I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia

advertisement
I.
1.1.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu dari banyak negara berkembang yang
telah memanfaatkan pinjaman luar negeri dalam pembangunannya. Pinjaman luar
negeri baik dalam bentuk pinjaman bank maupun pinjaman resmi adalah bentuk
instrumen utang negara peminjam, dan harus dibayar kembali jumlah pokok
pinjaman ditambah bunga apapun ekonominya (Parasmala, 2005). Pinjaman luar
negeri merupakan salah satu aspek kebijakan fiskal yang dimanfaatkan
pemerintah untuk menutupi keterbatasan penerimaan pemerintah. Dalam
kebijakan fiskal, terkandung anggapan bahwa rumah tangga negara atau
pemerintah tidak dapat disamakan dengan rumah tangga individu (Rahayu, 2010).
Pada rumah tangga individu, apabila penerimaan individu menurun, maka
individu tersebut akan mengurangi pengeluarannya. Sedangkan pada pemerintah,
apabila penerimaan pemerintah menurun, maka pemerintah tidak harus
mengurangi pengeluarannya, karena tindakan mengurangi pengeluaran akan
mengakibatkan berkurangnya pendapatan masyarakat. Untuk menghindari
berkurangnya pendapatan masyarakat, maka diperlukan pemanfaatan pinjaman
luar negeri sebagai salah satu sumber penerimaan pemerintah dalam pembiayaan
pembangunan, dan juga menjadi pilihan untuk menghindari pembebanan bagi
warga negara apabila kekurangan dana tersebut ditutupi melalui penarikan pajak.
Sejak awal pelaksanaan rencana pembangunan lima tahun (Repelita),
pinjaman luar negeri telah memiliki peran yang sangat besar sebagai sumber
pembiayaan untuk menutupi kelangkaan modal di dalam negeri. Pada awal
2 pembangunan tahun 1969, pendapatan perkapita Indonesia masih rendah, hanya
sekitar 50 dolar Amerika, dan tingkat kemiskinan yang tinggi sekitar 65 persen
dari jumlah populasi, serta sektor-sektor ekonomi dalam keadaan stagnansi dan
tabungan domestik dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Kondisi ini mendorong
pemerintah untuk memanfaatkan pinjaman luar negeri untuk membiayai proyekproyek yang bertujuan untuk kelangsungan pembangunan ekonomi dan sosial di
dalam negeri. Proyek-proyek yang dibiayai oleh pinjaman luar negeri pada era
Orde Lama seperti bendungan, irigasi, tenaga pembangkit listrik, fasilitas
telekomunikasi, jembatan, jalan raya, sarana transportasi, fasilitas pendidikan,
serta berbagai program pengentasan kemiskinan (Harinowo, 2002).
Pemanfaatan pinjaman luar negeri memberikan pengaruh positif terhadap
pembangunan perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pendapatan
perkapita Indonesia yang terus meningkat hingga mencapai 3.005 dolar Amerika
pada tahun 2010. Hingga sekarang ini, pinjaman luar negeri masih digunakan
sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi tiga defisit, yaitu defisit anggaran
pemerintah, defisit tabungan investasi, dan defisit transaksi berjalan.
Jumlah pinjaman luar negeri fluktuatif, namun cenderung semakin
meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini merupakan akumulasi pinjaman luar negeri
sejak era Orde Baru hingga sekarang ini. Pada tahun 2001 pinjaman luar negeri
sebesar 133,074 miliyar dolar Amerika, dan menurun pada tahun 2002 menjadi
sebesar 131,343 miliyar dolar Amerika. Namun meningkat kembali hingga tahun
2004 pinjaman luar negeri mencapai 137,024 miliyar dolar Amerika. Penurunan
kembali terjadi, sampai tahun 2006 pinjaman luar negeri sebesar 128,736 miliyar
dolar Amerika. Pada tahun 2007, jumlah pinjaman luar negeri sebesar 141,18
3 miliyar dolar Amerika, dan meningkat 9,8 persen pada tahun berikutnya sehingga
pinjaman luar negeri pada tahun 2008 mencapai 155,08 miliyar dolar Amerika.
Pada tahun 2009, pinjaman luar negeri meningkat 17,791 miliyar dolar Amerika
dari tahun sebelumnya, hingga tahun 2010 pinjaman luar negeri mencapai
202,413 miliyar dolar Amerika. Pergerakan perkembangan pinjaman luar negeri
tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.1 yang menunjukkan grafik perkembangan
pinjaman luar negeri dari tahun 2001 hingga tahun 2010.
Pinjaman Luar Negeri
Miliyar Dolar Amerika
250
200
150
100
50
0
2001 2002 2003 2004 2005 2005 2007 2008 2009 2010
Tahun
Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia, 2011 (diolah)
Gambar 1.1 Grafik Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Tahun 2001 – 2010
Berdasarkan kelompok peminjamnya, pinjaman luar negeri dilakukan oleh
pemerintah pusat, bank sentral dan kelompok swasta, seperti bank swasta,
lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, dan perusahaanperusahaan lainnya. Dalam Gambar 1.2 ditunjukkan persentase pinjaman luar
negeri pada tahun 2010 menurut kelompok peminjamnya, dari total pinjaman luar
negeri pada tahun 2010 sebesar 202,413 miliyar dolar Amerika. Pinjaman luar
negeri pemerintah pusat sebesar 53 persen dari total pinjaman luar negeri pada
tahun 2010, atau mencapai 106,860 miliyar dolar Amerika. Pinjaman tersebut
4 digunakann pemerintah untuk meembiayai pengeluaran pemerintah
p
yang seharu
usnya
dibiayai oleh penerrimaan pajjak, namun
n besarnyaa penerimaaan pajak tidak
umber
mencukuppi besarnyaa pengeluaaran pemerrintah, sehhingga diperlukan su
pembiayaaan lain sepperti pinjam
man luar negeri. Sedanngkan pinjaaman luar negeri
n
yang diguunakan olehh bank sentrral hanya 6 persen darri total pinjaaman luar negeri
n
pada tahunn 2010, yaiitu sebesar 11,764 miliiyar dolar Amerika,
A
daan pinjaman
n luar
negeri yanng digunakkan kelompook swasta sebesar
s
83,789 miliyaar dolar Am
merika
pada tahunn 2010 atauu sebesar 411 persen darri total pinjaaman luar nnegeri pada tahun
2010.
Pinjamaan Luar Neg
geri Tahun
n 2010
41%
5
53%
Pemerintaah
Bank Senttral
6%
Swasta
Sumber: Kementerian
K
K
Koordinator
Bidang Pereekonomian, 2010
2
(diolah))
Gambaar 1.2 Persenntase Pinjam
man Luar Negeri
N
menuurut Kelomppok Peminjaam
1.2.
Peerumusan Masalah
M
Pinnjaman luaar negeri memiliki
m
hu
ubungan dengan
d
kebijakan fisk
kal di
Indonesia. Melalui innstrumen keebijakan fisk
kal seperti pengeluaran
p
n pemerintah dan
penerimaaan pajak, piinjaman luaar negeri daapat berpenggaruh dalam
m jangka peendek
maupun jaangka panjaang terhadapp instrumen
n fiskal terseebut. Dalam
m jangka pendek,
5 pinjaman luar negeri dapat digunakan untuk membiayai defisit anggaran
pemerintah, dimana besarnya penerimaan pemerintah yang berasal dari
penerimaan pajak tidak mampu membiayai besarnya pengeluaran pemerintah,
sehingga pemanfaatan pinjaman luar negeri digunakan lebih besar untuk
membiayai pengeluaran pemerintah. Dengan tertutupnya defisit anggaran
pemerintah, maka pinjaman luar negeri dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Namun, dalam jangka panjang pinjaman luar negeri justru dapat
meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk pengeluaran yang kurang produktif
karena adanya tambahan pengeluaran pemerintah untuk membiayai cicilan pokok
pinjaman beserta bunganya. Keterkaitan antara pinjaman luar negeri dan
pengeluaran pemerintah dapat dilihat pada Gambar 1.3.
Pengeluaran Pemerintah, Pajak dan Pinjaman Luar Negeri
700
600
Persen
500
400
300
200
100
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
0
Pinjaman Luar Negeri
Tahun
Pengeluaran Pemerintah
Pajak
Sumber: World Development Indicator, 2011 (diolah)
Gambar 1.3 Grafik Perkembangan Pengeluaran Pemerintah, Pajak dan Pinjaman
Luar Negeri Tahun 1991 – 2010 (2000=100)
Gambar 1.3 menunjukkan indeks perkembangan pengeluaran pemerintah
yang cenderung searah dengan pertumbuhan pinjaman luar negeri. Peningkatan
6 pengeluaran pemerintah ini dapat disebabkan karena pemerintah harus
mengeluarkan biaya untuk pembangunan, maupun tambahan pengeluaran untuk
membiayai cicilan pokok dan bunga pinjaman luar negeri.
Selain berhubungan terhadap pengeluaran pemerintah, pinjaman luar
negeri juga berhubungan dengan penerimaan pajak. Dalam Gambar 1.3 juga
ditunjukkan perkembangan penerimaan pajak dengan pinjaman luar negeri,
dimana penerimaan pajak meningkat karena penetapan pajak yang terus
meningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran pemerintah. Pinjaman luar
negeri menyebabkan penetapan pajak yang lebih besar pada masa akan datang.
Hal ini karena pinjaman luar negeri yang digunakan untuk menghindari
pembebanan kepada masyarakat melalui penetapan pajak yang lebih tinggi untuk
membiayai pembangunan saat ini, namun akan menimbulkan masalah pada
penetapan pajak yang lebih besar di masa akan datang. Penetapan pajak yang
lebih besar di masa akan datang digunakan untuk membiayai pengeluaran
pemerintah, baik untuk pembangunan maupun pengeluaran yang kurang produktif
seperti cicilan pokok dan bunga dari pinjaman luar negeri.
Pemanfaatan pinjaman luar negeri yang digunakan untuk mempercepat
pertumbuhan ekonomi menyebabkan akumulasi pinjaman yang semakin besar.
Akumulasi pinjaman tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan Produk Domestik
Bruto (PDB) melalui pembiayaan pembangunan, sehingga perekonomian negara
menjadi lebih baik. Seperti pada Gambar 1.4, yang menunjukkan grafik
perkembangan PDB dengan perkembangan pinjaman luar negeri dari tahun 1991
sampai tahun 2010.
7 180
160
140
120
100
80
60
40
20
0
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Persen
Produk Domestik Bruto dan Pinjaman Luar Negeri
Tahun
Pinjaman Luar Negeri
Produk Domestik Bruto
Sumber: World Development Indicator, 2011 (diolah)
Gambar 1.4 Grafik Perkembangan Produk Domestik Bruto dan Pinjaman Luar
Negeri Tahun 1991 – 2010 (2000=100)
Gambar 1.4 menunjukkan indeks perkembangan PDB yang cenderung
searah dengan perkembangan pinjaman luar negeri. Dari tahun 1991 ke 1997
perkembangan PDB searah dengan perkembangan pinjaman luar negeri, namun
pada tahun 1998 ke 2000 perkembangan PDB tidak searah dengan perkembangan
pinjaman luar negeri dimana pinjaman luar negeri meningkat dan perkembangan
PDB menurun. Penurunan tersebut tidak berlangsung lama, karena pada tahun
berikutnya yaitu tahun 2001 hingga tahun 2010 perkembangan PDB Indonesia
terus meningkat seiring dengan meningkatnya akumulasi pinjaman luar negeri
yang digunakan untuk membiayai pembangunan-pembangunan yang telah
direncanakan.
Akumulasi pinjaman luar negeri harus digunakan untuk investasi-investasi
yang produktif yang dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang positif atau
menguntungkan. Tingkat pengembalian yang positif diharapkan untuk dapat
8 membayar kembali pinjaman tersebut, karena apabila investasi tidak dapat
menghasilkan nilai positif yang lebih besar dari nilai pinjaman itu sendiri, maka
hal ini dapat membuat pemerintah tidak mampu membayar cicilan pinjaman
beserta bunganya.
Salah satu faktor yang memengaruhi pinjaman luar negeri adalah suku
bunga internasional. Suku bunga internasional atau London Inter Bank Offer Rate
(LIBOR) adalah suku bunga pada pinjaman luar negeri. Pergerakan suku bunga
internasional cenderung fluktuatif setiap tahunnya, hal ini disebabkan oleh kondisi
pasar keuangan dunia. Dengan rendahnya tingkat suku bunga internasional, maka
pemerintah akan memanfaatkan pinjaman luar negeri lebih banyak, karena tingkat
pengembalian pinjaman akan lebih kecil dibanding saat tingkat suku bunga
internasional tinggi. Gambar 1.5 menunjukkan indeks hubungan pergerakan suku
bunga internasional yang negatif dengan pergerakan pinjaman luar negeri.
Pinjaman Luar Negeri dan Suku Bunga Internasional
150
50
0
-50
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Persen
100
-100
Tahun
Pinjaman Luar Negeri
Suku Bunga Internasional
Sumber: Econstats dan World Development Indicators, 2011 (diolah)
Gambar 1.5 Grafik Perkembangan Suku Bunga Internasional dan Pinjaman Luar
Negeri Tahun 1991 – 2010 (2000=100)
9 Dari uraian di atas, maka dapat dirumuskan masalah-masalah sebagai
berikut:
1. Apakah faktor yang memengaruhi pinjaman luar negeri di Indonesia?
2. Bagaimana pengaruh guncangan yang berasal dari instrumen kebijakan fiskal
terhadap pinjaman luar negeri di Indonesia?
3. Bagaimana respon dari pinjaman luar negeri akibat adanya guncangan dari
Produk Domestik Bruto dan suku bunga internasional di Indonesia?
4. Bagaimana kontribusi dari variabel kebijakan fiskal, Produk Domestik Bruto,
dan suku bunga internasional terhadap pinjaman luar negeri?
1.3.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pinjaman luar negeri di
Indonesia.
2. Menganalisis pengaruh guncangan yang berasal dari instrumen kebijakan
fiskal terhadap pinjaman luar negeri di Indonesia.
3. Menganalisis respon dari pinjaman luar negeri akibat adanya guncangan dari
Produk Domestik Bruto dan suku bunga internasional di Indonesia.
4. Menganalisis kontribusi dari variabel kebijakan fiskal, Produk Domestik
Bruto, dan suku bunga internasional terhadap pinjaman luar negeri.
10 1.4.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin didapatkan dari penelitian ini adalah
memberikan gambaran yang terkait dengan hubungan antara pinjaman luar negeri
dan kebijakan fiskal di Indonesia, serta faktor-faktor lain yang memengaruhi
pinjaman luar negeri. Selain itu, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
informasi serta rujukan bagi penelitian selanjutnya.
1.5.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini yaitu analisis hubungan antara pinjaman luar
negeri dengan kebijakan fiskal dalam studi kasus di Indonesia. Data yang
digunakan adalah data total pinjaman luar negeri di Indonesia dari tahun 1991
sampai tahun 2010. Variabel yang digunakan yaitu pinjaman luar negeri,
pengeluaran pemerintah, penerimaan pajak, Produk Domestik Bruto, dan suku
bunga internasional.
Download