat tunduk pada supremasi
syari’at (kedaulatan hukum Allah). Dalam
Islam, kekuasaan mayoritas dapat dibatasi,
sehingga kedaulatan rakyat bermakna hak
rakyat untuk mengawasi pemerintahan
untuk senantiasa berada dalam batasbatas yang digariskan syari’at.
Dalam politik Islam, kepemimpinan
dimaknai dalam dua istilah, yaitu
“pemerintahan” dan “negara”. Pemerintahan
merupakan suatu bentuk sistem kekuasaan
penyelenggara negara, sedangkan negara
adalah sistem terbesar yang di dalamnya
mencakup organ-organ pemerintahan.
Atas dasar ini dapat dibedakan pengertian
antara lembaga negara dan lembaga
pemerintahan dengan kepemimpinan
politik dalam Islam.
Hukum Islam yang bersumber
kepada al-Qur’an, Sunnah Nabi Saw.
dan Ijtihad ‘Ulama (berupa ijma’ dan
qiyas) berdasar dua sumber sebelumnya
menjelaskan prinsip-prinsip dasar politik dan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
ketatanegaraan Islam. Dalam efinstimologi
hukum Islam seperti dikemukakan Juhaya
S. Praja dalam karyanya Filsafat Hukum
Islam menyebutkan bahwa al-Qur’an
sebagai sumber utama hukum Islam
menjelaskan beberapa ayat hukum yang
erat kaitannya dengan prinsip-prinsip dan
azas-azas hukum Islam yang erat kaitannya
dengan konsep syura’ dalam pemisahan
kekuasaan (the separation of power).
Menurut Juhaya S. Praja (1996) dan
Mukhlis Usman (1994) bahwa al-Qur’an
banyak memuat aturan tentang kontrak
sosial dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Tulisan ini akan menjelaskan
kerangka teoritis pembentukan prinsipprinsip hukum tata negara Islam yang
erat kaitannya dengan konsep syura’
melalui perumusan kaidah-kaidah hukum
Islam dari sumbernya, yakni al-Qur’an,
Sunnah dan Ijtihad. Paling tidak diperoleh
gambaran bagaimana kaidah-kaidah
hukum Islam memberikan konstribusi besar
dalam hal perumusan konsep pemisahan
kekuasaan melalui majelis syura’.
B.Gagasan Syura’ dalam Islam
Dalam pandangan Ibn Taimiyah
dan Yusuf Qardhawi telah menunjukkan
secara tegas bahwa daulah Islamiyah
bukanlah negara teokrasi (daulah diniyah).
Daulah Islamiyah adalah daulah madaniyah
(negara sipil) yang berkuasa atas nama
Islam, berdasar proses bai’at dan syura’
memilih pemimpin yang kuat (qawiy),
dapat dipercaya (amin), dapat diandalkan
(hafidz) dan berpengetahuan (‘alim). Ia
membedakan teokrasi dan nomokrasi,
dengan menunjukkan negara Islam
sebagai negara yang nomokrasi berdasar
syari’at (daulah syar’iyah dusturiyah), (Ibn
Taimiyah: 1966: 138-139). Relevansinya
dengan konsep demokrasi yang dibangun di
dunia Barat bahwa kekuasaan hendaknya
dibangun berdasarkan suara terbanyak
(one man one vote). Kendati pun, ini sekilas
mirip dengan membangun kesepakatan
politik seperti halnya “consensus”, tetapi
pada tataran maksud dan tujuan hukum
syara’ ini tidak bisa disejajarkan dengan
ijma’ (Abdul Hamid: 2007). Namun
seringkali kita terjebak pada pemahaman
bulat bahwa konsensus dalam politik setara
dengan ijma’ fi al-syar’i, padahal keduanya
memiliki substansi yang berbeda.
Selain itu, prinsip dasar yang
dimiliki seringkali juga merupakan kepada
ketundukan hukum positif dari pada hukumhukum moral syari’at. Imran Rosyadi (2000)
mensinyalir bahwa pada prakteknya
dalam sejarah Islam awal, prinsip dasar
politik antara ijma fi al-siyasi dengan ijma
fi al-dauly tentunya menjadi dua hal yang
sedikit berbeda tetapi tidak terpisah. Hal
tersebut, misalnya, menginspirasikan dan
mengimplementasikan prinsip-prinsip
negara hukum modern yang Islami yang
menggaransi prinsip keadilan, kesetaraan
di hadapan hukum dan pengadilan, asas
praduga tak bersalah (presumption of
innocence), dan prinsip hukum pada
tindakan yang nampak ditunjukan pada
wilayah politik dan ketatanegaraan.
Masyarakat Madinah yang menjadi
rujukan konsep negara Islam memiliki
gagasan politik yang disebut sebagai
syura’ (musyawarah) yaitu ruang terbuka
dimana siapapun berhak menyampaikan
pendapatnya pada wilayah dimana
syari’at tidak membatasi secara ketat
(misalnya, wilayah mu’amalah). Syura’
melebihi demokrasi dalam hal ketersediaan
syari’at yang membatasi kekuasaan
mayoritas yang memungkinkan tumbuhnya
otoritarianisme yang berkedok demokrasi.
Dalam konteks inilah, konsep syura’ sangat
relevan dengan demokrasi terutama pada
aspek substansi, semangat penentangan
terhadap tirani, dan prinsip mayoritas.
Melalui konsep syura’, negara dalam
Islam harus membuka ruang interaksi
bagi masyarakat sebagai bagian dari
mekanisme kontrol dan partisipasi politik
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
2
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
sebagai bagian dari ibadah dan amar
ma’ruf nahi munkar. Pada aspek politik
ini, sosiolog agama Robert N. Bellah
yang menyatakan bahwa Islam terasa
unik dibandingkan agama lain bukan
semata karena ia tidak memisahkan
antara politik dan agama, tetapi karena
salah satunya adalah sifatnya “sangat
modern” dalam pandangan dan praktek
politik kenegaraannya khususnya pada
masa Khulafa al-Rasyidin (Robert, N.
Bellah: 1991)
Negara dalam hubungannya
dengan masyarakat memiliki tanggung
jawab yang besar meliputi tanggung jawab
melindungi kaum mustadh’afiin, buruh
yang tidak terupahi dengan baik, kaum
wanita dari penindasan, anak-anak sampai
dia mandiri, orang-orang tua. Negara juga
bertanggung jawab mendistribusikan
kemakmuran melalui instrumen-instrumen
seperti zakat, shadaqah, dan baitul maal,
juga melalui sistem ekonomi tanpa riba
dan perlindungan hak-hak konsumen.
Dengan itu negara membentuk solidaritas
sosial dan menegakkan keadilan dalam
masyarakatnya, di mana masyarakat
mendukung kuatnya negara untuk melaksanakan tugas etisnya: penegakan hukum
Allah di muka bumi.
Pola interaksi negara-masyarakat
dalam Islam menunjukkan kesatuan
yang tak terpisahkan antara negara dan
masyarakat dan menunjukkan kedua
entitas itu dapat dipertukarkan. Apabila
merujuk pada kategorisasi Culla, ia
mendekati perspektif kedua yang lebih
mudah menjelaskan hubungan integratif
negara –civil society yang modern.
Masyarakat Madani dengan ciri penjelasan
di atas terbukti merupakan masyarakat
par exellence yang ‘terlalu maju’ bagi
zamannya. Sekurang-kurangnya, menurut
al-Jawi adalah melindungi diri dari
penukaran istilah civil society menjadi
masyarakat madani cenderung dianggap
anakronistik.
3
C. Prinsip-prinsip dan Kaidah-kaidah
Hukum Islam tentang Syura’
Ijtihad merupakan salah satu
instrumen penting untuk menggali sumber
dan metode hukum syara’ (ijtihad fi alIstinbath al-Hukm). Dalam konteks ini,
seorang mujtahid umumnya melakukan
beberapa tahapan dalam proses perumusan
prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum
syara dari sumbernya yakni al-Qur’an dan
Hadits. Tahapan yang dimaksud (Rachmat
Syafe’i: T.th) antara lain:
1. M a s h a d i r a l - A h k a m , y a i t u
mengungkapkan atau menseleksi
sifat-sifat yang berpengaruh pada
hukum (al-Ta’yin wa al-Hadfu fi Sifat
al-Hukm). Yakni, mujtahid menggali
dan merumuskan sifat-sifat yang
berpengaruh kepada hukum,
di mana setiap mukallaf wajib
berijtihad disebabkan keberadaan
nash masih bersifat universal dan
abstrak. Sehingga perlu dicarikan
makna operasionalnya agar lebih
concrete dan applicable.
2. Ta k h r i j a l - A h k a m , y a i t u
mengeluarkan hukum-hukum
syara’ dari sumbernya langsung
(al-Qur ’an dan Hadits), baik
nash yang bersifat pasti (qath’i)
maupun dugaan (dzanni), atau
lafadz hukum yang bersifat implisit
maupun eksplisit. Tahapan kedua
ini disebut pula Ijtihad Qiyasi,
yakni memindahkan hukum atau
menghubungkan furu’ yang tidak
ada nash-nya dengan furu’ yang
ada nash-nya karena kesamaan
illat hukum. Pada tahapan kedua
ini, disusun rumusan prinsipprinsip, azas-azas dan kaidahkaidah hukum Islam dalam proses
penetapan hukum syara’ tentang
lembaga legislatif.
Ta t h b i q a l - A h k a m , y a i t u
mengaplikasikan prinsip-prinsip, azas-
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
azas dan kaidah-kaidah hukum Islam
yang bersifat pasti (qath’i) maupun dugaan
(dzanni) ke dalam berbagai bentuk
peraturan untuk menyelesaikan kasuskasus hukum. Pada tahapan ini, setiap
produk hukum hasil ijtihad tentang konsep
lembaga legislatif diimplementasikan
dalam sistem hukum ketatanegaraan
sesuai tujuan syari’at, tuntutan realitas dan
kemaslahatan umum.
Dalam konteks ini, para ulama
terdahulu cenderung berbeda pendapat
dalam merumuskan prinsip-prinsip dan
kaidah-kaidah hukum syara’. Upaya-upaya
terdahulu dalam membuat metodologi
pengambilan hukum sungguh amat
penting bagi generasi selanjutnya dan
perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi.
Tetapi apa yang telah dirumuskan oleh
pendahulu tadi bukanlah hal baku yang
tidak mengalami perkembangan dan
bahkan perubahan, tetapi sebaliknya.
Pada periode di mana ilmu fikih dan
ushul fikih itu tumbuh, setiap ulama memiliki
perbedaan dalam mengemukakan teorinya
antara satu dengan yang lainnya. Misalnya,
ketika Imam Syafi’i yang dianggap sebagai
peletak dasar ilmu diatas membatasi
sumber hukum pada empat macam; alQur’an, al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas, maka
pengikut Hanafiyah menambahkan istihsan
sebagai standar dalam Istinbath al-Hukm.
Hal yang sama dilakukan oleh Malikiyah
dengan teori Maslahah Mursalahnya.
1. Prinsip Keesaan Tuhan (alTauhid)
Menurut prinsip ini, manusia
memiliki kewajiban tunduk, ta’at dan
patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, serta
dilarang mempersekutukan Allah dengan
yang lainnya. Ketentuan ini salah satunya
tercantum dalam QS. 4: 36. Azas-azas
hukum yang berhubungan dengan prinsip;
Pertama, personalitas keislaman (Islamic
Personality); Kedua, otoritas keyakinan
(Religious Doctrine).
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah, yaitu al-Ashl
fi al-Amri li al-Wujub illa Madalla
Dalilu ‘ala Tahrimihi (Asal daripada
perintah hukumnya wajib kecuali
ada dalil yang mengharamkannya).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
muslim diwajibkan melaksanakan
semua perintah Allah dan RasulNya serta menjauhi semua
larangan-Nya.
b. Kaidah Fiqhiyyah, yaitu Attabi’u
Ta b i ’ ( P e n g i k u t h u k u m n y a
mengikuti). Berdasarkan kaidah
ini, dalam mengikuti perintah
dan larangan Allah setiap muslim
diwajibkan mengikuti Sunnah
Rasul.
c. Kaidah Dawabith, yaitu Mâla
Yudraku Kulluhu la Yutraku
Kulluhu (Apa-apa yang tidak bisa
kita diambil seluruhnya, maka
jangan ditinggalkan seluruhnya).
Berdasarkan kaidah ini, seseorang
memiliki otoritas untuk menentukan
pilihan dalam melaksanakan
hukum-hukum Allah sesuai dengan
kemampuannya.
d. Kaidah Lawahiq, yaitu Daf ’u
al-Mafasid Muqaddamun ‘ala
Jalb al-Mashalih (Meninggalkan
kemadharatan lebih diutamakan
untuk mendapatkan kemaslahatan”). Berdasarkan kaidah
ini, dalam mengikuti perintah
dan larangan Allah setiap muslim
dianjurkan lebih mengutamakan
kemaslahatan dan kebaikan dari
segi agama daripada kemaslahatan
lainnya.
2. Prinsip Keadilan (al-’Adâlah)
Menurut prinsip ini, manusia
berkewajiban menegakan hukum-hukum
Allah dan dilarang menerapkan hukum-
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
4
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
hukum lainnya yang bertentangan dengan
hukum Allah itu. Ketentuan ini salah
satunya tercantum dalam QS. 5: 48-49.
Azas-azas hukum yang berhubungan
dengan prinsip ini adalah; Pertama,
legalitas (legal); Kedua, kehati-hatian (alIkhtiyat); Ketiga, kepastian hukum (law
Enforcement); Keempat, keseimbangan
(proportionality); dan Kelima, pemerataan
(distribution).
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah, yaitu alAshl fi al-Amri Yaqtadi al-Tikrara
Muddata al-Amri ma’a al-Imkani
(Pada dasarnya perintah itu
menghendaki adanya pengulangan
sepanjang masa selama hal itu
memungkinkan). Berdasarkan
kaidah ini, menegakan keadilan
bagi setiap muslim berlaku
sepanjang masa dan tidak terbatas
oleh ruang dan waktu.
b. Kaidah Fiqhiyyah, yaitu al-Ashl fi
al-Amri Yaqtadi al-Tikrara (Pada
dasarnya perintah itu menghendaki
kesegeraan). Berdasarkan kaidah
ini, menegakan keadilan bagi
setiap muslim bersifat primer (alhajiyat).
c. K a i d a h D a w a b i t h , y a i t u a l Hududu Tasqutu bi al-Syubhati
(Hukuman had gugur apabila
masih meragukan). Berdasarkan
kaidah ini, dalam memutuskan
hukum harus tegas dan pasti.
d. Kaidah Lawahiq, yaitu al-Yakini
la Yuzalu bi al-Shak (al-Yakini la
Yuzalu bi al-Shak (Keyakinan itu
tidak bisa dihapuskan oleh sesuatu
yang meragukan). Berdasarkan
kaidah ini, dalam memutuskan
hukum seseorang harus berpegang kepada keyakinannya.
3. Prinsip Kebebasan (al-Hurriyah)
5
Menurut prinsip ini, manusia
memiliki hak/kebebasan dalam hal
menentukan pilihan hidupnya, tetapi hak/
kebebasan itu tidak bertentangan dengan
apa-apa yang telah digariskan oleh Allah
dan Rasul-Nya. Ketentuan ini salah
satunya tercantum dalam QS. 2: 256. Azasazas hukum yang berhubungan dengan
prinsip ini adalah:
a. Kesepakatan (al-Ijma’)
Menurut azas ini, seseorang
yang mengaku dirinya muslim
terikat dengan hak dan kewajiban
dalam sebuah konsensus. Teori
konsensus dikemukakan oleh
Al-Mawardi dalam al-Ahkam alSulthoniyah bahwa “hak dan
kebebasan seseorang dibatasi
oleh hak dan kebebasan orang lain
dengan adanya ijma”.
b. Membuat pilihan (al-Takhyir)
Menurut azas ini, dalam
menegakan hukum seseorang
diberi kebebasan menentukan
pilihan hukum. Teori maqashid
al-syari’ah dikemukakan Imam
al-Syatibi dalam al-Muwafaqat
bahwa “tujuan-tujuan syari’at
yang bersifat hajiyat, daruriyat dan
tahsiniyat – yang berisikan lima
hal: (1) memelihara agama/hifd
al-din; (2) memelihara jiwa/hifd alnafs; (3) memelihara ketu-runan/
hifd al-nasl: (4) memelihara akal/
hifd al-aql; dan (5) memelihara
harta/hifd al-maal.
c. Pertanggungan (al-Takaful)
Menurut azas ini, adanya
kebebasan hukum dibatasi
oleh ketentuan hukum lainnya.
Guarantee theory yang
dikemukakan oleh Taqiyuddin
An-Nabhani dalam al-Nidzamu
al-Iqtishadi fi al-Islam bahwa
“pemindahan harta dari pihak
penjamin kepada pihak yang
dijamin adalah untuk menunaikan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
suatu kewajiban”.
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah
“Hukum asal sesuatu adalah
kebolehan sehingga ada dalil lain
yang meng-haramkannya” (al-ashl
fi al-Asyai al-Ibahat hatta yadulla
al-dalilu ‘ala al-tahrimi).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
muslim memiliki kebebasan untuk
melaksa-nakan hukum sesuai
dengan beban tanggungjawabnya
sepanjang tidak ada larangan.
b. Kaidah Fiqhiyyah
“Hukum itu berkaitan dengan
illat-nya baik adanya maupun
ketiadaannya” (al-hukmu yadurru
ma’a al-illati wujudan wa adaman).
Berdasarkan kaidah ini, kebebasan
yang dimiliki oleh setiap muslim
dalam melaksanakan hukum
tergantung kepada motif dan
tujuannya.
c. Kaidah Dawabith
“Orang yang merdeka tidak masuk
dalam belenggu kekuasaan” (alhurru la yadkhulu tahta al-yadi).
Berdasarkan kaidah ini, kebebasan
seseorang tidak bisa dibatasi oleh
suatu kekuasaan melainkan oleh
hak dan kewajibannya.
d. Kaidah Lawahiq
“Keterpaksaan itu tidak dapat
membatalkan hak orang lain” (alidhtiraru la yubtilu haqq al-ghairi).
Berdasarkan kaidah ini, kebebasan
hukum seseorang dibatasi hakhaknya oleh hak hukum orang lain.
4. Prinsip Persamaan (al-Musawat)
Menurut prinsip ini, fitrah manusia
sebagai makhluk Allah yang diciptakan-Nya
menjadi berpasang-pasangan, bersukusuku dan berbangsa-bangsa. Kedudukan
manusia sama di mata Allah adalah sama,
dan yang paling tinggi derajatnya adalah
orang yang bertakwa. Ketentuan ini salah
satunya tercantum dalam QS. 49 : 13.
Azas-azas hukum yang berhubungan
dengan prinsip ini adalah:
a. Kehormatan manusia (al-fitrah)
Menurut azas ini, secara hakiki
(fitrah) setiap orang memiliki hak
untuk bebas dalam harkat dan
martabat. Teori ini dikemukakan
oleh Al-Maududi dalam Human
Rights in Islam bahwa “secara
fitrah setiap orang terlahir dalam
keadaan bebas dan sama dalam
harkat dan martabat” (all human
beings are born free and equal in
dignity and rights).
b. Persatuan (al-ittihad)
Menurut azas ini, setiap manusia
diciptakan Allah berbeda-beda
agar saling mengenal dan bersatu,
hanya tingkat keimanan dan
ketakwaannyalah yang saling
membedakan di mata Allah.
Pendapat ini dikemukakan AlGhazali dalam Ihya Ulum al-Din
bahwa “orang yang paling mulia
di sisi Allah adalah orang yang
bertakwa”.
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah
“Asal daripada perintah hukumnya
wajib kecuali ada dalil yang
mengharam-kannya” (al-ashl fi alamri li al-wujub illa madalla dalilu
‘ala tahrimihi).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
muslim punya hak dan kewajiban
yang sama dalam melaksanakan
semua perintah Allah dan RasulNya serta menjauhi semua
larangan-Nya.
b. Kaidah Fiqhiyyah
“ Ti n d a k a n i m a m t e r h a d a p
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
6
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
rakyatnya harus dikaitkan dengan
kemaslahatan” (tasharruf alimami ‘ala ro’iyyati manuutun bi
al-maslahati).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
orang memiliki hak dan kewajiban
yang sama dalam hal otoritas hukum
tetapi otoritas hukum itu harus
ditujukan untuk kemaslahatan
umum (maslahat al-ammah).
c. Kaidah Dawabith
“Perbuatan yang mencakup
kepentingan orang lain lebih
utama daripada hanya kepentingan
sendiri” (al-muta’addi afdholu min
al al-qashiri).
Berdasarkan kaidah ini, hak dan
kewajiban hukum pada seseorang
harus mempertimbangkan hak dan
kewajiban hukum yang dimiliki
orang lain.
d. Kaidah Lawahiq
“Fardhu itu lebih utama daripada
sunnat” (al-fardhu afdholu min
al-naqli).
Berdasarkan kaidah ini, dalam
memilih hak dan kewajiban
seseorang harus mengutamakan
yang wajib (hajjiyat) daripada yang
sunnat (dharuriyat dan tahsiniyat).
5. P r i n s i p M e n y e r u K e p a d a
Kebaikan dan Melarang
Kemungkaran (Amar Ma’ruf Nahi
Munkar)
Menurut prinsip ini, manusia
memiliki kewajiban untuk tunduk kepada
hukum-hukum Allah, menyeru kepada yang
baik dan mencegah dari yang munkar.
Ketentuan ini salah satunya tercantum
dalam QS 3 :114. Azas-azas hukum yang
berhubungan dengan prinsip ini adalah:
a. Personalitas keislaman (Islamic
personality)
Menurut azas ini, seseorang yang
mengaku dirinya muslim punya hak
dan kewajiban yang terikat dengan
7
keislamannya. Ini mudah dilacak
dari teori hak dan kewajiban
hukum Imam Malik dalam alMuwatha bahwa “seseorang
akan terikat kepada hak dan
kewajibannya sebagai muslim”
(ma’rifat ila haqqihi wa wajibatihi
fi al-Islam).
b. Otoritas keyakinan (religious
doctrine)
Menurut azas ini, seseorang yang
mengaku dirinya muslim punya
kewajiban tunduk kepada hukum
agama yang dianutnya. Teori ini
dikemukakan oleh H.A.R. Gibb
dalam The Modern Trends of
Islam bahwa “seseorang harus
tunduk kepada hukum agama
yang dianutnya” (someone has
obligation to obey his religious
rules).
c. Etika
Menurut azas ini, seseorang yang
mengaku dirinya muslim punya
hak dan kewajiban yang terikat
dengan keislamannya. Ini mudah
dilacak dari teori etika John Finnis
dalam Natural Law and Natural
Rights bahwa “ konsep hak dan
kewajiban manusia sesunguhnya
terkait dengan nilai-nilai etika”
(the concept of the rights and
obligations is related to the ethical
values).
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah
“Asal daripada perintah hukumnya
wajib kecuali ada dalil yang
mengharam-kannya” (al-ashl fi
al-amri li al-wujub illa madalla
dalilu ‘ala tahrimihi).
Berdasarkan kaidah di atas, setiap
muslim diwajibkan melaksanakan
semua perintah Allah dan Rasul-
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Nya serta menjauhi semua
larangan-Nya.
b. Kaidah Fiqhiyyah
“Asal daripada larangan adalah
mutlak menghendaki adanya
pengulangan sepanjang masa” (alashl fi al-nahyi al-mutlaqu yaqtadi
al-tikrara fi al-jami’i al-azminati)
Berdasarkan kaidah ini, hukum
Allah itu bersifat tetap (mutlak),
sedangkan manusia diberikan
pilihan untuk mengikuti hukum
Allah itu.
c. Kaidah Dawabith
“Perubahan hukum itu berdasarkan
perubahan zaman, tempat dan
keadaan” (taghayyar al-ahkam
bi taghayyar al-azminati wa alamkinati wa al-ahwali).
Berdasarkan kaidah ini, seseorang
memiliki otoritas untuk menetapkan
hukum-hukum Allah dan
keberlakuannya yang disesuaikan
dengan situasi, kondisi, waktu dan
tempatnya.
d. Kaidah Lawahiq
“Apa-apa yang tidak bisa kita
diambil seluruhnya, maka jangan
ditinggalkan seluruhnya” (maala
yudraku kulluhu la yutraku kulluhu).
Berdasarkan kaidah ini, seseorang
memiliki otoritas untuk menentukan
pilihan dalam melaksanakan
hukum-hukum Allah sesuai dengan
kemam-puannya.
6. Prinsip Tolong-menolong (alTa’awun)
Menurut prinsip ini, manusia
berkewajiban untuk saling tolong-menolong
dalam kebaikan dan dilarang tolongmenolong dalam keburukan. Ketentuan
ini salah satunya tercantum dalam QS 5
: 2. Azas-azas hukum yang berhubungan
dengan prinsip ini adalah:
a. Kehormatan manusia (al-fitrah)
Menurut azas ini, secara hakiki
(fitrah) setiap orang memiliki hak
untuk bebas dalam harkat dan
martabat. Teori ini dikemukakan
oleh Al-Maududi dalam Human
Rights in Islam bahwa “secara
fitrah setiap orang terlahir dalam
keadaan bebas dan sama dalam
harkat dan martabat” (all human
beings are born free and equal in
dignity and rights).
b. Persatuan (al-ittihad)
Menurut azas ini, setiap manusia
diciptakan Allah berbeda-beda
agar saling mengenal dan
bersatu, hanya tingkat keimanan
dan ketakwaannyalah yang saling
membedakan di mata Allah.
Pendapat ini dikemukakan AlGhazali dalam Ihya Ulum al-Din
bahwa “orang yang paling mulia
di sisi Allah adalah orang yang
bertakwa “.
c. Saling menanggung (takaful alijtima’)
Menurut azas ini, manusia
adalah mahluk sosial yang
saling membutuhkan dan saling
bergantung satu sama lain. Teori
takaful al-ijtima’ dikemukakan
Taqiyyudin an-Nabhani dalam
al-Nidzamu al-Iqtishadi fi alIslam ketika menjelaskan konsep
pertanggungan resiko (asuransi)
dalam ekonomi Islam.
d. Sukarela (antaraddin)
Menurut azas ini, kewajiban saling
tolong-menolong antar sesama
manusia hendaknya didasarkan
kepada azas saling meridhoi
(sukarela). Teori ini terkait dengan
azas takaful al-ijtima’ dikemukakan
Taqiyyudin an-Nabhani dalam alNidzamu al-Iqtishadi fi al-Islam
yang telah menjelaskan konsep
pertanggungan resiko (asuransi)
dalam ekonomi Islam. Lihat pula
teori distribusi dari M.A. Manan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
8
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dalam Islamic Economic Doctrines.
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah
“Asal daripada perintah hukumnya
wajib kecuali ada dalil yang
mengharam-kannya” (al-ashl fi alamri li al-wujub illa madalla dalilu
‘ala tahrimihi).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
muslim punya kewajiban
untuk saling tolong-menolong
disebabkan Allah dan Rasul-Nya
telah menganjurkan untuk saling
tolong-menolong.
b. Kaidah Fiqhiyyah
“Sesuatu yang wajib tidak boleh
ditinggalkan dengan melakukan
sesuatu yang sunnat” (ak-wajibu
la yutraku lisunnati).
Berdasarkan kaidah ini,
setiap orang memiliki hak dan
kewajiban yang sama dalam hal
otoritas hukum tetapi otoritas
hukum itu harus ditujukan untuk
kemaslahatan (maslahat alammah).
c. Kaidah Dawabith
“Perbuatan yang mencakup
kepentingan orang lain lebih utama
daripada hanya kepentingan
sendiri” (al-muta’addi afdholu min
al al-qashiri).
Berdasarkan kaidah ini, hak dan
kewajiban hukum pada seseorang
harus mempertimbangkan hak dan
kewajiban hukum yang dimiliki
orang lain.
d. Kaidah Lawahiq
“Seseorang tidak dapat
memberikan hak miliknya kepada
orang lain tanpa kerelaan” (laisa
li ahadin tamliku ghairihi bi la
ridhahu).
Berdasarkan kaidah ini,
melaksanakan kewajiban saling
9
tolong-menolong antar sesama
manusia hendaknya didasarkan
kepada sikap saling meridhoi
(sukarela).
7. Prinsip Hak Allah dan Hak
Manusia (Haq al-Allah wa Haq
al-Adami)
Menurut prinsip ini, manusia
diberikan hak/kebebasan untuk
melaksanakan hukum Allah pada batasbatas kewajaran yang telah ditentukan
oleh Allah. Ketentuan ini salah satunya
tercantum dalam QS 2 : 178. Azas-azas
hukum yang berhubungan dengan prinsip
ini adalah:
a. Personalitas keislaman (Islamic
personality)
Menurut azas ini, seseorang
yang mengaku dirinya muslim
punya hak dan kewajiban yang
terikat dengan keislamannya.
Ini mudah dilacak dari teori hak
dan kewajiban hukum Imam
Malik dalam al-Muwatha bahwa
“seseorang akan terikat kepada
hak dan kewajibannya sebagai
muslim” (ma’rifat ila haqqihi wa
wajibatihi fi al-Islam).
b. Otoritas keyakinan (religious
doctrine)
Menurut azas ini, seseorang yang
mengaku dirinya muslim punya
kewajiban tunduk kepada hukum
agama yang dianutnya. Teori ini
dikemukakan oleh H.A.R. Gibb
dalam The Modern Trends of
Islam bahwa “seseorang harus
tunduk kepada hukum agama
yang dianutnya” (someone has
obligation to obey his religious
rules).
c. Kehormatan manusia (al-Fitrah)
Menurut azas ini, secara hakiki
(fitrah) setiap orang memiliki hak
untuk bebas dalam harkat dan
martabat. Teori ini dikemukakan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
oleh Al-Maududi dalam Human
Rights in Islam bahwa “secara
fitrah setiap orang terlahir dalam
keadaan bebas dan sama dalam
harkat dan martabat” (all human
beings are born free and equal in
dignity and rights).
d. Kesepakatan (al-Ijma’)
Menurut azas ini, seseorang
yang mengaku dirinya muslim
terikat dengan hak dan kewajiban
dalam sebuah konsensus. Teori
konsensus dikemukakan oleh
Al-Mawardi dalam al-Ahkam alSulthoniyah bahwa “hak dan
kebebasan seseorang dibatasi
oleh hak dan kebebasan orang
lain dengan adanya ijma”.
e. Membuat pilihan (al-Takhyir)
Menurut azas ini, dalam
menegakan hukum seseorang
diberi kebebasan menentukan
pilihan hukum. Teori maqashid
al-syari’ah dikemukakan Imam
al-Syatibi dalam al-Muwafaqat
bahwa “tujuan-tujuan syari’at
yang bersifat hajiyat, daruriyat dan
tahsiniyat – yang berisikan lima
hal: (1) memelihara agama/hifd
al-din; (2) memelihara jiwa/hifd alnafs; (3) memelihara ketu-runan/
hifd al-nasl: (4) memelihara akal/
hifd al-aql; dan (5) memelihara
harta/hifd al-maal.
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah, yaitu al-Ashl
fi al-Amri li al-Wujub illa Madalla
Dalilu ‘ala Tahrimihi (Asal daripada
perintah hukumnya wajib kecuali
ada dalil yang mengharamkannya).
menurut kaidah ini, setiap muslim
diwajibkan melaksanakan semua
perintah Allah dan Rasul-Nya
serta menjauhi semua larangan-
Nya.
b. Kaidah Fiqhiyyah, yaitu Tasharruf alImami ‘ala Ra’iyyati Manûtun bi alMaslahati (Tindakan imam terhadap
rakyatnya harus dikaitkan dengan
kemaslahatan). Berdasarkan
kaidah ini, setiap orang memiliki
hak dan kewajiban yang sama
dalam hal otoritas hukum, tetapi
otoritas hukum itu harus ditujukan
untuk kemaslahatan (maslahat alammah).
c. Kaidah Dawabith, yaitu la Yunza’u
Syaiun min Yadi Ahadin illa bi
Haqqin Tsâbitin (Sesuatu tidak
dapat dicabut dari kekuasaan
seseorang kecuali dengan dasar
hak yang telah tetap). Berdasarkan
kaidah ini, seseorang memiliki
otoritas untuk menetapkan hukumhukum Allah dan keberlakuannya
tidak dapat dicabut haknya
karena alasan suatu sebab yang
berlawanan dengan ketentuan
hukum yang telah tetap.
d. Kaidah Lawahiq, yaitu Mâla
Yudraku Kulluhu la Yutraku
Kulluhu (Apa-apa yang tidak bisa
kita diambil seluruhnya, maka
jangan ditinggalkan seluruhnya).
Berdasarkan kaidah ini, seseorang
memiliki otoritas untuk menentukan
pilihan dalam melaksanakan
hukum-hukum Allah sesuai dengan
kemam-puannya.
8. Prinsip Musyawarah untuk
Mufakat (al-Musyawarah)
Menurut prinsip ini, manusia
berkewajiban untuk saling bermusyawarah
untuk mufakat dalam menyelesaikan
berbagai urusan. Ketentuan ini salah
satunya tercantum dalam QS. 42: 38. Azasazas hukum yang berhubungan dengan
prinsip ini adalah:
a. Kehormatan manusia (al-Fitrah).
Azas ini secara hakiki (fitrah) setiap
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
10
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
b.
c.
d.
e.
11
orang memiliki hak untuk bebas
dalam harkat dan martabat. Teori
ini dikemukakan oleh Al-Maududi
dalam Human Rights in Islam
bahwa “secara fitrah setiap orang
terlahir dalam keadaan bebas dan
sama dalam harkat dan martabat”
(all human beings are born free
and equal in dignity and rights).
Persatuan (al-Ittihad). Azas ini
menunjukkan bahwa setiap
manusia diciptakan Allah berbedabeda agar saling mengenal dan
bersatu, hanya tingkat keimanan
dan ketakwaannyalah yang saling
membedakan di mata Allah.
Pendapat ini dikemukakan AlGhazali dalam Ihya Ulum al-Din
bahwa “orang yang paling mulia
di sisi Allah adalah orang yang
bertakwa “.
Personalitas keislaman (Islamic
Personality). Azas ini menunjukkan
bahwa seseorang yang mengaku
dirinya muslim punya hak dan
kewajiban yang terikat dengan
keislamannya. Ini mudah dilacak
dari teori hak dan kewajiban hukum
Imam Malik dalam al-Muwatha
bahwa “seseorang akan terikat
kepada hak dan kewajibannya
sebagai muslim” (Ma’rifat ila
Haqqihi wa Wajibatihi fi al-Islam).
Otoritas keyakinan (Religious
Doctrine). Azas ini mengindikasikan
bahwa seseorang yang mengaku
dirinya muslim punya kewajiban
tunduk kepada hukum agama yang
dianutnya. Teori ini dikemukakan
oleh H.A.R. Gibb dalam The
Modern Trends of Islam bahwa
“seseorang harus tunduk kepada
hukum agama yang dianutnya”
(someone has obligation to obey
his religious rules).
Kesepakatan (al-Ijma’). Azas ini
menunjukkan bahwa seseorang
yang mengaku dirinya muslim
terikat dengan hak dan kewajiban
dalam sebuah konsensus. Teori
konsensus dikemukakan oleh
Al-Mawardi dalam al-Ahkam alSulthaniyah bahwa “hak dan
kebebasan seseorang dibatasi
oleh hak dan kebebasan orang lain
pula dengan adanya kesepakatan/
ijma”.
f. Membuat pilihan (al-Takhyir). Azas
ini dalam menegakkan hukum,
seseorang diberi kebebasan
menentukan pilihan hukum. Teori
maqashid al-syari’ah dikemukakan
Imam al-Syatibi dalam alMuwafaqat bahwa tujuan-tujuan
syari’at yang bersifat hajiyat,
daruriyat dan tahsiniyat –yang
berisikan lima hal: (1) memelihara
agama/hifd al-din; (2) memelihara
jiwa/hifd al-nafs; (3) memelihara
keturunan/hifd al-nasl: (4)
memelihara akal/hifd al-aql; dan
(5) memelihara harta/hifd al-maal.
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah, yaitu al-Ashl
fi al-Amri li al-Wujub illa Madalla
Dalilu ‘ala Tahrimihi (Asal daripada
perintah hukumnya wajib kecuali
ada dalil yang mengharamkannya).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
muslim diwajibkan menyelesaikan
urusan umat secara musyawarah
sesuai dengan ketentuan Allah dan
Rasul-Nya.
b. Kaidah Fiqhiyyah, yaitu Tasharruf
al-Imami ‘ala Ra’iyyati Manûtun
bi al-Maslahati (Tindakan imam
terhadap rakyatnya harus
dikaitkan dengan kemaslahatan).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
orang yang menjadi pemimpin
memiliki hak dan kewajiban yang
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
sama dalam hal otoritas hukum,
tetapi otoritas hukum itu harus
ditujukan untuk kemaslahatan
umum (Maslahat al-Ammah).
c. K a i d a h D a w a b i t h , y a i t u a l Muta’addi Afdhalu min al al-Qashiri
(Perbuatan yang mencakup
kepentingan orang lain lebih utama
daripada hanya kepentingan
sendiri). Berdasarkan kaidah ini,
aturan bermusyawarah bukan
semata-mata hukum Allah yang
bersifat tetap (mutlak), tetapi
sudah merupakan tradisi dan
kebiasaan dalam masyarakat.
d. Kaidah Lawahiq, yaitu Mâla
Yudraku Kulluhu la Yutraku
Kulluhu (Apa-apa yang tidak bisa
kita diambil seluruhnya, maka
jangan ditinggalkan seluruhnya).
Berdasarkan kaidah ini, setiap
proses pengambilan keputusan
dalam suatu musyawarah
hendaknya dikembalikan kepada
Allah dan Rasul-Nya.
9. Prinsip Toleransi (al-Tasamuh)
Menurut prinsip ini, manusia
berkewajiban bersikap toleran dalam
menghargai perbedaan keyakinan dan
agama serta memiliki hak/kebebasan
memilihnya berdasarkan keyakinan
masing-masing. Ketentuan ini salah
satunya tercantum dalam QS. 109: 1-6.
Azas-azas hukum yang berhubungan
dengan prinsip ini adalah:
a. Kehormatan manusia (al-Fitrah).
Azas ini secara hakiki (fitrah)
bahwa setiap orang memiliki hak
untuk bebas dalam harkat dan
martabat. Teori ini dikemukakan
oleh Al-Maududi dalam Human
Rights in Islam bahwa “secara
fitrah setiap orang terlahir dalam
keadaan bebas dan sama dalam
harkat dan martabat” (all Human
Beings are Born Free and Equal
in Dignity and Rights).
b. Persatuan (al-Ittihad). Azas ini
menunjukkan bahwa setiap
manusia diciptakan Allah berbedabeda agar saling mengenal dan
bersatu, hanya tingkat keimanan
dan ketakwaannyalah yang
saling membedakan di mata
Allah. Pendapat ini dikemukakan
Al-Ghazali dalam karya
manumentalnya Ihya Ulum al-Din
bahwa orang yang paling mulia
di sisi Allah adalah orang yang
bertakwa.
c. P e r s o n a l i t a s k e i s l a m a n
(Islamic Personality). Azas ini
mengindikasikan seseorang
yang mengaku dirinya muslim
punya hak dan kewajiban yang
terikat dengan keislamannya.
Ini mudah dilacak dari teori hak
dan kewajiban hukum Imam
Malik dalam al-Muwatha bahwa
seseorang akan terikat kepada hak
dan kewajibannya sebagai muslim
(Ma’rifat ila Haqqihi wa Wajibatihi
fi al-Islam).
d. Otoritas keyakinan (religious
doctrine). Azas ini menunjukkan
bahwa seseorang yang mengaku
dirinya muslim punya kewajiban
tunduk kepada hukum agama yang
dianutnya. Teori ini dikemukakan
oleh H.A.R. Gibb dalam The
Modern Trends of Islam bahwa
seseorang harus tunduk kepada
hukum agama yang dianutnya
(someone has obligation to obey
his religious rules).
e. Kesepakatan (al-Ijma’). Azas ini
menunjukkan bahwa seseorang
yang mengaku dirinya muslim
terikat dengan hak dan kewajiban
dalam sebuah konsensus. Teori
konsensus dikemukakan oleh
Al-Mawardi dalam al-Ahkam
al-Sulthaniyah bahwa hak dan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
12
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
kebebasan seseorang dibatasi
oleh hak dan kebebasan orang lain
pula dengan adanya kesepakatan/
ijma.
f. Membuat pilihan (al-Takhyir). Azas
ini dalam menegakkan hukum,
seseorang diberi kebebasan
menentukan pilihan hukum. Teori
maqashid al-syari’ah dikemukakan
Imam al-Syatibi dalam al-Muwafaqat
bahwa “tujuan-tujuan syari’at yang
bersifat hajiyat, daruriyat dan
tahsiniyat –yang berisikan lima hal:
(1) memelihara agama/hifd al-din;
(2) memelihara jiwa/hifd al-nafs; (3)
memelihara keturunan/hifd al-nasl:
(4) memelihara akal/hifd al-aql; dan
(5) memelihara harta/hifd al-maal.
Konstruksi kaidah-kaidah hukum
yang relevan dengan prinsip dan azas di
atas adalah:
a. Kaidah Ushuliyyah, yaitu al-Ashl
fi al-Amri li al-Wujub illa Madalla
Dalilu ‘ala Tahrimihi (Asal daripada
perintah hukumnya wajib kecuali
ada dalil yang mengharamkannya).
Berdasarkan kaidah di atas, setiap
muslim diwajibkan melaksanakan
semua perintah Allah dan RasulNya serta menjauhi semua
larangan-Nya.
b. Kaidah Fiqhiyyah, yaitu Tasharruf alImami ‘ala Ra’iyyati Manûtun bi alMaslahati (Tindakan imam terhadap
rakyatnya harus dikaitkan dengan
kemaslahatan). Berdasarkan
kaidah ini, setiap orang memiliki
hak dan kewajiban yang sama
dalam hal otoritas hukum, tetapi
otoritas hukum itu harus ditujukan
untuk kemaslahatan (Maslahat alAmmah).
c. Kaidah Dawabith, yaitu la Yunza’u
Syaiun min Yadi Ahadin illa bi
Haqqin tsâbitin (Sesuatu tidak
dapat dicabut dari kekuasaan
13
seseorang kecuali dengan dasar
hak yang telah tetap. Berdasarkan
kaidah ini, seseorang memiliki
otoritas untuk menetapkan hukumhukum Allah tidak dapat mencabut
hak orang lain karena alasan
suatu sebab yang berlawanan
dengan ketentuan hukum yang
telah tetap.
d. Kaidah Lawahiq, yaitu al-Hurru
la Yadkhulu Tahta al-Yadi (Orang
yang merdeka tidak masuk
dalam belenggu kekuasaan).
Berdasarkan kaidah ini,
kebebasan menentukan pilihan
hukum dikembalikan kepada
individu-individu.
Berdasarkan prinsip-prinsip,
azas-azas dan kaidah-kaidah hukum
Islam di atas, maka konsep pemisahan
kekuasaan (the separation of power)
melalui konsep syura’, hendaknya dapat
diimplementasikan dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Hal ini
disebabkan, dalam sistem syari’at Islam
banyak memuat prinsip-prinsip hukum
ketatanegaraan yang bertujuan untuk
keadilan, kebaikan dan kemaslahatan bagi
manusia. Oleh karena itu, aplikasi prinsipprinsip, azas-azas dan kaidah-kaidah
hukum Islam yang berkaitan dengan
konsep syura’ dalam sistem hukum tata
negara Islam, sesuai dengan situasi dan
kondisi modern serta tujuan hukum Islam
itu sendiri.
D.Penutup
Pada bagian akhir ini, penulis
menemukan tiga kesimpulan: Pertama,
ada relevansi antara konsep syura’
dalam hukum tata negara Islam dan
pemisahan kekuasaan (trias politica atau
the separation of power) dalam hukum
Barat; Kedua, ada perbedaan persepsi di
kalangan pemikir Islam dalam memahami
antara konsep syura’ dalam hukum tata
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
negara Islam dan pemisahan kekuasaan
(trias politica atau the separation of power)
dalam Hukum Barat; Ketiga, ada perbedaan
sikap dalam menerima atau menolak
antara konsep syura’ dalam hukum tata
negara Islam dan pemisahan kekuasaan
(trias politica atau the separation of power)
dalam hukum Barat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim Uweis, Ibn Hazm al-Andalusia,
Cetakan II, Al-Zahra lil I’lam alArabi: 1988
Abdul Hamid, “Memilih Pemimpin
Pemerintahan dan Negara Menurut
Teori Maslahat al-Mawardi”,
makalah Program Doktor PPs
UIN Bandung 2007.
Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyah,
Beirut: Dar al-Fikr, t.th
Deni K. Yusup, “Prinsip-prinsip HAM Dalam
Hukum Islam: Kajian Epistimologis
Perumususan Kaidah-kaidah
Hukum Islam Tentang HAM”,
makalah Program Doktor PPs UIN
Bandung 2008.
Donald Eugene Smith, Religion and
Political Development, Boston:
Little, Brown and Co., 1978
Fathurrahaman Djamil, Filsafat Hukum
Islam, Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 1997
Ibn Hazm, al-Muhalla, Kairo: Dar alMaktab, t.th
Ibn Taimiyah, Siyasah al-Syar’iyyah fi
al-Ishlah al-Ra’iy wa al-Ra’iyyat,
Beirut: Dar al-Kitab al-Arabiyyat,
1966
Imran Rosyadi, Transformasi Masyarakat
Madani lihat dikutip dari http://
www. kammi. or.id/lihat.php?
d=materi &do=view&id=144.
Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam,
Bandung: UNISBA Press, 1996
————, Intisari Bahan Perkuliahan
Filsafat dan Metodologi Hukum
Islam Bandung: PPs UIN Bandung,
1999
Mahmud Syaltut, Islam, Aqidah wa
Syari’ah, Cairo: Dar al-Maktabah,
1990
Moh. Abid Al-Jabiri, Binyât al’aql al-Araby,
Cet VII, Dar Baidla’: Dar Nasyr
Al-Maghribiyah, 2000
Muhammad Azhar, Filsafat Politik:
Perbandingan antara Islam dan
Barat, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1996
Muhammad Iqbal, Fiqh Siyasah:
Kontekstualisasi Doktrin Politik
Islam, Jakarta: Gaya Media
Pratama, 2001
Mukhlis Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyyah
dan Fiqhiyyah, Jakarta: Rajawali,
1994
Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara:
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran,
Ed. V, Jakarta: UI Press, 1993
Rachmat Syafe’i, Ijtihad fi al-Istinbath wa
al-Tathbiq mengutip penjelasan
Ibnu Hazm, Al-Ihkam fi Ushul alAhkam, Beirut: Dar al-Maktabah
al-Misriyyah, t.th
Robert N. Bellah, Beyond Belief : Essay
on Religion in a Post-Traditionalist
World, Berkeley and Los Angeles:
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
14
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
University of California press, 1991
T.M. Hasbi Ash-Shiddiqiey, Filsafat Hukum
Islam, Jakarta: Bulan Bintang,
1992
W. Montgomery Watt, Islamic Political
Thought, Einburgh: Einburgh
University Press, 1960
15
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
16
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
NIKAH SIRI DALAM PEMIKIRAN HUKUM ISLAM INDONESIA
(Analisis terhadap pelarangan dan sanksi pidana)
Oleh : Usammah, S.HI., MH
Abstract
Islam has a better system in terms of forming a household through a committed
interactions between a man with a woman in the form of marriage. Wedding or
marriage is a form of human behavior in interaction that has been handed down
by the Apostles Muhammad as Sunnah for mankind. deeds that are pure and
have a very noble goal, then legislation Indonesian law, the provisions relating to
marriage / marriage has been arranged in the form of legislation which apply to
all Indonesian citizens. In some wedding event series, the guardian judge often
used as a substitute guardian or if the guardian nasab of the female candidates
can not or there are other reasons berhadir thus allowing marriage can not be
implemented by the guardian of this nasab.Kondisi nasabnya allows trustees
approve the marriage just is not performed on the paint of the institution of
marriage is religious affairs office (KUA)
A.Pendahuluan
Islam mempunyai sistem yang
lebih baik dalam hal membentuk suatu
rumah tangga melalui suatu interakasi
yang dilakukan antara seorang lakilaki dengan seorang perempuan dalam
bentuk pernikahan.Pernikahanatau
perkawinanadalah satu bentuk perilaku
manusia dalam berinteraksi yang telah
diturunkan oleh Rasul Muhammad SAW
sebagai sunnah bagi ummat manusia.
Dikatakan sunnah karena perbuatan
tersebut telah dilakukan oleh Rasul
sebagai peletak pondasi segi-segi
kehidupan di dunia ini dan juga sebagai
keselamatan di akhirat, di samping itu
pernikahan merupakan suatu bentuk
hukum yang diwahyukan oleh Allah SWT
dalam al-quran secara global yang hanya
dipahami sebagai bentuk integrasi dua
pihak keluarga untukmenyatu dalam satu
keluarga yang lebih besar.
Dari sisi hukum, bahwa
pernikahan sangat dianjurkan oleh agama
sebagaimana yang dibawa oleh Rasul
SAW sebagai bentuk perilaku yang mulia.
Karena dengan melaksanakan pernikahan
17
menusia akan terhindar dari perbuatan
zina, agama sangat melarang seseorang
melakukan perzinaan, jangankan
melakukan mendekati saja tidak boleh.
Dengan pernikahan, Islam telah memberi
jalan yang terbaik untuk membangun
rumah tangga yang sakinah, mawaddah
dan rahmah. Karenanya zina menjadi salah
satu bentuk perbuatan yang dimurkai Allah
SWT dengan hukuman yang paling berat,
jika muksan hukumannya dirajam dan jika
ghairu mukhsan di jilid 100 kali jilit dan tidak
diterimanya kesaksian.
Undang-undang Perkawinan
Indonesia telah memberi inspirasi bagi
ummat Islam untuk melaksanakan
pernikahan berdasarkan hukum Islam,
karena pernikahan merupakan tujuan
syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW,
yaitu sebagai pranata hal ikhwal manusia
dalam kehidupan di dunia maupun di
akhirat. di samping itu fiqih menjadi penguat
dan penopangdalam penataan kehidupan
manusia, hal ini dapat dilihat dari empat
garis penataan yang disebutkan yaitu;
(1)Rub’al ibdah; yang menata hubungan
manusia selaku makhluk dengan khalikNya,
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
(2)Rub’al muamalat; yang menata manusia
dalam lalu lintas pergaulannya dengan
sesamanya untuk memenuhi hajat
hidupnya sehari-hari, (3)Rub’al munakahat;
yang menata hubungan manusia dalam
lingkungan keluarganya dan (4)rub’al
jinayat; yang menata pengamanannya
dalam suatu tertib pergaunlan yang
menjamin ketentramannya. Tujuan dari
pernikahanitu sangat mulia, menurut
Zakiyah Darajat, beliau menyebutkan
ada lima tujuan dari pernikahan itu; yaitu:
(1) mendapatkan dan melangsungkan
keturuanan, (2) memenuhi hajat manusia
menyalurkan syahwat dan menumpahkan
kasih saying, (3) memenuhi panggilan
Agama, memelihara diri dari kajahatan dan
kerusakan, (4) menumbuhkan kesungguhan
untuk bertanggungjawab menerima hak
serta kewajiban, juga bersungguh-sungguh
untuk memperoleh harta kekayaan yang
halal dan (5) membangun rumah tangga
untuk membentuk masyarakat tenteram
atas dasar cita dan kasih sayang.
Karena pernikahan itu perbuatan
yang suci dan mempunyai tujuan yang
sangat mulia, maka perundang-undangan
hukum Indonesia, yang berkaitan dengan
ketentuan perkawinan/pernikahan
telah diatur dalam bentuk perundangundangan yang diberlakukan kepada
seluruh warga negara Indonesia. Aturan
perundang-undangan tentang perkawinan/
pernikahan yang dimaksudkan adalah
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
dengan peraturan pelaksanaannya diatur
dalam Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun
1975 dan juga Kompilasi Hukum Islam
(KHI) yang lahir dari hasil musyawarah
dan mufakat para alim ulama Indonesia
yang dikuatkan dengan Keppres No.
1 Tahun 1991. Undang-undang ini
merupakan hukum materiil dari perkawinan
dansedangkan hukum formalnya ditetapkan
dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun
1989.
Dalam Undang-Undang Perkawinan
dinyatakan bahwa perkawinan/ pernikahan
baru dianggap sah jika dilaksanakan
menurut hukum masing-masing agamanya
dan kepercayaanyadalam bagian lain
dari UU tersebut dinyatakan bahwa suatu
pernikahan yang telah dilaksanakan harus
dicatatkan di lembaga Pencatatan Nikah
yaitu bagi Agama Islam di KUA dan selain
itu di Catatan Sipil. Disamping itu harus
menuruti prosedur yang telah diatur oleh
UU tersebut. Penegasan tersebut juga
dinyatakan oleh Kompilasi Hukum Islam
(KHI) pada Buku I Bab II, Pasal 4 yang
menyebutkan bahwa perkawinan adalah
sah jika dilakukan menurut hukum Islam
sesuai dengan bunyi Pasal 2 ayat (1)
Undang-Undang Perkawinan. Karenanya
pernikahan yang dilakukan oleh setiap
orang harus mengikuti pada ketentutan
yang berlaku.Berkaitan dengan rukun
perkawinan maka hukum Islam telah
menentukan bahwa rukun dari pernikahan
itu terdiri dari; seorang wali (wali nasab),
dua orang saksi, adanya dua calon
mepelai dan dilaksanakannya ijab qabul.
Pengaturan terhadap proses perkawinan
dimaksudkan untuk menata lebih baik
kehidupan ummat manusia dan juga
bertujuan memberikan membentuk pola
hidup yang sesuai dengan tuntunan
agama. Al-Qur‘an menyebutkannya dalam
surat Ar-Rum ayat 21, yaitu;
Artinya :Diantara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu menemukan ketenangan
padanya dan menjadikan diantaramu rasa
cinta dan kasih sayang, sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar
menjadi tanda-tanda bagi kamu yang
berpikir.
Hukum perkawinan Indonesia yang
berlangsung kerap terjadinya berbagai
penyimpangan dalam pelaksanaannya,
penyimpangan yang terjadi karena tidak
sesuai dengan pengaturan yang telah
ada dalam UU perkawinan maupun KHI.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
18
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Beberapa hal yang kerap mengganggu
dalam suatu ikatan perkawinan, sehingga
terganggu pula suatu pemahaman
hukum mengenai perkawinan dikalangan
masyarakat Islam itu sendiri.Misalnya
mengenai masalah perkawinan siri(nikah
siri) yang terjadi dikalangan ummat Islam.
Fenomena ini muncul karena upaya untuk
melangsungkan perkawinan dalam bentuk
polygami yang tidak mendapat persetujuan
dari isteri pertamanya. Pernikahan siri
dilaksanakan dengan cara sembunyisembunyi dan tidak didaftarkan pada
Kantor Urusan Agama (KUA). Di dalam
UU perkawinan maupun KHI tidak diatur
tentang permasalahan nikah siri ini,
namun oleh UU perkawinan maupun KHI
Indonesia menyebutkan bahwa perkawinan
itu sebaiknya dilakukan pencatatan.
Nikah siripada dasarnya secara
syara’ adalah sah jika memenuhi rukun dan
syarat sebagaimana yang telah ditentukan.
Namun nikah siri sering disalahgunakan
oleh orang-orang tertentu untuk melakukan
poligami.Nikah siri sering disebut dengan
nikah dibawah tangan artinya tanpa ada
pencacatan pada KUA atau lembaga resmi
pencatatan nikah.Nikah siri merupakan
fenomena dalam perkembangan institusi
hukum perkawinan yang diyakini tidak
hanya terjadi pada penganut agama
Islam semata tetapi juga terjadi pada
agama-agama samawi lainnya.Tentu saja
persoalan tersebut menarik perhatian
masyarakat pada umumnya karena
dilakukan tidak sebagaimana yang terjadi
dalam tradisi masyarakat Islam bahwa
pernikahan tersebut dilakukan secara
terbuka dan diketahui oleh masyarakat
banyak.
Karenanya pernikahan siri banyak
kalangan yang menyatakan tidak setuju
dilakukan nikah siri tersebut, disamping
itu rancangan Undang-Undang Peradilan
Agama akan memberlakukan sanksi
terhadap pelaku nikah siri. Majelis Ulama
Indonesia (MUI)-pun telah sepakat untuk
19
memberi sanksi pada pelaku nikah siri.
Menurut MUI jika konsisten dengan
UU No.Nomor 1 tahun 1974 mengenai
masalah pernikahan yang tak tercatat itu
tidak diakui oleh Negara.
B. Seputar Nikah Siri
Nikah siri berasal dari bahasa
Arab, yaitu sirrun, jamak asrarun, yang
berarti rahasia. Melalui kata ini dapat
dipahami bahwa nikah siri berarti nikah
yang dilakukan dengan rahasia atau
dirahasiakan, nikah yang berbeda dengan
nikah pada umumnya yang dilakukan
oleh masyarakat dengan cara terangterangan. Nikah siri dapat didefinisikan
sebagai bentuk pernikahan yang dilakukan
hanya berdasarkan agama dan adat
istiadatnya tanpa mengikuti prosedur
hukum nasional yang berlaku.Bentuk ini
adalah pernikahan yang tidak didaftarkan
atau tidak dicatatakan pada Kantor Urusan
Agama Kecamatan atau tidak tercatat pada
Kantor Catatan Sipil bagi yang beragama
bukan Islam.
Nikah siri ini terkadang diistilahkan
dengan nikah misyar, terkadang juga ada
yang menyamakan dengan nikah ‘urfi,
yaitu nikah yang didasarkan pada adat
istiadat. Kesemua istilah atau pengertian
tersebut pada kenyataannya semua
mengandung pengertian sebagai bentuk
pernikahan yang tidak diumumkan (nikah
yang dirahasiakan) dan juga pernikahan
yang tidak dilakukan pencatatan pada
pejabat yang berwenang untuk itu.
Catatan hukum perkawinan
Indonesia nikah siri ini telah berkembang
sejak tahun 1970-an, pada saat itu
pemerintah Indonesia membuka peluang
terhadap pengusaha-pengusaha asing
yang melakukan investasi di wilayah
Kalimantan. Tidak sedikit para pengusaha
yang datang ke Indonesia tanpa diikuti
keluarganya sehingga kebutuhan akan
hasrat manusia menimbulkan gejolak.
Sebagai salah satu usaha untuk
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
memenui hasrat tersebut, pengusaha
asing melakukan pendekatan dengan
perempuan di wilayah tersebut, tidak mudah
melaksanakan pernikahan (perkawinan),
dimana terikat dengan peraturan, adat
istiadat dan agama yang berbeda dengan
mereka, yang pada gilirannya mencari
jalan lain yang dapat ditempuh untuk dapat
melaksanakan pernikahan. Jalan yang
paling dapat ditempuh pada saat itu yaitu
dengan melaksanakan pernikahan secara
siri (di bawah tangan) melalui mediasi
sejumlah ulama atau tokoh masyarakat di
daerah tersebut yang menfawatkan bahwa
pernikahan itu tetap sah karena dilakukan
dengan cukup rukun dan syaratnya,
meskipuntidak didaftar dan dicatat di
Kantor yang berwenang.
Di kalangan ulama dan masyarakat
muslim, terdapat perbedaan pandangan
tentang nikah siri ini, ada yang menghalalkan
dan adapula tidak sampai mengharamkan,
perbedaan ini sangat wajar terjadi dalam
masyarakat tergantung bagaimana
memandang pernikahan tersebut. Jawahir
Thantawi mengidentifikasi perdebatan
mengenai pernikahan siri ini dalam tiga
pandangan, yaitu ;
a. Kelompok pertama memandang
bahwa nikah siri tidak dilarang atau
boleh-boleh saja dilakukan, dengan
berpegang pada prinsip-prinsip
sebagai berikut:
i. Nikah siri dimaksudkan sebagai
upaya untuk mencegah timbulnya
pelanggaran hubungan antara lakilaki dengan perempuan
ii. Nikah siri dilakukan dengan
mematuhi syarat dan rukun yang
digariskan dalam hukum Islam
iii. Nikah siri dilakukan dengan
mempertimbangkan alasan
bahwa Islam mengajarkan agar
mempermudah pernikahan,
jangan menunda-nunda meskipun
masih ada beban ekonomi, selalin
didasarkan pada ketentuan hukum
Islam, praktik nikah siri biasanya
lebih ditentukan oleh urusan
keluarga masing-masing.
b. Kelompok kedua memandang
bahwa nikah siri dilarang karena
mudharatnya lebih banyak, dengan
alasan sebagai berikut:
i. Hukum yang dianut seharusnya
adalah hukum positif, mengingat
hukum Islam sudah termasuh
didalamnya
ii. Dapat menimbulkan dualism
dalam penerapan hukum sehingga
unifikasi dan kepastian hukum
tentang pernikahan dapat hilang.
iii. Akan menimbulkan masalah jika
terjadi perceraian yang akan
menyulitkan kedua belah pihak
akibat tidak tercatatnya perkawinan
secara resmi
iv. Dalam nikah siri, suami tidak
mempunyai tanggungjawab
yang besar dan mengikat karena
kecendrungan yang terjadi bahwa
ekonomi keluarga ditanggung
masing-masing
v. Nikah siri menjadi lahan empuk
yang sering dipraktikkan oleh
pejabat dan PNS
c. Kelompok yang ketiga
kecenderungannya berada di tengahtengah, yaitu memperbolehkannya
asalkan sesuai dengan ketentuan
hukum positif, yaitu mencatatnya
secara resmi melalui pejabat yang
berwenang meski tanpa harus
segera melaksanakan walimah.
Pandangan yang ketiga ini berusaha
menjembatani kebutuhan pro dan
kontra terhadap nikah siri. Selain
itu bermuatan kepentingan agar
ummat Islam mematuhi dan memiliki
kesadaran yang tinggi terhadap
hukum yang dianut dalam Negara.
Perbedaan pandangan di atas
menunjukkan bahwa hukum nikah siri
menjadi perdebatan diantara para ulama
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
20
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dan masyarakat muslim lainnya, mengingat
kebolehannya dilakukan pernikahan siri
tersebut. Di samping itu perbedaan tentang
hukum dari pernikahan siri ini tidak perlu
menimbulkan akibat yang besar dan fatal
terhadap kehidupan ummat muslim lainnya.
Banyak hal dan alasan yang melatar
belakangi seseorang melaksanakan nikah
siri, diantaranya; alasan kesulitan ekonomi,
dapat dimaklumi jika sekiranya alasan
ini menjadi sebab melaksanakan nikah
siri, besarnya biaya proses pernikahan
di KUA telah mengurungkan niat untuk
melaksanakan perkawinan sebagai mana
yang diatur oleh UU Nomor 1 tahun 1974.
Bagi mereka yang dengan alasan ekonomi
lemah tidak menjadi penting pencatatan
nikah, yang penting adalah nikah yang
dilakukan sesuai dengan rukun dan syarat
yang ditentukan oleh syariat Islam; alasan
kesegeraan dalam pernikahan merupakan
hal yang perlu mendapat perhatian agar
tidak terjerumus padaperbuatan perzinaan
atau terjadi kehamilan di luar nikah yang
berakibat pada aborsi atau yang lainnya.
Priyo Sembodo, dalam bukunya
“Nikah siri dalam tinjauan Psikososial”
mengenmukakan sejumlah alasan yaitu;
1. Nikah siri dilakukan karena mereka
masih duduk di bangku sekolah
menengah ke atas, mereka tidak ingin
pihak sekolah mengetahui pernikahan
mereka.
2. Nikah siri dilakukan oleh sejumlah
pelaku karena terikat oleh perjanjian
dengan tempat selama mengikuti
pendidikan atau training, atau yang
lainnya selama masa itu.
3.Sebagaian pelaku nikah siri
melakukannya karena belum bisa
menyelesaikan proses administrative
perceraian dengan pasangannya yang
terdahulu
4. Pernikahan yang ditentang orang
tua menjadi alasan sebagian pelaku
nikah siri.
5. Ada sebagian masyarakat mempunyai
21
kepercayaan yang tidak berlandaskan
pada tuntunan syariat yangterkadang
dianggap sebagai penghalang
seseorang melakukan nikah seperti
umunya.
Dari berbagai kondisi sebenarnya
akan banyak kita ketemukan alasan-alasan
yang dijadikan untuk dapat melakasanakan
nikah siri sebagai bentuk realitas dan gejala
semakin meningkatnya praktik nikah siri
yang efeknya tidak saja bermakna negatif
tetapi lebih dari itu juga yang bermakna
positif. Kehamilan lebih awal sebelum
pernikahan berlangsung menjadi alasan
yang tepat untuk melaksanakan nikah
siri. Lebih tragis lagi maraknya pernikahan
siri ternyata ketidaktahuan masyarakat
terhadap dampak yang akan timbul setelah
itu, diantaranya;
a. Masyarakat miskin hanya berpikir
jangka pendek
b. Masyarakat mempercayai bahwa
menjadi isteri simpanan pengusaha,
tokoh masyarakat, pejabat atau
yang lainnya dapat mempercepat
perolehan status sebagai isteri
terpandang dalam masyarakat.
c. Pemikiran-pemikiran tersebut di
atas diperkuat dengan anggapan
bahwa mereka sendiri melihat nikah
siri merupakan takdir yang harus
diterima.
C. Nikah Siri Persepktif Pemikiran
Hukum Islam
1. Wali Pernikahan
Salah satu rukun pernikahan
itu antara lain adalah adanya wali,
wali nikah dalam perkawinan menjadi
prinsip kesepakatan ulama untuk sahnya
perkawinan, seorang wali dapat bertindak
atas nama mempelai perempuan dan
juga wali dapat bertindak sebagai orang
yang dimintai restu terhadap perkawinan
anak perempuan. Hal ini sebagaimana
diriwayatkan dalam hadits dari Aisyah
yaitu:
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Artinya “Aisyah berkata: Rasulullah
SAW, bersabda; “Siapapun wanita yang
menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya
itu batal (diucapkan tiga kali), jika suaminya
telah menggaulinya maka mahramnya
adalah untuknya (wanita) karena apa yang
telah diperoleh darinya. Kemudian apabila
mereka bertengkar, maka penguasa
menjadi wali bagi orang-orang yang tidak
mempunyai wali. Posisi wali dalam pernikahan tidak
dapat dipisahkan sehingga kedudukan
sahnya perkawinan sangat ditentukan
adanya wali. Hadits Nabi juga menyebutkan
Artinya: “tidak sah nikah kecuali adanya
wali”
Pentingnya wali dalam pernikahan
sudah menjadi kesepatan jumhur Ulama
secara syariat.Maka tidak dapat dilakukan
pernikahan oleh seseorang perempuan
manakala ketiadaan walinya. Adanya wali
perbikahan menunjukkan bahwa anak
perempuan yang akan dinikahkan itu
adalah anak yang lahir dari seorang ayah
dan ibu yang sah dari sebuah perkawinan
secara syariat dan juga secara Yuridis
Formal.
Meskipun demikian tentang wali
terhadap calon mempelai wanita ini
pernah menjadi perdebatan dikalangan
para ulama, beberapa ulama cenderung
memperbolehkan mempelai perempuan
itu dalam pernikahan tanpa wali, hal ini
didasarkan pada keumuman dalil alQur‘an Surat al-Baqarah; ayat 232, yang
artinya: “janganlah kami (hai para wali)
menghalangi mereka (wanita yang telah
bercerai) untuk kawin (lagi) dengan bekas
suaminya, jika terdapat kerelaan diantara
mereka dengan cara yang makruf”.
Kalangan ulama Abu Hanifah,
Abu Zufar dan Az-Zuhri, cenderung
berpendapat bahwa apabila seorang
perempuan menikah tanpa adanya wali,
pernikahan tersebut tetap dianggap sah
selama pasangan tersebut sekufu (setara),
mereka berpegang pada keumuman
ayat al-Qur‘an surat al-Baqarah; ayat
234, yang artinya: “Apabila telah habis
masa iddahnya (wanita-wanita yang telah
meninggal suaminya), maka tiada dosa
bagi kami (para wali) membiarkan mereka
berbuat terhadap diri mereka menurut yang
patut” Jika dilihat lebih lanjut terhadap
uraian ayat di atas, maka ketiadaan wali
dalam pernikahan terbatas hanya pada
janda bukan pada gadis.Qurash Syihab
dalam bukunya Membumikan al-Qur‘an;
fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan
masyarakat, menyarankan agar dalam
pernikahan tetap dihadirkannya wali, baik
bagi gadis maupun bagi janda, hal tersebut
merupakan suatu yang sangat penting
dalam perkara yang penting pula (aqad
nikah), jika dikemudian hari terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan akan dapat dijadikan
sandaran atau rujukan.
Umumnya seorang wali disyaratkan
adalah beragama Islam, baligh, berakal
sehat, adil dan laki-laki. Dalam aqad
pernikahan yang dapat menjadi wali
selain dari ayah kandungnya mempelai
perempuan, antara lain;
a. Kakek seterusnya ke atas dari
garis pihak laki-laki
b. Saudara laki-laki kandung dari garis
ayah atau ibu
c. Anak laki-laki dari saudara lakilaki kandung segaris ayah
d. Paman dari garis ayah
e. Anak laki-laki dari paman yang
segaris dengan ayah
f. Sultahn (penguasa tertinggi)
yang disebut dengan juga wali
hakim
g. Wali yang diangkat oleh calon suami
– isteri yang disebut dengan wali
muhakkam
Zahri Hamid dalam bukunya
Pokok-pokok Hukum Perkawinan Islam dan
Undang-Undang Perkawinan di Indonesia,
menyebutkan bahwa wali nikah ada 4
(empat) macam;
1. Wali Nasab
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
22
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
2. Wali Mu’tiq
3. Wali Hakim
4. Wali Muhakkam
Di samping wali nikah yang
disebutkan di atas, ada wali dalam
pernikahan yang dapat menikahkan
seorang gadis tanpa harus melakukan
permintaan izin dari si gadis tersebut, wali
inlah yang disebut dengan wali mujbir.
Adapun syaratnya antara lain:
a. Laki-laki pilihan wali harus sekufu
dengan gadis yang akan dinikah
kannya
b. Tidak ada permusuhan antara
wali dengan gadis yang akan
dinikahkan
c. Tidak ada permusuhan antara
sigadis dengan calon laki-lakinya
d. Laki-laki pilihan wali akan dapat
memenuhi kewajiban terhadap
calon isteri dengan baik.
Dalam beberapa peristiwa
pernikahan siri, wali hakim sering dijadikan
sebagai pengganti wali atau jika wali
nasab dari si calon perempuan tidak
dapat berhadir atau ada alasan lainnya
sehingga memungkinkan pernikahan tidak
dapat dilaksanakan oleh si wali nasab.
Kondisi ini memungkin wali nasabnya
menyetujui pernikahan tersebut hanya saja
tidak dilakukan pencatan pada lembaga
pernikahan yaitu KUA.
Dalam pernikahan siri ini wali
hakim yang dijadikan sebagai wali bukanlah
dari pihak yang berwenang (pemerintah/
KUA) namun orang yang dianggap paham
tentang agama atau tokoh agama.Yang
perlu diperhatikan bahwa penunjukan
wali pengganti tersebut tidak memenuhi
syarat dan ketentuan wali karena telah
mengabaikan hak wali-wali dalam urutan
wali.
2. Saksi dalam pernikahan
Menurut jumhur ulama, perkawinan
yangtidak dihadiri oleh saksi-saksi tidak
sah, jia ketika ijab qabul tak ada saksi yang
23
menyaksikannya sekalipun diumumkan
kepada pihak yang ramai denga cara
lain, perkawinan tersebut tetap saja tidak
sah. Hal tersebut dijadikan sandaran
pada hadits dari Aisyah rha, Rasulullah
bersabda:
Artinya: “Tidak sah pernikahan
(perkawinan) kecuali dengan wali dan dua
saksi yang adil” (HR. Daruquthni)
Ada beberapa alasan yang
digunakan untuk menguatkan tentang
saksi dalam pernikahan, diantaranya;
a) Berdasarkan kepada Hadits yang
diriwayatkan oleh Daruquthni tersebut di
atas, b) Kata-kata “tidak” dalam hadits
tersebut bermaksud “tidak sah” yang berarti
menunjukkan bahwa mempersaksikan
terjadinya ijab qabul merupakan syarat
dalam perkawinan, c) Bahwa Umar bin
Khatthab menerima pengaduan adanya
perkawinan yang hanya disaksikan oleh
seorang laki-laki dan seorang perempuan,
sehingga Umar bin Khatthab menyatakan
ini kawin gelap, dan aku tidak membenarkan
dan andaikan saat itu aku hadir, tentu akan
ku rajam”, d) Karena adanya pihak lain
yang turut terlibat di dalam hak kedua
belah pihak yang beraqad, yaitu anakanak, karena di dalam aqad disyaratkan
adanya saksi agar ayahnya tidak akan
mengingkarinya dari keturunannya.
Kesaksian dalam pernikahan
tidak hanya diperlukan dalam nikah yang
diselenggarakan di lembaga nikah namun
juga dalam hal pelaksanaan nikah siri
tentunya saksi juga diperlukan karena ini
berkaitan dengan ketentuan hukum Islamn
dan juga menurut Kompilasi Hukum Islam
(KHI) pada Pasal 14.
3. Hukum mengumumkan pernikahan
Di samping harus memenuhi syarat
dan rukun suatu pernikahan yaitu adanya
wali, dua orang saksi, calon mempelai
baik laki-laki maupun perempuan dan juga
sighat ijab qabul, baik juga kalua suatu
pernikahan itu dapat diumumkan kepada
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
semua pihak sehingga pernikahan itu
tidak dinyatakan rahasia atau tersembunyi
dari masyarakat. Aspek pengumuman
pernikahan menjadi penting karena isyarat
kesepakatan ulama terhadap pernikahan
yang dilakukan dengan cara sembunyi
atau dirahasiakan, sehingga menjadi
terang dalam masyarakat atas kehidupan
seorang perempuan dan seorang laki-laki
yang telah diikat oleh tali perkawinan.
Meskipun demikian aspek
mengumumkan pernikahan tidak
termasuk dalam syarat ataupun rukun
suatu pernikahan dan juga masih terjadi
perbebatan pendapat di kalangan para
ulama dalam memahami maksud dan
tujuan dari mengumumkan pernikahan
tersebut. Bagitu pula terhadap nikah siri
yang merahasiakan proses pernikahan
dengankata lain tidak diumumkan kepada
masyarakat, karenanya nikah siri itu
bermakna nikah yang dirahasiakan
dan tidak berlangsung secara terangterangan. Meski pengumuman pernikahan
itu tidak menjadi wajib namun penting
untuk diumumkan karena jumhur ulama
berpendapat bahwa pernikahan belum bisa
dianggap terlaksana kecuali diumumkan
secara terang-terangan, meskipun
penyiarannya dilakukan dengan sarana
yang lain. Mengumumkan pernikahan
dapat menghindari suami isteri dari
kemudharatan, sebaliknya pernikahan
yang dilaksanakan secara rahasia atau
tersebunyi akan menggiring masyarakat
pada dugaan negatif.
4. Hukum Pencatatann Pernikahan
Salah satu ayat al-Qur‘an yang
dapat dijadikan sebagai sandaran untuk
pencatatan adalah surat al-Baqarah, ayat
282, yang mengharuskan (kewajiban)
melakukan pencatatan dalam aspek
mu’amalah. Jika dikaji lebih dalam tidak
hanya dalam hal mu’amalah semata
yang berkaitan dengan perdagangan,
hutang-piutang, jual beli atau yang lainnya
akan tetapilebih luas pada aspek hukum
perdatanya, karenanya pernikahan
merupakan salah aspek yang termasuk
dalam kategori perdata. Pencatatan
dimaksukkan disini adalah untuk
menguatkan kesaksian suatu peristiwa
perkawinan yang terbukti secara tertulis
dalam suatu dokumen.Dengan adanya
bukti yang tertulis maka statusnya lebih
adil dan benar disisi Allah, juga disisi
masyarakat serta dapat terhindar dari
keragu-raguan.
Secara ketentuan perundang-undangan,
pencatatan nikah termuat dalam UndangUndang Nomor 1 tahun 1974 pada Pasal 2
ayat (2) yang menyatakan bahwa tiap-tiap
perkawinan dicatat menurut perundangundangan yang berlaku. Indonesia sebagai
Negara yang berdasarkan kepada hukum,
maka segala aktivitas yang bermuara
kepada lahirnya akibat hukum harus
didasarkan pada peraturan yang berlaku.
Di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)
pada Pasal 5 menyebutkan bahwa supaya
peristiwa perkawinan itu menjadi tertib
dan terjamin dalam masyarakat sudah
seharusnya dilakukan pencatatan oleh
pihak yang berwenang (petugas yang telah
ditetapkan untuk itu).
Suatu pernikahan itu sebaiknya
diproyeksikan untuk mencegah mudharat
yang terjadi bila pembinaan rumah tangga
tidak dikelola dengan baik dan penuh
tanggungjawab.Menghindari kerusakan
jauh lebih utama dari memenuhi
kemaslahatan, ini artinya suatu tindakan
hukum tidak semata-mata hanya
didsarkan pada usaha-usaha memenuhi
kemaslahatan (kepentingan) saja tetapi
jauh lebih penting bagaimana dapat
terhindar dari danpak negatif perbuatan
tersebut.
Jika cermati bahwa nikah siri pada
kenyataannya banyak menimbulkan
kemudharatan sebaiknya dihindari,
pernikahan tidaklah cukup hanya telah
terjadi aqad secara lisan antara kedua
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
24
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
belah pihak (pihak mempelai laki-laki dan
pihak mempelai perempuan)akan tetapi
jauh lebih penting adalah mencatatkan
aqad pernikahan agar dapat diperolehh
bukti tertulis yang sah dan kuat secara
hukum. Oleh karenanya pernikahan itu
sebaiknya disertai pencatatan, di samping
itu bagi ummat Islam diharuskan untuk
selala tunduk dan patuh pada hukum
yang telah dilahirkan oleh pemimpin yang
dipercaya (pemerintah), karena Islam (alQur‘an) telah memerintahkan kita untuk
patuh pada Allah, patuh pada Rasul dan
juga pada pemimpin.
Sejak zaman Rasulullah SAW,
praktek pernikahan dalam masyarakat
sepenuhnya bersifat “partikelir” tidak
dicatatkan sama sekali dalam regitrasi
Negara pada saat itu, dalam perjalannya
juga hukum Islam memandang bahwa
pencatatan itu tidak termasuk dalam syarat
dan rukun pernikahan, sebab pencatatan
nikah itu termasuk dalam wilayah
keduniawian semata. Bagi warga Negara
Indonesia aturan pencatatan tersebut telah
diatur dalam bentuk peraturan perundangundangan baik UU No. 1 Tahun 1974
maupun KHI melalui Inpres No. 1 tahun
1991.
Pada dasarnya tujuan dari
pencatatan pernikahan adalah agar
memperoleh bukti tertulis sehingga ketika
pernikahan dicatatkan pada lembaga
Pancatan nikah (KUA) tentu seseorang
telah memiliki sebuah dokumen resmi
yang bisa dijadikan sebagai alat bukti
dihadapan Peradilan, ketika ada sengketa
yang berkaitan dengan pernikahan maupun
sengketa yang muncul akibat pernikahan.
Secara filosofis institusi pencatatan
perkawinan adalah untuk mewujudkan
ketertiban dalam masyarakat dan
memperoleh kepastian hukum.Pencatatan
perkawinan merupakan bentuk baru dari
pemahaman perintah Nabi SAW agar
mengumumnkan nikah meskipun hanya
memotong seekor kambing.Perintah
25
tersebut sebetulnya ditujukan kepada
masyarakat kesukuan yang kecil dan
tertutup dari pendudukan Hijaz tempo dulu,
bagi mereka pesta memotong kambing
sudah cukup sebagai pengumuman.
Wajibnya pencatatan nikah tidak
hanya diatur dalam Undang-Undang
Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam
(KHI) yang merupakan pedoman bagi
ummat Islam di indonesia juga memberikan
isyarat yang sama. Kedua hukum positif
nasional tersebut tidak berbeda dengan
hukum agama mengenai nikah yang tidak
tercatat, jadi nikah yang tidak dicatatkan,
di samping menyalahi aturan positif juga
menyalahi hukum agama, sebaiknya
pernikahan tersebut dicatatkan.
D. Pelarangan Nikah Siri
Pelarangan nikah siri ini merupakan
rancangan yang diusulkan pemerintah
melalui Undang-Undang Peradilan Agama,
untuk memenuhi harapan pemerintah
supaya lahirnya suatu peraturan yang
memberikan ketegasan terhadap praktekpraktek pernikahan yang dilakukan diluar
dari ketentuan agama dan UndangUndang.Wacana tentang pelarangan nikah
siri yang dimasukkan dalam Rancangan
Undang-Undang Peradilan Agama ternyata
mendapat sambutan positif dari salah
satu lembaga hukum yaitu Mahkamah
Konstitusi (MK). Menurut Ketua Mahkamah
Konstitusi (MK), Mahfud MD, bahwa dalam
konteks Indonesia saat ini, pernikahan siri
itu harus dilarang oleh Undang-Undang
untuk menjaga akibat buruk pada korbankorbannya, menurutnya pelarangan itu
tidak melanggar agama.
Te r k a i t d e n g a n R a n c a n g a n
UU Peradilan Agama tersebut terdapat
ketentuan pidana bagi pelaku nikah siri
yang diancam dengan sanksi penjara
maksimal 3 (tiga) bulan dan denda 5 (lima)
juta rupiah, tidak hanya sampai disitu
saja sanksi penjara tersebut juga dapat
dikenakan pada orang yang mengawinkan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
atau yang dikawinkan secara nikah siri,
poligami maupun kawin kontrak (mut’ah).
Ketentuan tersebut juga berlaku bagi
penghulu atau bagi pegawai pencatat nikah
yang mensahkan pernikahan siri tersebut,
bagi mereka sanksi hukumannya adalah
denda 6 (enam) juta dan penjara 1 (satu)
tahun.
Te n t a n g p e m b e r i a n s a n k s i
terhadap pelaku nikah siri, beberapa
elemena masyarakat yang mengemukan
mengemukanperbedaan pendapatnya.
Kalangan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Jakarta menyatakan perlu adanya sanksi
pidana untuk pelaku nikah siri sehingga
tidak ada pihak-pihak yang dirugikan
karena perbuatan tersebut.Ma’ruf Amin
sebagai Ketua MUI Jakarta menyebutkan
bahwa jika Undang-Undang melarang
nikah siri, maka kita wajib ikut dan taat
melaksanakannya, beliau menambahkan
alasan pelarangan nikah siri adalah
hukum perkawinan sah jika cukup syarat
dan rukunnya, tetapi bisa haram kalau
menimbulkan pihak-pihak yang dirugikan
ibu atau anak, maka dia haram, sah tetapi
haram, tegasnya.
Di dalam kitab-kitab Fikih tidak
dikenal istilah nikah siri.Istilah ini hanya
dikenal dan lebih popular secara lokal
dalam hukum perkawinan Indonesia.
Oleh karena itu tidak ditemukan definisi
yang pasti dan disepakati oleh para
ulama secar syar’i, dengan demikian tidak
ada juga status hukumnya yang baku
dan disepakati. Karena dalam kitab fikih
dikatakan “hukum itu kepada yang diberi
nama bukan kepada namanya”.Dalam
konteks perkawinan, haram dan halalnya
atau sah dan batalnya suatu perkawinan
bukan karena namanya tetapi kepada
tatacara dan praktek dari perkawinannya
itu sendiri.
Dalam konteks masyarakat
Indonesia nikah siri sering dimaksudkan
dalam tiga pengertian; Pertama: Perkawinan
yang dilaksankan dengan sembunyi-
sembunyi, tanpa mengundang orang luar
selain dari kedua keluarga mempelai,
kemudian tidak mendaftarkannya pada
Kantor Urusan Agama sehingga perkawinan
mereka tidak mempunyai legalitas formal
dalam perundang-undangan. Kedua:
Perkawinan yang dilakukan secara
sembunyi-sembunyi oleh sepasang lakilaki dan perempuan tanpa diketahui kedua
pihak keluarganya dengan kata lain tanpa
adanya wali, boleh jadi pihak wali tidak
setuju atau hanya karena menganggap
abash pernikahan tanpa awali.Ketiga:
pernikahan yang dirahasiakan karena
pertimbangan-pertimbangan tertentu,
misalnya karena takut mendapatkan stigma
negatif dari masyarakat yang terlanjur
menganggap tabu pernikahan siri atau
karena pertimbangan yang rumit sehingga
memaksa seseorang untuk dirahasiakan.
Sekalipun dalam rancangan
Undang-Undang Peradilan Agama yang
akan dilakukan revisi dengan memasukkan
sanksi pidana bagi pelaku pernikahan
siri, akan tetapi tidak dapat dihindari juga
perbedaan pendapat dalam memahami
pelaksanaan nikah siri tersebut. Bagi yang
menyatakan bahwa nikah siri tetap sah
secara syariat, mereka melihat dari aspek
pernikahannya yang memenuhi syaratnya
dan pelakunya tidak dapat dianggap
telah melakukan tindak kemaksiatan dan
berhak dijatuhi sanksi di dunia maupun
di akhirat, ketika perbuatan tersebut
dikategorikan “mengerjakan yang haram”
atau “meninggalkan yang wajib”
Ada hal yang positif dalam RUU
Peradilan Agama ketika memasukkan
sanksi pidana atau pelarangan pernikahan
siri tersebut, yaitu dapat menghalangi orang
untuk melakukan tindak perkawinan yang
mengancam seseorang perempuan tidak
mempunyai hak hukum dari suaminya.
Misalnya hak waris dikemudian hari, jika
keduanya terjadi perceraian baik secara
hidup maupun cerai mati.Di samping itu
RUU Peradilan Agama itu juga melindungi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
26
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
anak terhadap kepastian hukum dari
pernikahan orang tuanya.
Dalam Peraturan Peraundangundangan Indonesia tidak dikenal dengan
dengan nama nikah Siri, namun oleh UU
menyebutkan nikah siri dalam pengertian
bahwa nikah yang tidak didaftarkan atau
nikahyang tidak ditatatkan di lembaga
pencatatan nikah. Bagi orang yang
melangsungkan pernikahannya dalam
agama Islam maka pencatatan nikahnya
dilakukan di KUA, sedangkan bagi orang
yang melangsungkan nikahnya bukan
dalam agama Islam maka pencatatan
nikahnya dilakukan di Kantor Catatan Sipil.
Dengannikah yang tidak tercatat teersebut
oleh Peraturan Perundang-undangan
Nasional memandang bahwa hal tersebut
suatu pelanggaran yang patut diberikan
sanksi pidana sebagai mana ditetapkan
dalam Pasal 45, PP No. 9 Tahun 1975,
yaitu:
ayat (1), Kecuali apabila ditentukan
lain dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku, maka :
a. Barangsiapa yang melanggar
ketentuan yang diatur dalam
Pasal 3, 10 ayat (3), 40Peraturan
Pemerintah ini dihukum dengan
hukuman denda setinggi-tingginya
Rp 7.500,-(tujuh ribu lima ratus
rupiah);
b. Pegawai Pencatat yang melanggar
ketentuan yang diatur dalam Pasal
6, 7, 8, 9, 10 ayat (1), 11, 13, 44
Peraturan Pemerintah ini dihukum
dengan hukuman kurungan
selamalamanya 3 (tiga) bulan
atau denda setinggi-tingginya
Rp 7.500,- (tujuh ribu lima ratus
rupiah).
ayat (2), tindak pidana yang
dimaksudkan dalam ayat (1)di atas
merupakan pelanggaran.
E. Kesimpulan
1. Nikah Siri adalah pernikahan yang
27
dilakukan oleh pihak wali perempuan
dengan seorang laki-laki dan
disaksikan oleh saksi yang dimintakan
untuk itu. Nikah Siri dalam Peraturan
Perundang-undangan tidak dikenal,
hanya saja nikah siri dipahami dan
dikenal di kalangan masyarakat
Indonesia di abad ke 20 sekarang ini,
oleh PP No. 9 Tahun 1975, pernikahan
tersebut disebut dengan pernikahan
tidak dilaporkan atau tidak dicatatkan
di Kantor Urusan Agama (KUA) bagi
yang bergama Islam atau Kantor
Catatan Sipil bagi yang beragama non
muslim, karenanya nikah siri adalah
nikah secara sembunyi-sembunyi
atau nikah secara diam-diam, nikah
seperti ini dapat diarti-samakan
dengan nikah “di bawah tangan”.
2. Pelarang nikah siri tersebut secara
syar’i (hukum agama) tidak dapat
dilakukan karena nikah siri tersebut
dapat terpenuhinya rukun dan syarat
secara syara’, lagipula pelaksanaan
nikah siri tersebut bukan perbuatan
kemaksiatan atau criminal sehingga
tidak dapat dipidanakan, akan tetapi
pelarangan nikah siri dapat dilakukan
melalui perundang-undangan sebagai
mana yang telah ditetapkan dalam
PP No. 9 Tahun 1975 pada Pasal
45 tentang Ketentuan Pidana dan
juga melalui Kompilasi Hukum Islam
(KHI) yang menitikberatkan pada
pencatatan nikah di lembaga/Kantor
Urusan Agama.
3. Dalam Rancangan Undang-Undang
Peradilan Agama, oleh Pemerintah
melalui Departemen Agama telah
memasukkan unsur pidana penjara
selama 3 bulan dan denda sebesar 5
juta, bagi yang melakukan nikah siri
atau orang-orang yang terkait dengan
pelaksanaan nikah siri tersebut,
namun Rancangan Undang-Undang
tersebut telah menimbulkan pro
dan kontra terhadap unsur pidana
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
yang akan diberlakukan. Beberapa
kalangan menilai bahwa tidak tepat
memasukkan unsur pidana dalam
RUU Peradilan Agama tersebut
dengan alasan bahwa pelaksanaan
nikah “siri” tersebut memungkinkan
terpenuhi rukun dan syarat sesuai
dengan syara’. Di samping itu
pelaksanaan nikah siri bukan
kriminalitas yang harus dipidanakan
orangnnya.
4. Dalam pemikiran Hukum Islam
Indonesia pelarangan nikah siri
tersebut dimaksudkan agar terpelihara
ketertiban administrasi dan legalitas
dari segi peraturan perundangundangan yang berlaku. Di samping itu
dapat menjaga kesewenang-wenang
yang akan terjadi bagi perempuan
dalam memperoleh hak-hanya dan
hak anak-anaknya dari perkawinan
jika kemudian terjadi perceraian. DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur‘an dan Terjemahan, Departemen
Agama RI, Tahun 2000
Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat,
Cet. Ke 3, Jakarta:Kencana
Prenada Media Group, 2008
Cet. 1, Jakarta: Visimedia, 2007.
R.B. Priyo Sembodo, Nikah Siri dalam
tinjauan Psikososial, makalah
disampaikan dalam seminar Nikah
sirii dalam tinjauan Hukum Syar’i,
Psikososial dan Hukum Positif,
Yogyakarta, 2003.
Ti h a m i d a n S o h a r i S a h r a n i , F i k i h
Munakahat; Kajian Fikih Nikah
lengkap, Cet. 1 Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2009
Sayyid Sabiq, alih bahasa Mohd. Thalib,
Fikih Sunnah, Jilid 6, Bandung:
al-Ma’arif
Syaikh Hasan Ayyub, Fiqh al-Asratul
Muslimah;Fikih Keluarga, terjemah
M. Abdul Ghoffar, cet. 1, Jakarta:
Pustaka al-Kautsar, 2001.
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah,pengantar
Hasan al-Banna, Cet. 1, Jakarta:
Pena Pundi Aksara, 2006.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
Abdurrahman Partosantono, Qamus
Dars al-Lughah al-‘Arabiyyah li
al-Mudarisi al-‘aliyah, Jakarta:
Dharma Bakti, 1982.
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan
Islam di Indonesia; antara Fiqh
Munakahat dan Undang-Undang
Perkawinan, Cet. 1, Jakarta:
Prenada Media, 2006
Eko Mardiono, Peraturan Nikah Siri
akan kembali ke belakang, http//
google.com/nikah siri/diakses
pada tanggal 14 Oktober 2010
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
Happy Santoso, Nikah Siri Apa Untungnya,
28
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
HUKUMAN MATI DALAM PERPSEKTIF PERUNDANG-UNDANGAN
Oleh: Bukhari, SH,I., MH
Email:[email protected]
Abstract
Capital punishment in fact for the kemaslahatan of people and for the shake of
upholding justice. However, if analysed by a sound Section 28 A, and Section
28 I, UUD 1945, as cited by Luluk Widyawan sounding “ rights to live the, rights
in order not to tortured by is human right which cannot be lessened in a state of
any. hence capital punishment of it self in fact less precisely because inhuman
and have impinged the human life rights. capital punishment represent the
penalization form by eliminating somebody soul of because have been proven
validly and assure to impinge the doing an injustice rule. Its target is to uphold
the norm punish and intimidate the people in order not to do/conduct the collision
which have been specified and become the fearful example of for every people to
do/conduct the same collision. Capital punishment of according to criminal law for
example making an opening for murder perpetrator to change, to improve;repairing
attitude and behavioral and give a break to become the good human being.
Applying conception the capital punishment aim to to give the effect discourage
and make the others fear to do/conduct the activity which illegal later;then cause
until to capital punishment.
Keyword: Capital Punishment And legislation
A. Latar Belakang Masalah
Hampir semua referensi dalam
pengertian hukum, hukuman mati
merupakan salah satu bentuk sanksi pidana
yang mengandung keseluruhan ketentuan
dan larangan sekaligus memaksa si
terhukum (Luluk Widyawan, 2005, 2)
Berdasarkan kutipan ini dapat dipahami
bahwa hukuman mati merupakan bentuk
hukuman yang diberlakukan kepada
seseorang dengan membunuhnya karena
telah terbukti secara sah dan meyakinkan
melakukan tindak pidana tertentu.
Di negara-negara tertentu,
hukuman mati masih diberlakukan untuk
menumpas kejahatan dan salah satunya
adalah di Indonesia. Hukuman mati bagi
pelaku kejahatan tertentu tertuang di dalam
Kitab Undang-undang dan Hukum Pidana
(KUHP) yang terdapat dalam beberapa
pasal sesuai dengan bentuk pidananya.
Tindak pidana yang diancam hukuman mati
menurut KUHP adalah:
1. Makar yang dilakukan untuk
membunuh Kepala Negara, Pasal
104.
2. Mengajak negara asing guna
29
menyerang Indonesia, Pasal 111,
ayat 2.
3. Memberi pertolongan kepada
musuh sewaktu Indonesia dalam
perang, Pasal 124, ayat 3.
4. M e m b u n u h K e p a l a N e g a r a
sahabat, Pasal 140, ayat 4.
5. Pembunuhan berencana, Pasal
140, ayat 3 dan Pasal 340.
6. Pencurian dengan kekerasan
oleh dua orang atau lebih yang
menyebabkan adanya orang
terluka berat atau mati, Pasal 365,
ayat 4.
7. Pembajakan di laut, di pesisir,
di pantai atau di kali yang
menyebabkan ada orang mati,
Pasal 444.
8. Dalam waktu perang menganjurkan
huru-hara, pemberontakan dan
sebagainya, Pasal 124 bis.
9. Dalam waktu perang, menipu
menyampaikan keperluan
angkatan perang, Pasal 127 dan
129.
10. Pemerasan dengan pemberatan,
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Pasal 358, ayat 2 R Soesilo, 1990,
36 )
Dapat diketahui bahwa barang
orang yang melanggar salah satu pasal
tersebut berarti telah melakukan tindak
pidana, pelakunya akan dikenai ancaman
hukuman mati. Hukuman mati terhadap
pelaku kejahatan di atas dilakukan dengan
cara ditembak sampai mati di suatu
tempat dalam daerah hukum Pengadilan
yang menjatuhkan putusan dalam tingkat
pertama. Ketentuan pelaksanaan hukuman
mati ini sesuai dengan Perpres No. 2/1964
sebagai pengganti Pasal 11 KUHP.
Hukuman mati bagi pelaku tindak
pidana bukan hanya terdapat dalam hukum
pidana, tetapi juga dalam hukum Islam yang
dikenal dengan hukum jinayah. Ini artinya,
Islam juga memberlakukan hukuman mati
bagi pelaku tindak pidana tertentu. Tindak
pidana yang diancam hukuman mati dalam
hukum jinayah adalah: perzinahan yang
dilakukan orang yang sudah menikah (
Djazuli, 1996, 43 ) pemberontakan. murtad,
dan pembunuhan dengan sengaja.
Dari pemahaman di atas dapat
diketahui bahwa tindak pidana yang dikenai
ancaman hukuman mati dalam hukum
jinayah ada empat yakni perzinahan yang
dilakukan oleh orang yang telah menikah,
pemberontakan terhadap negara yang adil,
murtad atau keluar dari agama Islam dam
pembunuhan atau menghilangkan nyawa
orang lain dengan sengaja.
Tatacara melaksanakan hukuman
mati dalam hukum jinayah ini tergantung
pada jenis pidana yang dilakukannya.
Bagi pelaku perzinahan maka dihukum
mati dengan cara dirajam, bagi pelaku
pemberontakan dihukum mati oleh
penguasa dengan cara yang berlaku dalam
negara tersebut, bagi orang yang murtad
dihukum mati dengan cara dipenggal,
sedangkan bagi orang yang melakukan
pembunuhan dengan sengaja maka
dihukum mati dengan cara diqishah.
Jika diperhatikan secara seksama
tentang hukuman mati antara hukum pidana
dan hukum jinayah di atas, maka ditemui
bahwa antara kedua terdapat persamaan
dan juga perbedaan. Persamaan antara
keduanya terletak pada ketentuan hukum
mati bagi pelaku tindak pidana makar,
pemberontakan, dan pembunuhan.
Sedangkan perbedaannya terletak pada
cakupan dari tindak pidana yang dikenai
hukuman mati, menurut hukum jinayah
zinah muhsan dan murtad tergolong
sebagai tindak pidana yang akan dikenai
ancaman, sedangkan menurut hukum
pidana kedua hal tersebut tidak termasuk
tindak pidana sehingga tidak dikenai
ancaman.
Hukuman mati baik menurut hukum
pidana maupun hukum jinayah sebenarnya
memiliki tujuan yang hakiki, yakni sebagai
penghapusan dosa yang dilatarbelakangi
pandangan religius, untuk menghapus
kesalahan dengan penderitaan setimpal,
untuk membuat jera pelaku kejahatan lain
dan juga untuk melindungi kepentingan
umum dan memperbaiki penjahat yang
akan melakukan kejahatan. Muhammad
Riza menambahkan bahwa tujuan dari
hukuman mati adalah untuk melindungi
masyarakat dari bahaya kejahatan, serta
menciptakan keamanan dan ketertiban
di dalam masyarakat (Luluk Widyawan,
2005, 2 )
Berdasarkan kutipan-kutipan di
atas, maka dapat dipahami bahwa tujuan
dari hukuman mati sebenarnya untuk
kemaslahatan umat dan demi menegakkan
keadilan. Akan tetapi, jika dianalisis bunyi
Pasal 28 A, dan Pasal 28 I, UUD 1945,
sebagaimana yang dikutip oleh Luluk
Widyawan yang berbunyi “hak untuk
hidup, hak untuk tidak disiksa adalah hak
asasi manusia yang tidak dapat dikurangi
dalam keadaan apapun”, (Luluk Widyawan,
2005, 2 ) maka hukuman mati itu sendiri
sebenarnya kurang tepat karena tidak
manusiawi dan telah melanggar hak hidup
manusia.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
30
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Mengingat setiap manusia memiliki
hak untuk hidup dan hak untuk tidak disiksa,
maka pembatalan tuntutan hukuman mati
terhadap pelaku tindak pidana khususnya
pidana pembunuhan atas dasar pemaafan
dari pihak penuntut menjadi solusi yang
tepat. Sebab pemaafan dari penuntut
telah menghafus kesalahan pelaku yang
menyebabkan dirinya memperoleh kembali
hak untuk hidup dan hak untuk tidak disiksa.
Akan tetapi yang menjadi persoalan,
adakah konsep pemaafan bagi terdakwa
dalam hukum pidana dan hukum Islam,
jika ada bagaimana konsep pemaafan atas
pelaku pembunuhan tersebut.
Atas dasar persolan di atas maka
penulis membahas mendalam guna
mengetahui lebih jauh tentang ancaman
hukuman mati baik menurut hukum pidana.
Tulisan ini dilakukan melalui penelaahan
terhadap Kitab Undang-undang Hukum
Pidana . Hasil tulisan ini dibuat dengan
rangkuman judul “Hukuman Mati dalam
perspektif perundang-undangan”
B. Pertanyaan Jurnal
Agar penulisan jurnal ini terbuat
secara terarah, maka terlebih dahulu
akan dirumuskan ke dalam pertanyaan
Bagaimana konsep hukuman mati
pandangan kitab undang-undang hukum
pidana dengan tujuan penulisan jurnal
ini adalah konsep hukuman mati dalam
pandangan hukum positif yang berlaku
di Indonesia. Kegunaannya adalah
memperkaya khazanah keilmuan dalam
bidang hukum khususnya yang berkaitan
dengan konsep pelaksanaan hukuman
mati juga diharapkan berguna sebagai
bahan masukan bagi penegak hukum
di Indonesia dalam menegakkan hukum
guna menghindari penghilangan nyawa
seseorang.
C. Aspek Teoritis
Hukuman mati atau capital
punishment berasal dari kata caput (bahasa
31
Latin). Kata ini dipakai orang Romawi
untuk mengartikan kepala, hidup, hak
masyarakat atau hak individu. Hukuman
mati diartikan sebagai hukuman yang
dijalankan dengan membunuh orang
yang bersalah. Dalam pengertian hukum,
hukuman mati merupakan salah satu
bentuk sanksi pidana yang mengandung
keseluruhan ketentuan dan larangan
sekaligus memaksa si terhukum (Luluk
Widyawan, 2005, 3 )
Istilah “Hukuman mati” terdiri
dari dua suku kata, yaitu “Hukuman” dan
“Mati”. Hukuman diartikan dengan siksa
dan sebagainya yang diletakkan kepada
orang yang melanggar Undang-undang
dan sebagainya. Menurut Yan Pramadya
Puspa, Hukuman adalah suatu keputusan
yang dijatuhkan oleh Hakim pada akhir
sidang Pengadilan dengan vonis kepada
siapapun yang melanggar hukum pidana
hukum tersebut oleh si pelanggarnya
sebagai perasaan tidak enak. Lebih
tegas R.Soesilo menyebutkan bahwa
hukuman adalah suatu perasaan tidak
enak (sensara) yang di jatuhkan oleh hakim
dengan vonis kepada orang yang telah
melanggar Undang-undang pidana (Riza,
2009, 4 )
Dalam pengertian hukum,
diketahui bahwa hukuman mati merupakan
salah satu bentuk sanksi pidana yang
mengandung keseluruhan ketentuanketentuan dan larangan-larangan sekaligus
memaksa si terhukum. Sanksi ini bertujuan
menegakkan norma hukum dan secara
preventif akan membuat orang takut
melakukan pelanggaran yang telah
ditetapkan. Si terhukum pun menjadi
contoh yang menakutkan bagi setiap orang
untuk melakukan pelanggaran ( Naya,
2007, 41 )
Dalam Islam, salah satu bentuk
hukuman mati dikenal dengan istilah rajam.
Rajam adalah hukuman mati dengan
cara dilempari batu. Cara menghukum
seperti ini tidak dilakukan kecuali dalam
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
kasus yang sangat tercela dan hanya bila
penerima hukuman benar-benar terbukti
dengan meyakinkan melakukan sebuah
larangan yang berat. Selain rajam, dikenal
juga istilah qishash yang maksudnya
memberlakukan orang sebagaimana
orang tersebut memberlakukan orang lain
( Ahmat Sarwat, 2007, 12 )
Berdasarkan keterangan yang
terdapat di dalam Ensiklopedi Hukum Islam,
jinayah qishash adalah tindak pidana yang
berkaitan dengan pelanggaran terhadap
jiwa atau anggota tubuh seseorang, yaitu
membunuh atau melukai seseorang. Lebih
jauh dijelaskan bahwa hukuman terhadap
tindak pidana ini adalah qishash, yakni
memberikan perlakuan yang sama kepada
terpidana sesuai dengan tindak pidana
yang dilakukannya.
Dalam hukum Pidana, hukuman
mati berlaku pada tindak pidana tertentu
seperti makar yang dilakukan untuk
membunuh Kepala Negara (Pasal 104),
mengajak negara asing guna menyerang
Indonesia (Pasal 111 ayat 2), memberi
pertolongan kepada musuh sewaktu dalam
perang (Pasal 124 ayat 3), membunuh
Kepala Negara sahabat (Pasal 140
ayat 4), pembunuhan berencana (Pasal
140 ayat 3 dan Pasal 340), pencurian
dengan kekerasan oleh dua orang atau
lebih yang menyebabkan adanya orang
terluka berat atau mati (Pasal 365 ayat
4), pembajakan di laut, di pesisir, di pantai
atau di kali yang menyebabkan ada orang
mati (Pasal 444), dalam waktu perang
menganjurkan huru-hara, pemberontakan
dan sebagainya (Pasal 124 bis), atau
menipu, menyampaikan keperluan
angkatan perang (Pasal 127 dan 129),
pemerasan dengan pemberatan (Pasal 358
ayat 2). Dalam hukum jinayah, hukuman
mati hanya dikenakan kepada pelaku
perzinahan yang dilakukan orang yang
sudah menikah, pemberontakan, murtad
dan pelaku pembunuhan dengan sengaja
( Djazuli, 1996, 110)
Berdasarkan uraian di atas
dapat dipahami bahwa hukuman mati
merupakan bentuk hukuman dengan cara
menghilangkan nyawa seseorang karena
telah terbukti secara sah dan meyakinkan
melanggar ketentuan tindak pidana.
Tujuannya adalah untuk menegakkan
norma hukum dan menakut-nakuti orang
agar tidak melakukan pelanggaran yang
telah ditetapkan dan menjadi contoh
menakutkan bagi setiap orang untuk
melakukan pelanggaran yang sama.
Menurut Subekti dan Tjitrosoedibio,
hukuman ialah penderitaan atau adanya
unsur yang menyakitkan, baik jiwa maupun
badan. Bila ditelaah secara seksama,
maka kutipan ini menunjukkan bahwa
hukuman identik dengan penderitaan.
Penderitaan dapat diartikan dengan
kesusahan atau kesengsaraan yang
dialami oleh seseorang. Selanjutnya,
di dalam kutipan di atas juga dikatakan
bahwa hukuman merupakan unsur yang
menyakitkan. Unsur adalah bagian terkecil
dari sesuatu, sedangkan menyakitkan
merupakan kata yang mengandung makna
menjadikan atau menyebabkan timbulnya
rasa sakit. Bila kata unsur dan menyakitkan
ini dikaitkan dengan perlakuan, maka
unsur dalam batasan ini dapat diartikan
dengan sesuatu yang menjadi hakikat
dari perlakuan itu sendiri, sedangkan
menyakitkan merupakan akibat dari
perlakuan tersebut.
Hukuman erat kaitannya dengan
kedisiplinan, sebab hukuman itu sendiri
berasal dari kata hukum yang berarti
peraturan yang dibuat dan dirancang
untuk mengikat perilaku setiap orang
agar tercipta suatu kedisiplinan. Orang
yang melanggar hukum dikenakan
sanksi atas kesalahannya, sanksi yang
diterima atas kesalahan inilah yang
disebut dengan hukuman. Sebagaimana
yang dikemukakan oleh Subekti dan
Tjitrosoedibio dalam uraian selanjutnya,
bahwa hukuman merupakan “penderitaan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
32
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
yang diberikan atau ditimbulkan dengan
sengaja oleh seseorang sesudah terjadi
suatu pelanggaran, kejahatan, atau
kesalahan” (Subekti dan Tjitrosoedibio,
1983, 45 ) Atau seperti yang dikemukakan
oleh Poerwadarminta dengan mengatakan
bahwa hukuman adalah “siksa dan
sebagainya yang diletakkan kepada orang
yang melanggar Undang-undang dan
sebagainya” (Poerwadarminta, 2001, 71 )
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa hukuman merupakan
penderitaan atau perasaan tidak enak
yang diberikan dengan sengaja kepada
seseorang setelah yang bersangkutan
melakukan suatu pelanggaran, kejahatan
atau melakukan suatu kesalahan sebagai
akibat dari perbuatan yang dilakukannya.
Penderitaan yang diberikan tersebut
menimbulkan atau menyebabkan rasa sakit
baik terhadap jiwa maupun raganya.
Jika diperhatikan secara seksama,
maka definisi di atas merupakan pengertian
hukuman secara umum. Dikatakan umum
karena pemberi derita atau penimbul
perasaan tidak enak pada pelaku
pelanggaran, kejahatan dan kesalahan
tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja,
kapan dan di mana saja. Boleh jadi dilakukan
oleh guru kepada muridnya di sekolah
atas suatu kesalahan, pelanggaran atau
kejahatan yang telah dilakukan murid, atau
dilakukan oleh orang tua kepada anaknya di
rumah atas suatu kesalahan, pelanggaran
dan kejahatan yang telah dilakukan anak.
Untuk memberikan deskripsi
tentang pengertian hukuman secara lebih
khusus, maka berikut akan dianalisis
berdasarkan pandangan para pakar. Dalam
hal ini, Soesilo seperti yang dikutip oleh
Riza memberikan batasan bahwa hukuman
adalah “suatu perasaan tidak enak (sensara)
yang di jatuhkan oleh hakim dengan vonis”.
Definisi yang hampir sama juga
dikemukakan oleh Pramadya dengan
mengatakan bahwa hukuman adalah “suatu
keputusan yang dijatuhkan oleh hakim
33
pada akhir sidang pengadilan dengan
vonis kepada siapapun yang melanggar
hukum pidana, hukum tersebut oleh si
pelanggarnya sebagai perasaan tidak
enak”. Dengan menelaah kedua kutipan
di atas, maka antara pendapat pertama
dengan pendapat kedua ditemui adanya
satu kesamaan yang mengatakan bahwa
hukuman merupakan suatu vonis bagi
pelaku tindak pidana, dijatuhkan oleh
hakim pada akhir sidang pengadilan, dan
vonis tersebut menimbulkan derita atau
perasaan tidak enak bagi penerimanya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa hukuman merupakan suatu
vonis yang dijatuhkan oleh hakim pada
akhir sidang pengadilan bagi pelaku
tindak pidana yang menimbulkan derita
atau perasaan tidak enak bagi yang
menerimanya.
Jika hukuman merupakan suatu
vonis yang dijatuhkan oleh hakim bagi
pelaku tindak pidana pada akhir sidang
pengadilan yang menimbulkan derita
atau perasaan tidak enak bagi yang
menerimanya, maka hukuman mati dapat
diartikan dengan vonis yang dijatuhkan
oleh hakim bagi pelaku tindak pidana
pada akhir sidang pengadilan yang
menyebabkan penerima vonis harus
menghadapi kematian.
Definisi ini tentunya masih jauh
dari pengertian hukuman mati yang
sebenarnya, sebab hanya didasarkan
kepada pengertian hukuman seperti
yang telah diuraikan sebelumnya dan
juga didasarkan kepada analisis penulis
setelah merangkai kata hukuman dengan
kata mati itu sendiri.
Untuk memberikan deskripsi
tentang pengertian hukuman mati
secara lebih rinci, berikut akan dianalisis
berdasarkan pandangan para pakar.
Menurut Luluk Widyaman, hukuman mati
atau capital punishment berasal dari
kata caput (bahasa Latin) yang dipakai
orang Romawi untuk mengartikan kepala,
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
hidup, hak masyarakat atau hak individu.
Hukuman mati diartikan sebagai hukuman
yang dijalankan dengan membunuh orang
yang bersalah. Dalam pengertian hukum,
hukuman mati merupakan salah satu bentuk
sanksi pidana yang mengandung keseluruhan
ketentuan dan larangan sekaligus memaksa
si terhukum.
Penjelasan yang hampir sama
juga dikemukakan oleh Naya dengan
mengatakan bahwa dalam pengertian
hukum, diketahui bahwa hukuman mati
merupakan salah satu bentuk sanksi
pidana yang mengandung keseluruhan
ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan
sekaligus memaksa si terhukum. Sanksi
ini bertujuan menegakkan norma hukum
dan secara preventif akan membuat orang
takut melakukan pelanggaran yang telah
ditetapkan. Si terhukum pun menjadi contoh
yang menakutkan bagi setiap orang untuk
melakukan pelanggaran (Luluk Widyawan,
2005, 42 )
Berdasarkan kedua kutipan di atas
dapat dipahami bahwa hukuman mati ditinjau
dari pengertian hukum merupakan salah satu
bentuk sanksi pidana dengan membunuh
hingga mati pelaku tindak pidana. Dalam
hukuman mati berlaku keseluruhan ketentuanketentuan dan larangan-larangan sekaligus
memaksa si terhukum, ini artinya pelaksanaan
hukuman mati harus mencakup keseluruhan
kriteria yang telah ditetapkan dan sekaligus
memaksa terpidana untuk menerimanya baik
dalam keadaan tidak suka.
Dalam perspektif Islam, hukuman mati
dikenal dengan istilah rajam. Hukuman rajam
adalah hukuman mati yang diyariatkan Allah
SWT kepada umat manusia yang melanggar
ketentuan-Nya dengan cara dilempari batu.
Cara menghukum seperti ini tidak dilakukan
kecuali dalam kasus yang sangat tercela
dan hanya bila penerima hukuman benarbenar terbukti dengan teramat meyakinkan
melakukan sebuah larangan yang berat(
Ahmad Sarwat, 2007, 1)
Selain rajam, hukuman mati dalam
perspektif Islam juga dikenal dengan
istilah qishash. Makna asalnya
adalah mengikuti jejak, secara syara’
diartikan dengan memberlakukan
seseorang sebagaimana orang tersebut
memberlakukan orang lain ( Muhammad
Amin Suma dkk, 2001, 1990 ) Ini
berarti, pembunuh yang membunuh
korbannya dengan sengaja maka dapat
dijatuhi hukuman mati dengan cara
membunuhnya juga.
Berdasarkan uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa hukuman
mati merupakan salah satu vonis yang
ditetapkan oleh hakim pada akhir
sidang pengadilan kepada pelaku tindak
pidana dengan cara membunuhnya
hingga mati dengan memberlakukan
seluruh ketentuan dan larangan
sekaligus memaksa terpidana untuk
menerimanya. Dalam perspektif Islam,
hukuman mati dikenal dengan istilah
rajam yang berlaku bagi pelaku zina
muhshan dengan cara dilempari batu
hingga mati atau qishash yang berlaku
bagi pelaku pembunuhan dengan cara
membunuhnya juga.
1.
Tujuan Pelaksanaan Hukuman
Mati
Pada pengertian secara umum
sebelumnya telah dijelaskan bahwa
hukuman merupakan penderitaan yang
diberikan atau ditimbulkan dengan
sengaja kepada seseorang setelah
terbukti melakukan suatu pelanggaran,
kejahatan, atau kesalahan. Jika
dianalisis secara seksama, maka
di dalam rumusan ini terdapat dua
ketentuan yang melalui kedua ketentuan
tersebut dapat diketahui tujuan dari
pelaksanaan suatu hukuman.
Ketentuan pertama bahwa
penderitaan yang diterima oleh pelaku
pelanggaran, kejahatan atau pembuat
kesalahan tersebut diberikan “dengan
sengaja”. Adanya unsur kesengajaan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
34
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
ini menunjukkan bahwa pemberian derita
tersebut memiliki maksud dan tujuan
tertentu. Jika penderitaan yang diterima
oleh seseorang bukan karena disengaja,
maka hal ini tentunya tidak memiliki maksud
atau tujuan dan dengan sendirinya tidak
dapat dikategorikan sebagai hukuman.
Seperti lutut anak kecil yang terluka akibat
terjatuh saat berlari.
Ketentuan kedua bahwa
penderitaan yang diberikan “sesudah
terjadi suatu pelanggaran, kejahatan
atau kesalahan”, ini berarti pemberian
derita tersebut memiliki hubungan sebabakibat dengan pelanggaran, kejahatan
atau kesalahan. Adanya hubungan
sebab-akibat ini menunjukkan bahwa
derita yang diberikan sebagai akibat dari
kejahatan, kesalahan atau pelanggaran
terhadap suatu peraturan, baik peraturan
yang disepakati oleh suatu kelompok
maupun yang berlaku secara umum dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Jika dihubungkan antara
ketentuan pertama dengan ketentuan
kedua, yakni disengaja setelah terjadi
pelanggaran, kejahatan atau kesalahan,
maka pemberian hukuman itu sendiri
sebenarnya memiliki maksud dan tujuan
tertentu. Tujuan dari suatu hukuman
tentunya tidak terlepas dari tujuan
ditetapkannya suatu peraturan. Namun
demikian, setiap hukuman sekurangkurangnya bertujuan untuk mencegah
agar tidak terjadi pelanggaran terhadap
peraturan yang telah disepakati sehingga
kehidupan manusia lebih manusiawi, atau
seperti yang dikemukakan Riza bahwa
hukuman bertujuan untuk melindungi
masyarakat dari bahaya kejahatan, serta
menciptakan keamanan dan ketertiban di
dalam masyarakat.
Tujuan dari pelaksanaan hukuman
mati tentunya juga tidak terlepas dari
tujuan ditetapkannya suatu peraturan
yang mengharuskan seseorang dihukum
35
mati jika melanggarnya. Jika dianalisis
kembali pernyataan Naya sebagaimana
yang telah disebutkan sebelumnya, maka
hukuman mati pada hakikatnya bertujuan
untuk menegakkan norma hukum dan
secara preventif akan membuat orang
takut melakukan pelanggaran yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan pandangan Luluk
Widyawan, dalam pelaksanaan hukuman
mati pada dasarnya terkandung beberapa
tujuan. Di antaranya adalah:
a. Pembalasan yang lebih menonjol
dalam masyarakat primitif.
b. Penghapusan dosa yang dilatarbelakangi pandangan religius
untuk menghapus kesalahan
dengan penderitaan setimpal.
c. Membuat jera pelaku kejahatan
lain.
d. Melindungi kepentingan umum.
e. Memperbaiki penjahat yang akan
melakukan kejahatan (. Luluk
Widyawan, 2005, 12 )
Dengan menelaah kutipan di
atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan
hukuman mati memiliki beberapa tujuan.
Jika diperhatikan satu-persatu, maka
tujuan-tujuan yang dikemukakan di atas
sebenarnya mewakili berbagai sudut
pandang. Dalam pandangan masyarakat
primitif, hukuman mati merupakan bentuk
pembalasan atas kematian salah satu
anggota keluarganya. Hukuman mati
dipandang lebih setimpal dan lebih tepat
dari pada bentuk hukuman yang lain.
Sedangkan dalam pandangan
hukum, hukuman mati itu sendiri merupakan
bentuk hukuman untuk membuat jera
pelaku kejahatan yang lain, melindungi
kepentingan umum dan memperbaiki
perilaku penjahat yang hendak melakukan
kejahatan yang serupa. Di samping itu,
hukuman mati tentunya juga bertujuan
untuk melindungi masyarakat, menegakkan
keadilan dan untuk menertibkan kehidupan
komunitas masyarakat.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Berdasarkan uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
hukuman mati memiliki beberapa tujuan.
Di antaranya adalah untuk menegakkan
hokum, untuk menjadikan orang
takut melakukan pelanggaran, untuk
menjadikan terpidana sebagai contoh
yang menakutkan bagi setiap pelaku
pelanggaran, untuk membuat jera pelaku
kejahatan, untuk melindungi kepentingan
umum, memperbaiki perilaku penjahat,
untuk melindungi masyarakat, menegakkan
keadilan dan untuk menertibkan kehidupan
komunitas masyarakat.
D. Hakikat Hukum Pidana
Menurut Mohammad Daud Ali,
hukum adalah patokan, tolok ukur atau
kaidah mengenai perbuatan manusia.
Pengertian ini dapat diketahui berdasarkan
batasan pengertian hukum yang
dikemukakannya dalam kutipan berikut:
1. Pengertian Hukum Pidana
Perkataan hukum yang kita
pergunakan sekarang dalam bahasa
Indonesia berasal dari kata hukm (tanpa
u antara huruf k dan m) dalam bahasa
Arab. Artinya norma atau kaidah yakni
ukuran, tolok ukur, patokan, pedoman
yang dipergunakan untuk menilai tingkah
laku atau perbuatan manusia dan benda.
Hubungan antara perkataan hukum dalam
bahasa Indonesia tersebut di atas dengan
hukm dalam pengertian norma dalam
bahasa Arab itu, memang erat sekali,
sebab, setiap pengaturan, apapun macam
dan sumbernya mengandung norma atau
kaidah sebagai intinya (Mohammad Daud
Ali, 1990)
Perdasarkan pengertian hukum
di atas, maka secara sederhana hukum
pidana dapat diartikan dengan patokan,
ukuran atau kaidah-kaidah mengenai
perbuatan yang dipidana, atau aturan
tentang tindakan kejahatan. Wirjono
Prodjodikoro seperti yang dikutip Soesilo
menjelaskan bahwa hukum pidana adalah
rangkaian peraturan-peraturan yang
memuat bentuk-bentuk perbuatan yang
tergolong ke dalam tindak kejahatan”
Selanjutnya, Subekti dan Tjitrosoedibio
memberikan batasan bahwa hukum pidana
adalah keseluruhan dari pada ketentuanketentuan hukum yang mengatur tentang
perbuatan-perbuatan yang dilarang (
Subekti dan Tjitrosoedibio, 1983, 45 ).
Batasan ini tidak jauh berbeda dengan
batasan sebelumnya yang juga mengatakan
bahwa hukum pidana adalah rangkaian
atau ketentuan yang mengatur tentang
perbuatan-perbuatan yang dilarang.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa hukum pidana adalah
hukum yang berkaitan dengan perbuatanperbuatan yang dilarang, atau rangkaian
peraturan yang mengikat perilaku
seseorang dari perbuatan-perbuatan yang
dilarang dan yang digolongkan ke dalam
tindakan kejahatan.
2. Tujuan Hukum Pidana
Pada hakikatnya, segala bentuk
hukum yang direalisasikan bagi anggota
masyarakat sebenarnya memiliki tujuantujuan yang spesifik sesuai dengan bentuk
dan subtansi dari hukum itu sendiri. Hukum
pidana sebagaimana yang disimpulkan
di atas adalah hukum yang mengatur
tentang bentuk-bentuk perbuatan yang
dilarang, atau rangkaian peraturan yang
mengikat perilaku dari segala bentuk
tindakan kejahatan. Bila hukum pidana
adalah hukum yang mengatur dan
mengikat perilaku seseorang dari segala
bentuk tindak kejahatan, maka penetapan
hukum pidana sebagai hukum yang
mengatur tentang bentuk-bentuk perbuatan
yang dilarang bertujuan agar setiap
individu dapat mengenal, memahami dan
menghindari segala bentuk perbuatan
yang telah dilarang secara hukum. Bagi
yang tidak menjalankannya maka akan
dikenai konsekuensi berupa hukuman
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
36
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
sesuai dengan bentuk tindak kejahatan
yang dilakukannya.
Tujuan hukum pidana sebagaimana
disebutkan di atas merupakan tujuan
umum yang hanya didasarkan kepada
analisis penulis terhadap pengertian hukum
dan pengertian hukum pidana seperti yang
telah diuraikan sebelumnya. Tentu tujuan
ini belum dapat dikatakan sebagai tujuan
hukum pidana yang sebenarnya karena
tidak didasarkan kepada pandangan para
ahli. Untuk mengetahui tujuan hokum
pidana yang sesungguhnya, maka berikut
di bawah ini akan diuraikan beberapa
pendapat para pakar.
Menurut Soesilo, tujuan hukum
pidana adalah untuk mendapatkan
penentuan bagaimanakah hukumnya
sesuatu kasus, yaitu bagaimanakah
hubungan hukum antara dua pihak yang
berperkara itu yang sebenarnya dan
seharusnya dan agar segala apa yang
ditetapkan oleh pengadilan itu direalisir,
kalau perlu dengan pelaksanaan (eksekusi)
paksa.
Dengan demikian, hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh
hukum yang diputuskan atau ditetapkan
oleh Pengadilan itu dapat jalan atau
diwujudkan. Jika diperhatikan rumusan
yang terdapat dalam kutipan di atas, dapat
dipahami bahwa tujuan pokok dari hukum
pidana adalah untuk menetapkan status
hukum atas suatu perkara atau untuk
mendapatkan kepastian hukum atas suatu
tindakan yang terlarang.
Dengan adanya putusan
pengadilan, maka status pelaku tindak
pidana dapat diketahui secara pasti,
apakah ditetapkan bersalah atau tidak,
apakah dikenai sanksi pidana atau sekedar
peringatan.
Sudikno Mertokusumo seperti yang
dikutip oleh Naya, memberikan penjelasan
bahwa tujuan dari hukum pidana adalah
“kepastian hukum dan keadilan hukum”.
Tujuan hukum pidana ini sama dengan
37
tujuan-tujuan sebelumnya, hanya saja
penjabarannya tidak seluas sebelumnya
dan yang dikemukakan hanya subtansi dari
tujuan hukum pidana itu sendiri.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa tujuan dari
diundangkannya hukum pidana adalah
untuk mengatur dan mengikat perbuatan
manusia sehingga tidak melakukan tindak
kejahatan yang dapat merugikan diri
sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan
negara. Di samping itu, untuk menetapkan
kepastian hukum dan keadilan hukum atas
suatu tindak kejahatan yang telah diperbuat
oleh seseorang atau sekolompok orang.
3. Sumber dan Asas-asas Hukum
Pidana
a).Sumber hukum pidana
Menurut Soesilo, sumber hukum
pidana di Indonesia adalah kemauan
pembentuk undang-undang di negeri
Belanda di masa lalu. Sumber hukum
pidana ini didasarkan Soesilo kepada
sejarah keberadaan hukum formal di
Indonesia yang pada awalnya dibawa oleh
bangsa Belanda sewaktu berdagang di
nusantara.
Hukum ini mula-mula hanya
berlaku bagi orang-orang Belanda dan
Eropa yang ada di Indonesia, tetapi melalui
berbagai upaya peraturan perundangundangan hukum Barat itu dinyatakan
berlaku bagi orang-orang Indonesia Naya,
2007, 3 )
Selanjutnya, Soesilo menjelaskan
bahwa dalam perkembangannya hukum
pidana Indonesia mengalami banyak
perubahan dan sumbernya tidak lagi
berpusat pada hukum pidana yang dibawa
oleh bangsa Belanda.
Secara garis besar sumber hukum
pidana ini dapat ditinjau dari tiga sisi,
yakni sumber pengenal, sumber isi dan
sumber pengikat. Sumber pengenal hukum
pidana Indonesia adalah segala peraturan
perundang-undangan sejak zaman kolonial
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dahulu beserta segala perubahannya yang
dinyatakan dalam staatsblad atau lembaran
negara.
Sumber isi hukum pidana Indonesia
adalah kemauan pembentuk undangundang di negeri Belanda di masa lalu.
Sedangkan sumber pengikat hukum pidana
Indonesia adalah kekuasaan negara yang
membentuk undang-undang itu dahulu
yang melalui aturan peralihan Undangundang Dasar dan kini dilanjutkan oleh alat
kekuasaan Negara Republik Indonesia.
b).Asas-asas hukum pidana
Menurut Bambang Poernomo,
secara umum asas-asas dalam hukum
pidana ada tiga, yakni asas legalitas, asas
nasionalitas dan asas territorialitas atau
wilayah. Secara rinci uraian dari ketiga asas
tersebut adalah sebagai berikut:
1) Asas legalitas
Syarat pertama untuk menindak
terhadap suatu perbuatan yang tercela,
yaitu adanya suatu ketentuan dalam
undang-undang pidana yang merumuskan
perbuatan yang tercela itu dan memberikan
suatu sanksi kepadanya. Syarat tersebut
bersumber pada asas legalitas. Pada
hakekatnya, azas legalitas yang
menghendaki adanya suatu peraturan
pidana dalam perundang-undang yang ada
sebelum perbuatan itu dilakukan dengan
tidak mengurangi berlakunya hukum adat
pidana yang menetapkan suatu perbuatan
itu sebagai suatu tindak pidana.
Asas Legalitas mensyaratkan
terikatnya hakim pada undang-undang, juga
disyaratkan agar acara pidana dijalankan
menurut cara yang telah diatur dalam
undang-undang. Hal ini dicantumkan
dalam pasal 3 KUHP (pasal 1), pasangan
dari pasal 1 ayat 1 KUHP. Pasal 1 KUHP
menjelaskan bahwa:
- Suatu perbuatan dapat dipidana kalau
termasuk ketentuan pidana menurut
undang-undang.
Ketentuan pidana itu harus lebih
dahulu dari perbuatan itu; dengan
kata lain, ketentuan pidana itu harus
sudah berlaku ketika perbuatan itu
dilakukan.
Asas Legalitas mengandung tiga
perngertian, yaitu: 1) Tidak ada perbuatan
yang dilarang dan diancam dengan pidana
kalau hal itu belum dinyatakan dalam
suatu aturan undang-undang. 2) Untuk
menentukan adanya perbuatan pidana
tidak boleh digunakan analogi (kiyas). 3)
Aturan-aturan pidana tidak berlaku surut.
Berlakunya asas legalitas
memberikan sifat perlindungan kepada
undang-undang pidana, undang-undang
pidana melindungi rakyat terhadap
pelaksanaan kekuasaan yang tanpa
batas dari pemerintah ini dinamakan fungsi
melindungi dari undang-undang pidana
juga mempunyai fungsi instrumental.
Dengan mengutip pendapat Roeslan
Saleh, Bambang Poernomo mengatakan
bahwa asas legalitas mempunyai tiga
dimensi, yakni:
a) Dimensi politik hukum. Artinya
politik hukum disyaratkan ini adalah
perlindungan terhadap anggota
masyarakat dari tindakan sewenangwenang pihak pemerintah.
b) Dimensi politik kriminal. Bahwa suatu
rumusan undang-undang yang jelas
dan tidak menimbulkan keraguraguan tentang kejahatan-kejahatan
dan pidana-pidananya akan dapat
melakukan fungsi politik kriminal yang
baik. Suatu penerapan yang tegas dari
asas legalitas akan memungkinkan
warga masyarakat “untuk menilai
semua akibat merugikan yang
ditimbulkan oleh dilakukannya suatu
perbuatan pidana, dan ini dapat
dipertimbangkannya sendiri dengan
tepat”.
c) Dimensi organisasi. Asas legalitas
dikaitkan dengan peradilan pidana
mengharapkan lebih banyak lagi
daripada hanya akan melindungi
warga masyarakat dari kesewenang-
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
38
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
wenangan pemerintah (Bambang
Poernomo, 1982, 27)
2) Asas nasionalitas
Asas Nasionalitas terbagi menjadi
dua:
a) Asas nasionalitas aktif
Asas ini bertumpu pada
kewarganegaraan pembuat delik. Hukum
pidana Indonesia mengikuti warga
negaranya kemanapun ia berada. Asas ini
menentukan bahwa berlakunya undangundang hukum pidana suatu negara
disandarkan pada kewarganegaraan
nasionalitas seseorang yang melakukan
suatu perbuatan, dan tidak pada tempatnya
di mana perbutan dilakukan. Ini berarti,
bahwa undang-undang hukum pidana
hanya dapat diperlakukan terhadap
seseorang warga negara yang melakukan
perbuatan yang dilarang dan diancam
dengan hukuman oleh undang-undang dan
dalam pada itu tidak menjadi persoalan di
mana perbuatan itu dilakukannya di luar
negara asalnya, undang-undang hukum
pidana itu tetap berlaku pada dirinya. Inti
asas ini tercantum dalam pasal 5 KUHP
yang berbunyi: “Ketentuan pidana dalam
perundang-undangan republik Indonesia
berlaku bagi warganegara Indonesia yang
melakukan di luar wilayah Indonesia”.
b) Asas nasionalitas pasif
Asas ini menentukan bahwa
hukum pidana suatu negara (juga
Indonesia) berlaku terhadap perbuatanpebuatan yang dilakukan di luar negeri,
jika karena itu kepentingan tertentu
terutama kepentingan negara dilanggar di
luar wilayah kekuasaan negara itu. Asas
ini tercantum dala pasal 4 ayat 1, 2 dan 4
KUHP, kemudian diperluas dengan undangundang Nomor 4 tahun 1976 tentang
kejahatan penerbangan. Di sini yang
dilindungi bukanlah kepentingan individu
orang Indonesia, tetapi kepentingan
nasional atau kepentingan umum yang
lebih luas. Jika orang Indonesia menjadi
39
korban delik di wilayah negara lain, yang
dilakukan oleh orang asing, maka hukum
pidana Indonesia tidak berlaku. Diberi
kepercayaan kepada setiap negara untuk
menegakkan hukum di wilayahnya sendiri.
Berlakunya undang-undang hukum
pidana dari suatu negara menurut asas ini
disandarkan kepada kepentingan hukum
(Rechtbelang). Dengan demikian, apabila
kepentingan hukum dari suatu negara
yang menganut asas ini dilanggar oleh
seseorang, baik oleh warga negara ataupun
oleh orang asing, baik pelanggaran yang
dilakukukan di luar maupun di dalam
negara yang menganut asas tadi, maka
Undang-undang hak pidana negara itu
dapat diperlakukan terhadap si pelanggar.
3) Asas territorialitas atau wilayah
Pertama-tama dilihat bahwa hukum
piadana suatu negara berlaku di wilayah
negara itu sendiri, ini merupakan yang
paling pokok dan juga asas yang paling
tua. Asas wilayah ini menunjukkan bahwa
siapapun yang melakukan delik di wilayah
negara tempat berlakunya hukum pidana,
tunduk pada hukum pidana itu. Dapat
dikatakan semua negara menganut asas ini,
termasuk Indonesia. Yang menjadi patokan
ialah tempat atau wilayah, sedangkan
orangnya tidak dipersoalkan.
Pasal 2 KUHP mengandung asas
territorialitas, yang menyatakan aturan
pidana (Wettelijke Strafbepalingen) dalam
perundang-undangan Indonesia berlaku
bagi setiap orang yang melakukan perbuatan
pidana di dalam wilayah Indonesia. Asas
territorialitas berarti undang-undangan
hukum pidana berlaku bagi semua
perbuatan pidana yang terjadi di dalam
wilayah Negara, yang dilakukan oleh setiap
orang, baik sebagai warga negara maupun
orang asing.
Menurut pasal ini berlakunya
undang-undang hukum pidana dititikberatkan pada tempat berbuatan di wilayah
negara Indonesia dan tidak disyaratkan
bahwa si pembuat harus berada di dalam
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
wilayah, tetepi cukup dengan bersalah
dengan melakukan perbutan pidana yang
“terjadi” di dalam wilayah negara Indonesia.
Asas territorialitas mempunyai dasar logika
sebagi perwujudan atas kedaulatan negara
untuk mempertahankan ketertiban hukum
di dalam wilayah negara, dan kepada siapa
saja yang melakukan perbuatan pidana
berarti orang itu melanggar ketertiban
hukum itu. Dapat dikatakan pula bahwa
asas territorialitas untuk berlakunya
undang-undang hukum pidana merupakan
asas yang prinsip sebagai dasar utama
kedaulatan hukum, sedangkan asas-asas
yang lain dipandang sebagai pengecualian
yang bermanfaat perluasannya.
E.Pembahasan
1. Pelaksanaan Hukuman Mati
menurut Hukum Pidana
Pelaksanaan hukuman mati
menurut hukum pidana diatur dalam
UU No. 2/Pnps/1964 tentang Tatacara
Pelaksanaan Pidana Mati. Jika dianalisis
pasal demi pasal bunyi dari UU No. 2/
Pnps/1964 tentang Pelaksanaan Pidana
Mati sebagaimana yang terdapat pada
lampiran, maka tatacara pelaksanaan
hukuman mati tersebut telah tersusun
secara sistematis mulai dari tempat, alat,
pelaksana, cara melaksanakan hingga
ke proses penguburan. Namun demikian,
keseluruhan tatacara pelaksanaan
hukuman mati tersebut sebenarnya
dapat dibagi kepada dua tahap, yakni
tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.
Secara rinci, uraian dari tahap-tahap yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Pidana mati dilaksanakan di suatu
tempat di daerah hukum pengadilan
yang menjatuhkan putusan dalam tingkat
pertama (Pengadilan Negeri), dilaksanakan
tidak di muka umum (oleh karena itu tidak
boleh diliput media) dan dengan cara
sesederhana mungkin, kecuali ditetapkan
lain oleh Presiden. Pidana mati yang
dijatuhkan atas beberapa orang di dalam
satu putusan perkara, dilaksanakan
secara serempak pada waktu dan tempat
yang sama, kecuali ditentukan lain.
Dengan masukan dari Jaksa, Kapolda
di mana Pengadilan Negeri tersebut
berada menentukan waktu dan tempat
pelaksanaan pidana mati
Untuk pelaksanaan pidana
mati, Kapolda membentuk sebuah regu
Penembak yang terdiri dari seorang
Bintara, dua belas orang Tamtama dan
dipimpinan seorang Perwira, semuanya
dari Brigade Mobile (Brimob). Selama
pelaksanaan pidana mati mereka di
bawah perintah Jaksa. Menunggu
pelaksanaan pidana mati, terpidana di
tahan dalam penjara atau tempat lain
yang ditunjuk oleh Jaksa. Tiga kali 24
jam sebelum pelaksanaan pidana mati,
Jaksa memberitahukan kepada terpidana
tentang akan dilaksanakannya pidana
mati tersebut. Apabila terpidana hendak
mengemukakan sesuatu (keinginan/
pesan terakhir), maka dapat disampaikan
kepada Jaksa tersebut. Bagi terpidana
hamil, pelaksanaan pidana mati baru dapat
dilaksanakan 40 hari setelah melahirkan.
b. Tahap pelaksanaan
Terpidana dibawa ke tempat
eksekusi dengan pengawalan polisi
yang cukup. Jika diminta, terpidana
dapat disertai oleh seorang perawat
rohani. Terpidana berpakaian sederhana
dan tertib, biasanya dengan pakaian
yang sudah disediakan. Setibanya di
tempat pelaksanaan eksekusi, Komandan
pengawal menutup mata terpidana dengan
sehelai kain, kecuali jika terpidana tidak
menghendakinya.
Te r p i d a n a d a p a t m e n j a l a n i
pidananya dengan berdiri, duduk atau
berlutut. Jika dipandang perlu, terpidana
dapat diikat tangan serta kakinya ataupun
diikat kepada sandaran yang khusus
dibuat untuk itu. Misalnya diikat pada tiang
atau kursi. Setelah terpidana berada dalam
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
40
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
posisinya, maka Regu Penembak dengan
senjata sudah terisi menuju ke tempat yang
ditentukan. Jarak antara terpidana dengan
Regu Penembak antara 5 sampai 10 meter.
Apabila semua persiapan telah
selesai, maka Jaksa memerintahkan
untuk memulai pelaksanaan pidana mati.
Dengan menggunakan pedangnya sebagai
isyarat, Komandan Regu Penembak
memberikan perintah supaya bersiap,
dengan menggerakkan pedangnya ke
atas ia memerintahkan regunya untuk
membidik terpidana tepat pada jantungnya
dan dengan menyentakkan pedangnya
ke bawah secara cepat, dia memberikan
perintah untuk menembak. Apabila masih
terlihat tanda-tanda kehidupan, maka
Komandan Regu segera memerintahkan
kepada Bintara Regu Penembak untuk
menembak terpidana menggunakan pistol
tepat di atas telinganya. Kemudian dokter
memeriksa terpidana untuk memastikan
kematiannya.
Dalam hukum pidana, tindak
pidana yang diancam hukuman mati terdiri
dari sepuluh kejahatan seperti yang telah
dirinci pada bab satu sebelumnya, yakni
makar yang dilakukan untuk membunuh
Kepala Negara, mengajak negara asing
guna menyerang Indonesia dan seterusnya
hingga ke tindak pidana menganjurkan
pemberontakan ketika Indonesia dalam
perang. Jika seseorang atau berkelompok
melakukan tindakan ini, maka pemerintah
melalui Kejaksaan Tinggi akan memutuskan
apakah pelakunya dihukum mati atau
diganti dengan hukuman lain.
Te r p i d a n a m a t i y a n g t e l a h
memperoleh kekuatan hukum tetap dapat
mengajukan permohonan grasi kepada
presiden (Pasal 2 ayat (1) UU No. 22
Tahun 2002) dan presiden memiliki hak
penuh untuk mengabulkan atau menolak
permohonan tersebut (Pasal 4). Apabila
presiden memberikan pengampunan dan
mengganti hukuman tersebut dengan
hukuman yang lain, berarti presiden telah
41
memberikan pelajaran dan pengalaman
berarti bagi terpidana hukuman mati itu
sendiri. Sebab terpidana yang semestinya
dihukum mati dan telah bersiap-siap untuk
kehilangan nyawanya, ternyata mendapat
kesempatan untuk hidup setelah diampuni
presiden. Tentu ini akan menjadi pelajaran
dan pengalaman yang luar biasa bagi
terpidana dan akan diingat sepanjang
hidupnya.
Pengampunan yang diberikan
oleh presiden dapat mempengaruhi jiwa
pelaku pembunuhnya. Manakala pelaku
pembunuhan terhindar dari hukuman mati
setelah diampuni, maka pelakunya akan
menyadari betapa mulianya presiden
dan betapa besar kedudukannya di mata
pelaku pembunuhan itu sendiri. Sehingga
dengan sendirinya pelaku pembunuhan
akan menyadari kejahatan yang
dilakukannya, menyesali perbuatannya
dan berusaha memperbaiki sikap dan
perilakunya terhadap semua manusia.
Intinya, kata pengampunan dari presiden
dapat membentuk sikap, perilaku dan
kepribadian yang mulia pada diri terdakwa.
Ditinjau dari teori pemberian
hukuman, maka fungsi dimaafkannya
kejahatan yang telah diperbuat oleh
terpidana adalah untuk memperbaiki diri
terpidana sendiri. Sebab dalam pemberian
hukuman dikenal teori perbaikan, kata
perbaikan berarti mengurangi frekuensi
yang tergolong jahat sehingga yang
bersangkutan tidak lagi memiliki sifat-sifat
tersebut. Maksud pemberian hukuman di
dalam teori ini adalah untuk memperbaiki si
pelanggar agar jangan berbuat kesalahan
yang sama pada waktu yang berbeda.
Berdasarkan pernyataan ini, maka
pemberian hukuman pada dasarnya
bertujuan untuk memperbaiki perilaku
seseorang yang dianggap menyimpang
sehingga perilaku tersebut tidak terulang
di lain waktu.
Berdasarkan ketentuan yang
terdapat dalam Undang-Undang No.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
22 Tahun 2002 Tentang Grasi, konsep
pengampunan bagi terpidana mati diawali
dengan pengajuan permohonan grasi
oleh terpidana, keluarga atau oleh kuasa
hukumnya kepada presiden setelah
terpidana memperoleh kekuatan hukum
tetap (Pasal 2, ayat 1). Presiden berhak
mengabulkan atau menolak permohonan
grasi terpidana setelah mendapat
pertimbangan dari Mahkamah Agung
(Pasal 4, ayat1). Pemberian grasi oleh
Presiden dapat berupa peringanan atau
perubahan jenis pidana, pengurangan
jumlah pidana atau penghapusan pidana
(Pasal 4, ayat 2).
Hak mengajukan grasi
diberitahukan oleh hakim atau hakim ketua
yang memutus perkara tingkat pertama
kepada terpidana (Pasal 5, ayat 1).
Permohonan grasi diajukan secara
tertulis oleh terpidana, keluarga atau kuasa
hukumnya kepada Presiden (Pasal 8, ayat 1)
melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan
tempat terpidana menjalani pidana
(Pasal 8, ayat 3). Presiden memberikan
keputusan atas permohonan grasi setelah
memperhatikan pertimbangan Mahkamah
Agung (Pasal 11, ayat 1).
Bagi terpidana mati yang
mengajukan permohonan grasi, pidana
mati tidak dapat dilaksanakan sebelum
Keputusan Presiden tentang penolakan
permohonan grasi diterima oleh terpidana
(Pasal 13)
F.Kesimpulan
1. Hukuman mati menurut hukum
pidana antara lain memberi
kesempatan kepada pelaku
pembunuhan untuk berubah,
memperbaiki sikap dan perilaku
dan memberi kesempatan untuk
menjadi manusia yang baik.
2. Penerapan konsep hukuman
mati bertujuan untuk memberikan
efek jera dan membuat orang lain
takut untuk melakukan kegiatan
yang bertentangan dengan hukum
kemudian berakibat sampai
kepada hukuman mati.
Daftar Pustaka
A. Djazuli, Fiqh Jinayah, (Upaya
Menanggulangi Kejahatan
dalam Islam), Cet. I, (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 1996
A. Luluk Widyawan, Mempersoalkan
Hukuman Mati, Google, (Online),
2005, http://lulukwidyawanpr.
blogspot.com, diakses pada
tanggal 28 Oktober 2009.
Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana
Islam, Cet. 4, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1990)
Ahmad Sarwat, Hukum Rajam, Google,
(Online), 2007, http://blog.re.or.id/
hukum-, diakses pada tanggal 28
Oktober 2009.
Abdul Azais Dahlan, Ensiklopedi Hukum
Islam, Cet. 6, (Jakarta: Ichtiar Baru
van Hoeve, 2003)
Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum
Pidana, Cet. 2, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1982)
Muhammad Riza, Perspektif Keadilan
dalam penetapan Hukuman Mati
dalam Islam, Google, (Online),
2009, http://one.indoskripsi,com,
diakses pada tanggal 28 Oktober
2009.
Riza, Perspektif Keadilan dalam Penetapan
Hukuman Mati dalam Islam,
Google, (Online), 2009, http://
one.indoskripsi.com, diakses pada
tanggal 28 Oktober 2009
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
42
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Naya, Hukum Pidana Mengenai Hukuman
Mati, Google, (Online), 2007, http://
naya39.ngeblogs.com, diakses
pada tanggal 28 Oktober 2009.
Muhammad Amin Suma, dkk., Pidana Islam
di Indonesia, Peluang, Prospek dan
Tantangan, Cet. I, (Jakarta: Pustaka
Pirdaus, 2001)
Subekti dan Tjitrosoedibio, Kamus Hukum,
Cet. IV, (Jakarta: Pradnya Paramita,
1983)
W. J. S. Poerwadarminta, Kitab Pelajaran
Bahasa Indonesia, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, t.t.)
Muhammad Amin Suma, dkk., Pidana Islam
di Indonesia, Peluang, Prospek dan
Tantangan, Cet. I, (Jakarta: Pustaka
Pirdaus, 2001)
Mohammad Daud Ali, Asas-asas Hukum
Islam (Hukum Islam I) Pengantar
Ilmu Huku dan Tata Hukum Islam di
Indonesia, Edisi. 1, Cet. 1, (Jakarta:
Rajawali, 1990)
R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP) serta Komentarkomentarnya Lengkap Pasal demi
Pasal, (Bogor: Politeia, 1990)
43
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
44
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SEKOLAH ISLAM UNGGULAN: Histories, Konsep, dan Realita
Oleh: Almuhajir
Email: [email protected]
Abstract
Leading Islamic school is a school that is developed and managed as well as
possible by directing all of its components to achieve results better graduates
and skilled human resources to create a synergistic capabilities in the field have
IMTAK and IPTEK. Integrating Islamic education into the public school system
initiated since the beginning of the 20th century. In the 1980s, Islamic Schools
seed has started to grow and develop in several regions in Indonesia. There are
several terms used by educational institutions to demonstrate the superiority
of Islam including Islamic School/Madrasah Unggul, Model, Percontohan, and
Terpadu. To accommodate Islamic Schools seed that has grown throughout
Indonesia then formed a container named Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT)
Indonesia (Indonesia Islamic School Network Integrated), established on 31 July
2003 and engaged in the field of education, non-partisan, non-profit and open.
Kata kunci: Sekolah Islam, Unggulan, Histories, Konsep, Realita.
A.Pendahuluan
Kesadaran tentang pentingnya
pendidikan telah mendorong berbagai
upaya dan perhatian seluruh lapisan
masyarakat terhadap setiap gerak langkah
dan perkembangan dunia pendidikan.
Pendidikan merupakan satu upaya dalam
meningkatkan kualitas hidup manusia
yang pada akhirnya bertujuan untuk
meningkatkan kualitas manusia menjadi
lebih baik.
Apalagi pada masa sekarang
ini manusia dituntut untuk tahu
banyak (knowing much), berbuat banyak
(doing much), mencapai keunggulan (being
exellence), menjalin hubungan dan kerja
sama dengan orang lain (being sociable),
serta berusaha memegang teguh nilai-nilai
moral (being morally). Manusia “unggul,
bermoral, dan pekerja keras” inilah yang
menjadi tuntunan dari masyarakat global
(Syaodih, 2006:6).
Salah satu perkembangan yang
sangat mengembirakan dewasa ini dalam
masyarakat muslim Indonesia adalah
munculnya Sekolah Islam Unggulan.
45
Sekolah Islam Unggulan nampaknya
memiliki karakteristik pada pengajaran
ilmu pengetahuan dan teknologi dan
sekaligus ada penekanan pada religiusitas
dan kesalehan melalui materi pelajaran
ke-Islaman. Dalam perspektif sejarah,
merebaknya Sekolah Islam Unggulan
Islam merupakan salah satu refleksi atas
kelangkaan ulama, pemimpin dan ilmuan.
Suatu masalah yang banyak dibicarakan.
masyarakat Indonesia, terutama karena
telah meninggalnya ulama tua/senior.
Berkembangnya Sekolah Islam Unggulan
dimaksudkan untuk menciptakan sumber
daya manusia (SDM) yang memiliki
kemampuan sinergis di bidang Imtak dan
Iptek.
Pengintegrasian pendidikan Islam
ke dalam sistem persekolahan umum mulai
dirintis sejak awal abad ke-20. Yang mulamula merintis langkah pengintegrasian ini,
dapat dicatat adalah Madrasah Mambaul
Ulum di Surakarta yang menerapkan
kurikulum pengetahuan agama dan
memasukkan mata pelajaran umum ke
dalam kurikulum itu, dan Sekolah Adabiyah
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
yang didirikan oleh Haji Ahmad di Padang
pada tahun 1915. Sekolah Adabiyah
yang mulanya diberi nama Madrasah
Adabiyah (tahun 1909), menerapkan model
dan sistem persekolahan Barat dengan
menambahkan muatan kurikulum Al-Quran
dan pendidikan agama Islam. Rintisan
yang dilakukan Madrasah Mambaul Ulum
dan Sekolah Adabiyah menandai langkah
awal pengintegrasian pendidikan Islam ke
dalam sistem persekolahan umum (Noer,
2005:45-46). Pada era 1980-an, Sekolah
Islam Unggulan sudah mulai menjamur di
beberapa daerah di Indonesia.
Jadi, pengintegrasian keilmuan
pendidikan Islam di Indonesia secara
global disebabkan dua tantangan, yakni
pertama, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi-informasi. Kedua, umat Islam
sedang/akan mengalami suatu krisis kader
ulama di masyarakat. Di dalam masyarakat
Indonesia yang mayoritas penduduknya
muslim seperti ini, kedua aspek ini ibarat
sekeping mata uang yang sulit dipisahkan
dari tujuan pendidikan Islam.
Di samping masalah pertama
dan kedua, juga karena rasa keprihatinan
terhadap mutu pendidikan Islam yang
rata-tara masih rendah. Opini lama yang
sempat muncul kepermukaan adalah
banyaknya orang tua muslim yang tidak
percaya kepada sekolah Islam. Sehingga
mereka banyak yang menyekolahkan
anaknya ke sekolah-sekolah Missionaris,
baik Katolik maupun Protestan, yang sejak
jaman Belanda telah dan hingga sekarang
masih dikenal dengan kualitasnya yang
baik (Azra, 1999:80-81).
Melalui keprihatinan inilah akhirnya
banyak pihak untuk mengusulkan supaya
pendidikan Islam mendirikan sebuah
Sekolah Islam Unggulan Islam. Melalui
modernisasi dari para praktisi dan konsultan
pendidikan muslim dengan menambah
porsi keagamaan lebih besar dari kegiatan
pembelajaran umum maka mulailah
bermunculan Sekolah Islam Terpadu (SIT),
Madrasah Plus/Terpadu, Sekolah Islam
Plus, Global Islamic School, Madrasah
model/ Sekolah Islam Percontohan dan
nama-nama lainnya.
Sebagai salah satu alternatif
pendidikan kontemporer, Sekolah Islam
Unggulan berusaha menampilkan visi
orientasi pendidikannya pada dataran
realitas. Berbagai kemungkinan masa
depan yang bakal terjadi, pendidikan
unggulan mencoba menawarkan “nilai
jual”, daripada “jual nilai” yang kehilangan
realitasnya. Sekolah Islam Unggulan tentu
saja mengadopsi dari beberapa sistem
pendidikan.
B. Konsep Sekolah Islam Unggulan
1. P e n g e r t i a n S e k o l a h I s l a m
Unggulan
Banyak persepsi yang berkembang
di masyarakat kita tentang konsep
Sekolah Islam Unggulan. Paradigma
pada umumnya adalah bahwa Sekolah
Islam Unggulan biasanya memerlukan
uang masuk yang cukup besar, setiap
tahun selalu banyak peminatnya, tingkat
kelulusan yang sesuai standar nasional
atau bahkan lebih, banyaknya kegiatan–
kegiatan sekolah yang diselenggarakan,
mulai dari ekstrakurikuler, cara belajar dan
lain sebagainya.
Istilah sekolah unggul pertama
kali diperkenalkan oleh mantan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Wardiman Djojonegoro, tepatnya setahun
setelah pengangkatannya, tahun 1994.
Istilah Sekolah Unggul lahir dari satu visi
yang jauh menjangkau ke depan, wawasan
keunggulan.
Menurut Wardiman, selain
mengharapkan terjadinya distribusi ilmu
pengetahuan, dengan membuat sekolah
unggul ditiap-tiap propinsi, peningkatan
SDM menjadi sasaran berikutnya. Lebih
lanjut, Wardiman menambahkan bahwa
kehadiran sekolah unggul bukan untuk
diskriminasi, tetapi untuk menyiapkan SDM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
46
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
yang berkualitas dan memiliki wawasan
keunggulan (Sinergi, 1998: 15).
Terkait dengan pijakan terminologi
sekolah unggulan ini, Nurkhalis memberikan
kritik bahwa sebutan sekolah unggulan
itu sendiri kurang tepat. Kata “unggul”
menyiratkan adanya superioritas dibanding
dengan yang lain. Kata ini menunjukkan
adanya “kesombongan” intelektual yang
sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah
(Nurkholis, 2014). Di negara-negara maju,
untuk menunjukkan sekolah yang baik
tidak menggunakan kata unggul (excellent)
melainkan effective, develop, accelerate,
dan essential (Susan, 1994:81). Walaupun demikian, mari kita
lihat apa makna “unggul”. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa
yang dimaksud dengan unggul adalah
lebih tinggi, pandai, kuat, dan sebagainya
daripada yang lain, terbaik dan terutama.
Sedangkan keunggulan artinya keadaan
unggulan; kecakapan, kebaikan dan
sebagainya yang lebih dari pada yang lain
(Peter, 1991:1685).
Secara ontologis Sekolah
Unggulan dalam perspektif Departemen
Pendidikan Nasional adalah sekolah yang
dikembangkan untuk mencapai keunggulan
dalam keluaran(output) pendidikannya.
Untuk mencapai keunggulan tersebut,
maka masukan (input), proses pendidikan,
guru, tenaga kependidikan, manajemen,
layanan pendidikan, serta sarana
penunjangnya harus diarahkan untuk
menunjang tercapainya tujuan tersebut
(Muhammad, 2009:39).
Beberapa lembaga pendidikan
Islam ada yang lebih senang memakai
istilah “model” ketimbang “unggulan”.
Sehingga wajar saja kalau ada istilah
“sekolah/madrasah model”, “sekolah/
madrasah percontohan”, atau “sekolah/
madrasah terpadu”. Madrasah atau sekolah
Islam model (unggulan) merupakan
representasi dari kebangkitan umat Islam
untuk kalangan menengah (Azra, 1999:69).
47
Dari sisi ukuran muatan
keunggulan, Sekolah Islam Unggulan di
Indonesia juga belum memenuhi syarat.
Sekolah Islam Unggulan di Indonesia hanya
mengukur sebagian kemampuan akademis.
Dalam konsep yang sesungguhnya,
sekolah unggul adalah sekolah yang
secara terus menerus meningkatkan
kinerjanya dan menggunakan sumberdaya
yang dimilikinya secara optimal untuk
menumbuh-kembangkan prestasi siswa
secara menyeluruh. Berarti bukan hanya
prestasi akademis saja yang ditumbuhkembangkan, melainkan potensi psikis,
fisik, etik, moral, religi, emosi, spirit,
adversity dan intelegensi (Vera, 2014).
Dengan demikian, Sekolah Islam
Unggulan dapat didefinisikan sekolah
yang dikembangkan dan dikelola sebaikbaiknya dengan mengarahkan semua
komponennya untuk mencapai hasil
lulusan yang lebih baik dan cakap untuk
menciptakan sumber daya manusia (SDM)
yang memiliki kemampuan sinergis di
bidang Imtak dan Iptek.
2. T i p e - t i p e S e k o l a h I s l a m
Unggulan
Dewasa ini banyak sekolah yang
menamakan dirinya sebagai lembaga
pendidikan Islam unggulan. Namun tidak
jelas kriteria dan standar yang diberlakukan
pada masing-masing sekolah. Kualitas
layak tidaknya predikat unggulan bagi
suatu sekolah akan mempengaruhi mutu
dan kualitas pendidikan Islam dibanding
dengan pendidikan atau institusi pendidikan
pada umumnya.
Menurut Moedjirto (2002:3),
setidaknya dalam praktik dilapangan
terdapat tiga tipe madrasah atau Sekolah
Islam Unggulan, antara lain: Pertama, Tipe
madrasah atau sekolah Islam berbasis
pada anak cerdas. Tipe seperti ini sekolah
atau madrasah hanya menerima dan
menyeleksi secara ketat calon siswa
yang masuk dengan kriteria memiliki
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
prestasi akademik yang tinggi. Meskipun
proses belajar-mengajar di lingkungan
madrasah atau sekolah Islam tersebut
tidak terlalu istimewa bahkan biasa-biasa
saja, namun karena input siswa yang
unggul, maka mempengaruhi outputnya
tetap berkualitas.
Kedua, Tipe madrasah atau
sekolah Islam berbasis pada fasilitas.
Sekolah Islam atau madrasah semacam
ini cenderung menawarkan fasilitas
yang serba lengkap dan memadai untuk
menunjang kegiatan pembelajarannya.
Tipe ini cenderung memasang tarif
lebih tinggi ketimbang rata-rata sekolah
atau madrasah pada umumnya. Biaya
yang tinggi tersebut digunakan untuk
pemenuhan sarana dan prasarana serta
sejumlah fasilitas penunjang lainnya.
Ketiga, Tipe madrasah atau
sekolah Islam berbasis pada iklim belajar.
Tipe ini cenderung menekankan pada
iklim belajar yang positif di lingkungan
sekolah/madrasah. Lembaga pendidikan
dapat menerima dan mampu memproses
siswa yang masuk (input) dengan prestasi
rendah menjadi lulusan (output) yang
bermutu tinggi. Tipe ketiga ini termasuk
agak langka, karena harus bekerja ekstra
keras untuk menghasilkan kualitas yang
bagus.
3. Karakteristik Sekolah Islam
Unggulan
Sebagai tolak ukur keunggulan
sebuah institusi pendidikan menurut
Kementerian Pendidikan Nasional
(1993:5) sebagai institusi pemerintah
yang bertanggung jawab dalam bidang
pendidikan, terletak pada dimensi:
a. Masukan (input) berupa siswa
yang diseleksi secara ketat.
Dengan menggunakan ktriteria
tertentu dan prosedur yang
dapat dipertanggungjawabkan.
Kriteria yang digunakan itu
meliputi: Prestasi belajar siswa
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
yang superior dengan indikator
angka raport, danem, dan hasil
tes akademik lainnya, Skor-skor
tes yang meliputi intelegensi dan
kreativitas, dan Tes fisik.
Sarana dan prasarana yang
menunjang untuk memenuhi
kebutuhan belajar siswa serta dapat
menyalurkan minat dan bakatnya,
baik dalam bidang kurikuler maupun
ekstrakurikuler.
Lingkungan belajar yang kondusif,
baik lingkungan fisik maupun social
psikologis.
Guru dan tenaga kependidikan
mempunyai kualifikasi mutu yang
baik, sehingga system rekrutmen
diseleksi dengan ketat dan
diberikan wahana pembinaan dan
pengembangan intelektual serta
fasilitas yang menunjang.
Kurikulum yang diperkaya
yaitu kurikulum yang dilakukan
pengembangan improvisasi secara
maksimal sesuai tuntunan belajar
siswa peserta didik yang mempunyai
keunggulan tersebut sehingga perlu
dilakukan pengayaan dan/atau
percepatan kurikulum.
Rentang waktu belajar disekolah
lebih panjang sehingga perlu
disediakan sarana dan prasarana
penunjang.
Proses belajar mengajar yang
berkualitas dan hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan kepada
siswa, lembaga dan masyarakat.
Nilai sekolah unggul terletak
pada perlakuan tambahan diluar
kurikulum nasional melalui
pengembangan materi kurikulum,
program pengayaan dan perluasan
serta percepatan, pengajaran
remedial pelayanan bimbingan dan
konseling, pembinaan dan disiplin
serta kegiatan ekstrakurikuler
lainnya.
Sekolah unggul diproyeksikan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
48
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
untuk menjadi pusat keunggulan
bagi sekolah-sekolah disekitarnya,
sehingga mampu memberikan
resonansi kepada lingkungan
disekitarnya.
Menurut Djoyo Negoro (Mujtahid,
2014) ciri-ciri sekolah unggul adalah
sekolah yang memiliki indikator, yaitu:
a) Prestasi akademik dan non-akademik
di atas rata-rata sekolah yang ada di
daerahnya. b) Sarana dan prasarana dan
layanan yang lebih lengkap. c) Sistem
pembelajaran lebih baik dan waktu belajar
lebih panjang. d) Melakukan seleksi
yang cukup ketat terhadap pendaftar.
e) Mendapat animo yang besar dari
masyarakat, yang dibuktikan banyaknya
jumlah pendaftar dibanding dengan
kepasitas kelas, dan f) Biaya sekolah lebih
tinggi dari sekolah disekitarnya.
Sedangkan menurut Abuddin Nata
(2001:258) mengungkapkan bahwa ada
empat karakteristik system pendidikan
Islam unggulan, yaitu. a) Pengembangan
tradisi ilmiah. b) Memadukan ilmu agama
dan ilmu umum. c) Berpusat pada murid,
dan d) Kerja sama dengan pemakai
lulusan.
Unsur Pendukung Sekolah Islam
Unggulan
Dalam pelaksanaannya, Sekolah
Islam Unggulan perlu mendapat dukungan
beberapa unsur pokok yang harus
terpenuhi. Idealnya kata unggulan itu
memiliki performansi yang sebanding lurus
dengan amanah yang diembannya guna
memenuhi harapan dan kepercayaan dari
stakeholders, orangtua siswa, masyarakat
dan pemerintah. Menurut Imron Arifin
(2008:12), unsur pendukung madrasah
atau sekolah Islam berprestasi (unggul) itu
setidaknya ada sembilan faktor, yaitu:
a. Faktor sarana dan prasarana.
Meliputi: fasilitas sekolah yang
lengkap dan memadahi, sumber
belajar yang memadahi dan
b.
c.
d.
e.
f.
4.
49
g.
h.
sarana penunjang belajar yang
memadahi.
Faktor guru. Meliputi: tenaga guru
mempunyai kualifikasi memadahi,
kesejahteraan guru terpenuhi,
rasio guru-murid ideal, loyalitas
dan komitmen tinggi, dan motivasi
dan semangat kerja guru tinggi.
Faktor murid. Meliputi:
pembelajaran yang terdiferensiasi,
kegiatan intra dan ekstrakulikuler
bervariasi, motivasi dan semangat
belajar tinggi, dan pemberdayaan
belajar bermakna.
Faktor tatanan organisasi dan
mekanisme kerja. Meliputi: tatanan
organisasi yang rasional dan
relevan, program organisasi
yang rasional dan relevan, dan
mekanisme kerja yang jelas dan
terorganisasi secara tepat.
Faktor kemitraan. Meliputi:
kepercayaan dan harapan
orangtua tinggi, dukungan dan
peran serta masyarakat tinggi,
dukungan dan bantuan pemerintah
tinggi.
Faktor komitmen/sistem nilai.
Meliputi: budaya lokal yang saling
mendukung dan nilai-nilai agama
yang memicu timbulnya dukungan
positif.
Faktor motivasi, iklim kerja, dan
semangat kerja. Meliputi: motivasi
berprestasi pada semua komunitas
sekolah, suasana, iklim kerja dan
iklim belajar sehat dan positif, dan
semangat kerja dan berprestasi
tinggi.
Faktor keterlibatan Wakil Kepala
sekolah dan guru-guru. Meliputi:
keterwakilan kepala sekolah
dalam pembuatan kebijakan
dan pengimplementasiannya,
keterwakilan kepala sekolah
dan guru-guru dalam menyusun
kurikulum dan program-program
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
i.
sekolah, dan keterlibatan wakil
kepala sekolah dan guru-guru
dalam perbaikan dan inovasi
pembelajaran.
Faktor kepemimpinan kepala
sekolah. Meliputi: piawai
memanfaatkan nilai religio-kultural,
piawai mengkomunikasikan visi,
inisiatif, dan kreativitas, piawai
menimbulkan motivasi dan
membangkitkan semangat, piawai
memperbaiki pembelajaran yang
terdiferensiasi, piawai menjadi
pelopor dan teladan, dan piawai
mengelola administrasi sekolah.
C. A n a l i s i s Te r h a d a p A s p e k
Keunggulan
Secara umum sekolah yang
dikategorikan unggulan harus meliputi tiga
aspek diantaranya: 1.Input
Menurut Daniel Goleman
(Trimantara, 2007:7), kemampuan
mengenal diri dan lingkungannya adalah
kemampuan untuk melihat secara objektif
atau analisis, dan kemampuan untuk
merespon secara tepat, yang membutuhkan
kecerdasan otak (Intelligence Quotien)
dan kecerdasan emosional (Emotional
Quotien).
Di samping itu, kecerdasan spiritual
(Spiritual Quotien) calon siswa hendaknya
dapat terukur saat seleksi siswa baru.
Dengan demikian, tes seleksi siswa baru
hendaknya dapat mengukur ketiga aspek
kecerdasan atau bahkan dapat mengukur
berbagai kecerdasan (multy intellegence).
Sehingga, tes seleksi siswa
baru tujuannya tidak semata-mata
untuk menerima atau menolak siswa
tersebut tetapi jauh ke depan untuk
mengetahui tingkat kecerdasan siswa.
Untuk sekolah, dapat menyeleksi siswa
dengan sistem seleksi yang sangat ketat.
Selain seleksi bidang akademis, juga
diberikan persyaratan lain sesuai tujuan
yang ingin dicapai sekolah. Sungguh suatu
keunggulan luar biasa bila suatu sekolah
sudah mampu selektif dalam proses
penerimaan siswa baru.
Calon siswa nantinya dapat dibina,
dibimbing dan belajar sesuai dengan
tingkatan kecerdasan mereka, yang
nantinya diarahkan untuk menghasilkan
lulusan yang unggul.
2.Proses.
Dalam proses belajar-mengajar,
Sekolah Islam Unggulan ini setidaknya
berkaitan dengan (Trimantara, 2007:79): Pertama, Kemampuan Guru. Sekolah
Islam Unggulan harus memiliki guru yang
unggulan juga. Artinya, guru tersebut
harus profesional dalam melaksanakan
p r o s e s b e l a j a r - m e n g a j a r. A d a p u n
kompetensi guru yang memungkinkan
untuk mengembangkan suatu lembaga
pendidikan yang unggul yaitu kompetensi
penguasaan mata pelajaran, kompetensi
dalam pembelajaran, kompetensi dalam
pembimbingan, kompetensi komunikasi
dengan peserta didik, dan kompetensi
dalam mengevaluasi.
Kedua, Fasilitas Belajar. Sekolah
Islam Unggulan harus dilengkapi dengan
fasilitas yang mewadahi, memiliki sarana
dan prasarana yang mewadahi bagi siswa
untuk menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Ketiga, Kurikulum. Sekolah Islam
Unggulan tidak harus menggunakan
kurikulum yang berstandar internasional.
Kurikulum nasional dengan berbagai
penyempurnaan sesuai kebutuhan
perkembangan siswa pun cukup baik.
Terutama dari segi bahan, misalnya bidang
IPA dan PAI, masih terlalu menekankan
bahan-bahan klasik yang memang penting,
tetapi kurang memasukkan bahan dan
penemuan modern yang lebih dekat
dengan situasi teknologi saat ini. Di
samping itu, penguasaan bahasa Arab,
bahasa inggris dan bahasa Indonesia
mutlak diperlukan.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
50
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Keempat, Metode Pembelajaran,
Sekolah Islam Unggulan harus
menggunakan metode pembelajaran
yang membuat siswa menjadi aktif dan
kreatif yang disertai dengan kebebasan
dalam mengungkapkan pikirannya. Kelima,
Program Ekstrakurikuler, Sekolah Islam
Unggulan harus memiliki seperangkat
kegiatan ekstrakurikuler yang mampu
menampung semua kemampuan, minat,
dan bakat siswa.
Keragaman ekstrakurikuler akan
membuat siswa dapat mengembangkan
berbagai kemampuannya di berbagai
bidang secara optimal. Keenam, Jaringan
Kerjasama, Sekolah Islam Unggulan
memiliki jaringan kerjasama yang baik
dengan berbagai instansi, terutama instansi
yang berhubungan dengan pendidikan dan
pengembangan kompetensi siswa. Dengan
adanya kerjasama dengan berbagai
instansi akan mempermudah siswa
untuk menerapkan sekaligus memahami
berbagai sektor kehidupan (life skill).
3.Output.
Sekolah uggulan harus
menghasilkan lulusan yang unggulan.
Keunggulan lulusan tidak hanya ditentukan
oleh nilai ujian yang tinggi. Indikasi lulusan
yang unggulan ini baru dapat diketahui
setelah yang bersangkutan memasuki
dunia kerja dan terlibat aktif dalam
kehidupan bermasyarakat. Kemampuan
lulusan yang dihasilkan dirasa unggulan,
bila mereka telah mampu mengembangkan
potensi intelektual, potensi emosional,
dan potensi spiritualnya dimana mereka
berada.
D. Kontribusi Terhadap Peningkatan
Kualitas Pendidikan
Sekolah Islam Unggulan memiliki
peranan yang sangat besar dalam
pendidikan nasional. Hal ini disebabkan
oleh pendidikan nasional tidak dapat
dipisahkan dengan nilai-nilai agama.
Nilai-nilai ilahiyah telah dijadikan sebagai
51
basis dalam pelaksanaan setiap proses
pembelajaran di dalam lembaga pendidikan
Islam. Sekolah Islam Unggulan mendorong
siswa dalam aspek keagamaan yang kuat
di samping itu ada pembelajaran dalam
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
yang tidak kalah mendalam apabila
dibandingkan dengan lembaga pendidikan
umum yang sederajat.
Undang-undang Tentang Sistem
Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas)
menyebutkan dalam poin 2 Pasal 1 :
“Pendidikan nasional adalah pendidikan
yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang berakar
pada nilai-nilai agama, kebudayaan
nasional Indonesia dan tanggap terhadap
tuntutan perubahan zaman”. Pada pasal 3
dinyatakan bahwa : “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.
Kontribusi Sekolah Islam Unggulan
di Indonesia sangat signifikan. Hal ini
dibuktikan dengan eksistensi Sekolah Islam
Unggulan semenjak awal kemunculannya
sampai dengan sekarang berkembang
dengan pesat baik secara kuantitas
maupun kualitas, hal ini dapat dilihat
dari peran dan kontribusi Sekolah Islam
Unggulan dalam berbagai aspek (Efendi,
2008:8-9):
1. Aspek Pendidikan (pedagogis).
Sebagai lembaga yang bergerak
dalam dunia pendidikan, Sekolah
Islam Unggulan berperan penting
dalam peningkatan SDM yang
berkualitas dan melahirkan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
intelektual muslim yang mampu
berkompetisi di era globalisasi
dengan tetap berpegang teguh
pada prinsip-prinsip ke-Islaman.
2. Aspek Moral-Spiritual. Pendidikan
Islam bertujuan membina peserta
didik menjadi hamba yang suka
beribadah kepada Allah Swt.
Sekolah Islam Unggulan berupaya
memberikan penguatan dan
dasar pemahaman keagaamaan
secara baik. Mengajarkan nilainilai kejujuran, kerendahan
hati, kesederhanaan dan nilainilai keluruhan kemanusiaan.
Nilai keluhuran itulah yang
mengantarkan peserta didik
mendapat penilaian yang baik
di sisi masyarakat dan di mata
Tuhan-Nya.
3. Aspek Sosio-Kultural. Tidak
dapat dipungkiri Sekolah Islam
Unggulan memberi pengaruh
yang signifikan terhadap corok
dan karekter masyarakat.
Merespons persoalan-persoalan
masyarakat seperti memelihara
tali persaudaraan, menciptakan
kehidupan yang sehat, berperan
aktif dalam masyarakat dan
sebagainya.
Agar tetap berperan strategis dalam
pendidikan nasional, ada beberapa hal
yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan
oleh Sekolah Islam Unggulan, antara lain
(Ihsan, 2014):
1. L e m b a g a P e n d i d i k a n I s l a m
harus mampu mempertahankan
dan meningkatkan ciri atau
karakter keislaman di dalamnya.
Nuansa dan nilai-nilai islami yang
terpraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari para siswanya adalah
hal yang diutamakan daripada
hanya sekadar pengetahuan
keislaman sebatas teoritis belaka.
2.
3.
4.
Lembaga Pendidikan Islam harus
mampu mempertahankan dan
meningkatkan ciri unggulan yang
melekat pada dirinya atau ‘imej
tampil beda’, apabila dibandingkan
dengan lembaga pendidikan
umum misalnya dalam hal
keilmuan (bimbingan plus IPTEK,
laboratorium alam, bimbingan
intensif bekerjasama dengan
bimbel terkemuka), dalam hal
keterampilan (komputer, beladiri,
seni islami, teknologi tepat guna,
usaha kecil, kepanduan, dan
lain-lain), atau dalam hal interaksi
sosial.
Lembaga pendidikan Islam harus
mampu meningkatkan kemampuan
dalam pola manajeman dan
muatan kurikulum, siswa baru
yang diseleksi ketat, staf pengajar
dan karyawan yang berkualitas,
kendali kualitas (quality control)
terhadap lulusan, serta sarana dan
prasarana yang lengkap.
Lembaga pendidikan Islam harus
gencar untuk ‘unjuk gigi’ pada
setiap kesempatan yang ada agar
semakin dikenal dan dipercaya oleh
orangtua dalam menitipkan masa
depan anak-anaknya. Peluangpeluang besar bagi lembaga
pendidikan Islam untuk menjadi
lembaga pendidikan teratas di
Indonesia adalah keniscayaan,
setidaknya peluang itu dapat
dilihat dari jumlah penduduk negeri
ini yang menganut agama Islam.
E. Ta n t a n g a n S e k o l a h I s l a m
Unggulan
Sekolah Islam Unggulan
sebenarnya memiliki peluang yang sangat
besar untuk menarik minat masyarakat.
Ketika mendengar nama Sekolah Islam
Unggulan, maka masyarakat akan
berbondong-bondong untuk memasukkan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
52
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
anaknya ke sekolah tersebut, karena
dalam benak mereka yang ada adalah
bahwa Sekolah Islam Unggulan akan
mendidik anak-anak mereka menjadi
anak-anak yang berprestasi, bukan hanya
dalam bidang akademik, namun juga
non-akademik. Namun yang disayangkan
adalah mahalnya biaya pendidikan di
Sekolah Islam Unggulan maupun sekolah
model. Dan untuk mencapai tujuan menjadi
sekolah unggul, harus dilakukan upaya
identifikasi masalah atau tantangan yang
berkaitan dengan pencapaian tujuan
sebuah sekolah. Berikut tantangan
tantangan Sekolah Islam Unggulan, antara
lain (Suhaimi, 2012:5-7):
Ta n t a n g a n p e r t a m a a d a l a h
sistem pendidikan dan kurikulum yang
berlaku sekarang ini. Sistem pendidikan
memungkinkan penyelenggaraan
pendidikan mandiri yang dikelola oleh
sekolah selama masih berada dalam
koridor kurikulum nasional yang berlaku.
Kurikulum sekolah yang disebut Kurikulum
2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) saat ini sudah cukup
memadai karena ada kebebasan dalam
mengembangkan kurikulum sesuai dengan
kebutuhan lokal dan berbasis pada sekolah
(School building).
Ta n t a n g a n k e d u a a d a l a h
pelaksanaan proses pembelajaran.
Pada umumnya sekolah di Indonesia
masih berorientasi pada penekankan
“output”, hasil belajar dengan nilai tinggi di
bidang akademik, sebagai akibat tuntutan
pemerintah dalam penyelenggaraan
Ujian Nasional (UN). Dampaknya, proses
pembelajaran pada umumnya menekankan
pada kegiatan yang melatih siswa untuk
mendapatkan nilai yang tinggi dengan
usaha banyak mengerjakan soal-soal
latihan dan menghafal. Oleh karena itu,
proses pembelajaran harus mengacu pada
“proses pembentukan” tanpa melupakan
hasil belajar yang tinggi. Kombinasi antara
proses dan hasil inilah yang harus dijadikan
53
salah satu keunggulan sekolah di masa
depan.
Tantangan ketiga adalah kualitas
Sumber Daya manusia (SDM). SDM
berperan penting dalam mengimprovisasi
kegiatan yang telah direncanakan.
Kemampuan SDM harus selalu ditingkatkan
terus menerus secara berkesinambungan.
Misalnya, ditemukan sejumlah guru yang
telah menguasai materi pelajaran tetapi
cukup banyak pula yang belum menguasai
aspek-aspek yang ada dalam kurikulum.
Pendeknya, ke depan dibutuhkan guru
yang profesional, tidak hanya guru yang
menguasai teknik, metode, strategi, dan
evaluasi belajar mengajar (to take for
technician) tetapi juga memiliki sikap yang
profesional (to take for aptitute). Hubungan
antarpersonal, baik staf pengajar maupun
non-pengajar, harus dapat diciptakan
secara harmonis dan terkoordinasi, yaitu
hubungan: antara guru-siswa, gurupimpinan sekolah, guru-staf administrasi,
guru-orang tua/wali siswa, dan sekolah
dengan stakeholders dan lembaga
pemerintah.
Ta n t a n g a n k e e m p a t a d a l a h
pengembangan dan pemanfaatan
IPTEK. Banyak siswa sampai saat ini
kurang termotivasi untuk belajar. Hal ini
disebabkan oleh masalah kedua di atas,
belajar hanyalah kegiatan menghafal
dan latihan-latihan soal. Selain itu, siswa
merasa bahwa apa yang dipelajari kurang
ada relevansinya dengan kehidupan
nyata. Dengan menyelaraskan antara
pelajaran yang dipelajari dengan dunia
nyata mendorong siswa untuk belajar
lebih jauh karena mereka merasa adanya
manfaat dari hasil belajar mereka.
Tantangan kelima adalah budaya
sekolah. Sekolah merupakan suatu entitas
tersendiri yang memiliki kebiasaankebiasaan, “custom, habit, culture”, yang
harus dikembangkan dan disosialisasikan
kepada seluruh jajaran sekolah: guru,
siswa, staf dan non-staf, dan orangtua/
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
wali siswa sebagai bagian langsung dan
tak langsung dari sekolah. Kebiasaan ini
mulai dari yang bersifat akademis maupun
non-akademis. Setiap anggota sekolah
sebagai bagian yang bertanggungjawab
aktif harus menghormati dan mematuhi
kebiasan tersebut untuk dapat mencapai
tujuan bersama: menciptakan manusia
berhati religius, bertindak rasional, dan
berwawasan nasional dan internasional,
dan lebih jauh lagi memiliki budaya mutu
(quality culture) yang tercermin dalam
tindakan perbaikan dan pembaharuan
berkelanjutan (continous improvement).
Tantangan keenam atau yang
terakhir adalah kemampuan pendukung
prasarana/sarana yang ada dan anggaran
pendidikan dan sumber dana. Untuk
mencapai tujuan yang dikehendaki perlu
diperhatikan kemampuan sarana/prasarana
yang ada.Suatu rencana tanpa adanya
faktor pendukung tidak dapat berjalan
dengan baik. Oleh sebab itu, harus ada
keseimbangan antara kebutuhan dan alat
pemenuhan kebutuhan. Keseimbangan ini
harus dapat difahami oleh seluruh pelaku
yang ada di sekolah. Tanpa pemahaman
sulit dicapai suatu suasana kebersamaan
dan kestabilan yang ada dan kedua
hal tersebut di atas merupakan kunci
keberhasilan berorganisasi.
F. Prospek Sekolah Islam Unggulan
Sekolah Islam Unggulan adalah
salah satu model lembaga pendidikan
Islam, jika dilihat secara normatif pada
dasarnya bersumber dari ajaran agama
yang universal. Berdasarkan komitmen
ini jelas Sekolah Islam Unggulan akan
mampu bertahan dalam perubahan yang
terjadi dari masa ke masa. Prinsip universal
menunjukan kesanggupannya untuk di
satu sisi mempertahankan semangat
keIslamannya dan di sisi lain menyesuaikan
aspek teknisnya dengan perkembangan
zaman.
Di dalam artikel Business Week 23-
30 Agustus 1999 mengenai dua puluh satu
trend perkembangan kehidupan manusia
dalam abad 21, ada dua kecendrungan
menarik, pertama peranan agama yang
akan semakin relevan, dan kedua trend
mengenai kemajuan ilmu dan teknologi
yang akan mengubah wajah dan kehidupan
manusia (Tilaar, 2004:146).
Pernyataan ini paling tidak memberi
sebuah prospek kedepan bahwa
kebutuhan akan Sekolah Islam Unggulan
di masa depan akan menjadi salah satu
bagian trend dari kebutuhan masyarakat.
Dan ini memberikan peluang yang besar
bagi kemantapan eksistensi lembaga
pendidikan Islam (Sekolah Islam
Unggulan) di tengah arus globalisasi,
“menjadikannya salah satu pendidikan
alternatif” (Tilaar, 2004:147).
Pada sisi lain prospek Sekolah
Islam Unggulan sebagai lembaga
pendidikan di masa yang akan datang
dapat pula dilihat dari angka pertumbuhan
Sekolah Islam Unggulan yang semakin
meningkat secara kuantitatif. Menurut
Azyumardi Azra (2002:89-90), mengatakan
bahwa “dalam pengamatan saya, Sekolah
Islam Unggulan kelihatan mengalami
semacam “kebangkitan”, atau setidaknya
menemukan “popularitas” baru.
Secara kuantitatif jumlah Sekolah
Islam Unggulan kelihatannya meningkat;
berbagai Sekolah Islam Unggulan baru
muncul di mana-mana, tidak hanya
di Jawa, tetapi juga di Sumatera.
Kemunculan Sekolah Islam Unggulan bisa
jadi merupakan indikasi lebih lanjut tentang
kerinduan orang tua-orang tua Muslim
untuk mendapatkan pendidikan Islami
yang baik, dan sekaligus unggul pula ilmuilmu umum. Sehingga pendidikan Sekolah
Islam Unggulan juga kompetitif bagi anakanak mereka”. Disinilah letak kelebihan
Sekolah Islam Unggulan sekarang ini,
anak-anak mendapatkan pendidikan
umum, tetapi juga mendapat kelebihan
dalam pendidikan Islam.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
54
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Yang jelas eksis sebuah Sekolah
Islam Unggulan adalah melaksanakan
pendidikan yang bersifat student oriented
dan diabdikan sepenuhnya untuk mencetak
calon manusia unggul yang siap hidup
ditengah masyarakat global yang ditandai
kemajuan iptek, kalau tidak unggul, maka
akan mengurangi nilai ibadah, atau bahkan
dapat jatuh menjadi perbuatan dosa
karena menelantarkan anak didik yang
telah diamanatkan oleh masyarakat
untuk di didik secara baik, dan ini menjadi
nilai moral bagi pendirian Sekolah Islam
Unggulan (Aziz, 2005:23).
G. Pengembangan Sekolah Islam
Unggulan
Dalam rangka mewujudkan
pengembangan Sekolah Islam Unggulan
memerlukan langkah dan upaya yang
fisibel dan kredibel. Sebab saat ini Sekolah
Islam Unggulan harus bersaing dengan
beberapa lembaga pendidikan yang sedang
mencanangkan program rintisan sekolah
umum unggul. Penguatan keunggulan
lembaga tersebut melalui cara membangun
cita dan kultur akademik yang kokoh.
Langkah strategis untuk melakukan
pengembangan Sekolah Islam Unggulan
memerlukan upaya sebagai berikut
(Suhaimi, 2012:34):
1. Membangun Mindset Secara
Kolektif. Untuk mengembangkan
dan Sekolah Islam Unggulan
membutuhkan pandangan, citacita, imajinasi, nilai-nilai keyakinan
yang kuat dan kolektif.
2. Menciptakan Inovasi secara Terus
Menerus. Inovasi merupakan
usaha dan kerja nyata untuk
mencari dan membuat hal
baru demi meraih kemajuan
dan keunggulan bagi lembaga
pendidikan itu sendiri. Inovasi
harus didasarkan pada kebutuhan
idealita dan realita agar lembaga
madrasah dan sekolah Islam itu
55
terus maju dan berkembang. M e m a n f a a t k a n Te k n o l o g i
Informasi. Untuk memajukan
Sekolah Islam Unggulan
yang merata dan berkualitas
membutuhkan energi pikiran,
tenaga dan usaha yang tiada henti.
Sekolah Islam Unggulan saatnya
mengembangkan pembelajaran
berbasis digital, selain yang sudah
ada, guna mengefektifkan program
dan kegiatan pendidikan yang
lebih maksimal. Sekolah Islam
Unggulan jangan sampai tertinggal
di bidang teknologi informasinya. Secara global, terdapat dua model
Sekolah Islam Unggulan. Model pertama,
sekolah-sekolah umum yang menerapkan
kurikulum pemerintah yang ditetapkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional, dan
mengombinasikannya dengan memberikan
penekanan pada pendidikan agama
Islam yang didukung oleh environment
keagamaan Islam tanpa siswa menetap
dan bermukim di sekolah. Diantara
sekolah Islam dengan model ini adalah
sekolah Al-Azhar yang dirintis oleh Buya
Hamka dengan gagasan awal pendidikan
pesantren sebagai basis pendidikan Islam
yang diwarnai oleh semangat modernitas
keagamaan (Djamas, 2009:73-74).
Model kedua, sekolah-sekolah
umum yang menerapkan pola pendidikan
seperti di pesantren, dimana para
siswa mondok di kampus sekolahnya
(boarding school) di bawah asuhan para
pengasuh lembaga pendidikan tersebut.
sekolah Islam model ini menerapkan pola
pendidikan terpadu antara penekanan
pada pendidikan agama yang dikombinasi
dengan kurikulum kurikulum pengetahuan
umum yang menekankan pada penguasan
sains dan teknologi. Diantara sekolah
Islam dengan model pendidikan terpadu
ini adalah sekolah Madania di parung yang
dirintis Dr. Nurcholish Madjid di bawah
naungan yayasan Madania, serta sekolah
3.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Islam Insan Cendekia yang didirikan oleh
mantan Menristek Prof. BJ. Habibie di daerah
Serpong Banten dan di Gorontalo (Djamas,
2009:156).
H. Wadah Sekolah Islam Unggulan:
Jaringan Sekolah Islam Terpadu
(Jsit) Indonesia
JSIT (Jaringan Sekolah Islam
Terpadu) Indonesia adalah organisasi
masyarakat yang berdiri pada tanggal 31
Juli 2003 dan bergerak di bidang pendidikan,
bersifat non partisan, nirlaba dan terbuka
dalam arti siap bekerja sama dengan
pihak manapun selama mendatangkan
maslahat dan manfaat bagi anggota serta
berkesesuaian dengan visi, misi, tujuan
dan sasaran JSIT Indonesia. Anggota JSIT
Indonesia adalah sekolah Islam Terpadu
dan sekolah lainnya yang menjadikan Islam
sebagai landasan ideal, konsepsional, dan
operasional (JSIT, 2014).
Visi dibentuknya JSIT adalah
menjadi pusat penggerak dan pemberdaya
Sekolah Islam Terpadu di Indonesia menuju
sekolah efektif dan bermutu. Sedangkan
misi dibentuknya JSIT adalah membangun
jaringan efektif antar Sekolah Islam Terpadu
di Indonesia, meningkatkan efektifitas
pengelolaan Sekolah Islam Terpadu di
Indonesia, Melakukan pemberdayaan tenaga
kependidikan, melakukan pengembangan
kurikulum Sekolah Islam Terpadu di
Indonesia, melakukan aksi dan advokasi
bidang pendidikan, menjalin kemitraan
strategis dengan institusi nasional dan
internasional, dan menggalang sumbersumber pembiayaan pendidikan.
Jaringan Sekolah Islam Terpadu
(JSIT) adalah organisasi yang beranggotakan
Sekolah Islam Terpadu dari seluruh Indonesia.
Termasuk di dalamnya: Taman Kanak-kanak
Islam Terpadu (TKIT), Sekolah Dasar Islam
Terpadu (SDIT), Sekolah Menengah Pertama
Islam Terpadu (SMPIT), Sekolah Menengah
Atas Islam Terpadu (SMAIT). Berawal dari
lima satuan sekolah dasar yang berdiri pada
1993 di wilayah Jabodetabek, sekolah
Islam terpadu (SIT) telah berkembang
pesat di seluruh Indonesia. Kelima
sekolah yang menjadi cikal bakal model
penyelengaraan SIT itu, yakni SDIT
Nurul Fikri Depok, SDIT Al Hikmah
Jakarta Selatan, SDIT Iqro Bekasi, SDIT
Ummul Quro Bogor, dan SDIT Al Khayrot
Jakarta Timur. Sejak saat itu, SIT terus
bermunculan dan berkembang. Hingga
2013, jumlah sekolah yang berada
dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu
(JSIT) Indonesia mencapai 1.926 unit
sekolah. Yakni, terdiri atas 879 unit TK,
723 unit SD, 256 unit SMP, dan 68 unit
SMA (JSIT, 2014).
Ketua JSIT Indonesia Sukro
Muhab mengungkapkan, inspirasi
membangun sekolah Islam bermutu
didorong keinginan mendirikan sekolah
yang bebas dari sekularisme. Yakni,
sekolah yang mengintegrasikan
pendidikan umum dan agama dalam
suatu jalinan kurikulum, pembelajaran,
dan lingkungan terpadu. “Selain itu, ada
semangat mendirikan sekolah bermutu
layaknya sekolah-sekolah berstandar
dunia,” ujarnya (Republika, 2014).
Tingginya minat masyarakat
menyekolahkan putra-putrinya di SIT,
menurut Sukro, tak lepas dari tiga kunci
utama keberhasilan proses pendidikan
di SIT. Pertama, niat dan dedikasi
pendidik di SIT berpijak pada motif
menggapai ridha Allah SWT semata.
Kedua, kepercayaan dan harapan yang
tinggi dari orang tua kepada SIT. Ketiga,
dukungan masyarakat, pemerintah, dan
pihak lain bagi kebangkitan sekolah Islam
bermutu. Kini, perkembangan sekolah
Islam menjadi tren yang fenomenal di
kawasan Asia Tenggara, khususnya
Indonesia. Hal itu ditandai dengan
munculnya semangat menolak fenomena
sekularisme dalam filosofi pendidikan.
Selain menggelar sederet
pelatihan, JSIT Indonesia bekerja sama
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
56
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dengan lembaga pendidikan internasional.
Antara lain, International Center
for Educational Excellence Malaysia,
Association For Academic Quality Pakistan,
Sekolah Islam Al Irsyad dan Aljuneid
Singapura, Smart Bestari Thailand, dan
Khoirat Foundation Turki. Segudang
prestasi diraih peserta didik dan SIT dalam
ajang nasional dan intenasional. Baik
dalam kompetisi olimpiade sains maupun
kegiatan olahraga dan seni. Tak kalah
pentingnya rata-rata lulusan SDIT mampu
menghafal satu juz Alquran, sedangkan
SMPIT dan SMAIT lebih dari dua juz.
I.Penutup
Faktor yang melatarbelakangi
pertumbuhan Sekolah Islam Unggulan di
Indonesia tidak terlepas dari faktor sejarah
perkembangan lembaga pendidikan Islam
di Indonesia, sehingga secara umum faktor
yang melatabelakanginya adalah corak
pemikiran masayarakat yang semakin
religius, evaluasi dari lembaga pendidikan
Islam sebelumnya, sebuah fenomena
sosiologis yang muncul dari kondisi
masyarakat yang terus berubah, kesadaran
akan kualitas lembaga pendidikan Islam
yang lebih rendah disbanding dengan
lembaga pendidikan umum, dan Tantangan
zaman (termasuk di dalamnya dampak dari
kondisi pertumbuhan ekonomi masyarakat).
Bagaimanapun juga, harus kita
akui bahwa Sekolah Islam Unggulan telah
berperan dan memberikan konstribusi
yang signifikan dalam upaya peningkatan
SDM yang berkualitas di Indonesia.
Sekolah Islam Unggulan harus mampu
mengembangkan program-program bidang
studi yang sesuai dengan kebutuhan
tenaga di bidang-bidang tertentu atau
sesuai dengan kurikulum dan silabi,
relevan dengan kompetensi mencakup
spiritual, illahiyah, knowledge, skill, ability
dan kultural-sosial yang diarahkan pada
kebutuhan pasar.
Sebagai Sekolah Islam Unggulan
57
yang memiliki background yang berbasis
pendidikan Islam berkewajiban untuk
menciptakan suasana religius dilingkungan
belajar (sekolah). Penciptaan ini dimaksud
dalam rangka mengimplementasikan
nilai-nilai bersikap (attitude value), nilainilai penghayatan (experiental value)
dan menumbuhkan semangat kesadaran
beragama. Karena itu, untuk menciptakan
suasana tersebut, perlu dikembangkan
model fungsional untuk menciptakan
suasana religius yang didasari atas
pemahaman bahwa pendidikan agama
adalah upaya manusia untuk mengajarkan
masalah masalah kehidupan akhirat,
disamping aktivitas duniawi yang berpijak
pada tatanan moral-etis. Penciptaan ini
bersumber pada nilai-nilai normative
dan doktrin agama yang telah diyakini
kemutlakannya.
Untuk mewadahi Sekolah Islam
Unggulan yang telah tumbuh berkembang
diseluruh Indonesia maka dibentuklah
sebuah wadah yang bernama JSIT (Jaringan
Sekolah Islam Terpadu) Indonesia. JSIT
adalah organisasi masyarakat yang berdiri
pada tanggal 31 Juli 2003 dan bergerak di
bidang pendidikan, bersifat non partisan,
nirlaba dan terbuka dalam arti siap bekerja
sama dengan pihak manapun selama
mendatangkan maslahat dan manfaat bagi
anggota serta berkesesuaian dengan visi,
misi, tujuan dan sasaran JSIT Indonesia.
Anggota JSIT Indonesia adalah Sekolah
Islam Terpadu dan sekolah lainnya yang
menjadikan Islam sebagai landasan ideal,
konsepsional, dan operasional.
Daftar Pustaka
A n d r i n i , Ve r a S e p t i . P a r a d i g m a
Pengembangan Sekolah Unggulan,
artikel diunduh tanggal 25 Maret
2014 dari http://www.vilila.com.
html.
Arifin, Imron. Kepemimpinan Kepala
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Sekolah dalam Mengelola Sekolah
Berprestasi. Yogyakarta: Aditya
Media, 2008.
Aziz, Abdul. Kesetaraan Status dan
Masalah Mutu Lulusan Madrasah.
Jurnal Edukasi. Vol. 3, No. 1,
Januari-Maret 2005.
Azra, Azyumardi. Paradigma Baru
Pendidikan Nasional. Jakarta,
Kompas, 2002.
———————————. Pendidikan
Islam; Tradisi dan Modernisasi
Menuju Millenium Baru. Jakarta:
Logos, 1999.
Djamas, Nurhayati, Dinamika Pendidikan
Islam di Indonesia Pasca
Kemerdekaan, Jakarta: Rajawali
Pers, 2009.
Efendi, Arief, Peran Strategis Lembaga
Pendidikan Berbasis Islam di
Indonesia. Jurnal Pendidikan
Islam. El-Tarbawi, No. 1, Vol. 1.
Januari 2008.
Ihsan, Fungsi Dan Peran Lembaga
Pendidikan, http://ululazmi-zabaz.
blogspot.com, diakses tanggal 12
juli 2014.
Mujtahid, Madrasah dan Sekolah Islam
Unggulan, artikel diunduh tanggal
25 Maret 2014 dari http://blog.uinmalang.ac.id.
Moedjiarto. Sekolah Unggul. Surabaya:
Duta Graha Pustaka, 2002.
Mohrman, Susan Albers, et.al. School
Based Management: Organizing
for High Performance. San
Francisco, 1994.
Muhammad, Konsep Pengembangan
SekolahUnggulan. Jurnal Kreatif.
Vol. 4, No. 1. Januari 2009.
Nata, Abuddin. Paradigma Pendidikan
Islam. Jakarta, Grasindo, 2001.
Noer, Deliar, Gerakan Modern Islam di
Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Nurkhalis, Sekolah Unggulan Yang Tidak
Unggul, artikel diunduh tanggal
25 Maret 2014 dari http://researchengines.com/nurkolis3.
html (kumpulan artikel dalam situs
resmi Pendidikan Network).
Peter Salim dan Yenny Salim. Kamus
Bahasa Indonesia Kontemporer.
Jakarta: Modern English Press,
1991.
Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan
Islam. Surabaya: Erlangga, 2007.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Heri Ruslan,
diunduh tanggal 12 juli 2014.
SINERGI. Jurnal Populer Sumber Daya
Manusia. Volume 1, No. 1. JanuariMaret 1998.
Suhaimi, Ahmad. Peluang dan
Tantangan Sekolah Unggulan
dan Sekolah Model dalam
Pengembangan Pendidikan Islam.
Tulungagung: STAIN Tulungagung,
2012.
Syaodih, Nana, dkk. Pengendalian Mutu
Pendidikan Sekolah Menengah.
Bandung: Refika Aditama, 2006.
Tilaar, H.A.R. Paradigma Baru Pendidikan
Nasional. Jakarta. PT Rineka
Cipta, 2004.
Tim Penyusun. Sistem Penyelenggaraan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
58
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA TEKS NASKAH PIDATO
MAHASISWA PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS
JURUSAN TARBIYAH STAIN MALIKUSSALEH
Oleh: Novi Diana. M.Pd
Email: [email protected]
Abstract
This study titled error analysis of text speak speech student of English Department
of Tarbiyah STAIN Malikussaleh. The problem of this study is how the language
mistakes in drafting the text of speeches at the level of the selection and use of
words, sentence formulation, and preparation of a paragraph. Furthermore, this
study aims to describe language errors in the preparation of the text of speeches
student of English at the level of the selection and use of words, sentence
formulation, and preparation of a paragraph. The approach taken in this study
is a qualitative approach for the analysis of research data more descriptive form
or in the form of an explanation of the results of the analysis of the error in the
text of the speech-language students. The analysis used in this study is more
analytical description of the content of the written thoroughly and systematically.
Researchers gave an overview of the written language errors in analytical form.
Based on the analysis of the selection of errors and word usage, (2) the results
of the error analysis and the preparation of the sentence (3) the results of the
analysis of paragraph drafting error, the student still needs medalami re-writing
abilities. Students need to be more consistent in writing the text. Regarding
the text of the speech writing is most students are able to write well, but others
still need to make repairs in writing. Students should not be considered easy
in writing if they write a lot of experience writing errors. This research is only at
the level of the text just is not on how they write a thesis or other form of writing
that requires a lot more thinking. Many other writing atuaran rules that need to
be considered by students of English.
Keywords: Analysis, Error-speaking, speech text .
A. Pendahuluan
Pembelajaran Bahasa
Indonesia merupakan suatu matakuliah
pengembangan kepribadian di perguruan
tinggi. Matakuliah Bahasa Indonesia
sebagai MPK menekankan keterampilan
mahasiswa untuk menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Keterampilan berbahasa mahasiswa
dapat dibina melalui kegiatan menyimak,
berbicara, membaca dan menulis.
Kemampuan berbahasa tersebut
belum tentu dapat dikuasai secara
59
instan oleh seseorang dalam hal ini
khususnya mahasiswa. Namun perlu
proses pembelajaran yang berkelanjutan
untuk menguasainya.
Kemampuan berbahasa
seseorang belum tentu mencakup keempat
kemampuan tersebut. Tingkat kemampuan
tiap-tiap aspek tersebut tidak sama.
Seseorang mungkin mampu mendengarkan
atau membaca, tetapi tidak mampu
berbicara dan menulis. Jadi, kemampuan
reseptif seseorang pada umumnya lebih
tinggi daripada kemampuan produktif. Hal
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
ini disebabkan kedua keterampilan tersebut
memerlukan latihan yang rutin sehingga
dapat menggunakan bahasa yang baku
dalam berbicara dan menulis. Dalam
penelitian ini peneliti akan membahas
tentang keterampilan menulis naskah
pidato. Sebelum memulai berbicara /
pidato mahasiswa perlu menyusun teks
naskah pidato sebagai langkah awal
untuk berpidato. Berpidato merupakan
salah satu materi untuk meningkatkan
kemampuan berbicara. Oleh sebab
itu, peneliti ingin melihat bagaimana
kemampuan mahasiswa dalam menyusun
teks naskah pidato yang nantinya akan
menjadi bahan analisis.
Kemampuan Berbicara dalam
arti pidato untuk memberikan sambutan,
berceramah, atau memberikan penyuluhan
dalam pertemuan-pertemuan resmi,
memerlukan penguasaan bahasa yang
cukup tinggi. Begitu juga halnya dengan
kemampuan menulis yang bukan hanya
sekedar menulis apa yang sudah diketahui
dalam bentuk surat namun seseorang juga
harus dapat mengungkapkan gagasan
dalam suatu karya tulis. Kemampuan
menulis sangat penting karena dalam
berbicara dalam forum-forum resmi biasanya
didahului oleh persiapan tertulis. Pidato
atau ceramah sering hanya merupakan
pelisanan atau pembacaan karangan yang
sudah dipersiapkan sebelumnya.1
Dalam proses belajar mengajar
selama ini yang menjadi kendala dosen
dalam mengajar di kelas adalah tata
cara berbicara mahasiswa masih belum
maksimal. Artinya mereka berbicara belum
menggunakan bahasa yang baku sesuai
dengan Ejaan yang disempurnakan (EyD).
Mahasiswa dapat berbicara namun belum
beraturan. Misalnya seperti pada kegiatan
diskusi, presentasi seminar proposal,
microteaching, atau forum-forum harihari besar keislaman sebagai MC. Hal
ini perlu diberikan suatu pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan berbicara
dengan terlebih dahulu menganalisis
bagaimana persiapan mahasiswa dalam
menyusun atau menulis teks naskah
pidato. Dalam menulis teks naskah pidato
masih ada kesalahan yang dilakukan
oleh mahasiswa yaitu dalam pemilihan
dan penulisan kata, penyusunan kalimat,
dan penyusunan paragraf. Selain itu,
menyangkut penggunaan ejaan, yaitu kata
baku dan nonbaku dalam teks naskah
pidato yang ditulis mahasiswa belum
maksimal. Namun dalam penelitian ini akan
dianalisis bagaimana kesalahan berbahasa
mahasiswa program studi Bahasa Inggris
dalam menulis teks naskah pidato dalam
bahasa Indonesia.
Berdasarkan permasalahan di
atas maka peneliti mengadakan penelitian
terhadap penyusunan teks naskah pidato
mahasiswa pada program studi Bahasa
Inggris. Dipilihnya program studi ini
karena adanya kesinambungan dalam
pembelajaran keterampilan berbahasa
dalam matakuliahnya yaitu speaking dan
writing. Mahasiswa sudah mempelajari tata
cara berbicara dan menulis yang baik dalam
mempresentasikan hasil pembicaraannya,
namun masih ada kesalahan dalam
penyampaiannya di depan umum. Oleh
sebab itu, perlu dianalisis kembali apa yang
menjadi kendala dalam persiapan untuk
berbicara yaitu melalui analisis kesalahan
berbahasa dalam menyusun teks naskah
pidato. Penyusunan awal teks naskah
pidato ini dimaksudkan agar mahasiswa
lebih dapat mempersiapkan diri dan mental
yang baik dalam berbicara. Konsep tulisan
yang dilakukan sesuai dengan langkahlangkah penulisan yang ditentukan dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimanakah
kesalahan berbahasa dalam penyusunan
teks naskah pidato dalam Bahasa
Indonesia mahasiswa program studi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
60
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Bahasa Inggris pada tataran pemilihan dan
pemakaian kata, Penyusunan kalimat, dan
penyusunan paragraf?
C. Definisi Operasional
Definisi operasional dimaksudkan
untuk menghindari perbedaan
pengertian atau kekaburan makna. Istilah
yang perlu diberikan makna adalah yang
menyangkut tentang konsep-konsep pokok
dalam penelitian ini, adalah
1. Menurut Andini dan Aditya (2003:34)
Analisis adalah penyelidikan terhadap
suatu peristiwa (karangan, perbuatan,
dan sebagainya) untuk mengetahui
keadaan yang sebenarnya (sebab
musabab, duduk perkaranya dan
sebagainya). Penguraian suatu
pokok atau berbagai bagiannya dan
penelaahan bagian itu sendiri serta
hubungan antar bagian untuk
memperoleh pengertian yang tepat dan
pemahaman arti keseluruhan. Jadi,
dalam penelitian ini analisis ditujukan
pada penggunaan bahasa yang
digunakan oleh mahasiswa dalam
teks naskah pidato.
2 . Te k s n a s k a h p i d a t o a d a l a h
hasil karangan seseorang atau
sesuatu yang tertulis untuk dasar
member pelajaran atau berpidato.
3. Analisis kesalahan berbahasa adalah
suatu prosedur yang digunakan oleh
para peneliti dan para guru yang
mencakup pengumpulan sampel
bahasa pelajar, pengenalan kesalahankesalahan yang terdapat dalam
karangan, pendeskripsian kesalahankesalahan itu, pengklasifikasiannya
berdasarkan sebab-sebabnya
yang telah dihipotesiskan, serta
pengevaluasian keseriusannya.
dilakukan oleh guru atau dosen Bahasa
Indonesia atau mahasiswa program studi
Bahasa Indonesia.
Analisis terhadap penggunaan
bahasa Indonesia dalam tulisan bagi
mereka sangat penting untuk meningkatkan
mutu tulisan bagi peserta didik. Kajian
tentang analisis kesalahan berbahasa ini
pernah dituliskan oleh Razali dalam Jurnal
Lentera yang berjudul Analisis kesalahan
Berbahasa dalam Karangan Siswa Sekolah
Dasar yang diterbitkan oleh Universitas
Almuslim.
Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Razali menunjukkan bahwa kesalahan
pemilihan kata dan pemakaian kata
berkaitan dengan fungsi, peran, makna
kata, dan frasa dalam kalimat diketahui
bahwa sebagian besar karangan siswa
terdapat pemakaian kata yang tidak
sesuai fungsinya dalam kalimat. Sehingga
implikasi makna menurut konteks kurang
tepat dan isi kalimat tidak jelas. Kemudian
kata-kata yang dipilih banyak tidak sesuai
konteks kalimat, konteks bidang maupun
konteks situasi.
E. Pembahasan
1. Bahasa sebagai alat komunikasi
Berkomunikasi berarti
menyampaikan pesan kepada seseorang
untuk direspon. Agar respon sesuai dengan
harapan, bahasa harus disusun dengan
baik dan benar untuk dipahami oleh orang
lain. Menurut Minto berkomunikasi adalah
juga hubungan manusiawi, maka kita
harus memperhatikan lawan bicara. Sikap
berbahasa kepada teman sebaya tidak
boleh dipergunakan juga pada orang tua,
guru, dosen, atau orang yang usianya lebih
tua, begitupun sebaliknya.
Selain itu, dalam berbahasa perlu
memperhatikan situasi, suasana atau
tempat berbahasa. Berbahasa di pasar
berbeda dengan berbahasa di dalam forum
resmi, seperti di dalam perkuliahan, diskusi,
seminar atau acara-acara resmi lainnya.
D. Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang kesalahan
berbahasa pada teks naskah pidato sudah
pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
Analisis
kesalahan berbahasa
ini sering
61
SARWAH,
VOLUME
XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Di luar forum resmi dapat menggunakan
bahasa sederhana yang penting
cukup memberikan informasi kepada
lawan bicara dan tidak menyinggung
perasaan. Sedangkan dalam forum
resmi menggunakan bahasa baku agar
informasi yang diberikan lengkap, jelas
dan berwibawa. Untuk itu, bagi dosen perlu
memberikan suatu pembelajaran dalam
matakuliah Bahasa Indonesia bagaimana
tatacara berkomunikasi mahasiswa dalam
berbicara dan menulis.
Kemampuan berkomunikasi
dengan bahasa Indonesia dikembangkan
melalui empat keterampilan berbahasa,
yaitu menyimak, membaca, berbicara,
dan menulis. Empat keterampilan itu akan
dikuasai dan dikembangkan dengan cara
berkelanjutan melalui proses pemahiran
yang dilatih dan dialami oleh mahasiswa.
Dalam hal ini perlu diajarkan secara
mendetil tentang keterampilan menulis
teks naskah pidato sebagai fokus dalam
pembahasan penelitian ini, yang menjadi
objek analisis kesalahan berbahasa.
2. Keterampilan Menulis
Menulis merupakan salah satu
keterampilan berbahasa yang harus
dikuasai oleh mahasiswa dalam matakuliah
Bahasa Indonesia. Dengan menulis segala
perasaan, ide, dan pengalaman dapat
diungkapkan kepada orang lain dalam
ruang dan waktu yang tidak terbatas. Selain
itu, seseorang yang terampil menulis akan
mendapatkan berbagai manfaat.
Menurut Suparno dan Muhammad
Yunus (2002:1.4) manfaat yang didapat
dari seseorang yang terampil menulis
adalah (1) dengan meningkatkan
kecerdasan, (2) mengembangkan daya
inisiatif dan kreativitas, (3) menumbuhkan
keberanian, dan (4) mendorong kemauan
dan kemampuan mengumpulkan informasi.
Berdasarkan pendapat ini maka tujuan
mahasiswa menulis sangat bermakna
untuk perkembangan kepribadiannya
yang akan tampak pada tulisan-tulisan dari
wujud gagasan yang dituangkan dalam
tulisannya. Dari konsep yang dituliskan
berupa teks naskah pidato mahasiswa
dapat lebih percaya diri saat berekspresi di
depan orang lain. Atau seperti yang sering
dinyatakan dalam keseharian hidup bahwa
sebelum berbicara atau bertindak kita perlu
berpikir terlebih dahulu apa yang akan
dibicarakan dalam pertemuan-pertemuan
atau acara baik itu ceramah keagamaan
atau pidato dalam forum penting.
Jadi gagasan, pendapat, sikap dan
perasaan yang disampaikan melalui tulisan
atau teks naskah pidato dapat dituangkan
dalam bentuk kata, kalimat, dan paragraf
sehingga memberikan informasi yang jelas
kepada pembaca teks.
3. Menulis Naskah Pidato
Pidato merupakan kegiatan
berbahasa lisan yang sangat diperlukan
oleh seseorang dalam berbicara untuk
menyampaikan pendapatnya di depan
umum. Untuk berbicara di depan orang
lain maka diperlukan ekspresi gagasan
dan penalaran dengan menggunakan
bahasa lisan yang didukung oleh aspek
nonbahasa, seperti ekspresi, kontak
pandang, dan intonasi suara. Namun
sebelum berpidato seseorang atau
mahasiswa perlu mempersiapkan teks
naskah pidato. Teks naskah ini perlu
disusun sebagai kerangka pikir bagi
mahasiswa. Maka pada saat mereka
tampil di depan umum mereka sudah siap
dan percaya diri dalam menyampaikan
isi pembicaraannya baik di kampus pada
pertemuan-pertemuan ilmiah atau di dalam
masyarakat pada saat mereka melakukan
kuliah pengabdian masyarakat (KPM).
Menulis naskah pidato pada
hakikatnya adalah menuangkan gagasan
ke dalam bentuk bahasa tulis yang siap
dilisankan. Pilihan kosa kata, kalimat
dan paragraf dalam menulis sebuah
teks naskah pidato sesungguhnya tidak
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
62
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
jauh berbeda dengan kegiatan menulis
naskah yang lain. Situasi resmi atau
kurang resmi akan menentukan kosa kata
dalam menulis. Seperti halnya naskah
makalah atau artikel, naskah pidato pun
perlu dianalisis, yang dianalisis adalah
isi, bahasa, dan penalaran dalam naskah
pidato itu. Isinya dicermati kembali apakah
sudah sesuai dengan tujuan pidato, sesuai
dengan calon pendengar, dan sesuai
dengan kegiatan yang digelar. Selain itu,
menulis naskah pidato diperlukan jika
kegiatan dipersiapkan sebelumnya, tetapi
jika pidato dilakukan dengan spontan,
maka naskah tersebut tidak diperlukan.
Menurut Minto Rahayu bahwa
menyunting atau mengedit naskah pidato,
untuk menyempurnakan naskah pidato. Hal
yang disunting adalah (1) isinya dicermati
kembali apakah telah sesuai dengan
tujuan pidato, calon pendengar, dan
kegiatan yang digelar. Apakah isinya benar,
representative dan mengandung informasi
yang relevan dengan konteks pidato.
Bahasanya diarahkan pada ketepatan
pilihan kata, kalimat dan paragraf. (2)
penalaran untuk memastikan isi dalam
naskah telah dikembangkan dengan tepat.
Berdasarkan pendapat tersebut,
dalam penelitian ini diarahkan pada analisis
kesalahan berbahasa sesuai dengan
rumusan masalah bahwa yang akan
dianalisis adalah bagaimana penggunaan
pemilihan/pemakaian kata, penyusunan
kalimat dan penyusun paragraf.
4. Analisis Kesalahan Berbahasa
Analisis kesalahan berbahasa
(AKB) adalah suatu prosedur yang
digunakan oleh para peneliti dan para
guru, yang mencakup pengumpulan
sampel bahasa pelajar, pengenalan
kesalahan-kesalahan yang terdapat
dalam sampel tersebut. Menurut Henry
Guntur Tarigan dan Djago T. (1988:71)
menyatakan bahwa ada beberapa langkah
untuk menganalisis kesalahan berbahasa
63
melalui penyeleksian, pengurutan,
dan penggabungan. Hasil modifikasi
tersebut adalah (1) mengumpulkan
data: berupa kesalahan berbahasa yang
dibuat oleh mahasiswa, misalnya hasil
ulangan, karangan, atau percakapan,
(2) mengidentifikasi dan mengklasifikasi
kesalahan: mengenali dan memilahmilah kesalahan berdasarkan kategori
kebahasaaan, misalnya kesalahankesalahan pelafalan, pembentukan kata,
penggabungan kata, dan penyusunan
kalimat, (3) menjelaskan kesalahan:
menggambarkan letak kesalahan,
penyebab kesalahan, dan memberikan
contoh yang benar, (4) memprakirakan
atau memprediksi daerah atau butir
kebahasaan yang rawan: meramalkan
tataran bahasa yang dipelajari yang
potensial mendatangkan kesalahan, (5)
mengoreksi kesalahan: memperbaiki
dan bila dapat menghilangkan kesalahan
melalui penyusunan bahan yang tepat,
buku pegangan yang baik, dan teknik
pengajaran yang serasi. Dari pendapat di atas, langkahlangkah kerja tersebut tujuan akhir dari
analisis kesalahan berbahasa diarahkan
untuk mencari umpan balik yang dapat
digunakan sebagai titik tolak perbaikan teks
naskah pidato yang pada gilirannya dapat
mencegah atau mengurangi kesalahan
yang mungkin dibuat oleh para mahasiswa.
F. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri atas (1) pendekatan, (2)
jenis penelitian (3) sumber data, (4) teknik
pengumpulan data, dan (5) teknik analisis
data.
Pendekatan yang paling tepat
untuk penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif karena analisis data penelitian
ini lebih banyak berbentuk deskriptif atau
berupa penjelasan-penjelasan dari hasil
analisis kesalahan berbahasa dalam teks
naskah pidato mahasiswa Program studi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Bahasa Inggris. Analisis yang digunakan
dalam penelitian ini lebih bersifat deskriptif
analitik terhadap isi yang ditulis secara
menyeluruh dan sistematis. Peneliti
memberikan gambaran tentang kesalahan
berbahasa tulis dalam bentuk analisis.
Jenis penelitian ini adalah kajian
kepustakaan yaitu dengan menganalisis
kesalahan berbahasa dalam teks naskah
pidato yang ditulis oleh mahasiswa
Program studi Bahasa Inggris. Teks
naskah pidato yang ditulis dalam Bahasa
Indonesia. Sumber data dalam penelitian
ini adalah 40 buah teks naskah pidato
mahasiswa program studi Bahasa Inggris
Jurusan Tarbiyah STAIN Malikussaleh
yang dijadikan bahan untuk menganalisis
kesalahan berbahasa. Menurut Arikunto
(1998:88) dalam penelitian kualitatif, yang
diutamakan adalah kualitas data, bukan
banyaknya data. Kualitas ini ditentukan
oleh representative atau tidaknya suatu
data.
Dari pendapat tersebut
maka peneliti mengambil sumber data
yang mewakili tulisan mahasiswa dari
Program studi Bahasa Inggris. Teks naskah
pidato yang dianalisis dalam Bahasa
Indonesia bukan Bahasa Inggris. Teknik
pengumpulan data dengan pedoman
analisis dan panduan eksplanasi.
Penelitian ini berusaha untuk
mendeskripsikan kesalahan berbahasa
dalam karangan mahasiswa yaitu pada
tataran pemilihan, pemakaian kata,
penyusunan kalimat dan paragraf dengan
beberapa langkah-langkah penelitian
yaitu (1) mengumpulkan data: berupa
kesalahan berbahasa yang dibuat dalam
teks oleh mahasiswa, (2) mengidentifikasi
dan mengklasifikasi kesalahan: mengenali
dan memilah-milah kesalahan berdasarkan
kategori kebahasaaan, misalnya kesalahankesalahan pelafalan, pembentukan kata,
penggabungan kata, penyusunan kalimat,
dan paragraf, (3) menjelaskan kesalahan:
menggambarkan letak kesalahan,
penyebab kesalahan, dan memberikan
contoh yang benar, (4) memprakirakan
atau memprediksi butir kebahasaan
yang masih tergolong sulit: meramalkan
tataran bahasa yang dipelajari yang
potensial mendatangkan kesalahan, dan
(5) mengoreksi kesalahan: memperbaiki
bila ada kesalahan tulisan. Selanjutnya
prosedur analisis data dimulai dari reduksi
data, menyimpulkan, interpretasi, dan
pembahasan.
Dalam penelitian ini data-data
yang akan dianalisis adalah teks naskah
pidato mahasiswa Program studi Bahasa
Inggris. Data ini dianalisis secara kualitatif.
Analisis data kualitatif dilakukan secara
interaktif dan berlangsung secara terusmenerus sampai tuntas. Aktivitas dalam
analisis data yaitu mereduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
G. Kesimpulan
Hasil analisis kesalahan berbahasa
dalam teks naskah pidato mahasiswa
Bahasa Inggris, meliputi tiga aspek yaitu
(1) hasil analisis kesalahan pemilihan
dan pemakaian kata, (2) hasil analisis
kesalahan penyusunan kalimat dan (3)
hasil analisis kesalahan penyusunan
paragraf.
Hasil analisis kesalahan pemilihan
dan pemakaian kata sering sekali dilakukan
oleh mahasiswa dalam menulis teks
naskah pidato. Tujuan penyusunan teks
naskah pidato ini untuk memudahkan
mahasiswa dalam berpidato. Teks sebagai
kerangka pikir untuk berbicara di depan.
Dengan adanya teks yang benar tersebut
maka mahasiswa dapat berbicara dengan
baik tanpa menampilkan yang salah. Dalam
pemilihan dan pemakaian kata sebagian
mahasiswa sudah dapat memahami hanya
saja pada analisis ini mahasiswa ada yang
belum bisa membedakan awalan dengan
kata depan.
Penghilangan huruf dan
penggunaan huruf kapital sudah diketahui
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
64
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
namun mahasiswa kurang konsisten dalam
menulis. Karena mahasiswa tersebut
sudah menerima materi tersebut sejak SD.
Selanjutnya, penulisan kata baku dan kata
nonbaku dalam teks naskah pidato juga
terjadi kesalahan.
Berdasarkan analisis kesalahan
penyusunan kalimat seperti yang dibahas
di atas maka pemilihan kata-kata yang
sesuai perlu diperhatikan kembali oleh
mahasiswa. Mahasiswa harus lebih banyak
perbendaharaan kata untuk menulis.
Kalimat rancu perlu dihindari yaitu dengan
meneliti kembali apa yang sudah dituliskan.
Mahasiswa membaca secara berulangulang dan mengedit kembali tulisannya.
Dalam aturan penulisan bahasa
lisan dan tulisan tidak dapat disamakan.
Karena bahasa tulisan sifatnya sangat
kompleks yang mempunyai aturan-aturan
atau kaidah dalam penulisan. Lain halnya
dengan bahasa lisan yang digunakan
dalam kehidapan sehari-hari tanpa aturan
namun pembicaraan tidak menyinggung
perasaan orang lain. Dalam forum resmi
harus menggunakan bahasa lisan yang
baku. Hal inilah yang menyebabkan
penulisan kalimat bahasa lisan yang
dituangkan dalam bahasa tulisan menjadi
rancu. Analisis kesalahan berbahasa
dalam teks naskah pidato juga terjadi
salah penyampaian kepada sasaran
pembicaraan. Mahasiswa cenderung
menulis dengan baik namun lupa membaca
kembali apa yang sudah ditulis.
Hasil analisis dalam penyusunan
paragraf adalah mahasiswa cenderung
sudah baik dalam menulis paragraf, namun
masih ada beberapa yang terkendala dalam
menulis. Setiap paragraf mengandung satu
pokok pikiran. Kecuali jika mahasiswa
tersebut tak paham paragraf. Dalam satu
paragraf terdiri atas tiga kalimat, yaitu
kalimat utama, kalimat penjelas, dan
kalimat penutup. Namun rata-rata tulisan
mahasiswa sudah baik dan mengarah.
Hal ini disebabkan mahasiswa
65
sudah mempunyai landasan berpikir karena
matakuliah Bahasa Indonesia sudah
mereka dalami pada semester 2. Namun,
bagi mahasiswa yang penulisannya
belum maksimal dapat terus menambah
keilmuannya di bidang Bahasa Indonesia.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul, Kajian Bahasa: Struktur
Internal, Pemakaian dan
Pemelajaran, Jakarta: Rineka
Cipta, 2007.
Bambang dan Maryanto, Contoh-Contoh
MC dan Pidato, Surabaya: Apollo,
tanpa tahun.
Arifin, E. Zainal dan Tasai S. Amran, Cermat
Berbahasa Indonesia, Jakarta:
Akademika Pressindo, 2010.
Tarigan, Henry Guntur dan Tarigan,
Djago, Pengajaran Analisis
Kesalahan Berbahasa, Bandung:
Angkasa, 1988.
Badudu, J.S, Inilah Bahasa Indonesia yang
Benar IV (Jakarta: PT Gramedia,
1995).
Razali, Analisis Kesalahan Berbahasa
Indonesia dalam Karangan Siswa
Kelas VI Sekolah Dasar. Dalam
Jurnal Lentera: Jurnal Ilmiah Sains
dan Teknologi, vol. 3, November
2005.
Ti m P e n y u s u n , P e t u n j u k Te k n i s
Penulisan Proposal dan
Skripsi Lhokseumawe: STAIN
Malikussaleh, 2012.
Tim Penyusun, Bahasa Indonesia Dasar
Penulisan Ilmiah, Semarang:
Universitas Diponegoro, 2000.
Lestari, Endang dan Maliki, Komunikasi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
yang Efektif, Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara, 2006.
A n d i n i T. N i r m a l a d a n A d i t y a A
Pratama, Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia Masa Kini (Surabaya:
Prima Media, 2003)
H e n r y G u n t u r Ta r i g a n d a n D j a g o
Tarigan, Pengajaran Analisis
Kesalahan Berbahasa (Bandung:
Angkasa, 2011)
Minto Rahayu, Bahasa Indonesia di
P e r g u r u a n Ti n g g i ( J a k a r t a :
Grasindo, 2007)
Minto Rahayu, Bahasa Indonesia di
P e r g u r u a n Ti n g g i ( J a k a r t a :
Grasindo, 2007)
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
66
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
MENYEMAI NILAI AKHLAK BAGI MAHASISWA DALAM
BERORGANISASI
Saiful Bahri, S.Pd.I, MA
Abstract
common desire to sow better morals and prudent in running the organization for
students to realize an aspiration to success, therefore it is necessary to keep
the moral values in daily interaction in running the organization, maintaining an
attitude, manners, way of communicating good, plainclothes Islamic way, as well
as maintain the cleanliness dilikungkan campus, so that hope into a dream we
shared toward welfare, peace, comfort, cleanliness and ketentram in a campus
Pendahuluan
Mahasiswa pada saat ini merupakan
harapan terbesar bagi masyarakat sebagai
penyambung lidah rakyat terutama sebagai
perubahan di masyarakat (Agen social of
cahange). Sebagai salah satu potensi,
mahasiswa sebagai bagian dari kaum
muda dalam tatanan masyarakat yang
mau tidak mau pasti terlibat langsung
dalam tiap fenomena sosial, harus mampu
mengimplementasikan kemampuan
keilmuannya dalam akselerasi perubahan
keumatan ke arah berkeadaban.
Dalam kehidupan kampus, institusi
akademik, tentunya sangat didambakan
munculnya kultur perguruan Tinggi yang
sehat dan kondusif, sehingga semua
sivitas akademik, termasuk mahasiswa
untuk berlomba-lomba meraih prestasi
yang unggul. Prestasi yang unggul
dalam konteks ini tidak hanya dibatasi
prestasi akademik saja, melainkan juga
keluhuran akhlak, keangguanan beretika.
Mahasiswa diarahkan tidak saja menguasai
pengetahuan tetapi kepada intellectual
curiosity, tidak saja kepada keterampilan
manual dan intelektual tetapi juga kepada
life skills (beriman, berakhlak mulia,
memiliki etos kerja dan menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan)
dan perkembangan yang menyeluruh dari
setiap individu serta bersedia to live together
dalam dunia yang semakin diwarnai oleh
67
konflik sosial. Perubahan mind set ini
sangat diperlukan agar terciptanya kondisi
yang nyaman dan damai.
Akhlak mahasiswa jika ditinjau dari
segi agama tidak terlepas dari Al-qur’an dan
sunnah sebagai sumber agama Islam. Jadi
ukuran baik buruknya akhlak berlandaskan
kedua sumber Islam tersebut. serta jika
ditinjau dari etika akhlak dapat dinilai
dengan akal pikiran, maksudnya sesuatu
perbuatan dapat dinilai baik buruknya oleh
akal pikiran. (Yunahar Ilyas, 2009: 5).
Akal pikiran menilai baik buruk
berdasarkan pengalaman yang dialami
kemudian diolah menurut kamampuan
pengetahuannya, akal pikiran hanya bisa
menilai secara spekulatif dan objektif.
Sedangkan akhlak jika ditinjau dari segi
moral, baik buruknya suatu akhlak atau
perbuatan tergantung pada budaya dan
nilai-nilai yang berlaku di masyarakat
(nilai adat). Maksudnya penilaian terhadap
baik buruknya seseorang tergantung
masyarakat yang menilai, apakah sesuai
dengan nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat atau tidak, tapi hal ini sangat
relatif mengingat budaya dan nilai-nilai
antara suatu kelompok masyarakat dengan
masyarakat lain berbeda.
Oleh karena itu, akhlak mahasiswa
harus sesuai dengan apa yang ada dalam
kedua sumber pokok agama Islam,
apalagi bagi mahasiswa yang selalu
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
berkecimpung dalam organisasi yang
jelas-jelas dalam organisasi tersebut akan
mendidik mahasiswa yang bermoral,
beretika dan bersusila baik di kampus
atau di luar kampus. Namun akhlak
mahasiswa juga tidak terlepas dari etika
dan moral tersebut yang berlaku dalam
suatu kelompok masyarakat. Dalam hal
ini penulis akan menjelaskan beberapa
akhlak bagi mahasiswa yang berorganisasi
di lingkungan kampus.
A. Organisasi Mahasiswa
Dunia organisasi mahasiswa
merupakan sebuah alur dalam
pembelajaran diri dan wadah pendewasaan.
Selain berfungsi sebagai pembelajaran
diri, organisasi mahasiswa merupakan
wahana bagi mahasiswa berempati
dengan situasi yang terjadi di masyarakat.
Negara berkembang layaknya Indonesia,
banyak dihadapkan masalah-masalah
sosial terutama menyangkut kesenjangan
ekonomi, kecurangan, ketidakadilan, dan
ketidakstabilan politik. Pada dasarnya
organisasi mahasiswa adalah sebuah
wadah berkumpulnya mahasiswa demi
mencapai tujuan bersama.
Disamping untuk melatih dan
mengajarkan diri mahasiswa untuk menjadi
makhluk sosial yang peka terhadap
lingkungan disekitarnya organisasi juga
menjadikan mahasiswa yang mandiri dan
lebih disiplin lagi. Mahasiswa yang aktif
berorganisasi secara konsisten semata –
mata memiliki pemahan bahwa organisasi
kemahasiswaan merupakan sebuah
sarana yang efektif dalam mengkader
dirinya sendiri untuk ke depan. Mempunyai
keyakinan pandangan bahwa kampus
merupakan tempat menimba ilmu yang
tidak terbatas hanya kepada pelajaran
semata.
Oraganisasi mahasiswa, BEM
misalnya adalah sebuah badan organisasi
tertinggi dalam sebuah Universitas,
Institut, Politeknik, ataupun Sekolah
Tinggi dan memiliki landasan hukum
kuat, berdasarkan KEPMEN No. 155.
Keberadaan BEM disebuah Perguruan
Tinggi sangatlah fungsional, baik untuk
pihak kampus sendiri ataupun untuk Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) berserta
civitas akademika Perguruan Tinggi
tersebut. BEM adalah singkatan dari
Badan Ekseskutif Mahasiswa (BEM),
yang menjadi wadah perhimpunan
mahasiswa untuk mengaktualisasikan
diri dalam mengembangkan minat dan
bakat (kreatifitas), selain pengembangan
kretifitas Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) juga mempunyai peran penting
dalam mengawal segala kebijakan Rektorat
(Universitas), baik yang bersangkutan
dengan dunia kemahasiswaan ataupun
mengenai tentang pengembangan dan
peningkatan sarana dan prasarana yang
ada di wilayah kampus (Universitas).
Disamping itu, BEM juga sebagai
lembaga eksekutif yang berperan dalam
pembentukan kepribadian dan watak baik
bagi anggotanya, mahasiswa di dalam
lingkungan kampus maupun masyarakat
umum. Melalui BEM, mahasiswa dilatih
dan dikembangkan jiwa kepemimpian
dan keorganisasiannya sehingga kelak
ketika terjun langsung di tengah-tengah
masyararakat, mahasiswa tersebut akan
mampu bekerjasama dan menjalankan
peran dan fungsinya dengan baik, sebagai
manusia yang bermoral dan berakhlak
mulia.
Hal ini seperti yang tercamtum
dalam keputusan kementerian pendidikan
dan kebudayaan Republik Indonesia
No.155/U/1998 tentang pedoman
Organisasi Mahasiswa, bahwa organisasi
kemahasiswaan antar perguruan tinggi
adalah wahana dan sarana pengembangan
diri mahasiswa untuk menanamkan sikap
ilmiah, pemahaman tentang arah profesi
dan sekaligus meningkatkan kerjasama,
serta menumbuhkan rasa persatuan
dan kesatuan (Kepmen Pendidikan dan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
68
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Kebudayaan RI, No 155/U/1998). Setelah
kesemua itu diperoleh oleh mahasiswa,
diharapkan dapat meningkatkan prestasi
belajarnya, sehingga kegiatan organisasi
tidak menjadi faktor penghambat dalam
memperoleh prestasi belajar yang baik.
Namun sebaliknya, menjadi faktor yang
dapat mempengaruhi untuk mendapatkan
prestasi belajar yang baik.
Sehingga dapat diartikan bahwa
organisasi Mahasiswa adalah sebuah
wadah berkumpulnya mahasiswa demi
mencapai tujuan bersama, namun harus
tetap sesuai dengan koridor AD/ART yang
disetujui oleh semua anggota dan pengurus
organisasi tersebut. Organisasi Mahasiswa
tidak boleh keluar dari rambu-rambu utama
tugas dan fungsi perguruan tinggi yaitu tri
darma perguruan tinggi, tanpa kehilangan
daya kritis dan tetap berjuang atas nama
mahasiswa, bukan pribadi atau golongan.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi
mahasiswa)
Dari uraian di atas maka
dapat disimpulkan bahwa organisasi
mahasiswa sebagai wadah yang meliputi
pengembangan penalaran, keilmuan,
minat, bakat, kemimpinan, moral, etika
dan akhlakul karimah dan serta kegemaran
yang bisa diikuti oleh mahasiswa di
tingkat fakultas dan universitas. Tujuannya
untuk memperluas wawasan, ilmu dan
pengetahuan serta membentuk kepribadian
mahasiswa sebagai mahasiswa yang
berakhlak mulian dan sebagai agen of
change.
B. Kedudukan, Fungsi Dan Tugas
Organisasi Mahasiswa
1. Kedudukan
Organisasi mahasiswa yang
memiliki kedudukan resmi dilingkungan
kampus dan mendapat pendanaan
kegiatan kemahasiswaan dari kampus.
Para aktivis Organisasi Mahasiswa Intra
Kampus pada umumnya juga berasal dari
kader-kader organisasi ekstra kampus
69
ataupun aktivis-aktivis independen yang
berasal dari berbagai kelompok studi
atau kelompok kegiatan lainnya. Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) ialah lembaga
kemahasiswaan yang menjalankan
organisasi serupa pemerintahan (lembaga
eksekutif). Dipimpin oleh Ketua Presiden
BEM yang dipilih melalui pemilu mahasiswa
setiap tahunnya (http://denbambang.
wordpress.com/2012/11/19/organisasikemahasiswaan)
Disamping itu bentuk organisasi
mahasiswa ini tergantung kepada
mahasiswa sebagai hasil musyawarah serta
tidak bertentangan dengan undang-undang
hal ini sesuai dengan kepmen pendidikan
dan kebudayaan RI Yng tertuang dalam
Bab II, pasal 3. Poin 2, 3, 4, dan 5, bahwa
Poin (2). Organisasi kemahasiswaan intra
perguruan tinggi dibentuk pada tingkat
perguruan tinggi, fakultas dan jurusan.
Poin (3). Bentuk dan badan kelengkapan
organisasi kemahasiswaan intra perguruan
tinggi ditetapkan berdasarkan kesepakatan
antar mahasiswa, tidak bertentangan
dengan peraturan perundangundangan
yang berlaku, dan statuta perguruan tinggi
yang bersangkutan. Poin (4) Organisasi
kemahasiswaan pada sekolah tinggi,
politeknik, dan akademi menyesuaikan
dengan bentuk kelembagaannya. Dan
poin (5) Organisasi kemahasiswaan antar
perguruan tinggi yang sejenis menyesuaikan
dengan bentuk kelembagaannya. (Kepmen
Pendidikan, No 155/U/1998)
2. Fungsi dan Tanggungjawab
Organisasi Mahasiswa
Dalam menjalankan sebuah
organisasi bagi mahasiswa mempunyai
fungsi yang jelas serta mempunyai dasar
hukum yang kuat, sebagaimana tertuang
dalam kepmen kementerian pendidikan
dan kebuadayaan RI nomor 155/U/1998
tentang pedoman organisasi mahasiswa.
Bahwa Organisasi kemahasiswaan
mempunyai fungsi sebagai wahana dan
sarana:
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
1. Perwakilan mahasiswa intra
kampus untuk menampung
dan menyalurkan aspirasi
mahasiswa, menetapkan garisgaris besar program dan kegiatan
kemahasiswaan;
2. Komunikasi antarmahasiswa;
3. P e n g e m b a n g a n p o t e n s i
mahasiswa sebagai insan
akademis, calon ilmuwan dan
intelektual yang berguna bagi
masyarakat;
4. Pengembangan intelektual, bakat
dan minat, pelatihan keterampilan,
organisasi, manajemen dan
kepemimpinan mahasiswa;
5. Pembinaan dan pengembangan
kader-kader agama dan bangsa
yang berotensi dalam melanjutkan
kesinambungan pembangunan
nasional;
6. Pemeliharaan dan pengembangan
ilmu dan keagamaan yang
dilandasi oleh norma akademis,
etika, moral dan wawasan
kebangsaan. (Kepmen Pendidikan,
No 155/U/1998)
Namun disamping itu Tanggung
jawab sebuah organisasi mahasiswa
yang berada dalam lingkungan kampus
harus berdasarkan mufakat mahasiswa
bagaimana mekanismenya dan harus
mengetahui oleh pihak kampus dimana
mereka bernaung, sehingga pihak lembaga
membuat satu pedoman baru tentang
mekanisme atau tata cara berorganisasi
dalam kampus tersebut.
Sebagaimana yang tercamtum
dalam Kepmen pendidikan bab III, pasal 6.
Bahwa: Derajat kebebasan dan mekanisme
tanggungjawab organisasi kemahasiswaan
intra perguruan tinggi terhadap perguruan
tinggi ditetapkan melalui kesepakatan
antara mahasiswa dengan pimpinan
perguruan tinggi dengan tetap berpedoman
bahwa pimpinan perguruan tinggi
merupakan penanggungjawab segala
kegiatan di perguruan tinggi dan/atau yang
mengatasnamakan perguruan tinggi.
C. Menanamkan Nilai Akhlak Dalam
Budaya Berorganisasi Bagi
Mahasiswa
Organisasi mahasiswa merupakan
bagian integral dari kehidupan kampus yang
tidak dapat dipisahkan dari aktifitas dan
partisipasi mahasiswa dalam membangun
citra sebuah perguruan Tinggi, maka hal
ini memberikan kontribusi yang signifikan
bagi eksistensi perguruan tinggi tersebut.
Dalam perjalanannya, setiap organisasi
memiliki struktur kepengurusan sebagai
bentuk representatif dari bidang-bidang
yang tercakup dalam organisasi tersebut,
serta memiliki visi dan misi bersama yang
hendak dicapai untuk mewujudkan cita-cita
organisasi yang diharapkan.
Pencitraan organisasi mahasiswa
sebagai sebuah wadah proses tingkat
pematangan kepribadian sosial mahasiswa
ditengah masyarakat kampus melalui
pendisiplinan kerja organisasi merupakan
langkah awal yang penting untuk dilakukan
dengan tujuan menciptakan sistem kerja
yang lebih tangguh dan profesional,
serta memiliki komitmen tinggi untuk
membangun citra organisasi sehingga
diakui eksitensinya di kalangan mahasiswa
serta menjunjung nilai-nilai akhlak dalam
menjalan roda organisasi tersebut.
Kampus merupakan suatu komunitas
masyarakat intelektual. Sebagai orang
Islam, tentu kita sangat mendambakan
kampus yang menerapkan nilai-nilai
Islam, baik dalam segi muatan pendidikan,
perilaku insan kampus maupun lingkungan.
Hal ini tercermin dari paradigma dan
perilaku manusia kampus itu sendiri
dalam kehidupan sehari-hari. Islam telah
mengatur dan memberi petunjuk tatacara
hubungan manusia dengan Tuhannya,
sesama manusia dan lingkungannya.
Lingkungan kampus merupakan
tanggung jawab kita bersama, apalagi bagi
mahasiswa yang berkecimpung dalam
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
70
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
organisasi, apakah itu BEM, UKM, HMJ,
HMP atau pun organisasi lainya, maka
sepatutnya memelihara dan menjaga
bersama-sama suana kampus yang islami,
tentu sikap dan sopan santun harus terjaga,
apalagi segi pakaian, cara bergaul, cara
berbicara dan sebagainya, hal ini semua
sebagai contoh bagi mahasiswa lain yang
tidak tergabung dalam organisasi. Bila
kita cermati sebagian besar mahasiswa
yang berorganisasi masih belum
mencerminkan sikap sebagai insan
akademis, banyak sekali para pemimpin
mahasiswa yang tidak mengedepankan
etika, cara berbicara, cara pergaulan serta
dalam menentukan sikap semuanya itu
lebih mengedepankan emosional yang
tinggi dan kasar sehingga terjadilah
keributan antara sesama pemimpin
organisasi mahasiswa (ormawa), bahkan
bukan hanya itu terhadap para dosen
dan para rektorat yang merupakan
orang tua mereka di kampus juga tidak
dihiraukan perkataannya, padahal dalam
berorganisasi selalu diajarkan bagaimana
cara berkomukasi yang baik, bersikap
ramah, menghormati dan sebagainya
bahkan diajarkan untuk menyelesaikan
masalah yang sulit dan rumit supaya dapat
diselesaikan secara damai dan tentram.
Maka dari itu, bagi mahasiswa
yang berorganisasi selalu harus
menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah
dalam menentukan sikap baik serta
berkomunikasi sesama mahasiswa dan
juga sesama dosen, karena mahasiswa
yang tergabung dalam organisasi
tersebut merupakan pemimpin bagi
mahasiswa lain yang tidak bernaung
dalam organisasi. Oleh karena itu, bagi
kita seorang pemimpin mahasiswa harus
menggunakan nalar/pikiran sebelum
bertindak, pemahaman terhadap
hak, tanggungjawab, dan kewajiban
sebagaimana yang diharapkan, baik
sebagai dari masyarakat kampus, maupun
sebagai ketua dalam berorganisasi.
71
Disamping itu, selain menjaga
sikap kita sebagai pemimpin bagi
mahasiswa lain dalam berorganisasi,
tentu menjaga sikap akhlak yang baik
dalam lingkungan kampus misalnya untuk
kelangsungan keindahan taman, siapapun
tidak boleh berjalan di atas rumput, tidak
boleh memetik bunga, menjaga toilet tetap
bersih, setiap kita yang menggunakannya
sepatutnya menyiram sampai bersih
dan tidak meninggalkan bekas bau.
Kita sebagai pemimpin mahasiswa lain
sebaiknya tidak membuang pembalut
bekas di lubang WC bagi mahasiswi.
Selain itu, penggunaan air haruslah
terjaga dan kran-kran ditutup kembali
setelah dipakai. Untuk menjaga keindahan
kampus, setiap para pemimpin mahasiswa
sepatutnya menempel kertas-kertas
informasi pada tempat yang disediakan
dan tidak mencoret-coret tembok. Dalam
hal pengelolaan sampah, kita sebagai
mahasiswa yang berkecimpung dalam
organisasi setelah mengetik surat dan
sebagainya apabila ada kertas yang
rusak sebaiknya membuang sampah
pada tempat yang disediakan. Sampah
kertas, bekas bungkus makanan dan
permen, puting rokok dan plastik-plastik
hendaknya dibuang pada tempat sampah.
Ini semuanya sebagai contoh kita berikan
kepada mahasiswa lain karena kita seorang
pemimpin bagi mareka. Maka ajari dan
bimbinglah mahasiswa ke arah yang baik
secara islami.
Untuk itu sebuah harapan kita
bersama dalam memelihara keharmonisan
dalam lingkungan kampus, kita sebagai
pemimpin mahasiswa yang tergabung
dalam organisasi perlu bersikap aktif dan
responsif, bisa bekerja sama dengan baik
dalam kegiatan apapun, menghormati
pendapat teman walaupun itu sulit diterima
apalagi dengan dosen dan para rektorat
dan sebagainya.
Singkatnya, kesejahteraan,
kedamaian, kenyamanan, kebersihan, dan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
keamanan di dalam dan luar kampus selalu
kita dambakan bersama-sama setiap
mahasiswa, khususnya bagi pemimpin
organisasi mahasiswa (ORMAWA) yang
menjadi panutan dan percontohan bagi
mahasiswa lain untuk memudahkan
mencapai sukses di perguruan tinggi. Tanpa
keterlibatan dan partisipasi kepedulian
para petinggi mahasiswa akan sulit untuk
diwujudkan sesuatu yang kita dambakan
bersama.
Kepmen Pendidikan, No 155/U/1998
Tentang Pedoman Umum Organisasi
Mahasiswa, Bab II, Pasal 3.
Kepmen Pendidikan, No 155/U/1998
D.Kesimpulan
Pencitraan organisasi mahasiswa
sebagai sebuah wadah proses tingkat
pematangan kepribadian sosial mahasiswa
ditengah masyarakat kampus melalui
pendisiplinan kerja organisasi merupakan
langkah awal yang penting untuk dilakukan
dengan tujuan menciptakan sistem kerja
yang lebih tangguh dan profesional,
serta memiliki komitmen tinggi untuk
membangun citra organisasi sehingga
diakui eksitensinya di kalangan mahasiswa
serta menjunjung nilai-nilai akhlak dalam
menjalan roda organisasi mahasiswa
tersebut.
Daftar Pustaka
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, Yogyakarta:
LPPI, 2009.
Kepmen Pendidikan dan Kebudayaan RI,
No 155/U/1998 Tentang Pedoman
Umum Organisasi Mahasiswa, Bab
1, Pasal 1, poin 3.
http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_
mahasiswa, donwload tanggal 01
Desember 2013
http://denbambang.wordpress.
c o m / 2 0 1 2 / 11 / 1 9 / o r g a n i s a s i kemahasiswaan/ donwload tanggal
01 Desember 2013
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
72
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
APLIKASI TEORI DIFUSI INOVASI
DALAM TEKNOLOGI INSTRUKSIONAL
Oleh: Susi Yusrianti
Email: [email protected]
Abstract
Instructional Technology is a field of innovation and berubahan in the education
system. The study of the diffusion and institutionalization of instructional technology
innovation is essential in improving the quality of community learning. Where the
diffusion and institutionalization of innovation is the base of social change (social
change) which is at the core of community development, the community that is
building feel concerned with innovation, new discoveries, either in the form of
ideas, goods, or new tools, as well as the diffusion of innovations can be applied
tindakan.Teori in instructional technology. By understanding the factors that
influence the adoption of these innovations, the instructional technologists can
explain, predict and consider the factors that inhibit and facilitate the diffusion of
instructional technology innovations.
Keywords: Diffusion, Innovation, Instructional Technology
A.PENDAHULUAN
Kehadiran teknologi telah
memberikan kemudahan-kemudahan
kepada manusia dalam mengelola
berbagai aspek kehidupan. Aspek
pendidikan, misalnya, teknologi telah
memainkan peranan penting dalam
proses pembelajaran. Sebagian lembaga
pendidikan telah mengadopsi teknologi
untuk memudahkan proses belajar
pembelajaran baik di dalam maupun diluar
kelas. Namun, masih banyak juga lembaga
pendidikan yang belum akrab dengan
teknologi tersebut.
Ketidakakraban tersebut, pada
satu sisi, dapat diduga sebagai akibat difusi
teknologi yang tidak merata. Pada sisi lain,
ada kemungkinan karena keterbatasan
biaya dan sumber daya manusia
dalam lembaga tersebut. Keberhasilan
penyebaran teknologi, merupakan
suatu inovasi yang dapat melembaga /
institusionalisasi dalam suatu masyarakat
melalui peran pembaharu, sistem sosial
dan organisasi.
73
B. TEORI DIFUSI INOVASI
Secara istilah, Everett Rogers
(1995) mendefinisikan difusi bahwa:
Diffusion as the process by
which on inovation is adopted and gains
acceptance by members of a certain
community. A number of factors interact
to influence the diffusion of an innovation.
The four major factors that influence the
diffusion process are the innovation itself,
how information about the innovation is
communicated, time,and the nature of the
social system into which the innovation is
being introduced.
Difusi diartikan sebagai proses
dimana suatu inovasi dikomunikasikan,
diadopsi dan dimanfaatkan oleh warga
masyarakat tertentu. Melalui Proses
difusi tersebut memungkinkan suatu
inovasi diketahui oleh banyak orang dan
dikomunikasikan sehingga tersebarluas
dan akhirnya digunakan di masyarakat.
Proses difusi biasanya terjadi karena
ada pihak-pihak yang menginginkannya,
atau secara sengaja merencanakan dan
mengupayakannya. Dalam proses difusi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
terjadi interaksi antara empat elemen, yaitu
karakteristik inovasi itu sendiri, bagaiman
informasi tentang inovasi dikomunikasikan,
waktu, dan sifat system sosial dimana
inovasi diperkenalkan.
Sedangkan inovasi, purwanto
(2000) mengartikannya sebagai ide,
temuan, cara atau objek yang dianggap
baru oleh individu, organisasi, atau system
sosial. Dalam kaitan ini, antara difusi
dan inovasi mempunyai hubungan yang
erat. Proses difusi dapat terjadi jika ada
inovasi. Adanya unsur inovasi merupakan
syarat mutlak bagi proses difusi. Ide, cara
atau objek baru bisa benar-benar baru
jika ia merupakan hasil suatu penemuan
(invention) hasil rekayasa: dan dapat pula
berupa ide, cara atau objek baru yang
diperbaharui (renewal).
Dalam konteks teknologi
instruksional, inovasi mengacu kepada
pemanfaatan teknologi canggih, baik
perangkat lunak (software) maupun
perangkat keras (hardware) dalam
proses pembelajaran. Tujuan utama
aplikasi teknologi baru ini adalah untuk
meningkatkan mutu pembelajaran,
Efektivitas dan efisiensi. Metode dan
strategi pembelajaran juga merupakan
sebuah inovasi dalam pembelajaran.
Teori difusi yang paling banyak
dikenal adalah yang diajukan oleh Everett
M.Rogers dalam bukunya Diffusion of
Innovation, yang menyediakan suatu
tinjauan yang komprehensif akan teori difusi
inovasi. Buku ini diterbitkan pada tahun
1962 dan sekarang sudah edisi keempat
tahun 1962. Rogers
mengemukakan
empat teori difusi inovasi, yaitu:
1. Teori Proses Keputusan Inovasi
Menurut teori ini , suatu inovasi
yang didifusikan memerlukan waktu
untuk sampai kepada keputusan diterima
atau ditolak oleh adopter. Dimana dalam
prosesnya akan menjalani lima tahapan
berikut;
-
Knowledge (pengetahuan)
Yaitu mengetahui akan suatu
inovasi dan memperoleh suatu
pemahaman dasar akan inovasi
yang dimaksud.
-
Persuasion (persuasi)
Yaitu memberikan kesan positif
atau negatif akan inovasi tersebut.
-
Decision (keputusan)
Yaitu memberikan keputusan
apakah inovasi tersebut diterima
atau ditolak.
-
Implementation (implementasi)
inovasi yang diterima, secara fakta
digunakan.
-
Confirmation (konfirmasi)
Yaitu mencari informasi tentang
inovasi untuk melanjutkan atau
tidak dalam penggunaan inovasi.
Tahapan konfirmasi ini bisa juga
menjelaskan terhadap suatu
inovasi yang sebelumnya ditolak.
2. Teori Keinovatifan Individual
Teori ini menyatakan bahwa
untuk inovasi yang sudah ada, sebuah
persentase tertentu dari populasi dengan
siap akan mengadopdi inovasi, sementara
yang lain ada kemungkinan untuk tidak
mengadopsi. Menurut Rogers, ada
suatu distribusi normal dari kategorikategori pengadopsi yang beragam yang
membentuk kurva Bell. orang-orang yang
inovatif akan mengadopsi suatu inovasi
lebih awal daripada mereka yang kurang
inovatif. Berdasarkan teori ini individu
dapat digolongkan atau dikelompokkan
menjadi lima kategori yang memiliki angka
perkiraan tentang jumlah prosentasenya,
yang membentuk kurva normal, yaitu dari
yang sangat inovatif sampai yang tidak
inovatif, Dijabarkan sebagai berikut:
1. Innovators/Venturesome (orang
yang siap/berani menerima
inovasi) berjumlah 2,5 %
2. Early adopter/respect (Adopter
awal, the individual to check with
before using a new idea ) berjumlah
13,5 %
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
74
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
3.
4.
5.
Early majority/deliberate (sengaja
mengadopsi inovasi) berjumlah 34
%
Late Majority/Skeptical (raguragu dalam mengadopsi inovasi)
berjumlah 34 %
Laggards/Traditional (kelompok
tertinggal dalam mengadopsi
inovasi) berjumlah 16 %
3. Teori kecepatan Adopsi
Teori ini menyatakan bahwa
inovasi didifusikan dalam waktu yang
terpola dalam suatu kurva ketajaman
yang dikenal S-shaped adoption curve.
Kecepatan adopsi suatu inovasi berjalan
mulai dari tahapan lambat, tumbuh secara
gradual, kemudian bertambah secara
dramatik dan cepat, setelah itu diikuti
masa stabil. Periode ekspansi yang cepat
tersebut terjadi ketika faktor-faktor teknis
dan sosial berkombinasi untuk menjadikan
inovasi tersebut mengalami pertumbuhan
yang dramatik. Sebagai contoh: banyak
faktor-faktor yang berkombinasi, sehingga
terjadi penerimaan yang meluas akan
WWW (Worid Wide Web) antara tahun
1995 dan 2000.
4. Teori Persepsi tentang Atribut Inovasi
Menurut teori ini, orang yang
berpotensi menjadi adopter menilai suatu
inovasi atas dasar persepsinya tentang
karakteristik inovasi tersebut. Atribut yang
dipersepsikan oleh calon adopter tersebut
adalah:
1. Relative advantage (keuntungan
relatif)
Bahwa setiap adopter lebih
cenderung mengadopsi suatu
inovasi yang menawarkan
keuntungan bagi adopter tersebut.
2. Compability (kesesuaian)
Bahwa inovasi akan diadopsi,
jika sesuai dengan kebutuhan,
kepercayaan dan nilai-nilai
adopter tersebut.
75
3.
4.
5.
Complexity (kerumitan)
Adopter hanya akan mengadopsi
inovasi yang bagi dirinya tidak
terlalu rumit dalam penggunaannya
dan tentu saja tidak mempersulit
adopter tersebut
Triabilility (dapat diuji coba)
Inovasi tersebut dapat diuji coba
sebelum diadopsi
Observability (dapat diamati)
Maksudnya dapat diteliti oleh para
ahli atau masyarakat.
C. Elemen-elemen Difusi inovasi
Dalam proses difusi inovasi terjadi
interaksi antara empat elemen, dimana
elemen tersebut merupakan unsur utama
dalam difusi inovasi, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Everett Rogers (1995):
1. Innovation
Yaitu adanya suatu gagasan (on
idea), tindakan (practic), atau objek
yang dianggap baru sehingga
diadopsi baik oleh individu maupun
kelompok.
2. Communication Channels
Difusi inovasi dapat terjadi
dengan menggunakan saluran
komunikasi yang berisi pesan
atau ide baru. Dalam difusi inovasi
terjadi penyampaian informasi
tentang ie baru kepada satu orang
atau beberapa orang (kelompok).
Proses komunikasi atau
penyampaian informasi tersebut
dapat terjadi apabila terpenuhi
empat syarat yaitu:
1. Adanya ide baru
2. Adanya pihak yang memiliki
pengetahuan tentang ide baru
3. Adanya pihak yang belum
memiliki pengetahuan dan
pengalaman tentang ide baru
4. Adanya saluran komunikasi
yang dapat menghubungkan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
keduabelah pihak tersebut.
3. Time
Dalam menjalani prosesnya, difusi
inovasi memerlukan waktu. Hal
ini dimaksudkan bahwa dalam
proses keputusan individu mulai
dari tahap pengetahuan sampai
tahap menerima atau menolak
inovasi memerlukan waktu, dan
butuh waktu yang cukup dalam
pengapdosian inovasi baik oleh
individu maupun kelompok.
4. Social System
Adalah seperangkat jaringan yang
terbentuk atas dasar kebersamaan
untuk pemecahan masalah atau
mencapai suatu tujuan. Proses
Difusi atau proses penyebaran
inovasi tersebut terjadi dalam
sistem sosial. Inovasi masuk ke
masyarakat melalui change agent
, kemudian diterima oleh seluruh
masyarakat atau sebagian besar
anggota masyarakat/sistem atau
inovasi itu gagal tersebar. Dalam
hal ini ada beberapa komponen
sistem sosial yang mempunyai
peranan penting dalam proses
difusi:
1. Agen pembaharu (change
agent)
2. Anggota sistem sosial sebagai penerima inovasi (adopter)
3.Tokoh masyarakat sebagai
sumber bagi penyebaran ide baru
4.
Saluran komunikasi yang
dipergunakan dalam proses difusi
D. Peran Agen pembaharu dalam
proses difusi inovasi
Menurut Everett M.Rogers(1995)
ada tujuh peranan agen pembaharu dalam
proses memperkenalkan inovasi kepada
masyarakat, yaitu:
1. Membangkitkan kebutuhan untuk
berubah
2. Mengadakan hubungan untuk
peubahan
3. Mendiagnosis masalah
4. Menciptakan motivasi untuk
berubah pada diri adopter
5. M e r e n c a n a k n t i n d a k a n
pembaharuan
6. Memelihara program pembaharuan
dari berbagai hambatan
7. Menciptakan kemandirian adopter
Dalam menjalani perannya,
ada beberapa faktor yang menunjang
keberhasilan agen pembaharu tersebut,
antara lain:
1. Gencarnya usaha promosi
2. Lebih berorientasi pada klien
3. Bekerjasama dengan tokoh
masyarakat
4. Kredibilitas agen pembaharu di
mata klien
E. Proses Adopsi Inovasi
Proses adopsi merupakan proses
mental dimana individu mengetahui suatu
inovasi dimulai dari mendengar kemudian
mengadopsikannya. Menurut Rogers,
proses adopsi inovasi dapat dibagi ke
dalam lima tahapan, yaitu:
1. Awareness
Pada tahap ini, individu sangat
menyukai inovasi tetapi tidak
memperoleh informasi yang cukup.
Namun, ia telah mempunyai
kesadaran untuk memiliki suatu
inovasi.
2. Interest
Pada tahap ini, individu mulai
tertarik kepada ide baru dan
mencoba mencari informasi
tambahan tentang itu. Di sini
individu terdorong untuk mencari
informasi lebih banyaklagi tentang
objek yang diminatinya.
3. Evaluation
Pada tahap ini individu secara
mental ,engaplikasikan inovasi
ke dalam kehidupannya saat ini
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
76
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dan sekaligus mengantisipasi
ke masa akan datang; dan
kemudian memutuskan apakah ia
mencabanya atau tidak. Tahap ini
merupakan tahap selektif terhadap
suatu inovai untuk menentukan
sikap.
4. Trial
Pada tahap ini, individu
menggunakan secara penuh
suatu inovasi. Jadi, inovasi sudah
dimiliki dan menjadi bagian
dari kehidupannya sehinga ia
membutuhkannya.
5. Adoption
Pada tahap ini, individu
memutuskan untuk meneruskan
menggunakn inovasi secara utuh.
Tahap ini merupakan keakraban
individu dengan inovasi yang
sudah dimilikinya sehingga ia
akan menggunakannya secara
berkesinambungan
Dalam proses adopsi inovasi
tersebut, ada konsekuensi yang merupakan
perubahan yang terjadi pada individu
atau sistem sosial sebagai akibat dari
mengadopsi atau menolak suatu inovasi.
Terdapat tiga klasifikasi dari konsekuensi
yaitu:
1. Konsekuensi yang diharapkan dan
tidak diharapkan
Konsekuesi yang diharapkan
adalah suatu inovasi mempunyai
pengaruh fungsional sesuai
dengan keinginan individu
atau sistem sosial. Sedangkan
konsekuensi yang tidak diharapkan
adalah suatu dampak yang timbul
padahal dampak tersebut tidak
dikehendakinya.
2. Konsekuensi langsung dan tidak
langsung
Konsekuensi langsung adalah
inovasi mempunyai pengaruh
yang segera terhadap individu
atau sistem sosial. Sedangkan
77
konsekuensi tidak langsung
adalah inovasi yang memberikan
pengaruh secara lambat
3. Konsekuensi Diantisipasi dan
Tidak Dapat Diantisipasi
Konsekuensi diantisipasi
adalah konsekuensi yang telah
diperkirakan sebelumnya;
sedangkan konsekuensi tidak
diantisipasi adalah dampak
susulan yang muncul kemudian
setelah terjadi adopsi atau menolak
inovasi. Konsekuensi yang tidak
diantisipasi bisa bersifat positif,
dan bisa juga negatif.
F. Insitusionalisasi Inovasi
Miles, Eckholm, and Vandenburghe
(1987), seperti dikutip Reiser dan Demsey,
menyatakan “institusionalization takes
place when an innovation is assimlated
into the structure of an organization and
changes that organization in a stable way”
Dari pernyataan di atas dapat
dipahami bahwa institusionalisasi terjadi
ketika suatu inovasi terasimilasi kedalam
struktur suatu organisasi dan dengan
inovasi tersebut terjadi perubahanperubahan secara stabil.
Menurut The Regional Laboratory for
Educatonal Improvement of the Northeast
and Islands (Eisemen, Fleming & Roody,
1990), ada enam indikator institusionalisasi
yang secara umum dapat diterima:
1. Diterima oleh peserta yang relevan
suatu persepsi bahwa inovasi
memiliki legitimasi
2. I n o v a s i b e r s i f a t s t a b i l d a n
digunakan secara rutin
3. Penggunaan inovasi secra luas
meliputi seluruh lembaga dan
organisasi
4. Adanya suatu harapan yang pasti
untuk diterapkan dan diteruskan
pemakaiannya dalam sutu institusi
atau organisasi
5. Keberlangsungan penggunaan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
tidak hanya oleh individu tetapi
juga menjadi budaya dalam
organisasi dan struktur sosial
6. adanya lokasi waku dan dana
Enam indikator di atas bukanlah
sesuatu yang mutlak, tetapi menjadi
standar evaluasi; apakah inovasi tersebut
sudah terinstitusionalisasi atau belum.
Suatu inovasi dikatakan sudah melembaga
dalam suatu masyarakat atau system
sosial jika inovasi tersebut telah menjadi
bagian dari kehidupan warganya atau
sudah menjadi bagian integral dalam suatu
organisasi atau system sosial.
G. Aplikasi Teori Difusi Inovasi dalam
teknologi instruksional
Berbagai teori dan konsep telah
didiskusikan oleh Rogers dalam Diffusion
of Innovations dapat diaplikasikan kepada
stdi tentang inovasi-inovasi di hampir
semua bidang. Sejumlah peneliti telah
menggunakan teori-teori dan konsepkonsep tersebut untuk mempelajari difusi
inovasi teknologi instruksional. Dalam
wilayah teknologi instruksional, teori difusi
sangat sering diaplikasikan terhadap studi
mengenai pemanfatan teknologi, belajar
dan pembelajaran, seperti tehnik-tehnik
pembelajaran inovatif (Holloway, 1996).
Ernest Burkman (1987) adalah
salah satu penulis yang secara khusus
menghubngkan teori difusi dengan
teknoloi instruksional. Burkman telah
menggunakan-menggunakan atributatribut yang menurutnya penting untuk
mengembangkan suatu metode/
pendekatan baru dalam mengembangkan
produk-produk instruksional yang tentu saja
merupakan daya tarik bagi para pengadopsi
potensial. Burkman menyebut pendekatan
baru tersebut sebagai pendekatan
instruksional yang berorientasi pada
pengguna “User-Oriented Instruksional
Development (UOID)” . Lima langkah
dalam UOID Burkman adalah sebagai
berkut:
1. Mengidentifikasi pengadopsi
inovasi yang potensial
2. Mengukur persepsi-persepsi
pengadopsi potensial yang relevan
3. Mendesain dan mengembangkan
suatu produk yang sesuai dengan
pengguna
4. Menyampaikan informasi kepada
adopter potensial
5. Menyedikan pendukung pasca
adopsi
Selain Burkman, para peneliti
lain telah menggabungkan teori difusi ke
dalam teknologi instruksional. Misalnya,
Stockdill dan Morehouse (1992) telah
menggunakan konsep-konsep difusi pada
pendidikan jarak jauh dan tekhnologi
pendidikan lainnya. Farquhar dan surry
(1994) tela menggunkan teori difusi
untuk mengidentifikasi dan menganalisa
faktor-faktor yang dapat membantu dalam
proses adopsi inovasi inovasi instruksional
di dalam organisasi-organisasi. Sherry,
Lwyer-Brook dan Black (1997) telah
menggunakan konsep-konsep difusi
sebagai basis untuk suatu evaluasi akan
sebuah program, seperti memperkenalkan
guru dengan internet. Dan masih banyak
lagi penelitian-penelitian lainnya.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas,
maka dapat diambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
1. Inovasi akan terus terjadi karena
didorong oleh adanya faktor luar
dan faktor dalam diri manusia serta
adanya interaksi antar keduanya.
Faktor dalam diri misalnya keinginan
dan kebutuhan serta adanya
potensi untuk meningkatkan dan
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sedangkan faktor luar adalah
perubahan-perubhan yang
terjadi dilingkungannya. Interaksi
antara faktor luar dan faktor
dalam menyebabkan terjadinya
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
78
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta inovasi tanpa
henti.
2. Dalam proses difusi inovasi
kadangkala membawa
keberhasilan yang gemilang karena
inovasi diterima dengan baik oleh
masyarakat; dan kadangkala
mengalami kendala sehingga
menghambat keberhasilan
dan bahkan kegagalan karena
ditolak oleh masyarakat. Dengan
demikian, proses difusi inovasi
mendatangkan konsekuensikonsekuensi.
3. Te o r i d i f u s i i n o v a s i d a p a t
diaplikasikan dalam teknologi
instruksional. Dengan memahami
faktor-faktor yang mempengaruhi
adopsi inovasi tersebut, maka
para teknolog instruksional dapat
menjelaskan, memprediksi dan
mempertimbangkan faktorfaktor yang menghambat dan
memudahkan difusi inovasi
teknologi instruksional tersebut.
Romiszowski, A. J.(1981), Designing
Instructional System, London:
Kogan Page Ltd
Barbara B. Seels and Rita C. Richey, (2004)
terjemahan Dewi, S. Prawiradilaga,
Teknologi Pembelajaran, Definisi
dan Kawasannya, Jakarta: UNJ
Dewi Salma Prawiradilaga, (2004) Mozaik
Teknologi Pendidikan , Jakarta:
UNJ
Purwanto, et.al, (2005), Jejak langkah
P e r k e m b a n g a n Te k n o l o g i
Pendidikan di Indonesia , Jakarta:
Pustekkom-Depdiknas
Sharon E. Smaldino, (2005), Instructional
Te c h n o l o g y a n d M e d i a F o r
Learning, Pearson Education,
New Jersey
DAFTAR PUSTAKA
Robert A. Reiser & John v. Demsey, Trends
and Issues in Instructional Design
and Technology, (New Jersey,
Columbus, Ohio: Merrrill Prentice
Hall, 2002)
Everett M. Rogers, Diffusion of innovation,
(New York: The Free Press, 1995)
Gagne, Robert M. & Leslic Briggs (1978),
Principles of Instructional Design,
New York: Holt, Rinchart and
Winston
Miarso, Yusufhadi (2004), Menyemai Benih
Teknologi Pendidikan, Jakarta:
Prenada Media
79
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
80
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM TINGKATKAN SUMBER DAYA
MANUSIA
Syarboini, MA
Abstract
The main factors causing the low ability of Islamic educational institutions in
unleash its resources is weak leadership pendidikan.Kepemimpinan institution is
an ability that is inherent to a lead, which depends on several factors, both internal
factors and external factors. Special culture contained in one group in society that
is different from the culture of other groups and cultures around the community
named principal part special culture (sub-culture) culture eg Acehnese, Batak,
Minang Kabau, Sundanese, Javanese, and so on. Culture of each nation can be
divided into an infinite number of elements number. Elements of Islamic education
learners, educators, educational goals, curriculum, media and environmental
education.
A.Pendahuluan
Di era informasi dan teknologi
seperti sekarang ini, salah satu tantangan
besar lembaga-lembaga pendidikan,
termasuk lembaga pendidikan Islam adalah
bagaimana cara mengobtimalkan semua
sumberdaya yang dimilikinya. Optimalisasi
sumber daya yang dimiliki oleh lembaga
pendidikan Islam adalah suatu keharusan
yang tidak bisa ditawar, agar ia eksis
dan emiliki daya saing dengan lembagalembaga pendidikan umum lainnya.
Dengan melakukan optimalisasi
semua sumber daya yang dimiliki lembaga
pendidikan tersebut, maka berbagai
problematika yang dihadapi oleh lembaga
pendidikan Islam dapat dipecahkan,
atau setidaknya dapat dikurangi. Potensi
sumber daya lembaga pendidikan yang
meliputi sumbar daya manusia, sumber
pendanaan, partisipasi masyarakat, dan
berbagai potensi lain yang dimilikinya
sesungguhnya cukup besar. Namun
selama ini lembaga-lembaga pendidikan,
terutama lembaga pendidikan Islam belum
sepenuhnya mampu memberdayakan
potensi-potensi tersebut.
Faktor utama yang menyebabkan
rendahnya kemampuan lembaga
pendidikan Islam dalam menberdayakan
81
sumber daya yang dimiliki adalah lemahnya
kepemimpinan lembaga pendidikan.
Selama ini kepemimpinan lembaga
pendidikan agama Islam diyakini belum
mampu memberdayakan sumber daya
manusia yang dimilikinya untuk berkinerja
secara efektif dengan membagun
komitmen mereka terhadap nilai-nilai
baru, mengembangkan ketrampilan dan
kepercayaan mereka dan menciptakan
iklim yang kondusif bagi berkembangnya
inovasi dan kreativitas.
Dimasa sekarang ini dan masa
ya n g a ka n d a ta ng , ke p e mi mp i na n
lembaga pendidikan Islam dituntut
untuk memiliki kemampuan di antaranya
(1) mengidantifikasi diri sebagai agen
perubahan, (2) berani dan teguh, (3)
memiliki kepercayaan kepada orang lain,
(4) memiliki sikap pembelajran seumur
hidup, (5) mempunyai kemampuan untuk
mengahadapi kompleksitas dan ketidak
pastian dan terakhir visionaris.
B.Kepemimpinan
Seorang pemimpin, baik
pemimpin formal maupun pemimpin
informal menjalankan atau melaksanakan
kepemimpinan yang dengan sendirinya
berbeda-beda:
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
-
Derajatnya;
-
Bobotnya;
-
Daerah jangkauannya;
-
Sasaran-sasarannya.
Mari kita perhatikan pandangan
sejumlah penulis tentang istilah
“kepemimpinan” tersebut. Sudarwan
Danim mendefinisikan kepemimpinan
adaah setiap tindakan yang dilakukan
oleh setiap individu atau kelompok
yang dikoordinasi dan memberi arah
kepada individu atau kelompok lain
yang tergabung dalam wadah tertentu
untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya (Danim, 2003: 53).
Menurut McFarland dalam
Sudarwan Danim mendefinisikan
kepemimpinan sebagai suatu proses
dimana pemimpin dilukiskan akan memberi
perintah atau pengaruh, bimbingan atau
proses pembaharui pekerjaan orang lain
dalam memilih dan mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Pfiffner mengemukakan
bahwa kepemimpinan adalah seni
mengkoordinasi dan memberi arah kepada
individu atau kelompok untuk mencapai
tujuan yang diinginkan(Danim, 2003: 54).
Kepemimpinan merupakan suatu
kemampuan yang melekat pada diri
seorang yang memimpin, yang tergantung
dari beberapa faktor, baik faktor-faktor
intern maupun faktor-faktor ekstern.
Adakalanya kepemimpinan seorang
pemimpin sangat menonjol/ berkembang
pada periode tertentu, sedangkan periode
lain hal tersebut mulai mundur (Winardi,
2000: 47).
Pada dasarnya, al-qur’an dan hadis tidak
membedakan jenis kepemimpinan dalam
masyarakat, karena menurut konsep Islam,
seorang pemimpin masyarakat, idealnya
juga harus bisa memimpin agama. Nabi
Muhammad adalah seorang pemimpin
masyarakat sekaligus pemimpin agama
dan tokoh spiritual pada masyarakat
Madinah dan daerah-daerah lain yang
ada dalam kekuasaanya. Dalam perspektif
Islam syarat-syarat menjadi pemimpian
adalah:
- Kuat aqidahnya
Kekuatan aqidah menjadi syarat
bagi seorang pemimpin, mengingat
kekuatan aqidah itulah yang sangat
menentukan prilaku kepemimpinannya.
Dasar dikuatkan aqidah ini adalah firman
Allah swt. yang artinya:Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu mengambil
jadi pemimpinmu, orang-orang yang
membuat agamamu jadi buah ejekan
dan permainan, (yaitu) di antara orangorang yang telah diberi kitab sebelummu,
dan orang-orang yang kafir (orang-orang
musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah
jika kamu betul-betul orang-orang yang
beriman. (Al-Maidah ayat 5
Selain kuat aqidah syarat pemimpin
dalam Islam adalah:
- Adil dan jujur
- Mencintai dan mengutamakan
kepentingan rakyat dari pada
kepentingan golongan
- Mampu menumbuhkan kerja sama
dan solidaritas antara sesama
umat.
Dalam satu hadis yang diriwayatkan
oleh imam Muslim tentang pemimpin
yang baik, dengan artinya”Sebaik-baik
pemimpin adalah orang-orang yang
kalian cintai dan mereka mencintai kalin,
mereka mendo’akan kalian dan kalian juga
mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk
pemimpin kalian adalah orang-orang yang
kalian benci dan merekapun benci kepada
kalian, mereka kutuk kalian dan kalian
mengutuk mereka (H. R. Muslim)
C. Budaya Bangsa
Setiap bangsa pada umumnya
memiliki tradisi dan budaya sendri-sendiri.
Perbedaan antara bangsa inilah yang
memungkinkan sekali perbedaan citacitanya. Sehingga terjadi pula perbedaan
dalam merumuskan tujuan yang
dikehendakinya dalam bidang pendidikan.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
82
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Manusia sebagai insan yang memiliki akal
pikiran mengembangkan budaya yang
berdampak luas terhadap kehidupan dan
lingkungan di permukaan bumi. Sedangkan
budaya itu sendiri menurut Samoar dalam
Dedi Mulyana adalah sebagai tatanan
pengetahuan, kepercayaan, nilai, sikap,
makan, hirarki, agama, waktu, peranan,
hubungan ruang, konsep alam semesta,
objek-objek yang dimiliki yang diperoleh
sekelompok besar orang dari generasi
kegenerasi melalui usaha individu dan
kelompok.Kebudayaan dalam masyarakat
adalah ibarat dua sisi mata uang, satu
sama lain tdak dapat dipisahkan(Mulyana,
2000: 18).
Sistem budaya merupakan
serangkaian hubungan komponenkomponen budaya sebagai ungkapan
prilaku, perbutan dan tindakan manusia
sebagai makluk budaya. Namun demikian
dalam mekanisme budaya tersebut
tidak terpisah dari hubungan antar
manusiasebagai makhluk sosial yang
menghubungkan antar individu, antar
individu kelompok dan antar kelompok
dengan manusia lainnya (Syarifuddin,
2010: 58).
Dalam sistem budaya melekat pada
diri manusia sebagai komponennya, yaitu
filsafat, humaniora, dan ilmu pengetahuan
sebagai hasil renungan mendalam dari
manusia sendiri, menjadi landasan kearifan
dan kebijakan (Syarifuddin, 2010: 59).
Berhubungan dengan kebudayaan
maka kita membedakan seorang yang
beradap. Orang yang beradap adalah
orang yang dapat mengembangkan
tekniknya, sehingga dapat membangun
gedung-gedung bertingkat, menciptakan
mesin raksasa, robot, kompoter dan
sebagainya. Akan tetapi orang yang
pandai membuat segalanya itu berarti
orang/ masyarakat tersebut mempunyai
sikap yang bijaksana atau perasaan
kemanusiaan yang didasarkan pada
pandanga hidup, filsafat hidup yang
83
diperoleh karena dari kecil sudah terdidik
untuk memandang sesama manusia
sebagai kawan bukan sebagai lawan
seperti halnya hukum rimba.
Kebudayaan yang khusus yang terdapat
pada satu golongan dalam masyarakat
yang berbeda dengan budaya golongan
masyarakat lain maupun kebudayaan
seluruh masyarakat bagian yang tidak
pokok dinamai kebudayaan khusus (sub
culture) umpamanya kebudayaan Aceh,
Batak, Minang Kabau, Sunda, Jawa dan
sebagainya. Kebudayaan dari tiap-tiap
bangsa dapat dibagi kedalam suatu jumlah
unsur yang tak terbatas jumlahnya (Noor,
1999: 55).
D. Unsur-unsur Pendidikan Islam
1. Peserta didik
Dalam dunia pendidikan, fungsi
intelektual atau kemampuan akal peserta
didik dikenal dengan kognitif. Peserta
didik merupakan “raw material” (bahan
mentah) dalam proses transformasi dalam
pendidikan. Membicarakan peserta didik,
ada hal-hal penting yang harus diperhatikan
oleh pendidik yaitu: 1) potensi peserta didik.
2) kebutuhan peserta didik. 3) dan sifat-sifat
peserta didik (Nizar, 2009: 169).
2. Pendidik
Kata pendidik berasal dari kata
didik, artinya memelihara dan merawat
dan memberi latihan agar seseorang
mempunyai imu pengetahuan seperti
yang diharapkan. Selanjutnya dengan
menambahkan awalan pe sehingga
menjadi pendidik. Pendidik menurut Ahmad
Tafsir adalah orang yang bertanggung
jawab terhadap berlansungnya proses
pertumbuhan dan perkembangan potensi
anak didik baik potensi kognitif maupun
psikomotoriknya (Tafsir, 1992: 74).
3. Tujuan pendidikan
Tujuan merupakan hal yang
sentral dalam pendidikan, sebab tanpa
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
merumuskan yang jelas tujuan pendidikan
perbuatan menjadi acak-acakan, bahkan
bisa sesat atau salah langkah. Oleh
karena itu perumusan tujuan pendidikan
dengan tegas dan jelas menjadi inti dari
seluruh pedagogis. Sementara itu para ahli
pendidikan Islam merumuskan pula tujuan
umumpendidikan Islam, seperti al-Abrashi,
dalam Ramayulis tentang pendidikan Islam
telah menyimpulkan lima tujuan umum bagi
pendidikan Islam yaitu:
a. Untuk pembentukan akhlak yang
mulia. Kaum muslimin dari dahulu
kala sampai sekarang setuju
bahwa pendidikan akhlak adalah
inti pendidikan Islam, dan bahwa
mencapai akhlak yang sempurna
adalah tujuan pendidikan yang
sebenarnya.
b. Persiapan untuk kehidupan dunia
dan kehidupan akhirat. Pendidikan
Islam tidak hanya menitik beratkan
pada keagamaan saja atau pada
keduniaan saja tetapi pada keduaduanya.
c. Persiapan untuk mencari rezeki
dan memelihara segi manfaat
atau yang lebih dikenal sekarang
ini dengan nama tujuan-tujuan
fokasional dan profesional.
d. Menumbuhkan semangat ilmiah
pada pelajar dan memuaskan
keingin tahuan dan memungkinkan
ia mengkaji ilmu demi ilmu itu
sendiri.
e. M e n y i y a p k a n p e l a j a r d a r i
segi profesional, teknikal dan
pertukangan supaya dapat
menguasai profesi tertentu dan
ketrampilan pekerjaan tertentu
agar ia dapat mencari rezeki dalam
hidup, di samping memelihara
segi kerohanian dan keagamaan
(Nizar, 2010: 124).
4. Kurikulum Pendidikan Islam
Untuk mencapai tujuan pendidikan
Islam yang diharapkan, maka sudah tentu
kurikulum yang diformulasikannya pun
harus mengacu pada pemikiran yang
islami pula, setara dari pandangan hidup
dan pandangan manusia (pandangan
antropologis) serta diarahkan pada tujuan
pendidikan yang dilandasi pada kaidahkaidah yang islami. Menurut al-Asyaibani,
prinsip-prinsip yang harus menjadi acuan
kurikulum pendidikan Islama adaah
sebagai berikut:
a. Berorientasi pada Islam, termasuk
ajaran dan nilai-nilanya. Maka setiap
yang berkaitan dengan kurikulum,
termasuk falsafah, tujuan-tujuan,
kandungan-kandungan, metode
pengajaran, cara-cara perlakuan
dan hubungan-hubungan yang
berlaku dalam lembaga-lembaga
pendidikan harus berlandaskan
agama dan akhlak Islam.
b. Prinsip menyeluruh (universal)
pada tujuan dan kandungankandungan kurikulum.
c. Prinsip keseimbangan yang
relatif antara tujuan-tujuan dan
kandungan-kandungan kurikulum.
d. Prinsip-prinsip antar kebutuhan
siswa dan kebutuhan-kebutuhan
masyarakat.
e. Prinsip pemeliharaan perbedaanperbedaan individu antar peserta
didik, baik perbedaan dari segi
bakat, minat, kemampuan,
kebutuhan dan sebagainya.
f. P r i n s i p p e r k e m b a n g a n d a n
perubahan sesuai dengan
tujuan yang ada dengan tidak
mengabaikan nilai-nilai absolut
(Syaibani, 1979: 74).
Sedangkan dasar-dasar kurikulum
pendidikan Islam tidak terlepas dari empat
dasar atau landasan, yaitu:
a. Dasar agama
b. Dasar falsafah
c. Dasar psikologis
d. Dasar sosial (Syaibani, 1979: 75).
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
84
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
5.
Metode Pendidikan Islam
Mengingat metode sasarannya
adalah manusia, maka pendidik dituntut
harus barhati-hati dalam penerapannya. Dalam hal ini Hasan
Langulung mendefinisikan metode adalah
cara atau jalan yang harus dilalui untuk
mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan
Muhammad Athiyah, metode adalah
jalan yang digunakan oleh pendidik untuk
memberikan pengertian kepada peserta
didik tentang segala macam materi dari
berbagi macam proses pendidikan.
Berdasarkan beberapa definisi
di atas dapat disimpulkan bahwa metode
adalah seperangkat cara, jalan dan teknik
yang harus dimiliki dan digunakanoleh
pendidikdalamupaya menyampaikan dan
memberikan pendidikan dan pengajaran
kepada peserta didik agar dapat mencapai
tujuan pendidikan yang termuat dalam
kurikulum yang telah ditetapkan. Lebih
lanjut Hasan Langulung berpendapat
dalam Rama Yulis berpendapat bahwa
penggunaan metode dilandaskan atas tiga
aspek pokok yaitu;
a. Sifat-sifat yang berkenaan dengan
tujuan utama pendidikan Islam,
yaitu pembinaan manusia mu’min
yang mengaku sebagai hamaba
Allah.
b. Berkenaan dengan metodemetode yang betul-betul berlaku
yang disebut dalam al-Qur’an atau
disimpulakan dari padanya.
c. Membicarakan tentang pergerakan
(motivation) dan disiplin dalam
istilah al-Qur’an disebut ganjaran
(shawab) dan hukuman (‘ikab)
(Nizar. 2010: 215).
6. Alat/ Media pendidikan
Media pendidikan yang nonmateri
memiliki sifat yang abstrak dan hanya
dapat diwujudkan melalui perbuatan dan
tingkahlaku seorang pendidik terhadap
85
peserta didik.
7. Lingkungan pendidikan
Dalam kaitannya dengan aspek
kelembagaan, pendidikan Islam tidak dapat
melepaskan diri dari faktor lingkungan
pendidikan. Lingkungan pendidikan
adalah segala sesuatu yang ada dan
terjadi di sekeliling proses pendidikan
itu berlansung yang terdiri dari manusia,
binatang, tumbu-tumbuhan dan benda
mati, keempat kelompok benda-benda
lingkungan pendidikan itu ikut berperan
dalam rangka usaha setiap siswa/
mahasiswa mengembangkan dirinya.
Tetapi manajemen pendidikan menaruh
perhatiannya terutama kepada lingkungan
yang berwujud manusia yaitu masyarakat
(Pidarta, 2004: 177).
Lembaga pendidikan
sesungguhnya melaksanakan fungsi
rangkap terhadap masyarakat yaitu
memberikan layanan dan sebagai agen
pembaharuan. Dikatakan fungsi layanan
karena ia melayani kebutuhan-kebutuhan
masyarakat berupa memberikan pendidikan
kepada putra putri mereka. Sedangkan
agen pembaharuan karena ia harus selalu
mengikut sertakan masyarakat dalam
setiap mengambil keputusan agar hasilnya
efektif dan efesien (Nizar, 2010: 84).
Dengan demikian, tampaklah
bahwa lembaga pendidikan itu bukanlah
badan yang berdiri sendiri dalam
membinapertumbuhan dan perkembangan
putra-putri bangsa, melainkan ia merupakan
suatu bagian yang tidak terpisahkan dari
kalangan masyakat luas.
E.
Manajemen Lembaga Pendidikan
Islam
1. Eksistensi lembaga pendidikan
Islam
Pendidikan Islam di Indonesia
merupakan warisan peradaban Islam,
sekaligus aset bagi pembangunan
pendidikan nasional. Sebagai warisan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
ia merupakan amanat sejarah untuk
dipelihara dan dikembangkan oleh umat
Islam dari masa ke masa. Sedangkan
sebagai aset, pendidikan yang tersebar di
berbagai daerah ini membuka kesempatan
bagi bangsa Indonesia untuk menata
dan mengololanya sesuai dengan sistem
pendidikan nasional (Rahim, 2001: 3).
Pimpinan sebagai menejer dan
sekaligus pengambil keputusan strategis,
diperlukan yang mempunyai kemampuan
lebih dibandingkan dengan bawahannya.
Lembaga pendidikan Islam merupakan
organisasi penyelenggara pendidikan,
saat ini dihadapkan kepada perubahan
permintaan masyarakat terhadap
mutu yang membekali anak didiknya.
Tuntutan terhadap kecakapan hidup
untuk kehidupan, semakin terasa dengan
didasari para lulusan pendidikan formal
belum memberikan pemecahan masalah
dalam aspek moral masyarakat, nilai
ekonomi dalam memasuki dunia kerja dan
kemandekan dalam penciptaan lapangan
kerja.Kepemimpinan yang diharapkan saat
ini adalah kepemimpinan yang mempunyai
visi strategis dan taktis, serta produktif
dalam memerankan fungsi manajemen.
1. Orientasi pengololaan pendidikan
Islam
Lembaga pendidika Islam harus
mempunyai orientasi yang jelas, ibarat
kenderaan, orientasi itu seperti trayek yaitu
jalur yang harus dilalui untuk mencapai
tujuan. Untuk mewujudkan kualitas
pendidikan yang teruji dengan baik, ada
beberapa prinsip orientasi strategis dalam
mengembangkan pendidikan Islam yaitu:
a. Orientasi pengembangan sumber
daya
b. Mengarah kepada pendidikan
Islam multi kulturalis
c. Mempertegas misi dasar ‘Li
utammima makarimal akhlak’
menyempurnakan akhlak manusia
d. Mengutamaka spiritualisasi watak
kebangsaan (Fajar, 3004: xxi-xxii).
Empat prinsip tersebut di atas
mewakili empat dimensi yang terjalin
secara integral yang menjadi orientasi
pendidikan Islam, yaitu demensi potensial,
dimensi kultural, demensi etik dan dimensi
spiritual. Dimensi potensial mengarahkan
alur pendidikan pada pengembangan
sumber daya manusia menuju terbentuknya
masyarakat madani. Demensi kultural
mengarahkan gerak pendidikan
supaya ramah terhadap budaya lokal
sehingga bersikap inklusif; demensi etik
mengarahkan alur pendidikan agar benarbenar mengembankan misi menanamkan
moral pada seluruh bangsa dan sedangkan
dimensi spiritual mengarahkan pendidikan
agar mempunyai jiwa keimanan sebagai
dasar dalam mengarungi kehidupan seharihari yang penuh godaan.
2. Strategi pengololaan Lembaga
Pendidikan Islam
Berdasarkan orientasi pendidikan
Islam tersebut yang tampaknya berdimensi
ganda, lembaga pendidikan Islam dalam
semua bentuknya (pesantren, madrasah,
sekolah serta perguruan tinggi) harus
dikelola dengan strategi tertentu yang
mampu menyehatkan lembaga-lembaga
Islam tersebut, bahkan dapat mengantar
kepada kemajuan yang signifikan.
Namun strategi yang dipilih harus
mempertimbangkan berbagai kondisi
yang dirasakan lembega pendidikan
Islam itu, sehingga menjadi strategi yang
fungsional. Suatu strategi yang mampu
menyelesaikan masalah-masalah yang
sedang dihadapi sehingga ia dapat
berfungsi selayaknya resep yang mujarab
dalam mengatasi dalam berbagai masalah.
Strategi semacam itu harus berbentuk
langkah-langkah operasional yang dapat
dipraktikkan dengan suatu mekanisme
tertentu yang memberikan jalan keluar.
Beberapa strategi dalam mengolola dan
mengembangkan pendidikan Islam baik
berupa pesantren, madrasah, sekolah,
serta perguruan tinggi yaitu sebagai
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
86
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
berikut:
a. M e r u m u s k a n v i s i , m i s i d a n
tujuan lembaga secara jelas
serta berusaha keras dalam
mewudkannya melalui kegiatankeiatan riil sehari-hari.
b. Membangun kepemimpinan yang
benar-benar profesional (terlepas
dari intervensi idiologi, politik,
organisasi, dan mazhab dalam
menempuh kebijakan lembaga)
c. Menyiapkan pendidik benarbenar berjiwa pendidik sehingga
mengutamakan tugas-tugas
pendidikan dan bertanggungjawab
terhadap suksesnya peserta
didiknya.
d. M e n y e m p u r n a k a n s t r a t e g i
rekrutmen siswa/ santri/
mahasiswa secara proaktif dengan
“menjemput” bahhkan megejar
bola.
e. Berusaha keras untuk memberi
kesadaran para siswa/ santri/
mahasiswa bahwa belajar
merupakan kewajiban dan
kebutuhan paling mendasar yang
menentukan masa depan mereka.
f. Merumuskan kurikulum yang
sesuai dengan kebutuhan peserta
didik dan masyarakat.
g. Menggali strategi pembelajaran
yang dapat mengakselerasi
kemampuan siswa yang masih
rendah menjadi lulusan yang
kompetitif
h. M e n g g a l i s u m b e r - s u m b e r
keuangan nonkonvensional dan
mengembangkannya secara
produktif.
i. Membangun sarana dan prasarana
yang memadai untuk kepentingan
proses pembelajaran, terutama
ruang kelas, perpustakaan dan
labolatorium.
j. M e n g o r i e n t a s i k a n s t r a t e g i
pembelajaran pada tradisi
87
pengembangan ilmu, kreativitas,
dan ketrampilan
k. Memperkuat metodologi baik
dalam hal pembelajaran, pemikiran
maupun dalam hal penelitian.
l. Mengkondisikan lingkungan
pembelajaran yang aman, nyaman,
dan menstimulasi pembelajaran.
m.Mengkondisikan lingkungan
yang islami baik dalam ibadah,
bekerja, pergaulan sosial maupun
kebersiahan.
n. Berusaha senantiasa meningkatkan
kesejahteraan pegawai di atas
rata-rata kesejahteraan pegawai
lembaga pendidikan lain.
o. Mewujudkan etos kerja yang
tinggi dikalangan pegawai melalui
kontrak moral dan kontrak kerja.
p. Berusaha memberikan pelayanan
yang prima kepada siapapun,
baik jajaran pimpinan, guru/
ustaz/ dosen, karyawan/ santri/
mahasiswa, maupun tamu serta
masyarakat luas.
q. Meningkatkan promosi untuk
membangun citra (image building)
r. Mempublikasikan kualitas proses
dan hasil pembelajaran kepada
publik secara terbuka.
Sebaliknya, ada juga yang harus
dihindari dan sedapat mungkin berusaha
dikeluarkan dari lembaga pendidikan Islam,
yaitu sebagai berikut:
a. Politik kepentingan. Apapun
kepentingannya, baik kepentingan
pribadi, kelompok ataupun
organisasi dtidak diperkenankan
masuk kedalam lembaga
pendidikan Islam. Politik yang
boleh masuk dalam lembaga
pendidikan Islam hanya satu, yaitu
politik pemberdayaan bahkan jenis
politik ini harus diwujudkan.
b. Kecendrungan bisnis pribadi.
Usaha memperoleh laba dari
hasil suatu barang dan jasa serta
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
kegiatan lainnya hanya untuk
kepentingan lembaga.
c. Pemborosan, baik pemborosan
waktu, biaya, tenaga dan strategi.
Sebab, segala sesuatu harus
dilaksanakan secara efektif dan
efisien (Qomar, 2007: 57).
E.Kesimpulan
Efektifitas dari seorang pemimpin
dalam kaitan dengan konsekwensi dari
tindakannya bagi para pengikut dan para
stak holderorganisasi lainnya dapaat
di ukur berdasarkan indikator tertentu,
seperti kebijakannya, kinerja, kesiapan
menghadapi tantangan, jika pemimpin
lembaga pendidikan maka tantangan
terhadap kemajuan pendidikan harus
menjadi proritas utama.
Dalam kehidupan berbangsaa dan
bernegara tidak terlepas dari suatu budaya
bangsa iru sendiri dimana ia menetap,
untuk menentukan atau merumuskan
tujuan pendidikan Islam maka maka
perumus tersebut harus memperhatikan
budaya peserta didik supaya mudah
berinteraksi dalam proses pembelajaran.
Unsur-unsur pendidikan yang harus
diperhatikan oleh seorang pemimpin untuk
mewujudkan kualitas pendidikan adaala:
perekrutan peserta didik, pemberdayaan
pendidik, penerapan metode atau strategi
untuk mencapai tujuan pendidikan yang
telah dirumuskan dalam kurikulum
pembelajaran, menciptakan lingkungan
lembaga pendidikan yang nyama dan
aman. Untuk mencapai hal tersebut di atas
tidak terlepas dari penerapan manajemen
kepemimpinan.
Daftar Pustaka
Al-Syaibani, dan Omar Muhammad alTaoumi, Falsafah Pendidikan
Islam. Jakarta: Bulan Bintang,
1979
Danim, Sudarwan, Menjadi Komonitas
Pembelajaran Kepemimpinan
Transformasi dalam Komonitas
Organisasi Pembelajran.Jakarta:
Bumi Aksara, 2003
Fajar, A. Malik, “Pendahuluan: Strategi
Pengembangan Pendidikan Islam
dalam Era Globalisasi”, dalam
M. Zainuddin dan Muhammad.
Yogyakarta: Adi Tia Yogyakarta
Bekerja sama dengan UIN Press,
2004
Mulyana, Dedi, Komunikasi Antar Budaya.
Bandung:Remaja Rosda Karya,
2000
Muhammad Syarifuddin, dan Samsul Nizar,
Isu-isu Kontemporer Tentang
Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam
Mulia, 2010
Noor, H. M. Arifin, Ilmu Sosial Dasar.
Bandung: Pustaka Setia, 1999
Pidarta, Made, Manajemen Pendidikan
Indonesia.Jakarta: Reneka Cipta,
2004
Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan
Islam.t.t.p, Erlangga, 2007
Rahim, Husni, Arah Baru Pendidikan di
Indonesia.Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 2001
Samsul Nizar, dan Rama Yulis, Filsafat
Pendidikan Islam.Jakarta: Kalama
Mulia, 2009
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
88
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Perspektif Islam.Bandung: Remaja
Rosda Karya, 1992
Winardi, Kepemimpinan dalam Manajemen.
Jakarta: Reneka Cipta, 2000
89
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
90
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
PENERAPAN TEORI BELAJAR DIENES DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Lisa, S.Si., M.Pd
[email protected]
Abstract
The success of students in learning mathematics in school can be affected by
various factors both internal and external factors. One of the internal factors which
also determine the success of students in the learning process of mathematics
learning model is the approach used by the teacher. Learning theory is the
foundation for teachers to design learning activities. One theory, which is based on
the theory pieget, and development oriented towards children, so the system he
developed that appeal to children who learn mathematics is the theory of Dienes.
The principle of the theory of Dienes namely (1) The Dynamic Principle, (2) The
Perceptual Variability Principle, (3) The Mathematical Variability Principle, and
(4) The Principle Constructivity. The stages of teaching mathematical concepts
according to Dienes, namely: (1) Free Games (Free Play), (2) Games Using Rules
(Games), (3) Gaming equal nature (Searching for the communalities), (4) Game
Representation (representation), (5) Games with a symbol (symboloization), (6)
a formalization(formalization).
Keywords: Theory Dienes, principle, Learning Mathematics
A. Latar Belakang
Pada hakikatnya pembelajaran
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
menciptakan suasana atau memberikan
pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam
menciptakan suasana atau pelayanan, hal
yang esensial bagi guru adalah memahami
bagaimana murid-muridnya memperoleh
pengetahuan, maka ia akan menentukan
strategi pembelajaran yang tepat bagi
murid-muridnya.
Dalam pengembangan psikologi
dalam pendidikan, kita akan menemukan
banyak teori belajar yang bersumber
dari aliran-aliran psikologi sehingga
dapat dikatakan semakin berkembang
pengetahuan tentang belajar. Setiap
pendidik perlu mengetahui berbagai
macam teori belajar dan diharapkan
mampu mengaplikasikannya dalam proses
pembelajaran siswa di sekolah termasuk
dalam proses pembelajaran matematika.
Pertimbangan psikologis berangkat dari
asumsi bahwa matematika harus diajarkan
91
kepada para siswa sesuai dengan metode
dan strategi tertentu, sehingga belajar
matematika menjadi suatu aktivitas
yang menyenangkan dan menarik bagi
siswa. Strategi untuk menciptakan proses
pembelajaran matematika yang menarik
dan menyenangkan bagi siswa bisa
dilaksanakan dengan optimal jika guru
banyak memahami aspek-aspek psikologis
siswa dalam belajar matematika.
Penguasaan teori psikologi yang
baik oleh guru sangat membantu untuk bisa
memahami aspek-aspek psikologis siswa
dalam belajar. Pada dasarnya teori belajar
manapun yang diterapkan oleh pendidik
mempunyai tujuan membantu siswa untuk
berhasil dalam belajarnya.
Keberhasilan siswa dalam
pembelajaran matematika di sekolah
dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor
internal maupun faktor eksternal. Salah
satu faktor internal yang juga sangat
menentukan keberhasilan belajar siswa
dalam proses pembelajaran matematika
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
adalah pendekatan model pembelajaran
yang digunakan oleh guru. Teori belajar
merupakan dasar pijakan bagi guru
untuk mendesain kegiatan pembelajaran.
Dari kegiatan pembelajaran ini nampak
pendekatan teori belajar apa yang
diterapkan.
Dengan tidak mengatakan bahwa
teori belajar Dienes lebih unggul dari teoriteori belajar yang lain, disini penulis hanya
ingin memaparkan sekilas tentang teori
belajar Dienes dan penerapan pendekatan
teori Dienes tersebut dalam pembelajaran
matematika.
B.Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas,
maka dapat diutarakan masalahnya antara
lain:
1. Bagaimanakah prinsip dari teori
belajar Dienes?
2. Bagaimanakah aplikasi prinsip dan
penerapan teori belajar Dienes
dalam proses pembelajaran
matematika?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan permasalahan
diatas maka tujuan penulisan ini adalah
agar pembaca mengetahui prinsip dari
teori belajar Dienes, aplikasi prinsip
teori belajar Dienes dalam proses
pembelajaran matematika, dan mengetahui
penerapan teori belajar teori Dienes dalam
pembelajaran matematika.
D.Pembahasan
Teori belajar Dienes sangat terkait
dengan teori belajar yang dikemukakan oleh
Piaget, yaitu mengenai teori perkembangan
intelektual. Jean Piaget berpendapat
bahwa proses berpikir manusia sebagai
suatu perkembangan yang bertahap dari
berpikir intelektual konkret ke abstrak
berurutan melalui empat periode. Urutan
periode itu tetap bagi setiap orang, namun
usia atau kronologis pada setiap orang
yang memasuki setiap periode berpikir
yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung
kepada masing-masing individu.
Periode berpikir yang dikemukakan
Piaget adalah sebagai berikut: (1) Periode
sensori motor (0 – 2) tahun. (2) Periode
pra-operasional (2 – 7) tahun. (3) Periode
operasi konkret (7 – 12) tahun.
Zoltan P. Dienes adalah seorang
matematikawan yang memusatkan
perhatiannya pada cara-cara pengajaran
terhadap anak-anak. Dasar teorinya
bertumpu pada teori pieget, dan
pengembangannya diorientasikan pada
anak-anak, sedemikian rupa sehingga
sistem yang dikembangkannya itu menarik
bagi anak yang mempelajari matematika.
Dienes (dalam Ruseffendi, 1992:
7-8) berpendapat bahwa pada dasarnya
matematika dapat dianggap sebagai
studi tentang struktur, memisah-misahkan
hubungan-hubungan diantara strukturstruktur dan mengkatagorikan hubunganhubungan di antara struktur-struktur.
Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap
konsep atau prinsip dalam matematika
yang disajikan dalam bentuk yang konkret
akan dapat dipahami dengan baik. Ini
mengandung arti bahwa benda-benda atau
obyek-obyek dalam bentuk permainan akan
sangat berperan bila dimanipulasi dengan
baik dalam pembelajaran matematika.
Makin banyak bentuk-bentuk
yang berlainan yang diberikan dalam
konsep-konsep tertentu, akan makin
jelas konsep yang dipahami anak, karena
anak-anak akan memperoleh hal-hal
yang bersifat logis dan matematis dalam
konsep yang dipelajarinya itu. Dalam
mencari kesamaan sifat anak-anak mulai
diarahkan dalam kegiatan menemukan
sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang
sedang diikuti. Untuk melatih anak-anak
dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini,
guru perlu mengarahkan mereka dengan
mentranslasikan kesamaan struktur dari
bentuk permainan yang satu ke bentuk
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
92
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
permainan lainnya. Translasi ini tentu tidak
boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang
ada dalam permainan semula.
Menurut Dienes, ada tiga jenis konsep
matematika yaitu konsep murni matematika,
konsep notasi, dan konsep terapan.
1. Konsep matematis murni berhubungan
dengan klasifikasi bilangan-bilangan
dan hubungan-hubungan antar
bilangan, dan sepenuhnya bebas dari
cara bagaimana bilangan-bilangan
itu disajikan. Sebagai contoh, enam,
8, XII, 1110 (basis dua), dan Ä Ä Ä Ä,
semuanya merupakan contoh konsep
bilangan genap; walaupun masingmasing menunjukkan cara yang
berbeda dalam menyajikan suatu
bilangan genap.
2. Konsep notasi adalah sifat-sifat
bilangan yang merupakan akibat
langsung dari cara penyajian bilangan.
Fakta bahwa dalam basis sepuluh, 275
berarti 2 ratusan ditambah 7 puluhan
ditambah 5 satuan merupakan
akibat dari notasi nilai tempat dalam
menyajikan bilangan-bilangan yang
didasarkan pada sistem pangkat dari
sepuluh. Pemilihan sistem notasi
yang sesuai untuk berbagai cabang
matematika adalah faktor penting
dalam pengembangan dan perluasan
matematika selanjutnya.
3.
Konsep terapan adalah penerapan
dari konsep matematika murni dan
notasi untuk penyelesaian masalah
dalam matematika dan dalam bidangbidang yang berhubungan. Panjang,
luas dan volume adalah konsep
matematika terapan. Konsep-konsep
terapan hendaknya diberikan kepada
siswa setelah mereka mempelajari
konsep matematika murni dan notasi
sebagai prasyarat. Konsep-konsep
murni hendaknya dipelajari oleh
siswa sebelum mempelajari konsep
notasi, jika dibalik para siswa hanya
akan menghafal pola-pola bagaimana
93
memanipulasi simbol-simbol tanpa
pemahaman konsep matematika
murni yang mendasarinya. Siswa
yang membuat kesalahan manipulasi
simbol seperti 3x + 2 = 4 maka x + 2
= 4 – 3, = x, a2 x a3 = a6, dan = x +
berusaha menerapkan konsep murni
dan konsep notasi yang tidak cukup
mereka kuasai.
Dienes memandang belajar
konsep sebagai seni kreatif yang tidak
dapat dijelaskan oleh teori stimulusrespon mana pun seperti tahap-tahap
belajar Gagne. Dienes percaya bahwa
semua abstraksi didasarkan pada intuisi
dan pengalaman konkret; akibatnya
sistem pembelajaran matematika Dienes
menekankan laboratorium matematika,
objek-objek yang dapat dimanipulasi, dan
permainan matematika.
Pembelajaran matematika yang
dilakukan agar sesuai dengan teori Dienes,
maka perlu dikenal adanya komponen
dasar atau prinsip-prinsip yang diberikan
oleh Dienes. Prinsip tersebut, diantaranya
adalah (Karnasih, 2008; Sriraman & Lyn,
2005):
1.The Dynamic Principle
Prinsip ini menyatakan bahwa
pemahaman yang benar akan konsep baru
merupakan suatu proses yang dilewati
pembelajar melalui 3 tahap:
a) Preliminary atau tahap bermain
Siswa diperkenalkan dengan
konsep yang secara relatif tidak berstruktur
tetapi tidak didefinisikan sebagai cara yang
tidak teratur. Sebagai contoh, ketika siswa
mengenal tipe baru benda manipulatif
mereka mengkarakteristikkan ’play’ sebagai
penemuan baru mainan atau toy. Dienes
menjelaskan bahwa aktivitas informal
tersebut berlangsung secara alami dan
merupakan bagian penting dalam proses
belajar dan seharusnya diberikan oleh guru
di kelas (Karnasih, 2008).
1) Aktivitas yang lebih berstruktur.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Pada tahap ini siswa diberikan
benda yang mirip (isomorfik)
dengan konsep yang dipelajari.
2) Tahap dengan memunculkan
konsep matematika secara tepat
untuk penggunaan kembali pada
real world.
Konsep utama Dienes adalah
teori ‘game’. ‘playing with knowledge’
atau ‘playing the target mathematical
knowledge’ merupakan istilah game yang
dimaksud di dalam teori Dienes.
Dalam mengajarkan kepada siswa
ide matematika, Dienes memberikan
bentuk manipulatif sebagai representasi
fisik dari ide. Siswa pada tingkat awal
dimulai dengan representasi fisik dan
secara langsung difokuskan pada sesuatu
yang merupakan perbedaan dari game
yang dimainkan (tahap games and
abstraction). Selanjutnya siswa dibantu
untuk membentuk skema dari semua
game tersebut dan memformulasikannya
dalam bentuk kata atau gambar diagram
secara spontan (tahap schematization
and formulation). Tahapan dilanjutkan
dengan representasi simbol dari skema
beberapa ide matematika yang diterima,
dan formalisasi dari sifat ide dalam bentuk
teori yang sudah jelas kebenarannya
(tahap symbolization, formalization and
axiomatization) (Sierpinska, 1999).
Menurut Dienes (Post & Reys,
1979) gabungan dari proses disebut
sebagai lingkaran pembelajaran ’learning
cycle’. Lingkaran tersebut nantinya akan
dibagi dalam enam tahap belajar secara
berurutan sebagai komponen penting yang
efektif dalam pembelajaran matematika.
2. The Perceptual Variability Principle
Prinsip ini menyatakan bahwa
pembelajaran konsep akan maksimal
ketika siswa diperkenalkan dengan
konsep melalui variasi konteks fisik atau
embodiments. Ketentuan dari pengalaman,
penggunaan variasi dari bahan, dirancang
untuk mengenalkan konsep matematika.
Ketika siswa diberikan kesempatan untuk
melihat konsep dengan cara yang berbeda
dan dengan kondisi yang berbeda pula,
maka siswa akan merasa tertarik dengan
konsep dari embodiments konkrit.
Siswa memberikan dugaan pada
suatu strtuktur terhadap struktur yang
lain. Sebagai contoh, mengubah prosedur
pengelompokkan pada proses penjumlahan
2 bilangan dengan tipe independen
menggunakan benda konkrit. Kita dapat
menggunakan kepingan, sempoa atau
balok hitung untuk menggambarkan
proses ini (Karnasih, 2008; Post & Reys,
1979). Terdapat banyak cara untuk
menampilkan konsep matematika dalam
bentuk benda konkrit yang lebih menarik
siswa untuk mempelajarinya.
3. The Mathematical Variability
Principle
Prinsip ini menyatakan generalisasi
dari konsep matematika dapat ditingkatkan
ketika konsep ditampilkan pada kondisi di
mana variabel tidak sesuai namun secara
sistematis perubahan dijaga agar konsep
variabel tetap relevan. Sebagai contoh,
untuk mengenalkan jajarangenjang
maka dengan prinsip ini dapat diubah
sebanyak mungkin dengan kedudukan
yang berbeda. Pada contoh ini ukuran
sudut, panjang sisi, posisi dari kertas dapat
diubah. Dienes mengungkapkan terdapat
dua prinsip variability yang digunakan
untuk memperkenalkan yaitu proses
saling melengkapi dari abstraksi dan
generalisasi, keduanya merupakan aspek
penting dalam perkembangan konsep
(Karnasih, 2008; Post & Reys, 1979).
4. The Constructivity Principle
Dienes mengidentifikasi dua
jenis pemikir, yaitu pemikir konstruktif
dan pemikir analitik. Pemikir konstruktif
disamakan dengan tahap operasional
konkrit Piaget dan pemikir analitik dengan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
94
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
tahap operasional formal Piaget sebagai
tahap dari perkembangan kognitif. Prinsip
ini menyatakan bahwa “construction
should always precede analysis”. Artinya
pembentukan pemahaman berasal dari
analisis awal. Analisis awal diperoleh dari
pengalaman sebelumnya.
Hal ini dianalogikan secara tegas
bahwa siswa seharusnya diberi kebebasan
untuk mengembangkan konsep berasal
dari pengalaman yang dimiliki. Menurut
Dienes, pengalaman tersebut dipilih oleh
guru sebagai langkah pertama dalam
seluruh pembelajaran matematika. Analisis
sebelumnya dapat berasal dari bentuk
konkrit (Karnasih, 2008; Post & Reys,
1979). Benda konkrit diberikan sebagai
media untuk membentuk pengalaman atau
membangkitkan pengalaman sebelumnya
yang dimiliki oleh siswa.
Pemahaman siswa tentang
suatu konsep biasanya diawali dari
pengenalannya terhadap beraneka ragam
materi konkrit sebagai model (representasi)
dari konsep. Alasan tersebut menurut
Ruseffendi (2006: 158) dikarenakan:
a) D e n g a n m e l i h a t b e r b a g a i
contoh siswa akan memperoleh
penghayatan yang lebih besar.
Misalnya anak-anak lebih dapat
memahami arti burung bila disajikan
berbagai macam burung; begitu
pula ia akan lebih baik memahami
konsep segitiga bila representasi
segitiga itu ditunjukkan dengan
gambar, bidang segitiga, bidang
empat, dan yang serupa; beraneka
ragam (segitiga lancip, tumpul,
siku-siku, samakaki, samasisi),
tidak hanya satu macam saja.
b) Dengan banyaknya contoh itu
ia akan lebih banyak dapat
menerapkan konsep itu ke dalam
situasi yang lain. Misalnya, anak
yang dalam belajar perkalian
berpengalaman tidak hanya
dengan himpunan tetapi juga
95
dengan jajaran, ia akan lebih cepat
mampu menghitung banyaknya
kursi di dalam suatu ruangan yang
diatur menurut jajaran.
Sistem pembelajaran matematika
dari Dienes menitikberatkan kepada
memanipulasi benda konkrit dan
permainan. Apabila banyak bentukbentuk yang berlainan yang diberikan
dalam konsep-konsep tertentu, akan
makin jelas konsep yang dipahami siswa.
Dalam mencari kesamaan sifat terhadap
permainan atau benda-benda konkrit yang
diberikan siswa diarahkan oleh guru dalam
kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan.
Kegiatan selanjutnya dapat dilakukan
guru dengan mentranslasi permainan ke
dalam bentuk yang lain dengan tanpa
mengubah sifat-sifat abstrak yang ada
dalam permainan semula. Hal tersebut
dilakukan guru sebagai salah satu cara
agar siswa mempelajari dan kemudian
akan memahami kesamaan sifat dari
bentuk permainan yang lain.
Menurut Dienes (dalam Ruseffendi,
1992: 125-127) konsep-konsep matematika
akan berhasil jika dipelajari dalam tahaptahap tertentu. Dienes membagi tahaptahap belajar menjadi 6 tahap, yaitu:
1. Permainan Bebas (Free Play)
Dalam setiap tahap belajar, tahap
yang paling awal dari pengembangan
konsep bermula dari permainan bebas.
Permainan bebas merupakan tahap belajar
konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur
dan tidak diarahkan. Anak didik diberi
kebebasan untuk mengatur benda. Selama
permainan pengetahuan anak muncul.
Dalam tahap ini anak mulai membentuk
struktur mental dan struktur sikap dalam
mempersiapkan diri untuk memahami
konsep yang sedang dipelajari. Misalnya
dengan diberi permainan block logic, anak
didik mulai mempelajari konsep-konsep
abstrak tentang warna, tebal tipisnya benda
yang merupakan ciri/sifat dari benda yang
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dimanipulasi.
2. Permainan yang Menggunakan
Aturan (Games)
Dalam permainan yang disertai
aturan siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam
konsep tertentu. Keteraturan ini mungkin
terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak
terdapat dalam konsep yang lainnya.
Anak yang telah memahami aturanaturan tadi. Jelaslah, dengan melalui
permainan siswa diajak untuk mulai
mengenal dan memikirkan bagaimana
struktur matematika itu. Makin banyak
bentuk-bentuk berlainan yang diberikan
dalam konsep tertentu, akan semakin jelas
konsep yang dipahami siswa, karena akan
memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan
matematis dalam konsep yang dipelajari
itu.
Menurut Dienes, untuk membuat
konsep abstrak, anak didik memerlukan
suatu kegiatan untuk mengumpulkan
bermacam-macam pengalaman, dan
kegiatan untuk yang tidak relevan dengan
pengalaman itu. Contoh dengan permainan
block logic, anak diberi kegiatan untuk
membentuk kelompok bangun yang tipis,
atau yang berwarna merah, kemudian
membentuk kelompok benda berbentuk
segitiga, atau yang tebal, dan sebagainya.
Dalam membentuk kelompok bangun yang
tipis, atau yang merah, timbul pengalaman
terhadap konsep tipis dan merah, serta
timbul penolakan terhadap bangun yang
tipis (tebal), atau tidak merah (biru, hijau,
kuning).
3. Permainan Kesamaan Sifat
(Searching for communalities)
Dalam mencari kesamaan sifat
siswa mulai diarahkan dalam kegiatan
menemukan sifat-sifat kesamaan dalam
permainan yang sedang diikuti. Untuk
melatih dalam mencari kesamaan sifatsifat ini, guru perlu mengarahkan mereka
dengan menstranslasikan kesamaan
struktur dari bentuk permainan lain.
Translasi ini tentu tidak boleh mengubah
sifat-sifat abstrak yang ada dalam
permainan semula. Contoh kegiatan yang
diberikan dengan permainan block logic,
anak dihadapkan pada kelompok persegi
dan persegi panjang yang tebal, anak
diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang
sama dari benda-benda dalam kelompok
tersebut (anggota kelompok).
4. Permainan Representasi
(Representation)
Representasi adalah tahap
pengambilan sifat dari beberapa situasi
yang sejenis. Para siswa menentukan
representasi dari konsep-konsep tertentu.
Setelah mereka berhasil menyimpulkan
kesamaan sifat yang terdapat dalam
situasi-situasi yang dihadapinya itu.
Representasi yang diperoleh ini bersifat
abstrak, Dengan demikian telah mengarah
pada pengertian struktur matematika
yang sifatnya abstrak yang terdapat
dalam konsep yang sedang dipelajari.
Contoh kegiatan anak untuk menemukan
banyaknya diagonal poligon (misal segi
dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif
seperti berikut ini.
Segitiga segiempat
0 diagonal
2 siagonal
Berapakah diagonal Segienam?
5. Permainan dengan Simbolisasi
(Symbolization)
Simbolisasi termasuk tahap belajar
konsep yang membutuhkan kemampuan
merumuskan representasi dari setiap
konsep-konsep dengan menggunakan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
96
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
simbol matematika atau melalui
perumusan verbal. Sebagai contoh, dari
kegiatan mencari banyaknya diagonal
dengan pendekatan induktif tersebut,
kegiatan berikutnya menentukan rumus
banyaknya diagonal suatu poligon yang
digeneralisasikan dari
6. Permainan dengan Formalisasi
(Formalization)
Formalisasi merupakan tahap
belajar konsep yang terakhir. Dalam
tahap ini siswa-siswa dituntut untuk
mengurutkan sifat-sifat konsep dan
kemudian merumuskan sifat-sifat baru
konsep tersebut, sebagai contoh siswa
yang telah mengenal dasar-dasar dalam
struktur matematika seperti aksioma,
harus mampu merumuskan teorema
dalam arti membuktikan teorema
tersebut. Contohnya, anak didik telah
mengenal dasar-dasar dalam struktur
matematika seperti aksioma, harus mampu
merumuskan suatu teorema berdasarkan
aksioma, dalam arti membuktikan teorema
tersebut.
Pada tahap formalisasi anak
tidak hanya mampu merumuskan
teorema serta membuktikannya secara
deduktif, tetapi mereka sudah mempunyai
pengetahuan tentang sistem yang berlaku
dari pemahaman konsep-konsep yang
terlibat satu sama lainnya. Misalnya
bilangan bulat dengan operasi penjumlahan
peserta sifat-sifat tertutup, komutatif,
asosiatif, adanya elemen identitas, dan
mempunyai elemen invers, membentuk
sebuah sistem matematika. Dienes
menyatakan bahwa proses pemahaman
(abstracton) berlangsung selama belajar.
Untuk pengajaran konsep matematika
yang lebih sulit perlu dikembangkan materi
97
matematika secara kongkret agar konsep
matematika dapat dipahami dengan tepat.
Dienes berpendapat bahwa materi harus
dinyatakan dalam berbagai penyajian
(multiple embodiment), sehingga anak-anak
dapat bermain dengan bermacam-macam
material yang dapat mengembangkan
minat anak didik. Berbagai penyajian
materi (multiple embodinent) dapat
mempermudah proses pengklasifikasian
abstraksi konsep.
Menurut Dienes (dalam Ruseffendi,
1992), variasi sajian hendaknya tampak
berbeda antara satu dan lainya sesuai
dengan prinsip variabilitas perseptual
(perseptual variability), sehingga anak
didik dapat melihat struktur dari berbagai
pandangan yang berbeda-beda dan
memperkaya imajinasinya terhadap
setiap konsep matematika yang disajikan.
Berbagai sajian (multiple embodiment) juga
membuat adanya manipulasi secara penuh
tentang variabel-variabel matematika.
Variasi matematika dimaksud untuk
membuat lebih jelas mengenai sejauh
mana sebuah konsep dapat digeneralisasi
terhadap konsep yang lain.
Dengan demikian, semakin banyak
bentuk-bentuk berlainan yang diberikan
dalam konsep tertentu, semakin jelas bagi
anak dalam memahami konsep tersebut.
Berhubungan dengan tahap belajar, suatu
anak didik dihadapkan pada permainan
yang terkontrol dengan berbagai sajian.
Kegiatan ini menggunakan kesempatan
untuk membantu anak didik menemukan
cara-cara dan juga untuk mendiskusikan
temuan-temuannya. Langkah selanjutnya,
menurut Dienes, adalah memotivasi anak
didik untuk mengabstraksikan pelajaran
tanda material kongkret dengan gambar
yang sederhana, grafik, peta dan akhirnya
memadukan simbolo - simbol dengan
konsep tersebut. Langkah-langkah ini
merupakan suatu cara untuk memberi
kesempatan kepada anak didik ikut
berpartisipasi dalam proses penemuan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dan formalisasi melalui percobaan
matematika. Proses pembelajaran ini
juga lebih melibatkan anak didik pada
kegiatan belajar secara aktif dari pada
hanya sekedar menghapal. Pentingnya
simbolisasi adalah untuk meningkatkan
kegiatan matematika ke satu bidang baru.
Dari sudut pandang tahap belajar,
peranan guru adalah untuk mengatur
belajar anak didik dalam memahami
bentuk aturan-aturan susunan benda
walaupun dalam skala kecil. Anak didik
pada masa ini bermain dengan simbol
dan aturan dengan bentuk-bentuk
kongkret dan mereka memanipulasi untuk
mengatur serta mengelompokkan aturanaturan Anak harus mampu mengubah
fase manipulasi kongkret, agar pada
suatu waktu simbol tetap terkait dengan
pengalaman kongkretnya.
Kelebihan teori belajar Dienes
1. Dengan menggunakan bendabenda konkret, siswa dapat lebih
memahami konsep dengan benar.
2. Susunan belajar akan lebih
hidup, menyenangkan, dan tidak
membosankan.
3. Dominasi guru berkurang dan
siswa lebih aktif.
4. Konsep yang lebih dipahami dapat
lebih mengakar karena siswa
membuktikannya sendiri
5. Dengan banyaknya contoh dengan
melakukan permainan siswa dapat
menerapkan kedalam situasi lain
Kelemahan Teori Dienes
1. Ti d a k s e m u a m a t e r i d a p a t
menggunakan teori Dienes,
karena teori ini lebih mengarah
permainan
2. Tidak semua siswa memiliki
kemampuan yang sama
3. Bila pengajar tidak memiliki
kemampuan mengarahkan
siswa maka siswa cenderung
hanya bermain tanpa berusaha
memahami konsep.
E. Penerapan Teori Dienes dalam
Pembelajaran Matematika
Dalam menerapkan enam
tahap belajar konsep dari Dienes untuk
merancang pembelajaran matematika
mungkin suatu tahap (bisa tahap bermain
bebas) tidak cocok bagi para siswa atau
kegiatan-kegiatan untuk dua atau tiga tahap
dapat digabung menjadi satu kegiatan.
Mungkin perlu dirancang kegiatan-kegiatan
belajar khusus untuk setiap tahap jika kita
mengajar siswa-siswa kelas rendah, tetapi
untuk siswa-siswa SMP dimungkinkan
menghilangkan tahap-tahap tertentu dalam
mempelajari beberapa konsep.
Model mengajar matematika dari
Dienes hendaknya diperlakukan sebagai
pedoman, dan bukan sekumpulan aturan
yang harus diikuti secara ketat. Konsep
perkalian bilangan bulat negatif akan
dibahas di sini sebagai contoh bagaimana
tahap-tahap Dienes dapat digunakan
sebagai pedoman dalam merancang
kegiatan mengajar/belajar. Karena
hampir semua siswa belajar menambah,
mengurang, mengalikan dan membagi
bilangan-bilangan asli, dan menambah
dan mengurang bilangan-bilangan bulat
sebelum belajar mengalikan bilangan bulat,
kita berasumsi bahwa konsep-konsep dan
keterampilan-keterampilan itu telah dikuasai
oleh para siswa. Bagi para siswa kelas 7
SMP, dapat mulai sesi permainan bebas
dengan secara informal mendiskusikan
pengerjaan hitung pada bilangan asli dan
sifat-sifat aljabar dari bilangan asli. Guru
mungkin juga mendiskusikan penjumlahan
dan pengurangan pada bilangan bulat
dan sifat pertukaran dan pengelompokan
penjumlahan.
Guru bisa juga mengganti
permainan bebas dengan tinjauan informal.
Atau tahap bermain bebas dan game bisa
digabung menjadi beberapa permainan
seperti permainan kartu sederhana berikut:
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
98
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
guru hendaknya menyiapkan meja
panjang secukupnya untuk permainan
kartu standar sedemikian hingga terdapat
satu meja panjang untuk setiap lima
siswa dalam kelas. Para siswa yang
bermain dalam kelompok lima orang dan
setiap anak memegang empat kartu.
Setiap siswa mengelompokkan kartukartunya menjadi berpasang-pasangan,
kemudian mengalikan kedua bilangan
yang ditunjukkan oleh setiap pasang kartu,
dan kemudian menjumlahkan kedua hasil
kali itu.
Siswa yang dapat memasangkan
kartu-kartunya sehingga memperoleh
jumlah hasil kali terbesar adalah pemenang
dalam kelompoknya. Bilangan-bilangan
pada kartu hitam (keriting dan waru)
dianggap sebagai bilangan positif, dan
bilangan-bilangan pada kartu merah (hati
dan belah ketupat) sebagai bilangan
negatif. Konsekuensinya para siswa
langsung dihadapkan pada masalah
bagaimana mengelompokkan kartu-kartu
negatif untuk mendapatkan hasil kali
dan jumlah positif yang besar. Beberapa
kelompok mungkin menyepakati aturanaturan yang berbeda untuk menangani
hasil kali dua bilangan negatif.
Sebagai contoh, kartu hitam 2
dan 4 dan kartu merah 7 dan 5 dapat
digunakan untuk membuat 2 x 4 + (-7 x -5)
= 43, jika aturan yang benar bahwa hasil
kali dua bilangan bulat negatif adalah suatu
bilangan bulat positif telah dirumuskan. Jika
tidak, maka bilangan-bilangan negatif tidak
akan menolong dalam mengorganisasi
seorang pemenang. Beberapa siswa
tentunya akan saling bertanya atau
bertanya kepada guru tentang bagaimana
menyekor bilangan bulat negatif.
Contoh permainan dengan tahaptahap teori Dienes pada operasi hitung
penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
pembagian.
a).
99
Permainan Operasi
Penjumlahan
Ada dua teknik menjumlahkan.
Jika hasil penjumlahan kurang atau
sama dengan 10, maka penjumlahan
dapat dilakukan secara langsung dengan
cara menjumlahkan suku-sukunya. Jika
hasil penjumlahan lebih dari 10, maka
penjumlahan suku-sukunya dilakukan
dengan teknik “menyimpan” Permainan
“menyimpan dan menjumlahkan” berikut
memberikan kemudahan mengajarkan
operasi penjumlahan.
Tujuan : Memperlihatkan bentuk
nyata penjumlahan dengan teknik
menyimpan sekaligus menjelaskan
langkah-langkah sistematis penyelesaian
kalimat penjumlahan.
Langkah-langkah permainan:
1. Sediakan kantong kain/kantong
plastik/kantong dari katon.
2. Sediakan kartu kecil merah untuk
puluhan dan kartu kecil putih untuk
satuan.
3. Mintalah anak mengerjakan 19 +
27.
4. Mintalah anak menyatukan 9 dan 7
buah kartu putih dan mintalah anak
menghitung jumlahnya (jawaban :
16).
5. Mintalah anak menggantikan 10
kartu putih dari 16 kartu putih
dengan satu kartu merah.
6. Mintalah anak memasukan kartu
merah tersebut ke kantong puluhan
dan masukan sisa 6 kartu putih ke
kantongan satuan.
7. Mintalah anak menghitung total
kartu merah, yaitu 1 + 2 + 1 = 4.
Terangkanlah bahwa nilai empat
kartu merah tersebut adalah 40.
8. Mintalah anak untuk menjumlahkan
hasilnya, yaitu 40 + 6 = 46.
b) Permainan Operasi Pengurangan
Ikutilah permainan berikut ini
untuk memudahkan anak belajar operasi
pengurangan dengan teknik meminjam.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Permainan “menukar dan mengurangkan”
Tujuan: Memperlihatkan bentuk nyata
pengurangan dengan teknik meminjam
sekaligus memperlihatkan langkahlangkah sistematis penyelesaian kalimat
pengurangan.
Langlah-langkah permainan:
1. Mintalah anak untuk mengurangkan
57 – 28
2. Terangkan karena 7 tidak bisa
dikurangi 8 maka ambil 1 kartu
merah dan tukar dengan 10 kartu
putih sehingga total kartu putih 7 +
10 = 17. Selanjutnya, 17 dikurangi
8 menghasilkan 9. Karena dipinjam
1 maka sisa kartu merah menjadi =
4. Selanjutnya, 4 – 2 = 2 (terangkan
bahwa membacanya 20 karena
nilainya puluhan)
3. Mintalah anak menjumlahkan
hasilnya, yaitu 20 + 9 = 29.
4. Perluas contoh permainannya
sampai kebilangan ratusan dan
seterusnya.
c) Permainan Operasi Perkalian
Ikutilah permainan berikut ini
untuk melatih anak belajar perkalian dan
kelipatan. Permainan “permen perkalian”
Tujuan: Menjelaskan makna perkalian.
Langkah-langkah permainan:
1. Berikan masing-masing 2 buah
permen kepada 3 orang anak.
2. Tanyakan berapakah jumlah total
permen yang telah diberikan
kepada ketiga anak tersebut.
3. Te r a n g k a n b a h w a h a s i l n y a
merupakan perkalian 2 dengan
3, yaitu 6. Perkalian merupakan
penjumlahan berulang, misalnya
2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2.
Pada kalimat 3 x 2 = 6, 3 dan 2
disebut faktor dari 6, sedangkan 6
merupakan hasil perkalian 2 dan
3.
d) Permainan Operasi Pembagian
Permainan berikut ini
mempermudah anak memahami
operasi pembagian. Permainan “permen
pembagian”
Tujuan : Menjelaskan makna pembagian
Langkah-langkah:
1. Perlihatkan 6 permen di tangan.
2. Bagikan secara merata 3 permen
kepada beberapa anak sampai
permen habis.
3. Tanyakan berapa anakkah yang
akan mendapat permen.
4. Te r a n g k a n b a h w a h a s i l n y a
merupakan pembagian 6 dengan
3, yaitu 2.
5. Tanamkanlah pada anak bahwa 6
: 3 = 6 – 3 – 3. Ulangi permainan
“permen perkalian dan pembagian”
ini sehingga anak mengerti betul
makna perkalian dan pembagian
serta hubungan keduanya dengan
contoh lain
Dalam menerapkan enam
tahap belajar konsep dari Dienes untuk
merancang pembelajaran matematika,
mungkin suatu tahap (bisa tahap bermain
bebas) tidak cocok bagi para siswa atau
kegiatan-kegiatan untuk dua atau tiga tahap
dapat digabung menjadi satu kegiatan.
Mungkin perlu dirancang kegiatan-kegiatan
belajar khusus untuk setiap tahap jika
kita mengajar siswa-siswa SD kelas
rendah; tetapi untuk siswa-siswa SMP
dimungkinkan menghilangkan tahap-tahap
tertentu dalam mempelajari beberapa
konsep. Model mengajar matematika dari
Dienes hendaknya diperlakukan sebagai
pedoman, dan bukan sekumpulan aturan
yang harus diikuti secara ketat.
Contoh lain penerapan teori dienes
dalam pembelajaran matematika yaitu
konsep perkalian bilangan bulat negatif
akan dibahas di sini sebagai contoh
bagaimana tahap-tahap Dienes dapat
digunakan sebagai pedoman dalam
merancang kegiatan mengajar/belajar.
Karena hampir semua siswa belajar
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
100
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
menambah, mengurang, mengalikan
dan membagi bilangan-bilangan asli, dan
menambah dan mengurang bilanganbilangan bulat sebelum belajar mengalikan
bilangan bulat, kita berasumsi bahwa
konsep-konsep dan keterampilanketerampilan itu telah dikuasai oleh para
siswa.
Bagi para siswa kelas 6 atau
7, dapat mulai sesi permainan bebas
dengan secara informal mendiskusikan
pengerjaan hitung pada bilangan asli dan
sifat-sifat aljabar dari bilangan asli. Guru
mungkin juga mendiskusikan penjumlahan
dan pengurangan pada bilangan bulat
dan sifat pertukaran dan pengelompokan
penjumlahan. Guru bisa juga mengganti
permainan bebas dengan tinjauan informal.
Atau tahap bermain bebas dan game bisa
digabung menjadi beberapa permainan
seperti permainan kartu sederhana berikut:
guru hendaknya menyiapkan meja panjang
secukupnya untuk permainan kartu standar
sedemikian hingga terdapat satu meja
panjang untuk setiap lima siswa dalam
kelas.
Para siswa yang bermain
dalam kelompok lima orang dan setiap
anak memegang empat kartu. Setiap
siswa mengelompokkan kartu-kartunya
menjadi berpasang-pasangan, kemudian
mengalikan kedua bilangan yang
ditunjukkan oleh setiap pasang kartu, dan
kemudian menjumlahkan kedua hasilkali
itu. Siswa yang dapat memasangkan kartukartunya sehingga memperoleh jumlah
hasilkali terbesar adalah pemenang dalam
kelompoknya. Bilangan-bilangan pada
kartu hitam dianggap sebagai bilangan
positif, dan bilangan-bilangan pada kartu
merah (hati dan belah ketupat) sebagai
bilangan negatif.
Konsekuensinya para siswa
langsung dihadapkan pada masalah
bagaimana mengelompokkan kartu-kartu
negatif untuk mendapatkan hasil kali
dan jumlah positif yang besar. Beberapa
101
kelompok mungkin menyepakati aturanaturan yang berbeda untuk menangani
hasilkali dua bilangan negatif. Sebagai
contoh, kartu hitam 2 dan 4 dan kartu
merah 7 dan 5 dapat digunakan untuk
membuat 2 x 4 + (-7 x -5) = 43, jika aturan
yang benar bahwa hasilkali dua bilangan
bulat negatif adalah suatu bilangan bulat
positif telah dirumuskan. Jika tidak, maka
bilangan-bilangan negatif tidak akan
menolong dalam mengorganisasi seorang
pemenang. Beberapa siswa tentunya akan
saling bertanya atau bertanya kepada guru
tentang bagaimana menyekor bilangan
bulat negatif.
Untuk memutuskan bagaimana
menyelesaikan perkalian dua bilangan
negatif, guru hendaknya menyajikan
sekumpulan soal yang melibatkan mencari
pola (sifat yang sama). Sebagai contoh,
soal-soal ini dapat didiskusikan di kelas:
Selesaikan daftar berikut:
-3 x 3 = -9
-3 x 2 = -6
-3 x -1 = .....
-3 x -2 = .....
-3 x -3 = ....
-3 x (7 + -2) = (-3 x 7) + (-3 x -2) =
-21 + .....=......
Sebagai guru matematika, kita
dapat menyusun contoh-contoh lain yang
menunjukkan bahwa hasilkali dua bilangan
bulat negatif adalah bilangan bulat positif.
Ta h a p r e p r e s e n t a s i u n t u k
membentuk konsep perkalian dua bilangan
bulat negatif, para siswa dapat mengamati
diagram yang menyajikan konsep itu dan
mendeskripsikan sifat umum perkalian dua
bilangan bulat negatif.
Dalam tahap simbolisasi, kelas
hendaknya menggunakan sistem simbol
bahwa untuk sebarang bilangan asli a
dan b, (-a)(-b) = +ab; dan untuk sebarang
bilangan bulat x, y, z, x(y + z) = xy + xz.
Konsep itu dapat diformalkan
dengan mengetahui bahwa pernyataan,
“hasilkali dua bilangan bulat negatif adalah
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
bilangan bulat positif,” merupakan suatu
aksioma.Teorema seperti y x z = z x y dan
x(y + z) = xy + xz dapat diwujudkan dan
dibuktikan.
F. Kesimpulan dan Saran
Setelah memaparkan tinjauan
singkat tentang teori belajar Dienes
dapat disimpulkan Teori belajar Dienes
menekankan pada manipulasi bendabenda konkret yang diterapkan dalam
bentuk permainan. Tahap-tahap pengajaran
konsep matematika menurut Dienes, yaitu
: (1) Permainan Bebas (Free Play), (2)
Permainan yang Menggunakan Aturan
(Games), (3) Permainan Kesamaan
Sifat (Searching for communalities), (4)
Permainan Representasi (Representation),
(5) Permainan dengan simbolisasi
(symboloization), (6) Formalisasi
(Formalization)
Ada beberapa masukan yang
dapat penulis berikan kepada kita semua
terutama para pendidik agar perkembangan
teori pembelajaran anak berkembang
dengan baik, antara lain :
1. S e t e l a h m e m p e l a j a r i d a n
mengetahui tentang teori belajar
Dienes sebaiknya guru harus
bisa menyesuaikan pengajaran
dengan materi yang sesuai.
Hal ini bertujuan supaya proses
pembelajaran dapat berlangsung
dengan efektif.
2. Sebagai pendidik hendaknya
mempunyai pengetahuan tentang
teori belajar
3. Sebagai pendidik hendaknya
mampu menciptakan suasana
yang menyenangkan bagi siswa
sehingga mereka terbiasa untuk
mengemukakan pikiran mereka.
Pembelajaran Matematika (Teori
Belajar Dienes). Makalah. (online)
http://ukiakih.blogspot.com/ 2009/03/
teori-belajar.html (diakses 11 Maret
2009)
Boeree, George, 2005, Sejarah Psikologi,
Jakarta Prima Shopie
Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-teori
Belajar.Erlangga, Jakarta.
Karnasih, Ida. (2008). Paper Presentated
in Internasional Workshop: ICT for
Teaching and Learning Mathematics.
Medan: UNIMED. (In Collaboration
Between UNIED and QED Education
Kuala Lumpur. Malaysia. 23-24 May
2008)
Nur, 1999. Teori Pembelajaran Kognitif.
Universitas Negeri Surabaya.
Ruseffendi. (1992). Pendidikan Matematika
3. Jakarta: Depdikbud
Ruseffendi, HET. (2006). Pengantar Kepada
Membantu Guru Mengembangkan
Daftar Pustaka
B a s u k i , d k k . D a s a r- D a s a r P r o s e s
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
102
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI
MATEMATIS YANG MENERAPKAN MODEL
PEMBELAJARAN CTL DAN KONVENSIONAL
DI SMPN 2 DEWANTARA KABUPATEN ACEH UTARA
Nuraini, S.Si., M.Pd
e-mail: [email protected]
Abstrak
This study aims to describe differences in mathematical communication ability
of students to apply learning models and conventional CTL type of research is
quasi-experimental. As for the population in this study were all seventh grade
students of SMP Negeri 2 in the District Dewantara, North Aceh district as many
as 5 classes. Sedangkankan sample selection is done by randomizing the class
of random results obtained grade 2 to grade experimental class is class VII.1
and VII.3, while for the conventional classroom and was elected class VII.4 VII.2.
Furthermore, both samples are given different treatment, applying the experimental
class and control class CTL learning with conventional learning. Dilkukan data
collection by providing a test of mathematical communication skills. Furthermore,
to describe the differences in the ability of mathematical communication of data in
this study were analyzed using descriptive statistical analysis. Based on the results
of research and data analysis mathematical communication skills of students can
be concluded that, on average, the proportion of test scores beginning and end
of the test control class is 7.69 and 8.17. When observed average proportion
of final test scores increased the proportion average score of 0.48. While the
experimental group and 15.59 8.37 an increase in the proportion average score
of 7.22. Difference in the proportion of the initial test and final test experimental
group is greater than the difference in the proportion of test scores for the initial
and final test grade control. It is hinted that mathematical communication skills of
students with learning CTL higher than students in conventional learning. Based
on the criteria of mastery learning for many mathematical communication skills
of students who pass the control class is 5 students’ learning of 42 students
or 11.90%; whereas in the experimental class there were 26 students from 41
students or 63.41%. These results indicate that learning has advantages compared
to conventional CTL when viewed from the completeness students, which means
there are differences in mathematical communication ability of students to apply
their learning and conventional CTL.
A. Latar Belakang
Proses pendidikan haruslah
berujung kepada pembentukan sikap,
pengembangan kecerdasan intelektual
serta pengembangan keterampilan anak
sesuai dengan kebutuhan, sehingga
diharapkan mampu mempersiapkan
SDM berkualitas, yang mampu bersikap
kritis, logis, mengkomunikasikan gagasan
dan sistematis dalam menghadapi dan
menyelesaikan setiap permasalahan yang
dihadapinya.
103
Kemampuan-kemampuan tersebut
dapat dikembangkan melalui pembelajaran
matematika, karena kemampuankemampuan tersebut tidak lain adalah
merupakan tujuan dari pelajaran
matematika itu sendiri sebagaimana yang
dinyatakan oleh Pusat Kurikulum, Balitbang
Depdiknas (2003:3) bahwa mata pelajaran
matematika menumbuhkembangkan
kemampuan menalar, yaitu berpikir
sistematis, logis, kritis, mengkomunikasikan
gagasan atau dalam pemecahan masalah.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Meninjau tujuan pelajaran matematika di
atas maka dalam proses pembelajaran
matematika, guru haruslah memberikan
kesempatan pada siswa untuk belajar
secara aktif. Aktif di sini bermakna siswa
yang aktif dalam melakukan investigasi
dan eksplorasi terhadap konsep-konsep
matematika. Siswa mendapatkan
pengalaman belajar yang menarik,
menyenangkan dan bermakna. Siswa
dapat melihat dan mengalami sendiri
kegunaan matematika dalam kehidupan
nyata, serta memberikan kesempatan
pada siswa agar dapat mengkonstruksi
sendiri pengetahuan melalui berbagai
aktifitas seperti pemecahan masalah,
penalaran, berkomunikasi dan lain-lain
yang mengarah pada berpikir kritis dan
kreatif. Hal ini senada dengan pendapat
Sulivan (Ansari, 2009:3) mengatakan
bahwa peran dan tugas guru sekarang
adalah memberi kesempatan belajar
maksimal pada siswa dengan jalan:
1. Melibatkannya secara aktif dalam
mengeksplorasi matematika.
2. Mengkonstruksi pengetahuan
berdasarkan pengalaman yang
telah ada pada mereka.
3. M e n d o r o n g a g a r m a m p u
mengembangkan dan
menggunakan berbagai strategi.
4. Mendorong agar berani mengambil
resiko dalam menyelesaikan soal.
5. M e m b e r i
kebebasan
berkomunikasi untuk menjelaskan
idenya dan mendengarkan ide
temannya.
Dalam NCTM (1991:96) dikatakan
bahwa komunikasi adalah wahana antara
guru dan siswa untuk saling menghargai
ketika proses pemecahan masalah dan
penalaran terjadi. Tetapi komunikasi
dengan sendirinya juga menjadi penting,
karena siswa harus belajar untuk
mendeskripsikan fenomena atau masalah
melalui berbagai cara, baik tulisan, lisan
dan bentuk-bentuk visual lainnya dalam
pembelajaran matematika. Dalam kutipan
ini tersirat bahwa komunikasi dalam
pembelajaran biasanya hanya terlihat
ketika proses pemecahan masalah dan
penalaran dilakukan, padahal jika dikaji
lebih jauh komunikasi memang memegang
peranan penting dalam pembelajaran
matematika.
Komunikasi adalah salah satu wujud nyata
adanya perubahan tingkah laku setelah
siswa melakukan proses belajar. Bentukbentuk komunikasi yang dilakukan misalnya
ketika siswa mampu mengungkapkan
kembali tentang ide-ide matematika baik
secara lisan maupun tulisan setelah
belajar matematika atau ketika siswa
diberikan masalah matematika, mereka
akan mencoba merepresentasikan kembali
secara sederhana dan mudah dimengerti,
lalu dicarikan solusinya. Selain itu jika
siswa mampu mengkomunikasikan ideide matematikanya dengan baik itu
menunjukkan tingkat pemahamannya
terhadap konsep-konsep matematika
semakin baik. Oleh karena itu sesuai
dengan tujuan pembelajaran matematika
dan beberapa pendapat di atas maka
memberi kebebasan berkomunikasi
kepada siswa menjadi bagian penting
dalam pembelajaran matematika, sehingga
perlu dikembangkan.
Salah satu alternatif pembelajaran
memungkinkan mampu meningkatkan
kemampuan komunikasi matematika siswa
adalah Contextual Teaching and Learning
(CTL). CTL memiliki karakteristik yang
memungkinkan terciptanya pertukaran ide
secara terbuka dan melibatkan aktivitas
siswa dalam mengembangkan kemampuan
komunikasi matematikanya. Nurhadi dan
Senduk (2003:4) juga mengatakan bahwa
“pendekatan kontekstual merupakan suatu
konsep belajar dimana guru menghadirkan
situasi dunia nyata ke dalam kelas dan
mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
104
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
paparan di
atas maka yang menjadi rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah perbedaan kemampuan
komunikasi matematis siswa yang model
pembelajarannya menerapkan CTL dan
konvensional?
C. Tujuan Penelitian
Dengan memperhatikan rumusan
masalah di atas maka adapun yang menjadi
tujuan dalam penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan perbedaan kemampuan
komunikasi matematis siswa yang model
pembelajarannya menerapkan CTL dan
konvensional.
D. Kajian Pustaka
1. K e m a m p u a n K o m u n i k a s i
Matematis
Baroody (1993) mengatakan dua
alasan mengapa pembelajaran matematika
difokuskan pada komunikasi yaitu (1)
mathematics as a language dan (2)
mathematics as learning activity. Sebagai
bahasa, matematika tidak sekedar sebagai
alat untuk berpikir, alat menemukan
pola atau alat untuk menyelesaikan
masalah, tetapi matematika juga digunakan
sebagai alat untuk menyampaikan ideide atau gagasan secara ringkas, jelas
dan tepat. Matematika sebagai aktivitas
sosial dalam pembelajaran matematika
dimaknai dengan adanya interaksi antar
siswa, seperti komunikasi antar guru dan
siswa, merupakan bagian penting untuk
memelihara potensi matematis siswa.
Lebih lanjut Asikin (Muslimatun,
2006) mengatakan bahwa, alasan penting
mengapa pelajaran matematika terfokus
pada pengkomunikasian, yaitu matematika
pada dasarnya adalah suatu bahasa yang
disajikan sebagai suatu makna representasi
105
dan makna komunikasi. Matematika juga
merupakan alat yang tak terhingga adanya
untuk mengkomunikasikan berbagai ide
dengan jelas, cermat dan tepat. Collins dkk.
(Muslimatun, 2000) menambahkan “salah
satu tujuan pembelajaran matematika
yang ingin dicapai adalah memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada para
siswa untuk mengembangkan keterampilan
berkomunikasi melalui modeling, speaking,
writing, talking and drawing serta
mempresentasikan apa yang dipelajari”.
Sehingga untuk mensupor pembelajaran
agar efektif, guru harus membangun
komunitas kelas yang kondusif sehingga
para siswa bebas untuk mengekspresikan
pemikirannya. Dengan menggunakan
istilah multiple eksplanasi, untuk menyebut
cara berkomunikasi.
Peressini dan Bassett (Aryan)
berpendapat bahwa tanpa komunikasi
dalam matematika kita akan memiliki
sedikit keterangan, data, dan fakta tentang
pemahaman siswa dalam melakukan
proses dan aplikasi matematika. Hal Ini
mempunyai makna bahwa, komunikasi
dalam matematika membantu guru
memahami kemampuan siswa dalam
menginterpretasi dan mengekspresikan
pemahamannya tentang konsep dan proses
matematika yang mereka pelajari Dalam
bagian lain, Lindquist (Aryan) berpendapat
bahwa, jika kita sepakat bahwa matematika
itu merupakan suatu bahasa dan bahasa
tersebut sebagai bahasa terbaik dalam
komunitasnya, maka mudah dipahami
bahwa komunikasi merupakan esensi
dari mengajar, belajar, dan meng-assess
matematika. Sehingga jelaslah bahwa
komunikasi dalam matematika merupakan
kemampuan mendasar yang harus dimiliki
pelaku dan pengguna matematika selama
belajar, mengajar, dan meng-assess
matematika.
Dari beberapa pendapat diatas
kita dapat mengatakan bahwa komunikasi
matematika menjadi salah satu syarat
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
yang memegang peranan penting karena
membantu dalam proses penyusunan
pikiran, menghubungkan gagasan dengan
gagasan lain sehingga dapat mengisi halhal yang kurang dalam seluruh jaringan
gagasan siswa. Oleh karena itu untuk dapat
mewujudkan beberapa hal diatas maka,
guru seharusnya mengontrol siswanya
menggunakan bahasa matematika untuk
membantu mereka dalam mengembangkan
kemampuan komunikasi matematisnya.
Misalnya meminta tanggapan dari siswa
mengenai suatu penjelasan dari siswa
yang lain, atau meminta siswa memberikan
contoh-contoh representasi matematika
dalam dunia nyata. Hal ini tentu saja
berlaku bagi seluruh siswa yang ada
dikelas, bukan hanya bagi siswa tertentu.
Jadi disini pembelajaran berpusat pada
siswa bukan pada guru.
Dalam sebuah sumber yaitu NCTM
(1991:96) dikatakan bahwa:
Mathematical communication can
occur when students work in cooperative
groups, when a student explains an
algorithm for solving equation, when a
student presents a unique method for
solving a problem, when a student construct
and explains a graphical representation of
real world phenomena, or when student
offers a conjecture about geometric figures.
Menurut sumber NCTM ini
dikatakan bahwa kemampuan komunikasi
matematika dapat terjadi ketika siswa
belajar dalam kelompok, ketika siswa
menjelaskan algoritma untuk memecahkan
suatu persamaan, ketika siswa menyajikan
cara unik untuk memecahkan masalah,
ketika siswa mengkonstruk dan
menjelaskan suatu representasi grafik
terhadap fenomena dunia nyata, lalu ketika
siswa memberikan suatu konjektur tentang
gambar-gambar geometri. Sedangkan
Baroody (1993) menyatakan lima aspek
komunikasi yaitu (1) representing, (2)
listening, (3) reading, (4) discussing dan (5)
writing. Writing bisa berwujud summaries,
question, explanation, definitions, word
problems, report books dll.
Lebih lanjut, Sullivan dan Mousley (Bansu
Ansari, 2009:10) juga mempertegas bahwa
komunikasi matematika bukan hanya
sekedar menyatakan ide melalui tulisan
tetapi lebih luas lagi yaitu kemampuan
dalam hal bercakap, menjelaskan,
menggambarkan, mendengarkan,
menanyakan, klarifikasi, bekerja
sama (sharing), menulis dan akhirnya
melaporkan. Secara umum, matematika
dalam ruang lingkup komunikasi mencakup
keterampilan atau kemampuan menulis,
membaca, discussing and assessing, dan
wacana (discourse).
Dari definisi-definisi yang ada kita dapat
memunculkan indikator-indikator yang
menunjukkan bahwa seorang siswa telah
mampu berkomunikasi dengan baik.
Beberapa pendapat mengenai indikator
untuk mengukur kemampuan komunikasi
matematika sesuai dengan definisi-definisi
pakar antara lain diutarakan oleh Bansu
Ansari (2009:10) bahwa standar evaluasi
untuk mengukur kemampuan ini adalah:
a)
Menyatakan ide matematika
dengan berbicara, menulis dan demonstrasi.
b)
Menggambarkannya dalam bentuk
visual.
c)
Menggunakan kosa kata atau
bahasa, notasi dan struktur matematik
untuk menyatakan ide, menggambarkan
hubungan dan pembuatan model.
Sedangkan Aryan (2007), menjelaskan
bahwa indikator komunikasi matematika
dalam pembelajaran matematika pada
setiap jenjang pendidikan adalah sebagai
berikut: komunikasi matematis atau
komunikasi dalam matematika untuk siswa
setingkat SD adalah a) menghubungkan
benda nyata, gambar, dan diagram ke
dalam ide matematika, b) menjelaskan ide,
situasi dan relasi matematika, secara lisan
atau tulisan, dengan benda nyata, gambar,
grafik, dan aljabar, c) menyatakan peristiwa
sehari-hari dalam bahasa atau simbol
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
106
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
matematika, d) mendengarkan, berdiskusi,
dan menulis tentang matematika.
Komunikasi Matematis atau
komunikasi dalam matematika untuk siswa
setingkat SMP adalah a) membuat model
dari suatu situasi melalui lisan, tulisan,
benda-benda konkret, gambar, grafik, dan
metode-metode aljabar
b) menyusun
refleksi dan membuat klarifikasi tentang
ide-ide matematika c) mengembangkan
pemahaman dasar matematika termasuk
aturan-aturan definisi matematika. d)
menggunakan kemampuan membaca,
menyimak, dan mengamati untuk
menginterpretasi dan mengevaluasi suatu
ide matematika e) mendiskusikan ide-ide,
membuat konjektur, menyusun argumen,
merumuskan definisi, dan generalisasi f)
mengapresiasi nilai-nilai dari suatu notasi
matematis termasuk aturan-aturannya
dalam mengembangkan ide matematika.
Komunikasi matematis atau
komunikasi dalam matematika untuk siswa
setingkat SMA adalah a) menyusun refleksi
dan membuat klarifikasi tentang ide-ide
matematika, b) menyusun formulasi dari
definisi-definisi matematika dan membuat
generalisasi dari temuan-temuan yang ada
melalui investigasi, c) mengekspresikan
ide-ide matematika secara lisan dan
tulisan, d) membaca dengan pemahaman
suatu presentasi matematika tertulis, e)
menjelaskan dan membuat pertanyaan
tentang matematika yang telah dipelajari
Dari beberapa pendapat di atas
maka yang menjadi indikator komunikasi
matematis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah:
a. Menyatakan peristiwa seharihari dalam bahasa atau simbol
matematika.
b. Memberikan alasan terhadap
suatu pernyataan atau persoalan
matematika dalam bentuk argumen
yang meyakinkan.
2.
107
Contextual Teaching and Learning
(CTL)
Pendekatan CTL berkembang
di Amerika dan untuk penerapan
pembelajarannya di Amerika Serikat
bermula dari pandangan ahli pendidikan
klasik John Dewey yang pada tahun 1916
mengajukan teori kurikulum dan metodologi
pengajaran yang berhubungan dengan
pengalaman dan minat siswa. Teori yang
diajukan oleh John Dewey tersebut disebut
teori progressivisme yang intinya, siswa
akan belajar dengan baik apabila apa yang
mereka pelajari berhubungan dengan apa
yang telah mereka ketahui, serta proses
belajar akan produktif jika siswa terlibat
aktif dalam proses belajar di sekolah.
Selain teori progressivisme John
Dewey, CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat
konstruktivime yang digagas oleh Mark
Baldwin dan selanjutnya dikembangkan
oleh Jean Piaget melalui teori kognitif.
Pandangan filsafat konstruktivisme tentang
hakikat pengetahuan mempengaruhi
konsep tentang proses belajar, bahwa
belajar bukanlah sekedar menghafal,
tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan
melalui pengalaman. Siswa akan belajar
dengan baik apabila mereka terlibat
secara aktif dalam segala kegiatan di kelas
dan berkesempatan untuk menemukan
sendiri. Siswa menunjukkan hasil belajar
dalam bentuk apa yang mereka ketahui
dan apa yang dapat mereka lakukan.
Belajar dipandang sebagai usaha atau
kegiatan intelektual untuk membangkitkan
ide-ide yang masih laten melalui kegiatan
introspeksi.
Melalui landasan filosofi
konstruktivisme, CTL dipromosikan menjadi
alternatif strategi belajar yang baru.
Dengan CTL siswa diharapkan belajar
melalui ‘mengalami’ bukan ‘menghafal’. Hal
ini sesuai seperti pendapat Zahorik, 1995
dalam Nurhadi dan Senduk: Knowledge is
constructed by humans. Knowledge is not a
set of facts, concepts, or laws waiting to be
discovered. It is not something that exists
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
independent or knower. Humans create
or construct knowledge as they attempt
to bring meaning to their experience.
Everything that we know, we have made.
Knowledge is conjectural and fallible. Since
knowledge is a construction of humans
and humans constantly undergoing new
experiences, knowledge can never be
stable. The understandings that we invent
are always tentative and incomplete.
Knowledge grows through exposure.
Understand become deeper and stronger
if one tests it against new encounters”.
Kutipan di atas mempunyai makna
bahwa pengetahuan itu dibangun oleh
manusia sendiri. Ia bukanlah sekumpulan
fakta atau konsep atau hukum untuk
ditemukan, juga bukan terjadi begitu saja.
Manusia menciptakan dan membangun
pengetahuan sebagaimana mereka
mencoba makna pada pengalaman
mereka. Apapun yang mereka ketahui
sudah mereka alami atau telah menjadi
pengalaman mereka. Ketika pengetahuan
dibangun oleh manusia maka mereka
mempunyai pengalaman yang baru.
Nurhadi dan Senduk (2003:4) juga
mengatakan bahwa “pendekatan CTL
merupakan suatu konsep belajar dimana
guru menghadirkan situasi dunia nyata
ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat”. Dengan konsep
itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih
bermakna bagi siswa dan mengalami,
bukan mentransfer pengetahuan dari guru
ke siswa. Strategi pembelajaran lebih
dipentingkan daripada hasil.
Sedangkan menurut Johnson
dalam Nurhadi dan Senduk (2002:25)
merumuskan pengertian CTL sebagai
berikut: “The CTL system is an educational
process that aims to help students see
meaning in the academic material they are
studying by connecting academic subjects
with the context of their personal, social
and cultural circumstances. To achieve
this aim, the system encompasses the
following eight components: making
meaningful connections, doing significant
work, self-regulated learning, collaborating,
critical and creative thingking, nurturing the
individual, reaching high standards, using
authentic assessment”.
Kutipan diatas mengandung
arti bahwa sistem CTL merupakan
suatu proses pendidikan yang bertujuan
membantu siswa melihat makna dalam
bahan pelajaran yang mereka pelajari
dengan cara menghubungkannya dengan
konteks kehidupan mereka seharihari, yaitu dengan konteks lingkungan
pribadinya, sosial dan budayanya. Untuk
mencapai tujuan tersebut, sistem CTL
akan menuntun siswa melalui kedelapan
komponen utamanya yaitu : melakukan
hubungan yang bermakna, mengerjakan
pekerjaan yang berarti, mengatur cara
belajar sendiri, bekerja sama, berpikir
kritis dan kreatif, memelihara pribadi
siswa, mencapai standar yang tinggi dan
menggunakan asesmen autentik. Dalam
kelas CTL, tugas guru adalah membantu
siswa mencapai tujuannya. Guru lebih
banyak berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi. Tugas guru mengelola
kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
sama untuk menemukan sesuatu yang
baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu
yang baru datang dari menemukan sendiri
bukan dari apa kata guru. Begitulah
peran guru di kelas yang dikelola dengan
pendekatan kontekstual.
Sementara itu, Center of
Occupational Research and Development
(CORD) (Nurhadi dan Senduk, 2003:23)
menyampaikan lima strategi bagi pendidik
dalam rangka penerapan pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL),
yang disingkat dengan REACT yaitu:
a) Relating: belajar dikaitkan dengan
konteks pengalaman kehidupan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
108
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
nyata.
b) Experiencing: belajar ditekankan
kepada penggalian (eksplorasi),
penemuan (discovery), dan
penciptaan (invention).
c) A p p l y i n g : b e l a j a r b i l a m a n a
pengetahuan dipresentasikan di
dalam konteks pemanfaatannya.
d) Cooperating: belajar melalui
konteks komunikasi interpersonal,
pemakaian bersama dan
sebagainya.
e) Transferring: belajar melalui
pemanfaatan pengetahuan di
dalam situasi atau konteks baru.
Dengan merujuk pada kelima
strategi bagi pendidik dalam melaksanakan
CTL diatas maka pembelajaran efektif
dengan menggunakan pendekatan CTL
melibatkan tujuh komponen utama seperti
yang di utarakan oleh Masnur Muslich
(2007:43) meliputi (a) constructivism
(konstrutivisme, membangun, membentuk),
(b) questioning (bertanya), (c) inquiry
(menyelidiki, menemukan), (d) learning
community (masyarakat belajar), (e)
modelling (pemodelan), (f) reflection
(refleksi atau umpan balik), dan (g)
authentic assessment (penilaian yang
sebenarnya). Setiap komponen utama
dalam CTL mempunyai prinsip-prinsip
dasar yang harus diperhatikan ketika akan
menerapkannya dalam pembelajaran.
3. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensioanal
adalah pembelajaran yang sudah biasa
diterapkan di sekolah. Pembelajaran
konvensional yang dimaksud dalam
penelitian ini mengarah pada pembelajaran
ekspositori. Pembelajaran ekspositori
adalah suatu pembelajaran yang lebih
berorientasi pada guru. Hal ini disebabkan
oleh peran guru yang dominan di dalam
proses pelaksanaannya. Guru aktif dalam
menyampaikan materi sedangkan siswa
hanya duduk, mendengar dan mencatat apa
109
yang disampaikan oleh guru. Penyampaian
materi masih secara verbal dari seorang
guru kepada sekelompok siswa dengan
maksud siswa dapat menguasai materi
secara optimal.
Pembelajaran ekspositori memiliki
beberapa karakteristik antara lain yaitu
ekspositori selalu dilakukan dengan
cara penyampaian materi secara verbal
maksudnya adalah bertutur secara lisan
merupakan alat utama atau cenderung
dengan disebut dengan ceramah.
Kemudian materi yang disampaikan
biasanya adalah materi yang sudah jadi,
seperti data atau fakta, konsep-konsep
tertentu yang harus dihafal sehingga tidak
menuntut siswa untuk berpikir ulang. Tujuan
utama dari pembelajaran ekspositori adalah
penguasaan materi pelajaran itu sendiri,
maksudnya adalah setelah pembelajaran
usai siswa diharapkan mampu memahami
materi dengan benar yang ditunjukkan
dengan mengungkapkan kembali materi
yang telah disampaikan. Dalam sejarah
pembelajaran ekspositori selalu ditandai
dengan ceramah yang diiringi dengan
penjelasan, serta pembagian tugas dan
latihan.
Sanjaya (2006: 185) mengatakan
bahwa ada beberapa langkah yang
digunakan dalam penerapan pembelajaran
ekspositori yaitu pertama, persiapan
(preparation) kedua, penyajian
(presentation) ketiga, menghubungkan
(correlation) keempat, menyimpulkan
(generalization) dan kelima, penerapan
(aplication). Tahap persiapan merupakan
langkah yang sangat penting dalam
pembelajaran ekspositori, keberhasilan
pelaksanaan pembelajaran sangat
tergantung pada tahap persiapan. Sanjaya
(2006) menambahkan, tujuan yang ingin
dicapai pada tahap persiapan adalah untuk
mengajak siswa keluar dari kondisi mental
yang pasif, membangkitkan motivasi dan
minat siswa untuk belajar, merangsang
dan menggugah rasa ingin tahu siswa
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dan menciptakan suasana dan iklim
pembelajaran yang terbuka.
Pada tahap penyajian, guru
harus memikirkan bagaimana agar materi
pelajaran dengan mudah ditangkap dan
dipahami oleh siswa. Hal ini dilakukan
dengan memperhatikan beberapa hal
antara lain penggunaan bahasa, intonasi
suara, menjaga kontak mata dengan
siswa dan menjaga agar kelas tetap hidup
dengan cara menggunakan kalimat atau
bahasa yang lucu.
Penggunaan bahasa haruslah
komunikatif dan mudah dipahami oleh
siswa. Selain itu bahasa yang digunakan
juga disesuaikan dengan tingkat umur
siswa. Pada tahap penyajian guru juga
harus mampu mengontrol intonasi suara.
Guru yang baik akan memahami kapan
harus meninggikan dan melemahkan
suaranya. Pengaturan intonasi suara akan
membuat perhatian siswa tetap terkontrol,
sehingga siswa tidak akan mudah bosan.
Dengan menjaga kontak pandang, siswa
akan merasa dihargai dan merasa dirinya
seolah-olah diajak terlibat dalam proses
pembelajaran.
Pada tahap korelasi guru mencoba
menghubungkan materi yang diajarkan
dengan kehidupan nyata siswa. Langkah
korelasi dilakukan dengan tujuan untuk
membuat kebermaknaan terhadap materi
pelajaran yang diajarkan. Melalui langkah
korelasi semua pertanyaan tidak perlu
ada, sebab dengan mengaitkan materi
pelajaran dengan berbagai hal, siswa akan
langsung memahaminya.
Menyimpulkan adalah tahapan
inti dari materi pelajaran yang disajikan.
Menyimpulkan berarti memberikan
keyakinan kepada siswa tentang
kebenaran suatu paparan. Sanjaya
(2006:190) mengatakan menyimpulkan
dapat dilakukan dengan beberapa cara
antara lain, pertama, dengan mengulang
kembali inti-inti yang menjadi pokok
persoalan, kedua dengan memberikan
beberapa pertanyaan yang relevan dengan
materi yang telah disajikan dan ketiga,
dengan cara maping melalui pemetaan
keterkaitan antar materi pokok-pokok
materi.
Pada langkah aplikasi, guru
akan mengumpulkan informasi tentang
penguasaan dan pemahaman materi
pelajaran oleh siswa. Tehnik yang biasa
dilakukan pada tahap ini antara lain,
pertama, membuat tugas yang relevan
dengan materi yang telah disajikan kedua,
dengan materi pelajaran yang telah
disajikan.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian
eksperimen semu (quasi eksperimen)
dengan rancangan pretes dan postes
dimana terhadap sampel diberikan
perlakuan yang berbeda.
Sugiyono (2009:107) mengatakan
bahwa, “metode penelitian eksperimen
dapat diartikan sebagai metode penelitian
yang digunakan untuk mencari pengaruh
perlakuan tertentu terhadap yang lain
dalam kondisi yang dikendalikan.” Dengan
kata lain penelitian eksperimen mencoba
meneliti ada tidaknya hubungan sebab
akibat dengan cara membandingkan satu
atau lebih kelompok pembanding yang
tidak menerima perlakuan.
Sebagai langkah awal dalam
penelitian ini dipilih dua kelas secara
acak kelas yang dijadikan sebagai kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas
eksperimen yang terpilih akan diberikan
perlakuan dengan pembelajaran CTL.
Sedangkan kelas pembanding yang
biasa disebut dengan kelas kontrol akan
diberikan pembelajaran konvensional.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP
Negeri 2 Dewantara Kabupaten Aceh
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
110
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Utara kelas VII. Adapun alasan pemilihan
lokasi di SMP negeri 2 Lhokseumawe
dilakukan karena penelitian yang sejenis
belum pernah dilakukan dan menurut
hasil observasi ke sekolah tersebut dalam
pembelajaran khususnya matematika
masih menggunakan pembelajaran
konvensional. Penelitian ini dilaksanakan
di semester II tahun ajaran 2012/2013 di
bulan Januari sebanyak 4 kali pertemuan
untuk pembelajaran dengan materi bentuk
aljabar dan 2 pertemuan untuk pelaksanaan
pretes dan postes.
3. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas : obyek atau
subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya, sedangkan sampel adalah
bagian dari jumlah dan karakeristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono,
2009:117-118).
Adapun yang menjadi populasi
dalam penelitian ini direncanakan adalah
seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2
yang ada di Kecamatan Dewantara,
Kabupaten Aceh Utara yaitu sebanyak 5
kelas. Sedangkankan pemilihan sampel
dilakukan dengan cara mengacak kelas
Dari hasil acak kelas diperoleh 2 kelas
untuk kelas eksperimen yaitu kelas
VII.1 dan VII.3, sedangkan untuk kelas
konvensional terpilih kelas VII.2 dan VII.4.
Adapun pertimbangan pemilihan dua kelas
untuk eksperimen dan dua kelas untuk
kontrol adalah dengan harapan agar data
berdistribusi normal, mengingat jumlah
siswa untuk masing-masing kelas sekitar
20-25 orang saja.
4.
Mekanisme dan Rancangan
Penelitian
Penelitian ini membandingkan
dua kelompok yang dipilih secara random
sampling class. Setiap kelompok akan
111
diberikan perlakuan yang berbeda, yang
satu akan diberi perlakuan dengan CTL
dan lainnya pembelajaran konvensional.
Sebelum perlakuan diberikan siswa
pada masing-masing kelompok tersebut
akan diberikan pretes (soal-soal prasyarat
dengan indikator kemampuan komunikasi
matematis) untuk mengetahui sejauh
mana kesiapan siswa dalam mengikuti
pembelajaran pada materi bentuk aljabar.
Dan setelah perlakuan diberikan siswa
diberikan tes akhir (postes) terkait dengan
kemampuan komunikasi matematis.
Dengan demikian desain eksperimen
dalam penelitian ini dapat digambarkan
sebagai berikut :
Keterangan :
O : Pretest dan Postest
X : Perlakuan dengan CTL
Penelitian ini dikategorikan dalam
penelitian eksperimen semu. Rancangan
yang digunakan dalam penelitian
eksperimen ini meliputi tiga jenis tahapan,
yaitu (1) tahap pengembangan perangkat
pembelajaran dan instrumen penelitian, (2)
tahap uji coba perangkat dan instrumen
penelitian, (3) tahap pelaksanaan
eksperimen. Setiap tahapan dirancang
sedemikian sehingga diperoleh data
valid sesuai dengan karakteristik variabel
dengan tujuan penelitian.
1. Teknik Pengumpulan Data
Tes kemampuan komunikasi
digunakan untuk melihat perbedaan
kemampuan komunikasi matematis melalui
pembelajaran yang menerapkan CTL
dan konvensional. Tes diberikan kepada
siswa setelah pembelajaran dengan
menggunakan pembelajaran CTL dalam
bentuk uraian yang terdiri dari 6 soal. Dalam
penyusunan tes kemampuan komunikasi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
matematis, terlebih dahulu disusun kisi-kisi
soal, yang dilanjutkan dengan menyusun
soal beserta kunci jawaban. Selanjutnya,
untuk menjamin validasi isi (content
validity) dilakukan dengan menyusun
kisi-kisi soal tes kemampuan komunikasi
matematis pada materi Bentuk Aljabar.
Penilaian untuk jawaban kemampuan
komunikasi matematis siswa disesuaikan
dengan keadaan soal dan hal-hal yang
ditanyakan, adapun pedoman penyekoran
didasarkan pada pedoman penilaian rubrik
untuk kemampuan komunikasi matematis
2. Teknik Analisis Data
Berkaitan dengan pertanyaan
penelitian kemampuan komunikasi
matematis dianalisis dengan analisis
statistik deskriptif. Agung (1992: 3)
menyatakan bahwa statistik deskriptif
dapat berbentuk tabel frekuensi, tabel
silang dan beberapa statistik dasar seperti
rata-rata, median, modus dan varians.
Analisis statistik deskriptif dalam
penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan penelitian ini
dengan menggunakan tabel frekuensi,
rata-rata dan persentase. Analisis data
hasil kemampuan komunikasi siswa secara
deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan
tingkat kemampuan komunikasi matematis
siswa setelah proses pembelajaran.
Untuk menentukan kriteria kemampuan
komunikasi matematis siswa digunakan
kriteria yaitu kurang sekali, kurang, cukup,
baik dan baik sekali.
Sedangkan penentuan standar
minimal kemampuan komunikasi matematis
siswa berpedoman pada kriteria ketuntasan
minimal (KKM) ≥ 60 (Depdikbud, 1995:39).
Berdasarkan hal tersebut hasil postes
kemampuan komunikasi matematis siswa
dapat disajikan dalam bentuk interval
sebagai berikut:
0 ≤ SKKM ≤ 20 Kurang Sekali
21 SKKM 40 Kurang
41 SKKM 60 Cukup
61 SKKM 80 Baik
81 SKKM 100 Baik Sekali
Keterangan:
SKKM : Skor Kemampuan
Komunikasi Matematis Siswa
A. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Analisis Deskriptif Hasil Penelitian
Tes kemampuan komunikasi
matematis siswa dilakukan dua kali yaitu
tes awal (pre-test) yang berisikan tes
kemampuan awal siswa dan tes akhir
(post-test). Tes awal dan akhir diikuti oleh
masing-masing dua kelas dengan total
41 orang siswa pada kelas eksperimen
dan 42 orang siswa pada kelas kontrol.
Secara kuantitatif, tingkat kemampuan
awal komunikasi matematis siswa pada
kelas kontrol adalah jumlah siswa yang
memperoleh nilai kurang sekali sebanyak
66,67% dan kategori kurang sebanyak
33,33%.
Sementara kemampuan awal
siswa terhadap kemampuan komunikasi
matematis untuk kategori cukup, tinggi dan
sangat tinggi tidak ada. Sedangkan pretest kemampuan komunikasi matematis
siswa pada kelas eksperimen diperoleh
bahwa, jumlah siswa yang memperoleh
nilai kurang sekali sebanyak 70,73%; yang
memiliki nilai kategori kurang sebanyak
26,82%; kategori cukup sebanyak 2,44%,
dan tidak ada siswa yang memiliki
kemampuan awal dengan kategori tinggi
dan sangat tinggi.
Secara kuantitatif, hasil tes akhir
kemampuan komunikasi matematis siswa
pada kelas kontrol pada kategori penilaian
“kurang sekali” sebanyak 45,23%; untuk
kategori “kurang” sebanyak 23,81%,
untuk kategori “cukup” sebanyak 7,14%,
untuk kategori “tinggi” sebanyak 2,38%;
untuk kategori “sangat tinggi” sebanyak
0%. Sedangkan post-test kemampuan
komunikasi matematis siswa pada kelas
eksperimen diperoleh bahwa, jumlah
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
112
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
siswa yang memperoleh nilai kurang sekali
sebanyak 14,63%, yang memiliki nilai
kategori kurang sebanyak 29,26%, yang
memiliki nilai kategori cukup sebanyak
19,51%, yang memiliki nilai kategori tinggi
sebanyak 29,26%, dan yang memiliki nilai
kategori sangat tinggi sebanyak 7,32%.
Bila ditinjau dari tingkat kemampuan
komunikasi matematis siswa, maka
terdapat perbedaan antara kemampuan
komunikasi matematis di kelas eksperimen
dengan kelas kontrol. Berdasarkan hal
tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran dengan konvensional dapat
menghantarkan siswa pada kemampuan
cukup, sedangkan pembelajaran dengan
CTL dapat menghantarkan siswa pada
kemampuan tinggi dan sangat tinggi.
Berdasarkan deskripsi data di atas
hasil tes awal dan tes akhir digambarkan
dalam tabel berikut, di mana ditunjukkan
skor terendah (Xmin), skor tertinggi (Xmax­­),
Skor rata-rata () dan standard deviasi (s)
untuk kelas eksperimen dan kontrol seperti
pada Tabel 4.1 berikut:
Rata-rata skor siswa terhadap
materi Bentuk Aljabar dirangkum dalam
Tabel 4.2 berikut.
Pada Tabel 4.2 dapat dilihat
kemampuan komunikasi matematis siswa,
rata-rata proporsi skor uji awal dan uji
akhir siswa kelas kontrol adalah 7,69 dan
8,17. Bila diperhatikan rata-rata proporsi
skor uji akhir terjadi peningkatan rata-rata
proporsi skor sebesar 0,48. Sedangkan
kelompok eksperimen 8,37 dan 15,59
terjadi peningkatan rata-rata proporsi skor
113
sebesar 7,22. Selisih proporsi uji awal dan
uji akhir kelompok eksperimen lebih besar
dari selisih proporsi skor uji awal dan uji
akhir untuk kelas kontrol. Hal ini memberi
petunjuk bahwa kemampuan komunikasi
matematis siswa dengan pembelajaran
CTL lebih tinggi dibanding siswa dengan
pembelajaran konvensional.
Menurut data pada Tabel 4.2,
berdasarkan kriteria ketuntasan belajar
untuk kemampuan komunikasi matematis
banyaknya siswa kelas kontrol yang tuntas
belajar adalah 5 siswa dari 42 siswa atau
11,90%; sedangkan di kelas eksperimen
ada sebanyak 26 siswa dari 41 siswa
atau 63,41%. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa pembelajaran dengan CTL memiliki
keunggulan dibanding konvensional jika
dilihat dari ketuntasan siswa.
Sesuai dengan kriteria ketuntasan
secara klasikal bahwa suatu pembelajaran
dipandang telah tuntas jika terdapat 80%
siswa yang telah memiliki skor ≥ 65%
dari skor maksimum. Dengan demikian
secara klasikal kelas eksperimen maupun
kelas kontrol tidak memenuhi kriteria
ketuntasan belajar. Namun demikian
ketuntasan hasil belajar dan proporsi
tes dengan pembelajaran CTL lebih
baik dibanding dengan pembelajaran
konvensional, hal tersebut mengindikasikan
bahwa pembelajaran CTL lebih baik
untuk diterapkan dalam pembelajaran
matematika pada materi Bentuk Aljabar.
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan, rata-rata skor
kemampuan komunikasi untuk kelas
yang diberikan pembelajaran CTL adalah
15.59 dan untuk pembelajaran secara
konvensional adalah 8.17. Sedangkan
jika ditinjau dari ketuntasan, jumlah siswa
yang tuntas di kelas kontrol sebanyak 5
siswa, sedangkan di kelas eksperimen
sebanyak 26 siswa. Dari hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa rata-rata skor
kemampuan komunikasi matematis siswa
dengan menggunakan pembelajaran
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
CTL lebih tinggi, sedangkan dengan
pembelajaran konvensional lebih rendah.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan kemampuan komunikasi
matematis siswa antara pembelajaran yag
menerapkan CTL dengan konvensional.
Jika kita perhatikan karakteristik
pembelajaran dari kedua pembelajaran
tersebut adalah suatu hal yang wajar
terjadinya perbedaan tersebut. Secara
teoritis pembelajaran dengan CTL memiliki
beberapa keunggulan, pembelajaran ini
menyajikan materi yang dipelajari dengan
pengalaman siswa dalam kehidupan
sehari-hari di sekitar siswa, sehingga
materi yang disampaikan lebih mudah
dipahami.
G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
analisis data kemampuan komunikasi
matematis siswa dapat disimpulkan bahwa,
rata-rata proporsi skor uji awal dan uji
akhir siswa kelas kontrol adalah 7,69 dan
8,17. Bila diperhatikan rata-rata proporsi
skor uji akhir terjadi peningkatan rata-rata
proporsi skor sebesar 0,48. Sedangkan
kelompok eksperimen 8,37 dan 15,59
terjadi peningkatan rata-rata proporsi skor
sebesar 7,22. Selisih proporsi uji awal dan
uji akhir kelompok eksperimen lebih besar
dari selisih proporsi skor uji awal dan uji
akhir untuk kelas kontrol. Hal ini memberi
petunjuk bahwa kemampuan komunikasi
matematis siswa dengan pembelajaran
CTL lebih tinggi dibanding siswa dengan
pembelajaran konvensional.
Berdasarkan kriteria ketuntasan
belajar untuk kemampuan komunikasi
matematis banyaknya siswa kelas kontrol
yang tuntas belajar adalah 5 siswa dari 42
siswa atau 11,90%; sedangkan di kelas
eksperimen ada sebanyak 26 siswa dari
41 siswa atau 63,41%. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan
CTL memiliki keunggulan dibanding
konvensional jika dilihat dari ketuntasan
siswa yang artinya terdapat perbedaan
kemampuan komunikasi matematis siswa
yang pembelajarannya menerapkan CTL
dan konvensional.
DAFTAR PUSTAKA
Agung. 1992. Metode Penelitian Sosial:
Pengertian dan Pemakaian
Praktis. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Bansu I. Ansari. 2009. Komunikasi
Matematik (Konsep dan Aplikasi).
Banda Aceh. Yayasan Pena.
Baroody A.J, 1993. Problem solving,
Reasoning and Communication,
k-8: helping children think
mathematically, New York: Merril,
an Inprint of Macmillan publishing
company.
Depdikbud.1995. Garis-Garis Besar
Program Pengajaran (GPPP)
mata pelajaran matematika.
Jakarta:Depdikbud.
Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jakarta: Pusat
Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
NCTM. 1991. Professional Standards for
Teaching Mathematics.Virginia.
The National Council of Theachers
of Mathematics, Inc.
Nurhadi dan Senduk. 2003. Pembelajaran
Kontekstual dan Penerapannya
dalam KBK cetakan ke-1. Malang.
UMPRESS.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses
Pendidikan, Edisi 1, cetakan ke-6.
Jakarta. Kencana Prenada Media
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
114
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Group.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian
Pendidikan (Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta.
Muslimatun. 2006. Pembelajaran Berbasis
Masalah . (tersedia online)http://
digilib.unnes.ac.id , (diakses 10
Oktober 2009)
Aryan, Bambang. 2007. Kemampuan
Membaca dalam Pembelajaran
Matematika.http://rbaryans.
wordpress.com/2007/04/25/
kemampuan-membaca-dalam-
115
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
116
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
LEARNING MEDIA USED IN LEARNING VOCABULARY
Samhudi, M.Pd
Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis media belajar yang
digunakan oleh siswa kelas beginner BIMA Lhokseumawe dalam belajar
vocabulary, dan mendeskripsikan cara penggunaan media-media belajar tersebut
dalam pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas beginner BIMA
Lhokseumawe yang berjumlah 14 orang serta guru/ tutor yang mengajar dikelas
tersebut. Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
dua teknik pengumpulan data, yaitu observasi dan wawancara. Observasi
digunakan untuk mengetahui aktifitas siswa dan guru dalam penggunaan media
dalam pembelajaran vocabulary. Wawancara diperuntukkan untuk mengetahui
alasan penggunaan media tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
guru menggunakan beberapa media dalam proses pembelajaran vocabulary
di kelas beginner. Media-media belajar yang digunakan adalah gambar, CD,
menggambar di papan tulis, and benda nyata. Berdasarkan hasil pengamatan
dan wawancara, dari semua media yang digunakan, media CD merupakan media
yang paling menarik bagi siswa. Media ini membuat siswa lebih konsentrasi
dalam mendengar dan menonton pengucapan serta arti vocabulary untuk
selanjutnya akan diingat lebih lama. Walaupun demikian, media gambar adalah
media yang paling sering digunakan guru di kelas beginner BIMA Lhokseumawe
dalam mengajar dan mengenalkan kosakata baru dalam bahasa Inggris kepada
siswa.
A. Introduction
English is the first foreign language
in Indonesia. Many schools or courses give
English as one of the lessons. It seems
that interest in the teaching of English to
Elementary school is growing well. Even
tough, it does not get maximal result. The
important point is to children get basic
learning in English to make them easier to
learn further.
Brumfit explains that young
children have more opportunities than adult
in learning (1991: 28). They are learning
all the time without having worries and
responsibilities than adult. Their parents,
their friends and their neighborhoods
help them in learning. Their brains are
more adaptable before puberty than after.
And acquisition of language is possible
without self- consciousness at an early
stage. Above all, the most important thing
is to give very careful consideration to the
techniques for teaching English to children.
Including the use of media as working with
young learners in the elementary classroom
117
can be a rewarding and a demanding
experience. It is necessary to identify what
learning a language in school demand from
young children in the school environment
can offer them. The implication of these
demands and needs for the teacher is also
need to be acknowledged.
As stated before, the use of media
as learning aids is mostly believed to
facilitate the English classes. Although this
is not only factor to increase the quality of
English teaching, but the media can be as
an object or visual representation of the
real thing.
Vocabulary is one of the important
points of English learning. It is one of the
language components and as a base of a
language. That is why vocabulary building
should be given to children. Getting much
vocabulary is better because they will
have stronger base in learning and simple
vocabulary is the best choice for children
(colour, number, fruit and so on).
In learning English, the role of
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
vocabulary cannot be ignored in order to
achieve the target language. Vocabulary
is very useful for anyone who is studying
a foreign language. If the students do not
know any word of the language, surely he/
she is not be able to communicate. The
ability to understand the target language
greatly depends on vocabulary.
Some linguists also express their
ideas about students learning, one of
them is Anna in Goodman said that “Many
students consider learning vocabulary a
tedious job they try to reset list of words,
spelling, pronunciation, meaning and
synonyms only to realize hour. Later that
their result are hardly, satisfactory they
start blaming their poor memory. They said
the number of words in English and the
complete usage discourages the” (1989:
11).
In addition, in teaching learning
process, an English teacher for the
beginners level is plays a very important
role, because he/ she is the most influential
person in the classroom. They can support
the success of the teaching and decisions
to be made. Each decision involved a
challenge to the skills or accessing a
new situation and coming up with new
problems. Furthermore, the efficiency of
the use of media depends on how well a
teacher determined and manipulated the
good media for children.
According to Sabilah, the function
of media is to help and to develop teaching
technique of English teacher in teaching
four English skills (listening, speaking,
reading and writing) (2000: 19). In this
study tries to specify only on the vocabulary
building because children will get a
base of English strongly by enlarge their
vocabulary. The writer also interested with
the study about media in order to motivate
children to learn English with fun and joy.
This study is to know the media that used
by the teacher in teaching vocabulary and
how effective is the media. Hopefully, it
will be useful especially to enlarge the
knowledge about teaching English for
young learner. Moreover, the researcher
is interested in conducting this research
to investigate the problems found above.
Considering on the explanation
above, the researcher wants to conduct
a research to answer the following
research problem; (1) what kinds of
learning media are used by the students
at BIMA Lhokseumawe in learning English
vocabulary?, and (2) how are the media
used by the students at BIMA Lhokseumawe
in learning English vocabulary? While the
objective of this research was (1) to know
the kinds of learning media are used by the
students at BIMA Lhokseumawe in learning
English vocabulary. (2) to describe the
ways in using learning meadia in learning
English vocabulary at BIMA Lhokseumawe.
This research is scoped on
teaching media which are used by the
teacher in teaching English vocabulary to
the young learner at BIMA Lhokseumawe.
The media observed is only limited on the
visual media such as pictures, flash cards,
puppets, etc. This research is limited on the
young learners or the students who are in
the beginner group and the teacher who
teaches them.
B. Review of Literature
1. Definition of Vocabulary
According to Richard in Nurrofiah,
vocabulary is the one of the most important
aspect of the foreign language learning.
Further, vocabulary is meaning associated
with spelling form (2002: 14). The focus of
definition is in the meaning. Thus, teaching
vocabulary is the instruction that used to
develop student’s ability to use vocabulary
items in free in meaning conversation.
Learning vocabulary does not
mean learning word isolation. Word should
be learned in context because a word may
have different meaning in different context.
In fact, word in isolation frequently does
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
118
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
not match with the intended meaning, the
meaning of the word will be depended on
the context itself. This idea is supported by
French by saying that to know the English
words and their meaning would be useless,
unless someone know how the words put
together meaningfully in a sentence (1983:
1). On the other hand, vocabulary growth is
based on the learners’ experiences. Words
must be associated with the meaning in
order to be useful for communication.
According to Ur vocabulary can be
defined roughly as the words we teach in
foreign language (1996: 60). While Hornby
in Advanced Learners’ Dictionary of Current
English defined vocabulary as a total
number of words that make up a language
body of word know to a person or used it for
a particular book, subject and test of word
used in book (1989: 142).
Based on those statements,
vocabulary is a word or sound which
represents a certain meaning as an
utterance unity. It is the most important
part in language learning. To achieve four
skills, a student must have acquired the
vocabulary well. It is clear that vocabulary
is a fundamental of language. So, there is
no language without vocabulary.
2.
The Importance of Vocabulary
In teaching learning English,
vocabulary is very important, because
without learning any vocabulary, it is difficult
to communicate, if we want to know the
students’ ability in mastering English,
it is needed to know their vocabulary
including structure and pronunciations.
The students can understand the teacher
speaking, because they have gotten some
vocabularies in mind and also can express
their ideas in writing. On the other hand,
they can read a text and translate it into the
target language. Therefore, they must learn
the meaning of vocabulary, forming and
using it in a sentence. However, they often
face difficulties when they want to express
119
their idea in English without having any
vocabularies. They are weak and unable
to communicate each other if they lack of
vocabulary.
Vocabulary plays an important role
because it appears in every language skills.
Many experienced instructors know how
important the vocabulary is. Krakowian
agrees that communication oriented the
most presses concern for the learners are
the need to master an educational foreign
language vocabulary (1988: 34).
It means that dealing with learning
English as a foreign language, vocabulary
is one of the components of language which
has the most important role in mastering
four language skills. Furthermore, there
is another importance of vocabulary.
Vocabulary is a basic skill to communicate;
people will not be able to communicate
easily without knowing it. It means that
vocabulary is important in communication.
We cannot communicate with others in a
certain language if we do not know much
words of the language.
Finally, without ignoring other
language components, it is clear that
vocabulary is the most important factors
in the teaching learning of English as a
foreign language even in all language.
So, teachers are expected to have the
excellent way to make the students interest
in learning vocabulary so that the teaching
learning objectives can be carried out
successfully.
3.
Young Learner’s Characteristic
According to Beaty, there are
four young learners’ characteristics that
should be get attention from the teacher if
they want to create the effective teaching
learning process, they are; (1) Physical skill
(2) Cognitive skill (3) Communication skill
(4) Creative skill (1988: 16).
a. Physical Skills
The physical growth and
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
development of young children during their
school is such obvious occurrence. That
we sometimes take it entirely for granted.
Children will of course grow bigger,
stronger, more agile and more coordinated
in their movement without outside help.
Teacher should realize that
individual differences in development
account for many such lags. Some children
are slower than other in developing
coordination. The problem of lack of
opportunity to practice skill may account
from other. But no matter what the cause
of development lags. Classroom workers
can help young learners to improve both
large and motor coordination by providing
activities, material, and equipment that will
gives them practice with basic movement.
b.
Cognitive Skills
Advancing cognitive skills in
young learners involves them develop
their intellectual or teaching abilities.
Many courses programs have over
locked or down played this area of
development. Somehow we have the
notion that we should not teach children
to learn until they enter at age five or six.
The courses were declared concern with
play. We seem to have overlooked the
fact that young learners are progressing
in their intellectual development with or
without our help. Cognitive development
is important as physical or language
development. In fact, they go hand in hand.
It occurs at the same time and it integrated
into every other aspects of the child’s
development. We also have forgotten that
principal direction of young children is not
entertainment or recreation, as it is among
adult, but learning. It is essential, therefore
that teacher of young learners understand
how cognitive abilities develop and how
they can utilize play in their classroom to
promote cognitive development and give
it direction.
c. Communication Skills
Most people now agree that the
early childhood years, from birth to school
entrance are among the most important
years of development. At no other time of
life does development advance so rapidly
in so short a time. Surely one of the most
remarkable aspects of this period is the
acquisition of a native language. From
being totally nonverbal at birth, the young
child develops the ability to things and
speaks in a native language by the time he
or she enters school.
How does this happen? Although
psycholinguists advance several theories,
the process is still something of a mystery.
But we do know certain facts. We know that
the drive to communicate is inherent in all
human beings. We also know that children
will strive endlessly to accomplish this goal
of communication unless totally confused
or frustrated by circumstances. And we
know that if verbal ability is not developed
during these crucial early years, it can affect
a child’s thinking and learning abilities the
rest of his life.
Physical or mental disability may
prevent language development from
occurring at its normal time or rate. An
abusive or uncaring home environment
may discourage children from trying to
express themselves verbally. The opposite
is also true; if a child’s every need is
fulfilled without his having to utter the
word, language is often delayed. Some
twin satisfies the communication drive by
developing their own verbal or nonverbal
communication system, thus delaying
native language development.
We also know that modeling
behavior is as important here as in other
aspects of development. Children from
highly verbal homes seem to speak early
and well. While children from homes where
nonverbal communication is the norm is
often delayed in learning to speak.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
120
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
d. Creative Skills
When it was discussed about
creative person, it generally means
someone who has originally ideas, who
does thing in new and different way,
who use imagination and inventiveness
to brings about novel forms. Can young
learners be creative like this? Not only they
can be. Creativity seems to be intuitive in
young children, sometime they are born
with. From the very beginning they have
the capacity to look at things, to hear, taste,
and touch thing from on entirely original
perspective – their own.
After all, they are new unique
beings in the strength and complex world.
The only way they have to make sense
of things around them is to explore the
with their senses, try them out see what
them the way they are, see if they can be
any different. Young children bring to any
activity a spirit wonder, great curiosity, and
spontaneous drive to explore, experiment,
and manipulate in a playful and original
style. This is creativity. It is the same
impulse that artist, writer, musician and
scientist have.
Yet, you may respond not all
children behave like this, as we note the
cognitive skills point. Some children show
little interest in anything new. Some will not
engage in activities unless directed by the
teacher. These are the children who need
our special assistance in recapturing the
creativity they were born with their skill.
As we know, that sometimes
people may interfere the foreign language
with their mother language. They tend to
make mistakes that occur after they have
seen they words and pronounce the words
as the based to do in their own language.
Harrycraft in Nurrofiah for instance
stated that there is a contrast between
Indonesia language and English. In our
native Indonesia we tend to use some
words between pronounces and written
are same, but in English between word and
121
written are usually different. These kinds of
contrast should be taught to the students.
Students should be introduced how to
pronounce and use English and compare
with their own language (2002: 26).
4. Teaching English to the Young
Learners
Teaching English to the young
learners has many aspects. In more formal
sense it is concerned with storytelling or
sings a song, reading to the young learners,
and planed group tasks. There also an
informal phase which is very important,
consisting of everyday conversation
between children and teacher and between
children themselves.
Young learners have greater
immediate read to be motivate by the
teacher or the materials in order to learn
effectively. More than anything else, young
learners are curious. At the same time it
is probably true to say that their span of
attention or concentration is considerably
less than that of an adult. Young learners
will often seek teacher approval.
The fact that the teacher notices
them and shows appreciation of what they
are doing is of vital importance. It is suggest
that children need constants change of
activity. They need activities which are
exciting and stimulate their curiosity. They
need to be involved in something active.
They will usually not sit and listen. They
need to be appreciated by the teacher such
an important figure for them. It is extremely
unlikely that they will have any motivation
outside this consideration, and so almost
everything of them is depend on the attitude
and behavior of the teacher.
5. Media in Teaching Vocabulary
Media is the channel of
communication. Media are considered
as instructional media when they carry
massages with an instructional purpose
that is to facilitate communication. The
teaching media is media that is used
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
to support the instructional interaction
between the teacher and the students
(2014). Media has a very important role in
increasing the children’s interest to follow
and pay attention to the lesson. Because by
using media, the students do not only listen
to what is said and taught by the teacher,
but also see, notice, and fell it directly. It can
increase students’ motivation in learning,
activate student to give responses, enable
the student to repeat what they learn,
stimulate the student to study harder,
and encourage the student to give direct
feedback.
Teacher of young learners have to
use some visuals in their teaching activities
to facilitate their teaching. Latuheru states
that there are two kinds of teaching media,
they are: visual media and audio-visual
media (2014).
a. Visual Media
Foreign language learning needs
to be supported by the attractiveness of
the language instructional media, they are
needed. The visual media is one type of
language instructional media, then can be
easily get than audio visual media. Visual
media classified as follows: picture, flash
card, puppet, realia or real objects.
1. Pictures
Picture is photographic
representation people and things (1964:
162). Picture can translate abstract
concept into more realistic or concrete
items teachers can get various colorful
picture from used magazines, posters, or
from newspaper or calendars. According
Finocciaro, every classroom have file of
three of pictures they are (1) picture of
individual persons or individual object; (2)
picture of situation in which person are
doing something with objects and in which
the relationship of object and/or people can
be seen; (3) a series of picture in one chart.
The advantage of using picture
is they are easy to use because they do
not require any equipment and they are
inexpensive. Besides they will last long and
can be used in many ways at all levels in
the primary or the beginner.
2. Flash Cards
For active recall of vocabularies,
the flash card may have a picture one
side and the teacher writes the name of
the thing on the other side so that teacher
will know that picture is being shown. The
teacher will show the picture one by one
and the student will mention the name
of the thing stated on the pictures. If the
students fill, the teacher will mention the
first letter of the name of the picture. For
example:
The teacher will say. “I like eat banana, my
name starts with M.” Then the students
will guess the answer, it is expected that
is very helpful for the student to remember
the vocabularies. Flash card is can be in
the form of photograph, drawing or picture
cut out of the magazines and newspaper.
For a language instruction, drawing is not
necessary the work of art. Stick figure can
be drawn on the whiteboard or cardboard.
The picture must be enough, so the student
can be see them clearly.
3. Puppets
Puppets are very popular among
children. They have been popular for
hundreds years because they are so
much fun. A teacher can do many things
with the puppets. He/ she can move them
around and make them talk, dance, walk,
just like actors in play. There are a lot of
different kinds of puppet among other they
are (1) Finger puppet (2) Card puppet (3)
Glove puppets, here are the explanations
of them.
a. Finger Puppets
You can use your fingers as
puppet by painting them fingers paint or
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
122
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
you can make mini puppets that slip over
your fingertips. You can decorate each
finger in the different way.
illustrating intonation pattern; dialogs and
stories for listening and repeating; aural
comprehension exercise and event test.
b. Card Puppets
Card of puppet are also simple to
make. They can be moved with stick taped
to the back, or with hidden card strap.
3. Overhead Projector
The teacher of young learners
needs this kind of equipment. Presenting
the material using overhead projector
allows the teacher to face the children all
the time and provides the children with a
common focus of attention. The teacher
can come back with the same material
whenever he or she wants to and the
teacher can use the same material with
different classes.
c. Glove Puppet
A glove puppet fits on to your hand
and when you move your finger, puppet’s
arm and head moves. Make a glove puppet
of each hand, so that the puppet can talk
each other.
b. Audio Visual Media
Audio visual media is the most
powerful aids among the resources for
teaching and learning. By using audiovisual media the object can not only show
but also heard and seen. There are three
kinds of audio visual media, they are (1)
Cassette recorder (2) The tape recorder
(3) Overhead projector, here are the
explanations of them.
1. Cassette Recorder
Songs, stories, drama, operas,
poems and speeches, as well as the voice
of people in the market (all of available
on the record) are in valuable teaching
foreign language and should be used at
which ever step in the lesson they would
most appropriate. Language learning can
combined with recreation or aesthetic
appreciation for a change of face in the
classroom to enlarge motivation.
2. Tape Recorder
When the tape recorder exist,
the teacher should make every attempt
to use them extensively. Many kinds
of supplementary materials can be
places on tape, pronunciation drills
where contras are featured; sentences of
varying length to teach rhythm; sentence
123
C. Research Method
This research was conducted
to describe the learning media used by
the students at BIMA Lhokseumawe
in learning vocabulary. The subjects of
this research are the students and the
teacher who are thought at beginner class
at BIMA Lhokseumawe. The learners
were about 9 up to 10 year old. The
other subject examined is the media in
teaching vocabulary which are used by
the teacher at beginner class of BIMA
Lhokseumawe. The data was collected by
using two research instruments, they were:
observation checklist and interview.
Observation was used to observe
teaching and learning process. The
researcher observed the teaching learning
process at beginner class. The researcher
made observation checklist to observe
the activities done by the students in the
class. The second instrument used in this
research was interview. It was directed
to the teacher at beginner class of BIMA
Lhokseumawe.
D. Data Analysis and Research
Finding
1. Data Analysis
There are two instruments dealing
with the analysis of the data collection. First
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
is the data that researcher got from the
interview. The second is the data gathered
from the observation.
a. Kinds of Media Used in Learning
at Beginner Class
The media used by the teacher
for the students in teaching English were
various. The media that used were CD,
still pictures (a picture in the paper and the
picture can be anything that needed by the
teacher), drawing whiteboard and realia.
The teacher of beginner class
always uses the picture as the media that
states in CD, still picture or by drawing
blackboard. The teacher realized that the
function of media is very important to get
the students attention. To make it clear, the
following media were explained.
1. CD (Compact Disc)
The reason why the teacher uses
CD is because it makes the teacher
easier to introduce the vocabulary to their
students The teacher turns on the CD
player and ask the students to repeat the
word that appear in every picture, and in
the last of the lesson the teacher reviewing
the words which already taught.
2. Whiteboard Drawing
The teacher uses drawing
whiteboard to teach the student about the
words that have relation with the students’
environment. The words were like table,
chair or car. This media were often used
by the teacher because it does not need
much preparation, the teacher only needs a
board marker and draw the picture depend
on the theme or the material would be
presented at that day.
3. Picture
There are many pictures in the
wall of the beginner class, the teacher
takes the picture that needed and shows
the picture one by one to be guessed by
the students in Indonesian language and
the teacher gives them the English words.
For example, the teacher takes the solar
system picture then asks the students
to count the planets and tell them about
planets, stars, and sun.
Picture is very useful for the
English teacher, it can make the students
learn two things for example, the teacher
takes monkey’s picture and asks the
student “what is the monkey doing?” it
means that the teacher has already given
the students two ways of vocabulary
teaching. She already taught the students
about monkey and what monkey was
doing.
4. Realia
The teacher at beginner class
shows a square that has different colors
and throws the square to the floor and
the students try to guess the color shown
above. There are black, blue, white,
yellow, red, and green. Before throwing
the square, the teacher wrote the words
of every color to the Indonesia meaning.
The square of color is interesting when
the teacher throws it to the floor and the
students waits to guess what the color will
shows in the top of the square, maybe it will
makes the situation of the class is crowded
but it is ok if the students is learning. They
learn English vocabulary actively.
The other realia used is the
furniture inside the class such as table,
chair, and cupboard and the part of the
class like windows and door, the teacher
is only need to point to the things and the
students guess.
b. The Ways of Using Media
In this section the researcher
presents the data concerning to the way
of using the media to teach vocabulary for
beginner class. Based on the interview
and observation, the researcher got some
information about the media in teaching
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
124
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
vocabulary for young learners. In this case,
beginner class is taken as the subject of
this research and it has 15 students. The
students are divided into 3 groups, so
each group consisted of 5 students with
the different seat.
The media used by the teacher
in teaching vocabulary are CD, picture,
blackboard, and realia. Concerning to
the CD, the teacher turns on the CD and
guided the students to look at the pictures
that appear in the television. For this media
the teacher told about the alphabet, after
spelling the letter together the teacher asks
every group to spell those words together,
and the last was every student should spell
the letter by themselves.
In using the picture, the teacher
shows the solar system picture and asks
the students to count how many planets
there are. The students on the beginner
class have good eager to count in English.
The teacher also gave the other words like
star, cloud, sun, and moon. The teacher
evaluates the students by asking every
group to repeat counting in English.
Drawing whiteboard is used by the
teacher to teach them about “my country”
and “village”. The teacher only needs to
bring a board marker and a little beat of
drawing ability. She just draws the flag and
a map of our country. Before coming to the
material, the teacher did brainstorming to
the students. She asked about the country
we lived and the color of our flag.
Realia was used to introduce
them about the color and the things in
the classroom. The teacher was using a
square that has different color in every
side. The teacher wrote the color in English
and Indonesian meaning then throws the
square to the floor and the students will
guess the color that shows above group by
group. The things inside the class are also
useful for the teacher to teach vocabulary
such as, table, ruler, blackboard, cupboard,
rubbish bin, and so on. The teacher did not
125
found any difficulty in using realia, because
those things have already existed in the
class. All the teachers have to do is only
pointing to the thing and the student will try
to say it in English words.
Based on the interview done by the
researcher, teaching English at beginner
class of BIMA is mostly focused on aquaring
more vocabulary as the basic skill to master
a foreign language in the future.
2. Discussion
Basically, there are many media
that are used by the teacher at beginner
class, and those media are very helpful
for the teacher because they attract the
students’ attention and the students’
motivation. CD is the most favorite media
for the students, the students just sit and
wait the picture that will appear on the
television. The CD is published by British
Broadcasting Organisation (BBC).
Realia is used in limited activities,
because the teacher has the theme as a
limitation. The theme taught by using realia
is about the things in the surrounding.
This is good for the students because they
will learn vocabulary from the things that
are familiar with them.
The media used by the teacher
at beginner class were good enough and
also interesting for the students in learning
English vocabulary. The most appropriate
media was picture and whiteboard drawing.
Picture makes the students concentrate
but if the class consists of many students
the teacher should bring the bigger picture.
Whiteboard drawing is also interesting for
students but it needs teacher’s ability in
drawing. If the teacher cannot draw well she
should start to draw a simple subject such
as a mountain, a bus, or a house.
Based on the observation and
interview did by the researcher, the students
were interested in picture and drawing
whiteboard. On those media they much
enjoy the lesson when the teacher draws
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
a picture or when the teacher takes one
of picture on the wall. The picture help the
students to find out new vocabulary and it
can make them easier to memorize English
vocabulary.
The media given to the students
should be appropriate with their ability.
In giving the material to the students,
of course it should be attractive and
interesting. The good media can increase
students’ motivation in learning English
vocabulary, activate the students to give
respond, repeat what they have learnt, and
encourage them to give direct feedback.
E. Conclusion
Based on the result of the research,
it was found that the teacher at beginner
class used some teaching media in
teaching English vocabulary to the student.
The media which used by the teacher
were picture, CD, drawing whiteboard, and
realia. From all the media that use, CD are
the most interesting media. This media let
the students to concentrate in watching
and hearing English words and put them
in their mind. Moreover from all the media
used drawing picture was very often used
by the teacher. The reason is the students
were active in guessing picture drawn by
the teacher in the whiteboard.
References
Ary, Donal.1970. Introducing to Research
in Education, New York: Holt
Rinehart
and Winstor.Inc.
for-young-learners.html. Accessed
on March 30th 2014
Bogdan, Robert C, Biklen, K.S. 1982.
Qualitative Research for Education:
An Introduction to Theory and
Methods. Boston London: Allyn &
Bacon.
Brumfit, Christoper. Jayne Moon and Roy
Tange. 1991. Teaching English to
Children. London, London: Harper
Colling Publisher.
Beaty, Jeanice, 1988. Preparing for Primary
School Teacher. London: Prentice
Hall
Finochiaro, Mary. 1964. Teaching Children
Foreign Language. New York:
Mcgraw Hill Company.
French, Virginia Allen. 1983. Technique
in Teaching Vocabulary. London:
Oxford University Press.
Goodman, 1989. Reading a
Psycholinguistics. London: Oxford
University Press.
Harmer, Jeremy. 1991. The Practice of
English Language Teaching, New
Edition. New York: Longman Ltd.
Hornby, AS. 2000. Oxford Advanced
Learner’s Dictionary. New York:
Oxford University Press.
Bas, Aart. 2001. English Syntax and
Argumentation, second edition.
New York: Palgrave.
ISP Nation, 1990. Teaching and Learning
Language. New York: New Burry
House.
Beaty, Jeanice. 1988. Preparing for Primary
School Teacher. London: Prentice
Hall.
Kasbolah, Kasihani. 1995. Teaching English
to Young Learners. Malang: IKIP
Malang
Blogspot.com/2008/12/teaching-english-
Krakowian, Bogda. 1988. A vocabulary
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
126
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Building Program is a Necessary
Not a Luxury. English Teaching
Forum, Vol. XXVI.
Latuheru.
www;//http//
teachingmediadefinitions.edu.69.
html. Accessed on June 3rd 2014.
Mashur, Syafi’i. 2000. Directive English
Grammar. Surabaya : Karya
Utama.
McCarthy, Michael. http://www.Sil.org:8090/
Silber.2004, accessed on June
27th, 2014
Murcia, Marian. 1969. Teaching English
as Second or Foreign Language.
California: University of California.
Nugroho, Satrio. 2007. Complete English
Grammar. Surabaya: Kartika.
Nurrufiah, Ade. 2002. A Study on the
Technique used of in Introducing
New Vocabulary for the Beginner
Level of Planet Kids English
Course in Malang. Unpublish
Thesis. Malang: UMM.
Purwaningsih, http://goliat.ecnext.
com /coms2/gi/0199-5785232.
Accessed on March 30th 2014
Sabilah, Fardini. 2000. A Closer Look at
the Used of The Media in English
Classes at Elementary Schools.
Unpublish Proposal. Malang: UMM
Sugiono. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: Universitas Indonesia.
127
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
128
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
VERBAL PROCESS IN KARONESE LANGUAGE
Oleh: Jumat Barus, S.S., MS
e-mail: [email protected]
Abstrak
Artikel ini merupakan hasil penelitian deskriptif, yang berhubungan dengan
studi verbal process dalam bahasa Karo, dalam hal process-nya dan
participant yang termasuk di dalamnya. Verbal process adalah proses
saying ‘ucap’ atau communicating ‘komunikasi’. Dalam bahasa Inggris,
hal ini tandai dengan kata-kata kerja seperti say, call, tell, ask, express,
declare, dan sebagainya, dan dalam Bahasa Karo hal ini sampaikan dengan
kata erdilo ‘memanggil’, ngataken ‘mengatakan’, sungkun ‘bertanya’,
ertenah ‘mengundang’, dan lain-lain. Bahasa Karo tidak mengenal tenses,
sebagaimana yang dikenal dalam Bahasa Inggris, sehingga untuk menandai
waktu Bahasa Karo menggunakan circumstance ‘kata keterangan waktu’.
Dengan studi ini diharapkan agar pengguna bahasa Karo akan menjadi
termotivasi untuk menjaga kelestarian bahasa tersebut. Sebab nilai yang
terkandung dalam warisan budaya berfungsi sebagai bagian dari kekayaan
para penutur bahasa Karo yang dengan hal itu persatuan Indonesia bisa
tetap terjaga.
Keywords: verbal process, participant, sayer, verbiage, receiver, target, range,
circumstance, projected, projecting, quoting, reported
I. Introduction
1.1 Background of the Research
Halliday (1994:95) makes the point
that the relationship between the forms
of utterances and the type of meaning is
based on the principle that what speakers
say makes sense in the context in which
they are saying it.
The term ‘verb’ should actually
be used to indicate an activity related
to saying but, in fact, traditional as well
as modern grammarians use the term
to indicate a wide range of activities.
‘Verbs’ in traditional grammar are called
‘processes’ in functional grammar. Verbs
may be defined as “doing words” but in a
large number of instances processes are
not always doing words at all, but rather
express state of being or having. Saying or
speaking is certainly a kind of action, so it is
called a verbal process. Verbal processes
are not only related to the process of
129
saying, but also quoting (direct), reporting
(indirect), projecting, and responding. In
English, it is realized by such verbs as say,
tell, announce, ask, report, etc. There are
more than a hundred verbs belonging to
the type of verbal process.
Karonese language, a traditional
language spoken by Batak Karo ethnic
group, also recognizes verbal process.
They are realized by verbs such as erkata
‘say’, kataken ‘tell’, dilo ‘call’, suruh ‘ask’,
etc.
The verbal process in English
is almost similar to that in Karonese
Language. However, the position and also
the type of the processes in these two
languages may be different. In English,
verbal process cannot be put at random. It
is fixed at the second order as shown in (1).
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Meanwhile, verbal process in
Karonese language is much more loose in
which it can be put in any position as shown
in (2a) and (2b).
Furthermore, in English, processes
used in sentences are different according
to the type of tenses. English has present,
past, and past participle form as shown in
(3a,b,c).
The rough or crude descriptions of
the two languages indicate that the verbal
process is worthwhile studying. Thus,
various aspects of verbal process in the
two languages are worthwhile analyzing
and studying.
1.2 Problems of the Study
This study is designed to answer
some problems which are formulated as
the following:
(1) What are the characteristics
of verbal process in Karonese
language?
(2) W h a t p a r t i c i p a n t s a n d
circumstances are associated
to verbal process in Karonese
language?
1.3 Purposes of the Study
In relation to the problem, the
objectives of this study are
1. to describe the characteristics
of Verbal Process based on
functional grammar and its related
aspects in Karonese language,
2. to show the participants and
circumstances which are
associated to Verbal Process in
Karonese language.
1.4 Scope of the Study
The analysis begins with an
introduction to Systemic Functional
Grammar in terms of the Metafunctions of
language: ideational function, interpersonal
function, and textual function. Various kinds
of process in this theory, such as material
process, behavioral process, mental
process, verbal process, relational process,
existential process, and meteorological
process are also covered.
The description of verbal process
in the Karonese language is on the notion
of verbal process: process of saying,
process of quoting (direct), process of
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
130
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
reporting (indirect), process of projecting
a proposition, process of projecting a
proposal and process of responding; and
the participants involved: sayer, verbiage,
receiver, target, and range.
1.5 Significance of the Study
The findings of this study are
expected to be useful for helping others
in learning Karonese language especially
in comprehending verbal processes in the
language. This study is also expected to be
useful as a valuable input or a reference
for those who want to learn more about the
topic. The findings also become the basis
for the Karonese speakers to appreciate
their cultures, and the governments can
keep the heritages of the world.
II. Theoretical Background
A functional grammar is essentially
a ‘natural’ grammar, in the sense that
everything in it can be explained, ultimately,
by reference to how language is used.
Systemic Functional Grammar views
language as a resource for making meaning
(Halliday, 1994: xiii). Basically, the ways
in which language is used for different
purposes and in different situations have
shaped its own structure. In other words,
it attempts to describe language in actual
use and to focus on texts and their context.
It is concerned not only with the structures
but also with how those structures construct
meaning as well. Thus, to understand
linguistic meaning, we have to appreciate
the function of items in a structure.
Halliday (1994: xiii) states that it
is called functional grammar because the
conceptual framework on which it is based
is a functional one rather than a formal one.
It is functional in three distinct although
closely related senses: in its interpretation
(1) of texts, (2) of the system, and (3) of the
elements of linguistic structures.
Gerot and Wignell (1994: v) note
that functional grammars focus on the
131
purposes and uses of language. They
derive from examination of spoken and
written language and the contexts of their
use. They investigate how language is
used, and its effect.
In An Introduction to Functional
Grammar (1994:xiii), Halliday explains that
functional grammar is arranged to explain
how the language is used by applying the
functional components called metafunction
in which all languages are organized around
three kinds of meanings: (i) to understand
the environment (ideational), (ii) to act on
the others in it (interpersonal), and (iii) to
explain that language is used to relate what
is said or written to real world and to other
linguistic events (textual).
2.1 Metafunctions of Language
The ways in which human being
understands and uses a language in order
to fulfill three functions: to represent, to
exchange, and to organize experience,
are known as metafunctions of language.
Technically, these metafunctions are
termed by Halliday as ideational function,
interpersonal function, and textual function.
2.1.1 Ideational Function
The ideational function means that
language is used to organize, understand
and express our perceptions of the world
and of our own consciousness. Gerot and
Wignell (1994:12) note that ideational
meanings are meanings about phenomenaabout things (living and non-living, abstract
and concrete), about goings on (what the
things are or do) and the circumstances
surrounding these happening and doings.
These meanings are realized in wordings
through participants, processes and
circumstances. Meanings of this kind are
most centrally influenced by the field of
discourse.
Suhadi (2005) points that the
experiential function is largely concerned
with content or ideas which regard clause
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
as the representations of experience in
terms of transitivity structures presented
with processes and associated with
participants and circumstances.
The system of transitivity
describes about the types of processes
and the elements in each process i.e. the
process itself, the participants and the
circumstances.
2.1.2 Interpersonal Function
The interpersonal function means
that language is used to enable us to
participate in communicative acts with
other people, to take on roles and to
express and understand feelings, attitude
and judgments (Bloor & Bloor, 1995: 9). It
means that people use language to interact
with others around them, to establish and
to keep the relationship with them and
to influence their behavior. In addition,
Gerot and Wignell (1994:13) explain that
interpersonal meanings are meanings
which express a speaker’s attitudes and
judgements.
In English, the interpersonal
function involves mood structures which
express interactional meanings such
as what the clause is doing, as a verbal
exchange between the encoder and the
decoder. Furthermore, one of the main
purposes of communicating is to interact
with other people such as to establish and
maintain appropriate social links with them
and it is realized with the language.
2.1.3 Textual Function
The textual function means that
language is used to organize or relate what
is said (or written) to the real world and to
other linguistic events. This involves the
use of language to organize the text itself
in terms of theme structures which express
the organization of the message; how the
clause relates the surrounding discourse
and the context of situation in which it is
being produced.
Gerot and Wignell (1994:14) state
that textual meanings express the relation
of language to its environment including
both the verbal environment—what has
been said or written before (co-text) and
the non verbal, situational environment
(context). These meanings are realized
through patterns of theme and cohesion.
Textual meanings are most centrally
influenced by mode of discourse.
In conclusion, the three categories
above are used as the basis for exploring
how meanings are created and understood,
because they allow the matching of
particular types of wording.
2.2 Types of Process
A process is associated with
three components: (1) the process itself
which is realized in verbal group, (2) the
participants involved which is realized in
the nominal group and (3) circumstance
which is realized in the adverbial group or
prepositional phrase.
There are six different process
types identified by Halliday, according
to the major class: Material process,
Mental process, and Relational process
and according to the minor class: Verbal
process, Behavioral process, Existential
process. As a subcategory of the
Relational, the Meteorological process is
often regarded as one kind of process, thus
giving as if there were seven categories of
process.
The six different process types are
summarized in table 1.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
132
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
III. METHOD OF RESEARCH
3.1 Research Design
The library research conducted
in this study is following Herbert’s theory
(1990), in which he says that a library
research is a research to collect ideas,
theories, and reported empirical data
within the context of scholarship in the
library. Then, since this study describes
certain characteristics of verbal processes,
it is called descriptive research, and is
also following Herbert (1990) in which he
claims that descriptive research aims to
designated characteristics of a population.
In this study, the population is the verbal
processes in Karonese language.
The theory adopted in this study is
from Halliday, namely Systemic Functional
G r a m m a r. I n S y s t e m i c F u n c t i o n a l
Grammar, language is interpreted as a
system of meanings, followed by forms
known as lexicogrammar through which
the meanings can be realized.
Thus, this study is an attempt to
highlight how Halliday (1994) extensively
postulates a concept called process in
his linguistic theory known as Systemic
Functional Grammar. This research is
especially an attempt to describe certain
characteristics of verbal process in
Karonese Language.
In the analysis, this school of
grammar which is developed by his
followers such as Bloor and Bloor (1995),
Eggins (1994), Gerot & Wignell (1994) is
referred to.
3.2 Sources of Data
Woolams, (1991) in his A Grammar
of Karo Batak stated that Karonese
language is a language spoken by Karo
people who live in Northern Sumatra,
Indonesia. Karo people live to the northwest of Lake Toba, occupying the area
of some 5.000 square kilometers roughly
between 3o and 3o30’ north latitude, and
133
98 o and 98 o30’ east latitude. Karoland
comprises two main areas:
1) the Karo Highlands, which include
all of the Karo regency (Kabupaten
Karo), the administrative centre of
which is the town of Kabanjahe.
Highland Karo territory extends
southwards into Kabupaten Dairi
(in particular the kecamatans or
subdistricts of Taneh Pinem and
Tiga Lingga), and eastwards into
part of kecamatan Si Lima Kuta,
in Kabupaten Simalungun. The
Karo call it is area of highland
settlement Karo Gugung.
2) The Karo Lowlands include the
geographically southernmost sub
districts of Kabupaten Langkat
and Kabupaten Deli Serdang.
This area extends from the Karo
plateau down to around the
villages of Bohorok, Namo Ukur,
Pancur Batu and Namo Rambe
in the north, and Bangun Purba,
Tiga Juhar and Gunung Meriah in
the east. The Karo refer to these
areas as Karo Jahe (=downstream
Karo), and the dialect which is
used in this analysis belongs to
this Karo Jahe Dialect.
The highlands are regarded as
the original homeland and cultural centre
of the Karo people. There, the language
is less subject to external influences, and
kinship ties and traditional life a still strongly
maintained.
The Karo lowlands are also much
more subject to coastal Malay influence,
often embracing Islam, and sometimes
abandoning their patrilineal names and
allowing contact with their highland cousins
to lapse. Many Karo have also settled
in the provincial capital of Medan, some
78 kilometers or two hours by road from
Kabanjahe, which has resulted in an
inevitable attenuation of both their linguistic
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
“purity” and their cultural ties with the
highlands. Being raised in a multi-cultural
Indonesian-speaking urban environment,
where they comprise only 4% of the
population, many first-generation Medanborn Karonese no longer use Karo when
speaking with their parents, and readily
admit to being less proficient than they
would like to be, on those occasions when
they visit the ancestral village.
The term “Batak” is not much
used for self-description by the Karo
people, except to help outsiders locate
them in the ethnic of Indonesia. Amongst
themselves, and to other Bataks, they
simply call themselves Kalak Karo or Orang
Karo (Karo and Indonesian respectively,
meaning “the Karo people”). They call their
language Cakap Karo (in Karo) or Bahasa
Karo (in Bahasa Indonesia).
This study is mostly based on the
language used in the Karo Lowlands. It is
based on the data drawn from two main
sources namely written texts and spoken
materials. The written texts are derived from
the descriptions and analyses conducted
by various linguists in Karonese language.
Some specific examples proposed by
them are also adopted in this study. The
spoken materials are provided by the native
speakers of the language.
3.3 Steps of the Research
The data are arranged in several
steps such as administering, checking,
verifying, and classifying the words
systematically in accordance with the
intuition of the writer as a speaker of
Karonese language, and also based on
various theories given by various linguists
such as, Halliday (1994), Bloor and Bloor
(1995), and Gerot, and Wignell (1994).
are derived from the writer’s invention
on the basis of his comprehension of
the theory as well as his competence of
the language. All sentences given are
presented in the written forms without
phonetic transcription.
IV. Discussion
4.1 Notion of the Process
Notion of the process in Karonese
Language is how we use the verbal
process in public because it related to the
communication between one person and
others in social life.
We will use different types of
communicating with the people in our
circumstance, so the usage of the language
is different too. We need various kinds of
communication act: to make statements,
ask questions, give directives with the
aim of getting the hearer to carry out
some actions, make an offer of promise,
thanking or expressing an exclamation.
Therefore, to arrange the words is by using
the process.
4.1.1 Process of Saying
Language is one of the creations
of human’s mind and that is the only one
which differs us from other creatures.
Language is usually uttered or said. Saying
is one of the actions used by the society to
communicate in responding to the needs
of people as social being. The typical
verbs of process of saying in Karonese
verbal process are realized by such verbs
as nina ‘say’ , kataken ‘tell’, nuriken ‘tell’,
suruh ‘ask’, nungkun ‘ask’, ermoumou
‘announce’, etc.
3.4 Data Analysis
The data taken will be analyzed
descriptively based on the theory given
above. Some sentences given as examples
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
134
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
reports only the main point of what was
said and the form may be quite different
from the original statement.
There are several types of reported
clause, depending on whether it is a
reporting statement, a question, an order,
or a suggestion.
However, loose the order, in
Karonese language, the process is tightly
tied to the Receiver, Target and Range. The
relation is fixed.
4.1.2 Process of Quoting (Direct)
Process of quoting is similar with
the direct speech in which there is no
editing or changing to the sentence quoted.
Direct speech refers to the repetition of
what someone has said. In other words, the
exact words or sentence from someone will
be reproduced in direct speech (process
of quoting). The words quoted are usually
marked by quotation mark (“…”).
4.1.5 Process of Projecting a Proposal
The projecting a proposal refers
to reported offers, suggestions and
commands in positive forms or in negative
forms. The typical verbs used in projecting
a proposal are:
- the verb nina ‘say’
- verbs specific to offers and
commands such as nganjurken
‘suggest’, mindo ‘request’
4.1.3 Process of Reporting (Indirect)
Reporting is an action to retell what
someone has said. The speaker usually
135
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
the person or objects, but typically human.
The participants are typically realized by
subject, direct object, and indirect object
in the syntactic structure. Furthermore,
as in the other processes, verbal also has
participants, they are: sayer, verbiage,
receiver, target, and range.
4.1.6 Process of Responding
When somebody asks us, we must
give the responds to make the conversation
connect. Most of the questioning
conversation demand information, and
the answer expected is a verbal process.
Responds are used to answer or to
connect sentences such as question, order
or reply. Answering sentence is a sentence
which is used to answer other people’s
sentence (Sibarani, 1997:184).
Process of responding means
how to respond or reply the statement
from someone with the polite manner,
and the words for responding should be
suitable. There are some verbs which are
used in process of responding: nganjurken
‘suggest’, nunjukken ‘indicate’, etc.
(4) Ia nunjukken sikapna
tertarik
man dahinna. (he) (imply) (attitude
his) (interested) (in) (job his) ‘He
implied that he would be interested
in his job.’
(5) Ia
nganjurken kita njumpai
kepala sekolah.(He) (suggest)
(us) (meet)
(head) (school)
‘He suggested to us to meet the
headmaster.’
4.2 Participants Involved
The participants are involved
in verbal process. Participants in the
verbal process are mostly human: male,
female, adult, kid or clitic. A clitic is a set
of words which are uttered as a noun in
the brief form of the first person pronoun,
the second pronoun, and the third person
pronoun. The entities represented can be
4.2.1 Sayer
Halliday (1994:140) states that
the sayer can be anything that put out a
signal. Sayer is the person who produces
the utterance. It is one of the participants of
Verbal Process which typically human, but
not necessarily so. In Karonese language,
sayer can be in any position, but usually it
is put after verb.
4.2.2 Verbiage
The verbiage refers to the function
that corresponds to what has been said.
This may mean one of the two things.
- It may be the content of what is
said.
(4)Banci katakendu bangku ija
bunikenna buku ndai?
(can) (tell you) (to me) (where
hide he book the).
‘Can you tell me where he has
hidden the book?’
(5)Ibabana bukum
ndai ku
rumahna.
(bring)
(book your) (the) (to)
(house his).
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
136
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
‘Your book has been brought by
him to his house’
- It may be the name of the
saying.
(6) Anakku nungkun aku sada
pertanyaen.
(Son my) (ask)
(me) (a)
(question)
‘My son asks me a question’
(7) Te m a n k u n g a t a k e n l i m a
pernyataen.
(Friend my) (said) (five)
(statement)
‘My friend states five
statements’
4.2.3 Receiver
The receiver is the one to whom
the saying is directed. The receivers
are mostly human, and take a position
in passive sentences. Meanwhile, the
receivers take a position after a verb in
active sentences. Active sentence is the
form of sentence which is rarely used in
written form or spoken form in Karonese
Language.
(8) Iturikenna masalahna
man
bapana
(tell he) (problem his) (to) (father
his)
‘His father was told about his
problem by him’.
(9) Isungkunina kami uga cara
ngerjakensa.
(ask he)
(we) (how) (way) (do
it)
‘We were asked by him how to do
it’.
(10)Ia mindo maaf
man bangku.
(he) (ask) (pardon) (to) (me)
‘He asked me for pardon.
4.2.4 Target
Target is the person or thing that
is targeted by the process. Target is fairly
peripheral participant and does not occur
with direct or indirect speech. The verbs that
137
are accepting a target include: njelasken
‘describe’, muji ‘praise’, nyanjung ‘exalt’,
ngerayu ‘persuade’, ngkritik ‘criticize’.
(11)Ia njelasken cara nasakken arsik.
(he) (describe) (way) (cook) (arsik)
‘He describes the way how to cook
arsik.
(12)Ula suruh ia
ngerayu aku
tentang sie.
(Not) (ask) (him) (persuade) (me)
(about) (this)
‘Don’t ask him to persuade me
about this thing.
(13)Ia ngkritik pemerintah tentang
proyek parik ndai.
(he) (criticize) (government) (about)
(project) (river) (the)
‘He criticizes the government about
the irrigation project’.
4.2.5 Range
Range is the element that specifies
the scope of the process. Range in the
verbal process refers to the verbiage that
has been discussed in the former subtitle. Besides in verbal process, range also
occurs in Material, Behavioral, and Mental
Process. Range in the verbal process
is equivalent to the matters as in other
processes. It refers to what has been
described or told.
The verb related to this matter is
expressed by such prepositions as tentang
‘about’ and mengenai ‘concerning’.
(14)La
kueteh tentang kai
si
cakapken kalake.
(Not) (know) (about) (what) (talk)
(they)
‘I don’t know about what they
talked.
(15)Tentang kai kin sipelajariko jah.
(About) (what) (learn you) (there)
‘About what you learnt there.
16) Ia nerangken pelajaren mengenai
past tense man muridna.
(He) (explain) (lesson) (concerning)
(past tense) (to) (students)
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
‘He explains lesson concerning
past tense to his students.
V. Conclusions
Having described the subject
matter of this study on verbal processes
in Karonese Language, conclusions are
drawn as the following.
First, the characteristics of verbal
process in Karonese language consist of
process of saying, process of quoting,
process of reporting, process of projecting
a proposition, process of projecting a
proposal and process of responding.
Second, different processes
in functional grammar have different
participants, and verbal processes, it may
have five possible participants, they are:
sayer, verbiage, receiver, target and range.
Bibliography
Bloor, T. & Bloor, M. 1995. The Functional
Analysis of English. New York:
Arnold.
Eggins, S. 1994. An Introduction to
Systemic Functional Linguistics.
London: Printers.
Fungsional Sistemik Terhadap
Tata Bahasa dan Wacana.
Medan: Program Pascasarjana
USU.
Suhadi, Jumino. 2005. “Process in
Systemic Functional Grammar
as a Comprehensive Concept”
in Julisa, Vol. 5 No. 2. Medan:
Faculty of Literature, UISU
Medan.
Tarigan, H. G. 1993. Pengajaran Wacana.
Bandung: Angkasa.
Thompson, G. 1996. An Introduction to
Functional Grammar. Tokyo:
Arnold Ltd.
Woolams, Geoffrey Douglas. 1991. A
Grammar of Karo Batak. Griffith
University.
_________. 2004. Tata Bahasa Karo. Bina
Media Perintis. Medan.
Yusmaniar. et. al. 1987. Struktur Bahasa
Karo. Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa
Depdikbud. Jakarta.
Gerot, L. and Wignell. 1994. Making Sense
of Functional Grammar. Sydney:
Stabler Ltd.
Halliday, M.A.K. 1994. An Introduction to
Functional Grammar. London:
Edward Arnold.
Noor, Yusmaniar. 1987. Struktur Bahasa
Karo. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa
Depdikbud.
Prinst, Darwin. 2002. Kamus Karo –
Indonesia. Medan. Bina Media.
Saragih, A. 2001. Bahasa dalam Konteks
Sosial. Pendekatan Linguistik
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
138
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SUPERVISI KEPALA SEKOLAH
Oleh : Ramlan, S.Ag, M.Pd
Abstract
Supervision of teaching is a school principal effort in coaching teachers so that
teachers can improve the quality of teaching through the steps of planning,
teaching real appearance and make changes in a rational manner in an effort to
improve student learning outcomes. Principals as supervisor has an autonomous
authority in supervising the functions of teaching, good teachers, curriculum,
methods, students, and learning schedule. supervision of the principal goal is
to provide services and assistance to teachers and other education personnel
in order to develop teaching and learning situations that teachers do in the
classroom, which, in turn, to improve the teaching quality of teachers in the
classroom so also increase the quality of student learning.
Keywords : Supervision Principal
A. Pengertian dan Fungsi Supervisi
Kepala Sekolah
1. Pengertian Supervisi Kepala
Sekolah
Menurut Arikunto (2004:4), istilah
supervisi berasal dari bahasa Inggris yang
terdiri dari dua akar kata, yaitu super yang
artinya “di atas” dan vision mempunyai
arti “melihat”, secara keseluruhan maka
supervisi diartikan sebagai kegiatan
yang dilakukan oleh pengawas dan
kepala sekolah sebagai pejabat yang
ber-kedudukan di atas atau lebih tinggi
dari guru, untuk melihat atau mengawasi
pekerjaan guru.
Di dalam Carter Good’s Dictionary
of Education (Mulyasa, 2003:155), supervisi
diartikan sebagai berikut: “Segala usaha
pejabat sekolah dalam memimpin guruguru dan tenaga kependidikan lainnya,
untuk memperbaiki pengajaran, termasuk
menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan
dan perkembangan jabatan guru-guru dan
merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan
pengajaran dan metode-metode mengajar
serta evaluasi pengajaran”.
Sutisna (dalam Mulyasa, 2003:155)
mendeskripsikan supervisi sebagai
bantuan dalam pengembangan situasi
139
belajar mengajar yang lebih baik. supervisi
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
disediakan untuk membantu para guru
dalam menjalankan pekerjaannya agar
lebih baik.
Dari beberapa pengertian di
atas dapat disimpulkan bahwa supervisi
pengajaran adalah upaya seorang kepala
sekolah dalam pembinaan guru agar guru
dapat meningkatkan kualitas mengajarnya
dengan melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang
nyata serta mengadakan perubahan
dengan cara yang rasional dalam usaha
meningkatkan hasil belajar siswa.
Usaha dan kegiatan membimbing
guru meliputi bimbingan di dalam kelas
seperti metode penyampaian, cara mengajar, hubungan siswa dengan guru, dan
proses belajar mengajar, bimbingan di
luar kelas meliputi teknik membuat satuan
pelajaran, menulis dan mereview satuan
pelajaran, pengembangan proses, termasuk menstimulasi agar guru memiliki
motivasi dalam bekerja, menyeleksi
pertumbuhan dan perkembangan
jabatan guru-guru, merevisi tujuan-ujuan
pendidikan, bahan pengajaran dan metodemetode mengajar serta meng-evaluasi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
pengajaran untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolahnya.
2. Fungsi Supervisi Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai supervisor
punya wewenang yang otonom dalam
fungsi mensupervisi pengajaran, baik
tenaga pengajar, kurikulum, metode, siswa,
dan jadwal pembelajaran.
Piet A. Sahertian (2000:102) Tugas
kepala sekolah sebagai supervisor adalah
membantu guru dalam 1) pembinaan
dan peningkatan profesi mengajar, 2)
pembinaan dan peningkatan sikap personal
dan sikap profesional. Uraian tugasnya
kepala sekolah sebagi supervisor antara
adalah:
a. Membantu guru dalam memahami
strategi belajar mengajar
b. Membantu guru dalam merumuskan
tujuan-tujuan belajar
c. Membantu guru dalam menyusun
berbagai pengalaman belajar
d. Membantu guru dalam menyusun
keaktifan belajar
e. M e m b a n t u g u r u d a l a m
meningkatkan ketrampilan dasar
mengajar
f. Membantu guru dalam mengelola
kelas dan mendinamisasikan kelas
sebagai suatu proses kelompok
g. Membantu guru dalam memecahkan
masalah keluh-kesah
h. Membantu guru dalam memecahkan
masalah kesejahteraan
Gwyn (dalam Suhertian, 2000:22)
memandang ada 10 fungsi supervisi, yaitu:
1) membantu guru mengerti dan memahami
siswa, 2) membantu mengembangkan dan
memperbaiki kualitas guru, 3) membantu
seluruh staf sekolah agar lebih efektif dalam
melaksanakan proses belajar megajar, 4)
membantu guru dalam meningkatkan cara
mengajar yang efektif, 5) membantu guru
secara individual, 6) membantu guru agar
dapat menilai para siswa agar lebih baik,
7) menstimulir guru agar dapat menilai diri
dan pekerjaannya, 8) membantu guru
agar merasa bergairah dalam pekerjaan
dengan penuh rasa aman, 9) membantu
guru dalam melaksanakan kurikulum di
sekolah dan 10) membantu guru agar
dapat memberikan informasi yang seluasluasnya kepada masyarakat tentang
kemajuan sekolahnya.
Agar situasi belajar mengajar di
sekolah dalam arti yang luas tersebut
dapat diperbaiki, maka menurut Wiles
(Suhertian, 2000:18), kepoala sekolah
selaku supervisor harus memiliki lima
keterampilan dasar, yaitu: 1) keterampilan
dalam hubungan kemanusiaan, 2)
keterampilan dalam proses kelompok,
3) keterampilan dalam kepemimpinan
pendidikan, 4) keterampilan dalam
mengatur personalia sekolah, dan 5)
keterampilan dalam evaluasi.
B. Tujuan dan Teknik Supervisi
1. Tujuan Supervisi
Dari pengertian supervisi
sebelumnya dapat diketahui bahwa
tujuan supervisi kepala sekolah adalah
untuk memberikan layanan dan bantuan
kepada guru dan tenaga kependidikan
lainnya dalam rangka mengembangkan
situasi belajar mengajar yang dilakukan
guru di kelas, yang pada gilirannya untuk
meningkatkan kualitas mengajar guru di
kelas sehingga meningkat pula kualitas
belajar siswa. Dengan demikian, tujuan
supervisi kepala sekolah pada hakikatnya
bukan hanya untuk memperbaiki
kemampuan guru dalam mengajar,
akan tapi juga untuk mengembangkan
potensi kualitas guru dan memberikan
stimuli agar guru memiliki motivasi dalam
melaksanakan tugas.
Menurut Burhanuddin (1998:100),
Secara rinci tujuan dari supervisi adalah
sebagai berikut: 1) meningkatkan
efektivitas dan efisiensi belajar mengajar,
2) mengendalikan penyelenggara bidang
teknis edukatif di sekolah sesuai dengan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
140
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
ketentuan-ketentuan dan kebijakan
yag telah ditetapkan, 3) menjamin agar
kegiatan sekolah berlangsung sesuai
dengan ketentuan yang berlaku, sehingga
berjalan lancar dan memperoleh hasil
yang optimal, 4) menilai keberhasilan
sekolah dalam pelaksanaan tugasnya, 5)
memberikan bimbingan langsung untuk
memperbaiki kesalahan, kekurangan dan
kekhilafan serta membantu memecahkan
masalah yang dihadapi sekolah, sehingga
dapat dicegah kesalahan lebih jauh
(Burhanuddin, 1998:100).
Sementara itu Amentembun
(dalam Mulyasa, 2003:157) merumuskan
sembilan tujuan supervisi. Antara lain
adalah:
a. Membina kepala sekolah dan gurugurus untuk lebih memahami tujuan
pendidikan yang sebenarnya
dan peranan sekolah dalam
merealisasikan tujuan tersebut.
b. M e m p e r b e s a r k e s a n g g u p a n
kepala sekolah dan guru-guru
untuk mempersiapkan siswanya
menjadi anggota masyarakat yang
lebih efektif
c. Membantu kepala sekolah dan
guru mengadakan diagnosis
secara kritis terhadap aktivitasaktivitasnya dan kesulitankesulitan belajar mengajar, serta
menolong mereka merencanakan
perbaikan-perbaikan.
d. Meningkatkan kesadaran kepala
sekolah dan guru-guru serta
warga sekolah lain terhadap
cara kerja yang demokratis dan
komprehensif, serta memperbesar
kesediaan untuk tolong menolong.
e. Memperbesar semangat guru dan
meningkatkan motivasi berprestasi
untuk mengoptimalkan kinerja
secara maksimal dalam profesinya.
f. Membantu kepala sekolah untuk
mempopulerkan pengembangan
program pendidikan di sekolah
141
kepada masyarakat.
g. Melindungi orang-orang yang
disupervisi terhadap tuntutantuntutan yang tidak wajar dan
kritik-kritik yang tidak sehat dari
masyarakat.
h. M e m b a n t u k e p a l a s e k o l a h
dan guru-guru dalam
mengevaluasi aktivitasnya untuk
mengembangkan aktivitas dan
kreativitas siswa.
i. Mengembangkan rasa kesatuan
dan persatuan (kolegitas) di antara
guru.
Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa tujuan supervisi kepala
sekolah adalah untuk mengembangkan
potensi guru secara optimal, meningkatkan
m o t i v a s i g u r u d a l a m m e n g a j a r,
melahirkan kepe-mimpinan yang sanggup
meningkatkan efektivitas dan efisiensi
program sekolah secara keseluruhan
dan memperkaya lingkungan para guru,
memberi kesempatan kepada guru
untuk bekerja dan meningkatkan kinerja
meng-identifikasi serta memecahkan
berbagai permasalahan yang dihadapinya,
melibatkan guru dalam merumuskan
tujuan-tujuan, menilai kegiatan pendidikan,
menilai program sekolah dan segala
usaha kepala sekolah dalam penyesuaian
pengajaran dengan kebutuhan dan
perkembangan siswa.
2. Teknik Supervisi
Selain prinsip-prinsip dalam
supervisi perlu juga diperhatikan teknikteknik dalam mensupervisi tersebut.
Sementara itu teknik dalam pelaksanaan
supervisi pengajaran di suatu sekolah
bisa berbeda sebagaimana dikemukakan
oleh para pakar. Made Pidarta (1996:2)
merumuskan beberapa teknik supervisi
sebagai berikut:
a. Teknik Observasi Kunjungan
Kelas.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Kepala sekolah melakukan
observasi kelas yang sedang
belajar dibawah bimbingan guru.
Tujuannya ingin memperoleh
data tentang segala sesuatu
yang terjadi di dalam proses
belajar mengajar. Hal-hal yang
perlu dicatat oleh supervisor: 1)
suasana kelas, 2) cara memulai
dan menutup pelajaran, 3)
kecocokan metode yang dipakai,
4) media yang digunakan, 5)
tugas-tugas yang diberikan
kepada siswa. Kehadiran Kepala
Sekolah untuk mengobservasi
dapat diberitahukan kepada guru
atau tidak diberitahukan terlebih
dulu kedua-duanya mengandung
kebaikan maupun kelemahan.
b. Pertemuan formal dan informal.
Kepala sekolah dengan guru atau
sekelompok guru mengadakan
pertemuan baik secara terencana
maupun tidak guna membahas
topik-topik yang berkenaan
dengan proses belajar mengajar
atau keluhan-keluhan lainnya
untuk dicarikan solusi yang lebih
baik.
c. Teknik supervisi sebaya (tutor
sebaya).
Hal ini dilakukan oleh guruguru yang sukses yang diberi
kesempatan oleh Kepala
Sekolah membantu guru yang
membutuhkan pertolongan dalam
proses belajar mengajar terhadap
guru-guru mata pelajaran yang
sejenis.
Burhanuddin (1998:106),
menyatakan bahwa ada banyak teknik
supervisi yang dapat dipergunakan dalam
peningkatan ke-mampuan personil sekolah
diantaranya yaitu:
a. Kunjungan sekolah (kunjungan
supervisi)
Kunjungan dilakukan oleh kepala
sekolah atau pengawas. Teknik
ini merupakan teknik yang paling
sering dipakai untuk mengamati
proses kerja, alat yang dipakai,
dan metode yang digunaka. Hasil
observasi dianalisis kemudian
didiskusikan dengan guru, serta
disusun program yang baik untuk
memperbaiki proses belajar
m e n g a j a r. K u n j u n g a n k e l a s
sebaiknya dipersiapkan secara
cermat dan dilaksanakan dengan
hati-hati.
b. Pembicaraan individual
Pembicaraan secara individual
merupakan teknik supervisi
yang efektif sebab memberi
kesempatan seluas-luasnya bagi
kepala sekolah atau penilik dengan
berbicara langsung dengan guru
tentang masalah yang berkaitan
dengan profesional pribadi mereka.
Masalah pengajaran, penggunaan
alat peraga dan segala sesuatu
yang dibutuhkan guru.
c. Diskusi kelompok
Diskusi kelompok merupakan
suatu kegiatan kelompok dalam
situasi tatap muka, bertukar
informasi atau untuk memutuskan
suatu keputusan tentang masalah
tertentu. Dalam diskusi ke-lompok
harus sebaiknya tidak mempersoalkan kesulitan yang bersifat
pribadi, melainkan membina kerja
sama antar guru agar saling
mengisi, membantu dalam usaha
meningkatkan kemampuan
mereka.
d. Demonstrasi mengajar
Metode ini hampir sama dengan
micro teching bagi mahasiswa
sewakti melakukan praktek
mengajar dihadiri oleh mahasiswa
lain yang berperan sebagai
siswa, rencana demontsrasi
sebaiknya disusun secara teliti
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
142
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
dan mengutamakan penekanan
yang dianggap penting. Setelah
dilakukan demonstrasi, diadakan
diskusi tentang aspek yang
ditekankan dan permasalahan
yang ada.
e. Kunjungan kelas antar guru
Kunjungan kelas antar guru
biasanya lebih efektif dan disukai
karena menciptakan keakraban
antara sesama guru. Agar lebih
berdaya guna, sebelum melakukan
kunjungan perlu diperhatikan
hal-hal berikut ini: 1) Terlebih
dahulu menyusun tujuan dan
hal-hal yang akan diobservasi, 2)
Memberikan kesempatan seluasluasnya kepada guru baru yang
kurang berpengalaman untuk
mengadakan kunjungan kelas, 3)
Memberitahukan terlebih dahulu
sebelum melakukan kunjungan
kepadaguru yang akan dikunjungi,
4) Membuat catatan yang sesuai
dengan tujuan kunjungan, 5)
Mendiskusikan hasil kunjungan
dengan guru kelas yang dikunjungi
dan dengan sesama guru lainnya.
f.Lokakarya
Merupakan suatu kesempatan untuk bekerjasama,
mempertemukan ide,
mendiskusikan masalah atau
meningkatkan kemampuan pribadi
guru dalam bidang profesi masingmasing.
g. Orientasi pada situasi baru
Sebelum melaksanakan tugasnya
pada lingkungan baru, guru
perlu diberi kesempatan untuk
beradaptasi terhadap lingkungan
dan tugas baru. Orientasi pada
saat awal kerja akan menimbulkan
rasa senang dan tenang, selain
karena merasa diterima juga
dapat mengerti tuntutan yang
ada sehingga dapat mengadakan
143
penyesuaian diri secara tepat dan
cepat. Orientasi ini mencakup
beberapa aspek:
1) O r i e n t a s i p e r s o n i l , y a i t u
menjelaskan tugas pada setiap
orang dari tingkat yang terendah
sampai tertinggi. Orientasi ini
ditujukan memberikan kesempatan
kepada mereka untuk meminta
petunjuk, saran, bantuan, dan
lain-lain sesuai dengan tugasnya
di lingkungan yang baru.
2) Orientasi terhadap program,
menjelaskan rencana dari
kegiatan yang berkenaan dengan
lingkungan organisasi. Orientasi
ini ditujukan untuk menunjukkan
peran serta yang diharapkan
dari guru baru dalam proses
administrasi pendidikan di sekolah.
3) Orientasi terhadap fasilitas,
menjelaskan faslitas yang dapat
digunakan untuk meningkatkan
efisiensi pekerjaan, terutama yang
berhubungan dengan tugas guru,
misalnya mengenai alat peraga,
alat olah raga dan sebagainya.
4) O r i e n t a s i l i n g k u n g a n ,
memperkenalkan siatuasi dan
kondisi yang ada di sekitar sekolah
yang berhubungan dengan
kegiatan-kegaiatan sekolah,
misalnya memperkenalkan guru
kepada pen-gurus BP3 baik
secara formal maupun informal,
memperlihatkan berbagai aktivitas
masyarakat terutama yang
berhubungan dengan program
sekolah dan lain-lain.
C. Prinsip-prinsip Supervisi
Masalah yang dihadapi dalam
melaksanakan supervisi di lingkungan
pendidikan saat ini adalah bagaimana cara
mengubah pola pikir yang bersifat otokrat
dan korektif menjadi sikap yang konstruktif
dan kreatif, suatu sikap yang menciptakan
situasi dan relasi di mana guru-guru merasa
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
aman dan merasa diterima sebagai subjek
yang dapat dikembangkan. Untuk itu,
supervisi harus dilaksanakan berdasarkan
data dan fakta yang objektif.
Menurut Azmi (2002:45), ada tujuh
prinsip supervisi yang harus diperhatikan
supervisor dalam me-laksanakan supervisi:
a. Prinsip ilmiah, yaitu melaksanakan
tugas dengan berdasarkan
fakta, data konkrit yang objektif.
Menggunakan alat ukur atau
instrumen yang dapat dijadikan
sumber informasi, sebagai
feedback terhadap proses belajar
mengajar, sistematis, berencana
dan berkesimbangan.
b.Terbuka, yaitu tidak menyembunyikan sesuatu baik itu jadwal
materi maupun hasil ataupun
berbagai temuan kelemahan atau
kelebihan dalam kinerja profesi.
c.Demokratif, yaitu menjalankan kegiatan supervisi dalam suasana
saling menghargai, menghormati,
sharing dan kekeluargaan dalam
visi dan misi yang sama untuk
meningkatkan kualitas kinerja
profesi.
d.Kooperatif, yaitu supervisi harus
di-jalankan dengan berlandaskan
prinsip kerjasama dan secara
optimal diarahkan untuk mencapai
tujuan bersama.
e.Konstruktif, yaitu kegiatan supervis
dijalankan secara optimal untuk
membina, membangun dan memberdayakan potensi keilmuan,
profesi.
f. Integral Komprehensif, maksudnya
supervisi harus memperhatikan
semua aspek secara terpadu.
g.Researchable, artinya superisor
harus memandang supervisi
sebagai upaya melakukan
penelitian perbaikan atau action
research dan development
research.
Menurut Darma (2003:16), seorang supervisor harus berkomunikasi
dengan jelas, mengharapkan yang terbaik
dari orang-orangnya, berpegang pada
tujuan, dan berusaha untuk memperoleh
komitmen. Ke-empat prinsip supervisi
tersebut dirincikan dengan penjelasan
sebagai berikut:
a. Prinsip kerjasama komunikasi
Kejelasan berkomunikasi merupakan prinsip yang sangat
penting dan prinsip-prinsip lainnya
sebenarnya hanya berfungsi
sebagai penunjang. Dalam
berkomunikasi hendaknya: 1)
gunakan kata-kata atau istilah yang
dapat dimengerti dengan bahasa
yang tidak menimbulkan salah
pengertian karena penafsiran
yang berbeda-beda, 2) komunikasi
yang langsung ke pokok tujuan,
3) penyampaian pesan dengan
ringkas dan berisi informasi yang
benar-benar diperlukan, dan 4)
hindari pesan-pesan yang bertolak
belakang.
b. Prinsip harapan yang terbaik
Dalam mengimplementasikan
prinsip harapan yang terbaik ini,
hendaknya memperhatikan halhal berikut: 1) hargai martabat
bawahan untuk memperoleh rasa
hormat dan kerjasama dari orang
anda, 2) sampaikan harapan
melambung yaitu berbicara
dengan penuh keyakinan akan
adanya kerjasama dan hasil kerja
yang memuaskan, dan 3) tekankan
pada ke-butuhan masa datang,
bukan pada masa lampau.
c. Prinsip berpegang pada tujuan
Dalam menerapkan prinsip ini,
bentuk komunikasi yang efektif
adalah komunikasi yang terkendali
dan terpusat pada tugas yang
dihadapi. Untuk bisa berpegang
pada tujuan perlu diperhatikan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
144
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
hal berikut: 1) fokus pada satu
topik, jangan bicara banyak hal
sekaligus, 2) dorong adanya
perilaku yang mengarah pada
tujuan, dan 3) batasi adanya
interupsi karena komunikasi yang
sering terputus jarang produktif.
d. Prinsip mendapat komitmen
Tujuan utama supervisi adalah
untuk memperoleh komitmen bagi
ke-ikutsertaan atau keterlibatan
dalam hal-hal yang telah
diputuskan. Persetujuan dan
komitmen dapat diperoleh dengan
menggunakan cara-cara sebagai
berikut: 1) ringkaskan hal-hal
yang telah di-bicarakan, 2) minta
keikutsertaan dan keterlibatan
dalam hal-hal mengambil
kesepakatan, 3) dengarkan
sungguh-sungguh saat orang lain
berbicara, 3) pastikan bahwa orang
lain telah memahami hal-hal yang
telah anda kemukakan, 4) pinta
persetujuan atau komitmen secara
langsung, dan 5) tindak lanjuti
hal-hal yang telah dibicarakan dan
diputuskan.
Burhanuddin (1998:104) mengatakan agar supervisi dapat dilakukan
secara efektif dan efisien, perlu diperhatikan prinsip-prinsip berikut:
a. Praktis, artinya dapat dikerjakan,
sesuai dengan situasi dan kondisi.
b. Fungsional, artinya supervisi
dapat berfungsi sebagai sumber
informasi bagi pengembangan
manajemen pendidikan dan
peningkatan proses belajar
mengajar.
c. Relevans, artinya pelaksanaan
supervisi seharusnya sesuai
dan menunjang pelaksanaan
mengajar.
d. Ilmiah, artinya supervisi perlu
dilaksanakan secara: 1)
sistematis, terprogram dan
145
berkesinambungan, 2) objektif,
bebas dan prasangka,
3)
menggunakan prosedur
dan instrumen yang sah dan
terandalkan (valid dan reliabel), dan
4) didasarkan pada pendekatan
sistem.
e. Demokratis, bila supervisi sesuai
dengan prinsip demokrasi maka
proses yang ditempuh untuk
pengambilan keputusan ialah
melalui musyawarah untuk
mencapai mufakat. Hakikat
musyawarah akan dicapai bila
semua peserta yang terlibat dalam
proses supervisi itu memiliki jiwa
dan semangat kekeluargaan
sehingga sanggup menerima dan
menghormati pendapat orang lain.
f. Kooperatif, prinsip kooperatif
meng-haruskan adanya semangat
kerjasama antar supervisor dengan
supervisi (guru). Hasil karya
manusia dapat dicapai seoptimal
mungkin apabila terjalin kerjasama
yang baik antara manusia-manusia
yang terlibat dalam suatu usaha
yang dilakukan untuk mencapai
tujuan-tujuan bersama, khususnya
untuk peningkatan kualitas tenaga
kependidikan yang profesional.
g. Konstruktif dan Kreatif, supervisi
yang didasarkan atas prinsip
konstruksi dan kreatif akan
men-dorong kepada orang yang
dibimbing untuk memperbaiki
kelemahan atau kekurangannya
serta secara kreatif berusaha
meningkatkan prestasi kerjanya.
Meskipun supervisi bersifat
mengawasi pelaksanaan program
pendidikan dan pengajara, tidak
berarti supervisor berusaha untuk
mencari-cari kesalahan orang lain.
D. K e p a l a S e k o l a h s e b a g a i
Supervisor
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Perubahan yang dilakukan pemerintah dalam rangka peningkatan mutu
pendidikan melalui profesionalisme guru
akan sia-sia tanpa campur tangan dan kerja
keras kepala sekolah sebagai “top leader”
atau manager yang mampu memenej
secara administrativ dan progresif serta
“peka” dalam segala persolan yang ada
disekolahnya, sebab kepemimpinan
merupakan factor penting yang menentukan
bejalan atau tidaknya sebuah organisasi.
Maka dari itu Kepala Sekolah
adalah Pemimpin bagi sekolahnya yang
dituntut memiliki kemampuan manejerial
sehingga dapat mengarahkan dan
mengerahkan segenap sumber daya yang
ada untuk mencapai tujuan organisasi,
yaitu pada pencapaian efisiensi dan
efektifitas pembelajaran sehingga menjadi
suatu keharusan bahwa salah satu tugas
kepala sekolah adalah Supervisor, yaitu
mensupervisi pekerjaan yang dilakukan
oleh tenaga kependidikan.
Pelaksanaan supervisi oleh Kepala
Sekolah juga penting untuk mendapatkan
perhatian dan dilaksanakan, seperti
dinyatakan dalam buku pelaksanaan
supervisi oleh kepala sekolah (Depdikbud
1993:1) bahwa: “Peningkatan dan
pemerataan mutu pendidikan merupakan
strategi yang harus diusahakan terus
menerus oleh semua aparat pendidikan.
Untuk mewujudkan strategi
pendidikan tersebut maka lembagalembaga pengelola pendidikan
hendaklah mem-punyai kemampuan
untuk mengendalikan dan menilai secara
kontinyu, menggunakan metode penyajian,
sarana, dana, tenaga serta waktu yang
efisien, sehingga unsur kepengawasan
mempunyai makna yang penting dalam
pengelolaan pendidikan”.
E. Dampak Positif Supervisi Kepala
Sekolah
Kepala sekolah selaku supervisor,
dengan melaksanakan program supervisi,
diharapkan akan membawa dampak
yang positif sehingga guru termotivasi
untuk melaksanakan tugas-tugas profesi
keguru yaitu suatu keadaan atau kondisi
yang mendorong dan mengarahkan
individu dalam melaksanakan tugasnya
secara tekun dan kontinyu, bahkan karena
besarnya dorongan/motivasi seorang
guru dalam melaksanakan tugasnya
tanpa banyak mempertimbangkan berapa
imbalan materi yang akan diperoleh atas
kinerjanya.
Dalam fungsinya sebagai
penggerak para guru, Kepala Sekolah
harus mampu menggerakkan guru agar
kinerjanya menjadi meningkat karena
guru merupakan ujung tombak untuk
mewujudkan manusia yang berkualitas.
Guru akan bekerja secara maksimum
apabila didukung oleh beberapa faktor
diantaranya adalah kepemimpinan Kepala
Sekolah. Menjadi guru tanpa motivasi
kerja akan cepat merasa jenuh karena
tidak adanya unsur pendorong. Motivasi
mempersoalkan bagaimana caranya
gairah kerja guru, agar guru mau bekerja
keras dengan menyumbangkan segenap
kemampuan, pikiran, keterampilan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan. Guru
menjadi seorang pendidik karena adanya
motivasi untuk mendidik. Bila tidak punya
motivasi maka ia tidak akan berhasil untuk
mendidik atau jika dia mengajar karena
terpaksa saja.
F. Kinerja Guru sebagai Refleksi
Kesuksesan
Ta h a p a n m e n g a j a r y a n g
harus dilalui oleh seorang guru adalah
merencanakan pengajaran, melaksanakan
proses belajar mengajar, dan menilai
hasil belajar yang merupakan serentetan
kegiatan yang saling bertautan dan tidak
terpisahkan satu sama lainnya.
Kegiatan tersebut bukanlah
merupakan pekerjaan mudah yang setiap
orang dapat me-laksanakan atau bahkan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
146
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
setiap guru belum tentu dapat melakukan
kegiatan tersebut dengan baik dan benar.
Walaupun terasa berat, mau tidak mau,
siap atau tidak siap guru dituntut untuk
melaksanakannya karena hal ini telah
menjadi bentuk dari kinerja guru.
Menurut Winardi (2001: 173)
Motivasi merupakan suatu kekuatan
potensial yang ada pada diri seseorang
manusia, yang dapat dikembangkannya
sendiri, atau dikembangkan oleh sejumlah
kekuatan luar yang pada intinya sekitar
imbalan moneter, dan imbalan non moneter,
yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya
secara positif atau negative, hal mana
tergantung pada situasi dan kondisi yang
dihadapi orang yang bersangkutan dan
jika dalam bertugas guru yang mempunyai
motivasi kerja akan sejalan dengan
program-program kinerjanya.
Hal ini sejalan dengan yang
dinyatakan oleh Soetjipto dan Kosasi
(1999: 230) bahwa, kualitas proses belajar
mengajar sangat dipengaruhi oleh kualitas
kinerja guru.
Tingkat keterampilan merupakan
bahan mentah yang dibawa seseorang
ke tempat kerja seperti pengalaman,
kemampuan, kecakapan antar pribadi
serta kecakapan tehknik yang dimilikinya.
Oleh karena itu, usaha meningkatkan
kemampuan guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar, perlu secara
terus menerus mendapatkan perhatian
dari penanggung jawab sistem pendidikan.
Untuk menanamkan peranannya ini kepala
sekolah harus menunjukkan sikap persuasif
dan keteladanan. Sikap persuasif dan
keteladanan inilah yang akan mewarnai
kepemimpinan termasuk didalamnya
pembinaan yang dilakukan oleh kepala
sekolah terhadap guru yang ada di sekolah
tersebut.
G. Hubungan Supervisi Kepala
Sekolah dengan Kinerja Guru
Keberhasilan pelaksanaan
147
pendidikan salah satunya terletak di ujung
tombak pelaksana, yaitu kepala sekolah
dan guru karena SDM menjadi sumber
penentu sukses pengelolaan pendidikan
di sekolah. Pendidikan merupakan suatu
program yang dapat menyiapkan dan
mengatur arah perkembangan masyarakat
di masa depan. Untuk meningkatkan
kualitas dan efektivitas mengajar guru,
banyak faktor yang mempengaruhinya, di
antaranya adalah tanggung jawab kepala
sekolah dalam bidang supervisi, sebab
kepala sekolah merupakan orang yang
berperan penting dalam mengatur aktivitas
proses belajar mengajar.
Selain itu kepala sekolah juga
bertanggung jawab langsung terhadap
pelaksanaan segala jenis dan bentuk
peraturan atau tata tertib yang harus
dilaksanakan baik oleh guru maupun oleh
siswa di lingkungan sekolah. Baik dan
tidaknya proses pendidikan di sekolah
ditentukan oleh supervisi kepala sekolah,
sebab kepala sekolah merupakan orang
yang ber-tanggung jawab atas segala
sesuatunya yang terjadi di sekolah tersebut.
Usaha untuk meningkatkan
pendidikan di sekolah dapat dilakukan
dengan cara meningkatkan mutu guru-guru
dan seluruh staf sekolah, misalnya melalui
rapat-rapat, diskusi, seminar, observasi
kelas, penataran, perpustakaan, dsb.
Kegiatan-kegiatan yang demikian ini dapat
digolongkan pada kegiatan supervisi. Oleh
karena itu, dalam hal ini dapat dikatakan
bahwa salah satu fungsi kepala sekolah
adalah sebagai supervisor pendidikan
(Lazaruth,1984:21).
Berdasarkan teori di atas maka
salah satu tugas kepala selah adalah
memberikan supervisi kepada guru.
Dengan adanya supervisi diharapkan
kinerja guru terutama dalam mengajar akan
meningkat. Pada kenyataannya banyak
guru yang memiliki kinerja belum maksimal.
Misalnya guru membuat RPP, Laporan
Penilaian, dan membuat administrasi
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
kelas ketika akan di supervisi. Di luar itu
guru tidak me-laksanakan hal tersebut.
Begitu pula dalam hal mengajar, cara
guru mengajar ketika disupervisi berbeda
dengan bagaimana cara guru mengajar
disetiap harinya.
Oleh karena itu diharapkan
supervisi Kepala Sekolah akan membawa
dampak positif bagi perkembangan
kegiatan guru sehingga tujuan pendidikan
dapat tercapai dengan baik. Jika kepala
sekolah dapat menerapkan tipe supervisi
yang dapat meningkatkan kualitas mengajar, dengan diimbangi penghargaan
yang memadai maka guruguru dalam
menjalankan tugasnya akan mendapat
kepuasan kerja sebagai imbalan yang di
peroleh dari sekolah bersangkutan.
Kepala sekolah yang mau memperhatikan dan membantu guru dalam
memecahkan masalah-masalah pengajaran, masalah pribadi dan masalah
profesi akan dapat memberi kepuasan guru
dalam bekerja. Guru akan merasa dihargai
dan diperhatikan sehingga guru akan
bersikap baik terhadap organisasi dan
kepala sekolah. Guru punya persepsi yang
positif terhadap pelaksanaan supervisi.
Supervsi yang dilakukan oleh
Kepala Sekolah kepada guru-guru. secara
rutin dan terjadwal dengan harapan agar
guru mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam
prosesnya, kepala sekolah memantau
secara langsung ketika guru sedang
mengajar. Guru mendesain kegiatan
pembelajaran dalam bentuk rencana
pembelajaran kemudian kepala sekolah
mengamati proses pembelajaran yang
dilakukan guru. Saat kegiatan supervisi
berlangsung, kepala sekolah menggunakan
lembar observasi yang sudah dibakukan,
yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru
(APKG). APKG terdiri atas APKG 1 (untuk
menilai Rencana Pembelajaran yang
dibuat guru) dan APKG 2 (untuk menilai
pelaksanaan proses pembelajaran) yang
dilakukan guru.
Berdasarkan uraian di atas patut
diduga bahwa terdapat hubungan antara
Supervisi kepala sekolah dengan kinerja
guru. Dengan perkataan lain, makin baik
supervisi kepala sekolah maka makin tinggi
kepuasan kerja guru yang bermuara pada
semakin bagusnya kinerja guru. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa hubungan
Supervisi kepala sekolah dengan kinerja
guru adalah positif.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi.. Dasar-dasar
Supervisi. Jakarta: Rineka Cipta.
2004
Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia, Teori
dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 1995.
Boeree, C. George. Dasar-dasar Psikologi
Sosial. terj. Ivan Taniputera,
Jogjakarta: Prismasophie. 2006.
B u r h a n u d d i n , Yu s a k . A d m i n i s t r a s i
Manajemen dan Kepemimpinan
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
1994.
Danim, Sudarwan. Motivasi Kepemimpinan
dan Efektivitas Kelompok. Jakarta:
Rineka Cipta. 2004.
Darman, Agus. Manajemen Supervisi.
Jakarta: RajaGrafindo Persada.
2003.
Fachruddin. Administrasi Pendidikan.
Bandung: Cipta Pustaka Media.
2003.
Hasibuan, Malayu. Organisasi dan Motivasi.
Jakarta: Bumi Aksara. 1999.
Mulyasa, E. Manajemen Berbasis
Sekolah, Konsep, Strategi dan
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
148
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Implementasi. Bandung: Remaja
Rosdakarya. 2003
.
Poerwanto, M. Ngalim. Administrasi dan
Supervisi Pendidikan. Remaja
Bandung: Rosdakarya. 2004.
Pidarta, Made. Pemikiran Tentang
Supervisi Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara.
Suhertian, Piet A. Konsep-konsep dan
Teknik Supervisi Pendidikan dalam
149
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
AN ANALYSIS OF FACTORS EFFECTING STUDENTS’
LEARNING RESULT OF ENGLISH SUBJECT
Oleh: Zainuddin Hasibuan, S.S., MS
Email : [email protected]
Abstract
Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang dianggap susah oleh
sebagian pembelajar bahasa, terutama sekali siswa disekolah dan mahasiswa
dipergururan tinggi. Mereka sangat banyak sekali menemukan beberapa
kejanggalan – kejanggalan pada saat mempelajarinya, ini terbukti pada saat
guru dan dosen memeriksa hasil pembelajaran yang dilakukan oleh siswa atau
mahasiswa cukup memprihatinkan atau masih rendah dari tingkat nilai maksimal
yang diinginkan, ditambahlagi dengan kondisi minat belajar yang kurang dan
faktor – faktor yang mempengaruhi lemahnya minat belajar. Adapun tujuan
penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui mengapa bahasa Inggris itu
masih dianggap sebagai mata pelajaran yang rumit bagi siswa atau mahasiswa
sehingga hasil belajar mereka masih rendah dan juga ingin mengetahui
faktor – faktor apa yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Olehkarena
itu, berdasarkan tujuan penulisan karya ilmiah yang sudah disebutkan diatas
dengan jelas kita mengetahui jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang
mengandalkan bahasa sebagai alat pembuktian tentang kebenaran analisa
penelitian yang jenisnya berupa studi kasus. Ada dua faktor yang mempengaruhi
hasil belajar siswa atau mahasiswa yang sebenarnya terjadi pada saat penelitian
dilakukan yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal merupakan
faktor yang terjadi diluar diri si siswa atau mahasiswa yang bersangkutan,
misalnya lingkungan keluarga, kurikulum, program sekolah, guru, fasilitas,
teman kelas, atmosfer ruang kelas dan penerapan pembelajaran. Sedangkan
faktor internal adalah faktor yang terdapat dalam diri mereka seperti minat
belajar, kecerdasan, tingkah laku, motivasi dan nilai kognitif yang dimilikinya.
Hasil belajar siswa atau mahasiswa bisa menjadi lebih maksimal kalau kedua
faktor tersebut benar – benar diperhatikan dengan baik dengan bantuan dari
beberapa pihak yang bertanggungjawab terutama orangtua, pemerintah dan
guru atau dosen yang paling dekat dengan mereka.
Keywords: factors affecting, internal factors, external factors, learning result,
and English subject.
A. Background of the Research
English is one of the foreign
language which has a very importan
role for studying in formal or informal
education, because it has a function as
an international language in the world. If
we are going to continue our study abroad
we must be able to communicate with
another people by using English language
certainly. It has become the first foreign
language in our country which must be
learnt by the students from Elementary
school up to University. The language is
151
very important in our life. So, we can know
how to communicate with other in the world.
English is not only studied by students, but
also studied by most educated people all
over the world. People have many reasons,
why they are interested in learning the
language. They realize English is very
important as the medium of communication
in their lives.
In learning English, there are
usually four skills that must be learned and
practiced by the learners, they are listening,
speaking, reading and writing. To support
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
the four skills the students or the learners
of the language need to have vocabulary,
pronunciation and grammar well.
Grammar is one of the most
essential elements to support the four skills
before the students are able to use English
fluently, especially in learning simple past
tense. If we are going to talk something
happened in the past time, of course we
may use the tense correctly. Sometimes
many English learners do not understand
the form of tense and its use. So, they
ignore to use it. The situation can make
anotherone be confused at all.
However, English is still reputed as
a difficult subject by some of the students
so the students’ learning results of English
subject is still low. The low of students’
learning result shows the process of
English learning is not optimal because
students’ learning results are influenced by
two factors, there are internal factors and
external factors. The cases can also be
proved by the result of students’ learning
checked by the teachers or lectures, the
result should be necessarily paid attention
seriously.
According to Carrol that students’
learning results are influenced by five
factors: (1) aptitude to learn, whether they
have a good inerest or not to study (2) the
time available for learning, sometimes too
much schedul time force them to think
hardly, so they cannot follow the lesson
at all (3) the ability of individuals, many
students have different ability one and
another they have to use it well(4) the
quality of teaching, process of teaching
learning process can also determine the
result of learning in the class and (5)
environment, it has a big effect to get a
good result of learning for the students,
because it has an important role to increase
the result of learning itself.
The factors affecting students’
learning results of internal factors such
as, intelligence, interests, talents and
motivation while external factors comes
from the family environment, such as how
to parents educate the children, the home
ambience; from school environment such
as teaching methods, curriculum; and from
community environment such as students’
activities in the community and friends hang
out. Improving learning result in English, it
means that improving students’ learning
achievement in the English language,
and the learning achievement is the result
that is used after the learning process.
Therefore, the learning process has been
going on in a person only can be inferred
from the results, because the learning
activities that have been performed (Saiful
Bahri, 2012: 141).
In fact, we may indicate that
beside there are many students who are
success brilliantly, there are still also many
students who received learning results
that are less encouraging, may even exist
between them who did not pass the grade
or the final stage of the evaluation study.
The researcher identifies many problems
such as: English subject is still reputed as
a difficult subject by some of the students
so the students’ learning results of English
subject is still low and there are some
students in this school have lack interests
in learning English subject because of
some factors affecting them not interest
of English subject.
Based on the background of the
problem, the formulation of this research
is: Why is English subject still reputed as
a difficult subject by some of the students
so the students’ learning results of English
subject is still low? and what are the
factors affecting students’ learning results
of English subject?. So, the purpose of
this research are: To know why is English
subject still reputed as a difficult subject
by some of the students so the students’
learning results of English subject is still low
and to know the factors affecting students’
learning results of English subject.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
B. Operational Definition
There are some terms relation to
this research that would be discussed as
the following:
1. Factor
According to some sources, the
definitions of factor are:
a. Any of the things that cause or
influence something (AS Hornby,
1995:414).
b. Circumstances, events that
have role to influence something
t o h a p p e n ( Ti m P e n y u s u n
Kamus Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa,
1995:239) .
2. According to Slameto learning
is process of efforts to obtain
someone’s new behavior change
as a result one’s own experience
in interaction with the environment
(Slameto, 2010:2).
3. Learning results are something
that can be viewed from two
sides of the side of the students
and teachers. From the students,
learning result is the level of mental
development better than the time
before learning. The level of mental
development is manifested in
the types of cognitive, affective,
and psychomotor. The learning
result is if someone has learned
there will be behavior changes in
that someone, such as from not
knowing to knowing and from not
understanding to understanding (
Labarasi, Accessed on 2-02-2013).
Based on the results of
comprehension and the researcher’s
observation, the achievement and students’
learning results are the same thing,
because that achievement is a testament to
the success of learning or students’ ability in
learning activities in according to the expert
and it is also a realization of the potential
skills or students’ capacity. Learning result
153
or learning achievement can be seen from
students’ control of subjects will have gone
through, especially for English s ubject.
4. F a c t o r s A ff e c t i n g S t u d e n t s ’
Learning Result
From some of the experts’ opinion
say that the factors affecting students’
learning results are internal factors such
as students’ abilities about the material to
be explained, while external factors such
as learning strategies used by teacher in
teaching and learning process ( Labarasi,
Accessed on 2-02-2013).
C. Research Methodology
Research design is an action plan
for a series of first questions that must be
answered and a series of answers about the
questions (Robert, 2003:27). The research
design that the researcher will use for doing
this research is Qualitative methodology. In
this Qualitative methodology, the researcher
did not use statistical data and formula
to make numeric calculation, but the
characteristic of Qualitative methodology
is descriptive explanation that is used
to describe the problem and its problem
solving.
The type in this research is case
study method. The researcher chooses
case study for this research with the
criteria of Qualitative research as Marshal
and Rossman in Sugiyono who said “the
fundamental method relied on by Qualitative
research for gathering information are
participation in setting, direct observation
in depth interviewing document review”
(Sugiono, 2007:305). Case study is a result
of deep research of certain social unit which
the complete picture and more organized
on the certain unit (Sumadi, 2006:80). A
case study particularly will be useful when
one needs to understand a problem or
situation deeply and he or she can identify
cases with real information which can be
learned from some phenomenon examples
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
in question form (Michael Quinn, 1991:23).
The case study aimed to collect data, take
the meaning and get an understanding of
that the case.
Research procedure of the
research, The researcher came to the
class when the teaching learning process
was running, after doing observation, the
researcher met the respondents and made
interview face to face get more data factual.
After collecting all of instruments the
researcher reduce the data, next display
the data in narrative form and then took the
conclusion result .
Data collection techniques used
were observation and interview. Interview
techniques used to capture qualitative
data on the needs, interests, opinions,
expectations, problems need to be solved,
and so on. The implementation can be
done individually or in group. Observations
and interviews this especially for the data
capture process components. Interviews
are used to check other data that had
already obtained. Interviews is also
conducted to obtain data on the factors
affecting students’ learning result. While
the observation is a technique or how to
collect the data observation to be going
the activities (Sukmadinata and Nana,
2010:220.
The instrument in this research
is human instrument. Besides that the
researcher also used other instruments,
such as: pen, book, pencil, digital camera,
laptop and hand phone. In order to not
occur the mistake in the research, the
researcher used the interview guide.
D. Data Analysis and Research
Finding
a. Data Analysis
The function of data analysis is
to know the result of the research, where
the results of the research consists of
observation checklist and interview guide.
The researcher made the observation when
teaching learning process was running
in the class. After doing observation, the
researcher met the respondents and made
an interview face to face with the interview
guide after finished teaching learning
process in the class. The students were
interviewed by the researcher consists
of two students in class IIa, two students
in class IIb and two students in class IIc.
So, the total of the students were six as
informant to get the data more valid.
Before analyzing the data, the
researcher collected all of the data in
the field with observation checklist and
interview guide by using question list. All
of the data had found in the field such as
data collection. From the data collection,
the researcher reduced and displayed it. It
means that reduced is to remove the words
that are not necessary in the research and
displayed the data which showed the words
that are really suitable in the research. After
having reduced and displayed the data,
the researcher concluded the data of the
research. After the researcher concluded
the data and the last she analyzed the data
that obtained in the research. In this part,
the researcher also described the result of
the research clearly.
Before processing the data, the
researcher needed to mention the names
of the students in different class as
correspondences.
CLASS
NO.NAMES
1
2
3
4
5
6
Cut Khaira
Mauliza Cut Husna
Zuchrina
Raudhatul A
Raudhatul MY
IIa
IIa
IIb
IIb
IIc
IIc
1. A n a l y s i s t h e R e s u l t o f
Observation
The objective of analysis the
result of observation in this research is
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
to know the teaching learning process
in the classroom from beginning pre
teaching activities until ending of post
teaching activities. Before ending of post
teaching activities of course there were
while teaching activities, it was the core
of teaching learning process in teaching
learning process done by the the teacher
and followed by the students. In this case
there were two object who were concerned
of this research they were teacher and
students. Therefore, the first object whose
necessary to observe was teacher and the
second were students.
The writer tried to describe the
activities which were happened in the
classroom between students’ activities
and teacher’s activities, the researcher
tried to make in the observation checklist
form, because according to researcher by
using this observation checklist we could
know how about the activities of teaching
learning process which were happened in
the classroom clearely, so in this case the
researcher would indicate the observation
checklist that ever happened while she
did the observation.The researcher had
observed the students in the class during
teaching learning process was running. The
observation was done directly when the
teacher and students doing the teaching
learning process.
The researcher did observation
to got the answers of the questions in this
research. This process is done by the writer
to know how about the process teaching
learning in the classroom, what factors
were affecting students’ learning result
of English subject in Grammar especially
about Simple Past Tense and the other.
In doing observation, the researcher
prepared an observation checklist which
is consisted of sixteen ( 16 ) items, the
observation checklist was set in form of
Yes/No question that could be answered
by using a checklist.
The researcher got the data in
155
three ( 3 ) sections there were pre teaching
activities, while teaching activities and
post teaching activities. In this case the
researcher was not as a teacher but just
an observer in the classroom.
Based on the instrument of
observation checklist in this research,
the researcher found out the data in pre
teaching activities before teaching learning
process was running that when the teacher
came to the class, all of the students were
paying attention. The teacher was giving
greeting to the students and also the
students response the teacher’s greeting
in English, but some of them were not
enthusiast to English subject when the
teaching learning process was running,
because they could not study English well.
The teacher checked the attendance list
of the students and the teacher asked the
students’ condition in English, but some of
the students response the teacher’s calling
based on the attendance list and answered
the question’s teacher in Indonesian,
because they felt shy and nervous in
English language. Before beginning the
lesson the teacher asked about the
material which had been studied in the
last meeting, but some of them forgot the
material in the last meeting because they
did not repeat again the last material in their
house.
The last activities from pre teaching
activities the teacher gave the motivation
to the students so the students always
get spirite in studing the lesson, after that
the teacher explained a little about the
material without telling the topic would be
discussed to be learned until they want to
give their idea to express and the students
could refresh their mind by answering the
teacher’s questions. Next, the teacher
explained about the objective of learning
and started to learn.
In while teaching activities the
teacher begun to open the lesson, the
teacher explained the material and students
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
listened the material which was given by
teacher, although some students enjoy
with their own business. The teacher used
English and than the teacher translated it
in to Indonesian.
After explaining the material the
teacher asked the students’ difficulties
in understanding the material, then the
teacher gave the examples to the students
in distinguishing between the sentence
of present tense with past tense but the
examples were not regular, so the teacher
asked the students to arrange the examples
in a sentence which was appropriated for
pattern of sentences. Some of students
were still confused about the teacher’s
instruction, they asked to the teacher that
they did not understand what the examples
about, so the teacher explained the material
once again.
The teacher gave some questions
as exercises to the students which was
related with the material and the students
answered the questions exercise which was
given by the teacher. The teacher did not
use the various learning method, learning
media and the other learning sources, but
sometimes the teacher used the method
which is irrrelevant with material. The
researcher did observation directly that the
teacher just used one method in teaching
learning English. The teacher used the CTL
method in teaching learning English.
The teacher gave the occasion for
students to express their idea to analysis
and to solve a problem. The teacher’s
assumption were to solve the problem
appeared in students’ self confidence were
giving more support from their parents,
friends and environment, because the
support can motivate someone to do
something. Only some of the students had
self confidence in learning English caused
by internal and external factors. Internal
factor was their motivation in learning
a language and external factor were
supporter to them such as their parents,
their friends, their environment, etc., but
the most important factor was motivation.
The teacher asked to the students
about related to something which were
not yet understood by students. Not only
some of students asked to the teacher
about the material which were not yet
understood by them, but also some of
students’ assumption that they always felt
nervous, felt shy and afraid making mistake
when they asked the question about the
material which were not yet understood
by them because their English was still
low. They never got support from their
friends, if they had mistake when they were
asking the question to the teacher, so their
friends always laugh them and kidding
them. Based on this case, the students
which had low English language never try
again to learn in other day but the students
which had strong English language they
had never care and no matter about their
friends, they always try and try to improve
their knowledge in English.
In post teaching activities the
teacher and students together made the
summary or took the conclusion about
the material which was explained by
teacher. The teacher gave students the
assignment to do in her students’ house
for individual’s assignment or groups’
assignment to appropriate for students’
learning results. Additionally, the teacher
gave the information about the lesson plan
would be explained for the next meeting.
Based on researcher’s result of
observation that some of students were still
feel stressed to follow the English subject,
because the students were still difficult to
understand the materials were taught by
teacher in the class and also influenced by
class atmosphere is not enable. Apparently
there were some of students who were
unhappy to follow the English subject
because they disliked English subject.
Approximately that 43,33% the students
happy to learn the English subject and
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
56,67% the students unhappy to learn
English subject from each class.
Actually, in this case although the
process of learning make the students
were easy to practice English and made
them enjoy in English learning, however;
there are many students still had lack
of confidence in learning English, so
the teacher should give some supports
and many motivation for the students in
teaching learning process. To motivate the
students, the teacher should advice what
she had had many experience to improve
his knowledge. Firstly, the teacher should
give greeting students by using English. It
can help them to motivate students to be
very enthusiastic, and the teacher should
explain material clearly. The teacher must
explain it in English although she sometimes
explain it in Indonesia. When she saw that
the students did not understand about
explanation, the teacher should describe
again patiently into Indonesia. Next, the
teacher made students interesting in
English by closing and summarizing also
used both English and Indonesia. In the
end of study, the teacher asked students
to study hard in their house. Meanwhile,
if the students confused to do exercise,
the teacher pointed out that everyone has
change to make mistake.
The teacher also give attention
with students’ condition in learning. The
teacher must paid attention to all students.
For lazy students, she could know that
why the students were lazy, how about
students background of life and other. Thus,
the teacher could know why the students
had problems like that and she could help
students to solve their problem.
The teacher seldom gives praise
or appresiation to the students when they
can answer the question. Actually, the
teacher can answer at this level either with
or without a reward. A reward is “that’s a
good question”, “I’m glad you asked that”
or that’s a really interesting question”. So
157
that, the students interest to ask again.
Therefore, there are many activities done
by the teacher in the classroom.
2. Analysis the Result of Interview
Beside the researcher made the
observation while the teaching learning
process in the clssroom, she also made the
interview to the teacher and to the some
of students who were chosen through
observation in the classroom. The aim of
this interview is to know more information
about what the factors affecting students’
learning result of English subject.
The researcher gave some
questions for the teacher and students
based on information previously, which
were for the teacher she had ten ( 10 )
questions while for the students she had
also ten ( 10 ) questions. In this case, the
researcher used face to face interview,
where in this type of interview between
the interviewer and the respondents they
exist in the same place and facing to each
other. There are two result here, the result
of interview with one English teacher and
the result of interview with many students.
The researcher interviewed six students
from different class; they are two students
in class IIa, two students in class IIb and
also two students in class IIc. So there are
six students, they were from the population
of the research. She interviews them,
because she wants to know the answers
exactly, which were answered by students
in the different class from the population.
The interview process will we done as the
following description:
a. The Result of Interview with the
Students
In this research, the researcher
prepared ten ( 10 ) questions to students as
the interviewing to the respondents. After
the researcher made an interview face
to face with the students, the researcher
analyzed their answer. In interview sheet,
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
the researcher asked about the process of
teaching learning in the classroom, factors
affecting students’ learning result of English
subject and the other. The researcher got
the results according to the totality answers
that had been answered by the students
who became samples.
The first question, the researcher
asked to the students that if they liked or
disliked to learn English subject. There
were two students responsed that they
liked to learn English subject, while four
students again responsed that they disliked
to learn English subject.
The students’ reasons why they
liked and disliked to learn English subject.
One student said that she liked to learn
English language because according to
her the English language is an international
language and it has a very important role
to communicate in the other country.
Whereas one student again said that she
liked English language because this is an
obligation must be followed, if they did not
follow this English subject of course they
did not get remove to other class. While
four students again said that they disliked
to learn English language.
The students’ reasons why
they disliked to learn English subject. One
student said that she disliked to learn
English subject because according to her
the English subject is no easy subject to
learn, but the English subject is difficult
subject to learn. And also one student
again said that English subject is too bored
to study because when teaching learning
process the teacher explained it fastly.
While two students again had the same
answers that they dislike English subject
because in their class had not many
facilities about English, but they just had
an English book to study.
The researcher gave the solution
that the teacher should have a good
participation in things to infuse the spirit
for the students, indeed the English
language is really so important for learning
to remembering global rivalry which is
happened in the present and English
language that occured in anywhere.
The second question, the researcher
asked to the students that if the English
subject is easy lesson for learning. Two
students said that the English subject is
easy lesson for learning because they
interested to learn about English. While
four students again gave their reasons,
they regarded that the English subject is
not easy lesson for learning becauce if they
wanted to study well, so they must had the
motivation and support from their parents,
their teacher, their friends, etc.
The researcher said that if we wanted
to study well and we must regard that
English subject is easy lesson for learning.
Beside that we must love the English
subject and the teacher’s English subject.
The next question the researcher
asked to the students that if they feel bored
to follow English subject. Two students said
that they did not feel bored to follow English
subject because they learned the English
subject at 8 o’clock. Their assumption that
study in the morning could make them
fresh for learning. Whereas two students
again said that sometimes they feel bored
to follow English subject because their
assumption that the teacher’s method when
teaching learning was not appropriate for
the materials which were explained and
the condition was not enable in the class
so made them feel bored when learning.
The researcher gave the solution
that in order to them did not fell bored to
follow the English subject in the class, they
must change the position in the classroom
and they must have much facilities about
English in the clssroom. The next question
the researcher asked them that how about
the English teaching learning process. All
of the students who became samples of
this research said that the English teaching
learning process was running well. The
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
teacher’s English must do English teaching
learning process appropriate for lesson
plan.
The next question the researcher
asked the students that how about their
idea in the teaching learning process of
English subject done by the teacher in the
classroom. There were only two students
said that the teaching learning process of
English subject in the classroom is running
well.
The next question the researcher
asked the students that according to them
whether all of the students always pay
attention of the teacher’s explanation and
ask the question to the teacher if they did
not understand the material was explained
by teacher. According to two students said
that only 43,33% the students who was
really pay attention. While four students
again said that they paid attention, but
sometimes they did not too consentrate
and also made them were lazy to learn
about material which was explained by
teacher, until they did not ask when they
did not understand about material which
was explained by teacher because they
were not only afraid to ask the teacher
but also they did not know how to begin
for asking the questions to the teacher
in English. So, only 43,33% the students
asked the question to the teacher if they
did not understand the material.
Apart from the fact, the researcher said
that the attention is needed also to improve
the students’ activity in the class and the
teacher must be more paid attention to her
students, it is also needed by the students
when they did not understand the material
so they could ask to the teacher.
The next question the researcher
asked the students that according to them
what the difficult materials which were
understood by them in English subject and
why the students difficult to understand the
material which was explained by teacher.
According to two students said that had not
159
the difficult materials in English subject if we
wanted to study well. While four students
again said that the difficult materials
which were understood by students about
grammar sentences such as present
tense, past tense, present continuous, etc.
Because they were difficult to understand
the way of distinguish between the patterns
appeared in tenses mentioned.
The researcher gave the suggestion
that in order to easier to understand the
material about grammar sentences so
we must remember the patterns in tenses
mentioned and know their distinguish
between the usage of patterns mentioned
in the process of writing of the sentences.
Based on the students’ reasons of
their answers, the researcher asked them
about how the method that was used by
the teacher in teaching English. According
to the students which were interviewed by
researcher said that the teacher’s method
was not very good, 56,67% the students
fell bored for the teacher’s method because
the teacher just used one method, the way
of the teacher in teaching is too fast, she
did not smile in teaching. Indeed, it would
make some of the students rather afraid to
the teacher.
A c t u a l l y, t h e s t u d e n t s w e r e
unnecessary afraid to the teacher and
students fell bored to learn with her, but the
students must spirit to learn. Although the
teacher just used one method.
In the last question the researcher
asked any more questions that if the
students’ learning result were satisfy or
unsatisfy and what the factors affecting
students’ learning result of English subject.
Two students answered that their learning
result were satisfy, because they always
studied hard and they had many supports
from their parents, and also four students
again answered that their learning result
were unsatisfy because they did not study
and they had lack of confidence in learning
English, and 66,67% the students said that
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
their learning results affected by several
factor, there were the teacher’s method in
teaching, lack of motivation or support from
their parents, the way of teaching about the
pattern of sentences, their understanding
about the use of the suitable grammar in
the sentence and they could not able to
arrange the sentence in a good sentence.
James Drever in Slameto said, the
motivation is an effective-conative factor
which operates in determining the direction
of an individual’s behavior toward an
end or goal, consioustly apprehended or
unconsioustly (Slameto, 2010:58). So,
motivation is connecting with objective
which will be achieved. In determining
the objective that realizable or not, but to
achieve the objective that is necessary and
the motivation is as supporter.
Therefore, the researcher said that
they should be supported to try with new
things or ideas. They should be taught to
ask question and investigate when things
which were not understood. They must
be learning to change the mistakes as an
occasion for learning rather than something
that was unsuccesful. It is also valuable
for them to open to other’s ideas so that
they could learn how to build their own
conceptual knowledge and the students
not only expected to have a great ability in
grammar, vocabulary or writing, but also
how brave they express their idea and use
their English in their activity.
b. The Result of interview with the
Teacher
There were ten ( 10 ) points of
questions that interviewed to teacher.
Actually, the researcher would ask some
questions more, but the researcher was
sure that the questions were important and
the researcher had included all of the data
that the researcher wished.
Based on the information which
were gotten by the researcher, the
researcher asked to the teacher that if she
liked to teach the English subject at the
second grade. The teacher said that she
liked to teach the English subject at the
second grade because of that the teaching
learning process was running well. But, in
this case, she had a difficulty in teaching
English to the students. The difficulty was
noisily made by some of students in the
class. Of course it would be disturbed when
she was teaching and she did not know
what to do when they were being like that.
From the interview result with the teacher,
only a small part of the students who were
good in English and many of them do not
show good ability or understanding, but
there were also some students who showed
standard understanding about what she
taught for the students in the class.
Actually, the teacher should have
the interest method for teaching until the
students did not make noisy in the class and
as a teacher must know how her students’
ability in English.
The next question the researcher
asked the teacher that what the method
that the teacher used in teaching learning
process. The teacher said that she only
used the CTL method when explained
the material in teaching English subject
because she did not know the other method
of teaching but she just knew the CTL
method.
So, the researcher’s assumption that
she was lazy teacher because she just
knew only one method it means that her
method did not follow the changing of
method in teaching, so it made her students
be bored to follow English subject. Actually,
the teacher shoud have many methods and
the interest strategy excepted CTL method
for teaching learning such as discussion,
story method, grammar translation method,
etc., because if the teacher had the interest
method and enjoy situation of class so it
could make students focused about their
study.
Furthermore, the researcher asked
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
the teacher any more questions whether
she always explained the material to her
students or just gave them more exercise
to do without explanining more. The teacher
answered the researcher’s question that
she always explained the material in the
class before she was giving them exercise
to do. To support their understanding she
also gave them the examples about the
material.
The next question the researcher
asked the teacher about common language
which is usually used by her and she
answered that she used both English and
Indonesian because when the students
did not understand the material which
was explained by teacher, so the teacher
translated the material once again by
using Indonesian language in teaching
English subject, and then the researcher
asked that whether the quality of students’
learning of English subject was better in the
classroom. According to teacher, the quality
of students’ learning of English subject was
better, not only all of students but also just
some of them who was better in their quality
of learning English subject. Actually, the
teacher should have more interested for
their students in teaching learning English
subject.
The last question the researcher
asked any questions about facility, addition
of English course and background of the
school. The teacher said that the facility in
that school was adequate, but just some
facility was not adequate for increasing
the students’ quality of learning English,
because for English subject just used an
English book and had not the other facility
and whether beside of teaching English
accord with a set time the teacher had given
the addition English course for students.
She said that besides of teaching English
accord with a set time, she also had given
the addition English course for students.
Actually, to be increasing the students’
quality of learning English should have
161
many facilities for teaching learning English
subject and the teacher should have more
knowledge and experiences for teaching
learning English subject.
a. Research Finding
In this research the researcher
had made a research to find out the
answer of the problem namely the factors
affecting students’ learning result of English
subject in grammar simple past tense.
From the previous data analysis, based
on researcher’s result of observation that
some of students were still feel stressed
to follow the English subject, because the
students were still difficult to understand
the materials were taught by teacher in
the class and also influenced by class
atmosphere is not enable. Apparently there
were some of students who were unhappy
to follow the English subject because they
disliked English subject. Approximately
43,33% the students happy to learn the
English subject and 56,67% the students
unhappy to learn English subject from each
class.
Based on researcher ’s result of
interview with six students that there are
two students liked English subject and four
students disliked English subject. So, the
percentages of students mentioned are
33,33% the students liked English subject
and 66,67% the students disliked English
subject.
The researcher found that 66,67% the
students said that they had some factors
affecting their learning results of English
subject in grammar especially about simple
past tense such as they did not understand
about the pattern of sentences, did not
understand about the use of the suitable
grammar in the sentence, could not
arrange the sentence in a good sentence,
the teacher’s method in teaching is not
interested, lack of motivation or support
from their parents so that the students
were still feel stressed to follow the English
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
subject, because the students still had
difficult in understanding the materials
were taught by teacher in the class and
also influenced by class atmosphere is not
enable.
Some difficulties had faced by students
were from themselves and related to the
teacher and their situation in learning, such
as they were lack of confidence, lack of
motivation and sometimes the teacher did
not pay attention about their learning result
so that it made them did not serious study.
Beside that, students’ learning results of
English subject affected by two factors
there are external factors and internal
factors.
External factors are the outside factors
of the students’ individual. Kinds of the
external factors consists of environmental
factor and instrumental factor, which
are the environmental factors such
as family environment, social cultural
environment and instrumental factors
such as curriculum, school program,
teacher, facilities, classmate, classroom
atmosphere and learning implementation.
While Internal factors are the inside factors
of the students’ individual. Kinds of the
internal factors consists of physiological
factors and psychological factors,
which are physiological factors such as
physiological condition, sensory condition
and psychological factors such as interest,
intelligence, talent, aptitude, motivation and
cognitive ability.
Based on the factors affecting
students’ learning result of English subject
in grammar about simple past tense, the
reseacher wanted to give some suggestions
to solve the problem. Firstly, the students
had to write as often as possible in English
subject, especially in simple past tense.
Secondly, the students should remember
the pattern of simple past tense.
Thirdly, the students should understand
about grammar and for students, teachers
and also parents had to build good
relationship to make the students success
on learning, and if the students still had
lack of confidence in learning English, the
teacher should give some the motivation
and supports for the students in teaching
learning process. To motivate the students,
the teacher should greeted students
by using English. It was did to motivate
students to be very enthusiastic, the
teacher should be explained material
clearly.
The teacher must explain it in English
although she sometimes explain it in
Indonesia. When she saw that the students
did not understand about explanation,
the teacher should again patiently into
Indonesia. Next, the teacher should make
the students interesting in English by
closing and summarizing also used both
English and Indonesia. In the end of study,
the teacher asked students to study hard
in their house. Meanwhile, if the students
confused to do exercise, the teacher
pointed out that everyone has change to
make mistake.
The teacher also should give attention
with students’ condition in learning. the
teacher must paid attention to all students.
For lazy students, she could know that why
the students were lazy, how about students
background of life and other. Thus, the
teacher could know why the students had
problems like that and she could help
students to solve their problem.
Based on the explanation above,
the researcher concluded that grammar
was very difficult not only for students
but also for the teacher in teaching. So,
the teacher and students should have
a good motivation and method to learn
about grammar and the parents also
must support their children to study hard
and give attention for their children. In
determining the objective that realizable or
not, but then to achieve the objective that is
necessary and the motivation as supporter.
Because the motivation is necessary for
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
students in learning. The researcher made
the conclusion based on the statement that
may be useful for reader.
E.Conclusions
Based on the results of the research
which was conducted by researcher about
factors affecting students’ learning results
of English subject are:
1. Based on researcher’s result of
observation that some of students
were still feel stressed to follow
the English subject, because the
English subject is still reputed as
difficult subject by some of them
for learning, the students were
still difficult to understand the
materials were taught by teacher
in the class and also influenced by
class atmosphere is not enable.
Apparently there are some of
students were unhappy to follow
the English subject because
they disliked English subject. So
perhaps that 43,33% the students
happy to learn the English subject
and 56,67% the students unhappy
to learn English subject from each
class.
2. Based on researcher ’s result
of interview with six students
that there are two students liked
English subject and four students
disliked English subject. So, the
percentages of students mentioned
are 33,33% the students liked
English subject and 66,67% the
students disliked English subject.
3. The researcher found that 66,67%
the students said that they had
some factors affecting their
learning results of English subject
in grammar especially about
simple past tense such as they
did not understand about the
pattern of sentences, did not
understand about the using the
suitable grammar in the sentence,
163
could not arrange the sentence
in a good sentence, the teacher’s
method in teaching and lack of
motivation or support from their
parents.
Beside that, the students’ learning
results of English subject affected by
two factors there are external factors and
internal factors.
External factors are the outside factors
of the students’ individual. Kinds of the
external factors consists of environmental
factor and instrumental factor, which
are the environmental factors such
as family environment, social cultural
environment and instrumental factors such
as curriculum, school program, teacher,
facilities, classmate, classroom atmosphere
and learning implementation.
While internal factors are the
inside factors of the students’ individual.
Kinds of the internal factors consists of
physiological factors and psychological
factors, which are physiological factors
such as physiological condition, sensory
condition and psychological factors such
as interest, intelligence, talent, aptitude,
motivation and cognitive ability.
REFERENCES
Bahri, D. Saiful. 2012. Psikologi Belajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hornby, AS. 1995. Oxford Advanced
Learner’s Dictionary. London:
Oxford University
Labarasi. Faktor-Faktor
yang
Mempengaruhi Hasil Belajar.
http://www. labarasi.wordpress.
com.faktor-yang-mempengaruhihasil. Accessed on 2-02-2013.
Patton, Michael Quinn. 1991. Metode
Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
Riyanto, Slamet. 2010. A Handbook of
English Grammar. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sanjaya, Wina. 2008. Learning Strategy.
Jakarta: Kencana
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sukmadinata dan Syodin, Nana.
2010. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Cet ke 6. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian
Kuantitative, Kualitative dan R &
D. Bandung: Alfabeta.
________. 2006. Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa.
1995. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Department
Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia.
Yin, Robert K. 2003. Case Study Design
and Method. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
JURNAL PENCERAHAN INTELEKTUAL MUSLIM
PERSYARATAN NASKAH JURNAL SARWAH
1. Tulisan bersifat kajian ilmiah murni atas masalah-masalah yang
berkembang dalam masyarakat, gagasan orisinil, ringkasan
hasil penelitian dan bentuk tulisan lainnya yang dipandang dapat
memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing yang memenuhi
kaidah kedua bahasa tersebut dengan baik dan benar
3. Diketik 1,5(satu koma lima) spasi pada kertas A4 dengan panjang
naskah 15-30 halaman untuk topik utama, kajian keilmuan,
wawasan dan pemikiran.
4. Diberikan abstrak (bahasa Inggris ) lebih kurang 250 kata
5. Teknik kutipan menggunakan innote (catatan perut)
6. Setiap naskah harus disertai dengan daftar kepustakaan yang
ditulis secara Alphabetis
7. Redaksi berhak mengedit semua tulisan yang masuk tanpa
mengubah isinya
8. Menyertakan pasphoto,identitas diri, riwayat pekerjaan, karya ilmiah
yang dimiliki atau hal lain yang spesifik
9. Naskah belum pernah dipublikasikan
10.Tulisan yang dimuat menjadi milik redaksi
11.Naskah dikirim langsung ke redaksi : Alamat redaksi Jln
Lhokseumawe NAD atau Email :Jurnal_Liwauldakwah@yahoo.
com
165
SARWAH, VOLUME XIII (I), JANUARI - JUNI 2014
Download