pemerintah kabupaten sarolangun

advertisement
PEMERINTAH KABUPATEN SAROLANGUN
TAHUN 2015
DAFTAR ISI
Halaman
Daftar Isi ...............................................................................................................
i
Peraturan Bupati Sarolangun
BAB I
BAB II
: PENDAHULUAN .......................................................................
1.1.
Latar Belakang .................................................................
1
1.2.
Dasar Hukum Penyusunan ...............................................
3
1.3.
Hubungan Antar Dokumen ..............................................
8
1.4.
Sistematika Dokumen RKPD ...........................................
11
1.5.
Maksud dan Tujuan ..........................................................
12
: EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
DAN
CAPAIAN
KINERJA
PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN ........................................................................
14
2.1
Gambaran Umum Kondisi Daerah .........................................
14
2.2
Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai
2.3
BAB III
1
Tahun Berjalan dan Realisasi RPJMD ......................................
80
Permasalahan Pembangunan ................................................
221
: RANCANGAN KERANGKA
EKONOMI DAERAH DAN
KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH .........................................
.......................................................................................................
233
BAB IV
BAB V
BAB VI
3.1.
Arah Kebijakan Ekonomi Daerah ..................................
234
3.2.
Arah Kebijakan Keuangan Daerah .................................
240
: PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH .......
258
4.1.
Tujuan dan Sasaran Pembangunan..................................
258
4.2.
Prioritas Pembangunan ......................................................
260
: RENCANA
PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS
DAERAH..............................................................................................
284
: P E N U T U P ...............................................................................
457
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, mewajibkan
pemerintah daerah
untuk menyusun perencanaan
pembangunan daerah sebagai satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan dari sistem
perencanaan pembangunan nasional untuk menghasilkan rencana pembangunan. Untuk itu, setiap
pemerintah daerah diwajibkan untuk menyusun perencanaan pembangunan yang sistematis,
terarah, terpadu, menyeluruh dan tanggap terhadap perubahan serta sesuai dengan
kewenangannya, salah satu dokumen perencanaan pembangunan daerah yang disusun untuk jangka
waktu 1 (satu) tahun yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan daerah dengan
melibatkan masyarakat tersebut adalah Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) adalah dokumen perencanaan pembangunan
tahunan yang disusun guna menjamin konsistensi, keterkaitan, dan keselarasan antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan daerah. RKPD
merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang
memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan
pendanaannya serta prakiraan pendanaan maju (forward budgeting estimate) untuk 1 (satu) tahun
berikutnya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan
mendorong parsitipasi masyarakat dan dengan mengacu pada RKPD Provinsi dan Rencana Kerja
Pemerintah (RKP). Pendekatan yang dilakukan dalam penyusunan RKPD yaitu berdasarkan
pendekatan partisipatif, teknokratif, politis serta top-down dan bottom-up planning.
RKPD Tahun 2016 merupakan komitmen Pemerintah Kabupaten Sarolangun untuk
memberikan
kepastian
kebijakan
dalam
melaksanakan
pembangunan
daerah
yang
berkesinambungan. Proses penyusunan RKPD Tahun 2016 dilakukan melalui rangkaian proses
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang merupakan forum antar pemangku
kepentingan. Pelaksanaan Musrenbang dimulai dari Musrenbang Desa/Kelurahan/Kecamatan,
selanjutnya dilaksanakan Forum Gabungan SKPD Kabupaten, dan untuk penajaman, penyelarasan,
klarifikasi, kesepakatan program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah kabupaten dengan
hasil musrenbang kecamatan dan pokok-pokok pikiran DPRD melalui hasil reses dilaksanakan
Musrenbang Kabupaten. Hasil Kesepakatan dari Musrenbang Kabupaten digunakan sebagai
pedoman utama dalam penyempurnaan Rancangan Akhir RKPD menjadi RKPD Kabupaten
Sarolangun Tahun 2016 yang akan ditetapkan melalui Peraturan Bupati.
Penyusunan RKPD Kabupaten Sarolangun Tahun 2016 merupakan dokumen perencanaan
tahunan daerah sebagai tahun ke 5 (lima) dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sarolangun Tahun 2011- 2016 sebagai upaya untuk
terwujudnya masyarakat sarolangun yang lebih maju dan sejahtera. Oleh karena itu, diperlukan
komitmen bersama dalam melaksanakan program dan kegiatan prioritas pembangunan yang telah
ditetapkan. Penyusunan RKPD juga memperhatikan hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan daerah
pada tahun sebelumnya, serta diintegrasikan dengan prioritas pembangunan pemerintah provinsi
maupun pusat.
Dokumen perencanaan pembangunan tahunan daerah yang disebut dengan Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) secara umum mempunyai kedudukan yang strategis yang menjembatani
antara perencanaan jangka panjang dan jangka menengah dengan perencanaan dan penganggaran
tahunan. RKPD digunakan sebagai pedoman pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan
tahunan bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja SKPD,
selanjutnya menjadi pedoman dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran(KUA) dan Prioritas dan
Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang kemudian KUA dan PPAS yang telah disepakati digunakan
sebagai dasar dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Kabupaten Sarolangun Tahun Anggaran 2016.
1.2. Dasar Hukum Penyusunan
Dasar hukum dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten
Sarolangun Tahun 2016, adalah sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas
dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3455);
4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4421);
6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)
Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
9. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5049);
10. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5587) Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5589);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4574);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4575);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4577);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4578);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan
Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4737);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan;
18. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana
Pembangunan;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4741);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4816);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4833);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5165);
25. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 3);
26. Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2015 Tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2016
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 137);
27. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
29. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyusunan
Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016 (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 903);
30. Peraturan Gubernur Jambi Nomor Tahun 2015 Tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah
(RKPD) Provinsi Jambi Tahun 2016;
31. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 8 Tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sarolangun Tahun 2006-2025;
32. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 02 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sarolangun Tahun 2011-2016.
33. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pokok-pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Sarolangun Tahun 2007 Seri E
Nomor 2);
34. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 02 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Sekreatariat Daerah dan Sekretariat DPRD Kabupaten Sarolangun (Lembaran
Daerah Kabupaten Sarolangun Tahun 2008 Nomor 02) sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 17 Tahun 2010 tentang
Perubahan kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 02 Tahun 2008 tentang
Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekreatariat Daerah dan Sekretariat DPRD Kabupaten
Sarolangun (Lembaran Daerah Kabupaten Sarolangun Tahun 2010 Nomor 17);
35. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 03 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Sarolangun (Lembaran Daerah Kabupaten Sarolangun
Tahun 2008 Nomor 03) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan
Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 03 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan
Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 03 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Daerah Kabupaten Sarolangun (Lembaran Daerah Kabupaten Sarolangun Tahun 2012
Nomor 03);
36. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 04 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sarolangun Tahun 2008 (Lembaran Daerah
Kabupaten Sarolangun Tahun 2008 Nomor 04) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 05 Tahun 2012 tentang Perubahan
kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 04 Tahun 2008 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sarolangun (Lembaran Daerah
Kabupaten Sarolangun Tahun 2012 Nomor 05);
37. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 02 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 - 2034. (Lembaran Daerah Kabupaten Sarolangun
Tahun 2014 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 2).
1.3. Hubungan Antar Dokumen
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Sarolangun Tahun 2016 adalah
dokumen perencanaan teknis operasional untuk periode satu tahun. RKPD merupakan penjabaran
dari RPJM Daerah dengan mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019 dan Rencana Kerja Pemerintah Tahun
2016 serta berpedoman pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005-2025, dan Peraturan Daerah Nomor 8
Tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Sarolangun Tahun
2006-2025.
RKPD yang telah ditetapkan melalui Peraturan Bupati merupakan rencana kerja yang
menjadi pedoman utama dalam proses penganggaran penyusunan Rancangan APBD, dan juga
digunakan oleh SKPD untuk menyesuaikan Rancangan Renja SKPD menjadi Renja SKPD. Renja SKPD
yang telah disyahkan akan dijadikan pedoman bagi SKPD dalam menyusun RKA-SKPD, yang nantinya
akan dijabarkan dalam R-APBD.
Dalam penyusunan Rancangan Renja-SKPD berpedoman pada Renstra SKPD yang
merupakan dokumen rencana pembangunan masing-masing SKPD dalam jangka waktu 5 (lima)
tahun. Renja-SKPD merupakan operasionalisasi RKPD oleh SKPD sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD
dalam bidang urusan yang menjadi kewenangan daerah dalam rangka mencapai sasaran
pembangunan jangka menengah daerah.
Dengan memperhatikan hubungan keterkaitan sebagaimana dijelaskan diatas, maka dalam
penyusunan RKPD Kabupaten harus memperhatikan RKP Nasional, RPJM Nasional, RKP, RPJP
Daerah, RPJM Daerah, Renstra SKPD dan Renja SKPD. Selain itu, jika dilihat hubungan dari dokumen
perencanaan lainnya yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), baik RTRW Nasional, RTRW Provinsi
maupun RTRW Kabupaten. RKPD Kabupaten tidak terpisahkan dengan dokumen perencanaan tata
ruang wilayah.
Dengan adanya keterkaitan hubungan antar dokumen perencanaan pembangunan tersebut
merupakan sebagai suatu upaya untuk mewujudkan perencanaan pembangnan daerah yang selaras
dan sinergis antara dokumen perencanaan tingkat nasional, provinsi Kabupaten, sehingga capaian
sasaran pembangunan nasional dan daerah dapat tercapai.
Berdasarkan uraian diatas keterkaitan hubungan dokumen RKPD dengan dokumen
perencanaan dan penganggaran baik pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan Satuan kerja
Perangkat Daerah (SKPD) serta dengan dokumen perencanaan lainnya dapat dilihat pada masingmasing gambar dibawah ini :
Gambar 1.1.
Keterkaitan RKPD dengan Dokumen Perencanaan
dan Penganggaran
Gambar 1.2.
Keterkaitan RKPD dengan Dokumen Perencanaan
Tata Ruang Wilayah
1.4. Sistematika Dokumen RKPD
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Sarolangun Tahun 2016, disusun
dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUN
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Dasar Hukum Penyusunan
1.3.
Hubungan Antar Dokumen
1.4.
Sistematika Dokumen RKPD
1.5.
Maksud dan Tujuan
BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN
2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah
2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan dan Realisasi
RPJMD
2.3. Permasalahan Pembangunan Daerah
BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
BAB IV. PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan
4.2. Prioritas dan Sasaran Pembangunan Tahun (n)
BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH
BAB VI. PENUTUP
1.5. Maksud dan Tujuan
Maksud penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Sarolangun
Tahun 2016, yakni sebagai berikut :
1. Untuk menjamin adanya keterkaitan dan konstistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan dan pengawasan dalam jangka waktu satu tahun anggaran.
2. Sebagai
dokumen
perencanaan
pembangunan
tahunan
yang
memberikan
strategi
pembangunan daerah dan program pembangunan daerah serta sasaran-sasaran strategis yang
ingin dicapai selama periode 1 (satu) tahun.
3. Untuk menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efektif, efisien, berkeadilan dan
berkelanjutan.
4. Untuk menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar pelaku pembangunan.
5. Menyediakan pedoman bagi pemerintah daerah dan juga bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) dalam menentukan program dan kegiatan prioritas pembangunan.
Sedangkan tujuan dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten
Sarolangun Tahun 2016, adalah sebagai berikut :
1. Menjabarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sarolangun
Tahun 2011-2016 kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahun 2016.
2. Menjadi pedoman utama dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (R-APBD) Kabupaten Sarolangun Tahun Anggaran 2016.
3. Sebagai pedoman dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas dan Plafon
Anggaran Sementara APBD Tahun Anggaran 2016.
4. Sebagai pedoman bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam penyusunan
Rencana Kerja SKPD Tahun Anggaran 2016.
5. Tersedianya daftar prioritas kegiatan pembangunan Kabupaten Sarolangun tahun 2016 yang
sesuai dengan besaran plafon anggaran yang telah dipilah berdasarkan sumber pembiayaan baik
dari APBN, APBD Provinsi maupun APBD Kabupaten.
6. Terjaminnya konsistensi antara hasil Musrenbang dengan RKPD dalam penganggaran.
7. Menciptakan efisiensi dan efektivitas dalam perencanaan alokasi sumber daya dalam
pembangunan daerah.
8. Terwujudnya sinergitas dalam pelaksanaan pembangunan daerah di Kabupaten Sarolangun.
BAB II
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN
2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah
2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi
a. Karakteristik lokasi dan wilayah
1)
Luas dan batas wilayah administrasi
Luas Wilayah Kabupaten Sarolangun 6.174 km², dengan luas masing-masing
kecamatan adalah : Kecamatan Batang Asai 858 km² (13,90%), Kecamatan Limun
799 km² (12,94%), Kecamatan Cermin Nan Gedang 320 km² (5,18%), Kecamatan
Pelawan
330 km² (5,34%), Kecamatan Singkut 173 km² (2,80%), Kecamatan
Sarolangun 319 km² (5,17%), Kecamatan Batin VIII 498 km² (8,07%), Kecamatan
Pauh 1.770 km² (28,67%), Kecamatan Air Hitam 471 km² (7,63%), Kecamatan
Mandiangin 636 km² (10,30%), dimana Kecamatan Pauh merupakan kecamatan
terluas sedangkan Kecamatan Singkut merupakan kecamatan dengan luas paling
kecil. Batas-batas wilayah Administrasi Kabupaten Sarolangun Sebelah Utara
berbatasan dengan Kabupaten Batang Hari, Sebelah Timur berbatasan dengan
Kabupaten Batang Hari dan Kabupaten Musi Banyuasin. Sebelah Selatan berbatasan
dengan Kabupaten Musi Rawas Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten
Merangin.
Secara administratif, Kabupaten Sarolangun terbagi ke dalam 10 Kecamatan,
9 Kelurahan, dan 149 Desa, yaitu :
No
Kecamatan
Kelurahan
Desa
Jumlah
1
Batang Asai
--
23
23
2
Limun
--
16
16
3
Cermin Nan Gedang
--
10
10
4
Pelawan
--
14
14
5
Singkut
1
12
13
6
Sarolangun
6
10
16
7
Bathin VIII
1
14
15
8
Pauh
1
13
14
9
Air Hitam
--
9
9
10
Mandiangin
--
28
28
Jumlah
9
149
158
2) Letak dan kondisi geografis
a) Posisi astronomis
Secara geografis Kabupaten Sarolangun berada pada posisi astronomi 1020 03’
39” sampai 1030 13’ 17” BT dan 010 53’ 39” LS sampai 020 46’ 24” LS (Meridian
Greenwich), dengan posisi geostrategis terletak di wilayah Barat Provinsi
Jambi, ditengah pulau sumatera dan dilalui oleh jalan lintas tengah
sumatera/Trans Sumatera, serta berdekatan dengan negara tetangga seperti
Singapura, Malaysia dan Thailand sebagai tujuan ekspor produk pertanian dan
industri pengolahan.
3) Topografi
Kabupaten Sarolangun terletak pada ketinggian 20 sampai dengan 1.950 m
dari permukaan laut (dpl). Jumlah dataran rendah Kabupaten Sarolangun seluas
5.248 Km² atau (85%) dan dataran tinggi : 926 Km² (15%), didominasi oleh bentuk
wilayah berombak (23,49%), datar (23,32%), kemudian diikuti oleh bentuk wilayah
bergelombang yang mencapai 18,29% dari luas kabupaten. Bentuk wilayah berbukit
mencapai 11,90%, berbukit kecil sekitar 6,62% dan cekung sekitar 5% sisanya
11,38% merupakan
daerah
dengan
bentuk
wilayah
bergunung.
Hal
ini
mengindikasikan bahwa sekitar 88,51% wilayah Kabupaten Sarolangun potensial
untuk pertanian.
Bentuk wilayah berombak dengan lereng 3–8% merupakan bentuk wilayah
dominan daerah penelitian dengan luas 145.039 Ha atau 23,49% dari luas
kabupaten. Di wilayah Kecamatan Air Hitam dijumpai di sekitar Desa Bukit Suban,
Desa Pematang Kabau, Lubuk Jering, Jernih dan Desa Lubuk Kepayang. Di wilayah
Kecamatan Mandiangin dapat dijumpai di Desa Kertopati, Mandiangin Tuo, Gurun
Tuo, Gurun Tuo Simpang, Mandiangin, Taman Dewa dan Petiduran Baru. Di wilayah
Kecamatan Pauh dapat dijumpai di Desa Semaran, Lubuk Napal, Lamban Sigatal
sampai Desa Sepintun. Di wilayah Kecamatan Bathin VIII dijumpai di Desa Teluk
kecimbung, Batu Penyabung dan Pulau Buayo. Di Kecamatan Pelawan terdapat di
Desa Rantau Tenang, Desa Pelawan, Desa Batu Putih. Di Kecamatan Singkut dapat
dijumpai di Desa Bukit Tigo, Sungai Benteng, Sungai Gedang, Perdamaian dan Sungai
Merah. Di wilayah Kecamatan Limun terdapat di Desa Tanjung Raden, Desa Monti,
Tanjung Raden sampai Desa Temenggung Dusun Mengkadai. Di Kecamatan Cermin
Nang Gedang dapat dijumpai di Desa Lubuk Resam, Teluk Tigo. Di Kecamatan Batang
Asai dijumpai di Desa Kasiro, Desa Bukit Kalimau Ulu dan Desa Muara Cuban.
Bentuk wilayah bergelombang, lereng 8–15% menyebar sekitar 18,29% atau
112.917 Ha. Di Kecamatan Air Hitam dijumpai di kaki Bt. Suban punai banyak (164
m) dan di sekitar Pegunungan Dua Belas. Di Kecamatan Mandiangin dijumpai di
sekitar Desa Bukit Peranginan, Petiduran Baru, Guruh Baru, Butang Baru dan
Pemusiran. Di Kecamatan Pauh dijumpai di sekitar Desa Karang Mendapo. Di wilayah
Kecamatan Pelawan dan Singkut dijumpai di Desa Pasar Singkut, Sungai Merah. Di
Kecamatan Limun dijumpai di sekitar Dusun Kampung Pondok. Di Kecamatan Batang
Asai dijumpai di sekitar Desa Sungai Bemban.
Bentuk wilayah berbukit kecil, lereng 15–25% menyebar sekitar 40.847 Ha
dijumpai di sekitar Bt. Subanpunaibanyak (164 m) dan Pegunungan Dua Belas
wilayah Kecamatan Air Hitam. Sekitar Desa Jati Baru di Kecamatan Mandiangin,
Dusun Mengkua, Dusun Rantau Alai, Desa Ranggo, Dusun Muara Mensao, B. Rebah
dan B. Kutur di Kecamatan Limun. Di wilayah Kecamatan Pelawan dan Kecamatan
Singkut dijumpai di Desa Pasar Singkut, Sungai Merah. Di Kecamatan Batang Asai
dijumpai di sekitar Dusun Batu Kudo, Desa Pulau Salak Baru, Kasiro Ilir dan Sungai
Baung.
Bentuk wilayah berbukit, lereng 25–40% menyebar sekitar 73.487 Ha atau
11,90%. Bentuk wilayah ini paling luas dijumpai di Kecamatan Limun. Berdasarkan
hasil analisis hampir 50% dari Kecamatan Limun mempunyai bentuk wilayah
berbukit, mulai dari Dusun Bukit Melintang, Desa Napal Melintang, Desa Lubuk
Bedorong, Bt. Tinjaulimun (667 m) sampai Dusun Kampung Manggis dan Dusun
Simpang Melako. Di Kecamatan Batang Asai bentuk wilayah berbukit dijumpai di
Desa Batu Empang, Simpang Narso, Tambak Ratu, Dusun Renah Pisang Kemali dan
Dusun Rantau Panjang. Di Kecamatan Air Hitam bentuk wilayah berbukit merupakan
Pegunungan Dua Belas, yaitu G. Panggang (328 m) dan Bt. Kuaran (328 m).
4) Geologi
Struktur geologi Kabupaten Sarolangun/Stratigrafi bahan induk tanah di
Kabupaten Sarolangun berdasarkan umur dikelompokkan menjadi 3 (tiga) area,
yaitu : Batuan Pra-Tersier, Tersier dan Kuarter. Uraian masing-masing bahan induk
tanah tersebut adalah sebagai berikut :
Batuan Pre-Tersier
Batuan Metamorfik dan Batuan Intrusi yang tergolong berumur Pre-Tersier di
daerah ini termasuk kedalam Formasi Rawas (Jrs), Batu sabak (Ptsb) dan Formasi
Pelepat. Formasi ini terdapat di daerah perbukitan dan kaki pegunungan yang
merupakan rangkaian dari Bukit Barisan. Batuan ini menyebar di bagian barat daya
Kabupaten Sarolangun. Batuan intrusi bersifat granitik dan andesitik muncul di
beberapa tempat secara sporadis. Ketiga formasi geologi ini menurunkan bahan
induk tanah batuliat. Secara umum yang dihasilkan dari bahan induk ini mempunyai
tekstur halus, drainase agak baik (sedang), peka erosi dan tingkat kesuburan tanah
rendah sampai sangat rendah serta kejenuhan Al tinggi. tanah ini sesuai untuk
pengembangan tanaman tahunan.
Batuan Tersier
Batuan sedimen yang tergolong berumur Tersier di daerah ini termasuk ke dalam
Formasi Palembang Anggota Tengah berumur Pliosen (Tppp) bersusunkan batu pasir
dan batu liat. Formasi Palembang Anggota Bawah (Tmpl), namun tak selaras ditutupi
oleh Formasi Palembang Anggota Atas (Qtpv). Ketebalan berkisar 50-60 m dan pada
umumnya lebih tebal di sekitar daerah antiklinal (punggung). Di beberapa tempat
tersusun dari batu napal yang termasuk kedalam Formasi Telisa Anggota Atas
berumur Miosen (Tmts). Pada bagian barat daya terdapat batuan Volkan Tua
bersifat andesitik berumur Oligosen (Tov). Bahan induk tanah yang dihasilkan dari
batuan tersier ini adalah batu pasir dan batu liat. Tanah yang dihasilkan mempunyai
tekstur halus sampai sedang, drainase baik sampai agak baik (sedang), kesuburan
tanah rendah dan kejenuhan Al tinggi. Tanah sesuai untuk pengembangan tanaman
tahunan.
Batuan Kuarter
Batuan sedimen berumur Kuarter di daerah ini termasuk ke dalam Formasi
Palembang Anggota Atas (Qtpv). Batuan formasi ini terdiri dari bahan tuf masam dan
batuliat. Formasi ini terbentuk selama setengah orogenesis Plio-Pleistosen dan
terletak tak selaras di atas Formasi Palembang Anggota Tengah, umur diperkirakan
antara Pleistosen Atas dan Pleistosen yang merupakan akhir proses susut laut.
Formasi ini menurunkan bahan induk tanah tuf dan batu liat. Tanah yang dihasilkan
mempunyai tekstur halus, drainase agak baik (sedang), tingkat kesuburan tanah
sangat rendah dan kejenuhan Al sangat tinggi. tanah ini sesuai untuk pengembangan
tanaman tahunan. Bahan volkanik kerucut volkan G. Ungkat umumnya bersusunkan
andesitik, dijumpai di bagian barat. Endapan aluvial berupa pasir, debu, liat dan
bahan organik dijumpai di sekitar jalur aliran sungai dan pelembahan tertutup/
cekungan berumur paling resen (muda). Tanah yang dihasilkan dari bahan volkanik
dan endapan aluvial dicirikan oleh tekstur yang berstratifikasi sebagai akibat dari
pengendapan bahan yang berulang-ulang. Tingkat kesuburan tanah tergolong
sedang. Tanah ini berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan dan
hortikultura (sayuran). Setempat di daerah cekungan dijumpai tanah organik dengan
tingkat kematangan saprik sampai hemik yang potensial untuk pengembangan
hortikultura dan tahunan (perkebunan).
Untuk jenis Tanah yang dijumpai di Kabupaten Sarolangun dan padanannya
menurut sistem klasifikasi tanah nasional, uraian masing-masing ordo tanah sebagai
berikut:
Histosols
Histosols disebut juga tanah Gambut atau Organosols, merupakan tanah yang
terbentuk akibat proses penimbunan bahan organik karena selalu jenuh air. Dalam
kondisi demikian sirkulasi oksigen jadi terhambat dan dekomposisi bahan organik
berjalan sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi atau penumpukan bahan
organik. Tanah gambut di Kabupaten Sarolangun dijumpai pada landform gambut
topogen air tawar diwilayah Kecamatan Air Hitam, Pauh, Pelawan, Singkut dan
Sarolangun. Pada tingkat sub grup hanya menurunkan Typic Haplohemists.
Typic Haplohemists
merupakan tanah organik yang sangat dalam (> 25 cm), tersusun dari bahan organik
dengan tingkat kematangan sedang (hemik) dan drainase sangat terhambat. Tanah
ini mempunyai tingkat kemasaman tinggi (pH 3,5–3,9), kandungan C-organik sangat
tinggi sedangkan N rendah, sehingga rasio C/N sangat tinggi (> 25 cm). P Potensial
tinggi di lapisan atas dan rendah dilapisan bawah, sedangkan ketersediaannya
sangat rendah sampai rendah. K potensial sedang di lapisan atas dan rendah
dilapisan bawah, demikian juga dengan ketersediaannya (K-dd). Hara dapat tukar
lainnya, seperti (C-dd) sangat rendah sampai rendah, Mg (Mg-dd) sedang sampai
tinggi dan Na (Na-dd) rendah. Kemampuan tanah mempertukarkan kation (KTK)
sangat tinggi, kejenuhan basa (KB) sedang sampai tinggi, demikian juga dengan
kejenuhan alumuniumnya. Berdasarkan sifat kimia tersebut tanah gambut di daerah
Kabupaten Sarolangun mempunyai tingkat kesuburan tanah tergolong sedang. Saat
ini sebagian besar tanah telah dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit. Selain
untuk perkebunan kelapa sawit, tanah gambut juga potensial untuk tanaman
hortikultura. Pengaturan tata air sangat diperlukan di daerah gambut. Selain itu,
pengapuran untuk memperbaiki pH perlu dilakukan.
Entisols
Entisols merupakan tanah-tanah muda karena belum mempunyai perkembangan
profil. Tanah ini dikenal juga sebagai tanah Aluvial Coklat. Di Kabupaten Sarolangun
Entisols yang dijumpai berkembang dari alluvium berupa liat, debu dan pasir di
sepanjang jalur aliran anak-anak sungai B. Tembesi, B. Merangin, B. Asai dan B.
Limun, seperti S. Air Hitam, S. Ketalo, S. Sekais, S. Belato dan lain-lain. Pada tingkat
sub grup, Entisols hanya menurunkan Typic Udifluvents. Tanah sangat dalam (> 100
cm), tekstur bervariasi dan berlapis-lapis (stratified) sebagai akibat proses
pengendapan yang berulang-ulang. Struktur lemah sampai masif dan konsistensi
gembur (lembab). Reaksi tanah sangat masam sampai masam (pH 4,2–5,5), Corganik tinggi di lapisan atas dan rendah sampai sangat rendah di lapisan bawah,
demikian juga dengan hara N. Sedang P dan K potensial tinggi sampai sangat tinggi,
dan ketersediaannya sangat rendah. Kemampuan tanah mempertukarkan kation
(KTK) sedang sampai tinggi dan kejenuhan basa (KB) tinggi sampai tinggi. Kejenuhan
Al sedang sampai tinggi. Berdasarkan sifat kimia tersebut tanah ini mempunyai
tingkat kesuburan sedang. Tanah ini potensial untuk pertanian tanaman pangan
lahan kering (palawija). Kendala pengembangan pertanian pada tanah ini, selain
potensi banjir, tanah ini masih memerlukan pemupukan untuk meningkatkan dan
mempertahankan kesuburan tanah.
Inceptisols
Inceptisols adalah tanah yang sudah mengalami perkembangan profil, namun masih
tergolong muda. Di Kabupaten Sarolangun, Inceptisols terbentuk dari endapan
sungai, batuan sedimen (berupa batu liat, batu pasir dan batuan malihan), batuan
vulkanik (berupa tuf dasit dan granit) dan batu kapur pada landform Peneplain Datar
sampai Bergelombang, Punggung Antiklin pada perbukitan Paralel, Pegunungan
Tektonik, Dataran Volkan Tua dan Intrusi Volkanik.
Dystrudepts
Udepts di Kabupaten Sarolangun menurunkan Dystrudepts dan Eutrudepts.
Dystrudepts terbentuk dari batu pasir, batu liat, tuf dasit dan granit. Hampir seluruh
wilayah Kabupaten Sarolangun didominasi oleh tanah Dystrudepts yang setara
dengan Podsolik Coklat Kemerahan. Tanah dalam sampai sangat dalam, solum tebal,
drainase baik dan tekstur tanah agak halus. Reaksi tanah masam sampai sangat
masam (pH 3,6–5,2), C-organik sedang sampai sangat tinggi dilapisan atas, rendah
sampai sangat rendah di lapisan bawah, demikian juga dengan hara N. Sedang P dan
K potensial umumnya rendah, dan ketersediaannya sangat rendah. Basa-basa dapat
tukar lainnya, seperti Ca, Mg dan Na (Ca-dd, Mg-dd dan Na-dd) umumnya sangat
rendah. Kemampuan tanah mempertukarkan kation (KTK) umumnya rendah dan
kejenuhan basa sedang, sedangkan kejenuhan Al sangat tinggi. Berdasarkan sifat
kimia tersebut tanah ini mempunyai tingkat kesuburan rendah. Pada tingkat sub
grup, Dystrudepts menurunkan Oxic Dystrudepts karena mempunyai KTK liat < 24
cmol/kg, Humic Dystrudepts karena mempunyai lapisan atas berwarna gelap dengan
ketebalan > 18 cm dan lainnya sebagai Typic Dystrudepts. Secara umum tanah ini
potensial untuk tanaman tahunan/ perkebunan. Faktor pembatas adalah tingkat
kesuburan tanah yang rendah, pH tanah masam dan tingginya kejenuhan Al.
Pemupukan sangat diperlukan, terutama pada awal pertumbuhan. Selain
pemupukan, pengapuran untuk memperbaiki pH dan menigkatkan kejenuhan basa
serta menekan kejenuhan Al perlu dilakukan. Pada daerah-daerah berlereng, usaha
tani konservasi sangat disarankan terutama pada tanah-tanah berbahan induk yang
peka terhadap erosi, seperti batu liat dan batu pasir.
Eutrudepts
Eutrudepts di daerah Kabupaten Sarolangun berkembang dari bahan alluvium, batu
kapur dan batuan volkanik (granit) pada landform dataran banjir dari sungai
bermeander, Peneplain Datar dan Bergelombang serta Dataran Volkanik Tua. Tanah
dalam sampai sangat dalam, solum tebal, drainase baik dan tekstur halus (liat).
Tanah ini setara dengan Latosol Coklat. Reaksi tanah umumnya masam sampai agak
masam (pH 4,5–6,5), C-organik tinggi di lapisan atas dan rendah sampai sangat
rendah di lapisan bawah, demikian juga dengan N. Sedang P tersedia rendah sampai
sangat rendah. Basa-basa dapat tukar seperti, Ca dan Mg tinggi pada tanah-tanah
yang berkembang dari batu kapur dan rendah sampai sangat rendah dari granit. Kdd umumnya sedang dan Na rendah. Kemampuan tanah mempertukarkan kation
umumnya sedang dan kejenuhan basa sangat tinggi pada tanah-tanah yang
berkembang dari alluvium dan granit serta sangat rendah dari batukapur.
Berdasarkan sifat kimia tersebut tanah ini mempunyai tingkat kesuburan sedang.
Pada tingkat sub grup Eutrudepts menurunkan Humic Eutrudepts dan Typic
Eutrudepts. Tanah potensial untuk tanaman pangan dan tanaman tahunan/
perkebunan. Faktor pembatas untuk pengembangan tanaman pangan adalah
tekstur tanah halus, sehingga akan menghambat dalam pengolahan tanahnya.
Penambahan bahan organik untuk mengurangi pengaruh tekstur tersebut sangat
diperlukan. Selain bahan organik, penambahan pupuk anorganik (hara N, P dan K)
untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah masih diperlukan. Pada
daerah-daerah berlereng usahatani perlu diterapkan.
Endoaquepts
Endoaquepts adalah Inceptisols yang selalu jenuh air atau sebagian besar alami
tahun-tahun normal jenuh air. Di sepanjang Dataran Banjir B. Tembesi, B. Merangin,
B. Asai dan B. Limun, Endoaquepts menurunkan Typic Endoaquepts dan di dataran
alluvial S. Putih dan S. Kujung sekitar Desa Bukitsuban, wilayah Kecamatan Air Hitam
menurunkan Fluvaquentic Endaquepts.
Typic Endoaquepts
mempunyai penampang tanah dalam tekstur halus (liat) drainase terhambat. Reaksi
tanah sangat masam sampai masam (pH < 5,5), C-organik tinggi dilapisan atas dan
rendah sampai sangat rendah di lapisan bawah, hara N sedang di lapisan atas dan
rendah di lapisan bawah. P potensial rendah sampai sedang, dan ketersediaannya
sedang di lapisan atas dan sangat rendah di lapisan bawah. K potensial rendah
sampai sangat rendah, demikian juga ketersediaannya . Basa-basa lain seperti Ca,
Mg dan Na sangat rendah. Kemampuan tanah mempertukarkan kation rendah
sampai sedang. Kejenuhan basa sangat rendah, sedangkan kejenuhan Al sangat
tinggi. Berdasarkan karakteristik kimia tersebut, Typic Endoaquepts di Kabupaten
Sarolangun tergolong tanah dengan tingkat kesuburan rendah. Karena posisi
geografi yang berada di daerah datar (lereng 0–3%) dan sumber daya air yang cukup
dari B. Tembesi, B. Merangin, B. Asai dan B. Limun, daerah ini potensial untuk
pengembangan padi sawah. Namun tanah ini memerlukan perbaikan pH dan
menekan kejenuhan Al.
Fluvaquentic Endoaquepts
Mempunyai penampang tanah sangat dalam, tekstur agak halus (liat berlempung)
dan drainase terhambat. Secara umum Fluvaquentic Endoaquepts mempunyai Typic
Endoaquepts. Hal ini terlihat dari reaksi tanah masam sampai agak masam (pH 5,4–
6,2), C-organik tinggi di lapisan atas dan berfluktuasi di lapisan bawah, hara N
sedang di lapisan atas dan rendah sampai sangat rendah di lapisan bawah. P
potensial sangat tinggi di lapisan atas, sedang sampai sangat tinggi di lapisan bawah,
sedangkan ketersediaannya sangat rendah. K potensial rendah sampai sangat
rendah, demikian juga ketersediaannya . Basa-basa lain seperti Ca, Mg dan Na
sangat rendah Kemampuan tanah mempertukarkan kation rendah sampai sedang.
Kejenuhan basa sangat tinggi dan kejenuhan Al sangat rendah. Berdasarkan
karakteristik kimia tersebut, Fluvaquentic Endoaquepts mempunyai tingkat
kesuburan tanah sedang. Berdasarkan posisi geografi yang berada di daerah datar
(lereng 0–3%), tanah ini potensial untuk padi sawah. Untuk memperoleh hasil yang
maksimal, masih diperlukan pemupukan yang berimbang, terutama hara N, P dan K.
Alfisols
Alfisols adalah tanah yang sudah cukup berkembang, ditandai dengan adanya
horizon akumulasi liat (argilik). Di daerah Kabupaten Sarolangun, Alfisols
berkembang dari andesit pada landform Pegunungan Volkan Tua dan batuan
sedimen pada landform Peneplain Berombak. Pada tingkat grup, Alfisols hanya
menurunkan Hapludalfs dan pada tingkat sub grup menghasilkan Humic Hapludalfs
dan Typic Hapludalfs. Berikut disajikan karakteristik masing-masing sub grup Alfisols
di Kabupaten Sarolangun.
Humic Hapludalfs
adalah grup Hapludalfs yang mempunyai lapisan atas berwarna gelap dengan
ketebalan > 18 cm. Tanah dalam, tekstur agak halus dan drainase baik. Hapludalfs
yang berkembang dari batuan sedimen ini mempunyai reaksi tanah yang sangat
masam (pH < 4,5). C-organik rendah sampai sangat rendah, demikian juga hara N. P
potensial sedang di lapisan atas dan rendah sampai sangat rendah di lapisan bawah,
sedangkan ketersediaannya sangat rendah. K potensial rendah, demikian juga
ketersediaannya . Basa-basa lain seperti Ca rendah, Mg rendah sampai sedang dan
Na rendah sampai sangat rendah. Kapasitas tanah mempertukarkan kation rendah
dan kejenuhan basa sedang sampai sangat tinggi. Berdasarkan sifat kimia tanah
tersebut, Humic Hapludalfs mempunyai tingkat kesuburan yang tergolong rendah.
Tanah ini potensial untuk pengembangan tanaman pangan maupun perkebunan.
Pemberian pupuk, baik pupuk organik maupun anorganik (puk N, P dan K) bantu
perbaikan sifat kimia tanah serta pengapuran untuk memperbaiki pH tanah dan
menekan kejenuhan Al sangat penting dilakukan.
Typic Hapludalfs
mempuyai penampang tanah dalam, tekstur agak halus dan drainase baik.
Hapludalfs ini mempunyai reaksi tanah masam (pH 5,2–5,4),
C-organik sangat
rendah, demikian juga hara N. Mempunyai P potensial sangat rendah dan
ketersediaannya rendah. K. Potensial tinggi dan ketersediaannya sedang sampai
tinggi. Basa-basa lain seperti Ca rendah, Mg tinggi dan Na rendah sampai sangat
rendah. Kapasitas tanah mempertukarkan kation rendah sampai sedang dan
kejenuhan basa sedang sampai sangat tinggi. Berdasarkan sifat kimia tersebut, Typic
Hapludalfs mempunyai tingkat kesuburan yang tergolong rendah. Penyebarannya
dijumpai di Desa Muaroduo dan lereng Bt. Gedang, wilayah Kecamatan Batang Asai.
Tanah ini di jumpai di daerah bergunung pada lereng > 40%. Tanah ini tidak
potensial untuk pertanian dan sebaiknya tetap sebagai hutan untuk menyangga
(buffer) ekosistem di bawahnya.
Oxisols
Oxisols adalah tanah yang sudah mengalami perkembangan lanjut, ditandai oleh
horizon bawah permukaan oksik, yaitu horizon yang mempunyai kapasitas tukar
kation (KTK) liat < 16 cmol/kg liat. Di daerah Kabupaten Sarolangun Oxisols
terbentuk dari batu liat, batu pasir dan granit. Tanah ini dikenal juga sebagai
Podsolik Merah Kuning (PMK) dan pada tanah-tanah yang warnanya homogeny.
Ordo tanah ini hanya menurunkan grup Kandiudox dan pada tingkat sub grup
menurunkan Typic Kandiudox. Penyebarannya terdapat pada landform Peneplain
Datar sampai Berombak dengan lereng 0–8%, Dataran Volkanik Tua pada bentuk
wilayah berombak, lereng (3–8%) dan Perbukitan Tektonik pada bentuk wilayah
berbukit, lereng 25–40%. Penyebaran tanah ini terdapat di Kecamatan Mandiangin,
Air Hitam, Pauh, Batang Asai, Sarolangun, Pelawan, Singkut dan Limun.
Typic Kandiudox
tergolong tanah sangat dalam, drainase baik, tekstur halus (liat), reaksi tanah sangat
masam sampai masam (pH 3,4–5,2), C-organik rendah di lapisan atas, sangat rendah
di lapisan bawah, demikian juga dengan hara N. Sedang P dan K potensial sangat
rendah dan rendah ketersediaannya . Kemampuan tanah mempertukarkan kation
(KTK) dan kejenuhan basa (KB) rendah, sedangkan kejenuhan Al sangat tinggi.
Berdasarkan sifat kimia tersebut tanah ini mempunyai tingkat kesuburan rendah.
Tanah ini potensial untuk pengembangan tanaman tahunan/ perkebunan. Kendala
utamanya adalah rendahnya tingkat kesuburan tanah dan kejenuhan alumunium
sangat tinggi. Perlu perbaikan kesuburan tanah melalui pemupukan dan
pengapuran. Selain faktor-fakor pembatas di atas, pada daerah-daerah berlereng
perlu menerapkan teknik konservasi tanah untuk mengurangi bahaya erosi.
Ultisols
Ultisols adalah tanah yang sudah mengalami perkembangan lanjut (tua), dicirikan
oleh adanya horizon akumulasiliat (argilik) dan kejenuhan basa (KB) < 35%. Di
Kabupaten Sarolangun Ultisols terbentuk dari batu liat, batu pasir, tuf dasit dan
granit. Ultisols di daerah Kabupaten Sarolangun menurunkan ordo Udults dan
Humults yang masing-masing menurunkan grup Hapludults dan Haplohumults. Pada
tingkat grup menghasilkan Typic Hapludults dan Typic Haplohumuts. Penyebarannya
terdapat pada landform Peneplain Berombak sampai Bergelombang, lereng 3-15%,
Dataran Volkanik Tua, bentuk wilayah berbukit kecil dengan lereng 15–25%,
Pegunungan Volkanik Tua, bentuk wilayah bergunung dengan lereng > 40%,
Perbukitan Tektonik, bentuk wilayah berbukit dengan lereng 25 – 40% dan Dataran
Volkanik Tua, bentuk wilayah bergelombang dengan lereng 8 – 15%. Terdapat di
Kecamatan Mandiangin, Air Hitam, Pauh, Batang Asai, Pelawan, Singkut, Limun dan
Bathin VIII.
Hapludults
tergolong tanah sangat dalam, drainase baik, tekstur agak halus (lempung berliat) di
lapisan atas dan halus (liat) di lapisan bawah. Reaksi tanah masam, C-organik sangat
rendah, hara tersedia seperti N sedang di lapisan atas, sangat rendah di lapisan
bawah. P dan K potensial sangat rendah, demikian juga ketersediaannya .
Kemampuan tanah mempertukarkan kation (KTK) sedang dan kejenuhan basa (KB)
sangat rendah, sedangkan kejenuhan Al sangat tinggi. Berdasarkan sifat kimia
tersebut tanah ini mempunyai tingkat kesuburan rendah. Tanah ini potensial untuk
pengembangan
tanaman
tahunan/perkebunan.
Kendala
utamanya
adalah
rendahnya kesuburan tanah dan kejenuhan alumunium sangat tinggi. Perlu
perbaikan kesuburan tanah melalui pemupukan dan pengapuran.
Haplohumults
tergolong tanah dalam sampai sangat dalam, drainase baik dan tekstur agak halus
(lempung berdebu). Reaksi tanah masam sampai sangat masam, C-organik tinggi di
lapisan atas, sangat rendah di lapisan bawah. Hara seperti N sedang di lapisan atas,
sangat rendah di lapisan bawah, P potensial sedang di lapisan atas dan sangat
rendah di lapisan bawah, sedangkan ketersediaannya sangat rendah. Kemampuan
tanah mempertukarkan kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) rendah sedangkan
kejenuhan Al tinggi sampai sangat tinggi. Berdasarkan sifat kimia tersebut tanah ini
mempunyai tingkat kesuburan rendah. Tanah ini potensial untuk pengembangan
tanaman tahunan/perkebunan kecuali pada wilayah bergunung. Sebaiknya pada
wilayahnya (bergunung) tetap dipertahankan sebagai hutan untuk menyangga
ekosistem di bawahnya. Kendala utamanya untuk pertanian adalah rendahnya
tingkat kesuburan tanah dan tingginya kejenuhan Al. Perlu perbaikan kesuburan
tanah melalui pemupukan dan pengapuran untuk memperbaiki pH dan menekan
kejenuhan Al terutama awal pertumbuhan tanaman.
5) Hidrologi
Keadaan umum hidrologi Kabupaten Sarolangun, memiliki 4 sungai besar,
yaitu Batang Merangin, Batang Tembesi, Batang Asai dan Batang Limun. Uraian
masing-masing sungai tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Batang Merangin berhulu di D. Tujuh melewati Sungai Manau, Kabupaten Bangko
(Ibukota Kab. Merangin) menuju Kabupaten Sarolangun. Di Kabupaten Sarolangun,
Batang Merangin ini bermuara di Sungai Pelakar dan di Desa Batu Kucing (wilayah
Kecamatan Pauh), yang selanjutnya B. Merangin bermuara ke B. Tembesi.
b.
Batang Tembesi berhulu di G. Masurai (2.935 m) yang merupakan deretan
Pegunungan Bukit Barisan. Dari G. Masurai melewati jangkat dan Muara Siau terus
ke Kabupaten Sarolangun. Di Kabupaten Sarolangun ke. B. Tembesi bermuara S.
Sekamus, S. Kolang, S. Penarun, S. Selembau dan B. Limun. Setelah melewati wilayah
Kabupaten Sarolangun B. Tembesi terus ke utara menuju Kabupaten Batanghari.
c.
Batang Asai berhulu di G. Gedang (2.447 m), wilayah Kecamatan Batang Asai. Sungai
ini melewati dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Batang dan Kecamatan
Limun. Sebelum bermuara ke S. Limun di Ma. Limun, Sungai B. Asai bermuara ke
beberapa sungai, di antaranya S. Tangkui, S. Kinantan, S. Merandang, S. Melinau, S.
Penetai, S. Pebaik, S. Perambil dan S. Belakang.
d.
Batang Limun bermuara ke Muara B. Limun di sekitar Kabupaten Sarolangun dan
selanjutnya ke B. Tembesi. Sungai B. Limun ini bermuara S. B. Limun, S. Kutur, S.
Mensao, S. Mengkadai, Bt. Rebah, S. Singkut dan S. Jelapang. Untuk mendukung
usaha pertanian di Kecamatan Limun, telah dibangun DAM KUTUR yang mengairi
daerah persawahan di sekitar Kecamatan Limun namun belum termanfaatkan secara
optimal.
Kabupaten Sarolangun beriklim tropis dengan keadaan iklim rata-rata
berkisar antara 230 C sampai dengan 320 C, dengan kelembaban udara rata-rata 78%
dengan curah hujan rata-rata sebesar 260 mm/tahun.
6) Klimatologi
Secara umum Kabupaten Sarolangun beriklim tropis dengan tipe iklim hujan
hutan tropis dengan temperatur rata-rata 26,90 0C. Suhu minimum adalah 21,90 0C
dan maksimum 320 0C. Curah hujan berkisar antara 2000 – 4000 mm/tahun.
Sedangkan jumlah hari hujan rata-rata 140 – 270 hari/tahun. Bulan-bulan yang
paling sedikit hari hujan adalah bulan Juni, Juli dan Agustus, sedangkan yang paling
banyak curah hujannya yaitu pada bulan Oktober, November, Desember dan Januari
dengan distribusi curah hujan cukup merata.
7) Penggunaan lahan
Untuk penggunaan lahan Kabupaten Sarolangun dapat dibedakan menjadi 6
(enam) kemampuan lahan sebagai kawasan budidaya sebagai berikut :
Kelas I
Lahan ini bernilai baik sampai sangat baik, hanya sedikit pembatas dalam
pemakaian. Lahan ini dapat diusahakan secara intensif untuk pertanian.
Kelas
kemampuan lahan I dicirikan dengan sudut lereng 0-2%, tanah tidak mengandung
batu-batu/bongkahan, kedalaman efektif tanah > 90 cm, tekstur tanah halus,
permeabilitas sedang sampai baik, drainase baik, tanpa erosi dan beririgasi teknis.
Dalam rencana arah pengembangannya adalah tetap mempertahankan lahan sawah
yang telah ada untuk mendukung swasembada pangan Jambi maupun Nasional.
Sedang
lokasi
yang
mempunyai
aksesibilitas
tinggi
kemungkinan
dapat
dikembangkan menjadi pusat kegiatan non pertanian (perkotaan).
Kelas II
Lahan
ini
akan
mempunyai
nilai
yang
baik
apabila
dilakukan
usaha
pengawetan/pemeliharaan secara sederhana. Perbedaan dengan kelas kemampuan
lahan I disebabkan oleh adanya perbedaan sudut lereng, sistem irigasi dan tekstur
tanahnya.
Kelas III
Lahan ini bernilai sedang yang dapat diusahakan dengan cara pengawetan dan
pemeliharaan yang intensif seperti penterasan, penanaman searah garis kontur dan
sebagainya. Lahan ini dirincikan dengan sudut lereng antara 2–13%, kedalaman
efektif tanah > 90 cm, batuan permukaan sedikit dan erosi ringan. Rawa-rawa juga
termasuk dalam kelas ini.
Kelas IV
Lahan ini cocok untuk tanaman keras/perkebunan karena lahan ini mempunyai
sudut lereng 7–140%, peka terhadap erosi dan batuan di permukaan tanah maupun
di dalam tanah > 10%. Dalam arahan pengembangannya direncanakan bagi
pengembangan pertanian tanaman lahan kering, dan wilayah lindung termasuk
buffer zone serta kawasan cagar alam.
Kelas V
Lahan ini baik ditanami dengan vegetasi penutup atau sebagian kawasan hutan.
Lahan ini pada umumnya mempunyai kemiringan yang terjal, sifat tanah peka
terhadap erosi.
Penggunaan lahan saat ini sebagian besar berupa kebun campuran dan tegalan.
Arahan pengembangan lahan ini direncanakan menjadi kawasan lindung dan buffer
zone terutama bagi lokasi dengan kelas lereng yang curam. Sedang lahan dengan
kelas lereng agak datar dapat dikembangkan untuk budidaya pertanian lahan kering
termasuk tanaman tahunan.
Kelas VI
Lahan ini mempunyai kenampakan yang hampir sama dengan lahan kelas V tetapi
memerlukan perlakuan yang lebih khusus karena mempunyai sudut lereng 55 –
140%, kedalaman efektif tanah < 30 cm, permukaan dan di dalam tanah banyak
mengandung batu yang mengganggu dalam pengolahan tanah dan pertumbuhan
tanaman.
Selain itu Kabupaten Sarolangun terdapat 3 (tiga) macam kawasan lindung
yaitu :
1. Kawasan Hutan Lindung
2. Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas.
3. Cagar Alam Durian Luncuk I
b. Potensi Pengembangan Wilayah
Berdasarkan
karakteristik
struktur
ruang
menggambarkan
bagaimana
pembagian kegiatan di wilayah Kabupaten Sarolangun dengan pembagian pusat dan
sub-pusat. Struktur ini kemudian diterjemahkan/dijabarkan dalam bentuk pemanfaatan
lahan. Dengan mengkaji dan menganalisis struktur ruang dan pemanfaatan lahan akan
diketahui bagaimana pola dan perkembangan Kabupaten Sarolangun sehingga nantinya
dalam penyusunan rencana akan dapat dirumuskan struktur ruang dan pemanfaatan
lahannya yang paling tepat dan sesuai bagi Kabupaten Sarolangun.
Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat dilanjutkan dengan verifikasi lapang,
penggunaan lahan Kabupaten Sarolangun dikelompokkan menjadi 10 satuan
penggunaan lahan, yaitu sawah, kebun campuran, kebun karet rakyat, kebun kelapa
sawit, belukar, hutan, rumput alang-alang, permukiman dan genangan.
Sawah
Penggunaan lahan sawah di daerah Kabupaten Sarolangun terdiri dari sawah irigasi dan
sawah tadah hujan. Sawah irigasi adalah sawah yang sumber airnya berasal dari air
irigasi, baik teknis, setengah teknis, sederhana maupun irigasi desa/non PU. Sawah
irigasi umumnya diusahakan padi sawah 2 kali dalam setahun. Sedang sawah tadah
hujan merupakan sawah yang sumber airnya berasal dari air hujan. Sawah ini pada
musim hujan ditanami padi sawah, sedangkan pada musim kemarau ditanami palawija,
seperti jagung dan kedelai. Penggunaan lahan ini menyebar sepanjang B. Tembesi dan di
wilayah Kecamatan Batang Asai, yaitu Desa Sungai Baung, Kasiro, Muaro Air Duo dan
sekitar Desa Meribung dan Mersip. Secara keseluruhan penggunaan lahan sawah adalah
3.819 Ha atau 0,62% dari luas Kabupaten Sarolangun.
Kebun Campuran
Kebun campuran adalah penggunaan lahan yang pengusahaan lahannya terdiri atas
tanaman tahunan dan tanaman semusim. Selain kedua jenis tanaman tersebut, pada
tipe penggunaan ini juga dijumpai pemukiman. Tanaman tahunan yang diusahakan
umumnya adalah tanaman buah-buahan, seperti duku, durian, jeruk, manggis dan
pisang. Tanaman pangan lahan kering yang diusahakan adalah padi gogo, jagung,
kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Secara keseluruhan luas
penggunaan lahan ini mencapai 36.026 Ha atau 5,84% dari luas Kabupaten Sarolangun.
Kebun Karet
Potensi perkebunan di Kabupaten Sarolangun cukup menjanjikan dan pada umumnya
adalah perkebunan rakyat. Karet merupakan komoditas perkebunan utama yang
diusahakan masyarakat di daerah Kabupaten Sarolangun. Berdasarkan interpretasi citra
landsat dilanjutkan verifikasi lapang, penggunaan lahan ini mencapai 80.762 Ha atau
13,08% dari luas Kabupaten Sarolangun. Kebun karet menyebar luas di Kecamatan
Pelawan, Singkut, Bathin VIII, Air Hitam dan Mandiangin, Kebun karet umumnya
berasosiasi dengan belukar.
Kebun kelapa sawit
Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan kedua setelah karet. Penggunaan lahan
ini menyebar seluas 33.416 Ha atau 5,41% dari luas kabupaten. Sebagian besar
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sarolangun adalah perkebunan milik perusahaan,
baik swasta maupun BUMN. Penggunaan lahan ini dapat dijumpai di Kecamatan Air
Hitam, Mandiangin, Sarolangun, Pelawan dan Singkut. Komoditas perkebunan lainnya
yang diusahakan adalah kopi robusta, kayu manis, lada, kelapa dan pinang. Dalam
jumlah kecil diusahakan juga kemiri, kakao dan nilam.
Belukar
Adalah tutupan lahan yang vegetasinya berupa tanaman perdu sebagai bentuk suksesi
menuju hutan kembali, bertajuk tinggi bercampur dengan pohon-pohonan berdiameter
antara 10-15 cm pada tahap-tahap pertumbuhan tertentu serta tanaman kelompok
perdu lainnya. Penutupan canopy rapat seperti hutan sekunder. Tutupan lahan ini
menyebar di seluruh wilayah kecamatan. Berdasarkan interpretasi citra landsat
dilanjutkan dengan verifikasi lapangan, belukar menempati posisi kedua setelah hutan,
yaitu 32,17% dari luas Kabupaten Sarolangun.
Hutan
Hutan di Kabupaten Sarolangun, berdasarkan fungsinya dibedakan atas hutan produksi,
hutan lindung, hutan wisata dan hutan suaka alam serta hutan konversi. Berdasarkan
hasil interpretasi dan verifikasi lapang, total luas hutan tersebut mencapai 250.325,81
Ha atau 40,54% dari luas kabupaten. Hasil hutan Kabupaten Sarolangun adalah kayu
bulat/logs, kayu gergajian, plywood dan rotan.
Rumput Alang-alang
Merupakan lahan terlantar yang ditinggalkan pengelolanya. Pada umumnya rumput
alang-alang berasal dari hutan yang ditebang secara liar (illegal logging) atau bekas
penebangan liar atau praktek perladangan yang berpindah-pindah. Lahan ini umumnya
terdapat di Kecamatan Mandiangin. Rumput alang-alang ini mencapai luas 2.827 Ha atau
0,48% dari luas kabupaten.
Pemukiman
Pemukiman meliputi perkampungan atau perkotaan, setempat di lahan pekarangan
dijumpai tanaman buah-buahan dan tanaman palawija. Luas pemukiman ini berdasarkan
interpretasi citra landsat mencapai 24.016 Ha atau 3,89%.
Genangan
Lahan tergenang di Kabupaten Sarolangun merupakan lahan bekas PETI (Penambangan
Emas Tanpa Izin) yang dijumpai di wilayah Kecamatan Bathin VIII dan Limun. Luas
genangan ini mencapai 708 Ha atau 0,11% dari luas kabupaten. Selain pertanian,
peternakan di Kabupaten Sarolangun sudah cukup berkembang, baik ternak unggas,
ternak kecil maupun ternak besar. Budidaya ikan (perikanan) di Kabupaten Sarolangun di
kolam dan keramba. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah mas, nila dan patin.
Tabel 2.1
Tipe Penggunaan Lahan dan Luasnya di Kabupaten Sarolangun
Luas
Tipe Penggunaan Lahan
Ha
%
Sawah
3.819
0,62
Kebun Campuran
36.026
5,84
Kebun karet rakyat
80.762
13,08
Kebun kelapa sawit
33.416
5,41
Belukar
198.614
32,17
Hutan
259.789
42,08
Rumput alang-alang
2.827
0,48
Permukiman
1.441
0,23
708
0,11
617.400
100
Genangan
TOTAL
Selain potensi pengembangan wilayah, Kabupaten Sarolangun juga memiliki potensi
sumberdaya alam. Adapusn potensi yang dimiliki oleh Kabupaten dan mempunyai peluang
untuk dikembangkan adalah potensi pertambangan, kehutanan, Perkebunan, Perikanan dan
Pariwisata.
1.
Potensi Pertambangan
Bahan galian Golongan A, terdiri dari :
a). Minyak Bumi
Bahan tambang minyak bumi di Kecamatan Sarolangun yang telah dieksploitasi
oleh PT. Bina Wahana Petrindo (BWP) meruap sebanyak 4 (empat) sumur dengan
jumlah produksi 1.000-2.000 barel/hari. Sedangkan di Kecamatan Limun saat ini
sedang dieksploitasi oleh PT. Petro China dengan kapasitas produksi sebesar 120
juta barel yang berada di Desa Teluk Rendah, Desa Lubuk Resam dan Desa Pulau
Pandan.
b). Batu Bara
Potensi Batu Bara yang terdapat di Kabupaten Sarolangun berada di Kecamatan
Mandiangin, Pauh, Limun dan Batang Asai. Batu Bara yang telah diketahui
depositnya yakni sebesar 6 juta ton dengan nilai kalori 5.000–6.000 kkal/gr
berlokasi di Sungai Dingin Kecamatan Limun. Sedangkan Batu Bara yang berada di
Desa Guruh Baru Kecamatan Mandiangin memiliki nilai kalori sekitar 4.820–5.455
kkal/gr sementara Batu Bara yang berlokasi di Desa Lubuk Napal I, Lubuk Napal II,
Mensao, Mengkua dan Lubuk Kepayang belum terukur nilai kalorinya.
Bahan galian Golongan B, terdiri dari :
a). Emas
Kandungan emas terdapat disepanjang alur sungai di Kecamatan Batang Asai dan
Kecamatan Limun. Alokasi yang telah diketahui kadar emasnya yakni di Kecamatan
Limun yang beralokasi di Sungai B.limun dengan kadar emas sebesar 3,34 gr/ton
dengan cadangan terindikasi 2 Mt, dan Sungai Tuboh dengan kadar emas sebesar
1.762.617 ton biji dengan kandungan 0,11 gr/ton. Sedangkan lokasi emas yang
belum diketahui kadar emas dan cadangannya yakni di Kecamatan Batang Asai
yang terdapat di Sungai Kinantan Hulu, Sungai Asai dan Sungai Batu Ampar.
b). Biji Besi
Biji Besi yang belum diketahui cadangan dan mineralnya terdapat di Kecamatan
Batang Asai yang beralokasi di Sungai Salak Bukit Rayo dengan indikasi biji besi
yakni dijumpai mineral magnetik, pirkotik. Sedangkan di Kecamatan Limun yang
beralokasi di Sungai Tuboh dijumpai mineralisasi yang terdiri dari banyaknya
sphalerit, kalkopirit, gaura, hematit dan magnetik.
c). Seng (Zinc)
Seng yang mineralisasinya terdapat disungai Tuboh Kecamatan Limun dengan
kandungan seng sebesar 9,98 %, sedangkan mineralisasi seng yang terdapat di
Sungai Menalu Bukit Rayo Desa Salak Baru Kecamatan Batang Asai dengan kadar
Seng (Zn) sekitar 7–138 ppm.
d). Timbal
Potensi Timbal yang mineralisasinya dijumpai terdapat di Sungai Tuboh Kecamatan
Limun dengan kandungan timbal sebesar 1,45 %. Sedangkan di Kecamatan Batang
Asai yang mana mineralisasinya dijumpai di Sungai Menalu Bukit Rayo Desa Salak
Baru Kecamatan Batang Asai dengan kadar timbal 3–37 ppm.
e). Tembaga
Di Kecamatan Batang Asai dimana tembaga yang mineralisasinya terdapat disungai
Manau, Bukit Rayo Desa Salak Baru yang mana mineral yang dijumpai pirit, pirkotit,
sphalatorit dan golina, dan mineralisasi yang terdapat disungai Kinantan dengan
kadar 1–27 ppm. Sedangkan yang terdapat di Kecamatan Limun mineralisasi
tembaga terdapat di Sungai Tuboh dengan kandungan tembaga mencapai 0,8 %
(JICA, 1988). Indikasi penyebaran tembaga di Kabupaten Sarolangun dijumpai di
Sungai Batang Asai, Sungai Merandang, daerah Maribung dan Sungai Tangkui.
Bahan galian Golongan C, terdiri dari :
a). Batu Gamping
Batu Gamping terdapat di Desa Narso Kecil Kecamatan Batang Asai, sedangkan
yang telah diketahui kadar dan cadangan batu gamping yakni terdapat di daerah
Napal Melintang Kecamatan Limun dengan kadar Ca0 (54,86–55,85 %) dan
cadangan diperkirakan sebesar 57,8 juta.
b). Granit
Singkapan Granit terdapat di Desa Rantau Panjang Dusun Salak Baru Kecamatan
Batang Asai.
c). Marmer
Marmer terdapat di Napal Melintang Bukit Bulan Kecamatan Limun yang mana
kadar dan cadangannya belum diketahui.
d). Fosfat
Singkapan Fosfat terdapat di daerah Bukit Bulan Kecamatan Limun dengan kadar
P2O5 cukup tinggi yakni 18,37 %.
2.
Potensi Kehutanan
Kabupaten Sarolangun memiliki potensi sumber daya alam bidang kehutanan
seperti hutan lindung, taman nasional dan cagar alam, namun belum seluruhnya
dieksploitasi dan dimanfaatkan secara optimal. Di Kabupaten Sarolangun terdapat 3
(tiga) macam kawasan lindung yaitu :
a). Kawasan hutan lindung
Penetapan kawasan hutan lindung diarahkan untuk mencegah terjadinya erosi,
bencana banjir, sedimentasi dan menjaga fungsi hidrologi tanah. Kawasan hutan
lindung di Kabupaten Sarolangun terdapat di Kecamatan Batang Asai seluas 33.220
Hektar dan Kecamatan Limun seluas 21.065 Hektar.
b). Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas.
Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas terbagi dalam dua wilayah Kabupaten
yaitu Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Batang Hari. Untuk Kabupaten
Sarolangun terdapat di Kecamatan Air Hitam seluas 6.758 Hektar.
c). Cagar Alam Durian Luncuk I
Cagar Alam ini terdapat di Kecamatan Mandiangin, yaitu Cagar Alam Durian Luncuk
I yaitu seluas ± 73,74 Ha.
3. Potensi Perkebunan
Kabupaten Sarolangun merupakan memiliki potensi untuk pengembangan
perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit dan karet dimana merupakan usaha
bidang perkebunan yang paling dominan perkembangannya, hal ini dapat dilihat dari
jumlah luas areal perkebunan dan Jumlah produksi yang cukup besar. Usaha
perkebunan lain yang juga berkembang di Kabupaten Sarolangun adalah Kopi, Lada,
kelapa, Cassiavera, Pinang, Kemiri, Aren dan tebu. Dengan besarnya potensi
perkebunan, ditunjang dengan tersedianya bahan baku yang berkelanjutan,
infrastruktur dengan kondisi baik serta lokasi yang strategis diharapkan khususnya
untuk komoditi karet dan kelapa sawit dapat mendorong minat para investor baik
dalam negeri maupun luar negeri untuk mendirikan kawasan industri pengolahan
sampai dengan produk hasil turunannya (industri hulu sampai industri hilir) di
Kabupaten Sarolangun.
4. Potensi Perikanan
Potensi sumber daya perikanan di Kabupaten Sarolangun terdiri dari kolam,
keramba dan perairan umum (sungai dan danau). Bidang usaha perikanan yang
berkembang di Kabupaten Sarolangun meliputi jenis usaha perikanan darat terdiri dari
usaha kolam dan keramba dan perairan umum memiliki prospek ekonomis. Jenis ikan
yang dibudidayakan adalah ikan mas, ikan nila, ikan patin, ikan gurami dan lkan lele.
5. Potensi Pariwisata
Kabupaten Sarolangun juga memiliki objek wisata yang umumnya adalah
objek wisata alam, selain itu juga wisata ziarah, wisata minat khusus, wisata budaya dan
wisata sejarah. Sebagian kecamatan dalam Kabupaten Sarolangun terdapat objek wisata
yang menunggu pembenahan, Potensi pariwisata Kabupaten Sarolangun sangat
beragam dan menjanjikan, mulai dari wisata alam hingga wisata budaya dan sejarah.
Potensi wisata ini tersebar di berbagai kecamatan dalam wilayah Kabupaten Sarolangun.
Saat ini, Kabupaten Sarolangun telah mempunyai 7 site plan objek wisata, yaitu :
1.
Danau Biaro Desa Lidung
2.
Goa Calo Petak Desa Bukit Bulan
3.
Dam Kutur Kecamatan Limun
4.
Taman Nasional Bukit Dua Belas
5.
Terbang Layang Bukit Rayo Kecamatan Batang Asai
6.
Arung Jeram Sungai Batang Asai
7.
Air Panas Paku Aji Desa Pematang Kabau
Dari ketujuh site plan objek wisata di atas, baru 4 diantaranya yang
dikembangkan. Disamping itu juga telah dilaksanakan beberapa even wisata daerah,
diantaranya Jelajah Goa, Semalam Bersama Suku Anak Dalam, Lomba Perahu Tradisional,
Lomba Rakit Tradisional dan Lomba Arung Jeram.
Tabel 2.2
Lokasi Potensi Wisata di Kabupaten Sarolangun
No
1
Kecamatan
Sarolangun
Nama Objek Wisata
Perkampungan Tradisional Muaro Sawah
Panorama diantara Dua Jembatan
Keterangan
Wisata
Buatan
Pusat Perkantoran Gunung Kembang
Danau Ladang Panjang
Danau Biaro dan Danau Baru
2
Batang Asai
Danau Kaco,
Wisata Alam
Minyak Wajang Wali
Air Terjun Telun Tujuh
Air Terjun Mudek Niban
Air Terjun Rantau Uba
Air terjun Narso
Air Inum
Air Terjun telun Seluro dan
Makam Keramat
Panorama Bukit Rayo
Wisata
Budaya
Pendulang Emas Tradisional
Arca Rajawali
Makam Keramat Bukit Sulah
Makam Keramat Bukit Lupo
Wisata
Minat
Khusus
Legenda Batu Gajah
Arung Jeram Ma. Talang
Olahraga Paralayang/Gantole
3
Pauh
Taman Nasional Bukit Dua Belas
Wisata Alam
Habitat Kayu Bulian
4
Limun
Goa Bukit Bulan
Wisata Alam
Dam Muaro Kutur
5
Mandiangin
c.
Hutan Kemasyarakatan
Wisata Alam
Wilayah Rawan Bencana
Potensi bencana alam yang terdapat di Kabupaten Sarolangun terdiri dari 2 macam,
yaitu bencana Banjir dan bencana Longsor. Pada musim hujan desa-desa yang berada di
sempadan Sungai Batang Tembesi, Batang Asai dan Batang Limun umumnya mengalami
banjir tahunan, terutama pada bulan Maret dan April. Sementara untuk daerah rawan
bencana Longsor terdapat di daerah hulu Kabupaten Sarolangun yang pada umumnya
merupakan daerah perbukitan, yaitu Kecamatan Batang Asai dan Limun.
Tabel 2.3
Daerah Kerawanan Banjir dan Longsor di Kabupaten Sarolangun
No
Kecamatan
Daerah Rawan Banjir
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Daerah Rawan
Longsor
1
Sarolangun
2
Cermin Nan Gedang
3
Pelawan
ï‚· Penegah
Tdk ada
4
Limun
ï‚· Temenggung
ï‚· Pulau Pandan
ï‚· Temalang
ï‚· Maribung
Sarkam
Pasar Sarolangun
Ladang Panjang
Lidung
Pulau Pinang
Muara Indung
Teluk Tigo
Teluk Rendah
Lubuk Resam
Tdk ada
Tdk ada
ï‚· Muaro Limun
ï‚· Mersip
ï‚· Napal Melintang
Tdk ada
5
Bathin VIII
ï‚· Teluk Kecimbung
6
Pauh
7
Mandiangin
8
Singkut
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
9
Batang Asai
Karang Mendapo
Batu Kucing
Pauh
Muaro Ketalo
Rangkiling Simpang
Gurun Tuo
Kertopati
Singkut 2
Singkut 3
Singkut 4
Singkut 5
Singkut 7
Payo Lebar
Tdk ada
10
Air Hitam
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
ï‚· Muara Sungai Pinang
ï‚· Rantau Panjang
ï‚· Kasiro
Tdk ada
d. Demografi
Berdasarkan data dari kantor BPS Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 jumlah
penduduk Kabupaten Sarolangun sebanyak 272.203 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak
138.692 jiwa dan perempuan sebanyak 133.511 jiwa, dengan tingkat pertumbuhan
penduduk sebesar 2,54 persen per tahun dan kepadatan penduduk 44 jiwa/KM. Secara lebih
rinci jumlah penduduk Kabupaten Sarolangun Tahun 2013, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.4.
Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Kabupaten Sarolangun
Tahun 2013
Jumlah Penduduk
No
Kecamatan
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
1
Batang Asai
8.006
8.676
16.036
2
Limun
8.365
8.263
15.343
3
Cermin Nan Gedang
5.880
5.807
10.858
4
Pelawan
15.199
14.978
28.138
5
Singkut
20.010
19.104
36.184
6
Sarolangun
26.270
25.434
46.098
7
Batin VIII
9.686
9.252
18.031
8
Pauh
11.621
10.884
20.566
9
Air Hitam
13.860
12.609
23.757
10
Mandiangin
17.447
16.198
31.234
Jumlah 2013
136.344
131.205
267.549
Jumlah 2012
132.644
127.319
259.963
Jumlah 2011
129.089
123.332
252.421
Jumlah 2010
125.796
120.449
246.245
Sumber : BPS Kabupaten Sarolangun th. 2010-2013
2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat
Kinerja pembangunan pada aspek kesejahteraan masyarakat merupakan gambaran
dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu terhadap kondisi
kesejahteraan masyarakat yang mencakup kesejahteraan dan pemerataan ekonomi,
kesejahteraan masyarakat, seni budaya dan olahraga.
2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
Kinerja kesejahteraan dan pemerataan ekonomi Kabupaten Sarolangun dapat
dilihat dari indikator pertumbuhan PDRB, laju inflasi, dan PDRB per kapita. Perkembangan
kinerja pembangunan pada kesejahteraan dan pemerataan ekonomi
berikut :
a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
adalah sebagai
Pengertian PDRB adalah jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan
dari seluruh kegiatan pekonomian diseluruh daerah dalam tahun tertentu atau periode
tertentu dan biasanya satu tahun. Penghitungan PDRB menggunakan dua macam harga
yaitu harga berlaku dan harga konstan. PDRB harga atas harga berlaku merupakan nilai
tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada tahun
yang bersangkutan sementasra atas harga konstan dihitung dengan menggunakan
harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar. Dalam Rencana Kerja Pemerintah
Kabupaten Sarolangun, sebagai dasar penghitungan PDRB berdasarakan atas harga
konstan dan harga berlaku menggunakan tahun dasar 2010.
Pertumbuhan PDRB merupakan indikator untuk mengetahui kondisi
perekonomian
secara makro yang mencakup tingkat pertumbuhan sektor-sektor
ekonomi dan tingkat pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah. PDRB Kabupaten
Sarolangun (ADHK 2010) pada tahun 2014 mencapai sebesar Rp. 8.944.249,1 juta
terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan total PDRB Kabupaten Sarolangun Tahun
2013 sebesar Rp. 1.559.394 juta. Sedangkan menurut
(ADHB 2010) total PDRB
Kabupaten Sarolangun juga mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2014 sebesar Rp.
11.317.495 juta terjadi peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2013 hanya
mencapai sebesar
Rp. 9.705.303 juta.
b. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah yang diperoleh dari kenaikan PDRB atas
dasar harga konstan mencerminkan kenaikan produksi barang dan jasa di suatu wilayah.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sarolangun dihitung dari pertumbuhan PDRB yang
didasarkan atas dasar harga konstan tahun 2010.
Laju Pertumbuhan PDRB berimplikasi terhadap kondisi perekonomian secara
makro yang ditunjukan dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi tahun 2011 sampai 2014
menunjukkan angka positif yang secara simultan menyebabkan perekonomian di
Kabupaten Sarolangun mengalami pertumbuhan.
Laju pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Sarolangun pada tahun 2014 mencapai 8,18 persen lebih besar
dibandingkan tahun 2013 yang hanya mencapai 7,89 persen.
Berikut ini dapat dilihat laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sarolangun
tahun 2011 s.d 2014 pada tabel 2.5.
Tabel 2.5.
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sarolangun
Tahun 2010-2014 (Dengan Migas)
No
Tahun
Laju Pertumbuhan Ekonomi (%)
1.
2010
0,00
2.
2011
8,77
3.
2012
8,49
4.
2013
7,89
5.
2014
8,18
c. Laju Inflasi
Laju inflasi merupakan salah satu indikator ekonomi yang digunakan
pemerintah untuk menilai keberhasilan pelaksanaan pembangunan terutama yang
berkaitan dengan kemampuan pemerintah mengendalikan harga komoditi-komoditi
beredar di masyarakat.
Inflasi yang tinggi menunjukkan terjadinya kenaikan harga dari sekelompok
barang dan jasa kebutuhan masyarakat sehari-hari yang cukup tinggi atau dapat juga
dikatakan menurunnya kemampuan daya beli masyarakat untuk memperoleh barang
dan jasa.
Laju inflasi sampai dengan tahun 2014 sebesar 2,07 persen. Inflasi terjadi
karena ada kenaikan indeks harga pada seluruh kelompok pengeluaran yaitu Kelompok
Bahan Makanan sebesar 1,74 persen, Kelompok Makanan Jadi, Minuman Rokok dan
Tembakau sebesar 0,13 persen, Kelompok Perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar
sebesar 1,84 persen, Kelompok Sandang sebesar 0,43 persen, Kelompok Kesehatan
sebesar 0,36 persen, Kelompok Pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 3,13 persen
dan Kelompok Transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 6,60 persen.
d. PDRB Perkapita
Gambaran tingkat kesejahteraan masyarakat dapat juga terlihat melalui PDRB
per kapita yang merupakan salah satu indikator ukuran tingkat kesejahteraan
masyarakat. PDRB per kapita di Kabupaten Sarolangun mengalami peningkatan yang
cukup besar. Penghitungan PDRB per kapita tersebut berdasarkan penghitungan atas
dasar harga berlaku. PDRB per kapita dengan migas sampai dengan tahun 2014 adalah
sebesar Rp. 41.577.409,44,- sedangkan PDRB per kapita tanpa migas sebesar Rp.
35.464.819,74,-.
e. Persentase Penduduk Diatas Garis Kemiskinan
Kemiskinan dalam pengertian konvensional merupakan pendapatan (income)
dari suatu kelompok masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan. Oleh karena
itu seringkali berbagai upaya pengentasan kemiskinan hanya berorientasi pada upaya
peningkatan pendapatan kelompok masyarakat miskin.
Kemiskinan seringkali dipahami dalam pengertian yang sangat sederhana yaitu
sebagai keadaan kekurangan uang, rendahnya tingkat pendapatan dan tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Padahal sebenarnya, kemiskinan
adalah masalah yang sangat kompleks, baik dari faktor penyebab maupun dampak yang
ditimbulkannya. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) pengertian, yakni:
kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk
golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis
kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, seperti: pangan,
sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang tergolong miskin relatif apabila
seseorang tersebut sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih
berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedangkan seseorang tergolong
miskin kultural apabila seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut memiliki sikap
tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak
lain yang membantunya.
Garis Kemiskinan merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan
2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.
Untuk mengukur beberapa indikator kemiskinan, seperti jumlah dan
persentase penduduk miskin (headcount index-Po), indeks kedalaman kemiskinan
(poverty gap index-P1), dan indeks keparahan kemiskinan (poverty severity index-P2)
Perkembangan Garis Kemiskinan Kabupaten Sarolangun sejak tahun 2012
hingga tahun 2013 terus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan semakin
tingginya tingkat pendapatan yang dibutuhkan oleh kelompok masyarakat untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup baik makan maupun non makanan sehari-hari.
Untuk melihat perkembangan garis kemiskinan Kabupaten Sarolangun sampai
dengan tahun 2013 disajikan pada grafik 2.1. berikut :
Grafik 2.1
: Perkembangan Garis Kemiskinan Kabupaten
Sarolangun Sampai Dengan Tahun 2013
Jika dibandingkan dengan garis kemiskinan Nasional, Provinsi Jambi,
dan Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi, posisi garis kemiskinan Kabupaten
Sarolangun
menduduki
posisi
tertinggi
dimana
berada
pada
posisi
Rp.
354.679/kapita/bulan. Hal ini tentunya berimplikasi langsung terhadap jumlah
penduduk dengan kategori miskin di Kabupaten Sarolangun. Disamping itu, fakta ini
menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Sarolangun membutuhkan pendapatan
yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten dan Kota lainnya di Provinsi
Jambi untuk dapat berada pada kondisi hidup layak. Untuk melihat garis kemiskinan
kabupaten/kota Se Provinsi Jambi tahun 2012-2013 disajikan pada grafik 2.2. berikut :
Grafik 2.2
: Garis Kemiskinan Kabupaten/Kota Se Provinsi
Jambi Tahun 2012-2013
Dari
grafik
di atas dapat dilihat bahwa garis kemiskinan
Kabupaten
Sarolangun merupakan garis kemiskinan tertinggi di Provinsi Jambi yaitu berada pada
Rp.354.679/kapita/org di tahun 2013. Dibandingkan dengan tahun 2012, dimana garis
kemiskinan Kabupaten Sarolangun berada pada angka Rp.321.806/kapita/bln, maka
dapat dilihat bahwa pada tahun 2013 telah terjadi peningkatan angka garis kemiskinan
sebesar 10,22%.
Secara persentase jumlah penduduk miskin Kabupaten Sarolangun sejak
tahun 2010 hingga tahun 2013 terlihat sangat fluktuatif, dimana pada tahun 2010
jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun sebanyak 9,67% mengalami
penurunan pada tahun 2011 menjadi 9,17% dan turun menjadi 9,18% pada tahun 2012
dan kembali mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi 10,51%.
Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Provinsi Jambi yaitu
sebesar 8,34% pada tahun 2010, 8,65% pada tahun 2011, turun menjadi 8,28% pada
2012 dan meningkat menjadi 8,41% pada tahun 2013, maka dapat dilihat bahwa tren
penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi relatif sama. Untuk lebih
jelasnya perkembangan persentase penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun, Provinsi
Jambi dan Nasional dapat dilihat pada grafik 2.3. berikut ini :
Grafik 2.3.
Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi dan Nasional
Tahun 2010-2013
Dilihat dari jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun sejak tahun
2010 hingga tahun 2013 dimana pada tahun 2010 jumlah penduduk miskin Kabupaten
Sarolangun sebesar 23.755 jiwa turun menjadi 23.011 jiwa pada tahun 2011 meningkat
menjadi 24.800 jiwa pada tahun 2012 dan kembali meningkat menjadi 28.100 jiwa pada
tahun 2013, dapat artikan bahwa perkembangan jumlah penduduk miskin di Kabupaten
Sarolangun terlihat sangat fluktuatif, meskipun secara persentase jumlah penduduk
miskin terus mengalami penurunan, namun dari nominal atau jumlahya terus
mengalami peningkatan.
Grafik 2.4
: Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin dai Kabupaten
Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun 2010-2013
Penurunan jumlah penduduk miskin disebabkan optimal dan tepat sasaran
dari pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sarolangun antara
lain bedah rumah, bantuan bibit karet dan sawit, dan bantuan ternak yang di
peruntukkan bagi KK Pra Sejahtera yang langsung memberi dampak/ menyentuh
masyarakat miskin. Ketepatan tersebut didukung oleh adanya identifikasi dan verifikasi
berdasarkan indikator dan kriteria kemiskinan yang disusun sesuai dengan kondisi
lokalitas daerah yang semakin mendekati kenyataan. Kedepan diperlukan upaya untuk
melakukan unifikasi data kemiskinan agar proses percepatan penanggulangan
kemiskinan dapat dilakukan dengan tepat. Optimalisasi peran masyarakat dan pihak
swasta untuk turut serta dalam menyalurkan program Corpotate Social Responsibility
(CSR) perlu didorong terus menerus.
f. Angka Kriminalitas Yang Tertangani
Rasio angka kriminalitas yang tertangani selama 4 (empat) tahun terakhir
menunjukkan angka yang berfluktuasi. Angka kriminalitas yang tertangani diperoleh
dengan rumus jumlah tindak kriminal tertangani dalam 1 tahun dibagi dengan jumlah
penduduk dan dikalikan 10.000 (sepuluh ribu). Dari angka kriminalitas yang tertangani
pada tahun 2012 diperoleh angka sebesar 40,62 dan terjadi kenaikan menjadi sebesar
59,2 di tahun 2013. Peningkatan angka rasio ini menunjukkan makin rendahnya rasa
aman pada masyarakat. Kondisi rasa tidak aman dikalangan masyarakat tersebut perlu
mendapat perhatian yang lebih serius dari penegak hukum dan secara bersama-sama
dengan masyarakat untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di Kabupaten
Sarolangun. Berikut gambaran perkembangan rasio angka kriminalitas yang tertangani
selama 4 tahun (2010-2013) dapat dilihat pada tabel 2.6 berikut ini :
Tabel 2.6.
Angka Kriminalitas Yang Tertangani di Kabupaten Sarolangun
Tahun 2010 s.d 2013
Tahun
Uraian
Jumlah Tindak Kriminal
Tertangani Dalam 1 Tahun
Jumlah Penduduk
Angka Kriminalitas Yang
Tertangani
2010
2011
2012
2013
1.525
2.602
1.056
1.584
246.245
252.421
259.963
267.549
61,93
103,08
40,62
59,2
2.1.2.2. Fokus Kesejahteraan Masyarakat
Pembangunan pada fokus kesejahteraan masyarakat meliputi indikator Indeks
Pembangunan Manusia, Angka Melek Huruf, Angka Rata-Rata Lama Sekolah, Angka
Partisipasi Kasar, Angka Pendidikan yang Ditamatkan, Angka Partisipasi Murni, Angka
Kelangsungan Hidup Bayi, Angka Usia Harapan Hidup, persentase Penduduk yang Memiliki
Lahan, dan Rasio Penduduk yang Bekerja.
a. Pendidikan
a.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu ukuran yang dapat
digunakan untuk melihat upaya dan kinerja pembangunan dengan dimensi yang lebih luas
karena memperlihatkan kualitas penduduk dalam hal kelangsungan hidup, intelektualitas
dan standar hidup layak. IPM disusun dari tiga komponen yaitu lamanya hidup, yang diukur
dengan harapan hidup pada saat lahir ; tingkat pendidikan, diukur dengan kombinasi antara
melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah ; serta tingkat kehidupan
yang layak dengan ukuran pengeluaran perkapita (purchasing power parity).
Pemerintah Kabupaten Sarolangun tetap terus melakukan peningkatan baik
kualitas maupun kuantitas berbagai indikator untuk dapat meningkatkan nilai IPM tersebut,
usaha perbaikan secara bertahap dimulai dengan mendorong komponen meningkatkan
kehidupan yang layak dan meningkatkan pendidikan sampai dengan 9 tahun serta
meningkatkan usia harapan hidup. Selengkapnya IPM Kabupaten Sarolangun dapat dilihat
pada Grafik di bawah ini :
Grafik 2.5.
Perkembangan IPM Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi dan Nasional Tahun 2010-2013
Grafik di atas menunjukkan bahwa IPM Kabupaten Sarolangun sejak tahun
2010 hingga tahun 2013 trennya terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun
2010 berada pada angka 72,46 meningkat menjadi 73,46 pada tahun 2011 dan
kembali mengalami peningkatan pada tahun 2012 menjadi 73,61 dan tahun 2013
menjadi 74,08. Jika dibandingkan dengan IPM secara Nasional, IPM Kabupaten
sudah cukup menggembirakan karena berada di atas rata-rata nasional. Namun jika
dibandingkan IPM Provinsi Jambi, IPM Kabupaten Sarolangun hingga tahun 2013
tidak mengalami perbedaan yang signifikan.
Untuk mengukur tingkat kesejahteraan suatu daerah, salah satu indikator
yang dapat digunakan adalah Angka Harapan Hidup yang merupakan salah indikator
untuk mengukur derajat kesahatan pada suatu daerah. Pada tahun 2010 Angka
Harapan Hidup Kabupaten Sarolangun mencapai umur 69,43 tahun, namun pada
tahun 2013 telah mengalami peningkatan menjadi 69,85 tahun. Dilihat dari
perkembangannya, Angka Harapan Hidup Kabupaten Sarolangun sejak tahun 2010
hingga tahun 2013 terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2010 berada
pada angka 69,43 tahun, tahun 2011 meningkat menjadi 69,57 tahun, kemudian
kembali mengalami peningkatan pada tahun 2012 yaitu 69,71 tahun, dan pada
tahun 2013 meningkat menjadi 69,85 tahun.
Dari peningkatan Angka Harapan Hidup yang terjadi pada tahun 2010-2013
merupakan salah satu indikasi bahwa telah terjadi perbaikan pelayanan kesehatan di
Kabupaten Sarolangun. Angka Harapan Hidup dimaksud selengkapnya dapat dilihat
pada grafik berikut :
Grafik 2.6.
Perkembangan Komponen Angka Harapan Hidup Kabupaten Sarolangun Tahun 2010-2013
Untuk komponen lamanya rata-rata hidup, yang diukur dengan harapan
hidup pada saat lahir, lamanya hidup di Kabupaten Sarolangun masih lebih tinggi
dari Provinsi Jambi, dimana pada tahun 2013 sebesar 69,85 tahun. Peningkatan ini
menunjukan arah pembangunan di Kabupaten Sarolangun sudah lebih baik dan
diharapkan dapat ditingkatkan menjadi 71,98 tahun pada akhir tahun 2016.
Untuk melihat perbandingan antara Angka Harapan Hidup Kabupaten
Sarolangun, Provinsi Jambi, dan Nasional dapat dilihat pada grafik berikut ini :
Grafik 2.7.
: Perbandingan Angka Harapan Hidup
Kab. Sarolangun, Prov Jambi dan Nasional
Tahun 2012-2013
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa Angka Harapan Hidup Masyarakat
Kabupaten Sarolangun Tahun 2012 sebesar 69,71 tahun, lebih tinggi dibandingka Angka
Harapan Hidup Provinsi Jambi yang mempunyai AHH sebesar 69,44 tahun, dan berada
sedikit lebih rendah dibandingkan dengan AHH Nasional yaitu 69,87 tahun. Pada Tahun
2013, AHH Masyarakat Kabupaten Sarolangun sebesar 69,85 tahun lebih tinggi dibandingkan
AHH Provinsi Jambi yaitu sebesar 69,61 tahun serta berada sedikit lebih rendah
dibandingkan dengan AHH Nasional yaitu 70,07 tahun.
a.2. Angka Melek Huruf
Untuk komponen tingkat pendidikan, yang diukur dari kombinasi antara angka
melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah, angka melek huruf adalah
persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin.
Kemampuan baca tulis tercermin dari data Angka Melek Huruf, dalam hal ini merupakan
persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin.
Penduduk Sarolangun yang sudah mampu membaca dan menulis huruf latin tahun 2013
mencapai 95,35 persen, sisanya sebanyak 4,65 persen belum mampu membaca dan menulis
huruf latin. Diperkirakan penduduk yang tidak dapat membaca dan menulis di Kabupaten
Sarolangun sebagian besar terkonsentrasi pada penduduk usia tua. Jika dibandingkan
dengan Penduduk di Provinsi Jambi yang mampu membaca huruf latin, persentase
penduduk Kabupaten Sarolangun memang masih berada di bawahnya. Namun demikian jika
dibandingkan tingkat Melek Huruf secara Nasional yang mencapai 92,91%, tentunya capaian
Kabupaten Sarolangun dapat dikatakan cukup menggembirakan. Selengkapnya persentase
Angka Melek Huruf Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi dan Nasional dapat dilihat pada
grafik
dibawah ini.
Tabel 2.8.
Perkembangan Angka Melek Huruf Penduduk Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi dan Nasional
Tahun 2010- 2013
Berdasarkan Grafik di atas
dapat dilihat bahwa angka melek huruf penduduk
Kabupaten Sarolangun sejak tahun 2010 hingga tahun 2013 terus mengalami peningkatan.
Pada tahun 2010 Angka Melek Huruf Kabupaten Sarolangun sebesar 94,76 %, menigkat
menjadi 94,97% pada tahun 2011, dan kembali meningkat menjadi 94,98% pada tahun 2012
dan menjadi 95,35% pada tahun 2013.
Meskipun Angka Melek Huruf Kabupaten Sarolangun dari tahun ke tahun cukup
menggembirakan, namun jika dibandingkan dengan Angka Melek Huruf Provinsi Jambi, angka
tersebut masih perlu ditingkatkan lagi. Ini adalah tantangan dan tugas berat Pemerintah
Daerah Kabupaten Sarolangun dimasa mendatang. Rendahnya angka melek huruf tersebut
salah satunya
disebabkan oleh kondisi wilayah, ekonomi masyarakat dan infra struktur
termasuk faktor kultur masyarakat.
a.3. Angka Rata-Rata Lama Sekolah
Indikator lain untuk melihat tingkat pendidikan adalah rata-rata Lama Sekolah
(RLS). Rata-rata lama sekolah menunjukkan berapa lama penduduk Sarolangun mampu
menyekolahkan anaknya. Rata-rata lama sekolah penduduk Sarolangun tahun 2013
mencapai 7,60 tahun, ini berarti rata-rata pendidikan penduduk Sarolangun baru sampai
pada jenjang SLTP kelas dua.
Tabel 2.9.
Perkembangan Angka Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Kabupaten Sarolangun Tahun 20102013
Dalam rangka mencapai target program wajib belajar pendidikan dasar (wajar
dikdas) 9 tahun kiranya masih banyak yang harus dilakukan. Program ini dikatakan
berhasil apabila Angka Partisipasi Sekolah anak usia 7-15 tahun mencapai 100 persen,
dengan kata lain seluruh anak usia SD dan SLTP dalam keadaan bersekolah. Melihat
perkembangan tahun-tahun sebelumnya, untuk mencapai rata-rata lama sekolah 9
tahun memerlukan waktu yang cukup lama. Kiranya dibutuhkan program-program untuk
mempermudah akses masyarakat ke sarana pendidikan setingkat SLTP baik yang
berkaitan dengan fasilitas pendidikan maupun dari dimensi pembiayaan.
Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan dan pembebasan
biaya pendidikan dari SD hingga SLTA guna menunjang pencapai program wajib belajar
sembilan tahun sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun
sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 dan akan berlanjut dimasa-masa yang akan
datang. Dampak itu semua, perkembangan jumlah sekolah (gedung sekolah) pada
berbagai tingkat dan jenis pendidikan negeri maupun swasta setiap tahun selalu
meningkat. Khusus untuk tingkat SLTA, semua ibukota kecamatan sudah memiliki
Sekolah Menengah Atas dan hampir semua kecamatan pula telah memiliki sekolah
menengah kejuruan sesuai dengan potensi dan kondisi kecamatan yang bersangkutan.
Meskipun
perhatian
pemerintah
daerah
sangat
tinggi
terhadap
pengembangan pendidikan melalui penambahan jumlah dan jenis sekolah dan
pembebasan biaya pendidikan hingga SLTA serta pemberian bantuan pendidikan atau
beasiswa untuk siswa yang berprestasi yang diterapkan di Kabupaten Sarolangun,
dampaknya belum bisa terlihat dalam waktu yang cepat dalam meningkatkan angka
rata-rata lama sekolah dan pada akhirnya berdampak pula terhadap besaran angka
indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Sarolangun. Diperkirakan kebijakan
tersebut baru signifikan dampaknya lima hingga sepuluh tahun ke depan. Selain itu perlu
juga menyadarkan masyarakat agar termotivasi untuk menyekolahkan anaknya ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Rata-rata Lama Sekolah masyarakat Kabupaten Sarolangun Tahun 2010-2013
terus mengalami peningkatan. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa
pembangunan di bidang Pendidikan terus berlangsung dan menjadi salah satu prioritas
Kabupaten Sarolangun sesuai dengan Kebijakan Nasional dan Provinsi Jambi. Untuk lebih
jelasnya perkembangan Rata-rata Lama Sekolah di Kabupaten Sarolangun, Provinsi
Jambi dan Nasional dapat dilihat pada grafik berikut ini :
Grafik 2.10
: Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten
Sarolangun, Provinsi Jambi dan Nasional Tahun 2010-2013
a.4. Angka Partisipasi Kasar
Angka Partisipasi Kasar (APK) menunjukkan partisipasi penduduk yang sedang
melaksanakan pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya. APK digunakan untuk
mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam
rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK
merupakan indikator untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah dimasingmasing jenjang pendidikan.
Angka Partisipasi Kasar (APK) Kabupaten Sarolangun sampai dengan tahun
2013 untuk jenjang SD untuk laki-laki 116,25 persen dan perempuan sedikit lebih tinggi
yaitu sebesar 117,18 persen. APK yang lebih dari 100 menunjukkan murid bersekolah SD
mencakup anak berusia diluar batas usia sekolah SD yaitu 7-12 tahun. Unutk jenjang
SMP banyak laki-laki dibandingkan perempuan dengan besar APK laki-laki adalah 95,78
persen dan perempuan sebesar 78,38 persen. Ditingkat SMA justru perempuan lebih
tinggi dibandingkan laki-laki.
b. Kesehatan
Kinerja makro urusan kesehatan salah satunya bisa dilihat dari indikator angka
usia harapan hidup. Angka usia harapan hidup Kabupaten Sarolangun pada tahun 2013
sebesar 69,85 tahun. Angka ini menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan
tahun 2012 yang hanya mencapai sebesar 69,71 tahun.
c. Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan merupakan aspek yang amat mendasar dalam kehidupan
manusia karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Dimensi ekonomi menjelaskan
kebutuhan manusia akan pekerjaan, sedangkan dimensi sosial dari pekerjaan berkaitan
dengan pengakuan masyarakat terhadap kemampuan individu. Salah satu sasaran
utama pembangunan adalah terciptanya lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas
yang memadai agar dapat menyerap tambahan angkatan kerja.
Total persentase penduduk usia kerja yang produktif di Kabupaten Sarolangun
tahun 2013 mencapai 61,6 persen, sedangkan yang kurang produktif baik yang masih
merupakan usia sekolah maupun sudah tergolong usia mendekati tua masing-masing
mencapai 26,28 persen dan 12,11 persen.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Sarolangun pada tahun
2012 terhitung sebesar 70,76 persen dan mengalami penurunan pada tahun 2013
menjadi sebesar 66,05.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi TPAK adalah
demografis, sosial dan ekonomis.
Tingkat
Pengangguran
Terbuka
(TPT)
merupakan
suatu
indikator
keternagakerjaan yang menunjukkan persentase pengangguran terbuka terhadap
angakatan kerja. Nilai TPT tahun 2012 sebesar 1,91 persen dan mengalami kenaikan
sebesar 3,64 persen pada tahun 2013
Jika dilihat dari jenis lapangan pekerjaan utama maka sektor pertanian tetap
merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja, kemudian diikuti sektor
jasa dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Penduduk yang bekerja disektor
pertanian di tahun 2012 sebesar 64,65 persen dan mengalami penurunan menjadi
sebesar 59,09 persen di tahun 2013. Penduduk yang bekerja pada sektor jasa
kemasyarakatan pada tahun 2012 sebesar 14,87 persen dan meningkat ditahun 2013
menjadi sebesar 17,86 persen.
Sedangkan bila dilihat dari komposisi penduduk bekerja menurut tingkat
pendidikannya di Kabupaten Sarolangun tahun 2013, dimana berdasarkan tingkat
pendidikan SD kebawah sebesar 44,88 persen, SMP sebesar 20,69 persen, SMA sebesa
22,77 persen dan tingkat sarjana sebesar 11,66 persen. Dari data komposisi penduduk
bekerja ini terlihat bahwa penduduk bekerja di Kabupaten Sarolangun yang tertinggi
yaitu dengan tingkat pendidikan SD, hal ini berarti menunjukkan masih kurangnya
tingkat pendidikan penduduk yang bekerja.
2.1.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olah Raga
a. Kebudayaan
a.1. Jumlah Grup Kesenian
Jumlah grup kesenian di Kabupaten Sarolangun selama kurun waktu 2010 s.d
2013 menunjukkan peningkatan dari 34 grup ditahun 2010 menjadi 19 buah pada
tahun 2013. Jumlah grup kesenian menurut jenisnya di tahun 2013 terdiri dari seni tari
sebanyak 13 grup, kasidah sebanyak 2 grup, wayang sebanyak 2 grup, reog sebanyak 2
grup, kuda lumpin sebanyak 4 grup, band sebanyak 2 grup, orkes melayu sebanyak 10
grup, orkes keroncong sebanyak 2 grup dan gambus sebanyak 1 grup. Sedangkan
gedung kesenian sampai tahun 2013 belum ada di Kabupaten Sarolangun.
b. Pemuda dan Olah Raga
b.1. Jumlah Klub Olah Raga
Jumlah klub olah raga sebanyak 35 buah, namun rasionya masih rendah
yaitu 0,55. Begitu pula kondisi sarana dan prasarana olah raga tidak mengalami
pertumbuhan. Hal tersebut bukan berarti bahwa budaya olah raga dikalangan
masyarakat masih rendah, akan tetapi banyak aktivitas olah raga yang dilakukan diluar
gedung seperti jalan sehat, bersepeda maupun olah raga luar ruangan yang lain.
Namun demikan untuk dapat memacu peningkatan prestasi atlit diperlukan sarana
prasarana olah raga yang representatif dan pemberian intensif dan bonus bagi yang
berprestasi.
b.2. Jumlah Gedung Olah Raga
Untuk jumlah gedung olah raga sampai dengan tahun 2013 yaitu hanya
terdapat 2 gedung olah raga.
2.1.3 Aspek Pelayanan Umum
Kondisi umum pembangunan pada aspek pelayanan umum merupakan
gambaran dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu yang
mencakup layanan urusan wajib dan pilihan.
2.1.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib
a. Pendidikan
Rasio murid terhadap guru di berbagai jenjang pendidikan pada tahun 2013 yaitu
Rasio murid taman kanak-kanak terhadap guru pada sebesar 7,16, rasio murid sekolah
dasar terhadap guru sebesar 14,88, rasio murid terhadap guru tingkat SLTP sebesar
6,05, rasio murid terhadap guru tingkat SLTA sebesar 10,25.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Sarolangun pada tahun 2013 dengan
kelompok umur 7 -12 tahun sebesar 98,47 persen, kelompok umur 13-15 tahun sebesar
93,92 persen, kelompok umur 16-18 tahun sebesar 52,14 persen, dan kelompok umur
19-24 tahun sebesar 9,24 persen. Ini menunjukkan bahwa peluang penduduk yang
berumur 7 - 12 tahun untuk tetap bersekolah masih tinggi begitu juga pada kelompok
umur 13-15 tahun.
Angka Partisipasi Kasar Kabupaten Sarolangun di tahun 2013 untuk jenjang SD
dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 116,25 persen sedangkan perempuan sebesar
117,18 persen. APK yang lebih besar dari 100 menunjukkan bahwa murid yang
bersekolah SD mencakup anak berusia diluar batas usia sekolah SD yaitu 7-12 tahun
artinya banyaknya anak-anak usia diatas 12 tahun masih sekolah di tingkat SD atau anakanak yang belum berusia 7 tahun tetapi telah masuk SD. APK untuk jenjang SLTP laki-laki
sebesar 95,78 persen lebih besar dari pada perempuan yang hanya sebesar 78,38 peren.
Sedangkan APK untuk tingkat SLTA lebih tinggi perempuan daripada laki-laki.
Pada tahun 2013 jumlah sekolah keseluruhan beradasarkan jenjangan pendidikan
yaitu TK, SD, SLTP dan SLTA sebanyak 522 sekolah, dimana jumlah sekolah TK negeri
sebanyak 4 dan swasta sebanyak 181, jumlah SD negeri sebanyak 221 dan swasta
sebanyak 5, jumlah SLTP negeri sebanyak 57 dan swasta sebanyak 11, dan untuk jumlah
SLTA negeri sebanyak 22 dan swasta sebanyak 21.
b. Kesehatan
Kinerja makro urusan kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator diantaranya
yaitu rasio posyandu per satuan balita, Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan
penduduk, rasio rumah sakit per satuan penduduk, rasio dokter per satuan penduduk,
rasio tenaga medis per satuan penduduk, cakupan puskesmas dan cakupan pembantu
puskesmas.
Secara keseluruhan, indikator urusan kesehatan menunjukkan trend yang
meningkat selama tahun 2009 s.d 2013. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.7.
Tabel 2.7
Kinerja Makro Urusan Kesehatan Tahun 2009-2013
Tahun
Indikator
2009
Rasio posyandu per satuan balita
2010
2011
2012
2013
55,16
56,29
54,24
56,30
50,86
Rasio puskesmas, poliklinik, pustu
per satuan penduduk
0,54
0,48
0,47
0,46
0,46
Rasio Rumah
penduduk
0,54
0,48
0,47
0,46
0,46
Rasio dokter per satuan penduduk
0,14
0,10
0,10
0,02
0,15
Rasio tenaga medis per satuan
penduduk
0,14
0,10
0,10
0,02
0,15
Cakupan puskesmas
120
120
120
130
130
38,35
38,06
38,06
34,23
34,23
Sakit per
satuan
Cakupan pembantu puskesmas
c. Pekerjaan Umum
c.1. Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik
Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan
dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan di Kabupaten
Sarolangun. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik di Kabupaten
Sarolangun dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 mengalami kenaikan dan
tercatat dengan angka yang positif.
Hal ini dapat terlihat bahwa pada tahun 2011 proporsi panjang jaringan
jalan dalam kondisi baik hanya terdapat 0,23 dan pada tahun 2013 mengalami
kenaikan yang besar menjadi 0,37. Dengan kenaikan proporsi jalan dalam kondisi
baik, menandakan bahwa dalam hal akses jalan di Kabupaten Sarolangun sudah
menjadi penunjang besar dalam pembangunan perekonomian di Kabupaten
Sarolangun, sehingga akses jelan terus ditingkatkan dalam keadaaan baik.
Tabel 2.8.
Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik Tahun 2009 - 2013
Kabupaten Sarolangun
No
Uraian
1.
Panjang Jalan Kondisi
Baik
2.
Panjang Jalan
Seluruhnya
3.
Proporsi Panjang
Jaringan Jalan
Dalam Kondisi Baik
2009
2010
2011
2013
2013
505.417
438.960
321.163
514.669
532.669
1.400.118
1.338.660
1.400.118
1.400.918
1.438.918
0,36
0,33
0,23
0,37
0,37
C.2. Rasio Tempat Ibadah Per Satuan Penduduk
Rasio tempat ibadah per satuan penduduk adalah jumlah ketersediaan
tempat ibadah per 1000 jumlah penduduk. Tempat ibadah merupakan tempat
untuk melakukan persembahyangan /peribadatan menurut ajaran
masing-
masing agama. Ketersediaan tempat ibadah merupakah salah satu dari pelayanan
sarana dan prasarana umum yang disediakan baik oleh pemerintah maupun
masyarakat.
Tabel 2.9
Tempat Ibadah di Kabupaten Sarolangun Tahun 2009-2013
Tahun
Tempat Ibadah
2009
2010
2011
2012
2013
Jumlah Tempat Ibadah
692
695
695
695
743
Rasio per 1.000 penduduk
3,17
2,82
2,75
2,62
2,78
Perkembangan tempat beribadah umat beragama pada tahun 2012
sebanyak 695 buah dan pada tahun 2013 meningkat menjadi sebanyak 743 buah.
Tempat ibadah tersebut meliputi masjid sebanyak 374, musholla 31, langgar 332,
gereja protestan 2, gereja katholik 1, dan budha 1. Selama periode tahun 2009-2013
rasio tempat ibadah masih sekitar 2,78 tempat ibadah per seribu penduduk.
f. Perencanaan Pembangunan Daerah
Kinerja pembangunan pelayanan umum bidang perencanaan pembangunan daerah
adalah tersusunnya RPJPD Kabupaten Sarolangun tahun 2006-2025 yang selanjutnya
menjadi dokumen pembangunan jangka panjang daerah dan telah tetapkan dengan
Peraturan Daerah.
Pada tahun 2006 telah tersedianya dokumen Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah yaitu RPJMD 2006-2011 yang ditetapkan dengan oleh Peraturan Daerah.
Disamping itu juga dilihat dari tersusunnya dokumen perencanaan tahunan yang berupa
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.
Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi dan kesinambungan perencanaan dengan
implementasinya. Berikut gambaran kinerja perencanaan pembangunan daerah selama 5
tahun:
Tabel 2.10
Perkembangan Pelayanan Umum Perencanaan Pembangunan Daerah
di Kabupaten Sarolangun Tahun 2005 s.d 2009
Keterangan
Tahun Periode
No
Dokumen Perencanaan
Ada/Tidak
1.
Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg
telah ditetapkan dgn PERDA
2006-2025
Ada
2.
Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD
yg telah ditetapkan dgn PERDA
2011-2016
Ada
3.
Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD
yg telah ditetapkan dgn PERKADA
2011 - 2016
Ada
g. Perhubungan
Kinerja pembangunan pada pelayanan pada urusan perhubungan
di
Kabupaten Sarolangun dilihat dari jumlah arus penumpang angkutan umum
mengalami penurunan dari 142.718 penumpang tahun 2012 menjadi 92.073
penumpang pada tahun 2013. Penurunan jumlah penumpang lebih disebabkan
adanya pergeseran penggunaan modal angkutan umum ke angkutan pribadi.
persentase jumlah angkutan darat dibanding jumlah penumpang angkutan darat
mengalami peningkatan dari tahun 2012 sebesar 1,30% menjadi 2,01% pada tahun
2013, jumlah terminal bus tidak mengalami perubahan atau tetap sebanyak 1 buah.
Tantangan kedepan adalah bagaimana menyediakan pelayanan angkutan masal
yang murah, nyaman, aman dan tepat waktu.
h. Lingkungan Hidup
Kinerja pembangunan pada pelayanan urusan lingkungan hidup di
Kabupaten Sarolangun diukur dari meningkatnya persentase penanganan sampah
tahun 2012 sebesar 85,5% menjadi 98% pada tahun 2013, produksi sampah total
Kabupaten Sarolangun tahun 2012 sebesar
8.640 m3/hari meningkat sebesar
17.250 m3/hari di tahun 2013. Semakin besarnya volume sampah yang dihasilkan
oleh masyarakat menuntut peran serta masyarakat untuk dapat memusnahkan
sampah dengan cara yang ramah lingkungan demi memperpanjang usia TPA.
i. Pertanahan
Kinerja pembangunan pada pelayanan urusan pertanahan diukur dari
meningkatnya persentase luas lahan bersertifikat. Pada tahun 2013 persentase luas
lahan bersertifikat mencapai sebesar 0,31%. Dilihat dari jumlah kepemilikan tanah
yang mempunyai sertifikat, menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat masih
kurang, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya tertib
administrasi pertanahan yang berarti kepemilikan sertifikat tanah sebagai legalitas
atas tanah yang dimiliki semakin menjadi penting.
j. Kependudukan dan Catatan Sipil
Kinerja pembangunan pada pelayanan kependudukan dan Catatan Sipil tiap
tahunnya mengalami peningkatan. Persentase penduduk ber KTP per satuan
penduduk tahun 2012 sebesar 18,86% meningkat menjadi 62,74% pada tahun
2013, rasio bayi berakte kelahiran tahun 2012 sebesar 510 orang meningkat
menjadi 2.431 orang di tahun 2013. Peningkatan kinerja kependudukan dan catatan
sipil lebih dipengaruhi oleh kesadaran penduduk yang disebabkan makin mudahnya
pelayanan administrasi kependudukan dan terlaksananya kebijakan kependudukan
yang serasi antara kebijakan kependudukan nasional dengan kebijakan
kependudukan Kabupaten Sarolangun.
k.
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Pembangunan
pada
urusan
pemberdayaan
perempuan
dan
perlindungan anak mengalami kemajuan. Hal ini dapat dilihat dari angka
meningkatnya partisipasi perempuan baik di lembaga pemerintah maupun
swasta sampai dengan tahun 2014 sebesar 22%. Untuk meningkatkan usaha
pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak perlu segera dibentuk
pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) mulai di tingkat Kabupaten
sampai dengan tingkat Kecamatan dan diharapkan pada tahun 2016 di semua
Kecamatan sudah terbentuk PPT, untuk dapat membantu menyelesaikan
persoalan korban kekerasan terhadap perempuan.
l. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
Pembangunan dalam urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera
mengalami peningkatan yang cukup baik, terlihat dari indikator jumlah anak per
keluarga yang semakin menurun dari 2,85% menjadi 2,50% artinya jumlah anak
dalam setiap keluarga terdiri dari 2 – 3 anak dan peserta aktif yang meningkat dari
78,81 % pada tahun 2012 menjadi 78,95 % di tahun 2013. Hal ini memberikan
pengaruh yang positif dalam menekan laju pertumbuhan penduduk sehingga akan
semakin rendah juga jumlah keluarga pra sejahtera dan sejahtera I.
Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pemberdayaan dan
ketahanan keluarga secara menyeluruh terutama dalam kemampuan pengasuhan
dan penumbuhkembangan anak, dan peningkatan kualitas lingkungan keluarga
melalui pengembangan akses terhadap kualitas hidup keluarga: ekonomi,
kesehatan, pendidikan, parenting (beyond family planning) dan menggalang
kemitraan dengan masyarakat, swasta dan profesi/perguruan tinggi. Permasalahan
kedepan yang
harus
ditangani secara serius adalah meningkatkan cakupan
keluarga berencana agar mampu menekan laju pertumbuhan penduduk.
m. Sosial
Pembangunan pelayanan sosial di Kabupaten Sarolangun terus mengalami
peningkatan dari tahun ketahun. Namun masih sedikitnya sarana sosial yang
tersedia sampai dengan tahun 2015 dan saat ini terus diupayakan penambahan
dan penanganannya oleh Pemerintah Daerah. Demikian pula penanganan
penyandang masalah kesejahteraan sosial mengalami peningkatan sampai dengan
tahun 2015. Untuk itu upaya yang dilakukan kedepannya adalah dengan menekan
jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) termasuk di dalamnya
adalah anak jalanan. Adapun permasalahan PMKS yang terus berkembang
diantaranya disebabkan oleh persoalan tuntutan kehidupan yang semakin berat,
disamping persoalan kemiskinan. Oleh karena itu penanganan persoalan sosial
harus dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi.
n. Ketenagakerjaan
Keterlibatan penduduk dalam angkatan kerja selama periode 2011-2013
menunjukkan angka yang fluktuatif. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di
Kabupaten Sarolangun pada tahun 2011 sebesar 69,45 persen dan mengalami
kenaikan menjadi sebesar 70,76 persen pada tahun 2012, sedangkan di tahun
2013 mengalami penurunan menjadi 66,05 persen.
Salah satu indikato ketenagakerjaan adalah Tingkat pengagguran terbuka
(TPT) yang merupakan suatu indikator ketenagakerjaan yang menunjukkan
persentase pengangguran terbuka terhadap angkatan kerja. Selama periode 2011
- 2013 tingkat pengangguran terbuka di tahun 2011 sebesar 4,33 persen dan
mengalami penurunan menjadi 1,91 persen pada tahun 2012, sedangkan pada
tahun 2013 mengalmi peningkatan menjadi sebesar 3,64 persen.
2.1.4 Aspek Daya Saing Daerah
2.1.4.1. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah
a. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat
Daerah, Kepegawaian dan Persandian
a.1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita
Salah satu indikator yang dipergunakan untuk mengukur aspek kemampuan
ekonomi daerah adalah Angka Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita. Angka ini diperoleh
dengan membagi jumlah Total Pengeluran Rumah Tangga dengan jumlah Rumah
Tangga. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Tahun 2010-2013 dapat
dilihat pada
tabel 2.24.
Tabel 2.11
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Tahun
Tahun 2010-2013
Tahun
Uraian
2010
Total Pengeluaran RT
2011
2012
2013
5.001.633
5.308.544
5.557.515
5.828.444
59.285
65.495
67.384
64.664
84,37
81,05
82,48
90,13
Jumlah RT
Rasio (Total Konsumsi
RT/Jumlah RT)
Meningkatnya total konsumsi rumah tangga dan rasio konsumsi rumah tangga
menunjukkan adanya keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. Peningkatan
pendapatan
masyarakat
akan
meningkatkan
menggerakkan roda perekonomian di daerah.
konsumsi
rumah
tangga
dan
Total Konsumsi Rumah Tangga Kabupaten Sarolangun dari Tahun 2010 sampai
dengan tahun 2013 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif. Total Konsumsi Rumah
tangga pada tahun 2013 berdasarkan harga konstan sebesar Rp. 5.828.444,-. Jumlah ini
mengalami peningkatan apabila dibandingakan dengan tahun 2012 dimana Total
Konsumsi Rumah Tangga sebesar Rp. 5.557.515,- mengalami pertumbuhan sebesar
4.65%. Dengan jumlah rumah tangga sebanyak 64.664 maka rasio konsumsi rumah
tangga per kapita pada tahun 2013 sebesar 90.13. Sementara pada tahun 2012 dengan
total konsumsi rumah tangga sebesar 5.557.515 dan jumlah penduduk sebanyak
67.384, Rasio Konsumsi Rumah Tangga pada tahun 2012 sebesar 82,48.
2.1.4.2. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur
- Perhubungan
o Jalan
Prasarana jalan merupakan urat nadi kelancaran lalu lintas di darat. Lancarnya arus lalu
lintas akan sangat menunjang perkembangan perekonomian suatu daerah. Di
Kabupaten Sarolangun pada tahun 2013 tercatat panjang jalan 1.438.918 km, terdiri dar
kondisi baik sepanjang 532.669 km, kondisi sedang 567.069 km, kondisi rusak ringan
242.000 km dan kondisi rusak berat sepanjang 97.180 km. Jika data panjang jalan dirinci
menurut jenis permukaan maka diperoleh 497,12 km diaspal, 447,07 jalan kerikil, dan
16,12 jalan tanah.
- Penataan Ruang
o Ketaatan terhadap RTRW
RTRW sebagai salah satu rencana tata ruang wilayah merupakan salah satu
bagian penting dari kegiatan penataan ruang yang berisi rencana struktur dan pola
ruang, dan penetapan kawasan strategis yang perwujudannya dilakukan melalui
pelaksanaan indikasi program. RTRW memuat rumusan kebijakan dan strategi
pengembangan, serta koordinasi antar instansi terkait dalam proses perencanaan,
pemanfaatan, dan pengendalian ruang.
RTRW merupakan penjabaran arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang
wilayah nasional dan provinsi ke dalam struktur wilayah Daerah dan pola pemanfaatan
ruang daerah yang menjadi pedoman bagi pengembangan dan pemanfaatan ruang
Daerah. RTRW berfungsi sebagai pedoman dalam menyusun rencana struktur dan pola
ruang wilayah Daerah serta dalam menetapkan kawasan strategis.
Salah satu wujud ketaatan terhadap pelaksanaan RTRW maka Pemerintah
Kabupaten Sarolangun senantiasa berupaya untuk memenuhi target pencapaian ruang
terbuka hijau sebagaimana yang diamanatkan Undang–Undang. Ruang terbuka hijau
merupakan salah satu kebutuhan utama yang berkaitan langsung dengan upaya
pengelolaan lingkungan hidup, yang berfugsi sebagai daerah resapan air. Dengan
adanya Ruang Terbuka Hijau maka mutu lingkungan hidup di perkotaan dapat
meningkat, sehingga lingkungan terasa nyaman, segar, indah, bersih dan juga dapat
berfungsi sebagai sarana pengaman lingkungan.
- Jenis dan Jumlah Bank dan Cabang
Ketersediaan fasilitas bank sangat penting dalam rangka menunjang aspek
daya saing daerah. Dengan adanya fasilitas tersebut segala urusan berkaitan dengan
jasa dan lalu lintas keuangan dapat berjalan dengan lancar. Indikator kinerja
berkaitan dengan fasilitas bank salah satunya dapat dilihat dari jenis dan jumlah
bank serta cabang-cabangnya.
Di tengah rentannya kondisi keuangan global, industri perbankan nasional
berhasil bertahan dan mempertahankan
kinerja secara kuantitas maupun kualitas.
Cukup stabilnya kinerja sektor perbankan nasional berdampak positif pada
perbankan di Kabupaten Sarolangun.
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan
atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Jumlah bank di Kabupaten Sarolangun seluruhnya berjumlah 4 unit yang terdiri dari
PT. BRI, BPD Cabang Sarolangun, PT. Bank BNI dan Bank Mandiri.
- Jenis, Kelas, dan Jumlah Restoran
Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukan tingkat daya tarik
investasi suatu daerah. Banyaknya restoran dan rumah makan menunjukan
perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang-peluang yang
ditimbulkannya.
Penentuan kelas rumah makan dan restoran dengan berdasarkan pada kriteria
kelengkapan sarana dan prasarana yang ada, ketersediaan pekerja khusus (koki) dan
kriteria lainnya, namun di Kabupaten Sarolangun belum diklasifikasi.
- Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/ hotel
Ketersediaan penginapan/hotel merupakan salah satu aspek yang penting
dalam meningkatkan daya saing daerah, terutama dalam menerima dan melayani
jumlah kunjungan dari luar daerah. Semakin berkembangnya investasi ekonomi
daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut. Dengan
semakin banyaknya jumlah kunjungan orang dan wisatawan ke suatu daerah perlu
didukung oleh ketersediaan penginapan/hotel.
Sampai dengan tahun 2013 jumlah hotel di Kabupaten Sarolangun sebanyak
12 hotel dengan jumlah kamar sebanyak 212 dan jumlah tempat tidur sebanyak 314.
Hotel dengan klasifikasi bintang 3 ada 1 (satu) buah, sedangkan hotel lainnya
termasuk klasifikasi hotel melati.
2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan dan Realisasi
RPJMD
Proses penyusunan perencanaan pembangunan Tahun 2016 dimulai sejak awal Tahun 2015
melalui berbagai rangkaian proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang
dimulai dari tingkat Desa/Kelurahan sampai dengan tingkat Kabupaten. Dalam upaya untuk
memantapkan perencanaan pembangunan tahun 2016 diperlukan evaluasi pelaksanaan program
dan kegiatan RKPD sampai tahun berjalan dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah, merupakan rencana pembangunan yang diaktualisasikan
dalam kebijakan dan program tahunan, dengan memanfaatkan seluruh sumber daya pembangunan
di daerah, dan tetap memperhatikan konsistensi perencanaan jangka menengah dan jangka panjang.
Untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah, yang diimplementasikan dalam RKPD
dilakukan melalui proses pengendalian dan evaluasi kinerja pembangunan daerah. Melalui evaluasi
kinerja pelaksanaan pembangunan akan dihasilkan informasi kinerja yang dapat menjadi masukan
bagi proses perencanaan dan penganggaran yang didukung oleh ketersediaan informasi dan data
yang lebih akurat. Dengan demikian, program pembangunan menjadi lebih efisien, efektif, disertai
dengan akuntabilitas pelaksanaannya yang jelas. Oleh karena itu, evaluasi kinerja kebijakan dan
program, merupakan bagian penting untuk menilai pencapaian program dan kegiatan terhadap
tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, yang pada gilirannya menjadi bahan masukan bagi
penyusunan rencana kebijakan dan program selanjutnya.
Evaluasi pencapaian kinerja pembangunan Kabupaten Sarolangun yang ditetapkan dalam
RKPD tahun 2016 harus dapat menginformasikan sejauh mana kemajuan yang telah dicapai
terhadap target kinerja yang diharapkan dalam RPJMD 2011-2016. Dengan kata lain, pencapaian
kinerja pembangunan tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya pencapaian visi dan misi
daerah.
Telaahan terhadap hasil evaluasi status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan
daerah, berdasarkan rekapitulasi hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RKPD tahun lalu
dan realisasi RPJMD yang bersumber dari telaahan hasil evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu
dan realisasi Renstra SKPD. Hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan yang dikemukakan
berupa pembangunan daerah tahun lalu. Evaluasi meliputi seluruh program dan kegiatan yang
dikelompokkan menurut kategori urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah, menyangkut
realisasi capaian target kinerja keluaran kegiatan dan realisasi target capaian kinerja program tahun
lalu terhadap RPJMD 2011-2016. Adapun evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RKPD tahun
lalu, tahun berjalan dan realisasi RPJMD dapat dilihat pada tabel 2.12 sebagai berikut:
Data ada pada file excel
2.3. Permasalahan Pembangunan
Pembangunan daerah yang telah dilaksanakan di berbagai sektor selama beberapa tahun
terakhir ini telah memberikan hasil dan manfaat bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan di
Kabupaten Sarolangun. Namun demikian, permasalahan yang timbul dalam proses pembangunan
menyebabkan tingkat kesejahteraan hidup masyarakat yang memadai belum terrealisasi sesuai
dengan harapan. Pembangunan yang dilaksanakan belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan
kelembagaan publik, termasuk alokasi sumber daya yang efisien.
Manfaat pembangunan yang diharapkan belum merata dan kerawanan sosial masih sering
terjadi, sehingga kehidupan masyarakat belum sepenuhnya membaik. Keadaan ini timbul sebagai
akibat dari berbagai permasalahan yang terjadi baik masa lalu maupun sekarang yang belum teratasi
secara maksimal.
Oleh sebab itu permasalahan pembangunan daerah yang harus mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh dan mesti disentuh dalam program dan kegiatan prioritas pembangunan
Kabupaten Sarolangun Tahun 2016 adalah sebagai berikut :
1. Kondisi infrastruktur pelayanan umum yang belum memadai
Ketersediaan akan infrastruktur pelayanan umum mencakup seperti jalan, jembatan, box
culvert, jembatan gantung, irigasi, ketenagalistrikan dan air bersih selain itu juga mencakup
upaya peningkatan kualitas dan ketersediaan infrastruktur pendidikan, kesehatan, pertanian
dalam arti luas, olahraga, pariwisata, seni budaya dan keagamaan yang memadai sangat perlu
mendapatkan perhatian yang serius oleh pemerintah daerah dalam penanganannya, sehingga
diharapkan dapat dinikmati oleh masyarakat.
Belum optimalnya pemenuhan kebutuhan infrastruktur ini dikarenakan keterbatasan
kemampuan keuangan daerah untuk mendanainya, sehingga permasalahan yang masih dihadapi
pada tahun 2016 dalam upaya peningkatan infrastruktur pelayanan umum adalah sebagai
berikut :
A. Jalan, Jembatan dan Irigasi
Adapun permasalahan yang dihadapi pada pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan
irigasi, diantaranya adalah :
1. Belum optimalnya pembangunan jalan dan jembatan
2. Masih banyaknya prasarana jalan dan jembatan yang perlu ditingkatkan kualitasnya
3. Belum optimalnya rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan
4. Masih perlu ditingkatkan penanganan/pemeliharaan kondisi jalan dan jembatan
5. Masih banyaknya bangunan irigasi yang tidak berfungsi
6. Belum optimalnya tingkat layanan jaringan irigasi
7. Kondisi irigasi banyak yang mengalami kerusakan
8. Masih rendahnya penanganan/pemeliharaan jaringan
B. Pendidikan
Permasalahan yang dihadapi pada pembangunan infrastuktur bidang pendidikan antara lain
adalah :
1. Masih rendahnya kualitas fasilitas pelayanan pendidikan
2. Belum memadainya kualitas dan kuantitas infrastruktur pendidikan
3. Ketersediaan gedung sekolah masih kurang
4. Masih kurangnya ketersediaan ruang kelas
C. Kesehatan
Permasalahan yang dihadapi pada pembangunan infrastruktur bidang kesehatan adalah
antara lain adalah :
1. Masih kuranganya sarana kesehatan yang tersedia, baik di rumah sakit, puskesmas,
pustu, poskesdes maupun mitra pelayanan kesehatan di tingkat desa
2. Belum optimalnya kualitas dan kuantitas infrastruktur pelayanan kesehatan
3. Belum optimalnya kualitas infrastruktur pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
4. Kualitas dan akses pelayanan kesehatan belum optimal
5. Masih kurangnya infrastruktur pelayanan kesehatan
D. Pertanian Dalam Arti Luas
Adapun permasalahan yang dihadapi pada pembangunan infrastruktur pada bidang
pertanian dalam arti luas yang mencakup pertanian tanaman pangan, perikanan dan
peternakan diantaranya adalah :
1. Masih kurangnya sarana pertanian yang memadai
2. Belum optimalnya pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan
irigasi lainnya
3. Peningkatan pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana perikanan masih
rendah
4. Masih kurangnya penyediaan sarana dan prasarana perikanan
5. Rendahnya dukungan infrastruktur perikanan
6. Rendahnya dukungan infrastruktur peternakan
7. Penyediaan padang pengembalaan belum optimalnya
E. Ketenagalistrikan
Adapun permasalahan yang dihadapi pada pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan
diantaranya adalah :
1. Masih kurangnya pelayanan tenaga listrik di wilayah perdesaan dan terpencil
2. Penyediaan kapasitas terpasang/daya mampu sistem ketenagalistrikan masih kurang
3. Masih kurangnya jaringan listrik
4. Belum optimalnya sarana ketenagalistrikan
F. Air Bersih
Adapun permasalahan yang dihadapi pada pembangunan infrastruktur air bersih adalah :
1. Masih rendahnya akses masyarakat terhadap air bersih
2. Masih kurangnya infrastruktur pelayanan air bersih di wilayah perdesaan dan terpencil
3. Masih terbatasnya penyediaan infrastruktur yang terkait dengan pendayagunaan
sumberdaya air
4. Masih kurangnya penyediaan prasarana air bersih bagi masyarakat
2. Belum Optimalnya Perekonomian Masyarakat dan Daerah
Peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan masyarakat diperlukan
upaya-upaya yang serius dari pemerintah daerah dalam melakukan upaya yang lebih nyata
untuk peningkatannya. Dalam kaitan itu kegiatan ekonomi perlu didorong dengan menekankan
pada kualitas pertumbuhan (quality og growth) yang memberikan manfaat besar
bagi
kesejahteran masyarakat termasuk dalam penciptaan lapangan pekerjaan, sehingga berdampak
dalam mendongkrak peningkatan daya beli masyarakat. Dan diperlukan adanya peningkatan
iklim investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan (sustainable
growth), serta agar dapat menjamin kesinambungan pembangunan (sustainable development).
Selain itu, pembangunan dan pengembangan usaha dan penguatan perekonomian sektor
riil menjadi indikator keberhasilan pembangunan daerah. Perdagangan, investasi dan industri
baik besar, kecil maupun menengah merupakan tulang punggung sektor riil yang perlu terus
dikembangkan. Sementara itu di sektor jasa dan keuangan peran koperasi dan perbankan sangat
dibutuhkan untuk mendukung permodalan usaha dari pelaku ekonomi riil tersebut. Adapun
permasalahan yang dihadapi pada taraf perekomonian masyarakat dan daerah diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Masih rendahnya penciptaan iklim investasi yang mendukung pengembangan potensi lokal
2. Pertumbuhan ekonomi cenderung mengalami fluktuasi
3. Belum seimbangnya antara pembiayaan pembangunan dengan ketersediaan akan anggaran
4. Belum optimalnya penggalian sumber-sumber pendapatan daerah
5. Stabilitas harga kebutuhan pokok cenderung fluktuatif yang berpengaruh menurunnya daya
beli masyarakat
6. Belum optimalnya fungsi sarana dan prasarana perekonomian
7. Masih belum optimalnya kemampuan SDM pengelola perekonomian daerah
8. Produktivitas pertanian dan mutu produk pertanian dalam arti luas relatif masih rendah
9. Masih rendahnya aksesibilitas pemasaran produk-produk pertanian dan perikanan
10. Belum optimalnya pengembangan kawasan pertanian dan perikanan penerapan konsep
ekonomi perdesaan melalui One Village One Product (OVOP)
11. Rendahnya kesejahteraan dan relatif tingginya kemiskinan petani
12. Pembangunan dan pengembangan kawasan agropolitan belum optimal
13. Belum optimalnya pembangunan dan pengembangan kawasan terpadu
14. Belum optimalnya pengembangan potensi agribisnis
15. Pengembangan model kemitraan usaha hulu-hilir belum optimal
16. Masih rendahnya aksesibilitas pemasaran produk-produk unggulan daerah hasil UKMK
17. Masih rendahnya posisi tawar dan daya saing produk unggulan daerah
18. Masih rendahnya peningkatan kemampuan kelembagaan UMKM, pengembangan industri
produktif berbasis UMKM dan keterampilan kewirausahaan
19. Belum optimalnya dukungan Bank/Lembaga Keuangan pada sektor pertanian dalam arti
luas, dan sektor riil serta UKMK
20. Belum optimalnya pengembangan perdagangan dan industri, khususnya sektor UKMK
21. Lemahnya akses petani, UKMK, dan IK terhadap sumber daya produktif, yaitu permodalan,
teknologi, informasi dan pasar
22. Masih rendahnya pemanfaatan teknologi pembangunan (Teknologi tepat Guna)
23. Kualitas SDM yang relatif masih rendah
24. Minimnya sarana dan prasarana perdagangan yang memadai
25. Belum optimalnya pembangunan di sektor-sektor pertanian dalam arti luas, industri,
perdagangan, koperasi dan UMKM
26. Masih rendahnya produktivitas pertanian dalam arti luas, UMKM dan koperasi, karena
kualitas Sumber Daya Manusia pada sektor pertanian, UMKM dan koperasi masih rendah.
27. Belum optimalnya penciptaan kesempatan kerja dan berusaha untuk menangani
permasalahan pengangguran
28. Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha serta kurangnya sarana dan prasarana
pelatihan kerja
29. Masih rendahnya kualitas SDM pencari kerja
30. Peran dan fungsi lembaga ketenagakerjaan belum optimal
31. Belum optimalnya pelaksanaan pengarusutamaan gender
32. Masih rendahnya pemberdayaan perempuan dalam peningkatan ekonomi keluarga miskin
33. Penataan pedagang kaki lima dan asongan belum optimal
34. Belum optimalnya pembangunan dan pengembangan kawasan wisata
3. Belum Optimalnya Peningkatan Sumber Daya Manusia
Pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberikan pelayanan secara lebih
merata, berkualitas dan terjangkau terutama di daerah terisolir dan terpencil. Penyelenggaraan
pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting di dalam penyediaan tenaga ahli dan
trampil yang tidak saja mempunyai kemampuan ilmu pengetahuan dan ketrampilan baku,
namun mampu melakukan adaptasi dan mengembangkan sesuai dengan tuntutan dan kondisi
lapangan kerja
Selain itu juga kualitas kesehatan masih belum memadai, hal ini ditandai dengan
terbatasnya sarana dan prasarana kesehatan, jumlah tenaga kesehatan masih kurang, perilaku
dan pelayanan kesehatan masih rendah. Adapun permasalahan yang dihadapi dalam
peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Sarolangun yang mencakup bidang
pendidikan dan kesehatan, diantara sebagai berikut :
A. Pendidikan
Permasalahan yang masih dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun yang terkait
dengan bidang pendidikan adalah :
1. Masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia terutama terlihat dari masih rendahnya
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
2. Peningkatan pendidikan non formal (keaksaraan fungsional) belum optimal
3. Kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan belum optimal
4. Belum optimalnya pencanangan dan penerapan wajib belajar 12 tahun
5. Masih kurangnya fasilitasi kemudahan bagi anak-anak usia sekolah jenjang
SMA/Sederajat
6. Masih kurangnya ketersediaan prasarana pendidikan menengah
7. Pemerataan pelayanan kelembagaan satuan pendidikan mengengah dalam rangka
rintisan wajib belajar 12 tahun belum optimal
8. Peningkatan penyelenggaraan pendidikan kejuruan belum optimal
9. Belum optimalnya ekstensifikasi kurikulum pendidikan umum ke pendidikan kejuruan
10. Masih rendahnya penguatan dan pendalaman relevansi muatan kurikulum satuan
pendidikan menengah
11. Masih rendahnya penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
12. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga pendidik dan kependidikan
belum optimal
13. Masih kurangnya penyediaan fasilitas pendidikan bagi tenaga pendidik dan kependidikan
14. Masih kurangnya peningkatan mutu manajemen pendidikan bermuatan lokal
15. Pembinaan olahraga prestasi dan olahraga rekreasi belum optimal
16. Masih kurangnya sarana dan prasarana olahraga
17. Peran pemuda dalam pembangunan masih kurang
18. Masih rendahnya kualitas fasilitas pelayanan pendidikan
19. Kualitas pendidikan masih rendah dan belum memenuhi standart kompetensi
20. Penyelenggaraan pendidikan luar sekolah belum optimalnya
21. Ketersediaan pendidik yang belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas
22. Biaya operasional pendidikan belum disediakan secara memadai
23. Masih rendahnya kesejahteraan pendidik
24. Fasilitas belajar belum disediakan belum mencukupi
25. Belum semua pendidik memiliki kualifikasi pendidikan sebagaimana yang disyaratkan
B. Kesehatan
Permasalahan yang masih dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun yang terkait
dengan bidang kesehatan adalah :
1. Indikator kesehatan yang ditunjukkan oleh Angka Harapan Hidup (AHH) masih rendah
2. Angka kematian bayi dan ibu-ibu yang melahirkan masih cukup tinggi
3. Masih kurangnya prasarana kesehatan yang tersedia, baik di rumah sakit, puskesmas,
pustu, poskesdes maupun mitra pelayanan kesehatan di tingkat desa
4. Masih rendah rasio sarana kesehatan terhadap jumlah penduduk
5. Masih kurangnya ketersedaan sarana prasarana kesehatan
6. Belum optimalnya kualitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
7. Kualitas SDM Kesehatan belum memadai
8. Peningkatan kemitraan dan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan belum
optimal
9. Penguatan manajemen kesehatan belum optimal
10. penguatan kelembagaan pengarustamaan gender belum optimal
11. Peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan belum optimal
12. Belum optimalnya peningkatan dan peran serta kesetaraan gender
13. Masih kurangnya penyediaan fasilitas PONED dan tenaga medik terlatih di setiap wilayah
14. Belum meratanya dan terjangkaunya pelayanan kesehatan
15. Perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat (PHBS)
16. Rendahnya kondisi kesehatan lingkungan dan permukiman
17. Rendahnya status kesehatan masyarakat
18. Keterbatasan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin
19. Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusinya yang tidak merata
20. Masih kurangnya tenaga dokter spesialis
21. Masih rendahnya pelaksanaan pengawasan obat dan makanan
22. Belum optimalnya pemahaman dan pelayanan tentang Keluarga Berencana, Bina
Keluarga Balita dan Bina Keluarga Remaja
23. Masih rendah pelaksanaan pencegahan dan pengawasan penyakit menular maupun
tidak menular
24. Belum optimalnya penanganan gizi pada masyarakat
4. Efektivitas Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) Belum Optimal
Pelaksanaan otonomi daerah selalu diupayakan mempedomani pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan tata pemerintahan yang bersih
dan berwibawa selalu dilaksanakan dalam kerangka peningkatan pelaksanaan otonomi daerah.
Disamping itu peningkatan kualitas pelayanan publik juga terus ditingkatkan kinerjanya, hal ini
merupakan indikator terpenting dari pelaksanaan tata pemerintahan yang bersih dan
berwibawa.
Dalam mewujudkan pelaksanan otonomi daerah yang sesuai dengan prinsip good
governance dan kualitas pelayanan publik yang lebih baik di Kabupaten Sarolangun, masih
menghadapi beberapa permasalahan, antara lain yaitu :
1. Belum optimalnya tata kelola Pemerintahan yang baik melalui reformasi birokrasi
2. Belum optimalnya pengelolaan keuangan daerah secara konsisten
3. Belum optimalnya pelaksanaanpendidikan dan pelatihan bagi aparatur
4. Belum optimalnya tata pemerintahan yang baik akan tercermin dari berkurangnya tingkat
korupsi
5. Terbentuknya Birokrasi Pemerintahan yang profesional dan berkinerja tinggi belum optimal
6. Belum tersusun dan ditetapkannya Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada instansi
pemerintah khususnya pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan umum lainnya.
7. Belum optimalnya penyelesaian sengketa batas wilayah antar daerah.
8. Belum optimalnya kualitas pelayanan publik
9. Pengelolaan dan kemampuan keuangan daerah belum optimal
10. Perencanaan pembangunan daerah belum optimal
11. Belum optimalnya pelayanan perizinan
12. Belum Optimalnya Peningkatan Kapasitas SDM Aparatur
13. Pengawasan pelaksanaan pembangunan daerah belum optimal
14. Belum optimalnya pelaksanaan pelayanan publik
15. Kuantitas dan kualitas aparatur masih kurang.
5. Belum Optimalnya Tata Kehidupan Masyarakat yang Agamis, Berbudaya dan Harmonis
Peranan nilai-nilai sosial kemasyarakatan memainkan peranan yang cukup penting. Nilai
yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan adalah prinsip-prinsip dasar sosial atau
standar-standar yang dimiliki dan diterima oleh masyarakat, yang diangkat nilai budaya lokal
yang dapat dipadukan dengan cara pandangan yang dianut secara umum.
Nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai semangat atau jiwa dalam melaksanakan semua
aktivitas pembangunan baik yang di selenggarakan oleh pemerintah kabupaten maupun oleh
masyarakat.
Adapun permasalahan yang masih dihadapi terhadap tata kehidupan masyarakat yang
agamis, berbudaya dan harmonis, diantaranya adalah :
1. Belum optimalnya implementasi norma-norma religius dalam kehidupan bermasyarakat
2. Pemahaman keagamaan, melalui pemasyarakatan pemahaman al-Qur'an bagi pemeluk
agama Islam belum optimal
3. Belum optimalnya penggalian dan pengelolaan potensi umat, seperti optimalisasi ZIS
4. Keberdayaan lembaga keagamaan belum optimal
5. Masih rendahnya pengenalan dan menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan Kabupaten
Sarolangun sejak usia dini
6. Belum optimalnya keberdayaan seniman dan budayawan
7. Belum optimalnya pengembangan dan pelestarian lembaga-lembaga adat dan tradisi
masyarakat
8. Masih kurangnya pembangunan sarana dan prasarana pengembangan dan pelestarian
keragaman budaya
BAB III
RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH
DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
Rancangan kerangka ekonomi daerah dan kerangka pendanaan memuat penjelasan tentang
kondisi ekonomi Kabupaten Sarolangun pada tahun 2016 dan perkiraan tahun berjalan, tantangan
dan prospek perekonomian daerah, arah kebijakan ekonomi daerah, analisis dan perkiraan sumbersumber pendapatan daerah dan arah kebijakan keuangan daerah tahun 2016 dalam mendukung
penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pelaksanaan pembangunan daerah.
Kondisi ekonomi daerah ini tentunya akan dapat dicapai melalui berbagai program dan
kegiatan yang sesuai dengan prioritas kegiatan pembangunan daerah serta langkah kebijakan yang
disusun untuk menghadapi tantangan pembangunan dalam rangka pencapaian sasaran
pembangunan Kabupaten Sarolangun pada tahun 2016. Dengan diketahuinya kondisi ekonomi
daerah maka akan terlihat pertumbuhan ekonomi daerah yang mencerminkan kegiatan ekonomi di
daerah, pertumbuhan ekonomi merupakan kunci dari tujuan ekonomi makro. Selain itu juga, tingkat
pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu tujuan penting pemerintah daerah. Upaya untuk
meningkatkan sumber-sumber penerimaan pendapatan daerah dan belanja daerah tidak akan
memberikan arti apabila tidak diikuti dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Pertumbuhan ekonomi daerah tidak terlepas dari kondisi perekonomian daerah sekitar,
perekonomian nasional dan perekonomian dunia/internasional. Perubahan kondisi ekonomi yang
terjadi dalam skala nasional maupun dunia/internasional sangat berpengaruh terhadap
perkembangan ekonomi di daerah. Adanya faktor-faktor perekonomian yang tidak dapat
dikendalikan oleh daerah seperti yang menyangkut kebijakan sektor moneter dan sektor riil yang
merupakan
kewenangan
pemerintah
pusat.
Selain
itu
juga,
pengaruh
perekonomian
dunia/internasional seperti pengaruh harga minyak dunia dan nilai tukar mata uang pasti akan
berpengaruh terhadap perekonomian daerah.
Dengan memperhatikan posisi Kabupaten Sarolangun, maka di dalam penyusunan Rencana
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2016, tetap mengacu dan menjabarkan arahan RPJP-D
Tahun 2006-2025 dan RPJM-D Kabupaten Sarolangun Tahun 2011-2016, serta juga memperhatikan
isu-isu aktual, yaitu keterkaitannya dengan upaya mendorong pencapaian pertumbuhan
perekonomian Kabupaten Sarolangun, yang berbasis pada perolehan efek ganda (multiplier) yang
luas bagi perekonomian rakyat, upaya penganggulangan pengangguran dan kemiskinan.
3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
Arah Kebijakan Ekonomi Daerah bertujuan sebagai pedoman dalam mewujudkan visi dan misi
kepala daerah serta menyelesaikan isu strategis dan permasalahan daerah melalui perumusan
program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah yang akan dilaksanakan.
Kebijakan ekonomi daerah Kabupaten Sarolangun pada tahun 2016 yaitu diarahkan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih berkualitas dan berkesinambungan dengan
memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan infrastruktur, terjaganya
stabilitas keamanan dan ekonomi daerah agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
mengurangi dan menanggulangi kemiskinan dan pengangguran, serta terjaganya stabilitas fiskal
daerah.
Selain itu, akan dilakukan upaya dalam meningkatkan investasi daerah dan penggunaan
belanja daerah untuk mendorong peningkatan sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan,
serta penguatan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terus diupayakan untuk menjaga stabilitas
ekonomi daerah.
Dengan Stabilitas perekonomian yang terjaga, maka akan mendorong terciptanya lapangan
kerja baru dan mengurangi kemiskinan. Perbaikan iklim ketenagakerjaan akan tetap ditingkatkan.
Pembangunan
pertanian
didorong
untuk
peningkatan
produksi
pangan
dan
pengurangan/pengentasan pengangguran.
3.1.1. Kondisi
Ekonomi
Daerah
Tahun
2014
dan
Perkiraan
Tahun
2016
Pembangunan daerah ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam
arti yang seluas-luasnya dapat berjalan ditandai dengan adanya perkembangan ekonomi atau
pertumbuhan ekonomi. Suatu perekonomian daerah dikatakan mengalami pertumbuhan atau
perkembangan apabila tingkat kegiatan ekonomi suatu masyarakat tersebut lebih tinggi dari
kegiatan ekonomi yang dicapainya pada masa sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa
perkembangan ekonomi baru dapat tercapai jika jumlah barang dan jasa yang dihasilkan
dalam perekonomian tersebut menjadi bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya.
Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang
menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan
kemakmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan ekonomi mencerminkan kegiatan
ekonomi, yang mana pertumbuhan ekonomi dapat bernilai positif dan dapat pula bernilai
negatif. Jika pada suatu periode perekonomian mengalami pertumbuhan positif, berarti
kegiatan ekonomi pada periode tersebut mengalami peningkatan. Sedangkan jika pada suatu
periode perekonomian mengalami pertumbuhan negatif, berarti kegiatan ekonomi pada
periode tersebut mengalami penurunan.
Pembangunan ekonomi Kabupaten Sarolangun mengalami berbagai kemajuan. Hal ini dapat
dilihat dari gambaran kondisi perekonomian yaitu melalui perkembangan Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB). Nilai PDRB (berdasarkan atas dasar harga konstan tahun 2010) pada tahun 2014
menunjukkan perkembangan yang bersifat positif. Total PDRB tahun 2013 sebesar Rp. 1.559.394
Juta dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 8.944.249,1 juta. Sedangkan total nilai PDRB (berdasarkan
atas dasar harga Berlaku Tahun 2010) pada tahun 2013 sebesar Rp. 9.705.303 juta dan di tahun
2014 sebesar Rp. 11.317.495 juta. Pada tahun 2014 struktur ekonomi yang masih menjadi
primadona utama PDRB Kabupaten Sarolangun adalah sektor pertanian yang menyumbang sebesar
30,36 persen, selanjutnya disumbangkan oleh sektor pertambangan sebesar 23,97 persen dan sektor
konstruksi sebesar 13,27 persen.
Selanjutnya besaran PDRB per kapita di suatu daerah dapat menggambarkan secara relatif
tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. Besarnya PDRB Per Kapita (ADHB tahun 2010)
pada tahun 2014 sebesar 41.577.409,44 rupiah dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2016.
Kemajuan ekonomi suatu daerah dapat juga terlihat dari Laju Pertumbuhan Ekonomi yang
menunjukkan angka positif yang secara simultan menyebabkan perekonomian di Kabupaten
Sarolangun mengalami pertumbuhan. Laju Pertumbuhan Ekonomi tahun 2014 cukup tinggi yaitu
mencapai 8,18 persen.
Di tengah potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional, perekonomian Kabupaten
Sarolangun pada tahun 2016, diperkirakan masih mengalami perkembangan yang cukup baik.
Perekonomian Kabupaten Sarolangun tahun 2016 diperkirakan tumbuh positif, lebih tinggi dibanding
capaian tahun sebelumnya. Prospek perekonomian Kabupaten Sarolangun diperkirakan akan
tumbuh pada kisaran 8,10-8,20 persen. Prospek yang masih positif ini ditopang oleh pertumbuhan
konsumsi rumah tangga dan investasi sejalan dengan membaiknya ekspektasi pelaku usaha terhadap
kondisi perekonomian Kabupaten Sarolangun.
3.1.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2016
Kondisi perekonomian Kabupaten Sarolangun tahun 2016 baik secara langsung maupun tidak
langsung akan dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan eksternal dan internal. Selain itu juga,
perekonomian Kabupaten Sarolangun sangat dipengaruhi oleh kebijakan perekonomian nasional
seperti yang menyangkut kebijakan sektor moneter dan sektor riil, kondisi internasional seperti
pengaruh harga minyak dunia dan nilai tukar mata uang dan regional.
Berdasarkan kondisi tersebut, faktor eksternal yang mempengaruhi perekonomian Kabupaten
Sarolangun tahun 2016 antara lain adalah liberalisasi perdagangan dan kebijakan investasi bagi
negara berkembang, kebijakan fiskal dan moneter nasional, terbatasnya keuangan negara.
Sedangkan lingkungan internal antara lain adalah kondisi infrastruktur dan suprastruktur yang
kurang merata, lambatnya laju pertumbuhan investasi atau penanaman modal, rendahnya kulitas
sumber daya manusia, terjadinya defisit anggaran yang terus berlanjut.
Dengan melihat kondisi yang telah dicapai pada tahun 2014 dan perkembangan yang terjadi
serta permasalahan pada 2015 maka tantangan yang dihadapi Kabupaten Sarolangun pada tahun
2016, yaitu:
1. Mendorong dan menjaga stabilitas perekonomian daerah, dengan upaya meningkatkan investasi
daerah, pengembangan industri berbasis pertanian, menyiapkan dana bagi kredit modal kerja
bagi koperasi, usaha kecil dan menengah.
2. Mempercepat pengurangan pengangguran dan kemiskinan dengan tetap melaksanakan programprogram pola pemberdayaan dan program pengembangan kapasitas SDM bagi masyarakat.
3. Meningkatkan program pelayanan dasar bagi masyarakat terutama di bidang pendidikan dan
kesehatan.
Berdasarkan kondisi eksternal dan internal yang mempengaruhi perekonomian Kabupaten
Sarolangun, prospek ekonomi tahun 2016 antara lain adalah sebagai berikut :
1. Membaiknya Kesejahteraan Rakyat Melalui Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas
Berdasarkan berbagai kebijakan ketenagakerjaan yang diarahkan untuk menciptakan dan
pemerataan lapangan kerja yang lebih luas seperti pada perbaikan iklim tenaga kerja, serta
pelaksanaan
kebijakan
diberbagai
bidang,
diharapkan
akan
mendorong
tercapainya
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu dengan kisaran sebesar 8.10 – 8.20 atau lebih
pada tahun 2016. Selain itu pengangguran terbuka diharapkan menurun menjadi 1 % dari total
angkatan kerja. Peningkatan penciptaan kesempatan kerja yang cukup besar diharapkan terjadi
di Sektor Pertanian terutama pada Sub Sektor Perkebunan, Sektor Pertambangan dan
Penggalian, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran.
Sejalan dengan menurunnya tingkat pengangguran serta dengan dilaksanakannya
berbagai program untuk mengatasi kemiskinan maka jumlah penduduk miskin diharapkan
menurun dengan kisaran menjadi 2 - 3 % dari jumlah penduduk tahun 2016.
2. Tercapainya Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas dan Berkesinambungan
Pertumbuhan konsumsi masyarakat tahun 2016 diperkirakan masih tetap tinggi
dibandingkan dengan tahun 2015. Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi terutama didorong
oleh sektor pengolahan industri non migas, dimana pendorong utamanya diharapkan dari
industri makanan, minuman dan tembakau, tekstil, barang, Kulit dan alas kaki, barang kayu dan
hasil hutan lainnya, kertas dan barang cetakan, barang dari logam, mesin dan peralatannya. Di
Sektor Produksi ini memiliki nilai tambah yang diharapkan dalam penyerapan tenaga kerja lebih
besar sehingga dapat mendorong kesempatan kerja yang lebih luas yang akhirnya diharapkan
dapat mengurangi tingkat pengangguran
di tahun 2016.
Sementara itu sektor pertanian dalam arti luas terutama didorong oleh sub sektor
tanaman bahan makanan, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya, sub sektor kehutanan, dan
sub sektor perikanan, serta diharapkan pada sub sektor tanaman perkebunan dapat tumbuh
positif.
3. Tercapainya Stabilitas Ekonomi Yang Mantap
Stabilitas ekonomi yang mantap selama tahun 2016, merupakan persyaratan penting
untuk tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan, akan terus dijaga.
Stabilitas ini ditandai dengan kecenderungan inflasi yang stabil dan terus menurun dari tahun ke
tahun. Semakin terbukanya perekonomian yang ditandai dengan meningkatnya ekspor impor
akan meningkatkan pasokan barang konsumsi dan produksi.
4. Tercapainya Peningkatan Kemandirian Fiskal Daerah
Dengan semakin menurunnya peranan pemerintah pusat dalam memberikan dukungan
pada keuangan daerah tampakya telah menuntut setiap daerah untuk lebih kreatif dalam upaya
meningkatkan nilai tambah PDRB yang akan memberikan konsekuensi logis bagi peningkatan
potensi penerimaan asli daerah yang dapat digali. Pengembangan kreatifitas tersebut tentunya
harus tetap memeperhatikan normatif yang ada sehingga upaya untuk menuju kemandirian
fiskal daerah tidak menimbulkan implikasi yang negatif pada kelangsungan dunia usaha dan
kelestrian lingkungan hidup, baik dalan jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang.
Kondisi stabilitas ekonomi makro, seperti kestabilan nilai tukar rupiah, tingkat inflasi yang
rendah dan kestabilan suku bunga dalam negeri akan mempengaruhi prospek perekonomian
Kabupaten Sarolangun tahun 2016. Dengan perkiraan relatif stabilnya nilai tukar rupiah
diperkirakan akan berada pada rentang Rp. 12.800 – 13.200 per USD dan menurunnya suku
bunga dalam negeri serta dukungan efektivitas kebijakan moneter yang hati-hati, maka laju
inflasi diperkirakan akan berada pada kisaran 3,0 – 5,0 persen. Sedangkan dibidang investasi
pada tahun 2016 diharapkan terjadinya peningkatan dengan diupayakan bersumber dari
masyarakat terutama swasta, dan pemerintah.
Dibidang perkreditan, prospek kondisi perbankan di Kabupaten Sarolangun diharapkan
masih mampu meningkatkan ekspansinya usaha khusus dalam pemberian kredit kepada
masyarakat, pemberian kredit kepada UKM hendaknya pada tahun 2016 diharapkan dapat lebih
ditingkatkan.
3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
Pada dasarnya kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah diarah untuk menggali
Pendapatan Asli Daerah yang sesuai dengan prinsip kehati-hatian, intensifikasi dana perimbangan
dan pengembangan pembiayaan pembangunan yang menggunakan sumber-sumber dana lainnya
yang sah, untuk dapat membiayai berbagai program dan kegiatan pembangunan di Kabupaten
Sarolangun, baik itu untuk membiayai belanja tidak langsung maupun biaya langsung, yang
bertujuan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah Pemerintah Kabupaten Sarolangun masih
tergantung pada dana yang diperoleh dari Pemerintah Pusat yang berupa Dana Alokasi Umum
(DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dana dalam bentuk subsidi lainnya dari Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Provinsi. Hal ini dapat dikatakan bahwa keuangan daerah masih didominasi oleh Pusat,
walaupun pada setiap tahunnya Pendapatan Asli Daerah mengalami peningkatan, namun kontribusi
PAD terhadap jumlah total APBD masih minim, yang mana dapat mempengaruhi dalam penentuan
kebutuhan daripada belanja daerah. Selain itu juga, Pemerintah Pusat memberikan batasan-batasan
atas penggalian sumber-sumber PAD oleh Daerah, sedangkan kestabilan jumlah pendapatan yang
bersumber dari transfer pusat yang diterima oleh daerah pada setiap tahunnya tidak pasti.
Untuk itu, dalam rangka memenuhi anggaran yang diperuntukkan membiayai baik itu belanja
tidak langsung maupun belanja langsung ditentukan oleh adanya ketersediaan dari pendapatan
daerah, sehingga dari seluruh rencana yang ada pada dokumen perencanaan untuk periode satu
tahun dapat dicapai, oleh karena itu perlu ditetapkan arah kebijakan dibidang pengelolaan keuangan
daerah.
Arah kebijakan pengelolaan daerah ini dimaksudkan agar seluruh sumber daya keuangan
daerah dapat dimanfaatkan secara lebih efisien, efektif, ekonomis, tansparan dan akuntabel.
Adapun arah kebijakan di bidang pengelolaan keuangan daerah tersebut mencakup yakni arah
kebijakan pendapatan daerah, arah kebijakan pembiayaan daerah dan arah kebijakan belanja
daerah.
3.2.1. Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan
Asumsi yang mendasari penetapan target pencapaian pendapatan daerah adalah kondisi
perekonomian baik secara nasional maupun regional selama tahun 2016 diperkirakan cukup stabil
dan kondusif.
Pendapatan Daerah menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 dikelompokkan
atas: a) PAD, yaitu pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. PAD pada umumnya terdiri dari pajak daerah,
retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan asli daerah
yang sah; b) Dana Perimbangan, yaitu dana yang bersumber dari dana penerimaan Anggaran
Pendapatan dan belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai
kebutuhan daerah. Dana perimbangan terdiri dari dana bagi hasil pajak/ bagi hasil bukan pajak, dana
alokasi umum, dan dana alokasi khusus; c) Lain-lain pendapatan daerah yang sah meliputi hibah,
dana darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota, dana penyesuaian dan
otonomi khusus, serta bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya.
Adapun realisasi dan target/proyeksi pendapatan daerah dari tahun 2013 sampai dengan 2016
dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel. 3.2
Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Daerah
Kabupaten Sarolangun Tahun 2013 s.d 2016
Jumlah
Realisasi
No
Realisasi
Uraian
Proyeksi/Target
Tahun
Tahun
Tahun
Tahun
2015
1
1.1
2
Pendapatan Asli Daerah
2013
2014
2
3
2016
4
5
31.307.607.303,24
60.959.222.149,36
77.734.794.414,96
64.282.000.246,79
10.158.779.587,00
11.643.860.442,25
22.224.500.000,00
10.887.500.000,00
1.1.2 Retribusi Daerah
6.692.764.958,00
7.780.550.911,00
3.792.321.370,00
2.990.810.000,00
1.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan
3.222.952.777,01
2.712.169.311,00
3.067.546.746,00
3.067.546.746,79
11.233.109.981,23
38.822.641.485,11
48.650.426.298,96
47.336.143.500,00
724.073.803.681,00
710.680.263.000,00
819.897.078.000,00
1.1.1 Pajak Daerah
1.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli
Daerah yang Sah
1.2
Dana Perimbangan
699.842.307.290,00
1.2.1 Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi
Hasil Bukan Pajak
181.278.559.290,00
163.645.851.064,00
125.298.135.000,00
125.298.135.000,00
1.2.2 Dana Alokasi Umum
472.596.098.000,00
513.112.012.617,00
517.687.718.000,00
587.491.363.000,00
1.2.3 Dana Alokasi Khusus
45.967.650.000
47.315.940.000
67.694.410.000,00
107.107.580.000,00
91.771.381.343,50
108.467.129.906,00
205.170.165.639,00
242.823.325.982,00
1.3.1 Hibah
-
-
1.3.2 Dana Darurat
-
-
-
1.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari
Provinsi dan Pemerintah
Daerah Lainnya
28.619.331.000
39.653.357.906,00
37.127.724.639,00
33.841.333.981,00
1.3.4 Dana Penyesuaian dan
Otonomi Khusus
52.764.245.000
58.813.772.000,00
119.564.441.000,00
170.503.992.000,00
10.387.805.343,50
10.000.000.000
10.000.000.000
-
822.921.295.936,74
893.500.155.736,36
993.585.223.053,96
1.127.002.404.228,7
9
1.3
Lain-lain Pendapatan Daerah
yang Sah
1.3.5 Bantuan Keuangan dari
Provinsi atau Pemerintah
Daerah Lainnya
Jumlah Pendapatan Daerah
38.478.000.000,00
38.478.000,00
Dari tabel 3.2. memperlihatkan bahwa kecenderungan realisasi dan proyeksi/target
pedapatan daerah Kabupaten Sarolangun tahun 2013 s.d 2016 terdapat peningkatan. Capaian
realisasi pendapatan selama kurun waktu anggaran tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 dan
penetapan target tahun 2015 serta proyeksi/target tahun 2016 didukung oleh kondisi ekonomi
regional yang stabil dan keberhasilan dalam melakukan upaya-upaya intensifikasi dalam
meningkatkan pendapatan daerah cukup baik. Namun demikian, dalam peningkatan pendapatan
sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi masyarakat, perlu ada upaya-upaya peningkatan
pendapatan yang lebih intens dilakukan disertai dengan peningkatan pelayanan publik serta upaya
intensifikasi/ekstensifikasi yang lebih baik lagi, sehingga diharapkan proyeksi pada tahun 2016
memungkinkan tercapainya realisasi pendapatan daerah sesuai dengan proyeksi yang telah
direncanakan.
Peningkatan pendapatan daerah didukung oleh semakin baiknya aktifitas perekonomian di
Kabupaten Sarolangun, disamping itu juga terdapat pos-pos penerimaan baru seperti dari Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang telah
menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. Jika dibandingkan target tahun 2015 hanya
mencapai sebesar Rp. 993.585.223.053,96-, dan pada tahun 2016 proyeksi/target total pendapatan
daerah mengalami peningkatan menjadi sebesar
Rp.
1.127.002.404.228,79. Pendapatan daerah Tahun 2016 ini telah mempertimbangkan peningkatan
penerimaan dari sektor pajak yang mengalami kenaikan tarif sesuai dengan Undang-Undang 28
Tahun 2009 dan dana perimbangan bagi hasil pajak dari BPHTB yang harus dialih-kelolakan kepada
Kabupaten serta bersumber dari lain-lain pendapatan daerah yang sah.
3.2.2. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah
Pendapatan Daerah merupakan unsur penting dalam penyediaan kebutuhan belanja daerah,
untuk itu diharapkan dapat terus mengalami kenaikan sejalan dengan meningkatnya belanja untuk
pemenuhan kebutuhan pelayanan masyarakat. Upaya meningkatkan Pendapatan Daerah harus
diupayakan untuk menghindari penerimaan daerah yang dapat menambah beban bagi masyarakat.
Arah kebijakan pendapatan daerah lebih difokuskan kepada upaya peningkatan kemampuan
keuangan daerah dalam menggali sumber–sumber pendapatan daerah. Peningkatan ini diperlukan
untuk menjaga kesinambungan pelayanan publik (sustainability public service) dan upaya
pencapaian kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya pendapatan daerah yang dianggarkan dalam
APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber
pendapatan.
Sumber–sumber pendapatan daerah berasal dari penerimaan pendapatan asli daerah,
penerimaan dana perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Pendapatan asli daerah
merupakan porsi pendapatan yang secara hukum dan upaya diperoleh melalui usaha yang dilakukan
oleh pemerintah daerah. Melalui kreatifitas dan inovasi yang konstruktif dari pemerintah daerah,
pendapatan asli daerah diharapkan dapat meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan kondisi dan
potensi yang ada.
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi yang terdiri dari Dana Bagi
Hasil, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus.
Adapun arah kebijakan pendapatan daerah dalam rangka mendukung pengelolaan anggaran
pendapatan daerah antara lain adalah :
1. Meningkatkan sumber penerimaan daerah melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan
pajak dan retribusi daerah.
2. Peninjauan kembali Peraturan Daerah yang terkait dengan pengelolaan pendapatan
3. Mengoptimalkan peningkatan penerimaan daerah yang berasal dari sumber-sumber Pendapatan
Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
4. Peningkatan kemampuan keuangan daerah dalam menggali potensi sumber–sumber
pendapatan daerah secara optimal berdasarkan kewenangan dan potensi yang dimiliki dengan
tetap mengutamakan peningkatan pelayanan dan kemampuan masyarakat.
5. Mendayagunakan aset-aset daerah yang lebih potensial untuk dijadikan sumber pendapatan.
6. Meningkatkan manajemen atau pengelolaan keuangan daerah yang lebih mengarah pada azas
efisiensi dan efektifitas.
7. Meningkatkan efisiensi pengelolaan APBD baik dari sisi penerimaan, belanja maupun
pembiayaan.
8. Meningkatkan dan memperbaiki infrastruktur sarana dan prasarana umum yang secara langsung
dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan daerah khususnya PAD.
9. Meningkatkan peranserta masyarakat dan sektor swasta, baik dalam pembiayaan maupun
pelaksanaan pembangunan.
10. Meningkatkan kerjasama dengan investor dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan
daerah.
11. Meningkatkan penyederhanaan administrasi pengelolaan pendapatan daerah melalui pelayanan
satu atap untuk meningkatkan kualitas pelayanan perizinan yang pada gilirannya dapat
meningkatkan pendapatan daerah.
12. Meningkatkan pengawasan dan evaluasi secara rutin dan berkelanjutan serat berjenjang yang
dimulai dari tingkat bawah atau wajib pajak dan wajib retribusi.
13. Meningkatkan administrasi penerimaan pendapatan daerah untuk menjamin agar semua
pendapatan daerah dapat terkumpul dengan baik.
Penetapan kebijakan diatas, dimaksudkan agar pendapatan daerah yang ditargetkan
kenaikannya dapat tercapai, sehingga diharapkan dapat terwujudnya stabilitas fiskal daerah
terutama dalam memberikan ketersediaan sumber pembiayaan dalam menjaga kelancaran
penyelenggaraan pemerintahan daerah dan peningkatan kualitas pelayanan pada masyarakat.
Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah daerah untuk meningkatkan
pendapatan daerah adalah :
1. Peningkatan akurasi data potensi pendapatan dan penggalian sumber-sumber potensi
pendapatan.
2. Mengoptimalkan pendapatan melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi sumbersumber pendapatan tanpa membebani masyarakat.
3. Intensifikasi pendapatan melalu pengawasan dan pengendalian pada sumber-sumber
pendapatan, seperti Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah.
4. Ekstensifikasi pendapatan melalui peningkatan koordinasi dengan berbagai instansi pemerintah
baik ditingkat pusat maupun di provinsi dalam rangka peningkatan sumber-sumber pendapatan
yang berupa Dana Perimbangan yang berasal dari komponen Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi
Khusus, dan Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak.
5. Intensifikasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dilakukan melalui :
a. Penyederhanaan proses administrasi pemungutan dan penyempurnaan sistem pelayanan
pajak dan retribusi daerah
b. Optimalisasi pelaksanaan landasan hukum yang berkaitan dengan penerimaan daerah
c. Sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai ketentuan pajak dan retribusi
daerah
d. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian secara sistematis dan berkelanjutan untuk
mengantisipasi terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan pemungutan oleh aparatur
e. Peningkatan koordinasi dan kerja sama antar unit satuan kerja terkait
f.
Memperkuat basis pajak (hotel, restoran dan hiburan) dengan melibatkan peran serta
masyarakat
g. Melaksanakan tertib penetapan pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak, tertib dalam
pemungutan kepada wajib pajak, tertib dalam administrasi serta tertib dalam penyetoran.
h. Melaksanakan secara optimal pemungutan pajak dan retribusi daerah sesuai dengan potensi
yang obyektif berdasarkan peraturan yang berlaku
6. Ekstensifikasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dilakukan melalui :
a. Pengkajian jenis retribusi baru yang tidak kontra-produktif terhadap perekonomian daerah
b. Pengkajian jenis retribusi yang tidak layak dan perlu dihapus
c. Pengkajian mekanisme pajak/retribusi daerah untuk target group baru
d. Peningkatan bagi hasil pajak
e. Menyusun program kebijaksanaan dan strategi pengembangan dan menggali obyek
pungutan baru yang potensial
7. Meningkatkan kinerja pelayanan publik khususnya dibidang perizinan yakni melalui optimalisasi
tugas pokok dan fungsi serta pemantapan kinerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dalam
rangka penerapan program “one stop service”
8. Meningkatkan pengelolaan BUMD yang efisien dan efektif yang dilakukan melalui :
a. Peningkatan profesionalisme manajemen BUMD melalu restrukturisasi dan revitalisasi
organisasi
b. Perbaikan manajemen BUMD
c. Menumbuhkembangan iklim yang sehat pada BUMD dengan memacu kinerja usaha/laba
perusahaan sehingga mampu memberikan kontribusi optimal bagi pendapatan daerah.
9. Mengoptimalkan pengelolaan asset dan kekayaan daerah agar dapat memberikan nilai tambah
bagi pendapatan daerah melalui profesionalisme manajemen
10. Melaksanakan review terhadap system dan peraturan perundangan yang mengatur pendapatan
daerah terutama yang berkaitan dengan penetapan nilai objek pajak dan retribusi yang sudah
tidak sesuai lagi dengan kondisi dan situasi terkini.
11. Penetapan target pendapatan khususnya yang bersumber dari pajak daerah (pajak hotel,
restoran, hiburan, reklame, penerangan jalan, pengambilan bahan galian golongan C dan pajak
parkir) didukung dengan adanya kesepakatan antara SKPD pengelola dengan pengusaha.
12. Penetapan target pendapatan khususnya yang bersumber dari retribusi daerah (jasa umum, jasa
usaha, dan perijinan tertentu) didukung oleh adanya kesepakatan/ kerjasama operasional baik
antara SKPD penghasil dengan DPPKAD maupun antara Pihak Ketiga dengan DPPKAD.
13. Mengoptimalkan pengelolaan pengeluaran daerah yang didasarkan pada standar analisa
belanja, standar harga, tolok ukur kinerja, dan standar pelayanan minimal serta memperhatikan
prinsip efisiensi dan efektifitas.
14. Meningkatkan koordinasi secara sinergi di bidang pendapatan daerah
15. Dana Perimbangan merupakan bagian dari peningkatan fiskal daerah yang meliputi Dana Alokasi
Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak diproyeksikan
meningkat dengan melalui upaya-upaya sebagai berikut :
a. Mendorong upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PBB, Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri (PPh OPDN), PPh Pasal 21 dan BPHTB).
b. Meningkatkan akurasi data sumber daya alam sebagai dasar perhitungan pembagian dalam
dana perimbangan
c. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Provinsi dalam penetapan bagi hasil
pajak/bagi hasil bukan pajak
3.2.3. Arah Kebijakan Belanja Daerah
Pentingnya peranan belanja daerah sebagai stimulan perekonomian, untuk itu dalam
pengelolaan keuangan daerah harus dapat mengalokasikan kegiatan yang memberikan multiflier
effect yang besar bagi perekonomian. Pengelolaan belanja daerah ditujukan pada peningkatan
proporsi belanja yang memihak kepentingan publik dan stimulan untuk perluasan kesempatan kerja
guna menurunkan angka kemiskinan. Disamping itu tetap harus menjaga eksistensi penyelenggaraan
pemerintahan. Dalam Penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi, efektif,
ekonomis sesuai dengan prioritas, yang diharapkan dapat memberikan dukungan program-program
strategis.
Arah kebijakan belanja daerah di Kabupaten Sarolangun pada tahun anggaran 2016 akan lebih
dipertajam. Anggaran belanja tidak langsung disusun berdasarkan pada tupoksi SKPD yang telah
ditetapkan, prioritas, jumlah personil, banyaknya jumlah sarana prasarana dan jumlah aset yang
dimiliki sedangkan untuk belanja langsung lebih diarahkan dan diprioritaskan untuk program dan
kegiatan prioritas dalam rangka mempercepat target pencapaian pembangunan daerah, mendukung
kegiatan ekonomi daerah dalam memacu pertumbuhan, menciptakan dan memperluas lapangan
kerja, mengurangi kemiskinan, kelancaran penyelenggaraan operasional pemerintahan dan
meningkatkan kualitas fungsi pelayanan kepada masyarakat, perbaikan penghasilan dan
kesejahteraan aparatur daerah, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengadaan barang dan jasa,
perjalanan dinas dan pemeliharaan aset daerah, meningkatkan alokasi belanja modal untuk
mempercepat penyediaan infrastruktur dasar, menyediakan alokasi anggaran untuk pendidikan
dalam rangka memenuhi amanat konstitusi, dan meningkatkan sinkronisasi antara rencana
pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah. Selain itu juga, penggunaan belanja
daerah juga harus dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas kebutuhan dasar masyarakat
(pendidikan, kesehatan, perumahan, dan permukiman), penanggulangan masalah sosial, menjaga
kelayakan fasilitas umum dan
fasilitas sosial.
Selanjutnya, arah pengelolaan belanja daerah berdasarkan pendekatan prestasi kerja yang
berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Hal tersebut bertujuan untuk
meningkatkan akuntabilitas perencanaan Anggaran serta memperjelas efektivitas dan efisiensi
penggunaan Anggaran. Penyusunan belanja daerah diprioritaskan untuk menunjang efektivitas
pelaksanaan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam rangka melaksanakan bidang
kewenangan/urusan pemerintahan daerah yang menjadi tanggung jawabnya.
Alokasi Anggaran belanja yang direncanakan oleh setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah harus
terukur yang diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Belanja daerah diprioritaskan terlebih dahulu untuk belanja yang wajib dikeluarkan
yaitu belanja tidak langsung yang dipergunakan untuk belanja pegawai. Selisih antara belanja wajib
dikeluarkan merupakan dana yang dialokasikan sebagai pagu indikatif dari masing-masing SKPD.
Kebijakan belanja daerah yang dianggarkan dalam APBD Tahun Anggaran 2016 dibagi atas
belanja tidak langsung dan belanja langsung yang diupayakan dengan pengaturan pembelanjaan
yang lebih proporsional, efisien dan efektif, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung adalah belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung
dengan pelaksanaan program dan kegiatan, kebijakan untuk belanja ini adalah :
1). Belanja Pegawai
(1) Mengalokasikan belanja yang wajib/mengikat untuk gaji pokok dan tunjangan PNSD,
gaji dan tunjangan jabatan struktural/fungsional, pemberian gaji ke-13 dan gaji ke-14.
(2) Mengalokasikan belanja pegawai untuk kebutuhan kenaikan gaji berkala, kenaikan
pangkat, tunjangan keluarga dan mutasi pegawai dengan memperhitungkan acress yang
besarnya maksimum 2,5% (dua koma lima per seratus) dari jumlah belanja pegawai
untuk gaji pokok dan tunjangan.
(3) Mengalokasikan belanja penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi Kepala Daerah/Wakil
Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota DPRD serta PNSD.
(4) Mengalokasikan belanja untuk penyelenggaraan jaminan kecelakaan kerja dan jaminan
kematian bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota DPRD serta
PNSD.
(5) Mengalokasikan belanja untuk tunjangan profesi, tambahan penghasilan dan tunjangan
umum bagi PNSD/CPNSD.
(6) Mengalokasikan belanja untuk Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
(7) Mengalokasikan belanja untuk tunjangan profesi guru PNSD dan dana tambahan
penghasilan guru PNSD.
2). Belanja Hibah
Mengalokasikan belanja hibah yang digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah
dalam bentuk uang, barang dan jasa kepada lembaga, organisasi dan kelompok masyarakat
perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya.
3). Belanja Bantuan Sosial
Mengalokasikan belanja bantuan sosial yang digunakan untuk menganggarkan pemberian
bantuan dalam bentuk uang yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pemberian bantuan sosial diberikan kepada kelompok masyarakat perorangan/perorangan
tidak mampu.
4). Belanja Bantuan Keuangan Kepada Pemerintah Desa dan Partai Politik
Mengalokasikan belanja bantuan keuangan kepada pemerintah desa dalam bentuk dana
desa, ADD dan P2DK serta belanja untuk Partai Politik.
5). Belanja Tidak Terduga
Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat
diprediksi sebelumnya, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah, maka dialokasikan
belanja tidak terduga. Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk mendanai kegiatan
yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan terjadi berulang, seperti kebutuhan tanggap
darurat bencana, penanggulangan bencana alam dan bencana sosial, serta pengembalian
atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya.
2. Belanja Langsung
Belanja langsung adalah belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja langsung ini yang terdiri dari belanja pegawai,
belanja barang dan jasa, dan belanja modal yang secara umum diharapkan akan dapat
memenuhi kebutuhan ekonomi dasar masyarakat.
Belanja langsung ini diarahkan kepada urusan pemerintah daerah (urusan wajib dan
urusan pilihan) yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar pada peningkatan
perekonomian daerah, sehingga pilihan pendanaan untuk urusan ini betul-betul memperhatikan
segala potensi dan prospeknya ke depan
Dalam rangka melaksanakan program dan kegiatan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran
2016, kebijakan belanja langsung adalah :
1). Mengalokasikan belanja yang diprioritaskan untuk menunjang efektivitas pelaksanaan
tupoksi SKPD dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan daerah yang menjadi
tanggung jawab dari masing-masing SKPD.
2). Peningkatan alokasi anggaran belanja yang direncanakan oleh setiap Satuan Kerja Perangkat
Daerah harus mempunyai tolok ukur yang jelas serta Spesifict, Measurable, Acceptable,
Reliable, Time (SMART) yang diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan berorientasi
pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
3). Mengalokasikan kebutuhan belanja fixed cost, regular cost, dan variable cost secara terukur
dan terarah, yaitu:
a. Pemenuhan kebutuhan dasar dalam menjamin keberlangsungan operasional kantor
seperti ATK, biaya listrik, telepon, air bersih, BBM, internet, dan service mobil.
b. Mengalokasikan belanja operasional, pemeliharaan kantor dan peningkatan kualitas
sumberdaya aparatur.
c. Pengalokasian kebutuhan belanja kegiatan yang bersifat rutin sebagai pelaksanaan
tupoksi Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang meliputi kegiatan koordinasi, konsultasi,
fasilitasi, sosialisasi, pengendalian, perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan
d. Pengalokasian belanja kegiatan yang mendukung program-program pembangunan yang
menjadi prioritas dan unggulan SKPD, program/kegiatan yang telah menjadi komitmen
Pemerintah Kab Sarolangun (committed budget) yang didasarkan pada pencapaian 5
misi pembangunan Kabupaten Sarolangun.
4). Penajaman belanja daerah dengan skala prioritas pada pengadaan barang dan jasa yang
langsung menyentuh kepentingan dan kebutuhan masyarakat
5). Meningkatkan proporsi belanja modal yang dapat memberi dampak besar dalam
peningkatan ekonomi dan pemberdayaan rakyat
6). Meningkatkan efisiensi dan efektifitas belanja daerah melalui penerapan standar
harga/biaya serta intensifikasi pengawasan baik oleh aparatur pengawasan fungsional
maupun masyarakat
7). Meningkatkan akuntabilitas (accountability) dalam pengelolaan keuangan daerah antara lain
dengan penyusunan Laporan Akuntabilitas oleh setiap Satuan Kerja serta penerapan Sistem
Akuntansi yang sesuai dengan Standart Akuntansi Pemerintah.
Berdasarkan hasil analisis dan perkiraan sumber-sumber pendapatan daerah dan realisasi
serta proyeksi/target pendapatan daerah, dan arah kebijakan belanja daerah selanjutnya realisasi
dan target proyeksi Belanja Daerah pada tahun
2013–2016 dapat dilihat pada Tabel 3.3
sebagai berikut :
Tabel. 3.3.
Realisasi dan Proyeksi Belanja Daerah
Kabupaten Sarolangun Tahun 2013 s.d Tahun 2016
Jumlah
No
Uraian
1
Realisasi Tahun
Realisasi Tahun
Tahun
2013
2014
2015
Proyeksi/Target
2016
4
5
6
2
2.1
BELANJA TIDAK
LANGSUNG
366.979.805.620,00
384.750.326.171,27
513.261.907.770,50
616.869.997.617,00
2.1.1
Belanja Pegawai
291.220.275.940,00
320.905.448.486,27
406.096.889.198,50
441.579.499.539,00
2.1.2
Belanja Bunga
-
2.1.3
Belanja Subsidi
-
2.1.4
Belanja Hibah
28.944.142.869,00
19.808.715.400,00
4.316.600.000,00
15.853.767.650,00
2.1.5
Belanja Bantuan
Sosial
7.118.690.000,00
4.036.190.650,00
3.216.069.040,00
200.000.000,00
2.1.6
Belanja Bagi Hasil
Kepada Kabupaten
dan Pemerintahan
Desa
2.1.7
Belanja Bantuan
Keuangan kepada
Kabupaten dan
Pemerintahan Desa
dan Partai Politik
38.939.617.711,00
39.545.971.635,00
97.131.465.232,00
157.505.539.629,00
2.1.8
Belanja Tidak
Terduga
757.079.100,00
454.000.000,00
2.500.884.300,00
1.731.190.799,00
B
JUMLAH
BELANJA
410.909.780.389,00
457.085.195.739,00
629.723.546.807,48
573.505.660.025,00
LANGSUNG
2.2
Belanja Langsung
2.2.1
Belanja Pegawai
2.2.2
2.2.3.
C
77.570.258.313,00
85.747.513.634,00
100.666.722.778,00
100.846.697.968,00
Belanja Barang dan
Jasa
133.842.235.322,00
142.728.727.129,00
233.621.959.798,21
201.695.274.404,00
Belanja Modal
199.497.286.754,00
228.608.954.976,00
295.434.864.231,27
270.963.687.653,00
1.142.985.454.577,98
1.190.375.657.642,00
TOTAL JUMLAH
BELANJA
777.889.586.009,00
841.835.521.910,27
Total Belanja Daerah pada Tahun 2016 diproyeksikan sebesar
1.190.375.657.642,00 yang terdiri dari Belanja Tidak Langsung sebesar
Rp.
Rp.
616.869.997.617,00 dan Belanja Langsung sebesar Rp. 573.505.660.025,00. Pengeluaran Belanja
Daerah untuk Belanja Tidak Langsung difokuskan untuk membiayai Gaji dan Tunjangan Pegawai yang
berjumlah Rp. 441.579.499.539,00, Belanja Hibah sebesar Rp. 15.853.767.650,00, Belanja Bantuan
Sosial Rp. 200.000.000,00, Belanja Bantuan Keuangan kepada Kabupaten dan Pemerintahan Desa
dan Partai Politik Rp. 157.505.539.629,00 dan Belanja Tidak Terduga sebesar Rp. 1.731.190.799,00.
Jika dibandingkan dengan Tahun 2015 total Belanja Daerah terjadi peningkatan dimana total Belanja
Daerah hanya mencapai sebesar Rp. 1.142.985.454.577,98 di tahun 2015.
3.2.4. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah
Pembiayaan daerah meliputi penerimaan daerah dan pengeluaran daerah. Kebijakan
pembiayaan yang timbul karena jumlah pengeluaran lebih besar daripada penerimaan sehingga
terdapat defisit. Pembiayaan merupakan seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik itu
penerimaan maupun pengeluaran yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam
penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan
surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari Sisa Lebih Perhitungan
Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA), Pencairan Dana Cadangan, Hasil Penjualan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan, Penerimaan Pinjaman Daerah, Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman, dan
Penerimaan Piutang Daerah.
Arah kebijakan pembiayaan daerah diarahkan untuk mengatasi kondisi keuangan daerah
Kabupaten Sarolangun pada tahun 2016. Optimalisasi sumber penerimaan pembiayaan yang paling
mungkin untuk dapat dilakukan secara cepat untuk menutupi defisit adalah dari Sisa Lebih
Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya (SiLPA).
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa Pendapatan Daerah pada Tahun 2016
diproyeksikan sebesar Rp. 1.127.002.404.228,79,- sementara itu Belanja Daerah di proyeksikan
sebesar Rp. 1.190.375.657.642, sehingga terjadi Defisit sebesar Rp. 63.373.253.413,21. Untuk
mengatasi masalah ini defisit anggaran akan ditutup dari selisih penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan daerah yang berupa pembiayaan neto. Penerimaan Pembiayaan Daerah
direncanakan memperoleh tambahan dari Sisa Lebih Perhitungan Tahun Anggaran Sebelumnya
(SiLPA) diproyeksikan sebesar Rp. 71.635.253.413,21, sementara Pengeluaran Pembiayaan
direncanakan sebesar Rp. 8.262.000.000,00, maka dengan demikian terdapat sisa penerimaan
Pembiayaan sebesar Rp. 63.373.253.413,21 yang dipergunakan untuk menutupi defisit anggaran
pada Tahun 2016.
Arah kebijakan pengeluaran daerah diarahkan antara lain digunakan untuk penyertaan
modal (investasi) daerah. Pengeluaran Pembiayaan daerah yang direncanakan digunakan untuk
penyertaan modal (investasi) daerah sebesar Rp. 8.262.000.000,- yang dialokasikan untuk Bank
Jambi sebesar Rp. 5.262.000.000,-. dan PDAM sebesar Rp. 3.000.000.000,-.
Adapun realisasi Tahun 2013–2015 dan proyeksi/target Pembiayaan Daerah pada tahun
2016 dapat dilihat pada tabel 3.4.
Tabel. 3.4.
Realisasi dan Proyeksi Pembiayaan Daerah
Kabupaten Sarolangun Tahun 2013 s.d Tahun 2016
Jumlah
No
1
Jenis Penerimaan dan
Pengeluaran
Pembiayaan Daerah
2
3.1
Penerimaan
Pembiayaan
3.1.
1
Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran Tahun
Anggaran Sebelumnya
(SiLPA)
3.1.
2
Realisasi Tahun
Realisasi
2013
Tahun 2014
4
5
Tahun 2015
Proyeksi/Target
Tahun 2016
6
6
86.232.362.770,19
121.235.597.697,93
161.400.231.524,02
71.635.253.413,21
Pencairan Dana Cadangan
-
-
-
-
3.1.
3
Hasil Penjualan Kekayaan
Daerah Yang Dipisahkan
-
-
-
-
3.1.
4
Penerimaan Pinjaman
Daerah
-
-
-
-
3.1.
5
Penerimaan Kembali
Pemberian Pinjaman
-
-
-
-
3.1.
6
Penerimaan Piutang
Daerah
--
--
-
-
JUMLAH PENERIMAAN
PEMBIAYAAN
3.2
Pengeluaran Pembiayaan
86.232.362.770,19
121.235.597.697,93
161.400.231.524,02
48.918.228.613,21
3.2.1
Pembentukan Dana
Cadangan
3.2.2
Penyertaan Modal
(Investasi) Daerah
3.2.3
Pembayaran Pokok Utang
3.2.4
Pemberian Pinjaman
Daerah
JUMLAH PENGELUARAN
PEMBIAYAAN
-
10.000.000.000,00
-
11.500.000.000,00
28.475.000,00
10.028.475.000,00
12.000.000.000,00
-
-
11.500.000.000,00
12.000.000.000,00
8.262.000.000,00
8. 262.000.000,00
Realisasi pembiayaan daerah dalam kurun waktu 2013-2014 dan target tahun 2015 serta
proyeksi/target tahun 2016, memperlihatkan bahwa penerimaan pembiayaan selama ini hanya
bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya (SiLPA). Besaran SiLPA yang
relatif besar ini terutama disebabkan adanya pelampauan penerimaan PAD, sisa penghematan
belanja atau akibat lainnya, dan sisa belanja DAK.
BAB IV
PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
Prioritas dan sasaran pembangunan daerah Kabupaten Sarolangun tahun 2016 disusun
sebagai penjabaran pelaksanaan tahun kelima atau tahun terakhir dari RPJMD tahun 2011-2016.
Penyusunan prioritas dirumuskan berdasarkan isu strategis hasil evaluasi pencapaian kinerja
pembangunan dan proyeksi pencapaian kinerja, masalah dan tantangan pembangunan merujuk
pada prioritas pembangunan nasional sebagaimana termuat dalam RKP dan RKPD Propinsi Jambi.
4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan
Tujuan dan sasaran pembangunan Kabupaten Sarolangun yang hendak dicapai pada tahun
2016 mengacu pada visi melalui pelaksanaan misi yang telah ditetapkan dalam RPJMD Tahun 20112016. Tujuan dan sasaran yang
urusan
dijalankan akan memberikan arah bagi pelaksanaan setiap
pemerintahan daerah baik yang merupakan urusan wajib maupun
urusan pilihan.
Dalam upaya untuk mewujudkan visi dan misi yang dijabarkan dalam tujuan dan sasaran
pembangunan daerah dan dijabarkan dalam pelaksanaan tahunannya melalui indikator kinerja
daerah yang mana prioritas pembangunan daerah diimplementasikan ke dalam program dan
kegiatan.
Berikut disajikan hubungan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan untuk 5 (lima) tahun
yang diambil dari RPJMD Kabupaten Sarolangun Tahun 2011-2016 dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1.
Hubungan Visi/Misi dan Tujuan/Sasaran Pembangunan
VISI : SAROLANGUN LEBIH MAJU DAN SEJAHTERA
No
Misi
Tujuan
Sasaran
1.
Meningkatkan
Infrastruktur Pelayanan
Umum
1. Mewujudkan
keserasian
pembangunan infrastruktur
dan tata ruang wilayah
1. Meningkatkan kualitas
dan
ketersediaan
infrastruktur
dasar
pelayanan
umum,
pemerintahan,
perekonomian,
dan
sosial budaya
1. Percepatan
ProgramProgram Pro Rakyat
Terutama Pro Poor, Pro
Job, Pro Growth dan Pro
Environment.
2.
Meningkatkan
Perekonomian
Masyarakat Dan Daerah
2. Meningkatkan
keserasian
penataan ruang wilayah
1. Mewujudkan perekonomian
yang
tangguh,
berbasis
potensi
lokal
dan
berwawasan lingkungan.
2.
Peningkatan dan revitalisasi
Sektor Pertanian, Perikanan,
Peternakan, Kehutanan dan
Perkebunan.
2.
Peningkatan
dan
revitalisasi
Sektor
Pertanian, Perikanan,
Peternakan, Kehutanan
dan Perkebunan.
3.
Peningkatan
kualitas
lingkungan
dan
sumberdaya
alam
dalam
rangka
pembangunan
yang
Berkelanjutan
dan
Berwawasan
Lingkungan.
4.
Menumbuh
Kembangkan Daya Saing
Daerah.
3.
Meningkatkan
Kualitas
Sumber Daya Manusia
1. Meningkatnya
kualitas
sumberdaya manusia yang
sehat, produktif, berilmu
pengetahuan,
berketerampilan,
serta
berbudi pekerti luhur yang
berlandaskan
iman
dan
taqwa.
1. Peningkatan
kualitas
pelayanan pendidikan
umum, kejuruan dan
keagamaan.
2. Peningkatan
kualitas
pelayanan
kesehatan
dan derajat kesehatan
masyarakat.
3. Peningkatan
kualitas
keluarga sejahtera.
4. Peningkatan
kualitas
pemuda,
remaja,
perempuan dan anak.
4.
Meningkatkan Tata Kelola
Pemerintahan Yang Baik
1. Membangun
budaya
organisasi
pemerintahan
yang bersih, peduli dan
professional
1. Meningkatkan kapasitas
kelembagaan
2. Meningkatkan
Kompetensi Aparatur
Pemerintah Daerah
No
Misi
Tujuan
Sasaran
3. Meningkatkan Jaminan
dan Kepastian Hukum
dalam Masyarakat
4. Meningkatkan Kualitas
Pelayanan Publik
5.
Meningkatkan
Tata
Kehidupan
Masyarakat
Yang Agamis, Berbudaya
Dan Harmonis
1. Mewujudkan
masyarakat
Sarolangun yang agamis
harmonis serta menjunjung
tinggi adat istiadat dan
budaya lokal
1. Meningkatkan
Kehidupan Masyarakat
Yang Agamis
2. Meningkatkan
dan
Melestarikan Nilai-Nilai
Adat dan Budaya lokal
dalam kerangka NKRI.
3. Meningkatkan
penanganan terhadap
kelompok masyarakat
penyandang
cacat,
masalah kesejahteraan
sosial
dan
korban
bencana alam.
4. Meningkatkan
Harmonisasi Kehidupan
Antar Umat Beragama
dan Antar Suku serta
kesetaraan gender
4.2. Prioritas Pembangunan
Dengan mengacu pada prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah
(RKP) Tahun 2016 dan prioritas pembangunan Provinsi Jambi yang termuat dalam RKPD Provinsi
Jambi Tahun 2016, serta berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi Tahun 2016, maka
ditetapkan prioritas pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun
pada tahun 2016 adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan Pembangunan Infrastruktur dan Pelayanan Umum
2. Peningkatan Perekonomian Masyarakat dan Daerah
3. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
4. Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik
5. Peningkatan Tata Kehidupan Masyarakat Yang Agamis, Berbudaya Dan Harmonis
Ditetapkannya 5 (lima) prioritas pembangunan daerah diatas pada dasarnya
merupakan gambaran prioritas pembangunan yang telah disesuaikan dan dikaitkan dengan
program pembangunan daerah yang termuat dalam RPJMD Kabupaten Sarolangun Tahun
2011-2016, maka untuk lebih jelasnya keterhubungan antara prioritas pembangunan daerah
dalam RKPD dengan RPJMD yang dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2.
Prioritas Pembangunan Daerah
No
Program Prioritas Tahun Rencana
(RPJMD)
1.
Program Pembangunan Jalan dan Jembatan
2.
Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan
Jembatan
3.
Program Peningkatan Pelayanan Angkutan
4.
Program Pengembangan Angkutan Sungai,
Danau dan Penyeberangan
5.
Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan
Prasarana dan Fasilitas LLAJ
6.
Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu
Lintas
7.
Program Pengembangan dan Pengelolaan
Jaringan Irigasi Rawa dan Jaringan Pengairan
Lainnya
8.
Program Peningkatan Kualitas Jasa Pelayanan
Sarana dan Prasarana Kelistrikan
9.
Program Pengembangan Pengelolaan Air
Minum dan Air Limbah
Prioritas Pembangunan Daerah
(RKPD)
1. Meningkatkan Infrastruktur Pelayanan
Umum
10.
11.
Program Pembangunan Turap/ Talud/
Bronjong
Program Pembangunan Saluran Drainase/
Gorong-Gorong
Program Pengembangan Perumahan Rakyat
12.
13.
Program Pembangunan Infrastruktur
Perdesaan
Program Pembangunan Sarana dan Prasarana
Infrastruktur Perkotaan
14.
15.
16.
17.
18.
No
19.
20.
21.
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana
Aparatur
Program Pengembangan Fasilitas Perparkiran
Program Pengembangan Sarana dan
Prasarana Pertanian
Program Pengembangan Sarana dan
Prasarana BBI Padi dan BBU Holtikultura
Program Prioritas Tahun Rencana
(RPJMD)
Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat
Dalam Membangun Desa
Program Pendidikan Anak Usia Dini
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Sembilan Tahun
Program Pendidikan Menengah
22.
Program Pendidikan Luar Biasa
23.
Program Pendidikan Tinggi
24.
Program Pengadaan, Peningkatan dan
Perbaikan Sarana dan Prasarana
Prioritas Pembangunan Daerah
(RKPD)
25.
Puskesmas/Puskesmas Pembantu dan
Jaringannya
Program Pengadaan, Peningkatan, Sarana
Dan Prasarana Rumah Sakit/ Rumah Sakit
Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit
Mata
26.
Program Pengembangan Destinasi Pariwisata
Program Perencanaan Tata Ruang
27.
28.
1.
2.
3.
Program Peningkatan Industri Kecil dan
Menengah
Program Pengembangan Kewirausahaan dan
Keunggulan Kompetitif UKM
Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan
Koperasi
Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil
Menengah yang Kondusif
4.
5.
Program Pengembangan Lembaga Ekonomi
Pedesaan
Program Peningkatan Keberdayaan
Masyarakat Pedesaan
6.
7.
Program Peningkatan Kesempatan Kerja
8.
Program Perencanaan Pembangunan Daerah
9.
Program Perencanaan Sosial dan Budaya
10.
Program Pembinaan dan Pengembangan
Bidang Ketenagalistrikan
Program Perencanaan Pembangunan
2. Meningkatkan Perekonomian
Masyarakat dan Daerah
11.
Ekonomi
12.
Program Pembinaan, Penyiapan, dan
Penempatan Pemukiman Transmigrasi
13.
Program Peningkatan Perencanaan
Pembangunan Pertanian
Program Peningkatan Ketahanan Pangan
14.
15.
Program Peningkatan Pemasaran Hasil
Produksi Perkebunan
Program Peningkatan Penerapan Teknologi
Pertanian/ Perkebunan
16.
Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian
Program Pengembangan Budidaya Perikanan
17.
18.
19.
20.
21.
Program Pemberantasan dan Pengendalian
Hama Penyakit Ikan
Program Peningkatan Kemampuan Lembaga
Petani
Program Pencegahan dan Penanggulangan
Penyakit Hewan
Program Peningkatan pemasaran Hasil
Produksi Peternakan
Program Pengendalian Pencemaran dan
Perusakan Lingkungan Hidup
22.
23.
No
24.
Program Prioritas Tahun Rencana
(RPJMD)
Program Peningkatan Kualitas dan Akses
Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Prioritas Pembangunan Daerah
(RKPD)
Hidup
25.
Program Perlindungan dan Konservasi
Sumber Daya Alam
Program Perlindungan dan Konservasi
Sumber Daya Hutan
26.
Program Konservasi Keanekaragaman Hayati
Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan
27.
28.
29.
30.
Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang
Pertambangan
Program Perlindungan dan Rehabilitasi
Sumber Daya Perikanan
Program Peningkatan Efisiensi Perda-gangan
Dalam Negeri
Program Peningkatan Kualitas dan
Produktivitas Tenaga Kerja
31.
Program Perlindungan Konsumen Dan
Pengamanan Perdagangan
32.
33.
Program Peningkatan Kemampuan Teknologi
Industri
Program Pengembangan Komoditas Unggulan
Program Diverifikasi Komoditas
34.
Program
Pengembangan
Industri Potensial
Sentra-Sentra
35.
36.
37.
38.
39.
Program Peningkatan dan Pengembangan
Promosi Daerah
Program Peningkatan Iklim dan Realisasi
Investasi
Program Kerjasama Pembangunan
Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama
40.
Investasi
41.
1.
Program Pendidikan Anak Usia Dini
2.
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Sembilan Tahun
3.
Program Pendidikan Menengah
Program Pendidikan Luar Biasa
4.
5.
6.
7.
8.
Program Pendidikan Tinggi
Program Pendidikan Non Formal
Program Pengembangan Budaya Baca dan
Pembinaan perpustakaan
Program Kesejahteraan dan Profesionalisme
Tenaga Pendidik
Program Pengembangan dan Manajemen
Pelayanan Pendidikan
9.
10.
Program Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan
Program Upaya Kesehatan Masyarakat
Program Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat
11.
Program Perbaikan Gizi Masyarakat
12.
Program Pencegahan dan Penanggulangan
Penyakit Menular
13.
14.
Program Peningkatan Keselamatan Ibu
Melahirkan dan Anak
Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan
15.
16.
17.
Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Anak Balita
3. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya
Manusia
No
18.
19.
20.
Program Prioritas Tahun Rencana
(RPJMD)
Prioritas Pembangunan Daerah
(RKPD)
Program Pelayanan Kesehatan Penduduk
Miskin
Program Premi Kesehatan
Program Pengawasan dan Pengendalian
Kesehatan Makanan
Program Obat dan Perbekalan Kesehatan
21.
Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan
22.
Program Pengembangan Lingkungan Sehat
23.
Program Keluarga Berencana
24.
Program
Peningkatan
Kepemudaan
25.
Peran
Serta
Program Peningkatan Pembinaan Pemuda,
Olahraga dan Seni Budaya
26.
27.
Program Peningkatan Kualitas Hidup dan
Perlindungan Perempuan
Program Perlindungan Perempuan dan Anak
Program Peningkatan
Pedesaan
Peran
Perempuan
28.
29.
1.
Program Pelayanan Administrasi Perkantoran
2.
Program Fasilitas Pindah / Purna Tugas PNS
3.
Program Fasilitas Purna Tugas Kepala Desa
4.
Program Pengembangan Sistem Akuntabilitas
Kinerja
Program Peningkatan Kapasitas Lembaga
4. Meningkatkan Tata Kelola
Pemerintahan Yang Baik
5.
Perwakilan Rakyat Daerah
6.
Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan
Kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah
Program Peningkatan Informasi Kepegawaian
Daerah
7.
Program Penataan Administrasi
Kependudukan
8.
Program Penyelenggaraan Manajemen dan
Rekayasa Lalulintas
Program Peningkatan Pengembangan Sistem
Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan
9.
Program Pengembangan Data/ Informasi
Pembangunan Daerah
10.
11.
Program Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan
Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan
Perencanaan Pembangunan Daerah
Program Peningkatan Administrasi
Pemerintahan Daerah
12.
13.
14.
15.
Program Peningkatan Sistem Pengawasan
Internal dan Pengendalian Pelaksanaan
Kebijakan KDH
Program Pengolahan Data dan Informasi
Elektronik
Program Peningkatan, Pengembangan dan
Pembinaan Pengelolaan Keuangan Daerah
Program Pembinaan dan Pengembangan
Aparatur
Program Peningkatan Disiplin Aparatur
16.
17.
18.
Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga
Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan
Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/
Perkebunan Lapangan
Program Peningkatan Kemampuan Sumber
Daya Manusia SAT POL PP
Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya
Aparatur
19.
20.
21.
22.
23.
No
24.
25.
26.
Program Prioritas Tahun Rencana
(RPJMD)
Program Penataan Peraturan Perundang
Undangan
Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan
Hak Asasi Manusia
Program Penataan, Penguasaan, Pemilikan,
Penggunaan Pemanfaatan Tanah
Program Peningkatan Pertamanan,
Kebersihan dan Damkar
27.
Program Pelayanan Publik
28.
29.
Program Peningkatan Pelayanan Angkutan
Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu
Lintas
30.
31.
Program Peningkatan dan publikasi kegiatan
DPRD
Program Layanan pengadaan secara
elektronik (LPSE)
Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang
Prioritas Pembangunan Daerah
(RKPD)
Pertambangan
32.
Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan
Humas dan Protokoler
33.
1.
2.
3.
Program Peningkatan dan Pengembangan
Nilai Keagamaan
Program Pengembangan dan peningkatan
Nilai Budaya
Program Pengelolaan Kekayaan /Keragaman
Budaya
Program Pengembangan Destinasi Pariwisata
4.
5.
6.
7.
8.
Program Pemeliharaan Kantramtibmas dan
Pencegahan Tindak Kriminal
Program Peningkatan Keamanan Dan
Kenyaman Lingkungan
Program Kemitraan dan Pengembangan
Wawasan Kebangsaan
Program Peningkatan Pemberantasan
Penyakit Masyarakat (Pekat)
Program Pencegahan Dini dan
Penanggulangan Korban Bencana Alam
Program Pelayanan dan Rehabilitasi
Kesejahteraan Sosial
9.
10.
Program Kesejahteraan Sosial
Program Peningkatan Peran Serta dan
Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan
Program Pendidikan Politik Masyarakat
11.
12.
13.
5. Meningkatkan Tata Kehidupan
Masyarakat Yang Agamis, Berbudaya
dan Harmonis
Berdasarkan tabel 4.2. Prioritas Pembangunan Daerah diatas, secara lebih rinci dapat
dijelaskan dari masing-masing prioritas pembangunan daerah dalam bentuk program pembangunan
daerah yang diuraikan sesuai dengan urusan yaitu urusan wajib dan urusan pilihan, yang dapat
dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3.
Penjelasan Program Pembangunan Daerah
No
1.
Prioritas
Pembangunan
Meningkatkan
Infrastruktur Pelayanan
Umum
Program/
Pembangunan
Kinerja
SKPD
Indikator
Target
URUSAN WAJIB
Urusan Pendidikan
Program Pendidikan Anak Usia
Dini
Diknas
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas
PAUD yang
terbangun
Setiap
tahun
Unit/
Ruang
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas
PAUD yang
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Tersedianya
sarana
dan
prasarana
bermain
anak
PAUD/TK
Setiap
tahun
ada/tidak
ada
Rasio
ketersediaan
sekolah per penduduk
usia sekolah Tingkat
PAUD Setiap tahun
Per 1.000
pendudu
k usia
PAUD
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas
TK yang
terbangun
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas
TK yang
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Tersedianya
sarana
dan
prasarana
bermain anak Setiap
tahun
ada/tidak
ada
Rasio
ketersediaan
sekolah per penduduk
usia sekolah Tingkat
TK Setiap tahun
Sekolah/
pendudu
k usia TK
Persentase
ruang
kelas TK dalam kondisi
baik Setiap tahun
%
Rasio siswa per ruang
kelas Tingkat TK Setiap
tahun
Siswa/ru
ang
Program Wajib Belajar
Pendidikan Dasar Sembilan
Tahun
Diknas
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas
SD/MI yang
terbangun
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas SD/MI yang
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Rasio
ketersediaan
sekolah per penduduk
usia sekolah Tingkat
SD/MI Setiap tahun
Sekolah/
pendudu
k usia
SD/MI
Persentase
kelas SD/MI
kondisi baik
tahun
ruang
dalam
Setiap
%
Rasio siswa per ruang
kelas Tingkat SD/MI
Setiap tahun
Siswa/ru
ang
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas SMP/MTs yang
terbangun
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas SMP/MTs yang
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Rasio
ketersediaan
sekolah/
penduduk
usia sekolah Tingkat
SMP/MTs
Setiap
tahun
Sekolah
/pendud
uk usia
SMP/MTs
Persentase
ruang
kelas SMP/MTs dalam
kondisi baik Setiap
tahun
%
Rasio siswa per ruang
kelas
Tingkat
SMP/MTs
Setiap
tahun
Siswa/ru
ang
Program Pendidikan
Menengah
Diknas
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas SMA/MA/SMK
yang terbangun Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Sekolah/ ruang
kelas SMA/MA/SMK
yang
terpelihara
Setiap tahun
Unit/rua
ng
Rasio
ketersediaan
sekolah per penduduk
usia sekolah Tingkat
SMA/MA/SMK Setiap
tahun
Sekolah/
pendudu
k usia
SMA/MA
/SMK
Persentase
ruang
kelas SMA/MA/SMK
dalam kondisi baik
Setiap tahun
%
Rasio siswa per ruang
kelas
Tingkat
SMA/MA/SMK Setiap
tahun
Siswa/ru
ang
Jumlah Laboratorium
sekolah
yang
terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Perpustakaan
sekolah
yang
terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Perpustakaan
sekolah
yang
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Rumah dinas
guru/ kepala sekolah
di daerah terpencil
yang
terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Program Pendidikan Luar
Biasa
Diknas
Program Pendidikan Tinggi
Diknas
Urusan Kesehatan
Program Pengadaan,
Peningkatan dan Perbaikan
Sarana dan Prasarana
Puskesmas/Puskesmas
Pembantu dan Jaringannya
Dinkes
Jumlah
Posyandu/
Poskesdes
yang
terbangun
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah
Posyandu/
Poskesdes
yang
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Rasio posyandu per
satuan balita Setiap
tahun
per 1.000
balita
Jumlah
Puskesmas
Rawat
Inap/
Puskesmas Pembantu
yang terbangun Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah
Puskesmas
Rawat
Inap/
Puskesmas Pembantu
yang
terpelihara
Setiap tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Rumah dinas
Dokter/ Bidan Desa di
daerah terpencil yang
terbangun
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Jumlah Rumah dinas
Dokter/ Bidan Desa di
daerah terpencil yang
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Rasio
ketersediaan
Puskesmas Rawat Inap
Per
100.000
pendudu
k
Puskesmas Pembantu
per satuan penduduk
Setiap tahun
Per
100.000
pendudu
k
Program Pengadaan,
Peningkatan, Sarana Dan
Prasarana Rumah Sakit/
Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit
Paru-Paru/Rumah Sakit Mata
RSUD
Jumlah Rumah Sakit
daerah
yang
terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit/rua
ng
Rasio
ketersediaan
Rumah Sakit daerah
per satuan penduduk
Setiap tahun
Per
100.000
pendudu
k
Urusan Pekerjaan Umum
Program Pembangunan Jalan
dan Jembatan
Dinas PU &
PR
Panjang jalan
kabupaten dalam
kondisi baik (> 40
Km/jam) Setiap tahun
Km
Panjang
jalan
kabupaten yang dapat
dilalui kendaraan roda
4 (empat)
Setiap
tahun
Km
Panjang jalan yang
terbangun
Setiap
tahun
Km
Tersedianya jembatan
penyeberangan jalan
Setiap tahun
Jumlah
jembatan
Jembatan/
gantung
Unit
yang terbangun Setiap
tahun
Program Rehabilitasi/
Pemeliharaan Jalan dan
Jembatan
Dinas PU &
PR
Panjang jalan yang
terpelihara
Setiap
tahun
Km
Panjang jalan dua jalur
yang
terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Km
Persentase
panjang
jalan kabupaten dalam
kondisi baik Setiap
tahun
%
Rasio panjang jalan
per satuan kendaraan
per 1.000
unit
Persentase
panjang
jalan per luas wilayah
%
Jumlah
Jembatan/
jembatan
gantung
yang
terpelihara
Setiap tahun
Unit
Persentase Jembatan/
jembatan
gantung
dalam kondisi baik
Setiap tahun
%
Jumlah Box culvert
yang
terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit
Program Pengembangan dan
Pengelolaan Jaringan Irigasi
Rawa dan Jaringan Pengairan
Lainnya
Jumlah
DI/jaringan
irigasi yang terbangun
/ terpelihara Setiap
tahun
Unit
Persentase DI/jaringan
irigasi kondisi baik
Setiap tahun
%
Persentase cakupan
DI/jaringan
irigasi
Setiap tahun
%
Program Pengembangan
Pengelolaan Air Minum dan
Air Limbah
Dinas PU &
PR
Dinas PU &
PR
Persentase
rumah
tangga
yang
menggunakan
air
bersih
perpipaan
Setiap tahun
%
Persentase
desa/kelurahan yang
menikmati air bersih
Setiap tahun
%
Jumlah
kapasitas
Produksi air bersih
Setiap tahun
Liter/deti
k
Jumlah
sambungan
rumah
air
bersih
Setiap tahun
Sambung
an
Panjang jaringan pipa
air bersih
yang
terpasang
Setiap
tahun
Km
Program Pembangunan
Turap/ Talud/ Bronjong
Dinas PU &
PR
Panjang
bronjong
terbangun/
terpelihara
tahun
Turap/
yang
Km
Setiap
Program Pembangunan
Saluran Drainase/ GorongGorong
Dinas PU &
PR
Panjang jalan yang
memiliki trotoar dan
drainase/ saluran
pembuangan air
(minimal 1,5 m) Setiap
tahun
Km
Panjang
drainase
terbangun/
terpelihara
tahun
Km
saluran
yang
Setiap
Program Pengembangan
Perumahan Rakyat
Dinas PU &
PR
Rasio
Pemukiman
layak huni
%
Program Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan
Dinas PU &
PR
Persentase
desa/
kelurahan yang dapat
diakses
dengan
kendaraan
umum
Setiap tahun
%
Jumlah
desa/
kelurahan
yang
memiliki jalan aspal
Setiap tahun
Desa
Program Pembangunan
Sarana dan Prasarana
Infrastruktur Perkotaan
Dinas PU &
PR
Dinas
Taksiman
Program Peningkatan Sarana
dan Prasarana Aparatur
Dinas PU &
PR
Urusan Perencanaan
Pembangunan
Program Perencanaan Tata
Ruang
Tersedianya
RTRK
pada semua wilayah
kota
Tersedianya
perencana
perkotaan
Buah
Bappeda
wilayah
Urusan Perhubungan
Program Peningkatan
Pelayanan Angkutan
Dishubkominf
o
Program Pengembangan
Angkutan Sungai, Danau dan
Penyeberangan
Dishubkominf
o
Tersedianya jembatan
penyeberangan jalan
Setiap tahun
Program Rehabilitasi dan
Pemeliharaan Prasarana dan
Fasilitas LLAJ
Dishubkominf
o
Persentase lampu lalu
lintas dalam kondisi
baik Setiap tahun
Program Pengendalian dan
%
Dishubkominf
Pengamanan Lalu Lintas
o
Pengecatan
marka
jalan Setiap tahun
Km
Jumlah Rambu lalu
lintas yang terpasang
Setiap tahun
Buah
Program Pengembangan
Fasiitas Perparkiran
Dishubkominf
o
URUSAN PILIHAN
Urusan Pertanian
Program Pengembangan
Sarana dan Prasarana
Pertanian
Program Pengembangan
Sarana dan Prasarana BBI Padi
dan BBU Holtikultura
Urusan ESM
Dinas
Pertanian
Panjang jalan produksi
yang
terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Km
Jumlah Jaringan Irigasi
Desa
(JIDES) yang
Terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit
Jumlah Jaringan Irigasi
Tingkat Usaha Tani
(JITUT)
yang
Terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit
Dinas
Pertanian
Program Peningkatan Kualitas
Jasa Pelayanan Sarana dan
Prasarana Kelistrikan
Dinas ESDM
ketersediaan
listrik per KK
daya
Watt/KK
Persentase
rumah
tangga
yang
menggunakan listrik
Setiap tahun
%
Jumlah Jam Padam
Listrik Setiap tahun
Jam
Persentase
desa/kelurahan yang
belum
menikmati
listrik setiap tahun
%
Panjang jaringan listrik
tegangan Menengah
(JTM) yang terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Km
Panjang jaringan listrik
tegangan
Rendah
(JTR) yang terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Km
Jumlah PLTU/ PLTD
yang
Terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit
Persentase
PLTU/
PLTD dalam kondisi
baik Setiap tahun
%
Jumlah PLTS yang
Terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit
Persentase
PLTS
dalam kondisi baik
%
Setiap tahun
2.
Meningkatkan
Perekonomian
Masyarakat dan Daerah
Jumlah PLTMH yang
Terbangun/
terpelihara
Setiap
tahun
Unit
Persentase
PLTMH
dalam kondisi baik
Setiap tahun
%
URUSAN WAJIB
Urusan Perencanaan
Pembangunan
Program Perencanaan
Pembangunan Daerah
Bappeda
Tersedianya dokumen
perencanaan
pembangunan daerah
eks
Program Perencanaan Sosial
dan Budaya
Bappeda
Terkoordinasinya
perencanaan Sosial
dan Budaya
kali
Program Perencanaan
Pembangunan Ekonomi
Bappeda
Terkoordinasinya
Perencanaan
Pembangunan
Ekonomi
kali
Program Peningkatan Iklim
dan Realisasi Investasi
Bappeda
Nilai
investasi
PMDN/PMA
Rupiah
Program Kerjasama
Pembangunan
Bappeda
Program Peningkatan Promosi
dan Kerjasama Investasi
Bappeda
Jumlah
koordinasi
rapat
investasi
Buah
dengan pihak terkait
yang diselenggarakan
setiap tahun
Jumlah
hubungan
kerjasama
investasi
luar
negeri
dan
investasi dalam negeri
setiap tahun
Buah
Frekwensi
pengawasan
dan
pengendalian investasi
setiap tahun
Kali
Frekwensi
Promosi
Penanaman Modal di
Luar Negeri dan di
Dalam Negeri setiap
tahun
Kali
Urusan Lingkungan Hidup
Program Pengendalian
Pencemaran dan Perusakan
Lingkungan Hidup
BLHD
Tersedianya AMDAL
setiap
usaha
pertambangan
dan
penggalian dan energi
setiap tahun
ada/
tidak ada
Persentase
AMDAL
yang
dikeluarkan
setiap tahun
%
Persentase sosialisasi
pencegahan
dan
kepedulian terhadap
lingkungansetiap
tahun
%
Jumlah
Perusahaan
yang
melanggar
aturan
Lingkungan
hidup setiap tahun
Buah
Program Peningkatan Kualitas
dan Akses Informasi Sumber
Daya Alam dan Lingkungan
Hidup
BLHD
Tersedianya
akses
informasi dan promosi
investasi
potensi
sumber daya alam dan
lingkungan
hidup
setiap tahun
ada/
tidak ada
Program Perlindungan dan
Konservasi Sumber Daya Alam
BLHD
Tersedianya Kawasan
Hijau kota, jalur hijau
dan hutan kota setiap
tahun
ada/tidak
ada
Urusan Sosial,
Ketenagakerjaan dan
Ketranstmigrasian
Program Peningkatan
Kesempatan Kerja
Dinas
Sosnakert
rans
Total Pencari
Angkatan Kerja
%
Angka pengangguran
%
Program Peningkatan Kualitas
dan Produktivitas Tenaga
Kerja
Dinas
Sosnakert
rans
Jumlah
tenaga
terampil yang dilatih
BLK setiap tahun
Program operasional dan
pelayanan pemukiman
transmigrasi
Urusan Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa
Orang
Program Pengembangan
Lembaga Ekonomi Pedesaan
BPMPD
Jumlah Kelompok tani
yang
menggunakan
teknologi tepat guna
Kelompo
k
Program Peningkatan
Keberdayaan Masyarakat
Pedesaan
BPMPD
Jumlah desa yang
terbina
Desa
Urusan Pilihan
Urusan Pertanian
Program Peningkatan
Perencanaan Pembangunan
Pertanian
Dinas
Pertanian
Persentase
perencanaan
pembangunan
pertanian
%
- Dinas
Pertanian
- BPP
Program Peningkatan
Ketahanan Pangan
Program
Peningkatan
Pengembangan
Produksi
Jumlah Kelompok tani
yang
menerima
bantuan
pertanian/
saprodi setiap tahun
Kelompo
k
Dinas
Pertanian
Jumlah
bantuan
pertanian/
saprodi
setiap tahun
Kg/Liter/
Ha
Dinas
Pertanian
Luas
tanam
padi
sawah setiap tahun
Hektar
Dinas
Pertanian
Jumlah produksi beras
setiap tahun
Ton/Hekt
ar
Dinas
Pertanian
Dinas
Pertanian
Tanaman
Pangan
Hortikultura
dan
Jumlah
produksi
tanaman pangan dan
hortikultura
Ton/hekt
ar
Program Peningkatan
Penerapan Teknologi
Pertanian
BPP
Frekwensi sosialisasi
penggunaan teknologi
pada
bidang
Pertanian,
Peternakan,
perkebunan
dan
kehutanan
setiap
tahun
keg
Program Pemberdayaan
Penyuluh Pertanian
Program Peningkatan
Kemampuan Lembaga Petani
BPP
Jumlah
tenaga
penyuluh yang dibina
dan dilatih
orang
Frekwensi
rapat
umum/
temu
penyuluh Pertanian,
Peternakan,
perkebunan
dan
kehutanan
setiap
tahun
kali
BPP
Urusan Perkebunan dan
Kehutanan
Program
Peningkatan
pemasaran Hasil Produksi
Perkebunan
Bunhut
Tersedianya tempat
pelayanan informasi
harga dan promosi /
pameran
produk,
perkebunan
setiap
tahun
Tahun
Frekwensi promosi /
pameran
produk,
perkebunan
setiap
tahun
kali
Program Peningkatan Kualitas
Perkebunan dan Kehutanan
Bunhut
Jumlah usaha dan
perizinan perkebunan
usaha
Program Peningkatan
Produksi Perkebunan
Bunhut
Luas lahan
peremajaan
setiap tahun
untuk
karet
hektar
Luas lahan untuk
peremajaan
kelapa
sawit setiap tahun
hektar
Luas kebun
setiap tahun
hektar
entries
Persentase
pertumbuhan
Luas
komoditi
unggulan
lainnya setiap tahun
%
Jumlah
bantuan
Perkebunan/ saprodi
setiap tahun
Bibit/kg
Program Pemanfaatan Potensi
Sumber Daya Hutan
Bunhut
Program Penyuluhan
kehutanan dan Perkebunan
Bunhut
Program Konservasi
Keanekaragaman Hayati
Bunhut
Program Rehabilitasi Hutan
dan Lahan Kritis
Bunhut
Program Perlindungan dan
Pengamanan Hutan dan
Kebun
Bunhut
Program
Bunhut
Pemanfaatan
Kawasan Hutan Industri
Urusan Energi dan
Sumberdaya Mineral
Program Pembinaan Dan
Pengembangan Bidang
Ketenagalistrikan
ESDM
Program Pembinaan Dan
Pengawasan Bidang
Pertambangan
ESDM
Urusan
Perikanan
Peternakan
dan
Program Pencegahan dan
Penanggulangan
Penyakit
Hewan
Diskanak
Frekwensi surveylance
penyakit ternak setiap
tahun
kali
Program Peningkatan
Pemasaran Hasil Produksi
Peternakan
Diskanak
Frekwensi promosi /
pameran produksi
perikanan setiap
tahun
kali
Program Peningkatan
Produksi Hasil Peternakan
Diskanak
Luas
padang
pengembalaan ternak
setiap tahun
hektar
Rasio
padang
pengembalaan ternak
per satuan ternak
setiap tahun
per 1.000
ekor
Jumlah Kelompok tani
yang
menerima
Kelompo
bantuan
Peternakan
tahun
sarana
setiap
Jumlah bantuan bibit
hewan ternak / sarana
produksi setiap tahun
k
ekor
Program Pengendaliaan Dan
Pengawasan Sumber Daya
Perikanan
Diskanak
Persentase
pengendalian dan
pengawasan sumber
daya perikanan
%
Program Pengembangan
Budidaya Perikanan
Diskanak
Program Pemberantasan Dan
Pengendalian Hama Penyakit
Ikan
Diskanak
Program Pemberdayaan SDM
Perikanan
Diskanak
Program Perlindungan/
Konservasi Dan Rehabilitasi
Sumber Daya Perikanan
Diskanak
Program Pengendaliaan Dan
Pengawasan Sumber Daya
Perikanan
Diskanak
Urusan Industri,
Perdagangan, Koperasi dan
UKM
Program
Pengembangan
Industri Kecil dan Menengah
Dinas
Perindagkop
Jumlah klaster industri
tumbuh setiap tahun
Buah
Program
Pengembangan
Kewirausahaan
dan
Keunggulan Kompetitif UKM
Program Penciptaan Iklim
Usaha Kecil Menengah yang
Kondusif
Dinas
Perindagkop
Jumlah peningkatan
wirausahawan mandiri
setiap tahun
Orang
Jumlah
bantuan
peralatan untuk UKMK
setiap tahun
set/unit
Jumlah
Kemitraan
usaha UKMK dengan
usaha skala besar
setiap tahun
Unit
Usaha
Jumlah
bantuan
modal usaha/ Kredit
usaha yang di salurkan
untuk UKMK setiap
tahun
Rupiah
Dinas
Perindagkop
Program Peningkatan Efisiensi
Perdagangan dalam negeri
Dinas
Perindagkop
Program perlindungan
konsumen dan pengamanan
perdagangan
Dinas
Perindagkop
Program
peningkatan
kemampuan teknologi industri
Program
pengembangan
sentra-sentra
industri
potensial
Dinas
Perindagkop
Program Peningkatan Kualitas
Kelembagaan Koperasi
Dinas
Perindagkop
Rasio
ketersediaan
koperasi / UKMK aktif
per satuan penduduk
setiap tahun
Per
100.000
pendudu
k
Persentase
pertumbuhan UKMK/
Koperasi setiap tahun
%
Persentase
peningkatan jumlah
koperasi/UKMK setiap
tahun
%
Jumlah UKM/Koperasi
yang dibina setiap
tahun
Buah
Jumlah
bantuan
peralatan
untuk
UKMK/koperasi setiap
tahun
set/unit
Jumlah
bantuan
modal usaha/ Kredit
usaha yang di salurkan
untuk UKMK/Koperasi
setiap tahun
Rupiah
Jumlah
Kemitraan
usaha
UKMK/
Koperasi
dengan
usaha skala besar
(bapak angkat) setiap
tahun
Unit
Usaha
Persentase Kemitraan
usaha
UKMK/
Koperasi
dengan
usaha skala besar
(bapak angkat) setiap
tahun
%
3.
Meningkatkan Kualitas
Sumber Daya Manusia
Frekwensi promosi /
pameran
produk
UKMK/koperasi setiap
tahun
Kali
Tersedianya tempat
pelayanan informasi
promosi / pameran
produk
UKMK/koperasi setiap
tahun
ada/tidak
ada
Tersedianya laporan
aktivitas
usaha
UKMK/koperasi setiap
tahun
ada/tidak
ada
Frekwensi masyarakat
yang
di
latih
keterampilan kerja/
usaha setiap tahun
Kali
Persentase komoditi
yang
di
hasilkan
UKMK/
Koperasi
setiap tahun
%
Frekwensi
UKMK/
Koperasi yang di latih
keterampilan
pengelolaan limbah
industri setiap tahun
Kali
URUSAN WAJIB
Urusan Pendidikan
Program Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD)
Diknas
Program
wajib
pendidikan dasar
tahun
Diknas
belajar
sembilan
Program
menengah
Pendidikan
Diknas
Program Pendidikan tinggi
Program
Formal
Pendidikan
Non
Diknas
Program peningkatan mutu
pendidik
dan
tenaga
kependidikan
Diknas
Program manajemen
pelayanan pendidikan
Diknas
Urusan Kesehatan
Program upaya kesehatan
masyarakat
Dinkes
Program Promosi kesehatan
dan pemberdayaan
masyarakat
Dinkes
Program perbaikan gizi
masyarakat
Dinkes
Program pencegahan dan
penanggulangan
penyakit
menular
Dinkes
Program peningkatan
keselamatan ibu melahirkan
dan anak
Dinkes
Program peningkatan
Dinkes
pelayanan kesehatan lansia
Program pelayanan kesehatan
penduduk miskin (Jaminan
Kesehatan)
Dinkes
Program pengawasan dan
pengendalian
kesehatan
makanan
Dinkes
Program obat dan perbekalan
kesehatan
Dinkes
Program standarisasi
pelayanan kesehatan
Dinkes
Program pengembangan
lingkungan sehat
Dinkes
Program standarisasi
pelayanan kesehatan
Dinkes
Program Pengadaan,
Peningkatan dan Perbaikan
Sarana dan Prasarana
Puskesmas/Puskesmas
Pembantu dan Jaringannya
Dinkes
Program Pengadaan,
Peningkatan, Sarana Dan
Prasarana Rumah
Sakit/Rumah Sakit
Jiwa/Rumah Sakit ParuParu/Rumah Sakit Mata
RSUD
Program Penyelenggaraan
Badan Layanan Umum Daerah
RSUD
Urusan Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan
Anak
Program Peningkatan Kualitas
Hidup dan Perlindungan
Perempuan
BPPKB
Program
Perlindungan
perempuan dan anak
BPPKB
Program Keluarga Berencana
BPPKB
Program Keluarga Sejahtera
BPPKB
Urusan Kebudayaan,
Pariwisata, Pemuda Dan
Olahraga
Program pembinaan dan
pemasyarakatan olah raga
Disporada
Program peningkatan peran
serta kepemudaan
Disporada
Urusan Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa
Program Peningkatan Peran
Perempuan Pedesaan
BPMPD
Urusan Perpustakaan dan
Arsip Daerah
Program pengembangan
budaya baca dan pembinaan
perpustakaan
4.
Meningkatkan Tata
Kelola Pemerintahan
Yang Baik
KPAD
URUSAN WAJIB
Program Pelayanan
Administrasi Perkantoran
Semua SKPD
Program Peningkatan
pengembangan sistem
pelaporan capaian kinerja dan
Semua SKPD
keuangan
Program Pengembangan
Data/ Informasi Pembangunan
Daerah
Semua SKPD
Program Monitoring, Evaluasi
dan pelaporan
Semua SKPD
Program Peningkatan
pelayanan Administrasi
Pemerintahan
Semua SKPD
Program Peningkatan Disiplin
Aparatur
Semua SKPD
Program
Kapasitas
Aparatur
Semua SKPD
Peningkatan
Sumber
Daya
Urusan Pekerjaan Umum
Program
pengembangan
kinerja pengelolaan sampah
Distaksiman
Program Peningkatan
pertamanan dan kebersihan
Distaksiman
Urusan
Pembangunan
Perencanaan
Program Peningkatan
Kapasitas Kelembagaan
Perencanaan Pembangunan
Daerah
Bappeda
Urusan Perhubungan
Program penyelenggaraan
manajemen dan rekayasa
Dishubkominf
o
lalulintas
Program Peningkatan
Pelayanan Angkutan
Dishubkominf
o
Program Pengendalian dan
Pengamanan Lalu Lintas
Dishubkominf
o
Program kerjasama informasi
dengan mass media
Dishubkominf
o
Program Pengendalian dan
pengawasan perizinan bidang
perhubungan, komunikasi dan
informasi
Dishubkominf
o
Urusan Kependudukan dan
Catatan Sipil
Program
Penataan
Administrasi Kependudukan
Dukcapil
Urusan Sosial,
Ketenagakerjaan Dan
Ketransmigrasian
Program Perlindungan dan
Pengembangan Lembaga
Ketenagakerjaan
Dinas
Sosnakertran
s
Urusan Otonomi Daerah,
Pemerintahan Umum,
Administrasi Keuangan,
Perangkat Daerah,
Kepegawaian Dan Persandian
Program
peningkatan
pelayanan kedinasan kepala
daerah / wakil kepala daerah
KDH/ WKDH
Program
administrasi
daerah
peningkatan
pemerintahan
Setda
Program Penataan Peraturan
Perundang-undangan
Setda
Program
Peningkatan
Kesadaran Hukum dan Hak
Asasi Manusia
Setda
Program
Penguasaan,
Penggunaan
Tanah
Setda
Penataan,
Pemilikan,
Pemanfaatan
Program
Peningkatan
Kapasitas Lembaga Perwakilan
Rakyat Daerah
Setwan
Program Peningkatan
publikasi kegiatan DPRD
Setwan
dan
Program Peningkatan Sistem
Pengawasan Internal dan
Pengendalian Pelaksanaan
Kebijakan KDH
Inspektorat
Program
Peningkatan
Profesionalisme
Tenaga
Pemeriksa
dan
Aparatur
Pengawasan
Inspektorat
Program
Peningkatan,
pengembangan
dan
pembinaan
pengelolaan
keuangan daerah
DPPKAD
Program fasilitas pindah /
purna tugas PNS
BKP2D
Program Pelayanan publik
BPBD
Urusan Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa
Program Fasilitas Purna Tugas
Kepala Desa
BPMPD
Urusan Komunikasi Dan
Informatika
Program Pengolahan data dan
informasi elektronik
Kantor PDE
Program Layanan pengadaan
secara elektronik (LPSE)
Kantor PDE
URUSAN PILIHAN
Urusan Pertanian
Program Peningkatan kualitas
SDM Aparatur Perikanan
/peternakan
5.
Meningkatkan Tata
Kehidupan Masyarakat
Yang Agamis, Berbudaya
Dan Harmonis
BPP
URUSAN WAJIB
Urusan Sosial,
Ketenagakerjaan dan
Ketransmigrasian
Program Pencegahan Dini dan
Penanggulangan Korban
Bencana Alam
Sosnakertran
s
Program Pelayanan dan
Rehabilitasi Kesejahteraan
Sosial
Sosnakertran
s
Program Bantuan dan Jaminan
Kesejahteraan Sosial
Sosnakertran
s
Urusan Otonomi Daerah,
Pemerintahan Umum,
Administrasi Keuangan,
Perangkat Daerah,
Kepegawaian Dan Persandian
Program Peningkatan dan
Pengembangan Nilai
Keagamaan
- Setda
Program
kemitraan
dan
pengembangan
wawasan
kebangsaan
Setda
Program Pengembangan dan
peningkatan Nilai Budaya
Kecamatan
Program
Pengelolaan
Kekayaan /Keragaman Budaya
Kecamatan
Program Pemeliharaan
Kantramtibmas dan
Pencegahan Tindak Kriminal
Kecamatan
Program peningkatan peran
serta dan Kesetaraan Gender
Dalam Pembangunan
Kecamatan
Program Pencegahan Dini dan
Penanggulangan Korban
Bencana Alam
Urusan Kebudayaan,
Pariwisata, Pemuda Dan
Olahraga
-Kecamatan
Kelurahan
BPBD
Program Pengembangan dan
peningkatan Nilai Budaya
Disporada
Program
Pengelolaan
Kekayaan /Keragaman Budaya
Disporada
Program
Pengembangan
Destinasi Pariwisata
Disporada
Urusan Pemberdayaan
Masyarakat Dan Desa
Program Pengembangan dan
peningkatan Nilai Budaya
BPMPD
Urusan Kesatuan Bangsa Dan
Politik Dalam Negeri
Program
Pemeliharaan
Kantramtibmas
dan
Pencegahan Tindak Kriminal
- Satpol PP
Program peningkatan
keamanan dan kenyaman
lingkungan
- Satpol PP
Program
kemitraan
dan
pengembangan
wawasan
kebangsaan
Kesbang pol
Program Pendidikan Politik
Masyarakat
Kesbang pol
Program Peningkatan
Pemberantasan Penyakit
Masyarakat (Pekat)
Satpol PP
- Kesbang pol
- Kesbang pol
Urusan Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa
Program peningkatan peran
serta dan Kesetaraan Gender
Dalam Pembangunan
BPMPD
BAB V
RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN
PRIORITAS DAERAH
Rencana program dan kegiatan prioritas daerah Kabupaten Sarolangun Tahun 2016
merupakan uraian yang mengemukakan secara eksplisit rencana program dan kegiatan prioritas
daerah yang disusun berdasarkan evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun rencana (RKPD)
dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD Tahun 2011-2016. Rencana program dan
kegiatan prioritas daerah yang disusun juga merupakan hasil penyelarasan dan penajaman yang
disepakati bersama melalui tahapan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
Kabupaten sehingga dapat memberikan manfaat bagi kepentingan masyarakat.
Rencana
program
dan
kegiatan
prioritas
daerah
dikelompokkan
menurut
penyelenggaraan urusan pemerintahan yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan.
Penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam
bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas
umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Peningkatan kualitas
kehidupan masyarakat diwajibkan melalui prestasi kerja dalam mencapai standar pelayanan
minimal sesuai dengan peraturan dan perundangan. Sedangkan urusan pilihan dan urusan
yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan
dengan ketentuan perundang-undangan.
Program dan kegiatan pada setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terdiri dari
semua program dan kegiatan yang berhubungan dengan kelancaran aktivitas pelayanan
publik sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing SKPD. Pada Tahun 2016, masing-
masing SKPD dalam Kabupaten Sarolangun telah memiliki program dan kegiatan yang
direncanakan sesuai dengan kebutuhan setiap SKPD.
Selanjutnya rencana program dan kegiatan prioritas daerah yang akan dilaksanakan
oleh masing-masing SKPD yang dibagi menurut per urusan dan per SKPD, sebagaimana
disajikan dalam tabel Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah Kabupaten Sarolangun
Tahun 2016 sebagai berikut :
BAB VI
PENUTUP
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Sarolangun Tahun 2016 merupakan
penjabaran ke-lima atau periode akhir dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Kabupaten Sarolangun Tahun 2011-2016 dalam rangka mewujudkan visi dan misi
jangka menengah Kabupaten Sarolangun. RKPD sebagai dokumen rencana pembangunan daerah
untuk periode 1 (satu) tahun yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, program prioritas
bidang pembangunan daerah, rencana kerja, pendanaan dan prakiraan maju. RKPD yang disusun
telah selaras dan konsisten dengan prioritas, sasaran dan program yang telah ditetapkan dalam
RPJMD.
Penyusunan RKPD ini telah dilakukan melalui tahapan rasionalisasi, terintegrasi dan
sinkronisasi dari rencana kerja SKPD, lintas SKPD serta tahapan penyerapan aspirasi masyarakat
melalui forum Musrenbang yaitu diawali dari Musrenbang Desa/Kelurahan, Musrenbang Kecamatan,
kemudian Forum Gabungan SKPD dan Forum Konsultasi Publik, selanjutnya untuk keselarasan dan
penajaman program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah maka dilaksanakan Musrenbang
Kabupaten. Hasil dari kesepakatan Musrenbang Kabupaten ini dijadikan dasar dalam
penyempurnaan RKPD sehingga didapatkan hasil dokumen RKPD yang berkualitas yang ditetapkan
dengan Peraturan
Bupati Sarolangun.
RKPD yang telah ditetapkan digunakan sebagai pedoman bagi seluruh Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja SKPD dan acuan bagi seluruh para pelaku
pembangunan (stakeholders). Dan selanjutnya dijadikan landasan penyusunan Kebijakan Umum
Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dalam rangka untuk menyusun
Rancangan APBD Kabupaten Sarolangun Tahun Anggaran 2016.
Untuk dapat tercapainya sasaran dan target kinerja program dan kegiatan mencakup input
(masukan), output (keluaran) dan outcome (hasil) yang telah ditetapkan dalam RKPD ini, diharapkan
kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk dapat melaksanakannya secara bersungguhsungguh dan penuh dengan rasa tanggungjawab dengan tetap menerapkan prinsip-prinsip efisien,
efektif, transparan, akuntabel dan partisipatif dalam pelaksanaan program
tetap memperhatikan tugas pokok dan fungsi dari
masing-masing SKPD.
Sarolangun,
Mei 2015
BUPATI SAROLANGUN
H. CEK ENDRA
dan kegiatan serta
Download