kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat republik

advertisement
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
KARYA TULIS ILMIAH
Analisis Sosial Ekonomi Pengembangan Infrastruktur Jalan di Kawasan Perbatasan
(Studi Kasus Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat)
MULKI, S.KESOS
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi dan Lingkungan
Badan Penelitian dan Pengembangan
Jakarta
April 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. i
DAFTAR TABEL ................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................. iv
BAB 1. Pendahuluan.............................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Permasalahan ........................................................................................... 3
1.3 Tujuan ...................................................................................................................... 3
1.4 Manfaat .................................................................................................................... 3
BAB 2. KERANGKA TEORI ............................................................................................... 4
2.1 Kawasan Perbatasan................................................................................................. 5
2.2 Infrastruktur Jalan .................................................................................................... 5
2.3 Sosial dan Ekonomi ................................................................................................. 6
2.3.1 Sosial ......................................................................................................... 6
2.3.2 Ekonomi .................................................................................................... 7
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN .............................................................................. 8
3.1 Jenis Penelitian ........................................................................................................ 8
3.2 Teknik Pengumpulan Data ...................................................................................... 8
3.3 Teknik Analisa Data ................................................................................................ 9
4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN.................................................................................. 10
4.1 Profil Kecamatan Entikong .................................................................................... 10
4.1.1 Wilayah ................................................................................................... 10
4.1.2 Penduduk................................................................................................. 10
4.1.3 Sosial ....................................................................................................... 11
4.1.4 Ekonomi .................................................................................................. 12
4.1.5 Infrastruktur Jalan ................................................................................... 14
4.2 Pengembangan Infrastruktur Jalan ........................................................................ 16
5. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................................ 19
i
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
5.1 Kesimpulan ............................................................................................................ 19
5.2 Saran ...................................................................................................................... 19
DAFTAR REFERENSI ......................................................................................................... 20
ii
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan bangsa Indonesia dalam era globalisasi dilaksanakan secara terpadu
dan terencana di segala sektor kehidupan. Pembangunan nasional yang dilaksanakan saat ini
adalah pembangunan berkesinambungan secara bertahap guna meneruskan cita-cita bangsa
Indonesia untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam rangka mencapai
tujuan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam rangka
mencapai tujuan tersebut, maka pembangunan nasional dilakukan secara berencana,
menyeluruh, terpadu, terarah, bertahap dan berlanjut untuk memacu peningkatan kemampuan
nasional dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain
yang lebih maju.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 18.110 pulau, luas
wilayah teritorialnya 3,1 juta km² dan wilayah perairannya 5,8 juta km². Geografi yang luas
ini membuat Indonesia memiliki wilayah yang bersinggungan dengan banyak negara.
Indonesia memiliki perbatasan darat dengan Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini
sepanjang 3092,8 km. Sementara itu, wilayah lautnya berbatasan dengan 10 negara, yaitu
India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Australia, Timor Leste, Palau, dan
Papua Nugini.
Kawasan perbatasan suatu negara memiliki peran penting dalam penentuan batas
wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumber daya alam, menjaga keamanan dan keutuhan
wilayah. Pembangunan wilayah perbatasan pada dasarnya merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional. Kawasan perbatasan mempunyai nilai strategis dalam mendukung
keberhasilan pembangunan nasional, hal tersebut ditunjukkan oleh karakteristik kegiatan
yang mempunyai dampak penting bagi kedaulatan negara, menjadi faktor pendorong bagi
peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya, memiliki keterkaitan yang
saling mempengaruhi dengan kegiatan yang dilaksanakan di wilayah lainnya yang berbatasan
dengan wilayah maupun antar negara, serta mempunyai dampak terhadap kondisi pertahanan
dan keamanan, baik skala regional maupun nasional.
Kawasan perbatasan antar negara memiliki potensi strategis bagi berkembangnya
kegiatan perdagangan internasional yang saling menguntungkan. Kawasan ini juga berpotensi
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
2
besar menjadi pusat pertumbuhan wilayah, terutama dalam hal pengembangan industri,
perdagangan dan pariwisata. Hal ini akan memberikan peluang bagi peningkatan kegiatan
produksi yang selanjutnya akan menimbulkan berbagai efek pengganda (multiplier effects).
(Mukti, 2001).
Dengan jumlah kawasan perbatasan yang banyak, Indonesia berkepentingan untuk
menjaga
kedaulatan
dari
ancaman
negara
lain
dan
menyejahterakan
kehidupan
masyarakatnya di perbatasan. Sebagai beranda depan, wajah perbatasan Indonesia seharusnya
mencerminkan kondisi yang aman dan sejahtera. Namun, paradigma masa lalu yang
memandang kawasan perbatasan sebagai halaman belakang dan daerah terluar membuat
pembangunannya kurang diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Indonesia yang
sentralistis saat itu lebih mementingkan pembangunan kawasan pusat. Akibatnya,
pembangunan kawasan perbatasan secara umum tertinggal dibandingkan daerah Indonesia
lainnya. Kondisi kawasan perbatasan Indonesia yang memprihatinkan akan lebih jelas terlihat
jika dibandingkan dengan kawasan perbatasan negara lain yang lebih maju. Dari tiga negara
yang berbatasan darat dengan Indonesia, Malaysia dianggap lebih maju dalam mengelola
kawasan perbatasannya. Perbatasan darat Indonesia-Malaysia membentang sepanjang 2.004
km yang berada di 16 kecamatan di Kalimantan Barat dan 14 kecamatan di Kalimantan
Timur. Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, dibutuhkan kebijakan pemerintah
Indonesia dalam mengelola kawasan perbatasan darat dengan Malaysia.
Kunci pergeseran paradigma mengenai kawasan perbatasan ini berawal dari adanya
kesadaran akan peran kawasan perbatasan. Kondisi yang semula hanya berupa garis dalam
sebuah peta, atau tanda batas politik (security check points, passport control, transit points)
mengalami perkembangan ke arah dimensi yang lebih luas, sehingga nuansa borderless
semakin terlihat (seperti Uni Eropa). Perkembangan paradigma tersebut mendorong pada
berkembangnya aspek prosperity/kesejahteraan, sehingga fungsi wilayah perbatasan menjadi
penting sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi (kawasan strategis) meskipun
seringkali terletak di wilayah pinggiran/periphery (Dendy, 2009).
Saat ini di Era Reformasi, pemerintah memiliki isu strategis baru yang tertuang dalam
Nawacita, salah satu isinya menyebutkan “Membangun Indonesia dari pinggiran”. Salah satu
bukti kesriusan pemerintah, tahun ini dianggarkan 1 Triliun rupiah untuk membangun jalan di
kawasan perbatasan (finance.detik.com, Januari 2015)
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
3
1.2 Rumusan Permasalahan
Dari 30 kecamatan yang berada di kawasan perbatasan darat Indonesia-Malaysia,
lokasi kajian yag dipilih, yaitu Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat,
sebagai daerah penelitian. Entikong dipilih karena beberapa alasan. Pertama, kecamatan ini
berbatasan langsung dengan Tebedu yang berada di negara bagian Serawak, Malaysia.
Kedua, hingga akhir tahun 2012, di Entikong terdapat satu-satunya Pos Pemeriksaan Lintas
Batas (PPLB) resmi di sepanjang perbatasan darat Indonesia-Malaysia. Ketiga, kecamatan ini
termasuk salah satu dari 26 kawasan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yang
ditetapkan melalui PP No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang dan Kawasan Nasional.
Fakta mengenai PPLB dan status PKSN di Entikong ini kemudian menyiratkan
perhatian pemerintah yang besar terhadap kecamatan ini. Dengan demikian, penulis akan
lebih mudah menemukan kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia terhadap pengelolaan
kawasan perbatasan darat dan implementasinya di kecamatan Entikong ini. Selain itu,
diharapkan hasil kajian ini setidaknya bisa memberikan gambaran umum sosial ekonomi
masyarakat dan infrastruktur jalan di kawasan perbatasan darat Indonesia-Malaysia.
1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan permasalahan kajian yang telah
dikemukakan sebelumnya, maka kajian ini bertujuan untuk:
1. Menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan infrastruktur jalan kawasan
perbatasan di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.
2. Memberikan masukan terhadap kebijakan pengembangan infrastruktur jalan kawasan
perbatasan di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.
1.4 Manfaat
Sesuai dengan tujuan kajian, maka manfaat hasil kajian ini, yaitu manfaat praktis.
Kajian ini berguna bagi pemerintah pusat maupun daerah karena memberikan gambaran
konkrit mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat dan pengembangan infrastruktur jalan
kawasan perbatasan di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
4
BAB 2
KERANGKA TEORI
2.1 Kawasan Perbatasan
Wilayah negara didefinisikan sebagai salah satu unsur negara yang merupakan satu
kesatuan wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan kepulauan, dan laut teritorial beserta
dasar laut dan tanah di bawahnya, serta ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber
kekayaan yang terkandung di dalamnya. Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008
tentang Wilayah Negara, kawasan perbatasan adalah bagian dari wilayah negara yang terletak
di sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal batas wilayah
negara di darat, kawasan perbatasan berada di kecamatan. Perbatasan merupakan konsep
yang merujuk pada suatu area yang dibatasi secara geografis, politik, budaya yang
memisahkan kedaulatan suatu negara dengan negara lain. Dari konsep ini, negara menjadi
aktor yang dominan dalam mengelola perbatasan yag menjadi teritorinya, baik dalam unsur
wilayah, orang, maupun pemerintahan yang efektif. (Kristof dalam Raharjo, 2013)
Komornicki (2005) dalam Laporan Akhir Penyusunan Naskah Ilmiah Sistem Jaringan
Jalan Kawasan Perbatasan Puslitbang Jalan dan Jembatan-Kementerian PU Tahun 2012
menyampaikan bahwa kawasan perbatasan (border area) melayani tiga fungsi fundamental,
disamping peran dasar mereka sebagai batas atas kedaulatan suatu Negara. Fungsi yang
dimaksud tersebut, yaitu: militer (menyediakan penghalang bagi agresi militer dari luar),
ekonomi (membangun batas – batas bagi arus barang secara bebas), dan sosial (yaitu sebagai
pembatas bagi pergerakan orang).
Dalam PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN) tersebut dijelaskan bahwa untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan
negara maka ditetapkan kawasan perkotaan yang disebut Pusat Kegiatan Strategis Nasional
(PKSN). Keberadaan PKSN ini melengkapi sistem perkotaan di Indonesia yang terdiri dari
Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal
(PKL). Kriteria penetapan PKSN adalah sebagai berikut:
1. Pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara
tetangga;
2. Pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang
menghubungkan dengan negara tetangga;
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
5
3. Pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan
wilayah sekitarnya;
4. Pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong
perkembangan kawasan di sekitarnya.
2.2 Infrastruktur Jalan
Peran jalan sangat vital dalam kehidupan masyarakat seperti yang telah disebutkan
dalam Pasal 5 Ayat 1 dan 2 UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, jalan sebagai bagian
prasarana transportasi mempunyai peran penting dalam bidang ekonomi, sosial budaya,
lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Dan jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat
nadi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
Definisi jalan sendiri adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu
lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan
tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan
kabel (Pasal 1 UU 38 Tahun 2004). Jalan yang akan dibahas dalam kajian ini meliputi jalan
umum (nasional, provinsi, kabupaten dan desa). Menurut statusnya berdasarkan pasal 9 UU
38 Tahun 2004:

Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta
jalan tol. (ayat 2)

Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota
kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi. (ayat 3)

Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak
termasuk pada ayat (2) dan ayat (3), yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan
ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan
lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan
sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten. (ayat 4)

Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau
antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan. (ayat 6)
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
6
2.3 Sosial dan Ekonomi
2.3.1 Sosial
Dalam teori sosial, secara umum digunakan sebuah pendekatan perbatasan dengan
konteks ide jaringan yang terdiri atas beberapa komponen penting, yaitu: mobilitas,
pergerakan, kondisi yang berubah-ubah, dan karakter fisiknya. Beberapa komponen tersebut
merupakan kunci penting dalam memahami konteks wilayah perbatasan (Rumford, 2006).
Wilayah perbatasan memiliki dimensi manusia dan pengalaman di dalamnya, hal tersebut
menandakan dimensi penting tentang identitas komunitas yang berujung pada manajemen
dan regulasi khusus masyarakat yang berada di kawasan perbatasan. Mekanisme pengawasan
yang dilakukan oleh negara seharusnya lebih intensif pada kawasan perbatasan, meskipun
mungkin secara geografis berada pada wilayah yang terpencil (remote area) dan berada di
tapal batas kewenangan teritorial. Secara tradisional, perbatasan memiliki aspek dinamis dari
sebuah negara, termasuk manusia dan pengalamannya, serta sebagai indikator dalam
mengukur kekuatan sebuah negara (Giddens, 1985).
Meningkatnya pergerakan manusia di kawasan perbatasan menyebabkan implikasi di
berbagai bidang, antara lain: 1) mengubah sifat/nature dari hubungan internasional yang
terbentuk (terjadinya pergerakan manusia di kawasan perbatasan dapat mendorong
pembangunan regional diantara negara yang relatif lebih maju dan membentuk kesempatan
kerjasama), 2) adanya kecenderungan pemerintah lokal tidak mampu membentuk kerjasama
internasional dalam menangani permasalahannya, sehingga potensi konflik cenderung terjadi
akibat perbedaan perspektif dan interest (Akaha dan Vassilieva, 2005). Kedua kemungkinan
tersebut dapat terjadi seiring dengan kebijakan yang melandasi hubungan kedua wilayah yang
berbatasan.
Perubahan kondisi hubungan di perbatasan menyebabkan terjadinya pergerakan arus
manusia antarnegara. Hal ini menjadi perhatian penting dalam hubungan internasional,
karena terjadinya migrasi di wilayah perbatasan disebabkan oleh motif peningkatan
kesempatan ekonomi antara perusahaan dan individual. Kondisi tersebut berdampak pada
perluasan jaringan sosial antara negara yang berbeda, sehingga membentuk komunitas
transnasional dengan ciri etnis dan warisan budaya yang sama, namun hidup dalam negara
yang berbeda (Akaha dan Vassilieva, 2005).
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
7
2.3.2 Ekonomi
Menurut Hamid (2003), kawasan perbatasan antarnegara merupakan kawasan yang
strategis karena merupakan titik tumbuh bagi perekonomian regional maupun nasional.
Melalui kawasan ini, kegiatan perdagangan antarnegara dapat dilakukan dengan mudah, cepat
dan murah yang pada gilirannya akan mendorong naiknya aktivitas produksi masyarakat,
pendapatan masyarakat, dan berujung pada kesejahteraan masyarakat.
Konsep pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat
yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (value added) yang
terjadi di wilayah tersebut, pertumbuhan yang terjadi diukur dalam nilai riil, artinya
dinyatakan dalam harga yang konstan (Tarigan, 2006). Kemakmuran suatu wilayah, selain
ditentukan oleh besarnya nilai tambah, ditentukan pula oleh transfer–payment, yaitu bagian
pendapatan yang mengalir keluar wilayah atau masuk ke dalam wilayah tersebut.
Teori basis ekonomi (economic base theory) mendasarkan pendangannya bahwa laju
pertumbuhan ekonomi wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah
tersebut (Tarigan, 2006). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor utama dalam
pertumbuhan ekonomi di suatu daerah terkait dengan permintaan barang dan jasa dari luar
daerah.
Pengembangan wilayah di perbatasan erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi
wilayah, dilihat dari sudut pandang ekonomi, perkembangan wilayah terkait dengan
peningkatan taraf hidup masyarakat, yang dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan
perkapita masyarakat. Sedangkan untuk melihat pendapatan wilayah, dapat digambarkan
dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sehingga dapat dikatakan bahwa
perkembangan wilayah tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan ekonomi wilayah.
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
8
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat dan
infrastruktur jalan kawasan perbatasan di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi
Kalimantan Barat. Selain itu, memberikan masukan terhadap kebijakan pengembangan
infrastruktur jalan di kawasan perbatasan tersebut. Dalam mencapai tujuan kajian ini, kajian
dilakukan melalui metodologi sebagai berikut.
3.1 Jenis Penelitian
Sesuai dengan tujuan dari kajian ini, yaitu untuk menggambarkan kondisi sosial
ekonomi masyarakat dan infrastruktur jalan kawasan perbatasan, maka jenis kajian ini
bersifat
deskriptif. Menurut Neuman (2007), tujuan penelitian deskriptif, yaitu
menggambarkan secara lengkap sehingga didapatkan gambaran yang akurat, menemukan
data baru yang berbeda dengan data-data yang telah ada, membentuk sebuah kategori atau
klasifikasi, mengklarifikasi suatu masalah secara bertahap atau bertingkat. Selain itu,
penelitian deskriptif disajikan dalam bentuk data grafik yang berguna untuk (Nasution,
2007):
a. Mengetahui karakteristik dari objek penelitian.
b. Menggambarkan aspek pada kondisi tertentu.
c. Dapat memberikan ide bagi penelitian selanjutnya.
d. Digunakan untuk mengambil keputusan sederhana.
Kajian ini membahas gambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat dan infrasruktur jalan
kawasan perbatasan di Kecamatan Entikong. Hal inilah yang ingin dilihat bagaimana
pengaruh pengembangan infrastruktur jalan terhadap kegiatan sosial ekonomi masyarakat
kawasan perbatasan di Kecamatan Entikong.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada kajian ini, yaitu data sekunder. Data
sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh pihak lain yang dapat digunakan oleh peneliti
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
9
sebagai data awal (Nasution, 2007). Pada kajian ini, data sekunder yang digunakan berasal
dari laporan penelitian yang menunjang tema kajian ini serta dokumen pemerintahan terkait
kondisi objek dan lokasi penelitian.
3.3 Teknik Analisa Data
Setelah dilakukan pengumpulan data, kemudian dilakukan analisis dan pembahasan
dari data sekunder yang telah didapat. Hal ini untuk memberikan gambaran kondisi sosial
ekonomi masyarakat dan infrastruktur jalan kawasan perbatasan di Kecamatan Entikong.
Selain itu, melalui gambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat memberikan masukan
terhadap kebijakan pengembagan infrastruktur jalan kawasan perbatasan di Kecamatan
Entikong. Dan dari hasil analisis data tersebut serta mengaitkannya dengan kerangka teori
maka akan didapatkan suatu kesimpulan.
Pengumpulan
Data Sekunder
Analisis dan
Pembahasan
Kesimpulan
dan Saran
Gambar 3.1 Metodologi Penelitian
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
10
BAB 4
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Kecamatan Entikong
4.1.1 Wilayah
Kecamatan Entikong secara administratif terdiri dari 5 desa dan 18 dusun merupakan
salah satu dari 22 kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Sanggau dengan
batas-batas sebagai berikut
- Sebelah Utara berbatasan dengan Sarawak (Malaysia Timur)
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Landak
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sekayam
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang
Sumber: Bappeda Kabupaten Sanggau, 2009
Gambar 4.1 Wilayah Kabupaten Sanggau
4.1.2 Penduduk
Penduduk Kecamatan Entikong pada tahun 2013 berjumlah 15.047 jiwa dan tersebar
di lima desa yaitu Desa Entikong, Semanget, Nekan, Pala Pasang, dan Desa Suruh
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
11
Tembawang. Distribusi penduduk terbesar di Kecamatan Entikong yaitu sebesar 6.782 dari
total jumlah penduduk berada di Desa Entikong, sedangkan yang terendah adalah Desa Pala
Pasang yaitu sebesar 1.014 jiwa.
2.268
2.188
6.782
Rumah
Tangga
599
567
1.445
Rata-rata
Anggota
4
4
5
2.795
589
5
1.014
15.047
248
3.448
4
4
Desa
Penduduk
Nekan
Semanget
Entikong
Suruh
Tembawang
Pala Pasang
Jumlah
Sumber: Kecamatan Entikong dalam Angka 2013
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Entikong
4.1.3 Sosial
Penduduk Kecamatan Entikong sebagian merupakan suku dayak, sementara di Desa
Entikong telah berbaur berbagai macam suku, baik suku Dayak, Melayu, Jawa dan
sebagainya. Masyarakat di Desa Entikong kekerabatannya cukup kuat, ditunjukkan oleh
adanya kegiatan pertandingan olah raga dengan negara tetangga dan pentas budaya yang
memperlihatkan berbagai budaya dan tarian dari suku-suku yang ada di Kecamatan Entikong.
Potensi ini perlu dilestarikan, namun sampai saat ini ketersediaan fasilitas penunjang kegiatan
sosial budaya tersebut belum ada, sementara di negara tetangga (Malaysia) telah tersedia
gedung untuk pelaksanaan pertukaran budaya antar dua wilayah perbatasan tersebut.
Dari segi pendidikan, terdapat 78 SD yang tersebar di semua desa di Kecamatan
Entikong; 5 SMP yang terdapat di Desa Entikong, Semanget dan Suruh Tembayang; Serta 2
SMK di Desa Entikong (EDA, 2013). Selain itu, di Kecamatan Entikong banyak anak putus
sekolah. Salah satu alasannya adalah akses anak-anak tersebut untuk pergi ke sekolah. Alasan
lain adalah kemiskinan orang tua sehingga tidak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang
lebih tinggi (Raharjo, 2013). Permasalahan sosial lainnya, terdapat kerawanan perpindahan
kewarganegaraan, peredaran minuman keras dari Malaysia, dan transit Tenaga Kerja
Indonesia legal ataupun tidak berdokumen (Raharjo, 2013).
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
12
4.1.4 Ekonomi
Sumber: BNPP
Gambar 4.2 Patok Batas Indonesia-Malaysia
Aktivitas perekonomian yang cukup dinamis dan dalam jumlah besar juga terjadi di
kawasan perbatasan Sanggau dan Malaysia Timur (Entikong – Sarawak). Faktor geografis
Kabupaten Sanggau - Sarawak yang berbatasan darat dan tapal batas wilayahnya saling
melekat merupakan penyebab utama timbulnya aktivitas perekonomian antara masyarakat
kedua kawasan perbatasan tersebut. Entikong merupakan salah satu kecamatan perbatasan di
Kabupaten Sanggau yang memiliki aktivitas perekonomian terbesar dibandingkan dengan
beberapa kawasan perbatasan lainnya di Kalimantan Barat (Kompas, 2003).
Sebagian besar aktivitas perekonomian tersebut bersumber dari sektor
perdagangan lintas batas yang tumbuh pesat sejak dibukanya Pos Pemeriksaan Lintas Batas
(PPLB) Entikong pada tahun 1991, sebagai pintu resmi pertama di Indonesia untuk keluar
masuk orang dan barang antar negara melalui jalur darat. Pada awal beroperasionalnya PPLB
Entikong, diharapkan Entikong sebagai pintu gerbang internasional mampu berperan sebagai
pusat pertumbuhan kawasan perbatasan dan motor penggerak perekonomian wilayah
sekitarnya, namun harapan tersebut sampai saat ini belum mampu diwujudkan. Meskipun
volume dan nilai perdagangan lintas batas melalui PPLB Entikong tergolong tinggi, namun
pada umumnya peningkatan kondisi perekonomian di kecamatan-kecamatan yang merupakan
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
13
kawasan perbatasan masih sangat lambat bahkan cenderung tidak lebih baik dibandingkan
kecamatan-kecamatan yang bukan merupakan kawasan perbatasan.
Meskipun aktivitas perdagangan lintas batas melalui PPLB Entikong telah
berlangsung lebih dari 20 tahun yang lalu dengan volume dan nilai perdagangan yang
tergolong tinggi, namun perkembangan perekonomian dan pembangunan di kawasan
perbatasan Kabupaten Sanggau dirasakan masih sangat lambat bahkan cenderung tidak lebih
baik dibandingkan daerah-daerah yang bukan merupakan kawasan perbatasan.
Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong yang dibuka sejak tahun 1991
merupakan pintu resmi pertama di Indonesia untuk keluar masuk orang dan barang antar
negara melalui jalur darat. Perdagangan lintas batas melalui PPLB Entikong tidak hanya
memperdagangkan atau mengekspor produk dari kawasan perbatasan di Kabupaten Sanggau
saja, tetapi juga berbagai produk dari daerah-daerah lainnya di Provinsi Kalimantan Barat dan
daerah-daerah seluruh wilayah Indonesia.
Mayoritas penduduk Entikong adalah petani. Produk dari kawasan perbatasan
Kabupaten Sanggau berupa hasil-hasil pertanian yang masih dalam bentuk bahan mentah atau
belum melalui proses pengolahan sama sekali seperti lada, kakao, kacang tanah, karet,
jagung, sayur-sayuran dan buah-buahan. Produk dari daerah lainnya di Provinsi Kalimantan
Barat berupa ikan, udang, lidah buaya dan bubur kayu/pulp sedangkan produk dari luar
Provinsi Kalimantan Barat antara lain pakaian, rokok, perabotan dan penerangan rumah,
kertas, makanan dan minuman olahan, berbagai produk kimia, dan kosmetik.
Barang-barang yang diimpor atau masuk ke Indonesia melalui PPLB Entikong antara
lain berasal dari negara Malaysia, Singapura, China, Thailand, Vietnam, Italia, Switzerland,
Amerika Serikat dan Hong Kong. Barang-barang tersebut antara lain berupa barang-barang
dari besi dan baja, mesin-mesin, kendaraan dan bagiannya, berbagai produk kimia, plastik
dan barang dari plastik, berbagai barang buatan pabrik dan mainan. Sementara sebagian besar
komoditas ekspor Malaysia ke Kalimantan Barat adalah gula, berbagai produk makanan dan
minuman, gas, minyak goreng, susu bubuk, pupuk dan berbagai mesin-mesin untuk pabrik
(Pontianak.tribunenews.com, 17/1/2012).
Meskipun aktivitas perdagangan lintas batas melalui PPLB Entikong tergolong cukup
tinggi dan telah berlangsung selama puluhan tahun, namun perkembangan perekonomian
masyarakat kawasan perbatasan di Kabupaten Sanggau dirasakan masih lambat bahkan
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
14
cenderung tidak lebih baik dibandingkan daerah-daerah yang bukan merupakan kawasan
perbatasan. Kondisi ini disebabkan karena komoditi dari kawasan perbatasan Kabupaten
Sanggau yang diekspor ke Sarawak merupakan hasil-hasil pertanian yang masih dalam
bentuk bahan mentah seperti lada, kakao, kacang tanah, karet, jagung, sayur-sayuran dan
buah-buahan.
Karena komoditi-komoditi tersebut dijual ke Sarawak masih dalam bentuk mentah
menyebabkan komoditi-komoditi tersebut tidak memiliki nilai tambah dan harga jualnya
menjadi rendah sehingga pada akhirnya kurang memberikan kontribusi terhadap peningkatan
perekonomian masyarakat kawasan perbatasan. Selain itu, komoditas potensial yang dapat
dikembangkan kelapa sawit dan durian. Akan tetapi, petani lebih menyukai menjual hasil
pertaniannya ke Malaysia karena jarak yang lebih dekat dan harga kompetitif. Hal ini juga
menimbulkan kerawanan ekonomi (BNPP)
Gambar 4.4 Komoditas durian yang akan di ekspor ke Malaysia
Pariwisata di Kecamatan Entikong juga belum tergali potensinya, mengingat sebagian
besar wilayahnya merupakan hutan lindung, namun potensi hutan tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai hutan wisata, sekaligus desa wisata.
4.1.5 Infrastruktur Jalan
Secara geografis, dari 5 desa di Kecamatan Entikong, hampir seluruh desa berbatasan
langsung dengan negara tetangga Malaysia, kecuali Desa Nekan. Dari 4 desa atau 9 dusun
yang berbatasan langsung, pada umumnya mudah diakses oleh warga setempat untuk
berinteraksi dengan masyarakat di kawasan Sarawak Malaysia. Hal ini disebabkan karena di
desa/dusun diatas sudah sejak lama terbina hubungan baik (ikatan sosial) antarkampung di
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
15
Sarawak yang terhubungkan melalui jalan setapak dan ojek. Kondisi demikian berperan bagi
terjadinya aliran perekonomian dari Indonesia-Malaysia melalui pintu non resmi, dan resiko
kebocoran terhadap pemanfaatan sumberdaya menjadi isu yang kental di kawasan tersebut
No
Nama Desa
Jarak Tempuh ke Ibukota (km2)
Kecamatan Kabupaten
Provinsi
1
Entikong
0
145
317
2
Semanget
6
139
311
3
Nekan
135
158.5
330,5
4
Pala Pasang
30
175
347
5
Suruh Tembawang
42
187
359
Sumber: BP2KPP, 2006
Tabel 4.2 Jarak dari Desa di Kota Entikong ke Ibukota Kecamatan, Kabupaten, Provinsi
Kondisi jalan di Kecamatan Entikong pada tahun 2013 masih dalam keadaan buruk.
Hal ini terlihat dari total panjang jalan 132,87 km, jenis permukaan didominasi tanah
sepanjang 111,17 km dan 82,07 km jalan dalam kondisi rusak berat. Kecamatan Entikong
dilintasi Jalan Nasional sekaligus Jalan Provinsi untuk menuju ke Pos Pemeriksaan Lintas
Batas, mayoritas jalan di Entikong adalah jalan desa untuk menuju jalan utama tersebut.
Keadaan Jalan
Diaspal
Kerikil
Jenis
Tanah
Permukaan
Lainnya
(rigid)
Baik
Sedang
Kondisi Jalan
Rusak
Rusak Berat
Sumber: Kecamatan Entikong dalam Angka 2013
Panjang
Jalan
16,8
4
111,17
Total
132,87
0,9
7
28,5
15,3
82,07
132,87
Tabel 4.3 Kondisi Jalan Kecamatan Entikong
Perbedaan signifikan terlihat ketika melihat jalan perbatasan di Entikong dan Di
Tebedu, Malaysia. Jalan di Entikong secara umum baik namun masih terlihat lubang
menganga di sepanjang jalan, sedangkan di Tebedu sepanjang mata memandang
permukaannya dalam kondisi baik dilengkapi marka dan penanda arah.
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
16
Jalan Entikong-Balai Karangan
Jalan Di Tebedu, Malaysia
Sumber: pustaka.pu.go.id
Sumber: travel.detik.com
Gambar 4.3 Jalan perbatasan di Entikong dan Tebedu
4.2 Pengembangan Infrastruktur Jalan
Kawasan perbatasan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan
wilayah dan terciptanya pertumbuhan ekonomi yang disebabkan perdagangan pesat yang
terjadi di perbatasan. Beberapa hasil penelitian di kawasan perbatasan membuktikan hal
tersebut antara lain kawasan perbatasan Jerman – Polandia dan China – Vietnam (Wu, 2001).
Kawasan perbatasan di Polandia mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi akibat warga
negara Jerman lebih memilih berbelanja di kawasan perbatasan Polandia karena harga yang
lebih murah dan sebaliknya Jerman memanfaatkan tenaga kerja dari Polandia dengan tingkat
upah yang lebih rendah untuk mengembangkan industri manufaktur di negaranya. Demikian
juga di kawasan perbatasan China dan Vietnam (Guang Xi – Quan Ninh). Pembangunan zona
industri khusus di China telah berhasil menarik investasi dan meningkatkan arus
perdagangan, sebaliknya Vietnam memanfaatkan peningkatan kondisi perekonomian di
China dengan mengembangkan sektor pariwisata sehingga meningkatkan arus masuk
wisatawan.
Warga perbatasan di Entikong menghadapi dua kendala utama dalam sektor ini.
Pertama, infrastruktur jalan masih belum baik dan merata. Kualitas jalan raya MalaysiaIndonesia (Malindo) dari Balai Karangan hingga PPLB Entikong secara umum memang baik,
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
17
tetapi jalan-jalan desa masih belum tertangani. Di Desa Nekan, akses masuk dari jalan raya
Malindo menuju desa masih berupa tanah liat dan hanya bisa dilalui ojek motor. Jika hujan
turun, jalanan menjadi licin dan hanya beberapa tukang ojek asli Nekan yang berani
melewatinya. Sementara untuk Desa Pala Pasang dan Suruh Tembawang, tidak ada jalan
darat dari kota kecamatan. Warga hanya bisa menggunakan transportasi air Sungai Sekayam.
Untuk sekali perjalanan pulang-pergi, biaya sewa perahu antara Rp. 1 juta hingga Rp. 1,4
juta.
Sumber: Musrenbang Regional Kalimantan 2015
Gambar 4.5 Rencana Pengembangan Infrastruktur Jalan Kalimantan 2015
Pada tahun 2015 ini pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat merencanakan pengembangan infrastruktur wilayah Pulau Kalimantan,
salah satunya Peningkatan Jalan lingkungan dan Drainase di Provinsi Kalimantan Barat:
 Akses menuju perbatasan (Balai Karangan-Entikong-Batas Serawak 4,7 km)
 Paralel perbatasan (Aruk-Entikong-Rasau 116,8 km)
Dengan total anggaran bidang Bina Marga TA. 2015 untuk Kalimantan Barat 1,47 T
(Musrenbang regional Kalimantan 2015)
Penguatan substansi perencanaan tata ruang diperlukan agar pembanguan yang
dilakukan terpadu dengan berbagai stakeholder. Pengembangan infrastruktur jalan sebaiknya
di prioritaskan untuk pembangunan akses jalan desa menuju jalan utama hal ini diutamakan
untuk mendorong kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Pemerintah juga dapat meningkatkan
keberpihakan anggaran bagi pembangunan kawasan perbatasan sebagai ‘halaman depan’
Indonesia
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
18
Sumber: http://sttnas.ac.id/wp-content/uploads/2011/07/entikong.jpg
Gambar 4.6 Pusat Kota Pontianak, Sanggau, Entikong dan Sarawak
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
19
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian ini, adalah
 Kondisi sosial ekonomi masyarakat kawasan perbatasan masih dalam keadaan
tertinggal hal ini dapat dilihat dari kondisi pendidikan dan berbagai pemasalahan
sosial yang terjadi di Kecamatan Entikong.
 Kondisi infrastruktur jalan mayoritas masih dalam kondisi buruk. Secara umum, jalan
utama masih relatif baik, akan tetapi akses jalan-jalan desa menuju jalan utama
(nasional maupun provinsi) dalam kondisi buruk dan mayoritas jenis permukaannya
masih berupa tanah.
 Pemerintah pada tahun 2015 memiliki program pengembangan infrastruktur jalan
untuk wilayah Kalimantan termasuk kawasan perbatasan yang didalamnya termasuk
Jalan Nasional, Jalan Provinsi dan Jalan Desa. Pemerintah sebaiknya memprioritaskan
pembangunan jalan-jalan desa menuju jalan utama untuk mendorong kegiatan sosial
ekonomi masyarakat meningkat.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dari kajian ini, yaitu
 Dari hasil kajian kondisi sosial ekonomi masyarakat dan infrastruktur jalan kawasan
perbatasan di Kecamatan Entikong dapat memberikan rekomendasi terhadap
kebijakan pemerintah dalam membangun kawasan perbatasan. Kajian ini bersifat
melengkapi kebijakan yang sudah ada, tidak untuk mengganti kebijakan yang telah
berjalan.
 Diperlukan penelitian lanjutan, agar validitas kondisi sosial ekonomi masyarakat dan
pengembangan infrastruktur jalan kawsan perbatasan terukur dengan baik.
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
20
DAFTAR REFERENSI
Finance.detik.com diakses tanggal 6 Mei 2015
Husnadi. (2006). Menuju Model Pengembangan Kawasan Perbatasan Daratan Antarnegara
(Studi Kasus: Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat).
Semarang: Universitas Diponegoro.
Kecamatan Entikong dalam Angka 2013
Kurniadi, Dendy. (2009). Strategi Pengembangan Wilayah Perbatasan Antarnegara: Memacu
Pertumbuhan Ekonomi Entikong Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Hamid. et.al. (eds). 2001. Kawasan Perbatasan Kalimantan : Permasalahan dan
Konsep Pengembangan. Jakarta :Pusat Pengembangan Kebijakan Teknologi
Pengembangan Wilayah-BPPT Press
Pengembangan Wilayah Infrastruktur PUPR di Kalimantan Tahun 2015 (Butir-Butir Bahasan
Musrenbang Regional Kalimantan Tahun 2015). Jakarta 24 Februari 2015. Kementerian
PUPR RI.
Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang dan Kawasan
Nasional
Profil Potensi Kawasan Perbatasan Kecamatan Entikong. Jakarta: BNPP.
Puslitbang Sosekling Jalan dan Jembatan. (2013). Pemetaan Sosial Ekonomi Lingkungan
mendukung Pengembangan Sistem Jaringan Jalan di Kawasan Perbatasan. Surabaya:
Balitbang Kementerian PU RI .
Mukti, Sri Handoyo. 2003. “Konsep Pengembangan Kawasan Perbatasan Kalimantan Indo
Malay Techno Agropolitan Corridor (IMTAC)”. Bulletin Tata Ruang, hal. 8-9. SeptemberOktober.
Naskah Kebijakan Pengelolaan Perbatasan Secara Terpadu Desentralization Support Facility
Indonesia Tahun 2011
Neuman, W. Lawrence. (2007). Basic of Social Research Qualitative and Quantitative
Approaches Second Edition. Boston: Pearson Education, Inc.
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
21
Nasution, Dr. Mustafa Edwin dan Usman Hardius. (2007). Proses Penelitian Kuantitatif.
Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia.
Raharjo, Sandy Nur Ikfal. (2013). Kebijakan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Darat
Indonesia-Malaysia (Studi Evaluatif di Kecamatan Entikong). Jakarta: Widyariset Vol. 16
No.1 April 2013
Rumford, C. 2006. ‘Borders and bordering’, in G. Delanty (ed.) Europe and Asia Beyond
East and West: Towards a New Cosmopolitanism. London: Routledge.
Tarigan, Robinson, (2004a). Ekonomi Regional : Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Bumi
Aksara.
Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
Undang-undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara
Wu, Chung- Tong. (2001). Cross-Border Development in a Changing World : Redefining
Regional Development Policies. In Edgington, David W. et.al.(eds). New Regional
Development Paradigms, Vol. 2, p.21-36. London : Greenwood press.
Puslitbang Sosekling Kementerian PUPR RI
Download